SST-44

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

KARENA itu, maka dengan membawa sebuah bungkusan kecil Sumbaga kemudian meninggalkan pasar itu setelah membeli beberapa potong makanan untuk bekal di perjalanan meskipun ia belum tahu kemana ia harus pergi.

Sementara itu Kasadha dan Jangkung telah mempersiapkan kuda mereka. Kepada ayah dan ibunya Jangkung minta diri untuk melihat-lihat padang perdu dan hutan yang menjelujur sampai kelereng pegunungan.

“Apa yang akan kalian lihat di padang perdu itu?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

Jangkung mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Yang akan kami lihat adalah padang perdu itu sendiri. Padang yang mengantarai hutan dan sawah yang digarap oleh para petani. Kami juga ingin melihat-lihat hutan yang memanjang itu.”

“Tetapi berhati-hatilah,” pesan Ki Rangga Dipayuda.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah meninggalkan halaman rumah Ki Rangga Dipayuda. Berkuda keduanya menyusuri jalan padukuhan. Beberapa orang kawan Jangkung sempat bertanya, “kemana kedua orang itu akan pergi.”

“Sekedar melihat-lihat,” jawab Jangkung.

Sekali-sekali kawan-kawannya sempat mengagumi kuda Jangkung. Tetapi seorang kawannya yang bertubuh agak pendek berkata, “Bukankah kuda merupakan sumber penghasilannya.”

Kawannya tertawa. Katanya, “Kenapa ia tidak mau menjadi prajurit seperti ayahnya?”

“Mungkin belum saja. Jangkung juga rajin melatih diri. Jika pada suatu ketika ia memiliki ilmu yang tinggi, maka ia akan dapat langsung menjadi seorang pemimpin di lingkungan keprajuritan,” jawab kawannya yang bertubuh pendek.

Namun kawannya yang lain berkata, “Sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan dunia keprajuritan. Jangkung lebih senang mengikuti kemauannya sendiri. Apakah ia akan dapat mematuhi segala peraturan dilingkungan keprajuritan?”

Kawannya yang bertubuh pendek itu tertawa. Katanya, “Hari ini ia bangun pagi-pagi. Tetapi pada hari yang lain, mungkin ia baru bangun saat matahari sudah sepenggalah.”

Yang lain pun tertawa. Tetapi Jangkung diantara kawan-kawannya termasuk seorang anak muda yang disenangi. Apalagi jika kebetulan ada uang didalam kantung ikat-pinggangnya, Jangkung sering membelikan makanan dan minuman bagi kawan-kawannya. Jika kebetulan ia mendapat giliran ronda, maka ia sering membawa sebakul kecil kacang rebus atau pisang rebus.

Sementara itu Jangkung dan Kasadha telah melarikan kuda mereka setelah mereka berada diluar padukuhan. Meskipun tidak terlalu kencang, namun debu pun telah dilontarkan dibelakang kaki-kaki kuda mereka.

“Hutan itu tidak terlalu jauh,” berkata Jangkung ketika mereka berada di bulak, “Tidak lebih dari tiga buah bulak panjang dan sebuah bulak yang agak pendek yang langsung berhubungan dengan padang perdu itu.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun terasa udara memang segar menyentuh kulit wajahnya. Selembar awan putih mengambang diatas pebukitan diujung langit.

Ketika Kasadha menengadahkan wajahnya, dilihatnya sekelompok burung bangau terbang ke Selatan mengarungi birunya langit.

Demikianlah kuda-kuda itu berderap melintasi bulak panjang, menyusup kesebuah padukuhan. Ternyata Jangkung mempunyai banyak kawan dipadukuhan itu, sebagaimana dipadukuhannya sendiri.

Ketika mereka kemudian muncul lagi di bulak panjang, maka kuda-kuda mereka pun berlari lebih cepat. Matahari sudah semakin tinggi, sehingga sinarnya mulai menggatalkan kulit.

Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak ketika mereka melihat seseorang yang berjalan agak jauh didepan kearah yang sama dengan perjalanan mereka. Tetapi meskipun mereka hanya melihat punggungnya, tetapi mereka, terutama Jangkung segera mengenalinya. Orang itu adalah Sumbaga.

Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, maka keduanya telah mempercepat perjalanan mereka.

Sebenarnyalah orang itu adalah Sumbaga yang berjalan sambil menunduk. Karena ia sudah merasa berjalan dipinggir jalan, apalagi pikirannya yang sedang kalut, maka ia sama sekali tidak menghiraukannya ketika ia mendengar derap kaki kuda. Ia tidak mengira sama sekali bahwa keduanya adalah Jangkung dan Kasadha, karena Sumbaga baru saja melihat mereka berada di pasar.

Sumbaga terkejut ketika kedua orang penunggang kuda yang melampauinya itu tiba-tiba saja berhenti. Dua orang anak muda meloncat turun dari punggung kudanya.

Ketika Sumbaga menyadari bahwa penunggangnya adalah Jangkung dan Kasadha, maka Sumbaga pun menghentikan langkahnya. Namun ketika ia bersiap untuk meloncati parit dan berlari lewat pematang. Jangkung dengan cepat memotong langkahnya, sehingga Sumbaga itu terhenyak surut selangkah.

“Kenapa kalian menyusul aku?” bertanya Sumbaga dengan wajah tegang.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk memberikan kesan yang lain di wajahnya. Karena itu, maka ia pun justru tersenyum. Katanya, “Aku tidak sengaja menyusulmu, kakang.”

“Jadi apa?” bertanya Sumbaga.

“Kami berniat pergi ke ujung hutan itu untuk melihat-lihat,” jawab Jangkung.

“Melihat apa? Ada apa di ujung hutan?” bertanya Sumbaga.

“Kami memang ingin melihat hutan yang memanjang sampai kelereng pebukitan itu,” jawab Jangkung.

“Bohong. Kalian tentu menyusul aku. Kalian tentu ingin menantang aku,” berkata Sumbaga kemudian.

“Kau jangan berprasangka buruk seperti itu,” berkata Jangkung dengan kening berkerut.

“Baiklah. Jika kalian memang ingin menantang aku, lakukanlah. Aku tidak akan lari apapun yang terjadi atas diriku. Mungkin Kasadha merasa dendam bahwa ia tidak dapat membunuh aku. Atau kau Jangkung, kau selama ini merasa tersisih sejak aku berada di rumahmu,” berkata Sumbaga lantang. Bahkan katanya kemudian, “Majulah kalian berdua. Kalian sangka aku akan lari? Sama sekali tidak.”

“Sumbaga,” berkata Jangkung menyabarkan diri, “aku benar-benar tidak ingin berbuat sesuatu atasmu. Kami tidak sengaja menyusulmu.”

“Kau dapat berbicara apapun menurut seleramu. Tetapi jika kalian sudah siap, kita akan mulai. Aku akan melawan kalian berdua bersama-sama,” berkata Sumbaga.

Jangkung tidak menghiraukan lagi kata-kata Sumbaga. Tetapi ia berkata, “Adalah kebetulan bahwa kami berdua telah menyusulmu.”

“Nah, bersiaplah,” berkata Sumbaga.

“Kakang,” berkata Jangkung yang masih saja tidak menghiraukan sikap Sumbaga, “ayah, ibu dan Riris merasa kehilangan sepeninggalmu.”

“Kau mulai menghina aku,” geram Sumbaga.

“Tidak,” jawab Jangkung, “apakah selama ini kau tidak merasakan sikap ayah dan ibu terhadapmu sebagaimana sikap mereka kepada anak sendiri? Apakah kau tidak merasakan sikap Riris kepadamu tidak ubahnya sebagaimana sikapnya terhadap aku?”

Wajah Sumbaga menegang. Sementara itu Sumbaga berkata selanjutnya, “Kakang, menurut pengakuan ayah dan ibu sendiri, kau sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya. Kenapa kau tiba-tiba meninggalkannya? Apakah salah ayah dan ibu kepadamu. Apa pula salah Riris yang menganggapmu sebagai kakak kandungnya pula?”

Sumbaga tidak menjawab. Tetapi wajahnya menunduk dalam-dalam.

“Nah kakang, sekarang aku minta kakang kembali. Jika kami sekeluarga melakukan kesalahan terhadap kakang dan kakang tidak dapat memaafkannya lagi, sebaiknya kakang berkata berterus-terangan kepada ayah dan ibu, sehingga kepergian kakang tidak menimbulkan persoalan didalam keluarga kami,” berkata Jangkung selanjutnya.

Sumbaga tidak segera menjawab. Namun kepalanya masih saja tertunduk. Sementara Jangkung berkata selanjutnya, “Jika seandainya kau benar-benar akan pergi, dan tidak dapat dibatalkan lagi, sebaiknya kau minta diri dengan baik kepada ayah dan ibu. Kau harus menyadari, bahwa kau, sudah tentu dengan seluruh keluargamu, masih kadang sendiri. Jika kau pergi begitu saja, maka bukan hanya kau sajalah yang akan terpisah dari kami. Tetapi juga seluruh keluargamu akan tidak lagi mau mengenal kami. Apalagi jika kau bagaikan hilang begitu saja.”

Sumbaga yang masih menunduk itu tiba-tiba saja terduduk dipinggir jalan. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Ternyata dari sela-sela jarinya telah mengalir air matanya, sementara Sumbaga mencoba bertahan, tetapi justru isaknya telah mengguncang tubuhnya.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Sumbaga adalah seorang anak muda yang hatinya lemah. Meskipun ia berusaha untuk menjadi seorang laki-laki, tetapi sulit baginya untuk menyembunyikan sifat-sifatnya yang sebenarnya.

Jangkung pun kemudian duduk disebelahnya. Katanya, “Kau jangan menangis lagi seperti itu. Orang akan mengira kau seorang perempuan. Atau setidak-tidaknya seorang laki-laki tetapi hatinya rapuh. Seharusnya kau mengangkat wajahmu dan menghadapi kenyataan dengan hati yang tegar.”

Sumbaga mencoba menahan tangisnya. Tetapi ia tetap tidak dapat menyembunyikan isaknya.

“Baiklah. Marilah kita kembali. Kau akan naik kuda bersamaku,” berkata Jangkung.

Sumbaga mengusap matanya. Sekilas dipandanginya Kasadha.

Kasadha masih saja berdiri tegak sambil memegangi kendali kudanya. Ia memang merasa kasihan melihat keadaan Sumbaga. Tetapi ia tentu tidak dapat menolongnya.

“Marilah,” ajak Jangkung, “ayah, ibu dan seluruh keluarga kami akan menjadi senang sekali jika kau pulang. Segalanya akan dapat kita bicarakan. Bukankah kita keluarga yang saling terbuka. Katakan apa yang tersimpan dalam hatimu, biarlah ayah dan ibu menanggapinya. Mereka sudah tahu sebagian kecil dari persoalan yang mungkin menggetarkan hatimu. Tetapi yang terbaik adalah apabila kita berbicara dengan terbuka. Kasadha pun bukan orang lain bagi ayah. Ia adalah bawahannya yang akan selalu tunduk pada perintahnya.”

Sumbaga seakan-akan justru kehilangan penalarannya. Ia tidak tahu, yang manakah yang terbaik untuk dilakukannya.

Namun ketika Jangkung mendesaknya sekali lagi, Sumbaga tidak menolaknya. Seperti kanak-kanak yang sedang merajuk, Jangkung membimbingnya sambil berkata, “Marilah. Aku akan naik kepunggung kudaku. Nanti kau duduk dibelakangku. Kudaku adalah kuda yang sangat baik. Besar dan kuat.”

Kepada Kasadha, Jangkung berkata, “Nanti sore saja kita pergi ke hutan. Kau tidak mempunyai pilihan lain, bahwa kau harus bermalam lagi, karena besok kau harus mengawal ayah kembali ke Pajang.”

Kasadha memang tidak dapat menolak lagi. Ia tahu bahwa persoalan tentang Sumbaga tidak dapat dibiarkannya begitu saja. Anak muda itu harus mendapat penjelasan apa yang sebaiknya dilakukan. Bagaimana ia harus bersikap terhadap keluarga Ki Rangga Dipayuda. Termasuk anak perempuannya yang bernama Riris.

Demikianlah mereka bertiga kemudian telah menempuh jalan kembali. Kasadha berkuda sendiri dibelakang Jangkung yang membawa Sumbaga di punggung kudanya pula.

Namun Jangkung ternyata telah memilih lewat jalan-jalan kecil diantara bentangan sawah yang luas. Ia menghindari padukuhan-padukuhan yang tadi dilewatinya. Bahwa Sumbaga duduk bersamanya diatas punggung seekor kuda akan dapat menarik perhatian kawan-kawannya yang melihatnya.

Bahkan ketika mereka mendekati padukuhan tempat tinggal Ki Rangga, Sumbaga sendiri minta untuk turun dan berjalan kaki saja.

“Anak-anak akan mentertawakan kita,” berkata Sumbaga.

Jangkung tidak menolak. Ia pun kemudian berjalan pula sambil menuntun kudanya. Demikian pula Kasadha.

Sekali lagi mereka melewati jalan didepan pasar. Namun mereka tidak singgah lagi dipasar yang masih cukup ramai itu. Bahkan mereka sama sekali tidak lagi memperhatikan kesibukan orang yang sedang berjual-beli.

Ki Rangga Dipayuda yang sedang duduk di pendapa terkejut melihat Jangkung dan Kasadha kembali justru bersama-sama dengan Sumbaga. Karena itu, maka Ki Rangga Dipayuda pun telah bangkit dan menyongsong mereka.

Sikap Ki Rangga itu justru mengejutkan Sumbaga. Tiba-tiba saja ia berhenti dan bahkan akan berlari keluar regol halaman.

Namun dengan cepat Kasadha sempat menangkap lengannya, sehingga Sumbaga tidak lepas keluar dari regol halaman itu.

“Kenapa?” bertanya Jangkung sambil mendekatinya, “bukankah kau setuju untuk berbicara dengan ayah, ibu Riris dan aku. Bahkan dengan Kasadha, anak buah ayah?”

Sumbaga termangu-mangu sejenak. Namun matanya sudah mulai menjadi merah. Tetapi dengan cepat Jangkung berdesis perlahan ditelinganya, “Bukankah kau seorang laki-laki.”

Sumbaga mengangguk kecil. Sementara Jangkung berkata pula, “Hadapi kenyataan ini dengan ketegaran hati seorang laki-laki. Hatimu tidak rapuh seperti anak-anak yang cengeng.”

Sumbaga mengangguk-angguk lagi.

“Marilah,” berkata Ki Rangga Dipayuda yang sudah menjadi semakin dekat, “aku memang berharap, bahwa kau akan datang kembali menemui aku Sumbaga.”

Sumbaga menundukkan kepalanya. Ki Rangga sendirilah yang kemudian menggandengnya naik kependapa.

Demikian mereka duduk diatas tikar pandan putih bergaris-garis biru yang terbentang di pendapa, Ki Rangga Dipayuda bertanya, “Kenapa kau meninggalkan kami begitu saja tanpa memberi tahukan lebih dahulu?”

Sumbaga tidak menjawab. Tetapi kepalanya sajalah yang menunduk dalam-dalam.

Namun Jangkung lah yang kemudian berkata, “Aku menjumpainya di bulak menuju ke hutan. Aku minta kakang Sumbaga untuk pulang dan berbicara dengan terbuka. Mungkin ibu dan Riris dapat ikut berbicara sehingga persoalannya akan menjadi tuntas.”

“Tidak. Tidak,” tiba-tiba saja Sumbaga berdesis. Tetapi suaranya terdesak oleh isaknya.

“Kau tidak akan menangis kakang,” Jangkung memang harus menyabarkan dirinya. Ia memang menjadi jengkel atas sikap Sumbaga yang dinilainya cengeng itu. Tetapi ia tidak dapat membuat hati anak muda itu semakin sakit.

Sumbaga memang bertahan untuk tidak benar-benar menangis seperti perempuan. Meskipun air matanya mulai menitik.

Tetapi Ki Rangga Dipayuda justru berkata, “Jika kau memang ingin menangis Sumbaga, menangislah. Aku tahu, bahwa ada sesuatu yang menghentak-hentak didadamu, namun terasa sulit sekali untuk mengungkapkannya. Itulah agaknya, maka kau memilih pergi dari rumah ini. Tetapi jika dengan menangis hatimu menjadi lapang, menangislah. Aku yakin, bahwa kau tidak akan menangis seandainya kau diikat pada sebuah tiang dan dilecut dengan cambuk. Tetapi wadagmu. Tubuhmu. Kau tentu akan bertahan dan bahkan mungkin kau masih sempat tersenyum atau mengumpat. Tetapi nampaknya kau merasa bahwa hatimulah yang dicambuk sehingga luka parah. Karena itu, maka kau menangis.”

Jantung Sumbaga bagaikan meledak mendengar kata-kata Ki Rangga Dipayuda. Tetapi ia justru mampu menahan tangisnya, sehingga air matanya tidak lagi meleleh dipipinya.

“Aku sudah tahu apa yang terjadi atasmu,” berkata Ki Rangga Dipayuda, “karena itu, maka aku dan bibimu ingin berbicara denganmu. Kami sangat menyesal ketika kami mengetahui bahwa kau telah meninggalkan rumah ini tanpa memberitahukan kepada siapapun juga. Karena itu, kami merasa sangat bergembira ketika kau telah kembali apapun sebabnya.”

Sumbaga tidak menyahut sama sekali. Bahkan kepalanya menjadi semakin dalam menunduk.

“Duduklah,” berkata Ki Rangga Dipayuda, “biar bibimu ikut duduk disini.”

Sumbaga masih menunduk saja. Sementara Ki Rangga berkata kepada Jangkung, “panggil ibumu.”

Jangkung pun bergeser dan kemudian bangkit untuk memanggil ibunya dibelakang.

Nyi Rangga pun merasa gembira ketika ia mendengar Sumbaga pulang. Demikian pula Riris meskipun tidak nampak tersirat diwajahnya. Setidak-tidaknya Riris akan mendapat kesempatan untuk menjelaskan perasaannya kepada Sumbaga.

Ketika Nyi Rangga telah berada di pendapa pula, maka Ki Rangga pun berkata, “Jangkung dan Kasadha. Aku minta kalian tinggalkan kami. Tanpa kalian, Sumbaga akan dapat berbicara lebih leluasa.”

Jangkung mengerutkan dahinya. Sumbaga telah bersedia untuk berbicara dengan terbuka, sehingga sebenarnya ia tidak perlu meninggalkan pendapa.

Tetapi Kasadha telah beringsut dan menggamitnya, sehingga Jangkung pun kemudian telah bangkit pula dan meninggalkan kedua orang tuanya yang duduk dihadap oleh Sumbaga.

“Ngger Sumbaga,” berkata Nyi Rangga kemudian, “kenapa kau tiba-tiba saja telah meninggalkan kami. Apapun yang bergejolak didalam hatimu, bukankah sebaiknya kau bicarakan dengan kami. Aku dan paman mu, yang menganggap kau sebagai anak sendiri.”

Terasa wajah Sumbaga menjadi panas. Dengan suara sendat ia menjawab, “Aku tidak pantas tinggal dirumah paman dan bibi. Aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar.”

“Tidak Sumbaga,” berkata Ki Rangga, “kau tidak bersalah. Tentu bukan maksudmu, bahwa perasaanmu telah berkembang sebagaimana yang kau alami. Bahkan kau pun tentu merasa tersiksa pula karenanya. Aku kira kau akan merasa lebih senang jika perasaanmu tidak tumbuh sebagaimana yang kau alami sekarang.”

Sumbaga menundukkan kepalanya semakin dalam. Sementara Nyi Rangga pun berkata, “Sumbaga. Sebaiknya kau mau berpikir dengan tenang. Kau harus mempergunakan nalarmu. Bukan sekedar perasaanmu. Kau tahu, bahwa adikmu, Riris, menganggapmu sebagai kakak kandungnya. Karena itu, maka sudah tentu bahwa ia menyayangimu. Tetapi sikapnya tidak akan lebih dari sikap seorang adik kepada kakaknya.”

Sumbaga mengangguk-angguk. Tetapi dadanya telah menjadi sesak kembali. Isaknya mulai menghentak-hentak didadanya, sehingga rasa-rasanya dadanya telah tersumbat.

“Menangislah Sumbaga,” berkata Ki Rangga, “aku tidak berkeberatan.”

“Aku mohon maaf Bibi. Aku mohon maaf,” tangis Sumbaga.

“Seperti kata pamanmu, kau tidak bersalah,” berkata Nyi Rangga.

“Tetapi aku sudah berlaku kasar terhadap tamu-tamu paman disini. Aku benar-benar seperti orang yang kehilangan nalar, sehingga aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan,” berkata Sumbaga disela-sela isaknya.

“Sudahlah,” berkata Nyi Rangga yang matanya ikut menjadi kemerah-merahan, “kita akan dapat melupakannya. Aku harap bahwa kau tidak lagi berlaku kasar terhadap tamu-tamu paman. Kesadaranmu yang mengatakan hal itu adalah pertanda bahwa nalarmu telah terbuka.”

“Bibi, aku takut, bahwa pada suatu saat aku tidak dapat mengendalikan diri lagi terhadap tamu-tamu paman dan apalagi tamu-tamu Riris. Aku benar-benar menjadi seperti orang gila. Dan dalam saat-saat seperti ini aku sempat menyadarinya. Tetapi aku tidak tahu apakah kesadaran itu akan tetap dapat aku pertahankan setiap kejap mataku,” berkata Sumbaga yang masih saja disertai isaknya yang tertahan-tahan.

“Kenapa tidak?” desis Ki Rangga, “seseorang yang mengerti bahwa ia telah bertindak salah, maka ia tidak akan mengulanginya. Apalagi kekasaranmu terhadap tamu-tamuku itu sudah kami ketahui pula sebabnya dan hal itu kau sadari pula.”

“Tetapi aku takut paman. Aku selalu takut melihat bayanganku sendiri. Bayangan yang hitam yang kadang-kadang membesar seakan-akan siap mencengkamku dalam kekelamannya,” jawab Sumbaga. Lalu katanya, “Karena itu, maka aku lebih baik mohon diri saja paman. Aku akan pergi.”

“Sumbaga,” berkata Nyi Rangga, “ketika kami berniat mengajakmu kemari, sudah tentu kami sama sekali tidak membayangkan, bahwa kau akan demikian cepatnya meninggalkan kami. Karena itu, aku minta kau mempertimbangkannya lagi.”

Sumbaga terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Sementara itu Ki Rangga berkata, “Sumbaga. Aku minta kau tetap berada dirumah ini. Besok aku harus kembali ke Pajang. Sementara itu Jangkung akan sibuk dengan pekerjaannya yang tidak mengenal waktu. Kadang-kadang ia memang tidak pergi sama sekali. Bahkan sampai dua tiga hari. Tetapi kemudian selama sepekan hampir tidak berada dirumah kecuali malam hari. Karena itu maka kehadiranmu disini penting sekali. Kecuali ikut menjaga adikmu Riris, juga mengatur orang-orang yang bekerja disawah. Pekerjaan jangan sampai terbengkelai. Namun imbalan bagi mereka juga jangan sampai sendat. Termasuk makan dan minum mereka siang hari selama mereka bekerja disawah.”

“Tetapi … ,” desis Sumbaga.

“Sudahlah,” potong Ki Rangga, “kita lupakan apa yang pernah terjadi. Kita mulai dari lembaran baru. Meskipun demikian kita wajib mengingat bahwa kita tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah kita lakukan.”

Sumbaga tidak menjawab. Sementara itu Nyi Rangga berkata, “Ingat. Kau bagi kami tidak berbeda sama sekali dengan Jangkung dan Riris.”

Sumbaga menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia pun mengangguk kecil sambil berkata, “Jika paman dan bibi mengampuni aku, maka aku akan bersedia kembali kerumah ini.”

“Bukankah sudah aku katakan, kita lupakan semuanya. Kita lupakan namun harus selalu kita ingat, untuk tidak terulang kembali,” berkata Ki Rangga.

Sumbaga mengerutkan dahinya. Sementara Nyi Rangga berkata, “Kenapa harus mempergunakan kalimat yang berbelit? Nampaknya Sumbaga justru menjadi bingung.”

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Maksudku, kita tidak akan mempersoalkannya lagi. Kita melupakannya. Atau dengan kata lain, kita memaafkan kesalahan yang pernah terjadi. Tetapi kita berharap bahwa kesalahan itu tidak akan pernah dilakukan lagi.”

“Ya, ya,” desis Nyi Rangga, “begitulah maksud pamanmu Sumbaga.”

Sumbaga mengangguk kecil sambil menyahut, “Aku mengerti bibi.”

“Nah, jika demikian kembalilah ke bilikmu. Aku justru berharap bahwa kau akan menjadi kawan yang baik dari Ki Lurah Kasadha. Juga menjadi kawan yang baik jika Barata datang kemari,” berkata Ki Rangga Dipayuda.

Wajah Sumbaga menjadi merah. Namun ia pun kemudian telah mengangguk.

“Baiklah,” berkata Nyi Rangga, “kembalilah ke bilikmu.”

Sumbaga pun kemudian beringsut dan bangkit meninggalkan tempat itu. Dengan ragu-ragu ia melangkah menuju ke biliknya, dibagian belakang gandok sebelah kanan.

Jangkung dan Kasadha melihat Sumbaga turun dari pendapa. Tetapi Jangkung menarik nafas panjang ketika ia melihat Sumbaga memasuki seketheng menuju ke biliknya.

“Ayah dan ibu tentu telah meyakinkannya, bahwa sebaiknya ia tinggal dirumah ini,” berkata Jangkung.

Namun hampir diluar sadarnya Kasadha pun bertanya, “Bagaimana dengan Riris. Apakah anak muda itu tidak berbahaya bagi adikmu?”

Sebenarnyalah pertanyaan yang sama telah dilontarkan pula oleh Nyi Rangga, meskipun dengan gaya yang berbeda. Dengan nada rendah Nyi Rangga bertanya kepada Ki Rangga, “Apakah Sumbaga tidak akan berbuat apa-apa terhadap Riris?”

“Tidak,” jawab Ki Rangga, “anak muda seperti Sumbaga itu, tidak akan berani melanggar janjinya sendiri. Hatinya terlalu lembut. Atau katakanlah dengan istilah lain, hatinya terlalu lemah. Tetapi bukan mustahil bahwa anak-anak yang berhati lemah pada suatu saat menjadi gila dan kehilangan akal. Karena itu, maka kita harus berhati-hati menghadapinya. Kita harus terbuka dihadapan Riris, agar ia pun berhati-hati.”

Sementara itu, Jangkung pun menjawab pertanyaan Kasadha dengan jawaban yang serupa, “Aku yakin, bahwa Sumbaga yang hatinya sebenarnya rapuh itu tidak akan berani berbuat apa-apa lagi. Apalagi jika ayah dan ibu mengancamnya.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia menjawab, “Mudah-mudahan penglihatanku benar.”

“Aku yakin,” jawab Jangkung.

Sedangkan dipendapa Nyi Rangga masih duduk termangu-mangu. Sekali-sekali nampak kepalanya terangguk-angguk. Namun nampaknya tidak begitu sejalan dengan perasaannya. Beberapa kali nampak dahinya berkerut. Namun kemudian ternyata angan-angannya terjulur kearah yang sama dengan angan-angan Riris sendiri.

Hampir diluar sadarnya Nyi Rangga berdesis, “Kali ini Sumbaga menjadi kecewa. Namun nampaknya anak itu masih dapat mencapai keseimbangan jiwanya setelah terhempas pada kebingungan yang hampir tidak teratasi. Namun bagaimana jika pada suatu saat terjadi sesuatu yang lebih menggelisahkan lagi.”

“Apakah yang kau maksud?” bertanya Ki Rangga.

Nyi Rangga termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia berpaling kepintu. Baru kemudian ia berkata, “Aku senang sekali mendapat kunjungan angger Kasadha dan angger Barata. Tetapi apakah Ki Lurah tidak pernah membayangkan bahwa hubungan mereka dengan Riris pada suatu waktu akan bergeser?”

“Maksudmu?” bertanya Ki Rangga mendesak.

“Seharusnya Ki Lurah mulai memikirkannya. Riris tentu akan menjadi gelisah jika kedua anak muda itu menaruh hati kepadanya,” desis Nyi Rangga.

Ki Rangga mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tertawa pendek. Katanya, “Kita jangan terlalu berbangga dengan anak gadis kita. Belum tentu keduanya atau bahkan salah satu diantaranya memperhatikan gadis kita dengan pandangan seorang anak muda. Mungkin mereka terikat oleh unggah-ungguh karena gadis itu anakku. Anak atasannya. Bagi Barata, aku pun masih dihormati sebagai atasannya meskipun sekedar bekas.”

“Kita tidak akan merasa sakit hati jika keduanya sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap anak gadis kita Ki Rangga. Tetapi jika hal itu terjadi, apakah kita dan terutama Riris sudah siap menghadapinya?” bertanya Nyi Rangga.

“Untuk sementara kita tidak usah menjadi gelisah karena itu,” berkata Ki Rangga, “apalagi keduanya jarang sekali bertemu dengan Riris. Bahkan mungkin Riris sudah berhubungan dengan anak muda di padukuhan ini atau kawan Jangkung yang lain,” Ki Rangga berhenti sejenak. Namun katanya kemudian, “Tetapi sebaiknya kita berbicara dengan Jangkung. Agaknya ia banyak mengetahui persoalan yang kita bicarakan ini.”

Nyi Rangga mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Lurah, Nanti, pada satu kesempatan tersendiri kita berbicara dengan Jangkung. Bahkan jika perlu kita berbicara dengan Riris.”

“Ah, jangan tergesa-gesa. Jika selama ini Riris belum memikirkan sama sekali persoalan ini, atau bahkan seperti yang aku katakan, gadis kita itu sudah berhubungan dengan kawan Jangkung atau anak muda yang lain yang belum dapat dikatakan kepada kita, maka hal itu akan dapat menggelisahkannya,” jawab Ki Rangga.

“Tetapi itu lebih baik daripada tiba-tiba saja ia dihadapkan pada persoalan itu,” desis Nyi Rangga.

Namun sambil mengangguk-angguk kecil Ki Rangga berkata, “Aku masih memikirkan kemungkinan lain. Seandainya karena itu Riris justru berharap, sementara keduanya sama sekali tidak menaruh perhatian, apakah kita tidak akan turut bersedih.”

Nyi Rangga menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit, dari mana harus dimulai. Tetapi perasaan seorang ibu ternyata lebih tajam terhadap anak gadisnya dari seorang ayah. Apalagi Riris memang lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya yang bertugas sebagai seorang prajurit.

Namun Nyi Rangga tidak memaksakan kehendaknya. Ia memang ingin memastikan, bahwa anak gadisnya tidak justru terdorong untuk memperhatikan anak-anak muda itu atau seorang diantaranya lebih dahulu.

Namun dalam pada itu, Riris yang mengetahui bahwa Sumbaga telah berada dibiliknya, telah langsung menemuinya. Dengan lembut Riris menjelaskan sikapnya kepada Sumbaga.

“Kau bagiku tidak kurang dari kakang Jangkung. Karena itu aku memang mengasihimu sebagai aku mengasihi kakang Jangkung. Aku mohon, kakang Sumbaga dapat mengerti,” berkata Riris.

Sumbaga mengangguk-angguk. Ia seakan-akan tidak sedang berhadapan dengan seorang gadis yang pernah dicintainya. Tetapi ia merasa berhadapan dengan seorang perempuan yang pantas memberinya nasehat.

“Aku minta maaf kepadamu kakang. Tetapi ini adalah kenyataanku, sehingga aku tidak dapat merubah sikap dan perasaanku terhadap kakang dengan sikap dan perasaan yang lain. Kau bagiku adalah kakang kandungku,” berkata Riris kemudian.

Sumbaga yang menunduk itu tiba-tiba telah terisak kembali. Memang agak mengherankan, bahwa justru Sumbaga lah yang terisak-isak didepan seorang gadis. Namun Riris yang semula nampak tegar, akhirnya matanya menjadi basah juga.

“Sudahlah kakang,” berkata Riris, “tempatkan dirimu disini sebagaimana kakang Jangkung. Kau akan menjadi terbiasa dan kau akan menganggap aku sebagai adikmu sendiri. Aku memang bukan orang lain bagimu kakang.”

Sumbaga mengangguk-angguk. Disela-sela isaknya ia berkata,”Aku minta maaf kepadamu Riris.”

“Bukan kau kakang, akulah yang minta maaf kepadamu. Selanjutnya, kita akan melupakan bahwa pada suatu saat, hubungan kita sebagai kakak beradik agak terganggu,” berkata Riris sambil mengusap matanya.

Sumbaga mengangguk-angguk kecil, ia berusaha untuk menahan isaknya yang terasa justru mendesak.

Namun Riris tidak terlalu lama menemuinya. Sejenak kemudian gadis itu pun berkata, “Sudahlah kakang. Aku akan berbicara dengan ayah dan ibu.”

Ketika hal itu kemudian disampaikan kepada ayah dan ibunya, Ki Rangga dan Nyi Rangga menjadi berdebar-debar. Dengan nada rendah Ki Rangga berkata, “Ternyata kau sudah benar-benar dewasa Riris. Kami memang ingin berbicara denganmu tentang kakakmu Sumbaga. Tetapi kau sudah langsung menemui dan berbicara dengannya.”

“Aku hanya ingin kakang Sumbaga mengetahui perasaanku yang sebenarnya ayah,” jawab Riris.

“Baiklah. Agaknya keterbukaan hatimu itu akan memberikan pengertian kepadanya dan mendapat tanggapan yang baik,” berkata Ki Rangga kemudian.

“Nampaknya memang demikian ayah. Kakang Sumbaga dapat mengerti,” jawab Riris.

Ketika Riris kemudian pergi ke dapur, maka Ki Rangga dan Nyi Rangga telah memanggil Jangkung yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan diujung Kademangan itu bersama Kasadha.

“Kau akan pergi kemana?” bertanya Ki Rangga ketika Jangkung datang menemuinya.

“Tadi kami belum jadi pergi ke hutan ayah,” jawab Jangkung.

“Apa yang sebenarnya menarik hatimu untuk membawa Kasadha pergi ke hutan itu?” bertanya Ki Rangga.

“Tidak ada apa-apa. Tetapi bukankah dengan demikian Kasadha akan tertahan disini. Biarlah besok ia kembali ke Pajang bersama ayah,” jawab Jangkung.

Ki Rangga tersenyum. Tetapi ia bertanya, “Dimana Kasadha sekarang?”

“Ia menunggu di serambi gandok. Ia tahu bahwa ayah dan ibu agaknya akan berbicara tentang Sumbaga, sehingga ia tidak ikut datang menemui ayah dan ibu,” jawab Jangkung.

“Baiklah. Jika demikian kita akan berbicara malam nanti saja. Riris sendiri justru sudah menemui Sumbaga dan berbicara dengan berterus-terang tentang sikap dan perasaannya terhadap Sumbaga. Nampaknya Sumbaga dapat mengerti betapapun pahitnya kenyataan itu,” desis ayahnya.

“Jadi Riris sendiri telah berbicara langsung?” bertanya Jangkung.

“Ya. Aku juga tidak mengira bahwa anak itu dapat melakukannya. Nampaknya usia dewasanya telah banyak mempengaruhi sikap jiwanya,” desis ibunya.

Jangkung mengangguk-angguk. Namun ia masih berkata, “Tetapi Riris termasuk seorang gadis pemalu. Aku tidak mengira bahwa ia dapat berbicara langsung dengan Sumbaga. Mungkin justru karena ia merasa bahwa Sumbaga itu saudaranya. Keikhlasannya menganggap Sumbaga itu sebagaimana saudara kandung sendiri telah membuatnya mempunyi keberanian untuk berbicara.”

Ayah dan ibunya mengangguk-angguk kecil. Dengan nada rendah Ki Rangga berkata, “Nanti malam kita dapat berbicara lebih luas tentang Riris.”

Jangkung pun kemudian telah minta diri. Kasadha yang masih duduk diserambi mengerutkan dahinya sambil bertanya, “Begitu cepatnya?”

“Tidak banyak yang ayah dan ibu katakan. Nampaknya mereka akan berbicara langsung dengan Riris,” jawab Jangkung, Kemudian katanya, “Marilah. Kita akan melihat-lihat isi Kademangan ini. Kau harus menghabiskan waktumu disini agar kau tidak berpikir untuk kembali ke Pajang.”

Kasadha tersenyum. Namun ia memang tidak akan kembali ke Pajang hari itu.

Untuk beberapa lama keduanya berkuda melintasi jalan-jalan bulak. Jangkung telah membawa Kasadha melalui jalan lain, agar kawan-kawannya yang tadi melihatnya lewat tidak merasa heran bahwa ia telah lewat lagi bersama orang itu juga.

Sebelum senja turun, keduanya telah berada di rumah kembali. Setelah mandi dan membenahi diri, maka keduanya duduk diserambi sambil meneguk minuman hangat. Ketika Riris menghidangkan minuman dan makanan, Jangkung tidak lagi mengganggunya. Apalagi sikap Riris pun rasa-rasanya sudah berubah, ia bukan lagi seorang gadis kecil yang manja. Tetapi juga sikapnya.

Untuk beberapa lama Jangkung masih saja berada diserambi gandok. Ketika lampu dinyalakan, maka keduanya telah dipanggil untuk masuk keruang dalam. Ki Rangga Dipayuda, Nyi Rangga dan Riris sudah duduk lebih dahulu diruang itu. Ternyata diruang dalam juga telah tersedia minuman panas dan makanan.

Beberapa saat mereka bercakap-cakap. Sementara Jangkung bertanya, “Apakah ayah tidak memanggil kakang Sumbaga?”

“Aku sudah minta agar ia masuk. Tetapi mungkin masih ada gejolak didalam hatinya, sehingga anak itu tidak mau datang,” jawab Ki Rangga.

“Apakah sekali lagi aku memanggilnya?” bertanya Jangkung.

Ki Rangga Dipayuda menggeleng. Katanya, “Tidak usah. Biarlah ia mendapatkan ketenangan dahulu.”

Jangkung mengangguk kecil.

Beberapa saat kemudian, maka Riris telah pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Namun Riris tidak lupa menyediakan makan malam bagi Sumbaga sebagaimana selalu dilakukan sebelumnya.

Baru setelah makan malam dan berbincang-bincang sejenak, maka Kasadha telah dipersilahkan untuk beristirahat dibiliknya, sementara Ki Rangga dan Nyi Rangga masih akan berbicara di ruang dalam. Ada pun Riris berada di dapur untuk mencuci mangkuk dan alat-alat dapur yang masih kotor dibantu oleh seorang perempuan yang sudah separo baya yang memang bekerja di rumah itu. Namun Riris bukanlah seorang gadis yang malas, yang menyerahkan segala pekerjaan kepada ibu dan pembantu-pembantunya. Tetapi Riris juga melakukannya sebagaimana ibunya.

Diruang dalam Ki Rangga dan Nyi Rangga mulai mempertanyakan tanggapan Jangkung tentang adik perempuannya. Apakah Jangkung melihat atau merasakan hubungan yang lain antara Riris dengan Kasadha dan Barata.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab, “Sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Nampaknya sikap mereka wajar-wajar saja. Tetapi untuk mengatakan tidak ada apa-apa sama sekali juga tidak tepat.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang masih terlalu sulit untuk menjajaginya karena hubungan mereka yang jarang dan belum terlalu lama.”

“Tetapi sikap Riris kepada keduanya nampaknya sama sekali tidak berbeda,” berkata Jangkung.

“Justru itulah yang membuat kami, orang-orang tua ini, berpikir. Kau lihat sendiri, akibat dari perasaan yang tumbuh di hati Sumbaga. Seseorang yang sedang dicengkam oleh perasaan seperti itu, maka rasa-rasanya matanya menjadi gelap. Dalam ceritera dan dongeng-dongeng kita pernah mendengar bahwa persoalan antara laki-laki dan perempuan dapat membuat hitam menjadi putih, tetapi juga putih menjadi hitam,” berkata Ki Rangga.

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Ayah dan ibu mencemaskan hubungan antara Kasadha dan Barata yang sampai sekarang terjalin sangat baik itu akan dapat retak karena Riris.”

“Mungkin hanya semacam ketakutan yang tidak berdasar. Mungkin Kasadha dan Barata sama sekali tidak menaruh perhatian kepada Riris,” sahut Ki Rangga.

Jangkung mengangguk-angguk kecil. Ia dapat mengerti perasaan kedua orang tuanya. Namun katanya kemudian, “Aku akan mencoba untuk mengikuti perkembangan hubungan mereka.”

“Baiklah,” berkata Ki Rangga, “Mudah-mudahan yang dicemaskan itu tidak terjadi.”

“Aku juga berharap demikian ayah,” jawab Jangkung.

Namun dalam pada itu Nyi Rangga pun berkata, “Tetapi bagaimana dengan kau sendiri Jangkung? Kau sudah dewasa penuh sekarang. Seharusnya kau mulai berbicara tentang seorang gadis. Ayahmu dan aku semakin lama akan menjadi semakin tua. Sementara itu masih belum ada seorang cucu pun yang dapat kami timang.”

“Ah. Ibu selalu berbelok kesana. Apapun yang kita bicarakan, akhirnya ibu tentu bermuara pada pertanyaan seperti itu,” desis Jangkung.

Namun ayahnya cepat menjawab, “Bukankah itu wajar Jangkung. Tugasku yang diperpanjang ini tentu tidak akan berbilang sebanyak jari sebelah tangan. Jika dua atau tiga tahun lagi aku sudah diperkenankan untuk beristirahat lagi, maka aku pun berharap ada seorang cucu yang dapat menemaniku mengisi waktu-waktuku yang luang.”

“Ah, sudahlah. Jika sampai kesana, maka sebaiknya aku menemani Kasadha yang sendiri dibiliknya,” berkata Jangkung.

“Biarlah ia beristirahat,” berkata Nyi Rangga.

“Ia tentu tidak dapat segera tidur,” berkata Jangkung.

“Tetapi dengarlah kata-kata ayahmu dan kata-kataku, Jangkung. Kau sudah cukup dewasa. Kau pun sudah memiliki lapangan tersendiri untuk menunjang hidupmu kelak. Kau pun akan mewarisi sawah dan ladang ayahmu. Apa lagi yang harus ditunggu?” berkata ibunya.

“Baiklah ibu,” jawab Jangkung, “mulai besok aku akan memilih seorang diantara kawan-kawan gadisku. Tetapi tentu dengan syarat, aku harus mengulangi lagi, karena aku tidak mau menjadi kehilangan pegangan seperti Sumbaga.”

“Sudah berapa kali aku mendengar jawaban seperti itu, Jangkung,” berkata ibunya, “Yang belum hanyalah keteranganmu yang terakhir.”

Jangkung menarik nafas dalam-caiam. Katanya kemudian, “Aku akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh.”

Jika sudah sampai kejawaban itu, maka ibu dan ayahnya selalu harus diam, karena Jangkung tentu akan segera pergi. Apalagi saat itu ia mempunyai alasan untuk menemani Kasadha, sehingga ayah dan ibunya tidak menahannya lebih lama lagi.

Riris sendiri masih menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Diaturnya mangkuk-mangkuk yang telah dicuci di paga bambu di sudut dapur. Kemudian dibenahinya perapian dan alat-alat dapur yang lain. Menyimpan sisa makan dan lauk pauknya di gledeg setelah dipanasi.

Ketika Riris kemudian masuk keruang dalam, yang ditemuinya hanya ayah dan ibunya saja. Riris pun tidak menanyakan kakaknya, karena ia tahu, Jangkung tentu berada digandok bersama Kasadha.

Ketika kemudian Riris duduk bersama ayah dan ibunya, mereka tidak lagi berbicara tentang Kasadha dan Barata. Tetapi mereka masih juga berbicara tentang Sumbaga. Ki Rangga dan Nyi Rangga masih memperingatkan agar Riris tetap berhati-hati meskipun menurut pendapat gadis itu, Sumbaga dapat mengerti penjelasan yang diberikan meskipun kenyataan itu sangat menyakitkan hatinya.

“Baiklah ayah,” berkata Riris kemudian, “namun mudah-mudahan kakang Sumbaga telah benar-benar berubah. Untunglah bahwa perlakuan kasar kakang Sumbaga tertuju kepada kakang Kasadha dan kakang Barata yang kedua-duanya mampu menahan diri sehingga kakang Sumbaga tidak mengalami kesulitan yang tidak teratasi.”

Ki Rangga dan Nyi Rangga mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Ki Rangga berkata, “Kita semua berharap, agar Sumbaga benar-benar berubah.”

Setelah berbincang-bincang lama, maka Ki Rangga pun kemudian berkata, “Sudahlah. Aku akan beristirahat. Besok aku kembali ke Pajang. Waktu istirahatku telah habis. Aku juga harus mempertanggung jawabkan kelambatan Kasadha kembali ke pasukannya.”

“Tetapi bukankah hal itu tidak akan menjadi persoalan?” bertanya Riris.

“Tidak. Tidak apa-apa. Apalagi Kasadha baru saja menunjukkan bahwa ia adalah seorang prajurit yang baik,” jawab Ki Rangga sambil tersenyum.

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Rangga pun telah berada dibiliknya bersama Nyi Rangga, sementara Riris juga pergi ke biliknya pula. Namun Ki Rangga berkata, “Biarlah pintu butulan sebelah kiri tidak diselarag. Jangkung masih ada digandok.”

Namun hampir diluar sadarnya, didalam biliknya Ki Rangga itu berkata, “Kasadha dan Barata adalah dua orang yang memiliki banyak kesamaan. Keduanya adalah prajurit yang berani, tangguh dan berkemampuan tinggi. Bertanggung jawab namun bukan pendendam. Memang sulit untuk memilih satu diantara dua. Namun aku dapat melihat perbedaan diantara keduanya.”

Nyi Rangga mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya pula ia bertanya, “Apakah perbedaan itu?”

“Aku merasa lebih dekat dengan Kasadha. Setiap hari aku bertemu, berbicara dan berbincang tentang banyak hal. Ia selalu patuh akan perintahku, karena kebetulan ia adalah anak buahku,” berkata Ki Rangga kemudian.

Nyi Rangga tidak menyahut. Ia mengerti pendapat Ki Rangga. Sementara Barata berada di tempat yang jauh. Ki Rangga tidak melihat perkembangan pribadinya. Apalagi jika nanti Barata telah di wisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan. Meskipun melihat pribadi Barata yang mantap itu agaknya sulit untuk berubah, namun seseorang memang mungkin sekali berubah oleh pengaruh keadaan diluar atau di dalam dirinya.

Untuk beberapa saat Nyi Rangga masih saja duduk merenung sementara Ki Rangga sudah berbaring. Tetapi matanya masih saja terbuka menatap rusuk-rusuk atap rumahnya yang bagaikan membeku di malam yang mulai dingin untuk beberapa lama. Namun ia pun segera tertidur nyenyak.

Namun Jangkung masih saja berada di bilik Kasadha. Keduanya masih berbicara tentang berbagai masalah yang menyangkut anak-anak muda. Keduanya memang berdiri disisi yang berlainan karena Kasadha adalah seorang prajurit, tetapi ia sendiri bukan seorang prajurit.

Sebagaimana dikatakan oleh ayahnya, bahwa pengabdian itu tidak memilih jalan dan padang. Dimana pun seseorang akan dapat memberikan pengabdian kepada negerinya dengan tulus.

Ternyata Kasadha pun bersikap seperti ayah Jangkung. Perbedaan sisi tempat mereka berpijak adalah sekedar landasan pengabdian yang sama-sama mereka berikan.

Baru lewat tengah malam Jangkung kemudian meninggalkan bilik Kasadha sambil berkata, “Besok kau terkantuk-kantuk di jalan.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Masih banyak waktu untuk beristirahat. Bukankah sekarang belum pagi?”

Jangkung pun tersenyum. Katanya, “Aku sudah mengantuk.”

Demikianlah Jangkung kemudian telah meninggalkan Kasadha sendiri. Ketika ia membuka pintu yang belum diselarak, maka Nyi Rangga yang belum dapat tidur telah keluar pula dari biliknya untuk melihat, apakah benar-benar Jangkung yang telah membuka pintu.

“Aku ibu,” desis Jangkung ketika ia melihat ibunya keluar dari biliknya.

“O,” desis ibunya, “kau baru meninggalkan angger Kasadha?”

“Ya ibu,” jawab Jangkung.

“Ia memerlukan beristirahat lebih banyak. Besok ia akan kembali ke Pajang,” berkata ibunya.

“Bukankah Kasadha akan kembali bersama ayah?” bertanya Jangkung.

“Ya,” jawab ibunya.

“Dimana ayah sekarang?” bertanya Jangkung pula.

“Sudah tidur,” jawab ibunya.

Jangkung mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia memandang pintu bilik Riris. Dengan isyarat ia bertanya, apakah adiknya itu ada didalam.

“Nampaknya ia sudah tidur,” jawab ibunya.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Sambil mendekati ibunya Jangkung berkata perlahan, “Jika benar ia berdiri dijalan simpang, maka ia akan mendapat kesulitan. Kasadha dan Barata memang memiliki banyak persamaan. Bukan hanya ujudnya, tetapi juga sikap dan bahkan pandangan hidupnya.”

Nyi Rangga mengangguk. Katanya, “Ayahmu juga berkata demikian.”

“Apakah ayah mengatakan, yang mana yang lebih baik dari keduanya?” bertanya Jangkung hampir berbisik.

Nyi Rangga menggeleng. Tetapi ia pun kemudian berdesis, “Bagi ayahmu, Kasadha memiliki kelebihan.”

“Apa kelebihannya?” bertanya Jangkung.

“Kasadha adalah anak buah ayah. Ayahmu mengenal Kasadha seperti mengenal kau. Setiap hari mereka bertemu, berbicara dan merundingkan banyak hal,” jawab ibunya.

“Itu terlalu pribadi. Bukan secara umum. Bagaimana kelak jika ayah tidak lagi menjadi prajurit?” bertanya Jangkung sambil sekali-sekali memandang pintu bilik adiknya.

“Itulah pendapat ayahmu. Kenapa?” bertanya ibunya.

“Aku mempunyai perhitungan lain. Barata bukan seorang prajurit. Tetapi ia memiliki kelebihan sebagai seorang prajurit yang dapat ditrapkan dalam tugas-tugasnya sebagai Kepala sebuah Tanah Perdikan yang besar. Ia mempunyai pandangan yang tentu harus menyeluruh atas rakyat di Tanah Perdikannya, termasuk para pengawal Tanah Perdikan yang mempunyai tugas dan wewenang sebagai prajurit di Tanah Perdikan itu,” sahut Kasadha.

“Apakah itu artinya kau sudah mulai memilih?” bertanya ibunya.

Jangkung mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian menggeleng. Katanya, “Tidak. Semuanya adalah wewenang Riris.”

Nyi Rangga termangu-mangu sejenak. Namun sambil melangkah mendekati anak laki-lakinya Nyi Rangga bertanya, “Jangkung. Semuanya memang wewenang Riris. Tetapi jika adikmu itu mengalami kesulitan, bukankah kita wajib memberikan pertimbangan. Bahkan kita dapat mendesaknya dengan alasan-alasan tertentu. Meskipun segala sesuatunya terserah kepada Riris untuk mengambil keputusan akhir.”

“Sudahlah ibu. Kita jangan terburu-buru digelisahkan oleh sesuatu yang belum pasti. Baik Kasadha maupun Barata belum tentu menaruh hati kepada Riris. Biarlah kita tidak usah memikirkannya sekarang,” desis Jangkung.

Ibunya tidak menjawab lagi. Sementara itu Jang-kung pun telah pergi ke biliknya pula.

Nyi Rangga memang pergi kebiliknya setelah Jangkung hilang dibalik pintu. Tetapi setelah menutup pintu, Nyi Rangga tidak segera berbaring, sementara Ki Rangga telah tidur dengan nyenyaknya.

Sebagai seorang ibu ternyata Nyi Rangga lebih banyak memperhatikan keadaan anak gadisnya. Apalagi setelah peristiwa yang hampir saja mengusir Sumbaga dari rumah itu.

Tetapi justru karena ia mendengar pendapat Ki Rangga dan Jangkung yang berbeda, Nyi Rangga menjadi semakin bingung. Ia dapat mengerti keterangan Ki Rangga, bahwa Kasadha adalah seorang prajurit yang baik, yang patuh kepada paugeran namun juga seorang yang memiliki kelebihan. Sedangkan ia pun mendengar pendapat Jangkung, bahwa Barata akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang mampu memimpin rakyatnya yang terdiri dari berbagai macam tataran, pekerjaan dan juga mempunyai berbagai macam kepentingan yang berbeda-beda. Sementara itu Nyi Rangga sendiri masih mempertimbang-kan sifat dan watak Riris sendiri, apakah ia sesuai menjadi isteri seorang prajurit, justru karena Nyi Rangga sendiri adalah isteri seorang prajurit. Jika Riris tidak mempunyai ketabahan jiwani dan menyadari sepenuhnya akan kedudukannya sebagai seorang isteri prajurit, maka ia akan merasa bahwa perhatian suaminya kepadanya selalu dibayangi oleh tugas-tugasnya yang berat.

Nyi Rangga itu justru terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara suaminya bertanya perlahan, “Nyi, kau belum tidur?”

Nyi Rangga memang tergagap. Namun ia pun menjawab, “Baru saja aku melihat Jangkung membuka pintu.”

“Bukankah pintu tidak diselarak?” bertanya Ki Rangga pula.

“Ya. Karena itu aku melihatnya. Apakah benar-benar Jangkung yang masuk atau justru orang lain,” jawab Nyi Rangga.

Ki Rangga Dipayuda itu menguap. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Tidurlah. Nanti kau tidak sempat beristirahat.”

Nyi Rangga tidak menjawab. Ia pun segera berbaring disamping suaminya. Namun ketika suaminya telah tertidur lagi, Nyi Rangga masih saja tidak dapat memejamkan matanya. Ia mendengar ayam jantan berkokok didini hari. Namun Nyi Rangga tidak mendengar ayam berkokok menyambut fajar.

Nyi Rangga terbangun justru saat suaminya bangkit dari pembaringan. Dengan tergesa-gesa Nyi Rangga pun bangkit sambil berdesis, “Aku tentu kesiangan.”

“Belum fajar,” jawab Ki Rangga.

“Tetapi aku harus merebus air dan menyiapkan makan Ki Rangga dan angger Kasadha sebelum berangkat ke Pajang,” berkata Nyi Rangga yang turun dari pembaringan dan membenahi pakaiannya.

“Aku tidak tergesa-gesa Nyi. Aku dan Kasadha tidak sedang mengepung musuh dan harus menyergap mereka sebelum matahari terbit,” berkata Ki Rangga.

Nyi Rangga mengerutkan keningnya. Namun Ki Rangga pun tertawa sambil berkata, “Semalam nampaknya kau sulit untuk dapat tidur.”

Nyi Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah ia berkata, “Aku akan ke dapur.”

Tetapi ternyata ketika Nyi Rangga masuk kedapur, Riris dan seorang pembantunya telah sibuk menyiapkan minuman bagi Ki Rangga, Kasadha dan Jangkung. Sementara itu telah terdengar derit senggot timba di sumur. Ternyata Kasadha lah yang sedang mengisi jambangan. Sedangkan derit sapu lidi terdengar di halaman samping. Sumbaga yang juga terbiasa bangun pagi-pagi telah menyapu halaman, karena pakiwannya sudah diisi oleh Kasadha.

Jangkung pun sudah terbangun pula. Ketika Kasadha kemudian mandi di pakiwan, maka Jangkung pun berganti menimba air.

Pagi itu, Ki Rangga Dipayuda dan Kasadha telah bersiap-siap untuk kembali ke barak mereka di Pajang. Karena itu, maka Ki Rangga pun telah memanggil keluarganya termasuk Sumbaga untuk makan bersama-sama ketika Nyi Rangga dan Riris telah menyiapkannya diruang dalam.

Sambil makan Ki Rangga Dipayuda sempat memberikan beberapa pesan kepada keluarganya yang akan ditinggalkannya, karena belum tentu kapan Ki Rangga sempat pulang lagi melihat keluarganya meskipun Pajang terhitung tidak terlalu jauh.

Demikianlah ketika matahari sepenggalah, maka Ki Rangga Dipayuda dan Kasadha pun telah bersiap. Nyi Rangga, Jangkung, Riris dan Sumbaga mengantar mereka sampai ke regol halaman melepas mereka kembali ke Pajang.

Ketika kedua ekor kuda dengan penunggangnya itu mulai bergerak, maka terasa sesuatu bergejolak dihati Riris. Kasadha memang nampak sebagai seorang anak muda yang perkasa disamping ayahnya. Sikapnya telah menyatakan ketegaran jiwanya sebagai seorang prajurit yang baik. Kekaguman Riris terhadap ayahnya yang kebetulan juga seorang prajurit, memang berpengaruh atas sikap batinnya terhadap Kasadha. Apalagi setelah ia mendengar kelebihan Kasadha dari kawan-kawannya. Bahkan dalam satu pendadaran, Kasadha mampu menang atas seorang prajurit yang berkedudukan lebih tinggi daripadanya.

Hampir diluar sadarnya, Nyi Rangga Dipayuda telah berpaling kepada anak gadisnya yang memandangi kedua orang berkuda yang semakin jauh itu dengan tatapan mata yang seakan-akan tidak berkedip.

Baru ketika kedua orang penunggang kuda itu hilang dibalik kelok jalan maka mereka yang melepas itu meninggalkan regol halaman rumah mereka.

Namun ketika Nyi Rangga dan Riris naik tangga pendapa rumahnya, Jangkung telah minta diri kepada mereka, “Aku akan pergi kerumah seseorang yang memerlukan seekor kuda yang baik.”

“Kemana?” bertanya ibunya yang menangkap satu kesan yang lain pada wajah anak laki-lakinya.

“Ke Kademangan sebelah. Seorang Bekel memesan seekor kuda yang berwarna kelabu. Aku telah mendapatkannya,” jawab Jangkung.

Nyi Rangga tidak bertanya lebih lanjut, karena Jangkung pun segera pergi ke kandang kudanya.

Riris tidak begitu menghiraukan sikap kakaknya. Karena itu ia tidak melihat sesuatu. Yang diketahuinya ada-lah kakaknya memang seorang yang memperdagangkan kuda. Ayahnya pernah menyarankan kepada Jangkung untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi Jangkung masih belum menyatakan sikapnya dengan pasti. Namun menilik sifatnya yang kadang-kadang hanya menuruti kemau-annya sendiri itu, agaknya sulit baginya untuk berada dilingkungan keprajuritan yang irama hidupnya dilandasi oleh paugeran-paugeran dan kesediaan untuk melaksanakan dengan tertib didalam pengabdian.

Demikianlah, sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda meninggalkan halaman rumah Ki Rangga Dipayuda.

Sementara itu Sumbaga telah pergi ke belakang untuk menyediakan kayu bakar. Dengan kapak yang besar Sumbaga membelah potongan-potongan kayu yang mulai mengering. Sedangkan Riris dan ibunya telah berada di dapur pula.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Ki Rangga Dipayuda dan Kasadha menjadi semakin dekat dengan Pajang yang memang tidak terlalu jauh itu. Sehingga. sebelum tengah hari keduanya telah berada di barak mereka. Keduanya pun langsung menemui Ki Tumenggung Jayayuda untuk melaporkan kedatangan mereka kembali.

“Aku mohon maaf Ki Tumenggung. Seharusnya kemarin aku sudah berada dibarak ini,” berkata Ki Lurah Kasadha.

“Nampaknya kau telah mendapat ijin dari Ki Rangga,” jawab Ki Tumenggung sambil tersenyum.

Ki Lurah Kasadha pun tersenyum pula, sementara Ki Rangga Dipayuda tertawa sambil menjawab, “Ya. Aku sudah memberinya ijin.”

“Baiklah,” berkata Ki Tumenggung, “Silahkan kembali kepasukan kalian masing-masing,”

Keduanya pun kemudian telah meninggalkan bilik khusus Ki Tumenggung Jayayuda dan kembali ketempatnya masing-masing. Ki Lurah Kasadha pun segera menemui prajurit-prajuritnya yang sebagian besar sedang sibuk melakukan latihan di sanggar terbuka dibawah pimpinan para pemimpin kelompoknya.

Dengan demikian, maka Ki Lurah Kasadha telah kembali kedalam kesibukannya sebagai seorang prajurit yang memimpin bagian dari seluruh pasukan di barak itu. Dari hari ke hari Kasadha berusaha untuk meningkatkan kemampuan prajurit-prajuritnya. Bahkan karena kelebihannya, maka Kasadha telah mendapat kesempatan untuk mengadakan tuntunan khusus bagi para Lurah prajurit. Menyelenggarakan latihan-latihan tertutup di sanggar, meskipun hanya sebagai tambahan latihan-latihan yang diselenggarakan sebagaimana seharusnya.

Namun dalam pada itu, Kasadha masih saja selalu teringat akan gurunya. Kesediaan gurunya untuk tetap membimbingnya. Sehingga setiap kali Kasadha masih saja didorong untuk meningkatkan ilmunya itu. Namun Kasadha tentu masih harus mendapat ijin lebih dahulu secara khusus.

Karena itu, maka ada dua hal yang setiap saat seakan-akan selalu mengikutinya kemana ia pergi. Pada saat-saat yang luang, kedua hal itu selalu muncul bergantian. Bahkan kadang-kadang bersamaan dan justru saling mendorong.

Jika Kasadha telah berbaring dipembaringannya, menjelang kedalaman malam, maka tiba-tiba saja bagaikan hanyut oleh semilirnya angin yang sejuk, muncul wajah seorang gadis Ki Rangga Dipayuda. Tetapi setiap kali wajah itu hadir, maka bayangan yang lain selalu saja tampil pula betapapun samarnya. Wajah saudaranya yang lahir dari ibu yang berbeda, yang berhak untuk mewarisi kedudukan ayahnya, Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Namun dalam pada itu, jika wajah-wajah itu membayang dipenglihatan angan-angannya, maka selalu saja tumbuh keinginannya yang seakan-akan mendesak sekali untuk menemui gurunya, Ki Ajar Paguhan. Dalam keadaan yang demikian Kasadha yang dianggap orang terbaik di barak itu, selalu merasa bahwa ilmunya masih sangat sempit. Ia ingin gurunya menuntunnya untuk mendapatkan landasan ilmu yang lebih banyak lagi.

Gejolak itu akan selalu berlangsung beberapa saat. Namun setiap kali Kasadha selalu menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menguasai perasaannya itu dan mencari keseimbangan dengan penalarannya. Baru ketika ia berhasil menyingkirkan angan-angan itu, Kasadha dapat tidur dengan nyenyak. Namun jika saja angan-angannya itu muncul dan muncul lagi, maka sulit baginya untuk dapat memejamkan matanya.

Tetapi akhirnya Kasadha tidak mau terombang-ambing oleh keadaan itu. Karena itu, maka ia telah memutuskan untuk berbicara dengan Ki Rangga Dipayuda. Ia ingin meneruskan rencananya untuk meningkatkan kemampuannya diwaktu-waktu luang tanpa mengganggu tugas-tugasnya.

Ketika ia menemui Ki Rangga Dipayuda maka Kasadha itu pun berkata, “Bukankah keadaan di barak ini sudah berubah? Menurut pendapatku, Ki Rangga Prangwiryawan ternyata benar-benar bersikap sebagai seorang prajurit. Justru ia telah mengakui kekalahannya, maka sekarang ia menjadi sangat baik kepadaku. Tidak ada bekas-bekas kebenciannya dan apalagi mendendam-ku.”

“Ya. Aku juga percaya akan hal itu. Ki Rangga Prangwiryawan tidak mau berpura-pura. Ia memang sudah mengaku kalah dalam olah kanuragan. Aku pun yakin, ia tidak mendendam. Tetapi aku tidak tahu tentang kedua orang Lurah yang juga merasa orang terbaik itu. Di arena mereka tidak mengaku bahwa mereka telah kau kalahkan,” berkata Ki Rangga, “tetapi kenyataan itulah yang terjadi.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Sikap mereka sampai saat ini memang masih kurang baik, apalagi disaat-saat berlatih, meskipun aku berusaha tidak menunjukkan sikap seperti itu. Berbeda dengan Ki Rangga Prangwiryawan.”

“Tetapi mudah-mudahan hal itu tidak akan menyulitkanmu dimasa-masa datang,” berkata Ki Rangga Dipayuda.

Ternyata Ki Rangga Dipayuda tidak berkeberatan lagi atas rencana Kasadha untuk meningkatkan ilmunya. Namun sudah barang tentu bahwa Ki Ajar Paguhan harus berada di Pajang, karena tidak mungkin bagi Kasadha harus hilir mudik menemui guoinya itu dirumahnya atau dirumah ibunya di Bayat.

Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Rangga, maka Ki Rangga itu pun berkata, “Sayang, rumahku juga tidak berada di Kotaraja meskipun tidak terlalu jauh. Seandainya Ki Ajar Paguhan bersedia tinggal dirumahku, maka aku akan merasa senang sekali.”

“Tetapi jarak itu pun agak terlalu jauh jika aku setiap hari harus berlatih,” sahut Kasadha.

“Kau dapat berangkat sore hari. Nanti sebelum tengah malam kau tentu sudah berada disini,” berkata Ki Rangga.

“Waktuku diperjalanan akan lebih panjang dari waktuku untuk meningkatkan ilmuku,” jawab Kasadha.

Ki Rangga Dipayuda tersenyum. Katanya, “Ya. Kau benar. Sebaiknya Ki Ajar Paguhan itu memang berada di Kotaraja. Setiap hari ia akan dapat berada disanggar di barak ini. Sudah tentu dengan ijin Ki Tumenggung. Apalagi jika Ki Ajar bersedia memberikan serba sedikit tuntunan bagi setidak-tidaknya para Pandhega dan para Lurah di barak ini, selain kau.”

Kasadha tidak menjawab. Namun gurunya agaknya tidak berkeberatan jika ia harus memberikan tuntunan olah kanuragan kepada para Pandhega dan para Lurah dibarak itu. Meskipun demikian Kasadha menjawab, “Aku akan mencoba menyampai-kannya kepada guru. Segala sesuatunya terserah kepadanya.”

“Aku mengerti. Aku pun mengerti bahwa gurumu tentu tidak akan memperlakukan para prajurit sebagai muridnya. Kedudukan para prajurit itu akan sangat berbeda dengan kedudukanmu. Tetapi setidak-tidaknya gurumu akan dapat membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi ilmu yang telah ada pada diri kami masing-masing, yang tentu dengan landasan yang berbeda-beda. Ketika Pajang menerima prajurit bersamaan dengan saat kau memasukinya, maka pendadaran yang diberikan termasuk pendadaran yang ketat, sehingga prajurit yang datang bersamamu pada umumnya sudah memiliki landasan ilmu mereka masing-masing,” berkata Ki Rangga.

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Meskipun demikian aku tidak dapat tergesa-gesa menghadap guru. Aku baru saja meninggalkan barak dan mendapat waktu beristirahat. Mungkin aku harus menunggu sebulan lagi untuk minta ijinmeninggalkan barak barang dua hari.”

“Ya,” jawab Ki Rangga, “tetapi pada dasarnya aku tidak berkeberatan. Aku akan menyampaikan permohonanmu untuk memperdalam ilmumu kepada Ki Tumenggung. Niat ini sejalan dengan kedudukanmu sebagai prajurit, sehingga peningkatan kemampuanmu akan berarti juga bagi barak ini.”

“Terima kasih Ki Rangga,” desis Kasadha, “jika Ki Tumenggung mengijinkan, maka aku harus mempersiapkan segala sesuatu sehubungan dengan rencana itu.”

“Apa yang harus kau persiapkan?” bertanya Ki Rangga.

“Aku harus menyediakan tempat tinggal bagi guru. Bahkan mungkin bersama kakek jika kakek menghendaki,” jawab Kasadha.

Ki Rangga termangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau tidak mempunyai sanak kadang disini?”

Kasadha menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Rangga.”

“Jika demikian maka kau memang harus mengusahakan. Mungkin ada orang yang akan menjual sende rumah dan pekarangannya untuk dua atau tiga tahun atau sampai orang itu dapat menebusnya kembali,” berkata Ki Rangga, “sehingga kau tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak sebagaimana jika kau harus membelinya.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan menghubungi prajurit-prajuritku yang berasal dari Kotaraja. Mungkin mereka mempunyai sanak kadang yang dapat membantu.”

“Baiklah. Mudah-mudahan kau segera mendapatkannya sebelum kau membawa gurumu ke Kotaraja ini,” berkata Ki Rangga kemudian.

Dengan demikian, maka Kasadha menjadi semakin mantap. Ia harus segera melakukan rencana itu. Mengajak gurunya untuk tinggal di Kotaraja dan memberikan latihan-latihan baginya untuk meningkatkan ilmunya.

Dalam pada itu, seperti yang disanggupkan kepada Kasadha, maka Ki Rangga Dipayuda telah menyampaikan keinginan Kasadha itu kepada Ki Tumenggung. Seperti di duga sebelumnya, Ki Tumenggung sama sekali tidak berkeberatan, asal rencana itu dilakukan tanpa mengganggu tugas-tugas Kasadha sebagai seorang prajurit.

“Ia harus tetap memperhatikan tugas-tugasnya serta keadaan prajurit-prajuritnya,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda, “jika ia tenggelam dalam peningkatan kemampuannya, maka akan dapat terjadi, perhatiannya terhadap kewajibannya akan susut. Bahkan hilang sama sekali, justru karena ia memusatkan perhatiannya kepada ilmunya.”

“Aku akan mengamatinya Ki Tumenggung,” sahut Ki Rangga Dipayuda.

“Baiklah. Aku serahkan segala sesuatunya kepada Ki Rangga. Apalagi Kasadha berada dibawah kepemimpinan Ki Rangga sendiri,” berkata Ki Jayayuda.

“Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya,” jawab Ki Rangga yang kemudian berkata, “Selain ijin itu Ki Tumenggung, Kasadha jua mohon diijinkan untuk mempergunakan sanggar tertutup atau terbuka untuk mengadakan latihan-latihan olah kanuragan.”

Ki Tumenggung Jayayuda mengerutkan dahinya. Sejenak ia terdiam. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya tidak ada keberatan apapun juga bagiku untuk menyetujui permohonan itu. Tetapi yang aku pikirkan adalah, bagaimana jika hal seperti itu datang dari beberapa orang diantara para Lurah dan Pandhega? Misalnya Ki Rangga Prangwiryawan, Ki Lurah Bantardi atau Ki Lurah Lenggana dan bahkan beberapa orang lagi?”

Ki Rangga Dipayuda menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya, ya. Aku mengerti Ki Tumenggung. Sanggar itu tentu tidak akan dapat lagi dipergunakan oleh para prajurit di barak ini.”

“Tetapi bukan maksudku untuk menghambat kemajuan Kasadha,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda.

Ketika kemudian Ki Rangga itu berada didalam biliknya, ia pun mulai merenungi sikapnya. Baginya, seakan-akan semua niat Kasadha itu sepantasnya mendapat dukungan. Ia pun justru tidak memikirkan kemungkinan seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Jayayuda tentang sanggar di barak itu jika Ki Tumenggung mengijinkan Kasadha mempergunakannya.

Namun dengan demikian ia mulai menyadari, bahwa ada sesuatu yang telah tumbuh didalam hatinya mengenai prajuritnya yang dianggapnya memiliki kelebihan itu.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa kendali penalarannya agak terlepas sehingga ia justru memberikan petunjuk kepada Kasadha untuk berlatih di sanggar barak itu.

“Aku harus memberitahukan kepadanya, bahwa hal itu tidak dapat dilakukannya,” berkata Ki Rangga didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga tidak dapat ingkar bahwa memang ada sesuatu yang membuatnya agak memanjakan Ki Lurah Kasadha. Setiap kali ia telah menghubungkan Lurah yang masih muda itu dengan kemungkinan yang lebih jauh dari hubungannya sebagai seorang pemimpin dan anak buahnya dalam lingkungan keprajuritan. Justru karena Ki Rangga mempunyai anak seorang gadis yang mulai tumbuh dewasa.

Meskipun kadang-kadang terlintas juga wajah Barata dari Tanah Perdikan Sembojan, tetapi yang setiap hari ditemuinya adalah Kasadha dengan segala kelebihannya dilingkungan barak itu. Tingkat ilmunya yang tinggi serta kemampuannya memimpin pasukannya. Nampaknya ia mempunyai wibawa yang tinggi namun juga sifat kebapaan yang akrab meskipun umurnya masih terhitung muda.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Barata tiba-tiba saja menjadi agak berubah. Kadang-kadang anak muda itu duduk merenung di serambi tanpa sebab. Namun kadang-kadang Barata yang di Tanah Perdikan lebih sering disebut Risang, meninggalkan rumahnya hampir sehari-harian. Risang memang berkuda mengelilingi padu-kuhan demi padukuhan serta memperhatikan hampir selebar Tanah Perdikan itu sendiri. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung pernah menemukan anak muda itu berbaring seorang diri disebuah gubug yang berdiri di tengah-tengah bulak panjang. Dari kejauhan Jati Wulung dan Sambi Wulung melihat kuda yang terbiasa dipergunakan oleh Risang terikat pada tiang sebuah gubug kecil.

Dengan serta merta keduanya berhenti. Dengan nada rendah Jati Wulung berkata, “Risang tentu berada di gubug itu.”

“Marilah, kita lihat apa yang dikerjakannya,” sahut Sambi Wulung.

Keduanya pun menuntun kuda mereka mendekati gubug ditengah bulak itu.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka mereka melihat Risang berbaring digubug itu seorang diri.

Namun Risang menjadi terkejut ketika ia mendengar langkah orang dan derap perlahan kaki kuda yang berjalan mendekati gubug itu. Dengan serta merta ia pun telah bangkit dan bahkan meloncat turun.

Tetapi Risang menarik nafas dalam-dalam sambil duduk kembali digubug itu ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung melangkah mendekati gubug itu.

Setelah menambatkan kudanya, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah duduk pula di gubug itu. Dengan hati-hati Sambi Wulung pun bertanya, “Apa yang kau lakukan disini ngger?”

“Aku merasa sangat letih setelah mengelilingi Tanah Perdikan ini. Aku ingin disaat-saat terakhir menjelang wisuda Kepala Tanah Perdikan, maka Tanah Perdikan ini benar-benar telah siap,” jawab Risang.

“Apakah masih ada yang mengecewakan?” bertanya Jati Wulung.

“Memang tidak. Tetapi jika aku tidak dengan rajin melihat-lihat persiapan itu, maka pada suatu saat kita akan menyesal karena ternyata masih ada yang kurang,” jawab Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja. Namun keduanya memang melihat sesuatu sedang bergejolak dihati anak muda itu. Tetapi mereka masih merasa belum waktunya untuk menanyakannya.

Namun beberapa saat kemudian Jati Wulung itu pun berkata, “Marilah, kita pulang.”

Tetapi Risang menjawab, “Aku masih akan melihat-lihat beberapa tempat lagi.”

“Bukankah masih ada waktu?” bertanya Sambi Wulung.

“Jika setiap kali kita bersikap seperti itu, maka kita tidak akan dapat melakukan apapun. Semua pekerjaan akan tertunda, karena esok masih ada waktu. Sampai akhirnya kita akan merasa terlambat,” jawab Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak dapat memaksanya. Keduanya kemudian justru minta diri untuk mendahului pulang.

“Aku pulang setelah matahari turun,” berkata Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian telah berkuda mendahului Risang. Namun disepanjang jalan keduanya masih saja membicarakan anak muda yang sedang menyimpan persoalan didalam hatinya.

“Apakah Risang merasa kecewa bahwa wisudanya tidak segera dilakukan?” bertanya Jati Wulung.

“Memang mungkin. Tetapi agaknya bukan tentang wisudanya. Ia bukan seorang yang tergila-gila akan pangkat dan jabatan,” jawab Sambi Wulung.

“Jadi, apa menurut dugaanmu?” bertanya Jati Wulung pula.

Sambi Wulung hanya menggelengkan kepalanya saja.

Demikianlah keduanya telah melarikan kudanya langsung kembali kerumah Risang. Ketika mereka memasuki regol halaman rumah itu, maka Sambi Wulung berkata, “Ada baiknya kita berbicara dengan Nyi Wiradana. Mungkin dalam satu masa saat anak muda itu meningkat dewasa memerlukan perhatian lebih banyak dari Nyi Wiradana sebagai ibunya.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita akan menemui Nyi Wiradana.”

Untuk beberapa saat Sambi Wulung dan Jati Wulung harus menunggu, karena Nyi Wiradana masih menerima seorang tamu yang menghadapnya. Ki Demang Banyu Urip.

Baru setelah Ki Demang Banyu Urip minta diri, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat menemui Nyi Wiradana.

“Apakah kalian menemukan sesuatu yang menarik perhatian kalian?” bertanya Nyi Wiradana.

“Tidak. Bukan persoalan Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Sambi Wulung.

“Jadi?” desak Nyi Wiradana.

Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Sambi Wulung pun berkata, “Kami melihat perubahan pada diri Risang.”

Wajah Nyi Wiradana berkerut. Dengan nada rendah ia menjawab sambil mengangguk kecil, “Ya. Aku memang melihat satu perubahan. Tetapi aku tidak tahu, apa yang membuatnya jadi berubah. Apakah kau melihat bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di Tanah Perdikan ini? Apakah ada sesuatu yang tidak berkenan dihatinya?”

“Tidak. Bukan itu,” jawab Sambi Wulung, “namun agaknya usianyalah yang membuatnya menjadi berubah. Anak itu seakan-akan menjadi perenung. Di rumah ia tidak betah. Hampir setiap hari ia berkuda mengelilingi Tanah Perdikan ini dengan banyak alasan.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Sementara Sambi Wulung pun berceritera bahwa ia baru saja bertemu dengan Risang yang sedang berbaring di sebuah gubug kecil di tengah-tengah bulak.”

“Sendiri?” bertanya Nyi Wiradana.

“Ya. Sendiri,” jawab Sambi Wulung.

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Risang sering pergi ke Kotaraja dan bermalam dirumah bekas pemimpinnya. Sekali-sekali sengaja atau tidak sengaja, ia menyebut sebuah nama dari seorang gadis.”

“Nah,” tiba-tiba saja Jati Wulung memotong, “memang satu kemungkinan. Aku sudah mengira bahwa sikapnya itu berhubungan dengan hal-hal seperti itu.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Aku akan berbicara dengan Risang.”

“Tetapi kita harus memilih kesempatan yang terbaik. Jika tidak, maka ia tentu akan menjawab dengan singkat, bahwa tidak ada apa-apa,” berkata Sambi Wulung.

“Aku akan mengusahakan kesempatan itu,” jawab Nyi Wiradana.

Sepeninggal Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Nyi Wiradana telah memanggil Bibi. Namun ternyata bahwa Risang, yang juga dekat dengan Bibi, tidak pernah mengatakan sesuatu kepadanya.

“Anak itu tertarik untuk mendalami penggunaan selendang sebagai senjata,” berkata Bibi.

“Tetapi apakah sekali-sekali Risang pernah menyebut nama seorang gadis?” bertanya Nyi Wiradana.

Bibi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia menjawab, “Anak itu memang pernah melihat-lihat beberapa selendangku. Ia pernah memperbandingkan warna-warna cerah dengan beberapa bajuku yang berwarna lunak. Anak itu pernah bertanya kepadaku, warna yang manakah yang pantas bagi seorang gadis? Tetapi Risang nampaknya tidak bersungguh-sungguh. Ia memang sering menggangguku dengan gurau-gurauannya.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau melihat beberapa perubahan pada anak itu?”

Bibi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Ya. Aku memang melihatnya. Anak itu lebih banyak merenung sekarang.”

Nyi Wiradana menjadi yakin. Tentu ada sesuatu yang menyangkut dihati anaknya itu. Namun Nyi Wiradana memang harus mendapatkan waktu terbaik untuk menanyakannya kepada Risang.

Hari itu, seperti yang dikatakan Risang kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka anak muda itu pulang setelah matahari turun. Ibunya yang melihatnya melarikan kudanya dihalaman hanya dapat mengelus dadanya. Sebelumnya anak muda itu tidak pernah berbuat demikian. Namun Nyi Wiradana sama sekali tidak menegurnya.

Demikian menambatkan kudanya, maka Risang pun telah langsung masuk kedalam biliknya. Bahkan untuk beberapa saat, anak muda itu tidak keluar lagi.

Ibunya pun kemudian telah melihatnya kedalam biliknya. Ketika ibunya mendorong pintu bilik itu, maka Nyi Wiradana melihat Risang itu berbaring dipembaringannya.

“Apakah kau sakit Risang?” bertanya ibunya. Risang terkejut. Ia pun dengan serta merta telah bangkit dan duduk dibibir ambennya.

“Tidak ibu, aku tidak apa-apa,” jawab Risang.

“Bukankah kau belum makan?” bertanya pula.

Risang mencoba tersenyum. Sambil mendekati ibunya ia berkata, “Aku telah melihat seluruh Tanah Perdikan itu. Rasa-rasanya aku tidak menjadi lapar. Segala sesuatunya berkembang semakin baik.”

“Kau letih Risang,” berkata ibunya pula, “sekarang pergilah ke pakiwan. Makanmu sudah tersedia sejak tadi. Biarlah dipanasi lebih dahulu selagi kau membersihkan keringatmu.”

Risang tidak menjawab. Tetapi ia pun melangkah ke pakiwan.

Beberapa saat kemudian, Nyi Wiradana telah menungguinya makan. Tetapi Nyi Wiradana tidak bertanya tentang perubahan sikap Risang. Ia justru bertanya, apa saja yang telah dilihatnya hari ini.

“Bukankah sama dengan yang kau lihat kemarin?” bertanya ibunya.

Risang mengerutkan dahinya. Namun ia pun menjawab, “tidak ibu. Tidak sama.”

“Apakah yang berbeda?” bertanya ibunya.

“Kemarin air di anak susukan Wotan belum mengalir. Pagi ini anak susukan itu sudah dibuka. Air sudah mengalir menelusuri parit-parit yang membelah bulak panjang di Kademangan Guntur,” jawab Risang.

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika anak susukan Wotan itu sudah mulai mengalir. Dua hari yang lalu, aku mendapat laporanmu bahwa anak susukan itu masih belum siap dialiri.”

“Ya. Tetapi dihari berikutnya, berpuluh-puluh orang telah turun mengerjakannya sehari penuh,” jawab Risang sambil menyuapi mulutnya.

“Syukurlah,” ibunya masih saja mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba saja Risang berkata dengan nada rendah, “Ibu besok aku akan pergi ke Pajang.”

“Untuk apa?” bertanya ibunya.

“Aku akan menghadap Ki Rangga Kalokapraja,” jawab Risang.

“Untuk apa?” bertanya ibunya pula.

Aku akan memberitahukan bahwa segala sesuatunya telah siap di Tanah Perdikan Sembojan. Jika tidak ada masalah lagi, maka hendaknya ketetapan dan wisuda itu dapat dilakukan secepatnya,” jawab Risang.

Ibunya menarik nafas panjang. Namun kemudian Nyi Wiradana itu berkata, “Jangan Risang. Jangan terlalu sering mendesak. Bukankah kita tidak tergesa-gesa? Sikap Ki Rangga Kalokapraja itu sudah baik sekali bagi kita, mengingat apa yang pernah terjadi sebelumnya, sehingga kita harus bertempur melawan Pajang dengan bantuan Jipang.”

“Tetapi Pajang waktu itu sedang diliputi oleh ketidak pastian,” jawab Risang.

“Dengarkan kata-kata ibu Risang. Kita jangan mendesak-desak, seakan-akan kita tidak dapat menunggu sampai esok. Ki Rangga Kalokapraja justru akan dapat tersinggung karenanya. Jika terjadi demikian, maka ia akan dapat berubah sikap. Wisuda itu bahkan akan menjadi semakin mundur lagi. Atau bahkan Ki Rangga akan mencari-cari kekurangan yang selama ini dianggap dapat diabaikannya,” berkata ibunya.

Risang tidak segera menjawab. Tetapi wajahnya nampak menjadi gelap.

Untuk beberapa saat, Nyi Wiradana pun terdiam. Dipandanginya Risang yang nampaknya tidak begitu bergairah untuk makan. Ia ternyata tidak makan sebagaimana biasanya. Tetapi perut Risang seakan-akan terlalu cepat menjadi kenyang.

Sambil mencuci tangannya Risang kemudian berkata, “Jika aku menemui Ki Rangga, sudah tentu aku tidak akan mendesak, apalagi menuntut agar wisuda dapat segera dilakukan. Tetapi kehadiranku tentu dapat mengingatkannya, bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikannya di Tanah Perdikan ini.

Tetapi ibunya menggeleng. Katanya, “Itu kurang baik Risang. Kita harus bersabar menunggu. Bukankah kau belum lama pergi ke Pajang justru karena kau dipanggil Ki Rangga Kalokapraja?”

Risang mengangguk sambil menjawab, “Ya ibu.”

“Nah, jika demikian, kau tidak usah menemuinya,” desis ibunya. Namun tiba-tiba saja ibunya bertanya, “Risang, apakah sebenarnya kau ingin cepat-cepat diwisuda sehingga kau akan segera mengenakan gelar Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

Pertanyaan ibunya memang mengejutkannya. Dengan serta merta ia menjawab, “Tidak ibu. Aku sama sekali tidak ingin mendesak agar wisuda itu segera diadakan. Aku tidak ingin cepat-cepat mendapatkan gelar Kepala Tanah Perdikan. Bukankah selama ini kepemimpinan di Tanah Perdikan ini mantap?”

“Jika demikian, apakah arti kedatanganmu kepada Ki Rangga Kalokapraja itu?” bertanya ibunya.

Risang menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

Sementara itu, Nyi Wiradana itu pun berkata, “Risang. Jika kau memang ingin pergi ke Pajang, pergilah. Kau tidak perlu menemui Ki Rangga itu sebagai alasan. Mungkin kau dapat pergi menemui Kasadha atau menemui siapapun. Kau dapat singgah dimana pun kau inginkan.”

Terasa wajah Risang menjadi panas. Namun justru karena itu, maka ia pun menunduk semakin dalam. Kata-kata ibunya itu rasa-rasanya tepat menusuk kedasar jantungnya. Sebenarnyalah bahwa ia memang ingin pergi ke Pajang dan singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda. Tetapi ia harus mempunyai alasan yang lebih pantas untuk melakukannya.

Tetapi justru karena ibunya telah menebaknya, maka Risang itu pun kemudian justru menjawab, “Tidak ibu. Aku tidak ingin pergi ke Pajang.”

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia berbicara lebih jauh, maka Risang itu pun telah bergeser sambil berkata, “Maaf ibu. Aku akan mencari angin diluar. Udara agaknya terlalu panas disini.”

“Kau hanya makan sedikit saja Risang,” desis bunya.

Risang memandang ibunya sekilas. Kemudian katanya, “Aku sudah kenyang ibu. Mungkin aku terlalu banyak minum air kelapa muda diperjalananku hari ini.”

Ibunya tidak menjawab lagi. Sementara itu Risang pun telah melangkah keluar.

Nyi Wiradana hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun sebagai seorang ibu, maka ia tidak dapat melepaskan diri dari persoalan anak tunggalnya.

Apalagi ketika dihari-hari berikutnya Risang menjadi semakin pendiam. Namun Risang menjadi semakin sering berada di sanggar. Seakan-akan ia ingin melarikan diri dari kesulitan penalarannya ke sanggar dan menyendiri, jika ia tidak pergi mengelilingi Tanah Perdikannya.

Akhirnya Nyi Wiradana tidak lagi dapat menahan hatinya, sehingga ia pun telah menemui Kiai Badra serta Kiai dan Nyai Soka untuk mohon petunjuknya.

Orang-orang tua itu pun tidak dapat memberikan pemecahan yang memuaskan. Namun ketiganya sependapat, bahwa agaknya Risang telah meniti hidup dewasanya. Hatinya agaknya mulai tersangkut kepada seseorang.

“Tetapi aku yakin, Risang tidak dirisaukan oleh wisudanya yang tidak segera dilakukan. Ia sudah menempa dirinya untuk menguasai perasaannya atas nafsu ketamakan. Ia akan tetap bersabar menunggu. Apalagi. pangkat dan jabatan yang menyangkut langsung dirinya sendiri,” berkata Kiai Badra.

“Aku menjadi sangat gelisah,” desis Nyi Wiradana.

“Aku dapat mengerti,” sahut Nyai Soka, ”kau memang harus selalu mengikuti perkembangan keadaan anakmu itu.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk kecil. Sementara Kiai Soka pun berkata, ”Sokurlah jika dalam kegelisahan itu, Risang mampu mencari penyaluran yang baik dan berarti. Lebih baik ia berada di sanggar daripada ia mencari pelepasan kegelisahannya pada hal-hal yang akan dapat merugikan masa depannya kelak.”

“Beruntunglah aku, bahwa Risang tidak melakukannya,” desis Nyi Wiradana, “selain berada disanggar, Risang sehari-hari pergi mengelilingi Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah. Kami akan membawanya lebih banyak. Untuk berlatih. Mudah-mudahan umur kami masih menggapai saat-saat anak itu siap menerima tataran tertinggi ilmunya, ilmu Janget Kinatelon,” berkata Kiai Badra.

Dengan demikian, maka Kiai Badra itu pun telah memanggil Risang untuk menemuinya. Bersama Kiai Soka dan Nyai Soka, maka orang-orang tua itu telah minta agar Risang siap untuk lebih banyak berada disanggar.

Bagi Risang, hal itu merupakan satu kebetulan. Ia tidak mengerti, kenapa hatinya seakan-akan selalu digelisahkan oleh ilmunya yang dianggapnya masih terlalu rendah.

Namun Risang sendiri kadang-kadang terkejut jika tiba-tiba saja ia mencoba memperbandingkan ilmunya dengan ilmu Kasadha.

“Kasadha ternyata mampu mengalahkan Ki Rangga Prangwiryawan,” katanya didalam hatinya. Namun selalu disusul dengan pertanyaan, “Kenapa aku yang justru menjadi gelisah?”

Tetapi Risang tidak dapat ingkar, bahwa perasaan yang terbersit dihatinya adalah, bahwa ia tidak ingin tertinggal dari adiknya itu.

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka memang terkejut melihat kesungguhan Risang untuk berlatih dan meningkatkan ilmunya ketika mereka mulai memasuki sanggar dalam tataran ilmu berikutnya, yang sebenarnya akan diberikan sesudah Risang diwisuda. Tetapi ketiga orang tua itu justru sepakat untuk memberikannya saat-saat Risang memerlukan isi bagi waktunya yang tentu terasa sangat panjang karena kegelisahan yang belum diketahui sebabnya.

Demikianlah dari hari ke hari Risang dengan tekun berada di sanggarnya bersama ketiga orang kakek dan neneknya. Ketiga orang tua itu memang merasakan, bahwa Risang memang sedang menyembunyikan sesuatu dan berusaha menyelimutinya dengan latihan-latihan yang berat di sanggarnya.

***

Sementara itu, di Pajang, atas bantuan salah seorang pemimpin kelompoknya, Kasadha telah mendapatkan sebuah rumah yang meskipun kecil, tetapi cukup untuk tempat tinggal gurunya. Sedangkan bagian belakang rumah itu dapat dipergunakannya sebagai sanggar untuk melakukan latihan-latihan. Demikian pula halaman belakang dari rumah yang tidak begitu besar itu.

Atas ijin Ki Rangga dan Ki Tumenggung Jayayuda maka Kasadha telah menjemput gurunya dan sekaligus kakeknya untuk bersedia tinggal di Pajang.

“Kakek setiap saat dapat menengok ibu di Bayat,” berkata Kasadha ketika ia mempersilahkan kakeknya tinggal bersama gurunya di Pajang.

Akhirnya kakeknya pun bersedia tinggal di Pajang. Namun sejak semula Kiai Randukeling itu berkata, “Tetapi aku tentu sering meninggalkan rumah itu untuk menengok ibumu. Ia kini sudah benar-benar berubah dan hidup wajar sebagaimana seorang perempuan. Bergantian ibumu sudah mau pergi ke pasar untuk berbelanja dan dirumah pun ibumu telah dengan rajin masak meskipun hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri dan bibimu.”

Namun diluar sadarnya Kasadha tiba-tiba saja bertanya, “Dimana adikku itu sekarang kakek?”

“Ibumu pun tidak tahu dimana adikmu itu sekarang berada,” jawab Kiai Randukeling, “sekali-sekali kerinduannya kepada adikmu itu terasa sangat menekan perasaannya. Tetapi ia belum mempunyai cukup keberanian untuk mencarinya.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena Kasadha tahu, bahwa ada beberapa persoalan yang tentu menghambat usaha ibunya untuk mencarinya apabila ibunya tidak ingin terjerumus lagi kedalam kehidupannya yang lama. Namun memang tidak seharusnya ibunya membiarkan adiknya tetap hidup dalam dunia yang kelam itu.

Sejak Ki Ajar Paguhan dan Ki Randukeling tinggal di Pajang, maka setiap kali, jika tugas-tugasnya sudah diselesaikan, Kasadha selalu berada di rumah tempat tinggal gurunya itu. Dengan sungguh-sungguh Kasadha berusaha untuk meningkatkan ilmunya. Karena ilmu kanuragan baginya akan memberikan arti pula bagi tugas-tugasnya sebagai seorang prajurit.

Kepada Ki Rangga Dipayuda, kepada para Pandhega dan juga kepada Ki Tumenggung. Kasadha sama sekali tidak merahasiakan usahanya untuk meningkatkan ilmunya. Bahkan Ki Rangga Prangwiryawan yang pernah dikalahkan oleh Kasadha dan dengan jantan mengakui kekalahan itu, pernah bertanya kepadanya, “Apakah aku diperkenankan untuk serba sedikit meningkatkan ilmuku? Aku sudah tidak mempunyai guru lagi. Guruku meninggal dua tahun yang lalu. Sebelumnya aku merasa bahwa ilmuku cukup tinggi bagi seorang prajurit. Namun setelah aku berada di gelanggang bersamamu, maka terbukti bahwa ilmuku masih jauh ketinggalan.”

“Bukan jauh ketinggalan Ki Rangga, tetapi mungkin kita berada di tataran yang sama. Namun ketika memasuki arena, aku sama sekali tidak membawa beban sebagaimana Ki Rangga yang nampaknya sangat tegang,” jawab Kasadha.

Ki Rangga Prangwiryawan tertawa. Katanya, “Kau pandai membuat orang lain tertidur. Tetapi baiklah. Jika saja gurumu bersedia. Bukan maksudku aku menuntut hak sebagai orang murid. Tetapi sekedarnya saja asal dapat membantu membuka kemungkinan baru bagi ilmuku.”

Kasadha pun tersenyum. Katanya, “Aku akan mengatakannya kepada guru.”

Ki Rangga Prangwiryawan menepuk bahunya sambil berkata, “Terima kasih. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan.”

Ketika hal itu dikatakan oleh Kasadha kepada Ki Rangga Dipayuda, maka Ki Rangga itu pun berkata, “Cobalah kau katakan kepada gurumu. Jika gurumu bersedia, akan berakibat baik juga bagimu. Dan bahkan bagi kedudukanmu disini. Apalagi beberapa saat kemudian, aku tentu akan meninggalkan barak ini. Aku memang sudah terlalu tua.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi Ki Rangga Dipayuda masih nampak tegar sebagai seorang prajurit.”

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Namun, bukankah umurku merambat setiap saat?”

Kasadha pun mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu, berbeda dengan Ki Rangga Prangwiryawan, dua orang Lurah yang lain justru tidak dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Jika Ki Rangga Prangwiryawan kemudian justru menjadi baik dan akrab dengan Kasadha, maka kedua Lurah yang lain itu justru terasa menjadi semakin jauh.

Ki Lurah Bantardi dan Ki Lurah Lenggana sama sekali tidak menghiraukan sikap Ki Rangga Prangwiryawan. Mereka menganggap bahwa Ki Rangga Prangwiryawan terlalu lemah menghadapi Kasadha, sehingga akan dapat membuat Kasadha itu menjadi semakin sombong.

“Dipamerkannya gurunya kepada kita,” berkata Lenggana ketika ia mendengar bahwa Kasadha telah membawa gurunya ke Pajang.

“Kenapa ia mendapat ijin untuk setiap hari keluar dari barak meskipun tugasnya telah diselesaikan? Bagaimana jika orang lain mohon ijin seperti itu?” desis Ki Lurah Bantardi.

“Sebaiknya kita semuanya, seisi barak itu minta ijin untuk keluar dari barak ini setiap hari sebagaimana Ki Lurah Kasadha dengan alasan apapun juga. Adilnya, kita semuanya juga harus diijinkan,” sahut Ki Lurah Lenggana.

Ketika hal ini secara tidak langsung disampaikan kepada Ki Rangga Prangwiryawan, maka Ki Rangga berkata, “Apakah kau lupa, bahwa sesuai dengan paugeran, para perwira diperkenankan keluar barak pada saat-saat tertentu-serta jika semua tugas sudah dilakukan? Sudah tentu bagi mereka yang tidak sedang mendapat tugas mempertanggung jawabkan penjagaan untuk sehari-semalam. Para Lurah, kecuali yang bertugas, dapat saja keluar dari barak di sore hari untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat keadaan. Bahkan bukankah para prajurit juga dapat melakukannya, tetapi juga untuk saat-saat tertentu yang diatur sesuai dengan paugeran? Kita di barak ini bukan tawanan dan bukan pula orang-orang yang sedang dipenjarakan.”

Kedua orang Lurah itu termangu-mangu. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa lagi.

Karena itulah, maka hampir setiap hari, kecuali pada saat-saat ia bertugas sehari-semalam, Kasadha selalu diijinkan menemui gurunya setelah tugas-tugasnya selesai. Dengan tuntunan gurunya, maka Kasadha telah meningkatkan kemampuannya selapis demi selapis.

***

Sejalan dengan itu, maka di Tanah Perdikan Sembojan, Risang pun tengah menempa diri. Risang sendiri tidak tahu pasti, apakah yang mendorongnya untuk melakukannya. Bahkan dirasa agak berlebihan oleh kakek dan neneknya.

“Aku tidak bermusuhan dengan siapapun juga,” berkata Risang kepada dirinya sendiri jika ia sedang merenung. Lalu katanya pula, “Apalagi dengan Kasadha. Ia sangat baik. Ia mengerti apa yang telah terjadi atas keluarga kami dan ia pun berjanji untuk tidak mengganggu lagi ketenangan Tanah Perdikan Sembojan.”

Namun disaat yang lain, maka yang terbayang adalah wajah seorang gadis yang baginya sangat cantik. Riris. Anak Ki Rangga Dipayuda.

Jika kesadaran penalarannya sedang terkendali, maka Risang yang sering berkuda mengelilingi Tanah Perdikannya, memang mencoba untuk memperhatikan gadis-gadis yang ditemuinya dipadukuhan-padukuhan atau mereka yang pergi ke sawah untuk membawa makan dan minum keluarganya yang sedang bekerja. Bahkan Risang juga sering mengunjungi para bebahu padukuhan yang tersebar di Tanah Perdikan Sembojan. Kadang-kadang Risang beristirahat untuk waktu yang cukup lama dirumah para Demang.

Namun Risang tidak pernah menjumpai seorang gadis yang mampu mengusik hatinya. Sehingga setiap kali maka angan-angannya selalu membayangkan wajah Riris yang bening dengan senyumnya yang cerah.

Dalam kesibukannya menempa diri, serta mengatasi kemelut dihatinya, maka Tanah Perdikan Sembojan telah kedatangan dua orang tamu dari Pajang. Bahkan Ki Rangga Kalokapraja sendirilah yang telah datang dengan seorang pembantunya.

Nyi Wiradana memang menjadi sibuk. Risang pun segera dipanggil. Untunglah ia belum berangkat mengelilingi Tanah Perdikannya dan belum pula masuk ke Sanggar bersama ketiga orang kakek dan neneknya. Bahkan Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah diminta oleh Nyi Wiradana untuk ikut mengniui utusan dari Pajang itu.

Setelah saling mempertnyakan keselamatan masing-masing, maka Nyi Wiradana yang agaknya segera ingin tahu maksud kedatangan tamunya itu pun bertanya, “Agaknya Ki Rangga membawa perintah bagi kami di Tanah Perdikan ini?”

Ki Rangga tersenyum sambil berkata, “Aku membawa kabar gembira bagi Tanah Perdikan ini.”

“Syukurlah,” desis Nyi Wiradana.

“Kami datang sebagai utusan Kangjeng Adipati di Pajang. Atas nama Panembahan Senapati di Mataram, maka telah siap Surat Kekancingan ketetapan angger Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Tuhan Maha Agung,” desis Nyi Wiradana, “kami tentu akan sangat bersukur dan berterima kasih kepada Kangjeng Adipati Pajang.”

“Selanjutnya, aku datang untuk membicarakan pengesahan dan wisuda Angger Risang sebagai Kepala Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Rangga Kalokapraja. Lalu katanya selanjutnya, ”berhubung dengan kesibukan Kangjeng Adipati, maka aku pulalah yang mendapat perintah untuk menyelenggarakan wisuda angger Risang. Karena itu, aku perlukan datang sendiri ke Tanah Perdikan ini untuk membicarakan segala sesuatunya. Sedangkan penjabat yang akan ditugaskan mewisuda atas nama Kangjeng Adipati masih akan ditentukan kemudian.”

“Terima kasih Ki Rangga. Sudah tentu kami gembira sekali bahwa Ki Rangga sendirilah yang mendapat tugas-penyelenggaraan wisuda itu. Dengan demikian, maka pembicaraan berikutnya akan dapat kita lakukan dengan terbuka, karena kita sudah saling mengerti akar perkembangan keadaan,” jawab Nyi Wiradana yang kemudian bertanya, “Lalu apa saja yang harus kami siapkan sehubungan dengan wisuda itu? Pertanda kepemimpinan Tanah Perdikan yang berupa bandul bertatahkan lukisan burung itu serta barangkali ada yang lain?”

Tetapi Ki Rangga Kalokapraja menggeleng. Katanya sambil tertawa kecil, “Itu tidak penting sebenarnya Nyai. Pertanda itu hanya sekedar kelengkapan kewadagan. Tetapi yang penting bagi kami adalah kebenaran urutan keturunan lajer Kepala Tanah Perdikan sesuai dengan paugeran. Kekancingan atas Tanah Perdikan yang masih berlaku dan yang tidak kalah pentingnya adalah kesetiaan dan bahwa orang yang akan ditetapkan itu dapat diterima oleh rakyat Tanah Perdian itu sendiri. Nampaknya segala syarat ini sudah dipenuhi, sehingga aku pun telah mengusulkan agar ketetapan dan wisuda segera dapat dilakukan.”

Dengan demikian, maka Ki Rangga pun telah membicarakan pula kepastian hari untuk melaksanakan wisuda serta segala macam perlengkapan yang harus disiapkan dalam wisuda itu.

“Jika kemudian di Tanah Perdikan ini akan diselenggarakan keramaian sebagai pernyataan syukur, itu terserah kepada angger Risang,” berkata Ki Rangga Kalokapraja kemudian.

Ketika segala sesuatunya sudah dibicarakan dengan matang, maka Ki Rangga itu berkata, “Sepekan sebelum wisuda dilakukan, aku harap angger Risang datang ke Pajang untuk mendengar keputusan terakhir dari Pajang. Seandainya ada perubahan, masih ada waktu untuk melakukannya di Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah Ki Rangga, aku akan datang sepekan sebelum pelaksanaannya. Jika wisuda itu direncanakan akan diadakan sebulan lagi, maka waktunya masih cukup luas untuk membuat rencana-rencana yang lain sehubungan dengan wisuda itu,” berkata Risang.

Dalam pada itu, setelah minum dan makan beberapa potong makanan, maka Risang menawarkan kepada Ki Rangga Kalokapraja untuk melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan Sembojan.

“Bukankah Ki Rangga bermalam disini barang semalam?” bertanya Risang.

Ki Rangga berpaling kepada pembantunya sambil bertanya, “Bagaimana? Apakah kita akan bermalam. Dengan demikian kita akan sempat melihat-lihat Tanah Perdikan ini pada saat-saat terakhir menjelang wisuda Kepala Tanah Perdikan yang baru, yang masih muda dan bekas seorang prajurit pula.”

Pembantunya hanya tersenyum saja. Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Rangga.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Baikkah. Kami akan bermalam disini.”

“Jika demikian Ki Rangga akan mendapat kesempatan untuk melihat-lihat. Baru saja kami telah membuka anak susukan yang mampu mengaliri parit-parit yang menelusuri bulak panjang di Kademangan Guntur,” berkata Risang.

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan melihat-lihat. Tetapi sudah tentu tidak perlu seluruh Tanah Perdikan.”

Demikianlah, Risang telah mengantar Ki Rangga Kalokapraja dan pembantunya turun dari pendapa. Sementara Nyi Wiradana dan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu mengantarnya kehalaman. Namun dalam pada itu, Risang telah mengajak Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk mengikutinya.

Sejenak kemudian, maka kelima orang itu telah berpacu nelintasi bulak-bulak panjang dan pendek. Menusuk padukuhan-padukuhan dan menyeberangi sungai-sungai yang tidak begitu deras airnya.

Yang pertama-tama mereka lihat adalah susukan yang baru saja dibedah untuk, mengalirkan airnya ke anak susukan bagi bulak panjang di Kademangan Guntur.

Ki Rangga Kalokapraja ternyata ikut berbangga atas keberhasilan Tanah Perdikan Sembojan meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya.

Dari susukan itu Ki Rangga telah menelusuri anak susukan sampai ke bulak daerah Kademangan Guntur, kemudian meninggalkan bulak itu untuk melihat-lihat, bagaimana orang-orang Tanah Perdikan yang tinggal di kaki pegunungan membuat lereng pegunungan itu seperti tangga yang hijau, karena tanaman diatas tanah yang bertingkat itu tumbuh dengan suburnya.

Ternyata Ki Rangga Kalokapraja yang sehari-harinya berada di kesibukan kota itu tidak jemu-jemunya melihat hijaunya tanaman di sawah dan ladang. Ki Rangga pun berkuda melewati pinggir hutan yang membujur memanjat lereng pebukitan. Meskipun panas mulai terasa membakar kulit, namun Ki Rangga masih saja berkuda melintasi bulak, kaki-kaki pebukitan, pategalan dan pinggir hutan.

Baru setelah matahari turun Ki Rangga merasa letih.

“Kita beristirahat sebentar,” berkata Ki Rangga ketika mereka berada disebuah tikungan yang dibayangi oleh rimbunnya pohon gayam yang besar.

Kelima orang itu pun kemudian berhenti dibawah pohon gayam itu. Angin yang bertiup terasa segar menyentuh kulit diteriknya panas matahari itu.

“Aku dapat tertidur disini,” berkata Ki Rangga. Risang tersenyum. Katanya, “Aku pun pernah tidur digubug di siang yang terik seperti ini. Dibawah gubug mengalir air yang jernih, sedangkan batang padi terayun-ayun oleh semilirnya angin dari pegunungan.”

“Menyenangkan sekali,” desis Ki Rangga.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang beristirahat, seseorang yang berada diatas gumuk kecil, memperhatikan mereka dengan saksama. Namun ia berusaha agar terlindung oleh semak-semak yang tidak begitu lebat.

“Siapa pula orang-orang itu?” berkata orang itu kepada diri sendiri. Ia mengenal Risang, orang yang berhak untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan. Tetapi yang lainnya orang itu belum mengenalnya.

“Nampaknya memang sulit untuk memasang kendali dihidung anak muda itu. Tetapi memang harus dicoba,” berkata orang itu kemudian.

Beberapa saat orang itu mengamati kelima orang yang beristirahat dibawah pohon gayam itu. Namun kemudian kelima orang itu pun telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu kembali ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata perjalanan keliling Tanah Perdikan itu cukup lama. Sore hari mereka baru memasuki regol halaman rumah Nyi Wiradana yang nampaknya telah lama menunggu.

Makan siang yang telah disiapkan sudah menjadi dingin, sehingga harus dipanasi kembali.

Tetapi nampaknya Ki Rangga Kalokapraja merasa senang melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan Sembojan yang semakin lama menjadi semakin maju. Kehidupan rakyatnya pun nampak menjadi semakin sejahtera pula.

Ternyata apa yang dilihatnya itu akan menjadi laporan, sehingga tidak akan ada keragu-raguan lagi mewisuda Risang menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi Tanah Perdikan itu sudah terlalu lama tidak memiliki Kepala Tanah Perdikan. Yang ada adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang dipegang oleh seorang perempuan. Namun Ki Rangga Kalokapraja pun sudah mengetahui, meskipun seorang perempuan, namun Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah seorang yang memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi, serta kepemimpinan yang berwibawa.

Malam itu, Ki Rangga Kalokapraja benar-benar telah menginap dirumah Nyi Wiradana bersama seorang pembantunya. Risang ternyata masih sempat memanggil lima orang yang memiliki kemampuan dibidang karawitan untuk sekedar memetik siter, gender, gendang dan gong dipendapa rumahnya.

Sambil mendengarkan siteran, maka Ki Rangga Kalokapraja telah berbincang-bincang panjang lebar dengan Risang dipendapa ditemani oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sangat senang mendengarkan siteran. Meskipun tidak tampil dipendapa, tetapi Bibi pun duduk mendengarkan diruang dalam. Sekali-sekali Bibi ikut bertepuk kecil mengikuti irama siter itu.

“Kenapa kau tidak pergi kependapa saja?” bertanya Nyi Wiradana, “Jika kau mau, suaramu tentu masih mampu menggetarkan pendapa.”

Bibi tertawa. Katanya, “Dilengkapi dengan saron dan bonang, maka kita sudah mendapatkan satu perangkat gamelan untuk mengadakan pertunjukan keliling. He, bukankah kau masih dapat menari.”

Iswari itu pun tersenyum pula sambil berkata, “Apakah aku akan menari saat Risang diwisuda?”

Bibi pun tertawa pula, sementara suara gamelan di pendapa menyusup dibawa angin yang lembut ke ruang dalam.

Kiai Soka yang juga senang mendengarkan siteran telah duduk pula dipendapa. Namun Nyai Soka nampaknya lebih senang duduk diruang dalam bersama Nyi Wiradana dan Bibi. Sementara Kiai Badra agak lebih cepat mengantuk, sehingga telah lebih dahulu masuk kedalam biliknya.

Lewat sedikit tengah malam, maka Risang pun telah mempersilahkan Ki Rangga Kalokapraja untuk beristirahat.

Namun sementara itu, seorang yang asing berada diantara beberapa orang yang ikut mendengarkan siteran itu dihalaman. Orang itu pun kemudian mendapat keterangan bahwa yang datang itu adalah utusan dari Pajang.

Orang itu tidak bertanya lebih lanjut. Ia masih ikut mendengarkan beberapa saat. Namun kemudian orang itu pun telah meninggalkan tempat itu.

Ternyata siteran itu sendiri berlangsung sampai menjelang fajar. Meskipun Ki Rangga dan pembantunya telah masuk kedalam biliknya di gandok kanan, namun orang-orang Sembojan sendiri masih mendengarkan siteran itu. Diantara mereka ada yang naik kependapa, tetapi ada juga yang lebih senang dihalaman.

“Kenapa tidak naik?” bertanya salah seorang pembantu rumah Nyi Wiradana.

“Aku lebih senang duduk disini. Setiap saat aku dapat pergi dan kembali lagi. Jika haus aku dapat mencari minum di belakang,” jawab orang itu sambil tertawa.

Sementara itu, pembantu rumah itu berdesis, “Jika Gandar ada, maka ia akan ikut menabuh gamelan itu.”

“Dimana Gandar?” bertanya orang yang duduk dihalaman.

Pembantu rumah itu menggeleng. Ia memang tidak tahu bahwa Gandar berada disebuah padepokan yang agak jauh untuk beberapa lama.

Demikianlah, ketika matahari terbit, Ki Rangga Kalokapraja telah selesai berbenah diri. Demikian pula pembantunya telah siap untuk menempuh perjalanan kembali ke Pajang. Sementara itu makan pagi pun telah disiapkan pula.

Sambil makan Ki Rangga sempat mengingatkan Risang agar datang sepekan sebelum wisuda dilaksanakan.

“Segala sesuatunya akan pasti. Sehari sebelum wisuda, aku akan datang lagi ke Tanah Perdikan untuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk tempat untuk menginap para pemimpin yang akan menghadiri wisuda itu,” berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Baik Ki Rangga,” jawab Risang, ”aku tidak akan dapat melupakannya.”

Dengan demikian, setelah makan pagi, maka Ki Rangga Kalokapraja dan pembantunya telah minta diri kepada Nyi Wiradana selaku Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta kepada orang-orang tua yang banyak memberikan petunjuk dan tuntunan kepada Risang.

“Terima kasih atas kesediaan Ki Rangga datang ke Tanah Perdikan ini,” berkata Nyi Wiradana.

“Bukankah aku sekedar menjalankan tugas?” desis Ki Rangga sambil tersenyum.

“Tetapi Ki Rangga tidak sekedar memerintahkan orang lain datang kemari atau sekedar memanggil kami yang ada di Tanah Perdikan,” sahut Nyi Wiradana.

“Bukankah dengan demikian aku dapat melihat langsung keadaan Tanah Perdikan ini?” berkata Ki Rangga pula.

Ketika matahari mulai memanjat naik, maka Ki Rangga dan pembantunya itu pun meninggalkan padu-kuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Ki Rangga ternyata ikut bersama keluarga Tanah Perdikan Sembojan menjadi gembira bahwa sekitar sebulan lagi akan dilakukan wisuda sehingga Tanah Perdikan itu akan memiliki seorang pemimpin yang mantap.

Kicau burung rasa-rasanya ikut menyambut kabar gembira yang dibawakan oleh Ki Rangga Kalokapraja, sedangkan kilat pantulan embun yang masih tersangkut di batang padi rasa-rasanya seperti senyum segar seisi Tanah Perdikan itu.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Angin pagi terasa sejuk mengusap wajahnya.

Dalam pada itu, sepeninggal Ki Rangga, maka Nyi Wiradana telah mengumpulkan beberapa orang pembantu dekatnya. Bersama Risang mereka membicarakan keputusan Pajang untuk menyelenggarakan wisuda itu sebulan lagi.

“Kita harus segera bersiap-siap. Waktu yang sebulan itu akan terasa sangat pendek. Kita akan menerima beberapa orang tamu dari Pajang. Selain seorang pemimpin yang akan mewakili Kangjeng Adipati, mewisuda Risang, tentu saja akan hadir beberapa orang tamu yang lain. Seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga Kalokapraja, bahwa ia akan datang sehari sebelumnya untuk mengatur penginapan para tamu itu. Karena itu, bukankah sebelumnya kita harus sudah bersiap-siap,” berkata Nyi Wiradana.

“Kita pada saatnya akan mengundang keempat orang Demang dilingkungan Tanah Perdikan ini ibu,” berkata Risang.

“Ya. Jika perlu para bekel,” sahut Nyi Wiradana.

Risang pun mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku akan menyampaikan kabar ini kepada para Demang. Para Demang itu tentu akan memperluas kabar ini kepada para Bekel. Kita semuanya memang harus membuat satu suasana khusus sehingga seisi Tanah Perdikan dapat merasakan kegembiraan ini,” berkata Risang.

“Ya. Bahkan sejak awal,” sahut Nyi Wiradana.

“Aku akan memberitahukan kepada Kasadha,” berkata Risang kemudian, “ia harus ikut bergembira bersama kita disini, karena sebenarnyalah ia memang menjadi bagian dari Tanah Perdikan ini. Bukankah ibu tidak berkeberatan?”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku setuju. Aku yakin, bahwa Kasadha sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap Tanah Perdikan ini. Apalagi kedudukannya dilingkungan keprajuritan pun memanjat dengan cepat diusia mudanya.”

Namun tiba-tiba suara Risang merendah, “Tetapi bagaimana dengan ibunya, ibu. Seandainya ibunya juga ingin melihat Tanah Perdikan ini. Mungkin ada semacam kerinduan yang tersimpan dihatinya, sehingga ia menyatakan untuk ikut bersama Kasadha datang ke Tanah Perdikan ini?”

Wajah Nyi Wiradana yang dimasa kanak-kanaknya dipanggil Iswari itu termangu-mangu sejenak. Keragu-raguan yang tajam telah mencengkam jantungnya.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung  pun berkata, “Sebaiknya hal itu tidak usah kita pikirkan sekarang. Jika kau bertemu dengan Kasadha, maka kau akan dapat menduga, apakah ibunya akan diajaknya ke Tanah Perdikan ini atau tidak.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Luka yang dalam didasar jantungnya memang sulit untuk dibersihkan bekas-bekasnya. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Kita akan memikirkannya kelak. Aku akan tunduk kepada keputusan kalian. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya tersimpan didalam hatinya. Berbeda dengan Kasadha yang sikap lahir dan batinnya aku yakini.”

Risang pun tidak membicarakannya lebih panjang. Ia tahu, bahwa ibunya baru mencari keseimbangan batin menghadapi Warsi, isteri Ki Wiradana yang hampir saja merenggut jiwanya seandainya Bibi tidak diperciki oleh terang dari Yang Maha Agung pada saat itu.

Dengan demikian, maka sejak hari itu Tanah Perdikan Sembojan menjadi sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut hari yang besar itu. Ketika Risang memberitahukan hal itu kepada keempat orang Demang dilingkungan Tanah Perdikan Sembojan, maka sambutannya benar-benar menggembirakan. Demang Banyu Urip dengan serta berkata, “Berapa ekor lembu yang akan dipotong. Biarlah Banyu Urip yang menyediakannya.”

Risang tersenyum. Katanya, “Itu masih belum kami hitung, paman. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan terima kasih.”

Ternyata Demang yang lain pun telah menawarkan apa saja yang diperlukan untuk keramaian wisuda itu. Beras, kelapa, kambing dan ayam berapapun yang dibutuhkan, para Demang akan menyiapkan.

Risang mengangguk-angguk saja. Namun sebenarnya ia merasa gembira pula, bahwa kehadirannya sebagai pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan diterima dengan senang hati oleh rakyat Tanah Perdikan itu.

Namun ketika malam kemudian tiba, maka angan-angan Risang mulai menerawang jauh kemasa-masa mendatang. Ia mulai berpikir tentang orang yang akan dapat dibawa bersama-sama memerintah Tanah Perdikan itu.

“Aku tidak akan dapat menemukan orang seperti ibuku,” berkata Risang didalam hatinya, “selain memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi, ibu cukup bijaksana dan mampu menempatkan diri. Perkawinannya yang kurang cerah membuatnya kehilangan gairah untuk berumah tangga lagi. Namun segala yang ada didalam dirinya telah dicurahkan bagi Tanah Perdikan Sembojan serta bagi anaknya, aku,” namun tiba-tiba saja ia berdesis, “Bukan. Bukan sekedar karena kekecewaan ibu dalam perkawinan yang gagal itu ibu tidak mau berumah tangga lagi, tetapi ternyata ibu memiliki kesetiaan yang seakagr-akan tidak bertepi meskipun ibu telah dikhianati.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Angan-angan-nya pun segera merambat kepada seorang gadis yang bernama Riris.

Namun tiba-tiba saja Risang berkata kepada diri sendiri, “Besok selambat-lambatnya lusa aku akan pergi ke Pajang. Kasadha harus segera mengetahui rencana wisuda ini. Ia pagi-pagi harus ikut bergembira dengan seluruh rakyat Tanah Perdikan Sembojan.”

Pagi-pagi, demikian ia bertemu dengan ibunya, maka ia pun telah mengatakan rencananya untuk pergi ke Pajang.

“Bukankah kau baru diminta datang sepekan sebelum hari wisuda?” bertanya ibunya.

“Aku akan menemui Kasadha. Bukan Ki Rangga Kalokapraja. Aku harus memberitahukan kepadanya, bahwa dalam waktu dekat wisuda itu akan diselenggarakan. Ia harus ikut bergembira bersama kita sejak rencana itu dibuat. Bukan dengan tiba-tiba. Jika aku menemuinya sepekan sebelum wisuda, maka rasa-rasanya segalanya terjadi dengan tiba-tiba. Ia tidak dapat ikut merasakan kegembiraan itu sejak awal.”

Ibunya tersenyum. Tetapi Iswari itu melihat, bahwa yang mendorong Risang untuk segera pergi ke Pajang tentu bukan hanya keinginannya menyampaikan hal itu kepada Kasadha. Tetapi tentu ada hal lain yang telah mendorongnya melakukannya. Apalagi sejak sebelum berita tentang wisuda itu didengar, Risang sudah sering minta ijin untuk pergi ke Pajang.

Karena itu, maka ibunya itu pun kemudian menjawab, “Baiklah Risang. Jika kau ingin segera memberitahukan hal ini kepada Kasadha. Pergilah.”

“Aku akan pergi besok ibu,” berkata Risang kemudian.

Ibunya mengangguk-angguk. Katanya, “Siapakah yang akan kau ajak pergi bersamamu? Atau Sambi Wulung dan Jati Wulung berdua?”

“Tidak ibu. Aku lebih senang pergi sendiri,” jawab Risang.

Ibunya masih saja tersenyum, “Terserahlah kepadamu. Tetapi sebagai seorang yang akan diwisuda, maka sebaiknya kau menjaga dirimu sebaik-baiknya agar sampai pada saat wisuda kau tidak mengalami hambatan apapun.”

“Bukankah selama ini aku sudah selalu hilir mudik ke Pajang seorang diri? Agaknya kekacauan dan ketidak pastian sudah lewat ibu. Jalan ke Pajang sudah menjadi semakin ramai. Para pedagang pun hilir mudik tanpa gangguan diperjalanan,” berkata Risang.

“Baiklah. Tetapi kau harus tetap berhati-hati,” pesan ibunya.

Hari itu justru menjadi hari yang gelisah bagi Risang. Terasa segala sesuatunya menjadi lamban. Meskipun hari itu juga diisinya dengan berlatih di sanggar bersama neneknya, namun-rasa-rasanya hari menjadi sangat panjang.

“Kau tidak dapat memusatkan perhatianmu hari ini Risang,” berkata neneknya, “Apakah kau ingin kedua kakekmu juga menungguimu? Keduanya kini sedang berada diserambi kanan. Keduanya sedang mengolah satu unsur yang pelik yang harus kau lintasi dalam latihan-latihanmu agar unsur itu dapat kau kuasai dengan baik tanpa mengganggu keadaan tubuhmu.”

Tetapi pertanyaan Risang justru aneh, “Kenapa nenek tidak ikut memecahkannya?”

“Aku sudah ikut melakukannya semalam. Yang dilakukan oleh kedua kakekmu sekarang adalah pelaksanaannya saja,” berkata Nyai Soka.

Risang mengangguk-angguk kecil. Namun neneknya itu bertanya, “Apakah ada sesuatu yang mengganggu pemusatan nalar budimu?”

“Tidak nek. Tidak,” jawab Risang.

“Kapan kau akan pergi ke Pajang?” bertanya neneknya pula.

“Besok nek,” jawab Risang.

Nyai Soka menarik nafas panjang. Ia mengerti, bahwa anak itu sedang gelisah. Agaknya ia memang ingin segera pergi ke Pajang untuk satu keperluan yang tentu bukan sekedar memberitahu Kasadha.

Tetapi Nyai Soka tidak bertanya lebih jauh. Bahkan katanya, “Baiklah. Kita tidak meneruskan latihan hari ini.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 45

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s