SST-63

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-63“BEBERAPA orang pengawal Tanah Perdikan ini yang sudah menjadi mabuk oleh uang dan kesenangan, justru yang mengatur arus bahan pangan itu sehingga sulit untuk dapat ditangkap. Namun laporan dari pengawal yang berhasil menyusup itu memberikan sedikit kesempatan yang mudah-mudahan dapat kita pergunakan sebaik-baiknya.”

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Sambi Wulung.

“Sulit bagi kita untuk mempercayai para pengawal, khususnya dari padukuhan-padukuhan disebelah Utara. Bukan maksudku mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka terlibat. Namun sulit bagi kita untuk mengetahui siapakah yang terlibat itu, sehingga jika kesempatan kecil ini sampai ketelinga mereka, maka kita akan gagal lagi.”

“Kita dapat memerintahkan para pengawal dari daerah lain” berkata Risang.

“Tetapi itu akan dapat menyinggung perasaan para pengawal di daerah itu, terutama mereka yang merasa tidak bersalah. Mereka akan merasa tidak dipercaya lagi.”

Risang yang kemarahannya sudah memuncak itu pun bertanya pula, ”Jadi bagaimana? Apakah kita akan membiarkan saja hal itu terjadi dan terjadi?”

“Risang” berkata ibunya, ”kita memang sedang membicarakan persoalan yang rumit yang terjadi di Tanah Perdikan ini. Bagimu, ini adalah satu pengalaman, bahwa kau tidak boleh hanyut dalam kemudaanmu. Tugasmu memerlukan pendalaman untuk menanggapi satu persoalan.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia pun bertanya, ”Menurut ibu, apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Mungkin pamanmu Sambi Wulung dapat memberikan pendapatnya.” jawab ibunya.

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Sambil berpaling kepada Gandar ia pun bertanya, “Berapa besarkah kekuatan mereka?”

“Ada beberapa orang berilmu yang melindungi para pedagang gelap itu. Tetapi aku belum mendapat laporan yang pasti.”

“Jadi kapan rencana kita dapat kita lakukan?” desak Risang yang nampaknya masih saja kurang sabar.

“Menurut laporan, maka penyusupan itu akan dilakukan malam hari besok. Masih ada waktu hari ini dan besok untuk menyusun penyergapan itu.”

“Nampaknya memang rumit. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu jika kita sendiri langsung turun ke medan? Untuk meghindari agar para pengawal yang tidak bersalah tidak tersinggung jika kita membawa para pengawal dari lingkungan lain. Kecuali itu, maka akan dapat timbul permusuhan antara para pengawal dari satu lingkungan dengan pengawal dari lingkungan yang lain.”

“Aku setuju” berkata Gandar, “Kita sendiri akan turun kelapangan. Mudah-mudahan kita dapat menyelesaikannya.”

Dengan demikian, maka akhirnya Risang memutuskan untuk bertindak langsung terhadap orang-orang yang setiap kali menyusupkan bahan pangan keluar Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan yang telah membawa korban.

Dengan demikian, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu tidak mencemaskan bahwa rencana mereka akan didengar oleh para pedagang gelap itu. Mereka yakin, bahwa para pemimpin Tanah Perdikan itu akan dapat memegang rahasia sebaik-baiknya.

Namun darah Risang menjadi seakan-akan mendidih ketika dipagi harinya, diketemukan lagi seorang korban. Seorang yang menurut keluarganya, menolak untuk menyerahkan bahan pangan yang ada padanya kepada para pedagang gelap.

“Kakang semula memang ikut dalam perdagangan gelap ini” berkata isterinya, “bahkan kakang telah berhasil mengumpulkan beberapa pikul beras padi dan jagung yang disimpan didalam lumbung dan sebagian lagi di dapur. Namun melihat gelagat yang kurang baik bagi kehidupan orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri, maka kakang telah menghentikan usahanya serta tidak mau menyerahkan bahan pangan yang sudah terkumpul.”

“Siapakah yang telah membunuhnya?” bertanya Gandar, “apakah ada diantara mereka yang kau kenal?

Isterinya menggeleng. Katanya, “Kakang dibawa keluar oleh empat orang yang semuanya belum aku kenal.”

“Tetapi apakah kau mengenal orang-orang yang pernah berhubungan dengan suamimu? Apakah ada diantara mereka orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri?”

“Kakang tidak pernah membicarakan perdagangan gelapnya di rumah. Ia selalu keluar untuk menemui orang-orang yang terlibat dalam perdagangan ini.”

Gandar tidak bertanya lebih lanjutnya, ia pun kemudian ikut sibuk menyelenggarakan penguburan orang yang terbunuh itu. Beberapa orang pengawal telah ikut menjadi sibuk.

Namun Gandar yakin, bahwa ada diantara mereka adalah orang-orang yang justru terlibat. Didalam kesibukan itu, Gandar juga melihat pengawal kepercayaannya yang justru pernah mendapat hukuman daripadanya, yang memberikan kesempatan kepada pengawal itu untuk melibatkan diri dalam perdagangan gelap bahan pangan itu.

Justru karena itu, Gandar tidak berbuat banyak, ia sengaja membatasi persoalan, agar tidak mempengaruhi rencana para pedagang gelap itu malam nanti. Jika mereka merasa mulai dicurigai atau tercium jejaknya, maka mereka akan merubah rencana mereka.

Dua kematian telah membuat Tanah Perdikan itu berkabung. Namun orang-orang di daerah Utara menjadi ketakutan karena peristiwa itu. Mereka yang sudah terlibat kedalamnya, tidak akan berani untuk menarik diri, karena para pedagang gelap yang dilindungi oleh orang-orang berilmu dan bahkan berhati beku itu, tidak lagi menghargai nyawa orang lain. Mereka lebih menghargai keuntungan yang dapat mereka teguk dari perdagangan gelapnya daripada nyawa sesama.

Dalam pada itu, pada malam yang sudah ditentukan, maka Risang telah mengatur satu rencana penyergapan. Risang tidak melibatkan para pengawal. Tetapi ia sendiri bersama Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar akan menanganinya langsung.”

“Aku akan bersama kalian” berkata nyi Wiradana kepada Risang.

Risang mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “tapi ibu tidak usah terlibat dalam penyergapan ini. Biarlah kami yang melaksanakannya.”

“Ingat Risang. Berapa puluh tahun aku memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan disini?”

Risang hanya menarik nafas panjang. Sambi Wulung yang semula juga akan mencegah niat Nyi Wiradana itu justru tertegun pula. Hampir saja ia mengatakan bahwa Nyi Wiradana sudah menjadi semakin tua sebagaimana dirinya. Tetapi Sambi Wulung adalah seorang laki-laki.

Tetapi niat itu diurungkan, ia tahu, bahwa ia akan menyinggung perasaan Nyi Wiradana jika ia mengatakan hal itu langsung kepadanya.

Dalam pada itu, maka rencana pun telah disiapkan sebaik-baiknya. Gandar telah mendapat laporan terperinci dari pengawal kepercayaannya.

“Bagaimana kau dapat bertemu dan berbicara panjang dengan pengawal itu?” bertanya Nyi Wiradana.

“Di bendungan, Nyi.” jawab Gandar, “kami memang sering bertemu di bendungan. Anak itu terbiasa mandi di bendungan. Sementara aku bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul perdu.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat menghentikan perdagangan gelap itu.”

Ketika mereka siap untuk berangkat ke sasaran, setelah senja turun, maka Risang telah memanggil beberapa orang bebahu.

Demikian mereka datang, maka mereka pun segera dilibatkan dalam penyergapan itu tanpa mereka ketahui lebih dahulu. Dengan demikian, maka rahasia penyergapan itu tidak akan pernah didengar oleh orang lain.

Kelompok para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu dengan hati-hati merayap mendekati tempat penyeberangan para pedagang gelap itu. Ternyata mereka tidak melewati lorong yang paling sempit sekalipun. Mereka telah mempergunakan padukuhan yang hampir dekat dengan perbatasan untuk memindahkan bahan pangan itu dari Tanah Perdikan ke Kademangan Jerukgede. Seorang yang halamannya cukup luas, telah membuka dinding halamannya dengan membuat pintu butulan yang besar justru menghadap ke perbatasan.

Pada jarak yang pendek itulah, para pedagang gelap memindahkan bahan pangan yang mereka beli dari Tanah Perdikan dan demikian mereka melintasi perbatasan, mereka lebih aman, karena para bebahu Kademangan Jerukgede hampir seluruhnya telah terpengaruh oleh perdagangan itu pula.

Untuk mengamati arus bahan pangan itu, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu memang harus memasuki perbatasan Kademangan Jerukgede.

Dengan terpaksa Risang memang harus menyeberangi perbatasan bersama beberapa orang agar mereka dapat mengawasi usaha untuk mengeluarkan bahan pangan itu dari Tanah Perdikan Sembojan dengan jelas. Karena itu, maka mereka harus menjadi sangat berhati-hati. Jika mereka dapat diketahui oleh para petugas dan pengawas dari Kademangan Jerukgede, maka mereka akan mengalami dua kesulitan. Mereka akan dapat dituduh melakukan pelanggaran memasuki Kademangan Jerukgede dengan niat buruk, serta mereka akan kehilangan kesempatan untuk menangkap langsung di tempat orang-orang yang menyusupkan bahan pangan keluar Tanah Perdikan. Bahan pangan yang mungkin akan mengalir ke Madiun, karena orang-orang kaya di Madiun berusaha untuk mengisi lumbung-lumbung di Madiun untuk menghadapi kesulitan pangan karena ribuan prajurit yang sedang berkumpul di Madiun.

Seorang demi seorang, maka sekelompok kecil orang-orang Tanah Perdikan itu menyusup perbatasan, mendekati tempat yang diperkirakan akan menjadi lintasan penyeberangan bahan pangan itu. Namun mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Sementara beberapa orang bebahu yang oleh Risang disertakan dalam tugas itu, diperintahkan untuk menunggu diperbatasan. Mereka akan mendapat isyarat jika saatnya telah datang.

Sementara itu, di sebuah halaman yang luas, yang mempunyai sebuah pintu butulan menghadap ke perbatasan, telah terjadi kesibukan. Meskipun pintu butulan itu masih tertutup, tetapi segala persiapan telah dilakukan sebaik-baiknya dibelakang dinding halaman yang cukup tinggi.

Dalam pada itu, Gandar telah merayap dengan sangat berhati-hati mendekati halaman itu. Dengan sangat berhati-hati pula ia telah memanjat sebatang pohon diluar halaman itu untuk melihat apa saja yang terjadi didalam-nya.

Meskipun di malam hari, namun ketajaman mata Gandar dapat pielihat beberapa pedati yang sudah dimuati bahan pangan siap untuk bergerak. Sepasang lembu telah dipasang disetiap pedati yang berjajar berurutan.

Gandar dengan tegang menyaksikan persiapan itu. Ia pun melihat beberapa orang bersenjata hilir mudik di sekitar pedati-pedati itu. Tetapi juga di pintu butulan yang masih tertutup itu.

Ternyata apa yang dilaporkan oleh pengawal kepercayaannya yang berhasil menyusup kelingkungan para pedagang gelap bahan pangan itu benar. Malam itu akan terjadi penyusupan besar-besaran bahan pangan keluar Tanah Perdikan Sembojan, yang agaknya bukan yang pertama kali terjadi.

Dengan demikian  maka apa yang dilakukan oleh para pemimpm Tanah Perdikan itu agaknya tidak sia-sia. Mereka akan dapat melihat langsung apa yang sebenarnya telah terjadi di perbatasan.

Karena itu, maka Gandar pun kemudian telah memberikan laporan kepada Risang, apa yang telah dilihatnya.

Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu kemudian telah beringsut mendekati sasaran. Mereka memang terpaksa melintas di seberang perbatasan agar mereka tidak langsung dapat diketahui oleh orang-orang yang bertugas untuk mengamati keadaan.

Risang telah merencanakan untuk menghentikan iring-iringan itu tepat diperbatasan, setelah satu atau dua pedati melintas. Namun Risang pun telah menentukan, bahwa tempat penyergapan itu harus berada di perbatasan.

Demikianlah, maka Risang dan para pemimpin tanah Perdikan itu menunggu. Menurut perhitungan mereka, maka merekamkan dapat mengatasi sejumlah pengawal dari bahan pangan yang akan dibawa melintasi perbatasan itu bersama para bebahu yang masih menunggu isyarat.

Ketegangan terasa semakin mencengkam. Pintu butulan itu masih juga belum terbuka. Rasa-rasanya mereka sudah menunggu terlalu lama. Bahkan bintang pun rasa-rasanya telah bergeser semakin ke Barat.

Namun ternyata mereka terkejut ketika mereka mendengar langkah mendekat. Bahkan orang yang sedang berbicara, justru dari arah Kademangan Kleringan.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan itu bersembunyi semakin baik. Dengan sungguh-sungguh mereka memperhatikan orang-orang yang lewat itu.

“Ampat orang” desis Risang ketika ia melihat ampat orang berjalan dengan tergesa-gesa melintasi perbatasan menuju ke pintu butulan yang masih tertutup itu.

Sejenak kemudian, dalam keremangan malam Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan yang lain itu melihat orang-orang itu mengetuk pintu butulan. Bahkan mereka dengan jelas mendengar ketukan itu yang agaknya dilakukan dengan isyarat sandi. Ketukan itu terdengar dua kali, tiga kali berturut-turut.

Sejenak kemudian, maka pintu butulan itu terbuka sedikit. Nampaknya sedang terjadi pembicaraan antara orang-orang yang datang itu dengan orang-orang yang ada dibelakang pintu.

Namun kemudian, maka pintu itu pun terbuka. Tidak hanya sebagian, tetapi pintu yang cukup lebar itu terbuka sepenuhnya.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan yang lain pun segera bersiap. Nampaknya iring-iringan pedati yang membawa bahan pangan itu akan segera bergerak. Ampat orang yang datang itu tentu membawa pesan atau isyarat, bahwa pedati-pedati itu sudah dapat berangkat melintasi perbatasan. Agaknya mereka menganggap bahwa keadaan aman. Sementara pengawas-pengawas mereka pun tidak memberikan laporan apa-apa, sehingga mereka menganggap bahwa penyerahan bahan pangan itu tidak akan terganggu.

Sebenarnyalah seperti yang diduga, bahwa pedati-pedati yang berisi bahan pangan itu mulai bergerak. Empat orang yang datang dan mengetuk pintu butulan itulah yang berjalan dipaling depan. Kemudian, dua orang yang lain dibelakangnya. Baru kemudian pedati yang pertama keluar dari pintu butulan itu.

Risang menjadi berdebar-debar. Sebagaimana dilaporkan oleh Gandar, bahwa pengawal bahan pangan itu cukup banyak. Diantara mereka tentu terdapat orang berHmu tinggi. Sementara itu, para pemimpin Tanah Perdikan serta para bebahu yang pada saat terakhir dipanggil oleh Risang, jumlahnya tidak sebanyak mereka itu.

Namun Risang merasa, bahwa yang dilakukannya itu adalah kewajibannya. Karena itu, maka Risang tidak berniat untuk mundur dari rencananya.

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun merayap dengan lamban. Keempat orang yang berjalan terdahulu i!u rasa-rasanya tidak sabar. Mereka berjalan mendahului. Namun kemudian berhasil dan memberi isyarat untuk berjalan lebih cepat.

Tetapi lembu yang menarik pedati itu tidak mengerti isyarat yang diberikan. Meskipun punggungnya dicambuk beberapa kali, tetapi lembu itu memang tidak dapat berjalan lebih cepat lagi.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan itu sudah bergeser sampai keperbatasan. Mereka siap untuk meloncat bangkit untuk menghentikan iring-iringan itu.

Namun Risang memang menunggu pedati yang pertama melintasi perbatasan dan ketika pedati yang kedua tenat berada diperbatasan maka Risang pun memberi isyarat kepada para pemimpin Tanah Perdikan.

Serentak mereka pun telah berloncatah dari balik perdu. Dengan lantang Risang berkata, “Berhenti. Berhentilah.”

Orang-orang yang berada di depan pedati itu terkejut. Ketika mereka berpaling, maka dilihatnya beberapa orang berdiri tegak di perbatasan.

“Keempat orang itu segera berloncatan mendekat. Seorangdiantara mereka bertanya lantang, “He, siapakah kalian?”

Tetapi seorang yang lain dengan suara bergetar berdesis, “Angger Risang.”

“Ya, Ki Bekel” jawab Risang. Ternyata orang yang mengenalinya itu adalah Ki Bekel dari padukuhan terdekat dengan perbatasan tetapi dilingkungan Kademangan Jerukgede.

“Inikah sebabnya, maka tanah yang membentang sampai keperbatasan dilingkungan padukuhan Ki Bekel menjadi tanah bera yang tidak pernah ditanami. Aku kira ianah ini menjadi kering karena jaringan airnya rusak. Tetapi agaknya ada kesengajaan agar tanah kering ini dapat menjadi jalur jalan bahan pangan ini.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang yang lain, yang juga dikenal oleh Risang sebagai bebahu Kademangan Jerukgede berkata, “Apa salahnya? !tu adalah hak Ki Bekel. Apakah tanahnya akan ditanami atau dibiarkan bera atau digali sedalam jurang jero sekalipun, itu orang lain tidak akan dapat melarangnya.”

“Aku tidak akan pernah melarangnya. Aku memang tidak berhak melarang. Bukankah aku juga tidak berhak berusaha melakukannya? Aku hanya mengatakan bahwa itulah sebabnya maka tanah ini dibiarkan menjadi tanah kering.”

“Itu bukan urusanmu. Nah, sekarang, kenapa kau hentikan iring-iringan ini?” bertanya bebahu itu.

“Aku tidak ingin bahan pangan dari Tanah Perdikan dikuras keluar.” jawab Risang.

“Tetapi yang kami lakukan adalah perdagangan yang sah. Kami dan para pedgang bahan pangan ini membeli bahan pangan dari orang-orang Tanah Perdikan. Kemudian bahan pangan yang sudah kami beli itu kami bawa keluar karena itu sudah menjadi milik kami.”

Risang menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku sudah menentukan bahwa bahan pangan tidak boleh dibawa keluar. Tanah Perdikan menjadi kekurangan pangan, terutama disisi Utara ini. Harga pangan menjadi semakin naik. Aku harus melindungi orang-orang yang kekurangan. Yang sawahnya sempit sehingga nanti panennya tidak mencukupi sehingga mereka harus membeli kekurangan bahan pangannya. Juga mereka yang memilih pekerjaan lain dan tidak bertani.”

“Aku tidak peduli, itu adalah persoalanmu dengan orang-orangmu.”

“Aku adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Aku berhak membuat peraturan, bahwa bahan pangan tidak boleh keluar dari Tanah Perdikan.”

“Itu adalah pertanda bahwa peraturanmu bertentangan dengan keinginan rakyatmu sendiri. Mereka masih iuga menjual bahan pangan kepada kami.”

Tetapi Risang pun langsung mengatakan, “Dua orang korban telah cukup. Itukah yang kau katakan bahwa rakyatku memang menghendaki perdagangan gelap ini dengan suka rela?”.

“Apakah yang kau maksud dengan korban itu!” bertanya bebahu Jerukgede itu.

“Apakah kami masih harus menjelaskan? Aku kira kalian lebih mengetahui tentang kedua orang korban itu. Siapakah mereka, karena apa, dan siapa yang telah membunuhnya.” jawab Risang.

“Kau mengigau anak muda. Sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan, kau tidak boleh kehilangan kendali perasaanmu. Itu tentu akan sangat membahayakan bukan saja bagimu sendiri, tetapi justru bagi Tanah Perdikanmu.”

“Aku tidak berkeberatan akan pernyataanmu itu. Tetapi sekarang aku perintahkan, bahan pangan itu tidak boleh dibawa keluar Tanah Perdikan Sembojan.”

“Aku tidak peduli. Itu adalah hak kami” berkata orang yang tidak mengenal Risang itu.

“Sekali lagi aku perintahkan, pedati-pedati itu harus kembali dengan muatannya. Tidak sebutir padi pun yang keluar dari Tanah Perdikan.”

“Itu pedati-pedatiku” berkata orang itu.

“Setelah muatannya dibongkar, bawa pergi pedati-pedati itu. Tetapi aku juga ingin menangkap orang-orang yang telah membunuh rakyat Tanah Perdikan.”

“Anak muda” berkata orang itu, “kami adalah pedagang-pedagang yang berpengalaman. Kami tidak pernah mengalami perlakuan yang demikian buruknya sebagaimana perlakuan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, aku minta kau cabut semua persyaratanmu itu.” geram orang itu.

“Aku justru harus menegaskan. Bawa bahan pangan itu kembali, atau kami harus mempergunakan kekerasan.”

“Bagus” jawab orang itu, “kami akan mempertahankan hak kami apapun yang akan terjadi. Semua orang tentu akan mengutuk Tanah Perdikan Sembojan yang telah melanggar hak para pedagang. Dengan demikian, maka Sembojan akan terpencil dari dunia perdagangan antar daerah yang tentu sangat diperlukan bagi Tanah Perdikan.”

“Tidak” jawab Risang, “kami membuka arus perdagangan. Tetapi bukan perdagangan gelap seperti ini. Sekarang, sekali lagi aku perintahkan, bawa kembali bahan pangan kami.”

Orang itu ternyata tetap bertahan. Karena itu, maka ia pun segera memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap.

Namun Ki Bekel pedukuhan sebelah yang termasuk lingkungan Kademangan Jerukgede itu berkata terbata-bata, “Nanti dulu. Apakah kita tidak dapat membicarakannya?”

“Maaf Ki Bekel” berkata Risang, “tidak ada pilihan lain.”

Tetapi pedagang yang marah itu juga berkata, “kami akan mempertahankan hak kami.”

Kepada orang-orangnya pedagang itu berteriak, “lanjutkan perjalanan. Kita membawa milik kita sendiri. Jika Kepala Tanah Perdikan akan merampok milik kita, maka kita akan mempertahankannya. Apapun yang akan terjadi.”

Para pengawal pedati itu pun segera mempersiapkan diri. Jumlah mereka memang cukup banyak.

Namun Ki Bekel masih berkata, “Tahan dahulu. Kenapa kita harus mempergunakan kekerasan?”

“Tergantung kepada para pedagang gelap itu Ki Bekel. Tergantung pula kepada Ki Bekel dan para bebahu Kademangan Jerukgede. Apakah kami harus mempergunakan kekerasan atau tidak” jawab Risang.

Tetapi yang menyahut adalah pedagang gelap itu, “Aku tidak peduli. Tetapi kami tidak mau dirampok, apalagi oleh seorang Kepala Tanah Perdikan.”

Risang tidak menjawab lagi. Ia pun segera memberi isyarat pula kepada para bebahu yang menyertainya, yang masih menunggu perintah.

Demikian isyarat itu mereka terima, maka para bebahu itu pun segera mulai bergerak. Mereka berjalan di sepanjang bibir padukuhan mendekati iring-iringan pedati yang terhenti itu.

Pedagang gelap itu melihat keadaan yang nampaknya akan menjadi semakin buruk. Karena itu, maka ia pun segera berteriak, “Bawa milik kita keseberang perbatasan. Orang-orang Jerukgede lebih mengenal tatanan perdagangan daripada orang-orang Tanah Perdikan Sem-bojan.”

Tetapi Risang, para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan serta para bebahu segera mempersiapkan diri. Mereka telah berdiri berderet diperbatasan. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, tetapi mereka benar-benar telah bersiap untuk mencegah arus perdagangan gelap itu.

Sementara itu, beberapa orang pengawal Tanah Perdikan sendiri yang terlibat dalam perdagangan itu menjadi bingung. Seharusnya mereka ikut mengamankan bahan pangan itu sampai lewat perbatasan. Namun ketika mereka mengetahui bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan sendiri yang ada diperbatasan, maka rasa-rasanya mereka kehilangan keberanian untuk melakukannya.

Karena itu, sebelum segala sesuatunya terjadi, maka pengawal kepercayaan Gandar yang berada diantara para pengawal yang telah terbius oleh uang itu telah menyebarkan gagasannya, “Kita lebih baik menghindar dari benturan kekerasan ini. Apakah kita akan melawan para pemimpin kita sendiri? Bahkan mungkin kawan-kawan kita yang dapat dikerahkan oleh Kepala Tanah Perdikan kita jika mereka merasa memerlukannya.”

Para pengawal yang terlibat itu memang ragu-ragu. Tetapi seorang diantara mereka berkata, “Kita sudah mereka bayar untuk ikut mengamankan bahan pangan ini sampai keseberang perbatasan.”

Kepercayaan Gandar itu berkata, “Tetapi kita kini telah gagal. Ternyata iring-iringan ini telah berhasil disergap. Siapapun yang menang dalam benturan kekerasan ini, kita akan mengalami kesulitan jika kita tetap berada disini. jika para pedagang itu menang dan berhasil menyeberang, kita tentu dituduh tidak mampu melindungi mereka sehingga rahasia mereka dapat diketahui oleh Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Nasib kita tentu akan seperti dua orang yang sudah terbunuh itu, sementara kita tidak akan dapat minta perlindungan kawan-kawan kita karena dengan demikian mereka akan mengetahui bahwa kita telah terlibat dalam perdagangan gelap. Sebaliknya jika para pemimpin Tanah Perdikan ini yang menang, sementara kita berada disini, maka kita pun akan ditangkap dan dianggap sebagai pengkhianat.”

Ternyata gagasan itu dapat diterima oleh para pengawal yang telah terlibat. Sehingga karena itu, maka mereka yang sebagian masih berada di antara pedati-pedati yang berderet terhenti di dalam halaman rumah yang iuas itu, berusaha untuk dengan diam-diam meninggaikan tempat itu. Mereka telah memberi-tahukan pula kepada kawan-kawan mereka yang sudah berdiri diluar halaman dan bahkan ada diantara mereka yang sudah bersiap untuk ikut melindungi bahan pangan itu.

Dengan demikian, maka satu demi satu para pengawal itu dengan diam-diam meninggalkan tempat penimbunan bahan pangan itu.

Sementara itu para pedagang gelap yang memimpin pengangkutan bahan pangan itu telah memerintahkan orang-orang itu melindungi pedati-pedati yang akan melanjutkan perjalanan.

Dalam pada itu, dua orang yang agaknya juga termasuk sebagai pedagang gelap itu bergerak mendekati para pemimpin dari Tanah Perdikan itu. Keduanya terkejut. Dalam keremangan malam di tempat terbuka, maka keduanya merasa sudah pernah bertemu dengan anak muda yang disebut sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Selagi orang itu termangu-mangu, maka tiba-tiba saja Sambi Wulung bertanya, “Kenapa kau memandang Kepala Tanah Perdikan Sembojan seperti itu?”

Orang itu tidak segera menjawab. Namun Risang lah yang berkata, “Kita memang pernah bertemu.”

“Jadi kau Kepala Tanah Perdikan ini anak muda?” bertanya seorang diantara mereka.

“Sekarang kau tidak akan mentertawakan kuda kami lagi” sahut jati Wulung.

Kedua orang itu mengdngguk-angguk. Namun seorang diantara mereka segera berkata kepada kawannya yang telah mengisyaratkan untuk melanjutkan perjalanan

“Kita memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali melindungi hak milik kita dengan cara apapun.”

Sebenarnyalah, maka pedagang gelap yang datang bersama Ki Bekel itu telah meneriakkan aba-aba, agar pedati-pedati itu mulai bergerak.

Tetapi pada saat yang bersamaan, seorang bebahu Tanah Perdikan dengan tangkas telah meioncat kedepan pedati yang berada diperbatasan, menarik dan berusaha memutar arah pedati itu kembali ke Tanah Perdikan.

Namun seorang pengawal perdagangan gelap itu telah meloncat menyerannya. Untunglah bahwa bebahu yang tain melihatnya, sehingga ia sempat memotong serangan itu.

Demikianlah maka pertempuran pun mulai menyala. Para pedagang gelap beserta pengawalnya segera menyerang orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Mereka menyadari, bahwa waktunya tidak terlalu banyak. Sementara pertempuran berlangsung, mereka harus sudah membawa pedati-pedati itu ke seberang, sehingga jika para bebahu itu memanggil para pengawal, pedati-pedati itu sudah berada di seberang.

Ternyata para pengikut pedagang-pedagang gelap itu cukup banyak. Mereka berlari-larian membantu kawan-kawan mereka yang sudah terlibat dalam perkelahian.

Namun ada juga yang teringat kepada para pengawal Tanah Perdikan sendiri yang telah mereka bayar untuk membantu mengamankan penyeberangan bahan pangan itu. Tetapi mereka sudah hilang ditelan gelapnya malam.

“Orang-orang Tanah Perdikan itu telah berkhianat“ teriak salah seorang pedagang gelap itu, ” kita Sudah membayar mereka dengan upah yang tinggi. Tetapi dalam keadaan seperti ini mereka telah menghilang.”

Para pedagang gelap serta pengikutnya itu pun mengumpat-umpat. Tetapi mereka tidak dapat sekedar marah-marah. Dihadapan mereka para pemimpin dan bebahu Tanah Perdikan Sembojan telah mulai bertempur.

Demikianiah, maka pertempuran itu pun segera metuas. Para pedagang gelap itu pun segera menyerang Risang dan para pemimpin yang lain. Orang yang pernah mengejek kuda-kuda Risang. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah melibatkan diri pula dalam pertempuran itu. Seorang diantara mereka, yang bertempur melawan Risang pun berkata, “Kau ternyata seorang pembohong.”

“Kenapa?” bertanya Risang.

“Kau tidak berani mengaku, bahwa kau adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan pada waktu itu.”

^”Aku menganggap bahwa hal itu tidak perlu. Tetapi ternyata kita sekarang bertemu lagi. Dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mengatakan siapakah aku sebenarnya.”

“Kenapa waktu itu kau tidak mengaku bahwa kau adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Buat apa aku berceritera tentang kedudukanku kepada orang-orang yang bertemu diperjalanan? Apakah aku harus dengan menengadahkan kepalaku berkata, “aku adalah Kepala Tanah Perdikan.”

“Bohong. Kau memang pembohong dan juga penakut. Kau takut bertanggung jawab atas jabatan yang kau emban.”

Risang tidak menjawab. Orang yang sedang kecewa dan marah dapat berkata apa saja. Tetapi ia tidak perlu menghiraukannya.

Bahkan Risang telah mulai menyerang orang itu agar orang itu tidak lagi banyak berbicara.

Demikianlah, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Para bebahu segera mengerahkan kemampuan mereka. Namun ternyata bahwa lawan memang terlalu banyak. Sehingga dengan demikian, maka para bebahu itu pun mulai terdesak.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar telah bertempur dengan garangnya. Ilmu mereka yang tinggi memang tidak tertandingi. Bahkan para pemimpin dari mereka yang berusaha untuk melakukan perdagangan gelap itu pun segera mengalami kesulitan, sehingga mereka harus menyusun kelompok-kelompok kecil untuk bertahan. Sambi Wulung dan jati Wulung memang harus menghentak lawan-lawan mereka untuk menghisap lawan, jika tidak demikian, maka para bebahu akan menjadi semakin sulit menghadapi lawan yang jumlahnya lebih banyak itu.

Kecuali mereka, seorang lagi telah bertempur dengan tangkasnya. Orang yang sama sekali tidak ikut berbicara diantara para pemimpin Tanah Perdikan itu dengan para pedagang gelap.

Tidak seorang pun diantara para pedagang-gelap itu yang menduga bahwa orang itu adalah seorang perempuan. Apalagi di malam hari dalam pakaian yang tidak berbeda dengan pakaian orang yang lain yang hadir di tempat itu.

Namun ternyata bahwa orang itu, Nyi Wiradana, bertempur dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh lawan-lawannya.

Karena itu, maka kemudian ada tiga orang yang berkelompok untuk melawan orang itu.

Dalam pada itu, para bebahu Kademangan Jerukgede serta Ki Bekel padukuhan sebelah tidak mempunyai pilihan lain. Mereka pun telah terlibat pula dalam pertempuran itu. Namun Ki Bekel dan para bebahu Kademangan Jerukgede bukan saja menjadi gelisah karena pertempuran yang semakin sengit itu, tetapi akibat dari peristiwa itu bagi padukuhannya dan bagi Kademangan Jerukgede.

Mereka tidak dapat ingkar bahwa Tanah Perdikan Sembojan adalah sebuah Tanah Perdikan yang kuat. Tanah Perdikan Sembojan memiliki sejumlah pengawal yang tidak kurang dari satu kesatuan prajurit yang berpengalaman. jika saja pada saat yang lain, dendam menyala di jantung Tanah Perdikan itu, maka Kademangan Jerukgede tidak akan dapat berbuat sesuatu.

Tetapi hal itu sebenarnya telah dipikirkan oleh Ki Demang Jerukgede yang juga terlibat dalam perdagangan gelap itu. Bukan saja salah seorang diantara pedagang gelap itu yang pernah menjanjikan perlindungan, tetapi ternyata bahwa seorang Senapati dari Madiun, yang memang mendapat tugas untuk mempersiapkan bahan makanan dan perbekalan, pernah berkunjung ke Kademangan Jerukgede. Senapati itulah yang telah menyatakan kesediaannya untuk mengirimkan perlindungan.

“Kami memerlukan bahan pangan itu. Karena itu, maka kami akan melindungi jalur arus bahan pangan itu” berkata Senapati yang pernah datang ke Kademangan Jerukgede itu.

Janji itulah yang kemudian menjadi pegangan Ki Demang Jerukgede sehingga ia berani melibatkan diri dalam perdagangan gelap itu bersama para bebahu dan beberapa orang bekel, terutama yang berbatasan dengan Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, pertempuran di perbatasan itu menjadi semakin sengit. Risang yang dengan cepat berhasil mendesak lawannya, kemudian harus menghadapi tiga orang lawan. Pedagang gelap yang terdesak itu telah memanggil dua orang pengikutnya untuk bersama-sama menghadapi anak muda yang ternyata adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Namun dengan demikian, maka tugas para bebahu pun menjadi semakin ringan. Mereka tidak lagi harus berhadapan dengan terlalu banyak orang. Apalagi ketika Sambi Wulung, Jati Wulung, Gandar dan Nyi Wiradana mulai mengurangi jumlah lawan. Beberapa orang pengikut dan bahkan beberapa orang diantara pedagang gelap itu telah terluka. Satu dua orang terpaksa menghentikan perlawanan, karena lukanya ternyata cukup parah, sehingga mereka harus berusaha untuk menahan darah yang terus mengalir.

Sementara itu, Risang sendiri telah berhasil mendesak ketiga orang lawannya. Meskipun harus dengan meningkatkan kemampuannya.

Para bebahu yang tidak lagi harus bertempur dengan lawan yang terlalu banyak, mulai mendesak lawan mereka pula. Meskipun ada juga satu dua diantara mereka yang terluka. Tetapi bebahu Tanah Perdikan Semboyan, sebagaimana para pengawalnya, memiliki kemampuan prajurit yang tangguh. Sebagian dari mereka sebelumnya adalah juga para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, maka para pedagang gelap serta beberapa orang pengikutnya bersama beberapa orang bebahu Jerukgede tidak dapat lagi mengingkari kenyataan. Betapapun mereka memeras kemampuan mereka dengan jumlah yang lebih banyak, namun akhirnya mereka telah terdesak dari medan.

Dalam keadaan yang demikian, maka orang yang dituakan oleh para pedagang gelap itu telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya dan kepada para pengikutnya untuk dengan cepat meninggalkan medan.

Demikianlah, maka para pedagang gelap itu  pun segera berusaha melarikan diri bersama para bebahu Jeruk gede. Dalam kegelapan malam, mereka telah memasuki lingkungan Jerukgede lebih dalam lagi untuk menjauhi perbatasan.

Ketika para bebahu Tanah Perdikan Sembojan akan mengejar mereka, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu hampir bersamaan telah mencegah mereka. Terutama Nyi Wiradana sendiri.

“Kita tidak perlu mengejar mereka sampai ke padukuhan-padukuhan di daerah Jerukgede. Dengan demikian, kedudukan kita akan menjadi lemah karena kita sudah melintasi batas meskipun kita punya alasan yang kuat” berkata Nyi Wiradana.

Risang pun sependapat dengan ibunya. Karena itu, maka ia pun segera memerintahkan orang-orang Tanah Perdikan kembali ke halaman rumah yang luas yang mempunyai pintu butulan menghadap ke perbatasan.

“Kita bawa kembali semua pedati. Yang sudah terlanjur memasuki daerah Jerukgede itu juga akan kita ambil kembali” berkata Risang.

Dua orang bebahu kemudian telah memasuki daerah Jerukgede untuk membawa kembali pedati yang berisi bahan pangan yang sudah terlanjur menyeberangi perbatasan.

Selain membawa pedati yang bermuatan bahan pangan itu, maka para bebahu Tanah Perdikan Sembojan itu juga membawa beberapa orang tawanan. Bahkan di-antara mereka adalah para pengikut pedagang-pedagang gelap itu terluka cukup parah.

Seorang diantara para tawanan itu adalah bebahu Kademangan Jerukgede. Sebenarnya Risang tidak ingin menahannya dan membiarkannya kembali ke Kademangan Jerukgede. Namun orang itu terluka agak parah, sehingga orang itu tidak dapat berjalan sendiri. Sementara itu, kawan-kawannya telah meninggalkannya di medan begitu saja.

“Kau dapat memilih” berkata Risang kepada bebahu itu, “jika kau ingin kembali ke Kademangan, kembalilah. Tetapi jika kau tidak dapat berjalan sendiri, kami tidak berkeberatan kau tinggal di Tanah Perdikan sampai kau dapat pulang sendiri.”

“Blariah aku beristirahat disini lebih dahulu” berkata orang itu.

“Kami tidak berkeberatan” jawab Risang, “tetapi bukan maksud kami menawanmu” jawab Risang.

“Aku mengerti” orang itu berdesis.

Risang pun kemudian telah memerintahkan para bebahu untuk membawa para tawanan dan orang-orang yang terluka ke padukuhan induk. Mereka yang tidak lagi dapat berjalan, telah dibawa dengan pedati yang masih tersisa di halaman rumah yang luas itu.

Sementara itu, para pemimpin Tanah Perdikan itu masih akan tinggal untuk berbicara dengan pemilik rumah itu. Seorang yang terhitung kaya di padukuhan itu.

Ketika Risang, Nyi Wiradana dan yang lain memanggil pemilik rumah itu untuk duduk bersama di pendapa, maka wajah orang itu menjadi pucat.

“Maaf Ki Sanepa bahwa kamilah yang telah mempersilahkan Ki Sanepa, bukan sebaliknya meskipun rumah ini adalah rumah Ki Sanepa.” berkata Nyi Wiradana.

“Akulah yang mohon ampun” sahut Ki Sanepa, “aku sudah merasa bersalah.”

“Nanti dulu” sahut jati Wulung, “jangan seperti sulung masuk kedalam api. Menyurukkan kepalanya seperti itu. Kita belum membicarakan persoalan yang gawat ini. Kita baru berbicara tentang unggah-ungguh.”

“Ya, ya, Ki Jati Wulung” sahut orang itu.

“Nah, sekarang duduklah dengan baik” berkata Risang, “kita akan berbincang dengan baik pula.”

“Aku mohon ampun” berkata orang itu pula tanpa menghiraukan penjelasan Risang.

Risang tidak mengulanginya lagi. Tetapi kemudian ia justru bertanya, “Apa yang sudah terjadi disini, Ki Sanepa?”

Ternyata Ki Sanepa tidak berusaha untuk ingkar, ia sadar bahwa tidak ada gunanya untuk berbohong. Karena itu, maka katanya kemudian, “Tempat ini telah menjadi penampungan bahan pangan yang akan disusupkan keluar Tanah Perdikan.”

“Kau sadar akan hal itu Ki Sanepa?” bertanya Nyi Wiradana.

“Kesadaran itu datang terlambat. Baru ketika tempat ini disergap, aku merasa betapa besar kesalahanku terhadap kampung halamanku ini.”

Risang yang mengangguk-angguk itu pun kemudian berkata, “Selama ini kami tidak dapat mengenali jejak Ki Sanepa. Namun akhirnya jejak itu dapat kami telusuri juga. Tetapi seperti Ki Sanepa, kami pun ternyata telah terlambat.”

“Tidak. Belum terlambat. Bahan pangan itu masih ada disini. Bukankah pedati-pedati itu dapat dihentikan di perbatasan dan kemudian dibawa kembali?”

“Kali ini memang belum terlambat, Ki Sanepa. Tetapi apakah usaha untuk menyusupkan bahan pangan baru dilakukan kali ini?” bertanya Risang.

Ki Sanepa tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

“Apakah Ki Sanepa juga pernah mendengar tentang dua orang keluarga kita yang terbunuh?” bertanya Risang pula.

Wajah Ki Sanepa tunduk semakin dalam. Sedangkan Risang masih bertanya, “Apakah Ki Sanepa juga pernah mendengar bahwa usaha yang kau lakukan ini telah menggoyahkan segi kecintaan anak-anak muda kepada kampung halaman mereka? Beberapa orang pengawal yang seharusnya menjaga agar usaha penyusupan ini tidak terjadi, justru telah terlibat didalamnya. Sehingga dengan demikian maka usaha untuk menelusuri jejak Ki Sanepa dan para pedagang gelap itu menjadi sangat sulit. Segala usaha untuk menjebak para pedagang gelap itu selalu gagal, karena para pengawal yang harus melakukannya sudah terbius oleh keping-keping uang.”

Tubuh Ki Sanepa menjadi bergetar. Kata-kata Risang itu bagaikan duri-duri tajam yang menusuk jantungnya.

“Ki Sanepa” berkata Risang selanjutnya, “kami terpaksa untuk sementara menguasai rumah Ki Sanepa. Pada saatnya tentu akan kami kembalikan. Kami masih memerlukan banyak keterangan tentang perdagangan gelap ini. Sementara itu, kami akan membawa Ki Sanepa ke padukuhan induk dan untuk sementara Ki Sanepà akan berada disana.”

“Aku mohon ampun. Aku memang bersalah.”

“Bersiaplah Ki Sanepa, mungkin ada yang akan kau bawa. Sebaiknya kau munta diri kepada keluargamu.”

Ki Sanepa memang tidak dapat berbuat lain kecuali menjalankan perintah itu.

Dihari berikutnya, maka Tanah Perdikan Sembojan menjadi sibuk. Atas nama Kepala Tanah Perdikan Sembojan, Gandar memanggil para pengawal yang telah terlibat dalam perdagangan gelap itu untuk menyerahkan dirinya.

“Kami sudah mengetahui semua orang yang teriibat dalam perdagangan gelap itu. Namun kami masih belum akan melakukan penangkapan. Kami masih memberikan kesempatan kepada mereka yang terlibat untuk menyatakan diri dengan sukarela. Namun jika batas waktu sepekan sudah dilampaui, maka terhadap mereka yang tidak mentaati perintah ini akan diambil tindakan tegas.” berkata Gandar kepada para pemimpin kelompok pengawal Tanah Perdikan Sembojan, terutama yang bertugas disisi Utara Tanah Perdikan itu.

Para pengawal itu memang tidak mempunyai pilihan tain. Satu demi satu mereka datang untuk menyerahkan diri mereka. Dengan menyesal mereka mengaku, bahwa mereka telah terlibat dalam perdagangan gelap dengan orang-orang Kademangan Jerukgede.

Gandar yang bertugas untuk menerima penyerahan itu dibantu oleh beberapa bebahu padukuhan, tidak menahan mereka. Mereka diberi kesempatan untuk tetap berada dirumah mereka masing-masing. Namun Gandar memerintahkan agar mereka tidak meninggalkan padukuhan mereka.

“Setiap saat kalian kami perlukan untuk memberikan keterangan dan kesaksian” berkata Gandar kepada mereka.

Bahkan pengawal yang sengaja ditanam Gandar diantara mereka yang terlibat itu pun telah datang pula untuk menyerahkan dirinya.

Tugas para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan selanjutnya adalah mencari keterangan tentang perdagangan gelap itu dari orang-orang yang dapat ditangkap.

Bebahu Kademangan Jerukgede yang tertangkap itu ternyata tidak mempersulit para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Ia menjawab segala macam pertanyaan sesuai dengan yang diketahuinya. Dari bebahu itu pula, Risang mengetahui, bahwa memang sudah ada hubungan antara Jerukgede dan beberapa pedagang yang memanfaatkan keadaan yang panas antara Madiun dan Mataram. Kebutuhan bahan pangan yang sangat banyak bagi prajurit-prajurit yang bertimbun di Madiun memberi kesempatan kepada mereka untuk menjaring keuntungan yang sebesar-besarnya.

Namun satu hal yang mendapat perhatian khusus dari para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan adalah keterangan bebahu Jerukgede itu, bahwa jika terjadi persoalan antara Jerukgede dan Tanah Perdikan Sembojan, maka sekelompok perajurit Madiun akan bersedia melindungi Kademangan Jerukgede.

“Janji ituiah yang agaknya membuat Ki Demang dan para bebahu Jerukgede terjerumus kedalam perdagangan gelap itu.” berkata Risang kepada ibunya yang mengikuti setiap perkembangan keadaan dengan saksama.

“Dengan demikian, kau harus semakin berhati-hati Risang. Persoalan ini akan dapat berkembang menjadi Persoalan yang gawat. Jika kau memandang perlu, maka kau dapat melaporkan persoalan ini kepada para pemimpin di Pajang. Sebab persoalannya bukan sekedar perdagangan gelap, tetapi sudah menyangkut persoalan dalam hubungannya dengan permusuhan antara Pajang dan Madiun.” berkata ibunya.

“Tetapi aku akan mencoba mengatasi persoalan ini ibu. Baru jika persoalannya benar-benar berkembang menjadi semakin gawat, aku akan melaporkannya ke Pajang.” jawab Risang.

“Aku setuju Risang. Tetapi sejak semula kau harus menganggap bahwa persoalannya adalah persoalan yang gawat. Karena itu, maka kau harus menanggapinya dengan sungguh-sungguh.”

“Ya ibu. Nampaknya persoalannya memang tidak akan berhenti sampai sekian.” jawab Risang.

Demikianlah, maka Risang justru semakin berhati-hati menghadapi Kademangan Jerukgede. Beberapa hari setelah usaha penyusupan itu digagalkan, maka Ki Demang di Jerukgede sendiri telah datang menemui Risang untuk membicarakan tentang bebahunya yang ada di Tanah Perdikan.

“Kau culik bebahu Kademangan kami” berkata Ki Demang.

“Aku mohon agar Ki Demang mau melihat kenyataan” sahut Risang.

“Kenyataan yang mana?” bertanya Ki Demang.

“Bebahu Jerukgede itu akan dapat berceritera, kenapa bebahu itu akan berada disini.” jawab Risang.

“Kau tentu sudah mengancamnya, sehingga ia akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan jawaban sebagaimana kau kehendaki agar kami tidak dapat melihat apa yang sebenarnya telah terjadi disini.”

“Seandainya kau tetap tidak percaya kepada bebahumu sendiri, itu adalah persoalanmu. Tetapi seandainya ia takut ancamanmu, maka nanti, jika orang itu sudah bertada kembali di rumahnya, bertanyalah kepadanya.”

“la tentu kena pengaruh sihirmu atau pengaruh ilmu iblismu. Kau tentu juga mengancamnya, jika ia akan mengatakan yang sebenarnya.” berkata Ki Demang.

“Ki Demang” berkata Risang dengan nada berat, “kenapa Ki Demang menjadi kasar? Kita sudah lama saling mengenal. Kita sudah lama berhubungan.”

“Kaulah yang lebih dahulu bersikap kasar. Kau culik bebahuku dari lingkungan Kademanganku sendiri. Bukankah itu perbuatan kasar?”

“Kau lihat sendiri hal itu?” bertanya Risang.

“Aku punya saksi” jawab Ki Demang.

“Aku juga punya saksi. Jika saksi Ki Demang penghuni se Kademangan, maka saksiku penghuni se Tanah Perdikan yang jumlahnya lebih banyak.”

“Aku tidak akan berbicara tentang banyak hal. Serahkan kembaii bebahuku itu.”

“Tanpa kau minta, aku sudah melepaskannya sejak ia berada di Tanah Perdikan ini. Tetapi karena luka-lukanya, maka ia minta lukanya disembuhkan lebih dahulu.”

“Omong kosong. Apapun yang kau katakan, aku minta orangku itu.”

Risang menarik natas panjang, ia berusaha untuk mengendapkan perasaannya yang bergejolak. Namun bagaimanapun juga sikap Ki Demang itu tidak dapat diterimanya.

Dengan nada tinggi Risang bertanya, “Ki Demang. Yang Ki Demang kehendaki, bebahu Kademangan Jerukgede itu saja atau semua orang yang telah aku tawan disini termasuk para pedagang gelap itu beserta orang-orangnya?”

Ki Demang justru menjadi ragu-ragu. Dipandanginya wajah Risang yang nampak bersungguh-sungguh.

Tetapi Ki Demang tidak segera mengerti arti tawaran Risang itu.

“Apa maksudmu dengan tawaranmu itu?” bertanya Ki Demang kemudian dengan ragu-ragu.

Dengan tegas Risang pun kemudian berkata, “Ki Demang. Tidak seorang pun yang akan aku lepaskan sebelum persoalan ini benar-benar selesai.”

Wajah Ki Demang menjadi tegang, ia melihat sikap Risang yang tiba-tiba berubah. Apalagi sorot mata Risang itu pun seakan-akan telah memancarkan cahaya api kemarahan.

Namun Ki Demang tidak ingin menunjukkan getar didadanya yang menjadi semakin cepat. Karena itu Ki Demang itu masih berkata dengan tantang, “Bukankah kau mengatakan bahwa tanpa aku minta kau akan melepaskannya?, Nah, sekarang serahkan orang itu kepadaku. Aku hanya memerlukan bebahuku itu.”

“Tidak. Aku berubah pikiran. Aku tidak akan melepaskan seorang pun termasuk bebahumu itu. ia sudah terlibat dalam perdagangan gelap. Semua pihak yang tersangkut harus mempertanggung-jawabkannya.” berkata Risang dengan suara bergetar.

“Jadi haruskah perkataanmu tidak dipercaya?”

“Setiap orang dapat merubah pikirannya. Jika ia melihat langkah yang lebih baik, maka ia akan merubah langkahnya yang terdahuiu.”

Jantung Ki Demang terasa menjadi panas. Sikapnya justru membuat hati Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih muda itu membatu. Usahanya untuk menggertak anak muda itu, justru berakibat seba;iknya.

Ki Demang memang agak menyesai. Jika ia datang dan berbicara dengan baik, mungkin akibatnya akan iain. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Harga diri Ki Demang itu tidak akan dikorbankannya. Karena itu maka katanya, “Anak muda. Jika kau tidak menyerahkan bebahu Kademanganku itu, kau akan menyesal.”

“Apakah K i Demang mengancam?” bertanya Risang.

“Ya. Aku memang mengancam.” jawab Ki Demang.  ,

“Jika Ki Demang akan memaksakan kehendak Ki Demang untuk mengambil bebahu itu dengan ancaman-ancaman, maka itu tidak ada gunanya. Ki Demang sudah mengenal Tanah Perdikan ini dengan baik, sebagaimana aku mengenal Kademangan Jerukgede dengan baik.”

“Tidak. Kau mengenai Kademangan Jerukgede hanya pada permukaannya saja. Kau tidak mengenai Jerukgede dalam arti yang sesungguhnya. Kau tidak melihat apa yang tersimpan didalamnya.”

“Aku melihatnya dengan jelas Ki Demang. Aku melihat kekuatan sekelompok prajurit yang akan melindungi Kademangan Jerukgede. Tetapi itu tidak banyak berarti.”

Wajah Ki Demang menjadi merah. Tetapi ia masih berusaha mengguncang ketahanan hati Risang, “Aku akan membawa pulang bebahu itu.”

Namun jawaban Risang masih tetap, “Apakah Ki Demang masih melihat gunanya dengan permintaan seperti itu?”

Dada Ki Demang terasa menjadi semakin panas. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu, maka ia pun segera minta diri. Meskipun demikin ia masih tetap mengancam, “Hati-hatilah anak muda. Tanah Perdikan Sembojan ini tidak dapat kau anggap sebagai alat untuk mencari kepuasan bagi dirimu sendiri.”

“Itu akan lebih baik daripada memberikan kepuasan kepadamu, Ki Demang.” jawab Risang.

Ki Demang menggeretakkan giginya. Namun ia tidak berkata apa-apa lagi.

Namun Risang lah yang berkata, “Tetapi ingat Ki Demang, jika persoalannya menyangkut Ki Demang, maka persoalan diantara kita masih belum selesai.”

Ki Demang memang tidak menjawab. Tetapi jantungnya rasa-rasanya akan pecah. Anak muda itu benar-benar keras kepala, ia sama sekali tidak dapat digetarkan oleh ancaman-ancaman apapun juga.

Ki Demang yang gagal menakut-nakuti Risang itu, benar-benar menjadi marah,  ia menganggap bahwa waktunya telah datang untuk menagih janji, agar Kademangan Jerukgede mendapat perlindungan.

Karena itu, maka Ki Demang itu telah memerintahkan dua orang bebahunya untuk menghubungi Senapati Madiun yang telah menjanjikan perlindungan itu.

Sementara itu, Risang pun menyadari, bahwa tindakannya itu akan dapat mempercepat keterlibatan para prajurit Madiun. Tetapi Risang memang tidak mempunyai pilihan lain.

Meskipun demikian, ibunya telah berkata kepadanya, “Seharusnya kau lepaskan bebahu Jerukgede itu.”

“Sebenarnya aku memang berniat demikian ibu. Tetapi sikap Demang itu sangat menyakitkan hati, sehingga aku telah membatalkannya.”

Nyi Wiradana menarik natas dalam-dalam. Anaknya memang masih muda, sehingga keputusan-keputusannya masih sangat dipengaruhi oeh gejolak perasaannya.

Tetapi Nyi Wiradana tidak langsung menegurnya, agar anaknya tidak kecewa. Jika Nyi Wiradana terlalu sering menyalahkannya, maka Risang akhirnya akan menjadi selalu ragu-ragu untuk mengambil keputusan.

Meskipun demikian, Nyi Wiradana pun memperingatkan anaknya, dengan nada yang lunak, “Baiklah Risang. Tetapi berhati-hatilah. Setiap saat kita akan dapat terlibat dalam permusuhan dengan Kademangan Kleringan. Tetapi bukan hanya itu, karena di Kademangan Kleringan akan banyak dihuni oleh orang asing.”

“Orang asing?” bertanya Risang.

“Ya. Prajurit-prajurit dari Madiun. Mereka berkepentingan untuk mendapatkan sumber bahan pangan yang sangat dibutuhkan bagi ribuan prajurit yang ada di Madiun. Sementara daerah Selatan yang subur ini akan dapat menjadi sumber bahan pangan itu.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan . bersiap menghadapi kemungkinan buruk itu.”

“Jika keadaan menjadi semakin gawat, maka kau memang harus memberikan laporan ke Pajang” berkata ibunya, “bukan karena kita tidak memiliki kemampuan untuk metindungi diri sendiri, tetapi laporan itu perlu bagi Pajang untuk membuat penilaian menyeluruh atas pertentangan yang telah terjadi antara Mataram dan Madiun. Juga penilaian Pajang atas beberapa daerah yang nampaknya telah meninggalkan kesetiaannya kepada Pajang karena gemerincing keping-keping uang.”

“Baik ibu. Pada saat yang tepat, aku akan pergi ke Pajang.” jawab Risang.

Dengan demikian, maka Risang pun semakin meningkatkan kesiagaannya. ia mulai memanggil dan memeriksa para pengawal yang teriibat. Dalam keadaan yang semakin gawat, keutuhan dan kesatuan sikap para pengawal sangat dibutuhkan. Demikian pula kesediaan mereka untuk mematuhi setiap paugeran yang berlaku.

Tanpa ragu-ragu Risang telah menjatuhkan hukuman bagi mereka yang bersalah. Risang sadar, bahwa jika ia tidak bertindak demikian maka kewibawaannya akan terusik.

Dihari-hari berikutnya, maka Risang telah mempersiapkan para pengawal Tanah Perdikan untuk tugas-tugas yang lebih berat. Kepada para pengawal Risang mengatakan, meskipun ada beberapa orang pengawal yang telah menodai nama baik pengawal Tanah Perdikan Sembojan, namun kepercayaan Risang kepada para pengawal sama sekali tidak terpengaruh.

Dalam pada itu, selagi Risang disibukkan oleh tingkah laku para pedagang gelap, maka di Pajang Ki Rangga Dipayuda telah melihat perkembangan hubungan anak gadisnya dengan Kasadha sebagaimana diharapkannya. Nampaknya Riris mulai memper-hatikan Kasadha yang sering datang kerumahnya. Sekali-sekali bersama ayahnya, namun kadang-kadang Kasadha datang sendiri.

Jangkung lah yang justru menjadi murung melihat perkembangan hubungan antara adiknya dan Ki Lurah Kasadha itu. Setiap kali ia membayangkan betapa kecewanya Risang jika ia mengetahuinya.

Tetapi Jangkung memang tidak dapat berbuat sesuatu. Yang dihadapi adalah satu kenyataan, bahwa adiknya nampaknya menjadi semakin dekat dengan Kasadha yang memang lebih sering datang ke rumahnya daripada Risang yang jauh.

Ki Rangga Dipayuda menjadi semakin berpengharapan, agar anaknya yang sudah dewasa sepenuhnya itu akan segera dapat mengakhiri masa kesendiriannya dengan seorang prajurit muda yang memang diinginkannya.

Jika Ki Rangga memilih Kasadha, bukan berarti bahwa Ki Rangga membenci Risang. Risang bagi Ki Rangga juga dianggapnya seorang anak muda yang baik. Tetapi diantara yang baik itu, ia memang hanya dapat memilih seorang saja. Dan yang seorang itu adalah Kasadha.

Dari hari ke hari, hubungan Kasadha dan Riris memang menjadi semakin rapat. Pengenalan Riris terhadap ayahnya yang juga seorang prajurit, rasa-rasanya dapat dikenalinya pula pada Kasadha.

Dalam pada itu, ibu Riris pun bersikap sangat baik kepada Kasadha. Kadang-kadang Jangkung menjadi heran, bahwa apa yang dilakukan ibunya terhadap Kasadha, melampaui perlakuan ibunya terhadap dirinya.

Namun dalam kesendiriannya, Jangkung memang sering menilai dirinya sendiri. Ayah dan ibunya agaknya menginginkan salah seorang dari keturunannya dapat meneruskan pengabdian Ki Rangga dibidang keprajuritan. Jika ia sendiri tidak menjadi seorang prajurit, sedang Riris adalah seorang perempuan, maka kehadiran seorang prajurit muda didalam keluarganya tentu diterimanya dengan sepenuh hati.

Sementara itu, Kasadha sendiri masih belum menyampaikan persoalan yang tumbuh dan berkembang dihatinya itu kepada ibunya. Tetapi beberapa kali Kasadha sudah mengatakannya kepada gurunya. Setiap kali gurunya itu menganjurkan kepadanya, untuk segera melamar gadis itu.

“Kau bukan kanak-kanak lagi” berkata gurunya, “kau pun sudah mempunyai pegangan bagi hidup keluarga yang akan kau bangunkan kelak.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Tetapi apakah saatnya tepat sekarang, guru. Sebagai seorang prajurit, aku berada dalam kesiagaan tertinggi, justru karena suasana yang panas dalam hubungan antara Mataram termasuk Pajang dengan Madiun.”

“Kapan saja pernikahan itu dapat saja dilakukan. Sebelum atau setelah perang terjadi. Tetapi sebaiknya, segala sesuatunya menjadi jelas, jika kau sudah melamarnya, maka segala rangkaiannya dapat ditentukan kemudian. Misalnya setelah perang selesai.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berdesis, “Belum tentu aku dapat keluar dari perang yang tentu akan berlangsung dengan sengitnya. Jika hal itu terjadi, bukankah hati gadis itu akan tersiksa, ia akan menjadi janda sebelum melakukan pernikahan.”

“Jangan berpikir terlalu jauh, Kasadha. Bukankah kau yakin, bahwa batas hidupmu itu akan dapat terjadi dimana saja? Di peperangan, dirumah atau di barakmu?”

Kasadha mengangguk-anggu. Dengan nada rendah ia berdesis, “Ya, guru.”

“Nah, jika demikian, maka persoalan yang satu itu harus kau singkirkan. Kau harus bersandar kepada Sumber Hidupmu.” berkata gurunya pula.

Kasadha memandang gurunya dengan penuh keraguan. Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi, apakah sebaiknya aku melamar gadis itu?”

“Ya. Menurut pendapatku, itu adalah yang terbaik.”

Kasadha menarik natas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bertanya pula, “Guru. Jika aku benar-benar ingin melamarnya, siapakah yang harus melakukannya? Aku sendiri atau guru?”

“Kasadha” desis gurunya, “sebaiknya kau penuhi adat yang berlaku. Biarlah orang tuamu datang melamar gadis itu.”

“Ibu maksud guru?” bertanya Kasadha.

“Ya. Kau harus menemui ibumu dan minta agar ibumu datang untuk melamar gadis itu. Bukankah demikian adat yang berlaku?”

“Tetapi tidak harus ibu sendiri. Maksudku, tidak harus orang tua itu sendiri yang datang. Ibu dapat minta toiong kepada guru, misalnya.”

“Itu memang dapat saja dilakukan. Tetapi bagaimana juga, hal itu dilakukan atas-nama orang tuamu.”

Kasadha menundukkan kepalanya. Suaranya merendah dan bahkan hampir tidak terdengar, “Guru. Guru mengenal orang tuaku dengan baik. Apa kata gadis itu jika nada suatu saat ia mengerti apa yang pernah ditakutkan oteh ibuku.”

“Kau tidak boleh mengingkari kenyataan itu, Kasadha. Apa yang pernah terjadi dengan ibumu itu kini sudah tewat. Ibumu sekarang adatah seorang petani yang baik. Ia hidup rukun dan damai dengan tetangga-tetangga-uva bersama bibimu.”

“Tetapi apakah ibu dapat menghapus tingkah lakunya dimasa yang lewat itu?” bertanya Kasadha.

“Yang dihadapi oleh orang tua gadis itu adalah orang tuamu sekarang. Bukan orang tuamu dimasa lampau itu.”

Kasadha terdiam. Tetapi ia masih selalu dibayangi oteh keragu-raguan. Kasadha tidak dapat mengkesampingkan begitu saja Risang, yang menurut pengtihatannya juga tertarik kepada Riris. Jika pengamatannya itu benar, dan kemudian Risang menjadi kecewa dan bahkan marah dan kehitangan kendali akalnya, apakah tidak mungkin Risang akan mengungkapkan noda-noda kehidupan ketuarganya yang tetah tama dikuburnya itu.

Tetapi Kasadha masih betum dapat mengatakan hat itu kepada gurunya.

Yang kemudian diucapkannya adatah, “Baiklah guru. Aku akan memikirkannya dengan bersungguh-sungguh.”

“Pergilah menemui ibumu. Kau dapat membicarakan hal ini. Bagaimanapun juga, kau tidak akan dapat terus-menerus dicengkam oleh kegelisahan, keraguan dan bayangan-bayangan yang kau bangunkan didalam angan-anganmu sendiri.”

Kasadha menundukkan kepalanya, ia memang harus mengatakannya kepada ibunya dan mohon pertimbangan, tetapi sekati tagi ia terbentur pada sikap bibinya yang ‘dah pernah menyebut seorang gadis yang diharapkan akan dapat menjadi sisihannya.

“Jika bibi kecewa” berkata Kasadha didalam hati ternyata langkah yang ditempuhnya bukan langkah yang manis dijalan yang lapang, halus dan datar. Tetapi di hadapannya terbentang jatan yang terjal, berbatu-batu d dan sempit.

“Tetapi apakah aku harus melangkah surut?” pertanyaan itu telah mengetuk hatinya pula.

“Sudahtah, beristirahatlah Kasadha” berkata gurunya, “mudah-mudahan kau segera mendapat pijakan yang kuat. Meskipun secara lahiriah pijakan itu sudah kau miliki, tetapi secara jiwani kau masih harus membangunkannya.”

“Ya, guru” Kasadha mengangguk. Namun Kasadha masih saja merenungi bayangan-bayangan yang gelap yang membentang dihadapannya. Sekilas membayang wajah Risang, namun kemudian membayang wajah bibinya yang penuh dengan harapan-harapan.

Jika kemudian malam turun, Kasadha hanya dapat berangan-angan dipembaringan. Ditatapnya rusuk-rusuk atap biliknya. Sekali-sekali terdengar ia berdesah, sementara pemimpin kelompok didalam pasukannya yang sering diajaknya berbincang tentang hidup dan kehidupan sudah tidak ada lagi.

Disaat-saat Kasadha digelisahkan oleh gejolak perasaannya terhadap Riris, perasaan rendah diri dan kecemasan atas masa iampau ibunya, maka Risang masih tetap digelisahkan oleh sikap Ki Demang Jerukgede. Bahwa jalur perdagangan gelap yang dilakukan oleh para pedagang gelap bersamai Ki Demang Jerukgede serta bebahunya itu ternyata telah menimbulkan persoalan yang terhitung gawat bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Risang terkejut ketika ia harus menghadapi kenyataan, bahwa perdagangan itu tidak saja terjadi di Kademangan Jerukgede. Tetapi juga beberapa Kademangan sebelah menyebelah.

“Demikian tipiskah kesetiaan mereka terhadap Pajang, sehingga dalam keadaan yang gawat ini mereka tidak lagi menghiraukan apa yang sedang mereka lakukan?” geram Risang ketika ia bersama-sama para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan membicarakan tentang perkembangan hubungan Tanah Perdikan itu dengan beberapa Kademangan di sekitarnya.

“Beberapa Kademangan masih membuka perdagangan hasil bumi. Tetapi karena hasil bumi di Kademangan mereka sendiri tidak begitu banyak sehingga tidak mencukupi permintaan, maka mereka telah menembus dinding Tanah Perdikan ini dengan cara yang tidak wajar.” berkata Gandar.

“Kita harus cepat bertindak. Jangan sampai terjadi lagi peristiwa sebagaimana terjadi disisi Utara Tanah Perdikan ini” berkata Risang.

“Aku telah berusaha” berkata Gandar, “aku telah menghubungi para pemimpin pengawal di perbatasan.”

Risang mengangguk-angguk. Sementara Gandar berkata selanjutnya, “Aku telah memberitahukan kepada mereka, apa yang terjadi dengan beberapa orang pengawal di sisi Utara Tanah Perdikan ini, sehingga menimbulkan kerugian yang besar bagi Tanah Perdikan. Setidak-tidaknya harga bahan pangan menjadi sulit dikendalikan.”

“Pengalaman pahit itu akan dapat menjadi pelajaran bagi kita semuanya” desis Nyi Wiradana, “justru karena itu, maka kita harus menjadi lebih berhati-hati.”

“Namun akibat yang lain dari pemutusan perdagangan itu, maka kita akan dapat tersudut di daerah ini, ibu” berkata Risang, “jika beberapa Kademangan di sekitar kita telah diracuni dengan cara yang sama sebagaimana terjadi di Kademangan Kleringan, maka persoalan !ain akan kita hadapi.”

Ibunya mengangguk-angguk. Perdagangan yang terjadi antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Kademangan-kademangan disekitarnya memang akan dapat terganggu. Namun demikian, Tanah Perdikan Sembojan tidak boleh menyerah dan hanyut kedalam perdagangan yang dapat menyulitkan kehidupan rakyat Tanah Perdikan itu sendiri, karena Tanah Perdikan akan menjadi kekurangan beras.

Namun pengaruh perdagangan dengan pedagang-pedagang gelap itu pun mulai menekan Tanah Perdikan Sembojan. Beberapa Kademangan yang terpengaruh oleh para pedagang gelap, mulai menyudutkan. Tanah Perdikan Sembojan di bidang perdagangan. Mereka mulai mempersutit arus perdagangan dengan Tanah Perdikan. Beberapa orang pedagang yang terbiasa membeli hasil kerajinan tangan dari Tanah Perdikan Sembojan mulai mengurangi jumlah pembeliannya. Kemudian perdagangan ternak dan telur. Bahkan gula kelapa.

“Sebelum Tanah Perdikan Sembojan membuka perdagangan bahan hasii buminya, maka perdagangan yang lain akan tetap dipersulit.” berkata Demang Jerukgede.

Menghadapi sikap itu, Risang memang menjadi sedikit cemas. Tetapi keputusan para pemimpin Tanah Perdikan adalah, tidak menyerah oleh tekanan-tekanan yang demikian. Jika ia membuka perdagangan bebas atas hasil bumi, maka itu akan berarti Sembojan telah berkhianat terhadap Pajang.

Untuk menentukan sikap bagi seluruh rakyat Sembojan, maka Risang telah memanggil para Demang yang tinggal dan mendapat limpahan kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pertemuan itu, Risang tetah memantapkan sikapnya untuk tidak bekerja bersama dengan para pedagang gelap.

Para Demang yang termasuk didalam wiiayah Tanah Perdikan Sembojan, ternyata dengan bulat mendukung kebijaksanaan Risang yang menjadi bagian dari ujud kesetiaannya kepada Pajang.

“Kita tidak akan dapat digetarkan oteh ancaman-ancaman dari tuar Tanah Perdikan” berkata satah seorang dari mereka, “bahkan seandainya semua jenis perdagangan berhenti, Tanah Perdikan tidak akan tergoyahkan. Kita dapat memenuhi segala kebutuhan kita sendiri, meskipun untuk sementara kita tidak dapat menjual kelebihan dari hasii kerajinan, ternak dan gula kelapa ketuar. Tetapi pengaruhnya tidak akan begitu besar bagi kesejahteraan Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan.”

Kesempatan para Demang itu membuat Risang semakin berketetapan hati. Namun kepada mereka Risang pun berkata, “Yang kita hadapi bukan saja sekedar Kademangan Jerukgede, Kademangan Jati Arang dan kademangan-kademangan lain yang telah kehilangan pegangan, tetapi di tengah-tengah mereka telah hadir pula kekuatan-kekuatan para pedagang gelap yang berhasil mempengaruhi beberapa orang Senapati Madiun dan melibatkannya dalam perdagangan gelap itu.”

Dengan demikian, maka para bebahu Tanah Perdikan itu pun menyadari, bahwa semua kekuatan, baik kekuatan kewadagan, kekuatan kepemimpinan serta kekuatan perdagangan harus dikerahkan sebaik-baiknya untuk melawan tekanan-tekanan dari beberapa Kademangan yang ternyata telah kehilangan pegangan.

Namun tidak semua Kademangan diseputar Tanah Perdikan memusuhi Tanah Perdikan Sembojan karena pengaruh para pedagang gelap itu, sehingga dengan demikian, jalur perdagangan keluar tidak mutlak terputus.

Kademangan Kedungjero ternyata tidak terpengaruh oleh perdagangan gelap yang menghisap bahan pangan sebanyak-banyaknya. Kademangan Kedungjero memang bukan Kademangan yang terlalu subur dengan bahan pangan, sehingga luput dari perhatian para pedagang gelap itu. Bahkan Kademangan Kedungjero menggantungkan sebagian kebutuhan bahan pangannya dari Tanah Perdikan Sembojan.

Menghadapi keadaan itu, ternyata Risang masih akan berusaha mengatasinya sendiri. Ketika ibunya bertanya kepadanya, apakah ia akan melaporkannya kepada Pajang, maka Risang itu pun menjawab, “Ibu, aku masih mempunyai keyakinan untuk dapat mengatasinya sendiri. Seperti pendapat para Demang di lingkungan Tanah Perdikan bahwa kami tidak menggantungkan diri kepada siapapun. Kami dapat berdiri sendiri, mencukupi kebutuhan sendiri dan terutma kami akan tetap berdiri sebagai bagian dari keutuhan kuasa Pajang didalam hngkungan kesatuan Mataram.”

“Baiklah Risang. Jika kau akan mengatasi persoalan ini, itu tentu lebih baik. Jika segala sesuatunya kita menggantungkan diri kepada Pajang, maka kita tidak akan pernah menjadi Tanah Perdikan yang dewasa. Kecuali jika dengan terbuka Madiun menyerang Tanah Perdikan, maka sudah tentu kita akan minta Pajang melibatkan dirinya.”

“Menurut perhitunganku, Madiun tentu tidak akan dapat mengirimkan bantuan prajurit terlalu banyak kepada Kademangan Jerukgede, karena Madiun terikat pada persiapan melawan Mataram. Jika-prajurit-prajuritnya ada diluar Madiun sendiri, maka jika kekuatan Mataram dan Pajang menyerangnya, maka Madiun akan mengalami kesulitan.

“Baiklah. Namun dengan demikian maka kau harus mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan Tanah Perdikan ini.” desis Nyi Wiradana, “kemudian kau harus mengatasi kekuatan Kademangan-kademangan yang sudah mengingkari kesetiaannya kepada Pajang yang tentu akan dibantu oleh kekuatan prajurit Madiun.”

“Ya ibu” jawab Risang.

“Juga hambatan di bidang perdagangan” berkata ibunya pula.

“Ya, ibu” jawab Risang, “juga tentang kewibawaan.”

“Kau memang harus selalu menjaganya” berkata ibunya.

Risang mengangguk-angguk. Ia sudah bertekad bulat untuk menyelesaikan persoalannya dengan beberapa Kademangan yang sudah terbius oleh gemerincingnya keping-keping uang para pedagang bahan pangan yang justru mengambil kesempatan dalam gejolak yang terjadi antara Mataram dan Madiun.

Namun ketika Kiai Badra mendengar persoalan itu, maka ia pun menasehati Risang untuk memberitahukan persoalan yang timbul itu ke Pajang.

“Kau tidak akan menggantungkan dirimu kepada Pajang. Kau akan menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan ini sendiri sebagai satu lingkungan yang dewasa. Tetapi persoalan yang kau hadapi ini sebaiknya memang diketahui oleh Pajang. Dengan demikian, maka tindakan-tindakan yang kau ambil tidak akan mengejutkan para pemimpin di Pajang.” berkata Kiai Badra.

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kek. Aku akan minta paman Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke Pajang. Mereka akan dapat menghubungi Kasadha yang akan membawa laporannya kepada para pemimpin keprajuritan yang lebih tinggi.”

Akhirnya Risang memang minta agar Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke Pajang, menemui Kasadha untuk menyalurkan laporannya tentang keadaan di Tanah Perdikan Sembojan.

“Kami masih berusaha untuk menyelesaikan persoalan ini sendiri” pesan Risang, “kecuaii jika Madiun tangsung men-campuri persoalan ini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung itu pun mengangguk mengiakan. Mereka sendiri memang sependapat dengan petunjuk Kiai Badra itu.

Namun Risang masih juga berpesan, “Tetapi paman berdua harus segera kembaii. Kita memerlukan kehadiran paman berdua di Tanah Perdikan ini.

Demikianlah, dihari berikutnya, menjelang tajar, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memacu kuda mereka menuju ke Pajang untuk menemui Kasadha. Sementara itu, di Tanah Perikan, Risang telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi perkembangan keadaan yang nampaknya memang menjadi semakin suram.

Namun dalam keadaan yang demikian, Risang justru masih belum melepaskan bebahu Jerukgede yang berada di Tanah Perdikan. Yang semula berada di Tanah Perdikan karena keadaan wadagnya, namun yang kemudian justru karena persoalan yang timbul antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Kademangan Jerukgede.

Tetapi bebahu yang masih tertahan di Tanah Perdikan itu sendiri justru dapat mengerti sikap Risang. Apalagi ia diperlakukan dengan baik di Tanah Perdikan. Bebahu itu pun mengerti sepenuhnya sikap Risang yang tidak mengijinkan bahan pangan dari Tanah Perdikan Sembojan itu mengaiir keluar.

Sementara itu Risang, masih juga memeriksa para pengawal yang terlibat kedalam perdagangan gelap itu. Risang dengan teliti meneiusuri kematian kedua orang Tanah Perdikan yang terbunuh dalam hubungannya dengan perdagangan gelap itu.

“Kami harus menemukan orang yang bersalah dan menghukumnya” berkata Risang.

Dalam pada itu, nampaknya para pedagang gelap itu telah mendendam kepada Risang yang bersikap keras terhadap mereka. Bersama para bebahu dari Jerukgede dan Jati Arang, para pedagang gelap itu masih saja berusaha untuk mempengaruhi, membujuk dan menakut-nakuti rakyat Tanah Perdikan, terutama yang tinggal didekat perbatasan untuk menjual bahan pangan kepada mereka.

Memang masih ada saja orang-orang Tanah Perdikan yang tergelitik untuk menerima uang lebih banyak dari hasil penjualan bahan pangan dilingkungan Tanah Perdikan sendiri. Namun para pengawal Tanah Perdikan yang namanya telah dinodai oleh beberapa orang kawan mereka sendiri, menjadi lebih berhati-hati. Mereka melakukan pengawasan lebih ketat lagi terhadap lalu lintas perdagangan terutama keluar dari lingkungan Tanah Perdikan.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menjalankan perintah Risang dengan baik. Demikian mereka menemui Kasadha, maka mereka pun segera minta diri.

“Tunggu” cegah Kasadha, “kita akan bertemu dan berbicara dengan Ki Rangga Dipayuda.”

“Apakah tidak cukup angger Kasadha saja yang menyampaikannya?” bertanya Sambi Wulung.

“Sebaiknya paman berdua bertemu  langsung dengan Ki Rangga” jawab Kasadha.

Ketika hal itu kemudian disampaikan kepada Ki Rangga, maka Ki Rangga itu pun bertanya, “Apakah maksud Risang, kami harus mengirimkan bantuan beberapa kelompok prajurit ke Tanah Perdikan untuk mengatasinya?”

“Perintahnya belum sampai, sekian, Ki Rangga. Kami hanya diperintahkan untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan itu. Sementara angger Risang masih berusaha untuk menyeiesaikan persoalan ini dengan kemampuan yang ada di Tanah Perdikan sendiri, kecuali jika Madiun langsung ikut campur dalam persoalan ini atau Tanah Perdikan sudah tidak mampu lagi mengatasinya.” jawab Sambi Wulung.

Ki Rangga mengangguk-angguk. Namun Ki Rangga pun kemudian telah minta Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk tinggal lebih lama lagi di Pajang.

“Aku minta kalian menunda perjalanan kalian semalam lagi.” berkata Ki Rangga.

“Tetapi Tanah Perdikan itu sangat mengharapkan kami cepat-cepat kembali. Tanah Perdikan membutuhkan setiap orang untuk berada di tempatnya.” berkata Sambi Wulung.

“Aku mengerti. Tetapi persoalannya tidak terlalu sederhana. Bukan sekedar Tanah Perdikan dapat menjaga dirinya sendiri atau Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat digoyahkan oleh keadaan itu. Tetapi yang akan dianggap penting oleh Pajang justru sikap beberapa Kademangan disekitar Tanah Perdikan Sembojan. Jika mereka terlihat dalam perdagangan gelap yang menguntungkan Madiun, bahkan mereka telah mengundang perlindungan prajurit Madiun meskipun tidak melalui jalur yang sewajarnya, karena hal itu tentu hanya dilakukan oleh satu dua Senapati yang memiliki kekuasaan atas sepasukan prajurit, sementara perlindungan itu akan menghasilkan keuntungan kebendaan, maka soalnya menjadi tidak terlalu sederhana! Dengan demikian maka beberapa Kademangan itu telah mengingkari kedudukannya sebagai bagian dari lingkungan wiiayah Pajang.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk, ia mengertimaksud Ki Rangga Dipayuda. Karena itu, maka keduanya pun setuju untuk menunda perjalanan mereka kembali ke Tanah Perdikan Sembojan sampai ke hari berikutnya.

Hari itu Ki Rangga Dipayuda telah bertemu dengan Ki Tumenggung Jayayuda untuk menyampaikan laporan yang dibawa oleh Sambi Wulung dan jati Wulung.

Ternyata Ki Tumenggung tertarik sekali dengan laporan itu. Dengan cepat Ki Tumenggung menghubungi pimpinan keprajuritan Pajang untuk menyiapkan surat kekancingan bagi Risang yang memberi wewenang kepada Tanah Perdikan Sembojan, justru memulihkan kewibawaan Pajang di Kademangan-kademangan yang ternyata sudah berpaling dari ikatan kesatuannya dengan Pajang.

Sambi Wulung dan jati Wulung memang menjadi berdebar-debar ketika kemudian ia tahu tugas yang dibebankan kepada Tanah Perdikan Sembojan. Bukan sekedar menegakkan kewibawaan Tanah Perdikan itu sendiri. Tetapi justru mengemban tugas yang lebih besar yang diberikan oleh Pajang.

Surat kekancingan yang melimpahkan wewenang itu merupakan tugas yang didasari atas kepercayaan yang sangat besar dari Pajang kepada Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian justru menuntut pertanggungan jawab yang berat.

“Kami menunggu laporan berikutnya” berkata Ki Tumenggung Jayayuda. Laiu katanya pula, “jika memang diperlukan Pajang akan mengirimkan bantuan langsung ke Tanah Perdikan. jika perang memang harus dimulai dari arah Selatan, maka Pajang akan siap melakukannya.”

Namun seperti yang dipesankan oleh Risang, bahwa untuk sementara Tanah Perdikan Sembojan masih belum memerlukan bantuan.

“Tanah Perdikan Sembojan akan berusaha untuk mengatasinya. Juga dalam mengemban tugas yang dibebankan oleh Pajang.” berkata Sambi Wulung.

Demikianlah, dengan beban tugas itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung minta diri dikeesokan harinya, menjelang lajar sebagaimana ia berangkat dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Salamku kepada Risang” pesan Kasadha, “dan baktiku kepada ibu dan semua sesepuh di Tanah Perdikan Sembojan.”

Sambil tersenyum Sambi Wulung menjawab, “Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Risang dan kepada para sesepuh.”

Kasadha menarik natas dalam-dalam. Namun ketika kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung itu melarikan kudanya meninggalkan barak keprajuritan itu, Kasadha mengerutkan dahinya, ia membayangkan bagaimana sikap Risang jika ia mengetahui, bahwa Kasadha itu telah menjadi semakin dekat disisi Riris.

Kasadha itu mengibaskan kepalanya, seakan-akan ingin mengusir angan-angannya itu. Namun ia tidak dapat ingkar, bahwa ia tahu benar apa yang diharapkan Risang disaat Riris itu hadir dalam upacara saat Risang diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun Kasadha itu pun tidak mau terlalu lama dicengkam oleh keglisahan itu. Ia pun segera turun ke sanggar untuk melemaskan urat-urat di tubuhnya sebelum ia memasuki tugas-tugasnya sebagai seorang Lurah prajurit di hari itu.

Sementara itu, Sambi Wuhmg dan jati Wuhmg telah berpacu dengan cepatnya meninggatkan Pajang. Keduanya ingin secepatnya sampai di Tanah Perdikan Sembojan, meskipun mereka menyadari bahwa perjalanan mereka adalah perjatanan yang panjang, sehingga memerlukan waktu untuk beristirahat di perjalanan.

Keinginan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk segera menyampaikan surat yang memberikan kewenangan kepada Risang itu telah mendorong mereka untuk segera sampai di Tanah Perdikan. Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan akan keterbatasan kekuatan kuda-kuda mereka.

“Kasihan” desis Jati Wulung, “kita tidak dapat memaksa kuda-kuda itu untuk bertari tanpa beristirahat.”

Sambi Wulung tersenyum sambil menjawab, “Ya. Aku kasihan juga kepada tenggorokanku yang kering dan perutku yang mulai menggelitik.”

Jati Wulung pun tertawa, ia pun telah merasa haus dan tapar pula.

Namun perjalanan mereka memang terhitung lebih cepat dari perjalanan-perjalanan yang sama, yang pernah mereka tempuh sebelumnya. Tetapi mereka kemudian menyadari, bahwa kuda-kuda mereka menjadi sangat ietih. Karena itu, ketika mereka sampai di rumah, maka mereka pun minta kepada orang yang merawat kuda-kuda mereka untuk memperlakukan kuda-kuda itu dengan baik.

“Kuda-kuda itu menjadi sangat ietih” berkata Jati Wulung.

Ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menunggu sampai esok. Demikianlah mereka datang, maka mereka telah menyerahkan surat kekancingan bagi Risang yang memberikan wewenang yang luas itu langsung kepada anak muda itu.

Risang sendiri terkejut mendapat surat kekancingan itu. Ketika ia menyampaikan hal itu kepada ibunya, maka ibunya itu pun berkata, “itu adalah lambang kepercayaan Pajang kepadamu Risang. Karena itu, kau harus mengembannya dengan penuh tanggung jawab.”

Risang mengangguk kecil. Katanya, “Tugas yang berat ibu.”

“Tetapi sejalan dengan tugasmu sendiri di Tanah Perdikan ini. Justru dengan surat kekancingan itu, maka kau mempunyai kewenangan untuk bertindak diilar batas Tanah Perdikan ini atas nama Pajang. Namun dengan demikin mungkin kau harus berhadapan dengan sikap keras beberapa Kademangan dan tentu saja beberapa kelompok prajurit Madiun.”

Risang mengangguk-angguk pula. Ia menyadari penuh apa yang harus dilakukan itu.

Namun sejak ia menerima wewenang yang dilimpahkan Pajang itu, maka Risang telah melakukan persiapan-persiapan sebaik-baiknya, ia telah memanggii pula para bebahu Tanah Perdikan, termasuk para Demang dan bahkan para bekel di padukuhan-padukuhan. Mereka teah diberitahu sejauh manakah wewenang yang dimiliki oleh Tanah Perdikan untuk mengembali-kan kewibawaan Pajang di sekitar Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku memeriukan dukungan kalian” berkata Risang.

Para bebahu itu menyadari sepenuhnya apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan. Seperti saat-saat yang gawat yang pernah mereka hadapi, maka kekuatan para pengawal Tanah Perdikan telah dihimpun dengan sebaik-baiknya.

Latihan-latihan pun dilakukan lebih banyak dari sebelumnya. Sementara itu pengawasan diperbatasan pun dilakukan semakin bersungguh-sungguh.

Sikap Tanah Perdikan itu memang menimbulkan ketegangan bagi Kademangan-kademangan di sekitarnya. Ternyata Risang memang keras kepala. Kepala Tanah Perdikan yang muda itu sama sekali tidak menghiraukan sikap beberapa Kademangan yang telah mengancam akan memencilkan Tanah Perdikan itu dari lingkungannya. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan seakan-akan justru mencabut dan mengasah pedangnya menantang tetangga-tetangganya.

Tetapi beberapa Kademangan itu tidak menjadi cemas. Mereka dapat bergabung dan bahkan beberapa orang Senapati di Madiun benar-benar menepati janjinya. Mereka mengirimkan kelompok-kelompok prajurit Madiun untuk berada di Kademangan-kademangan di sekitar Tanah Perdikan Sembojan. Kepada Senapati yang lebih tinggi kedudukannya, maka Senapati yang membawa prajuritnya ke Ka&emangan-kademangan itu melaporkan, bahwa mereka berkewajiban untuk membantu dan melindungi para pedagang bahan pangan dan perbekalan yang lain bagi kepentingan prajurit yang jumlahnya sangat banyak di Madiun.

Para Senapati yang memimpin kelompok-kelmpok prajurit itu justru telah mendapat keuntungan dari tugasnya. Para pedagang gelap itu telah memberikan pelayanan yang sangat baik kepada mereka dengan memenuhi segala kebutuhan mereka.

“Kita harus dapat memecahkan dinding yang dibuat o!eh Kepala Tanah Perdikan Sembojan” berkata salah seorang pedagang bahan pangan itu kepada seorang Senapati Madiun, “selama ini, bahan pangan yang terbanyak kita dapatkan dari Tanah Perdikan Sembojan. Namun sejak perbatasan ditutup, maka kita hanya mendapatkan bahan pangan terlalu sedikit, sehingga nampaknya kurang dapat mencukupi kebutuhan prajurit Madiun dari hari ke hari. Apalagi nanti jika perang benar-benar pecah.”

“Lakukan apa yang baik menurut pendapatmu” berkata Senapati itu, “jika Tanah Perdikan itu bersandar kepada kekuatan Pajang, maka jaraknya tentu terlalu jauh. Pajang pun kini tengah memusatkan kekuatan prajuritnya untuk melawan Madiun. Apalagi jumlah prajurit yang dapat dikumpulkan oleh Madiun jauh lebih banyak dari prajurit Mataram, Pajang dan Demak sekalipun.”

Pedagang itu mengangguk-angguk. Hatinya menjadi semakin mantap. Karena itu, maka ia berniat untuk bertemu dengan beberapa orang Demang yang telah bersedia bekerja bersamanya.

“Baik. Lakukan. Aku akan mengikuti pertemuan itu dan menjelaskan kepentingan kami hadir di daerah Selatan ini.”

Pedagang gelap itu tidak menunggu terlalu lama. Ia pun kemudian telah mengumpulkan kawan-kawan mereka, para pedagang gelap dan bersama-sama mengundang beberapa orang Demang yang telah terlibat dalam perdagangan bahan pangan itu.

Seperti yang direncanakan, maka Senapati Madiun itu telah hadir pula dalam pertemuan yang diselenggarakan di Kademangan Jerukgede itu. Senapati itu telah menjanjikan kekuatan prajuritnya untuk kepentingan perdagangan gelap bahan pangan itu.

“Kita akan mendatangi beberapa padukuhan di Tanah Perdikan Sembojan” berkata Ki Wimba Gelar, salah seorang diantara para pedagang gelap yang paiing berpengaruh.

“Terserah kepada Ki Wimba” jawab Senapati itu, “jika karena itu timbul benturan kekerasan, maka itu adalah kewajibanku untuk menyelesaikannya. Bukan sekedar menghadapi para pengawal di padukuhan, tetapi jika kaiian dan para Demang harus menghadapi Tanah Perdikan dalam keseluruhan, maka kami akan berada diantara kalian. Agaknya benturan kekerasan yang demikian itu lah yang terbaik. Kita mendapat alasan untuk menundukkan Tanah Perdikan dan memaksa mereka memenuhi kebutuhan bahan pangan bagi kita. Sekali lagi aku tegaskan, Pajang tidak akan dapat ikut campur dengan segera.”

Ki Wimba Gelar menjadi semakin mantap. Karena itu, maka katanya, “Kita sudah kehilangan beberapa pedati bahan pangan. Kita harus mendapatkan gantinya dan bahkan berlipat ganda.”

“Aku mempunyai alasan untuk memaksakan kekerasan terhadap Tanah Perdikan” berkata Ki Demang Jerukgede.

“Apa alasanmu? Beberapa pedati yang dirampas oleh Kepala Tanah Perdikan yang masih terlalu kanak-kanak itu?”

“Bukan hanya itu” jawab Ki Demang, “seorang bebahuku masih ditahan di Tanah Perdikan. Aku akan mengambilnya dengan paksa. Bukankah kemudian akan timbul perselisihan dan benturan kekerasan, sehingga kami akan dapat memaksa Risang itu, tunduk kepada kemauan kita?”

“Bagus” berkata Senapati dari Madiun itu, “kita lakukan rencana itu. Kita akan menyusunnya dengan rapi, sehingga Tanah Perdikan Sembojan benar-benar akan tunduk kepada kita.”

Kencana itu ternyata mendapat dukungan dari para Demang, pada pedagang dan Senapati Madiun yang ada di Jerukgede.

Dengan demikian, maka mereka pun telah menyusun rencana yang sebaik-baiknya untuk akhirnya dapat menundukkan dan menguasai Tanah Perdikan Sembojan, terutama di segi perdagangan bahan pangannya.

Sementara itu kegiatan yang dilakukan oleh para  Demang, para pedagang dan kehadiran prajurit Madiun tetah didengar oleh Risang dan para pemimpin dan bebahu Tanah Perdikan. Dengan demikian maka para bebahu, termasuk para Demang dan Bekel dilingkungan Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Bayangan permusuhan antara Mataram dan Madiun pun kemudian telah nampak di Tanah Perdikan Sembojan dan sekitarnya, meskipun dorongan utamanya adalah justru memanfaatkan keadaan untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya, sehingga tidak lagi tahu dimana harus berpijak. Sementara itu, Tanah Perdikan Sembojan berusaha untujt tetap tegak diatas kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran serta kesatuan nilai-nilai perjuangan.

Seperti yang direncanakan maka Ki Demang Jerukgede telah bersiap-siap untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Ki Demang ingin memaksakan kehendaknya untuk membawa kembali bebahunya yang menurut pendapatnya telah ditahan di Tanah Perdikan. Jika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, maka hal itu akan dijadikan alasan untuk memaksakan kekerasan dan kemudian bahkan menundukkan Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Ki.Demang itu menjadi sangat kecewa. Pada saat ia sudah siap berangkat bersama dua orang bebahu-nya, tiba-tiba saja bebahu yang ditahan di Tanah Perdikan itu datang menghadapnya dirumahnya.

“Kau?” mata Ki Demang terbelalak. Sementara Senapati Madiun yang ada dirumah itu pula bertanya, “Siapa orang itu?”

“Orang itulah yang akan kita jadikan sebab perselisihan.” jawab Ki Demang dengan suara bergetar oleh gejolak perasaannya.

“Namun kemudian dengan lantang ia bertanya kepada bebahu yang tiba-tiba saja pulang itu, “Apakah kau dilepaskan atau melarikan diri?”

“Aku telah dilepaskan, Ki Demang” jawab bebahu itu.

“Kenapa?” bertanya Ki Demang.

“Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku telah dipanggil dan diberitahu bahwa aku boleh pulang hari ini.”

“Kau telah mengacaukan segala rencana kami.” geram Ki Demang.

“Aku tidak mengerti maksud Ki Demang” bertanya bebahu itu.

“Kami sudah siap untuk menjemputmu sebagai alasan untuk memaksa Tanah Perdikan Sembojan tunduk.”

“Apakah Ki Demang akan memaksakan kehendak Ki Demang dengan kekerasan?”

“Ya” jawab Ki Demang.

“Itu tidak mungkin. Tanah Perdikan Sembojan mempunyai kekuatan yang sangat besar. Kademangan ini tidak akan dapat berbuat apa-apa menghadapi Tanah Perdikan Sembojan”

“Kau memang dungu. Kademangan ini tidak berdiri sendiri. Ada beberapa Kademangan yang memihak Tata. Lebih dari itu sepasukan ada dipihak kita pula. Merekalah yang akan membantu kita semuanya, jika kita pada suatu saat nanti bertempur melawan Tanah Perdikan Sembojan.”

Bebahu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Maaf Ki Demang. Aku tidak tahu. Meskipun demikian aku berpendapat, bahwa bermusuhan dengan Tanah Perdikan Sembojan tidak akan ada gunanya.”

“Kau tentu telah disihirnya atau dengan menakut-nakutimu agar kau mengatakan sebagaimana dikehendaki oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tidak Ki Demang. Aku masih utuh. Aku juga tidak disihir atau menjadi gila. Tetapi aku masih waras. Namun karena aku yang telah melihat dan mendengarkan keterangan langsung dari para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan, maka aku mempunyai pendapat lain tentang Tanah Perdikan itu.”

“Cukup” bentak Ki Demang, “jika kau sudah kehilangan sikap kepahlawananmu justru karena kau telah pernah ditahan oleh orang Sembojan, maka sebaiknya kau minggir saia.”

Orang itu mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Apakah yang Ki Demang maksudkan dengan sikap kepahlawanan itu? Walau pun perdagangan gelap atau perbuatan-perbuatan tercela yang lain?”

“Kau benar-Menar menjadi gila” geram Ki Demang, “jika demikian, maka kau akan menjadi orang yang berbahaya bagi kami. Pengaruh sihir orang-orang Tanah Perdikan benar-benar membuatmu kehilangan kepribadian mu.”

“Aku tidak kehilangan apa-apa Ki Demang. Tetapi justru hatiku sekarang terbuka. Aku meiihat berbagai macam cacat dalam usaha yang kita lakukan selama ini.”

“Jangan mengigau tagi” berkata Ki Demang yang kemudian berkata kepada bebahu yang lain, “Orang ini sudah terkena sihir jahat oleh orang-orang Tanah Perdikan. Jangan biarkan orang ini berkeliaran di Kademangan Jerukgede.”

“Maksud Ki Demang?” bertanya bebahu itu.

“Kau harus ditahan sampai keadaan menjadi baik. Sampai Tanah Perdikan Sembojan tunduk kepada keinginan kami.”

“Justru apa yang akan kau lakukan ini Ki Demang, perbuatan yang tidak masuk akal.” berkata bebahu yang baru saja dilepaskan oleh Risang itu.

Tetapi ia tidak mendapat kesempatan. Bukan saja bebahu Jerukgede yang menangkap dan menahannya, tetapi dua orang prajurit Madiun telah berdiri disebelah menyebelah bebahu yang mendapat perintah untuk menahan kawannya sendiri itu.

“Marilah” berkata bebahu itu.

Kawannya yang akan ditahan itu memang merasa tidak akan ada artinya jika ia melakukan perlawanan. Karena itu, maka bebahu itu pun menurut saja, melakukan semua perintah yang diberikan kepadanya, ia menurut saja ketika ia digiring kesebuah bilik di gandok sebelah kiri rumah Ki Demang yang besar itu.

“Kepala Tanah Perdikan itu memang iicik” geram K i Demang kemudian, “ia melepaskan bebahu itu justru pada saat keberadaannya di Tanah Perdikan itu kita perlukan.”

“Lalu, apa yang akan kita pakukan sekarang?” bertanya Ki Wimba Gelar, “bebahu itu sudah tidak lagi dapat kita pergunakan sebagai alasan.”

“Aku masih dapat” jawab Ki Demang, “aku akan datang minta bebahu yang gila itu dilepaskan. Aku tidak akan mengakui bahwa orang itu sudah datang menghadapku sekarang disini.”

Ki Wimba Gelar tersenyum. Katanya, “Terserah saja jika Ki Demang pergunakan.”

“Alasan apapun dapat kita pergunakan” jawab Ki Demang, “bukankah kita sekedar mencari alasan untuk memaksakan kekerasan terhadap Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Wimba Gelar masih tersenyum, sementara Senapati Madiun yang ada di Jerukgede itu berkata, “jika demikian, pergilah ke Tanah Perdikan hari ini juga. Kita tidak ingin menunda-nunda persoalan ini. Bahan pangan itu kami perlukan setiap hari. Bahkan jika mungkin Madiun harus mempunyai persediaan yang cukup jika perang pecah.”

Ki Demang Jerukgede itu pun memutuskan untuk hari itu juga pergi ke Tanah Perdikan. Sementara itu, para Demang yang terlibat dalam perdagangan gelap itu harus menyiapkan orang-orang mereka yang setiap saat harus siap turun ke medan bersama para prajurit Madiun yang akan membantu mereka.

Namun disamping para Demang yang kehilangan penalarannya itu, masih juga ada beberapa orang bebahu nya yang menyadari apa yang sedang terjadi itu. Seorang bebahu di Kademangan Jati Arang telah mencoba untuk memperingatkan Ki Demang di Jati Arang, bahwa dalam keadaan yang sulit, Tanah Perdikan Sembojan selalu tampil untuk membantu mengatasi kesulitan. Bebahu itu pun memperingatkan bahwa di Tanah Perdikan Sembojan itu tersimpan kekuatan yang besar.

Tetapi Ki Demang Jati Arang itu membentaknya, “Kau jangan bodoh. Betapapun kuatnya Tanah Perdikan Sembojan, tetapi Sembojan akan mengalami kesulitan menghadapi beberapa Kademangan sekaligus dan terutama hadirnya prajurit Madiun diantara kami.”

“Ki Demang” berkata bebahu itu, “bukan untuk pertama katinya prajurit Madiun teriibat pertempuran mc!awan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Menurut perhitungan Senapati prajurit Madiun itu. Pajang tidak akan sempat mengirimkan bantuannya ke Tanah Perdikan sekarang ini.”

“Tetapi kenapa Madiun masih dapat melakukannya?” bertanya bebahu itu.

“Jumlah prajurit Madiun jauh tebih banyak dari jumlah prajurit Mataram. Selebihnya, jika Mataram menyerang Madiun, maka diperlukan kekuatan yang sangat besar, bahkan menurut perhitungan, kekuatan mereka yang menyerang, harus lebih besar dari mereka yang diserang.” jawab Ki Demang.

“Tetapi tanpa bantuan Pajang, Tanah Perdikan Sembojan mampu melawan kekuatan yang besar yang menyerang Tanah Perdikan itu yang juga dibantu oleh prajurit Madiun yang dipimpin oleh Ki Lurah Mertapraja.”

“Satu dongeng yang tidak masuk akal. Apakah kita tahu apa yang sebenarnya terjadi? Prajurit Pajang tentu berada di Tanah Perdikan saat itu meskipun dengan diam-diam.” jawab Ki Demang.

Bebahu itu hanya dapat menarik natas. Agaknya Ki Demang benar-benar telah terbius oleh harapan-harapan untuk dapat ikut menikmati keuntungan yang besar yang didapat dari perdagangan bahan pangan itu, apapun cara yang dilakukannya.

Dengan demikian, meskipun dengan hati yang sangat berat, bebahu itu harus melakukan sebagaimana diperintahkan oleh Ki Demang Jati Arang.

Namun dengan sesama bebahu yang mempunyai sikap yang sama, bebahu itu berkata, “Kehadiran prajurit Madiun itu telah mendorong Ki Demang untuk lebih dalam lagi memasuki jawaban yang akan dapat mencelakakan bukan saja dirinya sendiri. Tetapi juga seisi Kademangan.”

“Ya” jawab kawannya, “dan kita tidak dapat berbuat apa-apa selain menjalankan perintahnya betapapun kita mengetahui bahwa langkah yang diambilnya salah.”

Para bebahu itu menjadi semakin sedih ketika mereka harus mempersiapkan anak-anak muda dan bahkan laki-laki yang masih mampu ke medan perang untuk memaksakan kehendak beberapa Kademangan terhadap Tanah Perdikan Sembojan. Kademangan-kademangan yang dalam tata kehidupan yang wajar, justru lebih banyak berharap bantuan dari Tanah Perdikan Sembojan.

Seperti yang direncanakan, maka Ki Demang Jerukgede benar-benar telah pergi ke Tanah Perdikan untuk menemui Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih muda itu.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan telah menerimanya dengan baik, meskipun Risang menyadari akan sikap Ki Demang Jerukgede yang memusuhinya itu.

Meskipun Ki Demang telah diterima sebagai seorang tamu, tetapi wajah Ki Demang dan pengiringnya masih saja selalu nampak gelap. Sikapnya benar-benar menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Risang dan para pemimpin Tanah Perctikan yang lain.

Dengan nada berat, Ki Demang itu pun berkata, “Aku datang untuk yang terakhir kalinya. Aku minta Kepala Tanah Perdikan Sembojan menyerahkan bebahu Kademangan Jerukgede yang masih ditahan disini tanpa alasan.”

“Ki Demang” berkata Risang, “sudah aku katakan, kenapa bebahu itu mula-mula berada disini dan kemudian justru karena sikap Ki Demang, aku telah menahan bebahu Kademangan Jerukgede itu.”

“Sekarang aku datang untuk menjemputnya” berkata Ki Demang dengan nada keras.

“Maaf Ki Demang. Aku telah membebaskan bebahu yang Ki Demang kehendaki. Mungkin orang itu langsung pulang kerumahnya dan belum sempat menghadap untuk melapor kepada Ki Demang.”

“Kau jangan mengada-ada. Jika bebahu itu sudah kau lepaskan, maka ia tentu akan datang menghadap aku.” jawab Ki Demang.

Risang mengerutkan dahinya. Katanya, “Cobalah sekali lagi Ki Demang memerintahkan untuk meiihat di rumah bebahu itu. Mungkin Ki Demang akan menemukannya.”

“Aku bukan anak-anak lagi. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Nah, sekarang aku minta ketegasan agar aku tidak menjadi bahan permainan disini.”

“Ki Demang. Aku tahu bahwa pembicaraan kita sekarang adalah pembicaraan yang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka aku pun berkata dengan sesungguhnya, bahwa aku telah melepaskan bebahu Kademangan Jerukgede itu.”

“Kau jangan memutar balikkan persoalan. Sekarang aku minta orangku itu kau serahkan kepadaku.”

“Apa yang harus aku serahkan. Orang itu sudah tidak ada disini.” jawab Risang.

“Aku tidak percaya. Ingat, bahwa Kademangan Jerukgede tidak akan dapat kau injak begitu saja tanpa berbuat sesuatu. Apalagi sekarang. Kedudukan Tanah Perdikan ini akan menjadi sangat sulit jika kau memusuhi Kademangan Jerukgede.”

“Ki Demang. Aku usuikan agar Ki Demang melihat apakah bebahu itu sudah ada di rumahnya atau belum.” berkata Risang yang jantungnya mu!ai memanas, “jika perlu, biarlah satu dua orangku ikut bersama Ki Demang untuk melihat kenyataan tentang bebahu itu. Jika orang itu benar-benar tidak ada dirumahnya, maka biartah kami ikut mencarinya.”

“Kau tidak usah berbelit-belit seperti itu. Aku tidak mau dipermainkan disini.”

Risang akhirnya kehabisan kesabarannya. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Ki Demang. Aku tidak dapat memberikan jawaban lain kecuali, bebahu Jerukgede itu sudah aku lepaskan. Terserah kepada Ki Demang. Percaya atau tidak percaya.”

“Apakah kau sudah berniat bermain kasar? ingat. Kita bertetangga. Hubungan kita bukan baru dimulai sejak kemarin. Tetapi sejak ibumu memangku Jabatan Kcpata Tanah Perdikan, hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dan Kademangan Jerukgede serta beberapa Kademangan yang tain berjalan baik. Tetapi ketika kau sekarang memegang kepemimpinan di Tanah Perdikan ini, hubungan kita menjadi lain.”

“Ki Demang” Nyi Wiradanaiah yang menyahut, “aku tidak akan pernah melupakan, bahwa hubungan kita sejak semula baik. Aku pun sudah menceriterakan kepada anakku. Bahkan anakku yang tumbuh dewasa dapat melihat dan merasakan sendiri bahwa hubungan kita baik. tetapi jika hubungan kita sekarang menjadi buruk itu bukan karena Risang yang masih muda ini memegang kendati pemerintahan di Tanah Perdikan, tetapi hubungan kita menjadi buruk, sejak pedagang-pedagang gelap itu berada di Kademangan Jerukgede. Maaf Ki Demang, bahwa hal ini terpaksa aku katakan, karena aku tidak melihat alasan lain, kenapa hubungan kita menjadi buruk.”

Wajah Ki Demang menjadi merah. Katanya, “Aku datang tidak untuk mendengarkan fitnah seperti itu. Tetapi aku datang untuk mengambil orangku yang ditahan disini.”

Risang yang benar-benar kehilangan kesabarannya berkata, “Ki Demang. Aku persilahkan Ki Demang meninggalkan rumahku ini jika Ki Demang tidak mempercayai kami, orang-orang Tanah Perdikan ini lagi. Tidak ada gunanya kita berbicara panjang lebar tanpa saling mempercayai. Apapun akibatnya, kami akan menanggungnya. Kami tahu, sepasukan prajurit ada di Jerukgede dan beberapa Kademangan yang lain. Tetapi itu bukan soal bagiku.”

Ki Demang pun menjadi sangat marah pula. Karena itu, maka ia pun berkata, “Baiklah. Aku sekarang aku pulang. Tetapi ingat, besok kami akan datang lagi dengan kekuatan yang akan dapat memaksamu menyerahkan hebahu itu.”

Risang yang juga marah itu masih menahan diri. Bahkan ia pun sempat berkata, “Ki Demang. Tingkah laku Ki Demang sudah diketahui oleh para pemimpin di Pajang. Mereka telah mengambil satu keputusan untuk menindak Ki Demang dan beberapa orang Demang yang telah meninggalkan tugas dan kewajibannya sedangkan langkah selanjutnya dari tindakan itu, telah dilimpahkan kepada kami. Aku sudah mendapat surat kekancingan dari limpahan wewenang itu dari Kanjeng Adipati.”

Ki Demang menjadi tegang. Namun kemudian ia pun menjawab, “Satu omong kosong lagi. Bagaimana mungkin kau mendapatkan wewenang itu?”

Risang tidak ingin terlalu banyak berbicara. Apalagi Ki Demang itu tidak lagi mempercayainya. Karena itu, maka Risang pun telah mengambil surat kekancingan yang telah diterimanya dan menunjukkan kepada Ki Demang, “Silahkan Ki Demang membacanya sendiri.”

Sambi Wulung yang melihat surat kekancingan itu diserahkan kepada Ki Demang, telah bergeser setapak. Ki Demang akan dapat berbuat curang atas surat kekancingan itu dengan merusaknya.

Tetapi Risang sama sekali tidak mencemaskan kemungkinan itu. Ki Demang berada diantara para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan sehingga tentu tidak akan mengambii tindakan yang bodoh itu.

Dengan tangan yang bergetar Ki Demang membaca surat kekancingan yang menetapkan Risang mempunyai wewenang untuk mengambil langkah-langkah tertentu untuk mengembali-kan wibawa Pajang di Kademangan-kademangan disekitarnya.

Sejenak Ki Demang itu bagaikan membeku. Didalam surat kekancingan yang diberikan kepada Risang itu disebutkan dengan jelas, wewenang Risang untuk mengambii langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengembalikan kewibawaan Pajang di sekitar Tanah Perdikan Sembojan.

Namun akhirnya Ki Demang itu berkata sambi! menyerahkan kembali surat kekancingan itu, “Kami tidak mengakuinya.”

“Kenapa?” bertanya Risang.

“Kami akan menentukan kemana kami akan berkiblat. Kami dapat melepaskan diri dari kuasa Pajang dan mengikat diri dengan Madiun.”

“Kalian dapat saja berbuat demikian. Tetapi adalah hak Pajang atau orang yang mendapat limpahan wewenangnya untuk mencegahnya.”

“Tetapi kau tidak akan dapat melakukannya” geram Ki Demang yang merasa sudah terlanjur basah, sehingga ia memutuskan untuk tetap menyeberang.

“Terserah kepada Ki Demang. Tetapi aku sudah memperingat-kan Ki Demang, bahwa langkah kami akan dapat menjadi lebih panjang dari batas Tanah Perdikan Sembojan ini sendiri.”

Telinga Ki Demang serasa tersentuh api. Namun ia menjawab, “Kamilah yang akan datang melintasi perbatasan itu.”

Ki Demang tidak mau berbicara lebih panjang lagi. ia pun kemudian telah bangkit dan minta diri untuk kembali ke Kademangan Jerukgede.

Meskipun Ki Demang itu masih bersikap keras, namun surat kekancingan itu telah membuatnya gelisah. Agaknya Pajang mengikuti perkembangan di lingkungan yang cukup jauh itu dengan saksama, sehingga Pajang dapat mengetahui apa yang sudah terjadi di hari-hari terakhir.

Ki Demang ternyata menyampaikan hal itu kepada para Demang dan Senapati Madiun yang ada di Jerukgede yang kemudian berkumpul di rumahnya.

Para Demang juga menjadi gelisah. Namun Senapati Madiun yang ikut dalam pertemuan itu pun berkata, “Kenapa kalian menjadi gelisah. Bahwa Pajang mengetahui sikap kalian itu tentu karena laporan Kepala Tanah Perdikan itu. Kalian harus yakin, bahwa surat kekancingan itu tidak akan berarti apa-apa di medan pertempuran. Surat itu tidak mempunyai tuah yang membuat orang-orang Tanah Perdikan kebal senjata. Bagiku, Pajang lebih baik mengirimkan sepasukan prajurit daripada selembar surat kekancingan. Tetapi seperti aku katakan, Pajang tidak dapat melakukannya, karena Pajang memusatkan kekuatan prajuritnya untuk menghadapi Madiun digaris pertempuran tidak di daerah yang jauh seperti Tanah Perdikan Sembojan ini.”

Para Demang itu mengangguk-angguk. Ki Demang Jerukgede yang ingin menjadi orang yang paling berpengaruh di lingkungannya itu berkata, “Aku setuju. Kita akan mengabaikan surat kekancingan itu. Kita akan bertindak sesuai dengan rencana.”

Kepada para Demang dan Senapati Madiun yang ikut dalam pertemuan itu, Ki Demang memberitahukan hasil pertemuannya dengan Kepala Tanah Perdikan itu. Ki Demang itu mengatakan, bahwa ia sudah mengancam kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan, bahwa ia akan datang kembali dengan membawa kekuatan untuk mengambil bebahu yang dikatakannya masih ditahan di Tanah Perdikan itu.

“Bagus” berkata Senapati prajurit Madiun itu, “besok kita siapkan pasukan kita di perbatasan. Tidak hanya perbatasan antara Kademangan Jerukgede dan Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi juga perbatasan antara Tanah Perdikan dengan Kademangan yang lain.”

Demikianlah, maka para Demang pun telah melakukan persiapan-persiapan. Para prajurit yang melibatkan diri dalam perdagangan gelap itu. Mereka akan segera mulai dengan rencana mereka, memaksa Tanah Perdikan Sembojan untuk membiarkan para pedagang bahan pangan yang memantaatkan hubungan yang buruk antara Mataram dan Madiun itu untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Namun para Demang itu terkejut, ketika mereka menerima utusan Kepala Tanah Perdikan Sembojan di rumah mereka masing-masing, memberitahukan bahwa Tanah Perdikan Sembojan akan segera melaksanakan wewenang yang dilimpahkan kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk menegakkan wibawa Pajang didaerah itu.

“Apa yang akan dilakukan oleh Kepala Tanah Perdikan itu?” bertanya Ki Demang Jati Arang.

“Kami tidak akan bertindak dengan kasar” berkata utusan itu, “tetapi tentu saja tergantung kepada tanggapan Ki Demang Jati Arang ini sendiri.”

Ki Demang yang sudah mendengar tentang surat kekancingan itu ternyata hatinya masih juga tergetar. Namun untuk menunjukkan harga dirinya, Ki Demang itu pun berkata, “Kami akan menentukan sikap menurut kepentingan kami sendiri disini. Apapun yang kami lakukan, telah kami pertimbangkan dengan baik. Bahkan kami sudah siap untuk mempertanggung jawabkannya.”

“Baiklah Ki Demang” jawab utusan itu, “kami sekedar menyampaikan pesan ini kepada Ki Demang. Langkah-langkah seianjutnya akan ditentukan oleh Kepala Tanah Perdikan sendiri.”

Sepeninggal utusan itu, maka Ki Demang pun segera memerintahkan para pengawal Kademangan bersiap. Mereka memang menjadi berbesar hati karena diantara mereka terdapat sekelompok prajurit Madiun yang diperbantukan kepada mereka.

Utusan dari Tanah Perdikan itu telah mendatangi Kademangan-kademangan yang lain, yang terlibat dalam perdagangan gelap di Tanah Perdikan itu. Kepada mereka utusan itu telah menyampaikan pesan yang sama.

Namun para Demang itu pun berpikir, “Betapapun besarnya Tanah Perdikan Sembojan, namun mereka tidak akan mampu melawan kekuatan yang tentu lebih besar lagi. Apalagi diantara kekuatan yang besar itu terdapat para prajurit Madiun yang akan membantu mempercepat penyelesaian perang yang akan terjadi.”

Dalam pada itu, Risang pun telah mempersiapkan diri pula. Dengan wewenang yang diberikan oleh Pajang kepadanya, maka tanggung-jawab Risang menjadi lebih berat, ia tidak saja berbuat bagi dirinya sendiri, bagi Tanah Perdikan Sembojan, tetapi ia sudah berbuat atas nama Pajang.

Untuk menghadapi kekuatan yang berpencar, maka Risang memang memerlukan kekuatan yang besar. Karena itu, selain para pengawal dan anak-anak muda, maka Risang pun telah memanggil bekas pengawal yang masih mampu dan bersedia untuk ikut serta mengemban tugas yang diberikan oleh Pajang. Bahkan bukan saja bekas pengawal tetapi sebagaimana sebelumnya, dalam keadaan yang gawat, maka setiap laki-laki yang merasa dirinya masih mampu dan berani telah menyatakan dirinya untuk ikut serta turun ke medan.

Dengan demikian maka Tanah Perdikan sudah mengerahkan kekuatan yang besar. Hampir setiap laki-laki telah melibatkan diri meskipun dalam tataran tugas yang berbeda-beda.

Untuk mengatasi kemungkinan yang dapat terjadi di beberapa tempat bersamaan waktunya, Risang telah menugaskan Sambi Wulung, jati Wulung dan Gandar di tempat yang berbeda-beda. Sementara Risang sendiri bersama ibunya, memegang kendali bagi semua kekuatan Tanah Perdikan. Sedangkan di padukuhan-padukuhan yang terletak di perbatasan, maka di tempatkan kelompok-kelompok pengawal yang berpengalaman.

Sementara itu, Ki Demang Jerukgede serta beberapa Kademangan yang lain pun telah bersiap pula. Beberapa kelompok prajurit pun telah tersebar di beberapa Kademangan yang berada diantara para pengawal.

Namun ternyata bahwa Risang tidak sekedar menunggu. Berpegangan pada surat kekancingan yang diterimanya serta wewenang yang diberikan oleh Kanjeng Adipati di Pajang, maka Risang mempunyai kewenangan untuk bertindak.

Karena itu lah, maka Risang lah yang justru telah memasuki Kademangan Jati Arang bersama sebagian dari para pengawalnya yang dipimpin oleh Sambi Wulung. Sementara itu, ia memerintahkan agar jati Wulung dan Gandar yang bertugas di tempat yang berbeda, selalu bersiap menanggapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Kademangan Jati Arang memang terkejut. Risang dengan para pengawalnya telah menerobos melewati beberapa padukuhan yang ternyata tidak ada upaya sama sekali dari para pengawal untuk mencegah dan menghentikan iring-iringan pasukannya.

Tetapi, beberapa orang pengawal memang telah melarikan diri ke padukuhan induk serta memberitahukan kedatangan pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang dipimpin oleh Kepala Tanah Perdikan yang muda itu.

Kedatangan pasukan dari Tanah Perdikan yang tidak diduga-duga itu memang menimbulkan kegelisahan pada orang-orang Jati Arang. Namun pasukan itu ternyata hanya lewat saja tanpa menimbulkan kerusakan apa-apa.

Sementara itu, Risang memang tidak memerintahkan pasukannya untuk berbuat sesuatu. Risang sudah berpesan, bahwa mereka akan bertindak hanya jika mereka mendapat serangan dari para pengawal di Kademangan Jati Arang.

Ketika Risang mendekati padukuhan induk, maka Risang dan pasukannya memang melihat persiapan untuk menyongsong pasukan itu. Para pengawal dan prajurit Madiun telah bersiap menyambut pasukan dari Tanah Perdikan itu di sekitar pintu gerbang utama.

Risang telah memberi isyarat kepada pasukannya. Risang sempat memanggil Sambi Wulung dan para pemimpin kelompoknya untuk mendengarkan petunjuk-petunjuknya.

“Nampaknya kita memang harus bertempur” berkata Risang.

“Apaboleh buat” sahut Sambi Wulung.

“Tujuan kita adalah menangkap Ki Demang dan mengetrap-kan perintah dari Pajang menegakkan kewibawaan Pajang.” berkata Risang kemudian. Lalu katanya pula, “Kita tidak memusuhi orang-orang Jati Arang. Meskipun demikian, kita tidak dapat dihalangi oleh siapa-pun.”

Para pemimpin kelompok didalam pasukan itu mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud Risang dan kemudian mereka pun mengerti, apa yang harus mereka lakukan.

“Karena itu, maka sebelum mendekati pintu gerbang padukuhan induk Kademangan Jati Arang, maka Risang telah mendahului pasukannya, yang diperintahkannya untuk berhenti beberapa puluh langkah dari tempatnya berdiri.

“Paman Sambi Wulung dan dua orang pemimpin kelompok akan menyertai aku.”

Demikianiah, maka berempat Risang telah berjalan mendekati pintu gerbang Jati Arang yang ternyata mendapat penjagaan cukup baik. Diantara mereka terdapat para pengawal Kademangan Jati Arang, anak-anak muda yang sebagian pekerjaan sehari-harinya tidak lebih dari bertualang, para bebahu dan beberapa orang yang dianggap mempunyai kelebihan.

Ketika para bebahu Kademangan itu yang juga sudah siap di sekitar pintu gerbang Kademangan, melihat Risang hanya berempat berjalan mendekat, maka bebahu itu telah meiaporkannya kepada Ki Demang Jati Arang.

Laporan itu membuat Ki Demang semakin berdebar-debar. Tetapi Ki Demang disertai seorang bebahu dan dua orang prajurit Madiun telah melangkah keluar dan berdiri beberapa lengkah diluar pintu gerbang padukuhan induk.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 64

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

One Response

  1. Ga sabar nunggu lanjutannya, ceritanya gamblang dan masuk logika!!!! Emang brapa x posting dalam 1 minggu!!!

    he he he …, sabar ki sanak.
    untuk menghadirkan naskah ini perlu upaya, edit sana-sini untuk menyamakan dengan buku aslinya.
    karena pada saat yang bersamaan juga harus posting Api di Bukit Menoreh, maka naskah ini kami telah tetapkan posting dua minggu sekali, sejak jilid 60 menjadi 3 hari sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s