SST-23

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

TETAPI sebelum mereka sampai kesendang, tiba-tiba Dirga berkata, “Marilah. Kita singgah di ara-ara di dekat gumuk kecil itu sebentar. Nanti kita akan mandi setelah tidak banyak orang.”

 “Untuk apa? Apa salahnya kita mandi bersama-sama dengan mereka?” bertanya Barata menjadi heran.

 “Bukankah sendang itu cukup luas? Kau barangkali malu karena ada perempuan yang sedang mandi disendang itu pula? Tetapi bukankah kita telah mendapat tempat sendiri. Disebelah kiri itulah Sendang Lanang, yang diperuntukkan laki-laki, sedang sebelah kanan itu Sendang Wadon yang diperuntukkan perempuan, yang biasanya sambil mencuci pakaian,” berkata Kasadha.

Tetapi Dirga menggeleng. Katanya, “Kita dapat mempergunakan saat yang pendek ini untuk mengadakan latihan khusus.”

 “Apa maksudmu?” bertanya Barata.

 “Kita pergi ke ara-ara,” jawab Dirga singkat.

Barata dan Kasadha saling berpandangan sejenak.

Namun kemudian keduanya telah mengikuti Dirga menempuh jalan setapak untuk pergi ke ara-ara. Ara-ara yang biasanya memang sepi. Para gembala pun bahkan segan untuk pergi ke ara-ara di dekat gumuk itu, karena menurut ceritera orang, gumuk itu ditunggui oleh seekor harimau putih yang dapat muncul setiap saat. Bahkan di siang hari. Dengan demikian maka para gembala yang biasanya adalah anak-anak dan remaja itu lebih senang menggembalakan kambingnya di dekat sendang. Bahkan kadang-kadang setelah dilepas di sekitar sendang yang berumput hijau segar itu, para gembala itu berendam di air sambil berkejaran beradu tangkas berenang.

Barata dan Kasadha masih belum tahu pasti maksud Dirga beserta kawan-kawannya. Namun keduanya tidak segera bertanya sehingga beberapa saat kemudian, keduanya telah berada di ara-ara didekat gumuk kecil itu.

 “Nah,” berkata Dirga kemudian, “kita adalah prajurit-prajurit Pajang yang terpilih. Karena itu, bagiku, istirahat di hari ini justru membuat tubuhku menjadi lemas dan letih. Karena itu, marilah kita isi waktu yang sehari ini dengan mengadakan latihan khusus.”

 “Aku tidak tahu maksudmu Dirga,” berkata Barata, “bagiku istirahat ini menyenangkan. Kita dapat pergi ke pasar. Kita dapat mandi disendang itu bersama dengan orang-orang disekitar tempat ini. Atau kita dapat tidur sehari suntuk di barak.”

 “Kita bukan orang-orang yang malas,” berkata Dirga, “kita adalah prajurit-prajurit yang diharapkan untuk dapat melindungi Pajang.”

 “Ya, kami pun tahu,” jawab Kasadha, “tetapi bukankah kita juga memerlukan hari-hari peristirahatan seperti ini? Dengan demikian justru akan dapat mempersegar jiwa kita, sehingga besok kita akan dapat memasuki tugas-tugas kita dengan kesegaran baru.”

 “Bagiku, beristirahat justru akan dapat menumbuhkan keseganan untuk memulainya lagi,” berkata Dirga, “karena itu, marilah, kita mengadakan latihan khusus. Kita dapat membuat perbandingan ilmu. Salah seorang dari kau berdua, yang dianggap orang terbaik diantara kita yang terpilih menjadi pemimpin kelompok harus membuktikan kepadaku, kepada kita semuanya bahwa kalian memang yang terbaik.”

Barata dan Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah memahami keadaan yang mereka hadapi. Agaknya keinginan Dirga untuk mencoba kemampuan mereka itulah tujuan utamanya untuk membawanya ke tempat yang sepi itu.

Namun dalam-pada itu Barata pun berkata, “Kita tidak dapat mengadakan latihan dengan cara ini. Bukankah kau juga tahu, bahwa dengan demikian kita akan melanggar ketentuan? Latihan-latihan khusus apalagi yang menjurus pada perbandingan ilmu yang boleh dilakukan dengan ditunggui oleh para pelatih. Disini kita tidak mempunyai seorang pelatih pun yang akan dapat menilai seandainya latihan seperti itu kita lakukan. Siapakah yang akan menentukan tingkat kemampuan kita, karena kita sendiri yang terlibat langsung dalam latihan itu tentu tidak akan mungkin dapat mengamatinya.”

 “Hanya seorang diantara kalian yang akan melakukan latihan khusus bersamaku. Seorang yang lain akan mengamati latihan ini dan menjadi saksi, asal dengan jujur. Kawan-kawanku pun akan menjadi saksi pula, siapakah diantara kita yang terbaik. Nah, apa lagi?” bertanya Dirga.

 “Kita semuanya tidak berwenang untuk mengamati latihan apapun juga kecuali latihan-latihan ketahanan tubuh dan tata gerak dasar bagi kelompok kita masing-masing,” berkata Kasadha.

 “Sudahlah,” berkata Dirga, “jangan banyak alasan. Aku justru ingin melakukannya tanpa ada orang lain. Jika seandainya salah seorang diantara kalian dapat aku kalahkan, kalian tidak akan menjadi malu, karena kalian sudah terlanjur menjadi orang terbaik. Kawan-kawanku yang akan menjadi saksi, tidak akan menceriterakannya kepada orang lain.”

 “Jangan melakukan sesuatu yang dapat dianggap melanggar paugeran Dirga. Kita adalah prajurit-prajurit baru. Kita akan dapat dengan mudah disingkirkan jika kita tidak menepati segala perintah. Aku tidak mau tersingkir dari lingkungan keprajuritan yang dengan susah payah aku gapai. Sekarang, kita sudah berada dalam lingkungan keprajuritan. Kenapa kesempatan yang dengan susah payah kita dapatkan ini harus kita sia-siakan.” Barata berhenti sejenak, namun tiba-tiba ia pun bertanya, “Apakah alasanmu sebenarnya menantang salah seorang dari kita untuk melakukan latihan khusus seperti ini.”

 “Aku hanya ingin menguji diri. Seperti yang sudah aku katakan, kalian disebut oleh banyak orang, bahkan para pelatih kita, sebagai orang terbaik. Tetapi aku tidak yakin. Aku kira mereka dikelabui oleh sikap kalian sehari-hari. Kalian pandai bersikap sangat baik kepada para pelatih kita, atau jika kita mau memakai istilah kasar bahwa kalian adalah penjilat,” berkata Dirga.

Barata mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Kasadha maka Kasadha pun berkata, “Jadi itulah yang terpenting bagimu untuk menunjukkan bahwa kau adalah orang terbaik. Kau yang bukan penjilat.”

 “Ya,” jawab Dirga.

Pengaruh kehidupan Kasadha sebelumnya memang jauh lebih keras dari Barata. Karena itu, maka betapapun juga Kasadha mengekang perasaannya, namun ia telah lebih dahulu marah. Karena itu, maka ia pun berkata, “Baiklah Dirga. Jika kau memang menjadi muak melihat sikap kami yang kau sebut sebagai penjilat itu. Sebaiknya aku berkata terus terang. Orang terbaik diantara kami berlima, yang mendapat kesempatan memimpin kelompok-kelompok terbawah prajurit Pajang dari angkatan terbaru itu adalah aku dan Barata. Karena itu, sebagaimana kau katakan, apakah aku atau Barata akan sama saja. Marilah, kita mengadakan latihan khusus dibawah saksi. Bukan aku yang berniat melakukannya. Tetapi kau.”

 “Aku tidak akan ingkar. Dihadapan para pelatih sekalipun jika kita harus menghadap karena latihan diluar ketentuan ini diketahui, aku akan berkata sebenarnya. Jangan takut bahwa aku akan menfitnah kalian. Aku adalah laki-laki. Seorang prajurit Pajang yang besar,” berkata Dirga.

 “Bagus Dirga,” sahut Kasadha. Lalu katanya, “Jika terjadi sesuatu adalah salahmu sendiri.”

Barata melihat kemarahan yang memancar di sorot mata Kasadha. Karena itu ia justru menjadi cemas bahwa Kasadha kurang dapat mengendalikan diri. Karena itu, maka ia pun berkata, “Kenapa bukan aku saja yang melakukannya?”

 “Tidak,” jawab Kasadha, “orang lain yang sering menyebut kita bersaudara menganggap aku lebih tua dari-mu. Karena itu, biarlah aku mencobanya dahulu. Jika aku gagal, baru kau.”

 “Tidak ada yang akan berhasil atau gagal,” berkata Dirga, “kita harus bersikap jantan. Jika kita merasa kalah, maka kita harus mengaku kalah. Maka semuanya akan selesai.”

 “Baik,” jawab Kasadha, “aku terima syaratmu.”

Dirga yang merasa dirinya lebih baik dari kedua orang kawannya itu pun kemudian berkata kepada tiga orang anak buahnya, “Kalian menjadi saksi. Tetapi kita sudah berjanji, bahwa kalian tidak perlu mengatakan kesaksian kalian kepada siapapun juga. Aku tidak mau menyakiti hati Barata atau Kasadha dihadapan orang banyak.”

 “Cukup,” potong Kasadha, “bersiaplah. Waktu kita tidak terlalu banyak. Penjual nangka itu akan segera pergi. Jika nangka Barata yang dititipkan kepadanya itu tidak segera diambil, maka nangka itu akan dibawanya.”

Dirga mengerutkan keningnya. Ia memang tersinggung karenanya. Seakan-akan persoalan nangka Barata itu lebih besar dari tantangannya.

Tetapi ternyata Kasadha telah bersiap sehingga ia pun harus segera bersiap pula.

Barata hanya termangu-mangu saja. Ia memang tidak dapat mencegah perkelahian itu. Sudah barang tentu Kasadha atau dirinya sendiri tidak akan dapat menahan diri dengan tuduhan yang menyakitkan hati itu, seakan-akan mereka dianggap orang terbaik hanya karena menjilat saja. Padahal baik Barata maupun Kasadha telah menahan dirinya untuk tidak menunjukkan kelebihannya kepada kawan-kawannya secara berlebihan. Meskipun demikian mereka tidak dapat menyembunyikan diri dari para pelatihnya bahwa mereka memang memiliki kelebihan ilmu dari kawan-kawannya. Bahkan terpaut jauh.

Sejenak kemudian, maka Dirga pun mulai bergerak. Dengan tangkas ia telah meloncat menyerang Kasadha. Dirga memang telah mempunyai bekal kemampuan pribadinya sejak ia memasuki dunia keprajuritan, sebagaimana prajurit-prajurit yang lain. Bahkan Dirga telah dianggap memiliki kelebihan, sehingga ia termasuk lima orang yang terpilih untuk memimpin kelompok prajurit yang diterima terbaru dalam kesatuan keprajuritan Pajang.

Namun setelah perkelahianku berlangsung beberapa lama, Kasadha yang marah itu justru menjadi lebih tenang. Ia menjadi yakin, bahwa kemampuan Dirga tidak cukup tinggi untuk mengimbangi kemampuannya. Tetapi karena keyakinannya itulah maka Kasadha justru mampu mengekang diri. Ia tidak mempergunakan seluruh kemampuannya sehingga dalam sekejap dapat mengalahkan Dirga. Tetapi Kasadha yang tidak lagi menjadi sangat marah itu, telah berusaha untuk menyesuaikan dirinya.

Dengan demikian maka yang dilakukan Kasadha kemudian seakan-akan hanyalah sekedar melayani Dirga yang setingkat demi setingkat telah mengerahkan kemampuannya. Bahkan dimata Barata yang juga memiliki kemampuan yang agak terpaut banyak dengan Dirga, Kasadha telah mulai sekedar bermain-main.

Namun dengan demikian Barata justru menjadi tenang. Ia tidak lagi melihat sorot mata Kasadha yang memancarkan kemarahan. Bahkan kemudian, bukan saja sorot matanya, tetapi tata geraknya pun menjadi lunak, meskipun tetap tangkas dan cepat.

Dengan demikian maka perkelahian diantara kedua anak muda itu seakan-akan menjadi seimbang. Sekali-sekali Dirga sempat mendesak Kasadha. Namun kemudian Kasadha lah yang telah mendesak Dirga.

Namun setelah mereka berkelahi beberapa lama, keduanya sama sekali masih belum tersentuh serangan lawan masing-masing. Meskipun Dirga dengan garang menjulurkan serangan-serangan tangan dan kakinya berganti-ganti, tetapi Kasadha selalu sempat mengelakkannya. Sebaliknya serangan-serangan Kasadha pun nampaknya kurang tenaga sehingga kadang-kadang justru tidak sempat menggapai lawannya meskipun lawannya tidak mengelak.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung semakin lama semakin cepat. Ketika Dirga sudah mulai berkeringat, maka ia pun menjadi semakin garang. Sebaliknya tidak ada perubahan yang nampak pada Kasadha. Ia masih bergerak agak lunak meskipun juga semakin cepat.

Namun akhirnya Barata mengetahui cara Kasadha menundukkan Dirga. Agaknya Kasadha ingin membiarkan Dirga kehabisan nafas. Baru kemudian Kasadha akan mengambil langkah-langkah kecil untuk menunjukkan sedikit kelebihan.

 “Ternyata Kasadha cukup bijaksana,” berkata Barata didalam hatinya, “justru pada saat ia marah dan merasa tersinggung oleh kata-kata Dirga yang menganggapnya penjilat.”

Sebenarnyalah bahwa Kasadha masih sempat berpikir untuk tidak menyakiti hati Dirga. Dalam saat-saat yang gawat itu, Kasadha menyadari, bahwa Dirga memiliki sifat dengki dan iri. Karena itu, jika ia menyakiti hati anak muda itu, maka Dirga tentu akan mendendamnya, sementara latar belakang kehidupan Kasadha sendiri termasuk dalam lingkungan warna yang buram. Karena itu, Kasadha tidak ingin menambah persoalan yang akan dapat membuat hidupnya semakin rumit. Ia tidak ingin Dirga karena dendamnya berusaha untuk mencari-cari kelemahannya termasuk latar belakang kehidupannya. Apalagi jika diketahui siapakah laki-laki yang mengaku ayahnya dan siapakah ibunya.

Karena itu, maka perkelahian itu seakan-akan menjadi semakin sengit. Keduanya seakan-akan masih saja seimbang, sehingga keduanya saling menyerang, saling mendesak dan saling menghindar.

Tetapi sebagaimana yang diperhitungkan oleh Barata itu ternyata benar-benar terjadi. Katika mereka mulai mengerahkan kemampuan mereka, terutama Dirga, maka kekuatannya pun bagaikan telah terperas pula, sehingga lambat laun kekuatannya itu pun menjadi susut.

Kasadha sudah memperhitungkan hal itu. Ketika tenaga Dirga mulai menurun, Kasadha justru memancingnya untuk bergerak lebih banyak. Bahkan sekali-sekali Kasadha mulai mengenainya meskipun tidak menyakitinya. Kadang-kadang Kasadha hanya mempergunakan telapak tangannya untuk menyentuh pundak Dirga atau dengan ujung-ujung jarinya menyentuh punggung. Meskipun ujung-ujung jari Kasadha itu dalam kekuatan puncaknya akan dapat mematahkan tulang belakang, tetapi ia tidak melakukannya atas Dirga.

Dirga yang telah memeras keringat memang menjadi semakin lemah. Bagaimanapun juga ia harus mengakui, bahwa ia tidak dapat mengalahkan Kasadha. Tetapi dengan cara yang ditempuh oleh Kasadha itu, maka Dirga tidak merasa dikalahkannya dalam benturan ilmu.

 “Aku hanya kurang keras berlatih,” berkata Dirga didalam hatinya sehingga ia merasa bahwa tenaganya memang lebih cepat susut, meskipun ia tidak merasa dikalahkan.

Tetapi kenyataan itu terjadi. Akhirnya Dirga benar-benar telah kehabisan tenaga. Nafasnya menjadi terengah-engah. Rasa-rasanya perutnya menjadi mual ketika ia memaksakan diri untuk tetap melawan.

Ketika Dirga menyerang dengan sisa tenaganya yang terakhir, maka Kasadha tidak membenturnya meskipun jika ia melakukannya maka Dirga tentu akan menjadi pingsan. Tetapi Kasadha justru telah menghindari serangan itu.

Karena serangannya dengan mengerahkan sisa tenaganya tidak mengenai sasaran, maka Dirga justru telah terseret oleh berat tubuhnya sendiri tanpa dapat mencegahnya lagi. Karena itu, maka Dirga itu justru telah terjatuh tanpa mendapat serangan dari lawannya.

Kasadha sendiri kemudian telah melangkah tertatih-tatih mendekati Dirga. Bahkan kemudian ia pun telah terduduk disebelahnya sambil berdesis, “Satu latihan yang menarik.”

Dirga memang berusaha untuk bangkit. Tetapi ketika ia kemudian terduduk dan melihat Kasadha juga duduk disebelahnya, ia termangu-mangu sejenak.

Namun ternyata Kasadha justru tertawa. Katanya, “Aku jarang sekali mengalami latihan seperti ini.”

Dirga masih termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa pula. Katanya, “Ternyata kau memang lebih baik dari aku.”

 “Tidak,” jawab Kasadha, “kita memang berada pada tataran yang sama.”

 “Bagaimanapun juga aku harus mengakui, bahwa kau lebih baik. Setidak-tidaknya daya tahanmu. Dalam pertempuran yang sebenarnya, kau masih sempat membunuhku disaat terakhir,” berkata Dirga.

 “Apakah tanganku masih kuat mengangkat senjata?” Kasadha justru bertanya.

Keduanya pun kemudian tertatih-tatih berdiri. Bedanya, Dirga benar-benar mengalami kesulitan. Sedangkan Kasadha merasa perlu untuk berbuat demikian meskipun ia benar-benar masih nampak lebih baik.

 “Aku harus berlatih lebih keras,” berkata Dirga, “pada kesempatan lain, aku ingin mengadakan latihan seperti ini dengan Barata. Mungkin Barata juga lebih baik dari aku, sehingga Barata oleh para pelatih dianggap setingkat dengan Kasadha. Adalah kebetulan bahwa kalian memang pantas untuk menjadi kakak beradik.”

 “Sudahlah,” berkata Kasadha, “kita masih mempunyai waktu untuk pergi ke sendang.”

 “Ya,” Barata lah yang menyahut, “kita mandi sebentar. Kemudian kita singgah di pasar mengambil buah nangka itu.”

Demikianlah mereka bertiga diikuti oleh kawan kawan Dirga sempat singgah di sendang. Dirga nampak terlalu letih setelah ia memaksa diri berusaha untuk mengimbangi Kasadha. Namun ternyata bagaimanapun juga ia harus mengakui kelebihan kawannya itu meskipun menurut tanggapannya, hanya selapis tipis. Tetapi seperti yang dikehendaki oleh Kasadha, Dirga tidak menjadi sakit hati dan tidak pula mendendamnya.

Kasadha pun sekali-sekali masih juga menunjukkan bahwa ia pun menjadi sangat letih.

Namun ketika Barata sempat berbisik di telinganya, ia berkata, “Suatu cara yang sangat bijaksana.”

Kasadha hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, setelah mereka puas mandi di sendang sehingga tubuh mereka terasa segar, maka mereka pun telah kembali lagi ke Pasar. Seperti ketika berangkat, maka ketika mereka kembali, Kasadha juga menjadi berdebar-debar. Ketika mereka memasuki jalan induk menuju ke pintu gerbang kota, maka Kasadha lebih banyak menunduk. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melenyapkan kekhawatiran, bahwa tiba-tiba seseorang mengenalinya dan apalagi memburunya karena ia adalah anak Warsi dan dianggap anak Rangga Gupita, salah seorang diantara bekas prajurit dari pasukan sandi Jipang.

Tetapi ternyata bahwa tidak seorang pun yang menyapanya, apalagi mengikutinya dan menegurnya sebagai Puguh.

Bahkan ketika mereka sudah berada di dalam kota dan berjalan menuju ke barak, Kasadha terkejut ketika tiba-tiba seseorang meloncat dari mulut lorong sambil memanggil namanya.

Ternyata orang itu adalah salah seorang anak buahnya yang kemudian bersama-sama dengan kawan-kawannya yang lain kembali ke barak, untuk menghabiskan sisa hari istirahat mereka.

Dalam pada itu sekelompok prajurit yang dipimpin oleh Barata sempat memecah sebuah nangka yang besar yang dibeli oleh Barata di pasar. Bahkan Kasadha dan Dirga pun sempat ikut pula makan buah nangka itu bersama mereka yang ikut pergi ke belumbang.

Demikianlah, setelah peristiwa itu, Dirga memang menjadi tenang. Ia merasa bahwa Kasadha memang lebih baik. Tetapi meskipun ia tidak dapat menang atasnya, ia tidak merasa terhina oleh kekalahannya. Setiap kali ia sempat menghibur diri, bahwa kekalahannya itu terutama hanya karena ketahanan tubuhnya sajalah yang tidak sebaik Kasadha.

 “Jika aku meningkatkan latihan-latihan untuk ketahanan tubuh, maka aku tentu akan dapat mengimbanginya,” berkata Dirga.

Keyakinannya itu memang mendorongnya untuk meningkatkan latihan-latihannya. Namun ia sama sekali tidak menjadi dendam karenanya, meskipun ia tetap ingin menjadi yang terbaik diantara kelima orang pemimpin kelompok yang dipungut dari prajurit-prajurit baru dari angkatannya.

Yang agak mengalami kesulitan adalah anak buah Dirga. Dirga yang ingin meningkatkan latihan-latihan bagi dirinya itu, ternyata telah mempengaruhi seluruh kelompoknya. Pagi-pagi dalam latihan-latihan ketahanan tubuh, ketrampilan dan keseimbangan dengan berlari-lari di jalan-jalan sempit dan bahkan di pematang-pematang sawah, meniti palang bambu di lapangan di belakang barak mereka atau meloncat hambatan-hambatan yang disediakan khusus untuk latihan-latihan seperti itu, menjadi lebih berat. Tetapi kadang-kadang Dirga telah berlatih sendiri setelah anak buahnya mendapat kesempatan untuk beristirahat.

Akhirnya anak buahnya tahu juga, kenapa pemimpin kelompoknya berlaku demikian. Meskipun ketika orang yang menjadi saksi perkelahian antara Dirga dan Kasadha berusaha untuk merahasiakannya, tetapi akhirnya mereka tidak dapat bertahan. Mereka telah mengatakan meskipun dengan pesan untuk tidak disampaikan kepada orang lain, apa yang telah mereka lihat di ara-ara sebelah gumuk kecil itu.

 “Pantas,” desis salah seorang diantara anak buahnya, “latihan-latihan menjadi semakin meningkat. Kitalah yang menderita.”

 “Tetapi ia lebih banyak berlatih sendiri,” sahut yang lain.

Namun seorang prajurit yang terlalu yakin akan dirinya sendiri berkata, “Mereka tidak berarti apa-apa bagi perguruanku.”

 “Mereka siapa?” bertanya kawannya.

 “Dirga, Kasadha, Barata, Permana dan siapa lagi yang dianggap orang-orang terbaik. Aku hanya belum saja mendapat kesempatan untuk menunjukkan kelebihanku, karena aku datang kemudian setelah mereka,” jawab orang itu.

Tetapi kawan-kawannya tidak menghiraukannya. Mereka masing-masing pun merasa pernah berada di sebuah perguruan sebelum mereka mengikuti pendadaran, karena yang diterima menjadi prajurit, bukannya orang yang tidak berilmu sama sekali.

Sementara itu, para prajurit Pajang memang harus menempuh latihan-latihan yang berat, yang ditekankan pada unsur-unsur perang gelar. Perang berpasangan serta mempergunakan jenis-jenis senjata yang paling banyak dipergunakan oleh para prajurit. Dengan bekal kemampuan mereka secara pribadi, maka memang lebih cepat pasukan Pajang menyusun diri menjadi kesatuan yang kuat.

Dalam pada itu, para pemimpin Pajang telah bersiaga sepenuhnya menghadapi pertumbuhan Mataram. Sedangkan Panembahan Senapati di Mataram benar-benar tidak mau datang menghadap ayahandanya, Sultan Pajang. Satu sikap yang membuat para pemimpin Pajang menjadi tersinggung,

 “Mas Ngabehi Loring Pasar memang tidak kuat memanggul derajad. Ia sangat dikasihi oleh Kangjeng Sultan sebagaimana putera kandungnya sendiri. Tetapi ternyata ketika ia mendapat kesempatan, telah berusaha untuk melawan ayahanda angkatnya itu,” berkata seorang Senapati Pajang. Bahkan katanya kemudian, “Sebenarnyalah tidak usah seluruh kekuatan Pajang dikerahkan. Pasukanku segelar sepapan cukup kuat untuk mematahkan perlawanan Mataram.”

Tetapi seorang kawanya menyahut, “Jangan berkata begitu. Seolah-olah kau belum kenal siapakah Raden Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati itu.”

Tetapi Senapati itu menjawab, “Apakah Panembahan Senapati akan dapat melawan sekelompok prajurit pilihan betapapun ia seorang yang berilmu tinggi? Sementara itu ia masih belum sempat menyusun pasukan yang cukup tangguh untuk melindunginya.”

Namun kawannya justru tertawa. Katanya, “Kau memang suka berkhayal. Aku tidak mengerti, kenapa kau sempat berpikir seperti itu.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Namun akhirnya ia hanya menarik nafas dalam-dalam.

Dalam pada itu kemelut di langit menjadi semakin gelap. Jarak antara Pajang dan Mataram menjadi semakin jauh. Tetapi justru Kangjeng Sultan Pajang sendiri tidak pernah mengambil langkah-langkah pasti untuk mengatasinya. Hatinya masih tetap tersangkut pada kasih sayangnya atas putera angkatnya itu.

Sementara itu Pangeran Benawa, putera Sultan Pajang itu sendiri, ternyata tidak mempunyai minat untuk ikut mengatasinya. Atas tuntunan ayahandanya, maka ia menjadi sangat hormat kepada Raden Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati. Bahkan Pangeran Benawa yang menjadi kecewa melihat tingkah laku orang-orang disekitar ayahandanya pun menjadi salah satu sebab, bahwa Pangeran Benawa tidak banyak berbuat untuk meredakan suasana. Bahkan nampaknya Pangeran yang kecewa itu menjadi acuh tak acuh saja.

Dalam keadaan yang tidak menentu itulah, maka sering terjadi benturan-benturan kecil antara para prajurit Pajang dan Prajurit Mataram. Meskipun belum ada perintah yang pasti, tetapi para prajurit dari kedua belah pihak kadang-kadang sulit untuk mengendalikan dari masing-masing, sehingga di tempat-tempat tertentu pertempuran-pertempuran kecil sulit untuk dihindari.

Dengan demikian maka para pemimpin keprajuritan Pajang telah menempuh jalan yang singkat. Para prajurit baik yang telah lama berada dalam barak-barak, maupun para prajurit yang baru telah ditempa untuk menghadapi segala kemungkinan. Dalam waktu dekat mereka akan segera dikirim ke tempat-tempat yang rawan. Tempat-tempat yang sering dilanda oleh benturan pasukan yang kadang-kadang tidak diketahui sebab-sebabnya.

Dalam pada itu, pasukan yang baru saja disusun itu pun tidak terkecuali. Setelah beberapa bulan mengalami latihan-latihan yang berat, maka pasukan itu telah dipersiapkan untuk dikirim ke perbatasan.

Ketika kepastian itu telah diberitahukan kepada para prajurit yang tergabung dalam satu kelompok yang besar yang terdiri dari sepuluh kelompok-kelompok kecil, maka Barata menjadi sangat bimbang. Ada niatnya untuk minta ijin menemui ibunya untuk minta diri, karena ia sadar, bahwa keperbatasan adalah sama dengan maju ke medan perang.

Tetapi akhirnya niatnya diurungkan. Didalam lingkungan keprajuritan, ia adalah orang lain dari dirinya sendiri. Ia adalah Barata dari Kademangan Bibis. Bukan Risang dari Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu, Kasadha sama sekali tidak menghiraukan lagi ayah dan ibunya. Ia seakan-akan lahir begitu saja didunia tanpa ayah dan ibu. Jika ia sekali-sekali mengenang seseorang, maka ia adalah gurunya dan kakeknya, Ki Randukeling.

Tetapi ia pun tidak berniat untuk menemui mereka. Ia tidak ingin seseorang mengenali jejak latar belakang kehidupannya.

Pada saat yang ditentukan, maka telah tersusun sepasukan yang terdiri dari seratus orang dikepalai oleh seorang Lurah Penatus yang akan memimpin pasukan itu yang dibagi dalam sepuluh kelompok kecil, masing-masing terdiri dari sepuluh orang. Barata dan Kasadha bersama tiga orang kawannya yang lain dari kelima orang pemimpin kelompok yang baru telah diikut sertakan bersama mereka yang digabungkan dengan para prajurit yang telah banyak berpengalaman.

Mereka akan berangkat menuju ke daerah Selatan. Mereka harus mengawasi sebuah Kademangan di bawah kaki pebukitan. Kademangan Randukerep. Kademangan yang sering dilalui sekelompok prajurit Mataram yang mengamati keadaan.

Di Kademangan Randukerep mereka telah disambut dengan baik. Mereka diterima sebagai sekelompok prajurit Pajang yang akan melindungi Kademangan mereka.

 “Apakah orang-orang Mataram itu sering membuat kerusuhan disini?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

 “Tidak,” jawab Ki Demang, “meskipun mereka kadang-kadang hanya sekedar lewat mengamati keadaan, tetapi kami memang menjadi gelisah.”

 “Tetapi kalian mengetahui, bahwa mereka tidak berwenang melintas didaerah ini,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

 “Ya,” jawab Ki Demang. Kemudian katanya pula.

 “Karena itulah kami, para bebahu Kademangan ini telah pernah menemui mereka dan mengatakan hal itu.”

 “Apa jawab mereka?” bertanya Ki Lurah.

 “Mereka melakukannya untuk menjaga agar orang-orang Kademangan ini tidak mempunyai anggapan yang salah terhadap Mataram,” jawab Ki Demang, “selama di Kademangan ini mereka banyak berbicara dengan penduduk.”

Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia berkata, “Bukankah itu justru berbahaya sekali?”

 “Kami menyadari Ki Lurah,” berkata Ki Demang, “kami sudah berusaha untuk mencegahnya. Tetapi kami tidak berdaya. Orang-orang Mataram itu mulai mengancam dengan kekerasan, sehingga kami terpaksa berdiam diri sambil menunggu kedatangan para prajurit dari Pajang.”

 “Apakah di Kademangan ini tidak ada kekuatan sama sekali?” bertanya Ki Lurah. Lalu, “Bukankah disini ada pengawal Kademangan yang tentu sudah dipersiapkan sejak lama?”

 “Tetapi apakah artinya para pengawal Kademangan dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Mataram,” jawab Ki Demang, “karena itu, kami merasa lebih baik menunggu. Pada saatnya kami akan dapat mengusir orang-orang Mataram itu jika ia datang lagi.”

 “Apakah orang-orang Mataram itu sering kali datang ke Kademangan ini?” bertanya Ki Lurah.

 “Tidak tentu,” jawab Ki Demang, “sudah beberapa hari orang-orang Mataram tidak nampak batang hidungnya. Lewat sepekan yang lalu mereka telah datang. Mereka mempergunakan banjar Kademangan ini untuk menempatkan diri. Lewat sepekan yang lalu kira-kira ada dua puluh lima orang prajurit Mataram ada di banjar.”

 “Hanya dua puluh lima. Berapa jumlah pengawal disini?” bertanya Ki Lurah Dipayuda.

 “Ki Lurah,” jawab Ki Demang, “para pengawal Kademangan ini tidak memiliki keberanian seorang prajurit. Dua atau tiga orang prajurit Mataram telah membuat mereka ketakutan. Mula-mula para pengawal memang mencoba untuk mengadakan perlawanan dengan mencegah sepuluh orang prajurit Mataram agar tidak memasuki padukuhan induk Kademangan ini. Tetapi lebih dari tiga puluh pengawal tidak mampu mencegah mereka.”

 “Mereka terbunuh oleh prajurit Mataram?” bertanya Ki Lurah.

 “Tidak Ki Demang. Tidak seorang pun terbunuh. Tetapi ketiga puluh orang pengawal itu terluka dan tidak mampu lagi melakukan perlawanan. Rasa-rasanya tulang-tulang mereka berpatahan,” jawab Ki Demang.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian sekali lagi ia bertanya, “Ada berapa pengawal di Kademangan Randukerep ini? Pengawal yang memang berada dalam kedudukan itu. Berapa pula anak-anak muda yang tidak dalam kedudukan pengawal, tetapi merupakan kekuatan cadangan yang dapat digerakkan setiap saat dan berapa jumlah laki-laki di Kademangan ini yang semuanya mempunyai kewajiban untuk membela kampung halamannya?”

 “Ada lebih dari lima puluh pengawal di Kademangan ini Ki Lurah,” berkata Ki Demang, “mereka pernah mendapat latihan serba sedikit dari dua orang prajurit yang ditugaskan oleh Pajang. Sedangkan anak-anak muda yang telah dinyatakan siap untuk dipanggil dalam keadaan yang penting cukup banyak. Di Kademangan ini ada beberapa padukuhan besar dan kecil yang mempunyai anak-anak mudanya. Apalagi jumlah laki-laki yang umurnya dibawah limapuluh tahun.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku minta, Ki Demang besok memanggil para pengawal. Mereka akan menjadi bagian dari kekuatan Pajang di Kademangan ini. Semuanya akan termasuk dalam barisan dibawah perintahku. Sementara itu, anak-anak muda yang menjadi kekuatan cadangan di Kademangan ini harus disusun dalam kelompok-kelompok yang tertib. Aku akan ikut menanganinya. Beberapa pemimpin kelompok dari prajurit-prajuritku akan membantu bertugas di padukuhan-padukuhan untuk menyusun kelompok-kelompok kecil di setiap padukuhan. Pada lapisan terakhir, maka setiap laki-laki yang belum berumur limapuluh tahun harus diperhitungkan pula.

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan berterima kasih jika Ki Lurah bersedia membantu kami melaksanakannya.”

 “Tetapi aku memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Kademangan ini,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

 “Silahkan Ki Lurah. Kami telah menyediakan beberapa buah rumah disekitar rumahku ini. Sebaiknya Ki Lurah tidak berada di banjar, karena prajurit Mataram sering datang ke banjar itu.”

 “Sebenarnya kebetulan bagi kami jika prajurit Mataram datang. Kami akan dapat menangkap mereka dan mengadilinya di Pajang,” jawab Ki Lurah.

 “Tetapi mereka akan mempunyai kesempatan lebih dahulu. Jika Ki Lurah berada diluar banjar, maka keadaannya akan berbeda. Sebagian dari pasukan Ki Lurah dan Ki Lurah sendiri kami persilahkan untuk berada di gandok rumahku sebelah menyebelah. Kemudian rumah disebelah kanan rumahku itu pun telah disediakan bagi Ki Lurah sebagaimana rumah disebelah kiri. Jaraknya tidak lebih dari satu patok. Dinding pemisah dari halaman kami dan halaman rumah tetangga yang disediakan bagi prajurit Pajang itu telah kami bedah sehingga halaman rumah ini dan halaman rumah sebelah menjadi berhubungan langsung. Agaknya hal itu perlu bagi kesatuan pasukan Ki Lurah,” berkata Ki Demang.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Kedua rumah yang ditunjukkan oleh Ki Demang itu adalah rumah tetangga terdekat yang dapat dicapai dalam waktu singkat, sehingga jika Ki Lurah menempatkan pasukannya di rumah-rumah itu, maka tidak akan terjadi kesulitan apapun juga. Namun Ki Lurah harus mengatur penjagaan sebaik-baiknya.

Setelah berbincang beberapa saat dengan Ki Demang, maka Ki Lurah pun telah membawa sepuluh orang pemimpin kelompoknya untuk melihat-lihat keadaan, sementara seluruh pasukannya berada di halaman rumah Ki Demang. Mereka melihat halaman belakang rumah, mengamati dindingnya dan membuka pintu butulan untuk melihat jalan sempit di sebelah belakang rumah Ki Demang itu. Kemudian mereka telah melihat-lihat halaman rumah sebelah menyebelah yang disediakan bagi para prajurit Pajang. Juga melihat kebun belakang dan segala sudut halaman serta dinding-dinding yang mengitari halaman rumah itu. Sementara itu dinding yang memisahkan halaman rumah itu dengan halaman rumah Ki Demang memang telah dibuka agar perhubungan dari ketiga rumah itu dapat berlangsung dengan lancar. Sementara itu alat-alat untuk menyampaikan isyarat pun telah tersedia. Dirumah sebelah menyebelah itu terdapat dua kenthongan kecil diserambi dan satu kentongan yang agak besar di seketheng. Dalam keadaan yang memaksa, maka kenthongan itu akan dapat menjadi isyarat bagi para prajurit yang terpisah tempatnya itu.

Demikianlah, maka Ki Demang pun segera membagi pasukannya. Ampat kelompok berada di rumah tetangga sebelah kanan, ampat di tetangga sebelah kiri dan dua kelompok, termasuk Ki Lurah sendiri berada di rumah Ki Demang. Sementara itu, setiap hari diantara lima puluh lebih pengawal Kademangan, dua puluh orang harus bersiaga di rumah Ki Demang. Mereka akan melakukan tugas bersama-sama dengan para prajurit Pajang.

Untuk menilai para prajurit yang baru, maka Ki Lurah dengan sengaja telah menempatkan prajurit-prajurit baru yang ampat kelompok itu bersama-sama di rumah yang ada disebelah kanan rumah Ki Demang, sedangkan prajurit-prajurit yang lama dan berpengalaman berada di rumah sebelah kiri. Sedangkan satu kelompok prajurit yang baru dan satu kelompok prajurit yang lama berada bersamanya di rumah Ki Demang. Bersama mereka akan hadir juga dua kelompok pengawal Kademangan yang pernah mendapat latihan keprajuritan pula.

Hari itu juga, maka para prajurit Pajang itu telah menempatkan diri. Setiap kelompok telah mengatur dirinya masing-masing. Kelompok yang dipimpin oleh Barata mendapat tempat di gandok sebelah kanan di rumah tetangga Ki Demang, sedangkan kelompok yang dipimpin oleh Kasadha berada di tempat terbuka, pendapa dan yang sedikit tertutup adalah pringgitan rumah itu. Dirga dengan serta merta membawa anak buahnya ke ruang dalam sedangkan satu kelompok lagi berada di gandok sebelah kiri.

Ketika Kasadha sedang sibuk mengatur pendapa dan pringgitan dengan membentangkan tikar di pringgitan untuk beristirahat orang-orangnya, maka Barata telah mendatanginya. Sambil tersenyum ia berkata, “Di gandok terdapat sebuah amben yang besar. Cukup untuk enam orang. Sementara itu, ada dua amben kecil yang dapat menampung ampat orang.”

 “Kami akan tidur dilantai,” berkata Kasadha.

 “Biarlah kedua amben kecil itu dibawa keluar. Setidak-tidaknya kau dan tiga orangmu bergantian dapat tidur di pembaringan,” berkata Barata.

Tetapi Kasadha tertawa. Katanya, “Bukankah kami sudah terlatih untuk tidur dimana saja? Disini, di pringgitan masih cukup hangat, terlindung oleh dinding disebelah menyebelah. Dirga yang memilih diruang dalam mulai mengeluh. Ternyata udaranya panas sekali. Dimalam hari, mereka justru tidak akan mudah untuk dapat tidur.”

 “Kita akan berada di tempat ini untuk waktu yang tidak terbatas,” berkata Barata, “jika setiap malam orang-orangmu terkena angin malam yang basah, maka mungkin ada diantara mereka yang tidak tahan.”

Tetapi Kasadha menggeleng. Katanya, “Seorang prajurit harus tahan berada di segala tempat dan di segala musim. Tempat ini terlalu baik bagi kami.”

Barata termangu-mangu. Namun ia akhirnya tertawa. Katanya, “Jika perlu, pada hari-hari tertentu kita dapat bertukar tempat.”

Ternyata hal itu tidak perlu dilakukan. Beberapa saat kemudian beberapa orang pembantu Ki Demang telah datang membawa beberapa buah tirai bambu yang dapat dipergunakan untuk melindungi angin. Bahkan beberapa orang yang lain telah membawa beberapa buah amben bambu yang kemudian di tempatkan dipringgitan.

 “Nah,” berkata Kasadha, “bukankah sudah beres?”

Barata mengangguk-angguk.

Sementara itu ketika Dirga keluar dari ruang dalam berkata dengan serta merta, “Kita bertukar tempat.”

Tetapi Kasadha menggeleng. Katanya, “Kau telah memilih lebih dahulu tempatmu.”

 “Didalam panas sekali,” berkata Dirga, “dengan selintru bambu maka pringgitan ini menjadi bilik yang sejuk.”

 “Itu diluar perhitungan kami. Ternyata Ki Demang sangat memperhatikan kami, meskipun nampaknya amben-amben bambu itu tidak begitu kuat, sehingga jika dipergunakan oleh lebih dari dua orang, suaranya akan berderit-derit membangunkan yang sudah tertidur nyenyak sekalipun.”

 “Tetapi udara di pringgitan ini lebih baik daripada diruang dalam,” berkata Dirga.

Namun sambil tersenyum Kasadha berkata, “Aku disini saja bersama anak-anakku. Jika kau kepanasan didalam, bukankah pendapa ini cukup untuk tidur ampat puluh orang sekaligus.”

Dirga mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia sudah memilih sendiri tempat diruang dalam. Ternyata bahwa lebih terbuka di ruang-ruang lain. Juga peredaran udara didalam terasa sendat sehingga udara diruang dalam menjadi pengap dan panas, bahkan agak gelap.

Demikianlah, setelah mereka mengatur pembagian ruang bagi setiap kelompok, maka mereka mulai mengatur penjagaan. Mereka tidak hanya menjaga regol halaman. Tetapi mereka harus juga mengawasi halaman samping dan kebun belakang. Terutawa di malam hari. Mereka menyadari bahwa para prajurit Mataram adalah prajurit yang berani. Bahkan mereka yang tidak pernah mengalami latihan pun telah berani melakukan tugas yang biasanya hanya dibebankan kepada prajurit-prajurit yang berpengalaman. Sehingga dengan demikian maka mereka harus benar-benar bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

Akhirnya keempat pemimpin kelompok itu pun mendapatkan kesepakatan dalam pembagian waktu dan tempat tugas kelompok mereka masing-masing, sehingga setiap saat dan tempat akan dipertanggung jawabkan oleh keempat kelompok agar mereka tidak saling menyalahkan apabila terjadi sesuatu.

Ternyata di rumah yang lain, telah dilakukan pula pembagian ruang dan waktu. Tetapi seperti para prajurit yang baru, ternyata keempat kelompok prajurit di rumah sebelah kiri juga melakukan penjagaan bersama sebagaimana para pengawal yang baru.

Namun dalam pada itu, di rumah Ki Demang telah dilakukan penjagaan khusus. Para pengawal Kademangan itu telah diikut sertakan bersama para prajurit Pajang, Namun Ki Lurah cukup berhati-hati, sehingga diantara para pengawal di ruang masing-masing telah diadakan penjagaan khusus.

Ketika kemudian para prajurit itu mengalami malam hari untuk pertama kalinya di Kademangan itu, maka rasa-rasanya malam memang terlalu sepi. Demikian matahari terbenam, maka jalan-jalan telah menjadi lengang. Tidak menunggu saat sepi bocah, maka Kademangan itu seakan-akan telah tertidur nyenyak.

Namun dari kejauhan ternyata masih juga terdengar suara tembang macapat yang mengalun di sepinya malam. Suara seorang laki-laki yang bergetar bagaikan menyentuh setiap hati para prajurit yang merasa berada di tempat yang asing.

Sementara mereka yang bertugas, justru merasa mendapat seorang kawan lagi. Setidak-tidaknya orang yang membaca kidung itu masih belum tidur. Mungkin keluarganya juga ikut mendengarkannya.

Dalam pada itu, di regol rumah Ki Demang, tetangganya sebelah menyebelah telah mendapat penjagaan yang kuat. Bahkan setiap sudut dari halaman dan kebun ketiga rumah yang berhubungan itu mendapat pengawasan dari orang-orang yang terlatih. Tidak akan ada seekor bilalang pun yang dapat lolos dari pengawasan mereka.

Dirumah sebelah kanan, meskipun yang ada di tempat itu termasuk prajurit-prajurit baru, tetapi secara pribadi mereka justru telah memiliki bekal yang cukup. Ditambah latihan-latihan khusus dalam hubungannya dengan kedudukan mereka sebagai prajurit. Dengan demikian maka penjagaan di tempat itu tidak kalah ketatnya dibanding dengan penjagaan dirumah sebelah kiri, yang di tempati oleh para prajurit yang sudah berpengalaman sebagai prajurit.

Namun dalam pada itu, diluar pengetahuan para prajurit Pajang, maka suara tembang itu pun telah mendapat perhatian sepenuhnya dari dua orang yang dengan diam-diam menyusup ke dalam padukuhan induk Kademangan itu. Dengan saksama kedua orang yang bersembunyi di kegelapan itu mendengarkan kidung yang mengalun di malam hari menyayat sepinya suasana.

 “Jadi mereka telah datang,” berkata salah seorang diantara kedua orang itu.

 “Sekitar seratus orang,” desis yang lain.

Keduanya pun terdiam pula. Sementara itu suara tembang itu masih saja terdengar. Lima bait telah terbaca. Namun kemudian orang itu telah mengulanginya dari bait yang pertama.

Tetapi para prajurit yang mendengarkan kidung itu dari kejauhan, tidak mendengar isi kidung itu, karena mereka memang tidak begitu memperhatikannya.

Namun kedua orang itu mengetahuinya, bahwa orang yang membaca kidung itu memberikan isyarat, bahwa agaknya para prajurit itu sedang mengatur diri sehingga belum akan keluar dari sarang mereka pada malam yang pertama mereka berada di padukuhan induk itu.

Ternyata kedua orang itu adalah orang-orang yang memang berani. Dengan isyarat itu, maka mereka justru telah dengan diam-diam berusaha mendekati rumah itu. Meskipun keduanya mengetahui, bahwa di padukuhan induk itu di setiap malam selalu dikelilingi oleh para peronda yang terdiri dari para pengawal dan anak-anak muda padukuhan induk itu, yang pada malam itu akan dapat memanggil bantuan para prajurit Pajang jika mereka merasa perlu.

Dengan sangat berhati-hati kedua orang itu telah memasuki regol rumah orang yang sedang melagukan kidung yang ngelangut memecah sepinya malam itu.

Perlahan-lahan salah seorang dari kedua orang itu telah mengetuk pintu. Dua kali tiga ganda.

Suara kidung itu sama sekali tidak berhenti. Namun orang lainlah yang telah pergi ke pintu dan membuka pintu itu dengan hati-hati.

Demikian kedua orang itu masuk, maka pintu pun segera telah ditutup kembali.

 “Kenapa kau datang kemari?” bertanya orang yang membuka pintu itu, sementara suara kidung itu beralun terus.

 “Kami ingin penjelasan. Bukan sekedar isyarat yang hanya dapat aku raba-raba,” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

 “Tetapi kau telah melakukan satu langkah yang sangat berbahaya,” berkata orang yang membuka pintu itu.

 “Kalian tentu memerlukan kami datang,” berkata orang yang datang itu, “jika tidak untuk apa kalian memberikan isyarat bahwa orang-orang Pajang itu belum akan keluar malam ini.”

 “Satu dugaan saja,” jawab orang yang membuka pintu, “tetapi karena kalian sudah ada disini, biarlah kami memberikan keterangan.”

Dengan singkat orang itu pun telah memberikan keterangan tentang kehadiran para prajurit Pajang. Menurut perhitungan mereka memang sekitar seratus orang.

 “Cukup banyak,” berkata salah seorang yang datang itu.

 “Mereka nampaknya akan memanfaatkan para pengawal, anak-anak muda dan setiap laki-laki yang ada yang akan disusun dalam lapisan-lapisan tersendiri,” berkata orang yang membuka pintu itu.

 “Satu sikap yang sudah dapat ditebak. Itu adalah sikap yang sangat wajar dan ditempuh oleh Pajang selama ini. Agaknya Mataram pun akan menempuh cara yang sama,” sahut salah seorang yang baru datang itu namun kita semuanya sudah siap menghadapi rencana itu.

 “Mungkin para prajurit itu baru besok melihat-lihat suasana di padukuhan ini,” berkata orang itu. Sementara itu, suara tembang yang ngelangut itu pun masih saja menggetarkan udara.

Namun salah seorang dari kedua orang itu pun berkata, “Baiklah. Kami akan minta diri.”

 “Berhati-hatilah. Suasana di Kademangan ini tentu berubah karena kehadiran para prajurit itu,” berkata orang yang membuka pintu.

 “Kami menyadari itu,” jawab salah seorang diantara mereka yang datang, “tetapi itu sudah ada dalam perhitungan kami. Justru kalian yang tinggal di Kademangan inilah yang harus lebih berhati-hati. Prajurit Pajang adalah prajurit pilihan. Petugas sandi mereka pun memiliki kemampuan yang tinggi.”

 “Tetapi gairah perjuangan mereka tidak setinggi orang-orang Mataram,” jawab orang yang membukakan pintu.

 “Itu karena Kanjeng Sultan Pajang sendiri belum menjatuhkan perintah. Namun, demikian perintah itu jatuh, jika tidak berhati-hati, maka Mataram akan dapat digilas,” jawab salah seorang dari kedua orang yang baru datang itu.

Orang yang membukakan pintu itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi tidak ada seorang pun yang akan mampu menundukkan Panembahan Senapati. Disaat-saat Kangjeng Sultan dalam kebimbangan, maka Mataram harus mengambil langkah-langkah yang menguntungkan. Apalagi menurut pendengaranku Kangjeng Sultan disaat-saat terakhir, kesehatannya sangat menurun.”

 “Tetapi Adipati Tuban terlalu mendesak,” jawab orang yang membukakan pintu.

Kedua orang yang datang itu mengangguk-angguk.

Sementara itu lima bait yang diulang oleh orang yang membaca kidung itu telah berakhir. Karena itu, maka orang itu pun berhenti melontarkan tembang yang menggetarkan sepinya malam.

Ketiga orang yang berbincang itu pun kemudian mendekatinya. Namun agaknya orang itu tidak berkata apapun juga, kecuali sebuah perintah, “Tinggalkan tempat ini.”

 “Tetapi ada yang perlu kita bicarakan,” jawab salah seorang dari keduanya.

 “Tinggalkan tempat ini secepatnya,” berkata orang itu.

Kedua orang itu tidak menjawab. Namun keduanya meyakini betapa tajamnya firasat orang yang telah berhenti membaca kitab itu.

Karena itu, maka keduanya pun segera meninggalkan tempat itu, sementara orang yang membukakannya pintu itu sempat berpesan, “Berhati-hatilah.”

Sejenak kemudian, maka pintu pun telah tertutup kembali.

Namun sebelum kitab yang dibaca itu ditutup, telah terdengar lagi pintu diketuk. Tidak dengan isyarat dua kali tiga ganda.

 “Bukakan pintu,” berkata orang yang semula membaca kitab itu.

Sejenak kemudian pintu pun telah terbuka. Tiga orang anak muda berdiri didepan pintu.

 “Maaf Kiai,” desis salah seorang diantara anak-anak muda itu, “ketika Kiai berhenti membaca, malam rasa-rasanya menjadi sangat sepi.”

Orang yang membaca kidung itu tertawa. Katanya, “Mulutku sudah menjadi lelah anak-anak muda. Tetapi marilah, silahkan duduk.”

Anak-anak muda itu pun kemudian masuk dan duduk pula dihadapan orang yang membaca kidung itu.

 “Kami ingin belajar Kiai. Selama ini, hampir setiap malam kami mendengar Kiai membaca. Rasa-rasanya kami ingin dapat membaca kidung seperti Kiai. Sebenarnyalah jika ada waktu beberapa orang anak muda ingin datang untuk belajar,” berkata salah seorang diantara anak muda itu.

Orang tua yang membaca kidung itu tertawa. Katanya, “Ada baiknya jika kalian berminat belajar macapat. Kumpulan lagu-lagu untuk membaca kitab yang berisi bermacam-macam hal. Kitab yang berisikan babad. Kitab yang berisi petunjuk tentang hidup dan kehidupan dan kitab yang berisi berbagai macam ilmu antara lain ilmu perbintangan, pertanian yang berhubungan erat dengan ilmu perbintangan dan lain-lainnya.”

 “Menarik sekali,” jawab anak muda itu.

 “Baiklah,” berkata orang tua itu, “kita dapat membicarakan, kapan kalian dapat datang dan belajar melagukan kidung. Tetapi sudah tentu tidak sekarang.”

 “Ya Kiai. Tidak sekarang. Kami akan berbicara dengan kawan-kawan.” anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kami mohon kali ini Kiai melanjutkan bacaan Kiai. Kami ada di gardu di ujung lorong ini. Rasa-rasanya malam menjadi sepi jika Kiai tidak membaca.”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Aku sudah membaca beberapa bait.” Namun katanya, “Tetapi biarlah adikku itu membacanya. Ia juga dapat membaca suaranya  pun cukup baik. Ia baru datang sore tadi.”

Anak-anak muda itu mengangguk hormat kepada orang yang membukakan pintu dan disebut adik itu.

 “Ia semula tinggal di Pajang. Tetapi setelah isterinya meninggal tanpa meninggalkan anak, untuk menghilangkan kenangan pahit itu ia kembali kemari. Ia akan tinggal bersamaku disini. Mungkin ia akan dengan senang hati mengajari kalian melagukan kidung untuk melupakan masa lampaunya itu,” berkata orang tua itu.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Tolong Kiai. Isilah malam ini dengan tembang yang dapat menemani tugas kami.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya kepada orang yang disebut adiknya itu, “Bacalah. Kitab ini adalah kitab yang berisi berbagai macam petunjuk tentang tingkah laku.”

Orang yang disebut adiknya itu pun beringsut. Ia telah mengambil kitab yang lain. Kemudian ia pun telah bersiap untuk membacanya.

 “Tetapi suaraku tidak sebaik suara kakakku,” berkata orang itu.

 “Tidak apa-apa,” jawab anak-anak muda itu hampir berbareng. “Yang penting jantung kami menjadi hangat karenanya.” Namun kemudian seorang diantara anak-anak muda itu berkata, “Aku akan mendengarkan di gardu saja Kiai.”

Anak-anak muda itu pun kemudian telah mohon diri. Meskipun orang-orang tua itu mempersilahkannya tinggal, tetapi seorang diantara anak-anak muda itu berkata, “Kami akan sangat mengganggu jika kami disini.”

Demikianlah anak-anak itu keluar dan pintu rumah itu tertutup, maka telah terdengar lagi suara tembang yang menggetarkan udara malam. Ternyata suara orang yang disebut adiknya itu tidak kalah baik dari suara orang yang membaca pertama. Tinggi meliuk dalam. Kemudian seperti terayun mendatar. Namun tiba-tiba menanjak naik seperti seekor burung alap-alap yang memburu mangsanya. Tetapi sejenak kemudian menukik tajam. Akhirnya perlahan-lahan suaranya mengambang dan mencapai satu persinggahan yang terasa sangat sejuk.

Anak-anak muda yang meninggalkan rumah itu kembali ke gardu merasa senang mendengar tembang itu kembali mengisi sepinya malam.

Namun dalam pada itu, dua orang yang telah memasuki rumah itu ternyata masih ada di halaman samping. Mereka memang memperhatikan isi tembang ini. Mungkin ada pesan-pesan lain yang dilontarkan setelah tiga orang anak muda memasuki rumah itu. Tetapi ternyata tembang itu untuk selanjutnya tidak memberikan pesan apapun juga.

 “Firasat orang tua itu ternyata benar-benar tajam,” berkata salah seorang dari keduanya.

 “Beberapa saat saja kita terlambat, maka padukuhan induk Randukerep ini akan menjadi gempar,” desis yang lain.

 “Meskipun tidak akan ada seorang pun yang mampu menangkap kita, tetapi kehadiran kita akan membuat orang-orang Randukerep dan khususnya prajurit Pajang itu menjadi semakin berhati-hati. Penghuni rumah itu pun harus ikut bersama kita meninggalkan padukuhan ini,” berkata yang pertama.

Namun yang lain pun kemudian berkata pula, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian dengan hati-hati telah meninggalkan halaman rumah itu. Mereka meloncati dinding halaman yang satu kemudian dinding yang lain, sehingga akhirnya keduanya telah meloncati pula dinding padukuhan induk dan hilang menyusup diantara tanaman yang hijau disawah.

Sementara itu, di rumah Ki Demang dan rumah tetangganya ternyata ada juga beberapa orang prajurit yang ikut menikmati suara tembang yang hanya terdengar lamat-lamat antara silirnya angin. Kadang-kadang hilang, kadang-kadang terdengar lebih jelas.

Dengan demikian maka di Kademangan Randukerep itu justru terasa betapa tenang dan damai. Seakan-akan tidak pernah terjadi keributan sama sekali. Apalagi kekerasan. Di malam hari yang sepi yang terdengar adalah suara tembang yang ngelangut menggetarkan udara menyentuh jantung.

Para prajurit itu di Pajang memang jarang sekali mendengar tembang yang mengalun di malam hari, bahkan sampai jauh malam menjelang tengah malam.

Tetapi ketika malam menjadi semakin dalam dan sepi mencengkam Kademangan itu, maka para prajurit telah berada kembali dalam suasana yang menegangkan. Lebih-lebih lagi mereka yang bertugas di regol, dihalaman dan di kebun belakang. Seakan-akan berpasang-pasang mata telah mengintai mereka meskipun merekalah yang seharusnya bertugas mengintai.

Ketika suara tembang itu berhenti, maka yang terdengar adalah suara cengkerik dan belalang. Angin menandai waktu, bahwa malam menjadi semakin jauh menjelang dini.

Memang tidak terjadi sesuatu malam itu. Namun bagi para prajurit Pajang, terasa ketegangan mulai mencengkam.

Dihari berikutnya, maka Ki Lurah Dipayuda mulai mempersiapkan pasukan kecilnya itu bukan saja berada dan berjaga-jaga di Kademangan. Tetapi mereka harus juga meronda di seluruh Kademangan dan Kademangan disekitarnya.

Tetapi sebelum merambah ke daerah di sekitarnya, maka Ki Lurah akan memperkuat lebih dahulu landasan kedudukannya di Kademangan Randukerep. Ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di Kademangan itu dan kemudian menyusun langkah-langkah yang paling baik dilakukan.

Ki Lurah pun harus mengetahui sebanyak-banyaknya tentang sikap dan tingkah laku para prajurit Mataram jika mereka datang ke Kademangan Randukerep dan sekitarnya.

Untuk itu maka Ki Lurah memang tidak cukup mempergunakan waktu satu dua hari.

Di hari pertama Ki Lurah dan dua orang pemimpin kelompok serta tiga orang prajurit telah pergi melihat-lihat pasar di padukuhan induk Randukerep. Pasar yang menjadi sangat ramai setiap sepekan sekali. Dihari-hari biasa, pasar itu memang juga termasuk ramai. Tetapi tidak seperti dihari pasaran, yang rasa-rasanya pasar itu tidak muat lagi.

Ki Lurah Dipayuda itu memang merasa heran bahwa seakan-akan di daerah itu tidak pernah terjadi sesuatu yang membuat mereka resah. Pasar itu tidak menunjukkan bahwa sering terjadi gangguan ketenangan, sehingga para pedagang telah menawarkan dagangan mereka dengan tidak ragu-ragu sama sekali. Mereka yang berjualan telur pun telah dibentang diatas tampah-tampah dengan memisahkan telur itik dan telur ayam. Sementara itu yang berjualan sayur-sayuran pun telah digelar diatas amben bambu yang rendah. Pande besi di pinggir pasar itu bekerja seperti biasanya, membuat alat-alat pertanian. Membuat parang, kejen bajak dan alat-alat yang lain.

 “Orang-orang Mataram memang cerdik,” berkata Ki Lurah Dipayuda, “mereka tidak meninggalkan kesan yang dapat mebuat orang-orang Kademangan ini menjadi ketakutan. Mereka tentu telah membujuk orang-orang Kademangan ini dan bersikap manis kepada mereka.”

Para pemimpin kelompok yang menyertainya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Kita mempunyai gambaran yang agak lain dari mereka sebelumnya. Kita mengira bahwa orang-orang Mataram itu bersikap kasar dan kadang-kadang melakukan kekerasan. Beberapa laporan yang diterima di Pajang menyebutkan demikian. Dibeberapa daerah yang lain, kekerasan telah terjadi sehingga tiga Kademangan telah terpaksa mengungsi karena tingkah-laku para prajurit Mataram. Tetapi disini agaknya mereka bersikap lain.”

Ki Lurah mengangguk-angguk kecil. Ia pun pernah mendengar laporan seperti itu. Bahkan dibumbui dengan laporan tentang pembakaran rumah dan banjar padukuhan. Tetapi dalam setiap pembicaraan, ia belum pernah berbicara dengan kawan-kawannya yang pernah melihat sendiri orang-orang Mataram membakar rumah dan banjar padukuhan.

Tetapi sebagai seorang yang berpengalaman luas, maka Ki Lurah berkata kepada kedua pemimpin kelompok itu, “Justru sikap seperti inilah yang sangat berbahaya bagi Pajang. Dengan lembut orang-orang Mataram telah menarik perhatian orang-orang yang ada di perbatasan. Untuk itu kita sukar meyakinkan kepada mereka, bahwa kita semuanya harus menentang berdirinya Mataram di Alas Mantaok. Berbeda halnya jika Mataram berbuat kasar. Kita akan dengan mudah menggerakkan orang-orang yang marah untuk menghancurkan mereka.

Salah seorang pemimpin kelompok itu mengangguk sambil berdesis, “Tugas kita memang berat.”

 “Lebih berat daripada kita disuruhkan kedalam peperangan yang langsung berhadapan dengan pasukan lawan,” sahut Ki Lurah.

Kedua orang pemimpin kelompok yang bersamanya itu pun mengangguk-angguk pula. Keduanya melihat bahwa Ki Lurah itu berkata dengan sungguh-sungguh. Bahkan nampak sedikit kecemasan pada wajah dan sikapnya.

 “Kita tidak boleh terlambat. Kita harus segera mengatur pertahanan. Pasukan kita kecil saja sehingga kita harus mampu memanfaatkan kekuatan yang ada di Kademangan ini,” berkata Ki Lurah.

 “Dalam keadaan yang mendesak, bukankah kita dapat minta bantuan dari Pajang?” bertanya salah seorang diantara kedua orang pemimpin kelompok itu.

 “Kita harus membuktikan dahulu. Jika kita jelas tidak dapat mengatasi kesulitan disini, barulah kita minta bantuan. Dengan demikian kita akan dapat mengirimkan laporan yang lengkap dan meyakinkan,” berkata Ki Lurah.

Tetapi para prajurit yang ikut bersama Ki Lurah itu sempat berkata kepada diri sendiri, “Asal saja kita belum habis disini.”

Dalam pada itu, dari pasar Ki Lurah langsung kembali ke Kademangan. Sebenarnya hari itu Ki Lurah tidak mempunyai rencana untuk melihat-lihat keluar dari padukuhan induk. Tetapi ternyata Ki Lurah merubah rencananya. Hari itu juga Ki Lurah ingin berkunjung ke beberapa padukuhan terdekat.

 “Aku minta Ki Demang atau satu dua bebahu yang Ki Demang tugaskan, untuk menyertai kami, agar jika kami bertemu dengan para pengawal dan anak-anak muda tidak terlalu banyak mendapat pertanyaan,” berkata Ki Lurah.

Ternyata Ki Demang menjawab, “Marilah. Aku sendiri akan mengantar Ki Lurah melihat-lihat Kademangan ini.”

Demikianlah, sejenak kemudian, Ki Demang telah bersiap-siap untuk mengadakan perjalanan berkuda di sekeliling Kademangannya. Sementara itu, Ki Lurah telah mengajak pemimpin kelompok yang dua itu. Pemimpin kelompok tertua diantara para pemimpin kelompok yang lain bersama ketiga orang prajurit yang itu juga, yang oleh Ki Lurah dianggap memiliki kelebihan dari para prajurit yang lain.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa ekor kuda telah berderap menyusuri jalan induk yang membelah padukuhan induk itu. Mereka telah keluar dari pintu gerbang padukuhan dan menempuh jalan bulak menuju ke padukuhan yang lain.

Ternyata dugaan Ki Lurah Dipayuda itu keliru. Dipadukuhan-padukuhan itu sama sekali tidak terdapat pengawal atau anak-anak muda yang bersiap-siap di banjar seberapapun jumlahnya. Tidak nampak kesiagaan sama sekali dari para penghuni padukuhan itu, apalagi kesibukan dalam suasana perang.

 “Tidak ada penjagaan dan pengawasan sama sekali Ki Demang,” berkata Ki Lurah.

 “Ya Ki Lurah. Aku memang tidak ingin rakyatku menjadi sangat gelisah dan ketakutan. Jika Kademangan ini berada dalam suasana perang, maka kehidupan akan berubah. Ketakutan akan tersebar kesetiap pintu rumah. Tatanan hidup akan segera menjadi kisruh,” berkata Ki Demang.

 “Tetapi apa yang dapat Ki Demang lakukan selama ini untuk mempertahankan Kademangan,” bertanya Ki Lurah.

 “Tidak ada yang perlu dipertahankan,” jawab Ki Demang, “para prajurit Mataram tidak pernah berusaha untuk menduduki Kademangan ini. Sekali-sekali mereka lewat. Dan itu sudah membuat keresahan yang gawat, sehingga aku harus mengatasinya dengan membuat suasana menjadi tenang.”

 “Dan sekarang Ki Demang tetap bersikap seperti itu? Jika demikian, buat apa kami harus datang kemari?” bertanya Ki Lurah.

 “Kedatangan para prajurit Pajang dapat membuat hati kami semakin tenteram Ki Lurah. Seharusnyalah dengan kehadiran para prajurit Pajang, maka kehidupan akan dapat berjalan sewajarnya tanpa keresahan sama sekali sebagaimana jika para prajurit Mataram itu datang.” berkata Ki Demang.

 “Jadi dengan demikian kekuatan di Kademangan ini termasuk salah satu penentu, bahwa Kademangan ini akan dapat menjadi tenang,” berkata Ki Lurah.

Ki Demang mengangguk sambil menjawab, “Ya. Dengan prajurit Pajang kita menjadi yakin. Kita akan dapat berbuat jauh lebih banyak. Tetapi sebelum prajurit Pajang datang, kami memang tidak berani berbuat apa-apa, karena kami tidak mempunyai kekuatan sama sekali.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Perasaan terlalu kecil ini harus dihilangkan Ki Demang. Kademangan ini bukannya tidak mempunyai kekuatan. Tetapi kekuatan itu dibiarkan tersembunyi. Bukankah Ki Demang mengatakan bahwa disini terdapat lebih dari lima puluh orang pengawal terlatih? Anak-anak muda disetiap padukuhan dan sejumlah laki-laki yang belum berumur limapuluh tahun?”

 “Ya. Dan sekarang mereka mempunyai panutan dengan hadirnya para prajurit. Sebelumnya mereka merasa tidak berdaya, karena ternyata mereka tidak dapat mengatasi kemampuan prajurit Mataram yang jumlahnya jauh lebih kecil.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia sudah mempunyai lebih banyak gambaran tentang keadaan Kademangan Randukerep yang tentu tidak akan banyak berbeda dengan Kademangan-kademangan lainnya.

Ternyata ketika Ki Lurah melihat-lihat beberapa bagian dari padukuhan yang lain, maka suasananya tidak berbeda. Dengan demikian maka Ki Lurah memang dapat mengambil kesimpulan keadaan umum di Kademangan itu.

Demikian Ki Lurah dan Ki Demang sampai di rumah Ki Demang, maka Ki Lurah Dipayuda segera mengumpulkan para pemimpin kelompok dan memberikan gambaran umum tentang keadaan di padukuhan-padukuhan yang termasuk Kademangan Randukerep.

 “Agaknya Kademangan-kademangan lain juga berada dalam suasana yang sama,” berkata Ki Lurah. Lalu katanya, “Dengan demikian maka kewajiban kita semuanya adalah menunjukkan bahwa Mataram tidak akan dapat berbuat sesuka hatinya di Kademangan-kademangan wilayah Pajang. Seakan-akan merekalah yang memerintah di Kademangan-kademangan ini.”

Para pemimpin kelompok itu hanya dapat mengangguk-angguk. Namun sudah terbayang satu tugas yang berat harus mereka hadapi.

 “Pada kesempatan pertama, sebelum kita mampu menyusun kekuatan diantara para pengawal dan anak-anak muda padukuhan, maka kitalah yang harus bergerak meronda di seluruh Kademangan ini. Tidak mustahil bahwa kita pun harus bergerak di Kademangan tetangga yang juga masih termasuk wilayah Pajang,” berkata Ki Lurah. Lalu katanya pula, “Ki Demang sudah sanggup menyediakan meronda di Kademangan ini. Berkuda. Menurut Ki Demang tidak akan sulit untuk mengumpulkan sekitar sepuluh sampai lima belas ekor kuda yang dapat dipinjam untuk kepentingan keprajuritan. Dengan demikian maka kuda-kuda itu akan dapat membantu mempercepat tata gerak kita selama kita berada di Kademangan ini.”

Para pemimpin kelompok itu masih saja mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah berkata, “Kita menghadapi kerja keras. Kita belum mendapatkan apa-apa di Kademangan ini.”

Sejak hari itu, maka prajurit Pajang telah menentukan tugas-tugas meronda bagi para prajurit. Untuk mempermudah pembagian tugas, maka tugas meronda akan dibebankan setiap hari satu kelompok disiang hari dan satu kelompok di malam hari. Sementara itu, tugas di tempat harus menyesuaikan diri dengan tugas meronda dari setiap kelompok itu.

Tetapi ternyata pelaksanaannya tidak semudah sebagaimana dikatakan oleh Ki Demang. Pada hari ketiga, baru lima ekor kuda yang dapat dikumpulkan.

Meskipun demikian Ki Lurah tidak mundur dengan rencananya. Karena baru ada lima ekor kuda, maka para prajurit yang meronda dilakukan dengan berjalan kaki. Setiap kelompok telah melakukan pengamatan dibeberapa padukuhan yang ternyata memang belum melakukan persiapan apapun juga menghadapi keadaan yang semakin gawat antara Mataram dan Pajang.

Sementara itu, Ki Lurah pun akan memanggil para pengawal yang jumlahnya hampir mencapai enam puluh orang itu. Berdasarkan atas persetujuan Ki Lurah dan Ki Demang, maka pertemuan itu telah ditentukan dan para pengawal pun telah diundang untuk datang ke pendapa Kademangan.

Tetapi Ki Lurah menjadi sangat kecewa. Hampir separuh dari para pengawal tidak datang ke Kademangan. Sebagian telah berpesan kepada kawannya untuk memberikan berbagai macam alasan. Sebagian diantara mereka adalah karena kerja di sawah yang tidak dapat mereka tinggalkan. Kemudian yang lain karena kesibukan dirumah atau sakit atau alasan-alasan yang lain.

Tetapi Ki Lurah menyadari, bahwa mereka bukan prajurit. Mereka adalah pengawal Kademangan yang tidak terikat terlalu erat sebagaimana seorang prajurit.

Karena itu, maka Ki Lurah yang merasa saingat kecewa itu telah menahan diri. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia berusaha berbicara dengan cara yang lebih lunak dari cara yang dipergunakannya sehari-hari diantara anak buahnya.

Ternyata bukan saja Ki Lurah yang menjadi sangat kecewa. Terutama para pemimpin kelompok telah menjadi marah meskipun tertahan. Seakan-akan para pengawal dan anak-anak muda Kademangan itu tidak menghiraukan sama sekali kehadiran para prajurit yang bertujuan untuk melindungi mereka.

Apalagi ketika mereka melihat, sikap Ki Lurah yang lunak seakan-akan tidak terjadi sesuatu, maka para pemimpin kelompok itu hampir tidak sabar lagi.

Namun demikian sikap Ki Lurah Dipayuda itu, bagi para pengawal telah terasa sangat keras. Ki Lurah dengan tegas telah berkata, “Kademangan ini adalah kademangan kalian. Bukan kademangan kami. Karena itu, tugas utama untuk mempertahankan Kademangan ini terletak dipundak kalian. Terutama para pengawal dan anak-anak mudanya. Kami mendapat perintah dari Panglima prajurit Pajang untuk membantu kalian. Jika kalian yang akan kami bantu tidak berbuat apa-apa, maka sudah tentu bahwa kami tidak akan dapat berbuat apa-apa juga.

Para pengawal yang kebetulan hadir hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu Ki Lurah berkata, “Kalian pernah mendapat latihan keprajuritan. Karena itu, maka kalian akan segera terikat oleh ketentuan keprajuritan.”

Beberapa orang pengawal saling ke pandangan. Agaknya mereka tidak sependapat dengan keterangan Ki Lurah Dipayuda itu. Bahkan seorang diantara para pengawal itu berani bertanya, “Ki Lurah, jika kewajiban kita sama dengan kewajiban seorang prajurit dengan menepati segala ketentuan yang berlaku bagi para prajurit, apakah hak kami sama dengan hak para prajurit?”

Ki Lurah merasa seakan-akan telinganya tersentuh api. Tetapi ia masih menahan diri dan berkata, “Hak kita sebagai warga Pajang yang besar, sama. Sama dalam arti sesuai dengan kedudukan kita masing-masing. Selanjutnya kewajiban kita pun sama. Seperti hak kita, maka kewajiban kita juga sama dalam pengertian sesuai dengan tugas kita masing-masing pula. Tetapi sebagai rakyat Pajang, maka kewajiban kita antara lain adalah mempertahankan negeri ini dari setiap sikap permusuhan darimana pun asalnya. Ketika kalian menyatakan diri menjadi pengawal, maka sudah tentu kalian mengetahui apa artinya pengawal Kademangan. Kemudian hak dan kewajiban kalian.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun tidak ada lagi yang mencoba bertanya.

Karena itu, maka Ki Lurah pun kemudian berkata, “Kademangan ini adalah bagian dari Pajang. Karena itu, maka segala perintah harus bersumber dari Pajang. Dalam keadaan gawat seperti ini, maka kewajiban para pengawal adalah sama dengan kewajiban para prajurit dilingkungan masing-masing. Aku adalah Lurah para prajurit Pajang yang bertugas di Kademangan ini. Aku adalah pemegang perintah, sementara kalian para pengawal harus melakukan perintahku.”

Para pengawal hanya dapat menundukkan kepala mereka. Sementara Ki Demang yang berbicara kemudian pun telah minta agar para pengawal menyadari kedudukannya.

 “Suasana menjadi semakin panas. Kita tidak dapat bermalas-malas seperti masa-masa lewat. Kita harus sudah mulai bangun dari tidur yang nyenyak. Beberapa kali kita sudah mengalami peristiwa yang menyakitkan hati. Kita memang sudah mencoba berbuat sesuatu, tetapi kita gagal justru karena selama ini kita sedang tidur. Apa yang kita lakukan itu bagaikan terjadi dalam mimpi buruk saja. Sekarang, dengan bantuan para prajurit dari Pajang, kita akan berbuat lebih baik.”

Tidak ada yang menanyakan sesuatu. Sementara Ki Lurah berkata, “Besok kita akan bertemu lagi. Besok aku mengundang kalian dan mereka yang hari ini tidak datang. Kita akan mengatur tugas kita. Setiap hari, dan kelompok pengawal harus berada di rumah Ki Demang ini. Mereka akan melakukan tugas sebagaimana para prajurit. Kelompok itu akan dilakukan bergantian setiap waktu tertentu.”

Para pengawal itu hanya dapat saling berpandangan. Sementara Ki Lurah Dipayuda berkata, “Sementara itu yang lain bukan berarti tidak bertugas apa-apa. Yang lain harus selalu bersiap jika setiap saat harus melakukan tugas-tugas penting. Di padukuhan masing-masing para pengawal harus menjadi penggerak bagi anak-anak muda untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pertahanan. Mereka harus siap bertempur untuk mempertahankan kampung halamannya.”

Ki Lurah memang masih banyak menahan diri. Ia sadar, bahwa segala sesuatunya harus dilakukan dengan sabar. Memang agak berbeda dengan para pemimpin kelompok yang ingin segala sesuatunya berlangsung dengan cepat, tegas dan tidak usah berbelit-belit. Tetapi jika Ki Lurah juga bertindak demikian, maka akan benar-benar terjadi justru sebaliknya dari yang diharapkannya.

Demikianlah, dengan sabar namun tegas Ki Lurah berusaha membangun Kademangan itu menjadi satu kesatuan pertahanan sebelum ia merambah ke Kademangan yang lain. Namun Ki Demang menyadari, bahwa ia dapat menggerakkan para pengawal dan anak-anak muda untuk melakukan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Tetapi rasa-rasanya pelaksanaannya masih belum memancar dari dalam hati mereka. Nampaknya seisi Kademangan itu belum memiliki kesadaran sepenuhnya apa yang sebenarnya mereka hadapi dalam pertentangan yang semakin tajam antara Mataram dan Pajang.

Tetapi dengan tidak jemu-jemunya Ki Lurah berusaha. Ia pun selalu mengawani para pemimpin kelompok yang kadang-kadang menunjukkan sikapnya yang lebih keras dari Ki Lurah sendiri. Namun sikap yang keras itu kadang-kadang juga berarti, karena dengan sikap itu, maka para pengawal dan anak-anak muda Kademangan itu menjadi terdesak dan tidak berani menentangnya.

Dalam pada itu, sejak kehadiran prajurit Pajang di Kademangan itu, sama sekali tidak pernah nampak kelompok-kelompok kecil prajurit Mataram. Bahkan di Kademangan disekitar Kademangan Randukerep pun prajurit Mataram tidak lagi pernah menjamahnya.

Tetapi hal itu bukan berarti bahwa Mataram tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di Kademangan itu dan sekitarnya. Beberapa orang yang memang tinggal di Kademangan itu adalah para petugas sandi dari Mataram. Bahkan para petugas sandi yang lain pun sering memasuki Kademangan itu tanpa sepengetahuan prajurit Pajang dan para pengawal Kademangan yang mulai melakukan tugas-tugas keprajurit sesuai dengan perintah para prajurit Pajang.

Sementara itu, maka ketentuan yang dibebankan kepada para pengawal Kademangan itu mulai berjalan meskipun belum sepenuhnya. Dua kelompok yang bertugas di Kademangan itu pun kadang-kadang tidak genap duapuluh.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda masih berusaha untuk tetap bersabar. Dengan demikian maka Ki Lurah tidak menjadi hantu bagi para pengawal Tanah Perdikan, meskipun kadang-kadang sikapnya cukup keras.

Namun dalam pada itu, para pemimpin kelompoklah yang bersikap lebih keras dari Ki Dipayuda. Di padukuhan-padukuhan para pemimpin kelompok itu bertugas mengatur anak-anak muda untuk berhimpun dalam kelompok-kelompok agar lebih mudah untuk digerakkan. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang yang ditunjuk yang akan bertanggung jawab bagi kelompoknya.

Meskipun hal itu mula-mula sulit dilakukan, namun lambat laun serba sedikit dapat berjalan juga. Jika semula gardu itu hanya berisi di malam hari, maka para prajurit Pajang telah mengatur agar gardu itu tetap terisi disiang hari. Para kelompok dapat mengatur orang-orangnya sesuai dengan kebutuhan dan keperluan mereka masing-masing, sehingga paling sedikit disiang hari, masing-masing ada dua orang didalam gardu di dua mulut lorong induk disetiap padukuhan. Mereka harus mengawasi orang-orang yang keluar masuk padukuhan itu.

Kedatangan orang-orang Pajang benar-benar telah merubah tata kehidupan di Kademangan Randukerep. Meskipun Kademangan itu nampak lebih bersiaga menghadapi segala kemungkinan, tetapi kehidupan didalamnya justru menjadi gelisah. Orang-orang Kademangan itu mulai berbicara tentang perang. Tentang permusuhan antara Pajang dan Mataram dan tentang kemungkinan perang itu terjadi di Kademangan mereka.

 “Kenapa para prajurit Pajang itu ribut tentang orang-orang Mataram?” bertanya seseorang kepada kawannya, “Bukankah orang Mataram tidak berbuat apa-apa disini?”

Kawannya yang lebih memahami keadaan berkata, “Tetapi Mataram telah melanggar hak Pajang. Meskipun orang Mataram itu tidak berbuat apa-apa disini, tetapi bagi Pajang hal itu tidak dapat dibenarkan.”

Orang yang bertanya itu hanya mengangguk-angguk saja, karena ia pun tidak banyak mengetahui tentang persoalan antara Pajang dan Mataram.

Dalam pada itu, Barata dan Kasadha pun telah menerima tugas sebagaimana para pemimpin kelompok yang lain. Dengan kelompok masing-masing, keduanya mendapat tugas untuk mengatur tiga buah padukuhan kecil yang letaknya berdekatan.

Kedua orang anak muda itu memang menemui kesulitan. Orang-orang yang tinggal di padukuhan itu tidak dengan cepat tanggap. Mereka memang menyatakan bahwa mereka bukannya prajurit yang dapat diatur sebagaimana para prajurit.

Betapapun bersabarnya Barata dan Kasadha, namun sekali-sekali mereka harus menunjukkan sikap yang keras. Bahkan terhadap anak-anak mudanya Barata dan Kasadha telah mengambil langkah-langkah khusus.

Keduanya telah memanggil semua anak-anak muda. Mereka diharuskan datang ke banjar salah satu dari ketiga padukuhan itu.

 “Tidak ada alasan untuk tidak datang,” berkata Kasadha.

 “Bagaimana kalau sakit?” bertanya seorang anak muda.

 “Dalam keadaan perang, maka orang sakit pun harus berusaha menyelamatkan diri jika ia memang belum berputus-asa,” jawab Kasadha.

Dengan sikap yang kadang-kadang keras itu, maka perlahan-lahan usaha mereka pun mulai berhasil.

Sementara itu, Dirga yang bertugas di sebuah padukuhan sebelah mengalami kesulitan yang lebih berat lagi. Dirga sendiri kurang bijaksana menanggapi keadaan di padukuhannya. Sebuah padukuhan yang dapat lebih besar.

Namun dalam pada itu, ternyata Barata dan Kasadha telah menemukan tanda-tanda yang perlu mendapat perhatian khusus bagi para prajurit Pajang. Tetapi keduanya telah tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

 “Dalam waktu sepekan, tiga orang telah mengadakan upacara adat apapun alasannya. Tedak siten, menyambut tujuh bulan dari kehamilan pertama dan pasah pangur. Upacaranya sendiri memang sederhana dan kecil-kecilan. Tetapi tamu yang datang bukan saja dari padukuhan ini,” berkata Barata.

 “Orang-orangku juga mengamati,” jawab Kasadha, “dalam upacara-upacara itu, dua orang dari luar padukuhan ini selalu nampak hadir. Mungkin kita terlalu berprasangka buruk. Tetapi dalam keadaan seperti ini kita memang harus berhati-hati.”

 “Malam nanti kelompokku mendapat tugas meronda. Tetapi aku akan memasang kelompokku di tengah-tengah bulak saja. Aku sendiri akan memasuki padukuhan itu,” berkata Barata.

 “Itu berbahaya,” desis Kasadha, “Mungkin sesuatu memang tersembunyi dibalik peristiwa itu.”

 “Tetapi agaknya itu lebih aman daripada kami sekelompok mendatangi padukuhan itu, karena dengan demikian mereka telah mempersiapkan diri untuk menghilangkan segala jejak. Tetapi aku harus dengan diam-diam memasuki padukuhan itu tanpa diketahui oleh siapapun. Oleh para pengawal dan anak-anak muda sekalipun.”

 “Kau jangan sendiri,” berkata Kasadha.

 “Sebaiknya aku justru sendiri,” jawab Barata, “aku tidak mengecilkan arti para prajuritan. Tetapi kemampuan mereka kurang meyakinkan untuk tugas ini.”

 “Aku dapat membantumu,” berkata Kasadha.

 “Kau seorang pemimpin kelompok,” berkata Barata, “kau bertanggung jawab kepada Ki Lurah atau kelompokmu. Jika kau pergi bersamaku, justru diluar waktu tugasmu, kau dapat dianggap melakukan kesalahan jika tiba-tiba kelompok harus berbuat sesuatu.”

 “Bagaimana jika dengan sepengetahuan Ki Lurah?” bertanya Kasadha.

 “Aku belum melihat sesuatu yang pantas untuk dilaporkan. Aku baru menyelidikinya,” berkata Barata.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Berhati-hatilah. Jika kau memasuki padukuhan itu sendiri, maka prajurit-prajuritmu harus bersiap. Kau pun harus mampu memberikan isyarat dengan cepat mengatasi keadaan jika memang menjadi sulit.”

Barata tersenyum. Katanya, “Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.”

 “Prajuritku pun akan bersiap. Setiap saat dapat hadir untuk membantumu,” berkata Kasadha.

 “Kelompokmu mendapat kesempatan beristirahat malam nanti,” sahut Barata, “jangan bebani prajurit-prajuritmu dengan tugas yang terlalu berat.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi kita tidak dapat menganggap orang-orang padukuhan itu dungu sebagaimana kita lihat sehari-hari.”

Demikianlah, maka dalam satu kesempatan khusus Barata telah memberikan pesan-pesan terperinci kepada para prajuritnya. Malam nanti mereka akan bertugas meronda. Agaknya mereka mulai menjumpai persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih banyak.

Ketika malam turun, maka para prajurit yang dipimpin Barata sudah bersiap. Mereka bertugas untuk meronda malam itu. Mereka akan mengelilingi seluruh Kademangan, atau setidak-tidaknya pada bagian-bagian yang terpenting. Padukuhan-padukuhan yang besar sebagaimana biasa dilakukan oleh para prajurit dari kelompok yang lain.

Tetapi malam itu Barata membuat acara yang lain. Ia akan menempuh caranya sendiri untuk menyelidiki dugaan-dugaan yang selami ini menggelitik jantungnya.

Menjelang tengah malam, maka kelompok Barata pun telah melakukan perondaan sebagaimana biasa. Sepuluh ekor kuda yang dengan susah payah dikumpulkan oleh Ki Demang, ternyata adalah kuda-kuda yang sekedarnya saja dapat membantu mempercepat perjalanan. Sama sekali tidak seperti yang diharapkan oleh Ki Demang bahwa ia akan dapat mengumpulkan sekitar lima belas ekor kuda yang baik.

Malam itu sekelompok prajurit itu pun telah meronda melewati jalan-jalan padukuhan. Disetiap gardu para prajurit sempat menyapa para pengawal dan anak-anak muda yang meronda.

Demikian juga ketika para peronda itu berderap di sebuah padukuhan kecil yang justru menarik perhatian Barata. Padukuhan kecil itu adalah padukuhan yang jarang sekali dilalui oleh para peronda karena padukuhan itu seakan-akan tidak memiliki hal-hal yang menarik. Memang ada dua tiga orang kaya di padukuhan itu. Tetapi selain orang-orang kaya, tidak ada lagi yang perlu mendapat pengawasan khusus.

Hanya ada empat orang digardu sebelah menyebelah. Ampat orang di regol yang terletak dimulut lorong yang satu, ampat orang yang berada di mulut lorong diseberang padukuhan itu. Rasa-rasanya padukuhan itu memang sepi. Sementara itu, obor-obor di regol-regol halaman pun banyak yang menyala.

Tetapi Barata justru memperlambat derap kaki kudanya yang memang tidak begitu cepat itu. Berbincang sejenak disetiap gardu. Kemudian meninggalkan gardu itu.

Tetapi Barata tidak beranjak jauh. Ketika mereka sudah berada di tengah-tengah bulak, maka pasukan itu berhenti. Seperti yang sudah direncanakan, maka Barata pun telah meninggalkan kelompoknya sambil berjalan kaki.

 “Kalian menunggu aku disini,” perintah Barata kepada prajurit-prajuritnya, “jika ayam jantan berkokok dan aku belum datang, kalian harus bergeser kembali ke padukuhan itu lagi. Tiga orang saja dengan berjalan kaki. Jangan melalui regol padukuhan. Amati keadaan. Kalian tahu apa yang kalian lakukan sebagaimana telah kita bicarakan siang tadi.”

Dengan menunjuk seorang prajurit yang dianggap terbaik dari antara kawan-kawannya untuk memimpin kelompok itu, maka Barata pun telah meninggalkan kelompoknya.

Dengan diam-diam Barata telah berada kembali di padukuhan itu. Malam itu memang tidak ada orang yang membuat upacara apapun. Tetapi menarik sekali, bahwa terdengar orang sedang melagukan tembang yang ngelangut, sebagaimana sering didengarnya di padukuhan induk. Tidak saja dihari-hari tertentu yang dianggap hari-hari yang baik atau pada malam-malam setelah kelahiran seorang bayi, tetapi rasa-rasanya kapan saja dikehendaki.

Dengan diam-diam Barata berusaha mendekati rumah yang nampaknya masih terang. Didalamnya seseorang sedang melagukan tembang dengan suara yang lepas menggelepar di sepinya malam.

Namun firasat anak muda yang sangat peka itu telah membuatnya semakin berhati-hati. Rasa-rasanya padukuhan kecil itu tidak sesepi yang nampak oleh matanya.

Dari satu halaman, Barata meloncati dinding ke halaman yang lain. Ia berusaha mendekati rumah itu tanpa melalui jalan padukuhan betapapun sepinya. Apalagi melewati gardu yang berisi anak-anak muda yang dengan segan berjaga-jaga.

Beberapa saat kemudian maka Barata telah berada di halaman rumah disebelah rumah yang menjadi sasarannya. Untuk beberapa saat ia menunggu. Namun kemudian ia telah meloncati dinding itu pula dan langsung mencari tempat menunggu yang terlindung dedaunan perdu di halaman samping.

Dengan saksama ia memperhatikan halaman itu. Ternyata halaman itu nampak sepi. Tidak terdengar suara lain kecuali suara tempat yang memancar dari dalam rumah itu.

Karena itu, maka Barata pun telah bergeser pula mendekati dinding rumah itu.

Suara tembang itu dari kejauhan terdengar lembut dan menyentuh perasaan. Ngelangut dan melontarkan getaran yang rasa-rasanya bagaikan memukau. Tetapi ketika Barata menjadi semakin dekat dengan dinding rumah itu, suara tembang itu terdengar terlalu keras. Agaknya orang yang melagukan tembang itu memang dengan sengaja berlagu dengan suara yang keras sekali.

Namun dengan demikian Barata menjadi semakin ingin tahu. Apakah sekedar kebiasaan atau ada maksud-maksud tertentu dengan suara yang seakan-akan melampui takaran orang melagukan tembang itu.

Ketika kemudian Barata melekatkan diri pada dinding rumah itu, maka ia telah mendengar suara yang lain. Suara orang-orang yang sedang berbincang.

Menurut pengamatan Barata, ternyata disamping orang yang melagukan tembang yang ngelangut di malam hari itu, ada beberapa orang lain yang sedang berbincang. Bahkan meskipun tidak terdengar jelas, tetapi agaknya orang-orang itu tengah berbincang tentang hal yang penting dan bersungguh-sungguh.

 “Inikah isi padukuhan kecil ini?” bertanya Barata di dalam hatinya.

Sementara itu ia menunggu orang yang membaca tembang itu sampai pada akhir bait. Ia akan berhenti sejenak sebelum memasuki bait berikutnya.

Ternyata usaha itu ada juga hasilnya. Sesaat, ketika orang itu berhenti berlagu, sementara menunggu jatuhnya irama untuk mulai dengan bait berikutnya, maka Barata mendengar salah seorang diantara orang yang ada di dalam rumah itu berkata, “Nampaknya para pemimpin prajurit Pajang di Kademangan ini cukup sabar. Karena itu, kita pun tidak tergesa-gesa.”

Tetapi Barata tidak mendengar kata-kata berikutnya dengan jelas, karena orang yang membaca kidung itu telah mulai lagi dengan bait berikutnya. Lontaran suaranya yang memang baik dan keras itu, dari kejauhan memang sangat mengasikkan. Tetapi dari jarak yang begitu dekat, Barata merasa suara itu bagaikan mengguncang selaput telinganya.

Namun orang-orang yang ada di dalam rumah itu dapat juga berbicara oleh suara tembang yang keras itu.

Tetapi Barata tidak tergesa-gesa. Ia masih mempunyai waktu sampai saatnya ayam jantan berkokok lewat tengah malam. Karena itu, maka ia justru duduk bersandar dinding meskipun tetap berhati-hati.

Ketika bait yang satu itu habis pula, maka Barata telah mendapat kesempatan sedikit lagi untuk mendengarkan percakapan mereka. Bahkan orang yang sedang membaca kidung itu pun telah ikut pula berbicara beberapa kalimat.

Barata memang tertarik sekali. Karena itu, maka ia telah memperbaiki duduknya sehingga telinganya seakan-akan telah melekat dinding rumah itu.

Namun pembicaraan itu ternyata sudah selesai. Seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah. Kita masih mempunyai kesempatan. Aku akan pulang.”

 “Aku bersamamu. Aku akan tidur dirumahmu,” berkata seorang yang lain.

Barata mengerutkan keningnya. Ketika ia mendengar orang-orang yang ada didalam rumah itu mulai bergerak, maka ia pun telah bergeser pula dan berlindung di balik pohon-pohon perdu.

Demikian terdengar gerit pinta, maka Barata pun berusaha untuk dapat mengamati mereka. Sementara itu suara tembang itu pun telah beralun pula digelapnya malam.

Yang meninggalkan rumah itu memang agak mengejutkan Barata. Tidak hanya dua orang seperti diduganya. Tetapi ternyata ampat orang.

Dengan hati-hati Barata bergeser dalam kegelapan. Ia telah mendahului keluar dari halaman lewat dinding dihalaman samping. Kemudian berusaha mendahului keempat orang yang keluar dari dalam rumah itu dan meloncat keseberang jalan. Dari belakang dinding diseberang jalan itulah, Barata mengikuti keempat orang yang ternyata dengan berani menyusuri jalan tanpa ragu-ragu.

Nampaknya mereka tidak sedang melakukan tugas rahasia. Seakan-akan mereka baru pulang dari menghadiri keramaian atau orang yang sedang mempunyai keperluan.

 “Mereka atau salah seorang dari mereka adalah orang-orang padukuhan ini,” berkata Barata didalam hatinya.

Namun setangkas-tangkasnya Barata, ternyata satu kali kakinya telah terantuk pohon perdu yang agak tinggi sehingga terguncang. Daunnya yang mencuat lebih tinggi dari batas dinding halaman agaknya telah menarik perhatian orang-orang yang sedang lewat itu, karena ternyata diantara mereka juga memiliki penglihatan yang tajam sehingga dapat melihat gerakkan itu.

Tetapi orang-orang itu tidak segera berbuat sesuatu.

Mereka masih menunggu perkembangan keadaan. Karena itu mereka masih saja berjalan dengan tenang dijalan induk padukuhan.

 “Mereka mengerti benar, bahwa anak-anak muda yang meronda hanya berada di gardu saja,” berkata Barata didalam hatinya. Tetapi kemudian, “Atau mereka memang sudah mengenal para peronda sehingga mereka tidak akan dicurigai sama sekali.”

Dengan demikian Barata berusaha untuk mengikutinya lebih jauh. Ia yakin bahwa salah seorang setidak-tidaknya adalah orang padukuhan itu.

Tetapi Barata telah membuat kesalahan lagi. Diluar sadarnya tangannya telah berpegangan sebatang pohon yang juga lebih tinggi dari dinding halaman sehingga daunnya yang mencuat telah bergerak.

Orang-orang yang berada di jalan itu tidak menunggunya lagi. Dengan isyarat seorang diantaranya menyuruh kawan-kawannya untuk memasuki halaman itu dari sebelah menyebelah pohon yang bergerak itu, sementara seorang kawannya yang lain tetap berada di jalan, menunggu jika orang yang ada di balik dinding itu justru meloncat keluar.

Ternyata orang-orang itu pun memiliki ketangkasan bergerak. Dengan cepat, tiga orang diantara mereka telah berloncatan memasuki halaman.

Barata memang agak terkejut. Tetapi ia menyadari bahwa ia harus cepat berbuat sesuatu.

Karena itu, maka Barata pun justru telah meloncat keluar halaman demikian orang-orang itu masuk. Namun ternyata di jalan pun masih ada seorang lagi. Karena itu, maka Barata telah dengan tergesa-gesa berlari secepatnya kearah yang lain.

Namun adalah diluar dugaannya. Seorang diantara mereka yang mengejarnya itu telah berteriak, “Pencuri, pencuri.”

Seluruh padukuhan itu pun menjadi gempar. Orang-orang yang sudah tidur nyenyak telah terbangun. Para peronda yang ada di gardu pun telah berloncatan turun ke jalan.

Namun mereka tidak sempat berbuat sesuatu ketika tiba-tiba saja Barata telah berlari cepat sekali disebelah mereka yang sedang termangu-mangu.

 “Pencuri,” teriakan itu masih terdengar. Beberapa orang memang berusaha mengejar. Terutama ampat orang yang keluar dari rumah orang yang sedang membaca tembang itu. Kemudian juga para peronda. Mereka telah ikut mengejar pula, sementara orang-orang lain yang baru keluar rumah mereka telah menyusul.

Tetapi Barata yang terlatih itu mampu berlari cepat. Karena itu, maka dengan cepat Barata telah berada di bulak.

Namun Barata pun segera mengetahui pula bahwa ampat orang yang mengejarnya di paling ujung itu pun bukan orang kebanyakan. Ternyata mereka juga orang yang berilmu. Mereka mampu mengimbangi kecepatan berlari Barata.

Sebenarnya Barata dapat menghindari benturan kekerasan, karena ia yakin bahwa orang-orang itu tidak akan dapat mengejarnya. Tetapi hati anak muda itu telah tergelitik untuk mengetahui lebih banyak tentang orang-orang itu.

Karena itulah, maka Barata pun telah berusaha untuk bersembunyi dibalik pohon perdu. Melepas baju keprajuritannya dan memakainya dengan sengaja terbalik sehingga tidak nampak ciri-ciri keprajuritannya. Kemudian melepas ikat kepalanya dan menutupkannya di wajahnya. Ia memang mencemaskan kemungkinan bahwa seseorang akan dapat mengenalinya karena ia sering sekali berada di padukuhan itu. Barata masih belum ingin mendapat keterangan yang lebih mendalam serta rahasia-rahasia yang tidak akan dapat diperolehnya dalam pakaian keprajuritannya.

Setelah Barata merasa siap, maka ia pun menunggu beberapa saat. Keempat orang yang merasa kehilangan buruannya itu masih saja berjalan hilir mudik.

 “Ia tidak akan dapat pergi jauh dari tempat ini,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Mungkin ia merangkak di pematang, sehingga kita kehilangan penglihatan kita atas orang itu,” desis yang lain.

 “Ia berlari sampai disini. Lalu seakan-akan hilang. Ia tentu bersembunyi disekitar tempat ini,” berkata yang lain lagi, “jika ia merangkak sekalipun, kita akan dapat melihat batang-batang padi itu berguncang. Meskipun malam hari, penglihatanku masih tetap baik.”

Kawan-kawannya terdiam. Sementara itu para peronda pun telah sampai ketempat itu pula.

Barata memang berpikir sejenak tentang orang-orangnya yang justru ada dibulak disebelah lain dari padukuhan itu. Jika ia terlambat datang, maka mereka tentu akan mencarinya.

Tetapi Barata tidak dapat mencegah keinginannya untuk menjajagi kekuatan yang sebenarnya dari padukuhan kecil itu. Karena itu, maka ia pun dengan sengaja telah mengguncang pohon perdu yang tumbuh di pinggir jalan itu agar orang-orang itu cepat menemukannya. Barata memang yakin bahwa orang-orang itu akhirnya akan menemukannya juga setelah mereka benar-benar mencarinya disemak-semak disekitar tempat itu. Tetapi tentu terlalu lama, sementara waktunya tidak banyak lagi.

Dengan demikian, maka hampir berbareng beberapa orang berteriak, “Ia ada disini.”

Sebelum orang-orang itu sempat mengepung, maka Barata telah meloncat dari balik semak-semak. Namun ia sudah tidak dapat dikenali lagi. Bajunya sudah terbalik dan wajahnya telah ditutupi dengan ikat kepalanya.

 “Jangan biarkan orang itu lolos,” geram salah seorang diantara mereka.

Tetapi Barata pun telah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, maka ketika orang-orang itu mendekatinya dari beberapa arah, maka Barata mulai memancing serangan.

Dengan demikian, maka pertempuran pun segera telah terjadi. Sedikitnya delapan orang telah mengepung Barata, sehingga karena itu, maka Barata harus mempergunakan segenap ilmunya untuk melawan mereka.

Namun Barata tahu benar kelemahan dari orang-orang yang mengepungnya itu. Yang mula-mula dijatuhkannya adalah anak-anak muda yang tentu tidak memiliki kemampuan ilmu sebagaimana Barata yang sudah menempa diri di perguruannya.

Dalam waktu singkat, keempat orang peronda itu sudah merasa kesakitan sehingga mereka menjadi ragu-ragu untuk ikut melibatkan diri lebih jauh. Meskipun demikian, mereka masih juga berdiri termangu-mangu diseputar arena.

Yang kemudian bertempur adalah keempat orang yang semula berada di rumah orang yang sedang membaca tembang itu. Mereka ternyata memiliki kemampuan yang cukup, sehingga Baratalah yang kemudian mulai terdesak.

 “Ternyata ia bukan pencuri kebanyakan,” berkata salah seorang dari mereka yang berusaha menangkapnya.

 “Jangan sampai lolos,” desis yang lain.

Sebenarnyalah keempat orang itu telah berhasil mendesak Barata sehingga Barata benar-benar mengalami kesulitan. Namun Barata masih mengerahkan kemampuannya. Sebagai seorang yang telah dipersiapkan untuk menerima Ilmu tertinggi yang disebut Janget Kinatelon, maka Barata ternyata masih dapat mengejutkan keempat lawannya.

 “Iblis manakah kau sebenarnya he?” geram salah seorang diantara keempat orang itu.

Barata sama sekali tidak menjawab. Ia meningkatkan ilmunya sampai kepuncak untuk melindungi dirinya yang berada dalam kesulitan.

Tetapi Barata masih mempunyai satu cara untuk menyelematkan diri jika terpaksa. Lari.

Untuk beberapa saat Barata masih mencoba untuk bertempur. Tiga orang lawannya bagi Barata dianggap memiliki ilmu yang cukup. Tetapi seorang diantara mereka berempat itulah yang membuat Barata kadang-kadang menjadi sangat sulit. Meskipun Barata yakin, jika ia harus bertempur seorang melawan seorang dengan orang yang terbaik diantara keempat orang itu, ia tidak akan dapat dikalahkan.

Sementara itu Barata pun harus berlomba dengan waktu. Apalagi disaat-saat terakhir, Barata memang nampaknya menjadi semakin terdesak. Bahkan untuk lolos pun rasa-rasanya menjadi semakin sulit.

Namun dalam kesulitan itu, tiba-tiba seorang yang berpakaian serba hitam telah meloncat dari dalam kegelapan dibalik gerumbul-gerumbul dipinggir jalan. Dengan serta merta orang itu telah melibatkan diri kedalam pertempuran, justru berada dipihak Barata.

Keempat orang itu terkejut. Orang yang berkain hitam, berbaju hitam dan bertutup wajah hitam itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi pula. Dengan tangkasnya orang itu telah berloncatan diantara lawan-lawan Barata, sehingga dengan demikian maka keseimbangan dari pertempuran itu pun segera berubah.

Berdua maka Barata dapat menahan keempat lawan-lawannya, sementara keempat orang peronda yang menyaksikan pertempuran itu bagaikan membeku.

Namun dalam pada itu, Barata mulai terdesak oleh waktu. Sementara itu orang yang datang itu sempat berbisik, “Kita akan segera menundukkan mereka.”

Barata segera mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah Kasadha. Bukan saja dari unsur-unsur geraknya, tetapi juga suaranya ketika ia berbisik ditelinganya.

Namun pada kesempatan lain Barata berkata perlahan, “Aku ditunggu oleh anak buahku.”

 “Aku melihat mereka,” jawab Kasadha.

 “Kita tinggalkan saja orang-orang ini,” desis Barata kemudian.

Kasadha belum sempat menjawab. Tetapi ia harus menghindari serangan seorang lawannya. Baru kemudian ia dapat mendekati Barata sambil bertanya, “Kenapa kita tinggalkan mereka?”

 “Apa artinya jika kita mengalahkan mereka? Bukankah kita akan pergi juga tanpa memperkenalkan diri? Sementara itu, waktu yang aku berikan kepada orang-orangku hampir habis,” berkata Barata.

Kasadha mengerti keberatan Barata. Karena itu, maka ia pun telah berniat untuk meninggalkan mereka.

Tetapi nampaknya Kasadha ingin meninggalkan kesan, bahwa mereka berdua tidak kalah dari keempat orang itu. Karena itu maka ia pun telah mengerahkan kemampuannya. Demikian juga Barata yang juga mengerti maksud Kasadha.

Baru ketika keempat orang itu semakin terdesak dan hampir kehilangan kesempatan, maka Barata telah memberikan isyarat kepada Kasadha.

Pada saat itulah, maka beberapa orang padukuhan telah datang sambil membawa beberapa buah obor. Suaranya riuh sekali. Bahkan beberapa orang masih saja berteriak-teriak, “Tangkap pencurinya. Tangkap.”

Tetapi Barata dan Kasadha tidak lagi menghiraukannya. Mereka pun telah meloncat meninggalkan arena.

Keempat orang itu ragu-ragu untuk mengejar mereka. Mereka menduga bahwa kedua orang itu telah memancingnya semakin jauh dari padukuhan. Kemudian mereka mungkin sekali akan dapat jatuh kedalam jebakan.

Karena itu, maka niat mereka itu pun diurungkan. Mereka berempat sama sekali tidak mengejarnya. Dua diantara mereka memang sudah melangkah untuk berlari menyusul kedua orang yang lari itu. Tetapi kawannya telah mencegahnya.

 “Kita berempat tidak akan dapat mengalahkan mereka,” berkata orang yang terkuat diantara keempat orang itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa seandainya mereka dapat mengejar kedua orang itu.

Namun dalam pada itu, seorang diantara keempat orang itu bertanya, “Siapakah mereka?”

 “Satu teka-teki yang sulit untuk dijawab. Mungkin orang-orang Pajang dalam tugas sandi,” berkata yang lain.

 “Tetapi pasukan Pajang sudah ada disini,” sahut orang yang lain.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Sementara itu orang-orang padukuhan yang membawa beberapa obor telah datang. Seorang diantara mereka bertanya, “Dimana pencuri itu?”

 “Kami tidak berhasil menangkap?” jawab salah seorang anak muda yang meronda.

 “Kenapa kalian tidak berhasil? Bukankah yang kalian tangkap hanya seorang?,” desak orang itu.

 “Ternyata ada dua orang,” jawab peronda itu.

Orang yang kecewa itu tiba-tiba saja telah merebut kentongan kecil ditangan seorang kawannya yang sejak tadi masih belum dipukul, karena mereka mengira bahwa pencuri itu tentu akan tertangkap sehingga tidak perlu membangunkan dan membuat padukuhan lain gelisah.

Tetapi pada saat mereka menyadari, bahwa pencuri itu tidak tertangkap, maka mereka merasa perlu untuk segera membunyikan isyarat juga bagi padukuhan yang lain.

Sejenak kemudian maka telah terdengar suara kentongan dengan irama dua kali berturut-turut berkepanjangan tanpa batas. Ternyata sejenak kemudian, suara itu sudah disahut oleh suara kentongan yang ada di padukuhan. Bukan hanya satu padukuhan. Nampaknya para peronda di gardu-gardu telah mendengarnya dan kemudian menyambutnya.

Dalam pada itu, Barata dan Kasadha telah menjadi semakin jauh dan hilang dalam kegelapan. Namun beberapa saat kemudian mereka pun mendengar suara kentongan yang sahut-menyahut.

Namun dalam pada itu, beberapa saat kemudian, sekelompok prajurit Pajang yang berkuda telah memasuki padukuhan yang pertama kali memberikan isyarat kentongan dipimpin oleh Barata. Dengan cepat kelompok itu mendapat laporan dari orang-orang yang tidak ikut mengejar orang yang disebut pencuri itu, bahwa pencuri itu telah berlari meninggalkan padukuhan kearah yang berlawanan dengan arah datangnya prajurit Pajang itu.

Sejenak kemudian, kuda-kuda itu telah berderap menuju ke tempat yang ditunjuk oleh orang-orang padukuhan itu. Namun betapapun mereka tergesa-gesa, tetapi kuda mereka tidak dapat berpacu cepat.

Tetapi akhirnya Barata dan prajuritnya telah berada diantara orang-orang yang sibuk karena buruan mereka telah hilang.

 “Mereka lari kemana?” bertanya Barata.

 “Mereka berlari disepanjang pematang memasuki kegelapan,” jawab salah seorang pengawal yang sedang meronda di gardu.

Barata pun telah memecah prajuritnya menjadi tiga kelompok. Mereka harus berusaha memburu pencuri-pencuri itu sambil berpencar.

Dengan sigap para prajurit itu telah berpacu untuk mencari pencuri yang hilang di kegelapan malam itu.

Seperti perintah pimpinan kelompok mereka, maka para prajurit itu sudah berpencar dan masing-masing mencari jalan mereka sendiri-sendiri.

Dalam pada itu, Barata telah menemui orang-orang padukuhan itu, terutama mereka yang sedang meronda. Namun seorang pengawal yang sedang meronda itu berkata, “Mereka berempatlah yang mula-mula melihat pencuri itu.”

Barata yang telah membalik bajunya lagi sehingga nampak ciri-ciri keprajuritannya itu sempat berbincang dengan keempat orang yang disebut oleh para peronda itu. Dari percakapan itu Barata mengetahui, bahwa seorang diantara mereka adalah orang padukuhan itu. Sedangkan orang yang ilmunya tertinggi diantara mereka adalah justru bukan orang dari padukuhan itu.

 “Terima kasih atas bantuan kalian,” berkata Barata. Lalu katanya pula, “mudah-mudahan pencuri itu tertangkap. Dalam suasana seperti ini, nampaknya mereka ingin memanfaatkan keadaan. Agaknya orang itu benar-benar tidak berperasaan.”

Beberapa saat mereka masih menunggu. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa pencuri itu masih berada disekitar tempat itu. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu, termasuk para peronda dan keempat orang yang mampu mendesak pencuri itu telah berjalan beriringan kembali ke padukuhan. Mereka merasa sangat kecewa bahwa mereka tidak mampu menangkap pencuri itu. Bahkan ternyata telah datang pula beberapa orang dari padukuhan tetangga. Mereka pun merasa kecewa pula, karena pencuri itu tidak tertangkap.

 “Lain kali mereka akan menyentuh padukuhan kami,” berkata orang padukuhan sebelah.

 “Berhati-hatilah,” sahut orang dari padukuhan yang merasa kehilangan pencuri itu, “kalian harus berjaga-jaga dengan sebaik-baiknya. Terutama justru menghadapi pencuri-pencuri itu.”

Barata hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang padukuhan itu perhatiannya lebih banyak tertarik kepada pencuri-pencuri daripada kemungkinan hadirnya orang-orang dari Mataram.

Namun Barata hampir mendapat kepastian, bahwa keempat orang itu telah bekerja untuk kepentingan Mataram. Sudah barang tentu juga orang yang sering membaca kidung itu. Suaranya yang keras itu disengaja untuk membuat agar pembicaraan dirumahnya menjadi kabur dan tidak mudah didengar oleh orang lain.

Sejenak kemudian, maka orang-orang padukuhan itu, termasuk keempat orang yang berilmu cukup itu serta Barata telah berada di banjar padukuhan. Mereka masih sibuk berbicara tentang pencuri yang berhasil lepas dari tangan mereka itu.

Dalam kesibukan itu Barata melihat, beberapa orang pengawal yang tinggal di padukuhan itu telah berada di banjar pula. Demikian pula anak-anak muda dan bahkan hampir semua orang laki-laki.

Tetapi Barata tidak yakin, apakah mereka juga akan berkumpul seperti itu jika mereka dihadapkan kepada prajurit Mataram.

Beberapa saat kemudian, para prajurit yang mengejar pencuri itu dengan berkuda, telah datang pula. Mereka tidak berhasil menemukan jejaknya. Bahkan mereka telah sampai ke padukuhan sebelah yang nampaknya juga sudah bersiaga karena suara kentongan itu.

 “Memang sulit,” berkata orang yang berilmu paling tinggi diantara keempat orang yang telah bertempur dengan orang yang disebutnya pencuri itu, “dengan berkuda, maka para prajurit itu tidak akan dapat menemukan pencurinya.”

 “Kenapa?,” Barata pura-pura bertanya.

 “Pencuri itu tentu tidak akan berlari melalui jalan bulak. Mereka tentu akan meniti pematang dan jalan-jalan setapak yang jarang dilalui orang,” jawab orang itu.

Barata mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Agaknya memang begitu.”

Orang itu agaknya telah bersungut-sungut. Ketika Barata kemudian beringsut, orang itu berbisik kepada kawan-kawannya yang ketiga orang itu, “Pajang memang bodoh. Anak semuda itu telah dipasang menjadi seorang pemimpin kelompok. Ternyata pengalamannya masih sedikit sekali. Bahkan nampaknya anak ini tidak tahu apa-apa. Mengejar pencuri pun nampaknya ia tidak mampu. Apalagi pencuri yang satu ini, tentu bukan pencuri biasa.”

 “Memang mungkin, ia seorang petugas sandi Pajang,” berkata seorang kawannya.

 “Jika kerja sama mereka dengan para prajurit itu tidak baik, maka akan dapat terjadi benturan. Pemimpin kelompok yang muda ini memang dapat bergerak cepat. Dalam waktu singkat mereka telah berada di padukuhan ini demikian kita membunyikan isyarat. Tetapi ini adalah hasil latihan mereka di barak-barak keprajuritan yang cepat dapat dikuasai. Namun entahlah tentang olah kanuragan. Seandainya tiga orang prajurit berkuda itu bertemu dengan dua orang pencuri itu, maka tiga orang prajurit itu akan dapat menjadi mayat, seandainya pencuri itu bukan petugas sandi Pajang sendiri,” berkata orang yang berilmu tertinggi diantara mereka berempat.

Beberapa saat kemudian Barata telah mengumpulkan prajurit-prajuritnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku menyesal sekali bahwa kami telah datang terlambat, sehingga kami tidak dapat membantu kalian. Kami berjanji bahwa lain kali kami akan berusaha berbuat lebih baik. Tetapi ini juga merupakan satu cambuk bagi pedukuhan ini untuk lebih bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Sekarang kita baru berhadapan dengan dua orang pencuri. Lain kali kita mungkin berhadapan dengan prajurit Mataram yang tidak hanya satu atau dua. Tetapi mungkin ampat atau lebih.”

Keempat orang yang berilmu tinggi itu merasa berdebar-debar. Bahwa Barata menyebutkan angka ampat itu telah membuat mereka melihat kedalam lingkungan mereka. Bahkan ada diantara mereka yang bertanya kepada diri sendiri, “Apakah pemimpin kelompok yang muda ini sudah mengetahui kehadiran kami? Nampaknya ia adalah anak muda yang sangat cerdas, meskipun barangkali pengalamannya masih terlalu sedikit.”

Tetapi yang lain telah menghibur diri sendiri, “Satu angka kebetulan saja disebut. Ampat atau lebih. Tentu tidak ada hubungannya dengan jumlah kami yang ampat sekarang ini.”

Sementara itu Barata pun melanjutkan kata-katanya, “Sekarang kami akan melanjutkan tugas kami. Jika kami bertemu dengan orang yang kami curigai, maka orang itu akan kami bawa kemari untuk dicoba dikenali. Beberapa saat sebelum terjadi keributan di padukuhan ini, kami sekelompok ini telah lewat jalan induk ini pula. Kami memang tidak berhenti di banjar, tetapi kami berbicara dengan para peronda. Mudah-mudahan padukuhan ini akan menjadi tenang untuk selanjutnya.”

Sejenak kemudian, maka sekelompok prajurit yang dipimpin oleh Barata itu pun telah meninggalkan banjar. Demikian mereka keluar dari padukuhan, maka Barata pun telah berkata kepada orang-orangnya, “Kita ternyata harus berhati-hati menghadapi padukuhan kecil ini.”

Ketika mereka selesai dengan tugas mereka dan kembali ke tempat mereka, maka setelah menyerahkan kuda-kuda mereka kepada yang bertugas untuk dibersihkan dan dirawat dengan baik, sebelum dipergunakan lagi dihari berikutnya, Barata langsung mengumpulkan prajurit-prajuritnya. Meskipun masih ada yang dirahasiakan, tetapi Barata telah memberikan peringatan kepada prajurit-prajuritnya, bahwa di padukuhan itu terdapat beberapa orang yang berilmu cukup tinggi.

 “Kita harus berhati-hati menghadapi mereka,” berkata Barata.

Prajurit-prajuritnya yang telah mendapat gambaran itu memang menjadi lebih berhati-hati menghadapi padukuhan yang menjadi medan pembinaan mereka bersama kelompok yang dipimpin oleh Kasadha.

Sementara itu, ketika anak buahnya sedang beristirahat setelah mendapat tugas di malam hari, maka Barata telah menemui Kasadha.

Dengan nada rendah ia berkata, “Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.”

 “Pertolongan apa?” bertanya Kasadha.

 “Semalam. Jika kau tidak datang, mungkin aku tidak lagi dapat melihat matahari terbit,” berkata Barata.

 “Begitu mudahnya kau mati?” Kasadha justru tertawa, “tentu tidak. Kau masih mempunyai banyak kesempatan.”

 “Saat itu aku benar-benar terjepit. Untuk lolos pun, rasa-rasanya sangat sulit bagiku,” berkata Barata, “seorang diantara mereka mempunyai ilmu yang cukup tinggi.”

 “Ya. Tetapi bagaimanapun juga, tanpa aku, kau akan dapat mengatasinya. Sementara itu, aku memang merasa cemas, bahwa kau telah pergi sendiri ke padukuhan itu. Agaknya di padukuhan itu perhatian kita sama-sama tertuju kepada orang yang membaca kidung dengan suara yang sangat keras itu,” berkata Kasadha.

 “Kau juga ada di sana?” bertanya Barata.

 “Tetapi aku tidak sempat memasuki halamannya. Aku yakin kau ada didalam. Karena itu, aku mengawasi saja dari luar. Akhirnya, beberapa orang telah keluar juga sementara kau berusaha untuk mengikuti mereka,” berkata Kasadha.

 “Jadi kau tidak mendengar pembicaraan dirumah itu?” bertanya Barata.

 “Tentu tidak,” jawab Kasadha.

Dengan singkat Barata menceriterakan apa yang telah didengarnya. Sehingga dengan demikian maka mereka berdua yakin, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang Mataram. Setidak-tidaknya orang-orang yang telah dipengaruhi dan bahkan bekerja untuk Mataram.

 “Apakah kita akan melaporkan kepada Ki Lurah?” bertanya Kasadha.

 “Kita tunggu saja perkembangannya,” berkata Barata, “jika keadaan benar-benar tidak teratasi, kita akan melaporkannya. Tetapi bagaimana jika kita mencoba untuk mengatasinya?”

 “Mereka tentu sadar bahwa ada sesuatu yang harus mereka perhatikan. Mereka tentu akan menjadi semakin berhati-hati,” berkata Kasadha.

 “Ya. Sebagaimana kita berhati-hati,” jawab Barata.

Namun akhirnya Kasadha pun setuju, bahwa hal itu tidak akan cepat-cepat dilaporkan kepada Ki Lurah. Barata pun telah memerintahkan kepada para prajuritnya, bahwa persoalan di padukuhan itu adalah rahasia seorang prajurit yang ditekankan untuk disimpan sebaik-baiknya sesuai dengan sumpah mereka selagi mereka diwisuda menjadi prajurit.”

 “Tidak boleh ada orang lain yang mendengarnya,” perintah Barata tegas.

Kasadha pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Untuk selanjutnya kita akan dapat selalu berhubungan untuk memperbincangkan persoalan yang mungkin mendesak. Tetapi apakah menurut pertimbanganmu aku boleh memberitahukan hal ini kepada orang-orangku?”

 “Aku tidak berkeberatan,” berkata Barata.

 “Mereka akan berhati-hati,” desis Kasadha kemudian.

Dengan sedikit mengetahui isi padukuhan itu, maka Barata dan Kasadha dapat menjadi lebih berhati-hati. Mereka sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka mengetahui serba sedikit rahasia yang tersimpan di padukuhan itu. Apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mengalami perubahan. Barata dan Kasadha masih saja mengatur kesiagaan di ketiga padukuhan kecil yang letaknya berdekatan itu.

Untuk meningkatkan kewaspadaan, maka Kasadha dan Barata telah merencanakan untuk mengadakan latihan-latihan bagi para pengawal terutama dari ketiga padukuhan itu ditambah dengan beberapa orang anak muda yang dianggap memiliki kemampuan dan kemungkinan jasmani yang memadai.

Ternyata usaha Barata dan Kasadha sedikit demi sedikit mulai nampak hasilnya. Ikatan-ikatan paugeran mulai ditaati serta peraturan-peraturan pun mulai berlaku.

Namun keadaan itu tidak luput dari perhatian orang-orang yang oleh Mataram memang di tempatkan di padukuhan-padukuhan itu untuk mengamati bukan hanya padukuhan itu, tetapi seluruh Kademangan Randukerep.

 “Kita tidak boleh gagal,” berkata salah seorang petugas dari Mataram, “Kademangan ini tidak boleh tunduk taat sepenuhnya kepada Pajang. Kita harus menjadikan padukuhan ini ajang pertentangan, seperti beberapa Kademangan yang telah direncanakan. Pada saatnya Kademangan ini akan berpihak sepenuhnya kepada Mataram.”

 “Tetapi kita harus berhati-hati. Nampaknya Ki Lurah Dipayuda cukup bijaksana. Para pemimpin kelompoknya termasuk prajurit-prajurit yang berpandangan terang. Bahkan yang muda-muda pun nampak cerdas dan cekatan,” sahut yang lain.

Ternyata orang-orang yang bekerja untuk Mataram itu sepakat. Tetapi seperti yang mereka perhitungkan, mereka harus bekerja dengan baik, teliti dan tidak tergesa-gesa. Namun bukan berarti lamban.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 24

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s