SST-35

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

NAMUN kedua orang pengawal itu memang merasa bertanggung jawab. Di halaman itu tidak ada orang lain yang bertugas. Ada beberapa orang pengawal di banjar. Namun keduanya tidak sempat memukul kentongan untuk memberi isyarat kepada petugas di banjar.

Kedua pengawal itu pun merasa heran, bahwa para pengawal di regol juga tidak memberikan isyarat apa-apa.

 “Agaknya mereka juga tidak sempat melakukannya,” berkata para pengawal itu didalam hatinya.

Tetapi keduanya benar-benar mengalami kesulitan untuk tetap bertahan. Sementara itu kentongan berada di sebelah pendapa rumah itu. Sedangkan dua orang prajurit Pajang telah memasuki rumah itu. Mereka akan dapat berbuat apa saja diantara perempuan-perempuan yang sedang berada di dapur.

Karena itu, maka seorang diantara para pengawal itu telah bertekad untuk menggapai kentongan apapun yang terjadi atas dirinya sendiri. Ia harus membunyikan kentongan itu untuk memanggil para pengawal di banjar. Tetapi ia sadar, bahwa pada saat yang demikian, maka lawannya itu mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk menikamnya dengan senjatanya.

Tetapi ia tidak mempunyai jalan lain untuk menyelamatkan rumah itu serta perbekalan yang ada disitu.

Namun dalam pada itu, selagi orang itu bersiap-siap untuk meloncat berlari menggapai kentongan itu, maka yang sedang bertempur dihalaman itu terkejut. Seorang prajurit Pajang tiba-tiba saja telah terlempar dari pintu depan rumah itu dengan terbanting jatuh dipendapa. Belum lagi orang itu sempat bangkit maka seorang lagi telah terdorong dengan kerasnya. Bahkan kakinya telah terantuk tubuh yang sedang dengan susah payah untuk bangkit itu, sehingga orang yang kedua itu pun telah terlempar dan jatuh pula dipendapa rumah itu.

Para prajurit Pajang yang bertempur di halaman itu terkejut sehingga mereka telah meloncat mengambil jarak dari lawan-lawan mereka.

Keduanya memang terkejut. Yang keluar dari pintu rumah itu kemudian ternyata adalah seorang perempuan yang agak gemuk. Namun perempuan itu memang memakai pakaian yang khusus. Tidak seperti kebanyakan pakaian orang-orang perempuan yang lain.

Demikian orang itu berdiri diluar pintu, maka terdengar suaranya lantang, “Ayo berdiri. Kita bertempur dengan jujur. Aku akan melawan kalian berdua.”

Kedua orang prajurit yang terjatuh dihalaman itu telah berusaha untuk bangkit. Demikian mereka berdiri, maka seorang diantara mereka mengumpat, “Iblis kau. Kau telah mengejutkan kami. Jangan kau sangka bahwa kau memiliki sesuatu yang dapat kau banggakan terhadap kami selain kegilaanmu sehingga membuat kami terkejut.”

Perempuan itu adalah Bibi. Sambil bertolak pinggang Bibi berkata, “Aku adalah orang yang bertanggung jawab disini. Karena itu, maka jika kalian ingin mengganggu kami, maka kalian akan berhadapan dengan aku.”

Kedua pengawal yang ada di halaman itu mulai berpengharapan. Mereka tahu bahwa Bibi adalah seorang pe rempuan yang memiliki kemampuan untuk bertempur. Bersama Bibi maka mereka akan mempunyai kesempatan lebih banyak. Setidak-tidaknya kedua orang prajurit Pajang yang dua orang itu akan dihambat oleh Bibi sehingga mereka tidak akan dengan mudah mengacaukan tempat perbekalan serta tempat menyediakan makan dan minum bagi para Pengawal Tanah Perdikan, meskipun untuk beberapa lamanya, perempuan-perempuan yang ada dirumah itu menjadi ketakutan.

Sementara itu, kedua orang prajurit Pajang yang ada di pendapa itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka sadar, bahwa mereka harus bekerja dengan cepat. Jika mereka berhasil menghancurkan tempat itu, maka Tanah Perdikan Sembojan akan kehilangan perbekalan yang disediakan bukan saja para pengawal Tanah Perdikan, tetapi juga bagi para prajurit yang datang dari Jipang untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan mempertahankan dirinya.

Tetapi sementara itu Bibi pun telah bersiap pula. Bahkan Bibilah yang telah melangkah maju. Namun seorang dari kedua orang prajurit itu telah meloncat menyerangnya dengan garang.

Namun Bibi benar-benar telah bersiap menghadapi orang itu. Karena itu, maka dengan cepat ia telah mengelak namun sekaligus mengangkat kakinya terayun mendatar.

Lawannya masih juga sempat mengelak. Bahkan seorang lawannya yang lain telah dengan cepat menerkamnya kearah leher.

Tetapi Bibi melihat serangan itu. Dengan cepat Bibi telah merendah pada satu lututnya sehingga menyentuh lantai. Bersamaan dengan itu maka tangannya telah terjulur lurus tepat mengenai bagian bawah dada orang itu.

Terdengar keluhan tertahan. Nafas orang itu pun bagaikan telah terputus. Sejenak ia tidak dapat bernafas karena seisi dadanya bagaikan terangkat menyumbat lehernya.

Namun Bibi tidak sempat menyerangnya lagi, karena lawannya yang lain telah meloncat pula menyerang dengan kakinya yang terjulur mengarah ke kening bibi yang berlutut pada sebelah kakinya itu.

Tetapi Bibi justru telah menjatuhkan dirinya, berguling sekali dan dengan cepat menyapu kaki orang yang menyerangnya itu, justru saat satu kakinya terangkat.

Ternyata sapuan itu telah berhasil menebas kaki lawannya yang menyerangnya itu, sehingga sekali lagi orang itu telah terbanting jatuh. Namun dengan cepat ia berguling dan melenting berdiri.

Sementara itu kawannya telah berhasil mengatasi kesulitan di dadanya. Ketika ia melihat kawannya terjatuh, maka ia pun telah siap menyerang Bibi yang sedang meloncat bangkit.

Namun ternyata Bibi mampu bergerak lebih cepat. Sebelum orang itu menyerang, Bibi telah bersiap menunggunya. Dengan demikian, maka ketika serangan itu datang, maka Bibi dengan tangkasnya mampu mengelaknya.

Ketika Bibi kemudian bertempur semakin sengit melawan kedua orang di pendapa, maka kedua orang pengawal di halaman telah bertempur kembali melawan dua orang prajurit Pajang. Seperti yang terjadi sebelumnya, maka kedua orang pengawal itu telah terdesak. Kedua orang prajurit Pajang itu memang terlalu kuat bagi mereka. Namun mereka masih mampu untuk bertahan beberapa saat meskipun mereka harus bertempur sambil berloncatan mundur dan bahkan kadang-kadang harus berlari-lari.

Namun dalam pada itu, dua orang prajurit Pajang yang harus bertempur melawan Bibi pun segera mengalami kesulitan. Beberapa kali kedua orang prajurit itu telah terdesak surut. Apalagi ketika kemudian Bibi telah menarik senjatanya pula. Sebuah patrem kecil ditangan kirinya dan selendangnya di tangan kanan. Selendang yang digantungi dengan bandul-bandul kecil dari timah.

Dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Kedua orang prajurit Pajang itulah yang harus berlari-lari. Bandul timah itu sangat berbahaya bagi mereka, sementara itu selendang Bibi itu seakan-akan tidak dapat dikoyakkannya dengan tajamnya senjata. Jika senjata lawan-lawannya menyentuh selendang Bibi, maka selendang itu pun segera mengendor sehingga tali-tali janget yang lembut mampu menahan tajamnya senjata. Bahkan dengan ilmunya yang mulai mengalir dengan permainan selendangnya itu, Bibi mampu membuat kedua lawannya semakin bingung. Selendang itu berputar semakin cepat, sehingga membuat udara diseputar bibi itu menjadi semacam berkabut. Warna pada selendang yang bergaris-garis lurus itu bagaikan membentuk pelangi yang melengkung berputaran.

Namun jika bandul-bandul timah diujung selendang itu menyentuh kulit lawannya, maka kulit itu akan terkelupas. Bahkan jika Bibi benar-benar menghentakkan ilmunya, maka biji-biji timah itu akan dapat meretakkan tulang-tulang didalam daging.

Beberapa saat kemudian, kedua orang prajurit Pajang itu memang telah benar-benar terdesak. Keduanya bahkan tidak lagi bertempur di pendapa. Tetapi keduanya telah berloncatan turun ke halaman.

Tetapi dalam pada itu kedua orang pengawal yang bertempur dihalaman itu pun benar-benar telah terdesak. Bahkan seorang diantara mereka tidak mampu lagi mengelak ketika dengan cepat prajurit Pajang itu memutar senjata dan kemudian mengayunkannya mendatar.

Meskipun pengawal itu berusaha untuk menangkis ujung pedang yang hampir saja mengoyak dadanya, namun ujung senjata itu masih juga menyentuh pundak.

Darah pun kemudian telah mengalir dari luka itu. Dengan demikian maka kedudukan pengawal itu menjadi semakin sulit.

Dalam keadaan yang demikian, maka kembali tumbuh niatnya untuk memukul kentongan meskipun punggungnya kemudian akan ditembus oleh ujung senjata lawannya.

Tetapi sebelum ia melakukannya, maka ia sempat melihat seorang lawan Bibi telah terlempar. Ternyata Bibi sempat membelit orang itu dengan selendangnya. Kemudian dihentakkannya sehingga orang itu tergeser mendekat. Pada saat itu tangan kirinya telah terayun. Patrem kecil ditangan Bibi itu telah menghunjam didada prajurit Pajang itu.

Ketika kemudian Bibi menarik selendangnya, orang itu terputar sejenak. Namun kemudian jatuh terguling ditanah.

Lawannya yang seorang lagi menjadi gelisah. Namun tiba-tiba saja prajurit Pajang yang telah melukai pengawal di pundaknya itu telah meninggalkannya. Ia tidak membiarkan seorang kawannya melawan Bibi yang garang itu.

 “Ternyata di Tanah Perdikan ini ada perempuan iblis macam kau,” geram prajurit itu.

 “Akulah yang dipanggil Serigala Betina,” geram Bibi.

Agaknya pertempuran itu telah mengungkat kegarangannya yang sudah lama diendapkannya. Seorang lawannya telah terlempar dari arena. Tetapi lawannya kemudian kembali menjadi dua.

Namun Bibi pun agak menjadi lega. Jika prajurit itu tidak meninggalkan lawannya yang telah terluka, maka pengawal itu tentu akan dibunuhnya.

Dengan demikian maka seorang diantara kedua prajurit Pajang itu harus bertempur melawan dua orang pengawal. Tetapi seorang diantaranya telah terluka. Darah mengalir dari luka dipundaknya itu. Semakin banyak ia bergerak, maka luka itu pun menjadi semakin banyak mengalirkan darah. Sehingga dengan demikian, maka pengawal itu tidak banyak dapat memberikan bantuan.

Karena itu, maka niatnya untuk memukul kentongan itulah yang kemudian menggerakkannya meninggalkan arena mendekati kentongan yang tergantung di sebelah pendapa itu.

Tetapi Bibi yang melihatnya ternyata telah mencegahnya. Katanya, “Jangan bunyikan kentongan. Nanti di padukuhan ini akan timbul kebingungan.”

 “Tetapi prajurit-prajurit Pajang itu,” sahut pengawal itu.

 “Kita akan menyelesaikan mereka,” berkata Bibi kemudian.

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian yakin bahwa Bibi akan dapat menyelesaikan kedua lawannya setelah seorang diantara prajurit Pajang itu terbujur diam.

Karena itu, maka ia pun telah mengurungkan niatnya. Ia sependapat dengan Bibi. Jika ia membunyikan kentongan, maka seisi padukuhan itu tentu akan segera mengungsi. Mereka tentu mengira bahwa pasukan Pajang telah memasuki padukuhan mereka.

Pengawal itu pun kemudian justru telah kembali bersama-sama dengan kawannya menghadapi seorang prajurit Pajang. Meskipun tenaganya sudah menjadi semakin susut. Namun ia masih mampu mengganggu pemusatan perhatian lawannya itu. Namun setiap kali ia harus berloncatan mengambil jarak. Menekan lukanya yang berdarah.

Tetapi kemudian pengawal itu telah melepas ikat kepalanya untuk menekan lukanya agar darahnya tidak semakin banyak mengalir.

Prajurit Pajang yang harus menghadapi dua orang itu masih tetap garang. Tetapi sekali-sekali ia harus bergeser mundur jika kedua lawannya itu menyerang bersamaan dari arah yang berbeda. Pengawal yang terluka itu memang tidak dapat bertempur sepenuhnya. Tetapi ternyata ia mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaannya.

Sementara itu kedua orang prajurit Pajang yang bertempur melawan Bibi segera mengalami kesulitan. Selendang Bibi berputaran dengan cepatnya. Desir angin yang menampar tubuh lawannya meyakinkan kedua orang lawannya, bahwa perempuan yang menyebut dirinya itu Serigala Betina adalah benar-benar orang yang memiliki ilmu kanuragan.

Sebenarnyalah Bibi tidak ingin melihat perempuan-perempuan di rumah itu menjadi semakin ketakutan. Karena itu, maka ia pun telah berniat untuk segera mengakhiri pertempuran itu. Karena itulah, dengan kegarangan seekor Serigala Betina, maka Bibi telah melanda kedua orang lawannya dengan ilmunya yang memang terpaut banyak dari kedua lawannya.

Namun bagaimanapun juga ganasnya Serigala Betina itu, tetapi pengaruh pergaulannya dengan Iswari telah membuatnya sedikit berubah. Itulah sebabnya, maka ia tidak membunuh kedua orang prajurit Pajang itu.

 “Cukup seorang saja diantara mereka yang menjadi korban,” berkata Bibi didalam hatinya. Namun Bibi tidak mengetahui, bahwa para prajurit Pajang itu telah membunuh dua orang pengawal di regol padukuhan.

Karena itu, maka Bibi hanya berniat untuk membuat kedua orang lawannya itu tidak berdaya.

Karena itu, maka bandul-bandul timah pada kedua ujung selendang Bibi itu pun berayun semakin cepat.

Ketika bandul-bandul timah itu mengenai seorang diantara kedua orang prajurit itu pada punggungnya, maka tulang punggung prajurit itu rasa-rasanya menjadi patah.

Sekali ia menggeliat. Namun ia pun kemudian telah jatuh berguling di tanah. Sementara itu, kawannya yang terkejut telah meloncat mundur untuk mengambil jarak. Tetapi Bibi bergerak lebih cepat. Selendang Bibi telah terjulur dan langsung membelit kaki prajurit itu. Dengan satu hentakkan maka prajurit itu pun benar-benar telah terbanting jatuh. Tubuhnya bagaikan batang pisang yang roboh terseret arus sungai. Bahkan kepalanya menjadi pening ketika pelipisnya telah membentur tanah yang keras di halaman.

Mata prajurit itu menjadi kabur. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Namun demikian ia berdiri, bandul-bandul timah pada ujung selendang Bibi itu telah menghantam dadanya.

Tulang-tulang iga orang itu bagaikan menjadi retak. Nafasnya pun menjadi sesak. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun kemudian ia sama sekali tidak mampu mempertahankan keseimbangannya.

Ketika orang itu terjatuh dan berguling-guling karena nafasnya bagaikan tersumbat, maka prajurit Pajang yang bertempur melawan dua orang pengawal itu pun menjadi sangat gelisah. Meskipun seorang diantara para pengawal itu sudah terluka sedangkan yang lain tidak memiliki kemampuan yang dapat menyamainya, namun perempuan yang garang itu tentu akan segera masuk kedalam lingkaran pertempurannya.

Tetapi segala sesuatunya memang sudah terlambat. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, maka Bibi telah meloncat mendekati prajurit itu sambil berkata, “Kau tidak perlu lari. Jika kau berlari juga meninggalkan arena ini, maka aku akan melemparmu dengan patrem ini. Punggungmu akan berlubang dan kau akan mati. Karena itu, sebaiknya kau menyerah saja.”

Prajurit itu memang tidak ada pilihan lain. Tiga orang diantara mereka pun kemudian telah diikat kaki dan tangannya serta ketiganya telah diikat pula dengan tiang di pendapa. Sedangkan seorang diantara para prajurit yang telah terbujur mati itu pun telah dibaringkan di pendapa itu pula.

 “Tugasmu adalah mengubur kawan-kawanmu,” berkata Bibi. Lalu katanya pula, “Tetapi biarlah dipanggil para pengawal yang lain untuk ikut mengawasimu.”

Namun Bibi pun kemudian masih sempat mengobati luka pengawal dipundaknya dan berkata, “Kau duduk saja disini. Biarlah kawanmu pergi ke banjar dan menengok para pengawal di pintu gerbang padukuhan.”

Para prajurit Pajang yang merasa bahwa mereka telah membunuh pengawal padukuhan di regol induk, menjadi berdebar-debar. Jika pengawal itu mengetahui bahwa kedua kawannya telah terbunuh, mungkin para pengawal termasuk perempuan yang menyebut dirinya Serigala Betina itu akan bersikap lain.

Pengawal yang seorang itu pun kemudian telah pergi ke banjar padukuhan untuk memanggil beberapa orang kawannya. Tetapi hanya ada beberapa pengawal saja di banjar, sehingga pengawal itu telah minta bantuan beberapa orang laki-laki yang sudah melewati pertengahan abad yang tidak lagi dapat turun ke peperangan untuk membantu mengubur prajurit Pajang yang terbunuh serta mengawasi para prajurit yang lain.

Beberapa orang laki-laki tua itu memang langsung pergi ke rumah yang dipergunakan untuk menyediakan perbekalan itu, sedangkan pengawal yang telah bertempur dengan prajurit Pajang itu telah pergi ke regol.

Jantungnya serasa berdentang semakin keras ketika mereka melihat dua orang kawannya telah terbunuh. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun telah berlari kembali ke rumah tempat menyiapkan perbekalan itu sambil berteriak-teriak, “Aku bunuh mereka. Aku bunuh mereka.”

Bibilah yang kemudian menyongsong pengawal itu sambil bertanya, “Ada apa? Kau kenapa?”

 “Dua orang kawan kita yang bertugas di regol telah dibunuh,” teriak pengawal itu.

 “Siapa yang membunuh?” bertanya Bibi.

 “Tentu orang-orang itu,” jawab pengawal itu.

Wajah Bibi pun menjadi tegang sejenak. Sambil berpaling kepada para prajurit itu ia pun bertanya, “Apakah kalian telah membunuh mereka?”

Para prajurit itu tidak dapat ingkar. Seorang diantara mereka pun menjawab, “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Ketika kami memasuki regol, maka kedua orang pengawal itu melihat kami dan siap untuk menyerang. Maka kami pun telah mempertahankan diri.”

 “Iblis kau,” geram pengawal itu sambil meloncat.

 “Tunggu,” Bibi pun menghentikannya. Katanya lebih lanjut, “Mereka telah menyerah. Kita tidak boleh membunuhnya.”

 “Tetapi mereka telah membunuh kawan-kawan kami,” geram pengawal itu.

 “Tetapi mereka saat itu sedang bertempur,” berkata Bibi.

 “Siapa tahu bahwa kawan-kawan kita juga sudah menyerah tetapi mereka masih membunuhnya juga,” sahut pengawal itu.

 “Kami memang sedang bertempur,” berkata seorang diantara para prajurit itu.

 “Aku tidak peduli. Aku akan membunuh mereka semua,” pengawal itu berteriak.

Tetapi Bibi tetap menggeleng sambil berkata kepada pengawal itu, “Biarlah mereka bertiga dibawah pengawasan kalian dan para pengawal yang datang dari banjar untuk menguburkan kawannya yang terbunuh. Mereka malam nanti akan kami serahkan kepada Nyi Wiradana atau anak laki-lakinya. Mereka yang akan menjatuhkan hukuman.”

 “Aku mengharap agar mereka dihukum gantung. Kami adalah saksi kematian dua orang kawanku,” berkata pengawal itu.

Namun Bibi tetap berpendapat bahwa sebaiknya para tawanan itu tidak dibunuh.

Dibawah pengawasan para pengawal dan laki-laki yang sudah mendekati senja, maka ketiga orang prajurit itu harus membawa kawannya ke kuburan dan kemudian menguburkannya. Setelah mencuci tangan dan kakinya, maka orang-orang itu harus kembali ke pendapa untuk diikat dengan tiang pendapa itu. Sementara itu para pengawal dan laki-laki tua yang datang telah mempersiapkan penguburan kedua orang pengawal yang telah gugur.

Mereka menunggu kehadiran Nyi Wiradana. Mudah-mudahan keadaan peperangan memungkinkan.

Dengan demikian maka kedua sosok mayat pengawal itu telah dibaringkan di pendapa pula. Bibi dan beberapa orang pengawal yang datang dari banjar serta beberapa orang laki-laki tua itu bersepakat untuk menunggu kehadiran Nyi Wiradana dan Risang.

Kemudian baru kedua sosok itu akan dikuburkan, meskipun hari sudah menjadi gelap.

 “Kita akan menyediakan obor-obor yang cukup jika kita akan membawa kedua sosok tubuh itu ke kuburan,” berkata salah seorang diantara orang-orang itu.

Sementara itu pertempuran antara prajurit Pajang yang sudah diperkuat melawan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan dibantu oleh prajurit Jipang menjadi semakin sengit. Namun kedua belah pihak yang telah mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga mereka, mulai nampak menjadi letih. Tenaga dan kemampuan pun menjadi terperas seperti keringat mereka.

Ternyata bahwa prajurit Pajang yang dibawa oleh Kasadha memang prajurit pilihan. Kemampuan mereka melampaui kemampuan prajurit-prajurit yang dibawa oleh Ki Rangga sebelumnya. Karena itu, maka pasukan Tanah Perdikan bersama-sama dengan pasukan dari Jipang tidak segera dapat mendesak pasukan Pajang. Bahkan pasukan Pajang itu telah mampu mengguncang pertahanan Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha dan prajurit-prajuritnya yang tersebar benar-benar merupakan lawan yang berat bagi para prajurit Jipang yang ada di Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi ketika pertahanan Tanah Perdikan Sembojan bergeser beberapa langkah surut, maka keseimbangan pun justru telah berubah dengan cepat. Pasukan Pajang itu terpaksa menghentikan dorongan mereka atas pasukan Sembojan. Rasa-rasanya goncangan-goncangan baru telah terjadi. Justru di beberapa tempat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berada diujung-ujung pasukan mulai tersinggung. Karena itu, maka mereka telah meningkatkan kemampuan mereka, sehingga sekelompok prajurit Pajang yang melawan mereka mengalami kesulitan. Sementara itu jumlah prajurit Pajang memang lebih sedikit dari jumlah pengawal Sembojan dan prajurit Jipang.

Di induk pasukan, Gandar pun telah mendesak lawan-lawannya, sehingga dengan demikian, maka pasukan Pajang itu harus mulai memperhitungkan lawan mereka baik-baik. Beberapa orang dari Tanah Perdikan Sembojan telah menghisap perlawanan kelompok-kelompok lawan mereka, sehingga dengan demikian maka seakan-akan orang-orang yang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Sembojan itu telah menghisap prajurit-prajurit Pajang ke dalam satu lingkaran pertempuran yang sengit karena baik Sambi-Wulung. Jati Wulung maupun Gandar telah bertempur dengan garangnya.

Menghadapi kepungan lawan-lawannya maka mereka telah menyerang seperti angin pusaran yang berputar dengan dahsyatnya, sehingga setiap kali lawan-lawannya justru harus menyibak.

Dengan demikian, maka kekuatan pasukan Pajang dibeberapa lingkatan dengan cepat menyusut. Beberapa orang terlempar dari arena. Kawan-kawan mereka terpaksa membawa mereka menyingkir untuk menghindarkan kemungkinan yang lebih buruk lagi.

Mereka yang bertugas untuk merawat orang-orang yang terluka menjadi semakin sibuk. Diujung-ujung sayap, maka setiap kali orang yang terluka telah disingkirkan. Beruntun dan seakan-akan seperti air yang mengalir.

Kasadha yang terikat dalam pertempuran melawan Ki Lurah Sasaban memang sulit untuk bergeser. Namun Kasadha berusaha untuk dapat mengetahui medan itu sejauh-jauh kemungkinan yang dapat dilakukan. Sebagai seorang prajurit yang memiliki ketajaman panggraita, maka Kasadha pun merasa bahwa pasukannya mengalami kesulitan untuk dapat maju mendesak pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang diperkuat oleh pasukan dari Jipang. Betapapun prajurit-prajuritnya berusaha dengan sungguh-sungguh, namun terasa getaran benturan pasukan mereka justru sangat mendebarkan.

Ki Rangga Larasgati sendiri masih saja mengalami kesulitan untuk mengalahkan Risang. Bahkan ternyata daya tahan Risang yang jauh lebih muda dari Ki Rangga itu lebih besar dari daya tahan Ki Rangga sendiri. Pengalaman yang luas yang dimiliki oleh Ki Rangga ternyata tidak mampu mengatasi ilmu yang telah diwarisi oleh Risang yang sedang dipersiapkan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon.

Bahkan semakin lama, semakin terasa oleh Ki Rangga, bahwa anak muda itu justru semakin mendesaknya. Disaat-saat Ki Rangga telah sampai kepuncak kemampuannya, Ki Rangga ternyata tidak mampu menguasai lawannya yang masih muda.

Dengan demikian, maka Ki Rangga mulai merasa bahwa ia memang tidak akan dapat mengalahkan Risang.

Yang dilakukannya kemudian adalah bertahan sejauh dapat dilakukan. Ki Rangga tinggal menunggu kemungkinan Risang melakukan kesalahan. Hanya jika Risang melakukan kesalahan, maka Ki Rangga akan dapat mengalahkan anak muda itu.

Tetapi Risang ternyata memiliki penguasaan yang tinggi atas ilmunya. Pengalamannya pun telah memadai untuk menghadapi Ki Rangga Larasgati. Bahkan ketika Risang merasa bahwa Ki Rangga telah sampai pada batas kemampuannya serta daya tahannya, maka Risang justru telah meningkatkan serangan-serangannya.

Ki Rangga mulai mengeluh didalam hatinya. Disaat-saat ia sempat memperhatikan pertempuran antara para prajuritnya dengan para pengawal, maka ia melihat bahwa para prajurit Pajang pun nampaknya telah sampai ke puncak kemampuan mereka. Namun mereka sama sekali masih belum mampu mendesak pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan, apalagi memecahkan pertahanannya dan menembus sampai ke padukuhan induk.

Kegelisahan Ki Rangga itu ternyata telah membuatnya kadang-kadang tidak lagi mampu memusatkan perhatiannya menghadapi anak muda yang bernama Risang itu, sehingga beberapa kali ia harus meloncat surut.

Namun getaran pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan mampu membuat para prajurit Pajang menjadi gelisah. Bahkan prajurit pilihan dibawah pimpinan Kasadha pun merasakan tekanan yang semakin berat.

Tetapi ketika Matahari kemudian mulai turun, keseimbangan pertempuran mulai berubah lagi. Orang-orang Sembojan yang ikut dalam pertempuran itu, mulai menjadi letih. Mereka yang bukan pengawal penuh dari Tanah Perdikan memang tidak memiliki kemampuan dan ketahanan tubuh sebagaimana para pengawal, sehingga karena itu, maka mereka yang sudah bermandikan keringat tenaganya mulai menjadi susut. Sedangkan para prajurit Pajang, terutama yang datang bersama Kasadha masih nampak garang diantara ayunan senjata dan sorak yang mengguruh.

Namun sejalan dengan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berusaha untuk mengisi kelemahan itu dengan meningkatkan kemampuannya.

Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah merambah ke tataran ilmunya yang tinggi, sehingga sentuhan-sentuhan bukan saja senjatanya, tetapi tangan dan kakinya menjadi sangat berbahaya bagi lawan-lawannya.

Gandar yang bertempur tidak terlalu jauh dari Risang pun merasakan perubahan keseimbangan di medan pertempuran itu. Meskipun perlahan-lahan, namun rasa-rasanya pasukan Pajang akan mendesak pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, seperti juga Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Gandar telah bertempur semakin keras. Gandar ternyata telah mempergunakan cara yang lain. Ia tidak menetap menghadapi sekelompok lawan-lawannya.

Tetapi Gandar itu pun kemudian telah berloncatan dise-panjang garis benturan. Kehadiran Gandar disatu tempat, telah membuat para prajurit Pajang menjadi gelisah.

Dengan demikian, maka Tanah Perdikan masih sempal mempertahankan diri, sehingga para prajurit Pajang tidak mampu memecahkan pertahanan itu. Beberapa orang pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan itu seakan-akan telah menghisap lawan semakin banyak.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Ki Rangga Larasgati juga telah sampai pada puncak kemampuannya. Pada saat matahari mulai turun, maka Ki Rangga yang telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya itu, benar-benar telah sampai kebatas. Ki Rangga yang berniat menghancurkan lawannya yang masih muda itu dengan kemampuan puncaknya, ternyata telah gagal. Bahkan justru karena itu, Ki Rangga itu telah mengerahkan tenaganya berlebihan tanpa mengingat batas akhir dari pertempuran itu.

Dengan mengerahkan tenaganya, Ki Rangga berniat untuk dengan cepat mengakhiri perlawanan anak muda itu sebelum ia sampai kebatas puncak tenaganya. Tetapi ternyata Ki Rangga telah salah membuat perhitungan. Disaat-saat ia mengerahkan puncak dan bahkan segenap tenaga dan kemampuannya, ia tidak berhasil menundukkan lawannya yang masih muda itu, sehingga pada suatu saat, setelah melewati puncaknya, tenaganyalah yang mulai susut.

Sementara itu Ki Rangga telah mengumpat pula karena lawannya itu seakan-akan sama sekali tidak terpengaruh oleh keringatnya yang mengalir bagaikan diperas dari tubuhnya. Tidak pula terpengaruh oleh panasnya matahari yang bagaikan membakar arena pertempuran itu. Tidak pula terpengaruh oleh pengerahan tenaga yang berlebihan. Nampaknya Risang itu masih saja tetap utuh sebagaimana ia memasuki arena pertempuran disaat pertempuran itu dimulai.

Karena itu, maka Ki Rangga Larasgati, seorang Senapati prajurit Pajang, ternyata mengalami kesulitan menghadapi seorang anak muda, anak Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu telah ditempa oleh ketiga orang kakek dan neneknya untuk melandasi ilmu yang akan diwarisinya.

Dalam benturan-benturan senjata yang kemudian terjadi, maka semakin ternyata bahwa kekuatan Ki Rangga benar-benar telah menyusut. Loncatan-loncatannya pun tidak lagi cukup cepat untuk mengimbangi gerak Risang yang masih saja tangkas sebagaimana saat pertempuran itu dimulai.

Ki Rangga itu pun kemudian telah mengumpat didalam hati. Sementara itu, Risang yang melihat kelemahan lawannya, telah berusaha justru meningkatkan serangan-serangannya. Ia harus memanfaatkan keadaan itu sebelum ia sendiri kehabisan tenaga.

Pertempuran yang semakin lama menjadi semakin lamban di seluruh arena itu diwarnai dengan keringat dan darah. Korban masih saja berjatuhan. Sementara itu, garis pertempuran itu seakan-akan selalu bergetar.

Namun ternyata bahwa Risang masih mampu menghentakkan kemampuannya menyusup di sela-sela pertahanan Ki Rangga Larasgati.

Sebuah goresan telah melukai lengan Ki Rangga, sehingga Ki Rangga yang terkejut itu telah meloncat surut.

 “Anak iblis,” geram Ki Rangga, “kau telah melukai kulitku.”

Namun Risang menjawab, “Nanti aku tembus dadamu dengan tajamnya senjataku.”

 “Kau gila. Kau kira Pajang tidak sanggup menggilasmu? Kau akan mendapat hukuman picis dialun-alun Pajang,” geram Ki Rangga.

 “Seandainya demikian, kau tidak akan sempat melihatnya karena kau akan mati di pertempuran ini,” jawab Risang.

 “Kau akan menyesal,” teriak Ki Rangga, “kau telah memberontak. Kau telah berkhianat.”

 “Kau adalah api yang menyalakan pemberontakan di Tanah Perdikan ini. Kau dan orang-orang tamak di Pajang berusaha memeras kami sebagaimana kalian lakukan atas Tanah Perdikan yang lain. Tanah Perdikan yang kecil dan tidak berdaya tidak akan melakukan perlawanan. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan lebih baik diratakan dengan tanah daripada melayani pemerasan sebagaimana kau lakukan,” jawab Risang.

 “Aku mengemban perintah,” Ki Rangga masih berteriak.

 “Kau tidak pernah dapat menunjukkan surat kekancingan atasmu bahwa kau melakukan perintah di Tanah Perdikan ini,” jawab Risang.

 “Persetan anak setan,” bentak Ki Rangga.

Pertempuran pun berlangsung semakin sengit. Pasukan Pajang dan pasukan Tanah Perdikan itu akhirnya saling mendesak. Kedua belah pihak memiliki kelemahan dan kekuatannya masing-masing.

Namun akhirnya Ki Rangga harus berpikir berulang kali. Ia sendiri telah terluka. Darah mengalir semakin lama semakin banyak. Ki Rangga itu menyadari pengaruhnya.

Tubuhnya akan dapat menjadi semakin lemah, sehingga akhirnya ia benar-benar akan dapat dibunuh oleh anak itu.

Apalagi ia yakin bahwa prajurit Pajang hari itu masih belum dapat mengalahkan pasukan pengawal Tanah Perdikan. Meskipun ia melihat bahwa beberapa orang Tanah Perdikan menjadi letih, tetapi para pengawal masih mampu mengimbangi para prajurit, sementara prajurit Jipang pun masih juga bertempur dengan keras. Apalagi diantara orang-orang Tanah Perdikan terdapat orang-orang berilmu tinggi, yang mampu menghisap sekelompok prajurit Pajang, sementara jumlah prajurit Pajang masih dibawah jumlah para pengawal Tanah Perdikan.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari Ki Rangga Larasgati selain membuat perhitungan ulang dengan rencananya hari itu menembus sampai ke padukuhan induk.

Apalagi ketika induk pasukan Pajang itu telah diguncang oleh kemarahan Gandar yang meledak-ledak, karena segores luka telah membekas di punggungnya. Luka itu tidak terlalu dalam. Namun memanjang menyilang.

Kemarahan Gandar memang menimbulkan persoalan yang sungguh-sungguh gawat bagi para prajurit Pajang di induk pasukan itu, sehingga hal itu telah mempercepat keputusan Ki Rangga Larasgati untuk menarik pasukannya dari medan yang seakan-akan telah saling mendorong itu.

Apalagi karena kemarahan Gandar itu nampaknya telah mempengaruhi para pengawal sehingga mereka yang mulai lelah, telah menjadi segar kembali. Dengan demikian maka para prajurit Pajang di induk pasukan itu pun telah mengalami kesulitan.

Ki Lurah Larasgati tidak dapat mengingkari kenyataan itu sebagaimana kenyataan tentang dirinya sendiri. Sehingga karena itu, makik ia pun segera memberikan isyarat kepada penghubung yang selalu berada didekatnya.

Dengan isyarat itu, maka penghubung itu pun segera mengetahui, bahwa Ki Rangga berniat untuk menarik pasukannya. Karena itulah maka penghubung itu pun telah meneriakkan aba-aba sandi bagi para pemimpin kelompok yang meneriakkannya sambung bersambung sampai ke ujung sayap.

Isyarat sandi itu berbeda dengan isyarat sandi pada saat Ki Rangga akan menarik pasukannya beberapa hari sebelumnya. Karena itu, maka para pemimpin dari Tanah Perdikan harus berusaha untuk mengerti dan kemudian menyesuaikan diri dengan perintah itu.

Namun ternyata bahwa Ki Rangga telah memberikan isyarat kedua. Isyarat yang langsung memerintahkan pasukan Pajang itu mengundurkan diri.

Ketika perintah itu sampai ketelinga Kasadha, maka ia pun dapat mengerti. Perang itu tidak akan ada gunanya jika dilanjutkan pada hari itu juga selain membunuh beberapa orang korban dikedua belah pihak.

Karena itu, maka Kasadha pun menganggap bahwa perintah Ki Rangga itu adalah perintah yang cukup bijaksana.

Dengan gerakan pasukan yang matang menguasai ilmu perang gelar, maka pasukan Pajang pun mulai bergetar. Namun kemudian serempak pasukan itu bergerak mundur. Tetapi gerak mundur prajurit Pajang adalah gerak mundur yang teratur sambil melindungi diri mereka.

Pasukan Tanah Perdikan memang mendesak terus. Tetapi seperti yang pernah terjadi, Risang tidak berani mengejar pasukan yang mundur itu keluar dari perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi menurut pengamatan Risang dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan, bahwa kekuatan Pajang itu masih cukup besar. Jika mereka menyiapkan semua orang yang ada di perkemahan orang-orang Pajang, termasuk para petugas didapur dan perbekalan, maka kekuatan pasukan Pajang itu akan bertambah besar dengan tenaga-tenaga yang masih segar.

Karena itu, maka Risang pun telah memberikan perintah untuk menghentikan pasukannya diperbatasan sebagaimana pernah diperintahkan oleh ibunya sebelumnya.

Namun para pengawal Tanah Perdikan itu sempat bersorak gemuruh bagaikan hendak meruntuhkan langit ketika mereka berhenti diperbatasan. Beberapa orang memang merasa kecewa bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk menyerang para prajurit Pajang sampai kelandasan pasukannya. Meskipun dengan demikian mereka keluar dari perbatasan, tetapi menyerang landasan perang bagi lawan adalah wajar sekali.

Prajurit Pajang yang telah mundur dari pertempuran itu pun segera mendapat perintah untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok masing-masing. Baik para prajurit yang datang lebih dahulu bersama Ki Rangga Larasgati maupun yang datang kemudian bersama Kasadha. Sementara itu, kawan-kawan mereka yang terluka yang sempat dibawa mundur telah mereka baringkan di perkemahan dan mendapat perawatan sebaik-baiknya.

Ki Rangga pun kemudian telah memanggil Ki Lurah Kasadha dan setiap pemimpin kelompok untuk berdiri di hadapan pasukan mereka yang terpaksa mundur dari medan.

Ternyata bahwa ada beberapa diantara pemimpin kelompok yang sudah tidak ada lagi. Ada yang telah terbunuh di peperangan dan ada yang terluka berat, sehingga tidak mampu lagi berdiri tegak dihadapan pasukannya.

Dengan singkat Ki Rangga memberikan beberapa perintah. Ki Rangga juga memberikan alasan kenapa ia menarik pasukannya saat itu.

 “Kita sudah kehilangan gelora didalam hati kita untuk menang. Para prajurit sudah menjadi letih sebelum saatnya. Seharusnya kita dapat bertahan dan bertempur sampai matahari terbenam. Tetapi ternyata hari ini kita tidak mencerminkan kegarangan prajurit-prajurit terpilih dari Pajang,” Ki Rangga berhenti sejenak, lalu, “Tetapi besok kita akan bersikap lain. Besok kita akan berangkat ke medan dengan semua orang yang ada. Kita hanya akan meninggalkan beberapa orang yang harus mampu menyelesaikan tugas menyediakan makan dan minum bagi para prajurit. Sementara itu, malam ini kita harus dapat memperbaiki jiwa disetiap dada para prajurit. Kita tidak boleh berjiwa kerdil. Tidak berani melihat darah yang tertumpah di medan. Apa artinya seorang prajurit yang tidak berani melihat darah, meskipun itu darahnya sendiri. Aku juga sudah terluka. Iblis kecil itu telah melukai aku. Tetapi aku tidak pernah merasa kalah,” Ki Rangga itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku bukannya kalian. Kalian bukannya aku, sehingga aku terpaksa mengambil kebijaksanaan menarik pasukan Pajang ini mundur. Namun besok kita akan maju lagi. Kita tidak akan pernah mundur. Kita besok harus memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Kita akan menangkap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan Ki Tumenggung Jaladara dari Jipang. Yang juga tidak boleh lepas adalah anak pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Aku sendiri yang akan memberinya hukuman.”

Para prajurit Pajang itu mendengarkan sesorah dan perintah-perintah Ki Rangga dengan jantung yang berdebaran. Ternyata para prajurit itu sempat menyesali diri mereka sendiri. Mereka merasa kurang keras menghadapi lawan-lawan mereka sehingga pasukan Tanah Perdikan Sembojan dan apalagi para prajurit Jipang sempat memanfaatkan keadaan itu.

Ki Rangga memang tidak berbicara terlalu panjang. Ia sadar bahwa para prajurit telah menjadi letih. Bahkan beberapa orang rasa-rasanya tidak kuat lagi berdiri.

 “Baiklah. Kalian boleh beristirahat dengan baik. Kalian telah menjadi letih. Terutama jiwa dan keberanian kalian sudah tidak bertenaga lagi. Malam nanti kalian harus merenung bahwa kalian masih dapat bekerja lebih keras. Berbuat lebih banyak dari yang kau lakukan hari ini.” berkata Ki Rangga Larasgati.

Demikianlah, maka para prajurit itu pun kemudian telah menebar untuk beristirahat. Sebagian besar dari mereka telah minum sepuas-puasnya untuk menghilang kan perasaan haus yang bagaikan mencekik leher. Sementara itu mereka harus menunggu nasi yang belum masak benar.

Namun dalam pada itu, setelah Ki Rangga mengobati luka-lukanya, maka ia pun telah pergi ke dapur. Dengan keras ia membentak-bentak para petugas di dapur yang dinilainya bekerja terlalu lamban.

 “Para prajurit itu memerlukan makan segera,” teriak Ki Rangga.

Tidak seorang pun berani menjawab. Semuanya telah menjadi semakin sibuk, apapun yang mereka kerjakan.

Tetapi para prajurit itu memang masih harus menunggu jika mereka tidak ingin makan nasi yang belum masak benar sehingga dapat membuat perut mereka menjadi sakit.

Di saat senja turun, maka sebagian dari para prajurit itu telah pergi ke sungai untuk mandi. Tetapi ada sebagian dari mereka yang merasa tidak perlu untuk mandi sore itu.

 “Besok di dini hari,” jawabnya dengan malas. Ketika kemudian malam turun, maka Ki Rangga yang masih saja marah karena luka-lukanya yang terasa pedih, telah memanggil Kasadha.

Dengan wajah yang tegang, Ki Rangga berkata, “Besok kau dan prajurit-prajuritmu harus lebih bersungguh-sungguh. Kita akan menentukan satu pertempuran hidup atau mati.”

Kasadha yang segan berbincang itu pun mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Rangga.”

 “Sebagai lurah prajurit kau harus mampu memberikan contoh,” geram Ki Rangga, “menurut penilaianku, prajurit-prajuritmu kurang bersungguh-sungguh. Kau harus menempa jiwanya agar mereka menyadari, betapa besar tugas yang sedang mereka pikul.”

Kasadha masih mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Rangga.”

Tetapi Ki Rangga itu kemudian berkata, “Tetapi jika pimpinannya tidak lagi memacu para prajuritnya maka akibatnya akan lain. Karena itu tergantung kepadamu. Jika kau masih berpendirian bahwa Tanah Perdikan ini dapat ditangani dengan cara lain, maka kau tidak akan dapat memenangkan perang ini. Jika kau bersikap sebagaimana sikapmu terhadap Tanah Perdikan Gemantar atau bahkan dengan sengaja memberikan kesempatan kepada lawan untuk bernafas maka kalian tentu akan digilasnya sampai lumat.”

Kasadha masih akan menahan diri. Tetapi dari dalam dadanya tiba-tiba saja bergejolak perasaannya yang melonjak, “Apakah Ki Rangga melihat bahwa prajurit-prajurit tidak bertempur dengan sungguh-sungguh?”

 “Kalian masih dapat meningkatkan kemampuan kalian. Karena keragu-raguanmu, maka semua prajuritmu ikut menjadi ragu-ragu. Mereka merasa bahwa mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, sementara sebenarnya mereka masih dapat meningkatkannya lagi. Niat mereka untuk menang pun menjadi semakin susut. Dan bahkan yang lebih parah lagi, mereka lebih senang lari dari pertempuran daripada mati, meskipun kematiannya mempunyai arti,” berkata Ki Rangga.

Wajah Kasadha menjadi merah. Hampir saja ia kehilangan kendali sehingga menumpahkan kemarahannya. Tetapi untunglah, meskipun masih muda, tetapi Kasadha pernah menempuh gejolak kehidupan yang pelik, sehingga ia masih mampu mengendalikan dirinya. Meskipun demikian ia menjawab, “Ki Rangga. Sebagai seorang Senapati Ki Rangga sebenarnya harus mengetahui, apa yang dilakukan oleh prajurit-prajuritku. Aku tidak ingin merendahkan prajurit-prajurit dari kesatuan yang lain. Tetapi setidak-tidaknya prajurit-prajuritku tidak kalah dari mereka. Bagaimanapun juga menghadapi prajurit Jipang, prajurit-prajuritku telah berjuang dengan sekuat tenaganya dan kemampuannya. Hal inilah yang harus Ki Rangga ketahui.”

 “Cukup,” bentak Ki Rangga, “kau kira kau pantas mengajari aku, Ki Lurah. Baru berapa hari kau diangkat menjadi Lurah Penatus prajurit Pajang. Dan kau sudah merasa dirimu berhak sesorah dihadapanku. Kau lupa bahwa aku adalah Rangga dalam tatanan keprajuritan Pajang.”

 “Tidak Ki Rangga. Aku tidak pernah melupakannya. Bukankah aku justru berkata bahwa karena Ki Rangga seorang Senapati, seharusnya Ki Rangga mampu menilai, apa yang telah terjadi di medan ini,” jawab Kasadha.

 “Diam,” Ki Rangga hampir berteriak sehingga orang-orang yang berada tidak terlalu jauh dapat mendengarnya meskipun mereka tidak tahu apa yang dibicarakan, “aku perintahkan kepadamu Ki Lurah, kau besok harus berbuat lebih baik jika kau tidak ingin aku hadapkan kepada Ki Tumenggung Bandapati yang sekarang mempunyai kekuasaan yang besar di Pajang.”

Kasadha menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia menyadari kedudukannya sebagai seorang prajurit yang berada dibawah perintah Ki Rangga Larasgati. Betapapun dadanya bagaikan terbakar.

 “Sekarang kau boleh kembali kepada prajurit-prajuritmu. Kau harus membuat mereka menyadari kewajibannya sebagai seorang prajurit Pajang yang besar,” berkata Ki Rangga Larasgati. Lalu dengan nada tinggi ia berkata, “Ingat. Kau hanyalah seorang Lurah Penatus prajurit Pajang.”

Kasadha pun dengan cepat meninggalkan Ki Rangga Larasgati sebelum darahnya mendidih. Kasadha justru mencemaskan dirinya sendiri jika ia menjadi kehilangan kendali. Karena itu, maka yang terbaik baginya adalah meninggalkan Ki Rangga itu secepatnya.

Ketika Kasadha kembali kepada prajurit-prajuritnya, maka yang dilakukannya pertama-tama adalah melihat mereka yang terluka.

Namun tiba-tiba ia bertanya, “Kita harus menemukan kawan-kawan kita yang terbunuh di peperangan.”

 “Tiga orang telah kami kuburkan,” jawab salah seorang pemimpin kelompok kepercayaan Ki Lurah Kasadha itu.

 “Jangan bodoh,” sahut Kasadha, “aku yang memimpin upacara pelepasan.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnya ia memang belum selesai berbicara. Karena itu maka sejenak kemudian ia berusaha untuk menjelaskan, “Maksudku, selain tiga orang yang sudah kita kuburkan itu, ternyata masih ada delapan orang yang hilang, selain yang luka-luka.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku akan melihatnya di medan.”

Wajah pemimpin kelompok itu menjadi tegang. Katanya, “Itu akan sangat berbahaya.”

 “Tidak. Kita tidak akan berbuat curang. Kita mencari kawan-kawan kita. Jika masih ada diantara mereka yang hidup, maka mereka memerlukan sekali pertolongan, itu,” jawab Kasadha.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun nampaknya Kasadha tidak memperhatikannya sama sekali. Bahkan Kasadha telah melangkah meninggalkannya.

 “Ki Lurah,” panggil pemimpin kelompok itu, “Ki Lurah akan pergi sendiri? Jika Ki Lurah menemukan orang-orang terluka itu, apa Ki Lurah dapat membawanya?”

 “Aku hanya akan melihat. Tetapi menurut perhitunganku, seandainya ada yang terluka, maka mereka tentu telah dirawat oleh orang-orang Tanah Perdikan. Karena itu, maka aku juga akan pergi ke padukuhan itu, landasan garis perang pertama Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kasadha.

 “Tetapi, apakah Ki Lurah tidak akan ditangkap?” bertanya pemimpin kelompok itu.

 “Aku percaya bahwa orang-orang Tanah Perdikan Sembojan bukan pengecut yang bertindak licik. Bukankah aku juga pernah mengunjungi para pemimpin Tanah Perdikan?” sahut Kasadha.

Pemimpin kelompok itu hanya termangu-mangu. Sementara itu Kasadha telah melangkah menembus kegelapan.

Tetapi pemimpin kelompok itu tidak berani menyusul Kasadha ke medan dan bahkan ke padukuhan. Mungkin Kasadha pernah dikenal oleh orang-orang Tanah Perdikan, karena ia memang pernah datang berkunjung sebelum pertempuran terjadi. Tetapi ia sendiri akan dapat menimbulkan salah paham, bahkan mungkin akan dapat menyulitkan Ki Lurah Kasadha sendiri.

Karena itu, pemimpin kelompok itu hanya berdiri termangu-mangu. Ia menyadari, betapa gelisahnya perasaan Kasadha yang harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nuraninya khususnya tentang Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu Kasadha telah menelusuri jalan bulak menuju ke bekas medan yang menjadi gelap dan sepi. Kasadha sendiri tidak yakin bahwa usahanya akan berhasil. Ia tidak akan dapat berbuat banyak didalam gelapnya malam, di tanah persawahan yang terinjak-injak kaki para prajurit dan pengawal yang sedang bertempur untuk saling membunuh.

 “Apakah mempertahankan satu keyakinan yang berbenturan dengan keyakinan yang lain itu harus diselesaikan dengan kekerasan? “ pertanyaan itu tumbuh didalam hatinya. Sementara itu ia pun menganggap bahwa satu keyakinan memang harus dipertahankan.

Kasadha tidak dapat menemukan jawabannya, sebagaimana ia ingin melihat bayangan didalam kegelapan.

Namun tiba-tiba Kasadha itu terkejut ketika dua orang ternyata telah mengikutinya. Ketika ia berhenti dan berputar, maka kedua orang itu telah mengacukan tombaknya.

 “Siapa kau?” bentak seorang diantara keduanya.

Kasadha memang ragu-ragu sebentar. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku, Kasadha, Lurah Penatus prajurit Pajang.”

 “Untuk apa kau datang kemari?” bertanya seorang diantara kedua orang itu.

 “Aku akan melihat medan. Aku kehilangan delapan orang selain yang gugur. Belum terhitung para prajurit Pajang dari kesatuan yang lain. Mungkin masih ada orang yang tertinggal di medan. Gugur atau terluka parah sehingga tidak diapat meninggalkan medan tanpa bantuan orang lain,” jawab Kasadha.

 “Medan itu telah kami bersihkan,” berkata orang itu, “tidak seorang pun yang tertinggal.”

 “Kalian menemukan orang-orangku atau prajurit-prajurit Pajang yang lain?” bertanya Kasadha.

 “Kau menjadi tawanan kami,” berkata orang itu tiba-tiba.

 “Tidak,” jawab Kasadha, “aku datang tidak dalam rangkaian pertempuran. Aku datang untuk maksud-maksud lain dalam hubungannya dengan kemanusiaan.”

 “Tetapi kau memasuki daerah kami,” berkata orang itu.

 “Bawa aku kepada Risang,” tiba-tiba Kasadha justru membentak, “aku akan berbicara dengan anak muda itu. Ia adalah contoh seorang laki-laki yang utuh.”

 “Besok kau akan kami bawa menghadapnya,” jawab orang itu.

 “Sekarang aku akan bertemu dengan Risang,” jawab Kasadha, “seperti kemarin aku juga dapat menemuinya tanpa kesulitan. Aku akan minta ijin untuk melihat-lihat bekas medan pertempuran untuk mencari prajurit-prajuritku yang hilang.”

 “Malam ini Risang sedang beristirahat,” jawab orang itu.

 “Tidak. Aku tahu ia ada di padukuhan itu,” berkata Kasadha, “bawa aku kepadanya. Aku akan menerima keputusan apapun yang dikatakannya tentang aku.”

Kedua pengawal itu ragu-ragu. Sementara seperti malam sebelumnya Kasadha merentangkan tangannya sambil berkata, “Aku Lurah Penatus. Tetapi aku sekarang tidak bersenjata sama sekali.”

 “Kau akan kami bawa ke gardu induk. Terserah apa yang akan dilakukan atasmu oleh para pemimpin pengawal di gardu induk.”

Kasadha tidak menjawab. Ia menurut saja perintah kedua orang pengawal yang membawanya ke gardu induk.

Kasadha memang menjadi termangu-mangu ketika ia melihat, digardu induk itu terdapat pula beberapa orang prajurit Jipang. Ia sadar, bahwa sikap prajurit Jipang tentu berbeda dengan sikap para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika kedua orang pengawal itu membawa Kasadha masuk ke gardu induk, maka beberapa orang yang ada di dalamnya terkejut. Dua orang prajurit Jipang dengan serta merta telah berdiri karena mereka melihat seorang prajurit Pajang yang datang ke gardu itu.

 “Kami menemukan di bulak, didekat bekas medan pertempuran siang tadi,” lapor salah seorang diantara para pengawal itu.

 “Masukkan kedalam bilik tawanan,” perintah pemimpin pengawal yang sedang bertugas, “prajurit itu tentu mempunyai maksud tertentu. Tetapi besok baru kita sempat memeriksanya.”

Jantung Kasadha menjadi berdebar-debar. Dengan lantang ia berkata, “Aku sengaja datang untuk menemui, Risang. Aku kemarin juga datang kepadukuhan ini dan bertemu dengan Risang, bahkan dengan Nyi Wiradarta.”

 “Untuk apa kau akan menemui Risang malam ini?” bertanya salah seorang pemimpin pengawal.

 “Aku akan berbicara dengan anak muda itu,” jawab Kasadha.

Namun pemimpin pengawal itu sekali lagi berkata, “Masukkan orang itu kedalam tahanan. Kita akan memeriksanya besok.”

Tetapi Kasadha berkata pula, “Aku Lurah Penatus prajurit Pajang. Aku tidak dapat kalian perlakukan seperti itu. Aku akan berbicara dengan Risang.”

 “Kau tawanan kami. Siapapun kau. Meskipun kau Ki Rangga Larasgati, maka kau tidak dapat menolak,” berkata salah seorang prajurit Jipang.

Wajah Kasadha menjadi tegang. Tetapi justru karena itu, maka suaranya menjadi semakin keras, “Aku akan bertemu dengan Risang. Jika kalian menghalangi aku malam ini, maka kalian tentu akan menyesal. Risang tentu akan menghukum kalian.”

Tetapi pemimpin pengawal itu berkata, “Kami menjalankan kewajiban kami.”

Kasadha hampir kehilangan haiapan. Satu-satunya jalan adalah menghentakkan dirinya dan berlari meninggalkan tempat itu. Keluar dari padukuhan dan menghilang didalam gelap. Jika tidak ada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang baru diketahui nama mereka yang sebenarnya jauh setelah mereka berkenalan atau Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu sendiri, maka Kasadha berharap akan dapat luput dari kejaran para pengawal dan para prajurit Jipang.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang, “Biarlah Ki Lurah Kasadha itu bertemu dengan Risang.”

Para pengawal dan prajurit Jipang itu berpaling. Yang berdiri di tempat yang remang-remang itu adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Karena itu, maka para pengawal pun tidak dapat menolak perintah itu. Sementara itu Sambi Wulung pun berkata, “Biarlah aku yang membawanya.”

Para pengawal dan prajurit Jipang yang ada di gardu itu pun kemudian telah menyerahkan Kasadha kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk dibawa ke banjar, karena Risang memang berada di banjar.

 “Kenapa kau kemari?” bertanya Sambi Wulung.

 “Aku ingin melihat orang-orangku yang hilang. Apakah mereka masih berada di medan atau berada di sini?” jawab Kasadha.

 “Kami merawat beberapa orang prajurit Pajang yang terluka. Kami pun telah menguburkan empat sosok mayat prajurit Pajang,” jawab Sambi Wulung.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mengira bahwa orang-orangnya yang terluka atau yang terbunuh telah dirawat oleh orang-orang Tanah Perdikan. Tetapi ada semacam dorongan yang tidak terlawan yang memaksanya untuk pergi ke padukuhan itu.

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung sampai ke banjar bersama Kasadha, maka Risang memang terkejut.

 “Kau?” desis Risang.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab, maka Risang pun berkata, “Marilah, silahkan duduk.”

 “Kau masih belum beristirahat?” bertanya Kasadha.

 “Aku masih harus menyelesaikan beberapa persoalan,” jawab Risang. Namun ia pun telah bertanya, “kau juga belum beristirahat?”

 “Aku kehilangan beberapa orang prajuritku,” jawab Kasadha.

 “Kau mencarinya?” bertanya Risang.

 “Ya. Aku ingin mengetahui nasibnya,” jawab Kasadha.

 “Beberapa orang telah kami ketemukan,” jawab Risang.

 “Aku mengucapkan terima kasih,” jawab Kasadha, “aku ingin bertemu dengan mereka.”

Risang termangu-mangu. Dengan nada rendah ia berkata, “Mereka adalah tawananku.”

 “Aku tahu. Aku tidak akan mengambil mereka. Tetapi aku ingin melihat keadaan mereka,” jawab Kasadha.

 “Mereka dalam keadaan baik,” jawab Risang, “kami mengetahui paugeran perang. Apa yang harus kami lakukan atas para tawanan.”

 “Aku tahu,” jawab Kasadha, “kau juga bekas seorang prajurit. Kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan terhadap para tawanan. Namun rasa-rasanya ada keinginanku untuk bertemu dengan mereka yang terluka parah.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah hal itu tidak akan merugikan dirimu sendiri?”

Kasadha mengerutkan dahinya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Kenapa?”

 “Jika kelak mereka sempat berbicara dengan atasanmu, Ki Rangga Larasgati, bahwa kau ada disini, apakah hal itu tidak akan menimbulkan kecurigaan?” jawab Risang, “apalagi kami di Tanah Perdikan ini telah mendengar sikapmu terhadap Tanah Perdikan Gemantar.”

Wajah Kasadha tiba-tiba menunduk. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Memang satu kemungkinan. Aku yakin bahwa prajurit-prajuritku sendiri tidak akan menuduhku seperti itu. Tetapi prajurit-prajurit dari kesatuan lain atau yang langsung dibawa oleh Ki Rangga Larasgati memang dapat bersikap lain.”

 “Karena itu, maka pertimbangkan baik-baik niatmu. Sebenarnya aku tidak berkeberatan membawamu ke bagian belakang rumah di sebelah simpang empat itu. Mereka ada disana. Aku tidak tahu apakah mereka prajurit-prajuritmu atau justru prajurit yang berada langsung dibawah perintah Ki Rangga Larasgati,” berkata Risang kemudian.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku tidak akan melihat mereka. Tetapi aku minta ijin kepadamu untuk sekali lagi meneliti bekas medan itu. Apakah masih ada orang yang tercecer.”

 “Kami telah melihat dengan teliti,” jawab Risang.

 “Aku akan menelusuri garis mundur pasukan Pajang,” desis Kasadha, “mungkin diseberang garis perbatasan masih ada yang tertinggal. Bukankah para pengawal Tanah Perdikan ini tidak mencarinya diseberang perbatasan?”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Aku antar kau sampai keperbatasan.”

 “Tidak-perlu kau sendiri Risang,” sahut Kasadha. Tetapi Risang berkata, “Biarlah aku mengantarmu. Kau tidak akan diganggu oleh siapapun.”

Kasadha tidak dapat menolak. Risang pun kemudian telah berbenah diri sambil berkata, “Marilah. Kita memerlukan waktu untuk beristirahat. Karena itu, kau jangan sampai terlalu malam tinggal disini.”

Keduanya pun kemudian telah keluar dari banjar. Kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung Risang memberikan beberapa pesan, “Jika ibu bertanya, katakan bahwa aku mengantar Kasadha keperbatasan.”

Sambi Wulung memandang Risang dengan ragu. Bagaimanapun juga ia agak mencemaskan keselamatannya. Ia sama sekali tidak mencurigai Kasadha, tetapi disaat ia kembali ke padukuhan, maka akan dapat terjadi kecurigaan. Apalagi prajurit yang langsung berada dibawah perintah Ki Rangga Larasgati.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun berkata, “Biarlah Jati Wulung berada di banjar.”

 “Kenapa?” bertanya Risang.

 “Aku akan pergi bersamamu,” jawab Sambi Wulung.

Namun tiba-tiba Kasadha bertanya, “Kau mencurigai aku?”

 “Tidak. Aku tidak mencurigaimu. Tetapi jarak dari perbatasan ke padukuhan ini tidak terlalu pendek. Sementara prajurit Pajang yang ada di perkemahan tidak semuanya prajurit-prajuritmu,” jawab Sambi Wulung.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian, silahkan.”

Risang pun kemudian tidak berkeberatan. Katanya, “Baiklah. Kita akan pergi bersama-sama.”

Demikianlah, maka mereka bertiga telah meninggalkan padukuhan. Beberapa orang pengawal memang merasa heran, bahwa Risang telah mengantarkan Kasadha menuju ke bekas medan pertempuran. Namun mereka menjadi agak tenang karena Sambi Wulung yang mereka kenal tingkat ilmunya, telah menyertai anak muda itu.

Ketiga orang itu memang telah menelusuri bekas medan yang garang disiang hari. Kasadha dengan teliti mengamati daerah yang cukup luas itu. Tetapi seperti dikatakan oleh Risang, bahwa tempat itu telah dibersihkan oleh para pengawal Tanah Perdikan. Justru Kasadha sendiri sudah menduga bahwa hal itu telah dilakukan.

Tetapi tanpa dapat dicegahnya, maka langkahnya telah membawanya ke Tanah Perdikan dan bertemu dengan kakak seayahnya itu. Tetapi ada sesuatu yang aneh dihati Kasadha. Meskipun ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun. Ia justru merasa kecewa bahwa ia tidak bertemu dengan Nyi Wiradana. Ibu tirinya. Ia tidak pernah merasakannya sebelumnya. Bahkan ia tidak pernah merasa kecewa bahwa ia tidak dapat bertemu dengan ibunya untuk berhari-hari, berbulan-bulan bahkan dengan hitungan tahun sekalipun. Tetapi Nyi Wiradana yang bernama Iswari itu ternyata telah menumbuhkan kesan tersendiri didalam hatinya.

 “Aku merasa iri terhadap Risang,” berkata Kasadha didalam hatinya itu, “ia memiliki sosok seorang ibu yang sebenarnya. Bagaimana mungkin Ki Wiradana yang mempunyai seorang isteri seperti Nyi Iswari itu harus mengambil istri yang lain seperti ibuku, Nyi Warsi?”

Kebenciannya kepada seorang laki-laki yang bernama Ki Rangga Gupita justru telah menggelegak didalam jantungnya.

Sebenarnyalah pada saat itu Ki Rangga Gupita justru telah berada di perkemahan Ki Rangga Larasgati. Tiga orang prajurit Pajang yang bertugas telah menangkapnya ketika Ki Rangga mendekati perkemahan itu. Tetapi Ki Rangga yang pernah bertugas sebagai prajurit sandi itu dengan tenang mengatakan, bahwa ia adalah ayah Kasadha.

 “Aku ingin berbicara dengan anakku,” berkata Ki Rangga.

 “Katakanlah kepada pimpinan kami,” jawab prajurit yang menangkapnya, “kau akan kami bawa menghadap Ki Rangga Larasgati.”

Ki Rangga Larasgati yang sudah ingin beristirahat itu memang merasa terganggu atas kehadiran seseorang yang mengaku ayak Ki Lurah Kasadha. Karena itu, maka ia pun telah membentaknya, “Kenapa kau datang malam-malam begini?”

 “Aku tahu, bahwa kesempatan yang paling baik untuk berkunjung ke perkemahan ini adalah di malam hari seperti sekarang ini,” jawab Ki Rangga Gupita.

 “Siapa kau sebenarnya?” bertanya Ki Rangga Larasgati.

 “Aku ayah Ki Lurah Kasadha. Aku adalah bekas prajurit Jipang. Orang memanggilku Ki Rangga Gupita,” jawab Ki Rangga.

 “Prajurit Jipang,” ulang Ki Rangga Larasgati.

 “Bekas. Dan aku adalah prajurit Jipang dimasa kekuasaan Arya Penangsang. Bukan Jipang sekarang, dibawah kekuasaan Pangeran Benawa. Kau lihat bahwa aku sudah terlalu tua untuk menjadi prajurit sekarang ini?”

 “Apa maksudmu?” bertanya Ki Rangga Larasgati.

 “Aku ingin melihat, apakah anakku telah melakukan tugasnya dengan baik. Aku adalah seorang prajurit. Aku tidak mau melihat anakku menjadi seorang prajurit yang kurang baik,” berkata Ki Rangga Gupita.

 “Anakmu yang telah diangkat menjadi Lurah Penatus itu memang kurang baik,” berkata Ki Rangga Larasgati.

 “Kenapa?” bertanya Ki Rangga Gupita.

 “Ia tidak bersungguh-sungguh. Demikian juga prajurit-prajuritnya yang seratus orang itu. Sebagai seorang prajurit Kasadha selalu dibayangi oleh keragu-raguan, ia tidak menunjukkan gejolak perasaan seorang prajurit di medan perang,” berkata Ki Rangga Larasgati.

 “Apakah benar begitu?” bertanya Ki Rangga Gupita pula.

 “Ia tidak bersungguh-sungguh ingin mengalahkan Tanah Perdikan Sembojan. Seperti sikapnya di Gemantar, maka Ki Lurah Kasadha memang meragukan,” jawab Ki Rangga Larasgati.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Tidak. Aku tidak yakin akan keterangan Ki Rangga. Anakku harus berjuang dengan sungguh-sungguh. Ia harus menguasai Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Rangga Larasgati menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa?”

 “Ia adalah pewaris Tanah Perdikan ini,” jawab Ki Rangga Gupita.

Ki Rangga Larasgati terkejut. Dengan wajah tegang ia bertanya, “Kenapa Ki Rangga dapat mengatakan seperti itu?”

 “Ia adalah anak Ki Wiradana, sehingga karena itu, maka ia adalah cucu Ki Gede Sembojan,” jawab Ki gangga Gupita.

Wajah Ki Rangga Larasgati berkerut. Dengan nada rendah ia bertanya, “Tetapi bukankah anak itu anak Ki Rangga?”

 “Ia adalah anak tiriku. Anak isteriku. Anak itu lahir karena isteriku adalah bekas isteri Ki Wiradana itu. Tetapi aku mengasuhnya sejak ia lahir. Ki Wiradana sendiri sudah terbunuh di pertempuran,” jawab Ki Rangga Gupita.

 “Pertempuran yang mana?” desak Ki Rangga Larasgati.

 “Melawan segerombolan penjahat yang sangat kuat, yang menyerang Tanah Perdikan ini,” jawab Ki Rangga Gupita.

Ki Rangga Larasgati termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Mungkin ia memang tidak bersungguh-sungguh. Ia ingin Tanah Perdikan tidak dapat ditundukkan oleh Pajang, sehingga ia akan dapat merebutnya kemudian tanpa kehilangan haknya sebagai Tanah Perdikan.”

 “Tidak,” jawab Ki Rangga Gupita, “hal itu sulit dilakukannya karena Tanah Perdikan Sembojan cukup kuat. Tetapi bersama dengan tugasnya sebagai prajurit Pajang, ia akan dapat menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan sekarang dan membunuh seorang saudaranya laki-laki yang lahir dari ibu yang lain. Jika Risang itu sudah dibunuhnya, maka ia adalah satu-satunya pewaris yang sah atas Tanah Perdikan ini. Jika Tanah Perdikan ini sudah berada ditangan prajurit Pajang, maka hal itu tidak akan sulit diatur. Kasadha harus tunduk kepada ketentuan yang berlaku bagi Tanah Perdikan di Pajang. Ia akan menjadi Kepala Tanah Perdikan yang sah yang akan menjadi pendukung Pajang yang setia.”

Wajah Ki Rangga Larasgati nampak membayangkan kebimbangan. Tetapi Ki Rangga Gupita berkata selanjutnya, “Ki Rangga harus yakin bahwa anak itu akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ia akan membunuh Risang dan bahkan Iswari, isteri tua Ki Wiradana.”

***

Namun dalam pada itu, Kasadha dan Risang telah berada diperbatasan bersama Sambi Wulung. Tidak ada kesan permusuhan pada kedua orang saudara seayah tetapi berbeda ibu itu. Keduanya ternyata memiliki jiwa besar memandang kenyataan hidup yang harus mereka jalani. Kesalahan orang-orang tua mereka, bukan kesalahan mereka. Betapapun orang tua mereka terlibat kedalam benturan persoalan yang rumit, tetapi baik Ka sadha maupun Risang tidak pernah saling mendendam. Bahkan meskipun mereka berdiri berseberangan dalam pertempuran yang telah menelan korban itu.

 “Aku akan kembali ke barak, Risang,” berkata Kasadha kemudian.

 “Besok aku tetap akan berada diinduk pasukan,” berkata Risang dengan suara bergetar.

 “Aku tidak. Aku tidak akan berada diinduk pasukan meskipun Ki Rangga memerintahkan hal itu,” jawab Kasadha.

Risang mengangguk kecil. Sementara Kasadha pun telah menyeberangi perbatasan. Sepanjang garis mundur prajurit Pajang, Kasadha masih juga memperhatikan, barangkali ada prajurit yang terlampaui tidak mendapat perawatan karena keadaan. Para pengawal tidak akan mencapai tempat itu, sementara para prajurit Pajang tidak pula memberikan perhatian khusus.

Ternyata Kasadha benar-benar menemukan seorang prajurit yang terluka yang merintih diantara pepohonan di tanggul parit. Nampaknya prajurit itu berusaha untuk dapat minum meskipun sekedar air dari parit. Tetapi haus yang mencekik lehernya sudah tidak tertahankan lagi.

Dengan hati-hati Kasadha mendekati orang itu. Ketika ia yakin, maka ia pun segera berjongkok didekatinya sambil berdesis, “Kau terluka? “

Orang itu seperti bermimpi. Antara sadar dan tidak ia merasakan tangan-tangan yang kuat mencengkamnya. Kemudian menariknya dari antara gerumbul-gerumbul ditanggul parit itu.

 “Marilah,” berkata Kasadha, “aku bantu kau kembali ke barak.”

Orang itu sudah demikian lemahnya. Namun ia masih tetap hidup. Suara Kasadha seakan-akan telah membangkitkan harapannya sehingga kekuatannya seakan-akan telah tumbuh kembali, meskipun sekedar untuk dapat bertahan.

Dengan susah payah Kasadha telah memapah orang itu menempuh jalan kembali ke perkemahan. Sementara itu, Kasadha masih juga memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia masih mencari jika ada orang lain lagi yang tertinggal.

Tetapi agaknya sudah tidak ada orang lain yang masih berada di bekas medan pertempuran itu selain yang telah ditolongnya.

Selangkah demi selangkah keduanya berjalan menuju keperkemahan yang sudah menjadi semakin sepi.

Sementara itu, Ki Rangga Larasgati yang sedang berbicara dengan Rangga Gupita telah memerintahkan kepada prajurit yang bertugas untuk memanggil Kasadha.

 “Panggil Ki Lurah. Katakan, ayahnya ada disini dan sedang menunggunya,” perintah Ki Rangga Larasgati.

Prajurit itu mengangguk. Ia pun segera pergi ke perkemahan Kasadha.

Pada saat itulah Kasadha datang dengan membawa seorang prajurit yang terluka. Prajurit itu memang bukan prajurit dari kesatuan Kasadha. Tetapi prajurit itu adalah prajurit Pajang.

Ketika perintah Ki Rangga Larasgati disampaikan kepada Kasadha, maka jantungnya justru menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak mengharapkan kedatangan ayah tirinya itu. Kebenciannya benar-benar telah memuncak. Namun Kasadha masih berusaha untuk menahan diri.

Tetapi Kasadha masih harus menyerahkan orang yang terluka itu lebih dahulu, baru kemudian ia pergi menghadap Ki Rangga Larasgati.

Para prajurit yang melihat usaha Kasadha menolong orang-orang yang tertinggal di medan memang merasa kagum. Lurah penatus yang masih muda itu ternyata seorang pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab.

 “Tidak seorang pun yang berbuat seperti yang dilakukan oleh Ki Lurah,” desis seorang pemimpin kelompok prajurit yang langsung berada dibawah perintah Ki Rangga Larasgati. Namun bagi prajurit-prajuritnya sendiri, tindakan itu telah melengkapi sederetan langkah yang mereka kagumi sebelumnya.

Ketika prajurit itu kemudian diterima oleh para petugas yang akan merawatnya, prajurit itu masih sempat berdesis, “Terima kasih Ki Lurah.”

Ki Lurah Kasadha menepuk bahu prajurit yang terluka cukup parah itu sambil berkata, “Kau akan cepat sembuh.”

Prajurit itu telah menitikkan air matanya. Diluar sadarnya ia berkata, “Aku juga mempunyai seorang anak laki-laki.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Beristirahatlah dengan baik. Aku akan menghadap Ki Rangga Larasgati.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian Kasadha telah menghadap Ki Rangga Larasgati. Orang yang menyebut dirinya ayahnya telah berada di tempat itu pula.

Demikian Kasadha duduk, maka Ki Rangga pun telah bertanya, “Kenapa pakaianmu terlalu kotor? Apakah kau tidak sempat membenahi diri setelah kau kembali dari medan pertempuran?”

 “Bukankah aku sudah menghadap Ki Rangga? “ justru Kasadhalah yang ganti bertanya.

 “Ya,” jawab Ki Rangga, “jadi kenapa?”

Dengan singkat Kasadha memberikan laporan tentang seorang prajurit yang telah diketemukannya. Tetapi ia sama sekali tidak memberikan laporan tentang kepergiannya ke padukuhan pertama di Tanah Perdikan Sembojan.

 “Kau telah melakukan sesuatu yang berbahaya,” berkata Ki Rangga Larasgati, “Ada kemungkinan bahwa kau disergap oleh orang-orang Tanah Perdikan.”

 “Aku berada diluar perbatasan Tanah Perdikan itu,” jawab Ki Lurah Kasadha.

 “Mereka adalah orang-orang yang licik tanpa menghormati hak dan wewenang orang lain,” berkata Ki Rangga Larasgati.

Kasadha tidak menjawab. Sekilas ia memandang kepada Ki Rangga Gupita. Namun ia pun kemudian telah menundukkan kepalanya.

 “Ki Rangga Larasgati memberimu petunjuk. Sebagai pimpinan yang memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari pengalamanmu, maka Ki Rangga melihat kemungkinan itu,” berkata Ki Rangga Gupita.

Kasadha masih berdiam diri.

Dalam pada itu, Ki Rangga Larasgati lah yang kemudian bertanya, “Kasadha. Menurut Ki Rangga Gupita, kau adalah satu diantara dua pewaris sah Tanah Perdikan Sembojan. Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku sebelumnya?”

Kasadha benar-benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Ternyata Ki Rangga Gupita telah menceriterakan keadaannya dan latar belakang kehidupannya. Setidak-tidaknya dalam hubungannya dengan Tanah Perdikan Sembojan.

Hampir saja Kasadha kehilangan kendali. Tentu Ki Rangga Gupitalah yang telah menceriterakannya kepada Ki Rangga Larasgati dengan pamrih tertentu.

Namun untunglah, bahwa ia masih dapat menekan gejolak perasaannya itu. Ia tidak ingin membuat keributan di perkemahan prajurit Pajang itu.

 “Kasadha,” berkata Ki Rangga Larasgati, “jika demikian maka kesempatan ini adalah kesempatan yang paling baik bagimu. Kesempatan yang mungkin tidak akan pernah kau dapatkan lagi. Dengan kekuatan prajurit Pajang, maka kau harus dapat merebut Tanah Perdikan itu. Seperti dikatakan oleh Ki Rangga Gupita, jika kau berhasil membunuh Risang, maka kau akan menjadi satu-satunya pewaris yang sah atas Tanah Perdikan ini.”

Kasadha termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab.

 “Kasadha,” berkata Ki Rangga Larasgati selanjutnya, “besuk kita akan melanjutkan pertempuran melawan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Aku telah memerintahkan bukan saja para prajurit. Tetapi semua orang yang ikut dalam pasukan ini. Aku telah memerintahkan orang-orang yang selama ini bertugas didapur untuk ikut bertempur. Prajurit cadangan yang ada di perkemahan harus turun pula ke medan. Aku berharap bahwa dengan gelora yang tinggi, maka besuk kita benar-benar akan dapat memecahkan pertahanan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Adalah tugasmu untuk membunuh Risang serta ibunya,” Ki Rangga Larasgati berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Selanjutnya kita dapat mengatur kemungkinan baru bagi Tanah Perdikan ini. Kau dapat mengundurkan diri dari dunia keprajuritan dan memerintah Tanah Perdikan Sembojan dibawah perlindungan prajurit Pajang.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih saja berdiam diri.

 “Besok kau bersamaku diinduk pasukan. Kita berdua tentu dapat membunuh Risang yang telah dua kali berhadapan dengan aku. Ia justru telah melukaiku disaat aku menerima laporan tentang medan ini,” berkata Ki Rangga Larasgati.

Tetapi diluar dugaan Kasadha menjawab, “Aku tidak ingin berhadapan dengan Risang. Aku berada di medan karena aku seorang prajurit yang setia kepada tugasku. Aku tidak mau dituduh, bahwa apa yang aku lakukan disini adalah semata-mata kepentingan pribadiku.”

“Tidak ada yang akan menuduhmu demikian,” berkata Ki Rangga Larasgati, “tidak ada orang yang tahu tentang dirimu yang sebenarnya.”

 “Tetapi aku sendiri mengetahui, Ki Rangga. Aku tentu akan merasa setiap tatapan mata sebagai satu tuduhan bahwa aku telah mementingkan kepentinganku sendiri diatas tugasku sebagai seorang prajurit,” jawab Kasadha.

 “Kau jangan bodoh Kasadha,” Ki Rangga Gupita ikut berbicara, “kau jangan berpura-pura seperti itu. Kau harus bertindak atas landasan nuranimu apapun yang kau lakukan. Seandainya kau mementingkan dirimu sendiri, maka jika hal itu menguntungkan pula tugas keprajuritanmu, maka Ki Rangga tentu tidak akan berkeberatan. Justru kau akan dianggap sebagai seorang prajurit yang baik.”

 “Ayah,” jawab Kasadha, “kali ini aku akan mengkesampingkan persoalan pribadiku. Aku akan bertempur sebagai seorang prajurit. Aku sudah melakukannya sejak aku memasuki dunia keprajuritan. Kemarin, ketika aku datang ketempat ini, aku pun telah bersiap-siap dan bahkan telah melakukannya. Apalagi ketika aku tahu bahwa didalam pasukan Tanah Perdikan itu terdapat sepasukan prajurit Jipang.”

 “Tetapi kau harus mampu membunuh Risang dan ibunya,” berkata Ki Rangga Gupita, “satu hal yang tentu sulit kau lakukan dalam keadaan lain. Sekarang kau datang dengan seratus orang prajuritmu ditambah dengan prajurit yang langsung datang dibawah pimpinan Ki Rangga Larasgati. Dengan jumlah yang demikian besar, kau tentu akan dapat melakukannya. Jika hari ini pasukan Pajang masih harus mengundurkan diri, bukan karena kekuatan Pajang kurang dari kekuatan Tanah Perdikan ini. Tetapi Pajang telah merendahkan kekuatan Tanah Perdikan ini dengan menyimpan terlalu banyak tenaga cadangan dan meletakkan para petugas di dapur dan mengurusi perlengkapan. Tetapi jika Ki Rangga memutuskan un tuk menurunkan mereka ke medan, maka kekuatan Tanah Perdikan tidak akan banyak berarti bagi Pajang.”

 “Tidak,” jawab Kasadha, “jika aku dan Ki Rangga Larasgati bersama-sama menekan Risang dan apalagi berusaha membunuhnya, maka itu hanya akan mempercepat kekalahan Pajang. Seharusnya kita lebih dahulu mengurangi jumlah kekuatan Tanah Perdikan sebanyak-banyaknya. Seandainya kita tidak membunuh mereka, maka dengan melukai mereka, maka kekuatan Tanah Perdikan akan menjadi susut.”

 “Kenapa kau menganggapnya demikian?” bertanya Ki Rangga Larasgati, “menurut pengalamanku, jika pimpinan tertinggi satu pasukan telah terbunuh, maka pasukan itu akan menjadi kehilangan tumpuan dan dengan mudah akan dapat dikalahkan.”

 “Tetapi berbeda dengan pasukan Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kasadha, “di Tanah Perdikan Sembojan, pimpinan tertinggi yang sebenarnya tidak turun ke medan. Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara berada di belakang medan pertempuran. Jika Risang terbunuh atau terluka, maka keduanya akan segera menggantikan kedudukannya dan semua orang tahu, bahwa ilmu Nyi Wiradana itu tidak akan dapat ditandingi oleh siapapun juga. Bahkan oleh sekelompok besar prajurit Pajang sekalipun. Demikian pula Ki Tumenggung Jaladara. Bahkan seandainya sesuatu terjadi atas Risang, maka dua orang saudara seperguruan yang kemudian aku ketahui bernama Sambi Wulung dan Jati Wulung akan dapat membahayakan seluruh pasukan Pajang. Tetapi jika para pengawal dan prajurit Jipang sudah kehilangan kekuatan dasarnya, maka kita akan dapat menghimpun kelompok-kelompok untuk menghadapi orang-orang terpenting itu. Karena kelompok-kelompok itu tidak akan terganggu oleh para pengawal Tanah Perdikan yang jumlahnya menjadi semakin sedikit sebelum hal itu disadari oleh pimpinan tertinggi Tanah Perdikan. Karena itu, maka yang harus kita lakukan secepat-cepatnya adalah mengurangi kekuatan dan jumlah para pengawal Tanah Perdikan, terutama para prajurit Jipang.”

Ki Rangga Larasgati mengangguk-angguk, ia sebenarnya dapat mengerti alasan Kasadha. Tetapi Ki Rangga Gupita telah menjawabnya lebih dahulu, “Tetapi kau harus membunuh Risang dan Nyi Wiradana. Harus. Kau tidak mempunyai pilihan lain.”

Kasadha memang menjadi tegang. Tetapi yang memegang perintah di perkemahan itu bukan Ki Rangga Gupita, melainkan Ki Rangga Larasgati.

Sementara itu Ki Rangga Larasgati memang memikirkan kemenangan Pajang diatas segala kepentingan.

Namun Ki Rangga Larasgati itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Apa yang dianggap penting oleh Kasadha, biarlah dilakukannya. Aku memandangnya sebagai seorang Lurah Penatus Prajurit Pajang. Ia harus bertempur dengan bersungguh-sungguh. Kita besok harus dapat memecahkan pertahanan Tanah Perdikan. Semua prajurit cadangan akan aku kerahkan, sehingga jumlah kita akan bertambah-tambah. Jika besok kita gagal lagi, maka kita akan menunggu tiga hari lagi, karena kita akan memanggil lagi prajurit dari Pajang. Tidak tanggung-tanggung. Semakin banyak semakin baik. Kita akan menggilas Tanah Perdikan menjadi debu.”

Wajah Kasadha memang menegang. Tetapi ia tidak dapat mencegah hal itu jika Ki Rangga Larasgati memang akan melakukannya. Namun dalam pada itu, Ki Rangga Gupita berkata dengan lantang, “Kau jangan bodoh Kasadha. Kau harus melakukannya. Jika kau tidak mau melakukannya karena alasan apapun juga, aku akan menawarkan diri kepada Ki Rangga Larasgati, bahwa aku akan mendampinginya di medan, dengan tugas khusus, membunuh Risang dan Nyi Wiradana.”

 “Apa ayah merasa mampu membunuh Nyi Wiradana?” bertanya Kasadha. Bahkan karena jantungnya telah menggelegar semakin keras, maka ia pun berkata, “Bukankah ibu saja tidak mampu membunuh Nyi Wiradana. Sedangkan kemampuan ayah masih jauh dibawah kemampuan ibu.”

 “Setan kau,” geram Ki Rangga Gupita, “kau jangan merendahkan aku. Aku adalah seorang Rangga yang pernah bertugas dalam pasukan sandi Jipang. Seandainya aku tidak mampu membunuh Nyi Wiradana, maka aku dapat mempergunakan akal dan pengalamanku diantara sekian banyak prajurit Pajang. Aku tidak akan menantang Nyi Wiradana untuk berperang tanding sebagaimana dilakukan oleh ibumu yang keras hati itu. Tetapi aku akan mempergunakan kemampuan keprajuritanku serta pengalamanku sebagai petugas sandi di Jipang.”

Kasadha hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu Ki Rangga Larasgati diluar sadarnya bertanya, “Apakah Nyi Wiradana benar-benar seorang yang berilmu sangat tinggi?”

 “Ya,” jawab Ki Rangga Gupita dengan serta merta, “ia memiliki ilmu yang seakan-akan berada diluar penalaran. Ia mampu mengalahkan orang-orang yang dianggap mumpuni dalam olah kanuragan.”

 “Aku tidak mengira. Ia adalah seorang perempuan cantik yang lembut,” berkata Ki Rangga Larasgati, “meskipun umurnya sudah semakin banyak menilik anaknya yang sudah dewasa, namun ia masih menunjukkan ujudnya sebagai seorang perempuan yang menarik.”

Meskipun Nyi Wiradana bukan ibunya, tetapi tiba-tiba saja Kasadha bertanya, “Untuk apa Ki Rangga menilai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang menjabat sebagai Senapati tertinggi di Tanah Perdikan ini dalam ujudnya sebagai seorang perempuan?”

Wajah Ki Rangga menjadi panas sesaat. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Sebenarnya aku merasa sayang untuk membunuhnya. Tetapi apaboleh buat. Aku sependapat dengan Ki Rangga Gupita. Risang dan Nyi Wiradana harus dibunuh. Kemudian kita akan berbicara tentang masa depan Tanah Perdikan ini.”

 “Aku telah menawarkan diri untuk melibatkan diri Ki Rangga,” berkata Ki Rangga Gupita, “meskipun umurku sudah melampaui umur yang pantas bagi seorang prajurit. Tetapi bukan berarti bahwa aku telah kehilangan kemampuanku sebagai seorang prajurit,” berkata Ki Rangga Gupita.

 “Ki Rangga Gupita belum terlalu tua. Ki Rangga masih menunjukkan ketegaran seorang perwira yang pantas untuk turun ke medan perang,” berkata Ki Rangga Larasgati.

Kasadha mengeluh didalam hati. Ternyata kedua orang Rangga itu telah berniat saling memanfaatkan keadaan, sehingga mereka akan dapat bekerja bersama. Meskipun belum dapat diketahui apa yang akan terjadi kemudian, setelah mereka menyelesaikan kerja sama itu.

Tetapi Kasadha tidak mau terlibat kedalam persoalan-persoalan seperti itu lebih jauh. Ia juga cemas tentang dirinya sendiri, apabila ia tidak mampu lagi mengendalikan perasaannya yang seakan-akan telah terombang-ambing dan terhempas berulang kali ke batu karang. Keangkuhan sikap Ki Rangga Larasgati. Ketamakan Ki Rangga Gupita dan Kasadha sendiri tidak tahu, kenapa ia merasa tidak rela atas sikap Ki Rangga Larasgati terhadap Nyi Wiradana, meskipun Nyi Wiradana itu bukan ibunya sendiri.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Lurah Kasadha itu pun berkata, “Ki Rangga. Baiklah aku mohon diri. Aku juga ingin beristirahat agar besok aku dapat turun ke medan dengan tenaga baru. Aku harap Ki Rangga pun sempat beristirahat. Apalagi Ki Rangga terluka dan berdarah meskipun tidak seberapa. Tetapi Ki Rangga harus memulihkan tenaga sejauh-jauhnya.”

Tetapi yang menjawab adalah Ki Rangga Gupita, “Besok aku akan mendampingi Ki Rangga di medan perang. Risang akan mati tanpa mengurangi nama baikmu sebagai seorang prajurit.”

Kasadha tidak menjawab. Namun ia pun kemudian bangkit sambil berkata, “Selamat malam ayah.”

Ki Rangga Larasgati tidak menahannya lagi. Dibiarkannya Kasadha kembali ke pasukannya. Besok ia harus turun ke medan dengan tenaga penuh untuk menghadapi terutama para prajurit dari Jipang.

Dengan kepala tunduk Kasadha menuju ke pasukannya yang sedang tidur nyenyak. Namun pemimpin kelompok kepercayaannya itu pun ternyata masih juga belum tidur. Ketika Kasadha datang, maka pemimpin kelompok itu masih duduk bersandar sepotong bambu di perkemah-annya sambil menjelujurkan kakinya. Namun ia pun segera bangkit ketika ia melihat Kasadha datang.

 “Kenapa kau belum tidur?” bertanya Kasadha.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku tidak dapat tidur. Aku tahu Ki Lurah merasa sangat gelisah. Rasa-rasanya aku ikut menjadi gelisah pula.”

Kasadha memandang orang itu sekilas. Kemudian katanya, “Tidurlah. Besok kita akan menghadapi para prajurit Jipang.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Jika aku boleh mengetahuinya, apa saja yang dikatakan oleh Ki Rangga? Nampaknya ada sesuatu yang penting. Apa pula berita yang dibawa oleh ayah Ki Kasadha yang katanya telah datang ke perkemahan ini pula?”

 “Persoalan pribadi. Persoalan yang untuk sementara harus aku kesampingkan,” berkata Kasadha. Lalu katanya pula, “Sekarang tidurlah. Pagi-pagi kita harus bangun dan bersiap untuk saling membunuh dengan sesama. Aku tidak tahu, apakah tidak ada cara lain yang dapat ditempuh selain saling berbunuhan.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Sementara itu Kasadha berdesis, “Untunglah bahwa didalam pasukan Tanah Perdikan itu terdapat prajurit Jipang yang dapat untuk menyalurkan gejolak didalam dada ini. Jika tidak, aku dapat menjadi gila disini.”

Pemimpin kelompok itu kemudian berkata lirih, “Ki Lurah harus dapat menemukan keseimbangan jiwa dalam tugas ini.”

 “Sudah aku katakan, prajurit Jipang itu dapat memberikan keseimbangan itu,” jawab Kasadha.

 “Persoalan apa yang sebenarnya Ki Lurah hadapi? Seharusnya Ki Lurah tidak memikul beban itu sendiri. Apakah mungkin aku dapat membantunya mengangkat beban itu? “ pemimpin kelompok itu masih bertanya.

 “Sudahlah. Tidak seorang pun yang dapat mencampuri persoalan yang sangat pribadi ini. Namun bagaimanapun juga, aku akan tetap berpegang teguh pada tugas dan janji seorang prajurit,” jawab Kasadha. Lalu ia pun berdesis, “Terima kasih.”

Pemimpin kelompok itu tidak mendesaknya lagi. Tetapi pemimpin kelompok itu mengerti, bahwa di Gemantar, Kasadha telah dianggap tidak tegak sepenuhnya dalam tugas keprajuritannya. Sehingga ia telah ditarik kembali.

Pemimpin kelompok itu pun kemudian telah mencoba untuk membaringkan dirinya diantara para prajurit. Ia mencoba untuk melupakan segala-galanya agar ia dapat tidur sehingga tenaganya akan dapat pulih kembali besok jika ia turun kembali kemedan, meskipun ia tidak tahu apakah ia akan mendapat kesempatan untuk keluar lagi dari medan itu karena setiap orang menghadapi kemungkinan yang sama. Mati di peperangan.

Kasadha sendiri juga telah membaringkan tubuhnya. Ia mendapat, tempat yang agak terpisah dari prajurit-prajuritnya. Dibawah atap ilalang, diatas sehelai tikar pandan Kasadha berbaring.

Beberapa saat matanya masih saja terbuka. Namun Kasadha memang hampir kehilangan akal. Kehadiran orang yang mengaku ayahnya itu menambah kalut perasaannya.

Kasadha memang tidak dapat membagi beban dengan para prajuritnya. Ia hanya dapat mengadukan persoalannya kepada Yang Maha Agung.

Sementara itu perkemahan prajurit Pajang itu telah menjadi sepi. Para prajurit termasuk Ki Rangga Larasgati dan tamunya Ki Rangga Gupita telah berbaring di pembaringan masing-masing. Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih berjalan hilir mudik disekitar perkemahan itu.

Dinginnya malam seakan-akan telah menyusup sampai ketulang. Embun telah jatuh pula diatas perkemahan itu, sehingga ujung-ujung tombak mereka yang bertugas bagaikan telah direndam didalam air. Basah.

Namun dalam pada itu, ketika perkemahan itu menjadi lelap, dari kejauhan telah terdengar derap beberapa ekor kuda yang berpacu menuju ke perkemahan itu. Para prajurit yang bertugas yang mendengar derap kaki kuda itu telah bersiap-siap. Beberapa orang telah berada di luar perkemahan dengan ujung tombak yang bergetar.

 “Bukan dari arah padukuhan?” desis seorang prajurit.

 “Ya. Tidak dari arah Tanah Perdikan,” sahut yang lain.

Sebenarnyalah semakin lama memang menjadi semakin jelas. Derap kaki kuda itu memang bukan dari arah Tanah Perdikan.

Beberapa orang prajurit yang sedang tertidur pun ada pula yang terbangun. Kasadha merasakan tanah bagaikan bergetar, sehingga ia pun telah terbangun pula.

Ampat orang berkuda telah mendekati perkemahan para prajurit Pajang itu. Semakin lama menjadi semakin dekat.

Dengan cepat pula beberapa orang yang sedang bertugas telah berkumpul. Mereka pun dengan sigap berloncatan dengan senjata yang siap ditangan.

Beberapa saat kemudian, maka seakan-akan muncul dari kegelapan ampat orang berkuda langsung menuju ke perkemahan. Namun mereka segera memperlambat derap lari kuda mereka ketika mereka melihat beberapa orang prajurit memberikan tanda agar mereka berhenti.

Para prajurit yang menghentikan orang-orang berkuda itu pun segera mengenali keempat orang itu dari pakaian mereka, bahwa keempat orang berkuda itu adalah juga prajurit-prajurit Pajang.

 “Kami membawa perintah Ki Tumenggung Bandapati untuk Ki Rangga Larasgati,” berkata pemimpin kelompok kecil itu.

Para petugas itu pun kemudian telah membawa keempat orang berkuda itu masuk kedalam perkemahan. Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka keempat orang itu pun telah dibawa langsung ke perkemahan Ki Rangga Larasgati.

Di depan perkemahan Ki Rangga keempat orang itu dipersilahkan untuk menunggu sementara seorang prajurit yang bertugas khusus telah membangunkan Ki Rangga yang baru saja sempat tidur.

 “Ada apa?” bertanya Ki Rangga yang kemudian bangkit.

 “Ampat orang utusan Ki Tumenggung Bandapati,” jawab prajurit itu.

Wajah Ki Rangga menegang sejenak. Sesuatu dengan tiba-tiba telah bergejolak didalam hatinya. Apakah Pajang begitu cepat mengetahui kegagalannya hari itu dan begitu cepat pula mengirimkan utusan untuk datang ke perkemahan itu.

Tetapi Ki Rangga tidak mau berteka-teki lebih lama lagi. Ia pun telah memerintahkan prajuritnya untuk membawa keempat orang itu masuk.

 “Marilah,” Ki Rangga pun kemudian telah mempersilahkan keempat orang prajurit itu masuk kedalam perkemahannya.

Ternyata bahwa dua diantara keempat orang itu telah dikenal dengan baik oleh Ki Rangga Larasgati sebagai pembantu-pembantu terdekat Ki Tumenggung Bandapati.

 “Kedatangan kalian mengejutkan kami di perkemahan ini,” berkata Ki Rangga.

 “Kami membawa perintah Ki Tumenggung,” jawab pemimpin kelompok kecil yang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Rangga itu.

 “Perintah apa yang kau bawa?” bertanya Ki Rangga Larasgati setelah mereka duduk dalam lingkaran di perkemahan yang sempit itu.

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menunggu lebih lama lagi. Ia memang mendapat perintah untuk melaksanakan tugasnya dengan cepat.

Karena itu, maka pemimpin dari sekelompok kecil prajurit itu berkata, “Ki Rangga. Aku membawa perintah dari Ki Tumenggung Bandapati, bahwa semua prajurit Pajang harus ditarik kembali kedalam kota.”

 “He,” Ki Rangga terkejut, “bukankah kami sedang menjalankan perintah khusus untuk menyelesaikan persoalan beberapa Tanah Perdikan yang berada dibawah naungan Pajang, termasuk Tanah Perdikan Sembojan?”

 “Ya. Tetapi keadaan Pajang menjadi gawat. Ternyata Pajang telah dikepung oleh pasukan Panembahan Senapati dan pasukan Pangeran Benawa. Panembahan Senapati membawa pasukannya dari Barat, sedangkan Pangeran Benawa nampaknya telah mendekati Pajang dari arah Timur,” berkata prajurit itu lebih lanjut. Lalu katanya pula, “karena itu, maka semua kekuatan harus ditarik masuk kota. Kita harus bertahan dari serangan yang datang dari Barat maupun dari Timur itu.”

 “Tetapi bagaimana dengan Tanah Perdikan ini? Ternyata sekelompok prajurit Jipang juga berada disini. Di Tanah Perdikan Sembojan untuk membantu Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Rangga.

 “Jadi pasukan Jipang juga sudah berada disini?” bertanya prajurit itu.

 “Ya. Bukankah bagi Pajang akan sama saja arti, jika kami bertempur disini melawan Pajang dan sekaligus menertibkan Tanah Perdikan yang tidak mau lagi tunduk kepada paugeran yang mengikat mereka?” bertanya Ki Rangga.

 “Apakah Ki Bandapati telah mengetahui akan hal itu?” bertanya prajurit itu pula.

 “Kami mendapat tugas dari Ki Tumenggung Bandapati yang mendapatkan wewenang untuk menyelesaikan persoalan beberapa Tanah Perdikan,” berkata Ki Rangga Larasgati. Tetapi katanya kemudian, “Namun Ki Bandapati belum tahu bahwa disini ada pasukan Jipang yang mencoba untuk menghasut dan kemudian membantu Tanah Perdikan Sembojan.”

 “Tetapi perintah Ki Tumenggung Bandapati itu tegas Ki Rangga. Ki Rangga harus membawa seluruh pasukan termasuk yang dipimpin oleh Lurah Penatus Kasadha,” berkata pemimpin kelompok kecil itu.

Jantung Ki Rangga terasa berdetak semakin cepat. Ia sudah mempersiapkan diri untuk mengerahkan semua kekuatan yang ada termasuk para prajurit yang bertugas didapur dan mengatur perlengkapan serta pasukan cadangan untuk turun kemedan dan menembus sampai ke padukuhan induk. Menangkap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang cantik itu dan kemudian membunuh anak laki-laki dari Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Tetapi prajurit yang datang itu mengulangi perintah Ki Tumenggung, “Ki Rangga diperintahkan agar segera berangkat demikian aku menyampaikan perintah ini.”

 “Ki Tumenggung tidak adil,” berkata Ki Rangga, “kami telah mengalami kegagalan disini sehingga kami minta dikirim pasukan Ki Lurah Kasadha kemari. Tetapi demikian kami berpengharapan untuk menyelesaikan tugas ini, kami telah mendapat perintah untuk ditarik kembali. Apalagi malam ini juga. Sebenarnya aku tidak pernah berniat untuk melawan perintah. Tetapi bagaimana pertimbangan kalian, jika besok saja kami berangkat ke Pajang. Besok kami masih akan menghancurkan pasukan pengawal Tanah Perdikan serta para prajurit Jipang yang ada disini. Bahkan kami minta kalian berempat ikut pula memperkuat pasukan Pajang. Meskipun kalian hanya ampat orang, tetapi kemampuan kalian akan sangat berarti. Kalian berempat akan dapat menghadapi orang-orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan ini yang sebelumnya tidak kami perhitungkan.”

Tetapi pemimpin prajurit yang diperintahkan oleh Ki Tumenggung untuk memanggil Ki Rangga Larasgati itu menggeleng. Katanya, “Aku hanya mendapat perintah untuk memanggil Ki Rangga. Segala sesuatunya tergantung kepada Ki Rangga. Tetapi pesan Ki Tumenggung, Ki Rangga harus segera berada di Pajang sebelum pasukan Mataram bergerak. Nampaknya kekuatan Jipang disisi Timur tidak akan menentukan. Pasukan Mataram yang besar akan menggilas Pajang jika kita tidak mempersiapkan semua kekuatan yang ada. Kita tidak tahu, kapan Panembahan Senapati akan bergerak. Mungkin hari ini, mungkin besok atau lusa, atau sama sekali tidak. Tetapi kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Jika Ki Rangga terlambat, maka agaknya akibatnya akan kurang baik. Bukan saja bagi Pajang, tetapi juga bagi Ki Rangga sendiri. Perlu kami beritahukan bahwa pasukan yang ada di Gemantar juga sudah ditarik.”

Ki Rangga memang tidak dapat membantah lagi. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja telah masuk keruangan itu Ki Rangga Gupita. Tiba-tiba saja ia telah berkata lantang, “Tidak. Ki Rangga Larasgati tidak boleh meninggalkan Tanah Perdikan ini sebelum Risang terbunuh. Ki Rangga dapat menawan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu dan memperlakukannya sebagai seorang perempuan boyongan.”

Keempat orang prajurit itu termangu-mangu. Pemimpin mereka itu pun bertanya, “Siapakah orang ini? Ia bukan prajurit Pajang dan aku belum pernah mengenalnya.”

Ki Rangga Larasgati pun berkata, “Ki Rangga. Silahkan duduk. Keempat orang ini adalah orang-orang yang mendapat perintah dari Ki Tumenggung Bandapati.”

 “Tetapi tugas Ki Rangga Larasgati harus diselesaikan dahulu. Aku sudah berjanji untuk bersama-sama membunuh Risang itu. Baru kemudian Ki Rangga Larasgati kembali ke Pajang,” berkata Ki Rangga Gupita.

 “Tetapi siapakah orang ini Ki Rangga?” desak pemimpin sekelompok kecil prajurit berkuda yang datang itu.

 “Ki Rangga Gupita,” jawab Ki Rangga Larasgati, “seorang prajurit Jipang.”

 “Prajurit Jipang,” keempat orang prajurit berkuda itu terkejut. Namun Ki Rangga Larasgati dengan cepat menyahut, “Bekas prajurit Jipang dimasa kekuasaan Arya Jipang beberapa tahun yang lalu, sebelum Jipang jatuh dan Pajang berdiri.”

 “Apa kepentingannya disini?” bertanya pemimpin prajurit berkuda itu.

 “Ia telah menyatakan kesediaannya membantu aku membunuh Risang,” berkata Ki Rangga Larasgati.

 “Tetapi dengan demikian Ki Rangga telah membawa orang lain kedalam tubuh kita. Apakah Ki Rangga Larasgati mempercayainya sepenuhnya?” bertanya pemimpin prajurit berkuda itu.

 “Ki Rangga Gupita adalah ayah Ki Lurah Kasadha,” jawab Ki Rangga Larasgati. Kemudian katanya pula, “Karena persoalan pribadi, maka Ki Rangga Gupita telah bersedia membantu kita ikut menyerang para pengawal Tanah Perdikan Sembojan dan prajurit Jipang yang membantu mereka.”

Pemimpin prajurit berkuda itu mengangguk-angguk. Jika orang itu ayah Ki Lurah Kasadha, serta Ki Rangga Larasgati ingin memanfaatkan persoalan pribadi orang itu, maka mereka tidak berkeberatan. Tetapi bagaimanapun juga pemimpin prajurit berkuda itu berkata, “perintah Ki Tumenggung sudah jelas.”

 “Ki Rangga Larasgati telah membawa wewenang ketika ia mendapat perintah untuk datang ke Tanah Perdikan ini. Ia dapat mengambil kebijaksanaan tertentu sehingga tugasnya dapat diselesaikan. Jika Ki Rangga harus kembali malam ini, apa artinya kematian yang telah dikorbankan selama ini? Beberapa orang prajurit telah gugur dan yang lain terluka parah. Apakah pengorbanan mereka dibiarkan sia-sia?” sahut Ki Rangga Gupita.

 “Kau ini siapa?” bertanya pemimpin prajurit berkuda itu.

 “Apakah kau tidak mempunyai telinga? Bukankah hal itu sudah dijelaskan sehingga seharusnya kau tidak bertanya lagi,” jawab Ki Rangga.

Wajah prajurit itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata, “Kau bukan keluarga kami, meskipun kau ayah Ki Lurah Kasadha. Apa hakmu berbicara diantara kami? Jika sekali lagi kau mencampuri persoalan kami, maka kami akan mengusirmu dari tempat ini. Jika perlu dengan kekerasan. Ki Lurah Kasadha akan diperintahkan untuk membawamu pergi atau Ki Lurah Kasadha yang akan dianggap menolak perintah. Kau kira Ki Lurah Kasadha lebih berkuasa dari Ki Tumenggung Bandapati? Jika aku berbicara atas nama Ki Tumenggung Bandapati, maka aku membawa wewenang dari Ki Tumenggung itu. Karena itu aku akan mengulangi perintahnya kepada Ki Rangga Larasgati, kita berangkat kembali ke Pajang. Sekarang.”

Dada Ki Rangga Gupita pun bergelora. Tetapi ia menyadari bahwa ia memang tidak dapat berbuat apa-apa. Ia bukan lagi seorang perwira dalam jajaran prajurit, apalagi prajurit Pajang.

Sementara itu Ki Rangga Larasgati pun tidak mempunyai kesempatan apapun untuk mengelak dari perintah Ki Tumenggung Bandapati. Apalagi Ki Rangga dapat menduga latar belakang dari perintah itu, yang dapat diartikan dalam berbagai kemungkinan. Mungkin beberapa orang pemimpin Pajang melihat bahwa Ki Tumenggung Bandapati telah menyalah- gunakan kekuasaannya. Mungkin justru karena iri hati atau usaha orang lain untuk merebut kesempatan yang diperoleh Ki Tumenggung Bandapati dengan memanfaatkan kehadiran prajurit Mataram dan Jipang.

Namun apapun alasannya, prajurit Pajang itu harus ditarik mundur.

Karena itu, maka Ki Rangga telah memanggil beberapa orang pemimpin pasukannya termasuk Ki Lurah Kasadha. Dengan singkat Ki Rangga mengulangi perintah Ki Tumenggung Bandapati lewat keempat prajurit berkuda itu.

Beberapa orang pemimpin memang terkejut. Mereka sudah bersiap-siap untuk memberikan pukulan terakhir kepada Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tahu bahwa Ki Rangga telah mempersiapkan segala-galanya. Semua prajurit telah diperintah untuk turun ke medan. Bahkan prajurit yang seharusnya bertugas didapur sekalipun. Apalagi prajurit yang dipersiapkan sebagai pasukan cadangan.

Namun tiba-tiba perintah itu datang. Seperti angin yang bertiup menyapu awan hitam yang sudah menggantung dilangit.

Namun seorang diantara para pemimpin prajurit itu justru mengucap syukur didalam hatinya. Dengan sepenuh hati ia berkata didalam dadanya, “Yang Maha Agung ternyata sudi mendengarkan keluhanku .”

Orang itu adalah Ki Lurah Kasadha. Sebenarnyalah ia merasa dibebaskan dari tekanan jiwa yang sangat berat. Sementara itu ia berkata pula didalam hatinya, “Aku akan dapat melawan Jipang dimana saja.”

Perintah penarikan itu bagi Kasadha bagaikan pembebasan baginya dari beban yang sangat berat. Seandainya di Tanah Perdikan itu tidak ada prajurit Jipang, maka Kasadha akan kehilangan akal. Bahkan mungkin sekali Kasadha akan memilih kehilangan kedudukan keprajuritannya daripada harus bertempur larigsung melawan pimpinan Tanah Perdikan Sembojan itu. Kasadha memang pernah mendapat peringatan karena tindakannya di Gemantar yang tidak mempunyai hubungan pribadi apapun juga. Apalagi di Tanah Perdikan itu.

Demikanlah, maka Ki Rangga pun kemudian telah memerintahkan semua prajuritnya untuk bersiap-siap. Malam itu juga mereka akan meninggalkan perbatasan Tanah Perdikan Sembojan untuk kembali ke Pajang menghadapi tugas yang baru yang nampaknya tidak kalah beratnya dari tugas yang dilakukannya itu. Di Pajang mereka akan berhadapan lagi dengan para prajurit Jipang dan bahkan prajurit Mataram.

Karena prajurit Pajang adalah prajurit yang telah terlatih dengan baik, maka meskipun sebagian dari mereka merasa kecewa, namun dalam waktu singkat mereka telah menyelesaikan persiapan untuk berangkat kembali ke Pajang yang menurut para prajurit dari pasukan berkuda itu menjadi gawat.

Prajurit berkuda itu pun telah menunjukkan jalan yang harus mereka lalui agar mereka tidak terjebak kedalam perkemahan para prajurit Mataram dan Pajang.

Menjelang dini, maka semua persiapan telah selesai. Semua perlengkapan telah terikat di punggung beberapa ekor kuda. Ketika para prajurit dikumpulkan untuk mendapat perintah terakhir, maka Kasadha masih sempat memandang kekejauhan. Dipandanginya padukuhan pertama dari Tanah Perdikan Sembojan yang menjadi landasan utama pasukan pengawal Tanah Perdikan itu untuk menghadapi Pajang.

Dari kejauhan nampak lampu-lampu minyak serta oncpr di regol yang berkeredipan di kelamnya sisa malam. Namun langit memang sudah nampak lebih terang oleh cahaya dini hari.

Kasadha itu menggelengkan kepalanya. Didalam hatinya ia berjanji bahwa secara pribadi ia tidak akan mengusik kedudukan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan temurun kepada anak laki-lakinya yang bernama Risang, yang dikenalnya sebagai Barata didalam satu kesatuan yang bahkan telah pernah menyelamatkan nyawanya di medan pertempuran melawan prajurit Mataram.

 “Perang melawan Mataram itu akan diulangi,” berkata Kasadha didalam hatinya.

Ketika kemudian terdengar bunyi bende sekali, maka Kasadha bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang mendebarkan. Perlahan-lahan ia melangkah ke pasukannya yang telah bersiap. Kemudian terdengar bunyi bende untuk kedua kalinya, sebagai pertanda bahwa semua orang didalam pasukan itu harus sudah bersiap. Tidak ada lagi yang akan tercecer dan ketinggalan.

Beberapa saat kemudian, maka telah terdengar suara bende untuk ketiga kalinya. Ki Rangga Larasgati pun segera meneriakkan aba-aba bagi pasukannya yang mulai bergerak berangkat menuju ke Pajang.

Sementara itu Ki Rangga Gupita telah ikut pula melangkah di belakang pasukan itu sambil mengumpat tidak habis-habisnya. Ia yang seakan-akan telah melihat mayat Risang dan Nyi Wiradana terkapar harus menerima kenyataan yang ternyata sangat pahit itu. Pasukan Pajang yang tinggal selangkah menginjak Tanah Perdikan Sembojan dan kemudian menghancurkannya, telah meninggalkan Tanah Perdikan itu dalam keadaan utuh.

Namun dalam pada itu, ketika bende itu terdengar dari padukuhan pertama Tanah Perdikan Sembojan, memang telah menimbulkan kesibukan yang luar biasa. di malam hari suara bende itu seakan-akan menjadi semakin jelas. Para pengawal yang bertugas memang mendengar suara bende yang melengking menggetarkan udara. Bende yang suaranya bergema menelusuri malam yang sepi. Karena itu, maka mereka pun segera menyampaikan laporan kepada para pemimpin di banjar.

Perintah pun segera diberikan oleh Risang, agar semua pasukan disiapkan. Semua pengawal yang bertugas malam itu harus dengan cepat keluar dari regol padukuhan mengamati keadaan.

Dengan tergesa-gesa semua pengawal yang tersebar dirumah-rumah di padukuhan itu telah disiapkan, pengan cepat mereka menuju keluar regol padukuhan dan menyusun pertahanan. Para prajurit Jipang yang memang sudah terlatih itu pun dengan cepat telah bersiaga pula. Seperti sehari sebelumnya, maka pasukan pun segera tersusun dalam gelar yang sederhana.

Risang telah bersiap pula di induk pasukannya. Sambil Wulung dan Jati Wulung telah mendekatinya pula. Sementara Gandar berdiri beberapa langkah dihadapan mereka.

 “Nampaknya Pajang telah kehilangan akal, sehingga mereka akan menyerang sebelum fajar,” berkata Sambi Wulung.

Risang termangu-mangu. Dengan tegang ia memandang ke arah perkemahan para prajurit Pajang. Tetapi yang nampak hanyalah peletik cahaya obor yang menerangi beberapa bagian dari perkemahan itu.

Ketika kemudian bende berbunyi dua kali, pasukan Tanah Perdikan itu pun telah menempatkan dirinya dalam kesiagaan penuh. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah siap untuk menempati kedua ujung sayap seberang menyeberang.

Namun pada saat itu Iswari dan Ki Tumenggung Jaladara telah berada pula di medan. Mereka telah mendapat laporan tentang gerakan pasukan Pajang, sehingga dengan tergesa-gesa keduanya telah menemui Risang yang memandang kearah perkemahan dengan tegang.

 “Aku menyangsikan gerakan mereka,” berkata Ki Tumenggung Jaladara.

 “Maksud Ki Tumenggung?” bertanya Risang.

 “Aku tidak menyalahkan persiapan yang kita lakukan. Kita memang harus berbuat demikian tanpa memungkinkan terjadinya akibat yang sangat buruk bagi kita. Tetapi prajurit Pajang itu dapat saja melakukan permainan untuk sekedar mengejutkan kita dan mengganggu istirahat kita,” berkata Ki Jaladara. Lalu katanya pula, “Jarak antara kedua landasan pasukan ini memang terlalu dekat meskipun satu sama lain berada di sebelah menyebelah perbatasan. Sementara itu jika Pajang benar-benar menyerang para pengawal dan prajurit masih belum sempat makan. Dengan demikian maka daya tahan mereka dalam pertempuran mendatang tentu tidak akan utuh.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan memerintahkan penghubung untuk menghubungi dapur. Jika mungkin, maka siapa yang sempat makan biarlah makan.”

 “Apakah Bibi tidak datang ke banjar?” bertanya Iswari.

Risang menggeleng sambil menjawab, “Sejak peristiwa kedatangan ampat orang prajurit Pajang itu, maka Bibi tidak mau meninggalkan dapur.”

Namun ternyata para prajurit Jipang dan para pengawal tidak sempat untuk makan, karena jarak antara suara bende kedua dan ketiga tidak cukup lama.

Memang sebelum fajar, terdengar bunyi bende untuk ketiga kalinya. Hanya lamat-lamat. Namun cukup jelas bagi setiap pengawal dan prajurit Jipang.

 “Harus ada yang menyiapkan makan dan dibawa ke medan,” perintah Risang, “apapun cara yang dipergunakan, tetapi kita jangan sampai dikalahkan hanya karena kelaparan.”

Sementara itu, maka Risang pun telah mempersiapkan para pengawal dan prajurit Jipang untuk bergerak. Iswari dan Ki Tumenggung Jaladara telah bersiap pula. Mereka memang menjadi marah dengan cara yang ditempuh Pajang. Karena itu, maka Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara berniat untuk ikut bertempur agar mereka dapat memberi kesempatan kepada para prajurit bergantian makan dan minum karena keduanya akan dapat menghisap kelompok-kelompok prajurit Pajang.

Demikian pula Risang telah memerintahkan kepada Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk mencari cara agar para pengawal dan prajurit tidak kehabisan tenaga karena kelaparan. Sementara itu, Ki Lurah Sasaban pun telah mendapat perintah yang sama pula dari Ki Tumenggung Jaladara.

 “Pertempuran ini akan menentukan,” berkata Risang.

Dengan demikian, memang terjadi ketegangan didalam pasukan pengawal yang harus bersiap dengan tergesa-gesa itu. Karena itu, maka pasukan pengawal itu memang agak lambat bergerak. Beberapa saat setelah terdengar suara bende untuk yang ketiga kalinya, barulah pasukan Tanah Perdikan bergerak maju mendekati perbatasan. Sambi Wulung dan Jati Wulung pun dengan tergesa-gesa telah berada di ujung-ujung sayap sebelah menyebelah.

Tiga orang pengawal telah diperintahkan oleh Risang untuk mendahului pasukan dan mengamati keadaan.

Tetapi ketiga orang itu tidak melihat sesuatu dihadapan mereka. Meskipun menjelang fajar udara masih kelam, namun mereka yakin bahwa mereka akan dapat melihat pada jarak beberapa puluh patok jika mereka bertemu dengan pasukan Pajang.

Karena itu, maka ketiganya menjadi cemas. Seorang diantaranya berkata, “Apakah prajurit Pajang telah mengambil jalan melingkar dan menyerang Tanah Perdikan dari jurusan lain?”

 “Memang satu kemungkinan,” jawab yang lain.

 “Lihat. Kita membagi diri menjadi tiga. Satu berjalan sampai keperbatasan dan yang lain ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Pasukan Pajang itu tentu masih belum jauh,” berkata seorang diantara mereka.

Ketiga orang itu memang tidak membuang waktu. Seorang segera berlari-lari ke kiri. Yang lain ke kanan sementara seorang diantara mereka berjalan terus sampai keperbatasan.

Namun tidak seorang pun diantara mereka yang bertemu dengan pasukan Pajang. Dua orang pengawal yang berlari-lari kekiri dan kekanan kemudian menjadi yakin, bahwa pasukan Pajang tidak mengambil jalan lain.

Tetapi pengawal yang berjalan menuju keperbatasan pun menjadi heran. Ia tidak melihat sesuatu.

Demikianlah, maka akhirnya pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan dan para prajurit Jipang itu pun telah berhenti pula di perbatasan. Sementara langit menjadi merah oleh cahaya fajar.

Risang yang tidak mau berteka-teki telah memanggil Gandar dan mengajaknya untuk melihat perkemahan orang-orang Pajang.

 “Berhati-hatilah,” berkata Nyi Wiradana.

Risang dan Gandar pun kemudian telah merayap mendekati perkemahan orang-orang Pajang. Sementara itu, langit pun menjadi semakin terang sehingga keduanya harus menjadi semakin berhati-hati.

Namun kedua orang itu menjadi berdebar-debar. Mereka masih melihat beberapa buah oncor menyala.

Tetapi perkemahan itu nampaknya sepi. Tidak ada seorang pun yang nampak. Baik para petugas yang berjaga-jaga, maupun mereka yang mempersiapkan perlengkapan. Seandainya pasukan Pajang itu menyerang Tanah Perdikan lewat jalan lain, tentu masih ada orang-orang yang tertinggal di perkemahan.

Tetapi perkemahan itu benar-benar sepi.

Dengan sangat berhati-hati kedua orang itu menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Tetapi mereka masih tetap tidak melihat seorangpun.

 “Kita masuk keperkemahan,” berkata Risang.

 “Tunggu. Biarlah aku melihatnya dahulu. Mungkin ini satu jebakan atau satu permainan yang belum kita mengerti,” desis Gandar.

Ternyata Gandar tidak menunggu lagi. Ia pun segera menyusup masuk ke dalam perkemahan.

Tetapi perkemahan itu memang sudah kosong.

Karena itu, maka Gandar pun telah memberi isyarat kepada Risang untuk memasuki perkemahan itu.

Sebenarnya di perkemahan itu sudah tidak ada seorangpun. Masih ada beberapa macam peralatan dapur yang tertinggal. Tetapi sebagian besar dari peralatan yang diperlukan oleh sepasukan prajurit telah tidak ada. Tidak ada pula persediaan senjata. Tidak ada pula pakaian cadangan dan apalagi orang-orang yang terluka.

 “Kosong,” desis Risang.

 “Memang aneh,” berkata Gandar, “mereka telah pergi.”

 “Tetapi kenapa mereka pergi? Menurut Kasadha, pasukan Pajang justru akan mengerahkan semua orang untuk menyerang hari ini,” berkata Risang sambil memandang berkeliling. Masih ada persediaan beras cukup yang agaknya tidak terbawa oleh pasukan Pajang yang telah meninggalkan perkemahan itu.

Beberapa saat Risang dan Gandar berada di perkemahan itu. Ketika matahari mulai nampak memancar dilangit, maka Risang dan Gandar itu pun yakin bahwa para prajurit Pajang memang telah meninggalkan perkemahannya.

 “Kita tidak tahu, apakah alasan mereka yang dengan tiba-tiba saja meninggalkan perkemahannya,” berkata Gandar.

 “Ya. Aku condong untuk menduga, bahwa mereka justru akan memanggil lagi sekelompok prajurit atau bahkan tidak tanggung-tanggung lagi jumlahnya sehingga mereka yakin akan dapat mengalahkan Tanah Perdikan ini. Tetapi ternyata tidak,” berkata Risang.

Namun Gandar pun kemudian berkata, “Marilah. Kita laporkan hal ini kepada Nyi Wiradana.”

Risang dan Gandar pun kemudian dengan cepat kembali keperbatasan. Para pengawal dan prajurit Jipang memang telah gelisah sebagaimana Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara.

Namun laporan Risang dan Gandar memang telah mengejutkan mereka. Bahkan Nyi Wiradana berkata, “Aku akan melihat sendiri.”

Bersama Ki Tumenggung Jaladara, Risang dan Gandar, Nyi Wiradana telah datang ke perkemahan orang-orang Pajang. Meskipun matahari kemudian sudah terbit, namun obor-obor yang terpasang sebagian masih ada yang menyala.

 “Apakah ini bukan akal orang-orang Pajang yang mungkin menyerang dari sisi yang lain dari Tanah Perdikan ini?” bertanya Ki Tumenggung Jaladara.

 “Tentu terdengar isyarat kentongan,” jawab Nyi Wiradana, “pengawal yang masih ada di padukuhan-padukuhan telah mendapat pesan. Bahkan setiap orang. Kehadiran satu pasukan yang besar tentu akan segera terlihat oleh para petugas.”

Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk. Tetapi ia berdesis, “Satu teka-teki.”

Nyi Wiradana termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Kita kembali keperbatasan. Ternyata kita sudah menjadi lengah sehingga para pengawas tidak tahu apa yang telah terjadi diperkemahan itu. Tetapi menilik bekas dan jejaknya, maka sebuah iring-iringan telah meninggalkan perkemahan ini. Seharusnya pengawas kita mengetahui apa yang telah terjadi. Jangankan seluruh pasukan, seorang berkuda yang keluar dari perkemahan dan meninggalkan tempat itu harus kita ketahui arahnya.”

 “Tetapi pertempuran itu telah menyita seluruh perhatian kita ibu,” desis Risang, “meskipun kita harus mengakui kelengahan itu. Namun nampaknya mereka telah kembali ke Pajang dengan menempuh jalan kecil disebelah. Kita dapat menelusuri dan bertanya kepada orang-orang di padukuhan yang mungkin mereka lewati.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 36

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

 

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s