SST-39

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

SEBENARNYALAH pertanyaan yang sama pun telah melingkar-lingkar dihati Barata. Bahkan diluar sadarnya setiap kali Barata memperhatikan sikap Riris terhadap Kasadha.

Tetapi akhirnya keduanya sampai pada satu saat, bahwa keduanya benar-benar minta diri untuk meninggalkan rumah itu.

“Lain kali kalian harus datang lagi,” berkata Ki Lurah Dipayuda, “aku, yang sudah terpisah dari dunia keprajuritan ini merasa senang sekali jika masih ada seseorang yang datang menjengukku. Dengan demikian, maka aku merasa bahwa kehadiranku masih berarti.”

“Tentu Ki Lurah,” jawab Kasadha, “aku tidak akan pernah melupakan Ki Lurah. Juga rumah ini.”

“Terima kasih,” desis Ki Lurah. Kemudian katanya kepada Barata, “aku atau Jangkung pada suatu saat tentu akan sampai ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Aku mengharap sekali Ki Lurah,” sahut Barata.

“Tetapi sebelum kami sampai kesana, maka kau harus sering datang ketempat ini,” berkata Ki Lurah pula.

“Ya, Ki Lurah. Menjelang kemantapan kedudukan Tanah Perdikan Sembojan aku akan sering pergi ke Pajang. Tetapi seperti pesan Ki Lurah, aku tentu tidak boleh tergesa-gesa,” sahut Barata.

Demikianlah, Barata dan Kasadha pun kemudian telah minta diri pula kepada Jangkung, kepada Nyi Lurah dan terakhir kepada Riris. Namun sikap Riris yang pernah menjadi longgar dan agak terbuka, telah menjadi sebaliknya. Rasa-rasanya Riris menjadi tegang dan gelisah menghadapi kedua orang anak muda yang sedang minta diri itu.

Kata-kata Riris terasa sedikit gemetar sementara gadis itu selalu menundukkan wajahnya.

Ketika Barata dan Kasadha menuntun kudanya melintasi halaman, maka Ki Lurah, Nyi Lurah. Jangkung dan Riris mengantar mereka sampai ke regol halaman. Kemudian melepas kedua orang anak muda itu mulai dengan perjalanan mereka. Keduanya masih bersama-sama sampai ke regol padukuhan. Baru kemudian mereka akan berpencar.

Ketika Kasadha dan Barata hilang dibalik tikungan, maka terdengar Nyi Lurah itu berkata, “Aneh. Keduanya mirip satu sama lain. Wajahnya, sikapnya dan kata-katanya. Keduanya nampaknya memang seperti laki-laki sejati.”

“Ya,” sahut Ki Lurah Dipayuda, “ketika keduanya masih berada didalam pasukanku, keduanya memang menunjukkan tanggung jawab yang besar. Keduanya memiliki kelebihan dari setiap prajurit yang ada. Berani dan mempunyai ketajaman wawasan di pertempuran. Keduanya memang sulit untuk dibedakan. Tetapi sekarang keduanya berpisah. Seorang masih tetap didalam lingkungan keprajuritan dan dengan cepat mendapat kedudukan sebagai Lurah Penatus, sedang yang seorang lagi adalah pewaris Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi hal itu baru diakuinya sekarang,” desis Jangkung.

“Ya. Pada saat itu kedudukan Tanah Perdikan sedang berguncang karena ada orang-orang yang memanfaatkan kedudukannya untuk memeras,” jawab ayahnya.

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Pada satu hari aku akan benar-benar mengunjunginya.”

“Bagus. Tidak sulit mencarinya. Tetapi kau harus menunggu keadaan benar-benar menjadi mapan,” sahut ayahnya.

“Ya. Aku memang harus membuka pasaranku kembali lebih dahulu. Jika tidak, aku tentu akan mengalami kesulitan untuk membeli makanan kuda tanpa dapat menjualnya seekor pun,” gumam Jangkung kemudian.

Keempat orang itu pun kemudian telah kembali ke pendapa. Riris telah menyingkirkan mangkuk-mangkuk minuman dan sisa makanan ke dapur. Namun wajahnya tidak nampak ceria seperti biasanya. Keningnya sekali-sekali nampak berkerut. Bahkan ketika ibunya masuk ke dapur, Riris sedang duduk dimuka perapian sambil menatap kekejauhan menerobos pintu yang telah terbuka.

Ibunya tidak menegurnya. Tetapi keadaan anak gadisnya itu tidak luput dari perhatiannya. Apalagi ibunya menyadari bahwa Riris telah meningkat menjadi gadis dewasa.

Dalam pada itu, Kasadha dan Barata telah keluar dari padukuhan. Di tepi bulak panjang, keduanya berhenti sejenak.

“Aku akan berbelok ke kiri Kasadha,” berkata Barata sambil memandang kearah matahari yang mulai memancarkan sinarnya, “aku akan menyongsong matahari.”

Kasadha tersenyum, “Selamat dengan tugas-tugasmu Barata. Aku berharap bahwa suasana yang berubah di Pajang akan membawa angin yang baik bagi Tanah Perdikanmu. Seperti yang sudah aku janjikan, sebagaimana Ki Lurah Dipayuda, jika kau memerlukan pertolonganku dalam batas jangkau kemampuanku, aku akan melakukannya.”

“Terima kasih Kasadha,” Barata tersenyum, “aku dan ibu berharap bahwa kau akan dapat datang di Tanah Perdikan Sembojan dalam keadaan yang lain daripada kunjunganmu kemarin. Kau diharapkan datang sebagai keluarga sendiri. Tidak sebagai prajurit Pajang yang sedang bertugas. Tidak ada salahnya jika rakyat Sembojan tahu, bahwa kita bersaudara. Dan kita akan membuktikan bahwa persaudaraan kita tidak akan dipatahkan oleh apapun juga. Apalagi hanya karena ibu kita tidak dapat saling menyesuaikan diri serta ayah kita yang salah langkah dimasa hidupnya. Biarlah yang telah lewat itu kita lupakan.”

Kasadha mengangguk kecil sambil berkata, “Sekarang aku memang ingin menemui ibuku. Aku akan berbicara dengan ibuku sampai tuntas. Sayang, bahwa seorang laki-laki telah membayangi kehidupan ibuku. Seorang laki-laki yang seakan-akan telah kehilangan pegangan hidup. Ia adalah bekas seorang perwira prajurit Jipang di masa pemerintahan Arya Penangsang.”

“Semoga kau dapat memberikan cahaya yang terang dalam kehidupan keluarga kecilmu sehingga keluarga besar kita akan ikut menjadi ceria,” desis Barata.

Kasadha mengangguk. Diluar sadarnya ia memandang kekejauhan sambil berkata, “Aku akan berjalan sambil membelakangi matahari. Aku tidak akan menjadi silau.”

Keduanya pun kemudian telah berpisah dan mulai dengan perjalanan mereka masing-masing. Ternyata darah dari sumber yang sama yang mengalir dalam tubuh mereka, telah mendekatkan mereka sehingga warisan Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat membuat jantung mereka menjadi kelam.

Namun yang kemudian sama-sama membayang di angan-angan mereka bukannya kedudukan tertinggi di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi keduanya ternyata telah dibayangi oleh senyum seorang gadis lugu anak Ki Lurah Dipayuda. Riris Respati, yang mulai menginjak dewasa sehingga tubuhnya tumbuh dengan subur namun sebagai kebanyakan gadis padukuhan yang bekerja keras, Riris bukannya seorang gadis yang gemuk.

Namun Kasadha telah memacu kudanya. Ia berusaha untuk sementara melupakan gadis itu. Ia akan pergi menemui ibunya di Bayat. Apapun yang terjadi.

Tetapi Kasadha ternyata mempunyai harapan untuk berbicara terbuka dengan ibunya. Pada saat-saat terakhir ia bertemu dengan ibunya, terasa bahwa sikap ibunya mulai berubah.

“Tetapi sekian lamanya ia hidup dengan laki-laki itu. Laki-laki itu akan sempat setiap hari menusuk jantung ibu dengan sikap iblisnya, sehingga sikap itu benar-benar akan menjadi sikap ibu pula,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Meskipun demikian Kasadha yang telah menjadi dewasa penuh, bahkantelah benar-benar diangkat menjadi seorang Lurah Penatus itu ingin berbicara dengan ibunya tidak lagi sebagai kanak-kanak yang hanya dapat mendengarkan bentakan-bentakan ibunya yang marah dan memakinya. Tetapi ia sudah pantas untuk mengemukakan pendapatnya sendiri.

Semakin jauh Kasadha berpacu, ia menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai membayangkan apa yang akan dilakukan oleh ibu dan orang yang menyebut dirinya ayahnya itu. Kasadha sendiri untuk tidak akan terlalu banyak berkeberatan atas apapun yang mungkin dilakukan ibunya, karena menurut penglihatannya di saat-saat terakhir ada sedikit perubahan pada sikapnya. Tetapi Kasadha tentu tidak akan dapat menahan diri jika ia harus berhadapan dengan berbicara dengan laki-laki yang telah hidup bersama dengan ibunya itu, yang telah menghasilkan seorang anak laki-laki pula, yang Kasadha tidak tahu, dimanakah anak itu berada.

Sekilas Kasadha teringat kepada kakek dan gurunya di kaki Pegunungan Sewu. Memang tiba-tiba saja tumbuh niatnya untuk mencari mereka lebih dahulu. Tetapi Kasadha menjadi ragu-ragu.

“Apakah guru dan kakek masih berada disana atau kakek telah mengajak guru pergi kerumah kakek yang lain atau bahkan guru telah kembali ke gubugnya sendiri? “ pertanyaan itu memang timbul dihati Kasadha.

Apalagi waktunya memang tidak begitu banyak. Ia hanya mendapat kesempatan lima hari. Sehari telah dipergunakannya di rumah Ki Lurah Dipayuda.

“Kalau hari ini aku pergi ke Pegunungan Sewu, besok aku masih sempat pergi ke Bayat. Aku masih mempunyai waktu dua hari lagi. Jika aku tidak dicekik ibu dan laki-laki jahanam itu, dihari berikutnya aku kembali ke Pajang,” gumam Kasadha menghitung-hitung hari.

Beberapa saat Kasadha masih ragu-ragu. Namun kemudian ia bertanya kepada diri sendiri, “Jika aku langsung ke Bayat dan tinggal dibayat selama ampat hari, maka hubungan buruk itu apakah tidak akan semakin buruk?”

Tiba-tiba saja Kasadha memperlambat lari kudanya. Keragu-raguannya terasa semakin mengganggu. Sekali lagi ia mencoba menghitung hari. Sehingga akhirnya ia berkata, “Aku akan pergi kekaki Pagunungan Sewu. Jaraknya memang agak panjang. Bertemu atau tidak bertemu dengan kakek dan guru. Baru besok aku akan pergi ke Bayat.”

Kasadha tiba-tiba saja menarik kendali kudanya. Ia telah merubah arah perjalanannya. Ia tidak langsung menuju ke Bayat. Tetapi ia ingin menemui kakek dan gurunya. Jika keduanya sudah tidak berada di tempat itu lagi, maka apaboleh buat.

Demikianlah, kuda Kasadha berderap menuju kearah yang berbeda. Namun dengan mantap Kasadha telah menempuh perjalanan yang tidak direncanakannya lebih dahulu. Ia telah mengusir kebimbangan dihatinya, justru karena ia tidak ingin terlalu lama berada di Bayat.

“Lebih baik dua atau tiga hari dirumah Ki Lurah Dipayuda,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Di perjalanan ke Pagunungan Sewu, Kasadha memang masih juga dibebani oleh kecemasan, bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang yang memusuhi ayah dan ibunya. Orang yang pernah menghancurkan padepokan ibunya yang dirahasiakan dengan keras bahkan kejam. Orang yang mengejar-kejar Puguh untuk umpan agar ayah dan ibunya keluar dari persembunyiannya.

Mudah-mudahan peristiwa yang terjadi di Pajang akhir-akhir ini telah mencairkan dendam dihati mereka. Mudah-mudahan peristiwa yang melibatkan Pajang dalam perang beruntun itu mampu meredam kebencian orang-orang itu.

Kuda Kasadha berpacu semakin cepat. Tanpa mengenakan pakaian keprajuritan Kasadha menempuh perjalanan panjang diantara bulak-bulak persawahan, pategalan-pategalan dan sekali-sekali menerobos padukuhan-padukuhan.

Tetapi ternyata bahwa Kasadha memerlukan waktu yang cukup lama. Ia terpaksa berhenti beberapa kali untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat, minum dan makan rumput ditanggul-tanggul parit dipinggir jalan. Rumput yang nampak hijau segar dan tetap basah meskipun terik matahari terasa menyengat. Namun Kasadha sendiri juga perlu beristirahat ketika haus dan lapar mulai mengusiknya.

Ketika Kasadha kemudian menelusuri jalan-jalan yang tidak begitu ramai di pinggir hutan, ia pun merasa perlu untuk berhati-hati. Sekali-sekali kudanya menjadi gelisah. Agaknya kudanya telah mencium bau binatang buas yang ada dihutan itu.

Namun ternyata Kasadha tidak menghadapi hambatan diperjalanannya. Sehingga ia pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan yang disebutnya dengan padukuhan Pudak Kerep. Satu tempat yang pernah menjadi tempat persembunyiannya ketika ia harus meninggalkan satu kenyataan yang pahit, bahwa padepokannya telah hancur menjadi abu disaat ia akan berusaha untuk membangunnya.

Kepada para pemimpin prajurit Pajang disaat ia memasuki lingkungan keprajuritan itu, ia mengaku sebagai anak dari padukuhan Pudak Kerep di kaki Pegunungan Sewu.

Kasadha masih ingat benar, jalan-jalan yang harus dilaluinya meskipun kadang-kadang masih juga terbersit kecemasannya bahwa masih saja ada orang yang ingin menangkapnya untuk memancing agar kedua orang tuanya keluar dari persembunyiannya.

Namun Kasadha akhirnya telah memasuki sebuah padukuhan yang ditujunya.

Dengan ragu-ragu Kasadha mendekati sebuah rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya. Rumah kakeknya yang ditunggui oleh salah seorang kemanakan dari kakeknya itu.

Kasadha ternyata telah diterima dengan senang hati oleh Ki Pamekas, kemanakan kakeknya itu. Dengan ramah pamannya telah membawanya langsung masuk keruang dalam.

“Rumah ini kosong,” berkata Ki Pamekas, “hanya aku dan bibimu saja yang ada.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kakek Randukeling sudah tidak tinggal disini?”

“Ya. Paman Randukeling masih tinggal disini. Sejak kau pergi, maka paman Randukeling merasa seperti orang kehilangan. Demikian pula Ki Ajar Paguhan. Rasa-rasanya mereka tidak lagi mempunyai gairah memandang kehidupan ini. Keduanya, tidak lebih dari kebanyakan orang-orang tua di padukuhan ini. Pagi-pagi bangun tidur menyapu halaman dan menimba air. Kemudian mandi dan berbenah diri. Ketika matahari hampir naik, keduanya berjalan-jalan menelusuri jalan-jalan kecil disela-sela kotak-kotak sawah dan bahkan lewat pematang-pematang Keduanya telah turun pula kesawah dan ladang ikut menanam dan memelihara tanaman padi dan palawija di sawah,” berkata Ki Pamekas, “lebih dari itu tidak. Tidak ada tanda-tanda bahwa keduanya memiliki sesuatu yang berarti bagi kehidupan yang lebih luas, sehingga keduanya memang tidak lebih dari dua orang tua yang menunggu menjadi pikun.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bersalah bahwa sudah terlalu lama ia tidak menengok kedua orang tua itu Dengan nada rendah Kasadha bertanya, “Dimana kakek dan guru sekarang?”

“Keduanya sedang pergi. Aku tidak tahu mereka pergi kemana. Tetapi tiga hari yang lalu keduanya nampaknya menjadi gelisah. Mungkin keduanya mulai merindukan cakrawala yang terbentang luas sebagaimana selalu mereka jelajahi sebelumnya. Seharusnya hari ini keduanya sudah berada dirumah. Tetapi ternyata sampai sekarang keduanya belum kembali,” berkata Ki Pamekas.

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sebenarnya sudah merindukan mereka berdua.”

“Tunggu sajalah. Mungkin hari ini atau besok mereka akan kembali,” berkata Ki Pamekas pula.

“Waktuku memang tidak terlalu banyak. Tetapi aku akan menunggu sampai besok,” sahut Kasadha.

Malam itu Kasadha bermalam dirumah Ki Pamekas, dikaki Pegunungan Sewu yang panjang itu. Di sebuah padukuhan yang sepi dan tidak banyak dipengaruhi oleh gejolak kehidupan. Padukuhan itu seakan-akan tidak pernah mengalami perubahan apapun juga. Jalan-jalan yang keras berbatu padas. Tanah liat ditebing dan lumpur yang merah ditepi-tepi parit, yang melekat pada kaki para pejalan. Apalagi jika hujan turun, maka jalan-jalan menjadi licin berkubangan.

Namun ternyata Ki Ajar Paguhan dan Ki Randukeling belum juga kembali sampai matahari terbit dihari berikutnya. Karena itu, maka Kasadha tidak menunggunya lebih lama lagi. Ia harus pergi ke Bayat untuk menemui ibunya.

Ia memang kecewa karena tidak dapat bertemu dengan kakek dan gurunya. Tetapi ia tidak merasa bahwa waktunya telah terbuang tanpa arti. Dengan demikian ia telah mengurangi satu hari, dari antara hari-hari yang panas bersama ibu dan orang yang selalu menyebut dirinya sebagai ayahnya.

Tetapi ia memang harus bertemu dengan ibunya.

Karena itulah, maka ketika matahari mulai memanjat langit, Kasadha telah minta diri untuk meneruskan perjalanan Ke Bayat.

“Aku akan menemui ibuku,” berkata Kasadha kepada Ki Pamekas.

“Kenapa tidak menunggu sehari lagi?” bertanya Ki Pamekas.

“Maaf paman, aku harus mempergunakan waktuku sebaik-baiknya, karena aku harus segera bertugas kembali,” jawab Kasadha.

“Baiklah Puguh,” berkata Ki Pamekas, “aku akan menyampaikannya kapan saja kakek dan gurumu kembali.”

“Terima kasih paman,” jawab Kasadha.

“Kalau kau mempunyai waktu, setelah kau kembali dari Bayat, singgahlah kemari. Kakek dan gurumu tentu akan menjadi sangat senang,” berkata Ki Pamekas.

Kasadha tersenyum sambil mengangguk. Katanya, “Baiklah paman. Aku akan berusaha untuk sempat singgah.”

Demikianlah, maka Kasadha pun telah meninggalkan padukuhan itu menuju ke Bayat. Perjalanan yang memang lebih panjang dari perjalanannya yang kemarin. Apalagi ia masih belum pernah melihat rumah yang dihuni oleh ibunya. Tetapi ia sudah mendapatkan ancar-ancarnya.

Diperjalanan yang panjang, Kasadha sempat melihat kehidupan para petani di lereng pegunungan Sewu. Mereka menggantungkan sawahnya pada air hujan yang turun semusim setiap tahun. Sesudah musim hujan lewat, maka sawah mereka pun menjadi kering, sehingga hanya dapat ditanami palawija. Bahkan dalam musim kering yang panjang, sawah itu menjadi sebuah ara-ara yang luas kemerah-merahan. Tanahnya menjadi retak-retak kehausan sehingga tidak dapat ditanami jenis tanaman apapun.

Ketika Kasadha lewat di bulak-bulak yang luas di kaki pegunungan, Kasadha masih melihat tanaman palawija yang sempat tumbuh diatas tanah yang semakin mengering Punggung Kasadha menjadi gatal ketika matahari menjadi semakin tinggi. Perjalanannya yang membelakangi matahari membuatnya tidak menjadi silau.

Kuda Kasadha itu pun kemudian telah berlari semakin kencang. Ketika jalan-jalan yang dilaluinya menjadi semakin rata, maka kuda itu pun dapat berlari semakin cepat.

Kasadha yang mulai menjauhi lereng-lereng pegunungan itu telah melewati sawah yang lebih subur. Kemudaan menyusuri jalan dipinggir hutan yang lebat, yang berbatasan dan padang perdu yang cukup luas.

Ketika matahari menjadi semakin terik, maka Kasadha harus mengingat kudanya yang menjadi letih. Tetapi sekaligus Kasadha sendiri juga menjadi haus. Karena itu, maka Kasadha yang telah lewat di jalan ngarai dan menyusup padukuhan-padukuhan yang lebih besar, sempat mendapatkan sebuah kedai yang cukup ramai dikunjungi orang. Di tempat itu sekaligus Kasadha dapat membeli makanan bagi kudanya yang juga lapar.

Dari pembicaraan yang didengarnya di kedai itu, Kasadha dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka yang berada agak jauh dari Kotaraja pun berpengharapan, bahwa tatanan pemerintahan di Pajang akan menjadi semakin baik.

“Kita berharap bahwa Pangeran Benawa benar-benar akan memegang pemerintahan di Pajang,” berkata salah seorang diantara mereka.

Kasadha yang mendengarnya diluar sadarnya telah mengangguk-angguk. Agaknya Pangeran Benawa akan dapat memberikan ketenangan bagi rakyat Pajang, karena namanya memang sudah dikenal dengan baik sejak ayahandanya memerintah di Pajang.

Setelah minum dan makan secukupnya, maka Kasadha pun telah melanjutkan perjalanannya menuju ke Bayat.

Di sore hari Kasadha memasuki lingkungan yang menjadi ancar-ancar tempat tinggal ibunya. Matahari telah berguling disisi Barat. Rasa-rasanya panasnya bagaikan membakar kulit.

Namun dada Kasadha pun menjadi panas. Ia merasa berdebar-debar. Ada semacam hambatan didalam dirinya untuk menjumpai ibunya sendiri.

 “Seharusnya aku menjadi rindu kepada ibuku. Tetapi hatiku telah menyimpan perasaan yang lain,” berkata Kasadha kepada diri sendiri. Bahkan ada semacam perasaan iri bahwa Barata mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan ibunya. Nampaknya Barata yang juga bernama Risang itu dibesarkan dalam belaian kasih sayang. Tidak selalu dibayangi oleh ketakutan, umpatan marah, bentakan-bentakan dan bahkan pukulan-pukulan.

Tetapi Kasadha sudah bertekad untuk menemui ibunya.

Sebagai seorang yang pernah melakukan petualangan dan mendapat latihan-latihan keprajuritan, maka Kasadha tidak banyak mengalami kesulitan untuk mengenali sasaran. Dengan ancar-ancar yang diketahui, maka Kasadha telah mengikuti jalan yang memanjang melewati sebuah padukuhan. Ia melihat dua batang pohon jambe disudut padukuhan. Kemudian diseberang jalan terdapat sebatang pohon gayam yang besar.

Kasadha tahu bahwa ia harus melewati jalan itu.

Beberapa puluh langkah kemudian Kasadha berbelok kekiri, mengikuti sisi halaman berdinding batu kali memanjang dan diujungnya terdapat kebun bambu yang lebat dan terhitung luas.

Kasadha yakin bahwa ia menuju kearah yang benar ketika ia sampai pada sebuah simpang tiga di padukuhan itu. Satu jalan diantaranya jalan yang lebih kecil. Dan ia harus memilih jalan yang kecil itu.

Akhirnya Kasadha memang sampai kedepan sebuah regol yang dicari. Sebuah regol yang terbuat dari kayu gelugu. Di halaman dibelakang regol terdapat sepasang pohon kelapa puyuh sebagaimana dikatakan kepadanya.

 “Inilah rumah itu,” desis Kasadha. Untuk beberapa saat Kasadha berhenti di depan regol rumah itu. Ia memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian telah membulatkan tekadnya untuk bertemu dengan ibunya. Warsi, yang mempunyai darah Kalamerta serta dendam setinggi langit kepada Iswari, ibu Barata, yang untuk sementara memangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan jantung yang terasa berdegup semakin cepat, Kasadha memasuki halaman rumah itu. Nampaknya memang sepi. Halamannya yang tidak begitu luas agaknya juga tidak terpelihara rapi, meskipun terdapat jejak sapu lidi.

Dengan gelisah Kasadha masih saja duduk dipunggung kudanya. Namun sejenak kemudian ia pun telah meloncat turun. Dituntunnya kudanya kepinggir halaman dan mengikatnya pada sebatang pohon kepel yang sedang berbunga.

Dalam keragu-raguan itu, Kasadha mendengar pintu seketheng berderak. Kemudian derit kecil menandai gerak daun pintu itu. Baru sejenak kemudian pintu seketheng itu terbuka.

Seseorang muncul dari balik pintu. Namun tidak segera turun kehalaman. Dipandanginya seluruh halaman itu. Agaknya ia memang mendengar kuda Kasadha itu meringkik.

Ketika kemudian ia melihat Kasadha yang masih berdiri termangu-mangu, maka ia pun telah menyapanya dengan wajah yang gembira, “Kau Puguh?”

Kasadha melangkah mendekat sambil menjawab, “Ya bibi.”

 “Marilah ngger. Marilah. Naiklah ke pringgitan. Aku akan membuka pintunya dari dalam,” berkata perempuan yang ternyata adalah sepupu Warsi yang telah membawa Warsi kerumah itu.

Kasadha mengangguk hormat, sementara bibinya itu pun telah menghilang dibalik seketheng.

Namun terdengar suaranya di longkangan, “Puguh telah datang. Ia berada di pringgitan.”

Kasadha memang menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak tahu kepada siapa bibinya itu memberitahukan. Mungkin kepada ibunya, mungkin kepada orang yang selalu menyebut dirinya ayahnya itu.

Namun Kasadha itu pun telah duduk dipringgitan. Dipandanginya tiang-tiang pendapa itu. Pada saka gurunya terdapat sedikit ukiran. Tetapi tidak begitu baik buatannya.

Sejenak kemudian, Kasadha mendengar pintu pringgitan itu pun terbuka. Seorang perempuan muncul dari ruang dalam.

Kasadha terkejut. Perempuan itu ibunya. Namun ibunya nampak begitu tua sehingga kesannya jauh berbeda dengan saat ia meninggalkannya meskipun saat itu ibunya terluka.

Dengan serta merta Kasadha berdiri. Tetapi ia tegak saja seperti patung. Ia ingin berlari, memeluk lutut ibunya. Tetapi ia masih saja dibayangi ketakutan. Sejak kanak-kanak ia seakan-akan selalu dipisahkan oleh jarak yang dalam dengan ibunya itu. Ibunya seakan-akan sangat membencinya.

Setiap ia mendekatinya dan meraba pakaian ibunya, maka ibunya telah membentaknya. Kasadha pun menyadari bahwa tangannya memang selalu kotor. Dan ibunya tidak menghiraukannya. Apalagi orang yang menyebut bapaknya. Setiap kali tangannya telah memukulnya sampai giginya berdarah. Kadang-kadang hidungnya dan bahkan memar-memar di kening.

 “Puguh,” perempuan tua itu berdesis.

 “Ibu,” Kasadha melangkah perlahan-lahan mendekat. Ia tahu pasti betapa ibunya memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jika ia tiba-tiba saja bersujud dihadapan ibunya, apakah kira-kira yang terjadi jika laki-laki iblis itu berhasil mempengaruhi perasaan ibunya itu. Jika ibunya menghendaki, maka ia akan dapat menghunjamkan jari-jari tangannya ditengkuknya, sehingga ia tidak akan pernah dapat bangkit lagi.

Tetapi perasaan Kasadha tiba-tiba saja bergetar. Ia sempat memandang mata perempuan tua itu. Mata itu tidak menyala seperti biasanya. Tetapi mata itu justru menjadi basah.

 “Puguh,” desis perempuan itu, “akhirnya kau kembali kepadaku anakku.”

Kasadha benar-benar tersentuh hatinya. Ia tidak pernah bermimpi bahwa ibunya akan bersikap sebagaimana seorang ibu terhadapnya.

Karena itu, maka Kasadha pun benar-benar telah bersimpuh dihadapan ibunya sambil berdesis, “Ampunkan aku ibu.”

 “Puguh,” desis ibunya, “betapa hatiku terkoyak oleh masa laluku, namun aku masih berkeyakinan, bahwa pada suatu saat kau akan kembali kepadaku dalam keadaan apapun. Mungkin dengan penuh dendam dan kebencian. Mungkin setelah kau mematangkan ilmumu, maka kau akan datang untuk membunuh ibumu. Tetapi aku sudah bersiap menghadapi keadaan yang paling buruk sekalipun, Puguh. Aku akan menerima sikapmu dengan dada terbuka, karena aku harus mengakui betapa besar kesalahanku kepadamu. Aku ternyata tidak mampu untuk berbuat sesuatu sebagai seorang ibu.”

 “Tidak ibu. Ibu tidak bersalah,” jawab Kasadha, “jika ibu melakukannya, maka itu adalah satu akibat dari kehidupan yang ibu jalani sebelumnya tanpa menimbang perasaan ibu sendiri.”

Ibunya telah mengusap kepalanya sambil berkata, “Ternyata kau benar-benar telah bersikap dewasa. Untunglah bahwa kakekmu Randukeling serta Ki Ajar Paguhan turut campur atas masa depanmu. Jika tidak, maka aku tidak tahu, kau akan menjadi seorang anak muda yang tentu tidak akan jauh dari kelamnya dunia kelompok Kalamerta.”

“Kita memang wajib bersyukur kepada Yang Maha Agung bahwa aku sempat mendapat tuntunan dari kakek dan guru,” jawab Kasadha.

“Duduklah Puguh,” berkata ibunya kemudian.

Kasadha pun kemudian telah duduk kembali diatas tikar yang sudah tidak putih lagi, “Ibunya pun telah duduk pula bersama anaknya.”

“Aku ternyata masih sempat melihat cerahnya cahaya matahari, Kasadha. Dihari tuaku, maka aku mendapat waktu untuk menilai kembali apa yang pernah aku jalani dalam hidupku ini. Untunglah bahwa kakekmu dan gurumu sekali-sekali mengunjungi aku sehingga mereka dapat memberikan petunjuk yang berarti bagiku. Meskipun sedikit demi sedikit, tetapi karena setiap kali mereka mengunjungiku selalu membawa angin yang jernih, lambat laun aku dapat mengenali arti dari petunjuk-petunjuk mereka,” berkata ibunya pula.

Jantung Kasadha memang telah bergejolak. Ternyata yang dicemaskan disepanjang perjalanannya tidak terjadi. Ibunya tidak menyambutnya dengan mata membelalak. Tidak pula membentaknya dan mengusirnya apalagi mencengkam tengkuknya dengan jari-jarinya yang sekuat baja itu.

Hampir diluar sadarnya Kasadha bertanya, “Apakah kakek dan guru sering datang kemari?”

 “Ya. Meskipun tidak terlalu sering. Tetapi sejak aku disini dalam keadaanku yang sulit, kakekmu dan gurumu memang sudah beberapa kali datang kemari. Baru saja kakek dan gurumu juga berkunjung ke rumah ini. Baru pagi tadi mereka kembali ke kaki Pagunungan Sewu,” berkata ibunya.

“Tadi pagi? Jadi kakek dan guru baru saja meninggalkan rumah ini?” bertanya Kasadha.

“Ya Puguh. Seandainya kau datang kemarin, maka kau akan bertemu dengan mereka disini,” berkata ibunya.

“Tetapi aku tidak bertemu diperjalanan ibu,” berkata Kasadha kemudian, “aku baru saja singgah dirumah kakek di kaki Pegunungan Sewu. Semalam aku justru bermalam disana.”

“O, ternyata kau berselisih jalan ngger,” berkata ibunya yang ikut merasa kecewa, “kakek dan gurumu tentu juga menyesal bahwa mereka tidak dapat menjumpaimu. Menurut mereka, sudah lama kau tiak pernah menengok mereka.”

“Ya ibu. Aku tenggelam dalam tugas-tugasku. Gejolak yang terjadi di Pajang yang berganda itu mengikatku, sehingga aku tidak dapat pergi ke manapun,” jawab Kasadha.

“Ibu sudah mendengar bahwa kau telah menjadi seorang prajurit, Puguh. Ibu bersukur bahwa hidupmu ternyata jauh lebih berarti dari ibu yang malang ini,” desis Warsi. Suaranya menjadi serak.

Puguh yang sehari-hari dilingkungan keprajuritan dipanggil Kasadha itu menjadi termangu-mangu. Ibunya yang dihadapinya itu sama sekali berubah. Seolah-olah orang itu bukan Warsi yang sebelumnya dikenalnya sebagai seorang yang keras, bahkan kejam terhadapnya. Namun kini yang dijumpainya adalah seorang perempuan yang nampaknya rapuh dan tidak mempunyai gejolak kehidupan lagi didalam dirinya.

Warsi yang melihat tatapan mata anaknya itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar dugaan Kasadha, ibunya bertanya, “Kau melihat ibu berubah?”

“Ya ibu,” jawab Kasadha dengan nada rendah.

“Syukurlah jika kau sempat melihat perubahan itu.” berkata ibunya kemudian, “Aku memang berusaha untuk berubah. Bagaimanapun juga itu akan lebih baik bagiku meskipun perubahan itu tidak tumbuh dari dalam endapan nuraniku.”

“Maksud ibu?” bertanya Kasadha.

“Puguh. Aku sekarang bukan lagi ibumu yang dahulu. Setelah aku melakukan perang tanding yang terakhir dengan Iswari, maka ilmunya yang dahsyat itu benar-benar telah mengguncang bagian dalam tubuhku. Bukan karena luka pedangnya. Tetapi ilmunya yang menghantam dan menukik kedalam pusat syarafku, telah membuat aku kehilangan sebagian dari kemungkinan untuk mengembangkan diri dalam meningkatkan ilmuku selanjutnya. Dengan demikian maka aku merasa, bahwa aku tidak akan mungkin dapat mengimbangi kemajuan ilmu Iswari.”

Warsi berhenti sejenak, lalu katanya kemudian, “Semula aku memang tidak mau menerima kenyataan ini. Apalagi Ki Rangga Gupita selalu mendorongku untuk meneruskan keinginan gila itu. Namun untunglah bahwa kakekmu dan gurumu sekali-sekali datang menengokku. Bahkan ketika goncangan jiwaku karena kenyataan tentang diriku membuat aku hampir gila, kakekmu dan gurumu berada di tempat ini untuk lebih dari sepuluh hari. Saat itulah hatiku mulai terbuka. Apalagi ketika aku tahu bahwa kau telah menjadi seorang prajurit. Yang terakhir aku dengar kau telah diangkat menjadi lurah prajurit. Rasa-rasanya kau akan mampu menebus segala dosa yang telah ibu perbuat.”

“Penyesalan ibu sendiri telah menghapus dosa-dosa yang pernah ibu perbuat,” berkata Kasadha.

“Tetapi penyesalan ini sebenarnya tidak jujur. Hal ini terjadi karena aku merasa tidak akan mungkin untuk bangkit dan menjadi tegar kembali meskipun sebagian besar ilmuku masih aku kuasai. Tetapi ilmu itu tidak akan dapat berkembang lagi,” Warsi berhenti sejenak, lalu, “seandainya hal itu tidak terjadi, mungkin aku masih juga belum menyadari apa yang sebenarnya berkembang didalam diriku. Karena benih itu ditanam sejak aku dilahirkan.”

“Tidak ibu,” jawab Kasadha, “ibu bukannya tidak jujur. Yang Maha Agung mempunyai beribu cara untuk memanggil kembali hambanya. Apa yang terjadi atas ibu sehingga ilmu ibu tidak dapat berkembang lagi adalah satu isyarat dari Yang Maha Agung untuk memanggil ibu kembali. Dan ternyata ibu tanggap. Seperti anak yang tersesat, maka ibu kemudian telah menemukan jalan yang seharusnya ibu lalui.”

Wajah Warsi menegang sejenak. Namun kemudian matanya menjadi basah lagi. Dengan nada lembut ia berkata, “Ternyata kau benar-benar telah memiliki sikap yang ditanamkan oleh kakek dan gurumu. Yang kau katakan membuat hatiku semakin terang,” Namun tiba-tiba saja kening Warsi berkerut. Katanya, “Aku belum menemukan kebulatan hati tentang hal ini dengan ayahmu.”

“Maksud ibu Ki Rangga Gupita?” bertanya Kasadha.

“Ya,” jawab Warsi. Namun ketika ia kemudian melihat kerut di kening Kasadha, maka Warsi pun berkata, “Maafkan aku Puguh. Aku memang seorang perempuan yang liar. Seharusnya aku menghormati perasaan ayahmu. Tetapi waktu itu hatiku benar-benar dicengkam iblis sebagaimana saat aku inginkan Ki Wiradana untuk menjadi suamiku.”

Sentuhan perasaan itu memang terasa sakit dihati Kasadha. Tetapi ia tidak mau menyakiti hati ibunya yang mulai berubah.

Sebenarnya Kasadha sudah merasakan perubahan itu sejak ia akan berpisah dengan ibunya. Perasaannya yang paling dalam telah menangkap sesuatu yang lain pada sikap ibunya. Tetapi laki-laki yang selalu membayanginya itu telah membuat ibunya yang sejak semula memang liar menjadi semakin liar.

“Untunglah, Yang Maha Agung yang penuh dengan kasih telah memberikan isyarat agar ibu kembali ke jalan yang lurus,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Dalam pada itu hampir diluar sadarnya Kasadha bertanya, “Dimana Rangga Gupita itu sekarang ibu?”

“Ia berkeliaran saja tidak menentu. Tiba-tiba saja ia pergi. Kemudian muncul satu dua hari dan menghilang lagi. Ia tidak mampu mengatasi goncangan-goncangan perasaannya serta mimpinya yang melambung kelangit. Ia masih menginginkan Tanah Perdikan Sembojan untuk dijadikan landasan niatnya. Mimpinya menjadi semakin buruk ketika ia mulai menilai kekuatan Pajang. Dendamnya sebagai orang Jipang kadang-kadang ternyata masih juga muncul dipermukaan.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, bibinya telah menghidangkan minuman dan makanan. Ketela pohon yang direbus dengan santan dan garam. Beberapa bungkus nagasari berisi pisang.

Tetapi bibinya tidak ikut duduk bersama Warsi. Agaknya ia memang memberi kesempatan kepada Warsi untuk dapat berbicara sepuas-puasnya dengan anaknya.

“Sampai kapan kau mendapat waktu untuk beristirahat?” bertanya ibunya kemudian.

“Lima hari ibu. Tetapi sehari sudah aku pergunakan untuk mengunjungi bekas pimpinanku, seorang Lurah Penatus yang kemudian mengundurkan diri. Sehari aku pergunakan untuk berada di rumah paman Pamekas,” jawab Kasadha.

“Kau masih mempunyai sisa tiga hari,” berkata ibunya.

“Ya ibu,” jawab Kasadha, “dihari keenam aku harus sudah berada di barakku kembali.”

“Jika demikian kau dapat beristirahat disini. Mudah mudahan Ki Rangga Gupita belum kembali sampai kau meninggalkan tempat ini. Ia terlalu banyak menceriterakan kekuranganmu dimatanya,” berkata Warsi. Namun kemudian ia pun bertanya, “Menurut Ki Rangga, orang-orang Sembojan sudah mengetahui siapa kau sebenarnya.”

Kasadha mengangguk. Katanya, “Ya ibu. Aku ternyata segera dikenali oleh dua orang yang nampaknya dengan sengaja berusaha untuk mengetahui tentang aku. Puguh, anak Warsi.”

“Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri atas sikap orang-orang Sembojan terhadapmu,” berkata Warsi.

Kasadha pun kemudian telah menceriterakan kehadirannya di Tanah Perdikan. Ia datang sebagai seorang prajurit Pajang dalam tugasnya. Tetapi akhirnya, ia tidak dapat mengelak bahwa ia harus memperkenalkan dirinya sebagai Puguh, anak Ki Wiradana. Adik Risang. Yang dalam kesatuan pasukan khusus Risang merupakan seorang yang paling akrab dengannya tanpa diketahui siapa sebenarnya anak itu. Meskipun dengan singkat, tetapi Kasadha sempat menceriterakan dengan jelas apa yang telah terjadi pada dirinya di Tanah Perdikan Sembojan. Sikap orang-orang Sembojan khususnya keluarga Risang dan Risang sendiri.

“Ternyata mereka adalah orang-orang yang baik ibu. Aku sempat merasa iri hati terhadap Risang yang mempunyai seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang. Ternyata Yang Maha Agung mengabulkan doaku. Aku sekarang juga mempunyai seorang ibu yang baik,” berkata Kasadha.

“Jangan sebut itu Puguh,” desis ibunya, “aku menjadi malu sekali.”

“Kenapa ibu harus merasa malu? Justru ibu harus merasa berterima kasih bahwa dengan demikian ibu telah meninggalkan satu kehidupan yang kelam dan memasuki satu kehidupan baru yang pantas,” sahut Kasadha.

“Sudahlah. Marilah, kita lupakan saja masa lalu yang kotor itu. Aku setuju dengan kau, kita memasuki saru kehidupan baru yang pantas,” berkata ibunya, “tetapi masih, ada satu persoalan yang selama ini mengganggu pikiranku.”

“Ki Rangga Gupita?” bertanya Kasadha.

Ibu mengangguk.

“Ibu harus berani mengatakan yang sebenarnya terbersit dihati ibu. Biarlah ki Rangga menempuh jalan hidupnya sendiri. Biarlah ia mencari apa yang diingini jika orang itu sudah tidak dapat diperingatkan lagi,” berkata Kasadha kemudian. Lalu katanya dalam nada rendah, “Ibu jangan merasa kehilangan jika orang itu pergi.”

Ibunya mengangguk pula. katanya, “Sudah lama aku hidup bersama. Bahkan kami sudah membuahkan seorang anak laki-laki. Tetapi aku masih mempunyai kekuatan untuk melupakannya.”

“Aku, kakek dan guru tentu bersedia membantu ibu melepaskan diri dari bayangannya,” berkata Kasadha.

Ibunya mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Sekarang minumlah. Makanlah apa yang ada Kasadha. Mungkin agak lain dengan makanan dan minuman yang kau terima di barakmu.”

“Sama saja ibu. Justru dalam perang yang terakhir, kami, seluruh isi barak, hampir saja kelaparan. Tidak ada beras, tidak ada jagung, tidak ada ketela pohon,” jawab Kasadha.

“Jadi?” bertanya ibunya.

“Untunglah, bahwa pada saat terakhir, ketika perut terasa mulai lapar, beras dan jagung itu datang,” jawab Kasadha.

Ibunya menarik nafas. Seakan-akan ibunyalah yang mendapat beras pada saat terakhir.

Hari itu Kasadha tinggal dirumah bibinya bersama ibunya. Tidak ada yang terasa mengganggu. Ibunya telah benar-benar berubah. Perempuan yang garang itu telah menjadi jinak, seperti kebanyakan perempuan. Dihari berikutnya, Kasadha melihat ibunya berada didapur bersama bibinya. Merebus air, menanak nasi dan kesibukan-kesibukan yang lain. Pakaian, tingkah lakunya pun tidak ada ubahnya dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Bahkan nampaknya lebih tua dan lebih rapuh dari ibu Risang yang masih tetap tegar meskipun umurnya sudah menjadi semakin tua pula.

Namun perubahan sikap jiwani ibunya membuat Kasadha benar-benar bergembira. Dimalam hari pertama ia menginap dirumah bibinya, ia telah mengucap sukur kepada Yang Maha Agung hampir semalam suntuk. Ia telah mendapat kurnia sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya akan dapat terjadi.

Dengan demikian, maka Kasadha tidak merasa bahwa ia berada di neraka sebagaimana dibayangkannya. Ia mengira bahwa dalam waktu tiga hari ia akan dibakar oleh panasnya suasana. Mungkin lebih dari sekedar bertegang dalam pembicaraan. Bahkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi adalah, bahwa ibunya akan membunuhnya.

Tetapi semuanya itu tidak terjadi.

Seperti ibunya, maka Kasadha berharap bahwa Ki Rangga Gupita tidak akan kembali sebelum ia meninggalkan rumah itu.

Di hari terakhir Kasadha berada di rumah bibinya, maka ia berkesempatan untuk berbicara panjang dengan ibu dan bibinya. Keduanya berharap agar Kasadha berhati-hati dalam tugasnya.

“Jika kau sudah mantap menjadi seorang prajurit Kasadha, lakukanlah dengan sepenuh hati. Pengabdian yang kau berikan tidak sia-sia. Ibu adalah orang yang pernah hidup dalam dunia yang gelap, sehingga ibu tahu pasti, bahwa tugas seorang prajurit memang sulit. Dalam pengabdiannya ia harus bersedia mempertaruhkan segala-galanya yang dipunyainya,” berkata ibunya, “Dengan kehadiranmu dalam dunia keprajuritan, maka kau telah mengangkat nama baik keluarga kita. Keluarga ini bukan keluarga yang terburuk dalam lingkungan pemerintahan di Pajang. Karena seorang diantaranya telah ikut serta dalam pengabdian yang tulus, meskipun yang lain adalah bayangan-bayangan hitam yang tidak lebih dari sampah.”

“Sebaiknya ibu tidak selalu menyesali diri sendiri,” berkata Kasadha.

Namun kemudian yang mereka bicarakan pun telah beralih. Dari dunia keprajuritan sampai ke persoalan-persoalan pribadi Kasadha.

“Bukankah kau sudah dewasa penuh, Kasadha?” bertanya bibinya tiba-tiba.

“Tentu,” ibunya yang menjawab, “ia sudah Lurah Penatus.”

“O,” bibinya mengangguk-angguk, “jadi kau sudah mempunyai pangkat?”

“Ah, apa artinya seorang Lurah,” jawab Kasadha.

“Jangan berpikir begitu,” berkata ibunya, “seorang harus berani memanjat dari bawah.”

Kasadha mengangguk-angguk, sementara bibinya berkata, “Jika demikian, maka kau sudah pantas mempunyai seorang isteri Kasadha.”

“Ah,” Kasadha berdesah, “belum waktunya berbicara tentang seorang isteri bibi.”

“Kenapa belum waktunya,” sahut bibinya, “justru tidak pantas jika seorang Lurah Penatus prajurit Pajang masih belum mempunyai seorang isteri.”

Kasadha tertawa. Katanya, “Lurah Penatus bukan ukuran bibi. Ada Lurah Penatus yang sudah tua, ada yang masih muda meskipun sudah beranak dua, tetapi ada pula yang belum beristeri. Aku bukan satu-satunya penatus yang belum beristri.”

“Tetapi bukankah lebih baik jika sudah ada yang mengurus kebutuhan-kebutuhan sehari-hari,” berkata bibinya.

“Bukankah aku tinggal dibarak? Para Lurah Penatus juga tinggal di.barak,” sahut Kasadha.

“Didalam keadaan yang gawat, semua prajurit memang tinggal di barak. Tetapi tentu tidak dimasa tenang,” berkata bibinya pula.

Kasadha masih saja tertawa menanggapi kata-kata bibinya itu. Namun jantungnya menjadi berdebaran ketika bibinya berkata, “Kasadha. Aku akan membiasakan diri memanggil nama yang kau pergunakan saat kau memasuki dunia keprajuritan,” bibinya berhenti sejenak, lalu, “jika kau merasa bahwa saatnya untuk beristeri sudah tiba, kau dapat memberitahukannya kepadaku. Aku mempunyai satu pilihan yang tepat untukmu. Seorang gadis yang lembut namun berhati baja. Sesuai sekali untuk menjadi isteri seorang prajurit yang memerlukan katabahan dan bahkan keberanian. Meskipun tidak seperti ibumu, yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, tetapi ia akan dapat menjadi seorang isteri yang mengerti kewajibannya sebagai isteri seorang prajurit.”

“Ah,” Kasadha berdesah pula, “aku belum memikirkannya bibi. Mungkin aku masih memerlukan waktu yang panjang untuk memasuki dunia rumah tangga. Aku memerlukan persiapan yang matang. Bukan saja dalam pengertian kebendaan. Tetapi lebih dari itu. Aku harus mempersiapkan diri lahir dan batin agar aku dapat memasuki dunia baru itu dengan penuh keyakinan akan kemampuan diri.”

“Kau jangan terlalu banyak membuat pertimbangan pertimbangan,” berkata bibinya, “jika kau sudah merasa pantas untuk memasukinya, maka kau harus berani langsung terjun. Segala sesuatunya nanti akan terisi dengan sendirinya.”

Kasadha masih saja tertawa. Ibunya juga tertawa. Katanya, “Kau dapat mulai memikirkannya. Tetapi kau tidak terlalu terikat kepada waktu. Mungkin dalam waktu dekat. Mungkin masih beberapa tahun lagi. Terserah kepadamu. Yang aku harapkan adalah, bahwa kau akan dapat hidup wajar sebagaimana orang lain. Tidak seperti ibu.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian Kasadha yakin, bahwa ibunya benar-benar telah menyesali masa lampaunya, sehingga penyesalan itu agaknya mendalam sampai ke tulang sungsum.

Namun dalam pada itu, bibinya justru berkata, “Baiklah. Ingat-ingat pesan ibumu. Tetapi juga ingat-ingat pesan bibi. Bibi mempunyai seorang gadis yang sangat baik buatmu.”

Kasadha mencoba untuk tertawa lagi. Tetapi perasaannya memang sudah mulai tergelitik untuk mengingat seorang gadis yang sangat menarik baginya. Gadis yang bernama Riris Respati, anak Ki Lurah Dipayuda.

Namun sekilas juga terbayang kakaknya seayah, Risang yang dikenalnya bernama Barata, yang oleh banyak orang justru dianggap sebagai adiknya.

 “Sudahlah,” berkata ibunya. Kasadha bagai terbangun dari tidurnya yang dibayangi sebuah mimpi indah tentang seorang gadis cantik. Sementara itu ibunya berkata selanjutnya, “Pada saatnya kau tentu akan merasakan jika kau sudah memerlukan seorang isteri.”

Bibinyalah yang tersenyum. Katanya, “Waktu itu akan segera datang.”

Kasadha dan ibunya juga tersenyum. Tetapi Kasadha tidak menjawab lagi.

Namun ia merasakan pertemuannya dengan ibunya dan bibinya itu benar-benar membuatnya merasa hidup dalam kewajaran keluarga. Meskipun tidak seakrab keluarga Risang, tetapi hatinya serasa telah berkembang. Harapan-harapan telah tumbuh didalam hatinya, bahwa ia pada suatu saat akan dapat menyusun keluarga yang baik dan berarti. Hidup ditengah-tengah masyarakat tanpa dibayangi oleh kecemasan diburu oleh musuh-musuhnya yang setiap saat dapat membahayakan hidupnya.

 “Ternyata kesempatanku meninggalkan barak kali ini merupakan satu kurnia yang sangat besar dari Yang Maha Agung. Aku sempat menengok Ki Lurah Dipayuda, Paman Pamekas dan terakhir aku telah menemukan ibuku yang berubah. Meskipun aku tidak bertemu dengan kakek dan guru, tetapi apa yang terjadi atas ibuku adalah cermin dari ketekunan kedua orang itu. Tentu saja atas kemurahan Yang Maha Agung yang telah memanggil agar ibu kembali ke jalan yang direstuinya,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Ketika kemudian senja turun, maka Kasadha sempat melihat-lihat kebun dibelakang rumah yang memang kurang mendapat perawatan.

“Tidak ada orang yang mengurusnya,” berkata ibunya.

“Bagaimana dengan ayah?” bertanya Kasadha.

“Aku lebih senang melihat rumput-rumput liar itu tumbuh daripada melihat Ki Rangga berkeliaran disini,” jawab ibunya.

Kasadha mengangguk-angguk. Sekali lagi ia merasa bahwa ibunya benar-benar telah berubah. Hal itu membuat hati Kasadha semakin gembira.

Namun yang tidak disangka-sangka itu pun datang pula. Kasadha dan ibunya bahkan juga bibinya berharap bahwa Ki Rangga tidak datang saat Kasadha masih berada dirumah itu. Tetapi justru dihari terakhir, ketika dipagi harinya Kasadha akan meninggalkan rumah itu, Ki Rangga Gupita telah datang. Tidak sendiri. Bahkan dengan dua orang kawannya.

Warsi tidak dapat menolak. Ia memang merasa wajib untuk menerima laki-laki itu meskipun ia tidak lagi tertarik akan kehadirannya. Demikian juga dengan kedua orang kawannya yang nampaknya memang bukan orang baik-baik.

Ki Rangga pun kemudian telah mempersilahkan kedua orang kawannya itu duduk dipendapa. Dengan kata-kata kasar mereka berkelakar. Kemudian suara tertawa meledak.

“Mana perempuan itu?” bertanya seorang diantara mereka.

“Tunggu. Jangan tergesa-gesa. Ia ada dirumah ini,” jawab Ki Rangga Gupita.

“Jangan biarkan kami menunggu terlalu lama,” berkata yang lain.

Ki Rangga tidak menjawab. Ia pun segera masuk keruang dalam. Ketika ia melihat Warsi, maka ia pun bertanya kasar, “Dimana sepupumu?”

“Dibelakang,” jawab Warsi.

“Suruh ia mandi dan berpakaian yang rapi. Ia masih cukup muda dan cantik untuk menemani kedua orang kawanku itu,” berkata Ki Rangga.

“Gila. Kau sangka apa sepupuku itu he?” bertanya Warsi.

“Tolonglah. Jika kau yang menyuruhnya, sepupumu mesti bersedia. Aku memerlukan kedua orang itu agar ia bersedia membantu kami,” berkata Ki Rangga.

“Aku tidak menjual sepupuku,” jawab Warsi.

“Jangan begitu,” minta Ki Rangga, “aku sangat memerlukan mereka berdua. Bukankah sepupumu seperti juga kita? Orang-orang liar? Cepat. Suruh sepupumu mandi dan berpakaian yang sebaik-baiknya. Keduanya tidak akan mau menunggu terlalu lama.”

“Tidak,” jawab Warsi.

“Jika kau tidak mau, biar aku yang mengatakan kepadanya,” berkata Ki Rangga, “ia sangat baik kepadaku.”

“Terserah kepadamu. Tetapi jika ia marah dan mengusirmu, aku tidak bertanggung jawab. Rumah ini adalah rumah peninggalan suaminya. Bukan rumah kita.” berkata Warsi.

“Bukankah kita dapat memaksanya?” berkata Ki Rangga.

“Kita siapa?” bertanya Warsi.

“Kita. Kau dan aku,” jawab Ki Rangga.

“Sudah aku katakan, aku tidak mau memaksanya,” jawab Warsi.

“Aku akan memaksanya. Jika ia menolak, maka aku akan mengancam untuk membunuhnya. Meskipun ia memiliki ilmu kanuragan, tetapi tidak terlalu tinggi, sehingga aku dan kedua orang kawanku itu tidak akan menemui kesulitan apapun juga,” berkata Ki Rangga.

“Kau sudah gila,” geram Warsi.

Ki Rangga tidak menunggunya. Ia pun telah berlari kebelakang mencari sepupu Warsi.

Namun Ki Rangga itu terkejut. Ternyata ia melihat Kasadha sedang menempatkan kudanya di kandang yang sudah tidak begitu utuh lagi.

“Kau. Jadi kau telah datang?” Ki Rangga hampir berteriak, “Marilah. Marilah Puguh. Aku perkenalkan kau dengan kedua orang kawanku. Mereka tentu akan senang bergabung dengan kau. Apalagi jika kau sudah berhasil menguasai Tanah Perdikan Sembojan.”

Tetapi jawab Puguh tegas, “Tidak. Aku tidak mau.”

“Gila. Kau berani berkata begitu dihadapan ibumu?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Aku sudah berbicara dengan ibu. Aku tidak mau.” jawab Kasadha.

“Kenapa kau masih tetap hidup? Jika kau menolak keinginan ibumu, kau tentu sudah dibunuhnya. Kepalamu akan diletakkan didepan pintu dan rambutmu akan menjadi tempat membersihkan kaki orang-orang yang akan masuk keruang dalam,” geram Ki Rangga.

Dalam pada itu, tiba-tiba telah terdengar suara Warsi, “Aku sudah mendengarkan semua ceriteranya. Termasuk penolakannya untuk memasuki Tanah Perdikan Sembojan dan menguasainya.”

“Dan kau tidak marah? Tidak membunuhnya?” bertanya Ki Rangga.

“Ia adalah anakku. Aku telah melahirkannya dengan menantang maut. Kenapa aku harus membunuhnya?” bertanya Warsi.

“Gila. Kau tidak tahu seluruh ceriteranya,” berkata Ki Rangga, “ia telah berkhianat. Ia telah mengabaikan perintahmu.”

Namun jawaban Warsi, “Sudahlah Ki Rangga. Jangan memaksa anak itu lagi. Biarlah ia hidup menurut caranya sendiri. Ia akan menjadi seorang anak muda yang berjalan dijalur yang dirintisnya sendiri.”

“Apa yang sebenarnya telah terjadi disini? Kenapa kau tidak lagi mau mendengarkan kata-kataku. Dua kali kau telah menolak permintaanku. Menyiapkan sepupumu itu agar ia menjadi pantas menerima kedua orang tamuku dan memaksa anak ini melakukan perintah yang pernah kita berikan,” berkata Ki Rangga.

“Kedua-duanya aku tidak dapat melakukannya Ki Rangga,” jawab Warsi. Lalu katanya, “Sebaiknya kita mulai menyadari. Umur kita menjadi semakin tua. Apa yang akan dapat kita capai dengan sisa umur kita? Tanah Perdikan Sembojan atau bahkan Pajang? Ternyata bahwa kemukten adalah mimpi buruk yang telah menjerumuskan kita kedalam kesulitan sehingga kita tidak dapat hidup sebagaimana orang banyak.”

“Persetan,” geram Ki Rangga, “sekarang cepat panggil sepupumu. Aku akan menghukum anak durhaka ini jika kau tidak mau melakukannya. Ia harus mempertanggungjawabkan padepokan kita yang telah dimusnahkannya. Kemudian pengkhianatannya tidak lagi dapat diampuni.”

“Kau tidak dapat menghukumnya,” berkata Warsi, “ia seorang Lurah Penatus.”

“Kau tahu seberapa rendahnya pangkat Lurah Penatus itu. Aku adalah Rangga dalam susunan pemerintahan Jipang. Aku adalah Rangga dalam pasukan khusus dan kemudian menjadi salah seorang perwira prajurit sandi. Selain itu aku telah meningkatkan ilmuku bersama kedua orang kawanku itu disaat-saat terakhir, sehingga ilmuku sekarang sudah memadai,” berkata Ki Rangga.

“Justru karena itu, bukankah kita yang merasa memiliki ilmu yang cukup, tidak lagi seperti kanak-kanak yang baru keluar dari sebuah perguruan? Yang ingin menjajagi kemampuannya dengan menantang setiap orang berkelahi?” bertanya Warsi.

“Tidak Nyi,” jawab Ki Rangga, “persoalannya adalah menghukum seorang pengkhianat.”

Warsi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian telah timbul dihatinya satu keinginan untuk melihat kemungkinan yang dapat ditunjukkan oleh anaknya. Ia seorang prajurit berpangkat Lurah Penatus. Ia pun murid Ki Ajar Paguhan dan selain itu berada dibawah bayangan kemampuan kakeknya pula.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Terserah kepada Ki Rangga. Tetapi sudah aku peringatkan. Anak itu seorang Lurah Penatus yang tentu tidak akan membiarkan dirinya mengalami kesulitan karena perbuatanmu.”

“Kau mencemaskan aku?” bertanya Ki Rangga.

“Ya,” jawab Warsi.

“Ada dua kemungkinan yang mendorongmu mencemaskan nasibku jika aku menghajar anak itu. Kau benar-benar mencintaiku atau kau sudah mulai menghinaku,” geram Ki Rangga.

“Terserahlah. Aku tidak dapat membedakan kedua-duanya,” jawab Warsi.

Ki Rangga pun benar-benar menjadi marah. Selangkah demi selangkah ia mendekati Kasadha. Sementara senja pun menjadi semakin gelap.

Namun Kasadha telah bergeser pula. Ia berdiri di tempat yang cukup lapang. Nampaknya Ki Rangga benar-benar kehilangan kendali jiwanya. Sementara ibunya dengan tidak langsung telah mengijinkannya untuk melawannya.

Namun sebelum ia mulai, ia masih berteriak, “Suruh sepupumu mandi. Dimana dia sekarang? Kedua kawanku tidak mau menunggu terlalu lama.”

Warsi tidak menjawab. Tetapi perhatiannya tertuju kepada anaknya yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ki Rangga yang sebenarnya telah lama mendendamnya, rasa-rasanya mendapat kesempatan untuk menyalurkan kemarahannya. Beberapa kali ia berusaha untuk mengekang diri menghadapi anak itu. Tetapi rasa-rasanya ia telah sampai ke puncak kemarahannya. Maka ia tidak mempunyai niat yang lain kecuali membunuh anak muda yang dibencinya sejak kanak-kanak itu.

“Puguh,” geram Ki Rangga, “akhirnya memang sampai juga saatnya aku membunuhmu. Aku ternyata memang tidak mempunyai pilihan lain. Kau harus mati. Aku memang menyesal tidak mencekikmu dimasa kanak-kanak. Saat ibumu belum terpengaruh melihat kau menjadi seorang prajurit.”

Kasadha tidak menjawab. Ia semakin bergeser ketempat yang lebih lapang.

“Apakah kau masih akan bersujud dihadapan ibumu sebelum kau mati,” geram Ki Rangga.

“Aku tidak akan mati karena kuasamu,” geram Kasadha, “kematian seseorang tergantung kepada garis pepesthen dari Yang Maha Agung.”

“Setan kau,” geram Ki Rangga sambil meloncat menyerang.

Serangannya meluncur cepat sekali. Namun Kasadha yang telah berlatih dengan baik serta memiliki pengalaman cukup meskipun ia masih muda, telah sempat mengelak. Mata Kasadha yang terlatih sama sekali tidak mengalami kesulitan mengikuti gerak Ki Rangga meskipun senja menjadi semakin gelap.

Demikianlah dendam yang tersimpan untuk beberapa lama akhirnya memang meledak. Baik Ki Rangga Gupita, maupun Kasadha berharap bahwa Warsi tidak mencampuri persoalan mereka. Mereka memang berniat untuk bertempur sampai tuntas.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun dengan cepat telah meningkat menjadi semakin sengit. Ki Rangga ingin dengan cepat membunuh Kasadha yang sangat dibencinya sejak kanak-kanak. Sementara Kasadha pun membenci Ki Rangga Gupita sejak ia masih kanak-kanak.

Warsi berdiri termangu-mangu. Semula ia memang ingin melerai keduanya yang sedang bertempur itu. Tetapi tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk melihat kemampuan Kasadha setelah ia belajar untuk waktu yang cukup lama kepada Ki Ajar Paguhan, serta setelah ia menjadi seorang prajurit.

Karena itu, maka niatnya untuk melerai pun ditangguhkannya.

Ketika pertempuran itu meningkat menjadi semakin sengit, maka Warsi pun mengangguk-angguk. Ia menjadi bangga melihat Kasadha yang ternyata telah memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Nampaknya anak muda itu pun telah memiliki pengalaman yang luas sehingga saat-saat yang sangat berbahaya mampu diatasinya dengan manis sekali.

Ki Rangga Gupita memang telah dikenal oleh Warsi. Ia memiliki ilmu yang cukup tinggi pula. Bahkan pengalamannya sangat luas karena tugas-tugasnya di Jipang, tetapi juga karena petualangannya.

Meskipun demikian, ternyata Kasadha, murid Ki Ajar Paguhan itu telah mampu menempatkan diri pada tataran yang seimbang.

Karena itu, maka pertempuran itu tidak segera menunjukkan, siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Keduanya saling mendesak dan saling bertahan. Serangan demi serangan datang silih berganti.

Sepupu Warsi yang mendengar keributan itu pun segera datang. Pakaiannya masih berbau asap karena ia berada dibelakang membakar sampah yang kering.

“Apa yang terjadi?” bertanya sepupu Warsi itu.

“Ki Rangga Gupita ternyata telah datang membawa dua orang kawannya,” berkata Warsi, “Aku sudah mengira bahwa hal ini akan terjadi.”

Sepupunya tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu kelanjutan dari ceritera itu sebagaimana dilihatnya. Karena itu, maka ia pun kemudian telah memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh.

Meskipun ilmunya tidak setinggi Warsi, tetapi sepupunya itu juga mampu menilai kemampuan kedua orang yang bertempur itu. Ternyata Kasadha yang muda itu mampu mengimbangi Ki Rangga Gupita yang telah memiliki pengalaman sebangsal. Bahkan ketika malam mulai turun dan gelap menjadi semakin pekat, Kasadha masih mampu mengimbangi lawannya.

Sementara itu kedua orang kawan Ki Rangga yang ada dipendapa ternyata juga mendengar pertempuran itu. Mula-mula mereka ragu-ragu untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi ketika malam turun dan tidak seorang pun yang memasang lampu dipendapa, maka keduanya telah turun ke halaman dan melingkari gandok untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata keduanya melihat Ki Rangga Gupita sedang bertempur melawan Kasadha yang muda itu.

“He, apa yang kau lakukan? Apakah ada pencuri masuk kerumahmu?” bertanya yang seorang.

Namun yang lain menyahut, “Apakah laki-laki itu telah mengambil perempuan yang kau katakan tidak seijinmu?”

“Aku akan membunuh anak gila ini dahulu,” geram Ki Rangga sambil bertempur.

Sepupu Warsi yang melihat kedua orang laki-laki itu bertanya perlahan-lahan, “Siapakah mereka?”

“Kawan Ki Rangga. Nampaknya mereka orang-orang kasar. Aku cepat tanggap pada tingkah lakunya, karena aku lahir, tumbuh dan menjadi rapuh sebagai orang kasar dan liar,” jawab Warsi.

“Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya sepupunya, “apakah mereka akan mengganggu?”

“Mereka datang untuk mencari perempuan. Ki Rangga telah menawarkan seorang perempuan yang ada dirumah ini kepada mereka berdua,” jawab Warsi.

“Aku tidak mengerti,” desis sepupunya.

“Ki Rangga minta kau untuk mandi dan berpakaian rapi. Katanya kau masih cukup muda dan cantik untuk menemani kedua orang itu,” desis Warsi kemudian.

“Gila,” geram sepupunya.

“Aku sudah menolak. Karena itu, aku tidak memanggilmu,” jawab Warsi. Lalu katanya pula, “Tetapi sebelum ia menemukanmu, Ki Rangga sudah bertemu dengan Puguh.”

“Roh iblis telah merasuk kedalam jiwanya,” gumam sepupunya. Namun ia masih bertanya, “Apakah benar ia berkata begitu?”

“Ya,” jawab Warsi.

“Kasadha akan membungkamnya,” desis sepupunya.

Namun sebelum mulutnya terkatub rapat, tiba-tiba saja ia mendengar, “He, perempuan-perempuan itukah yang kau katakan Ki Rangga?”

“Satu saja,” jawab Ki Rangga sambil bertempur, “yang satu itu isteriku.”

“O,” terdengar suara tertawa dari kedua orang itu.

Namun suara tertawa mereka tiba-tiba terputus.

Kasadha yang mendengar pertanyaan itu menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ia telah menghentakkan kekuatannya sehingga ketika benturan terjadi Ki Rangga Gupita telah terdorong beberapa langkah surut. Kasadha tidak melepaskan kesempatan itu. Tiba-tiba saja ia telah meluncur dengan serangan kakinya. Tubuhnya yang mendatar bagaikan sepucuk tombak raksasa yang meluncur dengan derasnya.

Ternyata kaki Kasadha mengarah kepada Ki Rangga Gupita yang sedang terhuyung-huyung, sehingga Ki Rangga itu tidak mungkin dapat menghindarinya.

Dengan demikian maka Ki Rangga itu pun telah melindungi dadanya dengan kedua tangannya yang bersilang. Tetapi ia tidak berusaha melawan kekuatan serangan Kasadha. Ia justru telah menghanyutkan diri kedalam arus serangan itu untuk mengurangi benturan yang terjadi.

Ki Rangga memang terlempar beberapa langkah dan bahkan jatuh berguling. Namun ia pun segera meloncat bangkit dan siap untuk menghadapi kemungkinan berikutnya.

“Orang itu memang liat,” desis sepupu Warsi. Namun kemudian katanya, “Tetapi ia telah menghina aku.”

“Biar saja kedua orang itu mencobanya,” berkata Warsi, “bukankah kau dapat memilin lehernya?”

Sepupunya mengangguk. Namun ia pun harus menilai kemampuan kedua orang itu untuk melawan kehendak mereka. Meskipun demikian ia masih sempat bergumam, “Dari jarak yang jauh dan dalam kegelapan seperti ini, ternyata masih juga ada orang yang menganggap aku cantik.”

Warsi berpaling. Ternyata ia masih sempat tersenyum sambil berkata, “Kau memang masih cantik.”

Sepupunya mencibir. Namun ia terkejut ketika Ki Rangga yang marah sempat mendesak Kasadha. Bahkan serangannya mampu mengenai pundaknya.

Namun Kasadha masih tetap tegar. Sejak kanak-kanak tubuhnya telah ditempa oleh kebencian ayah dan ibunya.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung untuk waktu yang lama. Sementara kedua orang kawan Ki Rangga itu sempat menjadi berdebar-debar. Untuk beberapa saat mereka memang melupakan perempuan yang hanya dapat mereka lihat dari kejauhan dan apalagi dalam keremangan malam.

Semakin lama pertempuran itu pun memang menjadi semakin menegangkan. Warsi yang ingin melihat tingkat kemampuan anaknya menjadi berdebar-debar. Dalam keadaan yang paling sulit, maka pengalaman Ki Rangga Gupita ternyata mampu memecahkannya. Meskipun Kasadha juga mempergunakan penalarannya disamping kemampuannya menguasai unsur-unsur gerak dari ilmu yang telah diwarisinya dari Ki Ajar Paguhan, namun ternyata bahwa pengalaman Ki Rangga yang sangat luas itu pun mempunyai kelebihannya sendiri.

Semakin lama maka Warsi pun menjadi semakin tegang. Beberapa kali Kasadha memang terdesak. Ada hal yang tidak terduga-duga telah terjadi. Ki Rangga mampu membuat gerakan-gerakan yang dapat mengejutkan Kasadha sehingga anak muda itu harus mengambil jarak.

Sepupu Warsi pun menjadi tegang pula. Ia pun melihat kelebihan Ki Rangga Gupita itu. Sementara dua orang kawan Ki Rangga justru telah melibatkan diri dengan teriakan-teriakan yang menyakitkan.

“Cekik saja anak itu Ki Rangga,” berkata yang seorang, “he, siapakah anak itu sebenarnya?”

“Jika ia datang untuk mengambil perempuan itu, serahkan ia kepadaku. Aku pilin perutnya sampai koyak,” geram yang lain.

Keduanya justru bertepuk tangan jika Ki Rangga mampu mendesak Kasadha. Tetapi keduanya mengumpat-umpat jika serangan Kasadha telah menggoyahkan pertahanan Ki Rangga Sebenarnyalah tubuh Kasadha yang sedang mekar itu mampu mengimbangi kelebihan pengalaman Ki Rangga Gupita. Setelah keduanya bertempur dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka, maka ternyata bahwa ketahanan tubuh Kasadha yang muda itu lebih besar dari ketahanan tubuh Ki Rangga yang telah mendekati usia senjanya.

Karena itu, meskipun sekali-sekali Kasadha agak bi-ngung menanggapi unsur gerak lawannya, namun Kasadha menyadari kelebihannya, sehingga dengan hati-hati ia telah memanfaatkan sebaik-baiknya.

Dengan penuh perhitungan dan pertimbangan, Kasadha berusaha untuk beberapa kali membentur pertahanan Ki Rangga. Apalagi ketika Kasadha yakin, bahwa nafas Ki Rangga mulai terengah-engah, serta kekuatannya nampak mulai menyusut.

“Anak iblis,” geram Ki Rangga. Namun Kasadha benar-benar menjadi semakin garang justru saat kekuatan Ki Rangga mulai menyusut.

Dengan demikian, maka keseimbangan pun mulai nampak bergeser. Ki Rangga yang menjadi semakin tua ternyata tidak lagi memiliki ketahanan tubuh sebagaimana saat mudanya. Meskipun ilmunya menjadi lebih matang, namun nafasnya mulai mengganggunya ketika keringatnya telah membasahi pakaiannya.

Kasadha yang merasa selalu dibayangi oleh Ki Rangga untuk waktu yang cukup lama, telah menumpahkan kebenciannya, sementara Ki Rangga benar-benar berniat untuk membunuh anak yang telah dianggapnya berkhianat itu.

Kedua orang kawan Ki Rangga menjadi tegang melihat keseimbangan pertempuran itu. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa anak itu mampu mendesak Ki Rangga Gupita, yang dikenalnya sebagai seorang prajurit yang sangat berpengalaman.

Namun satu hal yang selalu mereka lupakan, bahwa ternyata kenyataan tubuh Ki Rangga telah tidak lagi mampu mendukung kemampuan ilmunya serta gejolak yang menyala didadanya.

Itulah sebabnya, maka Ki Rangga pun semakin lama semakin terdesak. Bahkan ketika Kasadha sempat memburunya, maka satu serangan yang tiba-tiba telah berhasil mengenai perut Ki Rangga Gupita, sehingga Ki Rangga itu tertunduk menahan perasaan mual yang melonjak diperut. Tetapi pada saat itu Kasadha berhasil menekan kepala Ki Rangga dan membenturkannya pada lututnya.

Ki Rangga mengaduh tertahan. Namun ia sempat mengerahkan sisa tenaganya dengan tanpa menghiraukan perasaan sakit yang bagaikan mencengkam kepalanya, melenting mengambil jarak.

Kasadha sengaja tidak memburunya. Namun ketika Ki Rangga berdiri dengan terhuyung-huyung Kasadha itu pun berkata, “Katakan, bahwa kau tidak akan mengganggu aku lagi. Dimana pun dan kapan pun juga.”

Ki Rangga menggeram. Perutnya masih mual dan kepalanya masih terasa pening. Namun mulutnya telah mengumpat sambil berkata, “Anak iblis. Kau akan mati tanpa arti disini. Aku akan mencincangmu sebagai anak yang durhaka. Yang berkhianat dan tidak tahu diri betapa orang tuanya membesarkannya dan menuntunnya sehingga kau dapat menjadi seorang prajurit.”

“Siapa yang membesarkan, aku? Menuntun aku dalam berbagai macam ilmu dan bahkan olah kanuragan? Kau?” bertanya Kasadha.

“Kau telah menghina ibumu,” geram Ki Rangga.

“Kau tidak akan berhasil mengungkit lagi kemarahan ibuku kepadaku,” berkata Kasadha, “ibuku bukan ibuku beberapa saat yang lalu.”

“Anak iblis kau,” geram Ki Rangga.

Dengan serta merta Ki Rangga telah menyerang Kasadha lagi. Namun serangannya sudah tidak begitu terarah. Dengan kepala yang pening dan perut yang mual, maka Ki Rangga tidak lagi mampu memusatkan nalar budinya menghadapi lawannya yang masih muda itu. Apalagi Kasadha masih nampak segar sebagaimana ia mulai turun kemedan.

Kasadha ternyata mampu memanfaatkan kelebihannya untuk menutup kekurangannya. Bahkan semakin lama maka keadaan Ki Rangga menjadi semakin sulit. Sehingga Kasadha sekali lagi telah berkata, “Aku hanya ingin mendengar kau berjanji untuk tidak mengganggu aku lagi.”

“Aku bunuh kau,” Ki Rangga justru berteriak.

Namun demikian mulutnya terkatup, maka tangan Kasadha telah terayun menyamping menghantam kening Ki Rangga sehingga Ki Rangga itu terdorong jatuh.

Meskipun demikian, Ki Rangga itu pun telah bangkit kembali dengan mengerahkan segenap kekuatannya.

Namun dalam pada itu, disaat Ki Rangga semakin terdesak, seorang diantara kedua orang kawannya ternyata telah mengganggu pertempuran itu. Dengan serta merta ia telah melemparkan sebilah pisau belati kearah Kasadha yang berdiri tegak menunggu Ki Rangga siap menghadapinya lagi.

Kasadha terkejut. Ia terdorong beberapa langkah surut. Terdengar ia berdesah tertahan.

Kedua orang kawan Ki Rangga itu tertawa melihat Kasadha terhuyung-huyung surut kebelakang.

Kasadha yang sama sekali tidak mengira bahwa ia akan mendapat serangan dari orang-orang yang berdiri diluar arena itu, tidak sempat menghindar sepenuhnya ketika pisau itu meluncur kearah dadanya. Namun ia masih sempat menggeliat sehingga pisau itu tidak tepat menembus jantungnya. Tetapi pisau itu telah mengenai pundaknya.

Namun demikian, darah telah memancar dari lukanya ketika Kasadha dfengan serta merta mencabut pisau belati itu dari pundaknya. Warsi yang berteriak mencegah Kasadha tergesa-gesa mencabut pisau itu telah terlambat.

“Bunuh anak itu sekarang,” teriak kawan Ki Rangga.

Ki Rangga memang tidak mensia-siakan kesempatan itu. Dikerahkannya sisa tenaganya. Dengan kekuatan yang masih ada,’Ki Rangga telah meloncat menyerang Kasadha dengan tumit kakinya mengarah kelehernya.

Kedua orang kawan Ki Rangga melihat saat-saat terakhir dari pertempuran itu. Ia ingin Ki Rangga segera membunuh lawannya dan memenuhi janjinya.

Ki Rangga pun telah melihat Kasadha tidak mampu berbuat apa-apa. Tangannya seakan-akan tidak bertenaga lagi, sehingga hanya sebelah tangannya sajalah yang berusaha untuk menangkis serangan lawannya, sementara darah masih mengucur dengan derasnya.

“Kau akan mati disini anak iblis,” geram Ki Rangga sambil meluncur.

Tetapi yang terjadi adalah satu benturan yang keras. Justru Ki Ranggalah yang terlempar dan jatuh berguling beberapa kali. Dengan punggung yang sakit, Ki Rangga berusaha untuk bangkit dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.

Yang berdiri didepan Kasadha adalah ibunya. Warsi, yang masih dialiri darah seorang yang ditakuti, Kalamerta.

“Warsi,” desis Ki Rangga Gupita, “kau lindungi anak iblis itu?”

Warsi memandang Ki Rangga dengan tajamnya. Katanya kemudian kepada sepupunya, “Tolong. Rawat Kasadha, agar darahnya tidak terlalu banyak mengalir.”

Sepupu Warsi itu pun telah mendekati Kasadha dan membimbingnya menepi. Ketika Kasadha berusaha untuk tetap berdiri di arena, maka bibinya itu pun berkata, “Jangan kau paksakan dirimu. Darahmu terlalu banyak mengalir.”

“Aku ingin menyelesaikannya, sekaligus kawan-kawannya yang licik itu,” geram Kasadha.

Tetapi bibinya membimbingnya menepi.

Dengan kemampuannya, maka bibinya telah menekan beberapa urat di pundak dan bahu Kasadha, sehingga darah yang mengalir tertahan sebagian.

“Aku membawa obat luka,” berkata Kasadha, “di kantong ikat pinggangku.”

Bibinya kemudian telah mengambilnya dan menaburkannya diatas luka dipundak Kasadha. Luka itu memang terasa panas, seakan-akan tersentuh api. Namun Kasadha tahu, bahwa dengan demikian obat itu telah mulai bekerja pada lukanya untuk memampatkan darahnya. Tetapi Kasadha pun menyadari, bahwa ia tidak boleh bergerak. Semakin banyak ia bergerak, maka darahnya akan mengalir semakin banyak pula.

Dalam pada itu, Ki Rangga yang telah berdiri tegak memandang Warsi dengan sorot mata yang menyala. Dengan lantang ia berkata, “Seharusnya kau bantu aku membunuh anak iblis itu. Kelak anak itu akan menerkammu dan membunuhmu.”

Tetapi Warsi menggeleng. Katanya, “Sudah aku katakan. Ia adalah anakku. Aku lahirkan anak itu dengan bertaruh nyawa. Kini aku pertahankan hidupnya juga dengan bertaruh nyawa.”

 “Warsi, apakah kau sudah gila? Kau tahu siapa aku?” bertanya Ki Rangga Gupita.

 “Aku tahu, kau Ki Rangga Gupita,” jawab Warsi, “aku masih belum pikun meskipun aku sudah menjadi semakin tua.”

 “Tetapi, aku suamimu,” berkata Ki Rangga itu pula.

 “Aku telah menjadi jemu melihat tingkah lakumu. Beberapa kali, aku, kakek Randukeling, Ki Ajar Paguhan, mencoba untuk menjelaskan kepadaku, bahwa waktu kita telah berlalu. Kita harus menyadari dan melihat kenyataan di sekeliling kita. Tetapi kau tidak pernah mendengarkannya,” Warsi berhenti sejenak, lalu, “namun selama ini aku masih menahan diri. Aku mencoba untuk dengan sabar menunjukkan kepadamu, jalan yang lain yang lebih pantas kita lalui. Sekarang, kau telah mencoba membunuh anakku. Aku tidak dapat menahan diri lagi.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Ki Rangga.

“Aku menekankan permintaan anakku yang sederhana. Jangan kau ganggu lagi anak itu. Hanya itu,” jawab Warsi.

“Aku akan membunuhnya,” geram Ki Rangga Gupita.

“Tidak,” jawab Warsi, “sudah aku katakan. Seperti saat aku melahirkannya, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindunginya.”

“Aku tidak sendiri,” geram Ki Rangga. Lalu katanya, “Warsi. Aku minta kau menepi. Biarlah aku selesaikan anak itu. Jika kau menghalangi, terpaksa kedua orang kawanku akan memaksamu menepi sebelum mereka akan mendapatkan sepupumu itu.”

“Aku akan tetap berdiri disini,” jawab Warsi.

Rangga Gupita pun telah kehilangan kesabarannya. Ia pun memberi isyarat kepada kedua orang kawannya untuk mendekat.

Ternyata kedua orang itu dengan cepat tanggap. Mereka telah melangkah mendekati Ki Rangga sambil berkata, “Perempuan inikah isterimu?”

“Ya,” jawab Ki Rangga.

“Ternyata ia memiliki ilmu yang tinggi. Ia mampu menolak seranganmu sehingga kau justru terdorong beberapa langkah surut dan jatuh berguling,” berkata kawannya.

“Ia memang berilmu tinggi,” jawab Ki Rangga, “tetapi benturan itu memang tidak aku duga sebelumnya.”

“Apa yang kau kehendaki dari kita?” bertanya seorang kawannya.

“Paksa isteriku minggir. Aku akan membunuh anak durhaka itu,” geram Ki Rangga.

Kedua orang kawan Ki Rangga itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “He, ternyata isterimu juga cantik. Meskipun sudah mendekati pertengahan abad, tetapi sisa-sisa kecantikannya masih jelas.”

“Isteriku belum begitu tua,” jawab Ki Rangga, “Ia memang tidak suka berhias.”

Seorang diantara kedua orang itu pun kemudian melangkah mendekat sambil berkata, “Suamimu minta aku menyingkirkanmu.”

Warsi sama sekali tidak menjawab. Ia masih berdiri tegak di tempatnya. Sementara itu, seorang kawan Ki Rangga yang lain berkata, “Aku akan menyingkirkan perempuan yang seorang lagi.”

 “Nanti,” jawab Ki Rangga, “ia tidak akan lari. Tetapi singkirkan isteriku dahulu. Hati-hati. Ilmunya cukup tinggi.”

Kedua orang kawan Ki Rangga itu memang berhati-hati. Keduanya telah melihat perempuan itu membentur kekuatan Ki Rangga Gupita, sehingga Ki Rangga terlempar dan jatuh berguling. Namun mereka berdua merasa memiliki ilmu yang tidak kalah dari Ki Rangga Gupita, sehingga karena itu, maka mereka berdua pun merasa bahwa usaha mereka akan cepat berhasil.

Namun Warsi telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Meskipun ia mempunyai kelemahan saat itu, bahwa ia tidak mengenakan pakaian yang pantas untuk bertempur. Namun dengan ilmunya yang tinggi, ia akan dapat menyesuaikan diri dengan pakaiannya.

Warsi memang merasa bahwa setelah ia berperang tanding melawan Iswari untuk yang kedua kalinya, maka tubuhnya seakan-akan menjadi cacat. Ia tidak akan mampu mengembangkan ilmunya lagi. Namun Warsi tidak ragu-ragu menghadapi kedua orang kawan Ki Rangga, karena Warsi masih berharap bahwa ilmunya yang masih ada didalam dirinya akan dapat mengatasi mereka, bahkan dengan Ki Rangga sekalipun.

Ketika kedua orang itu mendekat, maka tangan Warsi mulai bergerak. Seorang diantara kedua orang itu bergeser mundur. Ia melihat gerak tangan itu begitu matang, sehingga ia memang yakin bahwa perempuan itu berilmu tinggi.

Sejenak kemudian, bersama-sama dengan Ki Rangga ketiganya memang menyerang Warsi dari jurusan yang berbeda. Namun dengan cekatan Warsi menghindari serangan-serangan itu. Tangannya dengan cepat berputar dan terayun mendatar menyambar kearah kening salah seorang lawannya. Namun lawannya itu sempat meloncat menghindar.

Kain panjang Warsi memang tidak membantunya. Bagaimanapun juga geraknya terasa terhambat. Tetapi ketika kedua orang kawan Ki Rangga menyerangnya, Warsi masih mampu dengan tangkas berloncatan meskipun dalam keterbatasan gerak.

Dengan demikian, maka yang kemudian bertempur adalah Warsi melawan kedua orang kawan Ki Rangga, karena Ki Rangga sendiri setiap kali memperhatikan Kasadha yang duduk ditanah dibawah perlindungan bibinya.

Ketika Ki Rangga mendekati Kasadha, maka bibinya telah bangkit berdiri sambil berkata, “Kau kenal aku Ki Rangga dan aku mengenalmu. Kau tahu tingkat kemampuanku dan aku pun tahu tingkat kemampuanmu.”

Ki Rangga tidak menjawab. Ki Rangga tahu, bahwa kemampuannya lebih baik dari perempuan itu, meskipun perempuan itu bukan perempuan yang lemah.

Ketika Ki Rangga melangkah selangkah lagi mendekat, maka bibi Kasadha itulah yang justru mulai menyerangnya. Seperti Warsi ia dalam keterbatasan pakaiannya. Tetapi sepupu Warsi itu ternyata tidak menghiraukannya lagi. Apalagi malam menjadi semakin gelap, sehingga seakan-akan ada sehelai takbir yang membatasinya dari penglihatan lawannya. Apalagi lawannya lebih banyak memperhatikan gerak tangan dan kakinya yang siap menyerang daripada pakaiannya.

Demikianlah, maka sepupu Warsi itu pun telah bertempur melawan Ki Rangga. Namun seperti yang mereka ketahui dengan pasti, bahwa ilmu Ki Rangga memang lebih baik dari sepupu Warsi. Namun Ki Rangga ternyata telah terlalu banyak mengerahkan kemampuannya, sehingga nafasnya memang menjadi hambatan baginya.

Sejenak kemudian, maka dua lingkaran pertempuran telah terjadi dalam keremangan malam. Bintang-bintang yang menghambur dilangit tidak mampu menembus hitamnya malam. Hanya mata yang sudah terlatih baik sajalah yang mampu melihat gerak lawan-lawan mereka dalam perkelahian.

Ketika sepupu Warsi semakin terdesak, maka Warsi pun berkata kepada sepupunya, “Kemarilah. Mendekatlah.”

Sepupunya tanggap. Ia pun telah bertempur tidak terlalu jauh dari Warsi.

Ternyata Warsi masih sanggup bertempur melawan lawan-lawannya sambil membantu sepupunya. Ayunan tangannya masih membuat lawannya berdebar-debar.

Namun kedua lawan Warsi adalah dua orang yang bukan saja kasar. Tetapi licik. Mereka tidak saja bertempur dengan wajar, tetapi setiap kali keduanya berteriak-teriak mengganggu dengan kata-kata kotor, sehingga Warsi yang sebelumnya terkenal sebagai perempuan liar itu merasa terganggu oleh suara dan kata-kata kedua orang lawannya.

Dengan demikian maka Warsi pun menjadi semakin marah. Dengan kemampuannya yang sangat tinggi, Warsi telah mendesak lawannya. Sementara sepupunya yang berusaha menyesuaikan diri, ternyata mampu mengurangi beban Warsi menghadapi tiga orang laki-laki yang semakin lama semakin memuakkan baginya.

Apalagi ketika kain panjang Warsi telah koyak. Maka kata-kata yang semakin kasar dan kotor terlontar dari mulut kedua orang kawan Ki Rangga itu.

Tetapi Warsi sudah tidak peduli lagi. Kemarahannya telah sampai ke ubun-ubun. Demikian pula sepupunya yang merasa sangat terhina oleh sikap dan kata-kata kedua orang kawan Ki Rangga. Bahkan keluar dari mulut Ki Rangga sendiri.

Sementara itu Kasadha semakin terpukau melihat ibunya bertempur. Meskipun ia sudah mengetahui bahwa ibunya adalah seorang perempuan yang berilmu tinggi. Namun ketika ia melihat sendiri, betapa ibunya bertempur, maka ia benar-benar mengaguminya.

Namun dalam pada itu, ia bertanya kepada diri sendiri, “Jika demikian, betapa tingginya ilmu yang dimiliki oleh ibu Barata, Iswari, yang masih mampu mengatasi ilmu ibu itu. Bahkan dengan mutlak telah menghancurkan perlawanan ibu itu.”

Sementara itu, pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa sepupu Warsi kurang mampu menyesuaikan diri dengan pertempuran yang cepat dan kasar itu. Beberapa kali Ki Rangga dan kedua lawannya yang bertempur berputaran berhasil mengenai tubuhnya, sehingga pada suatu saat, sepupu Warsi itu telah terlempar dari arena pertempuran, dan jatuh terbanting. Ternyata sebuah serangan yang tidak sempat dilihatnya telah mengenai punggungnya.

Sepupu Warsi itu memang masih mampu bangkit berdiri. Tetapi punggungnya serasa akan patah.

 “Jangan sakiti perempuan itu,” teriak salah seorang kawan Ki Rangga, “aku masih memerlukannya.”

Sepupu Warsi menggeretakkan giginya. Namun terdengar Warsi berkata, “Beristirahatlah dahulu. Nanti jika keadaanmu sudah semakin baik, turunlah lagi ke gelanggang.”

Saudara sepupu Warsi ternyata menurut perintah itu. Ia pun kemudian telah bergeser surut mendekati Kasadha yang telah bangkit berdiri.

Tetapi bibinya itu mencegahnya sambil berkata, “Lukamu memang sudah pampat karena obatmu. Tetapi jika kau ikut bertempur, maka luka itu akan kambuh kembali.”

Kasadha memang masih berdiri diam. Namun ketika ia melihat ibunya mulai terdesak, maka ia hampir tidak lagi dapat dikekang.

“Jangan,” berkata bibinya.

“Lihat, betapa kasar dan liarnya ketiga lawan ibu itu,” jawab Kasadha.

“Tunggu sebentar sehingga lukamu benar-benar telah pampat. Aku pun ingin beristirahat untuk memperbaiki keadaan punggungku yang serasa patah ini,” jawab bibinya.

“Tetapi kita akan terlambat,” jawab Kasadha.

Bibinya termangu-mangu. Ia memang melihat Warsi mulai terdesak. Kemarahannya telah membuatnya kehilangan penalaran. Ketiga orang lawannya justru bertempur semakin kasar dan kotor, sementara Warsi justru berusaha untuk tidak memberikan kesan yang demikian dihadapan anak laki-lakinya yang telah membuat hatinya menjadi bangga.

Namun tanpa mengimbangi kekasaran orang-orang itu, Warsi benar-benar mulai terdesak.

Ternyata kedua kawan Ki Rangga itu adalah orang-orang kasar yang memiliki kemampuan bergerak sangat cepat. Mereka berloncatan didalam keremangan malam seperti seekor bilalang. Kakinya seakan-akan berubah menjadi panjang, sehingga kemampuan mereka melontarkan diri kadang-kadang membuat Warsi menjadi agak bingung.

Beberapa kali Warsi telah kehilangan kesempatan untuk menghindari atau menangkis serangan lawannya. Dua kali Warsi terdorong dan hampir saja jatuh terjerembab. Namun ia masih mampu mempertahankan keseimbangan meskipun ia harus meloncat mengambil jarak. Tetapi kedua lawannya telah menyusulnya dengan loncatan-loncatan panjang.

Pada saat yang demikian, maka baik Kasadha maupun bibinya memang tidak dapat sekedar berdiam diri. Tetapi ketika Kasadha mulai bergerak, tiba-tiba bibinya menahannya.

“Kau lihat langit,” berkata bibinya.

“Kenapa?” bertanya Kasadha dengan heran.

“Meskipun bukan purnama, tetapi bulan telah naik,” jawab bibinya.

“Kenapa dengan bulan?” bertanya Kasadha.

“Jika sinar bulan itu menyentuh tubuh ibumu, maka lihat sajalah. Apa yang akan terjadi,” desis bibinya.

Sebenarnyalah bulan yang sudah semakin tinggi itu telah melontarkan sinarnya ke halaman rumah sepupu Warsi itu. Ketika dari celah-celah dedaunan dari pepohonan yang tumbuh di halaman samping itu sinar bulan jatuh ke arena pertempuran, maka akibatnya memang segera terasa.

Warsi bagaikan bersorak ketika tubuhnya mulai disiram oleh cahaya bulan itu. Tiba-tiba saja terdengar teriakan nyaring dari mulutnya. Warsi telah melupakan usahanya untuk menyembunyikan kekasaran sikapnya dalam pertempuran itu terhadap anaknya.

Dengan demikian, maka Warsi benar-benar seperti bangkit kembali dari saat-saat kekuatannya mulai menyusut. Tiba-tiba saja ia menjadi semakin garang. Kaki dan tangannya menjadi seperti baja.

“Apa yang mempengaruhinya?” bertanya Kasadha.

“Sinar bulan itu,” jawab bibinya.

“Apa yang dapat diberikan oleh sinar bulan bagi ilmu ibu?” bertanya Kasadha pula,

“Bukan apa-apa. Tetapi sinar bulan itu mempunyai pengaruh jiwani yang sangat kuat pada ibumu, ibumu memang melatih diri untuk menerima pengaruh jiwani itu. Demikian tubuhnya tersentuh cahaya bulan, maka kekuatan dan kemampuannya seakan-akan telah tumbuh berlipat. Kemampuannya mengerahkan tenaga cadangan menjadi jauh meningkat. Ternyata pengaruh jiwani mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam olah kanuragan,” berkata bibinya.

Kasadha termangu-mangu. Ia memang melihat ibunya bertempur semakin kasar. Tetapi ia tidak kecewa. Ia tahu, ibunya memang seorang perempuan yang kasar. Namun bahwa ibunya telah mengalami gejolak batin sehingga ia mencari jalan yang lebih terang itu sudah cukup bagi Kasadha.

Dalam pada itu ternyata bahwa Ki Rangga Gupita pun menyadari pula akan pengaruh sinar bulan itu. Karena itu, maka ia pun berteriak, “Jangan bertempur dibawah sinar bulan.”

Tetapi kedua orang kawannya tidak segera tanggap. Mereka masih terkejut melihat perubahan sikap Warsi. Bahkan justru karena itu, mulut mereka pun terdiam pula. Seorang dari kedua lawannya yang tidak segera mampu menyesuaikan diri telah dikenai serangan kaki Warsi, sehingga terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Seorang lainnya yang berusaha untuk menahan agar Warsi tidak memburu kawannya yang terjatuh itu, telah menyerangnya. Dengan satu putaran, kakinya terayun mengarah ke kening.

Tetapi Warsi melihat serangan itu. Dengan cepat ia menghindar dan sekaligus membalas serangan itu. Demikian kaki itu terayun maka Warsi telah menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan kekuatan penuh telah menyapu kaki lawannya tempat ia bertumpu untuk berdiri sementara kakinya yang lain belum sepenuhnya menapak diatas tanah.

Sapuan itu begitu cepat dan begitu kerasnya, sehingga lawan Warsi itu tidak mendapat kesempatan untuk menghindar. Karena itu, maka sebelum kakinya yang lain tegak dengan mantap, maka kaki itu seakan-akan telah dilemparkan dengan kerasnya.

Orang itu tidak mempunyai pilihan lain, kecuali jatuh terbanting ditanah.

Namun ketika Warsi sendiri melenting berdiri, maka ia sudah berhadapan lagi dengan lawannya yang lain. Justru Ki Rangga Gupita yang menyerangnya kearah dada.

Tetapi Warsi sempat menghindar sehingga serangan itu tidak mengenainya. Namun Ki Rangga yang sudah kehilangan kesabaran itu telah meloncat maju. Tangan terayun deras sekali mengarah kekening.

Namun Warsi telah membentur serangan itu dengan serangan pula. Kedua tangannya telah bersilang dan mengangkat tangan Ki Rangga yang terjulur. Namun Warsi justru merapat pada tubuh lawannya dan dengan lututnya ia menghantam bagian bawah perut Ki Rangga Gupita.

Ki Rangga menyeringai menahan sakit. Tetapi ketika ia surut selangkah, maka kaki Warsi telah menyusulnya menghantam dadanya. Ki Rangga benar-benar terpelanting. Ia jatuh beberapa langkah dari kawannya yang sudah bersiap menghadapi Warsi yang menjadi sangat garang itu.

Kasadha berdiri mematung. Dibawah sinar bulan yang meskipun tidak purnama, ibunya memang menjadi sangat garang. Ketiga lawannya tidak mendapat banyak kesempatan untuk melawannya.

Namun akhirnya, lawan-lawan Warsi itu benar-benar telah kehilangan pertimbangan-pertimbangan lagi. Bahkan juga Ki Rangga yang kesakitan. Mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali benar-benar menyingkirkan Warsi untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Jika mereka tidak berhasil, maka Warsi yang garang itu tidak akan dapat dihentikan lagi.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran pun menjadi semakin seru. Kedua kawan Ki Rangga tidak ragu-ragu lagi untuk menarik senjata mereka, sebilah pedang ditangan masing-masing. Sementara Ki Rangga pun tiba-tiba telah bersenjata pula. Sebilah keris yang cukup besar, yang selalu dibawanya kemana saja disamping jenis senjata yang lain yang juga sering dibawanya.

Warsi memang termangu-mangu sejenak. Namun dengan diam-diam bibi Kasadha telah berlari masuk ke dalam rumahnya dan sejenak kemudian ia telah menyelinap kembali ke halaman sementara Kasadha telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Nah,” berkata Ki Rangga, “jika kau masih ingin hidup bersamaku, relakan anakmu. Aku akan membunuhnya, atau kau akan melakukannya sendiri?”

“Sudah beberapa kali aku katakan. Aku lahirkan anakku dengan bertaruh nyawa. Kini aku relakan nyawaku untuk mempertahankan hidupnya,” jawab Warsi.

Jantung Kasadha benar-benar tersentuh. Sementara itu Ki Rangga berkata, “Jika demikian, maka kita telah memilih jalan kita sendiri-sendiri. Kau membiarkan dirinju dikhianati, dihinakan dan barangkali lain kali kau akan dibunuh. Sedang aku tidak. Aku ingin membunuh anak itu. Siapa yang menghalangi aku, akan aku singkirkan. Hidup atau mati.”

Ki Rangga pun kemudian telah memberi isyarat kedua kawannya untuk bersiap. Ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, katanya, “Jika isteriku harus terbunuh sengaja atau tidak sengaja, aku merelakannya.”

Ketiga orang lawan Warsi itu pun telah bersiap. Mereka telah mengacukan senjata masing-masing. Dengan lantang Ki Rangga berkata, “Meskipun bulan nampak di langit, tetapi kau tidak akan mampu menghadapi tiga pucuk senjata ditangan kami. Hisap dalam-dalam udara malam ini yang diterangi oleh cahaya bulan. Sadap inti getarannya dan salurkan lewat urat darahmu. Kau akan menjadi perempuan yang paling garang. Namun ujung senjata kami akan menghancurkanmu juga, karena meskipun dibawah sinar bulan purnama, kau dapat juga dikalahkan oleh perempuan liar dari Tanah Perdikan Sembojan itu.”

“Ya,” jawab Warsi yang ternyata jiwanya telah mapan, “aku memang dikalahkannya. Ilmuku memang kurang memadai untuk melawannya. Tetapi aku merasa bahwa ilmuku cukup baik untuk menghancurkan kalian bertiga.”

Ki Rangga tidak menjawab lagi. Ia telah memberi isyarat kepada kedua orang kawannya untuk menyerang.

Jantung Warsi memang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat tiga pucuk senjata ditangan orang-orang yang garang itu. Namun ia menjadi semakin percaya diri, ketika bulan menjadi semakin tinggi dan cahayanya bagaikan semakin padat menyiram halaman itu. Inti getarannya menjadi semakin menggelepar didalam dada Warsi, sehingga urat-urat darahnya serasa menjadi semakin panas dan darahnya pun menggelegak. Darah yang dialiri kebuasan sifat Kalamerta, meskipun jiwanya sudah berubah.

Ketika ketiga orang lawannya mulai bergerak, maka Warsi pun telah bersiap sepenuhnya. Ia tidak menghiraukan lagi pakaiannya. Ia memerlukan perhatian sepenuhnya atas ketiga orang lawannya yang bersenjata itu.

Namun dalam pada itu, ketika keadaan menjadi semakin tegang, maka sepupu Warsi itu telah memanggilnya. Namun katanya, “Jangan lepaskan perhatianmu atas ketiganya. Aku akan datang kepadamu.”

Ki Rangga adalah orang yang paling tergetar hatinya ketika ia melihat sepupu Warsi itu meloncat sambil menyerahkan segulung rantai. Senjata Warsi yang paling terpercaya.

“Iblis betina, kau,” geram Ki Rangga.

Warsi menerima rantai itu sambil berkata, “Terima kasih. Akan aku habisi mereka bertiga.”

Ki Rangga Gupita dan kedua orang kawannya itu memang menjadi tegang melihat Warsi dengan senjatanya. Kedua kawan Ki Rangga itu belum pernah melihat Warsi bermain-main dengan seutas rantai. Namun melihat cara Warsi memegang rantai itu, keduanya memang menjadi berdebar-debar.

Sejenak kemudian, maka rantai itu pun telah berputar. Cahaya bulan yang terang memantul pada putaran rantai yang berkilat.

“Hati-hati dengan rantai itu,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Nah, bukankah kau telah mengenalinya?” bertanya Warsi, “karena itu, hentikan perlawanan kalian. Berjanjilah bahwa kau tidak akan mengganggu anakku lagi.”

“Persetan dengan rantaimu,” geram Ki Rangga Gupita. Lalu katanya kepada kedua kawannya, “Marilah. Kita akan menyelesaikannya. Ia akan menjadi semakin buas dengan rantainya itu.”

Warsi tidak menyahut. Tetapi ujung rantai itu tiba-tiba saja telah mematuk Ki Rangga Gupita, sehingga Ki Rangga harus meloncat mundur.

Namun dalam pada itu, maka kedua lawannya yang bersenjata pedang itu pun telah bergerak maju. Keduanya mulai menyerang dari arah yang berbeda. Namun rantai itu berputar begitu cepat.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak ternyata menguasai senjata masing-masing dengan baik. Pedang ditangan kedua orang kawan Ki Rangga itu pun berputaran seperti baling-baling diputar angin yang kencang. Seakan-akan menimbulkan gumpalan kabut putih disekitar orang yang memutarnya.

Keris Ki Rangga sendiri telah berputaran pula. Sekali-sekali Ki Rangga bergeser mencari arah untuk menyerang. Namun sekali-sekali Ki Rangga sempat berpaling memandang Kasadha yang berdiri termangu-mangu.

Namun ternyata bahwa bibi Kasadha itu tidak saja mengambil seutas rantai. Tetapi ia juga mengambil pedangnya sendiri.

Kepada Kasadha ia berbisik, “Aku tidak sempat mengambil pedangmu. Tetapi berhati-hatilah. Ki Rangga setiap kali berpaling kepadamu.”

“Pinjamkan pedang itu kepadaku bibi,” berkata Kasadha.

Tetapi bibinya tidak segera memberikannya. Ia justru bagaikan membeku memandang Warsi memutar rantainya menghadapi ketiga lawannya.

Kasadha pun bagaikan terpukau melihatnya. Rantai itu berputar dengan cepat. Namun kemudian bagaikan menggeliat. Ujungnya tiba-tiba saja telah mematuk seperti kepala seekor ular bandotan.

Namun ketiga lawannya pun bertempur dengan tangkasnya pula. Ketiganya berloncatan dengan senjata masing-masing ditangan. Senjata yang bergantian mematuk dan sekali-sekali menebas mendatar. Namun ketiganya setiap kali harus meloncat menjauh dari jangkauan ujung rantai yang berputar dengan cepat itu.

Dibawah cahaya bulan, maka Warsi benar-benar telah mampu mengerahkan ilmu yang masih dikuasainya.

Begitu menggetarkan sehingga Kasadha hampir tidak percaya kepada penglihatannya.

“Sebelum tubuh ibu menjadi cacat, maka ilmunya tentu benar-benar nggegirisi,” berkata Kasadha. Namun ia masih juga terbayang lagi kemampuan Iswari yang lebih baik dari ibunya.

Dalam pada itu, maka pertempuran itu pun telah menjadi semakin cepat. Namun ketiga orang lawan Warsi pun memiliki ilmu pedang yang tinggi. Ketika Warsi mengayunkan rantainya menyerang seorang diantara mereka, maka dengan sengaja lawannya telah berusaha untuk menahan putaran rantainya, sehingga ujung rantai itu telah membelit senjatanya. Pada saat yang demikian maka seorang yang lain telah mempergunakan kesempatan untuk menyerang Warsi dengan satu loncatan panjang. Ujung pedangnya terjulur lurus mengarah ke dada.

Warsi melihat serangan itu. Tetapi ia memang dalam keadaan yang sulit. Sebelum sempat mengurai cambuknya maka ujung pedang itu telah menjadi semakin dekat.

Karena itu, maka Warsi pun harus mengambil sikap.

Ketika ujung pedang itu benar-benar hampir menggapainya, maka Warsi telah menjatuhkan dirinya. Sambil berguling ia berusaha untuk mengurai cambuknya yang membelit daun pedang seorang lawannya.

Namun ujung pedang itu ternyata telah menggores dilengan Warsi. Tidak begitu dalam. Tetapi perasaan pedih telah menyengat sementara darah pun mulai menitik.

Kemarahan Warsi pun menjadi semakin menggelegak sampai keubun-ubun. Karena itu, demikian ia meloncat bangkit, serta ujung rantainya telah berhasil terurai, maka Warsi pun segera menghentakkan segenap kemampuan ilmu yang masih tersisa padanya.

Ketiga lawannya pun ternyata benar-benar menjadi teramat sibuk. Warsi yang marah dan tidak mengekang diri lagi itu, ternyata masih menyimpan untuk tidak mempergunakan ilmu gelap ngampar yang masih tersisa padanya. Jika ia tertawa dengan nada suara iblis betina, maka ia akan dapat membuat Kasadha menjadi kecewa.

Namun dengan ilmu yang dipergunakannya itu, Warsi benar-benar telah menggulung kesempatan ketiga orang lawannya. Luka dilengannya bagaikan api yang menyalakan minyak yang telah mendidih didalam hatinya.

Ketika seorang lawannya ingin mengulangi keberhasilannya dengan menahan putaran rantai Warsi sehingga rantai itu membelit daun pedangnya dan memberi kesempatan kawannya menyerang, maka orang itu tidak berhasil. Demikian ujung rantai Warsi membelit daun pedang itu, maka satu hentakkan yang sangat kuat seakan-akan telah mengisap pedangnya, sehingga pedang itu terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa langkah.

Orang itu terkejut. Tangannya terasa pedih. Dengan serta merta ia pun berusaha untuk meloncat menjauhi lawannya. Tetapi Warsi yang sudah tidak mempunyai kesempatan lain untuk melindungi dirinya sendiri kecuali menghancurkan lawan-lawannya itu, tidak memberinya kesempatan. Demikian orang itu meloncat surut, Warsi telah menghentakkan rantainya lagi. Ujungnya dengan cepat meluncur, mengejar orang yang meloncat surut itu.

Teriakan kesakitan telah terdengar menggelepar di sepinya malam yang menjadi semakin dalam. Ujung rantai Warsi telah menghantam dada orang itu demikian kerasnya, sehingga sebuah tulang iganya patah. Kulit dan dagingnya terkoyak, sementara ia jatuh terlentang, kepalanya telah membentur tanah yang keras.

Orang itu menggeliat kesakitan. Namun ia tidak dapat bangkit lagi. Dadanya terasa diremas oleh perasaan sakit, sementara darah bagaikan menyembur dari lukanya.

Tulang iganya yang patah telah menekan dan membuat lukanya semakin parah.

 “Kau memang iblis betina,” geram Ki Rangga Gupita, “ternyata aku harus membunuhmu lebih dahulu. Baru anakmu yang durhaka itu.”

Warsi sama sekali tidak menjawab. Namun kemudian lawannya tinggal dua orang. Meskipun lengannya telah terluka, tetapi perempuan itu masih tetap garang.

Ternyata Warsi tidak memerlukan waktu terlalu lama Dengan kemarahan yang meluap-luap, apalagi dengan luka dilengannya Warsi telah menyerang kedua lawannya sejadi-jadinya. Kawan Ki Rangga yang tinggal seorang itu berusaha untuk mampu mengimbangi permainan rantai Warsi dengan ilmu pedangnya. Namun ketika Warsi menjadi semakin muak dengan pertempuran itu, maka sambil menghindari serangan pedang lawannya yang berhasil menyusup putaran rantainya, ia telah memutar rantainya yang seakan-akan menggeliat. Sambaran yang keras telah menghantam kawan Ki Rangga yang bersenjata pedang itu tepat dipunggungnya.

Sekali lagi terdengar pekik kesakitan. Namun sebelum orang itu sempat berbuat sesuatu, maka rantai Warsi telah bergetar sekali lagi menyambar orang itu pada lambungnya sehingga terkoyak.

Sejenak kemudian orang itu pun telah terjatuh di tanah. Menggelepar dan kemudian diam.

Ki Rangga Gupita menjadi bagaikan gila. Sambil mengumpat-umpat kasar dan kotor, ia telah menyerang Warsi dengan segenap sisa tenaganya.

Namun Warsi pun seakan-akan telah menjadi mata gelap pula. Ia tidak mengingat lagi apa yang pernah diperbuatnya dengan Ki Rangga Gupita disaat-saat ia masih bernafsu untuk menjadi Tanah Perdikan sebagai batu loncatannya menggapai kemukten yang lebih tinggi.

Karena itu, ketika Ki Rangga itu menyerangnya dengan kerisnya yang besar, maka Warsi pun telah melakukan hal yang sama dengan rantainya.

Ki Rangga masih sempat menangkis ayunan rantai Warsi dengan kerisnya. Bahkan kemudian seperti berayun ia meloncat menyerang Warsi dengan kakinya, sementara ujung rantai Warsi masih membelit kerisnya.

Tetapi Warsi pun dengan tangkas menghindar. Bahkan ketika kaki Ki Rangga itu terayun sejengkal dari tubuhnya, dengan serta merta ia telah mengangkat kaki itu dengan satu pukulan yang keras. Demikian Ki Rangga terjatuh, maka Warsi justru telah meloncat mengambil jarak. Ia telah, memperhitungkan kemungkinan berikutnya yang bakal terjadi.

Sebenarnyalah Ki Rangga telah melenting bangkit berdiri. Sementara itu, ujung rantai Warsi telah terurai dari belitannya di daun keris Ki Rangga. Karena itu, dengan sekuat tenaga Warsi mengayunkan rantainya mendatar dan menghantam tubuh Ki Rangga yang baru saja tegak berdiri.

Ki Rangga tidak sempat mengelak. Rantai itu telah mengenai tubuhnya dengan deras sekali dilambari dengan segenap kekuatan Warsi yang tersisa dibawah siraman cahaya bulan yang cerah dilangit.

Yang terdengar adalah teriakan yang panjang. Rantai itu menghantam dan kemudian membelit tubuh Ki Rangga Gupita. Ketika dengan sekuat tenaganya Warsi menarik rantainya, maka Ki Rangga telah terputar seperti gasing dengan sebagaian kulit tubuhnya yang terkelupas, sementara tulang-tulangnya berpatahan.

Sejenak kemudian, maka tubuh itu pun telah terbanting dan berguling ditanah. Namun kemudian tubuh itu sama sekali tidak bergerak lagi.

Tiga sosok tubuh telah terbaring ditanah. Ternyata ketiga-tiganya telah terbunuh.

Sejenak Warsi berdiri tegak. Ketika ia mengangkat wajahnya maka dilihatnya bulan tinggi dibelakang lembaran mega yang tipis namun kemudian hanyut dan lenyap di cakrawala.

Warsi menghirup udara malam yang segar.

Namun kemudian, wajahnya itu pun telah menunduk. Dilihatnya Ki Rangga Gupita yang telah dibunuhnya. Perlahan-lahan Warsi berlutut disisinya. Kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Warsi menangis sejadi-jadinya.

Sepupunya dan Kasadha telah mendekatinya. Dengan lembut sepupunya itu pun berkata, “Marilah. Sudahlah, yang terjadi sebaiknya memang terjadi.”

“Aku telah membunuhnya,” berkata Warsi sambil melepaskan rantainya.

“Kau tidak mempunyai pilihan lain,” desis sepupunya.

“Aku mengerti,” jawab Warsi, “tetapi aku hari ini telah membunuh lagi.”

“Namun dengan tujuan yang berbeda ibu,” bisik Kasadha.

“Aku malu sekali Puguh,” berkata ibunya.

“Kenapa?,” Kasadha justru bertanya.

“Kau sekarang melihat sendiri, bagaimana ibumu menjadi liar dan buas seperti binatang dihutan,” jawab ibunya, “aku telah berteriak, berloncatan dan dengan kasar melawan ketiga orang itu untuk kemudian membunuhnya.”

“Yang nampak itu hanyalah cara ibu,” berkata Kasadha, “tetapi seperti yang aku katakan, jiwa dari perbuatan ibu sudah berbeda meskipun kulitnya masih tetap sama.”

“Aku telah membunuh dua orang laki-laki yang kedua-duanya adalah ayah dari anak-anakku. Anak-anak kandungku,” tangis Warsi.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar, bahwa itu merupakan bagian dari kehidupan ibunya masa lalu. Masa yang harus dilupakannya, sebagaimana ia ingin melupakan masa lalunya sendiri.

Karena itu, maka Kasadha pun kemudian berkata, “Marilah ibu. Kita masuk kedalam.”

“Marilah,” ajak sepupunya pula.

Warsi masih menangis. Namun kemudian ketika ia dibimbing oleh sepupu dan anaknya, maka Warsi pun telah bangkit. Tetapi ia tidak meraih rantainya yang masih terletak ditanah.

Sepupunyalah yang telah mengambilnya, menggulungnya dan kemudian membawanya masuk keruang dalam.

Setelah duduk Warsi itu masih juga berkata, “Ada tiga sosok mayat dihalaman samping.”

“Aku akan menguburkannya ibu,” jawab Kasadha.

“Kau tidak usah membawa kemana-mana,” berkata bibinya, “kuburkan di halaman belakang rumah ini. Rumah yang tidak akan dihuni oleh sia pun lagi.”

“Kenapa ?” bertanya Kasadha.

“Tidak ada orang lain disini kecuali aku. Jika aku kelak meninggal, aku tidak tahu, siapakah yang akan memiliki rumah ini,” berkata sepupu Warsi itu, “karena aku yakin, kau tidak akan mau tinggal disini, apalagi jika kau kemudian mendapat pangkat yang lebih tinggi dalam dunia keprajuritan. Kau masih muda. Kemungkinan untuk menjangkau pangkat yang setinggi-tingginya masih terbuka.”

Kasadha hanya dapat menarik nafas. Tetapi ia pun kemudian memang menguburkan ketiga sosok mayat itu dihalaman belakang rumah itu. Dibawah rumpun bambu yang rimbun diantara beberapa pohon perdu. Namun Kasadha telah membuat lubang kubur yang cukup dalam.

“Akhirnya Ki Rangga Gupita dikubur disini,” suara Warsi sangat dalam dirongga dadanya setelah ia menunggui Kasadha menimbun kembali lubang-lubang yang dibuatnya untuk mengubur ketiga sosok mayat itu.

“Ia merupakan kenangan baik dan sekaligus buruk bagiku,” berkata Warsi itu pula, “ia pernah bersama-sama dengan aku menyusun harapan-harapan yang ternyata tidak lebih dari harapan gila. Namun harapan itu telah menumbuhkan gairah untuk memperjuangkannya. Mendorong untuk meningkatkan ilmu dan kerja keras. Tetapi ternyata apa yang aku kerjakan dengan keras itu salah arah. Akhirnya, hidupnya justru telah menjadi hantu dalam hidupku. Disaat-saat terang mulai memercik dihati karena siraman-siraman petunjuk yang tidak henti-hentinya dari Ki Randukeling dan Ki Ajar Paguhan, serta kesempatan untuk menilai kehidupan ini, maka setiap aku melihat bayangannya rasa-rasanya jantungku berdebar semakin cepat. Aku ingin ia pergi. Tetapi aku tidak dapat menolak kehadirannya. Sehingga Ki Rangga Gupita bagiku bagaikan duri yang setiap saat menusuk kulit dari dalam tulang,” Warsi itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Sehingga akhirnya aku telah membunuhnya.”

“Sudahlah,” berkata Kasadha, “biarlah ia tidur nyenyak dengan mimpi gilanya. Kedua orang kawannya telah diseretnya kemari untuk bersama-sama menjelang maut. Tetapi hal itu agaknya yang terbaik bagi mereka.”

Bertiga mereka pun masuk kembali keruang dalam setelah mereka membersihkan diri di pakiwan.

Bagaimanapun juga Warsi memang menjadi bersedih. Ia telah melakukan pembunuhan lagi saat ia mencoba untuk mencuci diri. Sedangkan yang dibunuhnya antara lain adalah laki-laki yang telah menjadi pasangannya untuk waktu yang panjang.

Kasadha tidak ingin mengganggu ibunya ketika ibunya kemudian pergi ke biliknya. Katanya, “Aku ingin beristirahat. Aku lelah lahir dan batin.”

“Apakah luka ibu tidak diobati?” bertanya Kasadha.

“Segores kecil. Aku telah membersihkannya. Aku nanti akan mengobatinya sendiri,” jawab ibunya.

Kasadha kemudian duduk seorang diri di ruang dalam ketika bibinya justru pergi ke dapur untuk merebus air. Ia mengerti, bahwa baik Warsi maupun Kasadha tentu menjadi haus seperti juga dirinya. Meskipun mereka telah menghirup air gendi yang sejuk, namun minuman hangat akan menyegarkan tubuh mereka.

Namun dalam pada itu, pintu pringgitan rumah itu telah diketuk orang. Tidak terlalu keras. Namun baik Warsi maupun sepupunya telah mendengarnya, sehingga sejenak kemudian mereka telah berada diruang dalam bersama Kasadha.

Untuk beberapa saat mereka menjadi ragu-ragu. Ketukan itu ternyata terdengar lagi. Masih juga tidak terlalu keras.

Akhirnya Kasadha telah bangkit dan melangkah kepintu sementara ibunya dan bibinya berdiri termangu-mangu.

Ketika pintu terbuka, yarig berdiri diluar pintu adalah dua orang tua. Ki Randukeling dan Ki Ajar Paguhan.

“Kakek,” Kasadha hampir berteriak, “guru. Marilah, silahkah masuk.”

Keduanya pun kemudian telah melangkah masuk dan duduk diruang dalam bersama-sama dengan Warsi dan Kasadha. Sementara itu, sepupu Warsi setelah mempersilahkan mereka duduk, telah pergi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Adalah kebetulan bahwa ketika kedua orang tamu itu datang, air telah mendidih.

Setelah menghidangkan minuman hangat sepupu Warsi itu pun telah ikut duduk bersama mereka di ruang dalam. Ternyata Kasadha telah menceriterakan dengan singkat perjalanannya dari baraknya setelah ia mendapat waktu beristirahat selama lima hari.

“Besok aku merencanakan untuk kembali ke Pajang,” berkata Kasadha kemudian.

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya aku telah mencemaskanmu Kasadha. Aku yakin bahwa ibumu akan dapat menerimamu dengan baik. Tetapi aku masih meragukan Ki Rangga Gupita. Karena itu, demikian aku sampai di rumah, serta mendapat keterangan tentang kepergianmu kemari, aku pun segera menyusulmu.”

“Hari ini Ki Randukeling dan Ki Ajar Paguhan baru sampai disini? Berapa hari yang lalu Ki Randukeling dan Ki Ajar meninggalkan rumah ini?” bertanya Warsi.

“Kami memang tidak segera kembali ke pondok kami. Kami masih berputar-putar melihat cakrawala dengan mata tua kami. Ternyata semuanya telah menjadi kabur bagi kami,” berkata Ki Randukeling.

Kasadha mengangguk-angguk. Semuanya memang semakin menjadi tua Ki Randukeling sudah nampak tua sekali. Demikian Ki Ajar, meskipun keduanya masih sanggup berjalan menelusuri jalan yang panjang.

Namun dalam pada itu Warsi telah berkata, “Seandainya Ki Randukeling dan Ki Ajar datang sebelum senja.”

“Kenapa jika sebelum senja?” bertanya Ki Randukeling.

“Mungkin segala sesuatunya akan dapat dicegah,” desis Warsi sambil menunduk.

“Apa yang telah terjadi?” desak Ki Randukeling.

Warsi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun telah menceriterakan apa yang telah terjadi di rumah itu.

“Aku masih membunuh lagi hari ini,” suara Warsi menjadi sangat dalam.

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Ajar Paguhan berkata, “Tetapi kau tidak merencanakan untuk membunuh.”

Warsi mengangguk kecil. Namun katanya, “Aku pun telah menunjukkan kepada anakku, betapa ibunya adalah seorang perempuan liar dan buas. Aku tidak dapat menyembunyikannya ketika aku harus mengerahkan kemampuanku untuk melawan tiga orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi.”

“Kasadha sudah cukup dewasa untuk mengurai tangkapan inderanya. Ia dapat melihat apa yang ditangkap secara kewadagan dan apa yang dapat diraba dengan getaran jiwanya. Ia dapat membedakan kekasaran ujud dari maknanya. Karena itu kau tidak usah menjadi gelisah karenanya. Hormatnya kepadamu tidak akan susut melihat kau terpaksa membunuh justru untuk menyelamatkan jiwa anak itu serta wibawamu atasnya tidak akan berkurang karena kau telah bertempur dengan cara yang kasar,” berkata Ki Randukeling kemudian.

Warsi mengangguk-angguk kecil. Jiwanya memang terasa menjadi sedikit sejuk sebagaimana saat-saat Ki Randukeling dan Ki Ajar Paguhan datang ketempat itu sebelumnya.

Kasadha pun kemudian menceriterakan bahwa ia telah mengubur ketiga sosok mayat itu dikebun belakang.

“Kami tidak ingin mengganggu padukuhan ini,” berkata Kasadha.

“Tetapi perkelahian itu sendiri tentu menimbulkan pertanyaan orang diluar dinding halaman ini,” berkata Ki Randukeling.

“Mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu. Kami bertempur di halaman belakang, dibatasi oleh rumpun bambu dan kebun yang kosong disisi lain. Rumah tetangga kami memang agak jauh. Yang terdekat terletak disebelah kebun kosong itu,” jawab sepupu Warsi.

Kedua orang tua itu mengangguk-angguk. Mereka pun merasa menyesal bahwa mereka datang terlambat. Seandainya mereka tidak terlambat, mungkin hal itu akan dapat dicegah.

Sementara itu Ki Randukeling pun sempat melihat luka dipundak Kasadha dan di lengan Warsi. Namun luka. dipundak Kasadha ternyata agak lebih parah dari luka di lengan Warsi yang seakan-akan hanya tergores kulitnya saja, meskipun sempat meneteskan darah pula. Sedangkan luka di pundak Kasadha memang agak dalam, karena pisau belati itu telah menancap di pundak itu.

Dalam pada itu, setelah minum minuman hangat dan makan seadanya, maka Ki Randukeling dan Ki Ajar Paguhan pun telah dipersilahkan untuk beristirahat. Mereka dipersilahkan mempergunakan bilik yang dipergunakan oleh Kasadha, sementara Kasadha dapat mempergunakan tempat dimana saja didalam rumah yang tidak begitu besar itu. Kasadha dapat tidur disebuah amben besar diruang dalam, atau di lincak bambu diserambi.

Sebelum tidur, Kasadha sempat memberitahu bahwa besok ia justru akan kembali ke Pajang.

“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Ki Randukeling.

“Aku mendapat waktu lima hari,” berkata Kasadha, “besok adalah hari terakhir, sehingga besok aku sudah harus kembali ke Pajang dan berada di barak.”

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Dengan nada lembut ia berkata, “Pertahankan sikapmu Kasadha. Agar kau mendapat tempat yang lebih baik didalam dunia keprajuritan.”

“Ya kakek,” jawab Kasadha.

“Menurut pendapat kami,” berkata gurunya, “kau telah berada di tempat yang tepat. Kami akan membantumu sejauh dapat kami lakukan dan tidak melanggar paugeran.”

Kasadha termangu-mangu. Namun gurunya berkata selanjutnya, “apakah kau masih diperkenankan meningkatkan ilmumu diluar jalur keprajuritan? Maksudku, apakah kau masih diperkenankan melakukan latihan-latihan khusus secara pribadi?”

“Nampaknya tidak ada larangan tentang hal itu guru,” jawab Kasadha.

 “Baiklah. Lain kali aku akan menengokmu sekali-sekali di barakmu. Kita akan melihat kemungkinan itu. Tetapi jika hal itu tidak diperkenankan, maka lebih baik kau tidak melakukannya,” berkata gurunya.

Kasadha mengangguk-angguk. Hal itulah yang kemudian selalu direnunginya. Ketika kemudian kakek dan gurunya telah berada didalam biliknya, maka Kasadha sempat merenung sendiri sementara ibu dan bibinya telah berada didalam biliknya pula.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 40

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s