SST-41

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

MESKIPUN belum dikatakan, tetapi Risang telah dapat menangkap maksud Sumbaga. Sumbaga yang sakit hati itu ingin menunjukkan kepadanya, bahwa ia akan dapat mengalahkan Risang dalam olah kanuragan.

Sebenarnya Risang segan untuk melayaninya, karena Risang pun mengerti, apa sebabnya Sumbaga itu menantangnya. Ternyata Sumbaga tidak senang melihatnya berhubungan dengan Riris. Dan Risang pun menduga, bahwa hal itu disebabkan karena Sumbaga adalah anak muda sebagaimana dirinya.

Tetapi kemudaan Risang memang mendesaknya, bahwa seperti Sumbaga ia pun mempunyai harga diri. Ia tidak mau dianggap tidak berdaya menghadapi Sumbaga dan ia pun tidak mau dengan demikian kehadirannya itu semata-mata karena satu kesempatan yang diberikan oleh keluarga Ki Dipayuda. Bahkan semacam sikap belas kasihan.

Karena itu, maka Risang pun kemudian menjawab, “Baiklah Sumbaga. Aku akan pergi ke halaman belakang.”

Sumbaga tidak menunggunya. Ia pun telah melangkah mendahuluinya.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian telah masuk kembali kedalam biliknya untk berbenah diri. Ia sengaja tidak membawa senjatanya agar ia tidak lupa mempergunakannya dalam keadaan memaksa. Sebelum ia kehilangan akal dalam perkelahian yang dapat saja terjadi diluar kendali nalar, maka lebih baik ditinggalkannya saja senjatanya dibiliknya.

Baru sejenak kemudian, Risang telah menyusul Sumbaga kehalaman belakang.

Ternyata Sumbaga telah mengajaknya agak jauh ke dalam kebun yang gelap dan rimbun. Disudut kebun itu masih terdapat rumpun-rumpun bambu yang membuat malam seakan-akan menjadi semakin pekat.

Namun ternyata Sumbaga telah menyalakan sebuah oncor yang meskipun kecil, tetapi dapat membantu menerangi kebun yang gelap itu.

“Rumpun bambu itu memang dibiarkan saja oleh Ki Lurah Dipayuda, karena sewaktu-waktu kami disini memang memerlukan beberapa batang bambu untuk keperluan yang bermacam-macam,” berkata Sumbaga yang nampak tenang saja menghadapi Risang yang telah bersiap.

Risang pun mencoba untuk tetap tenang. Ia tidak mau dibakar oleh kegelisahannya menghadapi sikap Sumbaga itu.

Sesaat kemudian, maka Sumbaga itu pun berkata, “Risang. Aku tahu bahwa kau adalah bekas seorang prajurit. Aku tahu bahwa kau adalah pewaris Tanah Perdikan Sembojan. Namun kau pun harus tahu bahwa dalam olah kanuragan, aku tidak akan mau dianggap pupuk bawang. Aku ingin membuktikan bahwa aku memiliki ilmu yang lebih baik dari setiap prajurit yang mana pun dan lebih baik dari setiap pewaris Tanah Perdikan dimanapun. Kau pun tentu tahu maksudku, bahwa setelah kau yakin bahwa kau kalah dalam perkelahian ini, kau tidak akan berani datang lagi kerumah ini, karena setiap kau datang, maka aku akan memukulimu sampai pingsan. Jika tiga kali kau tidak menjadi jera, maka aku benar-benar akan membunuhmu.”

“Apakah sebenarnya sebabnya, bahwa kau tidak senang aku datang kerumah ini sementara keluarga Ki Dipayuda merasa senang akan kehadiranku?” bertanya Risang.

Ternyata Sumbaga berterus terang, “Kau tidak boleh mengunjungi Riris lagi.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika aku kalah, aku tidak akan datang lagi kemari.”

“Bukan sekedar jika kau kalah. Tetapi kau pasti akan kalah. Tetapi jangan takut, aku tidak akan membunuhmu kali ini,” desis Sumbaga.

“Kalau aku menang?” bertanya Risang.

“Kita tidak akan berbicara tentang sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi,” jawab Sumbaga, “kau tidak akan mungkin menang. Bahkan para Lurah dan Rangga yang ada didalam lingkungan keprajuritan Pajang tidak akan menang melawanku. Jangkung juga tidak. Bahkan Ki Rangga Dipayuda juga tidak,” berkata Sumbaga.

“Kau yakin?” bertanya Risang.

“Aku yakin,” jawab Sumbaga.

“Baiklah. Jika kau yakin akan menang, biarlah kenyataan nanti membuktikan. Tetapi aku tetap pada janjiku. Jika aku kalah, aku tidak akan datang lagi kerumah ini,” desis Risang.

“Itulah satu-satunya kemungkinan yang bakal terjadi,” sahut Sumbaga. Lalu katanya, “Bersiaplah. Jika kau harus kalah, kalahlah dengan agak terhormat.”

“Ya. Aku akan berusaha,” jawab Risang.

Keduanya pun segera mempersiapkan diri. Dalam keredipan lampu oncor yang tidak begitu cerah. Apalagi jika angin bertiup. Nyala oncor itu terumbang-ambing berkeredipan. Sementara daun bambu diatas mereka terdengar gemerasak diantara derit tubuhnya yang saling berdesakan.

“Bersiapalah. Aku akan mulai. Bukan salahku jika tiba-tiba saja kau menjadi pingsan,” desis Sumbaga.

“Ya. Aku sudah bersiap,” jawab Risang.

Namun sebelum mulut Risang terkatub rapat, Sumbaga telah meloncat menyerang dengan cepat sekali. Demikian cepatnya, sehingga Risang tidak sempat mengelakkan serangan itu. Tetapi karena ia cukup terlatih, maka ia pun dengan serta merta ia telah menangkis serangan kaki yang terjulur kearah dadanya itu. Dengan menyilangkan tangannya, maka Risang telah melindungi dadanya dari hentakan tumit Sumbaga.

Namun ternyata Sumbaga benar-benar memiliki kekuatan yang sangat besar. Ternyata dorongan serangan kakinya yang mengenai kedua tangannya yang menyilang didadanya, telah melemparkan anak muda itu beberapa langkah surut. Risang telah jatuh terbaring ditanah. Namun dengan cepat Risang justru berguling beberapa kali, kemudian melenting dengan cepat. Sekejap kemudian Risang Jelah berdiri tegak diatas kedua kakinya.

Sumbaga wajahnya tetap saja dingin. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Namun mulutnyalah yang berkata, “Mengakulah, bahwa kau tidak akan dapat menang. Kemudian penuhi janjimu, bahwa kau tidak akan datang lagi ke rumah ini. Kau harus menyadari, bahwa setiap kali kau melanggar janji, maka tulang-tulangmu akan retak. Jika itu terjadi sampai tiga kali, maka aku akan membunuhmu.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Tenaga Sumbaga memang besar. Tetapi itu tidak cukup untuk memaksanya menyerah dan harus memenuhi janjinya untuk tidak datang lagi kerumah itu dan bertemu dengan Riris.

Karena itu, maka Risang pun berkata, “Tenagamu memang luar biasa besarnya. Tetapi sampai saat ini aku belum kalah.”

“Jika kau memaksa diri, maka tulang-tulangmu dapat berpatahan. Ketahuilah, bahwa yang aku lakukan itu masih belum mempergunakan seluruh kekuatan tenagaku,” sahut Sumbaga.

“Tetapi bukankah aku masih berdiri tegak dihadapanmu,” jawab Risang.

Sekali lagi, dengan cepat sekali Sumbaga menyerang sebelum dengung suara Risang hilang. Namun Risang yang sudah mengalami serangan yang tiba-tiba itu, menjadi lebih berhati-hati. Karena itu, maka ketika serangan kedua itu meluncur dengan cepat dan dengan kekuatan yang lebih besar, maka Risang dengan tangkasnya bergeser menghindar.

Ternyata serangan itu tidak menyentuh sasaran. Sumbaga justru terdorong beberapa langkah. Ia mengira bahwa serangannya akan dapat mengenai dada Risang seperti serangannya yang pertama. Namun karena sasarannya bergeser, maka Sumbaga justru hampir kehilangan keseimbangan.

“Ternyata kau licik,” geram Sumbaga.

“Kenapa licik?” bertanya Risang.

“Kau tidak berani berperisai dada. Kau ternyata menghindari seranganku,” jawab Sumbaga.

”Bukankah dalam perkelahian seperti ini, menghindar adalah satu langkah yang sah?” bertanya Risang.

“Memang sah bagi seorang pengecut,” jawab Sumbaga.

“Apakah kau tidak akan menghindar atau menangkis jika aku menyerang?” bertanya Risang.

Sumbaga termangu-mangu. Tetapi ternyata ia tidak menjawab. Namun ia justru telah meloncat menyerang Risang seakan-akan tanpa ancang-ancang.

Risang sama sekali tidak menghiraukan ejekan Sumbaga. Ia sadar, serangan itu demikian kuatnya, sehingga akan dapat mengguncang pertahanannya. Karena itu, ia pun telah meloncat pula menghindari serangan itu.

Ternyata Sumbaga tidak banyak berbicara lagi. Ia justru telah memburu Risang dengan serangan-serangannya yang kemudian datang beruntun.

Risang memang berloncatan menghindari serangan-serangan itu. Bahkan kemudian mengambil jarak. Namun demikian ia mendapat kesempatan, maka Risang telah membangunkan tenaga cadangan didalam dirinya. Dengan kemampuannya membangun tenaga dalam, maka Risang akan dapat mengimbangi kekuatan Sumbaga yang sangat besar itu.

Ketika kemudian Sumbaga menyerangnya sekali lagi dengan mengayunkan kakinya berputar mendatar, maka Risang memang berniat untuk tidak menghindar. Tetapi dengan landasan tenaga cadangan didalam dirinya, ia sengaja membentur kekuatan tenaga Sumbaga yang besar itu.

Ternyata yang terjadi kemudian adalah benturan yang sangat keras. Sumbaga memang telah mengerahkan segenap kekuatan tenaganya untuk menghantam Risang. Ia bermaksud untuk mengakhiri perkelahian itu. Karena jika serangannya itu berhasil, maka Risang tentu akan terlempar beberapa langkah dan bahkan akan membentur rumpun bambu yang lebat itu. Mungkin ia akan pingsan dan Sumbaga harus menggotongnya ke gandok.

Tetapi yang terjadi ternyata sama sekali berbeda. Risang memang terdorong selangkah surut. Namun ia masih mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga Risang masih tetap berdiri tegak.

Namun Sumbagalah yang justru terpental beberapa langkah karena benturan itu. Bahkan Sumbaga tidak lagi mampu tetap berdiri tegak diatas kedua kakinya. Betapapun ia berusaha, namun ia pun kemudian telah terdorong jatuh beberapa langkah dari titik benturan.

Sumbaga mengaduh perlahan. Bukan saja kakinya yang membentur pertahanan Risang yang terasa sakit. Tetapi perasaan sakit itu seakan-akan menjalar sampai ke pusat jantungnya.

Namun sejenak kemudian Sumbaga itu pun menggeram sambil bertaka, “Risang. Ternyata kau keras kepala. Kau telah melawanku dengan sungguh-sungguh. Seharusnya kau tahu, bahwa hal seperti itu dapat memancing kemarahanku. Sedangkan jika aku benar-benar menjadi marah, kau tentu akan menyesal. Aku akan menghancurkanmu. Meskipun aku tidak membunuh-mu, tetapi kau akan dapat menjadi cacat. Karena itu selagi aku belum bersungguh-sungguh, kau harus mengaku kalah. Kau tidak akan mengalami nasib buruk sekarang. Tetapi kau harus menepati janjimu, tidak akan datang lagi kerumah ini dan seterusnya tidak akan berhubungan lagi dengan Riris.”

Risang memang menjadi agak heran mendengar kata-kata Sumbaga. Nampaknya anak itu tidak berniat menyombongkan diri. Tetapi kata-katanya terdengar aneh. Seakan-akan Sumbaga itu telah melihat apa yang akan terjadi.

“Ia terlalu banyak berangan-angan tentang kemampuan diri,” berkata Risang didalam hatinya.

Meskipun demikian, Risang merasa bahwa ia harus menjadi sangat berhati-hati. Mungkin Sumbaga memang seorang yang berilmu tinggi. Bukan sekedar dalam angan-angannya saja.

Sementara itu Sumbaga itu pun berkata, “Risang. Katakanlah bahwa kau menyerah. Kau tidak mempunyai pilihan. Kau harus mengatakan. Sekarang.”

“Sumbaga,” desis Risang yang ragu-ragu, “aku tidak tahu maksudmu. Kau sekedar ingin mendengar pengakuanku atau kita akan melihat dan membuktikan, siapa diantara kita yang lebih baik. Apakah kau merasa puas jika aku mengaku kalah tanpa memperbandingkan ilmu kita masing-masing? Apakah dengan demikian, maka diantara kita tidak masih akan selalu terdapat sebuah teka-teki, siapakah yang terbaik diantara kita?”

“Jadi kau masih tetap meragukan kelebihanku dari padamu, Risang?” bertanya Sumbaga.

Risang menjadi tidak telaten lagi. Apapun maksud Sumbaga namun darahnya yang mulai memanas didalam tubuhnya, telah memaksanya untuk bersikap lebih tegas. Karena itu, maka jawabnya, “Ya. Aku meragukan kelebihanmu. Agaknya kau hanya pandai mengancam dan menakut-nakuti orang. Tetapi kau tidak pandai mengalahkan orang lain dalam olah kanuragan.”

Seperti yang sudah terjadi, Sumbaga tidak menunggu kata-kata Risang selesai tuntas. Tiba-tiba saja ia telah meluncur menyerang Risang dengan garangnya. Kedua tangannya menerkam kearah wajah Risang dengan jari-jari terbuka.

Tetapi Risang tidak lagi lengah. Dengan cepat ia merendah, sekaligus menjulurkan kakinya menyongsong lawannya yang menerkamnya.

Sumbaga tidak mengira bahwa Risang bergerak secepat itu. Karena itu, ia terkejut melihat kaki Risang yang terjulur itu. Sumbaga berusaha menggeliat dan melindungi lambungnya dengan sikunya. Namun ia tidak lagi dapat merubah arah geraknya, sehingga sekali lagi terjadi benturan yang keras. Sekali lagi Sumbaga terlempar beberapa langkah surut dan sekali lagi Sumbaga kehilangan keseimbangannya sehingga Sumbaga itu jatuh terbanting di tanah.

Dengan cepat Sumbaga bangkit berdiri. Terdengar ia mengumpat perlahan. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Kau benar-benar tidak tahu diri.”

“Cukup,” potong Risang yang kehabisan kesabaran, “kau jangan terlalu banyak bicara. Mengancam, menakut-nakuti, merendahkan dan cara-cara yang tidak pantas untuk mempengaruhi lawanmu secara jiwani. Cara yang hanya dapat kau trapkan menghadapi para pengecut dan orang-orang yang licik. Tetapi kepadaku. Kita berkelahi dan membuktikan siapakah yang terbaik diantara kita.”

“Setan kau,” geram Sumbaga, “kau benar-benar ingin mati.”

“Tidak ada seorang yang ingin mati hanya karena ditakut-takuti dengan cara yang tidak pantas itu,” jawab Risang.

“Kau kira kau akan dapat menyelamatkan dirimu setelah kau membuat aku marah,” hati Sumbaga pun benar-benar telah terbakar.

Risang tidak menjawab lagi. Justru Risang lah yang kemudian meloncat menyerang. Dengan satu putaran kakinya telah terayun mendatar.

Sumbaga sempat melihat serangan itu. Dengan cepat ia bergeser surut untuk mengelakkan serangan kaki Risang. Namun dengan cepat pula ia membalas serangan itu dengan serangan pula.

Demikian keduanya telah lagi terlibat dalam perkelahian yang sengit. Ternyata Sumbaga memang memiliki bekal ilmu yang cukup. Ia tidak asal saja berbicara untuk menakut-nakuti Risang. Tetapi semakin lama kekuatan anak muda itu seakan-akan semakin meningkat.

Risang pun telah meningkatkan kemampuannya pula.

Tenaga dalamnya pun semakin lama menjadi semakin besar sejalan dengan pertempuran yang semakin sengit itu.

Kedua orang anak muda itu telah saling menyerang dan saling mendesak. Risang ternyata harus meningkatkan kemampuannya pula untuk mengimbangi Sumbaga yang menjadi semakin tangkas sedangkan kekuatannya menjadi bertambah-tambah.

Namun ternyata Sumbaga yang marah itu benar-benar tidak mengekang diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah menghentakkan ilmunya sampai kepuncak.

Risang terkejut. Tiba-tiba saja Sumbaga itu telah mendesaknya. Sebuah serangannya tidak dapat dielakkannya. Ketika kaki Sumbaga terjulur lurus mengarah kedadanya, Risang masih sempat meloncat kesamping. Tetapi dengan cepat, Sumbaga melenting. Tangannyalah yang kemudian terjulur lurus mengenai dada Risang. Demikian kerasnya, sehingga Risang itu terdorong beberapa langkah surut.

Risang menjadi cemas ketika ia melihat Sumbaga itu memburunya. Karena itu, maka Risang pun justru telah menjatuhkan dirinya dan berguling sekali. Ketika Sumbaga masih saja menyerangnya, maka Risang telah berguling kesamping. Dengan cepat kakinya pun telah menyapu kaki Sumbaga yang mendekatinya dan siap untuk menyerang.

Sumbaga terkejut. Tetapi serangan kaki Risang benar-benar telah melepaskan keseimbangannya, sehingga Sumbaga itu pun terjatuh.

Dengan cepat keduanya melenting berdiri.

Sumbaga mengumpat. Matanya menjadi merah menyala karena kemarahan yang bagaikan membakar jantungnya. Namun sementara itu Risang pun tidak lagi serba sedikit meningkatkan ilmunya. Ia sadar, bahwa Sumbaga memang memiliki kekuatan yang sangat besar serta kemampuan dalam olah kanuragan. Jika ia lengah maka Risang akan dapat benar-benar dihancurkan oleh anak muda itu.

Karena itu, maka Risang tidak mau terlambat. Ia tidak lagi terlalu banyak berpikir. Darahnya sudah mulai panas sementara kemudaannya mulai berbicara pada sikapnya.

Anak Tanah Perdikan Sembojan yang telah mendapat tuntunan ilmu dan dipersiapkan untuk menerima ilmu yang jarang ada duanya, Ilmu Janget Kinatelon yang disusun bersama oleh tiga orang nenek dan kakeknya yang juga guru-gurunya, telah berniat untuk mengakhiri permainan yang semakin menjemukan itu.

Demikianlah, maka Risang tidak mau lagi terdesak. Dikerahkannya kemampuannya dan kekuatan tenaga cadangan didalam dirinya. Dihadapinya Sumbaga dengan sungguh-sungguh.

Sumbaga yang juga menjadi sangat marah itu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Tetapi ia sama sekali tidak menduga, bahwa ternyata lawannya memiliki landasan ilmu yang disiapkan untuk menjadi pilar ilmu! Janget Kinatelon.

Karena itu, ketika kemudian keduanya bertempur kembali, Sumbagalah yang telah terdesak surut. Serangan Risang benar-benar diluar dugaan Sumbaga yang merasa memiliki tenaga yang sangat besar dan kemampuan ilmu yang tinggi.

Namun bagaimanapun juga Sumbaga mengerahkan tenaga dan kemampuannya, namun ia tidak lagi dapat bertahan. Risang mendesaknya terus. Serangan-serangan Risang mulai dapat mengenai tubuhnya, semakin lama semakin sering.

Sumbaga juga sekali-sekali mampu membalas. Dengan gerak yang cepat dan tiba-tiba, Sumbaga dapat menggapai tubuh Risang dengan serangan tangannya mengenai dada. Risang yang merasa dadanya menjadi sesak tidak meloncat mengambil jarak. Tetapi ia meloncat sambil berputar. Kakinya terayun mendatar langsung menyambar kening Sumbaga.

Sumbaga tidak sempat menghindar dan tidak pula menangkis serangan itu. Karena itu, maka Sumbaga pun langsung terlempar dan jatuh terbanting ditanah.

Tetapi dengan cepat Sumbaga berdiri meskipun kepalanya menjadi pening. Dalam gelapnya malam yang diterangi oleh lampu oncor yang kecil, maka Sumbaga hampir saja kehilangan penglihatannya.

Namun meskipun kabur, ia masih melihat bayangan Risang yang bergerak dengan cepat menyilang didepannya. Sumbaga meloncat surut mengambil jarak. Namun loncatan itu ternyata telah menyelamatkannya. Kaki Risang ternyata tidak mengenai dada Sumbaga yang tidak dapat melihatnya dengan jelas.

Tetapi beberapa saat kemudian, penglihatan Sumbaga pun menjadi pulih kembali. Namun kepalanya masih terasa pening, sedang keningnya masih juga terasa sakit.

Dalam pertempuran berikutnya, Risang benar-benar telah menguasai arena. Beberapa kali Sumbaga terdorong surut. Jika sekali-sekali ia dapat mengenai tubuh Risang, maka Risang seakan-akan tidak lagi tergerak oleh serangannya.

Semakin lama Sumbaga merasakan tekanan Risang menjadi semakin berat. Juga tekanan dihatinya. Ia tidak mau dikalahkan oleh anak muda itu. Ia tidak mau Risang masih juga berkunjung kerumah itu. Ia tidak mau melihat Risang bergurau dengan keluarga Ki Dipayuda apalagi dengan Riris.

Tetapi bagaimanapun juga, Sumbaga tidak dapat mengingkari kenyataan. Beberapa kali tubuhnya masih saja dikenai oleh serangan-serangan Risang. Jauh lebih sering dari yang dapat dilakukannya. Keningnya, pundaknya, lambungnya, lengannya terasa menjadi sakit. Bahkan kemudian tumit Risang pun telah singgah pula dibibirnya sehingga bibirnya pecah dan mengalirkan darah.

Meskipun darah itu tidak bersumber dari bagian dalam tubuhnya, karena hanya bibirnya sajalah yang pecah, namun ketika tangannya mengusap mulutnya, terasa cairan itu menghangat di kulitnya. Di cahaya oncor yang remang-remang, ia melihat merahnya darah di tangannya.

Kemarahan Sumbaga seakan-akan memecahkan jantungnya. Dengan geram ia berkata, “Kau benar-benar tidak tahu diri. Kau harus mati disini meskipun aku akan dihukum oleh Ki Dipayuda.”

Namun Risang tidak menunggu. Ia lah yang kemudian meloncat menyerang sebagaimana pernah dilakukan Sumbaga. Demikian tiba-tiba dan seakan-akan sebelum mulut Sumbaga terkatub.

Serangan yang sama sekali tidak diduga. Namun serangan itu benar-benar telah menghentikan perlawanan Sumbaga.

Dengan derasnya Risang telah meluncur menyerang kearah dada. Meskipun Sumbaga berusaha untuk melindungi dadanya, tetapi serangan itu demikian kerasnya sehingga Sumbaga tidak mampu bertahan tegak di tempatnya. Dengan derasnya Sumbaga terlempar surut, menghantam rumpun bambu dibelakangnya.

Terdengar keluhan tertahan. Namun kemudian dengan lemahnya Sumbaga itu terjatuh ditanah. Ketika ia menggeliat dan berusaha untuk bangkit, maka terdengar ia mengerang kesakitan. Punggungnya bagaikan telah menjadi patah.

Risang menunggu sejenak. Dibiarkannya Sumbaga menggeliat. Namun Sumbaga itu memang tidak segera bangkit berdiri.

Perlahan-lahan Risang melangkah mendekatinya. Sejenak kemudian ia pun telah berdiri tegak selangkah disebelah Sumbaga terbaring sambil mengerang.

“Apa katamu Sumbaga?” bertanya Risang kemudian.

Sumbaga berdesis menahan sakit. Katanya, “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kau tentu berkelahi dengan tidak jujur.”

“Apa yang tidak jujur?” bertanya Risang, “apa yang aku lakukan?”

Sumbaga berusaha bangkit sambil mengaduh. Risang pun kemudian telah mendekatinya dan membantunya untuk berdiri. Tetapi Sumbaga mengibaskan tangan Risang sambil berkata, “Kau jangan menghinaku lagi.”

Risang bergeser surut. Sementara Sumbaga tertatih-tatih berdiri. Ia berusaha untuk tegak betapapun punggungnya terasa sakit.

Risang berdiri saja mematung. Dibiarkannya Sumbaga mengatur pernafasannya.

Namun yang Risang kemudian menjadi heran adalah, Sumbaga itu berkata, “Risang. Kau harus menepati janjimu.”

“Janji apa?” bertanya Risang.

“Kau tidak akan menginjakkan kakimu lagi di halaman rumah ini. Kau tidak akan menemui Riris lagi,” jawab Sumbaga.

“Sumbaga, bukankah aku berjanji tidak akan datang lagi kerumah ini jika aku kalah?” desis Risang.

“Ya. Dan kau sudah kalah. Karena itu, kau tidak boleh lagi datang kerumah ini. Jika kau memaksa untuk datang, maka kau akan aku buat pingsan. Bahkan jika lebih dari tiga kali, maka kau akan aku bunuh,” geram Sumbaga.

“Bukankah aku tidak kalah?” bertanya Risang.

“Kau sudah kalah. Dan kau harus menepati janji,” jawab Sumbaga.

“Tidak. Aku tidak kalah,“ Risang mulai menjadi marah lagi.

“Kau kalah,” desis Sumbaga.

“Apa ukurannya kalah dan menang?” bertanya Risang.

“Bukankah kau harus mengakui kelebihanku. Itu adalah pertanda bahwa aku menang,” jawab Sumbaga.

Kemarahan Risang justru telah membakar jantungnya. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar mulut Sumbaga. Bibirnya yang pecah menjadi semakin sakit. Darah yang mulai pampat telah mengalir lagi dari mulutnya.

“Kau menampar aku?” bertanya Sumbaga.

“Jangan katakan aku kalah,” bentak Risang.

“Kau telah berusaha membangunkan orang-orang yang tidur nyenyak dengan teriakan-teriakanmu itu. Tetapi jangan harap. Jaraknya cukup jauh. Kebun ini terlalu luas. Bukankah kau dengar suara angin dan kau lihat arah angin bertiup? Kau tidak akan berhasil membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak didalam rumah Ki Dipayuda dengan bentakan-bentakanmu itu,” berkata Sumbaga.

Kesabaran Risang benar-benar telah habis. Ia pun kemudian meloncat sambil menerkam leher Sumbaga. Dengan geram ia berkata, “Katakan, siapa yang menang dan siapa yang kalah sekarang ini.”

“Kau kalah Risang,” jawab Sumbaga.

Risang tidak dapat mengendalikan diri lagi, tiba-tiba saja ia memilin tangan Sumbaga dan dengan tangan yang lain menarik rambutnya sambil berkata,”jawab, siapa yang menang dan siapa yang kalah.”

“Risang. Jangan.” keluh Sumbaga.

Tetapi Risang memilin semakin keras sambil bertanya, “Katakan, siapa yang menang dan siapa yang kalah.”

“Jangan Risang. Tanganku dapat patah,” minta Sumbaga.

“Sebut dahulu, siapa yang menang he?” Risang justru memperkeras pilinannya.

Sumbaga masih saja mengaduh kesakitan. Sementara Risang benar-benar kehilangan kesabaran. Bahkan darahnya serasa menjadi mendidih menghadapi sikap Sumbaga.

Namun kemudian setelah tidak dapat menahan sakit, Sumbaga itu berkata, “Ya. Kau, kaulah yang menang.”

Risang masih memegang tangan Sumbaga. katanya, “Jika aku kalah, aku tidak akan datang kerumah ini lagi. Tetapi jika kau yang kalah, kau mau apa?”

Untuk sesaat Sumbaga masih berdiam diri, sehingga Risang menekan tangannya lebih keras lagi.

“Jangan,” desis Sumbaga.

“Tanganmu memang harus dipatahkan,” geram Risang. Lalu, “atau kau jawab, apa yang akan kau lakukan jika kau kalah.”

Sumbaga memang terpaksa menjawab, “Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan tangan Sumbaga itu dilepaskan. Tetapi Risang tetap berhati-hati, karena sifat Sumbaga yang aneh itu. Ia akan dapat berbuat sesuatu diluar dugaan. Sejenak kemudian, maka didorongnya Sumbaga beberapa langkah maju, sehingga ia tidak akan sempat berbuat sesuatu dengan tiba-tiba.

Tetapi Sumbaga memang tidak berbuat sesuatu. Ia masih saja terhuyung-huyung. Punggungnya masih terasa sakit. Demikian pula tangannya yang baru saja dipilin oleh Risang. Bahkan lehernya, karena Risang yang marah itu telah menarik rambutnya.

“Persoalan kita sudah selesai sampai sekian,” geram Risang. Meskipun darahnya masih terasa panas, namun ia masih mempergunakan penalarannya. Apalagi ia tahu bahwa bagaimanapun juga Sumbaga masih mempunyai hubungan keluarga dengan Ki Dipayuda.

Demikianlah, tanpa berbicara lagi Risang telah meninggalkan Sumbaga yang termangu-mangu dibawah rumpun bambu yang lebat dikebun belakang yang luas. Cahaya oncor yang tidak terlalu terang itu menggapai-gapai disentuh angin malam yang lembut. Sedangkan gemeresak daun bambu terdengar menyusuri rumpun-rumpun yang rimbun.

Sumbaga berjalan tertatih-tatih meninggalkan rumpun bambu setelah memadamkan oncor. Tubuhnya yang letih menyusup diantara pepohonan, langsung menuju ke biliknya. Sementara Risang masih sempat mencuci tangan dan kakinya di pakiwan.

Di pembaringan, Sumbaga masih saja mengerang kesakitan. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak. Bibirnya terasa pedih meskipun sudah tidak berdarah lagi. Tangannya yang dipilin Risang seakan-akan tidak segera mau pulih kembali.

“Ternyata Pewaris Tanah Perdikan Sembojan itu memiliki kemampuan yang tinggi. Jauh lebih tinggi dari kemampuan prajurit kebanyakan,” desis Sumbaga.

Dengan demikian, maka semalam suntuk ia tidak dapat tidur sama sekali. Tubuhnya seolah-olah tidak lagi dapat digerakkannya. Setiap kali ia bergeser, maka ia pun telah berdesah kesakitan.

Menjelang pagi, terasa udara yang segar mengusap kulitnya. Meskipun menjadi lebih baik, tetapi tulang-tulangnya masih saja terasa sakit.

Tetapi menjelang fajar, Sumbaga telah bangun. Sambil menyeret kakinya, ia pergi ke pakiwan. Ketika tubuhnya tersiram air, maka terasa pedih dibeberapa tempat termasuk di punggungnya. Agaknya kulitnya pun telah tergores ruas batang bambu, ranting-rantingnya dan bebatuan ditanah ketika ia beberapa kali jatuh berguling.

Namun dinginnya air terasa membuat tubuhnya menjadi segar.

Setelah mandi, maka Sumbaga telah pergi ke kebun belakang untuk membenahi bekas perkelahiannya melawan Risang. Kemudian ia harus melakukan pekerjaannya sehari-hari.

Ketika ia terpaksa menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan, masih juga terdengar beberapa kali ia mengeluh. Namun tiba-tiba saja terdengar suara dibelakangnya, “Biarlah aku saja yang mengisi pakiwan.”

Sumbaga menoleh. Dilihatnya Risang berdiri dengan tegar. Ia tidak nampak letih sama sekali. Apalagi kesakitan.

Sebelum Sumbaga menjawab, maka Risang telah menggapai senggot timba ditangan Sumbaga. Dan kemudian, Risang lah yang menimba air untuk mengisi jam-bangan di pakiwan. Jambangan yang cukup besar. Sementara Sumbaga telah pergi ke halaman depan sambil membawa sapu lidi yang bertangkai panjang.

Ketika kemudian pagi mendatang, seisi rumah itu pun telah terbangun pula. Masih terdengar suara sapu lidi dihalaman. Tetapi masih terdengar pula suara senggot timba berderit. Ternyata Risang telah mengisi jambangan itu sekali lagi setelah ia sendiri mandi, sehingga jambangan itu menjadi penuh kembali.

Api pun telah menyala didapur. Riris yang mengambil air disumur tersenyum melihat Risang mengisi jambangan setelah mandi.

“Kau bangun pagi-pagi sekali,” berkata Riris.

“Bukankah sudah menjadi kebiasaanku,” jawab Risang, “dirumah, dibarak ketika aku masih menjadi prajurit dan dimana saja.”

Riris tersenyum. Ia pun kemudian mengangkat kelentingnya dan diletakkannya dilambung. Air memang memercik membasahi ujung bajunya. Namun Riris tidak menghiraukannya. Apalagi pekerjaan itu telah dilakukannya sehari-hari.

Ketika matahari naik, Riris yang melihat Sumbaga di depan pintu dapur terkejut. Ia melihat memar diwajah Sumbaga. Bibirnya sedikit bengkak. Jalannya agak terbongkok-bongkok.

“Kakang Sumbaga. Kau kena apa?” Riris menjadi cemas. Didekatinya anak muda itu. Sambil mengusap memar di kening Riris bertanya sekali lagi, “Kenapa kakang?”

Sumbaga termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku semalam terjatuh Riris.”

“Terjatuh dimana?” desak Riris.

“Di sumur. Aku jatuh terlentang. Namun ketika aku menggeliat, wajahku terantuk batu tlundak pakiwan. Bibirku pecah dan keningku menjadi memar,” jawab Sumbaga.

Riris melihat keragu-raguan diwajah Sumbaga. Tetapi sebelum Riris bertanya lebih lanjut, Sumbaga sudah melangkah pergi.

Riris memandangi anak muda itu dengan beberapa pertanyaan dihatinya. Tetapi ia tidak menghentikan Sumbaga. Gadis itu ingin mengatakannya kepada kakaknya Jangkung. Karena itu, maka Riris pun segera mencari Jangkung yang ternyata telati sibuk dengan kuda-kudanya digedogan.

“Kakang,” berkata Riris, “kenapa dengan kakang Sumbaga?”

“Kenapa?” bertanya Jangkung.

“Wajahnya memar dan bibirnya bengkak. Nampaknya punggungnya juga sakit.”

Jangkung mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Nanti aku temui Sumbaga. Tetapi apakah kau tidak bertanya, kenapa wajahnya menjadi memar?”

“Aku sudah bertanya. Katanya ia terjatuh di sumur,” jawab Riris.

Jangkung mengangguk-angguk. Namun ia masih akan menyelesaikan kuda-kudanya lebih dahulu.

Ketika kemudian Jangkung bertemu dengan Sumbaga di halaman samping, maka Jangkung pun bertanya tentang memar diwajahnya serta bibirnya yang bengkak. Namun jawabnya sebagaimana dikatakannya kepada Riris. Bahwa ia jatuh dipakiwan.

Jangkung memang curiga bahwa telah terjadi perselisihan dengan Risang. Karena itu, maka ia pun segera menemui Risang, yang ternyata duduk di serambi gandok. Bahkan Riris sedang menghidangkan minuman hangat bagi anak muda itu. Meskipun sebenarnya Riris pun ingin melihat, apakah ada tanda-tanda pada Risang sebagaimana dilihatnya pada Sumbaga. Ketika ia melihat Risang berada disumur mengisi jambangan, ia tidak begitu memperhatikan keadaan anak muda itu.

Namun ternyata Risang tidak menunjukkan tanda-tanda apapun sebagaimana yang ada pada Sumbaga. Bahkan sikapnya, kata-katanya dan kulitnya nampak biasa-biasa saja sebagaimana saat ia datang.

Jangkung pun kemudian duduk pula bersama Risang di serambi. Beberapa kali Jangkung berusaha memancing keterangan Risang yang ada hubungannya dengan Sumbaga, tetapi sama sekali tidak ada pernyataan apapun juga dari padanya.

Bahkan ketika Jangkung mengatakan bahwa Sumbaga terjatuh di sumur, Risang nampak terkejut.

“Kapan ia jatuh? Pagi tadi aku berada disumur. Aku memang melihat Sumbaga. Tetapi ia pergi membawa sapu lidi bertangkai panjang,” jawab Risang.

“Mungkin ia jatuh sebelum aku datang,” jawab Jangkung.

“Mungkin. Karena ternyata pakiwan telah terisi hampir penuh,” sahut Risang.

Jangkung mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Keadaan Sumbaga jauh lebih buruk dari seorang yang tergelincir dan jatuh dipelataran sumur meskipun pelataran itu dibuat dari batu.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Jatuh dengan punggung dan tengkuk membentur batu keadaannya akan menjadi sangat buruk. Mungkin ia menjadi pening dan muntah-muntah.”

“Tidak,” jawab Jangkung, “kakang Sumbaga tidak menjadi muntah-muntah. Nampaknya tidak pula pening. Namun badannya nampaknya sakit dari ujung kaki sampai keujung rambut. Bahkan bibirnya nampak bengkak.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia memang terlalu banyak menyakiti anak muda itu. Untunglah tangan Sumbaga tidak dipatahkannya. Tetapi Risang merasa dirinya seakan-akan dipermainkan oleh Sumbaga.

Beberapa saat lamanya Jangkung menemui Risang minum diserambi. Namun Risang pun kemudian berkata, “Hari ini aku akan melanjutkan perjalanan.”

“Baik. Tetapi nanti. Sesudah ibu memberikan isyarat. Besok jika kau kembali ke Sembojan, kau harus singgah dan bermalam semalam lagi. Di Pajang kau harus menemui ayah yang terpaksa melakukan tugas keprajuritan untuk beberapa lama lagi dimasa peralihan ini,” berkata Jangkung.

Risang tahu maksud Jangkung. Ia harus menunggu makan pagi yang disiapkan oleh Nyi Rangga Dipayuda. Karena itu, maka sambil tersenyum Risang menjawab, “Aku akan menunggu isyarat itu. Bukankah isyarat itu penting bagiku.”

Jangkung pun tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan minta agar ibu mempercepat persiapannya.”

“Tidak. Kau tidak perlu mendesaknya. Aku tidak tergesa-gesa. Aku masih mempunyai banyak waktu. Bukankah jarak perjalananku tidak panjang lagi?” desis Risang.

Jangkung mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya, “Minumlah. Minumanmu itu nanti menjadi dingin.”

Jangkung meninggalkan Risang seorang diri duduk diserambi. Sekali-sekali diteguknya minuman panas yang dihidangkan oleh Riris. Namun kemudian Risang pun telah membenahi dirinya di dalam bilik di gandok itu. Jika saatnya tiba, maka ia pun akan segera meninggalkan rumah Ki Dipayuda untuk meneruskan perjalanan ke Pajang, menghadap Ki Rangga Kalokapraja.

Beberapa saat kemudian, maka Risang pun telah dipanggil untuk masuk keruang dalam. Jangkung dan Riris ternyata sudah menunggunya. Diruang dalam telah dihidangkan makan pagi buat Risang dan beberapa orang yang akan menemaninya makan.

“Dimana kakang Sumbaga?” bertanya Jangkung kepada Riris.

“Kakang Sumbaga tidak mau. Ia tidak terbiasa makan bersama-sama,” jawab Riris.

Jangkung tertawa. Katanya, “Aku pun tidak terbiasa makan dengan cara yang terlalu tertib. Aku biasa makan didapur. Mengambil nasi di bakul dan sayur langsung dari kuali.”

Ibunya menggamitnya sambil berdesis, “Ah kau. Ayahmu tidak mengajarmu makan dengan cara itu.”

Jangkung tersenyum. Ia tidak membantah. Persoalannya sudah menyentuh martabat ayahnya.

Demikianlah maka mereka pun telah makan pagi. Namun karena ada seorang tamu yang mereka hormati, maka hidangannya agak berlebih dibanding dengan kebiasaan mereka sehari-hari.

Sambil makan pagi, maka Risang pun telah menceri-terakan rencana perjalanannya. Ia akan pergi ke Pajang untuk menemui Ki Rangga Kalokapraja.

Ketika matahari mulai naik dan panasnya terasa menggatali kulit, Risang telah meneruskan perjalanannya menuju ke Pajang. Keluarga Ki Dipayuda telah melepas mereka sampai keregol halamannya, termasuk Riris dan Jangkung.

Sumbaga berdiri di seketeng sambil memandangi Riris yang masih saja melambaikan tangannya. Namun ia tidak dapat mengabaikan kenyataan, bahwa ia tidak lebih baik dari Risang.

Bahkan ternyata dalam olah kanuragan pun, ia tidak dapat mengimbangi kemampuan pewaris Tanah Perdikan Sembojan itu.

Dalam pada itu, maka Risang pun telah memacu kudanya langsung menuju ke Pajang. Jaraknya memang tidak terlalu jauh lagi.

Ternyata Risang tidak banyak menemui kesulitan untuk mencari rumah Ki Rangga Kalokapraja. Apalagi Risang telah banyak mengenali jalan-jalan di Kotaraja. Sehingga seakan-akan ia dapat langsung menemukan rumah itu.

Rumah Ki Rangga Kalokapraja bukan sebuah rumah yang besar dan mewah. Meskipun nampak bersih dan terawat, namun rumah itu tidak menunjukkan rumah seorang yang berlebihan.

Tetapi ketika Risang sampai kerumah itu, ternyata Ki Rangga tidak sedang ada dirumah. Ia sedang melakukan kewajibannya. Tetapi seorang yang ada dirumah itu mengatakan bahwa Ki Rangga tidak sedang bepergian jauh.

“Nanti, lewat tengah hari Ki Rangga tentu kembali,” berkata orang itu.

Risang mengangguk-angguk.

“Silahkan naik kependapa jika Ki Sanak ingin menunggu,” orang itu mempersilahkan.

Tetapi Risang pun kemudian berkata, “Sebaiknya aku keluar saja dahulu. Nanti aku akan kembali lewat tengah hari.”

Dengan demikian Risang dapat memanfaatkan waktunya untuk melihat-lihat keadaan kota Pajang setelah untuk beberapa lama ia tidak melihatnya.

Bahkan kemudian Risang sempat singgah disebuah kedai yang cukup besar. Ditambatkannya kudanya di sebelah kedai itu bersama-sama dengan beberapa ekor kuda yang lain.

Sambil menunggu, Risang sempat memperhatikan orang-orang yang berada didalam kedai itu. Namun tidak ada diantara mereka yang menarik perhatiannya.

Karena itu, ketika minumannya telah dihidangkan, sambil memandangi asap yang mengepul dari mangkuknya, Risang sempat mengenang apa yang telah terjadi dirumah Ki Rangga Dipayuda.

Terbayang wajah Sumbaga yang gelap. Wajah seorang anak muda yang kecewa. Risang pun menyadari bahwa agaknya Sumbaga sebagai seorang anak muda telah menaruh hati kepada Riris.Meskipun diantara mereka masih ada hubungan keluarga namun nampaknya sudah tidak begitu rapat lagi.

Namun tiba-tiba ketika asap itu mengepul semakin banyak, yang nampak bukan lagi wajah Sumbaga. Tetapi wajah Kasadha.

Jantung Risang berdesir cepat. Tiba-tiba saja Risang membayangkan, apa yang akan dilakukan jika yang berdiri di tempat Sumbaga itu adalah Kasadha.

Menurut perasaan Risang, agaknya Kasadha juga menaruh perhatian terhadap Riris.

“Jika saja Kasadha ingin mendesak aku dari halaman rumah Ki Rangga Dipayuda, apa yang harus aku lakukan?” pertanyaan itu tiba-tiba telah menggetarkan jantungnya.

Risang terkejut ketika pelayan kedai itu bertanya kepadanya, “Apakah anak muda akan makan?”

Tanpa berpikir panjang Risang mengangguk sambil menjawab, “Ya. Bukankah matahari telah dipuncak?”

Pelayan kedai itu tersenyum. Katanya, “Sudah pantas untuk makan siang. Matahari telah melewati puncaknya. Lihat saja bayangannya.”

Risang memang memandang keluar. Dan ia percaya bahwa matahari telah mulai turun.

Tetapi Risang sudah terlanjur memesan makan. Karena itu ia memang harus menunggu. Apalagi ia tidak ingin mengganggu Ki Rangga yang demikian pulang dari lugasnya, tentu masih akan beristirahat sejenak, minum dan bahkan juga makan siang.

Namun dalam pada itu, setiap kali telah tumbuh pertanyaan dihatinya. Apa yang akan dilakukannya jika ia harus berhadapan dengan Kasadha dalam persoalan Riris?

“Ah,“ Risang menarik nafas dalam-dalam, “kenapa aku menjadi gelisah? Seandainya Kasadha tidak menjadi penghambat, apakah Riris menaruh perhatian terhadapku.”

Sambil menghirup minuman hangatnya Risang mengangkat wajahnya. Ia melihat dua orang memasuki kedai itu dan duduk disudut. Namun Risang tidak menghiraukannya lagi. Ia kembali merenungi keadaannya yang gelisah.

Sejenak kemudian, maka pelayan kedai itu pun telah menghidangkan makan yang dipesan oleh Risang. Nasi rames dengan dendeng ragi dan sambal goreng yang merah oleh cabai rawit. Risang bukan termasuk orang yang senang makan pedas. Tetapi ia pun tidak menolaknya meskipun harus menyisihkan potongan-potongan cabai rawit itu.

Tetapi selagi Risang sibuk dengan hidangan makannya, ia terkejut mendengar seseorang yang menjadi marah. Katanya, “Kenapa kau berikan nasi itu kepada anak itu? Bukankah aku juga memesannya.”

Pelayan itu memang menjadi heran akan sikap orang itu. Karena itu maka ia pun menjelaskan, “Anak muda itu telah memesan lebih dahulu.”

Ternyata orang itu masih berdiri diluar pintu kedai. Tetapi ia menjawab dengan lantang, “Tidak. Aku memesan lebih dahulu.”

“Ki Sanak,” berkata pelayan itu, “silahkan masuk. Duduklah. Dan silahkan memesan apa saja yang ada dan yang dapat kami sediakan.”

Risang pun termangu-mangu. Ia menunggu orang yang ada diluar pintu itu melangkah masuk untuk dapat melihat dengan jelas.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka orang itu pun melangkah masuk. Masih semuda Risang.

“Kasadha,” tiba-tiba saja Risang berdiri.

Kasadha tertawa. Sambil melangkah mendekatinya ia bertanya, “Sepagi ini kau sudah ada disini.”

Ketika keduanya kemudian duduk sambil tertawa, maka pelayan kedai itu pun bergeremang, “Gurau yang mendebarkan.”

Orang-orang lain yang ada di kedai itu pun tersenyum melihat tingkah laku kedua orang anak muda yang nampaknya bersahabat tetapi sudah lama tidak bertemu.

Kasadha memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan. Ia keluar untuk membeli sesuatu diluar baraknya.

Sementara itu Risang pun menjawab, “Bukankah matahari telah melewati ujung langit? Bukankah tidak dapat disebut pagi lagi sekarang ini?”

“Ya. Memang sudah siang. Sudah pantas untuk makan,” jawab Kasadha yang kemudian memanggil pelayan kedai itu dan memesan pula nasi rames seperti yang dipesan Risang.

“Nasimu dibarak tidak ada yang makan nanti,” desis Risang.

“Kau kira aku merasa kenyang dengan nasi semangkuk itu?” sahut Kasadha, “Kau tahu bagaimana aku makan. Karena itu, rangsumku dibarak juga akan aku makan habis nanti.”

Keduanya tertawa. Sementara Risang bertanya, “Kenapa kau berkeliaran diluar barak?”

“Mumpung ada waktu. Aku ingin membeli ikat pinggang kulit yang lebih baik. Ikat pinggangku sudah rusak,” jawab Kasadha.

“Bukankah kau mendapat ikat pinggang keprajuritan yang cukup baik sebagaimana aku pernah menerima dahulu?” bertanya Risang.

“Tetapi kurang mapan untuk dikenakan selagi aku berpakaian seperti ini,” jawab Kasadha.

Pembicaraan mereka terhenti ketika pelayan kedai itu menyuguhkan makan rames yang dipesan oleh Kasadha. Namun kemudian sambil makan keduanya telah berbicara hilir mudik mengenai soal yang bermacam-macam.

Namun tiba-tiba saja Kasadha bertanya, “He, apakah kau mempunyai keperluan penting di Pajang, atau sekedar ingin melihat-lihat? Atau kau memang mencari aku? Bukankah aku sudah tidak mempunyai hutang?”

Keduanya tertawa sehingga orang-orang yang ada di kedai itu berpaling kepada mereka. Tetapi ternyata orang-orang itu ikut tersenyum melihat wajah-wajah cerah kedua orang anak muda itu.

“Aku sebenarnya ingin menghadap Ki Rangga Kalokapraja,” jawab Risang.

“Ki Rangga Kalokapraja,” Kasadha mengingat-ingat, “aku pernah mendengar namanya.”

“Aku sudah sampai kerumahnya. Tetapi Ki Rangga sedang bertugas. Karena itu, aku singgah dahulu di kedai ini. Jika nanti dirumah Ki Rangga aku tidak sempat dijamu makan, maka aku tidak akan kelaparan,” sahut Risang.

Keduanya telah tertawa lagi.

Demikianlah ketika keduanya telah selesai makan, maka Kasadha berkata, “Datanglah ke barak. Ki Rangga Dipayuda kini telah diangkat menjadi salah seorang perwira yang ikut memimpin barakku.”

“Aku akan datang nanti setelah aku bertemu dengan Ki Rangga Kalokapraja,” berkata Risang.

Bahkan Risang pun kemudian telah bangkit berdiri dan mendekati pelayan kedai itu sambil bertanya, berapa ia harus membayar bagi dirinya sendiri dan Kasadha.

Tetapi ketika pelayan itu menyebut sejumlah uang sementara Risang sedang membuka kantong ikat pinggangnya, ternyata Kasadha telah mendahuluinya, memberikan uang seharga makanan dan minuman mereka berdua.

“O,” Risang mengerutkan dahinya, “kau membayarnya?”

“Aku tuan rumah disini,” jawab Kasadha, “sepantasnya akulah yang membayarnya.”

“Aku datang lebih dahulu,” berkata Risang.

“Tetapi kau anak Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kasadha.

Risang hanya dapat tertawa saja. Tetapi ia tidak mendesak Kasadha. Ia tahu, bahwa Kasadha merasa lebih berkewajiban untuk membayar, karena ia tinggal di Pajang.

Dengan demikian, maka keduanya pun telah meninggalkan kedai itu. Risang telah berjanji untuk singgah dibarak dan bertemu dengan Kasadha dan Ki Rangga Dipayuda, setelah ia menemui Ki Rangga Kalokapraja, sedangkan Kasadha langsung kembali ke baraknya.

Sejenak kemudian Risang telah menyusuri jalan-jalan kota diatas punggung kudanya yang berjalan tidak terlalu cepat. Ia pun langsung menuju kerumah Ki Rangga Kalokapraja. Menurut dugaan Risang, Ki Rangga tentu sudah pulang. Atau jika ia masih harus menunggu, tentu tidak akan terlalu lama lagi.

Beberapa saat kemudian, maka kuda Risang telah memasuki jalan yang menuju kerumah Ki Rangga Kalokapraja.

Ketika Risang sampai ke rumah K? Rangga, ternyata Ki Rangga memang telah berada dirumah. Bahkan nampaknya telah berganti pakaian dan duduk-duduk di serambi samping.

Demikian Risang datang, maka ia pun langsung dipersilahkan naik ke serambi samping.

“Marilah. Duduklah Risang,” Ki Rangga pun telah mempersilahkannya.

Risang pun kemudian duduk diserambi itu pula. Dengan ramah Ki Rangga Kalokapraja telah bertanya tentang keselamatan dan keadaan Tanah Perdikan Sembojan.

“Semuanya dalam keadaan baik Ki Rangga,” jawab Risang.

“Sokurlah. Mudah-mudahan untuk seterusnya keadaan Tanah Perdikan itu semakin baik,” desis Ki Rangga.

“Terima kasih Ki Rangga,” sahut Risang.

Ki Rangga pun kemudian telah mempertanyakan kepentingan Risang datang.

“Aku memenuhi perintah Ki Rangga. Aku telah membawa laporan terperinci dari Tanah Perdikan Sembojan. Laporan tentang keadaan yang ada sekarang. Sedikit sejarahnya dan rencana-rencana masa mendatang dengan beberapa harapan dan permohonan,” berkata Risang.

Ki Rangga mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Aku memang mengharapkannya. Mudah-mudahan dalam waktu singkat segala sesuatu mengenai Tanah Perdikan Sembojan telah dapat aku selesaikan.”

Risang pun kemudian telah menyerahkan seberkas laporan tentang Tanah Perdikannya yang akan dilihat dan diselesaikan persoalannya oleh Ki Rangga Kalokapraja.

“Baiklah,” berkata Ki Rangga Kalokapraja, “aku terima berkas ini. Aku akan segera mempelajarinya dan menyelesaikannya.”

“Terima kasih Ki Rangga,” desis Risang berulang kali.

Sementara itu Ki Rangga juga mempertanyakan kemungkinan-kemungkinan mendatang bagi Tanah Perdikan Sembojan serta perkembangan para penghuninya

Namun kemudian Ki Rangga itu pun bertanya, “Apakah kau akan bermalam disini?”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku masih ingin menjenguk Ki Rangga Dipayuda serta saudaraku Lurah Kasadha.”

“Ki Rangga Dipayuda yang beberapa saat yang lalu telah mengundurkan diri dan kemudian dipanggil kembali ke lingkungan keprajuritan?” bertanya Ki Rangga Kalokapraja.

“Ya Ki Rangga,” jawab Risang.

“Apakah kau masih mempunyai hubungan keluarga dengan Ki Rangga Dipayuda?”

“Tidak Ki Rangga. Tetapi Ki Rangga Dipayuda pernah menjadi pimpinanku dalam tatanan keprajuritan ketika aku masih menjadi seorang prajurit. Bagiku ia seorang pemimpin yang baik,” berkata Risang.

Ki Rangga Kalokapraja mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Aku mengenal Ki Rangga. Bahkan sejak masih menjadi Lurah dan kemudian mengundurkan diri. Setelah ia menjadi Rangga maka aku telah beberapa kali bertemu.”

“Ki Rangga Dipayuda bahkan telah menganggap aku sebagai anaknya sendiri,” berkata Risang kemudian. Lalu katanya, “Karena itu aku ingin menemuinya. Mungkin bermalam di barak itu pula.”

Ki Rangga Kalokapraja mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi jika kau menemui kesulitan bermalam di barak itu, maka kembalilah kemari. Disini kau dapat bermalam digandok yang kanan atau yang kiri.”

Risang tersenyum. Sambil mengangguk hormat ia berkata, “Terima kasih, Ki Rangga.”

Namun dengan demikian, setelah segala kepentingannya selesai, Risang pun telah minta diri untuk mengunjungi Kasadha dan Ki Rangga Dipayuda.

Ketika matahari turun semakin rendah, maka Risang pun telah meninggalkan rumah Ki Rangga Kalokapraja. Kudanya berlari tidak begitu cepat menyusuri jalan kota menuju ke barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda.

Ternyata Risang tidak mengalami kesulitan ketika ia menemui petugas di gerbang halaman barak dan mohon untuk diperkenankan menemui Kasadha.

“Ki Lurah Kasadha,” desis prajurit yang bertugas.

“Ya,” jawab Risang.

Prajurit yang bertugas itu bahkan telah menunjukkan dimana Risang dapat menemui Kasadha.

Kasadha menerima Risang dengan gembira. Ditambatkannya kudanya disudut halaman barak. Sambil beristirahat kudanya sempat makan rerumputan hijau yang tumbuh di sudut halaman barak itu, sementara Risang di, bawa oleh Kasadha menemui Ki Rangga Dipayuda.

Ternyata masih ada beberapa orang prajurit yang mengenal Risang sebagai Barata. Seorang pemimpin kelompok yang disegani sebagaimana Kasadha. Bahkan para prajurit hampir tidak dapat membedakan antara Kasadha dan Barata.

Kedua-duanya kecuali mirip, mereka memang memiliki kelebihan dari para prajurit dan bahkan para pemimpin kelompok yang lain. Karena itu, maka sudah sepantasnya bahwa Kasadha telah ditunjuk menjadi Lurah prajurit.

“Seandainya waktu itu Barata masih ada, maka tentu akan sulit menunjuk, apakah Barata atau Kasadha yang pantas menjadi Lurah,” berkata para prajurit yang mengenal kedua-duanya.

Karena itulah, maka kedatangan Barata pun telah mendapat sambutan dari beberapa orang yang telah pernah mengenalnya. Mereka mengerumuni Barata untuk menyapa dan mengucapkan selamat datang setelah lama mereka tidak bertemu.

Baru sejenak kemudian, maka Barata telah diajak Kasadha menemui Ki Rangga Dipayuda.

Ki Rangga Dipayuda pun menyambut kedatangan Barata dengan gembira. Seperti Kasadha, maka Barata bagi Ki Rangga adalah seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya. Bukan saja kemampuan dan ilmunya, tetapi juga kepribadiannya.

Untuk beberapa lama, maka Ki Rangga Dipayuda telah berbincang dengan Barata dan Kasadha. Setiap kali terdengar mereka tertawa gembira. Banyak hal yang dapat mereka kenang. Saat-saat yang paling getir pun telah membuat mereka tertawa, betapapun asamnya.

Pembicaraan mereka terhenti sejenak, ketika seseorang memasuki bilik itu. Ternyata Ki Rangga Prangwiryawan. Sambil mengerutkan keningnya, ia mandang orang-orang yang ada didalam biliknya.

“Kenalkan Ki Rangga,” berkata Ki Rangga Dipayuda, “anak muda ini adalah Barata. Dahulu, ketika aku menjadi Lurah Penatus, anak muda ini menjadi salah seorang pemimpin kelompok sebagaimana Kasadha.”

“O,” Ki Rangga Prangwiryawan mengangguk kecil ketika Barata mengangguk hormat kepadanya.

“Sekarang kau dimana anak muda?” bertanya Ki Rangga Prangwiryawan.

“Aku pulang ke kampung halaman Ki Rangga,” jawab Risang.

“Apakah kau lebih senang menjadi seorang petani daripada menjadi seorang prajurit?” bertanya Ki Rangga Prangwiryawan.

Barata termangu-mangu sejenak. Namun ia pun menjawab, “Bagiku sama saja Ki Rangga. Tetapi di rumah aku harus menunggui ibuku.”

“O,” Ki Rangga mengangguk kecil, “dimana ayahmu?”

“Ayahku sudah meninggal,” jawab Barata.

Ki Rangga Prangwiryawan tidak bertanya lebih banyak lagi. Tetapi ia pun kemudian telah melangkah keluar dari bilik itu.

Ki Rangga Dipayuda tersenyum ketika ia melihat Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah ia masih memperhatikanmu?” bertanya Ki Rangga Dipayuda.

“Ya Ki Rangga. Bahkan semakin hari seakan-akan menjadi semakin menjadi-jadi,” jawab Kasadha,” Ki Lurah Lenggana nampaknya sering mengipasi perasaan Ki Rangga Prangwiryawan. Sementara itu Ki Lurah Lenggana sendiri masih diliputi oleh perasaan yang kekanak-kanakan. Ia ingin disebut Lurah terbaik didalam barak ini. Padahal tidak seorang pun yang berniat menyainginya. Mungkin Ki Lurah Bantardi. Tetapi keduanya seakan-akan telah dikendalikan oleh Ki Rangga Prangwiryawan.”

“Tetapi menurut pendapatku, keduanya masih saja bersaing untuk mendapat sebutan Lurah Penatus terbaik dari barak ini. Jika pada suatu saat benar-benar diadakan semacam pendadaran untuk mendapatkan gelar Lurah Terbaik, maka keduanya akan merupakan saingan yang berat. Karena kau tentu tidak akan berniat untuk ikut serta,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Ya. Aku lebih baik menonton jika benar-benar hal itu diadakan,” berkata Kasadha.

“Apakah aku boleh juga menyaksikan?” bertanya Barata.

Ki Rangga menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Orang yang dianggap orang luar tentu tidak akan boleh menyaksikan. Jika terjadi sesuatu diluar rencana, maka tidak akan diketahui oleh orang lain selain keluarga barak ini sendiri.”

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya aku ingin menyaksikannya.”

“Jika kau mau menjadi prajurit lagi,” desis Ki Rangga.

Barata tersenyum saja. Tetapi ia kemudian justru berceritera bahwa ketika ia pergi ke Pajang, ia telah singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda.

“Terima kasih,” berkata Ki Rangga Dipayuda, “Jangkung dan Riris tentu senang sekali dengan kehadiranmu.”

“Ya Ki Rangga,” jawab Barata, “aku merasa mendapat kehormatan yang tinggi.”

Namun dalam pada itu, nampak kening Kasadha berkerut. Tetapi dengan serta merta ia berusaha mengusir gejolak didalam jantungnya yang tidak dimengerti sebabnya. Karena itu, maka sama sekali tidak nampak kesan apapun diwajah anak muda itu meskipun jantungnya berdenyut lebih cepat.

“Bukankah dirumahku sekarang anak Sumbaga?” bertanya Ki Rangga.

“Ya. Seorang anak muda yang baik,” jawab Barata.

“Ia dapat membantu menjaga rumah kami,” desis Ki Rangga Dipayuda, “bagaimanapun juga ia masih kadang meskipun sudah sedikit jauh.”

Barata hanya mengangguk-angguk saja. Ia sama sekali tidak menceriterakan apa yang sudah terjadi di rumah Ki Rangga Dipayuda.

Demikianlah, malam itu Barata bermalam di barak. Bahkan ia sempat bertemu dengan Ki Tumenggung Jayayuda. Kepada Ki Tumenggung, Ki Rangga Dipayuda memberitahukan bahwa Barata pernah menjadi prajuritnya, justru saat terjadi perang antara Pajang dan Mataram.

“Apakah kau tidak tertarik lagi untuk menjadi seorang prajurit?” bertanya Ki Tumenggung Jayayuda.

Barata tersenyum. Namun jawabnya, “Aku mempunyai tugas di rumah Ki Tumenggung.”

“Tugas apa?” bertanya Ki Tumenggung Jayayuda.

“Menunggui ibu,” jawab Barata.

Tetapi kepada Ki Tumenggung Jayayuda, Ki Rangga Dipayuda berkata, “Ia satu-satunya pewaris Tanah Perdikan Sembojan.”

“O,” Ki Tumenggung mengangguk-angguk, “jadi kau akan mewarisi jabatan Kepala Tanah Perdikan itu?”

“Aku berharap demikian Ki Tumenggung,” jawab Barata.

“Kenapa sekedar berharap? Apakah tidak ada kepastian tentang jabatan itu?” bertanya Ki Tumenggung.

“Sekarang hal itu sedang dipelajari oleh Ki Rangga Kalokapraja. Sebelumnya, persoalan Tanah Perdikan itu menjadi gawat ketika para pemimpin Pajang dibawah pemerintahan Kangjeng Adipati Demak, membuat paugeran yang agak berbeda dengan paugeran yang sebelumnya lagi berlaku,” jawab Barata.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin sekali. Banyak terjadi hal-hal seperti itu disegi-segi kehidupan yang lain.”

“Kami telah dicoba untuk diperas,” berkata Barata.

“Tetapi bukankah sekarang hal seperti itu tidak terjadi lagi?” bertanya Ki Tumenggung Jayayuda.

“Tidak Ki Tumenggung. Sekarang semuanya berjalan jauh lebih tertib. Ki Rangga Kalokapraja telah menyanggupi untuk berusaha menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan itu dengan segera setelah kami memberikan laporan tentang perkembangan sebelumnya,” jawab Barata.

“Ki Rangga Kalokapraja adalah seorang pekerja yang baik. Rajin, tekun dan tertib. Aku kira persoalan Tanah Perdikanmu akan segera selesai,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda.

Untuk beberapa lama mereka masih saja berbincang. Namun Ki Tumenggung pun berkata, “Baiklah. Kau tentu ingin beristirahat. Aku tidak akan memberikan kesan apapun tentang barak ini, karena kau pun pernah tinggal di barak.”

Barata tertawa. Katanya, “Keadaan barak ini sekarang sudah jauh lebih baik dari barak yang pernah aku pergunakan.”

Ki Tumenggung pun tertawa. Namun kemudian Barata lah yang minta diri untuk beristirahat.

Ki Rangga Dipayuda yang juga ingin beristirahat ternyata telah ditemui oleh Ki Rangga Prangwiryawan, “Apakah maksud anak itu datang kemari yang sebenarnya?”

“Kenapa yang sebenarnya? Apakah Ki Rangga menduga, bahwa kedatangan anak itu membawa rencana yang lain dari yang dilakukan? Atau katakanlah rencana buruk?” berkata Ki Rangga Dipayuda.

“Seandainya bukan begitu, apa maksudnya datang kemari?” bertanya Ki Rangga Prangwiryawan pula.

“Ia bekas anak buahku dan kawan Kasadha. Keduanya sama-sama pemimpin kelompok saat itu. Akulah Lurah Penatusnya. Karena itu ia ingin menemui kami yang sudah agak lama tidak pernah bertemu lagi,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Apakah ia ingin menjadi prajurit lagi?” desak Ki Rangga Prangwiryawan.

“Tidak. Ia terlalu sibuk dirumah,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Sibuk apa?” bertanya Ki Rangga Prangwiryawan.

“Ia adalah pewaris jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang sekarang kosong. Ia harus mempersiapkan segala-galanya sambil menunggu diwisuda. Ki Rangga Kalokapraja telah berjanji untuk membantunya,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“O,” Ki Rangga Prangwiryawan mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi anak itu calon Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”

Ki Rangga Dipayuda menjawab singkat, “Ya.”

Ki Rangga Prangwiryawan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun meninggalkannya.

Ternyata tidur dibarak telah memberikan kesan sendiri kepada Barata. Ia teringat kembali saat-saat ia menjadi seorang prajurit. Ia bukan saja seorang prajurit yang setiap hari menempa diri dengan latihan-latihan berat, tetapi ia telah benar-benar turun dalam pertempuran yang sangat garang. Saat itu nyawanya benar-benar telah disiapkan di ujung ubun-ubun. Namun Yang Maha Agung masih tetap melindunginya sehingga ia sempat bertemu kembali dengan ibunya dan Tanah Perdikannya.

Namun beberapa saat kemudian, Risang pun telah tertidur dengan nyenyaknya, seakan-akan baru saja bekerja keras di arena pertempuran.

Pagi-pagi Risang telah bangun sebagaimana para prajurit yang lain. Tetapi Risang tidak ikut dengan para prajurit sibuk dan bahkan gladi di halaman untuk melemaskan urat-urat dalam tubuh mereka.

Bahkan Risang telah bersiap-siap untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika para prajurit sedang sibuk, Risang sempat membersihkan kudanya. Memberinya rumput dan minum serta memasang pelananya.

Demikian para prajurit selesai, maka Risang pun telah minta diri. Kasadha, Ki Rangga Dipayuda dan bahkan Ki Tumenggung Jayayuda telah mengucapkan selamat jalan. Ki Rangga sempat menitipkan pesan kepada keluarganya, bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.

“Pekan depan barangkali aku dapat pulang barang satu dua hari,” berkata Ki Rangga.

“Baik Ki Rangga. Aku akan singgah meskipun hanya sebentar untuk menyampaikan pesan Ki Rangga,” jawab Risang.

Namun seperti kemarin, jantung Kasadha tiba-tiba saja bagaikan bergetar. Tetapi cepat-cepat ia mengusir perasaan apapun yang telah menggetarkan jantungnya itu. Karena itu maka tidak ada kesan apapun diwajah anak muda itu.

Sejenak kemudian, maka Risang pun telah meninggalkan barak itu. Ia masih singgah sejenak dirumah Ki Rangga Kalokapraja untuk minta diri kembali ke Tanah Perdikan.

“Aku sudah melihat-lihat laporanmu sepintas. Nampaknya semuanya akan berjalan lancar. Mudah-mudahan persoalannya cepat dapat diselesaikan,” berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Aku mohon diri Ki Rangga,” desis Risang kemudian.

“Hati-hati dijalan. Jangan berpacu terlalu cepat. Jika kudamu tergelincir, maka kau akan sampai dirumah jauh lebih lama lagi,” pesan Ki Rangga Kalokapraja ke bapaan.

Risang pun kemudian meninggalkan rumah Ki Rangga Kalokapraja langsung menuju ke pintu gerbang kota.

Sementara itu, Kasadha pun telah merenung di depan bangunan baraknya. Dipandanginya awan yang lewat diwajah langit yang bersih. Angin pagi bertiup menghembuskan udara segar.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Pemimpin kelompoknya yang tertua, yang setiap kali memperhatikannya mendekatinya sambil bertanya, “Apakah ada persoalan lagi Ki Lurah? Bukankah menurut Ki Lurah persoalan keluarga Ki Lurah sudah dapat diselesaikan dengan baik. Ayah dan ibu Ki Lurah ternyata tidak marah lagi.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak. Tidak ada apa-apa. Persoalan keluargaku memang sudah selesai.”

“Jika demikian, apa lagi yang Ki Lurah renungkan?” bertanya pemimpin kelompoknya itu.

“Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa,” jawab Kasadha.

Pemimpin kelompok itu tidak mendesaknya lagi. Tetapi ia melihat lagi sesuatu yang menyaput kegembiraan pemimpinnya itu meskipun tidak separah beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnyalah Kasadha merasa gelisah. Tetapi Kasadha tidak mengakui bahwa ia menjadi gelisah karena Risang akan singgah lagi kerumah Ki Rangga Dipayuda. Dirumah itu Risang tentu akan bertemu lagi dengan Riris.

Yang kemudian dilakukan oleh Kasadha adalah menenggelamkan diri kedalam tugas-tugasnya agar ia melupakan kegelisahannya itu.

Dalam pada itu, Risang pun telah berpacu kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi ia sudah berjanji kepada Ki Rangga Dipayuda dan kepada Jangkung Jaladri, bahwa ia akan singgah dirumah Ki Rangga. Risang sama sekali tidak memperhitungkan lagi Sumbaga yang sudah mengaku kalah.

Tetapi dirumah Ki Rangga Dipayuda, Risang memang tidak terlalu lama. Ia menolak untuk bermalam lagi. Kepada Jangkung ia berkata, “Orang-orang Tanah Perdikan tentu sedang menunggu aku. Mereka berharap agar mereka segera mengetahui tanggapan Ki Rangga Kalokapraja atas laporanku.”

“Bukankah tanggapannya cukup baik?” bertanya Jangkung.

Risang mengangguk. Katanya, “Itulah yang ingin aku sampaikan segera kepada ibuku,” jawab Risang.

Jangkung tidak dapat menahan lagi. Setelah Riris menghidangkan minuman dan makanan, maka Risang pun segera minta diri. Namun dalam pada itu, Risang sempat bertanya kepada Jangkung, “Dimana Sumbaga?”

“Ada. Dibelakang,” jawab Jangkung, “Apakah kau akan bertemu?”

“Hanya untuk minta diri,” jawab Risang.

Sebenarnyalah Sumbaga mengantar Risang pula sampai keregol seperti keluarga Ki Rangga yang lain, termasuk Nyi Rangga. Tetapi wajah Sumbaga masih saja tetap gelap. Tetapi Sumbaga memang merasa lebih senang jika Risang segera meninggalkan rumah itu.

Sejenak kemudian, maka Risang pun telah berpacu di bulak panjang menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia memang ingin segera memberitahukan kepada ibunya, kakek-kakeknya, neneknya dan orang-orang terdekat, bahwa laporannya telah mendapat tanggapan baik dari Ki Rangga Kalokapraja.

Hasil yang dibawa Risang memang sangat menggembirakan. Karena itu, maka orang-orang Sembojan pun telah bekerja lebih keras untuk mewujudkan rencana-rencana yang telah diserahkan Risang kepada Ki Rangga Kalokapraja.

Dalam pada itu, Kasadha di baraknya sedikit demi sedikit telah berhasil mengendalikan perasaannya. Namun ternyata persoalan baru telah timbul justru karena Barata telah mengunjungi baraknya, maka orang-orang yang pernah mengenalnya bersama-sama dengan Barata diperang yang garang saat Mataram mengalahkan Pajang dalam perang yang terdahulu, sehingga Kangjeng Sultan Pajang telah wafat, telah membicarakannya lagi. Mereka telah memuji kelebihan Barata dan Kasadha yang memiliki ilmu kanuragan yang lebih baik dari prajurit yang manapun.

Ki Rangga Prangwiryawan yang mendengar lagi ceritera itu menjadi tidak senang. Namun ia agak segan terhadap Ki Rangga Dipayuda untuk menanggapi ceritera tentang kelebihan Kasadha dan Barata.

Karena itu, maka Ki Rangga Prangwiryawan yang sejak semula ingin menunjukkan kelebihannya, telah mendesak dilanjutkannya sebuah rencana untuk mendapatkan Lurah Penatus yang terbaik dalam olah kanuragan. Namun yang belum dikatakannya adalah, bahwa Lurah yang terbaik itu kemudian akan mengalami pendadaran dari para Pandhega. Jika yang lain tidak ingin melakukannya, maka Ki Rangga Prangwiryawan lah yang akan mewakili para Pandhega itu.

“Sekedar untuk memacu kebanggaan para Lurah, Ki Tumenggung,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan.

“Apakah tidak menimbulkan persoalan?” bertanya Ki Tumenggung.

“Tentu tidak. Yang merasa kurang tentu akan berusaha untuk meningkatkan ilmunya. Yang lebih baik dari yang lain dapat berbangga diri. Kepada orang-orang yang memiliki kelebihan itulah maka kita dapat memberikan kepercayaan untuk memberikan latihan-latihan khusus,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan.

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak, ia sadar, bahwa Ki Rangga memang ingin menunjukkan kelebihannya. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Ki Rangga, bagaimana jika akibatnya justru sebaliknya?”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bertanya, “Maksud Ki Tumenggung?”

“Yang kalah justru mendendam sehingga persoalannya akan menjadi lebih buruk lagi,” berkata Ki Tumenggung.

“Tentu tidak Ki Tumenggung. Kita dapat memberikan pengantar kepada mereka, bahwa setiap orang harus bersikap jantan sebagai seorang kesatria sejati. Mereka harus berani mengakui kekalahan bagi yang kalah. Yang dilakukan tidak ada hubungannya dengan jabatan mereka sebagai Lurah Penatus, karena kedudukan seorang Lurah tidak tergantung semata-mata kepada kemampuan olah kanuragan. Meskipun seseorang memiliki kemampuan olah kanuragan secara pribadi yang tinggi, tetapi ia tidak mempunyai kemampuan untuk memimpin pasukannya, maka sebagai seorang Lurah Penatus nilainya tentu saja tidak akan begitu baik. Namun sebagai prajurit, maka olah kanuragan memang mendapat perhatian utama,” jawab Ki Rangga Prangwiryawan.

Ki Tumenggung Jayayuda termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku serahkan pelaksanaannya kepada Ki Rangga Prangwiryawan. Dibarak ini hanya ada sepuluh orang Lurah Penatus.”

“Kita akan memulainya dari bawah,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan, “sekedar untuk memeriahkan keadaan. Setiap pasukan yang dipimpin oleh seorang Lurah Penatus harus mengirimkan dua orang pemimpin kelompok untuk melakukan pertarungan yang dibatasi dengan beberapa peraturan. Dua orang yang terbaik diantara mereka akan ikut serta dalam pendadaran diantara para Lurah Penatus sehingga jumlahnya menjadi dua belas. Dari dua belas orang itu akan tampil berikutnya enam. Kemudian tiga. Nah, tiga orang ini harus dipilih diantara mereka yang benar-benar memiliki kelebihan. Karena itu ketiganya akan bergantian melakukan pertarungan. Semua akan saling berhadapan berganti-ganti.”

“Baik. Tetapi kau harus membuat satu peraturan yang ketat yang tidak boleh dilanggar. Peraturan yang me ngikat dan tidak memiliki lubang-lubang kesempatan untuk berbuat curang, karena semuanya adalah keluarga sendiri.”

“Aku akan melakukan dengan sebaik-baiknya,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan.

“Panggil semua Pandhega. Aku akan berbicara kepada mereka tentang rencana ini. Semua Pandhega akan ikut mengawasi pendadaran yang agak lain sifatnya ini,” berkata Ki Tumenggung. Namun ia pun kemudian bertanya, “Jika demikian, bukankah pendadaran ini akan berlangsung beberapa hari?”

“Ya Ki Tumenggung,” jawab Ki Rangga, “mungkin tiga hari. Mungkin lebih. Kita berharap bahwa permainan akan menjadi meriah dan menggembirakan para prajurit. Selebihnya kita akan dapat mengetahui kekuatan, nyata dari para Lurah dan beberapa orang pemimpin kelompok sebagai satu penilaian rata-rata karena kita tidak akan dapat mengikut sertakan semua pemimpin kelompok yang jumlahnya seratus orang itu.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan semua Pandhega.”

Ki Rangga Prangwiryawan pun kemudian telah memanggil para Pandhega yang dua. Ki Rangga Dipayuda dan Ki Rangga Wirayuda.

Ki Tumenggung Jayayuda pun kemudian telah memberitahukan kepada kedua Pandhega itu, bahwa rencana Ki Rangga Prangwiryawan sebagaimana pernah dibicarakan sebelumnya akan dilaksanakan.

“Apakah keuntungannya?” bertanya Ki Rangga Wirayuda.

“Banyak sekali,” jawab Ki Rangga Prangwiryawan yang kemudian telah menguraikan alasan-alasan sebagaimana dikatakannya kepada Ki Tumenggung Jayayuda.

Ki Rangga Wirayuda mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Kenapa tidak diadakan semacam perlombaan ketrampilan saja?”

“Misalnya?” desak Ki Rangga Prangwiryawan.

“Misalnya lomba kemampuan membidik dengan panah dan dengan lembing. Atau sodoran atau melakukan gerakan-gerakan menarik di sanggar terbuka,” jawab Ki Rangga Prangwiryawan.

“Rasa-rasanya seperti kanak-kanak,” jawab Ki Rangga Prangwiryawan.

Ki Rangga Dipayuda ternyata ikut menyahut, “Tentu tidak. Justru dengan demikian, setiap kekalahan akan dapat diakui dengan tanpa tersinggung harga dirinya. Jika diadakan penilaian langsung pada tingkat kemampuan dan ilmu kanuragan dalam pertarungan yang menentukan, maka akibatnya akan dapat menjadi kurang baik.”

“Kita tidak boleh cengeng seperti itu. Kita adalah prajurit yang harus bersikap kesatria. Kita harus mengaku kalah jika kita kalah. Seperti sudah aku katakan, penilaian atas seorang prajurit tidak semata-mata dinilai dari kemampuan mereka dalam olah kanuragan, sehingga yang kalah tidak perlu merasa cemas bahwa pangkat dan kedudukannya akan digeser,” jawab Ki Rangga Prangwiryawan.

Nampaknya Ki Rangga Dipayuda dan Ki Rangga Wirayuda merasa segan untuk berbantah. Karena itu, maka mereka pun kemudian hanya mengangguk-angguk saja.

Namun dalam pada itu, Ki Tumenggung Jayayuda pun berkata, “Baiklah. Meskipun menurut pendapatku, kedua orang Pandhega yang lain agak berkeberatan dengan cara yang diusulkan oleh Ki Rangga Prangwiryawan, nampaknya keduanya memang ingin memberikan kesempatan kepada Ki Rangga Prangwiryawan. Karena itu maka aku mengulangi perintahku. Laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ki Rangga Prangwiryawan bertanggung jawab bukan saja pelaksanaannya, tetapi juga akibat yang dapat ditimbulkannya.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Tetapi dalam pelaksanaannya aku harus minta bantuan dari kedua Pandhega yang lain, bahkan Ki Tumenggung sendiri,” jawab Ki Rangga Prangwiryawan.

“Kami tentu akan membantu Ki Rangga,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

Demikianlah, maka rencana itu pun telah menjadi keputusan pimpinan barak itu. Keputusan yang mereka tentukan bersama adalah mengikat. Karena itu, meskipun yang bertanggung jawab adalah Ki Rangga Prangwiryawan, namun beban tugas itu harus dipikil bersama-sama.

Dengan demikian, maka dihari berikutnya, seisi barak itu telah menjadi ribut dengan pengumuman tentang akan diselenggarakannya pendadaran olah kanuragan.

Kasadha yang mendengar pula pengumuman itu berdesis kepada pemimpin kelompok tertua, “Sebenarnya aku tidak sependapat.”

“Kenapa Ki Lurah,” bertanya pemimpin kelompok itu, “bukankah dengan demikian akan berlangsung permainan yang sangat meriah yang akan memberikan kegembiraan kepada semua penghuni barak ini?”

“Kita memang menjadi gembira. Tetapi apakah kita memikirkan perasaan mereka yang dikalahkan dihadapan banyak orang seperti itu?” bertanya Kasadha.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin akan dapat menanamkan dendam. Tetapi jika sejak semula dinyatakan bahwa yang kalah tidak boleh mendendam, mungkin akibatnya tidak separah yang kita bayangkan.”

“Mudah-mudahan,” berkata Ki Lurah Kasadha.

Pemimpin kelompok itu tidak menyahut lagi. Jika pada saatnya pendadaran itu dilaksanakan, mudah-mudahan Ki Lurah Kasadha sudah berubah pikiran. Bagaimana juga, pemimpin kelompok itu sudah meyakini, bahwa Ki Lurah Kasadha adalah Lurah yang terbaik. Bahkan dibandingkan dengan kedua orang Lurah Penatus yang baru itu.

Sebenarnyalah Kasadha pun tidak dapat menolak perintah itu. Ia pun mulai berbenah diri, meskipun ia tidak tahu, kapan lomba itu akan diselenggarakan. Lomba yang memang sangat mendebarkan. Sepanjang ia menjadi prajurit, ia belum pernah mengalami pendadaran seperti yang akan dilakukan itu.

Yang kemudian agak membingungkan Kasadha adalah menunjuk dua orang pemimpin kelompok untuk mewakili pasukannya yang terdiri dari sepuluh kelompok itu.

Untuk memilih dua orang diantara sepuluh orang pemimpin kelompok, telah dilakukan bermacam-macam cara oleh setiap pasukan. Ada diantara para Lurah Penatus yang telah memilih dengan cara sebagaimana yang akan dilakukan terhadap para Lurah Penatus. Diantara para pemimpin kelompok yang sepuluh orang itu telah diselenggarakan semacam pendadaran sehingga terpilih dua orang terbaik. Tetapi ada pula yang tidak melakukannya. Seorang Lurah Penatus telah mengetahui dengan pasti dua orang terbaik diantara para pemimpin kelompoknya, sehingga ia tidak perlu memilih lagi.

Kasadha mempunyai cara tersendiri, ia menganggap kemampuan para pemimpin kelompoknya seimbang.

Karena itu, maka ia pun telah mengumpulkan kesepuluh orang pemimpin kelompok dan menyerahkan kepada mereka, siapa yang harus mewakilinya.

Namun dalam keseluruhan, perintah Ki Rangga Prangwiryawan itu memang menumbuhkan kegembiraan para prajurit. Terutama beberapa orang Lurah Penatus yang merasa diri mereka terbaik. Bahkan para pemimpin kelompok yang akan mewakili setiap pasukan pun merasa bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan kelebihan mereka.

“Nah,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan kepada kedua orang Rangga yang lain, “bukankah rencana pendadaran itu memberikan kesegaran kepada para prajurit setelah lama mereka tidak melakukan kegiatan apapun selain latihan dan latihan? Bukankah dengan cara ini mereka dapat menyalurkan luapan darah mereka yang mendidih?”

Kedua Rangga yang lain mengangguk-angguk saja.

Ketika hal yang sama disampaikan kepada Ki Tumenggung Jayayuda, maka Ki Tumenggung pun berkata, “Mudah-mudahan berlangsung dengan baik sampai selesai.”

“Ketika beberapa Lurah Penatus menyelenggarakan pendadaran serupa untuk memilih dua diantara para pemimpn kelompoknya, juga tidak terjadi sesuatu. Pendadaran diantara lingkungan pasukan Seratus orang itu merupakan semacam percobaan dari penyelenggaraan seutuhnya nanti,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan itu.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk.

Ketika para Lurah Penatus telah mengajukan nama para pemimpin kelompok yang akan mewakili setiap pasukan, maka Ki Rangga Prangwiryawan pun mengumumkan, bahwa pendadaran yang bersifat lomba itu akan diselenggarakan pekan depan.

“Ada duapuluh orang pemimpin kelompok yang akan ikut serta,” berkata Ki Rangga, “ Kita akan memilih dua diantaranya.”

Dalam pada itu, Ki Rangga Prangwiryawan pun telah menyusun paugeran dari pendadaran itu. Seperti pesan Ki Tumenggung Jayayuda, jangan ada kesempatan untuk berbuat curang. Karena sebenarnyalah, Ki Rangga ingin memilih orang yang benar-benar terbaik, namun yang kemudian akan ditundukkannya pula, sehingga seisi barak itu akan mengetahui bahwa ia adalah orang yang terbaik dibarak itu.

Bahkan didalam hati ia pun berkata, “Jika saja Ki Tumenggung bersedia mencobai aku kelak.”

Atas persetujuan para Pandhega dan Ki Tumenggung Jayayuda sendiri atas isi paugeran yang telah disusun dengan beberapa perubahan disana-sini, maka paugeran itu pun segera diumumkan kepada mereka yang akan melakukan pendadaran itu.

Sambil menunggu hari-hari yang ditentukan, maka para pemimpin kelompok yang terpilih, telah melakukan persiapan sebaik-baiknya. Mereka telah memperunakan sanggar terbuka untuk berlatih. Pada umumnya, para Lurah Penatus telah mendampingi para pemimpin kelompoknya disaat mereka melakukan latihan-latihan.

Atas ijin Ki Rangga Dipayuda, maka setiap pagi Kasadha telah membawa keluar dua orang pemimpin kelompoknya yang ditunjuk oleh kawan-awannya untuk mewakili pasukannya dalam pendadaran itu. Orang lain memang tidak tahu, apa yang dilakukan Kasadha. Namun sebenarnyalah Kasadha secara khusus telah menempa kedua orang itu.

Kedua orang itu, yang tahu benar bahwa Kasadha memiliki kelebihan dari setiap Lurah Penatus yang ada, telah berbuat sebaik-baiknya sebagaimana ditunjukkan oleh Kasadha.

Seorang diantaranya adalah pemimpin kelompok tertua yang selalu memperhatikan Kasadha bukan saja sebagai atasannya, tetapi justru sebagai seorang yang lebih muda daripadanya didalam gejolak kehidupan pribadinya. Sedangkan seorang yang lain adalah pemimpin kelompok yang lebih muda, tetapi yang juga mengetahui dengan pasti kelebihan Kasadha.

Setiap hari, sebelum dini keduanya telah berada di lereng pebukitan. Berlari-lari mereka mendaki. Kemudian mereka telah melakukan gerakan-gerakan ringan. Baru kemudian keduanya telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Dengan beberapa petunjuk Ki Lurah Kasadha, mereka telah mematangkan beberapa macam unsur gerak pilihan yang sebelumnya tidak mereka kuasai dengan baik. Namun dengan petunjuk Kasadha unsur-unsur gerak itu akan dapat dijadikan senjata untuk mengakhiri perlawanan lawan-lawan mereka.

Dalam waktu yang singkat, Kasadha telah menuntun mereka untuk menguasai pernafasan mereka. Kasadha telah menganjurkan kepada kedua orang pemimpin kelompoknya untuk berlatih setiap saat ada waktu.

“Dimana saja kalian dapat melatih diri menguasai jalannya pernafasan dengan baik. Dengan demikian akan dapat menjaga kemantapan tenaga kalian. Kalian tidak tahu berapa lama kalian akan bertarung diarena. Jika kalian tidak menguasai pernafasan dengan baik, maka kalian akan dengan cepat menjadi letih. Sementara lawan kalian masih tetap segar. Meskipun kalian memiliki kelebihan ilmu kanuragan, tetapi mungkin kalian akan dapat dikalahkan karena tenaga kalian telah habis setengah jalan,” berkata Kasadha yang meskipun masih muda tetapi memiliki pengalaman yang luas.

Ternyata kedua orang pemimpin kelompoknya itu menurut dan mengikuti setiap petunjuk. Sehingga dalam waktu yang singkat keduanya telah mampu meningkatkan bukan saja kemampuan olah kanuragan, tetapi juga daya tahan tubuh mereka. Bahkan dalam pemusatan nalar budi, Kasadha telah memberikan petunjuk meskipun baru dalam tataran permulaan, untuk membangunkan tenaga didalam diri mereka.

Ketika sepekan telah berlalu, maka kedua orang pemimpin kelompok itu benar-benar telah siap. Ketika mereka melakukan latihan dimalam hari diudara terbuka, maka Kasadha telah merasa puas atas kemajuan dari kedua pemimpin kelompoknya itu.

Dibarak, ada diantara para pemimpin kelompok yang dengan sengaja menunjukkan kelebihan-kelebihan mereka selagi mereka melakukan latihan. Dengan demikian, maka bakal lawan-lawannya telah merasa kecil sebelum pendadaran yang sebenarnya dimulai. Para pemimpin kelompok dari pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Lenggana dan Ki Lurah Bantardi ternyata juga melakukan latihan-latihan tersendiri. Mereka pun telah mendapat beberapa petunjuk dan tuntunan dari Lurah Penatus mereka masing-masing sebagaimana yang lain.

Sehari sebelum pendadaran dimulai, maka latihan-latihan khusus itu telah dihentikan. Para pemimpin kelompok yang akan ikut serta harus memusatkan perhatian mereka terhadap pendadaran yang akan berlangsung. Mereka harus mempelajari paugeran sebaik-baiknya.

“Kita harus menjunjung tinggi kejujuran,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan, “siapa berbuat curang, maka dengan serta merta mereka ia akan dinyatakan kalah.”

Hari-hari istirahat itu memang diwarnai dengan ketenangan. Tidak ada gerak yang melonjak sebagaimana hari-hari sebelumnya. Semuanya seakan-akan benar-benar beristirahat. Bahkan mereka yang tidak akan ikut dalam pendadaran  pun telah beristirahat pula.

Namun, kedua orang pemimpin kelompok dibawah pimpinan Kasadha tidak demikian. Mereka memang tidak melakukan apa-apa yang dapat dilihat oleh para prajurit yang lain. Namun keduanya duduk dipembaringan masing-masing untuk melakukan latihan pernafasan sebaik-baiknya.

Sambil menyilangkan tangan didadanya, mereka duduk bersila. Kepala sedikit menunduk, menutup segala perhatian-lewat indera mereka.

Kawan-kawan mereka mengerti apa yang dilakukan oleh kedua pemimpin kelompok itu. Karena itu, mereka sama sekali tidak mengganggu. Bahkan anak buah kedua pemimpin kelompok itu seakan-akan telah menjaga agar keduanya dapat melakukan dengan tenang.

Ketika malam mulai turun dihari sebelum pendadaran, di halaman barak itu sudah dibuat dua arena yang akan dipergunakan. Duapuluh orang pemimpin kelompok akan dibagi menjadi dua kelompok masing-masing sepuluh orang. Dua orang dari pasukan yang dipimpin oleh seorang Lurah Penatus akan dipisahkan kelompoknya, sehingga tidak akan terjadi pertarungan antara dua orang dari pasukan yang sama. Dari kedua kelompok itu masing-masing akan diambil seorang yang terbaik untuk ikut dalam pendadaran diantara para Lurah Penatus.

Sebelum berkumpul diantara mereka yang ikut pada pendadaran Itu, kedua pemimpin kelompok itu pun telah menemui Kasadha. Meskipun Kasadha lebih muda dari mereka, tetapi mereka telah minta restunya untuk memasuki arena pendadaran.

Demikian matahari terbit, maka segala sesuatunya telah bersiap. Tidak ada tempat khusus bagi Ki Tumenggung Jayayuda dan para Pandhega. Mereka justru diminta untuk ikut mengawasi agar pendadaran itu dapat berlangsung dengan baik dan jujur.

Di arena yang satu, Ki Rangga Prangwiryawan telah disertai oleh Ki Tumenggung Jayayuda sendiri bersama seorang Lurah Penatus yang ditunjuk oleh Ki Rangga Prangwiryawan. Sedangkan diarena yang lain, Ki Rangga Wirayuda dan Ki Rangga Dipayuda mengawasi pula pendadaran itu dibantu oleh seorang Lurah pula yang dianggap jujur.

Sebelum para pemimpin kelompok turun kearena, maka telah dilakukan undian. Siapakah yang akan turun lebih dahulu dari antara mereka masing-masing.

Para Lurah Penatus sebenarnya juga ikut berdebar-debar. Setiap Lurah menempatkan pemimpin kelompoknya diarena kiri seorang dan diarena sebelah kanan seorang. Sehingga dengan demikian mereka akan mengikuti jalannya pendadaran di kedua arena itu.

Ketika pendadaran akan dimulai, maka Ki Tumenggung telah memberikan sesorah pendek dengan mengingatkan tujuan pendadaran itu.

“Kita tidak sedang mengadu ayam disini. Tetapi kita tengah mempelajari kemungkinan-kemungkinan bagi pasukan kita dalam keseluruhan. Dengan pendadaran ini, kita akan dapat melihat kemampuan rata-rata dari seluruh prajurit yang ada di barak ini. Penglihatan kita atas kemampuan itu akan dapat kita jadikan landasan peningkatan kemampuan seluruh pasukan dibarak ini. Kita tidak pula sedang menanamkan dendam dihati kalian. Kalian harus jujur terhadap diri sendiri. Jika seseorang kalah, maka ia harus mengakui kekalahan itu dengan hati yang lapang. Sekali lagi aku katakan disini, bahwa pendadaran ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kedudukan kalian, baik sebagai pemimpin kelompok, maupun Lurah Penatus, karena penilaian bagi seorang pemimpin tidak semata-mata karena tingkat kemampuan olah kanuragan saja.”

Masih ada beberapa petunjuk yang diberikan oleh Ki Tumenggung yang mengarahkan para prajuritnya agar menganggap pendadaran itu satu peristiwa wajar saja.

“Tidak ada maksud apa-apa,” berkata Ki Tumenggung menegaskan.

Dalam pada itu, sekali lagi Ki Rangga Prangwiryawan menguraikan paugeran selengkapnya dalam pendadaran yang bersifat lomba ketangkasan olah kanuragan itu.

Sesaat kemudian, maka bende pun telah berbunyi. Para prajurit di barak itu segera mengerumuni kedua arena di halaman barak yang luas itu. Mereka memang menjadi agak bingung, arena mana yang lebih menarik untuk ditonton.

Pendadaran itu pun segera dimulai sesuai dengan hasil undian yang telah dilaksanakan.

Ternyata pendadaran itu benar-benar memberikan kegembiraan kepada para prajurit. Mereka mulai berteriak-teriak untuk mendukung para pemimpin kelompok yang diharapkan akan menang.

Seperti yang diharapkan oleh Ki Tumenggung Jayayuda, maka pendadaran itu sendiri berlangsung dengan jujur. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang ikut dalam pendadaran itu berniat buruk.

Di arena sebelah kanan, seorang pemimpin kelompok yang bertubuh raksasa telah turun pertama kali diarena. Lawannya memang tidak bertubuh sebesar pemimpin kelompok itu, tetapi seorang yang bertubuh tinggi. Namun tidak terlalu besar. Meskipun demikian, orang itu tubuhnya nampaknya liat sekali.

Ketika mereka mulai bertempur, maka segera nampak bahwa keduanya nampaknya memang seimbang. Yang bertubuh raksasa memiliki kekuatan yang besar, sementara yang bertubuh tinggi mampu bergerak dengan cepat. Serangan-serangan kakinya yang mendatar, kadang-kadang terayun melingkar, memang terasa sangat berbahaya bagi lawannya.

Tetapi lawannya yang bertubuh raksasa itu bagaikan berkulit badak. Sekali dua kali tubuhnya dikenai serangan lawannya yang bertubuh tinggi itu, namun seakan-akan tidak terasa sama sekali.

Diarena yang satu lagi, dua orang pemimpin kelompok yang baik dari ujud tubuhnya, maupun kemampuannya benar-benar nampak seimbang. Keduanya kuat dan tangkas.

Sorak para prajurit yang menyaksikan pendadaran itu semakin meninggi. Bahkan ada diantara mereka yang melonjak-lonjak kegirangan. Namun yang oleh orang yang berdiri dibelakang orang yang melonjak-lonjak itu digamit pundaknya. Ketika ia berpaling, dilihatnya orang yang menggamitnya itu memberi isyarat agar orang itu tidak menutupinya.

Satu demi satu pertempuran berakhir. Para Pandhega yang mengamati pertarungan itu benar-benar berpegang pada paugeran. Yang memang sudah dapat dipastikan kalah, segera dinyatakan kalah, sebelum keadaan menjadi semakin buruk.

Kasadha menjadi berdebar-debar ketika ia melihat disisi sebelah kiri, seorang dari pemimpin kelompoknya telah memasuki arena. Pemimpin kelompoknya yang tertua.

Kasadha merasa beruntung, bahwa pada putaran pertama kedua orang pemimpin kelompoknya tidak turun kearena dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian, ia dapat menunggui pemimpin kelompoknya yang banyak memperhatikan kehidupan pribadinya itu.

Ketika kedua orang pemimpin kelompok itu mulai bertempur diarena, maka Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak melihat bahwa pemimpin kelompoknya itu akan mengalami kesulitan, meskipun kemungkinan apapun dapat saja terjadi. Namun Kasadha berharap bahwa orangnya itu akan dapat mengatasi lawannya.

Tetapi pemimpin kelompok didalam pasukan Kasadha itu bukan seorang yang terbiasa membanggakan diri sendiri. Karena itu, maka ia pun tidak dengan serta merta menghancurkan lawannya. Ia masih ingin menghargai lawannya dan tidak menanamkan dendam dihatinya. Karena itu, maka ia pun telah meningkatkan kemampuannya perlahan-lahan sehingga pertempuran diantara kedua orang pemimpin kelompok itu menjadi seru.

Namun akhirnya, mulai nampak pula bahwa anak buah Kasadha itu semakin menguasai arena. Sehingga beberapa saat kemudian, maka anak buah Kasadha itu telah dinyatakan menang.

Beberapa saat berikutnya, maka disisi lain pun telah terjadi hal yang sama. Meskipun lawan pemimpin kelompok yang seorang lagi harus berhadapan dengan seorang yang berwajah garang dan berkumis melintang. Namun akhirnya anak buah Kasadha itu pun dapat memenangkan pertempuran itu.

Ketika pendadaran putaran pertama selesai, maka para pemimpin kelompok itu pun mendapat waktu untuk beristirahat. Namun ternyata bahwa matahari telah mulai turun.

Dihari pertama itu, masih belum dapat dipilih siapakah yang terbaik diantara sepuluh orang diarena sebelah kiri dan sepuluh orang diarena sebelah kanan. Karena itu, maka pendadaran itu akan dilanjutkan pada hari kedua.

Ternyata dihari kedua, disebelah kiri, pada putaran terakhir, pemimpin kelompok dari kesatuan yang dipimpin Kasadha, berhadapan dengan pemimpin kelompok dibawah pimpinan Ki Lurah Lenggana, sedang disisi yang lain seorang pemimpin kelompok yang seorang lagi berhadapan dengan anak buah Ki Lurah Bantaradi.

Kasadha memang menjadi berdebar-debar. Kedua orang Lurah Penatus itu adalah orang-orang yang sangat membanggakan dirinya sehingga kenangan yang demikian itu tentu akan menjalar pula pada anak buahnya.

Demikian pertempuran di kedua arena itu dimulai maka pertempuran langsung menjadi keras. Sementara itu, para prajurit yang menyaksikannya bersorak-sorak tanpa terkendali lagi. Mereka bahkan bertepuk, berteriak, menjerit dan sekali-sekali terdengar mereka menyebut nama orang-orang yang sedang bertempur itu.

Ki Rangga Prangwiryawan yang berada didalam arena pun ternyata ikut tegang. Ia tahu bahwa yang sedang bertempur itu adalah anak buah Ki Lurah Lenggana melawan anak buah Ki Lurah Kasadha. Ki Rangga Prangwiryawan memang berharap bahwa anak buah Ki Lurah Lenggana dapat memenangkan pertempuran itu.

Tetapi di arena itu pun terdapat Ki Tumenggung Jayayuda sendiri, sehingga dengan demikian, maka Ki Rangga Prangwiryawan harus benar-benar bertindak adil.

Diarena yang lain, anak buah Ki Lurah Bantaradi  pun ternyata telah dijalari sifat Lurahnya. Ia pun merasa seakan-akan seorang pemimpin kelompok terbaik dari antara semua pemimpin kelompok yang ada di barak itu.

Namun mereka tidak dapat memaksa lawan-lawan mereka untuk segera tunduk. Baik anak buah Ki Lurah Lenggana maupun anak buah Ki Lurah Bantardi. Mereka harus mengakui perlawanan yang kuat dan gigih dari anak buah Ki Lurah Kasadha itu.

Kasadha sendiri menyempatkan diri untuk melihat kadang-kadang disisi sebelah kiri, kadang-kadang disisi sebelah kanan. Namun jantung Kasadha terasa tidak terlalu cepat berdetak melihat pertarungan itu. Sebagai seorang yang berilmu, maka Kasadha pun cepat mengerti, bahwa kedua orang pemimpin kelompoknya itu memiliki kelebihan dari lawan-lawan mereka. Baik anak buah Ki Lurah Lenggana maupun anak buah Ki Lurah Bantardi sejak pertarungan dimulai telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya. Nampaknya kedua orang pemimpin kelompok itu telah mendapat pesan yang sama. Mereka harus mengalahkan lawan-lawan mereka secepatnya.

Tetapi jika hal itu tidak dapat mereka lakukan, maka kekuatan mereka pun akan segera menyusut. Jika demikian, maka keseimbangan akan segera berbalik.

Kasadha yang mengamati pertempuran itu pun melihat kemungkinan itu. Ketika anak buah Ki Lurah Lenggana dan anak buah Ki Lurah Kasadha mulai kehilangan lapisan-lapisan kekuatan mereka, maka Ki Lurah Kasadha pun yakin, bahwa kedua orang pemimpin kelompoknya itu akan memenangkan pertarungan.

Ki Tumenggung Jayayuda menunggui arena pertarungan bersama Ki Rangga Prangwiryawan dan seorang Lurah Penatus, telah melihat pula kemungkinan itu. Demikian pula Ki Rangga Wirayuda dan Ki Rangga Dipayuda.

Namun sebagai penengah mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya dapat menentukan keputusan berdasarkan kenyataan yang terjadi di arena.

Diluar sadar, kedua orang pemimpin kelompok anak buah Kasadha itu telah ikut pula merasa kurang senang terhadap anak buah Ki Lurah Lenggana dan Ki Lurah Bantardi. Karena itu, maka keduanya justru ingin menunjukkan kelebihan mereka dari lawan-lawan mereka itu.

Karena itulah, maka ketika kedua orang lawan mereka telah kehilangan sebagian dari tenaga mereka, maka kedua orang anak buah Kasadha itu mulai menunjukkan unsur-unsur gerak yang mendebarkan meskipun tidak mereka trapkan dengan sungguh-sungguh sehingga membahayakan nyawa lawannya.

Para prajurit yang menyaksikan pertarungan itu justru mulai mengagumi kedua pemimpin kelompok anak buah Kasadha itu. Justru karena mereka tidak dengan sungguh-sungguh mempergunakan unsur-unsur gerak yang sebenarnya sangat berbahaya, maka para prajurit itu pun seakan-akan justru telah berpihak kepada mereka. Apalagi karena mereka tahu sifat Ki Lurah Lenggana dan Ki Lurah Bantardi.

Demikianlah, akhirnya, maka pertempuran itu pun berakhir. Ki Tumenggung Jayayuda disatu sisi dan Ki Tumenggung Dipayuda disisi lain telah menentukan, bahwa pemenangnya kedua-duanya adalah pemimpin kelompok dibawah pimpinan Ki Lurah Kasadha.

Sorak pun mengguruh. Bukan hanya anak buah Kasadha, tetapi hampir semua prajurit yang menyaksikan telah menganggap bahwa sudah sepantasnya keduanya mendapat sebutan pemimpin kelompok terbaik.

Ki Tumenggung Jayayuda lah yang kemudian menyatakan, bahwa keduanya adalah pemimpin kelompok terbaik dalam olah kanuragan. Tetapi sekali lagi Ki Tumenggung memperingatkan, bahwa penilaian dari seorang pemimpin tidak tergantung sepenuhnya pada kemampuan olah kanuragan.

Barak itu memang menjadi ramai membicarakan kemenangan kedua orang itu. Yang menarik adalah, bahwa kedua-duanya adalah pemimpin kelompok didalam pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha.

Dengan demikian, maka bukan saja kedua orang yang menang itu sajalah yang mendapat ucapan selamat. Tetapi juga Kasadha. Bahkan Ki Tumenggung Jayayuda telah memberikan pernyataan bergembira kepada kedua orang pemimpin kelompok itu serta juga kepada Kasadha.

Kepada Kasadha Ki Tumenggung Jayayuda berkata, “Keduanya memang pantas disebut sebagai pemenang. Keduanya tidak sekedar mempergunakan tenaga dan kekuatannya. Bukan pula kecepatan gerak dan ketrampilan olah kanuragan. Tetapi keduanya telah mempergunakan otak mereka. Itulah sebabnya, jika keduanya kelak ikut dalam pendadaran diantara para Lurah Penatus, maka dapat diharapkan, bahwa keduanya tidak segera dapat dikalahkah.”

“Terima kasih Ki Tumenggung,” sahut Kasadha sambil mengangguk hormat, “mudah-mudahan keduanya dapat memberikan pengabdian yang lebih berarti bagi pasukannya dan bagi Pajang.”

Namun dalam pada itu, ketika diadakan pertemuan diantara para Pandhega, maka Ki Rangga Prangwiryawan mengusulkan, agar dicegah terjadinya dua orang pemimpin kelompok dari satu kesatuan maju mewakili para pemimpin kelompok.

“Itu tidak adil,” justru Ki Tumenggung Jayayuda yang menjawab, “sebelumnya hal seperti itu tidak pernah disebutkan. Karena itu, biar saja paugeran itu berlaku sesuai dengan bunyinya.”

Ki Rangga Prangwiryawan tidak berani membantah. Nampaknya Ki Tumenggung Jayayuda semakin memperketat ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagaimana telah disepakati.”

Karena itu, maka kedua orang pemimpin kelompok yang sudah dinyatakan sebagai pemenang dikedua lingkungan arena pendadaran itulah yang akan ikut bertanding diputaran selanjutnya, diantara para pemimpin pasukan yang jumlahnya sepuluh orang Lurah Penatus.

Pada malam harinya, Ki Rangga Prangwiryawan telah memberikan pengumuman, bahwa pertarungan pada putaran berikutnya, akan berlangsung sepekan lagi.

Barak itu pun kemudian telah menjadi ramai lagi. Para pemimpin kelompok yang baru saja memasuki arena, masih merasa sangat letih. Bahkan ada diantara mereka yang tubuhnya menjadi biru memar. Ada yang punggungnya sakit dan ada yang giginya patah.

Namun dengan pengarahan yang mapan sebelumnya, perasaan dendam memang tidak tumbuh diantara para pemimpin kelompok itu. Yang kalah memang harus mengaku kalah. Sementara dua orang yang menang boleh merasa bangga. Apalagi mereka dapat mengikuti pendadaran pada tataran berikutnya, yang dapat dianggap sebagai tataran yang lebih tinggi.

Ternyata waktu yang sepekan itu pun telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh para Lurah Penatus yang akan turun diarena pendadaran. Demikian pula oleh kedua orang pemimpin kelompok dalam pasukan Kasadha itu. Mereka masih saja berlatih bersama Kasadha.

Kepada Ki Rangga Dipayuda Kasadha berkata, “Ki Rangga, apakah semua Lurah Penatus harus ikut?”

“Ya. Kasadha. Nampaknya memang demikian,” jawab Ki Rangga.

“Bagaimana bagi mereka yang sakit atau yang benar-benar berhalangan?” bertanya Kasadha.

“Tentu mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk menjadi pemenang,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Ki Rangga. Bagaimana jika aku termasuk dari antara orang yang tidak dapat ikut?” bertanya Kasadha.

“Kasadha, semula aku mengira bahwa pendadaran semacam ini dilakukan dengan sukarela. Siapa yang menyatakan diri untuk ikut, akan dinyatakan sebagai pengikut. Tetapi ternyata tidak. Semua orang dalam jabatan Lurah Penatus harus ikut serta.”

“Tetapi aku sama sekali tidak tertarik untuk ikut serta,” berkata Kasadha.

“Kau tidak mempunyai pilihan,” berkata Ki Rangga Dipayuda,

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bertanya, “Ki Rangga. Aku sebenarnya menjadi bingung. Jika aku berusaha untuk menang, maka orang-orang yang tidak menyenangi aku akan menjadi semakin tidak senang. Tetapi jika aku membiarkan diriku kalah, maka nuraniku tidak dapat menerima kekalahan itu. Mungkin aku seorang pendendam Ki Rangga. Jika aku kalah, maka aku berusaha untuk menebusnya di kesempatan lain. Namun jika orang lain pun bersikap seperti itu, bukankah akan timbul persoalan dikemudian hari?”

“Sudahlah Kasadha,” berkata Ki Rangga, “kau harus menerima perlakuan ini. Jika kau memang mampu memenangkan pertandingan, menangkan itu. Bahkan menurut aku, jika kau mampu menunjukkan kemampuanmu, tunjukkanlah yang tertinggi daripadanya. Apapun akibatnya. Karena dengan demikian, maka kau sudah menyatakan dirimu sebagaimana adanya. Jika hal itu berakibat baik, syukurlah. Jika tidak, maka kau tidak akan tanggung-tanggung menghadapinya. Bahkan jika nanti pada saat terakhir kau harus berhadapan dengan Ki Rangga Prangwiryawan sendiri. Jika kau mampu mengalahkan, kalahkan orang itu secepat-cepatnya. Satu kesempatan yang baik bagimu, justru dihadapan Ki Tumenggung Jayayuda. Tetapi seandainya kau memang kalah, maka bukan kah itu wajar jika seorang Lurah dapat dikalahkan oleh seorang Rangga dalam jajaran keprajuritan?”

Kasadha mengangguk-angguk. Pesan Ki Rangga Dipayuda itu benar-benar sangat berarti baginya. Meskipun ia masih harus mempertimbangkan masak-masak, namun seandainya ia berbuat demikian, maka ia tidak dianggap bersalah.

Dengan demikian, maka Kasadha telah mempergunakan waktu yang ada itu sebaik-baiknya. Ia masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan kedua orang pemimpin kelompoknya. Namun disamping itu, Kasadha pun telah menyiapkan dirinya sendiri.

Bahkan pada saat terakhir Kasadha berkata kepada diri sendiri, “Orang-orang dalam barak itu sudah terlanjur menganggap aku sebagai Lurah Penatus yang terbaik. Aku tidak boleh mengecewakan mereka. Bahkan seandainya aku harus berhadapan dengan Ki Rangga Prangwiryawan.”

Kedua orang pemimpin kelompoknya, yang menyaksikan bagaimana Kasadha berlatih menjadi heran. Keping-keping batu telah dipecahkannya dengan sisi telapak tangannya. Tiga jari-jari tangannya yang merapat mampu menghunjam ke batu-batu padas. Sementara serangan kakinya dapat memecahkan gumpalan-gumpalan lereng pebukitan.

Kedua orang pemimpin kelompok itu justru termangu-mangu, Mereka sudah mengetahui betapa tinggi ilmu Kasadha. Namun ketika mereka menyaksikan latihan-latihan yang bersungguh-sungguh, maka jantung mereka masih berdegup keras.

“Jika saja aku yang harus menghadapinya, maka aku akan mati berdiri,” desis salah seorang dari mereka. Kawannya tersenyum. Katanya, “Batu itu tentu lebih keras dari kepala kita.”

“Bedanya, batu itu tidak dapat melarikan diri,” sahut kawannya yang pertama.

Keduanya menahan tertawanya. Sementara Kasadha berlatih semakin keras.

Namun dalam pada itu, pada kesempatan lain, kedua orang pemimpin kelompok itulah yang berlatih. Kasadha mengajari mereka untuk memanfaatkan pernafasannya yang teratur dalam paduan mengerahkan tenaga dalam. Penguasaan urat-urat didalam tubuhnya serta simpul-simpul syarafnya.

Meskipun kedua orang pemimpin kelompok itu masih juga mampu meningkatkan kemampuannya, tetapi mereka merasa terlalu kecil dihadapan Kasadha yang mewarisi dasar-dasar ilmu dari Ki Ajar Paguhan.

Sekali-sekali Kasadha teringat akan ibunya yang mampu melandasi penguasaan diri dalam pengaruh terangnya bulan. Namun baginya, pengaruh itu tidak usah disadap dari terangnya bulan atau matahari atau keremangan senja dalam temaramnya siang yang beralih keserambi malam. Tetapi pengaruh itu dapat tumbuh atas dasar kehendak yang mantap dan bulat. Itulah sebabnya, maka setiap saat Kasadha dapat membangunkan kekuatannya yang menggetarkan.

Kasadha benar-benar sudah berniat melakukan sebagaimana disarankan oleh Ki Rangga Dipayuda. Jika ia ingin mengalah, ia harus kalah pada putaran pertama. Tetapi jika ia menang pada putaran pertama, maka itu berarti ia harus menang sampai putaran terakhir.

Demikian dari hari ke hari, Kasadha menjadi semakin menggetarkan jantung kedua orang pemimpin kelompoknya. Namun mereka ikut merasa bangga dan bahkan memastikan, bahwa Kasadha memang orang terbaik di barak itu.

Namun Kasadha selalu berpesan, bahwa mereka tidak boleh membocorkan latihan-latihan itu. Biarlah mereka melihat dan menilai pada saatnya.

“Jika mungkin aku masih akan menghindari pendadaran yang aneh itu,” berkata Kasadha.

Akhirnya hari yang mendebarkan itu pun datang juga. Ada sepuluh orang Lurah Penatus yang harus mengikuti pendadaran untuk menentukan seorang yang terbaik dalam olah kanuragan. Sedangkan dua orang pemimpin kelompok akan ikut pula diantara para Lurah Penatus. Kedua-duanya adalah anak buah Kasadha.

Menjelang hari-hari yang ditentukan bagi pendadaran itu, maka setiap Lurah Penatus telah merasa bersiap sepenuhnya. Pertandingan itu tentu akan menjadi lebih menarik daripada sepekan yang lalu, karena yang akan turun ke arena adalah mereka yang pada umumnya lebih berpengalaman dari para pemimpin kelompok. Umur mereka pun tidak lagi terlalu muda kecuali Kasadha. Namun bagi Ki Lurah Lenggana dan Ki Lurah Bantardi, Kasadha adalah anak-anak yang baru mulai tumbuh. Betapapun besar tenaganya, namun pengalamannya tentu belum banyak dan apalagi landasan ilmunya pun tentu masih sangat tipis.

Karena itu, maka bagi kedua orang yang merasa dirinya terbaik itu, maka Kasadha tidak terlalu banyak diperhitungkan.

Namun sebenarnyalah diantara kedua orang Lurah itu telah terjadi persaingan dengan diam-diam. Meskipun keduanya nampak baik, namun keduanya merasa yang satu lebih baik dari yang lain.

“Yang akan menentukan adalah arena pertandingan,” berkata Bantardi didalam hatinya.

Namun mereka pun menyadari, bahwa pertandingan yang hanya diikuti oleh dua belas orang itu tentu tidak akan dapat diselesaikan dalam sehari. Bahkan mungkin tidak dalam dua hari.

Demikian matahari terbit, maka pendadaran yang aneh itu pun siap untuk dimulai. Seperti yang terdahulu, Ki Tumenggung Jayayuda telah memberikan sesorah pendek. Bahkan ia pun berkata, “Nah, dengan cara ini, kita bersama-sama telah memacu diri untuk berlatih lebih baik dari hari-hari sebelumnya.”

Setelah Ki Tumenggung, maka Ki Rangga Prangwiryawan telah membacakan paugeran yang harus ditaati oleh para peserta pendadaran. Semua Lurah Penatus memang harus ikut serta, sehingga sama sekali tidak ada kesempatan bagi Kasadha untuk menghindar.

Seperti yang terdahulu, maka semua peserta lebih dahulu harus mengambil undian. Siapakah yang akan turun lebih dahulu ke arena. Dan siapakah lawan mereka masing-masing.

Yang dipergunakan memang hanya satu arena pertandingan, agar dengan demikian Ki Tumenggung dan para Pandhega dapat lebih memusatkan perhatian mereka.

“Kita tidak tergesa-gesa. Jika tidak selesai hari ini, kita lanjutkan esok pagi. Jika masih juga belum selesai, kita teruskan lusa. Bukankah Pajang tidak segera akan berperang?” berkata Ki Tumenggung Jayayuda menanggapi usul Ki Rangga Prangwiryawan untuk mempergunakan dua arena.

Ketika waktunya telah tiba, serta matahari mulai beranjak naik, maka telah terdengar bende berbunyi sebagai pertanda pendadaran telah dimulai.

“Beruntunglah mereka yang bertanding terdahulu. Matahari belum begitu tinggi,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan.

Dua orang Lurah Penatus telah turun ke arena. Ternyata orang yang pertama bukan Ki Lurah Kasadha dan bukan pula salah seorang dari kedua pemimpin kelompoknya.

Kedua orang Lurah Penatus itu ternyata telah cukup matang. Keduanya tidak tergesa-gesa. Tetapi keduanya bergerak dengan sangat mapan.

Baru sejenak kemudian, serangan-serangan pun telah dilakukan. Semakin lama semakin cepat. Keduanya mulai meningkatkan kekuatan dan ilmu mereka sehingga pertempuran pun menjadi semakin seru.

Ternyata keduanya benar-benar memiliki kemampuan yang seimbang. Karena itu, maka keduanya memerlukan waktu yang cukup lama. Itulah agaknya keadaan yang menentukan kekalahan seorang diantara mereka. Bukan karena kelebihan ilmu dari yang lain. Tetapi Lurah Penatus yang lebih tua mulai kehilangan sebagian dari tenaganya. Nafasnya mulai terasa mengganggu, sehingga karena itu, maka siapakah yang akan memenangkan pertandingan itu sudah mulai terbayang.

Namun kekalahan yang terjadi adalah kekalahan yang terhormat sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung Prangwiryawan.

“Unsur umur dalam hal ini agaknya memang berpengaruh,” berkata Ki Rangga, “tetapi sebenarnyalah ilmu dan kemampuan kedua Lurah Penatus itu seimbang.”

Ki Wirayuda dan Ki Dipayuda, seperti dalam pendadaran yang lewat, berusaha untuk berbuat seadil-adilnya. Mereka berdiri didalam arena lingkaran bersama dengan Ki Rangga Prangwiryawan. Keduanya mengamati setiap gerak dan langkah para peserta. Lebih dari itu, mereka juga berkewajiban untuk mencegah bukan saja kecurangan, tetapi apabila keadaan menjadi berbahaya.

Keduanya bersama-sama dengan Ki Rangga Prangwiryawan berhak memberikan peringatan, tegoran bahkan jika perlu menghentikan pertandingan.

Yang kemudian turun pada giliran kedua adalah salah seorang pemimpin kelompok anak buah Kasadha. Yang turun adalah pemimpin kelompok yang muda diantara keduanya.

Namun adalah kurang beruntung baginya, karena pada putaran pertama itu ia sudah berhadapan dengan Ki Lurah Lenggana.

Pemimpin kelompok itu tersenyum kepada Ki Lurah Kasadha ketika ia bangkit untuk memasuki arena. Justru katanya, “Jika aku kalah, aku tidak akan menyesal. Bukankah kekalahan itu wajar sekali.”

“Ya,” desis Kasadha, “tetapi kau harus menunjukkan permainan yang baik. Pertempuran itu harus seimbang seperti yang baru saja terjadi, meskipun akhirnya kau akan kalah.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk. Tetapi ia masih saja tersenyum. Ketika ia mulai melangkah, Kasadha telah menepuk bahunya sambil berdesis, “Hati-hatilah. Meskipun kau kalah, jangan ada yang terkilir.”

Sejenak kemudian, keduanya telah memasuki arena. Ki Lurah Lenggana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Nasibku memang buruk. Undian itu menempatkan aku berhadapan dengan seorang pemimpin kelompok. Seharusnya aku berhadapan dengan seorang Lurah. Bagaimana jika kau bertukar tempat dengan Lurahmu?”

Pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya. Ia memang merasa tersinggung. Namun sebelum ia menjawab, Ki Rangga Dipayuda lah yang menyahut, “Jika demikian, apa gunanya undian?”

Ki Lurah Lenggana berpaling sekilas. Tetapi ia justru tersenyum. Meskipun tidak menjawab, tetapi seakan-akan ia berkata, “Melawan kau pun aku tidak gentar.”

Sejenak kemudian, Ki Rangga Prangwiryawan telah melangkah maju. Ketika keduanya sudah bersiap, maka ia pun segera memberikan isyarat, agar pertandingan itu pun segera dimulai.

Keduanya mulai bergeser dari tempatnya. Ternyata pemimpin kelompok itu justru menjadi sangat tenang. Ia sama sekali tidak membawa beban apapun saat memasuki arena. Jika ia kalah sekalipun, tidak akan adaorang yang merendahkannya, karena ia berhadapan dengan seorang Lurah Penatus. Apalagi Ki Lurah Lenggana yang menganggap dirinya orang terbaik dibarak itu. Tetapi jika menang, maka setiap orang akan memujinya.

Namun pemimpin kelompok itu menyadari, tidak akan mungkin dapat mengalahkan Ki Lurah Lenggana. Tetapi pemimpin kelompok itu berkata didalam hatinya, “Mudah-mudahan pada putaran berikutnya kau bertemu dengan lurahku. Ki Lurah Kasadha.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 42

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s