SST-32

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

NAMUN dalam pada itu Jangkung berbisik ditelinga Setra, “Jika Kasadha itu mengalami kesulitan, aku harus membantunya. Kau harus menjaga Riris baik-baik.”

 “Ya,” jawab Setra tegas.

Sementara itu, Kasadha memang telah mulai bertempur melawan lima orang sekaligus. Namun Kasadha memang benar-benar tangkas. Beberapa saat ia sempat menilai lawan-lawannya. Seperti Jangkung maka ia menganggap anak muda yang telah mengingini Riris itu adalah orang yang paling lemah diantara kelima orang lawannya.

Tetapi berbeda dengan Jangkung, maka sasaran Kasadha justru bukan orang terlemah. Dengan kekuatannya yang masih segar, Kasadha justru telah menyerang orang bertubuh pendek itu disetiap kesempatan. Bahkan ketika ia sempat meloncat melepaskan diri dari serangan lawannya yang lain, maka ia telah memusatkan segenap kemampuannya untuk menyerang orang bertubuh pendek itu.

Tetapi orang bertubuh pendek itu melihat serangan Kasadha yang meluncur deras. Karena itu, maka ia pun telah bergeser dengan tangkas pula sehingga serangan Kasadha tidak berhasil mengenainya.

Namun Kasadha ternyata tidak ingin melepaskannya. Tiba-tiba saja tubuhnya telah berputar, bertumpu pada sebelah kakinya. Satu serangan yang cepat, mendatar telah menghantam orang bertubuh pendek itu. Begitu cepatnya, kaki Kasadha terayun dalam putaran yang tidak terduga.

Orang bertubuh pendek itu memang terkejut. Namun pelipisnya tiba-tiba saja bagaikan membentur sebongkah batu padas. Dengan derasnya orang itu terpelanting jantuh.

Namun orang itu berusaha untuk dengan cepat bangkit. Ketika kemudian ia berdiri, maka terasa kepalanya menjadi pening. Untuk beberapa saat matanya menjadi berkunang-kunang.

Sementara itu, lawan-lawan Kasadha yang lain telah menyerang hampir bersamaan. Tetapi dengan tangkas Kasadha meloncat mengambil jarak. Ketika seorang yang terdekat memburunya, dengan tiba-tiba Kasadha justru menyerangnya. Sehingga dengan demikian, maka telah terjadi benturan yang keras. Namun Kasadha yang memang telah dengan sengaja meloncat menyerangnya menjadi lebih mapan.

Lawannya itu terdorong beberapa langkah surut. Sementara yang lain telah memburunya pula, sehingga Kasadha harus berloncatan menghindar. Namun sekaligus ia pun telah menyerang pula.

Pertempuran memang menjadi semakin sengit. Orang bertubuh pendek itu perlahan-lahan telah dapat menguasai dirinya kembali. Namun keningnya masih terasa sangat sakit serta pandangan matanya pun menjadi agak kabur.

Jangkung memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Sementara itu, tubuhnya semakin terasa lebih baik. Kekuatannya meskipun belum pulih seutuhnya, namun terasa telah menjadi semakin baik pula. Silirnya angin yang bertiup melintasi bulak panjang itu seakan-akan telah mengipasi tubuhnya dan menyalakan kembali kemampuannya yang hampir padam.

Setra pun merasa keadaannya menjadi semakin baik. Bahkan sekali-sekali terdengar ia menggeretakkan gigi.

Hampir sepanjang umurnya ia tidak pernah berkelahi. Namun tiba-tiba saja ia begitu ingin untuk ikut dalam perkelahian itu.

Jangkung yang memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh melihat, bahwa belum ada tanda-tanda bahwa pertempuran itu akan berakhir dengan cepat. Kasadha masih saja berloncatan diantara kelima orang lawan-lawannya.

Sementara itu, Riris justru merasa heran menyaksikan Kasadha yang sedang bertempur. Ada beberapa persamaan dengan anak muda yang bernama Barata. Bukan saja pada wajahnya. Tetapi juga sikapnya.

Riris hampir terpekik ketika ia melihat Kasadha yang meluncur dengan kaki menyamping lurus mengarah ke-dada anak muda yang sering mengganggunya. Demikian kerasnya, sehingga anak muda itu benar-benar terpelanting dan jatuh berguling justru kearah Jangkung yang berdiri tegak menjaga adik perempuannya.

Tetapi ketika ia melihat anak muda yang sering mengganggu Riris itu tertatih-tatih bangkit berdiri, hatinya yang bergejolak telah tergelitik untuk ikut menyelesaikan pertempuran itu. Apalagi tubuhnya telah terasa menjadi semakin baik.

Karena itu, maka ia pun telah berdesis kepada Setra, katanya, “Setra. Kau jaga Riris. Aku akan menyelesaikan anak gila ini.”

 “Baik,” jawab Setra tegas.

 “Kakang,” Riris memang menjadi cemas untuk ditinggalkan sendiri.

 “Jangan takut. Aku tidak akan jauh darimu,” jawab Jangkung.

Karena itu, demikian anak muda yang sering mengganggu Riris itu berdiri tegak, maka Jangkung pun telah mendekatinya sambil berdesis, “Nah, kesempatan seperti inilah yang aku tunggu.”

Anak muda itu menggeram. Katanya dengan nada berat, “Setan kau. Ternyata kau memang dungu.”

 “Kita akan saling menjajagi,” berkata Jangkung.

 “Aku bunuh kau,” geram anak muda itu.

Namun Jangkung menjawab, “Aku juga dapat berteriak, aku bunuh kau.”

Anak muda itu pun segera bersiap. Tetapi Jangkung ternyata bergerak cepat. Serangannya telah datang lebih dahulu sehingga anak muda itu harus meloncat menghindar dengan langkah panjang. Namun Jangkung pun dengan cepat memburunya, sehingga keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Kasadha yang melihat Jangkung telah mampu untuk bertempur lagi dengan baik, telah berteriak, “Bagus. Kau akan dapat menyelesaikannya. Biarlah aku mengurus yang lain.”

 “Tutup mulutmu,” teriak kakak anak muda yang bertempur melawan Jangkung itu, “kalian akan menyesal nanti.”

Tetapi kata-katanya telah terputus. Kasadha telah meloncat menyerangnya. Meskipun orang itu berusaha menghindar, namun tangan Kasadha sempat menggapai pundaknya. Orang itu terdorong surut dan terputar setengah lingkaran. Sementara itu, Kasadha yang akan memburunya harus mengurungkan niatnya, karena lawannya yang lain telah lebih dahulu menyerangnya.

Karena itu, maka Kasadha harus menghindarinya. Beberapa kali ia harus berloncatan karena tiga orang yang menyerangnya bersama-sama.

Namun dalam pada itu, Kasadha terkejut ketika ia sempat melihat seorang lawannya yang ternyata lebih memperhatikan Jangkung daripada dirinya. Kakak anak muda yang sering mengganggu Riris itu setelah berhasil memperbaiki keadaan dirinya ternyata tidak lagi bertempur bersama dengan ketiga orang yang lain melawan Kasadha. Tetapi orang itu telah bergabung dengan adiknya melawan Jangkung.

Tetapi Jangkung sama sekali tidak berdesah. Ia telah bertempur melawan lima orang sekaligus meskipun hampir saja ia dibantai oleh mereka jika Kasadha tidak datang. Namun melawan kedua orang itu. Jangkung masih merasa akan dapat bertahan.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka telah terjadi dua lingkaran pertempuran di tengah-tengah bulak panjang itu. Kasadha melawan tiga orang dan Jangkung melawan dua orang.

Namun dalam pada itu, Kasadha yang memiliki ilmu yang cukup tinggi itu segera mendapat kesempatan untuk mengembangkan ilmunya. Karena itu, maka ia pun segera mulai menekan ketiga orang lawannya. Meskipun dua diantara mereka adalah orang-orang upahan, namun Kasadha sama sekali tidak mendapat banyak kesulitan.

Bahkan beberapa saat kemudian, serangan-serangan Kasadha menjadi semakin sering dapat mengenai sasarannya. Seorang diantara lawannya, tiba-tiba saja telah dikenai serangan tumit Kasadha. Demikian kerasnya sehingga orang itu terdorong jatuh. Meskipun ia masih berusaha untuk bangkit berdiri, tetapi nafasnya yang sudah terengah-engah itu rasa-rasanya menjadi sesak.

Namun dalam pada itu. Jangkung yang baru saja bangkit, ternyata dengan cepat mulai diganggu lagi oleh kesulitan didalam dirinya. Meskipun demikian, ternyata Jangkung masih mampu bertahan terhadap kedua orang lawannya. Bahkan sekali-sekali Jangkung berhasil mendesak anak muda yang sering mengganggu Riris sekaligus menghindari serangan-serangan kakaknya.

Tetapi kakak anak muda itu memang memiliki kelebihan dari adiknya sehingga karena itu, maka ia lebih banyak menyerang dan mengacaukan pertahanan Jangkung daripada harus menghindar.

Di arena pertempuran yang lain, ternyata Kasadha yang telah kehilangan kedua orang lawannya karena mereka bertempur melawan Jangkung, menjadi semakin bebas bergerak. Dengan tangkasnya ia menyerang lawannya seperti angin pusaran. Bahkan dalam satu serangan ketiga orang lawannya harus berloncatan menjauh.

Namun beberapa saat kemudian, ketika Kasadha melihat Jangkung setiap kali harus berloncatan menjauhi lawannya yang tua, maka Kasadha pun telah mengambil keputusan, untuk mengerahkan segenap kemampuannya, menyelesaikan pertempuran itu.

Karena itu, maka Kasadha pun kemudian bergerak semakin cepat dan garang. Serangan-serangannya semakin membingungkan ketiga orang lawannya. Dalam keadaan yang demikian, maka serangan-serangan Kasadha menjadi semakin sering mengenai mereka.

Dalam puncak serangannya yang deras, dengan mengerahkan kekuatan dan ilmunya, maka Kasadha telah berhasil mengenai seorang diantara lawannya tepat pada dadanya. Tumitnya dengan keras telah menghantam tulang-tulang iganya sehingga rasa-rasanya menjadi retak.

Orang yang bertubuh pendek itu pun telah terlempar dan terbanting di tanah. Ia masih berusaha untuk cepat bangkit. Namun demikian ia berdiri, maka ia pun harus menyeringai menahan sakit yang menusuk-nusuk bagian dalam dadanya. Dengan demikian, maka gerakannya pun menjadi semakin terganggu. Ia tidak lagi dapat meloncat menerkam anak muda itu. Justru jika ia bergerak, dadanya seakan-akan menjadi semakin kesakitan.

Karena itulah, maka Kasadha menjadi semakin garang. Dua orang lawannya semakin tidak berdaya. Ketika Kasadha menghindari serangan seorang diantara mereka, maka diluar dugaan, ia pun telah berputar sambil mengayunkan kakinya. Begitu derasnya mengenai tengkuk lawannya yang lain, sehingga orang itu pun telah terdorong dan jatuh terjerembab. Wajahnya seakan-akan telah dibenamkan kedalam parit, sementara badannya menelungkup diatas tanggul. Demikian orang itu berputar dan berusaha untuk bangkit, maka ia justru telah berguling dan seluruh badannya justru terjebur diatas parit.

Kasadha sempat tersenyum. Sementara itu, lawannya yang tinggal seorang itu sama sekali sudah tidak berdaya. Ketika Kasadha kemudian memandanginya, maka nampak dahinya mulai berkerut. Setapak Kasadha melangkah maju, maka tiba-tiba orang itu telah meloncat berlari sekuat-kuatnya.

Kasadha ternyata tidak mengejarnya. Ia mulai berpaling kepada Jangkung yang masih berkelahi melawan dua orang lawannya. Kakak beradik yang merupakan lawan utama karena mereka berdualah yang telah merencanakan semuanya itu.

Kasadha selangkah demi selangkah mendekati arena pertempuran antara Jangkung dan kedua orang lawannya. Ketika ia melihat orang yang terjebur kedalam parit itu tertatih-tatih berdiri dan naik ke tanggul, maka Kasadha tidak menghiraukannya lagi. Apalagi orang yang bertubuh pendek itu sudah tidak berdaya untuk melakukan perlawanan.

Anak muda yang sering mengganggu Riris serta kakaknya memang menjadi gelisah. Mereka sama sekali tidak akan mampu bertahan jika Kasadha ikut dalam perkelahian itu. Karena itu, ketika Kasadha menjadi semakin dekat, maka kedua orang itu justru telah meloncat surut mengambil jarak dari Jangkung.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Nah, apakah kalian masih berusaha memaksakan kehendak kalian atas gadis itu?”

 “Persetan,” geram kakaknya, “aku sudah memperingatkan, kau jangan turut campur.”

 “Sebelum aku, sudah ada pula orang yang mencampuri persoalan kalian. Aku kira itu wajar sekali. Orang-orang yang berusaha memaksakan kehendaknya kepada orang lain akan dapat mengundang campur tangan. Jika gadis itu menolak, kenapa kalian masih saja mengganggunya? Aku peringatkan sekali lagi. Ayah gadis itu adalah seorang Senapati, meskipun telah mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan. Jika Ki Lurah Dipayuda yang langsung menangani persoalan anaknya, maka akibatnya akan sangat jauh lebih parah. Ia berhak untuk berbuat apa saja karena ia memang wajib melindungi anaknya.”

Tetapi jawab orang itu sangat menyakitkan hati Kasadha. Seperti yang selalu diucapkannya, maka yang tua diantara kedua kakak beradik itu menjawab, “Aku tidak takut dengan bekas seorang prajurit. Bahkan kepada seorang prajurit sekalipun.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Katanya, “Sikapmu benar. Bahkan kau tidak perlu takut dengan seorang prajurit. Tetapi kau harus melihat dari persoalan yang terjadi. Secara pribadi kau boleh bersikap seperti itu terhadap pribadi yang lain meskipun ia seorang prajurit. Tetapi dalam hubunganmu dengan sikapmu sekarang ini, dikaitkan dengan ketenangan hidup diantara sesama, maka kau akan benar-benar berhadapan dengan seorang prajurit tidak sebagai pribadi. Tetapi seorang prajurit yang menjalankan tugasnya.”

 “Apapun yang dilakukannya,” geram orang itu.

Kasadha masih menahan diri. Tetapi ia berkata, “Aku adalah seorang prajurit. Aku memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan sekarang ini. Tetapi makna dari pesan tugas yang aku emban, maka aku wajib bertindak atasmu sekarang jika kau masih berdiri pada sikapmu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Ia melihat mata Kasadha yang bagaikan menyala. Karena itu, maka ia harus berpikir ulang untuk menjawabnya lagi. Bagaimanapun juga ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa berlima mereka tidak dapat memenangkan pertempuran itu. Apalagi kemudian mereka tinggal berdua saja.

Karena orang itu tidak menjawab, maka Kasadha pun telah membentaknya, “Pergi. Ingat kata-kataku. Aku tidak akan pernah menganggap persoalan ini bukan persoalan yang sungguh-sungguh. Pajang yang masih ingin memantapkan landasan pemerintahannya, tidak akan membiarkan goncangan-goncangan terjadi karena sikap orang-orang seperti kalian itu betapapun kecilnya, karena sikap kalian, dengan memaksakan kehendak kalian kepada orang lain adalah sikap yang dapat mengganggu ketenangan hubungan antara sesama.”

Kedua orang itu masih termangu-mangu. Karena itu Kasadha berkata, “Cepat pergi, sebelum aku menentukan lain. Tetapi sekali lagi aku katakan kepadamu, bahwa aku adalah seorang prajurit. Sikapmu akan menjadi laporan dan aku akan minta wewenang untuk bertindak di daerah ini, karena aku memang mempunyai hak untuk melakukannya.”

Kata-kata Kasadha itu ternyata telah menyentuh perasaan orang-orang itu. Kesungguhan pada sikap dan kata-kata yang ditekankan, agaknya memang bukan sekedar untuk menakut-nakutinya.

Karena itu, ketika Kasadha kemudian sekali lagi mengusir mereka, maka orang-orang itu pun tidak menjawab lagi. Bergegas mereka meninggalkan tempat itu. Sedangkan orang bertubuh pendek yang serasa tulang-tulang iganya retak, telah dibantu oleh kawannya yang basah kuyup karena telah terperosok masuk kedalam parit.

Jangkung dan Kasadha memandang mereka beberapa saat. Namun kemudian Jangkung telah bertanya kepada Kasadha, “Kenapa kau lepaskan mereka?”

 “Mereka tentu sudah jera,” jawab Kasadha.

 “Barata yang pernah terlibat pula dalam perkelahian seperti ini juga menganggap mereka menjadi jera. Tetapi ternyata mereka masih mengulanginya lagi,” berkata Jangkung.

 “Kali ini adalah yang kedua mereka lakukan. Jika sekali lagi mereka melakukannya, maka yang ketiga tentu Ki Dipayuda sendiri yang akan menyelesaikannya sampai tuntas,” jawab Kasadha. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku kira, dua kali ini sudah cukup. Mereka tidak akan mengganggu lagi. Kecuali jika mereka benar-benar orang dungu.”

Jangkung mengangguk-angguk. Sementara itu Riris justru hanya menundukkan kepalanya saja.

Tetapi kakaknyalah yang kemudian berkata kepadanya, “Kau harus mengucapkan terima kasih, Riris.”

Riris masih saja menunduk. Sikapnya yang kaku membuat Kasadha menjadi agak segan pula. Karena itu, maka ialah yang bertanya kepada Jangkung, “Sebenarnya kalian akan pergi kemana atau dari mana?”

 “Kami pergi ke bulak diseberang parit induk. Parit yang menyilang jalan ini,” jawab Jangkung.

 “Jika demikian, marilah, aku akan pergi bersamamu sampai ke sawah itu,” berkata Kasadha.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Ia agak merasa segan untuk mengajak Kasadha pergi ke sawah sekedar mengirim makanan. Namun jika ia pergi berdua dengan adiknya dan Setra saja, mungkin akan dapat terjadi sesuatu lagi, sementara badannya masih terasa lemah setelah ia bertempur mengerahkan tenaga. Terutama ia mencemaskan Riris yang menjadi sasaran orang-orang yang tidak berjantung itu. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat menitipkan adik perempuannya pulang, sementara ia dan Setra membawa makanan ke sawah.

Dalam keragu-raguan itu. Jangkung melihat seorang yang muncul dari balik pohon perdu di tikungan. Ternyata orang itu adalah salah seorang yang bekerja disawahnya.

Demikianlah ia mendekat, maka sebelum bertanya apapun, telah terdengar orang itu bergeremang, “He, apakah kalian memang ingin membiarkan kami kelaparan? Kami sudah bekerja sejak matahari terbit. Sampai kulit kami hangus terbakar sinar matahari kalian masih saja berbicara disitu.”

 “Aku tampar mulutmu,” Setra berteriak, “kau tidak melihat apa yang terjadi.”

 “Sst,” cegah Jangkung, “jangan terlalu kasar, Setra. Mereka memang sudah lapar.”

 “Mereka hanya lapar. Tetapi kita dapat mati disini,” jawab Setra.

Orang yang datang itu mengerutkan keningnya. Namun ia memang melihat pakaian Setra yang penuh dengan lumpur. Demikian pula pakaian Jangkung yang kotor. Bukan hanya pakaiannya, tetapi wajahnya yang bernoda kebiru-biruan. Sementara sebelah matanya menjadi merah. Orang itu pun melihat tanaman yang rusak disebelah parit dan bercak-bercak lumpur dan ranting perdu yang berpatahan.

 “Apa yang telah terjadi disini?” bertanya orang itu.

 “Sudahlah. Bawa makanan dan minuman itu kepada kawan-kawanmu bersama Setra. Kalian berdua tidak akan diganggu. Kami berdua akan mengantarkan tamu kami,” berkata Jangkung.

Orang yang bekerja disawah itu mengangguk-angguk. Sementara Jangkung berkata, “Aku minta maaf, bahwa kiriman makan dan minum kalian terlambat hari ini.”

Tetapi Setra tiba-tiba saja menyahut, “Kenapa kita harus minta maaf? Bukankah bukan salah kita jika kiriman itu datang terlambat? Kita sudah berangkat dari rumah agak lebih awal dari biasanya.”

 “Sudahlah,” jawab Jangkung, “kau jangan begitu garang.”

Setra mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tidak menjawab lagi.

Demikianlah, maka Setra telah mengangkat makanan yang semula diletakkan. Untung tidak menjadi rusak karena pertempuran itu. Demikian pula minumannya yang kemudian dibawa oleh orang yang datang menjemput itu.

 “Pakaianku penuh dengan lumpur,” berkata Setra.

 “Kau dapat mandi dan mencuci pakaianmu di parit induk nanti. Sambil membersihkan lumpur ditubuhmu kau dapat mengeringkan pakaianmu diatas bebatuan atau diatas rerumputan,” berkata kawannya yang datang menjemputnya.

 “Selama itu aku berendam didalam air?” bertanya Setra.

 “Bukankah itu lebih baik daripada kau berendam dalam lumpur seperti itu?” bertanya kawannya.

 “Tutup mulutmu,” bentak Setra.

Kawannya justru menahan tertawanya. Ia menjadi geli melihat kesan diwajah Setra. Tetapi ia tahu bahwa memang telah terjadi sesuatu atas orang itu. Karena itu, ia sadar, bahwa jika ia mentertawakannya, maka Setra menjadi semakin tersinggung.

Jangkung lah yang berkata, “Kau sudah kejangkitan penyakit orang-orang yang menghentikan kita itu, Setra. Kau menjadi sangat garang.”

Setra menarik nafas dalam-dalam. Tanpa menjawab ia pun telah melangkah dengan cepat menuju ke sawah di seberang parit induk. Sementara itu, kawannya yang menjemputnya telah berlari-lari menyusulnya, setelah ia minta diri kepada Jangkung.

Jangkung pun kemudian telah berkata kepada Kasadha, “Marilah. Kita pulang. Ayah agaknya ada dirumah.”

Jangkung dan Riris kemudian berjalan pula bersama dengan Kasadha yang menuntun kudanya menuju ke padukuhan.

Kedatangan Kasadha telah disambut dengan gembira oleh Ki Lurah Dipayuda. Setelah ia meninggalkan lingkungan keprajuritan dan tinggal dirumah. maka setiap tamu dari Pajang telah disambutnya dengan gembira. Seolah-olah ia akan mendapat kawan untuk setidak-tidaknya mengenang masa-masa ia masih mengabdikan diri sebagai seorang prajurit di Pajang. Apalagi yang datang adalah Kasadha yang dianggapnya memiliki kelebihan dari para prajurit yang lain.

Setelah diantar oleh Jangkung ke pakiwan untuk membersihkan diri karena pertempuran yang dilakukan .telah membuatnya kusut, maka Kasadha telah dipersilahkan duduk di pendapa bersama Ki Lurah Dipayuda. Jangkung pun telah ikut pula menemuinya setelah ia mandi dan berganti pakaian. Namun memar diwajahnya masih nampak membiru. Sedang sebelah matanya masih nampak merah menyala.

Ibunya yang cemas melihat keadaan anaknya telah mendengar serba sedikit dari Riris tentang apa yang telah terjadi di bulak panjang sebelum mereka sampai ke parit induk.

Namun ibunya telah menemui Jangkung itu langsung ketika Jangkung keluar dari pakiwan.

 “Bagaimana dengan kau?” bertanya ibunya.

Tetapi Jangkung justru tertawa. Katanya, “Aku tidak apa-apa ibu?”

 “Tetapi wajahmu, matamu dan barangkali bagian-bagian tubuhmu yang lain?” bertanya ibunya.

Jangkung masih saja tertawa. Katanya, “Bukankah biasa saja ibu. Aku berkelahi. Aku dipukuli lawan-lawanku dan wajahku menjadi memar. Tetapi aku tidak saja dipukuli. Aku juga memukuli. Kita memang saling memukul.”

 “Ah,” desah ibunya, “aku menjadi cemas melihat keadaanmu Jangkung. Kau jangan bergurau saja.”

 “Ibu tidak perlu cemas. Prajurit yang bernama Kasadha itu datang tepat pada waktunya. Tanpa Kasadha, aku mungkin telah menjadi pingsan. Riris tentu mereka bawa. Tetapi semuanya itu tidak terjadi. Bukankah aku dan Riris kembali dengan selamat?” desis Jangkung.

Sebelum ibunya menjawab. Jangkung telah meninggalkannya dan pergi ke biliknya.

Ketika Jangkung telah berada di pendapa, maka ayahnya pun menjadi cemas sebagaimana ibunya. Namun jawaban Jangkung pun sebagaimana diucapkannya kepada ibunya. Katanya pula,” Kasadha telah menyelamatkan aku dan Riris.”

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah dadanya menjadi bagaikan bergejolak. Meskipun demikian, dihadapan Kasadha ia masih sempat tersenyum dan berkata, “Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah itu juga menjadi kewajiban kita Ki Lurah. Kita harus saling menolong diantara sesama.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun nada suaranya merendah, “Aku harus berbuat sesuatu. Sudah dua kali anakku diperlukan dengan kasar.”

Kasadha melihat betapa Ki Lurah Dipayuda menahan perasaannya. Namun kemudian terucapkan juga dari mulut orang tua itu, “Agaknya memang sudah waktunya aku mengunjunginya. Sebaiknya aku berbicara dengan keluarganya untuk mencari penyelesaian yang terbaik.”

Kasadha mengangguk-angguk pula. Ia mengerti bahwa Ki Lurah Dipayuda bukan seorang yang hatinya mudah terbakar. Tetapi Ki Lurah juga memiliki landasan-landasan sikap yang sulit untuk bergeser apabila ia sudah menentukannya.

Namun Ki Lurah itu pun kemudian berkata, “Tetapi sudahlah. Kau baru saja datang kerumah ini. Sebaiknya kita lupakan saja persoalan itu, sehingga kedatanganmu tidak mendapat kesan yang justru kurang baik. Seharusnya kau datang dirumahku dalam suasana yang lain.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Bukankah kita terbiasa memasuki suasana yang bagaimanapun juga? Dan bukankah kita harus dapat dengan cepat menyesuaikan diri?”

Ki Lurah Dipayuda tertawa. Katanya, “Kau menjadi semakin dewasa. Bagaimana dengan seratus orang anak buahmu?”

Kasadha justru tertawa.

Ketika kemudian hidangan pun telah disajikan, maka suasana memang telah berubah. Jangkung dengan cepat memasuki pembicaraan antara ayahnya dan Kasadha yang ternyata juga seorang penggemar kuda.

“Kau dapat melihat beberapa ekor kudaku,” berkata Jangkung.

“Nanti dulu,” cegah ayahnya,” Kasadha baru akan minum.”

“O,” Jangkung tersenyum, “silahkan.”

Sementara Kasadha minum hidangan yang baru saja dihidangkan, dari celah-celah dinding Riris sempat mengamatinya. Gadis itu masih saja merasa heran. Kasadha dan Barata mempunyai begitu banyak kemiripan.

 “Mungkin karena mereka sudah terlalu lama berada dalam lingkungan yang sama,” berkata Riris kepada diri sendiri. Namun sebuah pertanyaan telah muncul pula, “Apakah pergaulan yang betapapun lamanya akan dapat membentuk wajah-wajah mereka sehingga mirip yang satu dengan yang lain?”

Ketika Riris kemudian bergeser meninggalkan tempatnya, ia mendengar Kasadha tertawa. Memang hampir tidak ada bedanya dengan suara Barata jika ia tertawa.

Atas permintaan Ki Lurah, maka Kasadha memutuskan untuk bermalam satu malam dirumah Ki Lurah. Ia telah mendapat i jin untuk meninggalkan tugasnya bukan hanya dua hari. Tetapi tiga hari dua malam. Justru karena tidak ada sanak kadang yang pantas dikunjunginya, Kasadha telah mengunjungi Ki Lurah Dipayuda yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

Hari itu. Jangkung sempat menunjukkan kuda-kudanya kepada Kasadha. Seperti juga dengan Barata, maka keduanya segera menjadi akrab. Keduanya telah berada di kandang untuk waktu yang cukup lama.

 “Nah, kau tinggal memilih,” berkata Jangkung.

Tetapi Kasadha tertawa. Katanya, “Jika aku kelak menjadi seorang Tumenggung, maka aku akan membeli tidak hanya seekor kuda.”

 “Menunggu kau menjadi seorang Tumenggung, aku sudah menjadi terlalu tua untuk menjadi pedagang kuda,” jawab Jangkung sambil tertawa.

 “Atau aku harus menabung sedikit demi sedikit,” sahut Kasadha.

 “Belum tentu lima belas tahun tabunganmu cukup, karena setiap terkumpul agak banyak tabunganmu kau ambil untuk membeli kesenanganmu yang lain,” jawab Jangkung pula.

Kasadha tertawa semakin keras. Katanya, “Karena itu, maka untuk sementara aku cukup mempergunakan kuda kesatuanku itu saja. Memang tidak terlalu baik. Tetapi mencukupi kebutuhan.”

Jangkung pun tertawa pula. Katanya, “Kudamu cukup baik.”

Sejenak kemudian keduanya telah berada diserambi gandok. Ketika Riris menghidangkan minuman di sore hari, maka kepalanya masih saja menunduk, sebagaimana dilakukannya disaat Barata di hari pertama berada dirumah itu.

Namun demikian Riris meletakkan mangkuk. Jangkung telah berkata kepadanya, “Kau belum mengucapkan terima kasih Riris.”

 “Ah,” Riris berdesah.

 “Bukankah itu tidak perlu,” sahut Kasadha.

 “Kau harus belajar bersikap dewasa. Kau bukan anak-anak yang harus malu berbicara dengan orang lain,” berkata Jangkung.

Wajah Riris menjadi merah. Sekilas ia memandang, wajah kakaknya. Namun Jangkung sadar, didalam nanti, Riris tentu akan marah kepadanya dan bahkan akan mencubitnya sampai kulitnya menjadi merah biru.

Tanpa mengucapkan sesuatu, Riris pun telah meninggalkan serambi. Namun ia masih sempat berpaling sekilas. Sekali lagi penglihatannya bagaikan menjadi kabur. Sulit baginya membedakan antara Barata dan Kasadha. Keduanya adalah anak-anak muda yang pernah menolongnya.

Kasadha sendiri, seakan-akan tidak begitu memperhatikan kehadiran Riris di serambi itu. Namun ketika kemudian Jangkung meninggalkannya beberapa saat, Kasadha sempat merenungi gadis itu.

 “Riris,” katanya didalam hati, “namanya yang patut sekali sebagaimana ujudnya.”

Seperti yang sudah diduga Jangkung, demikian ia masuk ke ruang dalam, maka Riris telah menunggunya. Dengan cepat Riris telah menyerangnya. Cubitan yang kuat dan bahwa kemudian telah diputar pada lengannya, membuat Jangkung menyeringai kesakitan.

 “Kau memang nakal sekali,” geram Riris.

 “Sakit, Riris,” desah Jangkung.

 “Setiap kali kau menggodaku dihadapan orang lain,” berkata Riris sambil memutar cubitannya.

 “Riris,” Jangkung menjadi semakin kesakitan,” Jangan. Nanti aku putar hidungmu.”

 “Kau harus menjadi jera,” ancam Riris, “jika tidak, aku tidak akan melepaskannya.”

 “Ya. Ya,” jawab Jangkung, “aku sudah jera.”

 “Kau harus minta maaf,” geram Riris pula.

 “Ya. Ya. Aku minta maaf,” sahut Jangkung.

Riris kemudian memang telah melepaskan cubitannya. Namun ia masih saja mengancam, “Jika kau lakukan lagi, aku akan memberitahukannya kepada ayah dan ibu.”

 “Tidak. Nanti tidak lagi,” jawab Jangkung.

 “Kau berjanji,” desis Riris.

 “Aku berjanji. Nanti aku tidak akan mengganggumu lagi. Entah besok atau lusa,” jawab Jangkung.

Riris menjadi marah. Tetapi ketika tangannya terjulur. Jangkung sudah berlari keluar sambil berkata, “Cukup. Aku benar-benar jera.”

Riris berdiri termangu-mangu sejenak. Jangkung telah meninggalkan ruangan sambil berlari-lari.

Namun sebelum Riris meninggalkan ruangan itu mengejar Jangkung, ayahnya telah memasuki ruangan pula sambil bertanya, “Dimana kakakmu? Aku mendengar suaranya di ruang ini.”

 “Baru saja ia keluar ayah,” jawab Riris.

 “Aku memerlukannya,” jawab ayahnya.

Riris melihat wajah ayahnya yang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka ia pun telah bertanya, “Apa yang terjadi ayah? Ayah nampak bersungguh-sungguh sekali.”

 “Panggil kakakmu Riris. Aku menunggunya disini,” berkata ayahnya tanpa menjawab pertanyaan Riris.

Riris tidak menyahut. Ia pun kemudian pergi ke longkangan karena kakaknya telah berlari ke longkangan pula.

Tetapi Riris baru menemukan kakaknya di sudut kandang. Nampaknya ia sedang memperhatikan kudanya yang sedang mendapat penawaran yang baik.

 “Kakang,” panggil Riris.

Jangkung yang sedang asik dengan kudanya yang dianggapnya paling baik itu terkejut. Hampir saja ia meloncat berlari. Namun Riris dengan cepat berkata sebelum Jangkung pergi, “Kau dipanggil ayah.”

 “Ayah?” desis Jangkung, “kau tentu melaporkannya. Kau tentu senang jika ayah marah kepadaku. Besok, aku tidak mau menolongmu jika kau dicegat orang lagi.”

 “Tidak. Aku tidak melaporkan kepada ayah,” jawab Riris.

 “Jadi kenapa ayah memanggilku?” bertanya Jangkung.

 “Entahlah. Tetapi ayah nampak sangat bersungguh-sungguh,” jawab Riris.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun telah melangkah ke longkangan. Tetapi ketika ia lewat disebelah Riris, ternyata Jangkung masih juga melompat menjauhinya.

“Kau tentu merasa bersalah,” berkata Riris, “karena itu kau takut mendekati aku.”

“Bukankah aku sudah minta maaf?” berkata Jangkung.

“Jika demikian kenapa kau harus meloncat-loncat menjauhi aku?” bertanya Riris pula.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa,” jawab Jangkung sambil melangkah masuk keruang dalam.

Ayahnya memang sudah menunggunya. Jangkung juga langsung melihat bahwa wajah ayahnya nampak bersungguh-sungguh.

“Duduklah,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Jangkung pun kemudian telah duduk didepan ayahnya. Ia memang menjadi berdebar-debar.

“Kita akan pergi kerumah orang itu Jangkung,” berkata ayahnya.

“Maksud ayah?” bertanya Jangkung.

“Orang yang telah mencegat dan berusaha untuk menculik Riris,” berkata Ki Lurah Dipayuda, “mereka telah melakukannya dua kali. Jika aku tetap berdiam diri, maka mereka akan menganggap bahwa aku tidak berani berbuat sesuatu. Mereka akan mengira bahwa kita hanya dapat menunggu kehadiran orang lain untuk menolong kita. Yang pertama, Barata telah membebaskan Riris. Kemudian secara kebetulan Kasadha melihat perbuatan orang-orang itu, dan menyelamatkan Riris pula. Dengan demikian maka orang-orang itu akan selalu menganggap bahwa kita sendiri tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi mereka.”

Jangkung mengangguk-angguk. Namun ia memang sependapat dengan ayahnya. Mereka sendiri harus menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapi orang-orang yang berniat buruk itu tanpa orang lain. Karena itu, maka Jangkung pun kemudian telah menyahut, “Baik ayah. Aku akan berkemas.”

Sejenak kemudian, maka keduanya telah siap dengan kuda mereka. Namun mereka sama sekali tidak mengatakan kepada Kasadha bahwa mereka akan pergi menemui orang-orang yang telah mengganggu Riris.

“Maaf Kasadha,” berkata Ki Lurah, “kami mempunyai keperluan keluarga. Tetapi hanya sebentar. Kami akan segera kembali.”

“Silahkan Ki Lurah,” berkata Kasadha, “aku akan melihat-lihat halaman dan kebun rumah ini serta melihat kuda-kuda yang ada di kandang.”

“Riris akan dapat menemanimu,” berkata Jangkung.

Kasadha tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun sebenarnyalah, bahwa Ki Lurah telah berpesan kepada isterinya, jika ia agak lama kembali, biarlah Riris mengawani Kasadha.

“Biarlah ia bersikap sebagaimana seorang gadis yang sudah dewasa. Tidak lagi menjadi seorang pemalu yang tidak mengenal orang lain kecuali ayah, ibu dan kakaknya,” desis Ki Lurah ketika ia minta diri kepada isterinya.

Kepada Nyi Lurah pun Ki Lurah Dipayuda tidak mengatakan kemana sebenarnya ia akan pergi bersama Jangkung.

Sepeninggal keduanya, Kasadha memang hanya duduk sendiri di serambi gandok. Sementara itu, matahari pun telah menjadi sangat rendah. Bahkan cahaya senja telah membayang dilangit.

Sementara itu, Nyi Lurah pun telah minta kepada Riris untuk menemani Kasadha sampai malam menjadi gelap.

“Ajak anak muda itu duduk dipendapa,” berkata ibunya.

Riris termangu-mangu sejenak. Namun ibunya berkata, “Kau seharusnya tidak bersikap seperti kanak-kanak lagi Riris. Temui sebagaimana ayah dan ibu menemui tamunya.”

“Ibu sajalah yang menemuinya. Aku yang akan menyiapkan makan malam ayah di dapur.”

“Kau jangan aneh-aneh Riris. Apakah pantas jika ibu duduk dipendapa menemui Kasadha, sementara kau sibuk menyiapkan makan malam di dapur?” bertanya ibunya.

Riris tidak menjawab. Sebenarnyalah ia merasa sangat berat untuk menemui Kasadha sendiri tanpa kakaknya.

Tetapi ketika ibunya memaksanya, maka Riris pun telah pergi ke serambi.

Ketika Riris melintasi halaman untuk pergi ke serambi, Kasadha sudah turun dari serambi dan berjalan menuju ke regol halaman. Namun ketika ia melihat Riris datang, langkahnya pun telah terhenti.

Untuk sesaat Riris memang merasa sulit untuk berbicara. Namun akhirnya ia memaksakan diri untuk berkata “Marilah, ki sanak. Ibu mempersilahkan Ki Sanak naik kependapa sambil menunggu ayah dan kakang Jangkung.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Terima kasih.”

Kasadha memang kemudian naik ke pendapa yang sudah diterangi dengan lampu minyak. Sebagaimana diminta oleh ibunya, maka Riris telah menemui Kasadha dipendapa, sementara ibunya mempersiapkan makan majam jika Ki Lurah kemudian kembali.

“Ayah sering menyebut-nyebut nama Ki Sanak yang selalu dihubungkan dengan nama Barata,” berkata Riris untuk memulai dengan sebuah pembicaraan.

“Kami memang berada dalam kesatuan yang sama, yang semula dipimpin oleh Ki Lurah Dipayuda,” jawab Kasadha. Lalu katanya pula, “Namun sayang sekali bahwa Barata telah meninggalkan lingkungan keprajuritan.”

“Ia singgah kemari sebelum ia meneruskan perjalanan kembali ke keluarganya,” berkata Riris kemudian.

“Apakah ia mengatakan tentang keluarganya, rumahnya atau barangkali yang berhubungan dengan tempat tinggalnya?” bertanya Kasadha.

Riris menggeleng. Jawabnya, “Ia tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya. Kepada ayah tidak. Kepada kakang Jangkung pun tidak.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Ia merahasiakan-nya.”

“Barata merasa dirinya terlalu kecil. Ia menganggap bahwa ia tidak pantas menyebut rumah dan tempat tinggalnya. Ia merasa segan untuk mendapat kunjungan,” jawab Riris. Namun ia menambahkan, “Tetapi ia tidak mengatakannya kepadaku. Aku hanya mendengar dari ayah dan kakang Jangkung.”

Ternyata Kasadha sempat menyambung pembicaraan itu, sehingga semakin lama pembicaraan mereka menjadi semakin longgar. Perasaan mereka tidak lagi terkekang oleh keseganan. Riris yang baru saja mengenal Kasadha, seakan-akan telah mengenalnya sejak beberapa hari yang lalu, meskipun beberapa hari yang lalu ada di rumah itu adalah Barata. Begitu banyak persamaannya antara Kasadha dan Barata, sehingga kehadiran Kasadha itu seolah-olah sebagai kehadiran Barata yang kembali lagi kerumah itu.

Namun dalam pada itu, selagi Kasadha naik ke pendapa bersama Riris sambil menunggu Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung, maka kedua orang itu telah memasuki regol rumah kakak dari anak muda yang sering mengganggu Riris, yang memang tinggal di padukuhan yang lain dari padukuhan tempat tinggal Ki Lurah Dipayuda.

Ketika kedua orang itu berada di halaman, maka rasa-rasanya rumah itu sepi sekali. Tetapi cahaya lampu yang meloncat keluar nampak masih cukup terang, sehingga menurut dugaan Ki Lurah dan Jangkung, tentu masih ada orang yang berada di ruang dalam. Sementara lampu dipendapa telah menjadi redup.

Sebenarnyalah, masih ada beberapa orang yang duduk di ruang dalam. Orang-orang itu memang mendengar derap kaki kuda. Namun suara itu bagaikan hilang begitu saja.

“Apakah kuda-kuda itu berhenti di halaman rumah ini?” terdengar seseorang bertanya.

“Entahlah,” sahut yang lain.

Sementara itu, Ki Lurah dan Jangkung sempat mendengar pembicaraan itu dari luar dinding rumah itu.

“Apakah sebaiknya kita lihat?” bertanya yang lain.

“Hati-hatilah,” pesan seseorang.

Namun sebelum seorang diantara mereka melangkah kepintu, tiba-tiba saja pintu itu berderak dengan kerasnya. Pintu itu bukan saja terbuka, tetapi pintu itu telah pecah dan roboh kedalam.

Orang-orang yang ada diruang dalam itu terkejut. Tiba-tiba saja mereka melihat Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung telah berdiri dipintu.

Kakak anak muda yang sering mengganggu Riris itu menjadi marah. Dengan serta merta ia bangkit sambil berkata, “Itukah caramu masuk kerumah orang?”

“Kenapa dengan caraku?” Ki Lurah justru bertanya.

“Kau sama sekali tidak tahu unggah-ungguh. Bukankah kau termasuk seorang prajurit yang sudah lama berada di kota? Bukankah seharusnya kau tahu serba sedikit sopan santun bagi seseorang yang akan bertamu dirumah orang lain?” geram orang itu.

Tetapi sikap Ki Lurah sama sekali tidak mencerminkan sikapnya sehari-hari yang tenang dan lembut. Bahkan Jangkung sendiri hampir tidak mengenal lagi bahwa sikap itu adalah sikap ayahnya.

Namun Ki Lurah Dipayuda yang sudah cukup lama tinggal di barak para prajurit serta menghadapi berbagai macam perangai yang berbeda-beda, tahu benar, bagaimana ia harus bersikap terhadap orang-orang itu.

Dengan lantang Ki Lurah itu pun menjawab, “Unggah-ungguh yang mana yang harus aku pergunakan terhadap orang yang tidak tahu adat? Mana yang lebih pantas, merusak pintu orang atau mengganggu seorang gadis di jalanan? Bahkan berusaha untuk menculiknya dan sudah tentu akan dipergunakan untuk melakukan pemerasan dengan dalih apapun juga.”

Wajah pemilik rumah itu menjadi merah. Namun orang itu sadar bahwa yang dihadapinya adalah Ki Lurah Dipayuda itu sendiri.

Dalam pada itu Ki Lurah itu pun telah berkata selanjutnya, “Untung bahwa niat jahat kalian dapat digagalkan oleh salah seorang prajuritku. Ia adalah salah seorang anak buahku ketika aku masih memegang sepasukan prajurit Pajang. Tetapi aku tidak tergantung kepadanya. Aku datang untuk membuktikan, bahwa tanpa prajurit itu aku akan dapat menuntut atas perlakuan terhadap anak perempuanku.”

“Tetapi itu bukan salah adikku,” geram kakak anak muda yang sering mengganggu Riris, “anak gadismu selalu berusaha memanaskan hati adikku. Dengan sengaja ia selalu membawa laki-laki lewat dihadapan adikku yang memang tidak disukainya. Seharusnya ia tidak dengan sengaja mempermalukan adikku dihadapan orang lain.”

Namun Ki Lurah Dipayuda segera memotongnya, “Aku datang tidak untuk berbicara. Tidak untuk mendengarkan alasan-alasan. Aku datang untuk membuktikan bahwa aku dapat berbuat dengan kekerasan pula sebagaimana kau lakukan. Aku akan turun kehalaman. Menghitung sampai sepuluh. Jika kalian memang jantan, kalian juga akan turun kehalaman, berapa orang pun yang kalian bawa. Kita akan bertempur sebagai laki-laki.”

Jantung pemilik rumah itu menjadi berdebar-debar. Yang ada diruang dalam itu tidak lebih dari lima orang yang telah gagal menculik Riris. Seorang diantara mereka masih dalam kesakitan. Iga-iganya terasa bagaikan retak.

Karena itu orang itu pun berkata, “Kau harus mendengar persoalan yang sebenarnya sehingga kau dapat mengambil langkah yang paling baik.”

“Seharusnya itu kau katakan sebelum kau lakukan kekerasan terhadap anakku yang pertama, yang kebetulan pula anakku dapat diselamatkan oleh prajuritku yang lain, Barata. Sekarang sudah terlambat untuk berbicara. Aku akan turun kehalaman dan menghitung sampai sepuluh.” Ki Lurah masih menggeram.

Ketika pemilik rumah itu akan berbicara lagi, Ki Lurah sama sekali tidak menghiraukan. Ia berpaling kepada Jangkung dan berkata lantang, ”Kita turun kehalaman dan bersiap untuk bertempur.”

Tanpa menghiraukan apapun lagi, Ki Lurah dan Jangkung telah turun ke halaman. Dari depan tangga pendapa, Ki Lurah itu menghitung dengan suara lantang pula, “Satu, dua, tiga, … Hitungan itu bagaikan mengumandang diruang dalam rumah itu. Namun pemilik rumah itu benar-benar menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka pernah menantang Ki Lurah Dipayuda, namun ketika mereka benar-benar berhadapan dengan orang yang ditantangnya itu, maka hati mereka pun menjadi kecut. Ternyata Ki Lurah Dipayuda yang memang sudah pernah mereka kenal itu, masih belum nampak tua, pikun dan berjalan terbongkok-bong-kok. Ia keluar dari lingkungan keprajuritan bukan karena ketuaannya. Demikian Ki Lurah itu berdiri dipintu pringgitan rumahnya, maka nampak jelas, bahwa Ki Lurah masih cukup garang menghadapi mereka.

Dalam pada itu, dari halaman terdengar suara Ki Lurah itu justru mengguruh, “Lima, enam, tujuh, … Suasana menjadi bertambah tegang. Namun ternyata orang-orang yang ada diruang dalam itu tidak beranjak dari tempatnya.

Akhirnya Ki Lurah pun menghitung sampai kehilangan terakhir, “Sepuluh.”

Tidak ada orang yang keluar dan turun ke halaman. Karena itu maka Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung sekali lagi naik kependapa dan melangkah ke pintu yang telah dirusakkan itu. Ketika Ki Lurah berdiri di muka pintu, ia masih melihat orang-orang yang ada didalam bagaikan mematung di tempat mereka masing-masing.

Dengan geram Ki Lurah Dipayuda itu pun berkata, “Ternyata kalian bukan laki-laki sejati. Kalian hanya berani menantangku dihadapan seorang gadis. Sekarang aku benar-benar datang, dan kalian sama sekali tidak berani keluar dari dalam rumahmu,” Ki Lurah berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Aku akan pulang. Tidak ada minatku melayani orang-orang yang ternyata pengecut seperti kalian. Meskipun demikian, jika timbul keberanianmu, aku akan menghadapimu kapan saja. Tetapi sudah tentu sebagai seorang laki-laki sejati.”

Ki Lurah Dipayuda sama sekali tidak menghiraukan orang-orang itu lagi. Bersama Jangkung mereka pun kemudian telah kembali ke halaman. Mengambil kuda-kuda mereka dan sejenak kemudian melompat ke punggungnya dan melarikannya turun ke jalan.

Beberapa saat kemudian kedua orang itu telah menuju kembali kepadukuhan mereka. Sementara langit menjadi semakin gelap.

Riris yang terlalu lama duduk dipendapa menurut perasaannya, akhirnya mempersilahkan Kasadha duduk sendiri. Rasa-rasanya kurang mapan untuk berbicara berdua saja di pendapa, sementara malam mulai turun.

“Kau biarkan Kasadha itu sendiri?” bertanya ibunya.

“Aku sudah terlalu lama menemuinya seorang diri,” jawab Riris.

“Kenapa ayahmu terlalu lama meninggalkan tamunya?” bertanya ibu Riris yang sudah hampir selesai menyiapkan makan malam Ki Lurah beserta tamunya.

Tetapi Kasadha yang mulai jemu duduk sendiri itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian, maka dua ekor kuda telah berderap memasuki halaman rumah itu. Ternyata mereka adalah Ku Lurah Dipayuda dan Jangkung.

Ki Dipayuda yang kemudian meloncat turun bersama Jangkung telah menyerahkan kudanya kepada anaknya. Ki Dipayuda sendiri langsung pergi ke pendapa, sementara Jangkung membawa kuda-kuda itu ke kandang.

“Apakah kau terlalu lama menunggu?” bertanya Ki Lurah.

“Tidak Ki Lurah,” jawab Kasadha, “untuk beberapa lama Riris menemani aku disini. Baru saja ia pergi ke dapur membantu Nyi Lurah.”

Ki Lurah tertawa. Ketika kemudian Jangkung duduk pula di pendapa, maka ia pun telah melihat sikap ayahnya yang memang sudah berubah pula. Ia kelihatan ramah dan tersenyum-senyum. Sama sekali kesan kegarangan di wajahnya telah tidak berbekas sama sekali.

Sejenak kemudian, maka Riris pun telah memberitahukan kepada ayahnya, bahwa makan malam sudah disiapkan.

Setelah mencuci tubuhnya yang berkeringat di pakiwan, maka Ki Lurah telah mempersilahkan Kasadha untuk masuk ke ruang dalam.

 “Kita akan makan,” berkata Ki Lurah.

Jangkung ternyata ikut menemani Kasadha bersama ayahnya. Bahkan Nyi Lurah dan Riris pun telah diminta oleh Ki Luhih untuk makan bersama-sama mereka pula.

Disaat mereka makan, Ki Lurah dan Jangkung sempat berbicara tentang padukuhan mereka. Tentang sawah dan ladang, tentang parit dan airnya serta tentang kehidupan anak-anak mudanya.

Namun setelah mereka selesai makan, dan mangkuk-mangkuk serta sisa makanan telah disingkirkan, Kasadha menjadi agak bersungguh-sungguh.

“Aku mendengar, bahwa aku akan mendapat tugas yang sangat sulit,” berkata Kasadha.

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Tugas apa?”

“Tentang beberapa Tanah Perdikan,” berkata Kasadha, “menurut kebijaksanaan Pajang yang sekarang, ada beberapa Tanah Perdikan yang dianggap tidak memenuhi syarat lagi. Tanah Perdikan yang tidak mempunyai pimpinan yang pasti. Tanah Perdikan yang tidak mampu membeayai hidupnya sendiri. Tanah Perdikan yang semakin lama menjadi semakin mundur.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hal itu sudah agak lama kita dengar. Sejak pimpinan Pajang dipegang oleh Adipati Demak, maka terjadi beberapa perubahan kebijaksanaan.”

“Tetapi kebijaksanaan itu agaknya kurang sesuai jika ditrapkan di Pajang. Perubahan di Pajang itu terasa sangat mengejutkan,” sahut Kasadha.

“Ya. Sebaiknya Tanah Perdikan yang dianggap kurang memenuhi syarat untuk berdiri itu, diberi peringatan satu sampai tiga kali. Baru kemudian diambil langkah-langkah yang paling baik untuk memecahkannya,” desis Ki Lurah Dipayuda.

“Apakah kau tahu, ke Tanah Perdikan yang mana saja kau akan ditugaskan?” bertanya Ki Lurah itu pula.

Kasadha menggeleng. Jawabnya, “Belum Ki Lurah. Tetapi beberapa petugas telah dikirim lebih dahulu untuk melakukan pengamatan atas Tanah Perdikan yang dianggap kurang baik itu,” Kasadha berhenti sejenak, lalu, “Tetapi karena patokan yang dipergunakan untuk menilai Tanah Perdikan itu kurang jelas, maka orang-orang yang mendapat tugas untuk menilai itu, mampu memanfaatkan tugas mereka bagi kepentingan mereka sendiri.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sejak semula kita berharap bahwa Pangeran Benawa akan dapat menggantikan kedudukan ayahandanya. Setidak-tidaknya menjadi Adipati di Pajang jika Pajang dianggap bagian dari kesatuan Mataram yang benar. Kini Pajang seakan-akan memang berdiri sendiri. Tetapi ternyata kehijaksanaan yang diambilnya agak kurang sesuai dengan rakyat Pajang.”

“Kenapa orang-orang Pajang tidak menghubungi Pangeran Benawa saja, Ki Lurah?” bertanya Kasadha, “bukankah Pangeran Benawa itu putera Sultan Hadiwijaya dan bahkan oleh Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benawa sudah disiapkan untuk menjadi Putera Mahkota?”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu adalah tugas para pemimpin di Pajang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat berbicara terlalu banyak. Apalagi ia masih seorang prajurit Pajang yang tunduk kepada perintah para Sena pati yang memimpin kesatuan-kesatuan keprajuritan di Pajang. Sementara Ki Lurah Dipayuda sudah bukan lagi seorang prajurit. Sehingga dengan demikian sikap mereka terhadap kepemimpinan Pajang memang dapat berbeda.

Namun kemudian ternyata Ki Lurah itu pun bergumam, “Pemerintahan Pajang sekarang memang menjadi sorotan para pemimpin di Mataram dan Jipang. Bagaimanapun juga beberapa kejanggalan yang telah terjadi di Pajang tentu telah menyinggung perasaan Pangeran Benawa di Pajang, yang oleh rakyat Pajang diharapkan akan dapat menggantikan kedudukan ayahandanya Sultan Hadiwijaya, serta menarik perhatian Panembahan Senapati yang meskipun tidak dengan resmi, namun mendapat kepercayaan dari Sultan Hadiwijaya untuk mengendalikan pemerintahan menjelang masa mendatang yang tentu akan berbeda dengan masa-masa yang pernah dilewatinya. Tetapi yang terjadi justru lain, sehingga perkembangan Pajang pun tidak lagi sesuai dengan harapan orang-orang Pajang sendiri. Namun baik Pangeran Benawa maupun Panembahan Senapati ternyata masih menunggu. Mereka masih berharap bahwa akan dapat diketemukan cara yang baik untuk meluruskan kepemimpinan Adipati Demak di Pajang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun dengan cepat Ki Lurah Dipayuda berkata, “Tetapi kau adalah prajurit Pajang, Kasadha. Kau tidak dapat bersikap lain daripada sikap seorang prajurit. Karena itu, maka kau harus menyesuaikan dirimu dengan tugas-tugas yang dipercayakan kepadamu? Sebaliknya kau percayakan saja persoalan Pajang ini kepada orang-orang yang berkepentingan. Pangeran Benawa dan Panembahan Senapati.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Ki Lurah.”

Ki Lurah pun kemudian berkata, “Karena itu tentang Tanah Perdikan itu pun harus kau tangani dengan baik, tetapi dengan sangat berhati-hati. Kekerasan bukan satu-satunya cara yang terbaik untuk memecahkan persoalan. Karena itu, meskipun kau membawa pasukan untuk mengambil sikap terakhir tentang salah satu Tanah Perdikan, tetapi penggunaan pasukan harus dihindari sejauh-jauhnya.”

Kasadha yang telah mendapat kepercayaan untuk memimpin sepasukan prajurit Pajang itu mengangguk-angguk.

Jangkung yang tidak begitu banyak mengetahui persoalan yang dibicarakan oleh ayahnya dengan Kasadha itu tidak banyak ikut campur. Ia lebih banyak mendengarkan. Baru kemudian ketika pembicaraan itu sudah berkisar lagi, barulah Jangkung dapat ikut berbicara dengan lancar.

Dalam pada itu, Riris membantu ibunya yang sibuk didapur, mencuci dan membenahi alat-alat yang baru mere ka pergunakan. Mereka membiarkan pembantunya beristirahat, karena nampaknya ia sudah cukup letih dan tertidur di bilik panjang disudut dapur itu.

Ki Lurah. Jangkung dan Kasadha berbincang di ruang dalam sampai larut malam. Nyi Lurah dan Riris sudah lama masuk ke dalam bilik mereka. Namun masih saja setiap kali terdengar suara tertawa yang berderai di ruang dalam. Ternyata Jangkung seperti biasanya berceritera tentang hal-hal yang aneh-aneh di padukuhan itu.

Namun ketika malam menjadi semakin dalam, maka Kasadha pun telah dipersilahkan untuk beristirahat di gandok.

Ketika Kasadha berbaring dipembaringannya setelah menyusut lampu minyak didalam bilik gandok itu, rasa-rasanya Kasadha justru menjadi gelisah. Sekali-sekali telah terbayang wajah Riris yang lembut. Senyumnya yang khusus di wajahnya yang agak kemerah-merahan.

 “Perasaan apakah yang telah bergetar di jantung ini?” desis Kasadha sambil menelungkup. Tetapi ia tidak juga segera tidur.

Namun akhirnya, sejuknya angin malam, kelelahan dan malam yang semakin larut, telah membuainya kedalam tidur yang nyenyak.

Sebelum matahari terbit Kasadha sudah ada di belakang rumah Ki Lurah. Terdengar derit senggot timba ketika Kasadha mengisi jambangan di pakiwan.

Riris yang melihatnya dari pintu dapur, menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi gadis itu berkata kepada diri-sendiri, “Aku sulit membedakan antara Kasadha dan Barata. Keduanya sangat mirip. Wajahnya dan tingkah lakunya. Pagi-pagi seperti ini Barata juga sudah berada disumur, menimba air dan mengisi pakiwan. Baru kemudian mandi.

Namun Riris tidak beranjak dari dapur. Meskipun pembantunya juga sudah sibuk, tetapi Riris ikut membantunya, menyiapkan minuman hangat bagi Ki Lurah dan tamunya.

Ketika matahari kemudian terbit, Ki Lurah yang juga sudah mandi, telah duduk di pendapa. Kasadha dan Jangkung pun kemudian telah duduk pula bersamanya.

Namun setelah minuman dan makanan dihidangkan. Jangkung pun telah mengajak Kasadha untuk melihat-lihat keadaan padukuhannya sebagaimana ia pernah mengajak Barata.

 “Kita akan berkeliling padukuhan ini berdua,” berkata Jangkung, “tetapi kau jangan memakai kudamu sendiri. Pakai kudaku yang paling baik agar kau ingin membelinya.”

Kasadha tertawa pendek. Katanya, “Sudah aku katakan, bahwa aku harus menabung selama lima belas tahun dahulu.”

Jangkung pun tertawa. Bahkan ia menyahut, “Setelah lima belas tahun ternyata tabunganmu masih juga belum terkumpul karena setiap tahun selalu kau buka.”

 “Ah, jangan begitu,” berkata Ki Lurah, “siapa tahu Kasadha mendapat anugerah karena tugasnya yang dapat diselesaikan melampui perhitungan.”

Kasadha tertawa. Katanya, “Padahal aku akan mendapat anugerah seekor kuda.”

Jangkung pun tertawa berkepanjangan.

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian, seperti yang diminta oleh Jangkung, keduanya telah melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan. Mereka sempat menyeberangi bulak melihat sawah Ki Dipayuda yang berada diseberang parit, yang sedang disiangi. Sawah Ki Lurah cukup luas, sehingga diperlukan beberapa orang untuk membantunya.

Kasadha dan Jangkung pun kemudian mengikat kuda mereka pada sebatang pohon turi dipinggir jalan, ketika mereka berdua akan meniti pematang, melihat orang-orang yang bekerja.

Demikian Jangkung mendekati mereka yang terbungkuk-bungkuk membersihkan tanaman padi yang subur dari gangguan rerumputan liar, seorang diantara mereka pun berkata lantang, “He, masih terlalu pagi, kau sudah datang mengirim makanan dan minuman.”

Beberapa orang yang mendengar tertawa. Jangkung pun tertawa pula. Namun Jangkung sempat menjawab, “Ni, lihat. Mataku masih merah. Pelipisku masih membekas warna kebiru-biruan. Kalian sama sekali tidak membantuku, bahkan kalian malah memarahiku karena kiriman itu terlambat datang.”

 “Kami tidak tahu,” jawab seseorang, “bukankah hal itu terjadi di sebelah parit induk? Coba, kami tahu apa yang terjadi, orang-orang itu tentu sudah menjadi serundeng.”

Terdengar beberapa orang tertawa. Seorang diantara mereka bertanya, “Kau berani turun ke arena?”

Orang yang sesumbar itu justru telah berjongkok sambil berkata, “Bukan aku. Barangkali kau.”

Terdengar lagi suara tertawa. Sementara itu, orang-orang itu masih saja menyiangi rerumputan liar diantara batang-batang padi yang hijau. Dalam waktu dua hari lagi kerja itu tentu selesai meskipun sawah Ki Lurah terbentang sampai ke pinggir sungai.

Dari melihat-lihat sawah. Jangkung mengajak Kasadha melihat-lihat pategalannya. Kemudian sempat minta seorang penunggu pategalan itu untuk memanjat sebatang pohon kelapa. Sejenak kemudian dua buah kelapa yang masih muda telah berjatuhan.

Namun dalam pada itu, Kasadha sempat bertanya, “Siapa yang akan membawa makanan dan minuman ke sawah?”

 “Setra. Badannya memang masih agak pegal-pegal sedikit. Tetapi ia akan pergi ke sawah bersama seorang yang akan membantunya membawa kiriman itu,” jawab Jangkung.

Tetapi ketika matahari menjadi semakin tinggi dan hampir menggapai puncak langit, Kasaha berdesis, “Sebenarnya aku ingin kembali ke Pajang hari ini. Sebelum senja aku akan masuk kembali ke dalam barak.”

 “Apakah hari istirahatmu hanya sampai hari ini?” bertanya Jangkung.

 “Sebenarnya aku mendapat kesempatan beristirahat sampai besok,” jawab Kasadha.

 “Jika demikian, kau tidak usah kembali hari ini. Esok saja kau kembali ke Pajang. Malam nanti kau sebaiknya bermalam satu malam lagi disini,” berkata Jangkung.

Kasadha memang menjadi ragu-ragu. Ketika ia berangkat, ia memang berniat bermalam, tetapi hanya satu malam saja. Namun tiba-tiba saja ia menjadi bimbang. Seakan-akan ada sesuatu yang menghalanginya untuk pergi.

 “Jangan berpikir terlalu panjang. Kau ambil saja putusan. Pulang esok pagi,” berkata Jangkung.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku akan kembali esok pagi.”

 “Bagus,” berkata Jangkung, “nanti malam kita akan melihat tari topeng semalam suntuk.”

 “Dimana?” bertanya Kasadha.

 “Di padukuhan seberang bulak. Seorang yang kaya dipadukuhan itu mengawinkan satu-satunya anak gadisnya,” jawab Jangkung.

Kasadha mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Bagus. Nanti malam kita melihat tari topeng.”

Namun sebenarnyalah yang telah menghambat kebe-rangkatan Kasadha sama sekali bukan tari topeng itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya, apakah yang sebenarnya telah menahannya untuk tidak segera meninggalkan rumah Ki Lurah Dipayuda.

Ketika matahari semakin tinggi, maka Kasadha pun telah kembali bersama Jangkung. Lewat tengah hari, Kasadha telah dipersilahkan untuk makan bersama Ki Lurah dan Jangkung. Bahkan bersama Nyi Lurah dan Riris.

Disore hari, Kasadha sempat berbincang dengan Riris di pendapa ketika Riris sedang membersihkan lantai pendapa itu. Riris sempat duduk di tangga pendapa, sementara Kasadha berdiri di depan tangga.

Tetapi mereka tidak terlalu lama berbincang. Riris pun segera berdiri dan meneruskan kerjanya, menyapu lantai pendapa, sementara Kasadha pergi ke regol melihat-lihat jalan yang tidak begitu ramai didepan rumah Ki Lurah Dipayuda.

Namun ternyata bahwa gadis itu telah memberikan kesan tersendiri kepada Kasadha.

Ketika Kasadha kemudian duduk di serambi gandok, tiba-tiba saja ia telah menilai dirinya sendiri. Ia sadar, bahwa agaknya ia mulai dijangkiti oleh penyakit anak-anak muda yang meningkat dewasa penuh. Kasadha tidak dapat ingkar, bahwa ia telah tertarik pada seorang gadis yang bernama Riris.

Tetapi Kasadha pun kemudian telah menilai dirinya sendiri. Ia rasa-rasanya sebagai kleyang kabur kanginan. Seperti daun kering yang dihempas angin. Ia tidak berasal dari lingkungan keluarga sewajarnya. Kehidupan orang tuanya diselimuti oleh ketidak pastian dan bahkan diselubungi oleh kabut yang hitam. Orang yang mengaku ayahnya dan pernah menjadi petugas sandi Jipang itu pun tidak pantas disebutnya. Apalagi saat-saat terakhir dari kehidupan ayah dan ibunya. Bayangan gerombolan Kelamarta justru selalu menghantuinya.

Seandainya ia kelak mendapat kedudukan yang cukup baik di Pajang, serta pada suatu saat ia ingin memasuki sebuah kehidupan wajar dengan berkeluarga, bagaimana ia harus datang melamar seorang gadis bersama ayah dan ibunya.?

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Bahkan tiba-tiba saja Kasadha yang sudah gelisah itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba saja ia dibayangi oleh kemauan ibunya untuk menaklukkan sebuah Tanah Perdikan yang menu rut ibunya itu adalah haknya, yang di warisinya dari ayahnya yang sebenarnya.

“Apakah pada suatu saat aku harus berurusan dengan Tanah Perdikan Sembojan?” bertanya Kasadha yang gelisah itu didalam hatinya.

Namun tiba-tiba saja Kasadha memejamkan matanya. Ia ingin mengusir perasaannya yang bergejolak itu.

Ketika ia kemudian membukakan matanya, ia melihat Jangkung berjalan keserambi itu. Ketika Jangkung kemudian duduk disampingnya, ia pun berkata, “Kau mau ikut aku?”

 “Kemana?” bertanya Kasadha.

 “Melihat seekor kuda. Ki Demang di Kademangan sebelah memberitahukan kepadaku lewat seorang kawan, bahwa ia akan menjual kudanya yang menurut keterangan sangat baik. Aku akan membelinya jika harganya dapat sesuai,” jawab Jangkung.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Ia memang ingin untuk tinggal dirumah saja. Sekali-sekali dapat berbicara dengan Riris. Tetapi jika gadis itu selalu berada didalam, maka ia justru akan dibayangi oleh angan-angannya yang kelabu itu.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Aku ikut.”

Keduanya kemudian berderap dijalan-jalan padukuhan, menyeberangi beberapa bulak menuju ke Kademangan disebelah.

 “Barata juga senang melihat-lihat bulak-bulak panjang,” berkata Jangkung diperjalanan.

 “Ya,” jawab Kasadha, “ia mencintai lingkungannya, alam disekitarnya dan lebih dari itu, sesamanya.”

 “Ia memang anak muda yang baik,” berkata Jangkung, “sayang ia dibayangi oleh kegelisahan tentang dirinya sendiri. Ia tidak mau berterus terang, dimana rumahnya, keluarganya dan banyak hal tentang dirinya.”

Kasadha menarik nafas panjang. Banyak hal tentang dirinya yang tercermin pada anak muda yang bernama Barata itu. Betapa ia ingin ingkar, namun ia adalah seorang yang sebenarnya bernama Puguh. Tetapi ada juga orang yang mengira bahwa Barata itu adalah Puguh. Ketika ia datang dan bertemu dengan Riris pertama kali, gadis itu juga menyangkanya Barata. Dan kini Jangkung berkata kepadanya, bahwa Barata telah banyak menyelimuti dirinya sendiri dengan kabut rahasia yang tidak terungkapkan.

 “Bagaimana dengan aku sendiri?” bertanya Kasadha kepada diri sendiri.

***

Dalam pada itu, selagi Jangkung dan Kasadha melintasi bulak-bulak panjang, di Tanah Perdikan Sembojan, Risang yang dikenal dengan nama Barata itu pun sedang memacu kudanya melintasi bulak panjang. Risang sedang menuju ke padang perdu dilereng bukit. Sekelompok pengawal tengah menunggunya. Justru para pemimpin kelompok dari padukuhan-padukuhan yang tersebar di seluruh Tanah Perdikan.

Seperti biasanya, Barata tengah menempa mereka dengan olah kanuragan. Pengetahuannya tentang ilmu dasar olah kanuragan, serta pengalamannya di lingkungan keprajuritan telah membuatnya menjadi seorang pelatih yang baik bagi para pemimpin kelompok pengawal di Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu para pemimpin kelompok yang telah ditempa secara khusus itu harus menebarkan ilmu kanuragannya itu kepada para pengawal didalam kelompok masing-masing, sehingga sebenarnyalah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit.

Sore itu, Barata berniat untuk melihat dan menilai hasil jerih payahnya. Para pemimpin kelompok pengawal itu pun telah diberitahukan, bahwa ia akan mengadakan pertarungan diantara mereka untuk menilik tingkat ilmu mereka secara pribadi. Mereka akan benar-benar bertempur. Tetapi tidak mempergunakan senjata. Risang sendiri akan menunggui dan menghentikan setiap pertempuran jika ia sudah menemukan penilaian bagi keduanya.

Demikian Risang meloncat turun dari kudanya, maka para pemimpin kelompok itu menyongsong dengan hati yang berdebar-debar.

 “Apakah kalian sudah siap?” bertanya Risang.

 “Sudah,” jawab beberapa orang hampir berbareng.

 “Kalian sudah menyediakan beberapa obor?” bertanya Risang pula.

 “Sudah,” jawab mereka pula.

 “Kita akan melihat kemampuan yang dimiliki oleh Tanah Perdikan ini,” berkata Barata, “karena itu, mungkin kita akan berada disini sampai jauh malam.”

Sejenak kemudian, maka para pemimpin kelompok pengawal itu pun segera bersiap. Mereka kemudian berkumpul dan duduk dalam satu lingkaran bersusun. Risang telah memimpin pemusatan nalar budi dari para pemimpin kelompok itu. Perlahan-lahan mereka mengatupkan telapak tangan mereka dimuka dada. Kemudian turun perlahan-lahan. Kedua tangan itu pun kemudian mulai tegang. Kedua telapak tangan pun mengepal disamping. Dengan satu hentakan yang kuat kedua telapak tangan itu terjulur kedepan. Kemudian perlahan-lahan namun dengan kuat, tangan itu ditarik kembali. Berganti-ganti tangan itu menyilang di dadanya, sehingga akhirnya tangan itu pun mengendor dan turun perlahan-lahan. Akhirnya kedua telapak tangan itu kembali mengatup dan diangkat kemuka dadanya.

Ketika mereka melepaskan nafas panjang dari lubang hidung mereka, maka Risang pun memberi isyarat kepada mereka untuk berdiri dan bergerak beberapa langkah surut. Lingkaran pun menjadi semakin luas. Lingkaran yang akan menjadi arena penilaian atas kemampuan para pemimpin kelompok itu.

Beberapa saat kemudian, langit memang menjadi suram. Senja menjadi semakin kelam. Sehingga Barata telah memerintahkan menyalakan dua buah obor.

 “Kita hanya mempergunakan dua buah obor saja. Yang lain kita sediakan apabila yang dua itu kehabisan minyak,” berkata Risang.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, penilaian atas kemampuan para pemimpin kelompok itu berlangsung. Dua orang bangkit berdiri saling berhadapan. Keduanya pun kemudian telah bersiap untuk memulainya.

Barata sendiri juga berdiri didalam lingkaran. Ia menunggui langsung penilaian kemampuan itu. Kecuali untuk melihat dengan sakslma hasil latihan-latihan yang telah diselenggarakan, Risang juga menjaga, agar tidak terjadi kecelakaan diantara mereka yang ikut serta dalam penilaian itu.

Sejenak kemudian, pasangan yang pertama telah mulai bertempur. Keduanya semakin lama semakin meningkatkan kemampuan mereka semakin tinggi, sehingga akhirnya benar-benar berada pada puncak kemampuan mereka. Keduanya berloncatan saling menyambar. Saling mendesak dan sekali-sekali serangan-serangan mereka telah menembus pertahanan lawan dan mengenai sasaran.

Yang dikenai serangan itu pun telah terdorong surut. Bahkan menyeringai menahan sakit. Tetapi sebelumnya mereka pun telah berlatih untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka.

Risang memang tidak menunggu seorang diantara mereka kalah dan menang. Tetapi setelah ia mampu meni lai kemampuan keduanya yang hampir seimbang itu, maka pertempuran itu pun telah dihentikannya.

Demikianlah pasangan demi pasangan telah tampil. Mereka pada umumnya telah menunjukkan kemampuan yang memadai. Bahkan Risang dapat berbangga bahwa para pemimpin kelompok pengawal di Tanah Perdikannya itu memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan para pemimpin kelompok prajurit Pajang. Dengan demikian maka Risang pun berharap bahwa para pengawal pun memiliki kemampuan setingkat pula dengan para prajurit Pajang.

Namun ketika pendadaran itu berjalan beberapa lama, saat pasangan-pasangan berikutnya setelah lebih separo dari seluruh peserta mulai bertanding, maka mereka terkejut mendengar derap kaki kuda yang mendatang dengan cepat.

Dengan demikian, maka setiap orang pun kemudian telah bersiap, sedangkan pendadaran itu pun telah berhenti dengan sendirinya.

Tiga ekor kuda muncul dalam keremangan malam. Sinar obor yang tidak terlalu terang, telah mencapai wajah-wajah dari ketiga penunggangnya setelah ketiga ekor kuda itu berhenti.

Risang menjadi berdebar-debar. Ketiga orang penunggang kuda itu adalah ibunya, Iswari, diikuti oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 “Ibu,” desis Risang.

Ibunya melangkah mendekatinya setelah ia meloncat turun dari kudanya dan menyerahkannya kepada Sambi Wulung.

 “Apa yang kau lakukan, Risang?” bertanya Iswari.

 “Aku ingin melihat tataran kemampuan para pemimpin kelompok pengawal Tanah Perdikan, ibu,” jawab Risang.

Iswari mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menegur anaknya dihadapan para pengawal itu. Karena itu, maka ibunya pun berkata, “Risang, aku memerlukanmu. Aku ingin berbicara tentang perkembangan keadaan terakhir.”

 “Nanti sebentar aku akan menemui ibu. Aku masih harus menyelesaikan penilaian ini sebentar lagi ibu. Sudah lebih dari separo dari para pemimpin kelompok yang sempat aku lihat kemampuannya. Aku ingin selebihnya juga dapat aku lihat kemampuannya,” jawab Risang.

 “Jika kau sudah melihat lebih dari separo, sebenarnyalah bahwa itu sudah cukup. Sebenarnya kau dapat mengambil tiga pasang diantara mereka dan melihat kemampuan yang tiga pasang dengan seksama. Maka yang tiga pasang itu tentu sudah cukup mewakili seluruh pemimpin kelompok yang ada di Tanah Perdikan ini. Kau dapat menilai kemampuan rata-rata mereka. Apalagi mereka telah mendapat tuntunan olah kanuragan hanya darimu. Semuanya. Sehingga dengan demikian maka tataran kemampuan mereka tentu hampir sejajar. Sementara itu, dalam latihan-latihan kau tentu juga mampu membuat penilaian terhadap mereka,” berkata ibunya.

Risang masih akan menjawab. Namun ibunya berbisik, “Bubarkan permainan ini. Aku mempunyai alasan yang kuat untuk memerintahkan kepadamu.”

Bagaimanapun juga Risang tidak dapat memaksa ibunya untuk membiarkan penilaiannya terhadap para pejnimpin kelompok itu berlangsung terus. Karena itu, betapapun ia menjadi kecewa, namun Risang itu pun akhirnya telah menutup latihan khusus itu.

 “Aku minta maaf kepada mereka yang masih belum mendapat giliran,” berkata Risang, “tetapi aku yakin, bahwa kemampuan kalian tidak akan terpaut banyak yang satu dengan yang lain. Sekarang pertemuan ini aku tutup sampai sekian. Kita akan mencari kesempatan lain yang lebih baik.”

Beberapa orang memang menjadi kecewa. Tetapi mereka dapat mengerti, bahwa Risang tidak akan dapat menolak perintah ibunya yang masih menjadi pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

 “Padamkan obor itu,” perintah Iswari.

Para pemimpin kelompok itu pun segera memadamkan obor di pinggir arena, sehingga keadaan menjadi sangat gelap. Tetapi mereka telah terlatih sehingga penglihatan mereka mampu mengatasi kegelapan meskipun terbatas.

 “Aku minta diri,” berkata Risang kemudian.

Sejenak kemudian, maka kuda-kuda pun telah berderap lagi. Risang telah bergabung dengan ibunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Beberapa saat kemudian, mereka telah menyusuri jalan bulak menuju ke padukuhan induk.

 “Kenapa ibu menghentikan latihan khusus itu?” bertanya Risang.

 “Kita akan berbicara dirumah,” jawab ibunya.

Risang terdiam. Ia sadar, bahwa berbicara sambil berkuda tentu kurang dapat bersungguh-sungguh. Apalagi jalan yang kurang memungkinkan baginya untuk selalu berkerja disamping ibunya.

Beberapa saat kemudian, Iswari telah duduk diruang dalam. Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah duduk pula bersamanya. Kakek dan nenek tidak nampak hadir. Agaknya mereka telah beristirahat. Yang kemudian muncul adalah Bibi.

Baru beberapa saat kemudian Iswari berkata, “Risang. Aku terpaksa menghentikan latihan khusus yang kau adakan untuk mengetahui tingkat kemampuan para pemimpin kelompok.”

Risang menunduk. Tetapi ia bertanya, “Kenapa latihan itu harus berhenti ibu?”

 “Para petugas sandi kita melihat kehadiran orang-orang yang tidak dikenal di Tanah Perdikan ini dengan cara yang tidak sewajarnya,” jawab ibunya.

 “Kenapa mereka tidak ditangkap saja?” bertanya Risang.

 “Mereka tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Meskipun sikap mereka menarik perhatian, tetapi tidak ada alasan untuk menangkap mereka,” jawab ibunya.

 “Jadi?” bertanya Risang.

 “Mungkin mereka justru petugas sandi dari Pajang. Aku tidak ingin mereka melihat latihan-latihan yang berat dilakukan di Tanah Perdikan ini. Dengan demikian maka akan dapat menimbulkan salah paham. Sudah berapa kali aku peringatkan. Jangan mengadakan latihan-latihan berat dalam suasana seperti sekarang ini,” berkata ibunya.

 “Justru dalam keadaan seperti sekarang ini,” sahut Risang.

 “Dengar Risang,” berkata ibunya, “bagaimanapun juga, aku masih berusaha sejauh mungkin agar tidak terjadi perselisihan antara Tanah Perdikan ini dengan Pajang. Kau tahu, bahwa Pajang memiliki kekuatan dan kemampuan yang sangat tinggi. Apa yang dimiliki oleh Tanah Perdikan ini? Tentu saja dibandingkan dengan Pajang.”

Risang tidak menjawab. Ia tahu bahwa ibunya memang tidak ingin terjadi perselisihan yang mengarah pada kekerasan. Namun Risang pun tidak ingin Tanah Perdikannya diperlakukan sebagaimana beberapa Tanah Perdikan yang lain. Tanpa mengindahkan kekancingan yang memberikan wewenang kepada Tanah Perdikan itu untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri, serta tanpa memperhitungkan alasan kelahiran sebuah Tanah Perdikan, maka dengan mudahnya pimpinan pemerintahan di Pajang yang datang dari Demak itu begitu saja memerintahkan untuk di bekukan.

 “Nah,” berkata ibunya, “untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, maka kau harus sedikit mengekang diri. Aku tahu kau sudah merubah cara latihan yang selama ini kau lakukan. Kau tidak lagi memberikan latihan kepada sejumlah besar pengawal di lereng-lereng pebukitan. Kau sekarang hanya memberikan latihan secara khusus kepada para pemimpin kelompok yang harus menularkannya kepada para pengawal. Namun demikian latihan khusus didalam hari seperti yang kau lakukan tadi akan menarik perhatian.”

Risang tidak menjawab. Namun sebenarnyalah ia kurang sependapat dengan ibunya. Pajang tidak akan dapat melarang latihan-latihan yang demikian, justru hal itu akan dapat ikut menegakkan Pajang dalam keadaan yang wajar.

Tetapi sebenarnyalah Risang pun mengerti, bahwa Pajang akan dapat menjadi curiga melihat kesiagaan sebuah Tanah Perdikan yang sedang diamati dengan saksama. Bahkan Pajang telah pernah mengirimkan utusan untuk bertemu dengan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang kebetulan adalah seorang perempuan.

 “Sudahlah,” berkata ibunya, “beristirahatlah. Kita akan dapat membicarakannya pada kesempatan lain.”

Risang tidak menjawab. Ibunya pun mengerti, bahwa ada perbedaan sikap antara dirinya dengan anaknya. Namun Iswari masih mempercayai bahwa anaknya akan mau mendengarkan kata-katanya.

Risang yang setelah pergi ke pakiwan, telah berada di biliknya, rasa-rasanya selalu gelisah. Dengan debar jantung yang serasa semakin cepat, Risang justru berjalan hilir mudiik didalam biliknya itu.

Namun akhirnya Risang- itu pun telah berbaring di pembaringannya. Ia mencoba untuk menenangkan hati nya dengan mencoba mengenang persoalan-persoalan yang dapat menyejukkan hatinya.

Tetapi yang kemudian terlintas di kepalanya adalah wajah seorang gadis yang dijumpainya di rumah Ki Lurah Dipayuda. Gadis cantik yang bernama Riris. Betapa lembut wajahnya dan betapa bersih sikapnya.

Risang memang mencoba mempertajam bayangan wajah itu di angan-angannya. Namun wajah yang memang nampak semakin jelas itu seakan-akan semakin lama menjadi semakin jauh. Tangannya tidak lagi mampu menyentuhnya betapapun ia menggapai-gapai.

 “Kenapa aku harus merahasiakan diriku? Kenapa aku harus menyebut diriku bernama Barata, anak dari Bibis yang sama sekali bukan pijakan hidupku yang sebenarnya? “ pertanyaan itu telah menerpa jantung Risang yang gelisah.

 “Tidak. Aku bukan Barata. Aku adalah Risang dari Tanah Perdikan Sembojan. Aku akan datang lagi menemui gadis itu tanpa bersembunyi dibalik kepalsuan hanya karena aku ingin menyelamatkan diri dikejar oleh perasaan takut dibunuh orang. Dengan dada tengadah aku akan menyebut namaku, asal usulku dan kampung halamanku Aku akan dengan dada tengadah menantang anak muda yang bernama Puguh itu jika ia memang menghendaki kematianku,” Risang tiba-tiba saja telah menggeram.

Bahkan ia pun kemudian telah bangkit sambil meng-geretakkan gigi. Katanya, “aku akan membuktikan, bahwa aku memiliki kemampuan untuk menegakkan namaku dan kenyataan tentang pribadiku tanpa tedeng aling-aling.”

Tetapi Risang tidak puas hanya dengan menggeram didalam biliknya. Tiba-tiba saja ia justru melangkah keluar. Ia memang berhati-hati agar tidak mengejutkan orang lain. Lewat pintu butulan Risang telah pergi ke sanggar.

Sejenak Risang termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah duduk bersila ditengah-tengah sanggar yang diterangi oleh lampu minyak yang redup. Dengan sungguh-sungguh Risang telah memusatkan nalar budinya, mempersiapkan diri untuk melakukan latihan justru didorong oleh gejolak perasaannya.

Beberapa saat kemudian Risang telah bangkit berdiri perlahan-lahan. Kemudian ia mulai menggerakkan tangannya, kakinya, perlahan-lahan. Satu loncatan kesamping dengan tangannya yang bersilang, kemudian satu hentakkan kedepan dengan telapak tangan yang mengepal. Ketika tangan itu ditarik disamping tubuhnya, maka kedua kaki Risang menjadi renggang. Kaki kirinya agak ditarik kebelakang, sedang kaki kanannya ada di depan. Lututnya sedikit merendah.

Namun sesaat kemudian Risang sudah berloncatan didalam sanggar yang remang-remang itu. Kakinya semakin lama semakin cepat bergerak, sementara tangannya berputaran. Dilepaskannya unsur gerak yang telah dipelajarinya sebagai landasan bagi ilmu yang akan di warisinya, Janget Kinatelon. Ilmu yang hampir tidak ada bandingnya.

Dengan tangkasnya Risang bergerak dan berloncatan. Sekali-sekali tubuhnya berputar, sementara kakinya terayun deras. Disusul dengan ayunan tangannya dan kemudian serangan yang sangat deras menebas sisi telapak tangannya.

Risang telah menguasai berbagai macam unsur gerak dan berbagai macam jenis serangan. Risang mampu menyerang dengan telapak tangannya yang terbuka. Dengan sisi telapak tangannya, dengan jari-jari yang merapat, dengan ibu jari dan dengan berbagai macam cara yang lain. Sementara itu kakinya pun tidak kalah cekatan daripada tangannya. Bahkan keduanya dapat menyerang bersama-sama atau beruntun dalam satu rangkaian serangan ganda.

Risang pun yang jantungnya sedang bergejolak itu, ternyata justru telah mempengaruhi tenaga dan kemampuannya. Dorongan kerisauan hatinya telah membuat tenaganya bagaikan berlipat. Kekuatan tenaganya bagaikan tumbuh dan melonjak semakin tinggi. Kecepatan gerak pun menjadi semakin sulit diikuti oleh tatapan mata wadag.

Bahkan Risang pun telah melenting meloncat keatas patok-patok bambu serta batang-batang yang menyilang. Meloncat dari satu patok ke patok yang lain, kemudian melenting hinggap di sebatang bambu yang menyilang. Bergantung dan berayun, melayang turun dan berjejak kembali diatas tanah sebelum meloncat dan berputar di udara. Dengan tangannya Risang hinggap pada tonggak kayu sebelum kemudian sekali lagi berputar diudara dan jatuh diatas kedua kakinya.

Dalampuncak kegelisahannya, tiba-tiba saja Risang telah meloncat kesudut sanggarnya. Dengan sisi telapak tangannya, Risang telah memukul seonggok batu padas yang memang tersedia untuk berlatih bagi orang-orang yang telah memiliki kemampuan lanjut.

Namun ternyata telah terjadi sesuatu yang mengejutkan. Risang yang jantungnya sedang bergejolak itu ternyata mampu menghentakkan kekuatan melampui takaran sewajarnya. Pukulannya dengan sisi telapak tangan itu, ternyata telah mampu memecahkan sebongkah batu padas diantara beberapa bongkah yang berada disudut sanggar itu.

Demikian batu itu pecah, maka Risang pun telah meloncat surut. Hatinya menjadi berdebar-debar, ketika ia melihat batu padas itu berserakkan.

Risang kemudian justru berdiri termangu-mangu. Dipandanginya bekas sentuhan tangannya itu. Ia sendiri bahkan hampir tidak percaya, bahwa ia telah mampu melakukannya.

Risang menjadi semakin terkejut, ketika ia mendengar suara seseorang yang mendeham. Ketika ia berpaling, dalam keremangan cahaya lampu minyak, baru ia melihat, bahwa Kiai Badra duduk di sebuah amben bambu kecil dalam bayangan tonggak-tonggak kayu didalam sanggar itu.

 “Kakek,” desis Risang.

Kiai Badra tertawa pendek. Orang tua itu pun kemudian berdiri dan melangkah mendekati Risang yang termangu-mangu.

 “Gejolak didalam diri, kadang-kadang memang mampu membangunkan tenaga cadangan yang luar biasa,” berkata Kiai Badra, “sebagaimana yang kau lakukan, yang menurut penilaian wajar atas ilmu dan kekuatanmu, hal itu belum dapat kau lakukan. Tetapi ternyata kau mampu melakukannya. Karena itu, maka besok, aku, kakekmu Kiai Soka dan nenekmu Nyai Soka akan membuka pintu pengenalanmu atas puncak tenaga cadangan yang ada didalam dirimu, agar kau dapat mempergunakannya sewaktu-waktu, karena sebenarnyalah malam itu kau sudah mengenalnya. Namun kau masih harus mempelajari bagaimana kau mampu membangunkannya setiap saat kau perlukan.”

Risang hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara Kiai Badra berkata selanjutnya, “beristirahatlah. Kau telah menemukan sesuatu yang sangat berharga didalam dirimu. Jika aku tidak menyaksikan apa yang kau lakukan, maka aku kira aku masih belum akan menuntunmu dalam waktu dekat. Bahkan mulai besok.”

Risang tidak menjawab. Kepalanya masih menunduk. Namun jantungnya telah bergejolak.

Kiai Badra yang kemudian melangkah ke pintu telah berkata, “Marilah. Malam telah larut. Endapkan tenagamu dan tidur.”

Risang pun telah mengikuti kakeknya menuju kepintu dengan tatapan matanya. Tetapi ia masih belum melangkah. Seperti dikatakan oleh kakeknya, maka ia masih harus mengendapkan tenaganya yang telah terungkit sampai ke tenaga cadangan didalam dirinya.

Karena itu, maka Risang pun telah kembali duduk di tengah-tengah sanggar yang remang-remang. Kemudian kedua tangannya pun telah terangkat, perlahan-lahan telapak tangannya mengatup dimuka dadanya. Hatinya semakin hening dalam tarikan nafas yang teratur. Ketika ia mengangkat tangannya kembali dan kemudian perlahan-lahan turun, maka nafasnya telah tersalur memanjang. Seakan-akan Risang itu pun telah mengempaskan ketegangan didalam dirinya, didalam jalur-jalur urat darahnya, otot-ototnya dan jantungnya.

Baru sejenak kemudian Risang bangkit dan melangkah keluar. Sebelum Risang kembali ke biliknya, ia telah singgah dipakiwan untuk membersihkan tubuhnya yang berdebu serta mengusap keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.

 “Ternyata kakek sempat menyaksikannya,” desis Risang yang dengan hati-hati masuk kembali lewat pintu butulan.

Namun Risang terkejut ketika ternyata ibunya duduk diruang dalam bersama Bibi.

Tetapi ibunya tidak mengatakan sesuatu kecuali sepatah kata, “Beristirahatlah.”

 “Ya ibu,” jawab Risang pendek. Sambil menundukkan kepalanya ia kembali ke biliknya. Namun Risang masih sempat mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat. Baru kemudian ia berbaring di pembaringannya.

Tubuhnya yang menjadi letih serta angin malam yang sejuk, kemudian telah mengayunkannya kedalam tidur yang meskipun tidak terlalu nyenyak, tetapi dapat menyegarkan tubuhnya.

***

Malam itu, Kasadha pun sempat tidur nyenyak di gandok rumah Ki Lurah Dipayuda. Namun menjelang matahari terbit, ia pun sudah terbangun. Meskipun ia tidak ingin berangkat pagi-pagi sekali, tetapi sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pagi dan menimba air untuk mengisi jambangan.

Hari itu Kasadha masih berada di rumah Ki Lurah untuk beberapa lama. Ia masih sempat berbincang dengan Ki Lurah tentang berbagai macam hal. Kemudian berbicara tentang jenis-jenis kuda dan bahkan sempat pula untuk beberapa lama bercakap-cakap dengan Riris.

Ternyata sikap Riris sangat menarik. Ramah, lembut namun selalu membatasi diri karena ia seorang gadis.

Tetapi Kasadha tidak dapat menunda lagi keberangkatannya. Hari itu ia harus sudah berada kembali di baraknya. Waktu istirahatnya sudah berakhir.

Disaat terakhir, Kasadha masih juga mengeluh tentang tugas yang mungkin akan diterimanya tentang Tanah Perdikan yang menjadi sorotan para pemimpin di Pajang.

 “Aku akan menjunjung segala perintah dengan senang hati. Bahkan perintah yang akan dapat mengancam jiwaku sekalipun. Namun perintah yang satu ini, tentang Tanah Perdikan, membuatku gelisah,” berkata Kasadha.

Ki Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau harus mampu menempatkan dirimu. Kau batasi segala langkah dan sikapmu sesuai dengan perintah yang kau dapatkan. Jika kau tidak keluar dari bunyi perintah itu, maka kau tidak lebih dan tidak kurang adalah peraga dari pimpinan pemerintahan Pajang yang memberikan perintah kepadamu.”

 “Tetapi bagaimanapun juga, aku adalah orang yang langsung menghadapi para pemimpin Tanah Perdikan itu,” berkata Kasadha.

 “Bukankah ada petugas khusus yang lebih dahulu melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Tanah Perdikan?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

 “Jika dalam pembicaraan itu tidak diketemukan persesuaian pendapat, maka aku adalah bebanten yang harus tampil. Aku sama sekali tidak akan mengeluh jika tubuhku yang harus aku korbankan! Bahkan nyawaku. Tetapi bukan perasaanku,” jawab Kasadha.

 “Tetapi kau adalah seorang prajurit Kasadha,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Kasadha mengangguk kecil. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berdesah, “Ya. Aku memang seorang prajurit.”

Demikianlah, setelah makan siang, maka Kasadha tidak dapat menunda keberangkatannya lagi. Ia pun kemudian telah minta diri kepada seluruh keluarga Ki Lurah Dipayuda.

Ki Lurah yang juga seorang yang pernah hidup sebagai seorang prajurit tahu benar bahwa ia tidak akan dapat mencegahnya lagi. Karena itu, maka Ki Lurah pun hanya dapat mengucapkan selamat jalan.

 “Baik-baiklah kau dalam tugasmu,” pesan Ki Lurah Dipayuda, “ternyata setelah perang lewat, tugasmu justru akan bertambah berat. Dimasa perang tugasmu jelas. Taruhannya adalah hidup atau mati. Tetapi dimasa tenang seperti ini, tugasmu merupakan beban dihatimu yang harus kau atasi dengan landasan sikap seorang prajurit.”

 “Ya Ki Lurah,” jawab Kasadha.

 “Kau sekarang adalah seorang Lurah Penatus meskipun barangkali kau belum pernah menerima kekancingan untuk itu,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Kasadha mengangguk kecil. Namun kemudian ia pun berkata, “Sudahlah Ki Lurah. Aku mohon diri.”

Ki Lurah pun mengangguk sambil berkata, “Hati-hatilah di jalan.”

Kasadha pun kemudian telah minta diri sekali lagi kepada Nyi Lurah, kepada Jangkung dan kepada Riris.

Sesaat kemudian, maka kuda Kasadha pun telah berderap meninggalkan rumah Ki Lurah Dipayuda. Kasadha sama sekali tidak pernah menduga, bahwa ia telah membawa kesan yang asing didalam hatinya setelah ia mengunjungi Ki Lurah Dipayuda. Ia sebenarnya hanya ingin mendapat sedikit petunjuk, apa yang sebaiknya harus dilakukan menghadapi tugas-tugasnya yang terasa memberati perasaannya. Namun ternyata bahwa ia telah bertemu dengan seorang gadis yang juga membekas dalam di lubuk hatinya.

Matahari yang terik bagaikan menggigit kulit. Kasadha berpacu melintasi bulak-bulak persawahan dan pedukuhan-pedukuhan. Ia harus memasuki baraknya sebelum senja. Ia adalah pemimpin tertinggi dari seratus orang prajurit di baraknya itu, sehingga karena itu, maka ia tidak boleh melanggar paugeran.

***

Pada waktu yang sama, Risang masih berada didalam sanggarnya. Keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya dan bahkan pakaiannya. Didalam sanggar itu terdapat pula Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Mereka yang telah meletakkan kemampuan dasar dari ilmu Janget Kinatelon. Yang dihari-hari sebelumnya telah menyempurnakan landasan itu. Namun ketika Kiai Badra melihat kenyataan bahwa Risang telah mampu menghentakkan kekuatan didalam dirinya sehingga sisi telapak tangannya mampu membelah batu padas, maka rasa-rasanya Risang memang sudah menjadi semakin masak untuk menerima warisan ilmu Jangat Kinatelon.

Karena itu, maka Risang telah dijajagi semakin cermat oleh ketiga orang kakek dan neneknya yang juga menjadi gurunya. Ketiga orang itu mulai melihat kecepatan gerak, kekuatan yang terbesar dari hentakkan ilmu dasarnya serta kemampuannya menentukan sikap pada saat-saat yang paling menentukan.

Ketiga unsur utama itu masih harus dilengkapi dengan daya tahan tubuh, ketajaman memilih sasaran serta pengenalan atas kelemahan-kelemahan pada tubuh seseorang pada tingkat-tingkat tertentu, serta pernafasan yang mapan.

Kesemuanya itu, masih harus diramu dengan landasan ilmu untuk mengungkapkan kekuatan dasar didalam tubuhnya, sehingga akan mampu menggalang satu kesatuan kekuatan, kemampuan dan penguasaan tubuh yang sangat tinggi, sehingga dalam pencapaian tataran tertinggi ilmu Janget Kinatelon, maka jarang yang akan dapat mengimbanginya.

Selapis demi selapis Risang berusaha untuk menguasainya. Dengan sungguh-sungguh ia menempa diri dengan tuntunan ketiga gurunya.

Baru ketika matahari menjadi semakin rendah, mereka telah menghentikan latihan itu. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah menyatakan, bahwa mereka telah menyelesaikan latihan mereka untuk hari itu.

 “Kita akan melakukannya setiap hari,” berkata Kiai Badra, “sedangkan pada saatnya nanti, kau harus berada didalam sanggar untuk waktu tertentu. Tentu lebih lama dari waktu yang diperlukan oleh ibumu. Namun sesuai dengan perkembangan ilmu itu, maka yang akan kau dapatkan tentu lebih baik dari yang terdahulu. Ibumu adalah orang yang pertama menguasai ilmu Janget Kinatelon. Dan kau adalah orang yang kedua. Adalah wajar, bahwa kau akan menjadi lebih baik dari ibumu. Namun waktu yang kau perlukan pun lebih lama.”

Risang tidak menjawab. Ia mengerti sepenuhnya keterangan kakeknya. Ia pun tidak akan ingkar untuk melakukannya. Sebagai seorang murid ia memang harus tunduk. Namun disamping kesediaannya untuk menerima warisan Ilmu Janget Kinatelon yang disusun oleh ketiga orang gurunya itu bersama-sama, serta kebanggaannya atas kepercayaan mereka untuk menurunkan ilmu itu pada umurnya yang masih terhitung muda, tetapi Risang masih juga dibayangi oleh usaha ibunya serta guru-gurunya untuk lebih banyak mengurungnya didalam sanggar, agar ia tidak melakukan tindakan yang dianggap akan dapat menimbulkan salah paham antara Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Risang tidak pernah mengungkapkannya.

Meskipun demikian, ternyata Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka masih memberinya kesempatan untuk berhubungan dengan para pengawal. Orang-orang tua itu mengerti, jika Risang benar-benar dipisahkan dari para pengawal, maka akibatnya akan kurang baik bagi jiwa Risang sendiri. Ia akan merasa sebagai seorang tawanan yang harus melakukan kerja paksa sehingga apa yang dilakukannya bukannya satu usaha untuk meningkatkan ilmu, namun sekedar melakukan perintah agar tidak mendapat hukuman yang lebih berat.

Risang pun masih mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Tetapi disore hari, ia akan merasa sangat letih. Sehingga ia tidak lagi dapat melakukan latihan-latihan berat sebagaimana sebelumnya bagi para pengawal.

Sore itu, dihari pertama Risang mulai berlatih untuk membuka kekuatan cadangan didalam dirinya sampai kedasarnya sebelum ia mulai benar-benar mewarisi ilmu Janget Kinatelon, memang tidak berniat untuk memberikan latihan-latihan khusus kepada para pemimpin kelompok. Tetapi karena para pemimpin kelompok telah berkumpul, maka Risang hanya mengawasi saja latihan-latihan yang mereka lakukan.

 “Ilmu kalian tidak boleh menjadi susut,” berkata Risang, “setidak-tidaknya ilmu kalian harus tetap pada tataran yang sekarang. Jika kalian tetap berlatih dengan teratur, maka apa yang kalian miliki itu akan dapat berkembang karena pengalaman-pengalaman baru selama kalian latihan dengan pasangan yang berganti-ganti. Kalian, akan dapat mempertahankan daya tahan tubuh dan ketrampilan tangan serta kaki.”

Para pemimpin kelompok itu melakukan semua perintah Risang dengan sungguh-sungguh. Mereka pun dapat mengerti bahwa Risang menjadi sangat letih karena latihan yang harus dilakukannya pada hari itu, jauh lebih berat dari latihan-latihan sebelumnya, meskipun Risang tidak pernah mengatakan, bahwa hal itu dilakukan oleh ketiga gurunya karena mereka melihat Risang telah mampu menghentakkan kekuatan dasarnya, namun yang seolah-olah hal itu terjadi diluar sadarnya.

Dengan demikian ketiga gurunya justru harus memberikan tuntunan sehingga hal itu dapat dilakukan dengan sadar dan dengan cara yang benar, sehingga tidak malahan merusakkan jaringan pada tubuhnya.

***

Sementara itu di Pajang, Kasadha pun telah memasuki baraknya sebelum matahari terlalu rendah. Dengan demikian ia telah menunjukkan kepada para prajurit dibawah pimpinannya, bahwa ia telah mematuhi paugeran yang ada, meskipun sebenarnya Kasadha masih ingin berada di rumah Ki Lurah lebih lama lagi.

Namun demikian, meskipun Kasadha telah berada di baraknya, sekali-sekali bayangan wajah Riris masih saja nampak di angan-angannya.

Dalam pada itu, ketika ia sudah beristirahat setelah mandi di saat senja turun, pemimpin kelompok tertua yang diserahi tugas selama ia beristirahat telah menemuinya. Pemimpin kelompok itu selama Kasadha tidak ada di barak.

 “Semuanya berjalan wajar,” lapor pemimpin kelompok itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi dalam pada itu, ada perintah bagi kesatuan ini untuk mempersiapkan diri.”

 “Untuk apa?” bertanya Kasadha.

 “Tanah Perdikan Gemantar ternyata menentang perintah Pajang,” desis pemimpin kelompok itu.

 “Gemantar,” Kasadha mengulang.

 “Ya. Tanah Perdikan yang tidak begitu besar. Tanah Perdikan yang mendapat kekancingan sebagai Tanah Perdikan disaat Sultan Trenggana bertahta,” Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Kasadha memang yakin, bahwa dengan seratus orang prajuritnya, ia akan dapat memaksa Gemantar mematuhi perintah Pajang. Tetapi apakah hal itu terasa adil.

Namun Kasadha masih belum tahu alasan yang mendorong para pemimpin di Pajang yang datang dari Demak itu untuk mencabut kekancingan yang diberikan oleh Kangjeng Sultan Trenggana di Demak.

Tanpa ditanya, pemimpin kelompok itu pun kemudian berkata, “Menurut pendengaranku dari perwira yang datang untuk menyampaikan perintah agar pasukan ini bersiap-siap, Tanah Perdikan Gemantar tidak lagi mampu berdiri dengan kemampuan yang ada di Tanah Perdikan itu sendiri. Bukan karena penghasilannya yang menurun, tetapi tidak ada orang-orang yang dapat menjadi pemikir yang pantas di Tanah Perdikan itu.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Satu alasan yang nampaknya agak dicari-cari. Gemantar menurut pengertiannya adalah satu Tanah Perdikan yang berpenghasilan tinggi. Tanahnya subur meskipun berada di kaki Gunung. Airnya melimpah sehingga di Gemantar banyak sekali terdapat kolam untuk memelihara ikan. Beberapa orang Gemantar adalah pande besi yang baik, sehingga hasilnya banyak dikenal sampai ke Pajang.

Namun tiba-tiba saja kekancingan Tanah Perdikan itu akan dicabut.

Ketika pemimpin kelompok itu kemudian meninggalkannya, maka Kasadha menjadi sangat gelisah. Kali ini Tanah Perdikan Gemantar. Lain kali Tanah Perdikan Sembojan.

Jantung Kasadha menjadi gemetar jika ia mendengar dan teringat tentang Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha sama sekali tidak pernah tertarik kepada Tanah Perdikan itu meskipun ibu dan orang yang mengaku ayahnya selalu membisikkan di telinganya, bahwa ia pun mempunyai hak atas Tanah Perdikan itu. Bahkan dengan kasar kedua orang tuanya itu mengisyaratkan, jika Risang, saudaranya seayah tetapi lain ibu terbunuh, maka ia adalah satu-satunya pewaris Tanah Perdikan itu.

 “Tetapi Tanah Perdikan Sembojan pun pada suatu saat akan mengalami nasib seperti Tanah Perdikan Gemantar,” berkata Kasadha didalam hatinya. Namun kemudian ia pun mengeluh, “Jika aku yang mendapat perintah pergi ke Sembojan, maka apakah aku akan dapat melakukan tugasku dengan murni? Tanpa pamrih pribadi? Atau bahwa aku sekarang memasuki satu masa di mana aku dapat memaksakan kehendakku atas Risang itu karena aku dapat datang membawa pasukan?”

Kasadha yang letih karena perjalanannya itu pun kemudian telah membaringkan dirinya, meskipun malam baru saja turun. Namun ia pun segera bangkit lagi berjalan hilir mudik. Bahkan kemudian, Kasadha itu telah keluar lagi dan turun ke halaman yang sudah menjadi gelap meskipun di regol telah dipasang oncor.

Malam itu pun merupakan malam yang gelisah bagi Kasadha. Berganti-ganti singgah di angan-angannya, Tanah Perdikan Gemantar yang harus mengalami nasib buruk. Wajah Riris yang cantik dan lembut, Tanah Perdikan Sembojan dan seorang anak muda yang menurut perasaannya belum pernah dilihatnya, Risang. Kasadha memang mencoba membayangkan wajah anak muda itu. Kasadha pun mencoba menilai kemampuannya. Kasadha mengerti, bahwa ibu Risang itu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ibunya sendiri.

Tetapi Kasadha sama sekali tidak pernah merasa dendam kepada ibu tirinya itu atau bahkan kepada anak muda yang bernama Risang, karena menurut penilaiannya, ibunyalah yang bersalah. Apalagi kemudian terpengaruh oleh sikap Ki Rangga Gupita yang tamak.

***

Sementara itu, Risang di Tanah Perdikan Sembojan, telah berada dirumahnya setelah beberapa saat lamanya menunggui latihan para pemimpin kelompok di lereng bukit. Badannya memang merasa letih. Namun Risang tidak menunjukkannya kepada ketiga orang gurunya dan kepada ibunya.

Ketika mereka kemudian makan malam diruang dalam, bersama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung, Iswari telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.

 “Hari ini aku telah menerima dua orang utusan dari Tanah Perdikan Gemantar,” berkata Iswari.

 “Untuk apa?” bertanya Risang yang menjadi gelisah, seakan-akan ia sudah tahu apa yang dikatakan oleh kedua orang itu.

Dengan nada berat ibunya berkata, “Kekancingan Tanah Perdikan Gemantar akan dicabut.”

Risang menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, Iswari pun berkata selanjutnya, “Tetapi pencabutan kekancingan itu dapat dibatalkan, jika Gemantar mau memberikan upeti langsung kepada seorang Tumenggung di Pajang.”

 “Aku sudah menduga,” berkata Risang, “hal seperti itu akan dapat terjadi pula di Tanah Perdikan ini.”

Risang berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana sikap Gemantar?”

 “Gemantar menolak penyerahan upeti itu. Gemantar pun menolak menyerahkan kembali kekancingan yang pernah diturunkan oleh Kanjeng Sultan Trenggana itu,” jawab ibunya.

 “Tanah Perdikan tidak harus menyerahkan upeti dalam arti yang sebenarnya. Jika Tanah Perdikan menyerahkan upeti, justru bukan nilai upetinya yang diperhitungkan. Tetapi upeti itu merupakan pertanda ikatan kesatuan yang bulat. Namun tentu berbeda dengan upeti yang dimaksud bagi Tanah Perdikan Gemantar yang harus diedarkan kepada Tumenggung itu,” berkata Risang dengan geram.

 “Ya. Kau benar,” sahut ibunya.

 “Tumenggung siapakah yang telah minta upeti langsung itu?” bertanya Risang.

 “Utusan itu tidak dapat menyebut namanya,” jawab ibunya.

Risang mengangguk-angguk kecil. Dengan nada tinggi ia berkata, “Gemantar yang kecil itu telah menunjukkan sikap jantannya. Bagaimana dengan Sembojan ibu?”

Iswari termangu-mangu sejenak. Orang-orang tua yang hadir diruang itu pun nampak ragu-ragu. Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak berkata apa-apa. Apalagi Bibi yang juga berada diruang itu.

 “Ibu,” berkata Risang, “pada saat lain, beberapa orang petugas tentu akan datang ke Tanah Perdikan ini. Mereka tentu akan menawarkan cara yang sama seperti yang mereka tawarkan kepada Tanah Perdikan Gemantar.

 “Jika demikian, bagaimana sikap kita?” bertanya ibunya, “aku memerlukan pendapatmu.”

 “Aku akan ke Pajang menemui beberapa orang pemimpin yang aku kenal baik. Jika jalan itu gagal aku tempuh, maka apaboleh buat. Kita akan bersama-sama lenyap bersama Tanah Perdikan ini.”

Ibunya termangu-mangu sejenak. Tidak pernah terbayang sebelumnya, bahwa Tanah Perdikan Sembojan berniat untuk memberontak terhadap Pajang.

Sementara itu, Risang pun berkata, “Pajang sekarang tidak lagi seperti Pajang beberapa saat yang lalu. Meskipun wajahnya masih utuh, tetapi didalamnya telah terpecah-pecah. Para pemimpin yang datang dari Demak serta para pemimpin Pajang sendiri kadang-kadang sulit untuk mempertemukan pendapat mereka. Sikap beberapa orang pemimpin itu telah menjalar kepada bawahannya, sehingga Pajang tidak lagi merupakan satu kesatuan yang utuh bulat.”

 “Kita harus mencari jalan lain. Kita tidak seharusnya melakukan pemberontakan,” berkata Iswari.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti pendapat ibunya. Tetapi justru Risang ingin bersiap untuk melakukannya. Namun demikian, sebelumnya Risang akan dapat berhubungan dengan beberapa orang yang dikenalnya dengan baik di Pajang.

Malam pun kemudian menjadi semakin malam. Karena itu, maka Iswari pun kemudian telah menutup pembicaraan mereka malam itu. Dengan nada rendah ia berkata, “Sebaiknya kita beristirahat. Besok masih banyak yang harus kita kerjakan.”

Orang-orang tua pun kemudian telah meninggalkan ruang dalam itu. Mereka pun merasa sulit untuk memilih langkah yang paling baik mereka lakukan jika Pajang benar-benar ingin menarik kekancingan tentang Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika mereka kemudian meninggalkan ruang dalam, maka Bibi lah yang menjadi sibuk. Iswari yang akan membantunya telah dicegah oleh Bibi.

 “Biarlah perempuan-perempuan di dapur itu menyelesaikannya,” berkata Bibi.

 “Apakah aku bukan perempuan di dapur?” bertanya Iswari.

 “Kau perempuan berpedang,” jawab Bibi.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Manakah yang lebih baik antara perempuan didapur dan perempuan berpedang?”

Tetapi Iswari pun menyadari bahwa masing-masing membawa bebannya sendiri dengan nilainya sendiri.

Malam itu Risang menjadi semakin gelisah. Ternyata dalam kegelisahannya, sekali-sekali juga terbayang di angan-angan Risang seorang gadis yang ditemuinya dirumah Ki Lurah Dipayuda.

 “Jika perlu, aku akan minta petunjuk kepada Ki Lurah Dipayuda,” berkata Risang didalam hatinya.

Sementara itu, pada saat yang hampir bersamaan pula, Kasadha yang gelisah juga berkata kepada diri sendiri, “Jika saat-saat sulit seperti itu tiba, maka aku harus minta petunjuk Ki Lurah Dipayuda. Bagaimana aku harus menghadapi Tanah Perdikan dengan sikap seorang prajurit yang melihat kepincangan dalam pemerintahan di Pajang.”

Ketika kemudian cahaya fajar mulai membayang di Timur, Risang telah keluar dari biliknya. Meskipun ia gelisah, tetapi ia sempat tidur beberapa saat. Segarnya udara pagi membuatnya menjadi segar pula. Apalagi ketika Risang itu kemudian setelah mengisi jambangan di pakiwan, langsung mandi dengan air sumur yang terasa hangat.

Seperti hari sebelumnya maka Risang pun telah bersiap-siap untuk memasuki sanggar bersama dengan ketiga orang gurunya. Sementara itu ia masih sempat makan pagi serta minum wedang sere. Ia harus beristirahat sejenak sebelum bersama dengan guru-gurunya mulai berlatih.

Tidak ada hambatan apapun dalam latihan yang berat yang dilakukan oleh Risang. Keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya. Namun terasa bahwa selapis ia telah mendapat kemajuan disaat-saat ia memasuki ilmu dasar Janget Kinatelon setelah landasannya dianggap cukup kuat.

Ketika matahari mulai turun, disisi Barat, Risang dan ketiga orang gurunya telah keluar dari sanggar. Mereka telah mencuci tubuh mereka yang berkeringat serta debu yang melekat.

Namun tidak seperti hari sebelumnya, demikian Risang berganti pakaian di biliknya, ia langsung dipanggil oleh ibunya diruang dalam.

Dengan nada gelisah ibunya berkata, “Risang, tamu yang kita tunggu itu telah datang.”

 “Maksud ibu?” bertanya Risang.

 “Tamu dari Pajang,” jawab ibunya.

Jantung Risang menjadi berdebar-debar. Bahkan kemudian Risang berusaha untuk melihat, siapakah orang yang diutus untuk menemuinya itu.

Ternyata dari celah-celah pintu Risang melihat bahwa ia belum mengenal bahkan belum pernah melihat ketiga orang tamu yang datang dari Pajang itu. Karena itu, maka ia pun berkata kepada ibunya, “Aku akan ikut menemui mereka ibu.”

 “Tetapi kau tidak boleh bersikap kasar. Kau hanya menyaksikan saja pembicaraan kami. Aku sengaja tidak membawa kakek dan nenek dalam pembicaraan ini agar para tamu itu tidak merasa harus berhadapan dengan sekelompok orang yang ingin memusuhi mereka serta menentang sikap mereka.”

Risang mengangguk kecil. Sementara ibunya berkata, “Marilah. Ikut aku.”

Keduanya pun kemudian telah keluar dari ruang dalam, menemui ketiga orang tamu mereka yang datang dari Pajang.

Ternyata ketiga orang itu cukup ramah. Mereka berbicara dengan unggah-ungguh yang genap. Nampaknya mereka sama sekali tidak merendahkan kedudukan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi ketiga orang tamu itu bukan orang-orang yang sebelumnya pernah datang ke Sembojan untuk berbicara tentang tanah Perdikan itu.

 “Kami sekedar melanjutkan pembicaraan yang pernah dilakukan oleh beberapa orang petugas dari Pajang,” berkata salah seorang dari ketiga orang itu.

 “Terima kasih atas kunjungan ini Ki Sanak,” sahut Iswari yang berdebar-debar.

 “Menurut pengamatan kami, setelah diadakan beberapa pembicaraan di Pajang, maka kesimpulannya adalah bahwa Tanah Perdikan Sembojan sedang mengalami kegoncangan,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Tidak Ki Sanak,” jawab Iswari, “Tanah Perdikan ini mampu meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya. Kehidupan sehari-hari berjalan tenang dan damai. Kekeluargaan yang akrab dan serasi.”

 “Ditilik dari keadaan lahiriah, kami percaya. Tetapi sebuah Tanah Perdikan bukan sekedar bentuk lahiriahnya saja. Tetapi jiwa Tanah Perdikan ini terasa timpang. Pada kehadiran beberapa petugas yang terdahulu, ternyata bahwa Tanah Perdikan ini sekarang tidak mempunyai pimpinan yang memadai,” berkata salah seorang dari utusan itu.

 “Segala sesuatunya memang sudah kami sampaikan kepada utusan yang datang beberapa saat yang lalu,” jawab Iswari, “tetapi itu bukan berarti bahwa Tanah Perdikan ini tidak mempunyai pimpinan. Aku adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan. Ini, Risang, adalah anakku, anak dari orang yang sebenarnya berhak atas jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Karena itu, maka ia adalah satu-satunya orang yang berhak atas Tanah Perdikan ini.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bertanya, “Bagaimana dengan cucu Ki Gede Sembojan yang seorang lagi, yang lahir dari ibu yang berbeda dari anak muda ini ?”

 “Orang itu sudah tidak ada di Tanah Perdikan ini lagi. Seandainya anak itu ada disini, maka ia lahir kemudian dari Risang,” jawab Iswari.

 “Tetapi bukankah anak itu berniat untuk memimpin Tanah Perdikan ini?” berkata salah seorang dari mereka, “bahkan pernah terjadi benturan kekerasan antara para pengikut dari kedua cucu Ki Gede Sembojan itu.”

Wajah Iswari menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya persoalannya sudah selesai. Cucu Ki Gede yang seorang lagi sudah tidak pernah menampakkan diri.”

 “Bagaimana jika pada suatu hari anak muda itu datang dan menuntut ?” bertanya seorang dari ketiga petugas itu.

 “Bukankah ada paugeran yang berlaku, bahwa anak yang sulunglah yang akan menggantikan kedudukan orang tuanya dalam jabatan Kepala Tanah Perdikan? Anak sulung laki-laki yang tidak cacat rohani dan jasmani. Bahkan cacat jasmani pun masih dengan keterangan apabila cacat itu akan dapat mengganggu tugasnya. Nah, cucu yang sulung dari Ki Gede Sembojan tidak cacat jiwanya dan tidak cacat pula tubuhnya,” berkata Iswari.

 “Cucu yang lain juga dapat berkata seperti itu. Anak sulung, tidak cacat rohani dan tidak cacat tubuhnya,” berkata salah utusan itu.

 “Itu tidak mungkin Ki Sanak. Suamiku kawin lagi dengan isterinya yang kedua setelah aku mengandung. Sedang perempuan yang dikawininya saat itu masih belum mengandung. Anakku lahir wajar, artinya, sembilan bulan dalam kandungan. Seandainya anak isteri kedua suamiku itu melahirkan tujuh bulan, itu pun anakku sudah lahir lebih dahulu,” jawab Iswari yang jantungnya mulai digelitik oleh pertanyaan-pertanyaan yang kurang sesuai dengan perasaannya dan itu sangat menjengkelkannya.

Risang duduk sambil menundukkan kepalanya. Namun ia masih berusaha menahan diri.

Sementara itu, salah seorang yang tertua diantara mereka akhirnya berkata, “Nyi. Sebenarnyalah sulit bagiku untuk mengatakan. Tetapi aku hanya mengemban tugas. Betapapun aku melingkar-lingkar, namun akhirnya aku harus mengatakan tugas kami yang sebenarnya. Kami mohon maaf, karena apa yang akan kami katakan ini bukannya kehendak kami sendiri.”

Iswari dan Risang menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi mereka menunggu dengan tegang, apa yang akan dikatakan oleh ketiga orang itu atau salah seorang daripadanya.

Yang tertua diantara ketiga orang itu pun kemudian berkata, “Nyi. Setelah dua kali utusan dari Pajang datang kemari, serta setelah para petugas mengumpulkan bahan-bahan yang menyangkut Tanah Perdikan ini, maka pimpinan pemerintahan di Pajang memutuskan untuk menilai kembali kekancingan tentang Tanah Perdikan ini. Seandainya kekancingan ini mengikat segala pihak, maka kuasa Pajang sekarang setingkat dengan kuasa yang memberikan kekancingan itu.”

 “Tegasnya, Tanah Perdikan Sembojan akan ditiadakan?” bertanya Risang yang tidak sabar lagi.

 “Bukan begitu anak muda,” jawab yang tertua, “segala sesuatunya akan dapat ditinjau kembali. Mungkin kekancingan itu akan diperbaharui.”

Iswari dan Risang memang menjadi agak bimbang. Namun orang tertua itu pun berkata, “Baiklah aku berterus terang. Sebagaimana kalian ketahui, bahwa Pajang harus mulai mengembangkan diri kembali setelah perang berakhir. Nah, untuk itu, maka Pajang memerlukan dana cukup besar.”

 “Dengan demikian Tanah Perdikan ini akan dapat disahkan keberadaannya jika Tanah Perdikan ini bersedia memberikan upeti yang dapat membantu Pajang mengembangkan diri,” potong Iswari yang pernah dihubungi oleh utusan dari Tanah Perdikan Gemantar.

Ketiga orang utusan dari Pajang itulah yang termangu-mangu. Namun yang tertua pun kemudian berkata, “Ya. Setiap bulan Tanah Perdikan ini diwajibkan menyerahkan upeti seekor lembu dan sepedati hasil bumi apapun juga. Tetapi harus ada diantaranya padi.”

Wajah Risang menjadi merah. Tetapi Iswari masih sempat bertanya, “Kepada siapa kami harus menyerahkan upeti itu?”

 “Kalian tidak perlu datang ke Pajang untuk menyerahkan upeti itu. Akan datang utusan dari Pajang untuk mengambilnya,” jawab orang yang tertua diantara mereka.

Risang beringsut setapak maju. Tetapi ibunya menggamitnya sambil berkata,” Ki Sanak. Kami sudah menerima pemberitahuan lesan ini. Kami akan membicarakannya dengan para pemimpin dan tetua Tanah Perdikan ini.”

Yang tertua diantara mereka mengangguk-angguk. Tetapi orang itu berkata, “Sekali lagi aku minta maaf. Yang kami sampaikan sama sekali bukan gagasan kami. Tetapi kami hanyalah petugas-petugas saja. Sebenarnya kami ingin mendengar jawaban kalian sekarang, sehingga aku akan dapat melaporkannya kepada pimpinan kami.”

Risang yang menahan diri, dadanya justru menjadi sakit. Tetapi ibunyalah yang menjawab, “Maaf Ki Sanak. Kami masih harus membicarakannya lebih dahulu.”

 “Baiklah,” berkata yang tertua, “tetapi yang kami sampaikan adalah perintah. Apakah sepantasnya perintah masih harus dibicarakan?”

 “Bukan perintahnya, tetapi mungkin pelaksanaannya,” jawab Iswari.

Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Yang tertua diantara mereka pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami minta diri. Dalam waktu tiga hari sampai sepekan kami akan datang lagi. Pajang bukan jarak yang pendek. Jika kami harus hilir mudik, maka kami akan kehabisan waktu dan tenaga. Karena itu, jika kami harus hilir mudik, maka biarlah prajurit Pajang yang sudah terbiasa melakukannya yang akan datang kemudian. Tetapi sebagaimana kalian tahu, berbicara dengan para prajurit tentu agak lain dengan berbicara dengan kami.”

Iswari mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi terdengar juga ia berdesis, “Kalian mengancam?”

 “Tidak,” jawab yang tertua, “kami tidak pernah mengancam siapapun. Apalagi kami hanya sekedar melakukan tugas.”

Iswari tidak menjawab lagi. Ia mulai dijangkiti oleh gejolak perasaannya. Jika ia terlalu banyak berbicara, maka bicaranya akan menjadi semakin keras.

Sejenak kemudian maka ketiga orang itu pun segera minta diri. Di regol mereka masih berpesan, “Dalam waktu tiga hari, selambat-lambatnya sepekan, kami akan datang.”

Risang menggeram. Tetapi ia masih tetap menahan diri meskipun rasa-rasanya dadanya dihimpit batu.

Demikian derap kaki kuda orang-orang itu hilang, maka Risang pun berkata, “Nah, bukankah pasukan pengawal Tanah Perdikan harus disiapkan?”

 “Tunggu dulu Risang,” berkata ibunya, “kita masih harus membicarakannya. Mungkin ada jalan lain yang lebih pantas. Apakah kau akan pergi ke Pajang? Mungkin satu dua orang dapat kau hubungi. Apakah memang benar Pajang memungut upeti justru setiap bulan.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Besok aku akan pergi ke Pajang.”

Tetapi ketika hal itu dibicarakan dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan, maka mereka berpendapat lain. Kiai Badra pun berkata, “Iswari. Risang tidak usah tergesa-gesa pergi ke Pajang. Aku kira orang-orang itu hanya sekedar mengancam. Karena itu, maka jika mereka kembali lagi, maka kau dapat menjawab saja, bahwa Tanah Perdikan ini akan menjalankan semua perintah. Kekancingan Tanah Perdikan ini akan diserahkan jika sudah ada kekancingan baru, sehingga segala sesuatunya menjadi pasti. Nah, aku kira mereka tidak akan tergesa-gesa mengambil keputusan. Sementara itu, dengan tidak usah tergesa-gesa, Risang dapat mencari hubungan dengan para pemimpin di Pajang. Bahkan mungkin Risang tidak akan perlu ke Pajang, karena perintah tentang pembatalan kekancingan yang lama itu tidak akan pernah ada.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 33

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

 

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s