SST-58

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-58KENAPA kedua orang anak muda itu tidak mengalami kesulitan untuk mengalahkan setan tua yang buruk ini?” pertanyaan itu telah mengganggunya. Jika Ki Remeng ternyata berilmu sangat tinggi, maka kedua orang anak muda itu tentu juga berilmu tinggi, sehingga kawan-kawannya juga akan mengalami kesulitan.

“Remeng” geram Ki Surabawa kemudian, “ternyata selama kita berpisah, kau mampu mengembangkan ilmumu dengan baik. Tetapi kau jangan bermimpi bahwa kau akan dapat mengalahkan aku.”

“Aku tidak bermimpi, Surabawa. Tetapi bahwa aku akan mengalahkanmu itu adalah satu kenyataan yang tidak akan dapat kau ingkari. Karena itu menyerahlah.”

“Jangan sombong Remeng. Aku bukan tikus-tikus clurut sebagaimana yang telah kau bunuh dan kau kubur dibelakang rumahmu.”

“Kau memang bukan tikus clurut, Surabawa. Tetapi apa bedanya tikus clurut dengan tikus tanah?” sahut Ki Remeng.

“Persetan kau Remeng. Kau merasa mempunyai kawan anak-anak muda berilmu tinggi. Tetapi kau akan menyesal. Setelah pertempuran ini selesai, maka kau pun akan dibantai di lereng bukit ini.”

“Seandainya demikian, maka aku akan merasa lebih senang daripada dibantai oleh saudara seperguruanku sendiri yang telah berkhianat.” jawab Ki Remeng.

“Kau memang berhati iblis, Remeng” geram Surabawa.

Ki Remeng tidak menjawab. Namun pertempuran pun berlangsung semakin sengit. Ki Remeng masih saja lebih banyak bertahan, sementara Surabawa bergerak semakin lama semakin cepat.

Namun pada saat Surabawa kehilangan sasaran, karena tiba-tiba saja Ki Remeng meloncat kesamping, maka tiba-tiba saja pekatik tua itu telah menghentakkan kemampuannya. Dengan tidak diduga, maka Ki Remeng telah menyerang Surabawa.

Surabawa memang terkejut. Karena itu, maka ia tidak sempat mengelak. Serangan Ki Remeng yang langsung mengarah kedadanya telah dibenturnya dengan menyilangkan tangannya di dadanya.

Ki Remeng ternyata telah tergetar, ia justru meloncat selangkah surut.

Namun dalam pada itu, Surabawa telah terdorong pula beberapa langkah mundur.

Namun sejenak kemudian, keduanya telah bersiap kembali untuk menghadapi segala kemungkinan.

Ki Remeng ternyata tidak ingin bertempur berkepanjangan. Karena itu, maka Ki Remeng telah berniat untuk mengakhiri pertempuran itu. Karena itu, maka Ki Remeng yang telah berdiri beberapa langkah dari Surabawa itu segera memusatkan nalar budinya. Disiapkannya puncak kemampuannya untuk mengakhiri pertempuran itu. Ki Remeng memang tidak dapat memastikan, apakah ia mampu mengatasi ilmu Surabawa, saudara seperguruannya itu. Namun bagi Ki Remeng, maka salah seorang di-antara mereka pada akhirnya tentu akan mati juga.

Karena itu, maka Ki Remeng pun telah menakupkan kedua telapak tangannya. Ketika dari sela-sela kedua telapak tangannya yang digosokkannya itu nampak asap tipis yang mengepul, maka Ki Surabawa pun mengetahui, bahwa Ki Remeng benar-benar telah sampai kepuncak ilmunya.

Ki Surabawa yang memiliki landasan ilmu yang sama itu pun segera berbuat hal yang sama pula. ltu pun telah menakupkan kedua telapak tangannya pula. Menggosokkan yang satu dengan yang lain dan seperti telapak tangan Ki Remeng, maka asap yang tipis pun telah mengepul pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Remeng telah meloncat sambil mengayunkan tangannya mengarah ke dahi Ki Surabawa.

Sementara itu, Ki Surabawa pun telah siap pula menghadapinya, ia sama sekali tidak berusaha menghindar. Bagaimanapun juga pertempuran itu memang harus berakhir.

Karena itu, maka Ki Surabawa pun telah mengayunkan tangannya pula membentur ayunan tangan Kiai Remeng.

Benturan yang keras pun telah terjadi. Dua kekuatan ilmu dari sumber yang sama telah beradu.

Akibatnya memang sangat mengejutkan. Ki Remeng terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian tidak lagi dapat mempertahankan keseimbangannya, sehingga ia pun terbanting jatuh diatas tanah berbatu padas.

Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Sekali Ki Remeng itu menggeliat. Namun kemudian tulang-tulangnya bagaikan berpatahan, sehingga Ki Remeng itu hanya dapat mengerang kesakitan.

Sedangkan akibat yang terjadi atas Surabawa ternyata lebih parah lagi. Ilmu Ki Remeng yang meskipun bersumber dari perguruan yang sama, namun selapis lebih tinggi itu telah melemparkannya beberapa langkah. Ketika Surabawa itu jatuh terlentang sebagaimana Ki Remeng, kepalanya telah membentur sebongkah batu yang banyak terdapat dilereng bukit itu.

Akibatnya ternyata telah menentukan akhir dari pertempuran itu. Ki Surabawa sama sekali tidak mampu mengeluh.

Ternyata Ki Surabawa itu pun telah mati meskipun penyebabnya bukan saja getar benturan yang memukul dadanya, tetapi juga karena kepalanya telah membentur batu sehingga tulangnya menjadi retak.

Jati Wulung yang melihat keadaan Ki Remeng segera berlari mendekati. Namun ia sempat berdesis, ”Hati-hati. Awasi peti-peti ini.”

Ketika Jati Wulung kemudian berjongkok disisi Ki Remeng, maka Jati Wulung pun mengetahui, bahwa Ki Remeng telah pingsan.

Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak tahu dimana ia mendapatkan air.

Karena itu, maka yang dilakukan oleh Jati Wulung hanyalah membuka bagian dada baju Ki Remeng agar tubuhnya terasa segar oleh embun malam yang menitik.

Sementara itu, Kasadha, Risang dan Sambi Wulung masih bertempur dengan sengitnya. Namun sebenarnyalah Kasadha dan ternyata juga Risang, seakan-akan justru sedang menguji kemampuan mereka masing-masing.

Jika mereka sebelumnya bertempur melawan Ki Remeng berdua, maka kini mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada kemampuan mereka sendiri-sendiri.

Kasadha yang bertempur melawan orang yang bertubuh raksasa itu bukan saja berusaha untuk mendesak dan menguasai lawannya. Tetapi ia masih juga sempat menilai kemampuannya sendiri yang ditingkatkannya selapis demi selapis.

Dengan demikian, maka Kasadha dapat meyakini betapa ilmunya memang telah meloncat jauh dari sebelumnya. Saat-saat ia berada di sanggar merupakan saat yang sangat berarti baginya. Dan ia pun menyadari, bahwa kesempatan itu didapatkannya karena Ki Rangga Dipayuda memang dengan sungguh-sungguh membantunya.

Tanpa usaha Ki Rangga Dipayuda, maka Kasadha tidak akan mendapat kesempatan itu.

Karena itulah, maka selain kepada gurunya, ia pun merasa sangat berterima kasih kepada Ki Rangga.

Dengan keyakinan akan kemampuannya, maka Kasadha pun kemudian telah berniat untuk segera mengakhiri pertempuran. Apalagi setelah Ki Remeng dan lawannya bersama-sama terpelanting jatuh. Kasadha belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Ki Remeng dan Ki Surabawa.

Dalam pada itu, Risang pun telah meningkatkan ilmunya sampai ke puncak pula. Ia pun merasakan betapa kemampuannya telah jauh meningkat. Dengan landasan ilmu yang diwarisinya dan laku yang berat disaat terakhir, maka ia mampu mengimbangi lawannya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan dan berilmu tinggi itu. Dengan pertempuran itu, maka Risang pun menjadi semakin yakin akan dirinya bahwa ia telah mencapai satu tataran yang tinggi.

Dengan demikian, maka baik Kasadha maupun Risang telah memanjatkan ilmunya sampai kebatas tertinggi.

Ternyata kedua lawannya, termasuk orang-orang berilmu tinggi dari perguruan Wukir Gading itu tidak mampu lagi melawan anak-anak muda yang justru mulai mengembangkan sayap-sayap ilmu mereka, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kedua orang itu sudah benar-benar terdesak.

Sementara itu, Sambi Wulung pun telah sampai pada batas pengendalian dirinya. Apalagi ketika lawannya itu semakin lama menjadi semakin kasar. Bahkan telah melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan selain mulutnya yang mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor.

Karena itu, ketika Sambi Wulung itu melihat Ki Remeng dan lawannya telah menyelesaikan pertempuran dengan akibat yang belum diketahuinya dengan pasti, maka Sambi Wulung pun telah menghentakkan ilmunya pula.

Lawannya yang berilmu tinggi itu ternyata masih belum sempat menggapai tataran ilmu sebagaimana Ki Remeng dan Ki Surabawa. Namun demikian serangan-serangannya cukup berbahaya. Tangannya menyambar-nyambar dengan cepatnya, mengarah kesasaran yang paling berbahaya.

Namun Sambi Wulung yang sudah mengerahkan kemampuan ilmunya pula tidak kehilangan kesempatan karenanya. Bahkan beberapa kali ia telah menembus pertahanan lawannya dengan serangan-serangannya yang cepat dan keras.

Dengan demikian, maka lawan Sambi Wulung benar-benar berada dalam kesulitan. Sementara Sambi Wulung tidak menahan dirinya lagi. Serangan-serangan justru menjadi semakin deras sehingga semakin sulit untuk dihindari.

Dilingkaran pertempuran yang lain, lawan Kasadha dan lawan Risang, ternyata mengalami nasib yang sama. Tetapi karena kedua orang anak muda itu sedang berusaha menilai kemampuan mereka sendiri, maka kedua orang lawan mereka itu pun justru seakan-akan telah disediakan sebagai bahan untuk menguji kemampuan anak-anak muda itu.

Dengan cermat Kasadha mengamati tataran demi tataran kemampuan puncaknya. Apalagi lawannya termasuk seorang yang berilmu tinggi. Sekali-sekali Kasadha justru membiarkan lawannya mendapat kesempatan untuk menyerangnya dengan puncak kemampuannya. Sementara Kasadha tidak berusaha menghindari serangan itu. Bahkan telah membenturnya.

Dalam pada itu, Risang yang ingin meyakinkan kemampuannya, tidak segera mengakhiri pertempuran. Sekali-sekali ia mendesak lawannya dengan puncak kemampuannya. Namun kemudian ilmunya itu dikendorkannya selapis, ia ingin tahu akibatnya, apakah dengan demikian ia segera mengalami kesulitan.

Karena itulah, maka sekali-sekali Risang itu dengan garang mendesak lawannya. Namun kemudian beberapa langkah ia terpaksa bergeser surut.

Tetapi ketika waktunya menjadi semakin mendesak, menjelang langit menjadi merah, maka Kasadha dan Risang pun sampai pada satu kesimpulan bahwa pertempuran itu harus diakhiri. Kedua anak muda itu seolah-olah telah mendapatkan satu keyakinan, bahwa ilmu mereka benar-benar telah berada pada tataran yang tinggi, bahkan dengan jarak beberapa lapis dari lawannya.

Kasadha dan Risang itu terhentak ketika mereka melihat, Sambi Wulung yang berada dipuncak ilmunya, meloncat membentur serangan lawannya. Ketika benturan itu terjadi, maka kedua anak muda itu sempat mendengar teriakan kesakitan.

Teriakan itu seakan-akan telah menghentikan Kasadha, Risang dan kedua lawan mereka untuk sesaat. Mereka sempat melihat Sambi Wulung terguncang. Namun dalam pada itu lawannya tidak lagi mampu bertahan. Orang itu tidak saja berteriak kesakitan, tetapi ia masih juga mengumpat-umpat dengan kasarnya, sehingga akhirnya tubuhnya jatuh terguling di tanah.

Dari sela-sela bibirnya telah mengalir darah, sementara kedua tangannya memegangi dadanya yang rasa-rasanya telah pecah.

Ketika orang itu kemudian terdiam, maka lawan-lawan Kasadha dan Risang pun bagaikan terbangun dari mimpi buruk mereka. Ki Surabawa dan seorang kawan mereka telah terbaring diam. Sementara itu mereka telah berhadapan dengan anak-anak muda yang berilmu tinggi.

Karena itu, maka kedua orang itu seakan-akan telah menjadi berputus-asa. Mereka tidak lagi mempunyai harapan untuk dapat hidup. Apalagi selain anak-anak muda yang bertempur itu, masih ada orang lain yang akan dapat ikut memasuki arena pertempuran. Bahkan mungkin orang-orang itu juga berilmu tinggi.

Karena itu dalam keputus-asaannya kedua orang itu tidak lagi berniat untuk menyelamatkan diri, karena mereka yakin bahwa hal itu tidak akan dapat mereka lakukan. Satu-satunya usaha mereka, meskipun agaknya sulit untuk dapat terjadi, karena ilmu anak-anak muda itu terlalu tinggi bagi mereka.

Tetapi mereka tidak mempunyai pilihan lagi.

Namun ternyata bahwa mereka memang tidak dapat melakukannya. Kasadha dan Risang ternyata berusaha untuk mentuntaskan penilaian mereka atas ilmu puncak mereka. Karena itu, pada saat-saat terakhir, kedua anak muda itu telah berusaha melihat akibat dari hentakan kekuatan puncak mereka.

Satu benturan yang dahsyat tidak dapat dihindari ketika Kasadha meloncat sambil mengayunkan tangannya dalam ilmu puncaknya yang belum lama diwarisinya dari gurunya.

Ternyata kekuatan ilmu itu memang luar biasa. Lawan Kasadha yang berilmu tinggi itu sama sekali tidak sempat mengaduh. Meskipun orang itu berusaha menangkis serangan Kasadha dengan menyilangkan tangannya didepan kepalanya, namun serangan Kasadha itu demikian kuatnya, dilambari dengan ilmu pamungkasnya, sehingga tangan Kasadha tidak tertahan oleh kedua tangan lawannya yang bersilang. Satu serangan yang keras telah mengenai dahi lawannya yang gagal dilindunginya itu.

Sementara itu, Risang pun telah berniat untuk mengakhiri perlawanan orang bertubuh tinggi itu. Namun ketika Risang sudah siap menghancurkan lawannya, maka ia pun teringat, bahwa masih diperlukan keterangan dimana paman Ki Lurah Mertapraja itu disembunyikan. Karena itu, Risang justru menjadi ragu-ragu. Jika ia membunuh juga lawannya itu, maka ia akan kehilangan petunjuk sama sekali, kemana mereka harus melacak jejak Ki Mawur yang dikuasai oleh orang-orang yang dianggap berkhianat kepada para pemimpin Padepokan Wukir Gading justru dalam keadaan luka parah.

Karena itu, maka Risang berusaha untuk mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya.

Justru karena itu, maka ia tidak segera dapat menguasai lawannya sepenuhnya. Apalagi lawannya benar-benar sudah menjadi putus-asa, sehingga apa yang dilakukannya sama sekali sudah tidak diperhitungkannya lagi.

Sementara itu lawan Kasadha telah terbaring diam. Karena itu, Kasadha dan Sambi Wulung yang sudah kehilangan lawannya itu pun sempat memperhatikan pertempuran yang terjadi antara Risang dan lawannya. Bahkan Jati Wulung pun telah bangkit pula berdiri dengan jantung yang berdebar an, menyaksikan bagaimana Risang berusaha menguasai lawannya tanpa membunuhnya.

Dengan mata yang tidak berkedip Jati Wulung itu berdesis, ”Luar biasa. Kemampuan Risang telah meloncat jauh kedepan.”

Sebenarnyalah Kasadha juga sempat melihat, betapa Risang dengan ilmunya yang tinggi, berusaha untuk menangkap lawannya hidup-hidup. Adalah diluar kesadarannya, jika Kasadha ternyata sempat menilai dan memperbandingkan ilmu kakaknya itu dengan ilmunya sendiri.

Ternyata Kasadha masih juga mengagumi kemampuan Risang. Beberapa kali Risang mengabaikan kesempatan untuk menghancurkan lawanya. Ia memang tidak ingin membunuhnya. Namun dengan demikian, maka Risang seakan-akan dengan sengaja telah memamerkan ketrampilannya. Bahkan ilmunya yang tinggi itu.

Lawan Risang itu benar-benar telah kehilangan harapan sama sekali. Bahkan orang itu telah menjadi mata gelap dan membabi buta. Namun Risang masih belum membunuhnya. Serangan-serangan Risang justru menjadi sangat dibatasi. Bahkan nampak betapa Risang menjadi cemas, bahwa lawannya akan terbunuh.

Dengan demikian, maka Risang kadang-kadang justru malahan telah dikenai oleh serangan-serangan lawannya yang semakin tidak terkendali itu. Tetapi, betapapun kuat dan kerasnya serangan-serangan itu, rasa-rasanya Risang tidak merasakan kesakitan. Daya tahannya menjadi semakin tinggi, sehingga mampu mengatasi perasaan sakit oleh serangan-serangan lawannya itu.

Namun dalam pada itu, benturan-benturan yang terjadi, ternyata tidak lagi mampu diatasi oleh lawannya yang telah mengerahkan segenap kemampuannya itu. Semakin lama tenaganya menjadi semakin susut. Bahkan kemudian perasaan sakit pun telah menjalari seluruh tubuhnya.,

Dengan demikian, maka betapapun api kemarahan, kebencian dan bahkan dendam dan putus-asa, tetapi pada saatnya, keadaan wadagnya tidak lagi mampu mendukungnya lagi. Bahkan untuk bunuh diri sekalipun, orang itu sudah tidak lagi memiliki kemampuan. Ketika tangan Risang menghantam dadanya, maka ia pun terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Namun kemudian orang itu pun telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terguling ditanah. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Bahkan tulang-tulangnya seakan-akan telah berpa-tahan.

Risang melihat keadaan lawannya yang sudah tidak berdaya lagi. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu lagi atasnya. Selangkah demi selangkah ia mendekatinya dengan hati-hati. Ia sadar bahwa lawannya yang tidak lagi berpengharapan itu akan dapat berbuat sesuatu yang tidak terduga-duga, karena ia sudah siap menghadapi kematian sebagaimana kawan-kawannya yang telah terbaring diam.

Tetapi Risang memang tidak ingin membunuhnya.

Kasadha pun berdiri termangu-mangu pula, Ia  pun kemudian menyadari bahwa ia memerlukan keterangan tentang paman Ki Lurah Mertapraja. Bagaimanapun juga ia harus mengakui ketrampilan berpikir Risang. Kakaknya itu. Ternyata dalam keadaan yang gawat itu, Risang tidak kehilangan kendali pertimbangan nalarnya.

Diluar sadarnya, Kasadha memperhatikan lawannya yang terbaring diam. Ia telah membunuh lawannya itu, sehingga ia tidak akan pernah dapat mendengarkan keterangan apapun dari mulutnya.

Kasadha memang merasa beruntung, bahwa tidak semua orang yang datang untuk merampas penemuan mereka itu terbunuh. Tetapi sebuah pertanyaan memang sempat melonjak dihatinya” Kenapa bukan lawannya yang tetap hidup untuk memberikan beberapa keterangan tentang Ki Mawur yang meskipun tidak menjadi beban tugasnya sebagai seorang prajurit, tetapi ia mengemban pesan yang diberikan oleh Ki Rangga Dipayuda.”

Namun dalam pada itu, Kasadha tidak sempat merenung lebih lama lagi. Ia pun segera mengatur langkah-langkah yang harus diambilnya. Mereka juga tidak dapat membiarkan Ki Remeng dalam keadaannya. Sementara ketiga orang yang lain pun harus dengan cepat dikuburkan, sebelum mereka masih akan memindahkan benda-benda berharga itu.

Tetapi yang akan dilakukan lebih dahulu oleh sekelompok orang itu adalah memindahkan benda-benda berharga yang sudah digali itu. Menurut Kasadha, benda-benda itulah tugas utama mereka, sehingga perlu diamankan lebih dahulu.

Ki Remeng yang kemudian mulai menyadari apa yang terjadi, dibantu oleh pemimpin kelompok yang menyertai Kasadha, telah duduk bersila dengan kedua tangannya bersilang didadanya. Sambil menundukkan wajahnya, dan memejamkan matanya, Ki Remeng mengatur pernafasannya untuk mengatasi luka dalamnya.

Kasadha pun kemudian telah membagi tugas, ia minta agar Sambi Wulung dan Jati Wulung ikut bersamanya menyiapkan tempat untuk memindahkan peti-peti berisi harta-benda yang tidak ternilai harganya itu. Sementara ia minta kepada Risang dan pemimpin kelompok yang menyertainya untuk menunggui pusaka-pusaka itu serta merawat Ki Remeng dan lawan Risang yang diusahakan agar tetap hidup.

“Kita harus membagi diri” berkata Kasadha” jika ada sesuatu maka kita harus saling memberikan isyarat.”

Demikianlah, maka sekelompok orang itu telah bekerja keras memindahkan benda-benda berharga itu. Satu demi satu peti-peti itu pun dipindahkan. Risang berada di tempat benda-benda itu semula disimpan sedang Kasadha menunggui peti-peti yang sudah dipindahkan. Sedangkan kemudian Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itulah yang memindahkan peti-peti itu.

Ketika kemudian matahari terbit, maka peti-peti itu sudah dipindahkan dan sudah ditimbun kembali dengan baik. Mereka berusaha untuk menyamarkan galian baru tempat peti-peti yang berisi benda-benda berharga itu disembunyikan.

Namun pekerjaan mereka belum selesai. Mereka masih harus menguburkan tiga orang dari antara ampat orang yang datang untuk merampas benda-benda berharga itu. Seorang diantara mereka masih hidup meskipun dalam keadaan yang parah.

Ketika matahari sudah naik sepenggalah, maka barulah mereka selesai. Tubuh mereka basah oleh keringat. Bukan saja mereka merasa letih oleh kerja yang keras. Tetapi sebenarnyalah mereka merasa tegang. Sambil bekerja keras mereka masih harus meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang sempat melihat apa yang mereka kerjakan itu.

Demikian mereka selesai dengan kerja mereka, maka keadaan Ki Remeng justru berangsur baik. Namun berbeda dengan Ki Remeng, lawan Risang keadaannya justru menjadi semakin buruk. Sementara itu, Ki Remeng telah memberi petunjuk untuk mendapatkan air. Tidak terlalu jauh dari tempat itu terdapat sebuah belik kecil. Namun airnya yang mengalir dari celah-celah padas cukup bersih dan bening untuk dapat diminum.

Karena itu, maka pemimpin kelompok yang menyertai Kasadha itu pun telah berusaha mendapatkan air. Dengan daun talas ia membawa air untuk diteteskan di bibir orang yang terluka dalam itu, sementara Ki Remeng dapat pula ikut meneguk air itu pula.

Keadaan orang yang bertubuh tinggi itu memang menjadi sedikit baik. Dalam keadaan demikian, maka Kasadha minta kepada Ki Remeng untuk bertanya kepada orang itu, sesuatu yang mungkin akan dapat dipergunakan untuk melacak hilangnya paman Ki Lurah Mertapraja itu.

Ki Remeng yang sudah merasa menjadi semakin baik pun kemudian telah mendekati orang itu. Dengan nada rendah, Ki Remeng bertanya, ”Apakah kau dapat mengatakan serba sedikit tentang keberadaan Ki Mawur sekarang ini?”

Orang itu memandang Ki Remeng dengan mata yang redup. Namun tiba-tiba ia menggeram, ”Tutup mulutmu pengkhianat.”

Namun ternyata Ki Remeng tidak menjadi marah. Suaranya masih tetap sareh. Katanya, ”Keadaanmu sudah menjadi semakin sulit. Kami akan mencoba untuk mengobatimu.”

“Tidak. Aku sama sekali tidak mengharapkan belas kasihan kalian. Biar saja aku mati disini. Ketiga orang saudara seperguruanku juga sudah mati.”

“Mereka mati karena tingkah mereka sendiri.” berkata Ki Remeng.

“Aku juga tidak berkeberatan” berkata orang itu.

“Baiklah, jika itu memang sudah menjadi tekadmu. Tetapi justru pada saat terakhir, kau dapat berbuat sesuatu untuk membuat jalan kematianmu sedikit lapang. Bagaimanapun juga kau harus menyadari, bahwa selama kau hidup didunia ini, maka kau sudah melakukan terlalu banyak kesalahan. Bukan saja dihadapan sesama manusia, tetapi juga dihadapan Yang Maha Agung. Sementara itu, kau masih mempunyai sedikit kesempatan untuk menyesali perbuatanmu dan mohon ampun kepada-Nya. Bahkan kau masih mempunyai kesempatan untuk berbuat baik.”

Orang itu memejamkan matanya. Nafasnya memang menjadi semakin sesak. Sekali-sekali orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Jika kau sempat mempergunakan waktumu yang terakhir, maka mudah-mudahan permohonan ampunmu didengar oleh Yang Maha Murah itu. Apalagi jika disertai satu langkah kebajikan.”

Namun tiba-tiba orang itu berdesis, ”Apakah aku masih mungkin diampuni?”

“Jika kau bermohon dengan bersungguh-sungguh, maka kau tentu akan diampuni, karena Yang Maha Agung itu adalah Maha Pengampun pula” desis Ki Remeng.

Orang itu membuka matanya. Matahari dilangit menjadi semakin tinggi. Sinarnya menyilaukan mata orang itu. Namun Ki Remeng sengaja berjongkok untuk melindunginya dari silaunya sinar matahari dilangit yang cerah itu.

Bibir orang itu pun mulai bergerak. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia berdesis, ”Jika aku mengatakannya, apakah itu berarti bahwa aku telah berbuat satu kebaikan?”

“Tentu. Setidak-tidaknya bagi Ki Mawur dan Lurah Mertapraja, sementara guru sudah tidak ada.” jawab KiRemeng.

Orang itu terdiam sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, ”Ki Remeng. Aku tidak tahu apakah aku menyesal atau tidak, bahwa aku telah ikut berkhianat. Tetapi jika aku masih sempat melakukan kebaikan, maka aku akan mencobanya. Tetapi sebenarnya aku pun tidak tahu pasti dimana Ki Mawur itu sekarang disembunyikan. Namun yang bertanggung jawab atas persembunyian Ki Mawur itu adalah Ki Kebo Wingit.”

“Kebo Wingit” Ki Remeng terkejut, ”jadi Kebo Wingit yang telah lama menghilang itu ikut campur pula dalam persoalan yang terjadi dilingkungan perguruan Wukir Gading ini?”

Orang yang terluka parah itu berusaha untuk menarik nafas dalam-dalam. Sementara pemimpin kelompok yang menyertai Kasadha itu telah mengambil lagi air dengan daun talas.

“Minumlah” berkata Ki Remeng sambil menitikkan air dibibir orang itu.

“Kau harus minum obatku, agar keadaanmu menjadi bertambah baik. Kita berharap bahwa kau dapat sembuh dan bersama-sama membebaskan Ki Mawur.” berkata Ki Remeng selanjutnya.

Tetapi orang itu menggeleng lemah. Katanya, ”Dadaku telah dihancurkan oleh anak muda itu.”

“Masih ada kesempatan” berkata Ki Remeng yang telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggang kulitnya yang lebar.

Tetapi orang itu sama sekali tidak berniat untuk mempertahankan hidupnya. Ia merasa bahwa usaha itu akan sia-sia. Bagian dalam tubuhnya benar-benar telah terluka sangat parah.

Dengan suara sendat ia berkata, ”Kebo Wingit justru memegang peranan yang menentukan.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Namun ia masih juga berusaha untuk menyelipkan sebutir reramuan obatnya yang dibuatnya dari sari dedaunan sebesar biji rambutan disela-sela bibirnya. Namun demikian ditetesan air kedalam mulutnya, maka obat itu pun larut dan hanyut masuk kedalam tenggorokan.

Orang itu terbatuk kecil.

Ki Remeng menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat darah yang kemudian meleleh dari sela-sela bibirnya. Keadaan orang itu sudah sangat parah.

Risang berdiri termangu-mangu. Ia sudah berusaha menahan diri agar tidak membunuh orang itu. Namun ternyata bahwa ia sudah melukai bagian dalam sehingga keadaannya sudah menjadi sangat mencemaskan. Bahkan setelah ia minum obat yang diberikan oleh Ki Remeng, keadaannya tidak menjadi semakin baik.

Dalam keadaan yang sangat lemah, maka orang itu pun berdesis, ”Ikut bersama Kebo Wingit adalah Ki Wirasana dari Pringsewu beberapa puluh patok saja disebelah Timur kota Madiun.”

“Jadi Wirasana juga terlibat?” Ki Remeng menjadi heran. Dengan nada tinggi ia bertanya pula, ”Bukankah Ki Wirasana masih mempunyai hubungan keluarga dengan Ki Lurah Mertapraja yang tentu juga dengan Ki Mawur?”

“Ya” jawab orang itu, ”tetapi apakah artinya persaudaraan jika mata sudah dikaburkan oleh pamrih.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, ”Lalu peran apa pula yang dibawakan oleh Surabawa?”

“Ki Surabawa dan kami bertiga adalah bagian dari kelompok orang-orang tamak itu.” jawab orang itu.

“Jadi darimana kalian mendapat petunjuk untuk menemui aku?” desak Ki Remeng.

Orang itu menarik nafas panjang. Tetapi nampak wajahnya menyeringai menahan sakit. Nampaknya dadanya menjadi semakin nyeri. Obat yang diberikan oleh Ki Remeng tidak banyak mempengaruhi keadaannya yang semakin rumit.

Tetapi orang itu ternyata masih berkata dengan kata-kata yang semakin sendat dan lemah, ”Jika kau ingin menemukan Ki Mawur, ia tentu dapat diketemukan di salah satu dari tiga tempat. Kemungkinan pertama di tempat tinggal Wirasana di Pringsewu. Kedua dan merupakan kemungkinan terbesar, Ki Mawur justru berada didalam kota Madiun. Kebo Wingit mempunyai hubungan dengan seorang Rangga di Madiun. Namanya Ki Rangga Surakerti. Sedangkan kemungkinan ketiga, ia dibawa kekaki Gunung Lawu. Kemungkinannya memang lebih kecil dari kemungkinan yang lain.”

“Di kaki Gunung Lawu? Maksudmu di Padepokan Uger-uger?”

Orang itu sudah memejamkan matanya. Tetapi kepala itu bergerak, seakan-akan hendak mengangguk.

Ki Remeng menjadi tegang menyaksikan kenyataan tentang orang itu. Obatnya sama sekali tidak berpengaruh. Agaknya luka dalam yang dialaminya sudah menjadi sangat parah.

Ki Remeng yang tegang itu berdesis di telinganya, “Bertahanlah. Aku akan dapat mencari reramuan obat yang lebih baik dirumahku.”

Tetapi orang itu sudah sangat lemah. Namun ia berbisik, ”Ki Mawur selalu didesak dan dipaksa untuk mengatakan sesuatu tentang harta-benda yang kalian ketemukan itu.”

Orang itu tiba-tiba saja membuka matanya. Namun hanya sekejap. Ketika ia kemudian memejamkan matanya lagi. maka nafasnya pun seakan-akan telah terhentak keluar dan terputus karenanya.

Ki Remeng yang berjongkok disebelahnya menempelkan telinganya didada orang itu. Namun ia sudah tidak mendengar lagi detak jantungnya. Agaknya orang itu sudah meninggal.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya agak menyesal, ”Aku sudah mencoba untuk tidak membunuhnya.”

“Bukan salahmu” sahut Kasadha, ”kau sudah mencoba, itu lebih baik dari apa yang aku lakukan. Mencoba pun aku tidak.”

Ki Remeng yang masih lemah itu mencoba bangkit berdiri. Sambi Wulung yang berdiri didekatnya segera membantunya. Dengan nada dalam Ki Remeng itu pun berkata, ”Di saat terakhir, ia sudah mencoba untuk melakukan satu perbuatan yang dapat mengurangi beban perasaannya.”

“Apakah kau percaya sepenuhnya, Ki Remeng?” bertanya Risang.

“Ya. Aku percaya” jawab Ki Remeng.

“Jika kau percaya, maka kami pun percaya pula” berkata Risang sambil memandang Kasadha yang mengangguk-angguk. Katanya pula selanjutnya, ”Mudah-mudahan kita mendapat bahan untuk menelusuri jejak paman Ki Lurah Mertapraja itu.”

Kasadha masih saja mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Jika kau percaya, maka aku pun percaya pula.”

Ki Remeng termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Kita harus menguburkannya pula.”

“Ya. Kita harus menguburkannya” desis Kasadha sambil merenungi tubuh yang mulai membeku itu.

Demikianlah, maka ketika orang yang terakhir menghembuskan nafasnya itu sudah dikubur disebelah kawan-kawannya yang telah terbunuh lebih dahulu, maka keenam orang itu pun telah duduk beristirahat diatas batu-batu padas. Sementara itu, matahari pun telah menjadi semakin tinggi. Panasnya terasa menyengat tubuh-tubuh yang basah oleh keringat itu.

Ketika mereka merasa haus, maka mereka pun telah pergi ke sebuah belik kecil yang menampung air yang mengalir dari sela-sela batu-batu padas. Air yang jernih itu ternyata telah membuat mereka menjadi segar. Apalagi kemudian setelah mereka mencuci muka mereka dan membasahi kepala mereka dengan air yang sejuk itu.

“Biarlah kita menunggu disini untuk sementara” berkata Ki Remeng, “kita harus keluar dari tempat ini tanpa menarik perhatian jika diujung padang perdu ini ada para gembala yang menunggui ternak mereka.”

Kasadha mengangguk-angguk sambil menjawab, “Aku sependapat. Kita menunggu sampai malam.”

Tetapi Risang pun berkata, “Apakah kita tidak akan makan sehari ini?”

Sambi Wulung lah yang menjawab, “Aku akan keluar dari padang perdu ini. Aku akan membeli makanan bagi kita.”

“Berhati-hatilah” berkata Ki Remeng, “tempat ini hampir tidak pernah dijamah oleh seseorang. Jika ada yang melihat kalian keluar dari padang ini, maka akan dapat timbul berbagai pertanyaan. Apalagi jika ceritera tentang seseorang yang keluar dari padang perdu ini tersebar. Maka padang ini akan dapat menjadi medan perburuan harta karun. Bagaimanapun juga, kehadiran Surabawa dan kawan-kawannya tentu masih akan meninggalkan getar angin yang dapat tertiup kesegala arah. Apalagi sebelumnya, aku terpaksa membunuh ampat orang yang memaksaku dengan kekerasan untuk menunjukkan tempat ini.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mengambil jalan melingkar. Aku akan memasuki  hutan yang nampak dikejauhan itu dan keluar dari sisi yang lain.”

“Baru besok kau akan sampai disini lagi” sahut Ki Remeng, “hutan itu masih jauh dari sini. Sementara itu, padang yang mengantarai tempat ini dengan hutan itu terdapat celah-celah yang agak dalam dan sulit. Lekuk-lekuk tanah berbatu padas dan jalur-jalur air yang hanya mengalir dimusim hujan.”

“Jadi, kemana aku harus pergi?” bertanya Sambi Wulung.

“Darimana kau memasuki padang ini kemarin?” bertanya Ki Remeng.

“Kami memasuki padang ini dari arah Barat menjelang senja.” jawab Sambi Wulung.

Ki Remeng mengangguk-angguk. Katanya, “Itu adalah jalan yang paling aman, karena disisi Barat dari padang ini terdapat sebuah sungai.”

“Ya, kami menyeberangi sungai yang tidak terlalu banyak airnya.” jawab Sambi Wulung.

“Jika kau ingin keluar dari tempat ini sebelum lewat waktunya menggembala, maka kau sebaiknya turun ke-sungai itu dan menelusuri beberapa puluh langkah sebelum kau naik dan sampai ke sebuah jalan kecil menuju ke padukuhan. Nah, kau sebaiknya tidak mencari kedai di padukuhan pertama yang kau temui. Tetapi sebaiknya kau membeli makanan di padukuhan yang lain.”

Sambi Wulung mengerti maksud Ki Remeng. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Aku akan pergi sebentar.”

“Kau memerlukan waktu yang tidak sebentar” berkata Ki Remeng.

Sambi Wulung menarik nafas panjang. Sambil mengangguk-angguk kecil ia menjawab, “Ya. Aku memerlukan waktu yang tidak sebentar. Tetapi itu lebih baik dari tidak sama sekali.”

Kasadha tersenyum sambil menjawab, “Ya. Itu memang lebih baik daripada kita menunggu malam dengan tanpa makan sama sekali.”

Demikianlah, maka Sambi Wulung meninggalkan tempat itu dengan mengajak Jati Wulung untuk membeli makanan apapun yang dapat mereka temui dengan tanpa mengkesampingkan pesan yang disampaikan oleh Ki Remeng, yang lebih mengenal tempat itu serta lingkungannya.

Ternyata seperti yang dikatakan Ki Remeng, Sambi Wulung dan Jati Wulung memerlukan waktu yang cukup lama. Baru setelah matahari turun ke Barat, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah datang sambil membawa sebungkus ketela rebus dan sebungkus sukun yang dikluwa dengan gula kelapa.

Sementara menunggu gelap, maka sambil makan, mereka telah membicarakan beberapa kemungkinan untuk menemukan paman Ki Lurah Mertapraja.

Ki Remeng yang mempunyai hubungan terdekat dengan orang yang memberitahukan dimana Ki Mawur mungkin disembunyi-kan berpendapat, bahwa kemungkinan terbesar Ki Mawur memang justru berada didalam kota. Namun jika demikian, maka amat sulitlah untuk dapat menemukannya. Apalagi jika benar Ki Mawur ada ditangan Ki Rangga Surakerti.

“Siapakah Ki Rangga Surakerti itu? Apakah ada hubungannya dengan Ki Lurah Mertapraja dalam tatanan keprajuritan Madiun?” bertanya Kasadha.

“Tidak secara langsung. Ki Rangga Surakerti pun bukan murid dari perguruan Wukir Gading. Namun Ki Rangga memang seorang yang berilmu tinggi. Tetapi ilmunya bersumber dari perguruan lain.” jawab Ki Remeng.

“Lalu apa hubungannya dengan Ki Mawur?” bertanya Kasadha pula.

“Menurut pendapatku, Kebo Wingit dan Ki Rangga sekedar mempunyai kepentingan yang sama. Mereka menginginkan mendapat harta-benda itu saja.”

“Jadi dasar hubungan mereka hanya karena kepentingan yang sama itu?” bertanya Risang.

“Menurut perhitunganku. Tetapi aku tidak mengenal Ki Rangga dengan baik.” jawab Ki Remeng, “tetapi sekali dua kali Ki Lurah Mertapraja memang pernah menyebut namanya.”

“Apakah Ki Remeng mengenal Kebo Wingit dari dekat?” bertanya Risang kemudian.

“Ya” jawab Ki Remeng, “Kebo Wingit adalah salah seorang murid dari perguruan Wukir Gading. Justru salah seorang murid yang berpengaruh. Tetapi agaknya ia termasuk salah seorang diantara beberapa orang yang mengendalikan pengkhianatan itu. Menurut pendapatku, latar belakang pengkhianatannya adalah justru karena ketamakannya. Ia menginginkan harta-benda yang tidak ternilai harganya itu.”

Risang dan Kasadha mendengarkan keterangan Ki Remeng itu dengan bersungguh-sungguh. Demikian pula yang lain.

Dalam pada itu, Risang pun kemudian telah bertanya pula, “Ki Remeng. Apakah Ki Remeng mengetahui latar belakang keikut sertaan Ki Lurah Mertapraja bergabung dengan orang-orang dari Padepokan Watu Kuning untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan?”

Ki Remeng mengerutkan dahinya. Sejenak dipandanginya orang-orang yang duduk disekitarnya. Baru sejenak kemudian orang itu menarik nafas panjang sambil berdesah, “Ya. Itu pun merupakan bagian dari ketamakan seseorang.”

“Apakah kau juga termasuk seorang pemimpin seperti Ki Lurah Mertapraja dan sudah barang tentu pamannya, karena mimpi Ki Lurah tentu bersumber dari mimpi pamannya itu dan barangkali juga gurunya.” berkata Risang.

Ki Remeng mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mimpi yang sangat buruk. Bahkan akibatnya menjadi lebih buruk lagi.”

“Mimpi Ki Lurah Mertapraja mula-mula meliputi Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian dengan landasan bangkai padepokan Watu Kuning serta kekuatan yang ada di Tanah Perdikan dikendalikan oleh perguruan Wukir Gading, Ki Lurah ingin menguasai Madiun. Kemudian beberapa Kadipaten disisi Timur serta Pajang. Akhirnya Mataram.”

Ki Remeng menundukkan wajahnya. Bahkan kemudian kedua tangannya telah menutup wajahnya itu.

Untuk beberapa saat Ki Remeng berdiam diri. Demikian pula yang lain. Mereka menunggu jawaban Ki Remeng yang nampaknya banyak mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh Padepokan Wukir Gading meskipun menurut Ki Lurah ia tidak lebih dari bekas seorang pekatik.

Baru kemudian Ki Remeng menurunkan tangannya dan mengangkat wajahnya. Katanya, “Itulah yang aku katakan mimpi yang sangat buruk. Akibatnya pun memang jauh lebih buruk lagi. Harta-benda yang disembunyikan itu dipersiapkan untuk menjadi lambaran beaya perjuangan Padepokan Wukir Gading. Namun akhirnya justru menjadi bahan perselisihan dan pemberontakan. Bahkan saling membunuh diantara sesama saudara seperguruan. Sebagaimana kau ketahui, disini sudah ada delapan kuburan. Belum yang terbunuh di Tanah Perdikan Sembojan atau dimana saja jika benturan itu terjadi.

Dengan demikian, maka akhirnya murid-murid utama perguruan Wukir Gading akan habis karena pokal mereka sendiri.”

“Satu pelajaran yang sangat berharga” berkata Risang, “harta-benda itu tidak memberikan arti apa-apa bagi Padepokan Wukir Gading, justru telah menjerat lehernya sendiri.”

“Ya” desis Kasadha, “betapa ringkihnya kepribadian murid-murid utama Padepokan Wukir Gading. Harta-benda yang seharusnya mereka kuasai dan mereka pergunakan, ternyata telah menjerumuskan mereka kedalam bencana yang hanya dapat disesali sepanjang jaman.”

Mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi atas kalian, anak-anak muda” berkata Ki Remeng, “ketamakan yang tidak terkendali memang hanya akan menjerumuskan kita kedalam bencana.”

Risang dan Kasadha justru terdiam. Yang lain pun seakan-akan telah tenggelam kedalam angan-angan mereka sendiri-sendiri.

Sementara itu langit pun menjadi suram pula. Matahari telah turun sampai ke cakrawala. Satu-satu bintang mulai nampak bergayutan diwajah langit yang biru kehitaman.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” bertanya Kasadha., “waktu kita tidak terlalu panjang. Sementara itu, kita perhitungkan bahwa kemungkinan terbesar, Ki Mawur justru ada di kota Madiun. Menurut pertimbangan Ki Remeng, apakah kita akan pergi ke Madiun sekarang?

“Aku akan minta angger singgah dirumahku sampai esok. Besok pagi-pagi kita pergi ke Madiun.” berkata Ki Remeng. Namun katanya kemudian, “Tetapi sudah tentu tidak semuanya dapat aku persilahkan singgah. Meskipun rumahku terletak dipinggir padukuhan, namun kehadiran banyak orang akan dapat menarik perhatian.”

“Baiklah” berkata Risang, “aku dan Kasadha sajalah yang akan singgah dirumah Ki Remeng. Biarlah paman bertiga keluar dari padang perdu ini dan langsung pergi ke Madiun. Kita dapat menentukan tempat-tempat pertemuan yang paling baik di Madiun.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan bertemu di dekat pasar. Tempat yang ramai, sehingga tidak akan mencurigakan. Kita akan bertemu disisi sebelah kanan pintu gerbang pasar, justru dibagian dalam. Aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat mempersilahkan semuanya singgah dirumahku itu.”

“Kami mengerti” sahut Sambi Wulung, “biarlah kita bertiga besok menunggu di pasar.”

“Kami akan sampai di pasar itu sebelum tengah hari” berkata Ki Remeng selanjutnya.

“Baiklah” jawab Sambi Wulung, “kami tentu akan sampai lebih dahulu.”

Demikianlah, maka mereka pun telah membagi diri. Kasadha dan Risang akan singgah di rumah Ki Remeng, sementara Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu akan langsung pergi ke Madiun. Selain menghindari perhatian orang padukuhan jika mereka semua singgah dirumah Ki Remeng, juga perhatian orang di sepanjang jalan jika mereka berjalan dalam kelompok yang terdiri dari banyak orang.

Ketika Ki Remeng kemudian melangkah meninggalkan tempat itu, maka Risang dan Kasadha sempat berbicara beberapa patah kata. Kasadha mengangguk-angguk, sementara Risang pun melangkah mendekati Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun Kasadha kemudian telah berjalan disebelah Ki Remeng yang bahkan berpaling mencari Risang.

“Risang masih memberikan beberapa pesan kepada paman Sambi Wulung” berkata Kasadha.

Tetapi hanya beberapa saat, karena Risang pun segera menyusul Ki Remeng dan Kasadha. Namun Risang masih berkata, “Hati-hatilah, kita tidak sedang bermain-main.”

“Kami mengerti” jawab Sambi Wulung.

“Ingat, besok sebelum matahari sampai kepuncak.”

Sambi Wulung tidak menjawab.

Demikianlah, maka Ki Remeng, Kasadha dan Risang pun telah meninggalkan belik yang menampung air yang merembes dari sela-sela batu padas. Ki Remeng ternyata masih merasa nyeri didadanya. Namun sudah tidak terasa menghalangi langkahnya,

“Kenapa Ki Remeng sendiri tidak menelan obat yang Ki Remeng bawa?” bertanya Kasadha.

“Aku hanya minum obat dalam keadaan yang sangat terpaksa. Jika keadaanku seperti lawan angger Risang tadi, aku pun akan minum obat. Tetapi selama aku masih dapat bertahan tanpa obat, apapun, aku tidak akan menelannya. Kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak, misalnya lawan masih mampu melanjutkan pertempuran setelah benturan ilmu itu terjadi. Tetapi aku lebih percaya kepada kekuatan daya tahanku. Dengan mengatur pernafasan serta tenaga dasar didalam diri.” jawab orang tua itu. Tetapi kemudian katanya, “Meskipun demikian semuanya masih harus dinilai keadaan dalam keseluruhan. Jika kalian menilai aku masih lemah sekarang ini, mudah-mudahan besok pagi aku sudah pulih kembali tanpa diobati sama sekali.”

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Mereka pun mengerti, bahwa dengan mengembangkan daya tahan didalam diri, maka laku penyembuhannya akan lebih mantap. Kecuali jika memang terpaksa harus dilakukan karena daya tahannya tidak lagi mampu mengatasinya lagi.

Dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu masih berdiri termangu di tempatnya. Mereka memandangi ketiga orang yang berjalan meninggalkan mereka kearah matahari terbenam. Semakin lama menjadi semakin kabur. Apalagi ketika matahari benar-benar sudah tidak nampak lagi.

Tetapi ketiga orang itu tidak segera meninggalkan tempat itu. Bahkan mereka telah berjalan kembali ke bukit kecil serta mengumpulkan kembali alat-alat yang mereka bawa untuk menggali peti-peti yang disembunyikan oleh pimpinan Padepokan Wukir Gading untuk diselamatkan.

Malam itu Kasadha dan Risang berada dirumin Ki Remeng. Ki Remeng yang menyadari, betapapun juga kepercayaan kedua anak muda itu kepadanya tentu masih belum menjadi utuh, tidak menghindar dari pengawasan mereka.

Sebenarnyalah bahwa Kasadha dan Risang berganti-ganti mengawasi Ki Remeng dimana pun ia berada.

Namun Ki Remeng masih juga melakukan pekerjaan sehari-hari. Ki Remeng telah menanak nasi bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi bagi tiga orang yang ada dirumah itu. Bahkan Ki Remeng sempat memetik daun kacang panjang yang ditanam di sepanjang pagar rumahnya meskipun harus membawa oncor jarak.

“Sudahlah Ki Remeng” berkata Kasadha, “bukankah malam ini kita tinggal tidur saja. Biarlah besuk pagi saja Ki Remeng menanak nasi dan memasak sayurnya.”

“Bukankah besok kita akan berangkat pagi-pagi. Kita berjanji untuk berada dipasar sebelum matahari sampai kepuncak.”

“Tetapi bukankah Madiun tidak terlalu jauh lagi dari tempat ini?”

“Ya. Meskipun demikian, kita tidak akan berangkat terlalu siang.” jawab Ki Remeng.

Kasadha dan Risang tidak mencegahnya lebih jauh. Mereka membiarkan saja Ki Remeng sibuk didapurnya. Tetapi keduanya tidak melepaskan Ki Remeng dari pengawasan mereka berganti-ganti. Bahkan ketika Ki Remeng itu kemudian berbaring dan tidur nyenyak.

Tetapi Ki Remeng sendiri justru berusaha membantu kedua anak muda itu untuk mengawasi dirinya. Ki Remeng sengaja tidur diamben bambu yang besar disebelah Kasadha dan RisSng berbaring.

Demikian pula ketika pagi mulai merekah. Ki Remeng tidak mandi di pakiwan. Tetapi, ia mandi sambil langsung menimba air disumur.

Kasadha dan Risang pun menyadari akan hal itu. Tetapi keduanya memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengawasi Ki Remeng sebaik-baiknya.

Demikianlah, ketika Ki Remeng, Kasadha dan Risang sudah siap serta sudah makan pagi pula, maka mereka pun segera berangkat menuju ke Madiun. Jaraknya memang sudah tidak terlalu jauh lagi.

Tetapi seperti yang sudah mereka janjikan, maka mereka harus sudah berada dipasar Madiun sebelum matahari memanjat sampai kepuncak langit.

Tidak ada hambatan di sepanjang perjalanan. Namun semakin dekat mereka dengan kota Madiun maka mereka melihat kesiagaan yang semakin tinggi. Mereka mulai bertemu dengan pasukan berkuda yang meronda jalan-jalan utama yang langsung menuju ke kota. Bahkan di padukuhan-padukuhan yang besar mereka melihat satu dua rumah yang dipergunakan untuk kegiatan kelompok-kelompok prajurit Madiun.

Tetapi kegiatan para prajurit itu memang menarik perhatian Kasadha. Sejak ia berangkat dari Pajang, ia pun telah mendapat pesan, bahwa Madiun tentu sudah sampai pada tingkat kesiagaan tertinggi pula sebagaimana para prajurit di Pajang.

Namun ketika mereka memasuki kota Madiun, maka Kasadha menjadi berdebar-debar. Menilik pakaian yang dikenakannya, maka bukan saja prajurit Madiun sendiri yang telah menyiagakan diri di Madiun. Tetapi juga prajurit dari luar Madiun.

Bahkan menurut penglihatan Kasadha yang hanya sepintas, ternyata prajurit yang bukan prajurit Madiun cukup banyak. Di jalan-jalan, di beberapa halaman dan bahkan di banjar-banjar, mereka melihat kelompok-kelompok prajurit dari berbagai Kadipaten dari Timur.

“Bayangan yang mendebarkan” berkata Kasadha.

“Ya” sahut Risang. Namun kemudian katanya, ”Tetapi nampaknya perang yang sebenarnya belum akan segera meledak. Meskipun mereka telah berkumpul disini, tetapi mereka masih belum benar-benar bersiap untuk berangkat ke medan.”

“Memang masih ada upaya untuk menghindarkan perang” sahut Kasadha.

“Sulit untuk menghindari perang” berkata Ki Remeng., “Meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya, namun menurut penglihatanku, di Madiun telah tertimbun berpuluh ribu prajurit dari Timur.

“Berpuluh ribu” bertanya Kasadha.

“Ya. Berpuluh ribu.” jawab Ki Remeng.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Jumlah itu terlalu banyak dibandingkan dengan kekuatan Mataram termasuk Pajang. Jika perang benar pecah, maka jumlah prajurit Mataram dan mungkin sedikit bantuan dari Demak dan Pati, tidak akan mungkin mengumpulkan orang sebanyak itu.

Tetapi untuk sementara Kasadha tidak merasa perlu untuk secara khusus memperhatikan jumlah prajurit yang ada di Madiun, meskipun ia tidak mengabaikannya. Namun Kasadha berharap bahwa para petugas sandi dari Mataram sudah mengetahuinya dan memberikan laporannya kepada para pemimpin di Pajang dan kemudian Mataram, sehingga Mataram akan dapat menilai kekuatan Madiun dengan tepat, sehingga pada saatnya Mataram tidak terjerumus kedalam kesulitan yang gawat.

Yang menjadi pusat perhatian Kasadha saat itu adalah penyelamatan Ki Mawur. Benar-benar satu tugas kemanusiaan setelah tugasnya yang pokok, menguasai harta-benda berharga itu sudah dapat dianggap berhasil, meskipun belum sampai penyelesaian terakhir membawa harta-benda itu ke Pajang. Tetapi bahwa harta-benda itu sudah disingkirkan sehingga tidak akan dapat dipergunakan baik oleh Padepokan Wukir Gading atau oleh Madiun, apabila harta-benda itu jatuh ketangan Madiun.

Karena itu, maka Kasadha tidak membuat acara-acara baru di Madiun. Bertiga mereka menuju ke pasar sebagaimana telah direncanakan sebelumnya, karena Sambi Wulung Jati Wulung dan pemimpin kelompok yang menyertai Kasadha itu akan menunggu.

Meskipun Madiun seakan-akan telah dipenuhi dengan prajurit yang siap untuk bertempur, tetapi kehidupan sehari-hari masih berjalan wajar. Pasarnya justru menjadi semakin ramai. Untuk persediaan makan kelengkapan lain bagi berpuluh ribu orang, maka diperlukan bahan yang tidak sedikit. Beberapa kelompok prajurit memang sudah mempersiapkan bahan makan sendiri.

Dari Ki Remeng Kasadha mendengar bahwa sejak sebelumnya berpuluh pedati yang membawa beras telah mengalir ke Madiun, sementara lumbung-lumbung padi di Madiun sendiri juga sudah dipenuhi dengan padi dan jagung.

Beberapa saat sebelum matahari sampai kepuncak langit, Kasadha, Risag dan Ki Remeng telah berada di pasar. Seperti yang telah mereka bicarakan, maka mereka pun langsung menuju kesisi sebelah kanan pasar.

Dalam keramaian pasar, pertemuan mereka memang tidak menarik perhatian. Ketika Kasadha, Risang dan Ki Remeng sampai ke tempat yang disepakati, mereka melihat Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu berjongkok beberapa langkah dari pintu gerbang.

Kasadha, Risang dan Ki Remeng pun kemudian telah bergabung dengan mereka. Ki Remeng ikut berjongkok disamping Sambi Wulung sementara Kasadha danRisang berdiri bersandar dinding.

Untuk beberapa saat mereka berdiam diri. Mereka memandangi orang-orang yang sibuk disekitar mereka. Suara pande besi digubug-gubug yang berjajar dipinggir pasar itu membuat irama tersendiri diantara suara yang hiruk pikuk.

“Dimana kita dapat berbicara tanpa terganggu?” bertanya Kasadha.

“Sambil tersenyum Risang lah yang menjawab, “Dikedai diluar pasar ini. Ada beberapa buah kedai yang baik dan tidak terlalu ramai.

Kasadha pun tersenyum. Sementara Sambi Wulung menyahut, “Aku kira itu adalah yang terbaik. Lebih baik dari sekedar ketela pohon dan sukun yang dikeluwa.”

Ternyata mereka sepakat untuk pergi ke sebuah kedai dan berbicara didalamnya. Meskipun demikian mereka tidak bersama-sama memasuki kedai itu. Ki Remeng, Kasadha dan Risang lebih dahulu masuk kedalam. Baru kemudian disusul oleh Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu.

Mereka duduk diatas lincak bambu panjang saling berhadapan diantarai sebuah amben bambu yang agak tinggi untuk meletakkan berbagai macam makanan.

Sambil menghirup minuman yang mereka pesan, maka Ki Remeng pun mulai berbicara, “Kita harus semakin berhati-hati. Ada dua hambatan yang kita hadapi. Beberapa orang dari perguruan Wukir Gading yang berpihak kepada Kebo Wingit serta ketajaman penglihatan para prajurit Madiun. Bahkan mungkin petugas sandi Madiun yang sengaja disebarkan untuk melawan petugas sandi Mataram dan Pajang, akan dapat mengira kita petugas sandi yang mereka cari itu. Jika demikian, maka persoalannya akan menjadi semakin rumit.

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara Risang bertanya, “Apakah mungkin orang-orang Kebo Wingit mengenali Ki Remeng? Jika Ki Surabawa mencari Ki Remeng dalam hubungannya dengan harta benda yang tersembunyi itu, apakah mungkin ada orang lain yang juga mengetahui bahwa Ki Remeng termasuk orang yang menyembunyikan harta-benda itu?”

“Mungkin sekali ngger” jawab Ki Remeng, “beberapa orang seperguruanku tentu mengenali aku. Di-antara mereka tentu orang-orang yang berkhianat itu. Tetapi aku kira dimana pun aku bersembunyi, mereka tentu akan memburuku. Sebagaimana telah terjadi, dirumah pun aku juga diburu terus.”

Kasadha yang mengangguk-angguk itu kemudian berkata, “Menurut Ki Remeng, apakah kita akan langsung mencari Ki Rangga Surakerti. Maksudku untuk mengamati kemungkinan Ki Mawar ada dirumah itu?”

Ki Remeng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Rasa-rasanya aku masih mempunyai seorang saudara seperguruan yang patut dipercaya. Tetapi sudah lama ia menyingkir dari pergaulan bahkan diantara saudara-saudara seperguruan. Tidak seperti Kebo Wingit yang memang meninggalkan Madiun dan tidak diketahui tempat tinggalnya untuk waktu yang lama. Tetapi yang satu ini tetap berada dirumahnya. Namun ia tidak lagi melakukan kegiatan apapun kecuali melakukan kerja sehari-hari sebagai pedagang kecil-kecilan bersama isterinya untuk menghidupi enam orang anaknya.”

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk kecil. Sementara Ki Remeng berkata selanjutnya, “Aku berniat untuk menemuinya,”

“Apakah kita akan pergi kerumah saudara seperguruan itu?” bertanya Risang.

“Tetapi aku minta maaf, bahwa menurut pendapatku, sudah tentu kita tidak dapat semuanya pergi ke rumah saudara seperguruanku itu., “Ki Remeng berhenti sejenak, lalu katanya, “Mungkin akan singgah bersamaku dirumah itu angger Kasadha dan angger Risang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Lalu bagaimana dengan ketiga orang kawan kita ini?”

“Ah, jangan risaukan kami” berkata Sambi Wulung, “kami adalah pengembara dari waktu ke waktu. Kami tidak akan kekurangan tempat untuk bermalam. Yang penting bagi kami adalah, diniana kita dapat bertemu.”

Tetapi Jati Wulung sempat berpaling kepada pemimpin kelompok itu sambil bertanya, “kau juga harus belajar menjadi pengembara. Pengalaman itu akan sangat bermanfaat bagi tugasmu sebagai seorang prajurit.”

Pemimpin kelompok itu pun menyahut, “Bagi seorang prajurit dalam tugas, pengembaraan bukan masalah.”

“Baiklah” berkata Ki Remeng. Namun kemudian ia pun berkata, “Tetapi di dekat pasar ini ada sebuah penginapan. Penginapan yang sebenarnya diperuntukkan bagi para pedagang yang membawa barang dagangannya dari tempat yang jauh atau pedagang dari tempat yang jauh membeli dagangan dipasar ini. Tetapi pada dasarnya penginapan itu disediakan bagi siapa saja. Namun justru pada saat gawat sepeti sekarang, jika kalian berada di penginapari itu, kalian harus berhati-hati. Penginapan itu tentu diawasi oleh petugas sandi atau bahkan mungkin sekali tiba-tiba saja ada penilikan langsung atas mereka yang menginap di tempat itu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia pun menjawab, “Mudah bagi kami untuk bermalam dimana-pun. Itu bukan masalah.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Namun pembicaraan diantara mereka pun terhenti, nasi hangat disertai sayur dan lauknya telah tersedia dihadapan mereka, sehingga mereka pun kemudian mengalihkan perhatian mereka kepada asap putih yang mengepul dari nasi yang masih hangat itu.

Namun sambil makan mereka pun telah mengambil satu kesimpulan. Ki Remeng akan membawa Kasadha dan Risang kerumah saudara seperguruannya. Mereka pun telah sepakat, bahwa Kasadha dan Risang akan diaku sebagai kemanakan Ki Remeng yang ingin melihat-lihat keadaan kota Madiun.

“Aku tidak akan segera menyinggung tentang harta-benda yang hilang itu” berkata Ki Remeng.

“Hilang?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya, bukankah harta-benda itu dapat dianggap hilang oleh Padepokan Wukir Gading?” sahut Ki Remeng.

Yang lain mengangguk-angguk. Harta-benda itu memang hilang bagi Padepokan Wukir Gading, karena mereka tidak akan dapat mempergunakannya lagi.

Namun Ki Remeng pun kemudian berkata, “Kita akan melihat, apakah untuk selanjutnya kita akan dapat berbicara tentang Ki Mawur dengan saudara seperguruanku itu. Meskipun menilik sikapnya yang menyendiri, mungkin ia tidak lagi mengetahui apapun tentang Ki Mawur serta gejolak yang terjadi diantara para murid Padepokan Wukir Gading.”

Kasadha dan Risang masih mengangguk-angguk. Meskipun sebenarnya masih ada sedikit keragu-raguan, namun mereka tidak mempunyai pilihan lain.

Demikianlah, maka pembicaraan itu berakhir pada saat mereka sudah menjadi kenyang. Namun seperti saat mereka memasuki kedai itu, maka mereka pun tidak bersama-sama keluar. Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu telah meninggalkan kedai itu lebih dahulu. Baru kemudian Kasadha dan Risang menyusulnya. Mereka sepakat pula bahwa di setiap hari mereka akan berada di pasar pada saat matahari ada di puncak langit. Biasanya pasar itu sudah tidak terlalu penuh lagi, tetapi masih cukup banyak orang. Para pedagang dari tempat yang jauh masih berada di pasar. Baik mereka yang menjual dagangannya maupun mereka yang akan membeli dagangan di pasar itu. Apalagi dihari pasaran, maka sampai matahari turun, pasar itu masih nampak sibuk sekali.

Ketika kemudian Ki Remeng bersama Kasadha dan Risang melangkah di sepanjang jalan kota, kadang-kadang masih terdengar nada kebimbangan dari mulut Ki Remeng.

“Tetapi kita akan mencoba” berkata Ki Remeng yang juga menyadari bahwa kedua orang anak muda itu juga ragu-ragu.

Tetapi Ki Remeng memang tidak melihat cara lain. Seandainya saudara seperguruannya itu tidak dapat membantunya sama sekali, setidak-tidaknya mereka akan mendapat tempat untuk berteduh di Madiun untuk beberapa hari.

Demikianlah, seperti yang direncanakan, maka Ki Remeng telah melangkah menuju kerumah saudara seperguruannya yang terletak didalam lingkungan dinding kota, namun memang agak ke tepi.

“Mudah-mudahan ia masih tinggal di rumah itu. Sudah agak lama aku tidak mengunjunginya” berkata Ki Remeng.

Beberapa saat kemudian, maka mereka telah melintasi jalan utama di kota Madiun. Di sebuah simpang tiga, mereka telah berbelok mengikuti jalan yang lebih kecil.

“Masih belum banyak terjadi perubahan disini” berkata Ki Remeng.

Sebenarnyalah, ketika mereka sampai di regol halaman rumah saudara seperguruannya, ternyata segala sesuatunya masih seperti dikenalnya. Regol, pintunya dan dinding halamannya tidak ada yang berubah.

Meskipun sedikit ragu-ragu, namun Ki Remeng pun telah mendorong pintu regol sehingga terbuka. Sebuah halaman yang tidak terlalu luas terbentang dibelakang pintu regol itu. Kemudian pendapa yang juga tidak terlalu besar. Gandok kiri dan kanan yang nampak kurang terpelihara.

Kesannya rumah itu adalah rumah sebuah keluarga yang bersahaja. Meskipun tidak juga terlalu miskin.

Ketika ketiga orang itu melintasi halaman maka seorang anak laki-laki remaja datang menghampirinya. Dengan hormat ia mengangguk dan kemudian bertanya, “Siapakah yang Kiai cari?”

“Bukankah ini rumah Ki Resa Podang?” bertanya Ki Remeng.

“Ya” jawab anak itu.

“Apakah kau anaknya?” bertanya Ki Remeng pula.

“Ya, aku anaknya” jawab anak itu.

“Apakah ayahmu ada dirumah?”

“Ada. Ayah baru mandi.”

Ki Remeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Nah, katakan kepada ayahmu, bahwa aku mencarinya. Katakan, bahwa Ki Remeng menunggu.”

“Ki Remeng” ulang anak itu.

“Ya, Ki Remeng” sahut Ki Remeng.

“Marilah, silahkan naik kependapa. Aku akan menyampaikannya kepada ayah.” berkata anak itu pula.

“Terima kasih ngger” desis Ki Remeng sambil menepuk bahu anak itu.

Ketika anak itu kemudian berlari melintasi pendapa dan pringgitan, maka mereka bertiga pun telah naik dan duduk di pendapa.

Beberapa saat kemudian, saudara seperguruan Ki Remeng yang disebutnya Ki Resa Podang itu pun membuka pintu pringgitan. Agaknya baru keluar dari pakiwan. Tangannya masih sibuk membenahi pakaiannya yang baru saja dilekatkan ditubuhnya.

Demikian ia berdiri diluar pintu, maka orang itu nampak terkejut. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Jadi benar-benar kau itu Ki Remeng.”

Ki Remeng pun bangkit pula. Demikian pula Kasadha dan Risang.

Pertemuan yang cerah. Dua orang saudara seperguruan yang sudah agak lama tidak bertemu.

“Marilah, silahkan duduk” Ki Resa Podang itu pun mempersilahkan tamu-tamunya. Namun sambil memandang Kasadha dan Risang berganti-ganti, Ki Resa Podang itu pun bertanya, “Siapakah mereka berdua?”

“Mereka adalah kemanakanku.”

“O” Ki Resa Podang mengangguk-angguk, “kau harus merasa berbahagia mempunyai dua orang kemanakan yang tampan seperti mereka berdua itu.”

“Ujudnya memang demikian” jawab Ki Remeng, “tetapi keduanya adalah anak-anak padukuhan yang jauh dari kota. Sedikit dungu dan tentu saja penglihatan mereka sangat terbatas.”

“Apakah mereka bersaudara?” bertanya Ki Resa Podang.

“Ya. Mereka kakak beradik.” jawab Ki Remeng.

Ki Resa Podang mengangguk-angguk. Diamatinya Kasadha dan Risang sambil tersenyum. Katanya, “Apakah kalian berdua dilahirkan kembar?”

“Tidak, Ki Resa” Risang lah yang menjawab, “kami bukan anak kembar, ia adalah adikku.”

“O. Jika demikian aku salah duga. Aku kira justru angger yang satu inilah yang lebih tua.”

Kasadha dan Risang hanya tersenyum saja. Namun mereka berharap bahwa Ki Resa Podang tidak menjadi curiga terhadap mereka. Dengan pakaian yang lusuh sebagaimana dikenakan Ki Remeng, maka Ki Resa Podang hendaknya percaya bahwa keduanya adalah kemanakan Ki Remeng.

Ternyata Ki Resa Podang tidak bertanya lagi tentang keduli orang anak muda itu. Setelah mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka keduanya mulai berbicara tentang keluarga mereka.

“Anak yang Ki Remeng jumpai itu adalah anakku yang kedua” berkata Ki Resa Podang, “anakku yang pertama sedang berada disawah bersama adiknya yang ketiga. Bergantian anak-anakku menunggui padi yang mulai menguning.”

“Jika demikian, maka sebentar lagi kau akan menuai” berkata Ki Remeng.

Ki Resa Podang mengangguk. Katanya, “Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan untuk menuai padi yang sudah mulai menguning itu.”

“Bukankah kau tinggal menunggu saatnya saja?” bertanya Ki Remeng.

“Ya, mestinya demikian. Tetapi kadang-kadang hama datang dengan tiba-tiba. Apapun jenisnya.” jawab Ki Resa Podang.

“Kemungkinan yang sangat kecil meskipun hal itu dapat terjadi pula.” desis Ki Remeng sambil mengangguk-angguk kecil.

Pembicaraan mereka terputus sejenak, ketika dihidangkan minuman hangat dan makanan. Ki Resa pun kemudian mempersilahkan tamu-tamunya untuk menghirup minuman hangatnya dan makan makanan yang dihidangkan itu.

Sementara itu, Ki Resa Podang pun kemudian telah bertanya, “Ki Remeng. Kedatangan Ki Remeng bagiku memang begitu tiba-tiba. Apakah Ki Remeng sekedar datang untuk menengok seorang saudara yang sudah lama tidak bertemu, atau mempunyai keperluan lain yang penting.”

“Aku tidak mempunyai keperluan apa-apa, Ki Resa” jawab Ki Remeng.

“Syukurlah. Aku sangat berterima kasih bahwa masih ada saudara seperguruanku yang mau datang mengunjungi aku yang seakan-akan sudah tersisih ini.” berkata Ki Resa Podang kemudian.

“Kau sama sekali tidak tersisih, Ki Resa. Tetapi bukankah kau sendiri memang lebih senang mengasingkan diri?” sahut Ki Remeng.

Ki Resa Podang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang lebih senang hidup dalam kewajaran seperti sekarang ini. Aku merasa bahwa aku berada dalam lingkungan hidup sesama. Hidup di padepokan dengan segala macam batasan-batasannya, rasa-rasanya seperti sebuah belenggu yang mengikat aku dalam satu kehidupan yang lain dari kehidupan orang kebanyakan. Di padepokan aku hanya bergaul dengan orang-orang tertentu sehingga rasa-rasanya menjadi jenuh. Persoalan yang ada pun selalu berkisar pada kepentingan padepokan. Sehingga aku sebagai satu pribadi telah tenggelam sama sekali. Hidupku seakan-akan hanya merupakan bagian dari kehidupan padepokan dalam keseluruhannya. Dengan demikian maka rasa-rasanya yang hadir hanyalah sebuah padepokan. Aku sama sekali tidak.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Aku hormati sikapmu. Ternyata aku pun telah hidup sendiri pula, dalam arti tidak merupakan bagian dari Padepokan. Bedanya, kau dapat hidup tenang dengan sebuah keluarga. Sementara aku hidup seorang diri. Sebatang kara.”

“O” Ki Resa mengerutkan keningnya, “kenapa kau harus menyiksa diri hidup dalam dunia yang sepi?”

“Aku tidak tahu, Ki Resa. Mungkin aku merasa rendah diri untuk dapat hidup berkeluarga.” jawab Ki Remeng.

“Bukankah kita juga harus memikirkan masa depan yang panjang? Masa setelah kita berlalu?” bertanya Ki Resa.

“Ya. Aku terlambat menyadarinya. Karena itu, maka aku selalu memanggil kedua kemanakanku ini jika kesepian itu mulai terasa mencekik perasaan. Untuk beberapa lama mereka tinggal di rumahku. Baru setelah orang tua mereka mulai merasa rindu kepada keduanya, keduanya telah dipanggil pulang. Rupa-rupanya kepada keduanya pula aku harus menggantungkan hidupku kelak. Sawahku yang hanya sesobek kecil itu akan aku pergunakan untuk mengikat salah seorang dari keduanya” berkata Ki Remeng dengan nada rendah.

“Tetapi dengan demikian, kau akan merasa bahwa hidupmu merupakan bagian dari kehidupan sesama kita. Berbeda halnya jika kita berada di padepokan” sahut Ki Resa.

“Ya. Nampaknya memang demikian. Agaknya kau juga merasa berbahagia hidup bersama keluarga besarmu. He, berapa anakmu semuanya?”

“Enam orang” jawab Ki Resa; Podang, “keluargaku memang keluarga besar.”

“Jadi benar pendengaranku, bahwa anakmu memang enam orang. Apakah kau masih berdagang disamping sebagai seorang petani?”

“Sedikit. Jika pekerjaan sawah sedang luang” jawab Ki Resa Podang.

Ki Remeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku merasa iri terhadapmu.”

“Ki Remeng” berkata Ki Resa Podang, “kita kadang-kadang memang melihat keadaan orang lain jauh lebih baik dari keadaan diri kita sendiri. Tetapi sebenarnyalah kami sekeluarga merasa betapa nafas kami seolah-olah tergantung diujfing hidung. Kami harus bekerja sangat keras untuk dapat sekedar hidup dan tidak kelaparan. Kau tahu, bahwa ilmu yang aku dapatkan dari padepokan kita, tidak banyak berarti bagi pekerjaanku sehari-hari. Mungkin aku memang mempunyai sedikit kelebihan dari saudara-saudaraku para petani. Daya tahan tubuhku agak lebih kuat. Aku mampu bekerja lebih lama dan lebih kuat dari orang kebanyakan tetapi bahwa mereka juga sudah berlatih mengerjakan sawah mereka sejak mereka masih baru belajar berjalan, sebenarnyalah bahwa kekuatan dan kemampuan mereka telah terbentuk dan mapan. Terutama dibidang yang mereka tekuni. Demikian pula dibidang perdagangan yang hanya kecil-kecilan saja. Keuletan yang aku dapatkan dari padepokan ternyata berbeda dengan keuletan yang diperlukan. Meskipun demikian, ada juga artinya bagiku dalam kerja yang aku lakukan sekarang ini. Ketabahan dan ketahanan jiwani yang ikut tertempa selama aku berada di padepokan dapat mendukung tugas-tugasku yang aku pilih sekarang ini.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Katanya, “Sokur-lah. Jadi kehadiranmu di padepokan bukannya sia-sia.”

Ki Resa Podang tersenyum sambil mengangguk-angguk. Namun masih terasa bahwa dibalik senyumnya itu ada sesuatu yang masih menekan perasaannya.

Namun dalam pada itu, Ki Remeng pun kemudian berkata, “Ki Resa, sebelumnya aku mohon maaf, bahwa tiba-tiba saja aku telah merepotkanmu. Jika Ki Resa tidak berkeberatan, sebenarnyalah aku mohon untuk dapat berada dirumahmu barang dua tiga hari. Aku sudah terlanjur berjanji untuk membawa anak-anak ini melihat-lihat keadaan kota Madiun, sementara aku tidak mempunyai sanak kadang di kota ini. Itu kalau tidak ada keberatannya. Tetapi aku mohon Ki Resa tidak segan-segan untuk mengatakan apa yang sebenarnya. Seandainya Ki Resa berkeberatan karena sesuatu hal, aku sama sekali tidak akan menyesalinya. Aku dapat mengerti, justru karena keluarga Ki Resa adalah keluarga yang besar.”

Ki Resa Podang mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tersenyum pula sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Remeng. Tentu aku tidak akan berkeberatan. Meskipun keluargaku keluarga besar, tetapi disini masih ada tempat bagi kalian untuk bermalam. Bilik digandok sebelah kanan itu dapat kalian tempati. Anak-anakku sendiri, setiap malam tidur diamben yang besar diruang dalam.” Ki Resa berhenti sejenak, lalu, “Tetapi tempat itu mungkin terlalu kotor bagi Ki Remeng. Selebihnya, apa yang dapat kami sediakan sehari-hari tentu hanya sangat sederhana saja, sesuai dengan kemampuanku.”

“Tentu, tentu” sahut Ki Remeng dengan serta mer-ta, “bahwa aku dapat tidur dibawah atap rumahmu, aku sudah merasa bersokur. Dalam dua tiga hari ini aku akan mendapatkan tempat untuk berlindung. Sementara aku dapat membawa kedua anak ini untuk berjalan-jalan melihat berkeliling.”

Ki Resa Podang mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Sayang, waktu yang kau pilih untuk membawa kedua orang anak ini tidak menguntungkan. Justru pada saat Madiun sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi perang melawan Mataram dan Pajang. Kesiagaan yang terlalu tinggi, kadang-kadang membuat orang menjadi sangat berhati-hati. Bahkan berlebihan.”

“Ya” Ki Remeng mengangguk-angguk., “Kami juga melihat dan bahkan berpapasan dengan kelompok-kelompok prajurit yang sedang meronda. Kami juga berpapasan dengan kelompok-kelompok prajurit yang agaknya bukan prajurit Madiun.”

Ki Resa Podang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Asal kau berhati-hati. Jangan melakukan hal-hal yang dapat dianggap kurang wajar sehingga akan menarik perhatian atau bahkan menimbulkan kecurigaan.”

“Aku mengerti. Terima kasih atas pesan-pesan Ki Resa. Selebihnya aku juga sangat berterima-kasih, bahwa kami bertiga diijinkan bermalam dirumah Ki Resa untuk dua tiga malam. Mudah-mudahan selama kami berada di Madiun, kedua orang kemanakanku akan dapat melihat lebih banyak dari apa yang dilihatnya di padukuhan mereka.”

Ki Resa Podang mengangguk-angguk. Katanya kepada Risang dan Kasadha, “Kalian tidak usah merasa segan. Anggaplah kalian berada dirumah pamanmu sendiri. Aku dan Ki Remeng sudah menjadi keluarga karena kami adalah saudara seperguruan.”

Kasadha dan Risang mengangguk hormat. Dengan nada dalam Risang menyahut, “Terima kasih Ki Resa.”

“Panggil aku paman. Bukankah panggilan itu terasa lebih akrab?” berkata Ki Resa kemudian.

Risang memandang Ki Remeng sekilas, seakan-akan minta persetujuannya, apakah pantas baginya untuk memanggil paman kepada Ki Resa Podang yang baru saja dikenalnya.

Ternyata Ki Remeng pun mengangguk sambil berkata, “Jika itu yang diinginkan oleh Ki Resa, aku kira, kalian berdua justru harus berterima-kasih kepadanya.”

Risang mengangguk pula sambil berkata, “Kami  merasa mendapat kehormatan, paman. Terima kasih.”

Ki Resa Podang tersenyum. Katanya, “Baiklah. Biarlah aku bersihkan sebuah bilik di gandok. Kalian dapat beristirahat. Tetapi seperti yang aku katakan, tempatnya sangat sederhana karena memang hanya inilah yang kami miliki.”

“Jika saja Ki Resa Podang melihat gubugku, maka rumah ini adalah rumah yang sangat baik.” sahut Ki Remeng.”

Demikianlah, maka Ki Resa Podang itu pun telah bangkit dan masuk keruang dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian, bersama seorang gadis kecil ia pergi ke gandok sambil membawa tebah sapu lidi.

Ki Remeng pun dengan tergesa-gesa bangkit pula dan menyusulnya sambil mengajak Kasadha dan Risang. Katanya, “Ki Resa. Biarlah kami membersihkan sendiri bilik itu.

“Sudahlah. Duduk sajalah.” berkata Ki Resa.

“Biarlah anak-anak ini membersihkannya” sahut Ki Remeng., “mereka sudah terbiasa melakukan pekerjaan sehari-hari. Apalagi jika mereka berada dirumahku. Aku membiasakan mereka mandiri.”

Ketika kemudian Kasadha mendekati Ki Resa dan minta tebah sapu lidi ditangannya, Ki Resa tersenyum sambil memberikan-nya, “Baiklah. Bersihkan sendiri bilik itu.”

Ketika Kasadha melangkah ke gandok, maka Ki Resa berkata kepada gadis kecil itu, “Nah, sekarang tunjukkan kepada tamu-tamu kita, bilik di gandok itu.”

Gadis kecil itu mengangguk. Sambil memandang Kasadha yang telah membawa tebah sapu lidi itu, ia berkata, “Marilah. Aku tunjukkan bilik itu.”

“O” sahut Kasadha sambil mengusap pipi gadis kecil itu, “terima kasih.”

Ki Remenglah yang kemudian berkata, “Anakmu akan menjadi anak yang terbuka dan berani. Apakah anak ini anak bungsumu?”

Ki Resa Podang tertawa kecil sambil menjawab, “Tidak. Ia masih mempunyai seorang adik.”

“Jadi ia masih mempunyai seorang adik?” dahi Ki Remeng pun nampak berkerut.

“Ya” Ki Resa Podang masih tertawa, “aku memang terlambat menikah. Jadi saat rambutku sudah mulai ubanan, aku masih mempunyai anak yang lebih kecil dari anak ini.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian menyahut dengan nada dalam, “Kau lebih beruntung dari aku. Aku tidak mempunyai seorang anakpun.”

“Tetapi kau mempunyai dua orang kemanakan yang dapat menjadi kebanggaan.” sahut Ki Resa.

“Hanya anak-anak padesan itu” jawab Ki Remeng.

Demikianlah, maka gadis kecil itu pun telah mengajak Kasadha ke bilik yang dimaksud. Risang dan Ki Remeng mengikutinya dibelakang, sementara Ki Resa Podang berkata, “Aku persilahkan kalian beristirahat. Aku akan pergi ke kebun sebentar.”

“Silahkan, silahkan Ki Resa. Hendaknya kedatangan kami tidak mengganggu kegiatan Ki Resa sekeluarga.”

“Ah, tentu tidak. Nanti, sesudah selesai pekerjaan di dapur, biarlah isteriku ikut menemuimu bersama anak-anakku.” berkata Ki Resa Podang.

“Terima kasih. Kami akan senang sekali berada diantara keluargamu.” jawab Ki Remeng.

Ketika kemudian Ki Resa meninggalkan mereka, maka gadis kecil itulah yang mengantar tamu-tamunya memasuki bilik yang disediakan bagi mereka.

Ternyata gadis itu sama sekali tidak merasa canggung menghadapi orang-orang yang baru pertama kali ditemuinya. Dengan lancar ia berkata, “Silahkan. Kalian dapat beristirahat disini dan malam nanti kalian dapat tidur dibilik ini.”

“Terima kasih anak manis” sahut Ki Remeng sambil mengusap rambut anak itu.

Namun gadis kecil itu pun kemudian berkata, “Aku minta diri. Aku sedang membantu ibu didapur.”

“Bagus” jawab Ki Remeng, “kau harus selalu membantu ibu. Bukankah saudara-saudaramu juga berbuat demikian?”

“Ya” jawab anak itu., “kakang dan mbokayu sedang pergi kesawah. Yang lain ada dikebun.”

“Baik, baik” berkata Ki Remeng, “kami akan beristirahat disini.”

Gadis kecil itu pun kemudian meninggalkan Ki Remeng dan dua orang anak muda yang diakuinya sebagai kemanakannya. Demikian gadis kecil itu keluar dari pintu bilik di gandok itu, Ki Remeng berkata kepada Kasadha dan Risang, “Sikap kalian tidak mencerminkan sikap anak-anak padesan yang dungu.”

“Jadi bagaimana?” bertanya Risang.

“Sikap kalian adalah sikap anak-anak muda yang memiliki unggah-ungguh yang lengkap. Tetapi sudahlah. Justru jangan dirubah. Tetapi usahakan agar kalian tidak mengatakan apa-apa. Cobalah sedikit mungkin berbicara. Cara itu sudah menolong untuk menunjukkan bahwa kalian adalah anak-anak muda yang kurang pengalaman.

Kasadha dan Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun memang sulit bagi mereka untuk berperan dengan baik sebagai anak-anak muda yang dungu dan tidak tahu unggah-ungguh. Atau setidak-tidaknya dengan unggah-ungguh yang tidak mapan sebagaimana anak-anak muda yang tinggal jauh dari kota.

Hari itu, Ki Remeng, Kasadha dan Risang tidak meninggalkan rumah Ki Resa Podang. Menjelang sore, ketika pekerjaan Ki Resa Podang sudah selesai, maka Ki Resa menyempatkan diri duduk bersama tamu-tamunya. Nyi Resa Podang dan keenam anaknya juga ikut menemui dan diperkenalkan seorang demi seorang.

Meskipun Ki Resa Podang bukan seorang yang berada, tetapi karena ia tinggal dikota, maka anak-anaknya pun memiliki gaya dan cara hidup yang lain dari anak-anak padesan. Anak-anak Ki Resa memang nampak lebih berani dan tidak canggung berhubungan dengan orang-orang yang belum dikenalnya sekalipun.

Namun Ki Resa Podang tidak dapat berbincang terlalu lama. Kepada Ki Remeng ia berkata, “Maaf, Ki Remeng. Aku mempunyai sedikit kepentingan dengan tetangga sebelah. Aku akan pergi sebentar.”

“Silahkan Ki Resa” sahut Ki Remeng, “sudah aku katakan, bahwa kedatangan kami dirumah ini hendaknya jangan mengganggu kegiatan Ki Resa sehari-hari.”

Ki Resa tertawa. Katanya, “Satu kebetulan bahwa aku mempunyai sedikit kepentingan dengan tetangga.”

Sepeninggal Ki Resa, maka Nyi Resa pun memper-silahkan Ki Remeng dengan kedua orang yang diaku sebagai kemanakannya itu duduk-duduk dipendapa bersama anak-anaknya. Bahkan Nyi Resa itu pun kemudian bertanya, “Apakah Ki Remeng akan berjalan-jalan? Biarlah anak sulungku mengantarkannya?”

“Terima kasih Nyi” jawab Ki Remeng, “besok pagi saja kami akan melihat-lihat.”

“Baiklah” berkata Nyi Resa Podang, “jika demikian, silahkan duduk. Jika Ki Remeng dan kedua kemanakan Ki Remeng memerlukan apa-apa, silahkan mengatakannya kepada anak-anak.”

“Terima kasih Nyi. Tetapi rasa-rasanya kami sudah mendapatkan perhatian yang sangat besar disini.”

“Ah, hanya inilah yang dapat kami sajikan” berkata Nyi Resa.

“Tetapi semuanya itu sudah jauh dari cukup bagi kami.” jawab Ki Remeng pula.

Sementara Nyi Resa kemudian pergi ke belakang, maka anak-anaknya yang masih kecil bermain-main di pendapa. Sedang yang sulung telah dapat berceritera tentang kampung halaman mereka. Tentang sekotak sawah yang tidak banyak menghasilkan, serta kerja ayah dan ibunya berdagang kecil-kecilan disaat kerja disawah sedang luang.

Menjelang senja, Ki Resa Podang telah datang kembali. Mereka pun kemudian dipersilahkan makan malam sambil berbincang tentang berbagai macam persoalan. Termasuk kehadiran prajurit-prajurit dari beberapa Kadipaten di Madiun.

“Jumlahnya memang puluhan ribu” berkata Ki Resa Podang.

Kasadha dan Risang memperhatikan keterangan Ki Resa tentang prajurit-prajurit dari luar Madiun itu dengan saksama. Tetapi seperti yang diharapkan oleh Ki Remeng, mereka memang lebih banyak berdiam diri.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Ki Remeng dan kedua orang kemanakannya itu pun telah dipersilahkan untuk beristirahat didalam biliknya. Bertiga mereka tidur di amben yang memang agak besar yang terletak di bilik gandok itu. Amben itu memang satu-satunya perabot yang terdapat di bilik itu, selain sebuah ajug-ajug lampu minyak yang berkeredipan disudut bilik itu.

Ki Remeng lah yang pertama-tama membaringkan dirinya sambil berdesis, “Kita akan beristirahat sebaik-baiknya. Mungkin besok kita akan memerlukan tenaga kita sepenuhnya. Tetapi mungkin juga tidak. Mungkin besok kita benar-benar hanya akan sempat melihat-lihat kota ini saja.”

Kasadha dan Risang yang duduk dibibir amben bambu itu mengangguk kecil. Namun tanpa membicarakan lebih dahulu mereka merasa perlu untuk berganti-ganti mengamati Ki Remeng yang telah berbaring, bahkan telah memejamkan matanya. Dirumah itu Ki Remeng telah berhubungan dengan saudara seperguruannya. Bagaimanapun juga kedua orang anak muda itu masih belum dapat mempercayainya sepenuhnya.

Meskipun kemudian Risang dan Kasadha itu juga berbaring disebelah Ki Remeng, namun dengan isyarat, mereka telah menentukan, bahwa Kasadha akan tidur lebih dahulu. Baru kemudian setelah lewat tengah malam, Risang akan membangunkannya.

Karena Ki Remeng pun kemudian nampaknya telah tertidur pula, maka Kasadha pun telah meletakkan segala macam bebas tugasnya dan berusaha untuk dapat segera tidur pula.

Tetapi Risang justru berusaha sebaliknya, ia berusaha untuk bertahan agar tidak tertidur. Namun untuk tidak semata-mata sehingga mungkin akan dapat menyinggung perasaan Ki Remeng, maka ia harus berbaring.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin sepi. Suasa-suara malam terdengar semakin ngelangut. Suara angkup dan derik bilalang terdengar saling bersahutan. Sekali-sekali terdengar suara burung bence yang terbang melintas.

Risang masih harus bertahan. Ketika kantuk semakin mengganggunya, Risang memang bangkit dan duduk bersandar dinding. Sementara itu, Kasadha dan Ki Remeng agaknya dapat tidur dngan nyenyak. Nafas mereka mengalir dengan teratur, sementara wajah-wajah mereka nampak tenang, seakan-akan mereka sedang terlepas dari segala macam beban perasaan.

Namun telinga Risang yang tajam itu telah mendengar desir langkah kaki di serambi gandok. Langkah yang semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian berhenti didepan pintu bilik itu.

Risang menjadi semakin berhati-hati. Tetapi ia masih tetap berdiam diri. Risang justru berusaha untuk mengatur pernafasannya, sehingga terdengar teratur sebagaimana mereka yang sedang tidur nyenyak. Beberapa saat memang tidak terdengar lagi sesuatu. Tetapi justru karena itu Risang menduga, bahwa orang yang mendekati bilik itu masih berada diluar.

Tetapi beberapa saat kemudian, desir langkah kaki itu telah terdengar lagi. Namun langkah itu justru mulai menjauh.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi bahwa seseorang telah mendekati bilik itu, membuatnya semakin berhati-hati. Mungkin orang itu memang tidak mempunyai maksud apa-apa. Tetapi mungkih ada sesuatu yang memaksanya mengamati mereka bertiga.

Lewat tengah malam, maka Risang telah membangunkan Kasadha. Sentuhan-sentuhan kecil pada lengannya telah membuat anak muda itu terbangun. Sementara itu, Risang pun telah berbaring pula disebelahnya.

Dengan berbisik Risang pun memberitahukan, bahwa menjelang tengah malam, ia telah mendengar langkah kaki mendekati pintu bilik itu.

Kasadha mengangguk. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

Didini hari, Risang juga sempat tidur beberapa lama. Udara terasa menjadi semakin dingin, sehingga Risang justru dapat tidur dengan nyenyak pula.

Namun sebelum fajar Risang telah bangun. Ketika ia menggeliat, maka Ki Remeng pun telah bangkit pula dan duduk sambil mengusap matanya.

“Aku dapat tidur nyenyak sekali” desis Ki Remeng.

Kasadha yang sudah duduk pula menyahut, “Ya. Aku pun dapat tidur dengan nyenyak pula. Agaknya disini tidak ada seekor nyamuk pun.”

Risang yang kemudian telah bangkit berdiri berkata, “Aku akan pergi ke pakiwan dahulu. Mudah-mudahan seisi rumah itu belumterbangun dan belum memerlukan pakiwan,”

“Mandilah. Kita bergantian” berkata Kasada.

Risang pun pergi keluar biliknya. Diperhatikan pintu pringgitan yang masih tertutup. Langit memang masih nampak kehitam-hitaman. Tetapi semburat warna merah telah mulai membayang di Timur.

“Aku akan menimba air sementara angger Risang mandi” berkata Ki Remeng.

Namun Kasadha pun berkata, “Marilah. Bergantian kita menimba air untuk mengisi jambangan.”

Demikianlah, ketika mereka bertiga selesai mandi, maka pintu dapur rumah Ki Resa Podang itu mulai terbuka. Seleret cahaya lampu minyak terlontar keluar menusuk keremangan fajar.

Ketika ketiga orang itu kembali ke bilik mereka, maka anak-anak Ki Resa pun sudah bangun pula. Dua orang anaknya sedang menyapu halaman depan. Seorang yang lain di halaman samping. Sedangkan Ki Resa sendiri masih belum nampak diantara keluarganya. Bahkan yang mengambil air dari sumur dengan kelenting adalah Nyi Resa sendiri.

Ki Remeng, Kasadha dan Risang pun kemudian setelah membenahi pakaiannya, duduk di serambi. Halaman depan rumah itu sudah nampak bersih. Leret-leret bekas sapu lidi nampak teratur dari dinding halaman sampai kedinding halaman. Sementara itu senggot timba terdengar berderit tidak henti-hentinya. Agaknya anak-anak Ki Resa itu sedang bergantian menimba air.

Baru ketika matahari terbit, Ki Remeng, Risang dan Kasadha yang duduk diserambi melihat Ki Resa memasuki regol halaman rumahnya sambil memanggul cangkul dipundaknya.

“Darimaha kau sepagi ini Ki Resa?” bertanya Ki Remeng.

“Dari sawah” jawab Ki Resa, “he, kalian sudah nampak rapi. Apakah kalian akan melihat-lihat kota sepagi ini?”

“Tidak sekarang. Nanti sebentar, setelah matahari sepenggalah.” jawab Ki Remeng.

“Nah, silahkan duduk dahulu. Aku akan mandi” berkata Ki Resa kemudian.

“Terima kasih” jawab Ki Remeng.

Risang dan Kasadha termangu-mangu sejenak. Mereka bertanya didalam hati, untuk apa Ki Resa semalam pergi ke sawah. Jika padi telah menguning, maka biasanya tidak lagi banyak diperlukan waktu untuk pergi ke sawah, apalagi membawa cangkul untuk membuka dan menutup pematang, karena padi yang sudah menguning tidak lagi banyak diperlukan air. Tetapi memang bukan berarti bahwa padi yang menguning tidak memerlukan air sama sekali.

Sementara itu, ternyata Ki Remeng juga berdesis, “Apa yang dikerjakan Ki Resa disawah semalam, bahkan sampai matahari terbit? Atau dalam keadaan seperti ini, padi yang sudah menguning harus ditunggui semalam suntuk?”

Risang dan Kasadha tidak sempat menyahut. Gadis kecil anak kelima Ki Resa telah datang membawa minuman hangat dan ketela rebus yang masih mengepul.

“Silahkan minum” berkata gadis kecil itu.

“Terima kasih anak manis” sahut Ki Remeng sambil tersenyum.

Gadis kecil itu pun tersenyum pula. Namun kemudian ia pun telah berlari turun ke halaman. Seperti anak-anak yang lain, maka gadis kecil itu pun masih senang bermain-main. Berlari-larian atau bermain pasaran. Sementara itu, kakaknya laki-laki telah menggiring lima ekor kambing yang akan digembalakannya.

“Keluarga yang menarik” desis Ki Remeng. Lalu katanya pula., “Nampaknya keluarga ini hidup sederhana. Tetapi anak-anak Ki Resa tahu diri. Bahkan mereka adalah anak-anak yang rajin bekerja tanpa mengeluh. Mereka nampak gembira dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Risang dan Kasadha mengangguk-angguk. Anak-anak itu memang nampak sehat dan memiliki gairah yang tinggi menyongsong hari hari yang datang.

Beberapa saat kemudian, ketika Ki Resa telah selesai mandi, maka Ki Remeng, Kasadha dan Risang pun telah dipersilahkan untuk masuk keruang dalam. Agaknya Nyi Resa telah menyediakan makan pagi meskipun sederhana. Nasi dengan sayur lompong ungu.

Sambil makan, Ki Remeng dan Ki Resa masih banyak berbicara tentang masa lalu mereka. Seakan-akan keduanya tidak jemu-jemunya mengenang kembali masa silam yang barangkali banyak berkesan bagi keduanya yang menjadi semakin tua.

Namun tiba-tiba saja, seperti tidak sengaja, Ki Remeng bertanya, “Apakah Ki Resa masih sering berhubungan dengan saudara-saudara kita? Meskipun Ki Resa seakan-akan telah memisahkan diri dari pergaulan saudara-saudara seperguruan, tetapi karena Ki Resa tinggal dikota, mungkin ada satu dua orang yang pernah datang kemari selain aku.”

Ki Resa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Aku benar-benar telah terpisah. Tidak seorang pun pernah datang?”

“Apakah Ki Resa ingat kepada Surabawa?”

“Surabawa” Ki Resa mengingat-ingat. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya, ya. Aku ingat. Surabawa yang terlalu banyak bicara, tetapi malas untuk melakukan sesuatu.” \

“Ya” jawab Ki Remeng, “dimana ia sekarang? Apakah Ki Resa pernah bertemu?”

Ki Resa termenung sesaat. Kemudian sambil menggeleng ia berkata, “Tidak. Sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu. Apalagi hubunganku dengan Surabawa tidak terlalu akrab sejak aku berada di padepokan.

Ki Remeng mengangguk-angguk. Sambil lalu saja ia bertanya, “Apakah Ki Resa tidak pernah bertemu dengan seorangpun? Bukankah hubungan Ki Resa dengan Ki Mawur sangat baik saat itu?”

“Ah, juga tidak begitu baik. Ki Mawur termasuk orang penting di perguruan kita. Bahkan seakan-akan ia adalah orang kedua di perguruan setelah guru sendiri.”

“Aku sedih mendengar berita bahwa guru sudah tidak ada” berkata Ki Remeng.

“Aku juga terlambat mendengarnya.” jawab Ki Resa tetapi apaboleh buat. Semuanya sudah terjadi. Rasa-rasanya aku segan mengenang tentang kematian guru yang tidak wajar itu. Namun dengan demikian aku menjadi semakin yakin, bahwa aku telah memilih jalan yang benar jika aku memisahkan diri dari lingkungan perguruan.”

Ki Remeng tidak bertanya lebih lanjut. Untuk sementara ia masih harus menahan diri, agar Ki Resa Podang tidak menjadi curiga kepadanya serta tugas yang diembannya.

Namun adalah diluar dugaannya, jika tiba-tiba saja Ki Resa itu berkata, “Terkutuklah orang yang telah membunuh guru. Tetapi disaat terakhir, menurut pendengaranku, guru terlalu dikendalikan oleh Ki Mawur, bahkan seolah-olah Ki Mawur lah yang kemudian berkuasa. Hal itu telah menimbulkan pergolakan di perguruan. Namun bagaimanapun juga, seharusnya guru tidak menjadi korban.”

Kesempatan yang terbuka itu tidak disia-siakan oleh Ki Remeng. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah sebabnya sehingga pergolakan di perguruan itu terjadi? Agaknya aku yang sudah terlalu lama berada diluar kota Madiun tidak mendengar apapun juga tentang perguruan.

“Aku tidak tahu” jawab Ki Resa Podang, “mungkin karena persoalan yang sangat aku benci. Berebut pengaruh.”

Ki Remeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hampir terjadi disemua perguruan. Jika murid-murid utamanya kemudian menjadi orang-orang berilmu tinggi, maka mereka masing-masing merasa dirinya memiliki ilmu yang paling tinggi tanpa menghiraukan tataran yang ditentukan oleh perguruan.”

“Nah, bukankah kita telah memilih jalan yang benar? Aku merasa lebih tenang hidup bersama keluargaku, sementara kau memilih hidup dalam sepinya dunia yang kau ciptakan.” berkata Ki R.esa Podang.

“Ya.” jawab Ki Remeng, “namun bagaimanapun . juga, masih banyak yang kau ketahui tentang perguruan kita yang nampaknya telah menjadi terkoyak-koyak itu. Sementara itu aku sama sekali tidak pernah mendengar lagi beritanya.”

Ki Resa mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sering bertemu dengan satu dua orang dijalan atau dipasar atau saat-saat aku membawa dagangan dimusim sepi kerja disawah. Tetapi pertemuan yang singkat saja. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa aku sudah menjadi orang asing. Hanya satu dua saja yang masih mau berbicara agak panjang. Bahkan baru Ki Remeng sajalah yang sudi mengunjungi rumah dan keluargaku ini.”

Ki Remeng mengangguk-angguk.Katanya, ”Tetapi itu masih lebih baik dari keadaanku. Tetapi aku tidak mengeluh. Aku memang sudah berniat melakukannya.”

“Ya. Tepat sekali, Ki Remeng. Bukankah kita sudah berniat menempuh satu kehidupan yang lain dari kehidupan mereka yang masih tinggal di padepokan, atau mereka yang meninggalkan padepokan tetapi menempuh cara hidup yang tidak sewajarnya seperti Kebo Wingit.”

Dahi Ki Remeng berkerut. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau pernah bertemu atau setidak-tidaknya mendengar kabar tentang Kebo Wingit?”

Ki Resa menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku sudah lama sekali tidak mendengarnya.”

“la suctah lama sekali meninggalkan perguruan” berkata Ki Remeng, “mungkin ia sudah mendirikan sebuah padepokan atau mungkin ia menempuh cara hidup sebagaimana kita lakukan.”

Ki Resa Podang memandang Ki Remeng dengan tajamnya. Namun kemudian ia berpaling kepada Kasadha dan Risang sambil berkata, “Kalian tentu asing dengan nama-nama itu anak-anak muda. Kami sedang mengingat saudara-saudara kami ketika kami masih berguru. Tetapi masa-masa itu sudah jauh berlalu.”

Kasadha dan Risang hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka tidak menyahut.

Demikianlah, setelah mereka selesai makan pagi, maka Ki Resa pun berkata, “Maaf Ki Remeng. Aku harus pergi ke sawah. Apakah Ki Remeng akan mengajak kedua kemanakan Ki Remeng hari ini melihat-lihat kota?”

“Ya, Ki Resa” jawab Ki Remeng, “kami akan melihat-lihat meskipun dibeberapa tempat yang nampak hanya kelompok-kelompok prajurit.”

Ki Resa Podang tertawa. Katanya, “Baiklah. Tetapi berhati-hatilah.  Dalam  keadaan yang rasa-rasanya semakin gawat ini, kemungkinan-kemungkinan yang tidak, terduga dapat terjadi.”

“Baiklah Ki Resa, kami akan berhati-hati.” jawab Ki Remeng.

Ki Resa Podang pun kemudian telah mendahului meninggalkan rumahnya pergi ke sawah dengan anaknya yang sulung. Baru beberapa saat kemudian Ki Remeng dengan kedua orang anak muda yang diakuinya sebagai kemanakannya itu minta diri kepada Nyi Resa untuk melihat-lihat keadaan.

Demikian ketiganya meninggalkan regol halaman rumah Ki Resa, maka mereka bertiga pun langsung melangkah menuju ke pasar. Di sepanjang jalan mereka mencoba menilai pembicaraan Ki Remeng dengan Ki Resa Podang.

“Agaknya aku tidak akan mendapat petunjuk apapun dari Ki Resa Podang” berkata Ki Remeng.

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Dengan nada berat Kasadha berkata, “Ki Resa Podang sudah terlalu lama terpisah dari lingkungan perguruannya.”

“Ya. Agaknya ia memang tidak peduli, apa yang terjadi kemudian di perguruan.” sahut Ki Remeng.

Kasadha dan Risang tidak menyahut lagi. Mereka masih merenungi kemungkinan-kemungkinan untuk menelusuri jejak hilangnya Ki Mawur yang dalam keadaan luka parah.

Dlari Ki Sabawa mereka mengetahui bahwa orang-orang Wukir Gading telah terpecah. Kelompok-kelompok itu sedangjberpacu untuk dapat menguasai Ki Lurah Mertapraja yang, dianggap satu-satunya orang yang mengetahui tempat harta-benda itu disimpan.

Tetapi Ki Sabawa yang tidak lebih dari orang-orang yang diperintah, ternyata tidak mampu menunjukkan keterangan yang lebih jelas daripada sekedar menjalankan perintah itu.

Namun menilik usaha-usaha yang sudah dilakukan, maka orang-orang yang terlibat dalam perebutan harta-benda itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Agaknya orang yang bernama Kebo Wingit itu telah menjadi orang penting dalam perebutan harta-benda perguruan Wukir Gading itu.

Sementara itu, langkah mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan pasar. Mereka berharap bahwa Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu sudah ada disana.

Sebenarnyalah, bahwa mereka memang sudah duduk disebelah kanan pintu gerbang pasar. Mereka duduk bersandar dinding pasar, di sebelah orang-orang yang sedang berjualan gerabah.

Ki Remeng pun kemudian ikut duduk di sebelah Sambi Wulung, sementara Risang dan Kasadha masih saja berdiri.

Sambil menggeleng Ki Remeng berkata, ”Belum ada kemajuan.”

Sambi Wulung menarik nafas panjang. Tetapi ia pun kemudian berkata, “kita memang harus bersabar. Jika tidak hari ini, mungkin besok atau mungkin besok lusa.”

Ki Remeng mengangguk kecil. Katanya kemudian, “Kita tidak boleh terlalu lama berhubungan. Kalian harus tetap memelihara jarak dengan kami.”

“Ya” jawab Sambi Wulung, “tetapi besok kami akan berada disini sejak pagi. Mudah-mudahan ada kemajuan;”

Ki Remeng pun kemudian bangkit berdiri dan berkata kepada Risang dan Kasadha, “Apakah ada pesan kalian?

Keduanya menggeleng, sehingga Ki Remeng itu pun berkata, “Jika demikian, marilah. Kita melihat-lihat kota ini.”

Ketiganya pun melangkah pergi. Tetapi demikian mereka sampai di pintu, Risang berkata, “Tunggu sebentar. Ternyata ada satu pesan bagi mereka. Kami juga ingin membawa sedikit keterangan tentang kesiagaan Madiun menghadapi Pajang dan Mataram. Meskipun masih ada upaya damai, namun agaknya langit menjadi semakin mendung. Setiap saat hujan dapat runtuh ke bumi.”

“Hati-hatilah” pesan Ki Remeng yang nampaknya tidak begitu terikat pada persoalan yang akan terjadi antara Mataram dan Madiun, “kita jangan hanyut kedalam tugas-tugas sampingan. Bukankah kita datang ke Madiun untuk mencari dan jika mungkin membebaskan Ki Mawur?”

“Ya” Risang mengangguk-angguk. Namun sekilas Risang telah memperhatikan orang-orang disekitarnya. Ternyata tidak seorang pun yang tertarik kepada sikap dan pembicaraan mereka bertiga.”

Risang pun kemudian telah mendekati Sambi Wulung, Jati Wulung dan pemimpin kelompok itu. Mereka telah bangkit berdiri pula dan bersiap untuk meninggalkan pasar.

Risang yang mendekati mereka itu pun berdesis, “Besok kita bertemu di tempat yang lain. Mungkin di tempat orang berjualan alat-alat pertanian didekat tempat kerja pande besi itu.”

“Aku setuju” berkata Sambi Wulung, “beberapa orang yang berjualan tetap disini memang akan mempertanyakan kehadiran kami setiap hari, juga kedatangan kalian menemui kami.”

“Hati-hatilah” berkata Risang kemudian, “ada sesuatu yang menarik perhatian di penginapan. Semalam, kami mendengar langkah orang diluar bilik yang disediakan bagi kami bertiga. Orang itu berhenti sejenak. Namun kemudian orang itu telah pergi lagi. Kami tidak tahu siapakah orang itu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sedangkan Risang dengan singkat memberikan petunjuk, dimana letak rumah Ki Resa itu.”

“Sudahlah” berkata Risang, “bagaimanapun juga Ki Remeng adalah orang lain bagi kami.”

Sambi Wulung masih mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan berhati-hati.”

Demikianlah, maka Risang pun segera meninggalkan mereka. Sementara itu Ki Remeng-dan Kasadha telah berada diluar pasar.

Ketika mereka kemudian meninggalkan pasar itu, maka Kasadha pun bertanya kepada Ki Remeng, “Kemana kita sekarang?”

“Aku berharap agar kehadiranku disini tidak diketahui, atau setidak-tidaknya tidak banyak diketahui oleh orang-orang yang pernah mengenalku. Atau bahwa orang-orang yang menduga bahwa aku pun mengetahui dimana harta-benda itu disimpan sebagaimana orang-orang yang pernah datang kepadaku serta Ki Surabawa dan kawan-kawannya yang sudah terbunuh itu.”

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Mereka dapat mengerti niat Ki Remeng itu. Karena itu, maka Risang pun bertanya, “Jadi, kita akan pergi kemana?”

“Kita pergi saja ke sungai mencuci pakaian dan memperkecil kemungkinan dilihat oleh saudara seperguruanku yang mungkin berniat buruik. Mereka mempunyai seribu cara yang mungkin licik, kasar atau bahkan sama sekali tidak wajar.”

Kasadha dan Risang tidak menolaknya. Mereka pun setuju untuk pergi kemana saja, agar Ki Remeng tidak mudah diketahui oleh saudara-saudara seperguruannya.

Baru lewat tengah hari, mereka kembali kerumah Ki Resa Podang. Namun Ki Resa Podang sendiri masih belum pulang.

“Sejak tadi pagi” berkata Nyi Resa, “Agaknya baru banyak burung di sawah.”

Ki Remeng tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi ketika Nyi Resa mempersilahkan Ki Remeng dan dua orang yang diakuinya sebagai kemanakannya itu untuk makan lebih dahulu, maka Ki Remeng pun menjawab, “Biarlah nanti saja kami menunggu Ki Resa, Nyi.”

“Tetapi tidak tentu, kapan Ki Resa pulang” berkata Nyi Resa, “jika banyak burung di sawah atau banyak kerja yang lain, kadang-kadang Ki Resa pulang menjelang senja.”

Sambil tersenyum, Ki Remeng berkata, “Tidak apa Nyi. Kami akan menunggu.”

Nyi Resa tidak memaksanya. Dipersilahkannya Ki Remeng dan kedua orang yang disebut kemanakannya itu beristirahat digandok.

Tetapi sampai sore hari Ki Resa Podang masih belum pulang. Meskipun demikian nampaknya keluarganya sama sekali tidak menjadi resah.

“Agaknya Ki Resa sudah terbiasa pulang lambat” berkata Ki Remeng diserambi gandok kepada Kasadha dan Risang.

“Bukankah Nyi Resa juga sudah mengatakannya?” sahut Kasadha.

Ki Remeng mengangguk-angguk.Namun rasa-rasanya Ki Remeng menjadi gelisah.

Ketika matahari sudah jauh turun disisi Barat, sementara Ki Resa belum pulang, maka Nyi Resa telah mempersilahkan ketiga orang tamunya untuk makan. Bahan kemudian gadis kecil yang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Remeng, Kasadha dan Risang telah membawa hidangan makan itu ke gandok.

Ki Remeng tidak dapat menolak lagi. Ketika Nyi Resa menyusul gadis kecilnya dan mempersilahkan mereka makan, maka Ki Resa dan kedua orang anak muda itu terpaksa makan mendahului Ki Resa.

Ternyata sampai senja dan saat matahari tenggelam, Ki Resa belum juga pulang. Demikian pula anaknya yang sulung yang mengikuti ayahnya ke sawah.

Nyi Resa memang mulai menjadi gelisah. Kepada Ki Remeng ia berkata, “Ki Resa memang sering lambat pulang. Tetapi tidak pernah sampai lewat senja seprti ini, kecuali jika siang hari ia pulang lebih dahulu.”

Ki Remeng memang ikut menjadi gelisah. Kepada Kasadha dan Risang, Ki Remeng berkata, “Berhati-hatilah.

Mungkin ada sesuatu yang tidak wajar terjadi atas Ki Resa, justru karena kita berada disini.

Kasadha dan Risang mengangguk-angguk. Meskipun agak ragu Risang berkata, “Jika benar demikian, kasihan Ki Resa. Ia mempunyai enam orang anak. Mungkin Ki Resa sendiri dapat tabah menghadapi kesulitan apapun juga. Tetapi bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu.”

Ki Remeng mengangguk-angguk. Katanya, “Apa yang dapat kita lakukan?”

Kasadha dan Risang tidak menyahut. Namun kegelisahan itu semakin mencengkam juga. Apalagi ketika kemudian Nyi Resa datang kepada mereka, dan menyatakan kegelisahannya.

“Apakah Ki Resa masih berada di sawah?” bertanya Ki Remeng.

“Aku tidak tahu, Ki Remeng. Tetapi biasanya, Ki Resa tidak pernah pulang terlalu lambat. Apalagi sampai malam.”

“Biarlah kami melihatnya ke sawah” berkata Ki Remeng.

Tetapi Nyi Resa berkata, “Tidak Ki Remeng. Sebaiknya Ki Remeng tidak justru terkait pada satu keadaan yang masih belum jelas.”

Ki Remeng hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Namun dalam pada itu, ketika Nyi Resa sudah kembali keruang dalam, terdengar anak sulung Ki Resa berteriak memanggil ibunya sambil berlari-lari, “Ibu, ibu.”

Nyi Resa pun dengan serta-merta telah berlari keluar rumah pula. Kelima anaknya yang lain mengikutinya.

Yang bungsu masih berpegangan pada baju ibunya karena ketakutan.

“Ada apa? Ada apa?” bertanya Nyi Resa gugup. Sementara itu, Ki Remeng, Kasadha dan Risang yang mendengar teriakan itu juga sudah melintasi halaman dan naik ke pendapa, sementara anak itu juga sudah berdiri di pendapa.

“Ada apa?” bertanya ibunya dengan suara bergetar.”

“Ayah. Ayah mengalami kesulitan.” berkata anak itu.

“Kesulitan apa?” bertanya ibunya.

“Ayah diserang oleh beberapa orang. Ayah sudah berusaha untuk melawan,. Tetapi orang yang datang itu banyak. Lima atau enam orang, sehingga ayah harus melawan sambil berlari-lari. Ayah minta aku pulang memanggil Ki Remeng untuk membantunya.”

Ki Remeng yang mendengar pasan itu dengan serta-merta bertanya, “Dimana ayahmu sekarang?”

“Disawah” jawab anak itu.

“Baiklah, kami akan pergi kesana” berkata Ki

Remeng kemudian sambil berpaling kepada kedua orang kemanakannya, “Marilah. Kita pergi kesawah.”

“Tetapi ayah minta kedua kemanakan Ki Remeng membantu ibu menjaga adik-adik dirumah. Mungkin sesuatu dapat terjadi atas mereka.”

Wajah Ki Remeng menjadi tegang. Meskipun tidak dilihat oleh siapapun, namun sebenarnyalah bahwa Ki Remeng merasa dirinya sebagai seorang tawanan kedua anak muda itu. Karena itu, maka ia justru menjadi bingung.

Sementara itu, anak sulung Ki Resa telah menarik-narik tangan Ki Remeng sambil berkata, “Mari, paman.

Sebelum terlambat. Ayah mengalami kesulitan melawan sekian banyak orang. Mula-mula ayah memang sanggup menjaga dirinya. Tetapi ketika tenaga ayah mulai menjadi susut, maka ia benar-benar dalam kesulitan.”

“Apa salah ayahmu?” bertanya Nyi Resa.

“Menurut orang-orang itu, ayah bersalah karena ayah menerima Ki Remeng dirumah ini.”

“Setan. Siapa orang itu? Siapa namanya?” bertanya Ki Remeng.

Anak itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu.” Namun katanya kemudian, “tetapi cepatlah Ki Remeng. Ayah benar-benar dalam kesulitan. Ayah berharap, berdua dengan Ki Remeng, ayah akan dapat mengatasinya.”

Tidak ada kesempatan berpikir bagi Ki Remeng. Karena itu, maka ia pun berkata kepada Kasadha dan Risang, “Tolong anak-anak. Jaga Nyi Resa dan anak-anaknya sebaik-baiknya. Aku akan segera kembali.”

Kasadha dan Risang memang menjadi bingung, ia melihat anak sulung Ki Resa menarik Ki Remeng sambil berkata, “Ayah menitipkan ibu dan adik-adik. Biarlah aku menunjukkan tempat ayah berkelahi.”

Kasadha dan Risang benar-benar menjadi bingung. Dalam pada itu, Nyi Resa pun berkata disela-sela tangisnya, “Aku ingin pergi kesana.”.

“Ibu jangan pergi” tangis anak-anaknya.

Nyi Resa memang menjadi bingung. Tetapi bahwa Ki Remeng sudah berlari mengikuti anaknya yang sulung, hatinya sudah menjadi sedikit lapang.

Kasadha dan Risang memang tidak sampai hati meninggalkan rumah itu. Mungkin keluarga Ki Resa juga dianggap bersalah karena mereka menerima Ki Remeng di-rumahnya.

Karena itu, maka keduanya terpaksa melakukan pesan Ki Remeng untuk menjaga rumah, Nyi Resa serta anak-anaknya.

Sementara itu, anak sulung Ki Resa berlari-lari sambil menarik baju Ki Remeng. Sekali-sekali ia berkata lantang, “Marilah paman.”

Sepeninggal Ki Remeng, maka Kasadha dan Risang minta agar Nyi Resa dan kelima anaknya masuk ke ruang dalam. Meskipun Nyi Resa masih saja ingin pergi ke sawah untuk melihat keadaan suaminya, namun Kasadha dan Risang masih tetap berkeberatan.

“Sebaiknya Nyi Resa tidak pergi” berkata Kasadha, “mudah-mudahan Ki Remeng dapat membantu Ki Resa menyelamatkan dirinya. Kehadiran Nyi Resa akan dapat mempersulit kedudukan Ki Resa.”

Nyi Resa mengangguk. Sementara itu anak-anaknya yang paling kecil masih saja menangis sambil memeganginya.

Beberapa saat mereka menunggu. Waktu berjalan setapak demi setapak. Namun Ki Resa dan Ki Remeng masih belum pulang.

Nyi Resa menjadi semakin gelisah. Namun Kasadha dan Risang pun menjadi gelisah pula. Bahkan mereka mulai menjadi curiga, apakah yang terjadi bukan sekedar satu permainan saja?”

Ternyata sampai lewat malam, keduanya masih belum pulang. Dua orang anak terkecil Nyi Resa sudah tertidur. Yang bungsu tidur sambil meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, sementara gadis kecil yang sering menghidangkan suguhan bagi Ki Remeng dan dua orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu tidur disebelahnya. Sedangkan tiga orang kakak mereka masih duduk dengan gelisah.

***

Ketika dikandang mulai terdengar ayam jantan berkokok bersahutan, maka Kasadha dan Risang benar-benar menjadi gelisah. Namun keduanya masih merasa ragu meninggalkan Nyi Resa bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu.

Mereka terkejut ketika di dini hari mereka mendengar suara derap kaki seseorang yang berlari di halaman bahkan kemudian naik kependapa.

“Ibu, Ibu” terdengar anak sulung Ki Resa memanggil dari luar.

Dengan tergesa-gesa Kasadha, Risang dan Nyi Resa bangkit. Anak bungsu Nyi Resa yang tidur dipangkuannya terkejut. Tetapi ibunya telah mengangkatnya dan mendukungnya.

Ketika pintu terbuka, maka anak sulung Ki Resa itu dengan nafas yang terengah-engah berkata, “Ayah dan Ki Remeng tidak mampu melawan orang-orang itu. Mereka tertangkap dan dibawa pergi.”

Jantung Kasadha dan Risang bagaikan berhenti berdetak. Sementara itu, Nyi Resa menjerit tinggi.

Betapapun kegelisahan mencengkam kedua orang anak muda itu, namun mereka masih sempat membantu Nyi Resa masuk kembali keruang dalam. Mereka membantu membimbing anak-anak Ki Resa, sementara gadis kecil, kakak anak bungsu Ki Resa itu mulai menangis.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 59

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s