SST-29

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

SAMBIL menggeram maka orang itu telah melangkah lagi, maju menerkam kepala Barata yang masih berlutut pada sebelah kakinya. Namun sebelum orang itu mendekat, maka kaki Barata telah terjulur kearah lambung.

Barata memang tidak mempergunakan segenap kekuatannya. Ia hanya ingin agar orang itu tidak melangkah maju lagi. Raksasa itu memang berhenti. Dengan demikian maka Barata pun telah melenting menjauhinya.

Sementara itu, yang seorang lagi telah bangkit pula sambil mengumpat-umpat. Tendangan Barata masih terasa sakit di dadanya. Namun sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya, maka orang bertubuh raksasa itu melangkah maju mendekati Barata.

Tetapi Barata yang bertubuh lebih kecil itu ternyata lebih tangkas bergerak. Ia telah berloncatan sambil menyerang. Namun ketika kedua orang raksasa itu benar-benar telah bertempur berpasangan, maka memang sulit bagi Barata untuk dapat mengenai salah seorang di antaranya.

Namun kedua orang raksasa itu pun tidak mudah dapat menyentuh anak muda itu. Barata yang tangkas itu berloncatan menyusup di antara kedua raksasa yang berdiri dalam jarak yang telah mereka jaga, karena mereka akan dapat mengacaukan perhatian Barata dan menyerang dari arah yang berbeda.

Tetapi ternyata bahwa mereka tidak dapat menahan Barata di satu arah, sementara dua orang lainnya berjaga-jaga untuk menahan apabila anak muda itu melarikan diri. Sambil berloncatan menyerang, ternyata Barata berhasil menembus batas yang telah dibuat oleh kedua orang raksasa itu. Barata telah berhasil menyerang dengan tangkasnya. Meskipun serangannya belum mengenai sasaran, tetapi Barata berhasil menyeberang ke belakang kedua orang raksasa itu.

 “Setan kau,” geram salah seorang dari raksasa itu.

 “Jangan takut. Aku tidak akan melarikan diri,” sahut Barata. “Jika aku mau, maka aku dapat berlari kembali ke Pajang dan melaporkan apa yang terjadi sekarang ini. Maka Ki Lurah adalah orang yang akan ditangkap pertama kali. Kemudian Ki Lurah akan menunjukkan di mana kalian bersembunyi. Di Pajang, bahkan di Demak sekalipun atau dimana saja.”

“Pengecut,” geram orang itu.

“Jangan menyebut aku pengecut, karena kalian akan dapat bertanya, siapakah sebenarnya yang pengecut di antara kita,” sahut Barata.

“Anak iblis,” raksasa itu mengumpat kasar.

Barata tidak menjawab lagi. Tetapi ia sudah siap untuk bertempur melawan keduanya. Sementara itu kedua raksasa yang marah itu telah memutuskan untuk dengan cepat menyelesaikan anak muda itu. Karena itu, maka keduanya pun segera telah bersiap pula. Seorang di antara mereka telah menjulurkan tangannya untuk menerkam, sedang lain telah bersiap untuk menghadang.

Barata memang menjadi berdebar-debar. Tetapi anak muda itu memiliki keyakinan, bahwa ia mampu bergerak lebih tangkas dari raksasa-raksasa yang memang agak lamban. Namun Barata pun menyadari, jika salah seorang dari keduanya sempat menangkapnya dengan tangannya, maka ia benar-benar akan menjadi cacat seumur hidupnya. Raksasa yang lain  pun tentu akan segera turun tangan, sehingga jika seorang memeganginya dan yang lain menyakitinya, maka segala-galanya akan berakhir baginya. Ia tidak akan dapat membayangkan lagi hijaunya batang padi di kota-kota sawah Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan ia tidak akan mampu berbuat sesuatu jika Tanah Perdikan Sembojan itu dihapuskan sama sekali.

Dengan demikian maka Barata harus benar-benar berhati-hati menghadapi kedua orang lawannya itu. Bahkan masih ada dua orang lagi yang setiap saat dapat digerakkan.

Dengan demikian maka Barata harus benar-benar berhati-hati menghadapi kedua orang lawannya itu. Bahkan masih ada dua orang lagi yang setiap saat dapat digerakkan.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian maka Barata telah mulai berloncatan lagi menghindari serangan kedua orang lawannya. Sekali-sekali Barata juga berusaha untuk menyerang. Tetapi agak sulit baginya untuk dapat menggapai lawannya. Setiap kali lawannya selalu berusaha untuk menangkapnya. Jika ia menyerang yang seorang, maka yang lain telah menerkamnya.

Meskipun Barata sendiri masih juga mampu membebaskan diri dari serangan-serangan lawannya, namun Barata harus melihat kenyataan yang dihadapinya. Sulit baginya untuk dapat memenangkan pertempuran itu, meskipun ia  pun sulit untuk dikalahkan.

 Dalam keadaan yang memaksa, maka kedua raksasa itu tentu tidak akan segan-segan memerintahkan kedua orang yang berjaga-jaga itu untuk terlibat pula dalam pertempuran itu.

Untuk beberapa saat, maka pertempuran masih saja berlangsung dengan keseimbangan yang sama. Namun akhirnya, Barata memutuskan, bahwa ia harus mengerahkan segenap kemampuannya sampai pada batas puncaknya. Meskipun kemungkinan buruk dapat terjadi, bahwa ia akan lebih cepat kehilangan sebagian dari tenaganya yang tentu akan menyusut.

Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Bahkan Barata telah memutuskan, jika keadaan memaksa, ia harus menghindar dari pertempuran. Ia tidak perlu mempersoalkan harga dirinya, karena lawannya pun tidak. Lawannya telah bertempur berpasangan tanpa merasa malu.

Dengan demikian, maka anak muda yang telah dipersiapkan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon itu benar-benar telah mengerahkan kemampuannya. Landasan ilmu yang telah diterimanya tiba-tiba saja telah dihentakkannya sampai tuntas. Sehingga dengan demikian, maka seakan-akan Barata telah menjadi semakin cepat bergerak. Kekuatannya pun seolah-olah telah bertambah-tambah pula.

Dengan demikian, maka Barata sekali-sekali melihat kesempatan untuk menembus pertahanan lawannya yang memang tidak dapat bergerak secepat dirinya.

Dengan loncatan-loncatan panjang, Barata berhasil mengacaukan kerja sama antara kedua orang lawannya itu. Sehingga pada satu kesempatan, Barata dapat menyusup di antara ayunan tangan salah seorang dari lawannya itu. Ketika lawannya itu berusaha menghantam dahinya dengan serangan lurus mendatar, maka Barata telah merendahkan dirinya. Namun sekaligus ia telah mengangkat kakinya menyerang lambung.

Serangan Barata cukup keras, karena ia telah mengerahkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka lawannya itu  pun telah terdorong beberapa langkah surut. Untunglah bahwa kawannya sempat menahannya sehingga orang itu tidak jatuh terlentang. Tetapi ketika Barata siap meloncat menyerang untuk kedua kalinya, maka lawannya,yang seorang lagi telah sempat bersiap untuk menghadapinya.

Barata mula-mula merasa ragu-ragu. Jika ia menyerang, maka ia akan membenturkan kekuatannya. Namun akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain. Dengan sepenuh kekuatan yang dilandasi ilmu yang pernah diwarisinya dari kakek dan neneknya, ia telah meloncat menyerang. Sekali lagi kakinya terjulur ke arah dada raksasa yang seorang lagi. la sadar, bahwa kakinya akan membentur pertahanan lawannya. Tetapi ia tidak berniat mengurungkannya.

Demikianlah sejenak kemudian, kaki Barata memang telah terjulur. Sementara itu ia sendiri meluncur mendatar dengan derasnya. Semua kekuatan dan kemampuannya telah dipusatkannya pada telapak kakinya yang mengarah kepada lawan.

Tetapi raksasa itu pun telah bersiap. Ia pun telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya. Tangannya kemudian telah bersilang didepan dadanya untuk membentur serangan itu. Lututnya sedikit merendah, sedangkan satu kakinya akan ditariknya ke belakang.

Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang sangat keras. Barata sendiri harus menyeringai menahan sakit ketika ia terpental surut. Kakinya telah membentur satu kekuatan yang sangat besar, sehingga ia terlempar dan bahkan kemudian jatuh berguling.

Meskipun Barata dengan cepat berusaha untuk bangkit, tetapi kakinya terasa menjadi sakit sekali. Namun Barata yang dilandasi dengan ilmunya itu menyadari, bahwa ia harus bangkit dan melakukan sesuatu agar ia tidak menjadi korban sehingga hidupnya tidak berarti lagi. Dengan segenap kemampuan daya tahannya Barata telah berusaha mengatasi perasaan sakitnya itu.

 Namun dalam pada itu, ternyata lawannya yang bertubuh raksasa itu juga terdorong beberapa langkah surut. Tangannya yang bersilang melindungi dadanya, justru telah menekan dadanya itu sehingga napasnya menjadi sesak. Dengan susah payah raksasa itu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan. Namun pada saat ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk tetap berdiri, kawannya yang semula juga hampir terjatuh itu telah berganti menahannya sehingga raksasa itu masih tetap berdiri tegak.

Kedua orang itu menggeram bersama-sama. Mata mereka bagaikan memancarkan api kemarahan. Mereka sadar, bawah mereka harus bertempur mati-matian melawan anak itu. Bagaimanapun juga keduanya harus mengakui bahwa anak itu menang memiliki kelebihan. Tetapi berdua mereka masih berpengharapan untuk dapan mengalahkannya.

Tetapi keduanya sadar, bahwa berdua mereka memerlukan waktu yang terlalu lama. Karena itu, maka salah seorang dari kedua raksasa itu tiba-tiba berkata kepada kedua orang yang semula diperintahkannya untuk berjaga-jaga saja, “Jangan seperti orang kebingungan. Libatkan diri kalian. Jangan tanggung-tanggung. Anak ini harus tertangkap hidup-hidup. Ia harus menderita di sisa hidupnya. Ia harus menjadi orang yang paling tidak berarti di dunia ini. Cacat, lumpuh, buta dan tuli. Tetapi ia tidak boleh mati.”

Barata memang menjadi berdebar-debar. Ia sudah sampai ke puncak kemampuannya. Ia tidak akan dapat meningkatkan lagi barang selapispun. Jika kedua orang itu benar-benar turun ke arena, maka ia benar-benar akan mengalami kesulitan.

Bagi Barata, satu-satunya jalan adalah menghindar dari arena itu. Ia bukan orang yang dapat disebut licik atau kehilangan harga dirinya, karena lawannya pun tidak menjunjung nilai-nilai kejantanan seorang laki-laki.

Namun Barata tidak dengan serta merta meloncat meninggalkan arena. Untuk beberapa saat ia menunggu. Sementara kedua orang yang semula berada di luar arena telah bergerak dengan sangat berhati-hati. Keduanya telah menyaksikan apa yang dapat dilakukan oleh Barata. Karena itu, maka keduanya seakan-akan melekat yang satu dengan yang lain. Keduanya akan dapat bergerak bersama-sama melawannya.

Barata menjadi semakin berhati-hati. Tanpa menarik perhatian ia telah memperhatikan keadaan disekelilingnya. Jika ia menghindar, maka ia akan dapat berbuat beberapa hal. Benar-benar menghindar dan meninggalkan arena, atau sambil menghindar berusaha menghadapi lawan seorang demi seorang. Jika demikian maka ia tidak benar-benar meninggalkan arena itu, tetapi sekadar melingkar-lingkar, beradu kecepatan gerak.

Namun bagaimanapun juga Barata harus tetap menyadari, bahwa daya tahan tubuhnya pun terbatas. Pada suatu saat tenaganya tentu akan menjadi susut, jika ia mengerahkannya habis-habisan.

Barata yang masih berdiri di tempatnya melihat dua orang raksasa itu berdiri pada jarak beberapa langkah. Kemudian dua orang yang lain berjalan semakin mendekat pula.

Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja telah terdengar suara tertawa dari balik gerumbul jarak yang agak jauh. Tetapi suara tertawa itu terdengar jelas.

Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka melihat gerumbul jarak itu menyibak. Dan seseorang muncul dari balik gerumbul itu.

Semua orang terkejut melihat orang yang kemudian melangkah ke arah mereka. Ki Lurah Dipayuda.

“Ki Lurah Dipayuda” desis Barata.

Ki Lurah yang sudah semakin dekat itu menjawab, “Ya Barata. Sebenarnya aku ingin melihat upacara pelepasanmu.”

“Kenapa Ki Lurah tidak datang?” bertanya Barata.

“Aku mendengar bahwa upacara itu dilakukan hari ini. Tetapi ketika aku menuju ke barakmu, aku telah melihat kedua orang raksasa itu. Aku menjadi curiga. Apalagi aku juga mendengar bahwa kau akan segera meninggalkan barak itu. Karena itu, aku telah mengikutinya kemana mereka pergi tanpa sepengetahuan mereka, sehingga aku tidak sempat datang ke upacara pelepasan itu. Tetapi ternyata bahwa kita telah bertemu di sini.” berkata Ki Lurah, bahkan seakan-akan tidak memperhatikan kehadiran kedua orang raksasa dan dua orang lainnya.

Barata menarik napas dalam-dalam. Katanya, “Ki Dipayuda tentu sudah tahu apa yang terjadi.”

“Ya. Aku tahu apa yang terjadi di sini. Sejak semula aku memperhatikannya. Ketika kau bertempur melawan kedua orang raksasa itu, aku memang sengaja berharap kau akan dapat menyelesaikan mereka sendiri, meskipun dengan susah payah. Bahkan disaat terakhir kau pun akan kehabisan tenaga. Tetapi menurut perhitunganku, kau masih mempunyai harapan untuk mengalahkan mereka berdua. Namun ketika dua orang lagi memasuki arena, maka tentu kau tidak akan dapat mengalahkan mereka. Karena itu, maka aku menganggapnya tidak adil jika aku membiarkan kau bertempur seorang diri.”

Barata termangu-mangu sejenak. Sementara itu kedua orang bertubuh raksasa itu menjadi tegang. Seorang di antara mereka berkata, “Ki Lurah Dipayuda. Persoalan ini adalah persoalan kami dengan anak itu. Sebaiknya Ki Lurah tidak ikut campur, karena dengan demikian akan menjadi persoalan baru antara kami dengan Ki Lurah.”

Tetapi Ki Lurah tersenyum. Katanya “Aku sudah siap menghadapi semua akibatnya. Aku tahu bahwa kalian mempunyai banyak kawan yang akan dapat kalian ajak untuk memusuhi aku. Tetapi meskipun aku sudah tidak menjadi prajurit, aku akan sempat menggerakkan anak-anak muda untuk melawan kalian dipadukuhanku. Apalagi di padukuhanku terdapat sebuah perguruan kecil, namun memiliki kekuatan yang cukup tinggi. Pimpinan perguruan itu adalah seorang yang baik hati, yang tentu akan bersedia membantuku jika kalian benar-benar ingin bermusuhan dengan aku.”

Kedua orang raksasa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang di antara mereka berkata, “Kau berbohong. Kau kira aku tidak dapat membaca kecemasan di wajahmu.”

Tetapi Ki Lurah Dipayuda menjawab, “Jawablah dengan jujur. Aku atau kalian yang menjadi cemas.”

“Cukup,” teriak orang bertubuh raksasa yang tua. “Siapapun kau, jika kau turut campur, maka kau akan menyesal. Kami sudah bertekad untuk menangkap Barata hidup-hidup. Ia sudah menghina kami. Karena itu, maka ia harus mendapat hukuman yang paling berat. Cacat seumur hidup, lumpuh, buta dan tuli.”

Namun orang itu terkejut ketika Ki Lurah Dipayuda tertawa, Katanya, “Bagus. Aku sedang berpikir, hukuman apakah yang paling baik diberikan kepada kalian berdua dan kedua orang itu jika mereka turut campur. Ternyata kau sudah mengajari kami, hukuman apa yang pantas kami berikan kepada kalian.”

“Tutup mulutmu,” geram raksasa itu. “Bersiaplah. Kau sudah terlalu banyak berbicara.”

Ki Lurah Dipayuda bergeser mendekati Barata Kemudian katanya, “Marilah. Kita bersama-sama melawan mereka. Kita tidak usah membagi, lawan yang mana yang kita pilih. Kita berdua akan melawan mereka berempat.”

“Terima kasih Ki Lurah,” berkata Barata hampir kepada diri sendiri.

Demikianlah, kedua orang itu telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Ternyata kedua raksasa itu sendirilah yang seakan-akan mengatur diri. Seorang akan menghadapi Barata dan seorang akan menghadapi Ki Lurah Dipayuda. Tetapi keduanya memerlukan seorang kawan di antara kedua orang yang menjadi semakin berdebar-debar menghadapi kemungkinan yang nampaknya semakin buruk itu.

Orang-orang yang bertubuh raksasa itu pun menyadari, bahwa mereka berdua masih belum mampu mengalahkan Barata seorang diri. Tiba-tiba saja telah datang Ki Lurah Dipayuda.

Tetapi orang itu memperhitungkan bahwa Ki Lurah Dipayuda, meskipun ia telah diangkat menjadi Lurah Penatus yang membawahi seratus orang, namun kemampuannya masih belum tentu akan dapat mengimbangi Barata. Dengan demikian maka raksasa yang akan bertempur melawannya berniat untuk dengan cepat menyelesaikan Ki Lurah, kemudian bersama-sama mereka akan melakukan rencana mereka atas Barata.

Demikianlah, maka seorang di antara kedua orang raksasa bertubuh raksasa itu telah bergeser mendekati Ki Lurah bersama seorang yang telah diberinya isyarat. Meskipun orang itu menjadi semakin kecut hatinya, namun ia tidak dapat membantah, karena ia pun merasa sangat takut kepada orang bertubuh raksasa itu, yang akan dengan mudah memilin lehernya sehingga patah.

Tetapi orang-orang itu bukannya tidak bertenaga sama sekali. Apalagi keduanya tidak mempunyai pilihan lain daripada bertempur dengan segenap tenaga dan kemampuan.

Karena kedua orang bertubuh raksasa itu masih belum mulai menyerang, maka kedua orang yang lain pun masih menunggu. Sementara Barata dan Ki Lurah Dipayuda justru bergeser mendekat. Keduanya akhirnya juga harus bertempur sendiri-sendiri, karena sikap lawan mereka.

Sejenak kemudian, maka telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Orang yang bertubuh raksasa yang bertempur melawan Ki Lurah Dipayuda itu sempat berpesan, “Bertahanlah. Aku akan dengan cepat menyelesaikan orang ini.”

Tetapi Ki Lurah Dipayuda tertawa. Katanya, “Aku juga akan bertahan. Siapakah yang lebih dahulu dikalahkan. Aku atau kedua orang kawanmu yang bertempur melawan Barata itu.”

Lawan Ki Lurah Dipayuda itu tidak menjawab. Namun dengan langkah panjang ia maju menerkam. Tetapi Ki Lurah pun ternyata cukup cepat bergerak, sehingga usahanya itu sama sekali tidak berhasil. Namun orang yang lain telah menyerangnya pula. Meskipun masih agak ragu-ragu. Tetapi kakinya telah terjulur mengarah ke lambung.

Ki Lurah bergeser selangkah ke samping. Namun ia sempat melihat raksasa itu sudah siap meloncat menangkap kepalanya. Karena itu, maka ia pun telah bersiap. Demikian lawannya itu meloncat, maka Ki Lurah pun telah melenting menghindar. Bahkan, demikian lawannya menyadari, bahwa ia telah kehilangan lawannya, maka tiba-tiba saja serangan Ki Lurah Dipayuda itu demikian derasnya mengenai pundaknya. Sisi telapak tangannya yang terayun berlandaskan segenap tenaganya itu benar-benar telah menyakitinya. Raksasa itu menyeringai menahan sakit.

Tetapi Ki Lurah tidak sempat menyerangnya selanjutnya, karena lawannya yang lain telah menyerangnya pula. Sehingga Ki Lurah pun harus segera meloncat menghindarinya.

Namun lawannya itu justru mencoba memburunya. Dengan sepenuh tenaga ia meloncat panjang. Tangannya terjulur lurus mengarah ke keningnya.

Ki Lurah ternyata telah mengelak. Dengan tangkas ia melenting. Demikian lawannya mendekat sambil menjulurkan tangannya, maka Ki Lurah pun telah menyerangnya pula. Telapak tangannya yang terbuka dengan jari merapat telah menusuk perut lawannya itu tepat dibawah tulang-tulang iganya.

Orang itu tersentak. Matanya terbelalak. Perutnya bagaikan telah tertekan oleh kekuatan yang tidak dapat diduganya sebelumnya. Karena itu, maka napasnya seakan-akan telah terputus sejenak. Perutnya itu menjadi sangat mual sehingga isinya bagaikan akan tumpah.

Tetapi Ki Lurah harus segera melayani lawannya yang seorang lagi. Orang yang bertubuh raksasa itu telah menyerangnya dengan ayunan tangan yang keras. Tetapi sekali lagi Ki Lurah sempat melenting, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.

Orang bertubuh raksasa itu menggeram. Namun ia tidak segera meloncat menyerang Ki Lurah yang ternyata telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Agaknya Ki Lurah yang tubuhnya lebih kecil itu dengan bekal kecepatan geraknya, tidak mudah untuk segera dikalahkan meskipun raksasa itu bertempur berpasangan dengan seorang pengikutnya.

Sementara itu, raksasa yang lain telah bertempur melawan Barata dibantu oleh seorang yang bertempur dengan cemas. Justru karena orang itu telah sempat menyaksikan pertempuran antara Barata melawan kedua orang raksasa itu. Dua orang bertubuh raksasa itu mengalami kesulitan untuk mengalahkannya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, maka ia telah berusaha membantu raksasa itu bertempur melawan Barata. Ternyata Barata masih juga bertempur dengan cepat dan tangkas. Ia tidak membiarkan dirinya diterkam oleh lawannya yang bertubuh raksasa, karena dengan demikian maka ia akan mendapat kesulitan untuk melepaskan diri. Namun Barata pada puncak kemampuannya adalah seorang anak muda yang pilih tanding.

Beberapa saat kemudian, maka kawan orang bertubuh raksasa itu mulai merasa betapa sulitnya mengatasi kecepatan gerak anak muda itu. Beberapa kali Barata telah berhasil mengenainya. Bahkan mengenai tubuh kawannya yang bertubuh raksasa itu, sehingga beberapa kali raksasa itu harus menyeringai menahan sakit, serta mengaduh tertahan. Perutnya yang langsung dikenai oleh tumit Barata dalam gerak melingkar, membuat raksasa itu menjadi sangat mual. Namun selagi ia bergeser surut sambil memegangi perutnya yang sakit sekali, Barata dengan cepat berputar. Kakinya melenting seperti lompatan seekor bilalang. Sedangkan kakinya yang lain terjulur menyamping menggapai dada raksasa itu.

Raksasa itu memang terkejut. Ia tidak sempat mengelak dan menangkis. Dengan demikian maka kaki itu benar-benar telah mengenai dadanya sehingga ia terdorong surut.

Tetapi Barata tidak dapat memburunya. Lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat mendekat, maka tangannya terayun mendatar mengarah kening.

Namun Barata yang baru saja menyerang raksasa itu mengenai dadanya, dengan cepat merendahkan diri. Tetapi lawannya ternyata cukup tangkas. Ia menarik tangannya yang terayun. Namun kakinyalah yang kemudian dengan cepat menyambar dahi Barata.

Untunglah Barata melihat ayunan gerak itu. Karena itu, maka ia pun justru telah menjatuhkan dirinya dan berguling menjauh. Kemudian dengan cepat ia melenting berdiri untuk menghadapi kemungkinan yang lain.

Pada saat yang bersamaan, raksasa yang baru saja memperbaiki keseimbangannya yang terguncang itu sudah siap untuk menerkamnya. Namun Barata benar-benar sudah siap menghadapinya.

Raksasa itu nampaknya memang mulai terpengaruh oleh kemampuan lawannya yang masih muda itu. Beberapa kali ia sudah dikenainya. Bukan hanya sekadar sentuhan-sentuhan kecil. Tetapi perutnya yang menjadi mual dan dadanya yang serasa bagaikan terhimpit batu hitam.

Dengan demikian maka ia harus benar-benar berhati-hati. Apalagi ia tidak lagi bertempur bersama kawannya yang bertubuh raksasa itu. Namun ia mulai menyadari pesan kawannya itu, agar ia bertahan sambil menunggu, karena kawannya akan berusaha menyelesaikan Ki Lurah secepatnya.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Ternyata kawannya itu tidak dengan segera menyelesaikan Ki Lurah Dipayuda yang bertubuh lebih kecil itu.  Ki Lurah Dipayuda yang sudah mendapat kepercayaan untuk menjadi seorang pemimpin pasukan, memang memiliki bekal yang cukup. Dengan ketangkasannya ia berhasil mengatasi kegarangan lawannya yang bertubuh raksasa itu. Meskipun ia harus bertempur melawan dua orang, tetapi dengan mengerahkan kemampuannya, Ki Lurah mampu mengimbanginya. Bahkan beberapa kali ia berhasil mendesak raksasa itu, meskipun dalam keadaan yang gawat ia harus berloncatan mundur.

Tetapi Ki Lurah tidak mau menyebabkan keseimbangan seluruh pertempuran itu menguntungkan lawan-lawannya. Jika ia dapat dikalahkan oleh kedua lawannya, maka Barata akan mengalami kesulitan. Ia akan berhadapan dengan empat orang lawan, sehingga betapapun tinggi kemampuannya, namun akan sangat sulit baginya untuk mengatasinya.

Karena itu, maka Ki Lurah harus dapat mengalahkan lawan-lawannya, atau setidak-tidaknya harus bertahan sampai suatu saat Barata berhasil mengalahkan lawan-lawannya.

Namun ternyata ketangkasan Ki Lurah membuat kedua lawannya mengalami kesulitan. Raksasa yang marah itu tidak mempunyai banyak peluang untuk memenangkan pertempuran itu meskipun kawannya telah mengerahkan segenap kemampuannya pula.

Yang kemudian terjadi adalah, Barata semakin lama semakin mendesak kedua lawannya. Kaki dan tangannya semakin sering mengenai sasarannya. Lawannya yang bertubuh wajar sebagaimana dirinya sendiri, semakin sering dikenainya. Beberapa kali ia terlempar, terjatuh dan berusaha untuk bangkit lagi. Bahkan lawannya yang bertubuh raksasa itu pun telah sering pula mengaduh menahan sakit. Beberapa kali keseimbangannya terguncang. Bahkan raksasa itu pun pernah terdorong jatuh pula meskipun dengan cepat ia masih mampu untuk bangkit.

Tetapi lawan Barata itu tidak mempunyai harapan. Kedua-duanya tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Barata memang memiliki ketangkasan yang tinggi. Beberapa kali orang bertubuh raksasa itu harus mengakui, bahwa tubuhnya semakin lama semakin sering dikenai oleh serangan-serangan lawannya. Keningnya bagaikan menjadi retak. Iga-iganya serasa berpatahan.

Lawan Ki Lurah pun menjadi cemas melihat perkembangan keadaan. Ia melihat lawan Barata menjadi semakin terdesak. Sementara itu, mereka masih belum mampu menguasai Ki Lurah yang ternyata juga tangkas bergerak. Mempunyai ilmu yang mapan serta penalaran yang terang.

Karena itu, maka, kedua orang raksasa yang bertempur dengan lawan yang berbeda itu memang sudah tidak berpengharapan. Mereka sama sekali tidak lagi mempunyai peluang. Apalagi jika kekuatan mereka pada saatnya mulai susut, karena mereka memang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sementara itu perasaan sakit yang semakin menekan di dalam tubuh mereka harus mereka perhitungkan pula.

Karena itu, maka apapun yang mereka lakukan, mereka tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu. Kecuali jika mereka mencoba mempergunakan senjata-senjata mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lawan Barata yang telah beberapa kali mengalami kesakitan, kehilangan keseimbangan dan bahkan keadaan yang gawat itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali menarik senjata mereka. Lawan Barata lah yang pertama-tama menarik pedangnya yang besar. Pedang yang hampir saja dipergunakannya di arena pendadaran di barak prajurit saat Barata mengalami pendadaran ulangan.

Barata meloncat selangkah mundur. Sementara itu lawan orang bertubuh raksasa itu pun telah menggerak-gerakkan pedangnya pula.

Dengan pedangnya yang besar dan panjang, orang bertubuh raksasa itu berkata, “Kau akan mengalami sengsara yang lebih parah. Jika semula aku hanya berniat membuatmu buta tuli dan lumpuh, maka ternyata tubuhmu akan terpotong-potong oleh senjataku. Kakimu dan tanganmu akan buntung dalam keadaanmu yang buta dan lumpuh itu.”

“Kau mampu membayangkan penderitaan yang paling dahsyat bagi seseorang. Meskipun kau belum tentu dapat melakukannya sehingga orang lain mengalaminya, tetapi angan-anganmu tentang penderitaan yang paling pahit itu sudah merupakan kejahatan yang sangat besar. Angan-angan itu memang harus dihapuskan dari kepalamu. Jika karena itu kepalamu ikut terhapus dari tubuhmu, maka itu adalah akibat yang mungkin saja terjadi, meskipun tidak dengan sengaja,” berkata Barata.

“Persetan,” geram orang itu, “Kau memang menjadi ketakutan.”

“Sejak tadi kau beranggapan demikian. Kahadiran Ki Lurah telah memastikan segala-galanya. Karena itu, maka aku minta kau mendengarkan kata-kataku. Kita akhiri persoalan kita sampai di sini. Pergilah dan jangan melakukannya atas orang lain.”

“Kau sudah menghina kami di arena pendadaran. Sekarang kau mencoba menghina kami lagi,” geram raksasa itu.

“Saat itu telah terjadi. Seandainya kau mampu mengalahkan aku sekarang maka kemenanganmu itu tidak akan menghapus kekalahanmu saat itu, karena kemenanganmu tidak disaksikan oleh orang-orang yang melihat kalian kami kalahkan,” sahut Barata.

Raksasa itu berpikir sejenak. Namun ia pun menggeram ketika ia melihat kawannya juga sudah mempergunakan senjatanya melawan Ki Lurah. Sementara itu Ki Lurah Dipayuda pun telah mempergunakan pedangnya. Meskipun pedang Ki Lurah lebih kecil dan lebih pendek dari pedang orang bertubuh raksasa itu, tetapi ternyata Ki Lurah itu memiliki kemampuan ilmu pedang yang lebih baik. Orang bertubuh raksasa itu hanya sekadar mempercayakan sedikit kemampuan ilmu pedangnya dan yang terutama adalah kekuatan tubuhnya. Ayunan pedangnya yang bagaikan arus udara maut yang garang, menyambar-nyambar. Sekali-sekali mengarah ke leher, tengkuk dan bahkan ke lambung. Sementara itu pedang lawannya yang lain, menebas dengan cepat melintang di depan dada Ki Lurah. Namun kemudian menyuruk mengarah ke perut.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda bergerak semakin cepat. Pedangnya berputaran menyambar-nyambar seperti seekor burung sikatan menyambar belalang. Menyusup di antara ayunan pedang raksasa itu. Pedang yang besar dan panjang. Kemudian menyilang pedang lawannya yang seorang lagi, mematuk dan menggapai sasaran.

“Kau akan menyesal anak muda,” geram raksasa itu sambil mengangkat pedangnya yang besar dan panjang itu. “Satu tebasan yang tidak akan dapat kau hindari apalagi kau tangkis akan dapat memotong bagian-bagian dari tubuhmu.”

Tetapi Barata tersenyum. Katanya, “Kau lihat bahwa kawanmu mengalami kesulitan? Nah, dengar tawaranku sekali lagi. Kau tinggalkan tempat ini. Jika kita sudah telanjur bertempur, maka akan sulit bagiku untuk mengekang diri. Karena kemungkinan yang tidak kau kehendaki dapat terjadi. Bukan aku yang menjadi cacat, tetapi kau. Jika kau menjadi cacat tubuh karena tanganmu terpenggal oleh pedangku, maka kaulah yang akan menyesal seumur hidupmu. Padahal, kemungkinan yang dapat terjadi atasku dan kemungkinan atasmu tidak ada bedanya.”

Orang bertubuh raksasa itu berpikir sejenak. Namun ia mulai ragu-ragu ketika Barata telah menarik pedangnya. Pedang yang tidak begitu besar. Tetapi tajamnya yang bagaikan pisau pencukur itu telah membuat jantungnya berdebar-debar. Satu sentuhan kecil akan dapat mengoyak kulitnya bahkan melubangi perutnya.

Sementara itu lawan Barata yang lain memang menjadi semakin ragu-ragu. Ia mulai merasa tenaga dan kemampuannya sudah menyusut. Sementara itu tubuhnya telah dihinggapi rasa sakit dan pedih di beberapa tempat. Senjata baginya justru hanya akan mempercepat kematian karena Barata tentu memiliki kemampuan ilmu pedang yang tinggi pula.

Tetapi raksasa itu agaknya tidak ingin melangkah surut. Meskipun ia melihat bahwa kawannya yang bertempur melawan Ki Lurah Dipayuda agak mengalami kesulitan.

Barata  pun telah bersiap pula. Ia sadar bahwa lawannya itu tentu tidak begitu saja percaya bahwa ia pun telah belajar ilmu pedang. Tidak hanya sepekan dua pekan, ketika ia memasuki lingkungan keprajuritan.

Namun Barata memang tidak ingin membuang waktu terlalu banyak. Ia. sudah bertekat untuk menghentikan perlawanan raksasa itu, agar ia dapat segera melanjutkan perjalanannya.

Karena itu, maka ia pun telah bersiap-siap untuk mengerahkan kemampuan ilmu pedangnya. Jika segores kecil saja telah mengoyak kulit raksasa itu, maka ia akan berpikir dua kali untuk meneruskan pertempuran itu.

Sebenarnyalah, ketika raksasa itu mulai mengayunkan pedangnya, maka Barata pun mulai melenting dan kemudian berloncatan dengan tangkasnya. Barata justru memanfaatkan ayunan pedang lawannya yang keras sehingga raksasa itu memerlukan waktu untuk menguasainya dengan baik. Apalagi pedangnya cukup besar dan panjang, meskipun kekuatan kewadagan raksasa itu cukup memadai.

Karena itu, ketika raksasa itu menyerangnya dengan ayunan yang kuat mengarah langsung ke lehernya, Barata dengan tangkasnya bergeser surut. Tetapi raksasa itu tidak melepaskannya. Pedangnya terayun berputar dan sebuah tusukan yang deras mengarah ke dada Barata.

Barata menyadari bahwa lawannya yang berusaha bergerak dengan cepat itu telah mengerahkan segenap kekuatannya. Karena itu Barata sama sekali tidak menangkis serangan itu. Tetapi ia telah bergeser menghindar ke samping. Sementara itu, ujung pedangnya telah mengikuti arah gerak raksasa itu.

Barata memang harus menjangkau dengan jangkauan panjang. Ia telah melangkah dengan satu kakinya ke depan, sehingga jangkauannya menjadi semakin jauh.

Ternyata ujung pedang Barata telah mampu menggapai lambung raksasa itu meskipun hanya ujungnya. Tetapi segores luka telah menyilang di lambung itu.

Perasaan pedih memang telah menggigit lambungnya. Karena itu, maka raksasa itu telah meloncat menjauh. Sementara itu Barata tidak sempat menyusulnya, karena lawannya yang lain dengan ragu-ragu telah menyerang Barata. Pedangnya terayun dengan derasnya setelah terangkat angkat tinggi-tinggi mengarah ke ubun-ubun Barata.

Namun Barata masih, sempat menghindar pula dengan loncatan pendek. Bahkan kemudian ia sempat menyilang pedang lawannya, kemudian memutarnya dengan cepat.

Satu hentakan yang tidak terduga. Pedang itu telah terlepas dari tangan lawannya dan terlempar jatuh. Bahkan kemudian Barata yang memang ingin menyelesaikan pertempuran itu, telah menggoreskan luka di dada lawannya itu. Meskipun tidak terlalu dalam.

Lawannya pun berloncatan menjauh. Bahkan terlalu jauh sehingga kakinya telah terperosok ke dalam parit di pinggir jalan, sehingga orang itu telah jatuh terlentang justru di dalam air parit.

Terdengar orang itu mengaduh. Air parit membuat lukanya yang tidak seberapa dalam itu menjadi sangat pedih. Dengan susah payah orang itu berusaha untuk bangkit dan ke luar dari parit dengan pakaian yang basah kuyup. Air yang membasahi bagian dadanya telah mengalir bercampur dengan darah yang segar.

Ketika tangan orang itu meraba dadanya, maka rasa-rasanya nyawanya telah berada diubun-ubunnya. Darah yang bercampur air itu seakan-akan tidak terbendung lagi mengalir dari tubuhnya.

“Habislah sudah,” desis orang itu yang kemudian dengan lemahnya terjatuh di tanggul parit.

Sementara itu, orang bertubuh raksasa itu pun merasa bahwa luka-lukanya menjadi sangat pedih. Seorang diri ia akan menjadi semakin lemah dan tidak akan mampu menghadapi lawannya yang masih muda itu. Sementara kawannya yang bertempur melawan Ki Lurah pun mengalami banyak kesulitan. Ki Lurah benar-benar memiliki kemampuan seorang pemimpin prajurit yang tangguh. Sehingga ia bukannya sekedar karena tugasnya yang panjang saja diangkat sebagai pemimpin pasukan. Tetapi tentu juga karena kemampuannya.

Dengan berbagai pertimbangan, maka lawan Barata itu tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia masih juga menggenggam pedangnya erat-erat, tetapi ia tidak segera menyerang lagi.

Barata pun seakan-akan memberinya kesempatan berpikir. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Apa katamu sekarang? Apakah kau masih berniat membuat tubuhku cacat.”

Raksasa itu termangu-mangu. Ia melihat kawannya yang terdesak jauh surut. Namun raksasa itu masih belum kehilangan kawannya.

Tetapi lawan Barata itu pun tiba-tiba telah memberinya isyarat. Sebuah siulan pendek. Agaknya lawan Barata itu memang tidak mempunyai pilihan lain.

Lawan Ki Lurah itu  pun sebenarnya sudah tidak berpengharapan. Tetapi ia masih mengingat harga dirinya sehingga betapapun beratnya, ia masih berusaha untuk bertahan.

Namun isyarat itu telah mematahkan perlawanannya. Kawannya pun ternyata merasa tidak mampu lagi bertahan. Sehingga karena itu, maka lawan Ki Lurah itu pun telah berloncatan surut.

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Sementara itu Barata bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan? Kami tidak tahu arti isyarat kalian. Jika kalian akan berbuat curang dengan isyarat itu, maka kami tidak akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lain daripada menyelesaikan kalian dengan cara yang kalian angan-angankan.”

“Tidak anak muda,” jawab lawan Barata. “Ternyata kami akhirnya harus mengakui, bahwa kami tidak mampu berbuat apa-apa terhadapmu. Apalagi karena Ki Lurah Dipayuda telah hadir pula di sini.”

Barata menarik napas dalam-dalam. Namun Ki Lurah Dipayuda ternyata bertanya, “Apakah kalian menyerah?”

Kedua raksasa yang berdiri agak berjauhan itu saling berpandangan sejenak. Ternyata mereka tidak mempunyai jawaban lain kecuali mengiyakannya.

Dengan nada berat lawan Barata itu menjawab, “Kami menyerah.”

“Lemparkan senjata kalian,” perintah Ki Lurah.

Kedua raksasa itu memang menjadi ragu-ragu. Namun Ki Lurah berkata, “Jika kalian tidak mau melemparkan senjata kalian, maka kita akan bertempur lagi.”

Betapapun beratnya, namun kedua raksasa itu telah melemparkan senjata mereka. Demikian pula lawan Ki Lurah yang seorang lagi. Sementara Ki Lurah berkata, “Tinggalkan senjata kalian dan duduk di bawah pohon turi itu.”

Kedua raksasa itu memang merasa tersinggung. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain. Dengan ragu-ragu keduanya serta seorang kawannya telah duduk di bawah pohon turi.

“Nah,” berkata Ki Lurah. “Kalian harus menerima kenyataan ini. Kemudian terserah kepada Barata. Ia adalah sasaran kalian. Ia dapat berbuat apa saja atas kalian sebagaimana yang akan kalian perbuat atas dirinya.”

Kedua orang raksasa itu menjadi tegang. Namun Barata dan Ki Lurah masih menggenggam senjata mereka masing-masing.

Barata lah yang kemudian berkata, “Baiklah. Aku ingin mendengar pengakuan kalian. Apakah kalian menyerah dengan sepenuh hati atau tidak?”

Kedua orang raksasa itu masih saja ragu-ragu. Namun ketika mereka melihat pedang Barata terangkat, maka hampir berbareng keduanya menjawab, “Ya. Kami memang menyerah.”

Sementara itu seorang di antara mereka yang tertelungkup ditanggul kemudian menyadari bahwa dirinya belum mati. Karena itu maka ia  pun mulai bergerak dan berusaha untuk bangkit.

“Cepat,” bentak Ki Lurah. Ternyata bentakan itu telah mengejutkannya. Bahkan kemudian dengan serta merta orang itu telah bangkit.

“Duduk di sebelah kawan-kawanmu,” perintah Ki Lurah.

Dengan tergesa-gesa orang itu telah meloncat dan duduk di sebelah kawan-kawannya.

“Nah, sekarang kalian harus menjalani apapun yang dilakukan oleh Barata atas kalian,” berkata Ki Lurah Barata telah berniat untuk membuat kalian sangat menderita.

“Ya,” jawab Barata. “Aku akan membuat kalian cacat seperti yang ingin kalian perbuat atasku. Buta, tuli dan lumpuh.”

Wajah orang-orang bertubuh raksasa itu menjadi pucat. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika ujung pedang Barata dan Ki Lurah Dipayuda terasa ke dada mereka.

“Nah, kalian boleh memilih cara yang paling baik untuk melakukannya,” berkata Barata.

Namun tiba-tiba saja dari mulut orang bertubuh raksasa yang garang itu terdengar desah “Jangan. Aku mohon ampun.”

Sedangkan yang lain berkata pula, “Kami tidak bersungguh-sungguh. Kami hanya ingin menakut-nakuti saja”.

Barata tersenyum. Katanya, “Yang penting bagiku bukannya pengakuan bahwa kalian hanya akan menakut-nakuti, karena aku tahu bahwa kalian bersungguh-sungguh meskipun tidak sekeras itu. Yang lebih penting bagiku adalah kesediaan untuk mengerti bahwa pekerjaan yang kalian lakukan selama ini sebagai orang upahan untuk menyakiti orang lain adalah pekerjaan yang paling buruk. Kenapa kalian tidak mencari pekerjaan lain yang lebih baik dan berarti bagi kalian dan keluarga kalian tanpa mengganggu orang lain.”

Kedua orang bertubuh raksasa itu termangu-mangu. Sementara itu Barata berkata, “Kalian masih mempunyai kesempatan.”

Sebelum kedua orang bertubuh raksasa itu menjawab, Ki Lurah Dipayuda berkata, “Nah, apakah kalian tidak merasa malu bahwa anak itu dapat memberi kalian nasihat dan ternyata nasihatnya mempunyai nilai yang tinggi bagi pilihan yang harus kalian lakukan? Barata memang tidak akan dapat mendengar jawaban kalian sekarang, karena kalian masih akan dapat berbohong. Tetapi setidak-tidaknya anak muda itu telah melontarkan satu pilihan bagi kalian. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan memilihnya atau kalian akan kembali ke dunia kalian yang kotor itu. Tetapi kalian saat ini telah diampuni oleh anak muda itu. Renungkan ini.”

Kedua orang, raksasa itu tidak menjawab. Tetapi kepala mereka telah menunduk. Memang terasa sesuatu menyentuh hati mereka.

“Pergilah,” tiba-tiba suara Barata bernada berat.

Kedua orang raksasa itu terkejut. Ketika ia menengadahkan wajah mereka, mereka melihat Barata itu sudah melangkah mundur sambil berkata kepada Ki Lurah, “Marilah Ki Lurah. Kita tinggalkan mereka. Ki Lurah akan dapat melihat, apa yang akan mereka lakukan kemudian di Pajang meskipun Ki Lurah tidak lagi menjadi prajurit.”

Ki Lurah menarik napas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita tinggalkan orang-orang itu dalam gejolak jiwanya. Mereka harus merenungkan pilihan yang paling baik bagi mereka. Tetapi jika mereka salah pilih, kita masih akan dapat membuat perhitungan dengan mereka.

 Barata pun kemudian membenahi pakaiannya, Menyarungkan pedangnya dan melangkah pergi sambil berkata, “Kalian memerlukan pengobatan atas luka-luka kalian.”

Ki Lurah  pun berjalan di sampingnya setelah menyarungkan pedangnya pula. Keduanya seakan-akan tidak mengalami sesuatu sebelumnya. Mereka meninggalkan keempat orang itu tanpa berpaling lagi.

Keempat orang itu memang menjadi heran. Tetapi bahwa kedua orang itu pergi begitu saja, ternyata membuat hati mereka tergetar. Sesuatu yang belum pernah mereka pikirkan, telah melonjak di dalam dada mereka.

Namun orang-orang itu tidak ingin berada di tempat itu terlalu lama. Mereka tidak ingin orang lain melihat betapa mereka telah dihancurkan. Bukan wadag mereka tetapi harga diri mereka dan keyakinan mereka atas sikap dan tingkah laku mereka sebelumnya.

Karena itu, maka kedua orang raksasa itu pun telah bersepakat untuk segera pergi.

Namun ketika mereka memungut pedang mereka, seorang di antara kedua pengikutnya bertanya “Bagaimana dengan luka didada orang itu.”

“Urusi orang itu agar tidak mati. Bukankah kau mempunyai obat untuk memampatkan darahnya?” sahut salah seorang dari kedua orang raksasa yang sedang mengalami goncangan jiwa itu.

Pengikutnya itu tidak berani membantah. Ia  pun tidak berkata sesuatu ketika kedua orang raksasa itu kemudian meninggalkannya.

Ketika ia mendengar kawannya berdesah maka ia pun telah mendekatinya, sementara seorang dari raksasa yang telah melangkah itu berpaling sambil berdesis “Aku juga terluka. Aku juga harus segera merawat luka-lukaku.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia kemudian berusaha merawat kawannya yang terluka itu dengan obat yang ada padanya. Obat itu setidak-tidaknya akan dapat menolong untuk sementara.

Dalam pada itu, Ki Lurah Dipayuda berjalan di sisi Barata yang menundukkan kepalanya. Dengan nada rendah Ki Lurah berkata, “Kau tidak mengambil tindakan apapun terhadap kedua orang raksasa itu?”

“Mudah-mudahan peristiwa ini dapat membuat mereka jera. Tentu satu pengalaman yang sangat berharga bagi orang-orang itu. Mungkin luka-luka yang parah tidak akan banyak berkesan di hati mereka jika mereka sembuh. Tetapi kekalahan, harga diri yang benar-benar dihancurkan sampai lumat serta keyakinan mereka yang tumbang atas kemampuan diri tidak akan pernah mereka lupakan,” berkata Barata.

“Ia sudah pernah kau rendahkan harga dirinya ketika, dilakukan pendadaran itu,” berkata Ki Lurah.

“Tetapi saat itu ia masih dapat menengadahkan dadanya karena ia justru dicegah oleh Ki Lurah Yudoprakosa. Demikian pula yang seorang lagi. Namun kini mereka benar-benar kehilangan harga dirinya dan keyakinannya bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak terkalahkan,” jawab Barata.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Namun kemudian ia  pun berkata, “Baiklah. Aku sependapat dengan kau. Ternyata hatimu lebih luas dari yang aku duga. Kau telah memaafkan kedua orang raksasa itu.”

“Sejak semula bukan niat mereka secara pribadi untuk memusuhi aku,” sahut Barata. “Ia datang ke barak atas perintah Ki Lurah Yudoprakosa. Demikian pula sekarang ini. Ternyata ia banyak mendapat keterangan dari Ki Lurah bahwa aku akan meninggalkan barak pagi ini.”

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk pula. Katanya dengan nada lembut, “Jika demikian, aku ingin mempersilahkan kau singgah dirumahku barang sebentar Barata. Aku sudah kehilangan kesempatan untuk menyaksikan pelepasanmu di barak. Karena itu, aku harap kau bersedia singgah barang sebentar sebelum kau meninggalkan Pajang.”

“Tetapi kita sudah berada diluarkota Ki Lurah,” jawab Barata.

“Rumahku memang tidak di dalam kota ,” jawab Ki Lurah Dipayuda.

Barata termangu-mangu. Namun sebelum ia menjawab Ki Lurah Dipayuda berkata, “Jangan menolak. Sejak semula aku sudah berharap kau sudi singgah dirumahku barang sebentar. Seandainya aku sempat menyaksikan upacara pelepasanmu di halaman barak, maka setelah itu aku pun ingin mempersilahkan kau singgah.”

Barata memang menjadi agak bimbang. Ia ingin segera kembali pulang, menemui ibunya dan mengatakan sikap para pemimpin Pajang yang sebagian datang dari Demak tentang Tanah Perdikan. Kemudian membuat persiapan-persiapan yang perlu untuk mencari pemecahan atas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Namun juga sulit baginya untuk menolak permintaan Ki Lurah Dipayuda agar ia bersedia singgah barang sebentar. Selama ini Ki Lurah bersikap sangat baik kepadanya. Bahkan Ki Lurah pernah mengatakan bahwa Barata dan Kasadha seakan-akan telah dianggap sebagai anak sendiri.

Tetapi ternyata Ki Lurah itu juga mempunyai anak sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung. Malahan telah menjadi pedagang kuda yang agaknya cukup mapan. Agaknya para pemimpin Pajang sebelumnya banyak yang berhubungan dengan anak Ki Lurah Dipayuda itu. Mungkin juga terpengaruh oleh kehadiran Ki Lurah sendiri di Pajang sehingga dapat menjadi jembatan kemajuan perdagangan anaknya yang tentu masih juga terhitung muda.

“Nah, bukankah kau tidak berkeberatan?” bertanya Ki Lurah.

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Lurah. Aku tidak akan mengecewakan Ki Lurah. Namun aku tentu tidak akan dapat tinggal lama di rumah Ki Lurah.”

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Nyi Lurah tentu sudah menyediakan hidangan bagimu meskipun hanya minuman hangat.”

“Ah,” Barata berdesah, “Jangan merepotkan keluarga Ki Lurah.”

Ki Lurah tersenyum. Tetapi katanya, “Aku senang kau mau singgah.”

Demikianlah maka mereka telah menempuh jalan di luar kota menuju ke rumah Ki Lurah Dipayuda. Mereka memang harus melingkar disebelah Timur kota, karena rumah Ki Lurah tidak berada diarah perjalanan Barata. Meskipun demikian Barata yang sudah bersedia singgah itu, harus menempuh perjalanan yang agak melingkar itu.

Beberapa saat kemudian, keduanya telah memasuki sebuah padukuhan yang agak besar. Dipadukuhan itulah Ki Lurah Dipayuda tinggal bersama keluarganya. Selama Pajang dalam keadaan gawat sampai saat terakhir, Ki Lurah memang jarang sekali pulang. Hanya di saat-saat tertentu saja Ki Lurah mengunjungi keluarganya.

Rumah Ki Lurah Dipayuda termasuk rumah yang tidak terlalu besar. Tetapi juga tidak termasuk rumah yang kecil. Halamannya memang agak luas. Disebelah kiri rumah, di halaman samping terdapat sebuah kandang yang agak besar. Memanjang sejajar dengan gandok rumahnya.

Barata segera mengetahui bahwa kandang itu diperlukan oleh anak Ki Lurah Dipayuda yang berdagang kuda.

“Marilah,” berkata Ki Lurah, “Inilah rumahku. Asal dapat dipergunakan untuk berteduh sekeluarga.”

Barata tidak menjawab. Namun ketika ia naik tangga pendapa, maka ia melihat bahwa rumah yang tidak terlalu besar itu telah dibuat dengan baik. Barata melihat ukiran pada tiang dan uleng pendapa. Juga ditiang-tiang di pringgitan. Bahkan ukiran pada uleng di pendapa serta langit-langit yang terdapat diantara saka guru di atas uleng, bukan saja terdapat ukiran, tetapi juga sungging.

Sejenak kemudian Ki, Lurah pun telah mempersilakan Barata untuk duduk di pendapa. Dengan nada rendah Ki Lurah berkata, “Jika anakku ada, biarlah ia ikut menemuimu.”

Barata mengangguk sambil menjawab, “Terima kasih Ki Lurah.”

Ketika Barata kemudian duduk dipendapa, maka Ki Lurah  pun telah masuk ke ruang dalam. Sementara itu Barata sempat memperhatikan rumah Ki Lurah yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi lengkap. Pendapa, longkangan di depan pringgitan yang dapat dilalui penunggang kuda di bawah tratag yang memang agak rendah. Kemudian gandok kiri dan kanan. Seketheng yang menyekat longkangan samping. Kemudian bagian tengah dan bagian dalam rumah yang membujur kebelakang. Dipaling belakang agaknya juga terdapat dapur yang luas, seperti kebiasaan rumah yang lengkap seperti itu.

Beberapa saat kemudian, yang ke luar dari ruang tengah bukan saja Ki Lurah Dipayuda. Ternyata juga Nyi Lurah yang nampaknya memang agak kekurus-kurusan. Sebagai isteri seorang prajurit dalam masa perang, agaknya Nyi Lurah Dipayuda tidak dapat membiarkan saja berita-berita tentang peperangan itu lewat di telinganya tanpa mengusik perasaannya. Agaknya siang dan malam Nyi Lurah memikirkan keselamatan suaminya yang lebih sering berada dipeperangan daripada berada dirumah.

Nyi Lurah itu pun telah mengucapkan selamat atas kedatangan Barata di rumahnya.  Dengan nada tinggi Nyi Lurah berkata, “Aku sudah sering mendengar nama angger disebut-sebut oleh Ki Lurah. Jika angger ini yang bernama Barata, maka masih ada satu lagi yang menarik bagi Ki Lurah. Namanya Kasadha.”

Barata mengangguk hormat. Katanya dengan ragu, “Memang akulah Barata itu Nyi Lurah.”

“Jika demikian kenapa angger Kasadha tidak datang bersama-sama?” bertanya Nyi Lurah.

Sebelum Barata menjawab, Ki Lurahlah yang menjawab, “Keduanya sudah tidak lagi dalam kedudukan yang sama. Angger Kasadha masih seorang prajurit, sementara angger Barata telah mengundurkan diri. Justru hari ini.”

“O,” Nyi Lurah mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, Ki Lurah berkata, “Tetapi sayang sekali Barata. Anakku sedang pergi. Sebagai seorang pedagang kuda, maka ia memang jarang berada di rumah. Bahkan kadang-kadang bermalam satu dua malam diperjalanan. Ia menjelajahi daerah yang luas. Bahkan ia telah pergi dari satu kota ke kota lainnya. Nampaknya peperangan yang sudah mereda ini telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru baginya setelah beberapa lama ia harus menghentikan kegiatannya.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia  pun berdesis, “Nampaknya putera Ki Lurah menyenangi pekerjaannya.”

“Ya. Ia senang kepada pekerjaannya sehingga kadang-kadang aku justru harus menghambatnya jika ia kurang beristirahat. Ia masih muda. Tetapi justru itu, ketika ia merasakan bahwa ia dapat mendapat keuntungan dari kerjanya itu, ia menjadi semakin bergairah,” berkata Ki Lurah.

Barata tersenyum. Memang agak berbeda dengan jalan yang ditempuhnya. Ketika ia bergairah menjadi seorang prajurit, yang terlintas sama sekali bukan karena ia menerima gaji disetiap akhir pekan. Tetapi justru karena gairah perjuangannya bagi Pajang.

Tetapi ia tidak dapat menganggap anak Ki Lurah itu salah langkah. Bagi seorang pedagang, maka keuntungan adalah tujuan utamanya dan yang selanjutnya akan dapat mendorongnya semakin maju.

Namun pembicaraan mereka pun kemudian terputus. Barata memang agak terkejut ketika seorang gadis membuka pintu pringgitan dan melangkah ke luar dengan nampan di tangannya. Beberapa mangkuk minuman hangat ada di atasnya.

Hampir diluar sadarnya, Barata sempat memperhatikan wajah gadis itu. Meskipun gadis itu menunduk, namun nampak lukisan wajahnya yang sangat mengesan. Garis-garis yang lengkung di atas kedua matanya yang bulat. Hidungnya, bibirnya dan bahkan Barata sempat memperhatikan lehernya dan langkahnya yang kecil-kecil.

“Itu anakku yang kecil ngger,” desis Nyi Lurah.

Barata memang terkejut. Wajahnya menjadi merah. Ia pun kemudian menunduk dalam-dalam, sementara gadis itu telah berjongkok di samping ibunya dan meletakkan nampan di atas tikar.

Nyi Lurah lah yang meletakkan mangkuk-mangkuk berisi minuman hangat itu di atas tikar. Sementara itu gadis itu pun telah kembali melangkah masuk. Barata yang menunduk telah mencuri pandang, betapa gadis itu berjalan masuk ke ruang dalam.

Ketika Barata menunduk lagi, maka gadis itu telah ke luar pula untuk menghidangkan beberapa potong makanan.

“Sudah aku katakan Barata, bahwa kami sudah siap menerima kedatanganmu hari ini,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Wajah Barata semakin menunduk. Sementara itu, gadis yang disebut anak Ki Lurah yang kecil itu masih berjongkok disisi ibunya, sementara ibunya telah meletakkan beberapa mangkuk berisi makanan di antara mangkuk-mangkuk minuman.

“Simpan nampan itu,” berkata Ki Lurah Dipayuda. “Kemudian kau dapat ikut menemui saudaramu. Aku pernah mengatakan kepada Barata dan Kasadha, bahwa mereka aku anggap sebagai anakku sendiri. Karena itu, maka ia akan dapat menjadi saudaramu.”

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia telah meninggalkan pendapa dan masuk ke ruang dalam.

Barata yang duduk sambil menunduk tiba-tiba merasa aneh. Ia benar-benar mengharap gadis itu ke luar lagi dan ikut menemuinya. Tetapi ternyata gadis itu tidak muncul lagi.

“Anak itu memang pemalu,” berkata Nyi Lurah Dipayuda.

Barata sama sekali tidak menjawab.

“Ia memang jarang bergaul dengan orang lain,” berkata Nyi Lurah selanjutnya. “Apalagi terpengaruh oleh susunan keluarga, ia adalah anak bungsu. Sedikit manja dan barangkali memang agak bodoh.”

Barata tiba-tiba saja telah bergeser surut. Namun ia  pun berdesis, “Ah, tentu tidak.”

“Marilah,” berkata Ki Lurah kemudian untuk mengatasi suasana yang hampir membeku. “Minumlah, mumpung masih hangat.”

Barata pun kemudian telah menghirup minumannya. Bahkan agak terlalu cepat meskipun masih terasa panas untuk mengatasi jantungnya yang bergejolak.

Ketika kemudian Nyi Lurah  pun mempersilahkan Barata untuk duduk bersama Ki Lurah karena ia akan pergi ke belakang, maka terasa Barata menjadi semakin terlepas dari kekakuan yang bagaikan mengikatnya.

Barata telah berani mengangkat wajahnya lagi dan berbicara dengan lancar.

Namun jantungnya serasa berdebaran lagi ketika Ki Lurah berkata, “Anakku sebenarnya empat. Tetapi dua di antaranya telah diambil kembali oleh Yang Maha Agung. Karena itu, sekarang tinggal dua. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia pernah beranggapan bahwa Ki Lurah Dipayuda itu tidak mempunyai anak. Namun ternyata ia mempunyai juga anak. Namun gadis itu sama sekali tidak mirip dengan Ki Lurah maupun Nyai Lurah.

“Mungkin saja,” katanya di dalam hati. “Anak yang sama sekali tidak mirip dengan orang tuanya. Sebaliknya yang bukan apa-apa justru memiliki kemiripan seperti aku dan Kasadha.”

Namun Barata tidak mengatakan sesuatu. Kepalanya mulai menunduk lagi.

Barata mengangkat wajahnya ketika Ki Lurah itu kemudian bertanya, “Bagaimana dengan anakku yang seorang lagi?”

Barata termangu-mangu. Tetapi Ki Lurah kemudian menjelaskan, “Maksudku, Kasadha.”

Barata menarik napas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Ia dalam keadaan baik Ki Lurah. Bahkan ketika upacara pelepasan pagi tadi, Ki Tumenggung Wiradigda dengan perantaraan seorang perwira pembantunya telah menetapkan untuk sementara Kasadha ditugaskan untuk melaksanakan tugas sebagai pemimpin dari pasukan yang terdiri dari seratus orang itu.”

“Kasadha?” bertanya Ki Lurah dengan wajah yang cerah.

“Ya Ki Lurah,” jawab Barata. “Ternyata para pemimpin masih memperhatikan kelebihan Kasadha sehingga ia telah ditunjuk untuk menggantikan kedudukan Ki Lurah Yudaprakosa, meskipun untuk sementara.”

“Mudah-mudahan ia segera mendapat ketetapan itu. Ia pantas menjadi seorang Lurah Penatus sebagaimana kau. Kau dan Kasadha telah menunjukkan kelebihan kalian selama kalian menjadi, seorang pemimpin kelompok di dalam lingkungan pasukanku, yang sudah barang tentu di dalam pasukan Ki Lurah Yudaprakosa,” berkata Ki Lurah Dipayuda kemudian.

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi Kasadha lebih pantas untuk menjabat jabatan itu.”

“Karena kau telah mengundurkan diri,” berkata Ki Lurah Dipayuda. “Seandainya kau tidak mengundurkan diri dari dunia keprajuritan, maka akan sulit bagi Ki Tumenggung untuk menunjuk, siapakah yang pantas, memegang jabatan sebagai pemimpin pasukan itu. Mungkin kau, mungkin Kasadha, atau malahan orang lain sama sekali. Tetapi tanpa kau maka para pemimpin prajurit Pajang itu tidak mengalami kesulitan lagi.”

“Mungkin, Ki Lurah,” jawab Barata. “Namun nampaknya aku tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Seandainya aku tidak mengecilkan diri, dengan menganggap diriku memiliki kemampuan olah kanuragan setingkat dengan Kasadha, namun aku tidak memiliki kemampuan untuk pemimpin sebagaimana Kasadha.”

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Kau dan Kasadha memang mempunyai sifat rendah hati. Baiklah. Bagaimanapun juga, kau telah meninggalkan dunia keprajuritan, sementara Kasadha telah diangkat untuk menjadi pemangku jabatan pemimpin pasukan. Mudah-mudahan ia ditetapkan menjadi penatus dengan pangkat Lurah. Jika demikian maka ia akan menjadi lurah yang masih muda. Bahkan mungkin yang termuda yang pernah aku kenal sebelumnya. Aku sendiri diangkat menjadi Lurah setelah aku menjadi prajurit bertahun-tahun. Tetapi aku memang tidak memiliki kemampuan setingkat dengan kau dan dengan Kasadha saat aku memasuki dunia keprajuritan. Aku adalah prajurit sebagai kebanyakan prajurit. Aku menunggu beberapa tahun sebelum aku mendapat kesempatan menjadi pemimpin kelompok. Kemudian beberapa tahun lagi aku menjadi Lurah Penatus sampai saatnya aku mengundurkan diri. Namun aku sudah merasa puas telah memberikan pengabdian meskipun hanya setitik kecil bagi Pajang.”

“Ki Lurah telah melakukan banyak sekali pengorbanan bagi Pajang,” desis Barata.

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Sedikit sekali. Bahkan bukan apa-apa.”

Namun pembicaraan mereka terputus ketika Nyi Lurah ke luar dari pringgitan. Sebelum ia duduk, ia telah berkata, “Waktunya untuk makan.”

Barata mengangkat wajahnya. Namun Nyi Lurah itu telah duduk di antara mereka. Katanya “Ki Lurah, nasi dan lauk pauk seadanya telah tersedia di ruang tengah. Kami persilahkan Ki Lurah mempersilahkan angger Barata untuk makan bersama keluarga kita. Satu hal yang jarang sekali terjadi, bahwa kita mendapat kehormatan untuk menghidangkan makan bagi seorang tamu seperti Angger Barata.”

“Ah,” Barata justru menjadi canggung.

“Maksud Nyi Lurah, kau baru pertama kali datang ke rumah ini. Selanjutnya, kau akan kembali ke rumahmu yang jauh. Karena itu, maka kesempatan seperti ini mungkin akan dapat terjadi beberapa tahun lagi,” berkata Ki Lurah Dipayuda. Namun Ki Lurah itu berkata selanjutnya, “Tetapi mudah-mudahan aku pun akan dapat berkunjung ke rumahmu. Setelah aku bebas dari tugasku, maka aku akan mempunyai waktu luang yang lebih banyak, sehingga pada satu hari aku akan dapat menyediakan waktu untuk datang kepada keluargamu.”

Barata justru menjadi berdebar-debar. Jika Ki Lurah itu benar ingin berkunjung kepada keluarganya, maka ia akan menjadi kebingungan untuk menjawab tentang dirinya, tempat tinggalnya dan apalagi keluarganya.

Untunglah bahwa Ki Lurah tidak bertanya lebih lanjut tentang keluarganya, karena Nyi Lurah berkata selanjutnya, “Marilah ngger. Selagi nasi masih hangat.”

“Marilah Barata,” sambung Ki Lurah.

Barata tidak dapat menolak. la  pun kemudian bangkit pula ketika Ki Lurah Dipayuda dan Nyi Lurah telah berdiri. Bertiga mereka kemudian telah masuk ke pringgitan.

Barata tertegun ketika ia melihat anak gadis Ki Lurah Dipayuda sedang menyenduk nasi ke dalam mangkuk-mangkuk yang sudah tersedia. Namun demikian ayah, ibu dan tamunya masuk, gadis itu segera meletakkan mangkuk-mangkuk itu dan akan beranjak pergi.

”Tunggu” berkata Ki Lurah Dipayuda, ”kau memang tidak terbiasa untuk makan bersama seorang tamu. Tetapi tamu kita kali ini bukan orang lain. Tetapi saudaramu sendiri, karena aku telah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Karena itu, maka duduklah. Kita makan bersama-sama.”

“Ah, biarlah aku nanti saja ayah.” jawab gasdis itu.

“Tidak apa-apa. Sudah aku katakan, jika tamunya orang lain maka kau tentu akan pergi ke belakang dan makan nanti setelah tamunya kembali ke pendapa. Tetapi Barata adalah saudaramu sendiri. Bukankah aku sering berceritera tentang Barata dan Kasadha?” berkata ayahnya pula.

Anak gadis Ki Lurah Dipayuda itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia masih menjawab dengan pada rendah, “Aku akan makan di dapur saja.”

”Dengarlah kata-kata ayahmu” berkata Nyi Lurah pula, “biarlah kau tidak terbiasa memasang jarak dengan orang-orang yang sudah kita anggap keluarga sendiri. Hal yang baik kau lakukan terhadap orang lain. Marilah. Duduklah bersama kami.”

Gadis itu tidak dapat mengelak lagi. Ia pun kemudian duduk bersama ayah, ibunya dan tamunya.

“Nah, bukankah ibu juga tidak terbiasa makan bersama seorang tamu ayahmu?“ berkata Nyi Lurah pula, ”tetapi karena kali ini yang datang adalah anak sendiri, maka ibu pun akan makan bersama-sama.”

Anak gadis Ki Lurah tidak menjawab, meskipun kepalanya menjadi, semakin menunduk.

“Jika kakakmu ada, suasana akan menjadi lebih baik. Tetapi aku minia, kau jangan seperti orang asing di rumah ini Barata” minta Ki Lurah Dipayuda, “kau sebaiknya membiasakan diri menganggap kau berada di rumahmu sendiri.”

Barata juga tidak menjawab. Ia memang merasa sangat canggung duduk bersama keluarga Ki Lurah Dipayuda. Namun ia sudah mencoba untuk tidak mengecewakan keluarga itu.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Lurah telah mempersilahkan Barata untuk makan. Sambil makan maka Ki Lurah telah memperkenalkan anaknya itu kepada Barata.

”Namanya Riris. Lengkapnya Riris Respati“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

”Itu adalah gagasan Ki Lurah“ sahut Nyi Lurah, ”agaknya karena Ki Lurah sering berada di kota, anaknya diberi nama seperti gadis kota. Sebenarnya aku lebih senang memberinya nama Tompo atau Cempluk, karena anak itu gemuk sekali waktu kecil.”

”Ah“ gadis itu semakin menunduk.

Ki Lurah tertawa. Katanya, ”Kenapa aku harus memberi nama anakku dengan nama yang kurang baik? Bukankah kita tidak usah membeli, sehingga kira dapat memilih yang baik bagi anak kita.”

Nyi Lurah tertawa. Katanya, ”Nama anakku agak lain dengan nama kawan-kawannya di desa ini.”

Namun hampir diluar sadarnya, Barata berdesah perlahan sekali, “Nama yang baik.”

Ki Lurah tertawa pula. Katanya kemudian, ”Marilah. Makanlah dengan tidak usah mengingat kehadiranmu disini. Sudah aku katakan, kau berada dirumah keluarga sendiri.”

Barata mengangguk sambil berdesis “Ya, Ki Lurah.”

Sementara itu, Ki Lurahpun berkata lebih lanjut, “Anakku yang tertua, kakak Riris, aku beri nama Jangkung Jaladri. Ia memang bertubuh tinggi kekurus-kursusan. Meskipun ketika kecil aku memberinya nama, aku tidak tahu bahwa anak itu akan tumbuh tinggi”

 Namun Nyi Lurah menyambung “Ki Lurah ingin anak itu menjadi anak yang sabar seperti lautan yang memuat arus dari sungai yang manapun. Karena itu ia diberi nama Jaladri, meskipun agaknya anakku bukan anak yang sabar.”

Barata mengangguk-angguk. Ia tersenyum betapa kakunya. Sementara Riris hanya menunduk saja meskipun satu dua kali tangannya menyuapi mulutnya.

Namun akhirnya saat yang sangat mengikat terutama bagi Riris itu selesai juga. Ki Lurah telah mempersilahkan Barata untuk kembali ke pendapa.

“Barata,” berkata Ki Lurah. “Sebenarnya aku ingin kau dan Kasadha bersama-sama ada di sini. Jika aku tadi sempat datang ke barakmu, aku akan mempersilakan kalian berdua singgah ke rumah ini. Kasadha di hari pertamanya, tentu akan mendapat peluang untuk meninggalkan barak itu sebentar.”

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Aku juga akan merasa senang sekali jika Kasadha juga ada di sini. Tetapi agaknya Ki Lurah telah memilih untuk menyelamatkan jiwaku daripada datang ke barak itu.”

“Ah, yang aku lakukan tidak lebih dari satu bantuan kecil bagimu. Aku yakin, tanpa aku, kau masih akan dapat menyelamatkan diri dari kedua orang bertubuh raksasa yang rakus itu. Kau mampu bergerak lebih cepat, sehingga kau dapat mempermainkan mereka dan berusaha memecah kelompok itu sehingga kau dapat melawan mereka seorang demi seorang meskipun harus bergantian sambil berlari-lari serta memerlukan tenaga yang sangat besar. Tetapi menilik daya tahan tubuhmu, kau akan dapat melakukannya,” berkata Ki Lurah.

Barata tidak menjawab. Tetapi ia hanya termangu-mangu saja mengenang peristiwa itu.

Namun dalam pada itu, Ki Lurah itu tiba-tiba saja berkata, “Barata. Aku tahu kau ingin segera bertemu dengan keluargamu. Tetapi sebenarnya aku ingin minta agar kau sempat bermalam semalam saja di sini. Tidak ada apa-apa selain keinginanku untuk berbicara lebih banyak denganmu di saat-saat perpisahan ini.”

Barata mengerutkan keningnya. Ia memang ingin segera kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, karena ia ingin segera berbicara dengan ibunya. Namun ternyata ada sesuatu yang telah mempengaruhi sikapnya itu. Tiba-tiba saja ia ingin memenuhi permintaan itu meskipun penalarannya tetap mengajaknya segera kembali ke Sembojan.

Karena itu, maka Barata pun menjadi ragu-ragu.

“Sebaiknya kau tidak menolak permintaanku ini,” berkata Ki Lurah. “Mudah-mudahan sebelum malam Jangkung telah kembali pula. Kau akan mendapat kawan yang umurnya sebaya dengan umurmu.”

Barata menjadi semakin ragu-ragu. Namun Barata sendiri tidak menyadari ketika ia  pun tiba-tiba saja mengangguk sambil berkata, “Baiklah Ki Lurah. Agaknya belum tentu satu dua tahun lagi aku dapat singgah di rumah ini.”

“Terima kasih. Namun untuk selanjutnya tentu kau akan dapat datang dalam waktu yang lebih dekat dari bilangan tahun itu. Sementara itu, aku  pun dapat datang ke rumahmu,” berkata Ki Lurah.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali pembicaraan menyinggung rumahnya, maka ia memang menjadi berdebar-debar.

Namun, terbersit pula pikiran dalam kepalanya, bahwa ia akan dapat berkata terus terang kepada ki Lurah Dipayuda, karena sudah tentu bahwa Ki Lurah bukan golongan orang-orang yang memusuhi Tanah Perdikannya, apalagi akan menyingkirkannya karena persoalan yang terlalu pribadi.

Meskipun demikian Barata masih juga bertahan. Ki Lurah memang mungkin tidak ada hubungannya dengan kedudukannya dan kedudukan ibunya di Tanah Perdikan. Tetapi jika Ki Lurah menceriterakan hal itu kepada orang lain, maka persoalannya akan dapat menjalar.

Karena itu, maka Barata masih berusaha bertahan menyimpan rahasia tentang dirinya itu rapat-rapat.

Dalam pada itu, maka Ki Lurah pun telah membawa Barata ke gandok sebelah kanan. Sebuah bilik di gandok itu telah disiapkan baginya.

“Beristirahatlah,” berkata Ki Lurah. “Sekali lagi aku berharap anggap rumah ini sebagai rumah sendiri.”

“Terima kasih Ki Lurah,” jawab Barata.

“Jika kau ingin ke pakiwan, kau dapat pergi melalui seketheng itu atau melingkar lewat sebelah rumah,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Baik Ki Lurah,” jawab Barata.

“Nah, kau dapat beristirahat di dalam bilikmu. Aku akan pergi sebentar ke rumah tetangga. Ada sesuatu yang perlu aku katakan kepadanya, tentang kerja di sawah. Sebagian sawahku telah dikerjakannya. Ia orang baik, rajin dan tertib,” berkata Ki Lurah.

“Ya, Ki Lurah,” jawab Barat.

“Mudah-mudahan Jangkung cepat pulang,” desis Ki Lurah sambil meninggalkan Barata yang berada di serambi gandok.

Ki Lurah Dipayuda ternyata telah melintasi halaman rumahnya dan ke luar regol turun ke jalan. Ia memang akan pergi ke rumah tetangganya untuk membicarakan kerja disawahnya.

Sementara itu Barata tidak segera masuk ke dalam biliknya. Ia duduk dilincak bambu di serambi gandok memandangi halaman rumah Ki Lurah yang luas namun bersih. Beberapa pepohonan tumbuh di halaman itu sehingga udara terasa sejuk.

Barata mengerutkan keningnya, ketika ia melihat Riris ke luar dari pintu pringgitan kemudian membenahi mangkuk-mangkuk yang masih ada di pendapa. Dengan trampil gadis itu membawanya masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian Riris telah ke luar lagi kependapa sambil membawa sapu ijuk.

Barata memang jarang sekali bergaul dengan gadis-gadis. Ia terbiasa hidup dalam lingkungan tertentu yang terpisah dari pergaulan luas. Di Bibis pun Barata jarang sekali berhubungan dalam hal apapun dengan gadis-gadis padukuhan itu meskipun ia berkenalan baik dengan penghuni padukuhan itu. Apalagi gadis-gadis padesan biasanya memang membatasi pergaulannya dengan anak-anak muda, karena orang tua mereka tidak senang melihatnya.

Apalagi setelah Barata berada di dalam lingkungan keprajuritan. Maka yang paling dekat disisinya adalah senjatanya. Ia hampir melupakan sama sekali bahwa di dunia ini hidup pula gadis-gadis. Baik di padesan maupun di kota-kota. Di antara gadis-gadis itu adalah anak seorang yang pernah menjadi pemimpinnya, Ki Lurah Dipayuda yang bernama Riris Respati.

Di luar sadarnya, Barata telah memperhatikan gadis itu. Sebenarnya gadis itu bukan seorang yang bergerak lamban sambil menunduk. Namun ternyata Riris itu dengan lincah membenahi tikar yang menjadi kotor, mengibaskannya di tangga pendapa, kemudian membentangkannya kembali setelah ia menyapu lantai.

Namun Barata itu terkejut. Wajahnya menjadi terasa panas ketika tiba-tiba saja dengan tidak sengaja Riris telah berpaling keserambi gandok. Riris pun terkejut ketika ia menyadari bahwa Barata tengah memandanginya. Karena itu, maka cepat-cepat ia pun telah melangkah meninggalkan pendapa masuk ke pintu pringgitan.

Barata menarik napas dalam-dalam. Ia masih tetap duduk di tempatnya. Tetapi ia telah memandang berkeliling. Untunglah, bahwa agaknya tidak ada orang yang telah melihatnya.

Namun dengan demikian maka Barata justru tidak ingin masuk ke dalam biliknya di gandok itu. Ia lebih senang duduk dilincak di serambi. Rasa-rasanya ada sesuatu yang diharapkannya.

Tetapi Riris tidak ke luar lagi ke pendapa.

Dalam pada itu, selagi Barata masih duduk di serambi gandok, tiba-tiba seorang anak muda dengan menunggang kuda berderap masuk ke halaman. Dengan tangkasnya anak muda itu kemudian meloncat turun. Dengan lantang ia memanggil seseorang yang berlari-lari muncul dari sebelah gandok yang ada di seberang.

Orang itu pun kemudian telah menerima kuda itu. Sementara anak muda itu meloncat naik tangga pendapa dan tanpa berpaling hilang dibalik pintu pringgitan.

Anak muda itu bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan.

“Tentu anak muda itulah yang bernama Jangkung Jaladri,” berkata Barata didalam hatinya. Tetapi Barata menjadi berdebar-debar juga karena anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya.

“Apakah sifat anaknya ini berbeda dengan sifat ayahnya yang baik, ramah dan rendah hati?” pertanyaan itu telah tumbuh didalam hatinya.

Namun Barata tidak beranjak dari tempatnya masih tetap duduk saja menatap pendapa yang kosong.

Tetapi dugaan Barata terhadap anak muda yang baru saja datang itu ternyata keliru. Sejenak kemudian, anak muda itu telah muncul kembali dipendapa. Kemudian berpaling ke serambi gandok.

Ketika ia melihat Barata, maka ia pun telah berlari-lari mendapatkannya. “Kaukah Barata yang dikatakan itu?” bertanya anak muda itu.

“Ya,” jawab Barata. “Kau tentu putera Ki Lurah Dipayuda. Jangkung Jaladri.”

“Ya. Darimana kau tahu namaku?” bertanya anak muda yang kemudian duduk disebelah Barata itu.

Ternyata anak muda itu juga ramah seperti ayahnya. Dengan nada rendah Barata menjawab, “Ki Lurah telah menyebut namamu. Bahkan pekerjaanmu. Itulah agaknya kau datang dengan naik kuda yang besar dan tegar.”

“Itu bukan kudaku. Tetapi kuda seorang saudagar emas berlian yang nampaknya kehabisan modal. Aku diminta untuk menjualnya,” jawab Jangkung. Namun kemudian katanya, “Kenapa kau duduk di sini. Mari, kita duduk di pendapa.”

“Ki Lurah memberi kesempatan kepadaku untuk beristirahat di gandok. Tetapi aku tidak terbiasa beristirahat di siang hari, sehingga aku hanya duduk saja di sini. Rasa-rasanya justru menjadi canggung,” jawab Barata.

Jangkung tertawa. Katanya, “Marilah. Lihat kuda-kudaku. Barangkali kau ingin membelinya barang seekor sebelum kau menempuh perjalanan.”

Barata lah yang kemudian tertawa. Katanya, “Darimana aku mendapat uang untuk membeli seekor kuda?”

“Bukankah kau menabung selama kau menjadi prajurit?” bertanya Jangkung yang masih saja tertawa.

Barata menarik napas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau pernah berbincang dengan Ki Lurah tentang penghasilan seorang prajurit dipandang dari segi keduniawian?”

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku pernah berbicara dengan ayah. Ayah memang mengatakan bahwa yang penting bagi seorang prajurit bukan penghasilan yang diterimanya disetiap pekan. Tetapi justru kesempatan pengabdiannya. Hampir setiap orang yang memasuki lingkungan keprajuritan telah dibekali dengan niat pengabdian.”

Barata mengangguk kecil. Katanya, “Dengan demikian, maka agak mustahil bagiku untuk dapat membeli seekor kuda. Apalagi kuda yang besar dan tegar sebagaimana kau pakai tadi.

Jangkung  pun mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Ayah pun tidak akan dapat memenuhi kebutuhan keluarganya untuk satu tataran kehidupan yang cukup tanpa sawah yang beberapa bahu peninggalan kakek itu. Karena itu pula maka aku merasa bahwa aku pun wajib membantu ayah untuk meringankan bebannya dengan berbuat apa saja sesuai dengan kemampuanku serta kemungkinan yang dapat aku lakukan.”

Barata mengangguk-angguk. Namun ia  pun kemudian bertanya, “Apakah kau tidak berminat menjadi seorang prajurit?”

Jangkung tersenyum. Katanya, “Sudah cukup satu orang dalam satu keluarga menjadi prajurit. Ayah sudah menjadi prajurit. Karena itu, maka aku tidak menjadi prajurit.”

“Tetapi Ki Lurah sudah mengundurkan diri sekarang,” berkata Barata.

“Belum terlalu lama. Apalagi masa ini adalah masa peralihan. Bahkan agak tidak menentu. Mataram telah mengalahkan Pajang. Namun kemudian Mataram tidak berbuat sesuatu atas Pajang. Bahkan Pajang telah ditinggalkan begitu saja. Menurut ayah, Panembahan Senapati memang memberi kesempatan kepada Pangeran Benawa untuk tampil dalam pemerintahan. Tetapi ternyata keputusan dalam sidang keluarga Istana Pajang tidak demikian. Yang memegang tapuk pemerintahan di Pajang adalah justru Adipati Demak. Sedangkan Pangeran Benawa telah disingkirkan ke Jipang,” sahut Jangkung dengan nada rendah. Namun katanya kemudian, “Tetapi biarlah yang terjadi itu. Aku telah memilih satu jalan yang tidak mengganggu pihak yang manapun. Berdagang kuda.”

Ketika Barata kemudian mengerutkan keningnya, Jangkung tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan kau pikirkan lagi. Sekarang mari lihat kuda-kudaku yang ada di kandang. Tetapi aku tidak mempunyai kuda yang terbaik sekarang ini. Aku baru saja mencarikan seekor kuda yang besar dan tegar berwarna gelap bagi Ki Tumenggung Suraprana. Ternyata aku telah mendapat pesanan pula dari Ki Tumenggung Wiradigda. Kuda yang aku pakai itulah yang akan aku tawarkan besok.”

Barata pun kemudian bangkit ketika Jangkung mengajaknya pergi ke kandang kudanya untuk melihat-lihat beberapa ekor kuda yang tentu sebagian adalah kuda yang sedang diperdagangkan.

Lewat halaman depan mereka kemudian menuju ke halaman samping, langsung menuju ke kandang.

Jangkung sempat menunjukkan beberapa ekor kuda yang ada dikandang. Pada umumnya memang kuda yang baik dan terpelihara. Namun harganya tentu juga mahal.

Beberapa saat mereka melihat-lihat kuda itu. Barata memang mengaguminya. Ia termasuk seorang yang menggemari kuda-kuda yang baik. Di padepokannya ia mempunyai kuda yang baik pula. Demikian juga di Tanah Perdikan Sembojan. Adalah kegemarannya untuk berlatih di atas punggung kuda sambil melontarkan tombak pada sasaran yang dibuat khusus untuk latihan ketrampilan melontarkan tombak. Dan ia termasuk seorang yang memiliki kemampuan cukup untuk berkuda.

Barata yang sedang memperhatikan kuda-kuda itu termangu-mangu ketika Jangkung berkata, “Nanti kita melihat-lihat padukuhan ini dengan berkuda. Kau tentu senang. Bukankah kau akan bermalam?”

Barata mengangguk. Jawabnya, “Ya. Ki Lurah minta aku bermalam.”

“Nah, jika demikian, marilah. Kita menunggu ayah di serambi. Jika ayah datang, kita pergi berkeliling melihat-lihat padukuhan ini dan sawah di sekitarnya. Jika kau sudah-mencoba salah seekor kudaku, maka kau tentu ingin membelinya,” berkata Jangkung sambil tersenyum.

Tetapi sekali lagi Barata menjawab, “Aku memang ingin. Tetapi apakah aku harus menjual kepala ini dahulu?’

Jangkung tertawa keras-keras. Sambil menepuk bahu Barata ia berkata, “Marilah. Kita menunggu ayah di serambi.” Ketika Barata melangkah menuju ke gandok, Jangkung menariknya sambil berkata, “Kita pergi ke gandok lewat dalam.”

“Ah. Aku lewat halaman samping saja,” jawab Barata.

“He, bukankah kau sudah dianggap keluarga sendiri?” bertanya Jangkung.

Barata memang menjadi bimbang. Tetapi. Jangkung menariknya menuju ke pintu dapur.

Demikian mereka masuk ke dalam dapur, maka rasa-rasanya keringat mulai mengalir dipunggung Barata. Ia melihat Riris sedang sibuk di dapur. Namun demikian ia melihat kakak dan tamunya masuk, maka ia pun segera menjadi canggung.

“Riris,” Jangkung malah memanggil adiknya.

Riris berdiri termangu-mangu. Sementara Jangkung berkata, “Beri kami minum ya? Kami ada diserambi gandok.”

Riris termangu-mangu. Namun karena Riris tidak segera menjawab Jangkung berkata sekali lagi “He, kau dengar Riris?”

“Ya, ya kakang,” jawab Riris.

“Jangan lupa. Gula aren. Bukan gula kelapa,” pesan Jangkung.

“Ya kakang,” jawab Riris sekali lagi.

Jangkung kemudian mengajak Barata masuk ke ruang dalam. Lewat longkangan yang memisahkan dapur dan bagian dalam rumahnya seperti sudah diduganya. Kemudian melalui ruang dalam, ruang tengah mereka menuju ke serambi samping. Mereka ke luar lagi kesebuah longkangan di dalam seketheng. Baru mereka turun ke samping pringgitan.

Susunan rumah itu memang mirip dengan rumahnya yang lebih besar di Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika mereka kemudian duduk diserambi, maka mereka masih sempat membicarakan berbagai hal tentang kuda. Ternyata keduanya mempunyai pandangan yang tidak berbeda tentang katuranggan. Namun karena Jangkung bergaul dengan kuda siang dan malam, maka ia lebih banyak mengenal ciri-ciri seekor kuda.

“Aku tidak boleh salah menilai,” berkata Jangkung. “Jika karena sesuatu hal aku keliru, maka aku tentu akan mengalami kerugian. Beberapa orang pedagang kuda memang sering berusaha menyembunyikan cacat seekor kuda. Tetapi jika kita sudah mampu mengenali ciri-cirinya dengan baik, maka kita tidak akan dapat dikelabuinya.”

Barata mengangguk-angguk. Ia harus mengakui, bahwa Jangkung yang umurnya tentu tidak terpaut banyak dengan dirinya itu, telah memiliki pengetahuan yang dalam tentang kuda.

Namun sejenak kemudian mereka terpaksa berhenti berbicara. Riris telah datang membawa dua mangkuk minuman panas dan beberapa potong makanan.

“Nah, adikku yang cantik ini tahu saja keinginan kakaknya,” desis Jangkung.

“Ah, kau,” sahut Riris. “Lain kali kau ambil sendiri di dapur.”

“Kenapa?” bertanya Jangkung.

“Kau tidak boleh malas. Bukankah biasanya kau ambil sendiri di dapur?” jawab Riris.

“Kali ini tidak biasa. He, kenapa kau kali ini mau menghidangkan minumanku kemari?” Jangkung mulai mengganggu adiknya.

“Ah kau,” Riris yang wajahnya menjadi merah, tiba-tiba saja Riris telah mencubit lengan kakaknya.

”Riris”, kakaknya pun segera bangkit dan menghindar, ”Sakit. “Kulitku tidak kebal seperti kulit Barata. Coba, cubit anak muda itu, tentu ia tidak merasa sakit. Ia seorang prajurit linuwih yang mempunyai ilmu kebal”.

“Ah,” wajah Riris menjadi semakin merah. Tetapi ia pun segera berlari menuju ke seketheng dan hilang ke dalamnya.

Jangkung tertawa. Katanya, “Anak itu pemalu sekali. Ia harus belajar untuk menjadi seorang yang biasa-biasa saja menghadapi orang lain, orang yang belum dikenalnya sekalipun.”

Barata memang menjadi berdebar-debar juga. Tetapi ia menjawab, “Bukankah itu merupakan kebiasaan gadis-gadis.”

“Ah, tentu tidak. Aku mempunyai kawan yang juga mempunyai adik seorang gadis. Jika aku datang adiknya itulah yang bercerita tentang apa saja kesana-kemari lebih banyak dari kakaknya. Jika adiknya itu datang membawa minuman, maka ia tidak masuk lagi ke dalam,” jawab Jangkung.

“Tetapi tentu hanya jika tamunya sudah dikenalnya dengan baik,” berkata Barata.

“Tidak. Sejak aku datang untuk pertama kali, ia sudah bersikap begitu. Demikian pula jika ada orang, lain datang meskipun belum dikenalnya sama sekali.”

“Itu satu perkecualian,” desis Barata.

Jangkung tertawa. Nampaknya ia merasa sesuai dengan tamunya yang agak pendiam itu.

Seperti yang dikatakan oleh Jangkung, ketika ayahnya kemudian datang, maka ia telah mengajak Barata untuk melihat-lihat padukuhan dan sawah di sekitar padukuhannya.

“Yang penting, aku menawarkan kuda-kudaku,” berkata Jangkung sambil tertawa.

Barata hanya tertawa saja. Tetapi ia tidak menjawab. Ki Lurah yang mendengar juga gurau anaknya ikut tertawa pula.

Demikianlah, maka kedua anak muda itu pun telah meninggalkan regol halaman di atas punggung kuda untuk melihat-lihat keadaan. Ternyata Barata pun tangkas meloncat, kepunggung kuda karena ia memang memiliki kemampuan. Demikian derap kaki kuda itu terdengar di jalan, maka Riris yang diam-diam memperhatikan kedua anak muda itu pun telah bergeser ke balik dinding penyekat yang tidak terlalu tinggi, disebelah seketheng, di bawah sebatang pohon kemuning.

Barata yang belum pernah mengenal padukuhan itu telah melihat bahwa padukuhan itu adalah padukuhan yang baik. Jalan-jalannya bersih, sedangkan halaman-halaman rumah pun nampak terpelihara. Ketika mereka melintasi banjar, maka nampak banjar padukuhan itu pun bersih dan hidup. Di sore hari di banjar itu banyak berkumpul anak-anak muda padukuhan itu.

Jangkung ternyata merupakan anak muda yang banyak dikenal di seluruh padukuhan yang besar itu. Anak muda itu pergaulannya agaknya cukup luas. Hampir semua orang dikenalnya. Bukan saja anak-anak muda. Tetapi juga orang-orang tua dan bahkan anak-anak yang ditemuinya di jalan-jalan dikenalnya dengan baik. Apalagi ayahnya yang menjadi Lurah Penatus itu memang merupakan orang yang berpengaruh di padukuhan itu.

Ketika mereka sampai ke sebuah pasar di pinggir padukuhan yang sudah sepi Jangkung berkata, “Besok adalah hari pasaran. Pasar ini akan menjadi sangat ramai. Aku sudah berjanji untuk membelikan sepasang tusuk konde penyu jika kudaku laku. Kuda itu ternyata sudah dibeli oleh Ki Tumenggung. Besok aku harus memenuhi janjiku itu, mengantarnya ke pasar, membeli sepasang tusuk konde.”

Barata tersenyum. Ternyata hubungan kakak beradik itu begitu akrabnya. Namun Barata mengerutkan keningnya ketika ia melihat sepasang mata yang memandangi mereka dengan sorot yang berbeda dari orang-orang yang lain. Sorot mata yang tidak ramah sama sekali. Bahkan memancarkan kebencian yang membara.

“Kau lihat orang itu?” desis Barata.

Jangkung menarik napas dalam-dalam. Tetapi nampaknya ia tidak menghiraukannya.

Namun ketika keduanya sudah menjauhi orang itu Jangkung berkata, “Anak muda yang kecewa.”

“Kenapa?” bertanya Barata.

“Bukan salahku dan bukan salah keluargaku,” jawab Jangkung. “Anak muda itu nampaknya sangat memperhatikan Riris. Katakanlah ia jatuh cinta. Tetapi Riris justru takut terhadap anak muda itu. Bukan saja karena wajahnya yang garang, tetapi juga kelakuannya tidak disukai adikku. Ia agak kasar dan tidak mengenal unggah-ungguh. Mungkin ia bukan seorang yang jahat. Tetapi karena sifat-sifatnya itulah, maka Riris sama sekali tidak mau berhubungan dengan orang itu. Sebagai orang sepadukuhan Riris tentu mengenalnya. Bahkan sejak masa kanak-kanak. Tetapi justru karena itu, maka Riris telah menjauhinya.”

“Apakah anak muda itu pernah mengatakan sesuatu?” bertanya Barata.

“Secara resmi belum. Tetapi ia pernah berbicara langsung kepada Riris justru ditengah-tengah pasar. Itulah yang aku katakan anak itu sama sekali tidak mempunyai unggah-ungguh. Riris pulang dan menangis hampir sehari penuh,” berkata Jangkung.

Barata mengangguk-angguk. Sementara itu Jangkung berkata selanjutnya, “Hampir saja aku tidak sabar. Tetapi ayah telah mencegahku. Namun demikian, aku sudah telanjur tidak dapat bersikap ramah kepadanya. Agaknya ia  pun merasa. Apalagi ia sadar, bahwa Riris menolaknya sehingga ia menjadi semakin benci kepada keluargaku.”

“Tetapi apakah ia tidak tahu bahwa ayahmu seorang prajurit yang dapat bertindak dengan keras jika anak muda itu juga mencoba melakukan kekerasan?” bertanya Barata.

“Ia merasa mendapat dukungan dari keluarganya. Bukan ayah dan ibunya yang mengerti akan sikap Riris dan bahkan telah minta maaf kepada ayah. Tetapi kakaknya adalah seorang yang merasa ditakuti di padukuhan sebelah. Kakaknya merasa tidak takut terhadap seorang prajurit. Apalagi bekas prajurit seperti ayah,” jawab Jangkung. Namun katanya kemudian, “Meskipun sebenarnya tanpa ayah pun aku akan sanggup menyelesaikannya dengan cara apapun juga.”

Barata mengangguk-angguk. Yang kemudian terlintas di kepalanya adalah persoalan-persoalan yang selalu timbul dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun tidak dikehendaki, namun tiba-tiba saja telah terlintas pula di angan-angannya apa yang pernah terjadi dengan ibunya. Dengan laki-laki yang belum sempat menjabat Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan kemudian kehadiran perempuan lain.

Namun Barata tidak mengatakan sesuatu.

Demikianlah keduanya telah melintasi jalan padukuhan, jalan bulak dan bahkan sampai ke padukuhan sebelah. Ketika mereka melewati rumah yang cukup besar di sudut padukuhan, maka Jangkung itu berkata, “Inilah rumah orang itu.”

“Siapa?” bertanya Barata.

“Kakak dari anak muda yang sering mengganggu Riris,” jawab Jangkung.

Barata mengangguk-angguk. Tetapi mereka hanya lewat saja dengan cepat tanpa sempat melihat kedalamnya.

Namun ternyata Jangkung juga mengenal orang-orang padukuhan itu. Mereka nampaknya cukup akrab. Lontaran kelakar yang jenaka kadang-kadang terdengar dari anak-anak muda padukuhan sebelah ketika Jangkung lewat.

Sebelum matahari turun ke balik punggung bukit, keduanya telah berada dirumah Ki Lurah kembali. Keduanya segera membawa kuda mereka ke kandang dan menambatkannya pada patok-patok yang sudah disediakan. Seorang yang memang bertugas melayani kuda-kuda yang diperdagangkan itu pun segera melepas lapak dan kelengkapan kuda itu dan memasukkannya kedalam kandang.

Setelah membersihkan diri, maka kedua anak muda itu pun telah masuk ke ruang dalam.

“Aku disini saja,” berkata Barata ketika mereka berada di pringgitan.

“Mari masuk ke dalam. Bukankah kau sudah dianggap keluarga sendiri,” ajak Jangkung.

Barata memang tidak dapat menolak. Karena itu, maka ia pun telah ikut masuk ke ruang tengah.

Namun keringatnya mulai mengalir ketika di ruang tengah Ki Lurah duduk di amben bersama Nyi Lurah dan Riris.

“Kemari. Duduklah di sini. Sebentar lagi kita akan makan malam,” ajak Jangkung.

Ki Lurah beringsut ketika Barata kemudian duduk di sebelahnya.

“Kemana saja kalian sepanjang sore hari?” bertanya Ki Lurah.

Jangkung  pun kemudian menceriterakan bahwa ia telah mengajak Barata melihat-lihat isi padukuhan dan sawah di sekitarnya. Tetapi Jangkung sama sekali tidak menyinggung seorang anak muda yang memandangi mereka dengan tatapan mata yang penuh kebencian.

Seperti yang dikatakan oleh Jangkung, maka sejenak kemudian maka makan malampun telah disediakan. Bersama-sama mereka makan, seperti ketika mereka makan siang. Bahkan bertambah dengan kehadiran Jangkung, sehingga suasana menjadi semakin riuh. Sekali-sekali Jangkung sempat mengganggu adiknya, yang agaknya memang agak manja terhadap kakaknya.

Setelah makan maka Ki Lurah, Jangkung dan Barata masih sempat berbincang, sementara Nyi Lurah dan Riris pergi ke biliknya. Berbagai persoalan telah mereka bicarakan. Dari kehidupan seorang prajurit yang jarang dapat menyimpan uang cukup, katuranggan kuda dan kehidupan para petani di padukuhan itu.

Namun setiap kali Barata memang menjadi berdebar-debar jika pembicaraan mereka menyinggung soal tempat tinggal dan keluarga Barata. Untunglah bahwa Barata masih dapat mengelak untuk tidak berbicara tentang Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika malam menjadi semakin larut, maka Barata pun telah dipersilahkan untuk beristirahat digandok sebagaimana telah disediakan baginya.

Malam itu, Barata ternyata tidak dapat segera tidur nyenyak. Setiap kali ia membayangkan kehidupan keluarga Ki Lurah Dipayuda yang terasa cukup manis. Semanis anak gadisnya yang bernama Riris Respati. Namun dalam pada itu, ternyata ada juga persoalan yang dapat timbul jika anak muda yang mencintai Riris itu tidak dapat mengendalikan dirinya.

Namun Riris adalah anak bekas seorang prajurit yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Ia adalah Lurah Penatus yang memiliki pengalaman yang sangat luas. Ki Lurah adalah orang yang tangguh di medan pertempuran maupun kemampuan olah kanuragan. Sementara itu, ia mempunyai seorang kakak yang agaknya juga memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

Beberapa kali Barata berusaha untuk meletakkan angan-angannya itu, dan berusaha untuk dapat tidur nyenyak. Namun meskipun agak lambat, akhirnya Barata berhasil melepaskan diri dari libatan kesadarannya, sehingga akhirnya anak muda itu tertidur pula.

Pagi-pagi sekali Barata sudah bangun. la pun telah berusaha untuk mendahului yang lain pergi ke pakiwan. Namun ketika ia melingkari rumah menuju ke sumur di belakang, ternyata senggot timbanya telah berderit.

Barata menarik napas dalam-dalam. Jangkung telah mendahuluinya menimba air. Ternyata anak muda itu bukannya seorang pemalas yang karena sudah memiliki kemampuan mencari nafkah, lalu tidak mau membantu bekerja di rumah.

Sementara Jangkung menimba air, ternyata di dalam pakiwan sudah ada seseorang yang sedang mandi.

Ketika Jangkung melihat Barata datang, maka ia pun telah berkata, “He, Riris, cepat. Barata juga akan mandi.”

“Tunggu sebentar,” jawab Riris dari dalam pakiwan.

“Atau biar ia masuk saja?” Jangkung mulai mengganggu adiknya.

Ternyata Riris tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja dari dalam pakiwan dari antara dinding dan atap ijuk, Riris telah menyiramkan air dari tempurung yang dipakainya untuk mandi.

“He, Riris. Kau basahi pakaianku,” teriak Jangkung.

Riris tidak menjawab. Tetapi ia  pun kemudian cepat-cepat ke luar dari pakiwan dan berlari masuk ke dapur.

Jangkung tertawa berkepanjangan. Sementara Barata berdiri saja termangu-mangu.

Namun Barata pun kemudian berkata, “Jika kau akan mandi, mandilah. Biar aku ganti menimba air.”

“Mandi sajalah dahulu,” jawab Jangkung.

Barata tidak membantah. Ia  pun kemudian telah masuk ke pakiwan dan mandi. Baru kemudian, setelah ia mandi, maka Jangkung lah yang masuk ke pakiwan, sementara Barata menimba air.

Beberapa saat kemudian, maka anak-anak muda itu telah selesai berbenah diri. Barata yang semula tidak berniat bermalam, tetapi karena desakan keinginan yang kurang dimengertinya sendiri sehingga telah menahannya semalam di rumah itu, telah bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan. Meskipun berbeda dengan saat sebelumnya, rasa-rasanya ada keseganan dihatinya untuk meninggalkan tempat itu, tetapi Barata merasa wajib untuk meneruskan perjalanan.

Tetapi, demikian ia selesai benah diri, ia terkejut ketika tiba-tiba saja Jangkung datang ke biliknya sambil berkata, “Cepat sedikit Barata. Kami sudah akan berangkat.”

“Kemana?” bertanya Barata.

“Matahari telah terbit,” berkata Jangkung kemudian tanpa menjawab pertanyaan Barata.

“Ya. Tetapi kemana?” ulang Barata.

“Bukankah kemarin sudah aku katakan, bahwa hari ini hari pasaran? Pasar itu tentu menjadi ramai sekali. Dan seperti yang sudah aku duga, Riris minta dibelikan tusuk konde yang terbuat dari penyu,” jawab Jangkung.

“Tetapi aku akan meneruskan perjalananku hari ini,” jawab Barata.

“Ah. Sekarang ikut aku ke pasar. Kau tentu senang melihat pasar di padukuhan ini. Di hari pasaran, pasar itu tidak kalah ramainya dengan pasar di kota Pajang.”

Barata memang menjadi bingung. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ia akan diajak serta ke pasar meskipun Jangkung pernah mengatakan bahwa hari itu adalah hari pasaran.

“Cepatlah sedikit,” desak Jangkung. “Riris sudah siap.”

Barata masih ragu-ragu. Namun Jangkung kemudian telah menarik tangannya. Katanya, “Kau tidak usah membawa pedangmu. Kau tidak perlu berkelahi dipasar.”

Barata memang tidak dapat menolak lagi. Karena itu, maka ia pun ikut saja sampai ke halaman. Sementara itu Riris, Ki Lurah dan Nyi Lurah sudah berada di halaman.

“Apakah semua akan pergi?” bertanya Barata.

“Bapak dan ibu tidak akan pergi,” jawab Jangkung.

Riris yang melihat Barata ditarik ke luar dari biliknya telah menundukkan kepalanya. Kakaknya juga tidak mengatakan bahwa ia akan mengajak Barata serta ke pasar. Namun Riris sudah tidak dapat lagi membatalkan niatnya.

“Nah,” berkata Jangkung setelah ia berada di depan ayah dan ibunya. “Kami minta diri ayah. Kami akan melihat-lihat pasar. Riris minta dibelikan tusuk konde yang terbuat dari penyu.”

“Pergilah,” berkata ayahnya. “Bukankah kau memang sudah berjanji.”

“Ya ayah. Dan Riris tahu saja kapan kudaku laku,” jawab Jangkung.

“Kau sendiri yang berceritera,” sahut Riris.

Jangkung tertawa. Katanya, “Baiklah. Marilah. Matahari sudah naik.”

Demikianlah maka mereka bertiga pun telah berangkat ke pasar. Riris dan Barata memang nampak canggung sekali. Mereka berjalan disebelah menyebelah Jangkung. Jika Jangkung ingin bergeser, maka Riris telah memeganginya erat-erat.

Bahkan sekali-sekali Riris mencubitnya sambil berkata, “Jika kau nakal, aku akan pulang saja.”

Jangkung hanya dapat tertawa saja. Sekali-sekali mengaduh. Namun ia tidak dapat berpindah tempat. Ia harus berjalan ditengah-tengah.

Barata yang juga merasa canggung itu akhirnya mulai memperhatikan keadaan disekitarnya. Jalan yang dilaluinya memang menjadi lebih ramai dari kemarin. Tetapi karena mereka hanya berjalan kaki, rasa-rasanya jaraknya menjadi lebih jauh dari jarak yang ditempuhnya dihari sebelumnya dengan berkuda. Apalagi Barata berjalan dengan jantung yang selalu berdebar-debar.

Namun sambil berjalan Jangkung sempat berceritera tentang pasar itu. Pasar itu bukan saja menjadi penting bagi pedukuhannya. Tetapi bagi beberapa pedukuhan di sekitarnya. Orang-orang dari beberapa pedukuhan sempat datang untuk menjual hasil sawahnya yang berlebihan. Mereka dapat membeli pula kebutuhan-kebutuhan mereka yang lain. Orang-orang yang membuat kerajinan tangan dapat pula menjualnya dipasar itu.

“Ada empat orang pande besi di pasar itu. Masing-masing dengan tiga atau empat orang pembantu. Mereka bahkan dapat membuat senjata,” berkata Jangkung. “Tetapi tentu senjata yang kurang baik. Parang, luwuk dan bahkan ujung tombak. Namun senjata-senjata itu sangat sederhana.”

Barata mengangguk-angguk. Sementara itu Jangkung berkata pula, “Orang-orang Pajang juga banyak yang datang ke pasar itu di setiap hari pasaran seperti sekarang ini.

“Apakah di pasar itu ada juga perdagangan ternak?” bertanya Barata.

“Tidak,” jawab Jangkung. “Pasar ternak berada di Kademangan sebelah. Tetapi tidak sebesar pasar ternak di Pajang.”

Barata tidak bertanya lagi. Mereka telah sampai ke tempat yang semakin ramai. Orang-orang semakin banyak berjalan ke kedua arah. Ada yang baru berangkat ke pasar, tetapi sudah ada pula yang kembali setelah dagangannya terjual habis. Biasanya dibeli oleh tengkulak yang banyak terdapat di pasar itu. Dan tengkulak itulah yang kadang-kadang mendapat uang lebih banyak dari orang orang yang justru menghasilkan. Apakah itu hasil bumi atau barang-barang kerajinan dan alat-alat dapur.

Namun dalam perjalanan itu Barata sempat memperhatikan kebun-kebun yang masih kosong diantara halaman-halaman yang bersih. Rumpun bambu masih terdapat dimana-mana.

“Bambu menjadi penting bagi kami yang tinggal di daerah ini,” berkata Jangkung. “Orang-orang di sekitar tempat ini, di samping bertani, mereka juga membuat kerajinan bambu. Perhiasan, tetapi juga alat-alat dapur. Bahkan dinding rumah yang dianyam sesuai dengan keperluan.”

Barata mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Riris mendesak kakaknya sehingga Jangkung pun telah mendesak Barata semakin ke tengah. Ketika seorang penunggang kuda lewat, maka hampir saja Barata tersentuh kuda itu.

Barata mula-mula justru memperhatikan penunggang kuda yang juga terkejut dan memandanginya dengan kening berkerut. Namun kemudian Barata pun melihat, dipinggir jalan itu berdiri seorang anak muda yang kemarin juga memandanginya dengan sorot mata yang mengandung kebencian.

Anak muda yang sering mengganggu Riris itu berdiri di pinggir jalan, di bawah rumpun bambu.

Tetapi Jangkung tidak menghiraukannya. Ia berjalan saja seperti biasa meskipun Riris berpegangan tangannya semakin kuat.

Beberapa saat kemudian, Riris menarik napas dalam-dalam. Anak muda itu tidak mengganggunya. Bahkan menyapa pun tidak meskipun wajahnya nampak gelap sekali.

Beberapa saat kemudian, maka ketiga anak muda itu telah berbelok memasuki jalan yang langsung menuju ke gerbang pasar.

”Kau takut?” bertanya Jangkung kepada adiknya ketika sudah berbelok.

”Aku takut sekali kakang”            jawab Riris.

“Jangan takut. Ada aku dan ada Barata. Kau tau bahwa Barata adalah bekas seorang prajurit?” bertanya Jangkung.

”Ah” Riris tidak mau menjawab.

Jangkung tertawa. Tetapi katanya kemudian,   ”Jika sekali lagi anak itu menggodamu, aku akan membuat perhitungan meskipun ayah melarang. Ayah adalah bekas seorang prajurit, tetapi ia tidak bersikap seperti prajurit.”

”Ki Lurah memang tidak senang terjadi keributan” hampir diluar sadarnya Barata menyahut, “tetapi bukan berarti bahwa Ki Lurah bukan seorang prajurit pilihan. Di medan perang Ki Lurah tidak segan-segan mengumpankan dirinya untuk keselamatan prajurit-prajuritnya.”

”Kau, kau memuji” sahut Jangkung.

”Aku berkata sebenarnya” jawab Barata.

Jangkung mengangguk-angguk. Namun katanya, ”Tetapi dirumah, ayah justru bersikap sebaliknya. Juga menghadapi anak itu. Apalagi kakaknya yang tinggal di padukuhan sebelah yang merasa dirinya mempunyai kelebihan dari setiap orang. Bahkan dari para prajurit Pajang sekalipun.”

“Ah, sudah” potong Riris. ”kita sudah sampai.”

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Mereka memang sudah mendekati pintu gerbang pasar. Sementara itu, para penjual telah meluap sampai keluar pasar. Di pinggir jalan yang menuju ke pintu gerbang pasar itu pun banyak sekali orang yang berjualan mulai dari barang-barang kerajinan, alat-alat dapur dan bahkan bahan mentah dan telur itik, telur ayam dan buah-buahan.

”Di hari pasaran, pasar itu sudah tidak menampung lagi” berkata Jangkung.

Barata mengangguk-angguk. Nampaknya pasar itu memang tidak kalah ramainya dengan pasar yang terdapat di kota.

Beberapa saat kemudian mereka telah berputar-putar didalam pasar. Memenuhi permintaan Riris, maka Jangkung telah membawanya ke bagian tengah pasar itu untuk membeli tusuk konde yang terbuat dari penyu.

Namun sekali lagi Barata melihat anak muda yang sering mengganggu Riris itu: Anak muda itu berada diantara orang-orang yang sibuk didalam pasar. Namun agaknya Riris dan Jangkung tidak melihatnya karena mereka sibuk memperhatikan berbagai macam barang kerajinan. Terutama yang terbuat dari penyu dan tanduk.

Sekilas Barata melihat betapa wajah itu membayangkan perasaan aneh yang memancar dari dalam lubuk hatinya. Bukan saja kebencian, tetapi agaknya telah berbaur dengan perasaan dendam. Anak muda itu tampaknya tidak ingin menyimpan dendam itu di dalam dadanya sehingga membuat jantungnya menjadi rapuh. Tetapi anak muda itu tentu akan melepaskan dendamnya pada satu kesempatan, pagi, sore atau malam hari.

Tetapi Barata tidak memberitahukannya kepada Jangkung yang baru sibuk melayani Riris. Barata ingin berbicara kepada Jangkung tanpa didengar oleh adiknya yang memang sudah menjadi ketakutan kepada anak muda itu.

“Jika demikian terus-menerus, Riris tentu tidak merasa bebas untuk ke luar dari halaman rumahnya,” berkata Barata di dalam hatinya.

Dalam pada itu, beberapa saat mereka bertiga masih berada di dalam pasar. Ternyata pilihan Riris tidak begitu mudah. Ia melihat tusuk konde yang satu dan yang lain. Pasangan-pasangan yang dianggapnya kurang serasi. Jika buatannya sesuai, maka bentuknya kurang disenanginya. Jika ia menemukan bentuk yang dianggapnya baik, buatannya dikatakannya kasar.

“Ah,” Jangkung mulai mengeluh, ”matahari sudah semakin tinggi. Aku masih harus membeli kejen bajak. Ripan minta kejen yang baru karena kejen yang lama sudah tumpul dan hampir habis.”

“Nanti dulu,” Riris menarik baju kakaknya. “Kita melihat di sebelah.”

Setelah mondar-mandir beberapa saat, akhirnya Riris menemukan tusuk konde yang sesuai dengan keinginannya. Namun Jangkung sudah mulai berkeringat dipunggungnya, sedangkan Barata hanya mengikuti saja di belakang. Setelah membeli tusuk konde, maka mereka pun pergi ke pande besi yang berada di bagian tepi dari pasar itu melekat pagar. Jangkung telah membeli kejen sebagaimana dipesan oleh Ripan, salah seorang pembantunya yang sering ikut menggarap sawah.

“Nah, sekarang tinggal membeli oleh-oleh buat ayah dan ibu,” berkata Riris.

“Pakai uangku?” bertanya Jangkung.

“Tentu,” jawab Riris.

Jangkung berpaling kearah Barata sambil berdesis, “Di luar perhitungan.”

Barata hanya tersenyum saja sementara Riris menarik Jangkung ke sudut yang lain dari pasar itu untuk membeli oleh-oleh dan sekaligus berbelanja.

Sementara itu matahari menjadi semakin tinggi. Ketiga orang anak muda yang telah selesai berbelanja itu pun telah ke luar dari regol pasar. Beberapa orang penjual bahan-bahan mentah telah membenahi barang-barangnya karena dagangannya memang telah habis. Sementara yang lain masih menunggu orang-orang yang akan membelinya.

Sementara itu pasar di hari pasaran itu masih saja terasa sangat ramai. Masih saja mengalir orang-orang yang datang untuk berbelanja dari padukuhan-padukuhan yang agak jauh, yang tidak setiap hari pergi ke pasar, karena biasanya mereka pergi ke pasar sepekan sekali.

Ketika kemudian ketiga anak muda itu melangkah meninggalkan pasar tiba-tiba saja seseorang telah memanggil Jangkung.

Jangkung berpaling. Dengan serta merta ia meninggalkan adiknya untuk menjumpai orang itu. Mereka pun berbicara sejenak. Kemudian Jangkung tergesa-gesa kembali menemui adiknya sambil berkata, “Riris. Kau pulang dahulu bersama Barata. Aku ada pembicaraan penting.”

“Kakang,” sahut Riris. “Aku pulang bersamamu.”

“Dengar. Orang itu mendapat pesan seekor kuda. Kuda itu sesuai dengan kudaku yang baru itu,” jawab Jangkung.

“Tetapi bukankah kuda itu untuk Ki Tumenggung yang satu lagi,” berkata adiknya.

“Tetapi jika sekarang aku dapat menjualnya dengan harga yang baik, aku akan menjualnya. Nanti aku akan mencari lagi buat Ki Tumengung,” jawab Jangkung.

“Tetapi antar aku pulang dahulu,” minta Riris.

“Biar Barata mengantarmu. Kau akan aman bersamanya. Ia bekas seorang prajurit pilihan,” bisiknya. Lalu katanya, “Nanti jika kuda itu laku dengan untung yang baik, aku akan membawamu sekali lagi ke pasar untuk membeli apa saja yang kau inginkan.”

Riris tidak sempat berbicara lagi. Kakaknya segera berlari mendapatkan kawannya itu dan hilang di balik kerumunan orang-orang yang masih banyak berdesakan di pasar itu.

Riris dan Barata menjadi termangu-mangu sejenak. Wajah Riris yang kemerah-merahan, membayangkan kegelisahannya. Bahkan matanya telah menjadi berkaca-kaca.

Barata sendiri merasa canggung sekali berdua saja dengan Riris. Namun tiba-tiba saja ia merasa bahwa dirinya adalah seorang laki-laki. Ia harus menunjukkan bahwa ia mampu berbuat sesuatu untuk menenangkan hati seorang gadis.

Karena itu, maka Barata telah mempergunakan penalarannya untuk mengatasi perasaannya. Dengan nada rendah ia  pun kemudian berkata, “Marilah. Kita pulang. Biarlah. Jangkung nanti menyusul kita. Ia sedang berbicara tentang pekerjaannya.”

Riris memandang Barata sekilas. Namun kepalanya segera menunduk. Desisnya, “Kakang nakal sekali.”

“Sesuatu yang tiba-tiba harus diselesaikan,” berkata Barata. “Marilah, aku bawa keranjang itu”.

“Ah tidak. Tidak berat,” jawab Riris.

Namun ia pun kemudian mulai melangkah untuk melanjutkan langkah mereka meninggalkan pasar itu.

Untuk mengatasi kecanggungan maka Barata pun bertanya, “Apakah kau sering pergi ke pasar?”

“Dahulu aku sering,” jawab Riris. “Tetapi sekarang jarang sekali. Aku hanya pergi ke pasar jika ada kawan yang mengantarku.”

“Kenapa?” bertanya Barata.

“Aku takut,” jawab Riris masih sambil menundukkan kepalanya.

Barata mengangguk-angguk. Ia mengerti, tentu sejak anak muda itu pernah mengganggunya di pasar.

Untuk beberapa saat mereka berdiam diri. Namun Barata dengan penalarannya masih saja berusaha untuk berbicara tentang apa saja, agar gadis itu tidak merasa tersiksa diperjalanan.

Ternyata usaha Barata itu pun berhasil. Perlahan-lahan Riris tidak lagi menjadi canggung sekali. Ia mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan Barata dengan lancar meskipun masih selalu terbatas tentang kesibukan Riris sehari-hari serta kebiasaan Jangkung dengan kuda-kudanya.

Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah sampai ketikungan. Mula-mula Riris yang berjalan sambil menunduk tidak begitu menghiraukan orang-orang yang berlalu, lalang di sekitarnya, serta orang-orang yang berhenti dipinggir jalan.

Namun ketika sekali ia mengangkat wajahnya, maka tiba-tiba saja ia menjadi pucat. Adalah di luar sadarnya, bahwa ia pun telah mendesak Barata yang berjalan di sebelahnya.

Anak muda yang sering mengganggunya itu ternyata telah berdiri lagi di bawah pohon bambu di halaman kosong yang lembab kegelapan itu. Bahkan tidak seorang diri. Tetapi seorang kawannya berdiri disebelahnya.

“Aku takut,” desis Riris.

“Jangan takut,” jawab Barata. Untuk membesarkan hati gadis itu Barata berkata, “Aku adalah bekas seorang prajurit.”

Mendengar kata-kata itu hati Riris memang menjadi agak sejuk. Tetapi yang berdiri dipinggir jalan itu adalah dua orang.

Namun Barata berkata pula, “Mereka tidak akan berbuat apa-apa di tempat yang ramai ini.”

Riris mengangguk kecil. Namun ia justru semakin mendesak Barata, yang membuat Barata menjadi sedikit gemetar.

Tetapi ternyata Barata lah yang salah hitung. Meskipun jalan itu cukup ramai, namun kedua orang itu tiba-tiba saja sudah menghentikan langkah Barata dan Riris.

“Ikut kami. Jangan menolak,” terdengar anak muda itu menggeram.

Barata termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara keduanya tiba-tiba saja berdiri melekat disebelahnya dengan pisau terhunus. Ujungnya menyentuh lambung Barata sambil berkata, “Jika kau berbuat sesuatu yang merugikan dirimu sendiri, maka kau akan menyesal. Gadis itu juga akan menyesal.”

Riris benar-benar menjadi ketakutan. Namun tiba-tiba saja kedua orang itu telah mendorong Barata dan Riris masuk ke kebun kosong yang banyak ditumbuhi rumpun bambu.

Beberapa orang memang melihat apa yang terjadi. Tetapi tidak begitu jelas. Mereka pun tidak melihat pisau kecil yang dilekatkan di lambung Barata.

Namun beberapa orang sengaja melangkah dengan cepat menghindar, karena mereka justru tidak mau terlibat.

Dalam pada itu, Barata dan Riris yang ketakutan telah di dorong agak jauh ke balik rumpun-rumpun bambu sehingga tidak nampak lagi dari jalan. Dinding halaman disebelah kebun kosong itu telah menutup kemungkinan untuk melihat apa yang telah terjadi.

Demikian mereka berada di tempat yang agak luas di bawah rumpun bambu yang lebat itu, maka keduanya telah di dorong ke tengah. Ternyata seorang yang lain telah menunggu mereka berdua.

“Nah, kau tentu tidak lupa kepadaku Riris?” bertanya orang yang menunggu dibawah rumpun bambu itu.

Riris memang tidak lupa. Orang itu adalah kakak anak muda yang sering menggodanya. Anak muda yang kemudian tinggal dipadukuhan sebelah.

Riris menjadi gemetar, sementara tangannya berpegang erat pada lengan Barata. Namun Barata sendiri tetap tenang menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

“Riris,” berkata orang itu, “Kami jadi tahu sekarang, kenapa kau menolak adikku yang sudah lama mencintaimu. Agaknya karena kau telah memilih bakal suaminya yang gagah dan tampan itu.”

Riris justru menjadi semakin gemetar. Namun mulutnya bagaikan tersumbat, sehingga ia tidak dapat menjawab sama sekali.

“Jawablah Riris. Dengan demikian kami akan dapat menentukan sikap,” berkata kakak anak muda itu.

Tetapi Riris benar-benar tidak mau menjawab. Mulutnya tidak mau terbuka dan lidahnya bagaikan menjadi kelu. Keringat dingin mengalir diseluruh tubuhnya. Sementara itu, ia berpegangan Barata semakin erat.

“Kenapa kau tidak mau menjawab, Riris,” desak orang yang sudah menunggu itu.

Dalam pada itu, Barata lah yang berkata, “Sebagai seorang gadis, maka pertanyaanmu sulit untuk dijawabnya. Apakah aku boleh menjawabnya?”

“Tidak,” geram orang yang sudah menunggu itu. “Aku bertanya kepada Riris.”

“Jika Riris tetap tidak menjawab?” Barata justru bertanya.

“Jika ia tidak menjawab, maka aku menganggap bahwa ia mengiakannya. Sebagaimana kebanyakan gadis-gadis, maka diam berarti tidak menolak,” berkata orang itu.

“Jawablah Riris,” desis Barata. “Katakan menurut kata hatimu. Jangan takut.”

Tetapi Riris tetap berdiam diri. Ia sama sekali tidak mau berbicara.

Justru karena Riris tidak mau menjawab, maka orang itu pun berkata, “Baik Riris. Jika demikian, maka aku anggap bahwa kau mengiakan kata-kataku. Kau telah memilih anak muda itu sebagai bakal suamimu dan menolak adikku dengan cara yang kasar dan menyakitkan hati. Karena itu, maka aku ingin memberikan, sedikit pertanda pada bakal suamimu. Segores luka diwajahnya, agar kau tidak menjadi terlalu sombong. Memperbandingkan adikku dengan anak muda yang tampan itu. Anak muda itu tidak akan dapat menolak dan apabila melawan, karena jika demikian, maka ia akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi.”

Riris menjadi semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar dan wajahnya menjadi pucat.

Tetapi dengan nada rendah Barata berkata, “Ingat. Ayah Riris adalah bekas seorang prajurit. Jika kau menyakiti hati anaknya, maka kau akan mengerti, apa saja yang dapat dilakukan oleh Ki Lurah Dipayuda.”

“Apa artinya bekas seorang prajurit seperti Dipayuda? Ia tidak akan mampu berbuat apa-apa atas kami. Kecuali jika ia ingin mendapat kesulitan lebih banyak tentang anak perempuannya itu,” jawab orang yang menunggu dibawah rumpun bambu itu.

Barata menarik napas dalam-dalam ternyata ia harus berbuat langsung menghadapi orang-orang itu. Namun ia masih menunggu, apakah yang akan dilakukan oleh mereka.

Dalam pada itu, orang yang menunggu dibawah rumpun bambu itu berkata, “Kau jangan mencoba melawan anak muda.”

Barata masih berdiam diri. Sementara orang yang sudah menunggu di bawah rumpun bambu itu berkata kepada adiknya, “Nah. Kau yang selama ini merasa disakiti hatimu. Kaulah yang pantas menggoreskan pisaumu di wajahnya. Mungkin dikening. Mungkin di pipinya atau mungkin hidungnya. Tetapi setelah itu, kau harus melupakan perempuan jalang itu.”

“Cukup,” tiba-tiba Barata tidak dapat menahan hatinya. Katanya kemudian dengan geram. “Kau dapat menyebut aku apa saja. Tetapi jangan menghina gadis ini. Ia adalah gadis yang tahu diri. Ia mempunyai kesadaran baik dan buruk.”

-o@oDEWIKZo@o-

 ———-oOo———

Bersambung ke Jilid 30

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s