SST-52

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-52KEDUA orang itu memang tidak dapat ingkar lagi. Dibanjar itu terdapat beberapa orang yang terluka, tetapi tidak terlalu parah. Diantara mereka adalah Ki Lurah Mertapraja.

Tetapi kedua orang itu tidak berani berkata berterus terang. Kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung kedua orang itu hanya mengatakan dari kejauhan, bahwa diantara mereka memang terdapat Ki Lurah Mertapraja.

“Tunjukkan kepada kami orang itu” berkata Sambi Wulung.

“Aku mohon, jangan katakan bahwa akulah yang telah menunjukkannya.”

“Kau memang dungu. Kau kira orang itu belum melihat kalian berdua disini bersama kami?” bentak Jati Wulung, “lihat para tawanan yang sedang berada dipendapa itu memperhatikan kita berempat. Setelah mereka akan dikembalikan kedalam bilik-bilik tertutup. Seandainya kami tidak mengatakan kepada mereka, namun mereka pun akan tahu juga bahwa tentu kalian berdualah yang telah menunjukkan kepada kami”

“Kedua orang itu termangu-mangu. Namun akhirnya mereka memang tidak dapat ingkar. Dengari cemas keduanya telah melangkah mendekati para tawanan yang sedang makan di pendapa setelah mereka mendapat pengobatan. Sedangkan yang tidak mengalami cidera apapun agaknya masih tetap berada di bilik-bilik tertutup meskipun mereka juga sedang makan sebagaimana yang berada di pendapa itu.

Namun kedua orang itu masih minta kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka nampak bertindak lebih keras kepada mereka berdua, sehingga kesan bahwa mereka terpaksa menunjukkan pemimpinnya itu dapat dilihat langsung oleh Ki Lurah Mertapraja.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang menjadi iba kepada kedua orang itu. Karena itu, maka Sambi Wulung telah mendorong salah seorang diantara keduanya sehingga benar-benar jatuh terjerembab. Wajahnya telah mencium tanah sehingga menjadi kotor oleh debu yang melekat.

“Tunjukkan kepadaku, yang manakah yang bernama Ki Lurah Mertapraja” bentak Sambi Wulung demikian orang itu bangkit. Sementara itu Jati Wulung pun telah menarik baju tawanan yang lain sambil membentak, “Katakan, atau kepalamu akan membentur tiang pendapa itu.”

Kedua orang, itu pun memandang salah seorang yang terluka yang duduk diantara beberapa orang yang lain.

Tetapi ketika orang itu memandangnya juga dengan sorot mata yang bagaikan api, maka kedua orang itu pun justru menundukkan kepalanya.

Tetapi Sambi Wulung pun berkata dengan lantang, “Cepat, tunjukkan kepadaku, siapakah yang bernama Ki Lurah Mertapraja.

Kedua orang itu masih saja ragu-ragu. Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung menekan mereka, maka keduanya menjadi semakin kebingungan.

Namun sebenarnyalah bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung telah dapat menduga arah tatapan mata kedua orang itu. Mereka pun melihat diantara orang-orang yang terluka itu seorang yang memiliki wibawa yang lain dari kawan-kawannya. Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun bahkan menjadi yakin, bahwa orang itulah Ki Lurah Mertapraja.

Meskipun demikian Sambi Wulung itu pun berkata, “Baik. Jika kalian berdua atau orang lain di tempat ini tidak ada yang mau menunjukkan, siapakah yang bernama Ki Lurah Mertapraja, maka aku akan memaksa kalian seorang demi seorang. Bukan hanya kalian berdua, tetapi semua orang.”

Kedua orang tawanan itu memang menjadi berdebar-debar. Jika mereka tidak mau menunjuk salah seorang diantara mereka, maka mereka tentu akan mengalami perlakuan yang kasar. Kedua orang yang membawa mereka tentu tidak akan hanya sekedar pura-pura. Tetapi keduanya tentu benar-benar akan menyakiti mereka, jauh lebih sakit dari orang-orang yang terluka itu.

Dalam pada itu, para pengawal yang menjaga para tawanan itu pun menjadi tegang pula. Mereka menunggu, siapakah diantara para tawanan itu yang bernama Ki Lurah Mertapraja yang sedang dicari itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang mulai menjadi kehilangan kesabaran. Meskipun mereka sudah dapat menduga, siapakah orang yang bernama Mertapraja itu, namun kekerasan hati kedua tawanan itu telah menyinggung harga diri mereka.

Karena itu, kepada dua orang pengawal di banjar itu ia berkata, “Ikat kedua orang ini pada pohon dihalaman itu. Mereka harus mengatakan, siapakah yang bernama Mertapraja itu.”

Kedua orang itu tidak dapat melawan ketika para pengawal itu mengikat mereka pada dua batang pohon di halaman. Dengan lantang Sambi Wulung berkata, “Nah, sebelum aku menemukan orang yang bernama Mertapraja, maka aku tidak akan berhenti berusaha dengan caraku.”

Orang-orang yang berada di banjar itu menjadi tegang. Bukan saja para tawanan, tetapi juga para pengawal. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Lebih-lebih lagi kedua orang yang dibawa oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu.

Dalam pada itu, maka Sambi Wulung itu pun berkata kepada salah seorang pengawal, “Tolong, carikan cambuk. Kalau tidak ada cambuk, ambil rotan dan kalau tidak ada rotan, potong sebatang carang bambu ori atau bambu ampel.”

Keringat mengalir membasahi tubuh kedua orang yang terikat itu. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung berdiri dihadapan mereka dengan wajah yang mulai menunjukkan ketidak-sabaran mereka. Sambil bertolak pinggang Sambi Wulung berteriak, “He, apakah kalian masih tidak mau mengatakan, siapakah yang bernama Mertapraja itu? Lurah Mertapraja?”

Kedua orang yang terikat itu benar-benar merasa tersiksa. Mereka tidak segera dapat memilih, langkah yang manakah yang akan mereka ambil. Seakan-akan semua jalan yang akan ditempuhnya akan dapat mencelakainya.

Dalam pada itu, seorang pengawal telah datang dengan membawa sepotong carang bambu. Bukan bambu ori atau ampel, tetapi bambu wulung.

“Hanya ada bambu wulung di belakang banjar” berkata pengawal itu.

“Bagus” jawab Sambi Wulung, “carang ini adalah pembunuh ular yang paling baik.”

“Nah, apakah kalian masih tidak mau mengatakannya?” bentak Jati Wulung.

Kedua orang yang terikat itu masih diam saja. Tiba-tiba saja Sambi Wulung melangkah mendekati para tawanan itu sambil berkata, “Nah, salah seorang dari kalian harus dapat memaksa kedua orang itu untuk berbicara.”

Para tawanan itu justru menjadi semakin tegang. Sejenak Sambi Wulung mengamati orang-orang yang tertawan itu. Baru kemudian ia menunjuk kepada seorang diantara mereka sambil berkata, “Nah, kau. Pergunakan carang pring wulung ini untuk memaksa kawanmu itu berbicara. Biarlah mereka menunjukkan siapakah orang yang bernama Lurah Mertapraja.”

Orang yang ditunjuk itu pun menjadi sangat terkejut. Bahkan kemudian menjadi gelisah sekali. Orang itulah yang diduga oleh Sambi Wulung bernama Ki Lurah Mertapraja.

“Cepat” bentak Sambi Wulung, “atau aku harus menyeretmu dan mengikatmu pada sebatang pohon yang lain? Apakah aku harus mencambukmu dan memaksamu menunjukkan siapakah Ki Lurah Mertapraja yang bersembunyi diantara anak buahnya? Aku berharap bahwa orang yang bernama Mertapraja itu bersikap jantan. Sebelum orang-orangnya menjadi debu dan ndeg pangamun-amun, sebaiknya ia menyatakan dirinya.”

Orang yang diduga Ki Lurah Mertapraja itu memandang dengan sorot mata yang menyala. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia memang berusaha untuk tetap bersembunyi diantara anak buahnya untuk tidak dapat dikenali. Ia menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab atas langkah yang diambilnya, membawa anak buahnya melibatkan diri menyerang Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Sambi Wulung pun membentaknya lagi, “Cepat kau tikus kecil. Paksa kawanmu mengatakan siapakah Ki Lurah Mertapraja, atau kau sendiri yang harus dipaksa untuk berbicara dengan cara yang lebih keras.

Orang itu pun kemudian telah bangkit dan melangkah mendekati Sambi Wulung. Meskipun orang itu terluka, tetapi lukanya memang tidak terlalu parah.

Sambi Wulung pun kemudian telah memberikan carang pring wulung kepada orang itu. Katanya, “Paksa orang itu menyebut seorang diantara kalian, siapakah yang bernama Ki Lurah Mertapraja. Seorang prajurit Madiun yang harus bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya yang keluar dari paugeran yang berlaku di Madiun. Jika kau tidak berhasil, maka kau akan mengalami nasib yang sama. Orang lain akan memukulmu sampai kau berbicara. Jika kau sampai mati tidak mau berbicara, biarlah orang lain itu akan menjadi sasaran pertanyaan. Jika kalian semua habis mati dipukuli carang pring wulung, maka justru kami akan terbebas dari kewajiban menyerahkan Ki Lurah Mertapraja.”

Kata-kata Sambi Wulung memang cukup berpengaruh. Orang yang disangka Ki Lurah Mertapraja itu memang menjadi semakin gelisah.

“Cepat, lakukan sebelum aku mengambil sikap yang lain.” geram Sambi Wulung.

Selangkah demi selangkah orang itu mendekati salah . seorang yang terikat.  Sementara Jati Wulung yang menungguinya membentaknya lagi, “Cepat. Katakan kepadanya agar ia mulai menunjuk atau kau cambuk orang itu.”

Orang itu melangkah semakin mendekati salah seorang diantara mereka yang terikat. Dengan nada berat ia berkata” Tunjukkan, dimana Ki Lurah Mertapraja.”

Orang yang terikat itu menjadi semakin bingung. Sementara itu Jati Wulung berkata, “Cambuk orang itu. Cambuk, cepat, sebelum kau sendiri yang akan terikat.”

Orang itu memang tidak dapat berbuat lain. Ia pun mulai menyentuh orang yang terikat itu dengan carang pring wulungnya. Tetapi tidak terlalu keras. Sekali lagi orang itu berkata, “Cepat, tunjukkan, dimana Ki Lurah Mertapraja itu. Ia berada diantara kalian.”

Orang yang terikat itu masih berdiam diri, sementara orang yang membawa pring wulung itu justru semakin mendekat sambil membentak, “Katakan sebelum aku sendiri mengalami perlakuan buruk seperti yang kau alami.”

Tetapi ketika orang itu menjadi semakin dekat dan bahkan menggenggam rambutnya, ia pun berbisik, “jika kau sebut juga, kau akan mati.”

Orang itu memang semakin ketakutan dan kebingungan. Namun dalam pada itu Jati Wulung berkata, “Kau sudah memegang cambuk, kau tidak perlu menarik rambutnya. Mundur.”

Orang itu memang melangkah mundur. Tetapi perintah-perintah dan bentakan-bentakan itu sangat menyakitkan hatinya.

Namun ia terpaksa sekali lagi mencambuk orang yang terikat itu. Justru semakin sakit. Tetapi masih belum melampaui daya tahannya, sehingga karena itu, maka ia masih menahan keluhannya.

Tetapi Jati Wulung nampak tidak sabar lagi. Katanya, “itukah caramu memaksa seseorang untuk berbicara? Atau aku harus menunjukkan cara yang lain?”

Orang itu memandang Jati Wulung dengan penuh kebencian. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain.

Orang yang memegang carang pring wulung itu sendiri memang bingung. Jika ia memukul semakin keras, melampaui daya tahan orang yang terikat itu, mungkin orang itu justru akan mengatakan siapakah Ki Lurah Mertapraja. Tetapi jika ia tidak melakukannya, maka ia sendirilah yang akan mengalaminya.

Memang timbul niatnya untuk membunuh saja orang yang terikat itu. Ia tentu akan mampu melakukan dalam waktu yang pendek. Ia dapat memukul leher orang itu dengan ujung-ujung jari tangannya yang terbuka merapat langsung membunuhnya. Tetapi jika demikian maka orang yang satu lagi, yang juga terikat, akan segera mengatakan, siapakah orang yang bernama Mertapraja itu.

 Selagi orang itu kebingungan, maka Jati Wulung telah membentaknya sambil menendang pantatnya, “Cepat.”

Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Orang itu tidak memukul orang yang terikat itu dengan carang pring wulungnya, Tetapi tiba-tiba saja ia berbalik menyerang Jati Wulung dengan carang itu kearah matanya sambil berteriak, “he, bangkit semua dari mimpi burukmu. Pengawal yang bertugas tidak cukup banyak untuk menahan kita.”

Sikap orang itu memang mengejutkan. Carang pring wulung itu memang hampir saja mengenai sasarannya. Jika carang pring wulung itu melukai mata Jati Wulung, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melawan orang yang disangkanya Ki Lurah Mertapraja.

Tetapi Jati Wulung bukan sekedar pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka ketika ia melihat gerak yang mencurigakan, ia pun dengan cepat telah bergeser selangkah. Ketika carang pring wulung itu terjulur ke matanya, maka Jati Wulung sempat mengelak dengan memiringkan kepalanya sambil merendah.

Namun perintah orang itu ternyata mampu menggerakkan orang-orang yang ditawan di banjar itu.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang sedang ditawan di banjar itu bangkit, Beberapa orang dengan sigapnya berlari kebilik kawan-kawan mereka ditawan. Mereka berniat untuk melepaskan kawan-kawan mereka dan bersama-sama melawan para pengawal yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak.

Meskipun orang-orang yang ada diluar bilik tertutup itu adalah mereka yang terluka, namun mereka masih juga mampu bergerak cepat. Dua orang dengan serta merta telah menyerang dua orang pengawal yang tidak siap menghadapi keadaan yang berkembang sangat cepat itu. Karena itu, maka kedua orang itu tidak sempat memberikan perlawanan. Bahkan senjata-senjata mereka dengan cepat pula telah jatuh ketangan para tawanan.

Untunglah bahwa pengawal yang lain sempat melindungi mereka, sehingga kedua orang itu tidak sempat tertikam senjata mereka sendiri.

Tetapi dalam waktu yang pendek, maka pengawal pun telah bergeser dari tempat mereka dan segera menempatkan diri di tempat-tempat yang rawan. Beberapa orang yang terkejut berusaha menahan mereka yang berusaha menahan mereka yang berusaha membuka pintu bilik tertutup.

Tetapi gerakan yang tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan. Beberapa orang tawanan yang berada dipendapa telah mendesak dua orang penjaga dipintu bilik tertutup itu. Sementara yang lain telah berusaha membuka selarak pintu bilik tertutup itu.

Ketika beberapa orang pengawal berlari-lari kepintu bilik tertutup maka mereka telah terlambat. Bilik itu telah terbuka. Beberapa orang telah menghambur keluar. Sementara seorang diantara mereka yang membuka selarak pintu itu berteriak, “Atas nama Ki Lurah Mertapraja yang telah memerintahkan kita semua untuk bangkit dan melawan.”

Banjar itu memang menjadi kisruh. Sementara itu, Jati Wulung yang berhasil menghindari serangan carang pring wulung kearah matanya, telah bertempur melawan Ki Lurah Mertapraja dengan kemarahan yang membakar jantung.

Disaat Jati Wulung dengan marah bertempur melawan Ki Lurah Mertapraja, maka Sambi Wulung justru meninggalkannya. Dengan lantang Sambi Wulung berteriak, “He, para prajurit Madiun yang tertawan. Jangan menjadi gila. Menyerahlah. Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta dari Madiun telah berada disini. Kami sedang membicarakan persoalan yang menyangkut kalian. Karena itu, jangan membuat persoalan menjadi keruh karena tingkah Ki Lurah Mertapraja. Ki Lurah Mertapraja agaknya menjadi putus asa karena ia bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukannya, menyeret kalian dalam tindakan yang tidak terpuji. Baik sebagai prajurit maupun sebagai kawula Panembahan Mas di Madiun. Karena itu, jangan membuat kesulitan kalian menjadi berlipat ganda.”

Namun dalam pada itu, Ki Lurah Mertapraja telah menyahut tidak kalah lantangnya, “jangan dengarkan kata-kata orang yang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Satu kesempatan bagi kita untuk membebaskan diri. Kita adalah prajurit-prajurit pilihan yang hanya mengenal kemenangan disetiap perjuangan. Hancurkan para pengawal dan kita akan segera kembali ke Madiun. Pengawal yang menjaga kita hari ini tidak terlalu banyak.”

Sambi Wulung masih berusaha untuk menenangkan keadaan. Katanya, “Masih ada kesempatan untuk menyerah.”

Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya. Karena itu, maka Sambi Wulung pun berteriak kepada para pengawal, “Lakukan tugas kalian dengan baik. Tetapi kalian bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung.”

Para pengawal itu pun segera meningkatkan tekanan mereka. Senjata para pengawal itu pun segera berputaran. Meskipun demikian para penjaga itu masih tetap mengekang diri agar tidak terlalu banyak terjadi korban.

Meskipun demikian, maka korban memang tidak dapat dihindari. Betapa lembutnya hati seseorang. Namun sikap para tawanan itu benar-benar menyakitkan hati para pengawal. Karena itu, maka ada satu dua diantara para tawanan itu telah memungut apa saja yang dapat mereka pergunakan sebagai senjata. Bahkan potongan kayu, bambu dan batu.

Dalam pada itu, maka Jati Wulung yang marah telah menyerang Ki Lurah Mertapraya dengan segenap kemampuannya. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka Jati Wulung mempunyai banyak kesempatan untuk menguasai keadaan. Meskipun demikian, Ki Lurah Mertapraja bukannya orang yang tidak berdaya sama sekali. Ia pun dengan garangnya telah melakukan perlawanan terhadap Jati Wulung.

Bahkan ternyata bahwa Ki Lurah Mertapraja memang seorang yang memiliki bekal yang memadai bagi seorang lurah prajurit Madiun.

Dalam pada itu, pertempuran pun telah berlangsung diseluruh halaman banjar. Bahkan dihalaman samping dan di longkangan. Para tawanan yang telah keluar dari dalam biliknya, berusaha muntuk menyusup kemana saja. Mereka berusaha untuk merunduk para pengawal dan menyerang dari belakang. Bahkan ada diantara mereka yang berlari memasuki ruang dalam banjar dan berusaha keluar dari butulan.

Suasana memang menjadi kisruh. Tetapi para pengawal sudah menempatkan dirinya dengan baik. Mereka memang lebih memahami lingkungan banjar padukuhan mereka daripada para tawanan.

Para tawanan yang masih berusaha mengekang diri itu semakin lama terasa semakin panas pula. Apalagi ketika ada diantara para pengawal itu yang mulai terluka.

Sementara itu, Ki Lurah Mertapraja masih saja bertempur melawan Jati Wulung. Selain Ki Lurah memang sudah terluka, sebenarnyalah bahwa sulit baginya untuk mengimbangi kemampuan Jati Wulung. Apalagi Jati Wulung yang sedang marah itu.

Karena itu, dalam waktu yang terhitung tidak terlalu lama Ki Lurah itu sudah menjadi semakin terdesak.

Tetapi agaknya Ki Lurah itu sama sekali tidak mau menyerah untuk kedua kalinya. Ia berusaha untuk bertempur sampai tarikan nafasnya yang terakhir.

Namun Jati Wulung sudah memperhitungkan dengan baik, bahwa Ki Lurah Mertapraja harus tertangkap hidup-hidup. Justru dengan kelebihan yang dimiliki oleh Jati Wulung, maka ia merasa yakin bahwa ia akan dapat menangkap Ki Lurah itu hidup-hidup.

Sambi Wulung yang bertempur diantara para pengawal dengan cepat telah melumpuhkan para tawanan. Tanpa senjata ditangan beberapa orang pun telah jatuh pingsan tersentuh serangan-serangan yang keras. Apalagi sebagian besar para tawanan itu pun juga tidak bersenjata.

Dengan demikian, maka perlawanan para tawanan yang seperti meledak itu, dalam waktu yang terhitung singkat telah dapat dikuasai. Seorang pengawal yang hampir saja membunyikan tanda dengan memukul kentongan telah sempat dicegah oleh Sambi Wulung.

“Seluruh Tanah Perdikan akan dapat menjadi gempar desis Sambi Wulung, “kita akan mengatasi persoalan di banjar ini.”

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian, perlawanan para tawanan itu sudah dapat dikuasai. Mereka telah digiring kembali memasuki bilik-bilik tertutup. Namun dengan demikian, korban benar-benar tidak dapat dihindari. Tiga orang pengawal terluka parah. Beberapa orang terluka ringan. Beberapa butir batu mengenai kepala para pengawal yang untung memakai ikat kepala. Tetapi dua orang pengawal pelipisnya berdarah terkena lemparan batu yang tajam.

Ki Lurah Mertapraja memang tidak dapat bertahan lebih lama. Meskipun ia sama sekali tidak ingin menyerah, tetapi serangan-serangan Jati Wulung tanpa mempergunakan senjata, telah membuat nafasnya menjadi sesak. Kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang-kunang. Meskipun ia berusaha untuk tetap sadar dan memberikan perlawanan, namun sentuhan tangan Jati

Wulung membuat tubuhnya menjadi sangat kesakitan. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak dan sendi-sendinya bagaikan terlepas.

Akhirnya, Ki Lurah benar-benar kehilangan kendali atas kesadarannya. Ketika ia kemudian menjadi pingsan, maka kedua tangannya pun segera diikat dibelakang tubuhnya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi termangu-mangu sejenak melihat akibat dari gejolak yang telah terjadi sesaat itu. Namun mereka pun kemudian melangkah mendekati kedua orang yang telah diikat pada batang pohon di halaman.

“Lihat Ki Sanak” berkata Sambi Wulung, “yang terjadi itu adalah akibat dari keragu-raguanmu. Mungkin karena kebodohanmu, tetapi juga mungkin karena kau pengecut. Jika kau berani menyebut siapakah Ki Lurah, Mertapraja, maka tidak akan jatuh korban seperti ini.”

Kedua orang itu hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu Sambi Wulung berkata selanjutnya, “Kau lihat, apa yang terjadi. Tiga orang pengawal terluka cukup parah. Beberapa yang lain terluka lebih ringan.” Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu, “Kau tahu berapa orang kawanmu yang terbunuh dalam gejolak yang tidak terlalu lama ini? Ampat orang. Ada pula yang terluka parah dan luka-luka yang ringan. Kau tahu bahwa dihari terakhir kami sedang berusaha menyembuhkan kawan-kawanmu yang luka. Pada hari ini, justru yang tidak terluka harus dilukai. Semua itu adalah tanggung jawabmu. Kesalahan itu dibebankan kepadamu.”

Kedua orang itu masih saja menunduk, sementara tubuhnya masih terikat pada batang pohon dihalaman banjar. Ketika beberapa orang pengawal mendekati, maka Sambi Wulung pun berkata, “Kita akan membawa Ki Lurah Mertapraja.”

Tetapi mereka masih harus menunggu Ki Lurah itu sadar dari pingsannya.

“Kenapa kalian tidak membunuh aku saja?” geram Ki Lurah demikian ia menjadi sadar.

“Kami memerlukan kau hidup-hidup. Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta ingin berbicara denganmu. Jika kemudian kau akan dibunuh oleh mereka, itu bukan persoalanku lagi.”

Ki Lurah yang baru sadar dari pingsannya itu menggeram. Tetapi tangannya sudah terikat dibelakang tubuhnya. Dua orang pengawal bersenjata telanjang menjaganya dengan penuh kewaspadaan.

“Satu tindakan bodoh” geram Jati Wulung, “karena tingkahmu maka beberapa orang anak buahmu mati terbunuh. Yang lain terluka dan yang tersisa akan mengalami perlakuan yang kasar dan keras dari para pengawal yang marah dan kecewa atas sikapmu dan sikap orang-orangmu.”

“Persetan dengan para pengecut itu“ sahut Ki Lurah.

“Kau tentu akan berkata seperti itu untuk menutupi kegagalanmu. Jika seorang pemimpin prajurit gagal di-peperangan, ia tidak akan dapat membebankan kesalahan atas kegagalan itu kepada anak buahnya.” berkata Jati Wulung kemudian.

“Kau bukan seorang prajurit. Kau tidak perlu mengajari aku. Aku seorang Lurah prajurit tentu lebih tahu tentang keprajuritan dari petani-petani dungu di Tanah Perdikan ini.”

Ternyata Jati Wulung tidak dapat menahan kemarahannya. Dengan telapak tangannya ia menampar wajah Ki Lurah Mertapraja dengan kerasnya, sehingga mulut Ki Lurah itu berdarah.

Ki Lurah itu mengumpat kasar. Katanya, “Kau dapat berbuat demikian karena kedua tanganku terikat.”

“Lepaskan ikatan itu” teriak Jati Wulung yang marah.

“Sudah cukup” Sambi Wulung lah yang menyahut, “Ki Lurah Mertapraja sedang membunuh diri. Biarlah hal itu dilakukan nanti dihadapan Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta.”

Jati Wulung menggeram. Tetapi ia memang membatalkan niatnya untuk melepaskan tali ikatan tangan Ki Lurah Mertapraja.

Demikianlah, sejenak kemudian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itu pun telah membawa Ki Lurah Mertapraja menuju ke padukuhan tempat Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Sameksa menunggu bersama Risang dan Kasadha.

Di perjalanan ikatan tangan Ki Lurah Mertapraja memang dilepaskan. Tetapi disebelahnya berjalan Jati Wulung dan Sambi Wulung. Sementara itu dibelakang mereka berjalan dua orang pengawal dari banjar tempat Ki Lurah Mertapraja ditawan.

Betapapun kerasnya hati Ki Lurah Mertapraja, namun ketika ia melangkah mendekati banjar padukuhan tempat Ki Tumenggung Puspalaga menunggu, terasa jantungnya bergetar semakin cepat. Keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Bukan karena perjalanannya. Tetapi ia benar-benar menjadi gelisah.

Tetapi Ki Lurah Mertapraja juga tidak dapat berusaha melarikan diri. Ia tahu benar bahwa kedua orang yang berjalan disebelah-menyebelahnya adalah orang berilmu tinggi. Apalagi Jati Wulung yang marah itu telah mengancamnya, “Jika kau berusaha untuk membunuh diri di perjalanan dengan cara apapun juga, maka kau akan diikat lagi. Bahkan kau akan digiring seperti menggiring seekor sapi jantan liar dan dungu.”

Ki Lurah Mertapraja tidak menjawab. Tetapi ia menyadari, bahwa orang yang marah-marah dan berilmu tinggi itu darahnya lebih panas dari seorang yang lain yang berjalan disebelah. Jika ia berbuat sesuatu, mungkin orang itu benar-benar akan menghinakannya dihadapan Ki Tumenggung Puspalaga.

Karena itu, maka Ki Lurah Mertapraja itu berjalan saja sebagaimana diperintahkan oleh Jati Wulung.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, Ki Lurah Mertapraja itu sudah duduk dipendapa banjar padukuhan menghadap Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta. Kepalanya menunduk dalam-dalam, sementara keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya. Ia tidak merasakan lagi luka-lukanya yang pedih. Bahkan wajahnya yang menjadi lembab oleh tangan Jati Wulung ketika mereka bertempur.

“Apa kabar Ki Lurah Mertapraja?” bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

Sapa yang kedengarannya cukup ramah itu ternyata membuat jantung Ki Lurah Mertapraja berdegup semakin deras.

Perlahan-lahan kepala Ki Lurah Mertapraja itu terangguk dalam. Katanya, “Kami telah terseret arus sampai ke Tanah Perdikan ini Ki Tumenggung.”

“Ya. Aku sudah mendengar laporan tentang kegiatanmu disini. Demikian kami mendapat laporan, maka kami segera mengambil langkah-langkah yang perlu. Tetapi kami terlambat. Kau sudah berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan. Ketika aku menyusul kemari, nah, inilah yang aku temui.” berkata Ki Tumenggung Puspalaga.

Wajah Ki Tumenggung Puspalaga menjadi merah. Sementara itu Ki Lurah Samekta berkata, “Kenapa hal ini kau lakukan adi?”

Ki Lurah Mertapraja memandang Ki Lurah Samekta dengan wajah yang tegang. Namun Ki Lurah Samekta itu pun berkata, “Sekarang aku mengemban tugas sebagai seorang prajurit Madiun, Kau tidak.”

Ki Lurah Mertapraja menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya.

Ki Tumenggung Puspalaga itu pun kemudian berkata kepada Risang dan Kasadha, “Kami mohon waktu untuk berbicara dengan orang ini ngger. Kami sama sekali tidak berniat membawanya ke Madiun. Karena mereka melakukan kesalahan disini, maka segala sesuatunya kami serahkan kepada angger.”

“Silahkan Ki Tumenggung” jawab Risang sambil mengangguk.

“Terima kasih ngger” berkata Ki Tumenggung kemudian. Lalu katanya kepada Ki Lurah Mertapraja, “Ki Lurah, aku minta kau bersedia menjawab pertanyaan” pertanyaanku dengan jujur. Kami ingin tahu apakah yang telah mendorongmu melakukan semua itu. Karena sebenarnyalah Kangjeng Panembahan tentu merasa malu sekali bahwa sekelompok prajuritnya telah ikut melibatkan diri kedalam laku kejahatan sebagaimana dilakukan oleh Padepokan Watu Kuning. Kami pun harus mendapat penjelasan agar para pemimpin di Tanah Perdikan ini tidak menjadi salah paham terhadap Madiun. Seakan-akan Madiun berdiri dibelakang tingkah-laku orang-orang Padepokan Watu Kuning. Sementara itu orang-orang Padepokan Waku Kuning dengan cerdik memanfaatkan perselisihan yang terjadi antara Madiun dan Mataram ter-masuk Pajang. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan akan dapat menyangka bahwa Madiun telah melakukan satu perbuatan yang licik untuk menguasai Sembojan yang subur sehingga akaa dapat menjadi sumber bahan makan bagi Madiun jika terjadi perang yang panjang.”

Ki Lurah Mertapraja tidak segera menjawab. Namun kepalanya justru menjadi semakin menunduk.

“Ki Lurah Mertapraja” suara Ki Tumenggung menjadi semakin keras, “aku ingin mendengar jawabmu. Atau aku harus memaksamu menjawab? Meskipun aku berada di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi aku tidak akan segan melakukannya jika kau memang menghendaki aku berbuat demikian.”

“Ampun Ki Tumenggung” jawab Ki Lurah Mertapraja, “kami telah menjadi silau oleh janji-janji Ki Gede Watu Kuning.”

“Aku ingin bertemu dan berbicara dengan Ki Gede Watu Kuning” berkata Ki Tumenggung kemudian, “tentu saja jika angger Risang mengijinkan.”

“Maaf Ki Tumenggung” sahut Risang, “Ki Gede Watu Kuning telah terbunuh di pertempuran yang terjadi antara pasukan Watu Kuning dan Tanah Perdikan Sembojan.”

“O” Ki Tumenggung mengangguk-angguk, “jadi Ki Gede sudah terbunuh?”

“Ya Ki Tumenggung, kami tidak mempunyai pilihan lain. Tidak seorang pun yang akan mampu menangkapnya hidup-hidup. Namun kami berhasil membunuhnya di peperangan.”

“Ki Gede memang seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi betapapun tingginya, namun akhirnya ada pula yang lebih tinggi” berkata Ki Tumenggung Puspalaga, “sebenarnyalah kami orang-orang Madiun memang agak segan kepadanya.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga terbersit kebanggaannya atas ibunya didalam hatinya. Jika Ki Gede Watu Kuning itu termasuk orang yang disegani di Madiun, maka ibunya tentu akan diperhitungkan pula karena ibunya telah mampu mengatasi kemampuan Ki Gede Watu Kuning.

Risang justru termangu-mangu sejenak ketika Ki Tumenggung Puspalaga itu bertanya, “Siapakah yang telah berhasil membunuh Ki Gede Watu Kuning?”

Risang memang merasa segan untuk mengatakan bahwa ibunyalah yang telah melakukannya. Meskipun memang demikian yang terjadi, tetapi orang lain akan dapat menduga bahwa ia telah berceritera dengan bangga dan sudah tentu merupakan salah satu kesombongan karena ibunya telah mengalahkan orang yang disegani di Madiun.

Karena Risang tidak segera menjawab, maka Kasadha lah yang menjawab, “Yang mengalahkan Ki Gede Watu Kuning adalah Nyi Wiradana, yang pernah menjadi pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Seorang perempuan?” bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

“Ya” jawab Kasadha, “ibu Risang yang sekarang menjadi Kepala Tanah Perdikan ini.

“O” Ki Tumenggung mengangguk-angguk, “bukan main. Meskipun seorang perempuan, namun ternyata bahwa ilmunya sangat tinggi.”

Diluar dugaan Risang menyahut, “Ada dua orang perempuan di Tanah Perdikan ini yang memiliki ilmu yang tinggi. Seorang adalah ibuku yang telah membunuh Ki Gede Watu Kuning karena ibu tidak mempunyai kesempatan untuk menangkapnya hidup-hidup, sedang seorang perempuan yang lain adalah adiknya, ibu Kasadha.”

“Bukan main” desis Ki Tumenggung Puspalaga, “tentu sangat mengagumkan. Di Madiun yang lebih besar dari Tanah Perdikan ini hanya ada seorang perempuan yang memiliki kemampuan seorang prajurit. Itu pun belum setataran dengan Ki Gede Watu Kuning.” berkata Ki Tumenggung Puspalaga.

“Apakah ia seorang Senapati?” bertanya Kasadha.

“Anak perempuan Kangjeng Adipati di Madiun.” jawab Ki Tumenggung Puspalaga.

Kasadha dan Risang pun mengangguk-angguk. Namun mereka tidak memberikan tanggapan apapun juga, karena perempuan itu adalah putera Kangjeng Panembahan Mas di Madiun.

Sementara itu Ki Tumenggung itu pun kemudian memandang Ki Lurah Mertapraja dengan tajamnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Nah Ki Lurah. Aku ingin mendengar, apakah yang telah dijanjikan oleh Ki Gede Watu Kuning sehingga Ki Lurah telah hanyut dan terseret ikut dalam permainan yang kotor ini?”

Ki Lurah Mertapraja termangu-mangu sejenak. Baru beberapa saat kemudian ia berkata, “Aku akan menjadi pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan ini jika Tanah Perdikan ini sudah dikuasai oleh Ki Gede Watu Kuning.”

“Lalu?” desak Ki Tumenggung Puspalaga.

“Dengan demikian aku akan mempunyai kekuasaan yang besar di Tanah Perdikan ini, Ki Tumenggung.” jawab Ki Lurah pula.

“Hanya itu? Hanya karena kau ingin menjadi pemimpin pasukan sebuah Tanah Perdikan kau telah berkhianat terhadap tugasmu?”

Ki Lurah Mertapraja termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ada janji lain Ki Tumenggung.”

“Apa?” desak Ki Tumenggung Puspalaga.

“Jika Tanah Perdikan ini kemudian menjadi besar.” jawab Ki Lurah.

“Maksudmu?”

“Tanah Perdikan ini akan menjadi landasan perjuangan Ki Gede Watu Kuning selanjutnya. Jangkauan yang lebih tinggi dari sebuah Tanah Perdikan.” berkata Ki Lurah.

“Jadi Watu Kuning kemudian akan menentang Madiun dan Pajang serta Mataram? Lalu kau akan menjadi Panglima pasukannya?”

Ki Lurah Mertapraja mengangguk kecil dengan penuh keraguan.

“Ki Lurah” berkata Ki Tumenggung, “kau memang dungu. Kau kira Ki Gede Watu Kuning mempercayaimu? Jika kau sudah berkhianat terhadap Madiun, maka kau adalah orang yang tidak berharga sama sekali. Jika Ki Gede kemudian berhasil menguasai Tanah Perdikan ini, maka kau tentu akan disingkirkannya. Lambat atau cepat. Jangankan untuk menjadi Panglima pasukannya. Untuk melihat hasil jerih-payahmu merebut Tanah Perdikan ini pun kau tidak akan sempat. Apalagi bagi langkah-langkah selanjutnya. Jika kau mendapat janji itu hanya karena kau memiliki satu pasukan yang akan dapat membantu langkah pertama Ki Gede. Tetapi kemudian kau dan orang-orang terpenting dalam pasukanmu akan disingkirkannya.”

Ki Lurah Mertapraja menjadi tegang. Keringat dingin semakin membasahi pakaiannya. Namun kemudian dengan nada berat ia berkata, “Aku sadari itu Ki Tumenggung. Tetapi jika aku bertindak lebih dahulu, maka bukan aku yang akan disingkirkannya.”

“Jadi kau sudah mempunyai rencana untuk menyingkirkan Ki Gede Watu Kuning dan mengambil alih pimpinan atas Tanah Perdikan ini?” bertanya Ki Tumenggung.

Ki Lurah Mertapraja mengangguk sambil menjawab lirih, “Ya Ki Tumenggung.”

Tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu tertawa berkepanjangan. Ia pun kemudian berpaling kepada Risang dan Kasadha. Katanya, “Ki Lurah memang seorang pemimpi.”

Risang dan Kasadha pun mengangguk-angguk kecil. Mereka tahu kenapa Ki Tumenggung mentertawakan jawaban Ki Lurah itu. Bahkan kemudian Ki Tumenggung itu pun berkata, “Ki Lurah Mertapraja. Apakah kau tidak pernah mendengar betapa tinggi ilmu Ki Gede Watu Kuning. Bukan hanya Ki Gede saja, tetapi ada beberapa orang lain yang berilmu tinggi. Apa yang dapat kau lakukan seandainya kau benar-benar akan melakukan rencanamu. Bukankah kau hanya akan membunuh diri saja jika kau akan melawan Ki Gede Watu Kuning?”

Wajah Ki Lurah menjadi semakin tegang. Di keningnya keringat mengembun semakin tebal sehingga kemudian mengalir sehingga ia harus mengusap dengan lengan bajunya.

“Ki Lurah” berkata Ki Tumenggung Puspalaga, “aku tahu bahwa ceriteramu adalah ceritera ngaya-wara. Bukan sekedar mimpi buruk. Tetapi kebohongan yang tidak sempurna sehingga anak-anak  pun akan mentertawakannya.”

Wajah Ki Lurah menjadi semakin tegang. Ada sesuatu yang agaknya ingin dikatakannya. Tetapi keragu-raguan yang sangat telah mencengkam jantungnya.

Namun agaknya Ki Lurah Samekta melihat gejolak perasaan Ki Lurah Mertapraja. Karena itu, maka katanya, “Adi Mertapraja. Apakah masih ada yang ingin adi katakan? Aku melihat sesuatu yang masih tertahan di kerongkongan adi.”

Ki Lurah Mertapraja memandang Ki Lurah Samekta dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Memang ada kakang.”

“Kenapa tidak kau katakan saja? Ki Tumenggung tentu lebih senang mendengar jawabanmu yang tuntas.”

Ki Lurah Mertapraja menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ampun Ki Tumenggung. Aku memang merasa tidak mampu menandingi Ki Gede Watu Kuning. Tetapi bukankah aku tidak berdiri sendiri.”

“Apa pula artinya prajurit-prajuritmu?” bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

“Bukan prajurit-prajuritku. Tetapi ada orang lain yang menurut penilaianku akan dapat mengimbangi kemampuan Ki Gede Watu Kuning.”

“Siapa?” Ki Tumenggung memandangnya dengan tajamnya.

Ki Lurah Mertapraja memang menjadi ragu-ragu. Namun Ki Tumenggung Puspalaga itu pun berkata, “Ki Lurah. Aku ingin mendengar semuanya. Kau tahu maksudku? Meskipun kau berada di Tanah Perdikan Sembojan, namun aku masih mempunyai wewenang atasmu.”

Ki Lurah Mertapraja mengangguk dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Ki Tumenggung.”

“Karena itu sebaiknya kau katakan saja. Apapun akibatnya. Mungkin akan dapat memperingan kesalahanmu. Tetapi dapat pula berakibat sebaliknya.”

“Segala sesuatunya tergantung kepada angger Risang” sambung Ki Lurah Samekta.

Ki Lurah Mertapraja itu beringsut setapak. Katanya, “Ki Tumenggung. Sebenarnyalah bahwa sekelompok orang berilmu tinggi, namun tidak mempunyai pengikut yang cukup telah berdiri dibelakangku. Aku tidak takut dikhianati oleh mereka, karena mereka adalah sanak kadangku sendiri. Terutama pamanku dan gurunya. Sementara keduanya tidak mempunyai anak isteri. Aku adalah pewaris yang paling berhak mewarisi semua milik mereka. Juga seandainya mereka berhasil menggeser kedudukan Ki Gede Watu Kuning.”

“Mereka bermimpi untuk merebut kepemimpinan Tanah Perdikan ini, kemudian Madiun, Pajang dan Mataram?” bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

Ki Lurah Mertapraja mengangguk kecil. Diwajahnya terbayang kegelisahan dan ketidak-pastian. Ki Lurah sendiri memang tidak tahu apakah ia sedang berbangga dengan pamannya dan guru pamannya atau ia sedang berputus asa karena kegagalannya.

Selagi jantung Ki Lurah sedang terguncang-guncang, maka Ki Tumenggung Puspalaga itu pun bertanya, “Siapakah pamanmu dan gurunya itu?”

Ki Lurah Mertapraja memandang Ki Tumenggung itu dengan tatapan mata yang kosong. Bahkan kemudian mulutnya asal saja bergerak. Katanya, “Keduanya adalah pertapa yang ada di kaki pegunungan Kendeng. Keduanya hampir tidak pernah keluar dari pertapaan mereka.”

“Kenapa tiba-tiba mereka ingin menguasai Tanah Perdikan ini, Madiun, Pajang dan bahkan Mataram?” bertanya Ki Lurah Samekta dengan dahi berkerut.

Ki Lurah Mertapraja beringsut lagi setapak. Kemudian katanya, “Keduanya telah menerima isyarat dari Penguasa Matahari dan Bulan. Bahkan saatnya sudah tiba bagi mereka. Dari langit telah turun sipat kandel yang akan dapat mendukung keduanya untuk merambah jalan menuju ke kedudukan tertinggi di Tanah ini.”

“Apakah bentuk isyarat itu?” bertanya Ki Lurah Samekta.

Ki Lurah Mertapraja tidak segera menjawab. Dipandanginya Ki Tumenggung Puspalaga yang juga memandanginya dengan tajamnya. Bahkan Ki Tumenggung itu kemudian berkata, “Kau belum menjawab pertanyaan Ki Lurah Samekta.”

Ki Lurah Mertapraja mengangguk-anggug kecil. Rasa-rasanya ia sudah kehilangan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan, ancaman-ancaman yang meskipun tidak dikatakan berterus terang, tekanan-tekanan betapa ramahnya kata-kata yang diucapkan, membuat Ki Lurah Mertapraja tidak mempunyai pegangan lagi.

Dengan gagap ia pun menjawab, “Paman dan gurunya telah mendapatkan sepasang pusaka yang akan dapat mendukung rencana mereka menguasai Tanah ini.”

“Apakah ujud dari sepasang pusaka itu” bertanya Ki Lurah Samekta.

“Sebilah pedang dan sebilah perisai. Pedang yang jarang ada duanya. Dan bahkan mungkin pedang itu adalah satu-satunya yang ada dimuka bumi. Suara dari langit mengatakan bahwa pedang itu bernama Kiai Wisa Raditya dan perisai yang bernama Nyai Lar Sasi. Keduanya terbuat dari bahan yang tidak ada di bumi. Pedang yang berwarna kehitam-hitaman itu mempunyai pamor yang bercahaya kemerah-merahan bagaikan gemerlapnya api di Matahari. Sementara itu perisai yang berwarna kekuning-kuningan itu bagaikan bulatnya bulan saat purnama.”

Ki Tumenggung itu pun tersenyum. Katanya, “Ki Lurah. Aku kira kau seorang prajurit yang mempunyai penalaran yang masak. Ternyata kau sudah terbius oleh ceritera khayal seperti tentang kucing candramawa yang menunggui bulan bersama seorang bidadari yang sangat cantik.”

“Aku tidak berkhayal Ki Tumenggung. Aku pernah melihat pedang serta perisai itu. Paman yakin, bahwa pada saatnya kedua pusaka itu akan membawa aku ke kedudukan tertinggi di Tanah ini.” berkata Ki Lurah Mertapraja.

“Lalu, apa yang terjadi?” bertanya Ki Tumenggung.

Ki Lurah Mertapraja memandang orang-orang diseki-tarnya. Dipandanginya Risang dan Kasadha berganti-ganti. Kemudian Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta.Agak ke belakang nampak dua orang yang telah membawanya dari padukuhan sebelah.

Wajah Ki Lurah menjadi sangat gelisah. Namun tiba-tiba ia tersenyum dan bahkan tertawa. Katanya, “Tunggu Ki Tumenggung. Pada saatnya Ki Tumenggung akan mengakui kuasaku. Tetapi jangan takut. Ki Tumenggung akan aku angkat menjadi narpacundaka setelah aku menerima kedudukan dari paman dan gurunya.”

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Dipandanginya wajah Ki Lurah Mertapraja dengan wajah yang tegang. Ki Lurah Samekta pun terkejut melihat sikap Ki Lurah Mertapraja yang berubah itu.

Sementara itu, Ki Lurah Mertapraja masih saja tertawa. Namun ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung yang duduk agak dibelakang wajahnya segera menjadi gelap. Dengan nada keras ia berkata, “Kecuali kedua ekor serigala itu. Keduanya harus mati.”

Masih belum ada yang menjawab. Ketika Ki Lurah Mertapraja memandang Risang dan Kasadha, ia pun berkata, “Kalian dapat memilih anak-anak muda. Jika kalian berpihak kepadaku, maka kalian akan mendapat kedudukan yang baik di Tanah Perdikan ini. Bahkan kemudian di Madiun, Pajang atau Mataram.”

Risang dan Kasadha pun menjadi termangu-mangu. Perubahan sikap Ki Lurah Mertapraja itu memang membuat keduanya menjadi berdebar-debar.

Untuk beberapa saat lamanya, maka mereka membiarkan Ki Lurah Mertapraja berbicara tanpa ujung dan pangkal. Tetapi pusaran persoalan yang dikatakannya adalah rencananya untuk menguasai Tanah Perdikan Sembojan, kemudian Madiun, Pajang dan Mataram.

Beberapa kali ia menyebut paman dan gurunya yang telah mendapat pusaka dari langit berujud pedang dan perisai. Senjata yang akan dapat menjadi landasan perjuangan mereka, karena suara dari langit mengatakan, siapa yang memiliki pedang Kiai Wisa Raditya dan perisai Nyai Lar Sasi akan dapat memegang kekuasaan tertinggi di Tanah Jawa.

Ki Tumenggung Puspalaga yang termangu-mangu itu pun kemudian bertanya, “Ki Lurah. Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan? Apakah kau sadari kata-katamu atau kau sedang terganggu?”

Ki Lurah Mertapraja itu pun tertawa. Katanya, “Aku sadar sepenuhnya Ki Tumenggung. Aku tahu pasti dengan siapa aku berbicara. Dengan Ki Tumenggung Puspalaga, Ki Lurah Samekta dan dua anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan. Disana duduk dua ekor serigala yang dengan kasar telah menyiksa prajurit-prajuritku dan aku sendiri untuk mendapatkan pengakuanku bahwa aku adalah Ki Lurah Mertapraja.”

Ki Lurah itu pun kemudian tertawa berkepanjangan.

“Ki Lurah” berkata Ki Tumenggung, “jika Ki Lurah berkata dengan penuh kesadaran, kenapa Ki Lurah bertingkah laku seperti itu?”

“Kenapa? Aku kenapa?” Ki Lurah justru bertanya, “aku berkata dengan sebenarnya. Sebagai calon penguasa di Tanah ini, maka aku telah memberikan janji kepada kalian dengan kesungguhan hati.”

Ki Tumenggung Puspalaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Dipandanginya mata Ki Lurah Mertapraja dengan tajamnya. Ia memang melihat dimata itu membayang kelainan pada kesadaran Ki Lurah. Biji mata yang hitam ditengah putih matanya itu seakan-akan bergerak dengan liar. Sekali-sekali memandangi Ki Tumenggung, namun kemudian berputar-putar dengan gelisah. Bibirnya nampak tersenyum-senyum tanpa arti sama sekali.

Ki Lurah Samekta justru bergeser mendekat. Dengan kerut dikeningnya ia berkata, “Ki Lurah. Apakah Ki Lurah ingin pulang?”

“Pulang? Pulang kemana?” mata Ki Lurah Mertapraja bagaikan menyala.

“Apakah adi tidak ingin bertemu dengan isteri dan anak-anak adi?” bertanya Ki Lurah Samekta pula.

Tiba-tiba suara tertawa Ki Lurah Mertapraja itu meledak. Katanya, “Buat apa aku kembali kepada isteriku? Perempuan yang banyak tingkah. He, apakah kau tidak tahu bahwa isteriku selalu berhubungan dengan Ki Tumenggung Resaniti? He, kau tentu tahu kalau Tumenggung Resaniti itu isterinya banyak. Selirnya banyak dan ia masih saja mengejar isteri orang? Tetapi aku relakan isteriku. Jika aku berkuasa kelak, Resaniti akan aku gantung di alun-alun bersama perempuan-perempuannya. Termasuk isteriku.”

“Lalu, bagaimana dengan anak-anakmu?” bertanya Ki Lurah Samekta.

“Kau kira anak-anak itu anak-anakku sendiri? Tidak. Mereka adalah anak-anak orang lain. He, kau kira aku dapat menaburkan benih di perut isteriku?” Ki Lurah itu tertawa berkepanjangan.

Ki Lurah Samekta menarik nafas dalam-dalam. Ia pun melihat kelainan pada sorot mata Ki Lurah itu. Perlahan-lahan ia berkata kepada Ki Tumenggung, “Ki Tumenggung. Menurut pendengaranku, Ki Lurah Mertapraja memang mempunyai seorang saudara laki-laki yang mempunyai penyakit syaraf. Jika penyakit itu penyakit keturunan, maka dalam keadaan yang tersudut seperti sekarang ini, kekecewaan dan kegagalan, hatinya benar-benar terguncang. Apalagi kepercayaannya yang sesat tentang pusaka-pusaka dari langit itu, akan mempercepat guncangan penalarannya.”

Tetapi tiba-tiba saja Ki Lurah Mertapraja itu menyahut, “Apa yang kau katakan itu?”

“Kau. Keadaanmu” jawab Ki Lurah Samekjta, “Ki Tumenggung sedang menilai, apakah kau pantas menjadi penguasa tertinggi dari Tanah ini.”

“Ki Tumenggung Puspalaga maksudmu? Ia tidak berhak menilai aku, karena akulah yang justru berhak menilainya.”

Ki Lurah Samekta tidak membantah. Ia memang tidak dapat berbantah dengan seseorang yang sedang terganggu kesadarannya. Bahkan Ki Tumenggung Puspalaga pun tidak membantah pula. Dibiarkannya Ki Lurah Mertapraja hanyut kedunia mimpinya yang ceria.

Kepada Risang dan Kasadha Ki Tumenggung itu berkata, “Ternyata Ki Lurah Mertapraja mempunyai persoalan dengan dirinya sendiri.”

“Ya, Ki Tumenggung” jawab Risang, “latar belakang kehidupannya memang suram. Nampaknya,ia memang seorang prajurit yang baik. Tetapi ia mempunyai cacat yang tersembunyi.”

“Ya” sahut Ki Lurah Samekta, “ada dua kutub kehidupan terdapat didalam dirinya. Sebagai seorang prajurit, ia adalah seorang laki-laki yang disegani. Dibarak-nya maupun dimedan pertempuran. Tetapi didalam keluarganya, ia adalah seorang laki-laki yang tidak lengkap. Seorang laki-laki yang tidak berdaya. Kenyataan itulah yang membuatnya tidak mampu mencari pegangan yang kuat bagi dirinya. Apalagi pada dasarnya ada darah yang keruh yang mengalir didalam tubuhnya.

“He, apa yang kalian bicarakan?” bertanya Ki Lurah Mertapraja. Pandangan matanya masih liar dan seolah-olah berputar-putar.

“Bukan apa-apa Ki Lurah” jawab Ki Lurah Samekta, “kami sedang membicarakan tentang kedudukan Ki Lurah kelak.”

“Kalian tidak usah ikut membicarakan kedudukanku. Sesuai dengan janji dari langit, maka aku akan berada dijenjang tertinggi di Tanah ini. Akulah yang akan mengatur kedudukan kalian.” berkata Ki Lurah itu.

“Ya, ya Ki Lurah” jawab Ki Lurah Samekta. Sementara itu Ki Tumenggung Puspalaga pun berkata kepada Risang, “Ngger, inilah kenyataan tentang Ki Lurah Mertapraja. Sejak semula kami memang tidak ingin membawanya ke Madiun. Segala sesuatunya kami serahkan kepada angger disini. Sayang, keadaan Ki Lurah Mertapraja agak lain dengan para prajurit yang lain. Tetapi mudah-mudahan dalam waktu dekat, keadaannya menjadi semakin baik.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Tumenggung. Ki Lurah Mertapraja akan mendapat tempat yang khusus. Mudah-mudahan ia segera menjadi tenang dan dapat berbicara dengan penuh kesadaran.”

Ki Tumenggung Puspalaga mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak dapat bertanya lebih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaannya tentu tidak akan mendapat jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah ngger. Kali ini kami akan mengakhiri pertanyaan-pertanyaan kami. Seandainya angger mengijinkan kami bermalam disini, kami akan dapat melihat perkembangan keadaan Ki Lurah Mertapraja. Mudah-mudahan malam nanti kami dapat berbicara lagi dengan orang itu.”

“Tentu tidak Ki Tumenggung. Kami tidak berkeberatan mempersilahkan Ki Tumenggung untuk bermalam dan mungkin nanti malam atau besok dapat berbicara lagi dengan Ki Lurah.” jawab Risang.

“Terima kasih ngger. Ketika akan datang ke Tanah Perdikan ini, aku merasa ragu, apakah kedatanganku akan dapat diterima. Bukan malahan dimusuhi karena ada prajurit Madiun yang terlibat dalam kerusuhan yang terjadi di Tanah Perdikan ini. Namun ternyata bahwa aku diterima dengan baik. Bahkan kami mendapat bantuan yang cukup besar bagi kelancaran tugas kami.” berkata Ki Tumenggung Puspalaga.

“Kami bersama-sama ingin mendapatkan kesimpulan yang benar tentang peristiwa yang baru saja terjadi Ki Tumenggung. Seandainya Ki Tumenggung tidak datang kemari, maka akan mungkin sekali kami mempunyai dugaan yang salah terhadap para prajurit Madiun yang terlibat. Seandainya mereka tidak mengaku sekalipun, sebenarnyalah bahwa kami akan dapat menaruh kecurigaan terhadap mereka dengan dugaan-dugaan dan barangkali kesimpulan yang salah tentang kehadiran mereka.”

“Beruntunglah bahwa Kepala Tanah Perdikan ini, meskipun masih muda, tetapi mempunyai wawasan yang luas.” desis Ki Tumenggung Puspalaga.

“Kami hanya sekedar melakukan kewajiban kami Ki Tumenggung” jawab Risang yang kemudian memper-silahkan Ki Tumenggung untuk kembali ke padukuhan induk.

“Ki Tumenggung akan bermalam di padukuhan induk.” berkata Risang kemudian.

Demikianlah, ketika Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta dipersilahkan pergi ke padukuhan induk, maka Ki Mertapraja telah di tempatkan di ruang yang khusus. Dikhawatirkan bahwa Ki Lurah akan dapat berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan orang lain. Bahkan mungkin prajurit-prajuritnya sendiri.

Namun Risang telah memerintahkan para pengawal untuk menjaga Ki Lurah dengan sebaik-baiknya. Apalagi Ki Lurah telah menyebut-nyebut paman beserta guru pamannya yang telah menerima senjata dari langit.

Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta pun telah memperingatkannya, bahwa ada kemungkinan kedua orang itu akan ikut campur dengan persoalan Ki Lurah Mertapraja itu.

Ketika kemudian mereka berada di padukuhan induk, serta setelah mereka mempersilahkan Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta beristirahat, maka Risang telah berbicara dengan ibunya, Kasadha dan ibu Kasadha, tentang keadaan salah seorang lurah prajurit

Madiun beserta prajurit-prajuritnya yang berada ditangan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata Ki Lurah Mertapraja telah terganggu kesadarannya” berkata Risang dengan menceriterakan tingkah lakunya. Namun juga igauannya tentang paman dan guru pamannya yang telah menerima pusaka-pusaka dari langit.

“Apakah orang itu menyebut nama pusaka-pusaka itu?” bertanya ibu Kasadha.

“Ya. Mereka menyebutnya sebilah pedang bernama Kiai Wisa Raditya dan perisai yang disebutnya Nyai Lar Sasi. Kedua pusaka itu merupakan landasan kekuatan gaib yang akan dapat menjadi tumpuan kekuasaan atas Tanah ini.” jawab Risang.

Ibu Kasadha itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia kemudian bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Jadi pergulatan untuk menguasai pusaka-pusaka itu masih belum selesai sampai saat ini.”

“Maksud ibu?” bertanya Kasadha.

“Sejak berpuluh tahun yang lalu, orang-orang dari golongan hitam yang ingin bukan saja sekedar berkuasa dalam bayangan kekuasaan yang sah, tetapi menyingkirkan kekuasaan yang sah itu, telah mencari pegangan. Ada yang menelusuri keturunannya yang kemudian dengan bangga menceriterakan bahwa ia adalah anak seorang jin yang paling berkuasa di Tanah ini. Ada yang menganggap dirinya titisan dewa yang berkuasa dilangit dan ada yang ingin bersandar pada tuah pusaka-pusaka seperti kedua pusaka yang disebut-sebut Ki Lurah Mertapraja. Jika Ki Lurah Mertapraja menyebut-nyebut pusaka yang bernama Kiai Wisa Raditya dan Nyai Lar Sasi, orang itu tentu mempunyai hubungan dengan perguruan yang dinamakan Perguruan Wukir Gading. Pantas jika Ki Lurah Mertapraja yang merasa dinaungi oleh pusaka-pusaka Kiai Wisa Raditya dan Nyai Lar Sasi dapat bekerja sama dengan Padepokan Watu Kuning.”

“Tetapi ternyata Ki Lurah Mertapraja beserta paman dan guru pamannya itu mempunyai rencana tersendiri. Mereka berniat menyingkirkan Ki Gede Watu Kuning jika usaha mereka bersama-sama sudah berhasil. Setidak-tidaknya menjadikan Tanah Perdikan ini landasan kekuatan mereka menuju ke Madiun, Pajang dan Mataram. Paman dan guru paman Ki Lurah Mertapraja itu merasa mampu menyingkirkan Ki Gede Watu Kuning.

“Itu adalah salah satu ciri perguruan Wukir Gading. Licik dan sama sekali tidak setia. Tidak semua gerombolan dari golongan hitam yang licik dan tidak setia. Ada diantara mereka yang mempunyai dasar kesetia-kawanan yang sangat tinggi. Tetapi sebaliknya ada pula ciri sebagaimana Perguruan Wukir Gading. Namun nampaknya Padepokan Watu Kuning tidak mengetahui sifat itu. Atau bahkan Padepoan Watu Kuning pun mempunyai rencana seperti itu pula.” jawab ibu Kasadha.

Mereka yang mendengarkan keterangan ibu Kasada itu mengangguk-angguk. Ibu Kasadha memang mempunyai pengalaman hidup dilingkungan orang-orang berilmu hitam sehingga ia dapat mengetahui ciri-ciri dari golongan itu.

Untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Namun kemudian ibu Kasadha itu pun berkata, “Jika demikian, berhati-hatilah. Orang-orang dari Perguruan Wukir Gading adalah orang-orang yang keras kepala. Ki Lurah Mertapraja tentu termasuk orang penting dalam urutan rencana paman dan guru pamannya itu. Mungkin memang ada usaha untuk mengambil Ki Lurah itu dari bilik tawanannya.”

“Tetapi bukankah Ki Lurah Mertapraja sudah tidak berarti lagi bagi Perguruan Wukir Gading? Ki Mertapraja dibutuhkan oleh paman dan guru pamannya karena Ki Lurah Mertapraja memiliki sepasukan prajurit yang dapat dimanfaatkan. Tanpa prajurit itu bukankah Ki Lurah sudah tidak berarti apa-apa lagi?” bertanya Kasadha.

“Tetapi jika benar seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah, bahwa ia adalah satu-satunya pewaris dari semua warisan paman dan guru pamannya, maka ia tentu sangat diperlukan sebagai penerus usaha-usaha yang pernah dirintisnya. Mungkin pamannya justru akan membentuk kekuatan dengan caranya sendiri. Ki Lurah yang sudah terbiasa memimpin sepasukan prajurit akan dapat dipergunakannya sebaik-baiknya.” jawab ibunya.

Kasadha mengangguk-angguk. Kepada Risang ia berkata, “Ternyata persoalan ini masih belum selesai.”

Tetapi agaknya dapat dibatasi, “justru ibu Risang lah yang menyahut, “kekuatan yang menjadi tumpuan Ki Lurah Mertapraja adalah kekuatan beberapa orang saja dari Perguruan Wukir Gading. Tidak seluas pasukan yang dihimpun oleh Padepokan Watu Kuning.”

Ibu Kasadya mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian. Tetapi kita harus tetap berhati-hati menghadapi mereka yang nampaknya lebih terbatas itu.”

Ibu Risang itu pun kemudian bertanya kepada anaknya, “Siapakah yang kau serahi tawanan yang satu itu?”

“Para pengawal. Tetapi paman Sambi Wulung dan Jati Wulung ada disana.” jawab Risang.

“Baiklah. Jika paman Sambi Wulung ada disana, maka setidak-tidaknya berdua akan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika terjadi sesuatu di tempat orang itu disimpan.” berkata ibunya kemudian.

Demikianlah, maka meskipun Tanah Perdikan itu sudah nampak tenang, tetapi justru orang-orang terpenting di Tanah Perdikan itu menjadi sangat berhati-hati. Meskipun kekuatan yang dicemaskan tidak segarang kekuatan yang datang bersama Ki Gede Watu Kuning, tetapi jika benar paman dan guru paman Ki Lurah Mertapraja itu berusaha untuk mengambilnya, maka Tanah Perdikan itu akan dapat terguncang lagi.

Ketika kemudian senja turun, maka Risang dan Kasadha telah berbincang pula dengan Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta. Mereka masih belum berniat untuk berbicara lagi dengan Ki Lurah Mertapraja. Mereka baru saja mendapat laporan, bahwa keadaan Ki Lurah masih saja tidak menentu. Bahkan baru saja Ki Lurah berteriak-teriak dari dalam bilik tahanannya. Seakan-akan ia sedang memberikan perintah-perintah kepada para prajuritnya. Ki Lurah Mertapraja itu sudah berusaha pula merusak pintu biliknya dan juga dindingnya. Tetapi karena dindingnya terbuat dari kayu, demikian pula pintunya, maka ia tidak berhasil.

“Apakah paman Sambi Wulung dan Jati Wulung masih ada disana?” bertanya Risang.

Ya. Keduanya masih berada disana” jawab pengawal yang memberikan laporan itu.

“Baiklah. Katakan kepada paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung. Sebaiknya keduanya tetap berada disana. Mereka justru harus berhati-hati sekali.” pesan Risang.

Ketika pengawal itu meninggalkan rumah Kepala Tanah Perdikan itu, maka untuk beberapa saat lamanya, Risang dan Kasadha masih berbincang dengan kedua orang tamunya dari Madiun. Sampai saatnya Nyi Wiradana mempersilahkan mereka untuk makan malam.

Namun setelah makan malam, maka mereka pun duduk lagi dipendapa untuk berbincang lagi tentang berbagai macam persoalan. Tentang Ki Lurah Mertapraja, tentang mendung yang bergantung diatas Madiun, Pajang dan Mataram. Penilaian Madiun atas kekuatan Pajang yang berada di tangan Pangeran Gagak Baning. Namun ternyata bahwa Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta menjadi sangat berhati-hati.

Keduanya menyadari bahwa mereka berada di Tanah Perdikan yang berkiblat kepada kekuasan Pajang dan tentu saja juga Mataram. Namun sampai sekian jauh, baik Ki Tumenggung Puspalaga maupun Ki Lurah Samekta tidak meyinggung perasaan Risang dan Kasadha. Keduanya berusaha berbicara pada pokok-pokok persoalan yang wajar dan masuk akal.

Namun setiap kali Ki Tumenggung berkata, “Maaf ngger. Mungkin aku berdiri pada satu pihak, karena aku adalah seorang prajurit Madiun.”

Risang dan Kasadha masih dapat tersenyum mendengar pengakuan itu. Sebagaimana Risang dan Kasadha sendiri kadang-kadang tidak dapat menyembunyikan sudut pandang mereka sebagai orang yang berkiblat kepada Pajang dan Mataram.

Namun kedua belah pihak berusaha untuk membatasi diri, berusaha untuk mengerti tempat berpijak masing-masing. Sehingga keduanya dapat mengerti dan menghormati perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka.

Ternyata mereka telah berbincang cukup lama. Karena itu, maka Risang pun kemudian telah mempersilahkan kedua orang tamunya untuk beristirahat. Kasadha pun kemudian telah masuk kedalam biliknya. Kawannya, seorang pemimpin kelompok dalam kesatuannya telah berbaring dipembaringan.

Risang ternyata masih saja gelisah. Sepeninggal Bibi, rumah itu memang terasa sepi. Bibi sering mondar-mandir dirumah itu untuk menyediakan makan dan kemudian menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang kotor. Sepeninggal Bibi, yang melakukan adalah orang lain yang tidak ada bedanya dengan orang-orang yang lain lagi.

Karena udara terasa panas didalam, maka Risang pun telah keluar lewat pintu butulan daii kemudian melalui seketheng turun ke halaman. Gandar lah yang kemudian mendekatinya sambil bertanya, “kau belum juga tidur?”

“Udara didalam panas sekali” jawab Risang sambil menggelengkan kepalanya.

“Sekarang kau akan kemana?” bertanya Gandar.

“Tidak kemana-mana. Aku hanya ingin menyejukkan badan sejenak.” jawab Risang.

Berdua mereka pun berjalan keregol dan bahkan kemudian keluar regol halaman dan berjalan-jalan dalam gelapnya malam. Digardu beberapa orang peronda nampak berjaga-jaga. Tiga orang pengawal mereka jumpai berjalan menyusuri lorong-lorong Padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Risang menarik nafas panjang. Ia bangga atas ke-siagaan para pengawal Tanah Perdikan.

Bersama Gandar maka keduanya berjalan semakin jauh melingkari jalan-jalan di Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan. Di setiap gardu mereka melihat para peronda bersiaga sepenuhnya menghadapi setiap kemungkinan.

Namun Risang dan Gandar tidak menjumpai persoalan yang penting di Padukuhan Induk Tanah Perdikan itu.

Adalah diluar dugaannya ketika seorang pemimpin pengawal yang bertugas diregol Padukuhan Induk, dengan tidak sadar bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting, sehingga Nyi Wiradana kedua-duanya berkuda meninggalkan Padukuhan Induk ini?”

Risang dan Gandar memang terkejut. Dengan serta-merta Risang bertanya, “Kapan?”

“Belum lama” jawab peronda itu.

Risang memandang Gandar sejenak. Hampir tidak terdengar ia bergumam, “Kemana?”

“Aku dengar, tawanan yang seorang itu sangat berbahaya” berkata Gandar.

“Mungkin ibu dan bibi itu pergi kesana.” desis Risang, “biarlah aku memberitahu Kasadha. Kami akan kesana. Aku titipkan padukuhan induk ini kepadamu. Berhati-hatilah.”

Sebenarnya Gandar juga ingin pergi. Tetapi Risang justru menitipkan Padukuhan Induk itu kepadanya, sehingga dengan demikian maka ia terikat untuk tetap berada di padukuhan induk itu.

Ternyata Risang yang tergesa-gesa kembali kerumah-nya itu telah membangunkan Kasadha. Dengan singkat ia memberitahu-kan laporan peronda tentang ibu mereka.

“Kau tunggu disini” berkata Kasadha kepada kawannya.

Demikianlah, sejenak kemudian maka keduanya pun telah berpacu menyusul ibu mereka. Mereka memang mengira bahwa keduanya pergi ke padukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja ditawan. Agaknya ibu Kasadha benar-benar merasa cemas dengan tawanan yang satu itu.

Jarak antara Risang dan Kasadha dengan kedua ibu mereka cukup panjang. Karena itu, mereka tidak sempat menyusulnya di perjalanan. Namun keduanya hampir pasti bahwa Nyi Wiradana kedua-duanya ada di padukuhan itu.

Sebenarnyalah Risang dan Kasadha menemukan kedua orang perempuan itu di banjar padukuhan.

“Kenapa ibu pergi tanpa memberitahukan kepada kami?” bertanya Risang.

“Aku kira kalian berdua sudah tidur karena letih. Kami tidak mau mengganggu kalian” jawab ibu Risang.

“Kami belum tidur” jawab Risang, “kami memang berjalan-jalan diluar halaman karena udara terasa panas sekali.”

Namun Kasadha sempat menggamit Risang karena sebenarnyalah bahwa ia sudah tertidur.

Tetapi Risang tidak menghiraukannya. Ia sama sekali tidak berpaling kepada Kasadha.

“Kami sebenarnya merasa gelisah justru karena Ki Lurah Mertapraja” berkata ibu Kasadha, “perguruan yang pernah berbicara tentang pedang Kiai Wisa Raditya dan perisai Nyai Lar Sasi adalah perguruan yang sangat keras. Perguruan itu bukan perguruan yang besar. Pemimpin perguruan itu tidak pernah menerima banyak murid sekaligus. Muridnya hanya ada dua atau tiga saja. Namun yang benar-benar memiliki sifat dan kemampuan gurunya. Mungkin paman Ki Lurah Mertapraja itu salah seorang murid dari perguruan itu. Karena itu aku mencemaskan paman Sambi Wulung dan paman Jati Wulung yang sudah menjadi semakin tua pula.”

Risang dan Kasadha hanya mengangguk-angguk saja. Bagi mereka Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah orang-orang berilmu tinggi, meskipun masih belum setingkat dengan ibu Risang. Namun mereka juga harus memperhitungkan lawan mereka pada saat itu.

Demikianlah mereka berempat untuk beberapa lama duduk dan berbilang diruang dalam banjar padukuhan. Namun mereka terkejut ketika terjadi keributan dihalaman banjar itu. Dengan serta-merta keempat orang itu pun telah keluar dari ruang dalam melintasi pendapa turun ke halaman.

Mereka melihat dua orang peronda terbaring di halaman. Beberapa kawan mereka mengerumuninya dengan gelisah. Sementara itu beberapa orang pengawal menjadi sibuk pula diluar pintu regol halaman banjar itu.

“Apa yang terjadi?” bertanya Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada di tempat itu pula. Kepada para pengawal Sambi Wulung berkata, “Bawa naik ke pendapa, Kita akan melihat kenapa kedua pengawal itu pingsan.”

Kedua orang pengawal itu pun kemudian telah diangkat dan dibaringkan diatas tikar pandan di pendapa. Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berusaha untuk membantu mempercepat kedua orang itu menjadi sadar. Beberapa titik air telah membasahi bibir mereka sehingga untuk beberapa saat kemudian, keduanya mulai bergerak dan membukakan mata.

Seorang diantara mereka berdua ternyata tidak menjadi separah kawannya. Perlahan-lahan anak muda itu berusaha untuk bangkit dan duduk. Sementara kawannya justru berdesah menahan sakit.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Sambi Wulung.

Anak muda yang tidak begitu parah itu mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atas dirinya. Dengan nada rendah ia berkata agak terbata-bata, “Kami bertugas mengamati keadaan di sekitar banjar. Ketika kami berdua berada di simpang tiga, tiba-tiba saja kami diserang oleh seseorang yang tidak kami ketahui darimana datangnya. Aku ternyata masih sempat berteriak ketika kawanku itu tersungkur jatuh. Kemudian aku pun tidak ingat apa-apa lagi.”

“Siapakah yang menolongmu?” bertanya Jati Wulung.

“Aku tidak tahu” jawab anak muda itu.

“Kamilah yang menolongnya” berkata pengawal yang lain, “kami memang mendengar teriakannya. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Tetapi nadanya telah memanggil kami untuk datang. Ketika kami berempat sampai kesimpang tiga, kami temui kedua orang telah terbaring pingsan.”

“Apakah kau sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melawan?” bertanya Sambi Wulung.

“Peristiwa itu terjadi begitu tiba-tiba. Aku melihat bayangan itu terbang menyambar kawanku. Sebelum aku sempat berbuat sesuatu, bayangan itu telah menyerang aku pula. Aku melihat ayunan tangannya. Aku memang mencoba untuk menangkis. Tetapi naluriku mengatakan bahwa aku tidak akan dapat melawannya sehingga aku berteriak memanggil para pengawal yang lain.” jawab anak muda itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk kecil. Mereka pun kemudian berpaling kepada Nyi Wira-dana dan berdesis, “Kita harus berhati-hati menghadapi keadaan seperti ini.”.

Nyi Wiradana itu pun berdesis, “Mereka benar-benar sudah mulai. Gelar perang yang kita pergunakan harus berubah.”

“Ya” ibu Kasadha mengangguk-angguk., “Sasaran mereka memang berbeda dengan sasaran orang-orang Watu Kuning. Cara mereka pun berbeda. Orang-orang Wukir Gading tidak mempedulikan Tanah Perdikan ini, setidak-tidaknya untuk sementara. Mereka hanya ingin membebaskan Ki Lurah Mertapraja.”

“Dengan demikian, maka pusat perhatian kita tertuju kepada Ki Lurah. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak memperhatikan soal-soal lain di Tanah Perdikan ini.” desisNyi Wiradana.

Namun tiba-tiba Nyi Wiradana itu bertanya, “Dimana Ki Lurah itu di tempatkan?”

“Digandok itu, Nyi” jawab salah seorang pengawal.

Kepada Sambi Wulung Nyi Wiradana itu berkata, “Lihat, apakah ia sedang tidur?”

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menyadari, bahwa seluruh perhatian seakan-akan ditujukan kepada kedua orang anak muda yang menemukan orang yang telah menyerang para pengawal itu diluar halaman banjar. Karena itu, maka ia pun segera pergi ke gandok. Dari depan ia masih melihat pintu dan dinding bilik yang dipergunakan untuk menahan Ki Lurah Mertapraja utuh. Tetapi Sambi Wulung ingin meyakinkan apakah bilik itu benar-benar tidak disentuh orang.

Meskipun Sambi Wulung tahu bahwa dibelakang gandok itu telah di tempatkan pula dua orang pengawal, tetapi keadaan yang tidak diharapkan mungkin saja terjadi sebagaimana dua orang pengawal yang pingsan itu.

Jati Wulung yang melihat Sambi Wulung justru menuju kebelakang gandok melingkari sudut depan, maka ia pun segera menyusul. Ia pun tiba-tiba saja mencemaskan para pengawal yang ada dibelakang gandok.

Demikian Sambi Wulung berada dibelakang gandok, maka ia pun terkejut. Ia melihat dua orang pengawal terbaring diam.

Dengan cepat Sambi Wulung berlari mendekati dua sosok tubuh yang terbaring diam itu. Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu. Selagi ia berjongkok memperhatikan tubuh itu, maka ia mendengar derak dinding terbuka.

Sesosok bayang bagaikan terbang menyambarnya. Demikian cepatnya. Tangannya terayun kearah tengkuk Sambi Wulung.

Tetapi Sambi Wulung bukannya sekedar pengawal Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana yang terbaring diam itu. Karena itu, maka demikian tubuh itu menyambar, maka Sambi Wulung justru menjatuhkan dirinya. Demikian bayangan itu melayang disisinya, kakinya telah bergerak dengan cepatnya.

Bayangan itu memang tidak mengira bahwa ia akan mendapat perlawanan. Karena itu, kaki Sambi Wulung telah terantuk kakinya, sehingga bayangan itu pun telah jatuh pula berguling melingkar dua kali. Namun dengan cepat orang itu meloncat bangkit kembali.

“Setan kau” orang itu mengumpat. Namun ia lelah siap menyerang Sambi Wulung yang telah bangkit pula.

Namun hampir saja Sambi Wulung lengah. Ketika dari sudut depan gandok itu muncul Jati Wulung, maka Jati Wulung itu pun segera berteriak, “Hati-hati, dibelakangmu.”

Sambi Wulung dengan cepat berbalik. Ia tidak menghiraukan orang yang telah menyerangnya lebih dahulu, karena kehadiran Jati Wulung, Sambi Wulung mempercayakan orang itu kepada Jati Wulung.

Ternyata Jati Wulung cukup tanggap. Dengan cepat ia telah menyerang orang yang gagal melumpuhkan Sambi Wulung.

Orang itu menggeram. Ia menjadi marah sekali bahwa serangannya telah gagal. Bahkan ada orang lain yang telah berani menyerangnya.

Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi serangan Jati Wulung. Ia ingin meghancurkan orang yang telah berani menyerangnya itu dalam sekejap.

Karena itu, demikian ia berhasil menghindari serangan Jati Wulung, maka dengan serta-merta orang itu telah membalas menyerangnya. Dengan satu putaran, maka kakinya telah terayun mendatar mengarah kekening Jati Wulung.

Tetapi sekali lagi orang itu terkejut. Serangannya yang keras dan tiba-tiba itu, sama sekali tidak menyentuh sasarannya. Orang yang datang itu pun berhasil menghindar sebagaimana orang yang datang lebih dahulu.

Demikianlah, maka pertempuran pun telah terjadi dibelakang gandok itu. Kedua orang yang tidak dikenal itu menjadi semakin marah. Dua orang Tanah Perdikan ini agak berbeda dengan para pengawal yang lain. Keduanya mampu bertahan untuk beberapa lama. Bahkan menghindari serangan-serangannya yang datang beruntun.

Namun baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung terkejut ketika ia mendengar orang yang bertempur melawan Sambi Wulung itu berteriak, “Bawa orang itu pergi. Aku akan menyelesaikain orang ini.

“Kenapa begitu lama?” terdengar orang dari dalam bilik itu bertanya.

“ Ia memiliki kemampuan iblis” jawab orang itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat kemudian dinding yang telah koyak itu tersibak. Sementara itu, maka keduanya sedang bertempur dengan orang yang agaknya berilmu tinggi, sehingga baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung tidak dapat meninggalkan lawan-lawannya itu.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun tiba-tiba telah berteriak, “Jangan bawa orang itu pergi. He, tunggu.”

Jati Wulung pun berteriak pula sebagaimana Sambi Wulung. Bukan sekedar mencegah agar Ki Lurah Mertapraja tidak dibawa pergi. Tetapi ia juga berharap agar orang-orang yang ada di pendapa banjar mendengar suaranya.

“Pengecut, jangan lari.”

Suara Sambi Wulung dan Jati Wulung memang didengar oleh orang-orang yang ada dipendapa. Dengan serta merta para pengawal yang ada di pendapa segera berlari-lari menuju kebelakang gandok.

Ternyata hal itu diketahui juga oleh dua orang yang keluar dari bilik Ki Lurah Mertapraja lewat dinding yang koyak itu. Dengan geram seorang diantaranya berkata, “Kau panggil kawan-kawanmu. Jika demikian apaboleh buat, aku terpaksa membunuh mereka.”

Sambi Wulung memang menjadi cemas. Dengan cepat ia berteriak ketika ia mendengar derap langkah para pengawal berlari, “Hati-hati. Jangan tergesa-gesa.”

Tetapi Sambi Wulung terlambat. Demikian dua orang muncul dari sudut gandok bagian depan, maka salah seorang yang keluar dari bilik lewat dinding yang koyak itu telah menyongsongnya. Dalam sekejap, dua orang pengawal terpelanting jatuh. Seorang masih sempat menyerang. Tetapi seorang yang lain sama sekali tidak sempat mengaduh .

Sementara itu, seorang yang lain telah membimbing Ki Lurah Mertapraja melintasi halaman menuju ke kebun yang gelap.

Tetapi bayangan yang lain, yang juga keluar dari dinding yang koyak itu telah memburunya kedalam gelap. Jarak mereka memang belum terlalu jauh, sehingga karena itu, maka orang yang melarikan Ki Lurah Mertapraja itu harus berhenti, melepaskan Ki Lurah dan siap menghadapi orang yang memburunya itu.

Suasana pun menjadi kacau. Dua orang lagi pengawal yang datang telah terlempar jatuh pula.

Namun yang kemudian datang, ternyata agak lain dari para pengawal yang telah terbaring diam. Ampat orang pengawal telah jatuh. Namun ketika bayangan yang lain muncul, maka ketika orang yang menunggu disudut belakang gandok itu menyerang, dengan tangkas bayangan itu menghindar. Demikian pula serangan-serangan beruntun yang datang selalu berhasil dihindarinya.

“Iblis kau” geram orang itu.

Orang itu terkejut ketika terdengar jawaban, suara seorang perempuan, “Jangan licik begitu Ki Sanak.”

“Siapa yang licik? aku berhak mempergunakan caraku untuk mengambil anakku.” jawab orang itu.

Namun tiba-tiba ia bertanya, “He, kau seorang perempuan?”

“Kenapa?” bertanya perempuan itu.

“Kaukah ibu Kepala Tanah Perdikan ini?”

“Bukan. Aku bibinya” jawab perempuan itu.

“Persetan kau. Kaulah yang akan mati kemudian setelah para pengawal itu.” geram orang itu.

Tetapi perempuan itu, ibu Kasadha, sama sekali tidak menjadi gentar. Ia pun bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia masih sempat bertanya, “Apa hubunganmu dengan Ki Lurah Mertapraja sehingga kau mempertaruhkan nyawamu untuk melepaskannya?”

“Apa pedulimu” sahut orang itu.

“Aku hanya ingin tahu, karena jika tidak ada sangkut pautnya sama sekali, tidak mungkin kalian melakukannya. Apalagi dengan satu kemungkinan bahwa kau tidak akan keluar lagi dari padukuhan ini.” desis ibu Kasadha.

“Apa pedulimu. Jika kau mau membunuh dirimu, lakukanlah. Aku akan membantumu tanpa harus kau ketahui siapa aku.”

“Baiklah. Kau akan mati tanpa nama” desis Warsi.

Orang itu tidak menghiraukannya lagi. Dengan serta merta ia pun meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi ibu Kasadha itu telah bersiap sepenuhnya. Ketika tangan orang itu menyambarnya, maka dengan cepatnya ia meloncat menghindar. Namun ketika getar udara yang timbul karena ayunan tangan orang itu menerpa wajahnya, maka ibu Kasadha itu pun segera menyadari, bahwa orang itu memiliki ilmu yang tinggi.

Sementara itu, Risang dan Kasadha telah berada dibelakang gandok itu pula. Seorang pengawal yang melihat seseorang berlari ke kegelapan bersama Ki Lurah Mertapraja telah memburunya pula sambil berkata, “Ki Lurah telah melarikan diri.”

Risang dan Kasadha pun segera berlari pula mengikuti pengawal itu kedalam gelap.

Mereka tertegun ketika mereka melihat dua orang yang telah bertempur didalam gelap. Sementara itu terdengar suara seorang perempuan, “Cari Ki Lurah Mertapraja yang melarikan diri.”

Risang segera mengenali suara itu. Suara itu adalah suara ibunya. Ketika terdengar keributan, maka ibunya itu telah langsung membuka bilik Ki Lurah dari pintu depan dan berlari masuk. Namun agaknya Ki Lurah telah melarikan diri lewat dinding yang koyak, sehingga ibunya pun telah menyusul pula lewat dinding yang terbuka itu.

Ketika Risang dan Kasadha berlari memburu Ki Lurah Mertapraja bersama pengawal itu, maka terdengar suara tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ki Lurah bukan orang kebanyakan. Mereka tidak akan terlalu mudah menangkapnya.”

“Mereka yang mengejarnya juga bukan orang kebanyakan. Apalagi sekitar banjar ini, para pengawal sudah siap berjaga-jaga.” jawab Nyi Wiradana.

Tetapi orang itu masih tertawa. Katanya, “Semakin banyak orang yang mengejarnya, korban akan menjadi semakin banyak berhamburan di jalan-jalan padukuhan ini. Tetapi itu adalah tanggung jawab kalian sendiri. Kalian yang membuat persoalan, jadi kalianlah yang akan menanggung akibatnya.

Tetapi Nyi Wiradana pun tersenyum sambil berkata, “Betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi ia mempunyai keterbatasan. Sementara itu jumlah para pengawal tidak terhitung lagi. Jika mereka yang ada di padukuhan ini tidak cukup banyak, maka kami dapat membunyikan isyarat memanggil para pengawal dari padukuhan yang lain, sehingga betapapun tinggi ilmu kalian, maka kalian akan kehabisan tenaga. Akhirnya kami akan dapat menangkap  kalian hidup atau mati.”

“Satu mimpi buruk bagimu” sahut orang itu.

Nyi Wiradana tidak sempat menjawab lagi. Dengan cepatnya orang itu menyambar dengan tangannya yang garang. Jari-jarinya terbuka seperti jari-jari seekor burung elang yang lapar.

Tetapi Nyi Wiradana dengan cepat mengelak pula. Namun lawannya tidak melepaskannya. Dengan garangnya ia memburu. Tangannya masih saja terbuka dengan jari-jari yang mengembang siap untuk mencengkeram kulit dagingnya yang seakan-akan hendak dikoyakkan.

Tetapi Nyi Wiradana cukup tangkas. Serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan Nyi Wiradana itu pun dengan cepat pula membalas menyerang.

Dalam pada itu, Risang dan Kasadha telah sampai kedinding halaman di kegelapan. Mereka memang menjadi agak kebingungan. Mereka tidak segera menemukan Ki Mertapraja.

“Orang itu tentu meloncat keluar” desis Risang.

“Ya” sahut Kasadha, “kita lihat saja diluar dinding halaman ini.”

Keduanya pun kemudian telah meloncati dinding. Mereka memang melihat pertempuran yang terjadi beberapa puluh langkah dari dinding halaman itu. Risang dan Kasadha pun segera menduga, bahwa para pengawal itu sedang berusaha menangkap Ki Lurah Mertapraja.

Karena itu, maka mereka berdua pun segera meloncat turun keluar halaman dan berlari-lari kearah keributan yang diterangi oleh oncor diregol halaman seseorang meskipun hanya lamat-lamat.

Tetapi Risang dan Kasadha terkejut ketika ia melihat para pengawal sedang bertempur melawan dua orang yang berilmu tinggi. Seorang diantara mereka adalah Ki Lurah Mertapraja, sedangkan yang seorang lagi nampaknya ilmunya lebih tinggi dari Ki Lurah, sehingga para pengawal mengalami kesulitan. Dua orang pengawal telah terbaring di pinggir jalan ditunggui oleh masing-masing seorang kawannya yang membantunya memperingan penderitaannya.

“Tangkap Ki Lurah” berkata Risang kepada Kasadha, “aku akan mencoba melawan yang seorang lagi.”

“Kita jangan kehilangan orang itu. Karena itu, biarlah kita berdua bertempur melawannya dan berusaha menangkapnya. Biarlah para pengawal berusaha menangkap Ki Lurah. Kecuali jika para pengawal tidak berhasil, aku akan berusaha menangkapnya bersama para pengawal.” jawab Kasadha.

Ternyata Risang sependapat. Katanya, “Baiklah. Marilah.”

Ketika keduanya kemudian memasuki arena, maka seorang lagi dari antara para pengawal yang terlempar dari arena dan jatuh terbanting ditanah.

“Bawa anak itu menepi” perintah Risang.

Para pengawal itu menjadi berbesar hati ketika mereka melihat Risang dan Kasadha ada diantara mereka.

Demikianlah, maka Risang dan Kasadha pun segera mempersiapkan diri menghadapi orang yang telah berusaha melindungi Ki Lurah itu. Sementara Risang memberikan isyarat agar para pengawal berusaha menangkap Ki Lurah Mertapraja.

Meskipun kesadaran Ki Lurah itu terganggu, tetapi ternyata ia masih mampu bertempur dengan garangnya. Kakinya berloncatan dengan cepatnya. Tangannya terayun-ayun mengerikan. Sambil berteriak-teriak ia bertempur dengan segenap kekuatan dan kemampuannya. Justru karena kesadarannya tidak utuh itu, maka Ki Lurah menjadi seakan-akan semakin berbahaya. Segala gerak dan sikapnya benar-benar berada diluar kendali.

Beberapa orang pengawal yang mengepungnya memang menjadi sangat berhati-hati. Sementara itu Risang masih sempat memperingatkan, “Tangkap ia hidup-hidup.”

Justru karena itulah, maka para pengawal itu bertempur semakin berhati-hati. Mereka harus menangkap Ki Lurah itu tanpa menyakitinya, sementara Ki Lurah sendiri sama sekali tidak mengendalikan diri. Demikian pula senjata yang diberikan kepadanya oleh orang-orang yang berusaha membebaskannya.

Sementara itu Risang dan Kasadha telah bertempur melawan orang yang berusaha melindungi Ki Lurah Mertapraja itu. Dengan kasarnya orang itu mengumpat ketika ia menyadari, bahwa dua orang anak muda itu memiliki kelebihan dari para pengawal yang lain.

“Ternyata kalian mempunyai kemampuan lebih baik dari kawan-kawanmu. Apakah kau pemimpin pengawal di Tanah Perdikan ini?” bertanya orang itu.

“Ya” jawab Risang, “karena itu menyerahlah.

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau tidak mengenal aku dan kawan-kawanku yang datang untuk mengambil Ki Lurah Mertapraja.”

“Ya. Kami memang belum mengenal kalian. Karena itu, katakan, siapakah kalian yang berusaha membebaskan Ki Lurah dan apa hubungan kalian dengan Padepokan Watu Kuning.”

“Kami bukan orang-orang Watu Kuning. Kami tidak mempunyai hubungan apapun dengan Watu Kuning. Tetapi kami mempunyai hubungan dengan Ki Lurah Mertapraja.” jawab orang itu.

Risang yang pernah mendengar ceritera Warsi tentang Perguruan Wukir Gading, tiba-tiba saja bertanya, “Apakah kalian termasuk orang-orang dari Perguruan Wukir Gading?”

Orang itu terkejut. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Darimana kau tahu tentang Wukir Gading? Tetapi Wukir Gading yang mana yang kalian maksud?”

“Setahuku hanya ada satu Wukir Gading” jawab Risang.

“Ada tiga Perguruan Wukir Gading” jawab orang itu.

“Aku tidak peduli” jawab Risang, “dari Wukir Gading yang manapun, menyerahlah.”

Tetapi orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Ternyata kau tidak tahu apa-apa. Nah, sekarang perintahkan pengawal-pengawal Tanah Perdikan itu untuk menghentikan usahanya menangkap Ki Lurah Mertapraja. Jika tidak, maka kalian semua akan mati malam ini.”

Tetapi Risang justru berteriak, “Cepat, tangkap Ki Lurah yang terganggu kesadarannya itu. Ia akan dapat menjadi orang yang sangat berbahaya.”

“Setan kau” geram orang itu. Katanya kemudian, “Kalian memang harus segera mati.”

Tetapi justru Risang lah yang menyerang lebih dahulu, disusul dengan serangan Kasadha yang keras. Tetapi dengan tangkasnya orang itu menghindar dengan loncatan kesamping. Namun demikian kakinya menyentuh tanah, maka ia pun segera melenting menyerang kembali.

Demikianlah, maka mereka pun segera bertempur dengan sengitnya. Risang dan Kasadha bersama-sama melawan orang yang berilmu tinggi itu. Sedangkan para pengawal juga telah bertempur dengan sengitnya melawan Ki Lurah Mertapraja yang benar-benar telah kehilangan penalarannya.

Sementara itu, di halaman banjar, di belakang gandok, telah terjadi pula pertempuran yang sengit. Justru orang-orang berilmu tinggi sedang mempertaruhkan kemampuan mereka.

Selain mereka ternyata masih ada lagi seorang yang bertempur dihalaman banjar. Orang itu tanpa diketahui darimana datangnya telah memotong tali kentongan. Dan bahkan dengan kapaknya ia mencoba untuk memecahkan kentongan yang memang tidak begitu besar dan terbuat dari kayu yang lunak.

Beberapa orang pengawal yang masih berjaga-jaga di halaman banjar itu terkejut. Dengan serta-merta mereka pun telah mengepung orang itu. Bahkan ada diantara para pengawal yang telah memanggil kawan-kawannya yang ada diluar halaman. Sementara kawannya yang lain telah berada dibelakang gandok melihat dengan kebingungan pertempuran yang hampir tidak mereka mengerti apa yang terjadi antara orang-orang yang berilmu tinggi.

Orang yang berada dihalaman dan memutus tali kentongan itu tertawa. Katanya, “Kalian tidak dapat memberi isyarat lagi.”

“Kau kira kenthongan hanya ada satu di padukuhan ini.” jawab seorang pengawal.

“Di setiap gardu kita mempunyai kentongan” berkata pengawal yang lain.

“Kentongan-kentongan kecil itu suaranya tidak akan menggapai padukuhan sebelah” berkata orang itu masih sambil tertawa, sementara itu kapaknya terayun-ayun mengerikan.

Beberapa orang pengawal yang mengepung orang itu memang menjadi termangu-mangu. Orang itu agaknya memiliki ilmu yang tinggi. Ia sama sekali tidak gentar melihat beberapa orang pengawal yang mengepungnya.

Tetapi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sudah berpengalaman itu pun tidak akan melepaskan mereka. Seorang pengawal tertua diantara mereka telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk maju mendekat.

“Menyerahlah” berkala pengawal itu.

“Untuk apa aku menyerah? Jika hanya untuk menyerah saja, aku tidak akan datang memutuskan tali kentongan dan memecahnya. Bukankah lebih baik bagiku untuk melarikan diri saja? Nah, sekarang aku ada disini. Marilah, semakin banyak para pengawal yang mengepungku, maka korban pun akan semakin banyak berjatuhan.” berkata orang itu masih sambil tertawa.

Orang yang tertua diantara para pengawal itu pun kemudian justru memberikan aba-aba kepada kawan-kawannya untuk menyerang.

Sejenak kemudian maka dihalaman itu pun telah terjadi pertempuran. Ternyata orang berkapak itu memang orang berilmu tinggi. Ketika para pengawal yang mengepungnya itu menyerang bersama-sama dari beberapa arah, maka ia pun telah menerobos kepungan itu dengan memutar kapaknya.

Ternyata para pengawal memang tidak mampu menahannya. Seorang pengawal yang mencoba untuk menahan ayunan kapak itu, pedangnya justru telah terpental. Sementara sebuah tombak pendek yang terjulur kearah dada orang itu tidak mengenai sasarannya. Bahkan dengan satu ayunan kapak yang sangat keras, landeyan tombak itu telah menjadi patah.

Demikian orang itu terlepas dari kepungan, maka suara tertawanya telah meledak lagi memenuhi halaman banjar. Sementara para pengawal telah memburunya dan berusaha untuk mengepungnya lagi.

Ketika kemudian terjadi lagi benturan, maka orang itu  dengan tangkasnya  berhasil  menyibak  satu  sisi kepungan. Sekali lagi orang itu lolos dan seorang pengawal lelah terdorong beberapa langkah surut. Dadanya nampak berdarah karena seleret luka menyilang di dadanya itu.

Orang itu tertawa lagi. Katanya, “Marilah. Satu demi satu kalian akan jatuh menjadi korban.”

Meskipun jantung para pengawal memang agak tergetar, tetapi para pengawal itu tidak ingkar akan kewajiban mereka. Dengan dada tengadah mereka telah bergerak maju. Mereka pun segera mengepung lagi orang yang tidak dikenal itu.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang ada di halaman banjar itu telah dikejutkan oleh derap kaki kuda. Beberapa ekor kuda berlari kencang menuju keregol halaman banjar itu.

Pertempuran dihalaman itu pun terhenti. Semua orang memandang keregol halaman.

Dibawah cahaya oncor diregol, mereka melihat ampat orang berkuda memasuki halaman. Dua orang pengawal Tanah Perdikan dan dua orang lainnya adalah para perwira prajurit Madiun yang sedang bermalam di banjar.

“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Tumenggung Puspalaga.

“Beberapa orang berusaha mengambil Ki Lurah Mertapraja” jawab pengawal tertua yang mengepung orang yang memutuskan tali kentongan.

“Sudah aku duga” jawab Ki Ttimenggung Puspalaga, “dimana angger Risang dan angger Kasadha.”

“Mereka tadi pergi ke belakang gandok.” Jawab pengawal itu.

Ki Tumenggung Puspalaga termangu-mangu sejenak. Ia melihat seorang pengawal yang terluka dan melihat pula landeyan tombak yang patah. Karena itu, maka ia pun segera mengetahui, bahwa orang itu tentu orang yang berilmu tinggi. Tanpa gentar, dihadapinya sejumlah para pengawal yang mengepungnya.

“Ki Lurah Samekta” berkata Ki Tumenggung Puspalaga, “lihat apa yang terjadi dibelakang gandok. Biarlah aku setidak-tidaknya menahan orang ini agar tidak dengan semena-mena membunuh para pengawal.

“Siapa kau he?” bertanya orang itu.

“Aku salah seorang pemimpin pengawal Tanah Perdikan” jawab Ki Tumenggung Puspalaga yang memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan sebagaimana Ki Lurah Samekta.

“Marilah jika kau ingin membunuh diri mendahului para pengawal. Aku akan dengan senang hati memecah dahimu dengan kapakku ini.” berkata orang itu.

Ki Tumenggung Puspalaga yang sudah turun dan kudanya melangkah perlahan-lahan mendekati orang itu, sementara Ki Lurah Samekta setelah menyerahkan kudanya kepada seorang pengawal, dengan tergesa-gesa pergi kebelakang gandok.

Ki Lurah memang terkejut. Ia melihat pertempuran yang sedang terjadi di belakang gandok. Justru pertempuran antara orang-orang berilmu tinggi.

Ki Lurah Samekta memang tidak dengan serta merta ikut campur dalam pertempuran itu. Ia berdiri diantara beberapa orang pengawal Tanah Perdikan yang berdiri termangu-mangu.

Sementara itu, Ki Tumenggung Puspalaga telah berhadapan dengan orang yang bersenjata kapak itu, sementara beberapa orang pengawal masih tetap mengepungnya dari segala arah. Ujung-ujung senjata yang teracu nampak seperti ujung daun pohon seribu tombak yang runcing berduri.

Ternyata orang itu mulai menjadi bersungguh-sungguh. Ia melihat sikap Ki Tumenggung Puspalaga yang tenang dan mantap. Dengan demikian maka orang itu menyadari, bahwa orang yang mengaku pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu memiliki kelebihan dari para pengawal yang lain.

Ternyata sejenak kemudian orang yang bersenjata kapak itu mulai menyerang. Sementara itu Ki Tumenggung Puspalaga sudah menggenggam hulu pedangnya. Pedang seorang perwira tinggi prajurit Madiun.

Sejenak kemudian, maka pertempuran sengit pun terjadi. Ternyata Ki Tumenggung Puspalaga cukup tangkas menghadapi orang bersenjata kapak itu. Dengan demikian, maka pertempuran itu pun dengan cepat menjadi semakin garang. Keduanya saling menyerang dan saling bertahan.

Orang bersenjata kapak itu memang seorang yang berilmu tinggi. Beberapa kali ia berhasil mendesak Ki Tumenggung Puspalaga. Namun setiap kali ujung ujung senjata para pengawal telah bergerak pula. Seperti gelombang air laut, maka beruntun ujung-ujung tombak itu menyerang dari segala arah.

Dalam pada itu, dibelakang gandok, pertempuran pun menjadi semakin sengit. Orang-orang berilmu sangat tinggi telah mengerahkan kemampuan mereka. Karena itu, maka beberapa orang pengawal yang telah berada di tempat itu tidak dapat langsung melibatkan diri dalam pertempuran itu. Demikian pula Ki Lurah Samekta. Meskipun ia termasuk seorang prajurit pilihan, namun ia masih belum mencapai tataran ilmu dari mereka yang sedang bertempur itu.

Namun dalam pada itu, Warsi, ibu Kasadha terkejut ketika lawannya tiba-tiba saja berkata, “He, siapa kau sebenarnya?”

“Kenapa?” bertanya Warsi.

“Aku kenal dengan satu dua unsur gerakmu ciri dari perguruan Kalamerta. He, apakah kau memang berasal dari perguruan Kalamerta yang menakutkan itu?” bertanya orang itu.

“Siapapun aku, kau tidak perlu menghiraukan. Kita berdiri berhadapan dengan kepentingan yang berlawanan pula. He, apakah kau kira aku tidak mengenali unsur-unsur dari perguruan Wukir Gading yang kau pergunakan itu?” jawab Warsi.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku memang dari perguruan Wukir Gading. Nah, kita akan melihat, apakah perguruan Kalamerta yang pernah ditakuti itu mampu mengalahkan ilmu dari perguruan Wukir Gading.”

“Baik” jawab Warsi, “kita akan melihat, apa yang terjadi nanti. Kau atau aku.”

Lawannya tidak menjawab lagi. Namun serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan garang. Tetapi Warsi pun bertempur semakin keras pula. Bahkan ketika ia benar-benar harus mengerahkan kemampuannya, maka unsur-unsur geraknya memang nampak menjadi semakin kasar. Namun bagi para pengawal yang melihat pertempuran itu dikeremangan malam, tidak dapat membedakan antara unsur-unsur yang keras dan kasar. Pertempuran yang mereka saksikan adalah pertempuran yang sengit.

Tetapi kehadiran para pengawal itu mau tidak mau telah berpengaruh pula. Ujung-ujung senjata yang mencuat dalam kegelapan dan sekali-sekali nampak berkilau memantulkan cahaya bintang dilangit dan lampu oncor dikejauhan, membuat jantung lawan Warsi itu bergetar. Betapapun lemahnya para pengawal, namun jika ujung senjata itu mengurungnya, sementara seorang yang berilmu tinggi harus dihadapinya dengan penuh perhatian, maka ia akan dapat mengalami kesulitan.

Tetapi dengan tekad yang bergelora dihatinya, maka orang itu benar-benar ingin menunjukkan bahwa ia akan mampu mengalahkan perempuan yang garang, yang ternyata memiliki latar belakang ilmu Kalamerta itu. Apalagi setelah keduanya bertempur dengan senjata. Rantai ditangan Warsi berputaran dengan cepatnya. Suaranya berdesing menghentak-hentak ditelinga.

Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka merambat sampai kepuncak. Sementara beberapa pengawal memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebar-debar.

Di tempat lain, dikegelapan kebun di belakang, Nyi Wiradana pun bertempur dengan sengitnya pula. Lawannya ternyata memiliki kekuatan dan kecepatan gerak yang sangat tinggi: Namun Nyi Wiradana yang memiliki ilmu Janget Kinatelon mampu mengimbangi kecepatan dan ketangkasan lawannya itu. Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya telah mempergunakan senjatanya pula. Nyi Wiradana mempergunakan pedangnya, sedangkan lawannya mempergunakan bindi baja kecil tetapi agak panjang.

Dengan demikian, maka Nyi Wiradana memang menghindari benturan langsung antara senjatanya yang tipis dengan bindi lawannya. Meskipun bindi itu terhitung bindi yang kecil, tetapi besi gligen itu akan dapat membahayakan pedangnya.

Sementara itu lawannya yang memiliki senjata yang dianggapnya lebih kokoh, dengan garangnya telah menyerang sejadi-jadinya. Bindinya berputaran dan sekali-sekali terayun mengarah ketubuh Nyi Wiradana. Namun Nyi Wiradana mampu bergerak lebih cepat dari ayunan bindi itu, sementara itu pedangnya pun berputar dengan cepat pula. Bahkan sekali-sekali mampu menembus putaran bindi lawannya.

Nyi Wiradana yang juga memikirkan anaknya kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya. Untuk berusaha mengatasi perlawanan orang bersenjata bindi itu, maka Nyi Wiradana telah mengetrapkan kemampuannya, ilmu Janget Kinatelon.

Lawannya memang terkejut. Perempuan itu kemudian telah bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Meskipun perempuan itu masih belum membenturkan senjatanya, tetapi terasa bahwa kekuatannya seakan-akan menjadi berlipat.

Karena itu, maka lawannya itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan dan ilmunya. Dengan garang orang itu menggeram. Matanya bagaikan menyinarkan cahaya kemerah-merahan yang menyala dikegelapan. Beberapa pengawal memang berusaha mendekat. Tetapi seperti pertempuran yang terjadi antara Warsi dan lawannya, maka para pengawal tidak dapat dengan serta merta ikut campur.

Mereka hanya dapat menyaksikan pertempuran itu dengan tegangnya. Meskipun demikian, para pengawal itu telah bersiap untuk berbuat sesuatu jika diperlukan.

Dalam pada itu, beberapa orang di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan menjadi gelisah. Berurutan beberapa orang telah meninggalkan rumah itu. Bibi Kasadha yang ada dirumah itu juga menjadi gelisah.

Sebenarnya ia ingin ikut bersama ibu Kasadha ke padukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja ditahan. Tetapi ibu Kasadha minta agar ia tinggal saja di rumah itu. Demikian pula Gandar yang ada diantara para peronda. Bahkan kemudian menyusul pula dua orang prajurit Madiun pengiring Ki Tumenggung Puspalaga bersama Ki Lurah Samekta. Mereka berbincang di gardu di depan rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Kepergian para pemimpin Tanah Perdikan yang kemudian disusul oleh Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta yang diantar oleh dua orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan, mengisyaratkan kepada mereka bahwa memang ada sesuatu yang gawat.

Karena itu, maka Gandar tidak kehilangan kewaspadaan. Mungkin saja keributan itu justru timbul di padukuhan induk. Tidak di padukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja ditahan.

Tetapi sampai jauh lewat tengah malam tidak terjadi sesuatu di padukuhan induk. Namun kemudian mereka dikejutkan oleh kehadiran dua orang pengawal dari padukuhan tempat Ki Lurah Mertapraja itu ditahan.

Kedua orang pengawal itu telah menceriterakan apa yang telah terjadi di padukuhan itu. Tentang orang-orang yang datang untuk membebaskan Ki Lurah Mertapraja serta tentang kentongan di banjar yang tidak dapat dipergunakan lagi.

“Apa hanya ada satu kentongan di padukuhan itu?” bertafiya Gandar.

“Kami hanya ingin membatasi persoalan agar tidak seluruh Tanah Perdikan ini menjadi kisruh. Aku hanya ingin minta bantuan beberapa pengawal terbaik untuk ikut mengatasi persoalan.” berkata pengamal itu.

“Bagaimana dengan para pemimpin Tanah Perdikan yang sudah datang kesana?” bertanya Gandar pula.

Nampaknya mereka memang menguasai beberapa orang berilmu tinggi yang akan membebaskan Ki Lurah Mertapraja. Tetapi kami masih mencemaskan jika keadaan berkembang semakin buruk. Tiba-tiba saja muncul orang-orang baru yang harus dihadapi oleh para pengawal.

Gandar memang menjadi agak bingung. Ia ingin pergi ke padukuhan itu. Tetapi Risang telah menyerahkan khususnya padukuhan induk itu untuk dijaganya.

Karena itu, kemudian Gandar telah mengambil keputusan untuk menunjuk sepuluh orang pengawal terbaik yang ada malam itu di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Dengan sepuluh ekor kuda yang dengan tergesa-gesa dipersiapkan diantara kuda-kuda yang ada, maka sepuluh orang pengawal terbaik itu berpacu ke padukuhan yang sedang dilanda keributan itu.

Sepuluh orang pengawal memang tidak terlalu banyak. Tetapi mereka adalah pengawal-pengawal yang telah ada, maka mereka akan dapat membantu mengatasi keributan yang terjadi di padukuhan itu.

Sementara itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Ternyata diluar halaman banjar telah muncul lagi seorang yang tidak diketahui darimana datangnya. Orang itu berusaha untuk membantu melindungi Ki Lurah Mertapraja, sehingga dengan demikian, maka Risang dan Kasadha harus membagi diri. Bersama para pengawal yang ada mereka bertempur melawan dua orang itu, sementara Ki Lurah Mertapraja juga masih bertempur dengan caranya melawan orang-orang yang akan menangkapnya.

Di halaman Ki Tumenggung Puspalaga masih bertempur pula dengan mengerahkan Segenap kemampuannya. Lawannya memang orang berilmu tinggi sehingga sulit bagi Ki Tumenggung untuk dengan cepat menguasainya.

Sementara itu Ki Lurah Samekta yang sempat memperhatikan pertempuran dibelakang gandok dan melihat bahwa para pemimpin Tanah Perdikan mampu mengimbangi orang-orang yang datang untuk berusaha membebaskan Ki Lurah Mertapraja, telah bergeser pula kehalaman. Dengan cepat ia bergerak menempatkan diri bersama Ki Tumenggung Puspalaga dan beberapa pengawal.

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih juga bertempur dengan sengitnya. Keduanya juga harus menghadapi dua orang berilmu tinggi. Mereka harus mengerahkan segenap kemampuan mereka agar mereka tidak dihancurkan oleh lawan-lawan mereka.

Namun dalam pada itu, lawan Nyi Wiradana yang telah membawa Ki Lurah Mertapraja keluar dari biliknya, telah mengerahkan segenap ilmunya pula. Apalagi karena Nyi Wiradana sudah sampai kepuncak ilmunya. Janget Kinatelon.

Sebenarnyalah bahwa lawan Nyi Wiradana itu menjadi sangat heran mengalami perlawanan dari seorang perempuan yang berilmu sangat tinggi. Perempuan yang mampu bergerak dengan cepat. Pedangnya berputaran dan ayunan kekuatannya sama sekali bukan kekuatan kewadagan sewajarnya.

Bahkan sekali-sekali orang itu harus meloncat mengambil jarak, jika pengamatannya terhadap ujung senjata lawannya itu terlambat.

Namun ternyata bahwa kemampuan ilmunya, masih belum dapat mengimbangi ilmu perempuan itu. Semakin lama ia justru menjadi semakinterdesak. Bahkan beberapa kali ujung pedang perempuan itu telah menyentuh tubuhnya.

“Ilmu apa pula yang dipergunakan perempuan itu?” bertanya lawannya didalam hatinya.

Bukan saja pedang itu sendiri yang memburunya, tetapi sambaran anginnya terasa semakin lama semakin pedih ditubuhnya. Benturan-benturan yang terjadi pun telah membuat lawan Nyi Wiradana itu semakin terdesak.

Ilmu Janget Kinatelon memang sangat mencemaskan lawannya. Ia sama sekali tidak tahu apakah yang dipergunakan oleh perempuan itu. Tetapi rasa-rasanya ilmu itu membelitnya semakin lama semakin erat. Luka-luka kecil lelah mulai mewarnai kulitnya pula, sehingga nyeri dan pedih telah menyengatnya.

Sementara itu Nyi Wiradana sendiri berusaha untuk segera menyelesaikan pertempuran itu. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan Risang dan Kasadha yang telah memburu Ki Lurah Mertapraja ke kegelapan. Bahkan kemudian mereka seakan-akan telah hilang ditelan pohon-pohon perdu digelapnya malam.

Dalam pada itu, betapapun lawannya meningkatkan kemampuannya sampai kepuncak ilmunya, namun orang itu tidak mampu mengatatasi ilmu perempuan itu.

Bukan hanya orang itu yang mengalami kesulitan. Lawan Warsi pun ternyata tidak mampu mengimbanginya. Ternyata bahwa ilmu perempuan yang mempunyai latar belakang perguruan Kalamerta itu tidak dapat ditundukkan oleh ilmu yang disadap dari perguruan Wukir Gading. Bahkan semakin lama orang itu menjadi semakin terdesak. Warsi yang bertempur dengan keras dan kasar benar-benar tidak terlawan oleh orang dari Wukir Gading itu.

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu pula. Betapapun lawan-lawan mereka berusaha memberikan perlawanan sekuat-kuatnya, namun mereka ternyata semakin lama menjadi semakin terdesak.

Dalam pada itu, orang yang bertempur melawan Nyi Wiradana benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk bertahan lebih lama. Serangan-serangan ilmu Janget Kina-telon benar-benar menjadi semakin tidak dimengertinya. Seperti angin pusaran yang melilitnya berputaran sehingga rasa-rasanya tidak ada lagi tempat untuk menghindar.

Karena itu, sebelum keadaan menjadi semakin sulit, maka tiba-tiba saja dari mulutnya telah terdengar suitan nyaring. Keras sekali, seakan-akan mengguncang seisi banjar dan halamannya yang terhitung luas itu.

Nyi Wiradana memang terkejut mendengar suitan nyaring itu. Bukan sekedar bunyi yang nyaring. Tetapi getarannya terasa menusuk kedalam dadanya.

Nyi Wiradana pernah mendapat serangan ilmu gelap ngampar. Tetapi jauh lebih kuat dari getar teriakan lawan Nyi Wiradana itu. Karena itu, setelah mengerahkan daya tahannya, maka ia pun telah siap menyerang lagi.

Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata dipergunakan sebaik-baiknya. Orang itu sama sekali tidak berusaha menyerang Nyi Wiradana yang sedang mengatasi sentuhan getar ilmu yang terlontar lewat suitan nyaringnya. Namun ia telah memanfaatkan waktu yang sekejap itu untuk meloncat melarikan diri.

Suitan nyaring itu ternyata memang aba-aba yang diberikan untuk mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu.

Beberapa orang pengawal yang melihat orang itu berusaha melarikan diri memang serentak berusaha untuk memburunya. Tetapi suitan nyaring yang baru saja terdengar, rasa-rasanya telah menghambat gerak mereka. Mereka masih harus mengatur denyut jantung mereka yang baru saja seakan-akan diguncang oleh getar suitan nyaring itu.

Karena itu, maka mereka pun telah terlambat pula. Orang itu sudah berlari menjauh menusuk kegelapan dikejar oleh Nyi Wiradana. Tetapi kelebihan waktu yang sekejap, serta kemampuannya berlari yang bagaikan terbang itu, telah memungkinkannya untuk mencapai dinding lebih dahulu dari Nyi Wiradana. Dengan tangkasnya pula orang itu meloncati dinding, seolah-oleh bagaikan seekor burung srikatan yang terbang hinggap sekejap diatas dinding yang kemudian hilang diseberang.

Nyi Wiradana memang juga meloncat naik keatas bibir dinding halaman. Namun ia sudah kehilangan buruannya. Nyi Wiradana tidak melihat, kemana orang itu melarikan diri, apalagi ketika perhatiannya tertuju pada pertempuran tidak terlalu jauh dari dinding itu.

Sekali lagi banjar dan sekitarnya diguncang oleh suitan nyaring. Tetapi sumber bunyi itu ternyata telah menjadi agak jauh dari dinding halaman, sehingga Nyi Wiradana tidak lagi berniat untuk mencarinya. Bahkan ia berharap bahwa para pengawal Tanah Perdikan itu juga tidak memburunya, karena orang itu adalah orang yang sangat berbahaya.

Sementara itu, ternyata Ki Lurah Mertapraja telah tertangkap kembali. Dua orang berilmu tinggi yang bertempur untuk melindungi Ki Lurah Mertapraja itu ternyata tidak berhasil. Selain Risang dan Kasadha yang bertempur melawan mereka, para pengawal yang datang kemudian dari padukuhan induk telah bergabung dengan mereka pula. Seorang dadi keduanya tidak lagi dapat tertolong jiwanya. Sementara yang lain memang berhasil melarikan diri.

Sedangkan Ki Lurah Mertapraja sendiri berhasil ditangkap hidup-hidup meskipun ia telah terluka lagi, sementara lukanya yang terdahulu masih belum sembuh.

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Risang dan Kasadha selamat tanpa mengalami cidera.

Namun tiba-tiba Nyi Wiradana itu pun berkata, “Marilah, kita melihat bibimu yang bertempur bersama paman Sambi Wulung dan Jati Wulung.”

Risang pun kemudian telah memerintahkan para pengawal untuk menguasai Ki Lurah dengan baik. Katanya, “Cepat, bawa ke banjar. Jika terjadi sesuatu, beri isyarat. Jangan ragu-ragu.”

Risang tidak menunggu jawaban. Bersama ibunya dan Kasadha mereka pun telah meloncati dinding halaman itu lagi.

Ketika mereka sampai dibelakang gandok, mereka melihat Warsi berdiri tegak sambil memegangi ujung dan pangkal rantainya dengan kedua tangannya. Dihadapan-nya terkapar sesosok tubuh salah seorang dari perguruan Wukir Gading.

“Aku tidak berhasil membujuknya untuk menyerah” desis Warsi dengan kepala tunduk:

Kasadha mendekatinya sambil berkata, “Ibu tidak mempunyai pilihan lain.”

“Ya” sahut Risang, “aku kira, itu adalah penyelesaian yang terbaik. Jika ia tidak mau menyerah, maka satu-satunya kemungkinan yang akan dijalaninya adalah kematian.”

Nyi Wiradana pun kemudian mendekatinya dan membimbingnya, “Marilah. Kita pergi ke banjar.”

Tetapi tiba-tiba saja Risang teringat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Dengan ragu ia berdesis, “Dimana paman Sambi Wulung dan Jati Wulung?”

Ibu Kasadha itulah yang menjawabnya, “Mereka berusaha mengejar lawan masing-masing. Tetapi oraug itu berlari seperti angin, sementara aku masih harus menyelesaikan orang ini.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk, Ketika ia melihat beberapa orang pengawal termangu-mangu, maka Risang itu pun berdesis, “Para pengawal tidak akan dapat berbuat banyak. Jika mereka berusaha mengejar, maka mereka berada dalam bahaya.”

“Ya” desis Nyi Wiradana, “aku juga kehilangan buruanku Mudah-mudahan para pengawal juga tidak mengejarnya.”

Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud ibunya, karena para pengawal tentu tidak akan berhasil menangkapnya.

Risang pun kemudian mengajak mereka semua ke halaman. Sementara itu para pengawal pun telah mendapat perintah untuk membawa sosok tubuh yang terbaring itu ke halaman.

Namun Risang dan Kasadha terkejut ketika mereka melihat sosok tubuh yang lain terbaring pula dihalaman. Ditangannya masih tergenggam kapak yang cukup besar, sementara kentongan banjar itu tergolek dan bahkan pecah tidak terlalu jauh dari sosok tubuh itu. Di tangga pendapa berdiri Ki Tumenggung Puspalaga, Ki Lurah Samekta sementara para pengawal yang bersenjata telanjang berdiri didepan tangga.

“Apa yang terjadi disini?” bertanya Risang.

“Orang itu telah memutuskan tali kentongan dan berusaha merusaknya. Ia adalah salah seorang diantara mereka yang ingin mengambil Ki Lurah Mertapraja.” jawab seorang pengawal.

“Tetapi Ki Tumenggung?” bertanya Kasadha.

Ki Tumenggung yang masih menggenggam senjatanya menjawab agak ragu, “Sebenarnya aku hanya ingin melihat apa yang terjadi. Aku tahu bahwa beberapa orang telah pergi ke padukuhan ini. Karena itu, aku telah minta ijin kepada kakang Gandar untuk melihat apa yang terjadi disini diantar oleh dua orang pengawal yang ada di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan.”

Kasadha mengangguk-angguk. Demikian pula Risang. Mereka segera mengetahui apa yang telah terjadi. Bahkan Ki Tumenggung dan Ki Lurah telah terlibat pula dalam pertempuran di halaman.

Selain Ki Tumenggung dan Ki Lurah, maka Risang pun melihat beberapa orang pengawal telah berada di halaman itu pula selain mereka yang telah membantu menangkap Ki Lurah Mertapraja. Namun Risang masih belum sempat bertanya, kenapa mereka tiba-tiba saja telah berada di padukuhan itu.

Demikianlah, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu bersama Ki Tumenggung Puspalaga dan Ki Lurah Samekta telah naik kependapa. Mereka menunggu laporan terakhir dari peristiwa yang menggemparkan pedukuhan itu.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa orang pengawal telah membawa Ki Lurah Mertapraja yang sudah terikat tangannya dibelakang tubuhnya. Namun ia masih saja berteriak-teriak dan mengumpat-umpat.

“He, orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dan orang-orang Madiun. Kenapa kalian merasa iri hati jika aku pada suatu saat akan meraih kekuasaan tertinggi di bumi ini.”

Orang-orang yang berada di pendapa hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak akan dapat berbicara dengan Ki Lurah dalam keadaan seperti itu. Seandainya diajukan pertanyaan-pertanyaan juga kepada Ki Lurah, maka persoalannya tentu tidak akan dapat sambung.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Puspalaga itu pun berkata, “Sudahlah ngger. Biarlah Ki Lurah Mertapraja disimpan saja lebih dahulu. Tentu saja dengan penjagaan yang lebih ketat.”

“Aku akan membawanya ke padukuhan induk saja Ki Tumenggung” berkata Risang kemudian, “kita akan lebih mudah mengawasinya. Jika terulang kembali usaha untuk melepaskannya, maka kami akan dapat mencegahnya.”

Ki Tumenggung Puspalaga mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada angger yang memiliki kekuasaan di Tanah Perdikan ini.”  Sambil berpaling kepada ibunya Risang bertanya, “bagaimana pendapat ibu?”

“Aku setuju Risang. Nampaknya persoalan Ki Lurah ini masih belum selesai.” jawab ibunya.

“Ya” sahut ibu Kasadha, “aku belum melihat pedang Wisa Raditya dan perisai Lar Sasi dalam pertempuran itu. Aku kira penguasa tertinggi dari perguruan Wukir Gading masih belum ikut dalam usaha pembebasan Ki Lurah Mertapraja. Jika orang itu ada, maka agaknya ia akan mempergunakan pusaka-pusaka itu dalam keadaan terjepit. Orang itu tentu percaya bahwa kedua pusaka itu akan dapat melindunginya karena tuahnya.”

Ki Tumenggung  Puspalaga mengangguk-angguk. Katanya, “Persoalannya akan dapat berkepanjangan. Sebaiknya Ki Lurah segera dibawa saja ke Pajang dan diserahkan kepada penguasa di Pajang sekarang dengan segala keterangan tentang orang itu.”

“Ya Ki Tumenggung. Tetapi membawa orang itu ke Pajang tentu juga harus diperhitungkan baik-baik.” jawab Risang.

“Agaknya orang-orang yang berkepentingan dengan Ki Lurah Mertapraja selalu mengamati perkembangan keadaannya.” berkata Kasadha.

Orang-orang yang duduk dipendapa itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah Mertapraja sendiri masih saja sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan kemudian ia berteriak-teriak agar tali pengikat tangannya dilepaskan.

Risang lah yang kemudian berkata, “Biarlah Ki Lurah untuk sementara berada diruang dalam banjar dalam keadaan terikat. Apaboleh buat. Kita tidak dapat berbuat lain. Besok pagi-pagi kita akan membawanya ke padukuhan induk.”

Kemudian Risang pun bangkit. Kasadha pun bangkit pula untuk membantunya. Dua orang pengawal telah dipanggilnya mendekat.

“      Kita bawa Ki Lurah keruang dalam.” berkata Risang kepada para pengawal itu.

Ki Lurah Mertapraja menjadi marah ketika para pengawal itu berusaha membimbingnya masuk keruang dalam. Dengan kakinya ia berusaha menendang para pengawal itu. Dengan sigap para pengawal itu menghindar. Bahkan seorang diantaranya dengan serta merta telah menarik pedangnya dan mengancam Ki Lurah itu diarah dadanya yang terbuka. Namun Ki Lurah itu sama sekali tidak menjadi takut. Bahkan sambil mengumpat ia memburu kearah ujung pedang itu, sehingga pengawal itu justru bergeser surut.

Orang-orang yang berada dipendapa serentak berdiri. Namun Risang dan Kasadha dengan cepat menangkap kedua lengannya dari sebelah menyebelah. Keduanya adalah anak-anak muda yang kuat. Bagaimanapun juga Ki Lurah Mertapraja meronta, namun ia tidak dapat melawan lagi ketika kedua anak muda itu membawanya keruang dalam dan kemudian mengikatnya pada tiang diruang dalam.

“Mudah-mudahan tiang ini tidak roboh” berkata Risang.

“Kalau tiang itu roboh maka yang pertama kena bencana adalah Ki Lurah itu sendiri” sahut Kasadha.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 53

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s