SST-50

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

KEDUA orang pengikut Wira Gobang yang bertempur melawan bibi Kasadha itu pun menjadi gelisah. Perempuan itu terlalu tangkas. Ia dapat bergerak dengan cepat dan kadang-kadang bahkan tidak terduga-duga. Senjatanya berputaran dengan cepat. Terayun deras dan sekali-sekali menebas mendatar. Bahkan kemudian mematuk kearah jantung. Pedang yang hanya sehelai itu seakan telah berubah menjadi dua, tiga bahkan lima helai pedang yang bergerak bersama-sama.

“Iblis betina,” geram salah seorang lawan bibi Kasadha itu.

Tetapi bibi Kasadha itu tidak menghiraukannya. Pedangnya justru semakin cepat berputar. Ketika seorang lawannya terlambat menghindar, maka pedang yang menebas mendatar itu telah menyentuh lengannya, sehingga sebuah luka telah menganga.

Orang yang terluka lengannya itu megumpat kasar. Tetapi luka itu tidak membuat perlawanannya menjadi surut. Seperti seekor harimau yang terluka, orang itu justru menjadi semakin garang. Kemarahan dan dendam telah membakar kepalanya.

Dalam pada itu, kawan Kasadha, seorang diantara para pemimpin kelompok yang banyak mengerti tentang pergo lakan jiwa Kasadha telah bertempur dengan keras pula. Untunglah bahwa kadang-kadang ia mendapat kesempatan untuk berlatih khusus dengan Kasadha sehingga prajurit itu memiliki pengalaman yang lebih luas tentang ilmu kanuragan. Ia tidak saja memiliki kemampuan seorang prajurit dalam perang gelar. Tetapi ilmunya secara pribadi pun telah banyak meningkat.

Disisi lain, Wira Gobang pun harus bertempur dengan mengerahkan kemampuannya. Bahkan ia merasa dirinya seorang yang berilmu tinggi, harus melihat kenyataan, bahwa perempuan itu pun memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan ia tidak mengira sama sekali,bahwaia’akanbertem-pur dengan seorang yang memiliki landasan dasar ilmu yang sama. Keras dan bahkan kasar. Namun perkembangannya telah membuat ilmu itu seakan-akan terpisah, meskipun wataknya masih nampak.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Warsi. Ilmu kanuragan yang tidak jauh berbeda dengan senjata itu arti dan nilainya tergantung pada orang yang memiliki dan mempergunakannya, jika ilmu itu dipelajari dengan cara yang wajar. Bekerja keras dan berlatih dengan tekun.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Warsi dan Wira Gobang itu semakin lama menjadi semakin rumit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka. Bahkan mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Warsi memang merasakan pengaruh perang tandingnya yang terakhir melawan Iswari sehingga ilmunya tidak dapat berkembang lagi. Tetapi dengan ilmu dan kemampuan yang telah dikuasainya, maka ia yakin akan dapat menyelesaikan lawannya yang juga berilmu tinggi itu.

Tetapi Wira Gobang bukan orang yang mudah menyerah pada keadaan. Dengan keras dan kasar ia melawan setiap serangan. Benturan-benturan telah terjadi. Kedua-duanya melandasi kemampuan mereka dengan landasan yang memang keras dan kasar. Parang Wira Gobang berputaran menggetarkan udara disekitarnya. Namun rantai Warsi pun bagaikan perisai yang tidak tertembus mengelilingi tubuhnya. Sentuhan-sentuhan antara rantai baja dengan parang Wira Gobang telah memercikkan bunga-bunga api yang membungai gelapnya malam.

Tetapi ujung rantai Warsi yang bagaikan kepala ular itu mampu bergerak lebih cepat dari ayunan parang Wira Gobang. Selagi parang itu terayun menebas kearah leher, Warsi sempat mengelak. Sambil merendah Warsi bergeser selangkah kesamping. Namun bersamaan dengan itu, ujung rantainya meluncur mematuk dengan cepatnya mengenai lambung Wira Gobang.

Wira Gobang meloncat beberapa langkah surut. Perasaan pedih dan nyeri telah menyengat lambungnya. Bahkan lambungnya itu pun kemudian telah menitikkan darah. Ketika tangannya meraba, maka cairan hangat itu telah tersentuh jari-jarinya.

Wira Gobang mengumpat kasar. Tetapi ia masih belum kalah. Ia masih mampu-mengatasi perasaan nyeri itu. Bahkan dengan demikian Wira Gobang itu justru menjadi semakin garang.

Tetapi ternyata bahwa Warsi yang pernah menempa diri justru karena nafasnya ingin menguasai Tanah Perdikan Sembojan itu, memiliki pengalaman yang lebih luas dari Wira Gobang. Ilmunya berkembang lebih jauh sehingga Warsi mampu menunjukkan unsur-unsur gerak yang sama sekali tidak dikenal oleh Wira Gobang. Sementara itu, Warsi lebih banyak dapat mengenali unsur-unsur gerak pada ilmu lawannya. Karena itu, maka Warsi mempunyai kesempatan lebih besar untuk memotong dan melawan ilmu Wira Gobang. Sementara itu kekuatan cadangan didalam dirinya yang diungkapkan sebagai tenaga dalam pun Warsi masih mempunyai kelebihan.

Dengan demikian, maka Wira Gobang itu pun semakin lama menjadi semakin terdesak. Beberapa kali ia harus berloncatan surut. Sementara Warsi yang bertempur disiraman sinar bulan yang semakin tinggi itu nampak menjadi semakin garang. Perempuan itu tidak lagi menghiraukan tanggapan anaknya atas unsur-unsur geraknya. Ia tidak akan dapat mengatasi Wira Gobang jika ia terlalu membatasi geraknya untuk menghindari kekerasan dan kekasaran yang nampak pada unsur-unsur geraknya itu.

Tetapi Kasadha memang tidak sempat memperhatikan bagaimana ibunya bertempur. Jika sekali-sekali ia sempat melihat pertempuran itu, ia hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa ibunya akan dapat mempertahankan dirinya sendiri.

Meskipun demikian Kasadha tidak dapat membiarkan ibunya bertempur seorang diri melawan orang berilmu tinggi itu. Bagaimanapun juga ibunya sudah menjadi semakin tua.

Karena itu, maka Kasadha berusaha untuk dengan secepatnya menyelesaikan kedua lawannya itu. Sehingga karena itu, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya.

Pertempuran pun berlangsung dengan kerasnya. Ujung pedang Kasadha ternyata telah berhasil sekali lagi menggores lawannya yang telah dilukainya itu. Sehingga karena itu, maka orang itu pun menjadi semakin lemah. Darah yang mengalir dari lukanya itu telah membuat tenaganya menyusut dengan cepat.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Kasadha sebaik-baiknya. Beberapa kali Kasadha justru mencari kesempatan untuk menyerang orang yang menjadi semakin lemah itu.

Tetapi ternyata bahwa kesempatan yang lain telah terbuka pula. Ketika lawannya menyerang dengan cepat dan mengerahkan tenaga sekuat-kuatnya untuk menebas kearah lehernya, Kasadha sempat meloncat surut. Demikian senjata lawannya terayun, Kasadha justru telah memukul senjata itu dalam ayunan yang searah. Kasadha pun telah mengerahkan kekuatannya pula, sehingga karena itu, maka sentuhan senjata Kasadha yang membentur senjata lawannya pada arah yang sama, seakan-akan telah mendorong lawannya sehingga lawannya itu telah kehilangan keseimbangannya dan terlempar beberapa langkah. Betapapun ia berusaha, tetapi orang itu telah terjatuh dan berguling beberapa kali justru untuk mengambil jarak.

Dengan cepat orang itu bangkit berdiri. Tetapi ia sudah terlambat. Kawannya yang telah terluka, yang berusaha membantunya telah jatuh terjerembab. Satu lagi luka telah menganga didadanya.

Meskipun orang itu masih berusaha untuk bangkit, tetapi ternyata ia sudah tidak berdaya lagi.

Kawannya termangu-mangu sejenak. Berdua ia tidak mampu mengalahkan Kasadha. Apalagi seorang diri.

Tetapi ketika ia melihat Wira Gobang masih bertempur dengan sengitnya, maka ia pun telah menggeretakkan giginya pula. Sebagai seorang kepercayaan Wira Gobang ia tidak boleh terlalu mudah merasa kalah.

Dengan demikian, maka ia pun telah berteriak nyaring sambil melompat menyerang.

Tetapi kegelisahan didalam dirinya membuatnya tidak Tagi mampu memusatkan nalar budinya.

Apalagi ketika kemudian ia mendengar seorang kawannya berteriak keras melontarkan kemarahan yang harus tertahan didadanya. Sebuah tusukan yang cepat, telah terhunjam didadanya itu. Ketika pedang bibi Kasadha itu ditariknya, maka orang itu terhuyung-huyung sejenak. Namun ketika ia berteriak keras-keras mengumpat marah, maka darah bagaikan dihentakkan dari lukanya itu. Sementara tubuhnya pun kemudian jatuh terhempas di tanah.

Seorang dari lawan bibi Kasadha telah jatuh. Meskipun ia masih tetap bernafas, namun sulit baginya untuk dapat bangkit lagi sebagaimana lawan Kasadha yang seorang.

Tetapi yang kemudian menentukan segala-galanya adalah pertempuran antara Warsi melawan Wira Gobang. Semakin lama Wira Gobang memang menjadi semakin terdesak. Ujung rantai Warsi sekali lagi telah mengenainya. Bukan saja mematuk tubuh Wira Gobang. Tetapi rantai baja itu telah terhempas di lambungnya. Hentakan sendai pancing, bukan saja membuat tulang-tulangnya bagaikan retak, tetapi tarikan yang menghentak dari rantai itu telah tergores mengoyak pakaian dan kulit lambungnya.

Wira Gobang berteriak keras menahan sakit yang menggigit lambungnya itu. Namun teriakan itu terputus ketika sekali lagi rantai Warsi tanpa dapat dihindari dan ditangkisnya, terjulur kelehernya. Rantai itu memang seperti tubuh seekor ular yang ganas. Dengan cepat rantai itu membelit leher Wira Gobang.

Wira Gobang yang merasa tidak akan dapat mengurai rantai itu dengan cepat, ternyata masih juga mampu mengambil sikap. Ketika rantai itu ditarik dengan satu hentakan, Wira Gobang sama sekali tidak melawan. Ia justru mengikut arah tarikan itu. Namun demikian ia bergerak semakin dekat dengan tubuh Warsi yang menariknya, Wira Gobang telah mengayunkan parangnya.

Warsi memang terkejut. Parang itu ternyata telah menyentuh tangannya. Segores luka menyilang diatas pergelangannya.

Tetapi dengan cepat Warsi melepaskan rantai itu dan menangkapnya dengan tangannya yang lain. Warsi tidak menarik lagi rantai itu, tetapi ia meloncat kesamping.

Waktu yang sekejap itu sempat dipergunakan oleh Wira Gobang dengan baik. Sambil berputar ia melepas rantai yang melilit lehernya. Tetapi ia terlambat untuk menghindar ketika tangan Warsi terayun dengan derasnya. Jari-jarinya yang merapat terbuka telah menghantam tengkuk Wira Gobang yang baru berhenti berputar.

Tetapi tangan Warsi yang telah terluka diatas pergelangannya itu tidak melontarkan tenaganya sepenuhnya. Warsi tidak ingin lukanya itu menyemburkan darah, sementara tangannya yang lain tengah memegangi rantainya yang baru saja terurai dari leher Wira Gobang.

Wira Gobang memang terhuyung. Tetapi ia tidak jatuh tertelungkup. Bahkan ia sempat menjulurkan pedangnya menyentuh lambung Warsi.

Meskipun hanya segores kecil, tetapi kemarahan perempuan itu benar-benar telah membakar jantungnya.

Karena itu hampir diluar kendali nalarnya, bahkan seolah-olah kegarangan Warsi telah kambuh kembali, maka tiba-tiba tangannya yang memegang rantainya itu pun bergetar. Ujung rantainya pun menggelepar dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata mematuk dada Wira Gobang.

Terdengar Wira Gobang berteriak nyaring. Orang itu pun menggeliat sambil melangkah surut. Terasa dadanya bagaikan disengat bara.

Tetapi Warsi yang sangat marah itu tidak melepaskan lawannya yang telah melukai tangan dan lambungnya. Sekali lagi rantainya menggelepar menampar kening.

Wira Gobang berteriak sekali lagi. Tetapi keningnya seakan-akan telah pecah. Matanya pun menjadi gelap dan sejenak kemudian Wira Gobang itu terpelanting jatuh.

Ternyata darah telah mengalir dari luka dikeningnya itu.

Warsi berdiri termangu-mangu. Dipeganginya rantainya pada pangkal dan ujung. Wajahnya masih nampak tegang.

Tetapi sejenak kemudian Warsi itu pun menarik nafas dalam-dalam. Wira Gobang agaknya menjadi pingsan. Sementara itu, orang-orangnya yang masih sempat bertempur telah kehilangan keberaniannya. Ketika kemudian Kasadha memberi kesempatan kepada mereka untuk menyerah, maka mereka pun telah meletakkan senjata mereka.

Kasadha pun kemudian melangkah mendekati ibunya yang masih berdiri termangu-mangu. Ketika Kasadha itu kemudian berdiri disisinya, maka Warsi itu pun berdesis, “Maafkan ibumu Kasadha.”

“Kenapa?” bertanya Kasadha.

“Ibumu memang bukan seorang yang lembut. Dalam keadaan yang memaksa, maka kau telah melihat, betapa kasarnya ilmu yang aku kuasai.”

“Tetapi kita sedang mempertahankan diri ibu. Bukankah kita tidak berdiri dipihak yang bersalah?” bertanya Kasadha. Lalu katanya, “Apapun yang kita lakukan, kita berhak untuk membela diri, melindungi diri kita sendiri. Kita tidak sedang merampok atau menyamun atau perbuatan-perbuatan lain yang menyalahi paugeran Pajang dan paugeran hidup.”

Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi kemudian dengan nada dalam ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika dengan ilmu yang kasar ini ibu ikut mempertahankan Tanah Perdikan Sembojan?”

“Tidak seorang pun akan mencela ibu. Bukankah ibu berniat baik sehingga ibu telah mengorbankan waktu, tenaga dan bahkan mempertaruhkan nyawa untuk kebaikan Tanah Perdikan Sembojan?” sahut Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk kecil.

Namun dalam pada itu, bibi Kasadha itu pun berkata, “Sebaiknya lukamu diobati meskipun tidak parah. Tetapi darah itu harus dipampatkan. Karena itu sebaiknya luka itu diobati lebih dahulu.”

Warsi memang membawa obat untuk memampatkan luka dalam sebuah bumbung kecil. Ditaburkannya obat itu pada lukanya sehingga darah pun menjadi pampat.

Sementara ibu Kasadha dibantu oleh bibinya, maka Kasadha berkata kepada orang-orang yang telah menyerah, “Kami tidak akan membunuh kalian. Seandainya ada diantara kalian yang terbunuh, bukan niat kami. Tetapi tentu merupakan peringatan bagi kalian, bahwa kalian tidak berhak berbuat sebagaimana kalian lakukan. Jika kalian sempat memberikan laporan kepada pemimpin Padepokan Watu Kuning, maka katakan apa yang telah terjadi. Kami akan meneruskan perjalanan kami ke Kademangan Pakis seperti yang sudah aku katakan kepada kalian.”

Orang-orang yang masih tersisa itu mengangguk.

“Nah, sampaikan salamku kepada pemimpin Padepokan Watu Kuning,” berkata Kasadha kemudian.

Orang-orang itu mengangguk lagi.

“He, kenapa kalian hanya mengangguk-angguk saja? Jawab pesan-pesan kami itu,” bentak Kasadha.

“Baik, baik Ki Sanak,” jawab salah seorang dari mereka, ”kami akan kembali ke Padepokan Sela Jene untuk memberikan laporan.”

“Padepokan Sela Jene?” bertanya Kasadha.

“Ya, Padepokan Sela Jene. Maksudku, Padepokan Sela Kuning, eh, Sela Watu, eh, Watu Kuning,” orang itu menjadi gagap.

“Apapun namanya, tetapi aku tahu Padepokan yang kau maksud,” berkata Kasadha kemudian.

Sejenak kemudian, maka setelah membenahi diri, maka iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanan. Pemimpin kelompok tertua dari antara para prajurit Kasadha yang ikut bersamanya itu memang juga terluka meskipun hanya segores kecil. Tetapi luka-lukanya telah menjadi pampat pula, sehingga luka-luka itu tidak mengganggu sama sekali.

Sementara itu, langit menjadi semakin terang. Matahari pun memancarkan sinarnya yang cerah. Bulan tua yang sudah berada dipunggung bukit tidak lagi mampu bersaing dengan terangnya matahari pagi.

Demikianlah, keempat orang itu berusaha untuk tidak menarik perhatian banyak orang. Meskipun demikian, beberapa orang yang berpapasan masih saja memperhatikan pakaian ibu dan bibi Kasadha yang tidak terbiasa dipakai oleh seorang perempuan.

Namun ketika kemudian mereka memasuki daerah Tanah Perdikan Sembojan, maka yang menarik perhatian banyak orang bukan lagi bentuk pakaian mereka. Mereka sudah sering melihat sebelum Risang diwisuda, ibunya yang saat itu masih menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, memakai pakaian seperti itu juga. Yang justru menarik adalah bahwa ada perempuan lain yang juga memakai pakaian seperti itu.

Dalam pada itu, setelah menempuh perjalanan yang panjang maka dibawah teriknya matahari yang sudah melampaui titik puncaknya, Kasadha bersama iring-iringan kecilnya telah berada di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka semakin mendekati Padukuhan Induk. Meskipun kuda-kuda mereka nampak letih, tetapi karena jarak yang akan ditempuhnya tinggal beberapa puluh patok, maka mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.

Kedatangan mereka di Tanah Perdikan Menoreh memang agak mengejutkan. Yang diharap dan ditunggu hanyalah Kasadha dan barangkali seorang prajurit yang akan datang bersamanya. Namun ternyata Kasadha datang bersama ibu dan bibinya. Ibu Risang pun menerima mereka dengan gembira. Demikian pula Risang. Apalagi ketika kemudian Kasadha menyatakan bahwa ia telah mengajak ibu dan bibinya setelah ia mendengar dari Ki Rangga Kalokapraja, apa yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan ini. Bahkan Kasadha pun sempat menceriterakan apa yang telah terjadi di perjalanan serta menyampaikan pesan Pangeran Gagak Baning serta apa yang diketahui pula oleh ibu Kasadha.

“Jadi, yang disebut Padepokan Watu Kuning itu hanyalah satu tempat yang menjadi sarang orang-orang yang sebagian besar, adalah orang-orang yang tidak terpuji. Memang di Padepokan Watu Kuning terdapat perguruan Watu Kuning. Tetapi yang ada di Padepokan itu bukan saja orang-orang dari perguruan Watu Kuning,” berkata Kasadha selanjutnya.

Risang mengangguk-angguk kecil. Katanya dengan nada dalam, “Terima kasih atas keterangan ini. Kami juga berterima kasih bahwa bibi berdua telah datang pula dan berniat membantu kami. Juga kepada Ki Sanak, yang telah menyempatkan diri datang bersama Kasadha ke Tanah Perdikan kami yang sedang terancam bahaya ini.”

“Saya sekedar menjalankan tugas,” berkata pemimpin kelompok yang datang bersama Kasadha itu.

Dengan demikian, maka Tanah Perdikan itu merasa menjadi semakin kuat. Meskipun Pajang jelas tidak dapat membantu, tetapi kehadiran Kasadha merupakan pertanda bahwa Pajang tidak berniat untuk membiarkan saja Tanah Perdikan Sembojan berada dalam kesulitan. Kehadiran Kasadha akan dapat memantau keadaan Tanah Perdikan dan melaporkannya kepada pimpinan pemerintahan di Pajang yang untuk sementara masih berada ditangan Pangeran Gagak Baning.

“Kita masih menunggu,” berkata Risang, “ketika dua orang utusan dari Padepokan Watu Kuning datang, mereka mengatakan bahwa sepekan lagi pemimpin Padepokan Watu Kuning akan datang kemari.”

“Jadi masih ada waktu dua tiga hari lagi,” desis Kasadha.

“Ya. Dua hari lagi. Tetapi Tanah Perdikan ini sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Kami merasa semakin tenang karena kedatangan bibi berdua dan dua orang prajurit Pajang,” sahut Risang.

“Apa yang dapat kami lakukan,” berkata ibu Kasadha, “agaknya memang tidak banyak. Tetapi niat kamilah yang telah membawa kami datang kemari.”

“Itulah yang membesarkan hati kami,” jawab ibu Risang, “dan hal itu tentu akan sangat besar pengaruhnya.”

Demikianlah, maka hari itu juga, setelah mereka beristirahat dan makan bersama-sama, maka Risang telah mengajak Kasadha untuk melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan. Mereka melihat bagaimana Tanah Perdikan itu mempersiapkan dirinya. Sementara itu, prajurit yang datang bersama Kasadha itu pun telah melihat-lihat pula dibagian lain dari Tanah Perdikan itu bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Ternyata persiapan Tanah Perdikan ini sudah rapi sekali,” berkata Kasadha, “bahkan para pengawal sempat meminjam dan mengumpulkan kuda yang ada di padukuhan-padukuhan untuk mempercepat gerak pasukan. Meskipun tidak begitu banyak, tetapi cukup memadai.”

“Para pemilik kuda itu menyerahkan kuda-kuda mereka dengan ikhlas. Mereka tahu pasti, untuk apa kuda-kuda itu dikumpulkan,” jawab Risang.

“Aku kira Padepokan Watu Kuning tidak menyadari bahwa Tanah Perdikan ini memiliki pengawal yang mempunyai tatanan yang tersusun rapi sebagaimana tatanan dalam lingkungan keprajuritan yang sudah mapan. Karena itu, Padepokan Watu Kuning itu akan terkejut membentur pertahanan di Tanah Perdikan ini. Meskipun demikian, kita belum tahu pasti kekuatan Padepokan Watu Kuning yang menganggap Tanah Perdikan ini hanya dapat menyelamatkan diri karena bantuan Pajang,” berkata Kasadha kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Ia pun menyadari bahwa kekuatan Padepokan Watu Kuning sama sekali belum dapat dijajagi.

“Jika saja Padepokan Watu Kuning merupakan sebuah perguruan yang wajar, maka jumlahnya tidak akan dapat menyamai jumlah pengawal dan anak-anak muda di Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Risang, “namun mereka tentu memiliki kesempatan lebih baik untuk menempa diri secara pribadi. Mereka pun tentu mempunyai ikatan yang lebih erat yang satu dengan yang lain, serta antara para cantrik, putut dan para pemimpinnya. Sementara itu, seperti yang kau katakan sesuai dengan pesan Ki Rangga Kalokapraja yang mendengarnya dari Pangeran Gagak Baning serta dari bibi, maka di perguruan Watu Kuning tentu terdapat banyak orang berilmu tinggi.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Apapun yang kita hadapi nanti, Tanah Perdikan ini sudah melakukan persiapan sebaik-baiknya.”

“Kita masih harus selalu berdoa, semoga Yang Maha Agung melindungi Tanah Perdikan ini,” desis Risang kemudian.

“Ya. Bukan kita yang bersalah. Kita tidak berniat untuk bermusuhan,” desis Kasadha.

Demikianlah, kedua orang anak muda, cucu Ki Gede Sembojan itu telah meyakinkan diri bahwa Tanah Perdikan itu sudah bersiap sebaik-baiknya. Bahkan pada saat-saat terakhir, para pengawal masih sempat melakukan latihan-latihan yang cukup berat. Terutama mereka membiasakan diri untuk memperguna-kan senjata sesuai dengan pilihan mereka masing-masing. Mereka bukan saja berlatih secara pribadi, tetapi mereka juga berlatih untuk bekerja sama dalam perang brubuh.

Kasadha, seorang Lurah prajurit Pajang mengagumi kemampuan para pengawal Tanah Perdikan yang tidak berada dibawah tataran seorang prajurit. Mereka memiliki landasan dasar yang cukup. Sudah tentu bahwa mereka masih belum memiliki pengalaman yang cukup luas sebagaimana seorang prajurit. Meskipun demikian, mereka tidak akan mengecewakan jika mereka turun didalam pertempuran yang sebenarnya.

Karena itulah, maka Kasadha pun menjadi berbesar hati. Ia tidak terlalu mencemaskan keadaan Tanah Perdikan Sembojan menghadapi Padepokan Watu Kuning. Meskipun demikian, Kasadha masih belum dapat memperhitungkan apakah di Tanah Perdikan terdapat cukup banyak orang yang berkemampuan tinggi untuk menghadapi para pemimpin dari Padepokan Watu Kuning yang jumlahnya cukup banyak sehingga dapat mencemaskan sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Gagak Baning maupun oleh ibu Kasadha itu sendiri.

Tetapi untuk menanyakan hal itu langsung kepada Risang, Kasadha memang agak segan. Tetapi Kasadha tahu bahwa setidaknya ada beberapa orang yang dapat dijadikan tumpuan kekuatan Tanah Perdikan. Selain ibu Risang sendiri maka ibunya telah ada di Tanah Perdikan itu pula. Meskipun demikian, Kasadha masih juga meragukan ibunya. Apakah ibunya dapat mengerahkan segenap kemampuannya, karena ibunya merasa segan untuk menunjukkan, bahwa dasar ilmunya adalah ilmu yang kasar dan keras.

Tetapi Kasadha berniat untuk mempersilahkan ibunya bertempur di tempat yang berbeda dengan ibu Risang, agar ibunya tidak merasa dibayangi oleh kesegannya sendiri atas jenis ilmu yang dimilikinya.

Ketika Risang dan Kasadha telah berada dirumah, maka telah datang dua orang pengawal yang bertugas untuk mengawasi keadaan diperbatasan.

“Apa yang kau lihat?” bertanya Risang.

“Di sebelah perbatasan Tanah Perdikan Sembojan terdapat pasukan yang berkemah,” berkata salah seorang dari kedua pengawal itu.

“Pasukan apa?” bertanya Risang.

“Belum kami ketahui. Tidak ada pertanda yang dapat menunjukkan untuk mengenali pasukan itu,” jawab pengawal itu.

Namun baik Risang maupun Kasadha hampir berbareng berkata, “Padepokan Watu Kuning.”

Pengawal itu mengangguk hormat. Katanya, “Kami pun sudah menduga. Tetapi tidak ada pertanda apapun yang dapat menguatkan dugaan kami.”

“Aku akan melihatnya,” berkata Risang.

“Aku ikut bersamamu,” desis Kasadha.

Demikianlah maka mereka berdua telah berpacu diatas punggung kuda untuk melihat, pasukan yang berkemah diluar perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun mereka tidak akan mendekat, tetapi dari perbatasan mereka akan dapat mengurai keadaan pasukan yang berkemah itu.

Demikianlah sejenak kemudian maka Risang, Kasadha dan beberapa orang apengawal telah berada diperbatasan. Mereka memang tidak berniat untuk melampaui perbatasan dan melihat perkemahan itu dari dekat.

Sebenarnyalah, ketika mereka berada diperbatasan yang menghadap padang perdu yang agak luas, maka mereka memang melihat pasukan yang berkemah di padang perdu itu. Didirikannya gubug-gubug kecil untuk beberapa kepentingan. Menyimpan peralatan, untuk dapur dan untuk beberapa orang pemimpin mereka, dan beberapa macam kepentingan yang lain. Juga untuk berteduh sementara orang didalam pasukan itu. Sedangkan yang lain tersebar di padang perdu itu. Mereka duduk-duduk dan bahkan ada yang berbaring dibawah pohon-pohon perdu.

Kasadha yang melihat perkemahan itu dari kejauhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebuah pasukan yang kuat. Aku tidak yakin bahwa mereka benar-benar terdiri dari sebuah Padepokan saja. Meskipun Padepokan Watu Kuning merupakan sarang dari banyak kelompok, tetapi yang nampak itu adalah satu kekuatan yang besar.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Tanah Perdikan ini berada dalam keadaan bahaya yang sebenarnya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kita tidak mempunyai harapan.”

“Nampaknya Kademangan Pakis yang memiliki padang perdu yang dipergunakan untuk perkemahan itu tidak dapat berbuat apa-apa,” desis Kasadha kemudian. Namun tiba-tiba ia pun bertanya, “Bukankah Kademangan disebelah Timur Tanah Perdikan ini Kademangan Pakis?”

“Ya,” jawab Risang.

“Aku memang mengaku untuk pergi ke Pakis ketika aku datang dan dicegat oleh orang-orang dari Padepokan Watu Kuning seperti yang pernah aku ceriterakan,” berkata Kasadha.

“Sebenarnya bahwa Kademangan Pakis juga termasuk sebuah Kademangan yang kuat. Justru karena Tanah Perdikan ini sering bergolak, maka Kademangan Pakis juga telah berusaha untuk membuat perisai bagi Kademangannya. Bahkan Kademangan Pakis telah minta beberapa orang pengawal Tanah Perdikan ini untuk melatih anak-anak mudanya, agar mereka tidak terlalu canggung untuk mempertahankan diri jika hal itu diperlukan. Tetapi mereka tidak akan dapat menghadapi kekuatan yang demikian besarnya, bahkan Tanah Perdikan ini pun telah menjadi gentar pula karenanya. Bukan berarti bahwa kami pengecut, tetapi kami tidak dapat mengabaikan kenyataan itu.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti. Tetapi melihat kesiagaan Tanah Perdikan ini, aku masih mempunyai keyakinan bahwa Tanah Perdikan ini akan dapat bertahan.”

Sementara Kasadha dan Risang serta beberapa orang pengawal mengamati keadaan, maka mereka melihat lima orang berkuda yang berpacu menuju kearah mereka.

“Nampaknya mereka sengaja ingin menemui kita,” berkata Risang.

Kasadha mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, maka Kasadha pun sebagaimana Risang dan para pengawal telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Namun orang yang berkuda dipaling depan telah mengangkat tangan kanannya ketika kuda itu menjadi semakin dekat. Bahkan ketika kuda itu berhenti beberapa langkah dihadapan Risang dan Kasadha.

“Selamat bertemu anak-anak muda,” berkata orang yang berkuda di paling depan sambil mengangguk hormat.

Risang dan Kasadha pun telah mengangguk pula. Dengan ramah pula Risang menjawab, “Selamat bertemu Ki Sanak. Kami, penghuni Tanah Perdikan ini menjadi sangat tertarik atas kehadiran Ki Sanak dengan pasukan yang demikian kuatnya di Kademangan Pakis. Tetapi yang dapat kami lakukan hanyalah melihat dan bertanya-tanya, siapakah mereka.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Kami memang sedang melakukan perjalanan panjang dalam rangka latihan besar-besaran dari Padepokan kami. Kami sedang menguji kemampuan dan ketahanan para cantrik kami, agar pada saat yang penting mereka tidak mengecewakan kami, para pemimpin dari Padepokan kami.”

“Dari Padepokan manakah kalian berasal?” bertanya Risang.

“Kami datang dari Padepokan Watu Kuning,” jawab orang itu.

“Watu Kuning,” Risang mengulang, “Jadi kalian dengan pasukan yang besar itu menempuh satu perjalanan panjang untuk melakukan latihan?”

“Ya. Kami sedang menjelajahi daerah Selatan ini. Sekarang kami berhenti dan berkemah didaerah Kademangan Pakis. Nanti kami akan meneruskan perjalanan ke Barat.”

“Nanti?” bertanya Risang.

“Maksudku, setelah kami beristirahat dua tiga hari disini,” jawab orang itu.

“Apakah kau sudah mendapat ijin dari Ki Demang di Pakis?” bertanya Kasadha kemudian.

“Kami tidak merasa perlu untuk minta ijin. Ternyata Ki Demang Pakis orang yang baik hati. Ia sama sekali tidak menyatakan keberatannya. Sampai saat ini tidak ada utusannya yang menemui kami dan menolak kehadiran kami,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “kami berharap bahwa daerah yang lain pun berbuat demikian.”

“Kaukah pemimpin pasukan itu?” bertanya Kasadha pula.

“Aku salah seorang diantara para pemimpin itu. Tetapi aku bukan pemimpin tertinggi dari Padepokan Watu Kuning.”

“Siapakah pemimpin tertinggi Padepokanmu?” bertanya Risang meskipun dengan agak ragu.

“Kebetulan aku bertemu dengan orang-orang Tanah Perdikan disini,” berkata orang itu, “karena itu, aku ingin berpesan agar kau sampaikan kepada Kepala Tanah Perdikanmu, bahwa pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning akan bertemu dan berbicara dengan Kepala Tanah Perdikanmu.”

“Apakah kau pernah bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Kasadha.

“Aku sendiri belum. Tetapi beberapa orang Padepokan Watu Kuning sudah,” jawab orang itu.

“Baiklah,” jawab Risang, “aku akan menyampaikannya. Tetapi tepatnya, kapan pemimpin tertinggi itu akan datang berkunjung kepada Kepala Tanah Perdikan kami?”

“Menurut pendengaranku, besok lusa. Besok segala sesuatunya baru dipersiapkan. Baru besok lusa pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning itu akan bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan,” jawab orang itu.

“Persoalan apakah yang akan dibicarakannya?” bertanya Risang, “Mungkin hal itu perlu bagi Kepala Tanah Perdikan.”

“Biarlah pemimpinku mengatakannya langsung. Tetapi sudah tentu berhubungan dengan latihan yang sedang kami selenggarakan disepanjang daerah Selatan ini,” jawab orang itu.

“Baiaklah,” berkata Risang, “terima kasih atas keteranganmu. Aku akan segera menyampaikannya.”

“Aku pun berterima kasih kepadamu,” berkata orang itu, “mudah-mudahan kedatangan kami dapat diterima dengan baik. Bukan saja oleh Kademangan Pakis, tetapi juga oleh Tanah Perdikan Sembojan.”

Orang itu pun segera bersiap-siap untuk kembali ke kemahnya. Tetapi ia sempat berkata, “Sebaiknya kami juga mengucapkan ikut berduka cita atas meninggalnya Pangeran Benawa dari Pajang. Kalian tentu berkabung karenanya. Selama ini Pangeran Benawa merupakan pelindung Tanah Perdikan ini yang terbaik.”

“Kami memang berkabung,” jawab Kasadha, “tetapi Pajang akan segera bangkit kembali dari kemuramannya atas wafatnya Pangeran Benawa. Mudha-mudahan kami akan segera mendapatkan ganti yang lebih baik.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku minta diri.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian orang-orang berkuda itu telah melarikan kuda mereka kembali keperkemahan mereka di padang perdu itu.

Risang dan Kasadha masih memandangi mereka beberapa saat sebelum mereka meninggalkan perbatasan. Sementara itu langit pun menjadi muram. Matahari telah turun kebalik bukit.

Di padukuhan-padukuhan hari telah terasa menjadi gelap. Lampu telah menyala dirumah-rumah yang nampak hening.

Namun dalam keheningan itu, Risang dan Kasadha melihat kesiagaan para pengawla Tanah Perdikan di padu kuhan-padukuhan. Di banjar-banjar para pengawal yang bertugas selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan, apalagi setelah mereka mengetahui bahwa diseberang perbatasan terdapat pasukan yang sedang berkemah. Dan mereka pun telah menduga bahwa pasukan itu tentu berasal dari Padepokan Watu Kuning.

Sementara Risang dan Kasadha masih berada di perjalanan menuju kepadukuhan induk, maka ia telah memerintahkan dua orang pengawal yang baru saja kembali dari perbatasan bersamanya untuk mengatur pengawasan bersama-sama padukuhan terdekat. Bukan saja dari satu padukuhan, tetapi bersama-sama beberapa padukuhan.

Risang pun telah memerintahkan salah seorang dari para pengawal itu untuk menghubungi para Demang. Malam nanti mereka harus berkumpul di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika Risang dan Kasadha sampai dirumah, maka malam sudah mulai turun. Ternyata dirumah itu terdapat dua orang tamu yang datang dari Kademangan Pakis. Seorang diantara mereka adalah Ki Demang Pakis sendiri.

“Ki Demang,” desis Risang, yang kemudian telah memperkenalkan Kasadha sebagai seorang Lurah prajurit di Pajang.

“Nampaknya ada sesuatu yang penting Ki Demang?” bertanya Risang kemudian.

“Ya ngger,” jawab Ki Demang, “aku sudah menyampaikannya kepada Nyi Wiradana.”

Namun ibu Risang yang masih juga menemui Ki Demang itu berkata, “Sebaiknya Ki Demang menyampaikan langsung kepada Risang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengulanginya.”

“Silahkan Ki Demang,” sahut Risang.

“Ngger,” berkata Ki Demang kemudian, “aku ingin menyampaikan keluhan kepada angger Risang. Hari ini di daerah Kademangan Pakis telah didatangi segerombolan orang yang tidak kami ketahui darimana datangnya. Mereka berada hampir diperbatasan dengan Tanah Perdikan. Mereka menempati sebuah padang perdu yang cukup luas. Mereka bahkan telah membuat gubug-gubug di padang perdu itu. Tanpa minta ijin kepada siapapun mereka telah menebangi batang-batang bambu dihutan bambu disebelah padang perdu itu. Mereka telah mengambil batang padi yang sedang dikeringkan oleh orang-orang padukuhan terdekat.”

“Apakah Ki Demang sudah memerintahkan menghubungi mereka?” bertanya Risang.

“Sudah. Ki Jagabaya dan seorang Kebayan telah datang menemui pemimpin mereka. Tetapi sikap mereka kasar sekali. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kekuatan Kademangan Pakis. Mereka terlalu yakin akan kekuatan mereka, sehingga agaknya mereka menganggap bahwa hak dan wewenang berada diujung senjata mereka,” jawab Ki Demang.

Risang dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Menurut orang yang ditemuinya di perbatasan, Ki Demang sama sekali tidak mempedulikan kehadiran mereka. Ki Demang tidak mengirimkan utusan untuk menemui mereka.

“Mungkin orang itu berbohong. Tetapi mungkin orang itu tidak tahu bahwa ada dua orang utusan Ki Demang yang telah menemui pemimpin mereka,” berkata Risang didalam hatinya.

Dengan nada dalam Risang pun kemudian bertanya, “Ki Demang. Apa yang dapat kami lakukan? Maksudku jika Ki Demang ingin kita berkerja bersama.”

“Bagaimana menurut pendapat angger?” Ki Demang justru bertanya.

“Ki Demang,” berkata Risang, “sebenarnyalah menurut pengetahuan kami, orang-orang yang berkemah di lingkungan Kademangan Pakis itu adalah orang-orang dari Padepokan Watu Kuning. Sasaran mereka sebenarnya adalah Tanah Perdikan Sembojan. Mereka ingin menguasai Tanah Perdikan ini karena Tanah Perdikan ini adalah Tanah Perdikan yang subur. Dengan berbagai macam alasan mereka berniat untuk dengan kekerasan merebut Tanah Perdikan ini. Justru mereka memilih saat yang paling tepat untuk mendung yang mengalir dari Madiun setiap saat dapat menjatuhkan hutan prahara diatas Pajang.”

Ki Demang Pakis mengangguk-angguk. Dengan suara yang bergetar ia berdesis, “Jadi mereka akan menyerang Tanah Perdikan ini dan mempergunakan Pakis sebagai landasan serangannya?”

“Ya, begitulah kira-kira,” jawab Risang.

“Lalu bagaimana sikap angger?” bertanya Ki Demang Pakis.

“Sudah tentu kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kami akan melawan. Sudah tentu kekerasan hanya dapat kami lawan dengan kekerasan,” jawab Risang.

“Apakah angger telah memberikan laporan kepada Pajang?” bertanya Ki Demang Pakis.

“Sudah aku katakan, Pajang sedang diliputi mendung. Bukan saja karena wafatnya Pangeran benawa, tetapi juga karena hubungan antara Pajang dan Madiun yang kurang mantap.”

“Jadi angger akan bertumpu pada kekuatan Tanah Perdikan ini sendiri?” bertanya Ki Demang.

“Ya,” jawab Risang. Lalu katanya pula, “Kami memang sudah menyiapkan diri Ki Demang. Apalagi kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami akan memilih mempertahankan diri daripada harus menyerahkan Tanah Perdikan ini.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya sambil berkata, “Sejauh dapat kami lakukan, kami akan membantu, ngger. Meskipun kekuatan kami jauh lebih kecil dari kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan, namun kami juga merasa tersinggung atas kehadiran orang-orang Watu Kuning. Apalagi sikapnya yang sama sekali tidak menghiraukan hak kami atas tanah kami sendiri. Kecuali itu, kami pun menyadari, seandainya Tanah Perdikan Sembojan benar-benar dikuasai oleh Padepokan Watu Kuning, maka lingkungan ini pun benar-benar akan tercemar. Orang-orang Watu Kuning akan berbuat sewenang-wenang. Bahkan Kademangan-kademangan yang lain yang berada diluar wilayah Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ki Demang,” berkata Risang, “sebenarnya aku tidak ingin menyeret Kademangan-kademangan kecuali dalam lingkungan Tanah Perdikan, kedalam persoalan ini, karena bagaimanapun juga akan dapat terjadi kekerasan yang akan membawa korban.”

“Bukankah itu wajar,” sahut Ki Demang Pakis, “korban adalah pupuk bagi kesejahteraan hidup kami. Korban bukan berarti kesia-siaan. Pengorbanan itu akan sangat berharga bagi kami.”

“Jika demikian, kami mengucapkan terima kasih Ki Demang. Tetapi Ki Demang harus memperhitungkan segala segi dari pengorbanan ini,” berkata Risang kemudian.

“Kami menyadari ngger. Dan pengorbanan ini sebenarnya juga mengandung landasan perhitungan bagi kepentingan diri sendiri. Maksudku bagi Kademangan Pakis. Bahkan aku akan berbicara dengan para Demang disekitar Pakis yang berhubungan langsung dengan Tanah Perdikan yang tentu mempunyai kepentingan yang sama seperti kepentingan Kademangan Pakis,” berkata Ki Demang Pakis.

“Tetapi Ki Demang harus menyadari bahwa orang-orang Watu Kuning adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas. Seandainya Ki Demang Pakis atau Kademangan lain yang ingin membantu Tanah Perdikan, maka harus dipilih para pengawal yang sudah memiliki landasan kemampuan dalam olah kanuragan dan lebih-lebih kemampuan olah senjata. Mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang terlatih baik, justru karena mereka adalah murid-murid sebuah perguruan.”

Ki Demang menganguk-angguk. Katanya, “Bukankah para pengawal Kademangan, khususnya Kademangan Pakis dan sekitarnya telah pernah mendapat tuntunan dari para pengawal Tanah Perdikan ini pada saat-saat yang gawat. Aku yakin, bahwa mereka masih tetap memiliki gejolak jiwa jantan sebagai pagar tanah kelahiran.”

“Baiklah Ki Demang,” berkata Risang, “masih ada waktu dua tiga hari. Biarlah anak-anak muda itu kembali meraba hulu senjata mereka dan membiasakan lagi bagaimana mereka harus menggerakkannya. Dengan demikian, mereka akan kembali mengenali watak dan tabiat senjata-senjata mereka serta beberapa hal yang berhubungan dengan medaan pertempuran yang sebenarnya.”

“Aku akan memerintahkan agar mereka menentukan siapakah yang akan ikut serta memasuki medan dan siapakah yang akan menjaga kampung halaman,” berkata Ki Demang kemudian.

Namun ketika Ki Demang kemudian minta diri, Risang telah menahannya. Dimintanya Ki Demang ikut dalam pertemuan antara para Demang di Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata dalam pertemuan itu, telah disusun kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh serta kesediaan Ki Demang Pakis untuk membantu. Bahkan Ki Demang Pakis telah menyatakan kesediaannya untuk menghubungi para Demang disekitar Tanah Perdikan Sembojan.

Risang memang tidak berkeberatan. Tetapi ia tetap bertumpu pada kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sem bojan itu sendiri. Sehingga karena itu, maka perintah Risang kepada para Demang adalah, bahwa besok, segala sesuatu harus sudah siap. Setiap saat mereka harus dapat bergerak bersama para pengawal dari setiap padukuhan. Para pengawas akan memberikan isyarat, perbatasan yang manakah yang menjadi paling rawan. Sementara itu, semua kuda yang ada harus dikerahkan untuk mempercepat gerak para pengawal dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain.

Ternyata para Demang, termasuk Ki Demang Pakis tidak menunggu sampai esok. Malam itu juga langkah-langkah yang harus diambil oleh para Demang itu pun telah mulai dilaksanakan. Para Demang di Tanah Perdikan Sembojan yang memang sudah mempersiapkan diri sejak beberapa hari sebelumnya tinggal menyalurkan perintah-perintah yang datang kemudian lewat jalur yang sudah dipersiapkan oleh para Bekel di padukuhan-padukuhan.

Sementara segala persiapan dilakukan, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menyusun petugas khusus untuk mengawasi setiap gerak orang-orang yang ada diperkemahan. Jika keadaan menjadi berbahayam mereka harus segera memberikan laporan.

Tetapi dihari berikutnya, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa akan ada gerakan kekuatan langsung yang ditujukan kepada Tanah Perdikan Sembojan. Yang mereka lakukan adalah sekedar berlatih diantara beberapa kelompok, sedang yang lain masih saja menebar di padang perdu itu.

Tetapi ada diantara orang-orang yang berkemah di padang perdu itu justru memasuki hutan dilereng bukit di seberang padang perdu dengan alat-alat berburu. Lembing dan busur serta anak panah. Agaknya mereka akan mencari binatang buruan untuk menambah perbekalan yang sudah mereka bawa.

Para pengawal yang bertugas mengawasi perkemahan itu dari kejauhan melihat, beberapa kelompok diantara mereka telah berlatih dengan bersungguh-sungguh. Nampaknya mereka sengaja menunjukkan betapa mereka mampu melakukan latihan yang berlandaskan pada ilmu yang tinggi, sehingga agaknya mereka ingin mengatakan bahwa dengan mudah mereka akan dapat menembus pertahanan Tanah Perdikan Sembojan seandainya benar-benar terjadi pertempuran diantara mereka.

Namun para pengawal Tanah Perdikan pun terdiri dari anak-anak muda yang telah berlatih. Mereka pun memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapi kekuatan yang ada di padang perdu itu.

Sementara itu, Risang dan Kasadha masih juga melihat-lihat seluruh kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Kesediaan Kademangan Pakis untuk membantu akan sangat berarti bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha yang melihat sendiri kesiagaan para pengawal berkata kepada Risang dengan nada dalam, “Kau tidak usah cemas. Meskipun Pajang tidak dapat turun membantu, agaknya Tanah Perdikan ini bukan sasaran yang lunak bagi Padepokan Watu Kuning. Aku sebagai prajurit pernah mengalami benturan kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini. Meskipun saat itu Tanah Perdikan ini mendapat bantuan dari Jipang, tetapi kekuatan dasar Tanah Perdikan ini dapat dipercaya.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kami dapat menyelamatkan Tanah Perdikan ini.”

Ketika matahari mulai turun, maka berdua mereka kembali pulang. Ternyata dirumah itu telah menunggu tiga orang Demang yang memimpin tiga Kademangan disekitar Tanah Perdikan Sembojan, termasuk Ki Demang Pakis.

Seperti Ki Demang Pakis mereka menyatakan kesediaan mereka untuk membantu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Seperti yang pernah aku katakan kepada Ki Demang Pakis, sebenarnya kami tidak ingin menyeret tetangga-tetangga kami dalam kesulitan. Karena yang akan terjadi adalah kekerasan.”

Tetapi jawab para Demang itu tidak berbeda dengan jawab Ki Demang Pakis. Mereka merasa bahwa mereka akan ikut mengalami kesulitan jika benar Padepokan Watu Kuning dapat merebut Tanah Perdikan dengan kekerasan.

“Selama ini kami tidak dapat berbuat sesuatu yang dapat meringankan beban Tanah Perdikan ini. Jika terjadi benturan kekerasan, kami selalu berusaha membatasi diri dan berlindung dibalik garis perbatasan, seolah-olah kami sama sekali tidak bersangkut-paut dengan segala peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan itu. Tetapi ternyata kami menyadari kemudian, bahwa kami tidak dapat berbuat demikian untuk seterusnya. Apalagi sekarang kami merasakan, betapa sakitnya harga diri kami diinjak-injak oleh orang asing. Kehadiran orang-orang Watu Kuning di Kademangan Pakis adalah satu pertanda bahwa mereka sama sekali tidak menghargai orang lain. Kami pun mulai membayangkan, apa jadinya, jika orang-orang itu berkuasa di daerah yang berbatasan dengan daerah kami,” sahut Ki Demang Pakis.

“Baiklah,” berkata Risang, “sekali lagi kami hanya dapat mengucapkan terima kasih. Seperti yang pernah aku pesankan kepada Ki Demang Pakis, bahwa lawan yang akan kita hadapi adalah orang-orang yang memiliki landasan ilmu kanuragan. Karena itu, kami mohon hendaknya dipilih anak-anak muda yang benar-benar tidak canggung lagi memegang senjata. Mereka yang memiliki keberanian dan tekad yang besar. Pertempuran yang jika benar terjadi, merupakan pertempuran yang garang. Hal ini dapat dilihat bagaimana kerasnya ilmu mereka dalam latihan-latihan yang sengaja diperlihatkan dihadapan perbatasan Tanah Perdikan ini.”

Ketiga orang Demang itu mengangguk-angguk. Ki Demang Pakislah yang kemudian berkata, “Angger Risang. Untuk membatasi perasaan dendam dari orang-orang Watu Kuning, biarlah kami tidak semata-mata melakukan perlawanan. Biarlah kami mengirimkan anak-anak muda kami yang sudah memiliki sedikit dasar olah kanu-ragan memasuki Tanah Perdikan lebih dahulu. Dengan demikian maka biarlah mereka berada didalam lingkungan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.”

“Baiklah Ki Demang, aku mengerti. Jika demikian, biarlah kami menugaskan beberapa orang untuk menerima para pengawal Kademangan-kademangan yang dengan ikhlas membantu kami. Kami akan menempatkan mereka dalam tatanan pasukan pengawal Tanah Perdikan.”

“Jika demikian, biarlah malam nanti kami kirimkan anak-anak kami meskipun jumlahnya tidak seberapa. Tetapi sebenarnyalah kami ingin ikut mempertahankan lingkungan ini dari kekuasaan, orang-orang yang menganggap bahwa kekuasaan itu berada di ujung senjata,” berkata Ki Demang Pakis.

Dengan demikian, maka Risang pun telah membicarakan dengan ketiga orang Demang itu, bagaimana sebaiknya yang harus mereka lakukan. Risang telah memberikan petunjuk tempat-tempat yang akan dipergunakan para pengawal Kademangan itu untuk memasuki Tanah Perdikan Sembojan tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang berkemah di padang perdu dilingkungan Kademangan Pakis.

“Mereka tentu menyebar orang-orangnya untuk mengawasi Tanah Perdikan ini siang dan malam,” berkata Risang, “tetapi para pengawal kami pun akan melakukan hal yang sama, sehingga daerah yang telah aku sebutkan itu akan mendapat pengawalan yang cukup dari para pengawal Tanah Perdikan ini.”

Dengan demikian, maka telah disepakati beberapa rencana yang berhubungan dengan bantuan beberapa Kademangan disekitar Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, tetapi bantuan itu akan sangat berarti.

Hari itu, maka segala sesuatunya dalam hubungannya dengan kesiagaan Tanah Perdikan Sembojan telah tersusun rapi. Setiap saat, pasukan pengawal Tanah Perdikan itu sudah siap bergerak. Sebagian besar dari para pengawal telah dipersiapkan di padukuhan yang terdapat dengan perbatasan, menghadapi perkemahan orang-orang Watu Kuning.

Para pengawal Tanah Perdikan tidak merasa perlu untuk melakukannya dengan diam-diam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning. Bahkan Tanah Perdikan Sembojan telah menunjukkan, bahwa kehadiran kekuatan Padepokan Watu Kuning tidak membuat Tanah Perdikan itu menjadi gemetar ketakutan sehingga tidak berani berbuat sesuatu menghadapi ancaman Padepokan Watu Kuning.

Tetapi Risang masih mengendalikan diri. Ia masih menunggu kedatangan pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning yang akan datang menemuinya dihari berikutnya.

Sebenarnyalah, dihari berikutnya, pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning, diiringi oleh sebelas orang telah memasuki perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka dengan berkuda melintasi sekelompok pengawal di perbatasan.

Para pengawal yang telah mendapat perintah untuk membiarkan mereka lewat, memang tidak mengganggu sama sekali. Pemimpin pengawal itu memang menghentikan mereka dan bertanya, siapakah mereka dan untuk apa mereka melintasi perbatasan Tanah Perdikan Sembojan.

Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itu tertawa mendengar pertanyaan pemimpin pengawal itu. Katanya, “Kau mempunyai mata untuk melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar. Kau tentu tahu siapa aku dan untuk apa aku memasuki Tanah Perdikan ini.”

Ternyata pemimpin pengawal itu menjawab, “Aku hanya tahu kau adalah salah seorang yang ada di perkemahan itu. Tetapi aku tidak tahu siapa namamu dan untuk apa kau memasuki perbatasan Tanah Perdikanku.”

Pemimpin Tertinggi Padepokan itu tertawa semakin keras. Katanya, “Ternyata para pengawal Tanah Perdikan ini benar-benar anak muda yang bertanggung jawab meskipun sedikit dungu. Dengar. Aku akan berjalan terus dengan para pengawalku. Aku tidak peduli apakah kau mengetahui siapa aku dan apa maksudku atau tidak. Jika kau benar-benar pengawal yang bertanggung jawab, coba, cegah aku.”

Pengawal itu justru terdiam. Wibawa orang berkuda itu cukup tinggi, sehingga ketika orang itu bersama sebelas orang pengawalnya telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan para pengawal itu tidak mencegahnya. Diantara mereka yang mengawal Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itu terdapat Pandansirat dan Wirasrana yang telah pernah menemui Risang sebelumnya.

Dalam pada itu, sebelum Pemimpin Tertinggi itu memasuki Padukuhan Induk, maka Risang telah mengetahuinya dari laporan para pengawal, bahwa satu iring-iringan orang-orang berkuda telah mendekati Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Risang pun telah bersiap-siap untuk menerima mereka. Selain Risang sendiri, maka ibunya dan Kasadha telah bersiap-siap pula. Sementara itu diruang dalam, sambi Wulung dan Jati Wulung, Ibu dan bibi Kasadha, juga telah hadir pula ketiga orang kakek dan nenek dan sekaligus guru Risang. Sedangkan dihalaman, beberapa orang pengawal berada di serambi gandok. Diantara mereka terdapat Gandar iyang telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka sebuah iring-iringan orang berkuda telah meinasuki halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika orang-orang itu kemudian meloncat turun dari punggung kuda, maka Risang dan Kasadha telah turun dari tangga pendapa untuk menyongsongnya.

Berbeda dengan sikapnya di perbatasan, maka Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itu pun berlaku sopan. Sambil tersenyum dan mengangguk hormat ia pun berkata, “Apakah aku berhadapan dengan Kepala Tanah Perdikan yang masih muda itu?”

“Ya Ki Sanak,” jawab Risang, “marilah, silahkan naik. Ki Sanak tentu Pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning yang sedang berkemah di tlatah Kademangan Pakis berhadapan dengan perbatasan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tepat anak muda,” jawab orang itu, “aku adalah orang yang dituakan di padepokan dan Perguruan Watu Kuning.”

“Marilah, silahkan naik,” Risang sekali lagi mempersilahkan tamu-tamunya.

Sejenak kemudian, maka Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning serta beberapa orang pembantu dekatnya telah naik dan duduk dipendapa, sementara beberapa orang pengawalnya menebar di halaman.

Setelah saling mengucapkan selamat, maka Pemimpin Tertinggi Padepokan Watu Kuning itu pun berkata, “Kami memenuhi janji kami untuk datang menemui Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang belum lama ini disiwuda.”

“Terima kasih atas kunjungan ini, Ki Sanak,” jawab Risang, “tetapi apakah kami boleh mengetahui nama atau sebutan Ki Sanak agar kami tidak menjadi canggung karenanya?”

“Tentu, tentu,” sahut orang itu dengan serta merta,”orang memanggilku Ki Gede Sela Kuning atau ada yang menyebut Ki Gede Watu Kuning.”

“Ya manakah yang sebaiknya kami pakai?” bertanya Risang.

“Kedua-duanya sama saja. Tetapi lebih banyak orang memanggilku Ki Gede Watu Kuning,” jawab orang itu.

“Baiklah Ki Gede Watu Kuning,” berkata Risang kemudian, “Ki Gede dapat memanggilku Risang. Namaku memang Risang. Ini ibuku, Nyi Wiradana dan ini adalah adikku, Kasadha.”

Orang itu mengangguk hormat sambil berkata, “Senang sekali aku dapat berkenalan dengan Nyi Wiradana dan angger Kasadha.”

“Nah Ki Gede,” berkata Risang kemudian, “kedatangan Ki Gede memang sudah kami ketahui sebelumnya. Beberapa orang pernah mengatakannya. Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana yang pernah datang kemari juga sudah mengatakannya. Dua hari yang lalu, di perbatasan ada juga beberapa orang yang menemui kami dan mengatakan bahwa Ki Gede akan datang kemari.”

“Dan aku memang memerlukan datang ngger,” berkata Ki Gede Watu Kuning.

“Apakah kedatangan Ki Gede sekedar ingin memperkenalkan diri atau mempunyai kepentingan tertentu dengan kami, orang-orang Tanah Perdikan Sembojan?”

Ki Gede Watu Kuning berpaling kepada Pandansirat yang duduk dekat Wirasrana. Dengan nada rendah ia kemudian menjawab, “Serba sedikit agaknya Pandansirat dan Wirasrana telah mengatakan, bahwa ada sedikit persoalan yang akan kami sampaikan atas nama Padepokan Watu Kuning. Tetapi persoalan itu bukan persoalan yang penting dan hanya sekedar bahan pembicaraan saja.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Maksud Ki Gede, tentang kedudukan Tanah Perdikan ini?”

“Ya, begitulah. Tetapi angger jangan menganggap bahwa persoalan ini sangat penting. Bagiku persahabatan dan persaudaraan diantara sesama merupakan hal yang jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain. Karena itu, maka kedatanganku ini adalah satu usaha untuk lebih memperluas persahabatan itu. Tidak lebih, ngger.! Jika ada persoalan-persoalan lain itu adalah sekedar pembicaraan sambilan saja.”

“Syukurlah Ki Gede,” Risang mengangguk-angguk. Meskipun demikian, ia tetap berhati-hati menghadapi sikap Ki Gede Watu Kuning yang nampaknya sangat bersahabat itu.

“Barangkali kami hanya ingin sekedar memperingatkan ngger, bahwa persaudaraan kami akan dapat menjadi lebih erat, karena kami memang berasal dari tanah kelahiran yang sama.”

Risang mengerutkan keningnya. Dengan agak ragu ia bertanya, “Maksud Ki Gede?”

“Ya. Kita memang lahir di tempat yang sama. Tanah Perdikan ini lahir diatas bumi Sembojan, sedang Padepokan Watu Kuning juga lahir diatas bumi Sembojan. Nah, bukankah kami benar-benar bersaudara? Jika angger bertanya siapakah yang lebih tua diantara kita, maka tentu aku akan menjawab, bahwa Padepokan Watu Kuning lah yang pantas disebut saudara tua,” berkata Ki Gede Watu Kuning kemudian.

Risang yang sudah mengetahui arah pembicaraan itu pun menjawab, “Terima kasih atas keterangan ini Ki Gede. Kami sama sekali tidak berkeberatan dengan pernyataan Ki Gede, bahwa kami lahir diatas bumi yang sama, bumi Sembojan.”

“Terima kasih ngger,” Ki Gede itu tersenyum, “aku tidak mengira bahwa sikap angger demikian longgar terhadap pernyataan kami tentang bumi Sembojan.”

“Aku berpendirian sama seperti Ki Gede Watu Kuning,” jawab Risang, “persaudaraan dan persahabatan merupakan hal yang yang jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain.”

Ki Gede Watu Kuning mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tertawa panjang. Katanya, “Bagus ngger. Ternyata kau adalah anak muda yang cerdas dan tangkas berpikir.”

Risang pun tersenyum. Katanya, “Terima kasih atas pujian itu Ki Gede.”

“Nah, dengan demikian, agaknya pembicaraan kita selanjutnya tidak akan mengalami kesulitan. Kami, Padepokan Watu Kuning ingin mempererat hubungan kita sebagai saudara yang lahir di bumi yang sama dengan ikatan yang lebih nyata ngger,” berkata Ki Gede kemudian.

“Maksud Ki Gede?” bertanya Risang.

“Kami ingin mengembalikan kedudukan Sembojan sebagaimana sebelum kami harus terbelah. Agaknya orang-orang tua kita di Tanah Perdikan sebelum kita sekarang, mempunyai pikiran yang kerdil, sehingga Sembojan harus dipecah. Bahkan dengan kekerasan dan dengan tajamnya senjata. Campur tangan Demak membuat perselisihan diantara saudara yang sama-sama lahir di bumi Sembojan semakin menjadi-jadi. Akibatnya Padepokan Watu Kuning harus menyingkir dari bumi Sembojan. Sedangkan untuk memperkuat kedudukan saudara-saudara kita yang masih tetap berada di Sembojan telah didirikan Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Gede.

Risang mengangguk-angguk kecil. Agaknya pembicaraan Ki Gede Watu Kuning telah mengarah kepada maksudnya yang sebenarnya.

Dengan nada rendah Risang berkata, “Biarlah ceritera itu tetap merupakan ceritera Ki Gede. marilah, persahabatan dan persaudaraan kita, kita landasi dengan apa yang ada sekarang,”

Wajah Ki Gede menegang sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Bukankah kita bukan orang-orang yang hidup tanpa masa lalu? Nah, sudah tentu bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa sekarang adalah sekarang. Dan ceritera itu biarlah tetap menjadi ceritera saja.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” bertanya Risang.

“Kita akan selalu berpijak pada masa lalu untuk menyongsong masa depan,” berkata Ki Gede.

“Tetapi kita tidak dapat ingkar akan kenyataan kita sekarang,” jawab Risang, “sebagaimana Ki Gede ketahui, kenyataan yang ada sekarang, kita telah terpisah oleh alasan dan sebab apapun juga. Padepokan Watu Kuning sebagai satu kenyataan memang ada dan berdiri tegak sebagai sebuah perguruan yang besar dan berwibawa. Namun disamping itu Tanah Perdikan Sembojan yang ada sekarang ini pun adalah sebuah Tanah Perdikan yang ada dan sah pula adanya berdasarkan beberapa bukti dan kenyataan.”

Ki Gede Watu Kuning mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti ngger. Tetapi sebagaimana perubahan itu pernah terjadi, maka kita sekarang pun berhak membuat perubahan-perubahan bahkan sampai yang mendasar sekalipun tentang kedudukan bumi Sembojan. Kita dapat berbuat sesuai dengan keinginan kita. Bukankah kita terikat dalam persaudaraan dan persahabatan sehingga kita akan dapat membuat perubahan-perubahan tanpa menimbulkan masalah?”

“Ya Ki Gede,” jawab Risang. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebagai saudara dan sahabat yang baik, kita pun dapat saling bersetuju untuk tidak mengadakan perubahan apa-apa tentang kedudukan kita masing-masing. Maksudku, Padepokan Watu Kuning yang besar dan berwibawa sebagaimana adanya sekarang dan Tanah Perdikan Sembojan yang sudah mendapat kekancingan dari Demak dan kemudian Pajang. Bahkan Jipang pun mengakui adanya Tanah Perdikan Sembojan. Terakhir aku menerima ucapan selamat dari Kangjeng Panembahan Mas di Madiun lewat utusannya yang datang pada saat aku diwisuda.”

Ki Gede Watu Kuning itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika demikian, apakah kita akan ingkar, bahwa persaudaraan dan persahabatan kita jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain”

“Ya. Aku juga akan bertanya kepada Ki Gede. Jika Ki Gede menghendaki perubahan-perubahan apalagi yang mendasar tentang kedudukan bumi Sembojan, bukankah itu berarti bahwa Ki Gede mengingkari pernyataan Ki Gede sendiri, bahwa persaudaraan dan persahabatan kita lebih penting dari kepentingan-kepentingan yang lain termasuk kedudukan bumi Sembojan?”

Warna merah sekilas membayang diwajah Ki Gede. Namun Ki Gede itu pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku tidak mengira bahwa angger yang masih muda itu begitu terampil berbicara. Baiklah. Mungkin kemudaan angger Risang yang membuat angger tidak segera mengerti yang aku maksud.”

“Mungkin Ki Gede. Karena itu, aku mohon Ki Gede menjelaskan maksud Ki Gede yang sebenarnya,” jawab Risang.

“Baiklah,” berkata Ki Gede” aku akan mempergunakan kata-kata yang lebih sederhana, sehingga ngger Risang yang muda itu akan segera mengetahui maksudku yang sebenarnya.”

Ki Gede Watu Kuning berhenti sejenak, sementara Risang pun menunggu kelanjutan kata-katanya. Baru setelah menarik nafas dalam-dalam, Ki Gede itu berkata, “Angger. Sebenarnyalah bahwa aku ingin menyatukan kembali bumi Sembojan ini. Persaudaraan kita akan menjadi lebih kental dan akrab karena kita akan menjadi satu. Satu Sembojan dan satu pemegang pimpinan. Sedangkan isinya adalah bersatunya kembali keluarga yang pernah terpisah oleh ketamakan orang-orang tua kita waktu itu.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut dikening Risang bertanya, “Itukah artinya persaudaraan dan persahabatan yang jauh lebih penting dari kepentingan-kepentingan lain?”

“Bukankah persaudaraan dan persahabatan yang demikian akan menjadi lebih tegas dan pasti?” bertanya Ki Gede Risang tidak segera menjawab. Sementara itu, orang-orang yang mendengarkan pembicaraan itu memang menjadi tegang. Mereka menunggu jawaban Risang yang akan menentukan hasil dari pembicaraan itu.

Mereka sempat terkejut ketika Risang menjawab, “Baiklah jika itu yang Ki Gede kehendaki.”

“Jadi angger bersedia menerima keinginan ini?” bertanya Ki Gede Watu Kuning.

Nyi Wiradana dan Kasadha memang terkejut ketika Risang berkata, “Aku setuju Ki Gede.”

Tetapi ternyata Risang belum selesai. Katanya selanjutnya, “Jika Ki Gede ingin bernaung dibawah pemerintahanku dan menjadi satu kembali di bumi Sembojan, tentu aku tidak berkeberatan. Sembojan akan menjadi lebih besar dan kuat. Tetapi sudah tentu bahwa Padepokan Watu Kuning akan tunduk pada segala paugeran yang ada di Tanah Perdikan Sembojan.”

Terasa wajah Ki Gede Watu Kuning menjadi panas. Ia tidak mengira bahwa anak muda itu dengan beraninya akan menentangnya sementara itu pasukannya yang kuat telah berada di perbatasan.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning kemudian masih juga tersenyum dan berkata, “Angger ternyata seorang yang pandai bergurau. Tetapi persoalan bumi Sembojan bukan sekedar bahan untuk bergurau.”

Risang yang melihat perubahan wajah Ki Gede betapapun Ki Gede berusaha untuk tersenyum, menjadi semakin berhati-hati. Dengan nada dalam ia menjawab, “Ki Gede. Aku memang senang bergurau. Tetapi sekarang aku tidak sedang bergurau. Aku berkata dengan sesungguhnya. Ki Gede tidak usah merasa cemas, bahwa pada suatu saat aku mencabut kesediaanku menerima Ki Gede yang ingin kembali ke bumi Sembojan yang sekarang menjadi Tanah Perdikan dan yang sekarang aku pimpin sebagai Kepala Tanah Perdikan dengan surat kekancingan dari Pajang dan yang bahkan telah diwisuda atas nama Pangeran Benawa.”

Bagaimanapun juga Ki Gede menyembunyikan perasaannya, namun tersirat juga dalam getaran kata-katanya, “Angger Risang. Marilah kita berbicara wajar dan bersungguh-sungguh. Bumi Sembojan ini adalah bumi kelahiran Padepokan Watu Kuning sebelum Tanah Perdikan ini ada. Singkatnya, kami ingin memiliki bumi kelahiran kami ini kembali.”

“Lalu bagaimana dengan Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Risang.

“Kalian yang mengaku orang-orang Tanah Perdikan Sembojan harus menyatakan diri dalam satu permohonan untuk diijinkan tinggal di Sembojan. Kamilah yang akan menentukan, siapa yang diijinkan dan siapa yang tidak diijinkan.”

Namun ternyata Risang masih juga mampu menahan diri. Di wajahnya masih nampak sebuah senyum yang menghiasi bibirnya. Bahkan katanya, “Ki Gede. Marilah kita berpijak pada kesepakatan kita untuk lebih mementingkan persaudaraan dan persahabatan. Sebaiknya Ki Gede dengan kebaikan hati dengan resmi mohon kepadaku, Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk diperkenankan membuat sebuah padepokan kecil disudut Tanah Perdikan ini dengan janji untuk tunduk kepada semua paugeran yang berlaku di Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede Watu Kuning itu pun tertawa. Tetapi betapa kecutnya suara tertawanya. Dengan suara yang tertahan-tahan oleh gejolak didalam dadanya ia berkata, “Angger Risang. Jadi tegasnya angger menolak mengembalikan Tanah Perdikan ini kepada kami?”

“Ki Gede,” jawab Risang, “ikhlaskan saja bumi Sembojan seandainya Ki Gede merasa bahwa bumi ini milik Padepokan Watu Kuning.”

“Angger,” berkata Ki Gede yang masih berusaha untuk berbicara dengan lembut, “aku sebenarnya merasa kasihan kepada angger sekarang ini. Jika angger kukuh pada sikap angger, sebaiknya angger melihat orang-orangku yang sudah berkemah di perbatasan. Sementara itu, angger pada saat ini tidak akan dapat bertumpu pada kekuatan Pajang yang mengakui kehadiran Tanah Perdikan ini. Pangeran Gagak Baning yang untuk sementara memimpin Pajang adalah seorang yang berhati-hati. Ia tidak ingin mengirimkan prajuritnya ke Tanah Perdikan ini sementara Madiun telah merunduknya dan siap untuk menerkam.”

“Itu sudah kami perhitungkan Ki Gede,” jawab Risang, “kami memang tidak dapat mengharapkan bantuan Pajang. Meskipun demikian kami tidak akan membiarkan bumi Sembojan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berhak. Betapa lembutnya bulu-bulu domba yang Ki Gede kenakan, tetapi getar suara Ki Gede tidak lebih ramah dari geram seekor serigala.”

Ternyata Ki Gede masih juga berhasil menguasai diri. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Baiklah ngger. Jika demikian apaboleh buat. Kau sudah menolak uluran tangan persaudaraan dan persahabatan Padepokan Watu Kuning.”

“Terima kasih Ki Gede,” jawab Risang, “tetapi persaudaraan yang Ki Gede tawarkan ternyata tidak sesuai bagi Tanah Perdikan Sembojan.”

“Baiklah ngger. Kami masih memberi kesempatan kepada angger untuk berpikir selama dua hari. Jika dalam dua hari ini angger tidak memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan kami, maka apaboleh buat. Kami akan kembali ke bumi Sembojan dengan cara kami. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa Pajang tidak akan mungkin dapat membantu angger.”

“Terima kasih atas peringatan itu Ki Gede. Tetapi sayang, bahwa kami akan tetap dalam sikap dan pendirian kami. Bumi Sembojan adalah bumi kelahiran. Apapun yang terjadi, dengan bantuan Pajang atau tidak, maka kami akan mempertahankannya,” jawab Risang.

Ki Gede tertawa, katanya, “Angger memang seorang yang pantas untuk menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan. Angger memegang jabatan angger dengan penuh tanggung jawab. Tetapi sayang bahwa angger menjadi Kepala Tanah Perdikan diatas bumi Sembojan milik kami.”

“Kami mohon restu Ki Gede, agar kami mampu mempertahankan bumi kelahiran kami,” sahut Risang.

Wajah Ki Gede menjadi semburat merah. Namun ia menjawab, “Sebaiknya angger berdoa agar angger mendapat umur panjang.”

Demikianlah, dengan sikap yang masih saja ramah dan kebapaan Ki Gede minta diri meninggalkan Padukuhan Induk, kembali keperkemahannya. Namun demikian ia keluar dari padukuhan Induk, maka warna yang terang di wajahnya segera disaput oleh ledakan kemarahan yang ditahannya. Dengan geram ia berkata, “Siapkan kekuatan sepenuhnya dalam dua hari ini. Jika dalam dua hari ini cucurut kecil itu tidak datang menemui kami, maka kamilah yang akan datang kepadanya dan menghancurkannya.”

Para pengikutnya tidak menyahut. Mereka tahu bahwa dalam keadaan yang demikian, Ki Gede Watu Kuning akan cepat sekali meledak.

Para pengawal Tanah Perdikan pun tidak mengganggu perjalanan Ki Gede Watu Kuning. Bahkan sambil menempuh perjalanan berkuda dari Padukuhan Induk, Ki Gede sempat melihat kesiagaan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi Ki Gede tetap berpendapat bahwa anak-anak muda itu tidak akan banyak berarti bagi para cantrik Padepokan Watu Kuning.

Demikian Ki Gede Watu Kuning sampai ke perkemahan, maka ia pun segera mengeluarkan perintah untuk bersiaga penuh bagi orang-orangnya. Bahkan Ki Gede memerintahkan agar mereka melakukan latihan-latihan dan menunjukkan kelebihan mereka agar anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan menjadi gentar.

“Aku memberi kesempatan kepada Risang dua hari. Pada hari ketiga kita akan menghancurkan Tanah Perdikan itu. Kita akan melintasi perbatasan sebagaimana kita masuk kehalaman rumah kita sendiri. Risang tidak akan dapat membendung pasukan kita. Dalam sehari kita tentu sudah akan menguasai Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Gede Watu Kuning dengan wajah yang tegang.

Namun bukan berarti bahwa Ki Gede Watu Kuning hanya duduk bertopang dagu menunggu dua hari sebagaimana ia memberikan waktu kepada Risang. Tetapi ia sudah memerintahkan orang-orangnya untuk mengawasi lebih ketat agar tidak ada orang-orang yang mencurigakan masuk dan keluar perbatasan Tanah Perdikan.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning terlambat mengadakan pengawasan yang ketat. Ternyata anak-anak muda dari tiga Kademangan termasuk Kademangan Pakis telah memasuki perbatasan Tanah Perdikan. Mereka telah berada di banjar Padukuhan Induk dan sebagian yang lain di banjar padukuhan-padukuhan disekitar Padukuhan Induk. Mereka telah mendapat penanganan khusus dari para pemimpin pengawal Tanah Perdikan untuk mempersiapkan mereka agar mereka dapat menyesuaikan dirinya dengan para pengawal Tanah Perdikan.

Dalam pada itu, ternyata waktu yang dua hari yang diberikan oleh Ki Gede Watu Kuning itu sangat berarti bagi para pengawal Tanah Perdikan. Lebih-lebih lagi bagi para pengawal ketiga Kademangan yang berada di Tanah Perdikan. Dalam waktu yang singkat itu, mereka sempat berbenah diri. Mereka berusaha untuk semakin mengenali watak dan tabiat senjata mereka masing-masing dengan tuntunan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang lebih banyak berpengalaman dari mereka. Namun ternyata bahwa tekad yang menyala dihati mereka tidak kalah dari para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Sementara menunggu dua hari, maka Risang telah berbicara dengan bersungguh-sungguh dengan para pemimpin Tanah Perdikan serta dengan Kasadha dan ibunya. Sebagai seorang prajurit ternyata Kasadha mempunyai pendapat-pendapat yang sangat berarti bagi Risang. Pengelompokan-pengelompokan pasukan yang ada akan menghasilkan daya tempur yang lebih besar apalagi menghadapi pasukan yang dipimpin oleh orang-orang yang berilmu tinggi.

“Kau dapat memisahkan sejumlah orang terbaikmu Risang,” berkata Kasadha, “mereka dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka akan menjadi ujung tombak dari seluruh pasukanmu. Dengan kelebihan mereka, maka mereka akan dapat memancing kegelisahan lawan, sementara pasukan yang lain akan segera menentukan arah penyelesaian pertempuran itu.”

Risang ternyata sependapat. Ia pun segera memerintahkan para pemimpin pengawal untuk memilih mereka yang terbaik diantara para pengawal Tanah Perdikan. Pada lapis kedua para pengawal yang lain akan mengikuti gerak kelompok-kelompok khusus. Sementara itu telah disiapkan pula pasukan cadangan yang akan turun kemedan jika sangat diperlukan. Mereka akan terdiri dari laki-laki yang lebih tua, terutama mereka yang pernah mengalami menjadi pengawal Tanah Perdikan Sembojan atau bahkan pernah menjadi prajurit.

Dalam keadaan tertentu mereka akan dapat membantu para pengawal karena pengalaman mereka serta kemampuan yang mereka miliki meskipun tenaga dan daya tahan tubuh mereka sudah mulai menyusut.

Karena tatanan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sudah mapan, maka semua rencana itu dapat berjalan dengan cepat. Dihari berikutnya Risang telah mendapat laporan bahwa segala sesuatunya telah tersusun dengan rapi.

Dalam kesempatan yang pendek itu ternyata Risang masih sempat mengamati langsung susunan pasukan pengawalnya yang jumlahnya menjadi semakin banyak karena diantara mereka terdapat anak-anak muda dari tiga Kademangan.

Secara khusus Risang dan Kasadha telah melihat para pengawal yang terbaik yang ada di Tanah Perdikan. Mereka akan menjadi kelompok pertama dalam benturan kekuatan dengan orang-orang dari Padepokan Watu Kuning.

Ketika hari pertama lewat, maka sekali lagi Risang memanggil semua unsur pimpinan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan termasuk para Demang, para pemimpin pengawal Tanah Perdikan dan dari tiga Kademangan diluar Tanah Perdikan Sembojan.

Mereka akan membicarakan lingkaran pertahanan yang akan mereka susun menghadapi pasukan lawan yang nampaknya masih terpusat di perkemahan mereka.

“Kita tidak tahu, dari mana mereka akan menusuk Tanah Perdikan ini. Tetapi justru karena mereka berada di padang perdu dihadapan perbatasan Tanah Perdikan, maka kita dapat melihat langsung gerakan mereka,” berkata Risang.

Dalam pada itu, meskipun agak ragu-ragu, namun ibu Risang pun berkata, “Selama ini kita berbicara tentang pertahanan untuk melindungi Tanah Perdikan ini dari serangan orang-orang Padepokan Watu Kuning. Kita tahu bahwa orang-orang Watu Kuning telah berkemah dihadapan perbatasan Tanah Perdikan ini. Kenapa kita tidak mencoba berpikir, bagaimana jika kita tidak menunggu.”

“Maksud ibu?” bertanya Risang.

“Jika semula kita memperhitungkan kemungkinan Kademangan Pakis tersinggung jika kita memasuki wilayahnya, maka sekarang kita dapat berbicara dengan pemimpin pengawal Kademangan Pakis. Bagaimana jika kitalah yang memasuki wilayah Pakis dan menyerang perkemahan itu,” jawab Nyi Wiradana.

Pendapat itu telah menyentuh hati para pemimpin yang sedang membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi itu. Risang mengangguk-angguk sambil berdesis, “Memang menarik untuk melakukannya.”

Sedang Kasadha pun berkata, “Satu pikiran yang sangat baik. Jika Pakis tidak berkeberatan, memang lebih baik kita memasuki wilayah Pakis dan langsung menyerang perkemahan itu.”

Pemimpin pengawal dari Kademangan Pakis itu pun menyahut, “Pakis tentu tidak berkeberatan. Bukankah Pakis telah menyatakan dirinya untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan sepenuhnya meskipun kekuatan yang ada di Pakis terhitung kecil dibanding dengan kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi hanya dengan memberikan kesempatan pasukan Tanah Perdikan memasuki wilayah Pakis untuk mengusir orang-orang dari Padepokan Watu Kuning itu. Ki Demang Pakis tentu tidak akan merasa tersinggung.”

“Terima kasih,” berkata Risang kemudian, “jika demikian, bagaimana pendapat kalian jika kitalah yang menyerang mereka. Bukan sekedar menunggu apa yang akan mereka lakukan besok lusa.”

Ternyata semua orang yang hadir menyetujuinya. Bahkan mereka menjadi tidak sabar menunggu waktu yang disediakan oleh Ki Gede Watu Kuning.

Tetapi pasukan Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat bergerak lebih cepat dari rencana itu. Meskipun pasukan pengawal Tanah Perdikan sudah siaga sepenuhnya, tetapi perubahan rencana itu memang memerlukan persiapan agar dapat berlangsung dengan baik.

Karena itulah maka mereka memutuskan, bahwa pasukan Tanah Perdikan Sembojan akan bergerak pada malam hari sehari kemudian tepat pada batas akhir ancaman Ki Gede Watu Kuning. Sebelum fajar, perkemahan itu harus sudah dikepung dan serangan akan dilakukan dari beberapa arah.

“Pasukan khusus dari para pengawal pilihan akan menjadi paruh serangan pasukan Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Risang kemudian.

Demikianlah, setelah pertemuan itu selesai, maka Risang, Kasadha dan para pemimpin pasukan pengawal telah melakukan pembicaraan secara khusus. Mereka akan mengatur dari mana pasukan induk akan menyerang, sementara pasukan yang lain akan memecahkan perhatian orang-orang Watu Kuning yang ada di perkemahan itu.

“Kita akan bertempur dalam gelar,” berkata Risang, “meskipun demikian, maka kemungkinan lain dapat terjadi. Jika lawan mempergunakan gelar Glatik Neba atau Samodra Rob, maka perang brubuh dapat saja terjadi. Dengan demikian dituntut kemampuan para pengawal secara pribadi disamping kerja sama yang harus tetap dibina sebaik-baiknya.”

Malam itu juga maka para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu pun mengatur pasukan mereka, termasuk para pengawal dari Kademangan-kademangan diluar Tanah Perdikan. Malam itu, para pengawal telah digerakkan kepadukuhan-padukuhan. Bahkan di beberapa padukuhan yang terdekat dengan perkemahan.

“Besok, setelah matahari terbit, maka semua gerakan pasukan di Tanah Perdikan justru dihentikan. Rencana penyerangan itu tidak boleh diketahui oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning yang ada di perkemahan,” pesan Risang kepada para pemimpin pengawal.

Karena itu, maka malam itu juga, semua pasukan sudah harus di tempatkan sesuai dengan rencana.

“Ketika fajar menyingsing, maka permukaan wajah Tanah Perdikan Sembojan masih nampak tenang. Tetapi ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka yang dilihat oleh orang-orang padepokan Watu Kuning adalah justru orang-orang yang mengungsi, sehingga kesan yang timbul pada orang-orang Padepokan Watu Kuning adalah, bahwa Tanah Perdikan Sembojan akan mempertahankan diri pada padukuhan-padukuhan pertama dibelakang perbatasan.

Karena itu, maka persiapan-persiapan yang dilakukan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning adalah justru kesiagaan untuk menyerang. Beberapa kelompok diantara mereka sebagaimana diperintahkan oleh Ki Gede Watu Kuning telah melakukan latihan-latihan yang memang membuat para pengawal Tanah Perdikan Sembojan menjadi berdebar-debar. Kelompok-kelompok itu telah menunjukkan, betapa mereka memiliki kemampuan olah senjata yang sangat tinggi. Dengan sengaja mereka melakukan latihan-latihan dekat dengan padukuhan-padukuhan diperbatasan agar dapat dilihat oleh para pengawal yang ada di padukuhan itu.

Tetapi, para pengawal pilihan yang akan menjadi ujung tombak pasukan pengawal Tanah Perdikan itu berkata, “Lihatlah dengan baik. Beberapa unsur gerak yang diulang. Tidak hanya sepihak, tetapi kedua belah pihak.”

“Maksudmu?” bertanya seorang pengawal.

“Latihan yang kita lihat memang mendebarkan. Tetapi yang mereka lakukan benar-benar telah terlatih untuk waktu yang panjang,” jawab pengawal itu.

Para pengawal pun mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Jadi kapan pun dan dimanapun, latihan-latihan itu akan berlangsung seperti itu?”

“Ya,” jawab pengawal terpilih itu, “bukankah kita juga dapat melakukannya jika kita ingin?”

Para pengawal, terutama yang termuda diantara mereka mengangguk. Mereka baru mengerti bahwa gerakan-gerakan yang nampaknya rumit dan berbahaya itu telah dilatih dan dihafal sebelumnya sehingga mereka benar-benar dapat melakukan dengan baik sekali. Meskipun demikian pengawal terpilih yang telah berpengalaman itu berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak memiliki kelebihan. Mereka memang memiliki ketrampilan yang tinggi. Daya tahan tubuh yang kuat dan sudah tentu pengalaman yang luas. Kita memang harus berhati-hati menghadapi mereka. Tetapi juga bukan berarti bahwa kita akan menjadi gentar karenanya.”

Para pengawal muda itu mengangguk-angguk. Ketika dengan saksama mereka memperhatikan latihan-latihan yang nampak menyeramkan itu, ternyata yang dikatakan oleh kakak-kakak mereka yang lebih berpengalaman itu benar. Latihan itu berlangsung dengan lancar dan sangat tertib buat sebuah latihan yang bersungguh-sungguh.

Ketika matahari melewati puncaknya, maka Ki Gede Watu Kuning nampaknya sudah yakin bahwa Risang tidak akan datang atau mengirimkan utusannya untuk menyampaikan kesediaannya menerima keinginan Ki Gede Watu Kuning. Karena itu, maka Ki Gede pun telah memerintahkan semua kekuatan yang ada padanya untuk bersiap sebaik-baiknya, “Besok, disaat matahari terbit, kita memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Kita tidak usah memilih medan. Dimana pun kita siap untuk bertempur. Kekuatan kita jauh lebih besar dari kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Meskipun ada satu dua orang Tanah Perdikan yang memiliki kemampuan tinggi, sehingga beberapa orang kita telah dapat dikalahkan, tetapi orang-orang kita itu bukannya orang-orang terbaik di Padepokan Watu Kuning.”

Karena itulah, maka menjelang sore hari, Padepokan Watu Kuning yang sedang berkemah didepan perbatasan Tanah Perdikan Sembojan itu telah mempersiapkan diri. Mereka telah membagi diri dalam kelompok-kelompok yang akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

Para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan memperhatikan kesiagaan pasukan Watu Kuning itu dengan saksama. Sementara Tanah Perdikan sendiri belum menunjukkan tanda-tanda bahwa merekalah yang akan datang menyerang perkemahan itu.

Ketika senja turun, maka Ki Gede Watu Kuning justru memerintahkan orang-orangnya untuk beristirahat kecuali sebagian dari mereka yang bertugas menjaga perkemahan itu.

Pada saat itu pula, Risang juga memerintahkan para pengawalnya untuk beristirahat sampai tengah malam. Setelah itu, maka mereka akan segera bergerak.

Namun para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak sempat beristirahat. Para Demang dan para Bekel. Juga para pemimpin pengawal padukuhan-padukuhan serta para pemimpin pengawal dari ketiga Kademangan yang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah mengatur diri serta mendengarkan perintah-perintah yang diberikan oleh Risang. Risang sendiri beserta ibunya, Nyi Wiradana akan berada di pasukan induk. Sementara itu, Kasadha seorang prajurit Pajang yang datang bersamanya serta ibu dan bibinya akan berada di sayap kanan bersama Gandar, sementara itu disayap kiri Sambi Wulung dan Jati Wulung akan memegang pimpinan. Para Demang yang akan langsung terjun ke medan akan menjadi pengapit kanan dan kiri di pasukan induk. Sedangkan para bekel akan menebar disepanjang gelar pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Gelar yang akan dipergunakan adalah Garuda Nglayang. Namun gelar itu dapat berubah sesuai dengan keadaan medan. Bahkan mungkin jika perlu pasukan Tanah Perdikan Sembojan akan mempergunakan gelar Jurang Grawah untuk menenggelamkan pasukan lawan. Apalagi jika pasukan lawan mempergunakan gelar Glatik Neba atau Samodra Rob.

Tetapi, disamping pasukan induk itu, maka ada tiga pasukan kecil yang harus memancing perhatian pasukan lawan. Mereka akan menyerang pasukan yang berkemah itu dari belakang dan dari samping kanan dan kiri. Pasukan kecil itu bukannya pasukan yang harus menembus dan memasuki perkemahan lawan. Tetapi mereka hanya sekedar untuk memancing perhatian dan juga mempunyai tugas untuk menjaga agar orang-orang Perguruan Watu Kuning tidak sempat melarikan diri jika pasukan Tanah Perdikan berhasil mendesak mereka. Tetapi pasukan kecil itu diberi kesempatan untuk mundur jika keadaan menjadi sangat buruk.

“Kita tidak dapat membiarkan korban terlalu banyak jatuh. Seandainya pasukan kecil itu terdesak, sebaiknya mereka menarik diri. Biarlah pasukan induk yang akan memberikan tekanan terbesar kepada pasukan yang berkemah itu,” berkata Risang.

Setelah semuanya menjadi jelas, maka barulah mereka diperkenankan untuk beristirahat.

Namun Risang masih sempat berpesan, “Pada saatnya kita harus bersiap. Kita akan mendahului gerakan mereka.

Karena itu, maka kita harus mempersiapkan diri sebelum fajar. Beberapa saat kemudian, kita harus sudah berada di tempat kita masing-masing dan siap untuk bergerak. Tidak ada pertanda bende sampai tiga kali. Tetapi hanya ada satu kali isyarat dengan panah api yang akan dilontarkan ke udara. Mungkin ada dua atau tiga bersama-sama. Dengan demikian maka setiap kelompok harus selalu siap memperhatikan arah pasukan induk yang akan memberikan isyarat itu. Kita tidak akan menangkap isyarat itu dengan telinga, tetapi dengan mata.”

Demikianlah, maka para pemimpin pasukan itu pun segera kembali kepasukan masing-masing. Mereka pun berusaha untuk dapat mempergunakan waktunya yang sedikit untuk beristirahat, agar mereka mendapatkan kembali tenaga mereka seutuhnya.

Sementara para pengawal dan anak-anak muda serta hampir semua orang laki-laki yang masih mampu dan berani turun ke medan pertempuran beristirahat, maka Bibi tengah sibuk mempersiapkan makan bagi mereka. Sebenarnya Bibi lebih senang untuk langsung berada di medan. Bahkan hampir menangis ia minta kepada Nyi Wiradana agar ia diberi kesempatan untuk ikut dalam pasukan induk. Namun ibu Risang berkata, “Bibi, sebaiknya kau tetap berada di dapur. Bukankah kita sudah belajar dari pengalaman? Ketika dapur kita pernah diserang oleh lawan, bukankah Bibi waktu itu mampu menyelamatkan? Jika hal seperti itu terulang lagi, sedangkan tidak ada seorang pun yang mampu berbuat apa-apa terhadap lawan, maka dapur kita tentu akan menjadi hangus bersama semua bahan yang telah kita persiapkan.”

Bibi tidak dapat menolak. Karena itu, betapapun kecewanya ia menjawab, “Baiklah. Aku akan melakukan tugas ini sebaik-baiknya untuk Tanah Perdikan Sembojan dan anakku Risang.”

Nyi Wiradana menepuk bahu Bibi sambil berkata, “Terima kasih Bibi. Risang pun akan berterima kasih kepadamu.”

Demikianlah, maka segala persiapan telah dilakukan. Pada saatnya semuanya akan dapat bergerak sesuai dengan rencana. Meskipun mungkin ada perkembangan yang tiba-tiba saja terjadi, namun tatanan pasukan Tanah Perdikan itu sudah tersusun rapi. Mereka yang telah ditentukan sebagai cadangan pun akan dapat digerakkan setiap saat. Sedangkan sebagian dari mereka tetap berada di padukuhan-padukuhan mereka masing-masing. Namun di padukuhan-padukuhan itu telah disiapkan kuda yang dapat mempercepat gerak pasukan cadangan bila diperlukan.

Waktu yang sempit itu telah dipergunakan para pengawal Tanah Perdikan dengan sebaik-baiknya. Lewat sedikit tengah malam mereka pun telah dibangunkan. Setelah berbenah diri dan sebagian dari mereka sempat mencuci muka, maka mereka pun segera bersiap. Orang-orang yang bertugas didapur yang dibuat khusus telah membagikan makan bagi setiap orang sebelum mereka mulai bergerak.

“Makanlah secukupnya,” berkata orang-orang yang membagikan makan bagi para pengawal, “kita tidak tahu apakah besok kalian mempunyai kesempatan untuk makan jika pertempuran berlangsung meskipun kami berusaha untuk membuat makanan khusus yang dapat kalian makan sambil bergerak di medan.”

“Bawa saja besok ke medan jika memungkinkan,” jawab para pengawal.

Demikianlah, maka pada saatnya para pengawal pun telah siap seluruhnya. Memang tidak ada isyarat bunyi sama sekali. Demikian pula saat para pengawal menempatkan diri di tempat yang sudah ditentukan. Tiga kelompok pasukan pengawal bertugas untuk menyerang perkemahan dari tiga arah. Dengan diam-diam mereka menembus gelapnya dini hari ketempat yang sudah direncanakan. Sementara itu pasukan induk pun telah menebar memasang gelar.

Sementara itu, orang-orang yang berada diperkemahan pun telah mulai bersiap-siap pula. Mereka merencanakan untuk memasuki Tanah Perdikan demikian fajar menyingsing. Karena itu, maka mereka tidak terlalu tergesa-gesa untuk menempatkan diri. Apalagi mereka merasa pasukan Watu Kuning itu demikian kuatnya sehingga mereka akan dapat memasuki perbatasan Tanah Perdikan tanpa kesulitan. Mereka tidak akan memilih dimana mereka menembus perbatasan.

“Kita tahu bahwa dipadukuhan-padukuhan terutama diperbatasan telah disiapkan pasukan pengawal. Tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi kita,” berkata Ki Gede Watu Kuning, “bahkan kita tahu bahwa hal itu merupakan salah satu kebodohan Kepala Tanah Perdikan yang masih sangat muda itu. Jika para pengawal Tanah Perdikan ingin mempertahankan padukuhan demi padukuhan, maka mereka justru akan dilumatkan, karena kekuatan mereka terpecah belah. Pasukan yang hanya sedikit itu dibagi dalam beberapa padukuhan disepanjang perbatasan.”

Mendekati fajar, maka orang-orang Watu Kuning itu pun telah mendapat kesempatan untuk makan sebelum mereka akan bergerak menyerang Tanah Perdikan. Semuanya itu mereka lakukan dengan terbuka. Mereka sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikan apapun juga justru karena mereka merasa terlalu kuat.

Saat itulah yang ditunggu Risang. Jika orang-orang Watu Kuning itu sedang makan, maka pasukan Tanah Perdikan akan mulai bergerak.

Namun sebelum ada isyarat untuk bergerak bagi pasukan Tanah Perdikan, dua orang pengawas dari perkemahan Watu Kuning berlari-lari mencari Ki Gede Watu Kuning untuk memberikan laporan.

“Ada apa?” bertanya Ki Gede Watu Kuning.

“Kami melihat kelompok-kelompok kecil pengawal Tanah Perdikan mulai bergerak menyeberang perbatasan.”

Wajah Ki Gede Watu Kuning berkerut. Dengan nada rendah ia bertanya, “Untuk apa?”

“Kami tidak tahu Ki Gede. Mereka menyeberangi perbatasan dan melingkar beberapa puluh patok dari perkemahan kita.”

“Satu tindakan yang sangat bodoh,” berkata Ki Gede, “mereka tentu berniat untuk menyerang pasukan kita dari belakang setelah terjadi pertempuran antara pasukan kita dengan para pengawal Tanah Perdikan. Seharusnya mereka tidak memecah-mecah pasukan mereka yang tidak terlalu besar itu di padukuhan-padukuhan dan apalagi kelompok-kelompok kecil yang akan menyerang dari belakang atau dari lambung. Itu tidak akan berarti apa-apa. Kita tidak akan menyerang Tanah Perdikan dengan gelar apapun juga. Kita akan menyerang sebagaimana kita pergi bertamasya dengan anak cucu melihat-lihat lereng-lereng bukit yang hijau, danau yang luas dengan riak-riak kecil serta ngarai yang terbentang seperti permadani yang sangat luas.”

“Tetapi mereka akan dapat berbuat sesuatu diluar dugaan,” berkata salah seorang dari para pengawas itu.

“Kau tidak usah menjadi cemas dan apalagi menjadi bingung. Biarkan mereka melakukan apa saja. Kita tidak akan terguncang oleh mereka bahkan dengan akal dan cara apapun juga. Apakah kau tidak yakin?”

Kedua orang pengawas itu tidak berani menjawab lagi. Mereka kemudian hanya dapat menganggu-angguk mengiyakan.

Sementara itu, maka orang-orang Padepokan Watu Kuning, baik para cantrik yang memang berguru pada perguruan Watu Kuning, maupun orang-orang yang hanya ikut saja bersarang di padepokan itu, telah sibuk dengan sebungkus nasi yang mereka terima dari para petugas di dapur mereka. Nasi hangat dengan daging hasil buruan dan bahkan daging kambing yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.

Pada saat yang ditunggu itulah, maka Risang pun telah siap memberikan isyarat kepada tiga orang yang berdiri disebelahnya dengan panah api yang sudah melekat pada busurnya.

“Nyalakan api,” perintah Risang.

Beberapa orang telah membuat api dengan emput aren dan batu titikan. Kemudian dengan dimik belerang mereka menyalakan api yang kemudian disulutkan pada ujung anak panah api yang sudah siap itu.

Sekejap kemudian, maka Risang pun telah memberikan isyarat dengan mengangkat tangannya. Kemudian, tiga buah anak panah api telah lepas dari busurnya dan meluncur keudara.

Orang-orang yang sedang makan di perkemahan memang terkejut. Sementara itu padang perdu itu masih disaput oleh kegelapan.

Tetapi beberapa oncor telah membuat beberapa bagian dari padang perdu itu dapat diamati dari kejauhan oleh para petugas dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Isyarat apakah itu?” bertanya beberapa orang cantrik dari padepokan Watu Kuning, ketika mereka melihat panah api yang naik keudara. Justru tiga buah dengan arah yang berbeda.

Ki Gede pun melihat panah api itu pula. Sambil berdiri bertolak pinggang ia memanggil beberapa orang kepercayaannya.

“Isyarat apa menurut pendapatmu?” bertanya Ki Gede.

“Mereka menganggap bahwa kita akan segera menyerang. Nampaknya mereka memerintahkan para pengawal untuk bersiap-siap,” berkata salah seorang dari mereka yang dianggap pemimpin di padepokan Watu Kuning.

“Tetapi bagaimana dengan kelompok-kelompok kecil yang menembus perbatasan?” bertanya Ki Gede pula.

Para pemimpin Padepokan itu memang sudah mendengar laporan tentang kelompok-kelompok kecil itu pula. Seorang diantara mereka menjawab, “Isyarat itu mungkin ditujukan kepada mereka agar mereka mengganggu gerakan kita.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, kita percepat gerakan kita. Perintahkan semuanya bersiap. Kita justru akan segera bergerak sekarang juga. Kita tidak usah menunggu matahari.”

Para pemimpin Padepokan Watu Kuning itu ternyata sependapat. Karena itu, maka mereka pun segera menebar kembali ke tempat mereka masing-masing. Ki Gede Watu Kuning akan segera memerintahkan pasukannya bergerak demikian mereka selesai makan.

Justru karena itu, maka para cantrik itu pun menjadi tergesa-gesa. Para pemimpin mereka mulai menjadi gelisah dan karena itu mereka memerintahkan para cantrik untuk segera menyelesaikan makan mereka.

Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk berpikir. Tiba-tiba saja para pengawas telah memberitahukan bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan justru telah bergerak menyeberangi perbatasan dan menuju ke perkemahan.

“Mereka berani menyerang kita?” bertanya Ki Gede Watu Kuning.

“Mereka memang menyerang,” jawab seorang pengawas.

“Kepala Tanah Perdikan yang masih muda itu memang gila. Seharusnya mereka bertahan di belakang dinding pedukuhan dan menyambut kedatangan kita dengan menghujani anak panah dan lembing untuk menahan arus pasukan kita,” teriak Ki Gede.

“Tetapi mereka sudah menyerang,” sahut seorang Putut kepercayaan Ki Gede.

“Kenapa anak itu tidak memusatkan pertahanannya pada padukuhan induknya saja?” Ki Gede itu menjadi sangat marah. Serangan itu baginya merupakan satu penghinaan. Karena itu maka katanya kemudian, “Kerahkan semua kekuatan yang ada. Kita akan menghancurkan mereka dalam sekejap. Sebelum matahari terbit, mereka harus sudah menjadi bagaikan tebasan batang ilalang.”

Para pemimpin Padepokan Watu Kuning itu pun segera bergerak. Dengan tergesa-gesa para cantrik, Putut, Jejanggan dan semua unsur yang ada di padepokan itu telah berlari-lari ke kelompok mereka masing-masing.

Ternyata mereka pun mampu bergerak cepat. Sesaat kemudian, maka mereka pun telah bersiap menyongsong pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Mereka ternyata terkejut melihat sederet pasukan melebar dalam gelar. Dalam keremangan dini hari mereka melihat gelar yang utuh untuk bergerak mendekati perkemahan mereka di padang perdu yang cukup luas itu.

“Anak iblis,” geram Ki Gede Watu Kuning, “dari-mana mereka sempat mengumpulkan orang sebanyak itu.”

Tetapi Putut kepercayaan yang mendampinginya berkata, “Kami benar-benar akan menebas ilalang. Kita tidak akan dapat menghitung dan bahkan kita tidak akan sempat menguburkan mereka yang akan menjadi korban pertempuran ini.”

“Ingat, ada diantara mereka yang berilmu,” berkata Ki Gede Watu Kuning, “Nagawana dan Nagawereng sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa ketika ia bertemu dengan dua orang pemimpin pengawal Tanah Perdikan yang menyebut dirinya sebagai petani kebanyakan. Sementara itu, lima orang kita yang lain terbantai bersama kuda-kuda mereka sementara Wira Gobang hampir mati pula ditangan orang-orang Tanah Perdikan.”

“Tetapi jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang. Yang bertempur melawan Nagawana dan Nagawereng tentu juga yang membantai kelima orang yang mengawasi jalan ke Pajang itu. Juga mereka pulalah yang mengalahkan Wira Gobang,” sahut Putut kepercayaannya itu.

“Yang mengalahkan Wira Gobang adalah seorang perempuan,” geram Ki Gede sambil melangkah dengan cepat dipaling depan.

“Perempuan itu tentu ibu Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang pernah menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan. Ia memang seorang perempuan yang berilmu tinggi. Tetapi sebagaimana kita ketahui, Wira Gobang terlalu lemah menghadapi seorang perempuan.”

“Perempuan itu sudah tua,” bentak Ki Gede Watu Kuning.

“Apakah Wira Gobang dapat membedakan perempuan tua dan muda bahkan yang telah pikun sekalipun,” sahut Putut itu.

Dalam keadaan gelisah Ki Gede Watu Kuning masih dapat tertawa. Namun kemudian ia berteriak, “Hancurkan mereka. Gelar itu harus dipecahkan menjadi kepingan-kepingan yang terkoyak-koyak. Bunuh semua orang yang ada di gelar itu kecuali mereka yang menyerah. Yang menyerah akan menjadi budak yang melayani kekuasaan kita di Tanah Perdikan Sembojan.”

Teriakan itu lamat-lamat terdengar oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Namun teriakan itu segera tenggelam oleh sorak orang-orang Tanah Perdikan yang bagaikan menggugurkan sisa-sisa bintang dilangit.

Sorak itu memang sempat menggetarkan jantung orang-orang Padepokan Watu Kuning. Namun seorang Putut pun kemudian berteriak, “He, apakah kita tidak dapat berteriak sekeras mereka?”

Sebenarnyalah orang-orang Padepokan Watu Kuning itu pun bersorak-sorak pula. Lebih keras dan bahkan kesannya lebih kasar. Disela-sela sorak yang mengguntur itu terdengar umpatan-umpatan kasar bahkan kotor.

Demikianlah, maka kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Ibu Kasadha yang berada di sayap kanan sempat melihat sisa bulan tua yang masih bertengger dipunggung bukit disisi Timur langit yang sudah menjadi merah.

Namun terasa demikian cepatnya langit menjadi terang. Ketika kedua pasukan itu saling berhadapan, maka langit sudah menjadi semakin terang.

Sekali lagi terdengar teriakan Ki Gede Watu Kuning, “Sudah terlambat untuk mohon pengampunan. Tetapi masih mungkin untuk menyerah dan dibiarkan hidup. Yang lain akan ditumpas seperti menyulut ilalang kering.”

Namun dalam pada itu, pasukan Padepokan Watu Kuning itu terkejut. Dari lambung kiri dan kanan beberapa kelompok pengawal Tanah Perdikan telah berlari-lari seakan-akan memburu mereka dengan mengacu-acukan senjata mereka yang telanjang.

Ternyata orang-orang Padepokan Watu Kuning itu tidak menjadi bingung. Dengan sendirinya, kelompok-kelompok kecil diantara mereka telah memisahkan diri untuk menyongsong pasukan yang menyerang lambung itu. Bahkan kemudian mereka terkejut ketika mereka melihat asap mengepul diperkemahan. Tanpa mendapat perintah dari Risang, beberapa gubug perkemahan itu telah terbakar. Pertempuran kecil telah terjadi antara sekelompok pengawal yang bertugas menyerang dari belakang dengan orang-orang Padepokan yang bertugas didapur. Dalam pertempuran kecil yang terjadi itu dengan tidak sengaja, maka api pun telah terserak oleh hentakan-hentakan pertempuran, sehingga menjilat dinding-dinding bambu yang sudah menjadi kering. Api pun dengan cepat berkobar dan membakar atap jerami gubug-gubug di perkemahan. Bahkan ikut terbakar juga bahan-bahan makanan yang menjadi persediaan orang-orang Watu Kuning.

Ki Gede Watu Kuning yang melihat asap dan bahkan kemudian lidah api yang menjilat itu mengumpat habis-habisan. Kesan keramahannya ketika ia mengunjungi Risang telah lenyap sama sekali. Dengan kemarahan yang memuncak ia berteriak, “Biarlah apa yang ada di perkemahan itu terbakar. Kita akan mencari gantinya di Tanah Perdikan Sembojan. Kita akan mengambil kembali Tanah Perdikan itu dengan segala isinya.”

Orang-orang Padepokan Watu Kuning itu pun berteriak semakin kasar. Sementara kelompok-kelompok kecil di lambung pasukan dari Padepokan Watu Kuning itu sudah bertempur melawan kelompok-kelompok kecil pasukan Pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika benturan itu terjadi, maka orang-orang dari Padepokan Watu Kuning itu terkejut. Mereka tidak mengira sama sekali bahwa ujung kekuatan kecil itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Mereka adalah para pengawal terpilih yang harus membuka jalan pertempuran bagi kawan-kawannya.

Bahwa para cantrik dari Padepokan Watu Kuning itu terkejut dan bahkan sesaat mereka tertahan oleh para pengawal yang berdiri di paling depan, telah membesarkan hati para pengawal yang lain. Dengan berani mereka menyerang para cantrik yang masih tergetar hatinya melihat kemampuan para pengawal.

Namun sejenak kemudian pertempuran telah berlangsung dengan sengitnya antara kelompok-kelompok kecil di lambung itu.

Sementara itu induk pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang menyerang dalam gelar itu pun telah berada beberapa langkah saja dari pasukan dari Padepokan Watu Kuning. Risang dan ibunya yang berada diinduk pasukan telah melambaikan senjatanya memberikan perintah kepada pasukannya untuk langsung menyerang lawannya.

Para pengawal yang ada di paruh pasukan induk itu pun adalah pengawal-pengawal pilihan. Dengan tangkasnya mereka berlari menyergap orang-orang yang berada di paling depan dari pasukan Watu Kuning. Sementara itu, para Demang yang menjadi pengapit Kepala Tanah Perdikan Sembojan bersama beberapa orang kepercayaan mereka pun telah membenamkan diri dalam benturan-benturan kekuatan yang terjadi.

Seperti benturan pada kelompok-kelompok kecil di lambung, maka orang-orang Padepokan Watu Kuning yang membentur paruh induk pasukan Tanah Perdikan Sembojan dalam gelar Garuda Nglayang juga terkejut. Kelompok-kelompok kecil diparuh pasukan pengawal Tanah Perdikan itu ternyata memiliki kemampuan diluar dugaan mereka. Dengan tangkasnya para pengawal itu menyusup memasuki pertempuran dengan kemampuan olah senjata yang tinggi. Mereka memiliki bekal kemampuan bertempur secara pribadi, tetapi mereka juga terlatih bertempur dalam gelar.

Dengan demikian maka sejak benturan antara kedua pasukan itu terjadi, maka pertempuran berlangsung dengan sengitnya. Kedua belah pihak memiliki orang-orang yang berkemampuan tinggi serta ketrampilan olah senjata, sehingga dengan demikian maka benturan yang terjadi antara kedua pasukan itu adalah benturan yang sangat keras.

Ternyata para cantrik dari Padepokan Watu Kuning yang sebelumnya selalu mendapat keterangan bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan tidak lebih baik dari anak-anak muda padukuhan-padukuhan yang lain, harus menghadapi kenyataan, bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang tergabung dalam kelompok-kelompok pengawal bahkan kelompok terpilih adalah anak-anak muda yang mempunyjai bekal yang lengkap untuk turun ke medan pertempuran.

Demikianlah, gelar Garuda Nglayang yang utuh itu pun telah bertempur melawan pasukan lawan yang sama sakali tidak tersusun dalam gelar. Karena itu, maka tekanan terberat pada pasukan Tanah Perdikan adalah pada induk pasukan. Kekuatan pasukan Watu Kuning memang seakan-akan berkumpul berkelompok dihadapan induk pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang menebar dalam gelar.

Sementara itu, kedua sayap gelar pasukan Tanah Perdikan Sembojan seakan-akan tidak tersentuh oleh pasukan lawan.

Namun Risang yang pernah menjadi seorang prajurit itu pun tanggap akan keadaan pasukannya. Jika ia tetap membiarkan gelarnya melebar, maka induk pasukanlah yang akan mengalami kesulitan sementara kedua sayapnya tidak mendapatkan lawan. Karena itu maka Risang pun telah mengerutkan gelar pasukannya. Dengan lewat penghubungnya ia memerintahkan sayap pasukannya menyesuaikan diri. Tanpa merubah gelarnya, maka pasukan Tanah Perdikan Sembojan akan bertugas sebagai kedua sapit pada gelar Sapit Urang.

Para penghubung itu dengan cepat telah berlari ke gelar Garuda Nglayang. Mereka berbicara dengan para pemimpin sayap untuk segera menyesuaikan diri.

Dengan cepat, maka Kasadha dan Gandari di sayap kanan dan Sambi Wulung dan Jati Wulung di sayap kiri telah membawa pasukannya untuk bergerak melingkar sehingga ujung kedua sayap itu hampir bersentuhan dengan kelompok-kelompok kecil yang menyerang lambung.

Ternyata bahwa dengan demikian, orang-orang Padepokan Watu Kuning seakan-akan justru terkepung. Namun jumlah mereka cukup banyak untuk berusaha menembus kepungan.

Tetapi Ki Gede Watu Kuning sama sekali tidak memerintahkan untuk mematahkan kepungan lawan. Ki Gede masih percaya kepada kemampuan para cantrik dan orang-orang padepokan yang lain sehingga ia tidak memandang perlu untuk mempergunakan cara yang lebih baik daripada membenturkan kekuatannya pada kekuatan lawan.

Sementara pertempuran itu berlangsung, maka kelompok-kelompok kecil pengawal terpilih dari Tanah Perdikan Sembojan yang bertugas menyerang dari belakang, telah dapat menyelesaikan tugas mereka. Orang-orang Watu Kuning yang berada di dapur bersama beberapa pengawalnya tidak berdaya menghadapi para pengawal itu. Mereka pun tidak mampu memadamkan api yang membakar semua persediaan makan mereka, karena kesulitan air. Meskipun para pengawal Tanah Perdikan itu seakan-akan tidak menghiraukan mereka dan meninggalkan mereka begitu saja tanpa membunuh atau menciderai mereka kecuali yang memang terbunuh dan terluka dalam pertempuran singkat, namun mereka tidak mampu lagi berbuat apa-apa.

Karena itu, maka pasukan kecil itu segera menyusul gerak pasukan Watu Kuning dan langsung menyerang mereka dari arah belakang.

Dengan demikian maka perhatian orang-orang Padepokan Watu Kuning itu benar-benar telah terpecah. Mereka harus menghadapi serangan dari lambung. Kemudian gelar yang melingkar dan yang terakhir serangan dari arah belakang.

Ki Gede memang menjadi sangat marah. Tetapi ia masih saja berteriak, “Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memang bodoh. Mereka telah memecah-mecah kekuatan mereka sendiri menjadi kepingan-kepingan kecil yang akan dengan mudah dapat kami hancurkan menjadi debu.”

Tetapi ternyata melakukan hal itu tidak semudah sebagaimana Ki Gede Watu Kuning itu berteriak. Meskipun pasukan Padepokan Watu Kuning itu cukup besar, tetapi perhatian mereka yang terbagi membuat Ki Gede kurang dapat memusatkan perhatian mereka.

Apalagi sekali-sekali pasukan Tanah Perdikan yang di lambung itu bersorak dengan kerasnya justru saat orang-orang Watu Kuning sudah menjadi serak suaranya.

Sesaat kemudian, para pengawal yang menyerang dari belakang itulah yang bersorak. Belum lagi suaranya mereda, maka induk pasukannya bersorak gemuruh bagaikan meruntuhkan langit.

Dalam pada itu, Kasadha yang bertempur di sayap kanan ternyata telah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebagai seorang prajurit, maka ia melihat bahwa diantara orang-orang Padepokan Watu Kuning, terdapat kelompok-kelompok yang memiliki gaya bertempur para prajurit. Mereka bertempur dalam kesatuan yang tertib. Meskipun mereka berpakaian sebagaimana orang-orang Padepokan Watu Kuning yang lain, namun rasa-rasanya mereka memiliki sikap dan kerja sama yang rasa-rasanya dapat dikenalnya sebagai kelompok-kelompok dalam kesatuan prajurit.

Meskipun demikian Kasadha tidak berani langsung menyebut bahwa mereka adalah sekelompok prajurit yang menyusup diantara orang-orang padepokan Watu Kuning. Menurut pengamatan Kasadha, para pengawal Tanah Perdikan pun mempunyai kesatuan sikap dalam pertempuran sebagaimana prajurit. Apalagi dalam gelar yang utuh sebagaimana nampak pada gelar Garuda Nglayang itu.

Demikianlah ketika matahari mulai memanjat langit, keringat pun mulai mengalir dituduh mereka yang tengah bertempur itu. Panas matahari yang menyengat seakan-akan ikut membakar kemarahan mereka yang sedang bertempur menyabung nyawa itu.

Para pengawal terpilih yang menjadi kelompok-kelompok yang diharapkan dapat membuka jalan, ternyata memang tidak mengecewakan. Kemampuan mereka yang tinggi, serta senjata mereka yang menghentak-hentak telah membuat lawan mereka mengalami kesulitan. Sementara itu, maka para pengawal yang lain berusaha untuk meneruskan tekanan para pengawal yang terpilih itu.

Di induk pasukan, ternyata Risang pun melihat kelompok-kelompok yang memiliki gaya yang berbeda dengan para cantrik yang lain. Kelompok-kelompok yang tidak terlalu mengandalkan kemampuan mereka secara pribadi. Sehingga Risang pun telah menduga, bahwa diantara orang-orang Padepokan Watu Kuning itu. terdapat kelompok-kelompok prajurit atau setidak-tidaknya kelompok-kelompok diluar para cantrik dari Padepokan Watu Kuning itu sendiri.

Tetapi sebelumnya Risang memang sudah mendengar, bahwa Padepokan Watu Kuning ternyata tidak lebih dari sarang kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan sifat, watak dan bahkan pekerjaan yang tidak terpuji. Karena itu kehadiran orang-orang lain dalam pasukan Watu Kuning itu memang memungkinkan sekali.

Namun Risang tidak menjadi gentar. Pasukan pengawal Tanah Perdikan dengan bantuan anak-anak muda pengawal Kademangan diluar Tanah Perdikan itu pun jumlahnya cukup banyak. Bahkan masih ada kekuatan cadangan yang berarti jika mereka dipanggil turun ke medan. Meskipun mereka adalah orang-orang yang sudah lebih tua dari para pengawal, namun pada umumnya mereka adalah justru orang-orang yang berpengalaman, sebagaimana ibu Risang dan ibu Kasadha yang masih juga tampil di medan.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun berlangsung dengan sengitnya. Dua kekuatan yang cukup besar saling berbenturan. Ternyata para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning. Mereka memiliki kemampuan dan keberanian untuk melawan para cantrik dari Padepokan Watu Kuning dan kelompok-kelompok yang bertempur bersama mereka.

Seperti yang pernah diberitahukan oleh Pangeran Gagak Baning serta apa yang pernah diketahui oleh ibu Kasadha sendiri, bahwa banyak orang berilmu tinggi yang terlibat dalam pertempuran itu. Diantara mereka adalah Pandansirat dan Wirasrana. Keduanya ternyata memang termasuk pimpinan Padepokan Watu Kuning.

Di induk pasukan Padepokan Watu Kuning, Ki Gede Watu Kuning masih saja berteriak-teriak memberikan perintah-perintah kepada orang-orangnya. Ia sendiri masih belum langsung turun ke pertempuran yang menjadi semakin sengit.

Dalam pada itu, Risang yang berada di paruh gelar Garuda Nglayang memang telah mempersiapkan diri untuk menghadapi pemimpin tertinggi Padepokan Watu Kuning itu. Ia sudah berada bersama beberapa orang pengawal pilihan untuk menembus medan agar ia dapat langsung bertemu dengan Ki Gede Watu Kuning.

Namun ibunya yang melihat usaha itu telah mendekatinya sambil berkata, “Bukan kau lawan orang itu Risang.”

“Aku adalah Kepala Tanah Peprdikan Sembojan,” jawab Risang.

“Dengar nasehatku,” berkata ibunya, “Ki Gede adalah orang yang berilmu tinggi. Kau belum sempat menerima ilmu Janget Kinatelon seutuhnya. Meskipun kau sudah siap untuk menerimanya. Sedangkan ibu adalah orang yang pernah menerima ilmu itu langsung dari ketika, kakek dan nenekmu. Akulah yang akan menghadapi Ki Gede Watu Kuning. Tetapi tidak sekarang. Biarlah ibu menunggu orang itu langsung memasuki lidahnya api pertempuran.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat membantah lagi. Ia memang menyadari, bahwa ibunya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari ilmu yang dimilikinya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak sampai hati membiarkan ibunya yang sudah menjadi semakin tua itu bertempur melawan Ki Gede Watu Kuning yang tentu seorang yang sangat garang dipertempuran.

Dalam pada itu, maka pertempuran itu pun menjadi semakin garang dimana-mana. Bukan saja diinduk pasukan. Tetapi kedua sayap gelar pasukan Tanah Perdikan pun telah bertempur dengan sengitnya pula. Ternyata naluri seorang ibu memang cukup tajam untuk melindungi anaknya. Seperti Risang, maka Kasadha pun telah dicegah ketika ia bersiap untuk menghadapi salah seorang pemimpin Padepokan Watu Kuning yang nampaknya sangat meyakinkan.

Ketika keduanya bertemu di medan, maka orang itu tiba-tiba berkata, “Ternyata aku salah lihat. Aku kira aku berhadapan dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata bukan meskipun wajahmu mirip sekali.”

Namun yang menyahut adalah ibu Kasadha, “Ia adalah adiknya.”

“O,” orang itu mengangguk-angguk, “tetapi kau siapa? Seorang perempuan tua yang berani memasuki medan pertempuran yang keras seperti ini? Aku kira kau bukan ibu Kepala Tanah Perdikan ini yang pernah memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan sebelumnya.”

“Memang bukan,” jawab ibu Kasadha.

“Jadi kau siapa?” bertanya orang itu..

“Aku adiknya, kau siapa?” bertanya ibu Kasadha.

“Jika kau adiknya, kau nampak sedikit lebih tua. Tetapi aku percaya bahwa masa mudamu, sebagaimana masa muda ibu Kepala Tanah Perdikan itu, tentu perempuan-perempuan yang cantik.”

“Mungkin,” jawab ibu Kasadha. Namun kemudian ia pun bertanya, “Siapakah kau? Apakah kau pernah bertemu dengan ibu Risang?”

“Namaku Pandansirat. Aku memang pernah menemui Risang dan ibunya dirumahnya sebelum persoalan ini berkembang semakin buruk,” berkata orang itu yang ternyata adalah Pandansirat.

“Pendirian Kepala Tanah Perdikan Sembojan sudah tetap. Tinggal ada dua pilihan bagi Padepokan Watu Kuning. Dihancurkan disini atau menarik diri,” berkata ibu Kasadha.

Tetapi Pandansirat tertawa. Katanya, “Sayang, bahwa kami tidak memilih kedua-duanya. Tetapi kami akan menghancurkan Tanah Perdikan ini dan membangun sebuah Padepokan yang besar, utuh dan berwibawa disamping kekuasaan yang ada di Pajang dan Madiun.”

“Kau ternyata telah bermimpi,” desis ibu Kasadha.

“Apapun yang kau katakan, kami akan menghancurkan pasukan Tanah Perdikan yang sombong ini,” geram orang itu.

Kasadha menjadi tidak sabar lagi. Tetapi ketika ia siap untuk menyerang, ibunyalah yang kemudian menantang orang itu, “Cobalah kau lakukan kalau kau mampu.”

“Ibu,” desis Kasadha.

“Biarkan orang ini. Hati-hati. Lawanmu adalah disekelilingmu. Kau tidak boleh menjadi lengah.”

Orang-orang dari Padepokan Watu Kuning yang berhadapan langsung dengan sayap kanan itu segera mengalami tekanan yang berat. Kasadha dan seorang prajurit yang menyertainya dari Pajang telah bertempur dengan tangkasnya pula. Sementara itu, Kasadha masih juga sempat menilai lawan-lawannya yang berhadapan dengan sayap kanan pasukan pengawal Tanah Perdikan itu.

Semakin lama Kasadha semakin yakin, bahwa didalam lingkungan orang-orang Padepokan Watu Kuning itu terdapat sekelompok prajurit atau sekelompok orang yang menjadi bagian dari pasukan yang lebih teratur dan tertib dari orang-orang Padepokan Watu Kuning sendiri yang nampaknya memang terdiri dari para cantrik perguruan Watu Kuning dan orang-orang yang sekedar ikut bersarang di Padepokan itu. Bahkan semakin lama Kasadha pun semakin mengenali orang-orang Watu Kuning dari unsur-unsur gerak mereka yang bersumber dari perguruan yang sama, serta ciri-ciri yang mereka perlihatkan. Teriakan-teriakan dan bahkan umpatan-umpatan mereka. Sementara itu, kelompok yang lain dapat dilihat dari jenis senjata mereka yang sama.

Tetapi Kasadha memang tidak berani mengambil kesimpulan. Apalagi penglihatan yang hanya sepintas karena pertempuran itu pun menjadi semakin lama semakin sengit. Hanya karena latihan-latihan yang mantap sajalah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan mampu mempertahankan gelarnya sambil menekan kedudukan lawan.

Disayap yang lain, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertempur dengan garangnya pula. Keduanya bersama-sama beberapa orang pengawal terpilih seakan-akan mampu menyibakkan pasukan lawan yang bertempur mengandalkan kemampuan pribadi mereka masing-masing.

Namun Sambi Wulung terhenti ketika seorang yang bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam sambil mengumpat-umpat mendekatinya. Dengan suara yang gemuruh seperti guntur orang itu berteriak lantang, “He, cucurut mabuk. Siapa kau yang berani menyombongkan diri dihadapanku?”

“Bukankah kita sedang berperang?” bertanya Sambi Wulung, “aku tidak mempunyai kesempatan untuk menyombongkan diriku disini. Agaknya memang tidak ada gunanya. Lebih baik aku menyombongkan diriku dipasar atau disimpang-simpang ampat padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.”

Sepertinya terpotong di sini

Sambil tersenyum Pandansirat berkata, “Aku percaya sekarang, bahwa kau pantas berada di medan perang yang garang seperti ini meskipun kau seorang perempuan yang memanjat keusia tua.”

“Aku belum terlalu tua,” jawab Warsi, “kau lihat bahwa gigiku masih utuh meskipun wajahku nampak lebih tua dari kakak perempuanku.”

Pandansirat termangu-mangu sejenak. Perempuan itu nampaknya memang terlalu yakin akan dirinya. Karena itu, maka ia harus menghadapinya dengan hati-hati.

Sementara itu, beberapa langkah dari Pandansirat, seseorang bertempur dengan tangkasnya. Gerak senjatanya seakan-akan telah mendesak para pengawal yang ada disekitarnya. Suaranya berdesing menaburkan getaran angin yang tajam.

Para pengawal Tanah Perdikan menghadapinya dengan kelompok kecil dari beberapa arah. Namun kadang-kadang kelompok itu harus pecah karena para cantrik dari Padepokan Watu Kuning telah menyerang mereka pula dari arah yang berbeda.

Tetapi ayunan senjata orang itu telah tertahan oleh sebilah pedang yang besar dan berat. Seorang yang bertubuh, kekar berdiri dihadapannya.

“Kau bertempur seperti seekor harimau terluka,” geram orang bersenjata pedang yang besar dan berat itu.

“Kau siapa,” geram orang Padepokan Watu Kuning yang sedang mengamuk itu.

“Namaku Gandar,” jawab orang berpedang besar dan berat itu. Bahkan katanya kemudian, “Kau tentu orang yang pernah datang ke rumah Kepala Tanah Perdikan sekitar sepekan yang lalu.”

“Kau melihat aku waktu itu?” bertanya orang itu.

“Ya,” jawab Gandar, “kau berdua menghadap Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah namamu Wirasrana.”

“Ya. Namaku Wirasrana,” jawab orang itu, “nah, kita ternyata sudah saling mengenal. Jika aku membunuhmu, aku dapat berceritera bahwa aku telah membunuh Gandar.”

Gandar tidak menjawab. Namun pedangnya yang berat itulah yang mulai bergerak terjulur lurus mengarah kepada Wirasrana. Wirasrana mundur selangkah. Ia sadar, bahwa Gandar belum benar-benar menyerangnya.

Demikianlah, maka keduanya pun segera saling menjajagi. Keduanya sudah saling menduga, bahwa lawan mereka adalah orang berilmu tinggi.

Seorang Putut dari Padepokan Watu Kuning menjadi heran, ketika ia bertemu dengan seorang perempuan yang garang dimedan perang. Bibi Kasadha yang bersenjata pedang telah menggetarkan pertahanan Putut itu. Apalagi ketika keduanya terlibat dalam pertempuran yang semakin cepat. Maka perempuan itu ternyata memiliki ketangkasan yang tidak diduga sebelumnya. Sehingga dengan demikian maka Putut itu harus bertempur dengan sangat berhati-hati.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 51

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s