SST-67

<< kembali | TAMAT >>

—–oOo—–

cover SST-67RISANG menjadi bingung sesaat, ia tidak mengerti maksud ibunya. Apalagi ketika ia melihat sorot mata ibunya yang menghunjam langsung kejantungnya, sementara dari pelupuknya nampak titik-titik air yang meleleh dipipinya.

“Ibu” desis Risang.

Namun sekali lagi Nyi Wiradana itu berkata, ”Perintahkan sediakan kudaku. Cepat.”

“Tetapi ibu akan kemana?” bertanya Risang.

“Aku akan melihat Tanah Perdikan ini sebelum Tanah Perdikan ini lebur menjadi debu. Aku akan melihat hijaunya hutan lereng pegunungan. Melihat gemerciknya air yang mengalir di sungai dan parit yang membelah tanah persawahan. Aku akan melihat anak-anak bermain di padang rumput sambil menggembalakan kambingnya.

“Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini” minta Risang.

“Lebih dari itu, aku akan melihat kesiagaan para pengawal. Apakah mereka sudah bersiap bertempur melawan Pajang. Aku akan melihat Kademangan-kademangan dan padukuhan-padukuhan. Apakah mereka sudah mempersiapkan para pengawal terbaiknya sebelum pasukan Pajang datang menggilas Tanah Perdikan ini. Aku akan menjadi Senapati Agung menghadapi Pajang. Aku akan menantang Pangeran Gagak Baning untuk berperang tanding.”

“Ibu, jangan pergi.” minta Risang.

“Cepat, perintahkan menyiapkan kudaku, atau aku harus mengambil sendiri serta memasang pelananya di kandang.”

Risang memang menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berbual. lain. Risang telah memerintahkan menyiapkan kuda. Bukan hanya untuk ibunya, tetapi juga untuk dirinya sendiri.

Namun ketika ibunya mengetahuinya, maka ia pun berkata, ”Dengar Risang. Aku akan pergi sendiri. Aku tidak mengajakmu pergi bersamaku.”

Risang menjadi sangat gelisah. Ketika seseorang membawa dua ekor kuda ke halaman, maka Nyi Wiradana itu dengan langkah yang cepat dan ringan menuruni tangga. Dengan tangkasnya ia meloncat kepunggung kudanya sambil berkata, ”Sekali lagi aku peringatkan, aku akan pergi sendiri.”

Tiba-tiba saja Nyi Wiradana itu menghentakkan kendali kudanya, sehingga kuda itu terkejut. Sambil meringkik kuda itu melonjak mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi.

Tetapi Nyi Wiradana dengan pengalamannya berkuda, mampu mengatasinya, sehingga kuda itu benar-benar telah dikuasainya kembali.

Sejenak kemudian, maka kuda itu pun telah berlari dengan cepat meninggalkan halaman rumah menyusup regol halaman dan hilang turun ke jalan.

Jantung Risang berdenyut semakin cepat. Diluar sadarnya, terbayang kembali seorang gadis yang memasuki halaman rumah Ki Tumenggung Jayayuda tanpa mengurangi kecepatannya. Kuda itu hampir saja menginjaknya. Namun dengan tangkas gadis itu berhasil menguasai kudanya dan. menenangkannya.

Ternyata gadis itu adalah anak Ki Tumenggung Jayayuda.

Namun kemudian Risang kembali menyadari, bahwa ibunya telah berpacu diatas punggung kudanya tanpa diketahui dengan pasti, tujuannya.

Tetapi Risang memang tidak berani menyusulnya. Jika ibunya sudah mengatakan bahwa ia ingin sendiri, maka ia harus sendiri. Apalagi ibunya nampaknya benar-benar sedang marah, ia tidak pernah melihat sorot mata ibunya yang demikian tajamnya memandangnya. Namun dengan berkaca-kaca.

Dengan wajah yang tegang, Risang pun telah terduduk di tangga pendapa. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Berbagai macam perasaan telah bergulat didalam hatinya.

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar melihat Nyi Wimdana melarikan kudanya keluar dari halaman itu. Tetapi mereka bertiga tidak berani menegur dan menanyakannya kepada Risang yang duduk di tangga pendapa.

Di halaman seseorang masih berdiri termangu-mangu sambil memegangi kendali seekor kuda. Tetapi Risang tidak segera menerima kuda itu. Bahkan dibiarkannya orang itu berdiri kebingungan.

Baru ketika kuda itu meringkik, Risang seolah-olah tersadar.Sambil mengangkat|wajahnya ia berkata, ”Bawa kuda itu kembali ke kandang.”

Orang itu pun tidak bertanya, ia tahu, bahwa hati Risang sedang buram.

Demikian orang itu membawa kudanya kembali ke kandang, maka Risang pun bangkit berdiri dan melangkah masuk keruang dalam.

Di serambi gandok, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar hanya dapat menyatakan kecemasan mereka melihat perkembangan Tanah Perdikan Sembojan. Bukan kemunduran kesejahteraan rakyatnya. Tetapi justru sikap para pemimpinnya.

Tetapi untuk sementara Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar masih belum dapat mengambil sikap apapun juga. Mereka masih berharap agar Nyi Wiradana dapat menyelesaikan persoalan yang timbul karena gejolak perasaan Risang.

“Seharusnya Risang dapat membatasi dirinya. Persoalan pribadinya angan sampai menghancurkan Tanah Perdikan ini” desis Sambi Wulung.

Wajah Gandar menjadi sangat muram, ia melihat apa yang terjadi sebelum Risang dilahirkan, ia melihat kemudian, betapa ibu Risang berjuang untuk mempertahankan haknya. Gandar melihat betapa Tanah Perdikan ini dilanda oleh pasang dan surut. Perang yang datang berulang-ulang dengan musuh yang silih berganti.

Dengan melalui jalan yang berbatu-batu tajam, akhirnya Nyi Wiradana berhasil membawa Risang kepada kedudukannya yang sekarang. Namun pada saat-saat Tanah Perdikan ini menggapai satu masa yang terbaik, Risang kehilangan kendali dirinya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tidak kalah kecewanya. Demikian pula orang-orang terdekat Risang.

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka yang sudah menjadi semakin tua pun menjadi sangat berprihatin.

Dalam pada itu, Nyi Wiradana memacu kudanya kelereng pegunungan, ia sama sekali tidak melarikan kudanya mengelilingi Tanah Perdikan. Tidak melihat apakah para pengawal sudah bersiap menghadapi perang. Atau menemui para Demang dan Bekel yang berada diling-kungan Tanah Perdikan. Tetapi Nyi Wiradana telah memacu kudanya memanjat lereng bukit.

Ketika kudanya mencapai lambung bukit yang tidak terlalu tinggi, Nyi Wiradana pun berhenti. Sejenak ia masih tetap duduk dipunggung kudanya. Namun kemudian Nyi Wiradana itu meloncat turun.

Dari tempatnya berdiri dipandanginya dataran yang luas terhampar menelusuri batas kaki pebukitan sampai ke garis cakrawala.

Sejenak kemudian, maka Nyi Wiradana itu pun terduduk diatas tanah berbatu padas. Betapa jantungnya dihentak oleh perasaan kecewa atas sikap anak laki-laki satu-satunya yang diharapkan akan dapat membina dan membangun Tanah Perdikan Sembojan menjadi satu Tanah Perdikan yang besar.

Tetapi bayangan itu menjadi buram.

Nyi Wiradana mengusap matanya yang basah. Tetapi ia berhadapan dengan satu kenyataan betapapun pahitnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” terdengar suaranya menjadi parau.

Ketika angin semilir menyentuh wajahnya, maka terasa air matanya yang hangat meleleh dipipinya. Tubuh Nyi Wiradana tidak lagi sesegar saat ia mulai memegang pimpinan Tanah Perdikan itu. Ketika ia mengusap pipinya, terasa bahwa kerut-kerut kulitnya menjadi semakin dalam.

Meskipun demikian, namun Nyi Wiradana itu masih merasa tetap berada dalampuncak kemampuannya. Ilmu janget Kinatelon yang dikuasainya sama sekali tidak menyusut sejalan dengan meningkatnya umur.

Tiba-tiba saja Nyi Wiradana itu meloncat berdiri. Dengan tangkasnya ia berlari menghadap tebing batu padas yang curam di lambung bukit itu. Dengan memusatkan nalar budinya, Nyi Wiradana telah membangunkan ilmunya, Janget Kinatelon sampai ke puncaknya. Dengan tangkasnya Nyi Wiradana pun meloncat sambil mengayunkan tangannya menghadap tebing batu padas itu.

Sejenak kemudian terdengar suara gemuruh. Tebing itu pun telah terpecah. Gumpalan batu padas runtuh dengan suara gemuruh.

Nyi Wiradana meloncat surut. Wajahnya menjadi tegang. Namun kemudian perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Nyi Wiradana masih melihat puncak keperkasaannya.

Namun kemudian Nyi Wiradana itu terduduk kembali dengan lemahnya. Dengan suara yang bergetar ia bergumam”Tetapi apakah aku harus mempergunakan kemampuanku ini untuk melawan Pajang? Apakah aku benar-benar harus berdiri berhadapan dengan para Tumenggung yang mengemban tugas untuk memaksa Tanah Perdikan ini tunduk. Namun jika hal seperti itu terjadi, maka Tanah Perdikan ini tentu akan lenyap. Kekancingan hadirnya Tanah Perdikan Sembojan di bumi Pajang akan dicabut. Sebagai satu daerah yang telah memberontak, maka Tanah Perdikan ini akan dihapuskan, tanpa mengingat lagi sejarah panjang tentang Tanah Perdikan ini.”

Nyi Wiradana menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Tiba-tiba saja perempuan yang membawa sepasang pedang di kedua lambungnya itu menangis.

Runtuhan-runtuhan kecil masih terjadi di tebing. Angin yang bertiup semakin kencang membawa awan dari Selatan. Sementara matahari memanjat langit semakin tinggi.

Untuk beberapa lama Nyi Wiradana duduk diatas batu padas di lambung bukit. Tidak seorang pun yang melihat kehadirannya di tempat itu. Gerumbul-gerumbul perdu dan batang ilalang yang terguncang-guncang ditiup angin terdengar seperti perempuan yang berdesah panjang.

Dalam pada itu, kedua orang perwira prajurit Pajang yang kembali dari Tanah Perdikan memacu kuda mereka menembus jarak yang panjang. Bulak-bulak persawahan, padukuhan-padukuhan dan pategalan telah mereka lewati. Beberapa buah sungai telah mereka seberangi.

Ketika matahari naik sampai kepuncak langit, maka keduanya pun merasa perlu untuk beristirahat. Kuda-kuda mereka merasa letih, sementara mereka berdua pun merasa haus pula.

Ketika mereka berhenti di sebuah kedai, sambil meneguk minuman hangat, mereka sempat membicarakan sikap Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Sayang sekali” berkata salah seorang dari keduanya, ”Tanah Perdikan Sembojan tumbuh dengan baik. Kesejahteraan rakyatnya nampaknya cukup tinggi. Tetapi jika sikap Kepala Tanah Perdikannya tidak terkendali, maka Tanah Perdikan itu akan terhapus dari percaturan tata pemerintahan Pajang.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata”Sikap kepala Tanah Perdikan yang masih terlalu muda itu sulit dimengerti. Bahkan agaknya ibunya yang memiliki pengalaman yang luas memerintah Tanah Perdikan itu pun sulit untuk mengendalikannya.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, ”Pengaruh apakah yang telah merasuk didalam dirinya sehingga ia menjadi kehilangan kiblat.”

Tetapi kewenangan kedua orang perwira itu memang sangat terbatas. Mereka hanya dapat melaporkan apa yang telah mereka lakukan serta tanggapan Kepala Tanah Perdikan itu.

Demikianlah, malam itu keduanya langsung menghadap Ki Tumenggung Jayayuda dan ada dibarak. Mereka melaporkan segala sesuatunya seperti apa adanya. Tanpa ada yang dikurangi dan tanpa ada yang ditambahi.

Ki Tumenggung Jayayuda menarik natas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, ”Terima kasih. Aku akan melaporkan sikap Kepala Tanah Perdikan itu.”

Salah seorang perwira yang pergi ke Tnah Perdikan itu pun kemudian berkata”Ki Tumenggung. Rasa-rasanya ada yang tidak sewajarnya terjadi pada Kepala Tanah Perdikan itu. Sejak Ki Tumenggung berpesan, agar kami tidak mengambil tindakan apa-apa selain menampung segala persoalan yang kami hadapi, maka rasa-rasanya ada sesuatu yang tersembunyi pada sikap Kepala Tanah Perdikan itu.”

Ki Tumenggung menarik natas dalam-dalam. Katanya, ”Bukankah kau ingin mengatakan, bahwa sejak semula ada sesuatu yang kurang wajar?”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Begitulah, Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk sambil menjawab, ”Memang ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih terlalu muda itu.”

Kedua orang perwira itu saling berpandangan sekilas. Tetapi keduanya tidak bertanya lebih jauh. Mereka sadar, bahwa pertanyaan mereka tidak akan terjawab.

Ki Tumenggung itu pun kemudian mempersilahkan kedua orang perwira itu untuk beristirahat.

“Kalian tentu merasa letih.”

Kedua orang perwira itu segera minta diri. Sebenarnyalah mereka memang merasa letih. Bahkan perasaan mereka pun merasa letih pula menghadapi sikap Kepala Tanah Perdikan yang menimbulkan sikap mendua. Sebagai perwira prajurit Pajang, maka keduanya menganggap bahwa Pajang harus mengambil sikap tegas. Tetapi keduanya yang umurnya sudah merambat mendekati pertengahan abad melihat sesuatu yang pantas diperhatikan pada Kepala Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Jayayuda sudah tidak mempunyai pilihan lagi. Pajang memang harus bertindak terhadap Tanah Perdikan Sembojan. Jika Pajang tidak menentukan sikap yang tegas, maka daerah yang lain pun akan berbuat serupa pula. Mereka tentu tidak akan mau mempertimbangkan latar belakang dari sikap Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Malam itu Ki Tumenggung Jayayuda menjadi gelisah sendiri. Timbul niatnya untuk memanggil Ki Rangga Dipayuda agar ia dapat membagi kegelisahannya. Tetapi niatnya itu diurungkan-nya.

Namun pagi-pagi sekali Ki Dipayuda sudah dikejutkan oleh kedatangan seorang prajurit yang mengemban perintah Ki Tumenggung Jayayuda, memanggil Ki Rangga Dipayuda untuk menghadap.

Ki Rangga sudah menduga, tentu persoalan yang menyangkut Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sebenarnyalah, demikian ia menghadap Ki Tumenggung, maka Ki Tumenggung itu pun berkata, ”Ki Rangga. Kepala Tanah Perdikan Sembojan benar-benar telah mengeraskan hatinya.”

Ki Rangga menarik natas dalam-dalam. Katanya seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, ”Apaboleh buat.”

“Baiklah, Ki Rangga. Hari ini aku akan memberikan laporan langsung kepada Kangjeng Adipati. Berdasar perkenan Kangjeng Adipati bahwa akulah yang akan menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan, maka aku akan mohon perintah-perintah berikutnya.”

Ki Rangga Dipayuda mengangguk-angguk betapapun jantungnya bergejolak.

“Bersiaplah Ki Rangga. Kesiapan jiwani untuk mengambil langkah-langkah tertentu sangat diperlukan.

“Apakah sebaiknya Kasadha mengetahui persoalan ini dalam keseluruhan?” bertanya Ki Rangga.

“Pada saatnya memang perlu. Tetapi tentu tidak tergesa-gesa.”

“Baik, Ki Tumenggung.” jawab Ki Rangga Dipayuda.

Demikianlah, maka Ki Tumenggung pun segera bersiap, ia ingin menghadap Kangjeng Adipati sebelum para pemimpin Pajang menghadap di paseban.

Permohonan Ki Tumenggung untuk menghadap mendahului berlangsungnya sidang para pemimpin Pajang di paseban ternyata dikabulkan, sehingga Ki Tumenggung telah datang ke istana lebih pagi dari para pemimpin Pajang yang lain.

Ki Tumenggung kemudian telah melaporkan sikap Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Ki Tumenggung sudah cukup memberikan kesempatan untuk mencairkan hatinya yang beku. Karena itu, sudah waktunya bagi Ki Tumenggung untuk bertindak.”

“Yang hamba pertimbangkan adalah justru dalam suasana yang semakin panas sekarang ini. Agaknya hubungan antara Madiun dan Mataram sudah tidak dapat diperbaiki lagi dengan cara apapun juga. Karena itu, jika aku membawa prajurit ke Tanah Perdikan Sembojan, sementara benturan antara Mataram dan Madiun terjadi, apakah hal itu tidak akan mengurangi kekuatan Mataram dan Pajang, sementara di Madiun berkumpul prajurit yang seakan-akan jumlahnya tidak terhitung, sehingga Madiun justru mengalami kesulitan menyediakan pangan mereka.”

“Ki Tumenggung” berkata Kangjeng Adipati, ”aku beri wewenang kau akan membawa prajurit secukupnya. Tetapi kalian harus siap bergerak dari arah Selatan, jika perang Mataram dan Madiun pecah. Aku akan memberikan perintah lewat penghubung dengan segera demikian ada isyarat dari Mataram.”

“Apakah tidak mungkin justru Madiun yang bergerak lebih dahulu ke Barat?” bertanya Ki Tumenggung Jayayuda.

“Menurut perhitungan dan sesuai dengan laporan para petugas sandi, nampaknya dalam waktu dekat, Madiun tidak akan bergerak ke Barat. Mereka justru membangun benteng pertahanan yang kuat dalam beberapa lapis.”

“Baiklah Kangjeng. Hamba akan segera berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan dengan pasukan hamba.”

“Bawa pasukan lebih banyak dari pasukan Ki Tumenggung. Ki Tumenggung justru harus menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan dengan cepat. Jangan lebih dari sepekan. Karena kemudian perhatian kita sepenuhnya harus tertuju ke Madiun. Menurut perhitungan, perang dengan Madiun jika harus terjadi, juga tidak akan segera terjadi dalam hitungan hari. Tetapi tentu dalam hitungan pekan. Tetapi satu hal yang perlu Ki Tumenggung ketahui. Pasukan Mataram sudah mulai bergerak ke Timur. Tetapi tidak dalam ujud pasukan yang besar dan bergelora. Tetapi sedikit demi sedikit akan berada di Pajang dan sekitarnya.

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk, ia sadar bahwa ia akan memikul beban tugas yang berat. Bukan saja dalam ujud kewadagan. Tetapi justru karena Ki Tumenggung mengetahui latar belakang sikap Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih muda itu.

“Ki Tumenggung” berkata Kangjeng Adipati pula, ”kau akan mendapat surat perintah untuk melaksanakan tugas ini serta wewenang yang luas untuk mempergunakan kekuatan prajurit Pajang. Tetapi sekali lagi aku minta Ki Tumenggung menyelesaikan tugas ini dalam sepekan, tidak terhitung perjalanan. Jika Tanah Perdikan itu benar-benar mengadakan perlawanan dan harus terjadi pertempuran, segala sesuatunya terserah kepada Ki Tumenggung yang akan dapat mengambil keputusan sesuai dengan keadaan medan. Tetapi jika terjadi perlawanan bersenjata, maka kita akan dapat mempertimbang-kan keberadaan Tanah Perdikan Sembojan untuk selanjutnya, karena dengan demikian Sembojan telah memberontak justru pada saat yang sangat gawat menghadapi kekuatan Madiun. Namun ada satu hal yang sampai sekarang masih belum aku lakukan tentang persoalan Tanah Perdikan Sembojan. Aku sama sekali tidak memberikan laporan kepada Panembahan Senapati. Jika petugas sandi Mataram mempersoalkan keberangkatan pasukan Ki Tumenggung ke Tanah Perdikan, dan menyampaikan laporan ke Mataram, aku tentu akan mendapat pertanyaan tentang hal itu. Baru aku akan mempergunakan kesempatan itu untuk memberikan laporan. Jika Mataram tidak menanyakan gerakan pasukan ini, maka aku akan tetap berdiam diri. Aku berharap bahwa kita disini dapat menyelesaikan persoalan ini tanpa menggetarkan wibawa Mataram.”

“Baiklah Kangjeng. Hamba akan melakukan tugas ini dengan baik.”

“Lakukan tugas Ki Tumenggung tanpa memberikan kesan dan apalagi keresahan di Pajang. Biarlah orang-orang Pajang tidak mengetahui, apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Hamba Kangjeng. Meskipun hamba tahu, tugas ini sangat berat, tetapi hamba akan melakukannya dengan baik. Hamba mohon waktu untuk mempersiapkan sebuah pasukan yang cukup kuat, karena hamba tahu, bahwa Tanah Perdikan Sembojan adalah Tanah Perdikan yang sudah ditempa oleh pengalaman yang keras, sehingga para pengawalnya memiliki kemampuan prajurit yang terlatih.

“Aku beri wewenang kepada Ki Tumenggung untuk menentu-kan, seberapa besar pasukan yang akan Ki Tumenggung bawa ke Tanah Perdikan Sembojan serta tindakan apapun yang akan Ki Tumenggung lakukan atas Tanah Perdikan itu.”

“Hamba Kangjeng, hamba mohon restu, mudah-mudahan hamba tidak merasa perlu untuk menghapuskan Tanah Perdikan Sembojan dari percaturan pemerintahan di Pajang dalam kesatuan Mataram yang bulat.”

Demikianlah, pembicaraan tentang Tanah Perdikan itu justru telah terjadi sebelum sidang di paseban. Dengan demikian, maka persoalan Tanah Perdikan Sembojan tidak terlalu banyak dicampuri oleh para Senapati dan pemimpin pemerintahan di Pajang.

Ketika sidang di paseban kemudian berlangsung, maka Kangjeng Adipati hanya sekedar memberitahukan saja kepada para Senapati dan pemimpin pemerintahan, bahwa Kangjeng Adipati telah memerintahkan Ki Tumenggung Jayayuda untuk menyelesaikan persoalan yang berkembang di Tanah Perdikan Sembojan.

Beberapa orang Senapati justru masih belum tahu apa yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi ada diantar a mereka yang sudah mendengar, tetapi belum jelas apakah yang sebenarnya terjadi di Tanah Perdikan itu.

Namun sebagian besar dari mereka tidak banyak menaruh perhatian terhadap persoalan Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi penyelesaiannya sudah diserahkan kepada Ki Tumenggung Jayayuda.

Demikianlah, maka sejak perintah dari Kanjeng Adipati di Pajang diterima oleh Ki Tumenggung, maka Ki Tumenggung pun segera melakukan persiapan-persiapan. Memang agak mengejutkan. Terutama beberapa orang yang telah mengenal Risang. Seorang yang telah banyak membantu Ki Lurah Kasadha didalam melaksanakan tugas-tugasnya yang berat.

Sementara itu beberapa orang yang lain, pernah ikut pula dalam pasukan yang digerakkan ke Tanah Perdikan Sembojan disaat Pajang dikuasai oleh Kangjeng Adipati dari Demak. Pada saat itu, Tanah Perdikan Sembojan memang tidak tunduk pada sikap Pajang yang tidak murni lagi.

Ternyata bahwa Pajang telah mempersiapkan lagi pasukan yang cukup besar untuk bergerak ke Tanah Perdikan Sembojan.

Persiapan yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Jayayuda itu benar-benar telah mengguncang jantung Kasadha. Sebagai seorang Lurah prajurit yang justru berada dibawah kepemimpinan Ki Tumenggung Jayayuda, maka Kasadha pun telah menerima perintah untuk mempersiapkan pasukannya.

Dengan tergesa-gesa Kasadha telah menemui Ki Rangga Dipayuda. Betapa perasaannya tergetar oleh kenyataan yang dihadapinya.

“Segala usaha telah dilakukan untuk meredakan gejolak perasaannya, tetapi sia-sia.” berkata Ki Rangga Dipayuda.

“Tetapi bukankah aku ikut bersalah dalam hal ini Ki Rangga?” bertanya Kasadha.

“Dengan demikian, kau juga akan mengatakan, bahwa aku pun bersalah dalam hal ini?”

“Tidak. Tidak, Ki Rangga.”

Karena itu jangan salahkan diri sendiri. Kita adalah prajurit. Kita harus menjalankan tugas kita sebaik-baiknya.”

Kasadha menundukkan kepalanya. Tetapi sulit baginya untuk menerima kenyataan itu, bahwa Pajang harus mempersiapkan prajurit segelar sepapan untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha tahu benar apa yang telah dilakukan Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk membantu tugas-tugas yang diberikan kepadanya oleh Pajang. Juga apa yang telah dilakukan Risang untuk menegakkan wibawa Pajang disekitar Tanah Perdikan Sembojah. Tetapi karena Risang tergelincir oleh persoalan pribadi, apa yang pernah dipersembahkan Risang kepada Pajang itu seakan-akan telah dilupakan.

Kasadha tidak pernah dapat menyisihkan perasaan bersalah, karena ia adalah penyebab dari goncangan-gon-cangan yang terjadi didalam diri Risang.

Tetapi Kasadha pun tidak pernah dapat menyisihkan tekadnya untuk mendapatkan Riris sebagai sisihannya menyongsong masa depannya.

Benturan perasaan yang terjadi didalam diri Kasadha itu rasa-rasanya akan memecahkan jantungnya. Apalagi jika ia mengingat sikap ibunya. Meskipun ibunya bukan seorang yang membentuk sikap dan wataknya, tetapi ia tetap ibunya, yang melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawanya.

Rasa-rasanya Kasadha ingin melepaskan sesak di dadanya. Rasa-rasanya ia ingin berteriak sekeras ledakan guntur dilangit.

Kasadha mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Ki Rangga Dipayuda berkata, ”Sekarang kembalilah kedalam pasukanmu. Bersiaplah untuk berangkat ke Tanah Perdikan akan datang setiap saat. Mungkin besok, mungkin lusa, tetapi mungkin pula hari ini.”

Kasadha tidak dapat berbuat lain kecuali menganggukkan kepalanya sambil menjawab”Baik, Ki Rangga.

Dengan jantung yang berdebaran, Kasadha melangkah kembali ke pasukannya. Apapun yang bergejolak didadanya, namun Kasadha telah mempersiapkan pasukannya baik-baik.

Tetapi sementara itu, dada Ki Rangga Dipayuda sendiri rasa-rasanya bagaikan akan meledak. Karena itu, maka ia telah minta kepada Ki Tumenggung Jayayuda waktu beberapa lama.

“Apa yang akan Ki Rangga lakukan?” bertanya Ki Tumenggung.

“Persoalannya langsung atau tidak langsung menyangkut anak gadisku, Ki Tumenggung. Untuk melepaskan atau setidaknya mengurangi tekanan perasaanku, aku akan memberitahukan persoalan ini kepada isteriku.”

“Tetapi kita sedang mempersiapkan pasukan Ki Rangga.”

“Tengah hari aku sudah berada dibarak ini kembali.

Betapa kuatnya pegangan Ki Tumenggung Jayayuda pada alas pijakan seorang prajurit, namun ia tidak dapat menolak permintaan Ki Rangga untuk meninggalkan barak beberapa lama. Karena Ki Tumenggung mengetahui bahwa rumah Ki Rangga tidak terlalu jauh dari barak, maka Ki Tumenggung pun kemudian berkata”Aku beri waktu sampai tengah hari, Ki Rangga.”

Sejenak kemudian, maka Ki Rangga Dipayuda itu telah berpacu meninggalkan barak, menuju ke rumahnya yang memang tidak terlalu jauh. Namun betapa kegelisahan membalut jantungnya, demikian memasuki regol halaman, Ki Rangga berusaha untuk tersenyum.

Jangkung yang melihat ayahnya datang, segera menyongsongnya. Namun Jangkung tidak melihat kegelisahan di wajah ayahnya. Bahkan sambil tersenyum ayahnya itu bertanya, ”He, kau tidak pergi ke sawah?”

“Apa yang aku lakukan disawah dimusim seperti ini? Sawah kita baru saja disiangi. Air pun cukup melimpah dan pupuk sudah cukup.” jawab Jangkung Jaladri.

Ayahnya tersenyum. Katanya, ”Bagus. Mudah-mudahan hasilnya nanti dapat memadai.” sahut ayahnya. Namun kemudian ayahnya itu pun bertanya, ”He, apakah ibumu pergi ke pasar?”

“Tadi. Tetapi sekarang ibu sudah didapur.”

“Riris?”

“Ada. Ia sedang membantu atau justru mengganggu ibu didapur. Biasanya ibu justru merasa terganggu.”

Ki Rangga tertawa. Katanya, ”Kau yang selalu mengganggu mereka. Tambatkan kudanya.”

Jangkung menerima kendali kuda ayahnya dan menambatkannya pada patok yang memang sudah disediakan. Tetapi Jangkung itu pun bertanya. ”Apakah ayah akan segera kembali ke barak atau tidak? Jika tidak, biarlah kuda ini dibawa ke kandang.”

“Jangan. Aku akan segera kembali. Aku hanya sebentar.” jawab Ki Rangga yang kemudian melangkah naik ke pendapa dan langsung masuk keruang dalam.

Nyi Rangga dan Riris yang kemudian mengetahui kehadiran Ki Rangga, telah menemuinya pula di ruang dalam. Keduanya memang agak terkejut mendengar kedatangan Ki Rangga, tetapi setelah mereka melihat Ki Rangga yang tidak menunjukkan kegelisahan dan bahkan tersenyum-senyum, keduanya menjadi tenang kembali.

“Aku hanya memanfaatkan waktu luang.” berkata Ki Rangga Dipayuda, ”tiba-tiba saja aku ingin pulang meskipun hanya sebentar.”

“Sokurlah jika tidak ada persoalan apa-apa” sahut Nyi Rangga Dipayuda.

Nyi Rangga pun kemudian minta agar Riris membuat minuman bagi ayahnya dan sekedar makanan yang ada. Bagaimanapun juga sebagai seorang isteri, rasa-rasanya tergetar juga hatinya karena kegelisahan suaminya, betapapun suaminya berusaha menyembunyikannya. Karena itu, Nyi Rangga sengaja menyingkirkan Riris, seandainya Ki Rangga ingin mengatakan sesuatu yang tidak perlu diketahui oleh anak-anaknya.

Sebenarnyalah setelah Riris pergi ke dapur, serta Jangkung masih sibuk mengamati kuda ayahnya yang menurut penilaiannya termasuk kuda yang tidak begitu baik, maka Ki Rangga Dipayuda pun telah menceriterakan persoalannya kepada Nyi Rangga.

Jantung Nyi Rangga terasa bergetar semakin cepat. Dengan suara suara yang sendat ia bertanya, ”Lalu, apakah yang sebaiknya Ki Rangga lakukan.?”

“Aku memang menjadi bingung, Nyi. Sebagai prajurit aku tidak mempunyai pilihan. Tetapi justru karena sumber persoalannya itu menyangkut keluarga kita, maka aku benar-benar kehilangan akal. Dalam persoalan ini, Ki Tumenggung Jayayuda juga sudah berusaha sejauh dapat dilakukannya dalam batas kuasa dan wewenangnya. Beberapa kali Ki Tumenggung memerintahkan prajuritnya pergi ke Tanah Perdikan. Bahkan secara pribadi Ki Tumenggung pernah memanggil Risang untuk menemuinya. Risang memang datang secara pribadi.

Tetapi Risang sama sekali tidak dapat dilunakkan hatinya, ia tetap berkeras dengan sikapnya yang salah itu.”

Nyi Rangga termangu-mangu sejenak. Terbayang betapa hati anak muda itu hancur karena Riris telah menerima lamaran Kasadha.

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa, Nyi” berkata Ki Rangga kemudian.

Nyi Rangga harus menahan perasaannya, agar dari matanya tidak menitik air mata.

Sementara itu, Ki Rangga pun kemudian berdesis, ”Nyi. Aku tidak tahu, manakah yang lebih baik. Apakah Riris akan kita beritahu persoalan ini atau tidak.”

Nyi Rangga .mengangguk-angguk kecil. Katanya, ”Memang terlalu rumit Ki Rangga. Rasa-rasanya apa yang kita lakukan serba salah. Sebenarnya sejak angger Risang minta Riris mendampinginya dalam upacara wisuda, seharusnya kita sudah tahu maksudnya.”

“Aku memang merasakan akan hal itu, Nyi. Tetapi pada waktu itu, aku juga sudah merasakan sentuhan getar hati Kasadha. Aku mencoba membayangkan, apakah yang akan dilakukan oleh Kasadha, seandainya Risang lah yang datang melamar dan yang kemudian kita terima.”

Nyi Rangga menarik natas dalam-dalam. Anak gadisnya yang cantik itu telah membuat kedua orang tuanya menjadi pening.

Tetapi sudah tentu bahwa itu bukan salah Riris. Meskipun demikian, Nyi Rangga itu pun berkata, ”Seandainya Riris tidak terlalu akrab dengan keduanya.”

“Sulit bagi kita untuk membatasi pergaulan mereka. Kita tahu, bahwa kedua-duanya berkenalan dengan Riris dengan cara yang hampir sama pula. Kedua-duanya pernah menolong Riris dari tindak kekerasan.”

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Namun seperti Ki Rangga, maka ia pun merasakan gejolak perasaan yang menghentak-hentak di dadanya.

“Nyi” bertanya Ki Rangga kemudian, ”aku ingin mendengar pendapatmu, apakah hal ini perlu kita berita-hukan kepada Riris atau tidak?”

Nyi Rangga memang menjadi bimbang pula. Dengan nada berat ia justru bertanya, ”Bagaimana sebaiknya menurut Ki Rangga?”

“Aku bingung Nyi. Seandainya Riris tidak diberi-tahu sekarang, maka jika pada suatu ketika mengetahui sementara keadaan sudah menjadi sangat buruk, maka ia tentu akan sangat menyesal. Tetapi jika ia kita beritahu sekarang, akibatnya akan dapat menjadi sangat buruk pula.”

“Bagaimana dengan Jangkung?” bertanya Nyi Rangga pula.

Ki Rangga menarik nalas panjang. Katanya, ”Nampaknya Jangkung merasa dirinya lebih dekat dengan Risang.”

“Ya. Tetapi Jangkung tidak pernah mengganggu semua rencana Ki Rangga, ia patuh melakukan apa yang Ki Rangga katakan kepadanya meskipun ia tidak sependapat.”

Ki Rangga Dipayuda mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku memang harus berterima kasih kepadanya.”

“Nyi” berkata Ki Rangga kemudian, ”sebaiknya kita memang memberitahukan hal ini kepada kedua orang anak kita. Apapun yang kemudian terjadi, mereka tidak akan meletakkan seluruh kesalahan pada kita.”

Nyi Rangga termangu-mangu sejenak. Memang sulit dibayangkan, betapa perasaan Riris akan terluka.

Dalam kebimbangan Nyi Rangga bertanya, ”Tetapi keadaan akan semakin buruk, jika Riris kemudian mengambil keputusan untuk melepaskan kedua-duanya. Risang sudah terlanjur terluka dan Kasadha akan terluka pula.”

Ki Rangga mengerti pendapat isterinya. Dengan kerut di dahinya yang semakin dalam ia berkata, ”Jika perang terjadi dengan menibawa banyak korban yang baru diketahui Riris kemudian, apakah ia tidak merasa sangat berdosa?”

“Baiklah, Ki Rangga” berkata isterinya, ”aku akan memanggil mereka.”

Sejenak kemudian, Jangkung dan Riris sudah duduk bersama mereka. Riris telah sekaligus membawa minuman hangat bagi ayahnya dan beberapa potong makanan.

Namun kedua anak Ki Rangga itu memang menjadi berdebar-debar.

Setelah minum beberapa teguk, Ki Rangga itu pun berkata dengan suara yang seakan-akan tersangkut di kerongkongan”Kau Jangkung dan kau Riris. Ayah hari ini memerlukan pulang meskipun hanya sebentar, karena ayah ingin minta diri. Mungkin malam nanti, mungkin besok pagi atau besok siang, ayah akan berada dalam pasukan segelar sepapan yang berangkat melakukan kewajiban.”

“Apakah perang antara Mataram dan Madiun sudah pecah?” bertanya Jangkung.

“Tidak, Jangkung. Pasukan yang akan dipimpin oleh Ki Jayayuda sendiri tidak akan menuju ke Madiun. Untuk pergi ke Madiun kita memerlukan pasukan yang beberapa puluh kali lebih kuat.”

“Jadi ayah akan bertugas ke mana?”

Ki Rangga Dipayuda menarik natas dalam-dalam. Namun kemudian dengan sangat berhati-hati Ki Rangga menjelaskan, bahwa Pajang telah mengirimkan pasukan yang terhitung kuat ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Tanah Perdikan Sembojan? Ayah, itu tidak mungkin. Kecuali jika Mataram, Pajang dan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang memiliki kemampuan prajurit itu akan mendekati Madiun dari sisi Selatan.” Sahut Jangkung.

Ki Rangga menggelengkan kepalanya. Dengan sangat berhati-hati pula ia menjelaskan, bahwa Pajang terpaksa datang ke Tanah Perdikan Sembojan untuk menegakkan wibawa Pajang.

“Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi. Aku kenal Kepala Tanah perdikan Sembojan dengan baik. Ia telah banyak sekali berjasa terhadap Pajang.”

“Jasa seseorang tidak dapat dipergunakan sebagai perisai untuk melakukan pelanggaran paugeran.”

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” desak Jangkung.

Ki Rangga menarik nafas panjang, ia memang tidak ingin menyembunyikan persoalan yang sedang dihadapi oleh keluarga Ki Rangga itu, sehubungan dengan keretak-kan hubungan antara Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan.

Kedua anak Ki Rangga itu mendengarkan keterangan Ki Rangga itu dengan sungguh-sungguh. Ketegangan di jantung Riris pun menjadi semakin meningkat sehingga akhirnya dadanya menjadi sesak.

Yang terdengar dari sela-sela bibirnya adalah desis perlahan, ”Ibu.”

“Riris” Nyi Rangga menjadi sangat cemas melihat Riris yang menjadi sangat pucat. Keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya. Sedangkan jantungnya berdetak semakin cepat.

Nyi Rangga pun kemudian telah memeluk Riris sambil berdesis, ”Minumlah Riris.”

Riris masih tetap sadar. Ketika Nyi Rangga melekatkan mangkuk di bibirnya, maka Riris pun telah minum beberapa teguk.

Baru kemudian, Riris itu menangis.

“Riris” berkata Ki Rangga, ”aku memang ingin berterus terang kepadamu, supaya kau dapat langsung mendengar persoalannya dari bibirku sendiri. Dengan demikian, maka tidak akan bertambah dan berkurang dari persoalan yang sebenarnya.”

“Kenapa hal itu harus terjadi, ayah?” bertanya Riris, “apakah dengan demikian aku harus menanggung dosanya.”

“Riris. Kalau aku berterus-terang kepadamu tentang hal ini, karena aku menjadi cemas jika kau pada suatu saat mengetahuinya dan kau akan menyalahkan dirimu sendiri.” sahut ayahnya. Selanjutnya katanya, ”Karena itu, maka biarlah aku katakan kepadamu sekarang, bahwa kau, aku dan Kasadha tidak perlu merasa bersalah. Ki Tumenggung juga tidak bersalah. Kami telah memberi banyak kesempatan kepada Risang untuk mengendapkan perasaannya. Tetapi hatinya menjadi sekeras batu. Mungkin ia merasa bahwa ia sudah banyak berjasa kepada Pajang, sehingga ia dapat berbuat apa saja menurut keinginannya sendiri.”

Tetapi tiba-tiba Jangkung memotong, ”Tidak ayah. Aku kenal Risang dengan baik. Ia bukan jenis seorang yang berbangga atas jasa-jasa yang telah diberikan. Dengan ikhlas ia berbuat sesuatu bagi Pajang. Tetapi yang terjadi, justru karena hatinya benar-benar terguncang. Tetapi bukan maksudku untuk membenarkan sikapnya menentang Pajang.”

“Jadi, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Aku tidak berpendapat apa-apa. Aku hanya ingin meluruskan anggapan tentang dirinya. Tetapi bahwa ia dianggap bersalah kepada Pajang, aku sama sekali tidak dapat mencampurinya.”

Ki Rangga menarik natas dalam-dalam. Dipandanginya Riris yang gemetar. Dengan nada lembut. Ki Rangga berkata, ”Riris. Tenangkan hatimu. Kau sudah menentukan langkah menyongsong hari depanmu. Kau tidak perlu ragu-ragu.”

Riris tidak menjawab. Tetapi dari pelupuknya masih mengalir air matanya.

“Sudahlah Riris. Seperti kata ayahmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ayahmu juga tidak menya-lahkanmu dan tidak menyalahkan dirinya sendiri pula. Demikian pula Kasadha dan Ki Tumenggung Jayayuda. Biarlah paugeran berjalan menurut yang seharusnya, jika paugeran tidak ditegakkan, maka tidak akan ada ketenangan dan kepastian tatanan.”

Riris masih tetap berdiam diri. Tetapi keringatnya mengalir semakin banyak.

Ibunya menjadi cemas. Katanya, ”Marilah Riris, ber-baringlah di bilikmu.”

Tetapi Riris menggelengkan kepalanya.

Ki Rangga Dipayuda menarik natas panjang. Kemudian katanya”Waktuku hanya sedikit. Aku minta semuanya menanggapi persoalan ini dengan sikap dewasa, jangan kekanak-kanakan seperti Risang.”

Jangkung mengerutkan dahinya. Hampir saja mulutnya menjawab, karena ia tidak sependapat dengan ayahnya. Tetapi niatnya diurungkannya, karena pembicaraan mengenai pribadi Risang atau Kasadha akan dapat membuat perasaan Riris semakin terguncang-guncang.

Ki Rangga tidak sempat menunggu dipersiapkannya makan siang, karena ia harus segera berada di tamaknya kembali. Ki Rangga hanya sempat minum dan makan beberapa potong makanan. Kemudian Ki Rangga itu pun telah minta diri, ”Aku akan kembali ke barak. Sekali lagi aku minta agar kalian bersikap dewasa.”

Riris masih saja tidak menjawab. Sementara Jangkung pun berkata, ”Baiklah ayah. Kami akan melakukan sebagaimana ayah kehendaki. Nanti atau besok pagi aku akan pergi ke Pajang. Aku ingin tahu, kapan ayah berangkat ke Tanah Perdikan bersama pasukan Pajang itu.”

Ki Rangga pun kemudian meninggalkan rumahnya kembali ke barak. Nyi Rangga, Jangkung dan Riris mengantarnya sampai keregol. Bagaimanapun juga hati mereka merasa berat untuk melepaskan Ki Rangga pergi ke medan perang.

“Seharusnya ayah sudah mengundurkan diri. Waktu ayah diangkat kembali, seharusnya memberikan batas waktu kesediaannya, sehingga tidak berlarut-larut seperti sekarang. Apalagi keadaan menjadi semakin panas, persoalan dengan Madiun menjadi semakin gawat, sementara persoalannya menjadi bertambah rumit karena sikap Tanah Perdikan Sembojan.” desis Jangkung.

Riris sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya. Terdengar isaknya justru menjadi semakin keras.

“Sudahlah” berkata Nyi Rangga, ”marilah.” Riris memang langsung berlari ke dalam biliknya.

Dijatuhkannya dirinya di pembaringan. Sambil menelungkup Riris menangis.

“Sudahlah Riris” ibunya duduk dibibir pembaringan, ”sudah aku katakan, sebagaimana ayah katakan, kita harus menanggapi persoalan ini dengan sikap dewasa. Kita jangan menyalahkan-diri sendiri. Kita harus yakin, bahwa apa yang kita lakukan adalah hak kita yang sah. jika kau memang mencintai Kasadha, adalah hakmu untuk menerimanya sebagai suamimu. Orang lain tidak dapat ikut campur, meskipun orang itu pernah berjasa didalam perjalanan hidupmu.”

Riris masih menangis. Isaknya telah mengguncang-guncang tubuhnya yang menelungkup itu.

“Tidurlah” berkata ibunya, ”kau akan menjadi tenang.”

Riris masih tetap berdiam diri. Tetapi tangisnya mulai mereda. Sekali-sekali diusapnya matanya yang basah.

Ketika Riris menjadi semakin tenang, maka Nyi Rangga pun telah meninggalkannya didalam pembaringannya. Di ruang dalam, Jangkung masih duduk merenungi persoalan yang sedang dihadapi oleh keluarganya.

Ibunya yang kemudian duduk disebelahnya berdesis

“Aku dan ayahmu memang sudah merasa ragu, apakah kami harus mengatakannya kepada Riris atau tidak.”

“Tetapi ayah dan ibu sudah benar. Riris memang harus mengetahui persoalan yang menyangkut dirinya, agar ia tidak menyalahkan siapapun, termasuk dirinya sendiri kelak. Persoalan seperti ini memang sebaiknya diketahuinya sebelumnya. Semakin cepat semakin baik.”

“Tetapi nampaknya Riris menyesali dirinya.”

“Memang dapat dimengerti, ibu” jawab Jangkung

“Riris merasa, karena pilihannya itu, maka telah terjadi perang yang akan membawa korban jiwa. Ia seakan-akan harus memikul tanggung jawab atas kematian banyak orang di medan pertempuran itu.”

“Itu akan menjadi beban sepanjang hidupnya, Jangkung.”

“Tetapi ayah dan ibu dapat mengatakan kepadanya, selalu setiap ada kesempatan, bahwa tanggung jawab terbesar ada di pundak Risang. Ia tidak seharusnya mengorbankan banyak orang karena dirinya menjadi kecewa.

Meskipun sampai saat ini, jika aku diwenangkan memilih, aku tetap memilih Risang, namun aku sadar, bahwa ia tidak boleh larut dari gejolak perasaannya.”

“Akibatnya sangat mengerikan, Jangkung. Pasukan Pajang tentu akan memperlakukan Tanah Perdikan Sembojan dengan keras dan kasar, karena Tanah Perdikan Sembojan dianggap telah memberontak. Sebagai isteri seorang prajurit aku sering mendengar ayahmu berceritera tentang tugas-tugas keprajuritannya. Bagaimana mereka memperlakukan orang yang telah memberontak. Bahkan mungkin sekali hukuman yang diberikan adalah hukuman gantung atau hukuman pancung. Jika hal ini ditrapkan atas Risang, apakah ayahmu akan sampai hati menyaksikannya?”

“Tidak ibu. Pajang tidak akan membabi buta. Semua jasa yang pernah dipersembahkan Risang kepada Pajang, serta alasan pemberontakannya, akan dipertimbangkan disaat keputusan hukuman dijatuhkan.”

“Tetapi belum tentu seseorang sempat dihadapkan kepada paugeran yang murni. Ayahmu sering berceritera, bahwa para prajurit yang letih dan marah, kadang-kadang tidak memberi kesempatan seseorang dihadapkan kepada paugeran. Hukuman telah dijalani sebelum ia dihadapkan kepada yang berwenang. Sedangkan hukuman yang harus dijalani itu adalah hukuman sesuai dengan keadaan medan yang basah oleh darah.”

Jangkung menarik natas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia berdesis, ”Kasihan Risang. Ia satu-satunya orang yang berhak atas kedudukan yang dipegangnya sekarang, ia satu-satunya anak Nyi Wiradana.”

“Sudahlah Jangkung. Segala sesuatunya berada diluar jangkauan kemampuan dan kuasa kita.”

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah ibu. Tetapi bagaimanapun juga aku ingin mengetahui, kapan ayah berangkat.”

“Untuk apa?” bertanya ibunya.

“Ayah sudah terlalu tua untuk turun kemedan perang.”

Ibunya menarik natas panjang. Katanya, ”Sudah berapa kali ayahmu pulang dan memberitahukan kepadaku, bahwa ia akan berangkat kemedan perang. Aku tidak pernah membuat pemusatan perhatiannya terpecah antara tugasnya dan keluarganya. Yang selalu aku lakukan adalah berdoa, agar yang Maha Agung selalu melindunginya siang dan malam.”ibunya berhenti sejenak, lalu katanya”selama ini Yang Maha Agung itu mendengarkan doa ibu.”

Jangkung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Meskipun demikian, menjelang sore, Jangkung telah pergi ke Pajang, ia singgah dirumah seorang kawannya yang juga seorang pedagang kuda. Sambil lalu ia bertanya tentang gerakan pasukan dari barak yang tidak terlalu jauh dari rumah kawannya itu.

“Bukankah ayahmu ada didalam barak iu?” bertanya kawannya

“Ya. Aku hanya ingin tahu, kapan ayah berangkat bertugas. Sebab ketika tadi ayah pulang, ayah sendiri belum tahu, kapan pasukan Pati mulai bergerak?”

“Ke Madiun?” bertanya kawannya.

“Tidak. Tugas yang lain.”

“Sebuah persiapan perang?”

“Aku tidak tahu. Ayah tidak pernah mengatakan tugas-tugas yang sedang diembannya. Apalagi bersama sebuah pasukan segelar sepapan.”

“Apakah kau terbiasa mengintip keberangkatan ayahmu ke medan tugasnya?” bertanya kawannya.

“Tidak. Tetapi kali ini aku ingin melakukannya.”

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Tidak apa-apa” jawab Jangkung.

Kawannya tersenyum. Katanya, ”Baiklah. Aku akan mencoba bertugas sebagai prajurit sandi.”

Jangkung pun tersenyum. Katanya, “Jika kau berhasil dengan baik, maka aku akan memberitahukannya kepada ayahku. Mungkin kau benar-benar akan diangkat menjadi prajurit sandi.”

“Aku?” kawannya tertawa. Katanya kemudian, “aku adalah jenis orang yang tidak dapat diikat dengan tatanan. Aku bangun kapan saja aku mau bangun. Mungkin setelah matahari sepenggalah. Mungkin setelah saatnya pasar temawon atau bahkan tengah hari. Jika aku menjadi prajurit, maka aku tidak akan tahan terhadap tatanan ketertibannya.”

Jangkung menepuk bahu kawannya sambil tertawa pula. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku minta diri. Jika kau lakukan tugas ini dengan baik, besok kau akan diangkat menjadi lurah. Lurah blantik kuda.”

Keduanya pun tertawa. Namun kemudian Jangkung pun telah minta diri. Katanya, “Ibu akan menjadi gelisah jika aku tidak segera pulang.”

“Baiklah. Kapan kau akan datang lagi?”

“Besok pagi.”

Demikianlah, Jangkung pun kemudian meninggalkan Pajang kembali pulang.

Tetapi dirumah Jangkung tidak mengatakan kemana saja ia pergi dan apa saja yang dilakukan. Ketika ibunya bertanya, maka Jangkung itu pun menjawab, “Ada seorang saudagar permata yang memerlukan seekor kuda yang baik. Saudagar itu terbiasa menempuh perjalanan jauh. Dan bahkan kadang-kadang harus melarikan diri dari kejaran penjahat jika ia merasa tidak dapat melawannya.”

Ibunya  tidak  bertanya  lebih  lanjut.Bahkan Jangkunglah yang bertanya, “Bagaimana dengan Riris?

“Ia sudah menjadi lebih tenang.”

“Syukurlah.” desis Jangkung.

Sebenarnyalah bahwa Riris telah duduk di amben panjang di dapur. Dipandanginya lidah api yang menjilat-jilat di perapian. Diatas api itu terdapat sebuah belanga yang berisi air yang sedang mendidih.

Jangkung tidak mengganggunya seperti biasanya. Ketika ia melihat adiknya merenung, maka ia pun bertanya, “Kau dapat tidur tadi, Riris?”

Riris menarik natas panjang. Dipandanginya wajah kakaknya sejenak. Sambil mengangguk kecil ia berdesis, “Ya kakang.”

“Dimana ibu?” bertanya Jangkung kemudian.

“Didalam” jawab Riris.

“Aku baru saja berbicara dengan ibu didalam. Aku kira ibu juga pergi ke dapur.”

“Ibu tidak kemari” jawab Riris.

Jangkung kembali masuk kedalam mencari ibunya. Ditemuinya ibunya didalam biliknya sedang melipati pakaian yang baru kering dan diangkat dari jemuran.

“Jangan biarkan Riris seorang diri ibu. Ia sempat merenung dan mereka-reka persoalan yang barangkali berada diuar jangkauan penalarannya.”

Ibunya mengangguk. Katanya, “Baiklah. Biar ia membantu melipat pakaian ini.”

Nyi Rangga pun kemudian telah memanggil Riris. Demikian Riris mendatanginya, maka Ki Rangga pun berkata, “Duduklah. Daripada kau merenung, bantulah ibu melipat pakaian.”

Riris pun duduk disebelah ibunya dan membantunya melipat pakaian. Namun Riris tidak banyak berbicara sebagaimana biasanya. Meskipun tangannya sibuk, tetapi pandangan matanya kadang-kadang menerawang ke jagad angan-angannya.

Dalam pada itu, Ki Rangga Dipayuda di baraknya telah bersiap bersama pasukannya. Hampir semua prajurit dari barak itu akan berangkat. Yang tersisa hanyalah sekelompok yang terdiri dari seratus orang yang akan menunggui, mengatur dan memelihara barak itu sebaik-baiknya.

Malam itu juga Ki Tumenggung Jayayuda akan membawa pasukannya berangkat ke Tanah Perdikan Sembo-jan. Kecuali pasukannya sendiri, Ki Tumenggung akan membawa pasukan cadangan pula yang akan memperkuat pasukannya jika keadaan memaksa. Disamping itu juga pasukan kecil yang akan mengurus perbekalandan perlengkapan. Menyelenggarakan dapur dan menyiapkan kebutuhan-kebutuhan bagi para prajurit.

Ternyata Ki Tumenggung tidak menunggu lebih lama lagi. Demikian malam turun, maka pasukan itu pun mulai bergerak. Di alun-alun telah menunggu pasukan cadangan yang akan berangkat bersama pasukan Ki Jayayuda.

Ki Jayayuda sengaja tidak membunyikan isyarat-isyarat keprajuritan. Tidak pula memasang rontek dan kelebet pada tunggul-tunggulnya, meskipun tunggul-tunggul kebesaran tetap dibawa, sebagai-lambang tatak dari pasukannya.

Meskipun pasukan itu seakan-akan berangkat dengan diam-diam, namun orang-orang Pajang akhirnya mengetahuinya juga, bahwa pasukan segelar sepapan telah meninggalkan gerbang kota menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Namun tidak semua orang tahu, untuk apa pasukan itu pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Tidak semua orang tahu bahwa Sembojan telah menentang perintah Kangjeng Adipati Pajang.

Perjalanan pasukan Pajang itu memang tidak secepat perjalanan para prajurit berkuda yang pernah menjadi utusan Ki Tumenggung Jayayuda ke Tanah Perdikan. Iring-iringan prajurit Pajang itu berjalan sangat lamban.

Tetapi hal itu sudah diperhitungkan oleh Ki Tumenggung. Mereka akan berjalan sampai dini hari. Kemudian pasukan itu akan berhenti untuk beristirahat. Disaat fajar menyingsing pasukan itu akan meneruskan perjalanan sehari penuh. Mereka berharap bahwa mereka akan berada diperbatasan Tanah Perdikan Sembojan menjelang malam. Mereka dapat beristirahat semalam penuh. Meskipun Ki Jayayuda tidak merencanakan untuk segera menyerang dihari berikutnya, namun para prajuritnya harus sempat beristirahat justru seandainya pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan menyerang lebih dahulu di pagi hari berikutnya. Tetapi jika pasukan pengawal Tanah Perdikan tidak menyerang, maka mereka masih mempunyai waktu sehari semalam. Ki Tumenggung masih akan mempergunakan waktu yang sehari semalam itu untuk memberi kesempatan terakhir bagi Tanah Perdikan Sembojan untuk menghindarkan kemungkinan terjadi perang.

Demikianlah, maka pasukan Pajang itu berderap dengan langkah yang gemuruh melintasi jalan-jalan yang berdebu menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Ki Rangga Dipayuda dan Ki Lurah Kasadha ada didalam pasukan itu.

Dengan kepala tunduk dan jantung yang berdebaran, Ki Lurah Kasadha berjalan diantara prajurit-prajuritnya. Setiap derap langkah para prajurit itu terasa bagaikan menghentak-hentak didalam dadanya, mengguncang jantung. Berbagai macam gejolakiperasaan memang tengah mengguncang jiwanya. Kasadha mulai membayangkan bahwa jika perang terjadi, maka akan banyak sekali korban yang berjatuhan. Kasadha tahu benar kemampuan para pengawal Tanah Perdikan. Kasadha pun tahu benar, beberapa orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan tidak akan membiarkan Risang berjuang sendiri. Kasadha tahu betapa tinggi ilmu Sambi Wulung, Jati Wulung, Gandar dan apalagi Nyi Wiradana disamping Risang sendiri.

Kadang-kadang Kasadha juga merasa bersalah dan bertanggung jawab jika berpuluh orang terbaring diam dengan luka yang menganga di tubuhnya.

Bahkan seiring timbul, pula penyesalan didalam hatinya, kenapa ia pernah bertemu dan akhirnya hatinya telah tertambat oleh anak Ki Rangga Dipayuda.

Jika pada suatu saat ia duduk bersanding dengan Riris, maka rasa-rasanya tempat duduknya itu beralaskan tubuh-tubuh yang terbujur diam. Terbayang dirongga matanya, darah yang mengalir membasahi suguhan yang dihidangkan. Jika terdengar bunyi gamelan, rasa-rasanya dibarengi dengan dentang senjata beradu, sedangkan tembang yang mengalun akan terdengar seperti suara tangis yang pilu.

Kasadha menggeretakkan giginya. Tetapi apakah ia harus melangkah surut sementara Risang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri meskipun ia tahu, bahwa diantara rakyatnya sendiri akan jatuh berpuluh korban pula? Bahkan nama Tanah Perdikan Sembojan pun tentu akan segera berakhir.

Kasadha masih melangkah diantara prajurit-prajurit nya. Tetapi tubuhnya seakan-akan sekedar hanyut diantara pasukannya yang berderap maju itu.

Dalam pada itu, maka rencana perjalanan sebagaimana sudah diatur oleh Ki Tumenggung itupur dilaksanakan dengan tertib. Pasukan itu sama sekali tidak berhenti sepanjang malam sampai menjelang pagi. Baru kemudian Ki Rangga itu memberikan isyarat untuk menghentikan pasukan di sebuah pategalan yang luas

Para prajurit diijinkan untuk beristirahat sampai tajar.

Ternyata kelelahan yang mencengkam telah membuat para prajurit itu segera tertidur dimana pun mereka menjatuhkan tubuhnya. Namun dalam pada itu, sekelompok prajurit ternyata tidak sempat beristirahat. Mereka harus segera mempersiapan peralatan mereka untuk menjerang air dan menanak nasi. Meskipun hanya dengan dendeng ragi, maka para prajurit harus makan sebelum mereka berangkat.

Kesempatan beristirahat yang sebentar itu membuat tubuh para prajurit menjadi segar kembali. Apalagi ketika kemudian mereka mendapat bagian makan mereka. Nasi hangat dengan dendeng ragi yang memang sudah disiapkan dan dibawa dari Pajang.

Para prajurit itu masih mempunyai waktu sejenak sebelum mereka harus melanjutkan perjalanan, agar perut mereka tidak justru menjadi sakit.

Ketika matahari mulai membayang dengan cahayanya yang kuning kemerah-merahan, maka para prajurit itu sudah diperintahkan untuk bersiap. Mereka akan melanjutkan perjalanan mereka disiang hari.

Kuda-kuda selain beberapa ekor kuda tunggangan untuk Ki Tumenggung dan terutama para penghubung, telah mendapat beban bekal makan bagi para prajurit di perjalanan. Karena sekelompok prajurit yang bertugas mempersiapkan bekal tidak akan menanak nasi diperjalanan.

Perjalanan para prajurit Pajang itu menjadi berat ketika matahari naik semakin tinggi. Panasnya mulai terasa menggatalkan kulit. Keringat mulai mengalir membasahi punggung.

Tetapi matahari pun tidak berhenti. Matahari pun memanjat langit semakin tinggi dan panasnya pun terasa semakin menyengat.

Perjalanan yang berat itu telah membuat para prajurit menjadi semakin garang. Telapak tangan mereka yang basah oleh keringat membuat tangan mereka menjadi gatal. Rasa-rasanya mereka ingin lebih cepat menarik senjata mereka dari wrangkanya.

“Panasnya” desis seorang prajurit sambil mengusap dahinya.

“Aku lebih senang bertempur menghadapi musuh daripada dipanggang diteriknya sinar matahari seperti ini.

“Kita akan mengalami kedua-duanya. Bertempur sambil dipanggang dipanasnya sinar matahari seperti ini.

“Tetapi ada sasaran untuk melepaskan gejolak perasaan kita” jawab kawannya.

Prajurit itu mengangguk-angguk.

Sedikit lewat tengah hari, Ki Tumenggung Jayayuda memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk beristirahat. Meskipun disediakan kuda bagi Ki Tumenggung, dan beberapa orang pemimpin yang lain, tetapi merea telah ikut merasakan betapa lelahnya berjalan kaki. Karena Ki Tumenggung sendiri menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sebagaimana para prajurit yang lain, maka para  pemimpin yang lain pun terpaksa harus berialan pula.

Perjalanan pasukan itu ternyata telah menarik banyak perhatian. Orang-orang yang berada di sawah menjadi berdebar-debar. Tidak terpasang rontek dan umbul-umbul. Tidak pula nampak kelebet terikat pada tunggul.

Jika pasukan itu melewati padukuhan, maka orang-orang padukuhan pun justru menonton dengan wajahwajah berkerut. Pasukan itu tidak membunyikan genderang perang. Tetapi pasukan yang bersenjata tombak di paling depan menggenggam tombak mereka ditangan.

Meskipun demikian, pasukan itu tidak menunjukkan sikap bermusuhan dengan orang orang padukuhan itu. Bahkan para prajurit itu sempat tersenyum kepada anak-anak yang berdiri dipinggir jalan.

Dalam pada itu, iring-iringan prajurit itu bergerak lagi setelah beristirahat beberapa saat untuk minum dan makan. Panas matahari terasa semakin menyala meskipun matahari mulai merayap turun.

Jika para prajurit itu merasa terpanggang oleh panasnya matahari diperjalanan, maka Kasadha telah terpanggang oleh kegelisahannya sendiri. Semakin dekat dengan Tanah Perdikan Sembojan, maka terasa hatinya menjadi semakin bergejolak.

Ki Rangga Dipayuda pun mengetahui dengan pasti kegelisahan yang membakar jantung Kasadha. Karena itu, maka Ki Rangga sempat berjalan disebelahnya. Ia berusaha untuk sejauh mungkin menenangkan kegelisahan itu.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Rangga sendiri juga selalu dibayangi oleh persolan pribadinya. Persoalan anak gadisnya.

“Dengan tidak langsung Riris telah menggerakkan pasukan sebesar ini” berkata Ki Rangga didalam hati. Tetapi sama sekali bukan sebuah kebanggaan. Justru keluhan yang pedih.

Semakin rendah matahari, maka sengatan sinarnya pun menjadi semakin lunak. Para prajurit itu melangkah membelakangi matahari yang meluncur turun disisi Barat langit.

Berita tentang kedatangan pasukan segelar sepapan dari Pajang itu telah mendahului kedatangan pasukan itu sendiri. Dua orang saudagar berkuda yang melihat iring-iringan pasukan itu telah melarikan kuda mereka menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Dua orang penghubung berkuda dari yang melihatnya segera melaporkannya kepada Ki Tumenggung.

“Apakah kami harus menangkap mereka?”

Ki Tumenggung menggeleng. Katanya, “Biarkan mereka mendahului kita sampai di Tanah Perdikan.”

“Keduanya dapat memberitahukan kehadiran kita” jawab salah seorang penghubung itu.

“Aku memang bermaksud demikian. Biarlah Kepala Tanah Perdikan Sembojan sempat berpikir untuk yang terakhir kalinya.” jawab Ki Tumenggung Jayayuda.

Kedua penghubung itu saling berpandangan. Namun kemudian mereka mengangguk-angguk kecil.

Sebenarnyalah kedua orang saudagar berkuda yang melarikan kuda mereka menuju ke Tanah Perdikan Sembojan telah memberitahukan kedatangan pasukan yang terhitung besar mendekati Tanah Perdikan itu kepada anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

“Benar katamu?” berkata anak muda itu.

“Aku tidak pernah bermimpi sambil duduk di punggung kuda” jawab saudagar itu.

Anak muda itu menjadi berdebar-debar. Katanya, “Baiklah. Aku akan segera memberikan laporan. Terima kasih.”

Anak muda itu pun segera menyampaikan berita kedatangan pasukan itu kepada pemimpin pengawal di padukuhannya.

Dalam waktu singkat, para pengawal padukuhan itu dikumpulkan. Mereka harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terburuk sekalipun.

Selagi para pengawal padukuhan itu bersiap, maka dua orang pengawal berkuda telah berpacu menuju ke padukuhan induk. Namun di sepanjang padukuhan yang dilewati, penghubung itu telah memberitahukan kedatangan pasukan Pajang yang besar.

“Kau melihat kedatangan pasukan itu?” bertanya seorang anak muda di padukuhan yang dilewatinya.

“Dua orang berkuda yang melewati Tanah Perdikan ini memberitahukan kepada kami.”

“Apakah mereka yakin bahwa pasukan itu menuju kemari dan bukan mengambil ancang-ancang untuk menyerang Madiun dari sisi Selatan?” bertanya anak muda itu.

“Menurut kedua orang berkuda itu, pasukan Pajang itu menuju ke Tanah Perdikan ini. Sementara itu kita tahu hubungan yang memburuk antara Tanah Perdikan ini dengan Pajang.”

“Ya. Dan kita tidak tahu, persoalan yang sebenarnya yang membuat Risang menjauhi Pajang.”

Apapun yang terjadi, kita harus mempertahankan Tanah Perdikan ini.”

Demikianlah berita tentang kedatangan pasukan Pajang itu pun segera menjalar dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya. Para penghubung berkuda berterbangan menyusuri jalan-jalan yang menghubungkan padukuhan-padukuhan dan Kademangan-kademangan di Tanah Perdikan Sembojan. Para pengawal sengaja tidak membunyikan tanda-tanda bahaya agar tidak membuat rakyat Tanah Perdikan Sembojan menjadi sangat gelisah.

Tatanan yang mapan di Tanah Perdikan Sembojan kemungkinan gerak yang cepat bagi para pengawal. Dalam waktu singkat, maka disetiap padukuhan, pasukan pengawal telah disiapkan. Bahkan kemudian bukan hanya anak-anak muda, tetapi juga laki-laki yang sudah lebih tua, tetapi masih memiliki kemampuan untuk bertempur telah bersiap pula. Sebagian besar dari mereka dimasa mudanya juga pernah menjadi pengawal Tanah Perdikan Sembojan dan bahkan mengalami pertempuran-pertempuran yang mendebarkan.

Meskipun mereka tidak tahu dengan pasti, apa sebabnya, bahwa Tanah Perdikan Sembojan dalam waktu yang terhitung singkat menjadi demikian jauhnya dari Pajang, tetapi setiap orang di Tanah Perdikan Sembojan merasa wajib untuk mempertahankan Tanah Perdikan mereka.

Dimasa-masa yang lampau, Tanah Perdikan Sembojan pernah berperang melawan Jipang, Pajang dan campur tangan kelompok-kelompok prajurit Madiun bersama beberapa orang padepokan.

Dalam pada itu, dua orang penghubung berkuda telah sampai ke padukuhan induk. Kedua orang itu pun segera menghadap Risang dan menyampaikan laporan tentang gerakan pasukan Pajang.

“Prajurit Pajang” Risang terkejut.

“Ya. Menurut dua orang berkuda itu, prajurit Pajang segelar sepapan telah bergerak mendekati Tanah Perdikan ini.”

Wajah Risang menjadi sangat tegang. Seolah-olah ia baru sadar, setelah beberapa lama ia bermain dengan api, maka tiba-tiba saja tangannya telah terbakar.

“Kau lihat sendiri?” bertanya Risang.

“Belum. Kami baru mendapat keterangan dari dua orang berkuda yang melihat sendiri gerak pasukan itu.”

Kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantung Risang. Pajang benar-benar telah mengirimkan pasukan yang kuat ke Tanah Perdikan.

Nyi Wiradana juga mendengar laporan itu. jantungnya serasa akan meledak. Karena itu, tanpa menunggu Risang, Nyi Wiradana telah mengambil sikap.

Dengan tergesa-gesa Nyi Wiradana melangkah ke halaman dan menuju keserambi gandok. Sambi Wulung dan Jati Wulung biasanya berada di serambi gandok itu.

Dengan suara yang bergetar setelah memberitahukan itu Nyi Wiradana berkata, “Tolong. Lihat, apakah pasukan itu benar-benar mendekati Tanah Perdikan ini.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sigapnya mereka berlari ke kandang kuda.

Ketika Risang turun ke halaman, ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung berpacu langsung dari kandang. Satu hal yang tidak pernah mereka lakukan.

Sesaat Risang dengan termangu-mangu berdiri. Wajahnya menjadi tegang ketika ibunya berjalan mendekatinya sambil berkata, “Seharusnya kau tidak akan terkejut Risang. Bukankah kau sudah memperhitungkan bahwa hal seperti ini akan terjadi? Sekang kerahkan semua kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan. Biarlah kita bersama-sama hancur menjadi debu. Tanah Perdikan Sembojan akan tinggal menjadi dongeng bagi anak cucu yang masih sempat hidup diatas tanah ini.”

Risang tidak segera menjawab. Sementara ibunya berkata pula, “Kenapa kau menjadi bingung. Cepat berbenah diri. Ambil senjatamu yang paling sesuai. Perintahkan para pengawal untuk menyusun barisan.” ibunya berhenti sejenak, lalu katanya, “Aku akan memberitahukan kepada Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Biarlah mereka menjadi saksi kehancuran tanah ini.”

Nyi Wiradana tidak menunggu jawaban Risang. Ia pun segera melangkah masuk kedalam biliknya.

Risang masih berdiri termangu-mangu. Ia baru sempat berpikir sungguh-sungguh tentang tingkah lakunya disaat-saat terakhir atas Tanah Perdikannya.

Risang baru membayangkan, bahwa air disungai-sungai akan menjadi merah oleh darah. Tangis perempuan dan anak-anak akan membahana diseluruh Tanah Perdikan yang akan menjadi debu ini. Tubuh yang diam membeku berserakan dimana-mana karena prajurit Pajang yang menjadi garang dalam perang, sehingga bukan saja para pengawal, tetapi semua laki-laki akan dibantai tanpa ampun. Harta benda akan dijarah dan perempuan serta gadis-gadis akan kehilangan derajad kemanusiaan mereka.

Rasa-rasanya jantung Risang akan terlepas dari tangkainya, ia sudah menjebak Tanah Perdikannya sendiri kedalam bencana yang sangat besar. Hanya karena Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan menjadi kecewa ketika ia mengetahui bahwa gadis yang dicintainya telah menerima lamaran laki-laki lain. Dan laki-laki lain itu adalah adiknya sendiri.

Sinar matahari yang mulai temaram, justru seakan-akan telah membakar langit. Mega-mega yang dihanyutkan angin menjadi merah membara. Burung-burung bangau yan putih dengan cepat melintas menuju ke sarang.

Risang tidak segera berbuat sesuatu, ia justru berjalan selangkah-selangkah ke regol halaman rumahnya. Dengan pandangan kosong Risang memperhatikan jalan yang membujur didepan rumahnya, rumah kepala Tanah Ferdikan Sembojan.

Dua orang penghubung yang memberikan laporan kepadanya masih berdiri termangu-mangu. Keduanya menunggu perintah yang akan diberikan oleh Risang. Mereka menyayangkan bahwa Risang akan berdiri ditangga pendapa sambil berteriak memanggil pemimpin pengawal di padukuhan induk itu. Kemudian memerintahkan semuanya bersiap untuk menghadapi pasukan Pajang.

Tetapi Risang nampak menjadi bingung.

Mereka terkejut ketika mereka mendengar suara Ny Wiradana yang berdiri di pendapa, “Risang. Apa perintahmu sekarang?”

Risang berpaling. Wajahnya menjadi sangat tegang, ia melihat ibunya sudah mengenakan pakaian khususnya dengan sepasang pedang dilambungnya.

Seperti digerakkan oleh tenaga yang tidak dikendalikan nalarnya, Risang melangkah mendekati ibunya. Sementara ibunya pun telah memberikan perintah kepada kedua orang penghubung itu, “Kembali ke padukuhanmu. Siapkan para pengawal dan kerahkan segala kekuatan yang ada. Kita akan bertempur sampai orang terakhir.”

Risang memandangi ibunya dengan penuh kebimbangan. Sementara itu kedua orang penghubung itu menunggu, apakah Risang akan memberikan perintah atau tidak.

Tetapi Risang tidak mengatakan sesuatu.

Dalam keragu-raguan itu, kedua penghubung itu mendengar Nyi Wiradana mengulangi perintahnya, “Cepat. Sampaikan perintahku. Bukan hanya padukuhanmu, tetapi beranting perintah ini harus sampai kesemua Kademangan dan padukuhan di seluruh tlatah Tanah Perdikan Sembojan. Kalian masih harus menunggu perintah berikutnya yang segera akan kami berikan.”

“Baik, Nyi” jawab penghubung itu.

“Kalian singgah sebentar dirumah pemimpin pengawal padukuhan induk. Sampaikan kepadanya, aku memanggilnya.”

“Baik Nyi” jawab penghubung itu.

Sejenak kemudian kedua orang itu telah berderap diatas panggung kudanya meninggalkan regol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Nyi Wiradana pun kemudian berpaling kepada Risang sambil berkata, “Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Aku sudah memerintahkan menyiapkan para pengawal. Mereka tentu menunggu perintah berikutnya. Dimana mereka harus berkumpul untuk menghadapi pasukan yang datang dari Pajang?”

“Aku menjadi bingung ibu” jawab Risang.

“Kenapa kau menjadi bingung? Bukankah seperti ini yang kau inginkan? Kau ingin rakyat Tanah Perdikan dan bahkan Tanah Perdikan ini lenyap? Kau ingin kami menjadi tumbal bagi Riris, gadis titisan bidadari yang tidak ada duanya didunia ini?”

Sekali lagi Risang terkejut. Kata-kata ibunya itu langsung menusuk sampai ke ulu hati.

Tetapi Risang tidak dapat menjawab. Bahkan kemudian ia pun merasa betapa ia telah menjadi terlalu dalam terseret kedalam pusaran perasaannya.

“Apakah Tanah Perdikan ini bersama rakyatnya harus menjadi tumbal bagi Riris? Besok atau lusa Tanah Perdikan ini akan lenyap. Beberapa waktu kemudian, Riris akan memasuki upacara pernikahannya dengan Kasadha. Keduanya akan hidup berbahagia karena tidak akan ada lagi orang yang mengganggunya. Sementara itu Tanah Perdikan ini akan dilupakan orang.”

Keringat dingin mengalir diseluruh tubuh Risang yang menjadi gemetar. Namun ibunya itu kemudian berkata, “Sekarang tidak ada kesempatan untuk membuat pertimbangan apapun. Segala sesuatunya tentu sudah terlambat.

Risang masih belum sempat membuat pertimbangan. Karena itu, maka anak muda itu justru telah terduduk di tangga pendapa.

Dalam pada itu, maka pemimpin pengawal dari padukuhan induk dengan tergesa-gesa telah memasuki halaman rumah Risang. Risang yang duduk ditangga pendapa melihat kehadiran anak muda itu. Diluar sadarnya, maka ia pun telah bangkit berdiri.

“Berikan perintah kepadanya” berkata ibunya. Sejenak Risang menjadi gemetar. Namun kemudian terasa tenaga yang tidak dikenalnya telah bergejolak didalam dadanya. Risang yang hampir kehilangan pegangan itu tidak mempunyai pilihan. Segala sesuatunya telah terjadi, dan Risang telah terperosok kedalam ketelanjurannya.

Karena itu, maka segala sesuatunya seakan-akan telah berjalan dengan sendirinya tanpa dapat dikendalikannya lagi.

“Siapkan semua pengawal.” berkata Risang sambil berdiri tegak ditangga pendapa.

“Aku telah mendengar dari kedua penghubung itu. Tetapi apakah kakang Rembaka yang memimpin para pengawal di seluruh Tanah Perdikan ini sudah mendapat perintah?”

Risang masih belum dapat mengendalikan dirinya sepenuhnya. Karena itu, maka ia pun berteriak, “panggil Rembaka.”

Pemimpin pengawal di padukuhan induk itu pun segera meninggalkan Risang yang termangu-mangu yang kemudian berdiri tegak memandang ke kejauhan dengan tatapan mata yang kosong.

“Naiklah” perintah ibunya.

Risang pun telah bergerak pula. Kakinya melangkahi tangga pendapa. Kemudian satu-satu langkahnya terayun menuju ke pringgitan dan kemudian duduk diatas tikar yang sudah terbentang.

Sejenak kemudian Rembaka pun telah datang dan duduk dihadapan Risang. Tetapi Rembaka nampak gelisah. Dengan nada berat ia berkata, “Aku, pemimpin pengawal Tanah Perdikan ini akhirnya mendengar juga kedatangan pasukan Pajang, meskipun justru yang terakhir dan bahkan hampir terlampaui pula.”

Risang tidak segera dapat menjawab. Hatinya yang sedang terguncang-guncang itu masih belum dapat diendapkanya. Namun seakan-akan tidak mendengar kata-kata Rembaka ia berkata, “Siapkan semua pengawal.”

Tetapi Rembaka menjawab, “Tidak perlu. Semua pepimpin pengawal di padukuan sudah melakukannya.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi kau pemimpin pengawal seluruh Tanah Perdikan. Dengar perintahku. Siapkan semua pengawal. Kau dengar?”

Rembaka mengerutkan dahinya. Tetapi ia sadar, bahwa Risang tidak dalam keadaan wajar. Karena itu, maka diurungkannya niatnya untuk menyatakan kekecewaannya, bahwa ia justru mendapat perintah terakhir.

Sementara itu, Nyi Wiradana pun berkata, “Lakukan perintahnya, ia adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Rembaga mengangguk kecil sambil menjawab, “Baik Nyi. Aku akan melakukannya.”

“Perintah berikutnya akan menyusul. Kita menunggu laporan dari paman Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kita masih belum tahu, dimana pasukan Pajang itu akan memasang gelarnya atau tempat mereka berkemah.”

“Baik Nyi” jawab Rembaka.

“Siapkan para penghubung berkuda. Segala-galanya harus dengan cepat diketahui oleh seisi Tanah Perdikan. Aku sependapat bahwa sementara tidak dipergunakan isyarat kentongan sampai keadaan memaksa.”

Rembaka pun kemudian telah meninggalkan rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan langsung pergi ke banjar.

Di banjar, anak-anak muda sudah banyak yang berkumpul. Mereka telah menyiapkan senjata masing-masing.

Rembaka pun kemudian telah berada di banjar pula. Diperintahkannya kepada penghubung berkuda untuk bersiap-siap sepenuhnya. Setiap saat mereka dapat bergerak untuk menyongsong kedatangan pasukan Pajang.

Karena itu, maka para penghubung harus bersiap menyebarkan perintah berikutnya.

Kepada pemimpin pengawal di padukuhan induk, Rembaka pun memerintahkan, agar mengirimkan beberapa orang pengawal ke rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku akan berada disana. Setiap saat dapat turun perintah baru.”

Beberapa saat kemudian, maka Rembaka dan beberapa orang pengawal telah kembali berada di rumah Kepala Tanah Perdikan. Mereka berada pada kesiagaan tertinggi. Setiap saat mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat yang gawat itu, Gandar pulang dari sawah, ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun dari para pengawal yang berada dirumah Kepala Tanah Perdikan ia mendengar tentang kedatangan prajurit dari Pajang.

Gandar menarik nalas dalam-dalam, ia tidak melihat Risang berada diluar. Tetapi Gandar sendiri tidak berniat untuk mencarinya didalam rumahnya.

“Ternyata Risang yang gelisah itu sedang duduk diruang dalam rumahnya, ia masih tetap dibayangi oleh berbagai macam peristiwa buruk yang dapat terjadi didalam peperangan.

Nyi Wiradana lah yang kemudian justru keluar lewat pintu pringgitan. Ketika kemudian ia berdiri di pendapa, maka Gandar pun mendekatinya. Meskipun Gandar tahu, bahwa keadaan menjadi gawat, tetapi ia tetap nampak tenang.

“Apa yang terjadi, Nyi.” bertanya Gandar.

“Kau dari mana?” bertanya Nyi Wiradana.

“Dari sawah” jawab Gandar.

“Untuk apa kau pergi ke sawah berlama-lama? Bukankah sudah ada orang yang bertugas mengerjakannya?

“Aku ingin menghirup udara yang segar Nyi. Disini udara menjadi semakin lama semakin pengab.” jawab Gandar.

“Panggilah pemimpin pengawal itu. Kita akan berbicara sebentar.” berkata Nyi Wiradana, “bawa anak itu ke pringgitan.”

Gandar mengangguk kecil., “Sejenak kemudian, maka Rembaka dan Gandar telah duduk bersama Nyi Wiradana di pringgitan.

“Dimana Risang?” bertanya Gandar.

“la masih sulit untuk berpikir, ia berada di dalam?

“Apakah kedatangan pasukan Pajang itu mengejutkannya?”

“Ya.”

“Seharusnya ia tidak terkejut lagi. Lambat atau cepat, Pajang tentu akan mengirimkan pasukannya.” desis Gandar. Lalu ia pun bertanya pula, “Apa yang akan dilakukan oleh Risang?, “Apakah ia akan menyerah atau akan melawan?”

“Aku belum tahu keputusan yang akan diambilnya. Tetapi sulit baginya untuk menarik kembali keterlibatannya.”

Namun dalam pada itu Rembaka yang duduk bersama mereka menyahut, “Tidak ada yang akan menyerah apapun alasannya. Kita akan mempertahankan Tanah Perdikan ini sampai orang yang terakhir. Kita tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Tiba-tiba aja Pajang telah memusuhi kita.”

Nyi Wiradana menarik natas dalam-dalam. Risang pun sulit menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi.

“Apakah Nyi Wiradana dan paman Gandar meragukan kesetiaan kami?”

“Tidak” Nyi Wiradana menggeleng, “kami tidak pernah meragukan kesetiaan kalian.”

“Lalu apa lagi soalnya? Kenapa paman Gandar menyebut-nyebut kemungkinan kakang Risang untuk menyerah?”

“Bukan maksudku. Barangkali aku khilaf” sahut Gandar.

“Sekarang, apakah semua pengawal sudah siap?”

“Semua padukuhan telah mempersiapkan diri, Nyi. Kami menunggu perintah selanjutnya.”

“Baiklah” desis Nyi Wiradana. Lalu katanya, “Jika demikian, baiklah. Gandar, aku serahkan para pengawal kepadamu dan kepada Rembaka. Kalian akan memimpin mereka. Tetapi kalian harus menunggu perintah selanjutnya.

“Baik, Nyi. Semuanya sudah siap. Perintah apapun yang akan kami terima, akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya.” sahut Rembaka.

Gandar dan Rembaka pun keifiudian minta diri untuk turun ke halaman, berbaur dengan para pengawal yang telah berada dalam kesiagaan yang tertinggi.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meninggalkan kudanya dibalik sebuah gerumbul. Keduanya berjalan menyongsong pasukan Pajang yang menurut dua orang saudagar berkuda telah mendekati Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu malampun telah turun. Gelap telah menyelimuti Tanah Perdikan Sembojan. Di bulak yang luas nampak berpuluh ribu kunang bertengger di daun padi yang hijau subur,

“Jika terjadi perang, hancurlah tanaman di sawah, karena para prajurit dan pengawal akan lebih banyak menghiraukan jiwa mereka daripada tanaman padi di sawah itu” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung menarik nalas dalam-dalam. Air disawah itu tentu akan menjadi merah oleh darah. Bahkan air yang mengalir di parit itu pun akan berbau darah pula.

“Kita sudah berada diluar batas Tanah Perdikan Sembojan.” berkata Sambi Wulung.

“Mereka akan berada di jalur ini.” sahut Jati Wulung.

Kedua orang itu pun kemudian berjalan lebih jauh lagi. Mereka yakin bahwa mereka akan menemukan per-kemahan para prajurit Pajang, karena menurut perhitungan Sambi Wulung dan jati Wulung, para prajurit Pajang akan bermalam semalam untuk dapat beristirahat.

Secepatnya baru besok pagi mereka akan menyerang Tanah Perdikan Sembojan jika Risang tidak mengadakan pembicaraan khusus dengan Senapati yang memimpin pasukan dari Pajang itu.

Ternyata bahwa akhirnya Sambi Wulung dan Jati Wulung berhasil menemukan perkemahan para prajurit Pajang. Uari kejauhan keduanya melihat oncor yang menyala menebar di satu daerah yang luas. Selain itu nampak pula perapian yang mengepulkan asap.

“Pasukan Pajang sama sekali tidak menyamarkan diri. Satu tantangan terbuka” berkata Jati Wulung.

Dengan sangat berhati-hati keduanya menyusup semakin dekat. Kemampuan mereka yang tinggi memungkinkan mereka mengamati isi perkemahan itu.

“Habislah Tanah Perdikan ini” desis Sambi Wulung.

Jati Wulung tidak menyahut. Tetapi ia pun sependapat, bahwa dengan kekuatan sebesar itu, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mampu bertahan lagi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung itu sudah berderap kembali ke rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Dengan rinci keduanya memberikan laporan tentang keberadaan pasukan Pajang disebelah perbatasan.

Nyi Wiradana mendengarkan laporan itu dengan jantung yang berdebaran. Tetapi segala sesuatunya telah terjadi. Pasukan Pajang itu telah berada di hadapan hidung Tanah Perdikan Sembojan. Jika Senapati yang memimpin pasukan itu mengangkat tangannya, maka arus banjir bandang itu akan menghantam dan menyapu isi Tanah Perdikan Sembojan.

Nyi Wiradana tidak minta pertimbangan lagi kepada Risang. Dipanggilnya Rembaka dan Gandar untuk datang ke pringgitan.

“Risang” berkata Nyi Wiradana kepada Risang, “perintahkan Rembaka dan Gandar mempersiapkan pasukannya. Kita tidak akan bertahan diperbatasan. Tetapi kita akan bertahan di belakang dinding padukuhan induk ini. Biarlah padukuhan induk ini menjadi debu. Tetapi dengan demikian kerusakan akan dapat dibatasi.

Risang memandang ibunya dengan wajah yang tegang. Tetapi sebelum ia menyahut, Nyi Wiradana pun berkata, “Kita tidak mempunyai pilihan lain.”

Risang memang tidak sempat membuat pertimbangan. Yang dapat dilakukan kemudian adalah menirukan ibunya. Tanah Perdikan akan menyusun pertahanan dibatas dinding padukuhan induk.

“Lalu, bagaimana dengan para penghuni padukuhan yang mungkin akan dilalui oleh pasukan Pajang?” bertanya Gandar.

“Singkirkan mereka. Biarlah mereka menyibak. Bawa mereka mengungsi ke padukuhan-padukuhan lain yang lebih jauh dari garis perjalanan pasukan Pajang.”

“Baik, Nyi” sahut Gandar.

“Ingat, semuanya harus siap malam ini.” pesan Nyi Wiradana.

“Baik Nyi” jawab Gandar sambil mengangguk-angguk.

Nyi Wiradana sebagaimana para pemimpin Tanah Perdikan yang lain memang menduga, bahwa esok pagi-pagi, pasukan Pajang itu tentu akan bergerak dan menyerang Tanah Perdikan Sembojan. Menghancurkannya dan selanjutnya membiarkan Tanah Perdikan Sembojan dilupakan orang.

Malam itu memang terjadi kesibukan yang luar biasa. Meskipun para pengawal berusaha menenangkan penghuni beberapa padukuhan yang harus mengungsi, tetapi mereka telah menjadi gelisah.

“Kita mempunyai banyak waktu” berkata para pengawal, “kita dapat berbenah sampai menjelang lajar. Menurut perhitungan, baru besok lewat lajar, mereka akan menyerang.

Tetapi kegelisahan itu tidak dapat diredam. Anak-anak yang sudah mengantuk dipaksa untuk berjalan dalam kegelapan. Yang lain menangis ketakutan. Seorang gadis kecil merengek karena golek kayunya tertinggal.

Disaat orang-orang yang tinggal dipadukuhan yang mungkin akan dilalui pasukan Pajang mengungsi, para pengawal dari padukuhan telah berkumpul di padukuhan induk, sehingga padukuhan induk itu rasa-rasanya menjadi sesak. Seperti padukuhan-padukuhan lain, maka para penghuninya juga dipersilahkan untuk mengungsi. Perempuan, anak-anak, laki-laki tua dan orang-orang sakit telah dipindahkan ke padukuhan yang lain.

“Kita akan pertahankan padukuhan induk ini.” berkata Nyi Wiradana.

Dalam pada itu, Risang dengan jantung yang bergejolak telah menyaksikan bagaimana para pengawal mempersiapkan diri. Bagaimana mereka hilir mudik untuk menyiapkan pertahanan, sedangkan yang lain membantu para pengungsi menyingkir.

Tidak seorang pun yang berpangku tangan, sehingga sebelum mereka mulai turun kemedan, tenaga mereka telah habis terperas untuk membuat persiapan-persiapan dalam waktu yang sangat pendek.

Namun Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar masih sempat memperingatkan para pengawal, agar mereka yang sempat beristirahat, supaya mempergunakan waktunya sebaik-baiknya.

Malam itu Risang berjalan menyusuri jalan di pedu-kuhan induk. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak melepaskannya berjalan seorang diri dengan hati yang bergejolak. Bahkan seakan-akan sedang kehilangan pegangan.

Ketika Risang berdiri didepan banjar, maka Rembaka dan empat orang pemimpin pengawal dari Kademangan”kademangan dilingkungan Tanah Perdikan itu menyatakan kesediaan mereka untuk mempertahankan Tanah Perdikan itu sampai kemungkin-an terakhir.

“Kami memilih lebur bersama-sama dengan Tanah Perdikan ini” berkata Rembaka mewakili kawan-kawannya.

“Terima kasih” Risang menganguk-angguk. Tetapi satu pertanyaan tiba-tiba saja muncul didalam hatinya, “Untuk apa sebenarnya mereka sebenarnya mati? Untuk apa?”

Tetapi segala sesuatunya memang sudah terlanjur. Apakah Risang akan mundur dari keterlanjurannya? Ketika dilihatnya pasukan segelar sepapan dihadapannya, hatinya menjadi kecut dan kemudian menyerahkan diri? jantung Risang bagaikan akan pecah oleh kegelisahan yang mencengkam.

Namun ketika ia memasuki banjar dan melihat kesiagaan anak-anak muda, maka menyalalah tekad didalam hatinya. Risang tidak lagi ingat apa sebenarnya yang menjadi sebab ketegangan yang memuncak itu. Tetapi yang kemudian bergelora didalam hatinya adalah, kecintaannya kepada Tanah Perdikan-nya.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata lantang dihadapan para pengawal, “Aku akan berada diantara kalian. Kita pertahankan Tanah Perdikan ini. jika Tanah Perdikan ini akan lebur, biarlah kita ikut lebur pula dida-lamnya.”

Sikap Risang itu mendapat sambutan yang luar biasa. Tiba-tiba saja terdengar suara mengguruh, “Kita pertahankan tanah ini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya dapat menekan dada mereka masing-masing. Diluar sadarnya Sambi Wulung berdesis, “Apaboleh buat.”

Menjelang tajar, maka tersusunlah pertahanan yang kuat di padukuhan induk. Risang yang ada diantara mereka memerintahkan, agar mereka bertahan dibelakang dinding.

Ketika ayam jantang berkokok, maka setiap jantung pun menjadi berdebar-debar. Beberapa orang pengawas telah bersiap di tempat-tempat tersembunyi.

Tetapi pasukan Pajang masih belum bergerak. Tidak ada tanda-tanda bahwa pasukan Pajang akan menyerang hari itu.

Sebenarnyalah pasukan Pajang memang tidak bergerak. Ki Tumenggung Jayayuda masih ingin memberi kesempatan kepada Risang untuk membuat pertimbangan yang terakhir kalinya.

Tetapi hati Risang benar-benar telah membeku, ia tidak peduli lagi kepada Riris. Kepada Kasadha dan kepada Ki Rangga Dipayuda. Tetapi Risang tidak mau menyerah, ia harus mempertahankan Tanah Perdikannya sampai lumat.

Semalam, Nyi Wiradana sempat berada didalam biliknya sambil menangis. Tetapi kemudian digeretakkan giginya. Dengan sepasang pedang di lambungnya, maka ia bukan lagi perempuan yang cengeng, yang mudah menitikkan air mata.

Matahari yang memanjat langit memancarkan sinarnya menyiram Tanah Perdikan Sembojan yang sepi. Seakan-akan kehidupan di Tanah Perdikan itu telah terhenti. Pasar menjadi lengang. Tidak seorang pun pergi ke sawah atau turun kesungai membawa jala. Yang nampak adalah ujung-ujung senjata dibalik dinding padukuh-an induk Tanah Perdikan.

Dalam ketegangan itu, dua orang berkuda berpacu menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan. Dua orang perwira telah datang untuk menemui Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Hari ini kesempatan terakhir bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk mengambil sikap. Prajurit Pajang telah ada di perbatasan.”

Tetapi dengan lantang Risang yang seakan-akan telah kehilangan pribadinya itu menjawab., “Aku sama sekali tidak berubah sikap”

Kedua orang perwira itu tidak bertanya lebih jauh, keduanya memang berharap mendapat jawaban yang demikian. Bersama para prajurit keduanya sudah terlanjur bersiap untuk berperang. Jika perang gagal maka perjalanan panjang yang telah mereka tempuh itu menjadi sia-sia.

Jawaban Risang itu pun kemudian telah menjadi laporan bagi Ki Tumenggung Jayayuda.

Ki Tumenggung ternyata menjadi sangat gelisah, ia membawa pasukan yang kuat yang tentu akan dapat menghancurkan Tanah Perdikan. Ia mendapat waktu sepekan selain perjalanan yang ditempuh disaat pasukannya berangkat dan kembali. Ki Tumenggung memperhitungkan bahwa jalan kembali ke Pajang tentu akan ditempuh dalam waktu yang lebih panjang. Diantara mereka tentu terdapat orang-orang yang terluka. Tawanan terpenting dan pengendalian atas prajurit-prajurit Pajang sendiri. Dalam pertempuran kadang-kadang para prajurit memang lepas kendali. Mereka memperlakukan orang-orang yang dianggap kalah perang dengan sewenang-wenang.

“Kenapa kekerasan ini harus terjadi?” desis Ki Tumenggung.

Hari pun merambat semakin tinggi. Sementara itu, pasukan pajang pun berada dalam kesiagaan yang semakin tinggi. Ketegangan yang semakin mencengkam, membuat mereka tidak sabar lagi menunggu sampai esok pagi.

Yang paling tersiksa diantara para prajurit Pajang adalah Kasadha. Ia menjadi pendiam. Bahkan ia selalu menyingkir dan menyendiri. Kepalanya sudah menjadi pening dan penalarannya rasa-rasanya menjadi kabur.

Tanah Perdikan Sembojan adalah tanah yang diwariskan oleh kakeknya kepada ayahnya. Kemudian kepada kakaknya. Tanah Perdikan yang tumbuh semakin subur di tangan kakaknya, Risang. Sekarang ia datang bersama pasukan segelar sepapan untuk menghancurkannya.

Dalam pada itu, di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan, Risang menjadi semakin gelisah, ia tidak berpikir lagi tentang dirinya sendiri. Tetapi dengan melihat kesibukan para pengawal mempersiapkan pertahanan di padukuhan induk itu, jantungnya rasa-rasanya hampir meledak.

“Sebagian besar dari mereka akan binasa” berkata Risang kepada diri sendiri.

Tetapi para pengawal itu sendiri sudah menyatakan tekadnya, bahwa mereka tidak akan menyerah apapun yang akan terjadi.

Ketika matahari mulai turun, maka rasa-rasanya ketegangan menjadi semakin memuncak. Para pengawal menjadi semakin sibuk mempersiapkan senjata dan membuat panggungan dibelakang dinding padukuhan induk. Mereka yakin, bahwa esok pagi disaat matahari terbit, pasukan Pajang akan datang menyerang.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka halaman rumah Kepala Tanah Perdikan itu dikejutkan oleh kehadiran dua orang yangmenuntunkudanyaydiiring-i oleh beberapa orang pengawal. Dua orang perempuan dengan mengenakan pakaian khusus sebagaimana dipakai oleh Nyi Wiradana.

Nyi Wiradana dan Risang terkejut melihat kedua orang itu. Kedua orang perempuan itu adalah Warsi dan adik sepupunya.

“Kau?” desis Nyi Wiradana.

“Ya, Nyi” jawab ibu Kasadha.

Dalam pada itu, salah seorang yang mengawalnya berkata, “Mereka berkeras untuk menghadap Nyi Wiradana. Mereka datang lewat pintu gerbang samping. Mereka tidak bersenjata.”

Tetapi Nyi Wiradana menyahut, “Kau kira mereka tidak bersenjata. Senjatanya adalah sebuah rantai yang disimpannya dibawah bajunya.”

“Sekarang, segala sesuatunya terserah kepada Nyi Wiradana.”

“Warsi” bertanya Nyi Wiradana, “pasukan Pajang telah ada di perbatasan. Anakmu tentu ada disana. Sekarang kau datang dan berkeras untuk menemui aku. Apa maksudmu? Apakah kau akan menantang aku untuk berperang tanding? Warsi. Sejak dahulu aku selalu siap menerima tantanganmu. Jika kau sekarang datang dan menantang aku, sementara anakmu datang bersama pasukan yang kuat untuk menggilas Tanah Perdikan ini, aku tidak berkeberatan. Jika Puguh berhasil membinasakan Risang, maka akan ada dua kemungkinan. Tanah Perdikan ini hapus dari muka bumi, atau anakmu yang akan mewarisinya menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tidak. Tidak Nyi” suara Warsi menjadi serak, “aku tidak berniat untuk melakukannya. Ketika Kasadha memberitahukan persoalannya kepadaku dalam hubungannya dengan anak Ki Rangga Dipayuda, aku berusaha untuk mencegahnya. Tetapi ia tidak mau mendengar kata-kataku. Kasadha justru menyudutkan aku, bahwa aku tidak pernah menyiapkannya menjadi manusia seperti sekarang ini. Aku merasa Nyi. Tetapi aku tidak dapat tinggal diam. Aku tidak dapat melihat Tanah Perdikan ini menjadi debu. Karena itu, aku telah melakukan apa yang sudah tidak pernah aku lakukan lagi. Aku mengamati gerak pasukan Pajang.” Warsi berhenti sejenak, lalu, “sekarang aku datang menyatakan diri berdiri dibelakang Nyi Wiradana. Apapun yang terjadi, biarlah aku ikut berada didalamnya. Jika Tanah Perdikan ini lebur bersama isinya, biarlah aku ikut lebur pula. Aku tidak ingin melihat Kasadha menghancurkan tanah peninggalan ayahnya ini.”

Nyi Wiradana melihat kejujuran membayang diwajah Warsi. Wajah yang memang sudah berubah. Wajah itu tidak lagi membayangkan wajah iblis betina.

Apalagi ketika Nyi Wiradana melihat titik-titik air di-pelupuk mata ibu Kasadha itu. Nyi Wiradana percaya, bahwa air mata itu bukan sekedar permainan perasaan Warsi.

Karena itu, maka ia pun berkata, “Marilah. Naiklah.”

Warsi masih saja ragu-ragu. Ketika ia memandang Risang yang berdiri dengan tegang, maka ia pun berkata, “Ngger. Jika aku diberi kesempatan, biarlah aku menebus segala kesalahanku. Jika aku terkubur bersama Tanah Perdikan ini, maka rasa-rasanya hutangku baru dapat aku lunasi.”

Risang menarik natas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia pun berkata, “Silahkan naik, bibi.”

Warsi bersama saudara sepupunya itu pun kemudian telah duduk di pringgitan. Nyi Wiradana pun kemudian berkata, “Duduklah. Kami masih harus melakukan persiapan-persiapan.”

“Beri aku tugas.” berkata Warsi.

“Pada saatnya nanti. Menurut perhitunganku, besok menjelang matahari terbit, mereka akan datang” sahut Nyi Wiradana.

Ketika Nyi Wiradana masuk keruang dalam, maka diperintahkannya untuk menyiapkan bilik di gandok bagi Warsi dan saudara sepupunya.

Menjelang sore hari, maka segala sesuatunya telah benar-benar siap. Dua orang pengawal yang mengamati pasukan Pajang telah memberikan laporan. Pasukan itu nampaknya telah bersiap-siap pula. Tetapi memang belum nampak gerakan apapun.

“Malam nanti mereka baru akan bergerak” berkata Nyi Wiradana, “karena itu, pergunakan waktu sebaik-baiknya. Sebagian dari mereka harus beristirahat sebaik-baiknya bergantian. Besok kita akan bertempur habis-habisan.”

Dalam pada itu, matahari pun meluncur semakin rendah. Cahayanya menjadi kemerah-merahan menyangkut di bibir awan. Langit pun menjadi semakin buram.

Kegelisahan Kasadha hampir tidak tertahankan lagi. Ia tidak dapat membiarkan pertempuran terjadi.

Dengan gelisah Kasadha berjalan hilir mudik dalam kesendiriannya. Ketika dua orang pemimpin kelompok datang kepadanya, maka Kasadha itu pun berkata, “Tinggalkan aku disini.”

“Waktunya makan sudah tiba, Ki Lurah” berkata salah seorang dari kedua orang pemimpin kelompok itu.

“Baiklah. Nanti aku akan segera menyusul.” jawab Kasadha.

“Sesudah makan, Ki Tumenggung akan berbicara dengan para pemimpin pasukan. Ki Lurah juga dipanggil.

“Baik. Nanti aku akan datang. Pergilah dahulu.”

Kedua pemimpin kelompok itu pun kembali ke pasukannya yang sedang makan. Mereka pun kemudian ikut makan bersama mereka. Namun Kasadha tidak juga segera datang.

“Ki Lurah masih belum datang” berkata salah seorang dari kedua pemimpin kelompok yang menyusulnya.

Kawannya mengangguk-angguk sambil menyahut, “Sebentar lagi, Ki Lurah harus menghadap Ki Tumenggung.

Ya. Sementara itu, Ki Lurah masih belum makan.

Belum lagi bibir mereka terkatub, maka Ki Rangga Dipayuda telah datang mencari Ki Lurah Kasadha. Kedua pemimpin kelompok itulah yang kemudian memberitahukan kepada Ki Rangga tentang Ki Lurah Kasadha.

“Dimana Ki Lurah sekarang?” bertanya Ki Rangga.

“Marilah, Ki Rangga” jawab salah seorang dari kedua orang pemimpin kelompok itu, “Ki Lurah ingin menyendiri.”

Jantung Ki Rangga memang menjadi berdebar-debar. Bersama kedua orang pemimpin kelompok itu mereka melangkah menuju ke tempat Kasadha menyembunyikan kegelisahannya.

Sementara itu, malam pun mulai turun perlahan-lahan. Angin yang sejuk mengalir mengusap tubuh yang basah oleh keringat.

Tetapi ketika mereka sampai di tempat Kasadha semula mencari ketenangan dengan menyendiri, ternyata Kasadha sudah tidak ada.

“Tadi Ki Lurah ada disini” berkata pemimpin kelompok itu.

“Mungkin ia langsung menghadiri pertemuan itu” berkata Ki Rangga Dipayuda dengan ragu.

“Mudah-mudahan” desis salah seorang dari kedua orang pemimpin kelompok itu.

Ki Rangga menarik natas dalam-dalam. Mesi pun ragu, namun Ki Rangga itu pun kemudian telah meninggalkan tempat itu. Sedangkan kedua orang pemimpin pengawal itu masih menunggu. Mungkin Ki Lurah Kasadha sedang berjalan-jalan keluar lingkungan perkemahan.

“Ki Lurah nampak sangat gelisah” berkata salah seorang dari mereka.

“Menurut penglihatanku, bahwa sejak masih berada di barak.” jawab yang lain.

Dalam pada itu, Ki Rangga yang kemudian menghadiri pertemuan dengan para perwira yang ada didalam pasukan Pajang itu, menjadi semakin gelisah. Ternyata Ka-sadha tidak ada diantara mereka.

Ki Rangga itu pun kemudian mendekati Ki Tumenggung sambil berdesis, “Ki Tumenggung, Kasadha tidak ada di perkemahan ini.”

“Dimana anak itu menurut dugaan Ki Rangga.”

“Aku tidak dapat menduganya Ki Tumenggung. Semula ia hanya ingin menyendiri dipinggir lingkungan perkemahan. Tetapi kemudian ia tidak berada di tempat-nya.”

Ki Tumenggung menarik natas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara lebih dahulu dengan para pemimpin pasukan. Biarlah ia datang menyusul.”

Ki Rangga Dipayuda mengangguk. Katanya, “Baiklah Ki Tumengguhg. Ki Lurah Kasadha sudah mengetahui bahwa ia harus menghadiri pertemuan ini.”

Tetapi sebelum pertemuan itu dimulai, maka seorang prajurit yang bertugas telah memberikan laporan bahwa ia melihat Kasadha meninggalkan perkemahan.”

“Kemana?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Aku tidak tahu Ki Rangga. Ketika aku bertanya, Ki Lurah Kasadha tidak menjawab. Ki Lurah hanya mengatakan bahwa Ki Lurah ingin keluar sebentar. Kami mencoba mencegahnya, tetapi Ki Lurah tidak dapat dicegahnya, tetapi Ki Lurah tidak dapat dicegah lagi. Bahkan ketika aku mencoba memaksanya, maka tiba-tiba saja Ki Lurah telah memukul wajahku. Pukulannya demikian telah mengenai bagian bawah rahangku, sehingga aku jatuh dan tidak ingat apa-apa lagi sesaat. Baru kemudian aku sadar dan memberi laporan kepada pemimpin kelompokku. Namun pemimpin kelompokku memerintahkan aku langsung memberikan laporan kepada Ki Tumenggung agar persoalannya menjadi jelas.”

“Kemana arahnya?” bertanya Ki Rangga.

“Aku tidak melihat kemana Ki Lurah itu pergi, karena untuk beberapa saat aku tidak ingat apa-apa lagi.

“Kau bertugas dimana?”

“Didekat tugu batas Tanah Perdikan itu.”

“Di Jalan induk?”

“Ya.”

Ki Rangga pun menjadi sangat tegang. Namun kemudian ia berkata kepada Ki Tumenggung, “Aku akan mencarinya, Ki Tumenggung.”

“Kemana?” bertanya Ki Tumenggung.

“Aku belum pasti. Tetapi mudah-mudahan aku dapat menemukannya untuk membawanya kepada Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung menarik natas dalam-dalam, ia nampak ragu-ragu sesaat. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi Ki Rangga harus segera kembali sehingga kita akan dapat mengambil langkah-langkah yang penting. 1-ngatKi Rangga, besok kita akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

“Baik Ki Tumenggung.”

“Jika Ki Rangga akan membawa pengawal, bawalah, berapa yang Ki Rangga Perlukan.”

“Tidak, Ki Tumenggung, aku akan pergi sendiri.”Ki Tumenggung masih saja nampak ragu-ragu.

Namun akhirnya ia berkata, “Berhati-hatilah: Aku tidak mau kehilangan orang-orangku sebelum pertempuran yang sebenarnya terjadi.”

Demikianlah, dengan ijin Ki Tumenggung, maka Ki Rangga pun telah bangkit berdiri. Tetapi ia masih berbisik di telinga Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Baiklah. Mudah-mudahan kau berhasil.

Dalam pada itu, pintu gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan menjadi gempar. Seorang prajurit muda tiba-tiba saja telah muncul dihadapan para pengawal yang bertugas. Bukan petugas sandi yang mengendap-endap. Bukan pula utusan Ki Tumenggung yang membawa pesan khusus. Tetapi yang datang itu ada seorang prajurit muda yang sudah dikenal baik oleh para pengawal.

“Kasadha” desis Rembaka, yang kebetulan berada di regol padukuhan induk.

“Bawa aku kepada Risang” berkata Kasadha singkat.

“Kau mau apa?” bertanya Rembaka.

“Bawa aku kepadanya. Kau tahu siapa aku. Kau tidak perlu mencurigai aku. Aku hanya seorang diri.”

Rembaka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Marilah. Aku antar kau kerumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Bersama beberapa orang pengawal, Rembaka telah mengantar Kasadha langsung kerumah Kepala Tanah Perdikan. Sementara itu, para pengawal pun saling bertanya, apakah maksudnya datang menemui Risang.

Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjelaskan maksud kedatangan Kasadha itu.

Kedatangan Kasadha di halaman rumah Risang memang sangat mengejutkan. Dengan serta merta Risang yang ada di ruang dalam telah meloncat bangkit. Namun ibunya telah memegang lengannya sambil berkata, “Tunggu. Kita akan menemuinya.”

Sejenak kemudian, maka Risang dan Nyi Wiradana telah berdiri di tangga pendapa. Namun yang mengejutkan Kasadha, bahwa ibunya dan bibinya ada dirumah itu pula.

“Ibu” desis Kasadha.

“Kasadha” jawab ibunya, “aku pernah menikmati sejuknya udara Tanah Perdikan ini. Aku pernah meneguk airnya yang segar dan aku pernah makan nasinya yang putih. Sekarang adalah menjadi kewajibanku untuk ikut mempertahankan Tanah Perdikan ini.”

Wajah Kasadha menjadi tegang. Dengan lantang ia pun berkata, “Itu tidak perlu ibu. Tidak perlu terjadi perang antara Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan. Persoalannya sebenarnya dapat dibatasi.”

“Apa maksudmu Kasadha?” bertanya Risang.

“Marilah kita membuat perjanjian. Kita tidak boleh mengorbankan anak-anak muda pengawal Tanah Perdikan ini. Kita juga tidak boleh mengorbankan para prajurit Pajang yang sangat diperlukan untuk menghadapi Madiun.”

“Janji apa?”

“Persoalannya adalah persoalanmu dan persoalanku. Kau dan aku. Yang seharusnya menyelesaikan persoalan ini adalah kau dan aku pula. Bukan orang lain. Biarlah ibu kita masing-masing menjadi saksi.”

“Bagus” teriak Risang. Perasaannya yang selama ini tertahan didalam dadanya, seakan-akan mendapat jalan untuk melompat keluar, ia tidak ingat lagi persoalan apakah sebenarnya yang menjadi sumber permusuhan. Namun yang terasa didalam dadanya adalah, bagaimana mereka harus menyelesaikannya.

“Tetapi sekali lagi aku peringatkan, kita harus membuat perjanjian.“ Sahut Kasadha. Selanjutkan ia berkata pula. ”“Kau harus mengurungkan perang dengan Pajang. Jika kau berhasil membunuh aku, maka kau harus menemui Ki Tumenggung. Membatalkan perang dan tunduk kepada segala perintah Pajang, karena sebenarnya kau tidak mempunyai persoalan dengan Pajang. Tetapi jika aku yang membunuhmu, aku akan mencegah Ki Tumenggung untuk tidak memasuki Tanah Perdikan Sembojan dengan cara apapun juga.”

Wajah Risang menjadi merah. Dengan geram ia menjawab, “Bagus, aku terima tantanganmu. Kita, kau dan aku, akan membuat perhitungan tersendiri.”

“Yang hadir disini akan menjadi saksi dari perjanjian yang telah kami buat.”

Nyi Wiradana yang berdiri ditangga pendapa menjadi berdebar-debar, ia tidak meragukan kemampuan anaknya yang telah menguasai ilmu Janget Kinatelon. Tetapi ia pun menyadari, bahwa Kasadha juga memiliki ilmu yang tinggi.

“Ibu berdua” berkata Kasadha lantang, “berjanjilah, bahwa kalian akan menjadi saksi.”

Tiba-tiba saja terdengar suara dari antara orang-orang yang berdiri di halaman, “Aku menjadi saksi.”

Ketika semua orang berpaling kearah suara itu, maka Ki Rangga Dipayuda melangkah memasuki lingkaran orang dihalaman itu bersama Ki Ajar Paguhan.

“Guru” desis Kasadha.

“Aku melihat Ki Rangga memasuki pintu gerbang padukuhan ini. Aku pun telah mengikut pula. Aku juga akan menjadi saksi.”

Dari tangga pendapa terdengar Nyi Wiradana yang berdiri- tegak dengan sepasang pedang dilambung berkata lantang, “Aku juga akan menjadi saksi.”

Berbeda dengan Nyi Wiradana, maka Warsi telah menundukkan wajahnya. Kedua telapak tangannya menutup wajahnya itu sambil terisak.

“Terkutuklah aku” desisnya.

“Ibu tidak usah menangis. Kami adalah laki-laki yang menyelesaikan persoalan kami dengan cara seorang laki-laki.” berkata Kasadha.

Tetapi Warsi tidak berhenti menangis, justru terbayang kembali bagaimana ia pernah berperang tanding dengan Nyi Wiradana. Seakan-akan telah terulang kembali, apa yang pernah terjadi waktu itu. Dua orang perempuan telah berperang tanding. Bahkan tidak hanya sekali. Kini anak-anak merekalah yang berperang tanding pula.

Tetapi Warsi tidak dapat mencegahnya.

Dengan demikian, maka kedua anak muda itu pun telah bersiap untuk menentukan siapakah yang terbaik diantara mereka.

Halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu telah dicengkam ketegangan. Para pengawal yang ada di halaman itu tanpa sadar, telah berdiri melingkar membentuk arena.

Malam menjadi semakin malam. Langit nampak gelap disaput awam Bintang tidak nampak berkeredipan di langit, seakan-akan sengaja menyembunyikan wajahnya agar mereka tidak melihat dua orang kakak beradik yang sebelumnya nampak selalu rukun meskipun mereka dilahirkan oleh dua orang ibu yang pernah berniat untuk saling membunuh, tetapi yang ternyata kemudian keduanya pun telah memasuki arena perang tanding.

Kasadha adalah seorang Lurah prajurit yang berpengaruh didalam baraknya, ia pernah dianggap seorang yang memiliki ilmu yang paling tinggi di dalam baraknya. Dibawah asuhan seorang gu/u yang baik dan berilmu sangat tinggi, maka Kasadha tumbuh menjadi seorang yang pilih tanding.

Sedangkan Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah menempa diri dibawah bimbingan dua orang kakek dan seorang neneknya yang telah melahirkan ilmu yang mereka sebut Janget Kinatelon. Ilmu yang jarang ada duanya.

Umur mereka tidak berselisih banyak. Sedangkan ujud mereka pun hampir serupa. Kedua-duanya mirip sekali dengan ayahnya, Ki Wiradana.

Ki Rangga Dipayuda yang berdiri di arena itu pun kemudian berkata, “Kalian adalah anak-anak muda pilihan. Karena itu, kalian akan memasuki perang tanding dengan jujur.”

Kasadha dan Risang tidak menjawab. Namun kedua-nya pun mulai bergeser.

Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Kedua orang anak muda yang jantungnya sedang terbakar itu dengan cepat meningkatkan ilmu mereka. Sehingga dalam waktu dekat, perkelahian itu pun menjadi sangat seru.

Lampu minyak di kedua sudut pendapa, serta oncor di regol, memancarkan sinar yang temaram. Bayangan tiang-tiang pendapa dan pepohonan di pendapa bergoyang seirama dengan semilirnya angin malam.

Kasadha dan Risang telah terlibat dalam pertempuran yang cepat. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka. Dengan garangnya keduanya saling menyerang dan menghindar. Saling mendesak dan sekali-sekali telah terjadi benturan yang keras, sehingga keduanya telah terdorong beberapa langkah surut.

Namun dengan cepat keduanya meloncat kembali untuk menyerang dengan kemampuan yang semakin tinggi.

Kedua anak muda itu adalah anak muda yang dilandasi dengan bekal ilmu yang tinggi, pengalaman yang luas dan hati yang membara. Karena itu, maka perkelahian diantara mereka adalah perkelahian yang mendebarkan setiap jantung orang-orang yang menyaksikannya.

Ki Rangga Dipayuda bagaikan membeku di tempat-nya. Ia melihat kedua orang anak muda yang dikenalnya dengan baik itu sedang berperang tanding. Mereka nampaknya ingin menyelesaikan perang tanding itu sampai tuntas.

Ketika keduanya menjadi basah oleh keringat, maka serangan-serangan mereka mulai menembus pertahanan lawan. Tangan Risang yang sempat menyusup dengan cepat sebelum Kasadha sempat menangkis dan mengelak, telah mengenai dada Kasadha sehingga Kasadha terdorong surut. Dadanya serasa terhimpit oleh sebongkah batu padas. Namun ketika Risang memcoba memburunya, maka tiba-tiba saja Kasadha melenting sambil berputar. Kakinya terayun mendatar menghantam kening Risang.

Risang terpelanting jatuh. Tetapi sekali ia berputar ditanah, kemudian ia pun telah melenting berdiri. Demikian Kasadha mendekat sambil mengayunkan tangannya, maka Risang dengan cepat merendah, berjongkok pada satu lututnya. Namun tangannya dengan cepat menghantam perut Kasadha.

Kasadha mengaduh tertahan. Ketika ia terbungkuk sambil menahan perutnya yang serasa akan pecah, kaki Risang telah menyambar dahinya.

Kasadha lah yang kemudian terlempar jatuh. Tetapi dengan cepat Kasadha pun telah bangkit berdiri. Risang yang bergerak dengan cepat, telah menahan diri, karena Kasadha telah siap membentur serangannya.

Sejenak keduanya saling berpandangan. Namun kemudian perkelahian pun telah menyala lagi. Perlahan-lahan tetapi pasti keduanya meningkatkan ilmu mereka selapis demi selapis. Bahkan kemudian mereka telah menembus batas kekuatan ilmu mereka selapis demi selapis pula.

Keduanya berloncatan dengan cepatnya, sambar-me-nyambar seperti dua ekor burung rajawali yang sedang berlaga. Patuk mematuk sementara tangan mereka pun menerkam dengan kuku-kuku yang mengembang.

Demikian sengit pertempuran itu, sehingga pepohonan yang ada di halaman itu terguncang. Daun-daun yang kuning runtuh berguguran di tanah. Ranting-ranting yang kering berpatahan dan lepas dari dahan.

Akhirnya keduanya telah memasuki tataran puncak ilmu mereka. Ketika Kasadha meloncat dengan serangan kaki menyamping, Risang dengan tangkasnya meloncat mengelak. Dengan garangnya Kasadha memburunya. Dengan satu putaran, kaki kanannya menyambar kearah kening Risang. Namun Risang sempat meloncat surut, sehingga kakinya tidak menyentuh lawannya sama sekali. Tetapi kakinya itu telah menghantam sebatang pohon sawo kecik yang tumbuh di halaman itu.

Demikian dahsyatnya kemampuan ilmu Kasadha, maka pohon sawo itu pun telah bergoyang seakan-akan akarnya yang menghunjam kedalam tanah diguncang oleh ular raksasa menyangga bumi.

Namun ketegangan itu pun kemudian menjadi semakin memuncak ketika beberapa orang yang berilmu tinggi mulai melihat perubahan keseimbangan. Meskipun orang kebanyakan dan bahkan para pengawal belum mengetahuinya, tetapi mulai membayang, bahwa tenaga Kasadha sudah sampai ke batas, sehingga yang terjadi kemudian memang mendebarkan. Tenaga Kasadha mulai menyusut sedikit demi sedikit, sehingga memang tidak segera dapat dilihat.

Ki Ajar Paguhan menjadi sangat cemas melihat keadaan muridnya. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan, Jika ia melibatkan diri, maka persoalannya akan menjadi semakin rumit dan bahkan tidak akan dapat di kekang lagi.

Karena itu, maka Ki Ajar Paguhan tidak berbuat sesuatu.

Sementara itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar memang menjadi sangat tegang. Apapun yang terjadi, maka mereka tidak akan dapat mencampuri persoalan antara Kasadha dan Risang yang telah bersepakat untuk berperang tanding.

Nyi Wiradana menarik natas panjang, ia semakin berpengharapan bahwa dengan ilmunya yang sangat tinggi, Risang akan dapat mengalahkan adiknya.

Namun dalam pada itu, sebelum yang tidak diharapkan terjadi, maka kembali seisi halaman itu terkejut. Beberapa orang pengawal telah memasuki halaman banjar itu sambil membawa dua orang laki-laki dan perempuan.

Sebelum semuanya sadar, siapakah yang datang itu, maka perempuan itu pun telah berlari memasuki arena sambil berteriak-teriak bagaikan kehilangan kesadarannya, “Jadi inikah yang terjadi?”

Kasadha dan Risang yang tengah berkelahi dalam tataran puncaknya itu pun berloncatan surut. Dihadapan mereka berdiri Riris yang datang ke Tanah Perdikan itu diantar oleh Jangkung.

“Kau Riris?” suara Ki Rangga Dipayuda menjadi serak.

“Aku sudah mendengar dari para pengawal yang berada di regol halaman tentang apa yang terjadi disini. Nah ternyata disini ada ayah, ada Nyi Wiradana ada orang-orang tua. Bagus. Berkelahilah kalian pahlawan-pahlawan. Siapa yang dapat membunuh lawannya akan mendapatkan hadiah tertinggi, seorang perempuan. Ayo, lakukanlah, jangan hanya dua orang, marilah, siapa yang akan ikut beramai-ramai memperebutkan aku? Marilah paman Sambi Wulung, paman Jati Wulung dan siapa saja. Siapa yang dapat membunuh lawan-lawannya akan menjadi suamiku. Inikah nilai seorang perempuan sebagai satu pribadi ayah? Tidak lebih dari seekor betina yang diperebutkan oleh jantan yang berlaga sampai mati tanpa mendapat kesempatan untuk berbicara? Sebenarnya aku datang bersama kakang Jangkung untuk menjelaskan sikapku, jika aku di-orangkan sebagaimana kalian, maka aku akan berhak untuk berbicara. Kami datang tanpa menghiraukan bahaya yang memang hampir saja mencekik kami. Tetapi para pengawal masih mau mendengar keterangan kami dan membiarkan kami datang. Tetapi ternyata disini, aku tidak lagi diorangkan. Nah, sekarang berkelahilah. Siapa saja. Kepada yang menang aku akan mengabdi dengan sepenuh hati. Orang tua, anak-anak, bebahu Tanah Perdikan, kakek-kakek, ayo, siapa saja. Aku tidak akan mengelak. Bukankah begitu ayah? Kakang Kasadha? Kakang Risang? Nyi Wiradana?”

Halaman rumah Kepala Tanah Perdikan itu pun dicengkam oleh ketegangan yang memuncak. Sedangkan Riris berdiri ditengah-tengah arena perkelahian.

Sementara itu Riris pun melangkah menepi sambil berteriak, “Ayo, kenapa kalian berhenti?”

“Riris” Ki Rangga Dipayuda melangkah mendekati anak gadisnya sambil berdesis, “Aku minta maaf. Aku telah hanyut dalam permainan perasaan yang tidak terkendali.”

Riris memandang ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Ayah. Kenapa mereka tidak bertanya kepadaku. Mengapa mereka sama sekali tidak menghargai aku sebagai satu pribadi? Bukankah ayah mengatakan, bahwa aku mempunyai hak untuk memilih yang terbaik menurut pendapatku.”

“Ya, Riris. Kau berhak untuk memilih.”

“Tetapi kenapa hal ini terjadi? Apakah hak itu sama sekali sudah tidak dihargai lagi?”

“Bukan begitu, Riris. persoalannya telah menyangkut hubungan antara Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Hal itu terjadi karena mereka menganggap aku tidak lebih dari seonggok daging yang tidak berhak menentukan sikapnya.”

“Bukan maksud kami Riris.”

Dalam pada itu, jantung Risang terasa berdentang semakin keras. Kehadiran Riris serta ungkapan perasaannya yang menghentak-hentak itu terasa sebagai satu kekuatan yang dengan paksa telah membuka pintu hatinya yang tertutup. Kekuatan yang tidak dapat dilawannya telah menghantam dan memecahkan pintu yang tertutup itu.

Sebuah pertanyaan tiba-tiba telah mencengkamnya, “Apakah kau pernah bertanya kepada Kiris, apakah ia mencitaimu? Bagaimana mungkin kau mempertaruhkan Tanah Perdikanmu, sedangkan Riris tidak mencintaimu.

Gejolak didalam dada Risang itu telah menghempaskannya pada satu kesadaran, bahwa apa yang dilakukannya itu tidak lebih dari satu kedunguan dari seseorang yang sangat mementingkan diri sendiri.

Tiba-tiba saja tubuh Risang telah bergetar. Tiba-tiba saja Risang telah beranjak dari tempatnya. Dengan tergesa-gesa Risang naik tangga dan melintasi pendapa. Terdengar pintu pringgitan berderak keras.

Nyi Wiradana lah yang kemudian menyusulnya masuk keruang dalam rumahnya.

Risang masih berdiri tegak ditengah-tengah ruang dalam rumahnya. Demikian ibunya melangkah masuk sambil menutup pintu, maka Risang pun segera berlutut dihadapannya sambil berkata dengan suara yang tersendat-sendat, “Ibu. Aku mohon maaf.”

Ibunya menariknya untuk berdiri. Sambil memeluk anaknya Nyi Wiradana berkata, “Mudah-mudahan segala sesuatunya belum terlambat Risang.”

Malam itu Kasadha dan Risang memang dapat menyelesaikan persoalan mereka dengan tuntas. Tidak di arena perang tanding, tetapi dipendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Keduanya telah menemukan kembali diri mereka masing-masing. Riris yang duduk diantara mereka di pendapa, menangis tersedu-sedu. Namun ia sudah menuang gumpalan-gumpalan yang menyumbat dadanya.

Ki Rangga Dipayuda lah yang kemudian mengajak Risang untuk menghadap Ki Tumenggung Jayayuda bersama Kasadha. Dengan penuh harapan Ki Rangga Dipayuda berkata, “Perang tidak usah terjadi di Tanah Perdikan ini.”

Di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan, Nyi Wiradana, Warsi dan sepupunya, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar duduk di pringgitan juga dengan penuh harap.

Di perkemahan, Risang telah menghadap Ki Tumenggung Jayayuda bersama Ki Rangga Dipayuda. Dengan jiwa besar, Ki Tumengung dapat menerima sikap Kepala Tanah Perdikan yang sudah berubah.

Namun Ki Tumenggung Jayayuda itu pun kemudian berkata kepada Ki Rangga Dipayuda, “Ki Rangga, Baru saja aku menerima utusan dari Pajang. Kangjeng Adipati memerintahkan agar persoalan Tanah Perdikan diselesaikan lebih cepat. Kangjeng Adipati telah mendapat perintah dari Panembahan Senapati untuk bersiap, sementara pasukan dari Mataram telah bergerak. Perang dengan Madiun tidak dapat dielakkan lagi. Tetapi Kangjeng Adipati tidak memerintahkan kita untuk terus ke Madiun. Tetapi kita harus kembali ke Pajang dan berangkat bersama-sama dalam satu kesatuan pasukan yang besar untuk mengimbangi jumlah prajurit Madiun yang tidak terhitung.”

“Menurut pendapatku, Ki Tumenggung, persoalan dengan Tanah Perdikan Sembojan memang sudah selesai. Tidak ada seorang korban pun yang jatuh.”

Ki Jayayuda mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, “Aku akan tetap menjatuhkan hukuman kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bahwa Sembojan harus ikut memikul tanggung jawab terhadap perang di Madiun. Mataram tentu memerlukan pasukan pengawal dari Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Kami akan menyiapkannya Ki Tumenggung.”

“Besok, pasukan Pajang akan segera kembali. Aku minta Kepala Tanah Perdikan Sembojan ikut bersama kami. Bukan sebagai tawanan, tetapi condong kepada kemungkinan untuk mengerahkan kekuatan menghadapi Madiun. Itu perlu dibicarakan lebih jauh serta perincian rencana yang lebih matang agar justru tidak terjadi salah paham.

Demikianlah, ketika Matahari terbit, Tanah Perdikan Sembojan rasa-rasanya telah terbangun dalam suasana yang baru. Tidak ada masalah yang mengganjal. Warsi merasa canggung, bahwa ia akan mendapat seorang menantu, anak seorang Rangga. Sementara sepupunya dengan ikhlas melepaskan harapan untuk bermenantukan seorang Lurah Prajurit.

Dalam pada itu, Risang sendiri telah ikut bersama pasukan Pajang bersama Kasadha sebagai dua orang kakak beradik.

Di Pajang, disela-sela pembicaraan yang bersungguh-sungguh tentang kesediaan pasukan pengawal Tanah Perdikan untuk ikut serta pergi ke Madiun, maka Risang sempat singgah dirumah Ki Tumenggung Jayayuda.

Sekali lagi, Risang terkejut, justru pada saat ia memasuki pintu gerbang rumah Ki Tumenggung, seekor kuda hampir saja melanggarnya. Seorang gadis dipunggung kuda itu berusaha untuk menguasai kudanya yang meringkik sambil melonjak. Namun perlahan-lahan kuda itu dapat ditenangkannya kembali.

Tetapi gadis itu tidak menghentak kudanya kembali. Bahkan gadis itu kemudian meloncat turun sambil berkata, “Maaf Ki Sanak. Aku telah mengejutkan Ki Sanak lagi.”

“Ah, tidak apa-apa. Bukankah aku tidak apa-apa?

“Ki Sanak terkejut?” bertanya gadis itu.

“Sedikit” jawab Risang.

“Marilah, duduklah. Biarlah aku mengambil minum untuk Ki Sanak, untuk mengendapkan debar di jantung Ki Sanak.”

Risang termangu-mangu sejenak, ia memandang saja gadis yang dengan cekatan mengikatkan kendali kudanya pada patok-patok di halaman. Kemudian berloncatan naik tangga sambil sekali lagi mempersilahkan. “Naiklah. Ayah ada dirumah.

Risang memandang gadis itu melintasi pendapa dan pringgitan, kemudian hilang dibalik pintu.

Seorang juru taman yang tua datang mendekatinya sambil berdesis, “Anak itu nakalnya bukan main.”

“Bukankah gadis itu anak Ki Tumenggung?” bertanya Risang.

“Ya” jawab juru taman itu.

“Siapa namanya?” bertanya Risang.

“Miat.”

“Miat? Siapa nama lengkapnya?”

“Nama lengkapnya, Lintang Sumirat. Ayah dan ibunya memanggilnya Mirat.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak sempat bertanya lebih panjang lagi. Ketika pintu pringgitan terbuka, maka Ki Tumenggung telah melangkah keluar dari ruang dalam.

Hari-hari. berikutnya, Tanah Perdikan Sembojan menjadi sibuk dengan persiapan perang. Mereka akan ikut terlibat dalam perang antara Mataram melawan Madiun.

Nyi Wiradana yang rambutnya telah mulai ubanan serta ibu Kasadha yang masih berada di Tanah Perdikan ikut sibuk bersama Sambi Wulung, Jati Wulung, Gandar dan Rembaka menyiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan persiapan perang. Bukan hanya kebutuhan kewadagan, tetapi juga kesiapan jiwani para pengawal.

Namun dalam pada itu, jika Risang melihat ibunya melarikan kudanya di bulak-bulak panjang, maka Risang selalu teringat kepada anak gadis Ki Tumenggung. Lintang Sumirat.

 

TAMAT

Buku ini adalah jilid terakhir dari ceritera, “SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG” kelanjutan dari ceritera ”SURAMNYA BAYANG-BAYANG”.

Dengan demikian, maka mulai bulan depan akan terbit ceritera”BARU” yang diolah dan bersumber dari gejolak yang terjadi dibumi sendiri dengan latar belakang kehidupan masa lampau sebagaimana ceritera-ceritera S.H. M1NTARDJA yang lain.

Kisah yang terjadi karena benturan-benturan kepentingan, sifat dan watak, nafsu dan harga diri.

Semoga ceritera tersebut dapat memenuhi keinginan para pembacanya untuk menemukan”sesuatu” didalamnya.

Buku Aslinya diterbitkan oleh Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.  Mulai tahun 1985

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

 << kembali | TAMAT >>

2 Responses

  1. uh legaa….

    Wah…., sampai sini juga Bu Lik Retno, eh… kliru Pandan wangi.
    Monggo Bu Lik

    Risang

  2. …akhirnya sempat juga saya membaca sampai tamat…cerita yang bagus dengan latar belakang keadaan dan sejarah masa lalu…
    Alur kalimat cerita mampu menggambarkan keadaanya,situasinya… pengarang yang luar biasa.
    Salud juga dan terima kasih pada pembuat blog ini… tahun 75an dulu saya ga sempat membaca..sulit mencari novel ini….sekarang lega kesampaian membaca…

    Alhamdulillah
    ikut senang jika sajian kami dapat bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s