SST-25

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

BEBERAPA saat kemudian, maka api pun telah menyala. Gubug itu memang tidak begitu besar. Tetapi karena terbuat dari bahan yang mudah terbakar, maka dalam sesaat api bagaikan melonjak menjilat langit.

Orang-orang Randukerep dan para prajurit Pajang yang melihat api itu memang menjadi marah. Mereka mengira bahwa orang-orang Mataram mulai bertindak kasar. Mulai membakar dan merusak.

 “Untunglah bahwa yang mereka bakar baru dua buah gubug disawah,” berkata salah seorang diantara orang-orang Randukerep.

 “Entahlah jika mereka berhasil memasuki padukuhan-padukuhan,” sahut yang lain.

 “Kita akan mempertahankannya,” desis orang yang pertama.

Sementara itu kedua pasukan itu pun menjadi semakin dekat. Beberapa orang pengawal Mataram yang menyertai pasukan itu telah bersiap dipaling depan. Mereka harus memberikan kesan, bahwa prajurit-prajurit Mataram pun memiliki kemampuan seimbang dengan prajurit-prajurit Pajang. Meskipun dibelakang mereka adalah orang-orang padukuhan yang telah menyatakan diri berpihak kepada Mataram dan baru sedikit sekali memiliki kemampuan olah kanuragan.

Demikianlah maka kedua pasukan itu pun menjadi semakin dekat. Ki Lurah Dipayuda telah meneriakkan perintah untuk menyerang pasukan Mataram agar mereka tidak sempat mendekati padukuhan.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu pun telah berbenturan. Para pengawal Mataram yang ada didalam pasukan itu, dalam jumlah yang kecil, telah berada di depan sambil mengacu-acukan senjata mereka. Ketika benturan terjadi, maka para pengawal itu dengan sigap memutar senjata mereka dan berusaha untuk menahan arus lawan yang marah.

Namun sejenak kemudian, mulai nampak, bahwa prajurit Pajang dalam jumlah yang lebih banyak, memiliki ketrampilan bermain senjata melampaui lawan-lawannya. Tetapi Mataram telah datang dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Meskipun demikian, maka pasukan Ki Lurah Tapajaya itu sulit untuk mengimbangi kekuatan pasukan Pajang. Dalam beberapa saat maka tekanan prajurit Pajang mulai terasa semakin berat.

Karena itu, maka Ki Lurah Tapajaya telah memanfaatkan jumlah mereka yang lebih banyak. Memang hal itu sudah diperhitungkan oleh Ki Tapajaya, sehingga ketika ia memberikan isyarat, maka orang-orang Mataram telah berusaha untuk melebar melampaui batas tebaran pasukan Pajang. Beberapa kelompok diantara mereka telah melingkar dan bertempur dari sisi gelar lawan. Meskipun Mataram dan Pajang tidak mempergunakan gelar yang jelas, namun pasukan mereka yang menebar memang mempunyai bagian-bagian sebagaimana mereka menyusun gelar.

Dengan memanfaatkan jumlah yang lebih banyak, maka Ki Lurah Tapajaya untuk beberapa saat mampu bertahan sehingga pasukannya tidak terdesak surut.

Namun dalam pada itu, ketika kedua pasukan itu sudah bertempur, maka pasukan kedua dari Mataram, yang justru terdiri dari prajurit-prajurit pilihan telah melihat isyarat yang diberikan oleh Ki Tapajaya dengan membakar dua buah gubug di tengah-tengah sawah.

Dengan isyarat itu, maka Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala segera mulai bergerak. Mereka akan memasuki Kademangan Randukerep dari lambung.

Sebenarnyalah bahwa pasukan kedua orang Rangga itu tidak banyak mendapat perlawanan. Ketika mereka melintasi padukuhan yang pertama, maka para pengawal padukuhan itu yang jumlahnya tinggal sedikit, tidak mampu berbuat apa-apa. Namun mereka masih sempat membunyikan isyarat yang paling mudah dapat mereka capai. Kentongan.

Dengan demikian maka sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan dalam nada titir keseluruh penjuru Kademangan. Setiap padukuhan pun segera mempersiapkan diri. Namun jumlah mereka terlalu sedikit untuk menahan arus pasukan Mataram. Sebagian besar dari pengawal yang dapat dihimpun oleh Pajang telah dikerahkan ke medan diarah Barat.

Karena itu, maka limapuluh orang pilihan diantara orang-orang Mataram itu maju dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain tanpa terhambat. Mereka langsung menuju ke padukuhan induk Kademangan Randukerep.

Sementara itu, pasukan cadangan yang ada di Kademangan Mataram telah mempersiapkan diri pula. Bersama dengan para pengawal yang ada dengan keberanian yang terbatas, dua kelompok prajurit Pajang berusaha untuk mengatasi keadaan.

Dua orang penghubung telah sampai kepadukuhan induk dan memberitahukan arah kedatangan sekelompok prajurit Mataram serta kekuatan mereka.

 “Sekitar ampat puluh sampai enampuluh orang,” jawab penghubung itu ketika pemimpin kelompok prajurit Pajang minta keterangan tentang kekuatan lawan.

Dengan cepat prajurit Pajang itu telah menyusun pasukan. Dengan cepat pula mereka bergerak menyongsong pasukan lawan, sebelum mereka memasuki padukuhan induk Kademangan.

Sementara itu, Ki Lurah Dipayuda telah terpengaruh pula oleh suara kentongan dalam nada titir itu. Apalagi ketika dua orang penghubung telah memberikan laporan pula kepadanya tentang kedatangan pasukan Mataram dari arah Selatan.

 “Seberapa besar pasukan yang datang itu?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

 “Lebih dari limapuluh orang,” jawab penghubung itu mengira-ira.

Ki Lurah memang menjadi berdebar-debar. Ia hanya meninggalkan dua kelompok pasukan cadangan. Sementara itu sulit untuk menghimpun pengawal yang tersisa sampai berjumlah lebih dari limapuluh. Sementara Ki Lurah tahu dengan pasti, bahwa kekuatan yang datang dari sisi Selatan itu justru orang-orang yang terpilih.

 “Ternyata Ki Lurah Tapajaya sangat cerdik. Aku telah dikelabuinya,” berkata Ki Lurah Dipayuda didalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun telah memerintahkan satu kelompok prajuritnya dan satu kelompok pengawal untuk meninggalkan medan itu dan bergabung dengan kelompok cadangan. Mereka harus membawa semua pengawal yang dapat mereka jumpai disepanjang jalan menuju ke medan disisi Selatan itu.

Dengan demikian maka kekuatan disisi Barat itu pun menjadi berkurang. Apalagi jumlah lawan memang masih terlalu banyak. Tetapi Ki Lurah tidak akan menyerahkan padukuhan induk begitu saja kepada para prajurit Mataram.

Atas perintah Ki Lurah, maka Kasadha telah meninggalkan pertempuran disisi Barat bersama sekelompok pengawal. Mereka bergegas mengikuti kedua orang penghubung yang memberikan laporan itu menuju ke arah kedatangan pasukan Mataram disisi Selatan. Ketika mereka melalui sebuah padukuhan, maka pengawal yang masih ada di padukuhan itu untuk menjaga ketenangan para penghuninya telah dibawa serta. Karena semua ada tujuh orang, maka lima orang telah mengikuti Kasadha menuju ke medan. Demikian pula di medan berikutnya. Kasadha dapat mengajak tujuh orang dari sepuluh orang yang ada. Tetapi di padukuhan kecil berikutnya Kasadha hanya menemukan tiga orang pengawal, sehingga karena itu, maka tidak seorang pun yang diajaknya serta.

Sementara itu, kedua kelompok prajurit Pajang serta sejumlah pengawal telah menyongsong kedatangan limapuluh orang prajurit dan pengawal terpilih dari Mataram. Disebuah bulak yang luas, maka kedua pasukan itu telah bertemu. Namun limapuluh orang pasukan dari Mataram itu adalah orang-orang terpilih, sementara lawannya hanya terdiri dari duapuluh orang prajurit dan sejumlah pengawal. Sedangkan seandainya jumlah kedua pasukan itu sama, maka pasukan Mataram akan segera mendesak pasukan Pajang yang dibantu oleh para pengawal Randukerep. Apalagi jumlah para prajurit dan pengawal dari Mataram yang terpilih itu lebih banyak.

Namun dalam pada itu, para prajurit Pajang dan para pengawal Kademangan itu pun segera melihat sepasukan kecil prajurit dan pengawal yang berlari-lari menuju ke medan pertempuran.

Adalah diluar sadar, bahwa mereka pun segera bersorak disambut oleh teriakan-teriakan yang mengguntur dari mereka yang baru datang. Para prajurit Pajang yang dipimpin oleh Kasadha itu dengan sengaja memberikan dorongan kekuatan jiwani kepada mereka yang sudah mulai bertempur, sementara para pengawal Kademangan Randukerep berteriak sekeras-kerasnya untuk mengusir kegelisahan yang mulai meraba jantung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua pasukan itu pun menjadi lebih seimbang. Bahkan prajurit Pajang dan pengawal Kademangan itu jumlahnya memang lebih banyak. Tetapi lima puluh orang Mataram itu adalah orang-orang pilihan.

Karena itu, maka kekuatan kedua pasukan itu pun rasa-rasanya memang menjadi seimbang.

Tetapi kekuatan pasukan Pajang dan Randukerep di sisi sebelah Barat lah yang telah terguncang. Dua kelompok telah meninggalkan pasukan mereka. Apalagi jumlah mereka sejak semula memang lebih sedikit.

Karena itu, maka para prajurit Pajang harus bekerja keras untuk bertahan agar mereka tidak terdesak semakin mendekati padukuhan.

Tetapi jumlah yang besar dari orang-orang Mataram itu memang sangat berpengaruh. Meskipun mereka bukan orang-orang yang cukup terlatih, tetapi mereka sudah belajar memegang senjata serba sedikit, sehingga dalam jumlah yang besar, mereka memang menjadi cukup berbahaya.

Dalam pada itu, matahari pun telah memanjat semakin tinggi di langit. Panasnya semakin terasa menyengat punggung. Meskipun orang-orang Mataram yang dipimpin oleh Ki Lurah Tapajaya tidak lagi menjadi silau, namun keringat yang bagaikan terperas dari setiap tubuh telah membasahi pakaian mereka.

Namun ketika telapak tangan mereka pun menjadi basah oleh keringat, maka orang-orang yang sedang bertempur itu memang menjadi semakin garang. Senjata mereka menjadi semakin cepat berputar. Benturan-benturan kekuatan dan dentang senjata beradu semakin menyala bersama dengan teriakan-teriakan kemarahan dan erang kesakitan.

Darah memang telah mulai mengalir menitik diatas bumi Kademangan Randukerep. Betapapun kedua belah pihak merasa bahwa mereka adalah keluarga, bahkan ada diantara mereka adalah bekas kawan berbincang, namun di medan mereka saling mengintai kelemahan masing-masing.

Di sisi Barat, jumlah orang-orang Mataram memang jauh lebih banyak dari orang-orang Pajang dan Randukerep. Meskipun prajurit Pajang yang berjumlah tujuh-puluh orang itu bertempur dengan gigihnya, namun jumlah orang Mataram yang dua kali lipat itu sangat menyulitkan. Sedangkan para pengawal dan anak-anak muda Kademangan Randukerep sendiri tidak terlalu banyak dapat diharapkan.

Namun dalam pada itu, maka disisi Selatan, keadaan Pajang ternyata lebih parah lagi. Lima puluh terpilih dari prajurit dan pengawal Mataram itu benar-benar bagaikan arus banjir yang sulit untuk dibendung.

Seperti disisi Barat, maka para pengawal dan anak-anak muda Kademangan Randukerep yang telah mendapat sedikit latihan itu, kurang menunjukkan ketabahan hati untuk mempertahankan kampung halamannya.

Apalagi untuk waktu yang agak lama, mereka telah terpengaruh oleh orang-orang yang memang dikirim oleh Mataram untuk memperlemah ketahanan jiwani orang-orang Randukerep. Bahkan pernyataan yang setiap kali dilontarkan oleh orang-orang Mataram tiba-tiba telah mencuat kembali di hati orang-orang Randukerep, “Tidak ada bedanya. Apakah berada dibawah kuasa Pajang atau Mataram. Bahkan jika ada diantara mereka yang tetap ingin bertahan untuk kepentingan Pajang, maka mereka tentu akan menyesal. Sebentar lagi Pajang akan ditundukkan oleh Mataran. Mereka yang berpihak Pajang sudah barang tentu tidak akan mendapat tempat.”

Dengan demikian maka para pengawal dan orang-orang Randukerep memang tidak dapat memusatkan kemampuan sepenuhnya. Keragu-raguan itu semakin lama menjadi semakin mencengkam ketika mereka melihat bagaimana orang-orang Mataram itu bertempur. Apalagi mereka yang ada disisi Selatan. Mereka harus menghadapi lima puluh orang yang berilmu tinggi menurut penilaian mereka, karena limapuluh orang itu adalah para prajurit dan pengawal terpilih dari Mataram.

Untuk beberapa lama kedua pasukan itu bertempur dengan garangnya. Para prajurit Pajang disisi Barat masih mampu mengimbangi kekuatan lawannya yang jumlahnya jauh lebih banyak, meskipun orang-orang Randukerep sendiri tidak menunjukkan tingkat perjuangan yang tinggi. Beberapa orang justru menjadi kehilangan keberanian dan berusaha untuk berlindung dibelakang para prajurit. Sementara itu, orang-orang Mataram seakan-akan telah berniat untuk menelan lawan-lawannya hidup-hidup.

Untunglah bahwa Ki Lurah Dipayuda telah membawa sebagian besar prajurit-prajuritnya di sisi Barat, sehingga dengan jumlah yang jauh lebih kecil, ia masih juga bertahan. Namun hampir setiap orang harus melawan lebih dari seorang lawan. Sementara itu, diantara orang-orang Mataram itu juga terdapat para pengawal yang terlatih dari Kademangan-kademangan yang telah menyatakan diri berpihak kepada Mataram.

Di sisi Selatan, pasukan Mataram semakin lama semakin nampak menguasai pertempuran. Agak lebih cepat dibanding dengan pasukan disisi Barat. Perlahan-lahan prajurit Pajang dan para pengawal dari Randukerep telah terdesak. Ki Rangga Selamarta langsung berhadapan dengan Kasadha, sementara Ki Rangga Sanggabantala telah menghadapi dua orang pemimpin kelompok prajurit Pajang yang lain.

Namun ternyata para prajurit Pajang dan para pengawal yang lain tidak mampu untuk bertahan di tempat. Mereka semakin lama semakin terdesak surut. Para pengawal Kademangan Randukerep yang kurang berpengalaman, apalagi menghadapi para prajurit dan pengawal pilihan dari Mataram itu, bukan saja menjadi gentar. Tetapi perasaan takut mulai merayapi jantung mereka.

Prajurit Pajang yang sudah terlatih itu berusaha untuk berbuat sejauh dapat mereka lakukan. Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa lawannya terlalu kuat untuk ditahan. Seperti menahan arus banjir bandang.

Disisi sebelah Barat pun keseimbangan mulai berubah, ketika para pengawal Kademangan Randukerep telah kehilangan kemampuan mereka. Ketika matahari mencapai puncak langit, maka sebagian dari mereka tidak lagi mempunyai sisa tenaga untuk bertempur. Meskipun orang-orang Mataram sebagian juga telah tidak bertenaga pula, tetapi dalam jumlah yang lebih banyak, mereka justru mulai menguasai medan.

Sementara itu para prajurit Pajang yang mengerahkan segenap kekuatan sejak benturan pertama terjadi, harus mengakui, bahwa tugas mereka menjadi sangat berat. Keringat mereka bagaikan telah terperas habis, sementara panas matahari bagaikan membakar kulit.

Ki Lurah Dipayuda sendiri telah bertempur melawan Ki Lurah Tapajaya. Keduanya memang memiliki kemampuan yang seimbang, sehingga rasa-rasanya keduanya tidak akan pernah dapat mengalahkan yang satu atas yang lain.

Dalam keadaan yang gawat itulah, maka Ki Dipayuda mendapat laporan dari dua orang penghubung. Sementara tiga orang prajurit Pajang menggantikan kedudukan Ki Lurah Dipayuda, maka Ki Lurah itu telah mendengarkan laporan yang dibawa oleh kedua orang penghubung itu tentang pertempuran di sisi Selatan.

Wajah Ki Lurah memang menjadi tegang. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Ia dapat memaksa pasukannya untuk bertempur terus. Tetapi yang akan terjadi adalah penyerahan korban yang tidak berarti. Sementara orang-orang Kademangan Randukerep sendiri tidak banyak memberikan bantuan.

Meskipun demikian, Ki Lurah Dipayuda masih memberikan perintah, “usahakan untuk bertahan. Laporkan kepada Ki Demang, bahwa keadaan menjadi gawat. Kirimkan semua pengawal yang ada untuk mengatasi kesulitan di medan disisi Selatan. Secepatnya sebelum orang-orang kita dibantai sampai habis.”

Penghubung itu segera berlari menuju ke padukuhan induk. Mereka langsung menuju ke Kademangan untuk menyampaikan pesan Ki Lurah Dipayuda.

Sementara itu, keadaan prajurit Pajang di kedua medan menjadi semakin sulit. Tetapi mereka yang berada disisi Selatan mengalami kesulitan yang lebih parah.

Ketika matahari mulai turun kesisi Barat, maka telah datang laporan yang sangat menyakitkan hati Ki Lurah Dipayuda. Dua orang penghubung telah datang berlari-lari. Dengan wajah yang sangat tegang, maka orang itu telah menghadap Ki Dipayuda yang meninggalkan lawannya, sementara tiga orang prajurit berusaha untuk menahan Ki Lurah Tapayuda.

Namun agaknya Ki Lurah Tapajaya memang memberi kesempatan kepada Ki Lurah Dipayuda untuk mendengarkan laporan yang menyesakkan dadanya.

 “Ki Demang sudah tidak berpengharapan lagi. Bahkan Ki Demang sudah menganjurkan untuk menyerah saja,” berkata penghubung itu.

 “Gila,” geram Ki Lurah Dipayuda, “apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Ki Demang itu?”

 “Menurut Ki Demang, sudah tidak ada lagi pengawal yang tersisa. Ia tidak ingin orang-orangnya terlalu banyak terbunuh di medan perang ini. Agaknya Ki Demang telah mendapat laporan keadaan medan yang mulai berat sebelah,” berkata penghubung itu.

 “Inikah tekad Ki Demang yang nampaknya memberikan harapan sebagai seorang pahlawan itu? Begitu mudah kehilangan gairah perjuangannya?” Ki Lurah Dipayuda menjadi sangat marah.

Tetapi penghubung itu berkata, “Ki Demang tidak lagi mau berbuat sesuatu.”

 “Persetan dengan Ki Demang,” geram Ki Lurah, “kita akan menghancurkan lawan kita tanpa bantuan Ki Demang.”

Namun suara Ki Lurah merendah, “Bagaimana medan disisi Selatan itu?”

Kedua penghubung itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka berkata, “Kami baru saja datang dari padukuhan induk.”

 “Pergilah ke medan sisi Selatan. Hubungi Kasadha. Jika keadaan memaksa, biarlah ia mencari jalan untuk membebaskan diri dari medan bersama para prajurit Pajang. Kita akan membuat satu tempat untuk mengadakan hubungan lagi. Alas Kecil Trawangan di sebelah gumuk kecil itu,” berkata Ki Lurah Dipayuda yang tidak dapat ingkar dari kenyataan serta tidak ingin membiarkan prajuritnya ditumpas oleh kekuatan dari Mataram. Lalu katanya selanjutnya, “Jika aku tidak datang ketempat itu, maka artinya aku tidak mampu keluar dari lingkaran pertempuran ini. Hidup atau mati.”

Kedua penghubung itu tidak bertanya labih banyak lagi. Mereka sadar, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Karena itu maka mereka pun segera berangkat ke medan di sisi Selatan. Bahkan kemudian mereka telah berlari-lari tanpa merasakan betapa tubuh mereka menjadi sangat letih. Bahkan kaki-kaki mereka pun menjadi semakin lemah.

Namun keduanya masih sempat mencapai medan. Ternyata medan pertempuran itu telah bergeser agak jauh. Beberapa orang terbaring diam di sepanjang geseran pertempuran itu.

Keadaan pasukan Pajang dan para pengawal Kademangan itu memang menjadi kian parah.

Karena itu, maka orang itu pun dengan serta merta telah mencari kesempatan untuk berbicara dengan Kasadha.

Kasadha memang berusaha untuk dapat berbicara dengan penghubung itu. Karena itu, maka ia pun telah memanggil dua orang prajuritnya. Sementara seorang diantara penghubung itu telah berusaha membantu kedua orang prajurit itu.

 “Tahanlah orang itu sejenak,” berkata Kasadha, “aku akan mendengarkan pesan dari Ki Lurah.”

Penghubung itu dengan singkat telah menyampaikan pesan Ki Lurah. Mereka akan dapat saling berhubungan lagi di Alas kecil yang bernama Alas Trawangan.

 “Kecuali jika Ki Lurah Dipayuda tidak dapat keluar dari arena,” berkata penghubung itu.

Wajah Kasadha memang menjadi merah. Ia tidak dapat menerima keadaan yang dihadapinya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan itu. Ia tidak dapat karena dorongan perasaannya membiarkan para prajurit Pajang itu terbunuh dengan sia-sia.

Namun Kasadha itu berkata didalam hatinya, “Lebih baik menyingkir dari medan daripada harus menyerah.”

Keputusan itu tiba-tiba telah mengental didalam hatinya, sehingga ia pun telah bertekad dengan bulat.

Menurut perhitungan Kasadha, mereka tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk menyingkir jika mereka justru terlambat. Selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka mereka akan dapat meninggalkan medan sambil mempertahankan diri.

Demikianlah maka sejenak kemudian Kasadha itu pun telah berloncatan menghubungi beberapa orang prajurit dari kelompok yang lain untuk dapat disampaikan kepada pimpinannya yang masih bertempur. Sementara itu, maka ia pun telah berbisik pula kepada beberapa orang pengawal yang sempat dihubungi, “Menyerah bagi kalian akan lebih baik pada saat kami meninggalkan medan. Orang-orang Mataram tentu tidak akan berbuat kasar kepada kalian, karena mereka masih memerlukan bantuan kalian.”

Para pengawal itu mula-mula tidak tahu maksudnya. Namun tiba-tiba saja mereka mendengar isyarat yang diberikan oleh Kasadha.

Medan itu dengan cepat telah bergejolak. Para prajurit Pajang telah berusaha mengacaukan arena pertempuran itu. Kemudian mereka pun segera berusaha untuk menghindar.

Dengan perhitungan dan sikap prajurit yang terlatih, maka para prajurit Pajang itu telah berusaha menarik diri dan mendekati sebuah pategalan yang menjadi rimbun oleh pepohonan.

Prajurit Mataram tidak dapat membiarkan pasukan lawan itu menjauh. Namun dengan kesadaran bahwa pasukan itu tentu akan meninggalkan medan, maka pasukan Mataram telah berusaha untuk mengurungnya.

Namun para prajurit Pajang lebih dahulu mencapai pategalan itu. Demikian mereka memasuki dinding pategalan yang terbuat dari bambu yang mudah dikoyakkan, maka pasukan itu pun segera tertebar dan seakan-akan telah ditelan oleh pepohonan.

Prajurit Mataram memang berusaha untuk memburunya. Tetapi prajurit Pajang telah memanfaatkan selain pepohonan juga gerumbul-gerumbul perdu dan tanaman palawija yang tumbuh di pategalan itu.

Dengan demikian, maka para prajurit Pajang itu dengan latihan-latihannya yang mapan telah berhasil melepaskan diri dari lawan-lawan mereka. Sementara orang-orang Mataram agaknya telah dikacaukan oleh para pengawal Kademangan Randukerep yang juga menjadi kebingungan.

Untuk beberapa saat para prajurit Pajang masih menyusuri pategalan yang panjang itu sambil berlari-lari untuk menyelamatkan diri. Kemudian, mereka telah memencar dan seakan-akan hilang begitu saja. Sebuah parit yang agak besar, ternyata telah memberikan jalan kepada para prajurit Pajang. Parit yang terletak diantara tanggul yang agak dalam itu, memanjang menyilang pategalan. Disebelah menyebelahnya ditumbuhi oleh pring ori yang lebat. Sedikit celah-celah diantara rumpun-rumpun pring ori itu merupakan pintu yang banyak menyelamatkan para prajurit Pajang. Mereka terjun ke balik tanggul kemudian memencar ke kedua arah. Sementara yang lain meloncat naik tanggul di seberang.

Para pengawal Kademangan Randukerep tidak dapat berbuat setangkas itu. Karena itu, maka sebagian besar dari mereka tidak sempat melepaskan diri dari tangan para prajurit Mataram.

Namun seperti yang dikatakan oleh Kasadha, prajurit dan pengawal dari Mataram itu, masih berusaha untuk berbuat lebih baik atas para pengawal Kademangan Randukerep.

Dalam pada itu, dengan susah payah para prajurit Pajang telah menghilang. Prajurit Mataram yang mengejar mereka pun menjadi ragu-ragu. Mereka sama sekali kurang menguasai medan. Orang-orang Pajang yang pernah berada di Kademangan itu untuk beberapa lama nampaknya lebih mengenal lingkungan itu sehingga mereka mendapat kesempatan lebih baik dari orang-orang yang mengejarnya.

Meskipun demikian bukan berarti bahwa Pajang tidak kehilangan prajurit-prajuritnya yang menjadi korban di medan perang atau tertangkap saat mereka melarikan diri. Namun jumlah itu agaknya terhitung tidak terlalu besar dibandingkan dengan kesulitan yang dialami oleh para prajurit Pajang itu.

Sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, maka Mataram pun telah memanggil prajurit dan para pengawalnya. Dengan geram Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala telah memerintahkan prajuritnya untuk berkumpul. Namun Ki Rangga keduanya telah memerintahkan sebagian dari prajuritnya untuk mengawasi para tawanan, yang sebagian besar adalah para pengawal Kademangan, sedangkan yang lain meneliti keadaan medan.

 “Aku dan Adi Rangga Sanggabantala akan mencoba melacak jejak mereka,” berkata Ki Rangga Selamarta sambil menunjuk duapuluh lima orang diantara mereka. Lalu katanya, “Rawat mereka yang terluka dan kumpulkan mereka yang gugur di peperangan itu.”

Sejenak kemudian kedua orang perwira dari Mataram itu telah meninggalkan pategalan. Mereka mencoba meneliti jejak orang-orang Pajang yang semula berlari bercerai berai. Namun akhirnya beberapa orang diantara mereka telah berkumpul. Nampaknya mereka menjadi sangat tergesa-gesa, karena mereka tidak sempat menghindari hadirnya jejak mereka atau berusaha menghapusnya.

Karena itu, maka dengan hati-hati prajurit Mataram itu telah maju terus.

Dalam pada itu, matahari pun menjadi semakin rendah. Kedua orang perwira Mataram itu agaknya telah melupakan perintah untuk segera pergi ke Prambanan karena Mataram ternyata tidak mampu mengimbangi jumlah prajurit yang dipersiapkan oleh Pajang disebelah menyebelah Kali Opak itu.

 “Jika matahari turun dan hilang dibalik bukit, maka kita akan kehilangan orang-orang Pajang itu,” berkata Ki Rangga Selamarta.

Karena itu, maka usaha untuk mengikuti jejak itu pun semakin dipercepat.

Tetapi mereka tidak segera menemukan orang-orang yang mereka cari. Jejak yang nampaknya telah menjadi semakin jelas itu pun telah menjadi kabur lagi. Sehingga mereka harus meneliti untuk beberapa lama agar mereka tidak menemukan arah yang salah.

Beberapa orang prajurit Mataram justru telah menjadi jemu mencari jejak orang-orang Pajang itu. Tetapi ketika harapan untuk menemukan mereka itu menjadi menipis, tiba-tiba saja mereka telah menemukan jejak yang lebih jelas lagi, sehingga para prajurit Mataram itu telah terpancing untuk meneruskan usaha mereka menemukan para prajurit Pajang.

Tetapi mereka memang tidak dapat mencegah matahari turun semakin rendah. Langit pun menjadi semakin merah. Meskipun tidak selembar awan pun yang terbang, namun cahaya senja akhirnya mulai turun pula.

 “Kita kehilangan kesempatan,” berkata Ki Lurah Sanggabantala.

Ki Lurah Selamarta menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja seorang diantara mereka berkata, “Lihat, ranting-ranting patah.”

 “Mereka ada disekitar tempat ini, Mereka tentu menuju ke Alas Trawangan disebelah gumuk itu. Jika saja kita menemukan mereka diluar hutan,” berkata Ki Rangga Selamarta.

 “Bagaimana jika mereka telah masuk hutan?” bertanya salah seorang prajurit Mataram.

 “Kita tidak dapat menyusulnya. Dalam gelapnya malam di dalam hutan, sulit bagi kita untuk dapat bertempur dengan baik. Karena itu, maka selagi masih belum terlalu gelap, kita susul mereka. Mungkin mereka masih ada dibalik bukit kecil itu sebelum mereka menghilang di-balik gumuk masuk ke Alas Trawangan,” berkata Ki Rangga Selamarta.

Dengan hati-hati prajurit Mataram itu telah bergerak melingkari bukit kecil. Mereka tidak ingin kehilangan sekelompok prajurit Pajang yang akan dapat memperkuat kedudukan Pajang di Prambanan, atau mengganggu kedudukan mereka di Kademangan itu, meskipun mereka mendapat perintah untuk bergabung dengan para prajurit Mataram di seberang sebelah Barat Kali Opak.

Sementara itu dibalik bukit, sekelompok prajurit Pajang memang sedang beristirahat. Mereka sedang menunggu beberapa orang kawan mereka yang belum datang. Dari tiga kelompok prajurit Pajang, baru terkumpul dua puluh orang.

 “Mungkin mereka sudah tertangkap atau telah terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki di medan. Gugur misalnya,” berkata salah seorang pemimpin kelompok.

 “Baiklah,” berkata Kasadha, “jika demikian, maka kita akan masuk saja kedalam hutan. Menurut keterangan Ki Lurah Dipayuda, kawan-kawan akan berusaha untuk memasuki Alas Trawangan. Jika kita berhasil berhubungan dengan Ki Lurah Dipayuda, maka kita akan segera dapat menentukan langkah lebih jauh.”

 “Marilah. Sebaiknya kita menunggu beberapa lama,” berkata pemimpin kelompok yang seorang lagi.”

Kasadha mengangguk-angguk. Didepan mereka memang terdapat hutan yang disebut-sebut. Alas Trawangan. Hutan yang tidak begitu lebat dan tidak begitu besar.

Kasadha dan prajurit-prajurit Pajang yang lain pun telah bersiap-siap untuk memasuki hutan itu. Mereka dengan letih melangkah berurutan melintasi padang perdu yang sempit.

Tetapi mereka terkejut ketika dalam keremangan senja mereka melihat sekelompok prajurit muncul dari balik bukit. Sekelompok prajurit yang ternyata bukan prajurit Ki Lurah Dipayuda. Tetapi mereka adalah prajurit Mataram yang dipimpin oleh Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.

Kasadha tidak mempunyai pilihan lain. Mereka harus berusaha untuk mempertahankan diri. Bertempur sambil menarik diri mendekati hutan yang sudah berada di hadapan mereka.

Tetapi dengan demikian mereka justru berada di padang perdu. Meskipun tidak terlalu luas, namun dengan demikian maka para prajurit Mataram akan mendapat banyak kesempatan untuk menghancurkan mereka.

Namun para prajurit Pajang itu tidak mempunyai pilihan. Dengan sisa tenaga yang ada maka mereka telah bersiap menghadapi prajurit Mataram yang berlari-lari dan berusaha memotong jalan antara para prajurit Pajang itu dengan Alas Trawangan. Meskipun demikian Kasadha dan para prajurit itu pun masih juga berusaha untuk bergeser semakin mendekati hutan itu.

Ki Rangga Selamarta yang semakin berada diujung prajurit-prajurit Mataram itu pun kemudian berkata, “Menyerahlah. Kalian tidak mempunyai kesempatan lagi. Seandainya kalian tidak menyerah sekarang, maka akan datang saatnya Pajang dihancurkan oleh Mataram. Dan kalian akan mengenali nasib buruk untuk yang kedua kalinya.”

Tetapi Kasadha menjawab dengan tegas, “Kami adalah prajurit-prajurit yang telah mengucapkan prasetya. Karena itu, seandainya kami harus mengalami nasib buruk seribu kali pun kami tidak akan mengeluh.”

 “Bagus,” berkata Ki Rangga Selamarta, “kau memang benar-benar prajurit pilihan. Kau masih sangat muda. Namun kau telah memiliki ilmu yang tinggi, melampaui lurahmu Ki Dipayuda. Prajurit-prajurit seperti kalian itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Mataram.”

 “Jangan membujuk. Hatiku tidak selemah batang ilalang yang tunduk kemana angin bertiup,” jawab Kasadha.

Tetapi Ki Rangga Selamarta tertawa. Katanya, “Aku tidak membujukmu. Tetapi aku memujimu dengan tulus sebagai sesama prajurit. Aku pun harus mengaku bahwa aku sendiri tidak akan dapat mengalahkanmu. Tetapi sebagaimana kau lihat, orang-orangku lebih banyak dari orang-orangmu.”

 “Jumlah kita hampir sama,” jawab Kasadha, “sementara itu hati kami telah tertempa oleh keadaan terakhir dalam hubungannya dengan hadirnya Mataram. Karena itu, jangan mimpi untuk dapat memaksa kami menyerah.”

 “Kalian akan melarikan diri kedalam hutan menjelang malam hari? Kalian lepas dari tangan kami, tetapi segera diantara kalian akan mati dipatuk ular dan diterkam binatang buas,” berkata Ki Rangga Selamarta.

Tetapi jawab Kasadha, “saat aku mengikuti pendadaran, maka syaratnya adalah menangkap seekor harimau seorang diri hanya dengan senjata pisau belati. Demikian juga kawan-kawanku yang lain sehingga dengan demikian, harimau sama sekali bukan hantu bagi kami.”

 “Bagus,” geram Ki Rangga, “bersiaplah. Agaknya korban masih harus jatuh disini.”

Kasadha dan para prajurit Pajang pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mereka sadar, bahwa mereka akan menghadapi perjuangan yang sangat berat untuk mempertahankan hidup mereka.

Tetapi mereka telah menyadari bahwa kemungkinan yang demikian dapat terjadi sejak mereka memasuki dunia keprajuritan. Bahkan orang-orang yang melakukan pendadaran atas mereka pun berulang kali bertanya, apakah mereka berani menghadapinya.

Kini mereka benar-benar dihadapkan pada kemungkinan yang paling pahit dalam perjuangan mereka sebagai seorang prajurit dan sebagai seseorang yang sedang mempertahankan hidupnya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian pertempuran telah terjadi lagi. Sekali lagi Kasadha harus melawan salah seorang perwira Mataram yang berilmu tinggi. Sekali lagi Kasadha menunjukkan bahwa ia pun memiliki ilmu yang, mampu mengimbangi kemampuan ilmu Ki Rangga Selamarta.

Namun Ki Rangga Sanggabantala tidak mempunyai lawan yang seorang diri mampu melawannya. Karena itu, maka ia telah mengikat tiga orang lawan sekaligus.

Dengan demikian maka keseimbangan pun menjadi semakin berat sebelah. Selain jumlahnya memang lebih sedikit, Mataram mempunyai dua orang yang berilmu tinggi.

Tetapi prajurit-prajurit Pajang yang terlatih itu telah membuat gerakan-gerakan yang memang agak mengacaukan medan untuk mengurangi tekanan yang semakin terasa berat. Sementara itu Kasadha telah memimpin kawan-kawannya untuk mendekati Alas Trawangan.

Namun agaknya orang-orang Mataram berusaha untuk mendesak para prajurit Pajang justru menjauhi Alas Trawangan itu.

Dengan demikian maka keadaannya menjadi semakin sulit bagi para prajurit Pajang. Untunglah bahwa malam segera turun, sehingga pertempuran menjadi sedikit lamban. Para prajurit Pajang berkesempatan untuk membuat geseran-geseran yang menyulitkan lawan-lawan mereka, karena masing-masing tidak terikat dengan lawan tertentu kecuali Kasadha dan tiga orang prajurit Pajang yang harus menahan Ki Rangga Sanggabantala.

Tetapi beberapa saat kemudian tekanan prajurit-prajurit Mataram benar-benar sulit untuk ditahan. Sementara itu para prajurit Pajang  pun tidak mampu lagi mencari jalan untuk memasuki Alas Trawangan.

Kasadha memang menjadi cemas. Bukan tentang dirinya sendiri. Ia masih merasa sanggup menghadapi lawannya, bahkan seandainya ia harus bertempur sampai pagi. Tetapi kawan-kawannya, bahkan kedua pimpinan kelompok yang lain, akan dapat mengalami kesulitan yang parah.

Ternyata bahwa Ki Rangga Selamarta sendiri tidak mau terlalu lama bertempur melawan Kasadha. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan anak muda itu. Karena itu, maka Ki Rangga itu pun telah memberikan isyarat kepada seorang prajurit pilihan untuk membantunya melawan prajurit muda dari Pajang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

Kasadha menggeram ketika lawannya bertempur berpasangan. Tetapi ia tidak akan menyerah apapun yang terjadi atasnya.

Perlahan-lahan Kasadha semakin terhimpit oleh pertempuran itu. Ia terdesak oleh gabungan kekuatan dan kemampuan kedua lawannya, sementara kawan-kawan-nya pun tidak lagi mampu menahan serangan-serangan yang semakin menekan.

Beberapa orang prajurit Pajang bahkan seakan-akan telah menjadi putus-asa. Namun karena itu, maka mereka pun telah mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk melawan setiap serangan. Bahkan rasa-rasanya mereka tidak lagi mengekang diri, sehingga dengan demikian kesannya justru menjadi semakin garang.

Namun para pemimpin prajurit Mataram dapat membaca gejolak hati orang-orang itu. Karena itu, maka Ki Rangga Sanggabantala pun kemudian berteriak, “Masih ada kesempatan untuk menyerah. Kalian tidak perlu menjadi putus asa dan kehilangan pertimbangan nalar. Menyerahlah.”

 “Tidak,” terdengar seorang prajurit Pajang berteriak, “bunuh kami semuanya.”

Ki Rangga Sanggabantala tidak dapat berbuat lain kecuali bertempur terus. Agaknya prajurit-prajurit Pajang adalah prajurit yang tidak saja terlatih kewadagannya. Mereka pun bersikap keras sebagaimana seorang prajurit.

Bagaimanapun juga kedua orang Rangga itu harus mengakui, bahwa prajurit-prajurit muda dari Pajang itu justru lebih berbahaya dari prajurit-prajurit yang telah berpengalaman. Darah muda didalam tubuh para prajurit itu, sangat mempengaruhi keputusan yang mereka ambil.

Namun dalam pada itu, selagi mereka berada dalam kesulitan yang memuncak, tiba-tiba saja dari balik bukit, dalam keremangan ujung malam, muncul sekelompok kecil prajurit. Ternyata mereka adalah prajurit Pajang yang berhasil menyingkir dari medan disisi Barat dan seperti yang dipesankan, mereka akan berkumpul di Alas Trawangan.

Demikian sekelompok prajurit itu melihat pertempuran, maka dengan serta merta mereka pun telah mempercepat langkah mereka.

 “Setan manakah yang hadir itu?” Ki Rangga Selamarta menggeram.

Ketika kelompok itu menjadi semakin dekat, maka semakin jelaslah bagi mereka yang sedang bertempur, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit Pajang.

 “Kasadha,” terdengar pemimpin kelompok yang baru datang itu menyebut nama.

 “Kau, Barata,” Kasadha menjawab.

Barata tidak membuang waktu lagi. Ia datang bersama tujuh orang prajuritnya. Di medan di sisi Barat ia telah kehilangan dua orang prajurit, yang belum jelas keadaannya. Apakah mereka terbunuh di pertempuran, atau mereka terluka dan tidak sempat menghindar atau tertangkap.

 “Bertahanlah Kasadha,” teriak Barata.

Para prajurit Pajang yang telah menjadi putus asa itu pun serasa telah bangkit kembali. Mereka melihat se cercah harapan bersama kehadiran sekelompok kawan-kawannya. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, namun kehadiran mereka tentu akan dapat membantu meringankan tekanan yang semakin terasa menghimpit. Bahkan satu dua orang diantara mereka telah tersentuh senjata orang-orang Mataram.

Sejenak kemudian, maka Barata pun telah bergabung dengan ketiga kelompok yang lain, tetapi yang sudah kehilangan hampir sepuluh orang. Barata dengan cepat telah menempatkan diri melawan Ki Rangga Sanggabantala. Anak muda itu ternyata sama sekali tidak merasa gentar. Bahkan sekali lagi Ki Rangga membentur kemampuan yang tidak teratasi.

Kedua belah pihak kemudian telah mengerahkan kemampuan mereka. Para prajurit Pajang betapapun letihnya, namun mereka masih mampu mengimbangi kekuatan prajurit pilihan dari Mataram itu. Para prajurit Pajang tidak lagi harus bertempur dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghindari kemungkinan bertempur melawan dua atau bahkan tiga orang sebagaimana sebelumnya.

Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala menjadi sangat marah atas kehadiran sekelompok pasukan Pajang. Namun keduanya pun dengan cepat menangkap kemungkinan berikutnya. Agaknya orang-orang Pajang memang telah bersepakat untuk berkumpul di Alas Trawangan.

Karena itu, maka orang-orang Mataram itu tidak ingin terjebak oleh kedatangan-kedatangan prajurit Pajang berikutnya. Ki Rangga tidak mau lagi melihat kegagalan sebagaimana pernah terjadi di Kademangan Randukerep, karena beberapa orangnya telah tertangkap.

Kedua orang Rangga itu tidak tahu, apa yang segera dilakukan oleh Ki Tapajaya. Jika Ki Lurah Tapajaya langsung memasuki induk Kademangan, maka masih ada kemungkinan mereka menemukan kawan-kawan mereka yang telah tertangkap bersama beberapa orang tledek.

Tetapi mungkin Ki Tapajaya sedang memburu orang-orang Pajang yang meninggalkan medan di sisi Barat.

Karena itu, maka Ki Rangga Selamarta telah mengambil keputusan tersendiri. Sebelum orang-orang Pajang yang lain datang ke Alas Trawangan, maka Ki Rangga berniat untuk menghindari pertempuran yang lebih sulit. Ia tidak tahu pasti, apakah Ki Tapajaya dan pasukannya juga akan datang ke hutan itu.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, Ki Rangga Selamarta telah memberikan isyarat. Yang kemudian menghindari medan adalah pasukan Mataram.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, para prajurit Mataram itu telah berusaha melepaskan diri dari pertempuran. Merekalah yang kemudian bergeser mendekati hutan, dan kemudian menghilang kedalamnya.

Karena kekuatan kedua pasukan itu tidak berselisih banyak, maka para prajurit Mataram itu tidak banyak mengalami kesulitan untuk menarik diri. Namun sebelum mereka menghilang, Ki Rangga Selamarta sempat meneriakkan beberapa perintah sandi yang diulang oleh Ki Rangga Sanggabantala.

Para prajurit Pajang sama sekali tidak mengerti bunyi perintah sandi itu. Hanya prajurit Mataram sajalah yang mengetahui maksudnya sehingga mereka akan dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, Kasadha dan Barata telah memerintahkan agar para prajuritnya tidak memburu lawan-lawan mereka ke dalam Alas Trawangan. Meskipun mereka sebagaimana perintah dan pesan Ki Lurah Dipayuda untuk bertemu kembali di Alas Trawangan di belakang gumuk kecil, namun ternyata bahwa orang-orang Mataram itu justru telah lebih dahulu masuk kedalamnya.

 “Kita tidak dapat mengejar mereka,” berkata Barata, “banyak kesulitan akan dapat kita alami. Merekalah yang menunggu kita didalam, sehingga setiap langkah kita akan dapat mereka ketahui lebih dahulu. Dengan demikian maka mereka mendapat kesempatan pertama untuk menyerang kita didalam kegelapan dan dari balik pepohonan.”

 “Ya,” sahut Kasadha, “kita harus mengambil langkah lain.”

 “Kita akan berada disebelah gumuk itu. Kita harus memberi tahukan kepada orang-orang yang datang kemudian, bahwa tempat ini sudah diketahui oleh prajurit Mataram,” berkata Barata.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Namun dengan nada rendah ia berkata, “Kau sudah menyelamatkan jiwa kami Barata.”

 “Ah, tidak. Kita bersama-sama bertempur menghadapi lawan. Kita saling menyelamatkan, saling melindungi dan kita saling tergantung yang satu dengan yang lain dalam keadaan seperti ini.”

 “Jika kau tidak datang bersama kelompokmu, maka kami tentu sudah dibantai oleh orang-orang Mataram itu,” desis Kasadha.

 “Jika kalian tidak lebih dahulu berada di tempat ini, maka kamilah yang akan terbantai disini,” jawab Barata. Tetapi katanya kemudian, “Sudahlah. Sekarang kita memperhitungkan langkah kita selanjutnya. Apakah yang sebaiknya harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, kedua orang pemimpin kelompok yang lain pun telah berdiri pula termangu-mangu. Seorang diantara mereka masih harus berdesis menahan sakit, karena ujung senjata lawan telah menyentuh kulitnya.

Sejenak kemudian, maka para prajurit Pajang itu telah bergeser justru kesebelah bukit kecil. Barata telah memerintahkan dua orang prajuritnya untuk mengawasi disebelah gumuk yang lain. Sementara Kasadha pun telah memerintahkan dua orangnya pula untuk bersama-sama dengan kedua orang prajurit Barata.

 “Kalian hanya mengawasi keadaan. Jika datang bahaya, kalian agar segera memberitahukan kepada kami. Tetapi jika yang datang kawan-kawan kami, maka kalian harus mengarahkan mereka agar mereka tidak terjerumus masuk kedalam hutan. Kita tidak tahu, apakah para prajurit Mataram akan tetap berada di hutan itu atau tidak,” berkata Barata.

Dengan demikian maka ampat orang telah bergeser melingkari bukit kecil itu. Kemudian mereka mencari tempat terlindung untuk mengamati keadaan.

 “Kita dapat melakukan bergantian,” berkata salah seorang diantara mereka.

 “Ya. Siapakah yang akan melakukannya dahulu? Seorang dari kelompokku, seorang kelompokmu. Nanti kita akan berganti tugas,” berkata yang lain.

Keempat orang itu sependapat. Mereka memang sangat letih, sehingga kemudian dua orang diantara mereka beristirahat. Mereka tidak akan tidur atau tertidur. Tetapi mereka hanya ingin mengendorkan ketegangan dengan meletakkan tanggung jawab kepada kedua orang yang lain bergantian.

Dengan demikian, maka bergantian mereka dapat melupakan mimpi buruk yang baru saja mereka alami. Sambil bersandar batu-batu padas dua orang diantara mereka duduk untuk melepaskan ketegangan syaraf mereka. Mereka sempat melihat bintang-bintang yang bergayutan dilangit. Mereka pun sempat menarik nafas dalam-dalam menghirup udara yang sejuk.

Tetapi ternyata gangguan lain mulai menyentuh mereka justru karena mereka beristirahat. Perut mereka mulai merasa lapar.

 “Tetapi aku tidak dapat menangkap dan menelan seekor katak hidup-hidup,” berkata seorang diantara mereka tiba-tiba saja.

 “Apa?” bertanya kawannya.

 “Lapar,” jawabnya terus-terang.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berdesis sambil tersenyum, “Aku juga lapar. Tetapi aku malu mengatakannya.”

Orang yang pertama mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa. Berdua mereka akhirnya tertawa pula.

Dua orang kawannya yang bertugas mengamati keadaan berpaling mendengar keduanya tertawa. Seorang diantaranya berkata, “Kenapa kalian tertawa?”

Salah seorang dari keduanya menjawab disela-sela suara tertawanya yang tertahan, “Kami lapar.”

Kedua orang yang sedang bertugas itu saling berpandangan. Namun akhirnya keduanya pun tertawa pula.

Namun, demikian mereka terdiam, maka mereka pun segera melihat sesuatu di padang perdu di hadapan mereka dalam kegelapan malam. Namun karena udara terbuka dan langit yang cerah, maka nampak remang-remang sebuah iring-iringan.

 “Apakah mereka orang-orang Pajang atau orang-orang Mataram yang mencari kawan-kawannya,” desis seorang diantara mereka yang berjaga-jaga itu.

Bukan hanya dua orang yang kemudian memperhatikan iring-iringan itu. Tetapi keempat orang itu bersama-sama berjongkok dibalik gerumbul untuk mengawasi orang-orang yang baru datang itu.

Namun ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka mereka yakin, bahwa mereka adalah orang-orang Pajang yang terdesak dari medan sehingga mereka berusaha untuk melepaskan diri sebagaimana perintah Ki Lurah Dipayuda.

Karena itu, maka orang-orang yang bersembunyi dibalik gerumbul itu pun telah bangkit berdiri dan melangkah keluar dari persembunyian mereka.

Iring-iringan itu terkejut. Beberapa orang segera meloncat sambil mengacukan senjata mereka.

Namun seorang diantara ampat orang itu pun segera mengucapkan kata-kata sandi.

 “Kalian sudah disini?” bertanya salah seorang-pemimpin kelompok.

Orang yang bertugas itu pun segera memberitahukan dengan singkat, apa yang telah terjadi dan mempersilahkan iring-iringan itu menemui Kasadha atau Barata.

 “Mereka ada disebelah gumuk ini. Biarlah dua orang kawan kita mengantarkan,” berkata prajurit itu.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu telah diantar untuk menyatukan diri dengan prajurit-prajurit yang lain. Namun yang datang itu baru sebagian-sebagian. Sementara Ki Lurah Dipayuda sendiri masih belum ada diantara mereka.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan Pajang yang terkoyak di peperangan itu sudah mulai berkumpul lagi sedikit demi sedikit. Barata yang menyambut kawan-kawannya yang baru datang itu bertanya, “Bukankah kalian sudah lebih dahulu meninggalkan medan dari kami?”

 “Ya. Tetapi kami tidak segera menemukan jalur jalan yang langsung menuju ke tempat ini,” jawab kawannya itu.

Barata mengangguk-angguk. Dalam gelapnya malam, maka kadang-kadang seseorang memang mengalami kesulitan menelusuri jalan yang masih belum terlalu biasa dilaluinya. Karena itu, maka agaknya para prajurit Pajang yang lain pun mengalami kesulitan yang serupa. Mungkin saat-saat mereka menghindar dari medan justru menuju ke arah yang lebih jauh dari Alas Trawangan.

 “Baiklah,” berkata Barata kemudian, “sebaiknya kita menunggu disini. Tetapi ingat, sepasukan prajurit Mataram memasuki Alas Trawangan. Kita tidak tahu apakah mereka masih ada didalam atau sudah bergeser dan keluar dari arah lain.”

 “Tetapi tentu bukan pasukan induk yang dipimpin oleh Ki Lurah Tapajaya,” desis salah seorang prajurit.

Barata menggeleng. Katanya, “Tidak. Mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang dipimpin langsung oleh Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.”

Prajurit-prajurit Pajang yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa Ki Rangga berdua adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Namun dengan demikian maka mereka pun harus mengakui bahwa Kasadha dan Barata yang muda itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi pula, karena beberapa orang telah menyaksikan langsung bahwa keduanya mampu bertempur melawan Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.

Untuk beberapa saat maka Barata dan Kasadha telah memutuskan untuk tetap berada di tempat itu. Jika perlu, maka mereka akan berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok yang ada untuk menentukan langkah berikutnya.

 “Mudah-mudahan Ki Lurah Dipayuda segera datang,” berkata Barata.

Para prajurit Pajang itu pun kemudian telah berpencar untuk beristirahat. Lima orang bertugas mengamati keadaan selain empat orang yang berada di balik bukit.

Namun mereka tidak perlu berjaga-jaga dengan berdiri tegak dan berjalan mondar-mandir. Mereka dapat saja duduk di belakang perdu. Namun mereka tidak boleh lengah.

Ternyata para prajurit Pajang itu memang menjadi letih dan lapar. Tetapi mereka sudah terlatih untuk mengalami kesulitan di medan sehingga karena itu, maka mereka masih mampu mengatasi keadaan itu.

Tetapi satu hal yang kemudian mereka yakini adalah, Kademangan Randukerep tentu sudah jatuh ketangan orang-orang Mataram.

Namun malam itu, prajurit Pajang yang sempat meninggalkan medan telah berkumpul di sebelah bukit di depan Alas Trawangan itu.

Sebagian besar dari para prajurit yang beristirahat itu memang sempat tertidur selain mereka yang bertugas. Tetapi para pemimpin kelompok justru menjadi lebih berhati-hati. Mereka tidak dapat melarang para prajuritnya yang letih itu tidur di udara terbuka karena mereka menyadari, bahwa para prajurit itu telah menjadi letih dan lapar. Tetapi mereka pun mengerti, bahwa di Alas Trawangan itu terdapat beberapa orang prajurit Mataram.

Para pemimpin kelompok itu memang menjadi cemas bahwa Ki Lurah masih juga belum datang. Selain Ki Lurah, masih ada juga pemimpin kelompok yang tertinggal bersama anak buahnya. Namun mereka menduga bahwa para prajurit yang belum datang itu tentu dalam kesibukan mengawal Ki Lurah Dipayuda.

 “Kami bersama-sama meninggalkan medan,” berkata Barata, “bahkan aku termasuk yang terakhir. Aku masih sempat memancing beberapa kelompok lawan. Namun aku memang meninggalkan medan langsung ke arah bukit kecil itu. Sementara yang lain memencar kearah yang berbeda-beda. Mungkin mereka harus melingkar agar tidak bertemu dengan Prajurit Mataram atau mereka telah melakukan satu perlawanan khusus terhadap orang-orang yang berhasil mengejar mereka.”

Kasadha mengangguk-angguk. Memang banyak kemungkinan dapat terjadi dalam pertempuran seperti itu.

Tetapi beberapa saat kemudian, maka seorang diantara mereka yang bertugas mengawasi keadaan di sebelah bukit telah melihat sekelompok prajurit yang datang. Mereka yakin bahwa mereka juga prajurit Pajang.

Beberapa orang pemimpin kelompok segera menyongsong mereka. Mereka berharap bahwa Ki Lurah Dipayuda ada diantara orang-orang itu.

Sebenarnyalah yang datang itu adalah sekelompok prajurit Pajang bersama Ki Lurah Dipayuda. Namun ternyata Ki Lurah Dipayuda telah terluka. Meskipun tidak terlalu parah, tetapi darah yang mengalir dari tubuhnya sudah terlalu banyak, sehingga karena itu, Ki Lurah memang menjadi lemah.

Dengan dibantu oleh beberapa orang prajurit, maka Ki Lurah telah dibawa ke sebelah bukit, diantara para prajurit yang letih. Namun kehadiran Ki Lurah ternyata telah membangunkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.

Seorang yang memiliki kemampuan pengobatan dari antara prajurit Pajang, yang memang telah dipersiapkan mengikuti pasukan di Kademangan Randukerep itu, berusaha untk segera memampatkan darah yang mengalir dari luka Ki Lurah Dipayuda itu.

Untuk beberapa saat orang yang mengobati Ki Lurah itu sibuk, sementara Ki Lurah telah memanggil para pemimpin kelompok untuk berkumpul. Diantara sepuluh orang pemimpin kelompok ampat orang telah terluka. Seorang diantaranya parah. Namun oleh anak buahnya ia sempat diselamatkan dan tidak berselisih banyak waktunya dengan kedatangan Ki Lurah, pemimpin kelompok itu pun telah sampai di tempat itu pula, serta mendapat pertolongan seperlunya.

 “Kita menunggu perintah Ki Lurah,” berkata Kasadha dengan nada berat, “apakah kita harus memasuki Alas Trawangan untuk mencari jejak prajurit-prajurit Mataram itu?”

Ki Lurah Dipayuda menggeleng. Katanya, “Tidak perlu. Kita tidak akan menemukan mereka. Mereka tentu sudah pergi. Aku tidak tahu apakah mereka akan kembali dengan pasukan yang lebih banyak atau tidak. Tetapi menurut perhitunganku, Ki Lurah Tapajaya tidak akan melakukannya.”

 “Kenapa?” bertanya Kasadha.

 “Ternyata ia memang memberi kesempatan kepadaku untuk meninggalkan medan,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

 “Tetapi Ki Tapajaya telah melukai Ki Lurah,” desis Barata.

 “Bukan Ki Tapajaya,” jawab Ki Lurah, “tetapi seorang pengawal dari Mataram yang lain. Ketika aku sedang bertempur dengan Ki Lurah Tapajaya, orang itu telah menyerang dengan serta merta sehingga aku tidak sempat mengelak. Tetapi justru Ki Tapajaya telah memukul tengkuk orang itu sehingga pingsan. Aku memang tidak melihat isyarat. Tetapi dalam gerak mundur, aku masih sempat melihat Ki Lurah itu mencegah anak buahnya memburuku.”

Barata termangu-mangu sejenak. Namun ia berdesis, “Aku tidak melihat gerak mundur Ki Lurah.”

 “Kau memang berada disisi lain,” sahut Ki Lurah.

Barata, Kasadha dahi para pemimpin kelompok itu memang menjadi bingung mendengar keterangan Ki Lurah Dipayuda tentang Ki Lurah Tapajaya. Namun Ki Lurah Dipayuda kemudian berkata, “Tapajaya adalah seorang perwira Pajang yang aku kenal dengan baik. Tetapi keadaan segera berubah, ketika Ki Lurah Tapajaya menyatakan diri menyeberang ke Mataram, karena ia memang tidak puas dengan keadaan Pajang disaat-saat terakhir. Namun ternyata bahwa ia tidak dapat melupakan kehadiran kami bersama di Pajang. Itulah sebabnya, maka ia tidak sampai hati melihat aku terbunuh disaat aku menarik perhatian para prajurit Mataram disaat para prajurit Pajang menghindar dari medan yang menjadi semakin berat sebelah itu.”

Para pemimpin kelompok dari prajurit Pajang itu termangu-mangu sejenak. Ternyata dengan jujur Ki Lurah Dipayuda mengakui bahwa justru Ki Lurah Tapajaya lah yang telah menyelamatkannya.

Dengan nada rendah Ki Lurah Dipayuda berkata, “Tetapi aku tidak tahu apakah ia akan dapat berbuat seperti itu jika Ki Lurah Tapajaya berada bersama Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.”

Kasadha lah yang kemudian berdesis, “Kedua orang Rangga itu ada didalam hutan sebelah. Tetapi kita tidak tahu apakah mereka sudah bergeser atau belum. Bahkan mungkin mereka akan datang dengan pasukan yang lebih besar lagi.”

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita tidak akan dapat kembali memasuki Kademangan Randukerep. Disisa malam ini kita harus menarik diri ke Kademangan yang masih kukuh berpihak kepada Pajang. Mungkin Kademangan itu sekarang justru terancam kekuatan Mataram di Randukerep, karena nampaknya kekuatan Mataram disini akan membuka jalur jalan dari arah Selatan.”

 “Jadi kita harus kemana Ki Lurah?” bertanya Barata.

 “Kita akan mundur dan membuat landasan baru di Kademangan Nglawang,” jawab Ki Lurah Dipayuda.

 “Kenapa di Nglawang?” bertanya salah seorang pemimpin kelompok, “kenapa tidak di Kademangan yang lebih dekat, misalnya Kademangan Traju?”

 “Kita belum tahu pasti apa yang telah terjadi di Kademangan Traju selama ini. Mungkin pengaruh Mataram sudah terasa di Traju sebagaimana di Randukerep. Tetapi kita akan dapat meyakinkan diri bahwa Kademangan Nglawang masih tetap teguh berdiri dibelakang Pajang. Kecuali jika Nglawang ditempuh dengan kekerasan oleh Ki Lurah Tapajaya dan kedua orang Rangga itu,” berkata Ki Lurah.

Namun Barata kemudian berdesis, “Tetapi keadaan Ki Lurah sendiri bagaimana?”

 “Aku akan berjalan diantara kalian. Tolong, aku minta dibantu. Darahku sudah mulai pampat setelah mendapat pengobatan,” sahut Ki Lurah.

Tetapi beberapa orang prajurit berkata, “Bagaimana jika kita buat usungan sederhana. Kita dapat memotong dahan-dahan pepohonan perdu. Barangkali dengan lulup batangnya kita dapat membuat tali.”

Ki Lurah menggeleng sambil berdesis, “Tidak usah. Aku masih dapat berjalan. Kita akan mencari jalan yang paling aman menuju ke Kademangan Nglawang.”

Ternyata Ki Lurah tidak menunggu terlalu lama. Setelah beristirahat sejenak setelah ia mendapat pengobatan sementara, maka ia telah memerintahkan pasukan itu untuk berangkat.

 “Kita tidak dapat menunggu kawan-kawan kita yang lain. Mungkin mereka gugur di pertempuran, mungkin mereka terluka atau tertangkap,” berkata Ki Dipayuda, “kita memang menyesal bahwa kita tidak dapat membantu mereka. Tetapi kita memang harus memilih yang terbaik yang dapat kita lakukan sekarang.”

Para pemimpin kelompok memang sependapat. Karena itu, maka dalam keadaan yang letih, lapar dan beberapa orang terluka termasuk Ki Dipayuda, prajurit-prajurit Pajang itu seakan-akan merayap menyusuri jalan-jalan sempit menuju ke Kademangan Nglawang.

Mereka menyadari, bahwa perjalanan ke Nglawang cukup jauh, sehingga saat matahari terbit, mereka tentu masih belum dapat mencapai tujuan. Namun mereka tentu sudah berada di daerah yang masih dikuasai Pajang seutuhnya.

Ki Lurah Dipayuda memang menghindari Kademangan Traju yang diragukan, setelah Ki Lurah melihat keadaan Randukerep. Mereka justru telah melingkar dan menempuh jalan yang agak jauh.

Daya tahan Ki Lurah Dipayuda memang luar biasa. Beberapa orang yang terluka tidak separah Ki Lurah, hampir-hampir tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan meskipun mereka dibantu oleh dua orang. Tetapi Ki Lurah memerintahkan pasukan itu berjalan terus.

Ketika kemudian matahari terbit, maka segarnya sinar matahari pagi terasa menghangatkan tubuh mereka. Namun bagi beberapa orang diantara mereka sinar yang kemerah-merahan itu membuat mata mereka menjadi silau dan kemudian sakit. Justru karena mereka terlalu letih dan lemah.

Suasana padukuhan-padukuhan memang terasa sepi. Gema tentang pertempuran-pertempuran di Kademangan Randukerep nampaknya sudah menyebar sampai ke daerah yang luas, sehingga Kademangan-kademangan yang lain pun rasa-rasanya juga berada dalam suasana perang. Para penghuninya telah mempersiapkan diri untuk mengungsi jika memang diperlukan. Mereka sudah mengumpulkan harta mereka yang paling berharga, sehingga jika mereka setiap saat harus meninggalkan rumahnya, maka barang-barang yang paling berharga itu tidak tertinggal.

Dengan demikian, maka sawah-sawah pun dibiarkan terbengkelai. Mereka yang mendapat giliran air pada hari itu, tidak lagi dimanfaatkannya karena mereka menjadi ngeri dibayangi oleh peperangan yang mungkin akan dapat sampai ke Kademangan mereka.

Ternyata hal itu dianggap menguntungkan oleh para prajurit Pajang, karena tidak terlalu banyak orang yang melihat, bagaimana mereka mundur dari medan dalam keadaan yang parah.

Namun betapapun letih dan laparnya orang-orang Pajang itu, tetapi Ki Lurah Dipayuda memerintahkan agar mereka berhenti nanti di induk padukuhan di Kademangan Nglawang.

Beberapa orang prajurit yang terluka melangkah dengan kaki yang bagaikan digantungi timah. Satu dua orang tertinggal beberapa langkah dari kawan-kawannya. Sementara Barata dan Kasadha membantu Ki Lurah Dipayuda yang lemah. Namun ternyata hati Ki Lurah itu benar-benar bagaikan baja.

Ketika matahari naik sepenggalah, maka mereka telah memasuki jalur jalan panjang yang menuju langsung ke Kademangan Nglawang tanpa melalui Kademangan yang lain lagi. Bulak dihadapan mereka demikian luasnya sehingga seakan-akan mereka tidak dapat melihat tujuan mereka yang berada diseberang bulak itu. Sementara itu panas matahari semakin lama terasa semakin panas menggigit kulit.

Tetapi mereka harus menempuh jalan panjang itu.

Untunglah bahwa disebelah menyebelah jalan, diatas tanggul parit, banyak terdapat pepohonan yang dapat menjadi pelindung bagi mereka yang berjalan menyusuri bulak itu. Beberapa jenis pohon tumbuh. Terbanyak diantaranya adalah pohon-pohon turi. Di beberapa tempat memang tumbuh pohon gayam yang lebih besar dari pohon-pohon turi. Bahkan nampak dua batang pohon randu alas raksasa yang tumbuh disebelah-menyebelah jalan ditengah-tengah bulak itu.

Beberapa orang yang hampir tidak mampu lagi berjalan, telah minta ijin untuk membasahi kepala mereka dengan air yang mengalir di parit dipinggir jalan itu. Air parit yang ternyata sangat jernih itu.

Ki Lurah Dipayuda tidak melarangnya. Namun ia memerintahkan untuk dilakukannya dengan cepat, agar mereka segera sampai di Kademangan yang dituju.

 “Jika pasukan Mataram berhasil menyusul kita ditengah-tengah bulak ini, maka kita semuanya akan ditumpas atau harus menyerah,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

Beberapa orang memang telah menyurukkan kepalanya kedalam air. Bahkan beberapa orang telah minum meskipun hanya seteguk air yang terasa sangat sejuk di tenggorokan.

Sejenak kemudian Ki Lurah Dipayuda itu pun segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak kembali menuju ke Kademangan Nglawang.

Dalam keadaan yang gawat itu, maka ternyata Kademangan Nglawang telah menugaskan anak-anak mudanya untuk mengamati keadaan. Dua orang yang berada di luar pintu gerbang segera melihat iring-iringan itu. Dari kejauhan anak-anak muda itu memang melihat bahwa keadaan pasukan itu agaknya tidak lagi segar sebagaimana pasukan yang akan berangkat berperang.

Salah seorang dari kedua pengawas itu berdesis, “Nampaknya para prajurit Pajang.”

 “Ya. Jumlahnya cukup banyak,” sahut yang lain, “tetapi keadaannya cukup parah.”

 “Laporkan kepada Ki Demang,” desis yang pertama.

 “Aku akan pergi ke banjar. Awasi mereka,” sahut kawannya.

Tanpa menunggu jawaban anak muda itu pun segera menyelinap kebelakang regol, sedangkan yang lain bergeser beberapa langkah menjauhi regol untuk bersembunyi dibalik gerumbul-gerumbul liar. Dengan sungguh-sungguh anak muda itu mengamati iring-iringan yang baru datang.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia yakin bahwa pasukan yang nampaknya dalam kesulitan itu adalah pasukan Pajang. Karena itu, ketika iring-iringan itu menjadi dekat, anak muda itu telah bangkit dari persembunyiannya.

Para prajurit itu memang terkejut. Namun anak muda itu segera berkata, “Bukankah kalian prajurit Pajang? Menilik pakaian dan tanda-tanda yang kalian kenakan, maka kalian memang prajurit Pajang.”

Kasadha lah yang maju mendekatinya sambil menjawab, “Ya. Kami adalah prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Dipayuda. Tetapi Ki Lurah telah terluka ketika ia berusaha melindungi para prajurit yang sedang menyingkir dari medan.”

 “Apakah kalian termasuk prajurit Pajang yang bertempur di Randukerep?” bertanya anak muda itu.

 “Ya,” jawab Kasadha singkat.

 “Marilah. Silahkan memasuki Kademangan kami. Kawanku sedang mencari hubungan dengan Ki Demang,” berkata anak muda itu.

Belum lagi Kasadha menjawab, maka dari dalam regol telah keluar lima orang penghuni Kademangan itu. Seorang diantaranya adalah Ki Bekel dari padukuhan di ujung Kademangan itu.

 “Marilah,” berkata Ki Bekel, “aku persilahkan kalian singgah di banjar. Penghubung kita baru menuju ke Kademangan. Dalam waktu dekat Ki Demang tentu akan segera datang.”

 “Terima kasih,” jawab Kasadha, “aku akan melaporkannya kepada Ki Lurah.”

Ki Lurah Dipayuda yang mendapat laporan dari Kasadha itu pun kemudian berdesis, “Aku akan bertemu dengan Ki Bekel.”

Dengan dibantu oleh Barata dan Kasadha, Ki Lurah telah melangkah perlahan-lahan mendekati orang-orang padukuhan itu, yang antara lain adalah Ki Bekel sendiri. Namun ketika Ki Bekel melihat keadaan Ki Lurah, maka Ki Bekel lah yang dengan tergesa-gesa mendekati.

 “Yang terluka itu adalah Ki Lurah Dipayuda,” berkata Kasadha.

 “Selamat datang di padukuhan kami Ki Lurah,” berkata Ki Bekel.

 “Aku bersyukur bahwa aku telah berada di salah satu padukuhan dari Kademangan Nglawang. Bukankah begitu?” berkata Ki Lurah.

 “Ya Ki Lurah,” jawab Ki Bekel,” Ki Lurah telah berada di Kademangan Nglawang. Kami persilahkan Ki Lurah untuk singgah di banjar. Nampaknya pasukan Pajang ini dalam keadaan yang kurang menguntungkan.”

 “Nanti aku akan memberitahukan apa yang telah terjadi,” berkata Ki Lurah.

 “Baiklah,” berkata Ki Bekel, “sekarang, marilah kita pergi ke banjar. Pasukan ini agaknya memang perlu beristirahat.”

Didahului oleh Ki Bekel maka iring-iringan itu merayap di jalan-jalan padukuhan menuju ke banjar. Namun keadaan pasukan itu memang telah memberikan kesan tersendiri. Orang-orang Nglawang memang menjadi cemas, bahwa Pajang tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

Tetapi seperti yang diketahui oleh Ki Lurah Dipayuda, bahwa orang-orang Nglawang termasuk orang-orang yang setia kepada Pajang. Nglawang memang mempunyai ceritera tersendiri dalam hubungannya dengan Sultan Hadiwijaya dari Pajang, sehingga ikatan antara Nglawang dan Pajang menjadi agak khusus.

Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan itu telah memasuki halaman banjar padukuhan itu. Beberapa orang yang terluka langsung dibawa ke pendapa dan di-baringkannya diatas tikar yang memang telah dibentangkan.

Ternyata para prajurit Pajang itu benar-benar mengalami kelelahan yang sangat. Bahkan lapar dan haus. Karena itu, maka demikian mereka memasuki banjar, maka tanpa menunggu lagi, para prajurit itu pun telah menebar mencari tempat sendiri-sendiri untuk beristirahat. Bukan saja yang terluka, tetapi sebagian dari mereka langsung berbaring dimana saja mereka mendapat tempat.

Ki Lurah Dipayuda sendiri telah berada di pendapa. Namun Ki Lurah tidak ingin berbaring. Ki Lurah hanya duduk saja bersandar tiang. Dengan demikian ia masih dapat melihat keadaan prajuritnya yang tersebar di halaman betapapun ia sendiri merasa sangat lemah.

Kasadha dan Barata serta beberapa pemimpin kelompok yang lain tidak sampai hati untuk memberikan tugas-tugas khusus lagi kepada orang-orangnya yang kelelahan.

Karena itu, maka penjagaan atas banjar itu justru dilakukan oleh mereka berganti-ganti, kecuali para pemimpin kelompok yang terluka.

Ternyata anak-anak muda Nglawang lebih sigap daripada anak-anak muda Kademangan Randukerep. Tanpa mendapat perintah, mereka telah mengatur penjagaan atas banjar itu, membantu para pemimpin kelompok prajurit Pajang.

Sementara itu, dengan cepat pula telah dapat dihidangkan minuman hangat bagi para prajurit. Karena Banjar itu tidak menyediakan mangkuk cukup untuk para prajurit itu, maka yang disediakan bagi mereka adalah beberapa ceret dan dandang berisi wedang sere dengan gula kelapa. Sementara beberapa buah mangkuk harus dipakai bergantian.

Para prajurit yang belum tertidur pun yang mendapat kesempatan pertama untuk minum. Kemudian baru yang terbangun lebih dahulu. Tetapi ternyata semuanya pun akhirnya sempat minum wedang sere sehingga tubuh mereka terasa menjadi lebih segar. Gula kelapa yang terdapat dalam wedang sere itu rasa-rasanya telah memberikan tenaga baru bagi mereka yang menjadi sangat letih itu.

Sementara itu beberapa orang perempuan yang dipanggil ke banjar tengah sibuk menyiapkan makan bagi pasukan yang berada di banjar. Beberapa ekor ayam terpaksa dipotong karena di banjar itu tidak ada persediaan lauk yang lain.

Namun beberapa orang dengan suka rela menyerahkan masing-masing seekor ayam untuk kepentingan itu.

Dalam pada itu, selagi di dapur beberapa orang sibuk di perapian, Ki Demang dan beberapa orang pengiringnya telah datang pula. Dengan cemas Ki Demang mempertanyakan keadaan para prajurit Pajang yang lemah itu.

 “Inilah kenyataan yang terjadi itu,” berkata Ki Lurah, “yang kita harapkan dari Kademangan Randukerep ternyata tidak terwujud. Orang-orang Mataram sudah terlalu lama meracuni kehidupan di Kademangan itu dengan berbagai cara.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Kademangan ini berbeda Ki Lurah. Aku masih yakin bahwa di Kademangan ini, segala-sesuatunya masih dapat dipertanggung jawabkan.”

 “Syukurlah. Setidak-tidaknya untuk sementara kami akan berada di Kademangan ini. Meskipun hal itu akan dapat mengandung kemungkinan, pasukan Mataram akan menyusul kami kemari,” berkata Ki Lurah.

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata, “Jika orang-orang Mataram itu datang kemari, maka ada dua hambatan yang harus mereka pikirkan. Kademangan Traju harus mereka perhitungkan. Meskipun hambatan ini dapat mereka atasi dengan mencari jalan melingkar yang lebih jauh. Kemudian orang-orang Kademangan Nglawang sendiri. Baru kemudian mereka akan berhadapan dengan prajurit-prajurit Pajang. Mudah-mudahan setelah beristirahat barang sebentar, kekuatan prajurit ini akan tumbuh kembali meskipun tidak akan mencapai tataran sebagaimana sebelumnya.”

 “Terima kasih atas kesediaan anak-anak muda Nglawang. Tetapi perlu diketahui bahwa jumlah orang-orang Mataram itu cukup besar,” berkata Ki Lurah.

 “Tetapi orang-orang Mataram itu akan segera ditarik ke Prambanan,” berkata Ki Demang.

 “Darimana Ki Demang mengetahui hal itu?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

 “Di Prambanan pasukan Mataram ternyata jauh lebih kecil dari pasukan Pajang yang sempat dikumpulkan. Itu pun belum terhitung anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan kecil jika mereka diperlukan. Karena itu, menurut perhitunganku, Mataram memerlukan kekuatan yang besar untuk dapat mengimbangi pasukan Pajang,” jawab Ki Demang.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa dari beberapa Kadipaten telah berdatangan para prajurit yang akan membantu Pajang. Karena itu, maka untuk menyeberangi Kali Opak Panembahan Senapati harus berpikir ulang.

Namun perhitungan Ki Demang itu memang masuk akal.

Karena itu, maka Ki Lurah itu pun berkata, “Aku sependapat Ki Demang. Karena itu, biarlah aku dan pasukanku beristirahat disini. Sementara aku akan mengirimkan penghubung ke Pajang.”

 “Silahkan Ki Lurah. Bahkan nanti jika keadaan Ki Lurah sudah menjadi semakin baik, aku akan mempersilahkan Ki Lurah untuk pergi ke banjar Kademangan induk. Tempatnya agak lebih luas dan banjar itu letaknya tidak jauh dari rumahku,” berkata Ki Demang.

 “Terima kasih Ki Demang. Tetapi kami mohon waktu untuk beristirahat disini lebih dahulu,” jawab Ki Lurah Dipayuda.

 “Silahkan. Silahkan. Mana yang baik menurut Ki Lurah,” sahut Ki Demang kemudian.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang berada di dapur telah selesai menyiapkan makanan bagi para prajurit. Tetapi agar pembagian makan itu dapat berjalan dengan tertib, sejalan dengan persiapan yang tergesa-gesa, maka yang dapat dilakukan oleh perempuan-perempuan didapur adalah membungkus nasi itu dengan daun pisang yang dipetiknya di kebun banjar itu dan dikebun beberapa orang tetangga.

Ketika nasi bungkus itu dibagikan, maka para prajurit Pajang yang kelaparan itu merasa telah hidup kembali. Wedang sere dengan gula kelapa yang telah mereka hirup lebih dahulu telah memberikan kesegaran baru bagi para prajurit. Maka nasi itu akan segera menumbuhkan kekuatan mereka kembali.

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam keharusan didalam hatinya melihat prajurit-prajuritnya yang lapar itu makan nasi meskipun sekedar nasi bungkus. Tetapi nasi bungkus itu ternyata cukup memadai.

Ki Lurah Dipayuda sendiri menolak untuk mendapat suguhan khusus. Ia pun minta untuk mendapat pembagian nasi sebagaimana para prajuritnya. Nasi bungkus. Namun nasi bungkus itu rasanya memang menjadi nikmat sekali meskipun hanya dengan lauk sepotong daging ayam dan jangan janggel yang pedas sekali.

Sementara para prajurit Pajang makan, maka Ki Demang sudah memerintahkan untuk menyiagakan para pengawal. Anak-anak muda dan orang-orang yang masih mempunyai kekuatan cukup untuk ikut mempertahankan Kademangan itu apabila diperlukan.

 “Mungkin orang-orang Mataram akan memburu prajurit Pajang yang terpaksa mundur dari medan,” berkata Ki Demang, “karena itu maka kita tidak akan membiarkan mereka sempat menangkap para prajurit. Kita akan membantu para prajurit Pajang itu untuk bertahan. Meskipun para prajurit Mataram telah membawa anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang telah mendapat pengaruhnya, namun kita tidak boleh menjadi gentar. Kita adalah orang yang setia kepada Raja sehingga kita dapat menyerahkan apa saja milik kita untuk melakukan perintahnya.”

Kepada Ki Jagabaya, Ki Demang telah memerintahkan untuk memanggil semua pemimpin kelompok pengawal di Kademangan itu dan memberikan beban tugas kepada mereka.

Ki Jagabaya pun telah melaksanakannya dengan cepat. Ia pun segera memanggil para pemimpin kelompok untuk datang kerumah Ki Demang di sore hari. Sementara itu, Ki Jagabaya telah mengerahkan anak-anak muda dan para pengawal dari padukuhan di ujung Kademangan itu untuk menjaga jika sesuatu terjadi.

Tetapi prajurit-prajurit Mataram tidak segera datang memburu. Hari itu, prajurit Pajang benar-benar dapat beristirahat sepenuhnya dengan makan dan minum yang memadai.

Ketika keadaan nampaknya sudah menjadi tenang, maka Ki Demang pun telah minta diri untuk menyiapkan banjar di Kademangan induk bagi para prajurit Pajang.

Tetapi malam itu Prajurit Pajang masih tetap berada di padukuhan di ujung Kademangan. Namun dengan penuh kewaspadaan, karena prajurit Mataram dapat datang setiap saat.

Para pengawal Kademangan dan anak-anak muda Kademangan Nglawang ternyata telah membantu dengan sepenuh hati. Mereka tidak ingin mengusik para prajurit yang beristirahat. Anak-anak muda itulah yang mengamati keadaan dengan cermat. Bahkan mereka telah bersiaga untuk bertempur jika diperlukan.

Meskipun demikian para pemimpin kelompok tidak menjadi lengah. Merekalah yang bergantian berjaga-jaga didalam banjar. Sementara itu mereka memberi kesempatan para prajuritnya tanpa terkecuali untuk beristirahat sepenuhnya.

Malam itu, Ki Demang telah mempersiapkan banjar kademangan yang lebih besar untuk para prajurit Pajang itu. Karena itu, maka di pagi hari, Ki Jagabaya telah datang untuk menjemput para prajurit itu.

Sebagian para prajurit yang tidak terluka telah menjadi segar kembali. Meskipun masih juga sedikit terasa keletihan itu, namun mereka sudah dapat berbuat apa saja sebagai seorang prajurit.

Ketika para prajurit itu kemudian pindah dari banjar padukuhan di ujung Kademangan ke banjar di padukuhan induk, maka Ki Dipayuda telah memerintahkan dua orang penghubung untuk pergi ke Pajang.

 “Tidak ada orang yang lebih baik dari Barata dan Kasadha,” berkata Ki Dipayuda kepada kedua orang anak muda itu.

Keduanya tidak ingkar akan tugas mereka. Apalagi ketika kemudian ternyata Ki Demang telah meminjamkan dua ekor kuda bagi mereka.

 “Hubungi pimpinan Wira Tamtama. Perintah apa yang harus kita lakukan lagi. Jangan disembunyikan kegagalan kita di Kademangan Randukerep. Jika harus digantung karena kegagalan itu, biar aku yang menjalaninya,” perintah Ki Lurah Dipayuda.

 “Apakah Ki Lurah dapat dihukum karena kegagalan kita itu? Bukankah Ki Lurah mengambil kebijaksanaan itu dengan perhitungan yang paling baik bagi para prajurit Pajang?” bertanya Barata.

Ki Lurah tersenyum. Jawabnya, “Tidak. Memang tidak. Tetapi para pemimpin di Pajang memang sedang mengalami goncangan-goncangan jiwani. Apalagi setelah beberapa orang diantara mereka menyeberang ke Mataram.”

Kedua anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Kasadha berkata, “Kami akan menjelaskan selengkapnya apa yang telah terjadi.”

Demikianlah, pada hari itu juga, maka kedua orang anak muda itu telah berangkat ke Pajang. Dengan kuda yang meskipun tidak begitu besar, tetapi cukup memadai untuk mempercepat perjalanan keduanya menyusuri bulak-bulak ditengah sawah serta jalan-jalan padukuhan.

Ketika keduanya berangkat, maka Ki Lurah Dipayuda telah bersepakat dengan Ki Demang untuk mengirimkan orang yang mungkin dapat menyadap keterangan tentang orang-orang Mataram di Randukerep.

 “Biarlah aku menugaskan orang yang mempunyai saudara yang tinggal di Kademangan Traju,” berkata Ki Demang, “mudah-mudahan mereka dapat mencari jalan untuk mengetahui kedudukan para prajurit Mataram di Kademangan Randukerep.”

 “Terima kasih Ki Demang,” jawab Ki Lurah, “hal ini akan sangat penting artinya bagi para prajurit Pajang disini.”

Seperti yang dikatakan, maka Ki Demang telah minta Ki Jagabaya menghubungi para pengawal yang mungkin untuk melakukan tugas itu.

Sebagaimana kedua orang prajurit yang bertugas ke Pajang hari itu, maka pada hari itu juga Ki Jagabaya telah menemui seorang pengawal yang mempunyai keluarga di Kademangan Traju.

 “Pergilah ke pamanmu di Traju itu,” perintah Ki Jagabaya, “kemudian usahakan untuk mendengar berita tentang Randukerep. Apakah para prajurit Mataram sudah menduduki dan menetap di Kademangan itu. Jika kau tidak dapat langsung menyadap peristiwa di Kademangan Randukerep, maka kau dapat minta tolong orang-orang Traju. Tetapi berhati-hatilah. Sekarang tidak semua orang Traju dapat dipercaya sebagaimana orang Randukerep, meskipun agaknya Traju masih belum separah Randukerep.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa tugas itu bukannya tugas yang ringan. Tetapi ia pun menjawab dengan tegas, “Aku akan melakukannya Ki Jagabaya. Besok aku akan kembali dengan keterangan itu. Aku masih yakin bahwa paman di Traju masih tetap berpijak pada landasan yang sama sebagaimana kita sekarang ini.”

 “Syukurlah,” berkata Ki Jagabaya kemudian, “pergilah. Hati-hati. Banyak perubahan telah terjadi, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah kita perhitungkan sebelumnya akan dapat terjadi.”

Demikianlah, dengan kelengkapan seorang yang pergi ke sawah, maka pengawal itu telah memasuki bulak panjang untuk menuju ke Kademangan Traju. Untuk beberapa saat pengawal itu memang berhenti dan mengamati keadaan sebelum memasuki Kademangan Traju. Baru kemudian ia mengambil keputusan untuk memasuki Kademangan itu.

Disimpannya alat-alatnya di sebuah gubug kecil ditengah sawah. Setelah membenahi pakaiannya, maka ia pun telah melangkah dengan hati yang tetap, menyusuri bulak-bulak persawahan di Kademangan Traju menuju kerumah pamannya.

Sementara itu, Barata dan Kasadha masih berada dalam perjalanan menuju ke Pajang. Mereka memang harus berhati-hati. Lebih-lebih lagi bagi Kasadha. Kemungkinan yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan perang antara Pajang dan Mataram akan dapat terjadi. Bagaimanapun juga Kasadha masih mencemaskan orang-orang yang untuk waktu yang tidak ada batasnya memburunya karena ia adalah anak Warsi dan dianggap pula anak Ki Rangga Gupita. Jika mereka hadir pula dalam ujud apapun, berarti bahwa orang-orang Jipang yang tersisa akan ikut membuat para prajurit Pajang menjadi sibuk.

Namun bagi dirinya sendiri, akan dapat berarti hambatan bagi tugas-tugasnya sebagai prajurit Pajang, bahkan mungkin lebih dari itu.

Tetapi Kasadha tidak dapat mengatakannya kepada Barata, karena Kasadha tidak tahu pasti latar belakang kehidupan Barata sebagaimana sebaliknya.

Angan-angan itu agaknya telah membuat Kasadha merenung. Bahkan seakan-akan ia lupa bahwa ia menempuh perjalanan bersama Barata.

Karena itu, maka Kasadha itu pun terkejut ketika ia mendengar Barata bertanya, “Ada yang kau pikirkan?”

 “O,” Kasadha memang agak tergagap. Lalu katanya, “Ya. Perang ini. Aku mencoba membayangkan kesudahannya.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak seorang pun yang dapat menebak kesudahannya. Pajang memang didukung oleh beberapa Kadipaten. Bahkan mereka telah membawa pasukan mereka masing-masing. Tetapi Kangjeng Sultan sendiri bersikap kurang meyakinkan, Bagaimanapun juga, menurut beberapa orang yang sudah lama mengabdi dilingkungan keprajuritan Pajang, Panembahan Senapati adalah putera angkat Kangjeng Sultan yang sangat dikasihinya.”

Kasadha mengangguk-angguk. Hampir kepada diri sendiri ia berdesis, “Bagaimana mungkin seorang anak melawan orang tuanya sendiri.” Tetapi diluar sadarnya ia menjawab sendiri pertanyaan itu, “Namun kemungkinan itu memang ada jika keadaan memang memaksa. Masalahnya adalah alasan apakah yang memaksa anak itu menentang orang tuanya.”

 “Siapa yang menentang orang tuanya?” bertanya Barata yang tidak memahami kata-kata Kasadha yang agaknya memang tidak ditujukan kepadanya.

Namun pertanyaan itu telah membuat Kasadha tergagap. Untunglah bahwa ia pun cepat menguasai perasaannya dan menjawab, “Panembahan Senapati telah menentang ayahandanya sendiri, meskipun ayahanda angkat. Tetapi bukankah Kangjeng Sultan Hadiwijaya menganggap Panembahan Senapati yang sebelumnya bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu seperti putera sendiri? Namun Panembahan Senapati tentu mempunyai alasan tersendiri, kenapa ia harus memberontak kepada ayahandanya.”

Barata mengerutkan keningnya. Jarang sekali terjadi perselisihan pendapat antara keduanya. Namun yang dikatakan oleh Kasadha itu agak kurang mapan di hati Barata. Karena itu, maka ia pun berkata, “Alasan apapun yang dikemukakan oleh Panembahan Senapati, bukankah sebaiknya ia bersikap baik dan hormat kepada ayahandanya? Yang juga rajanya dan menurut kata orang-orang yang dekat, juga gurunya.”

Kasadha memang merasa sedikit tersesat dengan kata-katanya. Tetapi ia tidak dapat mengatakan tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang tuanya. Karena itu, maka dengan serta merta ia menjawab, “Ya. Memang sayang. Maksudku, apakah sebenarnya alasan Panembahan Senapati itu sehingga ia telah berani menentang ayahandanya.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia segera melupakannya. Apalagi ketika debu mulai berhamburan oleh angin yang tiba-tiba saja menjadi semakin kencang. Perhatiannya sepenuhnya ditujukan pada perjalanannya yang masih cukup panjang.

Dalam perjalanan itu kedua orang anak muda itu telah mendapat kesan yang suram atas Pajang. Padukuhan-padukuhan terasa sepi. Gema perang telah bergaung di mana-mana. Bahkan rasa-rasanya orang-orang Pajang yang memiliki prajurit lebih banyak dari Mataram itu merasa kecut hatinya.

Tetapi dalam keprihatinan itu, ada saja orang yang memanfaatkan keadaan bagi kepentingan diri sendiri. Di siang hari yang cerah, dan disaat matahari memancar dengan sinarnya yang menyengat, sekelompok orang yang garang telah melakukan perampokan yang kasar disebuah padukuhan. Memang terdengar suara kentongan dalam nada titir, tetapi orang-orang padukuhan menjadi ragu-ragu. Apakah itu bukan pertanda perang?

Barata dan Kasadha yang mendengar suara kentongan itu telah memperlambat derap kaki kudanya. Mereka sudah berada di daerah yang sepenuhnya masih dikuasai Pajang sebagaimana Kademangan Nglawang. Bahkan kedudukannya saat itu jauh lebih menjorok kedalam, mendekati Pajang itu sendiri.

 “Kau dengar isyarat kentongan,” desis Barata.

 “Ya,” jawab Kasadha, “dengan nada titir.”

 “Apakah ada kejahatan disiang hari begini?” desis Batara, “atau peristiwa lain? Tentu bukan kebakaran, karena jika terjadi kebakaran, maka isyaratnya bukan titir. Tetapi tiga-tiga ganda.”

Kasadha pun termangu-mangu. Tetapi ia tidak segera menjawab. Namun telah tumbuh kecemasan didalam hatinya. Jika benar terjadi kejahatan, sedangkan orang-orang yang melakukan kejahatan itu adalah bekas prajurit Jipang atau orang-orang lain yang telah mengenalnya, maka keadaannya tentu akan menjadi rumit baginya.

Sementara itu Barata tiba-tiba saja berkata, “Marilah. Kita akan melihat, apakah yang telah terjadi.”

Tetapi Kasadha masih saja merasa ragu-ragu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Apakah kita tidak akan terperangkap dalam peristiwa yang lain sebelum kita menyelesaikan tugas kita?”

Barata pun menjadi ragu-ragu. Tetapi katanya, “Kita hanya akan melihat, apakah yang terjadi. Seandainya terjadi kejahatan, bukankah juga menjadi kewajiban kita untuk menyelesaikan-nya?”

 “Jika kita menangkap sekelompok penjahat, apa yang akan dapat kita lakukan atas mereka?” bertanya Kasadha.

Barata memang harus berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita serahkan kepada Ki Demang. Mereka akan diikat di banjar. Jika kita sampai di Pajang, kita akan melaporkannya agar sekelompok prajurit menyelesaikan mereka.”

Kasadha menjadi gelisah. Barata jarang melihat kegelisahan yang begitu mengganggu anak muda itu. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau berkeberatan, kita selesaikan lebih dahulu tugas kita. Tetapi isyarat itu agaknya merupakan jerit minta pertolongan.”

Adalah diluar dugaan Barata ketika Kasadha kemudian justru berkata, “Marilah. Kita lihat sebentar. Mudah-mudahan tugas kita tidak akan banyak terhambat karenanya.”

Barata lah yang menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak boleh merajuk seperti anak-anak dan menolak ajakan itu.

Berdua mereka telah memacu kuda mereka menuju ke padukuhan yang tengah digetarkan oleh suara kentongan. Untunglah mereka mendengar isyarat yang mula-mula terdengar, sehingga keduanya mengerti sumber dari isyarat itu.

Padukuhan itu memang tidak terlalu jauh. Namun sambil berpacu Kasadha masih saja dibayangi oleh kemungkinan buruk jika mereka bertemu dengan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Ketika keduanya sampai di padukuhan yang menjadi sumber isyarat itu, ternyata bahwa padukuhan itu nampak sepi. Memang terdengar suara kentongan dari beberapa tempat yang tersebar. Tetapi nampaknya orang-orang yang membunyikan kentongan itu telah dibayangi oleh ketakutan, karena ternyata mereka tidak melakukannya di tempat terbuka. Suara kentongan itu pun tidak berkepanjangan terus-menerus. Tetapi suara itu terdengar tersendat-sendat. Ganti-berganti dari satu tempat, ketempat lain.

 “Ada suasana ketakutan disini,” berkata Barata, “tidak seorang pun yang keluar dari rumahnya untuk mengatasi persoalan yang mereka isyaratkan dengan kentongan.”

 “Ya,” desis Kasadha yang keduanya berkuda dengan lambat di jalani padukuhan itu.

 “Bagaimana dengan para pengawal disini?” gumam Barata. Tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah, kita pergi ke banjar.”

Kasadha tidak menjawab. Tetapi keduanya telah menelusuri jalan padukuhan itu, sehingga mereka sampai ke banjar.

Ketika keduanya memasuki regol halaman banjar padukuhan, ternyata mereka melihat beberapa orang berada di banjar itu. Diantaranya adalah anak-anak muda.

Yang berada dibanjar itu pun terkejut. Ketika serentak mereka bangkit dan bersiap, Barata dan Kasadha telah meloncat turun dari kuda mereka.

 “Apa yang terjadi?” bertanya Barata.

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka bertanya, “Apakah kalian prajurit Pajang?”

 “Ya,” jawab Barata, “kami adalah prajurit Pajang.”

 “Hanya berdua?” bertanya yang lain.

 “Hanya berdua. Kenapa?” justru Barata lah yang bertanya. Bahkan ia pun bertanya lebih lanjut, “Isyarat apakah yang terdengar itu?”

 “Perampokan,” jawab salah seorang diantara para pengawal, “adalah kebetulan bahwa telah datang prajurit Pajang yang mungkin dapat melindungi kami.”

 “Melindungi? jadi apa artinya kalian disini? Apakah kalian sama sekali tidak berusaha untuk berbuat sesuatu?” bertanya Barata.

 “Perampok itu berilmu tinggi. Kami tidak akan dapat mengimbangi mereka. Jika kami memaksa diri untuk berbuat sesuatu, maka akan jatuh korban sia-sia, sementara tenaga kami diperlukan untuk menghadapi kemungkinan lain yang lebih buruk,” jawab salah seorang pengawal.

 “Apakah kemungkinan lain yang kalian maksud itu?” bertanya Barata.

 “Kedatangan orang-orang Mataram,” jawab pengawal itu.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Sementara Kasadha bertanya, “Jika kalian harus mempertahankan padukuhan kalian dari serangan orang-orang Mataram, apakah itu berarti bahwa kalian atan membiarkan saja para perampok itu menguras habis kekayaan di padukuhan ini?”

 “Tetapi mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi,” jawab pengawal itu.

 “Dan orang-orang Mataram?” bertanya Kasadha.

 “Jika orang Mataram datang, maka para prajurit Pajang tentu akan hadir juga. Kami akan bersama-sama menghalau mereka,” jawab pengawal itu.

 “Kalian tidak berpikir menyeluruh bagi keselamatan padukuhan kalian. Sekarang tunjukkan, dimana perampokan itu terjadi,” desis Kasadha.

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun orang yang sudah lebih tua daripadanya berkata, “Kita akan mengikuti para prajurit. Bersama para prajurit Pajang kita akan dapat mengatasinya.”

 “Hanya dua orang prajurit,” desis pengawal itu.

 “Terserah kepada kalian,” berkata Kasadha, “apakah kalian memiliki kecintaan kepada kampung halaman kalian atau tidak. Jika masih ada setitik keberanian untuk mencintai kampung halaman, ikut aku.”

Para pengawal itu memang ragu-ragu. Tetapi orang yang tertua diantara mereka berkata, “Marilah. Kita akan pergi dan membantu para prajurit.”

 “Bukan kalian membantu kami, tetapi kami akan membantu kalian, meskipun seandainya tanpa kalian,” berkata Kasadha.

Tetapi ketika orang yang tertua itu tegak berdiri, maka para pengawal yang lain pun telah melangkah mendekat.

 “Mari,” berkata yang tertua itu, “siapa ikut aku. Selama ini kita tidak berani berbuat apa-apa. Beberapa kali aku berusaha mengajak kalian. Tetapi aku tidak pernah berhasil. Sekarang perampok itu kembali lagi dan kita mendapat dua orang kawan dari lingkungan keprajuritan. Mudah-mudahan kali ini kita dapat membuat perhitungan dengan mereka. Aku akan pergi bersama kedua orang prajurit Pajang ini. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan ikut atau tidak.”

Barata dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Ternyata masih ada diantara orang-orang padukuhan itu yang memiliki keberanian. Namun agaknya selama ini ia tidak mempunyai kawan yang dapat mengimbangi keberaniannya untuk bertindak, sehingga akhirnya ia pun tidak berbuat apa-apa.

Tanpa menghiraukan orang lain, maka orang itu pun berkata kepada Barata dan Kasadha, “Marilah. Kita akan menemui para perampok itu.”

 “Kalian tahu dimana mereka merampok sekarang?” bertanya Barata.

 “Aku tahu. Suara kentongan itu dari arah sebelah kiri dari regol halaman ini. Orang kaya yang tinggal di-daerah itu dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Kita akan segera menemukan mereka,” berkata orang tertua itu. Lalu katanya pula, “tinggalkan saja kuda kalian disini.”

Barata dan Kasadha memang akan meninggalkan kuda-kuda mereka di halaman banjar itu. Keduanya pun kemudian telah mengikuti orang tertua diantara para pengawal yang telah berjalan lebih dahulu. Sebuah parang yang besar terselip di pinggangnya.

Namun diluar regol itu sempat berhenti dan berteriak, “Jangan pergi semuanya. Ampat orang tinggal di banjar ini.”

Ampat orang yang terakhir telah mengurungkan niatnya untuk ikut bersama orang itu. Mereka berhenti di regol dan akhirnya mereka telah melangkah masuk kembali. Mereka merasa beruntung bahwa mereka tidak perlu ikut menangkap perampok-perampok itu, karena mereka tahu bahwa perampok-perampok itu berilmu tinggi. Ketika perampokan yang pertama terjadi maka usaha untuk menangkap mereka telah gagal. Bahkan tiga orang diantara para pengawal telah terluka. Namun mereka masih mengulangi usaha untuk menangkap perampok-perampok itu kemudian ketika terjadi perampokan lagi diujung padukuhan. Tetapi dua orang terluka parah. Seorang justru menjadi cacat.

Demikian pula ketika terjadi perampokan di padukuhan yang lain. Ternyata anak-anak muda di padukuhan itu juga sia-sia saja menangkap perampok itu. Perampok itu telah meninggalkan orang yang terluka. Bahkan di padukuhan sebelah, seorang yang terluka tidak berhasil ditolong lagi. Seorang korban telah meninggal ketika mereka berusaha untuk menangkap perampok itu.

Sejak itu, maka anak-anak muda seakan-akan menjadi jera untuk menghalangi perampokan-perampokan yang terjadi. Juga saat itu. Meskipun ada diantara mereka yang masih berani dengan bersembunyi-sembunyi memukul kentongan.

Ternyata orang tertua diantara para pengawal itu telah berusaha untuk membangkitkan perlawanan dari orang-orang padukuhan. Sepanjang jalan orang itu berteriak-teriak, “Pukul kentongan terus. Kami akan menangkap perampok itu.”

Tiba-tiba saja Kasadha bertanya, “Bagaimana dengan Ki Bekel di padukuhan ini?”

Orang tertua itu menjawab, “Ki Bekel sedang sakit. Ia memang sudah sangat tua untuk jabatannya. Ia memang mempunyai anak laki-laki. Tetapi anaknya sama sekali tidak tertarik akan tugas-tugas ayahnya. Ia lebih senang berada di arena sabung ayam atau putaran judi yang lain. Sebenarnya umur Ki Bekel masih belum enampuluh. Tetapi ia sudah nampak jauh lebih tua dari umurnya itu justru karena ia memikirkan anak laki-lakinya.”

 “Apakah ia satu-satunya anak Ki Bekel?” bertanya Kasadha.

Ki Bekel mempunyai lima orang anak. Tetapi diantaranya hanya ada seorang anak laki-laki,” jawab orang tertua diantara para pengawal itu.

 “Apakah ia sudah mempunyai seorang atau lebih menantu laki-laki?” bertanya Kasadha pula sambil melangkah terus menuju ke tempat yang diduga menjadi sasaran perampokan.

“Sudah ada dua orang menantu laki-laki,” jawab orang itu.

“Apakah menantunya juga tidak berminat kepada tugas-tugas mertuanya?” bertanya Kasadha lebih lanjut.

“Ada rasa segan. Tetapi perlu kau ketahui, salah seorang diantara menantunya itu adalah aku,” jawab orang itu.

“O” Kasadha mengangguk-angguk.

Demikianlah, maka mereka telah menjadi semakin dekat dengan rumah salah seorang yang mungkin menjadi sasaran perampokan. Suara kentongan yang pertama kali terdengar rasa-rasanya datang dari rumah itu, meskipun segera terdiam. Untunglah ada seorang yang lain yang tidak diketahui telah memberanikan diri untuk memukul kentongan pula sambil bersembunyi yang disahut oleh tiga atau ampat orang yang lain.

Tetapi teriakan-teriakan orang itu ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Suara kentongan itu tidak semakin bertambah dan menjalar, tetapi semakin lama maka seakan-akan telah dibungkam oleh perasaan takut dan cemas.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di depan sebuah regol rumah yang berhalaman luas. Rumah yang sekilas sudah dapat diketahui, bahwa rumah itu adalah milik seorang yang memiliki kelebihan dari tetangga-tetangganya.

Sejenak iring-iringan itu termangu-mangu. Namun kemudian Kasadha dan Barata tidak sabar lagi. Keduanya telah meloncat memasuki halaman rumah itu dan langsung naik, kependapa.

Perhitungan para pengawal tidak salah. Ada beberapa rumah orang kaya di jalur jalan itu. Satu diantaranya pernah didatangi perampok. Sedangkan rumah itu adalah rumah yang dapat dianggap lebih besar dan lebih baik dari rumah yang pernah dirampok itu. Ternyata perampok-perampok itu tidak datang dimalam hari sebagaimana pernah mereka lakukan. Tetapi mereka telah mendatangi padukuhan itu disiang hari dengan beraninya, karena mereka yakin anak-anak muda di padukuhan itu tidak akan berani lagi mengganggu mereka.

Namun para perampok itu terkejut, ketika mereka menyadari, sekelompok anak-anak muda bersenjata telah memasuki halaman rumah itu.

Seorang diantara para perampok yang tinggal diluar untuk mengamati keadaan, segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang ada didalam.

 “Setan,” geram pemimpin perampok itu, “siapakah yang masih berani mengganggu kita? Aku akan membuat mereka benar-benar jera. Aku akan melukai semua orang yang datang dan membunuh beberapa diantaranya. Orang yang pertama menyerang kita akan mati.”

Kawan-kawannya pun telah bersiap pula. Namun pemimpin perampok itu masih membentak kepada pemilik rumah yang telah dikumpulkan sekeluarga diruang tengah, “Jangan melakukan sesuatu yang dapat memancing kemarahan kami. Satu sabetan pedang, seorang diantara kalian akan mati.”

Orang-orang yang ketakutan itu sama sekali tidak menjawab. Sementara itu pemimpin perampok itu memerintahkan seorang diantara mereka untuk menjaga orang-orang itu.

 “Awasi mereka dengan baik. Kau tidak boleh mempertimbangkan perasaan belas kasihan. Kau harus bertindak tegas, agar tugas kita mendatang menjadi lebih ringan,” berkata pemimpin perampok itu, “apalagi sekarang ternyata masih ada orang-orang gila yang mencoba untuk mencampuri urusannya.”

 “Baik Ki Lurah,” jawab perampok yang mendapat perintah itu. Ia memang lebih senang menunggui orang-orang yang ketakutan itu daripada harus ikut berkelahi melawan anak-anak muda, karena hari itu ia sedang malas membunuh. Hari itu, hari Rabo Legi adalah hari kelahirannya.

Sejenak kemudian maka pemimpin perampok itu telah melangkah keluar diikuti oleh orang-orangnya.

Sementara itu, Barata, Kasadha dan beberapa orang anak muda dari padukuhan itu telah berdiri pula dihalaman menghadap kependapa.

Karena itu, maka demikian para perampok itu keluar dari pintu pringgitan maka Barata telah berkata lantang, “Atas nama kekuasaan Pajang, menyerahlah.”

Pemimpin perampok itu memang terkejut. Ternyata di halaman itu telah berdiri dua orang prajurit Pajang bersama beberapa orang anak muda yang bersenjata. Namun sejenak kemudian pemimpin perampok itu tersenyum. Katanya, “Ternyata hanya ada dua orang prajurit Pajang menilik pakaiannya. Dua orang prajurit itu telah mencoba untuk membangkitkan keberanian anak-anak muda padukuhan ini.”

Barata sekali lagi berkata, “Sekali lagi perintahkan kepada kalian. Atas nama kekuasaan Pajang, menyerahlah.”

Pemimpin perampok itu tertawa, semakin lama semakin keras. Katanya disela-sela derai tertawanya, “Kau tentu seorang prajurit yang baru. Kau masih sangat muda. Karena itu, kau mempunyai keberanian yang melampui keberanian para prajurit yang sudah berpengalaman. Mereka yang sudah berpengalaman tentu tahu, bahwa langkah-langkah sebagaimana kau lakukan itu adalah langkah-langkah yang berbahaya.”

 “Jangan merendahkan kami,” sahut Barata, “apapun alasan kami, tetapi kami adalah alat kekuasaan Pajang. Karena itu kalian harus mematuhi perintah kami, atau kami akan mempergunakan wewenang kami.”

Tetapi pemimpin perampok itu justru tertawa semakin keras. Katanya, “Sudahlah. Pergilah. Aku tidak akan menganggapmu bersalah jika kau pergi sekarang.”

 “Cukup,” Kasadha lah yang membentak, “kau memuakkan kami.”

Wajah orang itu berkerut. Dengan wajah yang mulai tegang ia berkata, “Jadi kalian benar-benar ingin menangkap kami?”

 “Jika perlu membunuh kalian,” jawab Kasadha, “karena itu menyerahlah.”

 “Diam,” bentak orang itu, “kalian juga memuakkan sekali.”

Barata dan Kasadha dengan serta merta telah melangkah mengambil jarak. Sementara itu, orang tertua diantara para pengawal itu pun telah bersiap.

 “Siapa yang masih ingin melihat matahari esok pagi terbit, tinggalkan tempat ini. Aku akan membunuh mereka yang masih tetap berada di dalam regol halaman rumah ini. Aku tidak mempunyai waktu banyak. Karena itu, cepat, lakukan. “ orang itu hampir berteriak.

Tetapi Barata dan Kasadha justru melangkah mendekat. Dengan lantang pula Kasadha berkata, “Ternyata kami harus memaksakan kekuasaan kami dengan kekerasan.”

Pemimpin perampok itu menggeram. Namun tiba-tiba seorang diantara mereka melangkah mendekati pemimpinnya itu sambil berkata, “Puguh. Anak itu adalah Puguh.”

Jantung Kasadha bagaikan meledak. Ia benar-benar terkejut. Hampir saja ia kehilangan pengendalian diri dan bertindak dengan tergesa-gesa tanpa penalaran. Namun sekali lagi ia terkejut ketika orang itu justru menunjuk Barata.

Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Dipandanginya Barata dengan saksama. Kemudian terdengar suaranya berat, “Puguh anak Rangga Gupita dan perempuan liar dari keluarga Kalamerta itu?”

 “Ya,” jawab orang itu.

Tetapi orang yang lain telah meloncat maju sambil berkata, “Apakah matamu sudah rabun. Yang satu itulah Puguh. Yang tua. Bukan yang muda.”

 “Setan kalian,” geram pemimpin perampok itu, “ternyata kalian tidak mampu mengingat apa yang pernah kalian lihat.” ia berhenti sejenak, lalu, “apakah kalian pernah melihat Puguh?”

 “Pernah,” jawab orang yang menunjuk Barata, “beberapa tahun yang lalu disarangnya.”

 “Bukankah kau bersama aku pada waktu itu? Sayang kita tidak berhasil menemukannya lagi selama ini,” sahut yang lain.

 “Ya. Kita bersama-sama. Tetapi Puguh adalah yang muda itu,” berkata yang pertama.

Tetapi yang tua tetap menjawab, “Bukan. Puguh adalah yang tua.”

 “Kalian sudah gila,” geram Kasadha yang telah berhasil menguasai perasaannya kembali, “namaku Kasadha dari kesatuan prajurit Pajang. Kawanku ini bernama Barata. Kami bersama-sama berada dalam kesatuan yang sama. Kami sama sekali tidak pernah mendengar nama sebagaimana kalian sebutkan.”

Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Tetapi tiba-tiba ia membentak orang-orangnya, “Kalian sudah gila. Kalian telah dibayangi oleh mimpi buruk selama ini.” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi biarlah. Kita akan melihat siapakah diantara mereka yang bernama Puguh. Keduanya memang mirip. Mungkin keduanya itu kakak beradik. Kita harus menangkap keduanya.”

 “Cukup,” bentak Kasadha, “jangan mengigau seperti itu. Sekali lagi aku peringatkan. Menyerahlah. Atau kami akan mempergunakan kekerasan.”

Pemimpin perampok itulah yang kemudian berteriak, “Kalian saja menyerah. Jika kalian melakukan kesalahan dan kalian pertanggungjawabkan sendiri, itu bukan soal. Tetapi sekarang kau bawa anak-anak muda padukuhan ini yang tidak tahu apa-apa bersama kalian. Apalagi jika salah seorang diantara kalian benar-benar Puguh seperti yang dikatakan, karena tidak mungkin kalian kedua-duanya adalah Puguh.”

Namun dengan nada rendah Barata berdesis, “Siapakah sebenarnya Puguh itu sehingga menjadi buruan para perampok? Aku memang pernah dipaksa untuk menyerah karena aku disangka Puguh.”

 “Kau?” bertanya Kasadha.

 “Ya. Seperti sekarang ini. Sedangkan aku sama sekali tidak mengenal Puguh. Sekarang giliranmu juga disangka Puguh. Mungkin setiap anak muda pada suatu saat akan disangka Puguh,” desis Barata. Namun Barata sendiri tidak dapat mengatakan sesuatu yang telah diketahuinya tentang Puguh itu, karena ia tidak menyatakan dirinya berterus terang sebagai seorang anak laki-laki Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang bernama Risang.

 “Orang-orang itu sudah dimabukkan oleh bayangan di kepala mereka sendiri,” berkata Kasadha.

Namun dengan demikian Kasadha berkepentingan untuk menangkap orang-orang itu secepat mungkin dan menitipkan mereka di padukuhan itu dalam keadaan terikat. Sementara berdua Kasadha akan melaporkannya ke Pajang. Jika orang-orang itu masih sempat berbicara, maka uraian mereka tentang Puguh tentu akan berkepanjangan.”

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Sekarang, menyerahlah.”

Pemimpin perampok itu tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun telah memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bergerak. Bahkan dengan nada berat ia berkata, “Tangkap Puguh hidup-hidup.”

 “Yang mana?” bertanya seorang pengikutnya.

 “Kedua-duanya,” jawab orang itu.

Kasadha dan Barata pun segera bersiap. Ketika ia berpaling kepada menantu Ki Bekel, maka ternyata orang itu pun telah bersiap pula. Tetapi mereka masih melihat anak-anak muda yang mengikuti mereka merasa ragu-ragu.

 “Perintahkan orang-orangmu,” berkata Kasadha, “jangan melawan seorang lawan seorang. Jumlah kita lebih banyak.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk. Ia pun kemudian berteriak, “Marilah kita tunjukkan kecintaan kita kepada kampung halaman ini. Orang yang dirampok ini telah banyak memberikan sumbangan bagi kesejahteraan padukuhan ini. Usahakan jangan ada seorang pun yang bertempur seorang diri melawan para perampok. Carilah pasangan masing-masing. Cepat.”

Anak-anak muda itu memang mulai bergerak. Sementara itu, Kasadha telah meloncat kearah para perampok yang mulai bergerak, justru hampir bersamaan dengan saat pemimpin perampok itu meloncat menyerang Barata.

Sejenak kemudian, maka pertempuran telah terjadi. Barata harus bertempur melawan pemimpin perampok itu, sementara Kasadha mendapat lawan seorang yang bertubuh raksasa, yang justru menyebutnya sebagai Puguh.

Sementara itu menantu Ki Bekel itu pun telah menyerang bersama anak-anak muda yang semula masih saja ragu-ragu. Tetapi ketika mereka melihat kedua orang prajurit Pajang itu sama sekali tidak merasa gentar disusul oleh menantu Ki Bekel, maka mereka pun telah menghambur pula sambil mengacu-acukan senjata mereka. Namun seperti yang dipesankan oleh menantu Ki Bekel, bahwa mereka harus berpasangan.

Jumlah anak-anak muda itu memang lebih banyak. Sementara itu, masih ada beberapa orang anak muda yang mendekati tempat itu setelah mereka melihat iring-iringan mendekati dan memasuki halaman dipimpin oleh dua orang prajurit Pajang.

Namun mereka yang tidak segera berani memasuki arena, telah mengambil langkah yang lain. Mereka berlari ke rumah yang terdekat untuk membunyikan kentongan dengan nada titir.

Ternyata di kejauhan terdengar lagi suara kentongan’ menyambutnya. Semakin lama semakin banyak. Karena suara kentongan yang pertama itu tidak lagi tersendat-sendat, maka kentongan-kentongan yang menyambut pun tidak lagi merasa ragu-ragu.

Suara kentongan itu memang berhasil mempengaruhi suasana. Para perampok itu merasa sangat terganggu oleh suara kentongan itu. Bahkan seorang diantara mereka berteriak, “Suruh kentongan itu diam. Jika nanti aku tahu siapa yang membunyikannya, setelah aku membunuh orang-orang yang menjadi gila disini, aku akan membunuh mereka.”

Tetapi Barata lah yang menjawab sambil bertempur, “Kau yang telah menjadi gila.”

 “Persetan,” pemimpin perampok yang melawannya itu berteriak.

Demikianlah, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Ternyata Barata dan Kasadha yang telah memiliki bekal ilmu yang kuat, sementara itu mereka telah ditempa pula dalam kehidupan keras seorang prajurit, maka mereka telah menjadi garang pula.

Pemimpin perampok itu memang terkejut ketika ia mengalami perlawanan Barata. Anak yang masih sangat muda, serta kedudukannya sebagai prajurit kebanyakan itu, ternyata memiliki ilmu yang mapan.

Karena itu, maka pemimpin perampok itu harus mengerahkan kemampuannya untuk berusaha menundukkan Barata.

Tetapi Barata memang mampu mengimbanginya. Betapapun pemimpin perampok itu berusaha menekannya, namun Barata selalu dapat terlepas dari sasaran serangannya.

 “Iblis manakah yang telah merasuk kedalam diri anak ini,” geram pemimpin perampok itu.

Barata sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia menjadi semakin garang menekan lawannya, justru pada saat lawannya merasakan kesulitan untuk menundukkannya.

Pemimpin perampok itu memang terkejut mengalami tekanan yang semakin berat sehingga justru ia telah terdesak surut. Namun dengan demikian tiba-tiba saja ia berkata, “Ternyata kau benar-benar Puguh, anak Warsi. Kau agaknya telah mewarisi ilmu serigalanya yang akan mencapai puncak kekuatannya disaat purnama naik.”

 “Gila,” geram Barata, “aku bukan Puguh.”

 “Kau dapat saja ingkar,” geram pemimpin perampok itu.

Kasadha yang juga mendengar percakapan itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi hatinya menjadi agak lapang ketika Barata menjawab, “Tutup mulutmu. Aku belum pernah mendengar nama itu. Apalagi mengenalnya. Jika kau mampu menilai ilmu, apakah kau melihat unsur-unsur gerak ilmu serigala itu pada unsur-unsur gerakku?”

Pemimpin perampok itu justru terdiam. Ia memang tidak mampu menilai ilmu lawannya. Apalagi menghubungkan dengan ilmu yang dimilikinya oleh Warsi, seorang perempuan yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun dalam pada itu, keduanya telah bertempur semakin sengit. Perampok yang mulai menjadi cemas itu benar-benar telah mengerahkan kemampuannya.

Sementara itu, Kasadha telah semakin mendesak lawannya pula. Ketika ia mendapat kesempatan, maka sambil menekan lawannya semakin ketat ia bertanya, “Siapakah Puguh itu?”

 “Jangan pura-pura,” geram orang itu.

 “Katakan tentang orang itu agar aku dapat mengerti, kenapa kau menyangka aku Puguh,” suara Kasadha menjadi semakin berat.

Orang itu tidak menjawab. Namun Kasadha menyerang semakin cepat. Bahkan hampir saja telinganya terputus oleh pedang Kasadha. Namun ketika pedangnya bergeser setebal jari dari telinga lawannya, maka dengan cepat Kasadha memutar pedangnya. Sambil menggeliat ia meloncat kesamping, namun pedangnya sempat terjulur menyentuh lengan raksasa itu.

 “Setan kau,” geram orang itu.

Kasadha semakin menekannya. Kemudian ia bertanya lagi, “Aku atau bukan aku, katakan tentang Puguh itu.”

Lawannya tidak menjawab. Tetapi ia berusaha menghentakkan kekuatannya yang sangat besar untuk mengatasi ilmu Kasadha. Tetapi Kasadha tidak terlalu bodoh untuk membentur kekuatan raksasa itu. Dengan sigap ia menghindarinya. Namun tiba-tiba saja dengan satu loncatan panjang pedangnya telah terjulur menggapai pundak orang itu.

Orang itu memang sempat bergeser mundur. Namun ternyata bahwa sekali lagi ujung pedang itu telah menyentuh pundaknya. Hanya seujung rambut. Tetapi ternyata darah telah mengembun dari luka itu serta dari luka di lengannya.

Pertempuran di halaman rumah itu semakin lama memang menjadi semakin seru.

Para perampok yang lain memang harus menghadapi lawan yang terlalu banyak. Setiap orang harus melawan dua atau tiga orang anak muda dari padukuhan itu.

Bagaimanapun juga, maka anak-anak muda itu memang tidak memiliki kesiagaan yang cukup untuk melawan para perampok. Ketika para perampok itu berloncatan dengan pedang berputaran, mereka memang mulai menjadi kecut.

Tetapi menantu Ki Bekel itu berteriak, “Jangan takut. Pemimpin perampok itu sudah tidak berdaya. Ia terikat dalam pertempuran melawan prajurit Pajang. Demikian pula raksasa itu. Yang tinggal adalah perampok-perampok kecil yang tidak berbahaya bagi kalian.”

Menantu Ki Bekel itu sendiri memang seorang yang berani. Apalagi ketika ia melihat Kasadha telah berhasil melukai lawannya yang bertumbuh raksasa itu.

Bahkan beberapa saat kemudian, pemimpin perampok yang memiliki kemampuan seorang perwira prajurit Jipang itu mulai terdesak. Orang itu ternyata tidak sekuat Ki Rangga Selamarta atau Ki Rangga Sanggabantala. Karena itu, maka beberapa saat kemudian Barata pun telah mulai mendesak lawannya. Pemimpin perampok yang sangat ditakuti itu.

Para perampok yang pada dasarnya memiliki kelebihan dari orang-orang padukuhan itu mulai gelisah. Meskipun mula-mula anak-anak muda padukuhan itu ragu-ragu, namun kata-kata menantu Ki Bekel itu memang dapat mempengaruhi mereka. Apalagi sikap menantu Ki Bekel yang garang itu.

Beberapa orang anak muda padukuhan itu memang sempat melihat darah yang meleleh diluka raksasa itu. Lengannya dan sedikit di pundaknya. Namun semakin banyak ia bergerak, maka darah pun meleleh semakin banyak pula.

Hal itu telah berpengaruh atas anak-anak muda padukuhan itu. Apalagi setiap kali menantu Ki Bekel itu memang berteriak-teriak memanaskan hati anak-anak muda padukuhan yang kadang-kadang masih nampak kecut.

Sementara pertempuran berlangsung semakin keras, maka raksasa yang melawan Kasadha itu masih bergumam, “Ternyata Puguh memiliki tingkat kemampuan ayahnya Rangga yang licik dan gila itu, yang lebih mementingkan perempuan liar itu daripada tugasnya.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 26

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s