SST-38

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

KI TUMENGGUNG mengangguk-angguk. Katanya, “Baik Ki Juru. Dalam dua hari ini aku akan menentukan sikap. Tetapi Ki Juru Martani akan datang dua hari lagi pada pagi atau sore hari?”

 “Aku datang seperti saat ini aku datang,” jawab Ki Juru, “pertimbangkan baik-baik. Perhitungkan segala kemungkinan yang dapat terjadi, karena aku belum dapat mengatakan satu kepastian apapun tentang pemerintahan yang akan datang. Tetapi justru sikapmu akan menjadi bahan pertimbangan. Ketahuilah bahwa semua prajurit Demak dan Pajang sekarang berada dalam tahanan. Prajurit Demak akan dikirim kembali berangsur-angsur, sedangkan prajurit Pajang akan dinilai kembali sejauh mana mereka telah melakukan kesalahan terhadap Pajang dan segala isinya. Ingat, bahwa kalian pun prajurit Pajang yang akan dikenakan ketentuan yang sama. Kalian akan dinilai oleh para pemimpin di Mataram dan Jipang. Karena itu tentukan sikap kalian sebagai bahan penilaian itu.”

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak. Terasa sikap Ki Juru Martani sebagai satu sikap yang memberikan peluang baik kepada seisi barak itu, tetapi juga membayangkan ketegasan sikap Mataram. Karena itu, maka Ki Tumenggung Surajaya memang harus berhati-hati dan mengambil keputusan yang tepat.

Namun dalam pada itu, ketika Ki Juru minta diri untuk meninggalkan barak itu, Ki Tumenggung berkata, “Ki Juru. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, selain keputusanku untuk memberikan jawaban kepada Ki Juru dua hari lagi, aku ingin mohon ijin dengan pertanda kekuasaan prajurit Mataram untuk mengirimkan beberapa orang keluar dari barak ini.”

 “Untuk apa?” bertanya Ki Juru.

 “Kami telah kehabisan perbekalan. Tidak ada beras lagi di barak ini. Yang tinggal hanya beras untuk hari ini. Itu pun tidak mencukupi,” jawab Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi ia pun bertanya, “Jadi apa yang kau inginkan? Mengambil persediaan beras atau pergi ke luar kota untuk mencari dan membeli beras dari lumbung-lumbung padi orang-orang padukuhan?”

 “Kami memang harus membeli Ki Juru. Kami akan mengumpulkan uang dari setiap orang yang ada di barak ini. Kemudian kami akan mengirimkan beberapa orang keluar untuk membeli beras,” jawab Ki Tumenggung dengan jujur.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tidak. Aku tidak mengijinkan orang-orangmu berkeliaran diluar barak sebelum kau memberikan keputusan yang menurut pertimbangan kami cukup dapat diterima nalar.”

 “Tetapi besok dan lusa kami akan kelaparan,” berkata Ki Tumenggung itu.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku akan berusaha untuk membantu kalian. Aku tahu persediaan beras prajurit Pajang cukup banyak di lumbung-lumbung yang sudah disediakan. Aku akan mengirimkan beras itu kemari untuk dua hari. Selanjutnya, tergantung kepada keputusanmu.”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk hormat sambil berkata, “Aku mengucapkan terima kasih Ki Juru, atas nama seluruh isi barak ini.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Persoalannya harus dibedakan dengan persoalan yang menyangkut kedudukan kalian. Beras itu adalah persoalan peri kemanusiaan. Sedangkan persoalan barak ini adalah persoalan sikap dan keyakinan kalian terhadap Pajang.”

 “Aku mengerti Ki Juru,” jawab Ki Tumenggung.

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Juru pun telah meninggalkan barak itu. Ki Tumenggung yang mengantarnya sampai ke pintu gerbang menarik nafas dalam-dalam. Sikap Ki Juru menimbulkan kekaguman pada dirinya. Tanpa sikap dan kata-kata kasar, namun terasa ketegasan pernyataan Ki Juru dengan segala akibatnya.”

Sepeninggal Ki Juru, maka Ki Tupienggung telah kembali lagi ke pendapa. Selagi para perwiranya masih berkumpul, maka Ki Tumenggung ingin berbicara langsung dengan mereka tentang sikap yang sebaiknya mereka ambil.

Dengan sedikit pengantar Ki Tumenggung Surajaya minta pendapat para pemimpin serta pemimpin kesatuan dalam pasukannya.

 “Aku minta kalian dengan terbuka mengatakan pendapat kalian. Kita sekarang berdiri diambang pintu dari sebuah rumah yang belum kita ketahui watak dan sifatnya. Namun kita tahu, bahwa apa yang harus kita lakukan dibatasi oleh ketentuan-ketentuan yang tidak dapat kita rubah karena berada diluar kekuasaan kita.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Juru, bahwa semua prajurit Pajang menjadi tawanan. Sementara prajurit yang berasal dari Demak akan dikembalikan dengan berangsur-angsur. Termasuk kita. Tegasnya, kita adalah tawanan yang berada dibarak kita sendiri. Kelebihan kita dari para tawanan yang lain, ditangan kita masih tergenggam senjata. Tetapi menghadapi Mataram dan Jipang, senjata kita memang tidak banyak berguna,” berkata Ki Tumenggung.

Para perwira dan pemimpin kesatuan prajurit yang berada dibarak itu termangu-mangu sejenak. Beberapa orang yang pernah terlibat dalam perang antara Mataram dan Pajang masih belum dapat melupakan, apakah yang pernah terjadi sebelumnya. Demikian pula Kasadha. Hampir saja nyawanya direnggut oleh prajurit Mataram waktu itu. Seandainya anak muda yang bernama Bharata tidak menolongnya, maka ia tentu sudah mati terbunuh di medan.

Namun ternyata bahwa nama Bharata itu telah menimbulkan persoalan tersendiri didalam perjalanan hidupnya, karena Bharata ternyata adalah Risang, saudaranya seayah, tetapi lain ibu. Bahkan ibu Bharata dan ibunya masih saja bermusuhan tanpa ujung pangkal selain landasan keirian dan kedengkian.

Sementara itu Ki Tumenggung Surajaya berkata selanjutnya, “Tetapi kalian harus berpikir berlandasan keadaan yang kita hadapi sekarang menjelang masa mendatang. Kita tidak boleh terbelenggu oleh perasaan kita mengenang saat-saat lampau. Permusuhan antara Mataram dan Pajang memang telah terulang. Tetapi dalam suasana yang berbeda sama sekali.”

Para perwira dan pemimpin kesatuan yang hadir itu pun mengangguk-angguk. Mereka memang tidak dapat melepaskan penalaran mereka untuk menentukan langkah. Jika mereka dicengkam oleh perasaan dendam, maka masa-masa mendatang akan menjadi sangat suram. Bahkan mungkin mereka akan kehilangan masa depan mereka dengan mutlak.

Kasadha sendiri memang harus berhati-hati menentukan sikap. Namun didalam hati ia pun berkata, “Bukankah yang kami inginkan adalah perubahan tatanan pemerintahan di Pajang? Jika Mataram dan Jipang mampu menghembuskan perubahan itu, apa salahnya jika kita membantu mengamankan perubahan-perubahan itu?”

Tetapi baik Kasadha maupun para perwira yang lain tidak tahu, apakah perubahan itu akan membuat tatanan pemerintahan di Pajang menjadi lebih baik atau sebaliknya. Namun setidak-tidaknya, kehadiran Mataran dan Jipang akan memberikan harapan bagi rakyat Pajang untuk menyaksikan perubahan-perubahan itu.

Agaknya para perwira yang lain pun berpikir demikian pula. Mereka pun berharap, dengan sikap mereka mendukung pemerintahan Pajang yang baru sepenuhnya, akan mempengaruhi sikap para pemimpin Mataram dan Pajang terhadap barak mereka.

Karena untuk beberapa saat pertemuan itu masih tetap hening, maka Ki Tumenggung Surajaya pun bertanya, “Nah, bagaimana sikap kalian? Tidak ada salahnya maka diantara kita terdapat perbedaan sikap. Kita harus mengemukakan alasan dan dasar dari sikap kita masing-masing untuk mendekati sikap yang paling baik bagi kita seluruhnya.”

Kasadhalah yang mula-mula mohon ijin untuk berbicara.

 “Katakan,” desis Ki Tumenggung.

Dengan ringkas Kasadha mengatakan pendiriannya. Ia pun mengatakan, bahwa hampir saja ia terbunuh ketika perang terjadi antara Pajang dan Mataram sebelumnya. Namun seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung, mereka tidak dapat mengikat diri pada angan-angan dan apalagi dendam masa lampau.

 “Kita harus melihat kenyataan yang kita hadapi sekarang serta perhitungan kita atas masa mendatang,” berkata Kasadha kemudian.

Yang lain mengangguk-angguk. Beberapa orang perwira yang tahu pasti akan sikap Kasadha menghadapi kebijaksanaan Pajang sebelumnya sudah memperhitungkan, bahwa anak muda yang tumbuh dan berkembang dengan pesat itu akan bersikap demikian. Namun pada umumnya, yang lain pun ternyata memiliki sikap yang sama.

Karena itu, maka seorang perwira yang lain pun telah menyatakan dukungannya akan sikap Kasadha. Bahkan kemudian telah menyusul perwira yang lain dan yang lain lagi.

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk-angguk. Sikap itu memang sesuai dengan sikapnya. Ia memang tidak mempunyai pilihan lain.

Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Jadi, bagaimana kesimpulan pembicaraan kita sekarang? Ki Juru Martani telah mempertanyakan sikap kita selanjutnya. Dua hari lagi, Ki Juru akan datang pada waktu sebagaimana ia datang hari ini.”

Nampak dahi pun telah berkerut. Beberapa orang sa ling berpandangan sejenak.

 “Baiklah,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “kalian telah berbicara. Aku akan mencoba menyimpulkan pembicaraan kalian. Tetapi jika ada diantara kalian yang berkeberatan, aku minta dengan terbuka mengatakannya. Kita selama ini sudah menyatakan diri dalam satu sikap apapun akibatnya. Karena itu, sebaiknya kita mencoba mempertahankan, agar kita tetap berpegang pada satu sikap.”

Para perwira dan pemimpin kesatuan dalam pasukan Ki Tumenggung Surajaya itu pun mengangguk-angguk. Namun tidak ada seorang pun yang berbicara.

 “Menurut tangkapanku, maka kesimpulan dari pembicaraan ini adalah, bahwa kita akan menerima kenyataan ini. Kita masih tetap prajurit Pajang dan menerima pemerintahan baru yang akan memimpin Pajang dengan bijaksana. Setidak-tidaknya kita berharap lebih bijaksana dari pemerintahan yang baru saja ditumbangkan oleh Mataram dan Jipang,” Ki Tumenggung kemudian berhenti sejenak. Lalu katanya, “Nah, siapa yang berpendapat lain. Aku minta dikatakan dengan terus-terang dan terbuka.”

Seorang perwira yang usianya telah mendekati pertengahan abad berkata, “Aku kira itu adalah kesimpulan yang terbaik Ki Tumenggung.”

Yang lain pun menganguk-angguk.

Namun seorang diantara mereka tiba-tiba bertanya, “Bagaimana sikap kita jika pemerintahan yang baru memutuskan untuk menawan kita semuanya?”

Ki Tumenggung Surajaya mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita berharap bahwa tidak ada tindakan yang keras seperti itu. Tetapi jika kita sudah meletakkan diri kita dalam jajaran prajurit Pajang yang baru, maka kita harus melakukan segala perintah. Termasuk menjadi tawanan sekalipun.”

Suasana memang agak menjadi tegang. Sementara itu Kasadha berkata, “Andaikata hal seperti itu ditrapkan atas kita, maka kita pun akan melakukannya. Tetapi seperti dikatakan oleh Ki Juru, setiap prajurit Pajang akan dinilai oleh para pemimpin dari Mataram dan Jipang. Termasuk kita. Kita berharap bahwa penilaian itu dapat berlangsung dengan jujur. Sementara itu kita akan dapat menduga hasil dari penilaian yang jujur itu.”

 “Aku sependapat,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “sikap kita memang harus berujung. Kita tidak akan dapat berbuat lain. Apalagi persediaan makanan kita sudah tidak lagi memadai. Kita berharap bahwa Ki Juru Martani tidak ingkar janji.”

Ternyata bahwa tidak seorang pun yang menentukan kesimpulan itu. Mereka memang harus menentukan satu sikap. Dan mereka tidak akan dapat terus-menerus menutup diri. Atau memberontak terhadap pemerintahan baru yang bakal dibentuk di Pajang. Tentu oleh Mataram dan Jipang. Tetapi kedua orang pemimpin dari Mataram dan Jipang itu adalah orang-orang yang memang berhak untuk mengambil keputusan berdasarkan atas kedudukan dan keturunan.

 “Jika demikian,” berkata Ki Tumenggung Surajaya kemudian, “dua hari lagi, aku akan menyampaikan kepada Ki Juru Martani, bahwa kami masih tetap prajurit Pajang yang mematuhi semua perintah berdasarkan paugeran keprajuritan. Yang telah terjadi beberapa saat ini adalah satu langkah darurat justru karena sikap para pemimpin Pajang.”

Dengan demikian maka pertemuan itu pun telah diakhiri. Para perwira dan pemimpin kelompok telah kembali ke lingkungan masing-masing.

Namun seorang pemimpin kelompok khusus yang mengurusi perbekalan telah menemui Ki Tumenggung Surajaya untuk memberikan laporan, bahwa beras mereka telah benar-benar habis.

 “Yang tersisa telah kami masak untuk makan kita semuanya sore nanti. Besok pagi-pagi dan seterusnya, kita tidak mempunyai persediaan beras sama sekali,” berkata Lurah prajurit yang bertugas pada bagian perbekalan itu.

 “Kita menunggu sampai malam nanti,” berkata Ki Tumenggung, “jika malam nanti Ki Juru Martani ingkar janji, maka aku akan mengambil kebijaksanaan tersendiri dengan kemungkinan akibat yang paling buruk sekalipun. Kita semuanya tidak boleh mati kelaparan seperti burung yang tertutup dalam sangkar tanpa makanan dan minuman.”

Lurah prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Tumenggung. Tetapi jika Ki Tumenggung memberikan perintah kepadaku, maka aku mempunyai seorang sahabat yang baik yang dilumbungnya tersimpan beras cukup banyak. Jika kita mempunyai uang berapapun nilainya, kita dapat menukarkannya dengan beras sahabatku itu. Biarlah ia membeli lagi karena baginya, membeli beras tentu lebih mudah dilakukannya daripada kita disini.”

 “Baik. Aku percaya kepadamu. Tetapi kita akan menunggu sampai malam,” jawab Ki Tumenggung Surajaya.

Hari itu, para perwira, para pemimpin kesatuan dan kelompok dan bahkan hampir setiap prajurit telah membicarakan kesimpulan yang telah diambil dalam pertemuan para perwira dan pemimpin kelompok. Tidak se-orang pun diantara mereka yang tidak setuju dengan kesimpulan itu. Kesatuan yang dipimpin Kasadha pun menyatakan kesediaan mereka untuk mematuhi keputusan apapun yang akan ditrapkan atas mereka.

Bagi Kasadha sendiri, tetap menjadi seorang prajurit adalah kemungkinan yang paling baik bagi masa depannya. Ia sadar, bahwa menjadi seorang prajurit adalah sama artinya dengan kesediaan untuk melakukan pengabdian. Ia tidak dapat mengharap untuk dapat menjadi kaya dan hidup berlebihan. Namun menurut penglihatannya, tidak kurang pula dari tataran penghidupan orang banyak.

Dan Kasadha yang ditempa dalam pahitnya kehidupan sebuah keluarga yang coreng-moreng bentuk dan isinya, dapat menangkap arti dari kehidupan yang sebenarnya. Berkat bimbingan gurunya, maka Kasadha telah berhasil menghindar dari garis kehidupan yang hitam pekat menuju ke kehidupan yang sewajarnya.

Namun dalam pada itu, ketika matahari menjadi semakin rendah, pembicaraan didalam barak itu pun mulai berkisar. Mereka tidak lagi berbicara tentang kesimpulan yang diambil oleh Ki Tumenggung Surajaya dengan para perwira dan pemimpin kelompok, tetapi mereka mulai berbicara tentang beras mereka yang sudah habis.

Apalagi setelah mereka mendapat keterangan dari dapur, bahwa makan malam bagi para prajurit, tidak akan dapat diberikan sepenuhnya seperti hari-hari sebelumnya. Makan mereka akan sangat dibatasi, justru karena persediaan beras telah habis sama sekali.

 “Butir yang terakhir telah ditanak,” berkata salah seorang petugas di dapur.

Ternyata hal itu telah menimbulkan keresahan diantara para prajurit. Mereka memang tidak dapat hidup tanpa makan. Sementara itu beras buat besok sama sekali sudah tidak ada lagi.

Ki Tumenggung Surajaya bukannya tidak mengerti bahwa kegelisahan telah terjadi. Namun ia masih menunggu sampai malam turun. Jika malam turun dan Ki Juru Martani masih belum mengirimkan beras seperti yang dijanjikan, maka Ki Tumenggung harus mencarinya dengan cara apapun juga. Ki Tumenggung tidak mau melihat para prajuritnya kelaparan.

 “Agaknya Ki Juru dengan sengaja telah memberikan tekanan kepada kita agar kita melakukan semua perintahnya,” berkata salah seorang prajurit.

 “Mungkin sekali,” sahut yang lain, “bagaimana  pun juga orang-orang Mataram, termasuk Ki Juru Martani adalah orang biasa yang dilengkapi dengan berbagai macam perasaan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Kita akan melihat, apakah ada bedanya orang Mataram dan Jipang dengan orang-orang Pajang yang telah bekerja bersama dengan Adipati Demak.

Kegelisahan memang semakin terasa dimana-mana di seluruh Barak. Para prajurit itu sadar, bahwa mulai besok mereka tidak akan dapat makan lagi. Tidak ada beras dan tidak ada bahan pengganti. Jika mereka berada dihutan bambu sementara musim rebung muncul dari dalam tanah, mereka akan dapat mempergunakannya sebagai bahan pengganti beras betapapun kecil kadarnya. Atau jika mereka berada dihutan sehingga mereka dapat berburu binatang liar. Tetapi mereka saat itu berada didalam batas dinding barak, sehingga mereka tidak akan mendapatkan apapun juga yang dapat dipakai sebagai pengganti beras.

Dua orang perwira yang dituakan di barak itu telah menjumpai Ki Tumenggung Surajaya untuk menyampaikan kegelisahan itu. Namun sikap Ki Tumenggung tidak berubah.

 “Aku menunggu sampai malam turun,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “ada dua hal yang aku tunggu. Kemungkinan kedatangan beras sebagaimana dijanjikan oleh Ki Juru Martani, dan yang kedua, dalam gelap kita akan dapat bergerak lebih leluasa.”

 “Tetapi setelah malam, kemana kita akan mendapatkan beras?” bertanya salah seorang dari antara kedua perwira itu.

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Seorang Lurah yang bertanggung jawab tentang perbekalan telah memberikan jalan kepadaku. Tetapi seandainya itu gagal, maka aku akan mencari jalan lain.”

Kedua orang perwira itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa Ki Tumenggung Surajaya adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Ia tidak akan membiarkan prajurit-prajuritnya kelaparan. Tetapi untuk memberi makan prajurit di satu barak, maka dibutuhkan beras yang cukup banyak. Mungkin Ki Tumenggung mendapatkan beras itu untuk sehari. Tetapi sehari berikutnya dan hari-hari berikutnya lagi? Sementara itu keadaan masih juga belum ada kepastian.

Namun dalam pada itu, selagi kedua orang perwira itu masih berada didalam bilik Ki Tumenggung, seorang prajurit telah datang untuk memberikan laporan.

 “Dua buah pedati telah berhenti dimuka regol barak Ki Tumenggung,” berkata prajurit itu.

 “Pedati darimana dan membawa apa?” bertanya Ki Tumenggung sambil berharap.

 “Utusan Ki Juru Martani,” jawab prajurit itu. Ki Tumenggung Surajaya dan dua orang perwira yang ada didalam bilik itu menarik nafas dalam-dalam. Jantung mereka yang terasa semakin panas oleh kegelisahan, seakan-akan telah tersiram oleh embun di dini hari.

Ki Tumenggung pun kemudian bangkit sambil berkata, “Marilah. Kita akan menerima kiriman Ki Juru Martani itu.”

Ketika Ki Tumenggung berjalan menuju ke regol, maka dilihatnya para prajuritnya telah berdiri menunggu. Meskipun mereka tidak mendekat, namun terasa betapa kegelisahan mereka telah membawa mereka untuk melihat, apa yang telah dikirimkan oleh Ki Juru Martani itu. Sementara itu diluar regol halaman, dua buah pedati yang masing-masing ditarik oleh dua ekor lembu telah menunggu pintu regol itu dibuka. Tiga orang prajurit berkuda berada didepan kedua buah pedati itu, sedangkan tiga lainnya berada dibelakang.

Ketika pintu regol barak itu dibuka, maka para penunggang kuda itu pun segera berloncatan turun. Seorang diantara mereka, yang memimpin pengiriman itu maju selangkah sambil berkata, “Aku adalah Lurah prajurit Mataram yang mengemban perintah dari Ki Juru Martani.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk kecil sambil berkata, “Aku pemimpin barak ini. Tumenggung Surajaya.”

Ki Lurah itu pun mengangguk hormat. Kemudian katanya, “Aku mendapat perintah untuk menyampaikan sepuluh bakul besar berisi beras dan sepuluh bakul berisi jagung yang termuat dalam dua pedati ini.”

Sesuatu terasa tergetar dihati Ki Tumenggung Surajaya yang sudah menjadi tegang ketika gelap mulai membayang. Ia sudah menjadi sangat cemas, bahwa prajurit-prajuritnya besok tidak akan dapat makan lagi. Namun pada waktunya Ki Juru telah menepati janjinya.

 “Terima kasih Ki Sanak,” suara Ki Tumenggung menjadi bergetar, “silahkah masuk.”

Para prajurit berkuda serta dua buah pedati itu pun kemudian masuk kehalaman. Para prajurit yang melihat kedatangan kedua buah pedati itu hampir saja bersorak kegirangan. Untunglah bahwa mereka menyadari kedudukan mereka, sehingga kegembiraan yang meluap itu masih dapat mereka tahan. Mereka masih mampu menyadari, bahwa mereka bukan kanak-kanak yang mendapat oleh-oleh dari ibunya yang berbelanja di pasar.

Namun sebenarnyalah hati mereka melonjak-lonjak kegirangan karena mereka besok tidak akan kelaparan. Setidak-tidaknya untuk satu dua hari.

 “Meskipun harus dimakan hanya dengan garam,” desis seorang prajurit.

Demikianlah, menjelang malam, di barak itu telah tersimpan sepuluh bakul besar beras dan sepuluh bakul jagung. Berkali-kali Ki Tumenggung mengucapkan terima kasih kepada utusan Ki Juru Martani.

 “Baiklah Ki Tumenggung,” jawab utusan itu, “kami akan menyampaikannya kepada Ki Juru.”

Sepeninggal utusan itu, maka kegembiraan pun telah meledak. Setiap orang telah berbicara tentang kebaikan hati Ki Juru Martani.

 “Ternyata Ki Juru memenuhi janjinya,” berkata Ki Tumenggung kepada beberapa orang perwira yang kemudian menemuinya.

 “Ya. Satu pertanda baik. Mudah-mudahan para pemimpin Mataram dan Jipang memiliki kebijaksanaan dan pandangan jauh seperti Ki Juru Martani,” sahut salah seorang perwiranya.

Karena itulah, maka malam yang kemudian turun, telah diwarnai oleh suasana yang cerah di barak yang untuk beberapa lama nampak muram itu. Ketegangan yang mencengkam barak itu untuk beberapa waktu, ditambah dengan habisnya persediaan bahan makanan, telah hanyut dihembus oleh angin yang segar.

Dua hari lagi, jika Ki Juru Martani datang, maka seisi barak itu telah bersepakat bulat untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada kebijaksanaan pimpinan Pajang yang baru. Seisi barak itu akan bersikap sebagaimana sikap prajurit yang patuh.

Dihari berikutnya tidak ada perkembangan apapun yang terjadi di barak itu. Atas persetujuan Ki Tumenggung Surajaya, maka di pagi hari, para prajurit disediakan makan jagung yang direbus. Disiang dan malam hari, baru disediakan nasi.

Para prajurit sama sekali tidak mengeluh. Mereka menyadari bahwa mereka harus menghemat sebelum segala sesuatunya ada kepastian.

Di hari yang telah dijanjikan, maka Ki Juru Martani benar-benar datang pada waktu sebagaimana ia datang sebelumnya. Dengan tergesa-gesa Ki Tumenggung telah menyongsong Ki Juru sampai ke pintu regol.

 “Marilah Ki Juru,” Ki Tumenggung mempersilahkan.

Ki Juru mengangguk hormat. Diserahkannya kudanya kepada prajurit yang siap menerimanya. Demikian pula kuda beberapa orang pengawalnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Juru pun telah dipersilahkan untuk duduk dipendapa bersama para pengawalnya. Sementara Ki Tumenggung telah memanggil para perwiranya yang ikut memimpin para prajurit yang ada di barak itu.

Sebelum Ki Juru Martani mengatakan sesuatu kepada Ki Tumenggung, maka Ki Tumenggung Surajayalah yang lebih dahulu berkata, “Ki Juru. Kami, seluruh isi barak ini mengucapkan terima kasih kepada Ki Juru. Pada saat kami dibayangi oleh kegelisahan karena persediaan beras kami habis sampai butir yang terakhir, Ki Juru telah memberikan beras dan jagung kepada kami. Dengan demikian maka kami telah terhindar dari bencana kelaparan.”

Ki Juru tersenyum Katanya, “Bukankah aku sudah berjanji? Tetapi seperti yang aku katakan, aku tidak ingin mempengaruhi keputusan kalian dengan beras itu. Beras itu kami berikan atas pertimbangan kemanusiaan dan tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan kalian yang sebenarnya. Karena itu, aku minta kalian bersikap jujur.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Sementara Ki Juru berkata selanjutnya, “Tetapi sebelum aku mendengarkan sikap kalian, maka sebaiknya aku memberi tahukan keputusan yang sudah diambil oleh Panembahan Senapati, Pangeran Benawa dan beberapa sesepuh yang ada di Pajang sekarang ini. Mungkin karena kalian menutup diri didalam barak ini, maka kalian tentu tidak mendengar keputusan yang terakhir, yang diambil oleh para pemimpin dari Mataram dan Jipang itu.”

Ki Tumenggung masih juga mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis, “Kami memang belum mendengar keputusan penting yang diambil di istana.”

 “Hari ini, Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah menyatakan kesepakatannya, bahwa Pangeran Benawa akan berkedudukan di Pajang, sebagai Adipati Pajang. Sedangkan Panembahan Senapati akan kembali dan tetap berkedudukan di Mataram, sementara Adipati Demak kembali ke Demak,” berkata Ki Juru Martani.

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Namun sejenak kemudian wajahnya menjadi terang. Sebenarnyalah bahwa didalam hati Ki Tumenggung, bahkan para prajurit yang ada di barak itu berharap bahwa Pangeran Benawa, putera laki-laki Kangjeng Sultan Hadiwijaya akan menggantikan kedudukan ayahandanya. Namun ternyata bahwa Pangeran Benawa tidak dinobatkan sebagai Sultan Pajang, tetapi sebagai Adipati di Pajang. Dengan demikian maka Ki Tumenggung dapat mengambil kesimpulan, bahwa Mataram akan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari Pajang.

Tetapi hal itu tidak akan banyak berpengaruh terhadap pemerintahan di Pajang. Panembahan Senapati tentu tidak akan terlalu banyak mencampuri persoalan pemerintahan di Pajang. Sehingga kebijaksanaan akan sepenuhnya berada ditangan Pangeran Benawa.

 “Nah,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “setelah kalian mendengar keputusan itu, akulah yang kemudian ingin mendengar sikap kalian. Jika keputusan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa ini akan berpengaruh terhadap sikap yang akan kalian ambil, aku tidak berkeberatan untuk menunggu sebentar seandainya kalian akan berbincang lebih dahulu. Aku akan menyingkir dan barangkali aku dapat menunggu di gardu perondan selama kalian berbincang-bincang.

 “Tidak Ki Juru,” cegah Ki Tumenggung,” Ki Juru tidak perlu pergi kemana-mana. Kami sudah berbicara sebelumnya dan telah menentukan keputusan terakhir. Kami dengan bulat telah menyusun jawaban yang akan kami berikan kepada Ki Juru.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika keputusan terakhir para pemimpin dari Mataram dan Jipang itu tidak akan mempengaruhi sikap kalian. Aku akan dengan senang hati mendengarkannya, apapun yang akan kalian katakan.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk-angguk pula. Namun kemudian ia pun berkata sesuai dengan kebulatan pendapat para perwira di barak itu, “Ki Juru. Kami telah sepakat untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada pimpinan pemerintahan di Pajang. Ki Juru dan para pemimpin Pajang tentu sudah tahu, apa yang pernah kami lakukan. Kami pun telah pernah menyampaikan kepada Ki Juru alasan-alasan yang mendasari langkah kami pada waktu itu. Sekarang kami menyerahkan segala sesuatunya kepada pimpinan Pajang yang baru. Jika kami harus dihukum, hukuman apapun akan kami jalani. Kami telah bersiap untuk bertindak sebagai seorang prajurit yang patuh.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Aku sudah menduga, bahwa kalian akan bersikap demikian. Kami pun tahu dan mengerti, kenapa kalian tidak dapat mendukung pemerintahan Pajang yang dipimpin oleh Adipati Demak. Namun perlu kami memberitahukan pula, meskipun pimpinan pemerintahan di Pajang telah berganti, namun masih ada beberapa orang dari para pemimpin Pajang yang lama yang masih akan melakukan tugasnya. Namun sudah barang tentu dengan kebijaksanaan pimpinan yang baru. Kami tidak menutup mata bahwa pernah terjadi pemerasan atas beberapa Tanah Perdikan. Kemudian pergantian jabatan yang tidak berdasar sama sekali, karena sekedar menggeser para pemimpin Pajang dan menggantinya dengan para pemimpin dari Demak, meskipun masih ada juga para pemimpin Pajang yang memegang jabatan mereka. Karena itu, maka pada masa yang akan datang, semua orang yang memegang jabatan akan mendapat pengawasan langsung dan pembatasan-pembatasan atas kekuasaan mereka.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Sebagaimana para perwira yang lain, Ki Tumenggung membayangkan bahwa masa yang akan datang pemerintahan di Pajang tentu akan menjadi lebih baik. Pangeran Benawa sebagai putera laki-laki Kangjeng Sultan Hadiwijaya tentu tidak akan mengecewakan rakyat Pajang. Bahwa pada masa pemerintahan ayahandanya, Pangeran Benawa sendiri sempat menjadi kecewa karena sikap ayahandanya itu, agaknya akan membuatnya lebih berhati-hati.

Dalam pada itu, maka Ki Juru Martani pun berkata, “Baiklah. Aku sudah mendengar sikap kalian seisi barak ini. Aku akan menyampaikannya kepada pimpinan tertinggi Mataram dan Jipang yang kemudian akan memegang pimpinan di Pajang ini. Aku yakin, bahwa kalian tidak akan dianggap bersalah karena sikap kalian. Namun segala sesuatunya terserah kepada Pangeran Benawa.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk hormat sambil berkata, “Kami akan mengucapkan terima kasih apapun keputusan yang akan diambil oleh Pangeran Benawa yang untuk selanjutnya akan memimpin Pajang. Karena kami percaya dan yakin, bahwa Pangeran Benawa cukup bijaksana dan berpandangan jauh kedepan.”

 “Ya,” Ki Juru mengangguk-angguk, “dalam langkah-langkah awal dari pemerintahannya, tentu Panembahan Senapati akan dapat memberikan banyak pertimbangan. Bagaimanapun juga Panembahan Senapati adalah saudara tua Pangeran Benawa meskipun saudara angkat. Namun kedudukan Panembahan Senapati di lingkungan istana Pajang hampir sama dengan kedudukan putera kandang Kangjeng Sultan Pajang. Bahkan putera sulung.”

Ki Tumenggung Surajaya memang berpengharapan baik. Bukan saja bagi prajurit-prajuritnya, tetapi juga bagi seluruh Pajang. Karena sebenarnyalah apa yang dilakukan adalah ujud dari keprihatiannya atas sikap para pemimpin di Pajang terhadap rakyat Pajang sendiri.

Demikian, maka sejenak kemudian Ki Juru Martani pun telah minta diri. Ketika Ki Tumenggung Surajaya mengantarkannya sampai ke regol, maka Ki Juru berkata, “Dua hari lagi aku akan memerintahkan mengirimkan beras dan jagung lagi ke barak ini.”

 “Terima kasih atas kemurahan Ki Juru,” jawab Ki Tumenggung Surajaya.

 “Bukan beras dan jagungku sendiri. Tetapi beras dan jagung itu diambil dari persediaan beras dan jagung bagi prajurit-prajurit Pajang. Sudah tentu termasuk prajurit-prajurit di barakmu ini,” berkata Ki Juru sambil tertawa pendek.

Sementara Ki Tumenggung menjawab, “Bagaimanapun juga, hal ini tentu atas dasar kebijaksanaan Ki Juru sehingga kami tidak menjadi kelaparan karenanya.”

Ki Juru hanya tersenyum saja. Namun ia pun kemudian telah meninggalkan barak itu bersama para pengawalnya.

Meskipun para prajurit di barak itu menganggap bahwa ternyata keadaan mereka menjadi jauh lebih baik dari para prajurit Demak maupun Pajang yang turun ke medan pertempuran, namun para prajurit itu tidak dapat begitu saja meletakkan beban perasaan mereka. Bagaimanapun juga mereka masih selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah yang telah mereka lakukan itu tidak mengingkari kesediaan mereka mengabdi sebagaimana mereka nyatakan disaat mereka menyatakan diri menjadi seorang prajurit.

Mereka memang dapat beralasan, bahwa kesediaan mereka mengabdi tidak kepada orang-orang yang salah langkah. Namun masih saja ada tuntutan didalam diri mereka sendiri atas langkah-langkah yang telah mereka ambil. Apalagi jika mereka mendengar beberapa orang menyebut banyak korban yang telah jatuh dari kedua belah pihak, sementara mereka menutup diri dalam barak mereka.

Namun setiap kali memang timbul juga pertanyaan, “Jika kami harus turun ke medan, kepada siapa kami berpihak? Apakah kami harus berkhianat dan memihak Mataram atau Jipang? Atau kami harus membela orang-orang yang bersalah dan tidak tahu diri serta melakukan penindasan dan pemerasan terhadap rakyatnya sendiri?”

Tetapi semuanya itu sudah lampau. Mereka sudah berada di belakang sebuah pintu peristiwa yang tidak akan dapat mereka ulangi lagi. Mereka tinggal menyesuaikan diri didunia mereka yang baru apapun warnanya sebagai prajurit. Namun mereka tidak kehilangan harapan untuk menuju ke satu tatanan yang lebih baik.

Yang dapat dilakukan oleh para prajurit di barak itu kemudian adalah menunggu. Mereka tidak mempunyai kesibukan lain. Mereka tidak dapat melakukan latihan-latihan terbuka apalagi di luar barak, karena hal itu akan dapat menimbulkan salah paham. Bahkan rasa-rasanya para prajurit itu masih segan untuk membuka pintu baraknya, karena mereka masih belum mempunyai batasan kedudukan yang menentu.

Ki Tumenggung Surajaya pun masih memerintahkan para prajuritnya tetap berhati-hati. Para petugas di panggungan, disudut-sudut barak dan diatas regol induk dan regol-regol butulan masih tetap berjalan sebagaimana sebelumnya. Namun para prajurit yang sempat memandang keluar itu melihat dan menangkap suasana kota Pajang yang menjadi lebih tenang.

Kehidupan sehari-hari nampaknya mulai berjalan wajar. Pasar mulai terisi dan perdagangan mulai berjalan dengan baik.

Satu dua orang yang ditugaskan oleh Ki Tumenggung untuk melihat suasana juga melaporkan, bahwa keadaan menjadi semakin pulih kembali. Tidak lagi nampak kegiatan para prajurit Mataram dan Jipang yang berlebihan. Namun sekali-sekali mereka masih juga berpapasan dengan kelompok-kelompok kecil prajurit yang meronda.

 “Bagaimana tanggapan rakyat Pajang terhadap ke putusan Mataram dan Jipang untuk menyerahkan pimpinan tertinggi atas Pajang kepada Pangeran Benawa yang ditetapkan sebagai Adipati?” bertanya Ki Tumenggung Surajaya kepada para petugasnya yang melihat-lihat keadaan diluar barak.

 “Nampaknya mereka dapat menerima keputusan itu,” jawab petugas itu, “bahkan terasa dukungan yang kuat, terutama dari mereka yang merasa dirugikan oleh tatanan dan kebijaksanaan Adipati Demak sebelumnya.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Ia pun yakin bahwa sebagian besar rakyat Pajang akan dapat menerima keputusan itu dengan senang hati. Beberapa Tanah Perdikan yang ada dilingkungan pemerintahan Pajang pun akan merasa gembira, karena mereka akan terlepas dari niat buruk para pemimpin Demak dan Pajang yang justru ingin memeras mereka.

 “Mudah-mudahan keadaan segera menjadi pulih kembali dan bahkan menjadi semakin baik,” berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Dalam pada itu, Kasadha pun tengah memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi di Pajang dengan tatanan dan kebijaksanaan baru. Diluar sadarnya, Kasadha telah mengenang kesulitan yang telah dialami oleh Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan Kasadha pun sempat mengetahui keadaan Tanah Perdikan Gemantar yang tidak berdaya. Mungkin masih ada Tanah Perdikan yang lain yang belum diketahuinya. Agaknya bukan saja Tanah Perdikan, tetapi juga Kademangan-kademangan tentu pernah juga mengalami pemerasan itu.

 “Mudah-mudahan kesulitan bagi Tanah Perdikan Sembojan akan segera berakhir,” berkata Kasadha didalam hatinya. Ketika terbersit ingatannya tentang sikap ibunya dan laki-laki yang menyebut dirinya ayahnya, maka terasa jantungnya berdegup semakin cepat.

 “Tidak,” katanya didalam hati, “aku sudah bertekad untuk tidak mempersoalkan lagi Tanah Perdikan itu. Dengan sah dan meyakinkan, Tanah Perdikan itu adalah hak Barata. Ia adalah anak laki-laki dari orang yang mewarisi hak atas Tanah Perdikan itu. Laki-laki yang lahir tertua dari seorang isteri yang sah pula.”

Sikap Ki Juru Martani telah memberikan harapan pula bagi Kasadha. Jika ia masih tetap berada dilingkungan keprajuritan, maka ia tidak akan pernah tergoda lagi untuk mengganggu ketenangan Tanah Perdikan itu. Kasadha merasa bahwa hidup dalam dunia keprajuritan justru merupakan dunia yang paling tepat baginya. Suasananya mendukung perkembangan jiwa dan kewadagannya. Kesempatan untuk mengabdi yang barangkali dapat ikut mengurangi beban kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang tuanya atas bumi Pajang dan lingkungannya. Ia tidak dapat memberikan pengabdian dengan cara yang lain. Ia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengembangkan kesejahteraan hidup orang banyak. Ia tidak menguasai ilmu pertanian, peternakan dan ilmu-ilmu yang lain yang langsung mampu mengangkat derajad orang banyak dalam tataran kehidupan yang lebih baik. Tetapi serba sedikit ia menguasai ilmu kanuragan. Di lingkungan keprajuritan, Kasadha merasa bahwa kemampuannya akan berarti pula bagi orang banyak sesuai dengan cara pengabdian yang dapat dilakukannya. Karena menurut pendapatnya, prajurit akan dapat menciptakan suasana yang mendukung semua kegiatan kehidupan di Pajang. Jika Pajang menjadi aman, tenang dan damai, maka gerak dan putaran roda kehidupan akan menjadi semakin cepat.

Di hari-hari berikutnya, tidak ada persoalan yang terasa membuat jantungnya bergejolak. Dihari yang dijanjikan, Ki Juru benar-benar telah mengirimkan jagung dan beras secukupnya untuk para prajurit di barak itu.

Namun akhirnya, puncak dari segala macam kegelisahan karena menunggu keputusan terakhir atas barak itu telah dilaluinya dengan tarikan nafas dalam-dalam. Ki Juru sendiri telah datang ke barak itu dan memberitahukan, bahwa para prajurit yang berada di barak itu telah diterima sepenuhnya tanpa syarat kembali kedalam lingkungan keprajuritan Pajang.

 “Untuk sementara Ki Tumenggung Surajaya ditugaskan untuk memimpin pasukan ini,” berkata Ki Juru Martani.

Tentu saja Ki Tumenggung tidak dapat menolak, karena ia seorang prajurit. Namun terlintas juga sekilas kegelisahan. Ia hanya ditugaskan untuk sementara.

Namun Ki Tumenggung dan para perwira di barak itu sudah memperhitungkan, bahwa pasukan itu tidak akan untuk seterusnya bergabung menjadi satu. Pasukan itu tentu akan diurai untuk di tempatkan diberbagai kesatuan yang lain, sehingga pasukan itu akan luluh dengan seluruh jajaran keprajuritan Pajang. Bagaimanapun juga pasukan itu tentu dijaga untuk tidak tetap utuh dalam satu kesatuan.

Tetapi itu tidak penting bagi seorang prajurit. Dimana pun juga di lingkungan keprajuritan, mereka harus dapat dengan cepat menyesuaikan diri apabila mereka masing-masing yakin akan dirinya sendiri sebagai seorang prajurit yang baik dan memenuhi syarat.

Sepeninggal Ki Juru Martani maka Ki Tumenggung telah mengumpulkan para perwiranya untuk memberitahukan, keputusan pimpinan tertinggi Mataram dan Jipang atas pasukan mereka. Ki Tumenggung Surajaya pun telah memberitahukan satu kemungkinan bahwa akhirnya mereka akan saling berpisah.

 “Itu wajar sekali,” berkata Ki Tumenggung, “dahulu kalian juga tidak bersama aku sebelum kalian disini. Diantara kalian pun sebelumnya juga tidak saling mengenal. Namun disini kalian mendapatkan kawan-kawan yang ternyata bersikap satu. Dengan demikian maka dimana-mana pun kalian tentu akan mengalami persoalan yang serupa.”

Para prajurit mengangguk-angguk. Tetapi mereka menganggap bahwa sulit untuk mendapatkan seorang pimpinan yang bertanggung jawab sepenuhnya seperti Ki Tumenggung Surajaya itu.

Meskipun demikian, jika keadaan itu dihadapkan kepada mereka, maka mereka tidak akan dapat ingkar lagi.

Sejak para prajurit Pajang yang ada di barak itu mendapat keputusan diterima kembali menjadi prajurit Pajang tanpa syarat, maka pintu regol pada pintu gerbang barak itu pun telah dibuka. Para prajurit yang berada di barak itu telah diperkenankan untuk keluar dari barak sebagaimana prajurit-prajurit Pajang yang telah mendapat ketetapan yang sama. Meskipun demikian jika mereka berpapasan dengan prajurit Mataram atau Jipang, masih saja terasa jantung mereka berdebaran.

Tetapi para prajurit Mataram dan Jipang itu pun sudah mendapat penjelasan bahwa sebagian prajurit Pajang telah ditetapkan untuk tetap dalam kedudukannya. Terutama mereka yang dianggap akan dapat ikut mendukung tegaknya Pajang yang baru dibawah pimpinan Pangeran Benawa. Para prajurit Mataram dan Jipang menyadari, bahwa pada suatu saat mereka akan meninggalkan Pajang dan kembali ketempat mereka masing-masing. Namun sikap mereka terhadap Pajang harus sudah berubah. Terutama bagi para prajurit Jipang yang mengetahui, bahwa pada suatu saat, pimpinan Jipang dan Pajang akan berbeda, meskipun mereka masih berada dalam bingkai pagar kepemimpinan yang menyatukan mereka. Mataram.

Dengan demikian, maka para prajurit yang berada di. barak itu bergantian telah mendapat kesempatan untuk mengunjungi keluarga mereka meskipun selama-lamanya hanya untuk dua hari.

Namun Kasadha tidak seperti kawan-kawannya yang lain. Ia sama sekali tidak mengambil kesempatan itu. Prajurit-prajurit dibawah pimpinannya telah bergantian meninggalkan barak itu. Setiap kali dua orang, untuk setiap kelompok, sehingga jika masing-masing dua hari, setiap kelompok akan tuntas dalam sepuluh hari.

Demikian pula kesatuan-kesatuan yang lain dalam pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya itu.

Tetapi sampai orang yang terakhir, Kasadha tetap tidak pernah minta ijin untuk menengok keluarganya atau siapapun juga.

Seorang pemimpin kelompok yang umurnya lebih tua dari Kasadha telah menemuinya. Dengan hati-hati orang itu bertanya, “Apakah Ki Lurah tidak berniat untuk minta ijin barang satu dua hari? Dalam kesatuan Ki Lurah semua orang telah mendapat gilirannya.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun menggeleng, “Tidak. Aku tidak ingin pergi kemana-mana, sebelum keadaan benar-benar pasti.”

 “Bukankah sudah ada kepastian yang justru dijanjikan langsung oleh Ki Juru?” bertanya pemimpin kelompok itu.

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Aku tidak tergesa-gesa. Aku masih mempunyai banyak waktu.”

Pemimpin kelompok itu tidak bertanya lebih jauh. Beberapa saat lamanya ia mencoba mengerti keadaan pimpinan kesatuannya itu. Sejak di Tanah Perdikan Gemantar, kemudian ditarik kembali ke Pajang, berikutnya dikirim ke Tanah Perdikan Sembojan sehingga memasuki barak yang kemudian tertutup itu. Namun orang itu masih saja tidak dapat mengerti, apakah sebenarnya yang terjadi didalam hati Lurah Penatusnya itu. Hatinya nampaknya memang tertutup. Sebagai seorang lurah penatus, ia adalah prajurit yang baik. Bertanggung jawab, berani dan menunjukkan pengabdiannya yang tinggi. Tetapi sebagai seorang kawan, Ki Lurah Kasadha tidak mau berbagi persoalan.

Namun orang itu tidak dapat memaksanya. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku minta maaf Ki Lurah, bahwa aku selalu mengganggu ketenangan Ki Lurah.”

Tetapi Kasadha menggeleng. Katanya, “Kau tidak bersalah. Aku justru berterimakasih kepadamu atas perhatianmu. Tetapi akulah yang minta maaf kepadamu, bahwa aku tidak pernah memberikan jawaban yang dapat memuaskanmu.”

Pemimpin kelompok itu pun kemudian meninggalkan Kasadha yang duduk sendiri. Sekilas teringat oleh pemimpin kelompok itu tentang seorang laki-laki yang mengaku ayah dari Ki Lurah Penatus Kasadha itu. Pertemuannya dengan laki-laki itu nampaknya telah mengungkit satu persoalan yang membuatnya semakin sulit untuk dimengerti. Pada saat barak itu sudah ditutup, laki-laki itu masih saja datang, sehingga justru membuat Ki Lurah Kasadha marah.

Sebenarnyalah Kasadha memang lebih banyak berangan-angan tentang dirinya sendiri. Tetapi sekali-sekali ia juga teringat kepada ibunya. Kasadha sebenarnya tidak perlu cemas tentang ibunya dalam hubungannya dengan laki-laki yang mengaku ayahnya itu, karena menurut beberapa keterangan yang didengarnya, serta pengakuan langsung atau tidak langsung dari ibunya, bahwa kemampuan ibunya lebih tinggi dari kemampuan laki-laki itu. Dengan demikian maka laki-laki itu tidak akan dapat berbuat sesuatu diluar kemauan ibunya.

 “Tetapi nampaknya orang itu mampu menggiring ibu dengan cara lain. Tidak dengan kemampuan ilmu olah kanuragan. Tetapi kelicikannya mampu mempengaruhi ibu sehingga ibu kadang-kadang kehilangan akal,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Anak muda itu sebenarnya memang ingin melupakan dunia yang muram itu. Ia akan menjadi senang sekali jika pada suatu saat ia mendapat tugas di tempat yang jauh, sehingga bayangan laki-laki itu akan dapat terhapus dari angan-angannya.

Dalam pada itu, menjelang sore hari, Kasadha yang ingin melihat-lihat suasana diluar baraknya telah minta ijin untuk keluar sebentar.

 “Kau tidak pergi menengok keluargamu. Kasadha?” bertanya Ki Tumenggung.

Kasadha menunduk sambil menggeleng, “Aku akan menengok pada kesempatan lain saja. Ki Tumenggung. Aku akan minta ijin barang lima hari. Tetapi jika keadaan mengijinkan.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Nampaknya Kasadha ingin menempuh perjalanan yang agak jauh, sehingga tidak cukup sekedar dua hari dua malam.

Sore itu Kasadha berjalan-jalan seorang diri diluar baraknya. Ia diijinkan untuk tidak mengenakan pakaian keprajuritannya, sehingga karena itu, maka ia tidak banyak menarik perhatian. Jika ia bertemu dengan prajurit Mataram atau Jipang yang meronda, maka mereka sama sekali tidak memperhatikannya.

Ketika Kasadha singgah sejenak disebuah kedai untuk minum, maka ia pun mendengar bahwa Panembahan Senapati dari Mataram dalam waktu dekat akan segera meninggalkan Pajang.

 “Segala sesuatunya sudah sepenuhnya berada ditangan Pangeran Benawa,” berkata orang itu.

Diluar sadarnya Kasadha mengangguk-angguk. Ia berharap sepeninggal Panembahan Senapati, maka segala sesuatunya akan berjalan semakin mantap. Masa peralihan rasa-rasanya sudah berakhir, sehingga pemerintahan akan berjalan semakin mengarah sesuai dengan kebijaksanaan Pangeran Benawa.

Kasadha tidak terlalu lama berada di kedai itu. Apa yang didengarnya rasa-rasanya membuatnya semakin tenang. Ia berharap bahwa ia akan dapat tetap menjadi seorang prajurit.

Setelah membayar minuman dan makanan yang dipesannya, maka Kasadha pun telah keluar dari kedai itu dan berjalan menyusuri jalan yang tidak terlalu ramai. Sementara itu matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat.

Sambil berangan-angan Kasadha melangkahkan kakinya justru kembali ke baraknya. Ia telah merasa banyak melihat dan menurut penilaiannya, semuanya telah menjadi semakin baik. Bahkan tidak nampak lagi bekas-bekas pertempuran didalam kota. Jika terjadi kerusakan bangunan di jalan-jalan yang dilewati para prajurit yang bertempur, maka agaknya semuanya telah dapat di perbaiki dengan cepat.

Namun ketika Kasadha berbelok memasuki jalan yang lebih besar, ia terkejut. Seseorang yang telah menggamitnya sehingga anak muda itu terhenti sambil berpaling.

Dilihatnya seseorang berdiri selangkah dibelakangnya. Ketika ia membuka caping bambu dikepalanya, maka Kasadha segera melihat bahwa orang itu adalah Rangga Gupita.

Wajah Kasadha segera menjadi tegang. Ia merasa hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh laki-laki itu. Setiap kali ia melihatnya, maka jantungnya rasa-rasanya berdebar semakin cepat.

 “Darimana kau Kasadha?” bertanya laki-laki itu.

Betapapun segannya namun Kasadha masih juga menjawab, “Jalan-jalan ayah.”

 “Kebetulan kita bertemu disini. Sebenarnya aku akan pergi ke barakmu,” berkata Ki Rangga Gupita.

 “Untuk apa?” bertanya Kasadha.

 “Aku sudah merasa terlalu lama tidak menengokmu. Justru keadaan sekarang menjadi semakin baik, maka aku rasa-rasanya ingin melihatmu,” jawab Ki Rangga Gupita.

 “Terima kasih,” jawab Kasadha. Lalu katanya, “Kita sekarang sudah bertemu disini. Apakah ayah masih akan pergi ke barak?”

Ki Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Dengan heran ia justru bertanya, “Pertanyaanmu aneh Kasadha. Bukankah sudah aku katakan, bahwa rasa-rasanya aku sudah rindu karena sudah terlalu lama aku tidak menengokmu. Maksudku, aku ingin bertemu dan berbicara tentang apa saja yang barangkali serba sedikit berbicara tentang ibumu.”

 “Baiklah,” berkata Kasadha, “meskipun aku baru saja keluar dari sebuah kedai, maka marilah, kita dapat singgah di kedai untuk berbicara.”

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia pun berkata, “Seharusnya kau tidak berbuat seperti itu, ngger. Aku sebagai orang tuamu, dengan susah payah datang menemuimu karena rindu. Seharusnya kau menanggapi kedatanganku dengan sikap yang lebih baik. Kenapa kau tidak mengajakku pergi ke barakmu dan kau perkenalkan dengan kawan-kawanmu?”

“Sebagian dari mereka sudah mengenal ayah saat ayah marah-marah beberapa waktu yang lalu karena ayah tidak dapat masuk kedalam barak,” jawab Kasadha.

“Aku memang kecewa sekali waktu itu. Apakah sekarang kau juga akan membuatku kecewa?” bertanya Ki Rangga.

“Bukankah sama saja, dimana pun kita berbicara,” berkata Kasadha.

“Tidak Kasadha. Aku ingin pergi ke barakmu. Aku ingin berbicara tentang apa saja dengan Ki Tumenggung Surajaya. Biarlah ia mengetahui bahwa aku adalah ayahmu. Bukankah kau salah seorang Lurah Penatus yang dianggapnya baik?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Tidak perlu ayah,” jawab Kasadha, “kita lebih baik berbicara tidak didalam barak. Kita dapat berbicara dengan leluasa. Dibarak kita dikerumuni oleh orang-orang yang tidak mengerti persoalan kita, karena persoalan kita adalah persoalan yang sangat pribadi sifatnya.”

“Tentu saja kita tidak akan berbicara tentang hal yang sangat pribadi dihadapan orang lain. Tetapi apa salahnya bahwa aku mengenal kawan-kawanmu dan kawan-kawanmu mengenal aku, terutama pimpinanmu?” bertanya Ki Rangga.

Tetapi Kasadha tetap menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak perlu. Kita akan singgah disebuah kedai. Bukan kedai yang baru saja aku Singgahi. Kita dapat berbicara apa saja. Nanti, jika senja turun, aku akan kembali ke barak.”

Ki Rangga memandang Kasadha dengan tajamnya. Namun ia pun kemudian berkata, “Baik. Kita berbicara disini saja. Kita tidak akan singgah di manapun.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun telah berdiri menepi melekat dinding halaman dipinggir jalan itu. Dengan nada yang tidak kalah pekatnya ia menjawab, “Baik. Silahlah berbicara.”

Ki Rangga menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih menahan diri. Ia memang merasakan jarak antara anak itu dengan dirinya semakin lama menjadi semakin jauh. Memang ada sedikit penyesalan di hati Ki Rangga, bahwa ia bersikap terlalu keras terhadap anak itu. Ia tidak ingkar, bahwa sikapnya itu tidak semata-mata karena ia ingin anak itu menjadi seorang yang baik kelak, tetapi yang dilakukan terdorong oleh perasaan bencinya kepada anak itu. Apalagi ibu kandung Kasadha sendiri, yang dikenalnya dengan nama Puguh, juga terasa membencinya. Seandainya Puguh waktu itu tidak bersangkut paut dengan Tanah Perdikan Sembojan, mungkin umur anak itu tidak akan dapat bertahan sampai dewasa.

Dengan kesal Ki Rangga pun kemudian berkata, “Kasadha, aku mendapat pesan dari ibumu, bahwa ibumu masih tetap pada sikapnya. Ia harus dapat membunuh perempuan yang bernama Iswari itu dan kau harus membunuh anak laki-lakinya. Kedudukanmu dalam dunia keprajuritan memberikan peluang yang luas kepadamu. Aku sudah mendengar bahwa prajurit dibawah pimpinan Ki Tumenggung Surajaya telah diterima sepenuhnya tanpa sarat dalam jajaran keprajuritan Pajang. Bukankah itu berarti bahwa kau akan tetap menjadi seorang prajurit? Jika kau dapat berbicara dengan baik, atau jika kau memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara dengan Ki Tumenggung Surajaya, maka kesempatan untuk merebut Tanah Perdikan Sembojan dari tangan Risang itu akan menjadi semakin besar. Menurut perhitunganku Pajang yang sekarang tidak akan menghapuskan Tanah Perdikan yang sudah ada sejak pemerintahan Demak. Yang dapat kau lakukan adalah menyingkirkan Risang, kemudian menempatkan dirimu sendiri menjadi Kepala Tanah Perdikan itu atas dasar hak warisanmu.”

Kasadha sama sekali tidak memotong pembicaraan Ki Rangga. Baru kemudian setelah Ki Rangga berhenti, Kasadha bertanya, “Apakah itu sudah cukup?”

Wajah Ki Rangga menjadi merah. Tetapi ia bertanya, “Aku ingin mendengar jawabmu.”

Kasadha memandang Ki Rangga itu tepat pada biji matanya meskipun mata Ki Rangga itu bagaikan menyala. Dengan nada berat Kasadha itu berkata singkat, “Tidak. Aku tidak akan melakukannya.”

 “Kasadha, “geram Ki Rangga, “jadi kau benar-benar ingin mengkhianati ibumu?”

 “Tidak,” jawab Kasadha singkat pula.

 “Jadi apa yang kau lakukan itu?” bertanya Ki Rangga.

 “Aku tidak yakin, bahwa ibu masih bermimpi untuk menguasai Tanah Perdikan Sembojan. Dua kali ibu dikalahkan dalam perang tanding melawan ibu Risang. Beberapa kali ibu harus mengakui kenyataan bahwa Tanah Perdikan memiliki kekuatan yang besar. Apalagi kini. Selebihnya orang-orang Tanah Perdikan bukan pokok-pokok kayu mati yang tidak dapat berpikir tentang hak yang tumurun dari Ki Gede Sembojan. Mereka adalah orang-orang yang dapat menilai tingkah laku seseorang. Mereka tahu siapa ibuku, Warsi dan mereka pun tahu ibu Risang, Iswari. Mereka tahu bagaimana ibu mulai memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Dan mereka pun tahu apa saja yang telah dilakukan oleh ibu. Karena itu, seandainya ibu masih meneruskan niatnya, aku usulkan, agar niat itu diurungkan saja,” berkata Kasadha.

 “Kau sudah mulai mengajari ibumu, he?” bentak Ki Rangga itu tiba-tiba.

 “Aku sama sekali tidak ingin mengajari siapa-siapa. Aku hanya menyatakan satu pendapat yang aku usulkan kepada ibuku. Bukankah wajar seseorang berpendapat? Bukankah pendapat seseorang akan lebih berarti jika disertai dengan alasan-alasan yang cukup?”

 “Cukup,” potong Ki Rangga Gupita, “aku tidak ingin mendengarkan seseorahmu. Dengar. Ini satu perintah. Bunuh Risang. Aku akan mengatur segala sesuatunya. Lewat para pemimpin di Pajang dan lewat orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri. Sudah tentu kematian Risang harus mempunyai kesan tersendiri. Bukan kau yang membunuhnya sampai saatnya, kau, anak Wiradana muncul di Tanah Perdikan itu sebagai satu-satunya pewaris dari Tanah Perdikan itu.”

 “Tidak. Kau dengar. Tidak,” Kasadha justru telah membentak.

Wajah Ki Rangga menjadi merah. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar pipi Kasadha sambil berkata, “Kenapa aku tidak membunuhmu ketika kau masih bayi, Puguh.”

Kasadha sama sekali tidak menjadi takut meskipun ia masih berusaha mengekang diri dan tidak membalas. Katanya, “Kenapa hal itu tidak kau lakukan?”

 “Setan kau. Kau kira aku tidak dapat membunuhmu sekarang?” suara Ki Rangga bergetar disela-sela gemeretak giginya.

 “Aku masih menghormatimu, ayah,” jawab Kasadha, “karena itu jangan lakukan lebih dari itu agar aku tidak terpaksa membela diri. Kau bagiku bukan apa-apa. Kau tidak dapat memaksakan kehendakmu.”

 “Sudah aku katakan. Aku membawa pesan ibumu. Ibu kandungmu yang melahirkan kau dengan mempertaruhkan nyawanya. Seseorang yang melahirkan akan dapat terseret kedalam maut jika ia tidak berhasil mengatasi kesulitan saat melahirkan itu. Dan kau yang sudah dilahirkan dan dibesarkan, sekarang dengan berani kau menentangnya,” geram Ki Rangga Gupita, “Ternyata bahwa kau adalah anak yang durhaka.”

 “Ayah,” sahut Kasadha, “ayah jangan mengada-ada. Aku memang anak kandung ibuku. Aku dilahirkan dan dibesarkan, meskipun dalam suasana yang tidak wajar bagi seorang anak, sehingga aku sekarang dapat menjadi seorang prajurit. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku berkewajiban untuk mendukung angan-angan yang gila yang apalagi lahir dari seorang laki-laki seperti ayah ini. Seharusnya ayah membantu memberikan kesadaran akan kekeliruan langkah yang diambil oleh ibu. Tetapi yang ayah lakukan adalah sebaliknya. Ayah telah mengipasi pikiran-pikiran gila itu, sehingga menjadi satu mimpi yang mempola dalam hatinya.”

 “Aku ingin memukulmu sekali lagi. Bahkan membunuhmu,” suara Ki Rangga semakin gemetar.

 “Sebenarnya aku segan berselisih dengan ayah. Apalagi dipinggir jalan seperti ini. Untunglah jalan ini semakin sepi menjelang senja,” desis Kasadha.

 “Kenapa kau tidak melawan ketika aku memukulmu? Bukankah kau sudah menjadi seorang prajurit. Bahkan karena kemampuanmu kau sudah diangkat menjadi Lurah Penatus,” berkata Ki Rangga, “tetapi ingat. Aku adalah seorang Rangga dari Jipang. Jika kau berani melawan aku, maka umurmu benar-benar akan terputus dimasa mudamu. Aku, Rangga Gupita akan sanggup membunuh Lurah Penatus Kasadha yang sebenarnya bernama Puguh. Tugasku dalam dunia keprajuritan jauh lebih lama dari kau anak ingusan yang dungu tetapi sombong. Aku telah bertugas disegala macam kesatuan. Bahkan Kesatuan Khusus Pengawal Adipati Jipang dan terakhir aku adalah petugas sandi.”

Kasadha tidak menjawab. Ia tidak ingin benar-benar terlibat dalam satu keributan dengan orang itu. Ia adalah prajurit Pajang yang baru saja diakui kembali dari satu pasukan yang telah mengurung diri selama terjadi pertempuran. Kasadha menyadari, bahwa tingkah lakunya masih akan tetap dibawah penilaian orang-orang Mataram dan Jipang.

 “Dengar anak durhaka,” geram Ki Rangga Gupita, “kau harus datang menemui ibumu. Biar ibumu langsung mendengar dari mulutmu bahwa kau telah mengkhianatinya.”

 “Aku sudah cukup dewasa. Terserah kepadaku, apakah aku ingin mengunjungi ibuku atau tidak,” jawab Kasadha. Lalu katanya, “Seandainya aku akan pergi mengunjungi ibuku, itu bukan karena perintah ayah sekarang ini. Aku akan datang sesuai dengan kehendakku sendiri.”

 “Kau memang anak iblis,” geram Ki Rangga Gupita.

 “Sekarang, aku akan kembali ke barakku. Jangan ganggu aku lagi. Aku masih mempunyai banyak kesibukan,” berkata Kasadha yang langsung melangkah meninggalkan Ki Rangga Gupita.

 “Tunggu,” Ki Rangga itu mengikutinya disampingnya, “kau benar-benar harus datang kepada ibumu. Ia menunggumu.”

 “Persetan semuanya itu,” jawab Kasadha, “kalian tidak memerlukan aku sebagai aku. Kalian memerlukan aku, karena aku akan dapat kalian peralat untuk merampas Tanah Perdikan itu. Tetapi aku bukan sepotong kayu. Aku bukan sebilah pedang yang dapat dihunjamkan disetiap dada dan bukan pula seekor anjing yang dapat diperintahkan untuk menggigit orang-orang yang tidak bersalah karena kesetiaannya kepada tuannya dengan membuta.”

 “Setan kau,” tangan Ki Rangga sudah siap untuk sekali lagi menampar pipi Kasadha. Tetapi dengan cepat Kasadha berkata, “Jika kau memukul aku lagi, maka aku akan membalasnya sepuluh kali. Aku lebih muda. Aku prajurit Pajang yang sudah diakui kedudukanku. Aku akan dapat berbuat lebih banyak dari bekas prajurit Jipang yang menjadi semakin tua dan rapuh.”

“Gila kau. Kau akan dicincang oleh ibumu,” geram Ki Rangga.

“Apapun yang akan dilakukan oleh ibuku, biarlah dilakukannya sendiri. Itu adalah persoalanku dengan ibuku. Kau orang lain bagiku. Bahkan rasa-rasanya seperti orang asing. Jangan mencampuri persoalanku dengan ibuku terlalu banyak, agar aku tidak kehilangan akal. Sampai saat ini aku masih dapat mengendalikan diri sehingga aku masih tetap menghormatimu seperti yang sudah aku katakan. Tetapi aku tidak tahu jika hari menjadi gelap, dan jalan ini benar-benar tidak akan dilalui oleh seorang pun lagi,” jawab Kasadha.

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Sebenarnyalah ia memang harus berpikir. Kasadha memang akan dapat kehilangan kesabarannya dan melakukan tindakan yang tidak diduganya sebelumnya.

Ki Rangga sendiri sebagai bekas seorang perwira dari prajurit Jipang tidak pernah kehilangan keberaniannya. Tetapi ia sadar, bahwa Kasadha mempunyai kesempatan untuk minta bantuan para prajurit apabila kebetulan ada sekelompok diantara mereka yang meronda. Padahal di jalan-jalan kota Pajang masih banyak dilakukan ronda berkeliling. Kadang-kadang berjalan kaki, namun kadang-kadang prajurit berkuda.

Karena itu, maka Ki Rangga pun menyadari, jika terjadi perselisihan, maka kedudukannya tidak akan menguntungkan-nya. Sedangkan Kasadha yang meskipun masih muda itu, namun ia sudah ditempa oleh keadaan. Sejak ia menjadi seorang prajurit, maka ia telah menempuh pengalaman yang keras sehingga kemampuannya telah dilengkapinya setelah ia mendapat bekal yang cukup dari gurunya.

Karena itu, maka Ki Rangga Gupita itu pun kemudian berkata, “Kasadha, kali ini aku masih berbaik hati dan mengampuni pengkhianatanmu. Tetapi kebaikan hatiku ini jangan kau salah gunakan. Aku tidak pernah akan menarik perintahku. Kau harus datang kepada ibumu, mengaku bersalah dan tidak mengkhianatinya lagi. Perintahnya untuk menguasai Tanah Perdikan Sembojan dengan membunuh Risang yang kemudian menyebut dirinya Barata itu harus kaulakukan. Jika tidak, maka kau jangan menyesal bahwa aku dan ibumu tidak lagi memerlukan kehadiranmu di Bumi Pajang lagi. Sejak bayi kau memang tidak berarti apa-apa tanpa Tanah Perdikan Sembojan. Kau lahir dibawah perasaan dendam dan kebencian.”

 “Apakah masih ada yang ingin kau katakan?“ tiba-tiba saja Kasadha bertanya.

Ki Rangga menggeram.

Sementara Kasadha berkata, “Carilah kata-kata yang paling menyakitkan hati. Tetapi aku justru tidak dapat mendengarmu lagi. Suaramu bagiku tidak lebih dari desah angin didedauanan itu.”

 “Setan. Iblis,” Ki Rangga mengumpat.

Tetapi Kasadha justru telah melangkah meninggalkannya sambil berkata, “Jika kau ganggu aku lagi, aku bunuh kau.”

Betapapun kemarahan memuncak dihati kedua orang itu, dan betapapun mereka sama-sama tidak merasa takut untuk bertempur diantara mereka, namun keduanya masih berusaha dengan sisa-sisa kesadaran yang masih dapat mereka kendalikan, untuk tidak bertempur. Ketika Kasadha melangkah pergi, Ki Rangga Gupita tidak menyusulnya. Bahkan ia pun kemudian telah berpaling memandang kekegelapan yang mulai turun.

Dengan langkah yang lesu Ki Rangga pun telah meninggalkan tempat itu pula kearah yang berlawanan dari arah yang ditempuh oleh Kasadha yang kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke baraknya.

Kasadha memang merasa agak terlambat kembali. Tetapi karena ia memang jarang-jarang meninggalkan barak, maka agaknya Ki Tumenggung tidak akan marah kepadanya.

Ketika malam kemudian menjadi semakin gelap, maka Kasadha telah berada didalam baraknya. Ia telah menghadap Ki Tumenggung untuk melaporkan kedatangannya yang agak lambat.

 “Aku bertemu dengan ayah angkatku diperjalanan,” berkata Kasadha.

 “Kembalilah kepada kesatuanmu,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “syukurlah jika kau tidak mengalami sesuatu. Di masa peralihan yang belum tuntas ini, kadang-kadang masih dapat terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki.”

Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih Ki Tumenggung. Tetapi ada sedikit berita yang barangkali perlu aku sampaikan kepada Ki Tumenggung, meskipun hanya aku dengar disebuah kedai.”

 “Tentang apa?” bertanya Ki Tumenggung.

 “Panembahan Senapati dan pasukannya akan segera kembali ke Mataram. Semua tanggung jawab sepenuhnya akan dibebankan kepada Pangeran Benawa,” jawab Kasadha.

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku kira persoalannya akan menjadi jelas. Kita akan segera melihat kebijaksanaan Pangeran Benawa sepenuhnya, sehingga kita akan dapat menyesuaikan diri. Tentu saja dengan harapan bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik.”

Kasadha pun kemudian minta diri untuk kembali ke pasukannya. Sementara itu seperti hari-hari sebelumnya beberapa pemimpin kelompoknya telah memperhatikannya, bukan saja sebagai seorang Lurah Penatus. Tetapi juga sebagai Kasadha, seorang anak muda yang nampaknya sedang terombang-ambing oleh perasaannya yang disembunyikan.

Para pemimpin kelompok yang lebih tua dari Kasadha, meskipun dalam susunan keprajuritan berada dibawah pimpinan anak muda itu, tetapi mereka mempunyai pengalaman hidup pribadi yang lebih panjang. Bahkan yang tertua diantara mereka, melihat Kasadha, sebagaimana ia melihat adiknya yang bungsu.

Ketika Kasadha memasuki barak yang diperuntukkan bagi anak buahnya, ia tertegun. Dilihatnya beberapa orang pemimpin kelompok duduk berkumpul. Sementara sebagian dari para prajuritnya Sudah berbaring berjajar di beberapa amben yang panjang.

 “Ki Lurah,” pemimpin kelompok yang tertua itu pun bangkit berdiri ketika ia melihat Kasadha datang.

Kasadha memang melangkah mendekatinya dan duduk bersama dengan mereka.

 “Ki Lurah membuat kami cemas,” berkata pemimpin kelompok itu.

 “Kenapa?” bertanya Kasadha.

 “Malam sudah turun. Ki Lurah belum nampak kembali,” jawab pemimpin kelompok itu.

 “Bukankah aku sudah kembali?” bertanya Kasadha pula.

 “Tetapi sempat menimbulkan kegelisahan. Kota ini masih belum pasti benar. Mungkin masih ada satu dua persoalan yang dapat menimbulkan salah paham,” jawab pemimpin kelompok itu.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Hubungannya dengan para pemimpin kelompok yang rata-rata memang sudah lebih tua padanya, memang tidak terbatas pada hubungan tegas antara pemimpin dan bawahannya. Tetapi hubungan kekeluargaan pun menjadi semakin terasa.

Kasadha yang mengangguk-angguk kecil itu pun kemudian berkata, “Aku bertemu dengan ayahku.”

 “Yang pernah datang kemari?“ tiba-tiba seorang diantara mereka bertanya.

 “Ya,” jawab Kasadha.

 “Yang pernah datang di perkemahan kita di Sembojan?” bertanya yang lain pula.

 “Ya,” jawab Kasadha, “karena itu, aku agak lambat pulang.”

 “Tetapi bukankah tidak terjadi apa-apa? Ketika ayah Ki Lurah datang kemari, rasa-rasanya ayah Ki Lurah itu marah-marah,” berkata seseorang diantara para pemimpin kelompok itu.

 “Kau melihat?” bertanya Kasadha.

 “Maaf Ki Lurah. Bukan maksudku untuk mencampuri persoalan pribadi Ki Lurah. Tetapi aku memang melihatnya,” jawab orang itu.

 “Ayah sudah tidak marah lagi sekarang,” berkata Kasadha, “waktu itu, aku tidak mempunyai pilihan lain. Ki Tumenggung sudah memerintahkan bahwa barak ini tertutup untuk siapapun juga. Karena itu, aku tidak dapat membuka pintu untuk ayah. Tetapi diluar dugaanku, ayah tidak dapat mengerti dan justru marah-marah.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Yang tertua diantara mereka pun berkata, “Syukurlah. Sebaiknya Ki Lurah makan dahulu sebelum beristirahat. Semuanya sudah. Tetapi kami sudah berpesan kepada para petugas didapur, bahwa Ki Lurah belum kembali.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mandi dahulu.”

Kasadha pun kemudian telah melangkah ke pakiwan. Ia masih melihat beberapa orang prajurit duduk-duduk diluar barak untuk menikmati sejuknya angin lepas senja. Semakin kelam malam yang menyelimuti Pajang, maka rasa-rasanya angin pun menjadi semakin basah oleh embun Setelah mandi dan berbenah diri Kasadha pergi ke dapur untuk makam malam. Dapur memang sudah menjadi sepi. Tetapi masih ada dua orang yang sempat menyiapkan makan baginya.

 “Ki Lurah terlambat makan,” desis salah seorang dari kedua orang itu.

 “Aku baru pulang,” jawab Kasadha.

 “Kemana?” bertanya orang itu.

 “Melihat-lihat keadaan kota,” jawab Kasadha.

Petugas di dapur itu tidak bertanya lebih jauh. Ia pun kemudian duduk diamben bambu setelah menghidangkan minuman hangat serta makan malam Ki Lurah.

 “Sambalnya sudah habis Ki Lurah,” berkata petugas didapur itu kemudian, “agaknya para prajurit hari ini ingin menghangatkan darahnya dengan sambal terasi lombok goreng yang pedas sekali.”

 “Kau pintar membuat sambal,” berkata Kasadha, “sayang sudah habis.”

 “Masih ada lombok dan bawang putih,” berkata petugas yang seorang lagi, “apakah Ki Lurah sempat menunggu sebentar.”

 “Sudah cukup. Jangan lodeh kroto ini sudah cukup pedas buatku,” jawab Ki Lurah.

Kedua petugas didapur itu tidak bertanya lagi. Beberapa orang kawannya telah tidur mendekur disebuah bilik disebelah dapur. Disudut dapur, diatas amben bambu terdapat beberapa bakul beras yang masih penuh.”

 “Kita tidak kelaparan lagi,” berkata Ki Lurah Kasadha.

 “Hari ini kita mendapat beras lagi. Tetapi masih terbatas sehingga untuk makan pagi, kita masih harus berprihatin. Makan jagung,” berkata petugas didapur.

 “Kecuali kalian,” sahut Kasadha sambil tertawa.

 “Tetapi, nasi wadang. Meskipun nasi, sekedar sisa malam ini. Jika malam ini tidak tersisa, maka besok pagi pun kami juga makan jagung,” jawab petugas itu sambil tertawa pula.

Kasadha masih juga tertawa pula. Katanya, “Aku hanya bergurau. Tetapi makan jagung justru terasa mantap dan bertahan lama.”

Kedua petugas itu tertawa semakin keras.

Ketika perutnya sudah kenyang, maka Kasadha pun telah melangkah kembali ke bangunan bagi kesatuannya. Ketika ia menyeberangi longkangan yang agak luas diantara bangunan-bangunan yang ada di barak itu, maka terasa barak itu menjadi semakin lengang, meskipun para petugas masih tetap berada di tempatnya.

Demikian ia berada diruang yang diperuntukkan baginya, maka para pemimpin kelompok telah mempersilahkannya untuk beristirahat.

 “Kami juga akan tidur,” berkata pemimpin kelompoknya yang tertua.

Kasadha pun kemudian duduk dipambaringan yang diperuntukkan baginya. Pembaringan yang terpisah dari amben-amben panjang bagi para prajuritnya.

Dengan pandangan yang redup, diamatinya para prajuritnya yang sebagian sudah tertidur lelap. Namun yang sebagian lainnya masih berbicara yang satu dengan yang lain perlahan-lahan.

Beberapa saat lamanya Kasadha masih saja duduk. Perutnya yang kenyang akan terasa kurang enak jika ia segera berbaring. Namun dengan demikian, maka angan-angannya pun sempat menerawang kekejauhan.

Kasadha sempat membayangkan tingkah laku orang yang mengaku ayahnya. Sikapnya, kata-katanya, tingkah lakunya dan keinginannya membuat Kasadha sangat terganggu. Terbayang pula ibunya yang harus tinggal di tempat yang tidak lebih dari sebuah persembunyian. Hidupnya tersisih dari pergaulan yang wajar sebagaimana orang banyak. Sementara itu, laki-laki yang mendampinginya ternyata laki-laki yang tidak kalah gila dan tamaknya dari ibunya.

Memang timbul keinginan Kasadha untuk bertemu dengan ibunya. Ia ingin menyelesaikan persoalannya sampai tuntas. Mungkin ibunya akan marah dan kehilangan akal. Mungkin ibunya itu benar-benar akan membunuhnya. Tetapi Kasadha tidak akan mengelak jika jalan itu dianggap yang terbaik oleh ibunya. Tetapi ia sama sekali ti dak akan melangkah mundur dari sikapnya. Ia tidak ingin pergi ke Tanah Perdikan Sembojan untuk berusaha merampasnya.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ketika ruang itu menjadi semakin hening, maka barulah Kasadha pun membaringkan tubuhnya. Perutnya tidak lagi terasa sakit setelah nasi yang dimakannya telah jauh turun.

Namun yang tiba-tiba membayang dipenglihatan batinnya adalah wajah seorang gadis. Seorang gadis yang bernama Riris Respati, anak perempuan Ki Lurah Dipayuda.

 “Ah,” Kasadha memejamkan matanya. Tetapi bayangan itu tidak mau pergi dari benaknya. Justru menjadi semakin nampak jelas. Bukan saja wajahnya, tetapi juga sikapnya. Bahkan telinganya rasa-rasanya telah mendengarkan suaranya yang lembut.

 “Tetapi gadis itu ketakutan ketika aku pertama kali melihatnya karena beberapa orang laki-laki telah mengganggunya,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Dahinya berkerut ketika teringat olehnya bahwa mula-mula gadis itu keliru. Riris mengira bahwa ia adalah Barata, saudaranya seayah yang berada di Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengelak bahwa terbersit pengakuan didalam hatinya, “Gadis itu sangat cantik.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menyadari, bahwa seperti para prajurit yang lain, jika ia inginkan, ia mempunyai kesempatan untuk meninggalkan barak itu menengok keluarganya untuk dua hari lamanya. Ia belum mempergunakan kesempatan itu.

 “Aku dapat minta ijin untuk pergi ke rumah Ki Lurah Dipayuda,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Namun ia pun kemudian teringat pula kepada ibunya. Ia pun ingin menjumpai ibunya untuk menegaskan sikapnya atas Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha justru menjadi bimbang. Apakah ia akan mempergunakan waktunya untuk menemui ibunya atau pergi kerumah Ki Lurah Dipayuda yang menganggapnya sebagai anaknya bersama Barata meskipun waktu itu Ki Lurah belum mengetahui, bahwa ia dan Barata memang saudara seayah. Meskipun ternyata Ki Lurah menganggapnya lebih tua dari Barata yang sebenarnya lahir lebih dahulu.

Kasadha memang tidak segera dapat tidur. Bahkan matanya pun tidak mau terpejam. Sambil menatap atap maka angan-angannya melingkar-lingkar sehingga justru membuatnya menjadi gelisah.

Lewat tengah malam Kasadha bangkit. Perlahan-lahan ia melangkah kepintu. Ia tidak ingin mengejutkan para prajurit yang agaknya sudah lelap.

Udara diluar memang terasa lebih sejuk. Angin bertiup lembut. Di wajah langit kelelawar berterbangan kesegala arah. Bintang-bintang yang berkeredipan bergeser perlahan-lahan kearah Barat.

Kasadha mengerutkan dahinya ketika ia melihat Ki Tumenggung Surajaya sendiri bersama dengan dua orang pengawalnya meronda mengelilingi barak yang sepi itu. Ketika Ki Tumenggung itu melihatnya duduk didepan pintu, maka Ki Tumenggung itu telah berhenti.

 “Kau belum tidur, Kasadha?” bertanya Ki Tumenggung.

 “Udara terasa panas didalam Ki Tumenggung,” jawab Kasadha.

Tetapi Ki Tumenggung itu kemudian berdesis, “Kau nampak gelisah. Mungkin aku dapat membantumu.”

 “Aku tidak apa-apa Ki Tumenggung,” jawab Ki Lurah yang sudah bangkit berdiri, “tidak ada yang membuatku gelisah.”

Ki Tumenggung itu menepuk bahu Kasadha sambil berkata, “Jika kau memerlukan bantuanku, aku akan membantumu.”

 “Terima kasih Ki Tumenggung,” jawab Kasadha.

Ki Tumenggung pun kemudian telah meneruskan langkahnya, mengelilingi barak itu. Menyusup dari satu longkangan ke longkangan lainnya, sebagaimana sering dilakukannya.

Ternyata telah terbersit keinginan Kasadha untuk minta ijin meninggalkan barak itu sebagaimana pernah direncanakannya tidak hanya dua hari. Tetapi ia ingin minta ijin kepada Ki Tumenggung selama lima hari. Ia ingin mengunjungi Ki Lurah Dipayuda, sekaligus mengunjungi ibunya, apapun yang akan terjadi.

 “Jika ibu marah dan menghukumku, aku tidak akan dapat terlepas daripadanya,” berkata Kasadha didalam hatinya, karena ia sadar, bahwa ibunya memang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun bagaimanapun juga Kasadha telah bertekad untuk bertemu dan berbicara dengan ibunya, bahwa ia tidak akan dapat diperalatnya lagi untuk menerkam Tanah Perdikan Sembojan.

Dihari berikutnya, maka Kasadha telah menghadap Ki Tumenggung Surajaya. Dengan ragu-ragu ia minta ijin untuk menemui keluarganya, tetapi tidak hanya untuk dua hari.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku merasakan bahwa kau sedang menghadapi satu persoalan. Karena itu, maka aku tidak akan mencegahmu. Kau akan mendapat ijin untuk meninggalkan barak ini selama lima hari. Tetapi kau harus benar-benar menepati waktu. Bukan apa-apa. Bukan karena aku tidak ingin memberikan kesempatan kepadamu untuk menyelesaikan masalah pribadimu. Tetapi justru karena keadaan tanah ini yang masih belum mapan benar. Mungkin dalam waktu lima hari itu, Panembahan Senapati benar-benar telah meninggalkan Pajang. Mungkin dalam waktu yang pendek, datang perintah kepada kita disini untuk melakukan sesuatu. Nah, karena itulah maka aku harap kau benar-benar kembali setelah lima hari itu.”

 “Ya Ki Tumenggung,” jawab Kasadha, “aku akan kembali pada hari yang keenam.”

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan persoalanmu segera dapat kau selesaikan, sehingga wajahmu tidak lagi nampak selalu murung.”

 “Terima kasih Ki Tumenggung,” desis Kasadha.

Kepada anak buahnya, Kasadha pun telah minta diri pula. Ditunjuknya pemimpin kelompok yang tertua untuk mewakilinya selama ia berada diluar barak itu.

 “Jangan ada yang iri. Aku mendapat ijin untuk lima hari,” berkata Ki Lurah Kasadha kepada anak buahnya.

Tetapi seperti Ki Tumenggung, maka anak buahnya pun rasa-rasanya mengerti, bahwa didalam hati Lurah Penatus yang muda itu telah terjadi satu pergolakan jiwa yang tidak dapat dikatakannya kepada siapapun juga. Bahkan juga tidak kepada Ki Tumenggung Surajaya.

Karena itu, maka pemimpin kelompok tertua didalam kesatuannya itu pun berkata, “Kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya Ki Lurah. Ki Lurah tidak usah memikirkan kami. Aku dan para prajurit yang lain akan tetap berpegang pada tugas-tugas kami.”

 “Terima kasih,” berkata Kasadha, “jika terjadi perintah yang tiba-tiba, kalian harus selalu mendengarkan petunjuk Ki Tumenggung Surajaya atau orang yang ditunjuk.”

 “Ya, Ki Lurah,” jawab pemimpin kelompok yang tertua yang menerima tanggung jawab atas kesatuan yang seharusnya hanya terdiri dari seratus orang itu. Tetapi ternyata lebih dari itu.

Hari itu, Kasadha telah berbenah diri. Esok ia akan berangkat pagi-pagi benar. Ia ingin menuju kerumah Ki Lu

rah Dipayuda lebih dahulu. Selain tiba-tiba saja ia teringat kepada Riris, maka ia pun berharap bahwa beberapa bagian dari kehidupannya itu akan dapat diceriterakannya kepada Ki Dipayuda untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk yang mungkin akan sangat berarti baginya. Tetapi sudah tentu hanya sebagian saja dari seluruh perjalanan hidupnya.

Di hari berikutnya, pagi-pagi benar Kasadha sudah bersiap. Ia telah diijinkan mempergunakan seekor kuda yang baik dari kesatuannya.

Setelah sekali lagi ia minta diri kepada Ki Tumenggung, kepada para perwira dan para pemimpin kesatuan yang lain serta anak buahnya, maka Kasadha pun telah berangkat meninggalkan barak itu sebelum matahari terbit.

Udara pagi terasa segar sekali. Kasadha yang tidak mengenakan pakaian keprajuritan itu memang tidak banyak menarik perhatian. Perjalanan yang ditempuhnya memang tidak terlalu jauh. Tetapi perjalanan yang kemudian, mencari tempat tinggal ibunya, memang agak lebih jauh. Dari ayahnya ia pernah mendapat petunjuk arah. Tetapi saat itu ia tidak begitu menghiraukannya. Bahkan ia merasa sangat kesal setiap kali orang yang mengaku ayahnya itu memaksanya untuk datang menemui ibunya.

 “Dengan menunda-nunda pertemuan itu, persoalannya tidak akan dapat diselesaikan,” berkata Ki Lurah Kasadha itu didalam hatinya.

Justru karena itulah maka ia berkeras untuk mencari ibunya, meskipun akan dapat berakibat buruk baginya. Apalagi jika laki-laki yang selalu membayanginya itu ikut campur pula.

Ketika matahari kemudian mulai memanjat kaki langit, Kasadha telah keluar dari regol kota Pajang. Kudanya berlari tidak terlalu cepat menyusuri jalan-jalan bulak menuju kearah Timur. Perjalanan yang ditempuhnya memang agak melingkar, tetapi tidak terlalu jauh.

Cahaya matahari mulai terasa gatal dikulitnya. Jalan-jalan bulak itu ternyata mulai hidup ketika orang-orang berangkat menuju ke sawah. Mereka memanggul cangkul dipundak dan parang terselip dilambung. Sedangkan yang lain memanggul bajak yang berat dipundaknya dengan sepasang lembu yang jinak.

Namun selain orang-orang yang pergi ke sawah, beberapa orang perempuan telah pulang dari pasar. Mereka pergi kepasar untuk menjual hasil kebunnya untuk menambah belanja hidup mereka sehari-hari.

Kuda Kasadha pun berlari semakin cepat. Para petani yang turun kesawah pun telah mulai sibuk mengangkat cangkulnya. Yang membajak telah memasang bajaknya dan meletakkan kejen bajaknya di tanah basah berlumpur.

Kasadha yang sehari-hari berada di barak prajurit, tersentuh pula hatinya melihat kesibukan di bulak yang luas itu. Sawah yang mulai dikerjakan itu nampak digenangi air dari ujung bulak sampai keujung yang lain. Beberapa baris pematang menyekat tanah yang terhampar. Kemudian pematang yang lain menyilang panjang sampai menyentuh padukuhan dikejauhan.

Ternyata bahwa para petani pun telah bekerja keras disawah mereka. Sejak matahari mulai terbit sehingga saatnya matahari condong jauh di Barat. Mereka tengah menyiapkan sawah mereka untuk segera ditanami padi. Beberapa kotak kecil sawah sudah menjadi hijau oleh benih yang mulai tumbuh, yang telah siap untuk ditanam di sawah yang terbentang luas.

Hampir diluar sadarnya, kuda Kasadha yang berlari telah mendekati sebuah padukuhan yang dituju. Matahari yang semakin tinggi telah mulai memeras keringat dari tubuh anak muda itu. Panasnya yang gatal semakin terasa menusuk kulit. Rasa-rasanya Kasadha ingin terjun kekotak-kotak sawah yang basah dan berlumpur itu untuk menyejukkan kulitnya.

Tetapi tempat yang ditujunya telah menjadi semakin dekat.

Ketika Kasadha memasuki padukuhan tempat tinggal Ki Lurah Dipayuda, hatinya menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia bertanya kepada diri sendiri, “Untuk apa aku pergi ke rumah Ki Lurah Dipayuda?”

Namun Kasadha pun berusaha mencari jawab, “Aku ingin mendapat petunjuk dari Ki Lurah, apa yang sebaiknya aku lakukan dalam keadaan yang kalut ini.”

Kasadha menundukkan kepalanya. Sejak di barak ia memang sudah berpikir untuk dapat menceriterakan serba sedikit tentang perjalanan hidupnya. Ia berharap bahwa dengan demikian ia akan dapat mengurangi beban yang selama itu harus dipanggulnya sendirian.

Tetapi Kasadha pun tidak dapat mengelak, bahwa yang paling menarik hatinya adalah justru keinginannya bertemu dengan Riris.

Namun setiap kali ia membayangkan kelanjutan dari hubungan itu, maka Kasadha memang merasa menjadi ngeri. Orang tuanya adalah gambaran dari satu kehidupan yang gelap pekat dari sebuah keluarga. Apakah keluarganya akan dapat berhubungan dengan keluarga Ki Lurah yang nampak cerah dan bening itu? Mungkin keluarga Ki Lurah itu tidak berarti apa-apa bagi ibunya menurut penilaian olah kanuragan. Tetapi kanuragan bukan satu-satunya nilai yang harus dipertimbangkan dalam kehidupan yang wajar. Tanpa kemampuan olah kanuragan pun, sebuah keluarga akan dapat hidup tenang. Bahkan terasa betapa damainya.

Sejenak kemudian, maka Kasadha pun telah memasuki padukuhan tempat tinggal Ki Lurah Dipayuda. Kemudian menyusuri jalan padukuhan, Kasadha telah sampai didepan regol halaman rumah yang tidak begitu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Namun nampak terawat dengan baik itu.

Kasadha memang menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun telah meloncat turun dan menuntun kudanya memasuki halaman rumah yang bersih.

Namun Kasadha itu terkejut bukan buatan. Ia melihat dua orang anak muda yang duduk diserambi gandok tiba-tiba saja meloncat dan berlari menyongsongnya di halaman.

 “Kasadha,” Kasadha segera mengenalinya. Jangkung Jaladri. Sedangkan yang seorang lagi yang tidak kalah gairahnya menyambutnya adalah Barata.

“Barata,” desis Kasadha, “kapan kau datang?”

“Kemarin sore,” jawab Barata, “hari ini, aku justru akan minta diri. Tetapi Ki Lurah menahanku sehingga aku terpaksa pulang besok pagi-pagi.”

“Beruntunglah kau tidak pulang hari ini,” berkata Jangkung, “jika kau jadi pulang pagi tadi, maka kau tidak akan bertemu dengan Kasadha.” Lalu ia pun bertanya kepada Kasadha, “Bagaimana keadaanmu selama ini?”

“Baik Jangkung. Aku baik-baik saja, “jawab Kasadha.

“Marilah. Kita duduk dipendapa,” Jangkung mempersilahkan.

“Kenapa tidak disini saja?” minta Kasadha.

“Tidak. Aku akan memanggil ayah. Ayah juga ada dirumah,” jawab Jangkung.

Ketiga anak muda itu pun kemudian telah naik ke pendapa. Jangkung  pun dengan tergesa-gesa telah masuk lewat pintu pringgitan untuk memberitahukan kepada ayahnya bahwa Kasadha telah datang berkunjung.

Ki Lurah Dipayuda pun segera keluar dari ruang dalam. Dengan gembira ia menyambut kedatangan Kasadha sebagaimana ia menyambut kedatangan Barata. Dua orang bekas anak buahnya yang terpilih. Bahkan keduanya seakan-akan telah menjadi anaknya sendiri.

Setelah mempertanyakan keselamatannya, maka Ki Lurah pun telah menanyakan suasana didalam kota Pajang serta perkembangannya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Nampaknya suasana sudah mulai menjadi tenang. Tetapi kau tentu lebih tahu daripada aku disini. Barata telah datang kepadaku untuk minta petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan oleh Tanah Perdikan Sembojan menanggapi persoalan yang sedang berkembang sekarang ini. Ia pun telah menceriterakan semuanya yang dialaminya. Barata juga tidak menyembunyikan kenyataan, bahwa Kasadha telah datang ke Tanah Perdikan Sembojan bersama pasukannya. Namun Barata telah menyatakan terima kasihnya atas sikap Kasadha yang tidak menyudutkan Tanah Perdikan waktu itu. Baik dalam pembicaraan dengan para Senapati Demak dan Pajang, maupun di medan pertempuran.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sementara Barata menyambungnya, “Aku memang memerlukan kejelasan terhadap suasana yang berkembang sekarang ini, Kasadha. Karena itu, aku datang kepada Ki Lurah Dipayuda. Aku berharap bahwa aku akan mendapat beberapa keterangan dan petunjuk tentang keadaan yang baru di Pajang. Dengan demikian, maka Tanah Perdikan Sembojan akan segera menentukan sikapnya.”

Ki Lurah Dipayuda pun menyahut pula, “Nah, adalah kebetulan sekali bahwa Kasadha sekarang ada disini.”

Barata pun mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Satu keberuntungan. Aku memang ingin mendengar keadaan terakhir di Pajang. Aku masih merasa ragu untuk langsung pergi ke Kotaraja. Justru karena itu, aku telah menghadap Ki Lurah.”

 “Tetapi kau tidak usah tergesa-gesa berceritera. Barata baru akan kembali ke Tanah Perdikan besok. Sedang kau tentu masih akan tinggal disini untuk beberapa hari, Kasadha,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

 “Tidak Ki Lurah,” jawab Kasadha, “aku hanya akan bermalam semalam saja. Besok aku akan meninggalkan rumah ini untuk melanjutkan perjalanan.”

 “Kemana?” bertanya Ki Lurah.

 “Aku ingin mencari keluargaku,” jawab Kasadha.

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Ia pun kemudian bertanya, “Siapa? Ayah dan ibu atau tinggal salah satu dari antaranya?”

 “Ayah dan ibu,” jawab Kasadha tersendat.

 “Kenapa masih harus dicari?” bertanya Ki Lurah pula.

 “Sudah lama aku tidak bertemu. Aku telah mengembara sebelum menjadi seorang prajurit. Selama bertugas, aku memang pernah, bertemu. Hanya ayahku. Tetapi aku sudah mendapat ancar-ancar tempat tinggalnya,” jawab Kasadha yang menjadi cemas bahwa pertanyaan itu akan berkepanjangan.

Tetapi Ki Lurah tidak bertanya, dimana tempat tinggal mereka menurut ancar-ancar ayahnya.

Ki Lurah Kasadha menarik nafas dalam-dalam ketika Ki Lurah Dipayuda bertanya, “Kenapa begitu tergesa-gesa? Apakah kau tidak minta waktu cukup kepada pimpinanmu?”

Kasadha hanya tersenyum saja. Namun Ki Lurah lah yang justru berkata, “Mungkin justru karena keadaan masih belum mantap benar.”

Sementara itu. Jangkung telah pergi ke dapur. Ia memberi tahukan kepada adiknya, bahwa Kasadha juga berkunjung kerumah mereka.

 “Bawa minuman dan makanan apapun,” berkata Jangkung kepada Riris.

Ibunya pun segera menyiapkan minuman dan makanan. Ririslah yang harus membawanya ke pendapa, menghidangkan suguhan itu kepada tamu-tamunya, karena baik Barata maupun Kasadha, telah dikenalnya dengan baik.

Riris memang sudah tidak canggung lagi. Bahkan ketika ia menyuguhkan minuman hangat kepada Kasadha ia sempat bertanya, “Lama kau tidak kelihatan kakang?”

 “Pajang sedang dilanda kemelut, Riris,” jawab Kasadha.

 “Apakah sekarang sudah menjadi jernih?” bertanya Riris pula.

 “Sudah. Sekarang semuanya telah hampir mapan kembali,” jawab Kasadha.

Riris mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Jika demikian kakang Kasadha dapat tinggal disini untuk waktu yang lama. Sayang kakang Barata akan pulang besok.”

Kasadha pun tersenyum. Katanya, “Aku juga akan minta diri besok, Riris. Aku masih mempunyai pekerjaan yang harus aku lakukan.”

 “Kenapa begitu tergesa-gesa? Rumah ini akan menjadi sepi kembali jika kakang Barata dan Kakang Kasadha besok bersama-sama meninggalkan rumah ini. Yang ada tinggal kakang Jangkung yang nakalnya tidak terkendali.”

 “Aku besok juga akan pulang Riris,” tiba-tiba saja Jangkung memotong.

 “Pulang kemana?” bertanya Riris.

 “Rumahku mana?” Jangkung justru bertanya.

 “Disini,” jawab Riris.

 “Nah, jika demikian aku besok pulang kemari,” jawab Jangkung.

Tetapi kata-katanya terputus. Riris telah mencubit lengannya sehingga Jangkung menjadi kesakitan.

Sementara itu Riris tidak ikut menemui tamu-tamu ayah dan kakaknya di pendapa. Setelah menghidangkan minuman dan makanan, maka Riris telah kembali ke dapur. Namun dipintu gadis itu sempat berpaling.

Tiba-tiba keringatnya telah mengalir. Demikian ia memandang wajah kedua orang anak muda itu, Kasadha dan Barata pun sedang memandanginya. Sorot mata kedua pasang anak muda itu bagaikan langsung menukik ke dalam dadanya, menusuk jantungnya.

Cepat-cepat Riris masuk dan menutup pintu pring-gitan. Tetapi beberapa saat ia berdiri bersandar pintu itu. Jantungnya terasa berdegup semakin cepat.

Riris sendiri merasa sulit untuk mengurangi perasaannya. Kedua anak muda itu begitu mirip. Bukan saja wajahnya. Tetapi sikapnya, tingkah lakunya. Keduanya adalah anak-anak muda yang sigap, berilmu tinggi dan kedua-duanya pernah menyelamatkannya dari tangan-tangan yang penuh dengan dendam. Jika ia tidak diselamatkan oleh Barata dan pada saat yang lain oleh Kasadha, maka Riris tidak tahu lagi, apakah ia tidak membunuh dirinya ketika itu.

Kedatangan kedua orang anak muda itu bersama-sama justru telah membuat hatinya berguncang. Namun kemudian ia berkata kepada diri sendiri, “Kenapa aku terlalu sombong menanggapi sikap kedua anak muda itu. Akulah yang dapat menjadi gila karenanya, sementara kedua anak muda itu tidak pernah menghiraukan aku sama sekali.”

Tetapi Riris tidak pernah dapat menyembunyikan perasaannya kepada diri sendiri. Ketika yang datang sebelumnya Barata seorang diri, maka perasaannya tidak menjadi terguncang seperti saat itu. Ia memang mengagumi Barata. Tetapi demikian ia melihat Kasadha yang nampaknya memang sedikit lebih tua, rasa-rasanya sikapnya lebih bersungguh-sungguh. Garis-garis di wajahnya terasa lebih mantap dan suaranya menunjukkan kematangan jiwanya. Namun Barata nampaknya lebih ceria. Senyumnya lebih banyak menghias bibirnya. Sekali-sekali kelakarnya membuat Riris tertawa tertahan-tahan sebagaimana kakaknya Jangkung.

 “Ah,” Riris memegang keningnya. Namun kemudian ia berkata kepada diri sendiri, “Apa peduliku terhadap mereka berdua?”

Di pendapa, kedua orang tamu itu pun telah mulai lagi dengan pembicaraan mereka dengan Jangkung dan Ki Lurah Dipayuda. Sekali-sekali diselingi dengan gurau yang segar sambil meneguk minuman hangat dan makan makanan yang telah dihidangkan.

Namun dalam pada itu, baik Kasadha maupun Barata telah berharap agar Riris ikut serta menemui mereka dan berbicara bersama mereka.

Tetapi agaknya Riris memang tidak keluar lagi ke pendapa. Ia sibuk bersama ibunya di dapur untuk menyiapkan makan mereka siang itu.

Dalam pada itu, dalam pembicaraan di pendapa, maka Kasadha sudah mulai merambah keadaan kota Pajang. Ia mulai berceritera tentang sikap Ki Tumenggung Surajaya yang menolak untuk bertempur melawan Mataram dan Jipang. Bukan karena Ki Tumenggung berkhianat terhadap Pajang, tetapi justru karena Ki Tumenggung mengetahui, bahwa pemerintahan Pajang yang dipimpin oleh Kangjeng Adipati dari Demak itu tidak berjalan sewajarnya. Para pemimpin telah melanggar paugeran dan meninggalkan sifat-sifat kesatria mereka. Mereka mulai bekerja keras bagi kepentingan diri sendiri.

Ki Tumenggung Surajaya memang telah menentukan satu sikap.

 “Ki Tumenggung Surajaya adalah orang yang berhati keras,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Kasadha pun telah memberitahukan apa yang dilakukan oleh seisi barak yang dipimpin oleh Ki Tumenggung itu sehingga perang yang sebenarnya telah selesai.

 “Kami tidak ikut perang,” berkata Kasadha.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Sementara Barata pun bertanya, “Jadi, pasti ada pembaharuan di Pajang.”

 “Dalam waktu dekat, Panembahan Senapati akan meninggalkan Pajang. Pemerintahan sepenuhnya akan dipegang oleh Pangeran Benawa. Sudah barang tentu dalam satu kesatuan dengan Mataram dan Kadipaten yang lain,” jawab Kasadha.

Barata mengangguk-angguk pula. Katanya, “Jika demikian apakah kami, rakyat Tanah Perdikan Sembojan dapat berharap bahwa keadaan akan menjadi lebih baik?”

 “Itulah yang tidak aku ketahui. Tetapi menurut perhitungan, keadaan memang akan menjadi lebih baik. Para pemimpin dari Demak telah dikembalikan. Pajang sepenuhnya akan dipimpin oleh orang-orang Pajang. Sebagaimana diketahui, Pangeran Benawa adalah pemimpin Pajang yang sebenarnya sepeninggal ayahandanya Kangjeng Sultan Hadiwijaya,” jawab Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Jika demikian, aku akan dapat berpengharapan untuk menegakkan kembali Tanah Perdikan Sembojan.”

 “Aku akan berusaha membantumu Barata,” berkata Kasadha. Terasa bahwa Kasadha telah berkata dengan jujur. Ia tidak sekedar berpura-pura. Tetapi sebenarnyalah bahwa Kasadha berniat membantu Barata menegakkan kembali Tanah Perdikan Sembojan yang telah diguncang oleh ketamakan beberapa orang pemimpin yang kebetulan memegang tugas menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan yang ada.

Sementara itu Ki Lurah Dipayuda pun berkata pula, “Jika kau memerlukan untuk berbicara dengan beberapa orang yang aku kenal, maka aku pun akan membantumu Barata.”

 “Terima kasih Ki Lurah,” jawab Barata sambil mengangguk hormat.

Sebenarnyalah Barata memang telah berceritera banyak tentang dirinya yang telah disembunyikannya sebelumnya. Tetapi ia sama sekali tidak berbicara tentang Kasadha. Karena itu, maka Ki Lurah Dipayuda masih belum tahu hubungan antara Barata dan Kasadha selain karena keduanya adalah anak-anak muda yang menjadi prajurit dan berada didalam satu lingkungan. Mereka telah terikat karena keadaan dan perjuangan yang mereka hadapi bersama-sama sehingga telah timbul satu ikatan yang erat diantara mereka. Apalagi telah menyangkut keselamatan jiwa.

Ketika Barata mendapat kesempatan berdua saja dengan Kasadha, karena Jangkung sedang pergi ke dapur, dan Ki Lurah Dipayuda masuk keruang dalam sejenak, Barata telah berkata, “Aku tidak mengatakan apa-apa tentang hubungan kita.”

Kasadha mengangguk sambil berdesis, “Syukurlah. Aku telah terlanjur mengatakan tadi, bahwa aku akan mencari kedua orang tuaku.”

Tetapi mereka tidak sempat berbicara panjang. Yang mula-mula datang lebih dahulu adalah Jangkung. Kemudian baru Ki Dipayuda yang justru mempersilahkan kedua tamunya yang masih sebaya dengan anaknya itu untuk beristirahat.

“Silahkan pergi ke gandok,” berkata Ki Lurah Dipayuda, “mungkin Kasadha masih letih setelah menempuh perjalanan dari Pajang.”

“Perjalanan yang pendek,” jawab Kasadha, “aku tidak lelah Ki Lurah.”

“Atau kalian ingin melihat-lihat? “ ajak Jangkung.

“Jangan sekarang,” cegah ayahnya, “mungkin Barata masih memerlukan beberapa keterangan dari Kasadha tentang perkembangan terakhir di Pajang.”

Jangkung Jaladri mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah sore nanti kita melihat-lihat. Waktu kita tinggal hari ini jika kalian berdua benar-benar akan pulang besok.”

“Baiklah,” jawab Kasadha, “nanti sore kita melihat-lihat.”

Sejenak kemudian, maka Kasadha dan Barata itu telah duduk di serambi. Jangkung menemani mereka sambil membawa minuman dan makanan dari pendapa.

Ternyata ketiga anak muda itu sempat bergurau dengan gembira, seakan-akan mereka telah terlepas dari segala kesulitan yang membelit perasaan mereka. Barata sempat melupakan kesulitan ujud Tanah Perdikannya, sedangkan Kasadha melupakan sejenak laki-laki yang selalu membayanginya.

Namun tiba-tiba justru Jangkung lah yang mengeluh, “Selama perang dan bahkan sampai sekarang, kuda-kuda daganganku menjadi tidak laku.”

Kasadha tertawa. Katanya, “Justru banyak orang menjual kuda. Beberapa orang prajurit yang sempat melarikan kuda ketika perang terjadi, telah menjual kuda itu untuk menghilangkan jejak.”

Barata juga tertawa, sementara Jangkung mengangguk-angguk sambil berkata, “Sampai kapan aku kehilangan pasaran. Di kandang sekarang ada enam ekor kuda yang sangat bagus. Seharusnya kalian membeli masing-masing dua ekor.”

Anak-anak muda itu tertawa. Ternyata mereka benar-benar sempat bergembira sebagaimana anak-anak muda pada umumnya, meskipun dalam usia muda mereka, Barata dan Kasadha telah dibelit oleh persoalan-persoalan yang rumit.

Namun dalam pada itu, pembicaraan mereka telah terputus. Riris yang gelisah telah melangkah mendekati mereka. Sikapnya telah berubah. Ia justru merasa canggung berhadapan dengan Barata dan Kasadha. Rasa-rasanya Riris menjadi bingung, dengan siapa ia berbicara lebih dahulu.

Akhirnya Riris memilih berbicara kepada kakaknya, “Kakang. Makan telah tersedia diruang dalam. Ayah telah menunggu kalian bertiga.”

“Aku akan segera datang. Tetapi kau harus mempersilahkan kedua orang tamu kita,” berkata Jangkung.

“Kau sajalah,” desis Riris.

“He, kenapa aku. Kau,” sahut kakaknya.

Riris sempat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dipaksakannya mulutnya berbicara, “Marilah kakang berdua. Ayah telah menunggu.”

Barata dan Kasadha pun bagaikan telah membeku. Tidak seorang pun diantara keduanya yang menjawab.

Jangkung lah yang kemudian mempersilahkan mereka, “Marilah. Ayah lebih senang makan nasi yang masih panas.”

Kedua anak muda itu pun kemudian telah bangkit. Riris telah berjalan lebih dahulu meninggalkan mereka, sehingga Barata dan Kasadha sempat memandang gadis itu berjalan beberapa langkah dihadapan mereka.

Ketika Riris naik ke pendapa, maka ia pun telah berpaling. Sekali lagi gadis itu menjadi kebingungan ketika ia melihat Barata dan Kasadha tiba-tiba saja menunduk.

Di ruang dalam, Ki Lurah memang telah menunggu. Dengan demikian maka mereka pun segera duduk mengelilingi nasi serta kelengkapannya.

“Silahkan anak-anak muda,” berkata Nyi Lurah Dipayuda.

“Nyi Lurah tidak makan?” bertanya Kasadha.

“Biarlah aku nanti saja,” jawab Nyi Lurah.

Kasadha dan Barata memang menjadi kecewa. Bukan karena Nyi Lurah tidak makan bersama dengan mereka. Tetapi dengan demikian maka jelas bahwa Riris pun tidak akan makan bersama mereka.

Sebenarnyalah, bahwa yang makan diruang dalam itu hanyalah Ki Lurah. Jangkung beserta kedua orang anak muda yang menjadi tamu Ki Lurah itu.

Karena itu, betapapun enaknya masakan Nyi Lurah, tetapi rasa-rasanya menjadi hampar. Sehingga dengan demikian maka anak-anak muda itu merasa terlalu cepat menjadi kenyang.

“He, kenapa kalian tidak bersungguh-sungguh?” bertanya Jangkung yang telah menyenduk nasi sekali lagi.

Barata dan Kasadha pun telah menyenduk lagi pula. Tetapi seakan-akan hanya sekedar syarat, bahwa mereka makan dengan sungguh-sungguh.

“Nanti, setelah kita beristirahat sebentar, kita akan mengelilingi padukuhan ini dengan berkuda. Aku ingin menunjukkan kepada kalian kuda-kudaku yang bagus. Sayang, kalian sekarang telah datang berkuda, sehingga aku tidak dapat menawarkan kudaku kepada kalian,” berkata Jangkung.

Barata dan Kasadha tertawa. Namun Kasadha berkata, “Sebenarnya aku juga ingin mempunyai seekor kuda. Jika pada suatu saat aku harus mengembalikan kudaku itu, maka kemana-mana aku harus berjalan kaki.”

“Kau harus menabung,” berkata Jangkung, “besok kau belikan kuda kepadaku.”

“Sebenarnya aku juga sudah menabung. Tetapi belum tentu dalam waktu sepuluh tahun akan cukup aku belikan seekor kuda. Apalagi kuda yang bagus dan tegar,” jawab Kasadha.

Yang mendengar kata-kata Kasadha itu pun tertawa.

Namun dalam pada itu, seperti yang dikatakan oleh Jangkung Jaladri, maka setelah mereka makan dan beristirahat sejenak, mereka pun telah meninggalkan halaman rumah itu. Tiga ekor kuda dengan penunggangnya masing-masing telah berderap menyusuri jalan-jalan padukuhan. Bahkan kemudian ketiganya telah keluar dari pintu gerbang padukuhan berpacu meskipun tidak begitu cepat di bulak-bulak panjang.

Padukuhan itu tidak banyak mengalami perubahan. Masih ada kebun bambu. Masih ada pasar, yang itu juga. Kemudian jalan-jalan di antara sawah dan pategalan.

Yang baru adalah, saat itu, sawah di bulak yang luas itu seluruhnya sedang dipersiapkan untuk bertanam padi. Beberapa saat yang lalu, mereka melihat sawah itu hijau sampai ke cakrawala.

Di perjalanan itu, Barata dan Kasadha sempat mengenang peristiwa yang pernah mereka alami masing-masing.

Barata segera teringat pada sebuah kebun yang penuh dengan tanaman bambu yang juga dilaluinya sebelum mereka keluar dari padukuhan. Sedangkan Kasadha membayangkan jalan bulak yang tidak begitu luas saat Riris dilihatnya untuk pertama kali.

Ketiga orang anak muda itu sempat melihat-lihat sawah Ki Lurah Dipayuda yang juga sedang digarap. Sawah yang subur dan terletak tepat ditepi sebuah parit yang airnya mengalir cukup deras dan jernih.

“Jika pasaran sepi, hidupku tergantung pada sawah ini,” berkata Jangkung Jaladri.

“Tetapi sawahmu cukup luas,” sahut Barata.

“Dibandingkan dengan Tanah Perdikanmu,” desis Jangkung kemudian.

Barata tertawa. Katanya, “Tanah Perdikanku tidak sesubur sawahmu ini. Sebagian kering dan berbatu-batu.”

“Sebagian lagi?” bertanya Jangkung.

“Lereng pegunungan,” jawab Barata.

“Sebagian lagi?” desak Jangkung.

“Baru ngarai,” jawab Barata.

“Nah. Jika demikian maka tugasmu masih berat. Kau harus mengolah tanahmu yang kering berbatu-batu itu menjadi sawah. Kau harus membuat lereng pegununganmu menjadi hutan yang hijau. Dan kau harus memanfaatkan tanah ngaraimu sebaik-baiknya,” berkata Jangkung.

“Kau pantas menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan,” desis Barata.

“He?” tiba-tiba saja suara tertawa Jangkung itu pun meledak. Katanya, “Jika kau tempatkan aku di Tanah Perdikanmu maka aku kira, aku pun akan dapat menjalankan tugas itu.”

Ketiga anak muda itu tertawa. Mereka meneruskan perjalanan mereka. Tiba-tiba saja Jangkung berkata, “Nah, disini kami dipukuli orang ketika tiba-tiba saja Kasadha muncul.”

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara Jangkung berkata selanjutnya, “Sebelumnya orang-orang itu telah dilumpuhkan pula oleh Barata. Namun nampaknya masih belum jera.”

“Bagaimana sekarang?” bertanya Barata.

 “Mereka tidak lagi berani berbuat sesuatu setelah ayah benar-benar bertindak,” jawab Jangkung.

Ketiga orang anak muda itu pun kemudian telah berputar-putar sehingga akhirnya matahari menjadi semakin rendah. Menjelang senja ketiga anak muda itu telah berada dirumah Ki Lurah Dipayuda kembali.

Sebenarnyalah bahwa mereka akan merasa lebih senang di rumah itu daripada melihat-lihat sawah yang tidak ada bedanya dengan sawah yang lain.

Ketika Barata pergi ke pakiwan, ia berpapasan dengan Riris dibelakang dapur. Gadis itu baru sibuk mengambil air untuk mengisi gentong didapur.

“Marilah, biarlah aku mengisinya,” berkata Barata.

“Ini adalah kelenting yang terakhir. Gentong itu sudah penuh,” berkata Riris.

“Kenapa kau mengisi sendiri? Apakah tidak ada orang lain?” bertanya Barata. Karena sepengetahuannya, dirumah itu ada beberapa orang pembantu.

“Aku sudah terbiasa melakukannya,” jawab Riris.

Barata tidak dapat bertanya lebih panjang. Riris telah melangkah masuk ke dapur. Tetapi dimuka pintu dapur, Riris sempat tersenyum kepadanya.

Barata hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, setelah mengisi jambangan, Barata pun segera mandi.

Riris yang telah selesai membuat minuman telah mengantarkannya ke serambi gandok. Jangkung yang sedang sibuk dengan kudanya dikandang, telah meninggalkan Kasadha sendiri.

“Minumnya hangat kakang,” berkata Riris dengan suaranya yang lembut.

“Terima kasih Riris. Dimana kakakmu?” bertanya Kasadha.

“Di kandang, kakang. Ia sedanag sibuk dengan kuda-kudanya,” jawab Riris.

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara Riris mempersilahkan, “Minumlah kakang.”

Diluar sadarnya Kasadha memandang wajah Riris. Ternyata Riris baru tersenyum sambil mempersilahkannya untuk minum.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih juga sempat menjawab, “Terima kasih.”

Ketika kemudian Riris meninggalkan Kasadha merenung sendiri di serambi, maka Barata pun telah selesai. Sambil masuk ke gandok ia berkata, “Mandilah. Tubuhmu akan terasa segar.”

Setelah ketiga orang anak muda itu selesai berbenah diri, maka mereka telah duduk dipendapa bersama Ki Lurah Dipayuda. Baik Barata, maupun Kasadha telah menyatakan bahwa esok pagi-pagi mereka akan minta diri.

“Apakah kalian sejalan?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Aku akan langsung kembali ke Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Barata.

“Aku akan pergi ke Tembayat,” jawab Kasadha.

“Apakah ayah dan ibumu ada disana?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Bukan ayah dan ibu. Tetapi Bibi. Dari sana aku akan lebih mudah menemukan ayah dan ibuku,” jawab Kasadha.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi seorang akan menuju ke Timur, sedangkan yang lain akan menuju ke Barat”

“Ya,” jawab Barata dan Kasadha hampir berbareng.

Malam itu, Ki Lurah Dipayuda mempergunakan waktunya sebaik-baiknya untuk berbincang-bincang dengan kedua anak muda itu. Setelah makan malam, maka mereka tidak lagi kembali ke pendapa. Tetapi mereka berbincang diruang dalam.

Malam itu Kasadha dan Barata harus merasa kecewa lagi. Riris tidak makan bersama mereka. Tetapi agaknya Riris lebih senang makan didapur bersama ibunya.

Ki Lurah Dipayuda sebagai seorang yang sudah menjadi semakin tua, sejauh jangkauan penalarannya, telah memberikan beberapa petunjuk baik kepada Barata maupun kepada Kasadha. Menurut Ki Lurah Dipayuda, sebagaimana telah dikatakan oleh Ki Tumenggung Surajaya, bahwa pasukan Kasadha tentu akan dipecah. Ada beberapa pertimbangan untuk melakukannya. Para pemimpin Pajang yang kemudian, tentu telah membaca bahwa hati dari setiap prajurit di barak itu seakan-akan telah menggumpal menjadi satu. Hal itu tentu tidak akan menguntungkan. Jika terjadi penyalah gunaan wewenang, maka pasukan itu tentu akan dapat dipergunakan untuk kepentingan yang tidak seharusnya.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda berpesan, “Kau adalah seorang prajurit Kasadha. Kau tempatkan saja dirimu pada landasan sikap keprajuritan. Maka dimana pun kau di tempatkan, kau tidak akan mengalami kesulitan apapun juga.”

Kasadha mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Ya, Ki Lurah. Aku akan mencoba untuk melakukannya. Yang terjadi di barak yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya itu terjadi dalam keadaan yang sangat khusus. Para pemimpin di Pajang saat itu, apakah ia datang dari Demak, atau orang-orang Pajang sendiri, benar-benar telah menyimpang dari paugeran, sehingga Ki Tumenggung Surajaya harus mengambil sikap yang tidak sewajarnya pula bagi seorang prajurit.”

“Ya. Itu dapat dimengerti. Ternyata para pemimpin dari Mataram dan Jipang juga dapat mengerti,” jawab Ki Lurah Dipayuda.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Memang bukan seharusnya menjadi kebiasaan untuk menentukan sikap sendiri jika tidak berada dalam keadaan yang khusus itu.

Sementara itu, Barata pun telah mendapat beberapa petunjuk. Sebaiknya Tanah Perdikan Sembojan menunggu keadaan menjadi lebih jelas.

“Kau akan dapat menemui para pemimpin yang kemudian mendapat tugas untuk menangani persoalan Tanah Perdikan,” berkata Ki Lurah Dipayuda. Lalu katanya, “Jika kau tergesa-gesa, maka mungkin kau akan berbuat salah, sehingga kau menghadap orang yang tidak berwenang. Jika orang itu berdiri tegak atas kewajibannya, maka ia akan mengaku berterus terang dan bahkan mungkin menunjukkan, siapakah yang bertugas menangani Tanah Perdikan itu. Tetapi jika kau bertemu dengan otang yang tidak lebih baik dari pimpinan yang tersingkir dari Pajang, justru dalam pergolakan ini, kau akan dapat menjadi sasaran pemerasan lagi.”

“Jadi apa yang dapat kami lakukan sekarang, Ki Lurah?” bertanya Barata.

“Menurut keterangan Kasadha, maka Panembahan Senapati akan meninggalkan Pajang dalam waktu dekat. Sebelum segala sesuatunya mapan, maka pemerintahan di Tanah Perdikan itu hendaknya berlangsung seperti biasa saja. Seakan-akan tidak terjadi perubahan apapun yang dapat mempengaruhi hak hidup Tanah Perdikan Sembojan itu,” jawab Ki Lurah Dipayuda.

Barata mengangguk-angguk. Ia pun sependapat, bahwa jalan itu adalah jalan yang terbaik. Tidak ada lagi orang-orang seperti Ki Tumenggung Bandapati atau Ki Rangga Larasgati. Mudah-mudahan kemudian tidak tumbuh lagi orang-orang yang ikut memegang pimpinan di Pajang mempunyai watak seperti kedua orang itu.

Demikianlah, kedua anak muda itu berbincang-bincang sampai larut malam. Sementara itu Jangkung bertanya, “Nah, apakah besok jika aku minta ijin kepadamu untuk ikut bersamamu kau masih akan mengelak Barata? Apakah kau masih akan berkata bahwa kau anak seorang yang miskin yang rumahnya berada disebuah padukuhan kecil terpencil yang terletak disalah satu jalan simpang ke Madiun?”

Barata hanya tersenyum saja. Yang menjawab kemudian adalah Kasadha, “Tentu tidak. Ia tidak akan dapat menyembunyikan lagi rumahnya yang terletak disebuah Tanah Perdikan yang besar. Bukan hanya rumahnya berada di Tanah Perdikan itu. Tetapi ia adalah Kepala Tanah Perdikan itu.”

“Ah,” desis Barata.

“Ia tidak akan dapat ingkar. Aku, sebagai seorang prajurit pernah berkunjung ke Tanah Perdikannya. Bukan untuk menengoknya setelah cukup lama tidak berjumpa. Tetapi aku mengemban perintah untuk menyerang dan menduduki Tanah Perdikan itu,” berkata Kasadha.

Barata justru tertawa. Katanya, “Aku sudah mengibarkan kelebet putih pertanda menyerah. Tetapi pasukannya ternyata tidak pernah menduduki Tanah Perdikanku.”

“Tidak. Justru pasukanku yang harus melarikan diri dari Tanah Perdikannya yang kering dan gersang, yang terdiri dari lereng-lereng pegunungan serta sebagian lagi ngarai yang subur,” jawab Kasadha.

Anak-anak muda itu tertawa. Ki Lurah Dipayuda pun tertawa. Peperangan memang aneh. Kedua orang anak muda yang pernah terikat dalam satu kesatuan, bertempur bersama-sama, bahkan mereka seakan-akan telah terikat untuk mati bersama atau hidup bersama, ternyata pada satu hari harus berhadapan sebagai lawan. Apalagi ternyata keduanya adalah bersaudara.

Demikianlah, mereka berempat sempat berbincang sampai lewat tengah malam. Ki Lurah lah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Besok Kasadha dan Barata akan meninggalkan rumah ini. Biarlah mereka beristirahat agar besok mereka mendapat tenaga baru yang segar dalam perjalanan.”

Jangkung pun kemudian mempersilahkan kedua orang anak muda itu pergi ke gandok dan langsung masuk kedalam bilik mereka untuk beristirahat.

Kasadha dan Barata memang masih berbincang untuk beberapa saat. Tetapi tidak terlalu lama. Mereka pun segera berbaring dipembaringan dan meskipun agak sulit, namun akhirnya mereka telah tertidur pula.

Seperti yang direncanakan, maka pagi-pagi sekali mereka telah bangun. Bergantian mereka mandi dan berbenah diri.

Ternyata bahwa Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung pun telah bangun pula. Mereka telah berada dipendapa ketika Kasadha dan Barata menemui mereka untuk minta diri.

Pagi itu, yang menemui kedua orang anak muda itu bukan hanya Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung Jaladri. Tetapi Nyi Lurah dan Riris Respati pun ikut menemui mereka pula dipendapa setelah Riris menghidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.

Barata dan Kasadha pun bergantian telah minta diri. Mereka akan menempuh perjalanan yang berbeda arah. Barata akan menuju ke Timur. Sedangkan Kasadha akan menuju ke Barat.

Namun dalam pada itu, Kasadha sempat bertanya kepada diri sendiri, “Apakah yang aku dapatkan dari perjalanan ini? Sekedar bertemu dengan Riris?”

Namun Kasadha pun merasa beruntung bahwa ia sempat bertemu dengan Barata secara kebetulan. Tetapi tiba-tiba saja juga terbersit perasaannya yang aneh, “Ternyata Barata juga berada di tempat ini. Untuk apa? Apakah benar untuk minta petunjuk kepada Ki Lurah Dipayuda atau seperti kedatangannya, juga untuk bertemu dengan Riris?”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 39

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

2 Responses

  1. Penasaran nih, kapan lanjutannya bisa dibaca?

    Sabar Ki
    Kami sedang ngebut editing naskah lanjutannya.
    Sementara masih dengan kecepatan satu jilid per minggu, mudah-mudahan mulai buan Januari b8isa kami percepat menjadi dua jilid per minggu.

  2. setelah jilid 38 habis …kapan lanjutannya Ki Ageng.? he, he….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s