SST-47

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

KEDUA perempuan itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Mereka memiliki ketahanan tubuh yang tinggi karena mereka sudah terbiasa melakukan latihan-latihan yang berat. Meskipun pada saat terakhir keduanya sudah tidak sering lagi melakukan latihan, tetapi mereka masih harus bekerja keras di sawah dan di rumah, sehingga seakan-akan ketahanan tubuh mereka tetap terpelihara.

Seperti yang direncanakan, maka lewat tengah malam keduanya meninggalkan pondok tempat tinggal kedua orang perempuan itu. Namun menjelang malam, mereka sudah menitipkan rumah itu kepada tetangga terdekat.

“Besok kami berdua akan pergi untuk beberapa hari,” berkata ibu Kasadha kepada tetangganya, “tolong awasi rumahku. Tolong beri makan ayamku. Aku masih mempunyai persediaan jagung untuk memberi makan ayam-ayam itu.”

Ternyata tetangganya adalah seorang yang baik, sehingga dengan senang hati tetangganya itu menyatakan kesediaannya.

“Biar anak-anak menyapu halaman selama kalian pergi,” berkata tetangganya itu.”Tetapi sudah tentu mereka akan memanjat pohon jambu air itu.”

“Silahkan. Jambu itu tidak akan habis diambil anak-anak,” jawab ibu Kasadha.

Dengan demikian maka, malam itu keduanya dengan tenang meninggalkan rumah mereka yang memang tidak berisi barang-barang berharga. Beberapa lembar pakaian yang terbaik telah mereka bawa. Namun demikian ada juga yang disembunyikan oleh ibu dan bibi Kasadha. Senjata-senjata mereka. Keduanya sepakat untuk tidak membawa senjata apapun, karena senjata jika dilihat oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan akan dapat menimbulkan salah paham.

Ketika ayam berkokok untuk kedua kalinya, ketiga orang itu telah berada diluar padukuhan. Kasadha yang berjalan dipaling belakang menuntun kudanya yang membawa beban. Tetapi bukan beban yang berat.

Kasadha memang ingin mereka mendahului perjalanan Ki Rangga Dipayuda. Bahkan Kasadha berniat untuk mengambil jalan lain. Ia akan membawa ibu dan bibinya menghindari padukuhan tempat tinggal Ki Rangga Dipayuda.

Perjalanan ke Tanah Perdikan memang perjalanan yang panjang. Namun ibu dan bibi Kasadha sudah membawa bekal lengkap di perjalanan. Mereka membawa nasi beberapa bungkus lengkap dengan lauknya, karena sebelum mereka berangkat, seekor ayam sudah disembelihnya.

Namun Kasadha tidak mengalami kesulitan di perjalanan. Kedua orang perempuan itu sama sekali tidak menjadi beban baginya, karena mereka memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan.

Namun perjalanan di malam hari tidak selalu menguntungkan. Matahari memang tidak memancar dilangit sehingga kulit mereka tidak terbakar oleh sinarnya yang terik. Meskipun mereka sadar, bahwa perjalanan mereka yang panjang itu tentu akan melewati juga masa-masa matahari menyengat kulit mereka.

Tetapi di malam hari, udara terasa dingin. Bahkan titik-titik embun terasa membasahi kening.

Namun yang ternyata sangat mengganggu perjalanan mereka justru saat mereka berjalan di bulak panjang, setelah menjelang fajar. Meskipun langit masih kelam, ketiga orang itu sama sekali tidak terhambat oleh kegelapan sebagaimana mereka berjalan keluar dari halaman rumah mereka dan menelusuri jalan padukuhan. Justru ketika mereka berjalan di jalan bulak, rasa-rasanya malam menjadi lebih terang. Bintang-bintang dilangit nampak berhamburan dari kaki langit sampai kekaki langit yang lain.

Tetapi ternyata masih juga ada orang-orang yang ingin mendapatkan harta benda dengan mudah dan cepat. Meskipun cara yang ditempuh tidak sepantasnya. Ampat orang yang berwajah garang, tiba-tiba saja meloncat dari balik gerumbul-gerumbul perdu di pinggir jalan. Dengan serta merta keempat orang itu berdiri tegak dengan bertolak pinggang.

Dengan cepat ibu dan bibi Kasadha yang berjalan di paling depan segera tanggap atas apa yang mereka hadapi. Ampat orang itu tentu sekelompok penyamun yang sering mengganggu orang-orang yang akan pergi ke pasar dengan membawa barang-barang dagangan mereka. Para pedagang yang berhasil kadang-kadang tidak saja membawa barang dagangan, tetapi mereka juga membawa dan mengenakan perhiasan yang mahal.

Karena itu, sebelum orang-orang itu menghentikan langkah mereka, ibu dan bibi Kasadha sudah berhenti beberapa langkah dari mereka.

Kasadha lah yang kemudian melangkah maju setelah menyerahkan kendali kudanya kepada bibinya.

“Kuda ini sudah jinak bibi,” desis Kasadha meskipun ia tahu bahwa sebelumnya bibinya sebagaimana ibunya sering berpacu diatas punggung kuda.

Keempat orang itu melangkah mendekat. Seorang diantara mereka berada dipaling depan. Dengan suara yang mengguruh orang itu berkata, “Ki Sanak. Aku ingin berbicara dengan kalian.”

“Aku sudah mengira melihat Ki Sanak langsung berdiri ditengah jalan. Nah, jika kau ingin berbicara, katakan.”

Wajah orang itu berkerut. Ia memang agak heran melihat sikap Kasadha yang tetap tenang. Demikian pula kedua orang perempuan itu sama sekali tidak berkesan ketakutan.

“Kalian akan pergi kemana Ki Sanak?” bertanya orang yang berdiri dipaling depan itu.

“Kami akan kepasar. Kami membawa beberapa jenis barang yang akan kami jual ke pasar. Diantaranya adalah wesi aji,” jawab Kasadha tanpa ragu-ragu.

“Apa yang kau maksud dengan wesi aji? Keris, patrem, luwuk atau wesi kuning?” bertanya orang itu.

“Apakah kau akan membelinya?” bertanya Kasadha tiba-tiba.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berpaling kepada ketiga orang kawannya sambil berkata, “Nampaknya anak ini anak yang sombong dan keras kepala. Ia mencoba untuk membuat kita tersinggung.”

Namun Kasadha justru menyahut, “Bukankah lebih baik aku bertanya demikian daripada aku bertanya, apakah kalian akan menyamun atau merampok?”

“Setan kau,” geram orang itu, “aku memang akan merampok. Aku tidak perlu berpura-pura membeli atau apapun juga. Serahkan wesi aji itu kepadaku bersama kuda itu. Aku tidak akan mengganggu dan menyakiti kalian.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Apakah kau sudah benar-benar tidak dapat mencari nafkah dengan cara yang lebih baik dari cara yang kau pilih sekarang ini?”

“Tutup mulutmu,” orang itu membentak, “aku tidak mau berbicara apapun juga. Berikan barang-barang itu sekarang. Sebelum aku melakukan kekerasan.”

“Ki Sanak. Kedua orang perempuan ini telah mengupah aku untuk mengantar mereka ke pasar. Sudah tentu melindungi mereka jika terjadi perampokan seperti sekarang ini. Karena itu, maka aku tidak akan membiarkan kau mengambil selembar rambutnya sekalipun. Nah, terserah kepada kalian, apakah kalian ingin meneruskan niat kalian, atau kita akan berkelahi.”

Wajah orang itu menegang. Bahkan seorang kawannya yang tidak dapat menahan diri menggeram, “Serahkan anak itu kepadaku.”

“Nah, kau dengar anak iblis? Sebaiknya kami tidak usah menyakitimu, apalagi perempuan itu. Karena itu, serahkan saja barang-barangmu dan kudamu itu kepadaku,” berkata orang yang berdiri dipaling depan itu.

“Jika kalian berhasil merampas barang-barang kedua perempuan itu artinya sama saja dengan mematikan penghasilanku. Aku adalah orang upahan yang mendapat penghasilan karena tugas seperti ini. Kalau kau merampas wesi aji itu berarti kau merampas sesuap nasi dari mulutku. Karena itu, biarlah aku mempertahankannya. Aku yakin bahwa mencari makan dengan caraku jauh lebih baik dari cara yang kau tempuh.”

Para penyamun itu tidak sabar lagi. Mereka pun segera berpencar dan langsung menyiapkan senjata mereka masing-masing.

“Seandainya kau mampu bertahan terhadap dua orang diantara kami, namun dua orang yang lain akan dapat membunuh kedua orang perempuan itu,” berkata salah seorang dari para perampok itu.

Namun tiba-tiba Kasadha bertanya, “He, apakah kau orang upahan seperti aku, tetapi untuk membunuh orang? Apakah kau orang upahan Ki Tunggul?”

“Persetan dengan celotehmu. Aku tidak mengenal nama itu,” jawab pemimpin mereka.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia berpaling kepada bibi dan ibunya. Katanya, “Mereka orang lain. Mereka bukan orang-orang padukuhan kita.”

“Maksudmu?” bertanya ibunya.

“Seperti yang dikatakannya, diantara mereka ada yang akan berbuat licik dengan menyerang perempuan. Tetapi mereka tidak akan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari meskipun seandainya kita melakukan sedikit kelainan untuk mempertahankan diri,” jawab Kasadha.

Ibu dan bibinya pun tanggap akan maksud anak muda itu. Seandainya benar ada diantara para penyamun itu menyerang ibu dan bibinya itu, maka hendaknya mereka melindungi diri mereka masing-masing.

Sementara itu, keempat orang yang berniat untuk merampok itu mulai bergerak. Mereka telah mengacukan senjata mereka, sementara Kasadha pun telah menarik pedangnya pula.

“Kami tidak mempunyai banyak waktu. Langit menjadi semakin merah. Sebelum jalan ini menjadi ramai, maka kalian harus kami habisi jika kalian berkeras untuk tidak menyerahkan barang-barang kalian,” geram pemimpin perampok itu.

Kasadha tidak sempat menjawab. Orang itu segera meloncat menyerangnya.

Namun Kasadha telah bersiap. Ketika serangan itu datang, maka ia pun segera berloncatan menghindar.

Tetapi para perampok yang lain pun telah menyerangnya pula. Berturut-turut empat ujung senjata terjulur ke arahnya. Namun Kasadha cukup tangkas untuk menghindar dengan loncatan-loncatan panjang. Bahkan sambil menangkis, putaran pedang Kasadha justru menggeliat menyambar lawannya.

Beberapa saat lamanya Kasadha bertempur seorang diri melawan keempat orang penyamun itu. Meskipun beberapa kali Kasadha harus berloncatan mengambil jarak, namun keempat orang itu tidak segera dapat menundukkannya, sehingga pemimpin perampok itu menjadi tidak sabar. Sementara itu langit pun menjadi semakin merah oleh bayangan fajar.

Karena itu, maka pemimpin perampok itu pun segera berteriak, “Letakkan senjatamu, atau kedua orang perempuan itu aku bantai dihadapan matamu. Jika mereka terbunuh disini, siapakah yang akan mengupahmu, he?”

Tetapi Kasadha justru tertawa. Katanya, “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Namun jika kalian berani mengganggu kedua orang perempuan itu, maka kalian semuanya akan aku tumpas.”

Pemimpin perampok itu memang menjadi heran. Nampaknya orang yang menyatakan diri sebagai orang upahan itu tidak merasa cemas sama sekali meskipun kedua orang perempuan itu diancamnya untuk dibunuh.

Namun para perampok itu benar-benar telah kehilangan waktu. Langit yang merah itu pun membuat mereka tidak lagi dapat berpikir panjang.

Karena itulah, maka pemimpin perampok itu telah meneriakkan aba-aba. Dua orang diantara mereka akan bertempur melawan anak muda yang mengaku orang upahan itu sedangkan dua orang yang lain akan merampok barang-barang yang dibawa dipunggung kuda itu. Bahkan jika perlu dengan kekerasan terhadap kedua orang perempuan itu.

Demikianlah sejenak kemudian, maka dua orang diantara para penyamun itu telah meninggalkan Kasadha. Mereka bergerak, seorang mendekati ibu dan bibi Kasadha, sedangkan yang lain menuju langsung kearah kuda Kasadha yang kendalinya masih dipegangi oleh bibinya.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat menjerat leher kalian sendiri,” ancam salah seorang dari kedua orang penyamun itu.

Namun penyamun itu justru menjadi heran, ketika bibi Kasadha itu berkata dengan tenang, “Tunggu sebentar Ki Sanak. Aku akan menambatkan kuda ini pada batang perdu dipinggir jalan itu. Barangkali itu lebih baik daripada kuda ini berlari menjauh.”

Kedua perampok yang keheranan melihat sikap perempuan itu justru tercenung untuk beberapa saat. Baru kemudian setelah kuda itu tertambat, maka keduanya mulai melangkah mendekat. Seorang diantara mereka mendekati kuda yang tertambat itu.

Tetapi kedua perampok itu menjadi heran. Seorang diantara perempuan itu justru langsung menghalangi perampok yang mendekati kuda itu sambil berkata, “Jangan singgung kuda itu Ki Sanak. Kuda itu membantu kami membawa barang-barang kami.”

Sebelum para perampok itu menyadari benar apa yang dilihatnya maka perempuan yang seorang lagi telah berkata pula, “Sebaiknya kalian mengurungkan niat kalian. Tidak ada gunanya kalian mencoba merampok kami, karena hanya akan mencelakai kalian sendiri saja.”

Para perampok itu menjadi semakin heran. Sementara itu Kasadha sudah tidak lagi berloncatan mengambil jarak sebagaimana ketika ia bertempur melawan empat orang sekaligus. Baginya dua orang perampok itu tidak terlalu menyulitkannya sebagaimana mereka berempat.

Namun ketika warna merah dilangit semakin jelas, maka para perampok itu pun menjadi semakin gelisah. Perampok yang dihalangi oleh bibi Kasadda itu pun berkata geram, “Apakah kau sudah gila? Atau kau memang sedang membunuh diri?”

“Tidak Ki Sanak,” jawab bibi Kasadha, “tetapi aku ingin mempertahankan milikku jika kau memaksa.”

“Apakah kau benar-benar sudah gila?” penyamun itu hampir berteriak. Namun diluar sadarnya, pedangnya telah teracu kearah dada bibi Kasadha itu.

Namun bibi Kasadha justru menyingsingkan kainnya sambil berkata, “Sebenarnya aku tidak siap melawanmu dalam pakaian ini. Tetapi apaboleh buat.”

“Gila kau. Jadi kau akan melawan aku?”

“Ya, kenapa? Apakah kau heran? Bukankah wajar jika aku mempertahankan milikku,” jawab bibi Kasadha.

Perampok itu memang tidak sabar lagi. Ia benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka senjatanya pun mulai digerakkannya untuk mengancam perempuan yang mencoba menghalanginya itu.

Namun perempuan itu sama sekali tidak merasa cemas melihat ujung senjata itu. Bahkan ketika ujung senjata itu mulai bergerak maka perempuan itu pun mulai bergeser.

Tetapi yang sangat mengejutkan adalah perempuan yang seorang lagi. Ibu Kasadha. Selagi perampok yang mengancamnya memperhatikan gerak perempuan yang seorang lagi, maka seakan-akan terjadi didalam mimpinya, perempuan itu begitu saja telah berhasil merampas senjatanya. Perampok itu tidak tahu bagaimana terjadinya. Ia hanya merasa angin bergeser menyentuh kulitnya. Dan tiba-tiba senjatanya telah terlepas.

Perempuan itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Maaf, aku memang ingin meminjam senjatamu sebentar.”

Perampok itu masih kebingungan sehingga justru berdiri membeku. Sementara itu ibu Kasadha itu berkata kepada adik sepupunya itu, “Marilah. Kau tentu memerlukannya.”

Yang terjadi memang terlalu cepat untuk diikuti. Senjata itu telah meloncat dari tangan perempuan yang merampasnya ketangan perempuan yang seorang lagi, sehingga dengan demikian maka bibi Kasadha itu menghadapi lawannya dengan bersenjata pula sebagaimana lawannya. Sementara itu, perampok yang kehilangan senjatanya itu harus berhadapan dengan perempuan yang telah merampas senjatanya tanpa diketahui bagaimana terjadi itu.

Namun terasa tengkuk perampok itu mulai meremang. Bahkan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku berhadapan dengan sosok-sosok peri dan gendruwo?”

Sementara itu, kedua kawannya masih bertempur melawan anak muda yang mengaku orang upahan itu. Kedua orang kawannya itu pun nampaknya tidak segera dapat menguasai anak muda itu, sementara kawannya yang berhadapan dengan perempuan yang kemudian telah bersenjata itu, mulai bergeser surut ketika bibi Kasadha mengacukan senjata rampasannya itu.

Namun perampok yang masih bersenjata itu memang tidak segera menyerah. Ia mencoba untuk menggerakkan senjatanya dan menyerang perempuan itu. Tetapi ternyata bahwa perempuan itu dengan tangkas telah menangkis serangan-serangannya.

Namun demikian, kain panjang bibi Kasadha itu memang agak mengganggu sehingga langkah kakinya pun tidak dapat leluasa sebagaimana ia mengenakan pakaian khususnya.

Meskipun demikian namun bibi Kasadha itu telah mampu menunjukkan ilmu pedang yang cepat dan mendebarkan.

Dalam pada itu, ibu Kasadha yang berhadapan dengan perampok yang sudah tidak bersenjata lagi itu pun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan kau? Apakah kau juga masih akan menyerangku atau kau mempunyai rencana yang lain?”

Perampok itu memang termangu-mangu sejenak. Namun ternyata bahwa ia pun masih berpegang kepada harga dirinya. Dengan lantang ia pun berkata, “Meskipun kau iblis betina sekalipun, aku akan memaksamu untuk menyerahkan barang-barangmu.”

“Kau tidak akan mampu melakukannya,” berkata ibu Kasadha, “seperti dikatakan oleh anak muda itu, bahwa kami membawa wesi aji dan benda-benda bertuah lainnya. Karena itu, maka pengaruhnya akan dapat menjeratmu dan bahkan mencekik lehermu.”

“Persetan dengan igauanmu itu,” geram perampok itu. Sementara itu, ia pun telah bersiap untuk menyerang ibu Kasadha yang juga tidak bersenjata.

“Aku sudah memperingatkanmu,” desis ibu Kasadha.

Namun perampok itu ingin meyakinkannya. Perempuan itu nampak sudah merambat ke usia tuanya. Ujudnya pun tidak meyakinkan sama sekali.

Apalagi ketiga orang kawannya yang lain masih saja bertempur dengan sengitnya.

Karena itu, maka perampok yang sudah tidak bersenjata lagi itu pun telah bergeser selangkah menyamping. Ia pun telah bersiap untuk menyerang Warsi.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah tidak tertarik lagi untuk berkelahi karena alasan apapun. Tetapi ia sadar, jika Kasadha sendiri harus melawan keempat orang penyamun itu, ia memang akan mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga keempat orang penyamun itu adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas didunia kekerasan.

Karena itu, maka mau tidak mau ia harus memperingan tugas Kasadha itu.

Sekilas Warsi sempat melihat bagaimana Kasadha bertempur melawan dua orang perampok yang keras dan kasar. Namun Kasadha masih selalu dapat mengimbangi mereka. Bahkan ketika Kasadha semakin meningkatkan kemampuannya, maka kedua orang lawannya itu pun mulai mengalami kesulitan.

Sementara itu bibi Kasadha sama sekali tidak mengalami kesulitan apapun menghadapi lawannya. Bahkan beberapa kali senjatanya telah mulai menyentuh tubuh penyamun itu, sehingga sesekali penyamun itu berdesah menahan pedih, tetapi juga menggeram marah. Darah yang menitik dari lukanya, telah membuatnya liar.

Tetapi orang itu memang tidak mampu berbuat banyak. Setiap kali serangannya tidak berhasil menyentuh tubuh perempuan itu. Bahkan jika terjadi benturan senjata, maka terasa tangannya menjadi pedih.

Namun dalam pada itu, maka penyamun yang berhadapan dengan Warsi pun telah mulai menyerangnya pula. Kedua tangannya terjulur mengarah ke dada selagi ia meloncat mendekat.

Tetapi ibu Kasadha itu tidak mau berkelahi berkepanjangan. Permainan yang sudah tidak disukainya lagi. Bahkan ada perasaan tidak pantas lagi baginya untuk melakukan kekerasan.

“Mudah-mudahan benar orang-orang ini bukan orang upahan Ki Tunggul yang akan dapat menyebarkan ceritera ini di padukuhan,” berkata Warsi didalam hatinya.

Karena itulah, maka ia telah berniat untuk segera menghentikan perkelahian itu.

Demikianlah, ketika lawannya itu menyerang kearah dadanya, maka seperti kilat tangan Warsi bergerak menangkap pergelangan tangan orang itu. Satu putaran yang kuat telah memilin tangan orang itu, sehingga penyamun itu terpekik dan tubuhnya pun terputar membelakangi ibu Kasadha, namun tanpa dapat melepaskan tangannya yang terpilin.

“Aku dapat mematahkan tanganmu,” berkata Ibu Kasadha itu.

Orang itu menyeringai menahan sakit. Tetapi ia merasa malu untuk menyatakan kesakitannya. Sehingga untuk beberapa saat ia mencoba mengerahkan daya tahannya.

“Apakah kau menyerah?” bertanya ibu Kasadha itu.

Orang itu tidak menjawab. Bahkan ia masih mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi tangan ibu Kasadha itu bagaikan besi yang menghimpit tangan penyamun itu.

“Jangan menunggu tanganmu patah,” ibu Kasadha berdesis sambil menekan tangan orang itu.

“Jangan,” orang itu mulai mengaduh, “Jangan kau patahkan tanganku.”

“Apakah kau menyerah?” bertanya ibu Kasadha kemudian.

Orang itu tidak segera menjawab. Namun yang terjadi di arena yang lain telah mengejutkan pula. Seorang dari antara para penyamun yang bertempur melawan Kasadha telah terlempar beberapa langkah surut dan jatuh berguling ditanah. Orang itu memang mencoba untuk bangkit, tetapi ia pun telah jatuh terduduk sambil mengerang kesakitan. Didadanya telah tergores luka menyilang yang panjang.

Sementara itu, lawan bibi Kasadha itu pun telah terdesak pula. Meskipun tidak dalam, tetapi ada beberapa luka ditubuhnya. Perasaan pedih semakin menyengat ketika keringatnya mulai membasahi luka-lukanya itu.

Sementara itu langit memang menjadi semakin merah. Jika fajar menyingsing, maka jalan itu akan segera menjadi ramai oleh orang-orang yang pergi ke pasar.

Karena itu, maka para penyamun itu semakin menjadi gelisah.

Yang terdengar kemudian adalah suara Kasadha, “Apakah kau tidak akan menyerah? Aku telah melukai kawanmu. Ingat, aku akan dengan mudah membunuhmu jika aku kehilangan kesabaranku.”

Penyamun itu memang menjadi bingung. Ia sudah kehilangan harapan untuk dapat memenangkan perkelahian itu. Apalagi kawan-kawannya nampaknya juga sudah tidak berdaya.

Bahkan selagi ia dicengkam oleh kebimbangan, maka tiba-tiba saja pedang Kasadha bagaikan berputar. Tanpa dapat berbuat sesuatu, senjata penyamun itu terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa langkah daripadanya.

Ketika pedang Kasadha kemudian teracu ke dadanya, maka penyamun itu segera berjongkok dan mohon dengan memelas, “Ampun anak muda. Jangan bunuh aku dan saudara-saudaraku.”

“Bukankah menyenangkan sekali membunuh seseorang yang ketakutan?” desis Kasadha.

“Jangan, kami mohon ampun,” minta orang itu dengan suara yang gemetar.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun pedangnya masih teracu kepada orang itu.

Sementara itu, lawan bibi Kasadha itu pun telah meloncat mengambil jarak, sementara bibi Kasadha tidak memburunya meskipun ia masih bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi, karena penyamun itu akan dapat menyerangnya dengan tiba-tiba saja.

Sedangkan ibu Kasadha justru berdiri tegak sambil memegangi tangan lawannya yang dipilinnya. Ia tidak memberikan isyarat apapun kepada anaknya. Justru ibu Kasadha itu ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Kasadha menghadapi penyamun yang telah menyerah itu.

Sebagai seorang yang pernah turun di dunia yang gelap dan penuh dengan kekerasan, maka ibu Kasadha saat itu tidak akan pernah memberi ampun kepada seseorang yang telah melakukan perlawanan atasnya meskipun orang itu sudah menyerah dan tidak berdaya. Kesadaran yang datang kemudian itu masih dibayangi oleh kecemasannya bahwa kekelaman jiwanya itu terselip juga dibawah sadar pada jiwa anaknya.

Ibu Kasadha itu menahan nafasnya ketika ia melihat Kasadha menekan leher penyamun itu dengan ujung pedangnya dan berkata, “Kau tidak pantas diampuni. Sepantasnya kau mati dan tubuhmu terkapar di bulak ini. Sebentar lagi orang-orang akan lewat dan melihat bahwa orang yang mereka takuti selama ini sudah menjadi mayat. Hal itu tentu akan dapat memberikan ketenangan kepada mereka yang setiap kali selalu dibayangi ketakutan itu.”

“Ampun, aku mohon ampun,” suara orang itu menjadi gemetar.

Ibu Kasadha memang menjadi tegang sejenak. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh anaknya yang masih saja melekatkan ujung pedangnya dileher lawannya.

Namun ibu Kasadha itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Kasadha mengangkat pedangnya dan bertanya kepada penyamun itu, “Kau kenal bentuk pedangku?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menggeleng sambil menjawab, “Tidak.”

“Baiklah. Jika pada suatu saat kau bertemu dengan seorang prajurit, maka perhatikan pedangnya,” berkata Kasadha kemudian.

“Kenapa dengan pedang seorang prajurit?” bertanya penyamun yang ketakutan itu.

“Pedangku ini adalah pedang seorang prajurit,” berkata Kasadha dengan nada dalam.

“Apakah kau seorang prajurit?” bertanya penyamun itu.

“Ya. Kami memang prajurit yang mendapat tugas khusus untuk membantai para penyamun di daerah ini.”

Wajah para penyamun itu menjadi pucat. Orang yang tangannya dipilin itu pun kemudian justru telah didorong dan dilepaskan. Namun ia sama sekali tidak berani melarikan diri. Bahkan ia pun telah berjongkok pula sambil berkata, “Aku juga mohon ampun.”

Demikian pula lawan bibi Kasadha. Dilemparkannya senjatanya sambil berkata, “Kami mohon jangan bunuh kami. Kami berjanji untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi.”

“Apakah janji seorang penyamun dapat dipercaya?” bertanya Kasadha.

“Mungkin kami berbohong kepada orang lain. Tetapi tidak kepada seorang prajurit,” jawab penyamun itu.

“Ingat. Daerah ini adalah daerah ronda kami. Salah seorang dari kami akan selalu mengawasi daerah ini, bahkan mungkin dengan kawan-kawan yang lain. Jika kami menjumpai kalian lagi bukan hanya dibulak ini, tetapi dimana pun juga, maka kami tidak akan mengampuni kalian lagi. Kalian akan mati di tempat sebagaimana perintah yang kami terima untuk menangkap hidup atau mati para penyamun, perampok dan penjahat yang manapun.”

“Kami berjanji,” jawab penyamun yang bertempur melawan Kasadha itu, “leher kami akan menjadi taruhan. Kami tidak akan melakukan pekerjaan ini lagi.”

“Kalian kami lepaskan kali ini. Tetapi ingat, bahwa kami tidak mempercayai kata-kata kalian itu sepenuhnya. Karena itu, bersiap-siap sajalah untuk mati di tempat jika kami bertemu dengan kalian selagi kalian menyamun atau merampok.”

“Tidak. Kami tidak akan melakukannya lagi,” jawab tiga orang diantara para perampok itu hampir berbareng.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya, “Pergilah sekarang. Langit telah menjadi merah. Kau dengar suara tembang itu? Tentu orang yang akan pergi ke pasar dalam satu iring-iringan. Mereka tidak berani berjalan dalam kelompok kecil karena tingkah kalian selama ini. Keuntungan mereka yang tidak seberapa harus mereka bagi dengan orang-orang yang mereka upah untuk mengawal mereka.”

Keempat orang penyamun itu ragu-ragu sejenak. Namun Kasadha pun membentak mereka, “Cepat pergi. Atau aku harus menyerahkan kalian kepada orang-orang yang akan pergi ke pasar itu?”

Orang-orang itu tidak menjawab. Namun dengan cepat mereka beringsut meninggalkan tempat itu.

Tetapi Kasadha masih memanggil mereka dan berkata, “Bawa kawanmu yang terluka itu.”

Mereka pun kemudian bergerak serentak untuk menolong dan membawa kawannya yang terluka itu meninggalkan jalan yang segera akan menjadi semakin ramai.

Ketika para penyamun dan perampok itu meninggalkan Kasadha, ibu dan bibinya, maka mereka bertiga pun segera membenahi diri. Mereka melepaskan kuda mereka yang tertambat dan bersiap untuk meneruskan perjalanan.

Dalam pada itu, suara tembang yang telah mereka dengar pun menjadi semakin jelas.

Beberapa saat kemudian, maka nampak iring-iringan beberapa orang yang akan pergi ke pasar membawa barang dagangan mereka.

Meskipun Kasadha tidak tahu sebelumnya, namun apa yang dikatakannya ternyata benar. Orang-orang yang pergi ke pasar itu telah mengajak beberapa orang upahan selain untuk membantu membawa barang-barang dagangan mereka, juga untuk melindungi mereka jika terjadi kejahatan di perjalanan. Bahkan mereka telah saling menunggu sebelum mereka memasuki bulak-bulak yang mereka anggap rawan. Dengan tiga atau ampat kelompok pedagang, maka mereka memang merasa aman. Meskipun orang-orang upahan itu bukan orang-orang berilmu tinggi, namun jumlah mereka menjadi cukup banyak.

Ketika orang yang berjalan di ujung iring-iringan itu melihat dalam keremangan fajar tiga orang yang berdiri dipinggir jalan bulak dan seekor kuda, maka orang itu pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Meskipun langit menjadi semakin terang, tetapi kemungkinan, buruk masih dapat terjadi di bulak itu.

Yang kemudian berjalan didepan adalah ampat orang laki-laki yang membawa keranjang di kepalanya. Namun mereka telah bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi.

Tetapi keempat orang itu berbareng menarik nafas panjang. Yang mereka lihat berdiri dipinggir jalan itu adalah seorang laki-laki dan dua orang perempuan.

Karena itu, maka mereka pun merasa bahwa perjalanan mereka tidak akan terganggu oleh orang-orang itu. Bahkan orang yang berjalan dipaling depan sempat berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang kalian tunggu?”

Yang menjawab adalah Kasadha, “Kami hanya ingin berjalan bersama-sama.”

“Marilah,” jawab orang itu, “tetapi daerah ini adalah daerah yang paling rawan. Selewat daerah ini, maka tidak ada lagi bulak-bulak panjang yang dapat mendirikan bulu tengkuk, meskipun kemungkinan buruk dapat saja terjadi dimana-mana.”

“Terima kasih,” jawab Kasadha, “mudah-mudahan kita tidak menemui hambatan di perjalanan.”

“Jangan takut. Jumlah kami cukup banyak. Jika terjadi sesuatu maka kami akan dapat saling membantu. Bukankah kau juga membawa pedang?”

Diluar sadarnya Kasadha melihat hulu pedangnya. Pedang yang khusus bagi para prajurit Pajang. Ternyata orang-orang yang lewat itu tidak mengetahui bahwa pedang itu adalah pedang prajurit. Namun dalam pada itu, Kasadha itu pun berkata didalam hatinya, “Sebaiknya aku memiliki pedang yang lain. Jika aku tidak mengenakan pakaian keprajuritan, sebaiknya aku pun tidak membawa pedang khusus seperti ini. Mungkin ada orang yang langsung dapat mengenalinya seperti Ki Tunggul yang memang bekas seorang prajurit.”

Demikianlah sejenak kemudian maka Kasadha, ibu serta bibinya telah melanjutkan perjalanan bersama iring-iringan orang yang akan pergi ke pasar. Mereka berjalan di ujung paling belakang.

Namun dalam pada itu, Kasadha yang menuntun kudanya, telah dihampiri oleh salah seorang dari mereka yang menjadi pengantar dari orang-orang yang pergi ke pasar itu.

“Kau juga akan pergi ke pasar Ki Sanak?” bertanya orang itu.

“Sebenarnya tidak,” jawab Kasadha, “kami sedang dalam perjalanan dari Bayat ke Sembojan.”

“O,” orang itu mengangguk-angguk, “satu perjalanan yang panjang. Aku pernah pergi ke Sembojan beberapa saat yang lalu. Tetapi hanya sekedar lewat.”

“Apakah Ki Sanak mempunyai sanak kadang di Sembojan?” bertanya Kasadha.

“Tidak,” jawab orang itu, “waktu itu aku masih senang bertualang. Aku dan dua orang kawanku menempuh perjalanan tanpa tujuan dari satu tempat ketempat yang lain. Namun akhirnya kami menyadari, bahwa akhirnya kami tidak dapat hidup seperti burung. Apalagi sekali-sekali kami mengalami benturan-benturan kekerasan diperjalanan. Bahkan ada diantara kami bertiga yang hampir mati di perantauan.”

“Sekarang petualangan itu telah Ki Sanak hentikan?” bertanya Kasadha.

“Ya. Aku telah beranak isteri. Aku pun mulai terikat dengan tanah garapan. Meskipun sawahku tidak luas, tetapi dapat menjadi landasan hidup sekeluarga. Disamping mengerjakan sawah, aku mempunyai pekerjaan sambilan seperti ini. Sedikit banyak dapat mengobati kerinduanku pada masa petualanganku yang tidak dapat aku lakukan lagi. Kecuali itu, aku pun mendapat sedikit tambahan uang untuk membelikan pakaian anak-anakku.”

“Tetapi apakah pekerjaan Ki Sanak sekarang ini tidak berbahaya?” bertanya Kasadha.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Sebagaimana kau lihat, pekerjaan ini sama sekali tidak berbahaya. Bukankah tidak terjadi apa-apa disepanjang perjalanan?”

“Apakah selama Ki Sanak bertugas tidak pernah terjadi sesuatu dengan Ki Sanak?” bertanya Kasadha.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang pernah terjadi sesuatu ketika dua orang mencoba mencegat sekelompok orang yang pergi ke pasar. Tetapi aku dan beberapa orang pengantar dengan cepat mengatasi mereka yang kemudian melarikan diri ke tengah sawah dan kemudian masuk ke pategalan,” orang itu terdiam sejenak. Namun kemudian katanya, “Memang pernah pula terjadi bencana atas seorang kawanku yang juga menjadi pengantar. Ia seorang yang berani. Tetapi menurut pendapatku, ia justru bukan seorang yang berpengalaman dalam petualangan sebagaimana pernah aku lakukan. Ia merasa dirinya terlalu kuat, sehingga ia terbunuh di bulak ini juga. Barang-barang bawaan orang yang diantarkannya telah dirampas oleh tiga orang penyamun yang membunuhnya.”

“Bagaimana dengan kawan-kawannya?” Kasadha bertanya.

“Itulah yang membuat kami menyesal. Ia memberanikan diri untuk mengawal sebuah iring-iringan kecil seorang diri. Ia memang tamak, karena ia ingin mendapat upah untuk dirinya sendiri tanpa dibagi dengan orang lain. Namun akibatnya sangat menyedihkan. Bukan saja bagi keluarganya, tetapi juga bagi kami.”

Kasadha mengangguk-angguk. Agaknya peristiwa itu telah menjadi pengalaman yang sangat berarti. Ternyata para pengawal itu tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Pada iring-iringan itu terdapat beberapa orang pengawal. Enam orang.

Meskipun hal itu tidak ditanyakan oleh Kasadha, namun orang itu berkata, “Iring-iringan ini sebetulnya terdiri dari tiga kelompok yang masing-masing dikawal oleh dua orang. Kami memang sepakat untuk bergabung jika menyeberangi bulak yang satu ini. Agaknya bulak ini memang sering makan korban. Untunglah bahwa kau tidak mengalaminya meskipun kau tidak berada dalam iring-iringan yang dikawal.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi diluar sadarnya ia berdesis, “Satu pilihan yang terpuji.”

“Apa yang terpuji?” bertanya orang itu.

“Ki Sanak telah memilih jalan yang paling baik,” berkata Kasadha, “ada orang yang memilih jalan yang sesat jika ia memiliki sedikit kemampuan sebagaimana Ki Sanak katakan pernah terjadi disini.”

“Ya. Yang menyedihkan, seorang dari kawan-kawanku bertualang telah mengambil jalan sesat itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika tiba-tiba kami bertemu disini,” desis orang itu.

“O,” Kasadha mengerutkan keningnya. Sementara orang itu berkata, “Tetapi selama ini aku memang belum berhasil menemuinya. Aku pernah mencari kerumahnya, tetapi ia jarang sekali pulang. Apalagi ketika tetangga-tetangganya seakan-akan menolak kehadirannya di padukuhannya.”

“Apakah ia mempunyai anak isteri?” bertanya Kasadha.

“Aku tidak tahu. Tetapi aku memang pernah mendengar kabar, bahwa ia akan kawin. Namun aku tidak tahu, apakah ia benar kawin atau tidak,” jawab orang itu.

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah melewati bulak panjang yang rawan itu. Langit pun menjadi semakin terang oleh cahaya pagi.

“Nah, bukankah kita tidak diganggu oleh para penyamun? Mereka memang harus berpikir ulang untuk menyamun iring-iringan seperti ini. Ada beberapa orang pengawal diantara iring-iringan ini. Selebihnya, laki-laki dalam iring-iringan ini juga bersenjata, sehingga kami siap menghadapi segala kemungkinan.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia tidak mengatakan bahwa ada empat orang penyamun di bulak panjang itu. Tetapi menurut perhitungan Kasadha, penyamun itu akan mengurungkan niatnya jika mereka melihat iring-iringan yang kuat seperti yang baru lewat di bulak itu.

Demikianlah, ketika langit menjadi terang, maka Kasadha, ibu dan bibinya pun telah minta diri kepada orang-orang dalam iring-iringan itu untuk memisahkan diri. Kasadha mengajak ibu dan bibinya untuk berbelok mengambil jalan simpang. Apalagi mereka memang tidak akan pergi ke pasar.

“Perjalanan kalian masih jauh,” berkata pengawal yang berbincang dengan Kasadha.

“Ya. Tetapi kami sudah menyiapkan bekal diperjalanan kami,” jawab Kasadha.

Demikian mereka berpisah, maka ibu Kasadha itu pun bertanya, “Apakah mereka mengetahui tujuan kita?”

“Aku telah mengatakan kepada pengawal itu,” jawab Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi ia pun tidak merasa berkeberatan karena memang tidak ada persoalan dengan tujuan perjalanan mereka.

Demikianlah, mereka bertiga pun berjalan semakin cepat. Bibi dan ibu Kasadha yang memiliki kemampuan olah kanuragan itu sama sekali tidak segera merasa letih. Daya tahan mereka cukup tinggi sehingga mereka sama sekali tidak menjadi beban bagi Kasadha yang berjalan sambil menuntun kudanya.

Dengan demikian maka mereka bertiga tidak perlu terlalu sering berhenti, meskipun ditengah hari mereka singgah di sebuah kedai dipinggir jalan sekaligus memberi kesempatan kepada kudanya untuk beristirahat, makan dan minum pula.

Namun demikian mereka selesai makan dan minum serta setelah beristirahat sejenak. Maka mereka pun telah meneruskan perjalanan ke Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha ingin bahwa mereka akan sampai di Sembojan lebih dahulu dari Ki Rangga Dipayuda.

Di perjalanan selanjutnya, mereka bertiga memang tidak menemui hambatan apapun juga. Mereka telah melintasi beberapa puluh padukuhan dan bulak-bulak panjang dan pendek. Ketika matahari melewati puncaknya, maka sinarnya telah memanasi mereka bertiga dari arah punggung. Meskipun tengkuk mereka terasa terpanggang oleh panasnya sinar matahari, namun mereka tidak menjadi silau karena mereka membelakangi matahari yang semakin lama menjadi semakin rendah.

“Kita akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan menjelang senja,” berkata Kasadha.

“Kita sudah berjalan cukup jauh,” desis bibinya.

“Apakah bibi merasa letih?” bertanya Kasadha.

“Apakah jika aku letih kau akan mendukungnya?” justru bibinya ganti bertanya, sehingga Kasadha dan ibunya tertawa.

Namun Kasadha masih menjawab, “Jika bibi mau, kuda ini dapat mendukung bibi.”

“Jika aku mau berkuda, kenapa kita tidak berkuda sejak dari rumah?” sahut bibinya.

Kasadha hanya tersenyum saja, sementara ibunya menjawab, “Kau dapat berkuda ditengah bulak yang sepi. Kemudian kau harus meloncat turun jika bertemu dengan orang-orang yang pergi ke sawah.”

Bibi Kasadha itu pun tertawa. Tetapi ia justru berjalan di paling depan.

Seperti yang dikatakan oleh Kasadha, maka menjelang senja mereka memang telah memasuki lingkungan Tanah Perdikan Sembojan yang sedang bersiap-siap untuk menyambut wisuda bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sebenarnyalah, demikian mereka memasuki wilayah Tanah Perdikan Sembojan, maka kegembiraan itu telah terasa. Regol-regol padukuhan pun sudah mulai dihiasi dengan janur. Bahkan ada yang telah memasang rontek, umbul-umbul dan kelebet beraneka warna untuk menyatakan kegembiraan seisi padukuhan. Di senja hari itu, oncor-oncor telah mulai dipasang sehingga setiap padukuhan terasa kehangatan penghuninya menyambut hari yang besar bagi Tanah Perdikan yang sudah beberapa lama tidak mempunyai seorang Kepala Tanah Perdikan.

Meskipun selama itu Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu mampu menjalankan tugas-tugas yang dipangkunya dengan baik, namun akan hadirnya seorang Kepala Tanah Perdikan yang sebenarnya tentu akan lebih menggembirakan para penghuni Tanah Perdikan itu.

Apalagi Kepala Tanah Perdikan yang akan diwisuda itu adalah seorang yang telah dikenal dengan baik oleh setiap orang, bahwa ia adalah seorang yang memang pantas untuk menduduki jabatan itu. Apalagi orang itu memang seorang pewaris yang sah untuk menerima jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga Warsi mengatur perasaannya, namun masih terasa juga duri-duri tajam yang menyentuh hatinya. Luka-luka yang pernah dibuatnya sendiri, pengakuan atas segala kesalahan serta niat untuk menyongsong hari-hari yang lebih bening memang membuat Warsi lebih tenang dalam kepedih annya. Namun Warsi memang sudah meletakkan segala-galanya dalam kepasrahannya kepada Yang Maha Agung yang dijumpainya menjelang hari-hari tuanya. Seakan-akan Yang Maha Agung itu telah mengulurkan tangannya yang lembut mengusap dinding hatinya yang gersang sehingga menjadi sejuk dingin.

Karena itu, maka Warsi itu telah berjalan dengan tetap menyusuri jalan Tanah Perdikan yang pernah diperebutkannya.

Tetapi seandainya seseorang yang pernah mengenalnya saat-saat ia tinggal di Tanah Perdikan itu, bertemu dengan Warsi saat itu, maka orang itu tentu tidak akan dapat mengenalnya lagi. Dahulu Warsi adalah seorang yang cantik, yang memasuki Tanah Perdikan Sembojan sebagai seorang penari keliling yang mampu merebut hati anak Kepala Tanah Perdikan yang seharusnya dapat mewarisi kedudukan itu, maka kini Warsi adalah seorang tua yang sederhana dalam pakaian seorang petani kebanyakan, berjalan menyusuri jalan-jalan berdebu.

Warsi sendiri memang berusaha untuk melupakan semua itu.

Demikianlah, maka ketika malam mulai turun, ketiga orang itu telah mendekati padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Melebihi padukuhan-padukuhan yang lain, maka padukuhan induk itu pun nampak terlalu sibuk. Meskipun pititu gerbang padukuhan telah dihiasi dengan janur kuning, tetapi orang-orang masih sibuk membenahinya. Beberapa rontek dan umbul-umbul masih nampak diperbaiki letaknya, ditambah dipindah. Sementara oncor pun telah menyala pula dimana-mana.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun ikut menjadi sibuk mengatur hiasan disepanjang jalan padukuhan. Sedangkan Gandar yang sudah berada di Tanah Perdikan itu telah ikut menghiasai rumah Kepala Tanah Perdikan yang akan menjadi tempat wisuda.

Risang sendiri bersama ibu, kakek serta neneknya ikut mengatur segala sesuatunya di halaman rumah itu, terutama pendapa tempat wisuda akan berlangsung.

Dalam pada itu, Kasadha, ibu dan bibinya pun telah sampai ke regol padukuhan induk. Orang-orang yang sedang sibuk bekerja telah memberi jalan kepada mereka. Ketiga orang yang lewat itu memang tidak menarik perhatian. Seperti orang-orang lewat yang lain, yang datang dari satu padukuhan pergi ke padukuhan yang lain. Atau orang yang kebetulan menempuh perjalanan jauh, melewati padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang kebetulan juga berada di regol padukuhan induk serta ikut mengatur tarub dipintu gerbang, terkejut melihat ketiga orang itu. Meskipun gelapnya senja menjadi semakin hitam, namun dibawah cahaya oncor diregol maka Sambi Wulung dan Jati Wulung segera mengenali Kasadha yang menuntun kudanya memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

“Kasadha,” desis Sambi Wulung.

Kasadha tersenyum ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung berada diantara orang-orang yang sedang sibuk itu.

“Ternyata kalian menjadi sangat sibuk,” desis Kasadha.

“Marilah,” Sambi Wulung mempersilahkan, “ternyata kau benar-benar datang.”

“Aku datang bersama ibu dan bibiku,” sahut Kasadha.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk hormat. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “Kami mengucapkan selamat datang kepada Nyai berdua.”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab ibu Kasadha, “kami memerlukan datang untuk menghadiri wisuda Angger Risang.”

“Kedatangan Nyai agaknya memang telah ditunggu oleh Risang dan ibunya.”

Sebuah desir lembut menyentuh dasar jantung ibu Kasadha, bahkan juga Kasadha. Namun Warsi itu masih saja tersenyum sambil menjawab, “Aku mengucapkan terima kasih.”

“Biarlah Jati Wulung mengantar Nyai ke rumah Risang yang juga sedang dipajang,” berkata Sambi Wulung kemudian.

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab ibu Kasadha.

Jati Wulung lah yang kemudian mengantar Kasadha, ibu dan bibinya menuju kerumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang sedang dihiasi dengan berbagai macam hiasan termasuk janur kuning.

Ketika mereka bertiga mengikuti Jati Wulung memasuki halaman rumah yang sedang dihiasi dengan berbagai macam hiasan itu, tidak banyak mendapat perhatian. Jati Wulung lah yang kemudian naik ke pendapa mendapatkan Risang yang sedang sibuk mengatur orang-orang yang sedang bekerja. Sambil menggamit Risang, Jati Wulung berkata, “Mereka telah datang.”

“Mereka siapa?” bertanya Risang.

“Angger Kasadha bersama ibu dan bibinya,” jawab Jati Wulung.

“O, dimana mereka?” bertanya Risang.

“Mereka masih berada di halaman,” jawab Jati Wulung.

Dengan tergesa-gesa Risang pun kemudian turun ke halaman. Dengan akrab pula Risang menerima kedatangan Kasadha, ibu dan bibinya.

“Marilah bibi, marilah naik ke pendapa,” Risang menipersilahkan, “marilah Kasadha.”

Ketiga orang itu memang termangu-mangu sejenak. Sementara Risang berkata kepada Jati Wulung, “Tolong paman. Berikan kuda itu kepada anak-anak.”

Jati Wulung pun kemudian menerima kuda yang dituntun oleh Kasadha dan menambatkannya di halaman, sementara itu Kasadha bersama ibu dan bibinya telah dibawa oleh Risang naik kependapa yang sedang dihiasi itu.

Orang-orang yang sedang bekerja menghiasi pendapa itu memang menyibak. Tetapi mereka tidak mengenal kedua orang perempuan yang diterima dengan hormat oleh Risang itu.

Seorang yang umurnya telah setengah abad yang ikut menghiasi pendapa itu sempat memperhatikan Warsi. Kepada seorang anak muda yang sibuk disampingnya ia berdesis, “aku pernah melihat perempuan itu.”

“Siapa?” bertanya anak muda itu.

“Tetapi aku lupa, dimana aku pernah melihatnya atau barangkali hanya mirip saja,” jawab orang tua itu.

Anak muda yang sibuk disebelahnya itu mengerutkan dahinya. Ia ikut memandangi perempuan yang disebut itu. Tetapi ia sama sekali tidak mengenalinya.

Dalam pada itu, Risang pun telah berlari-lari masuk keruang dalam untuk mencari ibunya. Dengan sedikit gugup ia berkata kepada ibunya, “Ibu, Kasadha telah datang. Ia datang bersama ibu dan bibinya.”

Wajah Nyi Wiradana memang menegang. Bagaimanapun juga luka di jantungnya masih membekas. Untuk beberapa saat ia berdiri membeku.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun sekali lagi ia mempersilahkan ibunya, “Ibu, silahkan ibu menerima kedatangan mereka. Kemudian mereka akan diantar ke rumah yang telah disediakan bagi peristirahatan mereka.”

Namun ibunya masih saja merenung. Wajahnya justru tampak menegang. Diluar sadarnya telah terkilas, bagaimana Serigala Betina membawanya ketempat yang sepi justru saat ia mengandung. Kemudian, hampir saja jantungnya ditembus oleh ujung pisau belati yang tajam.

Namun selagi Iswari itu termangu-mangu, maka neneknya, Nyai Soka telah menepuk bahunya sambil berkata lembut, “Jemputlah tamumu dipendapa Iswari. Ia datang atas undanganmu untuk menghadiri wisuda anakmu Risang, yang akan menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Iswari itu pun menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin mengendapkan segala macam gejolak didalam hatinya.

Namun bersama neneknya, Iswari pun kemudian telah melangkah kepintu pringgitan untuk selanjutnya keluar dari ruang dalam.

Demikian Iswari turun ke pringgitan dari ruang dalam, maka langkah Iswari pun tertegun. Yang dilihatnya berdiri dipendapa bersama Kasadha adalah seorang perempuan yang nampaknya sudah tua dalam pakaian seorang petani biasa. Jauh sekali dari gambarannya tentang Warsi, seorang perempuan cantik yang pernah merebut suaminya sehingga suaminya sampai hati untuk berusaha membunuhnya justru saat ia mengandung. Perempuan yang memasuki Tanah Perdikan itu sebagai seorang penari keliling yang merias wajahnya dengan agak berlebihan.

Sejenak Iswari berdiri termangu-mangu. Sementara itu, jantung Warsi pun rasa-rasanya berdetak semakin cepat.

Namun secara jiwani, ternyata Warsi lebih siap menghadapi pertemuan itu. Karena itu, maka ialah yang melangkah mendekati Iswari dan berhenti dua langkah dihadapannya.

Kasadha dan Risang menjadi berdebar-debar. Bahkan orang-orang yang ada dipendapa itu pun menjadi diam. Jati Wulung menahan nafasnya untuk beberapa saat.

Yang tidak diduga ternyata telah terjadi. Juga Kasadha tidak menduga, bahwa tiba-tiba saja ibunya telah berlutut dihadapan Iswari yang berdiri bagaikan membeku.

“Apakah aku masih pantas untuk menginjakkan kakiku di pendapa rumah ini?” desis Warsi. Ternyata suaranya bergetar sebagaimana getar jantungnya yang semakin cepat.

Semua orang di pendapa itu sejenak ikut membeku. Iswari pun menjadi bingung sesaat melihat Warsi berjongkok dihadapannya. Apalagi Warsi itu pun kemudian berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Aku datang untuk menyatakan segala penyesalan atas tingkah lakuku. Aku datang untuk mohon diampuni.”

Warsi adalah seorang perempuan yang sebelumnya mempunyai hati sekeras batu. Watak yang kasar sebagaimana darah Kalamerta yang mengalir didalam diri dan ilmunya. Namun ketika Warsi berjongkok dihadapan Iswari itu, terdengar perempuan yang garang itu terisak.

Ternyata betapapun tegarnya hati Iswari sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang telah menempa diri dalam kehidupan yang keras dan berat, namun hatinya pun dapat menjadi luluh seperti malam.

Justru karena ia mendengar Warsi yang pernah dihadapinya di perang tanding sampai dua kali itu terisak, maka matanya pun telah menjadi basah.

Iswari itu pun kemudian menunduk sambil menarik lengan Warsi. Rasa-rasanya ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kerongkongannya terasa tersumbat.

Warsi pun kemudian berdiri sambil menunduk. Tetapi ia benar-benar tidak dapat menahan tangisnya.

Namun Warsi itu pun terkejut ketika tiba-tiba saja Iswari itu memeluknya.

Keduanya pun kemudian berpelukan. Tangis mereka adalah tangis yang tulus.

Pendapa itu pun sesaat dicengkam oleh keharuan. Nyai Soka yang pernah menyaksikan keduanya bertemu di arena perang tanding menarik nafas dalam-dalam. Permusuhan yang sudah berlangsung berpuluh tahun itu pun telah diakhiri.

Demikianlah, maka Nyai Soka lah yang kemudian mengajak mereka untuk masuk keruang dalam. Katanya, “Biarlah orang-orang menyiapkan pendapa ini. Kita akan duduk di ruang dalam.”

Beberapa saat kemudian, Kasadha, ibu dan bibinya pun telah dipersilahkan masuk keruang dalam. Risang, Iswari dan Nyai Soka pun telah menemui mereka. Pertemuan yang mempunyai kesan tersendiri itu kemudian berlangsung dengan akrab. Sisa-sisa permusuhan yang ada telah larut dihanyutkan oleh kebesaran jiwa mereka masing-masing.

Setelah dihidangkan minuman dan makanan, maka Risang pun telah mempersilahkan Kasadha, ibu dan bibinya untuk beristirahat dirumah yang memang telah disediakan.

“Kami mohon maaf, bahwa rumah ini tidak dapat menampung. Semua tamu yang menginap terpaksa kami titipkan di rumah tetangga-tetangga terdekat,” berkata Risang.

“Kami mengerti,” jawab Kasadha, “kami sama sekali tidak merasa keberatan.”

Risang sendirilah yang mengantar Kasadha, ibu dan bibinya ke penginapan yang hanya berjarak beberapa patok saja dari rumah itu. Sementara Kasadha menuntun kudanya yang membawa beban pakaian ibu dan bibinya.

Setelah mapan dan diserahkan kepada pemilik rumah itu, Risang pun telah minta diri untuk meneruskan pekerjaannya. Katanya, “Baru besok Ki Rangga Kalokapraja akan datang. Mungkin masih harus ada beberapa perubahan dari persiapan yang kami lakukan sampai hari ini.”

Sepeninggal Risang, maka Kasadha pun telah mempersilahkan ibu dan bibinya beristirahat setelah mandi dan berbenah diri.

“Aku akan pergi kerumah Risang,” berkata Kasadha kemudian, “mungkin aku dapat membantu kesibukannya.”

“Apakah kau tidak lelah?” bertanya ibunya.

“Tidak,” jawab Kasadha, “Minuman hangat telah membuatku segar kembali.”

“Kasadha,” pesan ibunya dengan nada dalam, “berbuatlah sebaik-baiknya. Ternyata Iswari adalah seorang perempuan yang berjiwa besar.”

“Ya ibu,” jawab Kasadha, “sejak aku bertemu dengan ibu Iswari, aku telah merasakan kebesaran jiwanya.”

“Syukurlah jika kau juga menangkapnya dengan penglihatan mata hatimu. Bersyukurlah kau bahwa kita masih sempat menghirup udara Tanah Perdikan ini dengan leluasa seperti ini,” desis ibunya.

Demikianlah, maka Kasadha pun telah meninggalkan ibu dan bibinya, kembali kerumah Risang untuk ikut membantu kesibukannya. Setidak-tidaknya ia ikut melihat apa yang sedang dilakukan di pendapa rumah itu.

Tengah malam baru pekerjaan itu selesai. Kasadha ikut bersama dengan orang-orang yang sibuk bekerja di pendapa itu makan malam sebelum orang-orang itu pulang.

“Besok pagi kami mengharap kalian datang lagi,” berkata Risang, “mungkin masih ada yang harus dibenahi setelah Ki Rangga Kalokapraja datang.”

Sementara itu Kasadha masih tinggal beberapa saat di pendapa yang sedang dihias itu. Ia masih sempat berbincang dengan Risang dan ibunya. Namun Risang pun kemudian mempersilahkan Kasadha untuk beristirahat, karena Risang sendiri juga akan beristirahat.

Namun dalam pada itu, Nyai Soka masih sempat berkata kepada Iswari dan Risang, “Ternyata Warsi seorang perempuan yang berjiwa besar. Bagaimanapun juga ia telah datang memenuhi undangan kalian. Sekaligus mengakui segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Dengan demikian aku yakin, bahwa sikapnya jujur. Ia tidak sekedar berpura-pura.”

“Nampaknya memang demikian, nek,” jawab Iswari, “karena itu, maka aku pun menerimanya dengan terbuka.”

“Aku memang kagum atas kebesaran jiwa kalian. Juga kebesaran jiwa Warsi. Mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak akan pernah terjadi persoalan lagi diantara kalian dan Warsi.”

Iswari tidak menjawab. Bahkan wajahnya nampak menunduk.

Demikianlah, maka Nyai Soka pun telah pergi ke biliknya. Sementara Kiai Soka dan Kiai Badra masih mempunyai kesibukan tersendiri. Mereka bukan saja mengamati orang-orang yang bekerja di pendapa, tetapi mereka telah melihat-lihat rumah yang dipersiapkan untuk menjadi penginapan para pemimpin yang akan datang dari Pajang serta para tamu yang lain.

Dipagi hari berikutnya, padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan nampak semakin hidup. Orang-orang yang lewat di tlatah Tanah Perdikan itu pun ikut mengagumi kemeriahan yang nampak di seluruh lingkungan Tanah Perdikan Sembojan.

Pada hari itu, sebagaimana dijanjikan oleh para Demang, maka kebutuhan bahan-bahan untuk menjamu para tamu telah berdatangan seakan-akan mengalir dengan sendirinya.

Dalam pada itu, ibu Risang tidak hanya sibuk menyiapkan wisuda anaknya dengan segala macam kelengkapannya, tetapi sebagai seorang perempuan, maka Iswari pun telah ikut sibuk pula didapur. Ia masih harus mengatur apa saja yang harus dipersiapkan oleh perempuan-perempuan yang berdatangan ikut membantu menyiapkan hidangan bagi mereka yang bekerja mempersiapkan dan menghiasi tempat wisuda serta memajang seluruh padukuhan induk.

Sementara itu beberapa orang perempuan secara khusus telah ditunjuk untuk menyiapkan hidangan bagi para tamu yang pada hari itu akan berdatangan. Bahkan Ki Rangga Kalokapraja pun akan datang juga hari itu.

Warsi dan sepupunya tidak tinggal diam dirumah yang disediakan bagi mereka. Tetapi mereka pun telah ikut pula membantu perempuan yang sibuk bekerja didapur sebagaimana kebiasaan perempuan.

Beberapa orang memang mempertanyakan, siapakah kedua orang perempuan itu. Mereka saling berbisik dan saling bertanya. Namun sebagian besar mereka tidak mengetahuinya.

“Tentu seorang perempuan cantik semasa mudanya,” desis seorang perempuan sebaya dengan ibu Kasadha itu.

Namun akhirnya, tersebarlah kenyataan tentang perempuan itu. Mereka pun saling membicarakannya. Perempuan itu adalah Warsi. Isteri muda Ki Wiradana.

Namun kesannya pun sudah jauh berbeda. Perempuan yang mereka lihat ikut membantu bekerja didapur itu sebagai seorang perempuan yang ramah dan lembut. Sama sekali tidak menunjukkan kekasaran dan apalagi kegarangannya dimasa mudanya.

Perempuan-perempuan yang membantu bekerja didapur itu pun sempat mengusap dada, bahwa hubungan perempuan itu dengan Iswari nampak akrab dan baik.

Bahkan orang-orang itu pun mulai berbicara tentang anak laki-laki Nyi Wiradana yang muda itu.

“Namanya Puguh. Tetapi ia kini dipanggil Kasadha. Seorang prajurit yang nampaknya berhasil. Masih muda ia telah menjadi Lurah Prajurit,” berkata seseorang yang merasa dirinya paling tahu.

Sedangkan perempuan yang lain yang tidak mau kalah menyahut, “Tetapi wataknya tidak seperti ibunya. Ia seorang anak muda yang baik.”

Namun yang lain lagi menambahkannya dengan berbisik, seakan-akan ia telah mengatakan satu rahasia yang tidak boleh didengar orang lain, “Tetapi ibunya juga sudah berubah sama sekali. Ia sekarang menjadi perempuan yang baik.”

Perempuan-perempuan yang berbincang itu hampir bersamaan telah berpaling kepada Warsi. Namun cepat-cepat mereka menghindarkan pandangan matanya ketika Warsi tiba-tiba saja berpaling meskipun ia tidak sadar, bahwa beberapa orang telah berbincang tentang dirinya.

Tetapi seandainya hal itu didengar oleh Warsi sekalipun, perempuan itu tidak akan marah. Tidak pula akan menanggapi. Ia menganggap bahwa hal seperti itu adalah wajar. Perempuan-perempuan yang berkumpul didapur itu akan membicarakannya. Tetapi ia sudah benar-benar mempersiapkan diri untuk tetap tabah.

Orang-orang yang membicarakannya pun telah berbicara pula tentang hubungan yang akrab antara Iswari dan Warsi, seakan-akan diantara mereka tidak pernah terjadi sesuatu.

Menjelang tengah hari, maka orang-orang Tanah Perdikan itu menjadi sibuk. Ki Rangga Kalokapraja dengan beberapa orang pejabat yang lain telah datang. Mereka adalah orang-orang yang mendapat tugas untuk mempersiapkan semua kelengkapan agar wisuda dapat berlangsung dengan lancar.

Nyi Wiradana dan Risang telah menyambut langsung kedatangan Ki Rangga Kalokapraja. Setelah mengucapkan selamat datang, maka para tamu itu pun dipersilahkan untuk naik kependapa yang telah siap dipajang.

Demikianlah, setelah para tamu telah beristirahat sejenak, hidangan pun mulai disuguhkan. Bukan sekedar minum. Tetapi juga dihidangkan makan siang.

“Nanti setelah makan sajalah Ki Rangga melihat-lihat persiapan yang telah kami lakukan,” berkata Iswari mempersilahkan tamunya untuk makan.

Ternyata para tamu itu tidak menolak. Mereka pun kemudian setelah makan diantar oleh Risang dan Kasadha, sementara Iswari masih sibuk bersiap-siap diruang dalam. Ia menjadi sangat sibuk justru karena ia berperan ganda. Selain Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan menyerahkan jabatannya kepada Risang yang akan diwisuda, ia pun harus mempersiapkan hidangan dan mengatur persiapan di rumah-rumah yang akan dipergunakan sebagai penginapan.

Namun ketika kemudian Ki Rangga Kalokapraja mengamati segala persiapan yang telah dikerjakan, maka dengan puas ia berkata, “Ternyata semuanya telah tertata dengan tertib. Aku tidak perlu mengadakan perubahan-perubahan apapun juga. Aku hanya akan membimbing Risang dan Nyi Wiradana untuk menjalani upacara besok. Sementara itu pendapa rumah ini pun telah memenuhi persyaratan untuk melakukan wisuda.”

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang telah bekerja keras itu pun merasa puas pula bahwa jerih payah mereka ternyata memenuhi keinginan Ki Rangga Kalokapraja.

Demikianlah, maka seisi Tanah Perdikan itu tinggal menanti. Besok sekitar tengah hari, para utusan dari Pajang akan datang. Sementara itu Ki Rangga Kalokapraja pun telah melihat rumah yang akan menjadi penginapan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya yang atas nama Kangjeng Adipati Pajang akan mewisuda Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan menggantikan kakeknya yang telah terbunuh. Ki Wiradana yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya ternyata juga telah terbunuh, sehingga kemudian cucunya, Risang akan menggantikan kedudukan kakeknya itu setelah untuk waktu yang terhitung lama, Tanah Perdikan Sembojan tidak mempunyai seorang Kepala Tanah Perdikan. Yang ada hanyalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang dipegang oleh isteri Ki Wiradana yang terbunuh itu.

Ternyata tempat yang disediakan bagi Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dan beberapa orang pengiringnya menurut Ki Rangga Kalokapraja cukup memadai. Sehingga dengan demikian maka segala sesuatunya telah dianggap mencukupi.

Karena itu, maka setelah mengamati segala persiapan, maka Ki Rangga Kalokapraja pun telah dipersilahkan untuk beristirahat pula di tempat yang telah disediakan. Sebuah rumah disamping rumah yang akan dipergunakan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Namun dalam pada itu, meskipun segala persiapan sudah dianggap memadai, namun Risang masih saja gelisah. Ia belum melihat Ki Rangga Dipayuda datang. Sebenarnya ia tidak terlalu mengharap Ki Rangga Dipayuda itu sendiri. Tetapi bersama Ki Rangga Dipayuda itu akan datang pula Riris. Gadis itu benar-benar diharapkan dapat datang menghadiri wisuda yang akan dilangsungkan esok malam.

Tetapi Risang tidak mengatakan kepada siapapun juga. Bahkan tidak pula kepada Kasadha meskipun keduanya seakan-akan tidak pernah berpisah selama Kasadha berada di Tanah Perdikan.

Ternyata bahwa pada hari itu, Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya masih belum datang di Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka rasa-rasanya bagi Risang masih ada yang kurang meskipun Ki Rangga Kalokapraja telah merasa puas dengan segala macam persiapan.

Ketika menjelang malam, Ki Rangga Kalokapraja dan beberapa orang duduk-duduk di pendapa yang telah dihias rapi. Risang, ibunya dan Kasadha menemui mereka untuk mendengarkan beberapa petunjuk tentang upacara wisuda yang akan dilakukan esok lewat senja sebagaimana direncanakan.

Risang dan ibunya mendengarkan petunjuk itu dengan bersungguh-sungguh. Beberapa orang bebahu telah mendapat tugasnya masing-masing. Demikian pula telah diberitahukan tentang beberapa orang pejabat yang akan menyertai Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dalam upacara itu.

“Jika di Tanah Perdikan ini ada pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka pertanda itu akan dapat dikenakannya esok dalam upacara itu,” berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Ada Ki Rangga,” jawab ibu Kasadha, “sebuah kalung dengan sebuah bandulnya. Barangkali Risang pernah mengatakannya kepada Ki Rangga.”

“Ya. Tetapi itu tidak mutlak harus ada besok. Pertanda itu hanya untuk mengukuhkan saja. Karena pertanda seperti itu kadang justru menjadi hambatan. Jika pertanda itu hilang atau rusak, maka persoalannya akan berkepanjangan. Bahkan pertanda itu akan dapat diperebutkan, seolah-olah siapa yang memiliki pertanda itu adalah orang yang berhak menjadi Kepala Tanah Perdikan tanpa diperhitungkan cara pemilikannya. Meskipun seseorang mempunyai pertanda itu, tetapi hasil dari perampokan misalnya, maka sudah tentu bahwa orang itu tidak akan dapat ditetapkan menjadi Kepala Tanah Perdikan. Bahkan orang itu harus ditangkap dan dihukum, karena hak atas jabatan Kepala Tanah Perdikan tidak tergantung pada pertanda itu,” berkata Ki Rangga Kalokapraja. Lalu katanya kemudian, “Tetapi jika seseorang yang memang berhak berdasarkan atas penelitian atas dasar keturunan memiliki pertanda itu, tentu akan lebih baik.”

Risang dan ibunya mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata selanjutnya, “Jika pertanda itu ada, maka sebaiknya besok disiapkan saja. Dalam upacara itu biarlah Ki Tumenggung Wreda Wirajaya akan mengalungkan pertanda itu. Tetapi harus disiapkan pula seseorang yang akan membawa pertanda itu diatas sebuah nampan yang pada saatnya dibawa naik kependapa. Besok aku akan berbicara dengan Ki Tumenggung agar acara itu dapat berlangsung dengan lancar.”

Risang dan ibunya masih saja mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata pula, “Urut-urutan waktunya baru akan kami susun setelah besok Ki Tumenggung Wreda itu datang. Secepatnya urut-urutan upacara itu akan kami serahkan kepada Nyi Wiradana.”

“Terima kasih Ki Rangga,” jawab Iswari, “kami hanya dapat menunggu perintah Ki Rangga karena kami memang belum pernah mengalami sebelumnya.”

“Tidak ada yang rumit. Semuanya akan berlangsung dengan wajar saja,” jawab Ki Rangga Kalokapraja.

Demikianlah, setelah hal-hal yang penting disampaikan oleh Ki Rangga Kalokapraja, maka pembicaraan selanjutnya adalah sekedar pengisi waktu menjelang makan malam yang kemudian disuguhkan kepada mereka yang berada di pendapa itu.

Namun ternyata Risang masih saja merasa gelisah. Apalagi ketika malam menjadi semakin kelam. Ki Rangga Dipayuda masih belum tampak hadir di Tanah Perdikan.

“Mudah-mudahan besok Ki Rangga datang,” berkata Risang didalam hatinya.

Dengan demikian maka malam itu ternyata harus dilalui oleh Risang dengan hati yang gelisah. Berbeda dengan para pemimpin di Tanah Perdikan itu yang lain serta Ki Rangga Kalokapraja yang merasa bahwa tugas-tugasnya telah selesai. Bahkan Kasadha yang tidak mengerti kegelisahan dihati Risang pun setiap kali menyatakan bahwa Risang seharusnya beristirahat secukupnya.

“Besok, kau akan menjadi pusat segala kegiatan ini Risang,” berkata Kasadha, “sekarang, beristirahatlah.”

Risang memang mengangguk. Tetapi ia tidak segera masuk kedalam biliknya. Bahkan ia telah mempersilahkan Kasadha untuk beristirahat.

“Rasa-rasanya aku harus menunggui semua yang telah dipersiapkan dengan baik ini Kasadha. Beristirahatlah. Sebentar lagi, aku pun akan beristirahat. Aku akan menemui Gandar, paman Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka ganti mengawasi segala-galanya yang telah dipersiapkan ini.”

Kasadha memang menganggap bahwa perasaan gelisah pada Risang itu wajar. Bagaimanapun juga besok ia akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan.

Karena itu, ketika malam menjadi semakin larut, Kasadha telah minta diri untuk kembali ketempat yang disediakan baginya dan bagi ibu serta bibinya yang juga sudah kembali lebih dahulu, setelah pekerjaan didapur berkurang, meskipun masih ada perempuan yang sibuk untuk mempersiapkan makan di keesokan harinya bagi mereka yang masih akan sibuk membersihkan halaman dan tempat-tempat yang akan dipergunakan upacara. Juga tempat-tempat yang akan dipergunakan oleh para tamu.

Ketika tengah malam telah lewat, maka Padukuhan Induk itu mulai lelap didalam tidurnya. Meskipun didapur rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu masih nampak sibuk, namun dihalaman, di jalan-jalan dan dirumah-rumah penghuni padukuhan induk itu sudah nampak sepi.

Iswari yang masih ikut sibuk didapur, tidak melihat anaknya melangkah keluar dari halaman rumahnya berjalan menyusuri jalan padukuhan induk. Diluar kehendaknya, maka Risang telah melihat-lihat hiasan disepanjang jalan. Rontek, umbul-umbul dan kelebet yang dipasang berderet dipinggir jalan sampai ke regol padukuhan induk. Kegelisahannya telah membawa Risang menuju kepintu regol padukuhan induk yang telah dipajang rapi.

Namun Risang itu terkejut ketika ia mendengar suara tertawa dihadapannya. Kemudian ia pun melihat sinar lampu minyak yang memancar menusuk kegelapan menerangi jalan.

Risang menarik nafas dalam. Ternyata anak-anak muda yang meronda masih berkelakar didalam gardu.

Rasa-rasanya Risang tidak ingin bertemu dan berbicara dengan mereka. Risang memang ingin sendiri malam itu untuk memanjakan kegelisahannya. Justru karena Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya masih belum datang.

Karena itu ia tidak meneruskan langkahnya. Tetapi Risang itu pun melangkah kembali ke regol halaman rumahnya yang juga diterangi oleh oncor minyak.

Namun sekali lagi Risang terkejut. Dilihatnya seseorang berjongkok dipinggir jalan. Orang itu belum dilihatnya ketika ia berjalan menuju kegardu diujung jalan padukuhan induk itu.

Ketika Risang menjadi semakin dekat, maka orang itu pun bangkit berdiri sehingga Risang pun menjadi lebih berhati-hati.

“Selamat malam anak muda,” berkata orang itu hampir bergumam, sehingga suaranya tidak begitu terdengar.

“Selamat malam Ki Sanak,” jawab Risang, “nampaknya Ki Sanak bukan orang padukuhan ini.”

“Memang bukan anak muda,” jawab orang itu, “aku datang untuk mengucapkan selamat. Bukankah besok kau akan diwisuda? Kau akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang masih muda. Namun dengan demikian Tanah Perdikan ini tentu akan menjadi lebih hidup. Kau tentu mempunyai greget yang lebih tinggi dari seorang perempuan, meskipun aku tahu, ibumu adalah seorang perempuan yang mumpuni. Namun bagaimanapun juga, seorang laki-laki muda seperti kau tentu akaa mempunyai gejolak yang lebih panas. Bukankah begitu?”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Risang dengan hati-hati.

“Tetapi sayang bahwa aku tidak mendapat undangan untuk menghadiri wisuda esok malam,” berkata orang itu kemudian.

“Aku belum pernah mengenal Ki Sanak,” jawab Risang.

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku mengerti anak muda. Tentu hanya orang-orang terdekat sajalah yang akan menghadiri wisuda itu besok selain para bebahu Tanah Perdikan ini dan para pejabat dari Pajang. Kau tentu tidak akan mengundang para pejabat dari Kadipaten Madiun yang belum kau kenal sebelumnya.”

“Apakah kau salah seorang pejabat dari Kadipaten Madiun?” bertanya Risang.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ya. Aku memang salah seorang pejabat dari Kadipaten Madiun. Kedatanganku memang dalam kerangka tugasku untuk melihat apa yang terjadi di Tanah Perdikan ini, karena berita tentang wisuda ini sudah sampai kepada kami di Madiun. Tetapi tugasku memang sekedar melihat dan kemudian memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati di Madiun.”

“Apakah ada kepentingan Kangjeng Adipati Madiun?” bertanya Risang.

Orang itu tertawa. Katanya, “Tanah Perdikan Sembojan yang terletak di pesisir Selatan ini berada dekat dengan Madiun. Maksudku dibandingkan dengan Pajang, maka jarak Tanah Perdikan ini dengan Madiun terhitung dekat pula.”

Risang mengangguk-angguk, sementara orang itu berkata selanjutnya, “Tetapi kami tidak mempunyai maksud apa-apa. Kami hanya ingin tahu saja.”

“Jika demikian, aku persilahkan Ki Sanak singgah.” berkata Risang kemudian.

“Terima kasih anak muda. Aku memang sedikit segan karena Ki Rangga Kalokapraja telah hadir. Jika aku bertemu dengan Ki Rangga Kalokapraja, maka kami tentu akan berbicara panjang lebar merambat kesoal-soal pribadi yang tidak berkeputusan, karena kami memang sudah lama tidak bertemu,” orang itu berhenti sebentar. Lalu katanya, “Salamku saja kepadanya.”

“Tetapi siapakah Ki Sanak itu?” bertanya Risang.

“Sebut saja nama panggilanku masa kecil, Rumpon.”

“Rumpon,” Risang mengulang.

“Ya. Ki Rangga lebih mengenal nama itu daripada namaku yang sebenarnya,” jawab orang itu.

“Tetapi siapakah nama Ki Sanak? Bukankah tidak pantas jika aku memanggil Ki Sanak dengan sebutan itu?” bertanya Risang.

Orang itu tertawa. Katanya, “tidak apa. Panggil saja aku Rumpon. Karena aku jauh lebih tua darimu, kau dapat memanggil aku paman. Paman Rumpon. Sedangkan aku tidak perlu menanyakan namamu, karena aku sudah mengetahuinya.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun sekali lagi ia mempersilahkan, “Marilah paman Rumpon. Duduklah. Kita akan dapat berbicara lebih panjang.”

“Terima kasih. Terima kasih,” jawab orang itu, “aku sudah mendapat banyak bahan yang dapat aku laporkan kepada Kangjeng Adipati di Madiun. Seperti yang aku katakan, tidak ada maksud apa-apa selain sekedar ingin mengetahui saja. Bahkan Kangjeng Adipati tentu akan mengucapkan selamat kepadamu, ngger. Karena Kepala Tanah Perdikan Sembojan untuk selanjutnya akan dipegang oleh angger Risang yang juga bernama Barata.”

“Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih paman,” jawab Risang meskipun ia masih agak ragu.

Namun orang yang menyebut dirinya Rumpon itu pun kemudian telah minta diri. Katanya, “Aku akan kembali ke Madiun, ngger. Aku tidak mempunyai sanak kadang disini.”

“Aku mempunyai tempat bagi paman untuk menginap,” Risang pun telah menawarkan bantuan kepada orang itu. Tetapi orang itu menjawab, “Terima kasih. Aku sudah terbiasa melakukan tugas seperti ini. Lewat senja aku sampai disini, dan sebelum dini aku akan berangkat menempuh perjalanan kembali ke Madiun.”

“Satu perjalanan yang berat,” desis Risang.

“Tidak. Aku hanya menempuh satu perjalanan. Anggerlah yang akan memikul beban yang berat sejak besok. Bukan sekedar melaksanakan tugas. Tetapi angger juga harus merencanakan dan kemudian menilai pelaksanaannya sebelum angger merencanakan kerja selanjutnya. Sementara itu angger harus juga mengawasi selama pelaksanaannya. Tetapi lebih berat dari itu, angger harus mempertanggung jawabkan hasilnya kepada seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan ini.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia menjawab, “Ya. Itulah tugas yang harus aku pikul kemudian setelah hari wisuda.”

“Tetapi kau akan mampu melaksanakannya ngger,” berkata orang itu kemudian.

Risang tidak menjawab lagi, sementara orang itu pun segera minta diri untuk kembali ke Madiun. Namun sebelumnya ia berkata, “Apakah angger belum pernah bertemu dengan seorang diantara kawanku dari Madiun yang pernah datang kemari?”

Risang mencoba untuk mengingat. Ia pernah bertemu dengan seseorang dibawah bukit. Orang yang juga tidak dikenalnya yang menyaksikan, saat ia melepaskan gemuruh dihatinya.

Tetapi orang itu berkata, “Sudahlah. Itu tidak penting. Mungkin pada suatu hari aku akan datang lagi, atau orang lain yang mendapat tugas dari Kangjeng Adipati di Madiun.”

“Kami akan menerima dengan baik,” berkata Risang kemudian.

“Terima kasih. Bukankah tidak ada buruknya Tanah Perdikan ini memperluas persahabatan?” bertanya orang itu.

“Ya,” jawab Risang, “semakin banyak sahabat, tentu akan menjadi semakin baik.”

Demikianlah orang yang menyebut dirinya Rumpon itu pun meninggalkan Risang yang termangu-mangu. Dipandanginya orang itu sampai hilang dikegelapan. Meskipun sikap Risang baik terhadap orang itu, tetapi Risang tidak kehilangan kewaspadaan. Orang itu tentu tidak memasuki padukuhan induk lewat regol dikedua ujung jalan di padukuhan induk itu, karena di kedua ujung jalan itu terdapat regol dan gardu para peronda, sehingga para peronda itu tentu akan bertanya kepada orang itu dan membawa orang itu kepadanya. Mungkin orang itu memasuki padukuhan induk lewat lorong-lorong kecil yang tidak diawasi oleh para peronda.

“Apakah maksudnya sebenarnya?” Risang tidak dapat menyingkirkan pertanyaan itu dari hatinya. Tetapi Risang tidak bermaksud untuk berbuat kasar terhadapnya. Jika terjadi keributan, maka suasana yang tenang menjelang hari wisudanya itu akan terganggu sehingga akan dapat menimbulkan kesan yang kurang baik.

Demikianlah, dengan berbagai macam pertanyaan, Risang memasuki halaman rumahnya. Ia memang berniat untuk berbicara dengan Ki Rangga Kalokapraja esok pagi.

Namun demikian, malam.itu Risang benar-benar menjadi gelisah. Bukan saja karena kehadiran orang yang terasa asing itu, tetapi juga karena Ki Tumenggung Dipayuda masih belum datang.

Namun menjelang pagi, akhirnya Risang sempat juga tidur meskipun hanya beberapa saat.

Ketika matahari terbit, setelah mandi dan berbenah diri, Risang tidak sempat merenung lagi. Ia sudah mulai sibuk lagi bersama Kasadha untuk mengatur penerimaan para tamu yang akan datang di sekitar tengah hari. Gandar, Jati Wulung dan Sambi Wulung pun ikut sibuk pula. Sementara ibu Risang menyiapkan segala kelengkapan termasuk pertanda bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan, nampan dan alasnya yang khusus dibuat dari kain beludru berwarna kuning, maka Bibi telah diserahi untuk mengatur segala sesuatunya di dapur.

Dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan benar-benar telah bersiap.

Ketika kemudian Ki Rangga Kalokapraja dan beberapa orang pengiringnya yang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan berada dipendapa untuk makan pagi, maka Risang pun telah menyampaikan kepadanya tentang pertemuannya dengan seorang yang mengaku pejabat dari Kadipaten Madiun.

“Dari Madiun?” bertanya Ki Rangga Kalokapraja.

“Ya. Menurut keterangannya dari Madiun,” jawab Risang.

“Kenapa orang itu tidak mau singgah barang sebentar?” bertanya Ki Rangga itu pula.

“Aku sudah mempersilahkannya. Tetapi orang itu berkeberatan,” berkata Risang.

“Apakah ia menyebut namanya?” bertanya Ki Rangga.

“Ia tidak mau menyebut namanya. Tetapi ia hanya menyebut nama panggilannya. Menurut keterangannya, ia sudah mengenal Ki Rangga Kalokapraja dengan baik,” jawab Risang. Lalu katanya pula, “Nama panggilannya Rumpon.”

“O, jadi orang itulah yang telah datang,” sahut Ki Rangga, “Aku telah mengenalnya dengan baik.”

“Orang itu juga mengatakan bahwa ia mengenal Ki Rangga Kalokapraja dengan baik.”

“Tetapi kenapa ia tidak mau singgah?”

“Ia tidak mau mengganggu Ki Rangga. Menurut keterangannya, jika ia singgah juga, maka ia dan Ki Rangga akan berbicara berkepanjangan. Mungkin orang itu menganggap bahwa dengan demikian Ki Rangga tidak akan sempat beristirahat.”

“Orang itu memang aneh sejak mudanya,” desis Ki Rangga, “ia memang berada di Madiun. Lepas dari persahabatanku dengan orang itu, aku minta kau berhati-hati terhadapnya. Bukan karena Rumpon seorang yang jahat atau seorang yang licik. Sama sekali tidak. Tetapi justru karena ia bekerja untuk Kadipaten Madiun,” Ki Rangga justru termangu-mangu sejenak.

Risang tidak segera bertanya. Ia masih menunggu. Nampaknya ada sesuatu yang akan dikatakan oleh Ki Rangga, namun masih tertahan di bibirnya.

Namun tiba-tiba saja Ki Rangga berkata, “Bukankah Pajang telah mengirimkan beberapa orang utusan ke Madiun untuk sedikit menguak kabut yang kelabu yang menyaput hubungan antara Madiun dan Mataram? Sudah tentu menyangkut Pajang.”

Risang mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata, “Tanah Perdikan ini letaknya memang agak menjorok ke Timur, sehingga jaraknya ke Madiun tidak jauh berbeda dengan jaraknya ke Pajang. Karena itu agaknya yang membuat Madiun menaruh perhatian khusus kepada Tanah Perdikan ini.”

Risang menarik nafas panjang. Ia pun mengerti bahwa Ki Tumenggung Jayayuda juga sedang pergi ke Madiun.

“Baiklah Ki Rangga,” berkata Risang kemudian, “jika kemudian datang lagi para petugas dari Madiun sebagaimana dikatakan oleh Rumpon, maka aku akan berhati-hati.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tetapi kau tidak usah berprasangka buruk terhadap Madiun. Perbedaan pendapat sudah tentu dapat saja terjadi. Jangankan antara dua kekuasaan, sedangkan antara dua orang saudara kandung dalam lingkungan yang sempit pun dapat terjadi.”

Risang pun mengangguk-angguk pula. Sementara Ki Rangga berkata selanjutnya, “Sebenarnya jika aku ingat sebelumnya akan kepentingan Madiun, lebih baik Madiun justru diundang secara resmi. Namun segalanya sudah terlanjur. Seandainya hal itu aku usulkan kepada para pemimpin tertinggi di Pajang, belum tentu mendapat tanggapan yang baik.”

Risang masih saja mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali, karena ia masih belum mempunyai bahan yang cukup untuk ikut menilai Madiun. Namun yang dapat dilakukannya adalah lebih berhati-hati menghadapi para petugas dari Madiun yang mungkin akan datang di Tanah Perdikan itu kemudian sejalan dengan perkembangan hubungan Mataram dan Pajang dengan Madiun.

Namun Ki Rangga pun kemudian berkata, “Baiklah. Kita lupakan saja untuk sementara Rumpon itu. Tetapi sebagai orang, ia ramah dan baik. Jika ia datang dengan cara yang agak asing, barangkali karena ia merasa tidak perlu bertemu dengan terlalu banyak orang yang justru akan dapat menghambat tugasnya.”

“Ya Ki Rangga,” desis Risang kemudian, “sikapnya memang cukup baik. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.”

Demikianlah, maka pembicaraan mereka pun segera bergeser kepada rencana pelaksanaan wisuda yang akan diselenggarakan menjelang malam nanti.

“Tidak ada masalah lagi,” berkata Ki Rangga Kalokapraja kemudian, “segalanya sudah siap. Termasuk pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.”

Karena itu tugas Ki Rangga kemudian bersama Risang adalah tinggal menunggu kedatangan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dan para pengiringnya.

Untuk mengisi waktunya, maka Ki Rangga Kaloka-praja pun telah diantar oleh Risang dan Kasadha melihat-lihat seisi padukuhan induk yang sudah dirias untuk menyambut hari yang dianggap sangat berarti bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Namun keresahan hati Risang masih saja terasa bergejolak didadanya. Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya ternyata belum datang.

Demikianlah, maka menjelang tengah hari, seorang yang bertugas menunggu kedatangan para tamu dari Pajang telah melihat iring-iringan itu datang. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun telah melaporkannya kepada Risang yang berada di banjar bersama Ki Rangga Kalokapraja dan Kasadha.

Dengan demikian, maka padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu pun menjadi sibuk. Risang, Kasadha dan Ki Rangga Kalokapraja dengan tergesa-gesa telah kembali ke rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Sementara Iswari pun telah menyiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan kedatangan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

Namun Ki Rangga Kalokapraja sempat berkata, “Jangan bersikap berlebihan. Ki Tumenggung justru kurang senang mendapat sambutan yang terlalu besar. Ki Tumenggung termasuk orang yang sederhana menurut kedudukannya.”

“Tetapi bukankah Ki Tumenggung datang atas nama Kangjeng Adipati Pajang?” bertanya Risang.

“Ya. Tetapi demikianlah pribadi Ki Tumenggung,” jawab Ki Rangga Kalokapraja.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan yang menyambutnya memaklumi. Pribadi seseorang memang berbeda-beda. Bahkan ada seseorang yang justru menginginkan sambutan dan penghormatan yang berlebihan. Namun agaknya tidak bagi Ki Tumenggung. Namun bagaimanapun juga, sulit bagi para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan untuk mengekang rakyatnya yang ingin menyambut kedatangan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya yang datang atas nama Kangjeng Adipati di Pajang.

Karena itulah, maka hampir semua orang di Tanah Perdikan Sembojan, bukan saja yang tinggal di padukuhan induk, tetapi di setiap padukuhan yang dilalui oleh iring-iringan itu, telah keluar dari rumahnya dan berdiri berjajar disepanjang jalan.

Ki Tumenggung memang seorang yang ramah dan rendah hati. Sambil duduk diatas punggung kudanya Ki Tumenggung Wreda telah mengangguk membalas hormat yang diberikan oleh rakyat Tanah Perdikan Sembojan yang menyambut kedatangannya.

Dengan demikian maka perjalanan Ki Tumenggung Wreda itu menjadi lamban. Ia tidak mau mengecewakan orang-orang yang menyambutnya dengan lewat begitu saja. Apalagi dengan kuda yang berlari kencang.

Demikianlah, betapapun juga, sambutan atas kedatangan Ki Tumenggung Wreda itu terasa cukup meriah. Meskipun diusahakan tidak terasa berlebihan, namun terasa bahwa rakyat Tanah Perdikan menaruh hormat kepada pemimpinnya.

Ki Tumenggung Wreda itu pun telah diterima oleh Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan di pendapa rumahnya, yang telah dipersiapkan untuk melaksanakan wisuda pada menjelang malam mendatang.

Namun kesan yang timbul atas Ki Tumenggung itu memang terasa sejuk. Wajahnya lembut meskipun pada sorot matanya menunjukkan ketajaman penalarannya.

Hubungannya dengan Ki Rangga Kalokapraja pun nampak akrab. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya itu agaknya memang sengaja didalam kehidupannya sehari-hari tidak mengambil jarak dengan orang-orang disekitarnya meskipun pangkat dan derajatnya lebih rendah daripadanya.

Itulah agaknya yang membuat semua persoalan yang ditanganinya justru melahirkan hasil yang baik. Orang-orang yang mendapat tugas daripadanya tidak merasa takut dan segan untuk membicarakan tugas-tugasnya dengan Ki Tumenggung Wreda. Bahkan yang kedudukannya dibatasi oleh jarak yang agak jauh.

Kesan itulah yang membuat semua persoalan dapat dibicarakan dengan lancar menjelang saat wisuda menjelang malam nanti. Sementara Ki Rangga Kalokapraja yang menjadi jembatan pembicaraan pun dapat membawakannya dengan baik karena ia dapat berbicara dengan akrab pada keduabelah pihak.

Ketika kemudian Ki Rangga Kalokapraja melaporkan semua persiapan yang telah dianggapnya baik serta menawarkan agar Ki Tumenggung menilainya kembali, maka Ki Tumenggung berkata sambil tersenyum, “Jika semuanya sudah dianggap baik oleh Ki Rangga, maka aku pun menganggapnya baik. Bukankah yang penting dalam upacara ini asal aku tidak lupa membawa mulutku untuk menyampaikan ketetapan wisuda Kepala Tanah Perdikan ini? Sedangkan yang lain-lain adalah sekedar kelengkapan yang tidak mutlak.”

Orang yang hadir dalam penerimaan itu tertawa tertahan mendengar gurau Ki Tumenggung. Namun sikap itu sama sekali tidak mengurangi kewibawaannya. Sikap kebapaan nampak jelas, juga pada kata-kata yang diucapkannya kemudian menanggapi laporan Ki Tumenggung Kalokapraja.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka para petugas pun telah menghidangkan berbagai macam suguhan. Minuman hangat, beberapa jenis makanan dan bahkan kemudian makan siang karena matahari memang telah melewati puncak langit.

Baru kemudian, setelah beristirahat sejenak sambil membicarakan jalannya upacara, maka Ki Tumenggung itu pun telah dipersilahkan beristirahat di tempat yang lelah disediakan.

Demikian Ki Tumenggung diantar oleh Ki Rangga Kalokapraja, Risang, Kasadha dan beberapa orang yang lain pergi ke tempat peristirahatannya, maka Iswari pun telah menemui kakek dan neneknya diruang dalam.

Kepada mereka Iswari berkata, “Ternyata Ki Tumenggung Wreda Wirajaya tidak sebagaimana aku bayangkan. Ia adalah seorang yang rendah hati, ramah dan gembira dalam usianya yang sudah dipertengahan abad. Tetapi tidak mengurangi kewibawaannya.”

“Sokurlah. Bukankah dengan demikian segala sesuatunya akan dapat berjalan lebih lancar?” bertanya Kiai Badra.

“Ya kek,” jawab Iswari, “semua pembicaraan dapat dilakukan dengan terbuka. Tidak ada perasaan segan dan apalagi takut untuk menyatakan satu pendapat.”

“Jika demikian, nampaknya segala sesuatunya akan dapat dilaksanakan dengan baik,” berkata Kiai Soka kemudian.

Sebenarnyalah bahwa tidak ada masalah lagi yang agaknya dapat mengganggu upacara yang bakal dilakukan menjelang malam. Sehingga dengan demikian maka Iswari menjadi semakin tenang. Sementara itu jalannya upacara pun telah disetujui oleh Ki Tumenggung sehingga segala sesuatunya tinggal melaksanakannya saja.

Ketika Ki Tumenggung Wreda sudah berada di tempat peristirahatannya bersama beberapa orang pengiringnya, maka Ki Rangga Kalokapraja pun telah memperingatkan agar Risang juga beristirahat. Setidak-tidaknya untuk mengendapkan perasaannya menjelang saat wisudanya.

“Aku sudah cukup beristirahat Ki Rangga,” berkata Risang yang telah mulai diganggu lagi oleh kegelisahannya karena Riris masih belum nampak datang dengan atau tidak dengan Ki Rangga Dipayuda. Namun nampaknya Risang pun ingin menyimpan kegelisahannya itu sendiri. Ia masih belum mengatakannya sama sekali kepada siapapun juga, termasuk kepada Kasadha.

Bahkan kemudian justru Risang lah yang mempersilahkan Kasadha untuk beristirahat barang sejenak.

“Kau sudah terlibat dalam kesibukan yang melelahkan,“ berkata Risang, karena itu beristirahatlah meskipun hanya sebentar. Nanti kau masih akan ikut membantu menerapkan kelangsungan upacara agar dapat berjalan sebagaimana seharusnya.”

“Bukankah selama ini aku tidak berbuat apa-apa? Aku hanya duduk ikut menemui para tamu. Berjalan-jalan mengiringi Ki Rangga Kalokapraja, kemudian menyongsong kedatangan Ki Tumenggung Wreda,” jawab Kasadha.

“Tetapi bukankah sekarang tidak ada lagi yang harus dilakukan sampai menjelang senja? Baru kemudian setelah mandi dan membenahi diri, maka kita akan kembali naik kependapa untuk mengikuti upacara itu,” berkata Risang kemudian.

Kasadha tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan beristirahat.”

“Bibi keduanya juga sebaiknya beristirahat,” berkata Risang kemudian, “justru bibi berdua menjadi sangat sibuk didapur terus-terusan.”

Kasadha tersenyum sambil berkata, “Tetapi baiklah. Aku akan mempersilahkan ibu dan bibi untuk beristirahat. Tetapi biasanya orang-orang yang sedang membantu kesibukan peralatan apapun juga, baru akan berhenti jika pekerjaan itu telah selesai atau sebagian besar selesai.”

“Tetapi didapur bukankah sudah banyak orang vang mengerjakannya?” desis Risang.

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian perempuan-perempuan di dapur itu sebaiknya memang bergilir sehingga tidak semua bersama-sama menjadi letih.”

“Ya. Padahal bukan hanya nanti malam mereka menjadi sangat sibuk. Besok pagi pun mereka masih sangat sibuk menyiapkan makan pagi bagi para tamu dari Pajang dan mereka yang bekerja membersihkan tempat upacara dan halaman-halaman rumah yang dipergunakan untuk menginap itu. Apalagi jika mereka baru meninggalkan Tanah Perdikan ini disiang hari,” sahut Risang.

Dengan demikian maka Kasadha pun telah meninggalkan Risang, kembali ke tempat yang disediakan baginya serta ibu dan bibinya, yang ternyata seperti dugaannya masih berada didapur bersama perempuan-perempuan yang lain.

Namun nampaknya Risang telah minta pada Bibi yang sibuk di dapur, agar tenaga yang ada itu dapat dibagi sesuai dengan kebutuhan.

Sementara itu, Risang sendiri sama sekali tidak dapat beristirahat. Perasaannya masih selalu diusik oleh kegelisahannya karena Ki Rangga Dipayuda masih belum datang. Sementara itu segala sesuatu yang berhubungan dengan wisuda itu sudah mulai berlangsung. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya pun telah datang pula bersama beberapa orang pengiringnya.

Ketika matahari menjadi semakin turun, serta beberapa orang laki-laki mulai menyiram halaman rumah sebelum disapu agar tidak berdebu, maka Risang pun seakan-akan menjadi putus asa. Ia tidak dapat menunjukkan kepada Riris, bagaimana ia telah diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan lesu Risang itu pun kemudian masuk keruang dalam langsung kebiliknya. Ia ingin berbaring meskipun hanya sesaat untuk menghilangkan pegal-pegal dipunggungnya. Namun Risang sendiri mengerti, bahwa ia tidak dapat menghilangkan pegal-pegal dihatinya karena ke tidak datangan Riris.

Namun selagi Risang itu seakan-akan menghitung kerangka atap rumahnya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu biliknya sambil berdesis, “Risang. Masih ada tamu yang datang dari Pajang.”

Risang tahu bahwa suara itu adalah suara ibunya. Dengan nada tingi ia bertanya, “Siapa ibu?”

Ternyata Risang tidak menunggu jawaban ibunya. Ia pun segera meloncat turun dari pembaringannya dan lari kepintu. Sambil membuka pintu maka ia pun berdesis, “Tentu Ki Rangga Dipayuda.”

Risang memang tidak menunggu ibunya. Ia pun segera berlari kepintu pringgitan. Demikian ia membuka pintu, maka hatinya yang mengering itu seakan-akan telah disentuh titik-titik air embun. Yang dilihatnya dipendapa adalah Ki Rangga Dipayuda disertai oleh Nyi Rangga, Jangkung dan Riris.

Baru kemudian Risang teringat akan ibunya. Karena itu, maka ia pun telah mempersilahkan ibunya untuk menemui Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya itu.

Perasaan seorang ibu ternyata cukup tajam menanggapi sikap anaknya. Ketika Risang memperkenalkan ibunya dengan Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya, maka tatapan matanya telah tertambat sesaat kepada seorang gadis diantara mereka.

Perkenalan mereka pun segera menjadi akrab. Risang telah menyebutkan siapakah Ki Rangga Dipayuda, sementara Risang pun telah mengatakan kepada, Ki Rangga bahwa untuk waktu yang cukup lama, ibunya pun yang menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Maaf, kami datang terlambat,” berkata Ki Rangga Dipayuda kemudian.

“Tidak,” sahut Risang, “wisuda baru dilakukan nanti malam.”

“Sebenarnya kami ingin datang kemarin,” berkata Ki Rangga, “tetapi aku tidak dapat meninggalkan barak. Ketika Ki Tumenggung Jayayuda datang dari tugasnya, maka ia telah memanggil semua pandega untuk memberikan beberapa penjelasan. Baru kemudian aku diijinkan untuk meninggalkan barak.”

“Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Rangga dan keluarga untuk datang,” desis Iswari kemudian.

Namun Ki Rangga itu pun bertanya, “Bukankah Kasadha sudah berada disini?”

“Ya,” jawab Risang, “kemarin lusa ia datang setelah senja.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa aku tidak menahan anak itu agar pergi bersamaku. Jika ia pergi bersamaku, maka ia pun akan terlambat.”

Demikianlah, setelah dihidangkan minuman, makanan dan bahkan makan, maka Ki Rangga Dipayuda pun telah dipersilahkan untuk beristirahat di tempat yang telah disediakan.

Namun sebelum mereka meninggalkan pendapa, dengan ragu Risang bertanya kepada ibunya, “Ibu, apakah ibu telah menunjuk seseorang yang akan membawa nampan berisi pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan?”

Ibunya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Segala sesuatunya telah siap Risang. Tetapi aku lupa menunjuk seseorang. Namun itu bukan soal yang terlalu sulit. Aku akan segera menyiapkannya.”

“Ibu,” tiba-tiba nada suara Risang merendah, “bagaimana jika aku minta tolong Riris untuk melakukannya. Sudah tentu jika Ki Rangga dan Nyi Rangga tidak berkeberatan.”

Ibunya termangu-mangu. Diluar sadarnya ia memandang Riris yang justru menunduk.

Namun ibu Risang itu pun tanggap akan perasaan anaknya. Karena itu, maka ia pun telah memberanikan diri untuk menyampaikan permintaan kepada Ki Rangga dan Nyi Rangga Dipayuda, “Kami mohon maaf sebelumnya, Ki Rangga. Sebagaimana permintaan anakku, kami mohon perkenan Ki Rangga dan Nyi Rangga, bahwa angger Riris akan kami minta pertolongannya untuk mempersiapkan pertanda bagi seorang Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang nanti akan dikalungkan oleh Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.”

Ki Rangga Dipayuda menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun berpaling kepada Riris, bahkan sambil tersenyum. Katanya, “Bukankah kau tidak berkeberatan Riris?”

Sebelum Riris menjawab, Jangkung berdesis, “Jika kau berkeberatan, biarlah aku saja.”

Namun Riris pun berdesis, “Ah, kau.”

Ki Rangga Dipayuda pun kemudian berdesis, “Baiklah Nyi. Agaknya Riris tidak berkeberatan untuk melakukannya.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, ibunya telah mempersilahkannya pula untuk beristirahat meskipun waktunya menjadi semakin sempit.

Risang lah yang kemudian mengantar mereka ke tempat yang telah disediakan. Disepanjang jalan yang hanya beberapa puluh patok itu, Ki Rangga sempat bertanya tentang Ki Tumenggung Wreda Wirajaya.

“Ki Tumenggung telah berada disini,” jawab Risang.

Sementara itu Jangkung pun bertanya pula, “Dimana Kasadha sekarang?”

“Ia berada di tempatnya menginap. Baru saja ia meninggalkan pendapa. Sejak kemarin ia membantu mempersiapkan tempat ini.”

“Sayang, aku datang terlalu lambat,” desis Jangkung.

“Kami merasa bersyukur bahwa Ki Rangga sekeluarga akhirnya sempat datang,” desis Risang.

Demikianlah, setelah Ki Rangga dan keluarganya berada di tempat yang telah disediakan, maka Risang pun meninggalkan mereka untuk mempersiapkan diri. Sementara itu matahari telah menjadi semakin rendah. Namun hati Risang tidak lagi terasa gelisah. Bahkan ia merasa beruntung, bahwa Riris telah bersedia untuk membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan dalam upacara yang akan diselenggarakan nanti.

Waktu pun merambat setapak demi setapak. Menjelang senja, maka lampu-lampu pun telah dinyalakan, lebih cepat dari biasanya. Bahkan oncor diregol pun telah menyala. Bukan saja di regol halaman rumah yang akan dipakai untuk wisuda, tetapi diregol-regol halaman rumah yang lain. Bahkan dipintu gerbang padukuhan induk. Sehingga ketika gelap mulai turun, maka justru jalan-jalan menjadi terang benderang. Demikian pula halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sejenak kemudian, maka para tamu pun mulai berdatangan. Pendapapun mulai terisi. Sementara beberapa orang perempuan yang menjadi tamu khusus dipersilahkan duduk diruang dalam. Demikian pula Nyi Rangga Dipayuda yang ditemui oleh Nyai Soka, beberapa orang isteri bebahu yang ditunjuk oleh Iswari. Namun lernyala ibu Kasadha tidak bersedia duduk bersama mereka, ia dan bibi Kasadha lebih senang berada di dapur menenggelamkan diri dalam kesibukan.

“Bukankah dengan demikian aku tidak sempat merenungi diriku sendiri,” berkata ibu Kasadha itu kepada sepupunya.

Diruang dalam itu pula Riris dipersiapkan, ia mengenakan pakaian yang paling baik yang dibawanya. Disebelahnya telah disiapkan sebuah nampan yang dialasi dengan beludru berwarna kuning keemasan. Diatasnya terletak sebuah kalung yang lebih besar dari kalung kebanyakan. Terbuat dari emas dengan bandul dari emas pula dan bertatahkan lukisan kepala seekor burung yang garang.

Risang sendiri duduk didepan pintu pringgitan bersama ibunya dan kedua orang kakeknya, Kiai Soka dan Kiai Badra. Disebelahnya yang lain, duduk Ki Rangga Kalokapraja yang telah hadir pula.

Kasadha terkejut ketika ia melihat Ki Rangga Dipayuda dan Jangkung telah ada diantara para tamu. Ia pun segera beringsut dan duduk disebelahnya.

Ki Rangga pun beringsut pula. Sambil tersenyum ia berkata, “Aku datang terlambat. Ki Tumenggung Jayayuda yang datang dari Madiun telah memanggil para Pandega untuk berbincang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara Jangkung berkata, “Kau sempat membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Aku tidak.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Tetapi bukankah karena Ki Rangga sedang dalam tugas yang penting.”

“Sebenarnya aku dapat berangkat lebih dahulu,” desis Jangkung yang nampak kecewa atas kelambatannya.

Tetapi Kasadha menjawab, “Kau tidak usah menyesali dirimu sendiri. Semuanya sudah terjadi. Bukankah kau juga datang tidak terlambat?”

“Ya. Aku memang tidak terlambat,” desis Jangkung.

“Apakah kau sudah bertemu dengan Risang?” bertanya Kasadha dengan nada rendah.

“Risang?” bertanya Jangkung.

“Maksudku Barata,” jawab Kasadha.

“Sudah. Ketika kami datang, kami sudah ditemuinya. Ibunya memang memanggilnya Risang. Agaknya disini ia lebih dikenal dengan nama itu daripada Barata,” berkata Jangkung kemudian.

“Kau hanya berdua saja?” bertanya Kasadha, “apakah Nyi Rangga tidak jadi berangkat?”

“Aku datang bersama ibu dan Riris,” jawab Jangkung.

Jantung Kasadha berdesir lembut. Jika demikian ibu Jangkung tentu ada didalam bersama Riris. Mungkin mereka duduk bersama ibu dan bibinya. Namun Kasadha tidak tahu, dimana ibu dan bibinya duduk. Ketika ia berangkat dari tempat yang disediakan baginya, ibu dan bibinya sudah mendahuluinya.

“Tetapi agaknya ibu dan bibi lebih senang berada di dapur,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Demikianlah, sejenak kemudian, ketika malam menjadi gelap, Ki Tumenggung Wreda Wirajaya telah datang pula bersama beberapa orang pengiringnya. Para tamu pun beringsut dan menempatkan diri, sementara Ki Tumenggung Wreda Wirajaya pun dipersilahkan untuk duduk di muka pintu pringgitan yang tertutup.

Suasana pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu memang menjadi ceria. Wajah Risang pun nampak cerah dibawah cahaya lampu minyak yang kekuning-kuningan. Demikian pula Iswari yang nampak lebih muda dari umurnya yang sebenarnya.

Setelah Ki Tumenggung Wreda Wirajaya duduk sejenak, maka Ki Rangga Kalokapraja yang mengantar upacara wisuda itu pun mulai membuka pertemuan.

Para tamu mendengarkannya dengan bersungguh-sungguh. Kata demi kata yang diucapkan oleh Ki Rangga Kalokapraja.

Kasadha pun mendengarkan penjelasan Ki Rangga tentang upacara wisuda itu. Sedikit uraian tentang riwayat Tanah Perdikan itu, serta Surat Kekancingan yang menetapkan Tanah Perdikan Sembojan sebagai Tanah Perdikan yang sah.

Kasadha menjadi berdebar-debar ketika disebut oleh Ki Rangga Kalokapraja bahwa Ki Wiradana, yang tidak sempat diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan, meninggal dengan meninggalkan dua orang anak laki-laki.

Namun Ki Rangga ternyata tidak menyebutkan nama kedua orang anak laki-laki itu. Yang dikatakannya kemudian adalah, “Yang sekarang akan diwisuda adalah anak tertua dari Ki Wiradana itu. Risang.”

Demikianlah, maka upacara wisuda itu pun segera dimulai. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya telah minta salah seorang pembantunya untuk membacakan Surat Kekancingan penetapan Risang, anak laki-laki tertua Ki Wiradana untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Ki Tumenggung itu pun kemudian telah mengucapkan sesorahnya berkenaan dengan Surat Kekancingan itu. Kemudian sesorahnya diakhirinya dengan mempersilahkan Risang untuk maju dan duduk dihadapannya bersama ibunya, yang selama itu menjadi Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang kosong.

“Atas nama Kangjeng Adipati yang memerintah di Pajang, maka Risang, anak laki-laki tertua Ki Wiradana, tanpa mengkesampingkan hak atas anak yang termuda, dibawah perlindungan Yang Maha Agung terhadap segala marabahaya, ditetapkan menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan dengan segala wewenangnya, haknya dan kewajibannya.”

Susana di pendapa itu pun terasa hening. Seakan-akan angin pun telah berhenti berhembus. Dedaunan menjadi diam tanpa terusik seakan-akan ikut mendengarkan sesorah yang diakhiri dengan wisuda atas Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Demikian sesorah itu selesai, maka Ki Rangga Kalokapraja pun mempersilahkan Ki Tumenggung Wreda Wirajaya mengenakan sebuah kalung pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Suasana pun menjadi semakin hening. Pintu pringgitan di belakang tempat duduk Ki Tumenggung itu terbuka dari dalam. Kemudian muncul seorang gadis yang berjalan sambil berjongkok membawa sebuah nampan yang beralaskan kain beludru berwarna kuning keemasan. Gadis itu adalah Riris.

Semua orang memandang dengan kagum. Gadis yang dirias dan berpakaian serasi dengan warna kulitnya itu, nampak sangat cantik. Cahaya lampu minyak membuat kulit gadis itu menjadi kuning langsat. Matanya yang icdup sedikit menunduk membuatnya nampak agung dalam bayangan warna kuning keemasan dari alas nampan yang dibawanya.

Didalam nampan itu terletak pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, jantung Kasadha yang duduk di dekat Ki Rangga Dipayuda dan Jangkung itu telah terguncang. Ia sudah tahu kalau Riris ada didalam sebagaimana dikatakan oleh Ki Rangga dan Jangkung. Namun ia tidak mengira bahwa Riris akan ikut melayani Ki Tumenggung Wreda Wirajaya dalam rangkaian upacara itu. Justru membawa pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Apalagi malam itu Riris yang berhias dan berpakaian sangat serasi itu nampak sangat cantik.

Dada Kasadha bergelora melihat Riris duduk mendekat Risang yang sedang diwisuda itu. Kemudian Ki Tumenggung Wreda bergeser dari tempatnya mengambil kalung emas pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan di nampan yang dibawa oleh Riris, dan mengalungkannya dileher Risang.

Rasa-rasanya dada Kasadha akan meledak. Keringat dingin telah mengalir diseluruh tubuhnya, sehingga bajunya menjadi basah. Di keningnya keringat itu mengalir menitik satu-satu.

Tetapi betapa hatinya bergejolak, namun Kasadha masih tetap bertahan duduk di tempatnya. Meskipun tikar tempat ia duduk itu bagaikan menjadi bara, Kasadha tetap tidak beringsut. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap mengendalikan penalarannya. Apalagi saat itu adalah salah satu peristiwa puncak dalam perjalanan hidup Risang dan kehidupan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun untuk selanjutnya wisuda itu sendiri sudah tidak lagi menjadi perhatiannya, justru karena ia harus mengerahkan ketahanan jiwanya untuk mengatasi gejolak yang mengguncang-guncang jantungnya. Sementara itu, upacara itu pun masih berlangsung. Tetapi setelah upacara pengalungan pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan itu, rasa-rasanya memang tidak ada lagi hal-hal yang penting. Sedikit sesorah Nyi Wiradana sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian ucapan kesediaan dan janji Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan yang sudah ditetapkan.

Dengan demikian upacara itu sendiri telah selesai. Yang tinggal kemudian adalah acara makan bersama.

Satu-satu suguhan telah dihidangkan. Sementara itu Kasadha masih saja harus selalu mengusap keringat dinginnya. Sekali-sekali terdengar ia berdesah, seakan-akan ingin melepaskan himpitan pada perasannya.

Dengan tidak sengaja Jangkung melihat keadaan Kasadha. Beberapa kali Kasadha mengusap keringat dikeningnya. Bahkan bajunya mulai nampak menjadi basah. Bagaimanapun juga Kasadha berusaha, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan seluruh kegelisahannya, sehingga Jangkung pun bertanya, “Kenapa kau Kasadha? Apa kau sakit?”

Kasadha terkejut mendapat pertanyaan itu. Dengan serta-merta ia pun menjawab, “Tidak. Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi kau nampak gelisah sekali. Keringatmu mengembun dikening dan lihat, bajumu menjadi basah,” berkata Jangkung pula hampir berbisik.

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Sudah terbiasa bagiku keringat mengalir seperti diperas dari tubuh,” jawab Kasadha perlahan. Lalu katanya pula, “Minuman hangat membuat peluhku semakin banyak. Tetapi itu tidak apa-apa.”

Jangkung mengangguk kecil. Tetapi ia pun merasa bahwa keringatnya juga mengalir. Tetapi tidak sebanyak keringat ditubuh Kasadha.

Acara makan bersama itu pun berlangsung tidak terlalu lama. Ketika acara itu selesai, maka Ki Tumenggung Wreda Wirajaya pun merasa bahwa pertemuan itu sudah Cukup. Tugasnya telah diselesaikannya dengan baik. Karena itu, maka Ki Tumenggung pun akan segera meninggalkan tempat upacara kembali ketempat yang disediakan baginya.

Kesempatan itu sekaligus dipergunakan oleh Ki umenggung untuk minta diri. Katanya, “Sayang, aku besok harus kembali ke Pajang, sehingga aku tidak sempat melihat acara-acara keramaian yang akan diselenggarakan mulai besok di Tanah Perdikan ini. Karena itu, maka biarlah aku mengucapkan selamat atas kegembiraan rakyat Tanah Perdikan ini menyambut kehadiran Kepala Tanah Perdikan ini. Besok aku minta diri.”

Beberapa orang pun kemudian mengiringi Ki Tumenggung meninggalkan pendapa rumah Risang. Tetapi Tumenggung justru mencegah Risang yang akan mengiringinya pula. Katanya, “Kau menjadi pusat segala kesibukan sekarang. Biarlah kau tidak usah meninggalkan pendapa ini.”

Risang memang menjadi agak bimbang. Namun kemudian Ki Rangga Dipayuda lah yang berbisik kepadanya, “Biarlah aku mewakilimu.”

“Terima kasih Ki Rangga,” jawab Risang. Namun ternyata Kasadha juga berbisik, “Aku juga dapat ikut mengantar Ki Tumenggung. Barangkali aku juga dapat mewakilimu.”

“Terima kasih,” desis Risang itu pula tanpa mengerti gejolak perasaan Kasadha.

Kasadha memang ingin sedikit melepas himpitan perasaannya. Dengan meninggalkan pendapa itu, maka dadanya memang terasa agak lapang. Ia sempat meng hirup udara malam yang segar sepanjang langkahnya dalam iring-iringan mengantar Ki Tumenggung Wreda sampai ketempat yang dipersiapkan baginya.

Oleh Ki Rangga Kalokapraja dan Ki Rangga Dipayuda yang memang sudah mengenal Ki Tumenggung dengan baik, Kasadha pun telah diperkenalkan kepada Ki Tumenggung.

“Kau masih begitu muda sudah diangkat menjadi Lurah prajurit?” bertanya Ki Tumenggung.

“Satu anugerah Ki Tumenggung,” jawab Kasadha sambil mengangguk hormat.

“Bagus. Mudah-mudahan kau akan segera mendapat kesempatan yang lebih baik,” berkata Ki Tumenggung sambil tersenyum. Namun kemudian ia menjawab, “Siapakah pimpinan kesatuanmu?”

“Ki Tumenggung Jayayuda,” jawab Kasadha.

“O,” Ki Tumenggung Wreda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Seorang Tumenggung yang baik.”

“Kemudian dibawah Pandega Ki Rangga Dipayuda,” berkata Kasadha kemudian.

“O,” Ki Tumenggung Wreda mengangguk-angguk pula, “juga seorang Pandega yang baik. Sayang, umurnya sudah mengejarnya terus, sehingga kesempatannya menjadi terbatas.”

Orang-orang yang mendengar gurau Ki Tumenggung Wreda itu tertawa. Ki Rangga Dipayuda sendiri berkata sambil tertawa, “Siapa tahu bahwa pada suatu saat aku akan menjadi muda kembali. Sehingga aku akan mendapat kesempatan lagi.”

“Kesempatan apa?” berkata Ki Tumenggung Wreda.

Sekali lagi orang-orang yang masih berkerumun disekitar Ki Tumenggung Wreda itu tertawa. Namun Ki Tumenggung itu pun kemudian berkata, “Sudahlah. Aku akan beristirahat. Besok pagi-pagi aku akan kembali ke Pajang. Sebagaimana kalian ketahui, Pajang masih saja diselubungi kabut. Apalagi sekarang Kangjeng Adipati sedang sakit.”

“O, jadi Kangjeng Adipati sedang sakit?” justru Ki Rangga Kalokapraja yang bertanya.

“Ya. Hanya orang-orang terbatas yang mengetahui. Namun sekarang hal itu memang tidak perlu dirahasiakan lagi,” jawab Ki Tumenggung, “mudah-mudahan dalam satu dua hari ini Kangjeng Adipati akan segera sembuh.”

Demikianlah, ketika Ki Tumenggung Wreda itu masuk keruang dalam rumah yang diperuntukkan baginya sebagai penginapan, maka Ki Rangga Dipayuda, Kasadha dan beberapa orang lagi telah kembali kerumah Risang.

Tetapi demikian mereka sampai keregol halaman rumah Risang, maka Kasadha telah menjadi gelisah lagi. Sekali lagi ia harus bertahan, agar jantungnya tidak meledak, sehingga dapat menimbulkan suasana yang tidak pantas.

Tetapi Kasadha justru menjadi sedikit lega, justru karena pendapa itu sudah menjadi lengang. Agaknya sepeninggal Ki Tumenggung Wreda, maka para tamu pun telah minta diri.

Namun demikian, ternyata orang-orang terdekat masih juga berada di pendapa. Bahkan beberapa orang perempuan telah keluar pula dan duduk dipendapa.

Kasadha menjadi berdebar-debar ketika diantara mereka terdapat Nyi Rangga Dipayuda dan anak gadisnya Riris. Namun diantara mereka tidak terdapat ibu dan bibinya.

Ketika Kasadha melangkah mendekati pendapa, maka Iswari pun berkata kepadanya, “Marilah ngger. Ibu dan bibimu tidak mau aku minta duduk bersama kami disini.”

“Terima kasih ibu,” jawab Kasadha, “biarlah aku menemani ibu dan bibi.”

Namun Risang lah yang menyahut, “Biar aku sajalah yang memanggilnya. Aku juga akan pergi kebelakang.”

“Tidak. Jangan,” cegah Kasadha, “aku ingin menemani ibu.”

Risang tidak dapat memaksanya. Sementara Ki Rangga Dipayuda dan Ki Rangga Kalokapraja naik kependapa, maka Kasadha pun telah pergi ke dapur menemui ibu dan bibinya.

Ketika Jangkung berbisik untuk mengikutinya, Kasadha berkata, “Jangan. Kau duduk saja dipendapa. Nanti aku juga kembali kependapa.”

Jangkung termangu-mangu. Namun Risang pun kemudian mempersilahkan naik kependapa pula.

Sementara itu, Kasadha yang pergi ke dapur, mendapatkan ibu dan bibinya sudah duduk diamben panjang bersama beberapa orang perempuan. Nampaknya sudah tidak ada pekerjaan yang dikerjakannya. Sehingga karena itu, maka Kasadha pun berkata, “Jika ibu dan bibi ingin beristirahat, marilah. Aku antarkan kembali kepenginapan.”

“Tetapi bukankah masih ada tamu dipendapa?” bertanya ibunya.

“Nanti aku akan kembali,” jawab Kasadha.

Ibu dan bibinya tidak menolak. Apalagi pekerjaan memang sudah selesai di dapur. Besok pagi-pagi sekali perempuan-perempuan itu harus sudah mulai lagi sibuk mempersiapkan makan pagi para tamu.

Mereka pun kemudian telah minta diri. Iswari memang menahannya. Namun ibu dan bibi Kasadha menyatakan bahwa besok pagi-pagi benar mereka sudah akan berada didapur lagi.

Sementara itu Risang pun bertanya, “Kau juga akan kembali ke penginapanmu Kasadha?”

“Nanti aku kembali lagi. Sekedar mengantar ibu,” jawab Kasadha.

Risang tersenyum. Baginya memang terdengar aneh, bahwa ibu dan bibi Kasadha masih harus diantarkan. Tanpa Kasadha maka keduanya tidak akan ada yang dapat mengganggunya. Sepengetahuan Risang, perempuan itu adalah perempuan yang berilmu sangat tinggi.

Namun dalam pada itu, sepanjang jalan menuju kepenginapannya terasa oleh ibu dan bibi Kasadha perubahan akap anak muda itu. Ia lebih banyak merenung. Pertanyaan-pertanyaan ibu dan bibinya kadang-kadang mengejutkannya.

Apalagi ketika mereka sampai di penginapan. Mereka melihat wajah Kasadha yang pucat, pakaiannya yang basah oleh keringat. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, kadang-kadang tidak dikendalikan oleh nalarnya yang bugaikan beku.

“Kau kenapa Kasadha?” bertanya ibunya.

Kasadha memang menjawab dengan serta-merta, “Aku tidak apa-apa ibu.”

Namun kemudian angan-angannya pun telah menerawang. Wajah Riris yang cantik nampak melintas di penglihatan batinnya. Bahkan kemudian nampak Riris seakan-akan duduk tidak sekedar didekatnya membawa nampan berisi kalung pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan. Namun seakan-akan Riris itu duduk disebelah Risang.

“Ibu,” berkata Kasadha tiba-tiba, “besok kita akan pulang.”

“Besok? Bukankah besok disini masih sibuk? Besok malam keramaian baru dimulai.”

“Keramaian itu akan berlangsung sedikitnya tiga hari. Apakah aku harus menunggu disini sampai tiga hari? Bukankah aku seorang prajurit ibu? Aku mempunyai tugas di barak. Tentu aku tidak dapat bersenang-senang disini tanpa memikirkan tugas-tugasku di barak?”

“Kasadha,” potong ibunya, “kenapa kau sebenarnya? Bukankah kau merencanakan untuk berada disini sedikitnya lima hari? Bukankah kau sudah mendapat ijin dari Senapatimu. Bahkan Ki Rangga Dipayuda juga ada disini. Apakah ia memerintahkan agar kau segera kembali?”

Wajah Kasadha memang menegang. Ia tidak segera menjawab. Namun keringatnya mulai mengalir lagi diseluruh tubuhnya.

Namun suara ibunya merendah. Sambil mendekati dan memegang kedua bahu anaknya, Warsi itu berkata lembut, “Kasadha. Bukankah selama ini kau telah mengatakan, bahwa kau dengan ikhlas menyerahkan semua hak atas Tanah Perdikan ini kepada Risang, saudara tuamu sendiri? Bukankah kau sudah berjanji, bahwa kau tidak akan merasa iri atau dengki atas warisan dan juga sudah tentu kedudukan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tentu ibu, tentu,” suara Kasadha justru mengeras. Ia beringsut beberapa langkah dari ibunya sambil berkata, “Aku sama sekali tidak merasa iri. Apalagi dengki atas kedudukan Risang sekarang.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 48

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s