SST-33

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

ISWARI menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti jalan pikiran Kiai Badra. Tetapi ia pun mengerti bahwa sikap itu justru sikap yang keras. Sembojan telah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Bahkan seandainya yang datang kemudian ke Tanah Perdikan Sembojan adalah utusan yang terdiri dari prajurit segelar sepapan.

Sementara itu Kiai Badra pun telah berkata, “Tanah Perdikan Sembojan memang berbeda dari Tanah Perdikan Gemantar yang kecil. Pajang, atau katakanlah orang-orang yang kebetulan mempunyai wewenang di Pajang, dapat berbuat apa saja atas Gemantar. Tetapi mereka akan berpikir ulang untuk ditrapkan di Sembojan.”

Iswari mengangguk-angguk. Sementara Risang berkata, “Jadi menurut kakek, kita tidak akan berbuat sesuatu selain bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan? Jika orang-orang Pajang itu datang, kita akan mengatakan bersedia menjalankan semua perintah, tetapi perintah itu tidak akan pernah kita jalankan dengan sungguh-sungguh.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya,” Kita akan menunggu, apakah orang-orang itu sekedar mengancam, atau mereka akan benar-benar melaksanakan.”

 “Jika mereka benar-benar akan bertindak atas Tanah Perdikan ini?” bertanya Iswari.

 “Ada dua cara,” jawab Kiai Badra, “Risang pergi ke Pajang, atau kita kibarkan panji-panji Tanah Perdikan ini tinggi-tinggi. Pajang bukan satu-satunya pimpinan yang dapat kita jadikan pegangan sekarang ini. Kita belum tahu tataran pemerintahan yang tentu bakal tersusun antara Pajang, Jipang dan Mataram.”

 “Bukankah sudah ditentukan bahwa Adipati Demak berkuasa di Pajang dengan warisan kekuasaan Kangjeng Sultan Hadiwijaya?” desis Iswari.

Dengan nada rendah Kiai Badra berkata, “Ketika Sultan Hadiwijaya berkuasa di Pajang, telah bangkit kekuasaan di Mataram yang justru kemudian mengalahkan Pajang. Pangeran Benawa yang dianggap Pangeran Pati di Pajang belum berkuasa di Jipang seperti sekarang ini.”

Iswari mengangguk-angguk. Sementara Risang yang muda itu berkata dengan kepala tengadah, “Aku mengerti sekarang. Kita harus menunjukkan keberadaan kita. Juga kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati menentukan sikap. Risang, kau jangan mengambil langkah sendiri. Setiap keputusan yang akan kau ambil harus kau bicarakan lebih dahulu dengan ibu.”

Risang termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya ibu.”

Kiai Badralah yang justru tersenyum. Ia dapat menangkap getar perasaan Iswari. Karena itu, maka ia pun berkata, “Bagaimanapun juga pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah ibumu Risang. Beban pertanggung jawaban memang ada di pundaknya.”

Risang tidak menjawab. Sementara ibunya pun kemudian berkata, “Baiklah. Kita akan menunggu kehadiran orang-orang Pajang itu.”

Demikianlah, maka Risang pun kemudian minta diri untuk melihat-lihat keadaan. Namun perhatian utama Risang adalah justru para pengawal Tanah Perdikan.

Sepeninggal Risang, Iswari sempat berdesis, “Kakek justru telah membakar perasaan anak itu.”

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Sebenarnyalah aku tidak mengerti sikap Pajang sekarang ini. Karena menurut pendapatku, setiap orang mempunyai paugerannya sendiri-sendiri. Sudah tentu yang dapat menguntungkan mereka masing-masing. Karena itu, harus ada sengatan sedikit agar para pemimpin Pajang sempat membicarakannya bersama-sama. Mengambil langkah yang wajar tetapi pasti yang diketahui oleh para pemimpinnya.”

Iswari mengerti maksud kakeknya. Tetapi bagaimanapun juga, ia tidak dapat bertindak terlalu jauh. Meskipun menurut perhitungannya setiap langkah dengan mempergunakan kekuatan prajurit Pajang, masih harus dipertimbangkan baik-baik oleh para pemimpin Pajang sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra.

Sementara itu, Risang yang mendapat kesempatan menemui para pemimpin kelompok pengawal justru telah memerintahkan, agar para pengawal lebih mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

 “Waktuku masih terlalu banyak berada di Sanggar,” berkata Risang, “Aku harus secara ajeg dan teratur meningkatkan ilmuku agar aku tidak perlu setiap kali mengulanginya sehingga waktunya akan menjadi semakin panjang.”

 “Apakah yang kira-kira akan terjadi?” bertanya seorang pemimpin kelompok.

 “Kita adalah pengawal sebuah Tanah Perdikan yang secara sah ada. Ada surat kekancingan dan kita sudah menunjukkan keberadaan kita untuk waktu yang cukup lama,” jawab Risang.

Para pemimpin kelompok itu pun telah mengetahui maksud Risang itu. Dan mereka pun telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Pada saat-saat terakhir mereka telah meningkatkan latihan-latihan meskipun hanya diantara kelompok-kelompok. Setiap sore mereka telah mencari tempat di lereng-lereng bukit dan di padang-padang perdu. Meskipun sehari-harian mereka bekerja di sawah dan ladang, tetapi meskipun hanya sebentar mereka memerlukan untuk melakukan latihan-latihan mempergunakan senjata serta mempertinggi daya tahan tubuh mereka.

Dengan berdebar-debar Iswari menunggu kedatangan utusan dari Pajang itu. Mereka akan datang antara tiga hari sampai sepekan untuk mendengar jawaban dari pimpinan Tanah Perdikan Sembojan tentang ketentuan yang pernah dinyatakan dengan lesan oleh para utusan dari Pajang itu.

Namun dalam pada itu, Risang lebih banyak berusaha meningkatkan kemampuan para pengawal disamping tugas-tugasnya sendiri yang diberikan oleh guru-gurunya.

Ternyata dengan pesat kemampuan Risang memang telah meningkat pada satu tataran yang mapan. Ketiga gurunya tinggal mengeraskan alas yang akan dipakainya untuk meletakkan ilmu Janget Kinatelon. Sementara Risang telah mempersiapkan pula para pengawal Tanah Perdikan Sembojan untuk menghadapi akibat yang paling buruk sekalipun menghadapi Pajang yang menurut penilaian Risang telah berubah karena tingkah laku dan sikap para pemimpinnya.

Pada hari yang keempat, maka yang mereka tunggu telah datang. Tiga orang utusan dari Pajang yang telah datang sebelumnya, disertai dengan seorang yang nampaknya mempunyai kedudukan lebih tinggi.

Iswari telah mempersilahkan empat orang itu duduk di pendapa. Bersama Risang, Iswari telah menemui mereka.

Tiga orang yang pernah datang sebelumnya masih seperti sikapnya beberapa hari yang lalu. Ramah dan dengan unggah-ungguh yang mapan. Tetapi seorang yang menyertainya itu bersikap agak lain. Agaknya ia merasa bahwa dirinya adalah seorang pemimpin.

Seorang diantara ketiga orang itu pun kemudian telah memperkenalkan orang yang keempat itu, “Ini adalah Ki Rangga Larasgati. Seorang yang memang bertugas membenahi keberadaan Tanah Perdikan di Pajang.”

Iswari mengangguk hormat. Katanya, “Maaf Ki Rangga. Baru kali ini kami mengenal Ki Rangga.”

Ki Rangga tidak menanggapinya. Namun ia pun kemudian berkata dengan tegas, “Aku akan berbicara langsung pada persoalannya.”

Iswari mengerutkan keningnya. Sementara Ki Rangga itu berkata selanjutnya, “Aku datang untuk mendengarkan keterangan kalian atas persoalan yang telah disampaikan sebelum ini. Seharusnya kalian tidak perlu menunggu sampai tiga empat hari. Kalian tinggal melaksanakan perintah yang sudah diberikan, karena kalian memang tidak berwenang menilai perintah itu. Kalian pun tidak dapat membicarakan pelaksanaan dari perintah itu sehingga harus menunda kesediaan kalian. Bagaimanapun juga perintah itu harus dilaksanakan. Kalian dapat saja membicarakannya. Tetapi itu tidak perlu ditunggu oleh utusan dari Pajang yang telah datang. Perintah itu akan aku ulangi, kalian harus menyediakan seekor lembu yang besar dan satu pedati hasil bumi termasuk beras atau padi kering. Tidak ada pertanyaan bersedia atau tidak. Tidak ada pula pertimbangan tentang pelaksanaannya. Yang dapat aku katakan lagi, jika kalian menganggap bahwa kalian tidak akan dapat memenuhinya, maka Tanah Perdikan ini akan dicabut kekancingannya. Cukup.”

Iswari mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang. Namun sebelum Iswari menjawab, ternyata Risang sudah mendahuluinya, “Jika demikian, apa yang ingin Ki Rangga dengar dari kami.”

 “Pilihan kalian,” jawab Ki Rangga dengan nada keras, “menyerahkan upeti setiap bulan atau dicabut kekancingan Tanah Perdikan ini.”

 “Jika kami memilih menyerahkan upeti, kepada siapa kami harus menyerahkan? Kepada seorang Tumenggung, kepada seorang pejabat yang ditunjuk atau kepada siapa?” bertanya Risang.

 “Kami akan datang mengambilnya,” jawab Ki Rangga Larasgati.

 “Darimana kami tahu, bahwa upeti yang diambil langsung dari Tanah Perdikan kami diserahkan kepada para petugas yang memang wajib menerimanya?” bertanya Risang.

Wajah Ki Rangga Larasgati menjadi merah. Giginya gemeretak oleh kemarahan yang bagaikan membakar jantung. Iswari tidak mencoba mencegah pertanyaan anaknya. Ia sendiri ingin mengajukan pertanyaan seperti itu.

 “Jadi kalian tidak percaya bahwa kami utusan dari Pajang?” geram Ki Rangga.

 “Kami percaya,” jawab Risang, “yang kami ragukan adalah bahwa upeti kami benar-benar akan berarti bagi perkembangan Pajang. Bukan akan terhenti dan bahkan terputus di jalan.”

 “Setan kau,” geram Ki Rangga, “jadi tegasnya kalian menolak perintah ini?”

 “Kami harus mendapat keyakinan bahwa yang kami lakukan berarti bagi Pajang,” jawab Risang.

 “Apakah kau sudah memperhitungkan, bahwa kami dapat mencabut kekancingan dari Tanah Perdikan ini? “ ancam Ki Rangga.

 “Bagaimana kau akan melakukannya? Apakah kau akan membawa kekancingan yang ada di Tanah Perdikan ini atau kau akan membawa kekancingan baru untuk membatalkan kekancingan yang sudah ada?” bertanya Risang.

Orang itu menggeram. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Aku cabut kekancingan yang ada.”

 “Kau kira kami akan menyerahkan kekancingan itu sebelum ada kekancingan yang baru?” bertanya Risang.

 “Persetan,” geram orang itu, “kau menantang? Kau kira aku tidak dapat mengirim pasukan segelar sepapan untuk memaksakan kehendakku?”

 “Kau kira aku tidak dapat berhubungan dengan para pemimpin di Pajang untuk membuktikan kebenaran kata-katamu? Kau dapat memberikan laporan apa saja sehingga para pemimpin di Pajang memerintahkan sepasukan prajurit untuk datang ke Tanah Perdikan ini. Tetapi aku pun dapat memberikan laporan langsung kepada para pemimpin di Pajang atas tingkah lakumu disini. Tanah Perdikan ini sepanjang umurnya tidak pernah memberikan upeti setiap bulan sebagaimana kau katakan. Setiap tahun pun Tanah Perdikan ini tidak diharuskan memberikan upeti dalam arti yang sebenarnya selain pertanda bahwa Tanah Perdikan ini bernaung dibawah kuasa Pajang”

Tetapi kata-kata Risang terputus. Orang Pajang itu membentak hampir berteriak, “Cukup. Kenapa kau sesorah? Kau kira aku terlalu dungu untuk mengerti apa yang terjadi sebelumnya dan apa yang harus kalian lakukan sekarang? Dengar. Aku akan datang untuk mengambil kekancingan Tanah Perdikan ini sehingga Tanah Perdikan ini akan terhapus dari bumi Pajang. Kami sudah melakukannya atas Gemantar. Dan beberapa saat lagi akan terjadi pula atas Tanah Perdikan ini.”

 “Jadi kalian telah melakukan kekerasan atas Gemantar?” bertanya Iswari tiba-tiba.

 “Apaboleh buat,” jawab orang itu, “kami tidak sedang bermain-main. Kami benar-benar ingin membenahi Tanah Perdikan yang berserakan sekarang ini. Banyak yang sudah tidak layak lagi untuk dapat disebut sebagai Tanah Perdikan itu telah terjadi permusuhan, rebutan warisan di Tanah Perdikan itu telah terjadi permusuhan, rebutan warisan dan pertikaian ke dalam yang tidak ada putus-putusnya. Sebagaimana Tanah Perdikan Sembojan yang sebenarnya sudah tidak pantas lagi keberadaannya.”

 “Tidak,” tiba-tiba saja Iswari memotong, “tidak ada perebutan warisan atas hak kepemimpinan disini. Jika hal itu dipakai sebagai alasan penilaian atas Tanah Perdikan ini, maka alasan itu adalah alasan yang dicari-cari”

 “Ada,” sahut orang itu tegas, “kami sudah mendapat keterangan lengkap. Jangan mencoba membohongi kami.”

 “Seandainya ada, itu adalah persoalan kami. Kami sudah mengatasinya dan sekarang, tidak ada apa-apa lagi disini,” berkata Iswari tidak kalah tegasnya.

 “Aku tidak percaya,” orang itu menggeram, “kau jangan memperbodoh kami.”

 “Kau dapat melihat apa yang terjadi disini. Kau dapat berbicara dengan setiap orang. Kau dapat mencari keterangan di pasar-pasar atau digardu-gardu perondan di malam hari,” berkata Iswari.

 “Tidak perlu,” jawab orang itu, “aku sudah mempunyai cukup keterangan. Apa yang dapat aku dengar sekarang, tentu keterangan yang sudah tidak jujur lagi,” berkata orang itu.

Namun Risang dengan cepat menyahut, “Aku tidak memerlukan tanggapanmu atas Tanah Perdikan ini. Tanah Perdikan ini adalah Tanah Perdikan yang sah. Persoalannya akan dibicarakan didalam tataran pembicaraan tinggi di Pajang. Tidak sekedar diputuskan oleh orang-orang seperti kau. He, kau siapa sebenarnya?”

 “Setan kau,” geram orang itu, “kau akan menyesal. Aku Ki Rangga Larasgati, kau dengar.”

 “Kau dapat menyebut kedudukanmu sebagai Rangga, atau Tumenggung atau apa saja. Tetapi tunjukkan kepada kami, bahwa kau memang mendapat tugas untuk kepentingan ini. Apakah kau membawa pertanda limpahan wewenang itu?” bertanya Risang.

Wajah orang itu menjadi merah. Jantungnya bagaikan meledak. Tetapi ia menyadari bahwa ia hanya berempat. Sementara itu, nampaknya pimpinan Tanah Perdikan itu pun telah mengeraskan hati mereka untuk menolak tawarannya.

Ancaman Risang untuk datang ke Pajang telah menyentuh hatinya pula. Bagaimanapun juga, ancaman itu harus mereka pertimbangkan.

Namun orang-orang itu pun tidak mau dihina oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka dengan serta merta, orang-orang itu pun segera bangkit berdiri. Mereka tanpa minta diri telah turun dari pendapa dan selanjutnya meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Iswari dan Risang memang juga bangkit berdiri. Tetapi mereka tidak turun dari pendapa. Mereka memandangi orang-orang itu berlalu dan mengambil kuda-kuda mereka.

Iswari dan Risang berpaling ketika ia mendengar beberapa orang keluar dari ruang dalam. Kiai Badra, Kiai Soka, Nyai Soka dan Bibi telah berdiri di pendapa itu pula.

Mereka pun kemudian telah duduk tanpa menghiraukan orang-orang yang mengaku utusan dari Pajang itu.

Apalagi ketika derap kudanya yang menjauh dan tidak terdengar lagi ditelinga mereka.

 “Aku telah mendengar pembicaraan kalian,” berkata Kiai Badra ketika derap kaki kuda itu sudah tidak terdengar lagi.

 “Bagaimana pendapat kakek?” bertanya Iswari.

 “Aku sependapat dengan keterangan kalian tentang Tanah Perdikan ini. Aku juga sependapat dengan sikap Risang. Risang telah menyinggung kemungkinan untuk pergi ke Pajang. Orang-orang yang datang itu tentu ingin menyalahgunakan kedudukan mereka, sehingga niat Risang untuk pergi ke Pajang tentu akan berpengaruh atas mereka. Mereka akan menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka mereka tentu akan berpikir ulang untuk mengambil langkah-langkah,” berkata Kiai Badra.

Namun Risang berkata, “Tetapi tatanan pemerintahan di Pajang memang sedang kurang mapan. Geseran kekuasaan dari Demak itu benar-benar membuat Pajang menjadi terguncang. Justru karena itu, maka mungkin orang yang mengaku bernama Ki Rangga Larasgati itu mempunyai hubungan dengan para Senapati di Pajang atau Demak yang berada di Pajang yang memang mempunyai wewenang untuk menggerakkan sepasukan prajurit yang ada dibawah perintahnya.”

 “Aku mengerti,” berkata Kiai Badra, “tetapi kita dapat menunggu beberapa saat.”

 “Menurut orang yang mengaku bernama Ki Rangga Larasgati itu, Tanah Perdikan Gemantar telah ditindak dengan kekerasan,” berkata Iswari.

 “Gemantar adalah sebuah Tanah Perdikan yang kecil,” berkata Kiai Soka, “meskipun demikian, ada baiknya kita bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Tetapi aku kira, kau tidak perlu pergi ke Pajang. Jika kau terjebak ke tangan orang-orang yang berniat buruk, maka keadaan akan menjadi semakin rumit. Ada kemungkinan terburuk terjadi atasmu. Orang-orang yang matanya sudah tertutup oleh ketamakan hatinya, kadang-kadang kehilangan pertimbangan-pertimbangan wajar atas sikap dan tingkah-lakunya. Mereka tidak segan-segan untuk melakukan pembunuhan dan bahkan telah merencanakan pembunuhan untuk mendapatkan jalan yang lurus bagi rencananya. Mungkin pula untuk menghilangkan jejak atau hadirnya hambatan-hambatan yang dianggapnya akan memotong niat tamaknya itu.”

Iswari mengangguk-angguk. Ia mengerti kecemasan dihati Kiai Soka. Mungkin orang-orang yang mengira Risang benar-benar akan ke Pajang itu telah membuat perangkap. Mungkin di Pajang, mungkin di jalan sebelum sampai ke Pajang.

Sementara itu Kiai Badra telah berkata pula, “Aku sependapat dengan Kiai Soka, Iswari. Karena itu, kita akan menunggu beberapa hari. Aku kira kita tidak akan terlambat. Aku tidak yakin bahwa orang yang datang kemari itu benar-benar akan bertindak. Ia tentu bukan petugas resmi yang harus menentukan kedudukan Tanah Perdikan ini atau orang yang telah dengan sengaja ingin menyalahgunakan kedudukannya.”

Tetapi Risang berkata, “Tetapi keadaan di Pajang sudah demikian parahnya, sehingga hampir setiap orang telah menyalahgunakan kedudukannya.”

 “Bagaimanapun juga tentu ada keseganan yang satu dengan yang lain,” berkata Kiai Badra, “namun naluriku masih belum melihat bahaya yang dekat di hidung kita.”

Iswari mengangguk-angguk. Tetapi Risang berkata, “Kakek agaknya masih terlalu percaya kepada orang lain. Tetapi baiklah. Aku masih belum akan ke Pajang. Namun persiapan Tanah Perdikan ini harus ditingkatkan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk kecil. Sementara Iswari masih juga berkata, ”Kita sudah terlanjur bersikap keras. Tetapi apaboleh buat.”

 “Bagaimanapun juga yang kau katakan, sama sekali tidak mencerminkan satu pemberontakan terhadap Pajang,” berkata Kiai Badra, “kau sudah benar. Kau tanyakan pertanda kuasa dan wewenang yang diberikan oleh pimpinan pemerintahan Pajang. Biasanya limpahan wewenang akan nampak pada sebuah tunggul kerajaan. Masalah kekancingan Tanah Perdikan adalah masalah yang besar. Kekancingan itu diberikan oleh seorang yang memimpin pemerintahan. Kekancingan itu hanya dapat diambil oleh kekuasaan yang sedikitnya sama atau sederajat yang menggantikannya dengan kekancingan pula. Dengan demikian kau masih tetap mengakui kuasa Pajang. Yang kau lakukan adalah menolak dan tidak percaya kepada salah seorang petugas yang datang tanpa pertanda apapun.”

Iswari mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia masih berusaha untuk tidak melakukan pemberontakan terhadap Pajang. Tetapi ia pun tidak mau disudutkan kedalam kesulitan yang berkepanjangan.

Demikianlah, Tanah Perdikan Sembojan telah diselimuti oleh mendung yang semakin lama terasa semakin menggantung. Setiap saat hujan dan badai dapat turun. Namun Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap-siap menghadapi kemungkin itu.

Dihari berikutnya Risang masih tetap berada didalam sanggar. Sementara itu, para pengawal pun telah melakukan latihan di tempat-tempat yang jauh. Dilereng-lereng bukit atau dipadang-padang perdu.

Dalam pada itu, telah terjadi lagi goncangan perasaan atas para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan. Dua orang Gemantar telah datang dan memberitahukan, bahwa prajurit Pajang telah berada di Gemantar.

 “Jadi benar Gemantar telah diduduki?” bertanya Risang dengan wajah yang tegang.

Ki Badra yang ikut menemui kedua orang Gemantar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Orang Pajang benar-benar sudah kehilangan akal. Ternyata mereka telah melakukan tindak kekerasan atas Gemantar.”

 “Nah,” berkata Risang, “bukankah semua orang Pajang telah menyalahgunakan kekuasaan? Karena Gemantar tidak mau memberikan upeti langsung kepada seorang Tumenggung, maka Tumenggung itu telah dapat menggerakkan sepasukan prajurit untuk menduduki Gemantar.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata panggraitaku telah menjadi tumpul sekarang.”

 “Tetapi kenyataan itu memang aneh,” berkata Kiai Soka, “hampir tidak masuk akal. Namun satu kenyataan, bahwa hal itu sudah terjadi.”

Kepada orang Gemantar Risang bertanya, “Apakah telah terjadi pertempuran?”

 “Untunglah, bahwa pemimpin prajurit yang datang itu adalah prajurit Pajang. Bukan prajurit Demak yang bertugas di Pajang. Karena itu, maka sikapnya cukup baik. Tanpa membawa pasukannya pemimpin prajurit itu menemui Ki Gede Gemantar. Ia mencoba menjelaskan tugasnya. Pemimpin prajurit Pajang itu pun mencoba mengerti kesulitan Ki Gede Gemantar,” berkata salah seorang Gemantar itu.

 “Tetapi ia menduduki Gemantar,” potong Risang.

 “Pemimpin prajurit itu akan segera menarik prajuritnya. Tetapi pemimpin prajurit itu tidak merampas kekancingan Tanah Perdikan Gemantar. Bahkan ia berjanji untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang yang mengaku berhak menerima upeti itu,” jawab orang Gemantar itu.

 “Apakah pasukan itu masih berada di Gemantar sekarang?” bertanya Iswari.

 “Ya. Tetapi mereka bersikap sebagaimana seorang prajurit,” jawab orang Gemantar itu.

 “Maksudmu?” bertanya Risang.

 “Tidak ada tingkah laku mereka yang menyulitkan orang-orang Gemantar. Tidak ada pemerasan dan tidak ada usaha untuk menakut-nakuti. Orang-orang Gemantar justru menjadi sedikit akrab dengan para prajurit itu.”

 “Siapakah pemimpin prajurit itu?” bertanya Risang.

 “Ki Lurah Kasadha. Masih muda sekali,” jawab orang itu.

Risang terkejut sekali. Ia kenal Kasadha dengan baik. Bahkan sudah seperti saudaranya sendiri. Dalam perang yang gawat mereka saling menolong. Mereka mengalami nasib yang hampir sama ketika mereka dihadapkan pada pendadaran ulang. Bahkan ilmu mereka pun seakan-akan setingkat.

Namun Risang pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Gemantar ternyata masih beruntung, bahwa yang datang adalah pasukan Kasadha.

Orang Gemantar itu pun kemudian berkata, “Seandainya yang datang ke Gemantar bukan anak muda yang bernama Kasadha itu, mungkin keadaannya akan jauh berbeda. Kami pernah mendengar bahwa ada satu dua orang prajurit yang justru telah memeras dan merampas milik orang-orang kecil.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Lalu apa yang dilakukan oleh prajurit Pajang selama mereka berada di Gemantar.”

 “Tidak apa-apa,” jawab orang itu, “nampaknya mereka sekedar menjalankan tugas. Sampai saat ini jalur kehidupan rakyat Gemantar masih tidak banyak berubah. Tetapi yang kami cemaskan adalah bahwa kemungkinan lain dapat terjadi. Pimpinan prajurit di Pajang akan dapat mengganti sekelompok prajurit yang ada di Gemantar dengan kelompok yang lain yang akan berbeda sekali sifat dan wataknya. Terutama pimpinannya.”

Dengan nada rendah Iswari bertanya, “Jika hal itu terjadi, apa yang akan dilakukan oleh Gemantar?”

 “Kami sudah bertekad untuk tidak menyerahkan surat kekancingan itu,” jawab orang Gemantar itu.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami mengucapkan terima kasih atas pemberitahuan ini. Seorang pemimpin prajurit yang sebaik pemimpin prajurit yang datang ke Gemantar itu agaknya kini sulit dicari sepuluh di seluruh Pajang. Karena itu, jika hal itu teriadi atas Tanah Perdikan Sembojan, mungkin keadaannya akan berbeda. Mungkin yang datang ke Tanah Perdikan ini seorang pemimpin prajurit yang keras dan bahkan kasar.”

Orang-orang Gemantar itu mengangguk kecil. Sementara itu Risang masih belum mengatakan, bahwa ia mengenal Kasadha dan bahkan berada dalam satu pasukan.

Demikianlah beberapa saat lamanya orang-orang Gemantar itu berada di Tanah Perdikan Sembojan. Banyak hal yang dapat mereka ceriterakan tentang usaha Pajang untuk memeras Gemantar.

 “Bukan Pajang,” berkata orang itu kemudian, “tetapi beberapa orang tertentu sebagaimana terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”

Orang-orang Gemantar itu bermalam satu malam di Sembojan. Di pagi hari berikutnya mereka minta diri untuk kembali ke Gemantar. Mereka harus berada diantara saudara-saudaranya yang sedang mengalami ketegangan.

 “Mudah-mudahan prajurit Pajang yang ada di Gemantar tidak justru ditarik segera, karena dengan demikian maka yang akan datang mungkin orang-orang yang lebih jelek dari yang telah ada,” berkata Iswari kemudian.

Sepeninggal orang-orang Gemantar, maka Sembojan benar-benar merasa bahwa Tanah Perdikan itu telah terancam kekerasan yang setiap saat akan datang. Mungkin dengan cara yang jauh lebih kasar dari cara yang ditempuh Kasadha.

Dalam keadaan yang demikian, maka Risang telah mendesak Kiai Badra dan Kiai Soka, agar ia diperkenankan untuk pergi ke Pajang.

 “Aku masih mencemaskan adanya jebakan bagimu. Orang-orang yang akan memeras Tanah Perdikan ini tentu tidak akan ragu-ragu menyingkirkan orang yang dianggapnya akan merintangi usaha mereka. Tanpa Risang, alasan terjadi kekisruhan disini akan menjadi semakin kuat,” berkata Kiai Badra yang masih tetap ragu-ragu.

 “Beri waktu satu dua hari untuk berpikir,” berkata Kiai Soka.

 “Tetapi dalam waktu satu dua hari itu, prajurit Pajang mungkin telah berada disini,” desis Risang.

Orang-orang tua itu mengerti kegelisahan Risang. Sementara itu Iswari bagaikan berdiri disimpang jalan.

Dalam kegelisahan itu, ternyata Risang kurang dapat memusatkan perhatiannya pada latihan-latihannya. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka yang mengerti gejolak perasaan anak muda itu pun tidak memaksanya untuk berbuat lebih banyak dari yang dapat dilakukan oleh anak muda itu. Tetapi ketiganya tidak memberikan waktu kepada Risang untuk membatalkan latihan.

Sementara itu, ketika Risang mendapat kesempatan untuk berada diantara para pemimpin kelompok pengawal, maka ia pun telah memberikan perintah-perintah yang lebih keras. Risang memerintahkan kepada para pemimpin kelompok pengawal untuk mulai mengadakan pengawasan. Setiap saat prajurit Pajang akan datang. Kita tidak boleh kehilangan waktu sama sekali untuk bersiaga menyongsong mereka.

 “Karena itu, jika kalian pergi ke sawah, jangan ditinggalkan senjata kalian dirumah,” berkata Risang, “setiap ada isyarat yang kalian dengar, maka kalian harus segera berada di tempat yang telah ditentukan.”

Perintah itu pun segera menjalar kepada setiap pengawal. Bahkan setiap laki-laki yang merasa dirinya masih mampu untuk memegang senjata. Mereka yang sudah berambut dengan warna rangkap, namun yang sepuluh tahun yang lalu masih berada dilingkungan para pengawal.

Dua hari telah lewat. Tetapi masih belum ada langkah-langkah yang diambil oleh prajurit Pajang. Meskipun demikian, beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah melihat orang-orang yang menarik perhatian berkeliaran di Tanah Perdikan itu.

 “Mungkin mereka sedang meyakinkan diri apakah Sembojan benar-benar telah bersiap. Atau mungkin mereka ingin melihat seberapa kekuatan Sembojan yang sebenarnya,” berkata Risang yang telah mendapat laporan tentang orang-orang yang mereka curigai.

Sebenarnyalah sulit bagi Risang untuk mengharap Kasadha lah yang akan datang ke Sembojan karena Kasadha telah berada di Gemantar. Namun hal itu tidak mustahil terjadi. Jika Kasadha ditarik dari Gemantar karena sesuatu hal, maka mungkin sekali Kasadha akan dilemparkan ke Tanah Perdikan Sembojan.

 “Jika Kasadha yang datang, aku dapat berbicara dengannya,” berkata Risang kepada diri sendiri.

Tetapi pada hari berikutnya, para pemimpin Tanah Perdikan telah dikejutkan oleh kehadiran orang-orang yang tidak diduganya sama sekali. Tiga orang berkuda yang semula dikiranya para perwira dari Pajang.

Namun kemudian, ketika mereka sudah berada di pendapa dan duduk ditemani oleh Iswari dan Risang, ternyata bahwa mereka bukan tiga orang utusan dari Pajang.

 “Kami adalah tiga orang prajurit dari Jipang,” berkata seorang diantara mereka.

 “Dari Jipang,” Iswari dan Risang memang terkejut.

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka telah menunjukkan sebuah cincin kerajaan sambil berkata, “Aku adalah utusan Pangeran Benawa yang kini menjadi Adipati Jipang. Aku adalah Tumenggung Reksapuri. Kedua orang kawanku ini adalah Ki Rangga Pawirayuda dan Ki Rangga Kartayuda.”

 “Kami mohon maaf Ki Tumenggung serta Ki Rangga berdua, karena kami tidak tahu bahwa yang datang adalah para perwira dari Jipang,” berkata Iswari. Lalu katanya, “Perkenankanlah kami mengucapkan selamat datang.”

 “Terima kasih,” sahut Ki Tumenggung. Katanya kemudian, “Kami sedang dalam perjalanan ke Mataram.”

 “Ke Mataram?” bertanya Iswari, “tetapi apakah Ki Tumenggung tidak salah jalan?”

Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Aku memang dengan sengaja memilih jalan ini. Kami memang ingin singgah di Tanah Perdikan Sembojan ini.”

Iswari mengangguk-angguk. Ia menyesal dengan pertanyaannya. Orang-orang itu tentu sudah mengenal jalan-jalan yang harus mereka tempuh dengan baik.

Sejenak kemudian, maka Iswari pun telah minta orang-orang tua di Tanah Perdikan ikut menemui tamu dari Jipang itu. Tentu ada sesuatu yang penting yang akan mereka sampaikan kepada para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan, karena mereka telah menempuh jalan melingkar dan singgah di Sembojan sebelum mereka pergi ke Mataram.

 “Kami sudah mengetahui apa yang terjadi di beberapa Tanah Perdikan,” berkata Ki Tumenggung Reksapuri, “termasuk Tanah Perdikan Gemantar dan Tanah Perdikan Sembojan. Kami terlambat menangani Tanah Perdikan Gemantar, sehingga Tanah Perdikan itu kini telah diduduki.”

 “Ya,” desis Iswari, “ada dua orang utusan dari Gemantar yang memberitahukan bahwa Tanah Perdikan Gemantar memang sudah diduduki. Tetapi untunglah bahwa pimpinan prajurit yang berada di Gemantar termasuk orang yang baik. Prajurit Pajang yang tahu diri.”

 “Ya. Menurut pengertian kami, prajurit Pajang yang dianggap baik itu sudah ditarik. Sejak dua hari yang lalu, sekelompok prajurit yang lain yang berada di Gemantar. Hari-hari terakhir telah timbul beberapa tindak kekerasan di Gemantar. Korban telah mulai jatuh. Ki Gede Gemantar telah ditangkap. Namun Surat Kekancingan yang dikehendaki oleh para prajurit itu telah diselamatkan,” berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

 “Itukah yang telah terjadi?” desis Iswari.

 “Prajurit Pajang yang sebelumnya dikirim ke Gemantar kini telah dipersiapkan untuk tugas berikutnya, namun dengan ancaman-ancaman agar mereka bertindak tegas,” berkata Ki Tumenggung, “bagaimanapun juga orang-orang Pajang masih sering memberikan keterangan-keterangan yang kami perlukan. Masih banyak diantara mereka yang menyatakan kesetiaannya kepada Pangeran Benawa.”

 “Kenapa tidak dikirim pasukan yang lain, yang tidak meragukan Pajang?” bertanya Risang tiba-tiba.

 “Pajang sedang mengalami tekanan dari luar,” jawab Ki Tumenggung, “Pajang melihat kesiagaan Jipang dan Mataram. Sementara itu, Pajang membutuhkan pasukan yang dianggapnya setia sepenuhnya untuk bertahan jika benar terjadi tekanan kekuatan itu. Sedangkan pasukan yang akan dikirim untuk Tanah Perdikan yang mulai bergejolak dianggap tidak terlalu penting, karena hal itu sekedar memenuhi permintaan beberapa orang pemimpin saja. Bukan kebutuhan mutlak Pajang.”

 “Bukankah kesatuan yang ada di Gemantar termasuk kesatuan yang baik dibawah pimpinan seorang perwira muda yang baik pula?” bertanya Risang pula.

 “Tetapi kesetiaannya kepada Pajang diragukan,” jawab Ki Tumenggung, “menurut penyelidikan para petugas sandi kami, pimpinan prajurit Pajang di Gemantar yang ditarik itu adalah Kasadha. Seorang anak muda yang baik dan berdiri tegak dalam kedudukannya sebagai seorang prajurit. Kasadha telah menolak untuk merampas kekancingan Tanah Perdikan Gemantar. Karena itu maka pasukannya ditarik. Kasadha mendapat peringatan keras. Tetapi ada kemungkinan pasukannya dikirim ke Tanah Perdikan ini.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia memang mengharap agar Kasadha lah yang datang. Dengan demi kian, maka ia akan dapat berbicara berterus terang kepada anak muda yang pernah dianggapnya sebagai saudaranya itu. Bahkan mungkin Kasadha akan dapat mengerti dan bersedia bersama-sama bertemu dengan beberapa orang pejabat di Pajang.

Tetapi persoalan baru yang timbul di Pajang merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian mereka. Nampaknya Jipang dan Mataram telah mulai menaruh perhatian yang besar terhadap goncangan-goncangan yang terjadi di Pajang.

Dalam pada itu, maka Iswari pun kemudian bertanya kepada Ki Tumenggung Reksapuri, “Ki Tumenggung. Ki Tumenggung nampaknya sudah lama mengikuti gejolak yang terjadi di beberapa Tanah Perdikan. Sementara Ki Tumenggung mengatakan bahwa Jipang telah terlambat menanggapi Tanah Perdikan Gemantar. Sebenarnya kami ingin tahu, barangkali Ki Tumenggung akan memberikan beberapa petunjuk untuk mencari jalan keluar dari persoalan ini. Jika Tanah Perdikan Gemantar terlambat ditangani Jipang, maka agaknya tidak demikian dengan Tanah Perdikan Sembojan.”

 “Itulah yang akan aku sampaikan kepada kalian,” berkata Ki Tumenggung, “menurut pendapat kami di Jipang, Pajang telah menyimpang dari garis kewajibannya. Bahkan beberapa orang pemimpin di Pajang telah menyalah gunakan kekuasaan mereka untuk kepentingan pribadi. Aku tidak menyebutkan apakah mereka itu para pemimpin Pajang yang datang dari Demak atau memang orang Pajang sendiri. Namun jika hal ini dibiarkan terus-menerus, tentu yang terjadi kemudian akan sangat merugikan bukan saja bagi Pajang sendiri, tetapi sudah tentu bagi bebrayan Agung di Tanah ini.”

Para pemimpin dan tetua di Tanah Perdikan Sembojan itu pun mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Sebenarnyalah kami merintis jalan untuk mempersiapkan pertemuan Panembahan Senapati dengan Pangeran Benawa. Namun telah dibebankan pula tugas kepada kami untuk singgah di Tanah Perdikan ini. Untuk selanjutnya besok kami akan meneruskan perjalanan kami melalui Pegunungan Kidul menuju ke Mataram.”

 “Begitu melingkar-lingkar?” bertanya Iswari dengan serta merta.

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Itu adalah persoalan para pemimpin tertinggi dari Jipang dan Mataram.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi perintah apakah yang akan diberikan kepada Tanah Perdikan Sembojan?”

 “Kami ingin minta agar Tanah Perdikan Sembojan jangan menyerahkan surat kekancingan. Yang penting bukan surat kekancingan itu sendiri. Tetapi bahwa surat kekancingan adalah landasan hadirnya sebuah Tanah Perdikan serta nilai dari kuasa yang memberikan surat kekancingan itu. Hari ini juga akan datang seorang Tumenggung dengan sekitar sepuluh orang pengawal terpilihnya untuk berada di Tanah Perdikan ini. Jika utusan dari Pajang itu datang, biarlah Ki Tumenggung itu ikut menemuinya jika para pemimpin Tanah Perdikan ini tidak berkeberatan. Dengan demikian maka orang-orang Pajang itu tentu akan berpikir ulang. Jika mereka benar-benar akan melakukan kekerasan,” berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

Iswari mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Risang, maka dilihatnya Risang sedang berpikir. Namun Kiai Badralah yang kemudian bertanya, “Apakah Jipang dan Mataram telah merencanakan untuk memberikan tekanan kepada Pajang?”

 “Kita semuanya menginginkan pemerintahan berjalan wajar,” berkata Ki Tumenggung Reksapuri. Lalu katanya pula,” Kita akan memilih jalan yang terbaik. Kecuali jika semua cara sudah tertutup, kita akan dapat mempergunakan cara yang lebih keras. Mungkin sekali dengan kekuatan. Tetapi sudah tentu itu adalah pilihan terakhir. Kita tahu bahwa yang memegang pimpinan di Pajang, Mataram dan Jipang adalah orang-orang yang masih mempunyai hubungan keluarga, meskipun Panembahan Senapati tidak lebih dari saudara angkat Pangeran Benawa. Namun hubungan mereka benar-benar sudah seperti saudara kandung.”

Para pemimpin dan tetua di Tanah Perdikan Sembojan itu pun kemudian menjadi agak tenang justru karena kehadiran beberapa orang prajurit Jipang. Mereka bukan datang atas kehendak mereka sendiri, tetapi mereka membawa pertanda kekuasaan Adipati Jipang.

Sejenak kemudian, setelah disuguhkan kepada mereka minuman dan makanan, maka para prajurit dari Jipang itu telah dipersilahkan untuk beristirahat di gandok.

Seperti yang direncanakan, maka menjelang sore hari telah datang pula seorang perwira prajurit Jipang dengan dikawal oleh sepuluh orang prajurit pilihan. Mereka telah diterima pula oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan.

Sementara itu, karena sebelumnya Iswari sudah mengetahui akan kehadiran mereka, maka ia pun telah siap dengan hidangan yang telah disediakan sebelumnya.

Yang datang kemudian adalah Ki Tumenggung Jaladara. Seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kumis yang lebat melintang.

Tetapi ketika ia mulai berbicara, maka ternyata suaranya terdengar terlalu kecil dengan nada yang tinggi. Namun, setiap kali Ki Tumenggung itu tertawa ramah. Ujudnya yang garang itu ternyata tidak sejalan dengan sikap dan kata-katanya.

Malam itu, Ki Tumenggung Reksapuri yang kedudukannya lebih tua dari Ki Tumenggung Jaladara telah memberikan keterangan terperinci. Ki Tumenggung Jaladara akan berada di Tanah Perdikan Sembojan. Tanah Perdikan Sembojan harus bertahan. Peristiwa yang terjadi di Gemantar jangan sampai terulang kembali.

 “Tetapi keadaan Tanah Perdikan ini memang berbeda dari Tanah Perdikan Gemantar. Tanah Perdikan Sembojan memiliki kelebihan dari Gemantar. Bukan saja daerahnya yang jauh lebih luas, tetapi Tanah Perdikan ini memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri jauh lebih besar dari Gemantar,” berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

Ki Tumenggung Jaladara yang kemudian akan tinggal di Tanah Perdikan Sembojan telah mendapat perintah untuk membantu agar Tanah Perdikan Sembojan tetap dapat berdiri tegak.

 “Tanah Perdikan ini akan dapat banyak membantu kita kemudian,” berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

Malam itu, Risang telah memberikan beberapa keterangan tentang para pengawal yang ada di Tanah Perdikan Semboyan. Namun Risang masih belum mengatakan bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan itu sudah benar-benar bersiap.

 “Besok aku ingin melihat sekelompok diantara mereka,” berkata Ki Tumenggung Jaladara.

Ketika kemudian malam menjadi semakin dalam, maka para tamu dari Jipang itu telah dipersilahkan untuk beristirahat. Ternyata rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan cukup besar untuk dapat menampung mereka di gandok kiri dan kanan.

Dikeesokan harinya, Ki Tumenggung Reksapuri bersama kedua orang Rangga yang menyertainya telah berangkat meneruskan perjalanan mereka sebagaimana mereka rencanakan.

Sementara itu, Ki Tumenggung Jaladara telah mempergunakan waktunya untuk bertemu dengan para pemimpin kelompok dari para pengawal Tanah Perdikan. Banyak persoalan yang mereka bicarakan. Ki Tumenggung telah memberikan beberapa petunjuk bagi para pemimpin kelompok untuk membantu tugas-tugas mereka. Bahkan disore hari, Ki Tumenggung telah hadir pula pada satu latihan yang dilakukan oleh sekelompok pengawal dilereng sebuah bukit kecil.

 “Bukan main,” desis Ki Tumenggung, “kemampuan para pengawal di Tanah Perdikan ini jauh melampaui perhitungan kami. Dengan demikian maka kami yakin, bahwa Pajang tidak akan bertindak terlalu kasar terhadap Tanah Perdikan ini.”

Namun, ternyata dihari berikutnya, seorang pengawas telah melaporkan, bahwa sepasukan prajurit dari Pajang telah menyusuri jalan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Risang terkejut mendengar laporan itu. Dengan cepat ia memerintahkan memanggil setiap pemimpin kelompok Tanah Perdikan dengan isyarat.

 “Aku tidak berkeberatan jika prajurit-prajurit itu mendengar suara isyarat kami,” berkata Risang.

Sejenak kemudian memang telah terdengar isyarat lewat bunyi kentongan. Namun bunyi kentongan itu terlalu khusus yang hanya diketahui oleh para pengawal. Karena itu, maka suara kentongan itu tidak mengacaukan tata kehidupan di Tanah Perdikan.

Sementara itu Risang telah memerintahkan untuk mengawasi gerak pasukan Pajang itu. Jika mereka bersungguh-sungguh dan mulai melakukan gerakan keprajuritan, maka harus disampaikan isyarat kepada para pemimpin Tanah Perdikan di rumah Kepala Tanah Perdikan.

Pertemuan para pemimpin Tanah Perdikan, beberapa orang bebahu dan bekel dari padukuhan-padukuhan yang juga datang bersama para pemimpin kelompok, para tetua di Tanah Perdikan dan orang-orang terpenting telah mendengarkan keterangan Ki Tumenggung Jaladara yang menasehatkan agar Tanah Perdikan itu bertahan.

 “Pajang yang sekarang tidak dapat menarik kekancingan itu,” berkata Ki Tumenggung, “selain hal ini harus diputuskan dan dilakukan atas dasar kekancingan yang baru, maka hal ini ada sangkut pautnya dengan usaha pemerasan. Aku kira mereka tidak akan melakukan gerakan keprajuritan hari ini. Tetapi orang-orang Pajang itu hanya sekedar menakut-nakuti Tanah Perdikan ini dengan prajuritnya yang akan berkemah di luar atau diperbatasan Tanah Perdikan. Sementara utusan-utusan dari orang-orang yang akan memeras Tanah Perdikan ini akan datang lagi untuk berbicara.”

Iswari mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Tumenggung Jaladara. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, ”Kita akan menunggu kedatangan utusan itu. Namun kita pun akan mempersiapkan diri jika prajurit itu benar-benar bergerak.”

Ki Tumenggung pun mengangguk-angguk pula. Sementara itu Kiai Badra pun berkata, “Persoalannya akan menjadi luas. Jika benar Jipang dan Mataram mengadakan tekanan kekuatan, maka kita akan dapat berharap bahwa Pajang tidak akan menghambur-hamburkan tenaganya disini, sekedar untuk memenuhi keinginan beberapa orang pemimpin di Pajang yang ingin memeras Tanah Perdikan yang ada di daerah Pajang.”

Dengan demikian maka telah diambil keputusan dengan membagi tugas. Risang harus mempersiapkan seluruh kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Sepuluh orang prajurit pilihan dari Jipang akan membantunya.

Bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang segera bergerak untuk menyiapkan pasukan yang akan menghentikan gerak pasukan Pajang.

Seperti yang diperhitungkan Ki Tumenggung Jaladara, maka para prajurit Pajang memang tidak langsung memasuki Tanah Perdikan itu. Tetapi mereka telah menempatkan diri diperbatasan. Sambil membangun semacam perkemahan yang dilengkapi dengan pertanda kebesaran dari pasukan yang datang itu dengan rontek, umbul-umbul, kelebet dan bahkan tunggul-tunggulnya, maka Pajang telah mengutus tiga orang Senapatinya menuju ke rumah Kepala Tanah Perdikan.

Seorang diantara mereka adalah orang yang pernah datang ke Tanah Perdikan itu. Ki Rangga, Larasgati. Ia akan mengatakan kepada para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan bahwa ia telah datang dengan prajurit-prajurit.

Tetapi ketika Ki Rangga Larasgati dengan kedua orang Senapati itu menelusuri jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan, ia memang terkejut. Tanah Perdikan itu telah melakukan persiapan terbuka untuk menyambut kedatangan para prajurit dari Pajang. Di banjar padukuhan yang ada diperbatasan, Ki Rangga Larasgati melihat beberapa kelompok pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap.

Ia memang menganggap bahwa pengawal yang ada di banjar itu terlalu kecil jika ia benar-benar harus mempergunakan kekerasan dengan prajurit yang dibawanya.

Pemimpin pengawal yang ada di padukuhan yang ada diperbatasan itu memang telah menghentikannya. Sambil membentak-bentak Ki Rangga itu berkata, “Kalian lihat, kami adalah perwira dari Pajang yang mendapat perintah untuk menemui pimpinan Tanah Perdikan ini.”

 “Kami belum pernah mengenal Ki Sanak,” jawab pemimpin kelompok itu,” Ki Sanak begitu saja memasuki padukuhan ini tanpa pemberitahuan. Dalam keadaan gawat seperti sekarang ini, sudah sepantasnya kami menghentikan Ki Sanak dan minta beberapa keterangan tentang orang-orang yang kami anggap belum kami kenal.”

 “Tutup mulutmu,” Ki Rangga membentak, “kati lihat pakaianku? Kau lihat prajurit yang ada di perbatasan? Dan sebelumnya aku pernah datang ke Tanah Perdikan ini.”

 “Kami adalah orang-orang pegunungan yang jauh dari kota, sehingga kami tidak dapat segera mengenali pakaian kalian,” jawab pemimpin kelompok itu.

 “Cukup,” Ki Rangga Larasgati hampir berteriak, “jika kau berbicara lagi, aku bunuh kau.”

Pemimpin kelompok itu tersinggung sekali. Tetapi ia sadar, jika terjadi sesuatu atas utusan dari Pajang itu, maka persoalannya akan berbeda.

Karena itu, betapa jantungnya akan meledak, pemimpin kelompok itu harus membiarkan Ki Rangga meneruskan perjalanannya menuju kerumah Kepala Tanah Perdikan.

Beberapa kali Ki Rangga memang telah dihentikan oleh para pengawal yang tersebar di padukuhan-padukuhan. Dan beberapa kali Ki Rangga harus membentak-bentak.

Tetapi dengan demikian Ki Rangga melihat, bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan tidak hanya yang berada di perbatasan. Tetapi di jalan-jalan Tanah Perdikan itu ia telah berpapasan pula dengan para pengawal. Dalam kelompok-kelompok kecil mereka bergerak ke perbatasan dan bergantung dengan kawan-kawan mereka yang telah lebih dahulu berada di banjar padukuhan yang ada diperbatasan.

 “Setan, orang-orang Sembojan,” geram Ki Rangga Larasgati, “aku cenderung untuk menghukum Tanah Perdikan ini lebih berat dari Gemantar.”

 “Prajurit yang kita bawa pun berlipat,” berkata salah seorang dari pengiringnya itu.

 “Tanah Perdikan ini harus dihajar sampai benar-benar mau tunduk,” geram Ki Rangga Larasgati.

Kedua pengikutnya mengangguk-angguk. Seorang di antaranya berkata, “Jika hal itu diperintahkan, maka kami akan sanggup melakukannya.”

Tetapi seorang yang lain berkata, “Tentu kami sanggup melakukannya. Tetapi apakah kami tidak akan memperhitungkan korban yang akan jatuh?”

 “Apakah kalian masih menghitung-hitung, berapa korban yang akan jatuh? Kau dan orang-orangmu adalah prajurit. Kalian harus bertindak tegas terhadap semua orang tanpa pandang pangkat dan derajat, apabila mereka menentang perintah,” geram Ki Rangga Larasgati.

 “Perintah Kangjeng Adipati?” bertanya orang itu.

 “Tutup mulut kau. Jika kau bertanya lagi, maka mulutmu akan aku bungkam. Kau tahu siapa aku. Tanpa landasan kepangkatan aku telah memiliki kemampuan yang tinggi. Kau tahu bahwa aku akan dapat menggilas para pemimpin Tanah Perdikan ini sampai lumat? Sebagai seorang Rangga atau Larasgati itu sendiri,” geram Ki Rangga.

Orang yang telah menanyakan tentang kemungkinan jatuhnya beberapa korban itu terdiam. Ia memang menyadari, bahwa Ki Rangga adalah seorang yang berilmu tinggi.

Setelah melalui beberapa padukuhan dan bulak-bulak panjang, serta setelah beberapa kali Ki Rangga Larasgati marah-marah kepada para pengawal yang menghentikannya, maka akhirnya Ki Rangga itu telah memasuki padukuhan induk.

Dipadukuhan induk, justru Ki Rangga tidak banyak mengalami hambatan. Orang-orang dipadukuhan induk telah mendapat perintah untuk membiarkan saja jika ada utusan dari Pajang yaing ingin bertemu dengan pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

Ki Rangga Larasgati yang memasuki halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan tanpa turun dari kudanya itu, memang telah disambut oleh Iswari sendiri. Baru kemudian, setelah sampai di depan tangga, Ki Rangga Larasgati itu meloncat turun dari kudanya.

Ki Rangga terkejut ketika ia mendengar suara seseorang yang menyapanya, yang sejak semula duduk membelakanginya dan bahkan seakan-akan tidak menghiraukan akan kedatangannya.

 “Selamat datang Ki Rangga Larasgati.”

Ki Rangga yang sudah berada di tangga pendapa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi orang itu masih tetap duduk di tempatnya.

Karena itu dengan lantang ia bertanya kepada Iswari, “Nyi. Siapakah orang itu?”

Ternyata orang itu pun kemudian bangkit dan memutar diri. Bahkan kemudian sambil melangkah mendekat ia menjawab, “Bukankah kau mengenal aku?”

Ki Rangga Larasgati memang terkejut. Ia tidak mengira bahwa orang itu berada di Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu hampir diluar sadarnya ia berdesis,” Ki Tumenggung Jaladara.”

Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Marilah. Silahkan. Bukankah Ki Rangga Larasgati utusan resmi dari Pajang yang akan bertemu dan berbicara dengan pimpinan Tanah Perdikan Sembojan? Aku orang lain disini yang kebetulan lewat dan singgah di Tanah Perdikan ini.”

 “Tetapi Ki Tumenggung adalah prajurit dari Jipang,” desis Ki Rangga Larasgati.

 “Ya. Karena itu, aku adalah orang lain disini,” jawab Ki Tumenggung.

Ki Rangga masih akan menjawab. Tetapi Ki Tumenggung berkata, “Marilah. Naiklah dahulu ke pendapa.”

Iswari yang menyambutnya pun telah mempersilahkannya pula.

Sejenak kemudian, maka Ki Rangga Larasgati beserta kedua pengiringnya telah berada di pendapa itu pula. Namun sikap Ki Rangga pun telah berubah. Bagaimanapun juga ia masih tetap menghormati Ki Tumenggung Jaladara yang memang sudah dikenal sebelumnya.

 “Aku akan mempersilahkan kalian untuk berbicara,” berkata Ki Tumenggung Jaladara, “atau barangkali aku harus menyingkir dahulu?”

 “Ah, tentu tidak,” sahut Ki Rangga Larasgati. Lalu katanya pula, “pembicaraan kami bukan pembicaraan yang bersifat rahasia. Seandainya pembicaraan kami bersifat rahasia, aku kira para pemimpin dari Tanah Perdikan ini pun telah menyampaikannya kepada Ki Tumenggung pula.”

 “Mereka tidak merasa berkewajiban untuk menyampaikannya kepadaku,” berkata Ki Tumenggung.

 “Bukan soal kewajiban atau tidak berkewajiban,” jawab Ki Rangga, “barangkali sekedar keterangan atau pemberitahuan saja,” Ki Rangga itu berhenti sejenak, lalu, “Kedatangan kami hanya sekedar untuk menegaskan sikap kami.”

 “Seperti yang terjadi di Gemantar?” bertanya Ki Tumenggung Jaladara.

Wajah Ki Rangga menegang. Sementara itu Ki Tumenggung berkata pula, “Jika saja Gemantar memenuhi permintaan Pajang. Maka Tanah Perdikan itu tidak akan mengalami nasib buruk.”

Ki Rangga Larasgati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Ki Tumenggung nampaknya berprasangka buruk.”

 “Tentang apa?” bertanya Ki Tumenggung, “bukankah sewajarnya jika Gemantar memenuhi syarat yang ditentukan oleh Pajang, maka kekancingan Tanah Perdikan itu tidak akan dicabut.”

Wajah Ki Rangga menjadi merah. Dengan geram ia berkata, “Baiklah. Aku akan berbicara dengan pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Tidak kepada orang lain.”

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Silahkan. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku orang lain disini?”

Ki Rangga Larasgati kemudian berpaling kepada Is wari sambil bertanya, “Apakah kau telah berhubungan dengan Jipang dan minta bantuannya?”

Iswari menjawab singkat, “Tidak.”

 “Tetapi ada perwira Jipang disini sekarang,” berkata Ki Rangga.

 “Kau sudah mendengar sendiri apa yang dikatakannya. Jika kurang jelas, bertanyalah sendiri. Orangnya masih ada disini,” jawab Iswari.

Jantung Ki Rangga Larasgati menjadi semakin bergejolak. Nampaknya ia memang harus mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Karena itu, maka ia pun berkata, “Aku tidak peduli. Tetapi apa jawabmu atas perintah Pajang yang pernah aku sampaikan beberapa hari yang lalu.”

 “Aku akan mentaati segala perintah resmi dari Pajang. Jika Ki Rangga Larasgati dapat menunjukkan pertanda limpahan kuasa dari Pajang, maka aku akan menentukan sikap,” jawab Iswari.

 “Ternyata kau adalah perempuan yang dungu,” geram Ki Rangga, “kau tahu bahwa aku membawa pasukan yang cukup untuk merampas kekancingan itu?”

 “Kau tidak tahu dimana kekancingan itu berada sekarang,” berkata Iswari, “kau tidak akan dapat menemukannya. Kekancingan itu adalah jiwa Tanah Perdikan ini.”

 “Kau tahu bahwa hal yang demikian dapat berakibat kematianmu,” geram Ki Rangga Larasgati.

 “Jiwaku sama sekali tidak berarti dibanding dengan jiwa Tanah Perdikan ini,” jawab Iswari.

 “Kau seorang perempuan,” geram Ki Rangga, “seharusnya kau menyadari kelemahanmu.”

 “Ya aku seorang perempuan,” jawab Iswari, “tetapi justru karena aku perempuan, aku berbangga dengan kemampuanku.”

 “Baik. Sediakan kekancingan itu. Aku akan memasuki Tanah Perdikan ini dengan pasukanku. Atau sediakan keranda bagi pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” geram Ki Rangga.

Risang yang ikut mendengarkan pembicaraan itu tiba-tiba membentak, “Tinggalkan tempat ini segera. Atau untuk selamanya kau tidak akan pernah keluar dari tempat ini.”

 “Iblis kau,” Ki Rangga hampir berteriak, “kau akan mati untuk yang terdahulu.”

Tetapi Risang pun berteriak, “Cepat pergi sebelum darahku mendidih.”

Ki Rangga Larasgati benar-benar merasa terhina. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat banyak selain membentak-bentak. Karena itu, maka ia pun segera meninggalkan halaman rumah itu sambil mengancam, “Besok aku akan memasuki halaman rumah ini kembali. Besok aku akan menangkapmu, kecuali jika secara pengecut kau melarikan diri. Apapun yang dapat kau banggakan, tetapi di tangan kami, kau tentu akan menunjukkan dimana kekancingan itu kau sembunyikan.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Ki Tumenggung Jaladara pun hanya tersenyum saja mendengar ancaman itu. Namun Risang telah menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri, “Kita tidak akan menyerah.”

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu pun telah berderap meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Tidak ada lagi yang menyapa mereka ketika mereka melewati pedukuhan-pedukuhan yang lain.

Namun dalam pada itu, Risang pun telah bersiap untuk menemui para pemimpin kelompok pengawal Tanah Perdikan.

 “Aku ikut bersamamu,” berkata Iswari.

Ternyata yang kemudian keluar dari regol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah Risang, Iswari, diikuti oleh Ki Tumenggung Jaladara, Sambi Wulung. Jati Wulung dan beberapa orang pengawal terpilih.

Sementara para prajurit Pajang justru tetap berada di rumah itu.

Ki Tumenggung Jaladara memang kagum melihat kesigapan Risang dan para pengawal Tanah Perdikan. Risang menunjukkan kemampuannya mengatur pasukannya sebagaimana seorang prajurit.

Sebenarnyalah Risang memang bersikap sebagai seorang prajurit terhadap para pengawal Tanah Perdikan dalam keadaan yang gawat itu. Para pengawal pun menyadari, justru mereka tahu bahwa Risang memang pernah menjadi seorang prajurit.

Dalam waktu yang singkat, maka pertahanan Tanah Perdikan Sembojan pun telah tersusun rapi. Para pengawal telah menyusun pertahanan pada padukuhan yang pertama dihadapan perkemahan prajurit Pajang. Untuk mengimbangi getaran dan gejolak perasaan yang terpengaruh oleh pertanda kebesaran kesatuan prajurit Pajang yang berkemah diperbatasan, maka di padukuhan pertama, di garis pertahanan pertama pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan, telah dipasang pula tanda-tanda kebesaran Tanah Perdikan Sembojan. Juga tunggul dan panji-panji, rontek dan kelebet.

Sementara itu, Ki Rangga Larasgati pun telah memerintahkan seluruh prajurit di dalam pasukannya untuk bersiap-siap.

 “Sembojan memang berbeda dengan Gemantar,” berkata Ki Rangga, “selain Sembojan memang lebih besar, tetapi Sembojan mempunyai naluri pertahanan yang lebih besar dari daerah-daerah lain di Pajang, justru karena persoalan didalam lingkungan Sembojan sendiri.”

Seorang pemimpin kelompok yang telah cukup lama menjadi prajurit di Pajang telah berkata, “Pada suatu saat, Pajang pernah melindungi Tanah Perdikan ini dari kegarangan orang-orang Jipang.”

 “Sekarang akan terjadi sebaliknya. Nampaknya Jipang pun akan ikut campur,” sahut Ki Rangga.

 “Tetapi Jipang terlalu jauh letaknya dari Tanah Perdikan itu,” jawab pemimpin kelompok yang lain.

 “Ya,” jawab Ki Rangga Larasgati, “kita jangan memberi kesempatan.”

Dengan perintah Ki Rangga, maka prajurit Pajang pun telah bersiap. Ki Rangga telah memberikan petunjuk kepada para pemimpin kelompok serta para pemimpin kesatuan yang ada diperbatasan, bahwa besok pagi-pagi mereka akan memasuki Tanah Perdikan.

 “Nampaknya Tanah Perdikan juga sudah bersiap,” berkata seorang perwira salah seorang pimpinan kesatuan prajurit Pajang itu.

 “Ya. Mereka bersiap padukuhan pertama. Memang satu sikap sombong seperti para pemimpinnya. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang seorang perempuan itu pun ternyata sombong sekali. Semula aku mengira bahwa perempuan cantik itu akan berbicara lembut. Tetapi ternyata kata-katanya seperti duri yang menusuk jantung,” geram Ki Rangga Larasgati.

 “Ki Rangga sudah mulai berbicara tentang perempuan cantik. Tetapi ia sudah janda sejak hampir sepuluh tahun yang lalu,” berkata seorang prajurit yang lain, yang nampaknya sudah mendengar serba sedikit tentang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

 “Ya. Tetapi ia masih segar dan cantik. Tetapi itu tidak mempengaruhi rencana kita untuk menangkapnya karena ia telah memberontak,” berkata Ki Rangga.

Namun yang lain, seorang perwira yang masih muda berkata, “Atau sebaliknya. Justru perempuan cantik itu yang telah mendorong Ki Rangga untuk menangkapnya.”

 “Ah kau. Meskipun segalanya dapat terjadi, tetapi aku bertugas disini. Hanya secara kebetulan sasaran tugasku seorang perempuan cantik yang kebetulan pula seorang janda,” desis Ki Rangga.

Perwira yang masih muda itu tertawa. Tetapi Ki Rangga ternyata kemudian berkata, “Perhatian kita harus kita tujukan terutama kepada pengawal. Nampaknya para pengawal Tanah Perdikan mempunyai susunan tataran yang baik. Dengan cepat mereka telah menempatkan diri. Bahkan pertanda kebesaran Tanah Perdikan itu pun telah terpasang pula.”

 “Tetapi hanya itu,” jawab perwira muda itu, “jika besok kita membentangkan gelar, maka mereka akan menjadi kebingungan.”

 “Mungkin orang-orang Jipang yang ada di Tanah Perdikan ini sudah memberikan tuntunan serba sedikit kepada para pengawal Tanah Perdikan ini menghadapi perang gelar. Atau oleh para pengawal yang agaknya sekarang tentu sudah menjadi semakin tua yang sebelumnya memang telah memiliki kemampuan yang cukup. Bahkan agaknya itulah yang membuat Tanah Perdikan ini menjadi sangat sombong,” berkata Ki Rangga Larasgati.

Beberapa orang perwira mengangguk-angguk. Meskipun ada diantara prajurit yang pernah mengetahui bahwa Tanah Perdikan Sembojan memiliki kekuatan yang bukan saja baru lahir sehari atau dua hari, bagaimanapun juga mereka menganggap bahwa kekuatan yang dibawanya cukup besar untuk memaksa Tanah Perdikan Sembojan menyerah dan melakukan apa yang diinginkan oleh Ki Rangga Larasgati, atau memaksa menyerahkan kekancingan atas Tanah Perdikan ini setelah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya tertangkap.

Demikianlah, maka Ki Rangga pun telah menyiapkan seluruh kekuatan yang dibawanya. Ia tidak ingin gagal pada langkahnya yang pertama sehingga harus mengulanginya kembali.

Karena itu, maka esok pagi, Ki Rangga Larasgati harus mulai bergerak dan di sore harinya, ia harus sudah berada dirumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta menangkap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang cantik itu.

Dalam pada itu, di padukukan pertama yang berhadapan dengan perkemahan para prajurit Pajang, Risang telah mengatur pertahanannya. Ki Tumenggung Jaladara yang mengagumi ketangkasan berpikir Risang merasa tidak perlu memberikan petunjuk-petunjuknya meskipun setiap kali Risang berbicara dengan Ki Tumenggung untuk meyakinkan kebenaran perhitungannya.

Baik Risang maupun Ki Tumenggung Jaladara berpendapat bahwa prajurit Pajang tentu akan menyerang esok pagi-pagi.

 “Aku juga sependapat,” berkata Iswari. Namun katanya kemudian, “Tetapi jangan lengah. Mungkin para prajurit Pajang melakukan gerakan tiba-tiba. Meskipun para pengawal masih sempat beristirahat serta mempersiapkan diri sebaik-baiknya hari ini tetapi setiap saat mereka harus mampu bergerak cepat.”

Risang mengangguk. Dengan nada yang mantap ia berkata, “Aku akan berada diantara para pengawal.”

Ibunya termangu-mangu sejenak. Risang adalah anak satu-satunya yang diharapkannya akan dapat melangsungkan keturunan keluarganya. Ia juga diharapkan untuk kelak menjabat sebagai Kepala Tanah Perdikan itu. Apalagi ia berada di peperangan, maka akibatnya akan dapat mencemaskannya.

Karena itu, maka Iswari itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Paman Sambi Wulung dan Jati Wulung akan selalu menemanimu.”

Risang mengangguk kecil. Ia mengerti bahwa ibunya tentu cemas tentang dirinya. Tetapi ia tidak mau membuat ibunya menjadi semakin gelisah. Karena itu, ia pun berkata, “Kami akan bersama-sama memimpin pasukan pengawal.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada suara seorang ibu ia berkata, “Besok menjelang fajar, aku sudah berada di sini.”

 “Terima kasih ibu,” jawab Risang.

Demikianlah, setelah melihat-lihat kesiagaan para pengawal, Iswari pun telah kembali ke padukuhan induk bersama KI Tumenggung Jaladara. Ki Tumenggung akan memerintahkan sepuluh orang prajurit Jipang untuk berada diantara para pengawal Tanah Perdikan. Jumlah itu memang terlalu kecil. Namun yang penting Jipang memang ingin melibatkan dirinya. Dengan menempatkan sepuluh orang perwiranya, maka Jipang akan dapat membantu menyusun pertahanan yang baik serta menilai dari dekat kemampuan yang sebenarnya dari para pengawal Tanah Perdikan. Dengan pengenalan itu, maka Jipang akan dapat menentukan sikapnya lebih lanjut di Janah perdikan Sembojan itu.

Beberapa saat setelah mereka berada di padukuhan induk, maka sepuluh orang Jipang itu pun telah siap. Mereka tidak mengenakan pakaian keprajuritan Jipang. Namun mereka telah mengenakan pakaian sebagaimana kebanyakan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Mereka akan berada diantara para pengawal Tanah Perdikan yang akan mempertahankan Tanah Perdikannya bersama-sama dengan hampir semua laki-laki yang mampu memegang senjata. Banyak diantara mereka adalah bekas para pengawal yang beberapa tahun yang lampau masih tangkas bertempur di medan-medan yang garang.

Risang kemudian telah menerima sepuluh orang prajurit pilihan dari Jipang itu dan menempatkannya di beberapa kelompok yang justru tidak terdiri atas para pengawal. Namun didalamnya juga terdapat bekas pengawal yang umurnya telah merambat semakin tinggi, sehingga dalam keadaan yang tenang, mereka sudah melepaskan senjata-senjata mereka.

Namun dalam keadaan yang gawat itu, mereka masih ingin menunjukkan bakti mereka kepada kampung halaman. Sehingga ketika kemelut mulai terasa di Tanah Perdikan itu, mereka pun telah mengambil senjata mereka dari simpanan. Kemudian memacu kembali daya tahan tubuh mereka. Setiap hari, mereka telah berusaha untuk membangkitkan kembali kemampuan mereka sebagai seorang pengawal yang baik. Bahkan hampir setiap saat mereka telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan dengan cara mereka masing-masing. Seseorang telah mempunyai kebiasaan berlari-lari menuju dan pulang dari sawah. Seorang yang lain telah melatih daya tahan tubuhnya dengan bekerja keras disawah tanpa beristirahat. Ada yang mempergunakan waktunya di malam hari dengan berlatih mempergunakan senjata yang hampir dilupakannya.

Hari-hari terakhir, Tanah Perdikan Sembojan memang diwarnai dengan latihan-latihan yang semakin berat. Bukan saja mereka yang berada di lereng-lereng bukit, dipadang-padang perdu. Tetapi juga di halaman-halaman rumah dan di kebun-kebun.

Malam hari menjelang hari yang mendebarkan, Risang telah memerintahkan para pengawal untuk beristirahat sebaik-baiknya meskipun mereka tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih berjalan hilir mudik di luar dinding padukuhan itu untuk mengawasi gerakan para prajurit Pajang.

Tetapi ternyata perkemahan orang-orang Pajang itu pun nampak sepi. Perapian masih nampak menyala di dapur mereka. Tetapi ketika dua orang pengawas berusaha mengamatinya dari tempat yang lebih dekat, ternyata para petugas didapur pun sudah tertidur sambil menghangatkan tubuh mereka.

Namun para pengawas masih melihat para petugas hilir mudik mengelilingi perkemahan mereka yang lengang dengan senjata telanjang ditangan.

Menjelang dini hari, didapur perkemahan para prajurit Pajang itu pun telah nampak sibuk. Para petugas tengah menyiapkan makan dan minum bagi para prajurit yang sebelum fajar menyingsing harus mulai bergerak memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

Pada waktu yang sama, maka para petugas di padukuhan pertama yang menghadap ke perbatasan telah terjadi kesibukan yang sama. Sementara itu, beberapa ekor kuda berderap dari padukuhan induk ke padukuhan pertama yang sedang bersiap-siap menghadapi serangan para prajurit Pajang.

Seperti yang dijanjikan, Iswari dalam pakaian khususnya, telah memenuhi janjinya kepada anaknya, bahwa ia akan berada diantara para pengawal Tanah Perdikan menjelang fajar.

Namun Iswari telah mohon kepada kakek dan neneknya agar mereka tetap berada di padukuhan induk. Hanya dalam keadaan yang sangat gawat orang-orang tua itu akan diminta untuk hadir di arena.

Dipadukuhan pertama Risang pun telah berdiri tegak didepan regol padukuhan. Dari regol Risang sama sekali tidak melihat kegiatan yang dilakukan oleh para prajurit Pajang. Apalagi disaat gelap masih menyelimuti Tanah Perdikan Sembojan. Namun angan-angannya yang didasari dengan laporan para pengawas yang berhasil menyusup mendekati perkemahan itu dapat membayangkan apa yang telah terjadi di perkemahan itu.

Menjelang fajar Risang telah mendengar derap kaki kuda yang mendatanginya. Ia pun segera tahu bahwa ibunya, sebagai pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah datang bersama-sama dengan beberapa orang pengawal pilihan.

Namun sebelum Risang menyambut kedatangan ibunya, ia terkejut ketika seseorang berdiri beberapa langkah daripadanya sambil berdesis, “Risang.”

Risang mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Bibi sudah ada disini?”

 “Aku tidak akan membiarkan kau bertempur sendiri,” berkata Bibi.

 “Aku tidak sendiri Bibi. Aku berada di medan bersama dengan banyak orang,” jawab Risang.

 “Ya. Tetapi aku ingin bersamamu,” berkata Bibi.

 “Bibi dengar derap kaki kuda itu?” bertanya Risang, “tentu ibu dan beberapa orang pengawal.”

 “Aku tahu. Tetapi aku akan ikut berada di medan,” jawab Bibi.

Risang hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku akan menjemput ibu.”

Bibi ternyata mengikutinya, sehingga Iswari pun terkejut pula melihat kehadiran Bibi.

Tetapi Iswari tidak mencegahnya. Ia tahu bahwa Bibi pun memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Bahkan melampui para pengawal kebanyakan. Bahkan Bibi pernah mendapat gelar Serigala Betina.

Ki Tumenggung Jaladara juga berada di padukuhan itu. Tetapi ia berkata kepada Iswari, “Aku tidak akan terjun kedalam pertempuran. Bagaimanapun juga masih ada keseganan Jipang untuk langsung melibatkan diri. Biarlah sepuluh orang prajuritku berada diantara para pengawal Tanah Perdikan ini.”

 “Terima kasih,” desis Iswari, “kami akan mempersilahkan Ki Tumenggung untuk berada di padukuhan induk saja.”

 “Aku akan berada disini,” jawab Ki Tumenggung, “tetapi aku tidak akan ikut bertempur.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian silahkan. Tetapi di hari-hari mendatang, mungkin kami benar-benar memerlukan keterlibatan langsung Kadipaten Jipang.”

 “Jipang sedang berbicara dengan Mataram,” jawab Ki Tumenggung.

Dalam pada itu, maka cahaya fajar pun mulai membayang di langit. Para pengawal telah menerima bagian makan dan minum masing-masing. Mereka dapat makan sebanyak mereka kehendaki, karena mereka belum tahu sampai kapan mereka akan berada di pertempuran.

Para prajurit yang kenyang itu telah berjalan-jalan hilir mudik untuk membuat perut mereka menjadi mapan, agar mereka justrutidak terganggu disaat mereka berada di medan yang mendebarkan itu.

Pada suatu saat, para pengawal Tanah Perdikan itu pernah berada dalam barisan yang sama dengan para prajurit Pajang untuk melawan Jipang. Namun kini mereka harus berhadapan dengan prajurit Pajang dengan bantuan Jipang betapapun kecilnya.

Setelah selesai dengan makan dan minum, maka Risang pun telah memerintahkan pasukannya bersiap. Ternyata Risang sama sekali tidak berniat untuk mempertahankan padukuhan itu dari dalam dinding padukuhan. Tetapi ia sudah memerintahkan para pengawal keluar dari padukuhan dan mengatur barisan mereka menghadap ke arah perkemahan prajurit Pajang.

Ketika laporan itu didengar oleh Ki Rangga Larasgati, maka Ki Rangga itu pun berkata, “Aku sudah menduga, bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu begitu dungunya untuk tidak mencoba mencari perlindungan dibelakang dinding padukuhan. Agaknya orang Jipang itulah yang memberikan nasehat kepada pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang cantik itu. Namun ternyata bahwa orang Jipang itu pun tidak kalah dungunya dengan orang-orang Tanah Perdikan.”

 “Jumlah mereka cukup banyak,” berkata seorang perwira prajurit Pajang.

 “Kau sudah mulai menjadi gentar?” bertanya Ki Rangga.

 “Tidak. Tetapi bukan berarti bahwa kita tidak mempergunakan perhitungan,” jawab perwira itu.

Ki Rangga tertawa. Katanya, “Bagus. Tetapi kita tentu tahu tingkat kemampuan seorang pengawal.”

Perwira itu tidak menjawab lagi.

Sementara itu langit pun menjadi semakin terang. Sejenak kemudian, Ki Rangga yang akan memimpin langsung pasukannya telah berada di tengah-tengah para prajurit. Sejenak kemudian, maka Ki Rangga pun telah memberikan perintah untuk membunyikan isyarat dengan bunyi bende sekali.

Ketika para prajurit telah bersiap di kelompoknya masing-masing, maka bende itu telah berbunyi lagi dua kali. Dengan demikian maka setiap orang didalam pasukan itu telah bersiap untuk berangkat. Senjata-senjata mereka telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Sementara para prajurit itu telah memandang arena yang akan mereka masuki.

Sejenak kemudian maka bende pun telah berbunyi tiga kali. Terdengar derap kaki para prajurit yang serentak melangkah maju memasuki perbatasan Tanah Perdikan Sembojan.

Risang yang memimpin para pengawal mendengar isyarat yang diberikan oleh pimpinan prajurit Pajang meskipun hanya lamat-lamat. Namun dengan demikian, maka Risang tahu pasti, bahwa para prajurit Pajang memang sudah mulai bergerak.

Karena itu, maka Risang pun telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Demikian matahari terbit, maka para prajurit Pajang itu akan memasuki arena pertempuran.

Iswari sendiri memang tidak langsung berada didalam barisan. Ia berada di belakang garis perang namun tidak terlalu jauh sehingga ia mampu memperhatikan medan dengan sebaik-baiknya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mendapat tugas di ujung sayap pasukan. Sementara itu, Risang sendiri berada di paruh barisannya. Ternyata Bibi benar-benar tidak mau ketinggalan. Ia berada di belakang Risang.

Sesaat sebelum pertempuran mulai, Gandar yang baru datang dari menengok padepokan Risang di Bibis langsung memasuki arena dan menemui Risang tanpa menemui Iswari lebih dahulu.

 “Kapan kau datang?” bertanya Risang.

 “Baru saja,” jawab Gandar, “demikian aku berada di padepokan, rasa-rasanya hatiku tidak mapan. Aku hampir tidak sempat berbuat apa-apa. Ada dorongan untuk segera kembali ke Tanah Perdikan. Dan aku memang segera kembali. Ternyata kau sudah berada diantara para pengawal.”

 “Untung kau tidak terlambat,” desis Risang, “apakah kau sudah memberikan laporan kepada ibu?”

 “Belum,” jawab Gandar, “aku kira sesaat lagi pertempuran sudah akan mulai. Aku menempuh perjalanan meskipun malam hari. Aku tidak mau terlambat. Karena itu, aku langsung memasuki arena.”

 “Masih ada waktu untuk memberitahukan kehadiranmu kepada ibu,” berkata Risang.

Gandar termangu-mangu. Sementara Risang mendesaknya, “Cepat. Pasukan Pajang telah bergerak maju.”

Gandar pun dengan cepat menyelinap kebelakang garis pertempuran. Dari seorang pengawal ia tahu dimana Iswari berada. Karena itu maka ia pun telah berlari-lari menemuinya dan melaporkan kehadirannya.

 “Aku titipkan Risang kepadamu,” berkata Gandar, “tetapi jaga agar ia tidak kehilangan kendali. Cegah jika ia berbuat melampui kewajaran seorang pengawal di peperangan.”

 “Ya,” jawab Gandar, “aku akan melakukannya”

Dengan berlari-lari pula Gandar segera kembali ke dekat Risang yang berada di paruh pasukannya.

 “He, jangan ganggu anakku,” desis Bibi yang berada di belakang Risang.

Gandar berpaling. Jawabnya, “Kau berada disisi kanan Bibi. Aku disisi kiri.”

 “Biar aku bersama anakku,” geram Bibi.

 “Ssst,” desis Gandar, “pasukan Pajang itu telah mendekat.”

Bibi pun terdiam. Tetapi ia memang bergeser disebelah kanan Risang.

Dalam pada itu, maka langit pun menjadi semakin terang. Prajurit Pajang yang bergerak pun menjadi semakin jelas nampak. Mereka maju dengan cepat langsung menuju ke pertahanan Tanah Perdikan Sembojan.

Sebagaimana yang diperhitungkan oleh para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan, maka beberapa puluh patok dari pertahanan pasukan Tanah Perdikan, terdengar isyarat. Dengan cepat pasukan dari Pajang itu telah mengatur diri. Mereka telah memasang gelar melebar. Garuda Nglayang.

Risang tidak merasa perlu untuk menyesuaikan gelarnya. Meskipun gelarnya bukan gelar Supit Urang yang utuh, tetapi menurut pendapat Risang, gelarnya sudah cukup baik untuk menghadapi gelar Garuda Nglayang yang menempatkan semacam tenaga cadangan di bagian belakang gelarnya.

Risang tidak menempatkan tenaga cadangan di tubuh gelarnya. Tetapi Risang menyimpan tenaga cadangan meskipun tidak terlalu banyak di padukuhan pertama, karena ia memperhitungkan kemungkinan lain yang dapat terjadi di padukuhan itu jika prajurit Pajang menusuk dari lambung dengan kekuatan yang datang kemudian.

Iswari yang berada di belakang pasukan itu dengan beberapa orang pengawal terpilih memang tidak berada ditubuh gelar. Tetapi ia bergeser dari ujung sampai ke ujung untuk mengamati seluruh pasukannya dan siap mengisi kelemahan yang ada didalam gelar.

Dalam pada itu, maka para prajurit Pajang dalam gelar Garuda Nglayang dengan cepat bergerak maju. Ki Rangga Larasgati menginginkan agar dengan cepat mencegah pertahanan lawan di padukuhan itu. Kemudian dengan seluruh kekuatan yang ada pasukan Pajang akan segera menusuk langsung ke padukuhan induk Tanah Perdikan.

 “Kita harus dengan cepat menguasai padukuhan induk. Dengan demikian kita akan dapat memaksa para pemimpin Tanah Perdikan ini untuk memenuhi perintah kami. Atau Tanah Perdikan ini akan terhapus untuk selama-lamanya,” berkata Ki Rangga Larasgati. Lalu katanya selanjutnya,” Kita sudah terlanjur berada disini. Kita harus menyelesaikan rencana kita dengan sebaik-baiknya.”

Dua orang Senapati pengapitnya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata, “Tetapi pertahanan Tanah Perdikan ini cukup mapan. Mereka telah memasang gelar sejak semula dan sama sekali tidak terpengaruh ketika kita menyusun gelar ini.”

 “Tentu atas petunjuk orang Jipang itu. Mungkin mereka dapat menunjukkan sikap yang baik secara utuh atas petunjuk Tumenggung Jaladara. Tetapi yang penting, bagaimana kita akan menggilas mereka di pertempuran,” geram Ki Rangga Larasgati.

Kedua Senapati pengapit itu tidak menjawab lagi.

Mereka mulai memberikan isyarat agar pasukan mereka bergerak lebih cepat, sehingga jika terjadi benturan dengan para pengawal Tanah Perdikan yang bertahan, mereka akan memiliki ancang-ancang yang akan dapat mendesak dan bergeser mundur.

 “Ternyata mereka memang dungu,” berkata Ki Rangga sambil melambaikan tangannya, “mereka tetap di tempatnya. Kita akan melanda mereka seperti banjir bandang.”

Demikianlah, dalam jarak yang semakin pendek, para prajurit Pajang telah berlari-lari dengan senjata teracu menyerang pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan kemudian terdengar para prajurit Pajang itu bersorak gemuruh seperti gelombang lautan menghantam dinding batu karang.

Tetapi mereka telah terkejut ketika tiba-tiba saja beberapa orang pengawal yang ada di lapisan pertama dari pasukan pengawal Tanah Perdikan itu menyibak. Beberapa orang pengawal muncul dari belakangnya dan langsung berjongkok dibaris paling depan.

Ki Rangga Larasgati memang terkejut sebagaimana para prajurit yang lain. Ternyata Tanah Perdikan Sembojan tidak bermain-main dengan pertahanannya. Mereka telah mempertaruhkan apa saja untuk melawan prajurit Pajang.

 “Jadi orang-orang Tanah Perdikan benar-benar telah memberontak,” berkata Ki Rangga kepada diri sendiri. Tetapi Ki Rangga pun telah bersungguh-sungguh pula. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menghentikan pasukannya. Tetapi Ki Rangga sempat berteriak yang kemudian sambung bersambung diucapkan kembali oleh para pemimpin kelompok, “Awas. Mereka mempergunakan anak panah.”

Belum lagi gema teriakan itu lenyap, maka sebenarnyalah para pengawal Tanah Perdikan telah melontarkan anak panah yang meluncur bagaikan semburan air.

Lontaran anak panah itu telah benar-benar menghambat gerak pasukan Pajang yang ingin melanda lawannya seperti banjir bandang. Laju pasukan Pajang itu tertahan beberapa puluh langkah dari pasukan pertahanan Tanah Perdikan. Para prajurit yang berperisai dengan cepat telah melindungi dirinya dan para prajurit yang dibelakangnya dengan perisai-perisai mereka. Sedangkan yang lain telah berusaha menangkis anak panah yang meluncur itu dengan senjata-senjata mereka.

Meskipun demikian, beberapa orang memang benar-benar telah terluka. Satu dua orang justru terluka didada mereka, sehingga sebelum pertempuran yang sebenarnya mulai, mereka sudah harus tertinggal dibelakang pasukan mereka yang bergerak maju meskipun tidak begitu cepat lagi.

Ki Rangga Larasgati menjadi semakin marah. Ia tidak mengira bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan akan melawan dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada, sehingga mereka benar-benar akan bertempur sampai tuntas. Semula Ki Rangga masih menduga, bahwa yang dilakukan oleh Tanah Perdikan Sembojan itu sekedar mendukung pembicaraan para pemimpinnya untuk memperkuat sikap mereka dan untuk mengangkat harga diri serta keberadaan Tanah Perdikan itu sendiri. Tetapi ternyata yang terjadi kemudian menurut Ki Rangga adalah benar-benar satu pemberontakan.

 “Tentu Tumenggung gila dari Jipang itulah yang mendorong orang-orang Tanah Perdikan ini untuk memberontak,” geram Ki Rangga yang hanya didengarnya sendiri.

Namun Ki Rangga itu pun kemudian harus berteriak lagi memberikan aba-aba ketika satu lagi gerakan para pengawal Tanah Perdikan yang mengejutkannya. Demikian serangan anak panah itu mereda, maka tiba-tiba saja para pengawal telah berlari menyerang dengan senjata teracu. Merekalah yang kemudian bersorak gemuruh seperti guruh yang membahana dilangit.

 “Jawab serangan mereka dengan ujung senjata kalian,” teriak Ki Rangga Larasgati.

Ternyata rencana Ki Rangga, untuk melanda pasukan Tanah Perdikan Sembojan telah gagal. Pasukan Tanah Perdikan itu pun telah berlari pula menyerang prajurit Pajang yang justru tertahan oleh lontaran anak-anak panah.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan dari dua gelar yang bentuknya hampir sama, meskipun dengan beberapa perbedaan sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Iswari yang belum terlibat dalam pertempuran menyaksikannya dengan jantung yang berdebaran. Ia tidak pernah bermimpi untuk melawan Pajang dengan kekerasan. Tetapi sikap Pajang memang sulit untuk dapat dimengerti. Meskipun demikian Iswari masih mempunyai alasan atas tindakan yang diambilnya. Tanah Perdikan Sembojan sama sekali tidak memberontak melawan Pajang. Tanah Perdikan Sembojan hanya menolak keputusan dari orang yang tidak berhak karena tidak dapat menunjukkan bukti apapun tentang limpahan kekuasaan yang diberikan kepadanya. Tidak ada pertanda benda kerajaan atau Surat Kekancingan yang baru yang mencabut Surat Kekancingan yang terdahulu. Jika Pajang memang telah menggantikan kedudukan Demak, maka Pajang memang mempunyai wewenang yang sama dengan Demak. Tetapi harus ada pertanda wewenang itu yang dibawa oleh Ki Rangga Larasgati.

Yang terjadi kemudian adalah bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah mempertahankan dirinya ketika Ki Rangga Larasgati menyerang. Tidak jelas, apakah Ki Rangga benar-benar membawa perintah dari Pajang atau karena kebijaksanaannya sendiri dan apalagi menyalah gunakan wewenang yang ada padanya.

Pertempuran yang terjadi pun menjadi semakin lama semakin sengit. Para prajurit Pajang telah dikejutkan sekali lagi oleh para pengawal ketika benturan terjadi. Ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan Sembojan memiliki kemampuan secara pribadi tidak kalah dengan kemampuan seorang prajurit.

Di pangkal sayap, para prajurit memang menjumpai pasukan yang agaknya lebih lunak dari para pengawal terlatih. Mereka mendapatkan lawan yang tidak terlalu tinggi bekal ilmunya. Tetapi diantara mereka terdapat orang-orang yang nampaknya umurnya sudah memanjat mendekati pertengahan abad, namun justru merekalah yang menjadi sangat berbahaya. Sementara itu, disamping pemimpin kelompoknya, maka terdapat seorang yang berilmu tinggi sehingga sempat mengacaukan kerapihan kerja sama para prajurit Pajang.

Sebenarnyalah di pangkal sayap itu terdapat kelompok-kelompok yang terdiri dari mereka yang tidak termasuk para pengawal. Tetapi diantara mereka terdapat bekas pengawal yang memiliki pengalaman yang luas, karena mereka pernah menjadi pengawal Tanah Perdikan beberapa tahun yang lampau justru pada saat Tanah Perdikan itu bergejolak.

Sementara itu, orang-orang yang merasa kurang memiliki bekal kemampuan mempergunakan senjata, telah bertempur berpasangan. Dua atau tiga orang bersama-sama menghadapi seorang prajurit yang lebih trampil dari mereka. Dengan demikian, maka prajurit itu pun harus mengerahkan kemampuannya untuk menghadapi dua atau tiga orang sekaligus.

Tetapi mereka yang kebetulan berhadapan dengan orang-orang yang meskipun umurnya sudah mendekati setengah abad namun bekas pengawal sekitar kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, maka prajurit itu harus menjadi sangat berhati-hati. Orang-orang tua itu meskipun sudah agak lama tidak bermain-main denaan senjatanya, tetapi pada saat-saat terakhir mereka telah berusaha mengenali senjatanya lagi. Mereka yang menyimpan senjata mereka dibawah timbunan perkakas yang lain, telah diambilnya sejak keadaan meningkat menjadi gawat. Bukan saja membersihkannya tetapi juga membiasakan kembali mempergunakan senjata itu.

Ternyata mereka masih mampu membuat para prajurit harus mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasinya. Meskipun demikian orang-orang tua yang memiliki pengalaman yang luas itu harus memperhitungkan ketahanan tenaga dan kemampuan mereka. Nafas mereka tentu sudah tidak sepanjang disaat-saat mereka masih muda. Namun disaat-saat terakhir mereka telah berusaha untuk menggali kekuatan dasar mereka dengan mengatur pernafasan mereka. Mereka setiap saat telah berlatih untuk meningkatkan daya tahan mereka yang telah susut.

Dengan demikian, maka prajurit Pajang itu tidak segera dapat mendesak pasukan pengawal Tanah Perdikan. Para pengawal Tanah Perdikan yang terlatih itu dalam jumlah yang cukup, ternyata mampu bertahan di garis benturan kedua gelar itu.

Risang sendiri bertempur dengan garangnya. Saat-saat menempa diri yang berat sangat berarti baginya dalam pertempuran seperti itu. Pengalamannya sebagai seorang prajurit teiah membuatnya semakin teguh dan percaya diri.

Risang pun sama sekali tidak menjadi gentar ketika tiba-tiba saja ia telah berhadapan diparuh pasukan dengan Senapati pasukan Pajang. Ki Rangga Larasgati.

 “Ternyata kau anak ingusan,” geram Ki Rangga.

Risang termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa Ki Rangga tentu berbekal ilmu yang tinggi. Meskipun demikian Risang yakin akan tugas yang diembannya sebagai anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika Ki Rangga Larasgati melangkah maju, Risang memang bergeser untuk mendapatkan pijakan yang lebih mapan didalam keributan medan. Namun Ki Rangga itu berkata, “Jika kau tidak berani bertempur sendiri, maka panggil Senapatimu yang terbaik di medan ini. Aku akan menunggu.”

Tetapi Risang menggeleng. Katanya, “Aku tidak merasa perlu untuk memanggil siapapun. Setiap pengawal Tanah Perdikan yang turun ke medan, ia akan siap menghadapi siapapun.”

 “Tetapi kau belum mengenal ilmuku sama sekali,” berkata Ki Rangga, “jika kau begitu sombong, maka kau benar-benar akan mati muda.”

 “Apapun yang akan terjadi,” jawab Risang.

Ki Rangga itu pun menggeram. Namun Ki Rangga itu pun kemudian telah menggerakkan pedangnya yang besar yang tajamnya melampui tajamnya pisau pencukur.

 “Kepalamu akan dapat terpisah dari tubuhmu,” geram Ki Rangga Larasgati.

Risang telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih sempat melihat sekilas, apa yang terjadi disebelah menyebelahnya. Risang dan Bibi ternyata telah mendapatkan lawan masing-masing. Senapati pengapit Ki Rangga.

Ketika kemudian Ki Rangga meloncat menyerang dengan pedangnya, maka Risang yang juga bersenjata pedang telah bergeser menghindar. Namun ketika Ki Rangga siap memburunya, maka pedang Risang itulah yang terjulur, sehingga langkah Ki Rangga justru tertahan.

Tetapi dengan cepat Ki Rangga berputar. Pedangnya menyambar mendatar mengarah langsung keleher Risang.

Untuk menjajagi kekuatan lawannya, maka Risang telah menangkis serang mendatar itu sambil merendahkan diri.

Meskipun Risang menyadari, bahwa Ki Rangga masih belum mempergunakan kekuatannya sepenuhnya, namun dengan benturan itu Risang dapat menduga seberapa besarnya kekuatan lawannya.

Namun sebaliknya Ki Rangga justru terkejut. Anak muda itu ternyata memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mengimbangi kekuatannya.

Tetapi Ki Rangga merasa dirinya memiliki ilmu dan pengalaman yang luas sehingga ia memperhitungkan, bahwa ia akan dengan cepat menyelesaikan anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sementara itu seorang dari Senapati pengapit Ki Rangga Larasgati terkejut ketika ia bertemu dengan seorang perempuan di medan. Dengan lantang Senapati itu berkata, “Jadi Tanah Perdikan ini sudah kehabisan laki-laki?”

Bibi memang tertegun mendengar pertanyaan itu. Namun ia menjawab juga, “Aku memang pengawal Tanah Perdikan. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sekarang juga seorang perempuan. Apa salahnya?”

 “Aku selama ini tidak pernah melawan seorang perempuan,” berkata Senapati pengapit itu, “karena itu pergilah. Atau cari saja lawan yang lain.”

 “Sebaiknya kau mencobanya. Apakah kau akan terkejut atau tidak,” jawab Bibi.

 “Tetapi melawan seorang perempuan sangat merugikan harga diriku. Jika aku menang, maka setiap orang akan menganggap bahwa hal itu adalah wajar sekali. Tetapi jika aku kalah, maka namaku akan direndahkan,” jawab Senapati pengapit itu.

 “Jika demikian, kau sajalah yang lari dari medan ini,” berkata Bibi, “atau cari lawan yang lain. Aku akan tetap bertempur disini.”

Senapati itu menjadi marah. Dengan garang ia berkata, “Kau akan menyesali kata-katamu itu. Sebenarnya aku masih dapat menahan diri. Tetapi kata-katamu itu menyakitkan hati.”

Bibi tertawa. Katanya, “Sudahlah. Kita akan bertempur.”

Senapati pengapit yang marah itu pun dengan garang pula telah menyerang Bibi. Ia ingin dengan cepat menyingkirkannya dari medan agar tidak mengganggunya lagi. Senapati itu menganggap bahwa kehadiran Bibi di medan akan dapat mengurangi kegarangannya sebagai seorang Senapati yang mendapat kepercayaan Ki Rangga Larasgati untuk mendampinginya.

Tetapi Senapati itu pun terkejut. Ternyata Bibi yang berpakaian seperti seorang laki-laki itu memiliki ketangkasan yang tinggi. Ketika senjata Senapati itu terjulur maka Bibi sempat bergeser. Bahkan dengan cepat pula Bibi telah mengayunkan pedangnya menyambar kearah dada.

Senapati itu memang tidak menduga, bahwa Bibi dapat bergerak secepat itu. Karena itu, maka Senapati itu pun harus bergerak dengan cepat pula menghindarinya. Namun Bibi telah memburunya. Pedangnya terjulur menggapai perut Senapati itu, sehingga Senapati itu harus bergeser menghindar lagi.

Bibi ternyata memang seorang perempuan yang garang.. Senapati pengapit itu segera menyadari, bahwa perempuan itu memang memiliki kemampuan sebagai bekal kehadirannya di medan perang. Bahkan beberapa saat kemudian, maka terasa bahwa ujung pedang perempuan itu serasa sangat menekannya. Karena itulah maka Senapati itu harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengatasi patukan ujung senjata lawannya yang semula dianggapnya hanya seorang perempuan. Namun yang ternyata kemudian terasa betapa sulitnya mengatasi permainan pedang perempuan itu.

Disisi yang lain, Senapati pengapit Ki Rangga itu pun segera mengalami kesulitan. Gandar yang baru saja datang dari Bibis setelah menempuh perjalanan malam karena dorongan perasaannya yang gelisah, seolah-olah tanpa beristirahat, harus mengerahkan kemampuannya bertempur melawan seorang Senapati pengapit.

Tetapi Gandar memang tangkas. Ia memiliki bekal ilmu yang cukup tinggi. Karena itu, meskipun tenaganya tidak sesegar mereka yang sempat beristirahat dimalam hari, namun ilmu Gandar telah terasa menyulitkan lawannya.

Sementara itu pertempuran di seluruh gelar itu memang berlangsung semakin sengit. Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka orang-orang yang bertempur itu telah menjadi berkeringat. Ketika telapak tangan mereka menjadi basah, maka mereka seakan-akan memang menjadi semakin garang.

Dipangkal sayap, para prajurit berusaha untuk menembus pertahanan para pengawal. Karena gelar pasukan Tanah Perdikan itu secara keseluruhan tidak dapat didesak mundur oleh para prajurit Pajang, maka mereka berusaha untuk mematahkan pangkal sayap gelar Supit Urang yang memang tidak lengkap itu.

Tetapi ternyata para prajurit Pajang memang mengalami kesulitan. Bekas para pengawal yang telah menjadi semakin tua itu ternyata masih merupakan benteng yang kokoh bagi Tanah Perdikan Sembojan. Mereka justru menjadi semakin matang menghadapi gejolak yang terjadi. Sementara itu, prajurit Jipang pilihan yang menyertai Ki Tumenggung Jaladara, telah bertebaran di pangkal sayap. Meskipun jumlahnya hanya sepuluh orang, tetapi bersama-sama dengan bekas pengawal yang berpengalaman, mereka telah mampu menahan usaha para prajurit Pajang untuk memotong gelar para pengawal Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, namun terasa bahwa kesulitan terbesar bagi pasukan pengawal Tjmah Perdikan adalah ada pada pangkal gelarnya.

Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin garang. Ketika panas matahari telah terasa semakin menyengat kulit, maka para prajurit Pajang telah berusaha untuk mempercepat gerak maju mereka. Tetapi para pengawal Tanah Perdikan sama sekali tidak memberikan kesempatan. Para pengawal telah bertahan dengan sekuat tenaga dan kemampuan mereka tanpa menghiraukan pengorbanan terbesar yang dapat mereka berikan.

Di paruh gelarnya, Risang masih bertempur dengan Ki Rangga Larasgati. Sementara itu kedua Senapati pengapit Ki Rangga telah mengalami kesulitan melawan Gandar dan Bibi. Bahkan yang harus bertempur melawan Gandar telah terpaksa memanggil seorang prajurit untuk membantunya.

Semula seorang pengawal Tanah Perdikan telah melibatkan diri untuk membantu Gandar. Tetapi Gandar sempat berdesis, “Tinggalkan aku. Jika perlu aku akan memanggilmu.”

Pengawal itu tahu bahwa Gandar memang memiliki kemampuan yang tinggi. Karena itu, maka ia telah memanfaatkan tenaganya untuk melawan para prajurit yang lain.

Ki Rangga Larasgati memang tidak menduga sama sekali bahwa di Tanah Perdikan itu terdapat orang-orang seperti Gandar dan perempuan yang agak gemuk namun tangkas itu.

Bahkan Ki Rangga pun tidak menduga, bahwa anak muda yang bernama Risang itu memiliki ilmu yang mampu mengimbangi ilmunya. Sebagai seorang perwira maka Ki Rangga Larasgati memang merasa malu bahwa seorang pengawal Tanah Perdikan mampu mengimbanginya. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Betapa ia berusaha mendesak lawannya yang masih muda itu, namun Risang memiliki ketangkasan yang cukup untuk bertahan.

Sebenarnyalah Risang yang telah siap mewarisi ilmu ketiga orang kakek dan neneknya itu memang menunjukkan tingkat kemampuannya yang tinggi. Tetapi Risang bukan saja murid ketiga orang kakek dan neneknya. Namun ia telah memiliki pengalaman yang cukup pula sebagai seorang prajurit. Risang-pernah berada di medan perang yang bagaikan neraka menghadapi prajurit Mataram. Sedangkan pada kesempatan lain, ia pun pernah menghadapi orang-orang yang sedang memburu anak muda yang bernama Puguh.

Dengan demikian, maka Ki Rangga Larasgati benar-benar menjadi tegang. Segala usahanya untuk menyingkirkan anak muda itu dari medan tidak segera berhasil. Bahkan sekali-sekali senjata anak muda itu telah berdesing begitu dekat ditelinganya.

Namun dalam pada itu, pangkal sayap dari pasukan pengawal Tanah Perdikan justru di kedua belah sisi telah mendapat tekanan yang semakin berat. Karena itu, maka pangkal sayap kedua sisi gelar Supit Urang yang tidak lengkap itu bagaikan mengendor dan sedikit demi sedikit tergeser surut beberapa lapis dibandingkan dengan garis medan seluruh gelar.

Iswari melihat keadaan itu. Namun sebelum ia memasuki salah satu pangkal sayap untuk membantu meluruskan garis medan, ternyata para pimpinan di ujung sayap telah mengambil langkah-langkah tertentu untuk menyelamatkan pangkal sayap itu.

Tanpa bersepakat, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berada diujung sapit yang merupakan tajamnya sayap pasukan pengawal Tanah Perdikan telah memperhatikan keadaan pangkal sayap itu pula. Mereka menjadi cemas melihat tekanan yang berat pada pangkal sayap itu. Justru karena memang terdapat kelemahan pada pangkal sayap, maka prajurit Pajang telah berusaha untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya. Jika mereka berhasil mematahkan pangkal sayap itu, maka tentu akan ada pengaruh jiwani pada para pengawal, sehingga mereka tidak lagi memiliki cukup keberanian untuk mengambil langkah.

Para pemimpin kelompok prajurit Pajang yang memang memiliki kemampuan bertempur dalam gelar itu telah memerintahkan pasukanannya untuk memusatkan serangan-serangannya pada pangkal sayap itu. Beberapa orang bekas pengawal Tanah Perdikan sudah bekerja keras untuk menahan mereka. Prajurit Jipang yang ada di pangkal sayap itu pun telah bertempur dengan garangnya sementara orang-orang lain dalam pasukan itu masih juga bertempur berpasangan. Namun tekanan prajurit Pajang memang terasa sangat berat.

Dalam keadaan yang demikian maka baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung telah mengerahkan kekuatan pasukan pengawal yang ada di sapit udang dalam gelar Supit Urang untuk membantu kesulitan dipangkal sayapnya. Dengan kemampuan yang tinggi, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menggerakkan ujung supitnya. Sambi Wulung lah yang lebih dahulu berusaha membuka sapit udangnya, sementara Sambi Wulung sendiri telah bertempur dengan garangnya.

Perlahan-lahan sapit udang itu bergerak kedalam medan. Dengan satu isyarat, maka sapit udang itu berusaha untuk menekan dan menghimpit ujung sayap gelar Garuda Nglayang pada pasukan Pajang.

Kehadiran Senapati diujung gelar Supit Udang itu ternyata memang sangat berpengaruh. Sambi Wulung yang memiliki ilmu yang tinggi telah mendesak prajurit Pajang yang menghadapinya diikuti oleh para pengawal yang berada di ujung gelar Supit Urang itu.

Tekanan yang diberikan oleh Sambi Wulung dan kemudian juga dilakukan oleh Jati Wulung, memang berpengaruh. Para prajurit Pajang yang berada di ujung sayap, mengalami kesulitan oleh tekanan para pengawal yang dipimpin oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu.

Semakin lama sapit udang pada Gelar Supit Urang itu semakin menekan kedalam. Bahkan kemudian seakan-akan telah mencengkam dan semakin menjepit dengan kuatnya. Kemampuan Sambi Wulung dan Jati Wulung Sendiri memang sangat berpengaruh atas gerak pasukan pengawal dikedua ujung gelarnya. Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berusaha untuk menyembunyikan ilmu puncaknya yang belum akan dipergunakan jika tidak terpaksa sekali, karena ilmu itu tentu akan sangat menarik perhatian para prajurit Pajang sehingga akan dapat menimbulkan persoalan yang khusus.

Namun dengan kemampuan olah kanuragannya yang tinggi, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mampu mendesak pasukan Pajang diujung-ujung sayap gelar Garu Nglayang.

Dengan demikian, maka pengaruh desakan kekuatan pasukan pengawal diujung gelarnya telah terasa sampai ke pangkal sayap gelar itu. Desakan pasukan pengawal diujung sayap terasa menekan ke pangkal sayap pasukan Pajang yang mulai mendesak pasukan pengawal.

Namun parapemimpinkelompok prajurit Pajang harus membuat perhitungan-perhitungan baru. Jika mereka tidak melakukan sesuatu, maka sayap pasukan itu benar-benar akan mengalami kesulitan. Bukan saja terdesak mundur dan kemudian terjepit oleh sapit udang dalam gelar Supit Urang yang mempunyai kekuatan yang besar di ujung-ujung sapitnya, namun korban akan berjatuhan sehingga kekuatan Pajang akan benar-benar menjadi cepat susut.

Dengan demikian maka tidak ada pilihan lain dari para prajurit Pajang untuk membuat keseimbangan baru. Kekuatan yang ada di pangkal sayapnya harus bergeser ke ujung sayap untuk mengurangi tekanan pasukan pengawal Tanah Perdikan.

Karena itu, maka tekanan di pangkal sayap pasukan pengawal Tanah Perdikan itu pun terasa mulai berkurang. Sebagian dari kekuatan yang ada di pangkal sayap itu telah bergeser ke ujung sayap. Para prajurit Pajang harus menahan dan bahkan kemudian mendesak keluar ujung-ujung sapit udang yang seakan-akan semakin mencengkam lambung.

Para pemimpin dari kedua belah pihak ternyata bukan saja harus bertempur dan mempertahankan diri dari serangan-serangan yang datang, namun mereka pun harus mencari pemecahan dari perkembangan yang terjadi disetiap saat.

Para pengawal Tanah Perdikan yang berada di pangkal sayap, rasa-rasanya mendapat kesempatan untuk bernafas. Meskipun mereka harus bertempur terus, tetapi ketegangan tidak lagi terasa mencengkam jantung.

Para bekas pengawal yang ikut dalam pertempuran itu tidak lagi harus mengerahkan segenap tenaganya, sehingga mereka pada keadaan tertentu dapat menghemat tenaga bagi pertempuran yang tentu akan menjadi panjang. Sedangkan orang-orang lain yang masih belum banyak mengalami latihan, merasa bahwa jumlah lawan pun menjadi berkurang, sehingga mereka akan dapat bertempur dalam kelompok-kelompok yang lebih besar.

Dengan demikian, maka pertempuran antara prajurit Pajang melawan para prajurit dari Tanah Perdikan Sembojan itu pun masih tetap berada di garis pertempuran sejak benturan kedua kekuatan itu terjadi. Kedua belah pihak masih belum mampu mendesak lawan yang ternyata seakan-akan terasa seimbang. Bahkan ketika pasukan cadangan Prajurit Pajang yang ada ditubuh gelar telah terlibat pula dalam pertempuran untuk mematahkan pangkal sayap pasukan Tanah Perdikan, masih saja para pengawal Tanah Perdikan mampu bertahan.

Sementara itu, Ki Rangga Larasgati pun menjadi semakin marah menghadapi lawannya yang masih muda itu. Betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun Risang masih saja mampu mengimbanginya. Ketika Risang melihat keadaan pasukannya yang masih belum bergeser dari garis pertempuran, maka Risang pun tidak lagi merasa gelisah. Ia menganggap bahwa ketahanan pasukannya tentu akan mampu mengimbangi para prajurit Pajang. Dengan demikian maka ia pun dapat memusatkan perlawanannya kepada Ki Rangga Larasgati.

Apalagi ketika Risang melihat Gandar dan Bibi yang perlahan-lahan mampu mendesak lawan masing-masing. Meskipun Gandar harus bertempur melawan Senapati pengapit yang dibantu oleh seorang prajuritnya, namun Gandar sama sekali tidak terdesak.

Bahkan ketika matahari telah melewat puncak langit, Gandar justru berhasil menyentuh prajurit yang membantu Senapati pengapit itu dengan senjatanya, sehingga prajurit itu telah terlempar jatuh.

Ternyata luka didada prajurit itu cukup parah, sehingga dua orang kawannya harus menyingkirkannya dari arena. Senapati yang semakin terdesak itu telah memanggil seorang prajurit lagi untuk membantunya. Namun ketika prajurit itu mendekatinya, maka seorang pengawal dengan tangkasnya telah memotong geraknya sehingga untuk sesaat prajurit itu harus bertempur melawan pengawal itu.

Namun dengan tiba-tiba pula seorang prajurit yang lain telah memasuki arena dengan tergesa-gesa. Prajurit itu ternyata kurang berhati-hati, sehingga demikian ia memasuki arena pertempuran antara Senapatinya dengan Gandar, maka senjata Gandar telah menyambutnya.

Prajurit itu pun telah terpelanting dan jatuh di kaki kawan-kawannya yang sedang bertempur, sehingga sekali lagi kawan-kawannya harus membawa seorang prajurit keluar.

Beberapa orang prajurit cadangan sempat menggantikan tempatnya. Namun ternyata bahwa sebagian dari prajurit cadangan itu harus bergeser keujung sayap. Beberapa kali Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat melemparkan lawannya, melukainya dan mendesaknya keluar dari arena. Sementara itu, pasukannya di ujung gelar semakin lama telah semakin menusuk ke sayap lawan.

Ki Rangga Larasgati lah yang kemudian kurang dapat memusatkan perhatiannya pada pertempuran melawan Risang. Anak muda yang memimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi semakin rendah matahari bergeser ke Barat, maka korban pun semakin banyak berjatuhan pada kedua belah pihak. Namun menurut pengamatan seorang penghubung, bahwa diujung sayap keadaan pasukan prajurit Pajang menjadi agak mengalami kesulitan.

Ketika hal itu sempat dibawa kepada seorang Senapati yang memimpin pasukan cadangan yang menentukan penempatan para prajurit cadangan itu, maka ia pun telah berkata, “Laporkan langsung kepada Ki Rangga.”

 “Ki Rangga terikat dalam pertempuran dengan seorang anak muda, tetapi ternyata memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan Ki Rangga,” jawab penghubung itu.

 “Aku akan mengambil alih anak muda itu,” berkata Senapati yang memimpin pasukan cadangan itu.

Sebenarnyalah, Senapati itu telah memasuki arena pertempuran antara Ki Rangga melawan Risang. Demikian ia meloncat kesisi Ki Rangga, ia pun berkata, “Seseorang memerlukan Ki Rangga Larasgati untuk memberikan laporan.”

Ki Rangga menyadari pentingnya laporan itu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Tahan anak muda itu sejenak. Aku akan menemui penghubung itu.”

Risang memang merasa kecewa bahwa ia kehilangan lawannya yang telah menghina Tanah Perdikannya. Tetapi ia tidak sempat mencegahnya. Senapati itu dengan garangnya telah menyerangnya. Meskipun kemampuannya masih belum setingkat dengan Ki Rangga, namun ternyata bahwa Senapati itu untuk sementara mampu mengikatnya dalam pertempuran.

Ki Rangga memang hanya sebentar. Ia hanya mendengarkan laporan tentang kesulitan diujung sayap. Kemudian Ki Rangga itu telah berada kembali di medan, menghadapi Risang.

Namun ternyata Ki Rangga telah membawa sikap.

Menghadapi keadaan yang tidak diduganya itu, Ki Rangga tidak boleh mengingkari kenyataan. Ia tidak mau pasukannya benar-benar dihancurkan oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, untuk sementara ia harus mengambil satu sikap betapapun pahitnya.

Ketika Senapati yang menggantikannya itu kembali ke pasukan cadangannya yang sudah menipis, maka penghubung itu berkata,” Ki Rangga telah menentukan sikapnya.”

 “Apa?” bertanya Senapati itu dengan nafas terengah-engah. Meskipun ia hanya sebentar bertempur melawan Risang, tetapi nafasnya serasa sudah akan putus. Bajunya sudah terkoyak oleh ujung pedang, meskipun belum menyentuh kulitnya.

 “Ki Rangga berpesan, agar disiapkan gerak mundur,” berkata penghubung itu.

 “Apa yang harus disiapkan?” bertanya Senapati itu.

 “Pertahanan kedua. Semua orang diperkemahan harus bersiap. Petugas-petugas didapur dan petugas perlengkapan harus mengangkat senjata mereka. Pasukan cadangan yang ada tidak akan mencukupi lagi,” jawab penghubung itu.

Senapati itu mengangguk kecil. Katanya, “Pergilah.”

Penghubung itu pun segera meninggalkan arena pertempuran. Ketika ia berada di perkemahan, maka diperintahkannya semua orang yang ada untuk bersiap. Mereka harus menyesuaikan diri dengan gerak mundur prajurit Pajang.

Ketika semuanya sudah siap, maka penghubung itu telah membunyikan bende bertalu-talu tidak henti-hentinya dengan irama datar.

Isyarat itu memang terdengar dari medan. Ki Rangga Larasgati telah memerintahkan gerakan mundur dari pasukannya. Satu gerakan yang sangat menyakitkan hati, apalagi hanya berhadapan dengan pasukan pengawal Tanah Perdikan yang seharusnya ditundukkan agar melaksanakan segala perintahnya. Menduduki padukuhan induk dan menangkap pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya, yang hanya seorang perempuan.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Kenyataan yang dihadapinya adalah bahwa prajuritnya tidak mampu mengimbangi kekuatan pasukan pengawal Tanah Perdikan.

Dengan kemampuan prajurit, maka pasukan Pajang memang bergerak mundur melintasi daerah persawahan. Sebagaimana mereka datang, maka mereka sama sekali tidak menghiraukan tanaman padi yang hijau subur yang kemudian telah berserakan terinjak-injak kaki.

Risang yang melihat gerak mundur pasukan Pajang telah memerintahkan untuk mendesak terus. dari gelar Supit Urangnya mencoba mencengkam kearah lambung. Tetapi prajurit Pajang yang terlatih itu masih mampu mempertahankan dirinya pada gerak mundurnya. Apalagi pasukan Pajang masih terhitung belum banyak susut. Namun pengamatan yang tajam dari Ki Rangga telah melihat, apabila prajurit Pajang itu memaksakan diri untuk bertempur terus, maka kekuatan mereka benar-benar akan menjadi jauh susut yang pada akhirnya akan dihancurkan oleh para pengawal Tanah Perdikan.

Sementara pasukan Pajang itu mundur, maka orang-orang yang ada diperkemahan telah mempersiapkan diri untuk bergabung dengan para prajurit.

Tetapi pertempuran itu terhenti ketika pasukan Pajang yang mundur itu telah keluar dari perbatasan Tanah Perdikan. Iswari yang langsung memasuki gelar dan minta kepada Risang untuk menghentikan pengejaran.

Semula Risang merasa berkeberatan. Tetapi Iswari kemudian berkata, “Kau dengar perintahku. Bagaimanapun juga, kita harus mempunyai perhitungan dan berusaha untuk mengekang diri.”

Risang memang tidak dapat memaksakan kehendaknya. Ia pun telah menghentikan pasukannya di perbatasan. Betapapun jantungnya bergejolak, namun Risang harus mematuhi perintah ibunya.

Para pengawal yang sudah melihat kemenangan di depan hidung mereka pun menjadi sangat kecewa. Tetapi mereka memang harus patuh kepada perintah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga Larasgati yang membawa pasukannya mundur ke perkemahan menjadi sangat marah. Hatinya menjadi sakit sekali menyaksikan kenyataan itu. Ia kecewa bahwa ia agak mengabaikan beberapa keterangan tentang Tanah Perdikan itu sebelumnya dan merendahkannya.

 “Kita harus memanggil pasukan yang pernah berada di Gemantar itu. Pasukanku cukup baik. Para Senapati agaknya tidak akan mempergunakannya untuk mempertahankan Pajang dari tekanan Jipang dan Mataram,” berkata Ki Rangga Larasgati.

 “Pasukan yang dipimpin Lurah Penatus muda itu?” bertanya penghubung yang mendapat perintah menghubungi Pajang.

 “Ya. Bawa pasukan yang dipimpin oleh Kasadha itu kemari. Dibawah perintahku, Kasadha tidak akan bersikap sebagaimana dilakukan di Gemantar. Aku tahu, pasukan itu memiliki kekuatan yang cukup besar,” berkata Ki Rangga Larasgati.

 “Apakah aku harus langsung menemui Lurah Penatus itu,” bertanya penghubungnya.

 “Jangan bodoh,” geram Ki Rangga, “kau harus menganggap Ki Tumenggung Bandapati lebih dahulu. Bukankah Ki Tumenggung yang mengatur segala-galanya?”

Penghubung itu mengangguk-angguk. Katanya, “Sikap Mataram dan Jipang sangat mengganggu semua kegiatan di Pajang.”

 “Satu kebetulan,” desis Ki Rangga, “kau jangan dungu. Bahwa dengan demikian para pemimpin di Pajang tidak terlalu banyak menghiraukan rencana kita. Mereka menyerahkan segala-galanya kepada Ki Tumenggung Bandapati. Juga wewenang untuk menggerakkan prajurit yang belum dinyatakan sebagai kesatuan yang harus berada di perbatasan menghadapi Jipang di satu sisi dan Mataram disisi lain.”

Tetapi penghubung itu berkata, “Tetapi bagaimana sikap kita jika Jipang dan Mataram bersungguh-sungguh? Ketika Adipati Demak ditetapkan untuk mewarisi Pajang, maka sudah nampak sikap kecewa dari Panembahan Senapati dan apalagi Pangeran Benawa.”

 “Kita harus menyelesaikan Tanah Perdikan ini lebih dahulu. Baru kita akan berbicara tentang Jipang dan Mataram,” berkata Ki Rangga. Lalu katanya, “Karena itu, cepat pergi ke Pajang. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, Kasadha dan pasukannya harus sudah berada disini.”

Penghubung itu tidak menjawab lagi. Bersama dua orang prajurit yang mengawalnya, penghubung itu telah berpacu menuju ke Pajang.

Tetapi kepergian mereka tidak terlepas dari pengamatan para petugas Tanah Perdikan yang mengawasi mereka. Ketika tiga penunggang kuda berpacu ke Pajang.

Ketika hal itu dilaporkan kepada Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka Iswari pun berkata, “mereka akan membawa bantuan prajurit dari Pajang.”

 “Ya,” sahut Ki Tumenggung Jaladara, “mereka tentu berniat mengambil bantuan.”

 “Hal ini harus mendapat pemecahan,” berkata Iswari kemudian.

Tetapi Risang yajig muda itu berkata,” Kita hancurkan pasukan itu di perkemahannya sebelum bantuan itu datang. Para pengawal menjadi kecewa bahwa kita telah melepaskan kesempatan untuk menghancurkan prajurit Pajang. Apalagi mereka yang terluka di medan. Mereka ingin melihat pasukan Pajang itu hancur. Beberapa pengawal telah menjadi banten. Kita tidak dapat begitu saja melupakan beberapa orang yang telah gugur di pertempuran itu.”

 “Risang,” berkata ibunya, “kita harus mengekang diri. Yang kita lakukan sekarang adalah semata-mata membela diri di kampung halaman kita sendiri. Kita tidak menyerang Pajang diluar batas Tanah Perdikan kita. Tetapi kita semata-mata melindungi diri kita sendiri.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pajang telah melakukan serangan yang tidak sah atas Tanah Perdikan kita. Adalah hak kita, termasuk untuk membela diri, jika kita menyerang landasan pasukannya meskipun itu berada diuar batas Tanah Perdikan kita.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sambil menggeleng ia berkata, “Aku tidak sependapat Risang.”

Risang menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat memaksa ibunya. Meskipun demikian ia masih juga bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan jika prajurit Pajang menjadi semakin kuat? Karena sebenarnyalah jika Pajang menjadi kehilangan akal, mereka dapat memanggil prajurit berlipat ganda.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa betapapun besarnya kekuatan Tanah Perdikan itu, namun Tanah Perdikan itu tidak akan mampu melawan Pajang. Pajang akan dapat memanggil pasukan segelar sepapan.

Tetapi Iswari memang sudah siap. Ia tidak akan menyerahkan Surat Kekancingan. Ia juga tidak akan memenuhi permintaan Ki Rangga Larasgati yang akan memeras Tanah Perdikan itu. Jika dengan demikian Pajang akan datang dengan pasukan segelar sepapan menduduki Tanah Perdikan itu, maka Iswari sudah siap untuk mempertanggung jawabkannya.

Ketika hal itu dinyatakannya, maka Risang berkata, “Jangan ibu. Akulah yang akan bertanggung jawab. Akulah Kepala Tanah Perdikan ini. Sementara jika benar Pajang datang dengan pasukan segelar sepapan, ibu akan dapat berada di tempat lain membawa serta Surat Kekancingan yang disaat lain dapat ibu pergunakan untuk mengusik kembali hak atas Tanah Perdikan ini.”

 “Kau berpikir terbalik Risang,” berkata ibunya, “jika kau yang dibawa oleh orang Pajang dan kemudian aku berhasil mendapatkan kembali hak ini setelah keadaan menjadi tenang, lalu buat apa. Kau adalah satu-satunya anakku. Sadari itu.”

Risang menarik nafas panjang. Ia mengerti jalan pikiran ibunya. Namun ia masih berkata, “Tanah Perdikan Sembojan dan aku adalah dua sosok yang berbeda. Tanpa aku pun Tanah Perdikan ini harus hidup dan berkembang. Siapapun yang akan memegang pimpinan.”

 “Tidak,” tiba-tiba suara Iswari meninggi. Wajahnya menjadi tegang. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Kau adalah anakku. Aku tidak rela jika anak orang lain datang dan menuntut haknya atas Tanah Perdikan ini. Selama ini aku telah berbuat apa saja bagi Tanah ini.”

Semua yang mendengar suara Iswari yang meninggi itu memang tersentak. Namun kemudian mereka mengerti, apa yang dimaksud Iswari itu. Ia masih saja dihantui oleh nama yang selama ini sangat dibencinya. Seorang perempuan yang telah merampas segala-galanya dalam kehidupan rumah tangganya. Ia tidak mau Tanah Perdikan ini jatuh ketangannya atau anaknya yang bernama Puguh. Karena sebenarnyalah bahwa Puguh itu juga berhak atas Tanah Perdikan ini tanpa Risang, menurut garis keturunan ayahnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba Ki Tumenggung Jaladara berkata, “Aku minta waktu untuk berbicara bertiga saja dengan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini dan Risang, anaknya.”

Yang lain sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi ketika yang lain akan beranjak pergi, Ki Tumenggung berkata, “Biarlah kami bertiga turun kehalaman.”

Yang lain saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka pun kemudian mengangguk-angguk. Sambi Wulung. Jati Wulung, Gandar dan Bibi. Beberapa pemimpin pengawal terpenting dan satu dua bebahu padukuhan pertama yang kemudian menjadi landasan pertahanan Tanah Perdikan Sembojan itu.

 “Apakah kita menganggap perlu untuk berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini?” bertanya Ki Tumenggung Jaladara ketika mereka sudah berada di halaman. Ternyata Ki Tumenggung menganggap bahwa berbicara di halaman adalah cara yang paling baik untuk tetap merahasiakan pembicaraan, karena tidak akan ada orang yang mengintip dibalik dinding untuk dapat mendengarkan pembicaraan itu.

Iswari memang ragu-ragu. Tetapi ia kemudian menjawab, “Jika kita berbicara tentang sesuatu hal yang harus segera mendapat keputusan, maka aku akan mempertanggung jawabkan.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Namun kemudian ia telah mengajak Iswari dan Risang berjalan menyusuri jalan padukuhan. Sambil melihat kesiagaan tertinggi dari para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang berada di padukuhan itu, Ki Tumenggung berkata, “Sebenarnya ada yang ingin aku katakan. Ki Tumenggung Reksapuri yang mendahului perjalanan Pangeran Benawa dan singgah di Tanah Perdikan ini telah pergi ke Pegunungan Kidul untuk ikut dalam satu pertemuan yang sangat penting yang akan menentukan masa depan Pajang.”

Iswari mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Maksud Ki Tumenggung?”

 “Sekali lagi perlu aku ingatkan, yang aku katakan adalah satu rahasia. Tetapi aku kira akan dapat ikut memecahkan persoalan yang timbul di Tanah Perdikan ini karena bagaimanapun akan menyangkut hubungan kalian dengan Pajang,” berkata Ki Tumenggung.

Iswari mengangguk-angguk. Sementara Ki Tumenggung berkata, “Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah mengadakan pertemuan di Pegunungan Kidul untuk mengambil sikap terakhir atas Pajang. Ternyata selama ini banyak pemimpin dari Pajang yang meninggalkan tugasnya dan menghadap kepada Panembahan Senapati atau Pangeran Benawa. Mereka mohon agar segera diambil langkah-langkah penyelamatan sebelum Pajang benar-benar jatuh kedalam keadaan yang parah. Para pemimpin yang ada sekarang ternyata saling berebut harta kekayaan bagi diri mereka masing-masing, sebagaimana yang kita lihat apa yang terjadi di Tanah Perdikan Gemantar dan Tanah Perdikan ini.”

Risang pun kemudian bertanya, “Jadi, apakah yang dapat kita lakukan kemudian?”

 “Berhubungan langsung dengan Jipang,” jawab Ki Tumenggung.

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 34

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s