SST-62

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-62SEJENAK kemudian, maka kentongan di gardu dalam telah mengumandangkan isyarat bagi para prajurit yang bertugas untuk berhati-hati. Suara kentongan itu mengisyaratkan, bahwa ada sekelompok orang jahat yang berada didalam lingkungan dinding kota.

Sementara itu Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung berlari terus. Mereka menyelinap jalan-jalan sempit langsung menuju ke barak.

Namun Kasadha benar-benar telah mengenali jalan-jalan diseluruh kota itu dengan baik. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi bingung. Bahkan Kasadha dapat menemukan jalan pintas yang paling dekat menuju ke baraknya.

Suara kentongan itu masih mengumandang. Kentongan-kentongan yang lain pun telah menyambutnya, sehingga seluruh kota pun telah digoncang oleh isyarat itu.

Para prajurit di gardu-gardu telah bersiap. Para peronda yang mendengar isyarat itu pun menjadi semakin teliti mengamati keadaan. Bahkan beberapa orang peronda telah berhenti di simpang-simpang empat dan simpang tiga.

Tetapi mereka tidak melihat seorang pun yang lewat. Sementara itu, Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berlari menyusup jalan-jalan sempit dan bahkan jalan setapak. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan pintu gerbang regol barak prajurit yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda.

Namun Kasadha memang harus berhati-hati. Sekali-sekali ia harus berhenti mengamati jalan yang akan diseberangi jika mereka tidak melihat sesuatu, maka mereka pun segera berloncatan melintasi jalan itu.

Jarak untuk mencapai barak semakin sempit. Tetapi jalan menjadi semakin sulit. Kentongan yang masih saja berbunyi bahkan diseluruh kota membuat para prajurit semakin bersiaga.

Ketika Kasadha berlari sampai kemulut lorong, maka ia harus berhenti dan bahkan bergeser mundur. Ampat orang prajurit berkuda telah melintas. Tidak terlalu cepat.

Kasadha menahan nafasnya sambil memberi isyarat kepada ketiga orang yang lain. Baru kemudian, Kasadha itu menganggap bahwa jalan menjadi sedikit aman. jika mereka berhasil menyeberangi jalan itu, dan menyusuri jalan sempit beberapa puluh langkah, maka mereka akan sampai ke jalan yang lebih besar yang langsung menuju ke pintu gerbang baraknya.

Tetapi jarak yang tinggal sedikit itu justru sukar untuk dilampaui. Kasa-rasanya jalan-jalan menjadi penuh oleh prajurit yang berkeliaran.

Namun Kasadha harus berani mengambil sikap. Mungkin ia harus berlaku kasar lagi. Tetapi ia harus sampai ketujuan.

Karena itu, maka sejenak kemudian, Kasadha itu berbisik ditelinga Risang, “Kita akan berlari sekencang-kencangnya. Mungkin ada peronda yang melihat kita dan mengejar. Tetapi kita akan dapat mencapai pintu gerbang itu lebih dahulu.”

Risang pun mengangguk, ia pun memberi isyarat kepada Sambi Wulung dan jati Wulung.

Dengan demikian, maka mereka pun harus membangunkan tenaga dalam mereka untuk dapat mencapai sasaran secepat-cepatnya.

Ketika jalan menjadi sepi, maka Kasadha pun segera memberi isyarat. Dengan cepat sekali keempat orang itu pun berlari melintas, dan hilang dilorong sebelah.

Tetapi ternyata dua orang prajurit peronda melihat mereka. Dua orang prajurit peronda yang berjalan kaki menyusuri tepi jalan.

Karena itu, maka kedua orang itu pun segera meloncat berlari mengejar keempat orang yang menghilang kedalam lorong sempit itu.

Kedua orang prajurit itu menjadi bingung sesaat, mereka kehilangan buruannya. Tetapi karena mereka melihat keempat orang itu memasuki lorong sempit itu, maka mereka pun telah berlari menyusuri jalan itu pula.

Kasadha dan ketiga orang yang lain menyadari bahwa dua orang prajurit tengah mengejar mereka. Karena itu, maka mereka tidak mungkin untuk berhenti dan menempuh jalan kembali.

Tetapi demikian mereka sampai ke jalan yang lebih besar yang langsung akan sampai ke barak mereka, Kasadha melihat beberapa orang prajurit yang sedang meronda lewat. Seperti yang lain, mereka tidak berjalan terlalu cepat.

“Gila” geram Kasadha. Dalam waktu yang singkat ia harus mengambil keputusan. Apakah berempat mereka akan berlari terus, atau mereka terpaksa kembali menghadapi dua orang prajurit yang mengejar mereka.

Kasadha tidak mempunyai pilihan lain. Ia merasa lebih aman untuk menghadapi kedua orang prajurit yang berlari mengejar mereka.

Dengan tangkasnya Kasadha pun kemudian meloncat keatas dinding halaman sambil memberi isyarat kepada Risang dan kedua orang yang lain, sehingga mereka pun telah berloncatan pula hinggap diatas dinding. Namun mereka pun segera menelungkup agar tidak mudah dapat dilihat.

Sejenak kemudian, dua orang prajurit itu berlari dijalan sempit dibawah keempat orang yang menelungkup diatas dinding halaman itu. Namun kedua orang prajurit itu tidak sempat melihat, apalagi dalam gelapnya malam.

Kasadha dan ketiga orang yang lain, yang menelungkup diatas dinding halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka masih tetap harus berhati-hati. Bahwa kedua orang prajurit itu tidak melihat mereka, belum berarti bahwa mereka telah terlepas dari kemungkinan buruk itu.

Yang harus mereka pikirkan kemudian adalah bagaimana mereka menyusuri jalan sampai ke gerbang barak Kasadha itu.

Untuk beberapa saat keempat orang itu masih tetap menelungkup diatas dinding halaman itu.

Sementara itu kedua orang prajurit yang berlari melintasi jalan kecil itu telah sampai ke jalan yang lebih besar. Demikian keduanya muncul, maka prajurit yang berada di jalan yang lebih besar itu telah berlari kearah mereka. Namun keduanya ternyata juga prajurit yang bertugas.

Bahkan salah seorang prajurit yang muncul di jalan itu bertanya, “Apakah kalian melihat ampat orang yang berlari menyusuri lorong sempit itu memasuki jalan ini.”

“Tidak” jawab prajurit yang berada di jalan itu.

Aku yakin, mereka memasuki lorong itu. Aku mengejar mereka. Tidak ada jalan simpang, sehingga mereka tentu akan muncul di mulut lorong ini.”

“Tetapi mereka tidak muncul disini” jawab prajurit yang bertugas di jalan itu.

“Aneh” desis salah seorang dari kedua orang prajurit yang mengejarnya itu.

“Kita lihat sekali lagi. Apakah mereka ada di lorong sempit itu.” berkata prajurit yang bertugas di jalan itu.

Beberapa orang prajurit segera memasuki lorong itu. Tetapi dua diantara mereka tetap berdiri dimulut lorong.

Kasadha menyadari, bahwa para prajurit itu tentu akan memperhatikan lorong itu dengan lebih teliti. Karena itu, maka Kasadha itu pun segera memberi isyarat kepada yang lain untuk meloncat saja masuk ke halaman.

Dengan kemampuan mereka yang tinggi, maka keempat orang itu telah meloncat memasuki halaman diping-gir lorong itu tanpa menimbulkan bunyi sama sekali. Dengan jantung yang berdebaran mereka duduk bersandar dinding sambil mendengarkan, apa yang terjadi di lorong itu.

Ternyata para prajurit itu sudah menutup lorong itu dari ujung sampai ke ujung.

Para prajurit yang ada dimulut lorong seberang menyeberang, telah menghubungi kawan-kawan mereka yang ada di jalan yang lebih besar untuk mengawasi jika keempat orang itu tiba-tiba saja muncul.

Kasadha dapat mendengar teriakan-teriakan dan perintah-perintah dari para perwiranya sehingga rasa-rasanya lingkungan itu sudah tertutup rapat.

Kasadha memang menjadi semakin marah. Tubuhnya yang letih serta ketegangan yang mencengkamnya selama perjalanan-nya ke Madiun telah membuat darahnya cepat mendidih.

Namun ia harus mengekang diri. Bagaimanapun juga ia akan dapat dianggap bersalah jika ia melawan para prajurit yang sedang bertugas itu. Bahkan ia telah menyerang dua orang prajurit yang bertugas dipintu gerbang sehingga pingsan.

Dalam pada itu, para prajurit peronda itu masih sibuk mencari empat orang buruan yang tiba-tiba saja hilang. Namun tiba-tiba saja terdengar salah seorang prajurit yang berteriak, “Mungkin mereka meloncat masuk kedalam halaman disebelah jalan ini.”

“Mungkin sekali” sahut yang lain, ”dinding ini cukup tinggi. Tetapi bukannya tidak mungkin untuk diloncati.”

Karena itulah, maka terdengar perintah, “Cari. Masuk ke halaman sebelah menyebelah jalan.”

Kasadha yang mendengar perintah itu menggeram, ia sadar, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Karena itu, maka ia pun memberi isyarat kepada ketiga orang yang lain untuk bergeser meninggalkan tempatnya masuk kedalam halaman itu lebih dalam lagi. Bahkan akhirnya mereka telah melintasi batas-batas halaman mendekati arah pintu gerbang barak Kasadha yang ada dipinggir jalan yang lebih besar dari lorong yang terakhir mereka lintasi.

“Kita akan bersembunyi dihalaman yang berseberangan dengan pintu barak itu” berkata Kasadha., “Demikian kita meloncat, kita akan segera sampai kepintu gerbang.”

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengikutinya saja. Dengan sangat berhati-hati mereka kemudian telah bersembunyi di sebuah halaman yang letaknya hampir berseberangan dengan barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda.

Tetapi mereka tidak segera dapat menyeberang. Seandainya mereka sempal berlari, namun pintu gerbang itu tentu diselarak. Apalagi karena terdengar suara kentongan sebagai isyarat bahwa ada sekelompok orang yang sedang diburu oleh para prajurit karena telah membuat keributan.

Keempat orang itu kemudian memang dicengkam oleh ketegangan. Mereka menyadari, bahwa beberapa orang prajurit telah meloncati dinding halaman itu pula.

Dengan tombak merunduk mereka berjalan menyusuri kegelapan. Namun mereka tidak segera menemukan orang yang mereka cari. Bahkan menurut penglihatan mereka, halaman-halaman itu sepi dan seolah-olah tertidur nyenyak.

Dua orang prajurit justru terkejut ketika mereka mendengar lengking anak-anak yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ibunya ternyata telah terbangun sebelumnya oleh suara kentongan yang mengumandang diseluruh kota. Dengan suara bergetar oleh ketakutan, ibunya berusaha untuk menenangkan anaknya. Tetapi karena ibunya sendiri gelisah, maka sulit baginya untuk dapat menidurkan anaknya kembali. Biasanya anak itu jika terbangun dan menangis akan segera tertidur lagi jika ibunya mendendangkan sebuah lagu yang ngelangut. Tetapi malam itu, suara ibunya benar-benar tidak dapat keluar dari kerongkongan-nya oleh ketakutan yang mencekam.

Kedua prajurit itu tercenung sejenak. Namun kemudian mereka melangkah pergi.

Tetapi suara langkah mereka didekat dinding bilik itu, membuat ibu anak itu semakin ketakutan sehingga anaknya  pun menangis semakin keras.

Yang terdengar kemudian adalah suara seorang laki-laki, “Beri anak itu minum.”

“Sudah. Aku telah memberinya minum. Tetapi ia masih saja menangis.”

“Biasanya kau berdendang” berkata laki-laki itu.

“Tetapi, tetapi, diluar aku mendengar langkah kaki” perempuan itu berbisik. Tetapi justru karena ia sangat ketakutan, suaranya yang bergetar itu dapat didengar oleh prajurit yang berada diluar rumah.

Seorang dari kedua orang prajurit yang merasa kasihan kepada anak yang menangis itu akhirnya berkata dari luar dinding, “Jangan takut. Kami adalah prajurit yang bertugas, justru mengamankan rumah ini. Berdendanglah. Tidak apa-apa.”

Suara itu mula-mula sangat mengejutkan. Namun kemudian kedua orang tua anak yang menangis itu menarik nalas dalam-dalam. Uari dalam rumahnya laki-laki itu berkata, “Terima kasih Ki Sanak.”

Sejenak kemudian benar-benar terdengar suara dendang seorang perempuan. Suaranya memang merdu dan ngelangut, sehingga anaknya itu pun segera terdiam pula.

Sementara itu beberapa orang prajurit yang lain, masih mencoba untuk mencari ampat orang buruan itu. Mereka menebar dihalaman-halaman. Semakin lama daerah pencaharian menjadi semakin luas. Sementara itu, lingkungan itu seakan-akan telah dikepung oleh kelompok-kelompok prajurit yang justru berdatangan.

“Setan prajurit-prajurit itu” geram Kasadha, “seharusnya merekalah yang mendapat tugas ke Madiun.”

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak banyak memberikan pendapatnya. Namun dalam keadaan yang terjepit, maka mereka harus mengerahkan kemampuan mereka untuk berusaha melepaskan diri dari kepungan para prajurit selama masih mungkin. Tetapi jika tidak, maka mereka harus menyerah, karena tidak ada niat mereka untuk melawan para prajurit Pajang. Bagaimana juga, maka tindakan itu adalah tindakan yang salah.

Kasadha sendiri memang tidak dapat berbuat banyak, ia harus bersiap-siap untuk menerima hukuman, karena ia telah melawan prajurit yang sedang bertugas, meskipun ia sendiri seorang prajurit.

Namun dalam keadaan yang semakin terjepit, maka Kasadha pun memberi isyarat kepada ketiga orang yang bersamanya itu untuk memanjat, karena para prajurit itu nampaknya akan menilik setiap jengkal tanah di lingkungan yang sudah terkepung itu.

Nampaknya Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung sependapat. Mereka pun dengan tangkasnya telah memanjat sebatang pohon nangka yang terhitung besar dengan dahan, ranting dan daun-daunnya yang lebat.

Demikianlah mereka hinggap di dahan pohon nangka itu, maka mereka memang melihat beberapa orang prajurit berjalan kearah mereka.

Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu menahan nafasnya. Dua orang prajurit melintas di bawah pohon itu menuju ke halaman belakang sebuah rumah yang terhitung besar.

Keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun belum lagi jantung mereka menjadi tenang, dua orang prajurit yang lain telah mendekat pula. Bahkan keduanya telah berhenti dan berdiri di bawah pohon nangka itu.

Yang hinggap diatas pohon nangka itu harus menahan nafasnya kembali. Mereka harus menjaga agar orang-orang yang ada dibawah pohon itu tidak mendengar desah nafasnya itu.

Tetapi kedua orang prajurit itu ternyata tidak segera pergi. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Tidak akan ada setapak tanah pun yang akan terlampaui.”

Kawannya pun menyahut, “Mungkin mereka bersembunyi. Kita harus beradu ketahanan dan kesabaran. Mereka tentu masih ada dilingkungan ini jika benar dua orang prajurit yang memberikan keterangan itu melihat mereka memasuki lorong itu.”

“Setan prajurit-prajurit itu” berkata Kasadha didalam hatinya. Tetapi ia tidak mempunyai cara apapun untuk mengusir mereka dari bawah pohon nangka itu.

Sementara itu, kedua orang itu masih saja berbicara yang satu dengan yang lain. Bahkan kemudian mereka tidak lagi berbicara tentang tugas mereka mencari orang-orang yang mereka anggap penjahat yang harus diburu itu.

Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Biarlah para prajurit yang bertugas malam ini mencari orang-orang itu. Sebaiknya kita menunggu saja disini, karena aku yakin, keempat orang itu masih berada disekitar tempat ini. Kita baru akan bertindak setelah ada tanda-tanda bahwa keempat orang itu terlihat oleh para peronda yang bertugas malam ini.”

Mereka yang berada diatas pohon itu menjadi semakin gelisah. Satu-satunya jalan bagi Kasadha adalah menyerahkan diri dan menerima hukuman karena ia telah melawan prajurit yang sedang bertugas.

Tetapi Kasadha masih berharap bahwa Ki Rangga Dipayuda akan menghubungi Ki Tumenggung Jayayuda untuk ikut campur dalam persoalan ini.

Dalam pada itu, kedua orang prajurit dibawah pohon itu masih saja berbincang. Seorang justru duduk bersandar pohon nangka itu.

Namun semakin lama pembicaraan kedua orang prajurit itu semakin menarik perhatian Kasadha. Bukan isi pemicaraan mereka, tetapi cara keduanya berbicara.

Baru kemudian, Kasadha menyadari, bahwa kedua orang prajurit itu adalah prajurit-prajuritnya. Mereka tentu sedang bertugas di barak ketika terdengar isyarat bahwa ada beberapa orang yang sedang diburu, dan kemudian ditugaskan untuk memberikan bantuan keluar barak. Apalagi orang yang diburu itu diduga berada didekai barak mereka.

Karena itu, maka Kasadha itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan pasti Kasadha mengenali mereka, sehingga ia yakin bahwa ia tidak akan salah.

Kasadha pun kemudian memberi isyarat kepada Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka tetap berada di tempatnya.

Risang tanggap akan isyarat itu. Tetapi ia tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Kasadha.

Ternuyata sejenak kemudian Kasadha itu tiba-tiba saja telah bergerak turun dengan sangat hati-hati. Tetapi bagaimanapun juga, pohon itu memang telah bergoyang, sehingga kedua orang prajurit itu terkejut.

Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan berbuat sesuatu. Demikian mereka bersiap sambil merundukkan senjata mereka, maka Kasadha telah sempat berkata, “Ini aku. Lurah Kasadha. Kalian kenal?”

Sekali lagi kedua orang itu terkejut. Sejenak mereka mengamati orang yang sudah berdiri dihadapannya. Orang itu memang Ki Lurah Kasadha.

Dengan heran seorang dari kedua orang prajurit itu bertanya, “Apakah yang sedang diburu itu juga Ki Lurah Kasadha?”

“Ya. Aku melawan ketika aku akan ditahan di gardu dibelakang gerbang kota. Kemudian aku dan tiga orang yang membantu aku dalam tugasku yang berat itu melarikan diri.”

“Dimana mereka sekarang?” bertanya prajurit yang lain.

“Mereka ada diatas.”

Kedua orang prajurit itu memandang keatas. Tetapi mereka tidak segera melihat ketiga orang yang bertengger diatas dahan pohon nangka itu.

Dalam pada itu Kasadha pun berkata, “Cari jalan, agar kami dapat masuk ke barak. Bukankah regol barak itu ada diseberang jalan?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Kami akan mencoba. Kami akan membawa kalian seorang demi seorang. Tetapi kami akan melihat keadaan lebih dahulu.”

Demikianlah, maka salah seorang prajurit itu telah menyeberangi halaman dan melalui regol halaman turun ke jalan.

Prajurit itu masih melihat beberapa orang yang berjaga-jaga diujung ujung jalan, tetapi tidak terlalu dekat. Sementara itu, regol barak mereka nampak masih tertutup rapat. Tetapi prajurit itu tahu, bahwa dibelakang pintu serta diatas panggungan tentu ada kawan-kawannya yang berjaga-jaga.

Prajurit itu pun kemudian telah menyeberangi jalan dan menuju ke barak. Dengan isyarat sandi ia mengetuk pintu gerbang itu. Demikian pintu gerbang terbuka, maka ia pun langsung menemui seorang Lurah prajurit yang bertugas.

Kepada Lurah prajurit itu, ia telah melaporkan, bahwa yang sedang diburu itu adalah justru Ki Lurah Kasadha.

“Kenapa?” bertanya Lurah prajurit yang bertugas itu.

“Aku tidak tahu. Ki Lurah belum sempat berceritera. Tetapi Ki Lurah telah melawan prajurit yang bertugas dipintu gerbang kota.”

Lurah prajurit itu mengerutkan dahinya. Ia tahu bahwa Ki Lurah Kasadha adalah seorang prajurit yang memegang teguh paugeran. Jika ia berbuat menyimpang, tentu ada alasannya yang mapan bagi Ki Lurah.

“Lalu, apa katanya?” bertanya Lurah yang bertugas itu.

“Ki Lurah minta dibantu untuk dapat masuk kedalam barak ini bersama tiga orang yang mendukung tugasnya yang berat selama ini.” jawab prajurit itu.

Lurah prajurit yang bertugas itu termangu-mangu sejenak. Ia pun kemudian bergumam, “Apakah kita harus melaporkannya kepada Ki Rangga Dipayuda?”

“Terlalu lama Ki Lurah” jawab prajurit itu.

“Baiklah. Kita usahakan agar Ki Lurah Kasadha memasuki barak ini lebih dahulu.” berkata Lurah prajurit itu.

Prajurit itu kemudian minta ijin untuk membawa tiga orang kawan lagi, sehingga dengan demikian mereka akan dapat menyamarkan Kasadha dan kawan-kawannya.

“Berhati-hatilah” pesan Lurah prajurit yang bertugas.

Ketika prajurit itu keluar lagi dari pintu gerbang bersama ketiga orang kawannya, maka mereka masih juga melihat prajurit yang bertugas diujung-ujung lingkungan yang sedang di kepung, sementara beberapa orang prajurit sedang berusaha mencari keempat orang buruan itu dengan menjelajahi halaman-halaman rumah.

Namun diantara mereka adalah prajurit-prajurit yang keluar dari barak itu pula.

Selain keempat orang prajurit yang kemudian menyeberangi jalan itu, beberapa orang prajurit yang lain telah keluar pula dari pintu gerbang, meskipun hanya berdiri mengawasi jalan itu.

Dengan demikian, maka didepan pintu gerbang yang agak menjorok kedalam dari tepi jalan itu nampak kesibukan yang meningkat.

Para prajurit dari kesatuan yang lain yang berdiri agak jauh dari pintu gerbang itu hanya melihat beberapa orang prajurit yang hilir mudik menyeberangi jalan didepan pintu gerbang yang agak menjorok kedalam dan dihubungkan dengan gledegan pendek dari pinggir jalan yang menyilang itu.

Lingkungan dinding barak yang terbuka memang memberi keleluasaan penglihatan bagi mereka yang ada dipanggungan didinding halaman barak maupun yang berada diluar.

Dengan demikian memang tidak ada yang menarik perhatian menurut penglihatan para prajurit peronda selain kesibukan yang meningkat. Para prajurit peronda mengira bahwa para prajurit di barak itu telah meningkatkan bantuan mereka untuk memburu keempat orang yang seakan-akan telah hilang begitu saja.

Namun dalam pada itu, Kasadha dan ketiga orang yang bersamanya telah berada di dalam pintu gerbang barak mereka.

Beberapa orang prajurit masih tetap berada diluar barak. Bahkan ada diantara mereka yang menebar mengamati jalan yang melintang menyilang gledegan pendek yang menuju ke gerbang barak yang tertutup itu.

Seorang diantara para prajurit itu mendatangi tiga orang prajurit yang bertugas meronda malam itu dan berkata, “Halaman dilingkungan yang terkepung itu harus disisir pada jarak tidak lebih dari sedepa.”

“Kami kekurangan orang untuk melakukannya” jawab prajurit itu, “tetapi sekarang halaman-halaman itu masih dijelajahi. Jika malam ini mereka tidak diketemukan, maka esok pagi orang itu tentu menyerah. Sementara jalan disekeliling lingkungan ini masih tetap diawasi dengan ketat.”

Prajurit yang datang dari barak Kasadha itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia pun berkata, “Kami akan berjaga-jaga didepan pintu gerbang barak kami.”

“Silahkan” jawab prajurit yang memang bertugas malam itu.

Sementara itu, Kasadha telah dibawa menghadap Ki Rangga Dipayuda yang telah bangun pula karena suara kentongan yang bergema diseluruh kota. Dibawanya Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung keruangan yang khusus.

“Kenapa kalian diburu malam ini?” bertanya Ki Rangga.

Dengan singkat Kasadha memberikan keterangan apa yang telah terjadi di pintu gerbang kota.

“Kenapa kau lakukan hal itu?” bertanya Ki Rangga.

“Aku tidak mengerti Ki Rangga. Tiba-tiba saja jantungku bergejolak. Kami baru saja datang dari Madiun untuk menunaikan tugas yang menegangkan. Lebih dari itu, pemimpin kelompok yang pergi bersamaku itu telah gugur. Dengan demikian, rasa-rasanya jantungku cepat menjadi panas.”

Ki Rangga Dipayuda mengerutkan dahinya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Jadi pemimpin kelompok itu telah gugur?”

“Ya, Ki Rangga” jawab Kasadha, “betapa kami semuanya telah mengerahkan kemampuan kami untuk membantu dan menyelamatkannya. Tetapi saat itu kami menghadapi lawan-lawan yang berat, sehingga kami kehilangan orang yang bagiku sangat berarti.”

Ki Rangga mengangguk-angguk kecil. Katanya, “ia sudah sampai pada garis batas hidupnya. Segala sesuatunya harus kita kembalikan kepada penciptaNya.”

“Ya, Ki Rangga.” jawab Kasadha.

Ki Rangga Dipayuda itu pun kemudian berpaling kepada Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Dengan menahan gejolak perasaannya ia  berkata, “Kami mengucapkan  terima kasih  yang  tidak terhingga atas segala bantuan kalian.”

Risang menundukkan kepalanya sambil berdesis, “Itu adalah kewajiban kami, Ki Rangga.”

“Kau telah melakukan satu tugas melampaui kewajibanmu. Pajang harus merasa berhutang budi kepadamu.” sahut Ki Rangga.

“Bukankah aku juga terhitung kawula Pajang?” desis Risang.

“Justru karena tidak semua orang dapat melakukan sebagaimana kau lakukan.” jawab Ki Rangga.

Risang tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih menundukkan kepalanya.

Dalam pada itu, maka Ki Rangga Dipayuda pun kemudian mulai mempersoalkan sikap Kasadha sehingga Kasadha telah diburu oleh para prajurit yang bertugas malam itu didalam lingkungan dinding kota.

Dengan nada dalam Ki Rangga itu pun bertanya, “Apakah kau telah menyebut nama dan kedudukanmu kepada prajurit yang bertugas di pintu gerbang kota itu?”

Kasadha mengingat-ingat. Dengan dahi yang berkerut ia menjawab, “Agaknya memang demikian, Ki Rangga. Ketika aku dihentikan dan ditekan dengan beberapa pertanyaan, aku telah menyebut namaku dan kesatuan ini.”

“Jika demikian, maka akan datang saatnya, kau diburu sampai ke barak ini.” berkata Ki Rangga.

“Kami mohon perlindungan” jawab Kasadha, “saat itu, aku memang merasa letih sekali, sehingga aku tidak sempat mengekang diri.”

“Aku akan menghadap Ki Tumenggung.” Jawab Ki Rangga .

Malam itu juga Ki Rangga telah menghadap Ki Tumenggung Jayayuda. Dalam kesiagaan yang tinggi menghadapi gejolak yang timbul dalam hubungannya dengan Madiun, maka Ki Jayayuda memang lebih banyak berada di baraknya.

Dengan singkat, Ki Rangga memberikan laporan tentang hasil yang dicapai oleh Kasadha didalam tugasnya, dibantu oleh Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan dua orang yang juga berakal dari Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian dilaporkannya pula seorang pemimpin kelompok yang telah gugur dalam tugas itu.

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-aAgguk. Katanya, “Mereka pantas mendapat penghargaan dari Pajang. Harta-benda yang nilainya sangat besar itu akan sangat berarti. Seandainya harta-benda itu dapat diketahui siapa pemiliknya dan harus dikembalikan kepadanya, namun bahwa harta-benda itu tidak jatuh ketangan orang-orang yang tidak berhak, sudah berarti bahwa tugas Ki Lurah Kasadha berhasil dengan baik.”

“Ya, Ki Tumenggung” jawab Ki Rangga. Namun Ki Rangga pun telah menceriterakan pula bahwa Ki Lurah Kasadha lah yang telah menjadi buruan malam itu, sehingga isyarat kentongan telah menggetarkan udara malam diseluruh kota.

“Kenapa ia lakukan itu?” Ki Tumenggung mengerutkan dahinya.

Ki Rangga pun kemudian telah menceriterakan alasan Ki Lurah Kasadha, kenapa ia telah melanggar paugeran prajurit. Keletihan, ketegangan dan kemurungan karena seorang yang dianggapnya penting bukan saja sebagai seorang pemimpin kelompok, tetapi juga dalam hubungan pribadinya, telah membuat darahnya terlalu cepat mendidih.

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Biarlah aku menjelaskannya jika kemudian ternyata bahwa Ki Lurah itu diburu sampai ke barak ini.”

“Ia mohon perlindungan Ki Tumenggung.” berkata Ki Rangga.

“Aku akan melakukannya sejauh mungkin. Tetapi bahwa karena Kasadha telah berjasa, bukan berarti ia dapat melanggar paugeran yang berlaku” berkata Ki Tumenggung.

“Terserahlah kebijaksanaan Ki Tumenggung” berkata Ki Rangga kemudian.

“Baiklah” berkata Ki Tumenggung, “aku akan menjelaskannya. Sekarang, biarlah mereka yang baru kembali itu beristirahat.”

Demikianlah, maka Ki Rangga telah menemui Ki Lurah Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka dipersilahkan untuk beristirahat didalam barak itu. Namun Ki Rangga telah minta agar Kasadha membawa ketiga orang yang datang bersamanya itu kedapur.

“Mungkin masih ada yang kalian dapatkan didapur.” berkata Ki Rangga.

“Hara petugasnya sudah tidur nyenyak” sahut Kasadha.

“Kau dapat membangunkannya bila perlu” berkata Ki Rangga pula.

“Sudahlah Ki Rangga” berkata Kasadha, “biarlah besok pagi saja.”

Setelah membersihkan diri maka mereka berempat pun langsung pergi ke tempat yang memang khusus diperuntukkan bagi tamu yang menginap di barak itu. Kasadha tidak masuk kedalam biliknya sendiri. Tetapi ia ikut tidur bersama ketiga orang tamunya didalam bilik yang khusus itu.

Kasadha memang menghindari para prajuritnya. Jika ia berada di dalam biliknya, maka ia tentu tidak akan dapat segera beristirahat. Apalagi karena pemimpin kelompok tertua, yang menyertainya, telah gugur pula.

Di bilik khusus itu, maka keempat orang yang letih itu segera tertidur. Tetapi malam memang tinggal sisanya, sehingga mereka tidak mendapat kesempatan terlalu lama untuk tidur.

Betapapun, letihnya, namun keempat orang itu terbiasa bangun pagi-pagi. Seperti para prajurit yang lain, maka mereka pun bersiap sebelum matahari terbit.

Seperti yang telah diduga, maka keempat orang itu pun segera dikerumuni oleh para prajurit untuk mendengarkan ceritera perjalanan Kasadha, meskipun mereka tidak tahu pasti tugas yang diemban oleh Kasadha, namun mereka tahu bahwa Kasadha meninggalkan barak beberapa lama karena tugas yang berat bersama seorang pemimpin kelompoknya.

Kasadha memang tidak menceriterakan, apa yang telah dilakukan. Tetapi Kasadha menceriterakan bahwa pemimpin kelompok yang pergi bersamanya itu telah gugur didalam tugas.

Para prajurit, apalagi para prajurit didalam kelompok yang dipimpin oleh pemimpin kelompok yang gugur itu, menjadi sedih. Mereka merasa kehilangan seseorang yang bagi mereka sangat penting artinya.

Namun belum lagi mereka merasa puas mendengar keterangan Ki Lurah Kasadha, meskipun para prajurit itu tahu, bahwa yang bersilat rahasia tidak akan pernah diceriterakan, tiba-tiba saja Ki Lurah Kasadha bersama ketiga orang tamunya, telah dipanggil oleh Ki Rangga Dipayuda.

“Kenapa?” bertanya salah seorang prajurit.

“Tiga orang prajurit utusan dari kesatuan lain mencari mereka” jawab prajurit yang memanggilnya.

“Untuk apa?” bertanya prajurit yang lain.

Kasadha tersenyum, ia tahu, bahwa yang mencarinya tentu seorang perwira yang semalam bertugas berjaga-jaga di seluruh kota.

“Aku telah melakukan pelanggaran” berkata Ki Lurah Kasadha.

“Pelanggaran apa?” bertanya beberapa orang sekaligus.

“Tidak penting. Tetapi memang satu kesalahan” jawab Kasadha.

Para prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian Kasadha pun berkata, “Tunggulah disini. Tetapi jika aku harus ditahan karena pelanggaran itu, maka aku akan meneruskan ceriteraku pada kesempatan lain.”

“Tetapi kesalahan apa?” seorang prajurit ingin meyakinkan.

Kasadha tersenyum. Namun katanya kemudian, “Dipintu gerbang, aku telah memukul dua orang prajurit yang menahan aku. Tetapi karena aku sangat letih dan tegang, aku telah memukul mereka. Bukankah kalian semalam mendengar suara kentongan?”

Beberapa orang prajurit tertawa.

“Ya. Aku sudah mendengar. Ki Lurah semalam harus diselamatkan. Sebuah kelompok yang bertugas semalam di barak ini harus mengambil Ki Lurah dari seberang.” berkata seorang dari mereka.

Ki Lurah Kasadha pun tertawa pula. Namun kemudian bersama Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung, mereka telah menghadap Ki Rangga Dipayuda didalam bilik khususnya. Namun didalam bilik itu duduk pula Ki Tumenggung Jayayuda.

Kasadha termangu-mangu ketika ia melihat dua orang perwira bersama seorang prajurit yang duduk didalam bilik itu pula. Kasadha pun segera mengenali prajurit itu. Prajurit itu adalah prajurit yang semalam telah dipukulnya hingga pingsan di pintu gerbang.

Ki Lurah Kasadha bersama ketiga orang tamunya telah duduk pula. Tetapi Kasadha tidak menundukkan kepalanya. Dipandanginya prajurit yang telah dipukulnya di pintu gerbang. Ternyata Kasadha harus bertahan untuk tidak mentertawakan-nya. Bahkan justru prajurit itulah yang menunduk dan bahkan berpaling.

Salah seorang perwira itu pun kemudian berkata, “Inikah Lurah Kasadha itu?”

“Ya” jawab Ki Rangga Dipayuda.

Perwira itu pun memandang Kasadha dengan tajamnya sambil berkata, “Aku adalah Rangga Pradapa yang semalam memimpin tugas berjaga-jaga di kota ini.”

Kasadha tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk hormat.

“Kau telah melanggar paugeran. Kau telah melawan prajurit yang sedang bertugas. Meskipun pangkat dan kedudukanmu lebih tinggi, tetapi kau tidak berhak melawan. Apalagi kau tidak menunjukkan pertanda keprajuritanmu. Kau tidak mengenakan pakaian prajuritmu.”

Namun Ki Rangga Dipayuda segera bertanya kepada Kasadha, “Apakah kau tidak menunjukkan pertanda keprajuritanmu sama sekali sehingga prajurit itu tidak mempercayaimu?”

“Aku sudah menunjukkan timang keprajuritanku yang aku lepas dari ikat pinggang.” jawab Kasadha.

Ki Rangga Dipayuda pun kemudian berkata kepada Ki Rangga Pradapa, “Apakah itu tidak cukup?”

“Tetapi kenapa timang itu harus dilepas?” bertanya Ki Rangga Pradapa.

“Ki Rangga tentu tahu, bahwa seorang prajurit dalam tugas sandi tidak seharusnya mengenakan pakaian serta ciri-ciri keprajuritannya. Dengan demikian, tidak ada artinya sikap sandinya. Bahkan itu tentu merupakan satu kebodohan. Apalagi menyusup di daerah musuh.”

“Tetapi kesatuan ini bukan pasukan sandi.” jawab Ki Rangga Pradapa.

“Ah, Ki Rangga” Ki Tumenggung Jayayuda lah yang menyahut, “jangan bergurau. Ki Rangga tentu tahu bahwa kesatuan ini mempunyai wewenang untuk mengambil kebijaksaan atas tugas yang dibebankan kepadanya. Termasuk tugas-tugas sandi yang mempunyai hubungan langsung dengan tugas kesatuan ini.”

“Termasuk melanggar ketentuan?”

“Nanti dulu, Ki Rangga” sela Ki Rangga Dipayuda, “yang kita bicarakan adalah tugas sandi Ki Lurah Kasadha. Kita belum membicarakan tentang pelanggaran yang dibuatnya.”

“Bukankah sejak semula aku sudah berbicara tentang pelanggaran yang dibuatnya?”

“Tetapi kemudian Ki Rangga telah mengatakan bahwa kami tidak berwenang melakukan tugas sandi itu.”

“Sekarang, kami ingin mendengar pendapat Ki Tumenggung tentang salah seorang prajuritnya yang melanggar pangeran.”

“Aku sudah menerima laporan langsung dari Ki Lurah Kasadha. Laporan Ki Rangga memperlengkap laporan Ki Lurah meskipun laporan Ki Lurah sendiri sudah cukup lengkap.” jawab Ki Tumenggung.

“Lalu, kesimpulan Ki Tumenggung?”

“Karena Ki Lurah Kasadha adalah prajuritku, maka akulah yang akan mengambil tindakan atas pelanggaran yang dilakukannya. Aku sama sekali tidak berniat untuk menghindarkannya dari hukuman atas pelanggarannya. Yang kami sampaikan kepada Ki Rangga adalah sebuah penjelasan, kenapa hal seperti itu dapat terjadi sehingga Ki Lurah Kasadha harus menerima hukumannya. Tetapi Ki Rangga juga harus memperingatkan prajurit Ki Rangga yang menolak mengakui pertanda keprajuritan yang sah sebagaimana yang sudah ditunjukkan oleh Ki Lurah Kasadha, agar diwaktu mendatang tidak terjadi lagi bahwa seseorang prajurit harus mempertahan-kan keabsahannya dengan kekerasan seperti yang dilakukan Ki Lurah Kasadha, karena hal itu sama artinya dengan mendorong seseorang melakukan pelanggaran.”

“Baik” jawab Ki Rangga, “pada kesempatan lain, aku ingin mengetahui hukuman apa yang telah Ki Tumenggung jatuhkan terhadap Ki Lurah Kasadha.”

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Namun justru karena itu maka Ki Tumenggung itu berkata, “Akulah yang dapat mempertimbangkan besar kesalahan dan keberhasilannya melakukan tugasnya. Bukan berarti bahwa seseorang yang berhasil melakukan tugasnya boleh melakukan pelanggaran, tetapi pengaruh jiwani atas perbuatan seseorang pada saat pelanggaran itu dilakukan akan dipertimbangkan.”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Tumeng-gung. Kami mohon diri. Kami percayakan tegaknya paugeran pada Ki Tumenggung. Juga dalam hubungannya dengan pelanggaran yang dilakukan oleh Ki Lurah Kasadha.”

“Terima kasih atas kepercayaan itu, Ki Rangga.” jawab Ki Tumenggung.

Demikianlah, maka Ki Rangga pun segera minta diri dan meninggalkan barak itu.

Sepeninggal Ki Rangga, maka Ki Tumenggung berkata, “Untunglah bahwa Ki Rangga Pradapa masih dapat dilunakkan hatinya. Jika tidak, maka persoalannya tidak akan berhenti sampai disini, karena kau memang bersalah. Karena itu, untuk mencegah segala sesuatunya kau jangan keluar dari barak ini.”

Kasadha mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Baik Ki Tumenggung. Aku mengakui kesalahan itu.”

Ki Tumenggung masih akan berkata lagi. Namun tiba-tiba mereka mendengar sorak di halaman.

“Apa itu?” bertanya Ki Tumenggung.

Ki Dipayuda pun segera bangkit. Demikian pula Kasadha dan Ki Tumenggung sendiri.

Demikian mereka keluar dari pintu bilik itu, maka mereka melihat sekelompok prajurit yang duduk berserakan sambil bersorak, sementara Ki Rangga Pradapa dan kedua orang kawannya berjalan melintasi halaman barak itu.

Ki Rangga Dipayuda dan Ki Lurah Kasadha cepat-cepat turun ke halaman dan memberikan isyarat agar paa prajurit itu diam. Sementara Ki Rangga Pradapa sudah mendekati regol halaman barak itu.

Para prajurit itu pun kemudian memang terdiam. Mereka hanya mengikuti dengan mata ketika Ki Rangga Pradapa dan kedua orang kawannya meloncat ke punggung kudanya dan kemudian keluar dari pintu regol yang sudah dibuka.

“Kenapa kalian berkumpul disini dan bahkan bersorak-sorak seperti anak kecil?”

Para prajurit itu terdiam. Tidak ada seorang pun di-antara mereka yang menjawab.

“Kenapa?” bertanya Ki Dipayuda pula. Beberapa orang saling memandang. Sementara Ki Rangga bertanya semakin keras, “Kenapa? Nanti jika Ki Tumenggung bertanya kepadaku, apa jawabku? Apakah aku harus menjawab, bahwa kalian tiba-tiba sudah kerasukan dan bersorak-sorak tanpa alasan?”

Para prajurit itu masih berdiam diri. Ki Rangga Dipayuda tiba-tiba saja melangkah maju dan menarik baju seorang prajurit sehingga prajurit itu bangkit dan berdiri, ”jawab, Kenapa?”

Prajurit itu termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Tingkah laku ketiga orang itu terasa lucu di-mata kami. Bagaimana mungkin mereka datang ke barak ini untuk menangkap Ki Lurah Kasadha.”

“Jadi apa yang pantas ditertawakan?”bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Kami mengetahui, mereka datang dari barak pasukan yang bertugas mengawal kota. Seandainya mereka mengerahkan seluruh pasukannya, mereka tidak akan dapat membawa seorang pun diantara kita disini.”

“Itu pikiran gila” bentak Ki Rangga Dipayuda, “untuk menegakkan paugeran, semua jajaran prajurit Pajang berdiri diatas landasan yang sama. Ki Lurah Kasadha memang bersalah. Dan Ki Tumenggung akan menghukumnya. Sementara ini Ki Lurah tidak boleh keluar dari barak sampai ada ketentuan berikutnya.”

Prajurit itu terdiam. Ketika Ki Rangga melepaskannya, maka ia pun telah terduduk kembali sambil menunduk.

“Kalian tidak boleh mempunyai pikiran seperti itu. Kedudukan para prajurit Pajang semuanya sama. Kita berpegang pada paugeran tatanan yang sama. Suatu ketika kau, atau kau dapat saja dipindahkan ke kesatuan pengawal kota. Atau ke kesatuan pengawal istana atau bahkan menjadi petugas untuk mengamankan lingkungan tertentu atau di kesatuan-kesatuan lain.”

Para prajurit itu kembali terdiam. Sementara Ki Rangga Dipayuda berkata pula, “Aku bangga kalian merasa mempunyai ikatan yang erat dikalangan para prajurit. Tetapi tidak sesempit barak ini. Kalian adalah prajurit Pajang. Ki Rangga dan kedua orang yang menyertainya itu juga prajurit Pajang dari kesatuan yang manapun.

Para prajurit itu semakin terdiam.

“Ingat-ingat kata-kataku itu” berkata Ki Rangga kemudian.

Suasana menjadi hening. Ki Tumenggung sudah masuk kembali kedalam bilik khusus itu.

“Ki Rangga Dipayuda pun kemudian telah mengajak Ki Lurah Kasadha untuk masuk kedalam bilik itu pula.

Didalam bilik itu, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang bukan prajurit, hanya dapat duduk diam. Bahkan ketika Ki Rangga, Ki Lurah Kasadha dan Ki Tumenggung melangkah keluar pintu, mereka masih saja duduk di tempatnya.

Ketika kemudian Ki Rangga Dipayuda dan Ki Lurah Kasadha sudah duduk lagi, maka Ki Tumenggung itu berkata, “Sudahlah. Sekarang kalian dapat meninggalkan tempat ini. Sekali lagi atas nama Pajang, aku mengucapkan terima kasih atas keberhasilan tugas kalian. Tetapi sekali lagi aku memperingatkan Ki Lurah Kasadha, jangan keluar dari barak ini untuk semenara. Bukan sekedar menyenangkan Ki Rangga Pradapa yang menuntut kau dihukum, tetapi ketentuan itu memang merupakan bagian dari hukumanmu.”

Demikianlah, maka Ki Lurah Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meninggalkan bilik itu. Mereka masih melihat beberapa orang prajurit yang ada di halaman.

“Kenapa kalian masih berada disini?” bertanya Ki Lurah Kasadha, “apakah kalian mengira bahwa kalian adalah penganggur-penganggur yang menunggu rangsum agar tidak kelaparan?”

Beberapa orang telah berjalan mengiringinya. Seorang diantara mereka berkata, “Jika Ki Lurah tadi dibawa, kami tidak akan melepaskan.”

“Itu bukan sikap seorang prajurit. Jika aku bersalah karena menentang prajurit yang sedang bertugas, maka kalian tidak perlu melakukannya. Meskipun seandainya kesatuan ini lebih besar dan lebih kuat dari kesatuan yang manapun, tetapi bukankah kita bukan sekelompok pemberontak?”

Prajurit itu terdiam. Ternyata ia merenungi kata-kata Ki Lurah Kasadha itu.

Sepertinya terpotong disini, tidak nyambung?

“Maksudmu?” bertanya Kasadha.

“Aku sudah terlalu lama meninggalkan ibu dan Tanah Perdikan Sembojan.”

Kasadha mengerutkan dahinya. Katanya kemudian, “Tetapi kalian tentu masih letih. Kita masih akan berbicara lagi dengan Ki Rangga secara terperinci. Kita akan melaporkan isi dari peti-peti yang kita ketemukan itu.”

“Bukankah itu dapat kau lakukan sendiri?” bertanya Risang.

“Tetapi aku perlu saksi” jawab Kasadha, “pemimpin kelompokku itu sudah gugur, sehingga ia tidak dapat memberikan kesaksian apapun juga.”

Risang memang terpaksa menunda keberangkatannya untuk kembali ke Tanah Perdikan.

Sebenarnya sebagaimana dikatakan oleh Kasadha, maka hari itu mereka telah menghadap Ki Rangga Dipayuda dan Ki Tumenggung Jayayuda lagi. Mereka memberikan laporan terperinci tentang perjalanan mereka. Tentang peti-peti yang mereka sembunyikan. Tentang jenis-jenis harta-benda dan senjata yang tersembunyi itu. Tentang korban yang jatuh dan tentang paman Ki Lurah Mertapraja yang tidak tertolong bersama Ki Remeng, orang yang sangat setia kepadanya. Bahkan kemudian Kasadha dengan kesaksian Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat pula memberikan laporan tentang kesiagaan prajurit Madiun, prajurit-prajurit dari luar Madian yang jumlahnya cukup besar, serta upacara tahunan yang terbesar yang pernah diselenggarakan untuk menilai ketrampilan para prajurit Madiun dan yang datang dari luar Madiun. Tetapi Kasadha pun berceritera pula tentang petugas sandi yang tertangkap serta bagaimana kurang berhati-hatinya petugas sandi dari Pajang.

“Kami sempat menemukan dua orang petugas sandi dari Pajang,” berkata Kasadha kemudian.

“Apa yang kalian lakukan? Apakah kemudian mereka mengetahui siapa kalian?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Tidak” jawab Kasadha, “Tentu kami tidak akan mengatakan tentang diri kami.”

Ki Rangga mengangguk-angguk, sementara Kasadha pun kemudian mengakhiri laporannya dengan kesimpulannya, bahwa Madiun mempunyai kelemahan pada persediaan bahan makanan bagi ribuan prajurit yang bertimbun didalam kota dan sekitarnya.

“Dua orang yang mencoba menyamun kami menceriterakan bahwa para petani disekitar Madiun harus menyerahkan sebagian hasil panenan mereka bagi persediaan makanan para prajurit.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan menyampaikan laporan ini kepada Kangjeng Adipati. Jika laporan ini sampai ke Mataram, maka laporan ini akan dapat melengkapi atau memperkuat laporan para petugas sandi jika mereka juga menangkap persoalan ini. Sementara itu, aku akan menghubungi Senapati pasukan sandi untuk memberikan sentuhan para petugas sandi yang kurang berhati-hati di Madiun.”

Dengan laporan itu, maka akan dapat diambil sikap tentang harta benda yang tersembunyi itu. Kemudian tentu saja menunjuk utusan yang akan pergi ke Mataram. Bahkan mungkin Kangjeng Adipati sendiri akan pergi ke Mataram untuk beberapa keperluan termasuk menyampaikan laporan itu.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga Dipayuda masih mempersoalkan kematian Ki Mawur, paman Ki Lurah Mertapraja. Justru karena Ki Lurah Mertapraja sudah mulai menjadi tenang kembali.

“Jika kematian pamannya didengar oleh Ki Lurah, maka hati Ki Lurah yang sedang rapuh itu tentu akan terguncang lagi.” berkata Ki Rangga Dipayuda.

“Terserahlah kepada Ki Rangga, apa yang terbaik bagi Ki Lurah. Tetapi ia masih harus tetap berada dalam tahanan, ia terasuk orang yang harus disimpan sampai perang selesai.”

“Ya, Ki Tumenggung” jawab Ki Rangga, “menurut pendapatku, untuk sementara biarlah Ki Lurah tidak mendengar berita kematian pamannya itu. Juga tentang Ki Remeng dan harta-benda yang sudah diketemukan dan kini telah disembunyikan oleh petugas dari Pajang sehingga setiap saat Pajang akan dapat mengambilnya.”

Dengan pertemuan itu,maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung merasa bahwa tugas mereka memang sudah selesai. Segala sesuatunya terserah kepada kebijaksanaan Pajang. Karena Risang memang tidak mempunyai keinginan sama sekali untuk ikut memiliki harta-benda yang telah diketemukan itu, maka Risang tidak akan pernah mempersoalkannya lagi.

Karena itu, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah minta diri pula kepada Ki Rangga Dipayuda dan kepada Ki Tumenggung Jayayuda, bahwa esok pagi-pagi sekali mereka akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Ki Tumenggung dan Ki Rangga tidak dapat menahan mereka lebih lama lagi. Sekali lagi Ki Tumenggung mengucapkan terima kasih. Namun kemudian Ki Tumenggung itu pun berpesan, “Hati-hatilah terhadap Madiun. Bahkan Ki Lurah Mertapraja pernah terlibat dalam serangan terhadap Tanah Perdikan Sembojan, berarti Tanah Perdikan Sembojan mendapat perhatian khusus dari orang-orang tertentu. Tidak mustahil bahwa ada juga orang-orang tertentu di Madiun yang mulai mengintip kesuburan Tanah Perdìkan Sembojan, yang akan dapat dijadikan lumbung yang tidak kering-keringnya. Juga mengingat kesulitan Madiun untuk menyediakan bahan makan dan perbekalan bagi ribuan prajurit yang sekarang berkumpul di Madiun itu.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Kami akan selalu berhati-hati. Mudah-mudahan kami dapat menjaga diri untuk menghadapi ancaman dari mana pun datangnya.” jawab Risang.

“Aku yakin akan kemampuanmu serta kekuatan yang ada dibelakangmu.” berkata Ki Tumenggung.

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu pun kemudian meninggalkan bilik itu bersama Kasadha. Di-pintu Ki Rangga Dipayuda berkata, “Kesalahan kalian, karena kalian melarikan diri dari para petugas bersama Kasadha malam kemarin, seluruhnya akan dipikul oleh Ki Lurah.”

Kasadha mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa. Ki Rangga sendiri juga tertawa. Demikian pula Risang yang tertawa pula sambil menjawab, “Terima kasih Ki Rangga.”

Kemudian Ki Rangga itu berkata, “Besok pagi-pagi, kalian akan dikawal oleh beberapa orang prajurit sampai ke pintu gerbang agar kalian tidak mengalami kesulitan jika kalian bertemu dengan prajurit-prajurit yang mengenali kalian melarikan diri bersama Ki Lurah Kasadha”

“Terima kasih, Ki Rangga” jawab Risang pula. Malam itu, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih bermalam di barak itu. Mereka akan berangkat pagi-pagi benar sebelum matahari terbit esok pagi.

Malam itu, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih mendampingi Kasadha berceritera kepada prajurit-prajuritnya. Tentu saja hal-hal yang tidak termasuk harus dirahasiakan. Sementara itu, malam itu juga Kasadha telah menunjuk ampat orang prajurit untuk mengantar Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung sampai kepintu gerbang.

Menjelang tengah malam, maka Kasadha telah mempersilah-kan ketiga orang yang akan kembali ke Tanah Perdikan dikeesokan pagi itu untuk beristirahat, karena mereka akan menempuh perjalanan yang terhitung panjang.

Namun dalam kesempatan terakhir, ternyata Ki Tumenggung Jayayuda telah mengijinkan ketiganya mempergunakan tiga ekor kuda dari barak itu untuk mereka pergunakan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika seorang Lurah prajurit menyampaikan hal itu kepada Ki Lurah Kasadha, maka Ki Lurah pun berkata, “Terima kasih. Mereka tentu akan senang sekali. Tetapi kapan mereka harus mengembaikannya jika ketiga ekor kuda itu sekedar boleh dipergunakan?”

“Itu tidak penting” jawab Lurah prajurit itu., “Kapan saja, atau biarlah kuda-kuda itu berada di Tanah Perdikan Sembojan. Menurut Ki Tumenggung, apa yang mereka lakukan bersama Ki Lurah Kasadha nilainya tidak hanya sekedar sama dengan tiga ekor kuda.”

Ki Lurah Kasadha tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Tetapi kuda yang mana?”

“Besok pagi-pagi kuda itu sudah dipersiapkan. Tetapi bukan kuda yang terbaik. Meskipun demikian, kuda itu akan dapat sedikit membantu perjalanan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.”

Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Lurah prajurit itu, menjelang fajar, tiga ekor kuda sudah siap untuk membawa Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung ke Tanah Perdikan Sembojan.

Setelah minum minuman hangat dan sekedar makanan, maka ketiga orang itu pun telah bersiap meninggalkan barak itu.

Ternyata Ki Rangga Dipayuda telah bangun pula. Bersama Kasadha dan beberapa orang prajurit, mereka melepas Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkan barak itu diantar oleh empat orang prajurit berkuda.

Sebelum matahari terbit, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menyusuri jalan-jalan kota. Mereka benar-benar merasa gembira dan berterima-kasih karena mereka dapat menempuh perjalanan panjang ke Tanah Perdikan Sembojan itu berkuda. Mereka tidak akan menjadi letih dan dapat menghemat waktu yang cukup panjang.

Demikianlah mereka dilepas oleh para prajurit yang menyertai mereka sampai kepintu gerbang, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah melarikan kuda mereka. Risang masih sempat melambaikan tangannya. Namun kemudian kudanya pun berlari semakin kencang.

Seorang prajurit yang bertugas di gerbang kota mendekati para prajurit berkuda itu sambil bertanya, “Siapakah mereka?”

“Tamu kami” jawab salah seorang prajurit berkuda itu.

Prajurit itu tidak bertanya lagi. Sementara itu, keempat orang prajurit yang mengantar Risang itu pun segera kembali kebarak mereka.

Risang yang melarikan kudanya bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memasuki bulak persawahan.

Sementara langit menjadi semakin lama semakin terang. Sinar matahari yang kemudian terbit di Timur memancar menusuk langit.

Udara terasa sangat segar. Embun masih nampak bergayutan diujung daun padi yang mulai berbuah.

Di pepohonan di pinggir jalan bulak itu terdengar burung-burung yang berkicau menyalami matahari yang baru saja terbit.

Risang sebenarnya memang ragu-ragu untuk menyatakan niatnya singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda, justru karena ia bersama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Tetapi ia sudah terlanjur menempuh perjalanan panjang singgah di Pajang.

“Tetapi Jangkung agaknya ada dirumah” berkata Risang didalam hatinya.

Karena itu, maka Risang pun kemudian berkata, “Aku akan singgah sebentar dirumah sahabatku?”

“Siapa?” bertanya Sambi Wulung.

“Namanya Jangkung. Putera Ki Rangga Dipayuda.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menolak. Mereka tahu bahwa selain Jangkung, Ki Rangga Dipayuda mempunyai seorang anak gadis yang pernah ikut membantu dalam penyelenggaraan upacara wisuda dengan membawa nampan berisi kalung pertanda kedudukan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka keduanya sama sekali tidak berkeberatan.

Kumah Ki Rangga Dipayuda memang tidak terlalu jauh dari pintu gerbang kota. Karena itu, maka setelah beberapa saat mereka berkuda, maka mereka pun telah mendekati padukuhan tempat Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya tinggal. Namun dalam keadaan gawat, maka Ki Rangga sendiri menjadi jarang sekali pulang. Bahkan jika Ki Rangga memerlukan menengok keluarganya, ia tidak bermalam dirumahnya. Menjelang sore hari, Ki Rangga telah kembali ke baraknya.

Namun, demikian mereka memasuki gerbang padukuhan, maka jantung Risang menjadi berdebar-debar. Risang berharap agar Jangkung berada dirumahnya, sehingga ia tidak terlalu merasa segan untuk duduk di pendapa rumah Ki Rangga Dipayuda, sementara Ki Rangga sendiri tidak ada dirumah.

Tetapi ketika mereka sampai dimuka regol halaman rumah Ki Rangga, Risang telah menarik kekang kudanya, sehingga bertiga, mereka pun telah berhenti.

Dengan ragu-ragu, Risang menuntun kudanya memasuki halaman rumah itu diikuti oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Risang memang merasa beruntung, bahwa ternyata Jangkung sedang berada dirumahnya. Karena itu, ketika seseorang memberitahukan kepadanya, bahwa ada tamu yang mencarinya, Jangkung segera keluar dan menyongsongnya.

Dengan akrab sekali Jangkung menerima Risang yang sudah agak lama tidak berkunjung kerumahnya. Dipersilahkannya ketiga orang tamunya itu naik kependapa.

“Masih sepagi ini kau sudah sampai disini?” bertanya jangkung, ”apakah kau semalam bermalam di Pajang?”

“Ya.” jawab Risang, “aku baru saja kembali dari melakukan tugas yang dibebankan oleh Ki Rangga Dipayuda kepada kami.”

“O” Jangkung mengangguk-angguk.

“Bersama Kasadha” berkata Risang kemudian.

“Di Pajang?” bertanya Jangkung kemudian.

“Tidak. Kami harus menjalankan tugas keluar?”

Jangkung masih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu bahwa ada tugas-tugas yang tidak boleh diketahui oleh banyak orang, termasuk anak-anak prajurit. Sementara itu Risang pun menyadari, bahwa Jangkung tidak perlu mengetahui apa yang telah dilakukannya bersama Kasadha karena agaknya Ki Rangga pun tidak pernah berceritera kepada anaknya itu.

Namun Jangkung itu kemudian justru berkata, “Tunggulah. Aku akan memberitahukan kepada ibu dan Riris. Bahwa kau singgah kemari.”

Risang tidak mencegahnya, ia justru berharap untuk dapat bertemu dengan Riris.

Sementara itu, Jangkung telah lebih dahulu menemui ibunya dan memberitahukan bahwa Risang yang dalam perjalanan dari Pajang kembali ke Tanah Perdikannya telah singgah di rumah itu.

“Dimana Riris?” bertanya Jangkung kepada ibunya.

“Ia baru mencuci disumur.” jawab ibunya.

“Biarlah ia menemui Risang. Sudah lama mereka tidak bertemu” berkata Jangkung.

Ibunya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Beritahu Riris. Tetapi kau sudah tahu keinginan ayahmu tentang Riris.”

Wajah Jangkung berkerut. Sementara ibunya berkata selanjutnya, “Kau jangan mengganggu angan-angan ayahmu itu.”

“Tidak. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

“Panggil anak itu. Kami akan bersama-sama menemuinya.”

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Dimatanya, Risang memiliki beberapa kelebihan dari Kasadha. Tetapi karena ayahnya sudah menentukan pilihan, maka Jangkung memang harus mengalah agar tidak timbul benturan didalam keluarganya.

Demikian Riris mendengar bahwa Risang singgah dirumah itu, ia pun segera bangkit. Ditinggalkannya cuciannya yang belum selesai. Bahkan kemudian dipanggilnya pembantunya untuk menyelesaikan cucian itu.

“Aku sudah merendam beberapa butir lerak untuk mencuci kainku. Hati-hati. Pakai daun dilam setelah bersih.”

Pembantunya mengangguk kecil. Namun tugas itu tidak begitu menyenangkannya. Riris jarang sekali membiarkan pakaiannya dicuci orang lain. Ada saja kekurangannya. Bahkan menjemur pun Riris mempunyai cara tersendiri yang tidak boleh dilanggar oleh pembantunya.

Riris pun kemudian telah berlari ke biliknya untuk membenahi pakaiannya. Kemudian mencari ibunya yang sudah menunggunya didapur sambil mempersiapkan minuman bagi tamu-tamunya.

“Riris” berkata ibunya kemudian, “kau sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Karena itu, kau harus dapat menempatkan dirimu dihadapan anak-anak muda agar tidak terjadi salah paham.”

“Maksud ibu?” bertanya Riris yang menjadi heran. Pesan seperti itu tidak pernah didengar sebelumnya.

“Ibu tidak bermaksud apa-apa. Ibu hanya memperingatkan agar kau menjaga dirimu yang sudah tumbuh menjadi dewasa sepenuhnya.”

“Kenapa ibu baru menyadari sekarang bahwa aku sudah dewasa?” bertanya Riris.

“Aku hanya ingin memperingatkanmu, Riris.” jawab ibunya.

Riris termangu-mangu sejenak. Peringatan ibunya itu terdengar aneh ditelinganya. Namun ia mencoba untuk memahami, bahwa ibunya ingin berhati-hati. Riris menyadari, bahwa pergaulan anak-anak seusianya, kadang-kadang memang dapat menimbulkan salah paham.

Sejenak kemudian, ibunya telah menuang minuman ke dalam mangkuk. Sambil meletakkan mangkuk-mangkuk itu kedalam nampan, ibunya berkata, ”Bawa minuman dan sekedar makanan ini ke pendapa.”

Riris termangu-mangu sejenak, ia justru merasakan sikap ibunya yang agak berbeda. Sebelumnya ibunya tidak pernah berpesan sebagaimana baru saja di katakannya. Juga tidak saat Kasadha datang kerumah itu. Justru lebih sering dari Risang.

Tetapi Riris tidak bertanya lebih jauh. Mungkin sesuatu sedang mengganggu perasaan ibunya, sehingga kekesalan itu telah tertumpah kepadanya.

Ketika kemudian Riris berada di pendapa setelah menghidangkan minuman dan makanan, maka ia pun telah melupakan pesan ibunya. Seperti biasanya, maka Riris menanggapi kedatangan Risang dengan akrab.

Bersama Jangkung, Riris pun kemudian duduk pula di pendapa. Diletakkannya nampan yang dipergunakannya untuk membawa hidangan disebelahnya tanpa disingkirkannya ke dapur lebih dahulu.

Dalam pada itu, ibunya justru menunggu. Ibunya mengira bahwa Riris akan membawa nampan itu lebih dahulu ke dapur. Baru kemudian ikut menemui Risang bersama kedua orang yang menyertainya. Tetapi ternyata Riris justru langsung berbicara tentang bermacam-macam hal yang menarik perhatiannya. Terutama perjalanan Risang dari Pajang.

Tetapi yang dapat dikatakan oleh Risang memang terbatas. Sebagaimana Kasadha, maka Risang menganggap bahwa ada beberapa hal yang harus disembunyikan. Apalagi kepada Riris. Kepada Jangkung pun Risang membatasi ceriteranya. Jika ia terlanjur mengatakan sedikit saja tentang rahasia tugasnya bersama Kasadha, maka kemungkinan terbesar, Ki Rangga Dipayuda akan mendengarnya, sehingga hal itu akan menjadikan cacat pada namanya di mata Ki Rangga Dipayuda.

Ibunya yang menunggu didapur, akhirnya mengetahui bahwa Riris tentu langsung ikut duduk bersama dengan kakaknya di pendapa. Apalagi ibunya mengerti benar sikap Jangkung yang condong kepada Risang apabila harus memilih diantara kedua orang anak muda yang dekat dengan adiknya itu.

Karena itu, maka Nyi Rangga pun kemudian telah keluar pula ke pendapa untuk ikut menerima kedatangan Risang bersama dua orang yang menyertainya.

Ketika Nyi Rangga masih berada di dapur, ia sudah berniat untuk membatasi pembicaraan. Bukan saja pembicaraan antara Nyi Rangga itu sendiri dengan Risang, tetapi juga pembicaraan antara anak gadisnya dengan Risang itu, karena ayah Riris telah memutuskan untuk memilih Kasadha daripada Risang.

Tetapi demikian ia duduk dipendapa dan terlibat dalam pembicaraan dengan Risang, maka perasaan Nyi Rangga itu pun telah menjadi hanyut, sehingga ia sama sekali telah melupakan niatnya untuk membatasi sikap anaknya.

Ketika sekilas hal itu teringat padanya, maka ia pun berkata didalam hatinya, “Memang sulit untuk membedakan tanggapan kepada angger Risang dan kepada kngger Kasadha. Keduanya mempunyai beberapa kemiripan. Namun angger Risang nampaknya sedikit lebih gembira dan terbuka, sementara angger Kasadha sedikit lebih bersungguh-sungguh.”

Karena itu, maka akhirnya Nyi Rangga itu tidak berbuat sesuatu. Dibiarkannya Riris berbicara dengan akrab sebagaimana jangkung.

Tetapi Risang tidak dapat terlalu lama berada di rumah Ki Rangga Dipayuda. Selain ia merasa segan untuk berlama-lama sementara Ki Rangga sendiri tidak ada, juga karena ia singgah bersama Sambi Wulung dan jati Wulung.

Karena itu, maka setelah Risang menghabiskan minumannya serta beberapa potong makanan, maka ia pun segera minta diri.

Jangkung dan Riris memang mencoba untuk menahannya. Tetapi Risang terpaksa meninggalkan halaman rumah Ki Rangga Dipayuda, meskipun sebenarnya hatinya sendiri masih ingin untuk tinggal lebih lama lagi di rumah itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Risang pun telah minta diri bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Perdikan Sembo-jan.

“Kami mendapat pinjaman kuda dari Ki Tumenggung Jayayuda.” berkata Risang.

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku sudah berpikir, bahwa kuda-kuda itu tentu bukan milik kalian sendiri.”

“Kenapa?” bertanya Risang.

“Kuda yang kurang baik” sahut jangkung.

“Ah, kau” potong ibunya.

Namun Risang cepat menyahut, ”Ki Tumenggung sudah mengatakan, bahwa kudanya memang kurang baik. Tetapi akan cukup berarti bagi perjalanan kami. Kuda itu akan dapat mendukung kami sampai ke rumah.”

Jangkung tertawa. Katanya, ”Ya. Meskipun kuda-kuda itu kurang baik, tetapi kalian tidak usah berlelah-lelah berjalan sampai ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ya. Itulah yang penting.” jawab Risang. Namun katanya pula, “Kuda-kuda yang baik, pada saat seperti ini tentu diperlukan sekali oleh kesatuan Ki Tumenggung itu sendiri.”

“Ya. Tetapi dimana kuda kalian sendiri?” bertanya Jangkung pula.

“Kami memang tidak membawa kuda sejak kami meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Jangkung tertawa. Katanya, “Kenapa kalian tidak membeli kuda-kudaku saja? Kuda yang tentu baik dan akan dapat berlari lebih cepat dari kuda-kuda yang kalian pakai itu.”

Risang pun tertawa. Tetapi ia masih bertanya, “Lalu bagaimana dengan kuda-kuda ini?”

“Titipkan saja disini. Biarlah aku mengembalikannya ke Pajang.”

Yang mendengar gurau Jangkung itu tertawa pula.

“Sering-seringlah datang” berkata Riris ketika Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung sudah berada dipunggung kudanya.

Tetapi ibunyalah yang menyahut, “Jarak Tanah Perdikan Sembojan cukup jauh. Tetapi jika angger pergi ke Pajang, silahkan singgah.”

“Tentu Nyi Rangga. Pada kesempatan yang lain, aku akan selalu singgah.”

“Terima kasih ngger” desis Nyi Rangga. Sejenak kemudian, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah melarikan kudanya, menyusuri jalan padukuhan. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak terlalu banyak berbicara, sementara Risang sendiri nampaknya tidak ingin banyak berbicara pula.

Dalam pada itu, sepeninggal Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung, justru Jangkung lah yang duduk termenung disebelah kandang kudanya. Hatinya menjadi gelisah. Menurut penglihatannya, Risang agaknya memang berharap untuk dapat mempertautkan hatinya pada adik perempuannya. Tetapi ayahnya telah mengambil keputusan untuk memilih Kasadha yang agaknya lebih dekat dan lebih akrab dengan ayahnya itu. Mungkin juga mimpi-mimpi ayahnya sebagai seorang prajurit yang masih belum dapat dicapainya, akan digantungkan pada pundak Kasadha.

“Apa jadinya, jika pada satu saat Risang mengetahui, bahwa harapannya itu tidak akan pernah dapat digapainya.” berkata Jangkung didalam hatinya.

Namun Jangkung pun menyadari, seandainya Riris menjatuhkan pilihannya pada Risang, maka Kasadha pun akan mengalami kepahitan yang sama pula.

Sementara itu, Jangkung membayangkan, betapa perasaan kecewa akan dapat membuat seseorang kehilangan akal. jika seorang anak muda yang pernah menyatakan keinginannya untuk mendapatkan Riris dan kemudian berbuat diluar batas penalaran dengan melibatkan keluarganya, maka apa yang akan dapat dilakukan oleh Risang atau Kasadha, yang masing-masing memiliki sandaran kekuatan.

Tetapi jangkung tidak dapat berbuat apapun juga. Meskipun demikian, ada juga niatnya untuk memberikan isyarat kepada Risang, bahwa sebaiknya ia tidak memupuk harapannya itu untuk selanjutnya. Karena semakin subur harapan itu tumbuh dihatinya, maka kegagalan yang dialaminya akan semakin terasa sakit.

Perasaan itulah yang justru telah membebaninya, sehingga jangkung nampak lebih banyak merenung.

Untuk melupakan kegelisahannya, maka Jangkung pun kemudian memberitahukan kepada Riris, bahwa ia akan pergi menemui seorang kawannya yang telah memesan kuda kepadanya.

Jika semula Jangkung hanya berniat untuk melupakan kegelisahannya, namun ternyata ketika Jangkung menemui seorang kawannya, maka justru telah terjadi jual beli itu. Kuda yang dibawanya itu ternyata telah mendapat tawaran yang sangat baik.

“Baiklah” berkata Jangkung kemudian, “apa-boleh buat.”

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Tawaranmu masih sebatas harga pembelianku. Tetapi biarlah. Mungkin akan dapat menjadi kenang-kenangan buatmu” berkata Jangkung.

Kawannya tertawa. Katanya, “Kau selalu berkata begitu jika kau melepas kudamu.”

Jangkung pun tertawa. Katanya, “Kidung seorang pedagang.”

Karena kudanya bahkan dengan pelananya sudah laku, maka Jangkung pulang dengan berjalan kaki. Tetapi ia telah membawa uang hasil penjualan kudanya, meskipun masih belum dibayar sepenuhnya, karena kawannya itu berjanji untuk membayar yang separuhnya sepekan kemudian.

“Aku telah menjual sebagian besar hasil panenku ditambah dengan timang ikat-pinggangku. Nah, uang dari penjualan timang itu baru aku peroleh sepekan lagi.”

“Ah tidak apa-apa” jawab Jangkung yang kemudian telah minta diri.

Ketika Riris melihat kakaknya pulang berjalan kaki, maka ia tahu bahwa kuda kakaknya telah terjual. Karena itu, maka ia pun mendekatinya sambil berdesis, “Nah, kakang berjanji untuk membelikan aku selendang lurik abang jika kuda kakang laku.”

“Darimana kau tahu?” bertanya Jangkung.

“Kakang pergi dengan naik kuda. Sekarang kakang pulang dengan berjalan kaki. Itu berarti kuda kakang yang tadi sudah laku.”

“Kuda itu dipinjam kawanku” berkata Jangkung.

“Kakang tidak akan meminjamkan kuda dagangan.”

“Ah, kau” desis Jangkung.

“Kakang berjanji.”

“Baik. Baik. Tetapi setelah harganya dibayar penuh.”

“Aku tidak sabar menunggu. Kakang dapat membelikan selendang lurik abang dengan uang kakang lebih dahulu.”

Jangkung yang mengenali sifat adiknya tidak dapat menghindar lagi. Sebelum ia mnyatakan kesediaannya, maka Riris akan merengek sepanjang hari.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Tetapi besok sajalah kita pergi ke pasar.”

“Kakang janji?”

“Ya” jawab jangkung. Namun katanya kemudian

“Tetapi kau pun harus janji. Hanya selendang lurik abang.”

“Ya. Selendang lurik abang.” jawab Riris.

“Jika kau pergi sendiri ke pasar, biasanya ada-ada saja yang kau minta.”

“Aku janji” jawab Riris. Namun kemudian sambil berlari meninggalkan kakanya, Riris berkata, “Terima kasih kakang.”

Jangkung berdiri termangu-mangu. Ia berhasil melupakan kegelisahannya ketika kudanya mendapat penawaran yang baik serta bayangan keuntungan yang cukup. Namun ketika ia melihat Riris, maka kegelisahan itu kembali menyentuh jantungnya.

Karena itu, maka Jangkung pun kemudian mencari ibunya. Ketika ditemuinya ibunya didapur sedang membuat enten-enten untuk mengisi berdapan, makanan yang disukainya, maka jangkung pun duduk diatas sebuah dingklik kayu disebelahnya.

“Ada apa?” bertanya ibunya.

“Ada yang ingin aku katakan ibu” desis Jangkung.

“Tentang apa?”

“Riris.”

Ibunya mengerutkan dahinya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Kenapa dengan Riris?”

“Aku menjadi kasihan melihat Risang. Ia nampaknya sangat berharap” berkata Jangkung.

“Jika yang terjadi sebaliknya, maka kita pun akan merasa kasihan kepada angger Kasadha.” jawab ibunya.

“Aku mengerti ibu. Karena itu, aku ingin mengusulkan, apakah sebaiknya tidak diberikan semacam isyarat kepada Risang, agar perasaannya tidak berlarut-larut terbenam kedalam satu angan-angan yang tidak akan pernah dapat diujudkannya.”

“Maksudmu?” bertanya ibunya.

“Aku akan memberitahu Risang, meskipun tidak berterus terang. Dengan demikian ia akan dapat mengekang perasaannya agar tidak semakin berkembang.”

“Bagaimana mungkin hal itu kau lakukan? Sementara ini angger Kasadha pun belum pernah menyatakan niatnya untuk mengambil Riris dengan terbuka.” jawab ibunya. Lalu katanya pula, “Jika kemudian ternyata bahwa angger Kasadha karena sesuatu hal tidak benar-benar meminang Riris, maka Ririslah yang akan mengalami goncangan perasaan, ia akan kehilangan segala-galanya, sehingga akan dapat sangat berpengaruh pada hari depannya.”

“Selama ini kita memang hanya mementingkan diri sendiri. Kita tidak mau melihat Riris terguncang perasaannya, dengan membiarkan anak-anak muda itu terkatung-katung.”

“Tetapi mereka adalah laki-laki” jawab ibunya, “seandainya hati mereka terluka, maka luka itu akan lebih cepat sembuh daripada luka dihati seorang perempuan. Laki-laki semisal kumbang, ia dapat hinggap dari bunga yang satu ke bunga yang lain. Tetapi perempuan adalah semisal bunga yang hanya dapat menunggu.”

“Apakah ibu juga merasa demikian?” bertanya Jangkung.

“Ya” jawab ibunya, “ayahmulah yang datang kepadaku. Bahkan sebelumnya aku belum pernah mengenalnya secara pribadi. Agaknya ayahmu beberapa kali melihat aku menyapu jalan didepan halaman rumah. Kemudian orang tuanya datang melamarku.”

“Bukankah Kasadha dan Risang tidak sekedar melihat Riris menyapu jalan didepan rumah? Bukankah Riris juga tidak sebagaimana ibu dahulu, belum mengenal ayah secara pribadi?”

“Tetapi persoalannya sama saja” jawab ibunya, “apakah kau kira jika Riris ditinggalkan oleh angger Kasadha dan angger Risang, akan dapat berkeliaran kesana-kemari mencari jodohnya? Sementara itu, anak-anak muda disekitar kita sekarang sudah segan mendekatinya. Bukan karena wajah Riris tidak cantik, tetapi mereka takut akan menjadi kecewa pula.”

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia tidak dapat mengatasi sikap ibunya yang tentu sejalan dengan sikap ayahnya.

Sebenarnya Jangkung masih akan berkata lebih lanjut untuk menjelaskan maksudnya. Tetapi Riris tiba-tiba saja muncul dipintu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, ”Ada apa dengan kakang Jangkung?”

“Tidak apa-apa” Jawab jangkung, “aku hanya mengatakan, bahwa kau minta dibelikan selendang lurik abang. Aku minta jika ibu tidak berkeberatan untuk membayarinya lebih dahulu.”

“Tidak mau” sahut Riris dengan serta-merta, “kakang yang berjanji untuk membelikan selendang itu.”

“Tetapi sudah aku katakan, uangnya masih belum diserahkan seluruhnya. Baru sepekan lagi sisanya akan dibayar.”

“Tetapi bukankah sebagian sudah dibayar?”

“Aku sudah menawar seekor kuda yang lain.” jawab Kasadha.

“Terserah. Tetapi kakang jangan mengganggu ibu. Jika ibu yang harus membayar lebih dahulu, maka kakang tidak akan pernah membayarnya kembali.”

“Aku berjanji kepada ibu untuk membayar kembali sepekan lagi.”

“Sebaiknya ibu tidak memberinya” desis Riris.

Jangkung pun kemudian bangkit erdiri. Sementara ibunya berkata, “Aku juga belum mempunyai uang sekarang. Bagaimana jika selendang itu dibeli sepekan lagi?”

“Tidak. Besok aku dan kakang Jangkung akan pergi ke pasar.” Jawab Riris.

Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sementara Jangkung melangkah meninggalkan dapur.

Riris lah yang kemudian berkata, “Kakang jangkung baru saja menjual seekor kudanya, ia tentu mempunyai banyak uang sekarang.”

“Tetapi kau juga harus tahu, bahwa uang kakakmu itu adalah uang dagangan yang harus diputarnya.”

Riris mendekati ibunya. Sambil mencium kening ibunya Riris berbisik, “Ibu, kakang Jangkung mendapat untung banyak.”

“Ah belum tentu” sahut ibunya.

Riris tertawa. Tetapi ia pun kemudian segera berlari keluar.

Ibunyalah yang kemudian mulai merenungi kata-kata Jangkung. Didalam hatinya, Nyi Rangga itu mengakui kebenaran pendapat Jangkung. Tetapi Nyi Rangga memang tidak dapat melepaskan kepentingannya sendiri, terutama bagi masa depan Riris.

Dalam pada itu, Risang telah menempuh perjalanan yang panjang. Matahari telah bergulir kearah Barat.

Risang, Sambi W ulung dan Jati Wulung yang kepanasan telah berhenti dan singgah disebuah kedai. Mereka juga memberi kesempatan kudanya untuk beristirahat, minum dan makan yang dapat juga dibeli di kedai itu. Kendeng bercampur dengan dedak yang dibasahi dengan air yang cukup.

Kedai yang tidak begitu besar itu ternyata cukup ramai. Beberapa orang telah berada didalamnya. Namun agaknya mereka bukan orang yang asing lagi bagi pemilik kedai itu.

Sebenarnya Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang juga sering melewati jalan itu sudah pernah pula singgah di kedai itu. Tetapi itu sudah lama terjadi, sehingga karena itu, ketika mereka singgah, pemilik kedai itu pun berkata, “Marilah Ki Sanak. Nampaknya Ki Sanak baru kali ini singgah di kedai ini. Mudah-mudahan selera Ki Sanak sesuai dengan masakan kami.”

Sambil duduk diamben bambu panjang, Risang menyahut, “Aku pernah datang ke kedai ini beberapa waktu yang lampau.”

“O, maaf. Aku memang sudah pikun.“ Sejenak kemudian, maka Risang pun telah memesan minuman dan makanan bagi dirinya sendiri, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Namun selagi mereka meneguk minuman mereka, terdengar beberapa orang yang baru saja meninggalkan kedai itu tertawa diluar. Agaknya mereka adalah orang-orang yang menambatkan kuda-kuda mereka di halaman.

Risang mengerutkan dahinya, ia tahu bahwa orang-orang itu tentu mentertawakan kudanya serta kuda yang dipergunakan oleh Sambi Wulung dan jati Wulung, karena kuda-kuda yang dipergunakan oleh orang-orang itu adalah kuda-kuda yang sangat baik.

Tetapi Jati Wulung pun kemudian sambil tersenyum berkata, “Biarlah saja mereka. Kuda-kuda kita memang kurang baik. Tetapi hal ini sudah kita ketahui sejak kita berangkat dari barak. Namun demikian, kita harus mengucapkan terima kasih, bahwa kita tidak menempuh perjalanan panjang ini dengan berjalan kaki. Kuda-kuda yang meskipun kurang baik dan barangkali lebih kecil dari kuda-kuda yang dipakai oleh orang-orang itu, namun sangat berarti bagi kita.”

Risang menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan gejolak perasaannya. Namun kemudian ia pun meneguk minumannya pula sebagaimana dilakukan oleh Sambi Wulung. Sedangkan Jati Wulung nampaknya sama sekali tidak menghiraukan suara tertawa yang berkepanjangan diluar kedai itu.

Sejenak kemudian, maka terdengar derap kaki kuda meninggalkan halaman kedai itu. Nampaknya orang-orang itu sudah berlalu.

Pemilik kedai itu kemudian telah mendekati Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung setelah kedainya menjadi agak sepi sepeninggal orang-orang itu. Yang tinggal hanyalah dua orang yang nampaknya adalah orang yang tinggal dekat saja dengan kedai itu.

“Mereka adalah orang-orang yang asing dengan lingkungan ini. Semula aku mengira bahwa kalian juga orang asing. Tetapi agaknya kalian sudah pernah singgah di kedai ini.”

“Siapakah mereka?” bertanya Risang.

“Entahlah. Tetapi mereka bertanya tentang Tanah Perdikan Sembojan.

“O” Risang menjadi tertarik mendengar ceritera itu, “bukankah Tanah Perdikan Sembojan masih agak jauh dari tempat ini?”

“Ya. Aku memang pernah sekali pergi ke Tanah Perdikan Sembojan mengikuti salah seorang kenalan baikku.” jawab pemilik kedai itu.

“Apakah orang-orang itu akan pergi ke Tanah Perdikan Sembdjan?” bertanya Risang.

“Mungkin. Tetapi mereka bertanya beberapa hal tentang Tanah Perdikan itu.”

Risang mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apa yang ditanyakannya?”

“Ia mengira bahwa aku mengetahui banyak tentang Tanah Perdikan. Tetapi aku berterus terang bahwa aku tidak tahu apa-apa. Ketika mereka bertanya siapakah Kepala Tanah Perdikan itu pun aku tidak dapat menjawab.”

Risang hanya termangu-mangu saja, sementara Sambi Wulung berdesis, “Aku tahu siapakah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Risang memang menjadi berdebar-debar. Sementara pemilik kedai itu bertanya, “Siapa? Mungkin aku pernah mendengar namanya.”

“Bukankah Kepala Tanah Perdikan Sembojan seorang perempuan?” berkata Sambi Wulung kemudian.

Risang menarik nalas panjang. Sementara pemilik kedai itu menyahut dengan serta-merta, “Ki Sanak sudah ketinggalan jaman. Itu dahulu. Sekarang Kepala Tanah Perdikan Sembojan seorang laki-laki.”

“O, sejak kapan?”

“Belum terlalu lama” jawab pemilik kedai itu.

“Kalau begitu, Ki Sanak banyak mengetahui tentang Tanah Perdikan itu” sela Jati Wulung.

“Hanya itulah yang aku ketahui. Aku dengar hal itu dari sahabat baikku itu. Lebih dari itu tidak.”

“Apakah orang-orang itu kemudian pergi ke Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Risang.

“Entahlah. Tetapi mungkin. Nampaknya mereka benar-benar ingin tahu tentang Tanah Perdikan itu.” jawab pemilik kedai itu.

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tidak bertanya lebih banyak lagi. Namun pertanyaan yang tidak mereka senangi pun akhirnya mereka dengar juga, “Ki Sanak ini dari mana akan ke mana?”

Yang menjawab adalah Sambi Wulung, “Kami orang-orang Manggaran. Kami dalam perjalanan ke Kedung Waringin.”

“Kalian akan pergi ke Kedung Waringin?” bertanya pemilik kedai itu.

“Ya.” jawab Sambi Wulung.

“Aku mempunyai saudara ipar di Kedung Waringin.” berkata pemilik kedai itu kemudian.

“Mungkin aku belum mengenalnya. Kami memang bukan orang, Kedung Waringin, tetapi kami tinggal di Manggaran.” jawab Sambi Wulung.

Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku belum pernah pergi ke Manggaran meskipun aku pernah mendengar nama tempat itu.”

Risang tidak menyahut lagi. Sementara Jati Wulung seakan-akan tidak terlibat dalam pembicaraan itu. Ia lebih memperhati-kan makanan dan minuman yang dihidangkan kepadanya.

Sementara itu Sambi Wulung berkata, “Di Manggaran, kuda-kuda kami itu sudah termasuk kuda yang baik. Namun aku kira orang-orang yang tadi meninggalkan kedai ini telah mentertawakan kuda kami karena kuda-kuda mereka adalah kuda-kuda yaing besar dan tegar, yang tidak ada seekor pun di tempat tinggal kami.”

Pemilik kedai itu tersenyum. Katanya, “Mungkin sekali. Kuda-kuda mereka memang kuda yang sangat baik.”

Namun pemilik kedai itu tidak berbicara terlalu banyak lagi. Ia pun segera meninggalkan Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung, karena ada dua orang yang masuk kedalam kedai itu. Tetapi agaknya kedua orang itu adalah orang-orang yang sudah terbiasa berada di kedai itu seperti kedua orang yang masih ada didalam kedai itu pula. Bahkan mereka nampaknya sudah berkenalan dengan akrab.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah minta diri. Setelah membayar harga makanandanmihumanbagi ketiga orang itu serta perawatan dan makan bagi kuda-kuda mereka, maka mere pun telah meninggalkan kedai itu. Di Halaman, mereka sempat bertanya kepada pembantu pemilik kedai yang melayani kuda-kuda para tamu tentang orang-orang yang mentertawakan kuda mereka.

“Apa kata mereka?” bertanya Risang.

“Mereka merasa kasihan melihat kuda-kuda ini” jawab orang itu dengan jujur.

“Apakah kuda-kuda mereka termasuk kuda yang sangat baik?” bertanya Sambi Wulung.

“Kuda mereka memang kuda yang sangat baik” jawab orang itu.

“Nanti, jika aku sempat bertemu lagi dengan mereka, maka aku akan menantang mereka berpacu” geram Jati Wulung.

Risang dan Sambi Wulung berpaling kepadanya. Namun kemudian keduanya tertawa. Orang yang melayani kuda para tamu itu pun tertawa pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu pun telah meninggalkan kedai itu. Mereka melarikan kuda mereka langsung menuju ke tanah Perdikan Sembojan.

Namun ternyata bahwa kuda mereka tidak dapat lari cepat sebagaimana kuda-kuda yang sangat baik yang dimiliki oleh orang-orang yang singgah di kedai itu pula.

Ketika Risang menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya matahari menjadi semakin rendah. Sementara itu jarak yang harus ditempuh masih cukup jauh.

Namun mereka bertekad tidak akan bermalam di perjalanan. Mereka akan memilih beberapa kali berhenti untuk beristiraat, juga bai kudakuda mereka, tetapi meneruskan perjalanan sepanjang malam daripada minta ijin bermalam di banjar-banjar padukuhan yang mereka lewati.

“Kuda-kuda ini nampaknya sudah letih” desis Jati Wulung, “kita harus lebih sering berhenti di perjalanan.”

Risang pun menyadari, bahwa mereka tidak dapat memaksa kuda-kuda mereka untuk berjalan terus dalam keletihan.

Ketika senja mulai membayang, maka mereka menyempatkan diri untuk singgah lagi disebuah kedai kecil yang masih membuka pintunya. Bukan saja untuk beristirahat, minum dan makan seadanya, tetapi juga membeli bekal perjalanan mereka di malam hari.

Namun dalam pada itu, ketika mereka meninggalkan kedai itu, maka mereka telah mendengar derap kaki beberapa ekor kuda yang berlari kencang. Mereka bertiga pun segera melihat empat orang penunggang kuda yang berlari sepanjang jalan yang juga dilalui Risang bersama kedua orang pengiringnya.

Demikian keempat orang itu mendahului ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu, mereka pun memperlambat derap kuda mereka. Bahkan beberapa puluh langkah di-depan, keempat orang itu pun telah berhenti.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ia pun sadar, bahaya keempat orang itu tentu akan menghentikan mereka. Justru karena itu, maka Risang pun telah menarik kendali kudanya pula, sehingga langkah kudanya yang tidak secepat kuda keempat orang itu menjadi semakin lambat.

Sebenarnyalah bahwa seorang dari keempat orang itu memberi isyarat agar ketiga orang berkuda itu berhenti.

Karena keempat orang itu telah turun dari kudanya, maka Risang, Sambi Wulung dan jati Wulung pun telah meloncat turun pula dari punggung kudanya.

“Maaf, Ki Sanak” berkata salah seorang dari keempat orang itu, “apakah kami boleh bertanya?”

“Silahkan Ki Sanak” Sambi Wulung lah yang menjawab.

“Bukankah jalan ini menuju ke Tanah Perdikan Sembojan?”

“Ya. Sepengetahuanku memang demikian.”

“Apakah kalian juga akan pergi ke Sembojan?” bertanya orang itu pula.

“Tidak Ki Sanak” jawab Sambi Wulung, “kami tidak akan pergi ke Sembojan.”

“Jadi, kalian akan pergi kemana?”

Sambi Wulung memang menjadi agak sulit untuk menjawab, ia tidak dapat mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Kedung Waringin sebagaimana dikatakannya kepada pemilik kedai, karena Kedung Waringin sudah ada didepan hidung mereka. Karena itu, maka kemudian katanya menunjuk padukuhan yang lebih jauh, “Kami akan pergi ke Banyuwarna, diseberang Kali Keduwang.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Agaknya ia sedang mengingat-ingat. Baru kemudian ia bertanya, “Aku pernah mendengar nama Batuwarna, bukan Banyuwarna.”

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak, ia tahu bahwa Batuwarna adalah nama sebuah daerah baru yang sedang dibuka dimulut Tanah Perdikan Sembojan. Salah satu usaha yang dilakukan oleh Risang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Namun Sambi Wulung itu justru bertanya, “Darimana Ki Sanak mendengar nama itu? Aku yang sering berkeliaran di daerah ini belum pernah mendengar nama itu.

“Aku lupa” jawab orang itu, “dari siapa kami mendengarnya. Tetapi nama itu pernah aku dengar.”

“Sayang” jawab Sambi Wulung, “yang aku ketahui adalah Banyuwarna, dekat diseberang Kali Keduwang.

“Baiklah. Jika demikian, kita akan berjalan bersama-sama” berkata orang itu.

Sambi Wulung menjadi berdebar-debar. Namun kemudian ia pun berkata, “Maaf Ki Sanak. Kuda kami adalah kuda-kuda kerdil yang tidak dapat berlari cepat dan apalagi berlari sepanjang hari. Nampaknya kuda-kuda kami sudah letih, sehingga kami harus bermalam di perjalanan.”

“Apakah tujuan yang akan kalian datangi itu masih jauh?” bertanya orang itu.

“Memang sudah tidak terlalu jauh. Tetapi sebagaimana kalian lihat, kuda-kuda kami sudah tidak dapat berlari lagi.”

“Kasihan kuda-kuda itu” berkata orang itu kemudian, “kenapa kalian tidak memakai kuda yang lain?”

“Kuda ini adalah kuda terbaik di padukuhan kami” jawab Sambi Wulung. Namun kemudian Sambi Wulung itu pun bertanya, “Apakah Ki Sanak mempunyai kepentingan dengan Tanah Perdikan Sembojan?”

“Tidak” jawab orang itu.

“Tetapi kenapa kalian sibuk mencari jalan ke Tanah Perdikan itu?” desak Sambi Wulung pula.

“Kami mempunyai seorang paman yang tinggal di Tanah Perdikan. Kami ingin menengoknya.”

“Ki Sanak” berkata Sambi Wulung kemudian, “kalian tidak menunjukkan tanda-tanda seseorang yang akan pergi menengok salah seorang keluarganya.”

“Kenapa?” bertanya orang itu. Namun kemudian ia berkata selanjutnya, “Mungkin kalian tidak melihat kami membawa bekal apapun. He, apakah kalian juga membawa bekal? Hanya orang-orang perempuan yang bepergian dengan memawa bekal, pakaian, makanan dan barangkali oleh-oleh.”

Jati Wulung tiba-tiba saja telah menyembunyikan bekal yang dibelinya di kedai dibelakang tubuhnya. Namun ia tidak berkata apa-apa.

Ternyata keempat orang itu tidak bertanya lebih jauh. Tetapi mereka pun segera meninggalkan Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun mereka agaknya memang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Perdikan Sembojan.

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sudah terlanjur berhenti itu pun tidak segera berangkat. Mereka bahkan duduk dibawah sebatang pohon, sementara kuda-kuda mereka makan rumput segar di tanggul parit.

“Biarlah mereka menjadi agak jauh sebelum kita meneruskan perjalanan” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung yang duduk bersandar pohon itu pun berdesis, “Apa yang mereka cari di Tanah Perdikan Sembojan? Apakah mereka juga termasuk orang-orang yang berkepentingan dengan Ki Lurah Mertapraja?”

“Nampaknya tidak.” desis Sambi Wulung. Namun katanya kemudian, ”aku justru berpikir tentang Ki Resa.”

“Ki Resa Podang” Risang mengulang. Tetapi katanya kemudian, “Maksud paman. Ki Resa telah menceriterakan tentang harta benda itu kepada orang lain sehingga ada orang yang menyusul kita ke Tanah Perdikan?”

“Hanya dugaan. Mungkin Ki Resa telah mendapat tekanan dari pihak lain, karena menurut pendapatku, tentu tidak ada niat yang tumbuh dari hati Ki Resa Podang sendiri.”

“Ya. Aku memang masih mempercayai Ki Resa. Tetapi kemungkinan buruk itu memang ada. Anak-anaknya tanpa tahu akibatnya, dapat saja berceritera tentang tamu-tamu dirumahnya, termasuk Ki Remeng. Ceritera itu dapat saja pada satu ketika sampai ketelinga orang yang berkepentingan dengan Ki Remeng. Sementara itu masih mungkin juga terdapat sisa-sisa orang perguruan yang merasa memiliki harta benda itu.”

Namun pembicaraan itu tidak berlanjut. Mereka hanya dapat menduga-duga karena mereka tidak mempunyai petunjuk sama sekali tentang keempat orang itu.

Dalam pada itu, setelah mereka beristirahat untuk beberapa saat, sementara mereka memperhitungkan keempat orang yang akan pergi ke tanah Perdikan Sembojan itu sudah jauh, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan.

Sementara itu, malam pun telah turun. Mereka masih harus menempuh perjalanan yang masih agak panjang.

Meskipun kuda mereka tidak dapat berlari terlalu kencang, namun perjalanan mereka menjadi jauh lebih cepat daripada mereka harus berjalan kaki. Meskipun mereka masih harus berhenti untuk beristirahat, namun mereka akhirnya sampai juga ke Batuwarna, tempat yang disebut-sebut oleh keempat orang yang berkuda mendahului mereka. Sebagai daerah baru, maka Batuwarna memang masih sedang tumbuh sehingga masih belum terlalu banyak dihuni orang. Tetapi sudah mulai nampak tanda-tanda bahwa daerah itu akan menjadi daerah pertanian yang subur sebagaimana beberapa bagian lain dari Tanah Perdikan Sembojan.

Setelah mereka harus beristirahat sekali lagi, namun pada tengah malam mereka sudah mendekati padukuhan induk.

Tiga orang pengawai Tanah Perdikan yang sedang meronda telah bertemu dengan Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Ketiganya memang agak terkejut. Namun mereka pun kemudian mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mulai dari keselamatan perjalanan mereka sampai pada keadaan kuda-kuda mereka yang letih.

“Kuda-kuda ini memang kuda-kuda yang kurang tegar. Tetapi cukup berarti bagi perjalanan kami.” jawab Risang yang menghindari pertanyaan-pertanyaan yang lain. Katanya, “Baiklah. Besok aku akan berceritera panjang. Sekarang aku ingin beristirahat.”

Para peronda itu pun mengerti, bahwa mereka bertiga tentu merasa letih, sebagaimana kuda-kuda mereka yang nampak letih.

Risang, sambi Wulung dan Jati Wulung memang berusaha untuk lebih banyak menghindari para peronda yang tentu banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Bukan saja karena mereka merasa letih tetapi juga karena mereka masih belum sempat mengatur jawaban-jawaban karena ada sebagian dari tugas mereka yang harus dirahasiakan.

Kedatangan Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung ditengah-tengah malam itu memang mengejutkan ibunya yang terbangun. Namun dengan melihat wajah Risang yang terang meskipun nampak letih, maka ibunya itu pun dapat membaca, bahwa Risang tidak banyak mengalami kesulitan sepanjang perjalanannya.

“Dimana Kasadha?” bertanya ibunya demikian mereka duduk diruang dalam.

“Kasadha langsung kembali ke Pajang ibu. Kami juga singgah di Pajang.”

“Sokurlah jika kalian semua selamat.” desis ibunya.

Namun dengan singkat Risang menceriterakan perjalanannya serta menceriterakan bahwa prajurit yang dibawa Kasadha itu telah gugur di Madiun.

Sebenarnya ada banyak persoalan yang akan ditanyakan oleh Nyi Wiradana. Tetapi Nyi Wiradana itu menyadari, bahwa Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih terlalu letih. Karena itu, maka Nyi Wiradana itu kemudian telah pergi ke dapur untuk menyiapkan minum dan makan bagi Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung, sementara seorang pembantu dirumah itu telah merawat kuda-kuda yang juga nampak letih itu.

Sementara ibunya berada di dapur, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu telah membersihkan diri serta berganti pakaian.

Demikian, ketika matahari terbit di keesokan harinya, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung duduk di serambi samping bersama Nyi Wiradana dan Gandar. Risang dapat menceriterakan perjalanannya lebih panjang dan lebih terperinci. Bahkan Risang pun tidak lupa menceriterakan tentang empat orang yang telah menuju ke Tanah Perdikan itu pula.

Ibunya memperhatikan ceritera Risang dengan saksama. Ny Wiradana juga menyatakan ikut kehilangan atas gugurnya prajurit yang dibawa oleh Kasadha dalam tugasnya itu.

Tetapi Nyi Wiradana juga tertarik tentang keempat orang yang telah menuju ke Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Risang” berkata Nyi Wiradana, “memang ada sesuatu yang harus kita perhatikan di Tanah Perdikan ini. Semalam aku tidak segera mengatakannya, karena kau tentu merasa sangat lebih. Tetapi sekarang aku harap kau yang sudah sempat beristirahat dan tidur beberapa saat, tidak lagi merasa sangat letih.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah siap melakukan tugasku di Tanah Perdikan ini ibu.”

“Risang” berkata ibunya, “ada sesuatu yang harus kita perhatikan. Di bagian Utara Tanah Perdikan ini, yang berbatasan dengan Kademangan Jerukgede yang membujur ditepi Kali Keduwang, nampaknya mulai timbul keresahan.”

“Kenapa ibu?” bertanya Risang.

“Kami sedang menyelidiki kebenaran berita tentang daerah perbatasan itu. Agaknya ada usaha-usaha yang diam-diam dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.”

“Apa yang telah mereka lakukan?” bertanya Risang.

“Itulah yang sedang diselidiki oleh Gandar dan para pengawal. Tetapi nampaknya usaha untuk melakukan perdagangan yang tidak sewajarnya.”

Risang memang tertarik pada keterangan ibunya itu, sementara Gandar kemudian menyambung keterangan Nyi Wiradana, “Yang terjadi di daerah Utara Tanah Perdikan ini nampaknya nulai terasa pengaruhnya. Harga terutama bahan pangan mulai terasa naik.”

Risang yang mendengarkan keterangan itu dengan sungguh-sungguh telah bertanya, “Tetapi apa yang telah mereka lakukan yang menyebabkan harga bahan pangan naik itu ?”

“Risang” berkata ibunya, “ada beberapa orang yang telah membeli bahan pangan berlebihan. Mereka membeli berapa saja yang ada dengan harga yang terhitung tinggi menurut harga bahan pangan di Tanah Perdikan ini sebelumnya.”

Risang terkejut mendengar keterangan itu. Demikian pula Sambi Wulung dan jati Wulung. Dengan nada tinggi Risang bertanya, “Siapakah yang telah membeli bahan pangan berlebih-an serta dengan harga yang tinggi itu?”

“Itulah yang sedang diselidiki. Pangan itu kemudian dikumpulkan di Kademangan Jerukgede untuk dibawa dengan pedati ketujuan yang kurang kami ketahui.” jawab ibunya.

Risang termangu-mangu sejenak. Seperti juga Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang mengetahui bahwa Madiun memerlukan bahan pangan yang seakan akan tidak terbatas. Jika bahan pangan yang dikumpulkan dari kota dan padukuhan sekitarnya tidak mencukupi, maka agaknya Madiun telah membeli bahan pangan itu darimana pun asalnya.

Sementara itu Gandar pun berkata, “Menurut beberapa orang yang masih harus dibuktikan kebenarannya, bahwa pangan itu dengan diam-diam telah dibawa ke Utara. Beberapa pedagang agaknya terlibat dalam perdagangan bahan makanan itu. Terutama beras dan jagung.

Risang mengangguk-angguk. Agaknya hal ini berhubungan dengan pengisian lumbung-lumbung padi, beras dan jagung di Madiun. Orang-orang kaya di Madiun berusaha membantu persediaan bahan pangan itu dengan membelinya dari manapun. Bahkan sampai ke daerah Sembojan yang dianggap daerah yang subur yang menghasilkan bahan pangan yang melimpah.

Namun dengan kehadiran para pedagang yang mengambil keuntungan dalam kemelut bayangan perang itu, maka harga pangan di Sembojan condong menjadi semakin tinggi.

“Hal seperti ini memang tidak dapat dibiarkan” berkata Risang. Lalu katanya pula, “Baiklah. Kita akan menyelidikinya lebih cermat lagi. Mudah-mudahan dalam waktu yang dekat, semuanya akan dapat kitaselesaikan.”

Risang pun kemudian telah minta kepada Gandar untuk meneruskan penyelidikannya. Jika ia dapat berhubungan dengan para pedagang itu, maka akan dapat ditelusuri keterangan selanjutnya tentang arus bahan pangan itu.

Namun Risang sendiri memang tidak tinggal diam. Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah dimintanya untuk mengamati keadaan.

Di hari-hari berikutnya, maka Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada di daerah Utara Tanah Perdikan itu. Tetapi mereka memang tidak segera melihat kegiatan pembelian bahan pangan yang berlebihan itu. Tetapi ketika mereka mengamati keadaan di pasar, maka beras dan jagung nampak jauh susut, jika masih ada, harganya pun sudah menjadi lebih tinggi dari hari-hari sebelumnya.

Namun untuk mendapatkan keterangan apakah sebabnya, agaknya memang agak sulit bagi para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

Orang-orang Sembojan menyadari, bahwa para pedagang gelap itu membeli bahan pangan dengan tersembunyi, karena mereka sadari bahwa yang dilakukan itu tentu tidak akan disetujui oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri, ternyata ada yang membantu mereka. Ada orang tertentu yang mengumpulkan bahan pangan itu dari orang-orang padukuhan. Kemudian menyerahkan bahan pangan itu dari orang-orang padukuhan. Kemudian menyerahkannya kepada pedagang-pedagang gelap itu dengan mendapat keuntungan yang baik.

Namun akhirnya ada juga orang-orang yang mengeluh karena harga beras dan jagung menjadi semakin tinggi.

Bahkan orang-orang yang semula menjual beras dan jagungnya dengan harga yang menurut perhitungannya cukup baik, ketika pada suatu saat mereka membutuhkannya, maka mereka harus membeli dengan harga yang lebih tinggi lagi.

Sedikit demi sedikit akhirnya Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung mampu menguak permainan para pedagang gelap itu. Namun tidak mudah untuk dapat menangkap mereka dengan bukti-bukti yang meyakinkan.

Para pedagang gelap, yang diantaranya mendapat bantuan dari orang-orang Sembojan sendiri, seakan-akan mempunyai mata diantara petugas Tanah Perdikan. Usaha untuk menemukan mereka, ternyata tidak semudah yang mereka duga.

Yang justru mereka ketahui lebih dahulu adalah tempat bahan pangan itu dikumpulkan dan ditimbun sebelum dibawa dengan beberapa buah pedati ke Utara.

“Perdagangan gelap itu harus dihentikan” berkata Risang dengan geramnya. Yang dapat dilakukan lebih dahulu adalah mengamati jalan keluar dari Tanah Perdikan itu. Tidak boleh ada bahan pangan yang dibawa keluar oleh orang-orang yang tidak berhak.”

Tetapi memang sangat sulit untuk melakukannya. Masih saja ada jalan yang dapat mereka tempuh.

Risang masih berusaha untuk dapat menguasai keadaan dengan baik. Ia masih berusaha menemukan orang-orang Sembojan sendiri yang terlibat didalamnya. Beberapa orang memang sudah memberikan isyarat untuk membantu.

Namun yang tidak dikehendaki itu pun terjadi. Jantung Risang bagaikan terbakar ketika diketemukan seorang perempuan yang telah membantu untuk berusaha menjebak para pedagang gelap itu diketemukan terbunuh disebuah lorong kecil yang menembus perbatasan dengan Kademangan Jerukgede.

Kemarahan Risang seolah-olah tidak tertahankan lagi. Dengan susah payah Sambi Wulung dan Jati Wulung serta Gandar berusaha untuk menahan Risang agar tidak langsung pergi ke Kademangan Jerukgede untuk membuat penyelesaian.

“Kita masih harus berhati-hati mengambil langkah” berkata Sambi Wulung.

“Tetapi bahwa mereka telah melakukan pembunuhan, agaknya sudah tidak dapat dimaafkan lagi.” jawab Risang.

“Itu benar.Tetapi siapakah yang tidak dapat dimaafkan lagi itu?” berkata Sambi Wulung kemudian.

“Aku sependapat, bahwa kita akan pergi ke Jerukgede. Tetapi kita akan menemui Ki Demang. Kita akan berbicara dengan baik. Mungkin Ki Demang di Jerukgede sama sekali tidak mengerti atau tidak menghiraukan apa yang telah terjadi di lingkungannya.”

Gejolak perasaan Risang agaknya dapat diredakan, sehingga Risang bersedia untuk menemui Ki Demang dengan menyingkirkan prasangkanya. Bahkan ibunya pun telah memperingatkan Risang, agar ia datang sebagai seorang tetangga yang baik.

Bersama Sambi Wulung dan jati Wulung, maka Risang pun telah berkunjung ke Kademangan Jerukgede untuk menemui Ki Demang.

Ketika ia memasuki padukuhan induk Kademangan Jerukgede, maka mereka telah banyak menarik perhatian.

Ki Demang yang berada dirumahnya, telah menerima ketiga orang tamunya dengan ramah. Dipersilahkannya tamunya duduk dipringgitan. Dua orang bebahu yang kebetulan berada di rumah Ki Demang, ikut menemuinya pula.

Setelah mengucapkan selamat datang, maka Ki Demang Jurukgede itu pun berkata, “Rasa-rasanya kami telah menerima anugerah yang tinggi karena kedatangan anakmas Risang. Meskipun kita bertetangga, tetapi karena kesibukan kita masing-masing, maka rasa-rasanya kita menjadi sangat jarang bertemu.”

“Ya Ki Demang” jawab Risang, “aku minta maaf. Seharusnya aku yang muda inilah yang sebaiknya datang berkunjung. Tetapi benar seperti yang Ki Demang katakan, kita mempunyai kesibukan kita masing-masing.

“Karena itu, maka ketika anakmas datang, maka aku sudah mengira bahwa anakmas tentu mempunyai kepentingan yang mendesak.”

Risang mengangguk kecil. Namun kemudian ia pun mengutarakan persoalannya, bahwa beberapa orang pedagang gelap telah membeli bahan pangan yang berlebihan. Menurut pengamatan para petugas di Tanah Perdikan Sembojan, maka bahan pangan itu telah dibawa masuk ke Kademangan Jerukgede.

Ki Demang mendengarkan dengan sungguh-sungguh pernyataan Risang itu. Namun kemudian Ki Demang itu pun berkata, “Tetapi apakah keberatannya anakmas. Bukankah jual beli seperti itu memang sudah berlangsung sejak lama? Bukankah pedagang bahan pangan memang sering datang ke Kademangan ini dan juga ke Tanah Per-dikan Sembojan?”

“Tetapi kali ini agak berlebihan Ki Demang. Pengaruhnya terasa diseluruh Tanah Perdikan. Bahan pangan di Tanah Perdikan menjadi mahal.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya kepada kedua bebahunya, “Apa yang kau ketahui tentang perdagangan bahan pangan itu?”

“Tidak ada apa-apa Ki Demang. Biasa-biasa saja seperti saat-saat sebelumnya.”

Namun Risang pun kemudian menceriterakan, bahwa di Tanah Perdikan Sembojan telah jatuh korban. Nampaknya sebuah gerombolan pedagang gelap telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

“Tetapi apa hubungannya dengan Kademangan ini?” bertanya Ki Demang.

“Bahan pangan yang mengalir dari Tanah Perdikan nampaknya ditimbun lebih dahulu di Kademangan ini sebelum dibawa keluar.”

“Ah, itu alasan yang dicari-cari” berkata salah seorang bebahu, “di Kademangan ini memang banyak terdapat lumbung-lumbung yang terisi. Bukan saja lumbung paceklik, tetapi juga karena kelebihan hasil sawah dan pategalan kami. Jika hasil sawah dan pategalan itu kemudian dijual kepada para pedagang bahan pangan, bukankah itu wajar?”

“Kami mengerti” jawab Risang, “tetapi pembelian itu sangat berlebihan. Harganya pun tidak wajar lagi. Maksud kami, kami mohon kesempatan untuk bekerja bersama diperbatasan untuk mencegah mengalirnya bahan pangan keluar dari Tanah Perdikan.

Namun yang menjawab adalah bebahu itu, “Bukankah itu kewajiban anakmas? Bagi kami perdagangan bahan pangan itu tidak menjadi persoalan.”

“Begini Ki Demang” Sambi Wulung pun telah menyambung pembicaraan itu, “kami memang akan melakukannya. Tetapi karena persoalannya akan menyangkut Kademangan ini, maka kami telah mencoba menghubungi Ki Demang.”

 Tetapi Ki Demang itu berkata, ”Anakmas. Nampaknya kita masing masing mempunyai kesibukan yang memerlukan penanganan yang bersungguh-sungguh. Karena itu, aku minta maaf, bahwa Kademangan ini tidak akan dapat secara khusus menangani persoalan pedagang-pedagang bahan pangan yang menurut pendapat kami wajar-wajar saja.”

Telinga Risang terasa panas. Namun sebelum ia menyahut, maka Sambi Wulung telah mendahuluinya, “jika demikian Ki Demang. Biarlah kami menanganinya sendiri. Tetapi kami mohon ijin, jika ada orang-orang Kademangan Jerukgede yang terlibat, maka kami terpaksa memperlakukannya menurut paugeran kami.”

“Apakah anakmas akan melarang perdagangan bahan pangan? Itu sudah melanggar kebebasan pribadi, ngger.” bertanya Ki Demang kepada Risang.

“Ki Demang” jawab Risang, “kebijaksanaan yang akan kami tempuh adalah kebijaksanaan yang menguntungkan seluruh rakyat Tanah Perdikan. Karena itu, jika kebijaksanaan ini terasa membatasi tingkah laku sekelompok kecil orang-orang Tanah Perdikan dan juga orang-orang dari luar Tanah Perdikan, maka hal itu terpaksa kami lakukan.”

Ki Demang Jerukgede memandang Risang dengan tajamnya. Dengan nada berat ia pun berkata, “Kami akan melihat perkembangan keadaan anakmas. Mudah-mudahan apa yang anakmas lakukan tidak menyakiti perasaan kami.”

“Kami akan berusaha membatasi persoalannya, Ki Demang” jawab Risang.

“Tetapi kami pun merasa berkeberatan jika kebijaksanaan yang angger trapkan di Tanah Perdikan itu akan menjerat orang-orang kami.” berkata Ki Demang.

Risang pun kemudian telah minta diri. Ia menganggap bahwa pembicaraannya dengan Ki Demang Jerukgede tidak banyak berarti. Karena itu, maka Risang pun telah mengetrapkan paugeran yang lebih tegas untuk membatasi gerak para pedagang gelap yang telah memungut korban itu.

Dengan ketentuan itu, maka para petugas di Tanah Perdikan Sembojan telah bekerja lebih keras. Para pengawal harus mengawasi perbatasan lebih ketat lagi.

Namun agaknya dikalangan para petugas itu sendiri terdapat orang-orang yang bekerja bersama dengan para pedagang gelap. Ternyata bahwa mereka mampu mencari celah-celah pengawasan para pengawal Tanah Perdikan.

Namun akhirnya Gandar telah berhasil menemukan ujung jalur penyelusuran itu. Seorang pengawal kepercayaannya, berhasil menyusup kedalam lingkaran perdagangan gelap itu.

Tetapi untuk memasuki lingkungan perdagangan gelap itu, maka pengawal kepercayaan Gandar itu harus mengalami perlakukan buruk lebih dahulu. Pengawal itu telah mendapat hukuman langsung dari Gandar. Gandar yang marah karena kegagalan pengamatan pengawal itu langsung menghukumnya.

Wajah pengawal itu menjadi merah biru. Bahkan untuk beberapa saat ia sempat pingsan. Gandar telah memukuli wajahnya tanpa ampun.

“Gandar telah kehilangan kendali dirinya” berkata salah seorang kawan pengawal itu.

“Ia tidak pernah berbuat seperti itu” sahut yang lain, “tetapi agaknya Risang telah menjadi sangat marah.

Keadaan pengawal yang parah itulah yang memberi kesempatan kepadanya berhubungan dengan para pedagang gelap. Pengawal yang menunjukkan kekecewaan yang sangat itu, telah mendapat tawaran dari seorang kawannya, yang semula sama sekali tidak diduganya, untuk bekerja bersama.

Tawaran itu segera diterimanya dengan senang hati. Bahkan pada awalnya, pengawal yang telah mendapat hukuman dari Gandar itu mampu berbuat lebih baik dari kawan-kawannya yang telah terlibat lebih dahulu.

Jalur yang dipasang Gandar itulah yang telah memungkinkannya untuk dapat mengenali jalur perdagangan gelap itu.

“Ternyata jaringan yang telah dipasang oleh para pedagang gelap itu sangat rumit. Beberapa orang pengawal Tanah Perdikan ini telah terlibat disamping beberapa orang bebahu Kademangan Jerukgede.” lapor Gandar kepada Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan.

“Kita harus dapat menangkap saat penyerahan bahan pangan itu, agar kita dapat membuktikan bahwa perdagangan gelap itu sudah terjadi.” berkata Risang.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 63

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s