SST-60

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-60Kl REMENG dan Ki Resa yang pernah dibawa ke-rumah itu dapat mengenali beberapa orang penting yang ada di rumah itu selain Kebo Wingit dan Wirasana.

“Menurut penglihatanku, orang terpenting dari perguruan Wukir Gading yang ada dirumah itu yang tidak ikut pergi ke padang perdu untuk mengambil benda-benda berharga itu adalah Wangkot. Kemudian beberapa orang yang masih belum tuntas dan beberapa orang yang aku belum mengenal” berkata Ki Remeng.

Ki Resa pun mengangguk sambil berkata, “Ya. Orang yang terpenting yang tinggal adalah Wangkot. Orang itu memang berilmu tinggi. Selain berguru diperguruan Wukir Gading, Wangkot juga menyadap ilmu dari perguruan yang lain. Karena itu, maka kami tidak tahu pasti tataran kemampuannya.”

Mereka yang mendengarkan penjelasan itu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Risang bertanya, “Kenapa Wangkot tidak ikut pergi ke padang perdu untuk mengambil benda-benda berharga itu?”

“Wangkot menganggap penting untuk menunggui Ki Mawur, karena Ki Mawur ternyata dapat dipergunakan untuk memeras Ki Remeng. Nampaknya mereka memang telah membagi tugas. Gondar-gandir bukan termasuk orang dari perguruan Wukir Gading. Tetapi ia telah melibatkan diri kedalam perburuan benda-benda berharga itu.” jawab Ki Resa.

“Jadi orang yang harus mendapat perhatian khusus adalah Wangkot” desis Kasadha.

“Ya” jawab Ki Remeng, “tetapi aku tidak mengetahui orang-orang lain yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi menilik sikap dan tingkah laku mereka, maka hanya ada satu dua orang yang berilmu tinggi.”

“Nampaknya mereka membagi kekuatan mereka menjadi dua. Separuh pergi ke padang perdu untuk mengambil benda-benda berharga yang mereka cari itu, sedangkan yang separo tetap berada di sarang mereka untuk menjaga kemungkinan lain yang dapat terjadi.”

Meskipun tidak sepenuhnya, tetapi Ki Remeng dan Ki Resa dapat memberikan beberapa petunjuk tentang rumah itu.

“Jika demikian” berkata Kasadha, “kita tidak akan datang bersama-sama memasuki rumah itu. Kita akan memencar dan mendekati rumah itu dari beberapa sudut.

“Ya” sahut Risang, “dengan demikian kita akan dapat mengurangi jumlah lawan jika kita dapat memasuki rumah itu dari berbagai arah. Kita tidak akan berhadapan langsung dengan mereka bersama-sama yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah kita.”

Kesepakatan-kesepakatan itulah yang kemudian mereka jadikan landasan rencana mereka untuk melepaskan Ki Mawur dari tangan orang-orang seperguruannya, namun yang kemudian telah terjebak kedalam nafsu ketamakan dan keserakahan.

Namun dalam kesempatan itu, tiba-tiba saja suara Ki Remeng merendah, “Sebenarnya aku masih mohon kalian untuk berpikir sekali lagi. Bagi kalian melepaskan Ki Mawur adalah satu tugas suka-rela yang tidak langsung menyangkut tugas pokok kalian yang sebenarnya sudah selesai. Sementara itu, kalian justru harus mempertaruhkan jiwa kalian, sementara salah seorang diantara kalian telah gugur.”

“Sudahlah Ki Remeng” sahut Kasadha, “jangan melemahkan niat kami untuk melakukannya. Meskipun tugas ini adalah tugas suka-rela, tetapi kami merasa terpanggil untuk melakukannya.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Namun terasa betapa jantungnya tersentuh oleh niat keempat orang itu untuk menolong orang yang sama sekali belum dikenalnya.

“Jika demikian, baiklah. Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih.” berkata Ki Remeng dengan nada berat.

Namun tiba-tiba saja Risang bertanya, “Bagi Ki Remeng sendiri, kenapa Ki Remeng bersedia mengorbankan segala-galanya, bahkan nyawa Ki Remeng untuk membebaskan atau menyelamatkan Ki Mawur? Sehingga Ki Remeng yang menyadari bahwa setelah benda-benda berharga itu diketemukan, Ki Remeng sendiri akan dibunuh, namun Ki Remeng melakukannya juga demi keselamatan Ki Mawur.”

Ki Remeng menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam Ki Remeng itu berkata, “Dua kali nyawaku diselamatkan. Selebihnya, yang aku lakukan itu merupakan ungkapan dari kesetiaanku kepada Ki Mawur, yang juga aku anggap sebagai pemimpinku dan sekaligus guruku disamping guru yang memimpin perguruan Wukir Gading, namun yang telah dikhianati oleh murid-muridnya sendiri.

Risang mengangguk-angguk. Dua kali diselamatkan nyawanya memang merupakan ikatan tersendiri bagi Remeng, sehingga hidupnya yang tersisa itu seakan-akan bulat-bulat diperuntukkan bagi keselamatan Ki Mawur.

“Nampaknya Ki Remeng ingin membalas budi” berkata Risang didalam hatinya. Namun Kasadha, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun berpendapat demikian pula.

Demikianlah, setelah langit menjadi gelap, maka Ka-sadha pun berkata, “Baiklah. Kita akan mulai bergerak. Ingat, kita baru bergerak bersama memasuki halaman rumah itu setelah aku r memberikan, isyarat dengan suara burung bence. Hanya dua kali. Jika lebih dari itu, maka tentu akan timbul kecurigaan, karena burung bence itu berteriak sambil terbang, sehingga jika suaranya terdengar lagi tentu sudah menjadi semakin jauh. Aku harap Risang dapat meneruskan isyarat ini dengan suara-suara malam yang lain. Angkup atau bilalang.”

Risang mengangguk. Katanya, “Suara angkup tidak pernah cukup keras. Tetapi barangkali sekedar menyambung isyarat. Mudah-mudahan kita semua mendengar suara burung bence itu.”

“Ya” sahut Sambi Wulung, “kita tidak akan berada di jarak yang terlalu panjang. Meskipun setelah mendengar isyarat kita akan memencar lagi setelah kita berada di halaman. Kita masih juga harus mengamati keadaan.”

Demikianlah, maka segala sesuatunya sudah diatur sebaik-baiknya. Mereka sadar, bahwa mereka akan menghadapi satu pergumulan yang berat. Mungkin disamping Wangkot masih ada orang lain yang berilmu tinggi, sehingga harus dihadapi dengan khusus pula.

Namun keenam orang itu sudah bersiap sepenuhnya. Seperti yang terjadi di padang perdu itu, maka pertempuran yang akan terjadi adalah pertempuran habis” habisan. Orang-orang yang ada dirumah itu tentu tidak akan menyerah apapun yang terjadi atas mereka.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka berenam mereka telah merayap mendekati rumah yang akan menjadi sasaran. Dirumah itu telah disimpan Ki Mawur yang telah dijadikan taruhan.

Beruntunglah bahwa mereka tidak menahan Ki Mawur di sebuah rumah di dalam kota Madiun. Jika terjadi benturan kekerasan didalam kota Madiun, maka kemungkinan besar, hal itu akan diketahui oleh tetangga-tetangga yang jarak rumahnya lebih rapat dan padat. Sehingga keributan itu akan dapat sampai ketelinga para prajurit yang akan segera bertindak. Dalam keadaan yang gawat serta dalam kesiagaan penuh, para prajurit akan dapat bertindak keras sehingga mereka akan dapat menemui kesulitan karenanya. Sedangkan jumlah prajurit yang bertugas seakan-akan tidak terbatas lagi.

Dengan sangat hati-hati keenam orang itu memasuki sebuah padukuhan. Tetapi rumah itu terletak di sudut padukuhan, justru agak jauh dari tetangga-tetangga yang lain. Sebuah halaman kosong serta kebun bambu yang lebat. Menyekat halaman rumah itu dengan halaman rumah yang terdekat.

Rumah itu memang terhitung rumah yang besar. Halamannya pun cukup luas. Sedangkan di belakang rumah terdapat kebun yang membentang panjang. Di sudut kebun itu masih juga terdapat beberapa rumpun bambu apus dan bambu wulung.

Ki Remeng dan Ki Resa telah memperingatkan mereka yang akan memasuki rumah itu, bahwa disamping orang-orang yang sempat mereka lihat, mungkin masih ada orang-orang lain yang meskipun tidak lebih dari orang yang ikut-ikutan, namun bukan berarti bahwa mereka dapat diabaikan.

Menjelang tengah malam, maka keenam orang itu sudah berada di luar dinding rumah yang menjadi sasaran. Kasadha yang berada di belakang rumah itu bersama Ki Remeng berusaha memperhatikan keadaan dengan sebaik-baiknya.

Dengan hati-hati Kasadha telah meloncat keatas dinding kebun belakang rumah itu. Dari tempatnya Kasadha melihat bahwa suasana memang sepi. Tidak nampak kesibukan sama sekali dibagian belakang rumah itu.

Namun Kasadha yakin, tentu ada beberapa orang yang berjaga-jaga mengamati keadaan, karena dirumah itu disimpan seseorang yang dianggap penting terutama dalam hubungannya dengan perburuan benda-benda berharga itu.

Namun menurut pengamatan Kasadha, mereka akan dapat memasuki kebun dan halaman rumah itu dengan aman. Kebun belakang dan halaman samping banyak terdapat tanaman yang akan dapat menjadi tempat untuk berlindung.

Karena itu, maka Kasadha tidak menunggu lebih lama lagi. Di heningnya malam, telah terdengar jerit burung bence dua kali berturut-turut.

Ternyata suara itu cukup keras. Di malam yang sepi, suara itu menyeruak menusuk selaput telinga orang-orang yang memang sudah menunggunya.

Tetapi Kasadha pun tidak mengingkari kemungkinan, orang yang berjaga-jaga di rumah itu pun menaruh perhatian pula atas suara burung bence itu. Karena itu, maka Kasadha sendiri telah lebih dahulu turun di halaman belakang dan merayap mendekat melihat perkembangan keadaan diikuti oleh Ki Remeng.

Dari sisi sebelah kiri, Risang bersama Sambi Wulung telah memasuki halaman itu pula, sedang dari sisi sebelah kanan Jati Wulung bersama Ki Resa telah meloncati dinding dan berlindung dibalik rimbunnya pohon perdu.

Setelah menunggu beberapa saat dan ternyata tidak ada sesuatu yang mencurigakan, maka mereka pun mulai merayap mendekati rumah yang terhitung besar yang dide-pannya terhampar halaman yang cukup luas.

Suasana rumah itu masih terasa sepi. Mereka belum melihat seorang pun yang berjaga-jaga. Baik di belakang, maupun di samping rumah itu. Namun mereka yakin, bahwa orang-orang yang ada didalam rumah itu cukup berhati-hati, karena mereka tidak ingin kehilangan Ki Mawur.

Demikianlah, maka orang-orang yang menyelinap di halaman itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dengan hati-hati Kasadha dan Ki Remeng berjalan di sebelah kandang yang cukup besar. Didalam kandang itu terdapat beberapa ekor kuda. Mereka berusaha agar mereka tidak mengejutkan beberapa ekor kuda yang ada di kandang itu.

Di sebelah lain juga terdapat lagi sebuah kandang. Di dalamnya terdapat beberapa ekor lembu dan sepasang kerbau.

Baik Ki Remeng maupun Ki Resa tidak mengetahui, rumah itu milik siapa. Tetapi sepengetahuan mereka rumah itu bukan milik Wangkot.

Dalam pada itu, Risang dan Sambi Wulung sudah berada dekat disebelah serambi samping kiri, perpanjangan dari gandok sebelah kiri. Ketika mereka dengan sangat berhati-hati menempel dinding, maka mereka telah mendengar suara orang yang bercakap-cakap perlahan-lahan diruang dalam.

Risang yang mencoba menyentuh pitu lereg diserambi itu ternyata diselarak dari dalam. Lewat renggangnya uger-uger pintu ia sempat melihat ke dalam. Ternyata serambi yang diterangi lampu minyak kosong. Sebuah amben panjang membujur disebelah pintu yang menuju keruang dalam.

Risang memberi isyarat kepada Sambi Wulung bahwa suara orang itu berasal dari ruang dalam.

Meskipun tidak terlalu jelas, tetapi Risang itu mendengar seseorang berkata, “Jika malam ini mereka tidak kembali, maka besok kita akan menyusul mereka.”

“Apakah ada kemungkinan mereka akan berkhianat?” bertanya yang lain.

“Tidak” orang yang pertama menjawab tegas, “jangan pernah ada dugaan yang demikian dikepalamu. Aku kenal mereka dengan baik. Aku tahu rumah dan keluarga mereka satu-satu. Dan aku yakin bahwa mereka tidak akan mengkhianati aku. Yang mungkin berkhianat adalah Ki Remeng dan Ki Resa itu. Mungkin mereka tidak menunjukkan tempat yang sebenarnya sehingga Kebo Wingit memerlukan waktu untuk memaksanya berbicara.”

“Tetapi Ki Mawur ada di tangan kita. Jika Remeng tidak mau berbicara, maka nasib Ki Mawur akan menjadi sangat buruk.”

“Tetapi tanpa melihat langsung nasib Ki Mawur, Remeng dapat saja berbuat gila. Karena itu, jika Remeng memang berkhianat, kita akan memaksanya berbicara didepan Ki Mawur.”

Namun kemudian terdengar suara yang lain lagi., “Sebenarnya Ki Mawur sudah sangat menderita. Kita dapat saja memeras keterangan Remeng sampai ia mau berbicara. Tetapi bukan Ki Mawur.”

“Remeng itu orang gila. Apapun yang kita lakukan atas dirinya tidak akan dapat memeras keterangannya. Tetapi jika sedikit saja Ki Mawur kita sentuh, maka ia tentu akan berbicara.”

“Kenapa sebenarnya yang membuat Remeng itu begitu setia kepada Ki Mawur?” bertanya seseorang.

“ Hidupnya pernah diselamatkan” jawab orang yang pertama.

Keadaan menjadi hening. Untuk beberapa saat, tidak terdengar suara.

Namun Risang dan Sambi Wulung telah beringsut dan bersembunyi di bayangan segerumbul pohon perdu di halaman samping.

Dari tempatnya bersembunyi mereka melihat seseorang membuka pintu serambi. Tetapi karena orang itu membelakangi lampu minyak di serambi itu, maka Risang dan Sambi Wulung tidak sempat melihat wajahnya.

Ternyata orang itu kemudian melangkah keluar. Agaknya ia akan pergi ke pakiwan. Pintu serambi itu hanya ditutup dari luar, tetapi tidak diselarak.

Sambi Wulung dan Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian hanya dengan isyarat mereka sepakat untuk menyelesaikan saja orang yang keluar dari pintu pringgitan itu.

Dengan hati-hati Risang bergeser dari satu gerumbul ke gerumbul yang lain. Baru setelah ia menjadi semakin dekat, maka Risang itu pun segera meloncat dari balik gerumbul.

Orang itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu. Tangan Risang cepat terayun ketengkuknya.

Orang itu jatuh terjerembab. Sekali ia masih menggeliat. Namun kemudian orang itu pun menjadi pingsan.

Risang menyeret orang itu kebalik gerumbul tanpa mengetahui dengan pasti, apakah orang itu mati atau tidak. Tetapi Risang ternyata tidak menyerangnya lagi untuk memastikan bahwa orang itu mati.

Setelah menyembunyikan orang itu, maka Risang dan Sambi  Wulung pun  telah  masuk  ke serambi.  Setelah menutup pintu mereka segera menyelinap memasuki rumah yang besar itu.

Suara diruang dalam itu terdengar lagi. Namun Risang dan Sambi Wulung telah bersembunyi di belakang geledeg di ruang belakang disebelah pintu yang masuk ke longkangan didepan dapur.

Dalam pada itu, Kasadha dan Ki Remeng telah menyelinap ke dapur. Kasadha terkejut ketika tiba-tiba saja seorang yang tidur di dapur itu bangkit. Hampir diluar sadarnya, tangannya terayun dengan derasnya menghantam dada orang itu.

Orang itu tidak sempat mengaduh, ia kembali terbaring diam di pembaringannya.

Kasadha dan Ki Remeng itu pun kemudian melintasi longkangan. Tetapi keduanya tidak masuk keruang belakang, mereka berusaha untuk meloncat masuk kelong-kangan samping didepan gandok kanan.

Sementara itu Jati Wulung dan Ki Resa sudah mendekati rumah itu pula. Mereka melingkari gandok kanan dan dari ujung gandok mereka melihat pendapa yang sepi.

Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar desir dekat disebelah mereka. Ternyata justru diserambi gandok itu duduk dua orang yang agaknya memang sedang bertugas. Untunglah bahwa keduanya tidak memiliki pendengaran yang tajam, sehingga keduanya tidak mengetahui bahwa dibalik dinding itu terdapat dua orang yang sedang mengendap-endap.

Bahkan seorang dari kedua orang di serambi itu berdesis, “Aku mengantuk sekali.”

“Bukankah itu wajar. Di malam hari kita biasanya tidur” jawab yang lain.

“Tetapi kita sekarang tidak boleh tidur” berkata orang yang pertama.

“Ya. Karena itu maka kita merasa sangat mengantuk” jawab kawannya.

Suasana pun menjadi hening. Namun Jati Wulung dan Ki Resa yang mempunyai pendengaran yang tajam, mendengar tarikan nafas mereka, sementara kedua orang di serambi itu tidak mendengar apapun juga. Apalagi Jati Wulung dan Ki Resa Podang berusaha untuk mengatur pernafasan mereka sebaik-baiknya.

Dalam pada itu seorang dari kedua orang diserambi itu berkata, “Bagaimana jika kita tidur bergantian?”

“Itu melanggar perintah. Kita berdua harus berjaga-jaga mengawasi bagian depan rumah ini.” jawab kawannya.

“Bukankah itu cukup dilakukan oleh satu orang. Jika ada hal-hal yang sangat mendesak saja, maka yang lain harus segera dibangunkan.”

Tetapi kawannya ternyata tidak sependapat. Katanya, “Jika salah seorang dari kita tidur, maka yang lain pun tentu akan tertidur pula, karena tidak ada kawannya berbincang-bincang.”

Orang yang pertama tidak dapat memaksa. Karena itu, maka ia pun segera terdiam.

Jati Wulung dan Ki Resa termangu-mangu sejenak. Namun keduanya kemudian dengan isyarat sepakat untuk memancing kedua orang itu turun dari serambi.

Jati Wulung lah yang kemudian dengan sengaja menyentuh dinding itu. Kemudian dengan sengaja pula ia memperdengarkan tarikan nafasnya yang keras.

Kedua orang diserambi itu ternyata mendengar gesekan pada dinding gandok itu. Kemudian ketika mereka dengan sungguh-sungguh mendengarkan, mereka mendengar suara tarikan nafas seseorang dibalik dinding.

Keduanya saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanya telah bangkit. Dengan hati-hati ke-duanya pun mulai bergerak ke tangga.

Dengan isyarat maka keduanya pun berniat untuk menyergap orang yang berada di balik dinding itu. Tetapi mereka tidak mau terjebak disaat mereka|turun tangga dan memutari ujung dinding serambi itu.

Demikianlah, maka sesaat kemudian kedua orang itu telah meloncat dan bergerak dengan cepat beberapa langkah dari ujung dinding serambi. Dengan senjata ditangan maka mereka berdua telah berdiri tegak menghadap kearah Jati Wulung yang menunggu dan bersiap untuk menyerang jika orang-orang itu muncul dari baik dinding. Namun ternyata keduanya telah mengambil jarak beberapa langkah, sehingga Jati Wulung tidak dapat langsung menyerangnya.

Dengan senjata teracu salah seorang dari kedua orang yang berjaga-jaga itu bertanya lantang, “Siapakah kalian?”

Jati Wulung dan Ki Resa Podang justru bergerak maju. Memang tidak ada pilihan lain kecuali mereka memang harus bertempur. Kedua orang yang telah mengacukan senjata mereka itu pun telah bergerak pula. Mereka mengambil jarak yang satu dengan yang lain. Sementara itu seorang dari mereka telah bertanya pula, “Cepat katakan, siapa kalian.”

Tetapi Jati Wulung menjawab, “Kalian tidak perlu mengetahui siapa kami. Tetapi jika kami datang dengan diam-diam, maka niat kami tentu tidak baik bagi kalian dan seisi rumah ini.”

“Setan. Kau kira kau berbicara dengan siapa?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun ia pun justru bertanya, “Jadi, aku berbicara dengan siapa?”

“Persetan” geram orang itu. Lalu katanya pula., “Menyerahlah. Mungkin kalian masih akan mendapat kesempatan untuk hidup.”

“Aku datang kemari tidak sekedar untuk menyerah”   jawab Jati Wulung, “tetapi sudah aku katakan, bahwa aku mempunyai yang tentu buruk bagi kalian.”

Wajah kedua orang itu bagaikan menyala. Keremangan cahaya obor di regol dan lampu minyak di pendapa, serba sedikit telah menyentuh mereka yang sudah berhadapan dan bersiap untuk bertempur itu.

Demikianlah, maka kedua orang yang sedang berjaga-jaga itu tidak menunggu lebih lama. Adalah tugas mereka untuk menangkap orang-orang yang datang tanpa mereka kehendaki. Apalagi, kedua orang yang datang itu seakan-akan dengan sengaja telah menantang mereka.

Karena itu, maka kedua orang itu pun mulai menggerakkan senjata mereka. Namun seorang diantara mereka masih juga berkata., “Masih ada kesempatan bagi kalian untuk menyerah. Jika kalian menyia-nyiakan kesempatan ini, maka kalian tidak akan sempat lagi keluar dari halaman ini. Bahkan karena kalian tidak mau menyebut nama kalian, maka kalian akan hilang tanpa bekas sama sekali.

“Kamilah yang memberi kesempatan kalian untuk menyerah. Kami datang sudah dengan perhitungan yang matang, bahwa kami akan keluar dari halaman rumah ini dengan membawa hasil sebagaimana yang kami inginkan.“ sahut Jati Wulung.

Ternyata memang tidak ada kemungkinan lain. Jawaban itu benar-benar telah membakar jantung kedua orang itu. Karena itu, maka mereka pun telah mulai meloncat menyerang dengan senjatanya terjulur.

Tetapi Jati Wulung dan Ki Resa pun telah bersiap pula. Dengan cepat mereka menghindar, namun kemudian sekaligus telah menyerang pula.

Kedua orang yang bertugas berjaga-jaga itu ternyata telah membentur kekuatan ilmu yang tinggi. Keduanya tidak menduga bahwa kedua orang yang datang itu dengan cepat telah berhasil mendesak mereka.

Jati Wulung dan Ki Resa memang berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan kedua orang itu. Mereka masih berusaha untuk menghindari keributan yang akan dapat membangunkan seisi rumah itu.

Tetapi ternyata kedua orang yang sedang berjaga-jaga itu telah bertempur sambil berloncatan mundur.

Karena itu, maka Jati Wulung pun dengan cepat telah meloncat mendahului untuk menggiring lawannya menjauhi bangunan induk rumah yang dipergunakan untuk menyembunyikan Ki Mawur itu.

Tetapi yang tidak diduga itu terjadi. Orang yang bertempur melawan Ki Resa itu tiba-tiba saja berteriak keras-keras, “Hati-hati. Ada orang gila memasuki halaman rumah ini.”

Ki Resa terkejut, ia tidak menduga bahwa tiba-tiba lawannya itu berteriak keras-keras. Namun justru karena itu, maka Ki Resa yang berilmu tinggi itu dengan kecepatan yang tidak sempat dilihat oleh lawannya telah menyerangnya.

Demikian mulut orang itu terkatub, maka tubuh orang itu pun segera terlempar dan terbanting ditanah. Tanpa dikehendakinya maka Ki Resa itu telah membunuh lawannya.

Lawan Jati Wulung itu masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi ia juga tidak sempat lepas dari tangan Jati Wulung. Apalagi ketika kemudian pintu pringgitan rumah itu terbuka. Seseorang telah meloncat keluar dan melihat apa yang telah terjadi.

Jati Wulung sadar sepenuhnya, bahwa pertempuran selanjutnya akan merupakan pertempuran yang terbuka. Karena itu, maka ia harus mengurangi lawan sebanyak-banyaknya. Betapapun ia bukan seorang pembunuh, tetapi ia tidak dapat mengendalikan dirinya untuk dapat selalu melumpuhkan lawannya tanpa membunuhnya.

Karena itu, ketika kemudian lawannya itu roboh, Jati Wulung tidak dapat mengetahui dengan pasti, apakah lawannya itu terbunuh atau sekedar menjadi pingsan.

Namun dalam pada itu, orang yang keluar dari pring-gitan itu ternyata telah memberikan isyarat kepada orang-orang yang ada didalam rumah. Terdengar suitan nyaring dari mulut orang itu. Dan kemudian disusul dengan isyarat yang sama oleh beberapa orang yang berada didalam rumah itu.

Jati Wulung dan Ki Resa Podang berdiri termangu-mangu. Mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat pintu gandok terbuka. Bukan gandok disatu sisi. Tetapi kedua gandok disebelah menyebelah pendapa.

Dua orang keluar dari gandok sebelah kanan dan empat orang keluar dari gandok sebelah kiri.

Jati Wulung dan Ki Resa telah menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, orang yang berdiri di pringgitan itu masih saja mengamati apa yang akan terjadi di halaman rumah itu. Bahkan kemudian seorang lagi berdiri dipintu sambil bertanya, “Siapakah mereka itu?”

“Aku belum tahu. Tetapi mereka sudah membunuh dua orang diantara kita.”

“Setan” geram orang itu.

“Biarlah anak-anak menangkapnya” berkata orang yang pertama. Bahkan ia pun kemudian berteriak, “Tangkap orang itu. Kalian jangan membunuhnya. Aku kigin mendengar mulutnya itu berbicara, untuk apa mereka datang kemari.”

Enam orang yang turun ke halaman itu termangu-mangu. Mereka menyadari bahwa kedua orang itu tentu orang berilmu tinggi. Karena itu, mereka akan mengalami kesulitan jika mereka harus menangkap kedua orang itu hidup-hidup.

Meskipun demikian, mereka tidak boleh mengabaikan perintah itu. Mereka harus berusaha sejauh mungkin untuk dapat menangkap keduanya hidup-hidup.

Dalam pada itu, maka Jati Wulung dan Ki Resa Podang justru telah mengambil jarak. Mereka masing-masing akan berhadapan dengan tiga orang lawan. Meskipun demikian, meskipun umur mereka telah merambat ke hari-hari tua, namun mereka berdua sama sekali tidak menjadi gentar.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Jati Wulung dan Ki Resa telah bersiap dengan senjata mereka menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Diantara keenam orang yang telah mengacukan senjata mereka itu, masih ada yang mengusap mata mereka. Nampaknya mereka terkejut dan terbangun dengan tiba-tiba. Setelah menenangkan hati sejenak sementara teriakan dari halaman itu masih terngiang ditelinga mereka, maka mereka telah mendengar suitan nyaring yang sekaligus sebagai perintah untuk keluar dari bilik-bilik mereka.

Dalam pada itu, orang yang berdiri di pringgitan itu pun telah berteriak pula, “He, apakah kalian masih tidur? Cepat, tangkap mereka. Mereka telah membunuh kawan-kawan kalian dengan licik.”

Keenam orang itu pun segera mulai bergerak. Yang masih mengusap matanya pun segera menjadi terbeliak. Mereka tidak boleh menunggu terlalu lama.

Demikianlah, maka sejenak kemudian keenam orang itu pun mulai bergerak. Tiga orang menghadap Jati Wulung dan tiga orang berhadapan dengan Ki Resa Podang.

Sejenak kemudian, maka pertempuran telah terjadi lagi di halaman rumah itu. Seorang yang bertubuh pendek dengari otot-otot yang menjorok di wajah kulitnya berkata dengan geram, “Menyerah sajalah. Kalian tidak mempunyai pilihan.”

Jati Wulung dan Ki Resa tidak segera menjawab. Tetapi mereka harus menghindari serangan-serangan yang kemudian datang beruntun. Ujung-ujung senjata pun terayun menyambar dan yang lain mematuk dengan cepat.

Dalam pada itu orang bertubuh pendek itu sekali lagi menggeram, “Menyerahlah. Kau masih mempunyai kesempatan.”

Tetapi Jati Wulung dan Ki Resa masih saja berloncatan tanpa menjawabnya.

Orang bertubuh pendek itu tidak menawarkan kesempatan itu lagi. Tetapi ia pun segera ikut berloncatan menyerang dengan garangnya.

Orang yang berdiri dipringgitan itu melangkah maju. Wajahnya mulai berkerut. Demikian pula orang yang berdiri dipintu. Ia pun telah berada disisi kawannya itu pula.

“Kedua orang itu berilmu tinggi” desis yang lebih dahulu keluar.

Kawannya mengangguk-angguk. Namun keningnya telah berkerut, ia melihat dua orang yang bertempur melawan enam orang itu sama sekali tidak mengalami kesulitan. Dengan tangkas mereka berloncatan di sela-sela tebasan dan tusukan senjata yang datang dari segala arah.

Sebenarnyalah bahwa keenam orang itu pun mulai menjadi berdebar-debar. Dua orang tua itu bertempur dengan garangnya meskipun harus berhadapan dengan enam orang. Keduanya bahkan seakan-akan telah menjadi dua ekor harimau yang garang diantara enam ekor serigala yang buas.

Orang yang berdiri di pringgitan dan yang kemudian telah bergeser ke pendapa itu menjadi cemas. Kepada kawannya ia berkata, “Kedua orang itu sangat berbahaya. Kita beri isyarat kawan-kawan kita yang ada didalam.”

Kawannya mengangguk. Ia pun kemudian segera melangkah masuk keruang dalam untuk memberikan laporan tentang dua orang yang bertempur itu.

Demikian kawannya itu hilang dibalik pintu, maka orang yang berdiri di pendapa itu telah melangkah lebih maju lagi. Dengan demikian, maka ia dapat melihat lebih jelas kedua orang yang tengah bertempur melawan enam orang itu.

Tiba-tiba saja wajah orang itu berkerut. Dengan tergesa-gesa ia menuruni tangga pendapa. Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Bahkan ia pun kemudian telah mengumpat kasar, “Setan tua. He, kaukah itu Resa Podang?”

Ki Resa Podang tertawa. Sambil berloncatan ia menjawab, “Ya. Kau masih ingat aku?”

“ Kenapa tiba-tiba kau sudah berada disini? He, dimana Kebo Wingit, Gondar-gandir dan kawan-kawannya?”

“Entahlah. Aku tidak tahu” jawab Ki Resa.

“Wangkot harus tahu, bahwa saudara seperguruannya yang gila itu telah berada disini.”

“Terima kasih jika kau mengabarkan kedatanganku kepada Wangkot.” sahut Ki Resa.

Orang yang berdiri di tangga itu menggeram. Sementara itu Ki Resa itu pun berkata, “Tetapi sebaiknya kau tidak usah turut campur. Kau bukan keluarga Wukir Gading. Kehadiranmu hanya akan menambah keadaan semakin rumit. Biarlah kami, orang-orang Wukir Gading menyelesaikan persoalan kami sendiri.”

“Persetan. Aku dan keenam orang yang bertempur itu memang bukan orang Wukir Gading. Tetapi apakah kawanmu itu juga orang Wukir Gading?” bertanya orang itu.

“Ya. Ia juga orang Wukir Gading” jawab Ki Resa.

Orang itu menggeram. Menurut penglihatannya, Ki Resa itu bersama-sama dengan Ki Remeng telah dibawa oleh Kebo Wingit dan beberapa orang yang lain mengambil benda-benda berharga itu.

Namun akhirnya orang itu berteriak, “Kami akan menghancurkan kalian berdua. Tetapi sebelumnya kalian harus menjawab beberapa pertanyaan kami.”

Ki Resa tidak menjawab lagi. Tetapi tiba-tiba saja ia meloncat dengan garangnya. Ujung pedangnya pun telah menggapai dada salah seorang lawannya, sehingga segores luka telah menyilang.

Orang itu terkejut ketika pedih dan nyeri menyengat dadanya. Dengan serta merta ia pun telah meloncat surut sambil menyeringai menahan sakit. Namun kemudian orang itu pun telah mengumpat kasar.

Jati Wulung sama sekali tidak menyahut. Ia membiarkan dirinya disebut orang Wukir Gading, karena orang yang berdiri ditangga itu agaknya tidak mengenal semua murid perguruan Wukir Gading.

Sementara itu, orang yang terluka itu tidak mau melihat kenyataan tentang dirinya. Meskipun darah sudah mengalir dari lukanya, namun dengan kemarahan yang membakar jantung, orang itu pun telah meloncat memasuki arena pertempuran. Senjatanya justru berputaran dengan garangnya. Bahkan ia pun telah berteriak, “Jika aku mati, maka kau pun harus mati.”

Tetapi Ki Resa dengan tangkasnya mengindari serangan orang itu. Bahkan dengan tangkasnya pedangnya telah terayun dengan cepatnya menyerang lawannya yang seorang lagi.

Lawannya itu tidak mengira bahwa serangan Ki Resa demikian tiba-tiba justru mengarah lambungnya. Namun dengan cepat orang itu sempat menggeliat, sehingga sentuhan ujung senjata Ki Resa hanya sempat membuat goresan kecil yang tidak berarti meskipun darah mulai mengembun pula.

Sementara Ki Resa berloncatan menghadapi lawan-lawannya yang bagaikan menjadi gila, terdengar seseorang berteriak nyaring. Namun suaranya segera terputus ketika orang itu jatuh terbanting di tanah. Darah menyembur dari luka didadanya. Luka yang dalam sehingga telah mengoyakkan jantungnya pula.

Dengan demikian maka ketika orang itu jatuh berguling, maka ia tidak pernah mampu untuk bergerak lagi.

Orang yang berdiri di tangga pendapa itu menjadi semakin tegang, ia merasa bahwa ia tidak akan dapat berdiri saja termangu-mangu. Karena itu, maka ia pun telah meloncat turun kehalaman sambil menarik pedangnya.

Sementara itu, tiga orang telah berjalan tergesa-gesa melintasi pringgitan dan pendapa. Dengan wajah yang tegang mereka pun telah menuruni tangga dan berdiri di halaman pula. Tangan-tangan mereka telah menggenggam hulu senjata mereka masing-masing. Sementara itu, seorang diantara mereka yang bertubuh tinggi besar telah menggenggam sebuah kapak yang besar ditangannya.

Namun ketiga orang itu pun tertegun pula. Sementara orang yang berdiri di halaman itu berkata, “Seorang diantara kedua orang itu adalah Ki Resa.”

“Gila” orang yang memegang kapak itu pun menggeram, “apakah yang telah terjadi dengan Kebo Wingit dan kawan-kawannya?

“Apakah kau dan Remeng telah berkhianat?”

“Pradah, untuk apa kau bertanya tentang Kebo Wingit? Kebo Wingit lah yang telah berkhianat. Bukan aku dan bukan pula Ki Remeng.” jawab Ki Resa sambil bertempur. Lawannya yang telah dilukainya didadanya, tidak lagi mampu bertempur dengan sepenuh tenaga. Jika ia memaksa mengerahkan kekuatan dan kemampuannya, maka darahnya pun mengalir semakin banyak dari lukanya.

Orang yang disebut Pradah itu pun kemudian berkata kepada salah seorang kawannya, “Beritahu Wangkot. Ia harus melihat Resa edan itu ada disini. Agaknya nyawa iblis tua itu memang liat.”

Namun seorang kawan Pradah itu berkata, “Tetapi besok ia akan menjumpai rumahnya, istrinya dan anak-anaknya menjadi abu. Karena itu, maka kau tidak akan mati malam ini Resa. Kau akan mendapat kesempatan melihat keluargamu kami hancurkan seorang demi seorang karena kau telah mengkhianati kami.”

Tetapi Ki Resa itu pun menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk membunuh kalian semuanya disini.”

“Setan kau” orang yang bersenjata kapak itu pun segera melangkah mendekati Ki Resa yang masih bertempur dengan garangnya diumurnya yang semakin tua. Namun orang berkapak itu masih berkata lagi, “panggil Wangkot.”

Seorang dari ketiga orang yang keluar dari ruang dalam itu pun dengan cepat telah meloncat naik tangga pendapa dan bergegas pergi keruang dalam.

Namun tiba-tiba saja orang itu terkejut. Justru dari ruang dalam berloncatan dua orang yang sudah siap dengan senjatanya. Seorang masih terlalu muda dan yang seorang rambutnya sudah beruban. Sementara itu, orang yang disebut Wangkot itu pun telah menyusul pula keluar dari ruang dalam dengan senjata teracu.

“Iblis, siapa kau?” geram Wangkot.

“Jadi kaukah yang bernama Wangkot?” bertanya Risang.

“Ya. Dan kalian berdua tidak akan pernah dapat lari dari tanganku.” jawab Wangkot.

“Kami tidak akan lari” jawab Risang, “tetapi disini terasa lebih lapang untuk bermain dengan senjata.

“Setan. Apa maksud kalian memasuki rumah ini?” bertanya Wangkot.

“Kami ingin mengambil harta-benda yang kalian rampok dari persembunyiannya. Kebo Wingit, Gondar-gandir dan kawan-kawannya atas petunjuk Ki Remeng dan Ki Resa telah mengambil benda-benda berharga itu. Nah, sekarang, kami datang untuk mengambilnya.” jawab Risang.

“Siapakah kalian berdua?” bertanya Wangkot.

Namun orang yang akan memanggil Wangkot itu berkata lantang, “Di halaman Ki Resa dan seorang kawannya sedang bertempur. Pradah sudah berada disana.”

Wangkot mengerutkan dahinya, ia memang melihat pertempuran di halaman. Namun ia tidak mengira bahwa seorang diantaranya adalah Ki Resa.

Karena itu, maka Wangkot itu pun menggeram, “Jadi Ki Resa ada disini?”

“ Ya.” jawab prang itu.

Jadi ia dapat lolos dari tangan Kebo Wingit?” geram Wangkot pula.

“Agaknya memang demikian.”

Wajah Wangkot menjadi merah oleh kemarahan yang membakar ubun-ubunnya. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Jika demikian, Remeng tentu juga ada disini. Orang-orang ini adalah pengikut-pengikutnya.”

“Ya” jawab orang yang akan memanggil Wangkot itu.

Tiba-tiba Wangkot itu pun berteriak, “Jangan tinggalkan Ki Mawur itu. Jika benar Remeng ada disini, maka orang tua itu akan dapat dikorbankan. Terserah kepada Remeng. Apakah ia akan berusaha menyelamatkan Mawur dengan menarik orang-orangnya, atau membiarkan Mawur itu mati.”

“Siapakah orang yang kau sebut Ki Mawur itu? Kami tidak mengenalnya. Kami juga tidak mengenal orang yang bernama Remeng dan Resa.” tiba-tiba saja Sambi Wulung menyahut.

“Persetan” geram Wangkot, “apapun yang kau katakan, kami bukan oraug-orang yang dungu untuk mempercayaimu.”

“Terserah apapun yang kau igaukan. Tetapi serahkan benda-benda berharga yang kau curi itu.” teriak Sambi Wulung.

Wangkot tidak mendengarkan lagi. Dengan garangnya ia menyerang Risang yang berdiri paling dekat dengan

Wangkot itu. Sementara orang yang akan memanggilnya itu langsung menyerang Sambi Wulung.

Namun Risang tidak langsung melawannya. Ia pun berloncatan mundur dan turun ke halaman.

“Kau tidak akan dapat melarikan diri.” geram Wangkot.

Namun Risang menjawab sambil berdiri tegak dengan kaki renggang di halaman, “Aku tidak akan melarikan diri. Marilah, kita bertempur di halaman.”

Wangkot pun selangkah demi selangkah maju. Sebuah pedang yang besar teracu kearah jantung Risang.

Namun Risang pun telah bersiap pula menghadapinya. Karena itu, maka pedang Risang pun telah menyilang di dadanya.

Ternyata Sambi Wulung pun tidak ingin bertempur di pendapa. Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah meloncat turun ke halaman. Dengan demikian, maka orang yang semula akan memanggil Wangkot itu pun telah mengejarnya pula.

Sementara itu, Ki Resa telah menyelesaikan kedua orang lawannya yang lain. Bahkan Jati Wulung pun tinggal menghadapi seorang lagi yang sudah hampir tidak berdaya. Orang yang telah terluka pundak dan lambungnya itu sama sekali sudah tidak mampu lagi untuk bertempur. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk bergeser mundur, mendekati orang bertubuh tinggi besar dan bersenjata kapak itu. Ia berharap bahwa ia akan mendapat perlindungan dari padanya.

Tetapi yang tidak terduga telah terjadi. Ketika orang yang tidak berdaya itu berdiri di sebelahnya dengan tubuh gemetar karena sakit yang sangat yang menyengat di luka-lukanya itu, maka Pradah justru telah memukul kepala orang itu dengan tangkai kapaknya.

Orang itu masih sempat mengaduh. Namun kemudian ia pun jatuh terjerembab. Tulang kepalanya pun telah menjadi retak dan darah menyembur dari lukanya. Orang itu hanya sempat menggeliat. Namun kemudian nafasnya telah terhenti pula.

Orang yang bersenjata kapak itu pun kemudian melangkah maju mendekati Ki Resa sambil berkata, “Iblis tua. Kapakku akan membelah kepalamu. Tetapi tidak malam ini. Besok, setelah kau saksikan keluargamu menjadi abu.”

“Kau tidak akan dapat melakukannya, karena malam ini akulah yang akan membunuhmu.” sahut Ki Resa.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Tetapi ia tidak mau menunggu lagi. Dengan garangnya ia berkata, “Setan tua. Kau kira ilmumu sudah menggapai bintang itu?”

Ki Resa pun segera mempersiapkan diri. Ia sadar, bahwa orang yang bertubuh tinggi besar itu benar-benar menjadi marah. Karena itu, maka Ki Resa harus benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, kedua orang yang lain yang sudah berada di halaman itu pun telah mendekati Jati Wulung pula. Dengan marah orang yang pertama sekali keluar dari ruang dalam itu menggeram, “Kau tidak mempunyai kesempatan apapun lagi. Kau sudah membunuh beberapa orang kawanku. Hukumanmu akan menjadi semakin berat.”

“Adakah hukuman yang lebih berat dari hukuman mati?” bertanya Jati Wulung.

“Ada. Dan kau akan segera merasakannya.” jawab orang itu.

Jati Wulung tidak menjawab lagi. Kedua orang lawannya itu sudah mulai bergerak dan mengacukan senjata-senjata mereka.

Sejenak kemudian, Ki Resa dan Jati Wulung itu sudah harus bertempur lagi. Jati Wulung harus melawan dua orang, sementara itu Ki Resa bertempur dengan saudara seperguruan-nya, Pradah yang bersenjata kapak.

Namun kedua orang itu benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Disisi lain, Risang justru berhadapan langsung dengan orang yang bernama Wangkot. Orang yang memegang kendali kepemimpinan di rumah itu. Seorang yang dianggap memiliki ilmu yang patut disegani oleh saudara-saudara seperguruannya, karena Wangkot tidak saja berguru pada pemimpin perguruan Wukir Gading, tetapi juga pada orang lain.

Sementara itu, Sambi Wulung bertempur dengan orang yang masih belum diketahui tataran kemampuannya. Karena itu, maka Sambi Wulung harus bertempur dengan berhati-hati.

Yang dilakukan mula-mula adalah menjajagi kemampuan lawannya yang ternyata sangat garang itu. Serangan-serangannya pun meluncur tanpa henti-hentinya sejak senjatanya mulai bersentuhan dengan senjata Sambi Wulung.

Namun semakin sering orang itu menyerang, maka Sambi Wulung pun semakin cepat mengetahui kekuatan dan kelemahan lawannya. Agaknya lawannya itu lebih banyak mengandalkan kekuatan tenaganya saja tanpa membuat perhitungan-perhitungan yang lebih mapan.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung merasa bahwa ia akan mendapat peluang yang lebih besar untuk mengimbangi kemampuan lawannya itu.

Sementara itu, Risang yang bertempur melawan Wangkot harus sudah meningkatkan kemampuannya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Remeng, Wangkot memang memiliki ilmu yang tinggi. Risang yang pernah bertempur melawan orang-orang Wukir Gading menyadari, bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam ilmu Wangkot memang bukan saja yang pernah dikenalinya pada orang-orang Wukir Gading yang lain. Namun unsur-unsur yang belum pernah dikenalinya telah nampak pula terselip diantara-nya, bahkan telah menyatu.

Dengan demikian Risang pun harus meningkatkan ilmunya pula. Tetapi sebagai seorang anak muda yang telah mengalami tempaan yang keras, maka Risang mampu bertahan dan mengimbangi kecepatan gerak, kekuatan dan unsur-unsur gerak yang sangat rumit sekalipun, sehingga justru Wangkot yang semakin lama menjadi semakin heran akan kemampuan lawannya yang masih sangat muda itu.

Namun Wangkot yang sudah memiliki segudang pengalaman, itu masih merasa memiliki kemungkinan terbesar untuk menyelesaikan lawannya.

Karena itu, maka ia pun berusaha semakin menekan lawannya dengan serangan-serangan yang cepat dan mengandung tenaga yang sangat besar.

Tetapi usaha Wangkot itu tidak segera berhasil. Ternyata anak muda itu terlalu tangkas untuk dapat ditundukkannya dengan segera. Sentuhan-sentuhan dan kemudian benturan-benturan yang terjadi menunjukkan bahwa anak muda itu memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan lebih tinggi dari yang diperhitungkannya semula.

Karena itu, maka Wangkot yang menjadi semakin marah itu pun meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Namun lawannya yang muda itu masih saja selalu mengimbanginya.

Karena itu, maka kemarahan Wangkot pun semakin membakar jantungnya. Tetapi sejalan dengan itu, kegelisahan mulai merayap dihatinya. Wangkot mulai memikirkan Pradah yang harus bertempur melawan Ki Resa. Wangkot mengenal kedua-duanya. Pradah memang lebih muda dari Ki Resa, sehingga ilmu yang diwarisi Ki Resa itu tentu lebih banyak dan lebih masak. Kelebihan Pradah hanyalah kemudaannya, sehingga dukungan wadagnya agaknya akan lebih baik dari lawannya yang sudah menjadi semakin tua.

“Jika Pradah mampu memeras tenaga Ki Resa, maka akan ada kemungkinan Pradah mampu mengatasinya” berkata Wangkot didalam hatinya.

Namun dalam pada itu Wangkot pun memikirkan Ki Mawur yang seolah-olah menjadi taruhan sehingga Ki Remeng akan dapat dikendalikannya. Tetapi ternyata Ki Remeng tidak ada diantara mereka yang bertempur dihalaman.

Meskipun demikian Wangkot memperhitungkan bahwa Ki Remeng tentu ada di sekitar rumah itu. Sehingga setiap saat Ki Remeng akan dapat muncul dengan tiba-tiba dan ikut menentukan akhir dari pertempuran yang terjadi di halaman rumah itu.

Karena itu, maka Wangkot pun kemudian telah mengerahkan kemampuannya untuk dengan segera melumpuhkan lawannya itu.

Tetapi Wangkot telah membentur satu kenyataan. Lawannya yang masih muda itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Sehingga dengan demikian, maka tidak mudah baginya untuk dapat segera menundukkannya.

Dalam pada itu, apa yang dicemaskan oleh Wangkot itu memang terjadi. Ternyata Kasadha dan Ki Remeng tidak tinggal diam. Ketika mereka mengetahui bahwa pertempuran terbuka telah terjadi di halaman, maka mereka justru telah berusaha untuk memasuki bagian dalam rumah itu. Dengan sangat berhati-hati mereka berusaha untuk mengetahui bilik tempat Ki Mawur disimpan.

Sementara Wangkot bertempur dihalaman, maka dua orang yang dianggap berilmu cukup tinggi telah diperintahkan untuk menunggui Ki Mawur. Bahkan Wangkot telah berpesan, jika perlu, maka mereka dapat mengancam Ki Mawur, terutama jika Ki Remeng yang memasuki rumah itu. Jika keselamatan Ki Mawur terancam, maka Ki Remeng tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu Kasadha dan Ki Remeng telah berada di ruang dalam. Namun yang mereka jumpai pertama-tama bukan bilik Ki Mawur. Tetapi mereka telah bertemu dengan dua orang pengawal yang mendapat perintah untuk bersiap-siap diruang dalam.

Kasadha dan Ki Remeng tidak dapat menghindari pertempuran. Dengan garangnya kedua orang itu telah menyerang. Namun Kasadha dan Ki Remeng pun telah bersiap sepenuhnya.

Untunglah bahwa keduanya tidak mengenal Ki Remeng. Ketika Ki Remeng dan Ki Resa berada dirumah itu sebagai tawanan, keduanya belum dipanggil untuk ikut mengamankan rumah itu, sebagaimana beberapa orang yang berada digandok. Yang ada dirumah itu sebagian adalah orang-orang yang ikut pergi ke padang perdu untuk mengambil benda-benda berharga.

Dengan demikian maka tidak ada seorang pun yang telah menyebut nama Ki Remeng. Sehingga dengan demikian, maka kedua orang pengawal yang ada di bilik Ki Mawur masih belum mengambil sikap apapun terhadap Ki Mawur yang sedang sakit parah.

Sementara itu, Kasadha dan Ki Remeng tidak banyak memberi kesempatan kepada kedua orang itu. Namun tempat yang sempit memang agak terasa mengganggu.

Ternyata kedua orang itu tidak bertahan terlalu lama. Tetapi sebelum mereka dibungkam untuk selama-lamanya, maka mereka masih sempat memberikan isyarat.

Kasadha dan Ki Remeng yakin bahwa mereka akan menghadapi lawan yang lain. Karena itu, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Ketika mereka mendengar derap orang berlari diluar pintu butulan, maka mereka segera menempatkan diri.

Ketika pintu terbuka, maka seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan dan berwajah sekeras batu padas meloncat masuk. Demikian ia melihat Ki Remeng, maka matanya pun terbelalak. Orang itu ternyata telah mengenal Ki Remeng.

Tetapi ketika mulutnya mulai bergerak, sebelum ia dapat menyebut nama itu, maka tiba-tiba saja senjata Ki Remeng telah terjulur lurus menembus dada sampai ke-jantung.

Orang itu hanya sempat berteriak kesakitan. Namun kemudian suaranya pun terdiam. Ketika Ki Remeng menarik pedangnya, maka orang itu pun segera roboh.

Orang yang berada dibelakangnya terkejut. Namun ketika orang yang dadanya ditembus senjata Ki Remeng itu roboh, maka dengan cepat ia menahannya, sekaligus mendorongnya kearah Ki Remeng.

Tubuh orang itu dengan derasnya menimpa Ki Remeng yang tidak menduganya. Karena itu, maka Ki Remeng pun terhuyung-huyung beberapa langkah surut.

Kesempatan itulah yang kemudian dipergunakan oleh orang itu untuk meloncat memasuki ruang dalam. Seorang yang lain ikut pula meloncat masuk dengan senjata teracu.

Tetapi mereka tidak segera dapat menyerang Ki Remeng yang sedang berusaha untuk mengatur keseimbangannya kembali, karena Kasadha sudah siap untuk melindunginya.

Dengan demikian, maka seorang diantara mereka pun segera menyerang Kasadha, agar kawannya mendapat kesempatan untuk menyerang Ki Remeng. Tetapi ketika Kasadha bergeser kesamping, maka Ki Remeng telah bersiap untuk menghadapi-nya.

Sekejap kemudian, maka pertempuran pun telah berlangsung kembali. Namun seperti yang semula, pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Yang mula-mula mendesak dan menguasai lawannya adalah Kasadha, sehingga lawannya itu pun harus memberikan isyarat untuk minta bantuan.

Tetapi agaknya tidak ada lagi kawannya yang dapat membantu. Karena itu, maka ketika sekali lagi ia minta bantuan, maka salah seorang dari antara mereka yang menunggui Ki Mawur itu pun berdesis, “Kau tetap disini. Aku akan melihat apa yang terjadi.”

Kawannya mengangguk. Ia pun mempunyai perhitungan yang sama. Selagi kawannya masih dapat bertempur, maka ia harus segera mendapat bantuan sehingga mereka akan dapat melawan bersama-sama. Keadaan itu tentu lebih baik daripada mereka harus melawan seorang demi seorang.

Namun demikian orang itu keluar dari dalam bilik yang dipergunakan untuk menyembunyikan Ki Mawur, maka lawan Kasadha itu sudah sulit untuk dapat diselamatkan.

Karena itu, maka orang itu pun harus bertempur melawan Kasadha seorang diri.

Orang itu memang menjadi heran, ia melihat beberapa tubuh kawan-kawannya yang terbaring diam. Sementara itu, ia hanya melihat seorang anak muda yang bertempur dan mengalahkan kawannya yang terakhir.

Tetapi orang itu yakin, bahwa anak muda itu tidak sendiri.

Sebenarnyalah bahwa Ki Remeng sudah menyelinap untuk bersembunyi. Namun ketika perhatian orang yang keluar dari dalami bilik itu sepenuhnya ditujukan kepada Kasadha, maka Ki Remeng pun telah bergeser pula mendekati pintu bilik tempat Ki Mawur disembunyikan oleh Wangkot dan kawan-kawannya.

Sementara itu Kasadha ternyata telah mendapat seorang lawan yang berilmu tinggi pula. Seorang lawan yang, kemudian dikenalinya memiliki unsur-unsur gerak dari perguruan Wukir Gading.

Untunglah bahwa Ki Remeng telah sempat menyembunyikan dirinya diantara perabot rumah yang sudah berserakan itu. Seandainya orang itu sempat melihat Ki Remeng, maka tentu akan dapat memberi isyarat kepada kawannya yang menunggui Ki Mawur untuk mempergunakan Ki Remeng sebagai perisai. Dengan mengancam nyawa Ki Mawur maka ia akan dapat memaksa Ki Remeng melakukan segala perintahnya, termasuk menyerahkan diri dan bahkan untuk ikut melawan orang-orang yang datang bersamanya, karena bagi Ki Remeng, hidupnya seakan-akan sudah menjadi milik Ki Mawur.

Dalam pada itu, Ki Remeng telah berdiri disebelah pintu bilik yang dipergunakan untuk menyembunyikan Ki Mawur. Ia masih menunggu kesempatan untuk dapat berbuat sesuatu. Ki Remeng itu mengetahui bahwa didalam bilik itu masih ada orang yang menungguinya. Tetapi Ki Remeng menduga bahwa tinggal seorang saja yang berada didalam bilik itu, Karena tidak terdengar suaranya sama sekali. Jika terdapat lebih dari satu orang, maka agaknya akan terdengar mereka berbicara meskipun mungkin sambil berbisik untuk menentukan sikap mereka.

Ki Remeng menjadi semakin yakin, ketika ia mendengar seseorang berkata, “Jika yang datang itu Remeng, Ki Mawur, maka kau dan Remeng akan mati bersama-sama.”

Ternyata sama sekali tidak terdengar jawaban. Bahkan desah pun tidak.

Sementara itu Kasadha masih bertempur dengan sengitnya. Lawannya memang seorang yang berilmu tinggi, sehingga Kasadha memerlukan beberapa lama untuk menguasai dan menundukkannya.

Tetapi orang itu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan orang itu pun berusaha untuk dapat menundukkan dan membunuh lawannya yang masih muda itu.

Pertempuran di tempat yang terhitung sempit itu pun berlangsung dengan sengitnya. Bukan saja ujung senjata mereka yang mengancam menembus jantung, tetapi tangan dan kaki pun mampu menggapai tubuh lawannya.

Perabot di ruang dalam itu benar-benar telah berserakan. Bahkan ajug-ajug dan lincak-lincak pun telah berloncatan dari tempatnya. Gledeg bambu telah roboh dan melintang menyilang pintu.

Sementara itu, di halaman, Risang masih bertempur melawan Wangkot. Darah Wangkot rasa-rasanya telah mendidih oleh kemarahan yang menggelegak di dadanya.

Sebagai seorang yang disegani, bukan saja di lingkungan orang-orang Wukir Gading, maka Wangkot justru merasa terhina oleh tingkah anak yang baginya masih terlalu muda itu. Setelah Wangkot mengerahkan kemampuannya, ternyata anak muda itu masih saja mampu bertahan. Bahkan anak muda itu mampu mengimbangi unsur-unsur gerak ilmunya yang rumit.

Namun dalam pada itu, Risang pun harus mengerahkan ilmunya pula. Dengan bekal ilmunya yang matang, maka Risang memang mampu mengimbangi ilmu dan kemampuan Wangkot.

Namun Wangkot tidak hanya berguru di perguruan Wukir Gading. Karena itu, maka pada saat kemarahannya sudah membakar ubun-ubunnya, maka Wangkot telah mengetrapkan ilmu andalannya.

Dengan suara bergetar Wangkot itu berkata, “Anak muda. Aku telah sampai pada puncak kemampuanku. Jika dengan ilmu andalanku aku tidak dapat membunuhmu, maka kaulah yang akan mendapat kesempatan untuk membunuhku.”

Risang tidak menjawab. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus mempersiapkan diri untuk bertempur habis-habisan.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka Wangkot itu pun telah menyerang dengan landasan ilmu puncak. Wangkot memang tidak terlalu banyak bergerak. Tetapi setiap ayunan senjatanya, maka sambaran anginnya rasa-rasanya telah menampar tubuh Risang, sehingga kulitnya terasa menjadi pedih.

Risang menyadari, bahwa ilmu lawannya itu adalah ilmu yang sangat berbahaya. Apalagi ketika serangan-serangan Wangkot rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan kulitnya. Sambaran anginnya pun rasa-rasanya telah menggores dan melukai kulitnya, apalagi sentuhan ujung senjatanya itu.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Sambaran-sambaran angin yang dihempaskan oleh sambaran senjata Wangkot tidak saja menampar dan membuat kulit Risang menjadi pedih, tetapi ia mulai merasakan arus panas yang ikut dalam sambaran angin pada ayunan senjatanya.

Karena itulah, maka Risang pun harus meningkatkan daya tahannya sampai kepuncak. Ia harus mampu mengatasi perasaan pedih dan panas itu. Namun keringat pun kemudian seakan-akan telah terperas dari tubuhnya.

Bahkan dalam benturan senjata yang terjadi, maka terasa kekuatan Wangkot itu seakan-akan telah bertambah-tambah. Orang yang sedang dibakar oleh kemarahan itu telah meningkat-kan tenaga dalamnya sampai kepuncak.

Untuk mengimbangi ilmu lawannya, maka Risang harus sampai pada ilmu pamungkasnya pula. Ia tidak akan mampu bertahan tanpa mengetrapkan ilmu yang diwarisinya dari kedua kakek dan seorang neneknya, Janget Kinatelon.

Dengan ilmunya itu, maka tubuh Risang pun seakan-akan menjadi semakin liat. Dengan ringannya anak muda itu berloncatan. Menggeliat dan kemudian bagaikan terbang dengan tangan mengembang. Sementara itu, senjatanya berputaran dan sekaligus menggapai-gapai tubuhnya.

Wangkot terkejut melihat perubahan pada lawannya yang muda itu. Pada benturan yang terjadi kemudian, terasa kekuatan anak muda itu pun semakin bertambah-tambah. Bahkan terasa betapa getar yang kuat merambat lewat sentuhan senjata yang berbenturan itu menjalar sampai ke pusat jantungnya.

Wangkot mulai menyadari akan kenyataan yang dihadapinya. Karena itu, maka ia pun mulai menjadi cemas pula. Meskipun ia masih mempunyai harapan untuk bertahan dan bahkan harapan untuk menang, tetapi ia menjadi cemas atas kemungkinan yang dapat terjadi pada kawan-kawannya. Ketika ia sempat memperhatikan sekilas, kawannya yang bertempur tidak jauh daripadanya itu sudah menjadi semakin terdesak. Meskipun demikian kawannya itu masih berusaha meloncat sambil menyerang dengan menghentakkan tenaganya yang terakhir.

Dengan cepatnya ia meloncat sambil mengayunkan senjatanya. Namun Sambi Wulung dengan cepat merendah dan berjongkok pada sebelah lututnya. Sementara itu, senjatanya terjulur lurus menggapai dada lawannya yang terlepas dari keseimbangannya oleh kekuatannya sendiri saat ia mengayunkan senjatanya.

Terdengar jerit kesakitan serta umpatan kasar. Namun kemudian suara yang meninggi itu pun terdiam. Demikian Sambi Wulung menarik pedangnya, maka orang itu pun telah terjerembab jatuh dan tidak akan bangkit kembali.

Sementara itu disebelah lain dari pendapa itu, Saudara seperguruannya yang bersenjata kapak masih bertempur melawan Ki Resa. Semakin lama semakin meyakinkan, bahwa orang itu tidak akan mampu melawan Ki Resa yang tua itu. Meskipun kapaknya yang besar itu berdesing-desing, namun hampir tidak berarti sama sekali.

Namun dalam pada itu, Jati Wulung harus berusaha dengan mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan dua orang yang berilmu tinggi. Semakin lama maka Jati Wulung pun menjadi semakin terdesak. Beberapa kali ia harus berloncatan mundur mengambil jarak dari kedua orang lawannya.

Dalam keadaan yang paling sulit bagi Jati Wulung, maka Sambi Wulung pun telah meluncur menyeberangi pendapa meloncat beberapa langkah disebelah saudara seperguruannya itu. Dengan lantang, maka Sambi Wulung pun berkata, “Serahkan seorang lawanmu kepadaku. Barangkali itu lebih baik daripada aku berdiri saja termangu-mangu disini tanpa berbuat sesuatu, karena lawanku ternyata sama sekali tidak berarti apa-apa.

Jati Wulung, saudara muda seperguruan Sambi Wulung tidak mencegahnya. Apalagi ia harus mengakui kenyataan bahwa ia mengalami kesulitan melawan dua orang yang berilmu tinggi, meskipun Jati Wulung itu masih mempunyai kesempatan, tetapi kedatangan Sambi Wulung telah memperingan bebannya.

Seorang dari kedua orang yang bertempur melawan Jati Wulung itu menyadari, bahwa orang yang datang itu tentu berilmu tinggi. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain, bahwa ia harus menghadapinya.

Dengan demikian, maka Jati Wulung pun kemudian tinggal berhadapan dengan orang yang keluar pertama kali dari ruang dalam, sesaat sebelum kedua orang yang berjaga-jaga malam itu dilumpuhkan. Orang yang ternyata datang dari luar lingkungan perguruan Wukir Gading. Sementara itu, lawannya yang seorang lagi harus bertempur melawan Sambi Wulung. Sedangkan Ki Resa masih harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan diri dari serangan kapak saudara seperguruannya.

Namun Ki Resa yang tua itu ternyata memang memiliki ilmu yang lebih lengkap dari lawannya. Meskipun dukungan kewadagan lawannya yang masih lebih muda itulebih tinggi, namun ternyata kelengkapan ilmu Ki Resa mampu mengatasinya.

Sementara itu, Sambi Wulung yang telah mulai bertempur lagi dengan cepat mampu melihat kelemahan-kelemahan lawannya. Karena itu, maka dengan ilmunya yang tinggi Sambi Wulung dengan cepat pula mendesak lawannya.

Disisi lain, Wangkot yang telah sampai pada puncak ilmunya, berusaha untuk segera menyelesaikan lawannya. Ia sadar, jika ia tidak dapat membantu kawan-kawannya, maka kesulitan tidak akan dapat teratasi. Semakin susut jumlah kawan-kawannya, maka kedudukan mereka pun menjadi semakin berbahaya.

Tetapi ternyata bahwa ia tidak mampu berbuat lebih baik lagi. Ilmu puncaknya ternyata tidak mampu dengan cepat mengatasi lawannya yang masih muda itu. Bahkan kemudian semakin lama ia merasakan betapa ilmu lawannya semakin mendesaknya. Getaran-getaran ilmu di setiap terjadi sentuhan telah membuatnya sangat terganggu, sementara kekuatan ilmunya sendiri masih dapat diatasi oleh daya tahan lawannya.

Dalam pada itu, di ruang dalam, Kasadha telah berhasil menguasai lawannya. Pertempuran di tempat yang sempit itu telah memaksa kedua belah pihak mengerahkan segenap kemampuannya untuk mampu bergerak cepat.

Dalam keadaan yang terjepit itu, maka lawan Kasadha itu pun telah memberi isyarat kepada kawannya untuk membantunya. Menurut pendapatnya, Ki Mawur yang terluka berat itu tidak akan dapat pergi kemana-mana. Sementara itu, jika anak muda itu tidak dapat dikalahkan, maka keadaannya akan menjadi lebih berbahaya. Kawannya yang menunggui Ki Mawur tentu akan mengalami kesulitan untuk melawan anak muda itu. Kawannya itu tidak akan dapat mempergunakan Ki Mawur untuk mencegah anak muda itu, karena anak muda itu bukan Ki Remeng yang hidup matinya seakan-akan diperuntukkannya kepada Ki Mawur.

Namun kawannya yang sedang menunggui Ki Mawur itu memang ragu-ragu untuk meninggalkan orang yang sedang sakit parah itu. Karena itu, ia mencoba untuk menggertak orang yang sedang bertempur melawan saudara seperguruannya itu tanpa sempat melihat orangnya. Katanya dengan suara lantang, “Hentikan perlawananmu. Jika tidak, maka Ki Mawur akan aku akhiri sampai disini.”

“Kau berbicara dengan siapa?” bertanya Kasadha yang mendesak lawannya, “dengan aku yang sudah siap membunuh kawanmu ini atau kepada orang lain?”

“Dengan kau” orang itu hampir berteriak.

Kasadha menarik natas dalam-dalam. Orang itu tidak sedang berbicara dengan Ki Remeng yang mempunyai penilaian khusus terhadap Ki Mawur.

Karena itu, maka Kasadha pun justru tertawa. Katanya, “Aku tidak berurusan dengan siapapun juga. Aku datang untuk mengambil benda-benda berharga yang kau curi setelah kau bekerja sama dengan Ki Remeng.”

Ki Remeng sendiri menjadi berdebar-debar, ia sama sekali tidak berkeberatan namanya disebut-sebut. Tetapi ia cemas bahwa karena putus asa, maka orang yang ada di-dalam bilik itu akan memperlakukan Ki Mawur dengan semena-mena.

Namun sekali lagi terdengar isyarat dari lawan Kasadha. Karena itu, maka Ki Remeng telah menahan agar pernafasannya tidak sampai terdengar oleh orang yang ada di-dalam bilik itu.

Untuk beberapa saat Ki Remeng menjadi tegang. Orang tua itu seakan-akan mendengar detak jantung orang yang menunggui Ki Mawur itu yang agaknya berada dalam keragu-raguan yang sangat.

Namun akhirnya, Ki Remeng mendengar suara kaki beringsut. Tiba-tiba saja pintu pun terbuka dan seseorang telah berlari keluar pintu.

Ki Remeng tidak melepaskan kesempatan itu. Tetapi , harga diri Ki Remeng sebagai seorang laki-laki telah mencegahnya untuk menusuk punggung orang itu. Karena itu, demikian orang itu meloncati pintu dan berlari ke arah pertempuran yang terjadi di ruang dalam, maka Ki Remeng pun segera meloncat dan berdiri tegak didepan pintu.

Orang yang sudah lewat beberapa langkah itu berhenti. Ketika ia berpaling, maka ia menjadi terkejut sekali, ia melihat Ki Remeng berdiri tegak didepan pintu dengan senjata ditangan.

“Setan kau Remeng” geram orang itu yang ternyata adalah saudara seperguruan Ki Remeng.

Ki Remeng tersenyum. Katanya, “Sekarang kau tidak dapat memperalat Ki Mawur untuk memaksa aku tunduk kepadamu.”

Orang itu tidak berbicara terlalu banyak. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Ki Remeng.

Namun Ki Remeng sudah bersiap sepenuhnya. Ketika serangan itu datang, maka dengan tangkasnya Ki Remeng telah menghindarinya. Bahkan dengan cepat Ki Remeng itu pun telah menyerang lawannya itu pula.

Ketika kemudian pertempuran terjadi, terdengar pula kawannya yang bertempur melawan Kasadha memberikan isyarat. Namun lawan Ki Remeng itu telah berteriak, “Aku menemukan Remeng bersembunyi disini.”

“Jika demikian, paksa ia menghentikan pertempuran. Atau Ki Mawur harus mati.”

Tetapi Ki   yang menjawab sambil bertempur, “Akulah yang sekarang menguasai Ki Mawur. Tidak akan ada seorang pun yang dapat mengusirnya.”

Orang itu menggeram. Tetapi keadaannya menjadi semakin sulit. Kasadha benar-benar telah menguasainya, sehingga harapan untuk dapat keluar dari pertempuran itu bersama wadagnya menjadi tidak mungkin.

Dalam pada itu, Ki Remeng yang ingin segera menemui Ki Mawur itu tidak mau bertempur terlalu lama. Apalagi lawannya adalah saudara seperguruannya yang tatarannya berada dibawahnya. Karena itu, maka Ki Remeng tidak banyak mengalami kesulitan. Dengan mengerahkan kemampuan tertingginya, ia pun segera mendesak lawannya. Ketika lawannya tidak lagi sempat berloncatan dan seakan-akan telah terhimpit oleh ilmu Ki Remeng di sudut ruang itu, maka dengan putus asa orang itu meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya terjulur lurus kearah dada Ki Remeng.

Ternyata pertempuran itu hanya berlangsung singkat. Ki Remeng dengan tangkasnya merendahkan dirinya dengan menekuk satu lututnya. Namun senjatanya telah terjulur lurus. Lawan Ki Remeng itu terkejut. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan. Loncatannya sendirilah yang telah mendorongnya kedalam maut. Ujung senjata yang dijulurkan oleh Ki Remeng telah menerima lontaran tubuh itu tepat di lambung.

Terdengar orang itu mengaduh kesakitan. Kemudian mengumpat dengan kasarnya. Ketika Ki Remeng kemudian bangkit, meloncat surut dan menarik senjatanya, maka darah pun telah memancar dari luka dilambung itu.

Lawannya itu terhuyung-huyung. Namun ia masih berusaha mengayunkan senjatanya. Tetapi ketika senjata itu tidak mengenai sasaran, maka orang itu seakan-akan telah terseret oleh ayunannya sendiri dan jatuh terjerembab.

Orang itu memang bukan lawan Ki Remeng. Meskipun ia termasuk murid yang baik, namun tatarannya memang berada dibawah tataran kemampuan Ki Remeng.

Sejenak kemudian, Ki Remeng yang tidak menghiraukan lagi keadaan lawannya itu, segera berlari ke dalam bilik, ia tidak peduli apakah lawannya itu terbunuh atau hanya terluka saja. Namun karena ia sudah tidak berdaya untuk melawannya, maka orang itu telah ditinggalkannya saja.

Sejenak kemudian, Ki Remeng telah berjongkok disisi Ki Mawur yang berbaring diam. Namun wajah Ki Remeng menjadi tegang. Ki Mawur nampaknya sudah terlalu lemah. Dalam pergolakan yang terjadi di perguruannya, Ki Mawur yang sakit itu nampaknya telah dibawa dari satu tempat ke tempat lain, sehingga keadaannya menjadi semakin buruk. Makan dan minumnya serta perawatan yang lain sangat kurang memadai.

“Ki Mawur” desis Ki Remeng.

Ki Mawur memang masih membuka matanya. Tetapi pada mata itu sudah tidak nampak cahaya kehidupan sama sekali.”

“Ki Mawur” Ki Remeng mengulangi.

Ki Mawur itu menggeleng lemah. Katanya, “Kau tidak perlu meratapi kepergianku Remeng.”

“Tidak. Ki Mawur akan sembuh. Aku datang bersama utusan Ki Lurah Mertapraja untuk membebaskan Ki Mawur.”

Tetapi keadaan Ki Mawur memang sudah sangat parah. Karena itu, maka suaranya pun menjadi sangat lemah. Katanya, “Carilah Mertapraja. Ia satu-satunya orang yang aku harapkan. Kau harus menjaganya dan kau pula yang harus menempanya agar menjadi orang yang terpilih.”

“Ki Mawur” suara Ki Remeng menjadi parau. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menghindar dari saat-saat terakhir hidupnya. Demikian pula Ki Mawur. Setelah menjalani kehidupan yang panjang dan penuh dengan gejolak bukan saja dipermukaan, maka Ki Mawur itu pun telah sampai pada batasnya. Katanya, “Aku tidak mau mengingat lagi benda-benda berharga itu disaat seperti ini. Juga tidak dengan segala macam kekisruhan yang terjadi diperguruan kita. Pada saat terakhir aku akan berdoa bagi Mertapraja dan berdoa bagi diriku sendiri. Mohon ampun atas segala dosa yang pernah aku perbuat.”

“Ki Mawur harus bertahan. Aku datang bersama sahabat-sahabat Ki Lurah Mertapraja.”

Tetapi Ki Mawur nampaknya sudah tidak mendengar lagi. Wajahnya menjadi semakin pucat. Namun kemudian mata orang tua itu pun telah tertutup.

“Ki Mawur, Ki Mawur.” Ki Remeng memanggil dengan suara parau. Namun Ki Mawur tidak mendengar lagi.

Yang kemudian terdengar adalah suara yang asing. Gemeretak di dinding bambu dan gebyok kayu.

Ternyata disaat terakhir, ketika senjata Kasadha menghunjam ke dada lawannya, lawannya masih sempat menggapai lampu minyak di ajug-ajug yang terletak di sudut ruangan. Demikian lampu itu terguling, minyaknya tumpah, dan apinya pun telah menyambar geledeg bambu. Kasadha memang berusaha meloncat memadamkan api. Tetapi lawannya yang masih memiliki tenaga itu berusaha untuk menghalaunya, menggapai dengan senjatanya dan bahkan dengan sisa kekuatan terakhirnya orang itu masih berusaha menikam, sehingga Kasadha harus meloncat menjauhinya.

Tetapi dengan demikian, api pun telah membakar geledeg bambu itu. Bahkan kemudian telah menjilat dinding bambu dan gebyog kayu yang kering dan dengan demikian menjadi sangat mudah terbakar, sehingga dalam waktu yang pendek, maka api pun telah merayap memanjat dinding dan gebyok kayu.

Kasadha yang melihat api berkobar, merasa tidak mungkin lagi untuk memadamkannya, sementara itu lawannya yang menjadi semakin lemah masih terdengar menjerit dijilat api. Namun ia sempati berteriak, “Kita akan mati bersama-sama. Kau juga akan menjadi abu.”

Tetapi masih ada kesempatan bagi Kasadha untuk berlari. Bahkan ia pun kemudian telah berlari ke bilik Ki Mawur.

Kasadha tertegun sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Ki Remeng. Rumah ini terbakar. Marilah, kita bawa Ki Mawur keluar.”

Tetapi Ki Remeng justru nampak sangat tenang. Ketika ia bangkit berdiri dan berbalik menghadap Kasadha, ia pun berkata, “aku akan menunggui Ki Mawur ngger. Ki Mawur telah meninggal.”

Wajah Kasadha menegang sejenak. Bersusah payah ia berusaha memenuhi perintah Ki Rangga Dipayuda untuk membebaskan Ki Mawur semata-mata atas dasar kemanusiaan. Tetapi terlambat.

Kasadha sekilas teringat pemimpin kelompok dalam pasukannya yang telah menjadi korban pula dalam usahanya membebaskan Ki Mawur. Pemimpin kelompoknya yang terbaik. Bukan saja sebagai prajurit, tetapi juga sebagai sesama yang justru karena umurnya yang lebih tua, ia telah banyak memberikan pertimbangan pada sisi kehidupan pribadinya.

Tetapi Kasadha tidak mempunyai banyak kesempatan. Ketika ia kemudian melihat api yang sudah menembus dinding bilik Ki Mawur, maka Kasadha pun segera berkata, “Ki Remeng. Rumah ini akan terbakar habis. Kita harus mencari jalan keluar. Jika perlu, bawa tubuh Ki Mawur.

Tetapi Ki Remeng menggeleng. Katanya, “Tidak ngger. Aku akan menunggui Ki Mawur disini.”

“Tetapi rumah ini akan menjadi abu.”

“Aku tidak akan meninggalkan Ki Mawur.” jawab Ki Remeng.

“Kita tidak boleh kehilangan akal Ki Remeng. Jika Ki Mawur harus menghadap Yang Maha Agung, maka kita tidak akan dapat mencegahnya. Tetapi bukan berarti bahwa kita tidak boleh berusaha membebaskan diri dari api ini.”

Ki Remeng menggeleng. Katanya, “Aku tidak akan keluar dari rumah ini ngger.”

“Tetapi rumah ini akan terbakar habis dengan segala isinya” Kasadha menjadi sangat cemas.

Namun bagaimanapun juga Ki Remeng masih saja nampak tenang, ia nampaknya benar-benar tidak ingin keluar dari rumah itu sebagaimana Ki Mawur juga tidak berusaha untuk keluar dari jilatan api. Tetapi Ki Mawur sudah meninggal.

Dalam pada itu, terdengar suara memanggil di pringgitan. Kemudian terdengar pintu dihentakkan. Risang dengan tergesa-gesa dan cemas menjelajahi ruangan rumah itu.

“Kasadha, Kasadha”- terdengar suara Risang memanggil. Bahkan kemudian disusul suara Sambi Wulung, “Ki Remeng. Ki Remeng.”

Kasadha lah yang kemudian menyahut, “Aku disini, Risang.”

Dengan tergesa-gesa Risang menuju kearah suara Kasadha, sementara itu api menjadi semakin besar. Beberapa rusuk atap justru sudah mulai runtuh.

Sejenak kemudian, maka Risang, Sambi Wulung, Jati Wulung dan bahkan Ki Resa telah berlarian mendekati bilik Ki Mawur.

Mereka menjadi tegang melihat Ki Remeng yang tidak mau keluar dari bilik itu.

“Ki Remeng” Ki Resalah yang mencoba membujuknya, “api akan menelan rumah ini. Marilah, aku bantu membawa Ki Mawur keluar.”

Ki Remeng tersenyum. Tetapi nampak titik-titik air di matanya. Katanya, “Terima kasih atas segala kebaikan kalian semuanya. Tetapi Ki Mawur tidak menunggu kedatangan kita. Ia hanya sempat mengucapkan beberapa patah kata, berdoa, kemudian menutup matanya untuk selama-lamanya.”

“Tetapi bukankah kau masih tetap hidup, Ki Remeng?” bertanya Ki Resa kemudian.

Ki Remeng menggeleng.

Karena api yang sudah semakin besar, maka Ki Resa menjadi tidak sabar lagi. Ia ingin menarik Ki Remeng keluar dari bilik yang sudah mulai dimakan api itu.

Tetapi demikian ia melangkah maju, maka Ki Remeng pun telah mengacukan senjatanya sambil berkata, “Jika kau, atau siapapun melangkah mendekat, maka aku akan menyerangnya. Jika aku tidak dapat menghentikan kalian, maka senjataku akan membunuhku, sebelum aku terbakar bersama-sama dengan Ki Mawur.

Ki Resa memang mengurungkan langkah. Tetapi ia masih berkata, “Ki Remeng. Aku hargai kesetianmu. Tetapi kau tidak boleh mendahului kehendak Yang Maha Agung. Kau tidak boleh membunuh dirimu sendiri dengan cara itu.”

Ki Remeng tidak menghiraukannya. Tetapi ia justru berkata, “Pergilah. Api sudah semakin besar. Kalian tidak boleh terperangkap api karena aku.”

“Tetapi kau juga harus keluar” berkata Ki Resa. Ki Remeng menggeleng lemah. Orang tua itu justru mulai menangis betapapun ia bertahan, “Terima kasih atas kebaikan hati kalian semuanya. Terima kasih anak-anak muda. Aku titipkan Ki Lurah Mertapraja kepada kalian. Aku tidak dapat memenuhi keinginan Ki Mawur untuk melindungi Ki Lurah Mertapraja, justru karena aku merasa bahwa tempatku justru disini, disebelah Ki Mawur.

“Jika benar-benar setia kepada Ki Mawur, Ki Resa, kau harus melakukan pesannya. Lindungi Ki Lurah. Bukan mencari penyelesaian yang paling mudah ketika kau hadapi pesan yang barangkali terlalu berat bagimu itu.

Tetapi Ki Remeng itu tertawa. Betapa pahitnya, justru dibarengi dengan titik-titik air mata, “Aku tahu maksudmu, Ki Resa. Kau berusaha mengungkit harga diriku agar aku keluar dari api ini. Tetapi aku sudah memutuskannya.”

Pembicaraan itu terputus ketika terdengar belandar yang mulai terbakar berderak roboh beberapa langkah dari bilik itu.

“Keluarlah dari rumah ini.” berkata Ki Remeng, “kecuali jika kalian juga ingin mati bersama Ki Mawur dan bersamaku.”

Semuanya menjadi tegang. Namun dalam ketegangan itu, disela-sela derak kayu yang patah serta kerangka bangunan yang runtuh, maka terdengar suara hiruk pikuk di halaman. Disusul dengan suara kentongan yang mengoyak sepinya malam.

Orang-orang itu pun saling berpandangan sejenak. Sementara Ki Remeng berkata, “Kalian dengar? Mereka adalah orang-orang yang telah melihat api berkobar di-rumah ini. Mereka akan segera berusaha untuk memadamkannya, sementara kentongan itu memanggil orang lebih banyak lagi untuk datang ke halaman rumah ini. Mereka akan menemukan mayat-mayat dan jika kalian juga mereka ketemukan, maka mereka tentu akan menangkap kalian. Aku yakin kalian akan dapat melawan mereka, meskipun orang sepadukuhan ini datang berkumpul dan mengepung rumah ini. Tetapi dengan demikian, maka kalian harus membunuh lebih banyak lagi.”

Kelima orang yang berdiri diruang dalam yang sudah dimakan api itu menjadi bimbang. Namun atap diatas mereka pun benar-benar sudah terbakar. Sementara itu, Ki Remeng pun berteriak, “Cepat, pergi. Atap rumah ini akan segera runtuh.”

Risang, Kasadha, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Ki Resa memang belum ingin mati. Karena itu, maka mereka pun segera berloncatan menghindar ketika atap rumah itu benar-benar runtuh.

Kelima orang itu tidak dapat berbuat sesuatu ketika mereka melihat Ki Remeng yang ada didalam bilik bersama tubuh Ki Mawur itu tertimbun batang-batang kayu yang menyala.

Yang dilakukan oleh kelima orang itu kemudian adalah melarikan diri dari ujung lidah-lidah api. Mereka berloncatan menuju ke pendapa. Tetapi ternyata bahwa di halaman rumah itu benar-benar berkumpul banyak orang. Karena itu, maka mereka pun segera berlari kesamping.

Diantara suara hiruk pikuk memang terdengar orang berteriak, “Siapa mereka?”

Yang lain menyahut, “Tangkap saja mereka.”

Suara pun berkumandang, “Tangkap mereka, tangkap mereka.”

Tetapi kelima orang itu pun segera melarikan diri berloncatan di halaman samping dan kemudian ke kebun belakang. Sesaat kemudian kelima orang itu sudah berloncatan keluar dari halaman rumah itu, dengan meloncati dinding.

Tidak seorang pun yang mampu mengejar mereka.

Tidak seorang pula yang dapat mengenali kelima orang yang memang merupakan orang-orang asing di padukuhan mereka.

Namun yang kemudian dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu adalah berusaha memadamkan api. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di dalam rumah yang. terbakar itu. Namun yang mereka lihat di halaman rumah itu terbaring beberapa sosok tubuh yang sudah tidak bernafas.

Memang masih ada diantara mereka yang ternyata belum mati. Tetapi mereka adalah justru bukan orang-orang Wukir Gading, sehingga mereka tidak banyak mengetahui siapa sajakah orang-orang yang telah datang, mengacaukan isi rumah itu dan bahkan mereka mengira bahwa orang-orang itu pulalah yang telah membakar rumah itu.

Ketika orang-orang padukuhan itu berusaha memadamkan api yang membakar rumah itu, maka kelima orang yang melarikan diri dari rumah yang terbakar itu, berdiri termangu-mangu dibulak diluar padukuhan itu. Mereka masih melihat lidah api yang seakan-akan melonjak menjilat langit. Asap, warna merah kehitam-hitaman serta suara kentongan dalam nada tiga-tiga ganda, membuat suasana malam menjadi semakin kusam.

Kelima orang itu tertegun diam. Mereka mengetahui bahwa api itu telah menelan beberapa orang yang diantaranya adalah tubuh Ki Mawur dan Ki Remeng yang ketika api membakarnya, ia masih hidup.

“Kesetiaan yang berlebihan” desis Risang.

Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah orang yang bernama Ki Remeng. Seorang yang telah menyerahkan hidup matinya kepada Ki Mawur.”

“Meskipun Ki Mawur pernah menyelamatkan hidupnya berapa kalipun, tetapi seharusnya ia mempergunakan kesempatan untuk melepaskan diri dari kematian sebelum atap rumah itu runtuh” berkata Kasadha, “jika Ki Remeng sempat mempergunakan penalarannya ia dapat menilai arti dari kematiannya itu, justru Ki Mawur telah meninggal diluar kesalahan dan kuasanya untuk menolongnya.

Ki Resa mengangguk-angguk. Tetapi ternyata bahwa Ki Remeng telah memilih untuk tetap berada didekat Ki Mawur. Meskipun itu berarti kematian.

Untuk beberapa saat kelima orang itu masih tetap berdiri saja dibulak diluar padukuhan. Api untuk beberapa saat justru nampak menjadi semakin besar. Agaknya orang-orang padukuh-an itu mengalami kesulitan untuk menguasai api yang sedang mengamuk itu.

Namun lambat laun, api itu memang mulai menyusut perlahan-lahan. Tetapi agaknya api itu telah membakar rumah itu seisinya.

“Marilah” berkata Ki Resa, “bagaimanapun juga kita harus mengiklaskannya. Apalagi kematian itu adalah pilihan Ki Remeng sendiri.

Risang mengangguk-angguk kecil, sementara Kasadha sempat mengingat kawannya yang telah terbunuh pula. Meskipun telah jatuh korban, tetapi Ki Mawur tetap tidak dapat diselamatkannya.

Dalam pada itu, maka Ki Resalah yang berkata, “Aku masih ingin mempersilahkan kalian singgah barang sehari dirumahku.”

Risang dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Kasadha pun berkata, “Baiklah. Kita akan singgah untuk beristirahat beberapa saat sebelum kita meninggalkan Madiun.”

Demikianlah, maka berlima mereka menyusuri bulak panjang. Sementara itu langit diatas rumah yang terbakar itu masih nampak merah, meskipun api sudah mulai menyusut.

Ketika mereka mendekati gerbang kota, maka Kasadha dan Ki Resa berjalan mendahului. Sementara itu, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung berjalan beberapa puluh langkah dibelakang mereka untuk menghindari agar kelompok mereka itu tidak menarik perhatian justru pada saat Madiun sedang mempersiapkan diri karena perselisihannya dengan Mataram.

Demikian orang-orang itu hampir sampai dipintu gerbang, maka fajar pun telah mulai membayang. Beberapa orang sudah nampak turun ke jalan untuk pergi ke pasar membawa barang-barang dagangan mereka.

Suasana menjelang fajar itu ternyata menguntungkan bagi Ki Resa dan orang-orang yang akan pergi ke rumahnya. Jalan mulai terasa sibuk, namun keremangan malam masih tersisa, sehingga orang-orang yang lewat di jalan menuju ke kota itu tidak nampak jelas. Demikian pakaian Ki Resa dan orang-orang yang akan singgah dirumahnya yang kusut dan bahkan ada yang terkoyak.

Suasana terasa damai meskipun sekali-sekali lewat prajurit berkuda yang meronda ketika terdengar tembang perempuan yang berusaha melupakan lelahnya dengan berdendang. Bahkan kadang-kadang perempuan yang lain menyahutnya dengan sindiran-sindiran yang mengena sehingga beberapa orang ikut tertawa karenanya.

Namun perempuan-perempuan itu telah melemparkan obor-obor belarak yang mereka bawa. Kecuali obor-obor itu sudah hampir habis dimakan api, juga karena cahaya fajar menjadi semakin terang. Mereka telah dapat melihat hamparan jalan dihadapan kaki mereka, sehingga mereka tidak akan terperosok kedalam parit.

Dalam pada itu, maka Ki Resa dan Kasadha serta Risang bersama Sambi Wulung dan Jati wulung telah berada didalam kota pula. Mereka pun langsung turun ke jalan yang menuju kerumah Ki Resa yang sudah beberapa lama ditinggalkannya.

Semakin dekat dengan rumahnya, Ki Resa menjadi berdebar-debar, ia tahu bahwa keluarganya menunggu-nunggunya. Tetapi ia pun merasa cemas kalau saja ada orang yang telah mencelakai keluiarganya. Karena sebenarnyalah Ki Resa telah ditundukkan karena keluarganya telah diancam akan dibinasakan jika ia melawan bahkan keluarganya telah diperalat pula untuk memancing Ki Remeng sehingga Ki Remeng pun telah tertangkap pula.

Ketika mereka sampai diregol rumah Ki Resa, maka Ki Resa telah menjadi tegang. Namun kemudian, ia pun telah mendorong pintu regol halaman rumahnya yang tidak diselarak.

Dengan langkah yang terasa berat, Ki Resa memasuki halaman rumahnya diikuti oleh Kasadha. Kemudian Risang serta Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Ki Resa Podang masih saja berdebar-debar. Rumah itu nampak sepi, sementara langit mulai menjadi terang.

Untuk beberapa saat lamanya, Ki Resa termangu-mangu. Demikian pula Risang, Kasadha, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang kemudian berdiri bagaikan membeku di halaman.

Namun beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara senggot timba. Ki Resa seperti orang yang tersadar dari sebuah renungan yang dalam.

Ia segera mengetahui bahwa tentu salah seorang anaknya sedang menimba air disumur di bagian belakang rumahnya.

Ki Resa itu pun segera bergegas kepintu seketheng sebelah kiri. Ketika ia mendorong pintu itu, ternyata pintu itu sudah terbuka.

Beberapa saat kemudian, Ki Resa telah berada di longkangan. Ia pun segera pergi ke pintu butulan. Namun pintu butulan itu agaknya telah digerendel lagi setelah seseorang membuka pintu seketheng.

Karena itu, maka Ki Resa pun kemudian telah mengetuk pintu itu.

“Siapa?” terdengar suara kecil dari dalam rumah.

“Aku ngger. Buka pintu” jawab Ki Resa.

Anak itu mengenal suara ayahnya dengan baik. Karena itu, maka ia pun segera berlari, menarik gerendel pintu dan membukanya.

Demikian pintu terbuka, maka anak itu pun meloncat kedalam pelukan ayahnya yang berdiri menunggunya diluar pintu.

“Ayah” suara anak itu melengking.

Gadis kecil yang berada didalam pelukan ayahnya itu menangis. Bukan saja karena ia ingin melepaskan kerinduan, tetapi itu adalah cerminan kegelisahan keluarga Ki Resa Podang selama Ki Resa itu tidak pulang.

Suara gadis kecil itu didengar seorang kakaknya. Demikian ia berlari kepintu dan melihat ayahnya, maka ia pun segera berlari mendapatkan ibunya didapur sambil berteriak, “Ibu, ayah datang.”

Seisi rumah itu pun menjadi ribut. Anaknya yang sulung yang sedang menimba air dibelakang pun segera berlari pula.

Demikianlah, sejenak kemudian, Ki Resa sekeluarga Jelah duduk diserambi. Mereka juga telah mempersilahkan Risang, Kasadha, Sambi Wulung dan Jati Wulung duduk bersama mereka.

Baru sejenak kemudian Nyi Resa yang tidak melihat Ki Remeng ada diantara mereka itu pun bertanya  Dimana Ki Remeng?”

Dahi Ki Resa berkerut. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Risang dan Kasadha berganti-ganti. Namun kerut diwajah Ki Resa itu menunjukkan kegelisahan hatinya.

Nyi Resa yang melihat kegelisahan di wajah suaminya dan bahkan juga di wajah tamu-tamunya itu segera menduga, bahwa sesuatu telah terjadi. Karena itu, maka dengan nada tinggi ia mendesaknya, “Dimaria Ki Remeng sekarang?”

Ki Resa tidak dapat memberikan jawaban lain. Meskipun agak ragu, tetapi ia pun berkata, “Ki Remeng sudah tidak ada lagi.”

“Maksud ayah?” bertanya anaknya yang sulung. Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Resa telah meninggal.”

Anak itu menjadi tegang. Ditundukannya wajahnya dalam-dalam. Tiba-tiba saja anak itu terisak. Disela-sela isaknya ia berkata, “Akulah yang telah membawanya keambang kematiannya.”

Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Sementara Nyi Resa bertanya, “Kenapa kau? Apakah karena kau merasa bersalah, telah memanggil Ki Remeng malam itu untuk membantu ayahmu yang berada dalam kesulitan?”

Anak itu mengangguk kecil. Tetapi Ny Resa tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sambi Wulung lah yang kemudian menyahut, “Ia tidak bersalah Nyi. Benar ia memanggil Ki Remeng malam itu. Peristiwa demi peristiwa memang telah terjadi, sehingga kami dapat menemukannya bersama Ki Resa. Namun sebenarnya Ki Remeng dapat menghindarkan diri dari kematian menurut perhitungan manusia. Tetapi Ki Remeng sendiri memang tidak berusaha, ia sengaja menyerahkan diri kedalam maut karena Ki Mawur tidak tertolong lagi.”

“Ki Mawur?” bertanya Nyi Resa.

Yang menjawab adalah Ki Resa, “Seseorang yang telah pernah menyelamatkan hidup Ki Remeng, sehingga Ki Remeng merasa berhutang kepadanya. Bahkan Ki Remeng merasa bahwa hidupnya diperuntukkan bulat-bulat bagi Ki Mawur itu.”

Nyi Resa mengangguk-angguk. Sementara Sambi Wulung berkata kepada anak itu, “Jadi kematian Ki Remeng sama sekali bukan karena salahmu. Bukan pula salah ayahmu atau siapapun juga. Ki Remeng sendiri memang menghendakinya.”

“Ya” sahut Ki Resa, “tidak ada orang yang bersalah didalam hal ini.”

Nyi Resa mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata kepada Risang dan Kasadha, “Angger berdua, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas bantuan angger berdua dan agaknya juga Ki Sanak berdua, sehingga suamiku sempat kembali kepada keluarganya.

“Bukan semata-mata kami yang telah menyelamatkan Ki Resa dan sebenarnya kesempatan yang sama bagi Ki Remeng. Tetapi Ki Resa dan Ki Remeng sendiri telah berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri. Tetapi setelah itu, dengan kematian Ki Mawur, maka Ki Remeng telah memilih untuk tinggal bersama Ki Mawur.” sahut Risang.

Nyi Resa menarik nafas dalam-dalam. Anaknya masih saja menunduk. Tetapi ia tidak terisak lagi.

“Sudahlah” berkata ayahnya, “segala sesuatunya sudah lampau. Lupakan saja apa yang telah terjadi.

“Tetapi apakah orang-orang itu tidak akan datang lagi kepada ayah?” bertanya anaknya.

“Semoga tidak. Sebagian besar dari mereka harus menebus ketamakan mereka dengan kematian pula.” jawab ayahnya.

“ Apakah telah terjadi pertempuran?” bertanya anaknya.

Ki Resa mengangguk sambil berdesis, “Ya. Tetapi Yang Maha Agung masih melindungi kami. Aku dan paman-paman yang sekarang ada disini.”

Anaknya memandang Ki Resa sekilas. Namun kemudian anak itu menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, ayahnya berkata lagi, “Sudahlah. Kita akan melupakannya. Sekarang, biarlah ibumu membuat minuman dan barangkali makanan bagi kami.”

Dengan demikian, maka Nyi Resa itu pun segera pergi kedapur bersama anak-anaknya. Demikian pula anaknya yang sulung. Ia kembali ke sumur untuk mengisi pakiwan.

Sementara itu, Ki Resa dan tamu-tamunya masih duduk di serambi. Bahkan kemudian Ki Resa telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk bergantian pergi ke pakiwan untuk mandi.

Hari itu, Risang, Kasadha, Sambi Wulung dan Jati Wulung berada dirumah Ki Resa, disore hari, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah minta diri untuk melihat keadaan kota Madiun yang sedang bersiap untuk menghadapi kemungkinan perang melawan Mataram. Meskipun demikian kehidupan rakyatnya masih berjalan dengan wajar, meskipun para prajurit nampak lebih sering meronda bukan saja jalan-jalan kota, tetapi juga disekeliling lingkaran kota Madiun.

Menurut penglihatan Sambi Wulung dan Jati Wulung persiapan Madiun memang nampak lebih mantap dari persiapan yang pernah dilihatnya di Pajang. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung menduga, bahwa di Mataram persiapannya tentu juga lebih baik daripada di Pajang.

Meskipun demikian, meskipun persiapan tertinggi telah diperintahkan di Madiun, maupun di Pajang dan tentu juga di Mataram, tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung masih meyakini bahwa perang tidak akan segera meletus.

Untuk beberapa lama Sambi Wulung dan Jati Wulung berjalan-jalan diseputar kota. Dengan demikian ia pun sempat melihat, bahwa prajurit yang berasal dari luar Madiunjumlahnyamemangcukupbanyak.

“Tetapi para petugas sandi dari Pajang tentu juga sudah melihatnya” desis Sambi Wulung, “nampaknya hal itu memang tidak menjadi rahasia disini. Bahkan mungkin dengan sengaja Madiun menunjukkan bahwa kekuatan yang sangat besar tersimpan di jantung kita ini. Maksudnya tentu untuk memperingatkan Panembahan Senapati untuk berpikir ulang untuk menghadapi Madiun dalam satu medan yang panjang.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Sambi Wulung.

Namun ketika mereka memasuki alun-alun Madiun, dada mereka agak bergetar. Mereka melihat satu persiapan bagi satu upacara yang besar sedang mulai dilakukan.

“Ada apa disini?” desis Jati Wulung.

Sambi Wulung mengerutkan dahinya. Katanya, “Nampaknya akan diselenggarakan satu upacara atau pertandingan atau mungkin satu sayembara.”

“Agaknya memang demikian” sahut Jati Wulung yang kemudian berkata, “Marilah. Kita berhenti pada salah satu kedai. Kita dapat bertanya, apa yang akan diselenggarakan di alun-alun ini.

Sambi Wulung mengangguk sambil menjawab, “Baiklah.”

Keduanya pun kemudian singgah disebuah kedai yang tidak begitu besar, Setelah memesan minuman dan makanan, maka dengan cara yang tidak menarik perhatian,

Sambi Wulung mulai bertanya, apa yang akan diselenggarakan di alun-alun itu.

“Satu upacara tahunan” jawab pemilik kedai itu, “apakah Ki Sanak belum mengetahui?”

“Kami datang dari sebuah desa kecil disebelah Selatan kota ini Ki Sanak” jawab Sambi Wulung dengan sangat berhati-hati.

“Tetapi hampir semua orang tahu acara tahunan ini“ jawab pemilik kedai itu. Tetapi ia berkata selanjutnya

“Namun agaknya kali ini dilakukan agak lebih besar dari tahun-tahun yang telah lewat.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk kecil. Tetapi mereka masih tetap belum tahu, bentuk upacara tahunan itu. Namun Sambi Wulung tidak segera mempertanyakannya. Bahkan kemudian ia berpendapat, bahwa hal itu akan dapat ditanyakan kepada Ki Resa Podang. Ki Resa Podang tentu juga mengetahui upacara tahunan yang diselenggarakan di alun-alun Madiun.

Tetapi Sambi Wulung itu masih bertanya lagi, “Kenapa kali ini diselenggarakan lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya?”

“Saat ini terdapat banyak sekali prajurit yang datang dari luar Madiun. Mereka akan diikut sertakan dalam upacara tahunan kali ini.” jawab pemilik kedai itu.

Sambi Wulung tidak bertanya labih jauh, karena jika hal itu dilakukan, maka pemilik kedai itu akan dapat mencurigainya. Bahkan kemudian setelah mereka minum dan makan makanan secukupnya, mereka segera minta diri.

Ketika kemudian mereka sampai dirumah Ki Resa Podang, maka Sambi Wulung pun segera bertanya, upacara tahunan apakah yang akan diselenggarakan di alun-alun Madiun itu.

Pertanyaan itu segera mengingatkan Ki Resa kepada sebuah upacara yang memang dilakukan setiap tahun di alun-alun. Justru karena persoalan yang menyangkut dirinya dan Ki Remeng, maka Ki Resa hampir melupakan upacara tahunan itu.

“Setiap tahun dilakukan adu ketrampilan bagi para prajurit Madiun” jawab Ki Resa, “terutama bagi para prajurit muda. Di alun-alun akan diselenggarakan sodoran, rampogan dan masih banyak lagi jenisnya.”

“Aku mendengar bahwa penyelenggaraan kali ini lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya karena saat ini banyak berkumpul prajurit dari luar Madiun.” berkata Sambi Wulung.

“Tetapi dalam suasana seperti ini, Madiun masih sempat menyelenggarakan satu upacara tahunan yang menarik. Apakah hal itu bukan berarti Madiun akan menjadi lengah?” bertanya Risang.

“Tetapi mungkin ada pertimbangan lain” jawab Sambi Wulung, “justru Madiun ingin menunjukkan kepada Mataram dan Pajang yang tentu lewat petugas sandinya menyaksikan upacara itu, bahwa di Madiun terdapat banyak sekali orang-orang berilmu tinggi.”

Risang mengangguk-angjguk. Sementara Kasadha menyahut, “Mungkin sekali. Sementara itu pengawasan diluar kota Madiun ditingkatkan agar Madiun tidak terjebak oleh kesibukannya sendiri seandainya prajurit Mataram datang.”

“Menarik sekali” desis Risang. Sementara Kasa-dha pun menyahut, “Kita dapat menunda perjalanan kembali barang satu dua hari. Tetapi kapan upacara itu dilakukan?”

“Biasanya diselenggarakan bulan kedua menjelang bulan purnama. Biasanya upacara tahunan itu diselenggarakan dua hari. Sementara di malam hari, banyak orang yang tetap berada dan bahkan tidur di alun-alun sambil menikmati bulan yang bulat.”

“Jadi, kapan upacara itu dimulai?” bertanya Risang.

“Menurut kebiasaannya upacara itu tentu akan diselenggarakan dua hari lagi. Tetapi karena kali ini diselenggarakan lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, mungkin memerlukan waktu lebih dari dua hari. Tetapi entahlah apa yang sebenarnya akan diselenggarakan. Apakah masih tetap akan dimulai menjelang malam purnama untuk waktu dua hari atau akan terjadi perubahan justru karena yang akan tampil bukan hanya prajurit-prajurit dari Madiun. Besok aku akan dapat mencari keterangan tentang hal itu.”

Keempat tamu Ki Resa itu mengangguk-angguk. Agaknya ada kesamaan pendapat, bahwa sebaiknya mereka menunggu dan menonton upacara tahunan bagi para prajurit dengan lomba ketrampilan itu.

Namun yang kemudian mengatakannya adalah Risang, “Sebenarnya aku ingin menyaksikan upacara itu. Namun apakah Kasadha tidak tertahan terlalu lama disini, jika upacara itu benar diselenggarakan menjelang purnama yang akan terjadi dua hari lagi dan sedikitnya melama dua hari.”

“Tidak” jawab Kasadha dengan serta-merta -Namun kemudian katanya, “Tetapi apakah Ki Resa tidak berkeberatan jika kami berada disini sampai saat upacara itu selesai?”

“Tentu, tentu” jawab Ki Resa sebelum tamu-tamunya menanyakannya kepadanya, “aku sama sekali tidak berkeberatan.”

“Jika demikian, kami akan mengucapkan terima kasih, Ki Resa.” berkata Risang kemudian.

“Sudahlah” sahut Ki Resa, “yang seharusnya mengucapkan terima kasih adalah aku.”

Dengan demikian, maka keempat orang itu pun sepakat untuk tetap tinggal di Madiun sampai upacara tahunan dengan pertandingan ketrampilan bagi para prajurit itu selesai.

Seperti yang dijanjikan, maka’di hari berikutnya Ki Resa berusaha untuk mendapatkan keterangan tentang upacara tahunan yang akan diselenggarakan. Dengan tidak menarik perhatian, maka Ki Resa bertanya kepada orang-orang yang dianggap mengetahui serba sedikit tentang upacara itu.

Ternyata bahwa benar sebagaimana diperhitungkannya, bahwa upacara itu akan dimulai dua hari lagi, menjelang malam bulan purnama. Tetapi tidak hanya berlangsung dua hari seperti pada upacara tahunan di masa-masa sebelumnya. Menurut keterangan yang diterima oleh Ki Resa Podang, maka pertandingan ketrampilan akan berlangsung ampat hari.

“Menarik sekali” berkata Kasadha, “akan menunggu sampai pertandingan itu selesai. Tugasku tidak dibatasi waktu.” Namun kemudian ia pun bertanya, “Tetapi bagaimana dengan Tanah Perdikan Sembojan? Apakah tidak terlalu lama ditinggalkan?”

“Ibu ada dirumah. Bertahun-tahun sebelumnya pimpinan Tanah Perdikan ada ditangannya” jawab Risang.

Kasadha tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian kita semuanya tidak tergesa-gesa.”

Demikianlah, keempat orang tamu Ki Resa itu pun akan tetap tinggal dirumah itu selama lebih dari sepekan. Namun Ki Resa sama sekali tidak merasa berkeberatan. Keempat orang itu kemudian telah dianggapnya sebagai keluarga sendiri.

Demikian pula sikap Nyi Resa dan anak-anaknya. Mereka segera menjadi akrab dengan tamu-tamu ayahnya itu. Gadis kecil yang sering menghidangkan minuman kepada tamu-tamunya, kadang-kadang untuk waktu yang lama duduk berbincang. Ada-ada saja yang ditanyakannya kepada Risang dan kepada Kasadha.

Namun dalam pada itu, sambil menunggu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat pula melihat tempat mereka menyembunyikan benda-benda berharga.

Ternyata menilik tanda-tanda yang mereka letakkan dengan cermat dan tidak menarik perhatian sama sekali, masih tetap di tempatnya semula, sehingga keduanya yakin, bahwa tidak ada seorang pun yang pernah mengusik tempat persembunyian benda-benda yang sangat berharga itu.

Risang dan Kasadha yang mendapat laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Risang berkata

“Mudah-mudahan sampai saatnya benda-benda itu diambil untuk dibawa ke Pajang, tidak akan ada orang yang pernah mengetahuinya.”

“Tetapi untuk mengambilnya, Pajang akan mengalami kesulitan. Sudah tentu tidak mungkin kita membawa pedati untuk sampai ketempat itu tanpa diketahui orang.“ berkata Kasadha.

“Bagaimanapun sulitnya, bukankah hal itu harus diusahakan?” bertanya Risang.

“Ya, harus” jawab Kasadha.

Tetapi Kasadha masih belum dapat membayangkan, cara apapun yang akan ditempuh, seandainya ia mendapat tugas untuk mengambil benda-benda berharga itu.

Namun Kasadha untuk sementara masih belum memikirkannya. Jika ia pulang kelak, ia akan melaporkan, bahwa benda-benda itu sudah dikuasainya. Selanjutnya, masih harus dicari cara untuk mengambil dan membawa benda-benda itu ke Pajang.

Namun perintah yang diterimanya, jika benda-benda berharga itu tidak dapat dibawa, maka sebaiknya benda-benda itu dimusnahkan saja daripada jatuh ke tangan Madiun.

Tetapi tidak terpikir oleh Kasadha untuk memusnahkan benda-benda berharga itu, karena jika benda-benda itu dapat dikuasai dan dibawa ke Pajang, benda-benda itu akan sangat berarti. Bahkan seandainya Pajang tidak memerlukannya, maka benda-benda itu dapat dibagi kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Tentu saja setelah ujudnya berubah. Mungkin berupa uang. Mungkin tanah atau benda-benda lain yang akan dapat menjadi modal hidup mereka.

“Segala sesuatunya masih harus dibicarakan dengan para pemimpin di Pajang” berkata Kasadha didalam hatinya.

Dalam pada itu perhatian Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung tertuju pada pertandingan ketrampilan yang akan diselenggarakan menjelang malam purnama itu. Mereka menyempatkan diri untuk melihat persiapan-persiapan yang dilakukan di alun-alun Madiun.

Dari persiapan-persiapan itu mereka dapat membayangkan, bahwa pertandingan yang diselenggarakan di alun-alun itu tentu cukup menarik.

Tetapi disamping persiapan-persiapan yang dilakukan di alun-alun, maka mereka pun melihat kesiagaan yang semakin tinggi dari para prajurit Madiun. Mereka meronda seluruh sudut kota, sementara itu diluar kota Madiun para prajurit meronda sampai jarak yang cukup jauh.

Risang yang berjalan-jalan bersama Kasadha sampai kepintu gerbang kota telah melihat enam prajurit berkuda yang memasuki pintu gerbang. Melihat debu yang melekat ditubuh dan pakaian mereka, serta badan yang nampak letih, maka Risang dan Kasadha itu dapat menduga, bahwa keenam prajurit itu baru pulang dari pengamatan sampai ke jarak yang jauh dari kota.

“Mungkin mereka adalah penghubung yang baru kembali dari barak pasukan yang bertugas mengamati jalan yang mungkin ditempuh oleh pasukan dari Mataram apabila mereka benar-benar menyerang Madiun.” desis Kasadha.

Risang mengangguk. Katanya, “Jika benar terjadi perang, maka kedua belah pihak harus membayar sangat mahal.”

“Ya. Kesiagaan Madiun memang mendebarkan. Sebagai prajurit Pajang yang setiap saat mendapat perintah untuk datang kembali ke Madiun bersama sepasukan prajurit yang siap bertempur, maka aku harus mengakui, bahwa tugas para prajurit Mataram dan Pajang akan sangat berat untuk dapat menembus benteng pertahanan Madiun yang demikian kuatnya.” berkata Kasadha.

“Tetapi bukankah hal ini tentu sudah diketahui oleh Panembahan Senapati? Di kota ini tentu terdapat beberapa orang petugas sandi.”

“Agaknya memang demikian” jawab Kasadha, “sedangkan pertandingan ketrampilan itu merupakan pameran kekuatan yang selain ditujukan kepada Mataram juga membesarkan hati para prajurit Madiun dan para prajurit yang datang dari luar Madiun.

Sementara itu, Risang, Kasadha, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tetap berada di rumah Ki Resa. Meskipun demikian mereka tidak pernah keluar dan masuk regol halaman rumah Ki Resa itu bersama-sama. Risang biasanya pergi dan kembali kerumah itu bersama Kasadha, sedangkan Sambi Wulung bersama Jati Wulung. Dengan demikian, maka mereka memang tidak menarik perhatian tetangga-tetangga Ki Resa Podang.

Namun sebenarnyalah Ki Resa Podang sendiri menjadi bimbang. Setelah Ki Resa kemudian mengetahui siapa sebenarnya Risang dan Kasadha, maka Ki Resa Podang pun telah dibebani oleh perasaan yang mendua. Sebagai orang Madiun, maka rasa-rasanya sangat berat baginya untuk memberi kesempatan dan bahkan menjadi alas berpijak bagi orang-orang yang menurut pendapatnya justru akan memusuhi Madiun. Ki Resa pun juga diganggu oleh pertimbangannya bahwa benda-benda berharga itu tentu akan sangat berarti pula bagi Madiun. Jika ia dapat mengkesampingkan pertentangan yang terjadi di lingkungan perguruan Wukir Gading dan menempatkan diri sebagai orang Madiun, maka benda-benda berharga itu sebaiknya tetap berada di Madiun.

Tetapi Ki Resa tidak tahu dimana benda-benda berharga itu disembunyikan. Bahkan Ki Remeng pun ternyata benar-benar tidak mengetahuinya.

Ki Resa Podang memang menjadi bimbang, ia merasa bahwa anak-anak muda itu telah menyelamatkan hidupnya.

“Tetapi bahwa aku terancam kematian juga karena mereka” berkata Ki Resa didalam hatinya, “jika mgreka tidak datang kerumahku bersama Ki Remeng, maka aku tidak akan terlibat dalam persoalan ini.”

Namun bagaimanapun juga, Ki Resa tidak dapat  menyisihkan perasaan berhutang budi itu.

“Ki Remeng telah mengorbankan segala-galanya, bahkan kematian yang tidak berarti sama sekali itu karena ia merasa berhutang budi” berkata Ki Resa kepada diri sendiri.

Kebimbangan itu telah membuat Ki Resa sering merenung. Jika ia berada disawah dan sedang beristirahat di gubugnya, maka ia mulai menilai dirinya sendiri sebagai orang Madiun tetapi juga sebagai seseorang yang telah diselamatkan nyawanya.

Tetapi akhirnya Ki Resa Podang untuk sementara mencoba memisahkan persoalan antara perguruan Wukir Gading dalam hubungannya dengan kesetiaannya kepada Madiun.

“Benda-benda berharga itu milik perguruan Wukir Gading yang sedang diperebutkan oleh orang-orang perguruan Wukir Gading sendiri tanpa ada sangkut pautnya dengan Madiun. Jika benda-benda berharga itu dibawa orang, yang kehilangan adalah perguruan Wukir Gading. Bukan Madiun.”

Tetapi tiba-tiba muncul di kepalanya, “Meskipun demikian, benda-benda berharga itu akan dapat membantu membeayai perang dipihak lawan. Dan itu dapat berarti memperkuat kedudukan lawan. Sedangkan dukungan beaya perang akan sangat besar artinya terutama dalam peperangan yang panjang.”

Dalam kebimbangan yang mencekam itu, maka biasanya Ki Resa Podang telah menenggelamkan diri kedalam kerjanya, ia berusaha untuk melupakan kebimbangan itu.

Memang ada saatnya Ki Resa Podang berniat untuk menempatkan dirinya seutuhnya sebagai orang Madiun. Kadang-kadang dalam perenungannya di sawah, Ki Resa hampir mengambil keputusan untuk berbicara dengan para prajurit Madiun, bahwa dirumahnya ada ampat orang asing. Namun demikian ia bertemu dengan Risang dan Kasadha, maka niatnya itu pun telah runtuh. Apalagi jika ia melihat Risang dan Kasadha bermain-main dengan anak-anaknya. Gadis kecilnya terlalu dekat dengan keduanya.

Dalam keadaan yang demikian, Ki Resa hanya dapat mengelus dadanya. Bagaimanapun juga, ternyata Ki Resa memang tidak pernah memberikan laporan kepada prajurit Madiun, tentang ampat orang asing yang berada dirumahnya. Apalagi tentang benda-benda berharga yang disembunyikan oleh keempat orang itu.

Demikianlah, maka hari pembukaan upacara tahunan yang diramaikan dengan pertandingan ketrampilan itu telah sampai.

Pagi-pagi sebelum matahari terbit, alun-alun Madiun telah dialiri oleh orang-orang yang ingin menyaksikan pertandingan ketrampilan. Mereka berdatangan bukan saja dari penjuru kota, tetapi orang-orang dari luar kota pun banyak pula yang datang untuk menyaksikan pertandingan yang agaknya lebih besar dari pertandingan-pertandingan yang pernah diselenggarakan.

Namun dalam pada itu, maka prajurit Madiun pun telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pagi itu, Ki Resa telah mengajak dua anaknya yang terbesar untuk pergi ke alun-alun. Risang dan Kasadha yang juga pergi ke alun-alun telah memisahkan diri sebagaimana juga Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Namun jantung Kasadha dan Risang bagaikan berhenti berdetak ketika tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri telah terjadi keributan. Memang tidak terlalu lama. Tetapi akibatnya membuat wajah Kasadha menjadi merah padam. Tetapi Kasadha itu hanya dapat menggeram tanpa dapat berbuat sesuatu.

Ampat orang prajurit telah menggiring seseorang yang dalam keributan yang terjadi telah diikat tangannya.

Dari beberapa orang diantara mereka yang menyaksikan Risang dan Kasadha mengetahui bahwa orang itu dituduh seorang petugas sandi dari Mataram.

“Sepantasnya orang itu dihukum mati” geram salah seorang diantara mereka yang menyaksikan orang yang dituduh petugas sandi dari Mataram itu.

Gigi Kasadha gemeretak. Namun ia masih menyadari keadaan, ia berada disatu lingkungan yang asing baginya. Justru lingkungan yang tentu akan memusuhinya. Jika ia tidak ingin ikut terseret dengan tangan terikat, maka Kasadha harus tetap mengekang diri.

Dalam pada itu terdengar orang lain berteriak, “Jangan dibunuh sekarang. Gantung saja nanti di alun-alun dan dipergunakan untuk sasaran pertandingan memanah.”

“Gantung di alun-alun. Gantung di alun-alun” terdengar suara orang banyak.

Jantung Kasadha serasa akan meledak. Karena itu, agar ia tidak kehilangan kekang diri, maka ia pun seggera meninggalkan tempat itu tepat saat orang yang terikat tangannya itu lewat didepannya.

Dada Kasadha berdesir keras ketika ia melihat orang yang terikat tangannya itu tiba-tiba secara kebetulan memandangnya dengan tajamnya.

Kasadha memang belum mengenal orang yang dituduh petugas sandi Mataram itu. Tetapi tatapan mata orang itu seakan-akan memberitahukan kepadanya, bahwa ia sedang dalam keadaan bahaya.

Kasadha yang sudah beringsut itu tertegun sejenak. Namun Risang lah yang kemudian mendorongnya melangkah pergi, sementara orang yang terikat itu pun telah didorong pergi pula.

Satu hal yang membuat Kasadha sedikit terhibur, orang yang tangannya terikat itu tidak nampak menjadi ketakutan atau merengek minta ampun. Meskipun tangannya terikat, tetapi ia nampak tetap tegar, ia menghadapi akibat dari beban tugasnya dengan wajah tengadah.

“Ia seorang laki-laki” berkata Kasadha didalam hatinya.

Demikianlah beberapa saat kemudian, orang itu telah hilang ditelan oleh kerumunan orang banyak. Sementara Kasdha dan Risang telah bergeser menjauh.

“Gila orang-orang Madiun” geram Kasadha, “mereka menyeret orang yang belum tentu bersalah seperti meyeret seekor kerbau.”

Risang tidak menjawab, ia menyadari bahwa kesetia” kawanan Kasadha sebagai prajurit Pajang yang berdiri disatu sisi dengan Mataram telah tersinggung. Risang yang memimpin Tanah Perdikan yang merupakan bagian dari Pajang juga tersinggung. Tetapi Risang yang dalam tugas sehari-harinya tidak melekat dalam kesatuan keprajuritan Pajang, masih dapat memandang persoalannya dari jarak yang memadai dibandingkan dengan Kasadha.

Demikianlah, meskipun kemudian degup jantung Kasadha rasa-rasanya menjadi semakin cepat, tetapi ia masih bertahan untuk mfenyaksikan pembukaan upacara yang kemudian dilanjutkan dengan pertandingan ketrampilan dihari pertama.

Disela-sela kerumunan orang-orang yang akan menonton pertandingan ketrampilan itu Kasadha menggeram, “Setan orang-orang Madiun.”

Tetapi Risang masih dapat berpikir lebih tenang. Katanya, “Jangan terlalu dipikirkan. Kita memang tersinggung melihat seorang petugas sandi Mataram yang ditangkap itu. Tetapi bukankah itu wajar sekali? Di Mataram, seorang petugas sandi dari Madiun tentu juga akan ditangkap. Juga di Pajang dan bahkan di Tanah Perdikan Sembojan. Kedudukan seorang petugas sandi memang lain dari seorang prajurit yang memang mendapat tugas untuk datang ke Mataram, Pajang atau bahkan ke Tanah Perdikan Sembojan dalam tugas yang khusus. Sebagai utusan yang berwenang untuk berbicara tentang sesuatu atau utusan yang hanya menyampaikan surat atau untuk kepentingan-kepentingan yang lain.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau benar. Tetapi bagaimana para petugas sandi itu diperlakukan akan menjadi ukuran derajat kemanusiaan kita.”

“Ya. Dan kita memang belum tahu, apa yang dilakukan oleh Madiun terhadap para petugas sandi yang tertangkap.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Madiun tidak memperlakukan mereka dengan kasar.”

Risang tidak menyahut. Tetapi diedarkannya pandangan matanya ke seluruh alun-alun sejauh dapat dijangkau, karena orang sudah menjadi semakin .banyak.

Ketika matahari mulai menggatalkan kulit, maka orang-orang yang berkerumun dialun-alun itu menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya mereka menjadi tidak sabar lagi menunggu upacara itu dimulai. Sementara itu, di pinggir alun-alun telah dibangunkan satu panggungan yang akan dipergunakan untuk membuka upacara tahunan itu.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 61

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s