SST-36

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

NYI WIRADANA mengangguk-angguk. Namun ia masih berdesis, “Untunglah, bahwa kita tidak melihat mereka pergi. Jika kita tidak melihat sepasukan datang, maka akibatnya akan jauh berbeda.”

Risang tidak menjawab. Ia mengerti perasaan ibunya sebagai pimpinan tertinggi pasukan pengawal Tanah Perdikan. Sementara itu Risang pun merasa ngeri seandainya yang terjadi sebagaimana dikatakan oleh ibunya.

 “Baiklah,” berkata Nyi Wiradana kemudian, “kita tarik pasukan kita ke padukuhan pertama yang kita pergunakan sebagai landasan pertahanan kita. Kita akan melihat perkembangan keadaan selanjutnya.”

 “Baik ibu,” jawab Risang.

 “Perintahkan beberapa orang penghubung berkuda untuk mengelilingi Tanah Perdikan dan melihat perkembangan terakhir. Mereka harus juga melihat tempat para pengungsi dari padukuhan-padukuhan di garis pertama. Aku menunggu laporanmu,” berkata Nyi Wiradana kemudian.

 “Baik ibu,” jawab Risang.

Nyi Wiradana yang sudah siap untuk turun kemedan bersama Ki Tumenggung Jaladara itu pun kemudian telah kembali ke padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan pengawal dan para prajurit Jipang.

Sementara itu Ki Tumenggung Jaladara pun mulai memperitungkan kemungkinan yang terjadi di Pajang. Jika semua prajurit Pajang telah ditarik, maka agaknya memang ada hubungannya dengan sikap prajurit Mataram dan Jipang yang ada di sebelah Barat dan disebelah Timur kota.

 “Mungkin, akan ada perintah juga bagi kami,” berkata Ki Tumenggung Jaladara.

 “Nampaknya ketegangan antara Mataram dan Jipang disatu pihak serta Pajang dilain pihak menjadi semakin panas,” berkata Nyi Wiradana.

Ki Tumenggung Jaladara mengangguk kecil sambil menjawab, “Tanpa langkah-langkah yang tegas, maka kekalutan di Pajang tidak akan dapat dihentikan. Adipati Demak yang kemudian berkuasa di Pajang tidak mampu atau bahkan sengaja tidak berbuat sesuatu untuk mengendalikan orang-orangnya yang dibawanya dari Demak untuk mendukung kedudukannya.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Kami di Tanah Perdikan ini juga berkepentingan. Jika pemerintahan di Pajang menjadi tertib, maka kedudukan Tanah Perdikan ini pun akan menjadi semakin mantap. Demikian juga Tanah Perdikan yang lain yang mendapat Surat Kekancingan dari Demak atau Pajang semasa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Tumenggung Jaladara mengangguk-angguk. Katanya, “Kita berpengharapan pada perkembangan keadaan. Mudah-mudahan Pajang akan menuju ke penyelesaian yang bermanfaat bagi banyak pihak.”

 “Kehadiran Mataram dan Jipang akan dapat merubah keadaan,” desis Nyi Wiradana.

 “Tetapi tugas Pangeran Benawa untuk mengendalikan para prajurit Jipang menjadi sangat berat,” berkata Ki Tumenggung Jaladara seakan-akan kepada diri sendiri.

 “Kenapa?” bertanya Nyi Wiradana.

 “Dendam yang membakar jantung orang-orang Jipang atas kekalahannya di Bengawan Sore masih belum terhapus,” jawab Ki Tumenggung Jaladara.

 “Bukankah itu sudah lama sekali terjadi?” bertanya Nyi Wiradana, “pada saat itu justru prajurit Pajang datang membantu Tanah Perdikan ini melawan prajurit Jipang yang ingin menjadikan daerah ini landasan perbekalan bagi prajurit-prajuritnya.”

 “Ya,” jawab Ki Tumenggung, “memang sudah lama sekali. Tetapi kekalahan Jipang waktu itu benar-benar pahit.”

 “Tetapi bukankah orang yang membunuh Adipati Jipang waktu itu adalah orang yang sekarang bekerja sama dengan Pangeran Benawa melawan Pajang?” desak Nyi Wiradana.

Ki Tumenggung Jaladara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimanapun juga Sutawijaya yang kini bergelar Panembahan Senapati itu bertempur atas nama Sultan Hadiwijaya di Pajang, meskipun Sultan Hadiwijaya sendiri tidak tahu bahwa yang membunuh Arya Penangsang adalah putera angkatnya. Menurut laporan yang diterimanya, yang membunuh Arya Penangsang adalah Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.”

 “Apakah Sultan Hadiwijaya benar-benar tidak tahu?” bertanya Nyi Wiradana.

Ki Tumenggung Jaladara menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Aku tidak tahu. Bahkan banyak orang yang bertanya-tanya kenapa hadiah yang dijanjikan kepada Ki Gede Pemanahan tidak segera diberikan. Apakah hal itu dilakukan karena Sultan Hadiwijaya merasa dibohongi, atau sebagaimana alasan yang sering disebut-sebut, bahwa akhirnya Mentaok akan jatuh ketangan Sutawijaya, putera angkatnya, sehingga tidak perlu tergesa-gesa atau sebab-sebab lain.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Keadaan sudah banyak berubah. Dendam Jipang tidak dapat diarahkan kepada Pajang sekarang.”

Tetapi Ki Tumenggung Jaladara tertawa. Katanya, “Mungkin bagi mereka yang sempat mempergunakan penalaran. Tetapi mereka yang dibelit oleh perasaannya saja akan bersikap lain. Anak-anak yang saat itu masih remaja dan kebetulan ayahnya terbunuh di peperangan dan yang sekarang menjadi prajurit Jipang, maka dendamnya kepada prajurit Pajang tentu sampai ke ubun-ubun. Karena itu, maka tugas Pangeran Benawa menjadi sangat berat. Ia harus dapat mengendalikan prajurit-prajuritnya agar mereka tidak menjadi kehilangan pengendalian diri karena dendam yang selama ini harus mereka endapkan. Perang ini seakan-akan merupakan satu kesempatan untuk mengaduk kembali dendam dan kebencian mereka terhadap Pajang. Karena mereka tidak mengenal nama lain kecuali Pajang.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Ia menyadari, betapa rumitnya tugas Pangeran Benawa kemudian. Bahkan mungkin setelah Pajang dapat dikalahkan, maka prajurit Jipang yang tahu bahwa perang melawan Pajang sekitar sepuluh tahun yang lalu adalah perang melawan Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati yang dikendalikan oleh Ki Juru Martani yang kemudian bergelar Adipati Mandaraka. Pepatih Mataram yang masih saja mengendalikan perhitungan-perhitungan tata kaprajan dan tata keprajuritan Mataram bersama-sama dengan Panembahan Senapati sendiri.

Dalam pada itu, Risang masih saja sibuk dengan para pengawal setelah ia mempersilahkan Ki Lurah Sasaban yang memimpin prajurit Jipang untuk mundur ke padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu Risang masih mengatur orang-orangnya untuk tugas-tugas yang diberikan oleh ibunya. Ia telah memerintahkan beberapa penghubung untuk melihat seluruh Tanah Perdikan. Sekelompok penghubung berkuda harus jnembagi diri dan secepatnya kembali untuk memberikan laporan, termasuk padukuhan yang disediakan untuk para pengungsi.

Tetapi Risang juga memerintahkan beberapa orang untuk mengikuti jejak pasukan yang meninggalkan perkemahannya itu. Risang ingin meyakinkan apakah para prajurit Pajang itu benar-benar telah kembali ke Pajang atau dengan tujuan lain. Atau hanya satu cara untuk menembus pertahanan Tanah Perdikan Sembojan.

 “Aku berada di padukuhan itu,” berkata Risang, “semua laporan aku tunggu secepatnya.”

Demikianlah, maka para petugas yang harus menelusuri jejak para prajurit Pajang pun segera berangkat, sementara para penghubung masih harus mengambil kuda-kuda mereka di padukuhan.

Hari itu, para prajurit Jipang yang berada di Tanah Perdikan Sembojan serta para pengawal sempat beristirahat. Rasa-rasanya mereka telah melepas ketegangan yang mengantar mereka berangkat ke medan. Namun yang ternyata mereka tidak menemukan lawan mereka.

Disiang hari, menjelang matahari mencapai puncak, maka para penghubung yang telah melihat keadaan di seluruh Tanah Perdikan telah berdatangan di banjar. Risang yang langsung menerima mereka telah mendapat laporan, bahwa tidak ada peristiwa yang harus mendapat perhatian khusus. Para pengawal yang ditinggalkan di setiap padukuhan, serta mereka yang mengawasi perbatasan disegala arah tidak melihat gerakan pasukan di hadapan mereka. Sedangkan para penghubung yang melihat keadaan para pengungsi pun telah melaporkan, bahwa mereka nampak lebih tenang dari sehari sebelumnya. Tempat bagi mereka pun sudah menjadi semakin tertib sehingga setiap orang telah mendapat tempat yang pantas sesuai dengan keadaan yang gawat serta pembagian makan yang memadai. Orang-orang yang menerima para pengungsi itu pun telah bersikap baik dan penuh pengertian, sehingga mereka telah membantu para pengungsi itu sejauh dapat mereka lakukan.

 “Syukurlah,” berkata Risang, “Tetapi aku masih menunggu laporan dari para pengawal yang aku perintahkan untuk menelusuri jejak para prajurit Pajang.”

Ternyata mereka baru menjelang sore hari datang. Itu pun baru dua orang. Sedangkan dua orang yang lain masih menelusuri jejak itu lebih jauh lagi agar mereka semakin yakin, kemana para prajurit itu pergi.

 “Nampaknya mereka benar-benar kembali ke Pajang,” lapor salah seorang dari mereka yang menelusuri jejak itu.

 “Agaknya memang satu-satunya kemungkinan,” berkata Risang.

 “Kedua kawan kami masih akan meyakinkan arah kepergian pasukan itu,” desis salah seorang dari kedua petugas itu.

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Kita akan menunggu laporan berikutnya.”

Namun demikian Risang tidak menjadi lengah. Ia telah memerintahkan untuk memperketat pengawasan.

 “Jika kita tidak melihat pasukan itu pergi, maka mungkin sekali kita juga tidak melihat pasukan segelar sepapan yang menyerang Tanah Perdikan ini,” berkata Risang.

Menjelang senja, maka prajurit yang bertugas pun telah menebar. Sementara itu yang lain harus juga tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun mereka sempat tidur, namun mereka tidak terpisah dari senjata mereka. Setiap saat mereka akan mempergunakannya jika keadaan tiba-tiba menjadi gawat.

Namun para pengawal dan para prajurit Jipang itu mengerti bahwa telah dilakukan pengawasan yang ketat diseputar Tanah Perdikan. Bukan saja yang menghadap ke perkemahan prajurit Pajang yang telah ditinggalkan itu. Tetapi menebar diseputar Tanah Perdikan itu seluruhnya. Jika diantara mereka melihat tanda-tanda yang mencurigakan, maka mereka harus dengan cepat memberikan laporan. Sedangkan jika keadaan memaksa, mereka akan mempergunakan isyarat kentongan dan panah sendaren.

Sampai menjelang tengah malam, tidak terjadi sesuatu yang penting. Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara telah kembali ke padukuhan induk. Beberapa orang pengawal berkuda telah berada di padukuhan induk pula. Mereka akan dapat bergerak kesegala arah jika diperlukan.

Risang lah yang masih berada di banjar padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan pengawal dan prajurit Jipang. Tetapi Risang pun berpendapat, bahwa seandainya prajurit Pajang itu kembali lagi dan menyerang Tanah Perdikan, agaknya mereka akan datang dari arah yang berbeda.

Akhirnya petugas yang menelusuri kepergian pasukan Pajang pun telah memberikan keyakinan bahwa pasukan Pajang memang telah meninggalkan perbatasan dan kembali ke arah Pajang.

 “Baiklah,” berkata Risang, “namun jangan sekali-sekali menjadi lengah.”

Tetapi ketika Risang berniat untuk beristirahat, maka dua orang penghubung berkuda telah datang dari padukuhan induk. Dengan agak tergesa-gesa ia mencari Risang.

 “Ada apa?” bertanya Risang agak cemas.

 “Kau dipanggil Nyi Wiradana, sekarang,” jawab penghubung itu.

 “Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Risang.

 “Aku tidak mendapat pesan apa-apa. Aku hanya mendapat perintah untuk memanggilmu,” jawab penghubung itu pula.

Risang memang tidak banyak bertanya. Ia pun telah minta diri kepada para pemimpin yang lain serta Ki Lurah Sasaban.

 “Aku akan segera kembali. Jika tidak, maka aku akan memerintahkan seorang penghubung untuk datang kemari,” berkata Risang ketika ia sudah siap untuk meloncat kepunggung kudanya.

Sejenak kemudian, maka Risang itu sudah berpacu dikawani oleh Gandar. Mereka menembus gelapnya malam dan dinginnya embun yang mulai turun.

Mereka memang tidak memerlukan waktu yang lama. Beberapa saat kemudian, mereka telah memasuki padukuhan induk. Tiga orang yang berjaga-jaga dipintu gerbang sempat menghentikan mereka, namun mereka pun segera mengenali bahwa yang berkuda itu adalah Risang.

Sebenarnyalah Risang menjadi gelisah. Karena itu, maka ia pun menjadi tergesa-gesa. Ia ingin segera menghadap ibunya dan Ki Tumenggung Jaladara untuk segera, mengetahui perkembangan yang terjadi sehingga ibunya telah memerintahkan untuk memanggilnya.

Dihalaman rumahnya Risang telah meloncat turun. Diserahkannya kendali kudanya kepada seorang pengawal yang menyongsongnya. Bersama Gandar maka ia pun dengan segera telah masuk keruang dalam. Agaknya ibunya dan Ki Tumenggung berada disana.

Ketika Risang membuka pintu pringgitan, maka ia tertegun. Selain ibunya maka dilihatnya Ki Tumenggung Jaladara bersama dua orang prajurit Jipang yang lain, yang agaknya belum lama datang ke Tanah Perdikan Sembojan, karena ia belum mengenal sebelumnya.

 “Marilah Risang,” ibunya mempersilahkannya masuk.

Risang pun kemudian telah melangkah masuk, sementara Gandar tinggal diluar bersama beberapa orang pengawal.

 “Duduklah,” desis ibunya.

Ketika kemudian Risang duduk, maka ibunya telah memperkenalkan kedua orang prajurit Jipang itu. Kepada kedua prajurit Jipang itu ibunya juga memperkenalkan Risang, anaknya satu-satunya.

 “Seorang anak muda yang tegar,” desis salah seorang perwira prajurit Jipang itu.

Risang mengangguk hormat sambil berdesis, “Terima kasih. Tetapi tidak lebih dari seorang anak yang dungu.”

Ki Tumenggung Jaladara tersenyum. Katanya, “Aku sudah menceriferakan apa yang telah kau lakukan, anak muda.”

 “Tentu berlebih-lebihan,” desis Risang.

Kedua orang perwira prajurit Jipang itu tertawa. Namun kemudian, Nyi Wiradana lah yang berkata, “Risang. Kedua perwira ini membawa berita khusus bagi Ki Tumenggung Jaladara. Ki Rangga berdua adalah perwira penghubung khusus prajurit Jipang yang ada di sebelah Timur Pajang.”

Risang mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia menghubungkan kedatangan kedua orang prajurit itu dengan penarikan pasukan Pajang diperbatasan.

 “Biarlah Ki Rangga memberitahukan kepadamu, untuk apa mereka datang kemari,” berkata ibunya kemudian.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika seorang diantara kedua orang prajurit itu berkata, “Anak muda. Kami datang untuk menyampaikan perintah kepada Ki Tumenggung Jaladara.”

Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak memotong kata-kata prajurit itu.

 “Saat ini Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah mendapatkan kesepakatan untuk benar-benar memberikan sedikit peringatan kepada Adipati Demak yang berada di Pajang. Pasukan Mataram dan Jipang sudah bersiap untuk bergerak. Karena itu maka kami diperintahkan untuk menghubungi Ki Tumenggung Jaladara. Jika tugasnya di Tanah Perdikan ini selesai, maka pasukan ini akan segera ditarik. Mungkin pasukan Jipang sudah berhasil masuk ke kota Pajang. Tetapi pasukan Ki Tumenggung Jaladara yang dipimpin langsung oleh Ki Lurah Sasaban itu diperlukan untuk menguasai wilayah setelah prajurit Demak ditarik dan dikumpulkan untuk diberangkatkan kembali ke Demak, sementara prajurit Pajang sendiri untuk sementara harus dibatasi geraknya sampai terdapat sikap yang pasti atas mereka,” berkata salah seorang dari kedua prajurit itu.

Tetapi tiba-tiba Ki Tumenggung Jaladara lah yang menyahut, “Tetapi bagaimana jika pasukan Mataram dan Jipang tidak berhasil memasuki Pajang?”

Kedua orang itu tersenyum. Seorang diantaranya menjawab, “Menurut perhitungan kami, kami akan berhasil. Kecuali pasukan Mataram yang sangat kuat, sementara pasukan Jipang pun cukup memadai, maka diharapkan bahwa kekuatan yang ada di Pajang sendiri tidak akan mendukung sepenuhnya perlawanan Adipati Demak yang ada di Pajang itu. Para prajurit Pajang dan para pemimpin pemerintahan menganggap bahwa tindakan pimpinan tertinggi di Pajang kemudian, yang diharapkan dapat menggantikan kedudukan Sultan Hadiwijaya itu ternyata telah melakukan tindakan yang justru tidak sewajarnya,”

Ki Tumenggung Jaladara tertawa. Katanya, “Aku percaya, bahwa Pajang tidak akan bertahan terlalu lama.”

 “Jika demikian, bagaimana dengan prajurit yang ada di Tanah Perdikan ini?” bertanya prajurit itu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mungkin ibu dan Ki Tumenggung sudah mengatakan, bahwa prajurit Pajang pun telah ditarik dari perbatasan.”

 “Ya,” jawab prajurit itu, “karena itu, kami mohon pertimbangan. Apakah prajurit Jipang sudah memungkinkan untuk ditarik. Bagaimanapun juga kami harus mempersiapkan seluruh kekuatan yang ada untuk menghadapi segala kemungkinan, karena kita pun tahu bahwa prajurit Demak yang ada di Pajang cukup banyak. Selain itu, prajurit-prajurit Pajang sendiri yang dapat memanfaatkan keadaan tentu juga akan bertahan sekuat-kuatnya. Bukan saja mempertahankan Pajang, tetapi mempertahankan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka mewarisi ketamakan para prajurit Pajang yang telah mengalahkan Jipang dimasa kejayaan Adipati Arya Penangsang.”

Ki Tumenggung Jaladara mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Jamannya telah terpisah. Kau tidak dapat menarik garis hubungan langsung antara para prajurit Pajang sekarang dibawah pengaruh Demak dengan prajurit Pajang pada masa itu.”

 “Apakah Ki Tumenggung menganggap bahwa prajurit Pajang yang sekarang justru lebih baik?” bertanya prajurit itu.

Ki Tumenggung Jaladara menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Nyi Wiradana seakan-akan telah melihat kebenaran dugaan Ki Tumenggung yang pernah dikatakannya kepadanya.

Dalam pada itu Ki Tumenggung pun menjawab, “Tentu tidak dapat disebutkan yang mana yang lebih baik, karena hal itu akan ditentukan oleh kepentingan kedua belah pihak. Kepentingan prajurit Pajang itu sebagai pusaran kejadian dan kepentingan pihak lain yang menganggap Pajang sebagai sasaran kejadian. Itu pun masih dapat dibagi lagi menurut sudut pandang pihak yang berbeda-beda.”

Tetapi prajurit itu tersenyum. Katanya, “Satu ungkapan yang dapat membuat kepala menjadi pening. Tetapi kita berpikir sederhana saja Ki Tumenggung. Pajang telah menghancurkan Jipang.”

 “Tetapi bukan Pajang yang sekarang,” jawab Ki Tumenggung, “Jipang yang dihancurkan itu pun bukan Jipang yang sekarang? Jika kau mengatakan bahwa Pajang yang sekarang merupakan kelanjutan dari Pajang yang telah menghancurkan Jipang itu, apakah Jipang yang sekarang juga dapat dianggap kelanjutan Jipang yang dahulu, semasa dipimpin oleh Arya Penangsang, sementara sekarang dipimpin oleh Pangeran Benawa?”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang pernah mengalami duka karena ayahnya terbunuh di peperangan? Apakah aku dapat mengelak, bahwa ayahku yang pernah menjadi prajurit Jipang waktu itu dibunuh oleh prajurit Pajang?”

 “Sekarang kau prajurit Jipang, tetapi apakah prajurit Pajang sekarang pasti anak dari pembunuh ayahmu?” bertanya Ki Tumenggung.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku tidak akan mempersoalkan dendam orang-orang Jipang terhadap Pajang. Tetapi satu kenyataan, bahwa Jipang berperang melawan Pajang.”

 “Ya,” jawab Ki Tumenggung, “tetapi kita tahu apakah sebabnya perang itu terjadi. Apa pula tujuan Jipang menyerang Pajang sekarang ini bersama-sama dengan Mataram. Pangeran Benawa sama sekali tidak akan melakukannya jika Pajang melakukan tugas dan wewenangnya sesuai dengan batas-batas yang diberikan kepadanya.”

 “Ya,” jawab prajurit yang seorang lagi, “namun perlu diingat, bahwa Pangeran Benawa adalah Putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Sedangkan yang berkuasa di Pajang sekarang bukan. Apalagi jika diingat bahwa restu Kangjeng Sultan sebenarnya diberikan kepada Panembahan Senapati di Mataram. Meskipun Panembahan Senapati itu putera Ki Gede Pemanahan yang berasal dari lingkungan orang kebanyakan, tetapi bagi Kangjeng Sultan, yang penting, bahwa Panembahan Senapati akan mampu menjadi pengikat persatuan Pajang dan akan mampu meneruskan gagasan yang besar dari Sultan Hadiwijaya yang kandas justru karena kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri.”

 “Jika demikian, bukankah kau ingin mengatakan bahwa Pajang memang harus dihancurkan?” bertanya Ki Tumenggung.

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Tumenggung berkata, “Pangeran Benawa pernah mengatakan, bahwa tujuan penyerangan atas Pajang tidak didasari oleh dendam apapun juga. Jika ada dendam yang terselip diantara serbuan Jipang atas Pajang, itu sama sekali diluar tanggung jawab Pangeran Benawa. Bahkan akan menyakiti hati Pangeran Benawa, karena dendam itu seharusnya ditujukan kepada ayahanda Pangeran Benawa sendiri. Juga bukan karena rasa iri sehingga serbuan itu merupakan usaha untuk merebut kedudukan. Yang akan dilakukan oleh Pangeran Benawa dan Panembahan Senapati adalah mendudukkan persoalannya pada tempat yang seharusnya.”

Kedua orang prajurit itu termangu-mangu. Namun mereka tidak mengatakan sesuatu lagi.

Nyi Wiradana dan Risang nampaknya tidak merasa perlu untuk mencampurinya. Karena itu, keduanya hanya saling berdiam diri saja.

Ki Tumenggung lah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Kita sadari bersama bahwa ada perbedaan pendapat diantara banyak orang di Jipang. Namun yang penting, kita akan melakukan perintah Pangeran Benawa.”

Kedua orang prajurit itu mengangguk. Katanya, “Ya. Kita akan melakukan perintah Pangeran Benawa.”

 “Nah. Pertimbangan kita sekarang, apakah prajurit Jipang sudah dapat ditarik kembali,” berkata Ki Tumenggung.

 “Apakah Jipang sudah tahu sebelumnya bahwa pasukan Pajang telah ditarik?” bertanya Risang kemudian.

Salah seorang utusan yang datang dari perkemahan pasukan Jipang itu menggeleng sambil menjawab, “Belum. Tetapi perhitungan kami, apabila persoalan di Tanah Perdikan ini sudah dapat diselesaikan. Sebab penarikan pasukan Jipang dari Tanah Perdikan ini tidak mutlak harus dilakukan dalam waktu yang tergesa-gesa. Namun apabila disini segala sesuatunya telah dapat diselesaikan, maka pasukan ini memang akan ditarik.”

 “Nampaknya pasukan ini tidak diperlukan lagi di sini, setidak-tidaknya untuk waktu dekat ini. Prajurit Pajang tentu tidak akan kembali lagi dalam suasana yang gawat bagi Pajang menghadapi Mataram yang kuat. Tetapi pasukan Jipang ini diperlukan untuk menunjukkan bahwa Jipang tidak tergantung sepenuhnya kepada Mataram. Bahwa Jipang pun memiliki kekuatan. Karena itu, pasukan-pasukan Jipang yang ada dibeberapa tempat pun tentu akan ditarik,” berkata penghubung yang seorang lagi.

Risang mengangguk-angguk. Sambil memandang kepada ibunya Risang berkata, “Aku kira, untuk sementara kita akan dapat melindungi diri sendiri. Aku sependapat, bahwa pasukan Pajang tidak akan kembali dalam waktu singkat.”

 “Ya,” Nyi Wiradana mengangguk-angguk, “semua perlengkapan yang penting telah dibawa, meskipun ada beberapa bagian yang tertinggal. Namun aku kira penarikan pasukan Pajang ada hubungannya dengan kegawatan di Pajang sendiri.”

Ki Jaladara pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Kita akan membawa pasukan yang ada disini ke Pajang. Tetapi jika kalian memerlukan kami, maka kalian akan dapat menghubungi kami. Beberapa orang yang datang bersamaku akan tinggal disini. Meskipun secara wadag mereka tidak akan mampu berbuat banyak, tetapi mereka akan dapat membantu menjadi penghubung yang baik dengan pasukan Jipang yang ada di perkemahan sebelah Timur Pajang.”

 “Terima kasih,” sahut Nyi Wiradana, “sejauh dapat kami lakukan sendiri, kami tidak akan mempersulit kedudukan Jipang. Apalagi jika perang itu benar-benar terjadi sehingga Jipang memerlukan prajurit sebanyak-banyaknya.”

 “Persoalannya bukan sekedar menghadapi Pajang,” berkata Ki Jaladara. Namun kemudian suaranya merendah, “Juga harga diri Jipang dimata Mataram.”

Demikianlah, maka malam itu mereka memutuskan bahwa pasukan Jipang akan ditarik dari Tanah Perdikan. Keadaan Pajang menjadi semakin gawat. Perang sudah di ambang pintu seperti mendung tebal yang sudah menggantung dilangit.

Malam itu, maka perintah untuk menarik pasukan Jipang pun telah sampai kepada Ki Lurah Sasaban dan para pemimpin kelompok prajurit Jipang. Mereka memang agak terkejut. Tetapi para penghubung dari perkemahan pasukan Jipang itu telah memberikan penjelasan sehingga para prajurit Jipang itu mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya.

 “Kita tidak perlu berangkat malam ini,” berkata penghubung itu, “tetapi kalian mendapat kesempatan untuk berbenah diri. Besok pagi-pagi kita akan meninggalkan Tanah Perdikan ini kembali ke Pajang.”

Namun dalam pada itu, Risang pun telah memberitahukan pula kepada para pemimpin kelompok pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan, agar para pengawal menjadi semakin bersiaga menghadapi segala kemungkinan tanpa para prajurit Jipang.

Malam itu, para prajurit Jipang telah membenahi diri. Namun mereka masih sempat beristirahat beberapa saat. Menjelang fajar mereka telah bersiap untuk menempuh perjalanan panjang menuju keperkemahan prajurit Jipang disebelah Timur Pajang.

Setelah makan pagi dan minta diri kepada para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan serta para pemimpin kelompok pengawal yang berkumpul di depan padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan pengawal Tanah Perdikan, maka pasukan Jipang yang tidak begitu besar itu telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Namun mereka telah memilih jalan lain yang tidak dilalui oleh prajurit Pajang, karena jumlah prajurit Pajang yang ditarik itu berlipat. Jika mereka mengetahui bahwa pasukan Jipang itu pun menuju keperkemahannya disebelah Timur Pajang, maka akan dapat terjadi sesuatu di perjalanan.

Ki Tumenggung Jaladara sendiri telah ikut pula bersama prajurit-prajurit Jipang yang dipimpin oleh Ki Lurah Sasaban itu. Namun di Tanah Perdikan itu telah ditinggalkan sepuluh orang prajurit Jipang yang akan dapat membantu jika diperlukan sesuatu yang penting.

Sebenarnyalah, bahwa suasana di Pajang telah menjadi semakin panas. Ki Rangga Larasgati bersama seluruh pasukannya memang telah berada di Pajang, Kasadha telah berada di baraknya kembali bersama seluruh pasukannya. Tetapi prajurit-prajuritnya tidak lgi utuh seratus. Beberapa orang telah menjadi korban dalam pertempuran di Tanah Perdikan Sembojan. Terutama saat melawan para prajurit Jipang.

Namun dihari berikutnya, kekurangan itu segera dipenuhi. Nampaknya para pemimpin prajurit Pajang harus bergerak dengan cepat menghadapi perkembangan keadaan. Bahkan prajurit di barak Kasadha tidak lagi sejumlah seratus. Tetapi lebih dari itu. Semuanya seratus ampat puluh orang meskipun Kasadha masih tetap disebut Lurah Penatus.

Namun untuk selanjutnya, Ki Lurah Kasadha dan para prajuritnya tidak lagi diserahkan kepada Ki Rangga Larasgati dan Ki Tumenggung Bandapati. Tetapi untuk selanjutnya Kasadha berada dibawah seorang Tumenggung yang benar-benar memiliki kesadaran jiwani sebagai seorang prajurit. Meskipun Tumenggung itu bukan orang yang tidak bersikap menghadapi keadaan.

Tumenggung Surajaya adalah seorang prajurit Pajang sejak Pajang masih belum dikalahkan oleh Mataram. Ketika pimpinan Pajang dipegang oleh Adipati Demak, untuk sementara Ki Tumenggung Surajaya terdesak kedudukannya. Namun ketika keadaan menjadi gawat, maka Ki Tumenggung Surajaya telah diletakkan kembali kekedudukannya semula, memegang pasukan segelar sepapan disamping beberapa orang panglima yang lain.

Ketika Ki Tumenggung sempat berbicara dengan beberapa orang pemimpinan pasukan, maka diluar sadarnya, terpancar betapa perasaan kecewa bergejolak didalam hatinya terhadap para pemimpin Demak yang berada di Pajang. Ki Tumenggung bahkan menyebut beberapa orang meskipun bukan namanya, telah menyalah gunakan kedudukannya untuk memeras beberapa Tanah Perdikan.

 “Satu perbuatan yang tidak terpuji. Bahkan cara itu sangat merugikan Pajang. Tanah Perdikan yang sebenarnya dapat membantu Pajang dalam keadaan yang gawat ini, justru telah memusuhi Pajang seperti Tanah Perdikan Gemantar, Tanah Perdikan Prembun dan Tanah Perdikan yang besar seperti Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak akan bersedia mengirimkan anak-anak mudanya untuk menjadi prajurit. Bahkan Pajang harus mengirimkan prajurit ke Tanah Perdikan itu. Kita sekarang, tidak dapat dengan serta merta menghapus permusuhan itu dan minta mereka bersedia membantu kita, meskipun kita menjajikan bahwa kedudukan Tanah Perdikan itu tidak akan diganggu gugat,” berkata Ki Tumenggung Surajaya. Lalu katanya pula, “Karena itu, kita sekarang hanya dapat mempergunakan apa yang ada pada kita untuk menghadapi Mataram yang kuat serta Jipang yang memiliki perlengkapan cukup. Mereka datang dari dua arah yang berlawanan. Tetapi kita yakin, bahwa keduanya akan bergerak dibawah satu perintah.”

Para pemimpin pasukan itu pun mengangguk-angguk. Kasadha yang melihat sendiri, betapa tamaknya prajurit-prajurit Pajang di Gemantar dan Tanah Perdikan Sembojan, memang sependapat dengan Ki Tumenggung Surajaya bahwa tidak mungkin dalam waktu singkat untuk memperbaiki citra prajurit Pajang dimata beberapa Tanah Perdikan itu. Apalagi Tanah Perdikan Sembojan yang telah menyerahkan korban beberapa orang anak muda yang terbaik.

Namun dalam pada itu, Ki Tumenggung pun memberitahukan bahwa pasukannya tidak akan diletakkan di sisi Timur pertahanan Pajang. Mereka akan diletakkan di sisi Barat, menghadap pasukan Mataram yang kuat. Meskipun jumlahnya pasukan Mataram itu tidak terlalu besar, tetapi para prajurit Pajang mengetahui dengan pasti, kekuatan prajurit Mataram. Kemampuan mereka di medan pertempuran, baik dalam perang gelar maupun dalam benturan seorang dengan seorang. Hampir setiap orang dalam pasukan Mataram memiliki kemampuan secara pribadi disamping kemampuan mereka perang gelar.

Kasadha yang pernah hampir saja dihancurkan oleh prajurit Mataram tahu benar kekuatan dan kemampuan prajurit-prajurit Mataram. Tetapi ia merasa bersyukur bahwa ia berada disi Barat. Kasadha sempat memperhitungkan kemungkinan keterlibatan para pengawal Tanah Perdikan dalam pasukan Jipang. Mungkin pasukan pengawal Sembojan justru berganti membantu Jipang menghadapi Pajang. Jika demikian, apabila ia berada disisi Timur, maka kemungkinan buruk dapat terjadi apabila ia bertemu lagi dengan orang-orang Sembojan.

 “Tetapi Sembojan memerlukan para pengawalnya untuk melindungi Tanah Perdikannya yang bergolak,” berkata Kasadha didalam hatinya. Bahkan tiba-tiba saja ia teringat kepada orang yang menyebut dirinya ayahnya meskipun ia tahu betul bahwa itu tidak benar karena orang itu sendiri selalu menyebut-nyebut ayahnya yang akan dapat mewariskan kedudukan di Tanah Perdikan Sembojan. Ki Rangga Gupita itu akan dapat menempuh cara yang bagaimanapun juga untuk menghancurkan para pemimpin Sembojan yang sedang memegang pimpinan.

Tetapi dihari berikutnya, masih belum nampak tanda-tanda bahwa pasukan Mataram mulai bergerak. Namun para prajurit Pajang telah bersiap disepanjang garis pertahanan yang telah dipersiapkan.

Disamping para prajurit Pajang, maka para pemimpin yang datang dari Demak pun telah mempersiapkan prajurit Demak yang ada di Pajang. Bahkan mereka sempat menghimpun orang-orang Pajang yang ada disekitar kota serta orang-orang Demak yang ada di Pajang meskipun mereka bukan prajurit. Para hamba dan pelayan dari para perwira Demak serta siapa saja yang pantas untuk ikut turun ke medan. Para pemimpin Demak telah mengancam untuk menghukum mereka jika mereka tidak berperang dengan bersungguh-sungguh.

Ki Tumenggung Surajaya semula tidak menghiraukan kesibukan orang-orang Demak. Ki Tumenggung telah melakukan tugasnya sesuai dengan kedudukannya. Namun kemudian persoalan mulai timbul ketika orang-orang Demak mulai mencampuri wewenangnya atas pasukannya.

Beberapa orang Panglima yang memegang pasukan di garis pertahanan telah mendapat perintah untuk mempertahankan Pajang sampai batas kemungkinan terakhir. Perintah itu bagi Ki Tumenggung Surajaya adalah perintah yang wajar. Ki Tumenggung sama sekali tidak merasa tersinggung oleh perintah itu.

Tetapi ketika dua orang Tumenggung yang datang dari Demak dan ikut memerintah di Pajang memanggilnya, maka Ki Tumenggung Surajaya mulai merasa terganggu.

Namun Ki Tumenggung memenuhi panggilan kedua orang Tumenggung itu. Ternyata bahwa yang datang memenuhi panggilan itu ada tiga orang Panglima. Dua diantaranya adalah dua orang Panglima yang berpangkat Tumenggung dan berasal dari Demak.

 “Ki Tumenggung,” berkata salah seorang dari kedua orang pemimpin, dari Demak yang memanggil para panglima itu, “kita sedang menghadapi peristiwa yang gawat sekarang ini. Senapati ing Ngalaga dan Pangeran Benawa telah membuat satu persetujuan untuk menghancurkan Demak. Ternyata mereka menerima keputusan pertemuan Keluarga yang dipimpin oleh para sesepuh untuk menentukan siapa yang akan berkuasa di Pajang dengan tidak ikhlas. Terbukti sekarang mereka telah memberontak dan bahkan menyerang Pajang.”

Ketiga orang Panglima itu mengangguk-angguk.

 “Kami telah memanggil para panglima. Hari ini adalah giliran kalian bertiga untuk menyatakan janji, bahwa kalian akan bertempur tanpa mengenal menyerah dan tidak akan mundur dari garis perang,” berkata Tumenggung itu, “kami atas nama pimpinan tertinggi yang memerintah Pajang sekarang ini memerintahkan kepada para Panglima untuk mengambil tindakan tegas bagi para prajuritnya. Terutama Ki Tumenggung Surajaya. Prajurit-prajuritmu hampir seluruhnya adalah prajurit-prajurit Pajang. Karena itu, kau harus mengamati prajuritmu dengan saksama.”

 “Kenapa dengan prajurit-prajurit Pajang?” bertanya Ki Tumenggung Surajaya.

 “Mereka diragukan kesetiaannya kepada pimpinan tertinggi Pajang sekarang. Kau harus mau melihat kenyataan, bahwa beberapa orang prajurit Pajang justru telah menyeberang ke Mataram atau ke Jipang,” berkata Tumenggung yang memanggil para Panglima itu.

 “Aku tahu,” jawab Ki Tumenggung Surajaya, “tetapi bukankah kita tidak dapat menutup kenyataan pula, bahwa masih banyak prajurit Pajang yang setia kepada Pajang siapapun yang memimpin sekarang?”

Tetapi perwira dari Demak itu menjawab, “Ya. Aku masih melihat banyak prajurit Pajang yang tetap di tempatnya. Tetapi aku tidak dapat melihat isi hati mereka.”

 “Kalian mencurigai kami? “ wajah Ki Tumenggung Surajaya menjadi merah.

 “Bukan kau. Tetapi ada diantara orang-orangmu,” jawab Tumenggung dari Demak itu.

 “Kenapa kau tidak menyebut namanya saja? Seorang Rangga, seorang Lurah atau sekelompok prajurit atau siapa? Dengan demikian, kau tidak berteka-teki, meraba-raba, curiga atau bahkan fitnah,” Ki Tumenggung Surajaya menjadi marah.

 “Jaga mulutmu. Kami adalah perwira yang mendapat tugas langsung untuk melakukan tindakan apa saja dalam keadaan yang gawat ini,” jawab perwira itu.

 “Kenapa tidak kau lakukan? Kenapa kau tidak menuduh aku saja berkhianat atau memberontak atau tuduhan apapun yang dapat menyeretku ke tiang gantungan dalam keadaan gawat ini,” geram Ki Tumenggung Surajaya.

 “Kau masih dibutuhkan. Kau harus membuktikan kesetianmu. Tetapi kami akan menempatkan beberapa orang perwira didalam pasukanmu. Seorang Tumenggung, dua orang Rangga dan tujuh orang Lurah termasuk Lurah Penatus,” jawab perwira dari Demak itu.

 “Untuk apa? Aku tidak mau menerima mereka,” jawab Ki Tumenggung Surajaya.

 “Ini perintah,” Tumenggung yang datang dari Demak itu pun menjadi marah, “apakah kau menentang perintah yang diturunkan kepadamu?”

 “Ya,” jawab Ki Tumenggung Surajaya tegas, “khususnya tentang para perwira yang akan diletakkan pada pasukanku justru atas dasar kecurigaan. Jika mereka begitu saja diperintahkan untuk mengisi kepemimpinan dalam pasukanku atas dasar susunan yang wajar dan mapan, aku tidak akan dapat menolak. Tetapi karena kalian menempatkan para perwira itu atas dasar kecurigaan, maka aku tidak akan dapat menerima mereka. Karena itu, jika kalian ingin memaksakan perintah itu, maka lebih dahulu kalian harus memecat aku, menyeretku ketiang gantungan sebagai pengkhianat atau bahkan dihukum picis karena aku telah memberontak.”

 “Kau terlalu sombong,” desis seorang panglima yang datang dari Demak, yang telah dipanggil pula menghadap saat itu, “kau kira kau itu siapa he? Kau bukan Panembahan Senapati dan bukan Pangeran Benawa. Atau kau memang sudah berniat untuk menyeberang?”

 “Siapapun aku, tetapi aku sudah mengatakan sikapku,” geram Ki Tumenggung Surajaya.

Wajah para perwira yang datang dari Demak itu menjadi merah. Tetapi mereka memang harus mengekang diri. Mereka sadar, jika Ki Tumenggung Surajaya benar-benar memberontak, itu berarti bahwa kekuatan Pajang akan susut, karena para prajurit dibawah pimpinan Ki Tumenggung itu tentu akan mengambil sikap apabila pemimpinnya yang dianggap sebagai orang yang terbaik itu disingkirkan.

Karena itu, maka perwira yang bertugas untuk menyampaikan perintah itu berkata, “Kami beri kau kesempatan untuk membuktikan kesetiaanmu. Tetapi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya apabila ada diantara mereka yang berkhianat.”

 “Kenapa tidak kau sebut saja namanya? Siapa? Atau aku?” desak Ki Tumenggung Surajaya.

 “Ada tiga orang Lurah Penatus yang pantas dicurigai dan seorang Rangga,” jawab perwira itu.

 “Siapa?” bertanya Ki Tumenggung semakin mendesak.

 “Ki Rangga Permada, Ki Lurah Penatus Wandawa, Permati dan Kasadha. Kasadha pernah juga melakukan pelanggaran atas janji seorang prajurit di Tanah Perdikan Gemantar, meskipun di Tanah Perdikan Sembojan ia berbuat lebih baik,” berkata perwira itu.

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku akan mengawasi mereka. Tetapi aku tidak mencurigai mereka. Dasar tindakan yang dilakukan Ki Lurah Penatus Kasadha di Tanah Perdikan Gemantar telah aku pelajari karena waktu itu Ki Lurah tidak dalam wewenangku. Alasannya sama sekali bukan karena Kasadha tidak setia kepada pemerintahan di Pajang sekarang ini. Tetapi ia tidak sependapat dengan langkah-langkah yang harus diambilnya.”

 “Tetapi ia seorang prajurit,” jawab perwira itu.

 “Kau juga harus menilai, apakah prajurit yang memberikan perintah saat itu tidak melanggar janji seorang prajurit. Kau juga harus berani menilai apakah Ki Tumenggung Bandapati dan Ki Rangga Larasgati berbuat sebagaimana seharusnya dilakukan oleh seorang prajurit,” berkata Ki Tumenggung Surajaya.

 “Apa yang telah dilakukannya? Ia menjalankan perintah untuk menertibkan Tanah-Tanah Perdikan,” jawab perwira dari Demak itu.

 “Apakah mereka benar-benar menertibkan? Jangan pura-pura tidak tahu,” jawab Ki Tumenggung Surajaya.

 “Cukup,” perwira itu membentak. Namun kemudian katanya, “Sekarang kembalilah kedalam pasukanmu. Kami akan menilai kesetiaanmu. Jika kau benar-benar setia kepada Pajang, maka kau akan mendapatkan jabatan yang lebih baik dari jabatanmu sekarang.”

 “Itukah perlakuan kalian terhadap seorang prajurit yang mendapat perintah untuk menjalankan tugas? Apakah aku harus bertempur sekedar mendapatkan upah.”

 “Sudah,” potong perwira itu, “pergilah. Tetapi ini bukan satu kemenangan bagimu. Aku masih menghargaimu karena kau adalah prajurit Pajang.”

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian segera meninggalkan para perwira yang datang dari Demak itu sebelum darahnya mendidih.

Namun peristiwa itu ternyata telah membekas dihati Ki Tumenggung Surajaya. Ia memang pernah mendengar beberapa keterangan tentang orang-orang yang disebut-sebut oleh para perwira Demak yang di tempatkan di Pajang itu. Tetapi Ki Tumenggung pun tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apayang menjadi alasan sikap para prajurit yang pada saat yang gawat itu diserahkan kepadanya.

Demikianlah, maka Ki Tumenggung Surajaya justru menjadi gelisah. Ia merasa selalu diamati, dicurigai dan bahkan tidak dipercaya untuk mengatasi gejolak yang mungkin terjadi didalam pasukannya.

Karena itu, maka Ki Tumenggung justru telah mengambil sikap yang pasti. Bukan saja untuk mengetahui sikap prajurit-prajuritnya, tetapi juga untuk menenangkan hatinya.

Kasadha yang dianggap paling pantas untuk dicurigai itu telah dipanggil. Ki Tumenggung Surajaya dengan berterus terang menyampaikan kecurigaan para perwira dari Demak kepadanya. Sikapnya di Gemantar dan sikapnya yang agak kurang disenangi oleh pimpinan langsung pada waktu ia di Tanah Perdikan Sembojan, meskipun sikapnya di Sembojan dinilai lebih baik dari sikapnya di Gemantar, menyebabkan Lurah Penatus yang masih muda itu selalu diawasi oleh para perwira terutama yang datang dari Demak.

 “Ki Rangga Larasgati memang tidak senang terhadap sikapku. Demikian pula Ki Tumenggung Bandapati dan Ki Tumenggung Surajaya. Yang aku maksud Ki Tumenggung Surajaya yang datang dari Demak yang mempunyai nama sama dengan Ki Tumenggung,” jawab Kasadha.

Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk. Memang ada beberapa orang yang namanya kebetulan sama, sebagaimana Ki Tumenggung Surajaya yang kebetulan pangkatnya sama pula, meskipun jabatannya jauh berlainan.

 “Bagaimana sikapmu sekarang menghadapi Mataram?” bertanya Ki Tumenggung Surajaya.

 “Di Tanah Perdikan Sembojan, aku dan prajurit-prajuritku telah bertempur dengan sungguh-sungguh terutama melawan para prajurit Jipang,” jawab Kasadha.

 “Bagimu, yang manakah musuh yang paling utama antara Mataram dan Jipang bagi Pajang?”

Kasadha termangu-mangu. Dipandanginya Ki Tumenggung Surajaya dengan sorot mata yang mengandung kecurigaan atas pertanyaan itu.

 “Kasadha,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “kita adalah prajurit Pajang sejak semula. Kita pernah bertempur melawan Mataram. Sebelumnya, tetapi agaknya kau belum menjadi seorang prajurit, Pajang telah bertempur pula melawan Jipang. Meskipun demikian kau tentu pernah mendengar betapa Pajang harus berjuang untuk menyingkirkan Arya Penangsang dari Jipang. Sekarang, aku ingin mendengar pendapatmu. Katakan dengan jujur sesuai dengan nuranimu. Aku tidak akan menilai apakah kau salah atau benar. Yang aku ingini adalah aku tahu pasti isi hatimu menghadapi persoalan yang gawat sekarang ini.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita adalah prajurit Ki Tumenggung. Apakah layak jika kita berbicara tentang sikap kita berdasarkan atas nurani kita.”

 “Tetapi kau sudah menunjukkan sikap batinmu itu di Tanah Perdikan Gemantar. Justru karena itu, kau telah dicurigai. Sekarang apa salah jika kau katakan kepadaku sikapmu terhadap Mataram dan Jipang sebagaimana kau bersikap terhadap Gemantar,” sahut Ki Tumenggung.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun ia tahu bahwa Ki Tumenggung ingin ia berkata dengan jujur. Karena itu maka katanya kemudian, “Ki Tumenggung. Bagiku Mataram dan Jipang tidak ada ubahnya. Sebagai prajurit Pajang, maka aku sadari bahwa aku harus berpihak kepada Pajang dan mempertahankannya dengan sepenuh hati apapun yang terjadi. Tetapi jika kita melakukannya sekarang terhadap Mataram dan Jipang, menurut kata hatiku, bukan sikapku sebagai seorang prajurit, telah timbul satu pertanyaan, apakah kita benar-benar berbuat bagi Pajang? Yang manakah sebenarnya Pajang itu?”

 “Bukankah telah diadakan musawarah dan menetapkan bahwa Adipati Demak yang kemudian dinobatkan di Pajang? Bukankah dengan demikian, maka Pajang yang sekarang adalah sah?” sahut Ki Tumenggung Surajaya.

Tetapi sebenarnyalah Kasadha mengetahui, bahwa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung itu pun bukan kata hatinya. Ia ingin mendengar alasan yang sebenarnya tersimpan dihati Kasadha.

Karena itu, maka Kasadha itu pun berkata, “Ki Tumenggung. Selama ini Ki Tumenggung sadar atau tidak sadar sering berbicara tentang Pajang yang sekarang. Bukankah yang ada sekarang adalah pemerintahan Kadipaten Demak yang ada di Pajang? Apakah para pemimpin yang datang dari Demak itu bertindak atas nama Pajang dan bukan Demak? Atau justru atas kepentingan mereka sendiri? Jika kita harus berjuang untuk Pajang sekarang, apakah yang sebenarnya harus kita lakukan? Belum lagi kita bicara tentang hak Panembahan Senapati di Mataram dan Pangeran Benawa di Jipang. Katakanlah hak itu hapus setelah diadakan musyawarah yang menetapkan Adipati Demak untuk memegang pimpinan pemerintahan Pajang sepeninggal Sultan Hadiwijaya. Namun setelah kita melihat apa yang terjadi di Pajang sekarang, apakah kita yakin bahwa Pajang yang kita lihat sekarang ini yang harus kita perjuangkan? Pajang yang memeras beberapa Tanah Perdikan yang selama ini tidak pernah diganggu gugat karena mereka memegang Surat Kekancingan dari Demak atau Pajang dimasa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya? Pajang yang memberikan sebagian tanah para petani kepada para pemimpin yang datang dari Demak serta mendapat kenaikan pangkat setelah berada disini? Pajang yang tidak menghiraukan keadaan rakyatnya yang semakin lama semakin miskin karena para pemimpin yang slingkuh dengan kekayaan negara? Pajang yang tidak mau tahu bahwa sebagian dari rakyatnya dan para prajuritnya telah lari menyeberang ke Mataram atau ke Jipang?”

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk. Katanya dengan nada dalam, “Kita memang berpura-pura menjadi buta dan tuli selama ini. Tetapi justru karena itu, apakah kita akan membiarkan Pajang runtuh? Meskipun kita tahu, diatas reruntuhan Pajang yang sekarang, kita dapat mengharap akan bangkit Pajang yang baru yang lebih sesuai dengan keinginan Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang telah tidak ada. Pajang sebagaimana diharapkan sebagai Pajang.”

 “Ki Tumenggung,” berkata Kasadha kemudian, “di Tanah Perdikan Sembojan kami telah bertempur melawan Jipang. Kami benar-benar telah bertempur dengan menyerahkan beberapa orang korban. Waktu itu aku berpendirian bahwa Jipang tidak berhak mencampuri persoalan antara Pajang dan Tanah Perdikan yang berada dibawah naungan Pajang apapun yang dilakukan oleh Pajang meskipun aku sendiri tidak sependapat. Tetapi jika ada pertimbangan lain, aku menunggu perintah Ki Tumenggung. Aku tahu bahwa Ki Tumenggung tidak termasuk orang-orang yang hanyut oleh keadaan yang berkembang sekarang di Pajang. Tetapi aku pun tahu bahwa Ki Tumenggung adalah seorang prajurit.”

Ki Tumenggung Surajaya terdiain sesaat. Ia pun merasa dihadapkan pada satu keadaan yang paling sulit. Ia sama sekali tidak ingin berkhianat. Tetapi ia telah kehilangan pegangan, bagi siapa ia berjuang. Jika ia berkhianat, ia berkhianat terhadap siapa?

Sementara itu sikap para Tumenggung dari Demak yang merasa dirinya lebih berkuasa itu, membuat hati Ki Tumenggung Surajaya benar-benar menjadi sakit. Sebenarnyalah ia tidak ingin untuk memusuhi mereka. Apalagi dalam keadaan gawat seperti saat pasukan Mataram dan Jipang sudah diambang pintu gerbang sebelah Timur dan Barat. Namun perasaan Ki Tumenggung Surajaya tidak dapat dikendalikannya lagi.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia bertanya kepada Kasadha, “Ki Lurah. Jika sekarang aku memberikan kebebasan kepadamu untuk memilih, apa yang akan kau lakukan?”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Ia tidak begitu mengerti maksud pertanyaan Ki Tumenggung. Namun Ki Tumenggung itu pun kemudian menjelaskan, “Aku ingin mendapat pertimbangan, sikap apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku memang menjadi muak melihat segala-galanya di Pajang sekarang ini. Tetapi bukankah, kita tidak sepatutnya menyeberang ke Mataram atau Jipang justru karena kita prajurit Pajang sejak semula, meskipun bukan Pajang yang sekarang.”

 “Aku menunggu perintah Ki Tumenggung. Itu saja,” jawab Kasadha.

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk kecil. Tetapi hatinya menjadi semakin risau. Sementara itu Mataram dan Jipang benar-benar telah berada didepan hidung mereka. Setiap saat pasukan Mataram dan Jipang akan bergerak.

Namun tiba-tiba Ki Tumenggung berkata, “Aku akan memanggil para Rangga dan Lurah termasuk semua Lurah Penatus.”

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku kira Ki Tumenggung dapat berbicara berterus terang.”

 “Baiklah,” jawab Ki Tumenggung.

Demikianlah, maka seperti yang dikatakannya, maka Ki Tumenggung telah memanggil semua orang dari unsur pimpinan di pasukannya. Semuanya sekitar duapuluh lima orang.

Ki Tumenggung Surajaya memang mengetahui bahwa diantara mereka tentu ada satu dua girang yang alan dapat menjilat kepada para pemimpin yang datang dari Demak. Tetapi Ki Tumenggung tidak akan ingkar untuk menghadapi tanggung jawab.

Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun telah menyatakan terus terang maksudnya menyelenggarakan pertemuan itu.

 “Aku ingin mendengar pendapat kalian,” berkata Ki Tumenggung.

Ternyata orang-orang yang menyatakan pendapatnya adalah orang-orang yang memang telah dicurigai oleh para pemimpin dari Demak. Mereka memang meragukan arti kesetiaan bagi Pajang saat itu.

Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka yang hadir itu bertanya, “Apakah kita meragukan kesetiaan kita karena yang memimpin Pajang sekarang adalah Adipati Demak?”

Sebelum Ki Tumenggung Surajaya menjawab, ternyata salah seorang Lurah Penatus telah menjawab, “Ya. Bukankah itu berarti kita setia kepada Demak yang seakan-akan telah merebut Pajang meskipun tidak dengan perang?”

 “Itu adalah satu tanggapan yang salah terhadap kenyataan yang ada di Pajang sekarang,” berkata orang yang bertanya, “Jika Adipati Demak ada di Pajang itu bukan karena Demak merebut Pajang. Tetapi Adipati Demak itu justru diangkat menggantikan Sultan Hadiwijaya yang memerintah bukan saja Pajang sebagaimana seorang Adipati. Tetapi memerintah Pajang. Demak, Pati, Jipang dan termasuk Mataram. Jika Mataram dan Jipang menentang Pajang itu berarti satu pemberontakan. Pada suatu saat Pajang akan menyatakan kuasanya pula di Bang Wetan sebagaimana Sultan Hadiwijaya yang melanjutkan kuasa Demak diatas Tanah ini.”

 “Tidak,” seorang Lurah yang lain hampir berteriak, “Pajang sekarang sama sekali tidak berkuasa atas siapa pun dan apapun diatas Tanah ini. Yang terjadi adalah cengkaman kekuatan Pajang yang disahkan. Dan kuasa itu dipergunakannya untuk berbuat sewenang-wenang atas rakyat yang ada di Pajang. Ayahku mempunyai tanah sepuluh bahu. Tiga bahu diantaranya harus diserahkan kepada seorang pemimpin yang yang datang dari Demak meskipun ayahku masih harus menggarap terus.”

 “Itu masih baik,” berkata Penatus yang lain, “pamanku mempunyai halaman yang ditanami pohon kelapa seluas hanya sebahu karena pamanku termasuk orang miskin. Selama selapan hari pamanku berhasil memetik sekitar limaratus buah. Apa yang terjadi? Seratus lima puluh diantaranya harus diserahkan kepada Ki Rangga Banter. Apa itu wajar?”

Namun perwira yang pertama berpendapat itu berkata, “Jangan kau campur adukkan antara sahnya pemerintah Demak yang ada di Pajang atau lebih tepat pemerintah Pajang yang dipegang oleh Adipati Demak dengan tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”

Namun Kasadhalah yang menjawab, “Tindakan yang kurang baik itu ternyata sama sekali tidak dibenahi sampai sekarang meskipun hal itu sudah diketahui oleh para pemimpin Demak di Pajang.”

Perwira itu termangu-mangu. Sementara itu Ki Tumenggung Surajaya berkata, “Apa yang paling baik kita lakukan dalam keadaan yang gawat seperti sekarang ini?”

Beberapa orang justru terdiam. Perwira yang memberikan tanggapan pertama itu menjadi berdebar-debar. Namun kemudian ia berkata, “Ki Tumenggung. Kita adalah prajurit yang akan menjalankan segala perintah.”

 “Ya,” jawab Ki Tumenggung, “perintah siapa? Itulah soalnya.”

 “Kita tidak wenang menilai kebijakan atasan kita,” berkata perwira itu selanjutnya.

 “Kebijakan itu menyangkut hidup matinya Pajang itu sendiri,” jawab Ki Tumenggung, “apakah kita sepantasnya membantu orang-orang yang sekarang memerintah di Pajang yang membiarkan segala penyelewengan terjadi? Apakah dengan demikian tidak berarti kita ikut membuat rakyat Pajang menderita.”

 “Kebijakan pemerintah Pajang bukan persoalan kita,” berkata perwira itu.

 “Siapakah sebenarnya kita ini?” bertanya Ki Tumenggung, “jika kita ini seorang prajurit, apakah yang dapat kita lakukan?”

Perwira itu termangu-mangu. Namun Ki Tumenggung tidak menunggu perwira itu menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia berkata, “Aku telah mengambil keputusan. Bukan keputusan seorang prajurit yang baik. Tetapi justru karena kita melihat kenyataan yang terjadi di Pajang.”

 “Apa yang harus kita lakukan Ki Tumenggung?” bertanya Ki Rangga Permada yang lebih banyak berdiam diri karena ia pun menyadari bahwa dirinya dianggap seorang prajurit yang kurang bersih oleh para pemimpin Pajang yang datang dari Demak.

Kita akan membebaskan diri dari pertentangan antara Pajang dengan Mataram dan Jipang,” berkata Ki Tumenggung itu.

 “Maksud Ki Tumenggung,” terdengar beberapa orang bertanya bersama-sama.

 “Kita tidak akan mempertahankan kelemahan-kelemahan yang ada di Pajang sekarang. Tetapi kita tidak akan menyeberang ke Mataram dan Jipang,” jawab Ki Tumenggung tegas.

 “Kita akan berdiam diri?” bertanya perwira yang cenderung menentang sikap Ki Tumenggung itu.

 “Ya,” jawab Ki Tumenggung.

 “Kita tidak mengakui keputusan musyawarah keluarga istana yang mengambil keputusan menetapkan Adipati Demak untuk memegang pimpinan pemerintahan di Pajang sekarang ini?” bertanya perwira itu.

 “Bukan begitu. Musawarah itu sah. Tetapi apa yang terjadi kemudianlah yang tidak sah menurut penglihatan kita dan rakyat Pajang. Kita tidak ingin Pajang kemudian menjadi kota mati, karena orang-orangnya telah pindah keluar Pajang. Mereka tidak tahan lagi hidup dalam tekanan yang semakin menghimpit. Kita tidak boleh berpura-pura tidak tahu, bahwa sebagian dari mereka telah pergi ke Mataram, ke Jipang dan ketempat-tempat lain diluar Pajang,” jawab Ki Tumenggung.

Perwira itu termangu-mangu. Sementara itu Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Kita akan menutup barak kita. Kita putuskan semua hubungan dengan orang luar. Kita akan mempertahankan barak kita sebagai satu daerah yang tidak terlibat dalam pertentangan antara Mataram dan Jipang dengan Pajang. Siapa yang berpendirian lain, masih ada waktu untuk meninggalkan barak kita sekarang. Sementara mereka yang mempunyai pasukan diluar barak ini, dan sependapat dengan kita, aku persilahkan untuk membawa pasukannya kemari. Tentu saja dengan semua perbekalan yang ada. Kita tidak tahu, kita akan bertahan berapa hari.”

 “Bagus,” desis Ki Rangga Permada, “aku sependapat dengan sikap itu. Kita akan bertahan sampai kita melihat perubahan yang akan terjadi di Pajang.”

Perwira yang tidak sependapat itu tiba-tiba berkata lantang, “Jadi, kita akan bersikap seperti seorang banci? Kita telah kehilangan akal. Kita kehilangan pegangan sebagai satu kesatuan prajurit Pajang. Apakah ini yang disebut kesatria-kesatria Pajang yang bersikap jantan?”

 “Kau tidak sependapat?” bertanya Ki Tumenggung.

 “Ya. Aku tidak ingin bersikap banci seperti itu,” jawab perwira itu.

 “Seperti yang aku katakan, siapa yang tidak sependapat aku persilahkan meninggalkan barak ini,” jawab Ki Tumenggung. Lalu katanya, “Aku perintahkan semua kekuatan masuk ke dinding barak ini. Sekarang.”

Pertemuan itu pun kemudian segera diakhiri. Ternyata sebagian terbesar dari para pemimpin prajurit yang datang dalam pertemuan itu sependapat dengan sikap Ki Tumenggung. Sementara mereka mendapat tugas untuk menyampaikan keputusan itu kepada prajurit-prajurit mereka.

Para Lurah Penatus yang pada umumnya memiliki prajurit yang lebih dari seratus orang untuk menanggapi keadaan pun segera menghubungi setiap pemimpin kelompok. Sementara itu beberapa orang perwira yang memiliki pasukan diluar barak itu pun segera melakukan perintah. Tetapi perwira yang menentang keputusan Ki Tumenggung itu pun dengan tergesa-gesa berusaha untuk menghubungi para pemimpin yang memegang kendali keprajuritan di Pajang yang hampir semuanya terdiri dari para pemimpin yang datang dari Demak.

Keputusan Ki Tumenggung itu memang mengejutkan. Tetapi masih ada sikap seorang Panglima yang lain yang lebih mencemaskan para pemimpin dari Demak itu. Ki Tumenggung Wirabaya telah meninggalkan Pajang menuju keperkemahan para prajurit dari Mataram.

Salah seorang perwira yang menyampaikan keputusan Ki Tumenggung Surajaya itu telah dihadapkan kepada Ki Tumenggung Bandapati, Ki Tumenggung Windumurti dan beberapa orang pemimpin dari Demak.

 “Kita siapkan prajurit. Kita tangkap Surajaya,” berkata Ki Tumenggung Windumurti.

 “Kita harus berpikir panjang,” desis Ki Tumenggung Balapati, “jika kita tundukkan Surajaya dengan kekerasan, apakah itu tidak berarti kedudukan kita menjadi semakin lemah. Perang diantara kita akan menimbulkan kesan yang semakin buruk. Beberapa orang diantara kita sudah menyeberang. Apakah kita masih akan memperlemah diri dengan membunuh beberapa orang terbaik kita?”

 “Apa salahnya kita membunuh Surajaya yang sudah jelas tidak akan dapat membantu kita?” sahut Tumenggung Windumurti.

 “Kematian Surajaya memang tidak perlu disesali. Tetapi untuk membunuhnya, kita harus mengorbankan orang-orang yang kita perlukan untuk menghadapi Mataram dan Jipang,” jawab Ki Tumenggung Balapati. Lalu katanya pula, “Kecuali kelak, jika perang sudah selesai.”

 “Dan kita sudah terusir dari Pajang,” jawab Ki Tumenggung Windumurti.

 “Apakah kita tidak berpengharapan lagi? Jika demikian buat apa kita berperang?” desis Ki Tumenggung Balapati.

Ki Tumenggung Windumurti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis, “Kita tidak dapat mengingkari kenyataan. Tetapi kita memang tidak boleh untuk tidak berpengharapan. Kita sudah mengumpulkan jumlah orang cukup banyak. Semua hamba, budak dan pelayan telah dipersenjatai. Tetapi mereka bukan prajurit.”

 “Dalam perang brubuh, rampokan seperti mereka itu akan cukup berpengaruh. Dibelakang mereka adalah prajurit-prajurit yang akan mengancam mereka terus-menerus. Siapa yang melarikan diri akan dibunuh,” jawab Ki Tumenggung Balapati.

Keduanya kemudian memang bersepakat untuk sementara tidak mengambil langkah-langkah kekerasan menghadapi sikap Ki Tumenggung Surajaya. Tetapi keduanya akan mengusulkan dan mohon ijin dari para pemimpin tertinggi di Pajang untuk berbicara dengan Ki Surajaya serta memberikan janji-janji yang dapat melunakkan hatinya.

 “Aku sendiri yang akan menemui Ki Tumenggung Surajaya,” berkata Ki Tumenggung Balapati.

Ki Tumenggung Windumurti menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa ia akan bersikap terlalu keras jika ia yang mendapat tugas untuk menemui Ki Tumenggung Surajaya.

Sementara itu Ki Tumenggung Surajaya telah bertekad bulat. Beberapa orang perwira yang sependapat dengan sikapnya, telah membawa pasukan mereka ke barak Ki Tumenggung sehingga semua pasukan yang dibawah perintahnya sebagai seorang Panglima perang telah terkumpul. Pasukan Dmak tidak sempat mencegah mereka. Memang beberapa orang petugas sandi dari Demak dengan cepat melaporkan bahwa ada gerakan prajurit Pajang didalam kota Pajang. Tetapi mereka tidak tahu maksudnya.

Namun demikian para pemimpin pasukan Demak pun segera bersiaga bukan saja menghadapi Mataram dan Jipang. Tetapi mereka menilai gerakan pasukan Pajang itu sendiri sebagai gerakan yang liar dan tidak terkendali.

Perintah dari para pemimpin mereka ternyata datang agak lambat. Para prajurit Demak di Pajang tidak dibenarkan untuk mengambil tindakan sendiri-sendiri. Mereka hanya mendapat perintah untuk bersiaga penuh. Tetapi tidak melakukan tindakan yang apalagi dapat menimbulkan benturan kekerasan dengan prajurit Pajang. Juga yang sedang melakukan gerakan yang tidak diketahui itu.

Namun akhirnya para pemimpin pasukan dari Demak pun mengetahui bahwa pasukan Pajang sebagian telah berkumpul menjadi satu dibarak yang langsung dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya. Bukan hanya para prajuritnya, tetapi juga dengan berbagai macam perbekalan.

Meskipun mereka masih belum mendapat keterangan yang pasti, namun para pemimpin prajurit dari Demak pun segera mengetahui bahwa Ki Tumenggung Surajaya telah melakukan pelanggaran atas paugeran seorang prajurit. Apalagi kedua orang Tumenggung yang pernah memanggil Ki Tumenggung Surajaya.

Sebenarnyalah Ki Tumenggung Surajaya telah melaksanakan niatnya untuk menutup diri dalam baraknya. Beberapa orang yang tidak sesuai dengan keputusannya itu dipersilahkan untuk meninggalkan dinding halaman baraknya. Sementara itu, berbagai macam perbekalan telah disiapkan pula didalam barak itu.

Kasadha adalah salah seorang diantara para Lurah Penatus yang ikut mengurung diri didalam halaman barak itu.

Namun Ki Tumenggung memang sudah bersiaga sepenuhnya. Ia sudah bertekad untuk mempertanggung jawabkan segala langkah yang diambilnya bersama-sama dengan para prajuritnya. Dengan segera Ki Tumenggung telah membagi tugas. Para prajuritnya harus berada disegala sudut dinding halaman serta membuat panggungan yang dapat mengawasi keadaan diluar dinding halaman barak mereka.

Pergolakan yang terjadi di Pajang, justru pada saat yang gawat itu telah dilaporkan kepada Kangjeng Adipati Demak yang telah ditetapkan untuk memegang pimpinan tertinggi di Pajang menggantikan Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang telah wafat. Namun yang kekuasaannya belum pernah mapan dan berjalan sebagaimana sewajarnya, justru karena Kangjeng Adipati Demak itu tidak mampu menguasai orang-orangnya yang dibawanya dari Demak.

Menurut perhitungan Kangjeng Adipati yang menggantikan kedudukan Sultan Hadiwijaya itu, para pemimpin yang dibawanya di Pajang. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya karena para pemimpin yang dibawa dari Demak itu menjadi terlalu manja dan melakukan tindak sewenang-wenang, seolah-olah mereka adalah orang-orang yang telah memenangkan perang yang berhak berbuat apa saja terhadap mereka yang dikalahkan. Mereka telah mendapat kenaikan pangkat dan mereka telah mengambil tanah milik orang-orang Pajang. Ternak dan hasil bumi.

Kangjeng Adipati Demak yang kemudian memegang kekuasaan tertinggi di Pajang itu memang menjadi gelisah. Tetapi para pemimpin yang dibawanya dari Demak itu telah memberikan laporan pula, bahwa mereka berhasil menghimpun kekuatan yang cukup besar.

 “Berhati-hatilah,” berkata Kangjeng Adipati, “kita tahu siapakah Panembahan Senapati dan siapakah Pangeran Benawa.”

 “Tetapi kita pun tahu kekuatan dan kemampuan para Panglima dan Senapati perang dari Demak yang ada di Pajang,” jawab para pemimpin itu.

Sementara itu, Ki Tumenggung Balapati telah bersiap-siap untuk menemui Ki Tumenggung Surajaya didalam baraknya. Sebelum mala petaka terjadi di Pajang, maka Ki Tumenggung telah membawa hanya dua orang pengawal untuk datang ke barak prajurit Pajang segelar sepapan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Tumenggung Surajaya menerima Ki Tumenggung Balapati dengan baik. Tetapi Ki Tumenggung Balapati ternyata tidak mampu berubah sikap Ki Tumenggung Surajaya.

 “Aku menghormati Ki Tumenggung Balapati,” berkata Ki Tumenggung Surajaya, “diantara para pemimpin yang datang dari Demak, maka Ki Tumenggung termasuk salah seorang diantara hanya beberapa orang yang mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi di Pajang. Ki Tumenggung bukan termasuk orang-orang yang memanfaatkan keadaan yang tidak mapan di Pajang sepeninggal Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Tetapi orang seperti Ki Tumenggung jumlahnya terlalu sedikit untuk dapat merubah sikap pemerintahan Demak di Pajang sekarang ini.”

Ki Tumenggung Balapati menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa sulit baginya untuk merubah sikap Ki Tumenggung Surajaya. Agaknya Ki Tumenggung Surajaya sudah tidak dapat menahan diri sehingga batas kesabarannya sudah dilampaui.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Balapati itu pun berkata, “Baiklah. Jika Ki Tumenggung Surajaya sudah benar-benar berniat untuk menutup diri dalam barak ini, agaknya aku sudah tidak dapat lagi berbuat sesuatu. Aku sudah mencoba untuk merubah sikap Ki Tumenggung, tetapi aku tidak berhasil. Karena itu, maka lebih baik aku minta diri.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk hormat sambil menjawab, “Maaf Ki Tumenggung. Aku sudah berdiri diatas satu keyakinan.”

Demikianlah maka Ki Tumenggung Balapati pun telah minta diri. Ia meninggalkan barak Ki Tumenggung Surajaya tanpa membawa hasil. Pembicaraan mereka telah tertutup oleh keyakinan Ki Tumenggung Surajaya atas sikapnya.”

Ketika hal itu dilaporkan kepada Adipati Demak yang ada di Pajang, maka mula-mula Adipati Demak memerintahkan untuk menghancurkan saja kesatuan Ki Tumenggung Surajaya. Tetapi beberapa orang mempunyai pertimbangan lain, justru dalam keadaan yang gawat.

 “Tetapi Surajaya akan dapat menyeberang,” berkata Kangjeng Adipati.

 “Jika hal itu dikehendakinya, maka tentu sudah dilakukannya,” jawab Ki Tumenggung Balapati.

Akhirnya diputuskan bahwa untuk sementara barak Ki Tumenggung Surajaya yang tertutup itu tidak akan diusik. Tetapi barak itu dikepung dan diawasi dengan ketat. Tidak boleh ada orang yang keluar dan masuk regol halaman barak itu. Orang itu akan dapat memberikan keterangan tentang perkembangan keadaan. Tetapi dapat juga memberikan bekal berupa apapun kepada orang-orang yang menutup diri itu. Para pemimpin di Demak berharap, bahwa dengan demikian barak itu akan kehabisan bahan makan dan perlengkapan yang lain.

Tetapi segala sesuatunya memang tergantung kepada keadaan dalam keseluruhan.

Sementara itu, Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah berada diantara prajurit-prajuritnya di perkemahan. Mereka telah menentukan hari yang terbaik untuk menyerang Pajang.

Karena itu, maka mereka pun telah membenahi pasukan mereka diperkemahan. Sementara itu, para petugas sandi telah melakukan tugas mereka dengan baik. Para petugas sandi itu pun segera mengetahui apa yang terjadi di Pajang. Mereka pun segera mengetahui persoalan yang timbul dalam tahanan keprajuritan. Apalagi banyak perwira dan prajurit Pajang yang telah menyeberang ke Mataram atau Jipang.

Ketika saatnya telah tiba, maka baik prajurit Mataram maupun prajurit Jipang pun benar-benar telah bersiap. Ternyata waktu yang mereka tetapkan jauh lebih cepat dari perhitungan orang-orang Demak yang berada di Pajang.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Surajaya masih belum kehabisan bahan makanan dan perbekalan ketika Mataram dan Jipang siap untuk menyerang.

Di hari yang ditentukan, maka pagi-pagi menjelang fajar, terdengar gaung sendaren di udara. Beberapa ekor burung merpati telah dilepaskan dengan sendaren yang diselipkan dipangkal ekornya.

Karena burung-burung merpati itu terbang berputaran, maka gaung sendarennya telah terdengar dari jarak yang cukup jauh. Bukan saja seluruh kota Pajang mendengarnya. Tetapi sendaren pada beberapa ekor burung merpati yang berterbangan itu terdengar sampai keperkemahan prajurit Jipang.

Prajurit Jipang memang sudah bersiap. Mereka memang sudah menentukan bahwa hal itu mereka akan menyerang Pajang. Isyarat suara sendaren itu sekedar untuk memperingatkan, bahwa saat yang mereka tunggu memang telah tiba.

Dengan demikian, sejenak kemudian telah terdengar suara bende di kedua perkemahan. Ketika bende berbunyi sekali, maka semua prajurit harus sudah berkumpul. Mereka yang agak lambat makan, harus segera menyuap mulutnya dengan bagian terakhir dari makan mereka. Kemudian berlari-lari ke kelompok mereka masing-masing.

Ketika bende kemudian berbunyi untuk kedua kalinya, maka semua orang telah bersiap. Senjata-senjata yang akan dibawa telah diteliti dengan saksama. Tidak ada lagi pedang yang tangkainya akan terlepas atau busur yang talinya akan putus atau tombak yang retak landeannya.

Pada isyarat suara bende yang ketiga, maka seluruh pasukan yang besar dari Mataram dan Jipang pun mulai bergerak. Kedua Panglima perang dari pasukan itu tidak berselisih terlalu banyak menjatuhkan perintah untuk maju menuju ke garis pertahanan yang sudah dibangun oleh Pajang. Ternyata pasukan Pajang yang masih setia kepada kepemimpinan Pajang serta para prajurit Demak telah mendapat perintah pula untuk siap menyambut para prajurit yang menyerang. Para pemimpin keprajuritan Pajang yang sebagian adalah justru orang-orang Demak yang mendapat laporan tentang pasukan lawan, telah bersiaga sepenuhnya. Mereka telah mengatur pertahanan di dinding kota. Para hamba, budak, pelayan dan semua orang laki-laki telah dikerahkan tanpa memperhitungkan apakah mereka memiliki keberanian untuk berperang serta kemampuan memegang senjata jenis apapun.

Namun para petugas sandi dari Mataram dan Jipang sempat tertegun melihat jumlah orang yang cukup besar di garis pertahanan.

Sementara itu, Ki Tumenggung Surajaya benar-benar telah menutup diri. Ia tidak tahu apakah dengan demikian ia sudah berkhianat. Yang ia tahu, ia tidak dapat berbuat lebih banyak bagi Pajang dengan pemerintahan yang rapuh. Tetapi ia tidak dapat menyeberang ke Mataram atau Jipang. Ada sesuatu yang menahannya untuk berbuat demikian.

Namun Ki Tumenggung itu telah bersiap sepenuhnya. Semua prajurit yang ada di barak itu sudah siap untuk bertempur melawan siapapun. Melawan Mataram atau Jipang atau bahkan melawan Demak.

Kasadha seorang diantara para prajurit yang berada di barak itu telah meyakinkan prajurit-prajuritnya sesuai dengan perintah Ki Tumenggung Surajaya. Beberapa orang baru yang diserahkan kepadanya, ternyata dapat mengerti keterangan Lurahnya. Sedangkan para prajuritnya yang telah berada di pasukannya sejak ia berada di Gemantar dan kemudian Sembojan mengerti dengan jelas pendirian Lurah Penatus yang masih muda itu.

Tetapi yang tidak diduga oleh Kasadha itu pun telah terjadi. Ketika prajurit Mataram dan Jipang menjadi semakin dekat dengan garis pertahanan Pajang, sementara cahaya langit menjadi semakin terang, seseorang telah mengetuk pintu gerbang barak prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya.

Ketika para penjaga di regol membuka lubang yang dipergunakan untuk melihat keluar sebelum pintu gerbang itu dibuka, maka dilihatnya seorang laki-laki yang berdiri termangu-mangu. Rambutnya yang sudah berwarna rangkap yang nampak sedikit tergerai dibawah ikat kepalanya menunjukkan umurnya yang mulai menua.

Dengan lantang seorang diantara para prajurit itu bertanya, “Kau siapa?”

 “Aku Rangga Gupita. Aku ayah Lurah Penatus Kasadha. Aku ingin bertemu dalam saat yang gawat seperti ini. Aku mohon waktu sebentar saja,” jawab orang yang ada diluar.

 “Tidak seorang pun boleh masuk dan keluar. He, apakah kau tidak ditangkap oleh prajurit Demak ketika kau mendekati barak ini?” bertanya prajurit yang ada didalam.

 “Aku berhasil menyusup diantara kepungan yang menjadi longgar karena para prajurit telah berada di medan. Pasukan Mataram dan Jipang sudah mulai menyerang,” berkata Ki Rangga Gupita.

 “Tetapi regol ini tidak akan dibuka. Siapapun yang menghendaki. Hanya perintah Ki Tumenggung sajalah yang dapat membuka pintu gerbang ini,” jawab prajurit itu.

 “Tetapi aku ayah Ki Lurah Kasadha. Bukankah kau kenal Lurah Penatus yang muda itu?” bertanya orang yang berada diluar regol.

 “Tentu kenal. Tetapi aku tidak berani membuka pintu ini,” jawab prajurit itu pula.

 “Aku harus menemuinya sekarang. Ada hal yang penting sekali harus aku sampaikan,” minta Ki Rangga Gupita.

Para prajurit yang bertugas itu berpikir sejenak. Mereka menjadi ragu-ragu. Namun ketika mereka melihat disekitarnya, mereka tidak menemukan seorang prajurit pun yang berada dibawah perintah Ki Lurah Kasadha.

 “Aku minta tolong,” berkata Ki Rangga Gupita, “jika aku tidak bertemu dengan anakku saat ini, aku akan kecewa dan Kasadha akan menyesal seumur hidupnya. Berita yang akan aku sampaikan menyangkut keselamatan ibunya.”

Para prajurit itu menjadi semakin ragu-ragu. Namun ketika hal itu disampaikan kepada prajurit yang bertugas memimpin penjagaan diregol dan sekitarnya, maka prajurit itu berkata, “panggil saja Ki Lurah Kasadha. Ia bertugas di halaman belakang bersama prajurit-prajuritnya. Ia akan bertemu dengan ayahnya tanpa membuka pintu gerbang itu. Biarlah mereka berbicara melalui lubang itu.”

Prajurit yang memberikan laporan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan memanggil Ki Lurah Kasadha.”

Sejenak kemudian, Ki Lurah Kasadha pun telah melangkah kepintu gerbang. Wajahnya menjadi muram sementara jantungnya menjadi berdebar-debar.

 “Apalagi yang akan dilakukannya? “ pertanyaan itu telah menggetarkan jantungnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Lurah telah berdiri dipintu gerbang. Lewat lubang pengamatan itu ia melihat Ki Rangga Gupita berada diluar pintu gerbang.

 “Buka pintu,” minta Ki Rangga.

Tetapi Kasadha menjawab, “Tidak ada yang berani membuka pintu ini.”

 “Bukankah kau seorang Lurah Penatus yang dapat memerintahkan para prajurit untuk membuka pintu itu,” bertanya Ki Rangga.

 “Ki Tumenggung telah memerintahkan, hanya Ki Tumenggung yang berwenang membuka atau memerintahkan membuka pintu gerbang ini,” jawab Kasadha. Lalu katanya, “Bukankah ayah juga bekas prajurit seorang prajurit yang tahu arti perintah atasannya?”

Ki Rangga menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Namun ia pun kemudian berkata hampir berbisik, “Kau tidak perlu tunduk kepada perintah atasanmu.”

 “Kenapa?” bertanya Kasadha.

 “Ki Tumenggung itu juga tidak tunduk kepada perintah atasannya,” jawab Ki Rangga.

 “Jika aku tidak tunduk kepada perintahnya, apakah aku harus membuka pintu ini dan kemudian aku ditangkap oleh prajurit-prajuritnya yang lain dan mengikat aku pada patok di halaman itu sambil dicambuk dengan rotan?” bertanya Kasadha.

 “Apakah ada orang yang berdiri didekatmu?” bertanya Ki Rangga yang tidak dapat melihat kedalam selain sepasang mata Kasadha.

 “Tidak,” jawab Kasadha, “mereka telah menjauh.”

 “Dengar aku Puguh,” geram Ki Rangga.

 “Aku lebih senang dipanggil Kasadha,” jawab anak muda itu.

 “Dengar aku. Kau harus keluar dari barak ini. Kau harus membantu Pajang mengusir orang-orang Mataram dan Jipang. Jika Pajang berhasil bertahan, maka kau akan mendapat kedudukan yang lebih baik. Kesempatanmu untuk mengambil hakmu atas Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi lebih besar,” berkata Ki Rangga.

 “Aku tidak akan berbicara lagi tentang hakku atas Tanah Perdikan Sembojan. Aku sudah berkata kepada Risang, sebagai saudara tuaku, bahwa ia berhak sepenuhnya atas Tanah Perdikan itu,” jawab Kasadha yang hampir kehilangan kesabarannya. Ia merasa selalu diganggu oleh orang yang menyebut dirinya ayahnya itu.

Wajah Ki Rangga Gupita menjadi merah. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Jadi kau telah bertemu dengan Risang?”

 “Ya. Aku telah bertemu dengan Risang dan bertemu dengan Bibi Iswari. Aku telah mengaku siapa aku dan aku pun telah mengatakan, bahwa aku sama sekali tidak berniat untuk kembali ke Sembojan dengan segala macam tuntutan atas hak dengan alasan apapun juga,” jawab Kasadha.

 “Kau bohong. Jika kau menemui orang-orang yang sekarang berkuasa di Tanah Perdikan Sembojan dengan merampas hakmu, maka kau tentu akan dibunuhnya,” geram Ki Rangga Gupita.

 “Ternyata tidak. Bibi Iswari adalah seorang yang berbudi. Demikian pula Risang. Mereka menganggapku sebagai keluarga sendiri tanpa sikap bermusuhan,” berkata Kasadha.

 “Kau telah berbohong. Ternyata kau takut menghadapi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan,” Ki Rangga Gupita hampir tidak dapat menahan diri lagi.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada datar, “Ya. Aku tidak mempunyai keberanian untuk melawan Bibi Iswari dan Risang, sebagaimana aku tidak berani melawan Mataram dan Jipang.”

 “Anak iblis,” geram Ki Rangga Gupita, “buat apa kau berguru selama ini? Buat apa membesarkanmu dan buat apa aku dan ibumu bekerja keras untuk berpengharapan agar kau pada suatu saat berhasil mengambil hakmu kembali setelah sekian lama dirampas oleh orang lain yang sebenarnya telah disingkirkan oleh ayahmu?”

 “Tetapi bibi Iswari tetap menjadi isterinya menurut paugeran meskipun ayah pernah berusaha untuk menyingkirkannya,” jawab Kasadha.

 “Tidak. Isteri Ki Wiradana yang pertama sudah mati. Ibumu adalah isterinya yang sah sampai saat ayahmu terbunuh,” geram Ki Rangga.

 “Siapakah yang membunuh ayahku yang sebenarnya itu?” bertanya Kasadha.

Wajah Ki Rangga menjadi merah membara. Dengan suara yang tertahan-tahan ia berkata, “Ibumu akan menjadi sangat bersedih mendengar sikapmu. Hatinya sudah terluka karena perang tanding yang dilakukannya terakhir membuatnya kehilangan sebagian dari kemungkinannya untuk memulihkan ilmunya apalagi meningkatkannya. Sekarang, kau yang diharapkan untuk dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukannya ternyata telah mengkhianatinya.”

Kasadha menggeretakkan giginya. Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan telah muncul dihatinya, “Apakah benar aku telah mengkhianati ibuku? Jadi, apakah sekarang ini aku sedang menjadi pengkhianat ganda? Mengkhianati Pajang dan sekaligus berkhianat terhadap ibuku?”

Namun Kasadha mencoba mencari jawabnya. Sambil termangu-mangu ia berdesis seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Aku tidak berkhianat kepada siapapun. Aku tahu ibuku bersalah. Ia tidak berhak memiliki apapun dari Ki Wiradana. Ibu yang pernah berkuasa disamping Ki Wiradana beberapa saat telah menyalah gunakan kekuasaannya, sebagaimana orang-orang Demak menyalah gunakan kekuasaannya di Pajang sekarang ini. Karena itu, jika aku tidak membantu ibu tetapi tidak mencelakainya serta aku tidak membantu Pajang tetapi tidak menyeberang ke Mataram atau Jipang, maka aku tidak pernah dapat disebut pengkhianat.”

 “Kau telah berkhianat,” geram Ki Rangga.

 “Tidak. Tidak. Sekarang pergilah. Pergi,” bentak Kasadha. Ia tidak pernah berbuat sekasar itu sebelumnya.

Bentakan itu telah mengejutkan Ki Rangga Gupita. Telinganya rasa-rasanya telah tersentuh api. Anak itu adalah anak yang sangat takut kepadanya. Semua yang dikatakannya selalu dilakukan dengan wajah pucat. Bahkan Ki Rangga tidak jarang telah memaksakan kehendaknya dengan memukul anak itu tanpa belas kasihan, sejak anak itu masih kanak-kanak.

Pada saat-saat terakhir Ki Rangga memang merasakan perubahan sikap Kasadha terhadapnya. Tetapi ia masih berusaha menahan diri. Namun sikap anak itu mencapai puncaknya dengan sikapnya yang kasar dan bahkan telah mengusirnya.

 “Kau akan menyesali sikapmu itu Puguh,” geram Ki Rangga kemudian, “aku akan menyampaikan kepada ibumu akan sikapmu. Sikapmu terhadap Tanah Perdikan Sembojan dan sikapmu kepadaku. Karena itu, maka jika perang ini selesai, dan kau tidak mati dibunuh oleh orang Mataram, orang Jipang atau orang Pajang sendiri, maka aku akan datang membuat perhitungan.”

 “Aku tidak peduli,” jawab Kasadha, “kau bukan apa-apaku. Aku sekarang sudah dewasa. Sudah berhak menentukan sikapku sendiri.”

 “Kalau aku tahu kau akan berkhianat, aku telah membunuhmu selagi kau masih kanak-kanak,” suara Ki Rangga yang marah itu terasa bergetar disela-sela gemeretak giginya.

 “Pergilah,” ulang Kasadha, “atau aku akan melaporkanmu kepada pemimpin prajurit yang bertugas sekarang ini bahwa kau berusaha menghasut aku.”

 “Gila kau,” Ki Rangga hampir berteriak. Tatapan matanya yang merah menyorotkan kemarahan yang tidak tertahankan.

Beberapa orang prajurit yang untuk sementara menjauhi Kasadha yang dianggapnya akan berbincang tentang persoalan keluarga itu terkejut mendengar suara Ki Rangga yang keras. Seorang diantara mereka mendekati Kasadha sambil bertanya, “Apa yang terjadi Ki Lurah.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menjawab, “Tidak ada apa-apa. Ayah memang agak marah kepadaku.”

Prajurit itu pun telah melangkah menjauhinya lagi tanpa bertanya apapun lagi.

Ki Rangga memang melangkah surut. Namun ia masih saja mengancam sambil berbisik, “Jika kau tidak keluar dari barak ini dan berpihak kepada Pajang agar kau mendapat kesempatan yang luas untuk mengambil hakmu atas Tanah Perdikan Sembojan, maka kau akan mati. Jika tidak oleh prajurit Mataram. Jipang atau Pajang sendiri, maka aku dan ibumu akan mengambil nyawamu karena kau sudah tidak berarti lagi bagi kami.”

Kasadha tidak menjawab. Betapa darahnya serasa mendidih, tetapi ia hanya terdiam sambil mengatupkan giginya rapat-rapat.

Ki Rangga yang melihat sepasang mata Kasadha di lubang pengawasan dipintu gerbang itu tiba-tiba saja tidak dapat menahan diri lagi. Dengan cepat tangannya telah bergerak. Kedua jari-jarinya mengembang tepat selebar jarak kedua mata Kasadha.

Namun Kasadha melihat gerak itu. Karena itu, maka ia pun telah bergeser setapak menyamping, sehingga kedua jari-jari Ki Rangga Gupita itu tidak mengenai sasarannya.

Hampir saja Kasadha memberi isyarat kepada para prajurit yang ada diatas panggung di dinding halamanan. Atau ia sendiri meloncat keatas panggung dan membalas serangan itu dari atas dengan busur dan anak panah. Tetapi ia telah menahan dirinya. Sementara itu, orang-orang yang ada diatas panggung tidak memperhatikan apa yang terjadi. Ketika mereka melihat seseorang mendekati pintu gerbang, mereka telah menunggu perintah. Mereka tidak langsung bertindak karena mereka melihat orang itu sendirian dan tidak bersenjata. Karena itu, maka mereka menyerahkan persoalannya kepada para prajurit yang berjaga-jaga dipintu. Kecuali jika ada perintah untuk berbuat sesuatu.

Tetapi ternyata tidak ada perintah apapun. Kasadha yang berhasil menyelamatkan sepasang matanya juga tidak berbuat apa-apa. Ia masih mengingat ibunya yang tentu berkepentingan dengan Ki Rangga Gupita. Jika ia berbuat sesuatu sehingga laki-laki itu terbunuh, maka hati ibunya yang terluka tentu semakin luka. Ia akan merasa kehilangan segala-galanya. Cita-citanya, anak laki-lakinya serta laki-laki yang kemudian dianggapnya suaminya. Meskipun kemudian ibunya itu mempunyai seorang anak laki-laki lagi, namun anak itu tidak akan dapat dipergunakan untuk memancing kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan.

Para prajurit yang berada disebelah pintu gerbang itu memang menjadi heran melihat sikap Kasadha. Tetapi karena Kasadha kemudian tidak berbuat apa-apa, maka mereka pun tidak berbuat apa-apa juga.

Dari lubang pengamatan itu Kasadha sempat melihat orang yang pernah mengaku sebagai ayahnya itu melangkah meninggalkan pintu gerbang itu. Namun beberapa saat kemudian, maka ia melihat orang itu berbelok dan kemudian menyusup ke sebuah lorong sempit.

Ki Rangga Gupita memang pernah menjadi prajurit sandi Jipang sebelumnya, sehingga ia pun memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari pengamatan prajurit Demak yang mengepung barak itu. Namun seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga, kepungan itu telah menjadi longgar, karena sebagian besar prajurit Pajang telah berada di medan.

Sesaat kemudian maka seorang prajurit telah mendekatinya sambil bertanya, “pesan apa yang disampaikan oleh ayahmu?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab, “Ibu sakit.”

 “Kenapa ayahmu marah-marah?” bertanya prajurit itu.

 “Ayah minta aku menengok ibu. Tetapi seperti kau ketahui, apakah dalam keadaan seperti ini aku dapat pergi?,” Kasadha justru bertanya.

 “Mudah-mudahan sakit ibumu tidak parah,” desis prajurit itu, “dalam keadaan seperti ini, kadang-kadang kita dihadapkan pada satu pilihan yang sangat sulit.”

 “Bukankah kita tidak mempunyai pilihan sekarang ini?” desis Kasadha.

 “Ya. Kita memang tidak mempunyai pilihan,” jawab prajurit itu.

Kasadha pun kemudian telah minta diri kepada para prajurit yang bertugas diregol. Katanya, “Terima kasih atas bantuan kalian memanggil aku kebelakang. Aku akan kembali ke tugasku. Menurut ayah. Mataram dan Jipang telah mulai bergerak.”

 “Merpati sendaren tadi agaknya merupakan isyarat dari para prajurit Mataram dan Jipang,” desis salah seorang prajurit.

Kasadha mengangguk-angguk. Ia pun berpendapat demikian. Merpati dengan sendaren adalah salah satu isyarat jarak jauh yang paling memungkinkan.

Demikianlah, maka Kasadha pun segera kembali ke kelompoknya. Namun beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung Surajaya telah memanggil para pemimpin prajuritnya yang ada di barak itu.

Ketika para pemimpin itu sudah berkumpul, maka dengan singkat Ki Tumenggung berkata, “Kita yakin, bahwa perang sudah pecah. Berhati-hatilah dengan tugas kalian. Kita akan melawan siapapun yang datang dengan kekerasan. Tetapi kita akan berbicara dengan pihak mana pun yang datang dengan niat baik.”

Para pemimpin prajurit didalam barak itu pun segera kembali ke kelompok masing-masing. Semua orang berada dalam kesiagaan penuh. Mereka sadar, jika sekali mereka melepaskan anak panah, maka barak itu akan musna. Apalagi jika kebetulan yang datang adalah prajurit Mataram. Maka barak itu tidak mempunyai kekuatan cukup untuk bertahan terhadap pasukan Mataram meskipun hanya bagian kecil dari seluruh kekuatan yang dikerahkan.

Dengan berdebar-debar para prajurit di barak itu menunggu. Mereka telah bersiap di tempat yang telah ditentukan. Beberapa buah panggung yang disiapkan berisi masing-masing tiga orang dengan busur dan anak panah. Jika terjadi benturan kekerasan, maka kelompok-kelompok yang disiapkan untuk memanjat panggungan pun telah bersedia dan siap dengan lembing ditangan.

Sementara itu, pasukan Mataram dan Jipang memang telah berbenturan di garis perang. Gelombang serangan pasukan Mataram dan Jipang ternyata tidak terlalu dahsyat melanda pertahanan prajurit Pajang dan Demak. Jumlah orang yang banyak serta kekuatan prajurit diantara mereka, telah mampu menahan pasukan Mataram di sisi sebelah Barat dan pasukan Jipang di medan sebelah Timur.

Meskipun demikian, namun pertempuran telah berlangsung dengan sengitnya. Prajurit Mataram yang berani telah berusaha untuk menembus pertahanan para prajurit Demak dan Pajang. Namun pertahanan Pajang dan Demak bagaikan dinding berujung tombak serapat daun ilalang, sehingga dengan demikian maka para prajurit Mataram itu sulit untuk menembus.

Karena itulah, maka pertempuran itu masih saja tidak beranjak jauh dari garis benturan. Kedua pasukan yang bertempur itu saling mendesak sehingga garis pertempuran itu terasa tekan-menekan.

Ketika pertempuran itu berlangsung hampir setengah hari, para prajurit Demak dan Pajang justru merasa heran. Terutama terhadap pasukan Mataram. Para Senapati dari Mataram sama sekali tidak menunjukkan kelebihannya. Beberapa orang hanya berteriak-teriak saja memberikan aba-aba. Para Senapati Demak dan Pajang tidak melihat orang-orang yang berilmu tinggi dari Mataram. Mereka tidak melihat beberapa orang Pangeran yang terbiasa memegang pimpinan pasukan dari Mataram. Mereka tidak melihat Ki Juru Martani apalagi Panembahan Senapati sendiri. Sedangkan yang di sisi Timur pun, tidak melihat kehadiran Pangeran Benawa dan para Senapati terpilih dari Jipang.

 “Apakah yang sebenarnya terjadi? “ pertanyaan itu timbul dihati para Panglima pasukan Pajang dan Demak.

Namun pertempuran itu berlangsung terus.

Para Panglima prajurit Pajang dan Demak memang merasa seakan-akan apa yang mereka hadapi bukan yang mereka bayangkan sebelumnya. Mereka mengira bahwa akan datang banjir bandang yang akan dapat menenggelamkan Pajang. Namun yang mereka hadapi saat itu bukan satu serangan yang mengejutkan.

Karena itu, maka para Panglima di Pajang merasa akan dapat membendung arus serangan baik dari Mataram maupun dari Jipang. Yang perlu mereka lakukan kemudian adalah membakar gairah perjuangan serta meyakinkan kemenangan bagi Pajang.

Dengan demikian maka para prajurit Pajang dan prajurit Demak, serta orang-orang yang dipersenjatai itu pun merasa bahwa mereka akan segera menyelesaiakan pertempuran dan mengusir prajurit Mataram dan Jipang.

Sementara itu, dua orang Panglima pasukan Demak sempat berbincang menghadapi keadaan yang tidak mereka perkirakan sebelumnya.

 “Nampaknya kesepakatan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa untuk menyerang Pajang bukan kesepakatan yang sebenarnya,” berkata seorang diantara mereka.

 “Kenapa?” bertanya yang lain.

 “Keduanya seakan-akan hanya sekedar menunjukkan kesediaan mereka untuk saling membantu. Mereka sepakat untuk menyerang Pajang. Tetapi tanpa saling berjanji, masing-masing hanya mengirimkan pasukan sekedarnya saja,” berkata Panglima itu.

Kawannya mengangguk-angguk sambil berkata, “Masing-masing mengharap yang lain akan turun kemedan dengan kekuatan penuh sehingga setiap pihak merasa tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatan yang ada. Celakanya kedua belah pihak berpendirian demikian, sehingga keduanya justru turun dengan pasukan seadanya.”

Panglima itu tertawa. Katanya, “Akhirnya seperti kita saksikan sekarang. Baik Mataram maupun Jipang tidak turun dengan kekuatan yang memadai.”

 “Tetapi prajurit-prajurit yang ada telah bertempur dengan garang,” sahut kawannya.

Akhirnya mereka harus berbuat apa yang dapat mereka lakukan. Para prajurit yang diumpankan itu menjadi putus asa,” berkata Panglima itu.

Sebenarnyalah bahwa prajurit Mataram dan Jipang tidak mampu berbuat banyak. Mereka tidak dapat mengoyak pertahanan prajurit Pajang dan Demak yang ada di Pajang. Bahkan lewat tengah hari, maka pasukan Mataram dan Jipang telah bergeser surut. Mereka mulai menarik pasukan mereka dari medan pertempuran. Yang mula-mula terdesak adalah pasukan Jipang. Namun semakin sore, maka pasukan Matarampun mulai ditarik mundur.

Sebelum matahari sampai kepunggung pegunungan, maka pasukan Mataram dan pasukan Jipang telah meninggalkan medan pertempuran sambil membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Beberapa orang yang jatuh menjadi korban, tidak semuanya dapat dibawa mundur ke perkemahan. Baik di sisi Barat maupun di sisi Timur.

Yang terdengar adalah sorak gemuruh prajurit Pajang dan Demak di medan sebelah Timur ketika pasukan Jipang mulai terdesak. Seorang penghubung dengan tergesa-gesa berlari-lari ke istana untuk memberitahukan bahwa pasukan Demak dan Pajang telah berhasil mendesak mundur pasukan Jipang.

Adipati Demak yang ada di Pajang yang mendengar berita itu menjadi sangat gembira. Dengan lantang ia memberikan perintah untuk memindahkan sebagian pasukan di sisi Timur itu ke sisi Barat.

 “Pasukan khusus dari Demak dapat bergerak dengan cepat,” berkata Adipati Demak, “pasukan Mataram harus dihancurkan lebih lumat lagi dari pasukan Jipang. Aku masih mengingat bahwa Pangeran Benawa adalah seorang yang tidak terlalu banyak menuntut. Apalagi ia adalah putera Ayahanda Sultan Hadiwijaya. Sedangkan Panembahan Senapati adalah anak pidak pedarakan. Ia tidak lebih dari putera angkat ayahanda Sultan Hadiwijaya. Karena itu, maka kesombongan Panembahan Senapati harus dihentikan. Pasukannya harus dihancur lumatkan.”

Tetapi sebelum perintah itu dilakukan, maka telah datang pula seorang prajurit penghubung dari medan di sebelah Barat. Penghubung itu mengabarkan, bahwa pasukan Demak dan Pajang telah berhasil mengusir pasukan Mataram yang datang menyerang.

 “Mereka telah mundur ke perkemahan mereka,” berkata penghubung itu.

 “Apakah prajurit Demak dan Pajang tidak menghancurkan prajurit Mataram yang sombong itu?” bertanya Adipati Demak yang berada di Pajang itu.

 “Mereka sempat menarik pasukannya,” jawab penghubung itu.

 “Jadi pasukan itu dibiarkan mundur dalam keadaan utuh?” bertanya Adipati Demak itu.

 “Mereka mundur dalam gelar perang yang mapan, sehingga sulit untuk memecahnya dan mencerai-beraikannya,” jawab penghubung itu dengan nada yang bergetar.

Wajah Adipati Demak itu menjadi merah. Katanya, “Kalian memang dungu. Pasukan Mataram itu harus dihancurkan sampai lumat. Jika kalian mampu mendesak mundur, maka kalian tentu akan dapat menghancurkannya jika kalian sedikit mempunyai otak.”

Penghubung itu tidak berani mengangkat wajahnya. Namun ia masih mencoba menjelaskan, “Ampun Kangjeng. Pasukan Pajang sebagian terdiri dari para hamba, budak, pelayan dan orang-orang yang tidak memahami ilmu keprajuritan, sehingga agak sulit untuk mengatur mereka menghadapi perang gelar yang mapan dari Mataram.”

 “Tetapi bukankah diantara kalian terdapat prajurit-prajurit dari Demak dan Pajang?” bertanya Kangjeng Adipati.

 “Hamba Kangjeng.”

 “Jika demikian, kenapa kalian tidak dapat melakukannya?” bertanya Kangjeng Adipati.

Penghubung itu bukan saja tidak berani menengadahkan wajahnya, tetapi ia sama sekali tidak berani lagi menjawab.

Namun Kangjeng Adipati itu kemudian berkata, “Kita lihat perkembangan keadaan. Jika Mataram dan Jipang tidak menyerang lagi dalam dua hari ini, maka kitalah yang akan menyerang perkemahan mereka. Kecuali dalam satu dua hari lagi mereka dengan diam-diam, justru meninggalkan perkemahan mereka. Meskipun demikian, aku akan tetap memanggil Panembahan Senapati dan Adimas Benawa untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika mereka tidak mau datang, maka Demak dan Pajang akan menghancurkan Mataram dan Jipang.”

Penghubung itu diam sambil menunduk dalam-dalam. Sementara para pemimpin yang lain pun tidak ada yang berani mengatakan sesuatu.

 “Baiklah,” berkata Kangjeng Adipati, “sekarang kita sempat beristirahat. Jika terjadi perkembangan baru, beri aku laporan.”

Penghubung itu pun segera mohon diri. Demikian pula para pemimpin yang lain. Nampaknya Kangjeng Adipati Demak yang kemudian memerintah di Pajang itu akan beristirahat menjelang senja.

Tetapi beberapa saat kemudian, ternyata datang ampat orang utusan yang membawa pesan dari Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa.

Ketika pelayan dalam memberitahukan hal itu, maka Adipati Demak yang berada di Pajang itu menjadi berdebar-debar.

 “Apakah mereka akan menyatakan pengakuan atas kekalahan mereka?” bertanya Adipati Demak itu didalam hatinya.

Dengan demikian, maka Kangjeng Adipati itu telah memanggil beberapa orang pimpinan keprajuritan dan pemerintahan untuk ikut menerima keempat utusan itu.

Beberapa saat keempat utusan itu menunggu. Baru kemudian, Kangjeng Adipati yang telah berbicara serba sedikit dengan para pemimpin di Pajang itu keluar menemui mereka diiringi oleh beberapa orang pemimpin di Pajang yang sebagian besar berasal dari Demak.

 “Ternyata Ki Juru Mertani sendiri yang datang,” sapa Kangjeng Adipati.

 “Ya Kangjeng. Aku diutus oleh Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa untuk menemui Kangjeng Adipati,” jawab Ki Juru Martani.

 “Setelah pasukan kalian kami lemparkan keluar dari medan,” sahut Kangjeng Adipati.

Ki Juru Martani tersenyum. Jawabnya, “Pasukan Mataram di medan sebelah Barat dan pasukan Jipang disebelah Timur memang telah ditarik dari medan.”

 “Pasukan kalian memang menjadi parah,” sahut Kangjeng Adipati, “tetapi pasukan Pajang masih berbaik hati untuk tidak menghancurkan kedua pasukan itu karena kami merasa bahwa kita, maksudku Pajang, Demak, Jipang dan Mataram masih bersaudara. Namun kami mohon bahwa orang-orang Mataram dapat melihat ke diri mereka sendiri. Demikian pula Pangeran Benawa. Sehingga dengan demikian mereka tidak akan melakukan kesalahan yang memalukan lagi.”

Ki Juru Martani mengangguk hormat. Katanya, “Kami akan menyampaikannya kepada angger Panembahan Senapati dan angger Pangeran Benawa.”

 “Dan sekarang, pesan apa yang ingin disampaikan oleh Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa? Apakah mereka sudah mengakui kekalahan mereka? Bagaimanapun juga keduanya harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Serangan mereka atas Pajang telah menimbulkan banyak kesulitan di Pajang. Bahkan telah jatuh pula korban,” berkata Adipati Demak.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Sementara kawan-kawannya yang datang bersamanya termangu-mangu.

Namun Ki Juru pun kemudian berkata, “Angger Adipati. Baiklah aku berterus-terang. Jika ada kesalahanku aku mohon maaf.”

 “Katakan Ki Juru,” jawab Adipati Demak itu.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Sementara itu lampu minyak telah menyala dimana-mana.

 “Jangan ragu-ragu Ki Juru,” minta Kangjeng Adipati, “aku akan segera beristirahat.”

 “Ampun Kangjeng Adipati,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “aku adalah orang tua yang sekedar mengemban tugas yang dibebankan oleh angger Panembahan Senapati kepadaku, untuk menyampaikan permintaan angger Panembahan Senapati.”

 “Permintaan apa? Permintaan ampun?” bertanya Adipati Demak.

 “Kangjeng Adipati. Angger Panembahan Senapati minta agar Kangjeng Adipati segera menyerah saja,” sambung Ki Juru.

Wajah Adipati Demak bagaikan disengat api. Sorot matanya menjadi kemerahan menahan marah. Dengan suara gagap ia bertanya, “Apakah aku tidak salah dengar. Coba ulangi.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengulangi sekali lagi pesan Panembahan Senapati, “Angger Panembahan Senapati berpesan, agar Kangjeng Adipati segera menyerah saja.”

 “Ki Juru,” geram Adipati Demak, “kau adalah orang tua yang dihormati. Tetapi ternyata kau tidak mempunyai otak. Kau tahu bahwa prajurit Mataram dan Pajang telah terusir dari medan pertempuran hari ini. Kenapa kau masih berani datang untuk minta aku menyerah? Apakah sebenarnya kau memang tidak waras lagi atau orang yang memerintahmu datang kemari yang tidak waras?”

 “Ampun Kangjeng Adipati,” berkata Ki Juru Martani, “perintah yang aku bawa memang demikian. Angger Panembahan Senapati memerintahkan Kangjeng Adipati untuk memanggil dan memerintahkan semua prajurit masuk kedalam barak masing-masing. Menyingkirkan semua hamba, budak, pelayan dan orang-orang yang sama sekali bukan prajurit untuk menyingkir dari medan. Kemudian angger Adipati harus menyambut kedatangan Panembahan Senapati juga Pangeran Benawa di pintu gerbang istana. Menghormati mereka dan kemudian menyerahkan kepemimpinan Pajang kepada mereka.”

 “Diam,” bentak Adipati Demak di Pajang itu, “jika aku tidak mengingat kau orang tua yang dihormati oleh Panembahan Senapati, maka kau sudah aku tangkap, aku ikat dan dihukum picis di alun-alun.”

 “Aku hanya utusan Kangjeng Adipati,” jawab Ki Juru Martani.

 “Aku tidak peduli. Bahkan Panembahan Senapati sendiri jika berani datang untuk mengatakan hal itu, akan aku tangkap langsung. Jika prajuritnya ingin membelanya, maka mereka akan aku hancurkan sampai lumat,” geram Kangjeng Adipati.

 “Aku mohon jawaban Kangjeng Adipati,” berkata Ki Juru.

 “Cukup. Dalam waktu pendek aku persilahkan Ki Juru meninggalkan kota. Jika tidak, mungkin aku akan berubah pendapat, karena memang ada keinginanku menghukum Ki Juru di alun-alun Pajang,” berkata Kangjeng Adipati.

 “Aku mohon diri. Tetapi perkenankan aku memberi tahukan, bahwa yang terjadi hari ini adalah sekedar penjajagan. Kangjeng Adipati jangan salah hitung atas kekuatan Mataram dan Jipang yang sebenarnya,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “karena itu pertimbangkan permintaan Panembahan Senapati dengan baik.”

 “Aku tidak mau mendengar lagi,” Kangjeng Adipati yang marah itu hampir berteriak.

 “Baiklah. Tetapi jangan umpankan hamba-hamba, budak, pelayan dan orang-orang yang tidak pantas untuk tampil di peperangan, karena perang taruhannya adalah nyawa. Kematian mereka tidak akan berarti apa-apa. Baik bagi Demak, Pajang maupun bagi Mataram dan Jipang. Sedangkan sebenarnya mereka sama berharganya dengan nyawa kita sendiri,” berkata Ki Juru.

Adipati Demak itu menggeretakkan giginya. Hampir saja ia meneriakkan perintah untuk menangkap Ki Juru Martani. Namun justru Kangjeng Adipati lah yang bangkit dan meninggalkan pertemuan itu.

Ki Juru Martani termangu-mangu. Sementara itu seorang Tumenggung dari Demak telah berkata kepada Ki Juru, “Sebaiknya Ki Juru Martani segera meninggalkan istana dan kembali ke pasanggrahan Panembahan Senapati. Ki Juru masih beruntung bahwa Kangjeng Adipati sempat mempergunakan penalarannya dan meninggalkan Ki Juru disini. Sebenarnyalah permintaan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa tidak masuk akal, karena hari ini prajurit Mataram dan Jipang terusir dari medan hanya dalam waktu setengah hari. Lewat tengah hari lebih sedikit, prajurit Jipang sudah nampak menarik pasukannya. Kemudian di sore hari, selagi matahari masih tinggi dilangit, pasukan Mataram pun telah meninggalkan medan.”

 “Sudah aku katakan Ki Tumenggung,” jawab Ki Juru, “yang dilakukan oleh Mataram dan Jipang adalah sekedar penjajagan. Jika Kangjeng Adipati menolak untuk menyerah, maka yang kemudian akan datang adalah kekuatan yang sebenarnya. Seharusnya Demak dan Pajang sempat menilai, bahwa dengan mengirimkan pasukan yang sekedar untuk melakukan penjajagan, maka Demak dan Pajang sudah harus mengerahkan semua kekuatannya. Bahkan mengirimkan budak-budak, hamba, pelayan dan semua laki-laki kemedan perang.”

 “Baiklah Ki Juru,” berkata Tumenggung itu, “aku ingin mengulangi perintah Kangjeng Adipati, silahkan meninggalkan istana dan bahkan meninggalkan kota. Jika malam menjadi semakin dalam, maka suasananya akan berubah. Mungkin para prajurit tidak dapat mengenal Ki Juru atau mungkin mereka berpendapat lain. Prajurit yang siang tadi berada di medan, akan lain sikapnya dengan prajurit pengawal pintu gerbang ini.”

 “Baiklah,” berkata Ki Juru, “kami mohon diri,” berempat Ki Juru meninggalkan istana Pajang.

Beberapa kali Ki Juru dihentikan di perjalanan kembali ke perkemahan. Namun mampu meyakinkan mereka, bahwa Ki Juru adalah utusan dari Panembahan Senapati menghadap Kangjeng Adipati.

Hampir setiap orang yang mendengar jawabannya memastikan bahwa Mataram dan Jipang telah mengakui kekalahan mereka, sehingga mereka datang untuk menyampaikannya langsung kepada Kangjeng Adipati.

 “Jika tidak, maka kita akan menghancurkan mereka di perkemahan mereka,” berkata seorang prajurit yang dengan bangga merasa melepaskan utusan-utusan dari Mataram yang menyerah itu.

Ketika Ki Juru kemudian sampai diperkemahan Panembahan Senapati, maka Ki Juru pun segera menemuinya dan melaporkan hasil perjalanannya.

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam.

Katanya, “Apakah kita harus benar-benar bertempur? Adimas Adipati Demak yang berada di Pajang itu tentu tidak sempat melihat sendiri apa yang terjadi. Kita sudah berusaha untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Hari ini kita sudah menunjukkan kepada Adimas Adipati Demak di Pajang, bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki kekuatan cukup untuk melawan Mataram dan Jipang. Jika mereka sempat membuat perhitungan, maka mereka seharusnya tahu bahwa yang mereka hadapi barulah satu permainan kecil yang tidak berarti bagi Mataram dan Jipang.”

 “Mereka ternyata salah mengerti Panembahan,” desis Ki Juru.

 “Ya paman,” jawab Panembahan Senapati, “tetapi apakah caraku untuk memperingatkan Adimas Adipati salah?”

 “Menurut pertimbanganku tidak ngger,” jawab Ki Juru “ para pemimpin Pajang dan Demak tentu melihat, bahwa tidak ada Senapati terpenting dalam pasukan Mataram dan Jipang yang datang hari ini. Seharusnya mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa pasukan yang datang itu tentu bukan induk pasukan.”

 “Aku berusaha untuk mengurangi korban. Dengan cara ini, maka kita akan dapat menyelesaikan persoalannya dengan tidak mengorbankan orang lebih banyak lagi. Apalagi budak-budak, hamba dan para pelayan yang tidak tahu menahu persoalannya. Juga setiap laki-laki di Pajang yang dipersenjatai dan harus maju ke medan perang. Bahkan dipersiapkan untuk perang,” berkata Panembahan Senapati.

Namun Ki Juru pun telah menceriterakan sikap Adipati Demak. Ki Juru seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Setiap kali ia dibentak untuk diam.

 “Baiklah paman,” berkata Panembahan Senapati, “perintahkan para penghubung untuk menghubungi Adimas Pangeran Benawa. Besok kita tidak turun ke medan. Kita menunggu, barangkali orang-orang Pajang sempat berpikir dan menilai keadaan. Tetapi jika besok kita tidak mendengar sikap apapun yang diambil oleh Adimas Adipati Demak di Pajang, maka besok lusa kita benar-benar akan turun ke medan perang.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Sebenarnyalah kita memang harus mencari jalan untuk menghindarkan korban yang tidak terhitung banyaknya. Orang-orang yang tidak pantas untuk berada di medan itu akan kehilangan kesempatan sama sekali untuk tetap hidup. Mungkin kita masih dapat mengerti bahwa Pajang telah mengumpulkan orang-orang yang bukan prajurit untuk ikut bertempur, sebagaimana kita lakukan dengan mengumpulkan laki-laki dewasa dalam batas-batas tertentu. Tetapi Pajang telah mengumpulkan hampir semua laki-laki dalam keadaan apapun? Yang sudah terlalu tua, yang masih remaja bahkan dapat disebut kanak-kanak, yang sakit-sakitan dan bahkan mereka yang hampir tidak kuat mengangkat pedang, sebagaimana Panembahan katakan tadi.”

 “Kita akan memerintahkan para prajurit untuk memilih sasaran,” berkata Panembahan Senapati.

 “Tetapi jika orang-orang itu memaksa para prajurit untuk melawan mereka, maka yang terjadi tentu semacam pembantaian,” berkata Ki Juru.

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Dari para Senapati yang menjajagi kemampuan pasukan Demak dan Pajang, Panembahan Senapati telah mendapat laporan, bahwa diantara mereka yang turun ke medan adalah orang-orang yang tidak patut lagi berperang atau bahkan ada yang belum waktunya berperang.

Jika kematian tidak terkendali, maka Pangeran Benawa tentu akan menjadi sangat berprihatin, karena ia merasa paling berkepentingan atas Pajang, karena Pangeran Benawa adalah putra laki-laki Sultan Hadiwijaya, sedangkan Adipati Demak tidak lebih dari seorang menantu dari Sultan Hadiwijaya yang memerintah Pajang sebelumnya.

Karena itulah, maka Panembahan Senapati telah memerintahkan Ki Juru untuk mengirimkan utusan untuk menemui Pangeran Benawa.

Namun agaknya Ki Juru berpendapat lain. Katanya, “Sebaiknya aku sendiri akan pergi ke perkemahan Pangeran Benawa disisi Timur.”

 “Paman akan menjadi terlalu letih. Biarlah seorang Panglima yang mengerti dengan pasti pertimbangan kita untuk berbicara dengan Adimas Pangeran,” sahut Panembahan Senapati.

 “Tidak angger, Aku tidak merasa terlalu letih. Bukankah aku tinggal duduk saja dipunggung kuda?” jawab Ki Juru.

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Silahkan paman, jika pamas benar-benar berniat untuk pergi meskipun sebenarnya tidak harus paman sendiri. Aku tahu, paman tidak ingin keterangan yang kita berikan kepada Adimas Pangeran kurang jelas.”

Demikianlah, maka Ki Juru pun telah berangkat ke sisi Timur kota Pajang untuk menghubungi Pangeran Benawa.

Pangeran Benawa ternyata juga sedang berbincang tentang lawan yang dihadapi oleh prajurit-prajuritnya. Seperti Panembahan Senapati, maka Pangeran Benawa pun merasa sangat prihatin atas lawan yang terdiri dari orang-orang yang tidak sepantasnya turun ke medan, yang dihimpun oleh para prajurit Demak dan Pajang.

 “Aku sependapat paman,” berkata Pangeran Benawa ketika Ki Juru menyampaikan pesan Panembahan Senapati, “besok kita tidak turun ke medan. Aku juga ingin mendengar apa yang akan dilakukan oleh Kakang-mas Adipati Demak setelah kita melakukan penjajagan kecil terhadap kekuatan Demak dan Pajang.”

 “Terima kasih Pangeran,” jawab Ki Juru, “mudah-mudahan ada jalan lain kecuali perang.”

 “Aku memang menjadi sangat prihatin melihat peninggalan ayahanda Sultan Hadiwijaya menjadi hancur. Tetapi jika kita biarkan Pajang dengan perkembangannya sebagaimana kita lihat, maka Pajang akan menjadi semakin rapuh. Lukanya akan menjadi semakin parah, sehingga pada suatu saat tidak akan tertolong lagi,” berkata Pangeran Benawa.

Beberapa lama Ki Juru berbincang dengan Pangeran Benawa. Nampaknya tidak ada perbedaan pendapat antara Panembahan Senapati dengan Pangeran Benawa menghadapi perkembangan Pajang.

Hampir tengah malam barulah Ki Juru kembali ke perkemahannya bersama dengan sekelompok pengawalnya.

Sementara itu, di dalam kota Pajang, Ki Tumenggung Surajaya telah memerintahkan dua orang petugas sandinya untuk mencari berita, apa yang telah terjadi di Pajang setelah berlangsung pertempuran melawan Mataram dan Jipang.

Tetapi berita yang kemudian disampaikan kepada Ki Tumenggung Surajaya telah membuat jantung Tumenggung itu menjadi berdebar-debar. Ternyata Pajang berhasil memukul pasukan Mataram dan Jipang di kedua medan pertempuran.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung telah memerintahkan semua prajuritnya untuk semakin bersiap menghadapi segala kemungkinan.

 “Apapun yang akan terjadi, kita sudah menentukan sikap atas dasar satu keyakinan. Jika Pajang berhasil mempertahankan diri, maka para pemimpin Demak yang ada di Pajang akan menjadi semakin sewenang-wenang. Dan kita merasa bahwa lebih baik tidak melihat apa yang akan terjadi,” berkata Ki Tumenggung Surajaya kepada para prajuritnya.

Ternyata para prajuritnya sependapat dengan sikap pimpinannya, sehingga karena itu, maka mereka pun telah bertekad untuk mempertahankan barak mereka dengan segala kemampuan yang ada di barak itu,

Tetapi sementara itu, Ki Tumenggung Surajaya sempat menjadi heran, bahwa Pajang dan prajurit-prajurit Demak mampu mempertahankan diri dari serangan prajurit Mataram dan Jipang. Satu hal yang tidak terduga. Ki Tumenggung Surajaya tahu benar kekuatan yang ada di Pajang. Ki Tumenggung tahu benar bahwa ada beberapa orang perwira Pajang yang telah menyeberang ke Mataram atau ke Jipang. Demikian pula rakyat Pajang pun telah banyak yang meninggalkan kampung halamannya bernaung dibawah kekuasaan Mataram dan Jipang.

Namun Ki Tumenggung pun tidak dapat menolak kenyataan, bahwa Pajang memang mampu mempertahankan dirinya menghalau serangan Mataram dan Jipang.

Di hari berikutnya, Ki Tumenggung Surajaya mendapat keterangan lewat petugas sandinya, bahwa hari itu sama sekali tidak ada pertempuran. Pasukan Mataram dan Jipang sama sekali tidak melakukan gerakan apapun juga.

Namun ternyata bahwa Adipati Demak tidak melakukan penelitian lebih jauh. Meskipun ada juga beberapa orang perwira yang menangkap isyarat dari serangan yang telah dilakukan oleh Panembahan Senapati dan Pangel Benawa. Namun ketika hal itu dikemukakan kepada Kangjeng Adipati, maka perwira itu telah ditertawakannya.

 “Ternyata kalian adalah pengecut yang cemas mendengar kebesaran nama Mataram dan Jipang. Tetapi kalian tidak mau melihat kenyataan, bahwa pasukan Mataram dan Jipang tidak mampu berbuat apa-apa terhadap pasukan Pajang dan Demak yang ada di Pajang,” berkata Kangjeng Adipati.

Namun perwira itu mencoba untuk menjelaskan, “Ampun Kangjeng Adipati. Jika pasukan Mataram dan Jipang itu merupakan kekuatan utuhnya, maka Panembahan Senapati yang terkenal sebagai prajurit linuwih itu akan berada di medan. Demikian pula Pangeran Benawa yang memiliki kemampuan yang sulit dicari tandingnya. Setidak-tidaknya di Mataram akan nampak beberapa orang adik Panembahan Senapati atau Ki Juru Martani. Tetapi kita tidak melihat mereka. Yang turun ke medan adalah Senapati-senapati yang belum banyak dikenal. Bahkan belum kita ketahui namanya.”

 “Kau tidak usah sesorah,” potong Kangjeng Adipati, “kita hanya melihat kenyataan yang terjadi di medan. Ada beberapa sebab kenapa pasukan Mataram dan Jipang tidak turun dengan kekuatan penuh.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 37

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s