SST-53

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-53DEMIKIANLAH akhirnya Ki Lurah Mertapraja itu terikat pada tiang diruang tengah. Betapa ia meronta, tetapi tiang yang besar itu tidak bergetar sama sekali. Namun karena itu, maka Ki Lurah Mertapraja itu justru telah berteriak-teriak marah sambil mengumpat-umpat.

Tetapi orang-orang yang berada di pendapa itu tidak menghiraukannya lagi meskipun mereka kadang-kadang merasa resah pula.

Akhirnya, Ki Lurah Mertapraja itu pun terdiam pula karena kelelahan.

Sementara itu, langit pun telah menjadi merah. Orang-orang yang menjadi gelisah dan bahkan ketakutan mendengar pertempuran yang terjadi telah menjadi tenang. Ada diantara mereka yang telah berani membuka pintu rumah mereka dan melihat keluar. Namun rasa-rasanya semuanya telah menjadi tenang. Beberapa orang anak muda masih nampak hilir mudik di jalan-jalan padukuhan. Namun mereka tidak lagi membawa senjata telanjang.

Sementara itu dihalaman banjar, seorang yang dibawa oleh para pengawal terbaring diam. Tubuhnya terluka cukup parah. Orang itu adalah orang yang bertempur melawan Sambi Wulung dan berusaha melarikan diri. Namun Sambi Wulung mampu mengejarnya dan ketika kemudian terjadi lagi pertempuran diantara mereka, maka orang itu pun terluka cukup parah. Sedangkan Jati Wulung tidak berhasil menangkap buruannya. Bahkan pundaknya telah terluka ketika orang yang dikejarnya itu sempat melemparkan pisau belati dan menyentuh pundaknya itu sementara orang itu segera menghilang diantara pepohonan dalam gelapnya malam di kebun bambu yang rimbun.”

Risang pun kemudian memerintahkan agar orang itu diusahakan untuk diselamatkan nyawanya. Mungkin mereka akan mendapat keterangan dari orang yang terluka parah itu.

Tetapi agaknya orang itu sendiri sama sekali tidak berniat untuk tetap hidup. Ia berusaha untuk menyemburkan kembali obat-obat yang dimasukkan lewat mulutnya. Bahkan obat yang ditaburkan di luka-lukanya saja selalu dicobanya untuk menolaknya.

Ketika cahaya pagi kemudian mulai menyentuh padukuhan itu, maka, Risang telah minta disiapkan sebuah pedati. Orang yang terluka parah itu dan Ki Lurah Mertapraja akan dibawa ke padukuhan induk dengan pengawal yang kuat. Nyi Wiradana, Warsi, Risang dan Kasadha akan mengawal tawanan itu, sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung masih diminta untuk tetap berada di padukuhan itu.

Sementara itu, Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta juga masih akan pergi ke padukuhan induk. Mereka ternyata masih belum memastikan kapan mereka akan kembali ke Madiun. Tetapi untuk melihat perkembangan keadaan, setidak-tidaknya mereka masih akan bermalam satu malam lagi di Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata perjalanan para tawanan ke padukuhan induk itu tidak mengalami hambatan di sepanjang jalan.

Meskipun beberapa orang yang akan pergi ke pasar sempat memperhatikan mereka, tetapi agaknya peristiwa semalam tidak banyak berpengaruh bagi padukuhan-padukuhan yang lain, kecuali pada padukuhan tempat peristiwa itu terjadi. Meskipun kemudian berita tentang hal itu tersebar pula dari mulut kemulut. Seorang saja dari padukuhan itu pergi kepasar dan berceritera kepada seorang yang lain, maka berita itu pun kemudian telah tersebar kebeberapa padukuhan dibawa oleh orang-orang yang pulang dari pasar.

Di padukuhan induk, Ki Lurah Mertapraja dan orang yang terluka parah itu di tempatkan di gandok rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Mereka di tempatkan di dua bilik yang berdekatan. Dengan terpaksa, Ki Lurah masih saja harus diikat kedua tangannya dibelakang tubuhnya karena ia masih nampak liar dan berbahaya. Sedangkan pengawal yang mengawasinya kecuali di belakang gandok, juga didalam bilik itu sendiri. Risang tidak ingin peristiwa dibanjar padukuhan itu terulang lagi.

“Ki Lurah Mertapraja tidak akan terlalu lama disini” berkata Risang kepada para pengawal” ia akan segera dibawa ke Pajang. Segala sesuatunya akan kami serahkan kepada para pemimpin di Pajang.”

Namun waktu yang tidak terlalu lama itu akan merupakan waktu yang menegangkan bagi para pengawal di Tanah Perdikan Sembojan.

Baru setelah Ki Lurah Mertapraja mapan, Risang dan Kasadha bersama beberapa orang pengawal telah kembali ke padukuhan yang semalam telah diguncang oleh keributan yang bahkan telah membawa korban. Diantara para pengawal yang cidera, tiga orang telah gugur sementara beberapa orang yang lain terluka. Dua orang diantaranya parah.

Hari itu Risang menunggui upacara pelepasan para pengawal yang telah gugur. Terdengar lagi tangis di padukuhan itu. Betapa mereka yang ditinggalkan menyatakan keikhlasan mereka, tetapi yang gugur itu masih ditangisi oleh keluarganya. Mereka masih terlalu muda untuk pergi selama-lamanya. Meskipun keluarga mereka tahu, untuk apa mereka pergi.

Saat matahari turun disisi Barat, beberapa orang masih berdiri termangu-mangu di kuburan. Mereka memandangi gundukan tanah basah tempat para pengawal itu dimakamkan. Beberapa orang masih juga mengusap air matanya yang mengembun dipelupuk.

Risang dan Kasadha berdiri termangu-mangu diantara mereka. Namun beberapa saat kemudian, maka mereka pun meninggalkan tempat itu menuju ke padukuhan dan kemudian kembali kerumah masing-masing, kecuali para pengawal yang bertugas. Mereka kembali ke banjar dan gardu tugas mereka masing-masing.

Sementara itu di kuburan tua, beberapa orang juga telah menguburkan orang-orang yang gagal melepaskan Ki Lurah Mertapraja dan terbunuh dipertempuran. Tetapi tidak ada air mata yang mengantar mereka.

Ketika upacara itu sudah selesai, maka Risang masih memberikan pesan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Padukuhan itu masih harus dijaga dengan baik. Di banjar telah digantungi lagi sebuah kentongan yang baru karena kentongan yang lama telah rusak. Kentongan yang diambil dari padukuhan sebelah yang mempunyai beberapa kentongan yang cukup besar untuk dipasang di banjar padukuhan.

“Kami akan kembali ke padukuhan induk” berkata Risang” kami akan membicarakan rencana kami untuk pergi ke Pajang melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi ini.”

“Kapan kau akan pergi ke Pajang?” bertanya Sambi Wulung.

“Tergantung hasil pembicaraan kami nanti. Tetapi pesan bibi Warsi, dalam pertempuran kemarin masih belum nampak pedang Wisa Raditya dan perisai Lar Sasi yang menjadi kebanggaan orang-orang perguruan Wukir Gading. Mungkin pemimpin tertinggi dari perguruan itu masih belum turun langsung saat mereka berusaha membebaskan Ki Lurah Mertapraja. Karena itu maka setiap saat masih mungkin terjadi sesuatu. Mungkin di padukuhan ini, mungkin di padukuhan induk. Meskipun menurut perhitungan, jika masih ada usaha untuk membebaskan Ki Lurah tentu akan terjadi di padukuhan induk, karena mereka tentu tahu dimana Ki Lurah disimpan, namun kemungkinan lain masih dapat terjadi.”

“Baiklah” berkata Sambi Wulung. ”Kami akan berhati-hati disini. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.

Demikianlah Risang dan Kasadha pun telah meninggalkan padukuhan itu bersama beberapa orang pengawal kembali ke padukuhan induk. Masih ada beberapa hal yang harus mereka bicarakan sebelum mereka pergi ke Pajang untuk memberikan laporan tentang peristiwa yang telah terjadi di Tanah Perdikan itu. Juga peristiwa yang terakhir yang menyangkut persoalan Ki Lurah Mertapraja.

Di malam harinya, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu masih juga berbincang tentang peristiwa yang susul menyusul terjadi di Tanah Perdikan itu. Ki Tumenggung Puspalaga yang masih bermalam lagi di Tanah Perdikan Sembojan, mengurungkan niatnya untuk berbicara lagi dengan Ki Lurah Mertapraja karena tidak akan ada gunanya lagi. Namun Ki Tumenggung Puspalaga telah mengetahui kenapa Ki Lurah Mertapraja terjerumus kedalam arus perbuatan orang-orang perguruan Watu Kuning. Ternyata bukan karena Ki Lurah Mertapraja terbujuk oleh Ki Gede Watu Kuning. Tetapi Ki Lurah justru memanfaatkan peristiwa itu untuk kepentingannya. Kepentingan perguruan Wukir Gading. Sehingga perguruan Watu Kuning dan perguruan Wukir Gading yang pada ujud lahiriahnya bekerja bersama, namun sebenarnyalah mereka akan saling merunduk dan saling menghancurkan. Bahkan mungkin orang-orang Watu Kuning tidak tahu bahwa di belakang Ki Lurah Mertapraja yang mempunyai sepasukan prajurit berdiri orang-orang perguruan Wukir Gading.

“Besok aku akan mohon diri” berkata Ki Tumenggung Puspalaga, ”aku sudah mempunyai laporan lengkap apa yang telah terjadi disini. Juga tentang keterlibatan para prajurit Madiun dalam gerakan perguruan Watu Kuning.”

“Baiklah” sahut Risang” mudah-mudahan tidak akan timbul persoalan khusus antara Madiun dan Tanah Perdikan ini. Meskipun kami sadari, bahwa kemelut antara Madiun dan Pajang tentu juga akan terasa di Tanah Perdikan ini yang memang berkiblat kepada Pajang.”

Untuk beberapa saat lamanya, para tamu dari Madiun itu masih berbincang. Tetapi pembicaraan mereka tidak lagi menyangkut persoalan-persoalan pokok yang mereka hadapi. Mereka kemudian cenderung untuk berbicara tentang peningkatan kesejahteraan rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Risang sempat membuat perbandingan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh Madiun, bagaimana Madiun berbuat bagi kepentingan rakyatnya.

Baru setelah malam menjadi larut Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta dipersilahkan untuk beristirahat. Apalagi mereka merencanakan di keesokan harinya akan kembali ke Madiun.

Malam itu Tanah Perdikan Sembojan memang dapat tidur dengan nyenyak. Tidak ada persoalan yang timbul, apalagi yang mengganggu ketenangan. Orang-orang yang berniat untuk melepaskan Ki Lurah Mertapraja harus berpikir ulang beberapa kali setelah mereka mengetahui bahwa di Tanah Perdikan itu terdapat beberapa orang yang sanggup menjaga ketenangan Tanah Perdikannya.

Ketika matahari terbit dihari berikutnya, maka Ki Tumenggung Puspalaga, Ki Lurah Samekta dan pengawal-pengawalnya telah siap. Setelah minta diri kepada para pemimpin Tanah Perdikan, maka Ki Tumenggung pun meninggalkan Tanah Perdikan yang nampaknya sudah tenang kembali itu.

“Hormat kami di Tanah Perdikan ini kepada Panembahan Mas di Madiun” berkata Risang.

“Kami akan menyampaikannya ngger. Semoga Tanah Perdikan ini akan semakin sejahtera untuk selanjutnya.” jawab Ki Tumenggung Puspalaga.

Sepeninggal Ki Tumenggung Puspalaga, maka Risang pun telah mulai lagi dengan kesibukannya. Selagi Kasadha masih berada di Tanah Perdikan, maka Risang telah membenahi Tanah Perdikan Sembojan yang telah terluka oleh peristiwa yang datang beruntun itu. Seisi Tanah Perdikan itu telah digerakkan untuk bekerja keras memperbaiki yang telah rusak serta membangun-kan kembali yang hancur oleh kerusuhan yang telah terjadi.

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan masih merasa beruntung bahwa merekalah yang telah bergerak menyerang orang-orang Watu Kuning di perkemahannya, sehingga padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan itu tidak menjadi rusak. Meskipun demikian, jantung Tanah Perdikan itulah yang terluka karena beberapa anak-anak mudanya yang terbaik telah gugur.

Dalam pada itu, Kasadha dan seorang prajurit yang menyertainya masih akan berada di Tanah Perdikan itu untuk beberapa hari. Namun kemudian ia pun telah merencanakan untuk kembali ke Pajang.

Namun dalam pada itu, ibu dan bibi Kasadha itu pun berniat untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu pula.

“Kami sudah terlalu lama meninggalkan rumah” berkata ibu Kasadha itu, ”rumah dan ternak kami hanya kami titipkan kepada tetangga-tetangga. Tentu ternak kami tidak terpelihara. Bahkan rumah kami pun tentu sudah penuh dengan debu yang tebal.”

Iswari memang tidak dapat menahan mereka lebih lama lagi. Berulang kali Iswari telah mengucapkan terima kasih atas bantuan Warsi dan sepupunya itu. Tanpa mereka maka agaknya Tanah Perdikan itu akan mengalami keadaan yang lebih buruk lagi.

Demikianlah, maka Risang pun telah membicarakan dengan Kasadha tentang para tawanan sebelum Kasadha kembali ke Pajang. Terutama Ki Lurah Mertapraja.

“Biarlah kami membawanya” berkata Kasadha.

“Tetapi bahayanya terlalu besar” berkata Risang” jika orang-orang yang ingin melepaskan Ki Lurah itu mengetahui, maka mereka tentu akan melakukan sesuatu untuk merebutnya.”

“Kita memang harus berhati-hati” jawab Kasadha.

Namun Risang tidak melepaskan Ki Lurah Mertapraja untuk dibawa Kasadha tanpa pengawalan. Jika terjadi sesuatu di jalan, maka ia pun akan sangat menyesalkannya.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah diperintahkan oleh Risang untuk menyertai Kasadha kembali ke Pajang bersama ibu dan bibinya yang juga akan pulang.

Ibu Kasadha memang mencoba untuk meyakinkan Risang, bahwa mereka tidak memerlukan pengawalan. Tetapi akhirnya mereka pun tidak menolak untuk menuju ke Pajang disertai Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Meskipun ibu dan bibi Kasadha itu memiliki ilmu yang tinggi, tetapi orang-orang yang berniat untuk membebaskan Ki Lurah itu pun dapat berjumlah jauh lebih banyak.” berkata Risang didalam hatinya.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah diminta oleh Risang untuk mempersiapkan diri. Mereka juga harus menyiapkan Ki Lurah Mertapraja untuk dibawa ke Pajang. Sementara tawanan yang lain akan tetap berada di Tanah Perdikan sampai ada kepu-tusan lebih lanjut.

Dalam pada itu, Ki Lurah Mertapraja sendiri memang berangsur menjadi tenang. Meskipun demikian, Risang masih mempertimbangkan kemungkinan bahwa pada suatu saat perasaannya dapat bergejolak kembali sehingga Ki Lurah itu akan dapat melakukan tindakan yang tidak diduga sebelumnya.

Demikianlah, maka pada hari yang sudah ditentukan tetapi untuk sementara tetap dirahasiakan sampai saatnya datang, Kasadha, ibu dan bibinya telah bersiap untuk meninggalkan Tanah Perdikan. Bersama mereka adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung yang akan membawa Ki Lurah Mertapraja ke Pajang. Di Pajang, Kasadha lah yang akan mengurus tawanan yang bagi Pajang termasuk penting karena Ki Lurah Mertapraja adalah prajurit Madiun. Namun Kasadha pun telah mempunyai bahan laporan yang lengkap tentang kedatangan Ki Tumenggung Puspalaga di Tanah Perdikan Sembojan, sehingga yang dilakukan oleh Ki Lurah Mertapraja, meskipun ia seorang prajurit Madiun, namun benar-benar diluar tanggung jawab Panembahan Madiun.

Iswari dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah melepas Kasadha, ibu dan bibinya sampai keregol halaman. Bahkan ketiga kakek dan nenek Risang pun telah ikut mengantar mereka pula sampai ke halaman. Orang-orang tua itu ikut pula mengucapkan terima-kasih atas segala bantuan yang telah diberikan oleh Kasadha, ibu dan bibinya. Meskipun ketiga orang tua itu tidak langsung hadir dipertempuran, namun mereka telah mendapat keterangan tentang mereka.

“Kalian telah ikut menentukan akhir dari pergolakan ini” berkata Kiai Badra.

Warsi mengangguk hormat sambil menjawab, ”Kami lelah mencoba melakukan yang terbaik dari yang dapat kami lakukan.”

Kiai Badra tertawa. Tetapi disorot matanya nampak keharuan mencengkam jantungnya. Bahkan tersirat kata-katanya, ”Kau adalah orang yang berbahagia Warsi. Kau berhasil menembus takbir kegelapan. Kau temukan cahaya dari Yang Maha Tinggi.”

Warsi tersenyum. Tetapi nampak matanya menjadi basah.

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan kecil, telah meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha, seorang prajurit yang menyertainya, ibu dan bibinya, serta Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bersama mereka telah ikut pula Ki Lurah Mertapraja. Untuk tidak menarik perhatian banyak orang, maka Ki Lurah tidak lagi terikat tangannya. Namun Ki Lurah Mertapraja memang sudah menjadi tenang. Ia menyadari sepenuhnya apa yang terjadi atas dirinya.

Sebagai seorang tawanan maka Ki Lurah memang menempatkan dirinya. Justru karena Ki Lurah Mertapraja seorang prajurit. Ia tahu dengan pasti paugeran yang berlaku bagi seorang tawanan. Baik yang menawan maupun yang tertawan.

Karena itu, Ki Lurah itu sama sekali tidak menimbulkan persoalan ketika iring-iringan itu meninggalkan Tanah Perdikan.

Sementara itu Kasadha pun berharap bahwa perjalanan mereka tidak terganggu, karena keberangkatan Ki Lurah Mertapraja itu memang dirahasiakan sebelumnya. Baru ketika mereka meninggalkan halaman rumah Risang, beberapa orang melihat bahwa Ki Lurah Mertapraja akan dibawa ke Pajang.

Demikianlah, maka iring-iringan berkuda itu mulai menempuh jalan yang panjang. Sementara itu mata-hari pun merangkak semakin tinggi dilangit.

Ki Lurah Mertapraja memandang jalan yang terbentang dihadapannya dengan tatapan mata yang kosong. Sebenarnyalah ketika ia menjadi tenang, maka lenyaplah semua impian yang pernah bergejolak didalam benaknya. Ia pun sadar sepenuhnya, jika ia sampai ke Pajang, maka ia tidak akan dapat terlepas dari hukuman yang pantas baginya.

Sementara itu di Tanah Perdikan Sembojan, Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan masih harus bekerja keras untuk membenahi keadaan Tanah Perdikan itu. Mereka pun masih harus tetap menjaga para tawanan sambil menunggu perintah dari Pajang, apa yang harus mereka lakukan. Tetapi untuk membawa mereka ke Pajang tentu diperlukan pengawalan yang cukup besar, sehingga di-sepanjang perjalanan akan sangat menarik perhatian banyak orang.

Dalam pada itu, orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan telah memberikan saran kepada Risang untuk berusaha mengatasi persoalan para tawanan itu. Risang harus mampu memilih diantara para tawanan itu. Siapakah diantara mereka yang masih dapat diajak berbicara dengan baik dan siapakah yang tidak. Dengan demikian maka diharapkan bahwa ada diantara para tawanan itu yang dianggap tidak terlalu berbahaya dan kemudian dapat dilepaskan.

“Tetapi sudah tentu diperlukan waktu” berkata Kiai Badra.

“Ya kakek” jawab Risang, ”aku akan menunjuk beberapa orang untuk mengadakan pengamatan tentang para tawanan itu.”

“Mereka harus mendapat petunjuk-petunjuk yang jelas” pesan ibunya pula, ”karena mungkin saja terjadi para tawanan itu bersikap pura-pura. Karena itu, maka rencanamu akan melepaskan beberapa orang diantara mereka yang dianggap tidak berbahaya itu harus dirahasiakan. Terutama bagi para tawanan itu sendiri.”

“Ya ibu” Risang mengangguk-angguk.

Dalam keadaan yang demikian, maka Risang merasa sangat beruntung bahwa ia masih ditunggui ibu, kakek dan neneknya meskipun mereka sudah menjadi semakin tua. Namun nasehat-nasehat mereka akan sangat berarti bagi Risang.

Demikianlah, maka Tanah Perdikan Sembojan pun kemudian telah diisi dengan kerja. Bukan hanya para pemimpin sajalah yang bekerja keras untuk meningkatkan tata kehidupan disegala segi bagi Tanah Perdikan, tetapi juga seluruh rakyat Tanah Perdikan itu. Seperti yang dipesankan oleh orang-orang tua di Tanah Perdikan itu, maka Risang telah membentuk kelompok kecil yang terdiri dari para bebahu Tanah Perdikan untuk mengamati keadaan para tawanan.

“Paman Sambi Wulung dan Jati Wulung akan ikut pula dalam kelompok kecil ini nanti jika mereka sudah kembali” berkata Risang kepada para bebahu, ”Namun sebelum mereka datang, maka biarlah paman Gandar bekerja bersama kalian.”

Dengan demikian maka hampir setiap hari Gandar berada di padukuhan-padukuhan tempat para tawanan itu di tempatkan. Tanpa menimbulkan kesan apapun para tawanan, maka kelompok kecil itu berusaha untuk mengetahui sikap para tawanan itu.

Sementara itu, Kasadha telah selamat sampai ke Pajang. Tanpa membawa ibu dan bibinya, maka Kasadha telah melaporkan diri kepada pimpinannya bersama prajurit yang pergi bersamanya ke Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha pun telah memperkenalkan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang datang ikut mengantar tawanan itu mewakili Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, Kasadha telah menitipkan tawanan itu di baraknya bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Seorang pemimpin kelompoknya yang ikut bersamanya ke Tanah Perdikan Sembojan akan mengawasinya. Sementara Kasadha masih minta ijin satu hari lagi.

“Aku masih harus mengantarkan ibu dan bibi pulang ke Bayat” berkata Kasadha kepada Ki Rangga Dipayuda.

“Kenapa ibu dan bibimu tidak kau ajak singgah saja di barak ini?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Seperti sudah pernah aku katakan, ibu dan bibi selalu merasa rendah diri, karena mereka adalah orang-orang kecil” jawab Kasadha.

“Apa arti orang kecil, orang besar dan orang sedang?” Ki Rangga justru bertanya.

“Aku juga sudah mencobanya untuk menjelaskan. Tetapi ibu memang lebih baik menepi dalam pergaulan. Kecuali dengan para petani di padukuhannya, ibu termasuk orang yang akrab bergaul.”

Ki Rangga Dipayuda tersenyum. Katanya, “Perlahan-lahan kau harus mengangkatnya memasuki pergaulan yang lebih luas. Sekarang kau sudah seorang lurah prajurit. Masih ada kemungkinan bagimu untuk meningkat lebih tinggi lagi karena umurmu memang masih muda. Kau memiliki bekal yang cukup untuk menjadi seorang pemimpin. Karena itu, maka pada suatu saat kau akan menjadi seorang Tumenggung.

“Ah. Aku tidak berani bermimpi seperti itu” jawab Kasadha.

“Bukan mimpi bagimu Kasadha. Tetapi harus kau jadikan gegayuhan. Kau harus mempunyai gegayuhan yang tinggi. Tetapi kau tidak boleh mengesahkan segala cara untuk mencapainya. Karena kau masih diikat oleh tatanan, unggah-ungguh dan harga diri.” berkata Ki Rangga Dipayuda.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu maka Ki Rangga pun berkata, “Baiklah. Tinggalkan tawanan itu disini. Anak buahmu akan menjaganya. Aku nanti akan melaporkannya kepada Ki Tumenggung. Tetapi besok kau harus kembali dan mempertanggung jawabkan tawanan itu. Sementara itu biarlah kedua tamu dari Tanah Perdikan itu juga tinggal di barak ini. Aku pernah berkenalan dengan mereka ketika aku berada di Tanah Perdikan Sembojan. Kasihan ibumu jika harus terlalu lama menunggumu.”

Demikianlah, maka Kasadha telah meninggalkan baraknya. Ia masih belum dengan resmi menyerahkan tawanan itu. Ia masih harus mengantarkan ibu dan bibinya pulang.

Sepeninggal ibu dan bibinya, maka para prajurit, terutama para pemimpin kelompok yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha telah mengerumuni salah seorang kawan mereka yang pergi ke Tanah Perdikan bersama Kasadha serta Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka ingin mendengar segala sesuatunya yang terjadi di Tanah Perdikan itu serta tentang tawanan yang dititipkan di barak itu.

Para prajurit itu ikut menjadi berdebar-debar mendengarkan ceritera kawannya tentang pergolakan yang terjadi di Tanah Perdikan. Namun prajurit itu berusaha menahan diri untuk tidak terlalu banyak berceritera tentang ibu Ki Lurah Kasadha, karena Kasadha sendiri tidak ingin terlalu banyak orang yang mengetahui tentang ibunya. Karena bagaimanapun juga Kasadha masih dibayangi oleh masa lampau ibunya yang hitam, sehingga ia tidak ingin masa lampau ibunya itu diketahui oleh siapapun dibaraknya itu. Apalagi oleh Ki Rangga Dipayuda yang mempunyai;seorang anak gadjs yang bernama Riris.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun banyak mendapat pertanyaan-pertanyaan dari para prajurit di barak itu. Tetapi sebagai orang yang telah masak, maka mereka mengerti bahwa tidak sepantasnya mereka berceritera tentang ibu Kasadha. Apalagi tentang masa lampaunya. Karena itu, keduanya bahkan sama sekali tidak berbicara tentang pribadi Kasadha dan Ibunya.

Sementara itu Kasadha telah menempuh perjalanan mengantarkan ibu dan bibinya. Sebenarnya ibu dan bibinya sama sekali tidak perlu diantar oleh Kasadha, karena mereka dapat pulang berdua saja. Jika ada sesuatu yang menghalangi perjalanan mereka, maka mereka akan dapat menyelesaikannya sendiri. Tetapi Kasadha masih harus membawa dua ekor kuda kembali ke Pajang. Kuda yang dipinjam dari barak.

Berbeda dengan para prajurit, Ki Rangga Dipayuda telah mempunyai dugaan-dugaan tentang ibu Kasadha. Meskipun ia tidak tahu latar belakang kehidupannya, tetapi tentu ada sesuatu yang disembunyikan. Ki Rangga pun selaju bertanya-tanya tentang kuda yang dipinjam oleh Kasadha. Namun Ki Rangga Dipayuda juga merasa kurang pantas untuk mempertanyakan hal itu langsung kepada Kasadha, karena Kasadha tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Namun Ki Rangga sama sekali tidak berprasangka buruk terhadap ibu Kasadha itu, karena ibu Kasadha itu juga hadir di Tanah Perdikan Sembojan ketika Risang diwisuda,

Ternyata Kasadha tidak mengingkari janjinya untuk kembali di keesokan harinya. Bahkan ketika ia datang, hari masih terhitung pagi.

Perjalanan mengantar ibunya adalah perjalanan yang singkat saja. Namun ketika mereka mendekati padukuhan tempat tinggal ibu dan bibinya, maka ibu dan bibinya harus membenahi pakaiannya. Mereka tidak boleh mengejutkan tetangga-tetangganya dengan pakaian khusus mereka. Karena itu, ketika mereka sampai di padukuhan, maka ibu Kasadha dan bibinya dalam ujud lahiriahnya tidak lebih dari dua orang perempuan yang sederhana. Petani yang hidup dan menyatu dengan lingkungannya.

Ketika para tetangganya mengetahui bahwa kedua orang perempuan itu kembali, maka beberapa orang diantara mereka telah memerlukan untuk datang. Dengan akrabnya mereka mengucapkan selamat atas kedatangan mereka berdua.

Tetangga-tetangga mereka memang heran melihat tiga ekor kuda di halaman rumah itu. Tetapi Kasadha mengatakan bahwa ia akan membawa kuda-kuda itu kepada pamannya.

“Paman memang memesan dua ekor kuda. Seekor untuk paman sendiri sedangkan seekor lagi untuk anaknya yang umurnya sebaya dengan aku” berkata Kasadha.

Para petani yang sederhana itu tidak mempersoalkannya labih lanjut Mereka tenggelam dalam kegembiraan karena tetangganya sudah kembali dengan selamat, sebagaimana keluarga sendiri.

Kasadha memang tidak terlalu larna berada di rumah ibunya. Esok, pagi-pagi benar Kasadha telah bersiap kembali ke Pajang, apalagi ia masih mempunyai tanggungan, seorang tawanan dan dua orang tamu dari Tanah Perdikan . Sembojan.

Ketika Kasadha akan berangkat, ia masih bertanya kepada ibunya tentang luka-lukanya dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.

“Semuanya sudah baik Kasadha. Jika masih ada sedikit bekasnya, tentu akan segera hilang.” jawab ibunya.

“Baiklah ibu. Aku mohon diri. Aku akan berusaha untuk mendapat waktu setiap kali datang menengok ibu dan bibi.” berkata Kasadha kemudian.

Ibunya menepuk bahunya. Nampak sorot matanya yang memancarkan kegembiraan hatinya. Ketika ia melepas Kasadha sampai keregol halaman rumahnya, maka matanya menjadi berkaca-kaca. Seandainya tangan Yang Maha Agung tidak membimbing anaknya dengan kasih, apa jadinya anak itu. Tentu tidak ebih dari seorang perampok yang buas melebihi kebuasan ibunya pada masa lalu. Namun kasih Yang Maha Agung itu telah menariknya pula dari dalam kegelapan.

Berbeda dengan ibunya, maka bibi Kasadha itu pun memandangi anak muda itu dengan gejolak dihatinya. Tetapi bibi Kasadha itu tidak mengatakan sesuatu karena justru ada ibu anak muda itu. Betapapun ia ingin memperingatkan Kasadha tentang anak perempuannya sebagaimana pernah dikatakannya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Kasadha pun telah meninggalkan padukuhan ibunya dengan menuntun dua ekor kuda. Justru karena itu, maka Kasadha tidak dapat berpacu dengan cepat.

Namun Kasadha memang tidak terlalu tergesa-gesa, karena jarak yang akan ditempuh memang tidak begitu jauh. Ketika ia sampai di baraknya, ternyata hari memang masih terhitung pagi.

Hari itu juga Kasadha, seorang pemimpin kelompok yang mengikutinya ke Tanah Perdikan Sembojan bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menghadap Ki Tumenggung Jayayuda diantar oleh Ki Rangga Dipayuda.

Dengan jelas Kasadha memberikan laporan kepada Ki Tumenggung mengenai tugas yang diembannya bersama salah seorang pemimpin kelompok untuk mengamati persoalan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.

“Jadi seorang utusan dari Madiun telah menemuimu di Tanah Perdikan?” bertanya Ki Tumenggung.

“Ki Tumenggung Puspalaga datang untuk bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Adalah satu kesempatan yang baik yang diberikan oleh Kepala Tanah Perdikan Sembojan kepadaku.”

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk. Ia pun kemudian minta penjelasan kepada Kasadha tentang sikap Madiun terhadap Ki Lurah Mertapraja yang kemudian dibawa ke Pajang.

Dengan singkat tetapi jelas Kasadha menceriterakan sikap Ki Tumenggung Puspalaga sebagai utusan resmi dari Madiun terhadap Ki Lurah Mertapraja yang melakukan pelanggaran atas pangeran yang berlaku bagi prajurit Madiun.

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menghargai sikap Ki Tumenggung Puspayuda. Sudah tentu juga sikap Panembahan Mas di Madiun. Bahwa mereka tidak berniat untuk membawa Ki Lurah Mertapraja kembali ke Madiun. Jika Ki Lurah Mertapraja itu mereka minta untuk dibawa kembali ke Madiun, maka akan dapat menumbuhkan kecurigaan bahwa apa yang dilakukan oleh Ki Lurah Mertapraja itu sudah diijinkan, setidak-tidaknya setahu para pemimpin keprajuritan di Madiun.”

“Seandainya Ki Tumenggung Puspalaga ingin membawa Ki Lurah Mertapraja, aku tentu berkeberatan. Apalagi aku berada di Tanah Perdikan Sembojan sebagai petugas yang ditunjuk oleh Pajang.” jawab Kasadha.

“Namun dengan sikap itu, maka aku mendapat kesimpulan bahwa Madiun memang berusaha untuk mengekang diri sejauh dapat mereka lakukan agar mendung yang gelap yang memayungi Mataram dan Madiun tidak menjadi semakin gelap. Agaknya mereka pun berniat untuk menghindarkan hujan angin dan prahara yang mungkin akan menempuh dan memporak-porandakan hubungan antara Mataram dan Madiun.” berkata Ki Tumenggung Jayayuda.

“Nampaknya memang demikian.” jawab Kasadha, “mudah-mudahan niat baik dari Madiun dan Mataram akan dapat menjernihkan keadaan sesuai dengan keinginan kedua belah pihak.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan mengambil alih persoalan Ki Lurah Mertapraja. Aku akan menyampaikan persoalan ini untuk mendapat penanganan lebih jauh.”

Namun Kasadha pun telah memberikan laporan pula tentang kelemahan jiwani dari Ki Lurah Mertapraja.

“Dalam keadaan yang tertekan, jiwa Ki Lurah akan dapat terguncang sehingga kehilangan kendali” berkata Kasadha.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berusaha berbuat sebaik-baiknya atas Ki Lurah Mertapraja.”

Kemudian kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung Ki Tumenggung pun menanyakan sikap Kepala Tanah Perdikan Sembojan atas Ki Lurah Mertapraja. Apa yang dikehendaki oleh Risang dalam hubungannya dengan keterlibatan Ki Lurah atas serangan Padepokan Watu Kuning yang telah menimbulkan korban cukup banyak di Tanah Perdikan Sembojan.

“Semuanya diserahkan kepada kebijaksanaan Pajang Ki Tumenggung. Kami hanya dapat memberitahukan apa yang terjadi. Kemudian terserah atas segala keputusan yang akan dijatuhkan oleh Pajang atas Ki Lurah Mertapraja. Bahkan kami akan mohon petunjuk atas tawanan-tawanan yang masih ada di Tanah Perdikan Sembojan. Seandainya mereka harus kami serahkan ke Pajang, maka tentu akan memerlukan waktu, karena kami tentu tidak akan dapat membawa mereka sekaligus.”

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Terimakasih atas kepercayaan para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan” Ki Tumenggung berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “sayang, kami tidak dapat menanganinya dengan cepat karena keadaan. Tetapi kami bersama-sama berharap bahwa antara Mataram dan Madiun akan segera dapat dicapai kesepakatan, sehingga kita tidak selalu saling mencurigai. Kita tidak perlu menghimpun segala kekuatan untuk menghadapi kemungkinan buruk. Karena itu yang dapat aku katakan untuk sementara sampai aku mendapat perintah lebih lanjut, untuk sementara biarlah para tawanan itu berada di Tanah Perdikan Sembojan. Kami tahu bahwa dengan demikian Sembojan akan mengeluarkan dana khusus untuk para tawanan, tetapi untuk sementara kami memang belum dapat berbuat lain.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “Baiklah Ki Tumenggung. Mudah-mudahan kami akan segera mendapatkan perintah selanjutnya.”

“Terima kasih atas kesediaan Tanah Perdikan Sembojan. Demikian keadaan memungkinkan, maka kami akan segera melakukan langkah-langkah terbaik bagi Tanah Perdikan Sembojan. Tentu saja pada batas-batas kemungkinan yang dapat kami lakukan.”

Kepada Ki Tumenggung Jayayuda, Sambi Wulung pun mengatakan usaha Tanah Perdikan Sembojan untuk mencari kemungkinan bahwa diantara para tawanan itu masih ada yang dapat diharapkan kembali kejalan yang baik dan masuk kembali kedalam lingkungan masarakat banyak.

“Bagus sekali” Ki Tumenggung pun dengan serta-merta telah memberikan tanggapan, “tetapi kalian harus berhati-hati, karena menjajagi perasaan seseorang itu ternyata pekerjaan yang amat sulit. Apa yang kita perkirakan mungkin sekali justru bertentangan dengan yang sebenarnya.”

“Ya Ki Tumenggung” jawab Sambi Wulung, “karena seseorang dapat bersikap pura-pura.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Bagaimanapun juga, Pajang tidak akan dapat melepaskan sama sekali persoalan yang menyangkut Tanah Perdikan Sembojan ini. Tetapi karena keadaan, maka yang dapat kami lakukan sangatlah terbatas.”

“Betapapun terbatasnya Ki Tumenggung, setiap perhatian atas Tanah Perdikan akan sangat membesarkan hati kamu karena kami tidak merasa seperti domba yang kehilangan gembala.”

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk, la masih memberikan beberapa pesan dan petunjuk. Namun kemudian Ki Tumenggung itu berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Apa yang telah dilakukan oleh Tanah Perdikan Sembojan merupakan pengorbanan yang sangat berarti bagi Pajang dan bahkan bagi Mataram.”

Demikianlah beberapa saat kemudian, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah minta diri. Mereka bersama Ki Rangga Dipayuda dan Ki Lurah Kasadha telah kembali ke barak yang diperuntukkan bagi pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha. Di barak itu Sambi Wulung dan Jati Wulung masih akan menginap semalam lagi. Besok keduanya akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Malam itu Sambi Wulung dan Jati Wulung masih sempat berbincang dengan Kasadha dan Ki Rangga Dipayuda. Mereka membicarakan perkembangan terakhir hubungan antara Pajang dan Madiun, Dengan nada rendah Ki Rangga berkata, “Masih belum ada tanda-tanda apapun yang akan merubah hubungan antara Pajang dan Madiun. Mendung itu masih saja tetap bergantung. Hujan dapat jatuh setiap saat. Hanya jika ada angin kencang sajalah maka mendung itu akan dihanyutkan.”

“Bayangan mendung itu pulalah yang nampak di-langit diatas Tanah Perdikan Sembojan” sahut Sambi Wulung.

“Ya. Itu sudah wajar sekali” jawab Ki Rangga kemudian.

Namun pembicaraan mereka pun kemudian merambat ke Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri dan bahkan kemudian sampai ke Madiun dan bahkan Mataram.

Menjelang tengah malam, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itu pun dipersilahkan untuk beristirahat.

“Bukankah esok pagi kalian akan menempuh perjalanan panjang dan bahkan masih akan dapat timbul kemungkinan-kemungkinan yang dapat menghambat perjalanan?” berkata Ki Rangga Dipayuda.

“Tetapi nampaknya untuk sementara keadaan justru mulai tenang Ki Rangga” jawab Sambi Wulung.

“Ya. Setidak-tidaknya jalan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.” sahut Ki Rangga. Namun kemudian katanya, “Tetapi masih juga harus diperhatikan saudara-saudara seperguruan, bahkan guru orang yang disebut paman oleh Ki Lurah Mertapraja.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Jika mereka tahu Ki Lurah ada di Pajang, maka mereka tentu akan mencarinya di Pajang ini pula.”

“Jika mereka tahu kalian berdua yang membawanya kemari?” bertanya Ki Rangga.

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya tertawa saja.

“Sudahlah” berkata Ki Rangga Dipayuda, “nanti kalian iidak jadi beristirahat pula.”

Di dini hari berikutnya, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah bersiap untuk menempuh perjalanan panjang. Berdua mereka akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih sempat minta diri kepada Ki Rangga Dipayuda. Kepada Ki Lurah Kasadha, Sambi Wulung dan Jati Wulung berpesan, untuk disampaikan kepada Ki Tumenggung, bahwa mereka minta diri kembali ke Tanah Perdikan.

“Kami tidak ingin mengganggu Ki Tumenggung” berkata Sambi Wulung, ”mungkin Ki Tumenggung belum bangun.”

“Baiklah” sahut Kasadha, “aku akan menyampaikannya. Mungkin Ki Tumenggung memang belum bangun. Tetapi biasanya sebentar lagi ia bangun, sebelum matahari terbit.”

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menunggu. Sebelum matahari terbit, mereka berdua sudah meninggalkan barak itu.

Demikianlah, maka keduanya telah berpacu di jalan-jalan yang masih sepi, sehingga karena itu, maka mereka pun dapat meluncur dengan cepat. Beberapa saat kemudian, maka mereka telah keluar dari pintu gerbang kota. Di gardu yang masih berada di lingkungan Kotaraja, sekelompok prajurit berjaga-jaga. Namun mereka tidak menghentikan Sambi Wulung dan Jati Wulung, karena keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda yang dapat menimbulkan kecurigaan pada para prajurit yang bertugas itu.

Lepas dari pintu gerbang, maka Sambi Wulung berpacu semakin cepat. Meskipun sekali-sekali mereka berpapasan dengan sekelompok orang yang berjalan beriringan menuju ke pasar dengan membawa dagangan mereka masing-masing.

Meskipun hubungan antara Pajang dan Madiun masih saja diliputi oleh kesiagaan dan kecurigaan, namun kehidupan sehari-hari di Pajang nampaknya tidak banyak terganggu.

Ternyata perjalanan Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mendapat hambatan sampai saatnya matahari naik semakin tinggi. Ketika matahari hampir mencapai puncak langit, maka mereka pun harus beristirahat. Kuda-kuda mereka tentu mulai merasa letih dan perlu beristirahat. Bahkan juga makan dan minum.

Karena itu, maka ketika mereka sampai kesebuah kedai yang cukup besar disebuah padukuhan yang besar pula, mereka pun berhenti. Selain kuda mereka yang letih, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun sudah merasa haus.

Beberapa saat keduanya duduk sambil menghirup minuman hangat. Bahkan karena hari sudah terhitung siang, maka mereka pun telah memesan makan pula. Nampaknya kedai itu menjajakan makan dan minum yang sesuai dengan selera mereka.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sibuk menyuapi mulut mereka, tiga orang telah memasuki kedai itu. Wajah mereka nampak gelap, sementara sikap mereka pun nampak gelisah.

Ketiganya duduk tidak terlalu jauh dari Sambi Wulung dan Jati Wulung. Sebagaimana Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengenali mereka, maka ketiga orang itu pun tidak mengenali kedua orang itu.

Mula-mula Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap mereka. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Kita sudah terlambat. Kita tidak akan pernah mendapatkannya kembali.”

“Orang-orang kitalah yang dungu sehingga mereka tidak berhasil menyelamatkannya dari Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi sekarang. Ki Lurah itu tentu sudah berada ditangan para prajurit Pajang.” sahut yang lain.

“Bagaimana hal itu dapat terjadi” desis orang yang pertama.

“Tetapi hal itu benar-benar telah terjadi” jawab yang lain.

Orang yang pertama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia termasuk orang yang penting diantara kita. Tetapi kita salah hitung, sehingga seakan-akan kita sudah menjerumuskannya kedalam kesulitan. Kita memang tidak mengira bahwa kekuatan Tanah Perdikan Sembojan itu cukup besar menghadapi orang-orang Watu Kuning. Kita pun tidak mengira bahwa ada beberapa orang berilmu tinggi yang dapat mengimbangi orang-orang berilmu tinggi didalam pasukan Watu Kuning.”

“Hal-hal yang tidak diduga-duga itu memang harus diperhitungkan.”

“Bagaimana kita memperhitungkan jika hal itu tidak dapat diduga sebelumnya.”

Ketiga orang itu terdiam. Ketika mereka mendapatkan minuman mereka, maka mereka pun telah memesan makan pula.

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi tertarik mendengar pembicaraan mereka. Agaknya mereka adalah termasuk diantara orang-orang yang ingin mengambil Ki Lurah Mertapraja. Namun setelah mereka mengetahui bahwa Ki Lurah Mertapraja telah dibawa ke Pajang, maka mereka menjadi berputus-asa.

Tiba-tiba saja seorang diantara mereka berdesis, “Apa yang dapat kita lakukan sekarang?”

Kawan-kawannya hanya saling berpandangan saja.

Untuk beberapa saat hanya berdiam diri. Sambi Wulung dan Jati Wulung pun seakan-akan tidak menghiraukan apa yang mereka katakan, sebagaimana orang-orang lain yang ada dikedai itu. Ampat orang anak muda yang duduk disudut terdengar tertawa hampir berbareng. Agaknya mereka sedang berkelakar sebagaimana kebiasaan anak-anak muda.

Namun tiga orang yang sedang merenungi persoalan vang gawat itu menjadi tidak senang mendengar mereka lerlawa berkepanjangan. Bahkan seorang diantara mereka berdesis, “Aku ingin menyumbat mulut mereka.”

Tetapi kawan-kawannya masih saja berdiam diri. Baru beberapa saat kemudian, seorang diantara mereka berkata, “Kita memang harus berbuat sesuatu.”

“Apa? Apa kita akan mengambilnya dari Pajang? Itu sama artinya kita akan menyurukkan diri kedalam api.”

“Tidak. Tetapi kita kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Buat apa? Ki Lurah Mertapraja sudah tidak ada di Tanah Perdikan.”

“Kita akan mengambil salah seorang yang terhitung penting di Sembojan. Orang itu akan kita tawarkan untuk ditukar dengan Ki Lurah Mertapraja. Biarlah orang-orang Sembojan yang berbicara dengan Pajang.”

Kedua orang kawannya termangu-mangu. Seorang diantara mereka berkata., “Orang-orang terpenting di Tanah Perdikan termasuk orang-orang berilmu tinggi. Meskipun niat itu baik, tetapi tidak mudah untuk melakukannya.

“Kita dapat mencobanya” jawab orang yang mempunyai rencana itu dengan yakin.

Mereka pun berhenti pula berbicara. Mereka mencoba untuk melihat orang-orang yang ada di kedai itu. Mereka sempat memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung. Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung nampaknya asik berbincang sendiri sambil menyuapi mulut mereka tanpa menghiraukan orang lain.

“Siapakah kedua orang itu?” terdengar seorang diantara mereka berdesis.

Kawan-kawannya menggeleng. Seorang diantara mereka berkata, “Orang lewat. Mereka makan sangat rakus.”

Yang lain mengerutkan dahinya. Tetapi tidak ada yang mengatakan sesuatu lagi tentang Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Sementara itu terdengar lagi anak-anak muda itu tertawa berkepanjangan. Seorang diantaranya bahkan telah memukul lincak. Agaknya ia tidak dapat menahan kegelian yang menggelitik jantungnya.

Ketika perhatian ketiga orang itu tertuju kepada anak-anak muda yang tertawa berkepanjangan itu, Sambi Wulung berdesis, “Perhatikan orang-orang itu dengan baik. Jika pada suatu saat kita bertemu-dengan mereka di Tanah Perdikan, kita dapat mempersiapkan diri.”

Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk.

Dengan ketajaman pendengaran mereka, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung masih mencoba untuk mendengarkan pembicaraan itu lebih lanjut. Meskipun mereka tidak dapat mendengar dengan jelas seluruhnya, namun yang dapat mereka dengar dapat mereka mengerti maksudnya.

Namun tiba-tiba saja Sambi Wulung dan Jati Wulung itu terkejut. Tiba-tiba saja salah seorang dari ketiga itu bangkit berdiri sambil berteriak lantang, “Diam. Kenapa kalian berteriak-teriak seperti itu? Kau harus tahu bahwa tempat ini bukan milik kalian saja. Orang lain dapat terganggu mendengar kelakar kalian yang urakan itu.”

Anak-anak muda itu pun terkejut. Dengan serta-merta mereka memang diam. Tetapi ternyata mereka tidak merasa senang diperlakukan seperti itu.

Seorang diantara mereka justru bertanya, “Apa maumu sebenarnya? Kami berbicara, bergurau dan tertawa sendiri tanpa menyinggung kepentinganmu.”

“Tetapi suara kalian yang ribut itu membuat kepala kami pening. Kami sedang berbicara tentang satu hal yang sangat penting dan memerlukan pemikiran yang rumit. Sementara itu kalian berteriak-teriak seperti orang gila. Memukul-mukul lincak. Kalian harus belajar menghargai orang lain.”

Perhatian orang-orang yang ada di kedai itu pun tertuju seluruhnya kepada kedua kelompok yang sedang bertengkar itu. Tiga orang yang sudah mendekati separo baya dengan ampat orang anak-anak muda yang sedang tumbuh.

Dengan wajah tegang, salah seorang dari ketiga orang yang sudah lebih tua itu kemudian berkata, “Aku memperingatkan kepada kalian, agar kalian sedikit menahan diri.”

“Maaf Ki Sanak” jawab salah seorang diantara anak-anak muda itu, “kami terbiasa berbuat sebagaimana kami lakukan. Jika kalian tidak senang, maka kalian jlapat meninggalkan tempat ini.”

Wajah orang yang sudah lebih tua itu menjadi merah. Sementara itu, pemilik kedai itu dengan tergesa-gesa mendekati mereka sambil berkata, “Sudahlah. Kamilah yang mohon maaf. Kami ingin mempersilahkan kalian pindah ketempat yang lebih tenang.”

“Kenapa kami yang harus pindah. Bawa anak-anak itu pergi kebelakang. Aku muak mendengar suara mereka.

“Tidak” sahut anak muda itu, “kami tidak ingin pindah kemanapun. Sejak semula kami duduk disini.”

Pemilik kedai itu bergeser mendekati anak-anak muda itu. Katanya, “Biarlah kalian yang muda-muda mengalah. Silahkan duduk disebelah. Tempatnya cukup baik.”

Tetapi hampir berbareng mereka menjawab, “Tidak. Pemilik kedai itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika orang yang lebih tua itu berkata, “Jika aku mendengar kalian tertawa sambil berteriak-teriak lagi, maka aku akan menghentikannya dengan caraku.”

“Kenapa kau tidak melakukannya sekarang? Dengar, aku masih akan berteriak-teriak terus.” jawab salah seorang diantara anak-anak muda itu.

Orang yang sudah mendekati separo baya itu menjadi sangat marah. Dengan serta merta, diraihnya mangkuk minumannya. Minuman yang masih ada itu pun telah dilontarkan kearah anak muda itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang juga menjadi tegang karena peristiwa itu menjadi semakip tegang. Jarak keduanya tidak terlalu dekat. Tetapi minuman yang dilontarkan dan memercik mengenai anak muda itu akibatnya memang mendebarkan. Anak muda itu terdorong dengan kerasnya. Untunglah bahwa anak muda itu hanya terduduk dan tersandar lincak tempat duduknya. Seandainya tidak ada tempat duduk itu dibelakangnya, maka mungkin sekali anak muda yang tidak mengira mengalami hal itu akan jatuh terlentang.

Tetapi anak-anak muda itu agaknya tidak menyadari apa yang telah terjadi itu. Karena itu, mereka menjadi sangat marah. Berempat mereka serentak bangkit. Yang terkena percikan minuman itu mengumpat-umpat dengan kasar.

Orang yang menyiram anak muda itu dengan sisa minumannya itu pun bergeser pula sambil berkata, “Jadi kalian menjadi marah, he? Kalian mau apa?”

“Aku ingin memilin lehermu” jawab salah seorang anak muda.

Tetapi orang yang sudah mendekati separo baya itu berkata” Lakukan jika kau mampu. Tetapi aku tidak akan merusak tatanan kedai ini. Kita dapat melakukannya di halaman.”

“Bagus” sahut salah seorang anak muda itu” kita akan turun ke halaman.”

Orang yang-sudah separo baya itu segera turun ke-halaman diikuti oleh keempat orang anak muda itu. Namun dua orang kawannya masih saja duduk di tempatnya.

Tetapi seorang diantara mereka berkata, “Marilah. Kita lihat apa yang terjadi.”

Kawannya masih sempat meneguk minumannya. Namun mereka pun kemudian bangkit pula dan berjalan ke-pintu.

Di halaman seorang yang marah itu telah berhadapan dengan ampat orang anak muda. Dengan garang seorang diantara anak muda itu bertanya, “He, dimana kawan-kawanmu.”

Tetapi orang yang sudah separo baya itu berkata, “Aku tidak memerlukan mereka. Aku akan memukuli kalian berempat sehingga kalian harus mengakui, bahwa tingkah laku kalian itu tidak pantas dilakukan di tempat orang banyak.”

“Kenapa kau terlalu sombong? Apakah kau seorang diri merasa mampu menghadapi kami berempat?” bertanya anak muda yang bertubuh tinggi meskipun agak kekurusan.

“Kenapa tidak.” jawab orang itu., “Kita akan segera melihat, apa yang akan terjadi.”

“Baik jika itu yang kau inginkan. Kau akan menyesal dan kawan-kawanmu pun akan menyesal pula.”

Orang yang umurnya sudah menjelang separo baya itu tidak menunggu. Ia pun mulai meloncat menyerang. Ketika tangannya terayun cepat, maka seorang diantara anak-anak muda itu berteriak kesakitan. Mulutnya pun segera mengeluarkan darah. Sebuah giginya telah tanggal.

Kawan-kawannya pun menjadi marah. Bersama-sama mereka menyerang, sehingga orang itu benar-benar harus berkdai melawan ampat orang anak muda yang dilihat dari ujudnya, keempatnya lebih meyakinkan dari seorang yang dikeroyoknya itu.

Dua orang kawan dari orang yang sudah mendekati separo baya itu pun telah turun kehalaman. Tetapi mereka memang tidak melibatkan diri. Mereka hanya menyaksikan saja apa yang terjadi di halaman itu.

Perkelahian itu pun kemudian telah menjadi semakin sengit. Anak-anak muda itu pun menjadi marah. Mereka merasa terhina dengan sikap lawannya yang hanya seorang diri melawan mereka berempat. Mereka berniat untuk memperingatkan, agar orang itu tidak terlalu sombong dengan mengandalkan kemampuannya.

Tetapi yang terjadi memang diluar dugaan anak-anak muda itu. Meskipun hanya seorang diri, namun orang itu telah menggetarkan pertahanan keempat lawannya. Sekali-sekali anak-anak muda itu berloncatan menjauh. Satu dua diantara mereka bahkan terdorong surut jika serangan lawannya mengenainya.

Sebenarnyalah bahwa keempat orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Semakin lama mereka berkelahi, maka semakin ternyata bahwa lawannya yang hanya seorang itu adalah orang yang berilmu tinggi.

Namun keempat orang anak muda itu tidak segera berputus asa. Sebelumnya mereka merasa terlalu yakin bahwa mereka akan segera menyelesaikan perkelahian itu. Tetapi kenyataan yang mereka hadapi telah memaksa mereka untuk lebih bersungguh-supgguh.

Dengan demikian maka perkelahian itu memang menjadi semakin seru dan semakin keras. Keempat anak muda itu telah mengerahkan kemampuan mereka. Mereka mulai membuat perhitungan-perhitungan untuk mengatasi lawannya yang kuat dan tangkas itu.

Keempat orang anak muda itu pun telah memencar. Mereka mulai menyerang dari arah yang berbeda-beda.

Tetapi lawan mereka yang meskipun hanya seorang itu cukup tangkas. Dengan kecepatan geraknya, ia berusaha untuk menghindari setiap serangan.

Tetapi karena keempat orang anak muda itu mulai berpikir dan memperhitungkan setiap serangan mereka, maka lawannya yang seorang itu pun menjadi semakin berhati-hati pula.

Dengan demikian, maka keempat anak muda itu berusaha untuk memecah perhatian lawannya. Mereka pun menyerang berurutan seperti gelombang. Tetapi dari arah yang berbeda-beda.

Kedua orang kawannya yang memperhatikan perkelahian itu mulai menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka masih tetap merasa tidak perlu untuk ikut turun ke arena. Bagaimanapun juga keempat orang anak muda itu tidak akan mampu bertahan terlalu lama.

Tetapi bahwa anak-anak muda itu memaksa lawannya meningkatkan kemampuannya, telah membuat lawannya semakin marah. Apalagi ketika serangan anak-anak muda itu mulai mengenai tubuhnya. Maka kemarahannya pun semakin menyala didadanya.

Dengan lantang orang itu kemudian berkata, “Aku memperingatkan kalian sekali lagi sebelum kalian menyesal. Kalian harus menyerah dan minta ampun kepadaku. Kemudian kalian mengaku telah melakukan perbuatan yang salah serta berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

“Persetan” geram salah seorang anak muda, “ternyata kau mulai merasa terdesak dan tidak mampu lagi untuk bertahan. Kau mencoba untuk mencari kesempatan menghentikan pertempuran dengan tidak merendahkan harga dirimu. Tetapi kami bukan orang-orang dungu.”

“Anak-anak iblis” geram orang itu, “jika aku terlanjur melepaskan kekang yang mengendalikan ilmuku, maka jangan menyesal jika seorang diantara kalian atau bahkan dua atau tiga atau semuanya akan mati.

“Kau tidak usah membual. Jika kau ingin menyerah, menyerahlah. Kami akan memaafkanmu dan membiarkan kau dan kawan-kawanmu pergi.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi berdebar-debar. Sebenarnya orang itu bukan seorang yang terlalu kasar. Orang itu masih berusaha mengekang diri. Tetapi anak-anak muda itu juga tidak tahu diri. Mereka tidak melihat keadaan mereka dibandingkan dengan lawannya. Betapapun juga kemudaan membakar jantung, seharusnya mereka menyadari, bahwa lawan mereka adalah seorang yang berilmu tinggi.

Tetapi keempat anak muda itu sama sekali tidak mau menilai diri mereka sendiri. Mereka merasa bahwa mereka bersama-sama akan dapat mengimbangi lawannya yang hanya seorang itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang ikut memperhatikan perkelahian Itu justru menyalahkan keempat anak muda itu karena mereka tidak mau menghindar justru saat mereka mendapat kesempatan.

“Anak-anak itu tidak tahu diri” desis Sambi Wulung.

“Mereka memang tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka hadapi.” sahut Jati Wulung.

Keduanya menjadi semakin tegang ketika mereka melihat orang yang bertempur seorang diri itu meningkatkan ilmunya. Bahkan nampaknya orang itu telah benar-benar menjadi marah.

Karena itu maka perkelahian yang menyala berikutnya menjadi semakin sengit. Keempat anak muda itu memang berusaha untuk mengerahkan kemampuan mereka. Namun menghadapi orang yang berilmu tinggi itu, mereka benar-benar telah mengalami kesulitan. Ketika seorang diantara mereka terlempar jatuh, maka kawan-kawannya menjadi semakin marah.

Bertiga mereka menyerang serentak, sementara anak muda yang terlempar jatuh itu berusaha untuk bangkit berdiri.

Tetapi orang itu telah kehabisan kesabaran. Dua diantara ketiga anak muda yang menyerang serentak itu berteriak kesakitan. Mereka terdorong beberapa langkah surut. Seorang dari mereka masih mampu mempertahankan keseimbangannya, sedangkan yang lain akhirnya terjatuh ditanah.

Dengan susah payah anak muda itu berusaha untuk bangkit. Namun kawannya yang lain justru telah jatuh menimpanya.

Keduanya mengaduh kesakitan. Tulang-tulang mereka serasa berpatahan. Namun mereka masih juga mencoba untuk bangkit dan melawan.

Tetapi mereka sama sekali tidak lagi berkesempatan. Meskipun nampaknya mereka masih utuh berempat, tetapi mereka benar-benar sudah tidak berdaya. Seorang seorang diantara mereka telah terbanting jatuh. Jika seorang tertatih-tatih bangkit, maka yang lainlah yang kehilangan keseimbangan.

Dua orang kawan dari seorang yang berkelahi melawan anak muda itu berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Nampaknya mereka memang yakin bahwa kawannya itu akan dapat menyelesaikan keempat orang anak muda itu.

Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung mendapat kesempatan untuk memperhatikan ketiga orang itu dengan baik. Wajahnya, bentuk tubuhnya dan tingkah la-kuknya. Bahkan mereka dapat mengenali serba sedikit ilmu yang dimiliki oleh salah seorang diantara mereka.

“Pada suatu saat ketiga orang itu akan datang ke Tanah Perdikan Sembojan” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk kecil. Katanya, “Agaknya mereka orang-orang dari perguruan Wukir Gading. Bukan orang-orang Watu Kuning. Nampaknya mereka tidak sekeras dan sekasar orang-orang Watu Kuning, setidak-tidaknya orang yang sedang berkelahi itu.”

Tetapi keduanya menjadi ragu-ragu akan dugaannya. Orang yang berkelahi itu ternyata tidak segera berhenti meskipun keempat anak muda itu sudah tidak berdaya.

“Orang itu sudah terlanjur marah sekali” berkata Jati Wulung.

Sambi Wulung tidak segera menjawab. Tetapi dahinya memang nampak berkerut. Bahkan katanya, ”Tetapi sebenarnya itu sudah cukup. Anak-anak itu sudah tidak berdaya.”

Ketika kegelisahan semakin menghentak-hentak jantungnya, ternyata drang itu pun berhenti memukuli anak-anak muda yang sudah tidak berdaya itu. Keempat anak muda itu terbaring ditanah sambil mengerang kesakitan.

“Bangkit. Jangan cengeng” teriak orang yang memukulinya itu. Lalu katanya, “Kalian anak-anak muda yang sudah berani mulai harus berani menanggung akibatnya. Bangkit dan lakukan sebagaimana kalian katakan.”

Anak-anak muda itu hanya mampu menggeliat. Tetapi mereka tidak dapat lagi bangkit. Seorang diantara mereka mencoba mengangkat kepalanya. Tetapi kepala itu jatuh lagi ditanah.

Orang yang marah itu pun kemudian bergeser surut. Dengan nada tinggi ia berkata, “Jangan lupakan peristiwa ini. Berhati-hatilah bersikap di tempat orang banyak. Dunia ini bukan hanya milik kalian berempat saja. Ingat itu. Orang lain tidak mau terganggu oleh sikap urakanmu itu.”

Tidak seorang pun diantara anak-anak muda itu yang berani menjawab., “Apalagi tubuh mereka masih terasa sakit sekali.

Orang yang berkelahi melawan ampat orang anak muda itu pun segera meninggalkan mereka masih terbaring ditanah. Bersama dengan kedua orang kawannya, mereka kembali naik dan duduk di tempat mereka duduk semula. Mereka masih melanjutkan meneguk minuman yang tersisa kecuali yang telah dipercikkan kewajah salah seorang anak muda yang dianggapnya mengganggu itu.

Baru sejenak kemudian salah seorang dari mereka telah membayar harga makanan dan minuman sambil minta diri kepada pemilik kedai itu.

Ketika ketiga orang itu turun lagi kehalaman, maka mereka melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung menolong keempat orang anak muda itu. Mereka membantu anak-anak muda yang kesakitan itu duduk.

Orang yang semula berkelahi dengan keempat orang anak muda itu sempat berpaling kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung sambil berkata, “Kau tidak usah mencampuri persoalan orang lain.”

“Tidak” jawab Sambi Wulung, “aku hanya membantu mereka, karena mereka sama sekali sudah tidak dapat bangkit.”

Orang yang baru saja berkelahi itu mengerutkan dahinya. Namun ketika dilihatnya sorot mata Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka orang itu menduga, bahwa kedua orang yang menolong anak-anak muda itu adalah bukan orang kebanyakan.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya lagi. Sejenak kemudian maka ketiga orang itu pun segera berpacu meninggalkan kedai itu menyusuri jalan panjang yang berdebu.

Demikian ketiga orang itu pergi, maka pemilik kedai itu serta beberapa orang lain telah datang mendekati. Bahkan ada dua orang diantara mereka yang mengenali keempat anak muda itu. Keduanya segera mengambil air bersih dengan dua buah mangkuk dan memberikannya kepada keempat orang anak muda itu.

Mereka memang minum beberapa teguk berganti-ganti. Kemudian orang-orang itu telah memapahnya dan membantu mereka duduk diamben panjang didepan kedai itu.

“Kenapa kalian berkelahi?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang mengenal anak muda itu.

“Setan itu mengganggu kami” jawab anak muda itu.

Tetapi Sambi Wulung lah yang kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi.

Kedua orang,itu mengangguk-angguk kecil. Seorang diantara mereka berkata, “Lain kali berhati-hatilah. Ternyata banyak orang berilmu tinggi berkeliaran.”

“Satu pengalaman yang berarti bagi kalian berempat” berkata yang lain.

Keempat  orang anak muda itu tidak menjawab. Tetapi mereka memang mengakui didalam hati. Bahwa yang terjadi itu memang satu pengalaman yang sangat berarti bagi mereka.

Karena keempat orang anak muda itu sudah mendapat pertolongan selanjutnya oleh orang-orang yang mereka kenal, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah meninggalkannya. Mereka memperhatikan kuda-kuda mereka yang sedang makan rendeng dan minum air yang segar yang disediakan oleh pembantu pemilik kedai itu. Agaknya kedua ekor kuda itu sama sekali tidak menghiraukan apa yang telah terjadi di halaman kedai itu.

Dalam pada itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menghabiskan minuman mereka pula. Baru kemudian mereka membayar harga makanan dan minuman bagi mereka serta kuda-kuda mereka.

Sejenak kemudian maka keduanya telah berpacu di-atas punggung kuda mereka yang sudah menjadi segar kembali. Namun terik matahari terasa membakar tubuh mereka. Debu berhamburan bukan saja dibelakang kaki kuda mereka. Tetapi jika angin tertiup sedikit kencang, maka debu pun telah menghambur pula.

Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, maka langit memang nampak bersih meskipun terasa angin sedikit keras. Dedaunan yang tidak mampu bergayutan di-dahan dan ranting pepohonan telah berhaburan dijalanan.

“Ketiga orang tadi juga melewati jalan ini” berkata Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk. Mereka berdua memang memiliki ketajaman pengamatan atas jejak sebagaimana mereka lihat dijalan yang mereka lalui. Mereka dapat mengenal jejak kaki-kaki kuda dijalan berdebu. Bahkan mereka mampu mengenali dan menghitung dengan tepat berapa ekor kuda yang telah lewat di jalan itu. Bahkan jejak yang sudah berumur beberapa saat lamanya.

Dengan ragu-ragu Sambi Wulung berdesis, “Apakah orang-orang itu juga menuju ke tanah Perdikan Sembo-jan?”

“Aku kira belum sekarang seandainya mereka pergi ke Tanah Perdikan Sembojan” sahut Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu mereka masih juga memperhatikan jejak kaki kuda yang dipacu oleh ketiga orang yang singgah dikedai itu.

Tetapi ternyata bahwa jejak kaki kuda itu berbelok disebuah simpang tiga, sehingga keduanya yakin bahwa ketiga orang itu tidak langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang berhenti sejenak disimpang tiga itu untuk meyakinkan tujuan ketiga orang yang mereka jumpai di kedai itu. Ketika Sambi Wulung memandang jalan yang membujur panjang dihadap-annya, ia pun berkata, “Mereka tentu akan membuat perencanaan yang baik. Tetapi sebelum itu mereka tentu akan menilai keadaan di Tanah Perdikan.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi aku tidak akan pernah melupakan mereka. Aku akan tetap dapat mengenali mereka sebagaimana aku mengenali wajah orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri.

Sambi Wulung tidak menjawab lagi. Namun ia pun segera memacu kudanya diikuti oleh Jati Wulung. Mereka ingin segera sampai ke Tanah Perdikan Sembojan untuk memberikan laporan tentang peristiwa yang kebetulan mereka jumpai di kedai itu. Namun yang harus mendapat perhatian sepenuhnya.

Sepeninggal Sambi Wulung dan Jati Wulung, Ki Tumenggung Jayayuda tidak tergesa-gesa memeriksa Ki Lurah Mertapraja. Tetapi Ki Lurah itu pun telah di tempatkannya di tempat yang wajar namun dalam penjagaan yang kuat, justru karena di Tanah Perdikan Sembojan pernah terjadi usaha untuk membebaskannya.

Sementara itu, Kasadha telah mendapat kesempatan untuk beristirahat. Tetapi Kasadha tidak pergi ke mana-mana. Ia tidak pergi menengok ibunya. Tetapi kesempatan itu dipergunakannya untuk selalu berhubungan dengan gurunya, Ki Ajar Paguhan.

Ki Ajar Paguhan ternyata ikut merasa bangga atas perkembangan yang terjadi atas muridnya itu. Murid satu-satunya. Semula Ki Ajar selalu merasa khawatir melihat pertumbuhan jiwa anak itu. Untunglah Ki Randukeling, yang meskipun bukan seorang yang berhati putih seperti kapas, namun orang tua itu telah ikut membentuk jiwa Fuguh sehingga Puguh akhirnya mampu mengatasi kekelaman yang membayangi pribadinya.

Namun yang dibicarakan Kasadha dengan gurunya bukan saja mengenai tugas pengabdiannya di Pajang. Tetapi dengan kepala Tunduk Kasadha berkata kepada gurunya, “Guru. Apakah menurut penilaian guru, aku sudah cukup dewasa.”

Gurunya menjadi heran atas pertanyaan itu. Karena itu maka ia pun bertanya, “Apa sebenarnya maksudmu Kasadha? Bukankah kau seorang Lurah prajurit. Jika kau belum dewasa, maka kau tentu tidak akan dapat menjadi seorang prajurit.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ya guru. Aku memang seorang Lurah prajurit. Tetapi apakah aku sudah pantas untuk menjajagi kemungkinan hidup berkeluarga?”

Gurunya mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Kasadha. Nampaknya kau sedang tertarik kepada seorang gadis. Aku kira itu sudah wajar. Kau sudah sampai waktunya untuk mulai berhubungan dengan seorang gadis, atau setidak-tidaknya mulai berbicara tentang seorang gadis.”

Kasadha tidak segera menjawab. Kepalanya justru menunduk dalam-dalam.

Karena Kasadha masih saja berdiam diri, maka guru-nya pun berkata, “Kasadha, apakah sudah ada seorang gadis yang dapat kau sebut namanya?”

Kasadha mengangkat wajahnya sejenak. Namun kepalanya itu pun telah menunduk lagi. Meskipun demikian ia menjawab perlahan-lahan, “Ya Guru.”

“Apakah aku pernah mengenal atau setidak-tidaknya melihatnya selama ini?” bertanya Ki Ajar.

“Mungkin guru belum pernah melihatnya. Ia bukan gadis Kotaraja. Tetapi orang tuanya tinggal di padukuhan yang tidak terlalu jauh dari Kotaraja ini.”

Gurunya memandang muridnya yang masih menunduk. Dengan ragu gurunya bertanya, “Kasadha, apakah aku boleh mengetahui siapakah gadis itu? Atau barangkali siapakah orang tuanya?”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berdesis, “Guru. Orang tuaku adalah seorang yang mempunyai masa lampau yang gelap. Meskipun aku sama sekali tidak berniat untuk mengingkari, apalagi ibu sekarang sudah berubah sama sekali. Namun aku masih selalu dibayangi oleh kekelaman kehidupan ibuku dimasa lampau itu. Jika saja orang tua gadis itu mengetahui, apakah kira-kira orang tua gadis itu juga akan mau menerima kehadiranku, anak bekas seorang perampok yang kejam yang juga mempunyai darah keturunan orang-orang jahat, apalagi jika dikenalinya berdarah Kalamerta.”

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Persoalan itu memang merupakan persoalan yang sangat rumit. Meskipun demikian, Ki Ajar itu pun berkata, “Kasadha. Kemungkinan itu memang ada, bahwa seseorang menilai orang lain dari darah keturunannya. Orang kadang-kadang memang menilai bibit seseorang yang berarti siapakah yang menurunkan orang itu. Meskipun sebenarnya pribadi seseorang tidak mutlak tergantung dari bibit keturunannya. Mungkin ujud kewadagan dan sifat-sifat pokok itu dapat nampak pada anak keturunannya. Tetapi keutuhan pribadi seseorang tidak tergantung sepenuhnya pada darah keturunan. Itulah sebabnya sering terjadi benturan antara orang tua dan anaknya karena pribadi mereka masing-masing justru bertentangan. Seorang anak yang memusuhi orang tuanya karena orang tuanya tidak menuruti jalan kehidupan yang lurus. Tetapi juga dapat terjadi sebaliknya. Menurut pendapatku, seseorang harus dinilai atas kepribadiannya sendiri secara utuh. Apakah ia orang baik atau tidak. Meskipun karena sesuatu sebab, maka kepribadian seseorang dapat berubah. Atau bahkan menjadi berlawanan sama sekali.”

Kasadha mengangguk-angguk. Didepan hidungnya dapat dilihatnya satu contoh yang jelas. Ibunya sendiri.

Meskipun demikian ia berkata, “Tetapi Guru, bayangan masa lampau ibuku itu tidak pernah dapat aku sisihkan. Bahkan kadang-kadang aku merasa, bahwa aku memang tidak berharga sama sekali justru karena darah keturunanku itu.”

“Kau tidak perlu merasa seperti itu. Sampai sekarang, kau dianggap seorang yang berhasil sehingga kau telah mendapat kedudukan sebagai seorang Lurah prajurit. Yang penting bagimu adalah mempertahankan kepercayaan orang kepadamu, kepercayaan atasanmu, kepercayaan sahabat-sahabatmu dan kepercayaan siapapun yang berhubungan denganmu.” berkata gurunya.

“Aku sudah mencoba untuk melakukannya sesuai dengan kemampuan dan sejauh dapat aku lakukan. Tetapi Guru, jika saja orang-orang, kawan-kawanku dan barangkali atasanku mengetaui bahwa aku adalah keturunan orang yang menurut anggapan orang banyak harus dimusuhi.” berkata Kasadha.

Gurunya termangu-mangu sejenak. Bagaimanapun juga persoalan itu tidak dapat disembunyikan adanya di-lingkungan banyak orang. Namun Ki Ajar Paguhan tidak mau mengecewakan muridnya. Katanya, “Adalah orang-orang yang tidak mendasari sikapnya pada kenyataan yang mereka hadapi sajalah yang berpendapat seperti itu. Tetapi memang tidak dapat diingkari bahwa pendapat seperti itu masih terlalu banyak.”

“Jika demikian Guru, dalam persoalan seperti ini, maksudku seandainya pada suatu saat aku berhubungan dengan seorang gadis, apakah aku harus berterus terang atau berusaha menyembunyikan kenyataan tentang orang tuaku?” bertanya Kasadha.

Ki Ajar Paguhan lah yang kemudian tidak segera menjawab. Pertanyaan itu memang pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawab. Tetapi kemudian Ki Ajar itu pun berkata, “Kasadha. Aku kira kau tidak akan dapat menyembunyikan terus-menerus . Seandainya untuk sementara kau berhasil menutupinya karena kau takut bahwa hal itu akan dipersoalkan, namun jika pada suatu saat hal itu diketahuinya juga, gadis itu atau bahkan orang tuanya, maka keadaannya akan menjadi semakin parah. Apalagi jika kau sudah terlanjur mengikat tali perkawinan.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia tahu maksud gurunya. Jika pada suatu saat hal yang disembunyikan ini diketahui oleh seseorang yang memang berniat buruk kepadanya, maka orang itu tentu akan menyampaikan noda itu kepada orang-orang yang dianggap berkepentingan. Gadis yang dimaksud atau bahkan orang tuanya.”

Kasadha menunduk semakin dalam. Memang terbersit perasaan kecewanya, bahwa ia lahir dari rahim seorang yang mempunyai masa lampau yang kelam. Tetapi itu sudah terjadi. Ia tidak akan dapat menghapus kenyataan bahwa ia adalah anak ibunya. Bahwa ibunya itulah yang pernah mengandungnya dan melahirkannya.

Wajah Kasadha memang menjadi buram. Tetapi gurunya berkata, “Kasadha. Tidak semua orang bergayut pada pendirian seperti yang aku katakan. Tidak semua orang menilai pribadi seseorang berdasarkan atas bibitnya. Tetapi ada juga orang yang menilai seseorang itu pada kenyataan tentang orang itu sendiri. Karena itu, kau tidak boleh berputus-asa, seolah-olah masa lampau ibumu yang hitam itu akan membuat masa depanmu hitam pula.”

Kasadha itu pun mengangguk. Katanya, “Aku memang berharap seperti itu, Guru. Tetapi aku pun tidak dapat mengingkari bahwa kenyataan tentang orang yang menilai seseorang berdasarkan atas bibitnya itu pun masih terlalu banyak.”

Gurunya termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia pun kemudian berkata, “Karena itu, kau harus mantap memanjatkan doa kepada Sumber Hidupmu. Segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, dapat pula dilakukan-Nya. Bahkan tidak ada sesuatu yang tidak menurut kehendak-Nya.”

Kasadha mengangguk dalam-dalam. Pesan gurunya itu memang sangat menyentuh hatinya.

Saat itu ternyata Kasadha masih belum dapat mengucapkan nama seorang gadis yang dimaksudkan itu kepada gurunya, apalagi gurunya memang tidak bertanya lagi tentang gadis itu. Agaknya gurunya lebih memperhatikan kesulitan perasaan Kasadha sendiri mengenai masa lampau orang tuanya, sementara itu, ia merasa tidak akan mungkin melepaskan diri dari ikatan itu.

Karena itu, maka yang harus dilakukan oleh Ki Ajar Paguhan adalah menjaga agar Kasadha tetap ada didalam keseimbangan jiwanya. Ia tidak boleh menjadi seorang yang berwajah rangkap. Seorang yang mengasihi ibunya, tetapi adalah juga orang yang membenci ibunya karena masa lampau ibunya telah membuat masa yang akan datang baginya menjadi gelap.

Karena itulah, maka ketika kemudian Kasadha minta diri kepadanya, gurunya itu pun berkata, “Kasadha, aku minta kau sering datang kepadaku. Lebih sering dari sebelumnya. Aku sudah mempersiapkan kau untuk memasuki tataran terakhir bagi ilmumu. Jika kau berhasil menguasainya, maka kau akan menjadi seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan yang mantap. Tetapi lebih penting dari itu, maka kita akan selalu dapat berbincang tentang berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan ini, iermasuk kehidupan yang tengah kau jalani. Kau tidak boleh terlalu lama terombang-ambing seperi itu.”

Kasadha mengangguk hormat sambil menjawab, “Ya, Guru. Aku akan datang lebih sering. Aku akan mohon ijin kepada Ki Rangga Dipayuda untuk itu. Aku akan berterus terang bahwa aku sedang mempersiapkan diri untuk menerima warisan ilmu pada tataran berikutnya dari Guru. Aku kira Ki Rangga Dipayuda tidak berkeberatan memberikan ijin itu, asal aku tidak meninggalkan tugasku sehari-hari. Aku akan datang kepada Guru disetiap malam hari.”

“Baiklah Kasadha. Mudah-mudahan kau dapat menempuh perjalanan panjang dimasa yang akan datang dengan baik dijalan yang lurus. Jika kau selalu mohon bimbingan kepada Yang Maha Agung, maka yakinlah, bahwa kau akan sampai ketempat yang didambakan oleh setiap orang. Kebahagiaan dan kedamaian lahir dan batin.

Kasadha mengangguk-angguk sambil menjawab perlahan, “Ya, Guru. Aku akan selalu ingat pesan, Guru.”

Ketika kemudian Kasadha minta diri, maka gurunya masih berpesan sekali lagi, “Datanglah lebih sering kemari.”

“Ya, guru. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang Guru berikan kepadaku.” jawab Kasadha.

Gurunya tersenyum. Katanya, “Aku mengasuhmu bukan baru sejak kemarin sore.”

Kasadha pun kemudian meninggalkan tempat tinggal gurunya. Ia berjalan dengan tanpa tujuan. Dijalaninya saja jalan yang terbentang dihadapannya. Jalan yang terhitung ramai. Tetapi Kasadha tidak menghiraukan siapa saja yang lewat dan berpapasan disepanjang jalan itu. Baru ketika seorang yang sudah mengenalnya dengan baik menggamitnya, Kasadha terkejut.

“He, kau berjalan seperti orang yang sedang bermimpi” sapa kawannya itu.

Kasadha terkejut. Ketika ia mengangkat wajahnya memandangi orang itu, maka ia pun tersenyum sambil berkata, “Kau?”

“Apa yang kau pikirkan, sehingga kau berjalan tanpa melihat apapun disepanjang jalan yang kau lalui? Kau akan dapat tersesat atau kau akan dapat terjerumus kedalam parit.” berkata kawannya itu pula.

“Tidak. Aku berjalan dengan wajar” jawab Kasadha.

“Tentu tidak. Kau tidak melihat aku sampai aku menggamitmu” jawab kawannya itu.”

Kasadha tertawa. Katanya, “Aku tidak apa-apa. Aku masih terpancang pada tugas yang baru saja aku lakukan di Tanah Perdikan Sembojan.”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia nampak cemas melihat keadaan Kasadha. Tetapi ketika Kasadha tertawa, maka ia pun tersenyum pula. Katanya, “Marilah kita berjalan bersama-sama. He, kau sebenarnya akan pergi kemana?”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Setelah merenung sejenak, maka ia pun menjawab, “Aku akan kembali ke barak.”

“Kau benar-benar bermimpi. Bukankah kau masih mengenali jalan ke barakmu?” bertanya kawannya.

Tetapi dengan cepat Kasadha menjawab, “Aku tahu, bahwa aku sudah melampaui simpangan yang berbelok menuju ke barak. Tetapi aku akan singgah sebentar di tempat penyamakan kulit disebelah pasar. Aku akan memesan sebuah ikat pinggang yang bukan ikat pinggang keprajuritan.”

“Bukankah yang kau pakai sekarang itu juga bukan seragam Lurah. Prajurit Pajang termasuk ikat pinggangmu?” bertanya kawannya.

“Sebagaimana kau lihat, ikat-pinggangku ini sudah jelek.” jawab Kasadha seadanya.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Hati-hatilah di jalan. Jika kau tidak mendengar dan melihat kuda berpacu, maka kau akan dapat terinjak kakinya. Apalagi para anak orang-orang kaya yang memiliki kuda yang bagus dan tegar. Mereka mengira bahwa jalan-jalan yang ramai itu milik neneknya. Mereka berpacu dan bekejaran dijalan raya yang ramai tanpa menghiraukan keselamatan orang lain.”

“Aku akan berhati-hati” jawab Kasadha sambil tertawa pula.

Kawannya pun tertawa. Katanya, “Aku terpaksa berpesan sebagaimana aku berpesan kepada adikku yang remaja. Soalnya kau berjalan sambil bermimpi.”

Keduanya tertawa panjang. Tetapi kemudian mereka pun berpisah menuju kearah yang berbeda karena tujuan mereka memang berbeda.

Namun perjumpaan itu telah membuat Kasadha menyadari, bahwa ia tidak dapat berjalan sambil merenung tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, karena hal itu akan sangat membahayakannya.

Kasadha memang tidak lagi berjalan sambil merenung. Jika sekali-sekali angan-angannya kembali ke persoalan dirinya, maka ia selalu berusaha untuk mengibaskannya dengan memperhati-kan orang-orang yang lewat disebelah-menyebelahnya dan yang berpapasan ke arah yang berlawanan. Kasadha sempat memperhatikan beberapa orang penunggang kuda yang lewat. Memang ada diantara mereka yang melarikan kudanya dengan cepat. Tetapi ada pula yang nampak tidak tergesa-gesa. Tetapi penunggang kuda itu dapat dihitung dengan jari.

Kasadha memang berjalan melewati pasar. Tetapi ia tidak singgah di tempat penyamakan kulit sebagaimana dikatakannya, karena ia memang tidak ingin memesan ikat pinggang. Sebenarnyalah bahwa ia tidak memperhatikan jalan yang berbelok menuju ke baraknya karena ia memang sedang merenung.

Ketika kemudian Kasadha sampai ke baraknya, maka ia masih juga belum dapat menghilangkan atau setidak-tidaknya menyisihkan persoalan itu dari kepalanya. Setiap kali ia masih saja digelitik oleh persoalannya sebagai seorang laki-laki yang sudah dewasa penuh. Yang memang sudah sepantasnya untuk berbicara tentang keluarga.

Seorang pemimpin kelompoknya yang tertua, yang memang banyak memperhatikan sikap dan tingkah lakunya sebagai manusia, serta yang telah lebih banyak mengetahui persoalannya dibandingkan dengan kawan-kawannya karena ia pernah mengikuti Kasadha ke Tanah Perdikan Sembojan, masih juga selalu mengikuti perkembangan lurahnya itu. Tetapi sebagai seorang yanfe lebih tua, maka ia pun merasa perlu untuk berhati-hati mencampuri persoalan-persoalan yang sifatnya sangat pribadi.

Tetapi Kasadha benar-benar tidak menduga, bahwa ketika ia sedang duduk beristirahat menjelang sore hari setelah tugas-tugasnya selesai, datang seorang prajurit yang mendapat perintah dari Ki Rangga Dipayuda memanggilnya.

“Ada kepentingan apa? Tadi, didalam tugas aku bertemu dan berbicara dengan Ki Rangga.” berkata Kasadha.

“Aku tidak tahu Ki Lurah Aku hanya mendapat perintah untuk memanggil Ki Lurah.” jawab prajurit itu.

“Baiklah. Aku akan segera menghadap.” jawab Kasadha.

Kasadha itu pun segera berbenah diri. Mengenakan pakaian keprajuritannya lengkap. Kemudian bergegas menghadap Ki Rangga Dipayuda.

Ketika ia memasuki ruang khusus Ki Rangga Dipayuda, maka didapatkannya Ki Rangga itu duduk menunggunya tanpa ada kesan bahwa akan ada tugas penting yang akan diberikannya kepadanya. Bahkan Ki Rangga itu menerimanya tidak dalam sikap keprajuritannya. Ki Rangga pun tidak lagi dalam pakaian keprajuritannya.

“Marilah, duduklah” berkata Ki Rangga sambil tersenyum.

Kasadha justru menjadi berdebar-debar. Sambil duduk Kasadha bertanya, “Ki Rangga memanggil aku?”

“Ya.” jawab Ki Rangga sambil bergeser sejengkal.

“Apakah ada perintah bagiku?” bertanya Kasadha.

“Aku tidak berbicara tentang tugas-tugas kita.” jawab Ki Rangga.

“Jadi?” bertanya Kasadha.

Ki Rangga memang nampak ragu-ragu. Tetapi kemudian ia pun berkata, “Aku besok akan pulang. Aku sudah cukup lama tidak menengok keluargaku.”

Kening Kasadha berkerut. Meskipun demikian ia bertanya, “Apakah Ki Rangga akan meninggalkan barak selagi keadaan masih genting?”

“Aku hanya akan pergi sehari saja tanpa bermalam. Aku sudah minta ijin kepada Ki Tumenggung Jayayuda. Aku diijinkan asal aku tidak menginap. Pagi aku berangkat, sore hari aku sudah berada di tempat ini kembali.” berkata Ki Rangga.

Kasadha menundukkan kepalanya. Ia menduga bahwa ia harus melakukan tugas Ki Rangga disaat Ki Rangga tidak ada di barak. Meskipun hanya satu hari, tetapi tugas itu merupakan tugas yang berat baginya. Tetapi itu adalah akibat wajar dari kelebihannya atas pemimpin-pemimpin kelompok yang lain, khususnya yang termasuk dalam lingkungan tugas yang dipimpin oleh Ki Rangga Dipayuda sebagai seorang Pandega.

Tetapi jika tugas itu memang dibebankan kepadanya, maka ia tidak akan dapat mengelak lagi.

Tetapi ternyata tidak. Dengan jantung yang berdebaran Kasadha mendengarkan Ki Rangga itu berkata selanjutnya, “Kasadha. Aku tidak ingin menempuh perjalanan itu sendiri, meskipun tidak terlalu jauh. Karena itu, maka aku ingin mengajakmu menyertaiku, agar diperjalanan ada orang yang dapat aku ajak berbincang.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku baru saja mendapat waktu istirahat setelah tugasku di Tanah Perdikan Sembojan.”

Tetapi Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Aku sudah menyampaikannya kepada Ki Tumenggung. Kau diperkenankan pergi bersamaku esok. Tetapi sore hari kita harus sudah berada di barak ini kembali. Bukankah perjalanan yang akan kita tempuh tidak terlalu jauh?”

Kasadha tidak segera menjawab. Jantungnya terasa berdebaran. Sementara Ki Rangga berkata, “Kasadha. Sebenarnya aku dapat mengajak orang lain. Tetapi karena kau yang sudah terbiasa dengan keluargaku, maka sebaiknya aku mengajakmu saja.”

Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Jika aku sudah mendapat ijin, sudah tentu aku tidak berkeberatan Ki Rangga.”

“Terima kasih. Jika kau tidak berkeberatan, esok kita berangkat pagi-pagi sekali. Seandainya terjadi sesuatu antara Mataram termasuk Pajang dengan Madiun, maka tentu tidak terjadi besok. Para pemimpin dikedua-belah pihak menyadari bahwa kekerasan bukan penyelesaian yang terbaik.” berkata Ki Rangga kemudian.

“Ya Ki Rangga” jawab Kasadha, “agaknya memang demikian”

“Baiklah kauberbenah diri. Besok kita pergi pagi-pagi sebelum matahari terbit, agar kita mempunyai waktu yang cukup untuk beristirahat dirumah.”

Kasadha pun kemudian kembali ke tempatnya. Ternyata ajakan Ki Rangga itu menumbuhkan persoalan didalam dirinya. Ia tidak tahu pasti alasan Ki Rangga mengajaknya meskipun Ki Rangga mengatakan bahwa ia adalah salah seorang dari mereka yang sudah mengenal keluarganya dengan baik.

Justru karena itu, maka Kasadha pun nampak semakin diam. Ia merenungi berbagai macam persoalan di-dalam dirinya. Justru pada saat perasaannya digoncang oleh dorongan usianya yang semakin merambat naik.

Tetapi Kasadha sama sekali tidak berani menerka apa maksud Ki Rangga yang sebenarnya.

Yang kemudian dilakukan oleh Kasadha adalah sekedar mempersiapkan diri. Ia pun telah memberikan beberapa pesan kepada para pemimpin kelompok, bahwa esok ia diperintahkan untuk mengikuti Ki Rangga Dipayuda.

“Hanya besok sehari” berkata Kasadha, “disore hari, kami sudah sampai dibarak ini kembali.”

Kepada pemimpin kelompoknya yang tertua, Kasadha menyerahkan kepemimpinannya selama ia tidak ada di barak.

Demikianlah, seperti yang direncanakan, pagi-pagi sekali keduanya telah bersiap. Demikian pula kuda masing-masing telah siap pula untuk membawa mereka menuju kerumah Ki Rangga Dipayuda yang memang tidak terlalu jauh dari Pajang.

Ketika matahari terbit, maka keduanya telah berada diluar kota. Kuda mereka berlari tidak terlalu kencang. Angin terasa segar bertiup lembut menggoyang batang-batang padi muda yang tumbuh subur di sawah.

Di sepanjang jalan Ki Rangga menceriterakan hubungan, antara Mataram, termasuk Pajang dengan Madiun yang berkepanjangan. Meskipun kedua belah pihak berusaha untuk mencari jalan keluar, namun nampaknya mendung masih tetap bergantung.

“Salah satu masalah yang menjadi persoalan adalah hadirnya Pangeran Gagak Baning di Pajang. Kangjeng Panembahan di Madiun menganggap bahwa Pangeran Gagak Baning tidak berhak berada di Pajang. Apalagi rencana Panembahan Senapati untuk menetapkan Pangeran Gagak Baning menjadi Adipati Pajang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Persoalannya nampaknya bukan menjadi semakin terurai, tetapi justru menjadi semakin kusut. Meskipun demikian kedua belah pihak masih tetap berusaha untuk menahan diri masing-masing, meskipun kedua-belah pihak juga mempersiapkan kekuatan yang besar.

Kasadha yang ingin tahu alasan yang sebenarnya, kenapa ia harus ikut Ki Rangga, ternyata sama sekali tidak terungkap dalam pembicaraan selama perjalanan. Ki Rangga memang lebih banyak berbicara tentang hubungan Mataram dan Pajang dengan Mladiun.

Tetapi perjalanan mereka memang tidak terlalu lama. Ketika matahari naik sepenggalah, “mereka telah berada di jalan lurus memasuki lingkungan bulak-bulak di padukuhan tempat tinggal Ki Rangga Dipayuda.

Kasadha memang menjadi berdebar-debar. Sementara itu Ki Rangga pun berkata, “Nah, kita sudah akan sampai. Mudah-mudahan keluargaku ada di rumah.”

“Apakah ada rencana mereka pergi?” bertanya Kasadha.

“Tidak. Tetapi jika ada orang yang sedang mengadakan peralatan atau kepentingan-kepentingan yang lain, Nyi Dipayuda sering diundang untuk diminta petunjuk-petunjuknya. Nyi Dipayuda memang dianggap sebagai orang tua oleh lingkungannya. Maksudku orang yang umurnya sudah tua.”

Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Jika demikian, bukankah Nyi Rangga itu dapat dipanggil pulang jika Ki Rangga datang?”

“Tentu saja. Tetapi orang yang memerlukannya akan menjadi kecewa.”

Kasadha tidak menjawab. Tetapi, jantungnya menjadi berdebar-debar karena persoalan yang lain. Di rumah Ki Rangga itu tinggal pula Riris Respati.

Dengan demikian, maka Kasadha justru menjadi lebih banyak diam dan mendengarkan saja Ki Rangga Dipayuda berbicara. Namun kemudian Ki Rangga itu pun berkata, “Kita akan segera sampai.”

Tetapi keduanya yang sedang menuju keregol halaman rumah Ki Rangga itu terkejut. Mereka mendengar derap kuda berpacu dibelakang mereka. Ketika mereka berpaling, maka mereka melihat seorang penunggang kuda sedang menyusul perjalanan mereka.

Tetapi Ki Rangga itu pun kemudian berkata, “Ah, Jangkung Jaladri. Ia membuat aku terkejut.”

Kasadha pun juga bergumam, “Ya. Jangkung.” Sejenak kemudian, maka Jangkung itu sudah menyusul mereka. Sambil menarik kendali kudanya, maka ia pun berkata, “Lihat, ini kudaku yang baru.”

“Bukan kudamu” sahut ayahnya.

“Jadi, kuda siapa?” bertanya Jangkung.

“Kuda itu barang dagangan. Bukankah begitu?” bertanya ayahnya pula.

Jangkung tertawa. Katanya, “Tetapi aku sudah membayar harganya. Kuda ini sudah menjadi milikku. Jika kemudian ada orang yang membelinya, nah apaboleh buat.”

Jangkung tertawa semakin keras. Kasadha dan Ki Rangga pun tertawa pula.

Bertiga mereka pun kemudian telah memasuki regol halaman. Mereka pun segera berloncatan turun, sementara Jangkung segera berlari-lari mengikat kudanya. Kemudian diterimanya pula kendali kuda ayahnya. Ketika ia melakukan hal yang sama terhadap Kasadha, maka Kasadha pun berkata, “Sudahlah. Biarlah aku mengikatnya sendiri.”

Bertiga mereka pun kemudian naik ke pendapa. Demikian Kasadha duduk di pringgitan, maka Ki Rangga dan Jangkung pun telah masuk keruang dalam.

Ki Rangga dan Riris yang kebetulan berada di rumah memang terkejut melihat kehadiran Ki Rangga. Namun dengan segera Ki Rangga berkata, “Mumpung aku mendapat kesempatan untuk pulang.”

“Bukankah tidak ada apa-apa?” bertanya Nyi Rangga.

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku mendapat ijin pulang sehari. Nanti sore aku harus sudah berada dibarak.”

“Begitu cepat?” bertanya Jangkung.

“Nampaknya keadaan masih belum cerah. Hubungan antara Mataran dan Pajang dengan Madiun masih belum begitu baik.” jawab Ki Rangga. Namun Ki Rangga itu pun berkata, “Aku datang bersama Kasadha. Ia ada dipringgitan.”

“O” desis Nyi Rangga. Lalu katanya kemudian, “biarlah aku membuat minuman.”

Ririslah yang kemudian bertanya kepada ayahnya, “Apakah ayah membawa oleh-oleh buat aku?”

Ki Rangga tertawa. Katanya, “Aku belum sempat membeli apapun juga. Lain kali aku akan membawa oleh-oleh buatmu.”

“Ayah pernah berjanji untuk membelikan oleh-oleh buat aku. Ayah berjanji untuk membeli kain lurik berwarna hijau seperti sayap samberlilen.” desis Riris.

“Ayah tidak pernah lupa itu Riris.” jawab ayahnya.

“Ayah hanya tidak pernah lupa akan janji ayah. Tetapi ayah selalu lupa membelinya” berkata Riris memberengut.

Ayahnya masih saja tertawa. Namun Jangkung lah yang berkata, “He, bantu aku menyiapkan minuman.”

“Kenapa bukan kau?” sahut Riris.

“Aku, he. Aku laki-laki. Bukankah lebih pantas jika kau yang melakukannya.” sahut Jangkung.

“Ibu sudah membuatnya. Nanti aku tinggal menghidangkan-nya” jawab Riris.

Jangkung masih akan menjawab. Tetapi ayahnya memotongnya, “Sudahlah, pergilah ke pringgitan menemani Kasadha.”

Jangkung tidak menjawab. Tetapi ia sempat membelalakkan matanya kepada adiknya. Tetapi Riris tidak tinggal diam. Ketika ia menjulurkan tangannya untuk mencubit lengan kakaknya, maka Jangkung pun telah berlari meninggalkannya.

Sejenak kemudian, maka Jangkung pun telah duduk dipringgitan bersama Kasadha. Karena mereka sudah akrab, maka pembicaraan mereka pun segera berputaran di sekitar keadaan terakhir di Pajang dan Mataram.

Namun karena Kasadha baru saja kembali dari Tanah Perdikan Sembojan, maka Jangkung pun ingin mendengarkan ceritera tentang perang yang terjadi di Tanah Perdikan itu.

Sementara itu, beberapa saat kemudian, maka Riris pun telah membawa hidangan pula keluar. Gadis itu memang tidak segera kembali ke dapur. Ia mempersilahkan Kasadha untuk meneguk minuman hangatnya dan makan makanan yang disuguhkan.

Sementara Kasadha ditemui oleh Jangkung dan Riris, maka di dapur, Ki Rangga telah berbincang pula dengan Nyi Rangga tentang anak gadis mereka.

“Bagaimana maksud Ki Rangga sebenarnya?” bertanya Nyi Rangga.

“Nyi” berkata Ki Rangga kemudian, “keadaan di Pajang nampaknya menjadi semakin rumit. Perang dapat pecah setiap saat. Itulah sebabnya, maka aku ingin kita menyempatkan diri berbicara tentang Riris.”

“Kenapa sebenarnya dengan Riris?” bertanya Nyi Rangga.

“Maksudku, bukankah ia sudah menjadi seorang gadis yang dewasa penuh. Aku kira memang tidak baik bagi Riris untuk hidup tanpa sisihan sampai umurnya menjadi semakin tua.” berkata Ki Rangga Dipayuda.

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku juga sudah memikirkannya. Tetapi apa yang sebaiknya kami lakukan? Bukankah Riris seorang gadis yang menunggu datangnya lamaran?”

“Aku mengerti” jawab Ki Rangga, “tetapi bukankah kita dapat ikut membantu mempercepat kemungkinan itu?”

“Tetapi Jangkung nampaknya juga belum memikirkan tentang hidup berkeluarga.” berkata Nyi Rangga.

“Tetapi Jangkung seorang laki-laki. Baginya tentu lebih mudah untuk mendapatkan sisihan sesuai dengan pilihannya daripada Riris yang seorang gadis.” berkata ayahnya.

“Lalu bagaimana maksud Ki Rangga?” bertanya isterinya.

“Aku memang menjadi sedikit bimbang untuk mengambil langkah yang pasti untuk kepentingan masa depan Riris. Justru karena Riris seorang gadis. Tetapi tentu saja Riris juga tidak boleh menunggu tanpa berketentuan.”

“Apakah Riris yang harus melamar?” bertanya Nyi Rangga.

“Bukan begitu Nyi, tetapi marilah kita berbicara tentang sebuah harapan.” berkata Ki Rangga.

Nyi Rangga pun kemudian duduk disebelah suaminya. Mereka menjadi semakin bersungguh-sungguh, karena sebenarnyalah bahwa Riris memang sudah waktunya untuk hidup berkeluarga. Semakin lama ia hidup sendiri, maka umurnya akan merambat semakin tua, sehingga orang-orang padukuhan itu akan menyebutnya sebagai seorang perawan yang terlambat mendapat jodoh. Padahal Riris adalah seorang gadis yang cantik, anak seorang prajurit yang cukup terpandang dilingkungannya meskipun ia belum seorang Tumenggung. Bahkan Riris sering disebut sebagai sekuntum bunga yang mekar di padukuhannya.

Tetapi justru karena itu, maka anak-anak muda menjadi silau memandangnya. Ketika seorang anak muda tertarik kepada Riris, tetapi dengan cara yang tidak sewajarnya, maka Ki Rangga sendiri telah datang kepada anak muda itu serta orang-orang yang membantunya, langsung menantang mereka.

“Nyi” berkata Ki Rangga selanjutnya, “ada dua orang yang dapat kita harapkan untuk dapat menjadi kawan hidup Riris. Sebagai orang tua aku melihat, bahwa kedua orang itu nampaknya memang tertarik kepada Riris. Kita memang dapat mengharapkannya. Tetapi tentu tidak kedua-duanya.”

“Siapakah yang Ki Rangga maksudkan?” bertanya Nyi Rangga, meskipun sebenarnya Nyi Rangga sendiri juga sudah menduga-duga.

“Mereka adalah angger Kasadha dan angger Risang. Kepala Tanah Perdikan Sembojan.” jawab Ki Rangga.

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku juga berpikir demikian. Aku melihat bagaimana kedua orang anak muda itu memandang dan bersikap terhadap Riris.”

“Tetapi bukankah tidak mungkin bagi kita untuk mengambil kedua-duanya? bertanya Ki Rangga.

“Sudah tentu” jawab Nyi Rangga.

“Jika demikian, kita harus memilih salah satu dari keduanya. Bukankah kita tidak dapat mengambil kedua-duanya untuk menjadi menantu kita, karena kita hanya mempunyai seorang gadis?”

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Tetapi kita harus tahu pasti sikap kedua orang anak muda itu.”

“Nyi” berkata Ki Rangga, “justru karena itu, maka kita harus ikut campur. Jika kedua orang anak muda itu benar-benar menginginkan Riris, maka kita akan mendapatkan kesulitan. Kita menganggap keduanya seperti anak-anak kita sendiri. Bahkan aku memang pernah mengatakan kepada mereka, selagi mereka berdua masih menjadi prajurit-prajuritku, bahwa keduanya telah aku anggap sebagai anakku.”

“Jadi bagaimana kita harus memilih?” bertanya Nyi Rangga.

“Nyi, aku sebenarnya ingin mencampuri persoalan ini sebelum menjadi semakin rumit. Jika sejak sekarang kita mendorong salah seorang dari mereka untuk secepatnya mengambil langkah-langkah yang lebih tegas, tetapi tidak meninggalkan kewajaran, maka persoalan itu akan dapat dikurangi. Kita tentu tidak akan sampai hati melihat kedua orang anak muda itu hubungannya yang sangat akrab menjadi renggang. Justru karena Riris.” berkata Ki Rangga.

“Apa yang dapat Ki Rangga lakukan?” bertanya Nyi Rangga.

“Aku akan bertanya kepadanya, kenapa sikapnya kepada Riris nampak lain dan khusus.” jawab Ki Rangga.

“Kepada siapa dari keduanya itu?.” desak Nyi Rangga.

“Itulah yang ingin aku bicarakan” jawab Ki Rangga.

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera menjawab. Nampak ada kebimbangan didalam hati Nyi Rangga itu.

“Nyi” berkata Ki Rangga, “tanpa mengurangi penghargaanku kepada angger Risang, namun aku justru condong memilih angger Kasadha untuk menjadi sisihan Riris. Itu seandainya aku wenang menentukan.”

“Kenapa Ki Rangga memilih angger Kasadha dan bukan angger Risang?” bertanya Nyi Rangga.

“Kau tentu tahu, bahwa aku adalah seorang prajurit. Karena itu maka duniaku pun lebih menyatu dengan dunia keprajuritan. Sementara itu angger Kasadha juga seorang prajurit.” jawab Ki Rangga.

“Hanya itu?” bertanya Nyi Rangga.

“Itu adalah kunci kemampuanku untuk ikut campur. Aku dapat membuat suasana lebih baik bagi angger Kasadha. Aku dapat membuat alasan apapun agar Kasadha lebih sering datang kerumah ini. Kemudian aku tentu akan lebih mudah mengendalikan Kasadha daripada angger Risang.” jawab Ki Rangga.

“Tetapi bagaimana hari depan kedua orang anak muda itu?” bertanya Nyi Rangga.

“Kedua-duanya mempunyai kesempatan yang sama. Risang akan dapat menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang maju, tangguh dan berwibawa. Tetapi kesempatan Kasadha pun terbuka. Pada umurnya yang masih terhitung sangat muda, ia sudah seorang Lurah Prajurit. Ia mempunyai banyak kesempatan untuk mendapat pangkat dan kedudukan yang lebih baik. Ia akan segera mendapat kenaikan pangkat dan kedudukan. Jika segalanya berlangsung wajar, maka ia tentu akan menjadi seorang Tumenggung yang terhitung muda pula pada saatnya nanti.”

Nyi Rangga mengangguk-angguk kecil. Ia dapat menerima pikiran suaminya itu. Bagi Ki Rangga, Kasadha memang menjadi lebih dekat justru karena kedudukan mereka. Sementara itu Risang rasa-rasanya justru menjadi semakin jauh.

Karena itu, maka Nyi Rangga pun berkata, “Terserahlah kepada Ki Rangga.”

“Jangan berkata begitu. Jika kau menyerahkan persoalan ini hanya kepadaku, maka aku akan menjadi bingung. Karena itu, aku minta kau juga ikut menentukan, sehingga kita akan mempertanggung-jawabkan bersama” berkata Ki Rangga kemudian.

“Aku setuju, Ki Rangga” jawab Nyi Rangga.

“Nah, jika demikian, maka baiklah. Aku akan berusaha tanpa merendahkan harga diri kita dan harga diri Riris sendiri. Aku tidak akan mengumpankan Riris untuk memancing Kasadha. Tetapi kita akan melihat sikap Kasadha itu sendiri terhadap Riris.” berkata Ki Rangga.

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata selanjutnya, “Hal ini memang aku hubungkan dengan kemelut yang terjadi antara Mataram dan Pajang dengan Madiun. Perang dapat saja terjadi dengan tiba-tiba. Aku dan Kasadha dapat pula terlibat langsung dengan peperangan itu. Sebenarnya aku ingin sebelum perang itu terjadi, maka sudah ada kejelasan sikap Kasadha terhadap Riris.”

“Apakah mereka harus segera menikah?” bertanya Nyi Rangga,

“Tidak. Tetapi kejelasan itu perlu. Maksudku, sebelum perang besar itu terjadi, maka setidak-tidaknya Kasadha telah memberikan peningset bagi Riris. Yang penting bukan besar kecilnya peningset itii. Bahkan seandainya peningset itu tidak bernilai jual sekalipun. Yang penting, bahwa segala sesuatunya sudah menjadi jelas.” jawab Ki Rangga.

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Jadi, apa yang dapat kita lakukan segera?”

“Membuat satu suasana agar kita dapat meyakinkan diri, bahwa Kasadha memang tertarik kepada Riris. Aku akan menghubungi seorang prajurit yang lebih tua tetapi dekat dengan Kasadha, agar ia memberikan jalan bagi Kasadha untuk berterus-terang. Tanpa dorongan seperti itu, agaknya Kasadha merasa segan untuk melakukannya.” jawab Ki Rangga Dipayuda.

Nyi Rangga masih saja mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku sependapat.”

Pembicaraan itu terputus ketika jangkung masuk ke-dapur. Dengan kerut dikening Jangkung bertanya, “Kenapa ayah tidak menemui Kasadha?”

“Nanti dulu. Aku sedang berbicara dengan ibumu. Ada hal yang penting yang sedang kami bicarakan.” jawab Ki Rangga.

“Tentang apa?” bertanya Jangkung.

“Tentang sawah kita di bulak Utara” jawab Ki Rangga.

“Kenapa dengan sawah itu? Apakah ayah berniat untuk menjualnya?” bertanya Jangkung.

“Tidak. Aku tidak berniat untuk menjual tanah kita yang manapun.” jawab Ki Rangga.

“Jadi, ada apa dengan tanah itu?” desak Jangkung.

“Kita kadang-kadang mendapat kesulitan air di-bulak Utara.” jawab ayahnya.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Ia tidak yakin bahwa hanya soal tanah itu saja yang dibicarakannya. Tetapi Jangkung tidak mendesaknya. Ia yakin bahwa ayah dan ibunya, jika tiba saatnya, tentu akan mengatakannya juga kepadanya.

“Ayah” berkata Jangkung kemudian, “aku akan pergi sebentar untuk membawa kuda itu kepada seorang kawan yang memerlukannya. Tetapi aku tidak lama.”

“Pergilah” jawab ayahnya.

“Tetapi bagaimana dengan Kasadha itu?” bertanya Jangkung, “ia sendiri saja di Pringgitan.”

“Bukankah ada Riris?” bertanya Ki Rangga.

“Tentu tidak pantas jika Riris menemuinya sendiri berlama-lama” jawab Jangkung.

“Tidak akan terlalu lama. Aku akan segera menemuinya” jawab Ki Rangga.

Jangkung memang nampak ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan ayah dan ibunya di dapur.

Sejenak kemudian, maka terdengar derap kaki kuda meninggalkan halaman rumah itu.

Kasadha memang hanya ditemui Riris saja di pringgitan. Riris nampaknya sudah tidak canggung lagi berbincang dengan Kasadha. Juga ketika Jangkung pergi. Riris tidak segan menemui Kasadha sendiri di pringgitan.

Karena Riris anak seorang prajurit, maka perhatiannya terhadap persoalan yang menyangkut dunia keprajuritan pun cukup besar. Itulah sebabnya, maka ia tertarik mendengarkan ceritera tentang perang yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan kemudian juga tentang kemelut yang terjadi di Pajang.

“Jika terjadi perang antara Pajang dengan Madiun, apakah kau dan ayah juga akan langsung terlibat?” bertanya Riris.

“Memang mungkin sekali Riris. Kami dapat saja mendapat perintah untuk maju kemedan perang.” jawab Kasadha.

“Tetapi bukankah ayah sudah menjadi semakin tua? Bahkan ayah pernah meninggalkan dunia keprajuritan karena umurnya. Namun kemudian ayah telah ditugaskan kembali.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Ki Rangga adalah seorang prajurit yang terpilih. Itulah sebabnya, Ki Rangga Dipayuda diangkat kembali untuk memegang jabatannya yang sekarang. Dibandingkan dengan para Pandega yang lain, maka Ki Rangga Dipayuda mempunyai wawasan yang luas.”

Riris mengangguk-angguk. Tetapi terbayang juga kecemasannya, bahwa ayahnya pada umurnya yang semakin tua harus berada ditengah-tengahnya api peperangan.

Kasadha nampaknya tanggap akan perasaan Riris. Karena itu, maka pembicaraannya pun segera dibelokkan pada persoalan-persoalan lain yang mungkin menarik perhatian Riris.

Kasadha mulai berbicara tentang tanaman-tanaman yang ada di halaman depan rumah itu. Beberapa buah sangkar yang tergantung diserambi dan bahkan sangkar bekisar di halaman depan.

“Siapakah yang memelihara tanaman, burung dan bekisar itu? Apakah Jangkung mempunyai waktu cukup untuk melakukannya?” bertanya Kasadha.

“Kakang Jangkung tidak pernah menghiraukan semua itu. Aku dan ibu yang melakukannya, dibantu oleh Ki Muncar yang memang senang memelihara burung dan bekisar.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun ternyata diluar dugaan Kasadha. Riris dapat berbicara panjang tentang burung beonya yang dapat menirukan tembang dandanggula.

Sementara itu, Nyi Rangga lah yang lebih dahulu keluar dari ruang dalam ikut menemui Kasadha. Nampaknya Ki Rangga baru berganti pakaian, karena udara terasa menjadi panas sehingga pakaian Ki Rangga menjadi basah oleh keringat.

Baru sejenak kemudian, Ki Rangga itu duduk pula di pringgitan menemui Kasadha. Tetapi ia membiarkan Nyi Rangga dan Riris duduk bersama mereka. Sementara itu didapur, seorang pembantu Nyi Rangga lah yang sibuk menyiapkan masakan buat makan siang.

Tetapi beberapa saat kemudian, Nyi Rangga dan Riris juga telah berada di dapur pula, sementara Ki Rangga duduk bersama Kasadha di pringgitan.

Kepada Kasadha, Ki Rangga mengatakan bahwa ada sedikit masalah yang harus dibicarakannya dengan Nyi Rangga.

“Aku sudah menunda-nunda persoalan ini hingga sekarang” berkata Ki Rangga Dipayuda, “ada sedikit persoalan tanah di bulak Utara.”

Kasadha hanya mengangguk-angguk saja. Ia tidak merasa berhak untuk bertanya persoalan yang harus dibicarakan dengan Nyi Rangga itu.

“Inilah persoalan yang sering timbul pada seorang yang bertugas diluar rumahnya, sehingga isterinya harus dapat ikut menyelesaikan persoaln-persoalan yang timbul dirumah.”

Kasadha masih saja mengangguk-angguk. Baginya, itu adalah satu gambaran keluarga seorang prajurit. Namun dalam keadaan tenang, maka persoalannya akan menjadi lain. Ki Rangga akan dapat lebih banyak berada di rumah.

Ketika kemudian Jangkung datang, maka Jangkung lah yang kemudian menemui Kasadha. Mereka tidak lagi duduk di pringgitan. Tetapi mereka berada di serambi gandok. Duduk diamben panjang mereka memang merasa lebih longgar daripada duduk bersila di pringgitan.

Ketika saatnya makan siang tiba, maka mereka pun duduk diruang dalam mengelilingi hidangan yang telah disediakan. Ternyata pembantu Nyi Rangga telah memotong seekor ayam untuk menjamu tamunya.

Menjelang sore hari, maka Ki Rangga Dipayuda dan Kasadha pun telah bersiap-siap pula untuk kembali ke Pajang. Sementara itu, Ki Rangga telah berpesan kepada Nyi Rangga, agar berbicara juga dengan Jangkung, karena Jangkung adalah saudara tua Riris.

“ Cobalah dengar pendapatnya” berkata Ki Rangga.

Seperti yang direncanakan, maka disore hari, Ki Rangga Dipayuda bersama Kasadha telah meninggalkan rumahnya kembali ke barak. Mereka tidak dapat terlalu lama meninggalkan pasukannya, justru Pajang memang sedang dalam kesiagaan penuh menghadapi perkembangan keadaan yang semakin rumit.

Bagi Kasadha, kesempatan yang hanya sehari itu telah membuatnya semakin merenung. Pertemuannya dengan Riris yang tidak diduganya sebelumnya telah membuatnya semakin tenggelam dalam arus perasaannya.

Sementara itu, sebagaimana pesan Ki Rangga, Dipayuda, Nyi Rangga telah mencari kesempatan untuk berbU cara dengan Jangkung. Ketika Riris sedang mandi, maka Nyi Rangga telah memanggil Jangkung untuk berbincang di serambi gandok.

Jangkung memang merasa heran, bahwa ibunya memanggilnya di serambi gandok. Satu hal yang tidak terbiasa dilakukan.

“Jangkung” berkata ibunya kemudian, “ada persoalan yang penting yang harus kau ketahui. Ayahmu dirisaukan oleh kemelut yang semakin kelam antara Pajang dan Madiun.”

“Apa hubungannya dengan tanah di bulak Utara?” bertanya Jangkung.

“Memang tidak ada Jangkung” jawab ibunya.

“Jadi?” desak Jangkung.

“Masalah yang sebenarnya bukan masalah tanah di bulak Utara” jawab ibunya.

Jangkung memandang ibunya dengan heran. Ayahnya mengatakan kepadanya, bahwa persoalan yang sedang dibicarakan adalah persoalan tanah dibulak Utara.

“Jangkung” berkata ibunya, “mungkin persoalan yang dikemukakan oleh ayahmu terasa tergesa-gesa. Tetapi itu bukannya tanpa sebab. Seperti yang aku katakan, bahwa persoalan antara Pajang dan Madiun nampaknya tidak semakin mereda. Bahkan semakin memanas. Sementara itu ayahmu dan Kasadha adalah seorang prajurit.”

“Apa hubungannya dengan Kasadha?” bertanya Jangkung.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun menyampaikan persoalan yang dibawa oleh ayahnya yang menyempatkan diri pulang dari Pajang.

Jangkung mendengarkan keterangan ibunya dengan saksama. Namun wajahnya semakin lama menjadi semakin berkerut. Demikian ibunya selesai berbicara, maka Jangkung pun menyahut, “Ibu, kenapa ayah menjadi begitu tergesa-gesa. Tiba-tiba saja ayah pulang dengan membawa persoalan itu?”

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa kemelut antara Pajang dan Madiun menjadi semakin gawat?”

“Kenapa justru dalam keadaan yang demikian, hubungan antara Riris dan Kasadha harus segera dipastikan, meskipun baru pada taraf penyerahan peningset?”

“Hal itu akan memberikan ketenangan pada kedua belah pihak seandainya Kasadha harus pergi ke medan perang.” jawab ibunya. Namun suaranya menjadi hampir tidak terdengar, “Jangkung. Ada kemungkinan bahwa ayahmu juga akan pergi ke medan.”

Tetapi ibunya terkejut ketika Jangkung menjawab, “Aku tidak sependapat ibu. Hati Riris harus tumbuh dengan wajar tanpa dipacu dengan cara apapun juga. Aku juga tahu bahwa Kasadha dan Risang menaruh hati terhadap Riris. Tetapi aku tidak tahu, yang manakah yang lebih dekat dihati Riris. Nampaknya bagi Riris, Kasadha dan Risang, masih berada pada ujung timbangan yang datar. Sehingga Riris sama sekali belum dapat menentukan pilihan.”

“Karena itu, ayahmu akan membantu membangunkan suasana yang dapat mempercepat persoalan. Bukan menyurukkan Riris sebagaimana seseorang menawarkan dagangan. Tetapi ayahmu ingin segera mendapatkan satu kepastian.”

Jangkung menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku mempunyai pendapat lain ibu. Aku pun mengenal Kasadha dan Risang dengan baik. Aku sedikit banyak mengerti sikap dan pandangan hidup masing-masing. Keduanya memang hampir sama sebagaimana wajah dan bentuk tubuh mereka yang hampir sama. Memang sulit untuk menjatuhkan pilihan. Tetapi sudah tentu tidak sekedar karena ayah dan Kasadha berada dalam lingkungan yang sama.”

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya ibunya.

“Ayah tidak perlu mencampuri persoalan mereka. Biarlah pilihan itu tumbuh dan berkembang dihati Riris sendiri.” jawab Jangkung.

“Jangkung” berkata ibunya, “ada persoalan lain yang dipikirkan ayahmu.”

“Persoalan apa lagi ibu?” bertanya Jangkung.

“Jika kedua anak muda itu sampai pada satu puncak persaingan, maka akan timbul persoalan yang tidak baik antara keduanya. Tetapi sebelum itu terjadi, ayahmu ingin salah satu diantaranya dengan cepat menyatakan sikapnya. Dengan demikian, maka ttidak akan ada persoalan lagi diantara semua pihak.” jawab ibunya.

Jangkung mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian berkata, “Jika itu persoalannya ibu, maka aku justru ingin menyatakan pendapat ku. Aku lebih senang Riris hidup bersama Risang daripada Kasadha.”

Ibunya justru menjadi termangu-mangu. Dengan nada ragu ia bertanya” Kenapa?”

“Risang nampaknya lebih terbuka dari Kasadha. Kita tahu keadaan keluarga Risang. Kita tahu siapa orang tuanya. Siapa pula keluarganya. Tetapi kita tidak tahu siapakah orang tua Kasadha. Siapa pula keluarganya. Ketika kita akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan, Kasadha menolak untuk pergi bersama-sama. Kasadha hanya selalu menyatakan bahwa ibunya, seorang petani kecil, merasa dirinya terlalu kecil pula untuk berada diantara orang lain.”

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Persoalan yang di-kemukakan oleh Jangkung itu memang merupakan persoalan yang penting. Bagaimanapun juga, latar belakang kehidupan keluarga itu ikut menentukan kehidupan seseorang.

Namun ibunya itu menjawab, “Tetapi bukankah kita pernah bertemu atau setidak-tidaknya mengenal ibu Kasadha?”

“Hanya sepintas lalu” jawab Jangkung. Lalu katanya, “Berbeda dengan Risang. Seandainya kita melihat sebuah rumah, maka pintu rumah Risang itu terbuka. Ia pun mempunyai kedudukan yang sangat baik. Seorang Kepala Tanah Perdikan yang besar.”

“Tetapi kedudukan Kasadha juga cukup baik. Ia seorang Lurah prajurit pada umurnya yang masih muda. Menurut perhitungan ayahmu, pada saatnya Kasadha akan dapat menjadi seorang Tumenggung.” berkata ibunya.

“Tetapi aku tetap meragukan, apa sebab yang sebenarnya sehingga Kasadha berkeras untuk memberikan sekat pada ibunya itu.” sahut Jangkung.

Nyi Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi agaknya ibunya sendiri yang berusaha membatasi dirinya dari lingkungan diseputar anaknya. Justru karena kasih seorang ibu, maka ia tidak ingin memberikan warna yang buram kepada anaknya itu.”

“Bukankah itu tidak wajar ibu? Seolah-olah Kasadha harus menyembunyikan sesuatu yang dianggapnya akan dapat mengotori namanya.” berkata Jangkung kemudian.

Ibunya tidak menjawab lagi. Sementara itu ia mendengar suara Riris yang memanggilnya di ruang dalam. Agaknya gadis itu sudah selesai mandi dan berbenah diri.

“Jangkung” berkata ibunya, “sebaiknya kau bertemu dengan ayahmu.”

“Ya ibu aku akan menemui ayah di Pajang.” jawab Jangkung.

“Tetapi hati-hatilah berbicara dengan ayahmu. Apalagi tidak di rumah sendiri. Kasadha juga harus tidak mendengar pendapatmu itu. Jangan sampai terjadi salah paham,“ ibunya berhenti sejenak, namun kemudian katanya, “Tetapi bagaimana dengan kau sendiri? Bukankah kau tidak merasa menyesal jika kita berbicara tentang Riris dahulu daripada berbicara tentang kau?”

“O” sahut Jangkung, “tidak ada masalah dengan aku sendiri. Aku justru merasa perlu untuk ikut berbicara tentang Riris, karena seperti ayah, aku pun mengenal kedua anak muda itu dengan baik.”

Ibunya tidak dapat berbicara lebih lama lagi. Terdengar suara Riris memanggil ibunya berulang kali.

“Aku disini” jawab ibunya sambil melangkah turun dari serambi gandok dan memasuki longkangan. Namun sementara itu Riris justru keluar dari pintu pringgitan sambil memanggil ibunya pula.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 54

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s