SST-21

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

SIKAP yang keras dan bahkan kejam dari Ki Rangga itu ternyata tidak mampu melindungi padepokan mereka, sehingga pada suatu saat yang tinggal adalah abunya saja.

 “Puguh,” berkata Ki Randu Keling yang seakan-akan dapat membaca gejolak hati anak muda itu, “ternyata bahwa yang dilakukan oleh ayah dan ibumu selama ini tidak menjamin kerahasiaan padepokan kita. Bahkan akhirnya padepokan kita benar-benar telah dihancurkan tanpa bekas. Karena itu, maka sikap sebagaimana dilakukan oleh ayah dan ibumu itu perlu diperhitungkan kembali, apakah pada saat yang lain masih juga perlu dilakukan.”

Puguh menundukkan kepalanya. Ia mengerti sepenuhnya pendapat Ki Randu Keling. Tetapi bagaimanapun juga, ia masih saja dicengkam oleh perasaan takut kepada ayah dan ibunya yang telah berpesan kepadanya, agar kehidupan di padepokan itu sama sekali jangan mengalami perubahan.

Ki Randu Keling yang melihat keragu-raguan di wajah Puguh berkata selanjutnya, “Mungkin kau masih selalu dibayangi oleh pesan ayahmu. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa yang terjadi ini bukan salahmu. Bahkan kau harus membuat perhitungan-perhitungan yang lebih cermat tentang kemungkinan yang bakal datang. Apakah menurut pendapatmu, ayah dan ibumu masih akan datang ke padepokan ini? Padepokan yang pernah didatangi oleh musuh-musuhnya dan dihancurkannya.”

Puguh mengangguk-angguk. Ia memang mulai memikirkan kemungkinan seperti itu.

Ternyata bahwa Puguh pun mempunyai kesimpulan bahwa ayah dan ibunya tidak akan mungkin datang lagi ke tempat yang tentu dianggapnya sangat berbahaya, karena tempat itu telah diketahui oleh musuh-musuhnya. Justru musuh-musuh yang belum dikenalnya dengan jelas.

Dengan demikian maka Puguh pun kemudian condong untuk membangun padepokan itu sesuai dengan angan-angannya sendiri menurut petunjuk kakek dan gurunya. Nampaknya akan menjadi lebih baik bagi masa mendatang. Meskipun Puguh masih harus memperhitungkan orang-orang yang mungkin masih tetap mendendam kepada ayah dan ibunya.

Namun Puguh pun sadar, bahwa membangun padepokan itu diperlukan waktu yang panjang. Mereka harus mendapatkan bahan dan mendapatkan tenaga manusia untuk melaksanakan-nya.

 “Sudahlah,” berkata Ki Randu Keling, “kita memang ingin membangun kembali padepokan ini. Tetapi tentu bukan harus dilaksanakan besok pagi atau lusa. Kita harus membuat beberapa perhitungan dan pertimbangan.”

 “Sementara ini, apa yang harus kita lakukan kek?” bertanya Puguh.

 “Kita harus beristirahat dahulu lahir dan batin. Kita mencoba merenungkan apa yang telah terjadi dan apa yang mungkin terjadi. Kita juga harus mencari jalan, bagaimana kita mendapatkan bahan dan tenaga untuk membangun kembali padukuhan kita. Bukan hanya sekedar mendirikan bangunan di lingkungan padepokan ini. Bangunan induk dan barak-barak. Tetapi juga siapakah yang akan menghuni barak-barak itu. Siapa pula yang akan mengerjakan sawah dan ladang kita untuk mencukupi kebutuhan seisi padepokan. Tetapi siapa pula yang mempunyai kebutuhan itu,” jawab Ki Randu Keling.

Puguh menarik nafas dalam-dalam, sementara gurunya berkata, “Kita memang memerlukan waktu.”

 “Apakah kita akan tetap berada disini selama kita menyusun rencana dan mengusahakan bahan serta tenaga?” bertanya Puguh.

 “Bukankah itu tidak mungkin?” desis Ki Randu Keling, “apakah kita akan membiarkan diri kita kepanasan disiang hari, berembun dimalam hari dan basah kuyup dihari hujan?”

Namun Ki Ajar Paguhan kemudian berkata, “Maksudmu, kemana kita untuk sementara akan tinggal?”

 “Ya guru,” jawab Puguh.

 “Puguh,“ suara gurunya merendah, “sebelum aku tinggal di padepokan ini atas permintaan kakekmu, aku sudah mempunyai tempat tinggal. Sama sekali bukan sebuah padepokan. Tetapi aku justru menyepi disatu tempat yang terasing sama sekali. Namun selain aku, kakekmu juga mempunyai rumah tempat tinggal. Nah, sekarang dapat kita pertimbangkan, apakah kita akan pergi ke tempat tinggalku semula atau kita akan pergi ke rumah Ki Randu Keling.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memandangi gurunya dan kakeknya berganti-ganti. Namun akhirnya ia berkata, “Terserahlah kepada guru dan kakek.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk. Dengan kerut dikening ia berkata kepada Ki Randu Keling, “Ki Randu Keling lah yang akan mengambil keputusan. Bahwa aku tinggal di padepokan ini pun karena Ki Randu Keling minta kepadaku. Jika bukan Ki Randu Keling yang aku kenal sejak masa muda dan telah banyak berbuat sesuatu bersama-sama, maka aku tentu tidak akan betah tinggal disini.”

Ki Randu Keling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, maka sebaiknya kita kembali saja kerumahku. Rumahku lebih banyak memenuhi beberapa persyaratan sebagai rumah tempat tinggal daripada gubug Ki Ajar Paguhan.”

 “Rumahmu yang mana Ki Randu Keling?” bertanya Ki Ajar Paguhan.

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Namun bagaimanapun juga sebaiknya ia berada di tempat yang sementara aman bagi Puguh. Orang-orang yang mencari Ki Rangga dan Warsi itu akan dapat beralih sasaran. Jika keduanya tidak segera ditemukan, maka mereka akan dapat menangkap anaknya sebagai barang taruhan.

Karena itu, maka Ki Randu Keling pun berkata, “Aku juga memikirkan kemungkinan buruk bagi Puguh jika diketahui tempatnya. Karena itu, maka aku akan membawa kalian ke rumahku yang ditunggui oleh seorang kemanakanku di kaki Pegunungan Sewu, disebelah Barat Sembojan. Jaraknya cukup panjang dari Sembojan.”

Namun tiba-tiba saja Puguh bertanya, “Apakah kakek mempunyai dugaan bahwa yang telah datang kemari adalah orang-orang Sembojan?”

 “Tidak.” jawab Ki Randu Keling, “orang-orang Sembojan tidak akan berbuat sekeji itu. Aku mengenal mereka dan aku yakin akan hal itu.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia pun teringat akan kehadiran dua orang yang ditemuinya di Song Lawa, yang mengaku bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Puguh pun sudah menduga, bahwa nama itu tentu bukan nama mereka yang sebenarnya.

Namun Puguh pun tidak dapat menduga bahwa keduanya pun yang telah melakukan kekejian itu. Puguh menyadari, bahwa ilmu kedua orang itu sangat tinggi, sehingga tanpa kehadiran gurunya dan kakeknya di padukuhan itu, maka dengan bantuan beberapa orang saja keduanya akan dapat menghancurkan padepokan itu menjadi abu seperti yang telah terjadi. Namun menilik sifat keduanya, maka Puguh yakin, bahwa bukan kedua orang itulah yang telah melakukannya. Apalagi kedua orang itu juga tidak nampak diantara orang-orang yang telah mencari ayah dan ibunya di persembunyiannya.

 “Jika kedua orang itu ada, aku tidak tahu, apakah guru dan kakek akan dapat mengatasinya,” berkata Puguh didalam hatinya.

Tetapi Puguh tidak mengatakannya kepada guru dan kakeknya. Apalagi menurut pendapat Puguh keduanya bersikap baik kepadanya.

Demikianlah, maka mereka telah sepakat untuk pergi ke kaki Pagunungan Sewu yang panjang, yang membujur di sisi Selatan tanah tempat mereka tinggal.

Namun mereka tidak berangkat hari itu juga. Mereka akan berangkat fajar dihari berikutnya. Mereka masih ingin merenungi padepokan mereka yang telah menjadi abu itu.

Ternyata yang telah terjadi itu merupakan tempaan bukan saja bagi tubuh dan ketrampilan Puguh dalam olah kanuragan, tetapi juga jiwanya telah tertempa. Ia menjadi semakin memahami kehidupan yang penuh dengan tantangan. Bahkan tantangan yang hampir saja menyentuh nyawanya.

Ketika kemudian malam turun, ketiganya telah bersiap-siap untuk meninggalkan padepokan yang telah menjadi abu itu di keesokan harinya. Namun mereka masih akan menunggui sepanjang malam. Satu-satunya yang masih dapat dipergunakan dengan baik di kedua padepokannya itu adalah sumurnya. Senggotnya masih terpasang di sebatang pohon randu dengan timba yang terbuat dari upih masih tergantung di ujungnya.

***

Tetapi agaknya Puguh tidak terlalu cepat dapat tidur, ia masih saja merenungi padepokannya sehingga lewat tengah malam. Namun akhirnya, Puguh pun telah tertidur pula sampai menjelang dini hari.

Pagi-pagi benar mereka telah bangun. Mandi dengan air sumur yang terasa sangat segar bagi Puguh. Sumber air yang telah cukup lama diteguknya, sehingga pati sarinya telah mengaliri segenap urat nadinya.

Namun untuk sementara tempat itu harus ditinggalkannya. Tetapi Puguh tetap pada pendiriannya, bahwa pada suatu saat ia akan kembali ketempat itu dan membangun padepokannya kembali meskipun dengan ujud dan watak yang berbeda.

Dalam pada itu, selagi Puguh bersama guru dan kakeknya muiai menempuh perjalanan menuju ke kaki Pegunungan Sewu, maka di Tanah Perdikan Sembojan, seorang anak muda yang sebaya dengan Puguh, bahkan sedikit lebih tua meskipun selisihnya tidak lebih dari satu tahun, sedang sibuk di dalam sanggarnya. Anak muda itu juga bangun sebelum dini hari, memasuki sanggar dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia telah berusaha untuk melatih ketahanan tubuhnya, ketrampilan gerak dan bahkan untuk mengembangkan kekuatan dan kemampuannya.

Dua orang menungguinya serta memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Ketika anak muda itu berloncatan dari tonggak yang satu ketonggak yang lain, bahkan kemudian menelusuri palang bambu serta sekali-kali menggelantung pada tali-tali yang terjulur, terayun dan hinggap pada patok-patok bambu yang agak tinggi.

 “Kemampuannya cukup memadai,” desis salah seorang diantara kedua orang yang menungguinya, “Kiai Badra telah mempersiapkannya untuk memasuki satu keadaan yang dipersiapkan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berdesis, “Tetapi anak ini agak terlalu manja dibandingkan dengan Puguh yang menjadi dewasa ditempa oleh keadaan.”

Keduanya terdiam sejenak. Namun nampak kepala mereka yang terangguk-angguk kecil.

Sejenak kemudian, maka anak muda itu telah duduk diatas sebuah tonggak batang kelapa. Sambil duduk bersila ia mengembangkan kedua tangannya. Sekali terentang lebar-lebar sambil menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diputar keatas dan perlahan-lahan kedua telapak tangannya mengatup diatas kepalanya. Kedua telapak tangan yang mengatup itu pun perlahan-lahan pula turun sampai kedadanya.

Untuk beberapa saat ia bertahan dalam keadaannya. Namun kemudian kedua telapak tangannya itu pun telah terurai. Sambil meloncat turun anak muda itu tersenyum.

 “Kau telah mencapai kemajuan yang berarti, Risang,” berkata Sambi Wulung, salah seorang diantara kedua orang yang menungguinya berlatih itu.

 “Ya,” sahut Jati Wulung, “baru beberapa hari kau berada disini. Namun yang beberapa hari ini telah kau pergunakan sebaik-baiknya.”

 “Ah, tidak seberapa. Tetapi aku sudah berusaha sejauh dapat aku lakukan,” jawab Risang.

 “Kau sudah membagi waktumu dengan baik,” berkata Sambi Wulung. Lalu katanya pula, “Kau isi waktumu di pagi hari dengan latihan-latihan seperti ini. Kemudian kau berlatih dialam terbuka dengan menjelajahi jalan-jalan di Tanah Perdikan ini. Turun naik gumuk-gumuk besar dan kecil. Menyusuri sungai dan jalan-jalan yang terjal. Kemudian disore hari kau berlatih dengan orang-orang yang dapat kau anggap sebagai gurumu. Meningkatkan serta memperdalam ilmu yang telah kau miliki. Sedangkan malam hari kau belajar ilmu kesusasteraan serta ilmu yang lain yang berhubungan dengan perkembangan kecerdasan dan pengetahuanmu disamping memperdalam pengetahuanmu tentang hubungan antara manusia dengan penciptanya.”

 “Pembagian waktu ini bukankah berlaku sejak aku di padepokan?” desis Risang.

 “Ya. Dan itu harus kau pertahankan terus. Kecuali jika saatnya kau benar-benar dalam persiapan menerima ilmu tertinggi sebagaimana dimiliki oleh ibumu,” berkata Sambi Wulung.

 “Masih sangat jauh,” berkata Risang, “tetapi aku juga tidak terlalu tergesa-gesa meskipun aku mengerti bahwa diluar pengetahuanku, aku tiba-tiba saja sudah berada dalam suasana yang bermusuhan. Tetapi aku tidak mengenali siapakah musuh-musuhku itu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang memang sudah tumbuh semakin dewasa. Karena itu, maka penglihatannya atas dirinya dalam kehidupan pun telah berkembang. Jika semula Risang hanya bertanya kenapa dirinya harus disamarkan, maka kini ia merasa bahwa sebenarnyalah ia telah berada dalam suasana yang tidak diinginkannya. Tiba-tiba saja diluar tanggung jawabnya ia telah dihadapkan kepada musuh-musuhnya yang mendendamnya, bahkan akan membunuhnya.

Pertanyaan yang paling dicemaskan akan datang dari Risang itu akhirnya didengar juga oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

 “Kenapa permusuhan itu terjadi?” bertanya Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung merasa sangat sulit untuk menjawab. Mereka memang menyatakan, bahwa mereka tidak banyak mengetahui tentang hal itu, karena mereka tidak terlibat langsung.

Tetapi Risang berkata, “Kalau jawaban itu aku dengar lima tahun yang lalu, maka aku tentu akan mempercayainya.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Risang. Kau memang sudah bertambah dewasa. Tetapi justru karena itu, maka kau pun harus mengetahui bahwa aku tidak berwenang untuk menjawab pertanyaanmu itu.”

 “Aku mengerti,” suara Risang merendah, “kakek pun mengatakan begitu. Demikian juga nenek. Sedangkan ibu menganggap aku masih terlalu kecil untuk mengetahuinya. Sementara itu aku sudah mengetahui sejak lama, bahwa aku harus bersembunyi di padepokan yang sunyi itu. Terpisah dari keluarga dan lebih dari itu, aku tidak berada di tanah kelahiran sendiri.”

 “Semua itu untuk kebaikanmu,” berkata Jati Wulung.

Risang mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku menyadarinya. Tetapi tentu tidak selalu dibayangi oleh sebuah teka-teki. Sementara itu aku hanya tahu, ibu terluka dalam sebuah pertempuran tanpa mengetahui ujung dan pangkalnya.”

Sambi Wulung lah yang menyahut, “Jika kau dipanggil sekarang ini, mungkin ibumu telah menganggapmu cukup dewasa untuk mendengar tentang banyak hal yang menyangkut Tanah Perdikan ini. Kedudukanmu sebagai seorang anak laki-laki Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan dan hal lain-lain yang ada hubungannya dengan keadaanmu itu.”

Risang mengangguk kecil. Ia memang mengharap ibunya mengatakan sesuatu. Tetapi jika ibunya tetap berdiam diri, maka ia akan memberanikan diri untuk bertanya tentang dirinya lebih jauh. Tentang permusuhan yang terjadi dan tentang ancaman terhadap dirinya sehingga ia perlu menyingkir dari Tanah Perdikan itu.

Tetapi Risang ternyata tidak perlu bertanya kepada ibunya. Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian menemui Iswari, maka pertanyaan Risang itu telah di kemukakannya.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Karena saat itu ada ketiga orang kakek dan neneknya, maka ia pun kemudian bertanya, “Apakah sudah waktunya aku mengatakannya kepada Risang?”

Kiai Badra lah yang kemudian menjawab, “Agaknya memang sudah waktunya, Iswari. Lebih baik kau sendiri yang mengatakannya daripada orang lain. Jika orang-orang dirumah ini tidak mau memenuhi hasrat ingin tahunya, maka Risang mungkin saja akan mencari keterangan diluar rumah ini. Mungkin ia akan menemui orang-orang tua di Tanah Perdikan ini untuk mendapatkan keterangan. Sementara itu, orang-orang tua itu tidak tahu dengan pasti apakah yang sebenarnya terjadi dengan latar belakangnya, sehingga dengan demikian maka yang dapat mereka terangkan adalah sekedar ujud lahiriahnya saja. Itu pun tidak selengkapnya. Dengan demikian maka akan dapat menimbulkan salah tanggapan dari Risang sendiri atas persoalan yang menyangkut Tanah Perdikan ini dan yang menyangkut tentang dirinya.”

Iswari pun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Baiklah kek. Nanti setelah senja aku akan berbicara dengan Risang.”

 “Dimana Risang sekarang?” bertanya Kiai Badra.

 “Bersama Bibi dikebun. Risang sering bertengger di pohon jambu air di belakang,” sahut Sambi Wulung.

 “Baiklah,” berkata Kiai Badra, “tolong sampaikan kepada anak itu, bahwa senja nanti ibunya ingin berbicara dengannya.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia ikut merasa lega bahwa dengan demikian Risang tidak akan mengulangi lagi pertanyaan yang sulit itu kepada mereka.

 “Aku akan mengatakan semuanya,” berkata Iswari, “dengan demikian maka ia akan mempunyai gambaran yang benar tentang dirinya dalam hubungan dengan Tanah Perdikan ini serta orang-orang yang masih saja selalu mengganggu ketenangan Tanah Perdikan ini.”

 “Agaknya memang sudah waktunya,” desis Nyai Soka, “ia tidak boleh terlalu lama merasa terganggu oleh pertanyaan itu didalam hatinya.”

Orang-orang tua itu masih sempat memberikan beberapa pesan kepada Iswari, apakah yang sebaiknya dikatakan kepada Risang. Memang harus tuntas, tetapi bijaksana, sehingga tidak menumbuhkan gejolak baru dihati anak muda itu.

 “Ia pernah menyatakan bahwa sebaiknya ia tidak perlu bersembunyi seandainya ada orang yang mengancam untuk membunuhnya sekalipun,” berkata Sambi Wulung.

 “Ya,” desis Iswari, “nampaknya harga dirinya memang tersinggung.”

 “Ia tentu akan kecewa atas dirinya sendiri, atas ayahnya, ibunya, kakeknya dan orang-orang disekitarnya. Tetapi itu lebih baik diketahuinya sekarang daripada lebih lama lagi berteka-teki, apalagi jika ia mendengar dari orang lain,” berkata Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Terkilas jalan hidupnya sendiri yang penuh dengan gejolak. Ketika ia dilamar oleh Ki Wiradana, putera Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka seakan-akan nampak fajar yang akan menyingsing di Timur. Namun tiba-tiba matahari berjalan terlalu cepat, sehingga ia pun telah terlempar ke suramnya senja yang kelabu. Hadirnya seorang perempuan yang bernama Warsi, yang memasuki Tanah Perdikan sebagai seorang penari keliling telah merusakkan segala-galanya.

Bulu-bulu di tengkuknya terasa berdiri jika teringat olehnya bagaimana Bibi membawanya ke satu tempat yang sepi dan siap membunuhnya. Untunglah bahwa Bibi yang disebut Serigala Betina itu masih memiliki secercah kebaikan hati didalam dadanya yang penuh dengan noda-noda, sehingga ia membatalkan rencananya untuk membunuhnya. Apalagi saat itu ia sedang mengandung anak laki-laki-nya. Risang.

 “Apakah aku juga harus mengatakannya?“ Iswari lah yang kemudian bertanya kepada diri sendiri.

Namun Iswari masih sempat merenungkannya sampai senja turun. Ia pun masih sempat membicarakannya dengan ketiga orang kakek dan neneknya.

Demikianlah ketika senja turun, maka Risang telah menghadap ibunya. Malam itu ia tidak akan mempelajari pengetahuan tentang hidup dan kehidupan, juga tidak memperdalam pengetahuannya tentang hubungannya dengan penciptanya serta sesamanya. Tetapi Risang ingin mendengarkan satu kisah yang panjang tentang dirinya.

Ibunya pun telah bertekad untuk menceriterakan semua hal tentang Risang dan lingkungannya. Tetapi pada saat terakhir Iswari memutuskan untuk tidak mengatakan, bagaimana ayah Risang itu merencanakan pembunuhan atas dirinya disaat ia sedang mengandung.

 “Tidak banyak orang yang mengetahuinya,” berkata Iswari didalam hatinya, sehingga ia pun berharap bahwa tidak akan ada orang yang menyampaikannya kepada Risang setelah Iswari berpesan kepada Bibi untuk merahasiakan hal itu kepada anaknya.

Risang memang menjadi berdebar-debar. Sudah terlalu lama ia menunggu kesempatan seperti itu.

Namun untuk mengurangi debar dijantung Iswari, maka ia minta salah seorang kakek atau neneknya mendampinginya disaat ia berbicara dengan Risang.

Ternyata kakeknya sendirilah yang akan bersama-sama menceriterakan tentang diri Risang yang baru diketahuinya serba sedikit itu.

Demikianlah, maka dengan-penuh perhatian Risang mendengarkan ibunya berkata, “Risang. Aku anggap kau sudah cukup dewasa untuk mengenal dirimu sendiri lebih dekat. Tentu ada yang dapat kau banggakan tentang dirimu, tentang orang tuamu dan tentang lingkunganmu. Tetapi tentu ada pula yang tidak sejalan dengan angan-anganmu. Kau tidak boleh menjadi terlalu kecewa. Yang penting bagimu bukannya masa lampaumu, meskipun masa lampau bagi seseorang akan ikut menentukan masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa lampau memang bukan sekedar untuk dikenang. Tetapi dapat dipetik sebagai pengalaman yang perlu diperhitungkan dalam langkah-langkah kita sekarang dan di masa datang.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Ia tahu bahwa pengantar itu tentu sekedar menenangkannya, karena Risang pun serba sedikit telah dapat meraba, bahwa masa lampau bagi keluarganya adalah masa yang buram.

 “Risang,” berkata ibunya pula, “karena kau sudah dewasa, maka kau tentu dapat mempertimbangkan keteranganku dengan sikap dewasa pula serta menanggapinya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.”

Risang mengangguk kecil pula sambil berdesis, “Aku mengerti ibu.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Risang sudah tidak sabar lagi menunggu, sementara ia masih belum sampai kepada masalah yang sebenarnya.

Namun kemudian Iswari yang sudah bertekad bulat untuk mengungkapkan masa lampau anaknya dengan terbuka, meskipun melalui saringan yang lembut, telah mulai dari masa lampaunya sendiri. Disaat-saat ia memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

Peristiwa demi peristiwa disampaikannya dengan jelas. Diceriterakannya pula hadirnya seorang penari jalanan yang telah mendesaknya keluar dari Tanah Perdikan itu, tanpa menyebut usaha pembunuhan yang urung, karena Bibi tahu ia sedang mengandung.

Risang mengikuti ceritera ibunya dengan saksama. Sebagian memang tidak mengejutkannya. Namun sebagian yang lain telah membuat hatinya bergejolak. Seolah-olah ia telah dihadapkan pada suatu cermin yang menunjukkan wajahnya yang sebenarnya. Cacat-cacatnya serta noda-noda yang terdapat di wajah itu.

Risang menundukkan wajahnya semakin dalam. Sementara ibunya berkata, “Risang. Kau harus berani melihat kenyataan tentang dirimu, sebagaimana ibumu melakukannya. Ibu pun melihat cacat diri yang dapat membuat diriku terasa terlalu kecil dihadapan orang lain. Sebagai seorang perempuan aku telah disingkirkan dari sisi seorang suami. Tetapi aku tidak menyerah kepada keadaan. Keadaan itu telah mendorongku untuk menempuh satu laku yang berat dan panjang. Ternyata usahaku berhasil. Jalur pimpinan Tanah Perdikan ini tidak akan berkisar dari alur yang seharusnya meskipun ayahmu sudah tidak ada. Tetapi banyak saksi yang akan memperkuat kedudukanmu, karena kita berada dijalan kebenaran. Apalagi pertanda kebesaran Tanah Perdikan ini pun ada padamu.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak sepatah kata pun yang diucapkannya. Namun perasaan kecewa dan menyesal telah bergulat dihatinya.

Risang memang tidak menyalahkan kepada ibunya. Apalagi ketika ia mendengar bahwa dua kali ibunya harus berhadapan dengan bekas madunya itu. Bukan soal seorang laki-laki. Tetapi mereka bertempur karena Tanah Perdikan Sembojan ini. Apalagi setelah perempuan yang bernama Warsi itu bekerja sama dengan Ki Rangga Gupita yang sedang mencari kesempatan untuk membalas dendam terhadap Pajang.

Tetapi bagaimanapun juga setiap orang di Tanah Perdikan itu tahu bahwa ia adalah anak yang sebenarnya telah tersingkir bersama ibunya. Saat itu, apapun alasannya, ibunya sudah tidak dikehendaki lagi oleh ayahnya, sehingga sebenarnyalah bahwa ia pun seharusnya sudah tidak berada di Tanah Perdikan itu lagi.

Dalam pada itu, ibunya pun kemudian berkata, “Risang. Apa yang aku lakukan waktu itu semata-mata karena aku menghormati hakmu. Hakmu sebagai seorang anak laki-laki tertua dari seseorang yang seharusnya menerima warisan jabatan Kepala Tanah Perdikan. Kakekmu, Ki Gede Sembojan yang dibunuh oleh perempuan itu, tentu akan menghormati hakmu pula seandainya ia sempat memberikan pendapatnya. Bagaimanapun juga persoalannya telah menyangkut kelanjutan kepemimpinan di Tanah Perdikan ini.”

Risang masih tetap menundukkan kepalanya. Namun ibunya dan Kiai Badra pun sudah menduga bahwa akan terjadi gejolak di hati anak muda itu. Tetapi gejolak itu akhirnya tentu akan menjadi tenang kembali.

Namun dalam pada itu, Risang membayangkan peristiwa itu dengan sudut pandangan yang berbeda. Seandainya ibunya tidak berbuat apa-apa, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan perempuan yang disingkirkan oleh suaminya, maka ia tentu sudah tersingkir pula dari garis keturunan Ki Wiradana. Ia tidak akan dapat menjadi pewaris jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Hampir diluar sadarnya, sambil menundukkan kepalanya Risang berkata, “Ibu telah melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan. Merebut seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang telah menyisihkan ibu dari sisinya.”

 “Risang,” desis Kiai Badra, “kau salah menafsirkan tindakan ibumu. Ibumu sama sekali tidak berusaha merebut laki-laki itu lagi. Bahkan sama sekali tidak mempedulikannya. Tetapi laki-laki itu adalah tetap ayah dari anak yang dilahirkannya waktu itu. Laki-laki itu adalah pewaris Jabatan kepala Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi laki-laki itu telah dikuasai oleh seorang perempuan yang tidak memungkinkan jalur warisan itu turun menurut alur yang seharusnya. Kau pun jangan salah mengerti, bahwa seolah-olah terjadi perebutan warisan yang meskipun berupa jabatan, untuk sekedar mencari kedudukan. Kau harus dapat membayangkan, jika jabatan itu jatuh ke tangan orang yang tidak berhak, maka Tanah Perdikan ini tentu akan kehilangan arah.”

 “Tetapi bukankah itu tanggung jawab ayah?” bertanya Risang.

 “Ayahmu bukan saja dikuasai oleh perempuan itu sebagai seorang laki-laki yang lemah hati. Tetapi benar-benar dikuasai sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan. Dan kau pun harus mengetahui pula kehadiran seorang laki-laki lain didalam kehidupan perempuan yang menguasai ayahmu itu, sehingga memang diperlukan satu kekuatan yang akan mampu menegakkan kembali pemerintahan di Tanah Perdikan ini. Dalam rangka itulah ibumu berjuang dengan satu tujuan, menyelamatkan Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, kau pulalah yang telah menguasai pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Kiai Badra.

Wajah Risang menjadi semakin tunduk. Sementara kakeknya berkata selanjutnya, “Risang. Kau tidak boleh mengingkari kenyataan ini. Kau harus menerima dengan sikap seorang laki-laki. Mungkin kau kecewa, bahwa baik ayahmu maupun ibumu kau anggap melakukan langkah-langkah yang salah. Tetapi kau tidak dapat melangkah surut karena itu. Justru kau harus menunjukkan bahwa kau, anak Wiradana mampu menegakkan pemerintah di Tanah Perdikan ini. Apalagi di saat-saat mendung sedang menyelimuti Pajang seperti sekarang ini.”

Risang tidak menjawab. Pikirannya terasa menjadi kalut. Namun Kiai Badra berkata, “Jangan mengambil sikap dalam keadaan seperti ini Risang. Kau harus mengendapkan perasaanmu lebih dahulu. Baru kau dapat berbicara dengan dirimu sendiri untuk menentukan langkah-langkahmu.”

Risang mengangguk. Sementara itu ibunya berkata dengan suara yang bergetar, “Kau harus memaafkan ibumu Risang. Kau harus tahu niat yang saat itu menyala didalam dadaku. Permusuhan itu terjadi bukan sekedar karena aku dan perempuan itu pernah dimadu oleh seorang laki-laki yang lemah hati. Tetapi seperti aku katakan, aku menghormati hakmu sebagai pewaris Tanah Perdikan. Juga seperti aku katakan, bukan jabatan itu yang penting. Tetapi Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia berkata, “Dan permusuhan itu terjadi sampai kini, sehingga aku perlu disingkirkan dari Tanah Perdikan ini.”

 “Kau sekarang sudah dewasa Risang,” berkata ibunya, “menurut pendapatku, kau sudah mempunyai bekal yang cukup untuk melindungi dirimu sendiri. Karena itu, kami mulai memikirkan kemungkinan untuk mempersiapkan kau memimpin Tanah Perdikan ini. Selagi Pajang masih belum terlibat sepenuhnya dalam kekalutan yang sungguh-sungguh.”

 “Kenapa dengan Pajang ibu?” bertanya Risang.

 “Pajang adalah kekuasaan yang wenang untuk menetapkan dan menguatkan kedudukanmu sebagai Kepala Tanah Perdikan. Meskipun Tanah Perdikan mempunyai wewenang untuk menentukan diri sendiri, tetapi Tanah Perdikan ini tetap ada didalam kesatuan kuasa Pajang.” jawab ibunya.

 “Jika ayahku seorang yang lemah hati dan tidak pantas memegang jabatan sebagai Kepala Tanah Perdikan, apakah aku, anaknya, akan pantas melakukannya?” bertanya Risang tiba-tiba.

 “Kenapa tidak? Seorang anak akan dapat menjunjung tinggi martabat keluarganya. Meskipun orang tuanya mempunyai cacat sebagaimana terdapat pada setiap orang, maka anaknya akan dapat menghapusnya dengan sikap dan tingkah lakunya.” kakeknyalah yang menyahut.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun ibunya dan kakeknya masih merasakan gejolak didalam hati anak itu. Tetapi seperti yang sudah mereka rencanakan, maka Risang akan diberi kesempatan untuk mengendapkan perasaannya.

 “Risang,” berkata ibunya tersendat, “mungkin masih ada yang terlampui dari keteranganku Mungkin besok atau kapan saja aku teringat, maka aku akan mengatakannya kepadamu. Tetapi kau dapat mulai mempertimbangkan untuk tetap tinggal di sini, karena kau harus mempersiapkan diri bagi jabatanmu masa datang.”

Risang termangu-mangu. Tetapi ia tidak segera menjawab. Kepalanya masih tetap menunduk dalam-dalam. Sementara jantungnya terasa berdetak semakin cepat.

Terbayang di rongga matanya sederet orang yang siap datang untuk membunuhnya. Yang terdepan berdiri seorang perempuan yang bernama Warsi, yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, meskipun ternyata belum mampu mengalahkan ibunya. Seorang perempuan yang tubuhnya menyerap cahaya bulan untuk meningkatkan kemampuan dan ilmunya. Kemudian disebelahnya seorang laki-laki yang juga memiliki ilmu yang tinggi. Seorang bekas perwira dalam pasukan Jipang, yang kemudian bertugas sebagai prajurit sandi. Disisi yang lain seorang anak muda, adiknya seayah, yang memandangnya dengan penuh kebencian. Puguh. Seorang anak muda yang juga memiliki hak untuk mewarisi jabatan Tanah Perdikan Sembojan, jika ia tidak ada. Atau katakanlah, dapat disingkirkan.

Risang memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia sendiri belum pernah terlibat dalam satu persoalan apapun dengan mereka. Namun yang ternyata permusuhan itu telah ada sejak ia dilahirkan.

 “Sekarang beristirahatlah Risang,” terdengar suara ibunya lembut, ”berpikirlah sebagai seorang anak muda yang telah dewasa. Kemudian kau akan menemukan endapan penalaran dan perasaanmu dalam keseimbangan.”

Risang mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih ibu. Aku mohon diri untuk merenungi semua keterangan ibu dan kakek.”

 “Kau dapat membicarakannya dengan orang-orang yang kau anggap dapat memberimu petunjuk,” berkata ibunya.

Risang pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Tetapi ia tidak segera menemui siapapun juga. Ia pun tidak berbicara dengan Bibi atau orang lain. Risang langsung masuk kedalam biliknya, menyelarak dari dalam, kemudian berbaring di pembaringannya. Tetapi matanya sama sekali tidak terpejam. Dipandanginya atap rumahnya dengan tanpa berkedip. Namun gejolak didadanya seakan-akan menjadi sangat sulit dikendalikan.

Ketika Risang mencoba memejamkan matanya, maka kepalanya serasa menjadi pening, sehingga ia pun kemudian kembali membuka matanya menatap atap.

 “Ayahku seorang yang lemah, bahkan tidak setia. Sedangkan ibuku adalah seorang perempuan yang telah tersisih, namun karena perjuangannya berhasil merebut kembali kedudukannya meskipun dengan alasan menghormati hakku atas Tanah Perdikan Sembojan ini,” berkata Risang didalam hatinya. Yang terbayang adalah wajah-wajah yang mencibirkan bibir melihat seorang perempuan yang tidak tahu diri dan berusaha merebut kembali laki-laki yang telah mengambil perempuan lain sebagai isterinya.

Tetapi di sudut yang lain didasar hatinya ia berkata, “Ternyata orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu menghormati ibu. Bahkan wibawanya tidak kalah dengan wibawa seorang pemimpin laki-laki. Apakah itu pertanda bahwa orang-orang disekitarnya mencemoohkannya? Dan menganggapnya sebagai perempuan yang tidak tahu diri? Atau bahkan sebaliknya menganggap bahwa ibu adalah pejuang yang tidak kenal menyerah sehingga berhasil meluruskan jalur warisan di Tanah Perdikan ini.”

Berbagai macam perasaan bergejolak didalam hatinya. Namun bagaimanapun juga Risang sulit untuk menyingkirkan perasaannya yang membuatnya menjadi rendah diri.

Sementara itu, sepeninggal Risang, ternyata Iswari tidak dapat mengendalikan diri lagi. Betapapun ia pernah menghadapi keadaan yang paling keras sekalipun didalam hidupnya, namun disaat-saat yang sangat menyentuh perasaannya itu, ia tidak dapat mengingkari sifat-sifatnya sebagai seorang perempuan. Betapapun ia bertahan, namun air matanya telah meleleh dipipinya.

 “Sudahlah Iswari,” berkata kakeknya, “kau jangan hanyut kedalam arus perasaanmu. Sepeninggal Ki Wiradana, maka kau adalah ibu sekaligus ayah Risang. Karena itu, maka kau harus tabah serta mempergunakan penalaran untuk memecahkan satu masalah. Bukankah sudah kita duga, bahwa Risang tentu akan kecewa. Tetapi pada suatu saat ia akan mengerti, bahwa kau tidak dapat memilih jalan lain dari yang pernah kau lakukan, jika kau masih ingin disebut bertanggung jawab.”

Iswari mengangguk kecil. Tetapi tidak mudah baginya untuk menghapus begitu saja kenangan masa lampaunya.

 “Kau boleh mengenang dan kemudian menilai kembali apa yang pernah kau lakukan, tetapi kau harus melihat semuanya dalam keadaan utuh. Bukan sepotong-sepotong sehingga hanya yang cacat sajalah yang kau lihat. Dan kau seharusnya menjadi bangga, disamping mengucap sukur kepada Yang Maha Agung, bahwa kau mampu berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikan ini,” berkata Kiai Badra, “Karena jika kau tidak melakukannya, maka Tanah Perdikan ini akan mengalami bencana yang mungkin akan berkepanjangan sepanjang jaman.”

Iswari mengangguk pula. Namun dengan suara yang gemetar ia berkata, “Kakek. Aku tidak peduli apa kata orang tentang diriku. Tetapi aku tidak dapat menutup telinga atas pendapat Risang, anakku sendiri.”

 “Ia masih terlalu muda,” berkata Kiai Badra, “tetapi ia memang harus mengetahuinya dari mulutmu sendiri. Itu lebih baik. Sikapnya adalah wajar sebagaimana kita perhitungkan sebelumnya.”

 “Ya, kakek,” sahut Iswari perlahan.

 “Sekarang beristirahatlah. Kau pun letih,” berkata Kiai Badra.

Iswari mengangguk pula. Dengan kepala tunduk dan sekali-sekali mengusap matanya yang masih saja basah, Iswari memasuki biliknya. Tetapi seperti Risang, ia pun tidak segera dapat tidur di pembaringannya.

Dihari berikutnya, Risang nampak menjadi lebih pendiam. Orang-orang disekitarnya merasakan hal itu, dan berusaha untuk mengerti. Ibunya tentu menceriterakan semua persoalan pribadinya selain usaha Ki Wiradana untuk membunuh Iswari. Karena jika hal itu dikatakannya pula, maka satu pukulan jiwani atas anak muda itu akan dapat membuatnya semakin kusut.

Iswari sendiri berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat dianggap satu perubahan sikap. Ia menjalankan tugasnya sebagaimana biasanya. Bahkan ia telah mengajak Risang untuk melihat orang-orang Tanah Perdikan Sembojan di bagian Utara memperbaiki sebuah bendungan yang hampir pecah.

Dengan mengerahkan tenaga dari beberapa padukuhan, serta brunjung-brunjung bambu yang telah diisi dengan batu, maka bendungan itu dapat diselamatkan, sehingga air yang mengalir di parit-parit tidak menjadi susut.

 “Risang,” berkata ibunya ketika mereka berada dibendungan, “banyak yang pantas kau lihat disini. Semua ini harus kau amati, karena pada saatnya semua ini akan menjadi tanggung jawabmu.”

Risang mengangguk kecil. Namun di wajahnya masih nampak kerut-kerut yang dalam. Ia masih belum nampak gembira seperti biasanya.

Tetapi Iswari memang harus bersabar. Pergolakan di dada anak muda itu tentu memerlukan waktu yang cukup, sehingga akhirnya akan dapat mengendap.

Dihari-hari berikutnya, memang nampak perubahan lagi pada anak itu. Risang memang mulai nampak mendapatkan kegembiraannya kembali meskipun anak muda itu masih belum mengatakan sesuatu. Sehingga dengan demikian, maka ibunya pun telah berangsur berbesar hati. Iswari ternyata menjadi lebih cerah dari Risang sendiri, karena kegembiraannya sebagai ibu terutama jika ia melihat anaknya bergembira.

Dengan nada yang ringan Iswari berkata kepada kakeknya, “Nampaknya perasaannya mulai mengendap kakek.”

 “Syukurlah,” berkata Kiai Badra, “anak muda itu harus mulai ikut melakukan kegiatan yang kau lakukan. Dengan demikian ia akan mengenali tugas-tugas yang bakal dipertanggungjawabkan kelak.”

 “Aku sudah mengatakan kepadanya,” berkata Iswari.

 “Baiklah. Mudah-mudahan ia akan menjadi semakin mantap,” sahut Kiai Badra.

Namun ternyata anak muda itu telah mengejutkan ibunya ketika pada suatu senja ia datang menghadap. Dengan suara sendat ia berkata, “Ibu, agaknya aku sudah cukup lama berada disini.”

 “Kenapa?” bertanya ibunya dengan jantung yang berdebaran.

 “Agaknya sudah waktunya aku kembali ke padepokan kecil itu,” berkata Risang kemudian.

 “Aku tidak tahu maksudmu Risang. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kau sudah waktunya untuk berada di Tanah Perdikan ini. Kau sudah menginjak usia dewasamu, sehingga kau harus mulai mengenali tugas dan tanggung-jawab yang bakal kau pikul dimasa mendatang,” berkata ibunya.

 “Tetapi aku tidak dapat meninggalkan padepokan itu terlalu lama ibu. Jika aku harus tinggal disini, maka aku harus mengatur segala sesuatunya, sehingga aku tidak begitu saja meninggalkan padepokan itu.” jawab Risang.

 “Apakah kau sudah berbicara dengan kakekmu?” bertanya Iswari.

 “Belum ibu,” jawab Risang, “tetapi seharusnya kakek tidak berkeberatan. Apalagi aku sudah mulai terikat pada tempat itu, seakan-akan memang padepokan itu adalah tempat yang disediakan bagiku.”

 “Risang,” potong ibunya dengan dahi yang berkerut, “Tempatmu bukan di padepokan itu untuk seterusnya. Tempatmu disini, karena kau adalah calon Kepala Tanah Perdikan ini.”

 “Tetapi sejak kecil aku berada di padepokan itu ibu, sehingga seolah-olah aku memang anak padepokan itu,” berkata Risang.

 “Bukankah kau tahu alasannya, kenapa kau harus berada di padepokan itu?” bertanya ibunya.

 “Aku mengerti ibu. Tetapi justru karena itu, aku sudah merasa terikat dengan padepokan itu. Meskipun demikian, bukannya aku menolak perintah ibu untuk tinggal disini. Tetapi aku mohon waktu.” jawab Risang.

Jantung Iswari rasa-rasanya berdegup semakin cepat. Namun justru untuk sesaat ia tidak dapat mengatakan sesuatu. Ketika bibirnya bergerak, maka yang terdengar adalah kata-katanya, “Mintalah ketiga kakek dan nenekmu hadir sekarang disini.”

Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantah. Sejenak kemudian, maka Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka telah hadir pula untuk ikut berbicara tentang keinginan Risang kembali ke padepokan.

Kiai Badra adalah orang yang tinggal paling lama bersama-sama dengan Risang di padepokan itu. Karena itu, ia adalah orang yang paling memahami sikap Risang. Risang memang sudah terikat pada padepokannya itu. Bahkan terbersit satu niat untuk mendirikan satu perguruan tersendiri yang akan menjadi penghuni dan pengembang padepokan itu.

Karena itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Risang. Aku dapat mengerti niatmu untuk kembali ke padepokan. Tetapi bukan berarti bahwa kau akan mengabaikan perintah ibumu.”

 “Tidak sama sekali kakek. Sudah aku katakan, aku hanya mohon waktu,” berkata Risang.

 “Waktu dapat terjulur terlalu panjang, tetapi dapat berkerut menjadi sangat pendek. Kau harus membuat satu rencana tentang waktu itu Risang,” berkata kakeknya.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika saatnya datang, maka aku akan segera memberitahukan kepada ibu, kakek dan nenek.”

 “Risang,” berkata Nyai Soka, “kau adalah satu-satunya tangkai tempat ibumu bergantung. Kau harus menyadari itu. Bukan untuk bermanja-manja. Tetapi justru merupakan satu tanggung-jawab yang berat bagi masa datang. Jika kau tidak berminat untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh ibumu selama ini, maka perjuangan ibumu itu akan sia-sia. Tanah Perdikan ini tidak akan mendapat manfaat apa-apa. Sehingga dengan demikian maka hasil yang dicapai oleh ibumu tidak lebih dari keberhasilan seorang perempuan untuk merebut seorang laki-laki yang telah menyingkirkannya. Tetapi jika kau melanjutkan perjuangan ibumu bagi Tanah ini, maka perjuangan ibumu itu akan mempunyai arti.”

Risang mengerutkan keningnya. Dipandanginya neneknya sejenak. Namun kemudian wajahnya telah tertunduk lagi.

 “Pikirkan baik-baik Risang,” berkata Kiai Soka, “kau sudah dewasa. Kau harus berpikir secara dewasa. Kau harus dapat membedakan, yang manakah yang akan berarti bagi hidupmu dan mana yang tidak.”

Risang tidak segara menjawab. Sementara itu ibunya bertanya dengan nada lembut, “Bagaimana menurut pendapatmu Risang?”

 “Aku mengerti ibu. Aku akan mempertimbangkan semuanya itu. Aku mencari ketenangan batin lebih dahulu di padepokanku barang satu dua bulan. Aku akan segera memberitahukan apa yang akan aku lakukan.”

 “Kau memerlukan waktu begitu lama untuk menentukan sikap?” bertanya ibunya.

 “Aku sudah berada di padepokan itu bertahun-tahun. Satu dua bulan tentu tidak banyak berarti dari berbilang tahun itu.” jawab Risang.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menyumbat tenggorokannya. Sedangkan sudut-sudut matanya terasa menjadi panas.

 “Baiklah Risang,” berkata Kiai Badra, “kita akan kembali ke padepokan itu. Dalam waktu satu dua bulan, maka kita akan kembali ke Tanah Perdikan ini, meskipun barangkali kita masih perlu hilir mudik.”

Jawaban kakeknya itu sedikit mengendapkan gejolak perasaan Risang. Sementara itu Kiai Badra pun tidak melihat sikap lain yang lebih baik dari kesempatan itu. Jika mereka berkeras untuk memaksa Risang menentukan sikapnya segera, maka sikap itu mungkin justru tidak dikehendaki oleh ibunya.

Iswari pun tidak dapat mencegahnya lagi. Karena itu, maka katanya, “Risang. Rasa-rasanya kali ini terlalu berat untuk melepaskanmu. Tetapi jika itu sudah menjadi kebulatan niatmu, maka ibu tidak akan dapat mencegahnya. Namun ibu minta, agar kau dapat mengerti keadaan ibumu lahir dan batinnya. Ibu berharap agar kau benar-benar mampu menjunjung tinggi nama keluargamu. Ibu yang sudah terlanjur melangkah, tentu tidak akan mungkin surut. Semua mata telah terlanjur memandang ke arahku. Sebagai seorang perempuan aku telah melakukan banyak kelainan dari kebanyakan perempuan. Sama sekali bukan untuk seorang laki-laki. Tetapi untuk Tanah Perdikan ini.”

Wajah Risang menjadi semakin tunduk, meskipun dari sela-sela bibirnya terdengar jawabnya, “Aku mengerti ibu.”

Ternyata pembicaraan itu tidak berkepanjangan. Iswari pun kemudian telah meninggalan ruangan itu dan masuk kedalam biliknya. Yang nampak kemudian sama sekali bukan seorang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang garang dipertempuran melawan orang-orang yang berniat mengambil alih pimpinan di Tanah Perdikan itu untuk tujuan yang sesat. Tetapi benar-benar seorang ibu yang memikirkan sikap anak laki-laki satu-satunya.

Risang pun telah memasuki biliknya pula. Terasa dadanya bagaikan bergejolak. Memang ada pertentangan didalam dirinya. Apakah ia akan meninggalkan ibunya dengan hati yang pedih atau ia akan tetap tinggal di Tanah Perdikan sebagaimana dikehendaki oleh ibunya, namun dengan perasaan yang tidak mapan.

Ternyata hampir semalam suntuk Risang tidak dapat tidur. Baru menjelang dini hari, ia tertidur hanya sesaat.

Tetapi hari itu Risang tidak berminat untuk berbuat apa-apa. Tetapi ia lebih banyak bersiap-siap, karena di keesokan harinya, Risang akan menuju ke padepokan kecilnya.

Niatnya telah bulat untuk kembali ke padepokannya. Setidak-tidaknya untuk sementara.

Karena ketika ia datang, ia menempuh perjalanan bersama dengan Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka esok hari Risang juga akan menempuh perjalanan bersama Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. telah bersiap-siap pula. Mereka sudah mendapat perintah dari Iswari untuk mengantar Risang esok pagi menuju ke Kademangan Bibis, bukan saja sekedar dalam perjalanan, tetapi juga untuk berada di padepokan itu. Mereka diperintahkan untuk menunggu dan pada saatnya kembali bersama-sama dengan Risang pula.

Sementara itu, di hari terakhir Risang berada di Tanah Perdikan, ketiga kakek dan neneknya telah memberikan beberapa petunjuk yang sangat berharga tentang ilmunya. Ketiga orang kakek dan neneknya telah memberikan petunjuk bagaimana Risang harus tetap memelihara pembagian waktu yang baik untuk berlatih.

Ibunya sendiri justru tidak terlalu banyak berpesan. Ibunya hanya selalu berharap agar Risang segera kembali lagi ke Tanah Perdikan itu.

 “Risang,” berkata ibunya, “satu-satunya keinginanku sekarang adalah, bahwa kau ada disini. Kau sudah cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri, sehingga kau tidak perlu lagi berada di tempat yang jauh ditepi Kali Lorog itu.”

 “Aku akan selalu memikirkannya ibu.” jawab Risang. Lalu katanya, “Yang perlu aku lakukan adalah mempersiapkan diri untuk tinggal di Tanah Perdikan ini.”

Ibunya mengangguk kecil. Namun ia pun telah mempersiapkan bekal bagi anaknya. Bukan saja uang dan beberapa kitab yang memuat berbagai macam ceritera yang dapat memberikan tuntunan kepada anaknya tentang jalan kehidupan tetapi juga harapan agar anak itu segera kembali.

Kepada Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung, Iswari dan ketiga orang tua di Tanah Perdikan itu berpesan, agar mereka selalu mengawasi Risang. Terutama saat-saat ia berlatih, agar Risang tetap dapat memelihara keseimbangan pada dirinya. Mereka pun telah dipesan untuk menjaga agar Risang dapat membagi waktunya dengan baik.

 “Kami akan berbuat sejauh dapat kami lakukan,” jawab Gandar.

Demikianlah, dihari berikutnya, menjelang dini, keempat orang itu telah siap untuk berangkat. Setelah makan pagi maka mereka telah minta diri.

 “Hati-hatilah di perjalanan Risang,” pesan ibunya dengan suara yang dalam.

Risang mengangguk. Katanya dengan nada rendah, “Aku mohon doa restu ibu, kakek dan nenek. Semoga aku tidak saja mendapat perlindungan oleh Yang Maha Agung, tetapi juga mendapatkan terang di hati.”

Demikianlah sebelum matahari terbit, mereka telah meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan menuju ke sebuah padepokan kecil di Kademangan Bibis, dekat Kali Lorog. Satu perjalanan yang cukup panjang.

Pada bagian pertama dari perjalanan mereka, ternyata mereka tidak mendapat hambatan. Kuda-kuda mereka laju di jalan-jalan bulak, di antara hijaunya tanaman di sawah. Sekali-sekali mereka memasuki padukuhan-padukuhan besar dan kecil. Memang ada beberapa orang yang tertarik kepada empat orang penunggang kuda. Namun karena tidak terdapat tanda-tanda yang khusus, maka orang-orang yang melihat mereka dengan cepat telah melupakannya.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi dan panasnya bagaikan menyengat tengkuk, keempat orang itu sepakat untuk beristirahat sejenak di sebuah kedai sekedar menghilangkan haus serta memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk beristirahat.

Karena itu, maka mereka telah memilih sebuah kedai yang memberikan tempat bagi kuda-kuda mereka dan nampaknya memang menyediakan makan dan minum bagi kuda-kuda mereka yang kebetulan singgah di kedai itu. Memang satu pelayanan khusus. Tetapi dengan demikian akan dapat menambah jumlah orang yang singgah di kedai itu. Terutama orang-orang yang menempuh perjalanan jauh dengan berkuda.

Di kedai itu, Risang dan ketiga orang yang menempuh perjalanan bersamanya itu dapat menghirup minuman hangat dan makan beberapa potong makanan, sementara kuda mereka pun dapat beristirahat sambil minum air segar dan rerumputan yang hijau.

Ketika mereka memasuki kedai itu, tiga orang telah berada di dalamnya. Tetapi nampaknya ketiga orang itu sama sekali tidak menghiraukan kehadiran mereka berempat.

Namun sejenak kemudian, beberapa orang telah datang lagi memasuki kedai itu. Nampaknya mereka adalah kawan-kawan dari ketiga orang yang telah berada di kedai itu lebih dahulu.

Dengan demikian maka kedai itu pun menjadi riuh. Mereka berbicara dengan bahasa yang agak kasar dan suara yang keras. Sekali-sekali terdengar umpatan yang menggelitik telinga.

Namun seperti orang-orang itu, maka keempat orang itu pun tidak menghiraukan mereka. Risang, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung, sambil menunduk telah menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan. Jika sekali-sekali mereka berbicara, maka mereka berbicara perlahan-lahan saja.

Tetapi yang tidak mereka duga adalah, bahwa tiba-tiba saja seorang diantara orang-orang yang ada di dalam kedai itu telah memperhatikan Risang. Semakin lama semakin bersungguh-sungguh. Bahkan tiba-tiba saja ia melangkah mendekati sambil berkata, “He, anak muda. Lihat aku.”

Risang yang tidak berprasangka apapun telah mengangkat wajahnya memandang orang itu dengan heran. Sementara orang itu hampir berteriak berkata, “Inilah salah seorang dari mereka yang kita cari. Ini adalah anak mereka. Jika kita dapat menangkap anak ini, kita akan memaksa kedua orang tuanya untuk menyerah.”

Orang-orang yang ada di kedai itu segera berloncatan mengerumuni Risang dan ketiga orang yang bersamanya dalam perjalanan. Dengan kerut di dahi Gandar bangkit berdiri sambil bertanya, “Siapakah yang kau maksud?”

 “Anak muda ini. Kami memerlukannya. Adalah satu kebetulan bahwa kita dapat bertemu disini. Kami sama sekali tidak menduga, bahwa kami akan menemukannya begitu cepat.” jawab orang itu.

 “Aku tidak tahu yang kau maksudkan,” jawab Gandar, “nampaknya terjadi kesalah pahaman. Apakah kau mengenal anak ini?”

 “Tentu,” jawab orang itu, “kau tidak usah berpura-pura. Kami mencarinya sampai kesudut bumi. Dan kini, kami telah menemukannya. Dengan menangkap anak itu, maka kami akan dapat memaksa kedua orang tuanya untuk menyerah tanpa perlawanan.”

 “Anak ini sudah tidak mempunyai orang tua lengkap,” jawab Gandar, “anak muda ini sudah tidak berayah.”

Orang itu tiba-tiba saja tertawa berkepanjangan. Katanya, “Semua orang tahu bahwa ayahnya telah mati. Yang aku maksud dengan orang tuanya yang sekarang adalah ibunya dan laki-laki yang berlaku sebagai suaminya itu. Aku tidak tahu, apakah keduanya telah menikah atau belum. Tetapi keduanya kini dikenal sebagai suami istri.”

Wajah Risang menjadi merah. Dengan nada keras ia berkata, “Jaga mulutmu Ki Sanak. Kita tidak mempunyai persoalan. Jangan mengungkit masalah disini.”

Orang itu telah tertawa lagi. Sementara kawannya yang tidak sabar menuggu telah mendesaknya, “Siapa anak itu?”

 “Anak inilah yang bernama Puguh. Anak Warsi.” jawab orang itu.

Semua orang terkejut. Kawan-kawan dari orang yang menyebut nama Puguh itu terkejut. Mereka memang tidak mengira, bahwa mereka akan segera menemukan anak yang mereka cari kemana-mana di samping mencari kedua orang tuanya.

Tetapi yang lebih terkejut lagi adalah Risang, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bahkan hampir tanpa disadarinya Risang berteriak, “Kau gila. Kau kira aku Puguh. Aku bukan Puguh.”

Namun dengan cepat Sambi Wulung menyahut, “Kami tidak mengenal anak yang bernama Puguh. Kami tidak mempunyai sangkut paut. Kami adalah orang-orang yang tidak pernah mempunyai persoalan dengan kalian. Apalagi dalam hubungan dengan nama yang kau sebut, Warsi.”

Tetapi orang itu menyahut, “Tentu kau tidak akan mengaku. Tetapi aku tidak akan salah lagi. Aku pernah mengenali wajah anak muda yang bernama Puguh itu. Anak Warsi yang lahir karena perkawinannya dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, namun yang kemudian tersingkir dan hidup dalam petualangan bersama ibunya dan laki-laki yang disangka ayahnya. Rangga Gupita.”

 “Tutup mulutmu,” bentak Risang.

Tetapi orang itu justru tertawa lagi dan berkata, “Nah, kau tidak akan dapat ingkar lagi.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Namun mereka yang telah pernah mengenal Puguh itu diluar sadarnya telah memperhatikan wajah Risang. Mereka tidak pernah memperhatikan sebelumnya. Namun ternyata keduanya memang mirip. Keduanya memiliki kemiripan dengan ayah mereka.

 “Memang tidak mustahil keduanya sangat mirip,” berkata keduanya didalam hatinya, “keduanya memiliki ayah yang sama. Ibu yang sama-sama cantik meskipun dengan watak yang berbeda.”

Ternyata orang yang menyangka bahwa ia telah bertemu dengan Puguh itu merasa yakin. Karena itu, maka katanya, “Puguh. Sebaiknya kau menyerah saja. Kami akan memperlakukan kau dengan baik. Yang kami perlukan adalah kedua orang tuamu. Jika kami menangkapmu adalah semata-mata sebagai satu cara untuk memaksa kedua orang tuamu menyerah. Jika kami sudah mendapatkan keduanya, maka kau tentu akan kami lepaskan.”

 “Cukup,” Risang benar-benar berteriak. Justru karena ia sudah mengetahui dengan pasti, siapakah Puguh itu, maka kemarahannya bagaikan telah membakar jantungnya.

Yang kemudian berbicara adalah Gandar, “Ki Sanak. Cobalah kau perhatikan sekali lagi anak itu. Kau tentu akan melihat bahwa anak itu sama sekali bukan Puguh. Bahkan nama itu pun baru aku dengar kali ini. Karena itu, bagaimana mungkin kau dapat menyangka bahwa anak muda itu adalah anak muda yang kau cari.”

Tetapi orang itu menjawab, “Ternyata kalian telah ingkar. Justru karena itu, maka persoalannya akan bertambah rumit bagi kalian. Jika kalian menyerah, maka kalian tidak akan mengalami kesulitan apa-apa.”

 “Sudahlah,” berkata Jati Wulung yang tidak sabar, “kami menolak dugaan Ki Sanak. Anak muda itu bukan Puguh. Karena itu anak muda itu tidak mau diperlakukan seperti Puguh. Nah, lalu kalian mau apa? Kalian akan memaksa?”

 “Kata-katamu seperti api yang menyentuh telingaku.” berkata orang itu, “aku mencoba untuk menyelesaikan persoalan diantara kita dengan baik. Tetapi kau telah menyakiti hatiku.”

 “Ki Sanak,” Jati Wulung justru melangkah mendekat, “kau harus menyadari bahwa kau telah menyudutkan kami meskipun kami sudah berusaha untuk memberikan penjelasan. Kau harus memperhatikan anak itu tidak hanya sekali lagi. Tetapi berulang kali. Atau barangkali kau pun belum begitu jelas terhadap anak muda yang kau sebut bernama Puguh itu, sehingga kau begitu saja menyangka anak itu Puguh.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Ia memang belum begitu jelas atas anak muda yang bernama Puguh itu meskipun ia memang pernah melihatnya di padepokan Ki Rangga pada suatu saat, ketika ia belum tergabung dalam kelompoknya yang sekarang. Memang sudah agak lama.

Sejenak orang itu memang mencoba memperhatikan wajah Risang. Untuk sesaat ia memang ragu-ragu. Tetapi ketika ia memperhatikan hidung Risang, maka sekali lagi orang itu berkata, “Aku yakin. Anak itu adalah Puguh. Hidungnya aku tidak akan pernah melupakannya. Mancung dibawah alisnya yang nampak tebal diumurnya yang masih sangat muda. Sorot matanya menunjukkan kecerdasan otaknya dan segala-galanya telah meyakinkan aku, bahwa anak muda itu adalah Puguh.”

 “Kau dengar suaranya?” bertanya Jati Wulung, karena Jati Wulung tahu pasti bahwa suara Puguh berbeda dengan suara Risang. Demikian pula caranya berbicara dan pilihan kata-katanya.

Namun orang itu menjawab, “Ya. Suaranya itu adalah suara Puguh.”

 “Persetan,” Jati Wulung menjadi marah, “apakah kalian sengaja memancing persoalan? Jika demikian, maka kalian tidak usah menyebut-nyebut nama lain. Berterus teranglah bahwa kalian memang ingin merampok kami. Tetapi itu pun tidak akan memberikan kepuasan kepadamu, karena kami tidak membawa harta benda yang pantas untuk dirampok.”

Orang itulah yang kemudian menjadi sangat marah. Dengan nada keras ia berkata, “Kami bukan perampok. Untuk apa kami merampok pengembara seperti kalian? Kami tentu lebih kaya dari kalian yang tidak mempunyai papan dunung, karena padepokan kalian telah menjadi abu.”

 “Cukup,” potong Jati Wulung, “jika kalian sekedar ingin berkelahi, kita akan berkelahi meskipun tanpa sebab. Mungkin kalian sudah beberapa hari tidak membunuh orang, sehingga tangan kalian sudah menjadi gatal. Sekarang kalian telah mencari alasan untu berkelahi dan membunuh. Tetapi kami pun sudah beberapa hari tidak membunuh orang. Tangan-tangan kami pun sudah gatal, sehingga kebetulan sekali jika kalian memberi kesempatan kepada kami untuk membunuh.”

 “Iblis kau,” bentak orang itu, “kau memang benar-benar ingin mati. Tetapi ingat, aku akan menangkap anak itu hidup-hidup. Aku tidak akan memberi kesempatan kepadanya untuk membunuh diri sekalipun.”

 “Bagus,” jawab Jati Wulung, “kita akan berkelahi diluar. Kita tidak ingin merugikan pemilik kedai ini.”

 “Agar kau dapat melarikan diri?” bertanya orang itu.

Jati Wulung menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia melangkah keluar diikuti oleh Risang, Gandar dan Sambi Wulung. Kemudian orang-orang yang ada di kedai itu.

Ketika mereka sudah berada di halaman disamping kedai itu, pemimpin dari sekelompok orang itu berbisik ditelinga orang yang merasa dapat mengenali Puguh itu, “Tetapi bukankah kau tidak salah?”

 “Tidak Ki Lurah. Aku yakin. Anak itulah yang bernama Puguh. Anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan.” jawab orang itu.

Pemimpin sekelompok orang, itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih saja bergumam, “Tetapi orang-orang itu nampaknya meyakinkan bahwa anak muda itu memang bukan yang kita cari.”

 “Ah. Tentu mereka akan ingkar karena mereka tahu akibatnya,” berkata orang itu.

 “Tetapi jika mereka memang berani menghadapi kita, untuk apa mereka ingkar? Akhirnya kita juga akan bertempur,” desis pemimpinnya.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia berkata, “Tetapi aku tidak mungkin salah. Aku sudah mengenalinya.”

 “Tetapi bukankah sudah cukup lama? Apalagi ketika anak itu masih lebih kecil.”

 “Belum terlalu lama. Ki Lurah, aku mohon (?) yakin akan pengenalanku atas seseorang,” berkata orang itu dengan sungguh-sungguh.

Pemimpin sekelompok orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ia lah yang kemudian berdiri di paling depan dari para pengikutnya yang ternyata semua berjumlah sepuluh orang.

 “Ki Sanak,” berkata orang itu, “aku hanya ingin mengulangi apa yang dikatakan oleh orangku tadi. Jika Puguh menyerah, maka kalian tidak akan mengalami kesulitan apa-apa. Kami akan memperlakukan kalian dengan baik. Bahkan kami akan melepaskan kalian bertiga untuk menyampaikan pesan kami kepada Ki Rangga Gupita dan Warsi. Jika mereka kemudian bersedia datang, maka Puguh itu pun akan kami lepaskan pula.” orang itu berhenti sejenak, lalu, “sedangkan terhadap Ki Rangga dan Warsi pun kami tidak akan berbuat kasar. Kami hanya ingin berbicara tentang masa depan. Tentang pembagian tugas dan wewenang kami masing-masing. Itu saja. Tetapi kedua orang tuamu itu selalu menghindari kami. Bahkan melawan keinginan kami sebagaimana kalian lakukan sekarang.”

Namun tiba-tiba saja Sambil Wulung bertanya, “Siapakah kalian sebenarnya?”

 “Seandainya kami menyebut nama dan kedudukan kami, maka kalian juga tidak akan mengerti,” jawab orang itu, “karena itu biarlah kami bertemu langsung dengan orang tua anak muda itu. Biarlah aku membawa anak itu dan kalian bertiga memberikan pesan kami kepada kedua orang tuanya agar mereka datang kepada kami.”

 “Mengerti atau tidak mengerti, tetapi sebutkan, siapakah kalian yang sebenarnya. Kemudian kami akan mempertimbang-kan kemungkinan yang paling baik untuk kami lakukan.” sahut Sambi Wulung.

Risang termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia tidak ingin berlama-lama. Namun ia belum tahu maksud Sambi Wulung sehingga ia masih juga menunggu.

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Itu tidak perlu.”

Namun Sambi Wulung lah yang kemudian bertanya, “Apakah kalian anak kadang atau orang yang pernah dirugikan oleh orang-orang yang kalian cari itu.”

 “Sudahlah,” jawab orang itu, “jangan terlalu banyak ingin mengerti. Semuanya itu tidak akan berguna sama sekali bagimu. Yang penting, serahkan saja Puguh itu kepada kami. Semuanya akan segera selesai dengan baik.”

Sambi Wulung menggeleng pula. Katanya, “Tidak ada anak muda bernama Puguh disini.”

Pemimpin dari sekelompok orang itu telah kehilangan kesabaran pula. Karena itu, maka ia pun telah berkata dengan lantang, “Kalian tidak mempunyai pilihan. Puguh tentu akan jatuh ketanganku. Jika kalian menyerahkannya dengan baik, maka tiga orang yang lain akan selamat. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mati.”

 “Ada dua pilihan bagi kalian,” Jati Wulung lah yang menjawab, “Jika kalian urungkan niat kalian, maka kalian akan selamat. Tetapi jika kalian memaksa, maka kalian akan mati disini.”

Jawaban Jati Wulung itu benar-benar tidak dapat diterima oleh orang-orang itu. Mereka benar-benar tidak dapat mengendalikan diri lagi, sehingga tanpa perintah pun sepuluh orang itu mulai bergerak. Apalagi ketika pimpinannya berkata, “Tangkap anak itu. Jika yang lain tetap melawan, bunuh mereka tanpa ampun.”

Namun sebelum perintah itu selesai, maka Jati Wulung telah meloncat menyerang lebih dahulu. Satu sikap yang tidak diduga sebelumnya, sehingga karena itu, maka serangannya telah mengenai salah seorang diantara mereka.

Demikian kerasnya serangan kaki Jati Wulung itu, maka orang yang dikenainya telah jatuh berguling di tanah. Hampir saja menimpa seorang kawannya yang lain yang sempat bergeser selangkah, namun gagal berusaha menangkap kawannya yang terjatuh itu.

Orang yang terjatuh itu dengan cepat melenting berdiri sambil mengumpat. Namun punggungnya terasa menjadi sakit.

Pertempuran dengan cepat telah terjadi antara kedua kelompok yang jumlahnya tidak seimbang itu. Tetapi seperti Jati Wulung, Maka Risang pun telah dengan tiba-tiba menyerang seorang diantara mereka. Meskipun orang itu tidak terjatuh, tetapi Risang telah berhasil menyakitinya, meskipun tidak banyak berpengaruh.

Sepuluh orang itu pun kemudian telah memecah diri. Jati Wulung dan Gandar masing-masing harus melawan tiga orang, sedang Sambi Wulung bertempur melawan dua orang. Pemimpin kelompok itu telah menempatkan diri berhadapan dengan Risang dibantu oleh seorang kawannya yang merasa pernah mengenal Puguh. Mereka berusaha untuk menangkap Risang hidup-hidup. Bagi mereka Risang yang dikiranya Puguh itu akan sangat berarti jika dapat ditangkap hidup-hidup.

Jati Wulung yang marah itu segera bergeser ketempat yang lebih luas. Demikian pula Gandar yang masing-masing harus menghadapi tiga orang lawan. Di tempat yang lebih luas, mereka mendapat kesempatan untuk bergerak lebih leluasa.

Sementara itu, pemilik kedai itu seakan-akan telah kehilangan kekuatannya. Ia justru terduduk dengan gemetar dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Seorang pembantunya  pun telah menjadi sangat ketakutan sehingga rasa-rasanya menjadi hampir pingsan.

Sementara itu, pemimpin sekelompok orang yang ingin menangkap Risang itu berusaha untuk dapat menguasai anak muda itu tanpa melukainya. Dengan bergerak cepat ia menyerang dengan garangnya, sementara kawannya berusaha untuk mengimbangi gerak pemimpin kelompoknya itu. Ia pun berusaha melakukan sebagaimana dilakukan oleh pemimpinnya. Menangkap Risang hidup-hidup.

Tetapi Risang terlalu tangkas untuk dapat ditangkap. Apalagi Risang tidak merasa perlu untuk menjaga agar tidak melukai lawannya. Sehingga dengan demikian, maka ia pun telah berloncatan dengan cepat. Sekali menghindari jangkauan tangan lawannya, namun tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang.

Pemimpin kelompok yang ingin menangkapnya itu memang terkejut. Anak muda itu mampu bergerak sangat cepat. Berloncatan dari satu lawan ke lawan lainnya. Serangannya pun terasa sangat berbahaya.

Sementara itu Jati Wulung yang marah telah bertempur dengan garang pula. Tetapi lawan-lawannya pun merasa sangat marah kepadanya. Jati Wulung dianggap telah menghina mereka, sekelompok orang yang dibekali dengan kemampuan olah kanuragan yang tinggi.

Tetapi mereka pun tidak dapat mengingkari kenyataan. Lawannya itu ternyata seorang yang berilmu. Tiga orang diantara mereka tidak segera dapat mengatasinya, apalagi menguasainya. Bahkan sekali-sekali serangan Jati Wulung justru telah mulai menyentuh tubuh mereka.

Dengan demikian kemarahan ketiga orang itu pun semakin menyala. Selapis demi selapis mereka meningkatkan kemampuan mereka, sejalan dengan pemanasan yang terjadi di urat-urat darah mereka. Ketika darah mereka semakin bergejolak dan tubuh mereka mulai berkeringat, maka ketiga orang itu pun menjadi semakin garang.

Jati Wulung menyadari bahwa ia harus menjadi sangat berhati-hati ketika ia melihat bahwa ketiga orang itu ternyata adalah saudara seperguruan. Mereka mampu saling mengisi, menunjukkan ciri-ciri unsur gerak yang serupa dan kemampuan mereka luluh dalam satu gerakan yang sangat berbahaya.

Dengan demikian, yang mereka hadapi bukan sekedar satu kelompok orang yang berkumpul karena berbagai macam alasan, mungkin karena tujuan mereka yang bersamaan, mungkin karena upah atau mungkin karena kepentingan-kepentingan yang lain, tetapi nampaknya sudah menyangkut sebuah perguruan. Ikatan pada sebuah perguruan biasanya jauh lebih erat daripada ikatan sekelompok orang yang berkumpul karena alasan lain.

Dalam satu kesempatan Jati Wulung telah melihat, bahwa yang bertempur melawan Gandar pun ternyata mempunyai ciri-ciri yang sama dengan orang-orang yang bertempur melawannya. Namun mereka yang bertempur melawan Risang justru belum nampak kesamaannya dengan orang-orang yang lain. Mungkin dengan sengaja orang itu menyembunyikan ciri-ciri perguruannya, atau karena sebab yang lain. Atau mungkin juga karena ia tidak sempat mengamati dengan cermat, karena ia harus bertempur melawan tiga orang.

Namun semakin lama tekanan ketiga orang lawannya itu pun terasa semakin berat bagi Jati Wulung. Tetapi Jati Wulung masih belum sampai kepuncak kemampuannya. Ia masih belum merambah ke ilmunya yang tertinggi. Meskipun demikian, sebagaimana lawan-lawannya, maka setingkat demi setingkat Jati Wulung  pun telah meningkatkan ilmunya pula.

Gandar yang memiliki kekuatan yang sangat besar, mula-mula bertumpu pada kekuatannya. Tetapi ternyata lawan-lawannya bukan saja memiliki kekuatan yang besar pula, namun juga mampu bergerak cepat, segingga Gandar harus memperhatikannya dengan saksama.

Namun seperti Jati Wulung, maka Gandar pun segera menyadari bahwa ia berhadapan dengan sebuah perguruan. Bukan sekedar sekelompok orang yang bekerja bersama dibawah satu perintah. Atau bahwa sebuah perguruan yang bekerja bersama dengan pihak-pihak tertentu untuk satu kepentingan.

Lepas dari kepentingan mereka, maka berhadapan dengan tiga orang dari satu perguruan memang lebih sulit daripada berhadapan dengan tiga orang yang mempunyai landasan ilmu yang berbeda di tataran yang setingkat.

Orang-orang dari satu perguruan akan mampu bekerja bersama lebih baik dan dengan cepat akan dapat saling mengisi kekurangan-kekurangan mereka di medan daripada orang-orang yang berbeda alas kemampuannya.

Seperti Jati Wulung, maka Gandar pun harus meningkatkan kemampuannya pula. Ternyata ketiga orang itu pun dapat bergerak cepat dan menyerang bergantian dari arah yang berbeda-beda.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Sambi Wulung harus bertempur menghadapi dua orang. Semula Sambi Wulung merasa beruntung, bahwa ia tidak harus bekerja keras sebagaimana Jati Wulung dan Gandar. Namun ternyata kemudian, bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Seorang diantara mereka sempat memperkenalkan diri. Katanya, “Ki Sanak. Nasibmu memang kurang baik. Kau telah bertemu dengan Sepasang Elang Randu Alas. Atau barangkali kau memang pernah mendengar nama Sepasang Elang itu?”

Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku belum pernah mendengarnya. Siapakah nama kalian? Barangkali nama kalian lebih besar dari gelar kalian?”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Namaku tidak berarti apa-apa. Di seluruh negeri ini pernah mendengar gelarku, tetapi jarang sekali yang pernah mendengar namaku.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Sayang, bahwa aku termasuk perkecualian dari orang-orang di seluruh tanah ini.”

 “Mungkin saja orang belum pernah mendengar gelarku. Orang yang tidak mengenal riuhnya dunia kanuragan. Juga orang-orang perempuan yang sibuk bekerja di dapur.” sahut orang itu.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Meskipun aku laki-laki, tetapi kepandaianku bekerja di dapur melampaui seorang perempuan. Aku pandai masak jenis apapun dengan bahan apapun. Bahkan daging elang yang dianggap tidak enak itu, dapat aku masak menjadi lebih enak dari daging ayam, meskipun aku harus merendamnya dalam landa merang selama sehari-semalam.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka agaknya masih sempat menahan diri. Seorang yang lainlah yang kemudian berkata, “Kau memang seorang yang berani Ki Sanak, meskipun harus dibedakan antara berani dan berilmu tinggi.”

 “Tepat,” jawab Sambi Wulung, “juga antara orang yang banyak dikenal dengan orang yang memiliki kelebihan.”

Yang tertua diantara kedua orang yang menyebut dirinya Sepasang Elang itu pun berkata, “Baiklah. Nampaknya kau benar-benar sudah siap menghadapi kematian. Kau telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadamu untuk menyerahkan anak itu.”

 “Bagaimana kami dapat menyerahkan anak muda yang tidak tahu menahu tentang persoalan yang kalian hadapi. Bagaimana aku harus menyerahkan anak muda itu sebagai anak muda yang bernama Puguh, sementara kami sama sekali tidak pernah mengenalnya.” jawab Sambi Wulung.

 “Dan sekarang perintah sudah jatuh. Kalian harus dibunuh,” berkata yang muda diantara kedua orang itu.

 “Sudah tentu aku akan membela diri. Jika kalian benar-benar akan membunuhku, maka aku pun akan benar-benar membunuh kalian.” jawab Sambi Wulung.

 “Kau memang terlalu sombong,“ geram yang tua, “tidak ada kesempatan bagimu untuk hidup. Betapa tinggi ilmumu, jika kau sudah berhadapan dengan Sepasang Elang Randu Alas, maka kau tidak akan berarti apa-apa lagi.”

Sambi Wulung tidak menjawab. Ia telah menjadi muak mendengar kesombongan kedua orang itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka Sambi Wulung tidak akan merendahkan lawan-lawannya. Meskipun gelar yang dibanggakan itu belum pernah didengarnya tetapi bukan mustahil bahwa keduanya memang orang-orang berilmu tinggi.

Karena itu, maka pertempuran diantara mereka pun telah menyala lagi. Dengan cepat berkobar lebih dahsyat dari sebelumnya. Sepasang Elang itu telah benar-benar berusaha untuk melumpuhkan pertahanan Sambi Wulung. Keduanya menyerang beruntun tanpa henti-hentinya, seperti debur ombak yang beruntun menghantam tebing.

Tetapi Sambi Wulung ternyata tidak mudah ditundukkan. Dengan tangkas ia berloncatan kian kemari. Menyilang diantara kedua orang itu. Namun kemudian melenting mengambil satu arah. Sekali-sekali menyerang dengan kaki. Namun tiba-tiba tangannya terayun mendatar ke arah kening.

Semakin lama kedua orang yang menyebut dirinya Sepasang Elang itu bergerak semakin cepat. Mereka bagaikan berterbangan mengitari Sambi Wulung. Sekali-sekali menukik menyambar lawannya. Tangannya bagaikan kuku-kuku cakar Elang yang tajam. Namun Sambi Wulung dengan tangkas selalu berhasil menghindarinya. Ia pun berloncatan dengan cepat dan langkah-langkahnya menjadi panjang. Bahkan kemudian kakinya seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah.

 “Anak iblis,” geram Elang yang tua, “darimana kau mewarisi kemampuan seperti itu?”

Sambi Wulung sama sekali tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ketika Elang yang muda menyambarnya dengan jari-jarinya yang mengembang, maka Sambi Wulung sempat bergeser kesamping sambil merendahkan dirinya. Kuku-kuku yang siap mengajak wajahnya itu terayun setapak diatas kepalanya. Namun sambil merendahkan diri, Sambi Wulung telah mengayunkan kedua kakinya dan bertumpu pada kedua tangannya.

Satu serangan yang sangat tiba-tiba dan tidak terduga. Karena itu, maka Elang yang muda itu bagaikan terhempas dan terlempar beberapa langkah. Dengan susah payah ia berusaha mempertahankan keseimbangan dengan mengembangkan kedua tangannya. Meskipun ia berhasil tetap berdiri, namun Elang yang muda itu harus menyeringai menahan sakit. Rasa-rasanya tulang iganya bagaikan retak.

Yang terdengar adalah suara Elang itu mengerang. Tetapi semakin lama semakin keras. Yang kemudian terdengar bukan lagi erang kesakitan, tetapi teriakan marah yang menggetarkan jantung.

Sambi Wulung mula-mula menganggap bahwa teriakan yang semakin keras itu hanya menyakiti telinganya saja. Namun semakin lama ia pun semakin menyadari, bahwa suara itu telah dilontarkan dengan landasan ilmu. Suara yang mirip dengan suara seekor burung Elang yang marah itu semakin lama menjadi semakin keras.

Sambi Wulung yang telah memiliki sebangsal pengalaman itu pun segera mengerahkan daya tahannya untuk menjaga agar isi dadanya tidak rontok karenanya.

Namun sekali ia berusaha mengatasi kesulitan di dadanya, maka Elang yang tua pun telah menyambarnya. Hampir saja ayunan tangan Elang itu menyambar keningnya. Tidak dengan jari-jari yang mengembang, tetapi terbuka dan merapat. Namun ketika serangan itu tidak menyentuh sasarannya, maka Elang yang tua itu telah berputar dan sekali lagi menyambar. Namun yang terakhir itu telah dilakukannya dengan jari-jari yang mengambang.

Sambi Wulung meloncat menghindar, sementara itu ia harus mengatasi serangan suara yang dilontarkan oleh Elang yang muda.

Tetapi sambi Wulung tidak membiarkan dirinya sekedar menjadi sasaran serangan kedua orang yang menyebut dirinya Sepasang Elang Randu Alas itu. Ketika itu merasa mulai terdesak, maka Sambi Wulung pun telah meningkatkan kemampuannya pula.

Dengan demikian maka Sambi Wulung itu pun telah menjadi semakin garang. Serangannya menjadi cepat dan keras. Bahkan dengan perhitungan penalarannya, maka serangannya justru lebih banyak ditujukan kepada Elang yang muda, sehingga ia tidak mendapat kesempatan terlalu banyak untuk memusatkan serangannya lewat suaranya yang bergerak bagaikan memecahkan jantung.

Sejenak kemudian, maka pertempuran antara Sambi Wulung dengan Sepasang Elang itu pun menjadi semakin sengit. Mereka bergerak semakin cepat dan semakin kuat. Sekali-sekali terdengar Elang yang muda itu masih saja berteriak, justru semakin keras.

Namun dengan demikian Sambi Wulung telah memperhatikan keadaan Risang pula. Nampaknya kelompok yang dikirim untuk mencari Puguh itu bukan asal saja menunjuk setiap orang diantara mereka. Tetapi diantara mereka terdapat orang-orang yang berilmu tinggi.

Tetapi Sambi Wulung tidak tahu, bahwa sebuah kelompok yang berhasil menemukan tempat persembunyian Ki Rangga dan Warsi telah gagal mengambil mereka, karena kehadiran Ki Ajar Paguhan dan Ki Randu Keling.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung itu sempat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dengan Risang. Meskipun Sambi Wulung yakin, bahwa Risang tidak akan dibunuh jika tidak terpaksa, tetapi anak itu akan dapat mengalami kesulitan dan bahkan mungkin akan dapat ditangkap. Jika dua orang di antara orang-orang itu memiliki ilmu yang tinggi, maka pemimpinnya tentu juga memiliki ilmu yang memadai.

Sebenarnyalah bahwa Risang mengalami banyak kesulitan. Meskipun ia sudah menjadi semakin tangkas, tetapi pemimpin kelompok itu memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, setiap kali Risang menjadi terdesak. Sedangkan lawannya yang seorang lagi, selalu berusaha memotong garis geraknya. Orang itu menjaga agar Risang tidak dapat melarikan diri.

Ketika Sambi Wulung sempat memperhatikan sekilas, maka ia memang menjadi cemas.

Sementara itu, ia pun telah sempat melihat apa yang terjadi pada Jati Wulung dan Gandar. Ternyata bahwa orang-orang yang bertempur melawan kedua orang itu pun termasuk orang yang berbekal ilmu. Bukan sekedar orang yang mampu bermain pedang atau jenis-jenis senjata yang lain.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapat kesempatan melindungi Risang. Jika tidak, maka Risang akan dapat dibawa oleh orang itu. Orang yang tidak diketahui sangkan parannya, sehingga mereka tidak akan mudah untuk dapat melacaknya.

Untunglah bahwa Risang telah memperdalam ilmunya dengan sungguh-sungguh. Karena itu, ia masih mampu memperpanjang waktu perlawanannya atas dua orang ang berusaha menangkapnya. Kecerdasan nalarnya telah memberinya isyarat, bahwa kedua orang itu untuk sementara tidak akan membunuhnya. Tetapi jika terpaksa agaknya hal itu akan dapat mereka lakukan.

Beberapa saat kemudian, maka pertempuran di halaman samping kedai itu pun menjadi semakin sengit. Ternyata pertempuran itu memang menarik perhatian banyak orang. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka berani ikut campur setelah mereka melihat dari kejauhan, apa yang telah terjadi. Seorang yang memiliki sedikit pengetahuan dalam olah kanuragan, justru telah menjadi gemetar, karena ia tahu, betapa tinggi ilmu yang disaksikannya itu.

Dengan demikian maka mereka yang serba sedikit mengenal olah kanuragan, justru menjadi sangat cemas, bahwa akan terjadi pembantaian yang mengerikan. Salah satu pihak tentu akan jatuh korban.

Hanya orang-orang yang tidak tahu menahu tentang olah kanuragan sajalah yang justru berani lebih mendekat. Mereka ingin tahu apa yang telah terjadi di halaman sebelah kedai itu. Sementara itu, pemilik kedai itu sendiri bersama pembantunya telah lari lewat pintu samping.

 “Siapa mereka?” bertanya salah seorang diantara mereka yang berani agak mendekat.

 “Entahlah.” jawab kawannya.

 “Kasihan. Empat orang harus berkelahi melawan sepuluh orang,” berkata orang yang pertama.

 “Ya. Tetapi nampaknya mereka tidak segera dapat dikalahkan,” sahut kawannya.

Yang pertama mengangguk-angguk. Ia mencoba memberikan pendapatnya tentang mereka yang bertempur meskipun sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa.

 “Yang masih muda itu luar biasa,” desis orang itu, “ia mampu berloncatan kian kemari mengatasi serangan-serangan kedua lawannya.”

 “Yang mana?” bertanya kawannya.

 “Itu, yang harus bertempur melawan dua orang”

 “Tetapi ia sering berloncatan mundur. Berbeda dengan yang harus bertempur melawan tiga orang itu. Orang yang bertubuh kekar.”

Orang yang pertama mengangguk-angguk. Ia memang melihat Gandar yang dengan tangkasnya melawan ketiga orang lawannya.

Namun sebenarnyalah bahwa Gandar pun harus bekerja keras untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan yang datang beruntun dari tiga arah berturutan. Seakan-akan tidak ada waktu sama sekali baginya untuk membalas menyerang. Yang dilakukan hanyalah sekedar menangkis, menghindar dan melindungi dirinya.

Tetapi Gandar tidak membiarkan keadaan itu berlangsung terus-menerus. Karena itu, maka ia pun segera menghentakkan dirinya ketika serangan berikutnya datang. Ia tidak berusaha menghindar atau menangkis serangan itu. Tetapi Gandar dengan sengaja telah membentur serangan itu dengan serangan pula.

Dengan demikian maka telah terjadi benturan yang keras. Gandar memang terguncang dan terdorong selangkah surut. Namun dengan tangkasnya Gandar telah meloncat, justru keluar dari garis serangan ketiga orang lawannya.

Lawan-lawannya memang tidak segera memburu. Mereka tengah memperhatikan seorang diantara mereka yang telah membentur Gandar yang dengan sengaja tidak menghindari serangan.

Orang itu bukan sekedar terguncang. Tetapi orang itu telah terlempar beberapa langkah surut. Tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya, maka orang itu telah terjatuh.

Kedua orang saudara seperguruannya telah mendekatinya dengan cepat. Mereka menolong saudaranya yang terjatuh itu untuk berdiri.

Orang yang terjatuh itu mengumpat kasar. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Punggungnya memang bagaikan retak.

Karena itu untuk beberapa saat ia memerlukan waktu untuk memperbaiki keadaannya. Sementara itu, saudaranya yang lainlah yang telah bersiap-siap untuk melawan Gandar.

Sejenak kemudian Gandar telah bertempur lagi. Mula-mula ia hanya melawan dua orang. Ketika tumbuh niatnya untuk memanfaatkan keadaan itu, maka lawannya yang ketiga telah kembali memasuki arena. Dengan demikian maka Gandar telah kembali melawan tiga orang lawan. Tetapi seorang diantara mereka sudah tidak lagi setangkas semula. Meskipun demikian orang itu masih tetap merupakan orang yang sangat berbahaya.

Sementara Gandar masih sibuk dengan ketiga orang lawannya, maka Jati Wulung masih juga harus melayani tiga orang lawan. Seperti Gandar, maka Jati Wulung merasa bahwa tekanan-tekanan lawan semakin lama menjadi semakin berat.

Bahkan ketiga orang lawan Jati Wulung nampaknya secara bersama-sama telah mengetrapkan ilmu mereka yang sangat berbahaya.

Ketiga orang itu pun dalam satu kesempatan telah berdiri mengepung Jati Wulung. Tangan mereka tiba-tiba telah melakukan gerakan-gerakan yang nampaknya memang rumit. Namun sejenak kemudian, kedua kakinya telah merenggang. Kaki kanan justru agak ditarik ke belakang.

Sejenak kemudian dalam sikap miring itu, mereka mulai bergerak mengelilingi Jati Wulung.

 “Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya,” berkata salah seorang diantara ketiga orang itu, “sebentar lagi kau akan mati digilas oleh kedahsyatan ilmuku ini.”

Jati Wulung tidak menjawab. Namun ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua kakinya menjadi renggang. Ia agak merendah pada lututnya, kemudian kedua tangannya telah siap di dadanya. Kedua tangannya terbuka dengan jari-jari yang rapat.

Sementara itu, ketiga orang itu mengelilingi sambil menghentak-hentak tanah. Berderap semakin lama semakin cepat. Hentakkan yang dibarengi dengan gumam di mulut yang semakin lama juga menjadi semakin keras.

Jati Wulung termangu-mangu sesaat. Namun ia tidak mempunyai banyak waktu. Ternyata sejenak kemudian, ketiga orang yang seperti menjadi mabuk itu telah menyerang dengan garangnya. Seorang-seorang melenting dengan cepat susul-menyusul.

Jati Wulung yang memang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan tangkas pula telah menghindari setiap serangan. Namun serangan ketiga orang itu semakin lama seakan-akan menjadi semakin cepat. Setiap kali mereka kembali dalam putaran dan irama yang semakin cepat itu, serta gumam dimulut yang menjadi bagaikan teriakan-teriakan kasar.

Sementara itu, ketiga orang yang bertempur melawan Gandar telah melakukan hal yang sama pula. Mereka berdiri dalam satu lingkaran sambil berputar dengan menghentak-hentakkan kakinya serta mulutnya yang berteriak semakin keras.

Jati Wulung akhirnya tidak sekedar menunggu. Ketika putaran itu mulai lagi, maka Jati Wulung lah yang menyerang dengan cepat. Tetapi sasarannya cepat menghindar, sementara itu dua oran yang lain, telah meluncur membantu saudara seperguruannya dengan menyerang Jati Wulung.

Jati Wulung berhasil menghindari serangan orang yang pertama dengan bergeser menghindar. Namun serangan yang kedua, ternyata tidak dapat dihindarinya sepenuhnya. Serangan itu telah mengenai pundaknya sehingga Jati Wulung terguncang dan terdorong beberapa langkah surut.

Terasa tulangnya bagaikan retak. Sentuhan itu memang sakit sekali. Jauh melampaui sengatan pukulan dengan sepotong kayu sekalipun.

Sementara Jati Wulung berusaha mengatasi rasa sakit itu, maka ketiga orang itu pun telah melingkarinya pula dengan hentakkan-hentakkan kaki dan teriakan yang membuatnya menjadi pening.

Akhirnya Jati Wulung tidak dapat membiarkan keadaan itu berlangsung terus-menerus, sehingga akhirnya ia kehilangan pengendalian diri oleh perasaan pening yang semakin menekan.

Karena itu, maka Jati Wulung telah mempergunakan kemampuan diantara ilmu yang dimilikinya.

Ketika saat yang dianggapnya baik itu datang, maka sekali lagi Jati Wulung menyerang salah seorang diantara ketiga orang itu. Ia sadar, bahwa dua orang yang lain akan membebaskannya dengan menyerang bersama-sama.

Sebenarnyalah seperti yang diperhitungkan oleh Jati Wulung, serangan dari kedua orang yang lain itu datang beruntun, sementara sasarannya pun mencoba untuk menghindar.

Namun Jati Wulung telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka Jati Wulung dengan cepat menghindar, sementara serangan yang lain, sengaja tidak dihindarinya. Tetapi Jati Wulung telah membentur serangan itu dengan serangan pula.

Orang itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa lawannya telah membentur serangannya. Sehingga justru karena itu, maka orang itu telah terpental beberapa langkah surut. Meskipun Jati Wulung juga berguncang, tetapi keadaannya tidak menjadi separah lawannya. Dalam benturan yang terjadi, Jati Wulung telah menghantam dada orang itu dengan telapak tangannya, sementara lambungnya sendiri merasa sakit sekali karena kaki lawannya yang dapat mengenainya dengan kekuatan yang berlipat dengan kekuatan kaki sewajarnya.

Tetapi Jati Wulung pun telah mempergunakan ilmunya pula. Telapak tangannya yang mengenai dada lawannya, bukan sekedar dorongan yang membuat lawannya terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Tetapi lawannya itu pun kemudian menyeringai menahan sakit yang sangat. Rasa-rasanya dadanya bukan saja dikenai telapak tangan dalam benturan yang keras. Tetapi rasa-rasanya dadanya telah tersentuh api.

Ketika ia sempat menyaksikannya, ia terkejut bukan kepalang. Bajunya, bahkan kulitnya memang menjadi hangus. Didadanya membekas kehitam-hitaman telapak tangan lawannya itu.

 “Tapak Geni,” geram orang itu. Kedua orang saudara seperguruannya pun tiba-tiba saja telah berhenti menghentak-hentak. Nampaknya mereka sangat memperhatikan keadaan saudaranya yang telah disentuh oleh kekuatan ilmu Jati Wulung.

 “Iblis kau,” orang yang telah dikenai sentuhan tangannya itu mengumpat, “darimana kau mendapatkan ilmu seperti itu. Dan siapakah kau sebenarnya?”

 “Sekali lagi aku peringatkan. Kita tidak mempunyai persoalan sama sekali. Aku masih memberimu kesempatan untuk pergi. Anak muda itu bukan anak muda yang kalian cari. Jika kalian mati dalam pertempuran ini, maka kematian kalian adalah kematian yang sia-sia. Karena itu aku minta agar sekali lagi kawanmu itu mengenali wajah anak muda itu. Apakah benar-benar ia orang yang dicarinya,” berkata Jati Wulung.

 “Persetan,” geram orang itu, “bekas-bekas yang nampak pada mayat-mayat kawan-kawanku di Pajang ketika mereka gagal menangkap Ki Rangga dan Warsi mirip dengan bekas tanganmu meskipun nampaknya dengan alas ilmu yang berbeda. Tetapi kami mendengar bahwa saat itu pun hadir orang-orang berilmu tinggi. Setidak-tidaknya menilik bekas pertempuran yang telah terjadi.”

 “Siapa yang ada di Pajang?” bertanya Jati Wulung.

 “Kau memang iblis yang licik. Jangan berpura-pura lagi. Saat kematianmu telah datang.” geram orang itu.

 “Apakah artinya semuanya ini,” desis Jati Wulung, “perkelahian yang tidak ada gunanya hanya karena salah paham. Tetapi jika terpaksa kami harus membunuh, apa boleh buat.”

 “Kau tidak perlu merajuk.” geram orang itu.

 “Baiklah. Tetapi siapakah kalian sebenarnya. Siapa pun yang akan mati bukan soal lagi.” bertanya Jati Wulung.

 “Itu tidak perlu. Perguruanku terletak di tempat yang jauh. Tidak ada gunanya kau mengenalnya,” jawab orang itu, “yang penting, kau akan mati. Anak itu akan menjadi tawanan kami.”

Diluar dugaan Jati Wulung sempat memandang lingkaran pertempuran yang lain sejenak. Terutama Risang.

Jati Wulung memang menjadi berdebar-debar. Risang nampaknya mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri. Karena itu, maka seperti Sambi Wulung, maka Jati Wulung pun merasa bahwa ia harus mempercepat penyelesaian atas lawan-lawannya. Tetapi Jati Wulung pun sadar, bahwa hal seperti itu bukan hal yang mudah.

Karena itu, ketika lawannya masih akan berbicara lagi, Jati Wulung berkata, “Waktu kita tidak terlalu banyak. Disekeliling arena itu, orang semakin banyak berkerumun melihat perkelahian yang tidak punya arti apa-apa ini, selain sekedar keinginan untuk membunuh. Mungkin Bekel atau bahkan Demang dari tempat ini akan turut campur sehingga persoalannya menjadi berkepanjangan.”

 “Kita tidak perlu menghiraukan tikus-tikus kecil itu,” desis lawannya.

Namun Jati Wulung telah benar-benar ingin mempercepat penyelesaian dari pertempuran itu, karena keadaan Risang yang menjadi gawat. Meskipun Jati Wulung juga berpikir bahwa Risang tidak akan dibunuh, tetapi jika ia tertangkap dan dibawa oleh lawannya itu, maka persoalannya akan menjadi sangat rumit.

Karena itu, maka Jati Wulung lah yang mulai bergerak. Dengan demikian maka ketiga orang lawannya pun telah bersiap pula. Namun Jati Wulung melihat, bahwa orang yang telah dikenai dadanya itu tidak lagi mampu bergerak sebagaimana kedua orang kawannya yang lain.

Sejenak kemudian maka pertempuran pun telah berlangsung kembali. Kedua belah pihak telah mengerahkan kemampuan mereka untuk benar-benar membunuh lawannya.

Namun ketiga orang lawan Jati Wulung harus lebih berhati-hati, karena mereka tahu, bahwa telapak tangan Jati Wulung yang dilambari dengan ilmunya, mampu membakar tubuh mereka yang sempat disentuhnya.

Tetapi Jati Wulung lah yang kemudian menjadi semakin garang, karena keadaan Risang yang menjadi semakin gawat.

Gandar pun sempat melihat keadaan Risang yang semakin sulit. Karena itu, maka Gandar pun telah meningkatkan ilmunya pula. Kekuatannya bagaikan menjadi semakin besar dan bertumpu pada tangan dan kakinya. Dengan demikian, maka sentuhan tangan Gandar telah membuat tulang-tulang lawannya bagaikan berpatahan.

Sebenarnyalah kekuatan Gandar bukan sekedar kekuatan wadagnya. Tetapi ia benar-benar telah melampaui batas kemampuan wadagnya itu. Gandar yang kekar itu telah memasuki ilmunya yang tinggi, sehingga sentuhan tangannya bukan saja sentuhan tangan wajar. Demikian pula sentuhan kakinya. Getaran yang tersimpan didalam dirinya, akan dapat dengan cepat dan dengan serta merta langsung menyusup ketubuh lawan sehingga menimbulkan getar asing didalam diri mereka. Getar yang asing itulah yang kemudian akan mengganggu dan menyakiti lawannya, seakan-akan akibat pukulan Gandar dengan kekuatan yang sangat besar.

Baik Jati Wulung maupun Gandar perlahan-lahan telah mulai mendesak ketiga orang lawan masing-masing. Jati Wulung telah berhasil melukai lawannya yang lain. Bahkan seorang diantara mereka telah dilukainya di beberapa bagian tubuhnya. Dengan demikian maka perlawanan mereka pun mulai menjadi semakin mengendor, meskipun sama sekali tidak terbersit niat yang demikian. Ketiga orang lawan Gandar dan tiga orang lawan Jati Wulung itu masih bertekad bulat untuk membunuh lawan-lawan mereka sebagaimana perintah pemimpinnya, karena orang-orang yang dianggap para pengawal Puguh itu tidak mau menyerah.

Tetapi mereka harus mengakui satu. kenyataan, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Dibagian lain, Sambi Wulung pu menjadi sangat cemas. Tetapi ia pun tidak terlalu mudah untuk mengalahkan Sepasang Elang Randu Alas itu. Keduanya mampu bergerak cepat dan seakan-akan menyambar-nyambarnya dari segala arah. Sementara itu derak suara Elang yang muda disetiap kesempatan itu pun telah membuat telinganya semakin pedih.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah berniat untuk mempergunakan ilmunya sebagaimana Jati Wulung. Agaknya Sambi Wulung pun berniat untuk mempergunakan kemampuannya sebagaimana dipergunakan oleh Jati Wulung. Namun kemampuannya yang paling berbahaya bagi musuh-musuhnya.

Sebagai saudara tua seperguruan, maka Sambi Wulung memang memiliki kelebihan dari Jati Wulung. Meskipun mereka sama-sama mempelajari ilmunya sampai tuntas, tetapi pengembangannya ternyata sedikit lebih matang.

Karena itu, menghadapi lawan yang berilmu tinggi itu, Sambi Wulung masih mampu mengimbanginya. Bahkan ketika ia mulai merambah ke ilmunya, Sepasang Elang itu harus menjadi semakin berhati-hati.

Elang yang muda itu terkejut ketika terjadi benturan ilmu dengan Sambi Wulung. Ketika Elang yang muda itu menyerang, maka Sambi Wulung pun justru telah menyerangnya pula.

Sambi Wulung terdorong selangkah surut. Tetapi ia masih mampu bertahan pada keseimbangannya, sementara lawannya telah terpental beberapa langkah. Namun bukan saja dadanya sakit karena hentakan kekuatan tangan Sambi Wulung, tetapi pakaian dan kulitnya telah membekas luka bakar di bagian dadanya. Terasa perasaan pedih yang menyengat. Sehingga Elang yang muda itu harus mengerahkan daya tahan tubuhnya untuk mengatasi perasaan sakit.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung yang baru saja terdorong surut dan berusaha untuk tetap menguasai keseimbangannya itu telah diserang dengan tiba-tiba. Elang yang tua itu bagaikan menukik dari langit. Kukunya yang tajam telah mencengkam ke arah leher Sambi Wulung. Sambi Wulung memang berusaha untuk menghindar. Tetapi karena serangan itu demikian tiba-tiba, maka ia tidak dapat menghindar sepenuhnya. Kuku-kuku yang tajam itu berhasil mengenai pundaknya sehingga pundaknya itu bagaikan telah terkoyak.

Sambi Wulung terhuyung-huyung kesamping. Namun dengan cepat ia meningkatkan daya tahannya pula untuk mengatasi perasaan sakit, sementara darah mulai mengalir dari lukanya itu.

Sambi Wulung menggeram. Kemarahannya telah memuncak sampai ke ujung rambutnya. Ia tidak ingin terlambat untuk menyelamatkan Risang. Apalagi gagal sama sekali.

Karena itu, maka Sambi Wulung itu pun telah mengerahkan kemampuannya, sementara ia masih juga berdoa dan berharap, agar Risang diselamatkan.

Dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin cepat. Sambi Wulung justru menjadi semakin garang, seperti seekor banteng yang terluka. Dengan bekal berbagai ilmunya, maka Sambi Wulung mampu bergerak cepat, tenaganya pun menjadi berlipat, sementara itu telapak tangannya bagaikan telah membara.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung yang terluka itu menjadi semakin garang. Kakinya menjadi semakin cepat bergerak. Tangannya terayun-ayun mengerikan. Bahkan Sambi Wulung kemudian tidak lagi berniat untuk menghindari serangan-serangan. Tetapi ia harus membentur serangan-serangan. Jika lawannya menyerang dengan jari mengembang, maka Sambi Wulung berusaha untuk membenturnya dengan telapak tangannya yang membara.

Sepasang Elang itu memang mengalami kesulitan untuk menyerang. Tetapi keduanya memiliki pengalaman yang luas, sehingga dengan saling mengisi, keduanya mampu juga menembus pertahanan Sambi Wulung. Lengan Sambi Wulung ternyata telah tergores pula oleh kuku-kuku Elang muda yang tajam. Tetapi Elang yang muda itu tidak dengan cepat dapat menghindar ketika Sambi Wulung langsung memburunya. Punggungnyalah yang kemudian tersentuh telapak tangan Sambi Wulung.

Elang yang muda itu menyeringai menahan sengatan panas. Namun giginya menjadi gemeretak. Ketika punggungnya dilukai, maka Elang yang tua telah menyerang Sambi Wulung pula. Tetapi dengan tangkasnya Sambi Wulung merendah. Demikian ayunan kuku-kuku yang tajam itu menyambar diatas kepalanya, maka Sambi Wulung lah yang kemudian menjulurkan tangannya ke arah lambung lawannya.

Karena jaraknya yang tidak terlalu dekat, maka Sambi Wulung hanya menyentuh saja lambung lawannya itu tanpa dorongan kekuatan yang cukup. Tetapi sentuhan itu adalah sentuhan bara, sehingga meskipun tidak dengan kekuatan yang besar tetapi sentuhan tangan Sambi Wulung itu telah mampu membakar kulitnya.

Kedua Elang yang telah terluka itu pun memang menjadi semakin garang. Tetapi lawan mereka pun menjadi semakin keras pula.Bahkan Sambi Wulung yang tidak mau kehilangan Risang itu tidak lagi mengekang diri. Serangan-serangannya ternyata tidak kalah cepatnya dari Sepasang Elang itu.

Ternyata bahwa sentuhan tangan Sambi Wulung semakin lama menjadi semakin banyak ditubuh Sepasang Elang itu. Meskipun Sambi Wulung sendiri tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa tenaganya menjadi susut karena darah yang mengalir terus dari lukanya, namun lawan-lawannya pun menjadi semakin tidak berdaya pula.

Dalam kemarahan yang memuncak, maka Sambi Wulung benar-benar tidak mengekang diri lagi. Apalagi ketika ia mulai dipengaruhi bayangan-bayangan yang mengerikan tentang Risang yang ternyata telah dikira Puguh.

Dengan demikian, maka serangan-serangan Sambi Wulung itu menjadi semakin garang dan berbahaya. Dengan sisa tenaganya maka ia berusaha untuk mengakhiri pertempuran.

Sebenarnyalah Sepasang Elang Randu Alas itu menjadi semakin terdesak. Luka-luka bakar ditubuh mereka bukan saja terasa panas, tetapi untuk bergerak cepat dan keras, maka luka-luka itu bagaikan telah terbuka. Darah mulai mengalir dari luka-luka bakar itu, sehingga Sepasang Elang itu pun menjadi semakin lemah karenanya.

Disaat-saat terakhir, Sepasang Elang itu memang tidak banyak berdaya. Sentuhan-sentuhan tangan Sambi Wulung menjadi semakin sering mengenai tubuh mereka.

Ternyata maka kedua orang itu akhirnya tidak mampu lagi bertahan. Disaat terakhir, maka Elang yang mudalah yang lebih dahulu kehilangan kemampuannya untuk melawan. Meskipun ia masih mencoba untuk mempergunakan suaranya mempengaruhi ketahanan dan perlawanan Sambi Wulung. Elang yang tua itu pun sekali-sekali telah mencoba pula memperkuat serangan suara Elang yang muda. Namun semuanya tidak berhasil. Sambi Wulung benar-benar telah menguasai medan sehingga akhirnya Sepasang Elang itu benar-benar tidak berdaya. Nafas mereka menjadi terengah-engah, sementara tenaga mereka bagaikan terkuras.

Tetapi mereka telah bertempur sampai kemampuan mereka yang terakhir. Sebagai bagian dari satu kelompok yang besar dan terikat berbagai macam alasan, maka Sepasang Elang itu sudah menunaikan tugasnya dengan sepenuh kemampuannya. Tetapi ternyata bahwa mereka berhadapan dengan orang yang berilmu jauh lebih tinggi dari mereka masing-masing, sehingga meskipun mereka bertempur berdua, namun mereka tidak dapat berhasil.

Elang yang mudalah yang lebih dahulu terjatuh ketika tangan Sambi Wulung sempat terayun mengenai tengkuknya. Sengatan panas dan kekuatan yang sangat besar rasa-rasanya telah mematahkan dan membakar lehernya. Karena itu, maka Elang yang muda itu telah jatuh tertelungkup.

Sementara itu, Elang yang tua bagaikan terbang menerkam Sambi Wulung. Tetapi Sambi Wulung sempat meloncat kesamping. Namun, demikian sambaran Elang itu lewat, maka Sambi Wulung telah meloncat dan dengan satu putaran tangannya terayun mendatar. Namun telapak tangannya masih juga sempat menghantam dan bahkan mencengkam lengan Elang yang tua itu. Satu hentakan yang tidak diperhitungkan telah menarik Elang itu mendekat. Dengan kekuatan yang sangat besar, Sambi Wulung telah menghantam dada lawannya itu.

Elang yang tua itu sempat mengumpat. Namun kemudian yang terdengar adalah erang yang panjang ketika Elang itu terjatuh menelentang di tanah.

Sambi Wulung sejenak berdiri bagaikan membeku. Ia masih ingin meyakinkan apakah kedua orang itu masih akan bangkit lagi untuk melawan. Tetapi ternyata kedua orang itu sudah tidak berdaya lagi.

Karena itu, perhatian Sambi Wulung kemudian tertuju kepada Risang yang semakin terdesak. Bahkan Risang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindarkan diri dari cengkeraman kedua orang lawannya.

Jantung Sambi Wulung bagaikan berdentang semakin cepat. Dengan langkah panjang Sambi Wulung meloncat mendekati Risang.

Tetapi yang dilakukan oleh Sambi Wulung itu ternyata telah mempercepat berakhirnya perlawanan Risang. Ketika seorang lawannya menyerang dengan kakinya ke arah lambung, Risang masih sempat mengelak. Namun ia tidak mendapat kesempatan berikutnya. Ketika pemimpin kelompok itu melihat Sambi Wulung menyelesaikan kedua lawannya dan meloncat ke arahnya, maka ia pun telah meningkatkan kemampuannya, sehinga dengan serta merta, kekuatan dan kemampuannya telah meningkat.

Dengan cepat orang itu menangkap tangan Risang yang menangkis serangannya. Sekali tangan itu dipilinnya kebelakang, maka Risang tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Sementara tangan lawannya yang lain telah melingkar dilehernya.

 “Jangan mendekat,” geram orang itu, “dengan satu hentakkan, leher anak ini akan patah. Terserah kepadamu, apakah aku harus membawa anak ini, atau membunuhnya sekali. Jika aku tidak berhasil membawanya, maka lebih baik aku membunuhnya.”

Sambi Wulung memang harus berhenti. Nampaknya Orang itu bersungguh-sungguh. Dengan nada datar Sambi Wulung berkata, “Aku tidak membunuh Sepasang Elang Randu Alas itu. Mereka masih hidup. Yang aku inginkan adalah, agar kalian sekali lagi memperhatikan anak itu. Ia sama sekali bukan Puguh.” Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu, “Jika kau dapat menerima tawaranku, kita akan saling menukar. Kau ambil kawan-kawanmu sebelum aku membunuhnya. Tetapi serahkan anak itu kepadaku.”

 “Persetan,” geram pemimpin kelompok itu sambil bergeser surut, “jangan mengada-ada. Aku tidak peduli kau bunuh kawan kawanku. Yang penting aku berhasil menangkap Puguh.”

 “Jika anak itu benar-benar Puguh, maka kematian kawanmu itu akan berarti. Tetapi anak itu bukan Puguh. Aku minta kalian memperhatikan sekali lagi. Apakah kalian benar-benar mengenalinya? Kematian kawan-kawanmu tidak akan berarti apa-apa, karena orang yang kau harapkan datang untuk mengambil anaknya itu tidak akan pernah datang. Mungkin Puguh sekarang sedang bergurau bersama kedua orang tuanya itu, atau berburu atau mungkin apa lagi,” berkata Sambi Wulung.

 “Persetan dengan Puguh,” geram orang itu, “pokoknya aku akan membawa anak ini. Puguh atau bukan Puguh. Jika anak ini ternyata bukan Puguh, aku akan dapat melepaskannya sepanjang tidak ada seorang pun diantara orang-orangku yang terbunuh.”

 “Licik kau,” geram Sambi Wulung, “lalu buat apa kau bawa anak itu jika ia bukan Puguh. Kau telah merampas haknya tanpa alasan. Hanya karena ketidak mampuanmu mengenali seseorang sajalah maka kau telah melakukannya. Dengan demikian, jika ada korban yang jatuh dari pihak manapun, adalah tanggung jawabmu sendiri.”

 “Aku tidak peduli,” bentak orang itu, “aku tidak peduli dengan hak siapapun. Jika aku berkepentingan, maka aku akan melakukannya. Sesuai dengan kepentinganku. Bukan kepentingan orang lain. Jika dengan demikian hak orang lain terlanggar, aku tidak peduli. Tanggung jawabku adalah bahwa aku siap membuat perhitungan dengan cara apapun juga.”

Sambi Wulung termangu-mangu. Ia tidak berhasil membujuk orang itu. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan Risang dibawa olehnya.

Sementara itu, Jati Wulung dan Gandar pun terkejut melihat keadaan Risang yang sepenuhnya sudah dikuasai oleh pemimpin sekelompok orang yang mencari Puguh itu.

Namun dengan demikian, maka keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu mereka tanpa menghiraukan kemungkinan apapun yang akan terjadi dengan lawan-lawan mereka. Karena itu, maka sesaat kemudian, dengan menghentakkan kemampuannya, maka Jati Wulung dan Gandar telah mengakhiri perlawanan dari lawan mereka yang terakhir.

Tetapi keduanya sama sekali tidak berhasil mendekati Risang. Tangannya masih dipilin di punggungnya, sementara lehernya masih juga dilingkari oleh lengan pemimpin kelompok itu. Nampaknya tangan-tangannya memang demikian kuatnya, sehingga baginya tidak akan sulit untuk mematahkan leher Risang.

Sebenarnyalah ketiga orang itu menjadi kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Risang sendiri nampaknya sudah tidak mempunyai harapan, karena itu untuk beberapa saat ia pasrah akan keadaannya.

Namun tiba-tiba saja Risang itu telah teringat akan sesuatu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah bersiul dengan nyaringnya.

 “Apa yang kau lakukan,” bentak pemimpin kelompok itu.

 “Sekedar melepaskan sesak didadaku,” jawab Risang dengan sedikit gemetar. Tetapi ia berusaha untuk tetap nampak tabah menghadapi saat-saat yang paling gawat itu.

 “Kau jangan melakukan sesuatu yang dapat menghancurkan lehermu sendiri,” ancam orang itu.

 “Aku mempunyai kebiasaan, dalam ketakutan aku bersiul,” jawab Risang.

Tanpa menunggu lagi, Risang telah bersiul pula lebih keras.

 “Diam,” bentak orang itu.

Namun suara siul itu telah mempunyai pengaruh yang besar.

Kuda Risang adalah kuda yang baik. Suara siul Risang sangat dikenalnya, sehingga ketika terdengar ia bersiul, maka kuda itu telah berusaha melepaskan diri dari ikatannya yang memang tidak begitu keras. Karena itu, maka tiba-tiba saja kuda itu telah berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara siul Risang.

Pemimpin kelompok yang memegangi Risang itu terkejut melihat seekor kuda dari balik kedai itu berlari ke arahnya, seakan-akan hendak menerkamnya. Sehingga karena itu, maka perhatiannya sejenak telah tertuju kepada kuda itu.

Risang ternyata cukup cerdik. Ia memanfaatkan saat yang pendek itu untuk menghentakkan dirinya sehingga terlepas dari pegangan pemimpin kelompok itu.

Pemimpin kelompok itu terkejut. Namun Risang telah berlari ke arah Sambi Wulung. Waktu yang sekejap itu telah dipergunakan sebaik-baiknya.

Namun pemimpin kelompok itu menjadi sangat marah. Tidak ada lagi yang terbersit di kepalanya selain membunuh anak itu. Karena itu, maka dengan serta merta, pemimpin kelompok itu telah melemparkan sebilah pisau belati ke arah Risang.

Hampir berbareng Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar berteriak, “Risang, awas. Pisau.”

Risang memang mendengar. Karena itu, maka dengan cepat ia telah bergeser arah, namun kemudian ia pun telah menjatuhkan diri berguling ditanah.

Tetapi pisau itu masih juga tergores dilengannya sehingga lengannya itu telah terluka. Darah telah mengalir pula dari lengannya membasahi bajunya.

Namun Sambi Wulung sempat mengatasi keadaan. Sebelum pemimpin kelompok itu bertindak lebih jauh, maka Sambi Wulung telah meloncat menyerangnya.

Namun serangan Sambi Wulung itu tidak mengenai sasaran. Ternyata pemimpin kelompok itu mampu bergerak cepat pula, sehingga ia telah meloncat kesamping.

Tetapi dengan demikian, Sambi Wulung telah berada diantara orang itu dengan Risang yang berusaha untuk bangkit.

Orang yang mengaku mengenal Puguh, yang semula bertempur bersama pemimpin kelompok itu menjadi bingung. Tetapi ia tidak mendapat banyak kesempatan karena tiba-tiba saja Jati Wulung dan Gandar telah berada disebelah menyebelahnya.

 “Kau tidak usah turut campur. Lebih baik kau perhatikan saja anak itu. Apakah ia benar-benar Puguh atau bukan,” berkata Gandar.

Orang itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia sadar, bahwa kedua orang itu adalah orang yang berilmu tinggi, yang masing-masing dapat mengalahkan tiga orang lawan yang termasuk bukan orang kebanyakan.

Sementara itu, Sambi Wulung telah berdiri berhadapan dengan pemimpin kelompok orang yang akan menangkap Puguh itu. Ketika orang itu sempat memperhatikan Risang, maka anak muda itu telah berdiri tegak. Lengannya memang berdarah, tetapi tidak banyak mempengaruhinya.

 “Kalian memang orang-orang yang tidak tahu diri,” geram pemimpin kelompok orang-orang itu, “ternyata kalian memilih mati daripada menyerahkan anak itu.”

 “Sudah aku katakan, anak itu bukan Puguh. Karena itu kami tidak akan menyerahkannya. Apapun yang terjadi. Meskipun kami harus membunuh sekalipun.” jawab Sambi Wulung.

 “Kalian memang terlalu sombong,” geram orang itu, “kalian jangan terlalu berbangga bahwa kalian dapat mengalahkan orang-orangku. Tetapi kalian tidak akan dapat mengalahkan aku, meskipun kalian akan bertempur bersama-sama. Ampat orang sekaligus.”

 “Jangan menjadi putus asa seperti itu,” berkata Sambi Wulung, “kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan baik.”

 “Tutup mulutmu,” geram orang itu, “hanya ada dua pilihan. Aku membunuh kalian, atau kalian membunuh aku. Jika aku gagal membawa Puguh, maka aku sudah tidak pantas lagi untuk tetap hidup. Aku sudah gagal seperti orang-orang yang terdahulu.”

 “Tetapi anak itu bukan Puguh. Bukan, bukan.” teriak Sambi Wulung, “pergilah dengan orang-orangmu. Cari Puguh sampai dapat kau ketemukan.”

 “Persetan. Kau harus mati. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Kau sudah merendahkan harga diriku.” teriak orang itu.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian, maka ia sudah tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus bertempur melawan orang itu.

Sejenak kemudian maka keduanya telah mempersiapkan diri untuk menghadapkan ilmu mereka masing-masing pada satu benturan.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 22

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s