SST-59

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-59RISANG LAH yang membimbing gadis kecil itu masuk keruang dalam. Sambil berjongkok di hadapannya, Risang berkata, “Jangan menangis anak manis. Biar nanti kakang berdua mencari ayah dan Ki Remeng.”

“Bawa ayah pulang, kakang.” minta gadis kecil itu.

“Ya. Aku akan membawa ayah pulang.” jawab Risang.

Sementara Nyi Resa berusaha menenangkan diri, Kasadha dan Risang pun sempat berbicara sejenak. Mereka sepakat untuk mencari Ki Remeng dan Ki Resa. Mereka akan minta anak sulung Ki Resa mengantarkan mereka.

Ketika hal itu disampaikan kepada Nyi Resa, ternyata Nyi Resa masih saja ingin ikut mencari suaminya. Tetapi ketika Kasadha mengingatkannya akan anak-anaknya, maka Nyi Resa pun mengangguk kecil sambil berkata, “Baiklah ngger. Aku menunggu disini. Tetapi bagaimana angger berdua dapat membantu mereka?”

“Kami akan mencoba, Nyi. Kami tidak tahu apakah usaha kami akan berhasil atau tidak.”

“Tetapi bagaimana dengan kalian berdua? Jika Ki Resa dan Ki Remeng tidak mampu mengatasi orang-orang itu, bagaimana dengan kalian berdua?” desis Nyi Resa yang nampak cemas.

“Kami akan mencobanya, Nyi.” jawab Kasadha. Lalu katanya, “Baiklah kami mohon diri. Sepeninggal kami sebaiknya Nyi Resa tetap saja tinggal didalam. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di rumah ini.”

Kepada anak sulung Ki Resa, Kasadha berkata, “Marilah, tunjukkan kepadaku, dimana ayahmu dan Ki Remeng mengalami nasib buruk.”

Anak itu memandangi ibunya sejenak. Ketika ibunya kemudian mengangguk, maka anak itu pun minta diri pula.

Beberapa saat kemudian, ketiganya telah berjalan menyusuri jalan padukuhan yang gelap. Namun ketajaman mata Kasadha dan Risang ternyata mampu menembus kegelapan, sementara anak sulung Ki Resa memang telah mengenal jalan itu dengan baik karena setiap hari ia melewatinya.

Beberapa saat kemudian, mereka telah keluar dari regol padukuhan. Dengan demikian, maka malam pun seakan-akan menjadi sedikit terang. Bahkan di sisi langit sebelah Timur, warna semburat merah mulai membayang.

Ketiga orang itu berjalan semakin cepat. Anak sulung Ki Resa itu justru berlari-lari kecil dipaling depan.

Beberapa saat kemudian, anak itu memperlambat langkahnya. Sambil menunjuk ketengah bulak itu ia berkata, “Disana mereka bertempur.”

Dengan tergesa-gesa Kasadha dan Risang menuju ke-tempat itu.

“Itu sawah ayah. Memang hanya beberapa kotak kecil” berkata anak sulung Ki Resa.

Kasadha dan Risang pun segera sampai ketempat itu. Mereka melihat batang-batang padi yang berada didekat tanggul parit memang rusak, terinjak-injak kaki.

Kedua anak muda itu pun dengan cermat memperhatikan bekas pertempuran yang terjadi. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun pada wajah mereka nampak kebimbangan yang semakin besar.

Beberapa saat kemudian, maka fajar mulai naik. Semakin lama maka langit pun menjadi semakin terang.

Risang lah yang kemudian berbisik ditelinga adiknya, “Kau rasakan kejanggalan itu?”

“Ya” Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak berbicara lebih lanjut.

Namun kemudian Kasadha lah yang mendekati anak Ki Resa itu sambil berkata, “Bukankah kau merasa letih? Semalam suntuk kau tidak tidur. Pulanglah. Sebaiknya kau beristirahat agar kau tidak menjadi sakit. Katakan kepada ibumu, sebentar lagi kami akan kembali. Kami akan berusaha melihat jejak kepergian Ki Resa dan Ki Remeng.

Anak itu mengangguk kecil. Sementara Risang bertanya, “Bukankah kau berani pulang sendiri?” Anak itu mengangguk lagi.

“Baiklah, pulanglah. Kau perlu beristirahat.” berkata Risang kemudian.

Anak itu pun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu. Dari langkahnya Kasadha dan Risang dapat mengetahui, bahwa anak itu memang sangat letih.

“Ia merupakan bagian dari permainan ayahnya dan Ki Remeng” desis Kasadha.

“Aku menjadi sangat kecewa terhadap mereka.” sahut Risang.

Keduanya pun kemudian sekali lagi memperhatikan jejak yang terdapat di sawah, di pematang dan di tanggul parit. Mereka memang melihat selain batang-batang padi yang buahnya mulai menguning berpatahan, juga pohon-pohon perdu ditanggul parit. Tetapi kerusakan itu terlalu kecil dibandingkan dengan pertempuran yang dapat mereka bayangkan. Ki Resa dan Ki Remeng adalah orang-orang berilmu tinggi. Lawan-lawan mereka pun tentu orang-orang berilmu tinggi. Pertempuran itu seharusnya berlangsung dengan sengitnya. Bahkan seandainya mereka langsung mempergunakan puncak kemampuan mereka. Apalagi menurut perhitungan mereka, Ki Resa telah bertempur cukup lama sebelum Ki Remeng datang.

Dihubungkan dengan sikap Ki Resa sebelumnya, serta langkah-langkah kaki didepan bilik mereka, maka kecurigaan Kasadha dan Risang menjadi semakin tinggi.

“Kita memang menjadi lengah” desis Risang.

“Ya. Aku kira Ki Remeng masih mempunyai sedikit kejujuran sehingga kita akan dapat bekerja bersamanya untuk menolong Ki Mawur dan Ki Lurah Mertapraja. Aku pun mengira bahwa seseorang yang hidup dalam kegelapan masih mungkin melihat titik-titik sinar betapapun lembutnya.” berkata Kasadha.

“Jika kau berbicara tentang seseorang, aku masih tetap mempercayainya, meskipun hal itu tidak terjadi atas Ki Remeng.” sahut Risang.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia ingat kepada ibunya yang nampaknya benar-benar telah meninggalkan hidupnya yang penuh dengan noda-noda. Bahkan dirinya sendiri yang ditempa dalam bayangan kekelaman. Namun Yang Maha Agung telah membawanya kembali kejalan yang terang sebagaimana ibunya. Tetapi ternyata Ki Remeng telah mengecewakannya. Bahkan juga Ki Resa yang sikapnya sangat meyakinkan. Seakan-akan Ki Resa benar-benar hidup dalam suasana yang penuh ketenangan dan kedamaian dengan isteri dan anak-anaknya yang manis.

Namun ternyata yang mereka hadapi adalah serigala-serigala tua, namun yang masih tetap licik dan liar.

“Satu pengalaman yang menarik” berkata Risang.

“Ya. Satu ujian bagi kita, bagaimana kita menilai seseorang” sahut Kasadha” dan ternyata kita salah.”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” bertanya Risang kemudian.

“Menemui paman Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompokmu itu dipasar.”

“Apakah kita akan singgah dirumah Nyi Resa?” bertanya Risang.

“Ya. Kita akan melihat keadaannya. Menurut pendapatku, Nyi Resa Podang memang tidak tahu apa-apa. Seperti anaknya, keterlibatan mereka justru diluar kesadaran mereka.”

Risang mengangguk. Katanya marilah. Kita singgah dirumah Nyi Resa.

Demikianlah, ketika mereka berjalan kembali, mereka masih membicarakan kejanggalan-kejanggalan yang mereka temui dalam persoalan yang mereka hadapi. Jika Ki Resa benar-benar bertempur, bagaimana mungkin ia dapat memberikan pesan terperinci kepada anaknya. Sementara itu, apakah lawan-lawannya yang jumlahnya lebih banyak itu akan membiarkan anak sulung Ki Resa berlari pulang untuk memanggil Ki Remeng.

Baik Kasadha maupun Risang sependapat, bahwa mereka berdua memang lengah. Ketika anak sulung Ki Resa itu berlari memanggil Ki Remeng, mereka tidak segera tanggap akan keadaan.

“Betapa tumpulnya penalaranku.” desis Kasadha.

“Keadaan yang mengejutkan itu demikian tiba-tiba, sehingga penalaran kita terlambat menanggapinya.” sahut Risang.

“Kita tidak dapat sekedar menyesali apa yang terjadi. Tetapi kita harus menemukan satu langkah terpenting yang dapat membuka jalan untuk mencari penyelesaian.” desis Kasadha.

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melihat keadaan keluarga Ki Resa, apa yang terjadi disana.”

Demikianlah, keduanya pun segera kembali kerumah Nyi Resa. Namun mereka menyadari, bahwa mereka harus menjadi sangat berhati-hati. Mungkin dirumah itu telah disusun pula jebakan-jebakan yang akan dapat menjerat mereka.

Ketika mereka memasuki regol rumah Ki Resa, ternyata rumah itu masih nampak sepi. Tidak terdengar derik sapu lidi, atau gerit senggot timba disumur.

Untuk sesaat keduanya termangu-mangu. Namun kemudian keduanya pun langsung menuju keruang dalam.

Dari luar pintu pringgitan mereka mendengar suara anak-anak Ki Resa yang gelisah. Yang bungsu terdengar merengek. Sementara ibunya berusaha untuk menenangkannya.

Kesannya bagi Kasadha dan Risang, Nyi Resa Podang dan anak-anaknya memang benar-benar menjadi gelisah. Mereka agaknya memang tidak terlibat pada tingkah laku Ki Resa Podang.

Perlahan-lahan Kasadha mengetuk pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara Nyi Resa Podang, “Siapa?”

“Aku Nyi” jawab Kasadha.

Dengan tergesa-gesa Nyi Resa melangkah ke pintu. Demikian pintu terbuka, maka dengan serta-merta Nyi Resa itu bertanya, “Bagaimana dengan Ki Resa dan Ki Remeng?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada rendah, “Kami tidak menemukan mereka Nyi. Yang ada tinggal jejak pertempuran.”

“Jadi bagaimana pendapat angger tentang kedua orang itu?” bertanya Nyi Resa dengan cemas.

“Untuk sementara kami belum dapat mengatakan sesuatu” jawab Kasadha.

Nyi Resa pun kemudian menjatuhkan dirinya, duduk di sebelah anak-anaknya yang gelisah. Sementara itu, anak Ki Resa yang sulung sedang tidur melekat dinding.

Kasadha dan Risang saling berpandangan sejenak. Namun mereka mengerti bahwa anak Ki Resa itu tentu letih dan mengantuk sekali, karena semalam suntuk ia hampir tidak tidur sama sekali dan bahkan berlari-lari hilir mudik dari rumah ke sawah.

“Ki Resa ternyata tidak sayang kepada keluarganya.“ berkata Risang didalam hatinya, “ia sama sekali tidak menghiraukan apa yang akan terjadi pada isteri dan anaknya. Seandainya aku dan Kasadha menjadi gila karena pengkhianatannya, maka isteri dan anaknya akan mendapat bencana.”

Namun Risang tidak akan sampai hati berbuat apapun terhadap keluarga Ki Resa yang menurut dugaannya tidak terlibat ulah Ki Resa dan Ki Remeng.

Sementara itu, ternyata Kasadha kemudian bertanya, “Apakah kita akan minta diri untuk mencoba mencari jejak kedua orang tua itu?”

Namun sebelum menjawab, Nyi Resa itu minta, “Jangan tinggalkan kami ngger. Kami memerlukan pegangan yang dapat membuat hati kami agak tenang.”

“Tetapi jika kami tetap saja berada disini, kami tentu tidak akan pernah menemukan Ki Resa dan Ki Remeng.“ jawab Risang.

Nyi Resa termangu-mangu sejenak. Namun ia dapat mengerti keterangan Risang itu. Karena itu, maka katanya, “tetapi aku mohon kalian segera kembali lagi. Ketemu atau tidak ketemu.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Dengan nada lembut Kasadha menjawab, “Baik Nyi. Kami akan berusaha secepatnya kembali. Mudah-mudahan kami dapat menemukan Ki Resa dan Ki Remeng.”

Demikianlah, maka Kasadha dan Risang itu segera meninggalkan rumah itu. Satu-satunya tujuan mereka adalah pasar. Mereka ingin segera bertemu dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang sebaiknya mereka lakukan.”

Ketika mereka sampai ke pasar, hari masih pagi. Meskipun demikian pasar itu sudah menjadi ramai. Orang-orang yang berbelanja telah sibuk memilih bahan-bahan makanan yang mereka perlukan, sedangkan yang lain sedang memilih kain lurik yang digelar bersama bahan pakaian yang lain. Selendang, bengkung, kain panjang dan ikat kepala serta beberapa jenis perhiasan.

Tetapi Kasadha dan Risang menjadi kecewa. Ternyata Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu belum nampak disebelah pintu gerbang. Ketika mereka mencari kedalam, kedekat pande besi yang sudah mulai sibuk, ketempat orang-orang berjualan gerabah dan di-tempat-tempat lain, mereka juga tidak menemukan mereka.

“Kita masih harus menunggu” berkata Kasadha.

Risang mengangguk. Namun menunggu rasa-rasanya merupakan beban pekerjaan yang sangat menjemukan. Justru pada saat mereka ingin segera membicarakan satu persoalan yang penting.

Tetapi keduanya memang tidak mempunyai pilihan yang. lain. Mereka harus menunggu di sebelah regol pasar itu.

“Kita makan saja lebih dahulu” berkata Kasadha, “mungkin kita akan melakukan tugas-tugas penting sehingga kita tidak mendapat kesempatan untuk makan.” berkata Kasadha.

“Kau akan melupakan kejemuan selama menunggu?“ bertanya Risang.

“Ya. Sebenarnya aku memang lapar. Kita tidak sempat tidur semalam.” sahut Kasadha.

Namun ketika mereka sampai ke regol pasar, mereka telah berpapasan dengan pemimpin kelompok yang juga nampak gelisah.

Dengan serta-merta Risang bertanya, “Dimana paman Sambi Wulung dan Jati Wulung?”

“Aku tidak tahu dimana mereka” jawab orang itu

“Semalam mereka minta aku menunggu di tempat kami bermalam. Tetapi sampai pagi mereka belum kembali. Karena itu aku datang kemari sendiri.”

“Apakah mereka tidak mengatakan kemana mereka pergi?” bertanya Risang.

“Mereka hanya mengatakan ingin melihat-lihat rumah Ki Resa.” jawab pemimpin kelompok itu.

“Hanya itu?” desak Risang.

“Ya. Hanya itu.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Kasadha lah yang berkata, “Marilah. Kita pergi ke kedai itu.”

Bertiga mereka memasuki sebuah kedai. Bukan yang besar, tetapi mereka memilih kedai yang kecil. Bahkan yang tidak banyak dikunjungi orang.

Di kedai itu Kasadha menceriterakan kepada pemimpin kelompok itu, bahwa Ki Remeng dan Ki Resa telah pergi tanpa diketahui arahnya.

“Apakah kepergian Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung ada hubungannya dengan kepergian kedua orang itu?” bertanya pemimpin kelompok itu.

Kasadha menggeleng. Katanya, “Entahlah. Tetapi justru kami berharap bahwa kepergian keduanya ada hubungannya dengan kepergian Ki Resa dan Ki Remeng.”

Namun mereka justru menjadi cemas bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung bahkan telah terjebak pula oleh pengkhianatan Ki Resa dan Ki Remeng.

“Jika hari ini kita tidak bertemu dengan paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung, maka kita akan pergi ke tempat harta dan pusaka itu disembunyikan. Mungkin Ki Remeng membawa mereka kebukit itu.” berkata Kasadha.

Risang mengangguk sambil berdesis, “Ya. Sebaiknya kita memang melihat apakah Ki Remeng membawa mereka ke bukit itu.”

Sementara itu, Kasadha dan Risang telah berpesan pula kepada pemimpin kelompok itu untuk menunggu di pasar jika Sambi Wulung dan Jati Wulung datang.

“Kami akan mencoba melihat-lihat keadaan, bila saja ada petunjuk tentang kedua orang tua itu.” berkata Kasadha kemudian.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan berada disekitar tempat ini. Jika aku bertemu dengan Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung, apa yang harus aku sampaikan kepada mereka?”

“Kami akan menjumpai mereka lewat tengah hari.” jawab Kasadha.

“Dimana?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Disini.” jawab Kasadha pula.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Mudah-mudahan mereka datang.”

Dengan demikian, maka setelah mereka keluar dari kedai itu, Kasadha dan Risang telah meninggalkan pasar itu untuk melihat-lihat keadaan, sementara pemimpin kelompok itu tetap berada disekitar pasar itu.

Tetapi sampai menjelang tengah hari, Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak nampak datang ke pasar itu.

Sementara itu, Risang dan Kasadha telah menyusuri jalan bulak yang semalam didatanginya. Diamatinya kotak-kotak sawah yang dipinggirnya terdapat jejak-jejak perkelahian. Namun yang yang tidak sebanding dengan gambaran kedua orang anak muda itu.

Kasadha dan Risang melihat beberapa orang berada disawah mereka masing-masing. Beberapa orang remaja sibuk menghalau burung yang berterbangan diatas batang padi yang mulai menguning itu. Sekelompok burung pipit terbang dengan cepat melintas. Namun kemudian sekelompok burung itu telah menukik dan hinggap menebar disekotak sawah.

Suara goprak pun kemudian telah menggetarkan udara. Seorang gadis kecil menarik-narik tali yang dihubungkan dengan orang-orangan ditengah-tengah sawah. Sedangkan kakaknya yang lebih besar berusaha melempari burung-burung pipit itu dengan batu.

Sesaat kemudian, maka sekelompok burung itu pun terkejut. Serentak burung-burung itu pun terbang memanjat langit dan seperti sekelompok awan kelabu yang tipis, burung-burung itu pun telah mengalir kearah Utara hanyut searah dengan arus angin yang bertiup lemah.

Kasadha dan Risang hanya dapat termangu-mangu menyaksikannya. Sementara sawah Ki Resa tidak ditunggui oleh seorangpun. Anak-anaknya sama sekali tidak nampak berada di sawah.

Kasadha dan Risang melangkah mendekati seorang laki-laki separo baya yang berada dikotak sawah sebelah sawah Ki Resa Podang. Kepadanya Risang bertanya, “Bukankah sawah ini sawah Ki Resa Podang?”

“Ya anak muda. Apakah kau mengenal Ki Resa Podang?”

“Ya, Ki Sanak. Tetapi kenapa sawah itu nampaknya rusak?” bertanya Risang pula, “terinjak-injak atau karena sebab yang lain? Atau barangkali seekor lembu atau kerbau lepas dan masuk kedalamnya?”

Orang itu menggeleng, Katanya, “Aku tidak tahu anak muda. Pagi tadi, ketika aku turun ke sawah, aku pun terkejut melihat bagian tepi sawah Ki Resa rusak. Padahal kami semuanya hampir menuai. Dalam beberapa hari ini padi akan masak dan siap untuk dipetik.”

“Apakah Ki Resa tidak turun ke sawah hari ini?” bertanya Kasadha kemudian.

“Aku tidak melihatnya. Apakah kalian ingin menemuinya? Barangkali ada baiknya kalian datang ke rumah-nya.” jawab laki-laki itu.

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Sambil beranjak dari tempatnya Kasadha berkata, “Baiklah. Kami minta diri. Kami ingin mencarinya dirumahnya.

Laki-laki itu mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Tolong katakan, banyak burung pipit di sawah.”

Kasadha dan Risang pun kemudian telah meninggalkan orang itu. Keduanya memang menuju kerumah Ki Resa. Mungkin Ki Resa telah memberi kabar kepada ke-luargane atau barangkali ada perkembangan lain yang dapat membantunya memecahkan persoalan yang sedang dihadapinya itu.

Namun ketika Kasadha dan Risang sampai kerumah Ki Resa, maka suasananya justru nampak semakin gelisah. Nyi Resa benar-benar menjadi kebingungan, ia menjadi tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya.

Ketika ia melihat Kasadha dan Risang datang, maka Nyi Resa hanya dapat menahan tangisnya, meskipun ia masih sempat mengingat anak-anaknya agar tidak menjadi semakin ketakutan.

“Apakah kalian menemukan jejaknya?” bertanya Nyi Resa.

Kasadha menggeleng sambil menjawab, “Maaf Nyi. Kami belum berhasil. Tetapi kami akan berusaha terus. Kami juga tidak ingin kehilangan Ki Remeng.”

Nyi Resa Podang mengangguk-angguk. Dengan sendat ia berkata, “Aku tidak tahu siapa saja sahabat-sahabat Ki Resa yang dapat diminta pertolongannya.”

“Kami berdua berjanji Nyi, kami akan berusaha meskipun kami tidak tahu, apakah kami akan dapat berhasil atau tidak. Aku minta Nyi Resa selalu berdoa, agar kami dapat membawa Ki Resa kembali kepada keluarganya.”

“Terima kasih ngger. Kami sekeluarga tidak akan melupakan pertolongan kalian berdua.”

Kasadha dan Risang pun kemudian telah minta diri. Tetapi Risang sempat menyampaikan pesan laki-laki separo baya disawah, “Nyi, disawah banyak burung pipit.

“Apakah angger berdua pergi ke sawah?” bertanya Nyi Resa.

“Ya Nyi. Kami ingin mencari kemungkinan untuk mendapatkan jejak Ki Resa dan Ki Remeng.” jawab Risang.

“Bukankah tole ada disawah?” bertanya Nyi Resa.

“Risang mengerutkan dahinya, ia pun kemudian berpaling kepada Kasadha sambil bertanya, “Bukankah tidak ada seorang pun yang menunggui sawah Ki Resa?”

“Ya. Tidak seorang pun” jawab Kasadha.

“Tole telah pergi ke sawah. Begitu ia bangun, maka ia langsung pergi, ia menolak untuk menunggu makan pagi.”

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Tetapi kedua anak muda itu menjadi heran. Agaknya ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak laki-laki Ki Resa itu. Sesuatu yang tidak dapat dikatakannya, bahkan kepada ibunya sekalipun.

Tetapi Kasadha dan Risang tidak mau menambah beban Nyi Resa yang gelisah itu. Karena itu, maka keduanya pun kemudian meninggalkan rumah itu.

Diluar regol padukuhan, Risang berdesis, “Apa sebenarnya yang telah disaksikan oleh anak itu?”

“Sebaiknya kita pergi saja ke pasar. Jika kita tidak bertemu dengan paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung, maka malam nanti kita harus berada disebelah bukit itu.”

Keduanya pun kemudian telah pergi lagi ke pasar. Mereka menemui pemimpin kelompok itu masih ada diluar regol pasar. Agaknya ia pun menjadi gelisah menunggu Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Mereka belum datang” berkata pemimpin kelompok itu.

Mereka pun kemudian sepakat untuk pergi ke bukit disebelah Selatan kota itu. Mereka akan mengamati apakah persoalannya akan langsung menyangkut harta benda dan pusaka-pusaka yang tersimpan itu.

Namun mereka masih harus menunggu beberapa saat. Mereka berusaha untuk memasuki padang perdu itu setelah menjadi gelap.

Untuk menghabiskan waktu, maka mereka bertiga telah berjalan-jalan berkeliling kota. Mungkin mereka akan bertemu dengan seseorang yang dapat membantu mereka, atau apapun yang mungkin dapat mereka lakukan. Bahkan mereka sempat juga melihat kegiatan para prajurit Madiun sendiri dan para prajurit yang agaknya datang dari luar Madiun.

“Banyak Kadipaten yang akan terlibat” berkata Kasadha.

“Ya” Risang mengangguk-angguk, “tetapi nampaknya perang belum akan segera pecah.”

“Mungkin. Kedua belah pihak masih mengekang diri. Mereka menyadari akibat yang dapat terjadi jika perang pecah. Berapa ribu korban yang harus direlakan. Bukan hanya korban jiwa serta mendorong anak-anak mati muda, tetapi juga harta-benda dan lingkungan hidup pun akan menderita karena akibat perang itu pula.”

Risang tidak menjawab. Namun di kepalanya memang terbayang, anak-anak muda yang terbaring membujur lintang di padang-padang perdu. Darah akan mewarnai bumi dan menodai beningnya air sungai. Batang-batang padi dan jagung di sawah yang roboh terinjak-injak kaki kuda. Sementara rumah-rumah pun akan terbakar. Perempuan-perempuan akan kehilangan suaminya dan anak-anak akan kehilangan mainannya.

Meskipun semua orang menyadari akan hal itu, tetapi perang masih saja terjadi dimana-mana.

Dalam pada itu, pemimpin kelompok itu tiba-tiba saja berkata, “Mataram tidak akan dapat mengumpulkan orang sebanyak ini. Meskipun Demak, Pajang dan Pati terlibat kedalamnya.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Dari segi jumlah orang, Mataram tentui kalah. Tetapi jumlah orang bukan satu-satunya sebab untuk kalah atau menang.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk kecil. Katanya, “Kami berharap bahwa yang kita lihat hanya semata-mata kelebihan jumlahnya saja. Bukan bobot kemampuan manusia-manusianya seorang demi seorang serta kesadaran akan arti perjuangan mereka.”

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Namun mereka tidak menjawab.

Sementara itu, matahari pun telah bergeser setapak demi setapak di wajah langit. Awan yang tipis menebar didorong angin.

Ketika matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat, maka Kasadha pun berkata, “Kita sudah cukup lama berkeliaran. Kita akan berhenti untuk minum di kedai yang manapun. Kemudian kita akan meninggakan kota ini dan pergi ke bukit itu. Mudah-mudahan paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung tidak mengalami sesuatu yang dapat menyeret mereka kedalam kesulitan,

Risang mengangguk mengiyakan. Mereka memang tidak mempunyai jalan lain untuk menemukan Ki Remeng. Harta-benda berharga itu merupakan satu-satunya kemungkinan untuk dapat menemukan kedua orang tua yang menghalang itu.

Demikianlah, sejenak kemudian mereka sudah ada di sebuah kedai kecil dipinggir jalan. Sambil minum dan makan maka mereka telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

“Ki Remeng mengetahui dengan pasti kekuatan kita. Bahkan Ki Remeng tentu memperhitungkan pula paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung” berkata Risang.

“Ya” Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi apaboleh buat. Kita tidak mempunyai jalan lain. Meskipun demikian, kita tidak datang ke Madiun untuk membunuh diri. Karena itu, kita akan melihat keadaan, apa yang sebaiknya kita lakukan.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Satu kemungkinan yang pahit akan dapat mereka alami. Di bukit itu lent u sudah menunggu sekelompok orang yang pantas untuk melawan mereka dan bahkan tentu diperhitungkan pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kecuali jika kedua orang itu sudah berada ditangan mereka atau bahkan telah mereka selesaikan sama sekali.

Tetapi bagi Risang, Kasadha dan pemimpin kelompok itu, kemungkinan yang paling buruk pun telah mereka perhitungkan pula. Selebihnya, mereka bukan orang-orang yang sangat lemah yang sama sekali tidak mampu memberikan perlawanan atau berusaha untuk menghindar.

Demikianlah, setelah membayar harga minuman dan makanan yang telah mereka minum dan mereka makan, maka bertiga mereka meninggalkan kedai itu langsung menuju ke bukit disebelah Selatan Madiun. Mereka memperhitungkan bahwa mereka akan sampai ketujuan setelah malam turun.

Tidak banyak yang mereka percakapkan di perjalanan. Jika sekali-sekali terloncat kata-kata mereka adalah penyesalan yang sangat bahwa kedua orang tua yang mereka anggap, bahwa mereka yakini akan membantu atau setidak-tidaknya tidak akan menghalangi tugas mereka, ternyata telah mengkhianati mereka.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka ketika senja turun, mereka sudah berada di jalan sempit yang menuju ke padang perdu. Sejenak kemudian mereka akan turun kesungai yang melintasi padang perdu itu menuju ke bukit untuk selanjutnya melintasi beberapa patok lagi, mereka akan sampai ketempat mereka memindahkan harta benda berharga itu.

Tetapi ketiganya tidak menempuh jalan setapak sebagaimana mereka lewati saat mereka datang ke bukit itu. Mereka menduga bahwa mungkin Ki Remeng dan kawan-kawannya akan membuat jebakan-jebakan bagi mereka.

Karena itu, maka mereka telah memilih jalan yang lain.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin malam. Kasadha, Risang dan pemimpin kelompok itu berjalan dengan sangat berhati-hati. Mereka mencoba untuk mendekati tempat harta-benda berharga itu dipindahkan dari lambung bukit kecil itu.

Mereka memang memerlukan waktu yang lama. Mereka mengendap diantara batu-batu padas dan gerumbul perdu. Sambil melangkah mereka memperhatikan keadaan disekeliling mereka.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Kasadha dan Risang hampir berbareng telah memberikan isyarat, agar mereka berhenti.

Pemimpin kelompok itu pun berhenti pula. Tetapi orang itu masih belum tahu, kenapa keduanya tiba-tiba saja berhenti.

Kasadha lah yang dengan isyarat memberitahukan, bahwa ia telah mendengar sesuatu.

Pemimpin kelompok itu mencoba untuk dapat ikut mendengar sesuatu,la  mencoba  mempertajam pendengarannya untuk menangkap setiap suara yang menyentuh selaput telinganya.

Ternyata ia pun dapat mendengar pula suara beberapa orang yang berbicara sahut menyahut.

Karena itu, maka ketiga orang itu menjadi semakin berhati-hati. Merekapuri yakin, bahwa beberapa orang tentu berada disekitar tempat mereka memindahkan harta benda berharga itu.

Semakin dekat mereka dengan beberapa orang yang sedang sibuk itu, maka mereka pun kemudian seolah-olah hanya beringsut saja setapak demi setapak, agar kehadiran mereka tidak diketahui.

Dalam pada itu, sebenarnyalah beberapa orang sedang sibuk menggali tanah berbatu padas. Mereka yakin bahwa mereka akan dapat menemukan apa yang mereka cari. Tanah yang mereka gali itu adalah tanah yang terlalu lunak dibandingkan dengan tanah disekitarnya yang berbatu padas. Karena itu, maka mereka percaya bahwa tanah itu adalah tanah yang pernah digali dan ditimbun kembali, setelah harta yang bernilai sangat besar itu ada didalamnya.

Kasadha, Risang dan pemimpin kelompok itu bahkan telah merangkak diantara semak-semak agar mereka dapat menjadi semakin dekat.

Namun dengan isyarat Risang mengingatkan Kasadha dan pemimpin kelompok itu akan bahaya yang dapat menjebak mereka. Ki Resa dan Ki Remeng tentu sudah memperhitungkan kedatangan mereka di tempat itu, setelah mereka meyakini bahwa Ki Remeng dan Ki Resa itu menghilang.

Namun ternyata mereka tidak melihat orang-orang yang bersiap untuk mengamati atau apalagi menunggu dan menjebak mereka.

Tetapi segala sesuatu yang tidak mereka duga akan dapat terjadi, sebagaimana Ki Remeng dan Ki Resa telah meninggalkan mereka tanpa memperhitungkan akibat yang dapat timbul atas keluarga Ki Resa Podang itu,

Ternyata bahwa ketiga orang itu berhasil bergerak lebih dekat lagi. Mereka telah menelungkup diatas batu-batu padas, dibelakang gerumbul-gerumbul perdu yang jarang, sehingga mereka dapat melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang memburu harta benda itu.

Dalam kegelapan malam, mereka tidak segera melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka memang memerlukan waktu untuk dapat melihat dengan jelas atas orang-orang yang sedang menggali itu.

Namun lambat laun mereka dapat melihat semakin terang. Sehingga mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat dua orang yang terikat dengan sangat kuat duduk diatas batu padas.

“Apakah mereka paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung?” bertanya Risang didalam hatinya.

Namun Risang masih menunggu. Ia berusaha untuk mengetahui, siapakah kedua orang yang terikat itu. Kedua orang itu tidak duduk menghadap kearah ketiga orang yang berusaha mendekat itu. Apalagi malam rasa-rasanya menjadi bertambah gelap.

Untuk beberapa saat ketiga orang itu hanya berdiam diri. Mereka berusaha untuk mengatur pernafasan dengan baik, agar tidak terdengar oleh orang-orang yang sedang mereka amati. Karena ketiga orang itu yakin bahwa orang-orang itu tentu orang-orang yang berilmu tinggi.

Beberapa lamanya orang-orang itu menggali. Namun ternyata bahwa mereka tidak segera menemukan yang mereka cari. Mereka menggali semakin lama semakin dalam. Bahkan akhirnya mereka telah menggali sampai kedasar.

Ketika cangkul dan linggis yang mereka pergunakan telah menyentuh batu padas, maka salah seorang yang berada didalam lubang galian itu berteriak, “Tidak ada apa-apa disini.”

“Mungkin masih beberapa jengkalagi” jawab yang diatas lubang galian itu.

Kami sudah sampai kedasar. Tanah lunak bekas galian itu sudah kami gali sampai tuntas. Kami sudah mulai merambah batu-batu padas yang keras, sehingga tidak lagi merupakan bekas galian baru.

“Apakah mereka berbohong?” bertanya yang diatas.

“Tidak tentang galian tanah berbatu padas ini. Tetapi kita tidak menemukan apa-apa disini. Sama sekali tidak.”

“Mungkin ada lubang-lubang lain didinding galian ini.” teriak yang diatas.

Tidak segera ada jawaban. Namun beberapa saat kemudian terdengar teriakan orang yang berada dalam lubang itu., “Tidak. Tidak ada lubang-lubang lain di dinding galian ini. Aku yakin orang tua itu telah berbohong.

“Iblis tua” geram seorang yang lain yang ada diatas, “kau telah membuat kami kehilangan kesabaran. Ingat, Ki Mawur ada ditangan kami. Jika kau tidak mau menunjukkan harta-benda itu, maka kalian sudah tidak ada gunanya lagi bagi kami.”

“Sudah aku katakan, jika kau berniat membunuhku, bunuh aku. Tetapi Ki Mawur itu harus tetap hidup.” terdengar jawaban.

Risang dan Kasadha terkejut. Mereka yakin, suara itu adalah suara Ki Remeng, sehingga diluar sadarnya, Risang telah menggamit Kasadha, sementara Kasadha berpaling pula sambil mengangguk.

Perhatian keduanya benar-benar tertuju kepada kedua orang yang terikat itu. Bahkan mereka pun menduga, jika yang seorang itu adalah Ki Remeng, maka yang seorang lagi adalah tentu Ki Resa Podang. Tetapi kenapa keduanya harus diikat? Apakah keduanya benar-benar telah dikalahkan oleh sekelompok orang ketika Ki Resa berada di sawah dan kemudian memerintahkan anaknya memanggil Ki Remeng?

Berbagai persoalan tiba-tiba saja telah berkecamuk di kepala kedua orang anak muda itu. Sementara pemimpin kelompok yang menyertai mereka berdua itu pun menjadi tegang karenanya.

Risang, Kasadha dan pemimpin kelompok itu berusaha beringsut semakin dekat. Namun agaknya pemimpin kelompok itu tidak mampu meredam bunyi yang timbul dari geseran tubuhnya dengan batu-batu padas dan ranting-ranting perdu. Bahkan dedaunan pun tdah bergetar pula oleh sentuhan tubuhnya itu.

Untunglah bahwa orang-orang yang sedang memburu . harta bendajserta pusakayang nilainya sangat tinggi itu memusatkan perhatian mereka pada lubang yang telah digali itu. Tetapi didalam lubang itu ternyata tidak diketemukan apapun juga.

“Iblis tua” berkata salah seorang dari mereka yang menggali lubang itu, “jika malam ini kami tidak menemukan apa-apa, maka besok pagi kau akan kami ikat dihalaman untuk menyaksikan bagaimana kami membunuh Ki Mawur yang tidak berdaya itu dengan cara kami. Tetapi tanggung jawab atas kematian Ki Mawur itu terletak dipundakmu. Jika kau mengatakan kepada kami, dimana benda-benda berharga itu disembunyikan, maka kau dan Ki Mawur bukan saja akan tetap hidup, tetapi kalian akan dapat memiliki sebagian dari benda-benda berharga itu.”

“Benda-benda itu ada disini” jawab Ki Remeng, “aku tahu pasti. Pohon ketapang disana dan batu yang sangat besar itu merupakan pertanda yang tidak mudah hilang.”

“Tetapi harta benda itu tidak ada. Kau lihat bahwa benda-benda berharga itu tidak ada? Atau kau ingin melihat sendiri kedalam lubang galian itu. Masuklah. Kami akan menimbunimu hidup-hidup.”

Ki Remeng memang sudah kehilangan harapan untuk tetap hidup. Namun ia masih berkata, “Kau dapat memperlakukan apa saja terhadapku, karena aku memang tidak dapat menunjukkan benda-benda berharga itu. Mungkin sudah diambil orang atau apapun yang terjadi sehingga benda-benda berharga itu sudah tidak ada disitu. Mungkin ketika aku memindahkan benda-benda berharga itu dari lereng bukit kemari, ada orang yang melihatnya, sehingga orang itu telah mengambilnya. Tetapi sekali lagi aku minta, jangan ganggu Ki Mawur. Ia harus tetap hidup.”

Tetapi terdengar suara orang yang lain disela-sela tertawanya, “Ki Mawur ada ditangan kami dalam keadaan sakit. Kau telah melihat sendiri, bukan hanya ceritera untuk sekedar memeras keteranganmu. Dengan demikian maka kau pun mengetahui bahwa kami dapat berbuat apa saja atas dirinya. Mungkin kami tidak membunuhnya, tetapi kami dapat memaksanya untuk berbicara. Dalam ketidak sadarannya ia telah mengigau dan menyebut namamu. Pada saat lain kami akan berusaha agar ia mengigau lagi dan menyebut tempat benda-benda berharga itu disembunyikan.”

“Satu tindakan yang biadab” geram Ki Remeng. Tetapi orang itu justru tertawa. Katanya, “Satu kerja yang sangat menyenangkan.”

“Jantung kalian telah disusupi iblis yang paling laknat.”

Justru beberapa orang telah tertawa. Seorang diantara mereka berkata” jika Ki Mawur menjadi semakin menderita, itu adalah kesalahanmu Ki Remeng. Jika kau mengatakan terus-terang, dimana harta-benda itu kau simpan, maka Ki Mawur tidak akan mengalami nasib buruk itu.”

“Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Tetapi tentu ada orang lain yang telah mendahuluinya, mengambil benda-benda berharga itu.”

“Kami bukan kanak-kanak lagi Ki Remeng. Jika ada orang lain yang mengambilnya, maka orang-orang itu tentu tidak akan merasa perlu untuk menimbuni lubang itu legi. Demikian mereka mendapatkan apa yang mereka cari, maka mereka akan segera melarikan diri untuk menghindari kemungkinan buruk yang dapat terjadi kemudian.

Ki Remeng tidak dapat meyakinkan mereka. Karena itu, maka penalarannya pun rasa-rasanya telah menjadi sangat tumpul. Sementara itu tangannya masih saja terikat erat-erat. Seandainya ia mencoba untuk memutuskan tali itu dengan kekuatan ilmunya, maka orang-orang yang mengerumuninya itu pun adalah orang-orang berilmu tinggi, sehingga sebelum ia sempat memutuskan tali pengikat tangannya, maka mereka akan dengan cepat bertindak. Mungkin perlakuan mereka akan menjadi sangat buruk.

Sementara itu Ki Resa masih saja berdiam diri. Tangan orang itu pun terikat pula sehingga Ki Resa juga tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti Ki Remeng, ia pun sadar, jika ia berniat untuk memutuskan tali pengikat itu, maka akibatnya akan dapat menjadi sangat buruk.

Yang kemudian menjadi sangat tegang, bukan saja orang-orang yang ada disekitar lubang yang sudah digali itu. Tetapi juga terjadi dibelakang gerumbul-gerumbul perdu disela-sela batu padas. Risang, Kasadha dan pemimpin kelompok itu telah bertiarap dan merayap semakin dekat untuk dapat mengetahui lebih jelas tentang apa yang terjadi kemudian. Mereka yakin bahwa kedua orang yang terikat itu adalah Ki Remeng dan Ki Resa.

Risang dan Kasadha yang telah berprasangka buruk terhadap Ki Remeng dan Ki Resa, masih harus menilai kembali dugaan mereka. Namun mereka masih juga menyangka bahwa Ki Resa dan Ki Remeng memang berkhianat. Tetapi kemudian nasib mereka justru menjadi sangat buruk, karena Ki Remeng justru ditangkap dan diminta untuk menunjukkan tempat harta-benda itu disembunyikan.

Dalam pada itu, meskipun daun-daun perdu yang goyah serta desir tubuh mereka, terutama pemimpin kelompok itu di atas batu-batu padas, tidak menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar lubang itu karena perhatian mereka tertuju sepenuhnya kepada Ki Remeng, namun ternyata ada juga mata dan telinga yang menangkapnya.

Risang dan Kasadha tiba-tiba saja memberi isyarat kepada pemimpin kelompok itu untuk berdiam diri sambil melekat pada batu-batu padas dibawah tubuh mereka, karena mereka mendengar desir yang halus mendekati tempat mereka bersembunyi. Risang dan Kasadha yang melekatkan telinga mereka dibatu padas dibawah tubuh mereka yakin, bahwa ada orang yang datang mendekat.

Ketika suara yang mereka tangkap dengan melekatkan telinga mereka di batu padas itu sudah menjadi semakin dekat, maka Risang pun telah memberikan isyarat kepada Kasadha. Dengan cepat keduanya segera memutar tubuhnya berguling menelentang. Namun mereka siap menghadapi segala kemungkinan.

Dua orang memang sudah berada tidak jauh dari mereka bertiga. Keduanya pun telah bersiap pula sambil berjongkok dengan satu lutut diatas batu-batu padas.

Ketegangan telah mencengkam orang-orang yang sedang mengamati tingkah laku orang-orang yang berada disekitar lubang galian itu. Namun ternyata perhatian orang-orang yang memburu harta itu benar-benar sedang tertuju kepada Ki Remeng, sehingga kehadiran orang-orang yang mengawasi mereka itu tidak mereka sadari.

Tetapi ketika Risang dan Kasadha siap meloncat bangkit, maka mereka justru mengurungkannya. Demikian pula kedua orang yang datang itu justru menarik nafas dalam-dalam. Kedua orang itu adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Pemimpin kelompok yang kemudian melihat mereka itu hampir saja menyebut nama mereka. Tetapi untunglah bahwa ia pun segera menyadarinya dan justru menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.

Kelima orang itu pun kemudian telah berkumpul kembali. Ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung juga sedang mengamati orang-orang yang menggali lubang untuk mencari harta benda berharga itu. Tetapi mereka ternyata tidak menemukannya.

Tetapi sementara itu, Risang dan Kasadha masih belum dapat berbincang dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Jika mereka berbicara sekalipun hanya berbisik, mungkin salah seorang dari orang-orang yang ada disekitar lubang itu dapat mendengar.

Dalam pada itu sikap orang-orang yang gagal menemukan benda-benda berharga itu terhadap Ki Remeng menjadi semakin kasar. Seorang diantaranya telah menendang punggung orang tua itu. Meskipun Ki Remeng mempunyai daya tahan yang tinggi, namun tendangan itu telah membuatnya menyeringai menahan sakit.

“Aku tidak mempunyai banyak waktu” berkata salah seorang diantara mereka, “jika kau memang keras kepala, apaboleh buat. Tetapi aku tidak ingin membunuhmu disini. Aku ingin membawamu kembali dan aku akan menunjukkan kepadamu, apa yang dapat aku lakukan terhadap Ki Mawur.”

“Kenapa kau tidak berani membunuhku sekarang?” bertanya Ki Remeng.

Tangan orang itu menyambar mulut Ki Remeng dengan kerasnya sehingga kepala Ki Remeng berpaling. Tetapi Ki Remeng tidak mengeluh.

“Aku tahu, kau mempunyai daya tahan yang sangat tinggi, Remeng. Tetapi betapapun juga, kau tentu masih dapat merasakan sakit. Jika tidak wadagmu, tentu juga hatimu melihat cara kami memperlakukan Ki Mawur, bendaramu itu.”

Ki Remeng tidak menjawab, ia memang tidak dapat menunjukkan benda-benda berharga itu setelah ternyata di tempat benda-benda itu disembunyikan justru tidak dapat diketemukan.

Ki Remeng memang sudah pasrah. Tetapi hatinya tidak akan tetap tabah jika ia harus melihat Ki Mawur diperlakukan dengan cara yang biadab. Ki Remeng sendiri sama sekali tidak takut mati. Tetapi ia tidak mempunyai jalan untuk menyelamatkan Ki Mawur. Sementara beberapa orang yang belum mengenal Ki Mawur telah datang dari Pajang untuk menyelamatkannya.

Sementara itu, sikap orang-orang yang gagal menemukan benda-benda berharga itu bertindak semakin kasar terhadap Ki Remeng. Dan bahkan kepada Ki Resa. Keduanya pun telah diseret diatas batu-batu padas. Beberapa kali Ki Remeng dan Ki Resa masih juga dipukulinya.

“Kau benar-benar tidak mau menunjukkannya?” bentak seseorang yang bertubuh pendek.

Ki Remeng masih juga menjawab, “Aku sudah tidak dapat berbuat lebih dari yang aku lakukan. Aku sudah berusaha untuk menyelamatkan Ki Mawur dan menunjukkan letak benda-benda berharga itu. Namun agaknya orang lain telah mendahului mengambilnya.”

“Setan. Kita bawa kedua orang itu pulang. Mereka harus melihat, babaimana kita memperlakukan Ki Mawur dihadapan mata mereka sebelum mereka kita akhiri dengan cara yang sama.”

Suasana memang menjadi sangat tegang. Orang-orang yang memperhatikan peristiwa itu dibalik bayangan pohon-pohon perdu segera teringat kepada nama-nama Kebo Wingit, Wirasana, Rangga Surakerti dan orang-orang dari padepokan Uger-uger di kaki Gunung Lawu. Nama-nama itu agaknya terdapat diantara orang-orang yang memakna Ki Remeng untuk berbicara itu.

Dalam pada itu, ketika orang-orang itu mulai memerintahkan Ki Remeng untuk bangkit berdiri dan berjalan dengan tangan terikat, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi sangat gelisah.

Bahkan kemudian mereka telah memberi isyarat kepada Risang dan Kasadha untuk berbuat sesuatu,

Risang dan Kasadha pun tanggap. Jika saja mereka tidak ingin menyelamatkan Ki Mawur, maka mereka dapat saja membiarkan orang-orang itu pergi, sekalipun Ki Remeng dan Ki Resa mereka bawa. Tetapi bukan saja keselamatan Ki Mawur. Mereka pun rasa-rasanya tidak rampai hati melihat Ki Remeng dan Ki Resa diperlakukan seperti itu.

Risang dan Kasadha pun kemudian telah berubah sikap pula. Mereka tidak sepenuhnya menuduh Ki Remeng dan Ki Resa berkhianat. Mungkin karena sesuatu hal telah memaksa mereka untuk berbuat demikian. Bahkan Ki Remeng benar-benar telah menunjukkan tempat harta benda itu disembunyikan, meskipun akhirnya mereka tidak menemukannya.

Dalam keadaan yang masih belum jelas benar, maka mereka telah sepakat untuk berusaha membebaskan Ki Remeng dan Ki Resa, meskipun jumlah orang-orang yang menggiring keduanya itu cukup banyak.

Dengan isyarat, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian telah bangkit berdiri tegak. Demikian pula Risang, Kasadha dan pemimpin kelompok itu.

Mereka memang belum sempat berbicara. Tetapi Risang yang mempercayai kedua orang itu sepenuhnya, telah memberi isyarat kepada Kasadha untuk melakukan sebagaimana akan dilakukan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Pada saat terakhir ketika mereka sudah siap, maka Sambi Wulung pun berdesis perlahan sekali, “Usahakan memancing perhatian mereka. Kami akan berusaha menyelamatkan Ki Remeng dan Ki Resa.”

Risang dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Namun mereka tidak mempunyai waktu. Bahwa mereka telah bangkit berdiri meskipun dibelakang rumpun semak-semak serta kata-kata yang diucapkan oleh Sambi Wulung, ternyata memang telah penarik perhatian orang-orang yang sudah siap menggiring Ki Remeng dan Ki Resa.

Demikianlah, maka Risang, Kasadha dan pemimpin kelompok itu pun segera berloncatan. Tanpa berbicara apapun juga, ketiganya telah menyerang sekelompok orang yang membawa kedua orang tua dengan tangan terikat itu.

Orang-orang itu memang terkejut. Serangan yang tiba-tiba itu memang telah merampas perhatian mereka, sehingga mereka pun serentak telah bergerak menghadapi ketiga orang itu.

Pada kesempatan itu, dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meloncat justru menerkam Ki Remeng dan Ki Resa sehingga mereka jatuh berguling-guling. Namun pada kesempatan itu dengan pisau belatinya, Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan cepat telah memutuskan tali-tali yang mengikat tangan kedua orang tua itu.

Meskipun tali pengikat tangan itu terbuat dari serat daun nanas yang kuat, tetapi pisau Sambi Wulung dan Jati Wulung cukup tajam untuk dapat dengan cepat memutus-an tali itu, meskipun tangan Ki Resa justru telah sedikit tergores pisau jati Wulung yang sangat tergesa-gesa itu. Untunglah bahwa pisau itu tidak memutus urat nadi di pergelangan tangan orang tua itu.

Semuanya itu terjadi dengan sangat cepat, sehingga orang orang yang menggiring Ki Remeng dan Ki Resa itu terlambat menyadari keadaan. Mereka baru sadar, justru setelah Ki Remeng dan Ki Resa berloncatan bangkit dan mengambil jarak dari orang-orang itu.

Risang, Kasadha dan pemimpin kelompok itu pun telah meloncat menjauh pula, sehingga pertempuran yang menyala sekejap itu telah terhenti.

“Siapakah kalian?” teriak seseorang yang berbadan kekar meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi.

“Nah” yang menjawab adalah Sambi Wulung, “ternyata aku berhasil menemukan benda-benda yang aku cari bertahun-tahun. Aku sudah mengira bahwa benda-benda berharga itu ada disini. Sekarang serahkan benda-benda berharga serta pusaka-pusaka itu kepada kami.”

“Kau tidak usah mengigau seperti itu. Sebut saja siapakah kau dan siapa pula kawan-kawanmu. Kenapa kau telah berusaha membebaskan Ki Remeng dan Ki Resa? Apa hubunganmu dengan mereka berdua?”

“Kami bukan siapa-siapa. Tetapi kami inginkan benda-benda yang kau ambil dari lubang iru.” jawab Sambi Wulung.

“Setan kau. Lihat, tidak ada sekeping perhiasan pun di dalam lubang itu. Kalian tentu orang-orang yang telah mencurinya lebih dahulu. Nah, agaknya kalian telah bekerja bersama dengan Ki Remeng sehingga ketika kami datang, maka semuanya telah lenyap. Karena itu, maka kamilah yang harus menuntut kalian, karena benda-benda berharga serta pusaka-pusaka itu adalah milik kami. Milik perguruan Wukir Gading. Ki Remeng dan Ki Resa kedua-duanya telah berkhianat sehingga mereka pantas untuk dihukum. Karena itu, serahkan benda-benda berharga serta pusaka-pusaka itu. Serahkan pula Ki Remeng dan Ki Resa.

Sambi Wulung tiba-tiba saja tertawa. Suara tertawanya menggelegar mengguncang bukit-bukit padas. Terdengar kasar dan menyakitkan telinga.

Risang dan Kasadha mengerutkan dahi. Mereka belum pernah mendengar Sambi Wulung tertawa seperti itu.

Namun agaknya Sambi Wulung dengan sengaja menunjukkan ujud yang berbeda dari sosoknya yang sebenarnya.  Bahkan kemudian suaranya pun menjadi parau, “Jangan memutar balikkan kenyataan. Serahkan benda-benda berharga itu, atau kami akan menghancurkan kalian dan menimbunnya didalam lubang yang telah kalian buat sendiri itu.”

Orang-orang itu pun menjadi sangat marah. Orang yang bertubuh kekar itu berteriak, “Sebelum kalian mati, sebut nama kalian.”

Namun dengan nada rendah Ki Remeng berkata, “Kebo Wingit. Sebaiknya kau serahkan saja benda-benda berharga yang telah kau gali itu. Mereka agaknya memang lebih berhak dari kau dan kawan-kawanmu.”

“Gila. Kau sudah gila Remeng. Ternyata kau memang sudah bekerja sama dengan iblis-iblis itu. Tetapi lebih dari pengkhianatan itu, kalian adalah orang-orang yang sangat sombong yang telah berani menantang kami. Karena kalian tidak bersembunyi saja setelah mencuri harta milik perguruan kami dan membiarkan pengkhianat tua ini kami bantai dihadapan saudara-saudara seperguruan kami? Bukankah dengan demikian, kalian akan dapat memiliki harta itu tanpa iblis-iblis tua ini.”

Tetapi yang menjawab adalah Ki Remeng, “Itulah bedanya, Kebo Wingit. Mereka tidak seperti kau dan kawan-kawanmu itu. Meskipun mereka bukan saudara-saudara seperguruanku, tetapi mereka tidak berkhianat. Karena mereka mengakui bahwa akulah yang telah menunjukkan tempat ini; maka mereka telah berusaha membebaskan aku dari tangan kalian. Nah, sekarang berikan saja benda-benda berharga yang telah kalian ambil karena kalian berhasil mendahului mereka.”

“Iblis tua. Apa yang kau katakan itu? Kau telah memutar balikkan kenyataan tentang harta perguruan kita. Dengan demikian maka pengkhianatanmu pun telah menjadi lengkap. Karena itu, maka kau benar-benar akan mati dengan cara yang tidak kau senangi.”

“Wirasana” jawab Ki Remeng, “aku memang sedang bingung, sehingga barangkali aku tidak lagi sempat melihat kebenaran dari persoalan yang tengah kita hadapi. Tetapi barangkali kau dapat menolong memberikan jawabnya, siapakah yang sebenarnya telah berkhianat?”

“Bunuh saja orang itu. Bunuh semua orang yang telah berdiri dipihak Ki Remeng dan Ki Resa.” teriak seseorang yang bertubuh tinggi, “kemudian kita akan membunuh pula Ki Mawur jika ia pun berkeras untuk tidak mau menunjukkan benda-benda berharga itu.”

“Baik” sahut Kebo Wingit, “tidak ada gunanya lagi kita berbicara panjang. Remeng dan Resa Podang. Meskipun kita pernah tinggal dalam satu padepokan dan menuntut ilmu pada satu perguruan, tetapi karena kalian telah berkhianat, maka kalian akan dihukum mati disini bersama dengan orang-orang yang tidak kami kenal dan yang telah bekerja bersama dalam pengkhianatanmu itu.

Ki Remeng pun kemudian telah bergeser setapak sambil berkata, “Apapun yang akan kalian lakukan, lakukanlah. Tetapi selagi cacing tanah pun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku.”

Sementara itu, Sambi Wulung masih berbicara dengan nada suaranya yang aneh., “Jadi kalian benar-benar tidak mau menyerahkan harta-benda yang kalian pindahkan dari tempat ini? Baik. Jika demikian kita akan bertempur.”

“Remeng, beritahukan kepada kawan-kawanmu, siapakah aku dan seberapa jauh aku memiliki ilmu. Apalagi setelah kita berpisah, aku telah berhasil menyempurnakan ilmuku itu.”

“Aku tidak perlu memberitahukan kepada mereka. Mereka telah mendengar sendiri sesumbarmu, Nah, mereka tentu akan dapat menyesuaikan dirinya.”

Orang yang bernama Kebo Wingit itu pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Jangan seorang pun dapat lolos. Mereka harus mati semuanya.”

Sejenak kemudian, maka Kebo Wingit dan kawan-kawannya telah menebar. Ki Resa Podang yang sejak semula berdiam diri itu pun berkata, “Selama ini aku telah menyingkir dari pergaulan orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuannya berkelahi. Aku sudah berniat ingin hidup tenang dengan keluargaku. Tetapi ternyata kalian telah mengguncang ketenangan hidupku. Karena itu apa-boleh buat. Aku tidak akan berdiam diri jika kepalaku akan dipenggal. Siapapun yang harus aku hadapi, maka kita akan mempertaruhkan pecahnya dada dan tumpahnya darah.”

“Setan kau Resa Podang. Ternyata kau benar-benar tidak sayang akan anak dan isterimu. Jika kau benar-benar ingin melawan, maka anak dan isterimu akan mati tumpes kelor. Namamu akan lenyap bersama kematianmu dari kematian anak isterimu.”

“Kita berada disini sekarang, Wirasana” berkata Ki Resa Podang, “jika kau mati dan kawan-kawanmu mati, tidak ada yang dapat membunuh anak dan isteriku.

“Aku akan membunuhmu dan aku pula yang akan membunuh anak-anak dan isterimu.” berkata Wirasana.

“Kau atau aku mempunyai kesempatan dan kemungkinan yang sama, Wirasana” jawab Ki Resa Podang.

Wirasana yang menjadi sangat marah itu segera melangkah mendekati Ki Resa Podang. Ia pun segera bersiap untuk bertempur dengan mempertaruhkan nyawanya.

Nampaknya Kebo Wingit juga sangat mendendam Ki Remeng. Sambil melangkah mendekat Kebo Wingit berkata, “Kematian Ki Mawur adalah tanggung jawabmu Remeng.”

“Aku sudah muak untuk memenuhi perintah-perintahmu. Kau sekarang tidak dapat memeras aku lagi. Kita bersama-sama berada di tempat yang jauh. Kita bersama-sama menghadapi kemungkinan untuk mati. Karena itu, maka kau tidak akan dapat memeras aku lagi. Meskipun aku tahu, bahwa pertempuran ini akan mengantarkan kepada kita satu keharusan untuk saling membunuh dan tidak memberi kesempatan untuk lolos. Karena jika ada diantara kalian yang lolos, maka persoalannya masih akan berkembang. Terutama akibatnya akan terpercik pada Ki Mawur dan keluarga Ki Resa Podang.”

“Tetapi kalian tidak akan dapat menghindari akibat itu. Kau, Ki Resa dan kawan-kawanmu akan mati. Ki Mawur dan keluarga Ki Resa seluruhnya akan mati.” geram Kebo Wingit.

Sementara itu, kawan-kawan Kebo Wingit dan Wirasana itu pun telah menebar. Seorang yang bertubuh tinggi yang nampaknya mempunyai pengaruh yang besar diantara mereka pun berkata, “Kita sudah cukup lama berbicara. Kita hancurkan mereka semuanya.”

Sambi Wulung yang berdiri paling dekat dengan orang itu tiba-tiba saja bertanya, “He, kau. Apakah kau juga cantrik dari Padepokan Wukir Gading?”

Orang yang bertubuh tinggi itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Buat apa kau bertanya tentang aku dan latar belakang kehidupanku. Sekarang aku akan membunuhmu. Itu saja.”

Namun sebelum orang itu menyerang, Ki Remeng masih sempat menyahut, “Orang itulah yang menyebut dirinya Gondar-gandir.”

“Gondar-gandir” Sambi Wulung mengulang. Namun nampak wajahnya menegang. Diluar sadarnya ia berkata, “Kaukah orang yang dimasa mudanya bernama Prembun?”

“Darimana kau mengenal namaku?” bertanya orang yang bertubuh tinggi itu.

“Berpuluh tahun yang lalu. Tetapi itu tidak penting. Yang penting kita akan menyelesaikan persoalan kita sekarang.”

“Siapa kau?” bertanya orang yang disebut Gondar-gandir itu.

“Itu juga tidak penting.” jawab Sambi Wulung.

“Baiklah. Aku sudah terbiasa membunuh orang yang tidak aku kenal sama sekali. Kali ini aku akan membunuh orang yang telah mengenalku.” berkata orang yang bertubuh tinggi itu.

Demikianlah maka kedua belah pihak telah bersiap untuk segera bertempur. Kebo Wingit yang berhadapan dengan Ki Remeng itu mulai bergeser. Ki Remeng pun telah mengambil tempat pula. Ia bergerak beberapa langkah menyamping, sementara Ki Resa Podang telah meloncat surut. Ki Resa Podang itu pun kemudian berdiri tidak terlalu jauh dari batu yang besar yang menjadi ancer-ancer saat harta-benda yang diperebutkan itu dipindah dari lereng bukit.

Sedangkan Sambi Wulung pun telah bersikap pula menghadapi orang yang disebut Gondar-gandir itu. Ada pun Jati Wulung, Risang, Kasadha dan pemimpin kelompok itu pun telah bersikap pula menghadapi segala kemungkinan. Ternyata para pengikut Kebo Wingit itu jumlahnya lebih banyak dari lawannya. Namun Risang, Kasadha, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu tidak menebar. Melawan jumlah yang lebih banyak mereka akan bertempur berkelompok. Meskipun jumlah para pengikut Kebo Wingit itu lebih banyak, namun agaknya ilmu mereka tidak setingkat dengan Kebo Wingit, Wirasana dan orang yang disebut Gondar-gandir itu.

Ketika kemudian Kebo Wingit mulai menyerang Ki Remeng dan Wirasana mulai bertempur melawan Ki Resa, maka yang terjadi adalah pertempuran antara saudara-saudara seperguruan dari lingkungan perguruan Wukir Gading.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang berada di padang perdu itu pun telah terlibat pula dalam pertempuran yang keras. Ki Remeng yang tua itu mulai berloncatan dengan tangkasnya. Meskipun sebelumnya, saat tangannya terikat ia sudah disakiti, tetapi ketika ia mulai bertempur, maka perasaan sakit itu telah lenyap. Justru sakit dihatinyalah yang telah membuatnya menjadi semakin garang.

Kebo Wingit yang tidak menduga, bahwa yang terjadi di padang perdu itu tidak sebagaimana diharapkan, menjadi sangat marah. Ki Remeng dianggapnya sebagai seekor ular yang lidahnya bercabang. Karena itu, maka tidak ada hukuman yang pantas bagi Ki Remeng, kecuali dibunuh dengan cara apapun juga.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Kebo Wingit dan Ki Remeng itu dengan cepatnya meningkat. Keduanya adalah orang-orang dalam tataran yang tinggi didalam lingkungan keluarga Wukir Gading.

Di tempat lain, Ki Resa Podang telah bertempur pula melawan Ki Wirasana. Meskipun Ki Resa Podang sudah cukup lama memisahkan diri dari dunia olah kanuragan, namun ketika ia didesak untuk mempertahankan diri, maka ia pun masih mampu mengungkit kembali kemampuannya yang tinggi.

Sementara itu, orang yang disebut Gondar-gandir itu berusaha dengan cepat menyelesaikan orang yang ternyata telah mengenalinya. Bahkan mengenal namanya semasa mudanya, semasa ia belum menyebut dirinya Gondar-gandir. Tetapi orang itu tentu sudah mengenalnya pula sesudah ia bernama Gondar-gandir.

Namun orang itu harus menghadapi kenyataan bahwa ia berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi. Semula ia mengira bahwa ia akan dengan cepat menyelesaikan lawannya itu. Namun ternyata kenyataan yang dihadapinya berbeda dengan kemauannya.

Sebenarnyalah bahwa Sambi Wulung telah pernah mendengar nama itu. Tetapi ia belum mengenal dari dekat. Yang ia ketahui bahwa orang yang bernama Gondar-gandir itu sangat disegani oleh banyak orang.

Kini Sambi Wulung telah berhadapan dengan orang itu. Berbeda dengan Gondar-gandir itu sendiri, maka Sambi Wulung menjadi sangat berhati-hati. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Sehingga karena itu, maka ia harus menjajagi lebih dahulu kemampuan lawannya itu.

Gondar-gandir yang membentur kenyataan itu pun kemudian harus berpikir ulang. Serangan-serangannya ternyata tidak mampu untuk apalagi menghancurkan lawannya, menyentuh pun tidak.

Meskipun Gondar-gandir telah meningkatkan ilmunya selapis demi selapis, namun lawannya itu masih juga mampu menempatkan dirinya untuk mengimbanginya tanpa kesulitan.

Dengan demikian, maka Gondar-gandir itu harus menjadi semakin berhati-hati. Ia menyadari, bahwa lawannya itu benar-benar seorang yang berilmu tinggi.

Disisi lain, dekat dengan seonggok batu besar, Ki Resa Podang bertempur dengan garangnya. Ki Wirasana yang berusaha dengan cepat menekannya, ternyata mengalami kesulitan. Meskipun Ki Resa Podang sudah agak lama. tidak turun ke medan, namun bagi Wirasana perlawanan Ki Resa Podang masih juga menggetarkan jantungnya.

Wirasana yang masih selalu bertualang didunia olah kanuragan dan bahkan kekerasan itu ternyata tidak mudah untuk menundukkan Ki Resa Podang.

Serangan-serangannya yang datang seperti badai, selalu saja membentur pertahanan Ki Resa Podang yang rapat. Agaknya Ki Resa Podang memang masih harus banyak bertahan sambil berusaha menggali kembali didalam dirinya, kemampuannya yang seakan-akan sudah menjadi semakin mengendap. Tetapi pada setiap kesempatan, dengan tiba-tiba Ki Resa Podang itu pun dengan cepatnya meloncat menyerang lawannya.

Wirasana yang semula menganggap bahwa ia akan segera menyelesaikan saudara seperguruannya itu dalam waktu yang pendek, harus meningkatkan kemampuannya semakin tinggi. Ternyata bahwa Ki Resa Podang masih juga Ki Resa Podang yang dahulu, yang garang dan yang tangkas dilambari dengan kekuatan yang sangat besar.

Bahkan semakin lama, ilmu kanuragan Ki Resa Podang itu menjadi semakin mapan. Tekanan Wirasana yang semakin berat, justru telah memaksa Ki Resa Podang untuk mengungkit kembali segala kemampuannya.

Dengan demikian, maka ketika darah Ki Resa Podang menjadi semakin panas, maka ia pun justru telah bertempur semakin garang.

Wirasana memang menjadi berdebar-debar. Ki Resa termasuk seorang yang memiliki kelebihan dari saudara-saudara seperguruannya. Karena itu, ketika Ki Resa Podang itu telah mencapai landasan kemampuannya yang sebenarnya, maka tugas Wirasana menjadi semakin berat.

Ki Resa Podang tidak lagi lebih banyak bertahan. Tetapi serangan-serangannya mulai menjadi garang.

Berbeda dengan Ki Resa Podang, maka Ki Remeng telah menjadi garang sejak semula. Bahwa beberapa kali ia mengalami tekanan, serangan dan sikap yang bermusuhan, sehingga ia harus membunuh orang-orang yang akan memaksanya menunjukkan tempat persembunyian harta benda itu, serta perlakuan Kebo Wingit serta para pengikutnya, telah membuat Ki Remeng itu menjadi sangat marah. Karena itu, maka serangan-serangannya datang beruntun dengan cepatnya, sehingga beberapa kali Kebo Wingit terdesak surut.

Kebo Wingit yang telah beberapa lama meninggalkan padepokannya, menduga bahwa ilmunya yang telah meningkat itu akan dapat melampaui kemampuan saudara-saudara seperguruannya. Namun ternyata bahwa saudara-saudara seperguruannya itu pun telah meningkatkan ilmu mereka pula dengan berbagai macam cara.

Karena itu, maka ketika kemampuan ilmu Kebo Wingit itu membentur kemampuan ilmu Ki Remeng, maka Kebo Wingit pun menyadari, bahwa pekerjaannya bukan pekerjaan yang dapat dianggap ringan.

Sejak semula, maka benturan-benturan ilmu pun telah terjadi. Ki Remeng kadang-kadang sengaja tidak menghindari serangan lawannya, tetapi justru membenturnya.

Dengan benturan-benturan, maka Ki Remeng dapat langsung menjajagi kekuatan dan kemampuan ilmu lawannya.

Pertempuran antara keduanya pun menjadi semakin sengit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka hampir sampai ke puncak. Namun Kebo wingit yang merasa ilmunya adalah ilmu terbaik itu, menjadi sangat marah bahwa Ki Remeng masih saja mampu mengimbanginya. Bahkan sekali-sekali Ki Remeng itu telah mendesaknya.

Sementara itu, Sambi Wulung bertempur semakin sengit. Keduanya ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Di bagian lain lagi, pertempuran terjadi antara sekelompok pengikut Kebo Wingit melawan Risang, Kasadha, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu. Beberapa orang pengikut Kebo Wingit itu, meskipun tidak memiliki kemampuan sejajar dengan Kebo Wingit, namun mereka juga berilmu tinggi.

Yang paling sulit diantara orang-orang Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan menghadapi para pengikut Kebo Wingit adalah pemimpin kelompok itu. Ilmunya masih belum setingkat dengan ilmu yang dimiliki oleh Risang dan Kasadha. Juga ilmu yang melandasi kemampuan Jati Wulung. Karena itu, maka setiap kali pemimpin kelompok itu harus berloncatan surut, sementara yang lain berusaha untuk membantunya. Sementara itu, jumlah lawan pun lebih banyak dari jumlah mereka yang hanya ampat orang itu.

Meskipun demikian, secara keseluruhan kedua belah pihak itu masih belum dapat dilihat, siapakah yang kalah dan siapakah yang akan menang.

Dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Dalam keadaan yang sulit, maka pemimpin kelompok itu berlindung dibalik kemampuan Risang atau Kasadha atau Jati Wulung. Namun kemudian ia sudah muncul kembali dengan serangan-serangannya yang kadang-kadang masih juga mengejutkan para pengikut Kebo Wingit itu.

Tetapi agaknya sekelompok pengikut Kebo Wingit itu dapat mengenalinya, bahwa ilmunya ternyata paling lemah diantara keempat orang yang bertempur didalam kelompok itu. Meskipun demikian bukan berarti bahwa orang itu sama sekali tidak mampu melindungi dirinya sendiri.

Seorang yang bertubuh tinggi besar yang mempunyai kekuatan yang sangat besar telah berusaha untuk selalu menggapai pemimpin kelompok itu. Namun setiap kali serangan-serangannya justru telah membentur orang lain. Jati Wulung ternyata mampu bergerak dengan cepatnya, ia berloncatan dari satu lawan ke lawan yang lain. Bahkan justru lawannyalah yang kadang-kadang menjadi bingung. Jati Wulung itu datang menyerang begitu tiba-tiba. Namun kemudian orang itu telah berada disisi yang lain dari pertempuran itu. Yang kemudian dihadapinya adalah justru orang lain lagi.

Dalam pertempuran yang semakin sengit dan jumlah lawan yang lebih banyak, maka keempat orang itu pun harus selalu meningkatkan kemampuan mereka. Apalagi lawan-lawan mereka nampaknya tidak lagi mengekang diri. Mereka benar-benar ingin membunuh orang-orang yang telah berusaha menyelamatkan Ki Remeng dan Ki Resa Podang itu.

Ketika para pengikut Kebo Wingit itu mulai mempergunakan senjata mereka, maka keadaan pemimpin kelompok itu menjadi semakin sulit. Namun Kasadha dengan cepat berhasil menyusup diantara lawan-lawannya dan menggapai sebuah dandang yang dipergunakan oleh para pengikut Kebo Wingit itu untuk menggali benda-benda berharga yang ternyata tidak mereka ketemukan. Sambil berteriak kepada pemimpin kelompok itu ia telah melemparkan dandang yang tajam dikedua ujungnya serta bertangkai pendek itu.

Dengan tangkasnya, pemimpin kelompok itu menangkap senjata yang berbahaya itu. Sementara Kasadha sendiri telah meraih sebuah linggis besi yang tidak terlalu panjang. Kepada pemimpin kelompok itu Kasadha kemudian berkata, “Pergunakan senjata itu.”

Dengan dandang ditangannya, maka pemimpin kelompok itu akan dapat bertempur dengan lebih baik. Selama ia berkeliaran di Madiun agar tidak menarik perhatian para prajurit atau petugas sandi, ia memang tidak membawa senjata selain sebuah pisau belati pendek yang disimpan dibawah bajunya. Demikian pula Risang, Kasadha, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Karena itulah, maka Risang dan Jati Wulung pun tidak mempunyai senjata lain kecuali pisau belati mereka.

Namun dalam pada itu, setelah pemimpin kelompok itu menggenggam dandang ditangannya, maka ia pun telah memberikan pisau belatinya kepada Risang, sehingga dengan demikian, Risang telah menggenggam sepasang pisau belati di tangan kiri dan kanannya.

Sementara Jati Wulung nampaknya tidak memerlukan senjata lain kecuali pisau belatinya sendiri. Kemampuan dan pengalamannya yang luas telah membuatnya menjadi seorang yang menggetarkan jantung lawan-lawannya.

Para pengikut Kebo Wingit yang tidak segera dapat menguasai lawan-lawannya yang jumlahnya lebih sedikit itu menjadi semakin garang. Darah mereka menjadi mendidih karenanya. Apalagi ketika terdengar Kebo Wingit berteriak lantang., “He, kenapa tidak kalian bunuh saja tikus-tikus itu?”

Namun terdengar Ki Remeng menyahut, “Sulit untuk membunuh mereka. Mereka adalah orang-orang yang sangat liat.”

Persetan dengan igauanmu. Aku akan segera membunuhmu. Kemudian aku akan membantu mereka membunuh pengikut-pengikutmu.”

“Mereka bukan pengikut-pengikutku. Mereka sekelompok orang yang berbuat sesuatu atas nama kewajiban mereka yang jauh lebih luas dari sekedar ketamakanmu.”

“Iblis kau” Kebo Wingit telah meningkatkan serangannya. Tetapi Ki Remeng pun berloncatan dengan cepat pula.

Pertempuran di padang perdu yang luas itu semakin lama memang menjadi semakin garang. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk segera mengalahkan lawannya. Namun ternyata bahwa hal itu tidak mudah mereka lakukan.

Orang yang bertubuh tinggi besar yang bertempur didalam kelompok itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan sekali-sekali ia berteriak memberi aba-aba kepada kawan-kawannya. Namun sulit bagi para pengikut Kebo Wingit itu untuk segera memenangkan pertempuran. Bahkan mereka merasa bahwa lawan-lawan mereka rasa-rasanya menjadi semakin garang.

Namun orang-orang yang menjadi semakin marah itu ternyata memusatkan serangan-serangan mereka justru kepada orang yang mereka anggap paling lemah. Dengan demikian, maka pemimpin kelompok itu harus memaksa diri mengerahkan tenaga dan kemampuannya mengatasi serangan-serangan yang datang beruntun.

Dengan cepat dandang ditangannya itu berputaran. Terayun menyambar-nyambar. Tajamnya dikedua sisi membuat dandang itu menjadi senjata yang berbahaya.

Tetapi serangan-serangan yang datang pun mengalir seperti banjir. Beruntun susul menyusul.

Dalam kesempatan yang memungkinkan, maka Kasadha, Risang maupun Jati Wulung sempat melindunginya jika pemimpin kelompok itu semakin terjepit. Tetapi kadang-kadang kesempatan itu datang terlambat.

Kasadha, Risang dan Jati Wulung terkejut ketika mereka melihat pemimpin kelompok itu tiba-tiba terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian keseimbangan-nya pun menjadi goncang.

Dengan cepat Kasadha meloncat melindunginya ketika seseorang berusaha memburunya. Ketika sebuah parang yang besar terayun mengarah keleher pemimpin kelompok itu, maka Kasadha telah menghantam parang itu dengan linggis ditangannya.

Satu benturan keras telah terjadi. Kekuatan Kasadha yang menghentak itu ternyata jauh lebih besar dari kekuatan lawannya. Karena itu, maka benturan yang terjadi itu sangat mengejutkannya. Parangnya itu pun telah terlepas dari tangannya dan terloncat beberapa langkah dari padanya.

Kasadha tidak memberinya kesempatan, ia menduga bahwa orang itu tentu sudah melukai pemimpin kelompok yang menyertainya itu. Karena itu, maka Kasadha tidak berpikir lebih jauh. Ketika orang itu masih belum sempat memperbaiki keadaannya serta menguasai perasaannya yang terguncang, maka linggis ditangan Kasadha itu sudah terayun deras menghantam tengkuknya.

Orang itu terbanting jatuh. Ia sama sekali tidak sempat menggeliat. Tulang lehernya telah patah oteh hentakan linggis yang diayunkan oleh Kasadha.

Sementara itu, pemimpin kelompok itu memang telah terluka. Lambungnya telah terkoyak oleh parang lawannya. Selagi ia menangkis uluran tombak pendek, maka lawannya yang lain telah menyerangnya dengan parang menyambar lambungnya. Pemimpin kelompok itu terlambat mengelak, sehingga luka telah menganga di lambungnya itu.

Dalam pada itu, maka darah pun telah mendidih di kedua belah pihak. Kemarahan Kasadha telah membakar ubun-ubunnya. Pemimpin kelompok itu bukan sekedar seorang prajurit yang dengan setia dan sepenuh hati membantunya, baik di barak maupun dalam tugas-tugasnya yang lain. Tetapi baginya pemimpin kelompok yang lebih tua daripadanya itu seakan-akan telah menjadi tempatnya mengadu jika perasaannya sedang terguncang. Pemimpin kelompoknya itu telah memberikan petunjuk dan jalan keluar jika perasaannya sedang kalut oleh berbagai macam persoalan. Bukan saja yang menyangkut tugas-tugasnya, tetapi juga persoalan-persoalan pribadinya.

Karena itu, bahwa pemimpin kelompok itu telah terluka, maka jantungnya pun rasa-rasanya telah membara.

Pertempuran yang terjadi kemudian memang menjadi semakin keras dan garang. Para pengikut Kebo Wingit yang kehilangan seorang kawannya pun menjadi marah. Mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, untuk dengan cepat menguasai lawannya yang tinggal tiga orang itu.

Tetapi ketiga orang itu justru telah mengerahkan kemampuan mereka pula. Bukan sekedar ketrampilan dalam olah kanuragan. Tetapi ketiga-tiganya adalah orang-orang yang telah melandasi kemampuannya dengan ilmu yang tinggi.

Ketika pemimpin kelompok yang terluka dilambungnya itu kemudian terduduk di tanah sambil menekan luka dilambungnya dengan tangannya, maka Jati Wulung telah menyambar dandang yang terlempar dari tangan pemimpin kelompok itu. Dengan dandang ditangan, maka Jati Wulung menjadi semakin garang.

Meskipun kemudian Jati Wulung tinggal bertiga dengan Risang dan Kasadha, namun ternyata bahwa lawan-lawannya justru merasa semakin terdesak.

Apalagi Kasadha yang merasa cemas akan keadaan pemimpin kelompok yang terluka itu. Meskipun ia hanya bersenjata linggis, tetapi ternyata bahwa senjata itu mampu menggetarkan jantung lawan-lawannya.

Baru beberapa saat kemudian, maka seorang diantara para pengikut Kebo Wingit itu mengaduh tertahan. Beberapa langkah ia meloncat surut. Tulang lengan kirinya bagaikan menjadi patah ketika linggis ditangan Kasadha itu menghantam lengannya.

Sementara itu, pisau belati rangkap ditangan Risang pun telah menyambar pundak lawannya pula, sehingga orang yang tergores itu mengumpat-umpat dengan kasarnya. Sepasang pisau yang jauh lebih pendek dari tangkai tombaknya itu ternyata mampu menggapai tubuhnya, menyusup di sela-sela putaran landean tombaknya.

Belum lagi umpatan-umpatan kasar itu berhenti, maka sebuah teriakan nyaring telah menggetarkan padang perdu itu. Satu diantara mata dandangnya telah menghunjam dipunggung salah seorang lawannya. Demikian teriakan itu terhenti, maka tubuh itu pun telah terlempar ke tanah dan tidak akan dapat bergerak lagi untuk selama-lamanya.

Orang yang tersisa menjadi semakin gelisah. Ternyata ketiga orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ketika jantung mereka membara, maka mereka telah mengamuk seperti seekor banteng yang terluka.

Kebo Wingit yang melihat kawan-kawannya mulai menyusut, menjadi semakin marah. Dengan kasar ia mengumpat-umpat-sambil menyerang Ki Remeng dengan garangnya.

Sambil mengelakkan serangan-serangan Kebo Wingit, Ki Remeng sempat berkata, “Nah, kau lihat, bahwa orang-orang itu bukan anak-anak kelinci yang lemah dan tidak berdaya?”

“Persetan dengan mereka. Mereka telah kehilangan kawan-kawan mereka.” geram Kebo Wingit.

“Kau mencoba untuk mengelabui matamu sendiri. Meskipun malam gelap, tetapi di tempat terbuka seperti ini, aku yakin bahwa kau juga melihat orang-orangmu yang berjatuhan.”

Kebo Wingit tidak menjawab. Tetapi dengan garangnya ia menyerang Ki Remeng yang berloncatan dengan cepatnya.

Di sisi lain dari arena pertempuran itu, Ki Wirasana menyerang menghentak-hentak. Sementara itu Ki Resa yang sudah agak lama tidak lagi melakukan kegiatan dalam olah kanuragan, memang harus bekerja keras untuk mengimbangi lawannya. Ketika Wirasana bertempur semakin keras, maka Ki Resa pun harus bergerak semakin cepat dan keras pula. Benturan-benturan kekuatan yang beberapa kali terjadi, telah mengisap tenaga Ki Resa Podang. Karena itu, ketika pertempuran itu berlangsung lebih lama lagi, maka keringat pun telah membasahi tubuh Ki Resa Podang.

Meskipun tataran ilmu Ki Resa Podang tidak berada dibawah kemampuan Ki Wirasana, apalagi ketika Ki Resa telah menjadi mapan, namun daya tahan Ki Resa yang sudah jarang sekali berlatih itu telah menjadi susut.

Nampaknya Ki Wirasana melihat kelemahan Ki Resa itu, karena itu, maka Wirasana itu telah berusaha bertempur dengan keras dan kasar, sehingga akan dapat menguras tenaga Ki Resa Podang.

Ki Resa Podang yang menyadari keadaannya, serta usaha lawannya untuk mengikis daya tahannya, berusaha menempat-kan diri sebaik-baiknya. Ki Resa Podang berusaha untuk; menahan diri dan tidak terpancing oleh lawannya yang sengaja memeras tenaganya.

Ketika Ki Resa kemudian menjadi lebih banyak bertahan, maka Wirasana itu memakinya untuk dengan sengaja menyinggung perasaannya agar Ki Resa menjadi marah dan bertempur habis-habisan.

Tetapi Ki Resa yang sudah bukan anak muda lagi itu ternyata mampu mengendalikan dirinya dan bertahan untuk tetap tidak terpancing dalam pertempuran yang keras dan kasar.

Meskipun demikian, Ki Resa masih juga diliputi oleh kegelisahan. Ia mulai merasakan bahwa tenaganya mulai menyusut.

Di sisi lain dari wajah pertempuran itu, Sambi Wulung bertempur dengan garangnya melawan orang yang disebut Gondar-gandir yang dimasa mudanya dikenal bernama Prembun itu. Orang yang bertubuh tinggi itu mampu bergerak dengan cepat. Loncatan-loncatan panjang dan serangan-serangan yang tiba-tiba.

Tetapi Sambi Wulung sama sekali tidak tergetar. Kemampuannya yang tinggi telah berhasil menahan serangan-serangan Gondar-gandir yang datang seperti badai.

Bahkan Gondar-gandir lah yang kemudian menjadi gelisah. Ia sudah hampir sampai ke puncak ilmunya, namun agaknya Sambi Wulung itu masih saja mampu mengimbanginya tanpa kesulitan.

Bahkan Gondar-gandir itu terkejut ketika ia mendengar jerit yang nyaring mengguncang udara padang perdu itu. Seorang lagi kawannya yang bertempur berkelompok itu terlempar dari pertempuran. Tulang-tulang iganya telah berpatahan. Kasadha yang marah telah menghantam dada orang itu dengan linggisnya.

Demikianlah, satu demi satu orang-orang yang bertempur dalam kelompok itu tidak mampu mempertahankan dirinya. Orang yang terluka pundaknya dan masih mencoba untuk ikut bertempur, telah dihentikan pula perlawanannya ketika pisau Risang menghunjam di dadanya, sementara tajamnya dandang ditangan Jati Wulung telah menghancurkan dada orang yang mencoba untuk menyerangnya.

Pertempuran itu merupakan pertempuran yang keras dan bahkan menjadi kasar. Kebo Wingit dan para pengikutnya menjadi semakin gelisah, ketika orang-orangnya satu demi satu terbunuh di pertempuran itu.

Dalam pada itu, Ki Resa Podang memang mengalami kesulitan menghadapi Wirasana. Daya tahan Resa Podang mulai susut, sementara Wirasana masih berusaha bertempur dengan keras dan langkah-langkah panjang. Meskipun Ki Resa Podang sadar akan keadaannya, namun bagaimanapun juga ia memang harus mengerahkan tenaganya. Wirasana yang sadar akan kelemahan Ki Resa, benar-benar telah memanfaatkan kelemahan itu.

Tetapi Ki Resa tidak segera berputus asa. Bagaimanapun juga, Ki Resa Podang memiliki bekal ilmu yang tidak kalah dari lawannya. Meskipun tenaganya telah menyusut, namun asal saja ia tidak kehilangan akal, maka ia masih akan dapat bertahan.

Tetapi Ki Resa tidak dapat ingkar dari kenyataan. Wirasana memiliki kemungkinan jauh lebih baik daripadanya. Serangan-serangannya justru menjadi semakin garang.

Dengan demikian, maka Ki Resa Podang menjadi semakin terdesak, ia terpaksa menghindari lawannya sambil bergeser surut. Ki Resa berusaha untuk menghindari benturan-benturan agar tenaganya tidak semakin jauh susul.

Namun akhirnya, Ki Resa benar-benar terdesak. Sekali-sekali serangan Ki Wirasana telah menghantam tubuhnya. Bahkan ketika kaki Wirasana menggapai dadanya, Ki Resa terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Namun Ki Resa yang masih menyadari keadaannya itu justru menjatuhkan dirinya berguling beberapa kali, kemudian melenting berdiri.

Tetapi begitu ia tegak, maka Wirasana yang memburunya telah siap menyerangnya pula.

Ki Resa Podang yang semakin terdesak itu memang mempertimbangkan untuk mempergunakan ilmu puncaknya. Tetapi Ki Resa menganggap bahwa hal itu akan sia-sia saja. Wirasana juga memiliki ilmu yang sama. Dengan dukungan wadag yang masih lebih segar, maka lontaran kekuatan ilmu Wirasana tidak akan dapat dilam-pauinya. Jika terjadi benturan ilmu, maka Ki Resa Po-danglah yang agaknya akan mengalami kesulitan yang lebih besar.

Karena itu, Ki Resalah yang menunggu. Jika Ki Wirasana akan melepaskan ilmunya yang tertinggi, maka apa-boleh buat. Ki Resa pun harus melindungi dirinya dengan ilmu yang sama. Meskipun mungkin ia akan mengalami kesulitan, tetapi setidak-tidaknya jantungnya tidak akan luluh menjadi debu.

Tetapi pada saat-saat yang demikian, tiba-tiba saja. Risang telah berdiri beberapa langkah dari arena pertempuran itu. Dengan nada berat, Risang berkata, “Ki Resa Podang, aku minta maaf, bahwa aku akan mengganggu pertempuran ini.”

“Anak iblis” bentak Ki Wirasana, “apa yang akan kau lakukan disini?”

“Kau dan Ki Resa Podang tidak sedang berperang tanding. Itulah sebabnya, maka tidak ada keberatannya jika aku memasuki lingkaran pertempuran ini, setelah aku menyelesaikan lawan-lawanku. Bahkan nampaknya saudara-saudaraku yang lain akan segera membantu pula.”

Ki Wirasana ternyata telah membuat perhitungan yang cepat menghadapi keadaan yang gawat. Dengan memperhitungkan akhir dari pertempuran antara sekelompok pengikut Kebo Wingit melawan ampat orang yang telah membebaskan Ki Resa dan Ki Remeng itu, maka Wirasana dapat mengambil kesimpulan, bahwa orang-orang itu tentu juga berilmu tinggi. Karena itu, maka Ki Wirasana tidak ingin dikuasai oleh lawan-lawannya itu.

Tanpa banyak berbicara, maka Ki Wirasana itu segera mempersiapkan ilmu puncaknya. Dengan cepat Ki Wirasana memusatkan nalar budinya. Namun yang menjadi sasarannya bukan Ki Resa Podang yang menurut perhitungannya akan dapat dikuasainya. Tetapi anak muda yang baru datang itu.

Ki Resa Podang melihat sikap Wirasana itu menjadi cemas. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak. Dalam waktu yang sangat pendek, Ki Wirasana telah meloncat sambil mengayunkan tangannya.

Namun ketajaman penglihatan batin Risang telah menangkap isyarat itu. Karena itu, maka secepat lawannya mempersiapkan ilmunya, Risang pun telah bersiap pula untuk menghadapinya. Dibangunkannya ilmunya, Janget Kinatelon.

Demikianlah maka sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras sekali. Ilmu puncak Ki Wirasana yang dilontarkan dengan hentakkan kekuatan dan kemampuannya, telah membentur pertahanan Risang yang dilambari dengan ilmu pamungkasnya pula.

Ki Resa Podang yang tidak sempat berbuat sesuatu hanya dapat berteriak, “Angger. Hati-hati.”

Namun ketegangan yang sangat telah mencengkam jantung Ki Resa Podang. Ia masih belum tahu sejauh mana kekuatan dan kemampuan anak muda yang diaku sebagai kemanakan Ki Remeng itu. Meskipun ketajaman penglihatannya sejak pertama telah menduga bahwa anak muda itu memiliki ilmu kanuragan, tetapi Ki Resa Podang tidak tahu seberapa tinggi tataran ilmu anak-anak muda yang disebut sebagai kemanakan Ki Remeng itu.

Tetapi Ki Resa hanya dapat berdiri dengan tegang, menyaksikan apa yang akan terjadi.

Sebenarnyalah akibat dari benturan itu memang mendebar-kan. Risang memang terdorong beberapa langkah surut. Namun Risang masih mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga ia masih tetap tegak berdiri.

Akibatnya bagi Ki Wirasana ternyata sangat menentukan. Ki Wirasana yang mengayunkan tangannya menghantam kearah dahi Risang itu telah membentur kekuatan ilmu Janget Kinatelon yang tersalur lewat kedua tangan Risang yang bersilang didepan dahinya yang menjadi sasaran serangan Wirasana.

Getar yang dahsyat dari hentakan ilmu Ki Wirasana itu justru telah memental, bahkan didorong oleh kekuatan ilmu Risang yang sangat besar. Lebih besar dari getar dan kekuatan ilmu Wirasana.

Getar balik itulah kemudian yang menyusup dan menghantam bagian dalam dada Ki Wirasana. Demikian dahsyatnya sehingga jsi dadanya itu seakan-akan telah terbakar.

Terdengar Ki Wirasana itu berteriak nyaring. Kemarahan serta penolakannya atas kenyataan yang dialaminya, telah meledak sehingga seakan-akan seluruh padang perdu itu telah bergetar. Batu-batu padas di bukit kecil rasa-rasanya akan pecah dan berguguran menghambur di padang perdu itu.

Namun demikian teriakan itu berhenti, Wirasana jatuh terjerembab dan semuanya seakan-akan menjadi diam.

Kebo Wingit, Ki Remeng, Gondar-gandir dan yang lain seakan-akan telah berdiri membeku beberapa saat. Sementara Risang masih tetap berdiri tegak, sedangkan kedua tangannya telah bersilang didada.

Kebo Wingit yang melihat akibat dari pertempuran itu tiba-tiba saja telah mengambil sikap pula. Ia tidak dapat menunggu orang-orang yang telah kehilangan lawannya itu berdatangan untuk mengeroyoknya dan kemudian membantainya di padang perdu itu.

Karena itu, selagi ia mempunyai kesempatan, maka ia pun telah membangunkan ilmu puncaknya pula. Kebo Wingit itu ingin mempergunakan kesempatan yang ada, selagi Ki Remeng memperhatikan benturan ilmu antara Wirasana dan anak muda yang ternyata berilmu tinggi itu.

Dengan tanpa peringatan lebih dahulu, maka Kebo Wingit pun telah meloncat sambil mengayunkan tangannya ke kening Ki Remeng.

Tetapi Ki Remeng yang mengenal Kebo Wingit yang licik itu ternyata tetap berhati-hati. Demikian ia melihat serangan Kebo Wingit, maka Ki Remeng pun telah mempersiapkan dirinya pula.

Tetapi Ki Remeng yang masih tetap mempergunakan penalarannya itu, tidak membentur kekuatan ilmu Kebo Wingit meskipun ia merasa mampu. Namun dengan tangkasnya Ki Remeng telah menghindarinya.

Kebo Wingit terkejut, ia tidak mengira bahwa Ki Remeng menyadari serangan yang dilakukannya. Karena itu, maka ayunan tangannya yang tidak mengenai sasaran justru telah menyeretnya beberapa langkah. Namun Kebo Wingit dengan cepat menguasai dirinya. Dengan cepat pula ia berbalik untuk menghadapi Ki Remeng.

Tetapi Ki Remeng juga bertindak cepat. Justru karena Kebo Wingit telah menyerangnya dengan licik, maka Ki Remeng pun merasa dapat pula melakukannya. Karena itu, demikian Kebo Wingit berbalik untuk menghadapi segala kemungkinan, Ki Remeng tidak memberinya kesempatan. Ki Remeng pun merasa dibenarkan untuk menyerang Kebo Wingit sebelum memberinya peringatan lebih dahulu.

Karena itu, demikian Kebo Wingit berputar, maka tangan Ki Remeng telah menyerang dengan derasnya mengarah ke dadanya. Ki Remeng tidak mengayunkan tangannya, tetapi ia telah meloncat sambil menyerang dengan jangkauan lurus mengarah kedada.

Serangan yang dilambari dengan kekuatan ilmunya itu memang tidak tertahankan. Justru saat Kebo Wingit sedang memutar tubuhnya untuk menghadapi Ki Remeng.

Karena itu, maka tidak ada ampun lagi. Dada Kebo Wingit seakan-akan telah meledak, Seisi dadanya rasa-rasanya telah pecah terhambur didalam rongga dadanya.

Kebo Wingit terlempar beberapa langkah surut dan langsung jatuh terlentang tanpa mengaduh lagi.

Ki Remeng sendiri tergetar selangkah surut. Namun demikian ia melihat Kebo Wingit terbanting jatuh, maka Ki Remeng pun menjadi sangat tegang.

Kasadha yang tidak lagi mempunyai lawan melangkah mendekatinya. Sementara Ki Remeng pun berdesis, “Aku telah membunuh lagi. Bahkan saudara seperguruanku.”

“Ki Remeng tidak mempunyai pilihan lain.” berkata Kasadha.

Ki Remeng menarik nafas dalam-dalam, ia pun merasakan dadanya menjadi nyeri. Tetapi daya tahan Ki Remeng masih mampu mengatasinya.

Sementara itu, Sambi Wulung masih bertempur melawan Gondar-gandir yang dikenalnya bernama Prembun itu. Dengan kemarahan yang memuncak Gondar-gandir berusaha untuk segera menghancurkan Sambi Wulung. Namun justru kawan-kawannyalah yang telah dihancurkan oleh lawan-lawannya. Beberapa saat kemudian, Jati Wulung telah berdiri tidak terlalu jauh dari arena pertempuran. Kemudian bahkan Risang dan Ki Remeng.

Untuk beberapa saat Kasadha termangu-mangu. Tetapi setelah ia melihat kemungkinan yang bakal terjadi, maka ia pun telah melangkah mendekati pemimpin kelompok yang terbaring sambil mengerang menahan sakit.

Sambil berjongkok disisinya Kasadha berkata, “Nanti, kau akan mendapat obat yang baik bagi luka-lukamu. Sekarang, biarlah aku menaburkan serbuk obat yang dapat mengurangi arus darahmu yang keluar.”

Tetapi suara pemimpin kelompok itu parau, “Tidak perlu lagi Ki Lurah. Lukaku sudah tidak mungkin diobati.”

“Jangan mendahului kehendak Yang Maha Agung. Segala kemungkinan masih dapat terjadi.”

Namun Kasadha terkejut ketika ia mendengar suara tertawa yang meledak. Dengan lantang Gondar-gandir itu berteriak, “Jadi kalian ingin menangkap aku hidup-hidup untuk memberikan keterangan tentang Ki Mawur? Omong kosong. Kalian tidak akan dapat menangkap aku hidup. Kalian tidak akan dapat memaksa aku untuk berbicara tentang Ki Mawur.”

Tetapi beberapa orang telah mengepung orang itu. Ki Resa yang letih, Ki Remeng, Risang dan Jati Wulung. Sementara Sambi Wulung langsung menghadapi orang itu.

Untuk beberapa saat suasana menjadi sangat tegang. Ketika orang-orang yang mengepung itu melangkah semakin dekat, maka mereka terkejut. Mereka melihat Gondar-gandir itu memasukkan sesuatu kedalam mulutnya.

Yang terdengar kemudian adalah suara tertawanya. Keras, tetapi kering dan parau.

“Kalian hanya akan mendapatkan tubuhku. Tetapi tidak dengan jiwaku. Tidak akan ada seorang pun yang akan mampu menguasai jiwaku yang akan berbuat menurut kehendaknya sendiri.”

Tidak seorang pun mampu berbuat sesuatu. Perlahan-lahan orang yang bertubuh tinggi itu mulai kehilangan keseimbangan-nya. Namun sesaat kemudian ia pun telah jatuh terguling di tanah. Gondar-gandir itu ternyata telah membunuh dirinya sendiri.

Beberapa orang berdiri termangu-mangu untuk beberapa saat mengerumuni tubuh Gonadar-gandir. Namun kemudian mereka pun telah teringat pula kepada pemimpin kelompok yang nampaknya sedang pasrah. Meskipun obat yang kemudian ditaburkan oleh Kasadha mampu mengurangi arus darahnya yang mengalir dari luka, tetapi keadaannya memang sudah menjadi gawat.

Ki Remeng yang kemudian berjongkok disampingnya berdesis, “Bertahanlah. Aku akan mencari air. Aku mempunyai obat yang barangkali dapat membantumu.”

Pemimpin kelompok itu berdesis. Tetapi ia tidak menolak, karena sebagaimana dikatakan oleh Kasadha, sebaiknya ia tidak mendahului kehendak Yang Maha

Agung, meskipun ia merasa bahwa keadaannya sudah menjadi terlalu buruk.

Ketika Ki Remeng kemudian bangkit untuk mengambil air, maka Jati Wulung lah yang kemudian berkata, “Biarlah aku mengambilnya.”

Tetapi belik yang menampung air dari celah-celah batu padas itu memang tidak terlalu dekat. Karena itu Jati Wulung memang memerlukan waktu beberapa saat. Ketika ia datang, maka ia membawa selembar daun talas yang lebar dengan air didalamnya.

Tetapi keadaan pemimpin kelompok itu benar-benar sudah parah. Meskipun demikian ia tidak menolak ketika Ki Remeng memasukkan sebutir obat disela-sela bibirnya. Kemudian menitikkan air yang melarutkan obat itu sehingga masuk kedalam kerongkongannya.

Pemimpin kelompok itu memang tersenyum. Namun ia sudah menjadi sangat lemah.

Meskipun demikian obat itu memang memberinya kekuatan meskipun tidak mampu mengatasi batas yang memang sudah digariskan baginya. Namun pemimpin kelompok itu kemudian sempat tersenyum dan berkata, “Ki Lurah. Tugas Ki Lurah belum selesai. Aku mohon maaf, bahwa aku tidak dapat membantu Ki Lurah sampai tuntas.”

“Kau harus bertahan” berkata Kasadha, “kita harus menyelesaikan tugas kita.”

Tetapi pemimpin kelompok itu menarik nafas panjang. Namun kemudian nampak betapa ia menahan sakit yang menusuk sampai ke ubun-ubun.

Dengan lemah orang itu kemudian masih berkata, “Aku mohon diri Ki Lurah, Risang, dan semuanya.”

Suaranya pun kemudian lepas mengiringi lepasnya nyawa pemimpin kelompok itu, Perlahan-lahan matanya pun terpejam disaat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kasadha menundukkan kepalanya. Betapa hatinya terluka oleh kematian pemimpin kelompoknya itu. Seorang yang dapat menjadi tempat untuk menimbang langkah-langkah kehidupan.

Tetapi Kasadha memang harus pasrah. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat mencegahnya jika batas waktu itu datang.

“Kita harus merelakannya” desis Sambi Wulung kemudian.

Kasadha mengangguk. Namun ia pun kemudian bangkit berdiri, melangkah beberapa langkah sambil memandang bintang-bintang dilangit. Terasa matanya menjadi hangat.

Suasana menjadi hening sesaat. Beberapa sosok tubuh terbujur lintang diatas tanah berbatu padas.

“Satu pertempuran habis-habisan” berkata Risang didalam hatinya, “Kebo Wingit dan pata pengikutnya tidak seorang pun yang mampu bertahan hidup. Prembun yang dikenal bernama Gondar-gandir itu ternyata memilih mati daripada tertangkap hidup-hidup, ia merasa bahwa nasibnya akan menjadi sangat buruk jika ia jatuh ke tangan Ki Remeng dan Ki Resa Podang.

Sejenak kemudian, terdengar Sambi Wulung berkata, “Marilah ngger. Kita masih mempunyai tugas untuk mengubur mereka yang terbunuh. Kemudian menimbun kembali lubang yang telah mereka gali untuk menemukan benda-benda berharga itu.”

Kasadha seakan-akan telah terbangun dari mimpi yang sangat buruk. Namun ternyata bukan sekedar mimpi buruk. Tetapi yang buruk itu memang telah terjadi sebenarnya. Pemimpin kelompoknya yang terbaik telah terbunuh.

Bahkan Kasadha sempat menyesali dirinya sendiri, “Jika aku tidak membawanya, maka ia tidak akan mati.”

Tetapi kembali kesadarannya tentang batas kehidupan menyusup dihatinya. Dimana pun seseorang berada, jika kematian itu datang menjelang, maka seseorang tidak akan dapat mengingkarinya.

Yang kemudian mereka kerjakan adalah menggali lubang-lubang kuburan bagi orang-orang yang telah terbunuh di pertempuran itu. Mereka tidak sampai hati untuk memasukkan orang-orang itu kedalam lubang galian yang telah dibuat oleh orang-orang yang terbunuh itu sendiri dan menimbuninva.

“Tidak sepantasnya mereka dilemparkan kedalam satu lubang” desis Sambi Wulung.

Namun satu diantara sosok tubuh yang dikuburkan itu telah dipisahkan dari yang lain. Dengan tetenger khusus, pemimpin kelompok itu dikubur dekat batu besar sehingga dengan mudah dapat dikenali jika pada satu saat mereka memerlukannya.

Ternyata mereka tidak dapat menyelesaikan pekerjaan itu sampai fajar menyingsing.

Baru ketika matahari menjadi semakin tinggi, mereka selesai dengan menguburkan sosok-sosok tubuh yang membeku itu.

Untuk beberapa saat mereka beristirahat. Tetapi masih ada lubang yang menganga yang harus mereka timbun pula.

Tetapi agaknya Kasadha dan Risang merasa ragu untuk menimbun lubang itu. Bahkan mereka mempunyai pertimbangan lain.

“Kenapa?” bertanya Sambi Wulung.

“Jika ada orang yang melihat lubang ini, maka mereka akan mengira bahwa benda-benda berharga itu memang sudah ditemukan orang. Dengan demikian mungkin akan dapat mengurangi nafsu beberapa orang untuk menemukannya.” berkata Risang.

“Meskipun ada kemungkinan lain” sahut Jati Wulung, ”jika mereka menganggap bahwa benda-benda berharga itu tidak lagi tersimpan, maka orang-orang itu akan saling memburu. Mereka akan saling mencurigai, sehingga kematian akan dapat tersebar dimana-mana. Orang-orang yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu akan dapat menjadi korban.”

Tetapi ternyata Sambi Wulung kemudian dapat mengerti maksud Risang dan Kasadha itu. Katanya, “Kemungkinan seperti yang dikatakan oleh Jati Wulung itu memang dapat terjadi. Tetapi mungkin juga dapat memupus ketamakan yang sampai saat ini memang sudah meledak-ledak. Kecurigaan memang sudah tersebar justru dilingkungan keluarga sendiri. Karena itu, menurut pendapatku, biar saja lubang itu menganga. Meskipun mungkin tidak seorang pun yang akan pernah melihat lubang itu di waktu-waktu mendatang.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Ki Remeng pun bertanya, “Tetapi apakah yang sebenarnya terjadi? Aku menyaksikan sendiri dan bahkan aku ikut pula memindahkan benda-benda berharga itu ke-lubang ini. Tetapi ketika lubang ini digali, benda-benda berharga itu tidak diketemukan didalamnya.

“Untunglah bahwa benda-benda berharga itu tidak diketemukan” berkata Kasadha.

“Ya, untunglah. Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi?” bertanya Ki Remeng.

“Kita semuanya memang harus berhati-hati. Ada seribu kemungkinan dapat terjadi. Kami pun menjadi bingung ketika tiba-tiba Ki Resa dan Ki Remeng hilang” jawab Risang. Bahkan katanya kemudian, “Kami mohon maaf, bahwa kami sudah berprasangka buruk. Ketika kami melihat batang-batang padi yang rusak di sawah, maka kami menduga bahwa yang terjadi adalah satu permainan. Bagaimana pula Ki Resa dapat memberikan pesan terperinci kepada anaknya, jika ia sendiri terlibat dalam pertempuran. Kerusakan disawah itu sama sekali tidak seimbang dengan gambaran kami, bahwa telah terjadi pertempuran yang sengit antara Ki Resa dan Ki Remeng melawan orang-orang yang menangkapnya. Bahkan jika tidak terjadi kerusakan sama sekali kami tidak menjadi curiga, karena pertempuran terjadi di jalan bulak. Kami menjadi semakin gelisah justru ketika kami tidak dapat menemukan paman Sambi Wulung dan Jati Wulung.”

Ki Resa Podang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami tidak berdaya sama sekali ngger. Tiba-tiba saja aku dihadapkan pada satu kekuatan yang menurut pendapatku tidak akan terlawan. Mereka menguasai anakku dan mengancamnya. Segala yang terjadi adalah menurut saja keinginan orang-orang itu yang sebagian adalah saudara-saudara seperguruanku. Mereka mengetahui bahwa Ki Remeng ada di rumahku. Dengan mengancam keselamatan anak sulungku dan keluargaku, maka mereka memancing Ki Remeng untuk datang kesawah. Untunglah bahwa Ki Remeng telah datang sendiri, sehingga kalian berdua yang diaku sebagai kemanakan Ki Remeng itu dapat berbuat sesuatu atau setidak-tidaknya tidak menjadi korban atau barang taruhan.”

Yang mendengarkan keterangan itu hanya dapat menganguk-angguk. Sementara itu Ki Remeng melanjutkan, “Sementara aku pun tidak dapat berbuat banyak.

Mereka mengancam keluarga Ki Resa dan bahkan Ki Mawur. Aku sudah bertemu dengan Ki Mawur yang memang sedang sakit parah. Dengan mengancam keselamatan Ki Mawur mereka memaksa aku menunjukkan benda-benda berharga. Bagiku, seperti juga bagi Ki Lurah Mertapraja, sekelamatan Ki Mawur memang lebih berharga dari benda-benda yang disembunyikan itu. Karena itu, aku telah memberanikan diri untuk menunjukkan tempat benda-benda itu tersimpan demi keselamatan Ki Mawur.”

“Apakah Ki Remeng yakin, bahwa setelah harta-benda itu diketemukan, Ki Mawur akan selamat?”

“Aku berpendapat demikian, karena aku masih melihat bagaimana sebagian dari mereka masih menghormati Ki Mawur. Sebenarnyalah yang mereka inginkan adalah benda-benda berharga itu. Karena itu, jika benda-benda berharga itu dapat diketemukan, maka mereka tentu akan meninggalkan Ki Mawur dan menghilang tanpa dapat ditelusur jejaknya. Sedangkan aku sendiri, aku memang berpendapat, bahwa demikian benda-benda ini diketemukan, aku akan dikubur didalam lubang itu. Tetapi aku tidak sampai hati melihat penderitaan yang akan menimpa Ki Mawur jika aku tidak menunjukkan apa yang mereka cari.”

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Meskipun mereka merasa kecewa bawa Ki Remeng telah menunjukkan benda-benda berharga itu, namun keduanya dapat mengerti alasan Ki Remeng sehingga ia memang tidak dapat berbuat lain.

Dalam pada itu, Risang pun bertanya, “Jadi kemana paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung selama ini?”

“Kami memang mengamati rumah Ki Resa. Kami melihat anak sulung Ki Resa yang dipaksa untuk memanggil Ki Remeng dengan ancaman. Kami melihat dan mengikuti Ki Remeng sampai kesawah. Dan selanjutnya kami mendengar apa yang dibicarakan. Bahkan kami sempat mengikuti Ki Remeng sampai ketempat Ki Remeng dan Ki Resa disimpan oleh orang-orang yang membawanya. Itulah sebabnya, kami tidak dapat meninggalkan pengawasan kami. Kami kemudian mengikuti Ki Resa dibawa ketempat ini.”

Risang dan Kasadha mengangguk-angguk. Namun kemudian Kasadha itu bertanya, “Apakah sekelompok orang yang membawa Ki Resa dan Ki Remeng itu tidak menarik perhatian? Terutama prajurit Madiun atau petugas sandinya?”

“Rumah itu tidak berada di dalam kota Madiun” jawab Sambi Wulung.

Wajah kedua orang anak muda itu menegang. Mereka berbareng berpaling kepada Ki Remeng dan Ki Resa.

Ki Remeng lah yang kemudian mengangguk sambil menjawab, ”Benar ngger. Mereka telah membawa kami kesebuah rumah yang tidak berada didalam kota.”

“Dan Ki Mawur sekarang ada disana?” bertanya Kasadha.

“Ya. Ki Mawur rrjernang ada disana,” jawab Ki Remeng.

“Kita masih mempunyai beban yang berat. Menyelamatkan Ki Mawur dan menyelamatkan benda-benda berhaga itu. Tugas untuk menyelamatkan Ki Mawur semata-mata adalah tugas kemanusiaan.” desis Kasadha.

Ki Remeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “jika angger berdua benar-benar akan melanjutkan tugas kemanusiaan itu, aku akan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Meskipun aku sudah berkhianat dengan menunjukkan tempat penyimpanan benda-benda berharga itu, namun kalian masih tetap akan melanjutkan usaha kalian untuk membebaskan Ki Mawur.”

“Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan. Aku sudah kehilangan seorang prajuritku yang paling baik. Tetapi aku memang harus pasrah. Kecuali orang itu memang sudah menapak pada garis kepastiannya, aku juga tidak boleh memperkecil arti seorang prajurit yang telah gugur dalam tugasnya.”

“Tetapi yang aku tidak mengerti ngger. Bagaimana mungkin benda-benda berharga itu tidak berada di tempatinya?” bertanya Ki Remeng.

“Ki Remeng tidak usah cemas, Benda-benda berharga itu berada di tempat yang aman. Sementara itu, kita akan berusaha membebaskan Ki Mawur dari tangan orang-orang yang sekarang menguasainya.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Sementara Ki Resa yang lebih banyak berdiam diri itu mulai bertanya, “Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak semuanya ini?”

“Aku adalah seorang yang mengemban tugas untuk menyelamatkan benda-benda berharga itu Ki Resa. Bukan karena ketamakan dan keserakahanku pribadi,atau kelompok yang datang bersamaku. Kami berharap bahwa benda-benda berharga itu akan memberikan arti yang lebih luas bagi orang banyak, serta tidak jatuh ketangan orang-orang yang menentang kebijaksanaan pemimpin kami.”

Ki Resa mengerutkan dahinya. Tetapi ia masih juga bertanya, “Siapakah pemimpin yang memerintahkan angger untuk menyelamatkan benda-benda berharga serta pusaka-pusaka itu?”

“Memang tidak akan menguntungkan perguruan Wukir Gading. Tetapi kami sudah bertekad untuk melakukannya. Karena itu, kami akan berusaha dengan segenap kemampuan kami, bahwa tugas itu akan dapat kami selesaikan.” jawab Kasadha. Tetapi katanya kemudian

“Namun kami juga disampiri tugas kemanusiaan, menyelamatkan Ki Mawur. Bukan hanya bagi kepentingan Ki Mawur sendiri, tetapi juga bagi kepentingan Ki Lurah Mertapraja.”

Ki Resa mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa anak muda itu telah menyatakan ketetapan hatinya. Sementara itu ia datang dengan beberapa orang yang berilmu sangat tinggi.

Ki Resa menyadari, hanya orang-orang berilmu sangat tinggi sajalah yang akan dapat mengikuti sekelompok orang yang membawanya bersama Ki Remeng tanpa diketahui. Bahkan sampai ke padang perdu ini. Bahkan anak yang masih muda itu mampu melawan dan bahkan menghancurkan perlawanan Ki Wirasana meskipun ia sudah mengetrapkan ilmu puncaknya. Yang lain juga tidak dapat dikalahkan oleh orang yang menyebut dirinya Gondar-gandir.

Ki Resa itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kalian memang terdiri dari sekelompok orang yang berilmu sangat tinggi.” Ki Resa itu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya, “Sebagai seorang murid dari perguruan Wukir Gading, seharusnya aku masih harus mempertanyakan banyak hal dalam hubungannya dengan benda-benda berharga itu. Tetapi mengingat apa yang sudah kalian lakukan serta kepercayaan kami akan kejujuran kalian, maka kami tidak mempunyai pilihan lain kecuali membantu kalian, setidak-tidaknya tidak meng-halangi tugas kalian. Apalagi usaha kalian untuk membebaskan Ki Mawur dari tangan-tangan orang yang sudah memberontakl terhadap kepemimpinan Wukir Gading.” Namun Ki Resa itu masih juga ingin mengesahkan sikapnya sehingga ia pun bertanya kepada Ki Remeng

“Bukankah demikian menurut pendapatmu, Ki Remeng.”

Ki Remeng mengangguk sambil menjawab., “Ya. Bagiku yang terpenting adalah keselamatan Ki Mawur. Karena itu, maka aku akan melakukan apapun juga untuk keselamatannya. Apalagi jika ada usaha untuk menyelamatkannya, maka aku akan bersedia menjadi tumbalnya.

“Nah, anak-anak muda” berkata Ki Resa, “kita lidak mempunyai banyak kesempatan. Kita akan pergi untuk mengambil Ki Mawur itu. Jika malam ini kita tidak berhasil membebaskannya, sedangkan mereka yang pergi mengambil benda-benda berharga tidak kunjung datang, maka mereka yang menunggui dan menjaga Ki Mawur dapat mengambil tindakan yang berbahaya bagi keselamatannya.”

Kasadha mengangguk kecil. Tetapi ia masih saja ragu-ragu. Risang dan kedua orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Sembojan itu dengan suka rela ikut memanggul beban tugasnya. Karena itu, maka untuk melangkah selanjutnya, Kasadha masih harus bertanya kepada mereka, apakah mereka masih bersedia dengan sukarela meneruskan rencana mereka untuk membebaskan Ki Mawur justru memasuki babakan yang paling gawat.

Namun Risang tanggap akan keragu-raguan Kasadha. Karena itu, maka Risang itu pun berkata, “Kita tidak akan berhenti separo jalan. Kita akan menyelesaikan beban tugas ini sampai tuntas. Termasuk tugas kemanusiaan, membebaskan Ki Mawur yang juga berarti meredam goncangan-goncangan jiwa Ki Lurah Mertapraja.”

“Baiklah” berkata Kasadha, “aku sudah bersiap.”

“Tetapi, apakah orang-orang Wukir Gading yang berpihak Ki Mawur tidak dapat dihubungi?” bertanya Risang.

“Sebenarnyalah kita sulit untuk mengetahui, siapakah yang berpihak kepada Ki Mawur dengan jujur” jawab Ki Remeng, “karena itu, bagiku, lebih baik kita tidak usah menghubungi siapapun. Jika kita salah langkah, kita justru akan terjebak. Benda-benda yang nilainya tidak terhitung itu akan dengan mudah menjerat seseorang kedalam bentuk pengkhianatan yang bermacam-macam ujudnya. Bahkan mungkin lebih jahat dari Kebo Wingit dan Wirasana.”

“Baiklah. Jika demikian kita akan pergi.” berkata Kasadha. Namun ia pun masih bertanya kepada Ki Remeng, “Apakah Ki Remeng masih tetap ingin mengetahui, kenapa benda-benda berharga itu tidak berada di tempatnya?”

“Ya ngger. Tetapi aku sama sekali tidak ingin tahu dimana benda-benda itu berada, karena ternyata mulutku masih juga menyebut apapun alasannya, tempat benda-benda itu disimpan. Untunglah bahwa benda-benda itu tidak diketemukan.”

“Baiklah Ki Remeng” berkata Kasadha, “benda-benda itu sudah diselamatkan. Kami memang harus minta maaf, bahwa kami masih juga tetap mencurigai Ki Remeng dan memindahkan benda-benda berharga itu.”

“Tetapi angger berdua selalu bersamaku” sahut Ki Remeng.

“Bukankah ada diantara kami yang tidak selalu bersama dengan Ki Remeng?” Kasadha justru bertanya.

Ki Remeng mengangguk-angguk. Diluar sadarnya Ki Remeng telah berpaling kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berdiri termangu-mangu. Namun keduanya pun kemudian tersenyum melihat kerut di dahi Ki Remeng itu.

Demikianlah, maka mereka pun telah memutuskan untuk berusaha membebaskan Ki Mawur malam itu juga. Namun mereka tidak akan mengungkung diri di padang perdu itu. Mereka akan keluar lewat jalan melingkar, menyusuri sungai kecil dan muncul di tempat yang jauh. Mereka akan memecah diri menjadi dua kelompok. Namun mereka berjanji untuk berada di kedai yang sama meskipun tetap terpisah untuk tidak menarik perhatian.

Mereka memang menganggap perlu untuk makan lebih dahulu. Karena mereka akan melakukan tugas yang berat, sehingga kesiagaan wadag mereka pun harus dijaga. Karena tanpa dukungan kewadagan mereka, maka rencana mereka akan dapat terhambat.

Risang kemudian akan memisahkan diri bersama Sambi Wulung dan Ki Remeng, sementara Kasadha bersama Jati Wulung dan Ki Resa.

Setelah mereka nanti selesai makan, maka mereka akan menentukan, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berhasil melihat rumah tempat Ki Mawur disimpan. Mereka berhasil mengamati Ki Resa dan Ki Remeng ketika keduanya dibawa oleh para pengikut Kebo Wingit.

Demikianlah, maka di tengah hari mereka mulai bangkit. Mula-mula mereka pergi ke belik yang menampung air yang menyusup diantara batu-batu padas untuk membersihkan diri dan minum secukupnya. Baru kemudian mereka meninggalkan padang perdu itu lewat tengah hari.

Di sore hari mereka telah berada disebuah kedai yang ditentukan oleh Sambi Wulung, karena Sambi Wulung pernah pergi ke kedai itu sebelumnya. Kedai itu adalah kedai yang kecil dan tidak terlalu banyak dikunjungi prang. Makanan dan minuman yang disediakan pun sangat terbatas.

Namun itu tidak penting bagi orang-orang yang lapar dan menjelang tugas-tugas berat berikutnya.

Karena itu, apapun yang ada, mereka tidak menolak.

Setelah mereka keluar dari kedai itu, Sambi Wulung sempat berbisik ditelinga Jati Wulung untuk menentukan dimana mereka akan bertemu dan berbicara.

Menjelang senja, maka keenam orang itu pun bertemu dibawah bayangan gerumbul-gerumbul perdu ditepi sungai yang jarang dilewati orang. Mereka telah membicarakan dengan terperinci, apa yang akan mereka lakukan untuk membebaskan Ki Mawur dari tangan orang-orang Wukir Gading yang telah memberontak dan bahkan mengakhiri guru mereka sendiri dan melukai Ki Mawur, orang kepercayaan guru yang memimpin padepokan Wukir Gading itu.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 60

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s