SST-26

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

KATA-KATA itu benar-benar menusuk hati Kasada. Ialah sebenarnya Puguh yang disebut-sebut itu. Karena itu, maka Kasadya seakan-akan mendapat keterangan lebih banyak tentang ayah dan ibunya. Ayah yang sebenarnya adalah orang lain sama sekali.

Karena itu, maka Kasadha telah menumpahkan gejolak perasaannya itu kepada lawannya yang telah menyebut-nyebut kedua orang tuanya yang sama sekali tidak akrab dengan dirinya. Tetapi ialah Puguh itu. Puguh sebagaimana disebut-sebut meskipun ia dapat ingkar dengan nama samarannya. Satu keuntungan pula bahwa lawannya itu ragu-ragu, apakah ia benar-benar Puguh atau tidak. Kebetulan kawannya yang bernama Barata itu pun telah disangka Puguh pula, karena wajahnya memang mempunyai kemiripan dengan wajahnya.

Dengan demikian maka Kasadha itu bertempur semakin garang. Ia pun kemudian yakin bahwa perampok-perampok itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Mataram. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mencari keuntungan dalam saat-saat yang keruh.

Tetapi agaknya bukan itu saja. Orang-orang Jipang dengan sengaja ingin merusak tatanan kehidupan di Pajang, karena mereka sangat mendendamnya. Berdirinya Pajang telah menghancurkan harapan Jipang untuk dapat bangkit menjadi pusat pemerintahan.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin garang. Kasadha sama sekali tidak berniat untuk melepaskan lawannya. Kecuali orang itu bersalah sangat besar kepada rakyat Pajang, karena justru dalam keadaan gawat ia telah menambah beban, orang itu pun akan dapat mengatakan kepada orang lain, bahwa orang yang disangkanya bernama Puguh itu ada dilingkungan keprajuritan Pajang.

Karena itu, maka dengan segenap kemampuannya Kasadha telah mendesak lawannya. Senjatanya yang telah bergetar ditangannya menyambar-nyambar dengan garangnya.

Bahkan sekali lagi ujung senjatanya itu mampu menggapai tubuh lawannya.

Raksasa itu menyeringai menahan sakit. Yang kemudian berdarah adalah dadanya. Meskipun tidak begitu dalam, tetapi darah yang semakin banyak mengalir itu telah membasahi pakaiannya bercampur dengan keringatnya yang bagaikan terperas.

Orang itu mulai menjadi cemas. Tetapi ia masih berharap keadaan akan dapat berubah.

Tetapi Barata pun telah mendesak lawannya pula. Anak muda itu pun telah menjadi sangat marah. Dua kali ia disangka orang lain yang bernama Puguh yang sama sekali tidak dikenalnya. Dugaan yang demikian akan dapat mencelakai dirinya karena orang-orang itu berusaha untuk menangkapnya justru karena ia disangka Puguh.

Apalagi sebagaimana Kasadha ia menganggap bahwa para perampok itu tidak bedanya dengan pengkhianat yang lelah merusak Pajang justru dari dalam tubuh sendiri. Sehingga dengan demikian maka Barata pun sama sekali tidak berniat untuk melepaskan lawannya. Jika ia tertangkap hidup, maka ia harus dihadapkan kepada para prajurit di Pajang. Atau bahkan tertangkap mati sama sekali.

Dengan kemampuannya yang tinggi, Barata pun berhasil mendesak lawannya yang garang itu. Beberapa kali lawannya berteriak dan mengumpat-umpat jika serangannya gagal. Semula ia tidak mengira jika prajurit muda itu memiliki kemampuan yang demikian tinggi.

Sementara itu, anak-anak muda padukuhan itu pun menjadi semakin garang pula. Mereka menjadi yakin bahwa mereka akan dapat memenangkan pertempuran setelah mereka melihat darah ditubuh raksasa itu. Sementara prajurit muda yang lain itu pun telah mampu mendesak lawannya sehingga kadang-kadang kehilangan pegangan.

Dengan demikian maka para perampok itu pun semakin mengalami kesulitan. Anak-anak muda padukuhan itu justru menjadi lebih garang dari kedua orang prajurit muda itu. Kedua prajurit muda itu bertempur dengan paugeran-paugeran tertentu meskipun keduanya juga menjadi semakin garang. Namun mereka tidak menakutkan seperti anak-anak muda itu seperti orang yang kehilangan nalar, yang semata-mata telah digerakkan oleh perasaan mereka. Beberapa lama anak-anak muda itu tertekan karena tingkah laku para perampok. Bahkan mereka pernah mengalami kehilangan harga diri sama sekali karena mereka tidak berani berbuat apapun juga ketika perampokan itu terjadi.

Karena itu ketika kesempatan itu datang, maka anak-anak muda itu seolah-olah mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam mereka.

Para perampok yang lain, memang merasa kehilangan pimpinan karena pemimpinnya dan orang bertubuh raksasa yang dianggap memiliki kelebihan dari orang-orang lain telah terikat dalam pertempuran melawan dua orang prajurit muda itu. Bahkan keduanya sama sekali tidak mampu dengan segera mengatasi kesulitan mereka dan membantu para pengikutnya melawan anak-anak muda yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka. Satu dua diantara anak-anak muda itu nampaknya memang pernah juga mendapat tuntunan caranya mempergunakan senjata meskipun baru dasar-dasarnya saja. Namun didalam satu kelompok, mereka memang menjadi berbahaya sekali. Apalagi dalam keadaan yang tidak menentu. Saat-saat yang dicengkam oleh kecemasan dan ketidak pastian.

Dalam keadaan yang demikian, maka para perampok itu memang menjadi sangat cemas. Mereka semula sama sekali tidak mengira, bahwa mereka akan mendapat perlawanan yang bahkan sulit untuk ditembus.

Beberapa orang anak muda memang telah terluka. Tetapi berbeda dengan hari-hari yang lewat. Mereka tidak menjadi gentar dan ketakutan. Tetapi mereka menjadi marah dan mendendam. Apalagi menantu Ki Bekel itu setiap kali telah menyalakan api kemarahan itu di setiap dada anak-anak muda.

Anak-anak muda itu menjadi semakin garang, ketika mereka juga berhasil melukai dua tiga orang perampok. Bahkan seorang diantara para perampok itu telah terbaring ditanah karena lukanya yang sangat parah.

Karena kawan-kawannya tidak sempat menyelamatkannya, maka orang itu pun menjadi sangat gawat karena darah yang mengalir dari lukanya.

Para perampok yang tersisa tidak mempunyai pilihan lain kecuali melarikan diri. Mereka adalah orang-orang yang garang. Tetapi hati mereka sebenarnya memang sudah rapuh. Sejak mereka terusir dan mengembara, mengalami banyak kesulitan, memang membuat mereka menjadi pendendam, garang dan kehilangan landasan kemanusiaan mereka. Namun hati mereka pun sebenarnya menjadi rapuh dan mudah goyah.

Karena itu, maka hampir bersamaan, telah tumbuh niat dihati para perampok itu untuk melarikan diri.

Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan sama sekali. Anak-anak muda itu seakan-akan telah mengepung mereka dengan rapat. Senjata teracu dari segala arah.

Orang bertubuh raksasa itu pun merasa tidak mempunyai kesempatan lagi. Tetapi ia pun tidak melihat kemungkinan untuk dapat melarikan diri. Darah telah mengalir semakin banyak. Kekuatannya perlahan-lahan susut, lebih cepat dari lawannya yang masih muda itu.

Karena itu, maka ia pun telah mencoba untuk menghentakkan kekuatannya yang tersisa. Ia mempunyai dua pilihan dalam kemungkinan yang sama. Berhasil mengalahkan lawannya dalam hentakkan itu atau tidak. Jika tidak, berarti ia akan mati dalam pertempuran itu.

Dengan demikian maka orang bertubuh raksasa itu telah bersiap-siap. Ketika ia mendapat kesempatan setelah berhasil menghindari serangan Kasadha, maka ia pun telah melakukan niatnya untuk mempercepat penyelesaian, meskipun ia tidak yakin akan berhasil.

Dengan sisa tenaga yang ada, maka orang itu pun telah meloncat menyerang. Senjatanya berputaran mengerikan. Dengan teriakan yang bagaikan memecahkan selaput telinga, orang itu mengayunkan senjatanya mengarah ke leher Kasadha.

Namun Kasadha memang cekatan. Ia segera mengetahui apa yang dilakukan oleh lawannya. Satu tindakan putus asa. Sehingga karena itu, maka Kasadha pun telah mengerahkan tenaganya pula. Meskipun tenaganya juga sudah mulai susut, tetapi ternyata sisa tenaga Kasadha yang terlatih dengan baik di padepokannya masih cukup kuat bagi lawannya.

Sejenak kemudian benturan yang keras telah terjadi. Ternyata bahwa ayunan senjata lawannya yang didorong oleh segenap sisa kekuatannya itu telah membentur kekuatan yang sangat besar, sehingga hampir saja senjata raksasa itu terlepas. Namun orang itu masih berhasil menahan senjatanya betapapun telapak tangannya bagaikan menggenggam bara.

Kasadha pun tergetar pula. Sebelumnya ia dengan sengaja menghindari setiap benturan. Tetapi ketika tenaga raksasa itu sudah jauh susut, bukan saja karena pengerahan kekuatan, tetapi juga karena darahnya yang terlalu banyak mengalir, maka Kasadha telah mencobanya.

Ternyata Kasadha berhasil. Ketika lawannya sedang berusaha untuk memperbaiki kedudukannya, maka Kasadha telah menyerangnya. Ketika senjatanya terjulur demikian cepatnya, maka lawannya berusaha untuk menangkisnya meskipun pegangannya belum mapan. Justru pada saat yang demikian Kasadha telah memutar senjatanya dan dengan satu hentakkan tegak, maka senjatanya raksasa itu telah terlempar.

Sejenak, raksasa itu menjadi kebingungan. Namun ia tidak sempat terlalu lama memandang senjatanya yang terlempar itu. Ketika Kasadha meloncat selangkah maju dengan pedang terjulur, maka ujung pedang itu telah menghunjam didadanya, tembus kearah jantung.

Orang itu mengerang. Namun ketika Kasadha menarik pedangnya, maka orang itu pun telah roboh dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.

Kematian raksasa itu memang sangat berpengaruh. Pemimpin perampok itu harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Sementara itu, ia pun sama sekali tidak berhasil mengalahkan prajurit muda yang bernama Barata itu. Apalagi ketika pemimpin perampok itu melihat orang-orangnya menjadi sangat gelisah.

Karena itu, selagi masih ada kesempatan, pemimpin perampok itu memang akan berusaha melarikan diri tanpa memberikan isyarat kepada orang-orangnya.

Tetapi Barata dapat melihat rencana itu dari sikap lawannya yang berusaha untuk bergeser menjauhi arena. Dengan demikian maka Barata pun menjadi semakin garang. Ia tidak akan melepaskan lawannya, karena menurut pertimbangan Barata orang itu akan menjadi orang yang sangat berbahaya. Karena itu, maka ia harus tertangkap dan diserahkan kepada pimpinan prajurit Pajang, atau mati.

Pemimpin perampok itu mengumpat. Lawannya yang masih muda itu nampaknya memang mempunyai beberapa kelebihan. Apalagi dalam kegelisahan, pemimpin perampok itu menjadi kurang mapan menanggapi serangan-serangan Barata yang semakin deras.

Karena itu, sebelum ia sempat melarikan diri, justru serangan Barata berhasil mengenai lambungnya. Segores luka telah memerah dibawah pakaiannya yang koyak.

Pemimpin perampok itu mengumpat kasar. Sementara itu, Kasadha yang telah kehilangan lawannya telah berada diantara anak-anak muda padukuhan itu yang dipimpin oleh menantu Ki Bekel yang sedang sakit.

 “Menyerahlah,” berkata Barata, “aku akan membawamu ke Pajang. Atas nama kekuasaan Pajang, aku berhak untuk melakukannya. Apalagi dalam keadaan gawat seperti sekarang ini.”

 “Persetan,” geram orang itu, “kau kira aku mau menjadi tontonan orang-orang Pajang? Atau barangkali untuk melepaskan dendamnya karena kekalahan-kekalahan yang dialami atas Mataram.”

 “Tutup mulutmu,” bentak Barata, “aku dapat berbuat lebih banyak dari yang terjadi sekarang atasmu.”

 “Akulah yang akan membunuhmu dan membunuh anak-anak muda yang sombong ini,” geram orang itu.

Tetapi kata-katanya terputus. Hati Barata menjadi semakin panas. Apalagi jika ia teringat kepada nama Puguh yang sama sekali tidak diketahui ujung pangkalnya. Namun satu hal yang diyakini bahwa wajahnya tentu mirip dengan Puguh.

Hampir diluar sadarnya Barata berpaling kearah Kasadha. Tetapi anak muda itu telah tenggelam dalam pertempuran yang kusut. Namun terlintas di kepalanya bahwa Kasadha itu pun mirip dengan dirinya. Tetapi namanya bukan Puguh.

 “Orang-orang itu juga menyangkanya Puguh,” desis Risang didalam hatinya.

Tetapi berbagai macam dugaan itu pun segera disisihkannya. Ia pun segera memusatkan perhatiannya kepada lawannya. Agaknya lawannya itu pun telah menjadi berputus asa sehingga justru dengan demikian ia menjadi semakin garang dan liar.

Pada saat-saat terakhir pertempuran pun menjadi semakin keras. Barata juga mulai memperhitungkan waktu, karena ia sedang dalam perjalanan menjalankan perintah. Sehingga karena itu, maka ia pun telah mengerahkan kemampuannya pula.

Akhirnya ternyata bahwa pemimpin gerombolan itu tidak mampu berbuat banyak. Ketika sekali lagi Barata menawarkan kesempatan menyerah telah ditolak, dan justru pada saat itu pemimpin gerombolan perampok itu menghentakkan serangannya, Barata menjadi kehabisan kesabaran.

Dengan loncatan pendek, Barata berhasil menghindari serangan lawannya. Namun lawannya bagaikan menjadi gila. Ia justru meloncat sambil menjulurkan senjata ke pangkal leher Barata. Namun Barata bergeser setapak sambil berjongkok. Namun demikian lawannya merapat, maka ujung senjata Barata pun telah terjulur.

Senjata pemimpin perampok itu meluncur setapak di atas kepala Barata. Namun ujung senjata Barata lah yang kemudian mengoyak bukan hanya pakaian lawannya, tetapi lambungnya. Bukan hanya goresan memanjang dikulitnya seperti yang terdahulu, tetapi langsung menghunjam dalam-dalam.

Sesaat Barata kemudian berdiri merenungi pemimpin perampok itu. Namun kemudian ia berpaling kearah pertempuran yang semakin sengit antara sisa-sisa perampok yang masih bertahan dan tidak sempat melarikan diri lagi melawan anak-anak muda padukuhan itu.

Namun kemudian ternyata bahwa Barata melihat Kasadha mengalami kesulitan untuk mencegah anak-anak muda itu membunuh lawan-lawannya. Karena itu, maka Barata pun segera berlari ke arena pertempuran itu sambil berteriak sebagaimana Kasadha, “Hentikan. Hentikan.”

 “Kau juga membunuh lawanmu,” teriak menantu Ki Bekel.

 “Tetapi persoalannya lain. Jika mereka telah menyerah maka kalian tidak dapat membunuhnya,” teriak Barata.

 “Mereka belum menyerah,” jawab menantu Ki Bekel.

 “Mereka tentu akan menyerah. Aku menjamin,” Kasadha lah yang berteriak.

Tetapi sulit untuk mencegah amukan anak-anak muda yang sudah sekian lama merasa tertekan. Bahkan Barata pun kemudian berkata, “Kita memerlukan mereka untuk memberikan laporan kepada para pemimpin prajurit di Pajang.”

Namun Barata dan Kasadha tidak mampu mencegah anak-anak muda yang marah itu. Apalagi beberapa orang diantara mereka telah terluka. Bahkan ada yang nampaknya agak parah sehingga membahayakan jiwanya.

Kawan-kawannya benar-benar sulit untuk dikendalikan lagi. Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang telah terluka di pundaknya sama sekali tidak mau mendengar peringatan Barata dan Kasadha. Sedangkan seorang yang berkumis tipis dan yang pakaiannya telah basah oleh darah dipunggungnya menjadi seakan-akan kehilangan kesadarannya. Baru kemudian Barata dan Kasadha mengetahui bahwa anak muda berkumis tipis itu adalah saudara kandung anak muda yang terluka parah, yang bahkan telah disangkanya mati.

Pertempuran itu baru berakhir ketika semua orang dalam gerombolan perampok itu terbunuh. Tidak seorang  pun yang tersisa.

Barata dan Kasadha memandangi tubuh-tubuh yang terbaring diam itu dengan jantung yang berdegupan. Tetapi mereka pun harus menyalahkan diri sendiri, karena merekalah orang yang pertama-tama membunuh lawannya.

Kasadha tidak dapat ingkar, bahwa ia memang berniat membunuh lawannya itu justru karena orang itu telah menyebut namanya, Puguh, selain menurut penglihatan Kasadha lawannya itu telah berkhianat.

Tetapi apapun tanggapan Kasadha dan Barata, namun yang terjadi itu sudah terjadi. Sejenak kedua prajurit muda dari Pajang itu sempat memperhatikan anak-anak muda yang menjadi gelisah setelah mereka menyadari apa yang terjadi.

Dalam keadaan yang demikian Barata berkata, “Ki Sanak. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Kita tidak akan dapat mengharapkan orang-orang yang terbunuh itu untuk bangkit lagi. Karena itu kita harus mempertanggung jawabkannya.”

 “Apa maksudmu?” bertanya menantu Ki Bekel yang masih menggenggam pedang yang berlumur darah.

 “Orang-orang itu tentu tidak berdiri sendiri,” jawab Barata.

Anak-anak muda itu terdiam. Namun Barata melanjutkan, “Karena itu, kalian justru harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Kalian telah menyatakan diri sebagai laki-laki sekarang ini. Untuk seterusnya kalian harus bersikap sebagai laki-laki. Jika kalian merasa bahwa kemampuan kalian belum mamadai, maka kalian harus menggerakkan anak-anak muda sebanyak-banyaknya yang ada di padukuhan ini. Bahkan semua laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata. Karena tidak mustahil bahwa kawan-kawan dari orang-orang yang terbunuh ini akan datang.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Kasadha menambahkan, “Jika kalian tidak bersiap, maka yang terjadi akan sebaliknya dari yang terjadi sekarang ini. Karena itu, siapa diantara kalian yang memiliki sedikit pengetahuan tentang olah senjata, maka sebaiknya ilmu yang sedikit itu ditularkan kepada kawan-kawannya untuk mendapat kemungkinan buruk yang dapat terjadi.”

Menantu Ki Bekel itu mulai berpikir. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Kami akan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi di padukuhan ini. Tetapi pengalaman kami kali ini menunjukkan bahwa sebenarnya kami tidak selemah cacing tanah.”

 “Bagus,” jawab Kasadha, “kami berdua mungkin tidak akan dapat membantu kalian lagi lain kali. Tetapi peristiwa ini akan kami laporkan kepada pimpinan prajurit Pajang.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk lemah sambil berkata, “Terima kasih atas bantuan kalian kali ini. Bahkan mampu menggugah keberanian kami. Tetapi kami juga minta maaf, bahwa segalanya telah terjadi diluar kesadaran penalaran kami.”

 “Kalian akan dapat menjelaskan jika pimpinan prajurit Pajang sempat menanyakan kepada kalian tentang peristiwa ini. Tetapi jangan terlalu berharap. Pajang sedang sibuk menghadapi Mataram yang nampaknya cukup kuat.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk-angguk kecil.

 “Sampaikan kepada mertuamu yang sedang sakit itu. Bicarakan dengan para bebahu yang lain apa yang sebaiknya harus dilakukan oleh padukuhan ini,” pesan Kasadha.

Demikianlah kedua orang prajurit muda itu pun telah minta diri. Seorang diantara anak-anak muda itu telah mengantarkan keduanya mengambil kuda mereka dan sejenak kemudian, keduanya telah melanjutkan perjalanan mereka ke Pajang untuk memberikan laporan tentang kekalahan mereka di sisi Selatan, karena Mataram telah mengerahkan bukan saja prajurit dan pengawal, tetapi anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang telah berhasil mereka himpun.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah berpacu langsung menuju ke Pajang untuk menghubungi para pemimpin prajurit. Namun Barata dan Kasadha sempat berpesan, jika sesuatu terjadi, sebaiknya mereka pun memberi laporan kepada Ki Demang yang akan melanjutkan laporan itu ke Pajang.

 “Peristiwa ini pun harus diketahui Ki Demang setelah kalian melaporkannya kepada Ki Bekel,” desis Barata sebelum meninggalkan padukuhan itu.

***

Disaat Barata dan Kasadha melanjutkan perjalanan mereka ke Pajang, maka seorang pengawal yang mendapat tugas khusus untuk mengamati Randukerep pun telah memasuki Kademangan Traju. Tetapi kedatangan orang itu sama sekali tidak menarik perhatian, karena sebagian benar orang-orang Traju telah mengenalnya. Apalagi pamannya memang benar-benar tinggal di Traju.

Seorang anak muda yang mengenalinya bertanya, “He, apakah kau akan menengok pamanmu?”

 “Aku merasa cemas akan keadaannya. Ternyata tidak terjadi apa-apa di Traju.”

 “Perang telah terjadi di Randukerep,” berkata anak muda dari Traju itu.

 “Syukurlah jika tidak merambat sampai ke Traju,” jawab anak muda dari Nglawang itu.

Demikianlah maka anak muda dari Nglawang itu pun langsung menuju ke rumah pamannya tanpa gangguan apapun juga.

Dengan senang hati pamannya telah menerimanya. Bahkan pamannya itu berkata, “Tinggallah disini. Jika terpaksa kami harus mengungsi karena peperangan ini, maka kami akan mengungsi ke rumahmu di Nglawang.”

Anak muda itu tidak menolak. Ia memang memerlukan waktu melakukan tugasnya. Mengamati kedudukan pasukan Mataram yang berada di Randukerep.

Sementara itu Barata dan Kasadha telah memasuki kota Pajang yang nampak sepi. Beberapa orang prajurit masih nampak berjaga-jaga. Tetapi sebagian besar kekuatan Pajang telah berada di perkemahan disebelah Timur Kali Praga. Apalagi ketika Sultan Pajang sendiri telah turun ke medan.

Namun keragu-raguan Sultan Pajang nampaknya mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi para pemimpin pemerintahan dan para Senapati. Mereka tidak dapat bertindak dengan cepat untuk mendesak Mataram.

Bahkan Sultan Hadiwijaya telah memerintahkan agar pasukan Pajang tidak dengan tergesa-gesa menyeberang Kali Opak yang besar dimusim basah.

 “Kita dapat menengok pengalaman dalam pertempuran antara Jipang dan Pajang waktu itu. Karena Jipang dengan tergesa-gesa menyeberangi bengawan, maka pastikan Pajang mempunyai kesempatan untuk menghancurkannya. Disaat pasukan menyeberang, maka kekuatannya akan terasa sangat berkurang, karena sebagaian besar perhatiannya tertuju pada penyeberangan itu sendiri, sementara lawannya telah menghujani anak panah dan lembing,” berkata Sultan itu kepada para Senapati.

Namun para Adipati yang menyertainya menyadari sepenuhnya, bahwa Kangjeng Sultan benar-benar masih dipengaruhi oleh kasih sayangnya kepada putera angkatnya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati di Mataram itu.

Bahkan sekali pernah terloncat diluar sadarnya pernyataan Kangjeng Sultan di Pajang, “Wahyu keraton memang sudah meninggalkan Pajang dan berada di Mataram.”

Dalam pada itu, Barata dan Kasadha yang mohon menghadap pimpinan keprajuritan yang bertugas di Pajang, telah dipertemukan dengan seorang Tumenggung yang sebelumnya belum dikenalnya dengan akrab. Namun Tumenggung Surapraba itu ternyata tahu betul tentang gerakan pasukan Pajang disisi Selatan.

 “Kami terpaksa meninggalkan Kademangan Randukerep,” berkata Barata dalam laporannya. Lalu katanya pula, “Selanjutnya kami menunggu perintah. Ki, Lurah Dipayuda akan melakukan semua perintah yang dibebankan kepundaknya.”

Ki Tumenggung Surapraba menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak ada lagi kekuatan yang dapat kami kirimkan untuk membantu pasukan Ki Lurah Dipayuda. Nampaknya pengamatan kami terhadap kekuatan Mataram di sisi Selatan agak kabur. Sementara itu kekuatan Mataram diseberang Kali Praga menurut laporan tidak begitu besar.”

 “Mataram telah mengerahkan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang telah berada dibawah pengaruhnya,” lapor Kasadha.

Ki Tumenggung Surapraba itu pun berkata, “Ki Lurah Dipayuda harus menyusun kekuatannya kembali dengan orang yang ada, dan barangkali dapat dilengkapi dengan kekuatan di padukuhan-padukuhan se Kademangan Nglawang dan barangkali Traju dan lain-lain. Dengan kekuatan yang ada itu, Ki Lurah harus menghambat gerak pasukan Mataram sejauh dapat dilakukan. Mungkin Kademangan Nglawang lebih baik keadaannya daripada Kademangan Randukerep, meskipun Kademangan Randukerep memang lebih besar.”

Kedua prajurit muda itu mengangguk. Sementara Ki Tumenggung Surapraba yang bertanggung jawab atas pengamanan kota Pajang itu berkata selanjutnya, “Usahakan untuk mengetahui gerakan prajurit Mataram di Randukerep. Jika keadaan menjadi semakin gawat, kami memerlukan laporan kalian dengan segera.”

Barata dan Kasadha menjawab hampir berbareng, “Baik, Ki Tumenggung.”

 “Sekarang kalian harus segera kembali ke kesatuan kalian. Kau dapat singgah di dapur barak ini sebelum berangkat, karena mungkin kalian tidak akan menemui makanan diperjalanan kembali. Apalagi kalian tentu kemalaman di jalan. Tetapi perintahku, jangan bermalam dimanapun. Kalian harus langsung menuju kekesatuan kalian,” berkata Ki Tumenggung.

Kedua prajurit muda itu pun kemudian diperkenankan untuk pergi ke dapur setelah Ki Tumenggung memberikan beberapa pesan dan perintah khusus.

Kasadha dan Barata yang kemudian berada di dapur mendengar dari para prajurit yang masih bertugas di kota Pajang, nampaknya Mataram telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Namun jumlah mereka terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah prajurit Pajang.

Namun seorang prajurit yang umurnya telah mendekati setengah abad berkata, “Ada kelebihan pada prajurit Mataram.”

 “Apa?” bertanya prajurit yang lebih muda.

 “Tekad mereka yang membakar seluruh bagian dari hidupnya. Berbeda dengan kita. Kita masih saja ragu-ragu sampai saat kita berhadapan di medan perang. Keragu-raguan yang bersumber pada keragu-raguan Kangjeng Sultan sendiri,” berkata prajurit yang sudah lebih tua itu.

Kasadha dan Barata sama sekali tidak melibatkan diri dalam pembicaraan itu. Tetapi ia menangkap tanggapan para prajurit Pajang terhadap keadaan. Namun bagi Barata dan Kasadha, yang mereka hadapi adalah kekuatan Mataram itu langsung. Mereka telah bertempur dengan sengitnya meskipun dalam medan yang termasuk sempit. Tetapi ternyata beberapa orang kawan mereka telah gugur. Pasukan mereka terdesak mundur dengan meninggalkan beberapa orang korban.

Setelah makan dan minum secukupnya, maka Barata dan Kasadha pun telah minta diri pada petugas yang ada di dapur bagi para prajurit itu. Kemudian menuntun kuda mereka keluar dari regol halaman.

 “Perut kita masih terlalu kenyang untuk berpacu dipunggung kuda,” berkata Barata.

Kasadha mengangguk. Katanya, “Kita berjalan saja perlahan-lahan sambil menunggu nasi diperut ini turun.”

Keduanya pun kemudian berjalan menuntun kuda mereka menyusuri jalan-jalan kota yang jauh berbeda dari keadaan kota Pajang sebelum pecah perang terbuka melawan Mataram. Kotanya menjadi sepi. Yang banyak hilir mudik justru para prajurit yang meronda. Ada beberapa orang prajurit yang datang dari Kadipaten yang berdiri di belakang Pajang yang masih berada di kota untuk kepentingan-kepentingan yang khusus.

Namun dalam pada itu, Kasadha masih saja dibayangi oleh mimpi buruk tentang orang-orang yang mencari Puguh. Karena itu, maka ia masih belum dapat melepaskan kegelisahannya. Apalagi dalam keadaan yang tidak menentu itu. Hampir saja ia terjebak kedalam tangan orang-orang yang mencari Puguh, justru bersama-sama dengan Barata. Orang yang tidak tahu menahu persoalannya. Seandainya ia dipaksa untuk mengaku dengan menekan Barata, maka ia tentu harus mengatakan yang sesungguhnya. Ia tidak mau Barata, yang menurut pendapatnya adalah anak muda yang baik itu mengalami kesulitan karena dirinya hanya karena wajahnya yang mirip dengan anak muda yang bernama Puguh.

Beberapa lamanya anak-anak muda itu berjalan sambil menuntun kudanya dijalan-jalan yang sepi. Pintu-pintu rumah banyak yang tertutup. Sementara penghuninya telah menyiapkan barang-barangnya yang paling berharga. Mereka harus bersiap-siap jika pada suatu saat mereka harus mengungsi.

Para prajurit yang lewat di jalan-jalan hanya saling memandang sejenak. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan tanpa saling menyapa. Baik prajurit Pajang sendiri, maupun para prajurit dari luar Pajang yang melibatkan diri dalam permusuhan antara Mataram dan Pajang.

 “Akhirnya orang-orang padukuhan itu harus menjaga diri mereka masing-masing,” berkata Kasadha tiba-tiba.

Barata mengangguk-angguk. Tidak mungkin bagi Pajang yang mengalami kesulitan itu untuk mengirimkan prajurit ke padukuhan-padukuhan mengatasi perampokan. Karena itu, maka setiap Kademangan harus berusaha untuk memantapkan pengamanan di lingkungan masing-masing.

Ketika mereka melewati pasar, maka nampaknya pasar itu juga menjadi sepi. Bukan hanya karena hari memang sudah sore, tetapi nampaknya di pagi hari pun pasar itu sepi. Karena jika pasar itu ramai, maka sampai sore hari masih ada banyak pedati disekitarnya untuk mengangkut barang-barang yang tersisa, atau yang memang baru saja dibeli di pasar itu. Pande besi biasanya bekerja sampai menjelang senja di hari-hari pasaran. Dan kedai-kedai disetiap hari terbuka sampai lampu-lampu minyak harus dinyalakan.

Tetapi semuanya itu tidak nampak di pasar itu. Kecuali sebuah kedai yang membuka pintunya. Itu pun hanya satu dari kedua pintu dibagian depan.

Kedua prajurit muda itu mendekati kedai yang terbuka pintunya sebelah itu. Mereka masih kenyang dan tidak akan membeli makanan atau minuman. Namun dari pemilik kedai itu, keduanya ingin mendengar serba sedikit tentang pasar itu sehari-hari.

Seperti dugaan mereka, maka pemilik kedai itu memang berceritera tentang pasar yang menjadi semakin sepi. Bahkan menurut pemilik kedai itu, banyak pedagang yang tidak lagi pergi ke pasar. Mereka telah meninggalkan kota Pajang dan mengungsi di tempat yang mereka anggap aman di tempat sanak kadang yang tinggal agak jauh dari kota.

 “Pajang nampak seperti sebuah kota mati,” desis Barata.

Setelah mengucapkan terima kasih, maka kedua prajurit muda itu pun telah meninggalkan kedai yang pintunya hanya dibuka sebelah itu. Mereka tidak lagi berjalan menyusuri jalan-jalan kota sambil menuntun kuda mereka, tetapi mereka pun kemudian telah berpacu kembali ke Kademangan Nglawang. Mereka sadar, bahwa mereka akan sampai di tujuan setelah malam. Apalagi ketika mereka keluar dari gerbang kota, mereka melihat matahari sudah sangat rendah.

Tetapi mereka selalu teringat perintah Ki Tumenggung Surapraba bahwa mereka tidak boleh berhenti dan bermalam diperjalanan. Sudah tentu dengan mengingat kekuatan kuda-kuda mereka sehingga agaknya mereka boleh saja berhenti sekedar memberi kesempatan kuda mereka minum dan makan sedikit rerumputan di perjalanan.

Ketika kemudian malam mulai turun, perjalanan mereka benar-benar diliputi oleh kegelapan. Jika mereka memasuki padukuhan, maka rasa-rasanya mereka berada di kuburan. Gardu-gardu menjadi kosong dan lampu-lampu regol halaman pun tidak dinyalakan.

Jumlah anak-anak muda pun agaknya telah susut, karena sebagian dari mereka telah menyatakan diri ikut dalam tugas-tugas keprajuritan Pajang.

Seperti perintah Ki Tumenggung maka kedua prajurit itu telah berpacu terus di gelapnya malam. Sekali mereka berhenti di pinggir jalan, di tepi parit yang airnya mengalir jernih. Mereka memberi kesempatan kuda mereka untuk minum dan beristirahat sebentar. Dengan demikian maka keduanya pun sempat juga beristirahat merenggangkan kaki-kaki mereka dan memutar punggung sambil menggeliat.

Namun sejenak kemudian, maka keduanya telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kademangan Nglawang.

Kedua prajurit muda itu dengan sengaja telah melewati padukuhan yang baru saja di gelisahkan oleh perampokan yang justru terjadi disiang hari tanpa mengenal takut. Namun yang karena nasib mereka yang buruk, maka para perampok itu telah dihancurkan sama sekali.

Padukuhan itu pun nampak sepi. Tetapi ketika kedua prajurit muda itu lewat didepan barak, maka nampak beberapa orang anak muda dan bahkan beberapa orang laki-laki yang sudah lebih tua tetapi masih kuat, berada di banjar itu.

Menantu Ki Bekel pun berada pula diantara mereka. Ketika ia melihat Barata dan Kasadha, maka ia pun telah mempersilahkan kedua prajurit itu untuk singgah.

 “Terima kasih,” berkata Kasadha yang kemudian menanyakan apakah mayat para korban sudah diselesaikan.

 “Kami sudah menguburkan mereka dengan baik-baik,” jawab menantu Ki Bekel.

 “Bagaimana dengan anak-anak muda padukuhan ini?” bertanya Barata.

 “Beberapa orang terluka. Ada empat orang yang agak parah. Dua diantaranya harus mendapat perhatian khusus. Tetapi seorang tabib yang baik merawat mereka,” jawab menantu Ki Bekel itu.

 “Mudah-mudahan mereka lekas sembuh,” berkata Barata pula. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya di mulut-mulut lorong atau di tempat-tempat yang sudah ditentukan dipasang beberapa orang pengawas. Tidak perlu digardu. Mungkin justru di tempat yang tersembunyi.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan melaksanakannya.”

Dalam pada itu, malam pun menjadi bertambah malam. Kedua orang prajurit muda itu pun segera minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kademangan Nglawang.

 “Kalian tidak naik sebentar. Barangkali kalian dapat minum beberapa teguk wedang jahe,” bertanya menantu Ki Bekel.

 “Terima kasih,” jawab Kasadha dan Barata hampir berbareng.

Demikianlah kedua orang prajurit muda itu pun segera berpacu kembali menyusuri bulak-bulak panjang dan menyusup padukuhan. Semuanya hampir serupa. Gelap dan sepi. Sawah yang terbentang dan pepohonan padukuhan yang menghadang. Regol diujung lorong yang terbuka dan gardu-gardu yang kosong.

Setelah menembus kelam yang panjang, maka kedua prajurit muda itu telah memasuki Kademangan Nglawang yang suasananya memang agak berbeda karena di Kademangan itu terdapat sekelompok prajurit yang meskipun keadaannya agak parah namun mereka masih tetap berada dalam kesiagaan tertinggi dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Di padukuhan pertama di Kademangan Nglawang, Barata dan Kasadha telah dihentikan oleh empat orang yang berada di gardu. Mereka ternyata adalah prajurit Pajang dan dua orang anak muda Kademangan itu.

 “O,” salah seorang prajurit Pajang itu berdesah, “syukurlah bahwa kalian telah kembali.”

 “Apakah terjadi sesuatu disini?” bertanya Barata.

 “Sampai saat ini tidak,” jawab prajurit itu. Namun kemudian ia meneruskan, “Tetapi Ki Lurah gelisah menunggumu sampai aku berangkat bertugas disini.”

 “Baiklah. Aku akan segera kembali ke banjar,” berkata Barata.

Kedua orang prajurit itu berpacu pula menembus malam.

Di padukuhan kedua ia mengalami hal yang sama, sehingga akhirnya keduanya telah memasuki banjar Kademangan Nglawang.

Beberapa orang prajurit yang bertugas telah menyongsongnya. Dengan tidak sabar beberapa orang hampir, bersamaan bertanya, “Apakah Pajang akan mengirimkan bantuan?”

Barata dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Barata pun bertanya, “Apakah Ki Lurah sudah tidur?”

 “Ki Lurah baru saja beristirahat,” jawab salah seorang pemimpin kelompok, “ia sendiri bersama beberapa orang prajurit meronda di seluruh Kademangan ini.”

 “Bukankah tidak terjadi sesuatu?” bertanya Barata pula.

 “Sampai saat ini tidak,” jawab pemimpin kelompok itu.

 “Apakah sudah ada keterangan dari Traju?” bertanya Kasadha pula.

 “Belum,” jawab pemimpin kelompok itu ragu-ragu. Tetapi ia memang belum melihat pengawal yang ditugaskan ke Traju untuk mencari keterangan tentang prajurit Mataram di Randukerep.

 “Beristirahatlah,” pemimpin kelompok itu telah mempersilahkan kedua orang prajurit muda yang baru saja kembali itu.

Keduanya pun telah menambatkan kudanya dan memberinya minum serta sedikit makan yang tersedia.

Setelah membersihkan diri di pakiwan, maka keduanya pun telah naik ke pendapa banjar. Duduk di tikar pandan yang telah dibentangkan. Dua orang prajurit muda itu sempat menjulurkan kaki mereka yang terasa lelah sambil bersandar tiang.

Sejenak kemudian seorang petugas di dapur telah menghidangkan minuman hangat bagi keduanya. Seteguk wedang sere itu telah membuat tubuh mereka merasa segar.

Seorang pemimpin kelompok yang menyongsongnya telah duduk bersama keduanya. Namun pemimpin kelompok itu merasa kecewa bahwa Pajang tidak mampu mengirimkan prajurit untuk mengatasi kesulitan disisi Selatan.

 “Bagaimana jika Mataram mempergunakan kelemahan disisi ini untuk menerobos masuk Pajang,” desis pemimpin kelompok itu.

 “Aku sudah mengutarakannya,” sahut Barata, “tetapi seperti aku lihat sendiri, semua kekuatan sudah disiagakan di pasanggrahan Kangjeng Sultan di sebelah Timur Kali Opak.”

 “Jika Mataram masuk Pajang melalui sisi ini, maka pasukan Kangjeng Sultan itu akan terjepit. Panembahan Senapati akan dapat menduduki kota Pajang dan sekaligus mengepung pasanggrahan Kangjeng Sultan di sebelah Timur Kali Opak itu,” berkata pemimpin kelompok itu.

Namun Barata menjawab, “Mataram tidak mempunyai jumlah pasukan yang cukup banyak untuk melakukannya.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Menurut keterangan yang pernah didengarnya yang bersumber dari pasukan sandi pasukan Mataram memang tidak terlalu besar dibanding dengan pasukan Pajang. Tetapi di Mataram terdapat orang-orang berilmu tinggi sehingga akan dapat mempengaruhi pertempuran.

 “Beristirahatlah,” berkata pemimpin kelompok itu kepada Barata dan Kasadha, “agaknya sampai besok pagi tidak akan terjadi sesuatu. Pasukan Mataram di Randukerep itu bukannya tidak menderita sebagaimana kita disini, meskipun kita agak lebih parah. Besok pagi-pagi kalian dapat memberikan laporan kepada Ki Lurah, Malam ini, betapapun parahnya keadaan kita, para prajurit tetap bertugas di padukuhan-padukuhan bersama-sama dengan anak-anak muda yang agaknya lebih baik dari anak-anak muda di Randukerep yang telah diracuni oleh orang-orang Mataram.”

Barata dan Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Kasadha pun bertanya, “Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang terluka?”

 “Mereka sudah mendapat perawatan sebaik-baiknya. Beberapa orang merasa menjadi lebih baik. Tetapi ada juga yang nampaknya menjadi semakin parah karena semula ia hampir kehabisan darah,” jawab pemimpin kelompok itu.

 “Baiklah,” berkata Kasadha, “aku akan kembali ke kelompokku.”

 “Setiap kelompok telah menyerahkan dua orang yang bertugas malam ini,” berkata pemimpin kelompok itu.

 “Ya. Bukankah masih cukup?” bertanya Kasadha pula.

 “Masih cukup. Sementara anak-anak muda di Kademangan ini sangat membantu,” berkata pemimpin kelompok itu, “mulai besok, Ki Lurah akan menembus batas-batas Kademangan. Tugas kita tidak dibatasi oleh dinding Kademangan ini. Kita akan menghubungi Kademangan-kademangan yang lain disekitar Kademangan ini. Bahkan mungkin Kademangan Traju.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun telah minta diri untuk kembali ke kelompoknya. Demikian pula Barata.

Sebelum mereka beristirahat, maka ia telah berpesan kepada pemimpin kelompok yang bertugas untuk meningkatkan kesiagaan.

 “Ki Tumenggung telah berpesan agar aku tidak bermalam di jalan. Itu berarti bahwa malam ini aku harus berada di Kademangan ini dan berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan,” berkata Barata.

 “Baiklah. Aku akan menyampaikan pesan ini kepada semua prajurit yang bertugas. Terutama yang menghadap ke arah Randukerep meskipun mungkin pasukan Mataram dapat mengambil arah lain sebagaimana dilakukan di Randukerep,” jawab pemimpin kelompok itu.

Sepeninggal Kasadha dan Barata, maka para prajurit yang bertugas telah meningkatkan pengawasan mereka atas padukuhan-padukuhan di Kademangan Nglawang. Mereka menyadari bahwa prajurit-prajurit Mataram adalah prajurit yang mampu bergerak cepat dan memiliki kemampuan keprajuritan yang cukup tinggi.

Dalam pada itu, Kasadha dan Barata yang letih itu pun telah beristirahat diantara para prajurit di kelompok masing-masing. Satu dua diantara prajurit mereka yang sempat terbangun bertanya pula beberapa hal. Namun baik Kasadha maupun Barata tidak bersedia untuk berbicara terlalu panjang.

 “Aku akan beristirahat,” berkata anak-anak muda itu kepada kawan-kawannya.

Ternyata dalam waktu singkat keduanya telah tertidur, karena keduanya telah melepaskan semua beban kegelisahan dan persoalan didalam angan-angan mereka. Mereka telah berniat untuk beristirahat, sementara itu kawan-kawannya telah bertugas dengan baik. Jika terjadi sesuatu, maka tentu akan terdengar suara kentongan atau isyarat-isyarat yang lain.

Karena itu, maka mereka pun telah dapat tidur dengan nyenyaknya meskipun masih banyak hal yang harus ditanganinya kemudian.

Pagi-pagi benar ternyata keduanya telah terbangun. Barata lah yang kemudian mengajak Kasadha untuk segera bertemu dengan Ki Lurah Dipayuda.

 “Kita harus segera memberikan laporan,” berkata Barata.

Dalam waktu yang pendek, Kasadha pun telah siap pula. Keduanya kemudian telah pergi menemui Ki Lurah Dipayuda yang ternyata sudah berada di pendapa bersama dengan Ki Demang Nglawang.

 “Aku sudah mendapat laporan bahwa kalian telah datang,” berkata Ki Lurah.

 “Maaf Ki Lurah. Kami tidak segera melaporkan hasil tugas kami karena menurut keterangan, Ki Lurah sedang tidur. Bahkan baru saja ketika kami datang,” berkata Barata.

 “Ya. Aku memang merasa letih sekali,” jawab Ki Lurah. Lalu katanya, “Meskipun aku sudah mendengar sebagian tentang hasil perjalananmu, namun sebaiknya kau memberikan laporan selengkapnya. Ki Demang tentu juga ingin mendengarnya.”

Barata lah yang kemudian memberikan laporan tentang perjalanan mereka ke Pajang. Mereka telah bertemu dengan orang-orang yang memang berkewajiban menerima mereka. Dan Barata pun telah menyampaikan hasilnya pula. Pajang sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk diperbantukan kepada Ki Lurah Dipayuda.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Ia memang sudah menduga. Karena itu maka katanya kepada Ki Demang, “Nah, sudah sama-sama kita dengar keterangan dari para perwira di Pajang. Kita memang harus berbuat sesuatu dengan kekuatan yang telah ada disini Ki Demang.”

 “Kenyataan itu harus kita terima, Ki Lurah,” berkata Ki Demang, “mulai hari ini, aku akan berbuat sesuatu.”

 “Aku sudah memutuskan untuk menghubungi Kademangan disebelah menyebelah. Tugasku sebagai prajurit di sisi Selatan ini tidak dibatasi oleh batas-batas Kademangan,” berkata Ki Lurah.

 “Aku akan berbuat apa saja yang dapat membantu tugas Ki Lurah disini,” jawab Ki Demang.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Demang. Aku minta Ki Demang dapat mengatur pertemuan dengan tiga orang Demang disekitar Kademangan Nglawang ini. Tetapi untuk sementara kita tidak usah berbicara dengan Kademangan Traju. Pada kesempatan lain, aku akan berbicara dengan Ki Demang di Traju secara khusus.

Ki Demang Nglawang mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Ki Lurah agak kurang yakin akan tegaknya tekad perjuangan pada Ki Demang Traju sebagaimana Ki Demang Randukerep.

 “Baiklah,” berkata Ki Demang, “hari ini aku akan mengirimkan orang untuk menghubungi ketiga orang Demang disekitar Kademangan ini. Besok, saat matahari sepenggalah kita mengharap mereka datang ke Kademangan ini.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Ki Demang. Terus terang, tanpa bantuan Ki Demang maka kami sudah tidak berarti lagi disini, karena jika pasukan Mataram itu bergerak maju, maka kami tentu akan mengalami kesulitan. Namun demikian, kami masih minta kepada Ki Demang, agar hari ini, sebelum kita sempat berbicara dengan para Demang disekitar Kademangan ini, kekuatan yang ada di Kademangan ini sudah dapat dikerahkan.”

 “Bukankah sejak kemarin kita sudah melihat para pengawal dan anak-anak muda Kademangan ini ikut berjaga-jaga?” desis Ki Demang.

 “Ya Ki Demang. Maksudku, semua laki-laki yang masih pantas untuk turun ke medan dalam keadaan memaksa,” berkata Ki Lurah, “namun segala sesuatunya terserah kepada kebijaksanaan Ki Demang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengerahkan semua laki-laki yang umurnya dibawah ampat puluh tahun. Kemudian memberikan kesempatan kepada mereka yang umurnya lebih dari ampat puluh tahun untuk dengan suka rela ikut bergabung dengan kekuatan bersenjata di Kademangan ini.”

Ternyata Ki Demang pun telah bergerak cepat. Ia segera minta diri. Kemudian bersama Ki Jagabaya, Ki Demang telah menghubungi para Bekel di padukuhan-padukuhan. Ki Demang telah memerintahkan, selain anak-anak muda dan para pengawal maka semua laki-laki diminta untuk ikut serta mempertahankan Kademangan mereka jika pasukan Mataram menyerang.

 “Kecuali mereka yang benar-benar tidak memiliki keberanian. Sebaiknya jangan dipaksa. Mereka hanya akan merepotkan saja jika serangan itu benar-benar datang. Jika peperangan terjadi, maka orang-orang yang benar-benar ketakutan hanya akan menjadi beban, karena mereka akan menjadi pingsan sebelum berbuat sesuatu,” berkata Ki Demang kepada para Bekel.

 “Hari ini kalian harus sudah berbuat sesuatu,” tambah Ki Demang.

Para Bekel itu pun telah melaksanakan perintah Ki Demang dengan baik. Para bebahu padukuhan segera menemui hampir semua orang laki-laki di padukuhan masing-masing. Perintah Ki Demang itu telah sampai ketelinga mereka. Sementara Ki Bekel dan para bebahu yang menghubungi setiap laki-laki yang umurnya dibawah empat puluh tahun itu telah mengatakan pula pesan Ki Demang, bahwa siapa yang memang tidak berani turun ke medan pertempuran lebih baik tidak ikut.

Tetapi ternyata hampir semua laki-laki yang dihubungi para Bekel dan bebahu padukuhan itu menyatakan kesediaan mereka. Bahkan orang-orang yang lebih tua pun telah menyatakan kesanggupan mereka pula untuk ikut membantu, meskipun seandainya tidak harus turun ke arena pertempuran.

Pada hari itu juga setiap padukuhan telah berhasil menyusun kelompok-kelompok kecil diluar para pengawal yang memang sudah tersusun. Namun sebagian besar dari mereka masih belum banyak mengenal olah kanuragam apalagi dengan mempergunakan senjata jenis apapun.

 “Tugas itu adalah tugas para pengawal untuk memperkenalkan mereka dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di medan pertempuran,” berkata para bekel kepada para pengawal yang ada di padukuhan mereka masing-masing.

Segalanya memang dituntut untuk dilakukan dengan cepat.

Namun dalam pada itu, ketika senja turun serta para prajurit di Kademangan Nglawang itu menyusun pergantian tugas, maka pengawal yang ditugaskan untuk menyadap keterangan dari Kademangan Randukerep telah datang kembali ke Kademangan langsung menemui Ki Demang dan Ki Lurah Dipayuda.

 “Berita apa yang kau dapatkan dari Traju?” bertanya Ki Demang.

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan nafasnya yang masih terengah-engah.

 “Kenapa kau diam saja?,” Ki Demang tidak sabar. Pengawal itu bergeser setapak. Kemudian katanya, “Ki Demang. Pasukan Mataram yang ada di Randukerep sudah ditarik. Semalam seluruh pasukan sudah meninggalkan Kademangan Randukerep.”

 “Ditarik?,” Ki Lurah lah yang memotong.

Pengawal itu mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Lurah. Pasukan Mataram tidak sempat berbuat apapun juga di Randukerep.”

 “Kau jangan mengigau,” geram Ki Demang.

 “Aku tidak saja berada di Traju. Tetapi aku sudah pergi ke Randukerep untuk membuktikannya, meskipun dengan alasan yang lain. Adik ipar pamanku di Traju tinggal di Randukerep. Ketika berita penarikan itu kami dengar, maka aku telah minta paman untuk menengok adik paman itu di Randukerep. Randukerep memang telah dikosongkan. Pasukan yang dengan susah payah merebut Randukerep harus meninggalkan Kademangan itu begitu saja,” berkata pengawal itu.

Ki Lurah Dipayuda termangu-mangu sejenak. Hampir-hampir tidak dapat dipercaya bahwa pasukan Mataram telah meninggalkan Kademangan itu. Tetapi pengawal itu mengaku bahwa ia telah melihat langsung ke Kademangan Randukerep.

 “Lalu bagaimana dengan pengamanan Kademangan itu?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

 “Ki Demang Randukerep telah menugaskan bekas pengawal yang masih ada untuk menjaga keamanan Kademangan agar tidak menjadi sasaran para perampok yang memanfaatkan keadaan,” jawab pengawal itu.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan membicarakan perkembangan keadaan Kademangan Randukerep. Terima kasih atas hasil jerih payahmu. Kau telah melakukan tugasmu dengan baik.”

 “Kembalilah ke kelompokmu. Tetapi sudah tentu kau akan menemui keluargamu lebih dahulu,” berkata Ki Demang.

Pengawal itu pun kemudian minta diri. Ia ingin segera pulang untuk menyatakan keselamatannya kepada keluarganya.

Sementara itu Ki Lurah segera memanggil semua pemimpin kelompok didalam pasukannya, untuk menyampaikan hasil penilikan seorang pengawal Kademangan Nglawang terhadap Kademangan Randukerep.

Para pemimpin kelompok itu pun merasa ragu-ragu terhadap berita itu. Namun mereka tidak dapat mengelak karena pengawal itu mengaku bahwa ia sendiri telah memasuki Kademangan Randukerep itu.

Namun Ki Lurah Dipayuda tidak begitu saja menerima berita itu sebagai satu kenyataan. Karena itu, maka Ki Lurah telah memerintahkan dua orang pemimpin kelompok untuk melihat, apakah berita itu memang benar.

 “Tetapi cara kalian tidak akan dapat sama dengan cara pengawal yang kebetulan mempunyai seorang paman di Kademangan Traju dan kemudian pamannya di Traju itu mempunyai ipar di Randukerep. Tetapi kalian harus berangkat dan melakukannya di malam hari,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk.

 “Nah, setelah kita meyakinkan hal itu, maka kita akan mengambil langkah-langkah yang perlu.”

Dua orang pemimpin kelompok telah ditunjuk. Orang itu adalah Barata dan Kasadha.

Para pemimpin kelompok yang lain pun memaklumi hal itu, karena setiap orang didalam pasukan Ki Lurah Dipayuda akhirnya mengetahui bahwa kedua orang anak muda itu adalah orang terbaik diantara mereka. Memang semula ada pemimpin kelompok yang menganggap perhatian Ki Lurah terhadap keduanya agak berlebihan. Tetapi setelah mereka yakin akan kelebihan keduanya setelah mereka bertempur melawan kedua orang Rangga dari Mataram, maka para pemimpin kelompok itu pun telah menerima sikap Ki Lurah itu sebagai satu kewajaran.

Barata dan Kasadha sendiri tidak mengeluh atas perintah yang datang beruntun itu. Mereka merasa bahwa mereka memang berkewajiban untuk melakukannya. Keduanya memang lebih senang menerima perintah itu dan menganggapnya sebagai satu kehormatan dari pada keduanya harus meronda atau berada di gardu-gardu perondan.

Dalam pada itu, Barata dan Kasadha pun tanggap akan perintah Ki Lurah, bahwa mereka harus berangkat di malam hari. Perintah itu tentu mengandung maksud agar keduanya berangkat saat itu juga.

Karena itu, keduanya pun segera mempersiapkan diri. Mereka sudah cukup beristirahat di hari itu. Dengan demikian, maka mereka pun telah mendapatkan kesegaran baru sehingga mereka pun telah bersiap untuk berangkat.

Tetapi keduanya tidak membawa kuda sebagai tunggangan. Mereka akan berjalan saja menuju ke Randukerep karena perjalanan mereka adalah perjalanan sandi. Berbeda dengan perjalanan mereka menuju ke Pajang.

Setelah menerima beberapa pesan dari Ki Lurah Dipayuda, maka Barata dan Kasadha telah mohon diri kepada Ki Lurah dan Ki Demang untuk melakukan tugas mereka yang baru, menuju ke Randukerep.

Meskipun keduanya telah mendapat berita bahwa orang-orang Mataram telah meninggalkan Randukerep, namun keduanya memang harus berhati-hati. Mungkin pengawal itu salah membuat perhitungan dan penilaian, tetapi kemungkinan yang lain adalah, bahwa orang-orang Mataram memang telah meninggalkan padukuhan itu setelah menebarkan racun didalamnya, sehingga jika keduanya tidak berhati-hati justru akan terjebak didalamnya.

Diam-diam kedua orang pemimpin kelompok dari prajurit Pajang itu telah memasuki daerah Kademangan Randukerep. Mereka telah memilih jalan sempit yang tidak melewati padukuhan. Justru karena mereka telah pernah berada di Kademangan itu, maka mereka pun telah mengenali jalan-jalan besar dan kecil dengan baik.

 “Apakah kita akan memasuki padukuhan induk?” bertanya Kasadha.

 “Ya. Untuk memastikan apakah prajurit Mataram ada di padukuhan ini atau tidak, kita harus melihatnya di padukuhan induk,” jawab Barata.

 “Mungkin dalam keadaan wajar. Tetapi mungkin Mataram dengan sengaja mengelabui kita,” desis Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin. Tetapi sebaiknya kita melihat padukuhan induk lebih dahulu.”

Keduanya pun kemudian telah berusaha untuk memasuki padukuhan induk. Tetapi mereka tidak masuk lewat regol padukuhan, tetapi mereka telah meloncati dinding padukuhan, sehingga dengan demikian maka kemungkinan untuk diketahui para pengawal menjadi semakin kecil.

Ternyata padukuhan induk itu memang sepi. Barata dan Kasadha dengan sangat berhati-hati telah mendekati banjar. Mereka memang melihat beberapa orang pengawal berada di banjar. Mereka tentu anak-anak muda yang pernah menjadi pengawal Kademangan yang untuk sementara mendapat kewajiban untuk mengatasi jika terjadi kerusuhan karena kejahatan. Tetapi nampaknya Kademangan itu masih saja terombang-ambing antara dua pilihan. Mataram atau Pajang.

Selain di banjar, maka Barata dan Kasadha sama sekali tidak melihat kesiagaan yang lain. Di Kademangan mereka memang melihat beberapa pengawal bersiaga. Tetapi sekedar untuk mengamankan rumah Ki Demang itu saja.

Tetapi keduanya sepakat untuk melihat padukuhan yang lain. Mungkin ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian mereka.

Namun di padukuhan yang lain pun terasa kesepian sangat mencengkam. Memang disetiap banjar pedukuhan terdapat beberapa orang pengawal berjaga-jaga. Tetapi tidak untuk memasuki pertempuran yang sebenarnya.

Seperti yang dikatakan oleh pengawal dari Nglawang, bahwa para pengawal Randukerep sekedar menjaga agar tidak terjadi kejahatan di Kademangan itu.

Barata dan Kasadha dengan diam-diam berhasil melihat-lihat bukan saja padukuhan induk, tetapi beberapa padukuhan yang lain di Kademangan Randukerep. Mereka telah mengambil kesimpulan, bahwa orang-orang Mataram memang telah meninggalkan padukuhan itu. Sehingga dengan demikian, maka nampaknya mereka telah melepaskan niat mereka untuk menyerang Pajang dari sisi Selatan selain dari sisi Barat.

 “Apakah mereka mempergunakan Kademangan lain sebagai landasan serangan mereka dari sisi Selatan ini?” bertanya Barata.

 “Tidak ada Kademangan yang lebih baik dari Randukerep. Selain arahnya yang mapan, juga di Kademangan ini didapat dukungan perbekalan yang memadai. Hasil sawah, pategalan dan tenaga yang cukup,” sahut Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah bahwa pasukan Mataram telah tidak ada lagi di Kademangan Randukerep.

 “Kita akan melaporkannya kepada Ki Lurah,” desis Kasadha.

 “Marilah. Mungkin Ki Lurah akan mengambil langkah-langkah yang cepat,” sahut Barata.

Keduanya pun telah meninggalkan Kademangan Randukerep. Tetapi keduanya memang sengaja singgah di Kademangan Traju. Mereka masih juga berusaha meyakinkan, bahwa pasukan Mataram tidak berada di Traju.

Keduanya pun telah meninggalkan Kademangan Randukerep. Tetapi keduanya memang sengaja singgah di Kademangan Traju. Mereka masih juga berusaha meyakinkan, bahwa pasukan Mataram tidak berada di Traju.

Keduanya pun akhirnya yakin, bahwa pasukan Mataram memang sudah ditarik dari sebelah Selatan Pajang, sehingga mereka tidak lagi memilih jalur Selatan sebagai pintu butulan untuk memasuki Pajang jika pasukan Mataram mengalami kesulitan untuk menyerang Pajang dari sisi Barat.

Menjelang fajar keduanya telah berada kembali di Kademangan Nglawang. Namun Ki Lurah dan Ki Demang belum lama memasuki bilik mereka dan beristirahat. Karena itu, maka keduanya pun telah memilih tidur lebih dahulu. Mereka berdua berpendapat, bahwa tidak ada hal yang sangat mendesak untuk membangunkan Ki Lurah yang juga baru saja tertidur.

Baru pagi-pagi, disaat matahari terbit, setelah membersihkan diri dan membenahi kelompok masing-masing, Barata dan Kasadha menghadap Ki Lurah dan Ki Demang yang sudah berada di pendapa.

 “Orang-orang Mataram benar-benar telah meninggalkan Randukerep Ki Lurah,” berkata Barata yang kemudian melaporkan apa yang telah mereka lihat di Randukerep dan di Kademangan Traju.

Ki Lurah Dipayuda dan Ki Demang memang hampir tidak percaya akan hal itu. Apalagi Ki Dipayuda yang telah mengalami pertempuran yang keras di Kademangan Randukerep. Seandainya Ki Lurah Tapajaya tidak memberinya kesempatan menghindar dari pertempuran, mungkin ia pun telah mati sebagaimana beberapa orang prajurit Pajang yang lain.

 “Bagaimana mungkin Mataram begitu saja meninggalkan Kademangan Randukerep,” berkata Ki Lurah.

 “Mungkin satu jebakan bagi para prajurit Pajang,” berkata Ki Demang.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun Randukerep telah dikosongkan, kami tidak akan dengan tergesa-gesa kembali ke Kademangan itu. Aku ingin membuat landasan kekuatan yang kokoh disini. Baru aku akan mempelajari kemungkinan itu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Lurah tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap tentang Randukerep.”

 “Ya,” jawab Ki Lurah, “kita harus meyakinkan sekali lagi. Sementara itu kita pun harus memperhitungkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi dalam hubungan para prajurit dan orang-orang Randukerep, yang dianggap kurang membantu. Hanya beberapa orang bagian kecil sajalah diantara para pengawal yang dengan bersungguh-sungguh telah berjuang disisi para prajurit Pajang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Satu perkembangan yang dapat menjadi teka-teki bagi kita Ki Lurah.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun kemudian Ki Lurah telah memberi kesempatan kepada Barata dan Kasadha untuk beristirahat karena mereka baru saja bertugas hampir semalam suntuk. Bukan saja badan mereka menjadi letih, tetapi juga ketegangan yang mereka alami selama menjalankan tugas telah membuat mereka menjadi letih lahir dan batin.

Barata dan Kasadha pun kemudian telah minta diri. Namun mereka pun mengatakan bahwa mereka sudah sempat tidur beberapa saat sebelum menghadap Ki Lurah dan Ki Demang.

 “Tetapi itu belum cukup. Jika menjelang fajar kau baru kembali dan disaat matahari terbit kau sudah berada disini, maka kau masih memerlukan waktu lagi untuk beristirahat hari ini. Jika ada berita penting, maka aku akan memanggil semua pemimpin kelompok yang ada di pasukan ini,” berkata Ki Lurah.

Barata dan Kasadha yang kembali ke kelompoknya masing-masing sempat memberikan beberapa peringatan, bahwa keadaan menjadi tidak menentu.

 “Kita menunggu perintah dari Pajang. Tetapi bahwa Randukerep dikosongkan belum kita laporkan. Kita harus yakin lebih dahulu, apa yang telah terjadi disini,” berkata anak-anak muda itu kepada prajurit-prajurit didalam kelompok mereka.

Sebenarnyalah pada saat itu Ki Lurah memang sedang memikirkan kemungkinan untuk menyampaikan laporan ke Pajang. Mungkin ada perintah-perintah baru menanggapi perubahan sikap Mataram itu.

Tetapi sebelum Ki Lurah mengambil keputusan, maka telah datang dua orang penghubung dari Pajang yang langsung menuju ke Kademangan Nglawang, karena para pemimpin yang ada di Pajang sudah mendapat laporan tentang pergeseran landasan pasukan mereka dari Barata dan Kasadha.

 “Aku akan memanggil semua pemimpin kelompok untuk dapat mendengar langsung perintah-perintah dari Pajang,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Sejenak kemudian maka para pemimpin kelompok pun telah berkumpul. Mereka akan mendengar langsung perintah yang dibawa oleh penghubung yang datang dari Pajang itu setelah para penghubung itu menyampaikannya lebih dahulu kepada Ki Lurah. Namun menurut Ki Lurah, perintah yang dibawa itu adalah perintah yang tidak diperkirakan sebelumnya sehingga dengan demikian maka perintah itu merupakan perintah yang penting.

 “Para prajurit Mataram memang sudah ditarik dari Randukerep,” berkata penghubung itu.

 “Kami belum saja memberikan laporan, karena kami ingin meyakinkan apa yang telah terjadi di Randukerep. Semalam dua orang prajurit telah datang ke Randukerep,” berkata Ki Lurah.

 “Bukankah Randukerep telah kosong?” bertanya penghubung itu.

 “Ya,” jawab Ki Lurah, “juga Kademangan-kademangan sebelah menyebelah. Kami baru membicarakan isi laporan yang akan kami kirimkan ke Pajang, tetapi nampaknya Pajang justru telah mengetahuinya lebih dahulu.”

 “Kami mengetahuinya justru dari petugas sandi kami yang ada dalam pasukan Mataram yang berhasil mengetahui langsung perintah-perintah yang diberikan kepada kedua orang Rangga yang berada disisi Selatan bersama Ki Lurah Tapajaya,” jawab penghubung itu.

 “Ya. Para prajurit itu berada dibawah pimpinan Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala serta Ki Lurah Tapajaya,” jawab Ki Lurah Dipayuda.

 “Ternyata ketiga orang pemimpin itu dianggap bersalah. Mereka telah menyebarkan racun diantara rakyat Randukerep. Itu sama sekali tidak dikehendaki oleh pimpinan prajurit Mataram. Mataram memang menugaskan mereka untuk meyakinkan anak-anak muda akan perjuangan Mataram merebut Pajang. Tetapi tidak dengan cara yang kotor itu,” berkata penghubung itu.

Ki Lurah Dipayuda mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi apakah Mataram tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh orang-orangnya di sekitar Randukerep sebelum kami datang?”

 “Perintah penarikan pasukan Mataram dari Randukerep sebenarnya telah diberikan sebelum terjadi pertempuran dengan prajurit Pajang. Tetapi para pemimpin dari Mataram di Randukerep telah memaksakan pertempuran itu. Baru setelah mereka meyakinkan diri memenangkan pertempuran di Randukerep, mereka telah menarik pasukannya dan membawanya ke seberang Kali Opak. Panembahan Senapati memang berkemah disebelah Barat Kali Opak. Namun menurut laporan yang diterima oleh para petugas sandi Pajang yang telah meneruskannya ke pimpinan prajurit Pajang di pesanggrahan Kangjeng Sultan di sebelah Timur Kali Opak, ketiga orang perwira prajurit Mataram itu telah mendapat hukuman khusus dari Panembahan Senapati,” berkata penghubung itu.

 “Kenapa Panembahan Senapati menganggap cara yang ditempuh oleh ketiga perwiranya itu salah?” bertanya salah seorang pemimpin kelompok.

 “Dengan cara itu, siapapun yang menang, tidak akan menemukan satu landasan yang baik bagi perjuangan mereka selanjutnya. Racun itu akan menyebar ke seluruh lekuk-lekuk kehidupan di Kademangan Randukerep dan sekitarnya. Cara hidup yang kotor itu memang akan dengan cepat melemahkan gairah perjuangan anak-anak muda dan bahkan orang-orang Randukerep. Semua orang akan segera tersesat kedalam kehidupan itu karena cara hidup yang demikian akan lebih mudah menyusup dalam kehidupan daripada usaha-usaha yang baik. Karena itu, maka kelak usaha untuk menyembuhkannya tentu akan menjadi sangat sulit. Bahkan seandainya Mataram menang karena landasan pasukan disisi Selatan ini, maka yang mereka dapatkan di Randukerep hanyalah abunya perjuangan yang tidak lagi memberikan arti apa-apa bagi masadepan. Kademangan Randukerep akan menjadi beban yang berat bagi usaha meningkatkan kesejahteraan hidup, bukan saja di Kademangan itu, tetapi juga disekitarnya,” berkata penghubung itu.

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Namun sebagai seorang prajurit ia merasa kecewa. Ia belum sempat membalas kekalahan yang dideritanya sehingga terusir dari Kademangan Randukerep, Namun dengan keseimbangan antara nalar dan perasaannya, ia merasa bersyukur, bahwa pertumpahan darah di sisi Selatan Pajang itu berakhir. Namun belum berarti bahwa tidak akan terjadi pertumpahan darah disebelah yang lain dari Pajang yang terasa memang sudah goyah itu.

Dalam pada itu, maka penghubung itu pun telah menyampaikan perintah kepada Ki Lurah Dipayuda untuk bersiap-siap melakukan tugas-tugas yang akan diperintahkan kemudian. Tugas yang masih belum diketahui. Namun sudah pasti bahwa menghadapi Mataram disisi Barat, Pajang memerlukan kekuatan yang sangat besar.

Dari penghubung itu pula Ki Lurah Dipayuda mengetahui, bahwa perintah penarikan pasukan Mataram dari Randukerep telah dijatuhkan oleh Tumenggung Purbarana yang ternyata mengambil kembali para prajurit Mataram yang berada disisi Selatan dan membebaskan Ki Lurah Tapajaya serta kedua Rangga yang menyertainya dari tugasnya.

 “Baiklah,” berkata Ki Lurah Dipayuda, “aku akan menunggu perintah lebih lanjut. Tetapi jika pimpinan prajurit Pajang meyakini bahwa pasukan Mataram tidak akan turun lagi ke sisi Selatan, maka pasukan ini tentu akan segera ditarik dan di tempatkan di sebelah Kali Opak bersama-sama dengan seluruh kekuatan Pajang.”

 “Mungkin sekali,” sahut penghubung itu. Lalu katanya, “Tetapi segala sesuatunya terserah kepada pimpinan Pajang yang masih berada dan menjaga ketenangan kota Pajang sekarang. Jika pimpinan keprajuritan yang berada bersama Kangjeng Sultan di pesanggrahan menjatuhkan perintah bagi Ki Lurah, agaknya akan tersalur lewat pimpinan di Pajang. Ki Tumenggung Surapraba.”

Ki Demang yang ikut dalam pembicaraan itu kemudian berkata, “Memang hampir tidak dapat dipercaya. Setelah bertempur dengan taruhan beberapa orang korban yang jatuh, pasukan Mataram begitu saja meninggalkan Randukerep. Tetapi sebenarnyalah sebelumnya aku sudah menduga. Menurut keterangan yang aku terima pasukan Mataram memang lebih sedikit dari pasukan Pajang.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ki Demang memang pernah mengatakannya. Tetapi menilik gerakan yang besar dari pasukan Mataram di sisi Selatan, maka langkah yang ternyata benar-benar diambil Mataram itu mengejutkan. Namun agaknya terdapat pertimbangan-pertimbangan lain sebagaimana di katakan oleh penghubung ini. Mataram tidak mau prajurit-prajuritnya mempergunakan cara yang kurang wajar.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun yang kemudian menyahut adalah penghubung itu, “Demikianlah yang terjadi Ki Lurah. Dengan demikian tugas kami sudah selesai. Karena itu, maka kami akan segera mohon diri.”

Tetapi Ki Demang sempat menghidangkan minuman dan makanan bagi kedua penghubung itu sebelum mereka kembali ke Pajang.

Sejenak kemudian, maka kuda kedua penghubung itu pun telah berderap meninggalkan Kademangan Nglawang, kembali ke Pajang untuk seterusnya jika diperintahkan menuju ke Prambanan setelah memberikan laporan-laporan yang dibawa dari Nglawang.

Sementara itu sepeninggal penghubung yang membawa berita dan sekaligus pesan-pesan itu, Ki Lurah masih berbincang dengan para pemimpin kelompok. Dengan demikian maka mereka menjadi yakin bahwa tugas mereka disisi Selatan itu sudah selesai. Tetapi mereka masih belum menerima tugas-tugas baru yang harus mereka lakukan.

Namun sebagai seorang pemimpin sepasukan prajurit betapapun kecilnya maka Ki Dipayuda telah memerintahkan untuk bersiaga sepenuhnya.

 “Satu kesempatan untuk memulihkan kekuatan pasukan meskipun kawan-kawan kita berkurang jumlahnya,” berkata Ki Lurah.

Para pemimpin kelompok menyadari, bahwa mereka harus tetap menempa diri, meningkatkan kemampuan mereka serta mencari kemungkinan-kemungkinan yang lain untuk tetap mempertahankan kekuatan pasukan mereka.

Sejak saat itu, maka tugas prajurit Pajang di Nglawang itu adalah menunggu sambil membenahi diri. Yang terluka mendapat perawatan sebaik-baiknya. Sementara Ki Demang telah membantu dengan segala kemungkinan yang ada. Ki Demang telah berusaha untuk menyediakan perbekalan bagi pasukan yang terluka dan berada di Kademangannya itu.

Namun dihari berikutnya, keadaan pasukan Ki Lurah itu telah menjadi semakin baik. Sebagian yang terluka tidak terlalu parah telah sembuh kembali. Bahkan yang semula parah pun telah mampu melakukan kegiatannya sehari-hari tanpa bantuan orang lain.

Tetapi yang tidak dapat mereka lupakan adalah kawan-kawan mereka yang telah gugur di peperangan.

Barata dan Kasadha serta para pemimpin kelompok yang lain dengan sungguh-sungguh berusaha untuk tetap menegakkan kelompok mereka masing-masing sebagai satu kesatuan terkecil dari pasukan Pajang. Betapapun keadaan mereka setelah pertempuran di Randukerep, namun mereka harus tetap dengan bangga menyatakan diri mereka, prajurit-prajurit Pajang.

Namun dalam pada itu, Kasadha ternyata mempunyai beban persoalan yang lain. Bahwa ada orang-orang yang mengenalinya sebagai Puguh telah sangat mengganggu perasaannya. Setiap kali ia teringat, maka jantungnya serasa berdesir pedih. Namun ia sadar, bahwa ia tidak dapat menanggalkan masa lampaunya begitu saja.

Kasadha tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri, bahwa ia adalah Puguh. Anak Warsi. Sedangkan laki-laki yang disebut sebagai ayahnya adalah Ki Rangga Gupita, meskipun laki-laki itu sama sekali bukan ayahnya. Tetapi ayah adiknya yang lahir kemudian.

Persoalan yang menyangkut dirinya itu agaknya telah mempengaruhi sikapnya sehari-hari. Kadang-kadang Kasadha termenung memandangi kejauhan tanpa menghiraukan keadaan disebelah menyebelahnya. Para prajurit didalam kelompoknya sering melihat Kasadha seperti orang yang sedang bersedih.

Seorang diantara para prajurit itu pada satu kesempatan telah bertanya kepada Barata, “Kenapa kakakmu selalu murung?”

 “Kakakku siapa?” bertanya Barata.

 “Kasadha,” jawab prajurit itu.

 “Ia bukan kakakku,” jawab Barata.

 “Ya. Aku mengerti. Tetapi kawan-kawan menyebutnya demikian. Apakah kau berkeberatan?” bertanya prajurit itu.

 “Tidak. Aku tidak pernah merasa keberatan. Tetapi aku hanya ingin mengatakan bahwa itu bukan yang sebenarnya,” jawab Barata.

 “Baiklah,” desis prajurit itu, “tetapi yang ingin aku tanyakan, kenapa dengan Kasadha? Kau adalah orang yang dekat dengannya. Barangkali kau tahu apa sebabnya.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengerti. Aku juga menyimpan pertanyaan seperti itu. Tetapi aku tidak sampai hati untuk menanyakannya. Jika persoalannya itu tidak sepatutnya dimengerti orang lain, maka hatinya akan menjadi semakin sulit. Ia akan membawa beban baru justru karena pertanyaan itu. Untuk menjawab, ia merasa tidak sepantasnya, tetapi tidak dijawab, maka ia akan merasa kurang mapan karena dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan orang lain.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Apakah Kasadha masih mempunyai orang tua?”

 “Aku tidak tahu,” jawab Barata.

Prajurit itu tidak bertanya lagi. Ia tahu bahwa Barata memang bukan adiknya. Mereka bertemu disaat keduanya memasuki dunia keprajuritan Pajang.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu telah membekas di hati Barata. Ternyata Kasadha menjadi murung justru setelah ada orang yang menyebutnya sebagai Puguh sebagaimana dirinya. Barata sama sekali tidak menjadi murung karenanya. Bahkan Barata dapat menyisihkannya untuk tidak diingatnya lagi, meskipun kadang-kadang muncul juga dipermukaan. Apalagi ia sudah dua kali mengalaminya.

Namun setiap kali telah timbul pula satu pertanyaan, “Apakah Kasadha itu memang orang yang sebenarnya bernama Puguh?”

Namun Barata selalu mengusir pertanyaan itu. Ia mempunyai beberapa alasan untuk menolaknya. Menurut gambaran angan-angannya Puguh adalah seorang anak muda yang kasar. Bahkan liar dan buas. Tetapi umurnya lebih muda dari umur Barata sendiri. Sedang Kasadha tidak memenuhi kedua-duanya. Ia bukan jenis seorang anak muda yang liar. Sedangkan menurut penilaiannya, Kasadha memang agak lebih tua dari dirinya meskipun hanya terpaut sedikit.

Karena itu, maka Barata tidak berniat memperhatikan kemurungan Kasadha apapun sebabnya. Karena seseorang menjadi murung itu dapat terjadi karena seribu macam sebab.

Namun Kasadha sendiri agaknya merasa, bahwa sengaja atau tidak sengaja, Barata telah melihat kemurungan yang tidak berhasil disembunyikannya. Karena itu, tanpa diminta Kasadha telah berceritera tentang sebuah mimpi.

 “Mimpi?” bertanya Barata.

 “Ya,” jawab Kasadha, “aku mimpi tinggal dilereng sebuah bukit. Dekat dengan rumahku terdapat sebuah sungai yang kecil saja. Namun ketika hujan turun berhari-hari, maka sungai yang kecil itu menjadi banjir. Aku tidak berpikir lebih jauh. Dengan serta merta aku memanjat tebing untuk menghindari air yang cepat sekali naik. Tetapi tiba-tiba saja aku melihat lereng bukit itu menjadi goyah. Agaknya air hujan yang lebat itu bukan saja telah menimbulkan banjir, tetapi juga tanah longsor. Aku terjepit diantara banjir yang semakin tinggi serta tanah yang mulai bergerak turun.”

Ketika Kasadha berhenti sejenak, Barata menjadi tegang. Bahkan kemudian ia pun bertanya, “Lalu, apa yang kau lakukan?”

 “Tiba-tiba aku pasrah kepada Yang Maha Agung. Aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang selama ini mempunyai kepercayaan yang kuat. Tetapi didalam mimpi tiba-tiba saja aku telah pasrah seutuhnya. Aku sudah tidak melihat jalan apapun yang akan dapat menyelamatkan diriku,” jawab Kasadha.

 “Lalu apa yang terjadi? “ Barata menjadi tidak sabar.

 “Aku terbangun,” jawab Kasadha.

 “Sebelum tanah longsor itu menimpamu?” bertanya Barata pula.

 “Ya. Sebelum tanah longsor itu menimpaku dan air yang semakin besar itu dapat menggapaiku,” jawab Kasadha dengan nada rendah.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Meskipun hanya sebuah mimpi, tetapi rasa-rasanya telah menegangkan jantung.”

 “Ya. Aku tidak dapat segera melupakannya,” berkata Kasadha pula.

 “Kenapa? Apakah kau termasuk orang yang percaya kepada mimpi bahwa mimpi itu selalu ada artinya?” bertanya Barata.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang berniat untuk mengalihkan perhatian Barata. Jika Barata pernah melihatnya murung, maka Kasadha berharap pertanyaan yang timbul di hati Barata akan terjawab dengan ceritera mimpi itu.

 “Mimpi adalah mimpi,” berkata Barata, “satu peristiwa didunianya sendiri.”

 “Tetapi sejak jaman dahulu orang percaya bahwa mimpi itu mempunyai arti,” jawab Kasadha, “dan meskipun aku bukan ahli menebak arti sebuah mimpi, tetapi rasa-rasanya arti mimpi itu jelas sekali.”

 “Seandainya mimpimu itu mempunyai arti, maka apapun yang terjadi, kau akan selamat. Demikian pula jika ditarik ke lingkunganmu yang lebih besar. Pasukan ini misalnya. Maka dalam keseluruhan pasukan ini pun akan selamat, karena kau sempat menyingkir dari arus banjir,” berkata Barata.

 “Tetapi tanah longsor itu?” desis Kasadha.

 “Tanah longsor itu belum menimpamu. Kau kemudian terbangun,” jawab Barata.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Sementara Barata pun berkata, “Mimpi atau tidak mimpi, apa yang memang akan terjadi tentu terjadi. Kau tidak-boleh terlalu terpengaruh oleh sebuah mimpi yang belum pasti bersangkut paut dengan duniamu ini.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun dengan demikian Kasadha telah menghindarkan dirinya dari pertanyaan Barata tentang dirinya yang memang kadang-kadang menjadi murung.

Untuk selanjutnya, maka ceritera tentang mimpi itulah yang dikatakan oleh Barata kepada setiap orang yang bertanya kepadanya. Dengan demikian maka para prajurit Pajang di Nglawang, terutama yang berada didalam kelompok yang dipimpin oleh Kasadha mendengar bahwa Kasadha telah terpengaruh oleh satu mimpi yang menurut tanggapannya mempunyai arti yang mencemaskan.

Tetapi Kasadha sendiri memang sulit untuk melupakan persoalan yang sebenarnya mencengkam jantungnya. Ada niatnya untuk mengatakannya kepada Barata, agar bebannya menjadi sedikit berkurang. Tetapi justru karena ia tidak tahu siapakah Barata itu serta latar belakang kehidupannya, maka Kasadha selalu mengurungkannya. Sehingga dengan demikian beban itu tetap merupakan beban baginya.

Demikianlah, maka dihari berikutnya, kejemuan telah mulai menyentuh perasaan para prajurit Pajang. Mereka merasa seakan-akan tidak diperlukan lagi dan dibiarkan begitu saja berkarat di tempat penyimpanan.

Ki Lurah Dipayuda yang memimpin pasukan yang berada di Nglawang itu pun merasakan kegelisahan itu. Karena itu, maka ia dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap orang didalam pasukannya. Namun Dipayuda itu menyadari bahwa para prajurit itu telah dibebani oleh perasaan bersalah karena kekalahan yang pernah mereka derita menghadapi pasukan Mataram. Karena itu, maka perasaaan mereka pun mudah sekali tersinggung. Mereka merasa justru karena kekalahan itu, mereka tidak diperlukan lagi oleh Pajang.

Tetapi keadaan itu tidak berlangsung lebih lama. Ketika orang-orang yang terluka telah menjadi semakin baik, maka Pajang telah mengirimkan perintah untuk menarik pasukan itu dari Pajang.

 “Keadaan pasukan Pajang di Prambanan menjadi gawat,” berkata penghubung yang mendapat perintah memanggil pasukan Pajang itu, “pertempuran-pertempuran kecil memang sering terjadi disekitar pesanggrahan. Tetapi Kangjeng Sultan masih belum mengambil sikap yang tegas.”

Ki Lurah Dipayuda yang pernah bertempur langsung menghadapi prajurit Mataram telah menyatakan kesediaannya untuk berbuat apa saja di medan pertempuran.

 “Kami, pasukan ini akan menebus kekalahan yang pernah kami alami,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

 “Tetapi kita tidak dapat bertindak sendiri-sendiri. Setiap kali Kangjeng Sultan masih menunjukkan sikap yang kurang dapat dimengerti oleh para pemimpin Pajang yang termasuk dekat dengan Kangjeng Sultan itu sendiri. Adipati Tuban telah dengan sepenuh hati bersedia melakukan apa saja bahkan menghancurkan pasukan Mataram. Demikian pula Adipati Demak. Tetapi Sultan masih saja mencegahnya,” berkata penghubung itu.

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia adalah seorang pemimpin dari sepasukan kecil dari Pajang. Jauh dibawah tingkat kedudukan Adipati Tuban dan Adipati Demak serta para Tumenggung yang lain. Jika mereka masih harus mengekang diri, maka apalagi Ki Lurah Dipayuda.

Tetapi jika Ki Lurah Dipayuda harus kembali ke Pajang lebih dahulu dan seterusnya ke Prambanan, itu tentu lebih baik daripada tetap tinggal di Kademangan Nglawang tanpa tugas tertentu kecuali menunggu.

Karena itu, maka Ki Lurah pun segera memerintahkan pasukannya berbenah diri. Pasukan itu dihari berikutnya harus sudah berada di Pajang dan melaporkan diri kepada Ki Tumenggung Surapraba.

Ketika penghubung itu telah meninggalkan Kademangan Nglawang, maka Ki Lurah pun segera mengadakan pertemuan dengan Ki Demang. Ki Lurah telah minta diri untuk meninggalkan Kademangan itu disertai ucapan terima kasih atas segala bantuan Ki Demang selama pasukan Pajang itu berada di Kademangannya.

 “Itu adalah kewajiban kami orang-orang Nglawang,” berkata Ki Demang.

Disisa hari itu, maka para prajurit telah bersiap-siap. Para pemimpin kelompok telah menyiapkan kelompok masing-masing bukan saja sekedar untuk kembali ke Pajang. Tetapi mereka telah bersiap untuk memasuki medan pertempuran yang lebih besar di Prambanan diantara beribu-ribu prajurit yang lain.

Meskipun prajuritnya sudah tidak genap lagi seratus, namun Ki Dipayuda akan merasa lebih berarti jika pasukannya yang kecil itu berada di medan, meskipun hanya merupakan bagian kecil dari seluruh pasukan Pajang yang besar bersama para prajurit dari Tuban dan Demak.

Malam hari menjelang keberangkatan pasukan Pajang itu Ki Lurah Dipayuda masih berbincang panjang dengan Ki Demang. Ki Lurah masih sempat memberikan beberapa petunjuk kepada Ki Demang untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang keras di masa perang itu.

 “Perang itu akan dapat menjalar sampai ke mana-mana,” berkata Ki Lurah, “saat ini pasukan Mataram telah ditarik dari Randukerep. Bukan saja karena kekuatan Mataram terlalu kecil dibandingkan dengan Pajang, tetapi juga karena cara-cara yang ditempuh oleh para pemimpin prajurit Mataram itu tidak sesuai dengan perintah Panembahan Senapati. Karena itu, maka kemungkinan hadirnya prajurit Mataram masih ada dengan membawa perintah yang baru.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan mencoba. Kademangan ini akan tetap bersiaga sepenuhnya.”

 “Hati-hati dengan Kademangan Randukerep. Kami tidak sempat melihat isi Kademangan itu yang sesungguhnya,” berkata Ki Lurah, “beberapa kelompok pengawal telah sempat kami tingkatkan kemampuannya. Namun dalam pertempuran yang sesungguhnya mereka tidak berarti apa-apa.”

 “Kita tidak cemas menghadapi Randukerep seandainya mereka berbeda pendapat dengan kita. Mereka telah tertusuk racun yang disebarkan oleh para prajurit Mataram diluar kehendak Panembahan Senapati. Karena itu, maka aku masih yakin, bahwa anak-anak muda dan pengawal Kademangan Nglawang masih lebih baik dari anak-anak muda dan para pengawal Randukerep.”

 “Juga menghadapi orang-orang jahat yang antara lain adalah bekas prajurit Jipang. Meskipun perang antara Pajang dan Jipang sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun sisa-sisa prajurit Jipang itu masih saja bergerak sampai sekarang,” berkata Ki Lurah Dipayuda sambil menyebut sekelompok penjahat yang dijumpai oleh Barata dan Kasadha.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Pengawal Kademangan ini agaknya masih lebih baik dari pengawal dan anak-anak muda dari padukuhan yang kehilangan pimpinan itu.”

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Menurut penglihatannya maka anak-anak muda dan pengawal di Kademangan itu memang lebih baik dari yang dikenalnya di Randukerep.

Demikianlah, maka malam itu adalah malam terakhir bagi pasukan Pajang itu berada di daerah Selatan. Menurut perhitungan para pemimpin Pajang, berdasarkan laporan para petugas sandi, maka tidak akan ada lagi pasukan Mataram yang bergerak sejauh itu memasuki daerah Pajang, karena pasukan itu tidak akan pernah mendapat dukungan apapun dari induk pasukan Mataram. Apalagi pasukan Mataram yang berada disebelah Barat Kali Opak jauh lebih sedikit dari pasukan Pajang disebelah Timur Kali Opak.

Menjelang tengah malam, maka Ki Lurah Dipayuda pun telah berada di pembaringannya. Untuk beberapa saat ia masih belum dapat tidur nyenyak. Namun kemudian Ki Lurah itu pun sempat beristirahat sebelum di keesokan harinya ia akan menempuh perjalanan kembali ke Pajang.

Pagi-pagi benar Ki Lurah Dipayuda memang sudah bangun. Demikian pula para pemimpin kelompok dan para prajurit. Menurut rencana, disaat matahari terbit, mereka akan meninggalkan Kademangan itu.

Ki Demang dan para bebahu mengantar mereka disaat keberangkatan itu tiba. Ki Lurah Dipayuda sempat berbicara sejenak dengan orang-orang Kademangan yang hadir di halaman banjar. Dengan singkat Ki Lurah mengucapkan terima kasih kepada mereka atas segala kebaikan mereka, terutama anak-anak muda dan para pengawal.

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan prajurit telah meninggalkan Kademangan Nglawang. Prajurit-prajurit Pajang itu tidak terlalu lama berada di Kademangan itu, tetapi satu kesan tersendiri telah mereka tinggalkan.

Ketika pasukan itu datang, maka keadaannya nampak sangat letih dan parah. Wajah-wajah nampak murung dan sebagian dari mereka masih juga dikotori dengan darah. Darah sendiri maupun darah kawan atau lawan.

Namun pada saat mereka berangkat, pasukan itu sudah nampak perkasa. Mereka yang terluka telah mendapatkan kekuatan mereka kembali. Namun ternyata bahwa tiga orang terpaksa dititipkan di Kademangan itu, karena keadaannya yang masih parah. Mereka tidak akan daat berjalan sendiri sampai ke Pajang. Tetapi mereka tidak mau memberati kawan-kawannya dengan membawanya pakai tandu. Karena itu, mereka sendirilah yang minta ditinggalkan saja di Kademangan itu.

 “Kami merasa aman disini,” berkata salah seorang diantara mereka yang parah.

Ki Lurah Dipayuda ternyata tidak berkeberatan. Apalagi keadaan kedua orang itu sudah berangsur baik. Sehingga agaknya tidak akan membahayakan jiwanya. Sementara itu tabib dari kalangan keprajuritan Pajang telah memberikan beberapa pesan kepada seorang tabib yang ada di Kademangan itu. Meskipun tabib di Kademangan itu pengetahuannya tentang obat-obatan tidak seluas tabib yang ada didalam pasukan Ki Lurah Dipayuda, namun ia akan dapat menolong ketiga prajurit yang terluka agak parah itu.

Demikianlah, maka pasukan Pajang itu telah menyusuri jalan-jalan panjang menuju ke Pajang.

Seperti sebelumnya ketika Barata dan Kasadha pergi ke Pajang berdua, maka Kasadha pun menjadi cemas. Jika seseorang yang mengenalinya melihatnya, maka tentu akan timbul persoalan baru. Sampai saat itu ia masih dapat merahasiakan dirinya meskipun hampir saja rahasia itu tersingkap.

Namun agaknya ia merasa lebih aman didalam pasukannya dari pada saat ia pergi berdua dengan Barata. Didalam pasukannya, ia merupakan satu orang diantara sekian banyak orang. Tentu tidak akan ada orang yang sempat mengenali sekelompok prajurit itu seorang demi seorang jika tidak secara kebetulan.

Tetapi ketika disepanjang jalan banyak orang yang melihat iring-iringan itu, maka kecemasannya telah timbul kembali.

Hati Kasadha bagaikan tersiram titik-titik embun ketika mereka mulai memasuki kota Pajang lewat tengah hari. Apalagi ketika mereka sudah berada di alun-alun Pajang.

Ki Lura lah yang telah memasuki bagian samping istana Pajang untuk menemui perwira Pajang yang bertugas. Ki Lurah telah memberikan laporan kehadirannya atas perintah Ki Tumenggung Surapraba.

 “Ya,” jawab perwira yang bertugas, “telah disediakan barak bagi kalian.”

Dengan demikian maka Ki Lurah Dipayuda telah membawa pasukannya kesebuah barak yang memang sudah disediakan atas perintah Ki Tumenggung Starapraba. Bahkan ketika laporan kehadiran pasukan itu sampai kepada Ki Tumenggung dari perwira yang bertugas, maka Ki Tumenggung sendiri bersama ampat orang pengawal telah datang ke barak itu.

Ki Lurah Dipayuda menerima Ki Tumenggung bersama para pemimpin kelompok. Disebuah ruangan yang tidak begitu luas di barak itu, Ki Tumenggung sempat mengucapkan terima kasih kepada Ki Lurah Dipayuda.

 “Aku tahu bahwa kalian terdesak dari Kademangan Randukerep. Tetapi kalian telah berbuat sebaik-baiknya sebagai prajurit Pajang. Kalian telah memindahkan landasan kalian ke Kademangan Nglawang adalah pilihan yang sangat tepat. Seandainya pasukan Mataram tidak ditarik, maka Nglawang adalah landasan yang akan dapat kalian pergunakan sebagai batu loncatan untuk mengusir pasukan Mataram dari Randukerep. Karena sebenarnyalah Randukerep pun tidak akan dapat diharapkan oleh Mataram, justru karena Mataram sendiri telah menghamburkan racun di Kademangan itu,” berkata Ki Tumenggung Surapraba.

 “Kami pada saat itu memang tidak mempunyai pilihan lain Ki Tumenggung,” berkata Ki Lurah.

 “Kau sudah mengambil langkah yang benar,” sahut Ki Tumenggung.

 “Kemudian kami menunggu segala perintah,” berkata Ki Lurah kemudian.

 “Kau genapi pasukanmu dengan beberapa orang prajurit muda sehingga utuh kembali menjadi seratus. Kau sebagai Lurah Penatus akan mendapat perintah untuk bergabung dengan para prajurit Pajang di Pasanggrahan Kangjeng Sultan di Prambanan. Mataram pun nampaknya sudah siap untuk bertempur. Meskipun para prajurit dari Mataram jumlahnya lebih kecil dari prajurit yang dapat dihimpun oleh Pajang, namun Mataram akan dapat melanda pasukan Pajang dengan banjir bandang. Mataram dapat mengerahkan semua laki-laki untuk mengalir seperti banjir ke medan pertempuran di Prambanan sebagaimana yang kau alami di Randukerep,” berkata Ki Tumenggung.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Mataram nampaknya memang pandai meyakinkan rakyatnya betapa terhormatnya bagi setiap orang yang turun ke medan pertempuran.

 “Kami siap untuk berangkat setiap saat Ki Tumenggung,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

 “Kami sedang mempersiapkan pasukanmu dan satu lagi pasukan yang besarnya sama dengan pasukanmu. Besok kalian akan mendapat perintah-perintah baru,” berkata Ki Tumenggung.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk hormat. Katanya, “Kami akan menunggu perintah lebih lanjut.”

Sepeninggal Ki Tumenggung, Ki Lurah Dipayuda telah memerintahkan para pemimpin kelompok untuk memenuhi kelompok mereka masing-masing. Menurut Ki Tumenggung akan datang beberapa orang prajurit muda menggantikan para prajurit yang telah gugur dan terluka sehingga tidak lagi dapat melakukan tugas mereka.

Tetapi dihari berikutnya, Ki Lurah Dipayuda terkejut ketika seorang perwira Pajang datang ke barak itu bersama dengan beberapa orang prajurit. Ternyata yang diserahkan kepada Ki Lurah Dipayuda bukan prajurit-prajurit muda sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung. Tetapi prajurit-prajurit yang nampaknya sudah cukup lama berada di dunia keprajuritan. Namun menilik sikap dan tingkah laku mereka, Ki Lurah Dipayuda meragukan kesetiaan mereka.

 “Kenapa tidak prajurit-prajurit muda sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung?” bertanya Ki Lurah.

 “Mereka telah disusun dalam satu pasukan tersendiri,” berkata Perwira itu, “karena itu, maka prajurit yang untuk sementara dihentikan tugasnya ini akan dapat di tugaskan kembali.”

Ki Lurah Dipayuda termangu-mangu. Ia sudah melihat akan terjadi kesulitan didalam pasukannya. Para pemimpin kelompok didalam pasukannya pada umumnya adalah prajurit-prajurit muda yang masih lugu. Mereka masih berbuat dan berlaku sebagaimana seorang prajurit. Namun orang-orang ini agaknya adalah prajurit-prajurit yang pernah melakukan kesalahan sehingga pernah mendapat peringatan dan bahkan hukuman.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda sendiri, seorang perwira yang berpengalaman tidak dapat menolak. Ia sadar, bahwa ia harus dapat mengatasi orang-orang itu apapun yang mereka lakukan.

 “Baiklah,” berkata Ki Lurah, “aku akan segera menempatkan mereka kedalam kelompok-kelompok yang tidak utuh lagi.”

Tetapi perwira itu sempat berpesan, “berhati-hatilah. Ada diantara mereka yang memerlukan perhatian secara khusus.”

Ki Lurah Dipayuda tersenyum betapapun kecutnya. Katanya, “Aku akan mengatasinya. Aku akan memperlakukannya sebagai seorang prajurit dan dengan cara seorang prajurit.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Ia mengenal Ki Lurah Dipayuda sebagai seorang perwira yang sabar. Tetapi Ki Lurah Dipayuda adalah seorang perwira yang memegang teguh paugeran seorang prajurit.

Demikianlah maka sejenak kemudian perwira yang membawa beberapa prajurit ke barak Ki Lurah Dipayuda bersama dengan dua orang pengawalnya itu pun telah meninggalkan barak itu.

Beberapa saat para prajurit yang baru datang itu masih berdiri dihalaman barak. Sementara Ki Dipayuda berdiri tegak dihadapan mereka. Dengan lantang Ki Lurah Dipayuda telah memberikan beberapa pesan kepada orang-orangnya yang baru itu. Namun yang ternyata adalah prajurit-prajurit yang justru telah lama dan berpengalaman di dunia keprajuritan, namun yang memiliki sikap yang kadang-kadang kurang terpuji.

Menghadapi mereka Ki Lurah Dipayuda ternyata bersikap lain daripada sikapnya menghadapi prajurit-prajurit muda. Kepada mereka Ki Lurah Dipayuda bersikap sebagai seorang prajurit yang keras dan penuh dengan ikatan-ikatan pangeran yang tidak boleh dilanggar sama sekali.

Para pemimpin kelompok yang melihat cara Ki Lurah menghadapi mereka ternyata dapat mengambil contoh daripadanya. Ki Lurah itu seakan-akan sedang memberikan tuntunan, bagaimana para pemimpin kelompok itu harus menghadapi orang-orang yang dikirim kepada mereka.

Tetapi sikap Ki Lurah itu memang berpengaruh. Prajurit-prajurit yang dikirim kepadanya itu melihat, bahwa Ki Lurah Dipayuda adalah seorang pemimpin yang tegas dan tidak segan-segan mengambil tindakan jika perlu.

Namun meskipun demikian ada juga diantara para prajurit yang dikirim kepada Ki Lurah itu justru tersenyum-senyum. Seakan-akan mereka sama sekali tidak mendengar segala macam pesan dan petunjuk dari Ki Lurah itu. Bahkan rasa-rasanya mereka ingin membungkamnya agar orang itu lekas berhenti berbicara.

Setelah Ki Dipayuda selesai dengan pesan-pesannya, Ki Lurah tidak segera memberikan perintah-perintah kepada para prajurit itu untuk memasuki kelompok-kelompok yang memerlukan. Tetapi Ki Lurah telah memerintahkan seluruh pasukannya berbaris di halaman, kelompok demi kelompok.

Kemudian Ki Lurah justru memanggil para pemimpin kelompok untuk masuk keruang dalam mendengarkan pesan-pesan yang diberikannya.

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah berkata, “Mereka orang-orang yang lebih berpengalaman dari kalian. Tetapi kalian mempunyai kelebihan. Ketika kalian memasuki tugas keprajuritan, maka kalian telah didadar secara khusus. Kalian harus memiliki bekal kemampuan sebelum kalian memasuki tugas keprajuritan, sehingga dalam keadaan tertentu kalian tidak akan canggung lagi berbuat sebagai seorang pemimpin betapapun kecilnya tataran kepemimpinan kalian.”

Para pemimpin kelompok itu mengerti apa yang dimaksud oleh Ki Lurah Dipayuda. Jika semula mereka masih ragu-ragu dan bahkan merasa berdebar-debar menghadapi orang-orang itu, maka pesan Ki Lurah itu seakan-akan merupakan perintah bagi para pemimpin kelompok.

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka mendengar dua tiga orang berteriak-teriak, “He Ki Lurah. Kau kira kami masih belum kering sehingga kami harus kau jemur disini?”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Itu adalah contoh sikap mereka. Apakah prajurit-prajurit yang selama ini ada didalam kesatuan kita pernah berbuat seperti itu?”

Para pemimpin kelompok itu menarik nafas panjang. Sementara Ki Lurah berkata, “Ingat. Kalian sudah memiliki bekal cukup ketika kalian memasuki tugas keprajuritan.”

 “Ya Ki Lurah,” beberapa pimpinan kelompok berdesis.

 “Sekarang, marilah. Ikut aku,” berkata Ki Lurah.

Sementara itu dihalaman, para prajurit yang baru datang ke barak itu telah melihat prajurit-prajurit muda yang berada di halaman itu pula. Seorang diantara mereka berkata, “He, kita akan di tempatkan bersama-sama dengan anak-anak ingusan itu?”

Yang lain tertawa. Katanya, “Kita dianggap badut-badut yang tidak berarti disini.” lalu tiba-tiba orang itu berteriak kepada para prajurit muda, “He, apakah kalian menunggu biyungmu membawa oleh-oleh dari pasar? He, kenapa kalian tetap berdiri disitu?”

Prajurit-prajurit muda itu memang tersinggung. Mereka pun bukan pengecut yang menjadi ketakutan melihat sikap orang-orang yang dikirim kepada mereka itu. Dipertempuran mereka telah mempertaruhkan nyawanya melawan orang-orang Mataram yang garang. Ada diantaranya yang bekas lukanya masih memanjang ditubuh mereka. Sehingga dengan demikian maka mereka tidak mau dianggap anak-anak ingusan yang tidak berguna dipeperangan. Kekalahan mereka di Randukerep bukan berarti bahwa mereka tidak mempunyai arti sama sekali didalam lingkungan keprajuritan Pajang.

Untuk sesaat Kasadha menjadi berdebar-debar. Ia menjadi cemas bahwa diantara orang-orang itu terdapat bekas prajurit Jipang yang pernah mengenalinya sehingga akan dapat menimbulkan kesulitan.

Dalam pada itu ketika Ki Lurah Dipayuda muncul bersama para pemimpin kelompok, maka beberapa orang prajurit yang baru dikirim kepada mereka itu pun dengan serta merta telah berteriak-teriak, “He, kenapa kami harus dijemur disini? Kami adalah prajurit yang dihormati. Kami bukan kayu bakar yang segera akan dimasukkan kedalam perapian.”

Ki Lurah Dipayuda berdiri tegak dihadapan mereka. Ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Dipandanginya saja orang-orang yang berteriak-teriak itu seorang demi seorang.

Namun akhirnya, teriakan-teriakan itu mereda. Sikap Ki Lurah ternyata cukup meyakinkan mereka, bahwa Ki Lurah adalah seorang pemimpin.

Tetapi ternyata masih juga ada diantara mereka yang berteriak, “Ki Lurah, jangan samakan kami dengan tikus-tikus ingusan itu. Kami adalah prajurit-prajurit pilihan yang sudah kenyang makan garam di medan-medan pertempuran. Kami terbiasa membunuh atau dibunuh. Tidak di jemur seperti ini.”

Ki Dipayuda memandanginya dengan tajamnya. Namun prajurit yang lain justru masih saja berteriak, “Jangan perlakukan kami seperti ini. Atau kami akan bertindak sendiri.”

Ki Lurah Dipayuda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Kasadha, orang itu akan menjadi bawahanmu.”

Kasadha telah melangkah maju sambil berkata, “Akan aku bawa ia kedalam pasukanku.”

 “Seorang lagi akan berada didalam kelompok Barata,” berkata Ki Lurah.

Tetapi orang itu menjawab, “Mau kalian apakan kami he? Sejak kapan kau berhenti menyusu, sehingga kau berani memimpin sekelompok prajurit dan memerintah aku?”

Tetapi Kasadha tidak menjawab. Ia memang sangat tersinggung atas kata-kata prajurit itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Kasadha telah melangkah mendekatinya. Sambil berdiri dihadapan orang itu Kasadha berkata, “Aku adalah pemimpin kelompokmu.”

Orang itu justru tertawa sambil berkata, “Kau yang masih pantas menghisap gelali gula kelapa merasa pantas menjadi pemimpin kelompokku?”

Kasadha tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar pipi orang itu.

Orang itu terkejut. Ia melangkah selangkah surut. Sambil meraba pipinya ia berkata, “Setan kau. Kau kira aku tidak berani menghancurkan kepalamu disini meskipun ada Ki Lurah Dipayuda.”

 “Kau boleh mencoba. Ki Lurah tidak akan turut campur,” bentak Kasadha.

Orang itu menggeram. Sementara Kasadha menjadi semakin garang. Tiba-tiba saja ia telah menarik baju orang itu dan melemparkannya keluar dari sekelompok prajurit yang baru datang itu.

Orang itu tertatih-tatih sejenak untuk mempertahankan keseimbangannya. Namun kemudian ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia pun tertawa lagi sambil berkata, “Kau ingin memamerkan kehancuranmu sendiri dihadapan prajurit-prajuritmu yang masih ingusan itu? Baiklah. Aku akan menolongmu.”

Kasadha tidak lagi menampar pipinya. Tetapi ia mulai bersiap menghadapi prajurit yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang melampaui anak-anak ingusan itu. Apalagi ia memang termasuk prajurit yang bertingkah laku kurang baik.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Lurah Dipayuda berkata, “He para prajurit. Lihat apa yang terjadi. Kalian dapat mengambil kesimpulan sendiri apa yang sebaiknya kalian lakukan. Prajurit yang sejak semula berada didalam kesatuanku dan prajurit-prajurit yang baru datang. Aku tidak akan mencegah tindakan yang akan diambil oleh Kasadha, salah seorang pemimpin kelompokku, karena ia mempunyai wewenang untuk bertindak sendiri tanpa aku, sehingga ia tidak akan tergantung kepadaku untuk mengatur prajurit-prajuritnya.”

Semua orang menjadi berdebar-debar. Prajurit yang siap melawan Kasadha itu masih saja tertawa-tawa. Sementara prajurit-prajurit muda yang sejak semula berada di kesatuan Ki Lurah Dipayuda sudah melihat kemampuan Kasadha dan Barata.

 “Marilah anak manis,” berkata prajurit itu, “tetapi kau tidak boleh cengeng dan merajuk jika kepalamu membentur batu.”

Kasadha tidak menjawab. Ia melangkah maju. Namun prajurit yang masih tertawa-tawa itu pun tiba-tiba telah meloncat menyerang. Ia berniat untuk membanting Kasadha dalam geraknya yang pertama, sehingga dengan demikian setiap orang yakin bahwa ia memang seorang prajurit linuwih. Ia berharap bahwa Ki Lurah Dipayuda sendiri akan turun menanganinya, sehingga ia berkesempatan untuk mengalahkannya. Dengan demikian, maka ia akan dapat menguasai seluruh pasukan itu, meskipun yang menjadi Lurah Penatus tetap Ki Lurah Dipayuda.

Tetapi prajurit itu salah hitung. Ternyata Kasadha juga ingin memperlakukan prajurit itu sebagaimana ia akan memperlakukannya.

Karena itu, ketika prajurit itu meloncat menyerangnya, Kasadha telah meloncat kesamping. Namun kemudian tubuhnya telah berputar bertumpu pada sebelah kakinya, sementara kakinya yang lain terayun mendatar.

Adalah tidak diduga sama sekali bahwa ternyata kaki Kasadha itu tepat menyambar kepala lawannya. Cukup keras, sehingga lawannya yang tidak menduganya telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian prajurit itu telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terlentang ditanah.

Tetapi demikian cepat ia bangkit berdiri.

Kemarahan prajurit itu telah membakar jantungnya. Karena itu maka ia pun telah meloncat menerkam Kasadha. Kedua tangannya terjulur kedepan dengan jari-jari mengembang. Matanya bagaikan menyala sedang giginya gemeretak.

Tetapi Kasadha yang telah ditempa oleh gurunya serta oleh pengalamannya yang cukup luas, dengan cepat menanggapi serangan itu. Ia sama sekali tidak membenturnya. Tetapi dengan sigap Kasadha berjongkok. Namun dengan kekuatan penuh sikunya telah menghantam lambung lawannya.

Langkah prajurit itu tertahan. Bahkan ia pun telah terbungkuk menahan sakit di lambungnya. Rasa-rasanya isi perutnya terdesak naik sampai ke dadanya, bahkan rasa-rasanya akan muntah keluar.

Tetapi Kasadha pun telah menjadi marah sejak semula. Sikap prajurit itu sangat menyakitkan hatinya. Karena itu, justru ketika prajurit itu sedang terbongkok menahan sakit, Kasadha justru menekan kepala orang itu sambil mengangkat lututnya.

Satu benturan keras tidak dapat dihindarkan. Wajah orang itu telah membentur lutut Kasadha. Dua giginya patah sehingga mulutnya telah berdarah.

Ketika orang itu mengaduh kesakitan, satu pukulan yang keras telah menghantam kening orang itu. Demikian kerasnya sehingga orang itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling.

Tetapi Kasadha tidak membiarkannya. Ia justru memburunya. Demikian prajurit itu mencoba bangkit berdiri, maka kaki Kasadha telah menghantam lagi kearahnya.

Namun pada saat terakhir, Kasadha justru telah mengekang dirinya. Kakinya yang akan menghantam wajah prajurit itu, telah dimiringkannya, sehingga kaki itu hanya mengenai pundaknya.

Namun orang yang mencoba bangkit itu telah terbanting lagi menelentang. Cukup keras, sehingga rasa-rasanya matanya menjadi berkunang-kunang. Sehingga dengan demikian maka orang itu tidak segera dapat bangkit.

Kasadha berdiri dekat disebelahnya. Dengan kakinya ia mengungkit lawannya itu sambil berkata, “Bangkit. Bukan aku yang menjadi cengeng dan merajuk. Tetapi kau. Bukan aku yang masih ingusan di medan ini, tetapi kaulah yang sudah menjadi pikun. Kau merasa bahwa yang muda-muda tidak akan mampu berbuat lebih baik dari orang-orang setua kau?”

Prajurit itu memang sudah tidak mampu lagi untuk bangkit. Namun selagi Kasadha memperhatikan orang itu, tiba-tiba saja prajurit yang seorang lagi telah melangkah mendekatinya. Agaknya orang itu akan menyerang Kasadha dengan cara yang licik. Justru pada saat Kasadha tidak memperhatikannya.

Namun langkahnya terhenti ketika seseorang menggamitnya. Barata.

 “Kau mau apa? Kau berada didalam kelompokku. Tanpa perintahku, kau tidak dapat mencampuri persoalan ini.” berkata Barata.

Tetapi orang itu tidak menyia-nyiakan waktu. Ia sama sekali tidak menjawab. Namun tangannyalah yang dengan cepatnya langsung memukul kearah kening Barata.

Hampir saja serangan itu mengenainya. Tetapi Barata ternyata cukup tangkas. Dengan cepat ia menangkap pergelangan tangan orang itu. Dihentakkannya orang itu dengan kerasnya sementara kakinya terangkat ke arah perut.

Orang itu mengaduh kesakitan. Kaki Barata telah menghantam perutnya sehingga perutnya itu menjadi mual.

Tetapi orang itu berhasil menarik tangannya sambil berusaha menyerang Barata dengan kakinya. Tetapi Barata telah melepaskan tangan itu dan bergeser kesamping.

Orang itu masih saja merasakan perutnya sakit sekali. Tetapi kemarahannya telah mendorongnya untuk dengan cepat menyerang Barata. Karena itu, maka ia pun telah meloncat sambil menjulurkan kakinya mengarah kelambung Barata.

Namun Barata sempat merendah sambil melindungi lambungnya dengan sikunya.

Serangan orang itu bagaikan telah membentur dinding besi. Karena itu justru orang itulah yang terdorong surut. Bahkan terasa tulang kakinya menjadi sakit sekali.

Ternyata Barata pun ingin dengan cepat menyelesaikannya sebagaimana dilakukan Kasadha, agar dengan demikian berpengaruh bagi kawan-kawannya, orang-orang yang merasa dirinya lebih berpengalaman dan yang pada dasarnya adalah orang-orang yang telah cacad namanya.

Karena itu, selagi orang itu berusaha tegak kembali, maka Barata lah yang telah menyerangnya. Dengan loncatan panjang, bahkan seakan-akan anak muda itu telah terbang dengan satu kaki terjulur menyamping.

Satu hentakan yang keras telah mengenai dada orang itu. Dengan keras pula orang itu telah terlempar dan jatuh terguling ditanah. Dadanya bagaikan terhimpit seonggok batu sehingga nafasnya menjadi sesak.

Ketika orang itu berusaha untuk bangkit, maka dadanya rasa-rasanya telah tertindih semakin berat. Ketika ia memperhatikannya dengan saksama dengan matanya yang kabur, maka ia melihat Barata berdiri disebelahnya dengan satu kakinya menginjak dadanya.

 “Dengar,” suara Barata lantang, “sudah aku peringatkan. Kau adalah prajurit yang ada didalam kelompok yang aku pimpin. Kau harus tunduk kepada perintahku. Atau aku tidak memerlukan kau sama sekali dengan mematahkan lehermu. Aku berhak melakukannya karena kau telah berani menentang. Bukan saja menentang perintahku tetapi kau sudah berani melawanku secara wadag meskipun aku sudah memperingatkanmu bahwa aku adalah pimpinanmu.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kaki Barata menginjaknya semakin keras.

 “Akui kesalahanmu, atau aku akan mengambil tindakan lebih jauh?” bentak Barata.

Orang itu masih berdiam diri. Rasa-rasanya berat juga untuk mengakui kesalahan dihadapan anak-anak sebagaimana Barata. Namun Barata telah menekan dada orang itu semakin keras sambil berkata, “Jika kau tidak segera mengakui kesalahanmu, maka tumitku akan mematahkan tulang rusukmu. Semua orang disini menjadi saksi, bahwa kau telah berani melawan aku, pemimpinmu.”

Akhirnya orang itu tidak tahan lagi. Dadanya rasa-rasanya memang akan retak. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Baik. Baik. Aku akan mengakuinya.”

 “Cepat ucapkan sekarang,” suara Barata menjadi semakin keras.

 “Ya. Aku mengakui salah. Aku minta maaf,” berkata orang itu.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian mengangkat kakinya.

Tertatih-tatih orang itu bangkit. Tetapi badannya masih terasa sakit. Dadanya, perutnya dan punggungnya juga sakit. Sedangkan kawannya, yang dikalahkan oleh Kasadha pun telah duduk pula. Tulang-tulangnya bagaikan berpatahan.

Sejenak halaman barak itu menjadi tegang. Dua orang pemimpin kelompok yang masih muda itu telah membuktikan bahwa mereka memang mampu melakukan tugas yang dibebankan kepada mereka, sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang semula merasa dirinya lebih baik dari anak-anak yang disebutnya ingusan itu harus mulai menyadari kedudukan mereka.

Selagi ketegangan itu masih mencengkam, maka Ki Lurah Dipayuda berkata, “Cara itulah yang akan berlaku disini. Orang-orang yang tidak memperhatikan perintah pimpinannya, ia akan mengalami perlakuan seperti ini. Semua pemimpin kelompok telah menerima limpahan wewenangku. Jika mereka tidak mau bertindak tegas terhadap prajurit-prajuritnya yang membangkang, maka pemimpin-pemimpin kelompok itulah yang akan mengalaminya. Aku adalah Lurah Penatus yang tidak peduli terhadap siapapun yang menentang perintahku.”

Para prajurit yang baru saja diserahkan kepada Ki Lurah itu memang telah melihat satu kenyataan, bahwa para pemimpin kelompok yang masih muda itu mampu bertindak tegas sebagai seorang pemimpin prajurit. Dua orang kawan mereka yang mereka anggap memiliki kemampuan terbaik, ternyata tidak berdaya menghadapi anak-anak muda itu. Mereka kalah mutlak tanpa mampu berbuat apa-apa.

Sejenak kemudian maka Ki Lurah itu pun kemudian berkata, “Bawa orang-orang itu kedalam kelompok kalian. Yang lain akan menunggu sampai besok. Siapa yang merasa tidak sabar, boleh memberontak. Hukuman tertinggi dari seorang pemberontak adalah hukuman mati. Dalam suasana perang seperti ini, para pemimpin kelompok akan dapat mengambil kebijaksanaan atas tanggung jawabku.”

Semua orang di halaman barak itu terdiam. Kasadha telah membawa prajurit yang dikalahkannya kedalam kelompoknya. Demikian pula Barata. Ternyata keduanya telah mengambil kebijaksanaan yang serupa. Keduanya menyerahkan orang-orang itu kepada seisi kelompok.

 “Kalian yang telah selamat dari pertempuran yang ganas di Randukerep tentu akan tetap berpegang kepada tugas seorang prajurit. Kalian harus saling bersandar dalam kesatuan. Siapa yang tidak ikut serta didalamnya akan mengalami perlakuan yang pahit. Apalagi di medan perang nanti,” berkata Barata kepada prajurit-prajuritnya.

Sementara Kasadha berkata kepada kelompoknya, “Kalian aku anggap sama. Tidak ada yang lebih baik diantara kalian. Yang menganggap dirinya terbaik akan mengalami kesulitan disini.”

Kedua orang prajurit yang telah dikalahkan oleh Kasadha dan Barata itu tidak dapat berbuat lain kecuali mengakui satu kenyataan, bahwa ia tidak dapat berlaku menurut keinginan mereka sendiri. Di kesatuannya yang lama, ia memang selalu berbuat onar. Tetapi pemimpin kelompoknya tidak berani berbuat apa-apa selain memperingatkannya dan akhirnya melaporkannya kepada pemimpin kesatuannya sehingga ia telah disingkirkan. Tetapi pemimpin kelompok yang masih muda ini ternyata telah bertindak langsung.

 “Mungkin bimbingan Ki Lurah Dipayuda itulah yang telah membentuk mereka seperti itu. Agaknya Ki Dipayuda juga seorang pemimpin yang sangat keras kepada bawahannya,” berkata orang-orang itu didalam hatinya.

Hari itu, Ki Lurah memang belum memasang orang-orang itu didalam kelompok-kelompok. Ia masih harus berbicara dengan para pemimpin kelompok, berapa orang mereka memerlukan prajurit untuk menggenapi setiap kelompok menjadi sepuluh orang.

Karena Barata dan Kasadha dianggap sebagai pemimpin kelompok terbaik, maka orang-orang yang paling berbahaya telah di tempatkan didalam kelompok mereka. Sementara Barata dan Kasadha secara khusus telah memanggil prajurit-prajuritnya yang lama seorang demi seorang untuk memberikan pesan-pesan khusus menghadapi orang-orang baru itu.

 “Jangan menunjukkan kelemahan sama sekali terhadap orang-orang itu. Ternyata mereka diterima sebagai seorang prajurit dengan cara yang lama. Mereka tidak diharuskan memiliki kemampuan sebelumnya mereka memasuki dunia keprajuritan sehingga pendadaran khusus sebagaimana kita lakukan tidak berlaku atas mereka. Karena itu, jangan merasa bahwa kemampuan orang itu ada diatas kemampuan kalian. Jika perlu kalian harus bertindak bersama-sama kawan-kawan kalian.”

Para prajurit muda itu mengerti tugas mereka. Tetapi para pemimpin kelompok pun telah berpesan pula, dalam keadaan wajar perlakukan mereka dengan wajar. Menurut Ki Lurah Dipayuda, jika mereka diperlakukan dengan baik, maka lambat laun mereka pun akan menjadi baik, meskipun dalam hal-hal tertentu mereka harus mengalami tindakan-tindakan tegas.

Demikianlah, maka dihari berikutnya, Ki Lurah Dipayuda telah menyusun kembali pasukannya sehingga menjadi utuh sambil menunggu perintah untuk berangkat ke Prambanan.

Ternyata yang akan berangkat bersama pasukan Ki Lurah adalah sepuluh pasukan, masing-masing berjumlah seratus orang yang dipimpin oleh seorang Lurah Penatus. Seluruh pasukan itu akan dipimpin langsung oleh Ki Tumenggung Surapraba yang telah mendapat tugas baru di pasanggrahan Kangjeng Sultan di Prambanan.

Baru kemudian Ki Lurah Dipayuda mengetahui, bahwa dalam benturan kecil di sayap pasukan, Prajurit Mataram berhasil memancing sepasukan kecil dari Pajang menyeberang Kali Opak dan kemudian menyerangnya dari lambung. Keadaan pasukan Pajang itu menjadi parah, sehingga diperlukan pasukan baru untuk menggantikannya, sementara Senapati yang memimpin pasukan itu telah mendapat peringatan keras dari Panglima prajurit Pajang, karena Senapati itu telah melanggar perintah untuk tidak menyeberangi Kali Opak dalam keadaan apapun kecuali perintah itu diberikan oleh Kangjeng Sultan sendiri.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 27

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s