SST-46

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

KI TUNGGUL PUN kemudian telah menarik senjatanya pula. Sebuah luwuk yang panjang. Pada tangkainya terdapat ukiran yang dihias dengan rambut yang Kasadha mengira rambut itu tentu rambut manusia, sebagaimana sering dilihat sebelumnya, bahwa rambut manusia memberikan kebanggaan tersendiri kepada pemiliknya. Apalagi rambut orang yang telah dibunuhnya dalam persoalan apapun.

“Marilah anak muda,” berkata Ki Tunggul, “kita akan bertempur seorang lawan seorang. Jangan menyesal bahwa di padukuhan kecil ini kau bertemu dengan seseorang yang memiliki kemampuan melampaui Senapatimu sekalipun.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Ki Tunggul yang memiliki pengaruh yang besar itu agaknya memang seorang yang tidak mau dikecewakan. Ia dapat berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya tanpa menghiraukan kepentingan orang lain.

Namun Kasadha pun menyadari, bahwa Ki Tunggul itu tentu seorang yang berilmu tinggi. Ia mengerti juga bahwa ada kekuatan yang bersumber dari siraman cahaya bulan.

Demikianlah keduanya pun telah berhadapan. Ki Tunggul mulai menggerakkan luwuknya yang kehitam-hitaman. Pamornya nampak berkilat memantulkan cahaya bulan Sementara itu Kasadha menggenggam sebilah pedang yang tajamnya bagaikan membelah cahaya bulan itu.

Sejenak kemudian, luwuk Ki Tunggul itu pun mulai terayun. Namun Kasadha yang ingin menjajaginya telah menyentuh luwuk itu dengan pedangnya.

Satu benturan kecil telah terjadi. Tetapi dengan benturan itu keduanya masih belum dapat menduga kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing.

Karena itu, maka keduanya masih harus tetap berhati-hati. Masing-masing masih belum tahu pasti, sampai dimanakah tataran kekuatan lawannya. Terutama Kasadha yang masih belum melihat sama sekali, apa yang dapat dilakukan oleh Ki Tunggul, sementara Ki Tunggul telah melihat bagaimana ia mampu mengalahkan para pengawalnya.

Dengan demikian, maka Kasadha masih saja berusaha untuk dapat membentur ayunan senjata lawannya. Ketika sekali-sekali benturan yang keras terjadi, maka Kasadha pun mengetahui, bahwa lawannya memiliki kekuatan yang sangat besar.

Demikianlah, sejenak kemudian, pertempuran antara Kasadha dan Ki Tunggul itu menjadi semakin cepat. Keduanya telah meningkatkan kemampuan mereka pula. Bahkan semakin lama semakin tinggi. Luwuk Ki Tunggul pun berputaran semakin cepat. Ayunannya pun menjadi semakin kuat. Beberapa kali Kasadha memang harus meloncat surut untuk menghindari sambaran luwuh Ki Tunggul itu.

Tetapi pedang Kasadha pun tidak pula kalah garangnya. Pedang itu bagaikan terbang menyambar-nyambar. Pantulan kilatan cahaya bulan kadang-kadang memang membuat jantung Ki Tunggul berdebaran apalagi setelah ia menduga bahwa Kasadha termasuk salah seorang pemuja bulan yang mengisap sinarnya dengan lubang-lubang kulitnya untuk meningkatkan kemampuannya.

“Iblis kecil ini ternyata keras kepala,” berkata Ki Tunggul didalam hatinya, “tetapi ia harus benar-benar dihancurkan agar tidak ada lagi tuntutan karena aku telah berani melawan seorang prajurit. Meskipun prajurit itu tidak sedang bertugas, tetapi prajurit muda itu dapat menyatakan bahwa ia sedang melindungi seseorang, apalagi orang itu adalah bibinya.”

Karena itu, maka setelah mereka bertempur beberapa saat, Ki Tunggul menjadi tidak sabar lagi. Ia pun telah mengerahkan kemampuannya sampai kepuncak.

Kasadha memang terdesak untuk beberapa saat. Ibunya sempat menjadi cemas melihat keadaannya. Meskipun ia sendiri akan dapat menyelesaikan Ki Tunggul, tetapi itu akan dapat merusak suasana hidupnya sehari-hari.

“Apakah aku harus menyelesaikan persoalan ini sebagaimana pernah aku lakukan?” pertanyaan itu mulai timbul didalam hati ibu Kasadha itu.

Namun hatinya menjadi sedikit tenang, ketika ia melihat anaknya menjadi mapan lagi. Kasadha tidak lagi nampak terdesak setelah ia pun meningkatkan kemampuannya pula. Pedangnya berputar secepat luwuk Ki Tunggul.

Ki Tunggul sempat mengumpat didalam hati. Anak muda itu ternyata tidak segera dapat ditundukkan. Menurut perhitungannya, sebagaimana dikenalnya, kemampuan para prajurit tidak akan dapat memanjat sampai ketingkat kemampuan anak muda itu.

Karena itu, maka Ki Tunggul itu pun menjadi semakin yakin, bahwa Kasadha adalah seorang yang bukan saja memiliki kemampuan seorang prajurit, tetapi juga pernah berguru kepada seseorang yang ternyata pemuja bulan.

Karena itu, maka dalam siraman sinar bulan, maka kemampuannya telah menjadi semakin berkembang.

Ki Tunggul itu pun kemudian berusaha untuk mendesak Kasadha agar anak muda itu lepas dari pengaruh sinar bulan dan bertempur dibawah bayangan pepohonan. Namun ternyata bahwa Ki Tunggul tidak mampu melakukannya. Ternyata Kasadha cukup trampil menanggapi usaha Ki Tunggul itu. Jika serangan Ki Tunggul itu datang memburu, maka dengan tangkasnya Kasadha meloncat berputaran. Namun Ki Tunggul itu tidak pernah dapat mendesak Kasadha sehingga tenggelam dalam bayangan pepohonan yang rimbun di halaman rumah itu. Setiap kali Kasadha sempat menembus desakan lawannya dan kembali berdiri di terangnya sinar bulan yang kekuningan. Sehingga dengan demikian, maka Ki Tunggul pun menjadi semakin yakin, bahwa Kasadha adalah seorang diantara mereka yang berusaha menyerap cahaya bulan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam olah kanuragan.

Kasadha pun ternyata mengerti juga usaha lawannya. Justru karena itu, maka Kasadha setiap kali selalu berusaha untuk berada di cerahnya sinar bulan yang bergerak semakin tinggi.

“Anak iblis,” geram Ki Tunggul itu diluar sadarnya, “kau kira bulan itu akan dapat menolongmu?”

Kasadha tidak menjawab, tetapi ia menjadi semakin yakin, bahwa lawannya menyangka ia termasuk seorang yang bergantung pada cahaya bulan.

Justru karena itu, maka Kasadha semakin keras berusaha agar ia nampak selalu berusaha berada dibawah cahaya bulan sehingga pada suatu saat ia akan menunjukkan bahwa bulan itu sama sekali tidak mempengaruhinya.

“Jika ibu menjadi kecewa, aku akan menjelaskan,” berkata Kasadha kepada diri sendiri.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Tunggul masih saja berusaha mendesak lawannya, tetapi Kasadha justru tetap berusaha bertahan dibawah sinar bulan yang semakin lama seakan-akan menjadi semakin cerah.

Namun sebenarnyalah bahwa kemampuan Ki Tunggul memang tidak dapat untuk mengatasi kemampuan Kasadha. Beberapa kali Ki Tunggul lah yang justru terdesak. Sehingga Ki Tunggul itu pun mencoba untuk berganti cara. Ia tidak lagi berusaha mendesak Kasadha, tetapi ia justru mencoba memancing agar Kasadha memburunya ke kegelapan oleh bayangan dedaunan.

Mula-mula Kasadha masih mencoba untuk tidak terpancing memasuki bayangan dedaunan. Namun akhirnya ia menjadi jemu untuk selalu menghindari bayangan pepohonan. Justru karena itu, maka ketika Ki Tunggul itu terdesak dan dengan serta merta meloncat kebawah lindungan dedaunan, maka Kasadha pun telah memburunya. Dalam pada itu, demikian tubuh Kasadha lepas dari cahaya bulan maka dengan serta merta Ki Tunggul meloncat menyerangnya sambil berteriak nyaring, “Tengadahkan wajahmu kepada bulan yang kau sembah itu. Mintalah pertolongannya agar kau mampu menyelamatkan dirimu.”

Namun Ki Tunggul itu terkejut. Serangannya sama sekali tidak menyentuh sasarannya. Ketika luwuknya terjulur lurus mengarah kepada Kasadha, maka Kasadha pun dengan tangkasnya telah menangkis serangan itu. Dengan kuatnya Kasadha memukul luwuk itu kesamping. Demikian kerasnya, sehingga hampir saja luwuk itu terlepas dari tangannya. Namun selagi ia berusaha mempertahankan luwuk itu, maka dengan kecepatan melampaui kesadaran Ki Tunggul, pedang Kasadha bergerak terayun mendatar.

Terdengar Ki Tunggul mengaduh perlahan. Sambil meloncat surut Ki Tunggul telah meraba pundaknya. Terasa cairan yang hangat telah meleleh dari luka yang menganga dipundaknya itu. Namun baru sejenak kemudian perasaan pedih menyengat lukanya, setelah keringatnya yang menitik mulai membasahi lukanya itu.

Kasadha tidak memburunya. Tetapi ia menunggu Ki Tunggul mempersiapkan diri untuk melanjutkan pertempuran.

Ibunya yang menjadi cemas melihat Kasadha memburu lawannya kedalam bayangan dedaunan telah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dibawah bayangan yang menghalangi cahaya bulan, Kasadha masih tetap seorang yang memiliki ilmu yang mampu mengatasi ilmu lawannya.

Dalam pada itu, maka terdengar Ki Tunggul menggeram, “Ternyata kau memang anak iblis yang licik.”

“Kenapa?” bertanya Kasadha.

“Kau menunggu aku menjadi lengah, justru karena aku yakin bahwa kau telah menyerap kekuatan sinar bulan untuk meningkatkan ilmumu yang kotor itu.”

“Kenapa aku kau anggap licik? Kenapa kau tidak melakukannya juga karena sinar bulan itu melimpah dan tidak habis aku serap seberapapun aku perlukan?” jawab Kasadha.

“Kau jangan terlalu sombong karena kau sempat melukai aku,” geram Ki Tunggul, “tetapi aku sudah bersikap. Kau harus mati dan berkubur di kebun ini. Kau akan diam dan kedua perempuan itu pun tidak akan sempat berbicara kepada siapapun. Aku memerlukan bibimu. Jikabenar yang seorang itu ibumu maka ia akan mengalami nasib sebagaimana nasibmu. Ia akan diam untuk selama-lamanya. Nah, kau yakin bahwa tidak akan ada saksi yang dapat mengatakan apa yang terjadi disini?”

Tetapi Kasadha tertawa. Katanya, “Jangan berkata begitu Ki Tunggul. Tidak mudah untuk membunuh seseorang, karena kematian kami tidak berada ditanganmu. Juga batas kematianmu tidak berada ditangan kami. Tetapi jika aku akan menjadi perantara, maka kau akan dapat terbunuh disini justru karena kau memang sudah sampai kebatas hidupmu yang sesat itu.”

“Tutup mulutmu iblis kecil,” geram Ki Tunggul sambil menyerang. Luwuknya terayun deras menebas kearah leher. Namun Kasadha yang sudah yakin akan kelebihannya, telah menangkis serangan itu. Dengan demikian maka benturan telah terjadi dengan kerasnya. Sekali lagi Ki Tunggul terkejut. Luwuknya hampir saja terlepas dari tangannya.

Dengan demikian, maka akhirnya Ki Tunggul itu menyadari, dengan atau tidak dengan sinar bulan, maka kemampuan anak muda itu memang berada diatas kemampuannya. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali membawa kedua pengawalnya kedalam pertempuran itu dengan satu perintah yang tegas, “Bunuh anak yang sombong itu. Meskipun ia seorang prajurit, tidak seorang pun akan dapat menjadi saksi.”

Kasadha meloncat selangkah surut. Jantungnya memang menjadi berdebar-debar. Dengan demikian berarti bahwa ia harus bertempur melawan ketiga orang itu sekaligus. Meskipun seorang demi seorang kemampuan mereka tidak banyak berarti, tetapi bersama-sama mereka akan menjadi lawan yang berat.

Tetapi Kasadha sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Ia tidak mempunyai pilihan lagi. Apalagi Ki Tunggul nampaknya telah berniat untuk benar-benar membunuhnya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Kasadha telah bersiap. Diluar sadarnya ia telah bergeser keluar dari bayangan dedaunan. Sinar bulan yang semakin tinggi itu, rasa-rasanya menjadi semakin terang.

Diwaktu Kasadha masih kanak-kanak dan bernama Puguh, jarang sekali ia sempat bermain-main di terangnya bulan. Jika anak-anak sebayanya bermain kejar-kejaran, maka Kasadha harus tinggal didalam biliknya yang sempit pengab. Yang didengarnya tidak lebih dari makian dan umpatan kasar.

Justru setelah ia dewasa dan menjadi seorang Lurah prajurit, maka rasa-rasanya ia mendapat kesempatan untuk bermain-main sepuas-puasnya dibawah sinar bulan, meskipun permainan yang dilakukan adalah permainan yang berbahaya. Permainan dengan taruhan maut.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, Kasadha harus bertempur melawan ketiga orang itu. Ki Tunggul dengan kedua orang pengawalnya, yang keduanya tidak berdaya menghadapinya. Namun bertiga dengan Ki Tunggul mereka akan dapat memecah pemusatan nalar budinya.

Warsi dan adik sepupunya menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka mengerti bahwa Kasadha memiliki kemampuan yang tinggi, namun melawan ketiga orang itu, rasa-rasanya memang akan terlalu berat baginya.

Karena itu Warsi pun menjadi semakin berhati-hati. Diamatinya pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Setiap saat ia akan dapat terpanggil untuk berbuat sesuatu, jika Kasadha mengalami kesulitan.

Meskipun demikian, ketika ia melihat Kasadha sudah berada dibawah sinar bulan yang semakin terang itu, hatinya terasa menjadi semakin tegar, meskipun ia masih belum pasti, apakah sinar bulan itu berpengaruh atau tidak atas anak laki-lakinya, karena nampaknya Kasadha sendiri tidak begitu menaruh perhatian atas sinar bulan itu sendiri.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah berlangsung kembali. Memang terasa bagi Kasadha bahwa ia harus lebih banyak mengerahkan tenaganya. Namun dengan tenaga dalamnya, maka Kasadha telah membuat ketiga orang lawannya mengalami kesulitam.

Sambil berloncatan menyerang dan menghindari serangan, Kasadha masih sempat berkata, “Ki Tunggul. Urungkan niatmu. Jika kau masih saja berniat buruk terhadap bibi, maka aku akan dapat kehabisan kesabaran. Tetapi jika kau mengurungkannya, dan bersedia meninggalkan tempat ini, maka kau akan kami maafkan.”

Tetapi nampaknya Ki Tunggul juga seorang yang keras hati.

“Hanya ada satu hal yang dapat menghentikan pertempuran ini. Jika kau sudah mati,” jawab Ki Tunggul sambil menyerang dengan garangnya.

Kasadha sempat menghindar. Bahkan pedangnya yang berputar telah menggeliat dan menyambar salah seorang pengawal Ki Tunggul itu, sehingga terdengar keluhan tertahan. Sebuah goresan telah menyilang didada orang itu. Tidak terlalu dalam, namun luka itu telah menitikkan darah.

Ki Tunggul lah yang mengumpat kasar. Dengan garangnya ia meloncat menyerang, seakan-akan memberi kesempatan kepada pengawalnya yang terluka untuk memperbaiki kedudukannya. Namun Kasadha sempat bergeser dan menangkis serangan Ki Tunggul. Ketika kemudian pedangnya terjulur, maka Ki Tunggul itu harus meloncat menghindari menjauhi lawannya. Namun dalam pada itu, pengawalnya yang lain telah mencoba mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepat ia melenting sambil mengayunkan senjatanya menebas kearah leher Kasadha tanpa ragu-ragu. Ia memang benar-benar ingin membunuh anak muda itu.

Namun ternyata bahwa Kasadha telah menghindarinya dengan merendahkan diri, berlutut pada satu kakinya. Namun sementara itu, pedangnya telah terjulur lurus menyongsong lawannya yang menyerangnya.

Pedang itu akan dapat menghunjam ke dada pengawal itu. Tetapi demikian terasa ujung pedang itu menyentuh dada, maka Kasadha justru telah menarik pedangnya. Namun demikian ujung pedang itu telah sempat melukai dada pengawal Ki Tunggul meskipun tidak terlalu dalam.

Pengawal itu terkejut, ia merasa ujung pedang yang tajam itu menyengat dadanya. Sehingga karena itu, maka ia pun telah meloncat surut pula beberapa langkah.

Kasadha memang tidak memburunya. Dibiarkannya lawannya yang terluka itu berdiri termangu-mangu. Dengan tangan kirinya ia meraba lukanya yang mengalirkan darah yang hangat itu.

Dua orang pengawal Ki Tunggul telah terluka. Darah telah mengalir dari luka-luka mereka.

Ki Tunggul tidak dapat mengabaikan kenyataan itu. Ia harus membuat perhitungan yang lebih cermat untuk selanjutnya.

“Ki Tunggul,” berkata Kasadha, “sebenarnyalah seorang prajurit bukan seorang pembunuh. Karena itu, maka aku tidak ingin membunuh kalian. Aku hanya ingin mencegah kalian melakukan perbuatan yang sewenang-wenang. Karena itu Ki Tunggul. Aku minta kau dan kedua orangmu mengurungkan niatmu untuk mengambil bibi. Bukan hanya sekarang karena aku ada disini. Tetapi besok atau lusa atau kapan saja. Dalam waktu yang tidak lama lagi aku akan datang kemari untuk menengok ibu dan bibi. Jika ternyata terjadi sesuatu atas mereka, maka aku akan langsung berurusan dengan Ki Tunggul. Mungkin aku tidak akan berusaha menahan diri lagi seperti sekarang ini.”

Ki Tunggul menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain, karena bagaimanapun juga ia dan kedua orangnya tidak akan dapat mengalahkan prajurit muda itu.

Karena itu, maka kemudian katanya, “Baiklah. Aku mengurungkan niatku membawa bibimu sekarang.”

“Sekarang? Bagaimana dengan besok, lusa dan seterusnya,” bertanya Kasadha.

Ki Tunggul tidak segera menjawab. Namun Kasadha mendesaknya, “berjanjilah.”

“Ya. Ya. Aku berjanji,” jawab Ki Tunggul.

“Baiklah. Sekarang bawa orang-orangmu pergi. Besok pagi-pagi aku akan mengantarkan ibu dan bibi ke rumah Ki Bekel dan langsung ke rumah Ki Jagabaya. Aku akan menitipkan keduanya kepada Ki Jagabaya, setidak-tidaknya untuk mengawasinya,” berkata Kasadha.

Wajah Ki Tunggul menjadi semakin tegang. Sementara Kasadha masih saja berkata, “Seandainya mereka tidak kuasa melawan pengaruhmu disini karena kau memiliki uang sehingga kau akan dapat berbuat apa saja dengan uangmu, namun kau tidak dapat melawan paugeran. Aku dapat mempergunakan kekuatan prajurit-prajuritku jika perlu untuk menegakkan paugeran itu. Berapapun banyaknya orang yang kau upah, namun prajurit Pajang, jumlahnya lebih banyak lagi.”

Ki Tunggul tidak menjawab. Nampaknya anak muda itu bersungguh-sungguh. Sementara itu ia memang tidak dapat berbuat apa-apa lagi menghadapinya.

Karena itu, maka ia pun segera memberi isyarat kepada kedua orangnya untuk meninggalkan halaman rumah perempuan yang menolak untuk diperisteri itu.

Kasadha hanya memandang sambil berdiri termangu-mangu. Baru kemudian ia menarik nafas panjang sambil berkata kepada ibunya, “Mudah-mudahan ia tidak kembali lagi.”

Ibunya mengangguk. Katanya dengan nada rendah, “Ya. Agaknya ia tidak akan kembali. Nampaknya ia benar-benar telah jera.”

Namun bibinya menyahut, “Meskipun demikian, aku masih akan menemui Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati, sementara kita sendiri tidak dapat langsung melawannya meskipun kita mampu.”

Ibu Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, besok pagi-pagi kita pergi menghadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya untuk mohon perlindungan.”

“Bagaimana jika Kasadha ikut bersama kita sebelum ia kembali ke Pajang? Meskipun ia akan sampai kebaraknya lebih siang, tetapi masih dalam hari yang sama,” bertanya bibi Kasadha.

Ibu Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu lebih baik. Aku harap Kasadha tidak berkeberatan.”

“Baikah ibu,” sahut Kasadha kemudian, “besok aku akan ikut kerumah Ki Bekel dan Ki Jagabaya.”

Demikianlah, mereka bertiga pun telah masuk kedalam rumah mereka setelah Kasadha menutup pintu regol halaman. Setelah mencuci kaki dan tangannya, maka Kasadha pun telah dipersilahkan untuk beristirahat.

Kasadha merasa beruntung bahwa ibunya sama sekali tidak bertanya tentang pengaruh cahaya bulan bagi ilmunya. Meskipun Kasadha sudah bersedia jawaban seandainya hal itu ditanyakan kepadanya.

Malam itu, Kasadha memang tidak terlalu nyenyak tidur. Ia masih saja memikirkan orang yang bernama Ki Tunggul yang pernah menjadi seorang prajurit yang ingin mengambil bibinya sebagai isterinya sekaligus sebagai budaknya.

Namun kemudian Kasadha juga mulai dibayangi lagi oleh persoalan yang menyangkut dirinya sendiri. Wisuda di Tanah Perdikan Sembojan dan seorang gadis yang bernama Riris.

Meskipun demikian, karena badannya yang terasa letih, maka Kasadha pun akhirnya tertidur juga. Tetapi menjelang fajar, Kasadha telah bangun. Ketika langit menjadi merah, maka senggot timba pun telah berderit. Kasadha telah mengisi jambangan penuh sebelum ia sendiri mandi disejuknya pagi hari.

Seperti yang direncanakan maka ketika matahari terbit, Kasadha telah mengantar ibu dan bibinya kerumah Ki Bekel untuk memberikan laporan tentang maksud Ki Tunggul. Namun jawaban Ki Bekel tidak cukup tegas. Ia nampak ragu-ragu meskipun ia dapat mengerti bahwa sikap Ki Tunggul itu tidak dapat dibenarkan.

Dengan demikian maka Kasadha, ibu dan bibinya memang mendapat kesan bahwa Ki Bekel itu tidak dapat bertindak tegas terhadap Ki Tunggul. Sebagaimana keterangan Ki Tunggul, bahwa Ki Bekel telah dapat dipengaruhinya.

Namun baik Kasadha, maupun ibu dan bibinya sama sekali tidak mempersoalkannya. Apalagi mereka memang telah merencanakan pergi menghadap Ki Jagabaya, karena mereka menganggap bahwa Ki Jagabaya akan selalu berpegang pada paugeran yang berlaku.

Ternyata sambutan Ki Jagabaya membesarkan hati ibu dan bibi Kasadha. Apalagi setelah Ki Jagabaya mendengar bahwa Kasadha adalah seorang prajurit Pajang.

“Baiklah ngger,” jawab Ki Jagabaya, “aku akan ikut mengawasi Ki Tunggul. Ternyata orang itu telah membuat banyak gangguan di Kademangan ini. Ki Demang pun pernah menyebut-nyebut namanya. Sementara kami pun sudah menduga bahwa Ki Bekel tidak banyak dapat berbuat apa-apa atas Ki Tunggul itu karena Ki Tunggul adalah seorang yang kaya yang dapat mempergunakan uangnya untuk mendapat pengaruh di padukuhannya. Tetapi hal itu tidak akan berlaku di Kademangan ini ngger.”

“Terima kasih Ki Jagabaya,” jawab Kasadha, “kami tidak dapat lain daripada mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Nanti aku harus kembali ke Pajang, sehingga karena itu, maka pagi-pagi aku telah mengantar bibi untuk menghadap Ki Jagabaya agar hatiku menjadi tenang.”

“Jangan cemas ngger. Kami akan membantu bibi dan ibumu sejauh dapat kami lakukan. Aku pun nanti akan menyampaikan hal ini kepada Ki Demang agar ketenangan bibimu lebih terjamin,” berkata Ki Jagabaya itu kemudian.

Sebenarnyalah Kasadha menjadi tenang. Meskipun sebenarnya Ki Tunggul itu tidak berarti apa-apa bagi ibu dan bibinya, namun agaknya mereka tidak mau merusak anggapan orang-orang padukuhan itu tentang diri mereka.

Demikianlah, maka Kasadha serta ibu dan bibinya pun segera mohon diri, karena Kasadha akan segera kembali ke Pajang.

Dalam pada itu, ternyata seorang suruhan Ki Tunggul tengah mengawasi mereka. Ki Tunggul tidak yakin bahwa Kasadha, ibu dan bibinya akan benar-benar melaporkan kepada Ki Jagabaya. Namun ketika suruhan Ki Tunggul itu melaporkan kepadanya bahwa pesuruh itu benar-benai melihat Kasadha, ibu dan bibinya menghadap Ki Jagabaya, maka Ki Tunggul itu mengumpat kasar. Katanya, “Anak iblis itu telah membuat rencanaku gagal. Perempuan itu adalah perempuan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja di sawah selain sebagai seorang isteri yang tentu akan terampil mengerjakan pekerjaan seorang perempuan di rumah. Tetapi agaknya niat itu tidak akan terjadi karena Ki Jagabaya sifatnya agak berbeda dengan Ki Bekel padukuhan ini yang mudah diselesaikan dengan uang.”

Pesuruh itu tidak begitu mengerti maksud Ki Tunggul. Karena itu ia lebih banyak berdiam diri.

Demikianlah, setelah persoalan tentang bibinya dapat diselesaikan, maka Kasadha pun telah minta diri kepada ibu dan bibinya untuk kembali ke Pajang.

Keduanya memang melepaskannya dengan berat hati. Namun mereka tidak dapat menahan Kasadha lebih lama lagi. Anaknya adalah seorang prajurit yang mempunyai tugas yang tidak dapat terlalu sering dan terlalu lama ditinggalkan.

Namun dalam pada itu Kasadha berkata, “Ibu, dalam waktu dekat, aku akan datang lagi untuk menjemput ibu dan bibi. Kita akan bersama-sama menghadiri wisuda Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.”

“Baiklah Kasadha, aku menunggumu,” jawab ibunya.

Bibinya nampak termangu-mangu. Agaknya ada yang akan dikatakannya namun tidak terucapkan justru karena ada ibu Kasadha. Namun Kasadha mengerti apa yang akan dikatakan bibinya. Tentu tentang anaknya perempuan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Kasadha telah meloncat naik kepunggung kudanya. Ketika kudanya mulai bergerak, maka Kasadha sekali lagi minta diri dari atas punggung kudanya itu, “Sampai bertemu kembali ibu dan bibi.”

Ibu dan bibinya mengangkat tangannya sementara kuda Kasadha itu pun telah bergerak semakin cepat.

Ketika Kasadha keluar dari regol padukuhan, maka ia pun menarik kendali kudanya, karena tidak diduga, Kasadha telah bertemu dengan Ki Tunggul dan seorang pengiringnya. Tetapi bukan salah seorang dari kedua pengiringnya yang telah dilukainya semalam.

“Aku minta diri Ki Tunggul,” berkata Kasadha tanpa turun dari kudanya, “aku terpaksa berangkat terlalu siang, karena pagi tadi aku harus menghadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya di rumah mereka. Aku terpaksa menitipkan ibu dan bibi kepada mereka karena aku tidak yakin akan kejujuranmu.”

“Aku tidak memerlukan bibimu lagi. Ternyata bibimu adalah orang dungu yang tidak diuntung. Ia menolak untuk menjadi seorang yang paling terpandang di padukuhan ini,” jawab Ki Tunggul. Lalu katanya lagi, “Bahkan seandainya bibimu menyesal dan datang sambil menyembah, aku tidak sudi lagi menerimanya.”

“Jika demikian, aku mengucapkan terima kasih Ki Tunggul,” berkata Kasadha kemudian.

“Kenapa kau berterimakasih?” bertanya Ki Tunggul.

“Karena dengan demikian, kau tidak akan mengganggunya lagi,” jawab Kasadha.

Ki Tunggul itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Bahkan ia pun telah memberikan isyarat kepada pengiringnya untuk melanjutkan perjalanan menuju ke regol padukuhan.

Kasadha hanya tersenyum saja memandanginya. Namun kemudian ia pun telah melanjutkan perjalanannya.

Perjalanan Kasadha memang tidak terlalu jauh. Ketika matahari turun ke Barat, maka Kasadha sudah memasuki pintu gerbang kota.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Pajang nampaknya menjadi terlalu ramai setelah dua hari dua malam ia berada disebuah padukuhan yang tidak terlalu besar. Suasananya pun menjadi jauh berbeda. Yang nampak di jalan-jalan adalah orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa orang berkuda lewat tanpa saling menyapa karena yang satu dan yang lain tidak saling mengenal.

Beberapa saat kemudian, maka Kasadha pun telah memasuki jalan yang langsung menuju ke baraknya. Sambil memperlambat lari kudanya Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia telah berada diambang pintu rumahnya kembali.

Ketika Kasadha itu memasuki gerbang halaman baraknya, maka prajurit yang sedang bertugas di pintu gerbang itu pun menghentakkan landean tombaknya sebagai sapa hormatnya.

Kasadha pun mengangguk sambil tersenyum.

Dalam pada itu, demikian Kasadha sampai di baraknya, maka ia pun telah langsung menghadap Ki Rangga Dipayuda untuk melaporkan kehadirannya.

“Apakah urusanmu telah selesai?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Sudah Ki Rangga. Tidak ada persoalan penting. Aku hanya merasa rindu kepada ibuku, karena sudah agak lama tidak bertemu,” jawab Kasadha.

“Aku kira kau membawa persoalan yang penting,” desis Ki Rangga Dipayuda, “mungkin kau telah mengenal seorang gadis Pajang sehingga kau minta ibumu untuk melamarnya.”

“Ah,” desah Kasadha, “gadis mana yang tertarik kepada seorang Lurah Prajurit.”

“Jangan merasa rendah diri terhadap gadis-gadis,” berkata Ki Rangga, “ketika aku kawin, aku belum menjadi seorang Lurah prajurit. Aku masih seorang prajurit.”

Kasadha tersenyum. Namun katanya, “Jodoh itu pada suatu saat akan datang sendiri Ki Rangga.”

“Memang mungkin. Tetapi tidak ada salahnya jika kau juga berusaha untuk mengenal gadis-gadis. Setidak-tidaknya kau akan mengenali sifat dan watak mereka. Nah, jika saatnya datang, maka tentu kau tahu, yang manakah gadis yang paling sesuai dengan sifat dan watakmu.”

Tetapi hampir diluar sadarnya Kasadha menjawab, “Apalagi untuk mengenali sifat dan watak orang lain, Ki Rangga. Sedangkan terhadap sifat dan watakku sendiri aku tidak yakin.”

Ki Rangga Dipayuda tertawa. Ia menganggap bahwa Kasadha sekedar bergurau. Sementara Kasadha sendiri juga tertawa. Tetapi dibalik suara tertawanya, pertanyaan tentang sifat dan wataknya sendiri itu tiba-tiba telah menyelinap kedalam dadanya sehingga terasa sesuatu telah mengganjal di relung jantungnya.

Namun Kasadha pun kemudian telah minta diri untuk kembali ke pasukannya yang telah ditinggalkannya selama dua hari dua malam, selama ia pergi ke ibu dan bibinya.

“Nanti sore aku akan melapor kepada Ki Tumenggung,” desis Kasadha ketika ia siap meninggalkan bilik Ki Rangga Dipayuda.

Tetapi Ki Rangga berkata, “Hari ini Ki Tumenggung tidak ada di barak. Ada tugas penting yang harus dilakukannya bersama dua orang Tumenggung yang lain.”

“O,” Kasadha mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “apakah Ki Tumenggung akan pergi keluar kota Pajang? Atau tugas penting didalam kota saja?”

“Ki Tumenggung bersama dengan dua orang Tumenggung yang lain telah mendapat tugas untuk pergi ke Madiun,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Ke Madiun?” ulang Kasadha, “nampaknya ada sesuatu yang penting di Madiun.”

“Tentu,” jawab Ki Rangga Dipayuda sambil tersenyum.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian ia pun sekali lagi minta diri dan meninggalkan Ki Rangga itu sendiri.

Ketika Kasadha kembali ke pasukannya, maka para prajuritnya menyambutnya dengan gembira. Rasa-rasanya sudah terlalu lama Ki Lurah Kasadha itu meninggalkan baraknya.

Di hari berikutnya, maka Kasadha telah melakukan tugasnya sehari-hari. Selama Ki Tumenggung meninggalkan barak, maka Ki Rangga Prangwiryawan lah yang diserahi melakukan tugasnya sehari-hari. Namun Ki Rangga Prangwiryawan memang sudah berubah.

Setelah berada di baraknya kembali untuk beberapa hari, maka Kasadha telah melupakan kekasaran Ki Tunggul atas ibu dan bibinya, apalagi Kasadha telah mempercayakan kepada Ki Jagabaya. Yang kemudian ditunggunya adalah Barata yang akan datang sepekan sebelum wisuda.

Kepadanya Kasadha akan dapat mengatakannya, bahwa ibunya ternyata telah menyatakan kesediaannya untuk menghadiri wisuda Kepala Tanah Perdikan Sembojan di Sembojan.

Sementara itu di Sembojan, Risang masih dibayangi oleh kecemasan atas sikap ibunya. Jika saja ibunya menolak menerima kehadiran Warsi yang pernah hampir saja menyebabkan kematiannya justru saat ia mengandung, maka ia akan mengalami kesulitan.

Karena itu, maka Risang masih saja selalu mendesak kakek dan neneknya bahkan Bibi agar membantunya membujuk ibunya untuk menerima ibu Kasadha itu datang ke Tanah Perdikan Sembojan.

Menjelang sepekan dari ancar-ancar waktu sepekan menjelang hari Wisuda, maka Risang sudah menjadi gelisah. Ia harus segera datang ke Pajang untuk menghadap Ki Rangga Kalokapraja yang akan memberikan kepastian dari saat wisuda baginya itu.

Namun dalam pada itu, neneknya telah memanggilnya dan berkata kepadanya, “Nampaknya hati ibumu telah menjadi lunak ngger. Tetapi sebaiknya kau berbicara langsung dengan ibumu. Nanti sore jika kita duduk-duduk di serambi, cobalah mengemukakan persoalan itu. Aku, kakek-kakekmu, dan juga Bibi telah memberikan pertimbangan kepada ibumu.

Risang menarik nafas panjang. Katanya, “Baik nek. Aku akan mencoba.”

“Sambi Wulung dan Jati Wulung juga sudah dipanggil oleh ibumu. Ternyata keduanya telah diminta pertimbangan mereka tentang persoalan Warsi itu,” berkata neneknya pula.

Risang mengangguk-angguk. Ia memang harus mendapat kepastian segera karena dalam waktu yang dekat, ia harus menghadap Ki Rangga Kalokapraja.

Seperti yang dikatakan oleh neneknya, ketika Risang sedang duduk-duduk diserambi samping rumahnya bersama ibunya dan neneknya, maka Risang telah memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya.

“Kasadha telah menanyakan hal itu kepadaku ibu,” berkata Risang kemudian.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Jika sebelumnya ia telah hampir melupakannya, namun ketika anaknya menanyakan apakah Warsi itu boleh hadir disaat anaknya itu diwisuda atau tidak, maka rasa-rasanya waktu telah bergerak beberapa tahun kembali kemasa silam.

Yang terjadi itu rasa-rasanya baru saja kemarin, ketika Bibi mengacungkan pisau belati ke dadanya.

Saat itu ia memang sudah tidak berpengharapan lagi. Ia tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan Serigala Betina yang garang. Seorang pembunuh upahan meskipun ia seorang perempuan.

Namun keajaiban itu telah terjadi. Sepeletik sinar telah menerangi hati Serigala Betina itu sehingga pisau itu tidak menikam jantungnya. Yang Maha Agung ternyata menghendaki lain.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Anak yang berada didalam kandungannya ketika ia hampir saja ditikam mati itu sekarang sudah siap untuk diwisuda. Dan perempuan yang menginginkan kematiannya itu akan hadir dalam wisuda anaknya yang diharapkan mati bersamanya itu.

Iswari memang menjadi bingung. Yang minta kepadanya untuk menerima perempuan itu adalah justru anaknya yang diharapkan kematiannya itu yang ternyata orang yang akan diwisuda itu sendiri.

Namun Iswari memang telah mendapat beberapa pertimbangan. Dari Nyai Soka, bahkan juga Kiai Soka dan Kiai Badra dan bahkan dari Bibi yang waktu itu telah mengacungkan pisau ke jantungnya, Iswari telah diharapkan untuk dapat menerima kedatangannya.

“Perempuan itu telah benar-benar merasa bersalah,” berkata Nyai Soka kepadanya.

Dalam kebimbangannya itu Risang berkata, “Ibu, biarlah untuk meyakinkannya, aku akan menemui bibi Warsi itu langsung dan mengundangnya datang ke Tanah Perdikan?”

Iswari masih termangu-mangu. Namun Nyai Soka telah menyahut, “Aku kira ada baiknya Risang datang sendiri menemui Warsi. Ia tentu akan mendapat kesan sikap dan tingkah laku perempuan itu. Jika ternyata sikapnya mencurigakan, maka kita memang harus berhati-hati. Tetapi menurut dugaanku, Puguh telah banyak memberikan keterangan tentang sikap kita disini terhadapnya, sehingga sikap kita kepada Puguh itu akan dapat memberikan pengaruh atas sikap Warsi kepada kita disini.”

Akhirnya Iswari menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah Risang. Kau dapat pergi ke Pajang lebih awal. Ki Rangga Kalokapraja tentu tidak akan menolak seandainya kau datang dua hari sebelum hari yang ditentukan. Kemudian kau ajak Kasadha pergi menemui ibunya untuk minta agar ia bersedia datang ke Tanah Perdikan yang pernah ingin dirampasnya ini. Bukan hanya Tanah Perdikan ini. Tetapi dengan seluruh isinya.”

“Sudahlah Iswari,” potong neneknya, “kau tidak usah selalu dibayangi oleh keadaan masa silammu. Sekarang tengadahkan wajahmu ke masa mendatang. Sebentar lagi anakmu sudah akan diwisuda menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang besar. Bukankah itu merupakan satu kurnia. Dan kau, anakmu dan kita semuanya harus mensyukurinya.”

Iswari mengangguk kecil. Katanya, “Aku memang tidak berkeberatan Risang.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “terima kasih ibu. Aku akan mengunjunginya dan langsung minta kepadanya, agar bersedia hadir di hari wisuda itu.”

Ternyata keputusan ibunya itu membesarkan hati Risang yang akan pergi ke Pajang sebelum sepekan dari ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Rangga Kalokapraja sehingga ia akan mempunyai waktu untuk singgah di rumah ibu Kasadha.

“Kasadha tentu tidak akan berkeberatan mengantarkan aku untuk menemui ibunya,” berkata Risang didalam hatinya.

Dengan demikian, maka dua hari sebelum waktu yang diberikan oleh Ki Rangga Kalokapraja Risang telah bersiap untuk berangkat ke Pajang. Mungkin Ki Rangga itu menganggap bahwa ia terlalu tergesa-gesa atau bahkan ingin mempercepat hari wisuda. Namun ia akan dapat menjelaskannya. Tetapi sebelum ia menemui ibu Kasadha, maka ia harus sudah mendapat kepastian tentang wisuda itu sendiri.

Seperti biasanya, Risang ingin pergi sendiri ke Pajang tanpa seorang pun yang menemaninya. Ibunya, nenek dan kedua kakeknya mengerti kenapa Risang lebih senang seorang diri meskipun mereka tidak tahu pasti kemana Risang akan singgah selain di barak Kasadha.

Seperti yang telah direncanakan maka Risang pun telah berangkat berkuda ke Pajang tujuh hari sebelum rencana wisuda itu dilaksanakan. Ibu, nenek dan kakek-kakeknya serta orang-orang tua yang lain, berpesan agar ia berhati-hati diperjalanan.

“Kau akan segera diwisuda, Risang. Karena itu, kau harus segera kembali agar segala persiapan dengan pasti dapat kami lakukan,” pesan ibunya.

“Tentu ibu,” jawab Risang, “aku tentu akan segera kembali.”

Sesaat kemudian maka kuda Risang pun telah berpacu ke Pajang, selagi hari masih pagi. Segarnya udara telah mengantar perjalanan Risang menuju ke Pajang.

Risang memang tidak berniat singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda. Ia berharap bahwa Riris akan benar-benar pergi ke Tanah Perdikan Sembojan saat ia diwisuda. Mudah-mudahan jika ia bertemu dengan Ki Rangga, ia akan mendapat kepastian, apakah Riris akan pergi atau tidak.

Tanpa sesadarnya maka kuda Risang pun berpacu semakin cepat. Seakan-akan ia demikian tergesa-gesa untuk sampai ke Pajang dan menemui Ki Rangga Kalokapraja.

Karena Risang tidak singgah di perjalanan, maka ia pun dengan cepat telah memasuki jalan raya yang langsung menuju ke pintu gerbang kota Pajang.

Namun Matahari telah tinggi di puncak langit. Tubuh Risang telah menjadi basah oleh keringat.

Tetapi di perjalanan betapapun Risang ingin cepat sampai tujuan, namun ia tidak sampai hati memaksa kudanya berlari terus. Ia pun telah memaksa diri untuk berhenti sejenak, memberi kesempatan kepada kudanya untuk beristirahat dan minum air diparit yang mengalir jernih. Rerumputan yang hijau di tanggul parit membuat kuda itu tidak lagi haus dan lapar.

Sedikit lewat tengah hari Risang telah berada didalam kota Pajang. Ia pun telah langsung menuju kerumah Ki Rangga Kalokapraja, meskipun terlalu cepat dua hari.

Kedatangannya telah disambut dengan ramah oleh Ki Rangga sendiri yang untung berada di rumah.

“Aku baru saja pulang dari paseban,” berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Maaf Ki Rangga. Aku datang terlalu cepat. Sebenarnyalah aku juga mempunyai kepentingan yang lain di Pajang, sehingga aku tidak menunggu dua hari lagi,” berkata Risang.

“Kebetulan sekali,” jawab Ki Rangga yang kemudian mempersilahkan Risang duduk di serambi gandok.

“Untunglah bahwa aku belum memerintahkan orang menjemputmu,” berkata Ki Rangga Kalokapraja, “semuanya sudah jelas dan pasti, sehingga aku sudah boleh menyampaikannya kepadamu”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Ki Rangga. Sebenarnya aku sudah ragu-ragu untuk menghadap, justru belum sampai waktunya. Jangan-jangan Ki Rangga menjadi marah karena seakan-akan aku terlalu tergesa-gesa dan mendesak untuk mempercepat hari wisuda itu.”

“Tentu tidak,” jawab Ki Rangga, “kapan pun kau datang, aku akan menerimamu dengan baik. Seandainya kau menjadi gelisah dan ingin segera mendapat kepastian waktu itu pun wajar sekali karena kau tentu akan mengundang beberapa orang tamu dari luar Tanah Perdikanmu selain keluarga Tanah Perdikanmu itu sendiri.”

“Ya Ki Rangga. Aku memang mengharapkan beberapa orang keluarga dari luar Tanah Perdikan untuk hadir dalam wisuda itu. Meskipun tidak terlalu banyak.”

“Nah,” berkata Ki Rangga, “ternyata hari yang ditentukan adalah hari yang telah kita jadikan ancar-ancar. Tujuh hari lagi. Sebenarnya Kangjeng Adipati Pajang ingin datang sendiri setelah Kangjeng Adipati mendengar apa yang pernah kalian lakukan di Tanah Perdikan itu dalam gejolak beberapa saat yang lalu. Namun ternyata Kangjeng Adipati tidak mungkin dapat memenuhi keinginannya itu, karena Kangjeng Adipati sedang terlibat dalam persoalan yang menghangat dengan Madiun.”

“Dengan Madiun?” bertanya Risang.

“Tetapi Kangjeng Adipati akan menyelesaikan persoalan ini dengan sebaik-baiknya. Persoalan yang juga menyangkut Mataram. Apalagi Kangjeng Panembahan di Madiun adalah paman Kangjeng Pangeran Benawa sendiri, sementara Kangjeng Panembahan Senapati di Mataram adalah kakaknya meskipun bukan kakak kandungnya. Apalagi Mataram telah membantu mengembalikan Pajang kepada Pangeran Benawa itu,” Ki Rangga berhenti sejenak, lalu katanya pula, “yang kemudian akan mewakili Kangjeng Adipati adalah seorang Tumenggung Wreda. Ki Tumenggung Wirajaya.”

Risang mengangguk-angguk. Seandainya Kangjeng Adipati Pajang sendiri yang berkenan mewisudanya, maka ia akan menjadi sangat berbangga. Tetapi siapapun yang melakukannya sudah tentu atas nama Kangjeng Adipati itu sendiri.

Dalam pada itu, Ki Rangga itu pun berkata, “Ia adalah seorang yang baik. Ki Tumenggung Wreda Wirajaya selalu menjalankan tugasnya dengan bersungguh-sungguh. Tetapi ia termasuk seorang yang dapat diajak berbincang untuk membicarakan segala sesuatu. Ia bukan termasuk seorang yang hanya mau mendengarkan suara hatinya sendiri.”

“Aku percayakan segala kebijaksanaan kepada Kangjeng Adipati sendiri,” berkata Risang.

“Baiklah. Seperti yang aku katakan, sehari sebelumnya aku akan berada di Tanah Perdikan untuk menyiapkan segala sesuatunya agar wisuda itu dapat berlangsung dengan baik. Jangan cemas, upacara itu bukan upacara yang sudah mempola. Setiap Tanah Perdikan memiliki caranya sendiri yang mungkin berbeda, karena upacara itu hanyalah kelengkapan dari wisuda itu sendiri sehingga tidak terlalu mengikat,” berkata Ki Rangga kemudian.

“Baiklah Ki Rangga,” berkata Risang kemudian, “jika demikian maka segala sesuatunya kami siapkan setelah Ki Rangga berada di Tanah Perdikan.”

“Itu tidak perlu,” berkata Ki Rangga, “siapkan apa yang ingin kalian siapkan. Wisuda itu sendiri dapat dilakukan di pendapa. Karena itu, yang kami perlukan adalah pendapa rumahmu itu saja. Namun sudah tentu bahwa pada hari wisuda itu pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan tidak dipergunakan untuk pagelaran wayang kulit sehari semalam. Tetapi jika itu akan dilakukan setelah wisuda, maka tentu tidak akan ada keberatannya sama sekali.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah mengerti Ki Rangga. Yang diperlukan dalam wisuda itu hanyalah pendapa.”

“Ya. Peralatan yang diperlukan akan aku siapkan jika aku sudah berada di Tanah Perdikan,” jawab Ki Rangga Kalokapraja.

Risang masih saja mengangguk-angguk. Segala sesuatunya sudah menjadi jelas baginya.

Namun Ki Rangga masih memberikan beberapa pesan lagi kepada Risang agar segala sesuatunya dapat berlangsung dengan baik dan tertib. Demikian pula tentang penginapan yang diperlukan oleh Ki Tumenggung Wreda Wirajaya, yang akan mewakili Kangjeng Adipati Pajang mewisuda Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika segala sesuatunya sudah jelas, maka Risang itu pun mohon diri untuk melanjutkan tugas-tugasnya di Pajang. Namun Ki Rangga masih menahannya ketika kemudian hidangan telah disuguhkan. Minuman hangat dan beberapa jenis makanan.

Namun ketika minuman sudah diminum dan beberapa potong makanan telah dimakan, maka Risang pun telah mohon diri pula.

“Baiklah. Hati-hatilah di perjalanan,” pesan Ki Rangga Kalokapraja. Lalu katanya pula, “Seandainya terjadi sesuatu atasmu, maka segala yang telah dipersiapkan itu akan urung.”

“Ya Ki Rangga,” jawab Risang, “aku akan berhati-hati di perjalanan. Bukankah Pajang sekarang sudah menjadi tenang?”

Ki Rangga tersenyum. Namun katanya, “Jika kudamu tergelincir karena kau tergesa-gesa bukankah tidak ada hubungannya dengan Pajang yang telah menjadi tenang dan damai?”

Risang pun tersenyum pula. Katanya, “Ya Ki Rangga. Aku akan berhati-hati di perjalanan. Sangat berhati-hati.”

Ki Rangga tertawa. Lalu katanya, “Semoga segala sesuatunya dapat berlangsung dengan baik. Yang Maha Agung hendaknya menyertaimu dalam segala kewajibanmu.”

Demikianlah, maka Risang pun meninggalkan rumah Ki Rangga Kalokapraja. Segala sesuatunya memang telah menjadi pasti, sehingga ia akan dapat menyampaikannya kepada Kasadha dan minta agar Kasadha bersedia mengantarkannya menemui ibunya.”

Jarak antara rumah Ki Rangga Kalokapraja dan barak Kasadha memang tidak terlalu jauh. Beberapa saat Risang berkuda melalui jalan kota yang ternyata cukup ramai itu. Kemudian, kudanya pun telah berhenti didepan regol barak sepasukan prajurit Pajang dibawah pimpinan Ki Tumenggung Jayayuda.

Prajurit yang bertugas di gerbang halaman barak itu kebetulan telah mengenal Risang. Karena itu, maka ia pun segera dipersilahkannya masuk.

Kedatangan Risang telah diterima oleh Kasadha dengan gembira. Dipersilahkannya Risang duduk di biliknya. Katanya, “Kau tunggu aku sebentar. Aku selesaikan tugasku yang tersisa. Hanya sebentar.”

Risang memang hanya menunggu sebentar. Sejenak kemudian, maka Kasadha pun telah datang dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya.

“Satu latihan khusus,” desis Kasadha.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah berbincang dengan akrabnya. Sama sekali tidak membayang warisan permusuhan diantara ibu-ibu mereka sebelumnya. Meskipun keduanya mengetahui bahwa ibu mereka telah pernah berusaha untuk saling membunuh, namun kedua-nya pun telah meyakinkan diri mereka masing-masing bahwa permusuhan itu memang harus dihentikan.

Namun Kasadha terkejut juga ketika Risang berkata, “Kasadha, aku minta kau bersedia mengantarkan aku untuk pergi menemui ibumu. Keluarga di Tanah Perdikan berharap, bahwa aku sendiri dapat menemuinya dan menyampaikan undangan agar ibumu bersedia untuk hadir disaat wisuda itu.”

“Aku telah menyampaikannya. Ternyata ibuku bersedia untuk datang saat kau diwisuda. Bahkan dengan rendah hati ibuku yang merasa bersalah itu datang bukan sebagai tamu. Seandainya ibuku diperlakukan sebagai seorang yang sangat dibenci sekalipun ibuku tidak berkeberatan. Namun aku berkeyakinan, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Bahkan sekarang ternyata bahwa kau telah berniat untuk menemui ibuku dan menyampaikan undangan langsung kepadanya.”

Risang mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Ibumu tentu akan diterima dengan baik oleh keluarga Tanah Perdikan. Sebaiknya sekarang kita tidak lagi berbicara tentang siapa yang bersalah.”

“Aku tahu dan aku yakin akan hal itu,” jawab Kasadha.

“Bukankah dengan keyakinanmu itu kau tidak berkeberatan untuk mengantarku kepada ibumu?” bertanya Risang.

“Tentu tidak. Persoalannya adalah, bahwa aku baru saja minta ijin pergi menemui ibuku itu,” jawab Kasadha, “meskipun demikian aku akan mencobanya. Tetapi tidak lebih dari satu malam saja. Lepas tengah hari kita berangkat. Kemudian sebelum tengah hari berikutnya aku harus sudah berada di barak ini.”

“Kaulah yang mengatur waktu,” sahut Risang.

“Baiklah. Aku akan menghubungi Ki Rangga. Aku akan minta ijin untuk pergi menemui ibu bersamamu dan bukankah tujuh hari lagi aku harus minta ijin lagi? Tentu tidak mungkin hanya sehari, karena aku harus menjemput Ibu dan bersamanya pergi ke Tanah Perdikan Sembojan? Ibu sekarang tidak lagi ibu yang dahulu. Seandainya aku mendapat pinjaman kuda sekalipun, ibu tentu tidak akan bersedia naik kuda meskipun dahulu hal itu sering dilakukannya. Karena itu, tentu diperlukan waktu yang panjang untuk berjalan ke Tanah Perdikan, meskipun bagi ibu dan bibi perjalanan itu bukan perjalanan yang berat.” jawab Kasadha.

Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Kasadha tidak dapat sekehendak sendiri meninggalkan baraknya.

“Baiklah. Tetapi bukankah Ki Rangga Dipayuda juga akan pergi ke Tanah Perdikan?” bertanya Risang.

“Agaknya memang demikian,” jawab Kasadha, “tetapi nanti kita akan menghadap bersama-sama.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Nanti kita akan menghadap. Besok kita akan pergi menemui ibumu.”

Kasadha tidak berkeberatan. Karena itu, setelah Risang dipersilahkan minum dan makan di ruangan sebelah dapur, maka mereka pun telah menghadap Ki Rangga Dipayuda.

Risang pun telah menjelaskan, bahwa wisuda akan dilakukan tujuh hari lagi sebagaimana direncanakan.

“Baiklah,” berkata Ki Rangga, “seperti telah aku janjikan, maka aku benar-benar akan datang. Malahan bukan hanya aku sendiri. Jangkung telah datang menemuiku dan minta agar kami sekeluarga dapat datang ke Tanah Perdikan Sembojan. Maksudku, aku, isteriku, Jangkung dan Riris.”

Secercah kegembiraan membersit diwajah Risang. Namun Risang segera berusaha untuk menyembunyikannya.

Namun sebaliknya, jantung Kasadha bagaikan terhempas dari tangkainya. Ia tahu bahwa beberapa hari yang lewat, Jangkung datang untuk menemui ayahnya di barak itu. Tetapi Kasadha tidak pernah mengetahui apa yang dibicarakan dengan ayahnya itu.

Baru ketika Ki Rangga Dipayuda mengatakan hal itu kepada Risang, Kasadha menduga, bahwa kedatangan Jangkung itu tentu membicarakan akan kepergian mereka ke Tanah Perdikan Sembojan.

Yang merisaukan hati Kasadha adalah justru kesungguhan sikap keluarga Ki Dipayuda, sehingga seakan-akan mereka dihadapkan pada satu masalah keluarga yang sangat penting. Padahal bukankah Risang itu bagi Ki Dipayuda adalah orang lain sebagaimana dirinya dan para nrajurit yang lain?

Tetapi seperti Risang yang berusaha secepatnya menghapuskan kesan yang memercik di wajahnya, Kasadha pun berusaha untuk tidak menunjukkan gejolak perasaannya itu.

Bahkan untuk mengalihkan pembicaraan tentang rencana Ki Dipayuda dan keluarganya yang akan pergi ke Tanah Perdikan, maka Kasadha pun kemudian mengemukakan maksudnya untuk minta ijin lagi menemui ibunya bersama Risang sebelum ia tentu akan minta ijin lagi disaat hari wisuda itu.

Ki Rangga Dipayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, karena aku mengerti kepentinganmu, maka aku tidak berkeberatan. Tetapi sebaiknya, kita berbicara dengan Ki Rangga Prangwiryawan yang diserahi tugas sehari-hari selama Ki Tumenggung Jayayuda bertugas ke Madiun.”

Ki Rangga Prangwiryawan ternyata tidak berkeberatan. Tetapi ternyata ia ingin tahu, kenapa Risang memerlukan menghadap ibu Kasadha untuk mengundangnya.

Risang memang agak bingung menghadapi pertanyaan itu. Tetapi kemudian katanya, “Aku dan Kasadha telah menjadi saudara sejak kami bersama-sama bertugas dalam dunia keprajuritan. Kami hampir mati bersama dan ternyata kami berdua bersama-sama masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”

Ki Rangga Prangwiryawan mengangguk-angguk. Ternyata ia tidak bertanya lebih panjang lagi. Namun katanya, “Tetapi jika kau kembali ke barak ini Ki Lurah Kasadha, kau harus membawa sebakul oleh-oleh dari Tanah Perdikan.”

“Ki Rangga Dipayuda juga akan datang ke wisuda itu,” jawab Kasadha.

“Jika demikian maka Ki Lurah Kasadha membawa sebakul dan Ki Rangga Dipayuda akan membawa sebakul pula.”

Mereka yang ada diruang itu pun tertawa. Risang yang dikenal dengan nama Barata itu pun berkata, “Apakah aku harus megirimkan pedati?”

Ki Rangga Prangwiryawan tertawa pula. Katanya, “Jangan hanya satu, tetapi sepuluh pedati sehingga dapat dibagi rata seluruh penghuni barak ini.”

Demikianlah, maka Kasadha pun mengucapkan terima kasih atas ijin yang diberikan oleh Ki Rangga Prangwiryawan. Dengan demikian di keesokan harinya Kasadha akan dapat mengantar Barata pergi menemui Warsi.

Dihari berikutnya, menjelang tengah hari keduanya telah meninggalkan barak itu menuju ke rumah ibu dan bibi Kasadha. Bayat memang tidak terlalu jauh dari Pajang. Karena itu mereka akan sampai ke tujuan sebelum matahari menjadi merah.

Di perjalanan Barata dan Kasadha sempat berbincang tentang tugas-tugas keprajuritan. Memang tidak jauh berbeda dengan saat-saat Barata masih menjadi seorang prajurit. Namun pembicaraan mereka pun kadang-kadang bergeser juga ke Tanah Perdikan Sembojan yang sebentar lagi akan memiliki Kepala Tanah Perdikan yang baru.

Namun akhirnya Kasadha berkata, “Kehidupan ibuku kini sudah sangat jauh berbeda dengan masa-masa silam, selagi ibu masih dibayangi oleh nafsunya yang melonjak-lonjak. Justru setelah ibu membunuh laki-laki yang pernah dianggapnya menjadi pasangan yang serasi itu, maka ibu benar-benar telah menjadi lain.”

“Syukurlah,” sahut Barata, “dengan demikian maka hari-hari yang tersisa akan dijalaninya dengan hati yang tenang dan penuh kedamaian hati.”

“Aku juga berdoa agar untuk selanjutnya ibu akan dapat menikmati kehidupan yang tenang dan damai itu,” desis Kasadha.

Keduanya pun kemudian terdiam untuk beberapa saat. Namun kemudian Kasadha berkata, “Kita sudah mendekati padukuhan yang kita tuju.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia juga menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat membayangkan, bagaimana sikap ibu Kasadha nanti jika ia sudah menghadapnya.

Jantung Barata memang sudah semakin cepat bergetar. Beberapa saat kemudian, maka Kasadha pun berkata, “Regol itu adalah regol halaman rumah bibiku itu.”

“O,” Barata mengangguk-angguk.

Demikian keduanya sampai keregol, maka keduanya pun segera meloncat turun.

Kasadha dan Barata pun menuntun kuda mereka memasuki regol itu setelah Kasadha mendorong pintu regol yang hanya sedikit terbuka. Ternyata mereka tidak melihat seorang pun di halaman.

“Rumah ini memang hanya dihuni oleh dua orang saja,” berkata Kasadha sambil menuntun kudanya ke halaman samping diikuti oleh Barata, “Jika keduanya pergi ke sawah, maka rumah ini memang menjadi kosong.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu terdengar suara orang menyapa dari dalam, “Siapa itu?”

“Ternyata ibu ada dirumah,” desis Kasadha.

“Memang sudah terlalu sore untuk berada di sawah,” jawab Barata.

“Jika demikian, bibi tentu juga ada di rumah,” berkata Kasadha pula.

Dalam pada itu terdengar kembali suara dari dalam, “Siapa diluar?”

“Aku ibu. Kasadha,” jawab Kasadha. Terdengar pintu rumah itu pun terbuka. Seorang perempuan yang menjelang hari-hari tuanya muncul dari dalam.

“Kau begitu cepatnya kembali Kasadha. Apakah hari wisuda itu sudah dekat?” bertanya ibunya.

Kasadha tersenyum. Katanya, “Aku tidak datang sendiri ibu.”

Ibu Kasadha memang melihat seorang anak muda bersama Kasadha itu. Dipandanginya anak muda itu dengan kening yang berkerut.

“Siapa?” terdengar suaranya tertahan. Anak muda yang datang bersama Kasadha itu wajahnya memang mirip dengan anaknya. Umurnya pun tidak terpaut banyak seandainya anak itu lebih muda dari anaknya.

“Apakah ibu dapat menerka?” bertanya Kasadha.

Ibunya termangu-mangu. Sementara itu, bibinya pun telah melangkah keluar pintu pula bersama ibu Kasadha yang masih belum mengucapkan sepatah kata pun untuk menebak siapakah anak muda itu.

“Kasadha,” berkata bibinya, “wajah anak muda itu mirip wajahmu. Umurnya pun tentu hanya terpaut sedikit dengan umurmu. Ia pantas menjadi adikmu.”

Namun Kasadha itu menjawab, “Ia adalah kakakku yang akan diwisuda di Tanah Perdikan Sembojan.”

“Risang,” desis ibu Kasadha ragu-ragu.

“Ya,” jawab Kasadha, “ia datang khusus untuk mengucapkan sendiri undangan bagi ibu dan bibi di saat ia diwisuda nanti.”

Wajah ibu Kasadha menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Benarkah begitu?”

Barata mengangguk hormat sambil menjawab, “Benar bibi. Aku datang untuk mohon kesediaan bibi datang saat aku diwisuda nanti. Enam hari yang akan datang.”

Ibu Kasadha itu justru mematung. Wajahnya masih tegang. Namun kemudian dahinya mulai berkerut. Tanpa dapat dibendung lagi, maka tiba-tiba saja air matanya telah mengalir dari kedua pipinya.

Kasadha pun dengan tergesa-gesa mendekati ibunya. Katanya dengan nada cemas, “Ibu. Bukankah ibu tidak apa-apa.”

“Tidak. Tidak Kasadha. Aku hanya merasa tersentuh perasaanku. Angger Risang sudi datang untuk minta aku hadir di saat ia diwisuda,” jawab ibunya.

“Ibu, marilah kita masuk,” berkata Kasadha, “marilah Barata. Akulah yang mempersilahkan kau masuk?”

“Kau memanggilnya Barata?” bertanya ibunya lirih.

“Ya ibu. Kami memang mempunyai nama tersendiri di lingkungan keprajuritan. Jika aku dipanggil Kasadha, maka Risang lebih dikenal dengan nama Barata,” jawab Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk. Baru kemudian ia pun berkata, “Marilah Risang. Masuklah. Aku merasa lebih dekat jika aku memanggilmu dengan namamu sendiri.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Namun setelah menambatkan kudanya, maka ia pun segera mengikuti Kasadha masuk ke ruang dalam setelah ibu dan bibinya juga masuk pula.

Demikianlah, mereka berempat duduk di amben besar diruang dalam. Dengan sendat ibu Kasadha berkata, “Ngger, Risang. Apakah pantas aku ikut memanggil angger dan ikut pula menganggap kau sebagai anakku.”

“Tentu bibi,” jawab Barata, “ibu juga menganggap Kasadha sebagai anaknya pula.”

“Tetapi keadaannya jauh berbeda ngger. Kasadha merasa bangga bahwa ia boleh ikut menganggap ibumu, seorang perempuan yang berbudi dan berjiwa besar sebagai ibunya. Tetapi aku adalah seorang perempuan yang paling hina di dunia ini. Sehingga aku tidak tahu apakah aku masih pantas untuk datang ke rumah ibumu di Tanah Perdikan Sembojan,” suara ibu Kasadha masih saja sendat oleh perasaannya yang bergejolak.

“Bibi dan ibu tidak ada bedanya,” jawab Barata, “bibi sebagaimana juga ibu, tentu akan dihormati di Tanah Perdikan. Yang telah lalu biarlah berlalu.”

“Aku akan sangat berterima kasih kepada kalian,” berkata ibu Kasadha itu sambil mengusap matanya yang basah.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, ibu dan bibi Kasadha pun telah sibuk di dapur untuk menyiapkan hidangan bagi tamunya. Makan malam. Dan seekor ayam pun telah dipotong pula.

Ketika kemudian setelah Kasadha dan Barata mandi dan berbenah diri, maka hidangan makan pun telah disiapkan di amben bambu diruang dalam.

Sambil makan ibu Kasadha masih sekali-sekali menyinggung akan kehadirannya di Tanah Perdikan Sembojan. Dengan ragu ia berkata, “Tetapi bukankah tidak akan ada tamu perempuan diantara mereka yang akan hadir di hari wisudamu?”

“Tetapi bibi bagi kami bukan tamu. Bibi adalah keluarga sendiri. Sementara itu selain bibi berdua ada juga tamu perempuan yang akan hadir. Mereka adalah isteri Ki Rangga Dipayuda yang pernah menjadi pemimpinku ketika aku masih menjadi prajurit bersama Kasadha. Dan yang satu lagi adalah anaknya, Riris.

Ibu Kasadha yang tidak mengenal Riris mengangguk-angguk kecil. Tetapi wajah Kasadha lah yang terasa menjadi tegang. Namun seperti biasanya Kasadha berusaha untuk menghapus kesan itu dari wajahnya.

Meskipun setiap kali ia berhasil, tetapi gejolak perasaannya itu tidak dapat dihapuskannya begitu saja. Selapis demi selapis gejolak perasaannya itu tertimbun didasar jantungnya sehingga semakin lama menjadi semakin tebal.

Namun pembicaraan itu pun segera terputus ketika ibunya mempersilahkan Risang untuk makan lebih banyak lagi. Bahkan kemudian pembicaraan mereka pun segera beralih. Kasadha yang berusaha untuk menghilangkan kesan yang buram dihatinya itu telah berceritera kepada ibunya, bagaimana mereka berdua menjadi prajurit. Bagaimana mereka merasa sehidup semati sebelum mereka sadar bahwa mereka memang bersaudara.

Meskipun masih juga terasa sentuhan tajam di jantungnya, namun Kasadha sempat tertawa ketika ia berceritera kepada ibu dan bibinya bagaimana sekelompok orang yang mencari anak muda yang bernama Puguh menjadi kebingungan.

“Seorang menuduh akulah Puguh,” berkata Kasadha, “sedangkan yang lain menganggap bahwa yang bernama Puguh adalah Risang.”

Betapa pahitnya. Namun ibu dan bibinya sempat tertawa pula.

Demikianlah malam itu keduanya bermalam di rumah bibi Kasadha. Namun keduanya telah menyatakan, bahwa mereka akan minta diri esok pagi-pagi, karena mereka hanya mempunyai sedikit waktu.

“Selain Barata harus segera mempersiapkan Tanah Perdikan Sembojan, aku pun harus segera kembali ke barak,” berkata Kasadha, “bukankah tiga hari lagi aku akan datang kembali untuk menjemput ibu?”

Ibu dan bibi Kasadha itu dapat mengerti. Namun rasa-rasanya mereka masih ingin menahan Risang untuk satu dua hari.

“Pada kesempatan lain, aku akan datang lagi bibi,” berkata Risang kemudian.

***

Namun dalam pada itu, seseorang yang mendendam ternyata tengah mengadakan pembicaraan dengan beberapa orang. Seorang diantara orang-orang itu berkata, “Biarlah kami menyelesaikan mereka sekarang.”

“Jangan bodoh,” geram Ki Tunggul, “jika terjadi sesuatu di rumah perempuan itu, maka Ki Jagabaya akan segera menangkapku karena mereka telah melaporkan segala-galanya kepada Ki Bekel dan Ki Jagabaya.”

“Bukankah tidak akan ada masalah dengan Ki Bekel,” bertanya seorang diantara mereka.

“Dengan Ki Bekel memang tidak ada masalah. Tetapi dengan Ki Jagabaya aku tidak berani bermain-main. Ia seorang yang sulit diajak berbincang tentang kepentingan bersama.”

“Jadi, bagaimana maksud Ki Tunggul?” bertanya orang yang lain. Seorang yang bertubuh tinggi tegar.

Ki Tunggul termangu-mangu. Namun ia pun bertanya, “Tetapi apakah benar yang kau lihat? Anak muda yang pernah datang ke rumah itu?”

“Ya,” jawab pengikutnya yang pernah dilukai Kasadha, “aku tidak akan pernah dapat melupakannya.”

“Ki Tunggul mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Awasi. Kapan mereka meninggalkan rumah itu. Sementara itu lima orang akan segera mempersiapkan diri ditambah dengan tiga orang pengawalku yang diantaranya telah mengenal mereka dengan baik. Orang-orang itu harus diselesaikan diluar padukuhan. Mungkin di bulak panjang atau di tempat penyeberangan. Mereka dapat diseret ke tikungan sungai dan kuburkan mereka disana.”

“Untuk melawan dua orang, kenapa harus delapan orang?” bertanya salah seorang diantara mereka.

“Jangan besar kepala. Anak itu mempunyai ilmu yang tinggi. Bukan sekedar ilmu yang diperolehnya dari lingkungan keprajuritan,” jawab Ki Tunggul.

“Baiklah,” berkata orang yang bertubuh tinggi tegar, “semakin banyak kawan, semakin ringan pekerjaanku.”

“Kalian harus selalu bersiap. Kita tidak tahu kapan mereka akan meninggalkan rumah itu. Mudah-mudahan kawannya bukan seorang yang berilmu tinggi,” berkata Ki Tunggul pula.

Demikianlah mereka telah mendapat tugas untuk mencegat Kasadha dan Barata dan membunuhnya karena dendam Ki Tunggul yang masih saja membakar jantungnya. Apalagi Kasadha telah menyentuhnya dengan ujung senjata.

Sejak saat itu, maka rumah ibu Kasadha itu selalu diawasi.

Ki Tunggul mengira bahwa anak muda itu tidak akan terlalu lama tinggal dirumah perempuan yang disebutnya sebagai ibu dan bibinya itu, karena belum lama berselang anak itu baru saja mengunjunginya.

“Anak itu tentu hanya ingin melihat apakah ibu dan bibinya selamat,” berkata Ki Tunggul kepada orang-orangnya.

Sebenarnyalah, pagi-pagi orang yang mengawasi rumah ibu Kasadha itu lewat pintu regol halaman yang terbuka telah melihat kedua orang anak muda yang datang kerumah itu telah mempersiapkan kuda mereka. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa orang itu pun telah meninggalkan regol halaman rumah itu. Setelah agak jauh dari regol halaman rumah yang diawasinya, maka orang itu pun memungut busur dan anak panah yang disembunyikannya.

Sejenak kemudian maka anak panah sendaren pun telah terbang di udara. Suaranya berdesing melintasi beberapa rumah menuju kerumah Ki Tunggul.

Suara sendaren itu sendiri memang tidak banyak menarik perhatian. Di padukuhan itu, anak-anak memang sering bermain dengan burung merpati dan memberi sendaren pada ekornya, sehingga jika burung merpati itu terbang, maka sendaren itu pun telah berdesing. Namun sendaren pada anak panah itu tidak berdesing berputar-putar. Tetapi langsung menuju dan memang jatuh dihalaman rumah Ki Tunggul.

Ki Tunggul sempat memuji orangnya yang melemparkan anak panah sendaren itu. Namun kemudian ia pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk menerobos sawah dan pategalan.

“Kalian akan dapat memotong perjalanan kedua orang berkuda itu,” perintah Ki Tunggul, “asal kalian berjalan cepat.”

Orang-orang Ki Tunggul itu tidak membuang waktu. Tiga orang telah berlari lebih dahulu. Mereka akan dapat menghentikan perjalanan anak muda yang telah menghina Ki Tunggul dan para pengikutnya. Sementara itu lima orang yang lain telah menyusul pula dengan cepat.

“Hati-hatilah. Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Setidak-tidaknya seorang diantara mereka. Aku akan menyusul kemudian. Aku akan naik kuda lewat jalan yang dilalui oleh anak-anak itu,” berkata Ki Tunggul.

Sementara itu, Kasadha dan Barata telah minta diri kepada ibu dan bibi Kasadha. Sambil memegangi kendali kudanya Kasadha berkata, “Tiga hari lagi aku akan datang ke rumah ini. Wisuda itu akan dilakukan lima hari lagi.”

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya, “Hati-hatilah di jalan.”

Demikianlah sejenak kemudian maka Kasadha dan Barata itu telah menuntun kuda mereka kepintu regol, sementara ibu dan bibi Kasadha juga mengantar mereka sampai keregol itu pula. Untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Namun kemudian Kasadha dan Barata sekali lagi telah minta diri. Keduanya pun segera meloncat kepunggung kuda mereka dan sesaat kemudian kuda itu pun telah meninggalkan regol halaman rumah itu. Ketika keduanya berpaling, mereka masih melihat ibu dan bibi Kasadha itu berdiri didepan pintu regol itu.

Namun sejenak kemudian kuda keduanya pun telah berlari menuju ke gerbang padukuhan, memasuki bulak pendek didepan padukuhan itu.

Kedua anak muda itu sama sekali tidak menduga, bahwa perjalanan mereka telah ditunggu disebuah sungai kecil. Jika keduanya nanti menyeberangi sungai itu, maka delapan orang telah siap untuk membunuh mereka. Ungkapan dendam seorang yang kecewa karena usahanya untuk memperisteri dan sekaligus menjadikannya sebagai budak, seorang perempuan yang diakunya sebagai bibi anak muda yang menjadi seorang prajurit itu, telah gagal.

Bahkan lebih dari itu, anak muda itu telah berani melawannya dan bahkan melukainya.

Ternyata orang-orang yang berusaha mencegat perjalanan Kasadha dan Barata itu tidak terlambat. Ketika mereka sampai di sungai kecil yang tebingnya agak tinggi itu, mereka belum menemukan jejak kaki kuda, sehingga mereka memperhitungkan bahwa kedua orang anak muda itu masih belum lewat.

Perhitungan orang-orang yang mencegat perjalanan Kasadha dan Barata itu memang benar. Seorang diantara mereka yang duduk diatas tebing telah melihat dua ekor kuda yang berlari mendekat.

Dengan isyarat orang itu memberitahukan kepada kawan-kawannya yang menunggu dibawah, bahwa yang mereka tunggu telah tiba.

“Nah, bersiap-siaplah,” berkata seorang yang tertua diantara mereka, “ Kita harus dengan cepat menyelesaikan mereka. Upah yang disediakan bagi kita cukup banyak.”

Kawan-kawannya pun berpencar. Mereka bersiap dibelakang tebing yang memang agak tinggi. Setiap saat mereka telah siap menyergap kedua orang anak muda yang akan lewat berkuda itu.

Kasadha dan Barata memang tidak menduga. Bahkan Kasadha masih sempat menceriterakan apa yang pernah terjadi dengan bibinya itu. Bahkan ia pun berkata, “Agaknya Ki Tunggul telah benar-benar melupakan bibi dan peristiwa yang pernah terjadi itu. Bagaimanapun juga ia harus mempertimbangkan kekuasaan Ki Jagabaya.”

Namun, demikian mereka sampai ke tanggul tebing sungai, maka Kasadha justru telah menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang duduk termangu-mangu dan sekali-sekali berpaling ke belakang tanggul.

“Orang itu mencurigakan,” desis Kasadha.

Barata mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menjawab, “Ada apa dibelakang tanggul itu? Nampaknya memang menarik perhatian.”

Keduanya justru menjadi berhati-hati. Meskipun baru saja Kasadha menganggap bahwa orang yang disebut Ki Tunggul itu sudah tidak akan mengganggu bibinya lagi, namun orang itu memang perlu diperhatikan.

Orang itu tidak berbuat apa-apa ketika kedua orang penunggang kuda itu lewat disebelahnya. Bahkan orang itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Namun demikian Kasadha dan Barata menuruni tebing, maka mereka menarik kendali kuda mereka. Dibawah tebing beberapa orang berdiri disebelah menyebelah jalan.

Kedua ekor kuda itu memang berhenti. Ketika keduanya berpaling maka orang yang duduk di tanggul dan tidak menghiraukannya itu telah bangkit berdiri di tengah jalan.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata aku salah menilai keadaan. Orang-orang ini tentu ada hubungannya dengan Ki Tunggul.”

Barata mengangguk-angguk kecil. Katanya, “bukankah kita belum berbicara dengan mereka?”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bergumam, “Aku menyesal bersedia membawamu kemari. Nampaknya aku melibatkanmu dalam kesulitan.”

Tetapi Barata menjawab, “Bukankah kita pernah juga bersama-sama mengalami keadaan seperti ini? Bagaimana jika orang-orang itu masih juga mencari Puguh dan menyangka aku dan yang lain menganggapmu Puguh?”

Kasadha masih juga sempat tersenyum. Katanya, “Bagus. Kita akan mengaku bahwa kita masing-masing adalah Puguh.”

Demikianlah Kasadha dan Barata telah bergeser beberapa langkah maju. Nampaknya mereka tidak akan dapat memutar kuda mereka untuk menghindar karena dibelakang mereka seseorang telah menjaga dan berdiri di tengah jalan.

Sebelum keduanya sampai ke tempat beberapa orang berdiri, maka keduanya telah berhenti pula. Sementara itu, seorang diantara mereka yang berdiri ditepi jalan penyeberangan itu berkata, “Marilah Ki Sanak, silahkan lewat. Kami memang sedang menunggu seseorang.”

“Siapakah yang kalian tunggu?” bertanya Kasadha.

“Sebuah pedati yang akan mengambil batu untuk bebatur rumah,” jawab orang itu.

“Rumah siapa?” bertanya Kasadha.

Orang itu memang termangu-mangu sejenak. Yang kemudian menjawab adalah Kasadha sendiri, “Rumah Ki Tunggul?”

Wajah orang itu menjadi tegang. Demikian pula kawan-kawannya yang menunggu kedatangan kedua orang berkuda itu, seakan-akan rahasia mereka telah dapat ditebak.

Sementara itu Kasadha dan Barata telah meloncat turun dari kuda mereka dan bahkan dengan tenang keduanya telah menambatkan kuda-kuda mereka pada pohon perdu dipinggir jalan.

Orang-orang yang memang diupah oleh Ki Tunggul itu merasa tidak perlu lagi menyembunyikan niat mereka. Karena itu, maka mereka pun justru telah melangkah mendekati Kasadha dan Barata yang kemudian berdiri termangu-mangu.

“Ki Sanak,” berkata orang tertua diantara orang-orang yang menunggu kedua anak muda itu di penyeberangan itu, “sebaiknya kami memang tidak usah berpura-pura lagi. Kami, delapan orang telah mendapat upah dari Ki Tunggul untuk membunuh kalian berdua, karena kalian berdua telah menyakiti hatinya dan bahkan menghinanya. Tidak ada pilihan lain bagi Ki Tunggul selain membunuh kalian berdua. Tetapi pembunuhan ini tidak dapat kami lakukan di rumah perempuan dungu itu, karena persoalannya telah kalian laporkan kepada Ki Jagabaya. Dengan demikian maka kami telah memutuskan untuk menghabisi kalian berdua disini dan kemudian menghilangkan jejak kalian. Jika kalian kami kuburkan disini, maka tidak akan ada seorang pun yang mengetahui apa yang telah terjadi dengan kalian.”

“Kau memang bodoh,” berkata Kasadha sambil tertawa, “seisi barakku mengetahui bahwa hari ini aku dalam perjalanan dari rumah ibuku kembali ke barak. Nah, jika sampai nanti malam aku tidak datang ke barak, maka pimpinanku tentu akan menelusuri perjalananku. Mereka akan menemui ibuku dan bertanya apakah benar aku telah datang menemuinya. Kemudian ditelusurinya semua kemungkinan. Juga dendam seorang yang bernama Ki Tunggul.”

“Jika ibu dan bibimu memberikan laporan kepada para prajurit maka mereka pun akan terancam jiwanya?”

Kasadha tertawa. Katanya, “Kenapa kalian tidak berani berusaha membunuhku dirumah ibuku? Bukankah hal itu akan sama saja akibatnya jika Ki Tunggul mengancam ibuku untuk tidak memberikan laporan yang sebenarnya, karena ibu dan bibi berada dibawah lindungan Ki Jagabaya?”

“Persetan semuanya itu,” geram orang yang bertubuh tinggi besar dan berkumis lebat, “kewajiban kami adalah membunuhmu. Kami akan menerima upah karena itu. Apapun yang akan terjadi pada Ki Tunggul, aku tidak peduli.”

“Dihadapan para prajurit dan perabot Kademangan, apakah Ki Tunggul tidak dapat menyebut namamu dan nama kalian semua?” bertanya Kasadha.

“Aku tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan seperti itu. Seandainya bal itu dilakukan oleh Ki Tunggul, maka Ki Jagabaya Kademangan Lipur yang meliputi padukuhan Bayat itu tidak akan dapat menangkapku, karena aku tidak tinggal di Bayat.”

“Tetapi prajurit Pajang akan dapat mengejarmu sampai ke ujung bumi sekalipun,” sahut Kasadha.

“Persetan,” gerak orang itu, “kami sudah menerima sebagian dari upah kami, Kami akan melakukan tugas ini dengan baik untuk dapat mengambil sisa upah kami.”

Namun tiba-tiba suara Kasadha berubah geram, “Dan kalian telah mempertaruhkan nyawa kalian? Berapa upah yang kalian terima he?”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak, Tetapi orang tertua diantara mereka itu pun segera memberikan isyarat sehingga delapan orang telah bergerak bersama-sama.

“Kita harus melakukannya dengan cepat,” berkata orang tertua itu, ”kita tidak mempunyai waktu banyak.”

Kasadha dan Barata pun segera mempersiapkan diri. Dengan geram pula Kasadha berkata, “Marilah. Siapakah yang akan mati lebih dahulu.”

Bagaimanapun juga sikap Kasadha telah membuat jantung orang-orang yang mencegatnya itu berdebar-debar. Anak muda itu sama sekali tidak merasa gentar. Sementara itu anak muda yang seorang lagi nampak tenang-tenang saja. Seakan-akan orang-orang itu tidak berarti apa-apa baginya.

Sejenak kemudian, kedelapan orang itu pun telah mulai menyerang meskipun mereka masih harus menjajagi kemampuan kedua orang anak muda itu. Kasadhaj dan Baratapunl telah mengambil jarak diantara mereka. Dengan tangkas keduanya mulai berloncatan. Tangan mereka berputaran, semakin lama menjadi semakin cepat.

Tetapi mereka harus bertempur masing-masing melawan empat orang sehingga baik Kasadha maupun Barata harus benar-benar berhati-hati.

Demikianlah arena pertempuran itu pun telah bergeser ketepian sungai yang tidak begitu besar itu. Mereka telah bertempur diatas pasir yang basab. Berbeda dengan kedelapan orang lawan mereka yang kakinya mulai diberati oleh pasir lunak tempat mereka berpijak, Kasadha dan Barata masih saja berloncatan dengan sigap dan cepat.

Keempat lawan Kasadha dan keempat lawan Barata segera menyadari bahwp lawan mereka adalah orang orang yang berilmu tinggi sebagaimana dikatakan oleh Ki Tunggul. Bahkan Ki Tunggul sendiri bersama dengan para pengawalnya tidak mampu mengalahkan salah seorang diantara anak-anak muda itu.

Dengan demikian maka kedelapan orang itu telah berusaha mengerahkan kemampuan mereka agar mereka dapat melakukan tugas yang dibebankan kepada mereka dengan upah yang cukup banyak. Tetapi mereka pun kemudian menyadari, bahwa untuk upah yang banyak itu mereka memang harus mempertaruhkan nyawa mereka.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka rasa-rasanya ada sesuatu yang menarik perhatian Kasadha. Tiba-tiba saja ia ingin menilai, apakah kemampuan Barata masih saja sebagaimana saat mereka menjadi prajurit atau sudah menjadi semakin maju. Tanpa disadarinya Kasadha ingin membuat perbandingan antara kemampuannya dan kemampuan Barata.

Barata yang tidak menyadari, bahwa Kasadha telah memperhatikannya, telah bertempur dengan tangkasnya. Keempat orang lawannya sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengenai tubuh Barata dengan serangan-serangan mereka. Begitu tangkasnya Barata menghindari setiap serangan, sehingga lawan-lawannya mulai menjadi gelisah.

Sementara itu Kasadha pun menjadi berdebar-debar melihat kemampuan Barata. Ternyata Barata maju dengan pesat. Kemampuannya tidak lagi terbatas sebagaimana saat ia menjadi prajurit. Tetapi kemampuan Barata telah meningkat jauh lebih tinggi.

Kasadha yang justru berloncatan surut menghindari serangan lawan-lawannya menyadari, bahwa ia pun masih harus berhati-hati menghadapi keempat orang lawan itu,

Kasadha sendiri tidak mengerti, kenapa kemajuan Barata membuatnya risau. Sementara itu, antara dirinya dan Barata sudah tidak ada permusuhan lagi. Bahkan ibu-ibu mereka pun telah dapat dipertautkan.

Namun Kasadha tidak sempat memikirkannya lebih panjang lagi. Empat orang lawannya berusaha untuk semakin mendesaknya dan bahkan membunuhnya.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Orang-orang yang bertempur melawan kedua orang anak muda itu berlompatan menyerang bergantian. Bahkan kadang-kadang dua atau tiga diantara mereka menyerang bersama-sama.

Namun justru merekalah yang lebih dahulu dikenai oleh serangan anak-anak muda itu. Serangan Kasadha yang cepat dan keras telah melemparkan seorang diantara mereka yang mengeroyoknya. Namun demikian ia terbanting diatas pasir, ia pun segera bangkit kembali. Tetapi betapa dadanya terasa menjadi sesak. Nafasnya tersendat sehingga orang itu menjadi terbatuk-batuk kecil.

Sambil menggeretakkan giginya orang itu telah menggeggam hulu parangnya. Sambil menarik parangnya ia berkata lantang, “Kenapa kita menunggu lebih lama lagi? Bukankah kita akan membunuhnya?”

“Kita bunuh mereka dengan tangan kita. Kita akan menjadi lebih puas karenanya,” jawab seorang kawannya.

“Mampukah kita melakukannya?” bertanya orang yang telah menarik parangnya itu.

Kawan-kawannya memang mulai berpikir. Sudah sekian lama mereka berkelahi. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka tanpa mempergunakan anjata.

Karena itu, maka kawan-kawannya pun setuju untuk dengan segera mengakhiri perkelahian itu dengan senjata.

Dengan demikian, maka keempat orang yang bertempur melawan Kasadha itu telah menarik senjata mereka.

Selain parang, ada juga yang bersenjata golok dan seorang lagi bersenjata pedang pendek, namun terlalu besar untuk ukuran pedang pada umumnya.

Kasadha yang melihat lawan-lawannya bersenjata, segera meloncat mengambil jarak. Bagaimanapun juga, ia tidak mau terlambat. Jika ia tidak mempergunakan senjata pula, maka ia akan mengalami kesulitan.

Karena itu ketika keempat orang lawannya memburunya, maka Kasadha pun segera mencabut pedangnya. Pedang seorang Lurah Prajurit Pajang.

Demikianlah, maka Kasadha pun telah bertempur dengan pedangnya melawan ampat orang yang juga bersenjata. Dalam kilatan pantulan sinar matahari pada daun pedang Kasadha terbersit ungkapan ilmu pedang Kasadha yang menggetarkan jantung keempat orang lawannya.

Sementara itu lawan-lawan Barata pun merasa tidak lagi mempunyai harapan untuk dapat mengalahkan apalagi membunuh Barata hanya dengan tangan mereka. Meskipun hal yang demikian sering mereka lakukan terhadap korban-korban mereka yang tidak berdaya menyelamatkan nyawa mereka.

Tetapi jangankan mencekik atau mematahkan leher anak muda yang bertempur dengan tangkasnya itu, menyentuh pun mereka tidak dapat melakukannya.

Bahkan justru merekalah satu demi satu telah dikenai serangan Barata. Seorang diantara mereka mengerang kesakitan ketika bibirnya menjadi pecah. Tumit Barata telah mengenai mulutnya sehingga bibirnya itu berdarah.

Karena itu, maka keempat lawan Barata pun telah mempergunakan senjata mereka pula. Dua orang bersenjata golok yang besar, seorang mempergunakan pedang dan seorang lagi mempunyai senjata yang tidak terlalu sering dipergunakan orang. Seutas rantai baja yang tidak terlalu panjang.

Melihat lawannya bersenjata, maka Barata pun telah menarik pedangnya pula. Namun ternyata bahwa pedang Barata tidak sama dengan pedang Kasadha, Lurah Prajurit Pajang. Dengan demikian maka ada diantara orang-orang yang melawannya itu mengenalinya, bahwa Barata bukan seorang prajurit.

Dengan demikian maka orang-orang itu berharap bahwa Barata bukannya seorang yang memiliki kemampuan sebagaimana Lurah Prajurit yang bernama Kasadha itu.

“Kita akan membunuh orang ini lebih dahulu,” berkata salah seorang yang bertempur melawan Barata, “ia bukan seorang prajurit. Pedangnya bukan pedang seorang prajurit. Baru kemudian kita beramai-ramai membunuh yang seorang lagi, yang nampaknya lebih liat dari orang ini.”

Barata menggeram mendengar kata-kata salah seorang lawannya itu, Bagaimanapun juga Barata merasa bahwa harga dirinya telah direndahkan. Tanpa disadarinya, maka Barata merasa bahwa ia tidak lebih buruk dari Kasadha.

Karena itu, maka Barata pun dengan serta merta telah menggerakkan pedangnya. Ternyata bahwa ilmu pedang Barata memang sempat membingungkan keempat lawannya.

Namun dengan demikian pertempuran itu pun semakin menjadi sengit. Senjata pun saling beradu. Bunga api pun berhamburan di kedua lingkaran pertempuran itu.

Sekali lagi Kasadha memuji kemampuan Barata, Ilmu pedangnya ternyata lebih baik dari yang pernah dikenalinya ketika Barata masih menjadi seorang prajurit. Kasadha tidak sempat menilai kemampuan Barata ketika Kasadha atas perintah para pemimpin Pajang sebelum pemerintahan Pangeran Benawa menyerang Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi saat itu Kasadha dengan sengaja memang menghindari pertempuran dengan Barata di medan pertempuran.

“Barata memang luar biasa,” berkata Kasadha didalam hati.

Dalam pada itu, adalah diuar dugaan Kasadha, bahwa ketika tidak sengaja Barata melihat Kasadha memutar pedangnya, pedang seorang prajurit, maka Barata pun mengerutkan dahinya. Sambil bertempur Barata sempat memuji ketrampilan Kasadha mempermainkan pedangnya.

Adalah diluar kesadaran masing-masing, bahwa baik Barata maupun Kasadha seakan-akan tengah menguji kemampuan mereka masing-masing. Keduanya pun kemudian seakan-akan tengah berlomba, siapakah yang lebih dahulu dapat mengalahkan keempat lawannya. Sedangkan menurut pengamatan mereka, kedelapan orang itu memiliki kemampuan yang rata-rata hampir sejajar.

Dengan demikian maka baik Kasadha maupun Barata telah meningkatkan kemampuan mereka untuk mempercepat pertempuran itu.

Sementara itu, selagi pertempuran itu berlangsung dengan-sengitnya, diatas tebing, Ki Tunggul menyaksikannya dengan jantung yang berdebaran. Kasadha yang melihat kehadiran orang itu sempat berkata lantang, “Barata. Lihatlah. Orang diatas tanggul itulah yang bernama Ki Tunggul, yang berusaha untuk mengganggu bibi. Menurut pernyataannya, ia ingin memperisteri bibi. Namun sebenarnyalah ia ingin memperbudaknya.”

Barata pun sempat melihat orang yang bernama Ki Tunggul itu. Dengan lantang pula ia menjawab, “Seorang yang nampaknya berilmu tinggi. Tetapi kenapa ia tidak mau turun?”

“Nanti,” sahut Kasadha pula, “jika perkelahian ini sudah mendekati akhirnya. Ia berharap orang-orangnya akan menang. Tetapi bukankah kita tidak akan membiarkan leher kita ditebas sampai putus?”

Barata tidak menjawab lagi. Namun ia pun bergerak semakin cepat. Pedangnya berputar seperti baling-baling, seakan-akan yang bergerak itu bukannya sebilah pedang saja, tetapi beberapa bilah pedang didalam genggaman beberapa pasang tangan.

Sementara itu Kasadha pun berloncatan semakin garang. Pedangnya terayun menebas mendatar. Namun kemudian terjulur lurus mematuk kearah dada seorang diantara lawannya. Tetapi ketika lawannya yang lain meloncat menyerang, maka ujung pedang itu berputar menggeliat dengan cepatnya.

Seorang diantara lawan Kasadha itu berdesah menahan sakit yang menyengat pundaknya. Ternyata bahwa ujung pedang Kasadha telah sempat hinggap dipundaknya itu, sehingga kulitnya pun telah menganga dan darah pun mulai mengalir.

“Anak iblis,” geram orang yang terluka itu, “aku akan menyayat kulit dagingmu sampai ketulang.”

Namun sebelum orang itu sempat memasuki lingkaran pertempuran kembali, seorang lawan Barata seakan-akan telah terdorong keluar lingkaran pertempuran. Bajunya yang kehitam-hitaman itu pun telah terkoyak. Bahkan sampai ke kulitnya menyilang dada. Luka itu memang tidak begitu dalam. Namun dari luka itu darah pun telah mengalir pula.

Kedelapan orang yang bertempur melawan kedua anak muda itu menjadi semakin marah. Apalagi ketika mereka mendengar Ki Tunggul yang berada diatas tanggul sungai itu berteriak, “Jangan beri kesempatan. Kedua orang itu harus dibunuh dan dikubur di tikungan sungai itu. Jangan beri kesempatan keduanya atau salah seorang dari mereka lolos.”

Kasadha yang sudah mengenal Ki Tunggul itu berkata, “Marilah Ki Tunggul. Bukankah kau termasuk orang yang memiliki ilmu yang tinggi? Kenapa kau tidak ikut bertempur bersama orang-orangmu yang ternyata tidak berkemampuan apa-apa?”

Ki Tunggul menggeram. Namun ia memang melihat bahwa kedelapan orang upahannya termasuk para pengikutnya itu tidak segera akan dapat mengatasi kedua orang anak muda itu. Bahkan ia sempat melihat diantara orang-orang itu terluka.

Karena itu, maka Ki Tunggul pun menjadi cemas. Jika orang-orangnya tidak dapat menyelesaikan kedua orang anak muda itu, maka keduanya akan dapat memberikan kesaksian yang akan dapat menyulitkan kedudukannya kelak.

Meskipun demikian Ki Tunggul masih menunggu sejenak. Ia masih berharap bahwa kedelapan orang itu akan dapat menyelesaikan tugas mereka.

Namun dalam pada itu, kedelapan orang itu justru menjadi semakin sulit. Barata yang menghentakkan kemampuannya, telah melukai seorang diantara lawannya lagi. Sehingga dengan demikian maka kekuatan bersama keempat orang lawannya itu telah menjadi semakin susut.

Ki Tunggul yang berada diatas tanggul itu menjadi semakin gelisah. Didalam pengamatannya, kawan anak muda yang pernah datang ke padukuhan itu sebelumnya adalah sangat berbahaya. Setidak-tidaknya ia memiliki ilmu yang setingkat dengan anak muda yang telah melukainya itu. Bahkan nampaknya putaran pedang ditangannya terasa lebih mantap dan berbahaya.

Karena itu, sebelum terlambat, maka Ki Tunggul itu benar-benar harus ikut campur. Ia harus membantu orang-orang upahannya itu. Setidak-tidaknya untuk membunuh salah seorang diantara kedua orang anak muda itu. Dengan demikian maka kedelapan orang itu akan bersama-sama membunuh seorang yang lain.

Dengan cepat Ki Tunggul itu pun menuruni tebing dan menginjakkan kakinya di tepian. Namun ia terkejut ketika ia melihat, seorang diantara orang upahannya yang bertempur melawan Barata telah terbaring diatas pasir yang basah. Meskipun sekali-sekali ia masih menggeliat, namun lukanya ternyata cukup parah sehingga ia tidak mampu lagi, untuk bangkit dan kembali bertempur bersama kawan-kawannya.

Ki Tunggul yang sempat melihatnya, menggeram melihat darah yang tercecer dari lambungnya yang koyak.

“Anak iblis kau,” geram Ki Tunggul yang telah siap memasuki arena pertempuran.

Barata yang melihat orang itu mendekatinya, telah mempersiapkan diri pula. Dari Kasadha ia tahu bahwa orang itu memiliki ilmu yang justru lebih baik dari para pengawalnya dan sudah tentu juga orang-orang yang diupahnya itu.

Karena itu, maka pada kesempatan terakhir sebelum orang itu memasuki arena, dengan menghentakkan kemampuannya, Barata telah meloncat menyerang salah seorang lawannya yang sudah terluka didadanya. Orang yang telah mengalirkan darah itu geraknya sudah mulai lamban, sehingga ketika tiba-tiba saja Barata menggeliat dan memutar pedangnya, orang itu tidak mampu menghindar secepat putaran ujung pedang Barata.

Karena itu, demikian Ki Tunggul memasuki arena, maka orang itu tengah mengaduh perlahan. Pedang Barata telah tergores menyilang sekali lagi di dadanya. Tetapi lebih dalam dari lukanya sebelumnya.

Ki Tunggul terkejut. Tetapi ia tidak sempat menilai keadaan. Demikian ia mendekat, maka Barata pun telah meloncat menyerangnya dengan garangnya.

Karena itu, maka Tunggul pun dengan serta merta telah meloncat surut menghindari kejaran ujung pedang Barata.

Namun dalam pada itu, Ki Tunggul justru sempat mendengar seorang diantara empat lawan Kasadha berteriak mengumpat kasar. Namun suaranya pun segera terputus. Ujung pedang Kasadha telah mengoyak lengannya. Namun demikian ia merasa kesakitan dan mengumpat marah, kaki Kasadha telah menyusul serangan pedangnya dan menghantam dada orang itu.

Orang itu terlempar beberapa langkah surut dan jatuh terbanting di pasir tepian. Pasir itu sendiri tidak menyakitinya. Tetapi tulang-tulang iganyalah yang terasa berpatahan. Nafasnya menjadi sesak, seakan-akan segumpal batu padas telah menindih dadanya yang terasa sangat kesakitan.

Ki Tunggul menggeram marah. Ia sudah mengupah delapan orang untuk membunuh hanya dua orang. Menurut perhitungannya, empat orang pembunuh upahan itu akan mampu membunuh sedang diantara anak muda itu. Namun ternyata mereka mengalami kesulitan.

Karena itu Ki Tunggul tidak mau terlambat. Ternyata orang yang terhempas oleh tendangan Kasadha itu masih berusaha untuk bangkit betapa sulitnya. Sementara itu Ki Tunggul pun segera memasuki arena di lingkaran pertempuran melawan Barata.

Namun Barata telah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu demikian Ki Tunggul masuk, maka kakinya pun seakan-akan menjadi semakin tangkas bergerak Bahkan kemudian kaki Barata itu tidak lagi berjejak diatas tanah.

Namun sebenarnyalah kata Kasadha, maka Ki Tunggul memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang upahannya. Sehingga karena itu maka Barata harus benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk melawan Ki Tunggul dan dua orang upahannya.

Sementara itu Kasadha pun telah semakin menguasai arena. Orang yang terluka lengannya dan yang nafasnya serasa sesak itu tidak mampu lagi bergerak cepat, sehingga ia justru lebih banyak mengganggu kawan-kawannya. Sementara itu, pedang prajurit di tangan Kasadha itu berputaran semakin cepat dan berbahaya. Pantulan cahaya matahari berkilat kilat menyilaukan, sementara bunga api pada benturan benturan senjata telah memancar kebiru-biruan.

Ki Tunggul yang bertempur melawan Barata itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Selagi masih ada dua orang upahannya yang dapat membantunya, maka Ki Tunggul berusaha untuk dengan cepat menyelesaikannya.

Tetapi ternyata usaha Ki Tunggul itu tidak segera dapat dilaksanakan. Barata tidak dengan mudah dapat ditundukkan. Bahkan anak muda itu seakan-akan semakin lama justru menjadi semakin tangkas dan garang.

Sebenarnyalah ketika Ki Tunggul yang memiliki kemampuan lebih baik dari orang-orang upahannya itu menekannya semakin berat, maka Barata benar-benar telah menghentakkan kemampuannya pula. Sebagai seorang yang telah dipersiapkan untuk menerima warisan ilmu Janget Kinatelon, maka landasan kemampuan Barata benar-benar telah mapan. Sehingga karena itu, maka Ki Tunggul dan kedua orang upahannya yang tersisa itu tidak banyak berbuat. Mereka tidak mampu menguasai arena pertempuran karena Barata lah yang justru seakan-akan mengepung ketiga orang lawannya itu. Barata yang tangkas dan berilmu tinggi itu berloncatan dengan cepat disekitar lingkaran pertempuran, sehingga ketiga orang lawannya menjadi bingung.

Sementara itu, Kasadha pun telah menguasai medan sepenuhnya. Ketika seorang lagi berteriak kesakitan, maka yang lain pun menjadi semakin ragu-ragu.

Ki Tunggul pun rasa-rasanya telah menjadi berputus asa. Apalagi ketika seorang diantara orang upahannya itu telah terlempar pula. Bukan ujung pedang Barata yang mengenainya, tetapi ketika orang itu menusukkan pedangnya dan Barata sempat menangkisnya maka pedang orang itu pun telah terangkat. Satu kesempatan terbuka bagi Barata ketika ia melontarkan serangan kaki kebawah lengan di bagian samping dada lawannya itu.

Dengan demikian maka Ki Tunggul tinggal mempunyai seorang kawan lagi, karena serangan kaki Barata itu justru membuat lawannya itu pingsan.

Ki Tunggul semakin menjadi gelisah. Namun justru kegelisahan serta keputus-asaannya, telah membuatnya kehilangan pertimbangan. Nalarnya menjadi buntu dan perasaannya menjadi gelap.

Dengan demikian maka Ki Tunggul itu menjadi seperti orang yang sedang mabuk tuak. Senjatanya terayun-ayun tanpa arah dan perhitungan. Luwuk Ki Tunggul yang panjang dan pada tangkainya terjurai rambut manusia itu, sama sekali tidak mengarah ke sasaran yang mapan.

Untuk beberapa saat Barata justru lebih banyak menghindari serangan-serangan itu. Dengan nada tinggi ia berkata, “Ki Tunggul, kenapa kau menjadi bingung seperti orang yang kehilangan akal? Padahal, bukankah kau orang berilmu tinggi dan mempunyai pengalaman yang luas?”

Ki Tunggul tidak menjawab. Tetapi luwuknya menggapai-gapai dan terayun-ayun dengan garangnya, namun sama sekali tidak mapan. Sementara kawannya telah terseret pula kedalam arus perasaannya dan menjadi bingung dan kehilangan pegangan pula.

Ki Tunggul semakin bingung ketika sejenak kemudian, Kasadha telah melumpuhkan lawan-lawannya. Lawannya yang terakhir ternyata tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika pedangnya terayun deras menebas kearah leher Kasadha, maka dengan segenap kekuatannya Kasadha telah menangkis serangan itu dengan membenturkan pedangnya. Ketika benturan yang keras terjadi, maka pedang lawannya telah terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa langkah daripadanya.

Namun orang itu ternyata cukup licik. Dengan cepat ia meraih segenggam pasir dan dilontarkan kewajah Kasadha.

Pasir yang terhambur itu telah membuat Kasadha sesaat kehilangan penglihatannya. Matanya menjadi sangat pedih. Namun ia masih sempat melihat bayangan yang kabur dari lawannya yang meloncat menyerangnya dengan kakinya yang terjulur kedadanya.

Dengan gerak naluriah Kasadha memiringkan tubuhnya sekaligus mengayunkan pedangnya.

Justru yang terjadi adalah diluar kehendaknya. Ujung pedang Kasadha itu telah mengoyak perut lawannya. Meskipun kakinya mengenai pundak Kasadha, tetapi ia sempat menjerit kesakitan dan sesaat kemudian jatuh diatas pasir tepian.

Orang itu mengerang kesakitan sementara Kasadha berlari ke aliran air sungai yang tidak begitu besar. Dengan cepat ia membersihkan wajahnya dan pasir di matanya, sehingga meskipun matanya menjadi merah, namun ia sudah dapat melihat keadaan disekitarnya. Mata Kasadha itu terasa masih sangat pedih ketika ia berjalan mendekati lawan-lawannya yang terbaring diatas pasir. Yang lukanya nampak paling parah adalah justru orang yang terakhir, yang dengan licik telah menghamburkan pasir kematanya.

Dalam pada itu, ketika Kasadha kemudian berpaling, Barata telah menyelesaikan lawan-lawannya pula. Empat orang upahan dan pengikut Ki Tunggul itu sudah tidak berdaya. Bahkan ada diantaranya yang jatuh pingsan. Sementara itu luwuk Ki Tunggul pun telah terlempar pula.

Yang masih tinggal adalah Ki Tunggul yang termangu-mangu. Ujung pedang Barata teracu ke arah dadanya, sementara ia sendiri sudah tidak bersenjata.

Kasadha yang juga sudah kehilangan lawannya melangkah mendekatinya pula, sehingga wajah Ki Tunggul menjadi pucat.

“Ki Tunggul,” berkata Kasadha yang masih menggenggam pedang ditangannya, “jadi kau benar-benar sudah berniat untuk membunuh kami? Bahkan dengan mengupah delapan orang yang kau anggap akan dapat menyelesaikan niatmu itu?”

Wajah Ki Tunggul yang pucat itu menegang. Namun kemudian dengan gagap ia menjawab, “Tidak. Aku sama sekali tidak ingin membunuhmu. Aku hanya ingin menjajagi kemampuanmu.”

Kasadha tertawa. Ketika ia meletakkan daun pedangnya dipundak Ki Tunggul, maka rasa-rasanya tajam pedang itu telah menyentuh lehernya.

“Kau mencoba untuk berbohong. Bukankah dari atas tanggul kau telah meneriakkan perintah itu?” berkata Kasadha kemudian.

“Aku hanya sekedar menakut-nakutimu. Tetapi orang-orang ini sudah tahu, bahwa kalian tidak akan dibunuh,” Ki Tunggul menjadi semakin gemetar.

“Kau memang pandai berbohong. Tetapi kau tidak dapat menolong dirimu sendiri dengan kebohonganmu itu. Nah, sekarang kau boleh memilih salah seorang diantara kami. Siapakah yang akan kau jadikan lawan dalam perang tanding sampai mati,” berkata Kasadha dengan geram, “kau sudah pernah menjajagi kemampuanku. Meskipun sekarang tidak ada sinar bulan, namun aku tidak berkeberatan untuk bertempur melawanmu. Saudaraku ini juga tidak akan berkeberatan jika kau memilihnya sebagai lawan dalam perang tanding itu.”

Namun Ki Tunggul itu menjawab terbata-bata, “Tidak. Aku tidak akan berperang tanding dengan siapa pun juga.”

“Jadi maksudmu, kau menyerah?” bertanya Kasadha.

Ki Tunggul memang agak ragu-ragu untuk menjawab. Namun Kasadha itu pun berkata, “Jika kau memang tidak ingin menyerah, jangan menyerah. Bukankah kau seorang laki-laki yang berilmu tinggi?”

“Ya, ya,” suaranya semakin gagap, “aku menyerah.”

“Jika demikian, maka menunduklah. Aku akan memenggal lehermu dengan pedang prajuritku ini. Aku yakin, bahwa sekali tebas, lehermu akan terputus. Aku tidak akan perlu mengulanginya,” suara Kasadha menjadi berat.

Tetapi tiba-tiba Ki Tunggul, orang yang berpengaruh dipadukuhan Bayat itu telah berjongkok sambil berkata dengan suara gemetar, “Jangan bunuh aku. Aku mohon maaf. Aku benar-benar sudah jera.”

“Cukup begitu? Ternyata kau adalah seorang pendendam. Jika kau masih hidup, maka kau tentu masih akan mendendamku sampai kau berhasil membunuhku. Karena itu, agaknya lebih baik aku membunuhmu lebih dahulu.”

“Jangan. Jangan. Aku mohon ampun. Aku berjanji tujuh turunan tidak akan mengganggumu lagi,” minta Ki Tunggul memelas.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih bertanya, “Hanya itu?”

“Maksudmu?” bertanya Ki Tunggul gagap, “apakah aku harus menyediakan uang? Atau apa? Kuda? Pedati?”

Kasadha menggeleng. Katanya, “Tidak. Tetapi kau harus benar-benar menepati janjimu. Kali ini kau aku maafkan. Tetapi sekali lagi, aku benar-benar akan membunuhmu.”

“Aku berjanji. Aku berjanji. Aku akan memberi ibu dan bibimu apa saja yang mereka butuhkan.”

“Itu tidak perlu. Jika kau ingin memberikan sesuatu, serahkan kepada Ki Demang. Tentu akan berguna bagi Kademanganmu,” berkata Kasadha.

“Ya. Ya. Aku akan melakukannya,” jawab Ki Tunggul.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diangkatnya pedangnya yang masih bernoda darah. Katanya, “Aku akan membersihkan pedangku. Mudah-mudahan pedangku tidak akan dinodai dengan darah lagi. Darah siapapun juga. Lebih-lebih darahmu Ki Tunggul,” geram Kasadha. Lalu, “Sepeninggal kami, uruslah orang-orangmu. Mereka pun harus menjadi jera agar lain kali aku tidak membunuh mereka.”

Kasadha pun kemudian memberikan isyarat kepada. Barata untuk meninggalkan Ki Tunggul yang masih gemetar.

Sejenak kemudian maka Kasadha dan Barata telah berada di punggung kudanya untuk melanjutkan perjalanan. Namun pada kesempatan itu, ternyata baik Barata maupun Kasadha telah dapat saling mengetahui tingkat kemampuan mereka setelah mereka berpisah. Keduanya tidak mengerti, kenapa mereka menaruh perhatian terhadap kemampuan masing-masing.

Bahkan dalam perjalanan berikutnya, setiap kali mereka masih membayangkan bagaimana masing-masing mengerahkan ilmu pedangnya untuk melawan empat orang upahan yang akan membunuh mereka.

Namun dalam perjalanan pulang ke Pajang itu, Kasadha masih sempat pula menceriterakan tentang Ki Tunggul yang ternyata mendendam itu.

“Apakah mereka tidak akan melepaskan dendam kepada ibu dan bibimu?” bertanya Barata.

“Dalam keadaan terpaksa, ibu dan bibi tentu akan mampu melindungi diri mereka sendiri. Namun ibu dan bibi berusaha untuk menghindari sejauh-jauhnya. Karena jika ibu dan bibi bertempur maka tentu akan menarik perhatian orang sehingga hubungan mereka sehari-hari dengan para tetangga tentu akan berubah,” jawab Kasadha.

“Jadi, seandainya Ki Tunggul itu benar-benar akan bertindak terhadap ibu dan bibimu?” bertanya Barata.

“Kami sudah melaporkan kepada Ki Jagabaya. Ibu dan bibi ada didalam perlindungannya,” jawab Kasadha.

Barata mengangguk-angguk.Kasadha memang pernah menceriterakan bahwa mereka telah menghadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya.

Demikianlah, maka kedua anak muda itu berkuda semakin cepat. Mereka ingin segera sampai ke barak Kasadha di Pajang. Sementara Barata yang semula berniat kembali ke Tanah Perdikan, agaknya telah menjadi terlalu siang. Karena itu, maka Barata harus bermalam semalam lagi.

Namun Barata mulai menjadi bimbang.

“Apakah aku akan bermalam di barak prajurit itu atau dirumah Ki Rangga Dipayuda?”

Agaknya pertanyaan itu ternyata telah membuatnya ragu-ragu.

Namun ketika Barata dan Kasadha memasuki kota Pajang dan turun ke jalan yang menuju ke barak, maka Barata telah mengambil keputusan meskipun dengan ragu-ragu, untuk bermalam saja di Pajang.

Sebenarnyalah, ketika mereka telah berada di barak, Kasadha minta agar Barata bermalam satu malam lagi di Pajang. Katanya, “Matahari telah turun jauh di Barat. Jika kau kembali ke Tanah Perdikan, kau akan kemalaman di perjalanan.”

Barata mengangguk kecil. Meskipun masih agak ragu namun akhirnya ia menjawab, “Baiklah. Aku akan bermalam semalam lagi.”

Ternyata Barata merasa bahwa keputusan yang diambilnya itu benar. Ketika bersama Kasadha ia menghadap Ki Rangga Dipayuda, maka Ki Rangga itu juga minta agar Barata bermalam saja semalam lagi di barak itu.

“Kau akan kemalaman di jalan,” berkata Ki Rangga.

Ternyata Ki Rangga itu tidak minta kepadanya, agar ia. singgah dan bermalam saja dirumahnya sambil memberitahukan kepastian hari wisuda itu kepada Jangkung dan keluarganya yang lain. Tetapi Ki Rangga itu justru berkata, “Besok saja jika kau kembali ke Tanah Perdikan, kau dapat singgah sejenak dirumah untuk bertemu dengan Jangkung. Beritahukan, bahwa empat hari lagi aku akan singgah mengambil mereka untuk pergi ke Tanah Perdikan menghadiri wisudamu itu.”

Malam itu Barata bermalam di barak prajurit. Sementara Ki Tumenggung Jayayuda masih belum kembali.

Namun dalam pada itu, Kasadha merasa semakin terhimpit oleh perasaannya yang kurang dimengertinya terhadap Barata. Ia selalu menjadi berdebar-debar jika mendengar Barata akan singgah di rumah Ki Rangga Dipayuda, karena di rumah itu tinggal seorang gadis yang bernama Riris.

Demikianlah, pagi-pagi sekali dihari berikutnya, Barata sudah bersiap-siap untuk berangkat. Ketika Barata membersihkan kudanya, Kasadha bertanya kepadanya, “Apakah kau akan berangkat pagi-pagi sekali?”

“Ya,” jawab Barata, “aku masih harus mempersiapkan beberapa kelengkapan untuk wisuda. Harinya semakin aus, sehingga waktunya benar-benar tinggal sepekan.”

“Tetapi sebaiknya kau menunggu nasi di dapur masak. Hari ini bukan kendo udang. Bukan pula dendeng ragi. Tetapi aku lihat beberapa ekor kambing telah dipotong.”

Barata tertawa. Katanya, “Gigiku sedang sakit. Aku tidak dapat makan daging.”

Kasadha tidak dapat menahannya. Pagi-pagi sebelum matahari terbit Barata telah siap untuk berangkat.

Ki Rangga Dipayuda sekali lagi berpesan, agar ia singgah dirumahnya dan memberitahukan kepada Jangkung, agar keluarganya bersiap-siap empat hari lagi.

Demikianlah, maka Barata pun telah meninggalkan barak itu setelah ia minta diri pula kepada Ki Rangga Prangwiryawan. Kasadha yang mengantarnya sampai kepintu gerbang, memperhatikannya sampai hilang di tikungan. Diluar sadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Ia telah mendapat kesempatan lagi untuk singgah dirumah Riris.”

Namun seperti biasanya, setiap kali Kasadha berusaha untuk mengusir perasaannya itu. Bahkan ia berusaha untuk menyalahkan diri sendiri, “Kenapa jiwaku begini kerdil? Aku tidak pernah merasa iri hati ketika aku harus melepaskan seluruhnya hakku atas Tanah Perdikan Sembojan. Kenapa tiba-tiba timbul perasaan dengki seperti ini.”

Sementara itu Barata telah memacu kudanya. Memang jalan-jalan masih agak sepi. Baru beberapa orang yang akan berjualan ke pasar nampak lewat di jalan-jalan kota. Satu dua pedati membawa hasil bumi merayap perlahan-lahan.

Namun Kasadha merasa bahwa ia harus berpacu agak cepat. Apalagi ia masih harus singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda.

Tetapi keharusannya untuk singgah dirumah Ki Rangga itu bagi Barata bukan merupakan beban yang memberatinya. Namun ia justru merasa mendapat kesempatan untuk melakukannya, meskipun ia agak kecewa bahwa ia tidak bermalam dirumah Ki Rangga Dipayuda itu saja daripada dibaraknya.

Demikianlah, karena jarak rumah Ki Rangga memang tidak terlalu jauh dari Pajang, maka dengan memacu kudanya lebih cepat, maka Barata pun segera telah sampai kerumah yang dituju.

Kedatangan Barata yang masih terhitung pagi itu memang mengejutkan. Sumbaga yang sedang membersihkan halaman depan rumah itu memang terkejut. Namun ia sudah merasa bahwa dirinya tidak lebih dari seorang yang menumpang hidup dirumah itu, sehingga ia lidak dapat berbuat lebih dari itu, meskipun ia masih terhitung kadang sendiri.

Karena itu, maka setelah mempersilahkan Barata duduk dipendapa maka Sumbaga pun segera memberitahukan kedatangan Barata kepada Nyi Rangga Dipayuda.

Nyi Rangga pun dengan tergesa-gesa telah pergi ke pendapa setelah disuruhnya Sumbaga memanggil Jangkung yang sedang berada dikebun belakang.

Beberapa saat kemudian, maka Nyi Rangga, Jangkung dan Riris pun telah menemui Barata di pendapa. Mereka memang sudah menduga bahwa kedatangan Barata itu ada hubungannya dengan rencana wisuda yang akan segera diselenggarakan di Tanah Perdikan.

Barata pun agaknya sulit untuk menahan diri berlama-lama. Karena itu, maka ia pun segera menyampaikan kepentingannya singgah dirumah itu.

“Aku telah menemui Ki Rangga di Pajang,” berkata Barata, “ Ki Rangga berpesan agar aku singgah memberitahukan kepada keluarga disini untuk bersiap-siap. Ampat hari lagi Ki Rangga akan berangkat ke Tanah Perdikan bersama dengan seluruh keluarga disini.”

“Baiklah ngger,” sahut Nyi Rangga, “kami akan bersiap-siap. Demikian Ki Rangga datang, kami akan dapat segera berangkat.”

Namun demikian Barata lelah ditahannya agar tidak tergesa-gesa meninggalkan rumah itu. Nyi Rangga dan Riris segera akan menyiapkan hidangan baginya.

Barata memang menjadi agak bimbang. Ia ingin segera sampai ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu, namun rasa-rasanya ia masih ingin juga tinggal dirumah Riris untuk beberapa lama.

Namun Nyi Rangga telah benar-benar menahannya untuk beberapa saat sambil duduk berbincang dengan Jangkung.

“Air telah hampir mendidih. Kebetulan ketika kau datang, aku sudah mulai menjerang air,” berkata Nyi Rangga.

Barata memang tidak mempunyai pilihan. Ia pun untuk beberapa saat menunggu hidangan disuguhkan.

Ternyata sambil minum minuman hangat ia masih sempat berbincang dengan Riris untuk beberapa saat. Namun Barata memang tidak dapat duduk terlalu lama. Bagaimanapun juga keluarga di rumah tentu sudah sangat menunggunya.

Demikianlah, setelah minum dan makan beberapa potong makanan, maka Barata pun segera minta diri. Ia harus segera sampai ke Tanah Perdikan yang telah bersiap-siap untuk menyelenggarakan wisuda.

Nyi Rangga, Jangkung dan Riris tidak menahannya lagi. Mereka mengerti bahwa Barata sudah digelisahkan oleh waktu yang semakin sempit. Karena itu, maka mereka pun segera melepaskan Barata meninggalkan rumah itu.

Sejenak kemudian, maka Barata pun telah berpacu menyusuri jalan persawahan. Jarak yang ditempuhnya memang masih jauh. Namun kudanya yang tegar telah berlari cukup kencang. Bahkan kadang-kadang Barata harus memperlambat derap kaki kudanya karena kadang-kadang jalan tidak begitu rata. Bekas roda pedati membuat jalan-jalan bulak itu ditelusuri oleh jalur-jalur yang semakin lama semakin dalam.

Kedatangannya di Tanah Perdikan di sore hari, disambut oleh keluarganya dengan tarikan nafas lega. Ternyata seperti yang diduganya, ibu, nenek dan kakek-kakeknya telah menjadi gelisah. Selain tentang perjalanan Barata juga tentang hari wisuda yang menjadi semakin dekat.

Demikian Barata sampai di rumah, maka ia pun segera melaporkan hasil perjalanannya. Terutama tentang pembicaraannya dengan Ki Rangga Kalokapraja.

“Semua akan berjalan sesuai dengan rencana,” berkata Barata, “tidak ada perubahan apapun juga.”

“Apakah Ki Rangga akan datang sehari sebelum wisuda sebagaimana direncanakan?” bertanya ibunya.

“Ya. Ki Rangga akan datang sehari sebelumnya,” jawab Barata, “tetapi tidak banyak lagi yang harus dikerjakan, kecuali kelengkapan wisuda itu sendiri.”

“Apa saja yang harus kita sediakan sebagai kelengkapan wisuda itu?” bertanya ibunya.

“Pendapa rumah kita. Hanya itu. Yang lain, apabila harus disediakan adalah kelengkapan-kelengkapan kecil yang tidak banyak berarti,” jawab Barata, “Namun jelasnya nanti setelah Ki Rangga Kalokapraja datang.”

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian nampaknya tidak akan terlalu banyak memerlukan persiapan. Namun agaknya justru penginapan mereka yang akan hadir itulah yang harus kita siapkan dengan baik.”

Barata pun telah memberitahukan kepada ibunya, bahwa tamu yang terpenting selain pejabat dari Pajang yang akan mewakili Kangjeng Adipati Pajang serta beberapa pengiringnya, Barata juga mengundang Ki Rangga Dipayuda yang akan datang sekeluarga. Mereka pun memerlukan tempat untuk menginap. Demikian pula Puguh akan datang bersama ibu dan bibinya.

“Siapa saja yang kau maksud dengan keluarga Ki Dipayuda itu, Risang? Isterinya atau siapa?” bertanya ibunya.

“Ya ibu. Ki Rangga Dipayuda akan datang bersama Nyi Rangga, anaknya laki-laki dan anak gadisnya,” jawab Risang.

“O,” ibunya mengangguk-angguk, “jadi mereka akan datang berempat?”

“Ya ibu,” jawab Risang agak ragu.

Ibunya tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi yang menjadi perhatiannya adalah, bahwa keluarga Ki Rangga Dipayuda itu akan datang bersama seorang anak gadisnya.

“Apakah gadis itu yang telah menarik perhatian Risang sehingga ia lebih senang pergi ke Pajang seorang diri?” pertanyaan itu memang timbul dihatinya meskipun tidak diucapkannya.

Ternyata bukan hanya ibu Risang saja yang tertarik kepada akan kehadiran seorang gadis pada hari wisudanya itu. Tetapi juga nenek dan kedua kakeknya. Apalagi Nyai Soka yang telah agak lama memperhatikan kelakuan Risang itu.

Tetapi seperti ibu Risang, mereka pun tidak menanyakannya.

Demikianlah, maka kesibukan di Tanah Perdikan Sembojan semakin nampak. Beberapa buah rumah telah diperbaiki dan disiapkan untuk menginap para tamu. Rumah disekitar rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan dipinjam untuk dipergunakan sebagai penginapan. Sebuah bangunan khusus telah didirikan di belakang dapur rumah Kepala Tanah Perdikan, karena dapur yang telah ada ternyata terlampau kecil. Selain dapur, telah disiapkan pula sebuah kandang kuda bagi kuda-kuda yang bakal dipakai oleh para tamu. Kandang yang justru cukup panjang.

Sementara itu, di Pajang, Kasadha telah bersiap-siap pula untuk menjemput ibunya. Ia telah minta ijin lagi kepada Ki Rangga Dipayuda dan Ki Rangga Prangwiryawan untuk meninggalkan barak beberapa hari. Namun dalam pada itu, Ki Rangga Dipayuda pun berkata, “Aku pun akan minta ijin pula untuk barang dua hari, karena aku juga akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi aku harus menjemput ibuku Ki Rangga,” jawab Kasadha dengan ragu.

“Bagaimana jika kita pergi bersama-sama?” tiba-tiba Ki Rangga bertanya.

Wajah Kasadha berbinar sejenak. Namun kemudian segera menjadi muram kembali? Sekilas ia melihat kesempatan untuk menempuh perjalanan bersama Riris. Namun ketika ia sadar akan keadaan ibunya, maka agaknya sulit baginya untuk pergi bersama Ki Rangga. Ia tidak akan mampu mencegah jika ibunya yang penuh dengan perasaan bersalah itu, tiba-tiba menumpahkan perasaannya kepada Nyi Rangga Dipayuda. Meskipun mungkin hal itu dapat terjadi di Tanah Perdikan, namun Kasadha berharap bahwa ia dan ibunya akan datang lebih dahulu dari para tamu yang lain. Apapun yang akan ditumpahkan oleh ibunya karena perasaannya yang penuh sesak dan berjejalan didalam hatinya, diharapkan telah dilakukannya sebelum ada orang lain di Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka Kasadha yang ragu-ragu itu akhirnya berkata, “Maaf Ki Rangga. Ibuku adalah seorang perempuan yang tidak terbiasa bergaul. Ibuku hidup sebagai petani di padukuhan terpencil. Karena itu, maka agak sulit bagiku untuk mengajak ibu pergi bersama-sama dengan orang lain, apalagi bersama keluarga.

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Sebenarnya tidak ada jarak diantara kita. Petani yang bagaimanapun juga terasingnya, namun bagiku, derajad dan martabat kita sebagai mahluk Yang Maha Agung tidak ada bedanya. Hanya secara kebetulan tugas kita berlainan.”

Namun Kasadha berkata pula, “Aku mohon maaf Ki Rangga. Ibuku tentu merasa rendah diri sehingga sulit baginya untuk menyesuaikan diri. Bahkan aku pun mencemaskannya, apakah ia dapat menyesuaikan dirinya di Tanah Perdikan Sembojan. Namun setidak-tidaknya ibu akan dapat berada di dapur membantu menunggui perapian.”

“Ah,” desis Ki Rangga, “kau selalu merendahkan diri. Sikap itu dapat dibaca dalam sikapmu sehari-hari disini. Juga saat-saat kau membuat perbandingan ilmu. Sebagaimana kau bertanding melawan Ki Rangga Prangwiryawan. Jika Ki Rangga Prangwiryawan tidak dengan jantan mengakui kekalahannya, maka kau pun tidak akan menyatakan dirimu menang.”

Kasadha tersenyum kecil sambil menjawab, “tentu tidak Ki Rangga. Aku memang tidak menang.”

Ki Rangga lah yang tertawa. Katanya, “Jika kau berkata bahwa kau memang rendah hati, itu pertanda bahwa kau sama sekali tidak rendah hati. Tetapi kau tidak berkata demikian.”

Kasadha masih tersenyum. Tetapi ia berdesah, “Ah, Ki Rangga selalu memuji.”

“Tetapi baiklah,” berkata Ki Rangga, “kau dapat berangkat lebih dahulu karena kau akan menjemput ibumu. Tetapi tidak mustahil jika kita akan bertemu di perjalanan.”

Kasadha mengerutkan dahinya. Namun katanya kemudian, “Memang mungkin Ki Rangga.”

Demikianlah, pada saat yang ditentukan, maka Kasadha pun telah minta diri. Kasadha memang sengaja membawa seekor kuda. Jika nanti ibu dan bibinya mengajaknya berjalan kaki saja, maka kudanya akan menjadi kuda beban. Mungkin ibu dan bibinya akan membawa sebungkus keperluan mereka, justru karena seorang perempuan yang bepergian tentu akan membawa bekal apapun juga. Mungkin pakaian atau barang-barang lain.

Ketika Kasadha sampai ke rumah ibu dan bibinya, maka ternyata ibu dan bibinya memang sudah siap. Mereka memang membawa sebungkus bekal berisi pakaian, kapur sirih dan keperluan-keperluan lainnya.

***

Seorang pengikut Ki Tunggul ternyata melihat kehadiran Kasadha seorang diri. Namun ketika hal itu disampaikan kepada Ki Tunggul, maka Ki Tunggul itu pun berkata, “Jika kau mau mati, cegatlah besok di penyeberangan sungai itu.”

“Tetapi orang itu sendiri,” sahut pengikutnya.

“Yang nampak ia sendiri,” jawab Ki Tunggul, “tetapi siapa tahu anak itu sengaja menjebakku.”

Pengikutnya tidak menjawab lagi. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia pun benar-benar telah jera untuk berhadapan dengan prajurit muda itu. Apalagi setelah Ki Tunggul sendiri merasa berkeberatan.

Ternyata Ki Tunggul benar-benar sudah menjadi jera. Ia telah mengesampingkan mimpinya untuk mendapatkan seorang isteri dan sekaligus seorang budak yang cekatan, terampil, mampu bekerja keras dan cantik, meskipun tidak muda lagi.

Betapapun dendam membara dihatinya, namun kenyataan-kenyataan pahit yang telah terjadi tidak akan dapat dilupakannya. Bahkan nampaknya prajurit muda itu akan benar-benar membunuhnya jika ia berani mengganggunya sekali lagi.

Dalam pada itu, Kasadha, ibu dan bibinya memang sudah siap untuk berangkat. Mereka berniat untuk berangkat lewat tengah malam. Sebenarnyalah bagi ibu dan bibi Kasadha, perjalanan itu bukan merupakan persoalan.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 47

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

 

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s