SST-64

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-64RISANG yang kemudian mendekatinya, berhenti beberapa langkah dihadapannya.

“Ki Demang, aku minta maaf, bahwa aku telah memasuki Kademangan Jati Arang tanpa minta ijin lebih dahulu dari Ki Demang” berkata Risang.

“Kau telah melanggar batas kuasaku”geram Ki Demang.

“Sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan aku memang telah melintasi batas kuasaku dan memasuki batas kuasa Ki Demang.” jawab Risang. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebagai seorang yang mendapat wewenang langsung dari Kanjeng Adipati di Pajang, maka aku berhak memasuki batas kuasa di Demang Jati Arang.

“Kami tidak mengakui nilai yang terkandung dalam surat kekancingan itu” jawab Ki Demang, “aku sudah mengatakan kepada utusanmu, bahwa kami akan menentukan sikap menurut kepentingan kami sendiri. Kami tidak lagi merasa mendapat perlindungan dan apalagi peningkatan kesejahteraan hidup bagi rakyat kami. Karena itu, maka kami memutuskan untuk tidak lagi mengikatkan diri kepada Pajang. Tetapi kami merasa lebih dekat dengan Madiun.”

“Sikap inilah yang memaksa kami untuk datang melampaui batas Tanah Perdikan Sembojan. Sikap Ki Demang tidak dibenarkan oleh Pajang. Ki Demang tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari ikatan kesatuan dengan Pajang. Apalagi sekarang sedang terjadi pertengkaran antara Mataram, termasuk Pajang dengan Madiun yang nampaknya akan menjadi semakin bersungguh-sungguh.”

“Bagi kami, justru sekarang saat yang terbaik bagi kami untuk menentukan sikap” berkata Ki Demang, “karena itu, aku minta kalian kembali kebelakang perbatasan agar tidak timbul perselisihan diantara kita.”

“Ki Demang” berkata Risang kemudian, “aku berkeberatan atas sikap Ki Demang. Sikap Ki Demang itu justru menantang kuasa Pajang atas Kademangan Jati Arang. Atau jika aku mempergunakan istilah lain, Ki Demang telah memberontak. Karena itu, maka aku datang untuk memadamkan pemberontak-an itu.”

 Wajah Ki Demang menjadi merah. Sementara itu prajurit Madiun yang berdiri di sebelahnya berkata, “Atas nama Kanjeng Adipati Madiun, menyingkirlah. Kau harus menghargai sikap Ki Demang Jati Arang, ia telah menyatakan dirinya, memisahkan diri dari Pajang dan bergabung dengan Madiun.”

Risang memandang prajurit itu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kau tidak dapat mengatas-namakan diri dan bahkan kesatuan prajurit Madiun sebagai pengemban kuasa Kanjeng Adipati Madiun. Kalian datang kemari tanpa mengemban perintah yang jelas, karena kalian datang untuk melindungi para pedagang gelap. Bahkan, kau telah menodai perjuangan Kanjeng Adipati itu sendiri, sehingga jika Kanjeng Adipati mengetahuinya, maka kau dan kawan-kawanmu justru akan mendapat hukuman daripadanya.”

“Omong kosong” bentak prajurit yang seorang lagi, “kau tidak berhak menilai tugas kami.”

“Dan kalian tidak berhak mencampuri persoalan yang terjadi didalam lingkungan keluarga kami. Maksudku keluarga didalam lingkungan Kadipaten Pajang.”

“Sudah dikatakan oleh Ki Demang”, Jati Arang tidak tagi termasuk jajahan Pajang. Jati Arang ingin merdeka dan menentukan nasibnya sendiri.” berkata prajurit itu.

“Kau dapat mempergunakan istilah apapun. Tetapi di mata kami, Jati Arang telah memberontak dan aku mendapat wewenang untuk menegakkan wibawa Pajang disini. Karena itu, minggirlah. Kau tidak termasuk keluarga kami.”

Prajurit Madiun itu memang menjadi marah? Karena itu, maka katanya, “surat kekancingan itu sama sekali tidak berharga bagi kami. Yang sekarang memegang kunci kekuasaan adalah ujung senjata, kami.”

“Itukah yang kalian kehendaki?” bertanya Risang, “jika demikian, maka kami benar-benar harus menyelesaikan pemberontakan yang terjadi di Jati Arang ini dengan kekerasan.”

Wajah Ki Demang memang menjadi tegang. Tidak terlalu jauh nampak pasukan pengawal Tanah Perdikan sudah siap untuk bergerak menjalankan perintah Kepala Tanah Perdikannya. Sikap tegas Risang memang membuat Ki Demang itu berpikir.

Namun prajurit Madiun itulah yang berkata, “Pergilah, jika kau akan membawa pasukanmu kemari, bawalah. Kita akan melihat, pasukan siapakah yang lebih dahulu akan hancur.”

Wajah Risang memang menjadi merah. Prajurit Madiun yang ada di Kademangan itulah yang telah membuat persoalan tentang bahan pangan itu tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Namun Risang yang merasa memiliki beban tugas yang dilimpahkan oleh Kangjeng Adipati Pajang, sama sekali tidak mau beringsut surut. Karena itu, maka ia pun berkata, “Aku akan memanggil pasukanku. Jika pasukanku sampai disini kalian masih tetap tidak mau beringsut dari sikap kalian, maka kami akan memaksa dengan kekerasan. Kami benar-benar akan bertempur.”

“Persetan” geram prajurit Madiun itu, “datanglah bersama pasukanmu jika kau memang berani menghadapi pasukanku.” jawaban itu membuat jantung Risang berdebar semakin cepat. Agaknya Risang yang masih muda itu terlalu sulit untuk menahan diri menghadapi tantangan itu. Apa-lagi ia merasa bertanggung jawab kepada Pajang.

Karena itu, maka Risang pun kemudian berkata, “Baik. Aku masih akan memberi waktu kepada kalian untuk membicarakan sikap terakhir kalian. Aku akan melihat isyarat yang kalian berikan. Jika kalian tidak memberikan isyarat untuk menyerah, dan mengakui wibawa Pajang sebagaimana sebelum berlangsung perdagangan gelap ini, maka aku akan datang menyerang.”

Risang tidak menunggu jawaban. Ia pun segera memberi isyarat kepada Sambi Wulung dan pengawal-pengawalnya untuk meninggalkan tempat itu, kembali kepada pasukannya yang masih tetap menunggu beberapa puluh langkah dari pintu gerbang padukuhan induk Kademangan Jati Arang.

Dari tempatnya Risang dapat melihat dengan jelas, para bebahu Kademangan itu yang masih berada di pintu gerbang bersama para pemimpin pasukan Madiun yang berada di Jati Arang.

Agaknya Ki Demang, para bebahu dan para pemimpin prajurit Madiun yang ada di Jati Arang itu masih berbincang dengan sungguh-sungguh menghadapi ancaman Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namu akhirnya, Risang melihat bahwa mereka telah memasuki pintu gerbang dan pintu itu pun kemudian ditutup rapat-rapat.

“Bagaimana pendapat paman?” bertanya Risang.

“Mereka tetap pada pendirian mereka” jawab Sambi Wulung.

“Apakah kita akan memberi waktu kepada mereka sampai esok?” bertanya Risang.

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Ketika Sambi Wulung kemudian berpaling kepada para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sudah siap untuk bertempur itu, ia justru menjadi ragu-ragu. Jika serangan itu ditunda, maka mereka memerlukan banyak persediaan dan perlengkapan. Sementara itu, para bebahu dan pemimpin prajurit Madiun di Kademangan itu sama sekali tidak mau merubah sikap mereka.

Karena itu, maka Sambi Wulung itu pun berkata, “Ada beberapa pertimbangan. Jika kita menunda rencana kita menangkap Ki Demang sampai esok, maka persoalannya mungkin akan berkembang dengan cepat. Kademangan-kademangan yang bekerja sama dengan Kademangan Jati Arang akan berusaha mengurangi tekanan kita dengan menyerang Tanah Perdikan dari beberapa arah.”

“Bukankah paman Jati Wulung dan Gandar akan dapat mengatasinya? Yang terkuat diantara Kademangan-kademangan itu adalah Kademangan Jerukgede. Sementara itu, kekuatan kita yang kita siapkan untuk menahan serangan itu pun cukup kuat pula.”

“Tetapi kalau Kademangan ini segera dapat kita selesaikan, maka pengaruhnya akan sangat besar bagi Kademangan-kademangan yang lain. Mereka akan meyakini bahwa kita tidak sekedar bermain-main dan mengancam. Tetapi kita sudah mengambil langkah yang nyata untuk menegakkan wibawa Pajang dan menyelamatkan Tanah Perdikan Sembojan dari rongrongan perdagangan gelap yang akan dapat menguras bahan pangan kita itu.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan berbicara dengan para pemimpin kelompok.

Risang pun kemudian memanggil para pemimpin ke-tompok pasukan pengawalnya. Dengan rinci Risang memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka, apa yang tiarus mereka lakukan.”

“Kita akan menangkap Ki Demang Jati Arang yang menolak untuk membatalkan hubungannya dengan perdagangan gelap dan menolak untuk tetap menyatu dengan Pajang. Tetapi kita tidak akan menghancurkan Kademangan Jati Arang. Jika tujuan kita sudah tercapai, maka kita akan meninggalkan Kademangan dan membawa Ki Demang ke Tanah Perdikan. Pada kesempatan lain kita akan membawa Ki Demang Jerukgede dan para Demang yang lain ke Tanah Perdikan pula.”

Para pemimpin kelompok pasukan pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, apa yang harus mereka lakukan. Nampaknya perang antara Mataram dan Madiun mulai membayang justru di Tanah Perdikan Sembojan.

Demikianlah, maka Risang pun kemudian memberikan isyarat kepada pasukannya untuk bergerak maju menuju ke gerbang padukuhan induk Kademangan Jati Arang. Agaknya mereka memang memusatkan kekuatan mereka bersama prajurit Madiun yang berada di Jati Arang, di padukuhan induk.

“Berhati-hatilah” berkata Risang kepada para pengawal, “kita tidak tahu pasti, apa yang berada di belakang pintu gerbang itu. Tetapi kita bertekad untuk menundukkan mereka dan menangkap Ki Demang Jati Arang.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Risang memberikan isyarat kepada para pengawalnya. Risang dan Sambi Wulung melihat beberapa orang prajurit Madiun telah siap diatas dinding padukuhan induk dengan busur dan anak panah.

“Pertahanan yang gawat” berkata Risang.

“Kita harus berhati-hati” desis Sambi Wulung.

“Serangan anak panah itu akan sangat menghambat kita paman” desis Risang.

Namun Sambi Wulung pun berkata, “Kita akan membagi pasukan menjadi dua bagian. Sebagian bersama aku dan sebagian bersama Angger Risang. Kita akan dengan cepat melingkari padukuhan induk ini. Kita akan memasuki padukuhan induk dari sebelah menyebelah. Mudah-mudahan dengan demikian, kita akan dapat mengurangi hambatan dari pertahanan mereka, karena mereka pun harus segera merubah tatanan pertahanan mereka, sehingga mudah-mudahan kita akan mendapatkan peluang.”

“Aku setuju paman. Tetapi kita tidak bergerak bersama-sama. Aku akan bergerak lebih dahulu. Mereka akan mengira bahwa paman akan tetap menyerang dari depan. Tetapi kemudian paman akan bergerak dengan cepat melingkar dan menyerang dari sisi sebelah kiri.”

“Bagus” desis Sambi Wulung, “silahkan angger lebih dahulu bergerak melingkar.”

Risang mengangguk kecil. Ketika ia memandang para prajurit Madiun yang siap diatas dinding padukuhan induk dengan anak panah dan busur ditangan, maka ia melihat keangkuhan membayang pada garis pertahanan itu.

Sejenak kemudian, maka Risang telah memberi isyarat kepada separuh dari para pengawal yang menyertainya. Mula-mula mereka bergerak seakan-akan hendak menerjang pertahanan yang berbahaya itu. Namun ketika para prajurit Madiun sudah siap menarik tali busur mereka, maka dengan cepat Risang membawa pasukan pengawalnya berbelok dengan cepat. Bahkan mereka pun segera berlari melingkar kearah samping padukuhan induk Kademangan Jati Arang.

Risang telah berlari dengan cepat bersama pasukannya langsung mendekati dinding padukuhan induk dari sisi kanan.

Cerak pasukan pengawal yang dipimpin oleh Risang itu memang mengejutkan dan beberapa saat memang membingungkan. Ketika para prajurit Madiun berusaha bergeser dan berjalan diatas dinding dengan hati-hati, maka Sambi Wulung justru mulai bergerak.

Para prajurit Madiun menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Sementara itu, diantara mereka yang tergesa-gesa bergerak justru kehilangan keseimbangan, sehingga harus meloncat turun dari atas dinding sehingga kakinya terasa menjadi sakit.

Dalam pada itu, Risang dengan cepat telah mencapai sisi sebelah kanan padukuhan induk Kademangan Jati Arang. Dengan cepat Risang meloncat dinding padukuhan, disusul oleh beberapa orang pengawal. Yang sedikit mengalami kesulitan harus dengan cepat saling membantu. Seorang berdiri dipundak kawannya agar dapat lebih mudah meloncat keatas dinding.

Cara yang dipilih oleh Risang dan pasukannya itu memang mampu menembus pertahanan pertama prajurit Madiun yang berada di Jati Arang. Sementara yang lain menjadi ragu, maka Sambi Wulung telah melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukan oleh Risang dari sisi sebelah kiri.

Meskipun para prajurit Madiun itu masih mencoba untuk mempergunakan busur dan anak panahnya, namun usaha mereka tidak banyak menghambat para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Dalam waktu yang terhitung singkat, maka sebagian besar para pengawal telah berada didalam dinding padukuhan induk.

Risang dan pasukannya yang lebih dahulu memasuki dinding padukuhan induk segera bergerak menyusupi jalan-jalan padukuhan. Mereka melintas menuju ke banjar dan kerumah Ki Demang yang tidak terlalu jauh dari banjar. Merurut perhitungan Risang, Ki Demang dan pimpinan prajurit Madiun yang semula berada di regol padukuhan induk, akan segera bergerak ke banjar Kademangan setelah mereka mengetahui bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan tidak menyerang langsung pintu gerbang padukuhan induk itu. Keduanya akan memimpin perlawanan dari banjar atau dari rumah Ki Demang.

Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, para pengawal Tanah Perdikan sudah harus menghadapi perlawanan. Para pengawal Kademangan bersama prajurit Madiun yang semula berkumpul dibelakang pintu gerbang itu pun telah berpencar. Sebagian mereka menebar untuk menghadapi pasukan yang dipimpin langsung oleh Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang memasuki padukuhan itu dari sisi sebelah kanan. Sedangkan yang lain akan menghadapi pasukan yang menyerang dari sisi sebelah kiri.

Dalam pertempuran yang kemudian terjadi di dalam lingkungan dinding padukuhan, maka kemampuan pribadi masing-masing akan sangat menentukan, karena kedua belah pihak tidak akan banyak tergantung pada kemampuan perang gelar. Para pengawal padukuhan itu bersama para prajurit Madiun telah menyusuri jalan-jalan padukuhan untuk memotong gerak para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi para pengawal Tanah Perdikan tidak perpancang pada jalan-jalan yang terbujur di-padukuhan itu. Sebagian diantara mereka telah memasuki halaman-halaman dan berloncatan dari halaman yang satu ke halaman yang lain.

Dengan demikian maka pertempuran pun telah menjalar ke mana-mana. Dimana saja para pengawal Tanah Perdikan Sembojan bertemu dengan para pengawal Kademangan Jati Arang dan prajurit Madiun, maka pertempuran pun telah terjadi.

Semula para prajurit Madiun menganggap bahwa para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu akan dengan mudah ditundukkan. Mereka mengira bahwa kemampuan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu tidak lebih baik dari kemampuan para pengawal Kademangan Jati Arang.

Tetapi para pengawal Tanah Perdikan bukan baru sekali itu bertempur melawan prajurit Madiun. Karena itu, maka mereka sudah dapat memperhitungkan kemampuan lawan yang bakal mereka hadapi.

Yang justru terkejut adalah para prajurit Madiun. Ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan para prajurit Madiun yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu, karena sebagian dari mereka berada di Kademangan Jerukgede dan beberapa Kademangan yang lain.

Dengan demikian, maka pertempuran yang terjadi di padukuhan induk Kademangan Jati Arang itu menjadi semakin sengit. Risang sendiri telah bergerak semakin dekat dengan banjar Kademangan. Bersama beberapa orang pengawal, Risang menembus perlawanan demi perlawanan. Para pengawal Kademangan itu seakan-akan justru telah menyibak ketika mereka melihat Risang dan beberapa orang pengawal lewat.

Berbeda dengan para pengawal itu, maka para prajurit Madiun tidak ingin direndahkan oleh para pengawal Tanah Perdikan. Karena itu, maka prajurit Madiun lah yang kemudian berusaha menghentikan gerak maju

Risang dan beberapa orang pengawal yang sedang bergerak ke banjar.

Ketika disimpang ampat ditengah-tengah padukuhan induk Risang dan pengawalnya bertemu dengan beberapa orang prajurit Madiun dan pengawal Kademangan, maka pertempuran diantara mereka segera terjadi. Para pengawal Kademangan yang disertai oleh beberapa orang prajurit Madiun itu merasa berbesar hati. Mereka menduga, bahwa para pengawal Tanah Perdikan itu dalam waktu yang pendek akan segera dapat diatasi. Bahkan Kepala Tanah Perdikan itu akan dapat mereka tangkap. Hidup atau mati. Jika Kepala Tanah Perdikan itu sudah tidak berdaya, maka perlawanan para pengawal Tanah Perdikan itu tentu akan berhenti pula.

Namun ternyata tidak semudah yang mereka duga untuk mengalahkan Kepala Tanah Perdikan Sembojan meskipun oleh prajurit Madiun sekalipun. Bahkan pertempuran menjadi semakin lama semaki sengit. Mereka tidak saja bertempur di simpang ampat. Tetapi pertempuran telah terjadi di halaman-halaman rumah sebelah menyebelah simpang ampat itu. Para prajurit dan pengawal telah berloncatan kejar-mengejar di halaman, diantara pepohonan dan batang-batang perdu. Bahkan ada diantara mereka yang bertempur dibawah rumpun-rumpun bambu di kebun belakang.

Namun para pengawal Kademangan Jati Arang tidak terlalu banyak berarti. Mereka justru berusaha mencari perlindungan pada para prajurit Madiun, sementara para prajurit sendiri mengalami tekanan yang berat dari para pengawal Tanah Perdikan.

Satu dua pengawal Kademangan ternyata ada yang memilih melarikan diri dari pertempuran, meskipun mereka tidak tahu, kemana mereka akan lari, karena pertempuran itu terjadi di padukuhan induk mereka sendiri.

Ki Demang dan pemimpin prajurit Madiun yang ada di Kademangan itu memang berada di banjar ketika mereka mengetahui, bahwa para pengawal Tanah Perdikan tidak menyerang dengan berusaha memecahkan regol padukuhan mereka. Tetapi justru menyerang dari sisi sebetah kanan dan kiri.

Datam pada itu, Sambi Wulung dan para pengawal yang menyertainya, telah bergerak ke arah banjar dan rumah Ki Demang pula. Seperti Risang, maka Sambi Wulung juga dihambat terutama oleh prajurit Madiun. Namun juga seperti Risang, maka satu demi satu hambatan itu dapat dilampaui.

Laporan-taporan yang sampai kepada Ki Demang dan pemimpin prajurit Madiun yang berada di banjar memang mencemaskan. Beberapa orang pengawal dan prajurit Madiun justru telah menarik diri dan berusaha bertahan didepan banjar Kademangan dan sekitarnya. Mereka berusaha mempersempit medan dengan perhitungan, bahwa kemampuan prajurit Madiun akan dapat menentukan akhir dari pertempuran itu.

Namun dengan demikian, maka para pengawal Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin cepat bergerak. Tetapi mereka sadar, bahwa pada saat terakhir, mereka akan menghadapi kekuatan yang harus diperhitungkan.

Beberapa saat kemudian, maka terdengar isyarat suara kentongan. Meskipun para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak mengetahui arti dari isyarat itu, namun mereka dapat menduga bahwa isyarat itu akan menentukan akhir dari pertempuran itu.

Sebenarnyalah para pengawal dan prajurit Madiun yang bertempur di tempat tersebar itu bagaikan dihisap oleh suara kentongan itu. Sejenak mereka larut dan hilang dibalik dinding-dinding halaman dan dibalik tikungan, simpang tiga dan simpang ampat.

Para pengawal Kademangan itu serta para prajurit Madiun yang sudah beberapa lama berada di padukuhan itu memang mengenal medan. Karena itu, maka para pengawal Tanah Perdikan memerlukan waktu untuk menyusul mereka.

Tetapi baik Risang maupun Sambi Wulung telah memperingatkan para pengawal agar berhati-hati. Para pengawal Kademangan Jati Arang dan para prajurit Madiun akan dapat menunggu mereka dibalik tikungan dan dinding halaman.

Sebenarnyalah, bahwa ketika para pengawal itu mendekati banjar dan rumah Ki Demang yang letaknya memang dekat banjar Kademangan, maka mereka telah mendapat serangan demikian tiba-tiba dari para pengawal dan prajurit Madiun.

Dengan demikian, maka pertempuran yang sebenarnya telah terjadi. Para pengawal yang didorong oleh prajurit-prajurit Madiun itu telah menyerang dengan garangnya.

Namun para pengawal Tanah Perdikan seakan-akan memang telah mengepung banjar dan rumah Ki Demang. Karena itu, maka pertempuran pun telah berkobar dengan sengitnya.

Ki Demang sendiri tidak lagi tinggal diam menunggu. Namun ia segera turun ke medan. Ki Demang tidak lagi dapat menghindari tanggung jawab yang memang harus dipikulnya.

Ketika Risang melihat Ki Demang itu telah melibatkan diri dalam pertempuran, maka dengan cepat ia berusaha untuk dapat mendekatinya. Seperti rencana semula, jika ia dapat menangkap Ki Demang, melawan atau tidak melawan, maka persoalan selanjutnya akan dapat diredakan, karena tanpa Ki Demang nampaknya para pengawal tidak akan dapat berbuat banyak, sementara prajurit dari Madiun pun yang jumlahnya tidak terlalu banyak, tentu akan menghentikan pertempuran pula.

Dengan menyibak para pengawal, maka akhirnya Risang dapat berhadapan dengan Ki Demang Jati Arang. Namun demikian Ki Demang melihat Risang, maka dengan serta-merta Ki Demang itu telah menyerangnya. Dengan sebilah pedang ditangan, Ki Demang meloncat sambil berteriak, “Aku akan membunuhmu.”

Tetapi dengan tangkasnya Risang meloncat menghindar. Bahkan Risang sempat berkata, “Ki Demang. Aku masih memberimu kesempatan untuk menyerah.”

“Anak muda. Kau memang terlalu meremehkan aku. Aku mengerti bahwa Tanah Perdikan Sembojan memiliki kekuatan yang besar. Tetapi bukan berarti bahwa Tanah Perdikan dapat memaksakan kehendaknya kepada tetangga-tetangganya.”

“Bukan maksudku, Ki Demang. Tetapi Ki Demang telah melawan pemerintahan yang sah atas Pajang dan lingkungannya.” jawab Risang.

“Persetan dengan ceriteramu. Jika kau mati disini, maka Surat Kekancingan yang kau miliki itu tidak akan ada maknanya lagi bagi Kademangan-kademangan disekitar Tanah Perdikan. Kau akan mati dan lidahmu yang kau pergunakan untuk menjilat itu akan aku belah seperti lidah ular.”

Risang pun kemudian telah menggenggam pedangnya pula. Kata-kata Ki Demang itu memang membuat telinganya menjadi merah. Tetapi Risang masih tetap berpijak pada niatnya semula. Menangkap Ki Demang Jati Arang.

Sementara itu, para pengawal Kademangan dan para prajurit Madiun menjadi semakin terdesak. Mereka seakan-akan tidak mendapat peluang lagi untuk bertahan. Prajurit Madiun yang sudah berpengalaman itu pun sulit untuk mengembangkan kemampuan mereka, karena jumlah mereka yang tidak terlalu banyak, sementara pengawal Kademangan Jati Arang tidak berkemampuan cukup untuk membantu mereka menghadapi para pengawal Tanah Perdikan.

Sementara itu Sambi Wulung yang bertempur disisi iain justru berusaha untuk mengekang para pengawal. Setiap kali Sambi Wulung harus memperingatkan mereka, bahwa mereka tidak datang untuk membunuh dan menghancurkan Kademangan Jati Arang.

Sementara itu, Sambi Wulung sendiri tidak banyak mengalami kesulitan ketika ia langsung berhadapan dengan pemimpin prajurit Madiun yang ada di padukuhan itu.

Dalam pada itu, Risang telah mendesak Ki Demang sehingga Ki Demang semakin sulit untuk tetap bertahan. Ujung pedang Risang semakin lama seakan-akan menjadi semakin dekat dengan kulitnya. Bahkan rasa-rasanya sekali-sekali ujung pedang itu telah menggoreskan luka ditubuhnya.

Tetapi Ki Demang masih berusaha untuk bertempur terus. Dikerahkannya segenap kemampuannya untuk melawan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih muda itu. Namun betapapun ia menghentakkan ilmunya, namun Risang terlalu kuat baginya. Anak muda itu bagaikan membentengi dirinya sehingga tidak mampu dijangkau oleh serangan-serangan yang bagaimanapun juga kuat dan cepatnya menurut kemampuannya.

Risang yang mendesak Ki Demang itu kemudian berkata, “Ki Demang. Tidak ada kesempatan lagi bagi Ki Demang. Pengawal-pengawal Kademanganmu terdesak dimana-mana. Para prajurit Madiun yang ada disini pun sudah tidak berdaya. Bukan karena kemampuan mereka rendah, tetapi jumlah mereka tidak cukup memadai, justru karena mereka berada disini tidak atas nama kekuasaan Kangjeng Adipati di Madiun.

“Kau tidak usah mengigau. Sebentar lagi kau akan terkubur di bumi Jati Arang.” bentak Ki Demang.

Tetapi Riusang tertawa. Ketika ia yakin mampu menguasai tawannya, maka kemudian Risang justru dapat diredamnya. Penatarannya sepenuhnya menguasai sikapnya, sehingga karena itu, Risang tidak terdorong oleh kemarahannya dan tidak berusaha membunuh Ki Demang Jati Arang sesuai dengan rencananya.

“Ki Demang” berkata Risang, “Ki Demang harus jujur menilik keadaan.”

Ki Demang tidak menjawab. Tetapi ia meloncat menyerang Risang. Namun serangannya sama sekali tidak mampu menyentuh pakaian anak muda itu, apalagi kulitnya.

Ki Demang Jati Arang itu mengumpat kasar. Dihentakkannya segenap kemampuannya. Namun Risang masih juga sempat tertawa sambil mengelak. Bahkan kemudian katanya, “Apa yang sebenarnya Ki Demang lakukan? Apakah Ki Demang menganggap bahwa serangan Ki Demang itu berarti?”

Ki Demang tidak menjawab. Senjatanya berputar cepat. Kemudian mematuk seperti seekor ular bandotan.

Namun senjata Risang dengan cepat pula menebas. Bukan saja dengan cepat, melampaui kecepatan gerak senjata Ki Demang, tetapi juga sambaran senjata Risang itu demikian kuatnya, sehingga benturan yang terjadi benar-benar tidak mampu lagi diatasi oleh Ki Demang. Demikian kuatnya senjata Risang membentur senjatanya, maka tangan Ki Demang yang bergetar itu bagaikan menyentuh bara.

Dengan demikian, maka senjata Ki Demang itu pun telah terloncat dari telapak tangannya dan jatuh beberapa langkah daripadanya.

Ki Demang tidak sempat memungut senjatanya ketika ujung pedang Risang tiba-tiba telah melekat didadanya.

Ki Demang yang sedang berusaha menggapai pedangnya itu terdorong beberapa langkah surut.

Sambit mendesak dengan menekankan ujung pedangnya didada Ki Demang, Risang berkata, “Menyerahlah Ki Demang. Aku hanya memertukan Ki Demang sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas semua persoalan yang terjadi di Kademangan ini.”

Wajah Ki Demang menjadi merah. Tetapi ujung senjata Risang telah melekat didadanya.

Beberapa orang bebahu dan pengawal kademangan yang melihat keadaan Ki Demang menjadi berdebar-debar. Sementara itu, Risang telah memberikan perintah untuk menghentikan pertempuran.

Perintah yang diberikan Risang itu pun telah diteruskan dari pemimpin kelompok yang satu kepada pemimpin kelompok yang lain. Bahkan para pengawal pun telah mengulangi perintah itu sehingga dengan cepat menjalar keseluruh medan pertempuran.

“Ki Demang” berkata Risang, “aku telah memerintahkan kepada para pengawalku untuk menghentikan pertempuran meskipun jika aku mengeluarkan perintah yang lain setiap saat, maka perintahku yang baru itu pun akan dengan cepat mereka lakukan pula.”

“Apa yang harus aku lakukan?” bertanya Ki Demang.

“Panggil semua pengawalmu yang terlibat kedalam pertempuran lewat para penghubungmu atau para bebahu atau siapapun yang kau perintahkan. Demikian pula para prajurit Madiun yang ada di Kademangan ini. Mereka harus berkumpul di banjar dengan meletakkan senjata mereka.

Ki Demang memandang Risang yang muda itu dengan sorot mata yang bagaikan membara. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali menjalankan perintah anak muda itu.

Tetapi karena Ki Demang tidak segera melakukannya, maka Risang pun berkata, “Ki Demang. Aku minta Ki Demang melakukannya. Jika tidak maka aku akan mengambil kebijaksanaan lain. Pertempuran akan berlangsung terus, meskipun Ki Demang dan para pengawal Kademangan ini sudah tidak berdaya sama sekali. Korban akan berjatuhan tanpa arti. Jika hal itu terjadi, maka tanggung jawab tetap akan dibebankan diatas pundak Ki Demang.

Ki Demang Jati Arang memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka ia pun telah memerintahkan kepada para bebahu yang semula bertempur disebelah-menyebelahnya.

Ternyata perintah itu justru diterima dengan lega hati oleh para bebahu dan para pengawal yang memang merasa tidak akan mampu mengimbangi kekuatan Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, para pengawal Kademangan itu pun telah berkumpul di halaman banjar Kademangan dan dijalan yang membentang dihadapan banjar itu. Sementara itu, para pengawal Tanah Perdikan berjaga-jaga dengan senjata ditangan mereka.

Risang dan Sambi Wulung yang kemudian berada di pendapa banjar itu bersama Ki Demang dan beberapa bebahu menyaksikan para pengawal Kademangan Jati Arang meletakkan dan menimbun senjata mereka di halaman banjar.

Namun Sambi Wulung pun kemudian bertanya kepada Ki Demang, “Ki Demang, apakah perintah Ki Demang tidak mencakup para prajurit Madiun yang ada di Jati Arang?”

Ki Demang termangu-mangu sejenak, ia memang tidak melihat para prajurit Madiun yang semula bertempur bersama para pengawal Kademangan Jati Arang.

Dengan wajah yang berkerut Ki Demang itu menjawab, “Mereka tidak termasuk dibawah perintahku.”

“Tetapi penguasa tunggai disini adalah Ki Demang. Apakah Ki Demang memang membagi kekuasaan Ki Demang dengan para prajurit Madiun, sehingga mereka mempunyai wewenang tersendiri di Kademangan Jati Arang?”

“Tidak” jawab Ki Demang, “mereka tidak mempunyai wewenang apa-apa disini. Tetapi aku pun tidak dapat memerintah mereka.”

Sambi Wulung pun kemudian berkata kepada Risang, “Kita akan segera kembali ke Tanah Perdikan. Ki Demang akan ikut bersama kita. Sementara para bebahu Kademangan ini akan melakukan tugas Ki Demang. Tergantung kepada mereka, siapakah yang akan mereka tunjuk atau akan mereka lakukan bersama-sama.”

Risang mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa Sambi Wulung ingin memberikan peringatan kepadanya, agar ia segera berada di Tanah Perdikan kembali, karena para prajurit Madiun yang melarikan diri dengan diam-diam dari Jati Arang akan dapat melakukan tindakan yang sangat merugikan bagi Tanah Perdikan. Mereka tentu akan segera ke Kademangan Jeruk Cede dan membuat langkah-langkah yang akan mereka lakukan bersama dengan Kademangan-kademangan lainnya serta para prajurit Madiun yang berada di beberapa Kademangan itu.

Tetapi Risang itu pun berkata didalam hatinya, “Semakin cepat mereka bertindak, akan menjadi semakin baik bagi kami.”

Demikianlah, maka Risang pun kemudian telah memerintahkan semua pengawal Tanah Perdikan untuk kembali. Ki Demang Jati Arang telah dibawa Risang ke Tanah Perdikan pula. Sementara itu, Risang terpaksa membawa beberapa buah pedati untuk membawa mereka yang terluka dan apalagi yang menjadi parah.

Sebenarnyalah, bahwa para prajurit Madiun yang berada di Jati Arang, dengan diam-diam telah meninggalkan pertempuran atas perintah pemimpin mereka. Yang dapat meloloskan diri sebelum pertempuran berakhir telah meloloskan diri, sementara yang lain justru pada saat Ki Demang menghentikan pertempuran dan menarik para pengawalnya dan para prajurit itu ke banjar. Kemampuan mereka telah memungkinkan mereka menghindarkan diri dari pengawasan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Hanya ada satu dua orang yang ternyata tidak sempat lolos selain mereka yang terluka sehingga tidak dapat bergerak cepat.

Hanya ada tiga orang prajurit Madiun yang tertangkap selain yang terluka. Justru mereka telah dibawa pula ke Tanah Perdikan Sembojan bersama dengan Ki Demang Jati Arang.

Dalam pada itu, maka Risang, Sambi Wulung dan pasukannya telah mendahului beberapa buah pedati yang membawa mereka yang terluka. Beberapa orang pengawal bersama mereka untuk menghadapi berbagai macam kemungkinan. Mereka dilengkapi dengan panah sendaren yang dapat memberikan isyarat untuk jarak yang agak jauh. Namun baik Risang maupun Sambi Wulung memperhitungkan, bahwa para prajurit Madiun tidak akan sempat mengganggu iring-iringan pedati yang membawa orang-orang yang terluka itu.

Demikian Risang dan Sambi Wulung sampai di Tanah Perdikan, maka mereka telah memanggil Jati Wulung dan Gandar. Risang memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

“Para prajurit Madiun yang meninggaikan Jati Arang tentu tidak akan tinggal diam.”berkata Risang.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mereka akan pergi ke Tanah Perdikan ini bersama orang-orang Jerukgede dan Kademangan-kademangan yang terlibat dalam perdagangan gelap itu.”

Meskipun demikian, Risang telah memerintahkan beberapa orang petugas sandi untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Risang memerintahkan untuk mengamati kademangan Jerukgede. Jika Jerukgede tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mengirimkan pengawalnya ke Tanah Perdikan, maka Tanah Perdikan Sembojanlah yang justru akan datang ke Kademangan Jerukgede untuk menangkap Ki Demang sebagaimana Demang Jati Arang.

“Aku akan menunggu di banjar padukuhan Tegal Jarak. Aku minta disampaikan kepada para pengawal yang bertugas di padukuhan-padukuhan untuk mengawasi keadaan sebaik-baiknya. Mereka harus segera memberikan isyarat jika para pengawas melihat kedatangan para pengawal dari Kademangan sebeiah bersama para prajurit dari Madiun.” perintah Risang kepada beberapa orang pengawal yang ditugaskan untuk menyampaikannya kepada para pengawal di padukuhan-padukuhan, terutama yang berbatasan dengan Kademangan-kademangan yang terlibat dalam perdagangan gelap itu.

Dalam pada itu, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka telah mempersiapkan diri untuk bertahan jika mendapat serangan, tetapi mereka pun telah bersiap untuk menyerang jika periu.

Namun para petugas sandi pun telah memberikan laporan, bahwa mereka tidak melihat persiapan-persiapan untuk menyerang di Kademangan Jerukgede. Mereka memang melihat kesibukan para pengawal dan pata prajurit Madiun. Tetapi mereka berpencar di beberapa pusat kegiatan, terutama di padukuhan induk. Nampaknya para pengawal Jerukgede dan para prajurit Madiun akan memusatkan pertahanan mereka di padukuhan induk sebagaimana Kademangan Jati Arang. Sudut-sudut padukuhan induk mendapat pengawalan yang kuat. Pintu-pintu gerbang dan bahkan regol-regol butulan.

Risang mengangguk-angguk. Menurut laporan para petugas sandi, maka nampaknya Jerukgede telah mempersiapkan per-tahanan yang kuat.

“Nampaknya di padukuhan induk itu terdapat banyak prajurit Madiun. Mereka hilir mudik didepan pintu gerbang padukuhan induk. Agaknya mereka benar-benar sudah bersiap untuk menghadapi serangan dari Tanah Perdikan ini.” berkata seorang petugas sandi.

“Aku kira para prajurit Madiun yang terlibat dalam, perdagangan gelap itu telah dipusatkan semuanya di Jerukgede” berkata Sambi Wulung, “mereka akan melepaskan Kademangan yang lain, karena bagi mereka, Jerukgede adalah Kademangan yang dapat menjadi pintu gerbang perdagangan gelap itu.”

Risang pun sependapat pula. Karena itu, maka Risang telah memusatkan perhatiannya kepada Kademangan Jerukgede.

Meskipun demikian Risang tidak menjadi lengah, ia tetap menempatkan pengawas-pengawasnya untuk mengamati Kademangan-kademangan yang lain.

Sampai saatnya senja turun, maka Tanah Perdikan Sembojan merasa yakin bahwa Jerukgede lebih condong untuk mempersiapkan pertahanannya sebaik-baiknya. Sehingga karena itu, maka Risang telah memerintahkan para pengawal untuk bersiap. Besok, menjelang tajar, mereka akan muiai bergerak memasuki padukuhan Jerukgede. Demang Jerukgede harus ditangkap sebagaimana Demang Jati Arang.

Dengan demikian, maka Risang pun telah mempersiapkan induk pasukannya di padukuhan Tegal Jarak yang berhadapan iangsung dengan Kademangan Jerukgede. Tetapi padukuhan Tegal Jarak tidak pernah dipergunakan sebagai pintu gerbang perdagangan gelap sebagaimana padukuhan yang terletak tepat disentuhan garis perbatasan.

Dari padukuhan Tegal Jarak, Risang bersama pasukannya yang dipimpin oleh Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar akan memasuki padukuhan induk Kademangan Jerukgede dari tiga jurusan.

Namun yang terjadi benar-benar diluar perhitungan Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Ketika malam menjadi semakin dalam, pasukan yang kuat telah bergerak dari Kademangan Jerukgede. Pasukan yang terdiri dari para pengawal Jerukgede. Para pengawal Kademangan tetangga yang ikut merasa dirugikan dengan sikap Tanah Perdikan Sembojan, apalagi niat Kepaia Tanah Perdikan Sembojan untuk meningkatkan wibawa Pajang di sekitar Tanah Perdikan Sembojan itu.

Bahkan diantara mereka adalah para pengawal dari Kademangan Jati Arang yang telah menyatakan menyerah. Ketika Risang dan Sambi Wulung serta pasukannya meninggalkan Kademangan itu, maka telah terjadi perbedaan pendapat antara para pemimpin dari Kademangan Jati Arang. Ada diantara mereka yang benar-benar ingin menghentikan hubungan mereka dengan para pedagang gelap. Namun ada diantara mereka yang berniat untuk meneruskannya.

Namun mereka yang berniat untuk benar-benar tunduk kepada Kepala Tanah Perdikan yang ingin menegakkan wibawa Pajang tidak dapat mencegah, ketika para pengawal yang menentang mereka justru telah pergi ke Kademangan Jerukgede.

Dalam waktu yang singkat, maka para pemimpin prajurit Madiun telah mempersiapkan pembalasan atas kekalahan sebagian dari mereka yang berada di Jati Arang. Dengan cepat mereka telah menghubungi Kademangan-kademangan yang sejalan dengan mereka. Para pemimpin prajurit Madiun itu telah mengumpulkan pula para prajurit yang tersebar dibeberapa Kademangan.

Prajurit Madiun yang mengatur persiapan itu sempat mengelabuhi para petugas sandi dari Tanah Perdikan Sembojan, seolah-olah mereka tidak membuat persiapan-persiapan untuk menyerang.

Namun ternyata mereka telah menyerang, justru dimalam hari.

Dengan ketangkasan berpikir seorang Senapati, maka pemimpin prajurit Madiun yang berada di Jerukgede telah menggerakkan pasukan yang terdiri dari para pengawal Kademangan-kademangan yang menentang Tanak Perdikan Sembojan serta prajurit Madiun yang sudah dihimpun.

Dengan beberapa orang penunjuk jalan yang sudah mengenali lingkungan Tanah Perdikan dengan baik, maka pasukan itu bergerak melingkari disela-sela padukuhan-padukuhan yang bertebaran di Tanah Perdikan Sembojan langsung menuju ke padukuhan induk.

Dalam pada itu, di padukuhan induk tidak dipersiapkan pertahanan yang memadai. Meskipun padukuhan induk itu tidak kosong, namun sebagian pengawal telah berada di Tegal Jarak untuk mengambil ancang-ancang.

Dalam gelapnya malam, pasukan yang memasuki Tanah Perdikan Sembojan itu telah mengambil jalan melingkar. Mereka berusaha untuk tidak dilihat oleh para pengawas. Bahkan oleh siapapun penghuni Tanah Perdikan Sembojan.

Senapati yang memimpin prajurit Madiun yang berada disekitar Tanah Perdikan Sembojan untuk kepentingan para pedagang gelap itu telah membawa pasukannya menyusuri jalan-jalan sempit yang jarang dilalui orang berdasarkan keterangan dari para penunjuk jalan. Mereka melalui tanggul-tanggul parit dan melintasi pematang-pematang agar tidak bertemu dengan pengawal yang sedang meronda diantara padukuhan yang satu dengan padukuhan yang iain.

Namun sebenarnyaiah memang terlalu sulit bagi pasukan yang besar itu untuk benar-benar tidak diketahui oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun demikian, Senapati Madiun itu memperhitungkan, jika mereka diketahui juga, maka mereka hendaknya lebih dahulu sampai di padukuhan induk daripada induk pasukan Tanah Perdikan Tanah Perdikan yang berada di padukuhan Tegal Jarak sebagaimana dilaporkan oleh petugas sandi mereka.

Sebenarnyalah bahwa mereka telah mendapat separuh jalan tanpa diketahui oleh seorang pun. Maka Senapati Madiun itu yakin, bahwa mereka akan dapat menguasai padukuhan induk. Dengan menguasai padukuhan induk, mereka akan dapat memaksa pasukan Tanah Perdikan Sembojan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu jika mereka akan merebut kembali padukuhan induk mereka. Bahkan Senapati itu berharap, bahwa mereka akan dapat menghancurkan pasukan Tanah Perdikan yang sombong itu di kampung halaman mereka sendiri. Biarlah orang tua mereka, saudara-saudara mereka, bakal isteri mereka, melihat para pengawal Tanah Perdikan dihancurkan oleh prajurit Madiun yang sudah disakiti hatinya di Jati Arang bersama para pengawal beberapa

Kademangan serta para pengikut pedagang gelap yang justru merupakan satu kelompok orang yang sangat garang. „

Namun sebagaimana telah diperhitungkan oleh Senapati dari Madiun, bahwa sulit bagi mereka untuk dapat sampai ke padukuhan induk tanpa dilihat orang. Namun Senapati itu tidak berkeberatan lagi seandainya perjalanannya itu diketahui oleh para pengawal Tanah Perdikan setelah mereka berada pada jarak yang lebih dekat dibandingkan dengan jarak dari padukuhan Tegal Jarak.

Sebenarnyalah yang melihat iring-iringan itu pertama kaii bukannya para pengawal yang meronda. Tetapi justru orang yang sedang berada disawah untuk mengairi sawahnya itu.

Beruntunglah bahwa orang itu sempat bersembunyi ketika ia melihat iring-iringan itu menyusuri jalan yang membujur didekat sawahnya. Dengan cepat ia menyelinap diantara pohon-pohon perdu sehingga orang-orang yang berada didalam iring-iringan itu tidak melihatnya.

Dari percakapan orang-orang yang berada didalam iring-iringan itu yang dapat didengarnya, orang itu yakin bahwa iring-iringan itu adalah sebuah iring-iringan kekuatan yang akan menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Petani yang sedang mengairi sawahnya itu bukan seorang yang dungu, ia mengerti bahwa Tanah Perdikan Sembojan sedang berselisih dengan beberapa Kademangan disekitarnya, karena Kademangan-kademangan itu dipengaruhi oleh para pedagang gelap dengan dukungan prajurit Madiun.

Karena itu, maka petani yang sedang mengairi sawahnya itu pun segera tanggap, bahwa iring-iringan itu tentu para pengawal Kademangan-kademangan yang memusuhi Tanah Perdikan Sembojan, prajurit Madiun dan orang-orang upahan dari para pedagang gelap yang bergerak disekitar Tanah Perdikan itu.

Dengan demikian maka petani itu merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan Tanah Perdikannya termasuk padukuhan induknya yang agaknya akan menjadi sasaran serangan pasukan yang dengan diam-diam menyusup itu.

Ketika iring-iringan itu lewat, maka petani itu pun segera meninggalkan tempat persembunyiannya, berlari sekencang-kencangnya menuju ke padukuhan terdekat.

Tetapi orang itu sudah tidak terhitung muda lagi. Rambutnya sudah berbaur dengan uban yang keputih-putihan, sehingga nafasnya pun rasa-rasanya akan terputus dikerongkongan.

Demikian orang itu mencapai gardu di mulut lorong padukuhan terdekat, maka dengan terengah-engah ia mengatakan apa yang dilihatnya kepada ampat orang peronda di gardu itu.

“Tenanglah paman. Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang peronda itu.

“Pasukan yang kuat menuju ke padukuhan induk” nafas orang itu rasa-rasanya tidak lagi dapat menggapai paru-parunya.

Para peronda itu menjadi ragu-ragu. Mereka tidak yakin bahwa ceritera orang tua itu bukan sekedar bayangan dari sebuah mimpi buruk.

“Aku berkata sesungguhnya. Buat apa aku berbohong. Aku tahu bahwa persoalan seperti ini adalah persoalan antara hidup dan mati.” berkata petani itu.

Karena tanggapan para peronda itu masih nampak ragu, orang tua itu tidak sabar lagi. Dengan cepat ia mengambil pemukul kentongan dan dipukuinya dengan irama titir. Isyarat bahwa telah terjadi sesuatu yang sangat berbahaya.

Melihat sikap orang tua itu, maka para peronda itu memang menjadi lebih yakin bahwa petani itu bersungguh-sungguh.

Karena itu, mereka tidak mencegahnya. Dibiarkannya orang tua itu memukui kentongan dengan irama titir. Sementara itu, dua orang diatara mereka dengan cepat telah pergi ke banjar padukuhan untuk memberikan laporan sebagaimana dikatakan oleh petani itu kepada para pengawal yang berada di banjar.

Para pengawal memang sudah berada dalam keadaan siaga. Tetapi sebagian dari pengawal padukuhan itu sudah berada di padukuhan Tegal jarak siap untuk bergerak ke Jerukgede.

Ketika laporan itu disampaikan kepada pemimpin pengawal yang masih tersisa, maka dengan cepat para pengawal yang ada telah dipersiapkan. Sebagian dari mereka segera diberangkatkan menuju ke padukuhan induk. Dua orang pengawal berkuda akan memberitahukan serangan dengan diam-diam itu kepada padukuhan-padukuhan terdekat iainnya.

Namun dalam pada itu, irama titir itu telah disahut oleh gardu yang lain. Sambung bersambung. Bukan saja sepadukuhan, tetapi suara kentongan itu telah didengar di padukuhan iain sehingga isyarat itu segera menjalar dari padukuhan ke padukuhan.

Tetapi padukuhan-padukuhan yang lain tidak segera mengetahui apa yang terjadi. Bahkan ada diantara para pengawal yang menduga, bahwa telah terjadi perampokan. Sekelompok perampok memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri.

Namun para pengawal di banjar-banjar padukuhan itu segera mendapat penjelasan ketika para pengawal berkuda datang untuk menyampaikan berita tentang pasukan yang kuat yang dengan diam-diam telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan dan menuju ke padukuhan induk.

Para pengawal pun harus dengan cepat mengambil sikap. Sebagian dari mereka dengan tergesa-gesa telah berangkat ke padukuhan induk. Mereka sadar, bahwa tugas yang akan mereka hadapi adalah tugas yang sangat berat.

Demikianlah, maka didalam gelapnya malam, para pengawal dari padukuhan-padukuhan telah bergerak secepat dapat mereka lakukan menuju ke padukuhan induk. Mereka sudah mendapat gambaran, arah kedatangan pasukan yang kuat yang menuju ke padukuhan induk itu.

Sementara itu, dua orang pengawal berkuda telah memacu kuda mereka menuju ke padukuhan Tegal Jarak. Mereka harus segera melaporkan apa yang terjadi di padukuhan induk kepada Risang yang sedang mempersiapkan pasukan pengawal yang kuat untuk memasuki kademangan Jerukgede.

Dalam pada itu, suara kentongan dengan irama titir itu telah terdengar pula di padukuhan induk. Para pengawal yang bertugas untuk berjaga-jaga di padukuhan induk pun masih bertanya-tanya, apa yang telah terjadi.

Namun dua orang pengawal berkuda telah mencapai padukuhan induk itu lebih dahulu dari iring-iringan pasukan yang datang untuk menyerang padukuhan induk itu.

Suara kentongan dengan irama titir pun kemudian telah menggetarkan udara di padukuhan induk. Beberapa orang bebahu padukuhan yang tidak ikut bertugas di Tegal Jarak dengan cepat telah menemui Nyi Wiradana.

“Kita siapkan pengawal yang ada” berkata Nyi Wiradana, ”aku akan langsung memimpin mereka menghadapi serangan yang cerdik itu. Satu pengalaman yang pahit bagi Risang untuk lebih berhati-hati menghadapi orang-orang yang cerdik.”

“Mereka menyerang dengan licik” berkata saiah seorang bebahu.

“Dari sisi mana kita memandang” jawab Nyi Wiradana, ”tetapi dalam peperangan siasat seperti itu sah adanya. Kitalah yang bersalah, karena kita kurang waspada.”

Bebahu itu tidak menjawab. Namun bersama para bebahu yang lain, mereka segera menyiapkan kekuatan yang ada di padukuhan induk Tanah Perdikan. Para bebahu itu pun telah memerintahkan pula dua orang penghubung berkuda untuk memberitahukan kepada Kepaia Tanah Perdikan Sembojan apa yang telah terjadi meskipun para bebahu itu tahu bahwa sudah ada penghubung yang lebih dahulu memberikan laporan kepadanya.

Dalam pada itu, maka Nyi Wiradana pun telah bersiap pula. Ia telah mengenakan pakaian khususnya. Bahkan dengan sepasang pedang di lambung, Nyi Wiradana yang menyadari kelemahan pertahanan di padukuhan induk itu harus berbuat sebaik-baiknya.

Beberapa pengamat telah keluar dari regol untuk melihat dan mengawasi gerak maju pasukan yang akan menyerang padukuhan induk itu.

Dalam pada itu, lewat regol butulan, ternyata ada kelompok-kelompok kecil pengawal dari padukuhan terdekat yang berhasil sampai di padukuhan induk mendahului pasukan gabungan yang jumlahnya cukup besar.

Ketika datang laporan dari seorang pengawas bahwa pasukan yang datang menyerang padukuhan induk itu menjadi semakin dekat, maka Nyi Wiradana telah memerintahkan menutup gerbang utama. Dengan tergesa-gesa, para pengawal mempersiapkan senjata jarak jauh untuk menyongsong datangnya serangan. Busur dan anak panah serta lembing berbedor besi.

Di tengah-tengah bulak, pasukan yang terdiri dari para pengawal beberapa Kademangan, prajurit Madiun dan orang-orang upahan dari para pedagang gelap itu berjalan semakin cepat. Mereka juga mendengar suara kentongan yang bergema di seluruh Tanah Perdikan. Tetapi mereka memperhitungkan bahwa pasukan itu akan mencapai padukuhan induk lebih dahulu dari pasukan yang tentu akan ditarik dari Tegal Jarak.

Nyi Wiradana yang sudah berada di gerbang padukuhan induk, telah memerintahkan memadamkan oncor di pintu gerbang dan di sudut gardu. Sehingga dengan demikian, maka wajah padukuhan induk itu menjadi hitam pekat.

Pasukan gabungan yang mendekati padukuhan induk itu kemudian telah berhenti beberapa puluh langkah. Mereka membagi pasukannya menjadi tiga. Induk pasukannya akan menyerang langsung kearah pintu gerbang, sementara kedua bagian yang lain akan menyerang dari arah kiri dan kanan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sementara itu para pengawal yang bersiap menunggu telah memasang anak panah dibusurnya. Para pengawal tidak mempunyai pilihan iain kecuali mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya. Jika mereka tidak berbuat demikian, maka merekalah yang akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyerang padukuhan induk itu.

Dengan jantung yang berdebar-debar maka para pengawal telah menunggu. Gerak maju orang-orang yang menyerang itu rasa-rasanya menjadi sangat lamban.

Ternyata pasukan yang datang menyerang itu memang harus berhati-hati. Mereka tidak dapat melihat apa yang ada dibelakang dinding padukuhan serta di panggungan disebelah-menyebelah pintu gerbang. Yang nampak hanya dataran yang hitam pekat.

Nyi Wiradana sendiri memimpin pasukan pengawal yang ada di padukuhan induk itu. Nyi Wiradana sendiri berdiri di panggungan disebelah pintu gerbang. Seperti para bebahu dan para pengawal, Nyi Wiradana pun juga memegang busur dan anak panah.

Ternyata penglihatan dari belakang dinding padukuhan induk ke tempat terbuka, lebih jelas daripada sebaliknya. Karena itu, maka ketika pasukan itu merayap semakin dekat, maka para pengawal dipintu gerbang, serta disisi kanan dan kiri padukuhan dapat melihat orang-orang yang dengan hati-hati bergeser maju.

Nyi Wiradana sendiri sudah mulai membidik. Demikian orang-orang yang mendekati pintu gerbang itu memasuki jarak jangkau anak panahnya, maka sambil melepaskan anak panahnya Nyi Wiradana memberi isyarat kepada seorang bebahu yang berdiri disebelahnya untuk memberikan aba-aba menyerang.

Sebenarnyalah serangan itu sangat mengejutkan Tetapi demikian mereka sadar, maka anak panah pun telah berterbangan dari atas dinding padukuhan.

Bagaimanapun juga, maka anak panah yang meluncur seperti hujan itu telah menghambat gerak maju pasukan yang menyerang padukuhan induk itu. Meskipun mereka berusaha untuk menangkis, namun didalam gelap, tidak banyak yang dapat mereka lakukan.

Beberapa kali terdengar pekik kesakitan. Anak panah yang meluncur itu sebagian berhasil menghunjam kedada. Tetapi sebagian lagi mengenai bagian tubuh yang lain.

Dengan demikian, maka orang-orang yang menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu mulai menjadi ragu-ragu. Sementara itu anak panah masih meluncur dari atas dinding padukuhan.

Yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang menyerang padukuhan itu adalah justru mencari tempat untuk berlindung.

Tetapi Senapati dari Madiun yang memimpin serangan itu berteriak, ”Jangan menjadi pengecut. Kita harus menyerang dan memasuki pintu gerbang. Kita harus berlari secepat-cepatnya kemudian berlindung melekat pada dinding padukuhan induk itu!”

Teriakan itu memang terdengar oleh para pengawal Tanah Perdikan yang berada di padukuhan induk itu, sehingga mereka menjadi semakin banyak melontarkan anak panah.

Sebenarnyalah bahwa para prajurit yang menyerang padukuhan itu telah mendapat perintah khusus. Mereka harus bergerak dengan diam-diam dibawah bayangan kegelapan melingkari padukuhan itu. Mereka harus berusaha untuk dapat memasuki padukuhan induk itu dengan cara apapun juga.

Beberapa orang prajurit yang berhasil melarikan diri dari Kademangan Jati Arang, sempat mengingat apa yang dilakukan oleh para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak harus memasuki sasaran lewat pintu gerbang.

Merekalah yang kemudian mengembuskan cara itu, sehingga Senapati prajurit Madiun itu telah memberikan perintah khusus dari mulut kemulut tanpa didengar oleh para pengawal padukuhan induk itu.

Sementara itu sebagian yang lain masih tetap berada di depan pintu gerbang. Demikian pula bagian dari pasukan itu yang harus menyerang dari kedua sisi padu-kuhan induk itu. Bahkan beberapa orang yang membawa busur dan anak panah telah mencoba membalas serangan anak panah dengan anak panah pula.

Tetapi para penyerang itu tidak dapat membidik sasaran. Mereka meluncurkan anak panah sekedar untuk memancing perhatian para pengawal.

Demikianlah, maka beberapa orang prajurit Madiun yang merayap dibayangan kegelapan telah berhasil mencapai dinding padukuhan justru di arah yang kurang mendapat pengamatan.

Dalam pada itu, para pengawal padukuhan induk memang terpancang untuk mengamati gerak prajurit Madiun serta para pengawal dari beberapa Kademangan yang bergabung dengan orang-orang upahan dari para pedagang gelap yang telah membagi diri menjadi tiga bagian yang mendekati padukuhan induk dari arah yang berbeda. Sementara gelapnya malam telah melindungi gerak para prajurit Madiun yang merayap dengan sangat berhati-hati.

Nyi Wiradana yang semula sebagaimana para bebahu Tanah Perdikan menganggap bahwa orang-orang yang sedang menyerang itu benar-benar telah terhambat, menjadi ragu-ragu. Yang dilakukan oleh orang-orang yang menyerang padukuhan induk itu tidak lebih dari bersembunyi dan membalas melontarkan anak panah satu-satu tanpa dapat membidik sasaran.

Karena itu, maka Nyi Wiradana itu pun telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang sebenarnya terjadi.

Namun tiba-tiba saja Nyi Wiradana itu berkata kepada bebahu yang ada didekatnya, ”Perintahkan untuk mengamati setiap jengkal dinding padukuhan induk ini.”

Bebahu itu pun segera tanggap. Karena itu, maka ia pun segera berlari menemui para pengawal.

Perintah itu pun segera tersebar. Para pengawal yang ada di padukuhan induk itu pun dengan cepat berpencar pula.

Namun dalam pada itu, para prajurit Madiun telah mulai berloncatan memasuki dinding padukuhan induk dibawah sebatang pohon yang rimbun. Mula-mula seorang diantara para prajurit itu meloncat untuk melihat keadaan. Namun ternyata bahwa tempat itu memang tidak mendapat pengawasan yang cukup, sehingga karena itu, maka sambil meloncat memasuki padukuhan induk ia memberi isyarat kepada kawan-kawannya.

Para pengawal yang mendapat tugas untuk mengawasi setiap jengkal dinding padukuhan induk datang terlambat. Ketika tiga orang pengawal menyusuri dinding, maka tiba-tiba saja mereka telah mendapat serangan dari orang-orang yang berhasil memasuki padukuhan induk itu, yang bersembunyi dibalik gerumbul-gerumbul perlu di kebun-kebun yang gelap.

Ketiga pengawal itu terkejut. Tetapi mereka,masih sempat menghindari serangan pertama. Bahkan mereka pun kemudian berhasil mempersiapkan diri untuk melawan setelah mereka berloncatan mengambil jarak.

Tetapi lawan bermunculan di mana-mana. Karena itu, maka seorang diantara mereka telah memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk melarikan diri.

Seorang diantara mereka dengan cepat meloncati dinding halaman dan menghilang diantara pepohonan. Seorang lagi berlari menyusuri lorong sempit disebelah dinding padukuhan, sedangkan yang lain berusaha untuk berlari kesebuah regol yang terbuka.

Tetapi tombak pendek prajurit Madiun sempat memburunya dan menghunjam dipunggungnya.

Pengawal itu jatuh tersungkur. Namun ia masih sempat mendengar seorang kawannya berteriak memanggil kawan-kawannya.

Teriakan itu telah didengar oleh beberapa orang pengawal yang lain yang meneriakkan pemberitahuan itu pula, sehingga dengan sambung bersambung, maka para pengawal pun mengetahui, bahwa sudah ada sekelompok orang yang menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu yang berhasil meloncati dinding padukuhan induk itu.

Dengan demikian maka sebagian pengawal pun telah berlari-lari menuju kearah suara pengawal yang berteriak itu.

Sebenarnyalah bahwa sekelompok prajurit Madiun telah menyerang para pengawal yang berlari-larian datang itu.

Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit. Para prajurit Madiun telah membentur kemampuan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang tidak kalah tingkatnya dengan para prajurit dari Madiun itu.

Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawal yang lain telah bersiap-siap untuk menunggu kelompok kelompok lain yang juga akan memasuki padukuhan itu.

Namun jumlah pengawal di padukuhan induk itu memang hanya sedikit, sehingga untuk mengawasi sepanjang dinding padukuhan, terasa kurang mencukupi. Apalagi sebagian dari para pengawal itu harus tetap menunggu jika induk pasukan para penyerang berniat untuk memecahkan pintu regol.

Sebenarnyalah bahwa ketika semakin banyak prajurit Madiun yang memasuki dinding padukuhan induk, maka pertempuran pun menjadi semakin garang. Para pengawal yang semula siap mempertahankan pintu gerbang telah semakin menebar. Karena itu, maka pertempuran pun berlangsung disegala sudut padukuhan induk.

Nyi Wiradana masih tetap berada di pintu gerbang, ia masih memerintahkan untuk menyerang dengan anak panah jika induk pasukan itu datang menyerang.

Demikianlah, maka semakin lama, pertempuran pun berkobar semakin sengit. Para prajurit Madiun, para pengawal Kademangan-kademangan disekitar Tanah Per-dikan Sembojan serta orang-orang upahan dari para pedagang gelap yang mendendam semakin banyak memasuki dinding padukuhan induk.

Namun para pengawal yang ada di padukuhan induk itu bukan pengecut. Meskipun lawan menjadi semakin banyak, namun mereka sama sekali tidak menjadi gentar.

Dengan pengalaman yang mereka miliki, maka para pengawal itu mampu mengimbangi kemampuan prajurit Madiun yang ada di padukuhan induk itu.

Dalam pada itu, ketika semakin banyak prajurit Madiun serta para pengawal Kademangan-kademangan tetangga Tanah Perdikan dan orang-orang upahan berhasil memasuki padukuhan induk, maka didepan pintu gerbang Senapati dari Madiun itu pun telah berteriak, ”He, orang-orang yang berada di padukuhan induk. Menyerahlah. Kami masih mempertimbangkan untuk memberikan pengampunan kepada kalian jika kalian menyerah, meskipun para pengawal Tanah Perdikan ini dengan liar telah menghancurkan Kademangan Jati Arang. Sebuah Kademangan yang menganggap Tanah Perdikan ini sebagai tetangga yang baik. Namun apa yang dilakukan Tanah Perdikan ini atas Kademangan Jati Arang justru sangat menyakitkan hati. Ki Demang telah dibawa dengan paksa oleh Kepala Tanah Perdikan ini.”

Nyi Wiradana masih berdiri diatas panggungan disebelah pintu gerbang yang masih tertutup. Tanpa memberikan jawaban, Nyi Wiradana memberikan isyarat agar para pengawal tetap melontarkan anak panah mereka.

Sementara itu Senapati Madiun itu masih berkata lantang, ”Kami tidak mempunyai banyak waktu. Kalian harus menyerah atau kami akan menghancurkan padukuhan induk ini menjadi abu. Kami akan membawa kembali Ki Demang Jati Arang dan bahkan keluarga Kepala Tanah Perdikan ini.”

Masih tidak terdengar jawaban, sehingga Senapati itu berteriak, ”He, apakah kalian tidak mendengar suaraku atau kalian memang sedang membunuh diri?”

Nyi Wiradana memang tidak ingin menjawab. Jika ia berteriak, maka suaranya akan melengking menyusup diantara gelapnya malam.

Sementara itu pertempuran yang terjadi didalam lingkungan dinding padukuhan menjadi semakin menebar ke-mana-mana. Sebagian dari para prajurit Madiun berusaha untuk membuka pintu butulan disebelah menyebelah padukuhan induk. Namun para pengawal berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencegahnya. Sementara itu diatas dinding padukuhan, masih ada pengawal yang melontarkan anak panahnya kearah para penyerang yang jumlahnya menjadi semakin sedikit karena sebagian dari mereka justru telah berhasil memanjat masuk gelombang demi gelombang.

Sebenarnyalah para pengawal Tanah Perdikan yang bertugas di padukuhan induk itu mengalami kesulitan.

Sementara itu, beberapa kelompok pengawal dari padukuhan-padukuhan yang lain telah berdatangan meskipun jumlahnya tidak terlalu besar. Mereka tidak tergesa-gesa memasuki arena pertempuran justru karena jumlah mereka yang sedikit. Tetapi mereka berusaha untuk bergabung dengan para pengawal dari tiga ampat padukuhan sehingga jumlah mereka menjadi cukup banyak untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Dua orang pengamat telah mendahului para pengawal padukuhan-padukuhan itu untuk melihat apa yang telah terjadi.

“Mereka telah berhasil memasuki padukuhan dengan memanjat dinding” berkata pengamat itu, ”tetapi gerbang induk dan regol-regol butulan masih tertutup.

“Apakah mereka masih berusaha untuk memanjat dinding halaman dan berloncatan masuk?” bertanya pengawal yang dituakan diantara para pengawal dari beberapa padukuhan itu.

“Ya” jawab pengamat itu.

“Kita harus mencegah mereka. Para pengawal yang berada didalam dinding padukuhan induk itu tidak terlalu banyak.”

Demikianlah, maka sekelompok pengawal dari beberapa padukuhan itu pun segera mendekati padukuhan, induk. Ternyata bahwa terlalu sulit bagi mereka untuk mencegah para prajurit Madiun dari luar dinding, karena para prajurit itu justru akan menyerang mereka, sementara jumlah mereka kurang memadai.

Karena itu, maka pengawal yang tertua itu mengambil sikap yang lain. Ia berusaha untuk menghubungi para pengawal didalam dinding padukuhan induk. Seorang diantara para pengawal itu telah memanjat dinding padukuhan.

“Ini aku”berkata pengawal itu ketika dua orang pengawal Tanah Perdikan yang mengamati dinding padukuhan itu hampir saja melontarkan lembingnya.

“O” pengawal yang ada didalam dinding padukuhan itu segera dapat mengenalinya.

“Beri kesempatan kami masuk dengan memanjat dinding.”

“Cepat, kami berada dalam kesulitan.” jawab pengawal yang ada didalam.

Dengan cepat para pengawal itu telah berloncatan masuk. Yang kemudian justru berusaha mencegah adalah para prajurit Madiun. Tetapi prajurit Madiun itu tertambat melihat sekelompok pengawal yang berhasil memabuki padukuhan induk itu, sehingga ketika orang terakhir berhasil memanjat, sekelompok prajurit justru baru datang berlari-larian.

Para prajurit itu hanya dapat mengumpat. Sementara sekelompok pengawal itu dengan cepat telah bergabung dengan kawan-kawannya yang sudah bertempur lebih da hulu. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi sekelompok pengawal itu telah memberikan sedikit kelegaan bagi kawan-kawannya.

Di pintu gerbang Nyi Wiradana masih menanti. Tetapi ketika ia mendapatkan laporan terus-menerus tentang kesulitan yang dialami para pengawal, ia tidak dapat membiarkannya. Diserahkannya pertahanan atas pintu gerbang itu kepada seorang bebahu, sementara itu, Nyi Wiradana sendiri langsung turun ke arena pertempuran.

Bersama beberapa orang pengawal Nyi Wiradana telah menahan sekelompok prajurit yang dengan garangnya bertempur sambil bergerak ke pintu gerbang. Namun ketika kelompok prajurit itu berpapasan dengan Nyi Wiradana, maka keadaan mereka pun segera menjadi kalut. Nyi Wiradana yang melihat bahwa padukuhan induk itu benar-benar ada dalam keadaan bahaya, telah bertempur dengan garangnya. Meskipun ia masih berusaha untuk mengekang diri, tetapi sepasang pedangnya telah mengoyak tubuh para prajurit, pengawal Kademangan dan orang-orang upahan yang ditemuinya.

Bersama beberapa orang pengawal, maka Nyi Wiradana telah mengguncang ketahanan dan keberanian lawan-lawannya, terutama para pengawal Kademangan tetangga. Orang yang bersenjata pedang rangkap itu benar-benar seperti hantu yang tidak berjejak diatas tanah, sementara tubuhnya seakan-akan tidak dapat disentuh ujung senjata.

Para pengawal yang bertempur bersama Nyi Wiradana pun ikut menjadi garang. Kelebihan Nyi Wiradana membuat mereka semakin mantap sehingga kelompok-kelompok lawan yang mereka jumpai, segera berusaha menghindar.

Kehadiran Nyi Wiradana langsung di arena pertempuran telah membuat para pengawal semakin berbesar hati. Mereka menjadi semakin berani dan bertempur semakin keras pula.

Pintu-pintu rumah di padukuhan induk Tanah Per-dikan itu tertutup rapat. Anak-anak yang ketakutan mendengar keributan yang terjadi di jalan-jalan dan di halaman rumah mereka, membuat mereka menangis.

Ibunya memang menjadi bingung. Perempuan-perempuan jitu juga menjadi ketakutan, sedangkan anak mereka merengek dan bahkan ada yang menangis menjerit-jerit. Sementara itu hampir semua laki-laki yang ada telah keluar dan bersama-sama dengan para pengawal mereka berusaha mempertahankan padukuhan induk mereka.

Sebagian dari mereka telah di tempatkan di banjar dan dihalaman rumah Risang bersama beberapa pengawal khusus yang akan mempertahankan banjar dan halaman rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Sementara itu, Risang yang berada di padukuhan Tegal Jarak telah mendapat laporan tentang serangan itu. Wajahnya segera menjadi merah, ia tiba-tiba saja merasa menjadi orang yang paling bodoh di Tanah Perdikan sehingga pasukan lawan yang cukup besar dapat menusuk sampai ke padukuhan induk.

Dengan tergesa-gesa Risang memerintahkan mengumpulkan kuda yang ada. Bersama beberapa orang pemimpin, ia akan mendahului menuju ke padukuhan induk. Sementara para pengawalnya harus dengan cepat menyusutnya.

“Mudah-mudahan kita tidak tertambat” berkata Risang.

Di padukuhan itu tidak terdapat kuda cukup banyak. Tetapi tujuh ekor kuda akan membawa Risang, Sambi Wulung, Jati Wulung dan beberapa orang terpilih. Sementara itu Risang tetah memerintahkan Gandar dengan tugas khususnya.

“Bawa lima orang pengawat terpilih. Aku yakin bahwa Ki Demang Jerukgede tidak ikut datam pasukan itu. Ambil orang itu dan bawa kemari. Aku akan memberikan perintah berikutnya.”

Gandar dengan cepat telah bergerak. Bersama lima orang ia harus menyusup memasuki Kademangan Jerukgede, mengambil Ki Demang untuk dibawa ke Tanah Perdikan.

“Mudah-mudahan Ki Demang Jerukgede benar-benar tidak ikut dalam pasukan yang menyerang padukuhan induk” desis Gandar.

Seorang pengawal yang ikut bersamanya menyahut, ”Aku juga yakin, bahwa Ki Demang tidak akan ikut. Kecuali ia bukan seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, Ki Demang pun sebenarnya bukan orang yang memiliki keberanian. Jika ia berani melakukan perdagangan gelap itu, tentu karena para prajurit Madiun dan orang-orang upahan para pedagang gelap itu menyatakan kesediaan mereka untuk melindungi Kademangan Jerukgede selain bayangan gemerincingnya keping-keping uang.”

“Baiklah” desis Gandar, ”mudah-mudahan kita berhasil.”

“Kademangan Jerukgede tentu kosong sekarang ini. Jika ada beberapa orang pengawal, maka kita berharap untuk dapat melumpuhkan mereka.”

Dengan cepat Gandar pun telah melintasi perbatasan dan memasuki daerah Kademangan Jerukgede. Berenam mereka langsung menuju ke padukuhan induk untuk menjemput Ki Demang Jerukgede.

Sementara itu, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung bersama beberapa pengawal telah memacu kudanya menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi kuda mereka bukanlah kuda yang baik, sehingga karena itu, maka kuda-kuda itu tidak dapat berlari secepat keinginan Risang dan penunggang-penung-gang yang lain.

Meskipun demikian, perjalanan mereka masih juga tebih cepat dari pada jika mereka berlari.

Sementara itu, pertempuran di padukuhan induk masih berlangsung. Nyi Wiradana menjadi semakin sulit untuk mengekang diri. Ujung kedua pedangnya terpaksa harus mematuk, menebas dan mengoyak tubuh lawan-lawannya. Betapapun Nyi Wiradana tidak berniat membunuh lawan-lawannya, tetapi dalam pertempuran yang garang, kemungkinan yang tidak diinginkannya itu dapat juga terjadi.

Apalagi Nyi Wiradana sudah dibekali oleh kecemasan bahwa para pengawal di padukuhan induk yang jumlahnya kurang memadai itu akan dihancurkan sama sekali.

Dengan demikian, kegarangan Nyi Wiradana telah memanggil para prajurit Madiun untuk menghadapinya. Namun bersama beberapa orang pengawal yang menyertainya, maka Nyi Wiradana benar-benar bertempur seperti seekor banteng yang terluka.

Dalam gelapnya malam, para prajurit Madiun tidak mengetahui bahwa lawannya yang garang itu adalah seorang perempuan. Sedangkan orang-orang Jerukgede yang pernah mendengar bahwa Nyi Wiradana yang pernah memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi, sama sekali juga tidak mengira bahwa orang yang bertempur seperti banteng yang terluka itu adalah perempuan yang pernah memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, namun para pengawal padukuhan induk itu masih saja mengalami kesulitan. Kelompok-kelompok kecil diantara mereka telah bertempur disela-sela pepohonan. Sekali-sekali jika terpaksa mereka menghindar dan menghilang didalam kegelapan. Namun kemudian tiba-tiba aja mereka telah menyergap dengan garangnya. Kemenangan para pengawal padukuhan induk itu adalah, bahwa mereka mengenal medan jauh lebih baik dari lawan mereka. Apalagi di malam hari.

Sementara itu, beberapa orang prajurit Madiun yang berusaha memasuki halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah mengalami perlawanan yang gigih. Para pengawal tidak memberi kesempatan kepada para prajurit Madiun untuk menyentuh halaman rumah Kepala Tanah Perdikan. Para pengawal itu telah menghentikan dan bertempur diluar dinding halaman.

Namun kekuatan para prajurit Madiun itu lebih besar dari kekuatan para pengawal, sehingga perlahan-lahan para pengawal Tanah Perdikan itu mulai terdesak.

Didalam rumah itu, tiga orang yang sudah menjadi semakin tua ikut menjadi gelisah. Sebenarnya mereka sudah tidak sepantasnya untuk ikut campur dalam benturan kekerasan. Setelah mereka mewariskan ilmu mereka kepada Risang, mereka seakan-akan merasa bahwa tugas mereka telah selesai. Apalagi dukungan kewadagan mereka sudah tidak mendukung lagi, seandainya mereka harus terlibat dalam benturan kekerasan. Namun sudah tentu bahwa mereka tidak ingin menjadi tawanan orang-orang yang menyerang rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Karena itu, ketiga orang tua yang kemudian berkumpul diruang dalam rumah itu, telah duduk diatas sebuah amben yang besar menghadap kearah pintu. Dalam umurnya yang semakin tua, mereka telah bersiap untuk melindungi diri mereka sendiri.

Namun dalam pada itu, tujuh ekor kuda telah berpacu semakin dekat dengan padukuhan induk. Risang, Jati Wulung dan Sambi Wulung yang memiliki ketajaman penggraita, tidak berpacu terus sampai kedekat dinding padukuhan. Tetapi mereka berhenti beberapa puluh patok dan mengikat kuda-kuda mereka pada batang-batang perdu.

Berlari-lari mereka menuju ke padukuhan induk. Namun mereka tidak langsung menuju kepintu gerbang.

Sebenarnyalah saat itu pintu gerbang padukuhan induk justru telah berhasil dikuasai oleh prajurit Madiun.

Mereka yang bergerak didalam telah berhasil memancing para pengawal yang berada di sebelah menyebelah pintu gerbang untuk bertempur. Dengan demikian, maka kelompok-kelompok yang masih berada diluar dinding berhasil mendekati dan kemudian menunggu pintu gerbang itu dibuka dari dalam.

Ampat orang telah mengangkat selarak pintu gerbang yang besar dan berat itu. Kemudian, demikian pintu itu terbuka, maka kelompok-kelompok yang masih ada diluar itu pun segera mengalir masuk.

Keadaan menjadi semakin sulit bagi para pengawal. Meskipun demikian, mereka pantang menyerah. Mereka bertempur dalam keadaan yang sulit. Karena itu, maka mereka bergerak seperti burung sikatan. Sekali menyambar, kemudian menghilang didalam kegelapan.

Cara itu ternyata mampu mengguncang-guncang kemapanan prajurit Madiun, para pengawal Kademangan yang tergabung didalamnya serta orang-orang upahan dari para pedagang gelap.

Senapati Madiun yang memimpin pasukan yang telah menduduki padukuhan induk itu menjadi sangat marah, bahwa perlawanan para pengawal masih belum dapat dihentikan. Para pengawal yang tersebar itu masih tetap bertempur dengan garangnya.

Senapati prajurit Madiun itu pun kemudian telah mendapat laporan tentang seorang yang berilmu tinggi. Bersama beberapa orang pengawal orang itu bertempur dengan garangnya.

“Aku sendiri akan menghancurkannya” geram Senapati prajurit Madiun itu.

Seorang prajurit yang memberikan laporan kepadanya itulah yang kemudian membawa Senapati itu untuk berhadapan langsung dengan orang yang seakan-akan tidak terbendung lagi.

Senapati itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, ”Siapa kau he?”

Nyi Wiradana tidak menjawab. Tetapi kedua pedangnya segera berputar melibat Senapati itu dalam pertempuran.

“Kepung orang ini bersama pengikut-pengikutnya” teriak Senapati itu.

Para prajurit pun segera bergerak. Dengan ketangkasan yang lebih tinggi dari para pengawal Kademangan yang ikut bersama mereka, maka para prajurit itu pun segera mengepung Nyi Wiradana bersama beberapa orang pengawal yang menyertainya.

Namun dalam pada itu, selagi Senapati yang memimpin serangan itu memusatkan perhatiannya kepada Nyi Wiradana, maka kegoncangan keseimbangan kekuatan pun telah terjadi. Terutama didekat regol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tujuh orang telah bertempur tanpa dapat diredam sama sekali. Pedang mereka berputaran menyambar-nyambar. Beberapa orang prajurit, pengawal Kademangan dan orang-orang upahan para pedagang gelap itu pun telah terlempar dari pertempuran.

Seorang anak muda yang memimpin mereka telah menyuruk kedalam pertempuran yang terjadi disekitar rumah Kepala Tanah Perdikan itu dengan garangnya.

Para pengawal Tanah Perdikan itu pun segera mengenalinya betapa gelap malam masih menyelubungi padukuhan induk itu. Karena itu, maka dengan serta-merta terdengar seorang pengawal berteriak, ”Risang. Risang ada diantara kita.”

Kemudian sorak para pengawal terdengar gemuruh meneriakkan nama anak muda itu, ”Risang telah datang. Risang. Risang.”

Para prajurit, para pengawal Kademangan dan orang-orang upahan itu pun segera menyadari, bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah berada di padukuhan induk itu.

Sorak para pengawal itu benar-benar mempengaruhi pertempuran di seluruh padukuhan induk. Sorak itu seakan-akan bergema disetiap halaman dan kebun yang terlindung oleh kegelapan. Kelompok-kelompok pengawal yang bertempur sambil berlari-larian pun telah meneriakkan nama itu pula.

Meskipun Risang hanya datang bertujuh, tetapi pengaruh kehadiran mereka besar sekali. Ketujuh orang itu bersama pengawal-pengawal yang sejak sebelumnya berusaha memper-tahankan rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu dengan cepat berhasil memecah serangan yang semula seakan-akan telah mengental dan siap mematahkan pertahanan para pengawal yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

Risang yang jantungnya telah dibakar oleh kemarahan tidak lagi sempat mengendalikan dirinya dengan perhitungan dan pertimbangan yang rumit. Yang dilakukannya kemudian adalah dengan secepatnya menghancurkan lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah para pengawal.

Ketika disela-sela putaran pedangnya Risang sempat berbicara dengan seorang pengawal, maka ia pun bertanya, ”Dimana ibu? Apakah ibu ada didalam?”

“Tidak” jawab pengawal itu, ”Nyi Wiradana telah turun ke medan. Semula Nyi Wiradana ada dipintu gerbang. Namun kemudian Nyi Wiradana telah meninggalkan pintu gerbang dan bertempur diantara para pengawal.

Risang menggeretakkan giginya. Ia pun kemudian berusaha untuk menemui Sambi Wulung. Katanya, ”Usahakan agar orang-orang itu tidak memasuki rumah kita. Aku akan mencari ibu.”

Sambi Wulung mengangguk. Katanya, ”Aku akan berusaha.”

Sepeninggal Risang, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertempur semakin garang. Keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka sulit bagi para prajurit, pengawal Kademangan dan orang-orang upahan itu untuk dapat menahannya. Keduanya bukan saja memiliki ketangkasan yang sulit untuk diimbangi, tetapi tenaga dan kemampuan Sambi Wulung dan Jati Wulung jauh melampaui lawan-lawannya. Apalagi ketika kemudian keduanya mengerahkan tenaga dalamnya.

Sementara itu, Risang dan dua orang pengawal telah menyusup diantara halaman dan kebun di padukuhan induk itu untuk mencari ibunya. Risang tahu bahwa ibunya memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tetapi jumlah lawan yang jauh lebih banyak akan sangat mempengaruhi keseimbangan pertempuran.

Ketika Risang melintasi sebuah simpang ampat, maka ia melihat beberapa orang pengawal yang terdesak oleh lawan-lawannya. Ketika para pengawal itu berniat menghindar, maka sekelompok pengawal kademangan Jerukgede justru menyergap dari belakang.

Kemarahan Risang tidak terbendung lagi. ia pun memberi isyarat kepada kedua orang pengawal yang bersamanya untuk membantu para pengawal yang mulai terjepit itu.

Kedatangan Risang memang tidak diduga oleh para pengawal yang hampir saja kehilangan harapan itu. Ketika Risang kemudian mulai bertempur, maka para pengawal yang hampir terjepit itu serasa mendapatkan tenaga baru didalam diri mereka.

Dengan demikian, maka pertempuran pun telah menyala dengan sengitnya.

Risang yang harus menghadapi beberapa orang sekaligus, memang tidak dapat mengekang dirinya lagi. Pedangnya menyambar-nyambar dengan garang. Ujungnya beberapa kali telah menyentuh tubuh lawannya yang terlempar dari pertempuran.

Ternyata kehadiran Risang telah mengacaukan perlawanan sekelompok prajurit dan pengawal Kademangan Jerukgede itu. Bahkan ketika para pengawal Tanah Perdikan kemudian menghentak mereka, maka kelompok itu pun telah pecah. Para prajurit dan pengawal itulah yang kemudian telah melarikan diri masuk ke dalam gelapnya kebun dan rumpun bambu.

Dari para pengawal itu Risang mendapat petunjuk dimana ibunya bertempur melawan sekelompok prajurit dan pengawal.

Sementara itu, keseimbangan pertempuran memang sudah berubah. Kelompok-kelompok kecil pengawal dari padukuhan-padukuhan yang agak jauh mulai berdatangan pula. Mereka memasuki regol yang sudah terbuka. Namun mereka langsung terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Di sekitar rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan, para penyerang justru mulai terdesak. Sambi Wulung dan Jati Wulung bersama para pengawal yang mempertahankan rumah itu berhasil menghalau para prajurit, para pengawal Kademangan dan orang-orang upahan semakin menjauh.

Dalam pada itu, Risang pun telah bergerak mendekati sebuah arena pertempuran yang sengit, ia melihat sekelompok prajurit, pengawal Kademangan dan orang-orang upahan mengepung sekelompok kecil pengawal Tanah Perdikan. Namun kepungan itu selalu terguncang-guncang. Bahkan beberapa kali dinding kepungan itu menjadi retak. Namun kemudian berhasil menakup kembali.

Risang menarik naias dalam-dalam. Yang berada di-dalam kepungan itu adalah ibunya dan beberapa orang pengawal yang menyertainya bertempur dengan lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Dalam keadaan yang demikian, maka Nyi Wiradana memang tidak mempunyai pilihan iain, kecuali mengetrapkan kemampuannya yang tertinggi. Meskipun masih dengan penalaran yang utuh, Nyi Wiradana memang terpaksa mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya. Tujuan Nyi Wiradana bukan membunuh mereka tanpa pertimbangan, tetapi Nyi Wiradana harus melindungi dirinya dan beberapa orang pengawal yang bertempur bersamanya.

Jika dalam usahanya melumpuhkan lawan-lawannya itu terjadi kematian, maka ia memang tidak dapat berbuat lain.

Namun kemampuan, tenaga dan dukungan wadag seseorang tentu mempunyai keterbatasan. Demikian juga Nyi Wiradana yang bertempur melawan jumlah yang terlalu banyak.

Ketika Risang dari jarak yang tidak terlalu dekat melihat kesulitan yang dialami oleh ibunya dan para pengawal yang menyertainya, maka Risang menjadi berdebar-debar. Ibunya ternyata telah mulai memasuki tataran ilmu pamungkasnya, Janget Kinatelon.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Jika tidak terpaksa sekali, ibunya tentu tidak akan mengetrapkan ilmu puncaknya.

Risang mulai membayangkan apa yang dilakukan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Jika keduanya juga sampai pada puncak ilmunya, maka korban akan berjatuhan. Banyak sekali. Mungkin korban yang jatuh itu adalah para prajurit Madiun. Mungkin para pengawal Kademangan tetangga, mungkin orang-orang upahan.

Sejenak Risang sempat termangu-mangu. Namun kemudian seperti seorang yang terbangun dari sebuah mimpi buruk dan bahkan tersuruk kedalam kenyataan yang sangat buruk pula, maka Risang pun berteriak, ”Bertahanlah. Disini aku, Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Suaranya yang menggelegar itu telah menarik perhatian orang-orang yang sedang bertempur itu. Sorak para prajurit atas kedatangan Risang memang telah didengar oleh ibunya. Namun kemudian Risang telah berada di hadapannya bersama dua orang pengawal.

Nyi Wiradana tersenyum. Sebenarnyalah bahwa ia sudah menjadi cemas. Mungkin ia akan mengalami kesulitan. Tetapi justru karena ia harus mempergunakan ilmu puncaknya yang akan menebarkan kematian akan dapat membuatnya selalu dibayangi oleh kengerian.

Meskipun ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk melakukannya.

Kehadiran Risang telah dapat mengendalikan pengetrapan ilmu yang sangat dahsyat itu. Nyi Wiradana masih sempat sedikit menahan dirinya, sehingga ia tidak mengetrapkan kemampuan ilmu pamungkasnya sampai ke puncak.

Dalam pada itu, maka Risang pun telah menarik perhatian para prajurit Madiun yang mengepung Nyi Wiradana. Senapati Madiun yang memimpin serangan ke padukuhan induk itu pun segera berusaha untuk langsung menghadapinya bersama beberapa orang prajuritnya yang terpilih.

“Menyerahlah” geram Senapati itu.

Risang tertawa. Katanya, ”Jika hanya sekedar untuk menyerah, aku tidak akan memasuki pertempuran ini. Aku akan merasa lebih aman berada di Tegal Jarak.”

“Kau tidak dapat mengingkari kenyataan. Padukuhan indukmu telah aku duduki. Rumahmu, banjar padukuhan ini dan semua bagian dari padukuhan induk ini telah aku kuasai.”

“Maaf, bahwa kami terpaksa membantai orang-orangmu yang berusaha menduduki rumahku. Apakah mereka prajurit, pengawal Kademangan atau orang-orang upahan yang garang, keras dan bahkan buas itu. Kami memang tidak dapat berbuat lain untuk mengusir mereka.”

“Omong kosong” geram Senapati itu.

“Terserah, apakah kau percaya atau tidak. Tetapi kematian yang tidak terhitung jumlahnya di padukuhan induk ini adalah tanggung jawabmu.”

“Persetan dengan igauanmu” geram Senapati itu. Ia pun segera memberi isyarat kepada beberapa prajurit yang menyertainya. ”Tangkap orang ini hidup-hidup. Tetapi jika terpaksa senjata kalian menghunjam di dadanya, itu adalah karena salahnya sendiri. Aku sudah memberikan kesempatan untuk menyerah.”

Para prajurit itu pun mulai bergerak. Demikian pula Senapati yang nampak garang itu.

Namun Risang pun telah bersiap pula. Sehingga sejenak kemudian, maka telah terjadi pertempuran yang mendebarkan.

Namun pertempuran yang terjadi itu telah mengurangi tekanan para prajurit atas Nyi Wiradana dan beberapa orang pengawal karena sebagian dari mereka harus bergeser mengepung Risang dan dua orang pengawal yang menyertainya.

Dalam pada itu, maka Risang pun mulai merasakan tekanan yang berat dari para prajurit yang mengepungnya, termasuk Senapatinya. Karena itu, maka Risang pun selapis demi selapis harus meningkatkan ilmunya pula.

Dalam keadaan yang memaksa, maka Risang pun ternyata harus mulai merambah ilmu pamungkasnya, sebagaimana yang dimiliki oleh ibunya, Janget Kinatelon. Bahkan karena kemarahan dan keterpaksaan untuk melindungi dirinya, dibumbui oleh kemudaannya, maka Risang pun menjadi lebih garang dari ibunya yang masih mencoba untuk bertindak atas dasar berbagai macam pertimbangan.

Dengan demikian, maka Senapati serta beberapa orang prajurit yang mengepungnya, justru mulai menjadi gelisah. Usaha mereka untuk melumpuhkan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu ternyata tidak segera dapat berhasil, pahkan kepungan mereka semakin lama menjadi semakin Jonggar.

Karena itu dalam keadaan yang suit dimengerti oleh Senapati Madiun itu, Senapati itu pun berteriak, ”Mereka hanya bertiga. Kita harus segera menyelesaikannya.”

Para prajurit itu pun kemudian bertempur semakin garang. Mereka menyerang dari segala arah. Bahkan orang-orang baru telah berdatangan mengepung dan menyerang Risang dengan para pengawal yang bertempur bersamanya.

Semakin sulit keadaannya, maka Risang pun semakin meningkatkan ilmunya. Tetapi prajurit Madiun itu seakan-akan justru semakin lama semakin bertambah-tambah.

Justru karena itu, maka kemarahan Risang pun menjadi semakin memuncak. Ditingkatkannya ilmu yang diwarisi dari kedua kakek dan seorang neneknya itu, sehingga dengan demikian maka senjata Risang pun semakin sering mengoyak kulit lawan.

Tetapi ternyata kulit Risang sendiri telah tergores senjata. Keringatnya membuat luka itu menjadi pedih.

Namun pertempuran justru menjadi semakin sengit.

Dalam pada itu, beberapa orang pengawal yang telah memecahkan serangan terhadap rumah Kepaia Tanah Perdikan sempat menemukan Risang yang sedang bertempur melawan sekelompok prajurit. Karena itu, maka mereka-pun segera melibatkan diri kedalam pertempuran itu.

Justru karena itu, maka keseimbangan pertempuran pun menjadi terbalik. Bukan orang-orang Madiun yang mengepung Risang, tetapi para prajurit Madiun itu justru mulai terdesak. Kepungannya telah pecah dan keseimbangan pertempuran menjadi semakin jelas.

Senapati dari Madiun yang memimpin serangan itu mengumpat-umpat didalam hati. Ternyata pasukan pengawal yang berada di padukuhan induk itu masih mampu bertahan beberapa lama. Bahkan kehadiran Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah membuat mereka menjadi semakin tegar.

Dalam pada itu, maka pasukan Tanah Perdikan yang berada di Tegal Jarak yang berlari-lari menuju ke padu-kuhan induk telah menjadi semakin dekat. Meskipun sebagian dari mereka justru telah mulai merasa letih dan nafas mereka mulai memburu. Namun gejolak perasaan mereka telah membuat para pengawal itu seakan-akan mendapatkan kekuatan baru demikian mereka melihat padukuhan induk mereka.

Seorang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin para pengawal itu telah memerintahkan untuk tidak tergesa-gesa memasuki padukuhan induk. Mereka harus tahu suasana didalam padukuhan itu, agar mereka tidak terjebak dalam kesulitan.

Pemimpin pengawal itu pun kemudian telah memerintahkan dua orang untuk mencari hubungan dengan para pengawal yang ada didalam dinding padukuhan induk.

Kedua orang itu terkejut ketika mereka melihat kenyataan, bahwa banjar padukuhan mereka telah diduduki oleh sekelompok prajurit Madiun, pengawal Kademangan sebelah dan orang-orang upahan dari para pedagang gelap. Namun mereka sedikit berlega hati karena rumah Kepala Tanah Perdikan masih tetap dikuasai oleh para pengawal Tanah Perdikan.

“Apakah Risang ada didalam?” bertanya kedua penghubung itu.

“Tidak. Risang turun kemedan pertempuran. Demikian pula Nyi Wiradana dan yang lain.”

Kedua penghubung itu segera mencari Risang di medan.

Menurut penglihatan kedua pengawal itu, keadaan di padukuhan induk itu benar-benar tidak menentu. Masih belum dapat disebut siapakah yang berhasil mengalahkan lawannya. Beberapa kali keduanya harus bersembunyi, jika mereka bertemu dengan kelompok-kelompok prajurit Madiun. Namun mereka pun masih juga melihat, para pengawal yang tiba-tiba saja menyerang dari dalam kegelapan.

Dibeberapa bagian padukuhan induk itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Dibeberapa tempat, para pengawal masih saja mengalami kesulitan. Namun ketika keduanya melihat Risang yang bertempur bersama beberapa orang pengawal tidak jauh dari arena pertempuran yang melibatkan Nyi Wiradana, maka keduanya melihat bahwa para pengawal berhasil mendesak tawan-lawan mereka.

Namun kedua penghubung itu memperhitungkan kemungkinan lain segera terjadi. Jika prajurit Madiun yang di banjar itu muiai bergerak, serta para pemimpin prajurit Madiun, pengawal Kademangan dan orang-orang upahan itu Berhasil menyatukan gerakan mereka, maka para pengawal Tanah Perdikan akan mengalami kesulitan.

Demikianlah, maka kedua orang penghubung itu segera kembali memberikan laporan kepada pemimpinnya.

“Awasi semua jalan keluar” perintah pemimpin pengawal itu, ”sebagian diantara kita berada di depan pintu gerbang, yang lain di regol-regol butulan. Sebagian lagi akan memasuki padukuhan induk lewat pintu gerbang yang sudah terbuka itu.”

Demikianlah, para pengawal itu bergerak dengan cepat. Mereka segera terbagi dalam kelompok-kelompok sesuai dengan rencana pemimpin pengawal itu.

Sejenak kemudian, maka tiga kelompok pengawal tetah menebar mengelilingi padukuhan induk. Mereka mengawasi pintu gerbang dan regol-regol butulan utama yang memang sudah terbuka. Sebagian yang lain segera memasuki pintu gerbang yang telah terbuka.

Untuk memberikan hentakkan jiwani, maka pemimpin pengawal itu telah memerintahkan para pengawal untuk bersorak demikian mereka memasuki pintu gerbang utama.

Sorak itu memang mengejutkan. Kedua belah pihak yang sedang bertempur itu telah digoncang oleh perasaan yang ber tawanan. Para pengawal Tanah Perdikan merasa bahwa mereka akan segera menyelesaikan pertempuran, sementara mereka yang menyerang padukuhan induk itu menjadi cemas akan kegagalan yang sudah terbayang.

Sebenarnyaiah bahwa ketika para pengawal yang datang itu mulai menebar, keadaan para penyerang segera menjadi sulit. Mereka mutai terdesak di mana-mana. Apalagi mereka yang bertempur melawan Risang serta beberapa orang pengawal yang bertempur bersamanya. Juga yang bertempur melawan Nyi Wiradana, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Para pengawal pun kemudian berusaha untuk menebar dan menyumbat semua jalan keluar. Bahkan pengawasan atas dinding padukuhan induk.

Senapati Madiun yang memimpin serangan itu pun menjadi kehilangan harapan. Tidak banyak lagi yang dapat dilakukannya. Kedatangan pasukan pengawal dari Tegal Jarak yang menurut perhitungannya terlalu cepat itu, telah membuat semua rencananya berhamburan. Pasukan-pasukannya benar-benar telah bercerai berai, sehingga sulit untuk dapat dihimpun dalam satu gerakan yang berarti. Apalagi para pengawal kademangan-kademangan disekitar Tanah Perdikan yang masih belum berpengalaman itu, sedangkan orang-orang upahan para pedagang gelap lebih banyak bergerak menurut kehendak mereka masing-masing.

Karena itu, maka Senapati prajurit Madiun itu pun tiba-tiba saja telah memberikan satu isyarat sandi yang hanya dimengerti oleh para prajuritnya.

Isyarat itu pun kemudian telah diteriakkan oleh para prajurit Madiun. Sambung bersambung dari kelompok ke kelompok, dari seorang ke orang yang lain.

Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan juga tidak tahu maksud isyarat itu. Mereka hanya dapat menduga, bahwa sesuatu akan dilakukan oleh para prajurit Madiun. Dan yang paling mungkin dilakukan pada keadaan seperti itu adalah melarikan diri.

Ternyata dugaan itu tepat. Demikian isyarat itu tersebar, maka para prajurit Madiun benar-benar berusaha untuk meninggalkan medan. Dengan kemampuan seorang prajurit, maka mereka berusaha lepas dari arena pertempuran.

Sementara itu para pengawal Kademangan Jerukgede tidak segera mampu menyesuaikan diri. Meskipun mereka mengetahui maksud isyarat sandi itu, namun mereka tidak mempunyai ketangkasan yang cukup untuk melakukannya.

Karena itu, merekalah yang justru terjerat dalam tangan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu orang-orang upahan yang bergabung dengan mereka, sama sekali tidak mau tahu apa yang terjadi dengan orang iain. Yang penting bagi mereka adalah keselamatan mereka sendiri.

Demikianlah, untuk beberapa saat telah terjadi saling memburu. Para pengawal yang telah menyumbat segala pintu gerbang dan butulan pun telah berusaha untuk menangkap mereka yang melarikan diri. Tetapi prajurit Madiun yang memiliki perhitungan yang lebih baik dari para pengawal kademangan Jerukgede dan sekitarnya telah berusaha melarikan diri dengan meloncati dinding padukuhan induk.

Meskipun demikian, sebagian dari para prajurit Madiun itu memang dapat ditangkap. Namun sebagian yang iain berhasil melarikan diri.

Nyi Wiradana yang kemudian menemui Risang telah menasehatkan agar ia mengumpulkan orang-orangnya. Tidak ada gunanya mengejar mereka yang melarikan diri.

“Tetapi yang tertangkap jangan sampai melepaskan diri. Terutama para prajurit Madiun.” berkata Nyi Wiradana.

Risang pun kemudian telah memerintahkan untuk memukul kentongan, memanggil para pengawal Tanah Perdikan untuk berkumpul.

Demikianlah maka langit pun menjadi semburat. Sementara para pengawal berkumpul di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka beberapa kelompok diantaranya berusaha untuk menemukan kawan-kawan mereka yang terluka atau gugur dipertempuran, sedangkan yang lain mengurusi para tawanan.

Dalam pada itu, Ki Demang Jerukgede sama sekali tidak dapat menolak, ketika tiba-tiba saja Gandar telah menodongkan pedang didadanya. Seperti yang diduga, maka Ki Demang tetap saja berada dirumahnya. Ia tidak ikut dalam pasukan yang menyusup ke padukuhan induk Tanah Perdikan.

Gandar dengan para pengawal yang mendapat tugas mengambil Ki Demang telah berhasil membungkam para petugas yang berjaga-jaga dirumah Ki Demang. Mereka agaknya memang lengah, karena mereka sama sekali tidak menduga bahwa beberapa orang Tanah Perdikan Sembojan akan datang mengambil Ki Demang. Sedangkan sebagian terbesar dari para pengawal Kademangan telah ikut menyusup ke padukuhan induk Tanah Perdikan.

“Bukankah kau orang Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Ki Demang dengan suara bergetar.

“Ya” jawab Gandar, ”bukankah kita sudah saling mengenal?”

“Apa maksudmu datang kemari dan sekaligus mengancam aku dengan senjatamu?”

“Ikut aku” geram Gandar.

“Kemana?” bertanya Ki Demang.

“Ke Tanah Perdikan Sembojan. Risang menunggumu. Semula kau ditunggu di Tegal jarak. Namun kemudian Risang terpaksa pergi ke padukuhan induk, karena Tanah Perdikan Sembojan mendapat beberapa orang tamu.”

Ki Demang tidak dapat menolak. Ia tahu, bahwa Risang telah pergi ke padukuhan induk karena padukuhan induk itu mendapat serangan.

Dengan nada tinggi, Ki Demang itu berkata, ”Tetapi yang akan menerima aku di padukuhan induk Tanah Perdikanmu tentu bukan Risang lagi. Tetapi Senapati prajurit Madiun yang ada di Jerukgede ini.”

“Mungkin. Tetapi tidak apa. Siapapun yang ada disana, akan dapat aku hubungi.”

Ki Demang memang tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ketika ia dibawa keluar dari rumahnya, maka ia melihat beberapa orang pengawalnya terbujur lintang di halaman.

“Mereka tidak mati” berkata Gandar, ”mereka hanya pingsan. Karena itu, marilah. Kita cepat-cepat pergi sebelum mereka menjadi sadar.”

“Jika mereka sadar, maka kalian tidak akan pernah keluar dari halaman rumahku.”

“Bukan begitu. Jika mereka sadar, dan berusaha mencegah aku, maka mereka semua akan terbunuh. Bukankah hal itu akan sangat menyedihkan? Beberapa orang mati karena ingin menyelamatkan seseorang?”

Ki Demang tidak menjawab. Tetapi ia mengerti ancaman itu, karena para pengawalnya tentu tidak akan dapat melawan orang-orang Tanah Perdikan yang dikirim untuk mengambilnya itu. Bahkan seandainya mereka sempat membunyikan kentongan, maka para pengawal Kademangan itu tidak akan dapat berbuat apa-apa, jika orang-orang Tanah Perdikan itu mengancamnya.

Dengan demikian, maka Ki Demang itu pun tidak dapat mengelak lagi. Betapapun jantungnya berdenyut semakin cepat. Satu-satunya harapannya adalah, bahwa Risang atau keluarganya ada yang dapat ditangkap oleh para prajurit Madiun, sehingga kemungkinan untuk mengadakan tukar-menukar tawanan dapat terjadi.

Tetapi Ki Demang itu menjadi sangat kecewa. Ternyata bahwa serangan prajurit Madiun yang disertai para pengawal beberapa Kademangan dan orang-orang upahan para pedagang gelap itu tidak berhasil. Bahkan beberapa orang diantara mereka telah ditawan.

Jantung Ki Demang Jerukgede menjadi semakin berdebaran ketika kepadanya ditunjukkan korban pertempuran yang terjadi semalam.

“Katakan kepadaku, siapakah yang beranggung jawab?” bertanya Risang dengan suara yang bergetar, ”mereka telah gugur. Yang lain luka parah dan bahkan ada yang menjadi cacat. Semuanya ini karena ketamakan kalian yang terbius oleh perdagangan gelap. Kalian telah menginginkan untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa segan mengorbankan sekian banyak orang yang sebagian terbesar adalah anak-anak muda. Mereka adalah anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Anak-anak muda Kademangan Jerukgede. Anak-anak muda Kademangan Jati Arang dan Kademangan yang lain. Anak-anak muda yang sebenarnya akan dapat menjadi harapan dimasa mendatang.”

Ki Demang Jerukgede hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Sementara itu Risang berkata, ”Atas nama Kangjeng Adipati Pajang berdasarkan Surat Kekancingan yang diberikan kepadaku, yang memuat wewenang untuk mengambil langkah-langkah tertentu, maka aku telah menahan Ki Demang sebagaimana Ki Demang Jati Arang.”

Ki Demang menjadi pucat. Ia sadar, bahwa ia benar-benar telah berhadapan dengan paugeran yang berlaku di Pajang. Sedangkan tuduhan yang dapat ditimpakan kepadanya adalah melakukan pemberontakan.

Demikianlah, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menawan dua orang Demang, dan beberapa orang prajurit Madiun serta orang-orang upahan dari para pedagang gelap. Sementara itu, para pengawal Kademangan yang tertawan telah dikembalikan ke Kademangan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, untuk memulihkan ketenangan di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu telah diperlukan beberapa hari, sehingga kehidupan menjadi wajar kembali. Sementara itu, Risang telah memutuskan untuk pergi ke Pajang, memberikan laporan tentang peristiwa terakhir yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.

“Apakah kau akan membawa kedua orang Demang itu ke Pajang?” bertanya Nyi Wiradana.

“Belum sekarang, ibu” jawab Risang, ”aku akan memberikan laporan lebih dahulu. Kemudian menunggu perintah dari Pajang, apa yang harus aku lakukan atas para tawanan itu. Jika Pajang memerintahkan menangkap beberapa orang Demang yang lain, maka aku akan segera melakukannya pula. Mungkin mereka harus dibawa dan dihadapkan kepada para pemimpin Pajang. Tetapi mungkin justru satu dua orang Senapati dari Pajang akan datang ke Tanah Perdikan ini untuk mengambil sikap terhadap para tawanan itu.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah. Setelah keadaan benar-benar menjadi tenang, serta para prajurit Madiun yang lepas dari tangan kita sudah pasti tidak akan mengganggu lagi, maka kau dapat pergi ke Pajang bersama pamanmu, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Demikianlah Risang menunggu tiga hari lagi. Ternyata petugas sandinya tidak menemukan tanda-tanda bahwa para prajurit Madiun yang tersisa masih akan metaiukan serangan. Kademangan Jati Arang dan Kademangan Jerukgede benar-benar telah kehilangan kekuatan untuk dapat melakukan sesuatu. Apalagi berusaha membebaskan kedua orang pemimpin mereka yang tertawan di Tanah Perdikan Sembojan, sementara para prajurit Madiun telah hilang dari Kademangan mereka.

Dengan demikian, maka seperti yang direncanakan, maka Risang pun telah bersiap-siap pergi ke Pajang untuk melaporkan hasil dari tugas yang dibebaKan kepadanya. Selebihnya, maka ada sesuatu yang lain yang telah mendorong Risang untuk pergi ke Pajang, ia ingin membuktikan kemampuannya kepada Ki Rangga Dipayuda. Mungkin satu kebanggaan akan menyentuk hatinya. Sementara itu Risang akan mendapat kesempatan pula untuk bertemu dengan Riris.

Pada hari yang telah ditentukan, maka Risang telah minta diri kepada ibunya, ia akan pergi ke Pajang bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Sementara itu ia telah memerintahkan Gandar untuk berjaga-jaga dengan sebaik-baiknya di Tanah Perdikan.

“Sergapan para prajurit Madiun yang menyertakan para pengawal beberapa Kademangan ke padukuhan induk Tanah Perdikan merupakan satu pengalaman yang sangat pahit” berkata Risang kepada Gandar, ”peristiwa itu menunjukkan, betapapun kita mempersiapkan diri menghadapi bahaya, namun ternyata bahwa pada suatu saat kita dapat menjadi lengah.”

“Satu pelajaran yang sangat berharga, Risang.” berkata ibunya, ”dengan peristiwa itu, maka kita telah diperingatkan, bahwa kita memiliki seribu kelemahan betapapun kita merasa kuat. Yang Maha Agung telah menunjukkan kepada kita, agar kita tidak merasa bahwa kita telah mampu berbuat segala-galanya.

Risang mengangguk-angguk sambii berdesis”Ya, ibu.”

“Nah, kau landasi sikapmu dengan kesadaran tentang kekurangan yang ada didalam diri kita.”pesan ibunya pula.

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memacu kudanya menuju ke Pajang. Satu perjalanan yang memang agak panjang.

Di Pajang, bertiga mereka akan langsung menemui Kasadha yang kemudian akan mempertemukan mereka dengan Ki Rangga Dipayuda dan selanjutnya menghadap Ki Tumenggung Jayayuda.

“Mungkin kita akan langsung dipanggil untuk menghadap Kangjeng Adipati” berkata Sambi Wulung.

“Ah. Tentu Ki Tumenggung Jayayuda yang akan menyampaikannya kepada Kangjeng Adipati di Pajang.” jawab Risang.

Demikianlah, maka kuda mereka pun berpacu semakin cepat. Matahari yang memanjat semakin tinggi, terasa semakin menggatalkan kulit. Apalagi setelah punggung mereka mulai basah oleh keringat.

Betapapun keinginan Risang untuk segera sampai di Pajang, namun kuda-kuda mereka harus beristirahat di perjalanan.

Ketika kemudian bertiga mereka memasuki kota Pajang, maka Risang pun menarik nafas dalam-dalam. Perjalanan mereka yang panjang telah mereka lalui betapapun tubuh mereka merasa letih. Kuda-kuda mereka pun nampak ietih pula. Meskipun mereka telah berhenti dan beristirahat di perjalanan, namun kuda-kuda itu nampaknya masih juga merasa haus. Karena itu, maka ketika mereka sempat berhenti, mereka memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk minum.

Kedatangan mereka di barak prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda itu di malam hari disambut oleh beberapa orang prajurit yang memang sudah mengenai Risang dan kedua orang yang bersamanya itu dengan baik. Mereka telah diajak ke barak yang dipergunakan khusus oleh Kasadha dan prajurit-prajuritnya.

Tetapi Risang tidak segera melihat Kasadha diantara mereka.

Karena itu, kepada salah seorang pemimpin kelompok yang telah dikenainya dengan baik, maka Risang pun bertanya, ”Apakah Kasadha tidak ada dibarak?”

Pemimpin kelompok itu tersenyum. Katanya, ”ia mendapat ijin dua hari untuk tidak datang ke barak.”

Risang mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya pula, ”Apakah kami dapat menghadap Ki Rangga Dipayuda?”

Pemimpin kelompok itu  masih  saja tersenyum. Jawabnya kemudian, ”Ki Rangga juga tidak ada di barak ini. Seperti Ki Lurah Kasadha, maka Ki Rangga juga mendapat kesempatan untuk tidak datang dua hari.”

Wajah Risang berkerut. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, ”Apakah ada hubungannya antara ijin bagi Ki Lurah Kasadha dan ijin bagi Ki Rangga Dipayuda?”

“Ya” jawab prajurit itu, ”persoalannya berkaitan antara keduanya.”

Jantung Risang menjadi berdebar-debar. Sejenak ia ragu-ragu untuk bertanya, apakah keperluan Kasadha dan Ki Rangga Dipayuda yang berkaitan itu. Namun kemudian jantungnya seakan-akan mendesaknya untuk bertanya lebih jauh, ”Apa mereka mempunyai keperiuan khusus?”

“Ya” jawab pemimpin kelompok itu. ”Hari ini Ki Lurah Kasadha dengan resmi melamar anak gadis Ki Rangga Dipayuda. Gurunya mewakili orang tua Ki Lurah datang kerumah Ki Rangga. Meskipun mungkin hari-hari perkawinan Ki Lurah dengan anak Ki Rangga itu masih akan dibicarakan dan disesuaikan dengan keadaan yang nampaknya menjadi semakin panas ini.”

Jawaban itu rasa-rasanya seperti segumpal bara dihempaskan ke wajah Risang. jantungnya pun terasa ber-dentangan dan darahnya seakan-akan mendidih didalam tubuhnya.

Sejenak Risang justru diam mematung. Sementara Sambi Wulung dan jati Wulung pun menjadi berdebar-debar pula. Kedua orang tua itu mengerti, gejolak perasaan Risang mendengar keterangan itu.

Dengan susah payah Risang masih berusaha untuk menahan diri dihadapan prajurit itu. Namun tiba-tiba saja ia berkata, ”Baiklah, jika demikian, kami mohon diri.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, ”duduklah lebih dahulu. Kau baru saja menempuh perjalanan jauh. Kau akan dapat bertemu langsung dengan Ki Tumenggung Jayayuda jika persoalan yang kau bawa memang penting.”

“Terima kasih” jawab Risang, ”aku akan datang pada kesempatan lain.”

Sambi Wulung mencoba untuk meredam sikap Risang itu. Katanya, ”Ngger. Kita akan menunggu sampai esok. Jika kita dapat bertemu dengan Ki Tumenggung, maka persoalan yang kita bawa kemari akan dapat ditanggapi. Kita akan segera dapat menentukan sikap di Tanah Per-dikan.”

Risang sama sekali tidak menjawab. Kepada pemimpin kelompok itu ia berkata, ”Kami mohon pamit.”

“Ngger” desis Jati Wulung.

Risang sama sekali tidak mendengarkannya lagi. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ketempat kudanya ditambatkannya.

Pemimpin kelompok itu mengikutinya dengan ber-lari-lari kecil. Ia tidak mengerti, kenapa Risang tiba-tiba saja ingin kembali.

Ketika Risang sudah menggapai kendali kudanya, maka pemimpin kelompok itu bertanya, ”Apakah kau akan pergi ke rumah Ki Rangga Dipayuda?”

“Ya” jawab Risang tanpa berpikir sama sekali.

“O” pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk, ”kau akan diterima dengan baik.”

Risang tidak menghiraukannya lagi. Dituntunnya kudanya dengan langkah-langkah panjang menuju ke regol barak.

Prajurit yang bertugas di regol yang sudah mengenainya pula bertanya, ”Kau akan pergi ke mana?”

“Aku minta diri” jawab Risang tanpa berpaling. Demikian Risang berada diluar regoi, maka ia pun segera meloncat kepunggung kudanya dan berpacu meninggalkan barak itu. Sambi Wulung dan Jati Wulung harus berpacu pula menyusul Risang yang menyusuri jalan-jalan kota Pajang.

Untunglah bahwa malam menjadi semakin dalam, sehingga jalan-jalan kota pun menjadi sepi. Tetapi bahwa bertiga mereka berpacu dimalam hari, justru telah menarik perhatian,

“Ngger” Sambi Wulung yang melarikan kudanya disampingnya berkata, ”Kita berada di Kota Pajang. Kota yang sedang bergejolak dan bersiap untuk perang. Apapun yang terjadi dengan diri kita, maka sebaiknya kita mengingat akan hal itu.”

Ternyata bahwa Risang masih mampu mempergunakan naiarnya. Karena itu, maka ia memperlambat lari kudanya. Meskipun demikian, wajah Risang masih nampak gelap segelap itu.

Ketika mereka mendekati pintu gerbang kota, Risang masih menyadari kehadirannya di satu kota yang sedang bersiap-siap untuk perang. Karena itu, maka ia tidak lagi berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Tetapi dengan kecepatan yang wajar Risang melintasi pintu gerbang kota sehingga tidak menarik perhatian para prajurit yang bertugas.

Namun demikian mereka sampai diluar pintu gerbang kota, Risang sudah siap untuk berpacu lagi. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan cepat mendekatinya dari kedua sisi, sehingga Risang seakan-akan telah dijepitnya di tengah.

“Ngger” berkata Sambi Wulung, ”aku mengerti gejolak perasaanmu. Meskipun demikian, aku minta, kau menghadap lebih dahulu kepada Ki Tumenggung Jayayuda untuk menyampaikan laporan tentang keadaan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tidak, Buat apa aku harus menghadap orang-orang Pajang yang tidak mengenal terima kasih.”jawab Risang.

“Persoaian yang terjadi, bukan persoalan Tanah Perdikan Sembojan dengan Pajang. Tetapi persoalanan para pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan Pajang. Itu pun mungkin sekedar salah paham yang masih dapat ditelusuri sehingga dicari jalan keluarnya.”

“Paman tidak usah mencari-cari. Aku tahu pasti apa yang terjadi. Bukan sekedar salah paham. Tetapi justru satu penghinaan oleh orang-orang Pajang. Bukan atas aku, Risang secara pribadi, tetapi tentu atas Tanah Perdikan Sembojan.” jawab Risang.

“Bagaimana angger dapat berkata seperti itu” jawab Jati Wulung. ”selama ini Pajang memberikan kepercayaan yang tinggi kepada Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah wewenang yang belum lama ini diberikan kepada angger membuktikan, bahwa Pajang mempercayai angger Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

“Tetapi itu bukan kepercayaan yang sungguh-sungguh. Pajang sekedar memperalat dan memanfaatkan Tanah Perdikan Sembojan untuk kepentingannya, untuk menegakkan wibawanya.”

“Ngger” suara Sambi Wulung merendah, meskipun kuda mereka masih tetap berlari di gelapnya malam, ”sebaiknya kita berhenti sejenak. Kuda-kuda ini tentu lelah. Sementara itu kita dapat berbincang dengan lebih baik.”

“Tidak. Aku akan kembali ke Tanah Perdikanku. Sembojan dapat berdiri tegak tanpa Pajang.”

“Ngger” Jati Wulung masih juga berusaha menenangkan Risang, ”Jika angger bersikap keras, maka salah paham ini akan menjadi semakin sulit untuk dipertautkan. Karena itu, kita memang harus membicarakannya dengan baik.”

“Kalau paman ingin berbicara, berbicaralah. Dengan siapa, kapan dan dimana, aku tidak peduii. Aku akan pulang.”

Risang tidak memberi kesempatan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk berbicara. Risang pun segera menghentakkan kudanya untuk berlari semakin cepat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat mencegahnya lagi, Yang dapat mereka lakukan adalah mengikuti saja derap kaki kuda Risang yang berpacu seperti di kejar hantu.

Namun bagaimanapun juga, tenaga kuda yang berpacu itu terbatas. Semakin iama, kuda-kuda itu menjadi semakin letih, sehingga derap kakinya pun menjadi semakin lamban.

Risang tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Ternyata ia pun masih mempunyai perasaan iba atas kudanya yang tidak lagi dapat berlari lebih cepat karena letih, haus dan lapar.

Karena itu, maka Risang pun terpaksa berhenti di tengah-tengah bulak. Dibiarkannya kudanya minum air jernih yang mengalir di parit dipinggir jalan. Kemudian dibiarkannya pula kudanya makan rerumputan segar yang tumbuh ditanggul parit itu.

Sambil menunggu kudanya minum dan makan, Sambi Wulung dan jati Wulung duduk disebelah Risang yang merenung. Tetapi tidak banyak yang dapat mereka katakan. Risang yang merenung memandang kekejauhan itu seakan-akan tidak mendengar lagi kata-kata kedua orang yang menyertainya itu.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 65

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

 

<< kembali | lanjut >>

One Response

  1. kurang dikit lagi…
    gk sabar nunggu kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s