SST-54

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-54KETIKA ia melihat kakaknya duduk di serambi gandok, maka ia pun bertanya, “Kau lihat ibu?”

“Ya” jawab Jangkung.

“Dimana?” bertanya Riris pula.

“Untuk apa kau cari ibu?” Jangkung ganti bertanya.

“Aku mencari tusuk kondeku yang putih.” jawab Riris.

“Kau cari tusuk konde atau kau cari ibu?”

“Aku akan bertanya kepada ibu.” jawab Riris.

“Kau masih selalu merengek seperti itu. Kenapa tidak kau cari sendiri?” bertanya Jangkung.

“Ibu yang menyimpannya” jawab Riris.

“Ibu sedang pergi” jawab Jangkung.

“Tidak. Aku mendengar suaranya” berkata Riris kemudian.

Sejenak kemudian, maka terdengar lagi suara Riris memanggil ibunya demikian ia hilang dibalik pintu.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Riris terlalu manja untuk menjadi seorang isteri prajurit. Ibu adalah seorang perempuan yang tabah, mandiri dan dapat melakukan pekerjaan yang rumit jika ayah tidak ada di rumah. Sementara Riris hanya dapat merengek dan menyandarkan diri kepada ibu saja.”

Demikianlah, maka persoalan Riris itu telah meresahkan perasaan Jangkung. Justru karena ia ikut merasa bertanggung jawab atas masa depan adiknya.

Karena itu, maka ia pun telah merencanakan untuk pergi ke Pajang, berbicara dengan ayahnya tentang dua orang anak muda yang agaknya memang menaruh hati kepada Riris.

Di hari berikutnya, maka Kasadha masih saja merenungi dirinya sendiri. Pertemuannya dengan Riris justru menambah kegelisahannya, la tidak dapat mengambil kesimpulan apapun dengan sikap Riris itu. Riris masih saja bersikap sebagaimana sakapnya sebelumnya. Lugu dan tidak menyimpan permasalahan apapun. Juga tidak terasa adanya keseganan untuk berbincang berdua saja dengan Kasadha. Tetapi justru karena itu, maka agaknya Riris memang tidak mempunyai perasaan apapun kepadanya.

Kegelisahannya itu telah mendorong Kasadha untuk menyampaikannya kepada gurunya. Ia merasa terlalu berat antuk membawa beban perasaannya itu sendiri. Karena itu, ia memerlukan seseorang yang dapat ikut menanggung beban itu. Namun dengan jujur.

Hal itu didapatkannya pada gurunya.

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Ketika Kasadha kemudian berterus terang, bahwa ia tertarik kepada anak gadis Ki Rangga Dipayuda, justru pimpinannya di jajaran keprajuritan, maka Ki Ajar itu bertanya, “Bagaimana sikap Ki Rangga Dipayuda itu kepadamu?”

“Sikapnya baik Guru. Bahkan ia pernah mengatakan, bahwa aku dan Risang telah dianggap sebagai anak-anaknya sendiri.” jawab Kasadha.

“Jika demikian, maka apakah menurut perhitunganmu, ayahnya tidak akan menghalangi niatmu seandainya kau pada suatu saat melamarnya?” bertanya gurunya.

“Itulah yang sangat meragukan Guru. Sebagaimana pernah aku katakan, aku cemas tentang masa lampau ibuku.” jawab Kasadha.

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Bagaimana dengan gadis itu sendiri?”

Kasadha menundukkan kepalanya. Dengan nada rendah ia menjawab, “Aku tidak dapat mengetahuinya Guru. Ia bersikap ramah, akrab, tetapi nampaknya wajar sekali.”

“Apakah kau mempunyai banyak kesempatan untuk bertemu dengan gadis itu?” bertanya gurunya.

“Sekarang tidak Guru” jawab Kasadha, “para prajurit harus lebih banyak berada dibarak. Tanpa ijin khusus, seorang prajurit tidak boleh meninggalkan baraknya.”

“Kasadha” berkata gurunya, “kau adalah seorang laki-laki. Asal kau masih berada pada batas-batas yang dihormati, maka kau dapat menjajagi perasaan gadis itu. Jika kau hanya berdiam diri saja, tentu tidak mungkin seorang gadis akan menyatakan perasaannya kepadamu.

“Tetapi apakah tidak ada tanda-tanda sama sekali, bahwa ia menaruh perhatian terhadap seseorang?” bertanya Kasadha.

“Mungkin gadis itu memang belum memikirkan persoalan sebagaimana kau pikirkan. Karena itu, kau harus membuka jalan. Kau harus mengatakan sesuatu kepadanya. Tentu saja tidak dengan serta-merta.” berkata gurunya, “jika kau anggap bahwa ayahnya bersikap baik kepadamu, maka mungkin sekali ayahnya tidak akan menghalangi hubunganmu dengan anak gadisnya.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun kembali terbayang di angan-angannya, masa lampau ibunya. Sehingga kadang-kadang harapan-harapan yang sudah terjalin itu pun seakan-akan telah terkoyak oleh masa lampau yang kelam itu.

Namun demikian, gurunya selalu berkata kepadanya, “Kau harus berani mencoba. Tanpa itu, maka tidak akan ada yang dapat kau capai. Juga dalam hubunganmu dengan seorang gadis.”

Kasadha mengangguk-angguk. Meskipun ia tidak dapat membayangkan bagaimana ia harus mulai. Dan yang lebih mencemaskan, bagaimana ia menjawab jika keluarga Riris berbicara tentang keluarganya yang telah ternoda itu.”

“Kasadha, sebagai seorang prajurit, maka kau harus siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di medan perang. Tetapi jika kau harus berangkat kemedan, maka berangkatlah. Baru kemudian kau dapat mengatakan bahwa kau menang atau kalah. Jika kau tidak berangkat ke medan, maka kau tidak akan dapat mengatakan apakah kau menang atau tidak.”

Kasadha mengangkat wajahnya. Dengan mantap ia pun kemudian berkata, “Ya, Guru. Aku akan melakukannya.”

“Kau harus berani bertempur dengan senjata yang ada, tetapi juga dengan cacat tubuh yang kau sandang. Hidup atau mati, kau adalah kau seutuhnya.”

Kasadha pun kemudian menjawab pula, “Ya Guru.”

“Nah, jika demikian lakukanlah tanpa merasa dibayangi oleh masa lampau ibumu atau oleh apapun juga. Jika ia menerimamu, maka ia harus menerima kau seutuhnya. Jika kau menolaknya, ia akan menolak kau seutuhnya pula.”

Gejolak di dada Kasadha menjadi agak mereda. Ia memang harus berbuat sesuatu. Ia tidak dapat menunggu sekuntum bunga menukik turun dan jatuh dipangkuan-nya.

Meskipun jantungnya masih tetap bergejolak, tetapi ia mulai melihat jalan panjang yang terbentang dihadapannya. Ia tahu jalan itu penuh dengan kerikil-kerikil tajam. Apalagi angan-angannya terbang ke Tanah Perdikan Sembojan. Seolah-olah ia melihat lagi, bagaimana Riris melayani Risang saat ia diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Bagaimana jika Risang itu tiba-tiba berdiri bertolak pinggang di tengah jalan yang sedang dilaluinya itu?

Kasadha memejamkan matanya. Bahkan kemudian ia tidak dapat menahan diri untuk tidak mengatakan hal itu kepada gurunya.

Gurunya memang menjadi berdebar-debar pula. Dengan nada rendah ia berkata, “Jadi, masih ada lagi persoalan yang dapat menghambat jalanmu yang memang sudah rumit itu?”

“Ya Guru” jawab Kasadha.

“Tetapi bukankah itu juga belum pasti? Kau tentu tidak yakin, apakah Risang itu juga menaruh hati kepada Riris.” berkata gurunya.

“Menurut penglihatanku, ia memang tertarik juga kepada Riris” jawab Kasadha.

“Semuanya masih serba mungkin, Kasadha. Karena itu, tempuhlah jalanmu. Jalan seorang prajurit.” berkata gurunya.

Dengan bekal pesan-pesan gurunya itu, maka ia pun mohon diri kembali ke baraknya.

Namun dalam pada itu, ternyata Jangkung benar-benar telah pergi ke Pajang.

Kedatangannya memang mengejutkan ayahnya.

“Apakah kau diminta ibumu untuk menyusul aku?” bertanya ayahnya.

“Ada sesuatu hal yang menurut pendapatku penting untuk dibicarakan ayah.”

“Tentang apa?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Tentang tanah dibulak sisi Utara.” jawab Jangkung.

Ayahnya yang mengerutkan dahinya itu sempat tersenyum. Katanya, “Ah, kau Jangkung. Apa sebenarnya kepentinganmu?”

Jangkung pun tersenyum pula. Katanya, “Bukankah hal itu yang ayah bicarakan dengan ibu.”

“Sudahlah, sekarang katakan, apa keperluanmu. Jangan membuat aku gelisah.” berkata ayahnya.

“Aku akan mohon kesempatan kepada ayah untuk berbicara tentang Riris” berkata Jangkung kemudian, “apakah menurut ayah, aku dapat berbicara disini sekarang ini?”

Ki Rangga Dipayuda termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku memang sedang tidak mempunyai kesibukan sekarang.”

“Ayah” berkata Jangkung kemudian, “aku telah mendengar dari ibu pendapat ayah tentang Riris.”

“Ya. Aku memang berpesan kepada ibumu, agar ia berbicara dengan kau tentang adikmu itu. Aku memang ingin pendapatmu.”

“Ayah” berkata Jangkung kemudian, “kenapa ayah memilih Kasadha daripada Risang.”

“Apakah ibumu tidak mengatakan alasanku?” bertanya ayahnya dengan kerut dikeningnya.

“Ibu memang mengatakan alasan ayah tentang keduanya. Tetapi aku tidak sependapat ayah.” berkata Jangkung kemudian.

“Kenapa?” bertanya ayahnya.

“Aku berpendapat, biarlah Riris sendiri menentukan pilihan. Biarlah perasaan itu tumbuh dan bersemi dihatinya tanpa campur tangan orang lain. Meskipun orang lain itu adalah ayahnya sendiri. Perasaan itu biarlah terbentuk berdasarkan atas tanggapan Riris sendiri terhadap kedua orang anak muda itu. Apalagi kita belum pasti, apakah benar bahwa Kasadha tertarik kepada Riris. Jika tidak, apakah bukan berarti kita akan menjadi kecewa, sementara kita sudah menyisihkan Risang dari hati kita.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan mengumpankan Riris kemulut Kasadha. Semuanya harus berjalan wajar. Tetapi aku hanya ingin membuka pintu, agar siapa yang akan masuk, cepatlah masuk. Waktu telah menjadi semakin sempit. Terutama bagiku sendiri.”

“Aku tahu itu ayah. Ibu juga sudah mengatakannya. Tetapi seandainya kedua-duanya benar berdiri dimuka pintu, aku memilih Risang lah yang akan melangkah masuk.”

Ki Rangga memandang Jangkung dengari tajamnya. Sementara itu Jangkung pun telah mengemukakan alasan-alasan sebagaimana dikatakan kepada ibunya.

“Kita tidak melihat latar belakang kehidupan dan keluarga Kasadha.” berkata Jangkung itu kemudian.

Ki Rangga termangu-mangu mendengar pendapat anaknya itu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Pendapatmu memang beralasan Jangkung. Tetapi bukankah yang kemudian akan menikah dengan Riris adalah Kasadha itu sendiri? Bukan ibunya, bukan keluarganya dan bukan orang lain! Menurut pendapatmu, yang perlu kita perhitungkan benar-benar adalah pribadi Kasadha itu sendiri.”

“Tetapi hidup dan kehidupan Kasadha tentu tidak akan dapat terpisah dari hidup dan kehidupan keluarganya.” jawab Jangkung.

“Kehidupan keluarganya memang dapat berpengaruh. Tetapi segala sesuatunya tentu tergantung kepada Kasadha sendiri. Kita sendiri misalnya. Jika kita dapat melihat Riris hidup bahagia, maka kita tentu akan merasa sangat senang dan bahkan ikut merasa berbahagia pula. Kita tentu tidak akan menyangkutkan hidup dan kehidupan kita kedalam dunia mereka secara langsung.” berkata Ki Rangga Dipayuda kemudian.

“Tetapi bagaimana jika ayah dan ibu sudah menjadi. semakin tua? Apakah Riris atau aku sampai hati membiarkan ayah dan ibu hidup berdua saja sementara ayah dan ibu sudah menjadi pikun? Bukankah kebiasaan kita, jika kita menerima seseorang untuk menikah, itu berarti bahwa kita harus menerima seluruh keluarganya pula? Kita tidak tahu apakah Kasadha mempunyai sepuluh orang adik. Ibunya, bibinya atau kemanakannya atau siapa lagi yang harus menjadi tanggungannya. Atau mungkin ibu Kasadha seorang yang keras dan tidak mau mendengar pendapat orang lain, sementara ia seorang yang berilmu sangat tinggi. Atau secara kebetulan sikap keseharian Riris dan ibu Kasadha tidak sesuai sementara mereka kelak harus berdiam di rumah yang sama.” berkata Jangkung.

“Tetapi hal yang serupa dapat juga terjadi jika Riris harus memilih Risang.” berkata ayahnya.

“Tidak. Kita tahu Risang adalah anak tunggal. Ia sekarang menjabat sebagai Kepala Tanah Perdikan. Ibunya seorang yang berpandangan luas. Menurut pengamatan lahiriah ibunya tidak akan menjadi beban kehidupan Risang. Dirumah ibu Risang ada beberapa orang yang dapat membantu dan merawat ibu Risang dimasa tuanya. Seandainya ada sanak kadang Risang, mereka tidak akan menjadi beban, karena kepada mereka dapat diberikan tugas-tugas di Tanah Perdikan itu dengan imbalan sawah bagi tumpuan hidup mereka sehari-hari. Nah, apakah hal seperti itu dapat dilakukan oleh Kasadha?”

“Kau terlalu jauh berpikir Jangkung. Seandainya kau trapkan penalaran itu untuk mengukur Kasadha, maka kita tahu bahwa ibu Kasadha sampai saat ini adalah seorang yang mandiri. Ia tidak pernah mengganggu dan tidak pula merengek terhadap anaknya yang sudah menjadi seorang Lurah prajurit.”

Jangkung mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Tetapi bukankah gambaran kita tentang keluarga Risang lebih jelas dari keluarga Kasadha? Aku tidak membenci Kasadha. Aku senang kepada kedua-duanya. Tetapi aku berbicara tidak sekedar dengan perasaan saja. Tetapi dengan nalar.”

“Kau kira aku tidak berbicara dengan nalar?” bertanya ayahnya. Suaranya menjadi semakin meninggi.

Jangkung yang sudah mengenal sifat-sifat ayahnya itu mengetahui, bahwa ayahnya mulai mempertahankan pendiriannya. Karena itu maka Jangkung pun berkata, “Semuanya memang terserah kepada ayah. Bahkan Riris dapat saja ayah jodohkan dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali jika itu memang ayah kehendaki. Seorang gadis tidak banyak mempunyai wewenang untuk menentukan masa depannya sendiri. Mungkin itu juga yang akan dialami oleh Riris.”

“Tidak” jawab ayahnya, “seperti aku katakan, bahwa hubungan antara Riris dengan Kasadha dan dengan Risang akan berjalan wajar. Aku hanya melihat bahwa Riris memang belum menjatuhkan pilihan, sehingga aku akan sempat mendorong salah seorang diantara mereka berpacu lebih cepat. Kau jangan mensalah artikan bagaimana aku akan mendorong Kasadha untuk meloncat lebih dahulu. Seperti yang sudah aku katakan, aku tidak sedang mengumpankan Riris kemulut seorang laki-laki. Aku masih mengharap bahwa perkembangan hubungan mereka wajar. Tetapi ingat, aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Jika aku harus pergi bertempur ke Timur, sebagaimana kita ketahui bahwa kekuatan Madiun dan Kadipaten-kadipaten yang bergabung dengan Madiun sangat besar. Prajurit yang tersedia, jika dihitung jumlah, jauh lebih besar dari prajurit yang akan dapat disiapkan oleh Mataram dan Pajang. Ada kemungkinan, bahwa aku tidak akan pernah kembali.

“Ayah jangan bersikap demikian” berkata Jangkung, “ayah adalah prajurit yang sudah berpuluh kali berada dimedan perang.”

“Tetapi jika terjadi perang antara Mataram dan Kadipaten-kadipaten disebelah Timur, maka perang itu adalah perang yang terbesar yang pernah aku alami.” jawab Ki Rangga.

“Ayah” berkata Jangkung, “tentu saja kita semuanya berdoa agar hal yang ayah cemaskan itu tidak terjadi. Tetapi kecemasan yang sama juga dapat tertuju pada Kasadha. Jika hal itu terjadi, apakah kita tidak akan menjadi sangat beriba hati melihat Riris menjadi janda?”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang akhir dari hidup ini tergantung kepada Yang Maha Agung. Tetapi kita memang berwenang untuk berupaya sambil berdoa memohon kepada-Nya.” Ki Rangga berhenti sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku perhatikan pendapatmu Jangkung. Tetapi coba mengerti jalan pikiranku dan ibumu.”

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Ia pun tahu bahwa ayahnya tidak akan berbicara lebih panjang lagi. Meskipun bukan berarti bahwa ayahnya tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, tetapi pada satu saat ayahnya memang kokoh pada pendiriannya.

Dengan demikian, maka pembicaraan diantara keduanya pun terputus. Ki Rangga pun kemudian berkata, “Temuilah Kasadha. Tidak baik rasanya jika kau telah sampai ke barak ini tanpa menemuinya. Meskipun sekedar minta diri.”

Jangkung pun mengangguk. Ia pun kemudian telah meninggalkan bilik khusus ayahnya untuk menemui Kasadha.

Keduanya memang masih saja terasa akrab. Meskipun sebenarnya ada sedikit kerikil kecil di jantung Jangkung. Meskipun demikian Jangkung pun mengerti sepenuhnya, bahwa pada Kasadha, tentu tidak terdapat persoalan apapun, sehingga sikapnya masih saja wajar sebagaimana sikapnya sebelumnya.

Jangkung juga berusaha untuk tidak menunjukkan sikap yang lain. Ia masih saja banyak tertawa dan bercanda sebagaimana biasanya. Tetapi Jangkung sama sekali tidak menyinggung tentang adik perempuannya. Sementara itu Kasadha pun ternyata juga segan untuk bertanya tentang Riris.

Ketika kemudian Jangkung minta diri untuk menemui ayahnya dan langsung kembali pulang, maka Kasadha telah mengantarnya kebilik khusus Ki Rangga Dipayuda. Bahkan kemudian mengantar Jangkung sampai keregol barak itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Jangkung pun telah berpacu meninggalkan Pajang kembali kepadukuh-annya yang memang tidak terlalu jauh. Namun demikian disepanjang jalan, Jangkung memang berpendapat bahwa Kasadha adalah seorang anak muda yang baik. Ia mempunyai kepribadian yang kuat. Karena itu, maka ia akan dapat menjadi seorang prajurit yang baik.

Tetapi bagi Jangkung, Kasadha bukan hanya Kasadha itu sendiri. Untuk menjadi seorang suami, maka masih perlu dinilai beberapa hal yang menyangkut dirinya. Hubungan Kasadha dengan orang tuanya membuat Jangkung agak ragu.

“Jika Riris menerima Kasadha untuk menjadi suaminya, maka ia harus menerima Kasadha secara utuh. Namun ternyata satu sisi dari kehidupan Kasadha belum dapat dilihatnya dengan jelas.” berkata Jangkung kepada diri sendiri.

Namun Jangkung pun sadar, bahwa segala sesuatunya memang banyak tergantung kepada ayahnya. Sementara itu agaknya ayahnya telah menjatuhkan pilihannya.

Tiba-tiba saja ada keinginan Jangkung untuk menemui Risang. Baru saja ia bertemu dengan Kasadha. Seorang Lurah prajurit yang mempunyai kepribadian yang baik. Jangkung memang harus mengakui bahwa ia tidak akan dapat menunjukkan cacat Kasadha jika ia memang akan menjadi suami adiknya kecuali latar belakang keluarga serta keturunannya. Tetapi menurut Jangkung, Risang juga seorang pemimpin yang baik, yang tidak kalah bobotnya dari Kasadha. Lebih dari itu, latar belakang kehidupan keluarga Risang dapat dilihat dengan jelas.

Tetapi agaknya karena ayahnya seorang prajurit, maka pilihannya pun condong atas seorang prajurit.

Jangkung memang tidak segera kembali pulang. Selagi ia sudah berada di perjalanan, maka Jangkung pun berniat untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, maka Jangkung pun telah memacu keduanya menyusuri jalan-jalan yang panjang.

Ketika Jangkung sampai ke simpang tiga yang menuju ke rumahnya, ia sempat ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berketatapan hati untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan menemui Risang.

Perjalanan Jangkung memang menjadi jauh. Tetapi kudanya adalah kuda yang terbaik yang dimilikinya. Karena itu, maka perjalanannya menjadi cepat.

Sedikit lewat tengah hari Jangkung terpaksa berhenti disebuah kedai yang cukup ramai dikunjungi orang. Kedai yang terletak di sebelah pasar. Meskipun pasar itu sendiri sudah menjadi lengang, tetapi kedai itu justru menjadi hampir dipenuhi oleh para pembelinya.

Jangkung yang menitipkan kudanya sekaligus untuk mendapat rumput segar dan minum air sejuk, kemudian telah duduk disudut kedai yang ramai itu. Sebagian besar dari mereka yang telah duduk lebih dahulu di kedai itu adalah para pedagang yang baru saja menjual dagangannya di pasar sebelah.

Dengan demikian maka pembicaraan diantara mereka pun berkisar pada harga barang-barang mereka yang cenderung menjadi semakin tinggi.

“Jika benar-benar terjadi perang” berkata seseorang, “kita tidak akan mendapat kesempatan untuk menghasilkan lagi. Setidak-tidaknya segala macam pekerjaan akan menyusut karena sebagian dari kita akan dapat terhisap untuk maju ke medan perang.”

“ Bukankah kita bukan seorang prajurit?” sahut yang lain.

“Sudah berapa kali terjadi. Meskipun bukan prajurit, dalam perang besar, maka setiap laki-laki yang masih pantas berperang akan dipanggil untuk ikut berperang. Kau, aku dan kita semuanya.”

“Bagaimana jika kita menolak?” bertanya seseorang.

“Kita akan dapat ditangkap melakukan kerja paksa” jawab orang yang pertama.

Yang lain termangu-mangu. Namun seorang yang sudah merambat kepertengahan abad berkata, “Perang memang terkutuk. Apa sebenarnya yang dikehendaki oleh orang-orang yang menentukan terjadinya perang? Kedudukan, luas wilayah atau barangkali perempuan?”

“Persoalan yang menyangkut hubungan antara orang-orang yang berkuasa di daerahnya masing-masing memang sangat banyak. Tentu bukan sekedar kedudukan, luas wilayah atau perempuan. Tetapi juga persoalan yang menyangkut cara mereka memerintah, benturan kepentingan yang berbeda dan justru kepentingan yang sama. Tidak kalah pentingnya adalah sumber kesejahteraan rakyat dari satu daerah dengan daerah yang lain. Tujuan pemasaran hasil bumi dan kerajinan. Bahkan sumber air dan hasil yang dapat digali dari dalam bumi.”

Kawan-kawannya terdiam. Tetapi nampaknya mereka sempat merenungi kata-katanya kawannya itu.

Tetapi tiba-tiba salah seorang dari orang-orang itu bertanya, “Jika terjadi perang antara Mataram termasuk Pajang melawan Madiun, siapakah yang bersalah?”

Orang yang dianggap berpandangan luas itu menjawab, “Tentu masing-masing menganggap bahwa pihaknyalah yang benar. Mataram, termasuk Pajang tentu mempunyai alasan yang kuat, kenapa mereka harus menanggung akibat dari satu kemungkinan perang dengan Madiun. Sebaliknya Madiun tentu mempunyai alasannya sendiri. Kenapa Madiun tidak lagi mau begitu saja tunduk kepada Pajang.”

Yang lain masih saja mengangguk-angguk. Tetapi orang yang bertanya itu telah bertanya pula, “Jika terjadi perang, kau akan berpihak yang mana?”

“Kau aneh. Kita orang Kademangan Sambisari tentu akan berpihak kepada Pajang. Bukankah Kademangan kita termasuk wilayah Pajang?”

“Jadi, jika kita bertempur pada salah satu pihak itu semata-mata karena kita berdiam didaerah itu. Bukan karena kebenaran atas satu keyakinan.” bertanya kawannya.

“Keyakinan yang mana? Kita hidup, makan, minum dan mendapat perlindungan dari Pajang. Kenapa kita harus ragu-ragu untuk berpihak kepada Pajang? Bukankah yang dilakukan Pajang itu juga bagi kepentingan kita?” jawab orang itu.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka tidak lagi bertanya sesuatu.

Tetapi tiba-tiba saja orang yang duduk didekat pintu dan yang sejak semula mendengarkan pembicaraan itu menyahut, “Apa yang telah diberikan Pajang kepada rakyatnya? Kesewenang-wenangan dan kemiskinan? Perang dan perang tanpa memberi kesempatan rakyatnya tumbuh dan menikmati ketenangan hidup. Apalagi sekarang yang berkuasa adalah Gagak Baning. Saudara Mas Ngabehi Loring Pasar yang sekedar bergelar Panembahan Senapati itu.”

Orang yang berbicara sebelumnya tentang kesetiaan mereka dengan Pajang berpaling. Dilihatnya beberapa orang yang duduk didekat pintu memperhatikannya.

Orang itu pun kemudian berkata, “Kita dapat saja berbeda pendapat Ki Sanak. Apalagi jika kau bukan orang Pajang.”

“Aku orang Pajang. Tetapi bagiku para pemimpin di Pajang dan Mataram sama sekali tidak menghiraukan kepentingan rakyatnya. Kita masih ingat bagaimana Mataram menggilas Pajang. Meskipun nampaknya Mataram telah mengembalikan kedudukan Pangeran Benawa di Pajang, namun sejak itu Pajang adalah sekedar bayangan kekuasaan Mataram. Nah, apa jadinya? Pangeran Benawa tidak berumur panjang. Dan sepeninggal Pangeran Benawa, Pajang tidak berarti apa-apa lagi. Tidak lebih dari sekedar jari-jari tangan kekuasaan Mataram. Nah, bukankah pantas jika Panembahan Mas di Madiun marah. Apalagi jalur darah Demak memang mengalir dalam tubuh Panembahan Mas di Madiun.”

“Kau memandang kekuasaan Mataram dan Pajang dari sisi yang buram Ki Sanak” berkata orang yang menyatakan kesetiaannya kepada Pajang, “tetapi itu hakmu. Kau dapat mengatakan apa saja menurut pendapatmu. Tetapi kita masing-masing mempunyai penilaian sesuai dengan sikap jiwa kita masing-masing menanggapi keadaan di Pajang dan Mataram sekarang ini.”

“Ternyata kau seorang yang tidak mempunyai sikap. Kau cenderung untuk menjilat dan memuji-muji mereka yang sedang berkuasa di Pajang.” berkata orang yang duduk didekat pintu itu.

Agaknya orang yang setia kepada Pajang itu tidak ingin bertengkar. Meskipun demikian ia masih juga menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Silahkan menyatakan pendapat dan sikap Ki Sanak. Tetapi aku tidak dapat mengatakan lain daripada yang aku lihat sekarang ini. Bukan berarti tanpa cacat dan kekurangan. Tetapi cacat dan kekurangan itu bukan alasan untuk menentang kekuasaan dengan cara yang tidak sewajarnya.”

Orang yang duduk didekat pintu itu masih akan menjawab. Tetapi kawannya berkata, “Sudahlah. Jangan kau turuti perasaanmu yang gelisah itu. Kau dapat bersikap lebih baik tanpa menanggalkan sikapmu untuk menuding cacat-cacat yang kau lihat itu.”

Orang itu memang terdiam. Demikian pula orang yang menyatakan kesetiaannya kepada Pajang itu.

Sementara itu Jangkung mendengarkan pembicaraan itu dengan penuh perhatian. Orang-orang itu ternyata tidak dapat melepaskan diri dari persoalan yang sedang berkembang. Kemelut antara Mataram dan Pajang dengan Madiun. Menurut pengamatan Jangkung, mereka bukanlah orang-orang yang duduk dalam kepemimpinan pemerintahan yang terendah sekalipun. Perhatian mereka terutama tertuju pada putaran niaga jika perang itu terjadi.

Karena itu, maka Jangkung pun dapat mengerti, bahwa ayahnya Ki Rangga Dipayuda juga memperhitungkan dengan sungguh-sungguh kemungkinan perang itu. Apalagi ia adalah seorang prajurit. Sedangkan persoalannya menyangkut anak gadis satu-satunya.

“Ayah juga membayangkan bahwa perang itu akan terjadi. Perang yang besar yang akan menelan beratus-ratus korban. Diantara mereka dapat saja terjadi ayah itu sendiri. Ki Rangga Dipayuda.” berkata Jangkung didalam hatinya.

Karena itu, sebelum ayahnya berangkat ke medan perang, ia ingin menunggui satu langkah yang pasti tentang anak gadisnya.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti sepenuhnya jalan pikiran ayahnya. Tetapi Jangkung masih saja belum dapat sejalan jika ayahnya memilih Kasadha daripada Risang. Meskipun bagi Jangkung kedua-duanya baik dan mempunyai masa depan yang baik, tetapi kehidupan Risang dapat dilihat tembus menerawang sampai ke segala segi-seginya.

Jangkung yang sudah cukup minum dan makan itu pun telah minta diri kepada pemilik kedai itu sambil membayar harga makanan dan minuman termasuk makan dan minum bagi kudanya.

Jangkung pun berpacu semakin cepat. Rasa-rasanya ia ingin kudanya itu meloncat selangkah panjang sampai ke Tanah Perdikan Sembojan.

Nyi Rangga Dipayuda dari Riris memang menjadi cemas ketika menjelang senja Jangkung belum pulang. Pajang bukan jarang yang terlalu panjang. Keduanya mulai membayangkan kemungkinan yang tidak diharapkan terjadi atas Jangkung. Mungkin kudanya yang tergelincir karena berpacu terlalu cepat. Mungkin orang-orang yang berniat buruk. Atau bahkan yang paling mencemaskan jika Jangkung berselisih pendapat dengan ayahnya.

Ketika senja turun, maka Riris yang gelisah mulai bertanya kepada ibunya, “Ibu, apakah kakang Jangkung mengatakan bahwa ia akan bermalam di Pajang?”

“Tidak. Kakakmu tidak mengatakan bahwa ia akan bermalam.” jawab ibunya.

Kecemasan membayang diwajah Riris. Dengan kerut dikeningnya ia bertanya pula, “Tetapi kenapa sampai senja kakang Jangkung masih belum kembali?”

“Itulah yang mencemaskan. Bukankah jarak antara rumah kita dengan Pajang tidak terlalu jauh?” desis Ny Rangga Dipayuda.

“Mungkin kakang Jangkung singgah di barak kakang Kasadha. Justru di barak kakang Kasadha itulah kakang Jangkung bermalam.” berkata Riris. Nampaknya Riris berusaha untuk mengurangi kegelisahannya sendiri.

Ibunya mengangguk-angguk. Meskipun ragu ia berdesis, “Ya. Agaknya angger Kasadha telah menahannya.

Namun bagaimanapun juga Nyi Rangga membayangkan kemungkinan bahwa Ki Rangga dan Jangkung tidak menemukan persesuaian pendapat mereka tentang Riris. Sudah tentu Nyi Rangga tidak dapat mengatakan hal itu langsung kepada Riris.

Namun Riris lah yang berkata kemudian, “Ibu. Kita akan menunggu sampai esok pagi. Jika esok pagi kakang Jangkung tidak pulang juga, maka sebaiknya kakang Sumbaga mencari ayah dan menanyakan apakah kakang Jangkung masih ada di barak kakang Kasadha.”

Ibunya mengangguk. Ia sependapat, jika besok Jangkung belum pulang, maka Sumbaga yang telah berada dirumah itu pula akan diminta untuk menyusulnya ke Pajang.

Malam itu Jangkung ternyata memang tidak pulang. Sementara Jangkung sendiri masih saja menempuh perjalanan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan yang cukup jauh.

Meskipun Jangkung harus beristirahat beberapa kali, namun ia meneruskan perjalanan ketika malam menjadi semakin gelap. Ia tidak segera berhenti dan mencari tempat bermalam,

Namun akhirnya, ketika kudanya sudah menjadi sangat letih, Jangkung tidak dapat memaksa kudanya untuk berlari terus. Ia merasa kasihan juga mendengar desah nafas kudanya yang letih.

Akhirnya Jangkung memang harus mengalah, Sebenarnya ia sendiri juga merasa sangat letih. Tetapi seandainya ia tidak mempertimbangkan keadaan kudanya ia masih sanggup meneruskan perjalanan mencapai padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika ia melewati sebuah gardu didepan sebuah banjar padukuhan, maka ia pun berhenti. Kepada ampat orang anak muda yang berada digardu itu, Jangkung menyatakan niatnya untuk minta diijinkan bermalam di banjar itu.

Ternyata anak-anak muda yang ada di gardu itu adalah anak-anak muda yang baik. Mereka sama sekali tidak berkeberatan memberikan tempat untuk bermalam bagi Jangkung dan kudanya. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Kudamu nampak letih dan lapar Ki Sanak.”

“Ketika aku beristirahat sore tadi disebuah kedai, kudaku juga sempat makan dan minum” jawab Jangkung.

“Tetapi nampaknya kudamu sudah lapar lagi. Jika tadi sore kau beri kudamu makan, maka sekarang sudah larut malam. Bahkan sudah lewat tengah malam.” berkata anak muda itu.

Jangkung mengangguk-angguk. Ketika ia mengelus leher kudanya yang memandanginya dengan mata yang redup, seakan-akan kuda itu berkata kepadanya, bahwa ia memang sudah lapar.

“Nah” berkata anak muda itu, “jika kau ingin memberi makan kudamu, maka di banjar itu ada sisa makanan kuda.”

“Makanan kuda?” bertanya Jangkung.

“Ya. Kau tentu bertanya, makanan kuda milik siapa?” sahut anak muda itu.

Jangkung tersenyum. Katanya, “Ya. Apakah makanan kuda itu sudah tidak diperlukan lagi?”

“Tidak. Para pemilik kuda itu sudah meninggalkan banjar” jawab anak muda itu.”

“Jadi kapan mereka ada di banjar ini?” bertanya Jangkung.

“Justru menjelang malam. Ketika dua orang kawan kami duduk-duduk digardu ini sebelum saat para peronda datang sekedar untuk mencari angin karena udara yang panas, maka datang tiga  orang berkuda. Mereka minta tolong kedua orang kawan kami untuk membelikan makanan kuda mereka, karena kuda mereka lapar. Meskipun barangkali mereka dapat melepas kuda mereka di tanggul-tanggul parit, tetapi mereka ingin makanan yang agak baik. Rendeng dan dedak padi” berkata anak muda itu, “nah rendeng dan dedak padi yang dibeli itu ternyata masih tersisa.”

Jangkung mengangguk-angguk. Sebelum ia bertanya lebih lanjut, anak muda itu berkata, “Ketiga orang berkuda itu ternyata orang yang murah hati. Mereka memberikan uang terlalu banyak untuk membeli rendeng kacang dan dedak padi. Sisanya telah diberikannya kepada kedua orang kawanku itu. Nah, ternyata kami yang kemudian datang meronda, ikut pula mendapat bagian ketika sisa uang itu dibelikan seonggok makanan.”

“Aku pun termasuk beruntung pula” berkata Jangkung, “kudaku akan mendapatkan makan dan minum malam ini.”

Seperti yang dikatakan oleh anak muda itu, maka Jangkung sempat memberi makan dan minum kudanya secukupnya. Sementara itu, Jangkung sendiri sempat pula beristirahat di banjar itu.

Dari anak-anak muda itu Jangkung mengetahui bahwa ketiga orang berkuda itu ternyata tidak bermalam di banjar. Mereka hanya menumpang memberi makan dan minum kuda mereka. Kemudian setelah beristirahat maka mereka pun telah meneruskan perjalanan.

“Mereka akan pergi kemana?” bertapya Jangkung.

“Mereka tidak mengatakan akan pergi kemana. Tetapi dalam pembicaraan mereka, kedua kawanku mendengar bahwa mereka akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.” jawab anak muda itu.

Jangkung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut karena anak muda itu tentu juga tidak mengetahui untuk apa mereka pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

Demikianlah, disisa malam itu Jangkung mendapat kesempatan untuk beristirahat meskipun tidak terlalu lama. Namun kudanya yang cukup beristirahat itu sudah tidak letih lagi. Ketika fajar mulai merah, Jangkung telah bersiap meninggalkan banjar itu.

Anak-anak muda yang sudah selesai dengan tugas rondanya itu pun meninggalkan gardu itu pula demikian Jangkung minta diri untuk meneruskan perjalanannya.

Langit yang cerah serta udara pagi membuat tubuh Jangkung menjadi segar. Beberapa saat setelah Jangkung meninggalkan padukuhan tempat ia bermalam, cahaya matahari mulai nampak dilangit. Kicau burung di pepohonan di sepanjang tepi jalan bulak, seakan-akan menyambut lontaran cahaya matahari yang akan terbit.

Jangkung yang kemudian memacu kudanya bergumam kepada diri sendiri, “Perjalanan ini sudah tidak terlalu panjang lagi.”

Rasa-rasanya Jangkung memang tidak telaten menunggu derap kaki kudanya yang dirasanya terlalu lambat. Namun Jangkung tidak ingin berpacu lebih cepat lagi, karena hal itu akan dapat menarik perhatian orang-orang -yang sedang pergi ke sawah.

Apalagi ketika Jangkung mulai berpapasan dengan orang-orang yang agaknya pergi ke pasar dengan membawa barang-barang dagangan mereka.

Sementara Jangkung menempuh perjalanannya yang tersisa, sedangkan matahari mulai memancarkan cahaya yang kekuning-kuningan, maka Sumbaga pun telah melarikan kudanya menuju ke Pajang.

Nyi Rangga Dipayuda dan Riris benar-benar menjadi gelisah, karena Jangkung benar-benar tidak pulang sampai fajar.

“Syukurlah jika ia berada di barak Kasadha” berkata Nyi Rangga. Tetapi sebenarnyalah ia sangat gelisah akan perbedaan sikap antara Jangkung dan ayahnya. Nyi Rangga itu sempat membayangkan bahwa pembicaraan Jangkung dan ayahnya berkepanjangan dan tidak berkeputusan. Atau mungkin Jangkung dengan sengaja berbicara dengan Kasadha seandainya ia berada di barak Kasadha. Tentu saja sesuai dengan sikap Jangkung sendiri.

Berbagai macam pikiran yang timbul di dadanya, membuat Nyi Rangga itu hampir tidak dapat tidur semalam suntuk.

Karena itu, demikian ia bangun pagi, maka ia pun segera berbicara dengan Sumbaga. Meskipun Nyi Rangga tidak mengatakan persoalan yang sebenarnya bergejolak dihatinya, namun kegelisahan Nyi Rangga itu, dapat dirasakan oleh Sumbaga.

Karena itu, maka Sumbaga pun segera bersiap untuk pergi ke Pajang.

Kedatangannya di barak Ki Rangga Dipayuda memang mengejutkan. Dengan cemas Ki Rangga yang tergesa-gesa menemuinya itu pun segera bertanya, “Ada apa Sumbaga? Apakah ada yang penting untuk segera kau sampaikan kepadaku?”

Sumbaga mengangguk kecil. Katanya, “Aku diperintahkan oleh bibi untuk menanyakan, apakah Jangkung bermalam disini?”

“Jangkung?” Ki Rangga Dipayuda mengerut kari dahinya, “ia sudah pulang kemarin. Ia tidak terlalu lama disini. Ia memang sempat bertemu dengan Kasadha. Tetapi juga hanya sebentar. Menurut perhitungan sebelum tengah hari ia tentu sudah berada dirumah jika ia tidak singgah di tempat lain.”

“Tetapi ia tidak pulang paman. Semalam-malaman bibi dan Riris menunggu, karena mereka memang mengira bahwa Jangkung tidak akan bermalam di Pajang.” berkata Sumbaga.

“Ia memang hanya sebentar disini. Mungkin ia tidak ingin mengganggu tugas-tugasku dan tugas-tugas Kasadha. Tetapi aku tidak tahu, anak itu singgah dimana?“ desis Ki Rangga. Namun nampak pada wajahnya bahwa ia pun menjadi cemas.

Ki Rangga Dipayuda memang menduga, bahwa Jangkung telah terpengaruh oleh pembicaraan singkat tentang Riris dengan Ki Rangga itu sendiri. Tetapi perselisihan pendapat tentu tidak akan sampai membuat Jangkung tidak pulang. Ki Rangga sendiri tidak dengan tegas menolak pendapat Jangkung. Ia sudah mengatakan bahwa ia akan memperhatikan pendapat anaknya itu.

“Tetapi kenapa ia tidak segera pulang.” desis Ki Rangga kemudian.

Sumbaga itu pun menyahut, “Itulah yang membuat bibi kebingungan.”

“Aku pun menjadi cemas. Tetapi sepanjang pendengaranku, jalan dari Pajang kerumah yang hanya berjarak pendek itu bukan jalan yang rawan.” desis Ki Rangga.

“Lalu, apakah kira-kira yang dilakukan Jangkung?“ bertanya Sumbaga.

“Itu yang harus kita pikirkan” jawab Ki Rangga.

“Apakah paman hari ini dapat pulang meskipun hanya sebentar untuk berbicara dengan bibi?” bertanya Sumbaga.

“Tetapi tidak pagi ini. Aku akan mengikuti satu pertemuan para Pandega dengan Ki Tumenggung Jayayuda. Ada satu hal yang penting yang akan kami bicarakan.” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Apakah paman tidak dapat minta ijin?” bertanya Sumbaga.

“Ki Tumenggung sudah memerintahkan kami, para Pandega sejak kemarin. Persoalannya akan menyangkut hubungan antara Pajang, Mataram dan Madiun. Karena itu, maka aku tentu tidak akan dapat meninggalkan pertemuan itu. Baru kemudian aku akan dapat menduga, apakah aku akan diijinkan untuk pulang sebentar atau tidak.”

“Jadi apa yang harus aku sampaikan kepada bibi?” bertanya Sumbaga.

“Jika hari ini aku tidak pulang, datanglah esok pagi. Tetapi kau tidak perlu datang terlalu pagi seperti ini.” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Baiklah paman. Jika demikian, aku mohon diri.”

“Hati-hatilah dijalan. Tetapi kau tidak boleh singgah dimana-mana sehingga kau tidak sampai dirumah hari ini. Itu akan menambah bibimu dan adikmu menjadi sangat gelisah.” pesan Ki Rangga.

“Tentu paman. Aku akan segera sampai dirumah menjelang sinar matahari mulai menggigit kulit.” jawab Sumbaga.

“Baiklah. Hati-hati dijalan.”

Sumbaga pun kemudian meninggalkan barak itu tanpa menemui Kasadha lebih dahulu. Kecuali keduanya tidak terlalu akrab sebagaimana Jangkung dan Kasadha, Sumbaga juga ingin segera memberitahukan hasil perjalanannya kepada Nyi Rangga Dipayuda.

Kenyataan itu telah membuat Nyi Rangga dan Riris menjadi sangat gelisah. Sumbaga hanya mengatakan bahwa Kasadha tidak terlalu lama berada di barak Ki Rangga Dipayuda. Bahkan menurut perkiraan Ki Rangga sebelum tengah hari seharusnya Jangkung sudah berada di rumah kembali.

“Jadi apa yang dilakukan oleh Jangkung? Apakah ia tidak singgah di tempat Kasadha dan bermalam di barak itu?” bertanya Nyi Rangga.

“Tidak bibi. Jangkung memang singgah di tempat Kasadha. Tetapi hanya sebentar. Kasadha sebagaimana Ki Rangga akan segera melakukan tugas mereka. Karena itu, maka Jangkung pun segera minta diri” jawab Sumbaga.

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Tetapi ia menjadi sangat gelisah. Ia sama sekali tidak mempunyai gambaran, kemana Jangkung itu pergi. Ia tidak mengira sama sekali bahwa Jangkung terdorong oleh perasaannya untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan menemui Risang.

Dalam pada itu, Jangkung memang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan. Kedatangannya yang tiba-tiba memang mengejutkan. Tetapi Risang menerimanya dengan gembira.

Jangkung telah diterima Risang di pringgitan rumahnya. Bahkan kemudian Nyi Wiradana pun telah menyempatkan diri menemuinya untuk mengucapkan selamat datang meskipun tidak terlalu lama. Nyi Wiradana sendiri sadar bahwa jika ia duduk bersama tamunya di pringgitan, maka pertemuannya dengan Risang menjadi sedikit terkekang.

Karena itu, maka sesaat kemudian, maka Nyi Wiradana itu pun telah berada di dapur untuk menyiapkan hidangan bagi Jangkung.

“Angger Jangkung tentu belum makan pagi” berkata Nyi Wiradana kepada pembantunya.

Ketika kemudian minuman dan makanan telah dihidangkan, maka Risang pun segera mempersilahkannya untuk menghirup wedang sere yang masih hangat itu.

Baru setelah minum beberapa teguk dan makan beberapa potong makanan, Risang pun bertanya, “Jangkung, apakah kau datang dengan menbawa satu kepentingan atau kau sekedar mengunjungi Tanah Perdikan Sembojan? Sokurlah jika kau hanya ingin melihat-lihat tanah ini setelah dilanda oleh kekuatan yang tidak bertanggung jawab. Yang ingin merampas kemandirian Tanah Perdikan ini.”

Jangkung justru menjadi termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia menjadi bingung, apakah yang akan dilakukannya di Tanah Perdikan. Dihadapan Risang, Jangkung kemudian menyadari, bahwa ia tidak dapat mengatakan gejolak perasaannya karena ia berselisih pendapat dengan ayahnya tentang adiknya Riris.

Karena itu, maka ia pun menjawab, “Aku hanya merasa rindu kepada tanah ini Risang. Juga kepadamu dan kepada keluarga dan seisi Tanah Perdikan ini. Rasa-rasanya aku sudah terlalu lama tidak melihatnya. Apalagi setelah terjadi perang yang aku dengar dari ayah dan dari Kasadha.”

“Syukurlah” jawab Risang sambil mengangguk-angguk. Namun hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan Kasadha?”

“Ya” jawab Jangkung. Sebagaimana dengan Risang, maka rasa-rasanya tanpa sesadarnya pula ia menjawab, “Baru saja ayah pulang. Kasadha telah ikut pula bersama ayah.”

Risang mengangguk-angguk. Namun keinginannya nampak berkerut. Dengan nada dalam ia bertanya, “Bukankah para prajurit Pajang tidak diperkenankan keluar dari baraknya dalam keadaan siaga penuh seperti sekarang ini?”

“Ya” jawab Jangkung, “tetapi ayah dan Kasadha mendapat kesempatan untuk pulang meskipun mereka tidak sempat bermalam.”

“Apakah Ki Rangga Dipayuda mempunyai keperluan yang sangat penting?” bertanya Risang kemudian.

Jangkung menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Mereka hanya memanfaatkan waktu istirahat singkat mereka.”

“Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi tentang Ki Rangga dan Kasadha yang sempat beristirahat meskipun hanya sehari. Namun yang terbayang kemudian adalah kehadiran Kasadha di rumah Ki Rangga Dipayuda justru bersama Ki Rangga itu sendiri.

Ketika Risang menyadari bhwa pertanyaannya sudah menjadi terlalu jauh, maka ia pun mengalihkan pembicaraannya. Ketika ia kemudian bertanya lagi kepada Jangkung, maka yang ditanyakan adalah perjalanannya yang harus terhenti menjelang dini hari.

“Bukankah tidak ada yang menarik perhatian di perjalanan?” bertanya Risang.

“Tidak” jawab Jangkung. Namun ia pun kemudian berceritera tentang orang-orang berkuda yang telah mensisakan makanan kuda mereka, sehingga kudanya mendapat makanan yang baik meskipun lewat tengah malam.

“Tiga orang berkuda?” bertanya Risang.

“Ya” jawab Jangkung.

“Dan mereka akan pergi ke Tanah Perdikan ini?” bertanya Risang pula.

“Ya” jawab Jangkung. Bahkan ia justru bertanya, “Kenapa?”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku akan memanggil paman Sambi Wulung dan Jati Wulung.”

“Kenapa?” bertanya Jangkung.

“Mereka juga pernah berceritera tentang tiga orang berkuda yang akan pergi ke Tanah Perdikan ini” jawab Risang.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak sempat bertanya ketika kemudian Risang bangkit untuk memanggil Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Beberapa saat kemudian, maka Risang telah duduk kembali dipringgitan. Sambil menunggu Sambi Wulung dan Jati Wulung Risang pun berceritera tentang tiga orang berkuda yang pernah dijumpai oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Jika demikian, mereka termasuk orang-orang yang berbahaya” desis Jangkung.

“Agaknya memang demikian” jawab Risang.

Sejenak kemudian, ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung telah duduk bersama mereka, maka Jangkung mendapat keterangan yang lebih jelas tentang, tiga orang berkuda itu.

Jangkung mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis, “Jadi ada usaha mereka menculik Risang untuk ditukarkan dengan Ki Lurah Mertapraja?”

“Agaknya memang demikian” jawab Sambi Wulung, “atau mungkin orang lain yang dianggap cukup penting sehingga dapat ditukar dengan Ki Lurah Mertapraja itu.”

“Apakah mungkin bertiga orang yang singgah dipadukuhan itu adalah ampat orang yang berniat untuk menculik Risang atau salah seorang yang dianggap berkedudukan penting di Tanah Perdikan ini sebagaimana dijumpai oleh paman Sambi Wulung dan Jati Wulung?” bertanya Jangkung.

“Sayang kau tidak bertemu langsung dengan , ketiga orang itu” berkata Sambi Wulung kemudian, “seandainya kau bertemu langsung dengan orang itu serta dapat menyebut ciri-cirinya, maka aku akan dapat mengatakan apakah orang-orang itulah yang kami maksud.”

“Aku datang kemudian” berkata Jangkung, “namun menurut anak-anak muda di padukuhan itu, ketiga orang itu akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Hanya itu yang aku ketahui.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Yang dapat kita ketahui hanyalah bahwa orang yang singgah di padukuhan itu juga bertiga.  Mereka berkuda dan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun demikian kita harus berhati-hati. Ketiga orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi.”

“Baiklah paman” sahut Risang kemudian, “sasaran utama tentu aku. Tetapi mungkin juga mereka membidik ibu atau orang lain lagi.”

“Mereka tidak akan berani berusaha menculik Nyi Wiradana desis Jati Wulung.

“Mungkin mereka kurang mendapat keterangan tentang kemampuan orang-orang Tanah Perdikan ini.” desis Risang.

“Ketika sekelompok orang gagal mengambil Ki Lurah Mertapraja, mereka tahu bahwa diantara mereka yang menggagalkan usaha mereka adalah perempuan. Mereka pun tentu sudah mendengar bahwa ibu Kepala Tanah Perdikan telah berhasil membunuh Ki Gede Watu Kuning pula.” jawab Jati Wulung.

Risang mengangguk-angguk. Dengan demikian ia menyadari sepenuhnya bahwa sasaran utama rencana penculikan di Tanah Perdikan Sembojan itu adalah Kepala Tanah Perdikan itu sendiri.

Tetapi Risang itu pun kemudian berkata kepada Jangkung, “Tetapi jangan risaukan itu. Tidak akan terjadi apa-apa disini. Dengan demikian, maka kau tidak usah ikut memikirkan apa yang dapat terjadi atas diriku. Sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan, aku dapat mengerahkan pengawal sebanyak aku perlukan untuk melindungi aku. Siang dan malam, kemana pun aku pergi.”

Jangkung tertawa. Katanya, “Tentu Kau akan dapat melindungi diri. Baik dengan para pengawal Tanah Perdikan, maupun dengan kemampuanmu sendiri yang cukup tinggi. Namun jika ketiga  orang itu berniat melakukannya, maka sudah tentu bahwa mereka pun mempunyai perhitungan.”

Risang pun tertawa pula. Ia merasakan kebenaran kata-kata Jangkung. Meskipun nampaknya begitu saja dilontarkan justru disela-sela suara tertawanya, namun Jangkung agaknya bersunggung-sungguh memperingatkannya agar ia tidak menjadi lengah.

Katanya, “Aku mengerti Jangkung. Aku akan minta paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung untuk mengamat-amati seluruh Tanah Perdikan. Keduanyalah yang pernah melihat ketiga orang itu disebuah kedai ketika mereka pulang dari Pajang.”

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas siapapun di Tanah Perdikan ini.”

Risang pun menyahut, “Para pemimpin pengawal telah mendapat pengarahan dari paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung tentang keempat orang yang ingin membebaskan Ki Lurah Mertapraja itu. Mereka akan dapat melakukan tugas mereka dengan baik pada saat mereka diperlukan.”

“ Syukurlah” desis Jangkung sambil mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Jangkung teringat kepada dirinya sendiri. Ibu dan adiknya tentu menunggunya, karena ia memang tidak berniat bermalam. Tetapi ia sudah melewati semalam dalam perjalanannya.

Karena itu maka beberapa saat kemudian, Jangkung pun berkata, “Risang. Setelah aku dapat bertemu dengan keluarga disini dengan selamat, maka aku kira aku tidak akan terlalu lama disini.

Risang terkejut. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa tergesa-gesa? Ah, setidak-tidaknya kau akan berada disini dua atau tiga hari. Kita akan melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan ini. Perang yang telah terjadi tidak merusakkan tata kehidupan di Tanah Perdikan ini.

“Tetapi aku memang tidak berniat pergi selama itu. Aku hanya sekedar didorong oleh satu keinginan yang tidak dapat kucegah untuk pergi ke Tanah Perdikan ini. Tetapi aku sebenarnya tidak merencanakan dengan baik. Karena itu aku tidak membawa ganti pakaian barang selembar pun. Bahkan aku tidak meninggalkan pesan kepada siapapun di rumah, bahwa aku akan pergi ke Tanah Perdikan ini.”

“Jadi apa yang mendorongmu datang kemari? Sekedar satu keinginan atau katakan karena kau rindu untuk melihat Tanah Perdikan ini dan bertemu dengan keluarga kami?” bertanya Risang yang menjadi keheranan.

Jangkung tersenyum. Jawabnya, “Ya, sebenarnyalah, begitu. Ketika aku berkuda sendiri disepanjang bulak, maka tiba-tiba saja aku ingin pergi ke Tanah Perdikan ini. Keinginan itu datang begitu tiba-tiba, sehingga aku tidak sempat pulang memberitahu-kan kepergianku atau memberikan pesan kepada siapapun juga untuk disampaikan kepada ibu atau kepada Riris.”

Risang mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya Risang bertanya, “Apakah kau sedang memikirkan sesuatu yang membuatmu gelisah?”

Dada Jangkung menjadi berdebar-debar Tetapi ia kemudian menggeleng, “Tidak. Aku tidak digelisahkan oleh perasaan apapun. Juga bukan karena ada beban perasaan yang tidak dapat aku atasi sendiri. Memang tidak ada apa-apa.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang telah mengenyam pahit manisnya kehidupan, memang merasakan bahwa tentu ada gejolak perasaan Jangkung sehingga ia seakan-akan begitu saja terlempar ke Tanah Perdikan Sembojan. Namun yang dengan tiba-tiba pula menyadarinya sehingga ia merasa perlu untuk segera pulang kembali menemui keluarganya.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat menanyakannya kepada Jangkung.

Namun Risang lah yang kemudian berkata, “Tetapi jangan hari ini. Secepat-cepatnya besok pagi-pagi kau. akan meninggalkan tanah Perdikan ini.” .

“Aku tidak membawa ganti pakaian sama sekali.” jawab Jangkung terbata-bata.

“Kau dapat memakai pakaianku” berkata Risang.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Baru disadarinya, bahwa kepergiannya ke Tanah Perdikan itu tentu akan menimbulkan masalah. Ibunya tentu akan menjadi sangat gelisah. Tetapi keluarga di Tanah Perdikan itu pun akan bertanya-tanya, untuk apa ia datang dari jarak yang cukup jauh.

Tetapi Jangkung sudah berada di Tanah Perdikan. Apapun akibatnya, ia sudah terlanjur melakukannya.

Adalah diluar dugaannya ketika Risang kemudian berkata, “Jangkung. Agaknya kau datang diluar sadarmu. Namun kau telah membawa pesan yang sangat berharga. Kau telah menjumpai ampat orang yang tentu akan sangat berbahaya bagi Tanah Perdikan ini. Sehingga seakan-akan kau datang sebagai seorang utusan untuk memberikan peringatan kepada kami disini.”

Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun dahinya pun berkerut mendengar kata-kata Risang itu. Bahkan sebuah pertanyaan telah timbul dihatinya, “Apa benar aku telah digerakkan oleh sesuatu yang tidak aku mengerti untuk menyampaikan pesan dan peringatan ini kepada Risang?”

Tetapi pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Satu kebetulan saja. Mudah-mudahan akan berarti bagi Risang dan Tanah Perdikan ini. Apalagi jika benar itu adalah orang yang pernah ditemui paman Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Tetapi Jangkung tidak mengucapkannya. Bahkan ia justru merenunginya sendiri.

Karena Jangkung tidak menjawab, maka Risang pun berkata, “Tetapi sudahlah. Kita tidak akan memikirkan hal itu berkepanjangan. Tetapi aku minta kau tidak tergesa-gesa pulang.”

“Tetapi ibu tentu menjadi gelisah” jawab Jangkung kemudian.

“Tetapi setelah kau pada saatnya pulang, maka kegelisahan itu pun akari segera lenyap pula” jawab Risang.

Jangkung mengangguk-angguk. Tetapi bagaimana  pun juga ia menjadi gelisah memikirkan kegelisahan ibu dan adiknya.

Meskipun demikian Jangkung tidak dapat memaksa untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu. Ia setidak-tidaknya harus bermalam semalam lagi. Baru esok pagi pagi benar ia kembali pulang.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Malam ini aki bermalam disini daripada harus bermalam diperjalanan Tetapi besok di dini hari, aku harus berangkat.”

“Beberapa orang akan mengawanimu sampai ke perbatasan.” berkata Risang.

“Kenapa? Ketika aku datang, aku sendiri saja.” bertanya Jangkung.

“Jika ketiga orang itu melihat kau keluar dari padukuhan induk ini, mungkin kau akan menarik perhatian mereka.”

Tetapi Jangkung tersenyum sambil menjawab, “Aku tidak berarti apa-apa bagi mereka. Mereka tentu tahu, karena mereka tentu mempelajari sasaran yang akan mereka pilih.”

“Setidak-tidaknya akan menjadi kawan berbincang sebelum fajar. Jika hari menjadi terang, maka baru akan banyak orang lewat di sepanjang jalan yang menjadi semakin ramai, meskipun ada juga bulak-bulak panjang yang masih lengang.”

“Terima kasih. Tetapi apakah itu perlu?” bertanya Jangkung meskipun agak ragu.

Risang tertawa. Katanya, “Perlu atau tidak perlu, mereka akan menjadi kawan diperjalanan selama hari masih gelap.”

Jangkung memang tidak njenolak. Ada juga baiknya berkuda bersama beberapa orang kawan digelapnya dini hari. Tentu akan dapat mengurangi dinginnya embun yang masih mengambang menjelang fajar.

Namun sore itu, Jangkung masih berada di tanah Perdikan. Bersama Risang, Jangkung melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan menjelang senja. Bersama mereka ikut  pula Gandar dan beberapa orang pengawal.

Sambi Wulung dan Jati Wulung sengaja tidak, ikut bersama mereka. Keduanya berusaha untuk tidak dengan mudah dikenali oleh tiga orang yang diduga berada di tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah mengenakan pakaian yang lain dari pakaian yang mereka kenakan ketika mereka pulang dari Pajang. Mereka dalam perjalanan pulang dari Pajang itu telah mengenakan pakaian yang pantas dan mapan. Namun di Tanah Perdikan itu, keduanya sengaja mengenakan pakaian petani kebanyakan. Pakaian yang berwarna gelap, agak kotor dan sekenanya. Diatas kepalanya dikenakannya caping bambu sebagaimana banyak dipakai oleh para petani yang bekerja disawah, karena caping bambu akan dapat melindungi para petani itu dari teriknya matahari dan hujan jika tidak terlalu deras.

Dengan pakaian itu, serta parang dipinggang yang ujudnya tidak lebih baik dari parang pembelah kayu, serta cangkul dipundak mereka, berada disawah. Tetapi yang penting bagi mereka bukan kerja mereka disawah itu, tetapi mengawasi jalan seandainya ada beberapa orang berkuda yang lewat.

Beberapa orang petani yang bekerja di sawah Risang telah mengerti, bahwa jika Sambi Wulung dan Jati Wulung turun kesawah dan mengenakan pakaian sebagaimana kebanyakan petani, justru mereka sedang melakukan tugas yang penting bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika senja turun ternyata orang yang mereka tunggu masih juga belum lewat. Memang mungkin orang-orang itu menyusuri jalan lain. Tetapi jalan disebelah sawah Risang itu adalah jalan yang langsung menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menghentikan usahanya. Meskipun kemudian malam turun, namun Sambi Wulung dan Jati Wulung masih saja berada disawah. Mereka telah membuka pematang dan mengalirkan air kekotak-kotak sawah. Tetapi air yang disalurkannya tidak terlalu deras, sehingga kotak-kotak sawah itu tidak segera penuh digenangi air. Bahkan pematang dikotak yang agak jauh dari jalan telah dibuka untuk melepaskan air kekotak sawah yang lebih rendah.

Ternyata usaha Sambi Wulung dan Jati Wulung itu ada juga hasilnya. Ketika keduanya masih duduk di pematang sambil menunggui air yang mengalir dari parit ke kotak sawah, mereka melihat tiga orang berkuda melintas. Ketiga orang itu memang tidak berhenti. Bahkan mereka sama sekali tidak memperhatikan dua orang petani yang duduk ditanggul parit menunggui air. Namun bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka penglihatan sekilas itu sudah cukup untuk mengenali ketiga orang itu. Ketiga orang itu memang ketiga orang yang telah berkelahi dengan ampat orang anak muda sebagaimana pernah dilihatnya dikedai itu.

Demikian ketiga orang berkuda itu lewat dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, maka Sambi Wulung pun bangkit berdiri sambil berkata, “Kita sudah yakin sekarang, bahwa mereka memang berada di Tanah Perdikan ini.”

Jati Wulung pun segera bangkit pula. Sambil mengangguk ia berkata, “Agaknya mereka justru baru saja lewat padukuhan induk.”

“ Ya” Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka termasuk orang yang berani.”

Dengan demikian maka Jati Wulung dan Sambi Wulung itu pun meninggalkan bulak itu untuk kembali kerumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk memberikan laporannya. Tetapi karena agaknya Risang sudah tidur, maka keduanya berniat untuk memberikan laporan di keesokan harinya.

Pagi-pagi benar, maka Risang pun sudah bangun. Sementara itu Jangkung pun telah bersiap-siap pula untuk menempuh perjalanan kembali. Ampat orang pengawal bersama Gandar telah siap untuk pergi mengantar Jangkung sampai keperbatasan. Mereka memperhitungkan bahwa sampai di perbatasan matahari sudah mulai terbit.

Sebelum Jangkung meninggalkan Tanah Perdikan itulah, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memberitahukan bahwa tiga orang berkuda yang pernah dilihatnya itu memang telah berada di Tanah Perdikan.

Risang pun mengangguk-angguk. Kepada Jangkung ia berpesan, “Berhati-hatilah. Mereka memang tidak berkepenting-an denganmu. Tetapi siapa tahu, orang-orang itu menjadi mata gelap. Apalagi jika mereka tahu bahwa kau adalah tamuku.”

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku berterima kasih. Namun setidak-tidaknya kudaku adalah kuda yang sangat baik. Aku berani bertaruh, bahwa kudaku akan berlari jauh lebih cepat dari kuda orang-orang itu.”

Risang tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan tidak ada hambatan di perjalanan.”

Jangkung tersenyum pula sambil menjawab, “Doakan saja. Agar perjalananku selalu dalam perlindungan Yang Maha Agung.”

Risang menepuk bahu Jangkung sambil berdesis, “Selamat jalan.”

Jangkung pun telah mohon diri pula kepada ibu Risang yang telah ikut mengantar Jangkung sampai ke halaman. Dengan nada dalam, Nyi Wiradana itu berkata, “Salamku buat Nyi Rangga dan bagi Riris.”

“Terima kasih” sahut Jangkung, “aku mohon doa restu. Semoga perjalananku selamat.”

“Sering-seringlah datang kemari” minta Nyi Wiradana.

“Aku akan sering datang kemari. Tetapi aku mohon, Nyai juga bersedia datang kerumah kami. Risang sudah sering singgah, dan bahkan bermalam dirumah kami. Tetapi Nyai belum.”

“Tentu” jawab Nyi Wiradana, “suatu saat aku akan datang. Ki Rangga dan Nyi Rangga pernah bermalam di Tanah Perdikan. Akan datang gilirannya aku akan bermalam dirumah Ki Rangga dan Nyi Rangga.”

“Kami selalu menunggu kedatangan Nyai” jawab Jangkung kemudian.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Jangkung telah berpacu meninggalkan padukuhan induk bersama Gandar dan para pengawal. Kuda Jangkung memang kuda yang sangat baik. Tetapi Jangkung tidak meninggalkan kawan-kawan seperjalanannya.

Disepanjang perjalanan, Gandar masih sempat menyebut nama-nama padukuhan yang mereka lewati.

Perkembangan yang semakin nampak pada kehidupan rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun Sembojan baru saja dilanda perang, namun tingkat kehidupan rakyatnya tidak terguncang.

Dalam keremangan dini hari menjelang fajar, Jangkung melihat tanaman yang subur disawah dan ladang. Air yang mengalir deras di parit-parit. Rumah-rumah yang pintunya masih tertutup di padukuhan-padu-kuhan yang mereka lewati, nampak bersih dan.terawat.

Di beberapa gardu memang masih ada para peronda yang belum meninggalkan gardunya, meskipun mereka sudah bersiap-siap untuk pulang. Ketika mereka mendengar derap kaki kuda, maka mereka pun sempat turun dari gardunya dan berdiri dipinggir jalan. Namun mereka kemudian melambaikan tangan mereka ketika Gandar yang berkuda dipaling depan telah melambaikan tangannya pula.

Tetapi anak-anak muda yang berdiri didepan gardu mereka itu tidak sempat bertanya, kemana Gandar itu akan pergi bersama dengan beberapa orang pengawal.

Ketika Jangkung mendekati perbatasan, maka matahari pun mulai membayangkan warna fajar. Langit menjadi kemerah-merahan. Burung-burung terdengar berkicau dipepohonan tanpa menghiraukan derap kaki kuda yang berlari dibawahnya. Sementara itu di padukuhan-padukuhan ayam telah keluar dari kandangnya, berkeliaran di halaman rumah. Masih sekali dua kali terdengar ayam jantan berkokok dengan penuh kebanggaan.

“Hari telah terang” desis Jangkung, “bukankah kita sudah sampai keperbatasan?”

Gandar mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Kita sudah sampai keperbatasan.”

“Terima kasih atas kesediaan kalian menemani aku sepanjang perjalanan yang gelap di dini hari” berkata Jangkung.”

“Kami akan berhenti di perbatasan” berkata Gandar, “mudah-mudahan kau tidak menjumpai gangguan di perjalanan.”

“Terima kasih paman. Aku akan berhati-hati. Sementara jalan belum terlalu ramai, aku dapat berpacu dengan kecepatan yang tinggi.” berkata Jangkung.

“Jangan terlalu cepat melarikan kudamu. Meskipun kudamu mampu berlari cepat, tetapi jalan tidak sehalus dan rata seperti jalan-jalan di Kotaraja. Lubang-lubang yang ada ditengah jalan dapat membuat kaki kudamu terperosok atau jalan yang licin dapat membuat kudamu tergelincir.”

Jangkung tersenyum. Katanya, “Baik paman. Aku tidak akan berpacu terlalu cepat.”

Demikianlah, maka Gandar dan kawan-kawannya telah berhenti diperbatasan, sementara Jangkung melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Kudanya kemudian memang berpacu. Ia bukan melarikan kudanya kencang-kencang karena ketakutan di perjalanan. Tetapi ia menyadari, bahwa ibu dan adiknya tentu menjadi gelisah. Bahkan jika ayahnya mendengar bahwa ia tidak pulang, tentu akan menjadi gelisah pula.

Demikianlah, setelah Jangkung hilang ditikungan, maka Gandar dan kawan-kawannya pun. segera memutar kudanya kembali menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi demikian mereka meninggalkan perbatasan, maka mereka melihat tiga orang berkuda justru menuju ke perbatasan.

Gandar termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian minta agar para pengawal berhati-hati.

“Kita sedang mencurigai tiga orang berkuda” berkata Gandar kepada kawan-kawannya, para pengawal yang pergi bersamanya.

Ternyata orang-orang berkuda itu berhenti beberapa langkah sebelum mereka berpapasan dengan Gandar. Bahkan orang tertua diantara mereka bertiga pun telah memberikan isyarat agar Gandar dan kawan-kawannya itu berhenti.

“Maaf Ki Sanak” berkata orang tertua diantara ketiga orang berkuda itu, “kami ingin bertanya, siapakah yang kalian antarkan itu tadi?”

Gandar mengerutkan dahinya. Katanya, “Apakah kepentingan Ki Sanak dengan orang itu? Apakah Ki Sanak sudah mengetahui siapakah orang itu?”

“Aku tidak tahu siapakah orang itu. Tetapi aku sedang mencari seseorang di Tanah Perdikan ini. Adikku berada di Tanah Perdikan ini. Ia melarikan diri dari keluarga kami.” berkata orang itu.

“Kenapa ia melarikan diri?” bertanya Gandar.

“Ayah dan ibu sudah terlanjur membicarakan hari perkawinannya. Tetapi adikku tidak bersedia melakukannya. Karena itu, maka ia melarikan diri.” jawab orang itu.

“Jika demikian, bukankah adikmu seorang perempuan?” bertanya Gandar.

“Tidak. Adikku seorang laki-laki” jawab orang itu pula.

“Kenapa ia harus lari dari rumah? Jika ia seorang laki-laki, apakah ia juga dipaksa untuk kawin dengan seorang gadis yang tidak disukainya?” bertanya Gandar sambil mengerutkan dahinya.

“Pembicaraan antara ayah dan ibu sudah dilakukan sejak adikku masih kanak-kanak.” jawab orang itu.

Tiba-tiba Gandar berkata, “Mungkin orang itu adikmu. Ia mempunyai sifat yang aneh. Ia melakukan tindakan yang nampaknya tidak wajar. Kebingungan dan kami mencemaskan bahwa ia akan berbuat jahat terhadap Kepala Tanah Perdikan kami.”

Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian yang tertua bertanya, “Apa yang akan dilakukannya terhadap Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

“Kami mencurigainya, bahwa orang itu akan membunuh Kepala Tanah Perdikan Sembojan.” jawab Gandar.

Wajah orang itu menjadi tegang. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Tidak. Ia tidak akan melakukan itu betapapun jantungnya dicengkam oleh kebingungan.”

“Susullah. Ia tentu adikmu itu. Ajak ia pulang. Jika kami melihatnya berada di Tanah Perdikan ini lagi, maka kami akan mengambil tindakan yang lebih keras. Bukan sekedar mengusirnya dengan mengantarnya sampai perbatasan. Mungkin saja ia berbelok dan mengambil jalan lain kembali ke Tanah Perdikan ini. Karena itu, susullah. Mungkin ia belum terlalu jauh.”

Orang itu mengangguk-angguk meskipun keningnya nampak berkerut. Sementara Gandar berkata, “Silahkan. Kami akan kembali ke padukuhan induk. Tetapi agaknya lebih baik jika adikmu itu kau bawa pulang daripada mengalami nasib buruk di Tanah Perdikan ini. Mungkin ia bukan orang jahat. Tetapi kebingungan akan dapat mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang aneh-aneh.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku akan menyusulnya dan mengajaknya pulang, Ayah dan ibu tentu sudah menunggu.”

Demikianlah, maka Gandar dan kawan-kawannya pun segera meninggalkan ketiga orang berkuda itu tanpa berpaling. Gandar dan kavan-kawannya berpacu semakin cepat sehingga hilang dikejauhan. Yang kemudian nampak tinggal debu kelabu yang mengepul dilontarkan oleh kaki-kaki kuda itu.

Seorang diantara para pengawalnya bertanya, “Apa sebenarnya yang kau katakan itu?”

Gandar yang jarang sekali tertawa itu pun tertawa. Katanya, “Orang-orang itu akan menjadi bingung. Mereka tidak akan mengejar Jangkung. Jika ia tahu Jangkung itu seorang tamu yang dihormati di Tanah Perdikan karena ia adalah sahabat Risang. maka mungkin Jangkung akan menjadi sasaran antara dari orang-orang itu untuk mendapatkan Risang.”

Para pengawalnya pun tertawa pula. Mereka mengerti bahwa Gandar telah melindungi Jangkung dengan caranya.

Namun seorang diantara para pengawal itu pun bertanya, “Kenapa mereka tidak kita tangkap saja? Bukankah mereka tiga orang berkuda yang pernah disebut-sebut oleh Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung?”

“Apa salah mereka jika tiba-tiba saja mereka kita tangkap? Kita tidak dapat menangkap orang-orang itu sekedar karena mereka pernah berniat untuk menculik seseorang di Tanah Perdikan ini. Mungkin niat itu telah mereka urungkan atau bahkan mereka menyesal bahwa mereka telah berniat buruk. Setidak-tidaknya mereka dapat menyebut hal seperti itu sebagai alasannya.”

“Jadi kita harus melihat bukti kejahatannya lebih dahulu?” bertanya salah seorang pengawal.

“Ya” jawab Gandar, “meskipun hal itu agaknya memerlukan waktu dan kewaspadaan. Kita tentu sudah menyadari, bahwa tiga orang yang berani merencanakan hal itu, tentu orang-orang yang berilmu tinggi.”

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Tetapi tidak ada lagi diantara mereka yang bertanya. Dengan demikian maka kuda-kuda itu pun meluncur dengan derasnya menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, maka langit pun menjadi semakin cerah. Matahari merambat di langit semakin tinggi. Embun yang bergantungan di ujung daun padi, telah mengambang dilangit yang semakin terasa panas.

Dalam pada itu, tiga orang berkuda yang bertemu dengan Gandar memang melanjutkan perjalanan menyeberangi perbatasan. Tetapi mereka sama sekali tidak berniat mengejar orang yang tidak mereka kenal itu. Orang tertua diantara mereka itu pun segera menghentikan kawan-kawannya sambil berkata, “Sudah cukup. Kita tidak akan pergi terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan.”

“Apa yang sebenarnya kita bicarakan tadi?” seorang kawannya bertanya.

“Bukankah kita ingin tahu siapakah orang yang dikawal beberapa orang itu? Jika orang itu memang orang penting, maka kita akan dapat memperalatnya untuk mendapatkan Ki Lurah Mertapraja.” berkata orang tertua diantara mereka. Lalu katanya kemudian, “Tetapi ternyata kita tidak memerlukannya.”

“Jadi apa yang akan kita lakukan?” bertanya kawannya yang lain.

“Jika benar apa yang dikatakan oleh orang-orang Tanah Perdikan itu, agaknya ada orang lain yang ingin melakukan sesuatu. Mungkin benar orang itu pantas dicurigai dan harus diusir dari Tanah Perdikan. Tetapi jika benar ia berniat buruk, maka ia akan segera kembali lagi.” berkata yang tertua diantara mereka.

“Kita tidak akan mempedulikannya” berkata salah seorang kawannya.

“Tidak. Kita harus mempedulikannya.“ kata yang tertua.

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Jika benar ia berniat buruk terhadap Kepala Tanah Perdikan dan ia berhasil, maka kita akan kehilangan sasaran utama kita. Kepala Tanah Perdikan yang masih muda itu adalah harga yang paling pantas untuk Ki Lurah Mertapraja. Jika kita berhasil membawanya, maka Tanah Perdikan ini akan berusaha untuk menukarnya dengan Ki Lurah yang sudah terlanjur berada di Pajang.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Aku mengerti.”

“Karena itu, kita harus bekerja lebih keras, agar kita segera dapat menyelesaikan tugas kita ini.”

“Jika kita bertemu lagi dengan orang Tanah Perdikan itu?” bertanya kawannya yang lain.

“Kita dapat mengatakan bahwa orang yang mereka usir keluar itu bukan adik yang aku cari. Karena itu, maka kita masih akan mencarinya sampai kita menemukannya.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara orang yang tertua itu berkata, “Marilah. Kita kembali ke Tanah Perdikan. Kita sudah mendapatkan tempat yang terbaik yang dapat kita pergunakan selama kita berada di Tanah Perdikan itu.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Bertiga mereka kembali ke Tanah Perdikan. Namun mereka telah memilih jalan yang lain meskipun agak melingkar.

Dalam pada itu, Jangkung telah berpacu melintasi jalan-jalan bulak dan padukuhan-padukuhan. Di tempat yang sepi, maka Jangkung telah melarikan kudanya dengan kencang. Kudanya memang kuda yang baik. Tegar dan kuat. Namun demikian, Jangkung tidak dapat melarikan kudanya tanpa beristirahat.

Dirumahnya, kegelisahan memang telah memuncak. Sumbaga telah pergi sekali lagi menemui Ki Rangga Dipayuda yang belum sempat pulang karena tugas-tugasnya yang belum dapat ditinggalkannya.

Tetapi ketika Ki Rangga mendapat laporan bahwa Jangkung masih juga belum pulang, maka ia pun telah minta ijin kepada Ki Tumenggung untuk mendapat kesempatan pulang meskipun hanya semalam. Ki Rangga berangkat dari baraknya menjelang senja, sementara esok pagi-pagi ia sudah harus berada dibaraknya kembali.

Ki Rangga menjadi gelisah ketika ia sampai dirumah, ternyata Jangkung masih belum pulang.

“Bagaimana jika kakang Jangkung mengalami kesulitan ayah?” bertanya Riris dengan cemas.

“Apa yang harus kita lakukan Ki Rangga?” bertanya Nyi Rangga yang juga menjadi kebingungan.

Ki Rangga memang menjadi bingung. Ia tidak segera tahu apa yang harus dikerjakannya. Sementara itu waktunya tidak terlalu banyak. Sebagai seorang prajurit, maka ia tidak dapat meninggalkan tugasnya kapan saja ia inginkan.”

“Jika Jangkung memang tidak pulang, aku harus berterus terang kepada Ki Tumenggung agar aku mendapat kesempatan beberapa hari untuk mencarinya.” berkata Ki Rangga.

“Tetapi kapan kesempatan itu ada?” bertanya Riris.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku adalah seorang prajurit, Riris. Aku terikat pada tugasku, sehingga aku tidak dapat bebas menentukan waktu sendiri. Aku hanya dapat mengajukan permohonan Tetapi yang memutuskan adalah Ki Tumenggung Jayayuda. Apalagi kemelut antara Mataram dan Madiun nampaknya tidak semakin mereda. Justru semakin menjadi panas.”

“Jadi, seandainya perang itu terjadi sementara kakang Jangkung belum kembali, ayah juga tidak akan sempat mencarinya?” bertanya Riris.

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku sudah mengucapkan sumpah sebagai seorang prajurit. Karena itu, aku tidak akan dapat melanggarnya.”

Riris tidak menjawab. Tetapi dari kedua pelupuknya mulai menitik air matanya.

“Apakah tidak ada kebijaksanaan, Ki Rangga?” bertanya Nyi Rangga.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat Ki Rangga menjawab, “Satu-satunya harapan adalah kebijaksanaan Ki Tumenggung. Jika Ki Tumenggung dapat mengerti keadaanku, maka Ki Tumenggung akan dapat mengambil kebijaksanaan meskipun sangat terbatas.”

Nyi Rangga tidak bertanya lagi. Wajahnya pun menjadi sangat murung.

Sementara itu Ki Rangga berkata Tetapi Nyi, bagaimanapun juga kita harus mendasari sikap kita, bahwa Jangkung telah cukup dewasa. Ia memang sudah sepantasnya bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam segi apapun. Ia sudah sepantasnya mandiri dalam sikap dan keselamatan diri.”

Nyi Rangga mengangguk. Namun ia sadar sepenuhnya, maka Ki Rangga hanya sekedar menghiburnya, menghibur Riris dan bahkan,menghibur dirinya sendiri.

Namun Riris masih juga bergumam, “meskipun kakang Jangkung telah dewasa, tetapi apakah itu berarti bahwa ayah tidak lagi pantas menghiraukannya?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu, Riris. Tetapi aku tentu tidak akan dapat memperlakukannya sebagaimana ia masih seorang kanak-kanak?” sahut ayahnya.

Riris menundukkan kepalanya. Sekali-sekali tangannya mengusap matanya yang basah.

Meskipun hari menjadi semakin malam, namun mereka masih belum juga pergi ke bilik mereka. Ketika Nyi Rangga minta agar Riris pergi tidur, ia menggelengkan kepalanya.

Hampir berbisik terdengar ia berkata, “Ayah. Apakah kakang Sumbaga dapat mencarinya?”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika perlu, maka aku akan minta Sumbaga untuk mencarinya. Tetapi mencari seseorang diluasnya wajah tanah ini, bukan sesuatu yang mudah.”

“Tetapi bukankah dapat dicoba? Kemana kakang Jangkung mungkin pergi. Atau kakang Sumbaga dapat mendengarkan pembicaraan orang, apakah pernah terjadi kecelakaan atau apapun.”

“Ya, ya Riris” Ki Rangga mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin malam, maka tiba-tiba saja mereka mendengar derap kaki kuda yang berlari memasuki halaman rumah itu. Riris lah yang pertama-tama meloncat bangkit sambil berteriak, “Tentu kakang Jangkung.”

Ki Rangga dan Nyi Rangga pun segera menyusul pula, sementara Riris sudah membuka pintu pringgitan dan berlari langsung ke pendapa.

“Kakang” Riris memanggil sambil menghambur turun kehalaman rumahnya. Yang datang itu memang Jangkung. Sementara ayah dan ibunya berdiri dengan wajah tegang dipendapa.

Di seketeng, Sumbaga yang juga mendengar derap kaki kuda, berdiri sambil menarik nafas panjang. Ketika Jangkung kemudian meloncat turun dari kudanya, maka Sumbaga dengan tergesa-gesa mendekatinya dan menerima kendali kuda itu.

“Kuda ini tentu letih” desis Sumbaga.

“Ya” jawab Jangkung, “tolong, beri kuda itu minum dan makan.”

“Sejak kapan kuda ini tidak makan?” bertanya Sumbaga.

“Menjelang sore. Aku tidak sempat lagi berhenti sesudah itu. Rasa-rasanya aku ingin segera sampai ke-rumah.”

Riris lah yang kemudian membimbing kakaknya sambil berkata, “Kau membuat seisi rumah ini gelisah. Ayah pun harus minta ijin meninggalkan baraknya meskipun sebenarnya para prajurit tidak boleh meninggalkan barak sama sekali.”

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia naik tangga pendapat mendapatkan ayah dan ibunya, ia pun berdesis, “Aku mohon maaf.”

“Kemana saja kau selama ini?” bertanya ayahnya.

Jangkung memang tidak berniat berbohong. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Dari Tanah Perdikan Sembojan.”

Semuanya memang terkejut. Tetapi yang paling terkejut adalah Ki Rangga Dipayuda. Dengan serta merta ia bertanya dengan nada keras, “Untuk apa kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan?”

Jangkung mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah ayahnya yang menjadi tegang. Bahkan ibunya pun nampak gelisah pula.

Setelah menarik nafas panjang, Jangkung itu menjawab, “Aku hanya sekedar ingin melihat Tanah Perdikan yang baru saja dilanda perang itu, ayah.”

“Jangkung, kenapa kau pergi ke Tanah Perdikan tanpa berbicara lebih dahulu dengan aku atau ibumu?”

Wajah Jangkung memang menjadi tegang. Sementara itu ibunya berkata, “Biarlah ia duduk dahulu, Ki Rangga. Jangkung tentu perlu beristirahat. Mungkin ia haus atau bahkan lapar.”

“Itu salahnya sendiri” jawab Ki Rangga.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Riris menariknya naik sambil berkata, “Marilah.”

Ki Rangga dan Nyi Rangga pun kemudian telah masuk pula keruang dalam, sementara Jangkung pergi ke paki-wan untuk membersihkan kaki dan tangannya.

“Biarlah ia menjadi tenang lebih dahulu, Ki Rangga” desis Nyi Rangga.

“Seharusnya ia tidak pergi ke Tanah Perdikan Sembojan” geram Ki Rangga.

Namun tiba-tiba Riris bertanya, “Bukankah lebih baik bagi kakang Jangkung untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan daripada pergi ke tempat lain yang kita semuanya belum mengetahuinya?”

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun berusaha untuk mengekang perasaannya. Ia sadar bahwa diantara mereka terdapat Riris, sehingga ia tidak boleh berbicara terlalu terbuka tentang kepergian Jangkung ke Tanah Perdikan.

Karena itu, maka Ki Rangga itu pun mengangguk sambil berdesis, “Ya. Agaknya memang demikian. Tetapi bahwa Jangkung tidak memberitahukan lebih dahulu niatnya pergi ke Tanah Perdikan itulah yang aku sesali. Bukan kepergiannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah kita semuanya menjadi gelisah dan bahkan kebingungan.

“Kita akan memperingatkannya” berkata Nyi Rangga, “tetapi tidak dengan serta-merta.”

“Riris yang juga sudah meningkat dewasa itu justru berdesis, “Mungkin ada sesuatu yang mendorong kakang Jangkung untuk melakukannya. Bukankah ia tidak pernah berbuat demikian sebelumnya? Karena itu, jika tidak ada persoalan yang mendesaknya, maka ia tidak akan melakukan hal itu.”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apapun yang mendorongnya. Tetapi ia harus minta diri atau jika ia sudah merasa dewasa dan dapat menentukan sikapnya sendiri, maka sebaiknya ia memberitahukan, bahwa ia akan pergi untuk dua malam, bahkan hampir tiga malam berturut-turut.”

Riris tidak menjawab. Ia mengerti kenapa ayahnya menjadi marah. Karena kepergian kakaknya itulah, maka Ki Rangga harus minta kebijaksanaan Ki Tumenggung untuk mendapat ijin pulang meskipun hanya semalam saja.

Sementara itu, Jangkung telah selesai berbenah diri. Ia pun kemudian duduk diruang tengah, sementara Riris diminta oleh ibunya untuk membuat minuman dan menyediakan makan bagi kakaknya yang baru saja datang itu.

“Diatas perapian itu masih ada air hangat. Kau dapat membuat minuman meskipun tidak sepanas air yang sedang mendidih.” berkata ibunya.

“Aku akan merebusnya ibu.” berkata Riris.

“Tidak, tidak usah Riris. Yang ada itu sudah cukup sahut Jangkung.”

“Aku tinggal menyalakan api” jawab Riris.

“Biarlah ia memanasinya” berkata ayahnya, “aku juga ingin minuman panas.”

“Sebentar lagi aku juga kedapur” berkata ibunya, “aku akan menyediakan makan bagi kakakmu.”

Riris mengangguk. Ia mengerti bahwa ibunya masih akan menunggui ayahnya yang sedang marah, agar ia tidak dengan serta-merta marah kepada kakaknya itu.

Dalam pada itu, demikian Riris pergi ke dapur, maka ayahnya memang segera bertanya, “Kenapa kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan? Bukankah kau telah menemui Risang?

Jangkung mengangguk. Tetapi ia menjawab, “Aku memang menemui Risang. Tetapi sekedar menemuinya saja.”

“Kau tentu mengatakan kepadanya, bahwa aku sedang berusaha untuk menentukan, siapakah yang akan menjadi sisihan Riris.” berkata Ki Rangga kemudian.

“Tidak ayah, sama sekali tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa.” jawab Jangkung.

“Mustahil” sahut ayahnya, “jika kau tidak mengatakan apa-apa dalam hubungannya dengan Riris, kenapa kau demikian tergesa-gesa pergi ke Tanah Perdikan Sembojan? Kenapa kau tidak menunggu sehari dua hari. Atau setidak-tidaknya sempat minta ijin atau memberitahukannya kepada aku atau ibumu atau jika kau segan, kepada Riris?” bertanya Ki Rangga seperti debur ombak di pesisir yang mengalir susul-menyusul.

“Biarlah anak ini memberikan penjelasan Ki Rangga.” berkata Nyi Rangga menyela.

“Ayah” berkata Jangkung, “aku memang menjadi gelisah ketika aku pulang dari Pajang untuk berbicara dengan ayah. Tiba-tiba saja aku ingin membuat perbandingan lagi antara Kasadha dan Risang. Di Pajang aku bertemu dengan Kasadha. Aku berusaha untuk melihat ujud lahirnya dan kesan dari ungkapan batinnya. Ketika aku pulang dari Pajang, maka tiba-tiba timbul keinginanku untuk melakukan hal yang sama atas Risang.”

“Hanya itu?” desak Ki Rangga.

“Ya, apa lagi?” justru Jangkung yang bertanya.

“Jika hanya itu kau tempuh jalan panjang ke Tanah Perdikan Sembojan?”

“Lalu apa lagi? Apakah aku harus mengatakan kepada Risang, agar ia cepat-cepat melamar Riris.”

“Jangkung” berkata ayahnya dengan nada berat, “kau tidak boleh mendahului langkah-langkah yang sedang aku ambil. Kau boleh mengemukakan pendapatmu, tetapi kau tidak boleh memotong rencanaku.”

“Ayah. Sudah aku katakan, aku tidak berbuat apa-apa di Tanah Perdikan. Aku tidak mengatakan apa-apa kepada Risang tentang Riris. Aku bahkan sama sekali tidak menyebut nama Riris. Yang menyebut nama Riris justru ibu Risang itu ketika aku minta diri. Nyi Wiradana itu mengirimkan salam kepada ayah dan ibu. Juga kepada Riris. Nyi Wiradana itu teringat kepada Riris dengan sendirinya. Bukan aku yang memancingnya. Aku tidak tahu kenapa Nyi Wiradana teringat kepada Riris. Mungkin karena Riris pernah ikut membantu terselenggarakannya upacara wisuda Risang yang khidmat itu.” jawab Jangkung.

“Apakah kau akan mengatakan bahwa ibu Risang itu lebih dekat secara jiwani dengan Riris daripada ibu Kasadha?” bertanya Ki Rangga.

“Siapakah yang mengatakan itu, ayah. Aku hanya mengatakan bahwa ketika aku minta diri, ibu Risang itu mengirimkan salamnya kepada Riris. itu saja? Aku sama sekali tidak menyinggung ibu Kasadha.” jawab Jangkung.

“Sudahlah” Nyi Rangga berusaha menengahi, “semakin lama pembicaraan kalian menjadi semakin keras. Nanti justru Riris mendengarnya. Sebaiknya kita tidak memperpanjang persoalan ini. Sekarang Jangkung sudah  pulang. Ia sudah mengatakan, bahwa Ki Rangga tidak ingin rencananya dipotong oleh Jangkung. Aku pun ingin menekankan hal itu, Jangkung. Biarlah rencana ayahmu berjalan tanpa terganggu jika kalian membuat rencana sendiri-sendiri yang berbeda, maka akhirnya hanya akan membingungkan Riris saja. Dengan demikian maka tidak satu pun rencana itu akan terlaksana. Jika demikian maka yang akan menjadi korban justru Riris.”

“Aku sudah mengatakan ibu, bahwa aku tidak melakukan apa-apa. Apalagi mulai menapak untuk satu rencana tertentu bagi Riris.” jawab Jangkung.

“Baiklah” berkata Ki Rangga, “aku mempercayaimu. Untuk selanjutnya, sebaiknya kita membicarakan apa saja yang akan kita perbuat sehingga kita tidak melakukan langkah-langkah yang justru dapat saling berbenturan.”

Jangkung mengangguk kecil. Katanya, “Aku tidak akan berbuat apa-apa kecuali menyatakan pendapatku kepada ayah sebagaimana sudah aku katakan.”

Ki Rangga mengangguk. Katanya, “baiklah. Tetapi jangan pula membuat kami cemas seperti sekarang ini.”

“Ya ayah” berkata Jangkung sambil bangkit berdiri, “aku akan melihat kudaku sebentar.”

“Bukankah Sumbaga sudah mengurusnya” bertanya ibunya.

“Biarlah aku memasukkannya kedalam kandang. Kakang Sumbaga tentu sudah sangat mengantuk pula.” berkata Jangkung.

“Tetapi adikmu baru membuat minuman buatmu” desis ibunya.

“Bukankah air baru direbus?” sahut Jangkung.

“Tetapi jangan terlalu lama” pesan ibunya.

“Aku hanya sebentar ibu” jawab Jangkung sambil bergeser dan kemudian melangkah keluar.

Ketika angin malam mengusap kulit wajahnya, maka Jangkung merasa darahnya menjadi segar. Ia merasa sangat tegang duduk diruang dalam bersama ayah dan ibunya. Pada dasarnya ia bukan seorang anak yang berani menentang pendapat orang tuanya. Namun dalam persoalan Riris, ia merasa sebaiknya ia menyatakan pendapatnya.

Dengan langkah yang gontai Jangkung menuju ke kandang kuda. Ia tahu bahwa Sumbaga tentu sudah memasukkan kudanya kedalam kandangnya. Namun rasa-rasanya, diluar ia sempat membebaskan diri dari ketegangan.

Ketika ia sampai ke kandang, ia melihat kudanya sudah ada didalam. Pelananya sudah dilepas. Bahkan kudanya sedang minum air dan makan rumput yang segar.  Sekali kudanya mengangkat kepalanya memandanginya, seakan-akan bertanya kepadanya, kenapa ia tidak makan dan minum sebagaimana dilakukan kudanya itu.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Disapunya kepala kudanya dengan lembut. Kemudian ditepuknya sambil berdesis, “Minumlah sepuasmu. Kau tentu lelah.”

Kuda itu memandangnya. Seakan-akan ia mengerti apa yang dikatakannya.

Namun kemudian Jangkung pun berkata, “Kau tidak usah ikut merasakan sebagaimana aku rasakan.”

Jangkung mendengar langkah mendekat. Ia tahu bahwa Sumbaga melihatnya berdiri di kandang dan mendekatinya.

“Kau masih belum tidur?” bertanya Jangkung, “terima kasih atas perawatanmu terhadap kuda ini.”

“Kudamu letih sekali Jangkung” berkata Sumbaga.

“Ya. Aku memaksanya untuk berlari terus. Aku gelisah justru karena aku tahu, bahwa aku telah dicari.”

“Dua kali aku pergi ke Pajang menyampaikan kepada paman Rangga Dipayuda, bahwa kau belum pulang. Ibumu dan Riris menjadi sangat gelisah.”

“Aku tahu” jawab Jangkung, “karena itu, kudaku aku paksa berjalan terus, meskipun aku tahu bahwa kuda ini sangat letih.”

“Kau juga letih. Beristirahatlah” berkata Sumbaga.

Jangkung menepuk bahu Sumbaga sambil berkata, “Terima kasih. Aku memang letih.” Namun kepada diri sendiri ia berkata, “Hatikulah yang merasa sangat letih.”

Namun dalam pada itu terdengar suara Riris memanggil, “Kakang Jangkung. Ibu memanggilmu.”

Jangkung tahu bahwa sudah dibuat minuman panas. Karena itu, maka ia pun melangkah sambil berkata, “Marilah kita minum di ruang dalam. Riris agaknya telah membuat minuman.”

Tetapi Sumbaga seperti biasanya menolak. Ia lebih senang berada diluar lingkungan rumah induk. Meskipun Ki Dipayuda dan Nyi Dipayuda menganggapnya seperti anak sendiri, tetapi Sumbaga sendiri telah membuat jarak diantara mereka. Bahkan kepada Jangkung dan apalagi Riris, Sumbaga justru berusaha untuk tidak terlalu dekat.

Sejenak kemudian, maka Jangkung pun telah melangkah meninggalkan kandang. Sekali ia berpaling melihat kudanya makan rerumputan segar. Namun kemudian dengan cepat ia melangkah.

Diruang dalam Jangkung bersama ayah, ibunya dan Riris minum minuman hangat. Bahkan Riris dan ibunya sudah menyediakan makan meskipun sudah dingin.

“Makanlah Jangkung” berkata ibunya. Dipandanginya ayahnya sekilas. Tetapi ia sempat bertanya, “Apakah yang lain sudah makan.”

“Sudah” jawab ibunya, “kami sudah makan semuanya.”

Jangkung memang merasa lapar. Karena itu, maka meskipun nasi sudah dingin, ia pun menyuapi mulutnya sambil sekali-sekali menghirup minuman panas.

Tetapi rasa-rasanya memang aneh. Jika semula ia merasa lapar, namun kemudian ia menjadi segan untuk makan. Bukan karena nasi sudah dingin. Tetapi rasa-rasanya ia memang kehilangan selera.

Tetapi Jangkung tidak mau mengecewakan ibu dan adiknya. Karena itu, disuapinya juga mulutnya meskipun agak dengan paksa.

Riris yang menunggui Jangkung makan, memang menjadi heran. Ayahnya dan Jangkung tidak terlalu banyak berbicara. Mereka hanya bertanya sepatah-sepatah dan dijawab sepatah-sepatah pula.

“Tentu ada sesuatu” berkata Riris didalam hatinya. Ia memang merasa cemas, bahwa ayah dan kakaknya telah berselisih pendapat. Ketika Jangkung menyusul ayahnya ke Pajang, nampaknya ia terlalu tergesa-gesa. Seolah-olah kakaknya itu ingin saat itu juga bertemu dengan ayahnya untuk membicarakan sesuatu. Pagi-pagi benar kakaknya sudah berangkat. Meskipun alasannya agar ia bertemu dengan ayahnya sebelum waktunya ayahnya menunaikan tugasnya dibarak keprajuritan.

Kemudian ayahnya menjadi marah ketika ia melihat Jangkung pulang. Nampaknya bukan sekedar karena Jangkung pergi tanpa memberitahukan lebih dahulu.

Tetapi Riris tidak berani menanyakannya. Ia ingin bertanya kepada kakaknya, jika ayahnya sudah kembali ke Pajang. Esok pagi-pagi ayahnya tentu sudah berangkat, karena ia hanya mendapat ijin meninggalkan baraknya semalam saja.

Namun dalam pada itu, ketika. Riris membenahi mangkuk-mangkuk serta menyingkirkan sisa makanan, Ki Rangga Dipayuda sempat berkata kepada Jangkung, “Sekarang aku akan tidur. Esok pagi-pagi aku harus sudah kembali ke Pajang, karena aku tidak mendapat kesempatan lebih dari semalam ini saja. Tetapi ingat, jangan potong kebijaksanaanku. Aku sudah mengambil keputusan.”

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, ”Baik ayah.”

“Aku tidak berkeberatan kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi tidak lebih sekedar menengok Risang atau keluarganya saja, tanpa membicarakan persoalan lain.”

Suara Jangkung dingin, “Ya ayah.” Ki Rangga Dipayuda pun segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke biliknya. Sedangkan Jangkung masih duduk seorang diri diruang tengah, sementara ibu dan Riris masih sibuk mencuci mangkuk-mangkuk kotor di dapur.

Ketika kemudian ibunya kembali keruang tengah, maka ia pun berkata, “Sudahlah Jangkung. Kau tentu letih. Beristirahatlah. Segala sesuatunya dapat dibicarakan esok atau lusa atau kapan saja.”

Jangkung tidak menjawab. Sementara itu Riris pun telah masuk pula. Ibunya yang masih berdiri didepan biliknya berkata, “Riris, tidurlah. Hari sudah jauh malam.”

Riris pun kemudian langsung pergi ke biliknya. Tetapi ia masih bertanya kepada Jangkung, “Bukankah kau letih?”

Jangkung mengangguk. Katanya, “Ya. Aku memang letih.”

Riris tidak bertanya lagi. Ia dapat merasakan bahwa Jangkung memang tidak seperti biasanya. Karena itu, ia tidak banyak berbicara lagi.

Namun dalam pada itu Jangkung berkata kepada diri sendiri, “Hatiku terasa lebih letih daripada tubuhku.”

Ternyata Jangkung tidak segera pergi ke biliknya. Ia bahkan pergi keluar dan duduk diamben panjang di serambi gandok. Angin terasa semilir, sehingga Jangkung merasa sedikit segar. Keringatnya tidak lagi terasa terperas dari tubuhnya.

Diluar kehendaknya, Jangkung pun telah berbaring pula di serambi gandok. Bahkan usapan angin malam yang sejuk diwajahnya, telah membuatnya tertidur.

Jangkung terkejut ketika ia mendengar kesibukan di halaman. Ternyata Sumbaga telah menyediakan kuda Ki Rangga ketika hari masih sedikit gelap menjelang fajar.

“Ayah akan berangkat pagi-pagi sekali?” bertanya Jangkung.

“Ya, saat matahari terbit.” jawab Sumbaga.

Jangkung pun kemudian mendekati Sumbaga yang berada di halaman mengikat kuda Ki Rangga yang sudah siap pada patok disebelah pendapa. Sambil mengusap matanya Jangkung bertanya, “Apakah ayah sudah siap?”

“Ki Rangga baru mandi” jawab Sumbaga. Namun yang kemudian bertanya, “Kenapa kau tidur diserambi gandok?”

“Aku tidak berniat tidur diserambi. Udara terasa panas didalam. Tetapi agaknya aku sudah tertidur dan mungkin karena letih, aku tidak terbangun sampai pagi.” jawab Jangkung.

“Ya. Aku melihat kau tidur nyenyak sekali.” desis Sumbaga.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Sebelum tertidur ia justru merasa gelisah. Tetapi agaknya memang karena tubuhnya yang letih, ia dapat tidur nyenyak.

Ketika kemudian Jangkung masuk keruang dalam, dilihatnya ibunya telah menyediakan minuman panas dan makan bagi Ki Rangga.

“ Apakah kau ingin menemani ayahmu makan pagi?” bertanya ibunya.

“Nanti ayah harus menunggu terlalu lama. Aku masih harus mandi dahulu.” jawab Jangkung. Lalu katanya, “Biar ayah makan dahulu. Nanti ayah terlambat.”

Ibunya mengangguk kecil. Sementara itu Ki Rangga sudah siap berpakaian dan kemudian duduk diruang dalam. Jangkung dan Riris ikut duduk pula meskipun mereka tidak makan.

Ki Rangga masih tidak terlalu banyak berbicara. Tetapi ia sempat memberikan beberapa pesan kepada Nyi Rangga, Jangkung dan Riris, agar mereka menjaga dan memelihara rumah itu sebaik-baiknya. Kepada Riris ia berkata, “Jangan lupa memberi makan dan minum burung-burung itu. Bekisar di halaman itu suaranya sudah menjadi semakin landung.”

“Ya, ayah” jawab Riris.

“Jangan membebani Sumbaga dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Biarlah ia memilih pekerjaannya sendiri. Jangan biarkan ia menjadi semakin asing di rumah ini. Karena itu, jika kau memerlukan seseorang untuk membersihkan sangkar, biarlah Ki Muncar melakukannya.” berkata ayahnya pula.

“Ya, ayah” jawab Riris.

Kepada Jangkung ayahnya berpesan, “Kau harus selalu melihat sawah dan pategalan kita. Jangan tinggalkan sampai berhari-hari. Jika padi sedang bunting dan airnya tidak cukup banyak, maka panen mungkin akan jauh menyusut.”

Jangkung mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya ayah.”

Ki Rangga itu masih berkata lagi, “Jangan terlalu mempercayakannya kepada para penggarap sawah. Tanggung jawabnya berbeda dengan tanggung jawabmu.”

Jangkung mengangguk pula sambil menjawab, “Ya, ayah.”

Ibunyalah yang menarik nafas dalam-dalam. Masih terasa pada nada bicara Ki Rangga, bahwa Ki Rangga masih marah kepada Jangkung karena Ki Rangga menganggap bahwa Jangkung telah mendahului rencananya. Meskipun Jangkung sudah menjelaskannya bahwa ia tidak melakukannya.

Demikianlah, setelah makan pagi, maka Ki Rangga pun sudah siap untuk berangkat. Untuk beberapa saat ia masih duduk diruang dalam sambil sekali-sekali meneguk minumannya. Ketika Riris membenahi mangkuk-mangkuk yang kotor, maka Ki Rangga itu masih juga berpesan kepada Jangkung, “Jangan membuat keadaan menjadi keruh. Ingat-ingat itu Jangkung.”

“Ya, ayah” Jangkung mengangguk dengan wajah yang kosong, sementara ibunya berkata, “Ia sudah mengerti maksud ayah.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun ia idak memberikan pesan apa-apa lagi.

Sejenak kemudian, maka Ki Rangga itu sudah memegangi kendali kudanya dihalaman. Nyi Rangga, Jangkung dan Riris mengantarkannya sampai keregol.

“Aku tidak tahu, kapan aku dapat pulang lagi. Mudah-mudahan keadaan tidak semakin memburuk.” berkata Ki Rangga ketika ia meloncat naiik keatas punggung kudanya.

“Hati-hatilah Ki Rangga” pesan Nyi Rangga.

 Ki Rangga mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku akan berhati-hati.” Lalu katanya kepada Jangkung, ”Jaga adikmu baik-baik.”

“Ya, ayah” jawab Jangkung sambil mengangguk.

“Riris” berkata ayahnya, “bantu ibumu. Beritahu Ki Muncar apa yang harus dilakukan.”

“Ya, ayah” jawab Riris.

Ki Rangga pun kemudian melambaikan tangannya kepada Sumbaga yang berdiri beberapa langkah dibe-lakang Jangkung. Kepada Sumbaga Ki Rangga berkata, “Baik-baik sajalah kau Sumbaga.”

“Ya, paman” jawab Sumbaga sambil mengangguk.

Demikianlah, ketika matahari mulai menjenguk diatas punggung bukit, maka Ki Rangga pun sudah memacu kudanya kembali ke Pajang.

Sepeninggal ayahnya, Jangkung pun telah pergi ke pakiwan untuk mandi. Rasa-rasanya ia ingin menyiram tubuhnya dengan air yang dingin sepakiwan agar urat-urat darahnya ikut menjadi dingin pula. Sementara ibunya dan Riris kembali sibuk didapur.

Tetapi Riris rasa-rasanya tidak sabar lagi ingin bertanya kepada kakaknya, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

Ketika kemudian kakaknya sudah selesai berbenah djri, serta Riris pun sudah selesai mencuci mangkuk didapur, maka ia pun telah menyusul kakaknya yang duduk merenung di serambi gandok.

Jangkung mengerutkan dahinya melihat Riris mendekatinya. Dengan ragu-ragu Riris melangkah sambil berkata Apakah aku mengganggu jika aku ikut duduk di-situ.”

“Mandi dulu Baru boleh duduk dekat-dekat aku. Aku sudah mandi.” jawab Jangkung.

“Lagakmu. Kau kira aku belum mandi?” justru Riris ganti bertanya.

“Jadi kau sudah mandi? Kapan!” bertanya Jangkung pula.

“Aku bukan pemalas seperti kau. Aku mandi sebelum matahari terbit. Lebih dahulu dari ayah.” jawab Riris.

Jangkung tertawa.

“Kenapa tertawa?” bertanya Riris.

“Jika kau sudah mandi saja wajahmu cemberut seperti itu, apalagi jika kau belum mandi,” jawab Jangkung.

“Sombong. Kau kira wajahmu setampan Jaka Tingkir” sahut Riris.

“Apakah kau pernah melihat Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Sultan di Pajang dengan gelar Kangjeng Sultan Hadiwijaya?”

Riris termangu-mangu sejenak. Katanya, “Ya, Jaka Tingkir itulah yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya  di Pajang.”

“Panembahan Senapati di Mataram itu adalah anak angkatnya. Namun sudah seperti anak sendiri. Sedangkan Pangeran Benawa di Pajang itu adalah puteranya sendiri.”

Riris mengangguk-angguk, sementara Jangkung bertanya, “He, apakah Jaka Tingkir itu tampan sekali? Apakah kau pernah bertemu atau setidak-tidaknya melihat wajahnya?”

“Kata orang ia mempunyai isteri dan selir yang banyak. Banyak perempuan yang jatuh cinta kepada Jaka Tingkir yang juga bernama Mas Karebet itu.”

“Tampan atau tidak tampan, tetapi ia adalah seorang raja besar di Pajang.” jawab Jangkung.

“Sudahlah. Tetapi aku ingin berbicara dengan kau, kakang.” berkata Riris kemudian.

“Bukankah kita sudah berbicara sejak tadi?”

“Ah, kau. Kali ini aku bersungguh-sungguh.” desis Riris.

Jangkung menarik nafas. Dalam ketegangan syaraf, ia masih dapat bergurau dengan adiknya. Tetapi tiba-tiba saja adiknya bersikap bersungguh-sungguh. Karena itu, maka urat-urat di kening rasa-rasanya telah menegang lagi.

Meskipun demikian Jangkung itu berkata, “Marilah, duduklah. Seharusnya kau bawa minuman hangat ketika kau kemari.”

“Apakah aku harus mengambilnya” desis Riris.

“Tidak, tidak” sahut Jangkung dengan serta-merta.

Demikianlah, maka Riris pun duduk di sebelah Jangkung, di amben panjang yang semalam dipergunakannya untuk tidur.

“Kenapa kau semalam tidur diluar, kakang?” bertanya Riris.

Jawab Jangkung sebagaimana dikatakan kepada Sumbaga. Katanya, “Aku hanya ingin mencari angin. Udara panas didalam. Tetapi karena lelah, aku telah tertidur disini sampai pagi.”

Riris mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kakang, aku minta maaf, bahwa aku memberanikan diri untuk bertanya kepadamu, karena aku tidak berani bertanya kepada ayah. Aku tidak pernah melihat sikap ayah seperti yang aku lihat semalam.”

“Kenapa?” bertanya Jangkung.

“Ketika kau pulang dari Tanah Perdikan Sembojan, agaknya ayah menjadi marah sekali.” berkata Riris.

“Tentu” jawab Jangkung, “aku pergi tanpa memberitahukan kepada siapapun. Ibu dan kau menjadi gelisah sekali, sehingga kakang Sumbaga harus pergi ke Pajang sampai dua kali.”

“Kenapa kau lakukan itu jika kau tahu bahwa aku dan ibu akan menjadi gelisah dan ayah akan menjadi marah?”

“Aku tidak tahu Riris. Seperti yang aku katakan kepada ayah. Tiba-tiba saja aku ingin pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Dorongan itu terasa terlalu kuat. Apalagi ketika aku mendengar bahwa di Tanah Perdikan itu baru saja terjadi perang.” jawab Jangkung.

“Tetapi tentu ada alasannya kenapa kau pergi ke Tanah Perdikan Sembojan tanpa kau sadari seperti itu. Apakah sebelumnya kau memang sudah berselisih dengan ayah ketika kau pergi ke Pajang pagi-pagi itu?” bertanya Riris.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Untuk beberapa saat ia merenung. Namun kemudian sambil menggeleng ia menjawab, “Tidak. Tidak ada persoalan yang membuat aku berselisih dengan ayah.”

“Jadi kenapa kau pagi-pagi benar sudah pergi ke Pajang?” desak Riris.

“Apakah aku sedang menghadap Perdata Agung di Mataram?” Jangkung Jaladri itu mengerutkan dahinya.

“Ah, kau.” desis Riris, “aku hanya ingin tahu, Sebenarnyalah aku merasa cemas. Jauh lebih cemas dari saat kakang tidak segera pulang. Apa yang aku lihat, ya sikapmu, ya sikap ayah, terasa asing dan tidak sewajarnya.”

Jangkung tersenyum, betapapun hambarnya. Sambil melingkarkan tangannya dibahu adiknya ia berkata lembut., “Tidak ada apa-apa Riris, Percayalah. Jika pada suatu saat, antara aku dan ayah terdapat perbedaan pendapat, bukankah itu wajar? Aku menjadi semakin dewasa, sehingga kadang-kadang aku merasa berkewajiban untuk memberikan pendapatku kepada ayah. Ternyata tidak semua pendapatku dianggap benar oleh ayah, sehingga satu ketika ayah berpendapat lain.”

Riris mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga berkata, “Aku juga pernah melihat ayah dan kakang berbicara panjang. Suatu ketika aku juga pernah melihat ayah dan kakang berbeda pendapat. Tetapi ayah tidak menjadi marah. Mungkin ayah mempertahankan pendapatnya sebagaimana kakang. Tetapi kemudian aku melihat kau dan ayah tertawa lagi. berbicara lagi tentang hal-hal lain yang tidak penting. Tetapi kali ini tidak, kakang.”

“Itu tergantung tingkat persoalannya Riris” jawab Jangkung, “persoalan yang kita bicarakan kali ini memang agak mendalam, sehingga barangkali perbedaan pendapat itu masih tersisa dihati ayah.”

“Tetapi persoalan apakah yang kakang bicarakan dengan ayah kali ini?” bertanya Riris.

Jangkung mengusap keringat yang mengembun di keningnya. Kemudian ia pun menjawab, “Kau tidak usah ikut memikirkan-nya, Riris. Persoalannya tidak akan menyangkut kepentingan orang lain. Hanya kepentinganku saja.”

“Kakang tidak terbiasa merahasiakan sesuatu. Bahkan kadang-kadang aku dapat mendengarkan langsung pembicaraan kakang dan ayah, dalam soal perbedaan pendapat sekalipun.” desis Riris.

“Aku tidak ingin kau ikut merenung dan berpikir berkepanjangan” jawab Jangkung.

“Apakah kakang dan ayah berbicara tentang sesuatu yang harus dirahasiakan? Juga terhadap keluarga sendiri?” Riris mendesak terus.

Jangkung memang mengalami kesulitan. Tetapi ia sadar, bahwa ia tidak boleh mengatakan sesuatu kepada Riris mengenai persoalan yang pernah dibicarakan dengan ayahnya itu. Justru tentang Riris itu sendiri.”

Karena itu, maka agar Riris tidak bertanya berkepanjangan, Jangkung itu pun menjawab, “Riris. Kau tahu bahwa aku sudah dewasa. Selain bertani, aku juga memiliki penghasilan lain sebagai pedagang kuda meskipun tidak tetap.”

“Jadi?” bertanya Riris pula.

Jangkung justru tersenyum. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Jadi bagaimana?” desak Riris pula.

“Umurku pun sudah cukup banyak” berkata Jangkung kemudian.

“Jadi kakang ingin beristri?” Riris menebak.

Jangkung tertawa sambil mengangguk.

“Bagus. Satu rencana yang bagus. Aku senang sekali kakang, bahwa aku akan mempunyai seorang saudara perempuan. Dengan demikian aku akan mempunyai kawan berbincang, bekerja didapur dan mencuci pakaian disungai.”

 “Mestinya begitu, Riris.” jawab Jangkung.

“Apakah ayah tidak setuju?” bertanya Riris.

Jangkung masih saja bingung mendengar pertanyaan-pertanyaan Riris yang tidak henti-hentinya itu. Namun ia terpaksa harus menjawabnya, “Bukannya ayah tidak setuju, Riris. Tetapi ayah ingin, aku mempunyai pekerjaan tetap lebih dahulu, baru aku memikirkan seorang isteri.”

“Tidak. Itu tidak perlu. Sawah kita cukup luas. Penghasilan kakang Jangkung sebagai pedagang kuda cukup baik meskipun tidak tetap. Apalagi? Umur kakang pun sudah cukup pula. Jika ayah berkeberatan, itu artinya ayah tidak adil.” berkata Riris. Bahkan katanya pula, “Biar aku berbicara dengan ayah.”

“Tidak. Tidak, Riris. Jangan berbicara dengan ayah. Ayah akan dapat menjadi semakin marah, karena ayah sudah menyatakan pendapatnya. Ketika aku mencoba menjelaskan, ayah justru tersinggung. Nah, kau tahu akibatnya. Apakah kau masih akan menambah kemarahan ayah?” Jangkung berhenti sejenak, lalu katanya, “Riris. Sudahlah. Aku sudah mengatakan kepada ayah, bahwa aku akan menurut perintah ayah. Aku akan mencari pekerjaan tetap yang juga berpenghasilan tetap. Meskipun menurut perhitunganku akan lebih sedikit dari penghasilanku sekarang.”

“Apakah ayah ingin kakang Jangkung juga menjadi seorang prajurit?” bertanya Riris.

“Tidak. Ayah tidak berkata demikian. Yang dikehendaki ayah hanyalah satu kerja yang tetap. Aku memang dapat mengerti keinginan ayah itu, dan karena itu aku telah menyanggupinya.”

“Tetapi kenapa ayah masih tetap marah?” bertanya Riris.

“Tidak. Ayah sebenarnya sudah tidak marah lagi.” jawab Jangkung, “yang tinggal adalah sisa-sisa kemarahannya saja.”

Riris termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi ia kemudian berkata, “Tetapi kakang memang harus segera menikah. Itu akan lebih baik bagi kakang. He, apakah kakang menginginkan seorang gadis dari Tanah Perdikan Sembojan?”

“Tidak” sahut Jangkung dengan serta merta, “aku tidak mengenal seorang pun diantara gadis-gadis Tanah Perdikan Sembojan. Yang aku kenal hanyalah Risang dan seisi rumahnya.” Jangkung berhenti sejenak, lalu katanya, “He, salam buatmu dari Nyi Wiradana.”

“Nyi Wiradana?” bertanya Riris.

“Ya. Ibu Risang.”

“O” wajah Riris menjadi cerah, “ibu Risang adalah seorang perempuan yang lembut keibuan.”

“Tetapi ia berilmu sangat tinggi” desis Jangkung.

“Ya, ia berilmu sangat tinggi. Itulah mungkin sebabnya, kenapa Risang juga berilmu tinggi.” jawab Riris.

“Tetapi bukan hanya ibu Risang yang berilmu tinggi“ berkata Jangkung kemudian.

“Siapa lagi?” bertanya Riris.

“Ibu Kasadha juga berilmu tinggi” jawab Jangkung.

“Ibu Kasadha” Riris mengingat-ingat, “ya, ibu Kasadha menurut pendengaranku juga berilmu tinggi.”

“Bukankah kau juga mengenal ibu Kasadha?” bertanya Jangkung ragu-ragu.

“Tentu. Aku telah bertemu dengan ibu Kasadha di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi ibu Kasadha agaknya seorang perempuan yang tertutup. Sulit untuk mengetahui sikap dan perasaannya. Ia tidak bergairah untuk bersama-sama dalam satu pembicaraan dengan perempuan-perempuan lain. Ia sering menyendiri dengan bibi Kasadha itu.“ Riris berhenti sejenak. Tetapi kemudian ia pun berkata, “Tetapi kemampuannya yang tinggi itu juga menurun kepada anaknya, Kasadha.”

“Ya. Kasadha juga berilmu tinggi sebagaimana Risang. Keduanya pernah bersama-sama berada dalam lingkungan keprajuritan dibawah pimpinan ayah. Keduanya seperti saudara kandung. Adalah kebetulan bahwa wajah mereka pun mirip.”

Riris mengangguk-angguk. Wajahnya nampak jernih. Senyum-nya sekali-sekali membayang dibibirnya.

Tetapi  Jangkung  tetap  tidak  mengerti,  untuk siapakah senyum Riris itu. Untuk Kasadha atau untuk Risang. Namun bagaimanapun juga, ibu Risang nampaknya lebih menarik dari ibu Kasadha bagi Riris.

Tetapi Jangkung pun mengetahui bahwa yang harus dipilih oleh Riris bukannya ibu mereka. Tetapi salah seorang dari mereka berdua.

Riris yang merasa sudah mendapat jawaban dari kakaknya itu pun menjadi lapang. Dadanya tidak lagi serasa sesak karena sikap ayah dan kakaknya. Meskipun ia tidak sependapat dengan ayahnya, tetapi sebagaimana pesan Jangkung, ia tidak akan berbicara dengan ayah tentang persoalan kakaknya itu, karena ayahnya memang akan dapat marah kepadanya sebagaimana kepada kakaknya.

 Karena itu, maka Riris pun kemudian berkata, “Ah, sudahlah kakang. Aku akan membantu ibu di dapur.”

“Tetapi ingat Riris. Persoalan ini jangan kau singgung dihadapan ayah kapan pun. Ayah yang sedang memusatkan perhatiannya terhadap tugasnya akan cepat tersinggung dan menjadi marah. Bahkan mungkin ayah tidak hanya akan marah kepadaku, tetapi juga kepadamu. Jika demikian maka suasana keluarga kami akan menjadi buram.” berkata Jangkung kemudian.

Tetapi Riris tersenyum sambil menjawab, “Tidak kakang. Ayah tidak akan selamanya marah.” Namun kemudian Riris itu bertanya, “Tetapi apakah kakang benar-benar akan mencari pekerjaan tetap yang berpenghasilan tetap?”

“Itu yang dikehendaki ayah, Riris. Tetapi aku tidak tahu, pekerjaan apakah yang paling sesuai dengan kemampuanku.” jawab Jangkung.

“Jadi?” bertanya Riris pula.

“Bagaimanapun juga aku akan berusaha, karena itu yang dikehendaki ayah. Jika tidak, maka setiap kali persoalan itu terungkit, maka kemarahan ayah akan terungkit pula.” jawab Jangkung.

Riris mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kakak mendapatkannya. Tetapi tentu sulit bagi kakang jika kakang tidak pergi ke Kotaraja.”

“Aku juga berpikir demikian, Riris.” desis Jangkung ragu.

Tetapi Riris berkata selanjutnya, “Jika demikian ayah tidak teguh pada pendiriannya. Ayah pernah berkata, bahwa dimana pun kita dapat mengabdi. Juga sebagai seorang petani, pedagang dan pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak melanggar pangeran.”

“Sudahlah” Jangkunglah yang kemudian ingin mengakhiri pembicaraan. Semakin lama Riris merambat ke persoalan-persoalan yang benar-benar lebih mendalam. Katanya kemudian, “Bukankah kau ingin membantu ibu?

“Ya” jawab Riris” aku memang akan pergi ke dapur.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Riris sudah berada didapur untuk membantu ibunya.

Namun ibunya sempat bertanya, “Kau darimana saja Riris?”

“Dari serambi gandok ibu.” jawab Riris.

“Untuk apa?” bertanya ibunya pula.

“Sekedar berbincang dengan kakang Jangkung” jawab Riris.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 55

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

One Response

  1. Bagus…bikin terus pingin bacw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s