SST-40

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

ANAK muda itu telah membayangkan kemungkinan untuk meningkatkan ilmunya bersama gurunya pada waktu-waktu tertentu untuk justru memberitahukan rencana itu kepada Ki Tumenggung Sarayuda. Bukankah dengan demikian, justru akan menguntungkan kesatuannya? Bahkan setidak-tidaknya seorang diantara mereka sempat meningkatkan ilmunya?

Selagi Kasadha duduk termangu-mangu maka bibinya telah keluar dari biliknya dan mendekatinya serta duduk disampingnya. Kasadha beringsut sejengkal. Wajahnya berkerut. Tetapi ia tidak bertanya lebih dahulu.

Seperti yang diduganya, bibinya kemudian telah berkata, “Kasadha, aku minta kau merenungkannya. Jika kau sudah ingin beristeri, katakan kepada bibi. Gadis yang aku katakan itu adalah gadis yang baik? Mungkin kau nilai ibumu dan bibimu ini sebagai perempuan-perempuan yang liar, meskipun pada suatu saat telah bertaubat. Tetapi gadis ini sama sekali bukan. Ia benar-benar gadis yang baik. Jika aku boleh berterus terang, akulah yang telah melahirkan gadis itu. Tetapi ia tidak mengenal bahwa aku adalah ibunya. Ia hidup dalam lingkungan keluarga yang baik.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba membayangkan wajah seorang gadis yang sendu. Yang sejak dilahirkan telah dipisahkan dari ibunya. Murung dan pemalu.

Namun yang selalu terbayang adalah justru wajah Riris. Senyumnya, sedikit manja dan wajahnya yang jernih. Riris juga seorang pemalu. Namun kedua orang tuanya nampaknya berusaha untuk mengajarinya bergaul.

Tetapi Kasadha kemudian telah memandang ke dirinya sendiri. Sebuah pertanyaan telah memercik dihatinya, “Aku ini siapa?”

Karena Kasadha tidak juga segera menjawab, maka bibinya kemudian berkata, “Baiklah Kasadha. Kau tentu belum dapat menjawabnya karena kau belum pernah bertemu dengan gadis itu. Aku tidak sekedar memuji. Tetapi gadis itu tidak berparas buruk. Ia tidak sejahat ibunya ini dan seperti aku katakan, ia berada dilingkungan orang yang baik.”

“Bibi,” berkata Kasadha kemudian, “sebagaimana bibi katakan, aku belum pernah bertemu dengan gadis itu. Apalagi aku belum yakin, apakah gadis itu belum pernah mempunyai hubungan batin dengan seseorang sehingga apa bila ia harus memenuhi keinginan bibi itu, ia akan menderita. Atau mungkin orang tua yang mengasuhnya sudah pernah berbicara dengan seseorang tentang anak gadis itu. Sementara itu, agaknya aku sendiri masih belum siap memasuki sebuah keluarga yang harus aku bina sendiri, jika aku mendapat pangkat Lurah Penatus itu benar-benar karena keadaan darurat disamping kemujuran. Disaat yang genting, kedudukan itu tiba-tiba kosong. Nampaknya aku adalah prajurit tertua, maksudku bukan umurnya, tetapi tugasnya, didalam pasukan itu bersama beberapa orang. Nah, diantara beberapa orang inilah aku adalah orang paling mujur.”

Bibinya tersenyum. Katanya, “Apapun yang menjadi dasar penunjukkan itu, tetapi satu kenyataan kau adalah seorang Lurah Penatus.”

Kasadha hanya dapat mengangguk-angguk saja. Sementara bibinya berkata, “Tetapi baiklah. Kau memang harus melihat dahulu. Aku pun harus meyakinkan, apakah ia belum mengikat janji dengan seseorang atau orang tua angkatnya belum pernah menerima seseorang yang melamarnya.”

Kasadha mengangguk kecil sambil berkata, “Terima kasih bibi. Aku akan mendapat kesempatan untuk bernafas. Selama ini aku masih saja selalu dicengkam oleh ketegangan tugas-tugasku.”

Bibinya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil beringsut ia berkata, “Pikirkan baik-baik Kasadha.”

Kasadha menunduk. Sementara bibinya pun kemudian telah meninggalkannya duduk sendiri. Namun sebelum bibinya hilang dibalik pintu biliknya, ia sempat berkata, “Beristirahatlah. Bukankah kau besok akan menempuh perjalanan?”

Malam itu dilaluinya dengan gejolak di jantung Kasadha. Kematian laki-laki yang selalu membayanginya sehingga rasa-rasanya hampir membuatnya gila itu mempunyai kesan tersendiri didalam hatinya. Ia merasa bahwa ibunya telah benar-benar berubah. Bukan kulitnya, tetapi sampai kedasar nuraninya, meskipun justru kulitnya masih berkesan yang lama.

Namun sekali-sekali tersembul kegelisahannya menerima tawaran bibinya tentang seorang gadis yang menurut bibinya pantas menjadi isterinya, isteri seorang prajurit. Tetapi yang muncul di angan-angannya justru selalu wajah Riris.

“Aku tidak dapat membayangkan wajah gadis itu meskipun ia anak bibi yang tentu mempunyai kemiripan dengan wajah bibi,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Namun akhirnya Kasadha itu sempat tertidur pula beberapa lama.

Pagi-pagi benar Kasadha sudah terbangun. Lebih dahulu dari yang lain. Setelah menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan maka ia pun segera mandi.

Tetapi beberapa saat kemudian seisi rumah itu pun telah terbangun pula. Ibu dan bibinya segera pergi ke dapur untuk menjerang air dan menanak nasi.

Ketika Kasadha kemudian selesai berbenah diri, maka bibinya telah minta kepadanya agar makan lebih dahulu.

“Kau akan menempuh perjalanan panjang,” berkata ibunya, “makanlah lebih dahulu.”

Demikianlah, ketika matahari kemudian terbit, maka Kasadha telah minta diri. Kakek dan gurunya yang beberapa hari sebelumnya telah berada dirumah itu pun tidak akan tinggal terlalu lama.

“Besok aku dan gurumu juga akan meninggalkan rumah ini,” berkata kakeknya, “jika ada kesempatan, aku menunggumu.”

“Ya kakek,” jawab Kasadha, “Aku memang berniat segera menghubungi kakek dan guru. Jika aku diperkenankan untuk menimba ilmu lebih banyak lagi di luar tatanan keprajuritan, maka aku akan segera menghadap guru.”

“Datanglah,” berkata Ki Ajar Paguhan, “kau tentu masih memerlukannya.”

Demikianlah, sekali lagi Kasadha mohon diri kepada ibu dan bibinya. Warsi, orang yang semula dikenal sebagai seorang perempuan yang berhati batu, ternyata telah menitikkan air mata ketika anak laki-lakinya yang hampir terlepas dari ikatan keibuannya itu mencium tangannya.

Sambil mengusap kepalanya ia berkata, “Maafkan ibumu Puguh. Ibumu tidak dapat menempatkan dirinya sehingga selama ini sama sekali tidak membantumu. Beruntunglah kau bahwa dengan bantuan kakek dan gurumu, kau menemukan jalan yang paling sesuai kau jalani sekarang ini. Teruskan dan usahakan agar kau dapat tetap berada didalamnya.”

“Ya ibu,” jawab Kasadha, “pesan ibu akan selalu aku ingat.”

Kepada bibinya pun Kasadha telah mohon diri dengan mencium tangannya pula, sementara bibinya berkata, “Pikirkan tawaranku baik-baik Kasadha.”

“Aku akan memikirkannya bibi,” jawab Kasadha.

Warsi, yang pelupuk matanya masih basah, sempat pula tersenyum mendengar pesan sepupunya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Demikianlah, maka Kasadha pun telah meninggalkan rumah bibinya itu. Ketika ia keluar dari padukuhan, maka kepalanya justru menengadah. Dadanya terasa jauh lebih lapang dari saat ia datang. Tidak ada lagi kecemasan di dadanya tentang sikap ibu dan bibinya. Seakan-akan matahari hari itu bersinar jauh lebih cerah dari matahari yang tiga hari yang lalu terbit dipagi hari. Langit pun rasa-rasanya mejadi lebih jernih. Demikian pula hati Kasadha.

Rasa-rasanya ia yang selama itu terguncang antara ka-sadaran seorang anak, namun juga seakan-akan seorang buruan yang selalu diancam kematian, membuatnya tidak tahu dimana ia harus berdiri.

Tetapi kemudian ia telah mendapatkan tempat yang mapan untuk berpijak.

Ketika terdengar suara burung bersiul di pepohonan, Kasadha ikut bersiul pula. Meskipun sumbang, namun ia mencoba mendengarkan sebuah kidung puji-pujian.

Kuda anak muda itu berlari tidak terlalu kencang menyusuri jalan bulak. Kepalanya menengadah sehingga suri-surinya tergerai-gerai di tengkuknya.

Dengan demikian perjalanan yang cukup panjang itu sama sekali tidak membuatnya letih. Kasadha memang berhenti juga untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat, dan sekaligus mencari minuman hangat disebuah kedai yang cukup besar dipinggir jalan yang dilaluinya. Menurut penglihatannya orang yang ada didalam kedai itu pun nampak berwajah jernih. Gembira dan ramah. Seorang telah bergeser memberikan tempat kepadanya, ketika Kasadha masuk kedalam kedai yang sudah banyak terisi para pembeli itu.

Pelayannya pun bekerja dengan cepat pula. Demikian Kasadha memesan minuman, maka beberapa saat kemudian, minuman itu sudah siap dihidangkan.

Beberapa orang pembeli yang lain sempat bertanya kepada anak muda itu tentang perjalanannya.

“Angger nampaknya bukan penduduk di sekitar tempat ini,” bertanya seorang yang sudah berambut putih.

“Ya Kiai,” jawab Kasadha, “aku orang Pajang.”

“O,” orang itu mengangguk-angguk, “ini tadi dari mana ngger?”

“Dari Bayat Kiai,” jawab Kasadha.

Orang itu mengangguk-angguk lagi. Sementara Kasadha melengkapinya, “Menengok salah seorang keluarga.”

“Bagaimana keadaan Pajang sekarang ngger?” bertanya orang tua itu lagi.

“Keadaannya sudah membaik Kiai. Bahkan segala sesuatunya sudah pulih kembali. Pasar telah menjadi ramai dan perdagangan pun telah hidup kembali,” jawab Kasadha.

“Angger seorang pedagang?” bertanya orang itu sambil mengamati Kasadha yang tidak mengenakan pakaian keprajuritannya.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya, “Bukan Kiai. Aku seorang petani biasa. Aku tinggal di pinggir kota. Meskipun hampir melekat, tetapi aku tinggal diluar dinding kota.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah benar angger seorang petani?”

“Ya. Kenapa?” bertanya Kasadha. Ia memang sanggup diuji. Ketika ia tinggal di padepokannya, maka ia pun telah ikut bekerja disawah sebagaimana seorang petani meskipun secara khusus sawah yang digarapnya adalah sawah yang dikuasai oleh padepokannya.

Harus diakui bahwa Kasadha bukan seorang yang rajin disawah. Ia memang sering berpetualang. Tetapi ia tahu, bagaimana kerja seorang petani.

Tetapi orang tua itu mengangguk-angguk. Sebagai seorang prajurit Kasadha pun selalu disengat oleh panas matahari sebagaimana seorang petani. Jika tidak dimedan, juga diarena latihan-latihan dan tugas-tugas yang lain.

“Marilah ngger, makanan sudah dihidangkan di samping minuman hangat,”orang tua itu mempersilahkan.

“Marilah Kiai,” jawab Kasadha.

Bersama para tamu yang lain, Kasadha pun telah menghirup minuman hangat dan beberapa potong makanan. Namun seperti tamu-tamu yang lain, maka Kasadha pun telah memesan nasi rames pula.

“Kedai ini terkenal dengan kendo udangnya ngger,” berkata orang tua itu, “juga pepes teri dan oyok-oyok lembayung.”

Kasadha mengangguk-angguk. Desisnya, “Kendo udang memang banyak digemari Kiai. Dan salah seorang penggemarnya adalah aku.”

“Kebetulan. Lihat, bungkusan-bungkusan kecil itu adalah kendo udang,” berkata orang tua itu.

Selagi Kasadha makan dan minum di kedai itu, maka kudanya pun telah mendapat perawatan khusus. Seseorang telah memberi minum dan seonggok rumput segar. Satu pelayanan khusus bagi para tamu berkuda yang membuat kedai itu menjadi semakin ramai.”

Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka Kasadha telah merasa cukup lama beristirahat. Tubuhnya terasa menjadi semakin segar. Sementara itu, perjalanannya tidak lagi terlalu jauh. Pajang telah berada dihadapannya.

Hari itu seperti dijanjikan kepada Ki Tumenggung Surajaya, Kasadha telah kembali memasuki baraknya. Para pemimpin kelompok di pasukannya, tiba-tiba saja telah berkumpul melingkarinya sambil menanyakan keselamatannya.

“Bukankah aku selamat kembali ke barak ini?” justru Kasadha yang bertanya.

Pemimpin kelompok di pasukannya yang tertua, berkata dengan nada rendah, “Sebenarnyalah kami merasa cemas. Kami yakini bahwa Ki Lurah meninggalkan barak ini dengan persoalan yang membelit hati.”

Kasadha tertawa. Katanya, “Terima kasih atas perhatian kalian. Tetapi atas doa dan restu kalian, persoalan yang memang sebenarnya ada itu kini telah teratasi. Semuanya dapat selesai dengan baik.”

“Juga hubungan dengan ayah Ki Lurah yang pernah datang kemari itu?” bertanya pemimpin kelompok yang tertua.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian kalanya, “Ya. Semuanya sudah selesai. Mudah-mudahan tidak akan ada masalah lagi dikemudian hari.”

“Syukurlah,” desis pemimpin kelompok itu seakan-akan mewakili kawan-kawannya.

“Aku harus segera memberikan laporan kepada Ki Tumenggung,” berkata Kasadha.

“Ki Tumenggung baru keluar. Nanti senja baru datang,” berkata pemimpin kelompok yang tertua itu.

“Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Kasadha.

“Nampaknya demikian. Tetapi bukan tentang satu perubahan. Nampaknya segala sesuatunya akan berlangsung lebih baik. Apalagi nanti jika semuanya sudah mapan,” jawab pemimpin kelompok itu.

Kasadha mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia sempat mandi dan beristirahat. Menghubungi beberapa pembantu Ki Tumenggung Surajaya dan mohon disampaikan kepada Ki Tumenggung bahwa malam nanti ia akan menghadap.

Sambil menunggu malam turun, Kasadha telah sempat berbicara lebih panjang dengan para praurit yang berada dibawah pimpinannya. Namun memang ada beberapa hal yang disembunyikannya, sehingga ia harus tetap berhati-hati menjawab beberapa pertanyaan.

Namun pada umumnya prajurit-prajuritnya mempunyai satu harapan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik.

Tetapi hampir diluar sadarnya Kasadha berkata, “Dalam keadaan yang demikian, maka para pemimpin akan sempat membuat penilaian khusus terhadap para prajurit, sehingga untuk memberikan nafas baru sehingga tidak menimbulkan kejenuhan, maka akan mungkin dilakukan pemindahan dari satu kesatuan ke kesatuan yang lain.”

Para prajuritnya menjadi termangu-mangu. Bagi seorang prajurit, maka dimana pun ia bertugas seharusnya merasa sama saja. Siapapun pemimpinnya dan siapapun kawan-kawannya, tidak akan menjadi persoalan. Tetapi bagaimanapun juga seorang prajurit adalah manusia sebagaimana mereka masing-masing yang memiliki pribadi yang berbeda-beda. Mungkin karena latar belakang masa lampaunya, mungkin karena tuntunan yang mereka dapat sebelum mereka memasuki dunia keprajuritan, mungkin karena pengaruh yang lain, maka seseorang dapat dibedakan dengan orang lain. Karena itu, maka tentu akan terjadi hubungan diantara manusia itu terasa sesuai atau kurang sesuai.

Tetapi dengan serta merta Kasadha berkata, “Tetapi aku tidak mengatakan, bahwa hal itu akan terjadi di kesatuan kita. Hanya satu kemungkinan. Tetapi kemungkinan lain, tidak akan terjadi pemindahan sama sekali.”

Prajurit-prajuritnya mengangguk-angguk. Namun jika hal itu terjadi, maka tentu akan berpengaruh atas perasaan mereka. Setidak-tidaknya untuk hari-hari pertama.

Sementara itu, malampun sudah turun. Kasadha ingat akan kesediaannya menghadap Ki Tumenggung. Karena itu, maka ia pun segera meninggalkan prajurit-prajuritnya dan pergi ke bilik khusus bagi Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Tumenggung Surajaya mempersilahkan Kasadha duduk disebuah amben yang tidak begitu besar bersamanya.

“Aku sudah memastikan bahwa kau akan datang tepat pada saatnya,” berkata Ki Tumenggung setelah mempertanyakan keselamatan Kasadha dan keluarganya.

“Ya, Ki Tumenggung. Aku tidak ingin memberikan contoh yang kurang baik bagi orang-orangku, “ jawab Kasadha.

“Bagus,” jawab Ki Tumenggung yang kemudian berkata, “menilik wajahmu yang cerah serta sikapmu yang tidak lagi terasa terkungkung oleh perasaanmu, maka apakah benar dugaanku, bahwa beban yang untuk beberapa lama kau sandang telah dapat kau letakkan?”

Kasadha tersenyum. Ternyata bahwa penglihatan Ki Tumenggung Surajaya baik sebagai pemimpinnya maupun sebagai seorang yang sudah lebih tua daripadanya, cukup tajam. Karena itu, maka Kasadha pun menjawab, “Ya Ki Tumenggung. Ternyata semuanya berakhir dengan baik. Apa yang aku bayangkan sebagai awan yang hitam pekat, agaknya tidak demikian keadaannya. Persoalan yang membebani perasaanku telah aku letakkan sebagaimana yang Ki Tumenggung katakan.”

“Syukurlah,” berkata Ki Tumenggung, “dengan demikian maka kau akan menjadi tenang. Kau akan dapat memusatkan perhatianmu kepada tugas-tugasmu. Kita memang akan menghadapi beberapa tugas yang meskipun tidak berat, tetapi memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh.”

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Keadaan akan segera menjadi mapan. Pangeran Benawa akan segera melakukan tugasnya sepenuhnya sebagai Adipati Pajang.”

“Syukurlah,” berkata Kasadha.

“Namun dengan demikian, maka jajaran keprajuritan Pajang akan dibenahi. Memang tidak akan banyak mengalami goncangan. Yang perlu kita lakukan adalah sekedar menertibkan susunan pasukan. Semua kesatuan diseluruh lingkup kekuasaan Pajajng. Misalnya pasukan yang memiliki anggauta yang tidak wajar. Kau dan pasukanmu akan ditertibkan juga, sehingga isi pasukanmu akan kembali menjadi seratus. Nampaknya persoalannya sederhana saja. Tetapi seandainya pasukanmu lebih dari seratus dan kelebihannya harus dipisahkan, kesulitannya adalah memilih diantara anggauta pasukanmu yang mana yang akan dipisahkan itu,” berkata Ki Tumenggung Surayuda.

Kasadha mengangguk-angguk. Ia pun langsung dapat mengerti maksud Ki Tumenggung. Bahkan ia sudah membayangkan sebelumnya bahwa hal semacam itu akan terjadi.

“Agaknya memang demikian Ki Tumenggung. Setelah bersama-sama mengalami pahit getir, maka sebagian kecil dari antara anggauta pasukan itu harus dipisahkan. Padahal selama anggauta pasukan itu berkumpul rasa-rasanya tidak akan dapat memilih manakah yang lebih baik. Sementara itu, orang-orang yangakan dipisahkan tentu mempunyai perasaan yang lain dari sekedar melakukan tugas tanpa maksud apa-apa. Mereka tentu akan menilai diri mereka masing-masing. Apakah mereka lebih buruk dari yang lain,” berkata Kasadha.

“Perasaan seperti itu tentu akan ada,” berkata Ki Tumenggung, “tetapi kita harus mampu menentukan sikap tidak sekedar dikendalikan oleh perasaan karena akhirnya kita tidak mempunyai pilihan.”

Kasadha mengangguk-angguk pula. Ia mengerti keterangan Ki Tumenggung. Ia dan para Lurah Penatus yang lain harus dapat menyingkirkan perasaan seperti itu. Seandainya ada juga orang-orang diantara pasukannya yang berpendapat demikian, maka hal itu harus dianggap wajar. Dalam waktu beberapa pekan maka perasaan itu tentu akan hilang dengan sendirinya.

Namun Kasadha tidak menjawab lagi. Ia hanya mengangguk-angguk saja.

“Beberapa Lurah Penatus telah aku beritahu pula akan kemungkinan itu,” berkata Ki Tumenggung, “tanggapan mereka semuanya hampir sama sebagaimana kau katakan. Tetapi kepada mereka aku pun berkata sebagaimana aku katakan kepadamu.”

“Aku mengerti Ki Tumenggung,” desis Kasadha. Tetapi ia masih juga bertanya, “Kapan hal ini dilaksanakan? Kita akan merasa beruntung bahwa kesatuan pasukan ini kelak tidak terpecah. Meskipun dari tujuh pasukan dibawah pimpinan Lurah Penatus akan menjadi sepuluh, namun jika masih berada dilingkungan kesatuan ini, aku kira tidak akan banyak membuat orang menjadi kecewa, meskipun kita dengan berpegang pada penalaran, hal itu dapat saja terjadi tanpa memperhatikan sikap dan perasaan pribadi.”

“Aku belum dapat mengatakannya, kapan hal itu akan dilaksanakan. Aku pun tidak dapat mengatakan, apakah kesatuan ini akan tetap utuh dan aku akan tetap berada disini,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “sementara itu, kekuatan Pajang kecuali harus disusun kembali, juga harus disesuaikan dengan kebutuhan setelah para prajurit dari Demak kembali ke Demak.”

“Tetapi bukankah sebelum pasukan Demak itu datang bersama-sama dengan Kangjeng Adipati Demak, prajurit Pajang telah tersusun rapi, sehingga tinggal membenahinya lagi,” bertanya Kasadha.

“Tetapi kau tentu ingat apa yang terjadi di Prambanan. Pasukan Pajang telah bertempur dengan pasukan Mataram. Benar-benar satu perang besar. Apalagi ketika arus Kali Opak ikut campur dalam pertempuran itu. Korban ternyata cukup banyak. Kehadiran Mataram di Pajang saat itu telah menimbulkan banyak persoalan meskipun hanya untuk waktu yang sangat singkat. Kemudian dalam pertemuan keluarga istana Pajang, telah ditentukan Adipati Demak akan memasuki dan memerintah Pajang. Ketika hal itu kemudian benar-benar terjadi, Adipati Demak sama sekali tidak membenahi pasukan Pajang yang semula terdiri dari Prajurit Pajang dengan sungguh-sungguh. Bahkan prajurit Pajang menjadi kurang penting dibandingkan dengan prajurit yang datang dari Demak, meskipun jumlah mereka tidak terlampau besar. Nah, kita tentu mampu menilai arti kehadiran kita sebagai prajurit saat itu. Kemudian perang itu datang lagi. Kita sempat menutup diri di barak ini. Tetapi perang yang sebenarnya memang telah menelan korban lagi,” berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Kasadha masih saja mengangguk-angguk, ia masih ingat sepenuhnya apa yang telah terjadi. Bahkan hampir saja ia sendiri menjadi korban dalam perang antara Pajang melawan Mataram.

Diluar kehendaknya, telah terbayang diangan-angannya seorang anak muda yang ternyata adalah kakaknya sendiri, telah menolong dan menyelamatkannya.

“Tetapi sudahlah,” berkata Ki Rangga Surajaya, “yang aku katakan itu sekedar keterangan agar kita dapat bersiap-siap. Terutama secara jiwani, bahwa hal seperti itu pada suatu saat akan terjadi. Bahkan mungkin akan terjadi pulit pertukaran anggauta antar pasukan yang ada di Pajang. Bagi seorang prajurit, maka seharusnya tidak akan banyak mempengaruhi keadaan kita secara pribadi.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia pun baru saja mengatakan hal seperti itu kepada orang-orang didalam pasukannya.

Namun Kasadha tidak mengatakannya kepada Ki Tumenggung. Bahkan Ki Tumenggung pun kemudian berkata kepadanya, “Baiklah Kasadha. Aku terima laporanmu. Kau sudah berada kembali di barak ini. Aku kira perkembangan keadaan akan cepat terjadi. Sementara itu, Pangeran Benawa juga telah mengirimkan utusan ke Madiun untuk memberikan laporan perkembangan terakhir yang ter jadi di Pajang agar Panembahan Mas di Madiun tidak menduga-duga apa yang telah terjadi di Pajang, karena nampaknya yang diketahui Panembahan Mas adalah ke putusan pembicaraan keluarga Istana Pajang yang menetapkan Demak akan memerintah Pajang.”

Kasadha mengangguk hormat sambil berkata, “Terima kasih Ki Tumenggung. Aku mohon diri.”

Ki Tumenggung tersenyum sambil menyahut, “Beristirahatlah. Kau tentu letih. Untung sementara kau tidak perlu terlalu memikirkan keteranganku itu. Nikmati pelepasan bebanmu sehingga kau akan dapat tidur dengan nyenyak.”

Malam itu Kasadha justru tidak dapat dengan mudah tertidur. Bagaimanapun juga kematian laki-laki yang pernah mengaku sebagai ayahnya itu selalu mengganggunya, Seakan-akan ia yang telah berhasil meletakkan beban perasaannya, justru telah mendapat beban yang baru.

“Tetapi ibu yang membunuhnya,” katanya didalam hati. Namun ia telah menjawab sendiri, “Bahwa hal itu dilakukan, karena ibu berusaha melindungi aku.”

Kasadha menggeretakkan giginya. Katanya, “Bukankah dengan demikian aku justru telah bebas dari gangguannya yang akan dapat membuatku gila itu?”

Namun jika ia mulai menilai ibunya, maka Kasadha pun telah bersukur. Jarak yang membatasinya dari ibunya telah hanyut bersama kematian Ki Rangga Gupita.

Dihari berikutnya, Kasadha telah melakukan tugasnya seperti biasanya. Kawan-kawannya, para Lurah ternyata terkejut melihat, tiba-tiba saja Kasadha sudah ada diantara mereka.

“Kapan kau datang?” bertanya seorang Lurah Penatus yang sudah jauh lebih tua.

“Kemarin paman,” jawab Kasadha yang memanggilnya paman, “sudah sore.”

Lurah Penatus itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pergi mengantar Ki Tumenggung keluar.”

“Agaknya memang demikian. Ketika aku datang, Ki Tumenggung memang sedang pergi,” sahut Kasadha.

“Apa kau sudah memberikan laporan tentang kedatanganmu?” bertanya Lurah Penatus itu.

“Sudah paman. Semalam. Aku berada di biliknya sampai larut malam,” jawab Kasadha.

“Apa saja yang dikatakannya?” bertanya Lurah Penatus itu.

“Ki Tumenggung menanggapi laporanku, bahwa aku telah kembali di barak,” jawab Kasadha.

“Tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada pasukan ini?” bertanya lurah itu pula.

“Ya. Sedikit,” jawab Kasadha.

“Aku tidak begitu senang pada kemungkinan itu. Tetapi sebagai prajurit, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Senang atau tidak senang,” desis orang itu.

Kasadha mengangguk. Ia pun kemudian menyahut, “Ya. Senang atau tidak senang. Kita memang tidak dapat memilih.”

Ternyata kesan itu terdapat hampir disemua orang yang ada dibarak itu. Rasa-rasanya mereka telah terikat menjadi satu keluarga besar. Namun mereka pun menyadari, bahwa mereka memang seorang prajurit.

Dihari-hari berikutnya, maka Pajang memang membenahi semua tatanan sepeninggal Panembahan Senapati yang kembali ke Mataram. Para pemimpin pemerintahan dan para pemimpin jajaran keprajuritan telah disusun kembali.

Namun Pangeran Benawa ternyata cukup bijaksana sehingga beberapa pergeseran yang terjadi tidak menimbulkan gejolak yang berarti di Pajang. Orang-orang yang dianggap telah melakukan beberapa penyimpangan, dengan rela melepaskan kedudukannya untuk diserahkan kepada orang lain. Apalagi setelah para pemimpin dari Demak dikembalikan ke Demak.

Seperti yang diduga oleh Kasadha sebagaimana dikatakan pula oleh Ki Tumenggung Surajaya, maka pasukan yang tinggal di barak itu pun harus ditertibkan. Kesatuan-kesatuan yang ada didalamnya harus disusun kembali, sehingga setiap Lurah Penatus hanya akan memimpin seratus orang sebagaimana seharusnya.

Tatanan itu memang baik menurut rencana dan tujuannya. Namun selama masih dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tanggapan secara pribadi, maka persoalannya kadang-kadang memang sering menimbulkan sentuhan-sentuhan.

Namun segala pihak yang menyadari pentingnya tatanan baru berusaha untuk melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Meskipun kadang-kadang diluar sadar, pamrih-pamrih pribadi dapat saja terselip didalamnya.

Tetapi yang terjadi kadang-kadang memang tidak seperti yang diinginkan oleh beberapa pihak.

Para Lurah Penatus menjadi berdebar-debar ketika mereka dipanggil oleh Ki Tumenggung Surajaya untuk berkumpul, begitu Ki Tumenggung kembali dari istana Pajang bersama dua orang Lurah dari barak itu.

“Ada berita penting yang perlu aku sampaikan,” berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Para Lurah itu pun menjadi termangu-mangu. Mereka ingin segera mendengar perintah apa yang telah dibawa oleh Ki Tumnggung Surajaya.

“Selama ini kita sudah bekerja sama dengan baik,” berkata Ki Surajaya, “seakan-akan kita telah menyatakan diri satu keluarga yang siap menghadapi segala macam peristiwa dan keadaan. Namun seperti yang aku katakan, Pajang memang sedang berbenah diri. Karena itu, maka kita memang harus bersedia lahir dan batin untuk menyesuaikan langkah-langkah yang diambil oleh Pangeran Benawa.”

Beberapa orang Lurah Penatus saling berpandangan. Mereka seakan-akan sudah tanggap, apa yang dimaksud oleh Ki Tumenggung Surajaya. Dengan demikian maka mereka tinggal menunggu langkah pelaksanaan dari kebijaksanaan itu.

Sejenak kemudian Ki Tumenggung itu pun berkata, “Mulai bulan depan, jadi masih beberapa hari lagi, aku akan mendapat tugas lain.”

Para Lurah Penatus itu masih juga terkejut mendengar keterangan Ki Tumenggung. Ternyata bukan sekedar menertibkan pasukan didalam barak itu. Tetapi Ki Tumenggung Surajaya justru akan meninggalkan barak itu.

Dengan demikian, maka yang akan menertibkan pasukan itu kelak adalah orang baru yang akan menggantikan Ki Tumenggung.

Sebenarnyalah Ki Tumenggung itu pun kemudian berkata, “Dengan demikian, maka di barak ini akan datang orang baru. Dalam keadaan yang lebih tenang, maka tatanan disetiap pasukan akan menjadi semakin tertib. Yang kemudian akan memimpin barak ini adalah seorang Tumenggung yang mungkin akan dibantu oleh empat orang Rangga, yang berkedudukan sebagai Manggala dan Pandhega. Setiap orang Pandhega akan bertanggung jawab atas tiga kesatuan. Jadi setiap Rangga akan memimpin tiga orang Lurah Penatus. Khususnya didalam tatanan pasukan ini.”

Para Lurah Penatus itu mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan susunan yang akan berlaku didalam barak itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja seorang Lurah Penatus bertanya, “Apakah Ki Tumenggung sudah tahu, siapakah yang akan memimpin barak ini kelak?”

Ki Tumenggung menggeleng. Tetapi katanya, “Meskipun aku belum tahu, tetapi tentu seorang perwira dari Pajang yang sudah kita kenal sebelumnya. Orang-orang yang akan memegang pimpinan dalam jajaran keprajuritan adalah orang-orang yang sepenuhnya dapat dipercaya. Aku sendiri sebenarnya telah menjadi seorang yang tidak sepenuhnya bersikap sebagai seorang prajurit. Ketika kita semuanya menolak bertempur melawan Mataram. Namun apa yang aku lakukan itu dapat dimengerti oleh para pemimpin Pajang sehingga karena itu, maka aku tidak dianggap berkhianat meskipun aku telah mendapat nilai kurang. Apalagi waktu itu Pangeran Benawa sendiri datang dalam sikap bermusuhan dengan Pajang.”

Para Lurah itu mengangguk-angguk, sementara Ki Tumenggung berkata, “Karena itu, aku berpesan, agar kalian tetap memelihara sikap yang baik, yang selama ini telah kalian tunjukkan. Apapun yang akan dilakukan oleh para pemimpin yang baru itu harus kalian bantu sejauh dapat kalian berikan. Kebijaksanaan Senapati yang baru itu tentu merupakan kebijaksanaan Pajang yang harus ditaati oleh setiap prajurit. Dengan demikian maka Pajang yang baru ini akan menjadi Pajang yang jauh lebih baik dari Pajang selama ini.”

Para Lurah Penatus itu masih saja mengangguk-angguk. Mereka memang harus merelakan pimpinan yang mereka anggap paling baik mereka miliki selama mereka menjadi prajurit akan meninggalkan barak itu. Mereka pun harus menerima seorang yang baru yang akan menjadi pemimpin mereka.

Namun para Lurah Penatus itu masih juga memperhitungkan kemungkinan lain. Mungkin ada diantara mereka yang harus meninggalkan barak itu dan di tempatkan dipasukan yang lain yang belum mereka kenal sama sekali. Atau kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Dihari-hari terakhir, maka Ki Tumenggung Surajaya masih berusaha membenahi sejauh mungkin dapat dilakukan, barak dengan segala isinya. Meskipun diantara kesatuan-kesatuan yang ada didalam pasukannya tidak memenuhi tatanan keprajuritan yang ada, namun Ki Tumenggung Surajaya menghendaki semuanya diatur dengan tertib. Dengan demikian maka sepeninggalnya, pasukan itu tetap nampak terpelihara dengan baik.

Dalam pada itu, Kasadha pun telah membenahi prajurit-prajuritnya pula. Dalam kesatuan yang dipimpin oleh Kasadha yang seharusnya terisi seratus orang prajurit, ternyata terdapat seratus tigapuluh orang prajurit dengan tigabelas pemimpin kelompok yang masing-masing memimpin sepuluh orang.

“Tigapuluh orang diantara kita harus terpisah,” berkata Kasadha kepada para prajuritnya. Namun katanya kemudian, “tetapi itu pun belum tentu. Mungkin pimpinan yang baru akan mengambil kebijaksanaan lain. Semua orang didalam pasukan ini akan dibaurkan, sehingga akan ada pembagian kelompok-kelompok yang baru. Atau bahkan sebagian diantara kita akan berada diluar barak ini.”

Para prajuritnya mengangguk-angguk. Tetapi mereka semuanya berpengharapan agar mereka masih tetap berada di barak itu meskipun harus berpindah-pindah kelompok dan kesatuan dibawah seorang Lurah Penatus. Karena hampir semua orang dibarak itu sudah saling mengenal.

Saat-saat yang mendebarkan itu pun menjadi semakin dekat. Dihari yang keampat sebelum datangnya bulan baru, maka Ki Tumenggung Surajaya memberitahukan, bahwa besok pagi, orang yang akan menggantikan kedudukan Ki Tumenggung Surajaya itu akan datang di barak itu.

Para Lurah Penatus yang berkumpul itu pun menjadi berdebar-deb. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja telah bertanya, “Siapakah orang itu Ki Tumenggung?”

“Bukan orang lain,” jawab Ki Tumenggung Surajaya, “yang akan memimpin pasukan ini sebagai Manggala adalah Ki Tumenggung Jayayuda.”

Para Lurah Penatus itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Meskipun mereka belum mengenal dengan sungguh-sungguh Ki Tumenggung Jayayuda, namun menurut pendengaran mereka, Ki Tumenggung itu adalah seorang yang tidak terlalu sulit untuk diikuti kebijaksanaannya. Ia termasuk orang yang wajar dan tidak mempunyai cela yang menonjol didalam hidupnya. Baik sebagai seorang pemimpin maupun sebagai pribadi. Bahkan mungkin tatanan dan kebijaksanaannya tidak akan jauh berbeda dengan Ki Tumenggung Surajaya.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung itu pun kemudian berkata, “Sedangkan tiga orang Rangga yang telah ditetapkan akan membantu Ki Tumenggung Jayayuda sebagai Pandhega adalah Ki Rangga Prangwiryawan, Ki Rangga Wirayuda dan yang seorang agaknya telah kalian kenal. Ia telah diangkat menjadi Pandhega dengan kedudukan Rangga setelah ia mengundurkan diri beberapa lama dengan kedudukan terakhir Lurah Penatus. Tetapi umurnya serta pengalamannya memang pantas untuk mengangkatnya menjadi seorang Rangga dengan jabatan Pandhega pada pasukan kita.”

Para Lurah itu termangu-mangu. Namun Ki Tumenggung pun kemudian berkata, “Orang itu adalah Ki Lurah Dipayuda.”

“Ki Lurah Dipayuda?” hampir diluar sadarnya Kasadha mengulangi dengan nada tinggi.

“Ya. Ia akan berada di barak ini sebagai seorang Pandhega. Kita akan menyebutnya Ki Rangga Dipayuda,” jawab Ki Tumenggung.

“Tetapi ia sudah mengundurkan diri,” berkata Kasadha yang seakan-akan tidak percaya kepada pendengarannya.

“Ya. Sudah aku katakan. Ia mengundurkan diri sebagai Lurah Penatus beberapa waktu yang lalu. Tetapi dalam keadaan yang sangat diperlukan sekarang ini, ia sudah dipanggil kembali. Ki Rangga Dipayuda diminta untuk ikut mengemasi tatanan keprajuritan Pajang,” sahut Ki Tumenggung Surajaya, “dan Ki Rangga Dipayuda pun tidak berkeberatan. Apakah karena terpaksa atau tidak. Tetapi ia akan berada di barak ini.”

Kasadha mengangguk-angguk. Beberapa orang prajurit yang lain pun mengangguk-angguk pula.

Namun ternyata Kasadha mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap kehadiran Ki Dipayuda didalam barak itu.

Sementara itu Ki Tumenggung mengatakan selanjutnya, “Sedangkan seorang lagi diantara para Rangga yang akan menjadi Pandhega itu masih belum ditentukan. Bahkan mungkin pasukan ini akari dipecah menjadi dua dan akan dipimpin oleh dua orang Tumenggung dengan masing-masing dibantu oleh tiga orang Pandhega. Segala sesuatunya masih akan diatur kemudian. Namun yang jelas bahwa Ki Tumenggung Jayayuda akan mendapat tugas yang cukup berat.”

Para prajurit di barak itu memang hanya dapat menunggu. Yang membawa perintah untuk penertiban tentu Ki Tumenggung yang baru, yang akan menggantikan Ki Tumenggung Surajaya yang menurut pengakuannya sendiri, dinilai sebagai seorang prajurit yang kurang patuh kepada perintah atasannya.

Di hari berikutnya, seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Surayuda, telah datang ampat orang perwira prajurit Pajang bersama beberapa orang pengawal khusus. Mereka adalah Ki Tumenggung Jayayuda dan tiga orang Rangga yang akan menjadi pembantunya, memimpin pasukan yang ada dibarak itu.

Ki Tumenggung Surajaya pun segera mengumpulkan semua prajurit yang ada dibarak itu, dihalaman depan barak mereka. Ki Tumenggung Surajaya memberikan beberapa patah kata pengantar untuk memperkenalkan para perwira itu.

“Mulai bulan depan, aku sudah tidak berada di barak ini lagi. Dua hari lagi, aku akan menyerahkan pimpinan pasukan ini kepada Ki Tumenggung Jayayuda. Kemudian dihari berikutnya, segala sesuatunya sudah berada di tangan Manggala yang baru bagi pasukan ini dibantu oleh tiga orang Pandhega. Aku tidak tahu apakah ada Pandhega keempat atau tidak,” berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Pada kesempatan berikutnya maka Ki Tumenggung Jayayuda telah memperkenalkan dirinya dan ketiga orang pembantunya. Dengan lancar Ki Jayayuda berkata, “Kita tentu sudah saling mengenal. Aku bukan orang baru di Pajang. Demikian pula ketiga orang Pandhega yang akan membantu aku, karena aku tidak memiliki kemampuan sebagaimana Ki Tumenggung Surayuda yang dapat memimpin pasukan yang demikian besar ini seorang diri.”

Ketika Ki Tumenggung Jayayuda berpaling kepadanya, Ki Tumenggung Surajaya hanya dapat tersenyum kecil.

Tentang orang keempat yang akan membantunya, Ki Tumenggung berkata, “Bukan orang keempat yang akan datang, tetapi sebagian prajurit yang ada di barak ini akan dipindahkan.”

Jantung para prajurit itu pun terasa semakin cepat berdenyut. Demikian pula jantung Kasadha. Ia merasa kehadiran Ki Rangga Dipayuda sebagai satu keberuntungan, namun justru dirinya akan dapat dipindahkan dari barak itu.

Sementara itu Ki Tumenggung Jayayuda berkata, “Karena itu, maka tentu akan lebih baik jika aku yang melakukan pemindahan itu daripada Ki Tumenggung Surajaya. Karena Ki Tumenggung Surajaya telah mengenal kalian dengan baik. Semua orang dianggapnya baik sehingga sulit baginya untuk memilih, siapakah yang harus dipindahkan keluar dari barak ini. Tetapi aku tidak dibebani perasaan seperti itu. Jika aku menunjuk seseorang tentu tidak akan ada prasangka bahwa aku tidak menyenanginya atau menganggap namanya sudah cacat dan sebagainya, karena aku tidak mengenal kalian secara khusus seorang demi seorang.

Para prajurit yang berkumpul di halaman barak itu dapat menangkap maksud Ki Tumenggung yang tiga hari lagi akan memimpin pasukan di barak itu.

Sementara itu Ki Tumenggung Jayayuda itu berkata selanjutnya, “Jika aku menunjuk seseorang atau sekelompok atau kesatuan yang akan dipindahkan dari barak ini, kalau mungkin dengan bantuan kalian aku tentu akan memilih prajurit-prajurit yang terbaik yang memiliki kemampuan tinggi serta pengabdian yang mendalam agar di tempatnya yang baru, ia akan dapat menjadi teladan bagi para prajurit yang lain. Dengan demikian nama pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya ini akan disebut-sebut sebagai pasukan terbaik di Pajang ini.”

Sekali lagi Ki Tumenggung Surajaya tersenyum. Demikian pula Ki Tumenggung Jayayuda dan para Rangga yang berdiri di belakangnya.

Perkenalan itu tidak berlangsung terlalu lama. Beberapa saat kemudian, para prajurit dan para pemimpin kelompok dipersilahkan untuk kembali ke barak masing-masing. Ki Tumenggung Jayayuda dan para Pandhega akan melihat-lihat keseluruh bagian barak yang besar itu. Namun yang isinya seakan-akan menjadi saling berdesakan karena memang melampaui jumlah yang seharusnya di tempatkan dibarak itu.

Ki Tumenggung Jayayuda sendiri tidak terlalu bersungguh-sungguh mengamati barak itu. Ia masih saja bercakap-cakap dengan Ki Tumenggung Surajaya, yang sebelumnya telah berusaha membenahi baraknya. Namun karena penghuninya memang terlalu banyak, masih saja terdapat beberapa kekurangan disana-sini.

Ki Tumenggung Jayayuda dapat memaklumi hal itu. Bahkan ia pun telah berdesis, “Tentu sangat sulit untuk mengatur barak ini sebaik-baiknya. Namun Ki Tumenggung Surajaya masih juga mampu melakukannya dengan baik. Akulah yang kemudian berpikir, apakah aku dapat berbuat sebagaimana dapat dilakukan oleh Ki Tumenggung Surajaya.”

Ki Tumenggung Surajaya tersenyum. Katanya, “Ki Tumenggung akan dapat berbuat jauh lebih baik.”

“Tetapi aku bersukur bahwa jumlah penghuni barak ini akan dikurangi. Dengap demikian aku akan mendapat kesempatan lebih baik dari Ki Tumenggung Surajaya. Apalagi aku mendapat tiga orang yang akan membantuku. Sementara Ki Surajaya tidak mempunyainya. Sementara itu aku mendapat wewenang untuk membentuk kelompok-kelompok yang khusus yang akan membantuku mengurus barak ini. Misalnya mengurus kepentingan para prajurit. Mengurus perlengkapan dan perbekalan. Mengurus persoalan yang berhubungan dengan rumah tangga di barak ini dan kepentingan-kepentingan yang lain,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda.

“Kelompok-kelompok seperti itu sudah ada,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “namun agaknya Ki Tumenggung Jayayuda dapat melengkapinya.”

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah sampai ke bagian belakang dari barak itu. Satu lapangan terbuka dengan berbagai macam peralatan untuk berlatih ketrampilan secara pribadi. Patok-patok batang kelapa, palang kayu dan bambu, sulur-sulur untuk bergayutan, lubang-lubang yang lebar dan yang sempit.

Ki Jayayuda melihat-lihat peralatan itu sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Lengkap sekali. Seperti sebuah perguruan. Para prajurit tentu memiliki kemampuan pribadi yang sangat tinggi.”

“Tempat ini dipergunakan bergantian untuk sekian banyak orang,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “dengan demikian maka setiap orang hanya mendapat waktu sesaat untuk sepekan. Namun latihan-latihan disini ada juga gunanya bagi para prajurit.”

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki Rangga Prangwiryawan telah berkata kepada Ki Tumenggung Surajaya, “Ki Tumenggung, apakah benar benda-benda ini berarti bagi para prajurit? Atau sekedar hiasan saja di barak ini?”

Ki Tumenggung Surajaya mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Apa maksudmu Ki Rangga?”

“Apakah benar para prajurit mampu melakukan latihan-latihan ketrampilan dan olah kanuragan dengan memanfaatkan alat-alat ini?” Ki Rangga Prangwiryawan menjelaskan.

“Tentu” yang menjawab adalah Ki Tumenggung Jayayuda, “jika tidak, apa gunanya alat-alat di tempatkan disini? Meskipun sedikit alat-alat ini tentu ada gunanya. Aku senang bahwa didalam barak ini ada alat-alat seperti ini.”

Ki Rangga mengerutkan dahinya. Sementara itu Tumenggung Jayayuda berkata, “Pada saatnya kita akan melihat arti dari alat-alat ini setelah kita berada di barak ini.”

“Apakah Ki Rangga akan melihat?” bertanya Ki Tumenggung Surajaya, “kita dapat menunjuk salah seorang diantara Lurah Penatus. Apakah ia dapat menunjukkan arti dari alat-alat yang ada disini. Seandainya alat-alat ini tidak berarti bagi semua prajurit, maka para Lurah Penatus dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan mereka secara pribadi. Hal itu akan banyak berarti bukan saja bagi Ki Lurah Penatus itu sendiri, tetapi juga bagi para pemimpin kelompok dan para prajurit.”

“Sudahlah, lain kali saja,” berkata Ki Jayayuda.

Namun Ki Rangga Prangwiryawan berkata, “Menarik sekali jika hal itu dapat dilakukan meskipun hanya sebentar.”

“Silahkan menunjuk para Lurah Penatus itu,” berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Namun yang menjawab adalah Ki Rangga Dipayuda, “Akulah yang menunjuk. Nampaknya Lurah Penatus yang termuda itu dapat menunjukkan kepada kami, apa yang pernah dilakukan dengan alat-alat ini.”

Kasadha terkejut. Ia sadar, bahwa ia adalah Lurah Penatus yang termuda, yang sekedar ikut mengantar para pemimpin dan mereka yang akan memimpin barak itu melihat-lihat.

“Baik,” Ki Tumenggung Surajaya segera tanggap. Karena itu maka ia pun telah memberi isyarat kepada Kasadha untuk mendekat.

Kasadha memang menjadi berdebar-debai. Ia sama sekali tidak siap untuk berbuat apapun juga disanggar itu. Apalagi dihadapan para pemimpin baru bagi barak itu. Pengalaman telah mengatakan kepadanya, bahwa tidak semua pemimpin merasa bersukur jika anak buahnya menunjukkan tingkat kemampuan yang tinggi. Tetapi ada satu dua orang pemimpin yang tidak mau melihat kelebihan anak buahnya.

Namun Kasadha melangkah juga mendekat. Kemudian ia pun telah bersiap dan mengangguk hormat kepada para pemimpin yang akan memimpin barak itu.

“Lakukan,” perintah Ki Tumenggung Surajaya, “selagi hari ini aku masih berwenang memerintahmu.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Namun ia melihat Ki Tumenggung itu tersenyum.

“Kenapa kau ragu-ragu?” bertanya Ki Rangga Prangwiryawan, “apakah kau tidak mampu melakukannya?”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Sekilas dipandanginya tatapan mata Ki Rangga Dipayuda yang ternyata juga tersenyum kecil.

Kasadha memang tidak mempunyai pilihan lain. Apalagi ketika Ki Tumenggung Jayayuda berkata, “Baiklah. Kita berhenti sejenak untuk melihat manfaat dari alat-alat ini. Ki Rangga Dipayuda telah menunjuk Lurah Penatus yang termuda. Jika ia dapat melakukan sesuatu untuk menunjukkan manfaat dari alat-alat ini, maka para Lurah yang lebih tua tentu memiliki kemampuan memanfaatkan alat-alat ini lebih tinggi. Dan sebenarnyalah yang penting bukan kemampuan memanfaatkan alat-alat ini, tetapi apakah sumbangan alat-alat ini bagi tugas para prajurit.

“Ya,” jawab Ki Tumenggung Surajaya, “pendapat Ki Tumenggung tepat. Yang penting apakah alat-alat ini berarti bagi para prajurit dalam menjalankan tugasnya.”

“Nah,” berkata Ki Rangga Prangwiryawan, “kita akan melihatnya. Apa yang dapat dilakukan oleh prajurit muda itu.”

Kasadha tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian telah membenahi pakaiannya. Menyingsingkan kain panjangnya dan kemudian melangkah mendekati alat-alat yang terdapat di lapangan terbuka itu.

“Kau tidak perlu menunjukkan kegunaan semua alat yang ada,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda yang agaknya waktunya tidak terlalu banyak. Namun ia pun tidak mau mengecewakan Ki Rangga Prangwiryawan, seorang Rangga yang memiliki pengalaman yang cukup luas di lingkungan keprajuritan sebagaimana Ki Rangga Wirayuda yang lebih banyak diam dan tersenyum-senyum saja, serta sebagaimana Ki Rangga Dipayuda yang telah kenyang makan pahit getirnya tugas seorang prajurit.

Kasadha memang masih ragu-ragu. Justru karena itu, Ki Rangga Prangwiryawan membentak, “Cepat. Apa yang kau tunggu? Atau barangkali kau tidak meyakini dirimu sendiri? Satu cela yang besar bagi seorang prajurit jika ia tidak yakin akan kemampuan diri.”

Ki Tumenggung Surajaya mengerutnya keningnya. Ia tidak senang terhadap sikap Ki Rangga itu. Agaknya Ki Rangga itu menganggap bahwa kemampuan para prajurit dalam lingkungan pasukan Ki Tumenggung Surajaya masih harus diuji. Bahkan peralatan di sanggar terbuka itu dianggapnya tidak berarti.

Ki Tumenggung Surajaya menganggap bahwa Ki Rangga Dipayuda memang ingin membantunya. Ki Rangga Dipayuda nampaknya sudah mengenal benai Lurah muda yang bernama Kasadha itu.

Kasadha pun kemudian telah merasa tersinggung pula olah sikap Ki Rangga Prangwiryawan Tetapi jiwanya yang sudah ditempa oleh perjalanan hidupnya membuatnya mampu menahan diri sehingga ia tidak menuruti perasaannya saja. Ia masih mampu mempergunakan nalarnya dengan jernih. Ki Rangga Prangwiryawan akan menjadi salah seorang pemimpin di barak itu. Bahkan mungkin akan menjadi pimpinannya langsung. Jika Ki Rangga Prangwiryawan itu menjadi Pandhega dan kesatuannya termasuk didalam pimpinannya, maka Ki Rangga itu akan dapat berbuat banyak atas dirinya.

Karena itu, maka Kasadha yang menyesal bahwa ia telah menampakkan diri itu harus mulai menunjukkan manfaat dari alat-alat yang ada di lapangan terbuka itu.

Yang mula-mula dilakukan oleh Kasadha adalah meloncat berdiri pada salah satu diantara patok batang kelapa yang tidak sama tinggi itu. Sejenak kemudian, Kasadha telah mulai menunjukkan ketrampilan kakinya, ia berloncatan dari patok yang satu ke patok yang lain.

Meskipun demikian, Kasadha tidak benar-benar sampai ke puncak kemampuannya. Ia tidak menunjukkan penguasaan ilmunya yang sesungguhnya. Ia melakukannya sekedar untuk membuktikan bahwa patok-patok dan alat-alat yang lain memberikan arti bagi para prajurit yang mempergunakannya untuk berlatih. Kecepatan dan ketepatan gerak kaki akan sangat berarti bagi kemampuan seseorang dalam olah kanuragan.

Dengan berloncatan dialas patok-patok kayu itu Kasadha telah memberikan kesan betapa para prajurit di barak itu mampu menguasai unsur-unsur gerak yang bertumpu pada kecepatan dan ketepatan gerak kakinya.

Namun menyadari hal itu, Kasadha tidak melakukan gerak yang berlebihan. Jika Ki Rangga Prangwiryawan kemudian menunjuk orang lain, maka orang lain tidak akan dapat melakukannya pula. Apalagi seorang Lurah Penatus.

Dari patok-patok kayu, Kasadha bergerak ke palang kayu dan bambu. Dengan mapan Kasadha menunjukkan kemampuannya menguasai keseimbangan tubuhnya. Keterbatasan gerak kakinya sama sekali tidak menyulitkannya untuk menguasai keseimbangan tubuhnya dalam susunan gerak yang cepat.

Setelah menunjukkan kemampuannya bergerak di atas palang-palang kayu dan bambu, maka Kasadha pun mulai bergayutan pada sulur-sulur yang tergantung pada kayu-kayu yang memang dipasang untuk itu. Ketika Kasadha kemudian meloncat turun, maka ia langsung masuk kedalam sebuah lubang. Namun kemudian melenting naik dan turun kelubang yang lain. Semakin lama semakin cepat. Namun masih tetap terbatas.

Kasadha sama sekali tidak menunjukkan kemampuan yang berlebihan sebagai seorang Lurah Penatus. Meskipun seorang Lurah Penatus yang terpilih. Menurut perhitungan Kasadha, maka Lurah Penatus yang lain pun akan dapat melakukannya sebagaimana dilakukan oleh Kasadha.

Ki Rangga Dipayuda yang mengenal kemampuan Kasadha yang sebenarnya dimedan perang tersenyum. Ia mengerti bahwa Kasadha tidak ingin menunjukkan kelebihannya dari para Lurah yang lain. Ia pun tidak ingin menarik perhatian para pemimpin yang baru yang akan menggantikan Ki Tumenggung Surajaya itu.

Ketika Kasadha kemudian telah selesai, maka Ki Tumenggung Jayayuda pun mengangguk-angguk. Katanya, “Seorang Lurah yang baik dalam olah kanuragan. Mudah-mudahan ia pun seorang Lurah yang baik diantara kesatuannya, meskipun ia masih muda.”

Namun Ki Rangga Prangwiryawan berkata, “Tidak ada kelebihan apa-apa dengan permainannya. Ya, memang sekedar permainan karena kita belurn melihat hubungan antara tatanan geraknya dengan kepentingan seorang prajurit. Ia hanya berloncatan, bergantungan, menyuruk kedalam lubang-lubang itu dan melenting kembali. Aku belum melihat apakah ia mampu menghalau musuh hanya dengan berloncatan seperti itu.”

Ki Tumenggung Jayayuda mengerutkan keningnya. Namun ia kemudian tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Lain kali kita melihat lebih jauh. Sekarang aku mempunyai kepentingan yang lain.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk sambil berkata, “Besok lusa Ki Tumenggung mempunyai waktu banyak untuk memperhatikan pasukan di barak ini.”

Ki Tumenggung Jayayuda tersenyum. Katanya, “Aku kira hari ini aku sudah melihat terlalu banyak. Aku sudah dapat menjajagi keadaan di barak ini. Baik mengenai kewadagan barak ini sendiri maupun isinya, para prajurit Pajang mempunyai watak tersendiri, terutama disaat Pajang menghadapi Mataram dan Jipang yang terakhir. Mudah-mudahan aku dapat diterima oleh para prajurit yang sudah terbiasa bersikap sebagaimana Ki Tumenggung Surajaya.”

Ki Tumenggung Surajaya tertata kecil. Katanya, “Aku ternyata merupakan contoh yang kurang baik. Tetapi Ki Jayayuda akan mampu melakukan tugasnya dengan baik.”

“Biarlah orang lain yang menilainya. Tetapi aku mempunyai penilaian lain tentang Ki Tumenggung Surajaya. Jika saja saat itu aku memiliki sandaran kekuatan seperti Ki Tumenggung Surajaya, agaknya aku pun akan melakukan sebagaimana Ki Tumenggung lakukan.”

Ki Tumenggung Surajaya pun tertawa sambil menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Bukankah dengan demikian aku dinilai sebagai seorang prajurit yang tidak patuh atas perintah atasannya.”

“Tetapi dengan landasan yang mapan dan dapat dicerna oleh nalar,” jawab Ki Tumenggung Jayayuda.

Ki Tumenggung Surajaya yang masih tertawa tidak menjawab lagi. Iring-iringan kecil itu pun kemudian meninggalkan lapangan terbuka yang menjadi sanggar latihan bagi para prajurit di barak itu.

Beberapa saat kemudian, setelah para tamu itu dijamu minum sekedarnya diruang khusus di bangunan induk barak pasukan Ki Surajaya itu, maka Ki Tumenggung Jayayuda pun minta diri.

Namun lepas dari pintu gerbang, maka Ki Tumenggung Jayayuda yang berkuda dipaling depan bersama Ki Rangga Prangwiryawan telah bertanya, “Untuk apa Ki Rangga minta seorang Lurah melakukan itu?”

“Maksud Ki Tumenggung?” bertanya Ki Rangga Prangwiryawan.

“Kenapa Lurah Penatus itu harus menunjukkan kepada kita manfaat dari alat-alat yang terdapat di sanggar latihan itu?” ulang Ki Tumenggung.

“Bukankah kita harus mengetahui segala peralatan yang ada di barak itu? Bukankah besok lusa kita sudah harus berada disana?” desis Ki Rangga Prangwiryawan.

“Tetapi yang kau lakukan itu telah menyinggung perasaan Ki Tumenggung Surajaya. Seakan-akan Ki Tumenggung tidak mampu mengatur baraknya sehingga ada peralatan yang tidak berguna,” berkata Ki Tumenggung kemudian.

“Ternyata sebagaimana kita lihat, apakah peralatan itu seimbang dengan kebutuhan? Apa yang dapat dilakukan oleh Ki Lurah Penatus itu dengan alat-alat yang berlebihan itu?” jawab Ki Rangga.

“Kita belum mendalaminya. Terus-terang saja, dalam waktu sepintas kita tidak akan dapat menilai kegunaan sesuatu yang baru kita lihat. Bukankah kita akan mempunyai banyak waktu sehingga kita tidak tergesa-gesa melakukannya? Tentu lebih pantas jika hal itu dilakukan tanpa ada Ki Tumenggung Surajaya,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda.

“Kita adalah prajurit,” jawab Ki Rangga Prangwiryawan, “kita tidak boleh terlalu terikat kepada perasaan saja. Pantas atau tidak pantas. Menyinggung atau tidak menyinggung perasaan. Atau semacamnya. Kita harus terbuka dan berterus-terang.”

“Kau ingin aku berbuat begitu?” bertanya Ki Tumenggung Jayaraga, “apakah aku harus marah kepadamu dihadapan para prajurit itu karena yang kau lakukan tidak sesuai dengan kepentinganku. Aku ingin segera meninggalkan barak itu karena aku masih mempunyai satu kepentingan. Sementara itu kau berkeras untuk melihat apakah peralatan itu penting atau tidak sekedar untuk menunjukkan bahwa kau, Ki Rangga Prangwiryawan akan mampu menilai kegiatan yang telah dilakukan oleh Ki Tumenggung Surajaya dan bahkan mampu untuk mencelanya.”

Ki Rangga Prangwiryawan mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab. Sementara Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Ki Rangga. Aku telah menahan diri dan ingin menyampaikan hal ini tidak dihadapan para prajurit. Bahkan tidak didengar oleh Ki Rangga Wirayuda dan Ki Rangga Dipayuda. Aku tidak ingin menyinggung harga dirimu, karena jika harga diri seseorang itu tersinggung, maka orang itu cenderung untuk mempertahankannya. Pada saat ia tersinggung atau kalau tidak mungkin akan menunggu saat lain. Dan bahkan akan dapat tersimpan sebagai dendam dihati.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak menjawab. Namun ternyata meskipun tidak dihadapan orang lain, Ki Rangga benar-benar sulit menerima pernyataan Ki Tumenggung itu. Karena itu, maka persoalan itu rasa-rasanya justru telah didesak terbenam didasar lubuk hatinya sehingga pada suatu saat akan dapat diungkit kembali dan muncul kepermukaan. Yang kemudian menjadi sasaran kebenciannya bukan Ki Tumenggung Jayayuda. Bukan pula Ki Tumenggung Surajaya. Tetapi orang itu justru mendendam dan membenci tanpa sebab Lurah Penatus yang telah ditunjuk untuk bermain dengan alat-alat yang ada disanggar latihan terbuka itu.

“Lurah muda itu begitu sombong. Seharusnya ia dengan jelas menunjukkan bahwa alat-alat yang dibuat Ki Tumenggung Surajaya itu tidak berarti apa-apa. Ia harus berbuat sesuatu sehingga ternyata semua peralatan itu tidak memberikan dukungan apa-apa terhadap kemampuan seorang prajurit didalam tugasnya,” geram Ki Rangga itu dalam hatinya.

Tetapi Ki Tumenggung Jayayuda pun tidak memperpanjang persoalan itu. Ketika Ki Rangga tidak lagi menjawab, maka Ki Tumenggung pun menganggap bahwa Ki Rangga itu mengerti maksudnya.

Dalam pada itu, sepeninggal para perwira yang akan menjadi pimpinan di barak itu, maka para prajurit pun menjadi sibuk menilainya. Sebagian dari mereka berpendapat sama. Ki Tumenggung Jayayuda nampaknya tidak akan jauh berbeda dari Ki Tumenggung Surajaya.

Namun selain itu, maka ada juga para prajurit yang mulai membicarakan sikap Ki Rangga Prangwiryawan.

Perwira itu masih terhitung muda. Umurnya tentu baru sekitar ampat puluh tahun atau kurang. Tubuhnya yang sedang dan wajahnya yang keras membuatnya menjadi nampak berwibawa. Namun ternyata sikapnya agak kurang mapan bagi para prajurit yang melihat bagaimana ia meragukan alat-alat yang ada di sanggar latihan barak itu. Padahal para prajurit di barak itu pada umumnya merasakan, alat-alat itu telah membantu mereka meningkatkan ketrampilan dan ketahanan tubuh mereka.

Bagi Kasadha sendiri, singgungan pada pertemuan pertama itu merupakan pertanda yang menggelisahkan. Sebenarnya Kasadha tidak ingin melakukan apapun lebih dari kawan-kawannya. Ia ingin hadir di barak itu dalam keadaan sewajarnya saja. Sebagai prajurit kebanyakan yang menyerahkan diri untuk mengabdi kepada Pajang.Tidak lebih. Apalagi Kasadha masih saja selalu dibayangi masa lampaunya, sehingga tempat yang didapatkannya di lingkungan keprajuritan itu baginya merupakan tempat yang paling baik baginya.

Ketika hal itu dikemukakannya kepada Ki Tumenggung Surajaya, maka Ki Tumenggung itu pun berkata, “Ki Rangga Prangwiryawan bukan orang yang memiliki kekuasaan mutlak disini, Kasadha. Diatasnya masih ada Ki Tumenggung Jayayuda. Nampaknya Ki Tumenggung Jayayuda juga tidak berkenan dengan sikap Ki Rangga Prangwiryawan. Namun Ki Tumenggung yang bijaksana itu tidak mau menyinggung perasaan Ki Rangga sehingga caranya untuk menghentikan niat Ki Rangga Prangwiryawan adalah cara yang baik, yang barangkali aku sendiri tidak berpikir sejauh itu.”

“Jika aku kemudian diletakkan dibawah kepemimpinan Ki Rangga Prangwiryawan, maka rasa-rasanya aku akan mendapatkan banyak pengalaman dari padanya,” berkata Kasadha kemudian.

Ki Tumenggung Surajaya mengerti perasaan Kasadha. Tetapi katanya, “Kau adalah seorang prajurit Kasadha.”

Kasadha yang semula menunduk tiba-tiba telah mengangkat wajahnya sambil berkata, “Ya. Aku adalah seorang prajurit.”

Ketetapan hati Kasadha itu membuatnya tidak lagi menjadi gelisah. Ia sudah bulat-bulat menyerahkan dirinya dalam tugas-tugas keprajuritan. Apapun yang akan terjadi, harus dijalaninya.

Pada saat-saat terakhir Ki Tumenggung Surajaya memimpin barak itu, Kasadha telah menghadapnya dan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas barak itu bersama para Lurah Penatus yang laian. Seandainya para Lurah itu kemudian akan terpecah dan tersebar, maka mereka berharap bahwa Ki Tumenggung Surajaya dapat tetap berhubungan dengan mereka.

“Bukankah tidak ada larangan seandainya kita membentuk satu kelompok kekeluargaan yang dapat bertemu pada saat-saat tertentu?” bertanya salah seorang Lurah Penatus.

Ki Tumenggung Surajaya tersenyum. Katanya, “Aku tahu. Semuanya itu terdorong oleh keakraban hubungan diantara kita yang ada di barak ini. Kita pernah merasakan bersama ketegangan yang sangat mencengkam, sehingga seakan-akan kita telah terikat untuk hidup bersama atau mati bersama. Karena itu aku tidak berkeberatan jika dimasa-masa mendatang kita tetap berhubungan sebagai keluarga dan bertemu disaat-saat tertentu. Namun kita harus tetap menyadari kedudukan kita, bahwa kita adalah .prajurit. Selama kita masih tetap berada di Pajang dan sekitarnya, maka pertemuan seperti itu akan dapat kita lakukan. Tetapi jika ada diantara kita yang di tempatkan di kesatuan-kesatuan yang tersebar jauh, maka kita harus merelakannya karena kita seorang prajurit.”

Para Lurah Penatus itu hanya mengangguk angguk saja. Mereka mengerti maksud Ki Tumenggung Surajaya. Ikatan yang ada selama mereka berada dibarak itu adalah ikatan tugas mereka sehingga pada suat u saat memang akan terurai dan terlepas yang satu dengan yang lain.

Namun dalam pada itu, Ki Tumenggung berkata, “Tetapi sejauh dapat kita lakukan, maka aku sependapat untuk melestarikan hubungan kita sebagai satu keluarga yang terlepas sama sekali dari sangkut paut tugas kita masing-masing.”

Dengan demikian, maka para Lurah Penatus itu benar-benar harus mempersiapkan diri menghadapi kedatangan pemimpin-pemimpin mereka yang baru yang sudah barang tentu sedikit banyak masing-masing pihak harus berusaha untuk saling menyesuaikan diri.

Pada saat terakhir, Kasadha mengurungkan niatnya untuk bertanya, apakah ia diperkenankan untuk meningkatkan ilmunya diluar barak keprajuritan. Persoalan itu tentu akan diserahkan kepada pimpinannya yang baru.

“Jika pimpinan langsung yang baru itu adalah Ki Rangga Prangwiryawan, maka kemungkinan itu pun menjadi kecil sekali,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Demikianlah saat yang mendebarkan itu pun tiba juga akhirnya. Di halaman barak itu telah dilangsungkan upacara penyerahan pimpinan dari Ki Tumenggung Surajaya kepada Ki Tumenggung Jayayuda. Dihadiri oleh para Senapati dan Panglima prajurit Pajang, serta beberapa orang pemimpin pemerintahan yang lain.

Sejak saat itulah, maka yang memimpin pasukan di barak itu adalah Ki Tumenggung Jayayuda.

Namun Ki Tumenggung Jayayuda pun berusaha untuk bertindak bijaksana. Ia tidak membuat para prajurit menjadi gelisah. Yang mula-mula dilakukan adalah memanggil para Lurah Penatus. Kemudian memerintahkan para Lurah itu untuk memberikan keterangan terperinci tentang kesatuan yang dipimpinnya.

“Pasukan ini akan menjadi pasukan yang lebih sederhana susunannya,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda, “seluruhnya akan terdiri dari sepuluh kesatuan. Setiap Pandhega akan memimpin tiga kesatuan yang terdiri dari seratus orang. Dengan demikian maka tiga orang Pandhega akan memimpin sembilan kesatuan yang masing-masing terdiri dari seratus orang. Sedangkan kesatuan yang kesepuluh adalah kesatuan yang akan membantu pimpinan melaksanakan tugas-tugas di barak ini. Menurut Ki Tumenggung Surajaya, kesatuan ini sudah ada sehingga aku tinggal menyempurnakannya saja.”

Para Lurah penatus itu mengangguk-angguk saja. Sementara itu Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Karena itu, kalian tidak perlu gelisah. Untuk sementara kalian akan tetap utuh tinggal di barak ini. Meskipun sekarang setiap kesatuan memiliki prajurit lebih dari seratus, namun kesatuan yang ada tidak lebih dari tujuh kesatuan. Jika kelebihannya itu kita kumpulkan, maka agaknya akan terpenuhilah ketentuan bagi pasukan di barak ini. Dengan demikian, maka kita justru masih memerlukan tiga orang Lurah Penatus. Karena untuk sementara aku belum dapat menunjuk diantara kalian, maka ketiga Lurah Penatus itu akan datang dari luar barak ini. Mudah-mudahan mereka dapat kalian terima dengan baik. Namun segala sesuatunya yang lebih pasti akan aku tentukan setelah para Lurah yang ada memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya tentang kesatuan masing-masing.”

Para Lurah Penatus itu mengangguk-angguk. Nampaknya pasukan itu akan tetap utuh, setidak-tidaknya untuk sementara. Meskipun Ki Tumenggung Jayayuda mengatakan bahwa susunannya akan menjadi lebih sederhana, namun para Lurah itu menyadari, bahwa yang akan terjadi adalah sebaliknya. Susunan pasukan itu tentu terasa lebih rumit, karena diantara Manggala pasukan dibarak itu dengan para Lurah Prajurit masih terdapat Pandhega yang menjadi jembatan kepemimpinan. Bagaimanapun juga maka pribadi para Pandhega itu tentu ikut menentukan warna kepemimpinan Manggala pasukan itu.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung memberikan waktu tiga hari bagi para Lurah untuk memberikan keterangan terperinci tentang kesatuan mereka masing-masing.

Dengan demikian maka selama tiga hari para Lurah Penatus dibantu oleh para pemimpin kelompok telah menyusun keterangan tentang para prajurit yang ada di setiap kesatuan. Sebagaimana diperintahkan, maka keterangan itu harus terperinci.

Atas dasar keterangan itulah, maka Ki Tumenggung akan menentukan susunan pasukannya.

Kebijaksanaan yang diambil oleh Ki Tumenggung ternyata cukup sederhana tanpa menimbulkan persoalan bagi para prajurit. Untuk menertibkan jumlah di setiap kesatuan, maka Ki Tumenggung telah mengambil urutan angka dari setiap prajurit dari angka satu sampai dengan seratus termasuk para pemimpin kelompoknya. Dengan demikian tidak akan ada prasangka apapun dari para prajurit yang terpisah dari kesatuannya.

“Aku tidak menilai apapun dari para prajurit. Aku tidak menilai kemampuan, kesetiaan dan umurnya. Yang aku lakukan semata-mata berdasarkan atas urutan nama yang diserahkan kepadaku,” berkata Ki Tumenggung Jayayuda kepada para prajurit ketika mereka kemudian dikumpulkan di halaman. Lalu katanya kemudian, “Mungkin pada kesempatan lain aku akan mengambil kebijaksanaan lain. Aku akan”membaurkan kembali para prajurit atas dasar penilaian yang lebih mendasar. Kebijaksanaan ini akan diambil pula oleh Panglima Pajang sehingga pada kesempatan lain, yang tentu tidak segera, akan ada alih tugas diantara para prajurit Pajang. Bukankah Pajang tidak hanya selebar Kotaraja ini?”

Para prajurit itu mendengarkan keterangan Ki Tumenggung dengan sungguh-sungguh. Semuanya memang terasa wajar. Karena itu maka para prajurit itu pun berpengharapan, bahwa untuk selanjutnya mereka akan dapat menunaikan tugas mereka dengan tenang.

Ternyata bahwa Ki Tumenggung itu memang bijaksana. Ia sendiri yang menempatkan setiap kesatuan dibawah pimpinan para Pandhega. Dengan demikian maka Ki Tumenggung tidak menempatkan kesatuan yang dipimpin oleh Lurah Penatus Kasadha dibawah kepemimpinan Ki Rangga Prangwiryawan. Tetapi sebagaimana diharapkan oleh Kasadha, maka kesatuannya berada dibawah kepemimpinan Ki Rangga Dipayuda.

Namun disetiap kelompok kesatuan telah diletakkan seorang Lurah Penatus baru yang di tempatkan dari luar lingkungan pasukan itu. Demikian pula kelompok kesatuan yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha dan seorang Lurah lagi dari pasukan yang memang telah ada di barak itu maka akan datang seorang Lurah yang akan ditentukan kemudian, yang datang dari luar barak pasukan yang kemudian dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda itu.

Untuk menyelesaikan tugas penertiban itu, Ki Tumenggung Jayayuda telah memberikan batasan waktu satu bulan, agar segala sesuatunya tidak berkesan tergesa-gesa.

“Mungkin dalam dua pekan semuanya dapat diselesaikan. Tetapi aku ingin semuanya berjalan dengan wajar dan mapan,” berkata Ki Tumenggung yang kemudian menyerahkan penyelesaiannya kepada para Pandhega, yang pada saatnya harus memberikan laporan kepada Ki Tumenggung.

Demikianlah, maka didalam barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda itu memang terjadi kesibukan. Tetapi sebagaimana dikehendaki oleh Ki Tumenggung, semuanya berlangsung dengan tenang dan mapan. Semua persoalan yang timbul dapat dibicarakan dengan baik dan tuntas, karena waktu yang tersedia cukup luas.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, tiga orang Lurah Penatus yang baru telah berada di barak itu pula. Pada pekan kedua mereka telah di tempatkan di kesatuan masing-masing. Kesatuan yang terdiri dari para prajurit yang dipisahkan dari kesatuan mereka masing-masing karena jumlahnya terlalu banyak bagi sebuah kesatuan yang dipimpin oleh seorang Lurah.

Ternyata bahwa semuanya dapat berjalan dengan lancar dan baik. Tidak ada gejolak yang terjadi diantara para prajurit. Mereka yang terpaksa terpisah dari kesatuannya yang lama, telah menerima penempatan rnereka dengan baik, karena mereka tidak merasa disisihkan karena beberapa kekurangan. Bahwa mereka harus berpindah keda-lam kesatuan lain adalah semata-mata karena kebetulan saja.

***

Dalam pada itu, selagi pasukan yang berada dibawah pimpinan Ki Tumenggung Jayayuda itu ditertibkan, maka Tanah Perdikan Sembojan pun telah menerima kedatangan beberapa orang utusan dari Pajang, yang dipimpin oleh Ki Rangga Kalokapraja. Utusan itu telah diterima oleh Iswari, Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta anak laki-lakinya, Risang.

“Kita sedang menyusun satu susunan pemerintahan yang lebih mapan,” berkata Ki Rangga Kalokapraja.

“Ya Ki Rangga,” jawab Iswari, “mudah-mudahan dibawah pimpinan Pangeran Benawa segala sesuatunya menjadi lebih baik.”

“Kita bersama-sama berdoa,” berkata Ki Rangga kemudian. Lalu katanya, “Kedatangan kami ke Tanah Perdikan ini juga dalam rangka usaha Pangeran Benawa untuk menertibkan susunan pemerintahan di Pajang. Sejak Pangeran Benawa memegang kepemimpinan Pajang, maka aku telah diserahi tugas untuk menghubungi semua Tanah Perdikan yang ada di lingkungan Pajang, terutama Tanah Perdikan yang terdekat. Meskipun aku mempunyai beberapa orang pembantu, namun aku ingin datang sendiri ke setiap Tanah Perdikan, sehingga aku akan mendapat keterangan yang langsung aku dengar dari para pemimpin di Tanah Perdikan itu sendiri.”

Iswari mengangguk sambil menjawab, “Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Rangga untuk datang. Jika Ki Rangga ingin mendengarkan keluhan kami, adalah akibat dari tindakan yang dilakukan oleh para petugas beberapa saat yang lalu, ketika kepimpinan Pajang masih dipegang oleh Kangjeng Adipati Demak.”

“Aku sudah mendengar,” jawab Ki Rangga, “yang Nyai maksud dengan pemerasan yang dilakukan oleh para petugas saat itu.”

“Ya,” jawab Iswari, “ancaman dan bahkan tindakan kekerasan.”

“Aku juga sudah menerima laporan bahwa Tanah Perdikan ini telah berusaha untuk mempertahankan kehadirannya,” berkata Ki Rangga kemudian.

“Hal itu terpaksa kami lakukan,” jawab Iswari, “kami tidak mempunyai pilihan lain. Sementara itu kami mengetahui, bahwa para petugas saat itu tidak benar-benar mengemban tugas mereka dengan jujur.”

“Kami telah berusaha untuk mengetahui alasan Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Rangga kemudian, “meskipun kami tentu masih akan memerlukan keterangan yang lain.”

Iswari mengangguk-angguk kecil, sementara Ki Rangga berkata selanjutnya, “Karena itu disamping apa yang telah kau dengar langsung dari Tanah Perdikan ini, maka aku minta Nyai memberikan keterangan yang lebih lengkap tentang Tanah Perdikan ini. Berdasarkan kekancingan yang ada serta kenyataan yang ada sekarang. Kami ingin mengetahui keadaan para penghuni Tanah Perdikan ini pada umumnya. Keadaan tanahnya, sawah dan pategalan yang ada, jalan-jalan, sungai dan parit-paritnya. Ternak dan binatang peliharaan yang lain. Luas hutan yang masih ada serta tanah miring dilereng pegunungan serta jajaran bukit dan keadaan tanahnya.”

“Untuk apa semuanya itu Ki Rangga?” bertanya Risang tiba-tiba.

“Kami akan mempunyai gambaran tentang setiap Tanah Perdikan yang ada. Meskipun pada dasarnya Tanah Perdikan memiliki wewenang untuk mengatur dirinya sendiri, namun rakyat Tanah Perdikan Sembojan adalah rakyat Pajang. Adalah kewajiban kami untuk mengetahui atau setidak-tidaknya dugaan tentang tingkat kehidupan mereka,” jawab Ki Rangga Kalokapraja.

Risang mengangguk-angguk. Ia tidak dapat ingkar, bahwa dalam keutuhan Kadipaten Pajang yang bulat, Tanah Perdikan Sembojan termasuk didalamnya.

Karena itu, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat berbuat lain kecuali menyatakan kesediaan para pemimpinnya untuk memenuhi permintaan Pajang.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga Kalokapraja juga berkata, “Sementara itu, Pajang akan segera mempersiapkan pengesahan kembali Tanah Perdikan yang berada dilingkungan wewengkonnya.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Kami mengucapkan terima kasih Ki Rangga. Namun sebenarnyalah, kami ingin mengajukan satu permohonan tentang Tanah Perdikan Sembojan. Tentu saja setelah segala sesuatunya dianggap selesai. Namun jika hal ini kami sampaikan sekarang, kami memperhitungkan bahwa segala sesuatunya nanti akan dapat berlangsung rancak.”

“Permohonan apa Nyai?” bertanya Ki Rangga Kalokapraja, “meskipun aku sekarang diserahi wewenang untuk menangani persoalan-persoalan yang berhubungan dengan Tanah Perdikan yang ada, namun wewenangku tetap terbatas. Jika permohonan Nyai itu masih berada didalam batas wewenangku, maka aku akan dapat menjawabnya. Jika tidak, maka permohonan Nyai akan aku teruskan kepada para petugas yang memiliki wewenang lebih tinggi.”

“Terima kasih Ki Rangga,” berkata Iswari kemudian, “sebenarnyalah sampai saat ini aku masih dianggap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi, Nyai menghendaki agar Nyai segera diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan?”

“Tidak,” jawab Iswari dengan serta merta. Kemudian katanya lebih lanjut, “Bukan maksudku bahwa aku mohon untuk segera diwisuda. Tetapi aku mohon yang berhak atas Tanah Perdikan inilah yang segera diwisuda. Bukan aku, karena aku merasa tidak berhak untuk ditetapkan menjadi Kepala Tanah Perdikan. Yang aku lakukan sampai saat ini adalah sekedar menjadi Pemangku, karena yang berhak atas kedudukan itu belum dewasa sepenuhnya. Sekarang, yang berhak itu sudah dewasa penuh.”

“Risang maksud Nyai?” bertanya Ki Rangga.

Nyai Wiradana itu mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya, Ki Rangga. Risang sudah dewasa penuh. Ia sudah dapat menerima tugas itu sepenuhnya jika hal ini dianggap pantas oleh Pajang.”

Ki Rangga Kalokapraja mengangguk-angguk. Katanya, “Yang dilakukan Pajang sebenarnya adalah tinggal mengesahkan, karena segala sesuatunya sudah jelas dan tergantung atas keputusan Tanah Perdikan itu sendiri. Namun baiklah hal ini aku bawa ke Pajang untuk segera mendapat penanganan. Namun aku minta dalam laporan yang terperinci tentang Tanah Perdikan itu nanti persoalan ini agar disebut kembali.”

Iswari mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Rangga.”

“Terima kasih,” jawab Ki Rangga yang kemudian berkata, “Kemudian Nyai, untuk melengkapi laporan perjalananku, apakah aku diijinkan untuk melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan itu pada keadaan sekarang.”

“Silahkan Ki Rangga. Kami sama sekali tidak berkeberatan,” jawab Iswari.

“Tidak seluruhnya. Kami hanya ingin melihat beberapa bagian yang Nyai anggap penting,” jawab Ki Rangga.

Demikianlah, maka Risang telah diperintahkan oleh ibunya bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan sebagaimana dikehendaki oleh Ki Rangga Kalokapraja. Yang mula-mula ingin dilihatnya adalah padukuhan induk Tanah Perdikan. Kemudian sawah disekitarnya serta saluran airnya. Meskipun agak jauh, Ki Rangga juga melihat-lihat hutan yang terbentang dibeberapa bagian Tanah Perdikan itu, sehingga merambat ke lereng pegunungan.

“Jika Tanah perdikan Sembojan menjadi semakin berkembang, maka tentu dibutuhkan tanah persawahan baru, sehingga Tanah Perdikan Sembojan harus membuka hutan,” berkata Ki Rangga.

“Ya Ki Rangga,” jawab Risang. Kemudian katanya pula, “Tetapi sudah tentu dengan memperhitungkan berbagai macam kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Bagus,” desis Ki Rangga. Ki Rangga memang tidak berkata tentang hal itu berkepanjangan, namun Ki Rangga mengerti, bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah menyadari arti kehadiran hutan itu sendiri.

Ternyata Ki Rangga tidak ingin melihat keseluruhan. Beberapa bagian dari Tanah Perdikan itu telah memberikan gambaran utuh tentang Tanah Perdikan Sembojan yang terhitung besar itu.

Ketika kemudian Ki Rangga minta diri untuk kembali ke Pajang, maka ia masih berpesan, “Keterangan yang kami perlukan kami minta secepatnya dapat disampaikan ke Pajang.”

“Apakah Ki Rangga tidak bermalam saja di Tanah Perdikan ini?” bertanya Iswari.

Ki Rangga menggeleng sambil berkata, “Aku masih akan singgah dibeberapa padukuhan untuk melihat perkembangan kehidupan dipadesan yang tentu tidak akan sepesat kemajuan di Tanah Perdikan ini.”

Sesaat kemudian, maka Ki Rangga pun telah meninggalkan Tanah Perdikan itu dengan meninggalkan kesan yang baik bagi Sembojan.

Para pemimpin di Sembojan pun menjadi semakin berpengharapan bahwa masa depan Sembojan akan menjadi lebih cerah.

Namun dalam pada itu, para pemimpin di Sembojan pun merasa berkewajiban untuk berusaha mengembangkan Tanah Perdikan itu. Mungkin dikesempatan lain, masih akan ada petugas dari Pajang yang akan datang untuk melihat keadaan Tanah Perdikan itu, disesuaikan dengan laporan yang akan diberikan oleh Tanah Perdikan Sembojan tentang Tanah Perdikan itu.

Tetapi menurut penilaian para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan, sikap Pajang menjadi lebih wajar dan terasa memberikan pengarahan yang mapan.

Dalam pada itu, ternyata kepemimpinan Pangeran Benawa benar-benar memberikan suasana yang baru bagi Pajang. Disegala segi kehidupan terhadap peningkatan tatanan sehingga menjadi lebih baik. Perubahan-perubahan dilakukan dengan bijaksana sehingga tidak menimbulkan keresahan. Namun dalam pada itu, pengawasan terhadap para petugias itu sendiri berjalan dengan cermat pula, sehingga tidak ada petugas yang justru mempergunakan kesempatan untuk menyalah-gunakan wewenangnya bagi kepentingan diri sendiri.

***

Sementara itu, di barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Jayayuda, penertiban pasukan pun berlangsung dengan baik dan tanpa mengguncang ketenangan para prajuritnya. Tiga orang Lurah Penatus yang baru, telah mendapat beberapa petunjuk dari Ki Tumenggung untuk berusaha menyesuaikan dirinya.

Namun, meskipun demikian, sifat-sifat pribadi masing-masing memang sangat berpengaruh. Dua dari antara ketiga Lurah Penatus yang baru itu, justru ingin menunjukkan kelebihannya dari para Lurah Penatus yang telah ada. Sehingga dengan demikian maka sikap mereka pun segera menjadi perhatian para prajurit di barak itu.

Selain kedua orang Lurah Penatus itu, Ki Rangga Prangwiryawan masih saja menganggap bahwa alat-alat berlatih yang dibuat oleh Ki Tumenggung Surajaya itu tidak berarti sama sekali bagi para prajurit bagi peningkatan kemampuan mereka didalam mengemban tugas-tugas mereka.

“Aku tidak menganggap demikian,” berkata Ki Tumenggung ketika Ki Rangga Prangwiryawan mengusulkan agar alat-alat itu dibongkar saja, “aku menganggap bahwa alat-alat itu cukup berarti. Aku tidak mau mengorbankan keyakinanku itu untuk sekedar dianggap bahwa aku memiliki pandangan yang lebih baik dari orang yang aku gantikan dengan melakukan perubahan-perubahan yang justru tidak berarti.”

“Kita tidak sekedar membongkar Ki Tumenggung, tetapi kita akan membuat yang baru, yang lebih bermanfaat dari yang telah dibuat oleh Ki Tumenggung Surajaya.”

“Satu kebiasaan yang tidak ada gunanya. Seakan-akan yang baru harus membuat pembaharuan-pembaharuan, sementara yang ada sebenarnya telah cukup baik. Tidak Ki Rangga. Meskipun mungkin aku juga akan membuat perubahan-perubahan untuk menyesuaikan perkembangan pasukan ini dengan perkembangan yang terjadi di Pajang, namun hal itu tentu setelah melalui penelitian yang pantas. Apakah perubahan itu bermanfaat atau tidak. Bukan sekedar sebagai satu kebanggaan seakan-akan kita memiliki kelebihan dari orang yang kita gantikan kedudukannya. Bukankah dengan kerja yang tidak ada gunanya itu kita hanya akan melakukan pemborosan?”

Ki Rangga tidak dapat memaksakan kehendaknya. Sebenarnya jika Ki Tumenggung menyetujui, ia ingin menunjukkan kemampuannya merencanakan satu medan latihan yang paling baik di Pajang. Ia akan membuat satu’ sanggar terbuka yang tidak ada duanya, sehingga setiap orang akan mengaguminya. Namanya akan selalu melekat dengan hasil kerjanya itu. Dan dengan demikian, jika hal itu terdengar oleh Pangeran Benawa, tidak mustahil ia akan dengan cepat meningkat menjadi seorang Manggala. Bahkan mungkin dengan pangkat Tumenggung pula.

Tetapi ternyata Ki Tumenggung Jayayuda tidak menyetujui. Bagi Ki Tumenggung perubahan itu dianggap tidak perlu, seakan-akan Ki Tumenggung dapat membaca isi hatinya. Bahwa perubahan itu semata-mata karena ia ingin meningkatkan derajadnya sendiri.

Karena itu, maka sanggar latihan terbuka itu untuk sementara memang tidak dirubah sama sekali.

Kasadha, salah seorang diantara Lurah Penatus yang berada dibawah pimpinan langsung Ki Rangga Dipayuda berusaha untuk tidak menunjukkan sesuatu apapun yang dapat menarik perhatian orang lain. Ia melakukan apa yang dilakukan oleh para Lurah Penatus yang lain. Dalam latihan-latihan khusus bagi para Lurah dan pemimpin kelompok, Kasadha sama sekali tidak nampak lebih baik dari para Lurah yang lain.

Bahkan dua orang Lurah Penatus dari antara tiga orang yang baru di tempatkan di barak itulah yang sering dengan sengaja menunjukkan kelebihan-kelebihannya, sehingga dengan demikian justru merekalah yang telah menarik perhatian banyak orang di barak itu. Khususnya para Lurah Penatus yang lain. Namun Kasadha sama sekali tidak menghiraukan mereka. Biarlah keduanya merasa puas dengan tingkah lakunya jika hal itu memang dapat memberikan kepuasan kepada mereka.

Hanya kepada Ki Rangga Dipayuda Kasadha berbicara tentang kedua orang itu. Apalagi seorang diantaranya dengan sengaja telah memancing-mancing persoalan dengan Ki Lurah Kasadha.

“Sikapmu sudah benar Kasadha,” berkata Ki Lurah Dipayuda yang mengetahui lebih banyak tentang Kasadha daripada orang lain.

“Aku tidak tahu, kenapa mereka memperhatikan aku. Padahal aku sama sekali tidak berbuat sesuatu yang menarik perhatian mereka,” berkata Kasadha.

“Sumbernya bukan dari tingkah-lakumu. Tetapi prajurit-prajuritmu yang juga mengetahui tentang kemampuanmu, tidak dapat menahan mulutnya lagi. Satu dua diantara mereka mengatakan, bahwa tidak ada Lurah Penatus yang dapat menyamai kemampuanmu,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Aku sama sekali tidak berniat berbuat demikian,” berkata Kasadha. Namun ia pun kemudian bertanya, “Darimana Ki Rangga mengetahui tentang hal itu?”

“Ternyata para Pandhega telah membicarakannya pula. Ki Rangga Prangwiryawan menaruh perhatian terbesar ketika ia mendengar dari salah seorang Lurah baru itu tentang kelebihanmu. Menurut Ki Rangga Prangwiryawan, para prajurit yang telah lama bersamamu sempat berceritera tentang kau di medan perang,” jawab Ki Rangga Dipayuda.

Kasadha memang menjadi berdebar-debar. Sejak pemula ia sudah menduga bahwa Ki Rangga Prangwiryawan akan banyak menaruh perhatian atasnya. Untunglah bahwa ia tidak berada dibawah pimpinannya langsung.

Namun dengan demikian, untuk menjaga agar tidak terjadi pembicaraan yang semakin panas tentang dirinya, Kasadha menunda keinginannya untuk meningkatkan ilmunya dengan bimbingan Ki Ajar Paguhan jika hal itu tidak bertentangan dengan paugeran.. Apalagi pimpinan langsungnya adalah Ki Rangga Dipayuda. Kasadha berharap bahwa kemudian keinginannya itu akan mendapat ijin tanpa hambatan apapun.

Tetapi justru sikap beberapa orang di barak itu, maka Kasadha telah menunda niatnya.

Ketika hal itu disampaikannya kepada Ki Rangga Dipayuda, maka Ki Rangga pun berkata, “Langkahmu sudah tepat menurut penilaianku, Kasadha. Kau memang harus menunda keinginanmu, meskipun sepengetahuanku hal yang ingin kau lakukan itu tidak dilarang, selama tidak mengganggu tugas-tugasmu disini. Persoalannya adalah justru kau menjadi sasaran pandangan beberapa orang di barak ini, sehingga sebaiknya kau memang menunda niatmu itu.”

Kasadha mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku ingin memohon kepada Ki Rangga, agar pendapat yang dapat menimbulkan persoalan itu dapat diredam. Dengan demikian maka aku tidak selalu dibayangi oleh kegelisahan karena sikap beberapa orang.”

“Aku akan berusaha Kasadha. Dalam setiap pertemuan dengan para Pandhega yang lain aku memang sudah berusaha. Aku mengatakan kepada mereka, bahwa kau tidak berbeda dengan para Lurah Penatus yang lain. Ki Rangga Wirayuda nampaknya tidak banyak menaruh perhatian. Ia berusaha untuk menempa para prajuritnya lahir dan batin. Bukan saja keteguhan dan ketrampilan bermain senjata. Tetapi secara jiwani menyadari sikap seorang prajurit. Ki Rangga Prangwiryawan juga melakukannya. Tetapi ternyata ia sempat mendengarkan pendapat para prajurit,” sahut Ki Rangga Dipayuda. Lalu katanya pula, “Sebenarnya aku juga merasa bersalah ketika aku menunjukmu untuk membuktikan bahwa alat-alat itu berarti bagi barak ini. Aku hanya ingin meyakinkan Ki Rangga Prangwiryawan bahwa alat-alat di sanggar latihan terbuka itu memberikan banyak manfaat bagi barak ini. Sementara itu aku tidak yakin bahwa Lurah Penatus yang lain mampu melakukannya, sehingga aku telah menunjukmu. Tetapi ternyata hal itu membawa akibat yang dapat menggelisahkanmu.”

“Bukan Ki Rangga. Bukan Ki Rangga Dipayuda yang bersalah. Tetapi keinginan orang-orang itu menampilkan dirinya diatas orang lain itulah yang telah menimbulkan persoalan,” berkata Kasadha.

“Baiklah Kasadha. Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan meredam pendapat orang-orang itu tentang dirimu, sehingga kau tidak menjadi sasaran perhatian orang-orang yang ingin mendapat pujian lebih dari yang lain.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun ia masih harus menunggu, apakah Ki Rangga Dipayuda itu berhasil.

Sebenarnyalah Ki Rangga Dipayuda memang berusaha. Tetapi orang-orang yang merasa memiliki kelebihan itu sudah merasa tersinggung oleh ceritera para prajurit tentang Kasadha yang dianggap sebagai Lurah Penatus yang terbaik, meskipun masih sangat muda. Sehingga dengan demikian telah timbul keinginan mereka untuk membuktikan bahwa mereka yang baru datang itulah yang terbaik di barak itu.

Dengan demikian maka rasa-rasanya memang ada persaingan diantara beberapa orang Lurah Penatus untuk membuktikan dirinya yang terbaik. Baik didalam latihan-latihan, maupun sikap mereka sehari-hari.

Namun Kasadha sendiri tidak pernah terlibat didalamnya.

***

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Risang pun sedang bekerja keras untuk menyusun laporan terperinci tentang Tanah Perdikannya. Dibantu oleh Sambi Wulung, Jati Wulung dan para Demang dan Bekel didalam lingkungan Tanah Perdikan Sembojan, Risang akhirnya berhasil menyelesaikan tugas itu.

Iswari dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan pun telah mengadakan beberapa pembicaraan menyangkut keadaan Tanah Perdikan itu serta kemungkinan yang dapat dikembangkan dimasa depan.

Demikian pula ketiga orang kakek dan nenek Risang yang sudah menjadi semakin tua, telah ikut pula memberikan beberapa petunjuk bagi mekarnya Tanah Perdikan Sembojan sehingga dengan demikian laporan yang disusun oleh Risang akan benar-benar menyakinkan. Bukan hanya sekedar memberikan gambaran tentang apa yang ada saat itu. Tetapi juga rencana yang dapat dilakukan bagi masa depan Tanah Perdikan yang terhitung besar itu.

Sebagaimana dipesankan oleh Ki Rangga Kalokapraja, maka persoalan wisuda bagi Kepala Tanah Perdikan Sembojan pun telah dicantumkan pula dalam laporan itu. Hal itu sama sekali bukan atas desakan Risang sendiri yang seakan-akan ingin dengan cepat melonjat ke jabatan tertinggi di Tanah Perdikan itu. Tetapi ibunyalah yang berkeras untuk menyampaikannya sebagai satu permohonan disamping rencana-rencana yang lain.

“Harus ada ketetapan yang mapan di Tanah Perdikan ini. Jika Pajang ingin menertibkan keadaan diseluruh wilayahnya, maka usul ini tentu akan diterimanya. Tetapi kau tidak boleh berwawasan kepada jabatan yang akan kau sandang, tetapi kau harus berwawasan kepada kewajiban yang harus kau lakukan,” berkata ibunya menjelaskan ketika masih saja ada keragu-raguan dihati Risang. Bagaimanapun juga ia merasa seakan-akan ia telah mendesak kedudukan ibunya sendiri, sementara ibunya ternyata mampu melakukan tugasnya dengan baik. Bukan saja kemampuannya mengatur kehidupan dan perkembangan Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi dalam keadaan yang paling gawat, ibunya adalah Senapati Perang yang sulit dicari tandingnya.

Tetapi akhirnya Risang tidak dapat menolak permintaan ibunya. Ia memang mempunyai kewajiban untuk itu, sebagai imbangan atas haknya.

Ketika tugas itu sudah dianggap selesai, serta susunan laporannya sudah dianggap cukup, maka Risang telah menentukan hari untuk berangkat ke Pajang. Ia akan menghadap langsung Ki Rangga Kalokapraja. Dengan demikian apabila terdapat beberapa kekurangan didalam keterangan dan laporannya, maka Ki Rangga akan dapat dengan segera memberitahukannya sehingga Tanah Perdikan Sembojan akan dengan cepat memenuhinya.

“Besok aku masih akan melihat sekali lagi isi laporan itu dan menyesuaikan dengan kenyataan yang ada di Tanah Perdikan ini, ibu,” berkata Risang, “dengan demikian jika kelak akan datang petugas dari Pajang untuk membuktikannya, maka kita tidak akan dapat dituduh memberikan keterangan palsu. Mereka harus melihat apa yang kita laporkan itu benar. Bukan mengada-ada atau sekedar membesarkan hati para petugas.”

“Baiklah Risang,” jawab ibunya, “aku sependapat.”

“Dengan demikian maka besok lusa aku akan pergi ke Pajang jika tidak terdapat hambatan-hambatan apapun karena penyesuaian laporan itu dengan kenyataan yang ada,” berkata Risang.

“Dengan siapa kau akan pergi?” bertanya ibunya.

Risang mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sudah terbiasa pergi sendiri ibu.”

“Apakah kau tidak mengajak satu dua orang untuk kawan berbincang diperjalanan?” bertanya ibunya, “bukankah lebih baik berbicara apa saja disepanjang jalan daripada berdiam diri.”

“Biarlah aku pergi sendiri,” jawab Risang. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Aku ingin singgah dirumah Lurahku ketika aku menjadi prajurit.”

“Apa salahnya jika kau singgah bersama satu dua orang kawan,” bertanya ibunya.

“Jika aku harus bermalam, sebaiknya aku tidak membuat Ki Lurah Dipayuda menjadi sibuk.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Anaknya memang pernah berceritera langsung atau tidak langsung tentang Ki Lurah Dipayuda yang mempunyai seorang anak gadis yang cantik. Yang namanya Riris Respati.

Karena itu, maka ibunya tidak mempersoalkannya lagi. Risang ingin berangkat sendiri. Dan itu tentu beralasan.

Seperti direncanakan, maka dihari berikutnya, sekali lagi Risang mengamati Tanah Perdikannya. Berkuda, diiringi oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang melihat-lihat segala segi kehidupan seria keadaan Tanah Perdikannya, dinilai berdasarkan laporan yang sudah disusunnya.

“Tidak ada yang dibuat-buat,” berkata Risang kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, “Yang baik aku katakan baik, sedangkan yang kurang baik aku katakan apa adanya. Tetapi aku menyebutkan rencana usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Tanah Perdikan ini.”

Hari itu Risang telah mendapatkan keyakinan bahwa laporan yang disusun itu tidak mengecewakan. Semuanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Seandainya datang para petugas dari Pajang, maka mereka akan dipersi-lahkan untuk menyaksikan langsung keadaan di Tanah Perdikan itu.

Dengan demikian, maka Risang telah menetapkan bahwa dihari berikutnya ia akan pergi sendiri ke Pajang untuk menemui Ki Rangga Kalokapraja.

Ibunya tidak mencegahnya. Karena itu, maka Risang pun telah berbenah diri mempersiapkan segala sesuatunya yang besok akan dibawanya ke Pajang. Terutama laporannya yang telah disusunnya baik-baik dan telah disetujui oleh ibunya dan ketiga orang kakek dan neneknya.

Ketika kemudian malam turun dan Risang telah berbaring di biliknya, maka ia pun mulai membayangkan perjalanan yang bakal ditempuhnya esok pagi. Bukan kesulitan diperjalanan atau karena ia belum pernah melihat dimana Ki Rangga Kalokapraja tinggal, karena dengan ancar-ancar yang pernah diberikan, rumah itu akan mudah diketemukan.

Tetapi yang justru melintas diangan-angannya adalah anak gadis Ki Lurah Dipayuda. Gadis itu seakan-akan telah menunggunya diregol halaman rumahnya dan kemudian menyambut kedatangannya dengan manis. Namun tiba-tiba bayangan itu berubah ketika angin yang kencang bertiup menaburkan debu menutup gambar diangan-angannya. Ketika kemudian debu itu hilang, yang dilihatnya adalah peristiwa yang lain. Regol halaman itu justru tertutup rapat. Betapapun ia mengetuknya, bahkan dengan menggenggam batu sekalipun, tidak seorang pun yang datang membukakan pintu. Sementara ia mendengar lamat-lamat dipendapa rumah itu, tembang yang mengalun dengan lagu asmarandana.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Dikibaskannya angan-angannya. Ia mencoba memusatkan perhatiannya pada isi laporannya yang besok akan diberikan kepada Ki Rangga Kalokapraja.

Namun akhirnya, Risang pun tertidur juga beberapa lama. Menjelang fajar, anak muda itu pun telah bersiap untuk berangkat menuju ke Pajang.

Namun ibunya telah minta agar Risang makan lebih dahulu karena ia sudah menyediakannya pagi-pagi benar sebelum Risang pergi mandi.

Baru setelah makan pagi dan minum minuman panas, Risang telah minta diri untuk berangkat ke Pajang. Ibunya, ketiga orang kakek dan neneknya, serta beberapa orang yang lain telah mengantarkannya sampai keregol halaman.

Sebelum matahari naik, Risang pun telah meninggalkan rumahnya dipadukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan, menyusuri bulak-bulak panjang menuju Pajang.

Disepanjang jalan Risang sempat juga memperhatikan hijaunya batang padi yang bagaikan lautan menyelubungi daerah yang sangat luas. Angin yang bertiup telah mengayun daun-daunnya yang subur bagaikan gelombang ang mengalir dari cakrawala ke cakrawala.

Beberapa saat kemudian, Risang telah berpacu menyusuri tepi pategalan yang luas. Dikejauhan nampak tepi hutan lebat yang memanjang sampai kelereng pegunungan. Hutan yang dapat menjadi cadangan tanah pertanian. Namun yang tidak boleh dibuka dengan semena-mena.

Namun justru karena Risang menempuh perjalanan seorang diri, maka Risang sempat merenung panjang di atas punggung kudanya. Sehingga ternyata kemudian Risang memang berniat untuk lebih dahulu singgah di rumah Ki Lurah Dipayuda.

Niat itu tidak mampu disisihkannya. Bahkan ia merasa bahwa ia wajib untuk singgah dan mohon petunjuk kepada Ki Lurah, apakah laporannya sudah cukup pantas.

Dengan demikian maka Risang pun telah berpacu justru menuju kerumah Ki Lurah Dipayuda yang memang tidak terlalu jauh dari Kotaraja.

Setelah berhenti sekali untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat minum dan makan rumput secukupnya disebuah kedai, yang juga memberi kesempatan kepada Risang sendiri untuk beristirahat dan minuman hangat, maka ia pun telah langsung menuju kerumah Ki Lurah Dipayuda.

Ketika matahari mulai turun disisi Barat langit, maka Risang pun telah memasuki padukuhan tempat tinggal Ki Lurah Kasadha.

Namun semakin dekat Risang dengan regol halaman rumah Ki Lurah Dipayuda, maka jantung Risang menjadi semakin berdebar-debar.

“Apa salahnya aku bertemu dengan Ki Lurah?” Risang bertanya kepada diri sendiri untuk menenangkan hatinya. Beberapa saat kemudian, maka Risang benar-benar telah berada didepan regol halaman rumah Ki Lurah Dipayuda. Regol halaman itu memang tertutup. Namun ketika Risang menyentuhnya, pintu regol itu pun kemuduan telah terbuka.

Risang pun kemudian menuntun kudanya memasuki regol halaman. Seorang yang berada dihalaman telah mendekatinya. Tetapi agaknya orang itu orang baru di rumah Ki Lurah, sehingga orang itu ternyata belum pernah melihatnya.

“Siapa yang kau cari Ki Sanak?” bertanya orang itu.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Aku mencari Ki Lurah Dipayuda.”

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak ada. Ki Lurah sedang pergi.”

“Kemana?” bertanya Risang.

“Ke Pajang. Sudah beberapa pekan,” jawab orang itu.

Risang memang menjadi ragu-ragu. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah Jangkung ada?”

Orang itu menggeleng lagi. Katanya, “Tidak. Jangkung sedang pergi.”

“Kemana?” bertanya Risang pula.

Orang itu masih saja menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu.”

“Apakah ia pergi jauh? Maksudku untuk beberapa hari?” bertanya Risang kemudian.

“Tidak. Siang tadi ia pergi. Biasanya memang tidak terlalu lama,” jawab orang itu.

“Baiklah. Jika demikian aku akan menunggu Jangkung,” berkata Risang kemudian.

“Siapakah sebenarnya yang kau cari? Ki Lurah Dipayuda atau Jangkung?” diluar dugaan Risang, orang ilu mendesak.

“Salah seorang dari keduanya,” jawab Risang.

“Tetapi aku pun tidak tahu kapan Jangkung kembali. Mungkin senja, mungkin malam atau bahkan bermalam,” berkata orang itu dengan kening yang berkerut.

“Bukankah kau katakan tadi bahwa biasanya Jangkung tidak terlalu lama pergi?” sahut Risang.

“Aku tidak tahu. Tetapi yang kau cari tidak ada,” berkata orang itu kemudian.

Sikap orang itu memang agak aneh bagi Risang. Tetapi ia dapat mengerti, karena orang itu memang belum mengenalnya. Apalagi menurut orang itu, Ki Lurah Dipayuda berada di Pajang sejak beberapa pekan yang lalu.

Risang masih saja ragu-ragu. Jika Ki Dipayuda tidak ada, ia tidak mempunyai alasan untuk berada dirumah itu berlama-lama. Apalagi sampai esok. Namun telah timbul satu pertanyaan dihatinya, “Untuk apa Ki Lurah berada di Pajang sampai beberapa pekan? Padahal Pajang sudah tidak terlalu jauh dari rumah Ki Lurah. Jika ada persoalan yang harus diselesaikan di Pajang, maka ia akan dapat melakukannya langsung dari rumahnya itu.

Dalam kebimbangan tiba-tiba orang itu berkata, “Sebaiknya kau kembali besok. Mungkin Jangkung ada dirumah.”

Risang memang menjadi semakin ragu. Bahkan ia mulai berpikir untuk terus saja langsung pergi ke Pajang. Besok, atau nanti petang jika ia kembali ke Tanah Perdikan, ia dapat singgah di rumah Ki Lurah Dipayuda.

Tetapi selagi Risang termangu-mangu, tiba-tiba saja telah terdengar suara seorang perempuan, “Kakang Barata. Kapan kau datang?”

Risang berpaling. Dilihatnya seorang gadis melangkah keluar dari seketheng. Riris.

Terasa wajah Risang menjadi panas. Namun sejenak kemudian ia pun tersenyum sambil menjawab, “Baru saja. Aku ingin bertemu dengan Ki Lurah Dipayuda. Namun ternyata Ki Lurah tidak ada.”

“Ayah sudah beberapa pekan berada di Pajang,” jawab Riris.

“Sedangkan Jangkung pun tidak ada dirumah,” berkata Risang selanjutnya.

“Kakang Jangkung tidak terlalu lama pergi. Ia akan segera kembali. Marilah,” Riris mempersilahkah. Namun kemudian ia pun memperkenalkan orang yang belum dikenalnya itu, “Kakang Barata, ini adalah kakang Sumbaga. Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga kami,” Lalu katanya kepada Sumbaga, “Anak muda ini adalah kakang Barata. Ia bekas kawan ayah di saat ayah menjadi seorang prajurit. Tentu saja angkatannya jauh berbeda karena ayah sudah menjadi semakin tua, dan kakang Barata ini justru baru tumbuh. Tetapi sekarang kakang Barata sudah bukan seorang prajurit lagi.”

Orang yang disebut Sumbaga itu juga masih muda, meskipun agak lebih tua sedikit dari Risang.

Keningnya kemudian nampak berkerut. Bahkan diluar dugaan ia berkata sekali lagi, “Sebaiknya besok saja kau kembali lagi.”

“O,” Riris memotong, “ia sudah terbiasa datang kerumah ini. Sebentar lagi kakang Jangkung juga akan kembali. Biarlah ia menunggu. Nanti kakang Jangkung akan menjadi sangat kecewa jika ia tidak sempat bertemu dengan sahabatnya.”

“Anak muda yang kau sebut bernama Barata ini kawan Ki Lurah Dipayuda atau kawan Jangkung?” bertanya Sumbaga.

Riris tertawa. Jawabnya, “Kedua-duanya. Ia kawan ayah didalam lingkungan keprajuritan. Keduanya berada dalam kesatuan yang sama. Tetapi kemudian ia mengenal kakang Jangkung dan bahkan telah bersahabat pula. Karena itu ia sudah terbiasa berada disini. Bahkan ia sudah sering bermalam dirumah ini.”

“Tetapi sekarang Paman Dipayuda tidak ada. Jangkung pun tidak ada. Karena itu sebaiknya ia pergi saja sampai salah seorang diantara orang-orang yang dicarinya itu ada,” jawab Sumbaga.

“Kau aneh kakang,” Riris mengerutkan keningnya.

“Ketika Jangkung pergi, ia menyerahkan keselamatan seisi rumah ini kepadaku. Karena itu, maka aku minta anak muda ini meninggalkan rumah kita. Biarlah nanti jika Jangkung sudah ada ia datang lagi menemuinya,” berkata Sumbaga.

“Itu tidak perlu. Aku ada dirumah. Kakang Jangkung pun akan segera kembali,” jawab Riris.

“Yang diserahi oleh Jangkung itu aku. Termasuk menjaga keselamatanmu,” jawab Sumbaga.

“Tetapi tidak dengan cara itu,” berkata Riris dengan nada tinggi, “kau tidak dapat mencegah sahabat-sahabat kakang Jangkung Jaladri untuk datang. Kau juga tidak dapat mencegah sahabat-sahabatku untuk mengunjungi.”

Tetapi Sumbaga itu berkeras. Katanya, “Jika Jangkung marah, akulah yang dimarahinya.”

“Ia tidak akan marah,” jawab Riris.

Tetapi Sumbaga ternyata masih tetap saja pada pendiriannya. Bahkan sikapnya justru semakin keras. Katanya, “Ki Sanak. Cepat tinggalkan rumah ini. Semakin keras Riris berniat menerimamu, aku menjadi semakin curiga bahwa kau mempergunakan kesempatan ini untuk mengganggu Riris. Selagi Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung tidak ada.”

“Kenapa kau sangka aku mengganggu Riris?” bertanya Risang.

“Setidak-tidaknya kau dapat saja bersepakat dengan Riris selagi tidak ada orang lain dirumah ini. Tentu saja setelah kau bujuk gadis itu dengan kata-kata yang barangkali sangat meyakinkan,” sahut Sumbaga.

“Cukup. Aku tinggal di rumahku sendiri. Aku berhak menerima siapa saja yang ingin aku terima,” berkata Riris yang kehilangan kesabaran.

Namun Sumbaga berkata, “Jika kau tidak pergi, Ki Sanak. Kau akan menyesal.”

Risang memang menjadi bingung. Beberapa saat ia berdiri termangu-mangu. Sikap orang itu memang sangat menjengkelkannya. Tetapi Risang merasa segan untuk menolak kemauannya kalau ia memang mendapat pesan Jangkung. Justru karena Ki Lurah Dipayuda tidak ada.

Tetapi dalam pada itu, selagi ketegangan memuncak, terdengar suara lain di seketheng. Ternyata Nyi Lurah Dipayuda melihat kedatangan Risang dan bahkan telah terdengar sedikit kegaduhan karena suara Riris yang melengking-lengking.

“Angger Barata,” sapa Nyi Lurah.

“Ya ibu,” Riris yang dengan serta menyahut, “kakang Sumbaga menolak kehadirannya karena ayah dan kakang Jangkung tidak ada. Meskipun aku mencoba menjelaskan, namun kakang Sumbaga tidak mau mendengarnya.”

Nyi Lurah tersenyum. Katanya, “Biarlah ia naik kependapa. Ia sahabat Jangkung.”

Sumbaga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi bibi bertanggung jawab?”

“Aku bertanggung jawab,” jawab Nyi Lurah Dipayuda.

Risang pun kemudian menambatkan kudanya dipatok-patok yang telah disediakan. Diiringi oleh Riris, ia pun kemudian naik kependapa.

Beberapa saat lamanya, Nyi Lurah Dipayuda telah ikut menemui Risang di pendapa bersama Riris.

Dari Nyi Lurah Dipayuda, Risang mendengar bahwa Ki Lurah Dipayuda telah dipanggil kembali untuk menjadi seorang prajurit. Setidak-tidaknya selama masa peralihan ini.

“Semula Ki Lurah berkeberatan. Tetapi kemudian ia tidak dapat menolak lagi. Bukan karena ia diangkat menjadi seorang Pandhega yang membantu kepemimpinan seorang Mandala pada satu pasukan dengan pangkat Rangga. Tetapi semata-mata karena Ki Lurah merasa terpanggil untuk tugas itu,” berkata Nyi Lurah.

“Jadi Ki Dipayuda sekarang sudah menjadi Rangga?” bertanya Risang.

“Hanya karena di Pajang tidak ada lagi prajurit yang dianggap cukup lama mengabdi. Jadi semata-mata karena waktu pengabdiannya. Bukan karena kemampuan dan kecakapannya,” jawab Nyi Lurah.

“Jika demikian, aku sekarang berhadapan dengan Nyi Rangga,” berkata Risang.

“Ah. Aku lebih senang dipanggil dengan sebutan Nyi Lurah,” sahut Nyi Lurah Dipayuda.

“Apakah Ki Rangga juga mendapat nama baru?” bertanya Risang.

“Tidak. Ki Lurah tidak memohon. Karena itu namanya masih saja tetap namanya yang lama,” berkata Nyi Lurah.

“Aku mengucapkan selamat Nyi Rangga,” berkata Risang kemudian.

“Sudah aku katakan. Aku lebih senang disebut Nyi Lurah. Tetapi aku mengucapkan terima kasih atas ucapan selamatmu ngger,” jawab Nyi Lurah.

Namun Nyi Lurah pun kemudian mempersilahkan Risang untuk duduk menunggu dipendapa sampai Jangkung kembali.

“Ia tidak akan lama. Biarlah Riris menemanimu ngger,” berkata Nyi Lurah.

Riris yang mengetahui bahwa ibunya akan membuat minuman berkata, “Biarlah aku saja kedapur ibu.”

Tetapi Nyi Lurah menggeleng. Katanya, “Kau duduk disini. Biarlah aku minta Sumbaga menemani kalian.”

Riris mengerutkan keningnya. Katanya, “Kakang Sumbaga kadang-kadang berlaku aneh ibu. Seperti yang baru saja terjadi. Ia minta agar kakang Barata meninggalkan rumah ini.”

Nyi Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kau saja menemani angger Barata.”

Riris tidak menolak. Ia merasa bahwa kehadirannya menemui Barata akan lebih baik daripada Sumbaga.

Sepeninggal ibunya, Riris justru mulai berceritera tentang saudaranya yang bernama Sumbaga itu.

“Hubungan kami memang tidak terlalu dekat sebagai saudara. Tetapi ayah kakang Sumbaga adalah orang yang akrab dengan ayah. Karena itu, maka ayah tidak berkeberatan ketika kakang Sumbaga tinggal di rumah ini. Kakang Sumbaga memang ingin menjadi seorang prajurit. Barangkali ayah dapat membantunya. Namun agaknya ayah tidak seperti kebanyakan orang. Ia justru merasa segan untuk mendapatkan kesempatan khusus bagi keluarganya. Ia menganjurkan agar Sumbaga memasuki dunia keprajuritan dengan cara yang wajar. Pada saatnya, ayah minta kakang Sumbaga untuk mengikuti pendadaran. Menurut ayah, kakang Sumbaga memiliki bekal ilmu yang cukup untuk menjadi seorang prajurit, sehingga kemungkinannya untuk dapat diterima cukup besar tanpa melalui kesempatan khusus lewat ayah,” berkata Riris.

Risang mengangguk-angguk. Sementara Riris berkata selanjutnya, “Semula kehadiran kakang Sumbaga merupakan satu kebetulan. Selagi ayah ditarik kembali menjadi seorang prajurit, maka kakang Sumbaga akan dapat membantu kakang Jangkung Jaladri melindungi isi rumah ini. Ayah masih saja cemas, bahwa orang-orang yang pernah berniat buruk terhadapnya masih mendendam, sementara ayah berada di tempat yang jauh.”

“Tentu tidak Riris,” berkata Risang, “orang-orang yang mendendam itu tidak akan berani berbuat sesuatu, apalagi setelah mereka tahu bahwa Ki Lurah Dipayuda justru telah diangkat menjadi seorang Rangga dalam jajaran keprajuritan Pajang.”

Riris mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kakang. Tetapi …”

“Tetapi?” Risang bertanya.

“Justru sikap kakang Sumbaga terasa aneh. Tetapi kakang Sumbaga itu amat patuh terhadap kakang Jangkung. Apapun yang dikatakan oleh kakang Jangkung, kakang Sumbaga sama sekali tidak berani melanggarnya,” berkata Riris kemudian.

Risang mengangguk-angguk pula. Namun ia tidak sempat menjawab. Seekor kuda berlari memasuki halaman rumah itu. Jangkung Jaladri yang duduk dipunggungnya pun baru meloncat turun ketika kuda itu telah sampai kedekat patok-patok tambatan.

Tetapi sementara Jangkung datang, seorang yang berdiri di seketheng sebelah kiri, dengan tergesa-gesa telah masuk ke serambi lewat longkangan. Sumbaga yang ternyata selalu mengawasi pertemuan Risang dengan Riris dipendapa, telah menyingkir demikian ia melihat Jangkung pulang.

Ternyata Jangkung merasa gembira sekali menerima kedatangan Barata. Ia pun segera memanggil Sumbaga untuk ikut menemui Barata di pendapa.

Sumbaga memang merasa sangat canggung. Namun ia tidak dapat merubah sikapnya terhadap Risang. Curiga dan bahkan terselip perasaan tidak senang terhadap anak muda yang baru dikenalnya itu. Bahkan kepada Jangkung, Sumbaga berkata sebagaimana terjadi. Ia tidak menyembunyikan sikapnya kepada Barata ketika Barata itu datang.

Jangkung tertawa. Katanya, “Aku minta maaf kepadamu Barata. Kakang Sumbaga ternyata sangat berhati-hati.”

Sumbaga mengerutkan dahinya. Nampaknya ia tidak senang mendengar Jangkung justru minta maaf kepada Barata. Tetapi ia tidak mengatakan apapun juga.

Namun Barata menangkap pencaran wajah Sumbaga itu meskipun ia tidak menunjukkan sikap apapun.

Sementara Jangkung telah duduk bersama Risang, bahkan kemudian bersama Sumbaga, maka Riris pun minta diri untuk membantu ibunya didapur.

Ternyata pembicaraan Jangkung dan Risang menjadi terasa riuh sekali. Mereka berbicara tentang apa saja. Tentang sawah, tentang air, tentang jalan-jalan dan yang paling menyenangkan bagi Jangkung adalah berbicara tentang kuda. Namun kemudian mereka juga berbicara tentang Pajang dan Ki Lurah Dipayuda yang telah berada di Pajang kembali. Bahkan telah diangkat menjadi seorang Pandhega dengan pangkat Rangga.

“Kau bermalam disini,” berkata Jangkung kemudian.

Meskipun Ki Rangga Dipayuda tidak ada dirumah, namun Risang ternyata merasa tidak berkeberatan untuk bermalam dirumah itu. Ia telah beberapa kali melakukannya. Namun selama itu, Ki Lurah Dipayuda ada dirumah.

“Tetapi Jangkung ada dirumah,” berkata Risang didalam hatinya.

Bahkan ternyata kemudian bahwa Nyi Lurah dan Riris pun nampak gembira bahwa Risang akan bermalam semalam dirumah itu sebelum esok paginya akan pergi ke Pajang.

Yang bersikap lain adalah Sumbaga. Meskipun tidak diucapkan, tetapi terasa bahwa orang itu merasa sangat terganggu dengan kehadiran Risang. Seandainya ia mempunyai wewenang, maka ia tentu akan mengusirnya. Apalagi jika ia melihat Risang berbicara berdua saja dengan Riris.

Tetapi Risang tidak menghiraukannya. Baginya sikap Jangkung masih saja sama seperti sikapnya beberapa waktu yang lalu.

Malam itu, Risang bermalam di rumah Ki Rangga Dipayuda. Sampai jauh malam Risang masih saja berbincang dengan Jangkung di pendapa. Bahkan Riris pun sempat menghidangkan minuman hangat dan kemudian duduk beberapa saat bersama mereka. Meskipun Riris kemudian masuk keruang dalam, namun dari seketheng Sumbaga melihatnya dengan gigi yang terkatub rapat.

Tetapi ketika malam menjadi semakin malam, Jangkung pun mempersilahkan Risang untuk beristirahat.

“Besok, jika kau kembali dari Pajang, kau harus singgah. Di Pajang kau harus menemui ayah dan kau sampaikan pesan ayah kepada kami besok,” berkata Jangkung.

Risang tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan aku sempat singgah.”

Demikianlah, Risang  pun kemudian berbaring didalam sebuah bilik digandok sebelah kiri. Bilik yang sering dipergunakannya jika ia bermalam dirumah itu. Namun ternyata bahwa Risang tidak segera dapat tidur.

Lewat tengah malam, maka seisi rumah Ki Rangga Dipayuda itu bagaikan telah tertidur lelap. Tidak lagi terdengar suara apapun juga selain suara-suara malam di halaman dan kebun samping dibelakang gandok itu.

Namun Risang ternyata mendengar langkah perlahan-lahan mendekati pintu biliknya. Kemudian terdengar pintu itu diketuk orang.

Risang memang ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian mendengar desis diluar pintu, “Barata. Bukakan pintu. Aku Sumbaga.”

Risang masih saja dicengkam kebimbangan. Namun kemudian ia pun telah melangkah untuk membuka pintu, meskipun dengan sikap yang sangat berhati-hati.

Sebenarnyalah Sumbaga berdiri diluar pintu bilik itu. Ketika ia melihat Risang berdiri tegak, maka Sumbaga itu pun berkata, “Maaf Barata. Aku menganggumu.”

“Apa yang kau kehendaki?” bertanya Risang.

“Aku ingin mempertahankan harga diriku,” jawab Sumbaga.

“Maksudmu?” bertanya Risang.

“Harga diriku telah direndahkan hari ini. Karena itu, maka aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa aku bukan sekedar sampah yang dilemparkan di halaman rumah ini. Tetapi aku ingin membuktikan kepadamu, bahwa jika aku mau, aku dapat mengusirmu dengan kekerasan sore tadi,” berkata Sumbaga.

“Aku tidak tahu maksudmu,” berkata Risang.

“Pergilah ke halaman belakang. Jika kau laki-laki, kau tidak perlu membangunkan siapapun juga,” berkata Sumbaga.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 41

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s