SST-49

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

SEBENARNYALAH keadaan Pangeran Benawa memang menjadi semakin mencemaskan. Kedatangan tabib dari Mataram hanya mampu sekedar memperingan penyakitnya. Tetapi kemudian, keadaannya telah menajdi semakin mendebarkan keluarganya.

Siang malam Pangeran benawa ditunggui oleh orang-orang terdekat, sementara para pemimpin pemerintahan pun ikut berjaga-jaga di serambi samping istana Pajang.

Panembahan Senapati sendiri telah memerlukan melihat keadaan Pangeran Benawa. Namun sebagai manusia biasa, Panembahan Senapati hanya dapat berdoa dan memohon kepada Yang Maha Agung disamping usaha para tabib.

Bukan saja Panembahan Senapati, tetapi Panembahan Madiun pun telah mengirimkan utusan untuk menengok keadaan Pangeran Benawa yang nampaknya memang menjadi semakin berat.

Setelah segala usaha dilakukan sesuai dengan kemampuan manusia, maka hari yang tidak diharapkan itu pun datang. Pangeran Benawa dipanggil menghadap Yang Maha Agung.

Seluruh Pajang seakan-akan menjerit menangisinya. Para keluarganya, para pemimpin pemerintahan, prajurit dan rakyat seluruhnya. Suasana yang baik dan mapan baru saja terasa mulai menjamah Pajang. Dengan susah payah Pangeran Benawa berusaha untuk mencegah meluasnya persoalan dengan Madiun, dengan pamannya sendiri. Namun Pajang memang harus menyerahkan pemimpinnya itu dengan ikhlas.

Demikianlah seluruh Pajang berkabung. Bahkan Mataram dan Madiun ikut berkabung. Mereka berusaha melupakan perbedaan-perbedaan pendapat yang memang menjadi semakin tajam antara Mataram dan Pajang dengan Madiun.

Hari-hari yang dijalani kemudian oleh Pajang terasa menjadi sepi. Berita itu pun telah mengetuk hati rakyat Tanah Perdikan yang berlindung, kebawah barat pemerintahan Pajang, termasuk Tanah Perdikan Sembojan.

Meskipun kemudian pemerintahan berjalan sebagaimana biasa, namun tanpa seorang pemimpin Pajang tentu akan dapat mudah diguncang oleh ketidak pastian.

Hal itu nampaknya terasa pula oleh Panembahan Senapati yang tidak dapat membiarkan Pajang berjalan tanpa seorang pemimpin yang disegani.

Tetapi Panembahan Senapati tidak dapat mengambil langkah dengan tergesa-gesa. Disisi sebelah. Timur Pajang memerintah Panembahan Emas di Madiun. Salah seorang keturunan langsung dari Demak, karena ia adalah putera bungsu Sultan Trenggana, bernama Pangeran Timur di masa kecilnya.

Tetapi Panembahan Senapati pun tidak dapat membiarkan Pajang untuk terlalu lama tanpa seorang pemimpin yang disegani.

Sementara itu perginya Pangeran Benawa terasa pula di Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun hubungan antara Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan berlangsung baik dan masih saja ditangani oleh Ki Rangga Kalokapraja, namun Tanah Perdikan Sembojan juga merasakan kekosongan kepemimpinan di Pajang.

Tetapi ternyata persoalan yang dihadapi Tanah Perdikan Sembojan bukan saja ketiadaan pimpinan di Pajang. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan juga menghadapi persoalan dengan sebuah Padepokan yang belum diketahui dengan pasti, yang menurut pengakuan orang yang pernah datang ke Tanah Perdikan Sembojan, padepokan itu terletak di daerah Madiun.

Risang yang mendapat laporan tentang dua orang yang mengaku berasal dari padepokan itu telah memerintahkan kepada semua orang di Tanah Perdikan Sembojan untuk berhati-hati. Ketika keramaian di Tanah Perdikan Sembojan telah lewat, maka Risang mulai dengan meningkatkan usaha-usaha yang pernah dirintisnya sebelumnya bersama ibunya. Termasuk ketenangan dan ketenteraman hidup diseluruh Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi kehadiran orang-orang dari padepokan yang disebut berada di Madiun itu agaknya akan dapat mengganggu ketenangan dan ketenteraman rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan kemudian laporan pun telah datang pula kepada Risang, bahwa dibeberapa padukuhan memang terlihat orang-orang yang belum dikenal sebelumnya.

Kepada para Demang Risang telah memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang dicurigai. Namun pesannya, “Tetapi jangan melakukan tindakan-tindakan yang tidak pada tempatnya karena mungkin orang-orang yang dicurigai itu memang tidak bersalah. Karena itu, maka segala sesuatunya harus dipertimbangkan sebaik-baiknya agar tidak terjadi salah langkah.

“Jangan sampai terjadi bahwa orang-orang yang tidak berwenang telah menghukum orang yang ternyata tidak bersalah,” pesan Risang kepada setiap Demang dan bahkan para Bekel di padukuhan-padukuhan.

Tetapi Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi dalam suasana keramaian. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk bertindak tanpa merasa cemas akan mengacaukan keramaian karena keramaian-keramaian itu sudah selesai seluruhnya.

Tetapi Risang memang tidak terlalu lama berteka-teki tentang orang-orang Padepokan yang datang ke Tanah Perdikan itu. Karena tanpa diduga sebelumnya dua orang telah datang menemui Risang dirumahnya. Kedua Orang yang belum dikenal sebelumnya di Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Risang telah menduga, bahwa kedua orang itu tentu mempunyai hubungan dengan laporan-laporan yang pernah diterimanya tentang orang-orang yang tidak dikenal dan mengaku datang dari sebuah padepokan di Madiun.

Dengan ramah dan sepantasnya Risang menerima kedua orang itu. Ternyata kedua orang itu juga datang dengan unggah-ungguh yang genap dan keduanya bersikap ramah pula.

Meskipun Risang telah sepenuhnya memegang jabatan kepemimpinan di Tanah Perdikan Sembojan, namun Risang masih juga minta ibunya untuk ikut menemui kedua orang tamu itu.

Seperti yang diduga, maka salah seorang tamu itu telah memperkenalkan diri. Katanya, “Kami datang dari sebuah padepokan yang memang agak jauh. Tetapi tidak sejauh Pajang. Kami berdua datang untuk memenuhi perintah pemimpin Padepokan kami yang ingin memperkenalkan diri beserta padepokan kami kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Risang, “setiap perkenalan berarti memperluas persahabatan. Jika tidak berkeberatan, aku ingin mengetahui nama Ki Sanak serta nama padepokan Ki Sanak.”

“Tetapi kami sebenarnya ingin bertanya, bagaimana kami memanggil Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih sangat muda. Tentu tidak pantas aku memanggilnya dengan sebutan-sebutan orang tua, seperti Ki Gede dan semacamnya.”

Risang tersenyum. Katanya, “panggil saja namaku Risang. Sedangkan ibuku ini dapat Ki Sanak sebut dengan Nyi Wiradana.”

Kedua orang itu pun tersenyum pula. Seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Aku akan menyebut Kepala Tanah Perdikan dengan namanya. Angger Risang.”

“Terima kasih,” sahut Risang yang masih saja tersenyum. Bahkan ibunya pun ikut tersenyum pula. Sementara itu Risang berkata selanjutnya, “Seperti yang sudah aku katakan, aku ingin mengetahui nama Ki Sanak berdua”

“Namaku Pandansirat dan ini adik seperguruanku, namanya Wirasrana,” jawab salah seorang dari keduanya.

Risang mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Dan nama padepokan Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana?”

“Padepokan Sela Kuning. Nama itu sama dengan nama perguruan kami yang ada di padepokan itu. Perguruan Sela Kuning. Mungkin nama yang aneh, tetapi sebenarnyalah di padepokan kami banyak sekali terdapat batu-batu besar yang berwarna kuning.”

Risang memandang kedua orang itu dengan dahi berkerut. Nampak keragu-raguan membayang di wajahnya. Meskipun demikian, akhirnya Risang itu bertanya juga, “Apakah kalian datang dari padepokan yang sama dengan dua orang yang pernah datang lebih dahulu di Tanah Perdikan ini?”

Kedua orang itulah yang kemudian termangu-mangu. Bahkan keduanya saling berpandangan sejenak. Baru kemudian seorang diantaranya bertanya, “Siapakah nama mereka berdua? Apakah mereka memperkenalkan diri mereka?”

“Ya,” jawab Risang, “mereka tidak datang ke padukuhan induk ini. Tetapi anak-anak muda di padukuhan yang dikunjungi itulah yang menerima mereka. Seorang mengaku bernama Nagawana dan yang seorang lagi bernama Nagawereng.”

Kedua orang itu kembali termangu-mangu. Tetapi kemudian seorang diantara mereka berkata, “Ya. Aku mengenal mereka. Mereka memang penghuni padepokan kami.”

“Jika demikian, maka agaknya perlu kami beritahukan kepada Ki Sanak berdua, bahwa Nagawana dan Nagawereng telah melakukan kekerasan di Tanah Perdikan ini,” desis Risang.

“Aku minta maaf ngger,” jawab seorang diantara kedua orang itu, “Nagawana dan Nagawereng juga memberikan laporan tentang benturan kekerasan yang terjadi. Nampaknya memang terjadi salah paham antara kedua orang penghuni padepokan kami itu dengan beberapa orang penghuni Tanah Perdikan ini. Kedatangan kami antara lain juga untuk menghapuskan salah paham itu.”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Risang. Namun ia pun kemudian bertanya, “Tetapi, apakah ada keperluan Ki Sanak datang kemari, atau sekedar ingin memperkenalkan diri kepada kami. Barangkali karena Ki Sanak mendengar bahwa di Tanah Perdikan ini baru saja diwisuda Kepala Tanah Perdikan, sehingga Ki Sanak atas nama Padepokan Watu Kuning datang untuk menyambung persahabatan yang disaat-saat terakhir telah terputus.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang tertua, Ki Pandansirat pun berkata, “Benar Ki Sanak. Kedatangan kami memang berniat untuk menyambung kembali hubungan yang pernah terputus itu.”

“Aku, atas nama Tanah Perdikan ini mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Sanak berdua datang untuk menyambung kembali hubungan antara Tanah Perdikan ini dengan Padepokan Watu Kuning. Setiap uluran tangan persahabatan kami terima dengan senang hati, karena semakin banyak sahabat-sahabat kita, maka kehidupan ini terasa menjadi semakin semarak.”

“Selain itu anak muda,” berkata Pandansirat, “ada persoalan yang ingin aku sampaikan kepada angger Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Persoalan apa Ki Pandansirat?” bertanya Risang.

“Sebelumnya aku minta maaf ngger, jika mungkin apa yang akan aku sampaikan ini mengejutkan. Tetapi aku kira lebih baik aku berterus-terang dan kemudian membicarakannya dengan baik-baik daripada persoalan ini tiba-tiba akan meledak menjadi malapetaka bagi Tanah Perdikan ini” jawab Ki Pandansirat.

“Nampaknya masalahnya cukup penting” desis Risang.

“Memang ngger. Penting bagi Tanah Perdikan Sembojan, juga penting bagi Padepokan Watu Kuning,” Pandansirat berhenti sejenak, lalu katanya pula, “sebenarnyalah aku membawa pesan dari pimpinan padepokan kami.”

“Pesan apa Ki sanak?” bertanya Risang yang sudah menduga apa yang akan dikatakannya, karena ia sudah mendengar laporan yang disampaikan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang dua orang yang telah melakukan kekerasan itu.

“Angger Risang,” berkata Pandansirat kemudian, “pesan itu memang mirip sebuah ceritera. Jika aku sampaikan sejak awal mulanya, maka ceritera itu akan berkepanjangan. Barangkali aku dapat memotong bagian terpenting dari ceritera itu sesuai dengan kepentinganku datang kemari.”

“Baiklah Ki Pandansirat,” jawab Risang, “mana saja yang penting menurut Ki Sanak.”

“Angger Risang,” berkata orang itu, “sebelum angger dilahirkan, bahkan sebelum ibumu, Nyi Wiradana menjadi isteri ayahmu yang telah meninggal itu, maka di sini berdiri sebuah Padepokan yang besar dan kuat.”

Jantung Risang mulai berdebaran. Darahnya pun serasa mulai mengalir semakin cepat. Kemudaannya telah bergejolak mendengar keterangan orang yang menyebut dirinya Pandansirat itu. Karena itu, maka Risang yang muda itu segera memotong, “Ki Pandansirat. Bukankah Ki Pandansirat akan berceritera, bahwa dengan bantuan Demak maka leluhurku telah merampas tanah itu dan kemudian mendirikan Tanah Perdikan ini?”

“Risang,” potong ibunya, “biarlah Ki Pandansirat melanjutkan ceriteranya yang sangat menarik itu.”

Dahi Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana memang berkerut. Sementara itu Risang justru berkata, “Ceritera itulah yang membuat Nagawana dan Nagawereng menjadi salah paham dengan orang-orang Tanah Perdikan ini.”

“Mungkin ngger,” jawab Ki Pandansirat, “mungkin cara menyampaikan ceritera itu, keduanya tidak mempergunakan kata-kata yang jelas sehingga telah menimbulkan salah paham.”

Sebelum Risang menjawab, Nyi Wiradana telah menyahut, “Ceriterakan Ki Sanak. Mungkin Ki Sanak dapat menceriterakan dengan cara yang jauh lebih baik.”

Pandansirat termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Nyi Wiradana sekilas. Ternyata bahwa perempuan itu memiliki ketajaman penalaran serta mampu menahan diri meskipun pengertian yang tersirat dari kata-katanya tidak kalah tajamnya dari kata-kata yang dilaporkan oleh Risang dengan gaya kemudaannya.

Risang mengerutkan dahinya. Tetapi ia pun mencoba untuk menahan diri.

“Nyi Wiradana,” berkata Pandansirat, “aku mohon kesempatan untuk berbicara agar tidak terjadi salah paham.”

“Silahkan, silahkan Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak tidak tergesa-gesa?” jawab Nyi Wiradana sekaligus bertanya.

“Tidak. Kami memang tidak tergesa-gesa,” jawab Pandansirat yang kemudian melanjutkannya, “hari ini kami memang menyediakan waktu untuk memperkenalkan diri kepada angger Risang.”

“Jika demikian, biarlah kami mendengarkan pesan itu sebaik-baiknya” berkata Nyi Wiradana kemudian.

Pandansirat menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia berkata, “Nyi Wiradana dan angger Risang. Pesan itu memang berbunyi sebagaimana angger katakan. Tanah ini pernah menjadi tanah yang dimiliki oleh Padepokan Watu Kuning. Tetapi pada suatu saat tanah ini jatuh ketangan Ki Wanasraya. Ki Wanasraya adalah seorang Demang yang semula menguasai tanah yang sempit disudut Tanah Perdikan ini. Tetapi begitu pandainya Ki Wanasraya mengatur perkembangan Kademangannya, pada suatu saat Demak telah merestui rencananya untuk menguasai tanah yang lebih luas lagi. Dengan bantuan Demak, maka padepokan Watu Kuning telah terusir dan bergeser ke Timur. Sehingga sampai sekarang Padepokan Watu Kuning berada di tempat itu, sementara tanah ini berkembang dengan pesatnya menjadi Tanah Perdikan Sembojan.”

“Jadi menurut ceritera itu, Padepokan Watu Kuning itu didirikan diatas tanah ini Ki Sanak?” bertanya Nyi Wiradana.

“Ya” jawab Ki Pandansirat.

“Tetapi yang terdapat banyak batu-batu berwarna kuning justru di tempat kalian yang baru” berkata Nyi Wiradana sambil mengerutkan keningnya, seakan-akan ia sedang memikirkan satu teka-teki yang sulit untuk dipecahkan.

Pertanyaan itu memang sangat sederhana. Tetapi Ki Pandasirat dan Ki Wirasrana memang menjadi bingung sesaat. Mereka memang tidak mengira bahwa hal itulah yang akan ditanyakan oleh Nyi Wiradana.

Namun Ki Wirasrana kemudian menjawab, “Nama Watu Kuning itu memang baru kemudian setelah kami berada di tempat kami yang baru. Sebelumnya padepokan dan perguruan kami memang bernama Padepokan dan Perguruan Sembojan sebagaimana nama yang dipakai oleh Tanah Perdikan ini.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Namun katanya, “Kakek Risang tidak pernah menceriterakan sebelumnya sebagaimana kau ceriterakan Ki Sanak. Bahkan ceritera yang pernah kami dengar tentang berdirinya Tanah Perdikan ini berbeda dengan ceriteramu. Sementara itu di Tanah Perdikan ini masih ada orang-orang tua yang dapat berceritera dengan lancar, bagaimana Tanah Perdikan ini berdiri. Meskipun pada umumnya mereka sudah tidak mengalaminya langsung, tetapi mereka dapat berceritera sebagaimana mereka mendengar ceritera itu dari orang tua sebelumnya. Aku percaya kepada mereka, karena pada umumnya orang-orang tua kita adalah orang yang jujur.”

“Apakah dengan demikian Nyi Wiradana ingin mengatakan bahwa kami tidak jujur sebagaimana orang-orang tua di Tanah Perdikan ini?” bertanya Pandansirat.

Jawab Nyi Wiradana memang mengejutkan kedua orang yang datang dari Padepokan Watu Kuning itu. Katanya, “Ya. Aku memang tidak percaya kepada kalian. Tidak percaya kepada ceritera kalian itu.”

Pandansirat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Wirasrana yang sedikit lebih muda itu berkata, “Percaya atau tidak percaya, tetapi itu adalah kenyataan. Karena itu, maka sudah waktunya sekarang kami berbicara tentang kebenaran dari kenyataan itu. Bahkan kami menginginkan tanah kami kembali.”

“Ki Sanak,” berkata Nyi Wiradana, “bahwa Tanah Perdikan ini ada, itu adalah sah. Kami mempunyai surat kekancingan dari Demak dan yang kemudian surat kekancingan pengakuan dan wisuda Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan ini. Wisuda itu pun merupakan salah satu ungkapan pengakuan Pajang atas Tanah Perdikan ini. Karena itu, maka apa yang ada ini tidak akan dapat diganggu gugat oleh siapapun.”

Wajah kedua orang itu memang menegang. Tetapi mereka pun sudah menduga bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dengan mudah dapat mereka ambil. Karena itu, maka Pandansirat pun berkata, “Nyi Wiradana. Kami sama sekali tidak berhubungan dengan Pajang. Kami hanya mengakui kekuasaan Madiun, sehingga karena itu, maka pengakuan Pajang atas Tanah Perdikan ini pun tidak berarti apa-apa bagi kami.”

“Kalian hanya berpijak pada sikap sepihak,” sahut Risang, “ketahuilah Ki Sanak. Kami bukan orang-orang berjiwa kerdil yang dapat percaya begitu saja kepada ceritera itu Ki Sanak.”

“Aku sudah menduga,” jawab Ki Pandansirat, “tetapi ketahuilah ngger, bahwa kami datang tanpa niat buruk. Kami memang sedang menawarkan satu pembicaraan untuk menyelesaikan persoalan ini. Bukankah kita masing-masing mempunyai alasan dan sikap terhadap tanah ini? Nah, bukankah dengan demikian kita akan dapat mempertemukan pendapat kita masing-masing sehingga akhirnya kita dapat menghasilkan satu kesimpulan bersama tanpa saling merugikan.”

“Tentu tidak akan ada pembicaraan tentang kedudukan tanah ini Ki Pandansirat,” jawab Risang. Lalu katanya, “Kedudukan Tanah ini sudah pasti.”

“Baiklah ngger,” berkata Ki Pandansirat, “sebenarnyalah kami berdua hanya merintis satu pembicaraan. Biarlah pimpinan kami datang sendiri untuk bertemu dengan angger dan Nyi Wiradana. Tetapi sebelumnya aku ingin memberitahukan, bahwa pemimpin kami itu mempunyai cacat.”

“Apakah ada hubungannya antara cacatnya dengan persoalan yang timbul antara Tanah Perdikan ini dengan Padepokan Watu Kuning?”

“Ada ngger,” jawab Ki Pandansirat, “pemimpin kami adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ia seorang yang mempunyai daya pikir yang sangat tajam. Tetapi, inilah cacatnya, ia bukan seorang yang sabar.”

Tetapi Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana terkejut. Risang justru tertawa sambil berkata, “Jangan mencoba menakut-nakuti kami seperti menakuti anak-anak.”

“Tidak. Kami sama sekali tidak menakut-nakuti angger,” jawab Ki Pandansirat dengan serta-merta, “Aku justru berniat baik agar angger tidak menjadi sasaran kemarahannya. Aku ingin minta angger menyesuaikan diri dan tidak terlalu banyak bertanya apalagi menolak gagasan-gagasannya. Aku ingin menganjurkan agar angger meyakini bahwa apa yang dilihat dengan mata hatinya adalah benar, sehingga tidak perlu mendapat pertimbangan-pertimbangan apapun lagi.”

“Ki Pandansirat,” berkata Nyi Wiradana, “anakku sudah terlalu tua untuk mendengarkan dongeng kanak-kanak menjelang tidur itu. Apalagi dongeng Ki Pandansirat itu sama sekali tidak menarik. Bahkan hanya sekedar seperti sebuah lelucon saja.”

Wajah Ki Pandansirat menjadi merah. Sebelum ia menjawab, Maka Ki Wirasrana telah mendahuluinya menggeram, “Kalian telah menghina pemimpin kami. Tetapi jangan menyesal bahwa hal ini akan kami sampaikan kepadanya, sehingga ia akan datang ke Tanah Perdikan ini dengan sikap yang sudah pasti.”

“Baik Ki Pandansirat,” jawab Risang mendahului ibunya, “kami pun akan menerima pemimpinmu itu dengan sikap yang pasti pula. Bahkan kami sekarang sudah tahu bahwa pemimpinmu akan datang untuk memaksakan kemauannya. Tetapi kami harap pemimpinmu itu juga mengetahui bahwa kami tidak akan bersedia diperlakukan seperti itu.”

“Baik,” Ki Wirasrana lah yang menjawab, “kalian akan menyesal dengan sikap kalian itu. Tetapi apa yang sudah kalian ucapkan itu tidak akan dapat kalian telah kembali.”

“Kami akan mempertanggung-jawabkan segala ucapan dan sikap kami” jawab Risang.

“Jika demikian ngger,” berkata Ki Pandansirat, “perkenankan-lah kami mohon diri. Kami telah menjalankan tugas kami merintis hubungan antara angger Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan ini menurut pengakuan Pajang dengan Padepokan Watu Kuning.”

“Kami akan menunggu kedatangan pemimpin kalian itu Ki Sanak” jawab Risang.

“Baiklah, pemimpin padepokan kami yang sekaligus guru kami itu akan datang kira-kira sepekan lagi. Bersiaplah menerimanya. Tetapi kami masih berpengharapan bahwa pembicaraan yang akan terjadi itu akan menghasilkan kesimpulan yang dapat kita terima bersama-sama” berkata Ki Pandansirat kemudian.

“Tetapi ketahuilah bahwa kami tidak akan pernah bergeser setapak pun dari sikap kami” jawab Risang.

Ki Pandansirat tersenyum. Tetapi Ki Wirasrana menyahut, “Sekarang kau memang tidak berniat bergeser setapakpun. Tetapi bagaimana jika kau justru harus bergeser seribu tapak.”

“Ki Wirasrana,” jawab Risang, “Tanah ini sama harganya dengan diriku sendiri. Karena itu, maka taruhannya adalah diriku bukan saja sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan disini.”

Ki Pandansirat dan Ki Wirasrana tidak menyahut lagi. Sebenarnya Ki Wirasrana sama sekali tidak puas dengan pembicaraan itu. Tetapi Ki Pandansirat telah mengajaknya untuk minta diri.

Di perjalanan mereka meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan, Ki Pandansirat berkata, “Kita sudah cukup melakukan tugas kita dengan baik. Kita hanya mendapat tugas untuk menghubungi Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang muda itu. Kemudian menjajagi sikapnya. Bukankah kita sudah tahu betapa kerasnya hati Kepala Tanah Perdikan itu? Ia segera tersinggung demikian ia mendengar niat kita.”

“Kita tidak boleh terlalu mengalah, seakan-akan kita lebih lemah dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Dengan demikian, anak itu akan menjadi semakin besar kepala.”

Ki Pandansirat tersenyum. Katanya, “Kau jangan terlalu mudah dihanyutkan oleh perasaanmu semata-mata. Jika Risang menunjukkan sikapnya yang keras sejak semula, itu karena di Tanah Perdikan ini pernah hadir pula Nagawana dan Nagawereng. Mereka bahkan telah terlibat dalam benturan kekerasan dengan orang-orang Tanah Perdikan ini. Untunglah bahwa mereka sempat melepaskan diri, meskipun mereka harus melawan sekelompok peronda. Jika tidak, maka persoalannya akan menjadi lain.”

“Tetapi kita harus menunjukkan bahwa kita kuat dan mampu memaksakan kehendak kita atas mereka. Dengan demikian maka anak itu tidak akan bersikap seakan-akan mereka jauh lebih kuat dari kita” geram Wirasrana.

Pandansirat justru tertawa. Katanya, “Kepala Tanah Perdikan itu pun masih muda. Darahnya mudah menjadi panas. Jika terjadi sesuatu atas kita, maka kita tidak akan menyampaikan hasil pengamatan kita. Bukan karena aku takut menjadi korban kemarahan orang-orang Tanah Perdikan ini. Tetapi persoalannya akan pecah sebelum kita siap benar menghadapi mereka.”

Wirasrana tidak menjawab. Namun wajahnya masih saja nampak tegang.

Tetapi dengan demikian, keduanya yakin bahwa Perguruan Watu Kuning harus memukul Tanah Perdikan itu dengan kekerasan, karena mereka yakin bahwa Risang tidak akan mau membicarakan kemungkinan untuk mencari pemecahan atas masalah yang dikemukakan oleh Perguruan Watu Kuning.

Sementara itu, sepeninggal kedua orang yang mengaku datang dari Perguruan Watu Kuning itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah dipanggil Risang. Bahkan juga Gandar dan beberapa orang bebahu Tanah Perdikan itu.

Kepada mereka Risang menceriterakan apa yang baru saja terjadi. Bahkan Risang juga memperingatkan apa yang pernah terjadi sebelumnya di Tanah Perdikan itu, ketika dua orang yang mengaku bernama Nagawana dan Nagawereng datang dan terjadi benturan kekerasan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Risang. Lalu katanya pula, “Aku tahu. Mereka mempergunakan saat Pajang sedang dibayangi oleh mendung yang kelabu. Pangeran Benawa baru saja meninggal, sementara kemelut dengan Madiun masih belum dapat diatasi sampai tuntas. Mereka menganggap bahwa selama ini Tanah Perdikan Sembojan selalu menggantungkan diri pada perlindungan Pajang. Sehingga saat Pajang sedang kalut, maka Tanah Perdikan ini tidak mendapat perlindungan dari siapapun.”

“Pajang memang tidak akan sempat membantu kita sekarang ini,” sahut ibunya, “karena itu, maka kita harus benar-benar berpijak pada kekuatan dan kemampuan kita sendiri.”

Mereka yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk kecil. Mereka menyadari, bahwa bahaya memang sedang mengancam Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, maka Risang pun kemudian telah memerintahkan bebahu untuk memanggil semua Demang dan Bekel di keesokan harinya. Risang akan berbicara langsung dengan mereka tentang ancaman yang bakal datang atas Tanah Perdikan mereka itu.

Sebenarnyalah maka semua Demang dan Bekel telah datang di keesokan harinya. Risang pun kemudian telah memberikan keterangan dan penjelasan sikap apakah yang harus diambil oleh seisi Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Waktunya memang terlalu sempit. Sepekan lagi pemimpin Perguruan Watu Kuning itu akan datang ke Tanah Perdikan ini. Kemudian, kita dapat memperhitungkan apa yang bakal terjadi. Nampaknya mereka sudah bertekad bulat untuk mengambil alih Tanah Perdikan ini apapun alasannya. Agaknya alasan mereka itu sengaja dicari-cari sekedar untuk menimbulkan persoalan sehingga terjadi perselisihan,” berkata Risang kepada para Demang dan para Bekel. Lalu katanya pula, “Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atas tanah Perdikan ini. Aku sudah berkata kepada kedua orang yang datang itu, bahwa harga Tanah Perdikan ini sama dengan harga diriku sendiri. Maksudku, bukan diriku secara pribadi. Tetapi diriku sebagai rakyat Tanah Perdikan ini. Dengan demikian maka juga semua pribadi yang merasa dirinya keluarga Tanah Perdikan ini.”

Ternyata para Demang dan para Bekel telah menunjukkan sikap mereka sesuai dengan sikap Kepala Tanah Perdikan mereka yang muda itu. Seorang Demang berkata, “Orang-orang Kademangan kami masih dilandasi ungkapan kebanggaan mereka atas hadirnya seorang Kepala Tanah Perdikan. Gelora jiwa mereka saat-saat mereka membuat keramaian masih memanasi darah mereka, sehingga jika mereka mendengar bahaya yang mengancam Tanah Perdikan ini, maka sudah tentu maka darah mereka yang masih hangat itu akan kembali bergelora meskipun dengan sasaran yang berbeda.”

“Terima kasih,” sahut Risang, “aku harapkan, bahwa setiap jengkal tanah di Tanah Perdikan ini kita pertahankan sampai batas kemungkinan terakhir,” berkata Risang. Lalu katanya, “Selama ini kita telah mengalami ancaman serupa beberapa kali. Bahkan dari Pajang sendiri. Namun kita sampai saat ini masih tetap berpijak pada kecintaan kita kepada Tanah ini. Yang Maha Agung akan selalu melindungi kita. Karena Tanah ini adalah Tanah yang memang dikurniakan kepada kita.”

Jiwa para Demang dan Bekel pun bergelora seperti gelora kata Risang. Mereka berjanji didalam hati, bahwa mereka akan melakukan perintah Risang itu dengan sebaik-baiknya sejauh dapat mereka lakukan.

Demikianlah, ketika para Demang dan para Bekel itu kembali ketempat tinggal mereka masing-masing, maka mereka pun segera pula mengumpulkan para bebahu Kademangan dan Padukuhan untuk menyampaikan perintah Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu Risang dan ibunya telah mengadakan pertemuan pula dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Mereka ingin mendapat pertimbangan dari mereka, apakah yang sebaiknya mereka lakukan.

“Apakah tidak sebaiknya kita memberikan laporan kepada Ki Rangga Kalokapraja?” desis Kiai Badra.

“Aku kira memang ada baiknya,” sahut Kiai Soka, “Bukankah Ki Rangga Kalokapraja termasuk salah seorang pejabat di Pajang yang bertugas menjadi penghubung dengan Tanah-tanah Perdikan yang ada?”

“Aku sependapat,” sahut Nyi Wiradana, “jika terjadi sesuatu atas Tanah Perdikan ini, Pajang sudah mengetahuinya. Atau jika kita harus mempergunakan kekerasan, maka kita tidak dianggap bersalah.”

“Baiklah,” jawab Risang, “masih ada waktu. Besok aku akan pergi ke Pajang” jawab Risang.

“Tetapi kali ini sebaiknya kau tidak pergi sendiri” pesan Nyi Wiradana kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menolak, karena ia menyadari bahwa nampaknya Padepokan Watu Kuning itu tidak sedang bermain-main.

Karena itu, maka ia pun bertanya, “Dengan siapakah sebaiknya aku pergi ke Pajang?”

“Kau dapat mengajak kedua pamanmu, Sambi Wulung dan Jati Wulung,” jawab ibunya, “biarlah Gandar dan Bibi menemani aku dirumah disamping kakek dan nenek.”

“Baiklah,” sahut Risang, “besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali. Kami berharap bahwa sebelum tengah malam kami sudah berada di Tanah Perdikan ini kembali.”

Demikianlah, seperti yang direncanakan, maka didini hari berikutnya, Risang telah berangkat menuju ke Pajang bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Sebelum matahari terbit mereka telah berpacu meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka berharap bahwa mereka akan sampai di Pajang sebelum Ki Rangga Kalokapraja pergi ke tempat tugasnya, meskipun jika demikian, mereka akan dapat menyusulnya. Tetapi Risang merasa lebih baik untuk berbicara dirumah Ki Rangga.

Meskipun matahari masih belum terbit, tetapi nampak langit cerah. Tiga ekor kuda berlari dalam keremangan dini hari menembus udara yang masih terasa dingin. Embun masih menggelantung diujung dedaunan yang bagaikan masih tidur nyenyak.

Tetapi sejenak kemudian, maka burung pun mulai berkicau. Suaranya nyaring menggetarkan udara pagi. Seakan-akan memanggil membangun batang-batang padi yang merunduk dalam kepulasan tidur.

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meninggalkan Tanah Perdikan. Ketika langit di Timur mulai menjadi merah, maka perbatasan Tanah Perdikan pun telah mereka lampaui.

Disepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara. Risang lebih banyak merenungi niat Padepokan Watu Kuning untuk mengambil setidak-tidaknya sebagian dari bumi Tanah Perdikannya. Bagi Risang, maka itu sama saja dengan gaung gentha perang yang mengumandang di seluruh Tanah Perdikannya.

Tetapi ternyata bahwa perjalanan Risang itu telah terganggu. Mereka mendengar derap kaki kuda berpacu menyusul perjalanan mereka. Tidak hanya tiga, tetapi lima ekor kuda.

Risang menoleh. Diantara Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melarikan kudanya dibelakang Risang, ia melihat dalam keremangan pagi beberapa orang berkuda berpacu searah dengan perjalanannya membelakangi cahaya fajar yang mulai mewarnai langit.

“Siapakah mereka?” desis Risang.

Sambi Wulung pun menggeleng sambil menjawab, “Aku belum tahu.”

Risang tidak bertanya lebih jauh. Tetapi ia pun menepi sambil memperlambat lari kudanya. Risang ingin memberi kesempatan kepada orang-orang berkuda itu yang nampaknya juga tergesa-gesa agar mendahului perjalananya.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, kelima orang penunggang kuda itu telah berpacu mendahului Risang. Sekilas Risang melihat bahwa kelima orang itu adalah orang-orang yang bertubuh tinggi, kekar dan berwajah keras. Mereka membawa berbagai macam senjata. Ada yang membawa tombak yang digantungkan dipunggungnya. Ada yang membawa pedang. Bahkan ada yang membawa kapak yang cukup besar.

Sekilas Risang dapat menduga bahwa mereka bukan orang baik-baik. Bukan saja ujud mereka, tetapi juga sikap mereka yang nampak kasar meskipun mereka berpakaian cukup baik.

Tetapi Risang tidak begitu menghiraukan mereka. Apalagi ketika kelima orang penunggang kuda itu berpacu terus tanpa berpaling lagi. Untuk beberapa lamanya Risang yang juga ingin cepat sampai di Pajang itu melarikan kudanya dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari kelima orang berkuda yang mendahuluinya itu. Bahkan karena kecepatan kuda mereka tidak berbeda, jaraknya pun seakan-akan terpelihara.

Namun Risang sama sekali tidak menduga, bahwa kelima orang itu pun tiba-tiba telah menghentikan kuda mereka ketika mereka sampai disebuah simpang ampat.

Risang memang terkejut. Hampir saja ia kehilangan penguasaan atas kudanya. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Untunglah bahwa mereka benar-benar menguasai kuda mereka, sehingga kuda-kuda itu berhenti tepat pada waktunya. Bahkan kuda Risang pun telah berdiri diatas kaki belakangnya sambil meringkik keras. Tetapi Kisang pun kemudian telah mengelus leher kudanya sehingga kudanya menjadi tenang kembali.

Kelima orang berkuda yang masih duduk dipunggung kudanya itu telah memutar kudanya menghadap kearah Risang dan kedua orang yang menyertainya. Seorang yang membawa tombak tergantung dipunggungnya, yang agaknya adalah pemimpin mereka, berkata dengan lantang, “Ki Sanak. Kenapa kalian mengikuti kami?”

Risang menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Dengan nada tinggi Risang menjawab, “Ki Sanak? Bukankah kalian yang telah mendahului kami sehingga perjalanan kami yang searah ini telah menempatkan kami dibelakang Ki Sanak berlima? Bukankah dengan demikian kalian tidak dapat menuduh kami mengikuti Ki Sanak berlima?”

“Bukankah kalian dapat mengambil jalan lain?” bertanya orang bertombak itu pula, “kami sudah bersabar menunggu sampai kami melewati dua jalan simpang. Kami berharap bahwa kalian akan berbelok di salah satu jalan simpang itu. Tetapi ternyata tidak. Ternyata Ki Sanak masih saja mengikuti kami. Karena itu. kami berhenti disimpang ampat ini. Kami ingin memperingatkan kepada Ki Sanak bertiga, agar mengambil jalan lain dari jalan yang akan kami lalui.”

“Ki Sanak memang aneh,” sahut Risang, “aku tidak tahu Ki Sanak akan pergi ke mana. Tetapi ketahuilah, bahwa kami akan menuju ke Pajang, sehingga kami akan menempuh jalan yang lurus kedepan.”

“Ki Sanak tidak dapat berjalan lurus. Kami akan berjalan lurus kedepan. Kami persilahkan Ki Sanak mengambil jalan lain. Ada dua jalur jalan yang lain yang dapat Ki Sanak lalui.”

“Tetapi kami akan pergi ke Pajang,” jawab Risang jalan terdekat adalah jalan lurus dihadapan kita.”

“Sekali lagi aku peringatkan. Jangan melalui jalan yang akan kami lalui” berkata orang itu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjadi curiga terhadap sikap kelima orang itu. Sikap mereka benar-benar tidak masuk akal. Karena itu, maka Risang pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Bukankah jalan itu memang disediakan bagi siapapun. Apakah jika kami lewat melalui jalan itu pula, kami akan mengganggu perjalanan kalian berlima?”

“Tentu,” jawab orang yang membawa tombak itu, “kami merasa tidak enak diikuti oleh tiga orang berkuda dibelakang kami. Kalian tentu mengamat-amati apa yang akan kami lakukan. Terus terang, kalian akan dapat mengganggu tugas kami atau bahkan kalian akan dapat menjadi saksi dari perbuatan kami.”

“Apakah yang akan kalian lakukan?” bertanya Risang.

“Itu bukan urusanmu. Karena itu, pilihlah jalan yang lain. Jangan jalan yang lurus dihadapan kita ini.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya sangat mengejutkan. Sambi Wulung dan Jati Wulung pun terkejut mendengarnya. Bahkan kelima orang itu pun terkejut pula. Dengan nada rendah dan mengalah Risang berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kalian tidak mengijinkan kami meneruskan perjalanan lewat jalan lurus didepan kami karena kami dapat mengganggu kalian berlima, biarlah kami mengambil jalan kekanan. Kami akan menempuh jalan sedikit jauh. Tetapi perbedaan jarak itu tidak seberapa. Kami memang harus segera sampai di Pajang. Ada persoalan penting yang harus kami sampaikan kepada para pejabat di Pajang atau bahkan para Senapati.”

Wajah orang itu berkerut. Kelima orang itu saling berpandangan sejenak. Orang yang membawa tombak itu kemudian bertanya, “Untuk apa sebenarnya kalian pergi ke Pajang?”

“Itu persoalan kami Ki Sanak” jawab Risang.

“Bukankah kalian orang-orang Tanah Perdikan Sembojan?” orang yang membawa tombak itu agaknya ingin meyakinkan.

“Dari mana kau tahu?” Risang ganti bertanya.

“Kalian melintasi perbatasan Tanah Perdikan ketika kami mulai menyusul kalian” jawab orang itu.

“Ya. Kami orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Kami ingin pergi ke Pajang,” jawab Risang. Lalu katanya, “Karena kami tidak kalian perbolehkan lewat jalan terdekat, maka biarlah kami menempuh jalan yang sedikit memutar.”

Kelima orang itu nampak menjadi bingung. Sementara Risang berkata, “Selamat jalan Ki Sanak. Jika kalian juga akan pergi ke Pajang, maka kita akan dapat bertemu lagi.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengerti kenapa tiba-tiba Risang dapat begitu saja mengalah. Keduanya berpendapat bahwa Risang ingin segera sampai ke Pajang, sehingga ia berusaha untuk menghindari perselisihan. Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung mengetahui bahwa jalan yang akan ditempuh memang menjadi agak jauh. Bahkan beberapa ratus patok lagi, mereka harus menyeberangi sebuah sungai, kemudian sedikit memanjat bukit. Baru kemudian turun lagi. Tetapi jalan itu akan bertemu kembali dengan jalan yang lurus itu.

Meskipun demikian, baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung tidak ingin mempersoalkannya. Mereka mendapat perintah menyertai Risang. Tidak menolak kebijaksanaan yang diambilnya.

Tetapi sekali lagi Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut ketika orang yang membawa tombak itu berkata, “Ki Sanak. Sebaiknya Ki Sanak juga tidak mengambil jalan itu.”

Risang mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa? Bukankah aku sudah menuruti kehendak kalian, aku tidak mengambil jalan lurus itu. Bukankah kalian juga yang menawarkan agar aku berbelok kekanan atau kekiri?”

“Sebaiknya juga tidak kekanan,” suara orang itu menjadi berat. Bahkan ketika Risang akan bertanya lagi orang itu membentak, “Kau tidak boleh mengambil jalan lurus atau pun kekanan.”

“Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Bagaimana jika aku mengambil jalan kekiri. Meskipun jalan kekiri lebih buruk dari jalan kekanan, tetapi aku dapat mengambil jalan pintas, lewat lorong-lorong kecil.”

“Tidak. Dengar kata-kataku, kalian tidak boleh pergi ke Pajang” orang yang membawa tombak itu hampir berteriak.

Ketika Risang kemudian tertawa, barulah Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari kebodohan mereka. Tiba-tiba saja keduanya pun ikut tertawa. Mereka baru mengerti, bahwa Risang sama sekali tidak ingin mengalah. Tetapi ia ingin meyakinkan, dengan siapa ia berhadapan.

Risang berhenti tertawa ketika orang yang membawa tombak itu membentak, “Kenapa kau tertawa, he?”

“Kau memang menggelikan Ki Sanak,” jawab Risang, “kau sendiri yang menawarkan agar aku memilih jalan. Tetapi kemudian kalian juga melarang pilihan kami. Bahkan akhirnya kalian melarang kami pergi ke Pajang, apakah hak kalian untuk melarang kami?”

“Aku tidak perduli akan hak. Berhak atau tidak, tetapi kami tidak akan membiarkan orang-orang Tanah Perdikan pergi ke Pajang apalagi menemui para pejabat dan para Senapati” bentak orang itu pula.

Risang mengangguk-angguk kecil. Dengan nada berat ia berkata, “Kalian tidak usah mengelak. Bukankah kalian orang-orang dari padepokan yang disebut Padepokan Watu Kuning?”

Wajah orang itu menjadi tegang. Orang yang membawa tombak itu bertanya, “Dari mana kau tahu?”

“Sikap dan perbuatan kalian” jawab Risang.

“Persetan. Meskipun kalian mengenal kami, namun hal itu sama sekali tidak akan berpengaruh sama sekali. Tetapi sebelum kalian mati, siapakah nama kalian?” bertanya orang yang membawa tombak itu.

“Namaku Werdi,” jawab Risang sebenarnya, “kedua orang pamanku ini bernama Kerta dan Weru.”

“Setan kau anak muda,” geram orang itu, “aku tahu itu bukan nama kalian. Tentu kau sudah menyebut nama apa saja seperti orang mengigau. Tetapi sebentar lagi kalian akan mati. Orang-orang Tanah Perdikan tidak akan pernah melihatmu lagi. Apalagi mendengar ceriteramu bahwa perjalanan kalian telah dihentikan oleh orang-orang dari Padepokan Watu Kuning.”

“Ki Sanak,” berkata Risang kemudian, “sebenarnya apakah keberatan kalian jika kami melanjutkan perjalanan kami ke Pajang. Bukankah hal itu tidak akan mengganggu Padepokanmu?”

“Aku tidak peduli mengganggu atau tidak mengganggu. Tetapi tidak seorang pun dari Tanah Perdikan Sembojan boleh berhubungan dengan Pajang” jawab orang yang membawa tombak itu.

Risang mengangguk-angguk pula. Ia pun dapat mengurai sikap orang-orang Padepokan Watu Kuning. Meskipun orang-orang Padepokan Watu Kuning sudah memilih saat yang paling baik sepeninggal Pangeran Benawa sementara hubungan antara Pajang dan Madiun menjadi semakin tajam, sehingga pada saat-saat berkabung Pajang tidak akan mungkin melibatkan diri membantu Tanah Perdikan Sembojan justru karena Pajang sendiri tentu bersiaga sepenuhnya manghadapi kemungkinan buruk yang mungkin ditimbulkan oleh Madiun, namun Padepokan Watu Kuning masih berusaha mencegah kemungkinan lain yang dapat terjadi jika Tanah Perdikan Sembojan menghubungi Pajang.

Karena itulah maka lintasan antara Tanah Perdikan dan Pajang telah ditutup.

Dalam pada itu, maka Risang pun kemudian berkata, “Sebenarnya aku masih memikirkan kemungkinan lain. Jika Ki Sanak tidak memperbolehkan kami pergi ke Pajang, maka kami akan kembali dan melaporkan hal ini kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tidak anak muda. Ternyata kau adalah anak muda yang keras kepala. Jika kau lepas dari tangan kami, maka kau tentu benar-benar akan sampai ke Pajang lewat jalan yang manapun.”

Tetapi Risang menjawab, “Baiklah, jika demikian, maka kami pun harus memilih cara yang terbaik untuk menyelamatkan jiwa kami, karena kami tidak akan dengan suka rela menyerahkannya kepada kalian.”

Orang yang membawa tombak itu agaknya tidak ingin berbicara berkepanjangan. Sekali-sekali ia melihat keempat arah jalan simpang ampat itu untuk melihat apakah ada orang yang lewat. Tetapi agaknya jalan bulak panjang itu memang sepi. Tidak banyak orang yang melewatinya.

Karena itu, maka orang yang membawa tombak itu pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Kita selesaikan saja ketiga orang ini. Kita kuburkan mayatnya di tengah-tengah simpang ampat ini. Justru tidak akan ada orang yang menemukannya. Kudanya dapat kita bawa untuk menambah jumlah kuda di padepokan.”

Kelima orang itu pun dengan cepat berloncatan turun. Agaknya mereka tidak ingin bertempur diatas punggung kuda mereka, karena tempat yang tidak memungkinkan.

Risang pun segera memberi isyarat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ketika kelima orang yang mencegat perjalanan mereka itu menambatkan kuda-kuda mereka, maka Risang pun telah melakukan hal yang sama.

Sejenak kemudian, maka kedua belah pihak pun telah saling berhadapan. Risang bertiga menghadapi lima orang yang mencegat perjalanan mereka.

Nampaknya kelima orang itu ingin dengan cepat menyelesaikan tugas mereka. Karena itu, maka mereka pun segera menarik senjata mereka masing-masing.

Namun dengan demikian Risang menyadari bahwa kelima orang itu benar-benar ingin membunuh mereka bertiga, sehingga karena itu, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun benar-benar telah bersiap menghadapi pertempuran yang keras. Sementara itu mereka bertiga masih belum mengetahui tataran kemampuan kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu.

Sebenarnyalah orang yang membawa tombak itu telah meneriakkan perintah kepada kawan-kawannya untuk segera menyelesaikan tugas mereka itu. Sambil memutar tombaknya terdengar perintahnya, “Cepat kita selesaikan orang-orang itu dan kita kuburkan di simpang ampat ini.”

Kelima orang itu pun segera berpencar. Mereka berdiri disegala arah menghadapi ketiga orang itu.

Dalam pada itu, Risang pun telah menggenggam pedangnya. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bertiga mereka bersiap menghadapi lima orang yang telah mengepungnya.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka orang yang bersenjata tombak itu pun mulai menjulurkan tombaknya kearah dada Risang. Belum begitu berbahaya, sementara Risang cukup bergeser selangkah kesamping. Sementara itu, sebuah kapak pun telah terayun deras mengarah ke pundak Sambi Wulung. Namun dengan cepat Sambi Wulung telah memiringkan tubuhnya, sehingga kapak itu terayun sejengkal disisinya.

Orang yang bersenjata tombak itu mengerutkan dahinya. Melihat bagaimana ketiga orang itu dengan tenang menghadapi mereka berlima, maka orang bersenjata tombak itu menyadari, bahwa ketiga orang itu tentu orang-orang yang berilmu.

Dengan demikian, maka mereka berlima harus berhati-hati. Menurut pendengaran kelima orang itu, di Tanah Perdikan Sembojan memang terdapat beberapa orang yang berilmu tinggi.

Demikianlah sejenak kemudian, maka delapan orang telah berloncatan disimpang ampat bulak panjang itu, namun tidak ada orang yang menyaksikannya. Para petani pun nampaknya belum tergesa-gesa turun kesawah karena matahari baru saja terbit. Apalagi nampaknya tanaman padi di sawah sudah nampak tumbuh subur sedangkan tanah masih basah.

Orang yang bersenjata tombak itu ternyata memiliki ketangkasan yang tinggi sehingga ujung tombaknya berputaran dengan cepat sekali. Sedangkan orang yang bersenjata kapak itu pun nampak menjadi sangat berbahaya. Orang itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar. Kapaknya terayun-ayun bagaikan sebatang lidi meskipun kapaknya adalah kapak yang besar dan terbuat dari baja pilihan. Selain tombak dan kapak, maka pedang pun berputaran, sehingga desing anginnya menyambar-nyambar menerpa kulit.

Tetapi Risang pun cukup tangkas. Anak muda itu berloncatan seperti anak kijang direrumputan. Kakinya yang bergerak ringan seakan-akan tidak menyentuh tanah.

Risang yang telah dipersiapkan dengan masak untuk menerima ilmu Janget Kinatelon itu memiliki bekal yang cukup untuk melawan orang-orang yang mengaku dari Padepokan Watu Kuning itu.

Apalagi Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berilmu tinggi. Mereka sama sekali tidak menjadi bingung. Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mulai dengan gerakan yang dapat mengganggu pemusatan perhatian lawannya. Berdua mereka mulai dengan putaran perlahan-lahan. Sementara Sambi Wulung berbisik di telinga Risang, “Sesuaikan dirimu. Kami akan berputar.”

Risang yang telah memiliki dasar yang lengkap dalam olah kanuragan segera tanggap. Ia pun mulai bergerak perlahan-lahan dalam satu putaran. Dengan gerak berputar mereka telah berganti-ganti lawan.

Ternyata gerak berputar itu untuk beberapa saat telah membingungkan kelima orang dari Padepokan Watu Kuning. Namun kemudian perlahan-lahan mereka pun dapat menyesuaikan dirinya. Meskipun mereka tidak ikut berputar, tetapi setiap orang akan menyambut serangan yang datang dari siapapun diantara ketiga orang lawannya itu.

Namun demikian, selagi mereka bertempur dengan sengitnya, terdengar Sambi Wulung berkata, “He Ki Sanak. Agaknya kalian memang datang dari Padepokan Watu Kuning. Tetapi agak aneh bahwa jika kalian murid-murid perguruan Watu Kuning, maka landasan dasar ilmu kalian sama sekali tidak menunjukkan bahwa kalian datang dari satu perguruan.”

Kelima orang itu tidak segera menjawab. Pertempuran itu justru menjadi semakin sengit? Kapak yang besar itu terayun-ayun mengerikan, sementara ujung tombak yang berputar itu sekali-sekali mematuk menjangkau kearah jantung salah seorang yang berada dalam kepungan itu.

Baru sesaat kemudian orang yang bersenjata tombak itu menjawab, “Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat picik dalam olah kanuragan. Kalian tidak dapat melihat landasan dasar kemampuan seseorang pada sifat dan watak ilmunya. Yang kalian lihat hanyalah sekedar gelar yang sudah dikembangkan oleh setiap pribadi sesuai dengan kepribadian masing-masing.”

Tetapi Sambi Wulung justru tertawa. Tetapi ia harus bergeser selangkah ketika kapak yang besar itu terayun mengarah ke ubun-ubunnya. Dengan cepat Sambi Wulung memberikan serangan balasan. Hampir saja Sambi Wulung berhasil mengoyak dada lawannya. Namun lawannya sempat meloncat surut, meskipun ujung pedang sambi Wulung sempat menyentuh dan menggores tipis kulit dada lawannya yang membawa kapak itu.

Terdengar orang itu mengumpat. Tetapi Sambi Wulung telah bergeser. Orang yang berkapak itu terkejut ketika tiba-tiba serangan datang bukan dari Sambi Wulung, tetapi serangan yang cepat datang dari Jati Wulung. Orang itu sekali lagi meloncat mundur. Dengan kasarnya ia mengumpat. Sementara kawannya yang bersenjata pedang berusaha untuk menolongnya. Pedangnya terayun mendatar menebas leher Jati Wulung. Tetapi Jati Wulung sempat merendahkan diri, justru sambil menjulurkan pedangnya kearah lambung.

Orang yang bersenjata pedang itu berdesis sambil menyeringai menahan pedih yang menyengat. Ternyata ujung pedang Jati Wulung mampu menggapai lambung orang berpedang itu meskipun hanya seujung duri. Tetapi dari lambung itu telah mengembun darah.

Orang berpedang itu pun mengumpat pula. Sengatan rasa pedih itu telah membuat darahnya menggelegak sampai ke tenggorokan.

Dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Kelima orang itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk segera mengakhiri perlawanan ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu.

Tetapi ternyata bahwa tidak mudah untuk dapat mengalahkan ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu. Ketiganya memiliki ilmu yang tinggi serta kecepatan gerak yang mendebarkan. Serangan-serangan yang datang dari kelima orang itu bagaikan menebas angin. Demikian tangkasnya Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung menghindari serangan-serangan lawannya dan bahkan demikian cepatnya mereka berganti menyerang dalam putaran yang semakin lama semakin cepat, telah membuat kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu menjadi semakin gelisah.

Telah beberapa lama mereka bertempur. Tetapi senjata mereka sama sekali tidak dapat menyentuh ketiga orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Bahkan satu demi satu kelima orang Padepokan Watu Kuning itu telah tersentuh senjata. Orang yang bersenjata kapak yang besar itu pun telah terluka pula dilengannya ketika orang itu dengan sekuat tenaga mengayunkan kapaknya kearah kepala Risang. Jika mata kapak itu sempat menyentuh sasaran, maka kepala Risang memang akan dapat terbelah.

Tetapi Risang tidak membiarkan kapak itu mengenai kepalanya. Ia pun tidak berniat untuk mengadu tenaga, karena Risang sadar, orang berkapak itu memiliki kekuatan yang sangat besar.

Dengan tangkasnya Risang melenting melampaui kecepatan ayunan kapak itu. Bahkan sambil menggeliat Risang telah menyerang dengan tebasan mendatar.

Ternyata pedang Risang telah mengoyak lengan orang berkapak yang dadanya telah dilukai oleh Sambi wulung.

Orang bersenjata kapak itu berteriak marah sekali. Matanya menjadi merah dan giginya gemeretak.

Namun teriakannya itu disambut oleh desah perlahan kawannya yang membawa tombak. Jati Wulung sempat menangkis tombak yang mengarah kelambungnya. Dengan satu putaran ujung tombak itu bergeser jauh dari sasarannya. Sementara pedang Jati Wulung berputar menikam kearah jantung. Tetapi orang bertombak itu menggeliat. Meskipun demikian ujung pedang Jati Wulung sempat menyusulnya meskipun hanya mengenai pundaknya.

Seorang demi seorang kelima orang itu telah dikenai ujung-ujung senjata dari ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu. Bahkan orang yang bersenjata kapak itu mulai kelihatan letih. Bukan saja karena ia telah mengerahkan senjatanya yang berat, tetapi juga karena dari beberapa luka ditubuhnya, darah masih saja mengalir. Bahkan menjadi semakin deras. Orang yang bersenjata tombak, yang nampaknya memimpin kawan-kawannya yang lain menjadi sangat marah. Ia dengan mengerahkan segenap kemampuannya berusaha untuk benar-benar membunuh lawan-lawannya. Tetapi ternyata usahanya masih saja sia-sia. Meskipun ujung tombaknya berputar dengan cepat, namun ternyata bahwa ketiga orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu mampu bergerak secepat gerakan ujung tombaknya itu.

Semakin lama maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak benar-benar telah berniat mengakhiri pertempuran itu. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang bergerak dalam putaran itu memang menjadi jemu untuk bertempur lebih lama lagi. Karena itulah, maka keduanya pun telah meningkatkan kemampuannya sehingga kelima orang lawannya itu menjadi semakin terdesak. Ujung-ujung senjata bukan saja Sambi Wulung dan Jati Wulung, namun juga ujung pedang Risang telah menyentuh tubuh lawan-lawannya semakin sering.

Ternyata kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu harus mengakui kelebihan ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan. Semakin tinggi matahari, maka keringat pun menjadi semakin banyak mengalir. Luka-luka ditubuh keempat orang itu semakin terasa pedih.

Ketiga orang Tanah Perdikan Sembojan itu justru menjadi semakin garang. Senjata mereka bergerak semakin cepat sehingga kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu benar-benar merasa tidak akan mampu mengalahkan mereka. Luka-luka mereka justru menjadi semakin banyak. Apalagi ketika ketiga orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu merasa bahwa mereka telah terlalu lama bertempur disimpang ampat itu.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari orang-orang Padepokan Watu Kuning itu daripada meninggalkan medan.

Demikianlah maka sejenak kemudian telah terdengar isyarat dari orang yang bersenjata tombak itu. Bergegas kelima orang itu menarik diri dari medan. Mula-mula mereka saling merapat. Meskipun mereka masih melawan, tetapi mereka sudah mengambil ancang-ancang.

Risang sadar, bahwa kelima orang itu akan melarikan diri. Karena itu, maka Risang pun berdesis, “jangan beri kesempatan mereka menempuh jalan lain kecuali jalan lurus ke Pajang. Kita memang tidak akan membunuh mereka. Tetapi biarlah mereka menempuh perjalanan yang agak panjang.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tanggap akan maksud Risang. Karena itu, maka mereka memang tidak mengejar orang-orang yang berusaha melarikan diri itu. Dengan tangkas Sambi Wulung, Jati Wulung dan Risang segera berdiri di ketiga simpang jalan untuk mencegah agar kelima orang itu menempuh satu-satunya jalan yang terbuka, justru jalan terdekat menuju ke Pajang.

Kelima orang itu memang dengan cepat berhasil meloncat kepunggung kudanya. Tetapi mereka memang tidak dapat memilih jalan. Ketiga simpangan jalan itu telah dijaga dengan senjata yang teracu. Jika mereka berusaha untuk menerobos dengan memacu kudanya, maka lambung mereka akan dapat dikoyak oleh ujung pedang dari orang-orang yang berilmu tinggi itu.

Karena itu, maka mereka tidak mempunyai pilihan lain. Apalagi mereka memang tidak mempunyai banyak kesempatan untuk berpikir. Dengan demikian maka sejenak kemudian kelima orang itu telah berpacu melalui jalan yang langsung menuju ke Pajang.

Demikian kelima orang itu memasuki mulut jalan dan melarikan kuda mereka, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah berlari kekuda mereka. Dengan cepat mereka pun meloncat dan sejenak kemudian ketiga ekor kuda itu telah berlari seakan-akan memburu kelima orang yang lebih dahulu memacu kudanya.

Bagaimanapun juga luka-luka pada kelima orang itu telah berpengaruh atas kecepatan berpacu kuda-kuda mereka. Karena itu, maka sejenak kemudian Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah berhasil mendekati mereka.

“Kita tidak akan menangkap mereka,” berkata Risang, “biarlah mereka kembali ke Padepokan Watu Kuning dan berceritera tentang tugas mereka sambil menunjukkan luka-luka ditubuh mereka,” berkata Risang, “tetapi dengan cara ini mereka akan benar-benar merasakan betapa mereka merasa dirinya semakin kecil. Hal itu akan sangat penting membubui laporan mereka kepada para pemimpin di Padepokan Watu Kuning.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berpacu di sebelah menyebelah Risang agak kebelakang mendengar kata-kata Risang itu. Meskipun tidak seluruhnya tetapi mereka mengerti maksudnya, bahwa Risang masih ingin bermain-main dengan kelima orang dari Padepokan Watu Kuning itu.

Sebenarnyalah orang-orang dari Padepokan Watu Kuning itu berusaha mempercepat derap kuda mereka. Tetapi darah yang mengalir dari tubuh mereka menjadi semakin banyak sehingga tubuh mereka pun menjadi semakin lemah. Sementara itu, jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju ke Pajang.

Tetapi nampaknya orang yang bersenjata tombak itu telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, agar mereka membelok kekanan ketika mereka menjumpai jalan simpang.

Tetapi Risang justru memacu kudanya lebih dekat lagi, sehingga kelima orang itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika kuda Risang kemudian hampir menyusul kuda mereka.

Tetapi jalan simpang itu sudah berada didepan hidung mereka. Dengan cepat orang bersenjata tombak itu telah berusaha memasuki tikungan yang tajam, sementara kudanya berpacu dengan kecepatan sangat tinggi.

Ketika kendali kuda orang bersenjata tombak itu ditarik, maka kudanya pun berusaha untuk berbelok. Tetapi tidak ada kesempatan untuk mengambil arah. Kuda itu dengan serta merta telah berbelok memasuki jalan yang tidak begitu lebar itu.

Ternyata yang tidak dikehendaki itu terjadi. Meskipun orang bersenjata tombak itu adalah seorang yang memiliki kemampuan berkuda, tetapi ketergesa-gesanya serta keadaan wadagnya yang tidak mendukung karena luka-lukanya, maka orang itu telah terpelanting dari kudanya, sementara kudanya juga tergelincir dan jatuh beberapa langkah dari tikungan.

Keadaan itu terjadi dengan tiba-tiba, sehingga kuda-kuda yang berada dibelakangnya tidak mendapat kesempatan untuk berbuat banyak. Apalagi keempat ekor kuda yang lain serta penunggangnya berada dalam keadaan yang sama seperti kuda serta penunggangnya yang bersenjata tombak itu.

Keempat ekor kuda yang berlari di belakangnya telah terantuk tubuh kuda yang terjatuh itu. Dengan demikian maka berurutan keempat ekor kuda itu pun telah terjatuh pula.

Risang memang tidak ingin berbelok mengejar mereka.

Tetapi ketika Risang melihat kelima ekor kuda itu saling menindih, maka ia pun telah memberi isyarat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk berhenti.

Bahkan kemudian mereka bertiga telah kembali beberapa langkah sampai ke simpang tiga itu.

Risang melihat kelima orang penunggangnya telah terpelanting dari kuda-kuda mereka. Namun ketika Risang melihat tiga orang diantara mereka masih sempat bangkit, maka sambil menarik nafas dalam-dalam Risang berkata, “Ternyata masih ada yang dapat mengurusi kawan-kawannya yang agaknya terluka karena mereka terbanting dari punggung kudanya.”

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung memerlukan untuk turun dari kuda dan berjalan mendekati orang-orang yang dengan kesakitan berusaha untuk bangkit itu.

Ketiga orang itu memang menjadi ketakutan. Mereka tidak akan mungkin dapat melarikan diri lagi. Tulang-tulang mereka rasanya telah berpatahan. Sebelumnya, ketika mereka masih tegar, apalagi mereka berlima, tidak dapat memenangkan pertempuran melawan ketiga orang itu. Apalagi setelah mereka hampir kehabisan tenaga dan terbanting jatuh pula sehingga tubuh mereka seakan-akan remuk karenanya.

Tetapi ternyata Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu tidak berbuat sesuatu. Mereka yang mengaku bernama Werdi, Kerta dan Weru itu, memandangi ketiga orang itu dengan wajah yang nampak bersungguh-sungguh. Bahkan terdengar anak muda yang mengaku bernama Werdi itu bertanya, “Bukankah kalian tidak apa-apa?”

Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga ketiga orang yang sudah kehabisan tenaga itu. Namun justru karena itu, maka mereka tidak menjawab sama sekali.

Risang yang melihat bahwa ketiga orang itu masih mungkin berbuat sesuatu bagi kedua orang kawannya yang agaknya pingsan serta kuda-kudanya yang terjatuh dan mungkin ada diantaranya yang menjadi cidera itu pun kemudian berkata, “Bangkitlah dan berusahalah. Jika kalian menyerah, maka kalian akan mati bersama dengan kuda-kuda kalian dan kawan-kawan kalian.”

Ketiganya masih saja berdiam diri. Bahkan sekali-sekali terdengar mereka berdesah menahan sakit.

“Nah,” berkata Risang, “kalian dapat berusaha kembali ke Padepokan Watu Kuning. Kalian dapat melaporkan, bahwa kalian gagal menutup perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Jika kalian ingin, maka kalian dapat membawa kawan yang lebih banyak untuk mencegat kami kembali, karena kami besok akan melalui jalan ini pula.”

Risang memang tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian mengajak Sambi Wulung dan Jati Wulung meneruskan perjalanan mereka. Sementara itu, mereka sempat melihat dua diantara kelima ekor kuda itu sudah dapat bangkit berdiri tanpa pertolongan. Namun yang lain masih juga terbaring meskipun kuda-kuda itu nampaknya masih hidup. Tetapi cacat bagi seekor kuda adalah isyarat bahwa kuda itu tidak akan dapat disembuhkan lagi.

Demikianlah sejenak kemudian, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meneruskan perjalanan, sementara ketiga orang yang masih tetap sadar itu, betapapun sakit tubuhnya berusaha untuk berbuat sesuatu atas kedua orang kawannya yang pingsan.

Dalam pada itu, maka Risang pun meluncur dengan cepat menuju ke Pajang. Mereka telah tertahan beberapa lama, sehingga mereka memang menduga Ki Rangga Kalokapraja tentu sudah berangkat ketempat tugasnya, sehingga dengan demikian maka mereka harus menyusulnya.

Ketika Risang kemudian mendekati regol kota, maka sudah terasa suasana yang berbeda dari suasana sebelumnya, ketika Pangeran Benawa masih memegang pimpinan pemerintahan di Pajang.

Jalan-jalan rasa-rasanya tidak terlalu ramai. Wajah-wajah pun nampak murung. Rasa-rasanya seisi kota Pajang masih saja berkabung sepeninggal Pafngeran Benawa. Bahkan ketika Risang melintasi jalan yang melalui pasar yang biasanya sangat ramai, rasa-rasanya menjadi lengang.

Namun ketika hal itu dikatakan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Sambi Wulung pun menjawab, “Tetapi hari memang sudah agak siang. Mungkin pasar itu memang menjadi lengang atau orang-orang yang berada di pasar sudah menyusut.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, maka mereka bertiga meneruskan perjalanan mereka langsung menuju kerumah Ki Rangga Kalokapraja. Tetapi mereka tidak dapat berpacu terlalu cepat. Meskipun jalan-jalan kota nampak menjadi lebih sepi, namun masih juga terasa cukup banyak orang yang berjalan hilir mudik.

“Jika Ki Rangga sudah tidak ada dirumah, kita akan menyusul ketempat tugasnya. Kita harus dengan cepat menyampaikan persoalan ini dan kembali ke Tanah Perdikan. Nampaknya perang memang sudah dimulai. Kita tidak yakin apakah benar masih ada waktu sepekan.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka tidak menjawab.

Setelah beberapa saat mereka menelusuri jalan-jalan kota, maka mereka pun telah sampai kerumah Ki Rangga Kalokapraja. Meskipun mereka menduga bahwa Ki Rangga telah pergi ketempat tugasnya, namun mereka mencoba juga untuk memasuki halaman dan mendekati pendapa.

Seorang laki-laki yang agaknya seorang pembantu di rumah itu pun telah mendekati mereka sambil bertanya, “Ki Sanak, apakah keperluan Ki Sanak datang kemari?”

“Apakah Ki Rangga sudah pergi bertugas?” bertanya Risang.

“Belum Ki Sanak. Ki Rangga ada dirumah” jawab orang itu.

“O, syukurlah. Kami ingin menghadap Ki Rangga.” berkata Risang kemudian.

“Marilah, silahkan duduk,” berkata orang itu, “biarlah aku menyampaikannya. Tetapi siapakah Ki Sanak bertiga itu?”

“Aku Risang. Dari Tanah Perdikan Sembojan” jawab Risang.

Orang itu mengangguk-angguk. Sekali lagi ia mempersilahkan ketiga orang tamu itu naik kependapa, sementara orang itu kemudian masuk lewat seketeng kelongkangan samping kanan.

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian duduk diatas tikar pandan putih bergaris-garis biru yang terbentang dipendapa. Dengan nada rendah Risang berkata perlahan, “Ternyata Ki Rangga masih ada dirumah. Apakah mungkin Ki Rangga sedang sakit atau ada persoalan lain sehingga Ki Rangga tidak pergi ke tempat tugasnya?”

Sebelum Sambi Wulung dan Jati Wulung menyahut, mereka telah mendengar langkah kaki di belakang dinding gebyok kayu melangkah menuju ke pintu pringgitan.

Sejenak kemudian maka pintu pun berderit. Ki Rangga muncul dari balik pintu sambil tersenyum. Namun wajahnya nampak letih.

Sambil duduk, maka Ki Rangga pun mengucapkan selamat datang kepada ketiga orang tamunya.

“Aku memang tidak pergi hari ini,” berkata Ki Rangga sebelum Risang bertanya, “Tiga hari tiga malam aku bertugas di istana. Sejak Pangeran Benawa wafat, bergantian para pejabat di istana berjaga-jaga. Baru pagi tadi aku selesai bertugas sehingga hari ini aku mendapat kesempatan untuk beristirahat sehari.”

“O, maaf Ki Rangga. Ternyata kami telah mengganggu saat-saat Ki Rangga beristirahat” desis Risang.

“Tidak. Kalian tidak mengganggu. Sejak pagi-pagi demikian aku sampai di rumah, aku langsung tidur. Ketika kalian datang, aku memang sudah bangun.”

Risang mengangguk hormat. Katanya, “Kamilah yang harus minta maaf Ki Rangga.”

“Sudahlah,” berkata Ki Rangga, “tetapi agaknya kedatangan kalian membawa persoalan yang penting. Atau kalian sekedar menengok keselamatanku dan sahabatmu di barak pasukan Ki Tumenggung Jayayuda?”

“Kedatangan kami memang membawa persoalan yang bagi kami cukup penting Ki Rangga” jawab Risang.

“Persoalan apa? Kau baru saja diwisuda. Apakah kau sudah mulai menghadapi persoalan-persoalan yang rumit?”

Risang pun kemudian telah menyampaikan persoalan yang dihadapinya. Bahkan Risang pun kemudian berkata, “Ternyata bahwa perang itu memang sudah dimulai.”

Ki Rangga mengerutkan dahinya. Sementara Risang meneruskan laporannya tentang orang-orang yang mencegatnya di perjalanan karena pemimpin Padepokan Watu Kuning memang ingin menutup perbatasan Tanah Perdikan Sembojan, agar tidak seorang pun yang diperbolehkan keluar dari Tanah Perdikan, apalagi berhubungan dengan Pajang.

Ki Rangga mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian terdengar suaranya agak serak, “Orang-orang itu ternyata memang licik. Mereka agaknya memang sudah memperhitungkan keadaan. Demikian Pangeran Benawa wafat, maka mereka telah mengambil langkah. Sementara hubungan antara Pajang dan Madiun sepeninggal Pangeran Benawa nampak menjadi semakin buruk. Pangeran Timur di Madiun yang bergelar Panembahan Mas itu merasa mempunyai hak pula atas Pajang. Bahkan Pangeran Timur yang keturunan langsung Sultan Trenggana sebagai putra bungsu itu merasa bahwa ia adalah pewaris Demak itu sendiri.”

“Tetapi bukankah Panembahan Mas belum mengambil langkah-langkah tertentu?” bertanya Risang.

“Memang belum,” jawab Ki Rangga Kalokapraja, “tetapi kesiagaan Madiun membuat Pajang harus bersiaga pula justru sepeninggal Pangeran Benawa.”

“Dalam keadaan yang demikian, siapakah yang berwenang memegang pimpinan tertinggi di Pajang sekarang?” bertanya Risang.

“Secara resmi memang belum ditentukan. Tetapi untuk sementara Pangeran Gagak Baning sudah ada disini. Ia mewakili Panembahan Senapati memegang kendali pemerintahan di Pajang.”

“Pangeran Gagak Baning” desis Risang.

“Ya. Pangeran Gagak Baning adalah adik Panembahan Senapati memegang kendali pemerintahan di Pajang.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana menurut Ki Rangga Kalokapraja? Apakah kepemimpinan Pangeran Gagak Baning sama baiknya dengan Pangeran Benawa atau tidak?”

“Sudah tentu bahwa aku tidak akan dapat menilai kepemimpinan Pangeran Gagak Baning dalam waktu yang singkat. Tetapi apa yang aku lihat selama ini, nampaknya Pangeran Gagak Baning berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan kepemimpinan Pangeran Benawa. Maksudku, dalam waktu dekat ini, Pangeran Gagak Baning tidak mengambil sikap yang mengejutkan. Bahkan ia berusaha mengerti apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Benawa, sehingga yang dianggapnya baik, dilanjutkannya dengan penuh tanggung jawab.”

Risang masih saja mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga Kalokapraja mengerti apa yang dipikirkan oleh anak muda itu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Juga tentang kedudukan beberapa Tanah Perdikan yang ada. Aku sudah dipanggilnya untuk memberikan keterangan tentang Tanah Perdikan yang ada itu. Agaknya Pangeran Gagak Baning tidak mempunyai perhatian yang berbeda dari Pangeran Benawa. Maksudku, nampaknya tidak akan timbul perubahan kebijaksanaan, setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat ini.”

Risang termangu-mangu sejenak. Tetapi keterangan itu telah membuat dadanya menjadi lapang. Agaknya ia tidak perlu mencemaskan sikap pemimpin Pajang yang baru atas Tanah Perdikannya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga. Setidak-tidaknya untuk waktu dekat ini.

Dengan demikian maka perhatiannya sepenuhnya dapat ditujukan pada Padepokan Watu Kuning yang berusaha untuk memanfaatkan keadaan.

Sebenarnyalah, Ki Rangga Kalokapraja pun kemudian bertanya dengan nada dalam, “Risang. Bagaimana menurut pendapatmu tentang Padepokan Watu Kuning? Mereka benar-benar licik, justru karena mereka tahu bahwa Pajang tidak akan dapat berbuat banyak sekarang ini. Pangeran Gagak Baning sudah memerintahkan untuk bersiaga sepenuhnya setiap saat. Tidak ada seorang prajaurit dan pemimpin pemerintahan pun yang diijinkan meninggalkan Pajang pada saat ini, karena sewaktu-waktu mereka dapat diperlukan untuk menyelamatkan Pajang. Karena itulah maka aku benar-benar merasa cemas akan perkembangan keadaan di Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ki Rangga,” jawab Risang, “hal ini memang sudah aku perhitungkan. Jika aku menghadap, sebenarnya aku hanya mohon petunjuk, apakah aku diperkenankan mengambil langkah sendiri untuk keselamatan Tanah Perdikan Sembojan. Aku adalah orang baru. Meskipun hal yang sama pernah dilakukan oleh ibu selaku Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, namun aku tidak ingin melakukan kesalahan. Karena itu aku mohon ijin untuk mengambil tindakan sesuai dengan kemampuan yang ada. Bahkan seandainya hal itu akan dapat mempertajam persoalan antara Pajang dari Madiun.”

Ki Rangga Kalokapraja termangu-mangu sejenak. Dengan ragu ia justru bertanya, “Apakah ada kaitannya dengan Madiun?”

“Mudah-mudahan tidak Ki Rangga” jawab Risang.

“Jika ada kaitannya, tentu tidak dengan sepengetahuan Panembahan Madiun. Mungkin satu dua orang pejabat di Kadipaten Madiun yang dapat dipengaruhi oleh orang-orang yang mengaku dari Padepokan Sela Kuning itu” berkata Ki Rangga kemudian.

Risang mengangguk-angguk. Sedangkan Ki Rangga setelah berpikir sejenak telah berkata, “Sebaiknya aku mengirimkan orang untuk mengetahui, apakah Madiun ikut campur atau tidak. Atau orang-orang padepokan Sela Kuning itu saja yang memanfaatkan keadaan. Aku akan mohon ijin untuk mengirimkan satu dua orang saja, karena tidak mungkin sekelompok prajurit. Hal itu tidak akan diijinkan. Mudah-mudahan untuk melepas satu dua orang Pangeran Gagak Baning masih mengijinkan.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Ki Rangga. Kami, seluruh Tanah Perdikan akan berterima kasih sekali jika ada satu atau dua orang yang sempat melihat keadaan dan sekaligus memberikan petunjuk-petunjuk kepada kami, agar kami tidak melakukan kesalahan yang dapat mempersulit kedudukan Pajang dengan Madiun.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun perintah Pangeran Gagak Baning mengatakan bahwa tidak seorang pun dapat meninggalkan tugasnya, namun bukankah yang akan dilakukan di Tanah Perdikan itu juga termasuk tugas seorang prajurit? Aku akan mohon kepada Pangeran Gagak Baning. Sokurlah jika diijinkan Kasadha untuk pergi ke Tanah Perdikan. Bukankah ia seorang yang dekat sekali dengan kau?”

“Syukurlah jika hal itu diijinkan,” sahut Risang dengan serta merta. Lalu katanya, “Kami, di Tanah Perdikan akan berterima kasih sekali.”

“Apakah kau dapat menunggu sampai esok? Jika permohonan ini diijinkan, maka kau akan kembali ke Tanah Perdikan bersama Kasadha” berkata Ki Rangga kemudian.

Namun wajah Risang memancarkan keragu-raguan. Ia sadar, bahwa keadaan sudah menjadi semakin panas di Tanah Perdikan. Kelima orang yang dikalahkannya bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung akan dapat mengadu, sehingga orang-orang Padepokan Sela Kuning akan dapat mengambil langkah-langkah dengan cepat.

Ki Rangga melihat keragu-raguan Risang. Karena itu, maka ia pun berkata, “Agaknya kau memikirkan Tanah, Perdikanmu yang kau tinggalkan. Karena itu, baiklah. Jika kau akan kembali lebih dahulu, biarlah besok Kasadha menyusul. Atau mungkin juga orang lain.”

“Terima kasih Ki Rangga. Kami memang merasa gelisah untuk menunggu sampai esok” jawab Risang.

“Baiklah. Jika demikian, aku tidak akan menahanmu sampai esok. Kau memang harus segera berada di Tanah Perdikanmu lagi. Bahkan secepatnya” berkata Ki Rangga.

Tetapi ketika Risang segera ingin meninggalkan rumah itu, Ki Rangga menahannya. Katanya, “Hanya sebentar. Kalian tentu haus. Bahkan mungkin lapar. Lebih baik kalian menunggu sejenak daripada kalian harus singgah di sebuah kedai.”

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat menolak. Mereka harus menunggu. Tetapi seperti dikatakan oleh Ki Rangga, mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.

Setelah minum dan makan serta beristirahat sejenak, maka ketiganya pun segera minta diri kembali ke Tanah Perdikan. Mereka tidak sempat singgah dibarak Kasadha. Apalagi Ki Rangga sudah menjanjikan untuk menemui dan berbicara dengan Kasadha apabila permohonannya untuk mengirimkan prajurit muda itu diperkenankan.

Demikianlah, maka Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah mohon diri. mereka ingin segera berada ditengah-tengah keluarga Tanah Perdikan Sembojan yang sedang terancam bahaya itu. Bahaya yang sudah mulai terasa menyentuh Tanah Perdikan Sembojan dengan kekerasan.

Tetapi Risang tidak mengambil jalan yang sama sebagaimana saat mereka berangkat. Bertiga mereka berusaha untuk mengambil jalan lain yang meskipun agak melingkar tetapi kemungkinan adanya hambatan jauh lebih kecil. Hal itu dilakukan Risang bukan karena mereka bertiga menjadi, ketakutan. Tetapi mereka memang ingin segera berada di Tanah Perdikan. Apalagi menurut perhitungan, kelima orang itu jika benar-benar ingin mencegatnya tentu akan membawa kawan lebih banyak lagi, sehingga sesuai dengan pertimbangan nalar, maka mereka bertiga akan dapat kehilangan kesempatan untuk sampai di Tanah Perdikan lagi.

Sementara itu matahari pun telah menjadi semakin rendah di ujung Barat. Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung berpacu semakin cepat, apalagi ketika mereka berada dibulak-bulak panjang. Karena jalan agak sempit, maka bertiga mereka berpacu berurutan membelakangi matahari yang mulai menjadi kemerah-merahan.

Selagi Risang bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung berpacu menuju ke Tanah Perdikan Sembojan, maka memenuhi janjinya, Ki Rangga Kalokapraja meskipun masih merasa letih telah berusaha menghadap Pangeran Gagak Baning untuk menyampaikan pesoalan yang berkembang di Tanah Perdikan Sembojan serta mohon perkenan Kasadha untuk pergi melihat keadaan di Tanah Perdikan itu.

Mendengar nama Padepokan Watu Kuning, Pangeran Gagak Baning terkejut. Ketika Pangeran Gagak Baning masih seorang anak muda yang sedang menempa diri, maka ia memang pernah mendengar nama Padepokan Watu Kuning. Kemudian beberapa tahun kemudian, dalam perjalanan pengembaraannya untuk mematangkan ilmu yang dimilikinya, Pangeran Gagak Baning kembali bertemu dengan nama Padepokan Watu Kuning.

“Sebuah padepokan yang terhitung memiliki kekuatan yang besar” berkata Pangeran Gagak Baning.

“Padepokan itulah yang mengancam Tanah Perdikan Sembojan, Pangeran” desis Ki Rangga Kalokapraja.

“Menurut pendengaranku, padepokan itu memiliki jumlah cantrik yang terhitung banyak. Yang berbahaya adalah, bahwa banyak orang berilmu tinggi yang bergabung dengan Padepokan Watu Kuning karena padepokan itu mampu menjanjikan kenikmatan duniawi kepada orang-orang itu. Padepokan Watu Kuning yang dihuni oleh Perguruan Watu Kuning itu memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh orang-orang berilmu tinggi. Namun sudah tentu, bahwa apa yang diberikan itu berasal dari sumber yang tidak sewajarnya,” berkata Pangeran Gagak Baning. Namun kemudian katanya, “Agaknya para pemimpin padepokan itu memang licik. Mereka sadar sepenuhnya bahwa Pajang sedang berjaga-jaga menghadapi kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh Madiun. Dengan demikian maka orang-orang Watu Kuning memperhitungkan bahwa Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mampu menghadapi kekuatan Watu Kuning tanpa bantuan Pajang.”

“Benar Pangeran,” jawab Ki Rangga Kalokapraja, “tetapi apakah Pajang memang tidak dapat memberikan sekedar bantuan kepada Tanah Perdikan Sembojan?”

“Itulah yang menyulitkan, Ki Rangga. Aku tidak berani menerima akibat buruk jika Madiun tiba-tiba bergerak. Setiap orang prajurit Pajang akan sangat berarti dalam keadaan seperti ini” jawab Pangeran Gagak Baning.

“Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang datang menemui hamba memang telah memperhitungkannya. Tetapi Kepala Tanah Perdikan yang muda itu dan masih belum mengetahui kekuatan Padepokan Watu Kuning menyatakan bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap menghadapi Padepokan itu.”

“Aku hanya dapat mencemaskan mereka Ki Rangga,” berkata Pangeran Gagak Baning, “aku menyangsikan kekuatan Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun mungkin jumlah laki-laki di Tanah Perdikan itu cukup banyak, namun aku tidak yakin bahwa mereka memiliki kemampuan yang pantas untuk menghadapi orang-orang dari Padepokan Watu Kuning. Sementara itu Pajang dalam keadaan seperti sekarang ini, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, Prajurit kita terlalu sedikit untuk masih harus dikurangi lagi. Sementara Madiun agaknya telah menghubungi para Adipati disisi Timur tanah ini.

Ki Rangga Kalokapraja mengangguk-angguk. Tetapi nampak bahwa ia pun menjadi gelisah karenanya. Jika benar Padepokan Watu Kuning mempunyai banyak orang-orang berilmu tinggi, maka meskipun jumlah laki-laki di Tanah Perdikan cukup banyak, namun hal itu justru hanya akan menambah jumlah korban saja.

Dengan ragu-ragu Ki Rangga pun kemudian berkata, “Pangeran. Jika Pangeran mengijinkan, hamba ingin mohon agar Pangeran berkenan menugaskan dua orang saja prajurit untuk melihat perkembangan di Tanah Perdikan Sembojan.”

Pangeran Gagak Baning memang menjadi ragu-ragu sejenak. Terbayang mendung yang menggelantung dilangit diatas Pajang. Angin bertiup dari Timur membawa awan hitam yang basah, yang setiap saat dapat tercurah diatas Pajang dan sekitarnya.

Tetapi hampir bergumam Pangeran Gagak Baning berkata, “Hanya dua orang.”

“Ya Pangeran, dua orang saja untuk sekedar mengamati keadaan. Mereka akan dapat memberikan laporan terperinci tentang keadaan di Tanah Perdikan serta kemungkinan terburuk yang dapat terjadi jika Padepokan Watu Kuning beriar-benar menyerang Tanah Perdikan itu.”

“Apakah Ki Rangga dapat menyebutkan, siapakah kedua orang yang kau maksud itu?” bertanya Pangeran Gagak Baning.

“Seorang diantaranya Ki Lurah Kasadha, Pangeran” jawab Ki Rangga.

“Kenapa Ki Rangga menunjuk Ki Lurah Kasadha?” bertanya Pangeran Gagak Baning pula.

“Ki Lurah Kasadha adalah seorang Lurah Prajurit muda yang tangkas. Memiliki kemampuan yang cukup meskipun tidak terlalu berlebihan. Tetapi lebih dari itu, ia adalah sahabat terdekat dari Kepala Tanah Perdikan Sembojan ketika keduanya sama-sama menjadi prajurit.”

“Jadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu juga bekas seorang prajurit?”

“Ya Pangeran” jawab Ki Rangga.

“Baiklah. Aku ijinkan mereka berdua pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi beri bekal pengertian kepada kedua orang prajurit itu. Padepokan Watu Kuning adalah padepokan yang memiliki sebangsal orang-orang berilmu tinggi, meskipun sebenarnya mereka bukan sejak semula murid dari Padepokan Watu Kuning. Itu terjadi beberapa tahun yang lewat. Apalagi sekarang, agaknya mereka memiliki lebih banyak orang berilmu tinggi, bahkan dari. lingkungan hitam sekalipun, karena itu kedua orang prajurit itu harus berhati-hati. Mereka tidak harus ikut mempertahankan Tanah Perdikan sampai batas terakhir. Jika demikian maka mereka tidak akan dapat memberikan laporan kepada kita.”

“Hamba Pangeran” jawab Ki Rangga.

“Yang harus mereka amati adalah, apakah Madiun terlibat langsung atau tidak dalam tindak kekerasan itu” pesan Pangeran Gagak Baning pula.

Demikianlah, maka Ki Rangga pun segera meninggalkan istana setelah Pangeran Gagak Baning memberikan pertanda tugas kepada Ki Lurah Kasadha Sebuah kelebet berwarna kuning keemasan dengan pelisir hitam ditepinya. Ditengah-tengahnya terdapat gambar sebilah keris dengan luk sebelas.

Ki Rangga tidak segera pulang. Tetapi ia langsung menemui Ki Tumenggung Jayayuda dibaraknya Ki Tumenggung pun memang agak terkejut. Apalagi. ketika ia melihat kelebet yang berwarna kuning itu.

“Apa ada perintah bagi pasukanku?” bertanya Ki Tumenggung Jayayuda dengan nada tegang.

“Tidak Ki Tumenggung,” jawab Ki Rangga, “tetapi kepada dua orang prajurit Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Rangga pun menceriterakan tentang kedatangan Risang serta pembicaraannya langsung dengan Pangeran Gagak Baning.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi Ki Rangga memerlukan Kasadha dan seorang lagi yang ditunjuknya?” bertanya Ki Tumenggung.

“Ya Ki Tumenggung” jawab Ki Rangga.

“Baiklah. Aku akan memanggil Ki Rangga Dipayuda dan Ki Lurah Kasadha, karena Ki Lurah Kasadha berada di bawah pimpinan langsung Ki Rangga Dipayuda” berkata Ki Tumenggung Jayayuda.

Ketika kemudian keduanya menghadap, maka dengan singkat Ki Rangga telah menyampaikan persoalan yang menyangkut Ki Lurah Kasadha, pesan serta perintah yang harus dijalankannya.

Ternyata perintah itu diterima dengan baik oleh Kasadha. Bahkan dari wajahnya nampak bahwa perintah itu memberikan kegembiraan kepadanya.

“Aku akan menjunjung perintah itu dengan sebaik-baiknya” jawab Kasadha.

Namun dalam pada itu, maka Ki Rangga pun telah menyampaikan pula pesan Pangeran Gagak Baning tentang pengenalannya atas Padepokan Watu Kuning beberapa tahun yang lalu, selagi Pangeran Gagak Baning mengembara di Timur.

“Padepokan itu mempunyai banyak orang berilmu sangat tinggi. Tetapi mereka sebagian besar justru orang-orang yang memiliki ilmu hitam. Mereka adalah orang-orang yang mengesahkan segala cara untuk mencapai tujuannya,” berkata Ki Rangga. Lalu, “Ada pun tugas Ki Lurah adalah mengamati apakah yang ikut bergerak bersama orang-orang Watu Kuning itu terdapat kekuatan Madiun itu sendiri. Karena menurut pertimbangan Pangeran Gagak Baning, betapapun panasnya hubungan antara Madiun dan Pajang, Madiun tidak akan mempergunakan cara yang kotor itu.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia mencoba menilai para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi Kasadha tidak dapat mendapat ukuran yang pasti karena ia memang tidak sempat mengetahui terlalu banyak tentang Tanah Perdikan yang dipimpin oleh kakaknya itu.

Kepada Ki Rangga Dipayuda, Ki Tumenggung Jayayuda memerintahkan agar Kasadha diijinkan untuk meninggalkan barak berdua dengan seorang prajurit yang akan ditunjuknya. Meskipun ada perintah dari Pangeran Gagak Baning bahwa tidak seorang pun boleh meninggalkan barak, namun Ki Lurah Kasadha justru langsung mendapat perintah dari Pangeran Gagak Baning itu sendiri.

Tentu saja Ki Rangga Dipayuda tidak mempunyai keberatan. Namun sebelum berangkat Kasadha diminta untuk menunjuk seseorang yang akan mewakilinya selama ia pergi.

Demikianlah, maka Kasadha pun segera mempersiapkan diri. Atas ijin Ki Rangga Dipayuda, maka Kasadha telah menunjuk seorang pemimpin kelompoknya yang tertua, yang banyak mengetahui tentang pergolakan jiwanya untuk ikut bersamanya ke Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian menunjuk seorang lagi diantara pemimpin kelompoknya untuk mewakilinya selama ia bertugas ke Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara Kasadha bersiap-siap, maka tiba-tiba saja ia teringat akan ibunya. Dalam keadaan yang sulit, maka ibunya tentu tidak akan berkeberatan jika ibunya ikut membantu menyelamatkan Tanah Perdikan Sembojan.

Apalagi menurut Pangeran Gagak Baning, Padepokan Watu Kuning mempunyai banyak sekali orang-orang berilmu tinggi.

Karena itu, maka Kasadha pun telah memberanikan diri untuk meminjam dua ekor kuda dari baraknya kepada Ki Tumenggung Jayayuda.

“Untuk apa?” bertanya Ki Tumenggung Jayayuda.

“Ki Tumenggung, sesuai dengan pesan dari Pangeran Gagak Baning tentang kelebihan Padepokan Watu Kuning dengan orang-orang berilmu tinggi, maka aku ingin singgah kerumah seorang pamanku yang mungkin akan dapat membantu Risang di Tanah Perdikan Sembojan. Karena agaknya pamanku itu tidak mempunyai kuda, maka aku ingin membawa kuda itu bagi paman. Besok, setelah aku kembali dari Tanah Perdikan, maka kuda itu akan aku bawa kembali ke barak.”

Ki Tumenggung memang agak ragu. Tetapi akhirnya Ki Tumenggung pun mengijinkannya.

Dengan demikian, maka Kasadha pun segera minta diri kepada para prajuritnya, kepada Ki Rangga Dipayuda dan kepada Ki Tumenggung Jayayuda serta para Pandhega yang lain untuk pergi ke Tanah Perdikan. Tetapi Kasadha sudah berniat untuk singgah ke Bayat menjemput ibu dan bibinya untuk dibawanya pula ke Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha juga teringat kepada gurunya yang masih selalu membimbing dan meningkatkan ilmunya. Tetapi ternyata Kasadha memutuskan untuk tidak minta kepada gurunya menyertainya ke Tanah Perdikan karena beberapa pertimbangan.

Meskipun kemudian malam akan segera turun, tetapi Kasadha yang sudah bersiap segera berangkat justru ke Barat. Anak muda itu yakin, bahwa ibunya tidak akan berkeberatan melihat sikapnya serta sikap ibu Risang ketika mereka bertemu di Tanah Perdikan.

Tanpa berhenti Kasadha memasuki padukuhan tempa  tinggal ibu dan bibinya. Meskipun Kasadha sadar, bahwa kedatangannya akan mengejutkan ibu dan bibinya, tetapi Kasadha tidak mempunyai waktu lagi untuk menunda.

Seperti yang diduganya, ibu dan bibinya memang terkejut sekali. Tetapi dengan cepat Kasadha pun memberikan penjelasan bahwa memang ada hal yang penting, tetapi ia tidak membawa kabar buruk tentang dirinya dan juga tidak bagi ibu dan bibinya.

Dengan jelas Kasadha pun kemudian menceriterakan tentang perintah yang diterima untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia pun menjelaskan persoalan yang tengah dihadapi oleh Tanah Perdikan Sembojan justru saat kemelut sedang terjadi di Pajang.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kasihan Risang yang baru saja mendapat wisuda. Ia sudah harus mengalami cobaan yang sangat berat. Padepokan Watu Kuning memang sebuah padepokan yang kuat. Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Pangeran Gagak Baning. Dipadepokan itu tersimpan orang-orang berilmu tinggi, namun yang berhati gelap. Ibu tahu pasti, karena ibu pun pernah hidup didunia yang gelap itu pula. Orang-orang berilmu tinggi itu merasa hidup di Padepokan Watu Kuning seperti hidup disorga. Apa yang mereka butuhkan ada di Padepokan itu. Karena itu, maka Padepokan Watu Kuning sering melakukan penculikan atas gadis-gadis yang meningkat dewasa.”

Kasadha mengangguk-angguk mendengarkan keterangan ibunya yang ternyata juga sudah mendengar tentang Padepokan Watu Kuning. Padepokan yang sekedar dipergunakan sebagai kedok dari sebuah gerombolan yang melakukan banyak kejahatan. Bukan hanya banyak dalam pengertian jumlahnya, tetapi juga jenisnya.

Karena itu, maka ibu Kasadha itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku bersedia melakukannya. Aku dan bibimu akan ikut bersamamu ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Terima kasih ibu” Kasadha menjadi gembira. Tetapi ia pun menjadi sedikit cemas tentang kemampuan Tanah Perdikan untuk mempertahankan diri. Sementara itu Pajang dalam keadaan tersudut sehingga tidak akan mampu memberikan bantuan apapun juga.

Ibu dan bibi Kasadha pun segera berkemas. Tetapi mereka masih harus menemui tetangga mereka yang terdekat untuk menitipkan rumah dan ternak mereka selama mereka pergi.

Tetangganya pun ternyata terkejut juga. Ibu Kasadha memang mengatakan bahwa saudaranya ada yang menderita sakit keras, sehingga ia harus segera pergi menemuinya sebelum terlambat.

Beberapa saat kemudian, maka berempat Kasadha meninggal-kan rumah bibinya. Sebelum keluar dari lingkungan padukuhan, mereka memang hanya berjalan kaki sambil menuntun keempat ekor kuda yang dibawa oleh Kasadha. Tetapi demikian mereka berada dibulak panjang, maka mereka berempat pun segera berpacu dipunggung kuda.

Malam memang kelam, meskipun dilangit banyak terdapat bintang yang tertabur dari cakrawala sampai ke cakrawala.

Tetapi ibu Kasadha itu berkata, “Menjelang dini bulan akan terbit meskipun tinggal sebagian saja.”

“Tetapi yang sebagian itu akan dapat membantu menerangi jalan” jawab Kasadha.

Sejenak kemudian, maka kuda-kuda itu pun berpacu semakin cepat. Mereka tidak lagi berbicara. Mereka berharap bahwa sebelum siang besok, mereka telah berada di Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu. ketika malam menjadi semakin dalam. Risang telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka mereka tidak lagi terlalu tergesa-gesa. Ternyata Tanah Perdikan Sembojan masih tetap tenang.

Tetapi demikian mereka memasuki bulak-bulak panjang di Tanah Perdikan, Risang segera teringat akan orang-orang Padepokan Watu Kuning yang mencegat mereka ketika mereka berangkat. Dengan nada tinggi Risang berkata, “Aku lupa memberikan pesan agar Kasadha atau siapapun yang akan datang ke Tanah Perdikan, tidak melalui jalan itu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk kecil. Tetapi Sambi Wulung kemudian berkata, “Bukankah Ki Rangga sudah mengetahui bahwa jalan itu berbahaya?”

“Ya. Mudah-mudahan teringat oleh Ki Rangga Kalokapraja sempat menceriterakan hal itu kepada mereka yang akan pergi ke Sembojan. Itu pun jika Pangeran Gagak Baning mengijinkan.”

Sebenarnyalah, lima orang dari Padepokan Watu Kuning itu telah memberikan laporan kepada seorang berilmu tinggi yang bertugas mengawasi Tanah Perdikan sebelum pimpinan tertinggi Padepokan itu datang menemui Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih muda itu.

Dari kelima orang itu, tiga diantaranya terluka parah. Bahkan, seorang diantara mereka kemudian telah meninggal. Sedangkan kedua orang yang lain meskipun terluka, tetapi tidak terlalu parah. Sementara itu, tiga diantara kelima ekor kuda yang mereka bawa memang harus dibunuh di tempat karena kuda-kuda itu tidak akan mungkin dapat ditolong lagi.

Orang berilmu tinggi itu menggeram marah. Tetapi kenyataan itu telah terjadi.

“Kapan orang-orang itu akan pulang?” bertanya Wira Gobang yang dipercaya untuk memimpin sekelompok orang mengamati Tanah Perdikan Sembojan dari gubug mereka di sebuah hutan dilereng bukit kecil tetapi memang agak terpencil letaknya, justru diluar Tanah Perdikan Sembojan. ”Menurut kata-kata yang mereka ucapkan, besok mereka akan kembali” jawab salah seorang dari mereka yang masih dapat memberikan keterangan.

“Baik,” jawab Wira Gobang, “aku sendiri akan menunggu anak gila itu. Aku akan memaksanya mengakui kebesaran Padepokan Watu Kuning. Karena itu aku tidak akan membunuh mereka sebagaimana kau tidak dibunuhnya. Tetapi dengan demikian orang-orang Tanah Perdikan tidak lagi dapat menyombongkan diri, karena mereka akan melihat kenyataan. Anak itu akan menjadi cacat seumur hidupnya.” Demikianlah, maka Wira Gobang yang merasa memiliki ilmu yang tinggi itu telah memerintahkan lima orangnya yang terpilih untuk menyertainya. Dengan geram ia berkata, “Sebenarnya aku sendiri akan mampu melumpuhkan perlawanan mereka. Tetapi ada baiknya kalian melihat, bagaimana aku menghancurkan kesombongan seseorang.”

Wira Gobang itu ternyata tidak menunggu sampai esok. Ia menduga bahwa sebelum fajar orang-orang itu tentu sudah akan lewat. Bahkan katanya kemudian, “Aku tidak akan menunggu meskipun diluar Tanah Perdikan. Tetapi aku akan menyongsong mereka meski hampir sampai di Pajang sekalipun. Aku tidak mau kehilangan Orang yang telah menghina Padepokan Watu Kuning itu.”

Dengan demikian, maka Wira Gobang bersama lima orangnya yang terpilih telah menempuh perjalanan menuju ke arah Pajang. Mereka berniat untuk mencegat perjalanan kembali tiga orang yang telah berhasil menembus penjagaan lima orang dari Padepokan Watu Kuning.

Sementara itu, ternyata Kasadha bersama ibu dan bibinya serta seorang prajurit yang lain, sama sekali tidak memperhatikan kemungkinan untuk memilih jalan lain. Meskipun Kasadha juga mendengar keterangan Ki Rangga Kalokapraja bahwa perjalanan Risang telah dicegat oleh lima orang dari Padepokan Watu Kuning, namun mereka tidak berpikir, bahwa perjalanan mereka pun akan mungkin dicegat pula.

Karena itu, maka mereka telah menempuh jalan yang terdekat menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Jalan yang juga langsung memasuki jalan dari Pajang ke Tanah Perdikan itu.

Adalah diluar perhitungan Kasadha, tetapi juga diluar perhitungan Wira Gobang, bahwa mereka akan bertemu sebelum fajar menyingsing. Justru karena Wira Gobang tidak saja menunggu, tetapi justru menyongsong orang yang disangkanya akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan melalui jalan itu pula.

Ketika Wira Gobang memasuki sebuah bulak panjang, justru setelah ia menelusuri jalan yang langsung menuju ke Pajang, ia memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk berhenti. Telinganya yang tajam telah mendengar derap kaki beberapa ekor kuda dengan arah yang berlawanan dari perjalanannya.

“Mungkin mereka” berkata Wira Gobang.

Seorang pengikutnya yang bertubuh raksasa pun berkata, “Ya. Agaknya memang mereka itu. Seharusnya kita mengajak salah seorang dari mereka yang telah mengenalinya.”

“Mereka akan mati diperjalanan,” desis Wira Gobang. Lalu katanya, “Bukankah kita mempunyai mulut untuk bertanya. Tetapi seandainya mereka bukan orang-orang yang kita cari. mereka tidak akan kita ijinkan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.”

Kelima orang pengikut Wira Gobang itu mengangguk-angguk. Seorang yang bertubuh agak gemuk dengan jambang lebat berkata, “Siapapun mereka, kita akan menyudahi.”

Demikianlah, sejenak kemudian, dalam keremangan malam mereka melihat beberapa orang berkuda mendekat. Langit menjadi semakin terang ketika bulan mulai nampak, meskipun tinggal sebagian karena bulan itu menjadi semakin tua.

Kasadha yang berkuda dipaling depan telah memberikan isyarat pula kepada ibu dan bibinya, sehingga kuda mereka pun telah menjadi semakin lambat. Dengan nada datar Kasadha berkata, “Kita harus berhati-hati. Aku tidak sempat memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang dari Padepokan Watu Kuning meskipun Ki Rangga Kalokapraja telah menceriterakan bahwa Risang juga telah dicegat ketika ia menuju ke Pajang.”

Ibunya yang kemudian berada disampingnya menyahut, “Jika benar mereka adalah orang-orang Watu Kuning, maka kita memang harus berhati-hati.”

“Kita tidak sempat mengambil jalan lain” berkata Kasadha kemudian.

“Ya,” desis ibunya, “biarlah kita berjalan terus. Mudah-mudahan mereka bukan orang-orang Watu Kuning.”

Demikianlah, kuda-kuda itu pun telah bergerak maju perlahan-lahan, sementara orang-orang Watu Kuning telah menghalangi jalan yang akan mereka lewati.

Dengan demikian, maka Kasadha dan ketiga orang yang bersamanya terpaksa berhenti beberapa langkah didepan orang-orang dan Padepokan Watu Kuning itu.

Kasadha yang ada dipaling depan, dengan nada rendah bertanya, “Ki Sanak. Kenapa kalian telah menutup jalan yang akan kami lalui? Apakah kalian mempunyai kepentingan dengan kami?”

“Siapakah kalian, dari mana dan akan pergi ke mana?” bertanya Wira Gobang.

“Kami adalah orang-orang Bayat, Ki Sanak. Kami akan pergi ke Kademangan Pakis, di sebelah Timur Tanah Perdikan Sembojan” jawab Kasadha, yang pernah mendengar nama Kademangan Pakis.

Tetapi sambil mengerutkan keningnya Wira Gobang itu bertanya, “Apakah kau orang dari Kademangan Pakis?”

“Bukan Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa kami orang-orang Bayat. Tetapi yang tinggal di Pakis adalah pamanku.”

“Siapakah nama pamanmu itu?” bertanya Wira Gobang.

Kasadha memang menjadi agak ragu. Tetapi kemudian ia menjawab, ”Namanya Ki Partawandawa.”

Wira Gobang mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata, ”Kau berbohong Ki Sanak. Aku belum pernah mendengar nama Ki Partawandawa.”

“Bukankah itu wajar jika kau tidak mengetahui nama semua orang Kademangan Pakis?” sahut Kasadha.

“Tidak Ki Sanak. Sama sekali tidak wajar. Aku mengenali semua orang dari Kademangan Pakis karena aku memang pernah tinggal di Kademangan itu.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, ”Entahlah Ki Sanak. Kenapa kau belum mengenal pamanku yang tinggal di Pakis. Namun bagaimanapun juga, aku tidak akan mengurungkan niatku untuk mengunjunginya hanya karena kau tidak mengenalnya. Karena itu Ki Sanak. Aku minta agar kalian memberi jalan kepadaku agar kami dapat lewat.”

“Tidak. Kami tidak dapat memberi jalan kepada kalian, karena kami tahu, niat kalian bukan niat yang baik, karena kalian telah menipu kami.”

“Ki Sanak,” berkata Kasadha, ”lihat, kami menempuh perjalanan jauh bersama dua orang perempuan. Karena itu, aku harap kalian dapat mengerti kesungguhan kami. Jika aku berniat buruk, tentu aku tidak akan mengajak dua orang perempuan.”

Wira Gobang memandang kedua orang perempuan yang berkuda dibelakang Kasadha. Meskipun agak ragu, tetapi Wira Gobang pun berkata, ”Mereka bukan perempuan kebanyakan. Aku mengenal bagaimana seorang perempuan kebanyakan naik seekor kuda.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, ”Bagaimana menurut pendapatmu seorang perempuan kebanyakan naik kuda?”

“Mereka hanya berani naik jika kuda itu dituntun. Mereka pun tidak mengenakan pakaian seperti itu. Karena itu, maka perempuan-perempuan itu tentu perempuan yang sudah terbiasa mengembara, apakah mereka pelaku kejahatan atau pemburu kejahatan. Tetapi bagi kami sama saja.”

“Ki Sanak,” bertanya Kasadha kemudian, ”apakah maksudmu sebenarnya. Katakanlah, agar kami tidak berteka-teki.”

“Kalian tidak boleh meneruskan perjalanan. Kalian harus kembali ke Bayat. Kami akan mengantar kalian sampai keperbatasan kota Pajang. Jika kalian mencoba untuk mengelabuhi kami dan menempuh jalan lain ke Tanah Perdikan Sembojan, maka kalian akan mati. Karena kami tidak akan segan membunuh siapapun yang menentang paugeran yang kami buat.”

“Paugeran apa? Kau kira kau berhak membuat paugeran?” bertanya Kasadha pula.

“Ya. Kami berhak membuat paugeran. Ketetapan hak itu ada ditajamnya pedang kami” jawab Wira Gobang.

Tetapi Kasadha menjawab, ”Jika demikian, maka paugeran yang kau buat mempunyai nilai sama dengan tajamnya pedang. Jika kalian merasa berhak menentukan paugeran itu akan kami patahkan dengan tajamnya pedang pula.”

“Nah, bukankah dugaan kami benar, bahwa kedua perempuan itu bukan perempuan kebanyakan, mereka sama sekali tidak menjadi ketakutan melihat kami dan mendengarkan pembicaraan kita.”

“Aku tidak berkeberatan,” berkata ibu Kasadha, ”mungkin kami memang bukan perempuan kebanyakan karena kami memang tidak menjadi ketakutan. Tetapi sebenarnya kami tidak ingin bertengkar, meskipun kami tidak akan ingkar jika pertengkaran itu dipaksakan atas kami. Kami akan melayani apa saja yang akan kalian lakukan.”

“Lihat, kami berenam. Diantara kami terdapat aku, Wira Gobang. Orang-orang di sekitar Madiun menjadi ketakutan mendengar namaku. Tetapi agaknya kalian belum mengenal kami.”

“Jadi kalian berasal dari Madiun?” bertanya Kasadha.

“Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan Madiun” jawab Wira Gobang.

“Jika demikian kalian tentu datang dari Padepokan Watu Kuning” Kasadha mulai menebak.

Wira gobang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, ”Kau dapat berkata apa saja tentang kami.”

“Kami tidak akan salah,” sahut ibu Kasadha, ”tentu hanya orang-orang Watu Kuning sajalah yang mampu berpikir cemerlang dalam kelicikannya. Hanya orang Watu Kuning yang dengan cepat memanfaatkan wafatnya Pangeran Benawa serta kemelut yang terjadi dalam hubungan antara Pajang dan Madiun. Karena itu, maka aku berani memastikan bahwa kalian tentu orang-orang Watu Kuning. Kalian tentu mendapat tugas untuk mengurung Tanah Perdikan Sembojan agar tidak dapat berhubungan dengan orang luar.”

“Baiklah,” berkata Wira Gobang, “kita tidak usah saling berpura-pura. Aku memang orang dari Perguruan Watu Kuning. Dan kalian tentu orang-orang tanah Perdikan Sembojan.”

“Tidak,” jawab ibu Kasadha, “aku tetap berkeberatan disebut orang mana pun juga, karena aku memang orang Bayat.”

“Persetan,” geram Wira Gobang, “pokoknya kalian tidak boleh meneruskan perjalanan, apalagi ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Aku tidak akan menghiraukan laranganmu. Kami berempat akan tetap meneruskan perjalanan,” berkata Kasadha.

Wira Gobang yang mempunyai pengalaman yang luas itu pun segera dapat menilai keempat orang itu. Apapun yang dikatakannya tidak akan mampu memaksa mereka kembali kecuali dengan kekerasan. Karena itu maka Wira Gobang berkata, “Baiklah. Jika kalian memaksa, maka kalian akan mati. Jika saja kalian orang Sembojan yang baru saja kembali dari Pajang, maka kami ingin membiarkan kalian hidup dan mengabarkan kekuatan dan kemampuan orang-orang Watu Kuning kepada orang-orang Sembojan. Tetapi karena kalian mengaku bukan orang Tanah Perdikan Sembojan, maka kalian harus mati disini. Kami tidak memerlukan kalian, sementara kalian akan dapat berbuat buruk terhadap rencana kami atas Tanah Perdikan Sembojan.”

Kasadha pun kemudian menyahut, “Apapun yang ingin kalian lakukan kami sudah menentukan niat kami untuk berjalan terus.”

Wira Gobang pun kemudian telah memberi isyarat kepada orang-orangnya agar mereka turun dari kuda mereka. Mereka akan menghadapi keempat orang itu tidak diatas punggung kuda.

Ternyata Kasadha pun telah berbuat hal yang sama. Dengan demikian maka sepuluh orang telah terbagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan. Satu kelompok berjumlah enam orang sedangkan kelompok yang lain berjumlah ampat orang. Termasuk dua orang perempuan didalamnya. Namun kedua orang perempuan itu adalah Warsi dan sepupunya.

Namun Warsi sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaannya. Dengan serta merta ia pun telah bersiap menghadapi Wira Gobang, karena ia tahu bahwa Wira Gobang tentu memiliki ilmu yang tinggi, sebagaimana dikatakannya.

Tetapi ternyata Wira Gobang merasa terhina. Dengan lantang ia berkata, “He, kenapa aku harus berhadapan dengan betina ini?”

Warsilah yang menjawab tidak kalah lantangnya, “Kau yang telah menghina aku dengan mengatakan bahwa aku bukan perempuan kebanyakan. Kau kira aku perempuan apa? Karena itu, maka biarlah kita berhadapan untuk menyalurkan perasaan kita masing-masing. Kita sudah saling merasa tersinggung. Nah, kita selesaikan persoalan kita dengan tuntas.”

Wira Gobang itu menggeram. Katanya, “Aku justru semakin yakin bahwa kau termasuk salah seorang dari sedikit perempuan liar yang berkeliaran di bulak-bulak panjang dan di medan-medan pertempuran. Baiklah. Aku akan mengurangi setidak-tidaknya dua orang perempuan diantara kalian.”

Warsi tiba-tiba tertawa. Tetapi ketika Kasadha berpaling kepadanya, tiba-tiba saja Warsi menutup mulutnya sambil berdesis, “Maafkan aku Kasadha. Kebiasaan ini kadang-kadang muncul tanpa terkendali.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia justru merasa iba terhadap ibunya yang selalu dibayangi oleh kesalahan-kesalahannya masa lampau, sehingga disetiap langkahnya, bayangan itu selalu membuatnya cemas bahwa ia telah membuat kesalahan lagi.

Berbeda dengan tanggapan Kasadha, maka Wira Gobang merasa bahwa perempuan itu telah mentertawakannya dan bahkan mempermainkannya. Karena itu, ia pun menggeram, “Perempuan iblis. Kaulah yang akan mati lebih dahulu dari semua kawan-kawanmu.”

Warsi tidak menjawab lagi. Namun hampir diluar sadarnya ia memandang bulan tua yang sudah bertengger di langit. Bagaimanapun juga Warsi tidak dapat memisahkan dirinya dengan sinar bulan jika bulan mulai nampak. Meskipun disiang hari, Warsi tetap seorang yang berilmu tinggi, tetapi sinar bulan itu benar-benar telah memberikan pengaruh jiwani kepadanya.

Demikianlah, sejenak kemudian maka Wira Gobang itu pun telah berteriak, “Selesaikan semua orang diantara jalan ini melihat ampat sosok mayat terkapar dengan dada yang menganga.”

“Itu sangat mengerikan,” sahut Kasadha, “tetapi lebih mengerikan lagi jika enam sosok terbaring disini.”

Wira Gobang itu menjadi semakin marah. Karena itu, maka ia pun segera bergeser bersiap untuk menyerang Warsi sambil berkata, “Bukan kebiasaanku berkelahi dengan perempuan, tetapi jika ia sudah menghina kebesaran namaku, maka apaboleh buat.”

mereka. Biarlah besok orang pertama kali lewat

Warsi itu pun telah bersiap pula. Ketika ia berdiri agak miring, sementara kedua kakinya merenggang dan sedikit merendah pada lututnya, serta kedua tangannya dengan jari-jari terbuka bersilang didepan dadanya, maka Wira Gobang pun melihat, bahwa perempuan itu bukan perempuan yang kurang waras dan berangan-angan menjadi seorang yang berilmu tinggi. Tetapi perempuan itu benar-benar seorang yang berilmu.

Demikian, maka sejenak kemudian, Wira Gobang pun telah mulai bertempur melawan Warsi. Keduanya nampaknya masih harus menjajagi kemampuan lawan, sehingga keduanya tidak berani tergesa-gesa memasuki jarak yang berbahaya.

Tetapi semakin lama perempuan itu pun menjadi semakin cepat. Wira Gobang mulai berloncatan menyerang dengan tangannya menggapai tubuh lawannya. Tetapi Warsi pun dengan tangkas telah menghindar dan bahkan membalas menyerang, meskipun serangan-serangan mereka belum merupakan serangan-serangan yang dapat menentukan.

Sementara itu, lima orang kawan Wira Gobang telah bergerak pula. Mereka menghadapi tiga orang yang telah bersiap pula. Kasadha dan kawannya telah bersiap sepenuhnya. Demikian pula bibi Kasadha. Karena lawan-lawan mereka telah menggenggam senjata, maka mereka bertiaga pun telah bersenjata pula.

Dengan demikian maka sejenak kemudian, telah terjadi pertempuran yang sengit di bulak persawahan itu. Kasadha dan bibinya telah memancing masing-masing duaorang lawan, sementara kawan Kasadha itu Bertempur melawan seorang diantara pengikut Wira Gobang itu.

Ternyata mereka harus mengakui kenyataan yang mereda hadapi. Anak muda itu tidak mudah untuk dapat ditaklukkan meskipun oleh dua orang sekalipun. Sementara itu, perempuan yang harus bertempur melawan dua orang itu pun ternyata sangat tangguh sehingga tidak segera dapat ditundukkan.

Wira Gobang pun harus melihat kenyataan pula. Perempuan yang dihadapinya memang seorang perempuan yang berilmu tinggi. Meskipun perempuan itu nampak mulai menjadi tua, namun ia masih mampu bergerak dengan tangkas dan cepat.

Bahkan semakin lama Wira Gobang itu pun menjadi semakin berdebar. Bagaimanapun juga perempuan itu berusaha menyembunyikan unsur-unsur geraknya, tetapi Wira Gobang melihat, betapa kerasnya dasar-dasar unsur gerak yang mengalasi ilmu perempuan itu.

Namun sebelum Wira Gobang mengatakan sesuatu tentang ilmu perempuan itu, tiba-tiba saja ia mendengar perempuan itu berkata diantara derap kakinya yang dengan tangkas menggelepar melontarkan tubuhnya yang seakan-akan menjadi sangat ringan, “Ki Sanak. Aku melihat kau mempergunakan ilmu dasar bukan dari Perguruan Watu Kuning. Tetapi kau menguasai keturunan ilmu dari Perguruan Kumara Kala.”

“Iblis betina kau. Kau kira aku tidak melihat ilmu Kalamerta dalam permainanmu yang kasar itu.”

Wajah Warsi menjadi panas. Meskipun Kasadha sudah mengetahui akan hal itu, tetapi ia tidak ingin anaknya mendengarnya lagi hubungannya dengan gerombolan Kalamerta dimasa lampaunya. Tetapi ia tidak dapat ingkar. Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka dasar ilmu masing-masing justru menjadi semakin jelas.

Tetapi Warsi tidak ingin terpengaruh karenanya.

Ia pun kemudian memutuskan, bahwa jika Kasadha melihat kekasarannya, ia tidak akan mengingkarinya. Apalagi hal itu memang sudah diketahui oleh Kasadha sebelumnya.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Wira Gobang dan Warsi itu pun semakin lama memang menjadi semakin keras. Pada dasarnya kedua ilmu itu memiliki sumber yang sama. Namun perkembangannyalah yang membuat keduanya menjadi berbeda. Tetapi watak dasar dari ilmu yang keras dan kasar itu masih nampak.

Meskipun demikian, bagaimanapun juga, ilmu itu adalah ilmu yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, Wira Gobang pun kemudian berkata lantang, “Ternyata aku telah berhadapan dengan sisa gerombolan Kalamerta. Tetapi sebentar lagi sisa-sisa itu pun akan segera terbabat habis. Ilmu yang termasuk ilmu hitam itu memang harus dimusnakan sampai tuntas.”

“Jangan sebut ilmu hitam atau putih. Semuanya tergantung kepada orang yang memilikinya. Ilmu yang diturunkan oleh Resi Ragageni yang dianggap orang yang paling bersih dari perguruan tiga bersaudara itu, akhirnya telah merusakkan citra kebersihan Resi Ragageni sendiri, Empat muridnya telah berkhianat dan menjadi bajak laut yang paling ditakuti. Nah, bagaimana jika aku mempergunakan ilmu yang sama dengan orang-orang gerombolan Kalamerta, tetapi aku pergunakan untuk memerangi kejahatan sebagaimana akan dilakukan oleh orang-orang Padepokan Watu Kuning?”

“Tetapi kau hisap ilmunya diantara bau kemenyan di tempat-tempat yang dihuni genderuwo dan thethekan, “Wira Gobang hampir berteriak.

“Omong kosong,” geram Warsi, “aku tekuni ilmuku dalam sanggar dengan latihan-latihan yang berat. Tetapi aku tidak ingkar, bahwa tujuan semula mengusai ilmu itu memang untuk melakukan kejahatan,” Warsi berhenti sejenak. Ia meloncat mengelakkan serangan Wira Gobang yang hampir saja membungkamnya, untuk selamanya karena ujung parang Wira Gobang yang besar itu mematuk kearah lehernya..

Namun kemudian ia melanjutkan pula, “Tetapi apakah kau kira aku tidak tahu, untuk apa sekelompok orang berguru dan menekuni ilmu dari perguruan Kumara Kala? Katakan, apakah Kumara Kala ditekuni dalam kemelutnya asap kemenyan di sarang genderuwo dan thethekan?”

“Setan kau,” bentak Wira Gobang sambil meloncat menyerang. Parangnya yang besar itu berputar kemudian menebas kearah lambung.

Tetapi Warsi masih mampu mengelak dengan sebuah loncatan panjang. Namun Wira Gobang tidak melepaskannya. Dengan cepat ia memburunya. Parangnya pun terayun-ayun mengerikan.

Warsi akhirnya harus mengakui bahwa ia tidak dapat melawan Wira Gobang yang kuat dan tangkas dengan parangnya itu hanya dengan tangannya. Karena itu, maka Warsi terpaksa harus mengurai senjatanya lagi. Meskipun ia sudah berniat untuk tidak mempergunakannya, tetapi ketika ia berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan yang terancam oleh kekuatan yang besar dari Padepokan Watu Kuning itu, maka senjatanya itu pun telah dibawanya pula.

Ketika ia semakin terdesak oleh parang Wira Gobang, maka tiba-tiba saja terdengar suara berdesing.

Wira Gobang meloncat surut. Dengan jantung yang berdebaran ia melihat perempuan itu telah memutar seutas rantai yang terbuat dari baja pilihan.

Wira Gobang itu pun menggeram. Dalam keramangan cahaya bulan tua ia melihat, bagaimana perempuan itu benar-benar menguasai senjatanya yang kemudian berputaran. Demikian cepat, seolah-olah pada putaran rantai itu telah timbul kabut yang keputih-putihan karena pantulan cahaya bulan.

Sebenarnyalah bahwa pengaruh cahaya bulan itu benar-benar telah membuat Warsi seakan-akan menajdi semakin garang. Ia tidak saja menunggu lawannya menyerang untuk dihindarinya. Tetapi dengan rantainya itu, Warsi justru telah menyerang lawannya dengan tangkas dan kuat.

Wira Gobang mengumpat kasar. Ia sadar, bahwa ia harus bertempur diantara hidup dan mati, sebagaimana perempuan itu sendiri. Ia tahu bahwa mereka yang ilmunya dibasahi oleh landasan ilmu sebagaimana dikuasainya, jarang sekali meleapskan lawan-lawannya dalam keadaan hidup.

Itulah sebabnya, maka Wira Gobang kemudian tidak sempat lagi memperhatikan orang-orangnya yang juga sedang bertempur, karena ia harus memusatkan perhatiannya kepada perempuan yang sudah mendekati hari-hari tuanya itu. Namun yang ternyata masih memiliki kemampuan bertempur sangat tinggi.

Sebenarnyalah bahwa ujung rantai Warsi bagaikan kepala seekor ular yang sangat buas. Bahkan seakan-akan mempunyai sepasang mata yang sangat tajam, sehingga setiap kali mematuk ke sasaran yang berbahaya. Bahkan hampir saja mematuk mata Wira Gobang.

Sementara itu Kasadha, bibinya dan seorang kawannya masih bertempur dengan sengitnya pula. Dua orang pengikut Wira Gobang yang bertempur melawan bibi Kasadha semakin menjadi heran, bahwa setelah bertempur beberapa lama, mereka sama sekali tidak mampu menguasai perempuan itu. Bahkan sekali-kali keduanya harus berloncatan menjauh untuk mengambil jarak, jika keduanya menjadi kebingungan.

Kasadha telah bertempur dengan garang pula. Pedangnya berputaran semakin cepat. Ketika seorang lawannya meloncat menyerang sambil mengacukan senjatanya kearah dada Kasadha, maka dengan cepat Kasadha menghindar. Ketika senjata lawannya terjulur. Kasadha justru merendah hampir berjongkok pada sebelah lututnya. Tetapi sementara itu tangannya telah menjulurkan pedangnya pula menggapai lambung lawannya itu. Lawannya berteriak nyaring ketika pedih terasa menggigit lambung. Dengan cepat ia telah meloncat mundur. Tetapi Kasadha tidak sempat memburu, karena lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula. Pedangnya terayun mendatar menebas kearah leher.

Kasadha dengan cepat bangkit dan meloncat mundur. Ketika lawannya itu menyerangnya pula dengan tusukan kearah jantung, maka Kasadha telah menangkis serangan itu. Dengan putaran yang cepat dan kuat, hampir saja pedang lawannya itu terlempar. Untunglah betapa pedih telapak tangan lawannya, namun senjata lawannya itu masih dapat diselamatkan, meskipun lawannya itu kemudian harus melangkah surut.

Kasadha juga tidak memburu. Ia harus memperhatikan lawannya yang seorang lagi, yang menjadi semakin marah karena lambungnya telah terluka meskipun tidak begitu dalam.

Dengan demikian maka pertempuran diantara mereka pun menjadi semakin sengit. Senjata mereka berputaran, beradu dengan dentang yang keras, sehingga bunga api pun berhamburan. Kaki-kaki mereka yang terlibat dalam pertempuran itu berloncatan dengan cepat. Sementara mulut kedua orang lawan Kasadha itu mengumpat beberapa kali dengan kasarnya.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 50

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s