SST-45

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

RISANG termangu-mangu sejenak Sambil mengerutkan dahinya ia bertanya, “Kenapa kita tidak meneruskan latihan ini, nek?”

“Tidak apa-apa. Tetapi nampaknya kau tidak dapat memusatkan perhatianmu pada latihan ini.” jawab neneknya.

“Aku akan berusaha, nek,” desis Risang kemudian.

Tetapi neneknya menggeleng. Katanya, “Biarlah hari ini kau beristirahat. Bukankah kau besok akan pergi ke Pajang?”

“Tetapi aku dapat berusaha memusatkan perhatianku hari ini, nek,” sahut Risang.

“Tidak Risang. Sebaiknya kita meneruskan latihan-latihan setelah kau kembali dari Pajang. Sementara itu, kedua orang kakekmu tentu sudah menyelesaikan salah satu unsur yang sedang mereka bicarakan hari ini. Bahkan aku pun akan dapat ikut membicarakannya pula,” berkata neneknya kemudian.

“Apakah nenek marah?” bertanya Risang agak cemas.

“Tidak. Kenapa nenek marah? Aku tahu bahwa angan-anganmu sudah berada di perjalanan ke Pajang sehingga yang tertinggal disini adalah wadagmu saja. Kosong, tanpa jiwa,” jawab neneknya yang memang agak kesal.

Tetapi Nyai Soka itu pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Sudahlah. Jangan pikirkan. Kau tentu ingin segera berada di Pajang, dengan siapapun kau ingin bertemu. Karena itu, bagaimanapun kau berusaha, namun kau akan tetap sulit untuk dapat memusatkan nalar budimu pada latihan ini. Tetapi tidak apa. Kau memang tidak boleh tergesa-gesa dengan penguasaan ilmumu. Kau harus benar-benar bersiap lahir dan batin untuk menerima puncak ilmu Janget Kinatelon.”

Risang mengangguk-angguk. Namun ia tidak berani menatap wajah neneknya meskipun ia tahu bahwa neneknya itu tersenyum. Tetapi ia pun tahu bahwa neneknya memang agak kecewa.

“Sudahlah. Aku akan menemui kedua kakekmu dan ikut berbicara tentang unsur yang satu itu. Yang akan dapat kau pergunakan sebagai pancadan untuk sampai ke puncak ilmumu,” berkata Nyai Soka kemudian.

Keduanya pun kemudian meninggalkan sanggar itu. Nyai Soka memang pergi ke serambi kanan untuk bersama-sama dengan Kiai Badra dan Kiai Soka memecahkan satu masalah yang pelik yang terdapat pada salah satu unsur yang harus dikuasai oleh Risang sebelum ia sampai pada puncak ilmunya.

Risang sendiri memang merasa bersalah. Tetapi ia benar-benar tidak dapat menguasai dirinya yang gelisah. Ia selalu saja membayangkan perjalanannya ke Pajang untuk menemui Kasadha besok di Pajang. Namun sebenarnyalah bahwa yang membuatnya lebih gelisah adalah niatnya untuk singgah menemui Riris untuk menyampaikan berita yang menggembirakan bagi Tanah Perdikan Sembojan itu. Bahkan Risang pun berharap semoga Riris pun menjadi gembira pula karenanya.

“Aku tidak tahu apakah ia tertarik kepada berita ini atau tidak sama sekali,” berkata Risang didalam hatinya.

Hari itu memang terasa jauh lebih panjang dari hari-hari sebelumnya. Namun akhirnya malam pun turun. Tanah Perdikan Sembojan pun diselimuti oleh kegelapan yang semakin lama semakin pekat.

Tetapi malam itu bagi Risang justru terasa sangat menggelisahkan. Udara terasa panas. Apalagi matanya menjadi sulit untuk dipejamkan. Bunyi kentongan di gardu sejak wayah sepi bocah, sepi uwong, tengah wengi dan kokok ayam jantan di tengah malam, dini hari dan menjelang fajar, dapat didengarnya semua. Jika ia terpejam sesaat itu hanya sekedar terlena. Namun sejkejap kemudian matanya itu pun telah terbuka kembali.

Dalam kegelisahannya, udara malam terasa panas, sehingga Risang telah membuka bajunya.

Tidak dapat tidur semalam suntuk dalam kegelisahan memang terasa sangat menyiksa. Namun, demikian terdengar ayam jantan berkokok menjelang fajar, maka Risang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dikenakannya bajunya sambil melangkah keluar dari biliknya.

Seperti biasa Risang pun segera pergi ke pakiwan, menimba air untuk mengisi jambangan. Kemudian mandi dan berbenah diri. Ia ingin berangkat ke Pajang sebelum matahari terasa membakar kulit.

Namun seperti biasanya, ibunya tentu minta kepadanya, agar ia makan pagi lebih dahulu. Kemudian minta diri kepada kedua kakek dan kepada neneknya. Sehingga akhirnya Risang berangkat ke Pajang setelah matahari mulai naik dan sinarnya sudah terasa gatal dikulit.

Demikian Risang lepas dari padukuhan induk, maka kudanya pun segera berlari kencang. Meskipun Risang sadar, bahwa ia tidak terikat oleh waktu, namun seakan-akan ada yang membuatnya tergesa-gesa.

Namun yang kemudian dipikirkannya, apakah ia akan menemui Kasadha lebih dahulu, atau ia akan singgah dirumah Riris.

“Lebih baik aku pergi ke Pajang lebih dahulu,” berkata Risang kepada dirinya sendiri, “sambil kembali ke Tanah Perdikan, aku dapat singgah dirumah Riris. Aku akan merasa lebih tenang karena aku tidak mempunyai kepentingan yang lain.”

Risang pun kemudian berketetapan untuk pergi ke Pajang lebih dahulu untuk menemui Kasadha. Baru kemudian, ia akan singgah dirumah Riris. Memang masih terbayang sikap Sumbaga yang memusuhi orang-orang yang datang kerumah Ki Rangga Dipayuda.

“Mudah-mudahan ia sudah berubah,” desis Risang. Bahkan kemudian katanya kepada diri sendiri, “Ia akan menyadari bahwa ia telah salah langkah.”

Demikianlah, maka Risang pun telah berpacu dengan matahari yang semakin tinggi. Panasnya mulai terasa menggigit kulit. Keringat pun mulai membasahi pakaian Risang. Namun Risang seakan-akan telah menjadi kebal akan sinar matahari. Setiap hari ia selalu berada dipanasnya sinar matahari apapun yang dikerjakan.

Ketika Risang memasuki gerbang kota Pajang, maka Risang telah memperlambat derap kaki kudanya. Jalan-jalan didalam kota memang terasa lebih ramai. Orang berjalan hilir mudik, sementara ada juga diantara mereka yang berkuda. Bahkan anak-anak muda pun banyak yang berkuda melintas jalan-jalan raya. Bahkan kadang-kadang tanpa menghiraukan sibuknya lalu-lintas di jalan yang semakin terasa sempit itu. Bukan jalannya yang menjadi sempit, tetapi muatannyalah yang bertambah-tambah.

Apalagi sejak Pajang menjadi semakin tenang dalam kepemimpinan yang tertib.

Risang memang sempat melihat-lihat keadaan kota sejenak. Namun ketika ia sampai disebuah simpang tiga yang satu diantaranya menuju ke rumah Ki Rangga Kalokapraja, maka Risang justru memilih jalan yang lain, yang menuju ke barak prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda dan beberapa orang Rangga. Diantaranya adalah Ki Rangga Dipayuda, ayah Riris.

Kedatangan Risang telah disambut dengan gembira oleh Kasadha dan bahkan Ki Rangga Dipayuda. Namun karena keduanya sedang sibuk di sanggar terbuka untuk melatih beberapa orang prajurit yang ditempa secara khusus, maka Risang pun dipersilahkan untuk menunggu sejenak.

Baru beberapa saat kemudian, Kasadha datang menemuinya dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya. Sambil mengusap keringat dikeningnya ia berkata sambil tertawa, “Aku minta maaf, tidak dapat segera menerima kedatanganmu.”

“Tidak apa. Aku tahu bahwa kau bukan seorang penganggur disini. Tetapi kau adalah seorang prajurit yang mempunyai tugas-tugas tertentu. Nah, jika kau sedang menjalankan tugas, maka aku memang tidak boleh mengganggumu,” berkata Risang sambil tertawa pula.

Demikianlah, maka Kasadha pun mempersilahkan Risang yang baginya terbiasa dipanggil Barata, ke bilik khususnya. Bersama Ki Rangga Dipayuda, Kasadha menerima Barata yang sudah beberapa lama tidak bertemu.

“Bukankah segala sesuatunya baik di Tanah Perdikanmu?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Ya, Ki Rangga,” jawab Barata, “segala sesuatunya berjalan dengan baik. Tidak ada hambatan apapun juga sampai hari ini. Semoga untuk selanjutnya juga demikian,” jawab Barata. Rasa-rasanya ia ingin segera menyampaikan berita gembira tentang Tanah Perdikan nya. Namun ia masih menahan diri untuk menyimpan berita itu sampai pada saat yang tepat.

Karena itu maka pembicaraan mereka justru telah bergeser kesana-kemari. Mereka berbicara tentang keselamatan lingkungan mereka masing-masing. Tentang pekerjaan mereka sehari-hari dan tentang apa saja yang dapat mereka bicarakan dengan gembira.

Beberapa saat kemudian, maka Kasadha pun telah menyelinap ke dapur untuk mengambil minuman bagi tamunya dari Sembojan itu.

“Ada juga hidangan disini,” desis Barata.

“Sebentar lagi aku akan menghidangkan makan siang. Bukankah matahari telah melewati puncaknya?” jawab Kasadha.

Barata tertawa. Ki Rangga pun tertawa pula. Katanya, “Kau minta hidangan apa saja. Disini tersedia sesuai dengan selera setiap orang didalam barak ini.”

Baru kemudian setelah Barata minum, ia pun berkata, “Aku membawa berita yang bagiku sangat menggembirakan. Aku cepat-cepat datang kemari dengan harapan bahwa kalian pun akan dapat ikut bergembira bersama aku dan seluruh keluarga Tanah Perdikan Sembojan.”

“Berita apakah yang kau bawa?” bertanya Ki Rangga Dipayuda sambil mengerutkan dahinya. Sementara Kasadha pun nampaknya juga segera ingin tahu.

Barata termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Apakah berita itu akan membuat Kasadha ikut bergembira atau justru sebaliknya.

Karena Barata tidak segera menjawab, maka Kasadha pun mendesaknya, “Kau membuat jantungku berdebar-debar.”

Barata memandang Ki Rangga dan Kasadha berganti-ganti. Keragu-raguan memang membayang diwajahnya.

Namun kemudian ia pun berkata, “Di Tanah Perdikan Sembojan akan dilaksanakan wisuda.”

“Wisuda,” Kasadha mengulang, “maksudmu wisuda Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

“Ya,” jawab Barata dengan nada berat.

Wajah Kasadha tiba-tiba saja berbinar cerah. Sambil memberikan salam dan mengguncang tangan Barata, Kasadha berkata, “Selamat Barata, Selamat. Aku adalah orang yang pertama memberikan ucapan selamat kepadamu. Mudah-mudahan segalanya dapat berlangsung dengan lancar dan selamat.”

Wajah Barata pun menjadi cerah. Ia melihat kegembiraan yang serta merta diwajah Kasadha. Bukan sekedar dibuat-buat untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

Sementara itu, Ki Rangga pun telah menyampaikan pernyataan selamat pula kepada Barata. Dengan nada gembira Ki Rangga berkata, “Kau pantas untuk menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan. Meskipun sebenarnya kau masih terlalu muda, namun nampaknya kau telah ditempa oleh keadaan sehingga kau nampak cukup dewasa untuk menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang besar seperti Sembojan. Aku yakin bahwa pengalamanmu dan tuntunan yang kau terima dari orang-orang tua di Tanah Perdikan akan dapat membuatmu menjadi seorang yang sesuai dengan jabatan yang bakal kau sandang. Kepala Tanah Perdikan.”

“Terima kasih Ki Rangga. Aku mohon restu. Bukan saja dari kejauhan, tetapi aku mohon Ki Rangga dan Kasadha merestui wisuda itu langsung di Tanah Perdikan Sembojan. Tegasnya, aku mohon Ki Rangga Dipayuda dan Ki Lurah Kasadha bersedia hadir untuk menyaksikan wisuda itu.”

“Kapan wisuda itu akan dilaksanakan?” bertanya Kasadha.

“Masih sebulan lagi,” jawab Barata, “hari dan saatnya masih akan ditentukan kemudian.”

“Masih cukup waktu,” desis Ki Rangga Dipayuda, “tetapi tolong beri tahu kami jika saatnya telah mendekat. Aku benar-benar ingin datang ke Tanah Perdikan Sembojan di saat wisuda itu dilakukan.”

“Aku juga,” berkata Kasadha kemudian, “katakan kepastiannya saat wisuda itu dilakukan. Jangan terlalu dekat, agar aku dapat bersiap-siap.”

“Lima hari dari jarak sebulan itu aku diminta untuk datang ke rumah Ki Rangga Kalokapraja untuk mendapatkan kepastian saat wisuda itu. Hari, saatnya dan salah seorang Nayaka Praja yang akan mewakili Kangjeng Adipati mewisuda Kepala Tanah Perdikan itu. Sehingga kami di Tanah Perdikan mendapat kesempatan untuk mempersiapkan segala sesuatunya,” berkata Barata.

“Waktunya hanya sepekan?” bertanya Kasadha.

“Tetapi sejak sekarang kami sudah dapat mempersiapkannya. Seandainya ada perubahan penting, maka Ki Rangga Kalokapraja tentu akan memberitahukan dengan segera,” jawab Barata.

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jadi waktunya hampir pasti sebulan lagi sejak kau mendapat keterangan tentang wisuda itu.”

“Ya,” jawab Barata, “apalagi yang menyampaikan kepadaku adalah Ki Rangga Kalokapraja sendiri, sehingga menurut pendapatku maka segala sesuatunya tentu sudah masak.”

“Agaknya memang demikian,” sahut Ki Rangga Dipayuda, “jika Ki Rangga Kalokapraja sendiri datang ke Tanah Perdikan Sembojan, maka agaknya semuanya sudah hampir pasti.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba dahinya berkerut. Dengan nada ragu ia bertanya, “Apakah aku pantas memberi tahukannya kepada ibu?”

Pertanyaan itu telah mengetuk jantung Barata. Namun karena selain Barata dan Kasadha hadir juga Ki Rangga Dipayuda, maka Barata pun berkata, “Nanti saja kita bicarakan.”

Agaknya Kasadha pun tanggap akan jawaban itu, sehingga ia pun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Bukankah kau tidak segera ingin kembali ke Tanah Perdikanmu? Aku harap kau bermalam disini. Ki Rangga tentu tidak berkeberatan. Dan karena Ki Rangga tidak berkeberatan, maka biasanya Ki Tumenggung pun tidak berkeberatan pula.”

Ki Rangga tertawa. Katanya, “Tentu aku tidak berkeberatan. Jangankan satu hari. Dua atau tiga hari pun aku dan tentu Ki Tumenggung juga tidak berkeberatan. Bukankah kau tidak akan membuat gaduh disini?”

Barata dan Kasadha pun tertawa, meskipun kedua anak muda itu telah menyembunyikan satu masalah didalam hati mereka masing-masing. Sebenarnyalah pertanyaan Kasadha tentang ibunya, agak sulit untuk dapat dijawab oleh Barata. Apalagi ketika hal itu pernah ditanyakan kepada ibunya, Nyi Wiradana belum memberikan jawaban yang pasti.

Namun baik Barata maupun Kasadha berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan mereka.

Dalam pada itu, seperti yang dikatakan oleh Kasadha, maka Barata pun telah dibawanya pergi ke ruang yang lain bersama Ki Rangga. Ketika dengan heran Barata bertanya ia akan dibawa kemana, Ki Rangga lah yanag menjawab sambil tersenyum, “Menurut sajalah. Kau tidak akan dibawa kebilik tahanan.”

Baru kemudian Barata sadar, bahwa ia telah dibawa ke sebuah ruang yang agak luas di sebelah dapur.

“Nah, aku ingin membuktikan kata-kataku,” berkata Kasadha, “kau akan memesan apa? Nasi liwet, serundeng kelapa, dendeng ragi, atau nasi rawon sandung lamur dengan lalaban ketimun dan seunting kemangi?”

Barata tertawa. Namun katanya, “Karena aku tidak duduk di sebuah kedai, maka aku menurut saja, apa yang akan dihidangkan.”

“Bagus,” jawab Kasadha, “aku akan memesan nasi liwet, rawon dengan lalaban, sepotong daging ayam dan kerupuk udang.”

“Ah, jangan terlalu banyak macam lauknya. Aku terbiasa makan apa adanya,” berkata Barata.

“Tetapi kau sebulan lagi adalah Kepala Tanah Perdikan,” sahut Kasadha.

Ki Rangga hanya tertawa saja. Dipandanginya saja Kasadha yang pergi ke dapur untuk memesan makan bagi tamunya.

Ternyata beberapa saat kemudian, seorang petugas didapur telah menghidangkan makan yang dipesan. Semangkuk nasi, semangkuk lodeh keluwih, sambal terasi dan sepotong daging lembu. Lalaban mentimun dan terung ungu.

Ki Rangga tertawa melihat hidangan itu. Barata pun tidak dapat menahan tertawanya pula sehingga perutnya terguncang. Sementara itu Kasadha berkata, “Nah, bukankah benar kataku. Lalaban mentimun?”

“Kau memang pandai membuat kejutan,” berkata Barata, “Nasi liwet, rawon, sandung lamur, pupu gending atau dada mentok dan kerupuk udang, sambal lombok goreng dan apa lagi.”

“Tetapi ada yang tepat seperti yang aku tawarkan, lalaban mentimun,” sahut Kasadha sambil tertawa.

“Tetapi adalah kebetulan, aku gemar sekali lodeh keluwih,” berkata Barata kemudian.

Ternyata Barata tidak mengecewakan mereka yang memberikan suguhan. Nasi dan semua yang dihidangkan dimakannya dengan lahapnya meskipun ia tidak mampu menghabiskannya.

Sementara itu Ki Rangga Dipayuda merasa senang melihat keakraban antara keduanya. Namun dengan demikian justru terkilas bayangan hubungan kedua orang anak muda itu dengan anak gadisnya. Kedua-duanya nampaknya akrab dengan Riris, sementara memang sulit untuk mengatakan, yang manakah yang lebih baik dari keduanya. Namun bagi Ki Rangga Dipayuda, Kasadha yang seorang Lurah prajurit itu mempunyai hubungan yang lebih rapat dengan dirinya. Bahkan menjadi anak buahnya yang sedikit banyak akan mempunyai pengaruh terhadap hubungannya dengan anaknya, Riris.

Namun Ki Rangga masih selalu menyimpan persoalan itu didalam dadanya. Ia masih belum pasti apa isi Riris sebenarnya, khususnya terhadap kedua orang anak muda itu.

Demikianlah malam itu Barata benar-benar bermalam di barak Kasadha atas ijin Ki Tumenggung sebagaimana diminta oleh Kasadha. Namun dengan demikian, ketika malam mulai turun, maka keduanya telah terlibat dalam pembicaraan yang sungguh-sungguh.

Tanpa hadirnya orang lain, maka Kasadha dan Barata yang duduk disebuah amben bambu panjang diserambi bilik Kasadha telah mengulangi pembicaraan mereka. Kasadha telah mengulangi lagi pertanyaannya, apakah ia dapat membawa ibunya untuk hadir pada upacara wisuda itu.

Barata memang termangu-mangu. Namun dengan terus terang ia berkata, “Kasadha, aku belum dapat menjawab pertanyaanmu. Sebenarnyalah ibu sangat mempercayaimu. Ibu menganggap kau sebagai anaknya sendiri. Tetapi, ketika kami menyinggung tentang ibumu, apakah ibumu dapat hadir di Tanah Perdikan itu atau tidak, maka ibuku menjadi ragu-ragu.”

“Jadi ternyata hal ini pernah kalian bicarakan juga di Tanah Perdikan?” bertanya Kasadha.

“Kami telah membicarakan segala kemungkinan,” jawab Barata.

“Apakah ibumu telah mengambil keputusan?” bertanya Kasadha kemudian.

Barata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ibu menyerahkan segalanya kepada kami.”

“Kami siapa?” desak Kasadha.

“Maksudku, aku dan orang-orang tua di Tanah Perdikan,” jawab Barata.

“Dan bagaimana keputusan mereka?” desak Kasadha lebih lanjut.

Barata memandang Kasadha dengan tajamnya. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ada yang menolak kehadiran ibumu.”

“Jadi ibumu masih tetap bimbang?” bertanya Kasadha dengan nada dalam. Bahkan hampir tidak terdengar oleh Barata.

Barata menelan ludahnya. Dengan nada dalam ia berkata, “Kasadha, aku harap kau dapat mengerti, kenapa ibuku masih saja ragu-ragu. Peristiwa berpuluh tahun yang lalu itu tidak mudah dilupakannya, karena hampir saja melepaskan nyawanya. Justru saat itu ibu sedang mengandung.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku dapat mengerti Barata. Namun sekarang ibuku benar-benar telah menyesali perbuatannya. Bahkan ibu telah melakukan satu perbuatan yang sangat pahit bagi perasaannya. Entah aku pernah mengatakan hal ini kepadamu atau belum, bahwa ibuku telah membunuh laki-laki yang pernah hadir didalam hidupnya. Seakan-akan merupakan satu putaran peristiwa, bahwa ibuku harus menebus dosanya.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Warsi, ibu Kasadha yang saat dilahirkan bernama Puguh itu, tentu sudah berubah sama sekali.

Dengan nada lembut Barata kemudian berkata, “Kasadha, biarlah aku berusaha meyakinkan ibuku. Tetapi dihadapan orang-orang tua di Tanah Perdikan, ibu sudah pernah menyerahkan persoalan itu.”

“Tetapi itu belum dapat diartikan, bahwa ibumu benar-benar telah melupakan peristiwa yang sangat menyakitkan hatinya itu. Bahkan bukan saja melupakan, tetapi memaafkan.”

“Aku berjanji Kasadha,” jawab Barata, “aku akan meyakinkan ibuku sehingga ibuku akan melupakan dan bahkan memaafkan apa yang pernah terjadi itu.”

“Aku berterima kasih kepadamu Barata. Dengan demikian tidak ada persoalan lagi diantara kita. Kita akan dapat hidup tenang dalam lingkungan keluarga besar,” berkata Kasadha kemudian. Namun dengan nada rendah ia berkata, “tetapi aku juga masih belum berbicara dengan ibuku. Apakah ibuku bersedia datang ke Tanah Perdikan Sembojan juga masih satu pertanyaan. Bukan karena ibuku tidak dapat melupakan peristiwa yang pernah terjadi itu. Tetapi justru karena ibuku merasa tidak berharga lagi untuk menyentuh Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi mengaku sebagai anggauta keluarga besar Tanah Perdikan itu. Tetapi aku pun akan meyakinkan, bahwa ibu telah dimaafkan oleh keluarga Tanah Perdikan Sembojan,” Kasadha itu berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi dari mana kita akan mulai? Apakah aku menunggu kepastianmu bahwa ibuku dapat diterima di Tanah Perdikan kemudian aku minta ibuku untuk hadir di Tanah Perdikan atau sebaliknya, aku akan bertanya lebih dahulu kepada ibuku, apakah ia akan datang ke Tanah Perdikan atau tidak. Jika ibu bersedia datang, maka barulah kau minta kepastian, apakah ibuku dapat diterima atau tidak, karena kedua-duanya mengandung kemungkinan dapat menimbulkan persoalan batin.”

“Ya,” Barata mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa ibu Kasadha akan dapat tersinggung, jika ia sudah menyatakan bersedia hadir, ternyata ibunya menolaknya. Sebaliknya seandainya ibunya akan bersedia menerimanya, namun ibu Kasadha itu tidak bersedia hadir karena perasaan bersalah. Namun akan dapat menimbulkan salah paham seakan-akan Warsi itu menolak untuk hadir.

Namun akhirnya Barata pun berkata, “Tetapi baiklah. Kita akan menyampaikan persoalan ini kepada ibu kita masing-masing. Sepekan sebelum wisuda kita akan bertemu lagi. Kita tentu akan dapat berbicara lebih lanjut.

“Aku setuju,” jawab Kasadha, “jika terjadi salah paham, kita akan berusaha menyelesaikannya.”

Dengan demikian maka akhirnya kedua orang bersaudara itu telah bertekad untuk menjadi jembatan antara kedua orang ibu mereka masing-masing agar mereka dapat melupakan permusuhan yang pernah terjadi untuk waktu yang lama.”

Malam itu, ketika terdengar suara kentongan ditengah malam, maka keduanya pun telah masuk kedalam bilik Kasadha. Barata yang bermalam di barak itu telah ikut tidur di bilik itu pula.

Pagi-pagi sekali keduanya sudah terbangun. Barata pun segera pergi ke pakiwan untuk mandi. Ia akan berangkat kembali ke Tanah Perdikan Sembojan saat matahari terbit.

Namun Kasadha telah menghambat saat keberangkatan Barata. Katanya, “Kau belum mencicipi kendo udang barak ini. Kendo udang dengan sambal goreng ati rempela yang pedas. Rempeyek kacang goreng sangan dan empal daging lembu.”

Barata tertawa. Tetapi ia tidak menolak. Waktu keberangkatannya diundurnya beberapa saat.

Sementara itu ketika ia berada diruang sebelah dapur bersama Kasadha, maka yang dihidangkannya adalah oyok-oyok lembayung, kerupuk abang dan ikan lele yang digoreng kering.

“Sudah agak lama aku tidak makan kendo urang,” desis Barata, “kebetulan aku menemukannya disini.”

Kasadha tidak dapat menahan tertawanya sehingga para prajurit yang sedang makan diruang itu berpaling kepadanya. Namun Kasadha tidak menghiraukannya. Apalagi ketika Barata pun tertawa pula. Bahkan beberapa orang prajurit yang melihatnya tanpa mengetahui persoalannya telah ikut tertawa pula.

Demikianlah beberapa saat kemudian keduanya telah melangkah menghadap Ki Rangga Dipayuda untuk minta diri sebelum mereka menghadap Ki Tumenggung. Beberapa orang prajurit yang telah mengenal Barata telah menyapanya pula. Termasuk Ki Rangga Prangwiryawan.

“Kapan kau datang?” bertanya Ki Rangga.

“Kemarin Ki Rangga,” jawab Barata.

“Kau tidak mau singgah ke bilikku,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan yang sudah merubah sikapnya terhadap Kasadha.

“Besok lain kali Ki Rangga. Aku akan sering datang kemari,” jawab Barata.

Keduanya pun kemudian melanjutkan langkah mereka untuk menghadap Ki Rangga. Sementara itu Kasadha pun berdesis, “Mudah-mudahan setelah ibu kita masing-masing dapat bertaut dan melupakan permusuhan yang pernah terjadi itu, maka diantara kita benar-benar tidak ada persoalan lagi.”

Barata mengangguk kecil. Katanya, “Kita akan selalu berdoa. Permusuhan tidak menguntungkan siapapun juga. Bahkan mungkin akan dapat menyeret kita kedalam kesulitan.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun ia tidak berbicara lagi, karena mereka sudah berdiri didepan pintu Ki Rangga Dipayuda.

Ketika Barata minta diri, maka Ki Rangga Dipayuda itu pun bertanya, “Apakah kau sudah singgah dirumahku?”

“Belum Ki Rangga. Dari Sembojan aku langsung pergi kemari. Aku ingin segera menyampaikan berita gembira yang aku terima itu kepada Kasadha dan Ki Rangga,” jawab Barata.

“Terima kasih,” sahut Ki Rangga. Namun ia pun berpesan, “Jika kau pulang nanti, tolong kau singgah sebentar dirumahku. Aku minta kau sampaikan berita gembira itu kepada keluargaku. Terutama Jangkung. Aku akan membawanya pergi ke Tanah Perdikan besok pada hari wisuda itu agar ia menyaksikan kau diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan di Tanah Perdikan Sembojan,” pesan Ki Rangga.

Barata tidak menyangka, bahwa ia justru mendapat alasan untuk singgah dirumah Ki Rangga. Karena itu sebelum Ki Rangga mengulang, Barata telah dengan serta merta menjawab, “Baiklah Ki Rangga. Aku akan singgah di rumah Ki Rangga untuk bertemu dengan Jangkung.”

“Terima kasih,” desis Ki Rangga kemudian.

Namun dalam pada itu wajah Kasadha tiba-tiba berubah. Untunglah bahwa Barata dan Ki Rangga Dipayuda yang sedang berbincang itu tidak memperhatikannya. Pada saat Barata berpaling kepada Kasadha, maka Kasadha telah berhasil menguasai perasaannya.

Dalam pada itu, Barata pun telah mengajak Kasadha untuk mohon diri kepada Ki Tumenggung Jayayuda.

“Marilah. Aku antar kau menghadap Ki Tumenggung,” berkata Kasadha kemudian setelah ia menguasai, perasaannya sepenuhnya.

Setelah sekali lagi mohon diri kepada Ki Rangga Dipayuda, maka kedua anak muda itu pun segera menghadap Ki Tumenggung Jayayuda. Barata pun telah mohon diri pula untuk segera kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Demikianlah, sesaat kemudian, maka Barata pun telah menuntun kudanya keluar dari pintu gerbang barak Kasadha. Kasadha yang mengantarnya sampai kepintu gerbang berdesis, “Hati-hati diperjalanan. Mudah-mudahan kau tidak menemui hambatan apapun juga.”

“Terima kasih,” jawab Barata, “menjelang hari wisuda, sekitar sepekan sebelumnya, aku akan datang lagi, sekaligus menghadap Ki Rangga Kalokapraja.”

“Baiklah,” jawab Kasadha, “sebelum itu aku akan menemui ibuku.”

Barata mengangguk sambil menjawab, “Aku pun akan berbicara dengan ibuku. Semoga tidak akan ada masalah apapun.”

Kasadha tersenyum. Sementara Barata telah meloncat ke punggung kudanya sambil berkata, “Sampai bertemu.”

Kasadha berdiri termangu-mangu. Ia melihat kuda dengan Barata dipunggungnya, berlari sambil melemparkan debu. Semakin lama semakin jauh, sehingga akhirnya hilang di kelok jalan.

Kasadha menarik nafas panjang, seakan-akan anak muda itu ingin mengendapkan perasaannya yang bergejolak. Bahkan tiba-tiba saja timbul pertanyaan dihatinya, “Seandainya antara ibuku dan ibu Barata tidak lagi bermusuhan, apakah benar diantara kami tidak akan ada persoalan lagi?”

Kasadha menggelengkan kepalanya, seakan-akan ingin mengibaskan pertanyaan-pertanyaan itu dari kepalanya. Namun justru terbayang di angan-angannya Barata yang singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda tidak untuk menemui Jangkung, tetapi justru menemui Riris.

Sekali lagi justru bagaikan terngiang ditelinganya pertanyaan, “Benarkah bahwa tidak ada persoalan lagi?”

Tiba-tiba saja Kasadha melangkah dengan cepat memasuki baraknya. Sejenak kemudian, maka Kasadha itu pun telah menenggelamkan diri dalam tugas-tugasnya.

Namun beberapa orang anak buahnya, terutama pemimpin kelompoknya yang tertua melihat sesuatu yang lain pada Ki Lurah yang masih muda itu. Wajahnya seakan-akan dibayangi oleh mendung yang kelabu. Jika kedatangan sahabatnya yang dikenal bernama Barata itu disambutnya dengan gembira, namun setelah sahabatnya itu pergi seakan-akan meninggalkan kesan yang justru berlawanan.

Tetapi tidak seorang pun yang berani menanyakannya kepada Kasadha yang menjadi lebih bersungguh-sungguh melakukan tugasnya dari biasanya.

Sementara itu, Barata telah melarikan kudanya di jalan-jalan kota yang ramai, sehingga karena itu, maka Barata tidak berani berpacu terlalu kencang. Baru kemudian setelah Barata keluar dari gerbang kota, maka kudanya pun berlari lebih cepat. Jalan tidak lagi seramai jalan-jalan dalam kota Pajang. Bahkan rasa-rasanya jalan terlalu lapang. Barata tidak tertarik lagi untuk melihat-lihat kota maupun isinya, karena ia ingin segera sampai kerumah Ki Rangga Dipayuda.

Karena itu maka dengan tidak disadarinya kudanya berlari semakin lama semakin cepat, sehingga jarak yang memang tidak terlalu jauh itu telah ditempuhnya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Diperjalanan yang menjadi semakin dekat dengan rumah Ki Dipayuda itu Risang tersenyum sendiri. Ia mendapat alasan yang kuat untuk singgah dirumah Ki Dipayuda. Meskipun seandainya tidak ada pesan apapun Risang tetap akan singgah juga. Namun pesan itu telah membebaskannya dari beban apapun juga dengan niatnya singgah di rumah Ki Dipayuda itu.

Beberapa saat kemudian, maka Barata pun telah sampai didepan regol halaman rumah Ki Dipayuda. Namun bagaimanapun juga, meskipun dengan pesan Ki Dipayuda, Barata masih juga berdebar-debar, karena ia tidak dapat ingkar dari niatnya sejak ia berangkat dari rumahnya. Bahwa ia akan singgah dirumah Ki Dipayuda untuk menemui Riris.

Namun akhirnya Barata berhasil menenangkan perasaannya. Dituntunnya kudanya memasuki halaman sambil berkata kepada diri sendiri, bahwa ia akan mulai dengan pernyataan bahwa ia singgah atas pesan Ki Rangga Dipayuda, karena ia baru saja pergi ke baraknya untuk menemui Kasadha.

Barata menarik nafas dalam-dalam ketika yang menyambutnya pertama kali bukan Riris dan bukan pula Sumbaga. Tetapi Jangkung sendiri yang nampaknya sudah siap untuk pergi. Apalagi kudanya pun telah ditambatkannya pada sebuah patok di sisi halaman rumahnya.

Dengan gembira Jangkung menyambut kedatangan Barata dan meyongsongnya kehalaman.

“Marilah. Naiklah,” berkata Jangkung sambil mengambil kendali kuda dari tangan Barata.

“Sudahlah,” berkata Barata, “biarlah aku tambatkan sendiri. Bukankah aku sudah biasa datang ke rumah ini.”

“Biarlah aku nampak seperti tuan rumah yang sangat ramah,” jawab Jangkung sambil tertawa.

Demikianlah, maka setelah menambatkan kuda Barata, Jangkung pun membawa Barata untuk naik kependapa dan mempersilahkannya duduk diatas tikar pandan yang sudah dibentangkan.

“Kau datang darimana? Dari rumah atau dari Pajang?” bertanya Jangkung.

“Aku baru saja dari Pajang,” jawab Barata, “aku pergi ke Pajang untuk menemui Kasadha. Tetapi ketika aku pulang, Ki Rangga Dipayuda berpesan kepadaku, agar aku singgah dirumahnya. Ki Rangga berpesan, agar aku menemuimu.”

“O, apakah ada yang penting?” bertanya Jangkung.

“Tidak penting. Tetapi aku memang harus menyampaikan sebuah pesan,” jawab Barata. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau akan pergi.”

“Tidak,” jawab Jangkung, “aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku memang sedang malas hari ini.”

“Tetapi kudamu sudah kau sediakan di halaman,” berkata Barata kemudian sambil memandang kuda Jangkung ditambatannya.

“Aku justru baru pulang,” jawab Jangkung sambil tersenyum.

Namun Barata tahu bahwa Jangkung berbohong. Katanya, “Aku belum melihat jejak kaki kuda di regol halaman rumahmu itu.”

Jangkung tertawa. Katanya, “Aku lupa bahwa aku berbicara dengan seorang bekas prajurit. Agaknya kau belajar juga tentang menelusuri jejak.”

Barata pun tertawa pula. Katanya, “Aku hanya mengira-ira saja. Aku tidak benar-benar melihat jejak.”

“Tetapi duduklah. Aku akan memberitahukan ibu dan Riris. Atau barangkali pesan itu khusus untuk aku sehingga ibu dan Riris tidak perlu mendengar?” bertanya Jangkung.

Barata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “pesan itu memang untukmu. Tetapi tidak ada salahnya Nyi Rangga dan Riris mendengarnya.”

“Jika demikian, aku akan memberitahukan mereka dan yang penting, kau tentu haus juga,” berkata Jangkung sambil bangkit.

“Tidak. Aku tidak haus,” jawab Barata dengan serta merta.

Namun Jangkung melangkah kepintu pringgitan sambil berkata, “Kau masih juga berpura-pura disini.”

Barata hanya dapat tertawa sementara Jangkung pun segera hilang dibalik pintu pringgitan itu.

Sejenak kemudian Jangkung pun telah keluar lagi dari pintu itu bersama ibunya yang juga menyambut kedatangan Barata dengan gembira.

Namun Barata lah yang merasa agak kecewa. Riris tidak ikut menemuinya, sementara ia merasa segan untuk menanyakannya.

Bahkan Barata itu justru bertanya, “Aku tidak melihat Sumbaga. Apakah ia masih ada disini?”

“Ya,” jawab Nyi Rangga, “ia masih berada disini. Ia berada di belakang. Nampaknya ia sedang sibuk membelah kayu.”

Barata mengangguk-angguk. Sementara Riris masih juga belum nampak keluar. Justru karena itu ia menjadi gelisah. Ia ingin menyampaikan pesan Ki Rangga sehingga juga dapat didengar oleh Riris. Dan Barata pun berharap bahwa Riris juga berniat untuk ikut pergi ke Tanah Perdikan Sembojan disaat ia diwisuda.

Namun sebelum Riris hadir pula di pendapa, Jangkung sudah bertanya, “Nah, apakah pesan ayah bagiku itu?”

“Apakah ayahmu berpesan sesuatu bagimu?” bertanya Nyi Rangga.

“Begitulah menurut Barata,” jawab Jangkung.

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah pesan itu penting sekali?”

“Tidak Nyi,” jawab Barata sambil memperpanjang waktu. Ia masih berharap bahwa Riris akan hadir pula di pendapa, “bukan pesan yang sangat penting.”

“Apakah aku boleh mendengar ngger?” bertanya Nyi Rangga.

“Tentu Nyi. Pesan itu sama sekali bukan sesuatu yang harus dirahasiakan. Seluruh keluarga dapat saja mendengar pesan itu,” jawab Barata.

“Jika demikian, katakanlah. Aku juga ingin mendengar isi pesan itu,” minta Nyi Rangga Dipayuda.

Barata menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar pintu pringgitan berderit. Ketika ia berpaling, maka jantungnya pun berdenyut semakin cepat. Yang keluar dari ruang dalam adalah Riris sambil membawa sebuah nampan berisi beberapa mangkuk dan makanan.

Ternyata sikap Riris tidak lagi dikekang oleh perasaan rindu. Selelah beberapa kali Barata mengunjungi rumah itu, maka Riris pun merasa bahwa hubungan mereka menjadi semakin wajar.

Karena itu sambil meletakkan hidangan ditikar pandan, ia pun mempersilahkan, “Marilah kakang, aku agak lambat menyiapkan minuman dan makanan.”

“Ah tidak,” jawab Barata, “justru begitu cepat sudah siap minuman panas dan makanan.”

“Kebetulan ibu sedang merebus air,” jawab Riris sambil bergeser mundur.

“Kau akan kemana?” bertanya Jangkung.

Sementara Barata merasa cemas, bahwa Riris akan segera meninggalkan pendapa karena ia ingin gadis itu juga mendengar pesan Ki Rangga Dipayuda bagi Jangkung.

“Aku akan menyiapkan makan siang,” jawab Riris.

“Nanti sajalah,” berkata Jangkung, “sebaiknya kau ikut mendengarkan pesan ayah lewat Barata. Meskipun pesan itu ditujukan kepadaku, namun ibu dan kau boleh mendengarkannya. Mungkin pesan itu menarik juga bagi ibu dan bagimu.”

“Ya. Mudah-mudahan,” tiba-tiba saja Barata menyahut hampir diluar sadarnya. Bahkan setelah itu ia merasa malu kepada dirinya sendiri, seakan-akan ia telah memaksa Riris untuk ikut mendengarkan pesan Ki Rangga itu..

Untunglah bahwa tidak ada kesan apa-apa yang timbul pada wajah Riris dan bahkan pada wajah ibunya. Namun Barata melihat sebuah senyum kecil dibibir Jangkung.

Tetapi Jangkung pun segera berkata, “Nah, sekarang kita sudah berkumpul. Katakan pesan itu agar kami semuanya dapat mendengarnya.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Aku akan menyampaikan pesan Ki Rangga. Sebenarnya pesan ini ditujukan kepada Jangkung, tetapi karena pesan ini sama sekali bukan sebuah rahasia, maka aku akan menyampaikannya justru setelah semuanya berkumpul.”

Nyi Rangga hanya mengangguk-angguk, sementara Riris menunggu dengan hati yang berdebar-debar.

“Pesan itu memang bermula dari berita yang aku sampaikan kepada Kasadha dan kemudian juga kepada Ki Rangga Dipayuda,” Barata mulai menyampaikan pesannya kepada Jangkung sekeluarga. Berturut-turut Barata menceriterakan keperluannya datang ke Pajang. Kemudian, bagaimana Ki Rangga berpesan kepadanya untuk menyampaikan pesan agar Jangkung bersiap-siap untuk ikut bersama Ki Rangga dan Kasadha ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Jadi kau sudah akan diwisuda?” bertanya Jangkung.

“Ya,” jawab Barata agak ragu.

“Kakang akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan?” bertanya Riris pula.

“Ya,” jawab Barata yang masih ragu.

“Bukan main. Kau akan menjadi Kepala Tanah Perdikan termuda di Pajang. He, bagaimana memanggil Kakang Barata kemudian? Ki Gede Barata atau siapa? Mungkin kau akan berganti nama,” berkata Riris seperti pacar wutah.

“Ah,” Barata justru menjadi agak segan. Namun kalanya kemudian, “Semua itu belum terpikirkan sekarang.”

“Barata,” berkata Jangkung kemudian, “aku berterima kasih bahwa kau telah membawa pesan ayah kepadaku. Sudah tentu aku akan menjalankan sesuai dengan kehendak ayah. Tetapi seandainya ayah tidak berpesan kepadamu, apakah kau tidak akan singgah dan memberitahukan hal itu kepadaku, sehingga jika aku pergi ke Tanah Perdikan Sembojan itu bukan sekedar ikut bersama ayah karena ayah menghendakinya. Tetapi aku pergi ke Tanah Perdikan karena kau memang mengundangku. Sehingga kehadiranku di Tanah Perdikan itu sepenuhnya karena aku memang diundang untuk hadir. Dengan demikian maka aku adalah tamumu. Bukan sekedar mengantarkan seorang tamu. Meskipun tamu itu ayahku.”

Wajah Barata menjadi tegang. Dengan tergesa-gesa ia menjawab, “Tentu Jangkung. Seandainya Ki Rangga tidak berpesan kepadaku, maka aku tentu singgah di rumah ini dan mengundangmu. Tetapi justru karena Ki Rangga Dipayuda sudah terlanjur memberikan pesan itu, maka agaknya kurang enak bagiku untuk tidak menyampaikannya.”

“Ah, kau jangan mengada-ada Jangkung,” desis ibunya. Lalu katanya, “Kami mengucapkan terima kasih ngger, kau sudah menyampaikan pesan Ki Rangga kepada Jangkung. Aku sekeluarga mendahului mengucapkan selamat kepadamu. Mudah-mudahan kau dapat menjalankan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Meskipun sejak sebelum kau menjabat, kau sudah banyak terlibat dalam pemerintahan di Tanah Perdikan itu. Namun tanggung jawab sepenuhnya selanjutnya ada di pundakmu.”

“Terima kasih Nyi Rangga,” jawab Barata. Namun Barata masih digelisahkan oleh sikap Jangkung.

Tetapi Jangkung pun kemudian tertawa. Katanya, “Aku memang tidak merasa apa-apa. Justru karena aku yakin, bahwa Barata dipesan atau tidak dipesan oleh ayah, tentu akan singgah dirumah ini.”

“Kenapa kau yakin?” bertanya Barata yang menjadi kebingungan karena ia tidak tahu arah pembicaraan Jangkung.

Namun Jangkung itu tertawa semakin keras. Katanya, “Alasan bahwa ia membawa pesan ayah justru untuk sekedar menyelubungi rencananya yang sebenarnya.”

“Ah,” Barata berdesah. Ia mulai mengerti maksud Jangkung yang mulai menggodanya. Tetapi Barata justru merasa berbesar hati mendengarnya.

Tetapi Jangkung tidak meneruskannya. Sementara itu, Ririslah yang bertanya kepadanya ibunya tanpa menghiraukan kelakar kakaknya yang tidak diketahui artinya itu, “Apakah ibu juga akan pergi bersama ayah?”

“Ayahmu tidak mengajak aku pergi ke Tanah Perdikan. Kau dengar bahwa pesannya hanya ditujukan kepada Jangkung,” jawab ibunya.

“Tetapi sebaiknya ibu pergi. Ibu berhak minta kepada ayah agar ayah mengajak ibu untuk pergi,” minta Riris.

“Untuk apa?” bertanya ibunya, “di Tanah Perdikan akan ada sebuah wisuda. Bukan sebuah peralatan pernikahan atau peralatan yang lain. Karena itu, maka yang diundang tentu hanyalah mereka yang pantas untuk menghadiri wisuda itu. Seperti ayahmu dan Ki Lurah Kasadha misalnya. Dalam upacara itu tentu tidak akan diundang perempuan-perempuan yang tidak ada hubungannya dengan wisuda itu. Aku kira satu-satunya perempuan yang hadir adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sekarang. Ibu angger Barata. Tidak ada perempuan yang lain.”

Tetapi Riris mendesak, “Ibu tidak akan menghadiri upacara wisuda. Ibu akan menjadi tamu ibu kakang Barata. Bukankah tidak ada salahnya seseorang datang bertamu kepada orang lain yang sedang mendapatkan anugerah apapun ujudnya.”

Ibu Riris tersenyum. Ia tahu maksud anak gadisnya. Jika ia pergi maka ada kesempatan baginya untuk ikut pula. Namun dalam pada itu Jangkung yang mengerti juga keinginan adiknya, mulai mengganggunya. Katanya, “Sebaiknya ibu tidak pergi.”

“Kenapa?” bertanya Riris.

“Jika aku pergi dan ibu pergi, maka kau tidak mempunyai kawan dirumah. Memang dirumah ini masih ada beberapa orang pembantu dan bahkan Sumbaga. Namun apakah ayah, ibu dan aku sampai hati meninggalkan kau sendiri? Seandainya ibu memaksa untuk berangkat, maka sudah tentu bahwa aku akan tetap tinggal dirumah menemanimu.”

“Kenapa kau harus tinggal. Kau boleh pergi sesukamu. Ikut ayah atau tidak. Kau tidak usah memikirkan aku. Aku sudah cukup dewasa dan sudah mampu menentukan sikap sendiri,” sahut Riris.

“Ah, bagaimanapun juga aku tidak akan sampai hati, Riris. Kau adalah satu-satunya adikku. Karena itu, aku atau ibu akan tinggal dirumah menemanimu,” gumam Jangkung.

“Cukup. Cukup,” Riris hampir berteriak.

“Aku kasihan kepadamu jika kau harus tinggal di rumah sendiri,” berkata Jangkung pula.

“Aku tidak membutuhkan belas kasihanmu,” Riris mulai menjerit seperti biasanya jika ia mulai jengkel kepada kakaknya.

“Sudahlah,” potong ibunya, “kau masih saja selalu mengganggu adikmu. Kau tentu sudah tahu maksudnya. Dan Riris masih saja membiarkan dirinya diganggu. Jika kau biarkan saja, maka kakakmu akan jengkel sendiri.”

Jangkung justru tertawa semakin keras, sementara Riris beringsut mendekatinya.

“Jangan. Jangan,” Jangkung menjauhinya sambil menyeringai, “aku sudah tidak akan mengganggumu lagi. Apalagi disini ada Barata. Sebaiknya kau jangan terlalu garang.”

“Awas kau,” geram Riris.

“Jangan sakiti aku. Biarlah aku yang menanyakan kepada Barata apakah Tanah Perdikan Sembojan dapat menerima jika kami datang sekeluarga,” berkata Jangkung kemudian.

Barata yang hanya menunduk saja sementara Jangkung mengganggu adiknya, tiba-tiba telah mengangkat kepalanya. Pertanyaan itu memang ditunggunya. Karena itu, maka dengan serta merta ia menjawab, “Tentu, kami akan menerima dengan senang hati. Apalagi jika ibu mengetahui bahwa Ki Rangga Dipayuda adalah pimpinanku langsung saat aku menjadi prajurit.”

Jangkung lah yang kemudian menyahut, “Nah, kau dengar. Ia sudah menjawab sebelum aku bertanya.”

“Ah, kau,” potong ibunya yang kemudian berkata kepada Barata, “kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan itu. Tetapi sebaiknya Angger Barata berhubungan lebih dahulu dengan keluarganya di Tanah Perdikan agar semuanya menjadi jelas dan pasti. Aku juga minta agar jika kelak keluarga angger di Tanah Perdikan setuju bukan hanya sekedar karena perasaan segan. Tetapi kehadiran kami benar-benar tidak mengganggu. Karena kami tidak ingin membuat orang-orang yang sedang sibuk itu menjadi semakin sibuk pula.”

“Tentu tidak Nyi Rangga,” sahut Barata, “kami akan membagi tugas. Mereka yang memimpin persiapan wisuda adalah justru datang dari Pajang. Sedangkan kami dari Tanah Perdikan hanya menyiapkan kelengkapannya saja, termasuk kepentingan kami sendiri. Tamu-tamu kami dan sanak-kadang yang mungkin akan datang berkunjung.”

“Tetapi bukankah Tanah Perdikan harus menyiapkan tempat-tempat penginapan bagi para pejabat dari Pajang? Bukankah itu sudah merupakan tugas yang sangat menyibukkan? Berapa buah rumah harus dipersiapkan. Sementara harus menyiapkan penginapan bagi kami pula,” berkata Nyi Rangga Dipayuda.

Namun yang menyahut adalah Riris, “Tetapi bukankah Tanah Perdikan Sembojan cukup luas, sehingga tidak akan. penuh dengan para tamu dari Pajang?”

“Kau jangan hanya memikirkan dirimu sendiri Riris,” sahut ibunya, “tetapi kita harus memikirkan kesulitan dan kesibukan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

Riris tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi gelap. Sementara Barata berkata, “Nyi Rangga. Aku akan bertanggung jawab bahwa kehadiran Ki Rangga Dipayuda sekeluarga tidak akan menyulitkan kami. Sebelum aku berangkat ke Pajang kemarin, kami sudah mencoba menghitung-hitung, ada berapa buah rumah yang dapat kami pinjam dan kami siapkan untuk penginapan. Menurut perhitungan kami, maka rumah yang dapat disiapkan itu lebih banyak dari kebutuhan. Karena itu, maka aku memperhitungkan bahwa kehadiran Ki Rangga Dipayuda tidak akan menambah beban kami.”

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Riris tentu akan sangat kecewa jika mereka tidak pergi ke Tanah Perdikan. Namun Nyi Rangga itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Segala sesuatunya akan aku bicarakan dengan Ki Rangga. Mudah-mudahan Ki Rangga tidak berkeberatan jika kami sekeluarga pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.”

Namun yang menjawab adalah Jangkung, “Tentu tidak. Ayah tentu tidak akan berkeberatan. Peristiwa wisuda seorang Kepala Tanah Perdikan adalah peristiwa yang jarang terjadi. Apalagi yang diwisuda adalah orang yang kita kenal dengan baik. Sedangkan yang mengundang kita sekeluarga adalah justru orang yang diwisuda itu sendiri.”

Nyi Rangga mengangguk. Namun ia masih juga berkata, “Tetapi bagaimanapun juga, biarlah ayahmu yang memutuskan.”

“Ya. Sudah barang tentu ayah yang akan memutuskan,” jawab Jangkung.

Demikianlah, maka keluarga Ki Rangga Dipayuda itu ternyata memang berkeinginan untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Mereka memang ingin melihat peristiwa yang jarang sekali terjadi itu. Sementara itu Riris memang serasa mendapat dorongan lain untuk pergi ke Tanah Perdikan. Kecuali untuk menyaksikan satu peristiwa yang langka, juga ia ingin melihat Barata itu diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan. Riris sendiri tidak mengetahuinya kenapa ia merasa bangga bahwa Barata yang muda itu telah menerima jabatan sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana setiap kali ia mendengar orang memuji kemampuan Kasadha serta kedudukannya sebagai seorang Lurah Prajurit dalam umurnya yang masih muda itu.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka Nyi Rangga pun telah mempersilahkan Jangkung menemani Barata karena Nyi Rangga akan pergi ke dapur.

“Aku juga,” berkata Riris kemudian, “bukankah kakang tidak jadi pergi ke padukuhan sebelah?”

“Tidak,” jawab Jangkung, “aku memang tidak berniat untuk pergi sekarang.”

Sepeninggal Nyi Rangga dan Riris, maka Jangkung dan Barata telah berbicara tentang peristiwa yang menarik yang akan terjadi di Tanah Perdikan Sembojan itu. Peristiwa yang belum pernah dilihatnya. Bahkan Barata pun berkata, “Aku juga belum pernah melihat upacara semacam itu dimanapun. Tetapi sehari sebelumnya Ki Rangga Kalokapraja akan datang dan mempersiapkan wisuda yang akan diselenggarakan itu. Sudah tentu dengan memberikan petunjuk-petunjuk apa yang harus aku lakukan.”

Kasadha mengangguk-angguk, sementara Barata bertanya, “Tetapi bukankah kau akan pergi?”

“Tidak. Aku sudah membatalkan rencana itu, di rumahku sedang ada tamu penting. Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Ah, kau,” desis Barata. Lalu katanya, “Jika kau akan pergi, pergilah. Aku akan menunggumu. Tetapi aku tidak dapat terlalu lama disini, karena aku akan melanjutkan perjalanan.”

“Tidak. Kau tidak akan melanjutkan perjalanan hari ini. Kau akan bermalam disini. Besok pagi kau baru akan meninggalkan rumah ini,” berkata Jangkung.

“Aku sudah bermalam di Pajang semalam. Jika aku bermalam lagi disini, maka ibu tentu akan menunggu-nunggu kedatanganku,” sahut Barata.

“Bukankah kau bukan kanak-kanak lagi? Kau sudah akan diwisuda menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan,” berkata Jangkung sambil tersenyum.

“Tetapi justru karena aku akan diwisuda, ibu menjadi khawatir. Seperti seseorang yang akan memasuki upacara pengantin, maka selama sepekan ia tidak boleh keluar dari rumah.”

“Tetapi bukankah kau tidak akan menjadi pengantin? Bukankah sebulan lagi kau akan diwisuda menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan?” bertanya Jangkung.

Barata pun hanya dapat tersenyum saja. Sebenarnyalah ia tidak ingin memaksa diri untuk meninggalkan rumah itu hari itu juga. Bahkan ia memang berniat untuk bermalam dirumah Jangkung itu meskipun sebenarnya keperluannya sudah selesai.

Karena itu, maka Jangkung pun berkata, “Jika kau tidak berkeberatan untuk bermalam, marilah, kita pergi bersama-sama.”

“Apakah aku tidak mengganggu kepentinganmu?” bertanya Barata.

“Tidak. Aku hanya akan menunjukkan kuda itu, karena seorang kawanku memerlukannya. Sebenarnya bukan kawanku itu sendiri yang akan memakainya. Tetapi pamannya. Namun agaknya pamannya itu telah mempercayakannya kepada kawanku itu,” berkata Jangkung. Lalu katanya pula, “Kuda itu pulalah yang akan aku bawa kepadanya karena nampaknya sesuai dengan keinginannya.”

Barata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah jika aku tidak mengganggu.”

Demikianlah keduanya pun kemudian minta diri kepada Nyi Rangga dan kepada Riris untuk pergi sebentar.

Malam itu, Barata bermalam di rumah Jangkung, ia sempat berbicara dengan Sumbaga yang dinilainya sudah berubah. Bahkan anak muda itu seakan-akan tidak lagi berminat untuk berbicara apapun juga. Bahkan selalu menghindarkan dirinya.

Berbeda dengan Sumbaga, maka Riris justru menjadi semakin akrab dengan tamunya. Jarak diantara mereka seakan-akan menjadi semakin sempit. Riris tidak lagi segan untuk berbicara apa saja bahkan bergurau sebagaimana ia bergurau dengan Jangkung dan dengan ibunya.

Sikap Riris membuat hati Barata menjadi semakin berharap. Meskipun anak muda itu tidak pasti, namun ada semacam harapan yang terbersit pada sikap Riris.

Tetapi Barata tetap berhati-hati. Ia tidak ingin menangkap bayangan yang setiap saat dapat lenyap tanpa bekas.

Malam itu, Barata berbaring di pembaringannya sambil tersenyum. Udara didalam bilik gandok rumah Jangkung itu terasa sejuk sekali, sehingga beberapa saat kemudian, setelah ia berbaring, maka ia pun segera tertidur. Mimpi yang manis telah menyambutnya didalam tidurnya yang nyenyak.

Namun dalam pada itu, di Pajang, dibarak prajurit, Kasadha berbaring dengan gelisah. Ia sudah menduga bahwa Barata tentu akan bermalam dirumah Ki Rangga Dipayuda. Apalagi ia membawa pesan dari Ki Rangga untuk Jangkung. Dengan demikian ia mempunyai alasan untuk berlama-lama tinggal dirumah itu.

“Kenapa Ki Rangga tidak memerintahkan aku saja pergi menemui Jangkung dengan membawa pesannya?” Kasadha itu mengeluh didalam hatinya.

Namun Kasadha masih selalu berusaha untuk mencari keseimbangan antara perasaannya dan penalarannya. Meskipun sampai lewat tengah malam Kasadha belum dapat memejamkan matanya, namun ia akan berusaha untuk tetap menjaga hubungannya dengan Barata.

“Ia tidak bersalah,” berkata Kasadha kepada dirinya sendiri meskipun tanpa keyakinan. Namun katanya kemudian, “Ia dapat berbuat apa saja untuk menangkap burung dara itu. Tetapi sudah tentu aku juga mendapat kesempatan yang sama. Jika ia akan diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan, maka aku sudah menjadi Lurah prajurit. Sementara aku masih berpengharapan untuk mendapat kenaikan pangkat yang lebih tinggi.”

Tetapi angan-angannya itu tidak dapat menenangkan gejolak perasaannya.

Namun ketika dini hari menjadi semakin dingin, Kasadha pun akhirnya terlena pula. Dengan wajah yang buram ia tertidur beberapa lama. Namuji ketika fajar menyingsing, maka ia pun telah terbangun sebagaimana kebiasaannya.

Ketika Kasadha membawa sebagian dari prajurit-prajuritnya yang tidak bertugas untuk melakukan pemanasan sebelum memasuki sanggar terbuka karena hari itu pasukannya mendapat giliran untuk mempergunakan sanggar itu, Barata yang berada di rumah Jangkung telah mandi dan berbenah diri. Ia ingin meninggalkan rumah itu sebelum matahari naik, agar sinarnya belum menggatalkan kulitnya.

Tetapi Barata masih harus menunggu makan pagi baginya yang disiapkan oleh Riris. Namun demikian, dengan sabar Barata menunggu. Bahkan ia sama sekali tidak merasa gelisah bahwa matahari ternyata sudah naik.

Bersama Jangkung, Barata duduk di ruang dalam untuk makan pagi. Ririslah yang melayaninya karena Nyi Rangga Dipayuda sedang sibuk didapur.

Baru setelah matahari sepenggalah Barata turun dari tangga pendapa rumah Ki Rangga Dipayuda diiringi oleh Jangkung, Nyi Rangga dan Riris.

“Menjelang hari wisuda aku akan singgah lagi kemari, karena aku harus menghadap Ki Rangga Kalokapraja. Aku juga akan singgah di barak Kasadha dan sudah tentu bertemu pula dengan Ki Rangga Dipayuda,” berkata Barata sambil melangkah turun ke halaman.

“Kami menunggu,” sahut Jangkung. Lalu katanya pula, “Namun sebelumnya aku akan bertemu dengan ayah. Bagaimanapun juga aku harus minta pendapatnya.”

Demikianlah, sejenak kemudian maka Barata pun telah menuntun kudanya keregol halaman rumah Ki Dipayuda. Jangkung, Nyi Rangga dan Riris masih mengiringinya. Baru kemudian mereka berhenti setelah mereka berdiri diregol, sementara Barata telah siap untuk meloncat naik.

Sekali lagi Barata minta diri dan sejenak kemudian maka ia pun telah melarikan kudanya meninggalkan regol halaman rumah Ki Rangga Dipayuda itu.

Kunjungannya ke rumah Ki Rangga ternyata cukup berkesan bagi Barata. Di sepanjang perjalanannya ia mengancam angan-angan apa yang sebaiknya dilakukan setelah ia benar-benar diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Sebuah Tanah Perdikan yang cukup besar dan berarti dibandingkan dengan beberapa Tanah Perdikan yang lain.

Panas matahari yang berayun semakin tinggi dilangit tidak dihiraukannya. Kudanya berlari menyusuri jalan-jalan bulak, diantara batang-batang padi yang hijau.

Sementara itu dirumahnya, Riris telah minta kepada ibunya, agar ibunya mendesak kepada ayahnya agar mereka benar-benar dapat ikut ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Bukankah kakakmu Jangkung sudah berniat untuk menemui ayahmu untuk menyampaikan keinginanmu?”

“Bukan aku,” sahut Riris, “tetapi ibu. Ibu yang minta kepada ayah agar ayah membawa ibu ke Tanah Perdikan Sembojan. Tentu saja ibu akan membawa aku. Aku ingin sekali melihat upacara wisuda itu. Sepanjang umurku, aku belum pernah melihatnya.”

“Kau kira aku pernah melihatnya?” sahut ibunya.

“Jika demikian kita harus benar-benar pergi,” berkata Riris, “aku akan sangat kecewa sekali jika aku tidak sempat melihatnya. Bukankah ibu juga kecewa?”

“Ya, ya,” sahut ibunya, “sudah aku katakan, kakakmu akan minta kepada ayahmu.”

“Kakang Jangkung tentu tidak bersungguh-sungguh. Ia hanya berpura-pura saja,”gumam Riris.

“Jangan berkata begitu,” berkata ibunya, “jika kakakmu mendengar ia akan dapat tersinggung. Ia sudah bersedia untuk berbicara dengan ayah. Tetapi jika kau menganggapnya berpura-pura ia akan dapat mengurungkan niatnya.”

Riris tidak menjawab lagi. Namun nampak wajahnya yang cemberut, sementara ibunya berkata,”Kau tidak boleh marah sejak sekarang. Apalagi ibu dan kakakmu sudah menyanggupinya. Jika ayahmu bersikap lain, maka itu persoalanmu dengan ayahmu. Kau dapat marah sepuas-puasnya kepada ayahmu.”

Riris masih berdiam diri. Namun wajahnya tidak menjadi terang.

Ternyata ibunya tidak menanggapinya lagi. Ia pun meninggalkan Riris yang duduk diamben dapur. Semen tara itu ibunya telah tenggelam kembali dalam kerja yang sibuk.

Dalam pada itu, di barak prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda, Kasadha memang merasa gelisah. Bukan hanya sehari, tetapi dihari berikutnya Kasadha masih saja nampak tidak gembira seperti hari-hari biasanya.

Ternyata Kasadha juga mulai memikirkan ibunya. Apakah ibunya akan pergi ke Sembojan atau tidak.

“Terserah kepada ibu, “ berkata Kasadha didalam hatinya.

Namun demikian ia merasa wajib untuk menemuinya dan mengatakan bahwa Barata akan diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Untuk itu, maka Kasadha harus minta ijin meninggalkan baraknya barang dua tiga hari. Meskipun hal itu bukan merupakan kesulitan baginya, namun Kasadha merasakan bahwa ia sedang menghadapi persoalan yang rumit, ia harus menjaga perasaan ibunya agar tidak terbenam kedalam perasaan bersalah tanpa melihat jalan keluar. Namun demikian, ia masih juga harus menunggu sikap ibu Barata di Tanah Perdikan Sembojan itu.

Tetapi keduanya sudah berjanji untuk berusaha mempengaruhi ibu mereka masing-masing agar pada suatu saat keduanya mampu bertaut kembali tanpa dihantui oleh kenangan masa lalu mereka masing-masing. Karena jika demikian maka untuk selamanya keduanya tidak akan dapat bertaut.

Tetapi pada saat-saat Kasadha merenung, maka timbul pertanyaan didalam dirinya,” Apakah persoalan kedua orang perempuan itulah yang membuatku selalu gelisah? Bukankah Barata juga sudah berjanji untuk membujuk ibunya?”

Betapapun Kasadha berusaha untuk ingkar, namun ia pada suatu saat ia harus mengakui, bahwa yang menggelisahkan benar baginya bukan persoalan ibunya dan ibu Barata, tetapi justru karena Ki Rangga Dipayuda sudah berpesan agar Barata singgah di rumahnya.

Tetapi Kasadha selalu berusaha untuk mengatasinya dengan penalarannya sehingga ia masih dapat mengendalikan diri menghadapi kegelihanannya itu. Namun kadang-kadang diluar sadarnya, perasaan itu muncul dipermukaan.

Dalam pada itu, Barata yang telah berada di Tanah Perdikannya dengan penuh gairah mempersiapkan segala sesuatunya menyongsong hari wisudanya. Sekali-sekali terdengar Barata itu melakukan sesuatu sambil berdendang. Wajahnya nampak selalu cerah dan sekali-sekali senyumnya nampak menghiasi bibirnya.

Setiap orang Tanah Perdikan memang mengenal Barata yang lebih mereka kenal dengan nama Risang itu sebagai seorang yang ramah. Tetapi ia juga seorang yang bersungguh-sungguh dalam kerja. Namun pada saat terakhir Risang menjadi nampak lebih cerah dari sebelumnya.

Meskipun demikian, di sanggar Risang tetap nampak bersungguh-sungguh. Ketiga orang gurunya, dua orang kakeknya dan seorang neneknya yang sudah memiliki sebangsal pengalaman melihat bahwa didalam hati cucunya itu agaknya sedang bersemi perasaan yang menompang harapan di masa depan. Bukan sekedar hari wisudanya yang akan berlangsung tidak lama lagi.

Semakin dekat dengan hari wisudanya, maka di Tanah Perdikan Sembojan itu nampak menjadi semakin sibuk. Rumah-rumah yang dipersiapkan untuk menginap tamu-tamunya telah dibersihkan dan dibenahi. Termasuk rumah yang dipersiapkan untuk penginapan Ki Rangga Dipayuda dan keluarganya. Risang sangat berharap bahwa Ki Rangga Dipayuda benar-benar akan datang bersama Nyi Rangga, Jangkung dan Riris. Bahkan yang paling diharapkan datang adalah justru Riris.

Yang kemudian menjadi sibuk bukan hanya di Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi para Demang pun menjadi sibuk pula. Mereka berniat untuk membuat seluruh Tanah Perdikan mendukung kegembiraan karena Tanah Perdikan itu akan mendapatkan seorang Kepala Tanah Perdikan.

Namun didalam kegembiraan itu, Risang masih juga digelisahkan oleh kemungkinan bahwa sikap ibunya terhadap ibu Kasadha tidak sebagaimana diharapkan. Meskipun ibunya pernah berkata bahwa ia menyerahkan hal itu kepada para pemimpin di Tanah Perdikan, namun disaat-saat terakhir, ibunya akan dapat bersikap lain, yang akan dapat membuatnya berselisih paham dengan Kasadha. Apalagi jika Kasadha sudah terlanjur membujuk ibunya untuk bersedia hadir di Tanah Perdikan.

Karena itu selagi masih ada waktu, Risang telah berbicara dengan ketiga orang gurunya. Dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Terutama dengan Bibi yang dianggap Risang sebagai seorang yang terlibat langsung dalam persoalan yang terjadi saat itu antara ibunya dengan ibu Kasadha.

“Aku akan berusaha,” berkata Bibi.

“Aku mohon Bibi. Aku sudah berjanji kepada Kasadha, bahwa jika ibunya berniat untuk datang ke Tanah Perdikan saat wisuda, ibu tidak akan berkeberatan,” desis Risang.

“Tetapi kau juga harus dapat mengerti perasaan ibumu. Aku adalah orang yang saat itu menjadi orang upahan diperintah untuk membunuh ibumu saat ia mengandung kau. Jika saja saat itu hatiku tetap dikuasai oleh iblis, maka aku tentu sudah membunuh ibumu yang saat itu masih belum memiliki kemampuan apapun juga. Aku akan dapat membunuhnya semudah aku memijat buah ceplukan matang di semak-semak. Tetapi untunglah, bahwa sepletik sinar dari Yang Maha Agung telah mengendalikan perasaanku sehingga aku tidak melakukannya,” gumam Bibi hampir kepada diri sendiri.

Risang mengangguk kecil. Katanya, “Aku mengerti Bibi. Ceritera itu sudah aku dengar sebelumnya.”

“Ini bukan sekedar ceritera ngger. Tetapi sesuatu yang benar-benar terjadi. Akulah yang harus melakukan itu,” sahut Bibi. Masih nampak gejolak perasaannya membayang diwajahnya.

“Ya, ya. Bibi. Aku mengerti. Tetapi bukankah itu sudah lama lampau. Sedangkan ibu Kasadha pun sudah menyesali perbuatannya,” berkata Kasadha, “aku tahu pasti, bahwa penyesalan itu bukan sekedar lamis, atau sekedar untuk menyelimuti noda-noda didalam relung hatinya. Tetapi ibu Kasadha benar-benar telah berubah, sebagaimana Bibi juga berubah,” berkata Risang.

“Tetapi ada bedanya. Aku berubah justru saat aku mempunyai kesempatan untuk melakukan kejahatan dan mendapat keuntungan daripadanya. Tetapi Warsi tidak, ia berubah setelah keadaan memaksanya tanpa memberinya kesempatan lain.”

“Aku mengerti Bibi. Tetapi aku mohon. Apakah kita tidak dapat memaafkan kesalahan seseorang sementara itu kita selalu ingin dimaafkan apabila kita berbuat salah? Apapun alasannya perubahan itu sudah terjadi. Ibu Kasadha yang bernama Warsi itu tidak mendendam sampai keliang kuburnya. Sehingga ia mendapat kesempatan itu menyesali perbuatannya dengan jujur,” berkata Risang dengan sungguh-sungguh.

Bibi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berkata perlahan-lahan, “Aku akan mencobanya ngger. Mudah-mudahan ibumu dapat memaafkannya.”

“Tetapi ibu pernah mengatakan bahwa segala sesuatunya terserah kepada orang-orang tua dan para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan ini,” desis Risang.

Bibi tidak menjawab lagi. Tetapi ia mengangguk-angguk kecil.

Demikianlah hari-hari dilalui dengan kesibukan di Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu di Pajang, Kasadha telah minta ijin kepada Ki Rangga Dipayuda untuk menemui ibunya.

Namun Kasadha belum mengatakan kepentingannya. Meskipun ia pernah menyebut kemungkinan itu kepada Barata di hadapan Ki Rangga Dipayuda, namun saat itu agaknya Ki Rangga memang tidak begitu memperhatikannya. Apalagi saat itu Barata sengaja mengelakkan pertanyaannya itu.

Ternyata Ki Rangga memang tidak berkeberatan. Apalagi Kasadha hanya minta ijin untuk dua hari saja.

Tempat tinggal ibunya memang tidak sejauh Tanah perdikan Sembojan. Karena itu, maka Kasadha tidak memerlukan waktu terlalu lama diperjalanan. Dari baraknya Kasadha berangkat sesaat setelah makan pagi. Dan sebelum matahari sampai kepuncak, Kasadha telah menyusuri jalan menuju ke padukuhan tempat tinggal ibunya. Sebuah tempat tinggal yang sederhana yang dihuni oleh ibu dan bibinya yang hidup dalam keadaan sederhana pula. Sementara itu, kakek dan gurunyalah yang setiap kali sering menengok ibu dan bibinya dalam dunianya yang baru yang penuh kesederhanaan itu.

Kedatangan Kasadha telah disambut dengan gembira oleh ibu dan bibinya. Sudah agak lama mereka tidak bertemu. Karena itu, kehadiran Kasadha merupakan tetes kesejukan dihati ibunya dan bibinya yang telah menganyam harapan yang lain terhadap anak muda yang telah diangkat menjadi Lurah prajurit itu.

Kasadha memang tidak ingin merusak suasana itu. Ia tidak segera mengatakan kepentingan menemui ibunya, karena Kasadha tidak yakin apakah ibunya akan merasa gembira atau justru sebaliknya.

Kepada ibu dan bibinya Kasadha hanya mengatakan bahwa ia mendapat kesempatan untuk beristirahat selama dua hari.

“Kau akan bermalam dirumah ini selama dua hari?” bertanya ibunya dengan penuh kegembiraan.

“Ya, ibu,” jawab Kasadha, “besok lusa aku harus sudah berada di barak kembali. Karena itu aku akan berangkat dari rumah ini pagi-pagi benar.”

Kegembiraan ibunya ternyata diungkapkan pula pada hidangan yang dipersiapkan bagi Kasadha. Bibinya telah menangkap seekor ayam peliharaan mereka, kemudian memotongnya.

Selama Kasadha berada dirumah ibunya, ia dapat melihat bagaimana ibu dan bibinya mengisi kehidupan mereka sehari-hari. Mereka bekerja sebagaimana perempuan-perempuan di padukuhan itu. Ibu dan bibinya berceritera, bahwa sehari-hari mereka juga turun ke sawah. Ikut menanam padi dimusim tanam dan ibu menuai padi dimusim panen. Mereka mendapat upah yang dapat mereka pakai untuk menyambung hidup mereka. Namun dirumah keduanya juga memelihara ayam, menanam ketela, kacang panjang dan empon-empon untuk meramu obat-obatan. Di halaman dan kebun pun terdapat beberapa batang pohon kelapa yang kelebihannya dari keperluan mereka sendiri dapat ditukarkan dengan keperluan mereka sehari-hari. Bahkan pakaian dan keperluan mereka yang lain.

“Tetapi kau tidak usah memikirkan kami. Puguh,” berkata ibunya.”Aku tidak ingin mengurangi penghasilan untuk ibu dan bibi. Jika penghasilanmu tersisa, maka kau dapat menabungnya untuk kepentingan masa depanmu.

“Apakah ibu tidak memerlukan bantuanku?” berkata Kasadha.

“Bukan tidak memerlukan. Tetapi sementara ini keperluan ibu dan bibi sudah tercukupi. Upah yang kami dapatkan ditambah dengan penghasilan kebun dan ternak kami sudah cukup bagi kehidupan kami. Bahkan kami dapat menabung serba sedikit untuk suatu saat dimana kami menjadi semakin tua,” berkata ibunya.

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi kerongkongannya bagaikan tersumbat. Ibunya adalah seorang yang berilmu tinggi. Meskipun setelah perang tandingnya yang terakhir, ada sesuatu yang cacat sehingga ibunya tidak lagi mampu mencapai tataran yang lebih tinggi lagi, tetapi ibunya tetap seorang perempuan yang jarang ada bandingnya. Perempuan yang diketahuinya memiliki ilmu yang lebih tinggi hanyalah ibu Barata dan mungkin neneknya yang juga menjadi guru ibu serta Barata sendiri. Namun perempuan itu sudah menjadi semakin tua sehingga keadaan wadagnya tentu sudah tidak mendukung ilmunya itu lagi.

Dalam pada itu bibinya pun berkata, “Kerja ibumu sangat dipuji oleh orang-orang padukuhan ini. Ibumu dapat melakukan pekerjaan lebih baik dari perempuan lain. Apakah saat menanam padi atau saat menuai padi. Bahkan ibumu mengerjakan sawah kami yang hanya sekotak itu sebagaimana laki-laki melakukannya. Mencangkul hampir sehari penuh dapat dilakukannya, yang bahkan kadang-kadang sempat membuat orang-orang padukuhan ini menjadi heran. Bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi jantungnya serasa menjadi semakin bergetar. Kehidupan ibunya jauh berbeda dengan kehidupan ibu Barata. Namun yang terjadi itu seakan-akan ibunya harus menuai buah hasil tanamannya sendiri. Namun disamping haru terbersit rasa bangga, bahwa pada saat-saat terakhir ibunya telah meninggalkan suatu kehidupan yang gelap. Penuh nafsu dan dendam tiada berkeputusan.

Namun Kasadha juga terhibur ketika ia melihat ibunya justru tertawa sambil berkata, “Bukan hanya aku. Tetapi bibimu bekerja jauh lebih keras. Tetapi ia memang masih lebih muda dari aku. Bahkan masih ada searang laki-laki yang ingin mengambilnya sebagai isterinya. Justru seorang yang cukup terpandang di padukuhan ini. Apalagi laki-laki itu masih belum terlalu tua meskipun seorang duda beranak lima.”

“Ah, kau ini ada-ada saja,” potong bibinya.

Kasadha sempat tersenyum.

Sementara ibunya melanjutkan, “Tetapi aku berkata sebenarnya.”

“Aku telah menolaknya,” sahut bibinya.

“Justru karena itu, laki-laki itu marah. Ia merasa orang berpengaruh di padukuhan ini. Tetapi kenapa lamarannya ditolak oleh perempuan miskin seperti kami,” berkata ibunya.

Sementara itu bibinya berkata, “Ia tidak ingin mengawini aku untuk dijadikan isterinya. Tetapi ia hanya memerlukan tenagaku, karena aku dapat mengerjakan sawah seperti seorang laki-laki sebagaimana dilakukan oleh ibumu.”

Ibu Kasadha tertawa. Kasadha pun akhirnya tertawa juga. Ternyata dalam kemiskinannya itu ibunya sempat juga tertawa.

“Tetapi laki-laki itu benar-benar marah,” berkata ibunya kemudian, “bahkan pernah mengancam bibimu.”

“Apakah arti ancaman itu bagi bibi,” sahut Kasadha..

“Aku sudah melaporkan kepada Ki Bekel,” berkata bibinya, “tentunya akan lebih baik bagiku daripada aku mempergunakan cara lain.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat bibi.”

“Aku juga sependapat,” berkata ibunya, “kami tidak akan memilih jalan yang pernah kami tempuh beberapa saat yang telah lewat.”

Kasadha tersenyum meskipun ada semacam gejolak didalam jiwanya. Namun dengan demikian ia yakin, bahwa ibunya telah benar-benar berubah, sehingga baik bibinya maupun ibunya telah memilih jalan yang terbaik dalam tata cara pergaulan dan tatanan hidup di padukuhan itu.

Ketika malam tiba dihari pertama, Kasadha masih belum sampai hati mengutarakan kepentingan kedatangannya. Ia masih ingin ikut merasakan suasana kehidupan ibu dan bibinya sehari-hari.

Namun Kasadha juga merasa cemas, bahwa bibinya akan mengulangi permintaannya agar Kasadha bersedia berpaling kepada anak gadisnya. Gadis yang belum pernah dilihatnya.

Tetapi ternyata bibinya tidak melakukannya. Bibinya sama sekali tidak mengganggunya ketika ia kemudian berbaring disebuah amben yang besar diruang dalam rumah ibunya yang sederhana itu.

Dihari berikutnya, Kasadha justru berniat untuk pergi bersama ibu dan bibinya kesawah. Katanya, “Aku ingin ikut merasakan kehidupan yang utuh di padukuhan ini. Bukankah aku juga sudah terbiasa berada disawah?”

“Kapan kau turun kesawah?” bertanya ibunya.

“Bersama guru,” jawab Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa masa kecil dan remajanya Kasadha lebih banyak bersama, dengan gurunya daripada bersama ibunya.

Seperti yang dikehendaki oleh Kasadha, maka mereka bertiga telah pergi kesawah setelah Kasadha menempatkan kudanya di halaman belakang. Meskipun ibunya sudah mengatakan bahwa padukuhan itu cukup aman, namun Kasadha masih juga berhati-hati.

Memang tidak banyak yang dikerjakan disawah karena musim tanam sudah lewat. Mereka hanya ingin membersihkan rerumputan yang tumbuh disela-sela batang padi yang hijau subur.

“Sawah kami hanya sekotak ini,” berkata ibu Kasadha.

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi sawah itu memang tidak cukup luas untuk menghasilkan padi bagi persediaan makan mereka berdua, ibu dan bibinya.

Ibunya yang melihatnya merenung, seakan-akan dapat menangkap perasaan anaknya. Dengan nada dalam ia berkata, “Hasil sawah ini memang tidak mencukupi Kasadha. Tetapi jika kami berdua ikut menuai disawah para tetangga, maka kami pun mendapat upah dari mereka. Setiap sembilan ikat, kami mendapat seikat padi. Sehingga kadang-kadang kami justru mempunyai kelebihan padi dilumbung kami, yang dapat tukar dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Garam, gula kelapa dan kebutuhan dapur yang lain.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun kalanya kemudian, “Tetapi, bukankah lebih baik jika ibu mempunyai sawah sekotak lagi sehingga tidak akan tergantung pada upah dari orang lain?”

“Kami melakukan bergantian. Kami diupah untuk menuai padi disawah tetangga, tetapi dihari lain, tetangga itu menuai padi disawah kami,” berkata ibunya, “sehingga kami tidak merasa seorang lebih berarti dari orang lain.”

“Meskipun demikian, tentu lebih baik jika sawah ibu dan bibi lebih luas dari yang ada sekarang,” berkata Kasadha.

“Tentu,” jawab ibunya, “tetapi belum terlalu mendesak.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Ibu, aku mempunyai sedikit uang tabunganku. Jika ibu dan bibi tidak berkeberatan, biarlah uang itu dijadikan sawah meskipun hanya sekotak kecil..”

Ibunya tersenyum. Namun dadanya cukup bergetar. Anak itu disia-siakannya sejak bayinya. Hampir dibuangnya. Namun setelah ia menjadi dewasa, ia masih juga mengerti tentang ibunya yang penuh noda-noda dosa itu.

Karena itu, maka ibunya tidak kuasa menolak uluran tangan anaknya itu, meskipun ia masih bertanya, “Apakah kau sendiri tidak memerlukannya? Mungkin kau sudah merencanakan untuk membeli sesuatu bagi kebutuhanmu nanti.”

“Bukankah sawah juga berarti tabungan?” Kasadha justru bertanya.

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau benar-benar ingin menabung dalam ujud sawah, maka biarlah aku mengusahakannya. Mungkin ada orang yang ingin mengurangi luas tanahnya yang berlebihan, yang tidak sempat menggarapnya.”

“Jika ibu dan bibi tidak sempat menggarap sendiri, maka bukankah sawah itu dapat diserahkan orang lain?” berkata Kasadha kemudian.

Tetapi bibinya berkata sambil tertawa, “kami dapat melakukannya sendiri. Bahkan lebih dari dua tiga kotak.”

Kasadha dan ibunya tertawa.

Namun suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar suara seseorang, “He, apa kerja kalian disini? Bukankah tidak ada kerja disawah?”

Ketiga orang yang berdiri di pematang itu berpaling. Mereka melihat seseorang berdiri di jalan di sebelah kotak sawah mereka bersama dengan dua orang yang agaknya pembantunya.

Kasadha yang belum mengenal orang itu bertanya, “Siapakah orang itu?”

“Setan itu,” desis bibinya.

Tetapi ibunya sempat menyembunyikan senyumnya sambil berdesis, “Orang itulah yang pernah kita bicarakan. Orang yang ingin mengambil bibimu.”

Diluar sadarnya Kasadha pun tertawa kecil sambil berdesis, “Agaknya seorang yang cukup terpandang.”

“Ah kau,” gumam bibinya. Namun dengan cepat disahut oleh ibunya, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa ia seorang yang berpengaruh di padukuhan ini.”

Namun bibinya melanjutkan, “Yang akan mengambil aku untuk menjadi budak dirumahnya. Jika aku bersedia menerima lamarannya maka pada suatu saat aku akan membunuhnya.”

Ibu Kasadha tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Sementara orang itu bertanya lebih keras, “He, apa kerja kalian disini he? Bukankah baru beberapa hari kalian membersihkan rumput dari sawah kalian ini?”

Ibu Kasadha terpaksa menjawab, “Tidak apa-apa, Ki Tunggul. Sekedar melihat, apakah rumput yang telah kami bersihkan itu tumbuh lagi?”

“Kemarilah kalian,” teriak orang itu.

Ketiga orang yang berdiri dipematang itu termangu-mangu. Sementara itu orang itu berteriak sekali lagi, “Kemarilah kalian, apakah kalian tidak mendengarnya?”

Ibu Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berdesis, “Marilah. Daripada orang itu marah-marah.”

“Kenapa marah-marah?” bertanya Kasadha.

“Ia sudah terbiasa marah-marah,” jawab ibunya.

“Tetapi bukankah ia tidak berhak marah kepada setiap orang termasuk kepada bibi dan ibu?” bertanya Kasadha.

“Biarlah kita mengalah,” berkata ibunya sambil melangkah menelusuri pematang mendekati orang yang memanggilnya itu.

“Kedua orang itu pengawalnya,” desis bibinya, “keduanya dapat berbuat kasar terhadap siapa saja. Bahkan orang yang belum dikenalnya sama sekali.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia pun condong untuk mengalah agar tidak terjadi persoalan. Apalagi justru ia sedang hadir di tempat itu. Sebagai seorang prajurit ia harus berusaha untuk menghindari timbulnya persoalan yang apalagi mengarah pada kekerasan. Hanya jika tidak ada jalan lain, maka ia bertindak untuk menegakkan paugeran yang berlaku tanpa mementingkan kepentingan diri sendiri.

Demikian ketiga orang itu mendekat, maka orang yang dipanggil Ki Tunggul itu bertanya dengan tatapan mata tajam. Agaknya ia heran melihat kehadiran Kasadha. Katanya, “Siapa anak itu?”

Ibu Kasadha menjadi ragu-ragu sejenak, namun kemudian katanya, “Anak itu adalah anakku.”

“Anakmu? Apakah anak itu belum pernah datang kemari?” bertanya Ki Tunggul.

Ibu Kasadha masih saja ragu-ragu. Dipandanginya anaknya sejenak. Baru kemudian ia menjawab lagi, “Tidak Ki Tunggul. Ia sudah sering datang kemari. Tetapi memang tidak terlalu sering. Ia tidak pernah tinggal dirumah lebih dari dua hari sebagaimana sekarang ini.”

Ki Tunggul mengangguk-angguk. Namun ia bertanya lebih lanjut, “Dimana tempat tinggal anakmu jika ia tidak tinggal bersamamu di padukuhan ini?”

Ibunya menjadi semakin bimbang. Namun Kasadhalah yang menjawab, “Aku tinggal bersama paman, Ki Tunggul. Aku membantu kerja paman di sawah dan ladangnya yang agak lebih luas dari ladang ibu dan bibiku disini.”

Ki Tunggul itu mengangguk-angguk. Namun ia masih saja memandangi pakaian Kasadha yang meskipun tidak mengenakan pakaian seorang prajurit, namun pakaian itu dinilainya lebih baik dari pakaian anak-anak muda padesan yang setiap hari turun kesawah.”

Tiba-tiba saja Ki Tunggul itu bertanya, “Dimana pamanmu tinggal?”

Kasadha pun menjadi ragu-ragu. Namun ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka ia pun kemudian berkata, “Paman tinggal sedikit diluar dinding Kotaraja.”

“Pajang maksudmu?” desak Ki Tunggul.

“Ya Ki Tunggul,” jawab Kasadha.

“Itulah agaknya maka kau berpakaian seperti anak-anak muda Pajang. Tetapi apakah kekayaan pamanmu cukup besar, sehingga kau dapat bergaya seperti anak orang yang meskipun tidak kaya, tetapi cukup berada?”

Pertanyaan itu semakin membingungkan Kasadha. Dengan tersendat ia kemudian menjawab, “Pamanku bukan orang kaya. Tetapi ia seorang yang sangat baik. Aku mendapat kesempatan cukup untuk menyesuaikan diri dengan kawan-kawanku. Sudah tentu aku harus tahu diri. Tidak menyesuaikan diri dengan anak orang-orang kaya yang memiliki apa saja yang diinginkannya.”

“Tetapi siapa yang kau maksud dengan pamanmu itu?” bertanya Ki Tunggul semakin mendesak.

Namun tiba-tiba saja timbul pikiran aneh di kepala Kasadha. Tanpa minta pertimbangan ibu dan bibinya ia menjawab, “Paman adalah bekas suami bibi ini. Aku datang khusus untuk menyampaikan pesannya.”

“Pesan apa?” dahi Ki Tunggul itu berkerut.

“Paman minta bibi mau menerima paman kembali. Paman akan bersedia memenuhi permintaan bibi apapun juga. Termasuk memelihara itik,” jawab Kasadha.

“Kenapa memelihara itik?” bertanya Ki Tunggul itu pula.

“Paman bercerai dengan bibi karena soal itik. Bibi ingin memelihara itik, tetapi paman menolaknya. Pertengkaran pun merembet ke soal-soal lain dan membengkak sehingga akhirnya bibi meninggalkan paman,” jawab Kasadha.

“Tidak,” jawab Ki Tunggul, “bibimu tidak akan kembali kepada pamanmu. Kau pun tidak usah kembali kepadanya. Kau dan bibimu dapat tinggal bersamaku. Aku akan mencukupi kebutuhanmu melebihi pamanmu itu.”

Kasadha menarik nafas panjang. Katanya, “Terlambat, Ki Tunggul. Bibi telah menyatakan kesediaannya kembali kepada paman. Sebenarnyalah paman dan bibi belum resmi bercerai,” jawab Kasadha sambil berpaling kearah bibinya.

Wajah bibinya memang menjadi merah. Tetapi ia mengerti maksud Kasadha. Karena itu ketika Ki Tunggul bertanya kepadanya maka bibi Kasadha itu pun mengangguk membenarkan, “Aku memang belum bercerai.”

“Kalian harus segera menyelesaikan perceraian itu berapapun besar beayanya. Aku akan menanggungnya dan aku ulangi lamaranku agar kau bersedia menjadi isteriku. Hidupmu dan kakak perempuanmu bahkan kemenakanmu itu akan menjadi jauh lebih baik dari sekarang, bahkan seandainya kau kembali kepada suamimu yang tidak bertanggung jawab itu,” berkata Ki Tunggul lantang.

Tetapi bibi Kasadha itu menggeleng. Katanya, “Aku sudah menyatakan untuk bersedia kembali kepada suamiku itu.”

“Tidak. Kau tidak boleh kembali kepadanya,” Ki Tunggul itu hampir berteriak.

“Jangan berteriak begitu Ki Tunggul,” cegah ibu Kasadha, “nanti orang-orang yang sedang membersihkan rerumputan di sela-sela batang padinya itu berdatangan kemari.”

“Mereka tidak akan berani berbuat apa-apa atasku,” jawab Ki Tunggul dengan nada tinggi.

“Tetapi adikku tentu merasa malu. Persoalan yang penting ini tidak seharusnya dibicarakan di pinggir jalan bulak seperti ini. Sebaiknya kita bicarakan lain kali. Apalagi adikku telah memberikan jawabannya,” desis ibu Kasadha.

“Aku minta kepastian,” berkata orang itu.

“Aku sudah memberikan kepastian,” jawab bibi Kasadha itu.

“Aku tidak mau kau perlakukan semena-mena. Aku seorang yang berpengaruh disini. Aku dapat mempergunakan pengaruhku untuk memaksamu,” berkata Ki Tunggul dengan marah.

“Aku sudah melapor kepada Ki Bekel,” jawab bibi Kasadha, “jika Ki Tunggul akan memaksaku, maka Ki Bekel akan campur tangan langsung. Bukankah Ki Tunggul sudah mengetahui?”

“Ki Bekel tidak berani berbuat apa-apa atasku. Kau kira Ki Bekel dapat melindungimu?” geram Ki Tunggul.

“Jika bukan Ki Bekel, aku akan menyampaikannya kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya,” jawab bibi Kasadha.

Laki-laki itu menggeretakkan giginya karena marah. Katanya, “Aku tidak mau bertengkar di pinggir jalan. Tetapi bukan berarti aku tidak akan meneruskan niatku. Sementara itu kau sempat berpikir bahwa aku akan dapat mengangkatmu dan seluruh keluargamu dari lembah kemiskinan.”

Bibi Kasadha tidak menjawab lagi. Sementara itu laki-laki itu pun berkata sambil bergeser dari tempatnya, “Jangan menunggu aku memerintahkan orang-orangku mengambilmu dengan paksa.”

Bibi Kasadha masih tetap berdiam diri. Sementara Ki Tunggul itu pun mengajak kedua orang pengiringnya itu melangkah pergi.

“Laki-laki itu mempunyai mata yang tajam,” desis ibu Kasadha sambil berpaling kearah saudara sepupunya.

“Kenapa?” bertanya bibi Kasadha.

“Ia dapat melihat kecantikan seseorang meskipun diselimuti oleh kemiskinan,” jawab ibu Kasadha.

“Ah,” desah saudara sepupunya, “kau selalu saja mengganggu. Bukankah kau tidak bersungguh-sungguh?”

Ibu Kasadha tertawa. Namun ia pun kemudian berkata, “Sudahlah. Agaknya Kasadha sudah cukup lama berada di sawah.”

“Aku belum mohon maaf, bahwa aku telah menjawab asal saja,” berkata Kasadha kemudian, “seharusnya aku mohon ijin lebih dahulu kepada bibi sebelum aku membual.”

“Tidak apa. Jawabku untuk selanjutnya akan berpegang kepada bualanmu itu,” jawab bibinya.

“Tetapi bukankah akhirnya orang itu mengetahui bahwa apa yang aku katakan tidak benar?” berkata Kasadha kemudian.

“Mudah-mudahan orang itu sudah melupakannya,” jawab bibinya selanjutnya.

Kasadha hanya mengangguk-angguk saja. Sementara ibunya berkata,”Marilah. Sebaiknya kita pulang saja.”

Bertiga mereka pun kemudian meninggalkan sawah yang hanya sekotak itu. Disepanjang jalan Kasadha mengulangi niatnya untuk membeli sawah sekotak lagi agar tanah garapan ibu dan bibinya menjadi lebih luas, sehingga hasilnya akan cukup bagi mereka berdua untuk semusim. Dari panen sampai ke panen berikutnya.

Ketika mereka sampai dirumah, maka Kasadha pun telah ikut pula membantu kerja ibu dan bibinya. Membelah kayu bakar dan menimba air untuk mengisi gentong didapur dan jambangan di pakiwan.

Namun dalam pada itu, Kasadha justru telah mulai digelisahkan lagi oleh keperluannya datang menemui ibunya. Ia sama sekali lidak memikirkan lagi laki-laki yang akan mengambil bibinya, karena bibinya tentu akan dapat menyelesaikannya sendiri dengan cara apapun yang dikehendaki oleh Ki Tunggul. Seandainya Ki Tunggul akan mempergunakan kekerasan, maka bibinya tentu akan dapat mengatasinya. Jika terpaksa maka ibunya pun tentu akan membantunya. Namun jika terjadi demikiin, maka kehadiran mereka di padukuhan itu tentu akari menjadi sorotan orang. Karena itu, ia sependapat justru bibinya melaporkannya kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya jika Ki Bekel tidak dapat mengatasinya. Namun apapun yang dilakukan oleh Ki Tunggul, tidak akan berbahaya bagi bibi dan ibunya asal Ki Tunggul tidak berbuat licik dan pengecut.

Yang kemudian dipikirkan oleh Kasadha, bagaimana ia akan mulai dengan sebuah pembicaraan tentang wisuda di Tanah Perdikan Sembojan.

“Tetapi aku harus mengatakannya,” berkata Kasadha kepada diri sendiri.

Karena itulah, ketika mereka makan malam lewat senja, dibawah nyala lampu minyak yang redup, Kasadha telah memaksa diri untuk menyampaikan keperluannya datang kerumah ibunya.

“Ibu,” berkata Kasadha sambil menelan nasi yang terakhir disuapkan kemulutnya. Sejenak ia berhenti untuk meneguk wedang sere yang disediakan oleh bibinya.

Ibunya mengerutkan keningnya. Ia melihat wajah dan suara Kasadha yang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka ia pun meperhatikan anaknya itu dengan bersungguh-sungguh pula.

“Ibu,” Kasadha mengulangi, “sebenarnya disamping aku datang untuk menengok ibu dan bibi, aku juga membawa sebuah berita yang aku tidak tahu, apakah ibu dan bibi menganggap penting atau tidak.”

Ibunya menarik nafas panjang. Katanya, “Aku sudah mengira ngger. Agaknya kau tidak datang sekedar menengok ibu dan bibimu saja. Tetapi karena aku tidak yakin, maka aku menunggu sampai saatnya kau mengatakannya.”

“Besok aku harus kembali ke barak pasukanku. Karena itu, maka malam ini adalah kesempatan terakhir bagiku untuk membicarakannya dengan ibu serta bibi.”

“Katakanlah, Puguh. Aku akan mendengarkannya dengan baik, berita apapun yang akan kau sampaikan. Hatiku sekarang sudah tidak lagi mudah terguncang setelah aku mengalami peristiwa yang telah melemparkan aku ketempat ini dengan sikap dan anutan hidupku sekarang.” sahut ibunya.

Kasadha menarik nafas panjang. Lalu katanya dengan patah-patah,” Ibu. Aku akan menyampaikan satu berita yang akan terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”

Ternyata dengan dingin ibunya berkata, “Katakanlah ngger.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ibu, di Tanah Perdikan Sembojan akan diselenggarakan wisuda.”

Ibunya mengerutkan dahinya. Namun ia pun cepat tanggap. Karena itu maka ia pun segera bertanya, “Angger Risang akan diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

“Ya ibu,” jawab Kasadha.

Wajah ibu Kasadha itu pun segera berubah. Secerah kegembiraan justru memancar dari sorot matanya. Sambil mengusap rambutnya yang sudah memutih tergerai di dahinya, maka ia pun berkata, “Syukurlah. Tanah Perdikan itu tidak lebih lama lagi kosong tanpa seorang pemimpin yang sah. Dengan wisuda itu, maka Tanah Perdikan itu akan mempunyai seorang Kepala Tanah Perdikan yang sebenarnya.”

“Aku telah mendapat undangan untuk menghadiri wisuda itu ibu. Risang sendiri datang ke barakku untuk mengundang aku agar aku bersedia datang ke Tanah Perdikan disaat wisuda itu dilaksanakan beberapa pekan lagi.” berkata Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk. Namun dengan hati-hati ia bertanya, “Bukankah kau telah menyatakan kesediaanmu untuk datang?”

“Ya ibu. Aku sudah menyatakan, bahwa aku akan datang,” jawab Kasadha. Sementara itu jantungnya menjadi berdebar-debar ketika ia berniat untuk mengatakan, bahwa ibunya juga diharapkan untuk datang.

Ibunya melihat sesuatu yang masih tersimpan dihati anaknya itu. Karena itu, maka ia pun justru berusaha untuk mengungkit agar yang tersimpan itu juga dilontarkan keluar.

Karena itu, maka ibunya itu justru bertanya, “Apakah ada pesan yang lain yang kau bawa?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ya ibu. Ada yang lain yang akan aku sampaikan.”

“Katakan Puguh. Kau tidak perlu ragu-ragu. Sudah aku katakan bahwa hatiku tidak lagi mudah terguncang.”

Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Ibu. Kami, maksudku aku dan Risang berharap bahwa ibu juga bersedia untuk datang.”

Meskipun ibunya sudah mengatakan bahwa hatinya tidak mudah terguncang, namun yang dikatakan oleh Kasadha dengan ragu itu sempat membuat jantungnya bergetar lebih cepat.

Namun sesaat kemudian, ibu Kasadha itu telah menguasai perasaannya sepenuhnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apakah Risang juga mengundang aku atau kau tawarkan kepadanya bahwa aku akan kau ajak serta?”

“Apakah ada bedanya?” justru Kasadha bertanya kembali.

“Tentu ada bedanya ngger,” jawab ibunya, “jika kau tawarkan kepadanya, bahwa aku akan kau bawa bersamamu, maka belum tentu jika hal itu berkenan dihatinya. Apalagi ibunya. Seandainya kemudian ia mengiakannya, mungkin hal itu hanya karena perasaan segan saja. Sehingga dengan demikian, maka Risang apalagi ibunya tidak menerima kedatanganku dengan ikhlas.”

Kasadha mengangguk-angguk. Sepercik keraguan telah membersit dihatinya. Ia dapat mengerti perasaan ibunya. Namun ia pun telah berjanji kepada Kasadha bahwa ia akan membujuk ibunya sebagaimana Kasadha akan meyakinkan ibunya bahwa ibunya telah berubah.

Untuk beberapa saat Kasadha merenung. Namun kemudian ia pun berkata, “Ibu, sebenarnyalah bahwa aku dan Risang telah bersepakat untuk meyakinkan ibu dan ibu Risang, agar dapat menghapus jarak yang selama ini terbentang diantara ibu dan ibu Risang itu. Permusuhan yang telah lama berlangsung tidak akan dapat memberikan apapun juga, baik kepada ibu maupun kepada ibu Risang. Yang ada justru ketidak tenteraman, ketegangan jiwa dan kebencian yang seakan-akan memburu sepanjang hidup kita.”

Ibunya mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku sependapat sepenuhnya dengan pendapatmu itu Kasadha. Aku pun sebenarnya tidak berkeberatan untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan, sepanjang aku akan dapat diterima dengan hati terbuka.”

Kasadha memandang ibunya dengan tajamnya, seakan-akan ingin melihat apakah isi hatinya sesuai dengan kata-katanya. Namun ibunya itu pun menjelaskan, “Aku berkata sebenarnya Kasadha. Aku berada dipihak yang salah, yang harus menempatkan dirinya dalam kedudukan yang lebih rendah. Tetapi aku tidak berkeberatan. Seandainya aku harus berlutut untuk mohon maaf sekalipun, hal itu akan aku lakukan. Justru setelah Iswari itu mau menerimamu dengan kedua belah tangannya, bahkan menganggapmu sebagai anak sendiri. Bagiku sekarang, aku memang sudah tidak ada harganya. Aku hanya dapat mengharap agar kau tidak mengalami nasib seperti aku. Jika Tanah Perdikan Sembojan itu menerimamu dengan baik dan memberimu tempat selayaknya, maka aku tidak akan memberikan harga sama sekali bagi diriku sendiri.”

Kasadha justru termangu-mangu. Ternyata sikap ibunya tidak sebagaimana dibayangkan. Ibunya tidak merasa tidak pantas datang karena merasa bersalah. Tetapi juga tidak ingin bersikap sebagai tamu yang terhormat. Ibunya justru bersedia direndahkan sebagai pengakuan atas kesalahannya.

Perasaan Kasadha tersentuh karenanya. Bagaimanapun juga ia tidak akan dapat melihat ibunya direndahkan dan apalagi dijadikan bahan pangewan-ewan, betapapun besar kesalahannya. Namun disamping perasaan itu, Kasadha pun menganggap bahwa ibunya adalah seorang yang berhati jantan. Ia tidak gentar menghadapi kenyataan betapapun pahitnya. Bahwa dengan dada tengadah ibunya sanggup mengakui kesalahannya, adalah pertanda bahwa ibunya bukan seorang yang berjiwa kerdil. Sebagaimana diingatnya, apa yang pernah dilakukan ibunya, maka ibunya memang mempunyai landasan jiwa yang kuat. Namun yang pada saat itu jalan yang ditempuh oleh ibunya adalah jalan yang sesat.

Karena itu, maka dengan suara yang bergetar Kasadha berkata, “Ibu, kita akan pergi ke Tanah Perdikan dalam keadaan wajar. Mungkin ibu memang membawa beban. Tetapi sudah tentu bukan niat Risang untuk menghadapkan ibu pada sebuah pengadilan. Karena itu, jika kita pergi ke Tanah Perdikan, maka kita akan menyatakan ikut bergembira bahwa Risang telah diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan,”

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya,”Aku akan dengan senang hati datang ke Tanah Perdikan Sembojan. Apapun yang akan aku alami disana. Aku sudah merasa bersukur bahwa kau mendapat undangan langsung dari Risang sendiri. Apalagi jika Risang itu juga mengundang aku.”

Kasadha mengangguk kecil sambil menjawab,”Terima kasih atas sikap ibu yang justru terbuka. Sejak semula aku merasa cemas bahwa ibu akan berkeberatan karena berbagai pertimbangan.”

“Nah, katakan kepada Risang, bahwa aku bersedia untuk datang ke Tanah Perdikan Sembojan saat ia diwisuda,” berkata ibunya,”asal kau yakin bahwa kesediaannya menerima aku bukan karena terpaksa. Apalagi ibunya, justru karena ia bersikap baik kepadamu. Tentang apa yang akan dilakukan atasku aku tidak akan menghiraukannya.”

Kasadha mengangguk-angguk pula. Katanya,”Jika demikian, pada saatnya aku akan datang menjemput ibu dan sudah tentu bibi. Aku mohon bibi bersedia menemani ibu ke Tanah Perdikan Sembojan.”

Bibinya mengangguk sambil menjawab, ”Sudah tentu aku akan bersedia menemani ibumu. Selama hidupku aku belum pernah menyaksikan wisuda seorang Kepala Tanah Perdikan. Dengan datang ke Sembojan, agaknya aku akan dapat berceritera tentang upacara itu.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Persoalannya dengan ibunya sudah selesai. Nampaknya ia pun tidak akan terlalu banyak dibebani persoalan apabila ibu Barata berkeberatan menerima kehadiran ibunya, karena ibunya justru sudah mengatakan, bahwa ia akan datang jika ia akan dapat diterima dengan ikhlas, apapun yang akan terjadi atas dirinya di Tanah Perdikan kelak. Jika ibu Risang ternyata kemudian tidak ikhlas, maka ibunya tidak akan merasa sakit hati karena telah ditolak.

Tetapi, bagaimanapun juga Kasadha tentu akan berusaha untuk menempatkan ibunya pada kedudukan yang wajar meskipun ibunya sendiri sudah mengaku bersalah dan akan menerima perlakuan yang bagaimanapun juga kelak.

Karena itu, maka Kasadha pun kemudian berkata,”Baiklah ibu. Dengan demikian maka aku sudah mendapat satu kepastian bahwa ibu akan datang ke Tanah Perdikan. Tetapi tentu saja tidak akan diperlakukan seperti seorang tertuduh didepan perdata yang akan mengadilinya atau justru seperti seorang terhukum yang harus menjalani hukumannya.”

“Mudah-mudahan tidak ada persoalan yang bakal timbul Kasadha. Aku datang ke Tanah Perdikan hanya akan menyampaikan ucapan selamat dengan ikhlas kepada angger Risang, sebagaimana sikap ibu Risang yang dengan ikhlas menerimamu dalam rangkuman keluarga Tanah Perdikan Sembojan meskipun ia dan orang-orang tua di Tanah Perdikan tahu siapakah ibumu,” berkata ibunya.

“Mudah-mudahan wisuda itu juga menjadi batas pertautan kembali seluruh keluarga Tanah Perdikan Sembojan tanpa saling curiga-mencurigai,” berkata Kasadha dengan nada dalam.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum menjawab, mereka telah dikejutkan oleh ketukan perlahan-lahan pada daun pintu rumah mereka yang memang sudah tertutup.

“Siapa?” bertanya bibi Kasadha.

“Buka pintunya,” terdengar suara geram diluar. Ketukan dipintu itu bahkan terdengar semakin kertas.

“Siapa?” bertanya bibi Kasadha itu pula.

“Buka saja pintunya, aku akan berbicara,” Kasadha pun segera tanggap. Katanya,”Orang yang tadi siang kita temui di sawah.”

Ibunya mengangguk sambil berdesis,”Ya. Ki Tunggul. Nampaknya ia sudah benar-benar gila.”

“Aku tidak akan membuka pintu,” geram Bibi Kasadha.

“Bukalah,” minta ibu Kasadha,”nanti pintu itu rusak dan kita harus memperbaikinya. Atau biarlah Kasadha membukan pintu itu. Silahkan mereka masuk. Ki Tunggul tentu tidak sendiri.”

Kasadha pun bangkit dari tempat duduknya sementara wajah bibinya menjadi buram. Bahkan ia pun berdesis,”Jika mereka mempergunakan kekerasan, apakah kita akan melayaninya? Lalu bagaimana anggapan tetangga-tetangga terhadap kita? Sikap mereka tentu akan berubah. Mereka akan menganggap kita sebagai hantu-hantu betina yang dijauhi orang.”

“Mumpung ada Kasadha. Besok pagi-pagi kita menghadap Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Malam ini kita tidak usah ikut campur,” jawab ibu Kasadha.

Bibinya tidak membantah lagi, sementara pintu pun diketuk semakin keras. Sehingga Kasadha harus menjawab,”Ya, ya. Aku sedang berjalan menuju ke pintu.”

Sejenak kemudian, Kasadha telah mengangkat selarak pintu lereg yang terbuat dari anyaman bambu itu. Ia mundur beberapa langkah ketika tiba-tiba saja Ki Tunggul dan dua orang pengikutnya memasuki rumah itu.

“Aku datang dengan maksud baik,” berkata Ki Tunggul.

“Marilah, silahkan duduk, Ki Tunggul. Tempatnya masih dikotori sisa-sisa makan yang belum sempat kami singkirkan, karena kami sedang berbincang-bincang,” ibu Kasadha itu mempersilahkan sambil membenahi mangkuk-mangkuk yang masih berserakan diamben bambu yang juga dipergunakan Kasadha untuk tidur.

Ki Tunggul tidak menjawab. Tetapi ia pun segera duduk diamben itu pula, sementara dua orang pengiringnya berdiri tegak di sebelahnya. Seorang diantaranya meletakkan tangannya pada hulu goloknya yang besar. Sedang yang lain menyilangkan tangannya di dadanya.

Kasadha pun kemudian juga dudijk diamben itu pula disebelah bibinya. Sementara ibunya beringsut, justru ketengah.

“Kedatangan Ki Tunggul malam-malam telah mengejutkan kami,” desis ibu Kasadha.

“Belum terlalu malam,” jawab Ki Tunggul, ”baru saja senja lewat. Rumah sebelah menyebelah pintunya masih terbuka. Hanya rumah ini sajalah yang sudah menyelarak pintu rumahnya.”

“Agaknya kami sudah tidak mempunyai kepentingan apa-apa lagi diluar, Ki Tunggul. Karena itu, maka kami telah menyelarak pintu rumah kami,” berkata ibu Kasadha kemudian.

“Baiklah. Aku akan segera mengatakan kepentinganku datang kemari. Sudah aku katakan, bahwa aku berniat baik. Aku akan meneruskan pembicaraan kita di bulak tadi. Aku memang tidak mau bertengkar di jalan meskipun tidak akan ada orang yang berani menegurku. Tetapi aku semata-mata menghormati kalian, perempuan yang katanya merasa malu ribut-ribut di pinggir jalan.”

Ibu Kasadha, bibinya dan Kasadha sendiri tidak menjawab. Mereka menunggu Ki Tunggul itu berkata selanjutnya meskipun mereka sudah dapat menduga, apa yang akan dikatakannya.

Sebenarnyalah sejenak kemudian Ki Tunggul itu berkata,”aku akan melanjutkan pembicaraan kita. Aku benar-benar berniat untuk melamarmu. Sudah hampir setahun aku menduda. Bukankah sudah cukup lama anak-anakku hidup dalam kegersangan karena mereka tidak mempunyai seorang ibu?”

“Dimana ibu-ibu mereka?” bertanya bibi Kasadha.

Sementara Kasadha pun mengerutkan keningnya, karena kesan dari pertanyaan itu adalah bahwa isteri laki-laki itu tidak hanya satu.

Ki Tunggul menjadi tegang mendengar pertanyaan itu. Jawabnya, ”Kau tidak perlu tahu kemana mereka pergi. Tetapi mereka adalah perempuan-perempuan yang tidak tahu diri. Perempuan-perempuan malas yang hanya pandai menghabiskan uang untuk bersolek dan membeli barang-barang perhiasan yang tidak sewajarnya. Karena itu mereka sudah aku usir dari rumahku. Aku tidak peduli kemana mereka akan pergi dan apa yang akan mereka lakukan kemudian, karena itu sudah bukan tanggung-jawabku lagi.”

“Tetapi ternyata anak-anak mereka membutuhkan mereka,” berkata bibi Kasadha.

“Sudahlah. Jangan hiraukan mereka. Aku memerlukan kau, itu saja. Kau akan menjadi isteriku dan menjadi ibu dari anak-anakku. Kau akan dapat hidup lebih baik daripada hidup digubug yang miring ini,” berkata Ki Tunggul.

“Gubug ini tidak miring, Ki Tunggul,” sela Kasadha tiba-tiba sambil tersenyum.

Namun Ki Tunggul itu membentak, ”Kau anak dungu. Kau tentu tahu bahwa gubug ini buruk, kotor dan pengab.”

Kasadha tidak menjawab lagi. Tetapi ia menyembunyikan senyumnya sambil menunduk dalam-dalam.

Sementara bibi Kasadha itu menjawab, ”Ki Tunggul, bukankah sudah aku katakan bahwa aku akan segera kembali kepada suamiku. Karena itu, aku tidak dapat memenuhi keinginan Ki Tunggul. Apalagi aku pun termasuk perempuan yang malas dan tidak mempunyai kelebihan apapun dari perempuan-perempuan lain.”

“Tetapi kau terbiasa bekerja keras. Kau dapat bekerja sehari penuh di sawah melampaui ketahanan kerja seorang laki-laki. Bukankah itu satu kelebihan?” berkata Ki Tunggul.

Kasadha pun tahu pasti mendengar jawaban itu, bahwa bibinya memang tidak akan dijadikan seorang isteri yang sewajarnya. Tetapi ia akan menjadi seorang budak. Karena itu, maka diluar sadarnya timbullah kebenciannya kepada Ki Tunggul itu. Namun Kasadha berusaha untuk tidak mencampuri persoalannya jika tidak terpaksa.

Sementara itu, bibinya pun menjawab, ”Sudahlah Ki Tunggul. Aku tidak akan dapat kau jadikan isterimu sekaligus budakmu. Sebaiknya aku kau lupakan saja. Dalam waktu dekat, suamiku tentu akan datang kemari. Soalnya tinggal, apakah aku akan mengikut suamiku ke Pajang atau suamiku yang akan tinggal disini.”

Wajah Ki Tunggul menjadi merah. Katanya, ”Kau tahu bahwa di padukuhan ini tidak seorang pun yang dapat mencegah kemauanku. Karena itu pikirkan masak-masak. Jika aku tidak mendengar kabar bahwa kau akan kembali ke suamimu, aku akan memberimu kesempatan berpikir beberapa hari lagi. Tetapi justru karena anak itu membawa bawa kabar bahwa kau akan kembali pada suamimu, maka aku harus mendapat kepastianmu sekarang. Aku tidak mau terlambat.”

“Aku sudah memberimu kepastian,” jawab bibi Kasadha.

“Jangan membuat aku marah,” berkata Ki Tunggul, ”jika kau mengharap perlindungan dari Ki Bekel, itu akan berarti sia-sia. Ki Bekel tidak akan berani menentangku, ia sudah berada dibawah pengaruhku.”

“Jika demikian aku akan melaporkannya kepada Ki Jagabaya. Bahkan jika perlu Ki Demang, karena Ki Tunggul tahu bahwa Ki Jagabaya adalah seorang yang berpegang teguh pada paugeran bebrayan sehingga Ki Jagabaya tentu akan bersedia melindungiku,” berkata bibi Kasadha.

“Kau tidak akan mendapat kesempatan,” berkata Ki Tunggul.

“Besok pagi-pagi aku akan pergi ke rumah Ki Jagabaya. Aku sudah tahu rumahnya meskipun agak jauh,” berkata bibi Kasadha.

“Kau tidak akan sempat melakukannya meskipun besok pagi-pagi, karena malam ini aku sudah memutuskan membawamu ke rumahku. Aku sudah terlalu sabar menunggumu. Tetapi aku tidak mau didahului oleh suamimu,” berkata Ki Tunggul.

“Tidak,” bibi Kasadha hampir berteriak, ”kau kira aku apa sehingga kau akan dapat membawaku sekehendakmu sendiri?”

“Aku tidak peduli,” berkata orang itu. Sambil memberi isyarat kepada kedua orang pengiringnya Ki Tunggul itu berkata, ”Aku sudah tidak dapat menahan diri lagi. Kau malam ini harus sudah berada di rumahku. Kau harus berganti pakaian yang pantas sebagai isteriku sehingga kecantikanmu akan semakin nyata.”

“Tidak,” wajah bibi Kasadha menjadi merah. Namun ketika ia melihat Kasadha, maka ia pun mencoba untuk menahan diri. Seperti yang dikatakannya sendiri, ia tidak mau menjadi seorang perempuan yang terasing, karena ia memiliki kemampuan berkelahi. Ia telah berhasil mengatasi kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga ia tidak ingin merusaknya jika tidak terpaksa sekali.

Karena itu, maka ia menyerahkan persoalannya kepada Kasadha agar jika Ki Tunggul itu mempergunakan kekerasan, anak muda itu dapat mengatasinya.

“Kedudukan perempuan di desa kecil ini berbeda dengan kedudukan Warsi di padepokannya atau Iswari di Tanah Perdikannya,” berkata bibi Kasadha itu didalam hatinya.

Sebenarnyalah ketika kedua orang pengikut Ki Tunggul itu mulai bergerak, Kasadha berkata, ”Ki Tunggul. Bibi telah menyatakan sikapnya. Sebaiknya Ki Tunggul juga menghormati haknya. Karena itu, Ki Tunggul jangan memaksa bibi untuk tunduk kepada kemauan Ki Tunggul. Apalagi menurut kesimpulanku dari pembicaraan Ki Tunggul dan bibi, sebenarnyalah bibi tidak akan menjadi seorang isterinya dengan hak sepenuhnya sebagai seorang isteri yang wajar. Tetapi bibi akan menjadi seorang isteri yang dibebani oleh pekerjaan yang berat karena bibi mampu bekerja keras. Karena itu, biarlah bibi kembali kepada paman tanpa gangguan orang lain. Termasuk Ki Tunggul.”

Kemarahan Ki Tunggul menjadi semakin menyala di dadanya. Dengan lantang ia berkata, ”Kau anak yang masih berbau kencur. Kau mau apa? Sebaiknya kau bujuk agar bibimu dapat berpikir bening sehingga ia bersedia ikut bersamaku. Kau pun boleh ikut bersamaku dan ibumu sekaligus. Sawahku cukup luas untuk kalian kerjakan menurut kehendakmu.”

Kasadha menggeleng. Katanya, ”Sudahlah. Kami sudah cukup memberikan penjelasan. Sekarang aku mohon Ki Tunggul pulang saja agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.”

Seorang diantara pengiring Ki Tunggul itu nampaknya tidak sabar lagi. Karena itu maka ia pun maju selangkah mendekati Kasadha sambil membentak, ”Jika kau membuka mulutmu lagi, aku akan mengoyaknya.”

Kasadha tidak segera menjawab. Tetapi ia pun telah bangkit berdiri. Tetapi ia melangkah surut ketika pengiring Ki Tunggul itu melangkah maju.

“Ki Sanak,” berkata Kasadha, ”bukankah kita mempunyai mulut untuk berbicara dan menyelesaikan persoalan kita? Apakah kita perlu mempergunakan kekerasan sehingga diantara kita, orang-orang dewasa saling berkelahi? Bukankah itu akan dapat menjadi bahan tertawaan anak-anak yang masih pantas berkelahi.”

Tetapi orang itu tidak menjawab. Tangannyalah yang dengan cepat bergerak menampar wajah Kasadha.

Tetapi tangan itu ternyata tidak menyentuhnya sama sekali. Hampir tidak masuk akal bahwa tangannya tidak mengenai sasaran, sementara Kasadha seakan-akan tidak bergerak sama sekali.

Pengiring Ki Tunggul itu termangu-mangu sejenak. Namun agaknya kemarahannya sudah tak terbendung lagi. Bahwa tangannya tidak menyentuh sasarannya telah membuatnya semakin geram.

Namun Kasadha tidak mau terjadi keributan didalam rumah itu. Karena itu, maka ia pun berkata, ”Ki Sanak. Meskipun aku tahu bahwa kau adalah salah seorang pengikut Ki Tunggul yang tentunya dianggap sebagai orang kuat atau bahkan memiliki ilmu yang tinggi, namun aku tidak akan membiarkan kau atas nama orang yang mengupahmu berbuat sewenang-wenang terhadap bibi. Betapapun lemahnya aku, tetapi aku juga seorang laki-laki. Aku tidak tahu apakah aku mampu melakukan atau tidak. Namun aku akan mencegahmu jika kau akan mengambil bibi diluar kehendak bibi itu sendiri. Karena itu, jika kau ingin memaksakan kehendakmu atas nama orang yang mengupahmu, maka kita tentu akan beradu kekerasan. Tetapi sudah tentu tidak didalam rumah yang sempit ini. Kita akan berkelahi diluar rumah. Meskipun gelap malam telah menyelimuti halaman rumah ini, tetapi kita tidak akan terganggu karenanya.”

Wajah pengiring Ki Tunggul itu menjadi merah. Kemarahannya telah sampai keubun-ubun. Apalagi ketika Ki Tunggul berkata, ”Selesaikan anak itu.”

Kasadha tidak menunggu lagi. Ia pun segera bergeser kepintu, sementara Ki Tunggul telah mengisaratkan agar kedua pengikutnya mengikutinya.

Sejenak kemudian Kasadha sudah berdiri di halaman rumah ibunya. Sementara itu kedua orang pengikut Ki Tunggul dan bahkan Ki Tunggul sendiri telah keluar pula.

Dalam pada itu terdengar suara Ki Tunggul, ”Buatlah anak itu menjadi jera. Ia harus tahu, siapa aku dan seberapa besar pengaruhku disini. Meskipun ia akan berteriak-teriak, jika orang-orang disekitar rumah ini tahu, bahwa aku ada disini, maka mereka tentu tidak akan berani berbuat apa-apa.”

Kasadha hanya berdiam diri saja mendengar kata-kata Ki Tunggul itu. Namun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

“Jangan ragu-ragu,” berkata Ki Tunggul kemudian.

Kedua orang itu pun kemudian telah mendekati Kasadha yang melangkah surut justru ke tengah-tengah halaman.

“Kau akan menyesal anak muda,” geram salah seorang dari kedua orang pengikut Ki Tunggul, ”jika kau mampu bertahan untuk hidup, maka kau tentu akan menjadi cacat untuk seumur hidupmu.”

“Tetapi aku akan membiarkan anak yang cacat itu ikut bersama bibinya di rumahku,” berkata Ki Tunggul.

Kasadha masih saja berdiam diri. Namun ia benar-benar telah bersiap.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun mulai bergerak. Agaknya mereka pun menyadari, melihat sikap Kasadha, maka mereka sudah memperhitungkan, bahwa anak muda itu bukannya anak muda yang kosong sama sekali. Setidak-tidaknya anak muda itu tentu merasa bahwa ia mampu melawan kedua orang pengikut Ki Tunggul itu.

Kasadha pun telah bergeser selangkah surut. Namun ia pun kemudian mulai meloncat sambil menggapai salah seorang lawannya untuk memancingnya mulai menyerang.

Sebenarnyalah orang itu menghindari tangan Kasadha. Namun dengan cepat orang itu telah bergerak untuk menyerang.

Dengan demikian, maka perkelahian pun telah di. mulai. Meskipun Kasadha seorang prajurit dan lebih dari itu ia adalah murid Ki Ajar Paguhan, namun ia tidak merendahkan kemungkinan yang dimiliki oleh kedua orang lawannya. Keduanya tentu orang-orang yang terbiasa melakukan kekerasan.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga itu pun bergerak semakin cepat. Kedua orang pengikut Ki Tunggul itu menjadi semakin yakin bahwa anak muda itu memang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.

Ki Tunggul memperhatikan perkelahian yang terjadi di halaman rumah itu. Dalam kegelapan ia melihat kedua belah pihak saling menyerang dan menghindar.

Namun Ki Tunggul itu mulai menjadi cemas karena kedua orang kepercayaannya itu tidak segera menyelesaikan anak muda itu.

Dengan demikian, maka Ki Tunggul pun segera mendekati arena. Ki Tunggul menjadi semakin jelas melihat mereka yang berkelahi itu karena bulan di langit mulai tersembul dari balik dedaunan yang rimbun di halaman itu.

Dalam pada itu, ternyata ibu dan bibi Kasadha juga keluar dari pintu rumah mereka untuk menyaksikan apakah yang telah terjadi di halaman.

Sebenarnyalah perkelahian itu sudah menajdi semakin sengit. Namun dengan demikian, baik Ki Tunggul maupun ibu dan bibi Kasadha segera melihat, bahwa kemampuan mereka memang kurang seimbang. Beberapa kali Kasadha telah mampu mengenai tubuh lawan-lawannya. Bahkan seorang diantara mereka terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja orang itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh terlentang. Namun untunglah bahwa ia masih mampu menyelamatkan dirinya.

Dalam perkelahian selanjutnya, maka ibu dan bibi Kasadha melihat bahwa Kasadha benar-benar telah menguasai kedua lawannya. Namun agaknya Kasadha tidak ingin membuat keduanya menjadi sangat malu karena kekalahan mereka yang hanya dalam waktu yang terhitung singkat, sedangkan sebelumnya mereka seakan-akan yakin bahwa mereka akan dapat memperlakukan Kasadha sekehendak hati mereka. Karena itu dalam perkelahian selanjutnya, Kasadha seakan-akan hanya sekedar melayani saja. Ia memang menunggu sampai kedua orang itu kehabisan tenaga dengan sendirinya karena kelelahan.

Namun kedua orang pengikut Ki Tunggul yang merasa selalu terdesak, bahkan beberapa kali telah dikenai serangan Kasadha, tidak membiarkan diri mereka kehilangan kepercayaan Ki Tunggul. Ketika keduanya semakin menyadari kemampuan anak muda itu, maka seorang diantara mereka telah memberikan isyarat agar mereka mempergunakan senjata mereka.

Dengan demikian, sejenak kemudian, maka kedua orang pengikut Ki Tunggul itu telah menarik golok mereka. Dengan geram seorang diantara mereka berkata, ”Kau ternyata tidak tahu bahwa kau masih dikasihani. Betapa kami memberi kesempatan kepadamu untuk melihat kenyataan bahwa kau tidak akan mampu menghalangi kami, tetapi agaknya kau memang keras kepala.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Ternyata kedua orang itu sudah mempergunakan senjata mereka, sehingga perkelahian itu akan menjadi bersungguh-sungguh.

Tetapi Kasadha tidak membawa senjatanya. Ketika ia melangkah keluar, ia melupakan pedangnya.

Meskipun demikian Kasadha sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan Kasadha berniat menghentikan perlawanan kedua orang itu jika ternyata mereka bersungguh-sungguh. Menurut perhitungan Kasadha, keduanya tidak akan terlalu berbahaya baginya meskipun keduanya bersenjata.

Namun ternyata ibunyalah yang menjadi cemas. Meskipun ketika ia sempat melihat Kasadha bertempur ia mengerti bahwa ilmu anaknya sudah semakin meningkat, namun menghadapi kedua orang bersenjata itu, ibunya merasa perlu meyakinkan dirinya bahwa Kasadha tidak akan mengalami kesulitan.

Karena itu, maka ia pun kemudian telah memanggil anaknya dan berkata, ”Kasadha, ini pedangmu.”

Kasadha berpaling. Ia melihat ibunya telah melemparkan pedangnya kepadanya.

Dengan tangkas Kasadha menerima pedangnya. Bahkan ketika kedua orang lawannya melangkah maju sambil mengacukan goloknya, Kasadha telah menarik pedangnya pula sambil berkata, ”Kalianlah yang telah mendahului menarik senjata dari sarungnya. Karena itu jika darah nanti menetes di halaman rumah ini, bukan tanggung jawabku.”

Tantangan Kasadha itu ternyata telah menggetarkan hati kedua orang itu. Anak itu ternyata berbeda dengan orang-orang Bayat yang pernah diperlakukan dengan kasar oleh mereka berdua. Anak itu dengan tatapan mata yang tajam memandang keduanya berganti-ganti, sementara ujung pedangnya dengan mantap terjulur lurus ke depan.

Namun sebelum mereka mulai menggerakkan sepjata mereka, Ki Tunggul berkata hampir berteriak, ”Hentikan kebodohan kalian berdua. Apakah mata kalian tidak melihat siapakah lawan kalian?”

Kedua orang pengiring Ki Tunggul itu termangu-mangu. Namun Ki Tunggul yang melihat pedang Kasadha kemudian melangkah maju sambil berkata, ”Anak ini tentu seorang prajurit.”

Kedua orang kepercayaan Ki Tunggul itu menjadi tegang. Namun ibu dan bibi Kasadha pun terkejut mendengar tebakan Ki Tunggul yang tepat itu.

Sementara itu Kasadha sendiri juga menjadi heran. Karena itu maka ia pun telah bertanya, ”Darimana Ki Tunggul tahu?”

“Aku pernah menjadi prajurit,” jawab Ki Tunggul, ”tetapi aku tidak merasa betah karena aku merasa seperti ditelikung oleh paugeran-paugeran yang tidak masuk akal. Selebihnya aku telah membentuk diriku sendiri. Jangan terlalu cepat menepuk dada. Aku sama sekali tidak gentar menghadapi seorang prajurit. Apalagi dengan demikian aku tahu bahwa kau telah membual dihadapanku. Aku tidak senang sama sekali terhadap sikapmu itu, sehingga karena itu, maka aku akan menentukan apa yang akan aku lakukan atasmu. Aku harus membungkam mulutmu bukan hanya untuk sesaat, tetapi untuk selama-lamanya agar apa yang aku lakukan ini tidak berbekas. Kemudian aku akan membawa bibi dan ibumu bersamaku sekarang.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat wajah Ki Tunggul, ia pun tahu bahwa Ki Tunggul tentu memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Ternyata ibu dan bibinya pun melihat pancaran wajah Ki Tunggul itu, sehingga diluar sadarnya ibu dan bibinya bergeser mendekatinya.

“Kasadha,” bisik ibunya, ”pandanglah bulan itu. Hisap getaran inti sinarnya dengan seluruh permukaan kulitmu. Kekuatan yang terpancar daripadanya akan menyusup ke lubang-lubang kulitmu sehingga getarannya akan membuat kemampuan dan ilmumu mekar didalam dirimu, termasuk tenaga dalammu.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Ia memang menengadahkan wajahnya memandang bulan dilangit. Meskipun belum bulat, tetapi bulan itu memancarkan sinarnya yang keemasan menyiram tubuh Kasadha.

Tetapi Kasadha sama sekali tidak tertarik kepada sinar bulan untuk memekarkan kemampuan dan ilmunya, karena gurunya tidak mengajarinya demikian. Namun Kasadha tidak mau mengecewakan ibunya. Beberapa saat ia memandang bulan itu, kemudian mengangkat pedangnya tinggi. Namun didalam hati ia berkata, ”Jika aku dipengaruhi oleh sinar bulan, maka disiang hari atau disaat saat bulan tidak bersinar, aku merasa bahwa kemampuanku dan ilmuku akan menyusut.

Tetapi apa yang dilakukan oleh Kasadha itu ternyata telah menarik perhatian Ki Tunggul. Katanya, ”Kau termasuk salah seorang pemuja bulan dan mendapat kekuatan dari padanya? Persetan. Kau kira aku menjadi gentar karenanya. Pengaruh sinar bulan itu tidak akan menggetarkan selembar rambutku. Apalagi jantungku.”

Kasadha tidak menjawab. Tetapi ia mulai melangkah maju mendekati Ki Tunggul sambil menggerakkan ujung pedangnya.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 46

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s