SST-48

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

IBUNYA termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anaknya yang gelisah dengan kerut didahinya.

“Kasadha,” desis ibunya pula, “jika bukan karena hak atas Tanah Perdikan ini, apalagi yang kau pikirkan? Kau merenung, gelisah dan bahkan seperti orang bingung. Tiba-tiba saja kau ingin meninggalkan tempat ini dan kembali ke Pajang. Semuanya itu terjadi setelah wisuda itu dilakukan. Mungkin sebelumnya kau memang tidak berniat untuk menjadi iri, dengki dan semacamnya. Tetapi ketika kau menyaksikan wisuda atas Risang itu, maka perasaan yang selama ini mampu kau tekan kebawah sadar, tiba-tiba telah muncul ke permukaan. Justru lebih dahsyat bergelora di dadamu.”

“Tidak ibu, tidak. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak pernah memikirkan tentang warisan atas Tanah Perdikan ini. Bukankah aku sekarang seorang Lurah prajurit pada umurku yang masih muda ini? Beberapa tahun lagi aku akan mendapat kesempatan untuk mendapatkan pangkat dan jabatan yang lebih tinggi. Demikian pula tahun-tahun berikutnya sehingga pada suatu saat aku akan menjadi seorang Senapati dengan pangkat Tumenggung.”

“Jika demikian apakah yang terjadi atasmu sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba mengajak aku kembali mendahului rencana yang telah kita buat sebelumnya?” bertanya ibunya.

Wajah Kasadha menjadi semakin tegang. Sementara itu ibunya berkata lembut, “Kasadha. Jika kau terpaksa harus kembali ke pekerjaanmu, maka biarlah kau tinggalkan aku dan bibimu disini. Aku masih akan tinggal untuk satu dua hari lagi. Aku dan bibimu akan dapat pulang tanpa kau, karena kau tahu, bahwa kemampuanku jauh lebih tinggi dari kemampuanmu, sehingga jika terjadi sesuatu di perjalanan, maka aku dan bibimu akan dapat menyelesaikan sendiri. Kami berdua tidak mau berkelahi hanya di Kademangan kami untuk mempertahankan hubungan kami dengan tetangga-tetangga kami.”

Kasadha itu pun terduduk lemah. Ternyata ibunya salah menangkap perasaannya. Ia sama sekali tidak merasa iri, dengki atau perasaan apapun terhadap Risang yang diwisuda. Tetapi ia tidak dapat menahan gejolak perasaannya ketika ia melihat Riris.

Tetapi Kasadha tidak dapat mengatakan hal itu kepada ibunya. Karena itu, maka gejolak perasaannya itu disimpannya saja didalam dadanya. Namun dengan demikian, maka dada Kasadha itu terasa menjadi nyeri.

Ibunya tidak berbicara lebih panjang lagi. Namun ia justru memperingatkan Kasadha, “Bukankah kau berjanji untuk kembali ke rumah Risang?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia merasa segan untuk kembali ke rumah Risang. Tetapi ia tidak ingin ibunya menjadi semakin salah paham. Karena itu, maka katanya, “Baiklah ibu. Aku akan kembali ke rumah Risang.”

Dengan langkah yang lesu Kasadha menyusuri jalan di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Di regol-regol halaman masih terpancang obor-obor yang menerangi jalan yang sedang dilaluinya. Bahkan satu dua ia masih bertemu dengan orang-orang yang menyusuri jalan itu pula. Bukan saja mereka yang pulang dari rumah Risang, tetapi juga beberapa orang anak muda yang sedang meronda.

Di pendapa rumah Risang memang masih ada beberapa orang yang duduk-duduk sambil berbincang kesana-kemari. Kasadha menarik nafas dalam-dalam ketika ia tidak melihat lagi seorang perempuan pun di pendapa itu. Agaknya mereka telah kembali lebih dahulu ke tempat yang sudah disediakan bagi mereka. Nyi Rangga Dipayuda dan Riris juga sudah tidak berada di pendapa. Namun Ki Rangga dan Jangkung ternyata masih duduk diantara beberapa orang yang masih tinggal dipendapa.

Kasadha pun kemudian telah duduk pula diantara mereka. Dari Jangkung ia mendengar bahwa Nyi Rangga dan Riris sudah diantarkannya ke tempat yang disediakan bagi mereka untuk beristirahat.

Ki Rangga Kalokapraja ternyata sudah tidak ada pula di pendapa itu, meskipun dua orang yang datang bersamanya, yang terhitung masih muda, masih berada di pendapa itu untuk ikut berbincang dan berjaga-jaga.

Sanak kadang dan orang-orang terdekat yang berada di pendapa itu ternyata hampir semalam suntuk. Ki Dipayuda dan Jangkung yang baru di siang harinya datang, tidak meninggalkan pendapa itu pula. Karena itu, bagaimanapun segannya, Kasadha juga tinggal di pendapa itu sampai hampir menjelang pagi.

Dalam kesempatan itu, Ki Rangga Dipayuda sempat bertanya, “Kapan kau meninggalkan Tanah Perdikan ini?”

Kasadha mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Aku menunggu ibu, Ki Rangga. Tetapi sudah tentu tidak lebih dari ijin yang diberikan kepadaku.”

“Aku akan kembali besok,” berkata Ki Rangga.

“Besok pagi?” bertanya Kasadha, “begitu tergesa-gesa.”

“Maksudku, aku masih akan bermalam semalam lagi. Bukankah sekarang sudah pagi?” sahut Ki Rangga.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia ingin kembali ke Pajang bersama Ki Rangga Dipayuda yang berarti bersama-sama dengan Jangkung, Nyi Rangga dan sudah tentu Riris.

“Tetapi bagaimana dengan ibu?” pertanyaan itu telah tumbuh didalam hatinya.

Pertanyaan itu memang tidak dapat dijawab oleh Kasadha. Karena itu, maka dadanya yang sesak itu seakan-akan justru menjadi bertambah sesak. Ternyata ibu dan bibinya yang semula disangkanya tidak akan menjadi beban baginya itu, agaknya justru merupakan beban yang sangat berat bagi perasaannya. Tanpa ibunya ia tentu sudah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan atau ia dapat memilih kembali ke Pajang bersama-sama dengan Ki Rangga Dipayuda. Tetapi ia tidak dapat melakukannya karena ibu dan bibinya.

Memang kadang-kadang terbersit pernyataan didalam dirinya, bahwa ibunya itu akan dapat pulang berdua saja bersama bibinya. Namun rasa-rasanya hal itu akan menimbulkan persoalan dihati ibunya yang ternyata telah menjadi salah sangka, karena ibunya mengira bahwa perasaan Kasadha terguncang ketika ia melihat Risang diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Kasadha menyadari, jika ia masih tetap berada di Tanah Perdikan itu, akan berarti bahwa perasaannya akan menjadi tersiksa setidak-tidaknya sampai Riris meninggalkan rumah Risang itu.

Namun Kasadha memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia memang harus mengorbankan perasaannya. Ia harus mengerahkan segenap daya tahannya untuk menjaga keseimbangan nalar budinya.

Demikianlah, menjelang fajar, maka pendapa rumah Risang itu menjadi sepi. Para tamu yang datang dari luar Tanah Perdikan itu sudah berada kembali di tempat yang telah disediakan bagi mereka. Mereka memanfaatkan waktu yang pendek untuk beristirahat karena setelah matahari mulai memanjat langit sepenggalah, mereka harus sudah berada di pendapa itu lagi. Para tamu dari Pajang akan meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan setelah makan pagi. Karena itu, para tamu yang lain akan dipersilahkan untuk ikut makan pagi bersama Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Di tempatnya menginap, sikap Kasadha memang menimbulkan persoalan bagi ibu dan bibinya. Namun ketika keduanya berada dibelakang, ibu Kasadha itu sempal berdesis, “Mungkin hatinya terguncang melihat upacara wisuda yang memang mendebarkan itu. Namun setelah dua tiga pekan, maka ia akan melupakannya.”

“Mudah-mudahan,” sahut bibi Kasadha, “tetapi agaknya Kasadha tidak akan larut terlalu jauh dalam gejolak perasaannya. Sampai saat terakhir, sama sekali tidak nampak kesan padanya, bahwa ia merasa iri. Karena itu, maka gejolak itu tentu baru timbul setelah ia menyaksikan upacara itu.”

Kedua orang perempuan itu mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat. Namun segala sesuatunya memang masih harus dilihat kemudian.

Dalam pada itu Kasadha memang tidak memaksa untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu lebih dahulu. Ia sadar, bahwa ia harus bertahan apapun yang terjadi pada jantung didalam dadanya.

Seperti direncanakan, maka ketika matahari mulai naik, ibu dan bibi Kasadha telah mengajak Kasadha yang juga telah berbenah diri untuk pergi ke rumah Risang. Kasadha memang tidak dapat menolak. Ia sebaiknya memang berada di pendapa untuk mengantar Ki Tumenggung Wreda Wirajaya makan pagi sebelum ia meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan bersama para pejabat dari Pajang, yang ternyata termasuk juga Ki Rangga Kalokapraja.

Ketika Kasadha sampai di pendapa, maka Risang pun telah mempersilahkannya naik. Hampir berbisik Risang berkata, “Tolong temani Ki Rangga Dipayuda dan Jangkung. Aku masih belum dapat duduk bersama mereka.”

“Baik,” jawab Kasadha sambil mengangguk. Ia pun Kemudian naik ke pendapa dan duduk bersama Ki Dipayuda dan Jangkung. Satu dua bebahu telah berada di pendapa itu pula menunggu kehadiran Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dan para pejabat yang lain.

Dalam kesempatan itu Ki Rangga Dipayuda sempat bertanya lagi, “Apakah kau dapat kembali bersamaku besok?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Keinginannya memang melonjak. Namun apakah ibu dan bibinya bersedia menempuh perjalan bersama Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya.

Karena itu, maka Kasadha pun menjawab, “Agaknya kami masih akan tinggal sampai lusa. Kami masih ingin ikut menunggui ujung dari malam-malam yang akan dimeriahkan oleh berbagai macam keramaian di Tanah Perdikan ini.”

Ki Rangga Dipayuda mengangguk-angguk. Ia tahu benar hubungan yang sangat akrab antara Kasadha dan Risang yang semula dikenalnya bernama Barata itu, maka ia tidak mendesaknya lagi.

Beberapa saat kemudian maka Ki Tumenggung Wreda Wirajaya pun telah datang bersama-sama dengan para pejabat dari Pajang. Para tamu yang telah berada di pendapa pun segera bangkit, turun ke tangga dan mempersilahkan Ki Tumenggung untuk naik.

Demikianlah, maka sejenak kemudian maka hidangan pun telah disuguhkan. Dan ternyata yang menghidangkannya adalah Riris.

Jantung Kasadha yang berdebaran itu menjadi semakin bergejolak. Namun ia sadar sesadar-sadarnya, bahwa ia memang harus dengan sekuat tenaga menahan diri.

Beberapa saat kemudian, setelah semua hidangan disuguhkan, Iswari, ibu Risang, telah mempersilahkan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya untuk makan pagi bersama para tamu yang lain sebelum Ki Tumenggung meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Segalanya serba buram bagi Kasadha. Tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya melupakan gejolak dijantungnya itu. Apalagi kemudian Riris masih saja sibuk di pendapa melayani para tamu yang sedang makan. Terutama Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Demikianlah, setelah segalanya selesai serta mangkuk, tenong dan cething serta kelengkapan yang lain disingkirkan, maka Ki Tumenggung Wreda masih sempat memberikan beberapa pesan kepada Risang yang telah resmi menjadi Kepala Tanah Perdikan.

“Apalagi kau masih muda, masih belum berkeluarga,” berkata Ki Tumenggung Wreda kemudian, “kau masih harus menganyam masa depanmu disamping masa depan Tanah Perdikan Sembojan. Kau tidak boleh gagal sebagai Kepala Tanah Perdikan. Tetapi kau juga tidak boleh gagal sebagai seorang anak muda yang kemudian akan menempuh satu kehidupan berkeluarga.”

Risang duduk sambil menundukkan kepalanya, sementara Ki Tumenggung itu berkata selanjutnya, “Karena itu, maka sejak semula kau harus memikirkan bahwa orang yang akan mendampingimu harus seorang yang tahu benar akan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan. Bukan hanya mengetahui hakmu semata-mata.”

Risang mengangguk hormat sambil menyahut, “Ya Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung tersenyum. Ia masih memberikan beberapa pesan lagi. Namun kemudian setelah segalanya dirasa cukup, maka Ki Tumenggung itu pun berkata, “Aku sudah selesai dengan tugasku. Karena itu aku akan kembali ke Pajang. Nampaknya aku telah kesiangan dibandingkan dengan rencanaku.”

Demikianlah, maka Ki Tumenggung serta para pejabat dari Pajang telah minta diri, termasuk Ki Rangga Kalokapraja. Namun Ki Rangga Dipayuda masih tetap tinggal, karena kehadirannya bukan karena kedudukannya. Tetapi ia diundang sebagai seorang tamu di Tanah Perdikan Sembojan.

“Kau masih ingin tinggal?” bertanya Ki Tumenggung sambil tersenyum.

“Aku masih mempunyai hari yang tersisa dari ijin yang diberikan kepadaku,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Baiklah,” berkata Ki Tumenggung Wreda, “tetapi besok jika Ki Rangga kembali ke Pajang, tentu Ki Rangga akan membawa jodang berisi makanan.”

Ki Rangga dan orang-orang yang mendengarnya tersenyum. Namun Ki Tumenggung pun kemudian telah menuntun kuda yang telah dipersiapkan baginya keregol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sambil sekali lagi minta diri.

Orang-orang Tanah Perdikan serta para tamu yang semula duduk dipendapa telah mengantar Ki Tumenggung Wreda dan para pejabat dari Pajang yang lain, yang akan meninggalkan Tanah Perdikan itu. Mereka berdiri berjajar diluar regol halaman. Diantara mereka berdiri Iswari dan Risang.

Kasadha yang juga berdiri diluar regol, berada agak di belakang dari kerumunan orang-orang Tanah Perdikan. Dipandanginya mereka yang sibuk mengucapkan selamat jalan dan terima kasih itu dengan tatapan mata yang kosong. Ki Rangga Dipayuda ternyata sedang sibuk pula ikut mengucapkan selamat jalan. Tetapi Jangkung justru berdiri di sebelah Kasadha.

Namun Kasadha itu justru terkejut ketika ia merasa lengannya digamit seseorang. Ketika ia berpaling, dilihatnya Riris berdiri dibelakangnya.

“Kau juga pulang besok kakang?” bertanya Riris diluar dugaan Kasadha.

Jantung Kasadha kembali diguncang oleh keragu raguan. Ketika Ki Rangga bertanya kepadanya, ia sudah mendapatkan kepastian pada dirinya sendiri, bahwa apapun yang terjadi didalam dadanya, ia terpaksa tinggal menunggu ibu dan bibinya sesuai dengan rencananya. Tetapi ketika Riris itu bertanya pula kepadanya, maka keragu-raguan pun kembali melanda dinding hatinya.

Dalam pada itu, terdengar Jangkung berbisik, “Sayang. Kasadha baru akan kembali dihari berikutnya karena ia harus menunggu ibu dan bibinya.”

Sebenarnya Kasadha tidak menghendaki Jangkung mengucapkan jawaban itu. Tetapi Jangkung telah mengatakannya, sehingga Kasadha tidak dapat berkata lain. Apalagi ketika Jangkung kemudian berkata, “Ayah sudah mengajaknya. Tetapi nampaknya Kasadha menjadi agak berkeberatan.”

“Sayang,” desis Riris.

Namun mereka tidak dapat berbicara lebih banyak lagi. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya telah berada di punggung kudanya. Demikian pula para pejabat yang lain, termasuk Ki Rangga Kalokapraja.

Demikianlah sejenak kemudian, maka kuda-kuda itu pun telah berderap maju. Tidak terlalu cepat. Tetapi beberapa saat kemudian iring-iringan itu pun telah menuju ke kelok jalan. Sejenak kemudian yang nampak tinggal debu kelabu yang terhambur dibelakang kaki-kaki kuda itu.

Dalam pada itu sejenak kemudian Iswari telah mempersilah-kan para tamu untuk kembali duduk di pendapa. Namun ternyata beberapa orang diantaranya langsung mohon diri dan kembali kerumah mereka masing-masing.

Yang kemudian duduk di pendapa hanyalah orang-orang yang terdekat saja lagi. Diantara mereka terdapat Ki Rangga Dipayuda, Jangkung dan ternyata Riris juga ikut duduk di pendapa itu.

Adalah diluar dugaan Kasadha, bahwa ternyata sikap Riris rasa-rasanya telah pulih kembali sebagaimana dikenalnya. Disaat upacara berlangsung, maka Riris seakan-akan telah menjadi seorang gadis yang lain, yang tiba-tiba jaraknya terasa demikian jauh daripadanya. Riris seakan-akan menjadi seorang gadis yang beku yang menjadi bagian peralatan dari upacara wisuda. Namun kini ternyata sikap Riris telah menjadi wajar kembali sebagaimana sering dijumpainya dirumahnya.

Bahkan Riris justru sempat berceritera, bagaimana keringatnya bagaikan terperas dari seluruh tubuhnya, saat ia harus membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan dihadapan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Kasadha mendengarkan ceritera Riris sambil mengangguk-angguk. Sekali-sekali nampak Kasadha tersenyum meskipun ceritera Riris itu kadang-kadang membuat desir yang pedih dihatinya. Namun Kasadha sadar, bahwa Riris sama sekali tidak mempunyai maksud apa-apa dengan ceriteranya.

Sikap Riris itu ternyata sedikit meredakan gejolak perasaan Kasadha. Dengan demikian maka ia mengetahui, bahwa yang dilakukan Riris pada saat wisuda itu tidak lebih dari menjalankan beban kewajiban yang diserahkan kepadanya.

Sebenarnyalah dengan demikian keinginan Kasadha untuk pulang ke Pajang bersama Ki Rangga Dipayuda menjadi semakin melonjak didadanya. Tetapi setiap kali ia teringat akan ibu dan bibinya, maka ia harus kembali pada satu kenyataan bahwa ia tidak akan dapat melakukannya.

Ketika Kasadha kemudian kembali ke tempat yang disediakan baginya bersama ibu dan bibinya, telah nampak sedikit perubahan pada sikapnya. Terutama sikap batinnya. Sebagai seorang ibu Warsi ternyata mampu mengamati getaran jiwa anaknya yang sempat membuatnya gelisah.

Kepada bibi Kasadha Warsi itu berdesis, “Nampaknya hatinya mulai mengendap lagi.”

Bibinya mengangguk sambil tersenyum, “Syukurlah. Aku kemarin hampir kehilangan akal.”

“Besok mudah-mudahan ia sudah melupakannya.” desis Warsi.

“Upacara wisuda itu memang mampu menggugat batinnya,” sahut sepupunya. Namun katanya kemudian, “Tetapi syukurlah, bahwa keadaan anak itu tidak berlarut-larut.”

Ketika matahari lewat di puncak langit, maka segala persiapan bagi pertunjukan di malam harinya telah selesai. Malam pertama dari rangkaian keramaian di padukuhan induk Tanah Perdikan itu adalah sebuah pertunjukan tari topeng. Para penarinya adalah orang-orang Tanah Perdikan itu sendiri. Demikian pula para penabuh yang akan mengiringi tari topeng itu.

Dalam pada itu, justru karena Risang masih sibuk dengan berbagai macam hal, maka Riris lebih banyak bersama Jangkung dan Kasadha. Mereka sempat menikmati acara-acara yang berlangsung di Tanah Perdikan. Disore hari mereka sempat melihat-lihat bukan saja padukuhan induk Tanah Perdikan, tetapi satu dua pedukuhan terdekat. Mereka melihat bagaimana Rakyat Tanah Perdikan Sembojan menyambut dengan gembira kehadiran seorang Kepala Tanah Perdikan yang disahkan oleh Pajang.

Di malam hari mereka berada di pendapa untuk menyaksikan pertunjukan yang meriah. Namun tengah malam Riris dan ibunya telah meninggalkan pendapa. Hanya Ki Rangga Dipayuda sajalah yang masih berada di pendapa bersama Jangkung diantara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha juga meninggalkan pendapa untuk mengantarkan ibu dan bibinya. Namun ia berjanji untuk kembali lagi ke pendapa.

Risang memang tidak mendapat banyak kesempatan untuk berada diantara tamu-tamunya. Ternyata bahwa pada hari-hari yang pertama ia memegang jabatan Kepala Tanah Perdikan, ia telah mendapat laporan, bahwa ada orang-orang yang tidak dikenal berkeliaran di Tanah Perdikan. Terutama di padukuhan-padukuhan disisi Utara.

“Apakah para peronda telah mencoba menemui orang-orang itu?” bertanya Risang.

Seorang bebahu yang ikut mendengarkan laporan itu berkata, “Sudahlah ngger. Silahkan duduk diantara para tamu. Biarlah aku yang mengurusnya.”

Tetapi Risang ternyata merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas ketenangan di Tanah Perdikannya. Karena itu, maka ia pun berpesan kepada bebahu itu, “Tanyakan kepada orang itu jika kau berhasil menemuinya, apakah mereka orang Madiun?”

Bebahu itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke padukuhan-padukuhan yang menjadi gelisah itu.”

“Hati-hatilah,” pesan Risang, “jangan merusak suasana yang meriah ini. Apalagi masih ada beberapa orang tamu dari luar Tanah Perdikan.”

Namun bagaimanapun juga Risang tidak dapat tenang duduk diantara para tamu. Sebenarnya ia ingin duduk bersama Riris dan Jangkung. Apalagi Kasadha berada diantara mereka. Namun setiap kali ia memang harus bangkit berdiri dan ikut membicarakan beberapa masalah yang timbul.

Tetapi ketika Riris telah meninggalkan pendapa, maka Risang justru tidak terlalu tertarik lagi untuk berada diantara para tamu. Kepada Kasadha yang kembali dari mengantarkan ibu dan bibinya kembali ke penginapan mereka berbisik, “Tolong, temui para tamu.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Kasadha meskipun agak ragu.

Risang pun membisikkan laporan yang diterimanya dari padukuhan-padukuhan disisi Utara itu.

“Kau akan kesana?” bertanya Kasadha.

“Tidak,” jawab Risang, “tetapi aku harus mengikuti perkembangannya. Seorang bebahu telah pergi ke padukuhan-padukuhan yang gelisah itu.”

“Baiklah,” berkata Kasadha, “aku akan berada di pendapa.”

Demikianlah Risang ternyata masih saja hilir mudik. Menjelang dini bebahu yang pergi ke sisi Utara Tanah Perdikan itu pun telah kembali untuk memberikan laporan kepadanya.

“Semula para peronda mengira bahwa mereka adalah orang-orang dari luar Tanah Perdikan yang ingin melihat-lihat keramaian di Tanah Perdikan induk ini. Sejak kemarin dari Kademangan sebelah menyebelah Tanah Perdikan ini memang banyak orang yang datang untuk melihat wisuda dan malam ini melihat keramaian. Tetapi orang-orang yang demikian biasanya tidak menarik banyak perhatian. Mereka lewat saja tanpa memperhatikan padukuhan-padukuhan yang mereka lewati karena mereka telah sangat sering melihat.”

“Jadi bagaimana dengan orang-orang yang dikatakan asing itu?” bertanya Risang.

“Mereka nampaknya sangat memperhatikan padukuhan-padukuhan disisi Utara itu. Bukan karena padukuhan-padukuhan itu berhias. Tetapi nampaknya lebih dari itu. Bahkan setelah mereka keluar dari padukuhan itu mereka masih saja memperhatikan padukuhan-padukuhan itu. Seorang yang kebetulan sedang membuka air di sawah melihat dua orang yang berdiri saja di jalan bulak sambil memperhatikan padukuhan dengan saksama. Sekali-sekali mereka menunjuk ke sudut-sudut padukuhan, kemudian mereka mulai memperhatikan sawah yang hijau segar.”

Risang mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah orang-orang itu masih ada disana?”

“Tidak. Mereka sudah pergi. Tetapi tidak seorang pun tahu kemana mereka menghilang,” jawab bebahu itu.

“Apakah kau pesan kepada para peronda agar mereka berhati-hati?” bertanya Risang kemudian.

“Ya,” jawab bebahu itu, “jika perlu Bekel di padukuhan itu dapat memanggil orang-orang itu untuk mendapat keterangan apa yang sedang mereka lakukan.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Tetapi ingat, bahwa jangan merusak suasana. Orang-orang Tanah Perdikan sedang bergembira untuk beberapa hari.”

Namun ternyata bahwa hal itu tidak dapat begitu saja dikesampingkan oleh Risang, Bahkan Risang telah memberitahukan hal itu kepada ibunya.

“Besok aku ingin mendengar langsung dari orang-orang yang melihat orang-orang yang berkeliaran itu,” berkata Risang yang memperbandingkan dengan kegiatan seorang pejabat dari Madiun yang tidak mau menemuinya dengan terbuka.

“Kau memang sebaiknya datang ketempat itu Risang,” berkata ibunya.

“Besok ibu, setelah Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya kembali ke Pajang,” jawab Risang.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat memaksa, justru Iswari tahu bahwa diantara keluarga Ki Rangga Dipayuda itu terdapat seorang gadis yang cantik.

Di dini hari baru Risang sempat duduk bersama Ki Dipayuda dan Jangkung. Kepada Ki Rangga, Risang juga menceriterakan apa yang terjadi disisi Utara Tanah Perdikan yang sedang bergembira itu.

“Hati-hatilah,” pesan Ki Rangga Dipayuda, “hal-hal yang nampaknya kecil itu harus kau perhatikan dengan sungguh-sungguh karena mungkin dibelakangnya tersimpan hal-hal yang besar bagi Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Rangga.”

“Tetapi bukankah sebelumnya tidak pernah ada masalah dengan Tanah Perdikan ini?” bertanya Ki Rangga.

“Maksud Ki Rangga?” bertanya Risang.

“Misalnya persoalan antara keluarga Tanah Perdikan ini. Mungkin ada satu dua orang keluarga yang mempunyai pertimbangan lain atas Tanah Perdikan ini. Jelasnya, bukankah tidak ada orang yang merasa iri terhadap kedudukanmu sekarang?”

“Tidak Ki Rangga, tidak. Semua keluargaku menganggap bahwa yang terjadi ini wajar sekali. Sebagaimana seharusnya terjadi,” jawab Risang dengan serta merta.

Kasadha menahan nafas sesaat. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Jika ibu dan bibinya mendengar pertanyaan Ki Rangga itu, akan dapat menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Apalagi jika mereka mendengar tentang orang-orang yang berkeliaran di sisi Utara Tanah Perdikan Sembojan itu.

Namun ternyata Ki Rangga Dipayuda tidak mempersoalkan-nya lebih panjang. Bahkan kemudian Ki Rangga itu pun minta diri untuk beristirahat.

“Besok aku harus kembali ke Pajang. Karena itu, meskipun hanya sebentar aku akan beristirahat,” berkata Ki Rangga.

“Silahkan Ki Rangga,” sahut Risang yang tidak dapat menahannya untuk tetap berada di pendapa.

Bersama Jangkung keduanya pun kemudian kembali ke penginapan yang disediakan bagi mereka. Sementara Kasadha masih tetap berada di pendapa bersama Risang. Sementara itu pertunjukan tari topeng akan berlangsung sampai menjelang pagi.

Tetapi Kasadha juga tidak terlalu lama berada di pendapa. Ia pun kemudian minta diri untuk beristirahat.

Di sepanjang jalan menuju ke penginapannya, Kasadha ternyata masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Rasa-rasanya ia memang ingin kembali ke Pajang bersama Riris. Namun bagaimana mungkin ia dapat meninggalkan ibu dan bibinya. Karena ia sebelumnya pernah dengan serta merta mengajak ibu dan bibinya pulang, maka seandainya sekali lagi ia menyatakan keinginannya itu, maka ibu dan bibinya tentu masih tetap salah mengerti. Sementara ia masih tetap tidak dapat mengatakan alasan yang sebenarnya.

Ketika ia sampai di penginapannya, ternyata ibu dan bibinya masih juga belum tidur. Mereka masih duduk berbincang di ruang tengah.

Sikap Kasadha ternyata memang membuat kedua orang perempuan itu agak bingung. Sebelumnya, mereka melihat keadaan Kasadha sudah menjadi lebih baik. Namun malam itu mereka kembali melihat Kasadha yang merenung dalam-dalam.

Tetapi keduanya tidak bertanya lebih banyak lagi kecuali beberapa pertanyaan tentang tari topeng di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Malam itu, Kasadha hanya sempat beristirahat beberapa saat. Pagi-pagi ketika ibu dan bibinya bangun dan membersihkan diri, Kasadha pun melakukannya pula.

Baru ketika matahari sepenggalah maka mereka berangkat ke rumah Kepala Tanah Perdikan.

Beberapa saat Kasadha duduk di pendapa, Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya telah datang pula. Namun agaknya mereka telah bersiap untuk kembali ke Pajang.

Sebenarnyalah, setelah Risang dan Iswari menemuinya, maka Ki Rangga Dipayuda pun menyatakan niatnya untuk minta diri.

Namun Iswari masih menahannya untuk makan pagi lebih dahulu.

Sambil makan pagi, Ki Rangga Dipayuda sempat berkata kepada Kasadha, “Sebenarnya Jangkung ingin tinggal dan kembali bersamamu besok.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi, bagaimana keputusannya?”

“Aku akan merasa terlalu sibuk untuk seorang diri kembali ke Pajang bersama Riris dan ibunya,” jawab Ki Rangga.

Kasadha mengangguk-angguk. Ia pun segera teringat kepada ibu dan bibinya yang tentu agak berkeberatan untuk menempuh perjalanan bersama orang lain.

Namun terbersit pula pertanyaan didalam dirinya, “Apakah hanya ibu dan bibi saja yang merasa rendah diri?”

Ternyata ketika Kasadha menukik kedalam dasar batinnya, sebenarnyalah Kasadha pun merasakan hal yang sama. Meskipun orang lain tidak tahu latar belakang kehidupan ibu dan bibinya, namun rasa-rasanya bayangan kehidupan Warsi dimasa lampau masih saja mengikutinya.

Dengan demikian ia pun justru bersyukur bahwa Jangkung tidak akan tinggal dan kembali bersamanya di keesokan harinya.

Tetapi Jangkung sendiri sambil bersungut-sungut berdesis, “Aku sebenarnya masih kerasan tinggal disini. Aku belum sempat melihat-lihat seluruh Tanah Perdikan ini. Aku belum sempat bersama-sama dengan Kasadha dan Risang berpacu di jalan-jalan bulak dan di lereng-lereng pegunungan Tanah Perdikan Sembojan untuk melihat secara utuh.”

“Bukankah pada kesempatan lain kau dapat pergi sendiri atau katakanlah, jika Kasadha pergi ke Tanah Perdikan ini kapan saja, kau dapat ikut bersamanya,” sahut ayahnya.

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Pada kesempatan lain aku akan datang lagi.”

Risang yang hanya mendengarkan pembicaraan itu tiba-tiba menyahut, “Aku tunggu kedatanganmu, Jangkung. Kau akan dapat melihat-lihat lebih banyak lagi. Dan barangkali kau akan mendapatkan arena bermain-main dengan kuda sepuas-puasmu disini. Tetapi disini jarang kau jumpai seekor kuda yang baik.”

“Ya. Pada kesempatan lain aku tentu akan datang lagi kemari dan untuk waktu yang lebih lama,” jawab Jangkung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian acara makan pagi itu pun selesai. Setelah mangkuk, tenong, cething serta alat-alat yang lain disingkirkan, serta beristirahat sesaat, maka Ki Rangga Dipayuda pun minta diri untuk kembali ke Pajang.

Risang dan ibunya tidak dapat menahan mereka lebih lama lagi, karena mereka tahu bahwa Ki Rangga Dipayuda masih seorang prajurit, sehingga ia pun harus kembali ke tugasnya pada saat yang telah ditentukan.

Demikianlah, maka Nyi Rangga, Jangkung dan Riris pun telah minta diri pula kepada Risang yang telah dengan resmi menjadi Kepala Tanah Perdikan serta ibunya, yang semula adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Dalam pada itu, ibu Kasadha yang tidak mau ikut keluar ke pendapa, ternyata ingin juga melihat keluarga Ki Rangga Dipayuda. Dari Kasadha ibu dan bibinya mendengar bahwa Ki Rangga adalah seorang Senapati prajurit yang pernah memimpin langsung Kasadha dan Risang ketika mereka masih menjadi satu dilingkungan keprajuritan.

Ibu Kasadha serta bibinya termangu-mangu sejenak ketika mereka dari belakang seketheng sebelah kiri melihat keluarga Ki Rangga Dipayuda. Seorang diantara mereka adalah seorang gadis yang cantik.

“Gadis itulah kemarin yang membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan,” desis bibi Kasadha.

“Ya,” sahut ibu Kasadha, “betapa cantiknya gadis itu ketika ia dirias mirip dengan rias pengantin. Dengan pakaian yang berwarna cerah dan kain beludru berwarna kuning keemasan sebagai alas nampan tempat pertanda jabatan itu diletakkan, gadis itu seakan-akan bersinar melampaui terangnya cahaya lampu.”

“Jarang aku melihat gadis secantik itu,” desis bibi Kasadha.

Namun kening ibu Kasadha itu pun berkerut dalam. Kegelisahan mulai mengusik perasaannya. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Itukah sebabnya kenapa Kasadha ingin lebih cepat pulang agar dapat bersama-sama dengan gadis itu?”

“Ah,” tiba-tiba bibinya berdesah.

“Kenapa?” ibunya segera berpaling.

Tetapi sepupunya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya Kasadha menghindari gadis itu.”

“Kenapa?” bertanya ibu Kasadha.

“Bahwa ia dipilih untuk membawa pertanda kedudukan Kepala Tanah Perdikan Sembojan tentu ada sebabnya,” jawab sepupunya.

Ibu Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud sepupunya itu. Namun justru karena itu, maka jantungnya pun menjadi berdebar-debar. Hampir berbisik ia berkata, “Apakah kecantikan gadis itu telah mengguncang jantung Kasadha? Jika demikian, yang membuatnya gelisah sama sekali bukan kedudukan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi gadis anak Ki Rangga Dipayuda itu.”

Wajah sepupunya pun berkerut. Katanya, “Jika demikian, maka persoalan itu harus dihindari.”

Ibu Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya orang-orang yang sudah turun dari pendapa itu. Ibu dan bibi Kasadha sempat melihat, bagaimana Riris minta diri kepada Kasadha yang masih akan tinggal sehari lagi di Tanah Perdikan Sembojan.

Ibu dan bibi Kasadha itu melihat bagaimana gadis itu bersikap ramah, baik kepada Risang maupun kepada Kasadha. Sehingga karena itu, maka ibu Kasadha itu berkata, “Jiwa gadis itu masih bersih, lugu dan tidak dibuat-buat.”

“Tetapi justru karena itu akan dapat menimbulkan salah paham diantara kawan-kawannya. Barangkali juga Kasadha.”

“Tetapi apakah kita dapat berbicara berterus-terang dengan Kasadha?” bertanya ibu Kasadha.

Sepupunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita harus menunggu kesempatan.”

“Ya. Kita memang harus menunggu kesempatan untuk berbicara tentang gadis itu dengan Kasadha. Nampaknya hatinya akan mudah tersinggung. Apalagi jika dugaan kita salah,” desis ibu Kasadha.

Keduanya pun kemudian terdiam. Orang-orang yang turun dari pendapa itu sudah berada dipintu regol. Kemudian Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya itu pun melangkah menjauhi regol halaman rumah itu.

Namun ternyata Kasadha dan Risang ikut mengantar mereka sampai ke penginapan yang disediakan bagi mereka untuk mengambil barang-barang bawaan yang ditinggal di penginapan itu.

Demikianlah hari itu Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian maka rasa-rasanya rumah Risang itu menjadi semakin lama semakin lengang.

Yang kemudian tinggal adalah Kasadha, ibu dan bibinya yang masih akan bermalam semalam lagi di Tanah Perdikan. Mereka masih akan menyaksikan keramaian dihari kedua. Sementara itu keramaian berikutnya akan berlangsung tersebar di padukuhan-padukuhan di seluruh Tanah Perdikan Sembojan. Para Demang dan para Bekel pun telah mempersiapkan segala-galanya untuk itu.

Namun dalam pada itu, sebagaimana direncanakan oleh Risang, maka setelah Ki Rangga Dipayuda meninggalkan Tanah Perdikan, maka ia sendiri akan pergi ke padukuhan-padukuhan disisi Utara untuk mendapat keterangan langsung dari orang-orang yang melihat orang-orang asing yang mencurigakan itu.

Namun karena Kasadha masih berada di Tanah Perdikan, maka Risang pun telah mengajaknya untuk melihat-lihat padukuhan-padukuhan disisi Utara.

Kasadha sama sekali tidak berkeberatan. Justru setelah Riris pergi, maka rasa-rasanya perasaannya tidak lagi digelitik oleh kegelisahan yang tajam.

Demikianlah maka Kasadha pun telah memberitahukan kepada ibu dan bibinya yang masih berada di rumah Risang, bahwa ia akan pergi ke sisi Utara Tanah Perdikan itu.

“Baiklah,” jawab ibunya, “hati-hatilah di perjalanan.”

Sejenak kemudian maka kedua anak muda itu telah berderap diatas punggung kudanya, menyeberangi bulak-bulak di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka menuju ke sisi Utara Tanah Perdikan itu untuk mendapatkan keterangan tentang beberapa orang asing yang mencurigakan.

Di padukuhan disisi Utara Tanah Perdikan itu, Risang dan Kasadha telah menemui Ki Bekel dari padukuhan Karanggayam. Salah satu padukuhan yang didatangi oleh beberapa orang yang dianggap asing itu.

“Ya ngger,” berkata Ki Bekel Karanggayam, “beberapa orang Karanggayam memang melaporkan tentang orang-orang yang mencurigakan itu. Namun ketika aku sendiri turun ke tempat yang dilaporkan itu, orang-orang itu sudah tidak ada.”

“Apakah orang-orang yang melihat langsung tidak berbuat sesuatu?” bertanya Risang pula.

“Tidak ngger. Mereka hanya sekedar mengawasi ketika seorang diantara mereka melaporkan kepadaku. Tetapi orang-orang yang mengawasinya itu telah kehilangan mereka. Bahkan kehilangan jejaknya,” jawab Ki Bekel.

Bersama Ki Bekel, Risang pun kemudian telah melihat tempat-tempat yang menjadi perhatian orang-orang asing itu. Satu lingkungan persawahan yang subur diantara beberapa buah padukuhan.

Bahkan Ki Bekel itu pun kemudian berkata, “Bukan hanya padukuhan Karanggayam saja yang menjadi sasaran pengamatan mereka. Tetapi juga dibeberapa padukuhan lain. Pada umumnya adalah padukuhan-padukuhan yang subur. Namun pada umumnya, orang-orang padukuhan yang mengawasi orang-orang itu telah kehilangan jejak pula.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Sementara Kasadha berkata, “Jika demikian maka mereka tentu memerlukan waktu yang cukup lama untuk melihat-lihat beberapa padukuhan disisi Utara ini.”

“Agaknya memang demikian. Namun setiap kali orang-orang itu telah menghilang dari pengawasan. Bahkan jejaknya pun sulit untuk ditelusuri,” sahut Risang.

Untuk beberapa saat keduanya telah berjalan menuntun kuda mereka dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain sambil memperhatikan jalan-jalan bulak yang mereka lalui. Bulak diantara daerah persawahan yang subur. Sementara batang-batang padi tumbuh menghijau dari cakrawala sampai ke cakrawala.

Keduanya tertegun sejenak ketika mereka mendengar suara seruling yang menyusup di sela-sela angin yang menghanyutkan gemericiknya air sungai kecil yang mengalir disela-sela kotak-kotak sawah.

Ternyata beberapa orang anak yang menggembalakan kambingnya tengah duduk diatas bebatuan. Seorang diantara mereka berbaring diatas sebongkah batu yang besar sambil meniup seruling, sementara beberapa ekor kambing berkeliaran dilereng tebing sungai sambil makan rumput yang segar.

Risang dan Kasadha pun meneruskan perjalanan mereka, menuntun kuda di jalan-jalan bulak. Sambil memandang sawah yang terbentang bagaikan tanpa batas itu Kasadha berdesis, “Daerah ini sangat subur. Agaknya hal itulah yang menarik perhatian beberapa orang yang datang ke Tanah Perdikan ini.”

“Apakah kira-kira yang mereka maksudkan? Apakah mereka menginginkan tanah ini? Jika demikian maka mereka akan melanggar hak kami di Tanah Perdikan ini.” sahut Risang.

“Hanya satu kemungkian. Tetapi tentu ada kemungkinan yang lain,” jawab Kasadha.

Mereka pun tertegun ketika mereka melihat dibawah sebatang pohon turi yang tumbuh dipinggir jalan terdapat jejak beberapa ekor kuda yang agaknya ditambatkan pada batang pohon turi itu. Rumput disekitarnya nampak bekas terinjak-injak kaki kuda yang jelas nampak jejak telapak besi pada kaki kuda itu.

“Mereka berhenti disini untuk beberapa saat,” berkata Risang sambil mengamati jejak itu.

“Ya,” jawab Kasadha.

“Aku akan minta paman Sambi Wulung dan Jati W ulung untuk mengawasi daerah ini. Biarlah mereka berusaha untuk menemui orang-orang itu jika mereka datang kembali.”

Namun keduanya masih juga meneruskan pengamatan mereka sampai ke padukuhan berikutnya. Risang telah memberikan beberapa pesan kepada Ki Bekel agar berhati-hati.

“Besok malam kita menyelenggarakan keramaian,” berkata Ki Bekel, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

“Hati-hatilah,” pesan Risang, “siapkan para pengawal sebaik-baiknya. Jika perlu beritahukan kepada kami di padukuhan induk agar kami dapat mengirimkan secukupnya.”

“Baiklah ngger. Aku akan berhati-hati dan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya,” jawab Ki Bekel.

“Keramaian apa yang akan diselenggarakan disini?” bertanya Kasadha.

“Tayub,” jawab Ki Bekel. Namun dengan cepat ia melanjutkan, “Tetapi kami akan menjaga, bahwa tayub yang kami selenggarakan tidak akan menimbulkan keributan. Batas antara penari dan mereka yang ikut ngibing harus jelas.”

“Bukankah tayub biasanya dilakukan setelah panen berhasil? Ucapan sukur atas keberhasilan itu diungkapkan lewat keramaian yang dilakukan disawah yang baru saja dipanen,” bertanya Kasadha sambil tersenyum.

Ki Bekel mengangguk. Katanya, “Ya. Tetapi kali ini kita juga bergembira sebagaimana panen yang berhasil, karena kami telah memiliki Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.”

“Baiklah Ki Bekel,” berkata Risang kemudian, “tetapi aku sependapat dengan Ki Bekel. Jangan timbul kekisruhan. Biasanya tuak ikut mewarnai keramaian yang diselenggarakan dengan tayub. Jika seseorang menjadi mabuk, maka sulitlah untuk menguasai diri. Apalagi jika orang itu memiliki kebanggaan bahwa ia dapat bersikap sebagai seorang laki-laki. Kita tidak dapat ingkar Ki Bekel, bahwa seseorang ingin menunjukkan kelebihannya dengan tingkah laku yang aneh-aneh yang dapat mereka tunjukkan atau mencari kesempatan selama tayub berlangsung.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan membatasinya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki. Apalagi berhubungan dengan kehadiran orang-orang yang kita anggap asing itu. Mungkin saja mereka memanfaatkan kesempatan untuk membuat keributan disini.”

“Bagus,” Risang mengangguk-angguk.

Tetapi Ki Bekel masih berkata, “Namun demikian, jika perlu kami akan mohon bantuan untuk menjaga ketertiban. Maksud kami, jika orang-orang asing itu datang. Ada pun orang-orang padukuhan ini aku yakin akan dapat kami kendalikan.”

Risang masih mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian minta diri bersama Kasadha untuk kembali ke padukuhan induk.

Namun sepanjang perjalanan kembali Kasadha berkata, “Sayang besok aku sudah kembali ke Pajang, sehingga aku tidak dapat menyaksikan tari tayub di padukuhan itu.”

“Kenapa tidak besok lusa saja?” bertanya Risang.

“Jika aku terlambat sampai ke barak, aku akan mendapat hukuman. Padahal aku masih harus mengantar ibu dan bibi lebih dahulu,” jawab Kasadha.

Risang mengangguk-angguk pula. Ia tahu benar akan hal itu, sehingga karena itu maka ia tidak akan menahannya lagi.

Sejenak kemudian maka keduanya telah berpacu mendekati padukuhan induk.

Demikian mereka sampai ke padukuhan induk, maka Risang pun telah memanggil Sambi Wulung dan Jati Wulung. Risang minta kepada mereka, agar besok malam mereka berada di padukuhan Simanyar untuk melihat keramaian.

“Keramaian apa?” bertanya Sambi Wulung.

“Di padukuhan Simanyar akan diselenggarakan tayub,” jawab Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Dengan ragu-ragu Sambi Wulung berkata, “Apakah kau anggap aku seorang penggemar tari tayub?”

Risang tersenyum. Katanya, “Jangan salah sangka. Aku tidak menganggap demikian, tetapi bahwa aku minta kau pergi ke Simanyar justru ada kepentingan yang lain kecuali tayub itu sendiri.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia berdesis, “Jadi?”

“Aku tadi baru saja pergi ke padukuhan-padukuhan disisi Utara dari Tanah Perdikan ini. Aku sudah bertemu dengan Ki Bekel Karanggayam, Ki Bekel Tegalwareng dan terakhir Ki Bekel Simanyar.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mendengarkan keterangan Risang itu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu Risang pun telah memberitahukan tentang orang-orang asing, jejaknya serta rencana keramaian di padukuhan Simanyar.

“Hubungi lebih dahulu Demang Cupuwatu,” pesan Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka menjadi jelas apa yang harus mereka lakukan.

Namun dalam pada itu, Risang pun telah berbicara dengan Gandar pula. Tidak mustahil bahwa orang-orang asing itu sampai juga di padukuhan induk dan memasuki halaman rumah itu untuk berpura-pura melihat keramaian.

“Baiklah,” jawab Gandar, “aku akan berhati-hati.”

“Tetapi jangan terlalu cepat bertindak. Perhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Sebaiknya keramaian-keramaian di Tanah Perdikan ini tidak terganggu,” pesan Risang.

Demikianlah Risang masih membatasi persoalannya pada orang-orang yang dianggapnya dapat menahan diri serta tidak cepat melakukan tindakan-tindakan yang menyangkut banyak orang. Risang berharap bahwa dalam keadaan tertentu Sambi Wulung dan Jati Wulung berdua akan dapat mengatasi keadaan tanpa mengerahkan banyak pengawal dan anak-anak muda yang akan dapat mengganggu ketenangan Tanah Perdikan yang sedang bergembira itu.

Sebenarnya Kasadha juga ingin ikut memecahkan persoalan orang-orang yang tidak dikenal itu dan menge-: tahui maksud mereka. Tetapi dihari berikutnya Kasadha harus sudah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

“Sayang,” katanya, “besok aku harus kembali. Mudah-mudahan tidak ada masalah yang gawat di Tanah Perdikan ini.”

Tetapi sambil tersenyum Risang berkata, “Jika terjadi sesuatu aku tentu akan memberitahukan kepadamu. Tidak sia-sia aku mempunyai seorang adik yang telah diangkat menjadi seorang Lurah Prajurit Pajang.”

Kasadha pun tertawa pendek. Tetapi diluar sadarnya, didalam dadanya terasa desir lembut. Tetapi terasa pedih. Ia memang adik Risang meskipun berbeda ibu. Namun betapapun samarnya, Kasadha harus mengakui bahwa antara dirinya dan Risang, sadar atau tidak sadar, telah terjadi semacam persaingan dalam hubungan mereka dengan Riris.

“Atau hatikulah yang memang kelam. Sementara itu Risang tidak berpikir apapun tentang Riris,” berkata Kasadha didalam hatinya. Bahkan ia mulai menilai dirinya sendiri, apakah memang ada tetesan noda hitam dihatinya yang diwarisinya dari ibunya.

“Tidak,” berkata Kasadha kepada dirinya sendiri didalam hatinya pula, “aku adalah seorang yang mempunyai nalar budi yang dapat aku pergunakan untuk menimbang baik dan buruk. Akal budi yang dikurniakan oleh Yang Maha Agung itulah yang harus mewarnai hidupku. Bukan siapa-siapa. Bukan pula ibu bapaku.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, Risang melihat Kasadha yang tiba-tiba saja merenung itu pun bertanya, “Apa yang kau pikirkan? Orang-orang yang datang itu?”

“Ya,” jawab Kasadha tanpa sempat berpikir, “Tetapi aku kira bukan saja aku. Ki Rangga Dipayuda pun tentu akan berbuat sesuatu jika Tanah Perdikan ini mengalami kesulitan.”

Risang mengangguk-anggukjpula. Katanya, “Tetapi kau tidak usah terlalu memikirkan Tanah Perdikan ini. Biarlah kami mencoba untuk mengatasi persoalan kami. Tetapi bukan berarti bahwa kami tidak memerlukan bantuanmu jika kami memang mengalami kesulitan. Kami, di Tanah Perdikan ini ingin belajar untuk dapat tegak diatas kemampuan kami sendiri.”

“Ya. Tanah Perdikan ini akan segera menjadi dewasa penuh setelah mempunyai seorang Kepala Tanah Perdikan,” desis Kasadha, “tetapi aku akan tetap menjadi bagian dari Tanah Perdikan ini, lebih-lebih jika terjadi kesulitan.”

“Terima kasih Kasadha,” desis Risang, “ibuku dan ibumu tentu akan sangat bergembira pula melihat keutuhan Tanah Perdikan ini. Sementara itu kau bukan saja merupakan bagian dari Tanah Perdikan ini, tetapi kau harus ikut menentukan arah perkembangannya.”

Kasadha pun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku akan berusaha untuk memegang kewajibanku sebaik-baiknya, karena aku adalah anak Tanah Perdikan ini.”

Dalam pada itu, ibu dan bibi Kasadha memang merasa heran melihat sikap anaknya. Sepeninggal Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya, yang diantaranya adalah seorang gadis cantik yang bernama Riris itu, sikap Kasadha justru menjadi wajar kembali. Memang sekali-sekali anak muda itu masih merenung. Tetapi tidak lagi nampak gelisah dan bingung.

Perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat itu memang membuat ibu dan bibinya gelisah. Mereka menghubungkan perubahan-perubahan sikap Kasadha itu dengan hadirnya Riris dan kemudian kepergiannya bersama keluarganya.

Namun ada latar belakang yang berbeda dari kegelisahan antara ibu dan bibi Kasadha. Ibu Kasadha menjadi gelisah, bahwa hubungan anaknya dengan Riris akan dapat mempengaruhi kerukunannya dengan Risang, saudaranya seayah. Jika kedua anak muda itu mempunyai perasaan yang sama terhadap Riris, maka persoalannya akan dapat berkembang kearah yang tidak dikehendaki. Sedangkan bibi Kasadha merasa gelisah, bahwa perhatian Kasadha benar-benar ditujukan kepada gadis anak Ki Rangga Dipayuda, sehingga apa yang pernah diutarakannya kepada Kasadha tentang anak perempuannya akan tersisih dari perhatian anak muda itu.

Namun kedua perempuan itu masih belum dapat mencampuri persoalan Kasadha yang masih belum jelas bagi mereka.

Demikianlah, malam itu Kasadha masih berada di Tanah Perdikan Sembojan. Sebenarnya Kasadha berharap bahwa pada malam terakhir baginya berada di Tanah Perdikan dalam rangka wisuda Kepala Tanah Perdikan itu, ia dapat membantu memecahkan masalah orang-orang yang tidak dikenal di Tanah Perdikan Sembojan. Namun ternyata bahwa malam itu justru tidak ada laporan tentang kehadiran orang-orang yang dianggap asing itu.

Malam itu di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah diselenggarakan pertunjukan wayang beber. Pertunjukan yang sangat digemari. Apalagi dengan seorang dalang yang sangat terkenal dan digemari oleh orang-orang Sembojan.

Karena itulah, maka sampai pertunjukan selesai, menjelang fajar, penontonnya masih tetap memenuhi halaman rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Ketika kemudian fajar mulai menyingsing maka ibu dan bibi Kasadha sudah mulai berbenah diri. Seperti yang direncanakan, maka pada hari itu, Kasadha bersama ibu dan bibinya akan meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Betapapun ingin mereka untuk tinggal lebih lama, namun Kasadha tidak dapat menunda-nunda lagi. Ia masih harus mengantarkan ibu dan bibinya pulang, sebelum ia sendiri kembali ke baraknya di Pajang.

Ternyata bahwa kehadiran ibu dan bibi Kasadha yang hanya beberapa hari di Tanah Perdikan itu telah membuat ikatan yang erat antara mereka dan ibu Risang. Meskipun sebelumnya mereka bagaikan air dan minyak yang tidak dapat bercampur, namun kesadaran yang tumbuh di hati mereka telah membuat hubungan mereka menjadi akrab.

Karena itu, ketika saatnya mereka harus berpisah, terasa juga jantung mereka telah tergetar.

“Aku akan berusaha untuk dalam waktu dekat datang kembali ke Tanah Perdikan ini,” berkata Warsi ketika ia minta diri untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu.

“Kami di Tanah Perdikan ini selalu menunggu kedatangan kalian,” jawab Iswari.

Bibi yang sebelumnya masih merasa sulit untuk melupakan sikap dan kesalahan Warsi, ternyata hatinya menjadi lunak pula. Sikapnya pun telah menjadi baik dan wajar.

Demikian pula Gandar yang tahu pasti apa yang sebenarnya telah terjadi pada Iswari dan Warsi. Namun itu telah sangat lama berlalu. Yang berkepentingan pun telah memaafkannya.

Warsi dan sepupunya pun telah minta diri pula kepada Kiai Badra yang menjadi semakin tua, Kiai Soka dan Nyai Soka yang rambutnya telah memutih seperti kapuk.

Ketika Warsi mencium tangan Nyai Soka, maka terasa air matanya telah menitik.

“Alangkah bahagianya jika aku masih mempunyai orang-orang tua yang dapat menunggui aku setiap hari,” desis Warsi.

Nyai Soka tersenyum sambil berkata, “Bukankah ada orang-orang tua disebelah-menyebelah rumahmu?”

Tetapi Warsi justru menjawab, “Akulah yang dituakan di lingkunganku.”

“Jika demikian, maka kau tentu mempunyai banyak anak dan cucu. Nah, kau dapat mengisi waktumu bersama mereka,” berkata Nyai Soka kemudian.

“Ya Nyai,” jawab Warsi, “namun kadang-kadang aku merasa betapa hidupku menjadi sepi.”

“Bagaimana dengan Ki Randukeling?” bertanya Kiai Badra.

“Ki Randukeling memang masih sering mengunjungi aku. Tetapi ia pun menjadi semakin tua, sehingga kewadagannya menjadi semakin lemah.”

“Bukankah itu wajar,” sahut Kiai Soka, “setiap orang akan menjadi semakin tua dan semakin lemah. Tetapi hubungan kita dengan Yang Maha Agung tidak boleh ikut menjadi lemah.”

Warsi mengangguk sambil menjawab, “Ya Kiai. Aku pun selalu berdoa bagi diriku sendiri, agar aku selalu merasa dekat dengan Yang Maha Agung.”

“Nah,” berkata Nyai Soka kemudian, “baik-baiklah kau dengan lingkunganmu. Kau sudah dilahirkan kembali dalam keadaan yang jauh berbeda den gan masa hidupmu yang lalu. Karena itu, pertahankan citra hidupmu yang baru itu. Yang Maha Agung akan selalu memberikan terang kepadamu.”

Demikianlah Warsi pun meninggalkan Tanah Perdikan. Beberapa saat ia berpelukan dengan Iswari. Namun kemudian mereka pun harus berpisah.

Risang masih sempat mengantarkan Warsi, sepupunya dan Kasadha sampai ke gerbang padukuhan induk. Kemudian dilepaskannya mereka menempuh perjalanan yang cukup panjang, karena mereka tidak hanya sekedar sampai ke Pajang. Tetapi mereka masih harus singgah di Bayat, justru disebelah Barat Pajang. Sepeninggal Kasadha, ibu dan bibinya, maka rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu memang terasa sepi. Sementara itu keramaian di malam-malam berikutnya akan tersebar di Kademangan-kademangan dan bahkan di padukuhan-padukuhan.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Risang, ibu dan seluruh keluarganya memang sudah merasa sangat letih. Sejak mereka mempersiapkan hari-hari wisuda dan kemudian diakhiri dengan keramaian yang meriah seakan-akan telah menguras tenaga mereka.

Walau pun demikian Iswari dan keluarganya merasa puas dengan segala-galanya. Meskipun tubuh mereka menjadi letih, tetapi kepuasan batin mereka membuat mereka tetap tegar.

Beberapa orang masih sibuk membersihkan rumah-rumah yang untuk beberapa hari telah dipinjam Iswari untuk menginap para tamu yang datang dari luar Tanah Perdikan Sembojan. Beberapa dinding batas yang dirubah harus dikembalikan lagi.

Tetapi ternyata bahwa orang-orang yang memiliki rumah itu pun ikut berbangga pula, karena mereka telah dapat ikut membantu terselenggaranya wisuda bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Untuk mengisi waktunya, maka Risang pun kemudian telah mengunjungi beberapa padukuhan yang dimalam harinya akan menyelenggarakan keramaian, terutama padukuhan-padukuhan disisi Utara.

Kepada Bekel di padukuhan Simanyar, Risang menanyakan apakah semalam nampak orang-orang yang dianggap orang asing bagi padukuhan Simanyar.

“Semalam orang-orang itu tidak nampak disekitar padukuhan Simanyar,” jawab Ki Bekel, “tetapi entahlah di padukuhan yang lain. Mungkin mereka melihat-lihat tempat lain yang juga menarik perhatian mereka.”

“Memang dari padukuhan-padukuhan lain pun tidak ada laporan,” jawab Risang. Namun ia pun sempat berpesan, “Tetapi jangan kehilangan kewaspadaan. Usahakan dapat berhubungan dan berbicara dengan mereka.”

“Baik ngger,” jawab Ki Bekel Simanyar. Ketika Risang berkuda kembali ke padukuhan induk, maka ia sempat melihat bekas kaki-kaki kuda ditengah bulak dibawah batang pohon turi. Namun ia tidak melihat jejak-jejak baru di tempat itu. Sehingga Risang berkesimpulan bahwa orang-orang itu memang tidak mendekati padukuhan Simanyar. Tetapi itu bukan berarti bahwa perhatian mereka terhadap padukuhan itu sudah hilang. Mungkin hanya sekedar tertunda.

Seperti yang pernah dikatakan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka malam itu mereka diminta untuk melihat tayub di banjar padukuhan Simanyar. Tetapi tugas mereka bukan menilai tayub itu sendiri. Bahkan jika perlu Sambi Wulung dan Jati Wulung diminta untuk melihat-lihat keadaan diseputar padukuhan itu.

“Daerah itu sangat subur,” berkata Risang, “mungkin kesuburan lingkungan itulah yang menarik perhatian mereka.”

“Ya,” desis Sambi Wulung, “hutan di sebelah Timur padang perdu yang memang masih termasuk lingkungan padukuhan Simanyar itu memang sangat menarik perhatian. Sebuah sungai yang mengalir menembus hutan itu merupakan jalur yang membuat tanah disebelah-menyebelahnya menjadi subur. Jika hutan itu kemudian ditebang, maka lingkungan itu akan menjadi lingkungan persawahan yang subur sebagaimana sawah dibulak-bulak panjang disekitar padukuhan Simanyar.”

“Tetapi hutan itu merupakan tanah cadangan bagi perkembangan Tanah Perdikan ini. Itu pun harus diperhitungkan, seberapa luas hutan itu dapat ditebang. Sebagaimana hutan-hutan yang lain yang ada di Tanah Perdikan ini,” sahut Risang.

“Tetapi mungkin orang lain mempunyai perhitungan lain,” berkata Jati wulung hampir bergumam.

“Memang mungkin,” jawab Risang, “karena itu, maka aku minta kalian melihat kemungkinan itu. Sedangkan kemungkinan lain orang-orang itu adalah orang-orang dari Madiun.”

Meskipun orang-orang yang tidak dikenal itu baru nampak di Tanah Perdikan disisi Utara, tetapi Risang telah memerintahkan menyampaikan hal itu kepada para Demang di seluruh Tanah Perdikan. Mereka harus memberitahukan hal itu kepada para Bekel agar mereka berhati-hati. Tetapi para Bekel jangan tergesa-gesa bertindak, karena mereka masih belum tahu apa yang dikehendaki oleh orang-orang asing itu.

Demikianlah, keramaian-keramaian yang dilakukan hampir diseluruh Tanah Perdikan Sembojan telah dibayangi oleh kekhawatiran akan hadirnya orang-orang asing yang tidak dikenal. Namun demikian para Demang dan Bekel berusaha untuk tidak mengurangi kegembiraan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan seperti yang direncanakan maka keramaian di Sembojan itu akan berlangsung sekitar tujuh hari tujuh malam, meskipun diselenggarakan oleh Kademangan dan Padukuhan yang berlainan dan waktu yang bergantian. Di siang hari hampir disemua padukuhan bergantian menyelenggarakan pertunjukan reog. Sementara di malam harinya di pendapa Kademangan dan banjar-banjar padukuhan diselenggarakan pertunjukan tari, wayang beber atau tayub sebagaimana diselenggarakan di padukuhan Simanyar.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tidak henti-hentinya mengunjungi keramaian-keramaian itu. Di Simanyar mereka tidak menemukan orang-orang yang pantas dicurigai. Mereka juga tidak melihat ada orang-orang yang tidak dikenal berkeliaran.

Tetapi dimalam berikutnya, ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung berada di padukuhan Sukareja, maka keduanya telah melihat sesuatu yang menarik perhatian.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang mengenakan pakaian orang kebanyakan dan berada diantara para penonton itu telah melihat-lihat keadaan disekitar pendapa banjar padukuhan. Bahkan kemudian selagi pertunjukan tari topeng-masih berlangsung di banjar keduanya telah meninggalkan tontonan itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah banyak mengenali orang padukuhan Sukareja merasa belum pernah mengenal, bahkan belum pernah melihat orang itu. Karena itu, maka keduanya merasa perlu untuk melihat apa yang mereka lakukan di padukuhan Sukareja itu.

“Apakah keduanya orang Madiun seperti yang telah menemui Risang itu?” desis Jati Wulung.

“Kenapa mereka harus melakukan hal-hal yang mencurigakan? Bukankah orang Madiun itu langsung menemui Risang meskipun saat itu ia tidak mau dipersilahkan singgah?” sahut Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, agaknya memang bukan. Kita memang harus melihatnya lebih jauh.”

Dengan demikian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itu telah berusaha mengikuti kedua orang yang meninggalkan banjar itu. Ternyata keduanya berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan yang sepi, karena sebagian besar penghuninya berada di banjar.

Sekali-sekali memang terdengar tangis bayi didalam rumah yang pintunya telah tertutup rapat. Bayi yang masih terlalu kecil untuk diajak pergi ke banjar melihat keramaian, sehingga karena itu, maka ibunya harus menungguinya dirumah.

Ketika kedua orang itu memasuki jalan induk padukuhan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah mendahului mereka, berloncatan melewati dinding batas halaman menuju gardu dimulut lorong.

Ternyata di gardu itu masih ada ampat orang anak muda yang meronda. Mereka memang terkejut melihat kehadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Aku sedang mengawasi dua orang,” desis Sambi Wulung,

“Siapa?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda yang kebetulan telah mengenal Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan baik.

Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “Aku belum tahu. Aku justru ingin mengetahui apa yang mereka lakukan. Karena itu, jika mereka lewat didepan gardu ini jangan kau hentikan. Kau boleh menyapa sekedarnya, tetapi biarkan mereka lewat.”

Anak muda itu tanggap akan maksud Sambi Wulung. Karena itu maka ia pun menjawab, “Baiklah. Kami akan membiarkan orang-orang itu lewat.”

“Terima kasih,” sahut Sambi Wulung. Tetapi ia masih sempat bertanya, “Kalian tidak menonton keramaian di banjar?”

“Aku mendapat giliran ronda malam ini. Besok saja aku dapat melihat tontonan dipadukuhan sebelah.”

Sambi Wulung menepuk bahu anak muda itu. Katanya, “Bagus. Kau harus dapat mengesampingkan kesenanganmu untuk kepentingan orang banyak. Meskipun bukan berarti bahwa kau harus mengorbankan segala-galanya.”

“Terima kasih atas pujian itu,” jawab anak muda itu sambil tersenyum.

Sambi Wulung pun tersenyum pula. Tetapi sekejap kemudian keduanya telah hilang didalam kegelapan.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Sambi Wulung oan Jati Wulung. Dua orang memang lewat didepan gardu itu. Bahkan keduanya justru berhenti didepan gardu sebelum anak-anak muda itu menyapa.

“Apakah padukuhan ini perlu dijaga?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

Anak muda yang tertua diantara keempat orang peronda itu meloncat turun dari gardu sambil menjawab, “Ya Ki Sanak. Malam ini ada keramaian di banjar. Jika semua orang pergi ke banjar, maka rumah-rumah akan menjadi kosong sehingga perlu mendapat pengawasan khusus.”

“Tetapi kalian hanya duduk saja disini. Bagaimana kalian tahu jika terjadi sesuatu ditengah-tengah padukuhan kalian ini. Pencuri misalnya atau apalagi perampok. Justru karena padukuhan ini ada keramaian, maka banyak orang yang hilir mudik keluar masuk padukuhan. Sebagian dari mereka justru bukan orang Tanah Perdikan ini.”

“Ya Ki Sanak,” jawab peronda itu, “karena itu maka ampat orang kawan kami sedang nganglang padukuhan ini disisi Barat. Sedangkan peronda di gardu ujung Timur meronda disisi sebelah Timur dari padukuhan ini.”

“Tetapi aku tidak bertemu dengan para peronda itu,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Mungkin Ki Sanak berselisih jalan,” jawab peronda itu.

“Memang mungkin,” jawab kedua orang itu.

Namun diluar sadarnya peronda itu bertanya, “Apakah Ki Sanak baru saja melihat keramaian?”

“Ya. Aku baru dari banjar,” jawab orang itu.

“Kenapa Ki Sanak sudah meninggalkan keramaian? Nampaknya baru Ki Sanak berdua yang keluar dari padukuhan ini meskipun sejak sore tadi banyak sanak dari padukuhan lain yang memasuki padukuhan ini. Bukankah pertunjukan masih panjang? Bahkan semalam suntuk?”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka menjawab, “Aku tidak tertarik untuk melihat lebih lama lagi. Penari-penari yang jelek. Nampaknya mereka dipaksa untuk menari tanpa mengerti bagaimana seseorang harus menari.”

Anak-anak muda yang ada di gardu itu tiba-tiba saja merasa tersinggung. Hampir berbareng yang lain pun telah berloncatan turun pula. Seorang diantara anak-anak muda itu menyahut, “Ki Sanaklah yang tidak mengenal tari. Mereka adalah penari-penari terbaik bukan saja dari padukuhan ini. Beberapa orang kami undang dari padukuhan lain, bahkan dari padukuhan induk.”

“Kau sendiri tidak menyaksikannya,” jawab orang Itu.

“Aku sudah melihat latihan-latihannya. Aku melihat gladi resiknya dan tadi serba sebentar aku sudah melihat pula,” jawab anak muda itu.

Kedua orang itu saling berpandangan lagi. Namun keduanya tersenyum. Seorang yang lain berkata, “Baiklah. Mungkin kami memang tidak banyak mengenal tari. Kami minta maaf.”

Anak-anak yang meronda itu termangu-mangu sejenak. Mereka yang sudah siap mempertahankan harga diri para penari di padukuhannya itu ternyata justru kehilangan greget ketika kedua orang itu justru minta maaf.

Namun ternyata kedua orang itu tidak segera meninggalkan gardu itu. Mereka justru melangkah mendekat. Seorang dari mereka berkata, “Apakah aku boleh ikut duduk di gardumu? Bukankah aku tidak mengganggu?”

Orang tertua diantara para peronda itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun sudah tentu bahwa para peronda itu tidak dapat menolak mereka begitu saja.

Karena itu, maka kedua orang itu pun kemudian telah dipersilahkannya duduk.

Meskipun demikian para peronda itu pun selalu ingat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang tentu menunggu kedua orang itu. Tetapi kedua orang itu agaknya sudah terlalu lama tidak muncul dari pintu gerbang.

“Anak-anak muda,” berkata salah seorang dari kedua orang itu,”bagaimana kesan kalian tentang Kepala Tanah Perdikan kalian yang masih sangat muda itu?”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Baru sejenak kemudian yang tertua diantara mereka menjawab, “Ia memang berhak untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan ini. Ia adalah cucu Ki Gede Sembojan yang memerintah Tanah Perdikan ini sebelumnya.”

“Tetapi bukankah jabatan itu pernah dipangku oleh seorang perempuan?” bertanya orang itu.

“Ya. Ibu Risang, yang sekarang menjadi Kepala Tanah Perdikan ini,” jawab anak muda yang tertua diantara para peronda itu.

“Apakah anak itu mampu melakukan tugasnya dengan baik?” bertanya orang itu pula.

“Ia baru beberapa hari ini diwisuda. Tentu saja kami belum dapat menilainya dengan baik. Tetapi seandainya terdapat kekurangan-kekurangan padanya, maka ibunya masih ada. Ia akan dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan yang rumit,” jawab anak itu.

“Tetapi apa yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan,” desis orang itu kemudian.

“Bukankah Ki Sanak tahu bahwa sebelumnya ia memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini? Selama perempuan itu memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan, segala sesuatunya berjalan dengan baik. Apalagi sekarang.”

“Bukankah itu hanya satu kebetulan bahwa selama itu tidak pernah terjadi persoalan yang gawat di Tanah Perdikan ini?” berkata orang itu pula.

“Tentu sudah. Pergolakan di Pajang membuat Tanah Perdikan ini bergejolak pula. Terakhir, Pajang justru mengirimkan prajurit-prajuritnya kemari. Justru saat Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini dipangku oleh seorang perempuan.”

Tetapi kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Aku kagum kepada kesetiaan para bebahu Tanah Perdikan ini. Mereka selama ini tunduk dan setia kepada seorang pemimpin yang sebenarnya tidak berhak memegang kendali pemerintahan disini. Apalagi ia seorang perempuan. Para bebahu itulah yang sebenarnya memiliki kemampuan dan ketrampilan memimpin Tanah Perdikan ini. Bukan perempuan itu. Dan sudah tentu bukan pula anaknya yang bernama Risang itu.”

Peronda yang tertua diantara keempat anak-anak muda itu dengan serta merta menyahut, “Itu persoalan kami. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya datang ke tanah Perdikan ini?”

“Jangan marah anak muda,” berkata orang itu, “kami tidak bermaksud buruk. Kami hanya ingin menempatkan persoalannya pada tempat yang sewajarnya.”

“Sewajarnya apa maksudmu?” bertanya anak muda yang lain.

“Sebenarnyalah kesadaran kami tentang hak atas Sembojan memang sudah terlambat. Tetapi masih belum berarti segala-galanya tidak lagi dapat dibicarakan,” jawab orang itu.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan,” berkata salah seorang diantara anak-anak muda itu.

“Kau masih terlalu muda untuk mengetahuinya,” jawab orang itu, “tetapi barangkali kau memang perlu mendengar apa yang sebenarnya terjadi atas Tanah Sembojan ini.”

“Apa yang sesungguhnya terjadi itu?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “sebenarnya sebagian besar dari tanah Perdikan ini telah melanggar hak dan milik orang lain.”

“Kenapa?” bertanya anak muda yang tertua dian-tarapara peronda itu.

“Dahulu disini berdiri sebuah padepokan yang besar dan kuat. Tetapi padepokan itu telah didesak oleh kekuatan seseorang yang berhasil membujuk para pemimpin dari Demak untuk membantunya menyingkirkan padepokan itu. Daerah yang berhasil direbutnya itulah yang kemudian disebut Tanah Perdikan Sembojan sekarang ini.”

“Omong kosong,” desis salah seorang anak muda yang ada digardu itu.

“Memang sudah lama sekali terjadi. Kami pun belum lama mengetahui akan hal itu. Tetapi karena orang-orang tua kami telah menceriterakan hal ini kepada kami, maka kami pun berniat untuk mempersoalkannya kembali. Sebenarnyalah hal ini akan kami lakukan sebelum Tanah Perdikan ini mempunyai Kepala Tanah Perdikan yang sah seperti sekarang ini. Tetapi kami ternyata terlambat. Meskipun demikian, kami merasa bahwa hak kami untuk mempersoalkannya,” berkata orang itu.

“Kau jangan mengigau,” geram salah seorang anak muda, “bukan hanya kedudukan Kepala Tanah Perdikan saja yang telah disahkan. Tetapi juga lingkungan wilayah Tanah Perdikan ini. Jika Ki Tumenggung Wreda Wirajaya mengesahkan kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini dengan mewisuda, maka itu berarti bahwa kedudukan dan batas wilayah Tanah Perdikan ini pun sah. Apa yang dilakukan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya itu adalah atas nama kuasa Kangjeng Adipati di Pajang.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Menurut Kangjeng Adipati di Pajang itu sudah sah. Wilayah dan batas Tanah Perdikan ini pun sah pula.”

“Sejak kekuasaan tertinggi berada di Demak, kedudukan Tanah Perdikan ini adalah sah,” jawab anak muda itu.

Tetapi orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Kau salah anak muda. Mungkin Pajang menganggap kedudukan itu sah. Tetapi belum tentu dengan Madiun.”

“Kenapa dengan Madiun?” bertanya anak muda itu.

“Apalagi kedudukan Tanah Perdikan ini. Sedangkan Madiun dapat menganggap kedudukan Pajang itu sendiri tidak sah,” jawab wang itu bersungguh-sungguh.

“Aku tidak tahu apa yang kalian katakan,” jawab anak muda itu, “menurut pendengaranku, Madiun telah mengucapkan selamat pula kepada Risang yang telah diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan lewat salah seorang pejabatnya yang datang ke tanah Perdikan ini meskipun tidak resmi.”

“Tentu hanya satu dongeng ngaya-wara,” jawab orang itu.

“Kata-katamulah yang tidak masuk akal,” bentak anak muda yang tertua, “kau tidak dapat mengigau seperti itu disini sekarang. Pergilah. Kata-kata dan sikapmu telah menyebarkan kemarahan dihati kami.”

Tetapi kedua orang itu tertawa. Katanya, “Anak-anak muda. Aku datang dari sebuah padepokan yang besar dan berwibawa. Kau tidak dapat mengusir aku seperti mengusir tikus begitu. Apalagi aku merasa bahwa aku berada diatas bumiku sendiri.”

“Cukup,” bentak anak muda yang tertua itu, “sekali lagi aku minta kau meninggalkan tempat ini.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu anak-anak muda digardu itu berharap bahwa kedua orang itu akan meninggalkan gardu itu dan bertemu dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung sehingga keduanya akan dapat mendengar keterangan kedua orang yang tidak dikenal itu.

Tetapi ternyata kedua orang itu tidak segera pergi. Meskipun keduanya sudah turun dari gardu, namun keduanya masih tetap bediri di tempatnya. Seorang diantara mereka berkata, “Sayang anak-anak muda. Kau tidak dapat memperlakukan kami seperti itu. Sudah aku katakan, bahwa kami berdua tidak akan dapat kau bentak-bentak seperti itu.”

Anak muda yang tertua diantara para peronda itu berkata, “Jika demikian, maka kami akan menangkap kalian dan membawa kalian menghadap Ki Bekel untuk selanjutnya dibawa menghadap Kepala Janah Perdikan ini.”

Kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Jangan aneh-aneh. Kalian tidak akan dapat melakukannya.”

“Jika kalian berdua tidak mau pergi dari tempat ini, maka kami akan melakukannya. Kami akan menangkap kalian.”

“Sebenarnya kami ingin berhubungan dengan kalian dengan cara yang baik. Pada saatnya tanah ini akan kembali kepada kami. Dengan demikian maka kita akan selalu berhubungan dalam pergaulan hidup kita sehari-hari. Tetapi jika seseorang menentang kami, maka orang itu tidak berhak hidup diatas bumi yang subur ini. Orang itu harus pergi atau ditiadakan sama sekali.”

Keempat anak muda itu tidak dapat menahan diri lagi. Mereka adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang telah mendapat serba sedikit latihan-latihan olah kanuragan. Mereka pun telah mempunyai pengalaman mempergunakan senjata. Karena itu, maka yang tertua diantara mereka pun berkata, “Ki Sanak. Jika demikian, marilah. Kita menghadap Ki Bekel. Kau dapat berbicara apa saja kepada Ki Bekel.”

Tetapi seorang diantara kedua orang itu berkata lancang, “Kau harus minta maaf kepada kami, agar pada saatnya kami kembali ketempat ini, kalian kafan ijinkan untuk tinggal disini. Kalian harus tahu, bahwa Pajang masih harus menguji diri terhadap kekuasaan Madiun.”

“Jadi kau memang orang Madiun?” bertanya anak itu.

“Sudah aku katakan. Kami tinggal di sebuah padepokan yang besar dan berwibawa. Kami memang tinggal di wilayah Madiun. Sejak Madiun menentukan sikapnya terhadap Pajang dan Mataram, maka kami pun berniat menentukan sikap kami terhadap Tanah Perdikan ini.”

Keempat anak muda itu pun segera bersiap. Dengan lantang pula yang tertua diantara mereka berkata, “Jangan mencoba melawan kami. Kami bertanggung jawab atas keamanan padukuhan ini.”

Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak menghirau kannya. Dengan tegas seorang diantara mereka berkata, “Tundukkan kepala kalian. Kalian harus minta maaf kepada kami. Kalian dengar?”

“Tidak,” anak muda itu hampir berteriak, “buat apa aku minta maaf kepadamu?”

Tetapi baru saja mulutnya terkatub, maka terdengar anak muda itu mengaduh. Tubuhnya terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja ia jatuh terlentang. Namun ternyata ia masih mampu bertahan untuk tetap berdiri tegak. Tetapi ketika ia mengusap bibirnya yang pedih, terasa darah yang hangat mengalir dari bibirnya yang pecah.

Anak muda itu marah bukan buatan. Dengan cepat ia pun telah meloncat menyerang. Demikian pula kawan-kawannya yang melihat salah seorang dari kedua orang asing itu telah memukul kawannya dengan tiba-tiba.

Sejenak kemudian telati terjadi perkelahian antara dua orang yang tidak dikenal itu dengan ampat orang peronda yang ada digardu. Ternyata bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga dalam waktu singkat keempat anak muda itu telah terdesak. Bahkan ketika salah seorang diantara mereka meloncat kearah kentongan yang tergantung diemper gardu itu, tiba-tiba terasa tangannya dicengkam oleh kekuatan yang sangat besar. Satu dorongan yang sangat kuat telah melemparkannya ke seberang jalan, sehingga anak muda itu jatuh terjerembab. Hampir saja kepalanya membentur dinding batu batas halaman di seberang jalan.

Namun hempasan yang sangat kuat itu telah membuat kepalanya menjadi pening sehingga ketika ia berusaha untuk bangkit, maka terasa tubuhnya bergetar dan pandangan matanya berputar, sehingga sekali lagi ia jatuh terbanting ditanah.

Sebelum anak muda itu sempat memperbaiki keadaannya, maka seorang lagi diantara anak-anak muda itu vang terlempar jatuh. Punggungnya justru menimpa tiang gardu itu sehingga terdengar ia mengaduh kesakitan. Gardu itu pun berguncang. Untunglah bahwa obor yang menyala itu tidak jatuh menimpanya.

Dua orang anak muda yang tersisa memang tidak berdaya. Meskipun mereka masih bertempur dengan mengejankan segenap kemampuan mereka, tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Beberapa kali tubuh mereka justru lelah terkena serangan lawan-lawan mereka. Beberapa kali pula keduanya terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan. Tetapi agaknya kedua orang asing itu dengan sengaja telah mempermainkan mereka. Dengan nada tinggi seorang diantara kedua orang yang tidak dikenal itu berkata, “Nah, sebaiknya kalian serba sedikit mengenal kami. Tetapi kalian tidak perlu membunyikan kentongan. Dengan demikian maka keramaian di banjar itu akan sandal terganggu. Bahkan mungkin keadaannya akan menjadi kacau-balau.”

Kedua orang anak muda itu benar-benar tidak mampu berbuat banyak. Bahkan seorang diantara mereka telah terlempar dengan kerasnya menimpa anak muda yang masih terhenyak di tempatnya dengan pandangan mata berkunang-kunang.

Namun dalam pada itu, selagi wajah kedua orang anak muda itu mulai menjadi pengab, tiba-tiba saja telah terdengar suara dari luar pintu gerbang, “Bagus Ki Sanak. Ternyata kalian hanya berani menyakiti anak-anak.”

Kedua orang itu terkejut. Mereka pun segera meloncat surut. Sementara itu dari luar pintu gerbang nampak dua orang melangkah mendekat. Keduanya adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Aku mencoba mendengarkan pembicaraan kalian. Meskipun tidak seluruhnya dapat kami dengar, tetapi kami dapat menangkap maksud kalian,” berkata Sambi Wulung.

“Siapakah kalian berdua?” bertanya salah seorang dari kedua orang asing itu.

“Aku penghuni padukuhan ini. Namaku Sambi Wulung sedangkan adikku ini namanya Jati Wulung. Kami baru pulang dari sawah, karena kebetulan kami sedang mendapat bagian air. Sebenarnya kami ingin segera melihat keramaian di banjar. Namun tingkah laku kalian sangat menarik perhatian kami.”

“Ki Sanak,” berkata salah seorang dari kedua orang asing itu, “jika kalian sudah mendengar pembicaraan kami, maka sebaiknya kalian segera menentukan sikap. Bertingkah laku baik dihadapan kami atau mengalami nasib buruk seperti anak-anak itu. Tetapi karena kalian sudah terlalu tua untuk mendapat pelajaran yang sama dengan anak-anak itu, maka sebaiknya kalian jangan membuat kami marah.”

“Kalau aku boleh tahu, siapakah nama kalian dan kalian datang dari padepokan mana? Padepokan yang mengaku memiliki bumi perdikan ini.”

“Aku memang tidak ingin merahasiakan namaku. Aku Nagawana dan ini saudara seperguruanku, Nagawereng,” jawab orang itu.

“Apakah itu memang nama kalian sendiri atau nama yang kalian buat kemudian untuk satu kebanggaan,” bertanya Sambi Wulung dengan nada sumbang.

“Jangan bersikap begitu Ki Sanak,” berkata orang yang disebut namanya Nagawereng, “kalian sudah terlalu tua untuk membuat persoalan dengan orang lain. Kalian telah berada didunia senja sehingga sebentar lagi maka langit pun akan menjadi kelam. Karena itu seharusnya kalian bersikap baik, agar kalian tetap mendapat tempat tinggal di padukuhan ini.”

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Terima kasih atas kesempatan itu Ki Sanak. Tetapi kesempatan itu seharusnya datang dari Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukan dari kalian, meskipun kalian mengaku memiliki Tanah Perdikan ini.”

“Ah,” desah Nagawana, “Nampaknya Ki Sanak memang keras kepala. Bukankah kalian melihat bahwa ampat anak-anak muda yang masih kuat dan berkemampuan tinggi ini sama sekali tidak berdaya menghadapi kami? Apalagi kalian. Atau kalian ingin bersandar pada bunyi kentongan? Sudah aku katakan, bunyi kentongan hanya akan mengacaukan tontonan di banjar padukuhan itu. Dan itu sama sekali tidak menguntungkan bagi kalian dan orang-orang yang sedang bergembira itu.”

“Aku sependapat,” jawab Sambi Wulung, “kami tidak akan membunyikan kentongan. Anak-anak muda itu pun tidak. Aku ingin bersikap baik kepada kalian berdua. Aku minta kalian bersedia bersamaku pergi menemui Ki Bekel di padukuhan ini atau langsung menemui Angger Risang, Kepala Tanah Perdikan yang baru saja diwisuda. Percayalah bahwa Kepala Tanah Perdikan yang muda itu mempunyai cukup kebijaksanaan untuk menyelesaikan persoalannya dengan kalian.”

“Pada suatu saat kami memang akan menemui anak muda yang menyebut dirinya Kepala Tanah Perdikan itu. Kami ingin berbicara tentang hak kami. Tetapi sudah tentu dengan cara yang terhormat. Bukan dengan pengawalan sebagaimana seorang tawanan yang sedang digiring ke tiang gantungan.”

“Tentu tidak,” sahut Sambi Wulung, “marilah, kau akan diterima oleh angger Risang dengan baik sebagai tamu yang terhormat. Beberapa saat yang lalu angger Risang juga telah menerima seorang tamu dari Madiun meskipun tamu itu tidak bersedia dipersilahkan naik kependapa, justru karena di Tanah Perdikan ini sedang banyak tamu dari Mataram.

“Tidak Ki Sanak. Aku tidak akan menemuinya sekarang. Aku sudah cukup memperkenalkan diriku kepada anak-anak muda Tanah Perdikan. Kalian, orang-orang senja itu sebaiknya tidak usah berbuat apa-apa. Bawa saja pesanku kepada Risang, bahwa pada suatu saat aku akan datang untuk membuat perhitungan. Risang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima syarat-syarat yang kami ajukan. Pajang tidak akan dapat campur tangan jika Pajang tidak ingin berbenturan dengan Madiun.”

Tetapi Sambi Wulung tertawa. Katanya, “jangan menakut-nakuti dengan nama besar Kangjeng Adipati di Madiun. Sudah aku katakan bahwa Madiun justru datang untuk mengucapkan selamat. Bahkan pada kesempatan lain pejabat dari Madiun itu akan datang lagi. Madiun justru menawarkan bantuan kepada angger Risang sejauh dapat dipenuhinya.”

Kedua orang itu mengerutkan dahinya. Mereka berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Kalian petani-petani tua jangan terlalu banyak membual. Apa yang ingin aku tunjukkan kepada para pengawal Tanah Perdikan ini sudah cukup. Sekarang aku akan pergi. Tetapi pada kesempatan lain aku akan datang menemui Risang.”

“Apakah kau menganggap sudah cukup?” bertanya Sambi Wulung, “tidak Ki Sanak. Kau harus menghadap angger Risang sekarang. Setelah menyakiti anak-anak itu kau tidak dapat begitu saja pergi.”

“Ki Sanak,” berkata Nagawereng, “aku tahu bahwa kalian berdua tentu serba sedikit memiliki ilmu kanuragan. Jika tidak kalian tidak akan berani berbuat seperti itu. Tetapi aku peringatkan bahwa kami dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang sudah kami lakukan terhadap anak-anak muda itu. Karena itu minggirlah.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun justru saling menjauh. Sambi Wulung pun kemudian berkata, “Kalian tidak dapat pergi begitu saja. Kalian harus menghadap angger Risang.”

“Orang-orang tua yang tidak tahu diri. Jika terjadi sesuatu atas kalian, bukan salah kami. Kami telah memperingatkan kalian beberapa kali. Tetapi kalian ternyata keras kepala.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak beringsut. Tetapi Sambi Wulung berkata kepada anak-anak muda yang telah bangkit berdiri meskipun masih saja menyeringai menahan sakit.

“Anak-anak muda. Kalian tidak perlu membunyikan kentongan. Aku sependapat dengan kedua orang yang menyebut dirinya Nagawana dan Nagawereng ini, agar tontonan di banjar tidak menjadi kacau. Biarlah kita selesaikan persoalan kita disini.”

Nagawana dan Nagawereng menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan nada rendah Nagawereng berkata, “Orang-orang tua yang sombong. Tetapi apaboleh buat. Kalianlah yang membuat persoalan diantara kita.”

“Apapun yang kau katakan, tetapi kalian berdua telah melanggar hak atas tanah Perdikan ini. Kalian telah menyerang anak-anak muda yang sedang menjalankan tugasnya,” sahut Sambi Wulung sambil bergeser mendekati Nagawana.

Nagawana pun segera bersiap. Kepada Nagawereng ia berkata, “Kita selesaikan mereka dengan cepat. Aku tahu, mereka dengan sengaja mengulur waktu sambil menunggu anak-anak muda yang meronda berkeliling.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah bersiap sepenuhnya. Ketika kemudian Nagawana mulai menggerakkan kedua tangannya menebas kearah leher dari dua arah, maka Sambi Wulung pun melangkah surut.

Tetapi Nagawana memang belum berniat menyerang bersungguh-sungguh. Ia ingin melihat kecekatan orang yang menyebut dirinya petani padukuhan itu yang sedang mendapat giliran air bagi sawahnya.

Meskipun Sambi Wulung juga hanya sekedar menghindari tangan Nagawana, tetapi justru sikap Sambi Wulung yang nampaknya tenang-tenang saja itu telah mengisyaratkan, bahwa petani-petani tua itu memiliki ilmu yang cukup.

Sementara itu, berbeda dengan dengan Nagawana, maka Nagawereng telah benar-benar meloncat menyerang Jati Wulung dengan kakinya yang terjulur lurus menyamping. Nagawereng merasa bahwa waktunya telah banyak yang tersita oleh pembicaraannya dengan kedua orang itu tanpa arti. Bahkan kedua orang itu tentu hanya berusaha untuk mengulur waktu agar mereka sempat minta pertolongan kepada para peronda yang sedang berkeliling padukuhan yang sebentar lagi tentu akan datang kembali ke gardu itu.

Namun serangan serangannya itu pun sama sekali tidak menyentuh tubuh Jati Wulung. Dengan tangkasnya Jati Wulung pun meloncat menghindari serangan itu. Bahkan dengan cepat pula tubuh Jati Wulung berputar dengan cepat. Kakinyalah yang terayun mendatar mengarah kedada Nagawereng. Nagawereng memang terkejut mendapat serangan itu. Ternyata orang tua itu masih juga cekatan.

Dengan tangkasnya Nagawereng meloncat surut, sehingga serangan Jati Wulung itu tidak mengenainya. Namun yang tidak diperhitungkan adalah kemampuan Jati Wulung bergerak dengan cepat. Sehingga karena itu, maka demikian kaki Nagawareng berjejak diatas tanah, maka serangan Jati Wulung telah menyusulnya pula.

Nagawereng yang tidak menduga sama sekali akan datang serangan itu tidak sempat menghindar lagi. Karena itu maka Nagawereng harus menangkis serangan itu.

Satu benturan kekuatan telah terjadi dengan serta merta. Keduanya memang belum mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka. Namun demikian benturan yang terjadi itu benar-benar telah mengejutkan Nagawereng. Orang tua yang mengaku petani yang baru pulang dari mengairi sawahnya itu, ternyata mempunyai kekuatan yang sangat besar. Benturan itu justru telah mendorong Nagawereng selangkah surut.

Tetapi Nagawereng sama sekali tidak merasakan hal itu sebagai satu ukuran kekuatan mereka. Nagawereng merasa bahwa ia benar-benar tidak siap. Bahkan justru karena ia menganggap bahwa lawannya memang tidak lebih dari seorang yang baru sekedarnya memiliki ilmu sehingga ia menjadi terlalu bangga karenanya.

Namun benturan itu telah memperingatkan Nagawereng, bahwa lawannya bukan sekedar seorang petani tua yang bangga memiliki sedikit tenaga dan kemampuan olah kanuragan.

Karena itulah, maka Nagawereng pun telah meningkatkan ilmunya pula. Apalagi ia memang ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran itu sebelum para peronda yang nganglang itu kembali ke gardu.

Tetapi mereka yang sedang bertempur itu, bahwa juga anak-anak muda yang sedang meronda itu tidak tahu, bahwa kawan-kawan mereka yang meronda berkeliling telah tersangkut di banjar melihat keramaian yang sedang berlangsung.

Meskipun kemudian Nagawereng meningkatkan ilmunya, namun ia masih saja merasa heran. Orang yang menyebut namanya Jati Wulung itu masih saja mampu mengimbanginya. Selapis ilmunya meningkat, maka kemampuan lawannya pun telah meningkat pula.

Nagawana sempat juga melihat Nagawereng terdorong surut ketika benturan terjadi. Bahkan Naga wana pun terkejut pula. Tetapi seperti Nagawereng, maka Nagawana pun mengira bahwa Nagawereng masih terlalu merendahkan lawannya.

Tetapi bahwa saudara seperguruannya terdorong surut dalam benturan kekuatan itu telah memberikan peringatan pula kepada Nagawana. Lawannya itu pun tentu juga memiliki kekuatan yang cukup untuk mengimbangi kekuatannya.

Karena itulah, maka Nagawana telah meningkatkan kemampuannya pula. Ia pun ingin segera menyelesaikan orang tua yang dianggapnya terlalu sombong itu.

Tetapi perhitungan Nagawana ternyata keliru. Orang tua itu tidak segera dapat ditundukkan. Bahkan semakin meningkat ilmunya, maka perlawanan Sambi Wulung pun menjadi berbahaya.

Sementara itu, anak-anak muda yang wajahnya telah menjadi biru pengab itu menyaksikan pertempuran dengan hati yang berdebar-debar. Mereka merasa bersyukur, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung telah datang ke gardu. Nampaknya mereka merasa terlalu lama menunggu, sehingga mereka telah melihat apakah kedua orang itu terhenti dimulut lorong.

Jika saja Sambi Wulung dan Jati Wulung itu tidak datang ke gardu itu, maka mungkin anak-anak muda itu telah mengalami nasib yang lebih buruk. Meskipun kedua orang itu agaknya memang tidak ingin membunuh mereka, tetapi keduanya tentu benar-benar akan menyakiti mereka. Bahkan mungkin mereka menjadi cacat.

Kehadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung tepat pada waktunya ternyata telah menyelamatkan mereka dari kemungkinan buruk itu.

Dengan tegang keempat orang anak muda itu memperhatikan pertempuran yang sedang terjadi. Meskipun ilmu mereka tidak terhitung tinggi, namun mereka dapat menduga bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung setidak-tidaknya tidak terdesak oleh lawan-lawannya yang garang itu.

Tetapi anak-anak muda itu tidak dapat berbuat apa-apa selain menyaksikan dengan jantung berdebaran. Sambi Wulung sendiri telah berpesan agar mereka tidak membunyikan kentongan untuk memanggil kawan-kawannya, karena hal itu akan dapat mengacaukan keramaian yang sedang berlangsung di banjar.

Namun sebenarnyalah Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak memerlukan bantuan. Keduanya ternyata tidak mengalami banyak kesulitan mengatasi kedua orang yang mengaku datang dari padepokan yang besar dan berwibawa itu.

Sebenarnyalah, Sambi Wulung pun dengan cepat telah mendesak Nagawana. Meskipun Nagawana meningkatkan ilmunya sampai ketataran tertinggi, namun ternyata bahwa Sambi Wulung masih saja mampu mengimbanginya. Demikian pula Nagawereng. Seakan-akan ia telah kehilangan akal untuk dapat mengalahkan Jati Wulung. Apapun yang dilakukannya, maka Jati Wulung selalu dapat mengimbanginya. Bahkan semakin lama justru semakin mendesak Nagawereng sehingga kadang-kadang Nagawereng harus berloncatan mengambil jarak.

Dengan demikian, maka kedua orang yang mengaku datang dari sebuah padepokan di daerah Madiun itu mengalami kesulitan. Serangan-serangan mereka semakin lama justru menjadi semakin kabur. Sementara itu, sekali-sekali tangan Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menyentuh tubuh mereka.

Nagawana yang yakin akan kemampuannya itu, justru harus mengaduh kesakitan ketika jari-jari Sambi Wulung yang berkembang merapat sempat menusuk bagian atas perut Nagawana. Terdengar orang itu mengumpat sambil mengambil jarak. Tetapi Sambi Wulung justru memburunya. Satu tendangan yang keras terayun menyamping. Tubuh Sambi Wulung yang bagaikan terbang itu datang terlalu cepat, sehingga Nagawana tidak sempat menghindarinya.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan adalah melindungi dadanya yang menjadi sasaran serangan itu dengan kedua tangannya yang bersilang didepan dadanya.

Tetapi serangan itu datang terlalu keras. Tangan yang bersilang itu tidak mampu menahan dorongan kaki lawannya yang datang dengan kuatnya.

Karena itu, maka justru kedua tangan yang bersilang itu telah menghentak menekan dadanya. Demikian kuatnya dorongan serangan itu, maka Nagawana pun telah terdorong pula beberapa langkah surut. Bahkan kemudian ia telah kehilangan keseimbangannya sehingga jatuh berguling. Tetapi Nagawana yang memiliki ketangkasan bergerak itu dengan cepat pula melenting bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ternyata Sambi Wulung tidak memburunya. Tidak pula menyerangnya pada saat-saat kedudukannya belum tegak. Seakan-akan Sambi Wulung membiarkannya bersiaga untuk menghadapinya.

Nagawana yang sudah berdiri tegak itu memang merasa heran bahwa Sambi Wulung tidak mempergunakan kesempatan itu. Namun Nagawana menyadari bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi.

Bahkan Sambi Wulung itu pun kemudian berkata, “Nagawana. Apakah kau masih menolak untuk bertemu dengan Kepala Tanah Perdikan ini?”

Nagawana menggeram. Katanya, “Apapun yang terjadi, aku tidak akan menemuinya sekarang. Tetapi aku akan datang pada kesempatan lain.”

“Apa bedanya? Mumpung kau sudah berada di Tanah Perdikan ini. Bukankah itu lebih baik? Dengan demikian persoalan yang akan kau bicarakan tidak tertunda-tunda lagi,” berkata Sambi Wulung.

“Jangan berusaha menyelamatkan diri dengan cara yang licik itu. Jika kau tidak lagi mampu bertempur, minggirlah. Kami akan meninggalkan tempat ini,” geram Nagawana.

“Jangan begitu,” sahut Sambi Wulung sambil tertawa, “kita adalah orang-orang yang memiliki wawasan yang cukup luas tentang olah kanuragan. Apakah menurut penilaianmu kemampuanku berada dibawah kemampuanmu?”

“Ya,” jawab orang itu tegas, “jika kau memaksakan perkelahian, maka bukan salahku jika aku nanti membunuhmu.”

Sambi Wulung tertawa semakin keras. Bersamaan dengan itu, maka Jati Wulung telah berhasil menembus pertahanan Nagawereng. Tangannya dengan kerasnya mengenai ulu hati sehingga Nagawereng itu terbungkuk kesakitan. Pada saat itu pula Jati Wulung dengan tangkas menangkap kepala lawannya dan menghentakkannya membentur lututnya yang diangkatnya tinggi-tinggi.

Terdengar Nagawereng mengaduh tertahan. Namun dengan cepat ia berusaha menyerang dengan kedua belah tangannya kearah perut Jati Wulung. Tetapi Jati Wulung yang melihat serangan itu sempat meloncat surut. Justru pada saat Nagawereng berusaha untuk tegak, serangan Jati Wulung telah datang lagi meluncur dengan derasnya. Tubuhnya yang berputar telah mengayunkan kakinya tepat mengenai keningnya.

Nagawereng terlempar ke samping. Dengan kerasnya ia terjatuh terbanting di tanah. Sekali ia berguling. Kemudian dengan cepat ia pun bangkit berdiri. Tetapi untuk beberapa saat, punggungnya terasa nyeri, sementara dari bibirnya telah menitik darah. Lutut Jati Wulung telah memecahkan bibirnya ketika wajah itu terantuk lututnya itu.

Jati Wulung pun tidak segera menyerangnya. Ia pun berdiri tegak beberapa langkah didepannya sebagaimana Sambi Wulung berdiri dihadapan Nagawana.

Sambi Wulung menunggu sejenak. Kemudian sambil lersenyum ia bertanya, “Apa katamu Ki Sanak.”

Wajah Nagawana menjadi panas. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa kedua orang yang mengaku petani itu memiliki ilmu yang tinggi.

Karena Nagawana dan Nagawereng masih berdiam diri saja, maka Sambi Wulung itu pun berkata, “Ki Sanak. Aku kira kesempatan untuk memperkenalkan diri sudah cukup. Jika kau ingin menunjukkan kepada anak-anak itu bahwa kalian yang datang dari padepokan yang kau sebut besar dan berwibawa itu, maka kau pun telah melihat isi dari Tanah Perdikan Sembojan. Jika kau harap bahwa akan ada pembicaraan antara Tanah Perdikan ini dengan padepokanmu maka marilah, kita menghadap Kepala Tanah Perdikan ini.”

Wajah kedua orang asing itu menjadi tegang. Namun mereka memang tidak berniat untuk bertemu dengan Risang. Karena itu maka Nagawana dan Nagawereng masih berpikir bagaimana mereka harus menghindarinya. Sementara itu mereka memang tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa mereka berdua tidak dapat mengimbangi kemampuan kedua orang yang mengaku petani dari Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sementara itu Sambi Wulung pun berkata selanjutnya, ”Kalian tidak mempunyai pilihan lain Ki Sanak.”

Nagawana menjadi tegang sekali. Namun tiba-tiba saja ia berteriak nyaring. Dengan cepat dan sekuat tenaga ia telah meloncat menyerang Sambi Wulung.

Nagawereng, saudara seperguruan Nagawana itu segera tanggap. Ia pun berteriak pula keras-keras, sehingga suara mengumandang menggetarkan padukuhan yang sepi itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut. Serangan itu datang begitu tiba-tiba dan begitu cepat. Mereka menyadari bahwa teriakan-teriakan itu tentu merupakan isyarat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengira bahwa teriakan itu mengisyaratkan bahwa keduanya akan mengerahkan ilmu puncak mereka. Sehingga karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung  pun meloncat menghindari serangan itu sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk bertempur dalam tataran ilmu tertinggi.

Tetapi sekali lagi keduanya terkejut. Ternyata Naga wana dan Nagawereng tidak memburu dan menyerang mereka. Bahkan tiba-tiba saja mereka telah meloncati dinding halaman dan menyusup diantara pohon-pohon perdu dan tanaman yang ada di halaman itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung itu pun dengan cepat memburu. Mereka pun telah meloncati dinding halaman pula. Sebagaimana kedua orang yang melarikan diri itu berpencar, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah berpencar pula.

Tetapi ternyata kedua orang yang ilmunya tidak dapat mengimbangi tingkat ilmu Sambi Wulung dan Jati Wulung itu memiliki kemampuan menghindar yang tinggi. Kelebihan waktu yang sekejap ternyata telah mampu membawa mereka menghilang dibalik tanaman tanaman di kebun. Apalagi ketika mereka mencapai rumpun-rumpun bambu di kebun belakang.

Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung mengejar mereka, seorang diantara anak-anak muda di gardu itu telah bangkit dan melangkah cepat mendekati kentongan. Tetapi anak muda tertua di gardu itu dengan serta-merta telah mencegahnya, “Jangan. Bukankah paman Sambi Wulung dan Jati Wulung melarang kita memukul kentongan agar keramaian di banjar tidak menjadi kacau?”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Namun katanya kemudian, “Tetapi bukankah dengan demikian seluruh isi padukuhan ini akan dapat ikut mengejar kedua orang itu.”

“Tetapi kegembiraan seisi padukuhan ini akan lenyap seketika. Beberapa lama kita mempersiapkan keramaian ini, sehingga jika terjadi kekacauan maka akan siap-sialah kerja kita selama ini. Padahal kita bukan saja telah mencurahkan tenaga, tetapi juga dana,” jawab anak muda yang tertua itu.

Anak muda yang akan memukul kentongan itu mengurungkan niatnya. Ia pun kemudian duduk di gardu sambil mengusap lambungnya yang masih.terasa sakit. Pundaknya pun rasa-rasanya menjadi retak. Sedangkan yang lain pun kemudian telah duduk pula. Semua anak muda yang ada di gardu itu memang sedang kesakitan.

Tetapi beberapa saat kemudian Sambi Wulung telah meloncat dari halaman di sebelah gardu itu. Sambil menggeleng ia berkata, “Ternyata mereka memiliki kemampuan berlari sangat tinggi. Aku tidak berhasil menyusul buruanku.”

“Bagaimana dengan paman Jati Wulung?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

Belum lagi Sambi Wulung menjawab, maka Jati Wulung pun telah muncul pula sambil bergumam, “Orang itu mampu menghilang seperti iblis.”

“Aku juga kehilangan buruanku,” sahut Sambi Wulung.

“Sebenarnya aku sudah akan memukul kentongan,” berkata salah seorang dari anak-anak muda yang ada di gardu itu.

Tetapi Sambi Wulung berkata, “Untunglah, bahwa hal itu belum jadi kau lakukan. Sudah aku katakan, bahwa suara kentongan itu akan dapat membuat keramaian di banjar menjadi kacau.”

Anak muda itu mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, selagi mereka masih berbincang, seorang laki-laki tua yang tinggal tidak jauh dari gardu itu berjalan tertatih-tatih mendekati gardu. Seorang diantara anak muda itu menyongsongnya sambil bertanya, “Ada apa kek, malam-malam begini pergi ke gardu?”

“Aku mendengar teriakan-teriakan. Cucuku terkejut dan sampai sekarang tidak dapat tidur lagi. Jika anak itu tidur, sebenarnya ibunya dan kakaknya yang sulung akan pergi ke banjar,” berkata orang tua itu.

“Jadi kakek mendengar teriakan itu?” bertanya anak muda yang menyongsongnya.

“Tentu, teriakan yang keras. Mungkin orang-orang yang ada di rumah-rumah yang lain tidak mendengarnya, atau rumah di sebelah itu memang kosong, karena semua isinya pergi ke banjar,” jawab orang tua itu.

“Maaf Ki Sanak,” jawab Sambi Wulung, “anak-anak itu jika sedang bergurau telah melupakan segala-galanya. Mereka berteriak-teriak tanpa mengenal waktu dan tempat.”

“Sekarang cucuku masih belum tidur, sehingga ibunya dan kakaknya yang sulung tidak dapat pergi ke banjar,” berkata orang tua itu.

“Bukankah tontonan itu akan berlangsung semalam suntuk?” bertanya Jati Wulung.

“Tetapi sudah tentu penontonnya lebih senang jika dapat melihat urut-urutan ceriteranya,” jawab kakek tua itu.

“Kami minta maaf kek,” jawab anak muda itu.

“Lain kali hati-hatilah. Jika kalian sedang meronda, kalian harus menjaga ketenangan dan ketentraman. Bukan justru merusak ketenangan dengan mengganggu orang-orang yang sedang tidur.”

“Ya kek,” jawab anak muda itu.

“Nah, seharusnya yang tua-tua itu dapat mengatur anak-anak yang sedang meronda. Jangan sampai terjadi keributan,” berkata orang itu pula. Namun tiba-tiba ia bertanya, “He, siapakah Ki Sanak berdua itu?”

“Kami datang dari padukuhan induk Tanah Perdikan ini, Ki Sanak. Kami memang jarang berada disini, sehingga Ki Sanak nampaknya belum mengenal kami. Tetapi anak-anak muda ini telah mengetahui siapakah kami. Kami datang untuk melihat keramaian yang diselenggarakan di Banjar.”

“Tetapi kenapa kalian masih ada disini, sedangkan malam sudah larut begini?” bertanya orang tua itu.

“Bukankah pertunjukan itu akan berlangsung semalam suntuk? Sejak sore aku berada di padukuhan Banjarreja. Tetapi kami tidak dapat melihat wayang beber yang diselenggarakan di banjar, karena penontonnya penuh sesak. Jadi aku kemudian bergeser kemari. Tetapi di gardu kami sempat berbincang-bincang sejenak dengan anak-anak muda itu.”

“Dan berteriak-teriak,” sahut orang tua itu.

Sambi Wulung tidak menjawab. Anak-anak muda itu pun terdiam. Sementara itu orang tua itu pun telah melangkah meninggalkan anak-anak muda yang termangu-mangu.

“Untunglah orang tua itu tidak melihat wajahnya yang biru pengab,” desis salah seorang anak muda itu kepada kawannya.

Kawannya hanya tersenyum saja.

Dalam pada itu, ketika anak-anak muda itu kemudian duduk di gardu, mereka melihat keempat kawannya yang meronda berkeliling padukuhan disisi Barat itu datang. Begitu mereka mendekati gardu, mereka pun mulai tertawa-tawa. Seorang diantara mereka berkata, “Maaf, mungkin kami terlalu lama meronda berkeliling. Kami menyelusuri semua lorong-lorong sampai lorong yang paling sempit sekalipun. Kami mengetuk setiap pintu rumah dan mengamati semua kebun dan halaman.”

Tanpa berjanji anak-anak muda yang berada digardu, bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menjawab.

Karena itu maka salah seorang anak muda itu berkata, “Maafkan kami. Terus terang kami singgah sebentar di banjar,” lalu katanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, “untunglah paman berdua menemani kawan-kawan kami yang bertugas di gardu.” bahkan katanya kemudian, “tetapi jika kalian ingin melihat barang sebentar, pergilah.”

Anak-anak muda yang ada di gardu itu masih belum menjawab. Mereka hanya memandangi kawan-kawan mereka yang baru datang itu sambil berdiam diri.

Tiba-tiba saja salah seorang diantara mereka yang datang itu memandangi wajah kawan-kawannya itu dengan kerut didahinya. Semula ia hanya mengira bahwa yang nampak diwajah kawan-kawannya itu adalah bayangan cahaya obor digardu itu. Namun ternyata bukan.

“He, kenapa wajahmu itu? Dan wajahmu? Kenapa?” bertanya anak itu dengan cemas.

Baru kemudian kawan-kawannya pun telah memperhatikan-nya pula. Mereka memang melihat sesuatu yang tidak wajar di wajah kawan-kawannya itu. Bahkan ada diantara mereka yang nampaknya bibirnya telah berdarah dan membengkak.

Baru kemudian keempat orang yang datang itu menjadi ribut. Mereka telah bertanya bergantian dengan nada cemas. Bahkan sekali-sekali mereka memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kalian mengira bahwa aku telah menyakiti mereka?” bertanya Sambi Wulung.

“Tidak,” jawab salah seorang dari para peronda itu, “tetapi kenapa?”

Sambi Wulung hanya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, yang tertua diantara mereka yang ada di gardu itu menjawab, “kami hampir mati terbunuh disini. Seandainya paman Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak kebetulan lewat, maka aku kira kami tidak melihat lagi kedatangan kalian.”

Keempat kawannya yang baru datang itu menjadi tegang. Seorang diantara mereka bertanya, “Apa yang terjadi, kenapa kalian tidak memukul kentongan?”

“Semula kami memang tidak ingin membuat keributan di padukuhan ini. Jika kami membunyikan kentongan, maka keramaian di banjar akan menjadi kacau balau. Apa yang telah dipersiapkan lama itu akan tidak berarti sama sekali. Ketika kemudian kami tidak mampu lagi melawan orang-orang itu dan berniat memukul kentongan, maka kami tidak sempat lagi. Ternyata mereka mampu menghalagi niat itu dan bahkan membuat kami tidak berdaya sama sekali. Nampaknya mereka benar-benar ingin menyakiti kami dan mungkin juga membunuh kami.”

“Siapakah yang kau maksud dengan mereka itu?” bertanya salah seorang peronda yang tersangkut di banjar itu.

“Dua orang yang mengaku datang dari sebuah padepokan,” jawab yang tertua diantara anak-anak muda yang ada di gardu.

“Kami minta maaf,” berkata seorang dari mereka yang baru datang, “seharusnya kami tidak meninggalkan kalian terlalu lama, sehingga hal ini dapat terjadi.”

“Tetapi hal ini sudah terjadi,” jawab salah seorang peronda yang ada di gardu itu.

“Itulah sebabnya kami minta maaf,” sahut kawannya yang baru datang.

“Sudahlah,” berkata Sambi Wulung, “segalanya sudah terlanjur. Sekarang aku akan minta diri. Aku harus segera melaporkan hal ini kepada Kepala Tanah Perdikan Sembojan malam ini juga. Kalian yang ada digardu ini dapat berceritera tentang kedua orang yang mendatangi gardu ini. Untunglah bahwa kami merasa terlalu lama menunggu kedua orang itu dibulak dan kami datang untuk melihat mereka di gardu ini, sehingga kami sempat melihat apa yang terjadi.”

“Kami mengucapkan terima kasih paman,” berkata anak muda yang tertua diantara para peronda yang ada di gardu.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Hati-hati sajalah. Mudah-mudahan mereka tidak kembali lagi.”

“Baik paman,” jawab anak muda itu.

“Jika mereka kembali dan keadaan memang memaksa sekali, apaboleh buat. Kalian dapat membunyikan kentongan itu. Keramaian di banjar sudah berlangsung cukup lama. He, apakah sekarang sudah lewat tengah malam?”

“Sudah menjelang dini paman,” jawab anak muda itu.

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun segera meninggalkan padukuhan itu langsung kembali ke padukuhan induk. Ternyata bahwa di padukuhan induk, Risang masih belum tidur. Ia pun mengikuti keramaian yang terjadi di beberapa padukuhan lewat orang-orang yang memang ditugaskan untuk itu. Dengan demikian Risang dapat mengetahui kegembiraan orang-orang Tanah Perdikan itu sehubungan dengan wisuda yang telah dijalaninya.

Kedatangan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang langsung menemuinya itu memang membuatnya berdebar-debar. Sedangkan Sambi Wulung dan Jati Wulung pun ingin segera menyampaikan laporannya tentang peristiwa yang telah dialaminya.

Risang mendengarkan laporan itu dengan sungguh-sungguh. Sekali-sekali kepalanya terangguk-angguk. Namun kemudian dahinyalah yang berkerut.

“Jadi mereka datang dari Madiun?” bertanya Risang.

“Tetapi tentu tidak ada hubungannya dengan Kangjeng Adipati di Madiun,” jawab Sambi Wulung.

“Ya. Aku mengerti,” jawab Risang, “mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan keadaan. Di saat mereka melihat mendung diatas hubungan antara Madiun dengan Pajang dan Mataram, maka mereka dengan serta-merta ingin mendapatkan keuntungan dari itu. Mereka mengira bahwa mereka akan dapat dengan mudah mengambil Tanah Perdikan ini. Agaknya mereka mengira bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini bergantung kepada bantuan Pajang.”

“Kita memang harus bersiap-siap,” berkata Sambi Wulung.

“Sayang, kami kehilangan mereka berdua,” berkata Jati Wulung kemudian.

“Tetapi itu lebih baik daripada padukuhan yang sedang bergembira itu menjadi kacau,” sahut Risang.

“Tetapi aku memperhitungkan, bahwa orang-orang itu atau mungkin bersama orang lain akan datang menemuimu,” berkata Sambi Wulung kemudian, “dengan demikian, maka kau harus sudah mempunyai landasan sikap menghadapi mereka.”

“Bukankah sikap kita sudah jelas?” bertanya Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun Sambi Wulung kemudian berkata, “Tetapi sebaiknya kau sampaikan hal ini kepada ibumu. Meskipun sekarang kau adalah Kepala Tanah Perdikan, tetapi jabatan ini baru kau pegang beberapa hari, sementara ibumu telah melakukannya untuk waktu yang lama.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Ibu sekarang sudah tidur dibiliknya. Biar besok saja aku bicarakan hal ini sekaligus dengan kakek dan nenek.”

“Ya. Tetapi sekarang, sebaiknya kau pun beristirahat,” berkata Sambi Wulung.

Risang mengangguk. Tetapi ternyata bahwa ia tidak segera beringsut dari tempatnya meskipun kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkannya sendiri di pendapa.

Untuk beberapa saat Risang masih termenung sendiri. Angan-angannya menerawang ke masa lampau dan ke masa mendatang. Ternyata bahwa jabatan yang dipegangnya memang menuntut tanggung jawab yang berat. Baru beberapa hari ia diwisuda, maka persoalan yang gawat telah membayang dihadapannya. Adalah kebetulan bahwa saat ia diwisuda langit diatas Pajang justru menjadi mendung. Persoalan dengan Madiun yang untuk beberapa saat mampu diredam, pada akhirnya muncul pula dipermukaan. Untunglah bahwa kedua belah pihak berusaha untuk menahan diri sehingga benturan akan masih dapat dicegah.

Namun, akibat samping dari persoalan itu adalah justru ada sekelompok orang yang memanfaatkan keadaan mengambil keuntungan justru ketika Pajang dan Mataram sedang berusaha untuk meredakan goncangan-goncangan yang terjadi. Demikian pula Adipati di Madiun.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Risang pun akhirnya meninggalkan tempatnya. Agaknya memang sudah tidak ada laporan-laporan khusus datang dari padukuhan-padukuhan. Ternyata di padukuhan-padukuhan lain keramaian dapat berlangsung dengan baik dan kegembiraan mewarnai seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan.

Di pagi hari berikutnya Risang telah menyampaikan laporan yang disampaikan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung bukan saja kepada ibunya, tetapi juga kepada kakek dan neneknya yang kebetulan duduk bersama-sama diruang dalam.

“Satu isyarat bahwa kau benar-benar harus mulai melakukan tugas serta tanggung jawabmu,” berkata Kiai Badra.

“Ya kakek,” jawab Risang, “mudah-mudahan mereka benar-benar datang untuk berbicara tentang tanah Perdikan ini. Dengan demikian aku dapat menunjukkan surat kekancingan yang pernah kita terima serta kekancingan jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sudah aku terima pula. Dengan melihat sendiri surat-surat kekancingan itu, maka mereka tidak akan dapat menuntut terlalu banyak lagi.”

Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, “Mereka tentu sudah mengetahui bahwa kita memiliki surat-surat kekancingan. Tanpa surat kekancingan maka tidak akan dapat dilakukan wisuda. Tetapi mereka dengan sengaja telah melontarkan satu perang urat syaraf untuk mengguncang ketahanan jiwani orang-orang Tanah Perdikan ini. Mereka berharap bahwa kekalutan antara Pajang dan Mataram dengan Madiun menjadi semakin parah.”

“Apakah dengan demikian berarti bahwa padepokan yang dikatakannya itu, mereka perhitungkan memiliki kemampuan untuk menguasai Tanah Perdikan ini?” bertanya Risang.

“Ya. Mereka menganggap bahwa Tanah Perdikan ini adalah Tanah Perdikan yang bergantung kepada Pajang. Jika Pajang terlibat dalam perang melawan Madiun, maka Pajang tentu tidak akan sempat melindungi Tanah Perdikan ini,” jawab Kiai Badra.

Risang mengangguk-angguk, sementara Kiai Soka berkata pula, “Apa yang dilakukan oleh kedua orang itu tentu satu penjajagan. Mereka ingin mengetahui kesiagaan Tanah Perdikan ini. Tetapi juga kemampuan anak-anak mudanya. Tentu akan diperbandingkan dengan para cantrik dari padepokan yang disebutnya besar dan berwibawa itu.”

“Tetapi ternyata keduanya telah membentur Sambi Wulung dan Jati Wulung,” sambung Nyai Soka, “mudah-mudahan mereka sempat mempertimbangkan.”

Risang mengangguk-angguk pula. Namun sementara itu ibunya pun berkata, “Jika demikian Risang, maka yang perlu kita siapkan bukan sekedar sikap kita yang sudah pasti tentang Tanah Perdikan ini. Bukan pula sekedar surat-surat kekancingan. Tetapi juga kekuatan. Menurut perhitunganku, jika perselisihan yang terjadi antara Pajang dan Mataram dengan Madiun tidak terselesaikan, maka padepokan itu akan mengambil kesempatan untuk menyerang Tanah Perdikan ini yang diperhitungkan bersandar kepada bantuan kekuatan dari Pajang. Tetapi kita pun harus berjaga-jaga pula. Mungkin padepokan itu memang benar sebuah padepokan yang besar dan kuat, sehingga kita akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri.”

Risang mengangguk-angguk pula sambil menjawab, “Ya. Ibu. Setelah keramaian-keramaian ini berakhir, maka kita akan mulai dengan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan itu. Bukankah mereka tidak ikan bergerak dalam satu dua hari ini?”

“Ya. Agaknya memang demikian. Mereka tentu menunggu perkembangan hubungan yang suram antara Madiun dengan Pajang dan Mataram,” jawab ibunya.

Risang mengangguk-angguk. Namun jelas baginya, bahwa Tanah Perdikan itu memang harus bersiap-siap. Tetapi Risang tidak mau mengganggu keramaian yang diselenggarakan di Kademangan-kademangan dan padukuhan-padukuhan yang masih tinggal dua tiga hari lagi.

Namun dalam pada itu, Risang ternyata juga ingin menemui Kasadha atau Ki Rangga Dipayuda di Pajang. Risang ingin mendapat kabar tentang hubungan antara Pajang dan Madiun.

Tetapi sudah tentu bahwa keinginannya itu baru akan dapat dilakukan setelah keramaian-keramaian di Tanah Perdikan Sembojan itu selesai.

Sementara itu, di Pajang, Kasadha telah berada kembali di baraknya. Ia mulai tenggelam dalam tugas-tugasnya. Namun apa yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan masih saja terkesan dihatinya. Wisuda itu sendiri merupakan satu peristiwa yang baru pertama kali dilihatnya justru menyangkut dirinya sendiri meskipun hanya sekedar sentuhan-sentuhan kecil. Tetapi yang diwisuda itu adalah kakaknya seayah.

Tetapi lebih dari itu, kehadiran Riris di Tanah Perdikan Sembojan yang bahkan merupakan bagian dari upacara itu tidak dapat terlepas dari angan-angannya. Riris nampak cantik sekali ketika ia duduk sambil membawa sebuah nampan yang beralaskan beludru berwarna kuning emas untuk membawa pertanda Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Kasadha pun tidak dapat melepaskan diri dari kegelisahannya bahwa ibunya telah salah terima. Ibunya masih saja menyangka bahwa hatinya telah terguncang saat ia melihat kakaknya diwisuda.

“Tetapi aku tidak dapat menjelaskannya,” berkata Kasadha kepada diri sendiri. Meskipun sebenarnya Kasadha sendiri mulai tersentuh oleh pertanyaan ibunya tentang seorang gadis yang membawa nampan beralaskan beludru berwarna kuning itu.

“Apakah ibu sudah mulai menduga-duga tentang gadis itu?” pertanyaan itu pun mulai bergejolak dihatinya.

Tetapi untuk sementara Kasadha berusaha melupakan semuanya itu. Persoalan Riris merupakan persoalan yang baru akan dapat dipecahkan dalam waktu yang panjang.

Persoalan yang kemudian dihadapinya, bukan saja oleh Kasadha sendiri atau bahkan oleh prajurit-prajurit seisi baraknya, tetapi oleh seluruh rakyat Pajang, bahwa ternyata Pangeran Benawa sudah beberapa hari tidak dapat keluar dari biliknya.

Semula berita tentang sakitnya Pangeran Benawa itu bertahan di sekeliling dinding istana saja. Namun ternyata berita itu telah menyusup keluar, sehingga Pajang pun mudian telah diliputi oleh suasana yang muram.

Kasadha yang juga telah mendengar tentang sakitnya Pangeran Benawa itu pun telah bertemu dan berbicara dengan Ki Rangga Dipayuda yang mendapat kesempatan bertemu dengan para pemimpin di istana.

“Pangeran Benawa baru kira-kira setahun memerintah sejak Adipati Demak diminta meninggalkan Pajang dan kembali ke Demak,” desis Kasadha.

“Ya. Tetapi dalam waktu yang singkat itu telah banyak terjadi perubahan-perubahan,” berkata Ki Rangga Dipayuda, “diantaranya adalah bahwa aku telah kembali masuk kedalam barak. Bahwa kau telah ditetapkan menjadi seorang Lurah prajurit dalam kesatuan pandhega yang aku pimpin. Terakhir adalah bahwa Pajang telah mewisuda angger Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukan karena hal itu menyangkut Risang. Tetapi apa yang dilakukan atas Tanah Perdikan Sembojan itu adalah satu pertanda bahwa Pangeran Benawa membuka wawasan yang lebih luas bagi kesejahteraan rakyatnya, lahir dan batin.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Rangga Dipayuda. Sembojan hanyalah salah satu contoh dari langkah-langkah yang telah diambil oleh Pangeran Benawa untuk menata kembali susunan pemerintahan serta citra kekuasaan Pajang setelah kakak iparnya kembali ke Demak.

“Tetapi bagaimana keadaannya pada saat-saat terakhir?” bertanya Kasadha.

“Para tabib masih berusaha untuk menyembuhkannya. Beberapa hari yang lalu, keadaannya berangsur baik. Tetapi sejak kemarin sore keadaannya telah menurun dengan cepat. Panas bagaikan membakar seluruh tubuhnya. Kemudian dingin pun membuat darahnya seakan-akan membeku.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu hubungan antara Pajang dan Madiun masih belum ada tanda-tanda membaik meskipun tidak menjadi semakin buruk.

Keadaan Pangeran Benawa itu telah disampaikan pula kepada Panembahan Senapati di Mataram. Bahkan Panembahan Senapati telah mengirimkan tabib terbaik dari istana Panembahan Senapati itu sendiri.

“Apakah tabib itu tidak dapat mengobatinya?” bertanya Kasadha.

“Baru hari ini tabib itu tiba. Tetapi ia sudah berada di istana,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

Kasadha mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga keadaan Pangeran Benawa itu membuat seluruh rakyat Pajang berprihatin, justru karena apa yang dilakukan dalam setahun telah menunjukkan bekas tangannya yang dingin.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 49

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s