SST-51

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

cover SST-51ORANG yang berkulit hitam dan yang suaranya seperti guruh itu mengumpat kasar. Katanya, “Kau benar-benar seorang yang tidak tahu diri. Sadari. Kau berhadapan dengan Ki Wanda Dumung. Kau tidak dapat bermain-main dengan nyawamu.”

“Setiap orang yang memasuki peperangan, maka ia sudah bermain-main dengan nyawanya. Nah, kitalah yang sekarang mendapat kesempatan untuk bermain bersama” jawab Sambi Wulung.

“Anak iblis” suara orang itu semakin mengguruh. Matanya menjadi merah membara. Katanya, “Kepalamu memang harus dipatahkan. He, siapa namamu?”

“Namaku Sambi Wulung. Tetapi jangan dikira bahwa aku akan dengan sukarela memberikan kepalaku.”

Orang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam itu tidak berbicara lagi. Senjatanya, sebuah bindi segera terayun-ayun. Masih terdengar umpatan kasar. Namun kemudian desir angin yang keras karena ayunan senjata Ki Wanda Dumung itu telah menampar wajah Sambi Wulung.

Selangkah Sambi Wulung meloncat surut. Namun orang berkulit hitam itu memburunya. Bindinya masih terayun-ayun deras memburu kepalanya.

Dengan tangkasnya Sambi Wulung mengelak. Ketika Ki Wanda Dumung itu melangkah lagi selangkah maju sambil mengangkat bindinya, justru Sambi Wulung meloncat masuk dengan pedang terjulur lurus kedepan.

Hampir saja ujung pedangnya mengoyak dada Ki Wanda Dumung. Tetapi orang itu sempat bergeser surut. Ketika Sambi Wulung bergerak untuk memburunya, maka sekali lagi bindinya terayun mengarah ke kepalanya.

Sambi Wulung harus meloncat surut. Ia masih ragu-ragu untuk menangkis serangan itu. Agaknya orang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam itu memiliki kekuatan yang sangat besar.

Demikianlah keduanya pun segera bertempur dengan sengitnya. Ternyata Ki Wanda Dumung termasuk salah seorang pemimpin Padepokan Watu Kuning yang berilmu tinggi. Begitu yakin ia akan kemampuannya sehingga ia agak merendahkan lawan-lawannya, yang dianggapnya tidak lebih dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Orang-orang yang sangat terbatas kemampuannya.

Tetapi ia terbentur pada kenyataan yang lain. Sambi Wulung ternyata mampu mengimbanginya. Bahkan karena Wanda Dumung agak merendahkan lawannya, Sambi Wulung yang agak tersinggung itu telah memperingatkannya. Ujung pedangnya sudah mulai menyentuh kulit lawannya.

Ki Wanda Dumung mengumpat sambil meloncat surut. Dengan geram ia berkata, ”Setan licik. Kau telah berani melukai aku, he? Kau kira bahwa kau benar-benar akan berhasil?”

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ia justru mempercepat serangannya, sehingga Wanda Dumung harus berloncatan mundur. Kemudian dengan cepat ia memutar bindinya di seputar tubuhnya untuk berlindung dari ujung pedang Sambi Wulung.

Sambi Wulung yang ingin menjajagi kemampuan lawannya, telah berusaha menyentuh putaran bindi Wanda Dumung. Ketika terjadi benturan, maka pedang Sambi Wulung tergetar. Namun dengan demikian maka Sambi Wulung serba sedikit mempunyai gambaran kekuatan lawannya yang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam itu.

Pertempuran selanjutnya berlangsung dengan sengitnya, Sekali-sekali terdengar Wanda Dumung menggeram bahkan mengumpat-umpat, suaranya masih saja seperti ledakan guntur yang berloncatan dilangit.

Disisi lain disayap itu juga Jati Wulung telah tertahan oleh seorang yang umurnya juga sudah melewati setengah abad. Janggutnya keputih-putihan memanjang dibawah dagunya. Kumisnya melintang bergayut pada jambangnya yang panjang. Tubuhnya agak kekurus-kurusan. Tetapi nampaknya orang itu memiliki tenaga dalam yang tinggi. Senjatanya, sebatang tongkat kayu yang berselut besi baja putih dari pangkal sampai ke ujungnya di jinjingnya disisi tubuhnya.

Orang itu berhenti dua langkah dihadapan Jati Wulung yang justru bergeser selangkah surut. Para pengawal Tanah Perdikan segera mengambil alih beberapa orang lawannya yang bertempur dalam sebuah kelompok kecil.

“Bagus” desis orang berjanggut putih itu, “Kau berilmu cukup tinggi. Kau mampu bertempur menghadapi beberapa orang sekaligus. Siapa namamu Ki Sanak?”

“Namaku Jati Wulung.”

“Kau tidak ingin tahu namaku?” orang itu justru bertanya”“Apakah kau menjadi cemas, bahwa namaku akan membuatmu pingsan dan tidak sempat melawan?”

“Sebut namamu” desis Jati Wulung.

“Orang memanggilku Ki Singa Wantek. Tetapi orang juga menyebutku Ki Teken Waja. Mereka menyebutku demikian karena tongkatku diselut dengan baja putih dari pangkal sampai keujungnya.” sahut orang itu.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, ”Ternyata aku belum pernah mendengar namamu.”

“Pantas” desis Ki Singa Wantek.

“Apa yang pantas?” bertanya Jati Wulung.

“Pengenalanmu memang terlalu sempit. Tidak lebih luas dari batas tempurung yang menelungkup.” jawab Ki Singa Wantek.

Namun Jati Wulung tertawa. Katanya, ”Aku memang tidak pernah melihat-lihat keluar dari Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi namamu memang tidak pernah terdengar disini. Nama seorang tua kerdil tidak akan ada artinya bagi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan”

Wajah orang itu menjadi merah. Namun Jati Wulung berkata selanjutnya, ”Sudahlah. Kita orang-orang tua tidak perlu lagi saling menyombongkan diri. Marilah. Kita selesaikan persoalan kita sendiri. Atau barangkali kau akan menarik diri dari pertempuran?”

“Kenapa aku harus menarik diri?” bertanya Ki Singa Wantek.

“Karena namamu tidak dikenal sama sekali disini” jawab Jati Wulung sambil tersenyum.

Orang itu menggeram marah. Tongkatnya pun tiba-tiba saja sudah berputar Hampir saja menyambar kening Jati Wulung. Namun dengan cepat Jati Wulung mengelak, sehingga tongkat itu terayun sejengkal dari keningnya. Tetapi orang yang menyebut dirinya Singa Wantek itu tidak membiarkannya. Dengan tangkasnya ia mengulangi serangannya. Demikian cepat sehingga Jati Wulung harus meloncat surut. Namun sekali lagi Jati Wulung terkejut. Orang berjanggut putih itu meloncat memburunya. Tongkatnya pun terayun mengerikan. Agaknya orang itu ingin dengan secepatnya menyelesaikannya. Agaknya ia benar-benar telah membuat orang itu marah.

Tetapi Jati Wulung tidak membiarkan dirinya diburu. Ketika tongkat itu terayun menebas lambungnya, Jati Wulung sempat bergeser. Tetapi demikian tongkat itu terayun lewat, maka ia pun justru meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya.

Singa Wantek lah yang harus meloncat menghindar. Tetapi sambil melenting kesamping, tongkatnya telah menggeliat menyambar pundak Jati Wulung.

Jati Wulung merendah. Pedangnya dengan cepat berputar menyambar kaki lawannya. Tetapi dengan tangkas Singa Wantek itu melenting tinggi, sehingga pedang Jati Wulung terayun dibawah kakinya yang ditekuknya sambil meloncat. Tetapi yang tidak diduga oleh orang berjanggut piitih itu, bahwa demikian pedang itu terayun, maka kaki Jati Wulung pun terangkat pula dan berputar sambil bertumpu pada kaki yang lain.

Orang berjanggut putih itu tidak siap menghadapi serangan itu. Karena itu, maka ia pun tidak sempat mempergunakan tongkatnya untuk menangkis serangan itu.

Dengan demikian, maka kaki Jati Wulung yang berputar itu telah mengenai lambung lawannya. Orang berjanggut putih itu sempat terhuyung-huyung sejenak. Namun dengan cepat ia berhasil menguasai keseimbangannya kembali. Karena itu, ketika Jati Wulung siap untuk menyerangnya, maka niat itu diurungkannya. Tongkat Singa Wantek sudah berputar lagi dan siap menangkis serangannya.

Jati Wulung surut selangkah. Namun pedangnyalah yang kemudian telah teracu.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah menyala kembali. Keduanya bergerak semakin cepat.

Namun dengan demikian Singa Wantek itu tidak lagi dapat menganggap lawannya hanya seorang penghuni Tanah Perdikan Sembojan. Dalam pertempuran selanjutnya orang Tanah Perdikan Sembojan itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi yang mampu mengimbangi ilmu orang berjanggut putih itu.

Sementara itu pertempuran antara pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang dibantu oleh beberapa Kademangan diluar Tanah Perdikan Sembojan melawan orang-orang yang mengaku dari padepokan Watu Kuning itu menjadi semakin sengit. Matahari yang semakin tinggi telah melontarkan panasnya bagaikan membakar arena pertempuran itu. Keringat menjadi semakin banyak mengalir membasahi tubuh mereka yang sedang bertempur itu.

Di induk pasukan, Risang mencoba untuk mengetahui keadaan seluruh pasukannya. Meskipun ia tidak langsung melihat, namun beberapa orang penghubung telah berusaha untuk memberikan laporan-laporan kepadanya. Menurut para penghubung keadaan di sayap kiri dan kanan ternyata tidak mencemaskan. Meskipun demikian kedua sayap itu menghadapi perlawanan yang sangat berat.

Di induk pasukan pertempuran pun menjadi semakin garang. Beberapa orang berilmu yang ada disekitar dan bahkan didepan Ki Gede Watu Kuning berusaha untuk menembus pertahanan Tanah Perdikan Sembojan. Namun gelar Garuda Nglayang ternyata sulit untuk ditembus. Apalagi sayap-sayap gelar Garuda Nglayang yang seakan-akan berubah menjadi sapit dalam gelar Sapit Urang dan bahkan berpadu dengan dua kelompok yang menyerang dari lambung, maka pasukan Watu Kuning benar-benar menjadi sibuk. Sekelompok kecil pengawal yang menyerang dari belakang pun terasa cukup mengganggu, meskipun orang-orang Watu Kuning telah berhasil menahan mereka beberapa langkah dari pertempuran yang sebenarnya yang semakin lama menjadi semakin sengit.

Paruh gelar Garuda Nglayang itu benar-benar bagaikan kekuatan yang sulit ditahan. Tajamnya melampaui ujung tombak dengan pengapit yang diikuti oleh para pengawal terpilih.

Karena itu, maka perlahan-lahan tetapi meyakinkan, paruh gelar Garuda Nglayang itu menghunjam semakin dalam menembus pertahanan pasukan Padepokan Watu Kuning yang bertempur tanpa gelar. Tetapi mereka tidak mampu memancing agar pasukan Tanah Perdikan Sembojan juga terlibat dalam perang brubuh, karena pasukan Tanah Perdikan Sembojan tetap lekat dalam gelar.

Sementara itu sayap-sayap gelar Garuda Nglayang yang menekan lawan dari samping bersama-sama dengan kelompok kecil yang dilepas lebih dahulu, membuat pasukan Padepokan Watu Kuning seakan-akan menjadi semakin sesak bernafas.

Meskipun demikian, para pemimpin Tarkah Perdikan Sembojan tidak merasa bahwa mereka akan dapat segera menguasai keadaan sepenuhnya. Sementara itu matahari menjadi semakin tinggi menggapai puncak langit.

Di sayap kanan Pandansirat masih bertempur melawan ibu Kasadha. Ternyata keduanya sudah memanjat ilmu mereka semakin tinggi. Keduanya mulai merambah ke ilmu simpanan mereka.

Di sayap kiri Sambi Wulung dan Jati Wulung bertempur pula dengan sengitnya. Ki Wanda Dumung yang semula tidak mengira bahwa lawannya memiliki ilmu yang tinggi, mulai menjadi gelisah sehingga keringatnya semakin deras mengalir membasahi pakaiannya. Bukan hanya karena ia semakin mengerahkan tenaganya serta panas matahari yang semakin menyengat. Tetapi juga karena lawannya yang mampu meningkatkan kemampuannya semakin tinggi.

Tetapi Ki Wanda Dumung memang seorang yang mempunyai tenaga yang sangat besar. Desir angin karena ayunan bindinya selalu memperingatkan Sambi Wulung, bahwa tenaga lawannya terlalu besar. Seandainya Sambi Wulung mengerahkan tenaga dalamnya dan mengimbangi kekuatan lawannya, namun setiap benturan senjatanya dengan bindi lawannya agaknya harus diperhitungkan. Meskipun pedangnya pedang yang baik, tetapi benturan kekuatan yang besar melawan bindi yang besar pula, akan dapat berakibat buruk bagi pedangnya.

Namun Sambi Wulung tidak menjadi bingung karenanya. Dengan tangkasnya ia berusaha untuk menghindari setiap serangan. Jika ia harus menangkis serangan lawannya, maka ia tidak membenturkan senjata langsung melawan bindi yang terayun-ayun mengerikan itu.

Tetapi dengan tangkasnya Sambi Wulung justru berusaha untuk menembus celah-celah putaran bindi Wanda Dumung. Pedangnya yang bergerak cepat, sekali-sekali memang mampu menyusup pertahanan Wanda Dumung, sehingga sempat menyentuh kulit lawannya yang kehitam-hitaman itu.

Sentuhan-sentuhan yang tipis itu telah membuat Ki Wanda Dumung semakin marah. Apalagi ketika keringatnya yang mengalir membasahi goresan-goresan di-kulitnya itu membuat luka-luka kecil itu menjadi pedih. Namun bagaimanapun juga ia berusaha, bindinya ternyata tidak mudah untuk dapat menggapai sasaran.

Disebelah yang lain disayap itu, Jati Wulung bertempur pula dengan sengitnya. Lawannya, Singa Wantek yang berjanggut putih itu berusaha untuk mematahkan tulang-tulangnya dengan tongkatnya yang berselut besi baja. Tetapi Jati Wulung mampu bergerak dengan cepat melampaui ayunan tongkat orang berjanggut putih itu.

Dalam pada itu, meskipun pertempuran berlangsung dengan sengitnya, bahkan terasa gelar Garuda Nglayang itu mulai mendesak pasukan Padepokan Watu Kuning, tetapi Ki Gede masih belum turun kemedan. Ia masih memberikan aba-aba langsung maupun lewat penghubung-penghubungnya. Ketika keadaan semakin mendesak, maka Ki Gede pun telah memerintahkan kepada orang-orabng terbaiknya untuk mengerahkan kemampuan mereka.

“Mereka tidak usah ragu-ragu. Bunuh semua o-rang Tanah Perdikan Sembojan” teriaknya. Lalu katanya pula, ”Semua orang harus berbuat sebaik-baiknya dalam keadaan seperti ini.”

Perintah itu ternyata ada juga pengaruhnya. Pasukan Padepokan Watu Kuning itu seakan-akan telah menggeliat sehingga seakan-akan menggelembung mendesak kesegala arah.

Sekelompok kecil pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang ada dibelakang pasukan Watu Kuning itu pun telah terdesak pula. Beberapa orang yang garang telah turun memasuki medan pertempuran dibelakang pasukan Watu Kuning itu. Sehingga karena itu, maka pasukan kecil itu justru harus bergeser surut beberapa langkah.

Demikian pula sayap-sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan dalam gelar Garuda Nglayang. Sayap-sayap itu pun seakan-akan telah terdesak surut.

Dengan demikian maka gelar Garuda Nglayang yang ujung-ujungnya melengkung seperti sapit dalam gelar Sapit Urang itu telah hampir menjadi lurus kembali. Meskipun kelompok-kelompok kecil yang menyerang dari lambung itu masih juga bertempur di tempatnya, namun pasukan itu pun telah mulai terdesak pula.

Kasadha dan Gandar yang berada disayap kanan merasakan desakan pasukan Watu Kuning itu. Satu hentakan kekuatan yang nampaknya memang berpengaruh atas keseluruh medan. Apalagi orang-orang Watu Kuning itu pun kemudian telah bersorak gemuruh, seakan-akan mereka telah sampai diambang kemenangan. Dalam pada itu, ibu Kasadha masih bertempur melawan Pandansirat yang harus mengakui kemampuan perempuan itu. Dengan keris ditangannya Pandansirat berusaha untuk menggapai tubuh lawannya yang dikiranya sudah mulai renta. Tetapi ternyata Warsi, ibu Kasadha itu memiliki ketangkasan yang mengagumkan.

Pandansirat dengan kerisnya yang besar dan panjang, tidak kalah panjangnya dengan sebilah pedang, berloncatan sambil memutar senjatanya. Di punggungnya melekat wrangka kerisnya yang besar itu.

Warsi memandang keris itu dengan dahi yang berkerut. Ia melihat goresan pamor yang berkerlipan pada daun keris yang panjang itu.

“Kau memperhatikan kerisku nenek yang perkasa?” bertanya Pandansirat sambil tersenyum.

“Sudah aku katakan, aku belum terlalu tua Pandansirat. Aku belum seorang nenek. Anakku masih belum menikah. Apalagi mempunyai anak, sehingga karena itu, maka aku masih belum seorang nenek sebagaimana kau duga.” jawab Warsi.

“Tetapi guratan tahun diwajahmu menunjukkan bahwa kau memang seorang nenek” desis Pandansirat.

Tetapi Warsi justru tertawa. Katanya, ”Kau memang cerdik. Kau tahu kelemahan hati seorang perempuan. Seorang perempuan akan merasa rendah diri jika ia dikatakan terlalu cepat menjadi tua. Tetapi aku tidak ingkar bahwa ujudku memang terlalu tua dibandingkan dengan umurku,”

Pandansirat memandang Warsi dengan tajamnya. Tetapi Warsi sama sekali tidak menundukkan kepalanya. Ia pun menatap Pandansirat justru pada biji matanya.

Dengan demikian Pandansirat menyadari bahwa ia berhadapan dengan seorang perempuan yang memiliki kelebihan. Karena itu maka katanya, ”Kita akan bertempur dengan mengerahkan kemampuan kita masingmasing. Pertempuran disayap ini menjadi semakin garang. Pasukan Padepokan Watu Kuning nampaknya berhasil mendesak kembali pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun anak-anak Sembojan memiliki ketrampilan bertempur, tetapi mereka masih terlalu miskin pengalaman. Mereka hentakkan kekuatan dan kemampuan mereka pada benturan pertama, sehingga ketika matahari mencapai puncak langit dan panas terasa semakin menyengat, maka mereka pun telah kehabisan tenaga.”

“Tidak” jawab Warsi sambil menggeliat ketika Pandansirat menyerang dengan kerisnya yang panjang. Dengan lantang Warsi berkata, ”Kau salah menilai keadaan.”

“Bagus” geram Pandansirat, “Semula aku ingin mengelak melawanmu karena kau seorang perempuan yang mulai rapuh dan renta. Tetapi melihat ketabahan hatimu membuat aku membatalkan niatku. Aku justru ingin bertempur sampai tuntas.”

Warsi tidak segera menjawab. Namun senjatanya, seutas rantai, telah berputar dengari cepat. Sebenarnya ia sudah ingin menyimpan rantainya itu. Namun ternyata bahwa rantai baja itu masih harus dipergunakannya.

Pandansirat  pun kemudian telah bertempur semakin keras. Kerisnya yang besar dan panjang itu pun terayun-ayun mengerikan. Namun rantai Warsi pun menyambar-nyambar dengan garangnya.

Namun dalam pada itu, ibu Kasadha yang berpengalaman luas itu pun segera mengetahui bahwa keris Pandansirat itu telah dimandikan dengan warangan yang sangat kuat. Sehingga goresan kecil pada kulitnya akan dapat berakibat sangat buruk baginya. Racun warangan itu dapat dengan segera menggumpalkan darahnya sehingga jiwanya akan tidak dapat tertolong lagi.

Karena itu dalam serunya pertempuran yang terjadi disayap kanan itu, Warsi telah meloncat mengambil jarak sambil mengambil sebuah bumbung kecil yang terselip pada ikat pingganya.

“Apa yang kau lakukan?” bertanya Pandansirat yang tertahan sejenak. Bahkan orang itu menjadi termangu-mangu.

Warsi pun tertawa. Katanya, “Kau benar. Aku memang sudah menjadi semakin rapuh. Tetapi aku mempunyai obat yang akan dapat membuat aku muda kembali. Setidak-tidaknya dalam pertempuran ini. Itu jika kau berani menghadapinya nanti. Jika tidak, aku akan membatalkan untuk menelan obatku ini.”

Tetapi Pandansirat justru tertawa. Katanya, “Telanlah obat sebanyak kau inginkan. Kekuatanmu yang berlipat ganda tidak akan mampu mengimbangi kemampuanku. Sedangkan kekuatan yang dapat ditimbulkan oleh sejenis obat apapun juga tidak akan dapat bertahan sepenginang. Bahkan sebelum matahari turun, kekuatan obatmu sudah akan larut bersama keringatmu.

Warsi tidak menjawab. Ia menelan sebutir obat yang diambilnya dari bumbung kecil itu. Namun ia tidak meninggalkan kewaspadaan, bahwa lawannya akan dapat menyerang setiap saat.

Tetapi ternyata Pandansirat tidak menyerangnya. Ia memberi waktu kepada Warsi untuk menelan obatnya, menyumbat kembali bumbung kecil itu dan menyimpannya disela-sela ikat pingganya. Sambil menggeliat Warsi itu pun kemudian berkata, “Nah, sekarang aku sudah siap. Apakah aku masih kelihatan seperti seorang nenek?”

“Kau sekarang justru mirip seperti kerangka yang hidup.” jawab Pandansirat.

Warsi tertawa. Sementara itu pertempuran disekitarnya menjadi semakin sengit. Kasadha yang bertempur tidak jauh daripadanya, kadang-kadang dilihatnya.

Namun kadang-kadang tenggelam dalam pertempuran. Demikian pula Gandar yang berada disisi yang lain daripadanya.

Namun Pandansirat ternyata tidak segera menyerangnya. Bahkan pertempuran yang terjadi disekitarnya seakan-akan telah memberi waktu kepadanya untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi pertempuran yang akan menjadi semakin keras dan bahkan kasar.

“Apakah kau sudah siap?” bertanya Pandansirat.

”Kenapa kau menunggu aku siap?” bertanya Warsi, “bukankah kita berada dipertempuran? Kapan pun kau dapat menyerangku. Bahkan kadang-kadang seseorang menunggu lawannya menjadi lengah sehingga kesempatan itu akan sangat berarti baginya.”

“Jika aku bertempur melawan seorang laki-laki yang berilmu sangat tinggi aku akan berbuat demikian” jawab Pandansirat.

Warsi mengerutkan dahinya. Rantainya ditangannya telah bergetar pula. Sementara itu darahnya mulai dialiri oleh obat yang baru saja ditelannya. Obat itu adalah obat untuk menawarkan racun. Sama sekali bukan obat untuk menambah kekuatan sebagaimana dikatakannya. Jika keris yang dimandikan dengan racun warangan yang tajam itu menggoresnya, maka racun itu akan menjadi tawar. Sehingga dengan demikian, maka racun itu tidak akan menggumpalkan darahnya dan tidak akan membunuhnya.

Sejenak kemudian maka Warsi pun telah mulai bergeser. Demikian pula Pandansirat yang memang berilmu tinggi. Kerisnya pun telah mulai bergerak pula sebagaimana rantai baja ditangan Warsi.

Pertempuran antara kedua orang berilmu tinggi itu telah berlangsung kembali. Keduanya berloncatan dengan tangkasnya. Keris Pandansirat terayun-ayun dengan cepat. Bahkan kemudian mematuk dengan cepat seperti paruh seekor burung sikatan menyambar bilalang. Tetapi Warsi yang memanjat kehari-hari tuanya itu masih mampu melenting dan berloncatan dengan cepat. Kakinya bahkan seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah. Rantainya pun seakan-akan telah berputar semakin cepat, sehingga suaranya yang berdesing semakin memekakkan telinga.

Diluar penalarannya, Pandansirat seakan-akan merasakan bahwa kecepatan gerak dan kekuatan lawannya yang tua itu memang semakin bertambah. Perempuan rapuh itu rasa-rasanya mampu bergerak semakin cepat setelah menelan obatnya, meskipun sebenarnya obat itu adalah obat penawar racun.

Namun, sebenarnyalah Warsi memang semakin meningkatkan dukungan tenaga dalamnya. Apalagi ia tidak lagi merasa cemas seandainya kulitnya tergores ujung keris lawannya yang dimandikan dengan warangan yang tajam.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Sekali-sekali Pandansirat terkejut mengalami serangan yang cepat dan tiba-tiba. Sementara itu kekuatan perempuan tua itu pun menjadi semakin terasa menekannya.

Di sisi lain Gandar yang bertempur melawan Wirasrana harus meningkatkan ilmunya semakin tinggi pula. Ternyata Wirasrana memang seorang yang berilmu tinggi, sehingga dengan demikian maka pertempuran dian-tara keduanya itu pun semakin lama menjadi semakin sengit pula. Beberapa kali Gandar merasa terdesak. Namun kemudian dengan meningkatkan tenaga dalamnya, Gandar berhasil mengimbangi kemampuan orang yang bernama Wirasrana itu. Seorang yang bersama-sama dengan Pandansirat datang menemui Risang di rumahnya.

Demikianlah pertempuran antara dua kekuatan itu pun masih nampak berimbang. Sekali-sekali gelar Garuda Nglayang pasukan Tanah Perdikan Sembojan sempat menghimpit lawannya, Namun kemudian kekuatan dari Watu Kuning itu telah menggelembung kembali mendesak lawannya di segala sisi.

Risang memperhatikan pertempuran itu dengan tegang. Ia memang belum melihat kesempatan terbuka bagi pasukannya. Sementara itu ibunya memang mencegahnya untuk langsung menghadapi Ki Gede Watu Kuning. Ibunya memang telah berpesan kepadanya, jika Ki Gede itu turun ke medan, maka Nyi Wiradana sendirilah yang akan menghadapinya. Tetapi ibunya tidak ingin menembus pertahanan lawan untuk langsung menghadapi Ki Gede. Ibunya justru menunggu kesempatan itu datang.

“Tetapi pertempuran ini sudah berlangsung cukup lama. Korban telah berjatuhan. Semakin lama maka korban akan menjadi semakin banyak.”

Disayap kiri Sambi Wulung dan Jati Wulung pun bertempur dengan mengerahkan tenaga mereka. Tetapi lawan mereka pun berbuat hal yang sama. Bahkan seorang yang memiliki ilmu melampaui kebanyakan orang pengawal harus menghadapi mereka bersama-sama.

Namun para pengawal Tanah Perdikan, terutama para pengawal pilihan memang sudah dipersiapkan untuk melakukannya, sehingga dengan sigapnya tiga orang telah menghadapi seorang lawan yang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, Risang yang melihat kenyataan itu memang menjadi gelisah. Ia tidak gentar bahwa pasukannya akan segera dapat didesak oleh lawan, tetapi ia justru gelisah karena korban yang menjadi semakin banyak.

Jika pertempuran itu berlangsung semakin lama, maka berarti bahwa kematian akan menjadi semakin banyak. Para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan akan susut dengan cepat. Selain yang gugur sebagian lagi terluka parah.

Meskipun lawan akan mengalami keadaan yang sama, namun Risang harus mencari jalan untuk mengurangi korban yang jatuh.

“Pertempuran ini harus cepat selesai. Semakin cepat semakin baik” berkata Risang didalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun mendekati ibunya yang bertempur diantara para pengawal dan berdesis, “Ibu, bagaimana pendapat ibu jika aku memanggil pasukan cadangan yang telah dipersiapkan?”

“Apakah kau mendapat laporan bahwa pasukanmu terdesak?” bertanya ibunya.

“Tidak. Tetapi pertempuran ini nampaknya seimbang, sehingga pertempuran ini tidak akan segera berakhir. Jika aku memanggil pasukan cadangan, maka pasukan cadangan itu akan dengan cepat merubah keseimbangan ini. Dengan demikian maka pertempuran ini akan lebih cepat berakhir. Korban akan dapat dikurangi sejauh mungkin.” jawab Risang.

Ibunya termangu-mangu sejenak. Ia memang melihat bahwa pasukan Tanah Perdikan tidak dapat mendesak lagi. Kadang-kadang bahkan gelar Garuda Nglayang itu sempat terguncang, meskipun segera dapat dicari keseimbangannya kembali.

“Bukankah orang-orang Watu Kuning telah bergerak dengan seluruh kekuatan yang ada?” berkata Risang kemudian, “sementara mereka yang tinggal diperkemahan sudah dihancurkan oleh sekelompok pengawal. Mereka yang sempat lolos telah lari memasuki induk pasukan mereka dan menjadi satu dengan mereka.”

Ibunya mengangguk-angguk kecil. Tetapi menurut perhitungan ibunya, pasukan cadangan itu memang dapat digerakkan. Bukan berarti bahwa padukuhan-padukuhan menjadi kosong sama sekali, karena dengan demikian pihak ketiga akan dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk melakukan kejahatan.

“Ibu” berkata Risang, “yang aku maksud pasukan cadangan adalah mereka yang sudah siap di padukuhan terdekat yang melindungi dapur dan perlengkapan. Sementara pasukan cadangan itu bergerak, maka setiap padukuhan disekitarnya akan dapat mengirimkan dua atau tiga orang yang akan membantu menjaga dan melindungi padukuhan itu.”

Nyi Wiradana masih berpikir sejenak. Tetapi ia memang tidak mempunyai pendapat lain. Pendapat Risang itu memang akan dapat segera merubah keseimbangan dari pertempuran yang berlangsung semakin sengit itu. Agaknya pasukan Watu Kuning juga sudah mengerahkan segenap kekuatan mereka sehingga tidak lagi ada orang yang tersisa diperkemahan yang sebagian justru terbakar itu. Namun Nyi Wiradana pun berpendapat bahwa orang-orang Padepokan Watu Kuning yang garang itu akan dapat mempergunakan kesempatan saat anak-anak muda Tanah Perdikan mulai menjadi letih.

Sementara itu ternyata pasukan Watu Kuning memang sempat menggelembung lagi. Orang-orang yang keras dan kasar itu telah menghentak-hentak medan sehingga garis pertempuran itu pun selalu berguncang-guncang. Apalagi seperti Risang dan Kasadha, maka Nyi Wiradana pun melihat didalam pasukan Padepokan Watu Kuning terdapat sekelompok kekuatan yang nampaknya memiliki keseragaman. Senjata, tatanan perang meskipun secara pribadi dan unsur-unsur kerja sama yang nampak lebih padat dari kelompok-kelompok yang lain.

Karena itu maka Nyi Wiradana itu pun berkata, “Baiklah. Tetapi jika perang ini tidak dapat diselesaikan hari ini dan saat senja turun kita harus menghentikan pertempuran sesuai dengan tatanan yang berlaku sampai saat ini, maka nanti malam kita harus membuat susunan baru dari seluruh pasukan ini.”

“Mudah-mudahan kita dapat menyelesaikan pertempuran ini pada hari ini juga ibu. Jika pasukan cadangan kita turunkan, maka aku berpendapat, bahwa kita akan dapat segera menguasai kekuatan lawan.” sahut Risang.

”Mungkin ada unsur lain yang tidak dapat kita perhitungkan sebelumnya. Karena itu, maka it a harus tetap mempunyai kekuatan cadangan” berkata ibunya kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti ibu. Malam nanti kita akan mengatur kembali seluruh pasukan kita. Kecuali jika pasukan dari Padepokan Watu Kuning tidak mempergunakan tatanan yang berlaku, sehingga perang akan tetap berlangsung meskipun malam turun. Jika mereka memaksakan perang itu, kita tidak akan dapat menghindar.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi Nyi Wiradana pun memperhitungkan jika Padepokan Watu Kuning memaksakan pertempuran meskipun malam turun, maka jumlah laki-laki di Tanah Perdikan akan masih dapat digali lagi disetiap padukuhan. Mereka akan dapat membantu setidak-tidaknya untuk mengisi beberapa kekosongan saat-saat para pengawal kelelahan dan tentu juga menjadi lapar dan haus.

Sekelompok demi sekelompok para pengawal itu akan dapat beristirahat, sementara kekuatan cadangan dilapisan terakhir pun akan dapat mengisi kekosongan itu.

Karena itulah maka Nyi Wiradana pun berkata, “Baiklah Risang. Panggil pasukan cadangan. Hanya yang ada dipadukuhan landasan pasukan ini. Biarlah yang ada dipadukuhan-padukuhan lain, terutama di padukuhan induk tetap ada di tempatnya. Kekuatan mereka memang tinggal kecil sekali. Mereka diperlukan untuk mengatasi kemungkinan pihak ketiga memanfaatkan keadaan ini.”

Risang pun kemudian telah bergeser meninggalkan ibunya yang kembali berada diantara para pengawal. Sementara itu Risang telah memanggil dua orang penghubung untuk pergi ke padukuhan landasan pasukan Tanah Perdikan Semboyan untuk menghubungi pasukan cadangan yang ada di padukuhan itu. Mereka membawa perintah dari Risang bahwa pasukan cadangan yang ada di padukuhan itu harus segera menyusul kemedan secepatnya.

“Semuanya” berkata Risang, “kecuali yang bertugas didapur. Mereka harus menyiapkan makan bagi para pengawal. Kemudian padukuhan itu supaya diisi oleh beberapa orang pengawal dari padukuhan yang lain. Dua orang dari setiap padukuhan terdekat. Semua laki-laki dipadukuhan itu harus ikut bersiaga jika ada pihak ketiga yang mengambil keuntungan dari keadaan ini.”

Demikianlah, maka kedua orang penghubung itu pun segera berangkat kepadukuhan membawa perintah Risang. Ada pun pesan Risang pula kepada keduanya, “Mereka harus menempatkan diri mereka langsung di sayap-sayap gelar Garuda Nglayang ini dan bertempur dengan kemampuan tertinggi mereka agar keseimbangan pertempuran ini cepat berubah.”

Sementara itu, pertempuran ditebaran gelar pasukan Tanah Perdikan Sembojan masih berlangsung dengan sengitnya. Kedua pasukan itu saling mendesak dan saling bertahan. Garis pertempuran pun telah bergerak-gerak pula. Semakin panas matahari dilangit yang semakin tinggi, maka keringat pun bagaikan diperas dari setiap tubuh mereka yang, sedang  bertempur itu. Teriakan-teriakan yang garang terdengar di sela-sela erang kesakitan. Beberapa orang terpaksa meninggalkan medan karena luka-luka mereka yang parah, sementara beberapa orang yang lain berusaha membebaskan kawan-kawan mereka yang terperangkap dalam pertempuran sementara mereka tidak lagi mampu mempertahankan diri karena luka-luka mereka.

Ki Gede Watu Kuning yang melihat pasukannya tidak dapat bergerak maju menjadi marah. Beberapa kali ia meneriakkan aba-aba dan perintah-perintah. Tetapi orang-orangnya tidak mampu berbuat lebih banyak lagi. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan ternyata baik dalam gelar maupun secara pribadi mempunyai bekal yang cukup untuk menghadapi orang-orang dari Padepokan Watu Kuning itu.

Tetapi, Ki Gede Watu Kuning itu masih berteriak, “Kita harus segera menyelesaikan tikus-tikus clurut itu. Kita hari ini harus berhasil menguasai Tanah Perdikan. Orang-orang Tanah Perdikan dengan licik sudah membakar persediaan bahan makan dan perlengkapan kita. Kita harus mendapatkannya di Tanah Perdikan. Atau kita akan membalasnya, menjadikan Tanah Perdikan Sembojan karang abang. Kita bakar semua padukuhan bahkan padukuhan induk sebagaimana mereka membakar perbekalan kita.”

Orang-orang dari Padepokan Watu Kuning memang berusaha menghentakkan kekuatan dan kemampuan mereka. Orang-orang yang memiliki kelebihan dari yang lain telah turun langsung kemedan yang garang. Beberapa orang diantara mereka harus dihadapi oleh kelompok-kelompok kecil pengawal Tanah Perdikan.

Di sayap kiri gelar Garuda Nglayang, seorang yang berilmu tinggi sempat membuat para pengawal menjadi gelisah. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung masih terikat dengan lawan mereka masing-masing. Orang yang mengaku bernama Ki Lurah Cublik itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Tiga orang pengawal pilihan dari Tanah Perdikan Sembojan mengalami kesulitan menghadapinya. Namun setidak-tidaknya untuk sementara ketiga pengawal itu mampu menahan Ki Lurah Cublik yang bertempur dengan keras dan kasar.

Tetapi kelompok kecil itu kadang-kadang memang terdesak, karena seorang dua orang cantrik Padepokan Watu Kuning sering melibatkan diri dan mengganggu para pengawal.

Tetapi langkah yang diambil Risang memang mengejutkan orang-orang Padepokan Watu Kuning. Ketika dua kelompok pengawal cadangan itu berlari-lari menuju ke medan, maka Ki Gede Watu Kuning berteriak, “Setan-setan kecil itu akan turut menyerahkan nyawa mereka. Sambut mereka. Kita tebas batang ilalang kering dihadapan kita. Jangan biarkan seorang pun yang lolos.

Teriakan-teriakan itu telah disahut dan bergaung diantara orang-orang Padepokan Watu Kuning. Seorang yang bertubuh gemuk yang berada disamping Ki Gede Watu Kuning itu pun telah mendapat perintah dari Ki Gede, ”Turun ke medan. Hancurkan induk pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu. Nampaknya orang-orangnya yang baru datang itu akan memperkuat sayap-sayap gelar mereka.”

Sebenarnyalah kedua kelompok pengawal dari pasukan cadangan itu langsung menuju ke ujung sayap sebagaimana diperintahkan oleh Risang. Risang memang ingin merubah keseimbangan pertempuran itu dari ujung-ujung sayap gelarnya.

Demikian kedua kelompok pasukan cadangan yang masih segar itu memasuki arena, maka memang terasa terjadi guncangan. Terutama dikedua sayap. Para pengawal yang baru datang itu segera melibatkan diri kedalam pertempuran. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, tetapi kehadiran mereka benar-benar mempunyai pengaruh yang besar.

Orang-orang Watu Kuning yang berada berhadapan dengan sayap-sayap pasukan gelar Garuda Nglayang itu mulai merasakan tekanan lawan mereka menjadi semakin berat. Para pengawal yang semula merasa kecewa karena mereka dianggap tidak lebih dari cadangan saja, justru setelah berada dimedan ingin menunjukkan bahwa mereka tidak lebih buruk dari para pengawal yang bukan sekedar cadangan.

Meskipun pengaruh kehadiran pasukan cadangan itu tidak segera terasa diindiik pasukan, namun lambat laun, terasa pula bahwa sebagian dari para cantrik mulai terhisap kearah sayap-sayap pasukan lawan karena kawan-kawan mereka menjadi semakin terdesak oleh para pengawal.

Kemarahan Ki Gede benar-benar telah membakar jantungnya. Sementara itu, orang yang gemuk itu telah menyibak para cantrik Padepokan Watu Kuning dan memasuki medan yang semakin garang.

Ibu Kasadha terkejut melihat kehadiran orang itu. Orang itu demikian tangkasnya, sehingga ketika beberapa ujung senjata mematuknya, dengan tangkasnya ia menangkis dan menghindar. Bukan saja ketangkasannya, tetapi Nyi Wiradana melihat ilmu yang tinggi tersirat dari tatanan geraknya.

Karena itu, maka ketika Risang siap menghadapinya, ibunya telah mencegahnya.

”Biarlah aku yang menghadapinya” berkata Nyi Wiradana.

”Bukankah ibu menunggu Ki Gede Watu Kuning?”

”Tetapi orang ini juga berbahaya” berkata ibunya, “aku akan menghadapinya, jika Ki Gede juga turun kemedan , maka aku akan beralih lawan. Siapkan sekelompok kecil pengawal terbaik bersamamu menghadapi orang gemuk itu.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ibunya sudah bergerak lebih dahulu menghadapi orang yang bertubuk gemuk itu.

“He, bukankah kau seorang perempuan?” bertanya orang yang gemuk itu.

“Ya. Kenapa?” Nyi Wiradana justru bertanya pula.

“Apakah kau ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya orang itu pula.

“Ya” jawab Nyi Wiradana.

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau memang menjadi semakin tua. Tetapi kau masih tetap cantik.”

Wajah Nyi Wiradana menjadi merah. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Siapakah kau? Apakah kau juga orang Padepokan Watu Kuning?”

“Tentu. Aku adalah salah seorang andalan Ki Gede Watu Kuning yang memimpin langsung pasukannya kali ini.” jawab orang gemuk itu.

“Siapa namamu?” bertanya Nyi Wiradana.

“Namaku Ki Tanda Permati. Nah, jika kau pernah mendengar namaku, maka kau tentu akan membuat pertimbangan baru untuk melawanku.”

Nyi Wiradana tidak bertanya lagi. Pedangnya mulai bergetar. Sementara itu Ki Tanda Permati justru bergeser selangkah surut.

Sebagai seorang yang berilmu tinggi ia pun melihat bahwa perempuan yang dihadapinya itu berilmu tinggi. Karena itu, maka Ki Tanda Permati itu pun telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Orang bertubuh gemuk itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Dengan tangkasnya ia berloncat sambil menggerakkan senjatanya. Sebuah golok yang besar dan berat. Namun di-tangan orang gemuk itu golok yang besar itu seakan-akan sama sekali tidak berbobot.

Namun Nyi Wiradana pun berilmu tinggi pula. Tenaga dalam yang telah dibangunkan membuatnya semakin berbahaya, kekuatannya justru telah membuat lawannya yang gemuk itu menjadi heran.

Tetapi Nyi Wiradana bukan saja memiliki kekuatan yang besar, tetapi kakinya nampak terlalu ringan. Dengan tangkasnya ia berloncatan sambil memutar pedangnya. Bahkan kadang-kadang membuat Ki Tanda Permati menjadi berdebar-debar.

Sementara itu, kedatangan pasukan cadangan yang langsung bergabung dengan kekuatan sayap-sayap gelar Garuda Nglayang telah merubah keseimbangan, terutama diujung sayap-sayap gelar. Orang-orang Watu Kuning mulai terhisap ke ujung medan pertempuran untuk membantu kawan-kawan mereka yang mengalami tekanan yang semakin berat. Namun dengan demikian, maka di induk pasukan Watu Kuning lapisan pasukan itu pun menjadi semakin menipis.

Hentakkan kekuatan yang diteriakkan Ki Gede Watu Kuning memang berpengaruh. Tetapi tidak terlalu banyak. Apalagi Ki Tanda Permati yang diharapkan dapat menyulitkan kedudukan paruh gelar Garuda Nglayang itu telah membentur kekuatan yang mampu mengimbanginya.

Ki Gede yang memerintahkan seseorang untuk menilai apa saja yang telah dapat dilakukan oleh Tanda Permati telah melaporkan bahwa Ki Tanda Permati telah bertemu dan bertempur dengan seorang perempuan.

“Itu adalah ibu Kepala Tanah Perdikan ini” berkata Ki Gede Watu Kuning. Lalu katanya, “Jika demikian, maka harus ada orang lain yang melakukan tugasnya, menghancurkan induk pasukan itu. Jika paruh pasukan dalam gelar itu hancur, maka yang lain akan menjadi sangat terpengaruh. Apalagi jika Tanda Permati yang berilmu tinggi itu dapat menghancurkan ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang juga seorang yang berilmu tinggi.

”Pertempuran masih berlangsung dengan ganasnya. Tetapi masih sulit untuk dapat meramalkan apakah kita akan berhasil” berkata petugas yang memberikan laporan itu dengan ragu-ragu.

“Baik” geram Ki Gede Watu Kuning, “Aku sendiri akan turun ke medan. Jika ibu Kepala Tanah Perdikan itu sudah bertempur melawan Ki Tanda Permati, maka akulah yang akan menghancurkan induk pasukan Tanah Perdikan. Setiap kejap mata aku membunuh seorang diantara mereka. Maka saat matahari turun ke Barat, induk pasukan itu tentu sudah menjadi rapuh.”

Para pengiring khususnya segera mendapat perintah, bahwa Ki Gede Watu Kuning akan turun ke medan. Para penghubung diminta untuk memberitahukan kepada para pemimpin yang tersebar diseluruh medan agar mereka masing-masing berusaha menempatkan diri mereka. Ki Gede Watu Kuning tidak akan memberikan aba-aba apapun lagi, karena Ki Gede akan melibatkan diri dalam pertempuran di induk pasukan.

Sejenak kemudian, maka Ki Gede pun segera menyibak dan dengan cepatnya Ki Gede telah muncul diantara orang-orang Watu Kuning yang sedang bertempur dengan garangnya.

Seperti yang dikatakannya, maka senjatanya, sebuah canggah bertangkai pendek segera menghirup darah korbannya. Seorang pengawal Tanah Perdikan berteriak nyaring ketika dua mata canggah Ki Gede itu menjepit lahernya. Namun suaranya segera terputus karena kematian dengan cepat telkh merenggutnya.

Kehadiran Ki Gede Watu Kuning dimedan segera didengar pula oleh Risang dan Nyi Wiradana. Sejenak Nyi Wiradana memang menjadi bingung. Ia tidak dapat meninggalkan Tanda Permati begitu saja karena ia juga seorang yang berilmu tinggi. Tetapi jika Ki Gede Watu Kuning dilepaskan saja, maka ia akan dapat membunuh sebanyak-banyaknya. Apalagi jika Risang tidak dapat menahan diri dan mencoba menghadapinya.

Untuk beberapa saat Nyi Wiradana itu masih bertempur melawan Ki Tanda Permati. Namun ketika ia sempat melihat Risang dengan tiga orang pengawal terpilih berusaha mendekati Ki Gede, maka Nyi Wiradana segera memanggilnya.

“Risang, hadapi orang ini bersama kelompok kecilmu. Aku akan menemui Ki Gede Watu Kuning.”

“Biarlah aku menghadapi Ki Gede Watu Kuning, ibu.” jawab Risang.

“Dengar kata-kataku” sahut ibunya.

Risang tidak membantah. Bersama tiga orang pengawal terpilih Risang siap menghadapi orang gemuk yang bernama Ki Tanda Permati itu.

Orang gemuk itu sempat tertawa Katanya, “He, apakah anak muda itu Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

Risang tidak menjawab. Tetapi ia siap bersama tiga orang pengawal terpilih untuk menghadapi Ki Tanda Permati yang gemuk itu. Namun suara tertawa Ki Tanda Permati masih terdengar seakan-akan mengguncang seluruh isi dada Risang.

Namun bagi ibu Risang, Ki Tanda Permati itu masih belum terlalu berbahaya sebagaimana Ki Gede Watu Kuning. Risang bersama dengan tiga orang pengawal terpilihnya setidak-tidaknya akan dapat menahan orang gemuk itu untuk beberapa lama agar orang itu tidak membunuh pengawal terlalu banyak.

Sejenak kemudian, maka Nyi Wiradana pun telah meninggalkan Ki Tanda Permati. Dengan cepat ia bergerak diantara para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang bertempur dan dengan tangkas ia kemudian telah berdiri dihadapan Ki Gede Watu Kuning. Ternyata canggah Ki Gede Watu Kuning telah sempat membunuh dua orang pengawal Tanah Perdikan yang berusaha menahannya.

“Bagus” teriak Ki Gede Watu Kuning, “aku sudah mendengar bahwa bekas Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah seorang perempuan yang berilmu tinggi. Sekarang aku mendapat kesempatan untuk menemuinya di medan pertempuran.”

Nyi Wiradana memandanginya dengan tajamnya. Ia sadar, bahwa Ki Gede Watu Kuning tentu seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi Nyi Wiradana pun memiliki bekal yang memadai. Nyi Wiradana telah mewarisi kemampuan ketiga orang kakek dan neneknya yang telah berusaha menggabungkan ilmu mereka yang kemudian luluh menjadi sebuah ilmu yang sangat tinggi. Ilmu Janget Tinatelon. Ilmu yang mempunyai alas pada ilmu ketiga orang kakek dan neneknya.

“Sayang ketiganya sudah terlalu tua, sehingga tidak lagi turun ke medan pertempuran” desis Nyi Wiradana itu didalam hatinya.

Meskipun demikian, ketiganya masih tegar di sanggar. Mereka sudah siap untuk menurunkan ilmu itu pula kepada Risang, karena landasan yang dipersiapkan telah cukup masak.

Tetapi dalam pertempuran yang keras itu, sebenarnya bahwa kedua orang kakek dan seorang nenek tidak tinggal diam dirumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun mereka sudah menjadi semakin tua, tetapi mereka ternyata juga berada di padukuhan terdekat dari medan yang menjadi landasan pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Dari kejauhan ketiganya selalu mengikuti perkembangan pertempuran yang terjadi. Dua orang pengawal khusus telah mereka tugaskan untuk melihat pertempuran itu dan memberikan laporan kepada mereka. Bukan saja dari perbatasan, tetapi keduanya kadang-kadang mendekati pertempuran dan bahkan memasuki medan. Sekali dua kali keduanya sempat berhubungan dengan Risang atau Nyi Wiradana. Namun kemudian Risang telah terlibat dalam pertempuran melawan Tanda Permati sementara Nyi Wiradana telah berhadapan dengan Ki Gede Watu Kuning.

Sementara itu Ki Tanda Permati bertempur semakin garang melawan Risang dan tiga orang pengawal terpilih dari Tanah Perdikan Sembojan. Sambil tertawa Ki Tanda Permati berloncatan dengan cepatnya. Goloknya terayun-ayun mengerikan. Benturan senjata akan mengakibatkan telapak tangan lawannya menjadi pedih. Bahkan seorang diantara para pengawal yang bertempur bersama Risang mengaduh tertahan ketika pedangnya membentur golok Ki Tanda Permati. Kulit tangannya bagaikan terkelupas. Sementara itu pedangnya telah terlempar jatuh beberapa langkah dari padanya.

Dengan sigap Risang menjulurkan pedangnya. Orang yang siap mengayunkan goloknya menebas leher pengawal yang kehilangan pedangnya itu terpaksa berpaling untuk menangkis serangan Risang. Dengan cepat golok yang besar itu berputar rfignepis pedang Risang kesamping. Tetapi golok itu sempat terjulur karena dua orang pengawal yang bertempur bersama Risang telah meloncat menyerang pula.

Orang itu menggeram, sementara pengawal yang kehilangan pedangnya itu sempat memungutnya. Sekali-sekali ia meniup tangannya yang masih terasa pedih, Namun sejenak kemudian, bertiga para pengawal itu sudah siap bertempur pula bersama Risang yang telah mulai menyerang lagi.

Ki Tanda Permati tertawa pula berkepanjangan. Tetapi serangan-serangannya masih saja sangat berbahaya. Meskipun keempat orang lawannya berloncatan dengan tangkas, tetapi Ki Tanda Permati sama sekali tidak mengalami kesulitan yang fyerarti.

Karena itu, maka Risang dan ketiga orang pengawal itu harus mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka untuk menghadapi orang gemuk itu.

Tetapi ternyata salah seorang pengawal itu telah terlambat mengelak ketika golok Ki Tanda Permati menyambarnya. Dengan pedangnya pengawal itu berusaha menangkis golok yang besar itu terayun ke lehernya. Namun ketika benturan terjadi, maka pedang pengawal itu terlempar, sementara itu golok yang besar itu masih tetap terayun deras. Tetapi arahnya sajalah yang telah berubah. Golok itu tidak mengenai leher pengawal itu, tetapi mengenai pundaknya.

Pengawal itu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan ia telah kehilangan keseimbangannya. Lukanya yang dalam menganga memancarkan darahnya yang hangat. Agaknya Ki Tanda Permati ingin menyelesaikan pengawal itu. Apalagi Ki Tanda Permati berdiri diarah yang menguntungkan karena ketiga lawannya yang lain berdiri terhalang oleh pengawal yang kehilangan senjatanya itu.

Tetapi Risang tidak membiarkan hal itu terjadi. Dengan mengerahkan segenap tenaganya, Risang meloncat untuk membenturkan pedangnya menahan golok yang besar yang sudah terayun itu.

Namun Ki Tanda Permati mengurungkan serangannya. Ia melihat sasaran yang lebih berarti. Meskipun tubuhnya gemuk, tetapi ia cukup cepat untuk bergerak dan bergeser menghindari serangan Risang. Bahkan demikian senjata Risang terjulur, maka terbuka kesempatan baginya untuk menyerang anak muda itu.

Keadaan Risang yang tergesa-gesa berusaha menyelamatkan pengawal itu memang tidak menguntungkannya. Ia melihat serangan Ki Tanda Permati. Tetapi tidak ada kesempatan baginya untuk menangkis serangan itu justru saat pedangnya terjulur namun tidak mengenai sasaran.

Karena itu, maka satu-satunya jalan untuk menghindari serangan itu adalah justru menjatuhkan dirinya. Dengan berguling mengambil jarak Risang ingin membebaskan dirinya dari lawannya.

Tetapi lawannya tidak mau melepaskannya. Ki Tanda Permati agaknya mengabaikan kedua orang pengawal yang bertempur bersama Risang. Dipusatkannya perhatiannya kepada Risang. Karena itu maka memburu anak muda yang berguling itu.

Ternyata kedua orang pengawal yang kehilangan seorang kawannya itu agak terlambat. Keduanya sempat tergetar jantungnya melihat luka yang menganga. Ternyata yang sekejap itu telah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Ki Tanda Permati.

Demikian Risang melenting berdiri maka Ki Tanda Permati telah siap meloncat sambil menjulurkan goloknya yang besar kearah jantung Risang yang masih belum siap benar menerima serangan itu.

Tetapi yang terjadi benar-benar mengejutkan Ki Tanda Permati. Ia memang melihat Risang berusaha menangkis goloknya yang besar. Tetapi kedudukan Risang yang lemah meyakinkan Ki Tanda Permati bahwa ia akan berhasil menyentuh sasaran. Seandainya tidak langsung dapat membunuhnya, tetapi anak muda yang menjadi pemimpin tertinggi di Tanah Perdikan Sembojan itu akan dapat dilukainya.

Namun ketika golok Ki Tanda Permati hampir menyentuh sasaran sementara Risang terlambat mengangkat pedangnya menangkis sehingga sentuhannya tidak akan banyak berpengaruh, tiba-tiba saja tangan Ki Tanda Permati telah terjerat sehelai selendang. Dengan kekuatan yang besar selendang itu dihentakkanya sehingga arah golok Ki Tanda Permati itu telah berubah. Bahkan sama sekali tidak menyentuh tubuh Risang.

Risang yang mendapat kesempatan itu pun segera meloncat surut mengambil jarak. Demikian pula Ki Tanda Permati yang berhasil menyentakkan tangannya sehingga selendang yang membelit tangannya itu telah terurai.

Sesaat kemudian Ki Tanda Permati itu berdiri tegak dengan mata yang membara. Dipandanginya seorang perempuan yang agak gemuk berdiri sambil tertawa. Di kedua tangannya digenggamnya ujung dan pangkal selendangnya yang telah menggagalkan serangannya yang hampir mengenai tubuh Risang.

“Bibi” desis Risang.

”Orang ini memang sangat berbahaya Risang” berkata Bibi sambil menunjuk Ki Tanda Permati.

“Kau siapa perempuan gemuk?” bertanya Ki Tanda Permati.

“Bukankah kita sudah saling mengenal? Tetapi itu dahulu, ketika aku masih muda dan tidak bertubuh gemuk seperti ini.” jawab Bibi.

“Siapakah kau?” Ki Tanda Permati membentak.

“Aku ibu anak muda yang bernama Risang itu.” jawab Bibi.

“Bohong. Ibunya adalah perempuan yang bertempur melawan Ki Gede Watu Kuning itu.” jawab Ki Tanda Permati.

“Ya. Ia memang ibunya. Tetapi aku juga ibunya. He, apakah kau belum ingat, siapakah aku? Aku dahulu memang cantik, ramping dan barangkali kulitku dahulu kuning langsat, tidak hitam seperti sekarang.”

“Iblis betina. Sebut kau siapa?” bentak Ki Tanda Permati.

“Apakah kau benar-benar lupa padaku Dolop?” bertanya Bibi.

“Kau tahu namaku? Dengar, namaku sekarang adalah Ki Tanda Permati.” geram orang gemuk itu.

Bibi tertawa. Dipandanginya Risang yang termangu-mangu. Demikian pula kedua orang pengawal yang telah bertempur bersamanya. Keduanya berdiri beberapa langkah dari Bibi dengan pedang siap ditang-an.

Namun Bibi itu berkata, “Tolong seorang kawanmu yang terluka itu. Biarlah aku dan angger Risang menghadapi orang ini.”

“Rupa-rupanya kau ingin mati perempuan dungu. Tetapi siapa kau sebenarnya?” desak Ki Tanda Permati.

“Ingat-ingat Dolop. Kau tentu ingat seorang kawanmu yang sering, ingat, hanya sering dan tidak selalu, mempergunakan selendangnya sebagai senjatanya,” sahut Bibi.

“Tangseh” desis Ki Tanda Permati, “kaukah Serigala Betina itu? Sejak kapan kau berada disini?”

“Ternyata ingatanmu tajam Dolop. Aku tidak lupa padamu meskipun berpuluh tahun kita tidak bertemu. Kau masih tetap gemuk, sombong dan angkuh. Hanya garis-garis di wajahmu menjadi semakin dalam. Tetapi mungkin aku sudah terlalu banyak berubah, sehingga kau tidak lagi dapat mengingat siapa aku.” jawab Bibi.

“Ya. Tangsen. Aku ingat itu. Duapuluh tahun yang lalu. Bahkan lebih. Kau masih gadis tanggung waktu itu. Tetapi kau sudah digelari Serigala Betina karena kau sejak gadismu memang seganas Serigala Betina.” desis Ki Tanda Permati.

“Ya. Kita bersama-sama terdampar dilembah hitam itu. Tetapi aku kemudian ternyata mampu melepaskan diri. Ada sepercik petunjuk dari Yang Maha Agung sehingga aku mampu keluar dari neraka itu dan berada di Tanah Perdikan Sembojan sejak Risang belum lahir. Aku adalah salah seorang ibunya meskipun aku tidak melahirkannya.” berkata Bibi.

“Dan sekarang kau akan melindungi anakmu yang tidak kau lahirkan itu?” bertanya Ki Tanda Permati yang dikenal Bibi bernama Dolop itu.

“Ya. Ia adalah juga anakku. Jika terang dari Yang Maha Agung itu tidak memercik di jiwaku, maka anak itu tidak akan pernah lahir.” jawab Bibi, “karena itu, maka aku juga berkepentingan dengan kelanjutan hidupnya.”

“Kau masih seekor Serigala Betina” geram Ki Tanda Permati.

“Ya. Mungkin lebih garang karena aku menjadi semakin tua” jawab Bibi.

“Baik. Kita bertemu lagi setelah berpisah puluhan tahun. Justru berdiri berseberangan” geram Ki Tanda Permati.

“Tetapi kenapa kau dapat terjebak kedalam Padepokan Watu Kuning?” bertanya Bibi.

“Terjebak?” Ki Tanda Permati menjadi heran, “kenapa aku terjebak? Aku adalah salah seorang pemimpin di Padepokan Watu Kuning.”

“Apakah kau juga dilahirkan oleh perguruan Watu Kuning?” bertanya Bibi.

“Apa pedulimu? Sekarang-kita sudah berhadapan. Lindungi anakmu itu. Aku tentu akan berhasil membunuhnya. Jika ia mati, maka akulah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.” jawab Ki Tanda Permati.

Bibi tidak menjawab lagi. Ia pun mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sambil memberi isyarat kepada Risang ia bergeser mendekati lawannya.

“Bibi” berkata Risang kemudian, “bukankah Bibi berada didapur?”

“Aku datang bersama pasukan cadangan. Aku sudah tidak mempunyai tugas apa-apa didapur.”

“Tetapi bukankah Bibi harus melindungi dapur yang ada dipadukuhan itu?” bertanya Risang.

“Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyi Soka ada di padukuhan itu.”

“Jadi kakek dan nenek ada disana?” bertanya Risang.

“Ya. Karena itu aku berani meninggalkan padukuhan itu” jawab Bibi.

Risang tidak bertanya lagi. Sebenarnyalah hatinya menjadi semakin tenang karena Bibi ada disampingnya. Ia pun tahu bahwa Bibi memiliki landasan ilmu yang cukup tinggi. Sementara itu, meskipun umurnya yang sudah menjadi semakin tua, namun Bibi masih rajin berada di sanggar, sehingga karena itu, maka kemampuan Bibi memang dapat diperhitungkan.

Demikianlah maka Risang pun kemudian bersiap bersama Bibi menghadapi Ki Tanda Permati yang nama sebelumnya adalah Dolop. Dengan hati-hati bibi bergeser sambil memutar selendangnya yang dikedua ujungnya diberati dengan bandul-bandul timah.

Dengan demikian maka sejenak kemudian Bibi dan Risang telah terlibat dalam pertempuran melawan Ki Tanda Permati yang memang berilmu tinggi. Sementara itu kedua orang pengawal pilihan yang semula bertempur bersama Risang telah menyingkirkan kawannya yang terluka dan menyerahkannya kepada orang lain. Keduanya pun kemudian telah kembali kemedan untuk mengamati pertempuran antara Ki Tanda Permati yang gemuk itu melawan Bibi yang juga agak kegemukan dan Risang yang tangkas dan bergerak dengan kecepatan yang tinggi.

Meskipun Ki Tanda Permati itu bertubuh gemuk, tetapi ia pun mampu berloncatan setangkas Risang. Goloknya berputar cepat, berayun mendatar, menebas dan mematuk. Namun Bibi yang agak gemuk itu ternyata juga mampu bergerak secepat Ki Tanda Permati yang dikenal bernama Dolop itu.

Ketika kedua orang pengawal yang sebelumnya bertempur bersama Risang itu mendekati pertempuran, maka mereka menjadi ragu-ragu. Mereka melihat bahwa Risang dan Bibi ternyata mampu mengimbangi Ki Tanda Permati.

Namun kedua orang pengawal itu tidak segera beranjak dari tempatnya, keduanya bersiap untuk setiap saat meloncat terjun kemedan jika diperlukan. Karena mereka sadar, bahwa Ki Tanda Permati memang seorang yang berilmu sangat tinggi.

Tetapi Bibi sama sekali tidak mengenal gentar. Dengan berani Bibi berloncatan menyusup putaran golok lawannya yang besar dan berat itu. Selendangnya berputaran menyambar-nyambar. Bandul-bandul timah di-ujung selendangnya itu berdesing di sekeliling tubuh Ki Tanda Permati. Sementara itu pedang Risang pun dengan cepatnya berputaran dan mematuk-matuk kearah lawannya. Tetapi Ki Tanda Permati masih sempat mengelak dan menangkis serangan-serangan itu.

Dalam pada itu, kedua sayap pasukan Tanah Perdi-kan Sembojan yang diperkuat oleh kelompok-kelompok pasukan cadangan itu ternyata telah berhasil mengguncang kedudukan lawan. Kekuatan Watu Kuning yang semula menggelembung, telah mulai terdesak lagi. Bahkan pasukan Watu Kuning yang berhadapan dengan sayap-sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan telah menghisap kekuatan di induk pasukan mereka.

Ki Gede Watu Kuning mulai merasakan, perubahan keseimbangan itu. Karena itu, maka kemarahannya menjadi semakin membakar ubun-ubun. Tetapi ia tidak mampu beranjak dari lawannya, Nyi Wiradana, ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata Nyi Wiradana benar-benar seorang perempuan yang berilmu sangat tinggi. Pedangnya berputaran dengan cepatnya mengatasi putaran canggah Ki Gede Watu Kuning. Jika kemudian terjadi benturan, maka kekuatan tenaga dalam Ny Wiradana mampu mengimbangi kekuatan Ki Gede Watu Kuning.

“Ternyata bukan hanya namamu yang besar Nyi” geram Ki Gede Watu Kuning, “kau memang memiliki ilmu yang tinggi.”

Nyi Wiradana tidak menjawab. Dipusatkannya perhatiannya pada pertempuran yang sedang terjadi itu. Dengan cepat diputarnya pedangnya sambil bergeser maju. Ketika kedua mata canggah Ki Gede terangkat, pedangnya dengan cepat justru menepis senjata lawan nya itu. Sambil meloncat maju, Nyi Wiradana menjulurkan ujung pedangnya mengarah kedada lawannya.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning cepat bergeser surut. Canggahnya sempat berputar menangkis serangan Nyi Wiradana.

Dengan demikian pertempuran antara keduanya menjadi semakin sengit. Keduanya semakin meningkatkan ilmu mereka, sehingga dengan demikian maka keduanya telah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu mereka.

Para cantrik terbaik dari Watu Kuning yang mengiringi Ki Gede Watu Kuning ternyata tidak mempunyai banyak kesempatan pula. Para Demang yang menjadi pengapit di paruh gelar Garuda Nglayang bersama para pengawal terpilih telah berusaha membatasi gerak mereka. Sehingga dengan demikian maka pertempuran antara Ki Gede Watu Kuning dengan Nyi Wiradana itu seakan-akan justru telah terpisah dari keseluruhan pertempuran.

Dalam pada itu, keadaan pasukan Watu Kuning yang berhadapan dengan sayap-sayap gelar Garuda Nglayang itu pun menjadi semakin sulit. Tekanan para pengawal yang baru memasuki lingkaran pertempuran itu pun menjadi semakin berat. Di sayap kiri Ki Lurah Cublik mendapat lawan semakin banyak. Tidak hanya tiga orang. Kehadiran orang-orang baru disayap memberikan kesempatan lima orang bersama-sama menghadapi Ki Lurah Cublik yang berilmu tinggi.

Namun seperti yang diperhitungkan Risang, kehadiran pasukan cadangan dikedua ujung sayap, ternyata benar-benar mempengaruhi seluruh medan.Pasukan Tanah Perdikan Sembojan dalam gelar Garuda Nglayang itu memang semakin mendesak orang-orang Watu Kuning. Sayap-sayap gelar Garuda Nglayang telah mampu melingkar kembali menekan orang-orang Watu Kuning dari lambung.

Ki Pandansirat yang bertempur melawan ibu Kasadha menjadi semakin terdesak. Demikian pula Wirasrana, Gandar ternyata semakin lama menjadi semakin garang.

Kesulitan Pandansirat dan Wirasrana bukan saja disebabkan oleh kelebihan kemampuan lawan-lawan mereka. Tetapi keadaan disekitar mereka menjadi tidak membantu sama sekali.

Seorang putut yang bertempur dengan bibi Kasadha itu pun tidak lagi mampu bertahan. Tetapi seorang cantrik dengan cepat telah melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Dalam pada itu, secara keseluruhan, pasukan Watu Kuning benar-benar terdesak. Kekalutan pertahanan mereka memang berpengaruh langsung terhadap para pemimpin yang bertempur diantara mereka. Ki Wanda Dumung, Singa Wantek dan Ki Lurah Cublik pun menjadi gelisah. Meskipun mereka sendiri masih mampu bertahan, tetapi keadaan disekitarnya sama sekali tidak mendukungnya. Sementara itu, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang mulai menguasai keadaan telah mengganggu pertahanan para pemimpin Watu Kuning yang gelisah.

Namun keadaan itu telah membuat para pemimpin itu semakin marah. Mereka segera menghentakkan kekuatan dan kemampuan mereka. Jika mereka dengan cepat menyelesaikan lawan-lawan mereka, maka mereka akan dapat menghancurkan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu.

Tetapi para pemimpin Tanah Perdikan pun memiliki ilmu yang tinggi pula. Kegelisahan para pemimpin Padepokan Watu Kuning membuat mereka tidak lagi mampu memusatkan perhatian mereka sepenuhnya terhadap lawan-lawan mereka betapapun mereka ingin melakukannya, karena menurut perhitungan penalaran mereka, tanpa orang-orang berilmu tinggi itu Tanah Perdikan akan segera dapat dihancurkan.

Disayap kanan, meskipun ibu Kasadha tidak lagi mampu meningkatkan ilmu sejak ia dikalahkan oleh Nyi Wiradana dalam perang tandingnya yang terakhir, namun ternyata bahwa ilmunya masih mampu mengimbangi kemampuan Pandansirat. Bahkan semakin lama Pandansirat semakin terdesak sebagaimana orang-orang Watu Kuning yang bertempur disekitarnya. Demikian pula Wirasrana yang sulit bertahan melawan Gandar yang menjadi semakin garang. Sedangkan seorang Putut yang harus bertempur melawan bibi Kasadha pun seakan-akan tidak mampu berbuat apa-apa. Sementara itu para cantrik Padepokan Watu Kuning tidak sempat membantu mereka sama sekali. Kasadha dan salah seorang pemimpin kelompoknya telah membuat orang-orang Watu Kuning itu setiap kali bergetar surut. Bersama-sama para pengawal, Kasadha dan seorang prajurit yang dibawanya itu bagaikan kekuatan yang menghentak-hentak menekan kekuatan Padepokan Watu Kuning.

Demikian pula terjadi disayap yang lain. Ki Lurah Cublik yang melawan lima orang pengawal pilihan benar-benar mengalami kesulitan, demikian pula Wanda Dumung dan Singa Wantek yang berjanggut putih.

Ketika matahari mulai menurun, maka keadaan pasukan Watu Kuning memang menjadi semakin sulit.

Yang tidak tertahankan lagi adalah kekuatan pasukan Watu Kuning yang berhadapan dengan sayap kanan gelar Garuda Nglayang, ketika Pandansirat terdesak oleh Ibu Kasadha yang bertempur semakin keras. Pandansirat adalah bagian dari orang-orang yang bertempur dengan kasarnya sebagaimana orang-orang Watu Kuning yang lain. Namun ia pun terkejut ketika ia mengalami tekanan yang keras dan kasar dari perempuan yang menyebut dirinya adik Nyi Wiradana itu.

Hampir diluar sadarnya Pandansirat berdesis, “Aku kenal unsur-unsur gerak ilmu yang keras, kasar dan garang ini.”

Ibu Kasadha ternyata mendengar desis lawannya itu. Karena itu, maka ia pun menyahut, “Dimana kau mengenalinya?”

“Aku memang ragu-ragu, bahkan hampir tidak mempercayai penglihatanku sendiri. Apakah benar aku melihat unsur-unsur gerak dari kelompok Kalamerta?” sahut Pandansirat.

“Apa pedulimu dengan ilmu dari kelompok Kalamerta?” bertanya ibu Kasadha.

“Apakah ada unsur Kalamerta di Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Pandansirat.

Tetapi ibu Kasadha itu tertawa. Katanya, “Kau memang mulai rabun Ki Pandansirat. Kau tidak dapat membedakan unsur-unsur gerak dari ilmu yang hidup dilingkungan gerombolan Kalamerta dan ilmu keturunannya dengan ilmu yang lain. Barangkali karena orang-orangmu menjadi semakin terdesak, maka kau sudah mulai berkhayal.”

Pandansirat tidak menjawab. Namun ia mencoba mengerahkan kemampuannya. Tetapi ternyata bahwa ia memang tidak dapat mengatasi kemampuan ibu Kasadha. Bahkan ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, yang nampak adalah pertempuran dari dua kekuatan yang keras dan kasar. Rantai ditangan ibu Kasadha itu berputaran dengan cepatnya mematuk-matuk. Sekali-sekali terdengar dentang rantai bajanya itu membentur senjata Pandansirat. Sebilah keris yang besar dan panjang, sebagaimana sebilah pedang.

Dalam pada itu ketika keduanya bertempur semakin sengit setelah keduanya sampai kepuncak kemampuan mereka, maka senjata-senjata mereka pun mulai menyentuh kulit lawannya. Ketika ujung rantai Warsi menyusup diantara putaran keris Pandansirat, maka Pandansirat pun harus meloncat surut sambil mengusap bahunya yang tergores rantai baja Warsi, sehingga bahunya itu pun telah terluka. Namun pada kesempatan lain, keris Pandansirat lah yang sempat menggores tubuh Warsi. Ketika ayunan rantainya lewat di-atas kepala Pandansirat yang merendah, maka ujung keris Pandansirat yang panjang itu memang sempat menggapai lengan Warsi.

Dengan tangkas Pandansirat meloncat surut, sambil tertawa Pandansirat berkata, “Nah nenek tua, kulitmu telah tergores ujung kerisku.”

“Kenapa? Lukanya tidak lebih dari seujung rambut. Sedangkan bahumu telah mulai menitikkan darah.”

“Tetapi kau akan segera mati. Darahmu akan mengumpal menyumbat pembuluhnya, sehingga akhirnya darahmu akan berhenti sama sekali, Semakin banyak kau bergerak, maka semakin cepat racun warangan kerisku membunuhmu.”

Tetapi Warsi justru tertawa. Katanya, “Warangan kerismu bukan warangan yang mampu membunuh. Barangkali kerismu telah kau mandikan dengan air jeruk pecel sehingga goresannya tidak akan berarti apa-apa bagiku.”

Wajah Pandansirat menegang. Namun ia memang tidak melihat pengaruh warangan kerisnya pada perempuan itu. Bahkan sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang semakin keras dan kasar. Ujung rantai Warsi semakin banyak mengoyak tubuh Pandansirat, Namun ujung keris Pandansirat pun telah menggores kulit Warsi di beberapa bagian tubuhnya. Pakaian Warsi pun mulai koyak dilengan, pundak dan bahkan dadanya. Namun warangan keris Pandansirat sama sekali tidak berpengaruh.

Barulah kemudian Pandansirat teringat, bahwa perempuan itu telah menelan obat yang disebutnya sebagai obat yang dapat menambah kekuatannya, sehingga seolah-olah ia dapat menjadi muda kembali. Tetapi Pandansirat mulai menyadari, bahwa obat itu tentu obat penawar racun.

“Perempuan licik” Pandansirat menggeram, “kau benar-benar iblis betina. Kau tentu bagian dari kekuatan Kalamerta.”

“Apapun yang akan kau katakan, kau akan mati Pandansirat.” berkata Warsi.

Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Kedua senjata itu pun berputaran, saling menggapai .dan mematuk.

Namun ternyata bahwa Pandansirat benar-benar tidak mampu mengimbangi puncak kemampuan Warsi. Ketika Warsi benar-benar mengerahkan ilmunya, betapapun keras dan kasarnya, akhirnya Pandansirat benar-benar telah kehilangan segala kesempatan untuk mempertahankan diri.

Ternyata bukan saja Pandansirat. Wirasrana yang berusaha menghindari Gandar pun telah terjebak dalam pusaran kekuatan para pengawal Tanah Perdikan. Karena itu, maka Wirasrana sama sekali tidak mampulagi mempertahankan hidupnya didalam pusaran kekuatan Gandar dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian maka kekuatan pasukan Watu Kuning dihadapan sayap kanan gelar Garuda Nglayang itu sudah tidak banyak berarti lagi. Meskipun pertempuran masih berlangsung, tetapi orang-orang Watu Kuning itu rasa-rasanya telah menjadi putus asa.

Namun dalam pada itu, Kasadha pun harus meninggalkan pertempuran. Ia harus membantu ibunya menyingkir ke belakang medan. Meskipun Warsi sempat menyelesaikan pertempuran dan mengakhiri perlawanan Pandansirat, namun dibeberapa bagian tubuhnya terdapat luka-luka yang menganga. Goresan-goresan luka itu mengalirkan darah yang merah kebiru-biruan. Racun warangan yang didorong keluar oleh obat penawar racun yang lebih dahulu berada didalam darahnya telah mengalir bersama darahnya.

Dalam pada itu, Pandansirat pun masih bertahan hidup meskipun sudah tidak berdaya. Para cantrik padepokan Watu Kuning telah membawanya pula menghindari pertempuran. Tetapi keadaan Pandansirat ternyata jauh lebih buruk dari keadaan ibu Kasadha. Karena itu maka para cantrik yang membawanya sudah tidak berpengharapan lagi bahwa nyawa Pandansirat dapat diselamatkan.

Sementara itu Wirasrana benar-benar telah terbunuh di peperangan justru oleh senjata Gandar. Tetapi beberapa ujung senjata telah mengoyak tubuhnya. Senjata para pengawal yang sudah tidak lagi harus terikat dalam pertempuran melawan orang-orang Watu Kuning karena orang-orang Watu Kuning sudah semakin terdesak.

Disayap yang lain pun keadaan orang-orang Watu Kuning menjadi semakin sulit. Sambi Wulung dengan kemampuannya yang tinggi, telah mendesak Ki Wanda Demung.

Orang yang bertubuh tinggi kekar dengan kulit yang kehitam-hitaman itu sulit untuk dapat mengerti, Sahwa orang tua yang dihadapinya itu mampu mengimbanginya. Bahkan semakin lama semakin mendesak dan bahkan ujung senjatanya telah melukai kulitnya. Demikian pula Singa Wantek. Tongkatnya yang berselut baja dari pangkal sampai keujungnya itu pun tidak mampu mengatasi kecepatan gerak senata Jati Wulung, sementara Ki Lurah Cublik seakan-akan telah kehilangan kesempatan. Para pengawal tidak memberinya peluang untuk mempertahankan dirinya, sementara orang-orang Watu Kuning tidak lagi dapat membantunya, karena mereka telah didesak semakin jauh surut.

Keadaan itu membuat Ki Gede Watu Kuning bagaikan kehilangan kendali. Dikerahkannya segenap kemampuannya. Canggahnya berputaran semakin cepat. Angin yang berdesing oleh putaran senjatanya itu telah menampar kulit Nyi Wiradana yang menghadapinya dengan senjata pedangnya.

Namun Nyi Wiradana adalah pewaris ilmu Janget Tinatelon. Karena itu, maka tubuhnya seakan-akan menjadi semakin liat, Kakinya berloncatan dengan cepatnya, sementara tangannya yang menggenggam pedang itu bergerak-gerak menyusup di sela-sela pertahanan Ki Gede Watu Kuning.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka keduanya benar-benar telah sampai pada puncak pertempuran yang sangat menggentarkan jantung. Beberapa orang pengawal yang menyaksikan pertempuran itu telah menahan nafas. Sementara orang-orang Watu Kuning seakan-akan telah tidak dapat mempertahankan kedudukannya lagi. Semakin lama mereka telah terdesak semakin jauh sehingga Ki Gede Watu Kuning itu telah terpisah beberapa langkah dari garis pertempuran.

Meskipun demikian namun tidak seorang pun yang berani mencampuri pertempuran antara Ki Gede melawan Nyi Wiradana. Pertempuran antara dua orang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan pertempuran itu seakan-akan telah berubah menjadi pusaran bayang-bayang yang berterbangan. Sekali-sekali memercik bunga api dari benturan senjata keduanya yang beradu. Namun kadang-kadang mereka melihat seleret seleret cahaya yang saling menyambar.

Disisi lain, juga masih terjadi pertempuran yang garang antara Ki Tanda Permati melawan Risang dan Bibi. Kedua belah pihak juga telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Para pengawal juga tidak lagi dapat mencampuri pertempuran yang semakin cepat itu. Beruntunglah Risang karena ia sudah sampai pada batas kematangan untuk menerima ilmu janget Kinatelon sehingga ia masih sempat ikut terlibat dalam pertempuran itu bersama Bibi. Meskipun kadang-kadang Risang menjadi tergetar melihat unsur-unsur gerak Bibi yang kasar. Namun hanya dengan cara itu Bibi mampu mengimbangi tata gerak Ki Tanda Permati.

Dalam pada itu, kekuatan pasukan Watu Kuning benar-benar sudah dipatahkan. Mereka tidak lagi berpengharapan untuk dapat mempertahankan diri. Namun mereka pun merasa sulit untuk dapat melarikan diri dari medan justru karena dibelakang pasukan mereka juga terjadi pertempuran dengan sekelompok pengawal yang nampaknya sudah menjadi bertambah banyak karena para pengawal yang ada disayap sebagian telah bergeser bergabung dengan para pengawal yang beradadibela-kang pasukan Watu Kuning.

Tanpa perintah Risang, maka pasukan Tanah Perdikan justru seakan-akan telah mengepung pasukan Watu Kuning.

Dalam saat-saat terakhir, Ki Gede Watu Kuning ternyata masih berada selapis dibawah kemampuan Nyi Wiradana. Didalam diri perempuan itu bergetar ilmu yang matang dari ketiga landasan ilmu yang dimiliki oleh Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Karena itulah, maka betapapun Ki Gede Watu Kuning menghentakkan ilmu pamungkasnya, namun sulit baginya untuk dapat mengimbangi puncak ilmu Nyi Wiradana. Janget Tinatelon.

Karena itulah, maka ketika keduanya berada dalam puncak kemampuan masing-masing, canggah di tangan Ki Gede Watu Kuning seakan-akan tidak banyak berarti lagi. Setiap benturan senjata, maka terasa bahwa tangan Ki Gede menjadi pedih. Percikan api yang memancar rasa-rasanya bagaikan meletik mematuk kulitnya sehingga panas yang tajam terasa menyengatnya.

Ki Gede Watu Kuning yang menjadi sangat marah itu berteriak nyaring. Suaranya bagaikan guruh yang meledak dilangit. Getaran suaranya seakan-akan telah membentur menghentak selaput telinga menyusup menggetarkan jantung didalam dada.

Bukan saja para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang dadanya terguncang, tetapi juga orang-orang Watu Kuning sendiri. Tetapi orang-orang Watu Kuning yang tersisa dimedan agaknya sudah terlatih mendengar suara Ki Gede yang menggelegar itu, sehingga mereka dengan cepat telah memusatkan daya tahan mereka menangkal suara itu. Meskipun dada mereka masih juga terasa sakit, tetapi keadaan mereka jauh lebih baik dari para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sama sekali tidak bersiap sebelumnya.

Namun Nyi Wiradana tidak membiarkannya. Ia sadar, jika suara itu berkepanjangan, maka keadaan para pengawal akan menjadi parah, khususnya diinduk pasukan. Bahkan para Demang pun menjadi pening dan nafasnya serasa menjadi sesak.

Dengan tangkasnya Nyi Wiradana yang mempunyai kelebihan kemampuan dan daya tahan yang tingi, telah menutup telinganya dengan kemampuan pemusatan nalar budinya. Dengan demikian suara itu sama sekali tidak berpengaruh lagi atasnya. Bahkan kemudian satu loncatan panjang pedangnya telah terjulur menguak pertahanan Ki Gede. Meskipun canggah Ki Gede sempat menangkis uluran ujung pedang itu, namun kecepatan gerak Nyi Wiradana sempat mendahuluinya sekejap.

Ki Gede itu terdorong surut sambil mengumpat kasar. Kelembutan dan keramahannya saat ia datang mengunjungi Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah lenyap sama sekali. Sebagai seorang yang mengenakan topeng seraut wajah yang manis itu telah ditanggalkannya. Ketika ia tidak berhasil membujuk dan menakut-nakuti Kepala Tanah Perdikan yang muda itu, maka yang nampak kemudian adalah wajah aslinya. Wajah raksasa dengan taringnya yang panjang dan tajam.

Namun Nyi Wiradana sama sekali tidak gentar. Dengan tangkasnya ia menyerang pula. Ujung pedangnya yang telah menyentuh kulit Ki Gede Watu Kuning itu membuat perempuan itu semakin sengit. Tetapi Ki Gede sudah tidak sempat lagi berteriak mengguncang jantung Nyi Wiradana dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka kembali para pengawal telah menekan orang-orang Watu Kuning yang sudah semakin kehilangan pegangan.

Kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantung Ki Gede Watu Kuning. Darah yang hangat yang meleleh dari lukanya telah membuat kemarahannya memanjat sampai keubun-ubun. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Lawannya, meskipun seorang perempuan, tetapi memiliki kemampuan yang tidak dapat diatasinya.

Ketika Ki Gede mencoba untuk berteriak lagi, maka Nyi Wiradana dengan cepat pula meloncat sambil memutar pedangnya. Ki Gede terkejut bukan buatan. Tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh Nyi Wiradana, maka tiba-tiba saja Nyi Wiradana itu telah berada didepan hidungnya dengan pedang terjulur. Karena itu, dengan serta merta Ki Gede bergeser dan menjatuhkan dirinya untuk menghindari serangan itu. Serangan yang tentu dilambari dengan ilmu yang sangat tinggi, sehingga Ki Gede terlambat menyadari keadaannya.

Serangan Nyi Wiradana memang tidak mengenai sasaran. Tetapi demikian Ki Gede bangkit berdiri maka Nyi Wiradana itu seakan-akan telah melenting tinggi. Ujung pedangnya seakan-akan telah meluncur bagaikan cahaya yang menyilaukan mata Ki Gede. Nyi Wiradana yang sudah melambari kemampuannya dengan ilmu Janget Tinatelon, benar-benar sulit untuk dilawan meskipun Ki Gede Watu Kuning memiliki ilmu-ilmu andalannya.

Yang dapat dilakukan oleh Ki Gede adalah mempertajam ilmu Gelap Ngamparnya. Ki Gede itu berteriak sekeras-kerasnya. Getaran udara yang melontarkan ilmunya itu mengarah kepada Nyi Wiradana yang sedang melenting sambil mengacukan pedangnya yang seakan-akan telah bercahaya itu.

Ilmu yang dihentakkannya itu ternyata mampu menembus daya tahan Nyi Wiradana. Bukan saja telinganya yang menjadi sakit, tetapi jantungnya pun bagaikan diguncang didalam dadanya.

Namun Nyi Wiradana masih tetap sadar akan keadaannya. Itulah sebabnya, betapapun dadanya merasa sesak dan telinganya menjadi sakit, namun ujung pedangnya telah tidak berubah.

Ki Gede yang memusatkan nalar budinya untuk menghentak-kan ilmu Gelap Ngamparnya, ternyata terlambat mengangkat canggahnya. Ia menduga bahwa Nyi Wiradana yang sedang- melenting itu akan rontok dan jatuh di tanah. Tetapi ternyata tidak. Nyi Wiradana itu masih tetap meluncur sambil menjulurkan pedangnya.

Ternyata canggah Ki Gede Watu Kuning tidak sempat menangkis serangan itu. Ujung pedang Nyi Wiradana yang terjulur lurus itu kemudian telah menghunjam didadanya langsung menembus sampai kejantung.

Namun disaat terakhir, Ki Gede masih mampu menggerakkan canggahnya, sehingga salah satu mata canggah itu sempat menyentuh lambung Nyi Wiradana.

Nyi Wiradana yang kemudian berdiri tegai menyaksikan Ki Gede itu terdorong beberapa langkah surut. Canggahnya pun terlepas dari tangannya. Perlahan-lahan Ki Kede jatuh berlutut. Namun kemudian tubuhnya pun telah berguling. Sementara pedang Nyi Wiradana masih tetap didalam genggamannya.

Perasaan pedih terasa mulai menggigit lambungnya yang terluka meskipun tidak terlalu dalam. Namun darah sudah mulai mengembun dilukanya itu.

Namun dalam pada itu, Nyi Wiradana itu terkejut ketika ia mendengar Risang berteriak nyaring, “Bibi.

Nyi Wiradana tidak menghiraukan lagi luka dilambungnya. Ia pun segera meloncat kearah suara Risang.

Jantung Nyi Wiradana menjadi berdebar-debar. Ia melihat Risang yang terluka berjongkok di sisi tubuh Bibi yang terbaring diam. Namun masih terdengar suara Bibi lirih, “Kau tidak apa-apa Risang.”

“Tidak Bibi, tidak.” jawab Risang sambil mengangkat kepala Bibi yang lemah.

“Panggil aku ibu ngger” desis Bibi.

“Ya, ya ibu” desis Risang.

Sementara itu Nyi Wiradana pun telah berjongkok pula disampingnya. Ia telah melihat sosok tubuh orang gemuk itu terbaring diam beberapa langkah dari tubuh Bibi yang lemah itu.

“Iswari” desis Bibi, “aku titipkan anakku kepadamu.”

“Bibi” desis Nyi Wiradana, “kau akan sembuh. Aku akan memanggil Ki Juru Respati. Ia akan mengobatimu.”

Tetapi Bibi menggeleng. Katanya, “Lukaku terlalu parah. Aku akan mati. Tetapi aku tidak menyesal. Apalagi anakku sudah memegang jabatannya, Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ya Bibi. Tetapi kau akan sembuh.” desis Nyi Wiradana.

Sekali lagi Bibi menggeleng. Nampaknya bibirnya merapat menahan sakit. Tetapi kemudian ia tersenyum. Katanya dengan suara yang tersendat, ”Risang.”

“Ya ibu” jawab Risang.

“Hati-hatilah. Kau bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Semoga kau dapat melakukan tugasmu dengan baik.”

“Ya ibu. Tetapi ibu harus bertahan. Sebentar lagi Ki Juru Respati akan datang.”

“Tidak usah. Aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi.”

Nyi Wiradana dan Risang memang tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka bergeser ketika ternyata Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka telah hadir pula di pertempuran yang sudah hampir berakhir itu. Mereka pun kemudian berjongkok di sisi Bibi. Namun ketiganya saling berpandangan sejenak, seakan-akan mereka sepakat menilai keadaan Bibi yang sudah menjadi sangat gawat.

Namun bibi masih sempat melihat mereka. Sambil tersenyum Bibi berkata, “Kiai dan Nyai, nampaknya keadaan sudah sangat mendesak. Sebaiknya kepada Risang segera diturunkan ilmu Janget Tinatelon agar jika terjadi sesuatu atas Tanah Perdikan ini, anak itu sudah mempunyai perisai yang baik untuk melindunginya. Sudah tentu juga bagi dirinya sendiri.”

“Ya, ya Bibi” jawab Kiai Badra, “kami akan segera melakukannya. Tetapi sudahlah Bibi, sebaiknya kau berbaring dengan baik. Sebentar lagi Ki Juru akan datang.”

Bibi memandang orang-orang yang ada disekitarnya dengan mata yang semakin redup. Tetapi ia masih bertanya, “Bagaimana dengan pertempuran ini?”

“Kita sudah menguasai seluruh medan” berkata Risang.

Senyum itu masih nampak dibibir Bibi. Namun mata yang redup itu menjadi semakin redup. Akhirnya terdengar suaranya lirih, “Risang. Risang.”

Suara itu terputus. Mata Bibi pun segera terpejam.

“Bibi” Risang berteriak sekali lagi. Namun Bibi itu sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Wajah Risang menunduk dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bangkit berdiri sambil berteriak, “Gila kau orang-orang Watu Kuning. Kalian harus dihancurkan sampai orang yang terakhir.”

Namun ketika pedang Risang terangkat tinggi, ibunya memeluknya sambil berdesis, “Risang. Kau tidak boleh kehilangan penalaranmu.”

“Tetapi mereka membunuh Bibi, ibu” geram Risang.

“Yang membunuh bibimu sudah terbaring lebih dahulu. Ki Tanda Permati sudah terbunuh.” desis ibunya.

Risang memang telah menurunkan pedang yang diangkatnya. Sementara itu ibunya bertanya, “Siapakah yang telah membunuh Ki Tanda Permati?”

“Bibi” jawab Risang, “tetapi ia pun harus menebus dengan nyawanya.”

“Kita memang kehilangan. Tetapi kemungkinan seperti itu memang dapat saja terjadi di peperangan.” berkata ibunya. Lalu katanya pula, “Sebagaimana Ki Gede Watu Kuning juga sudah tidak akan pernah bangkit lagi.”

“Jadi ibu berhasil membunuh Ki Gede?” bertanya Risang.

“Ya. Nampaknya yang Maha Agung masih melindungi Tanah Perdikan ini.”

Risang menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin mengendorkan ketegangan yang mencengkam jantungnya.

Namun tiba-tiba saja ia melihat darah dipakaian ibunya. Kembali ia tersentak sambil bertanya, “Ibu terluka?”

“Tidak parah” jawab Nyi Wiradana.

“Darah itu” desis Risang.

Tetapi Nyi Wiradana menggeleng, “Tidak apa-apa.”

Meskipun demikian Kiai Soka berkata kepada Nyi Soka, “Nyai, lihat luka Iswari. Jika tidak terlalu parah, kau tidak usah menunggu Ki Juru. Barangkali kau dapat mengobatinya sendiri.”

Nyai Soka pun mengangguk. Katanya, “Marilah Iswari, kita pergi ke balik batang-batang perdu itu. Aku lihat lukamu.”

Nyi Wiradana tidak menolak. Sementara ia pergi ke balik segerumbul perdu,, maka ia pun berpesan, “Lihat pertempuran itu dalam keseluruhan.”

Risang termangu-mangu sejenak. Ia masih memandang tubuh Bibi yang terbujur diam. Lukanya memang terlalu parah dan tidak mungkin untuk diobati. Namun lawannya, Ki Tanda Permati pun telah terbujur diam pula sebagaimana Bibi.

Kematian Bibi memang merupakan satu pukulan yang berat bagi Risang. Bibi sudah menganggap Risang sebagai anaknya sendiri. Ia, yang mengurungkan niatnya untuk membunuh Nyi Wiradana yang sedang mengandung justru membuatnya merasa ikut memiliki anak yang kemudian dilahirkan oleh Nyi Wiradana itu.

Tetapi Bibi itu sudah tidak ada lagi. Ia gugur saat Tanah Perdikan Sembojan mengalami keadaan yang sangat rumit.

Dalam pada itu, maka pertempuran itu pun agaknya benar-benar sudah dapat diselesaikan. Orang-orang Watu Kuning yang tersisa sudah menyerah. Hanya beberapa orang sajalah yang benar-benar berhasil melarikan diri dari medan. Sementara yang lebih banyak lagi telah tertawan.

Beberapa saat kemudian, sebelum matahari turun kebalik gunung, maka para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan pun telah berkumpul. Luka Nyi Wiradana memang tidak berbahaya. Bahkan luka Warsi agak lebih parah dari luka-luka Nyi Wiradana meskipun luka Warsi pun tidak membahayakan jiwanya. Beberapa orang yang lain pun telah terkena goresan-goresan senjata ditubuhnya.

Namun, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, anak-anak muda dan bahkan laki-laki yang sudah lebih tua lagi yang telah ikut dalam pertempuran itu harus menyerahkan beberapa diantara mereka kepada tanah kelahiran. Diantara mereka ternyata telah gugur di pertempuran, sementara yang lain terluka. Ada yang parah, tetapi ada juga yang tidak seberapa.

Tanah Perdikan Sembojan memang benar-benar, menjadi berkabung. Demikian pula beberapa Kademangan yang telah ikut melibatkan diri dalam pertempuran itu. Kademangan yang ada di sekitar Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika matahari kemudian turun dan senja pun mulai membayang dilangit, para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan masih sibuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang gugur dan terluka. Demikian pula dibawah pengawasan yang ketat, para tawanan pun harus melakukan hal yang sama. Mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terbunuh dan terluka parah.

Sementara itu, Nyi Wiradana, Warsi dan beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah berada dirumah Kepala Tanah Perdikan di padukuhan in duk, selain mendapat pengobatan yang lebih baik, mereka pun harus beristirahat setelah bertempur mengerahkan tenaga dan kemampuan mereka.

Bukan saja dirumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan, tetapi di medan pun orang-orang yang bertugas menyediakan makan dan minum menjadi sibuk. Yang kemudian mereka beri makan dan minum bukan hanya orang-orang Tanah Perdikan itu sendiri, tetapi juga para tawanan. Bagaimanapun juga, Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat membiarkan mereka menjadi kelaparan.

Dalam pada itu, Risang dan Kasadha masih tetap berada di medan, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar masih juga menemaninya. Mereka menunggui para pengawal yang masih sibuk meskipun kemudian malam turun. Bergantian mereka makan dan minum tanpa sempat mencuci tubuh mereka yang basah, kotor dan berbau darah.

Sampai lewat tengah malam ternyata pekerjaan itu masih belum selesai seluruhnya. Risang, Kasadha, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar masih juga ada di medan meskipun mereka kemudian duduk bersandar batang-batang perdu yang tumbuh disekitar medan. Meskipun mereka merasa letih sekali, tetapi mereka tidak sampai hati meninggalkan para pengawal, yang tentu juga letih sekali sebagaimana mereka, menyelesaikan tugas mereka.

Baru menjelang pagi, mereka yang gugur di pertempuran sudah di tempatkan di banjar padukuhan terdekat yang menjadi landasan pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Demikian pula mereka yang terluka, yang menjadi parah telah di tempatkan dirumah Ki Bekel padukuhan itu pula, sementara yang terluka ringan dan masih mampu untuk bergerak lebih banyak, telah dibawa dengan pedati ke padukuan induk.

Adapun korban yang terbunuh dari orang-orang Watu Kuning akan langsung dikuburkan didekat sebuah kuburan tua di kaki bukit, sedangkan yang terluka dibawa dengan pedati pula ke padukuhan yang lain yang berada tidak jauh dengan padukuhan yang menjadi landasan pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Seorang pemimpin kelompok prajurit Pajang yang datang bersama Kasadha itu juga terluka. Tetapi tidak berbahaya. Prajurit itu bahkan seakan-akan tidak merasakan bahwa lengannya telah tergores senjata.

Hari berikutnya, maka Tanah Perdikan Sembojan terasa menjadi semakin berkabut. Keluarga mereka yang gugur dan terluka parah tidak dapat menyebunyikan rasa duka. Beberapa orang perempuan telah menangisi anak mereka, suami mereka atau kekasih mereka yang gugur di pertempuran.

Bahkan Risang sendiri juga merasa kehilangan pula. Bibi yang menganggapnya sebagai anaknya pula, telah gugur pula dipertempuran, sampyuh dengan orang yang pernah dikenalnya beberapa puluh tahun yang lalu, Dolop, yang terakhir menyebut dirinya Ki Tanda Permati.

Ketika upacara pelepasan mereka yang gugur dipertempuran dari banjar padukuhan yang menjadi landasan pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu, nampak bahwa Risang benar-benar telah merasa kehilangan. Matanya menjadi berkaca-kaca.

Hari itu Risang masih belum sempat berbicara dengan para tawanan. Ia pun sibuk pula membantu Kasadha yang merawat ibunya, dibawah pengobatan Ki Juru Respati. Bahkan juga ikut melayani para pengawal dan anak-anak muda yang terluka dalam pertempuran yang keras dan berat itu.

Beberapa orang anak muda dari Kademangan-kademangan yang ikut membantu dalam pertempuran melawan orang-orang Watu Kuning itu pun telah dirawat pula dengan baik. Bahkan orang-orang Watu Kuning yang terluka juga mendapat perawatan pula.

Disore hari setelah upacara penguburan para korban yang gugur dipertempuran, Risang mulai mencoba berbicara dengan para tawanan. Sebelumnya ia telah berbincang dengan Kasadha tentang sekelompok orang yang mempunyai perilaku yang agak berbeda dengan yang lain. Beberapa jenis keseragaman diantara mereka menunjukkan bahwa mereka satu dengan yang lain mempunyai keterikatan yang lebih tinggi daripada penghuni Padepokan Watu Kuning yang nampaknya berasal dari beragam landasan perguruan.

“Yang kita lihat itu mungkin justru orang-orang Watu Kuning yang sebenarnya” berkata Kasadha.

“Mungkin. Tetapi nampaknya lebih dari satu keterikatan sebuah Padepokan yang mempunyai watak memberikan kebebasan secara pribadi untuk mengembangkan ilmunya. Meskipun ilmunya bersumber pada alas yang sama, namun perkembangannya justru dapat menjadi bermacam-macam bentuknya. Unsur kerja sama diantara mereka pun tidak serapat pada kelompok-kelompok yang kita lihat di medan pertempuran itu. Orang-orang Padepokan Watu Kuning yang lain lebih mengandalkan kemampuan mereka secara pribadi. Bahkan mereka tidak membentur gelar Garuda Nglayang kita dengan gelar pula, merupakan satu pertanda bahwa mereka memang lebih mementingkan kemampuan pribadi setiap orang dalam pasukan mereka.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin pula. Tetapi kita coba saja berbicara dengan salah seorang dari mereka. Seorang dari mereka yang kita anggap mempunyai beberapa kesamaan dan nampaknya mempunyai ikatan kerja sama dalam pertempuran itu dan seorang dari kelompok yang lain.”

Risang memang sependapat. Ia pun kemudian telah menemui para tawanan dan menunjuk dua orang yang mereka anggap mempunyai watak yang berbeda didalam pertempuran yang telah terjadi.

  Secara terpisah Risang dan Kasadha telah berbicara dengan mereka. Namun nampaknya kedua orang itu telah bertekad untuk tidak berbicara tentang diri mereka masing-masing serta tentang Padepokan Watu Kuning.

“Aku dapat memaksamu untuk berbicara” berkata Risang kepada seorang yang dianggapnya salah seorang dari mereka yang memiliki beberapa kesamaan dan keseragaman dalam pertempuran yang telah terjadi itu.

”Apapun yang terjadi, tetapi aku tidak dapat mengatakan yang lain dari yang sudah aku katakan. Aku adalah bagian dari Padepokan Watu Kuning. Jika aku mempunyai kesamaan dengan sekelompok orang dari padepokan yang sama, bukanlah itu wajar sekali? Kami sejak mulai mengenal ilmu kanuragan sampai kami menguasai dasar-dasar ilmu itu, berada dalam asuhan orang-orang yang sama. Tentu ilmu yang mereka turunkan pun sama pula bagi kami. Dan kesamaan itu telah mewarnai sikap dan gerak kami dipertempuran.”

“Kesamaan itu tidak pada dasar ilmu yang kalian miliki. Tetapi sikap kalian di medan menghadapi keadaan dan kebersamaan kalian dalam setiap benturan dengan kelompok-kelompok pengawal Tanah Perdikan.” berkata Risang pula.

“Hal seperti itulah yang memang ditanamkan oleh padepokan kami.” jawab orang itu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Orang itu agaknya benar-benar tidak mau berbicara tentang dirinya dan padepokannya. Namun Risang pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Aku tidak tergesa-gesa. Kau dapat tinggal disini sebagai tawanan untuk sebulan, dua bulan atau bahkan setahun, sementara kawan-kawanmu akan kami bawa ke Pajang. Selama kau berada di tempat ini, aku masih mempunyai kesempatan untuk berbicara denganmu, Mungkin sebagai seorang yang baru baling mengenal. Mungkin sebagai seorang sahabat karena kau berada di Tanah Perdikan, tetapi juga mungkin sebagai musuh bebuyutan karena kau sudah menyerang Tanah Perdikan ini. Semua itu tergantung kepada sikapmu. Apakah kau bersikap sebagai seorang tamu atau seorang sahabat atau seorang musuh bebuyutan. Sehingga dengan demikian maka perlakuanku atasmu tergantung pada sikapmu itu.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi pada sorot matanya nampak kecemasannya yang mencengkam. Ia memang membayangkan, bahwa perlakuan yang paling kasar dapat terjadi atasnya.

Tetapi hari itu Risang dan Kasadha memang tidak berbuat apa-apa. Orang yang lain, yang kemudian dipanggil oleh Risang, juga tidak mau berkata lebih luas dari pada pengakuannya bahwa ia adalah salah seorang cantrik dari Padepokan Watu Kuning.

Risang dan Kasadha justru lebih percaya kepada orang yang mengaku cantrik dari Padepokan Watu Kuning itu. Ia masih muda dan pada wajahnya nampak betapa ia menjadi ketakutan menghadapi Risang dan Kasadha. Apalagi jika Risang atau Kasadha mulai, membentaknya.

Namun kedua orang itu pun kemudian telah dikembalikan ke tempat tahanan mereka masing-masing. Beberapa orang kawannya memang bertanya, apa saja yang telah mereka alami. Namun keduanya memang belum mengalami perlakukan apa-apa.

Orang yang dianggap datang dari sebuah kelompok diluar Padepokan Watu Kuning itu memang menjadi sangat cemas. Ia mengeluh kenapa tiba-tiba saja dirinya yang telah diambil oleh Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Aku akan dapat mengalami perlakukan yang sangat buruk. Meskipun Kepala Tanah Perdikan itu belum berbuat sesuatu sekarang, tetapi pada waktu mendatang, entahlah. Wajahnya nampak keras dan barangkali juga dapat berbuat kasar. Seorang lagi, yang wajahnya mirip, juga nampak keras dan tegas.”

Tidak seorang pun diantara kawan-kawannya akan dapat menolong orang itu. Yang dapat mereka lakukan hanyalah berharap agar bukan mereka yang pada kesempatan lain diambil oleh Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk dimintai keterangan.

Di hari berikutnya, kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan mulai berjalan wajar kembali. Meskipun orang-orang Tanah Perdikan masih saja berbicara tentang pertempuran yang baru saja terjadi. Jika mereka lewat didekat banjar padukuhan, maka mereka pun selalu berdesis, “Masih banyak tawanan ada di banjar.”

Sebenarnyalah tawanan orang-orang Watu Kuning itu di tempatkan di banjar-banjar beberapa padukuhan. Para pemimpin Tanah Perdikan itu sedang mempersiapkan rencana bersama Kasadha untuk menghadap ke Pajang.

Mereka harus segera melaporkan apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan itu untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.

Namun dalam pada itu, sebelum Kasadha kembali ke Pajang bersama Risang yang akan memberikan laporan tentang peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan, maka Tanah Perdikan itu telah dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang disertai oleh tiga orang pengiringnya. Seorang yang nampaknya bukan orang kebanyakan.

Ketika di ujung Tanah Perdikan orang itu bertemu dengan para pengawal Tanah Perdikan yang masih selalu siap berjaga-jaga, maka orang itu minta agar ia diantar bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Dua diantara para pengawal itu telah mengantar keempat orang itu langsung ke rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan di padukuhan induk untuk bertemu dengan Risang.

Sejenak kemudian, keempat orang itu sudah duduk dipendapa ditemui oleh Risang, ibunya dan Kasadha.

Sebagai tuan rumah, setelah mengucapkan selamat datang kepada tamu-tamunya, maka Risang pun kemudian bertanya, siapakah mereka dan untuk apa mereka datang ke Tanah Perdikan Sembojan, justru saat Tanah Perdikan itu baru saja diguncang oleh pertempuran yang telah menelan korban.

“Angger Risang” berkata tamunya, “aku adalah Tumenggung Puspalaga. Aku datang atas nama Panembahan Mas di Madiun. Panembahan Mas telah mendapat laporan, bahwa ada sekelompok prajurit Madiun yang terlibat dalam pertempuran melawan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Mereka bergabung dalam pasukan Padepokan Watu Kuning yang dipimpin oleh Ki Gede Watu Kuning itu sendiri.”

Dahi Risang berkerut. Kasadha pun bergeser setapak sementara Nyi Wiradana mengangguk-angguk kecil.

Dengan nada rendah Risang itu pun bertanya, “Jadi didalam pasukan Padepokan Watu Kuning itu terdapat sekelompok prajurit Madiun?”

“Ya. Prajurit Madiun dibawah pimpinan K Lurah Mertapraja. Ki Lurah ternyata telah melanggar paugeran sehingga ia telah mengambil langkah yang salah. Ia tidak menghiraukan kedudukannya sebagai seorang prajurit yang tidak boleh melakukan tindakan sendiri, apalagi  bertentangan  dengan  kebijaksanaan  atasannya. Nampaknya Ki Lurah Martapraja telah dihubungi langsung oleh Ki Gede Watu Kuning. Mungkin dengan janji-janji yang membuatnya kehilangan akal dan melakukan tindakan yang tercela itu. Karena itu, maka kami datang untuk melacak, apakah benar ada sekelompok prajurit Madiun yang ikut bertempur dipihak Padepokan Watu Kuning.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Kepada Kasadha ia berkata, “Aku memang melihat sesuatu yang lain dalam pasukan orang-orang Watu Kuning.”

“Ya” sahut Kasadha, “aku juga melihat. Kelompok-kelompok yang mungkin prajurit Madiun yang telah melibatkan diri.”

Risang yang kemudian berpaling kepada ibunya bertanya”Apakah ibu juga melihatnya?”

“Ya Risang. Aku juga melihatnya.” jawab ibunya.

“Angger Risang” berkata Ki Tumenggung Puspalaga, “jika diperkenankan, apakah aku dapat menemui Ki Lurah Mertapraja? Jika ia tidak mengaku tentang dirinya, maka aku akan dapat mengenalinya kecuali jika ia sudah terbunuh di peperangan.”

Risang termangu-mangu sejenak. Sambil memandangi ibunya Risang itu bertanya, “Bukankah kita tidak berkeberatan?”

Ibunya menggeleng. Katanya, “Tidak. Kita akan mengantarkannya ke tempat mereka kita tawan.”

Risang mengangguk-angguk. Sementara Ki Tumenggung menahan senyumnya. Katanya didalam hati, “Kepala Tanah Perdikan ini masih terlalu muda. Agaknya ada ketergantungan pada ibunya yang sudah cukup lama memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah Ki Tumenggung” berkata Risang, “jika Ki Tumenggung ingin berbicara dengan orang yang Ki Tumenggung maksudkan, biarlah kami mengantar Ki Tumenggung.”

“Terima kasih ngger. Mudah-mudahan Ki Lurah itu masih hidup sehingga kami dapat berbicara kepadanya dan menuntut tanggung jawabnya.”

“Apakah Ki Tumenggung akan membawa orang itu ke Madiun?” bertanya Kasadha yang agaknya merasa berkeberatan jika ki Lurah itu akan diambil oleh Ki Tumenggung, karena Ki Lurah itu akan dapat dibawanya ke Pajang untuk memberikan bukti keterlibatan Madiun. Meskipun mungkin diluar pengetahuan Panembahan Mas.

Tetapi jawab Ki Tumenggung, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku tahu bahwa Ki Lurah Mertapraja itu akan dibawa ke Pajang untuk dihadapkan kepada para pemimpin di Pajang. Aku pun tahu bahwa dengan demikian, Ki Lurah telah mencemarkan nama Kangjeng Adipati di Madiun. Tetapi biarlah ia dihadapkan pada para pemimpin di Pajang untuk mendapatkan hukumannya. Pajang tidak usah mempertimbangkan kemungkinan Madiun akan melindunginya. Sama sekali tidak. Kami serahkan segala sesuatunya kepada kebijaksanaan para pemimpin di Pajang, karena Ki Lurah Mertapraja telah melakukan kejahatan terhadap Tanah Perdikan Sembojan yang berada didalam lingkungan pemerintahan Pajang.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ternyata para pemimpin di Madiun mempunyai pandangan yang cukup luas sehingga mereka tidak berusaha melindungi orang-orangnya yang bersalah.

Demikianlah, maka Risang dan Kasadha pun telah bersiap untuk mengantarkan keempat orang yang datang dari Madiun itu untuk menemui para tawanan. Khususnya mereka yang dalam penglihatan Risang dan Kasadha terdiri dari satu kelompok yang khusus. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah diajaknya serta untuk menemani mereka.

Namun dalam pada itu, pada satu kesempatan Nyi Wiradana sempat berbisik, “Hati-hatilah. Nampaknya mereka jujur dan berkata sebenarnya. Meskipun demikian, dapat saja terjadi satu permainan diantara mereka.”

Risang mengangguk sambil berdesis, “Ya ibu. Kami akan selalu menunggui apa saja yang mereka lakukan.”

Demikianlah, maka Risang pun telah membawa Ki Tumenggung Puspalaga ke sebuah padukuhan terdekat dari tempat para tawanan di tempatkan. Bagaimanapun juga Risang selalu memperhatikan pesan ibunya, sehingga Ki Tumenggung itu tidak langsung diajak ke tempat orang-orang Watu Kuning itu ditawan.

Kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung Risang memerintahkan untuk membawa dua orang diantara mereka yang dianggap memiliki kekhususan diantara pasukan Watu Kuning.

Beberapa saat lamanya Risang dan Kasadha berada di banjar padukuhan itu bersama Ki Tumenggung Puspalaga dan ketiga orang pengawalnya. Mereka pun nampaknya menyadari sikap hati-hati Kepala Tanah Perdikan yang muda itu, sehingga mereka tidak memaksa mereka untuk membawanya langsung menemui para tawanan.

Ketika kedua orang itu dibawa dan dihadapkan kepada Ki Tumenggung Puspalaga, maka kedua orang itu terkejut bukan buatan. Wajah mereka menjadi pucat. Tiba-tiba saja mereka menunduk dalam-dalam.

Ki Tumenggung Puspalaga kemudian berkata kepada salah seorang pengiringnya, “Ki Lurah Samekta. Lihat kedua orang itu dan berbicaralah dengan mereka.

“Baik Ki Tumenggung” jawab Ki Lurah Samekta yang kemudian berpaling kepada Risang, “aku mohon ijin untuk berbicara dengan mereka berdua.”

“Silahkan. Silahkan Ki Lurah” jawab Risang.

Ki Lurah itu pun kemudian bergeser mendekat, Diamatinya kedua orang itu dari ujung kepalanya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Ki Sanak. Siapakah nama lurahmu?”

Pertanyaan itu begitu tiba-tiba. Ki Lurah Samekta tidak bertanya nama mereka atau dari mana asal mereka, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan mereka berdua. Tetapi tiba-tiba saja Ki Lurah Samekta itu bertanya siapakah pemimpin mereka.

Keduanya tidak sempat berpikir. Pertanyaan yang tiba-tiba dan yang harus mereka jawab itu, telah menghentakkan mereka untuk mengatakan apa yang sebenarnya.

Karena itu, maka hampir berbareng keduanya menjawab”“Ki Lurah Mertapraja.”

Ki Lurah Samekta mengangguk-angguk. Betapa wajahnya menjadi tegang, namun nampaknya ia masih menahan diri. Dengan geram ia bertanya, “Kalian mengenal kami?’“

Kedua orang itu ternyata terkejut mendengar jawaban mereka sendiri. Dihadapan perwira yang berpakaian resmi sebagai prajurit Madiun, maka kedua orang itu rasa-rasanya tidak dapat berbicara lain daripada yang sebenarnya.

Dengan suara gemetar maka kedua orang itu menjawab bersamaan pula, “Ya.”

“Jika kalian mengenal kami, siapakah kami berempat?” desak Ki Lurah Samekta.

Seorang diantara keduanya menjawab sendat, “Kami mengenal Ki Tumenggung Puspalaga. Sebelumnya kami belum mengenal Ki Lurah secara pribadi. Tetapi kami tahu, bahwa Ki Lurah adalah Lurah prajurit Madiun.”

“Bagus” jawab Ki Lurah Samekta, “dimana sekarang Ki Lurah Mertapraja. Apakah masih hidup atau sudah mati di peperangan yang baru saja terjadi?”

Keduanya memang menjadi sangat ragu-ragu. Jika saja yang bertanya bukan para prajurit Madiun, maka ia akan dapat ingkar. Tetapi kepada para prajurit Madiun itu sendiri, mereka tidak dapat berbuat banyak. Seandainya mereka berdusta, maka keempat orang itu tentu akan dapat menemukan Ki Lurah Mertapraja.

Karena itu, maka seorang diantara mereka menjawab, ”Sepengetahuan kami Ki Lurah Mertapraja itu telah terluka. Kami tidak tahu dimana Ki Lurah itu dirawat atau bahkan dibunuh sama sekali oleh orang-orang Tanah Perdikan.”

“Aku yakin bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi di Tanah Perdikan Sembojan ini” berkata Ki Lurah Samekta.

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi kepala mereka menunduk dalam-dalam.

“Kami akan bertemu dan berbicara dengan Ki Lurah Mertapraja yang telah melanggar paugeran prajurit di Madiun. Yang dilakukan telah mencemarkan nama baik Kadipaten Madiun. Kita, termasuk aku dan kalian, memang merupakan bagian dari Madiun yang nampaknya sedang diliputi persoalan dengan Pajang dan Mataram. Tetapi persoalan-persoalan itu sedang diusahakan untuk dapat dipecahkan dengan baik. Namun tiba-tiba kalian telah melakukan tindakan yang bodoh itu.” geram Ki Lurah Samekta.

Kedua orang prajurit itu menunduk semakin dalam. Tetapi mereka sama sekali tidak menjawab.

Sementara itu Ki Lurah Samekta pun kemudian telah beringsut dan berbicara dengan Ki Tumenggung Puspalaga. Katanya, “Kita sebaiknya bertemu dan berbicara dengan Ki Lurah Mertapraja. Biarlah kedua orang itu berusaha mencarinya diantara para tawanan yang tentu saja atas ijin Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan tentu diperlukan pengawalan.”

Ki Tumenggung Puspalaga itu pun mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya kepada Risang, “Ngger. Angger telah mendengar langsung pendapat Ki Lurah Samekta. Apabila diijinkan, kami ingin bertemu dengan Ki Lurah Mertapraja. Biarlah kedua orang itu mencarinya diantara para tawanan. Keduanya tidak akan berani ingkar karena kami ada disini.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Tumenggung. Biarlah keduanya diantar untuk mencari orang yang bernama Mertapraja karena kami tidak mengenalnya.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung lah yang telah ditugaskan untuk mengantar kedua orang tawanan itu. Mereka harus menemukan Ki Lurah Mertapraja diantara para tawanan, termasuk yang terluka.

Ternyata kedua orang prajurit Madiun yang melibatkan diri pada Padepokan Watu Kuning itu benar-benar menjadi bingung. Keduanya merasa takut untuk menolak perintah itu. Tetapi keduanya juga merasa sangat cemas untuk menunjukkan orang yang bernama Ki Lurah Mertapraja itu.

Diluar pengetahuan Sambi Wulung dan Jati Wulung keduanya sempat berbicara diantara mereka. Dengan berbisik seorang diantara mereka berkata, “Kita berusaha melarikan diri. Hanya dua orang yang mengawal kita. Sementara kita juga berdua.”

“Mereka bersenjata” desis yang lain.

“Kita dahului mereka.” jawab kawannya.

“Kita tidak mengenal mereka, apakah mereka memiliki kemampuan tinggi atau tidak.”

“Kita akan mencobanya. Jika kita terbunuh karenanya, agaknya itu justru lebih baik, karena jika kita berkhianat terhadap Ki Lurah, kita pun akan dibunuhnya pula. Sementara jika kita menolak perintah Ki Tumenggung Puspalaga, kita dapat dibunuhnya pula atau lebih buruk dari kematian itu sendiri.”

Yang seorang lagi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi agaknya itu adalah jalan yang terbaik bagi mereka. Apalagi jika mereka kemudian sempat melarikan diri.

Karena itu, ketika mereka sampai ditengah-tengah bulak panjang, maka keduanya pun segera mempersiapkan diri. Mereka akan dengan tiba-tiba menyerang untuk mendapat kesempatan lebih dahulu, sehingga membuat kedua orang yang mengawalnya itu kehilangan kesempatan untuk bertahan. Apalagi jika mereka berhasil menyerang tempat yang paling lemah dari kedua orang yang mengawalnya itu, sehingga pada serangan pertama keduanya kehilangan sebagian dari kekuatan dan kemampuan mereka karena kesakitan.

Demikian mereka sampai di sebuah simpang empat di tengah-tengah bulak panjang, maka seorang diantara keduanya pun memberi isyarat. Dengan serta merta keduanya berhenti, berbalik dan langsung menyerang Sambi Wulung yang berjalan di belakang mereka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang terkejut. Keduanya tidak menyangka bahwa kedua orang tawanan itu dengan tiba-tiba menyerang mereka.

Namun kedua orang tawanan itu belum mengenai Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kedua tawanan itu kebetulan tidak berada dihadapan sayap yang dipimpin oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu. Keduanya menganggap bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak lebih dari pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang lain.

Tetapi ternyata bahwa perhitungan kedua tawanan itu salah. Sambi Wulung dan Jati Wulung bukannya orang kebanyakan. Mereka memiliki landasan ilmu yang tinggi. Karena itu, meskipun keduanya terkejut, tetapi keduanya tidak memerlukan waktu yang panjang urituk menghentikan perlawanan kedua orang tawanan itu.

Dengan beberapa langkah saja, maka keduanya benar-benar telah dikuasai oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.  Seorang diantara kedua tawanan itu menyeringai menahan sakit karena lengannya terasa bagaikan patah. Ketika dengan serta-merta ia meloncat dan memukul kening Sambi Wulung, ternyata bahwa serangannya itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Sambi Wulung berhasil menangkap pergelangan tangan itu dan memilinnya sehingga orang itu mengaduh kesakitan. Lengannya yang terpilin itu serasa telah dipatahkannya.

Sementara itu, seorang yang lain, yang meloncat menyerang dengan kakinya kearah dada Jati Wulung, telah kehilangan sasarannya ketika Jati Wulung dengan cepat bergeser kesamping. Demikian kaki itu terjulur tanpa menyentuh sasaran, maka dengan kuatnya Jati Wulung mengangkat kaki yang terjulur itu. Hentakkan itu telah merusak keseimbangannya sehingga orang itu terjatuh ditanah. Dengan cepat ia berusaha untuk bangkit, Namun Jati Wulung dengan cepat menangkap rambut dan dagu orang itu dari arah belakang dengan kedua tangannnya.

“Jika kau berusaha untuk melepaskan diri, aku patahkan lehermu” geram Jati Wulung.

Orang itu memang tidak berani bergerak. Ia merasa lehernya memang bagaikan patah. Tangan Jati Wulung terasa demikian kuatnya mencengkam kepalanya, seakan-akan jari-jarinya terbuat dari baja.

Karena keduanya tidak berusaha melawan lagi dan sudah tidak berdaya, maka Sambi Wulung pun bertanya, “Nah, apakah yang kau kehendaki sekarang? Apakah kau merasa lebih baik mati daripada menunjukkan Lurah Mertapraja itu?”

Orang yang terpilin lengannya itu menjawab disela-sela desah kesakitan, “Ampun. Aku tidak akan berbuat lagi. Aku minta ampun dan jangan patahkan tanganku.”

“Kau ternyata terlalu licik. Rasa-rasanya sulit untuk mengampunimu. Kau setiap saat akan dapat berbuat licik lagi seperti ini.” geram Sambi Wulung.

“Tidak. Aku berjanji” jawab orang itu. Tetapi Sambi Wulung menjawab, “Mulutmu sama sekali tidak dapat dipercaya. Janjimu tidak berharga sama sekali.”

“Tetapi kali ini aku berkata sesungguhnya”jawab orang itu.

“Ternyata kau sudah mempersulit dirimu sendiri. Karena itu, maka setelah kau menunjukkan Ki Lurah Mertapraja, maka kau akan mendapat penanganan khusus. Aku akan melaporkanmu kepada Ki Lurah Samekta dan Ki Tumenggung Puspalaga.”

“Jangan. Jangan katakan kepada mereka. Prajurit Madiun memiliki paugeran yang sangat ketat. Mereka dapat bertindak lebih keras dari yang kau duga.” berkata orang yang dipilin tangannya itu.

Tetapi Sambi Wulung menjawab, “Aku tetap tidak mempercayai mulutmu. Bagiku Ki Tumenggung Puspalaga adalah orang yang baik sebagai seorang prajurit.”

“Tetapi tolong kami” orang itu hampir menangis.

Sambi Wulung pun kemudian mendorong orang itu sambil membentak, “Cepat, kita akan mengambil Ki Lurah Mertapraja. Kau tidak akan dapat menipu. Seandainya dipadukuhan sebelah tidak ada Ki Tumenggung Puspalaga dan para pengiringnya, kau akan dapat menunjuk siapa saja diantara kalian dan menyebutnya sebagai Ki lurah Mertapraja. Tetapi para prajurit Madiun itu tentu sudah mengenal atau salah seorang dari mereka, tidak akan dapat dikelabui lagi.”

Kedua orang tawanan itu tidak menjawab lagi. Ketika keduanya dilepaskan, maka keduanya memerlukan beberapa saat untuk mengatasi perasaan sakit mereka.

Namun Sambi Wulung kemudian membentaknya, “Cepat. Para tamu itu sudah menunggu. Kita harus segera kembali dan membawa Ki lurah Mertapraja atau kalian berdua akan digantung dihalaman banjar untuk menjadi tontonan orang banyak.”

Kedua orang tawanan itu tidak menjawab. Ternyata kedua orang yang mengawal mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi, sehingga dalam waktu sekejap kedua orang tawanan itu sudah menjadi tidak berdaya.

Sejenak kemudian, maka berempat mereka memasuki padukuhan landasan pasukan Tanah Perdikan itu ketika mereka bertempur melawan orang-orang Watu Kuning. Di padukuhan itu terdapat orang-orang Watu Kuning yang tertawan terbanyak dibandingkan dengan padukuhan-padukuhan yang lain.

Di tempat itu, kedua orang tawanan itu pun telah dihadapkan kepada para tawanan yang dijaga dengan ketat oleh para pengawai Tanah Perdikan.

Tetapi kedua orang itu tidak segera menunjuk o-rang yang bernama Ki Lurah Mertapraja. Sambi Wulung, Jati Wulung dan beberapa orang pengawal yang berjaga-jaga di tempat itu menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Namun kedua orang itu kemudian justru menggeleng sambil berkata, “Tidak ada disini.”

“Kau berkata sebenarnya?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Aku berkata sebenarnya.” jawab orang itu.

“Baiklah. Kita akan melihat para tawanan di padukuhan lain. Jika di padukuhan lain kita juga tidak menemukannya, maka aku akan mempersilahkan salah seorang dari tamu-tamu itu untuk mencarinya sendiri. Jika mereka kemudian menemukannya, itu artinya bencana bagi kalian berdua.” berkata Sambi Wulung.

Kedua orang itu tidak menjawab. Wajah mereka memang nampak tegang. Kecemasan membayang di wajah kedua orang itu. Namun agaknya mereka memang tidak menemukan Ki Lurah Mertapraja di tempat itu.

“Kita akan pergi ke padukuhan di sebelah Selatan. Jika Ki Lurah itu ada dipadukuhan sebelah Utara, kau tentu sudah melihatnya karena kau diambil dari sana.” berkata Jati Wulung kemudian.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tetapi keduanya sama sekali tidak berkata sesuatu.

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian telah dibawa ke padukuhan sebelah Selatan untuk mencari Ki Lurah Mertapraja yang akan dihadapkan kepada Ki Tumenggung Puspalaga yang berada dipadukuhan yang lain.

Dengan jantung yang berdebaran, kedua orang tawanan itu kemudian memasuki halaman banjar padukuhan di sebelah Selatan yang juga dipergunakan untuk menawan beberapa orang yang tertangkap di pertempuran. Diantara mereka memang terdapat orang-orang yang oleh Risang dan Kasadha diduga berasal dari sekelompok orang yang berbeda dengan orang-orang Watu Kuning yang lain.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 51

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s