SST-20

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

SESAAT orang itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Namun kemudian orang itu telah jatuh tertelungkup, untuk selanjutnya tidak terbangun lagi.

Dengan demikian maka pertempuran pun telah hampir terhenti sama sekali. Lawan Ki Rangga yang merasa telah kehabisan kawan pun benar-benar telah tidak berpengharapan lagi.

Karena itu, maka ia mulai mempertimbangkan kemungkinan lain untuk mengakhiri pertempuran itu.

Pada saat-saat terakhir, ketika Ki Randu Keling sedang sibuk mengamati keadaan Warsi, maka orang itu telah berusaha untuk melarikan diri dari arena. Dengan tangkasnya ia meloncat mengambil jarak, kemudian berusaha melintasi halaman.

Tetapi Ki Rangga tidak membiarkannya. Ia pun telah mengejar orang itu. Tetapi ketika orang itu berusaha meloncat dinding, Ki Rangga berhasil menyusulnya.

Terdengar suara Ki Randu Keling, “Jangan.”

Tetapi terlambat. Senjata Ki Rangga telah menghunjam kepunggung orang itu.

Sejenak kemudian suasana memang menjadi hening. Namun kemudian Ki Rangga yang menyadari keadaannya berdesis, “Aku tidak dapat mengekang diri oleh kemarahan. Sebenarnya kita memang memerlukan orang itu.”

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Tetapi orang itu sudah terlanjur mati.

 “Tetapi masih ada yang hidup diantara mereka,” berkata Ki Rangga kemudian.

 “Tetapi tidak berarti apa-apa,” sahut Ki Randu Keling, “mereka tidak akan tahu, siapakah yang memberikan perintah kepada mereka.”

 “Aku akan mencoba,” geram Ki Rangga.

Ki Randu Keling tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian bersama Ki Ajar Paguhan telah sibuk mengobati luka-luka pada tubuh Warsi, Puguh dan saudara sepupu Warsi. Pada Warsi yang utama adalah lukanya yang memang belum sembuh benar, namun sudah dipaksanya untuk bertempur melawan seorang yang berilmu tinggi. Sedangkan Puguh yang luka-luka di punggungnya dan bagian tubuhnya yang lain karena kuku dan gigi harimau telah bertambah parah lagi.

Namun dalam pada itu, ternyata naluri keibuan Warsi telah tersentuh meskipun hanya pada sudut yang paling jauh sekalipun. Ternyata Warsi sempat berkata kepada Ki Randu Keling dan kepada anak laki-lakinya, “Terima kasih. Kalian telah menyelamatkan nyawaku lagi.”

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Tempat kalian ternyata telah diketahui.”

 “Apa yang sebenarnya mereka kehendaki?” desis Warsi.

 “Mereka merasa kalian biarkan saja sehingga kalian dianggap tidak bertanggung jawab dalam pertempuran yang menentukan di Tanah Perdikan Sembojan itu,” berkata Ki Randu Keling mengulangi kata-kata yang pernah diucapkannya beberapa kali.

 “Mereka memang orang-orang dungu, tamak dan tidak tahu diri,” geram Warsi.

 “Sudahlah,” berkata Ki Randu Keling, “sekarang kau perhatikan luka-lukamu. Dalam waktu dekat, keadaanmu harus menjadi lebih baik.”

 “Kenapa dalam waktu dekat?” bertanya Warsi.

 “Hari ini kau harus meninggalkan tempat yang telah diketahui oleh orang-orang yang mendendammu, meskipun barangkali karena salah faham. Tetapi dalam kedudukan yang seimbang, kau akan dapat menjelaskan kepada mereka. Dalam keadaan lemah kau memang akan banyak mengalami kesulitan,” berkata Ki Randu Keling.

 “Mereka memang iblis,” geram Warsi.

Puguh yang juga sudah mendapat pengobatan dari kakeknya hanya termangu-mangu saja. Ia tidak banyak mengetahui apa yang dibicarakan antara ibu dan kakeknya itu.

Namun sejenak kemudian Ki Rangga telah datang mendekati mereka sambil menggeram, “Iblis Sumbaga itu mulai membuat perkara. Ia akan menyesal kelak.”

 “Apa katanya?” desis Ki Randu Keling.

 “Kedatangan orang-orang ini ada hubungannya dengan Ki Sumbaga atau pengikut-pengikutnya,” sahut Ki Rangga.

 “Aku ingin mendengarnya. Apakah orang itu tidak sekedar memfitnah,” desis Ki Randu Keling.

Namun ketika Ki Randu Keling itu mulai melangkah, maka Ki Rangga pun berkata, “Ia tidak akan dapat menjawab lagi.”

 “Kau bunuh orang itu?” bertanya Ki Randu Keling.

 “Ya. Semuanya yang masih hidup akan aku bunuh untuk menghilangkan jejak.” jawab Ki Rangga.

 “Tidak mungkin,” jawab Ki Randu Keling. Katanya kemudian, “Jika mereka tidak kembali pada saat yang telah ditentukan, itu pertanda bahwa mereka tidak akan pernah kembali.”

 “Seandainya demikian, maka mereka adalah orang-orang yang memang sudah tidak berguna,” geram Ki Rangga.

 “Masih ada gunanya. Seandainya diantara mereka masih ada yang hidup, biarlah mereka hidup. Mereka akan memperingan tugas kita. Biarlah mereka mengubur kawan-kawan mereka yang terbunuh,” berkata Ki Randu Keling.

 “Dan berbicara tentang kita?” sahut Ki Rangga.

 “Sama saja. Yang penting, kita semuanya harus meninggalkan rumah ini,” berkata Ki Randu Keling, “kita tidak mempunyai kesempatan lagi untuk tinggal dirumah ini.”

Ki Rangga yang pernah dipercaya untuk menjadi perwira dalam tugas sandi mengerti keterangan Ki Randu Keling, bahwa mereka memang harus segera meninggalkan tempat itu, sebelum perhitungan tentang kegagalan beberapa orang yang datang kerumah itu diyakini oleh orang-orang yang memerintahkan mereka datang untuk membunuh Warsi dan Ki Rangga.

Sementara itu Ki Randu Keling berkata, “Karena itu, maka mereka yang terluka biarlah beristirahat sejenak agar mereka sempat keluar dari rumah ini kemana pun perginya. Kalian mempunyai padepokan dan beberapa tempat persinggahan, meskipun sebagian besar telah diketahui oleh orang-orang yang sedang memburu kalian. Tetapi setidak-tidaknya kalian akan dapat beristirahat barang satu dua hari.”

 “Tidak,” berkata Ki Rangga, “kita tidak akan kembali ke salah satu diantara padepokan dan sarang-sarang kita yang lain.”

 “Aku memang tidak,” jawab Ki Randu Keling, “bersama Ki Ajar Paguhan dan Puguh kami akan kembali ketempat yang telah disediakan bagi kami. Tetapi jika kalian setuju, kalian dapat berada di padepokan anak kalian itu untuk beristirahat. Dalam waktu satu dua hari tentu tidak akan ada orang yang mencari kalian kesana, meskipun perjalanan yang harus kita tempuh memang agak panjang.”

Warsi yang biasanya mengambil keputusan merasa ragu-ragu. Namun dalam pada itu, sepupu Warsi itulah yang berkata, “Aku masih mempunyai rumah peninggalan paman dari suamiku. Paman suamiku yang telah meninggal itu tidak mempunyai keluarga dekat selain suamiku itu, sehingga rumah dan pekarangannya yang tidak seberapa besar ditinggalkan kepada suamiku sebagai satu-satunya warisan. Sepeninggal suamiku, rumah itu kosong.

 “Jika demikian, maka justru akan berbahaya bagi kami. Rumah yang biasanya kosong itu tiba-tiba saja telah berpenghuni.” jawab Ki Rangga.

 “Bukan kosong sama sekali,” jawab sepupu Warsi, “Maksudku, rumah itu hanya ditunggui oleh seorang laki-laki tua yang tidak tahu apa-apa. Aku akan dapat memesannya agar ia tidak mengatakan sesuatu tentang kita.”

 “Apakah tempat itu dapat dicapai disisa malam ini?” bertanya Ki Rangga.

Sepupu Warsi itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Diperlukan waktu lebih lama. Apalagi diantara kita ada yang terluka cukup parah.”

 “Jika demikian kita tidak akan dapat pergi kesana. Sebelum kita sampai, maka kita tentu sudah dibantai orang diperjalanan karena mereka menjadi curiga melihat keadaan kita. Apalagi jika berpapasan dengan orang-orang yang sedang mencari kita?” berkata Ki Rangga.

Namun Ki Randu Keling berkata, “Apakah kita semuanya telah berubah menjadi kelinci yang tidak berdaya sama sekali.”

 “Mungkin kita dapat melawan mereka. Tetapi justru orang yang dengan diam-diam mengikuti kita,” berkata Ki Rangga.

 “Itu memang lebih mungkin daripada keluhanmu yang pertama. Tetapi bukannya tidak mungkin untuk dihindari,” berkata Ki Randu Keling. Namun kemudian katanya pula, “Tetapi segala sesuatunya terserah kepadamu.”

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun Warsi pun kemudian berkata, “Malam ini kita dapat beristirahat dimana saja sampai datang malam besok. Baru kita pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh mbokayu sepupu itu.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun Ki Randu Keling berkata perlahan-lahan, “Kita pergi ke hutan tempat Puguh berburu seekor harimau. Besok sehari penuh kita akan berada di hutan itu. Baru malam hari kita pergi.”

Warsi mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Aku sependapat.”

Ki Rangga termangu-mangu. Ketika ia memandang Ki Ajar Paguhan, maka orang itu nampaknya sama sekali tidak menghiraukannya kemana mereka akan pergi. Sementara itu Puguh pun masih duduk berdiam diri.

Namun dalam pada itu, akhirnya mereka telah memutuskan untuk pergi saja kehutan itu.

 “Mudah-mudahan orang-orang yang masih hidup diantara mereka tidak mendengar jelas pembicaraan ini,” berkata Ki Randu Keling.

 “Aku sudah mengatakan, bahwa lebih baik mereka dibunuh saja,” geram Ki Rangga.

 “Tidak ada gunanya. Seandainya mereka mendengar, mereka tidak tahu kemana kita pergi. Sedangkan aku pun masih belum tahu arah yang bakal kita tuju,” berkata Ki Randu Keling, “sementara itu, setiap orang pun akan yakin bahwa kita akan mencari persembunyian berikutnya.”

Ki Rangga tidak menjawab. Sementara Ki Randu Keling berkata, “Sekarang, kita harus segera berbenah diri, sementara darah yang mengalir dari luka tentu sudah pempat. Namun jangan terlalu memaksa diri untuk bergerak, karena hal itu akan dapat memeras darah kalian kembali lewat luka-luka kalian.”

Ketika Warsi bangkit hampir diluar kehendaknya, Puguh telah bangkit pula membantunya meskipun keadaannya sendiri masih juga sangat menghambatnya. Namun Warsi tidak menolak ketika kemudian Puguh membantunya.

Tetapi sejenak kemudian, Ki Rangga lah yang telah memapahnya masuk keruang dalam untuk berbenah diri tanpa menghiraukan tubuh yang terbujur lintang di halaman.

Namun sebenarnyalah bahwa Puguh sendiri memang memerlukan bantuan. Gurunya lah yang kemudian membantunya, meskipun tidak harus memapahnya, karena keadaan Puguh masih lebih baik dari keadaan ibunya.

Beberapa saat mereka memang berbenah diri. Sekali-sekali Ki Randu Keling masih juga harus memperhatikan luka-luka yang ada di tubuh Warsi, Puguh dan sepupu Warsi itu. Namun darah memang sudah tidak lagi mengalir meskipun bagian dada Warsi masih terasa bagaikan telah terkoyak.

 “Kita tidak mempunyai waktu,” berkata Ki Randu Keling, “kita akan segera keluar dari rumah ini dan menuju ke hutan sebelum besok kita mencari perlindungan di tempat lain.”

Warsi, sepupunya dan Ki Rangga hanya membawa apa yang dapat mereka bawa. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa kemungkinan lain akan dapat terjadi jika mereka tidak segera meninggalkan tempat itu.

Demikianlah dengan susah payah karena keadaan tubuh mereka yang lemah, mereka pun telah meninggalkan rumah itu. Namun di regol ternyata mereka melihat seorang diantara orang-orang yang terluka parah itu berusaha untuk keluar.

 “Setan,” geram Ki Rangga. Hampir saja tangannya menghantam tengkuk orang yang berusaha untuk merangkak keluar itu.

 “Jangan,” cegah Ki Randu Keling.

 “Ia masih berusaha untuk meninggalkan tempat ini dan melaporkan kepada Sumbaga atau pengikutnya yang lain,” berkata Ki Rangga.

 “Aku tidak yakin bahwa hal ini dilakukan oleh Ki Sumbaga,” berkata Ki Randu Keling.

 “Aku akan memaksanya berbicara,” geram Ki Rangga.

 “Orang itu tidak tahu. Yang sampai pada telinganya adalah apa yang dikatakannya. Tetapi yang sampai ditelinganya itu pun belum pasti yang sebenarnya,” berkata Ki Randu Keling. Lalu, “Karena itu, jangan membuang waktu dengan sia-sia.”

Ki Rangga tidak menjawab. Tetapi ketika ia berpaling, dilihatnya orang itu benar-benar tidak berdaya berbaring di halaman beberapa langkah dari regol.

Sejenak kemudian, maka enam orang telah meninggalkan halaman rumah itu. Demikian mereka menghilang, maka orang yang terbaring diam di halaman itu, telah berusaha untuk bangkit dengan susah payah. Tubuhnya memang sangat lemah. Namun ia tidak berusaha merangkak terus menuju ke pintu jika ia tidak ingin justru menjadi pingsan.

Ketika ia berhasil duduk, maka dicobanya untuk memusatkan nalar budinya, mengatur pernafasannya untuk mengatasi kesulitan pada dirinya.

Namun sebenarnyalah ia tidak tahu pasti, siapakah sebenarnya yang telah menggerakkannya ke rumah itu karena dua orang pemimpinnya yang telah terbunuh itu tidak mengatakan dengan jelas. Sedangkan kedua orang pemimpinnya itu pun tidak dikenalnya dengan baik. Yang ia tahu, ia mendapat perintah untuk menyertai kedua orang itu. Sedangkan ia pun tidak yakin bahwa kedua pemimpinnya itu memang sebenarnya pernah berhubungan dengan Ki Sumbaga sebagaimana dikatakannya.

Dalam keadaan yang demikian, maka orang itu pun mengurungkan niatnya untuk memaksa diri keluar dari tempat itu. Ia justru berusaha memperbaiki keadaan dirinya lebih dahulu.

Beberapa orang memang belum mati. Dua orang yang lain pun sedang berjuang untuk tetap hidup. Tetapi mereka masih saja berbaring diam karena tulang-tulang mereka rasa-rasanya telah berpatahan.

Tetapi orang-orang itu tidak tahu, ada berapa orang diantara mereka yang masih selamat.

Dalam pada itu, enam orang telah menyusuri gelapnya malam keluar dari padukuhan yang sepi itu. Mereka berusaha untuk menempuh jalan-jalan sempit dan yang jarang dilalui orang.

Ketika mereka mendengar derap kaki kuda dari prajurit peronda, maka mereka telah berusaha untuk bersembunyi dibawah bayangan gelap.

Tidak mudah untuk keluar dari Kotaraja meskipun di malam hari. Namun Ki Randu Keling yang memiliki pengenalan yang sangat baik atas kota itu, telah berhasil membawa mereka keluar dari regol butulan yang tidak terjaga. Regol yang memang jarang sekali dilalui orang karena didalam, maupun diluar regol itu tidak ada jalan yang cukup pantas untuk dilalui.

Ketika mereka sudah berada diluar kota, maka perjalanan mereka menjadi semakin lancar. Meskipun demikian, mereka tidak dapat berjalan lebih cepat, karena keadaan diantara mereka yang telah terluka. Apalagi mereka masih harus berusaha menghindari jalan yang melalui padukuhan-padukuhan, agar mereka tidak harus berbantah dengan para peronda di mulut-mulut lorong. Dalam keadaan terakhir, maka Pajang telah menggerakkan anak-anak muda untuk berjaga-jaga dipadukuhan masing-masing. Sejak Mataram mulai bangkit, rasa-rasanya ada persaingan antara ayahanda dan putranya itu. Apalagi karena ada ramalan-ramalan bahwa pusat pemerintahan di Tanah Jawa akan berkisar ke pusat Alas Mentaok yang ternyata telah dibuka menjadi kota oleh Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar.

Dengan susah payah keenam orang itu pun akhirnya telah mendekati hutan perburuan itu. Meskipun ketika matahari terbit mereka belum sampai ke hutan, tetapi mereka sudah mulai memasuki padang perdu yang juga sudah jarang sekali disentuh kaki.

Beruntunglah mereka, bahwa mereka benar-benar telah mencapai hutan perburuan tanpa bertemu dengan seorang pun. Selain malam hari, mereka pun telah memilih jalan yang paling sepi.

Ketika mereka siap memasuki hutan, maka matahari mulai naik. Cahayanya yang jatuh pada sepasang pohon raksasa yang menjadi pintu gerbang hutan itu, seakan-akan membuat daunnya menjadi berkilat-kilat.

Warsi termangu-mangu memandang hutan itu. Ia adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia tidak pernah gentar menghadapi lawan yang betapapun tangguhnya. Namun ketika ia melihat pohon-pohon raksasa yang bagaikan digelar dihadapannya, rasa-rasanya hatinya tergetar juga.

Meskipun ilmunya masih jauh diatas tingkat kemampuan Puguh, tetapi disaat-saat pendadaran atas tataran-tataran ilmunya, Warsi disaat berguru tidak pernah dibawa memasuki hutan yang demikian garangnya. Ia memang pernah berada di hutan untuk sepekan. Tetapi hutan yang lebih lunak dan kecil. Meskipun hutan yang dihadapinya itu adalah hutan yang tidak terlalu besar dan letaknya di dekat lingkungan yang tidak terlalu jauh dari kota, tetapi ternyata para bangsawan di Pajang membiarkan hutan itu tetap lebat dan garang, justru tempat yang akan memberikan kesenangan tertinggi bagi seorang kesatria yang benar-benar ingin berburu.

Apalagi ketika mereka telah memasuki hutan itu untuk menyembunyikan diri dari kemungkinan pengamatan orang-orang yang mencarinya.

Hampir diluar sadarnya, Warsi itu pun tiba-tiba telah bertanya, “Disini kau menangkap harimau itu?”

 “Ya ibu,” jawab Puguh ragu. Ia tidak tahu maksud pertanyaan itu.

 “Dimana?” bertanya ibunya pula.

 “Agak jauh didalam,” jawab Puguh. Ia mencoba menerangkan bahwa ia telah menyimpang dari jalan setapak. Jalan perburuan para bangsawan. Dan bahkan berkuda. Agaknya binatang-binatang hutan agak menjauhi jalur jalan itu. Karena itu, maka ia harus memasuki sampai ke daerah rawa-rawa.

Terasa jantung Warsi tergetar. Ia menyadari, betapa sulitnya berburu harimau di tempat seperti itu. Adalah tidak mustahil bahwa dalam jangka waktu sepekan seseorang tidak menemukan seekor harimau pun.

Orang-orang yang memasuki hutan itu berhenti dengan tiba-tiba ketika Ki Randu Keling memberikan isyarat. Seekor binatang yang berwarna hitam sebesar kepala kerbau bergerak-gerak di jalan yang akan mereka lalui. Namun binatang itu surut ketempat ia muncul. Dan sejenak kemudian terdengar dedaunan yang gemerasak dan pepohonan yang terguncang bagaikan digetarkan oleh angin yang kencang. Namun hanya berkisar di satu tempat dan menjalar semakin lama semakin kekedalaman. Berkelok-kelok.

Warsi adalah seorang yang jarang ada duanya. Jantungnya tidak pernah digetarkan oleh rasa takut. Namun ketika ia melihat peristiwa itu, maka rasa-rasanya debar didadanya menjadi semakin cepat.

 “Ular,” desisnya.

 “Ya,” berkata Ki Randu Keling, “ular raksasa. Kepalanya sebesar kepala seekor kerbau jantan.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berdesis kepada Puguh, “Untung. Kau tidak bertemu dengan ular ketika kau berburu seekor harimau.”

 “Aku juga bertemu ular ibu,” jawab Puguh, “tetapi lebih kecil dari ular itu, meskipun yang lebih kecil itu jika melilit tubuhku akan dapat mematahkan segala tulang belulangku.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam-dalam. Beberapa saat ia terdiam, sementara mereka berjalan semakin lama semakin dalam, maka hutan itu nampaknya semakin menggetarkan.

 “Disini aku meninggalkan jalur jalan ini, dan memasuki rimbunnya semak-semak dibawah pohon-pohon raksasa itu,” berkata Puguh.

 “Untuk apa kau tinggalkan jalur ini,” bertanya ibunya.

 “Jika aku tetap di jalur ini, maka mungkin dalam sehari semalam aku tidak akan bertemu dengan seekor harimau.” jawab Puguh.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Randu Keling yang melihat keadaan Warsi pun kemudian berkata, “Kita akan beristirahat. Aku kira kita sudah cukup dalam memasuki hutan ini. Tidak ada yang akan menyusul kita sampai disini.”

Tidak ada yang berkeberatan. Apalagi mereka yang terluka. Rasa-rasanya kesempatan beristirahat adalah kesempatan yang paling diharapkan pada saat itu.

Mereka pun kemudian telah duduk menebar. Namun Ki Randu Keling segera memperingatkan, bahwa yang berbahaya bukan saja ular-ular raksasa. Tetapi ular sebesar kelingkingmu merupakan binatang yang sangat berbahaya. Bahkan labah-labah hijau bersabuk perak adalah labah-labah yang dapat membunuh dengan bisanya sebagaimana seekor ular.

Karena itu, maka mereka pun harus berhati-hati.

Sementara itu, Warsi sempat merenungi, betapa berbahayanya pendadaran yang ditempuh oleh anaknya, Puguh. Rasa-rasanya ia telah dengan sengaja menjerumuskan anak itu kedalam maut. Jika semula ia sama sekali tidak menghiraukan, apakah anaknya itu akan berhasil atau tidak, maka setelah ia melihat sendiri isi hutan yang lebat itu, maka ia justru menjadi berdebar-debar.

Setelah berdiam diri untuk beberapa saat, maka Warsi pun tiba-tiba bertanya, “Dimana kau dapatkan harimau itu Puguh?”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun sebelum Puguh menjawab Ki Rangga telah mendahuluinya, “Ia dapat mengambil seekor diantara harimau yang berkeliaran di hutan ini. Hutan ini memang merupakan hutan perburuan. Memang tidak terlalu sulit untuk mencari seekor harimau disini.”

Warsi mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh pada perasaannya sendiri. Mula-mula ia selalu sependapat dengan Ki Rangga atas sikapnya terhadap Puguh. Namun kini ia merasa lain.

Bahkan ia pun justru menjawab, “Hutan ini sangat lebat. Agaknya para bangsawan Pajang mendapat kepuasan yang lebih besar jika mereka berburu di hutan yang lebat dan liar seperti ini daripada hutan yang sudah dilunakkan. Ternyata bahwa yang ada didalam hutan ini ada bermacam-macam binatang yang sangat berbahaya, yang dapat membunuh seseorang. Bukan hanya harimau, tetapi ular dari segala macam ukuran, serangga dan binatang-binatang yang lain.”

 “Seorang laki-laki harus dapat menaklukkan hutan yang lebih liar sekalipun,” geram Ki Rangga.

 “Apakah masih ada hutan yang lebih liar dari hutan ini?” bertanya Warsi.

 “Tentu. Masih banyak hutan yang lebih liar, lebih luas dan lebih buas dari hutan ini,” berkata Ki Rangga.

Tetapi Ki Randu Keling berkata, “Banyak hutan yang lebih luas dari hutan ini. Tetapi aku tidak tahu, apakah hutan itu lebih lebat dan lebih liar dari hutan yang oleh para kesatria Pajang dengan sengaja dibiarkan menjadi hutan yang sangat keras seperti ini.”

 “Aku sudah menjelajahi banyak hutan,” berkata Ki Rangga, “bukan saja dalam tugasku di Jipang pada waktu itu. Tetapi sejak remaja aku memang seorang pengembara.”

 “Apakah aku menurut dugaanmu belum pernah melihat hutan?” bertanya Ki Randu Keling.

Ki Rangga tidak bertanya. Tetapi wajahnya memang menjadi semakin gelap.

Namun Ki Randu Keling masih juga berkata, “Ki Rangga. Aku kira keluargamu memerlukan makan hari ini. Diantara anak dan isterimu, kau sendirilah yang tidak mengalami kesulitan oleh luka-luka yang parah. Karena itu, sebaiknya mulai kau pikirkan, siang nanti kalian akan makan apa? Barangkali perlu ingat, bahwa di hutan ini tersedia daging binatang cukup banyak. Kau tidak perlu membunuh seekor kera yang berloncatan didahan itu dengan busur dan anak panahmu. Tetapi disini terdapat banyak kijang, menjangan dan barangkali kancil.”

Wajah Ki Rangga terasa menjadi panas. Namun ia menjawab, “Kami tidak akan menjadi lapar hanya karena sehari tidak makan. Kami sudah berlatih untuk mengalami kesulitan yang jauh lebih besar daripada tidak makan sehari. Buat apa kami bersusah payah berburu binatang? Untuk apa kelebihan daging seekor binatang jika kami berdua hanya membutuhkan sebagian kecil saja daripadanya?”

 “Kau tidak hanya berdua,” berkata Ki Randu Keling, “kau harus menyadari bahwa disini ada perempuan yang seharusnya hidupnya bergantung kepadamu, dibawah perlindunganmu dan segala kebutuhannya kau cukupi. Disini ada anakmu yang meskipun sudah lewat remaja dan hampir memasuki usia dewasa penuh, bahkan sudah mampu membunuh seekor harimau dihutan ini, tetapi keadaannya tidak memungkinkan untuk berburu karena terluka parah. Disini ada seorang perempuan yang selama ini membantumu, merawat meskipun sepupunya, tetapi adalah tanggunganmu, yang juga sedang terluka. Nah, aku ingin melihat apakah kau seorang laki-laki yang bertanggung jawab dalam segala keadaan, atau sekedar seorang laki-laki yang memerlukan orang lain yang berilmu tinggi untuk membantumu mengejar mimpi-mimpimu.”

 “Persetan,” geram Ki Rangga, “kami tidak perlu makan hari ini.”

 “Jika mereka tidak terluka, aku memang percaya, dalam dua tiga hari mereka tidak memerlukan makan apapun juga,” berkata Ki Randu Keling, “tetapi mereka sedang dalam keadaan terluka.”

 “Cukup,” potong Ki Rangga, “akulah yang bertanggung jawab atas orang-orang yang terluka itu. Biarlah aku mengatur menurut kebijaksanaanku. Kalian adalah orang lain yang tidak berhak ikut campur dalam persoalan kami.”

Tetapi Ki Randu Keling tertawa. Katanya, “Apakah kau juga berpendirian begitu ketika orang-orang yang mencarimu itu hampir saja menangkapmu.”

Telinga Ki Rangga bagaikan disentuh api. Tetapi ia masih juga menjawab, “Mereka tidak akan dapat menangkap kami hidup-hidup.”

 “Maksudmu?” bertanya Ki Randu Keling.

 “Jika mereka berhasil menangkap kami, maka mayat kamilah yang akan mereka bawa menghadap orang-orang yang memerintahkan mereka. Apalagi orang itu adalah Sumbaga,” geram Ki Rangga.

Ki Randu Keling tertawa. Katanya, “Kau masih dilandasi oleh harga diri seorang perwira dari Jipang. Aku percaya bahwa kau benar-benar akan berbuat demikian. Namun ternyata jika ada pilihan lain, kau tentu memilih yang lain.”

Ki Rangga Gupita menggeram. Namun dalam pada itu Warsi pun berkata, “Makan bagi kami bukan persoalan yang sangat penting.”

 “Aku tahu. Tetapi dalam keadaan luka dan lemah, kau memerlukannya. Lebih dari itu, aku ingin tahu, apakah Ki Rangga mampu melakukan pekerjaan yang lebih ringan dari yang pernah dilakukan Puguh. Menangkap seekor binatang buruan yang tidak usah seekor harimau.” jawab Ki Randu Keling.

Hampir saja Ki Rangga kehilangan kendali. Tetapi ternyata ia masih dapat menyadari dengan siapa ia berhadapan. Karena itu yang terdengar hanyalah gemeretak giginya saja.

Ki Randu Keling pun tidak berkata lebih jauh. Tetapi ia pun telah duduk pula pada dahan sebatang pohon yang roboh. Sementara itu agak dikejauhan terdengar teriakan-teriakan beberapa ekor kera yang saling bekejaran didahan pepohonan.

Untuk beberapa saat suasana memang menjadi hening. Mereka yang terluka benar-benar sempat beristirahat. Sehingga dengan demikian obat yang diberikan oleh Ki Randu Keling dapat bekerja dengan baik.

Di hutan itu mereka benar-benar tidak diganggu oleh siapapun. Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan sempat juga melihat-lihat keadaan disekelilingnya. Diam-diam mereka harus mengakui bahwa Puguh benar-benar seorang yang keras hati dan teguh pada tekad yang telah diambilnya, sehingga ia seorang diri berhasil berburu seekor harimau di tempat seperti itu.

Demikian juga Warsi yang duduk beristirahat sambil bersandar sebatang pohon. Ia tidak dapat menyingkirkan kecemasannya jika mengingat apa yang telah dilakukan oleh Puguh.

Ki Rangga juga mencoba untuk beristirahat. Tetapi harga dirinya benar-benar telah tersinggung. Ia dianggap tidak mampu berbuat lebih baik dari Puguh dan bahkan ia dianggap tidak akan dapat berburu seekor binatang bagi makan orang-orang yang seharusnya berada dalam tanggungannya.

Tiba-tiba saja Ki Rangga itu pun telah bangkit. Tanpa mengatakan sesuatu ia pun telah berlari masuk kedalam lebatnya hutan.

Warsi dengan serta merta telah bangkit. Ia ingin memanggil Ki Rangga. Tetapi Warsi sendiri tidak mengerti, kenapa niat itu diurungkan.

Beberapa orang yang lain yang melihat Ki Rangga hilang di balik lebatnya dedaunan dibawah pohon-pohon raksasa memang menjadi termangu-mangu. Namun Ki Randu Keling pun kemudian berbisik kepada Ki Ajar. “Aku tidak tahu, apakah ia tersinggung dan ingin membuktikan bahwa ia dapat memberi makan beberapa orang yang ada disini atau sesuatu yang lain.”

Ki Ajar mengangguk kecil. Katanya, “Sifat kerasnya sebagai perwira dari prajurit Jipang tidak akan dapat dilunakkan sampai akhir hayatnya.”

 “Agaknya memang demikian Ki Ajar. Tetapi seharusnya ia dapat melihat kenyataan yang dihadapinya,” sahut Ki Randu Keling.

 “Sifatnya sama seperti cucumu perempuan itu,” berkata Ki Ajar.

Ki Randu Keling memandang Warsi yang sedang beristirahat itu sekilas. Namun kemudian ia berdesah perlahan-lahan, “Darah Kalamerta mengalir ditubuhnya.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Dengan demikian suasana kembali menjadi sepi. Yang terdengar kemudian adalah kicau burung dan teriakan-teriakan kera yang bekejaran. Sekali-sekali mereka melihat seekor ular yang cukup besar bergayut di sulur-sulur pepohonan atau menyelusuri bebatuan. Namun mereka mengerti, bahwa menghadapi seekor ular lebih baik berdiam diri tanpa menggerakkan ujung jari sekalipun.

Ternyata Ki Rangga yang membawa busur dan anak panah tidak segera kembali. Beberapa saat mereka menunggu. Namun ketika matahari bergeser ke Barat, Warsi mulai gelisah. Bahkan tanpa disadarinya ia mulai bangkit.

Ki Randu Keling pun mendekatinya dan berkata lembut, “Warsi. Kau masih sangat lemah. Beristirahatlah.”

 “Tetapi Ki Rangga begitu lama pergi,” berkata Warsi, “apakah ia tidak akan kembali lagi?”

 “Ia akan kembali Warsi,” sahut Ki Randu Keling. “Semua orang telah menyalahkannya. Ia tentu merasa sangat tertekan, bahkan tersinggung.” Katanya, “Jika ia masih juga merasa tersinggung itu adalah pertanda bahwa perasaannya masih tetap hidup didalam dadanya. Justru itu harus dipelihara agar ia tetap menjadi manusia yang utuh. Perasaan dan penalaran.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bertanya, “Perasaan yang manakah yang dimaksud?”

 “Harga diri, tersinggung atau menyesali diri?”

 “Asal saja perasaan itu masih tergetar dalam segala ujud dan bentuknya. Tetapi sudah tentu diperlukan keseimbangan. Itulah yang sulit dicapai. Harga diri namun bertenggang rasa. Berkeinginan tetapi tahu diri. Bernafsu namun tidak menolak kenyataan yang dihadapi. Menghargai sesama seperti kita menghargai diri sendiri.” jawab Ki Randu Keling.

Warsi termangu-mangu. Rasa-rasanya ia belum pernah mendengar petunjuk seperti itu. Yang ada didalam hatinya adalah bayangan warna-warna kelam. Kebencian, dendam, nafsu yang tidak terkendali dan keinginan yang tanpa batas. Ia hanya merasa bahwa ia berhak memiliki apa saja yang diinginkannya. Ia berhak menyingkirkan yang tidak disukainya dan ia merasa berhak berbuat apa saja tanpa menghiraukan orang lain. Bahkan seakan-akan orang-orang lain itu disediakan untuk melakukan kehendaknya.

Tetapi sikap dan pandangan hidup yang telah mengakar didalam dirinya tidak terlalu cepat mudah larut. Ketika ia mendengar sesuatu yang baru, maka memang telah terjadi benturan-benturan didalam dirinya.

Ki Randu Keling pun tidak terlalu banyak berbicara dengan Warsi. Ia tahu pasti, bahwa tentu terjadi satu pergumulan didalam hati perempuan itu. Ia tahu bahwa apa yang dikatakannya itu hanya akan dapat singgah beberapa saat saja sebelum terlempar kembali oleh desakan sikap dan pandangan hidup yang telah ada lebih dahulu didalam diri perempuan itu. Tetapi Ki Randu Keling pun berharap, jika ia sempat mengulanginya pada saat-saat tertentu tanpa jemu-jemunya, beberapa kali, berpuluh kali bahkan beratus kali, maka lambat laun kata-katanya tentu ada juga serba sedikit yang terkait didalam hati perempuan itu.

Sementara itu, ketika Ki Randu Keling telah duduk agak jauh dari Warsi yang letih, kegelisahan Warsi pun timbul lagi. Ki Rangga ternyata belum juga kembali.

 “Kemana orang itu pergi?” desis Warsi.

 “Ki Rangga tentu sedang berburu,” jawab Ki Randu Keling.

 “Apakah aku harus mencarinya,” desis Puguh.

Tetapi gurunyalah yang cepat menyahut, “Lukamu masih terlalu parah. Kau memang harus beristirahat.”

Adalah diluar dugaan ketika Warsi pun menyambung, “Jangan banyak bergerak dahulu Puguh. Seperti aku, darah dari lukamu akan dapat mengalir lagi.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Sebenarnyalah ia pun merasa, jika ia harus mencari orang yang dianggapnya ayahnya itu, ia tentu mengalami kesulitan, karena ia pernah memasuki lebatnya hutan itu. Apalagi jika ia bertemu dengan binatang buas.

Karena itu, maka Puguh pun kemudian telah bersandar sebatang pohon disebelah gurunya yang bahkan terkantuk-kantuk. Seakan-akan gurunya sama sekali tidak memikirkan apakah Ki Rangga itu akan datang kembali atau tidak.

Sementara itu matahari pun menjadi semakin bergeser ke Barat. Meskipun terik cahayanya tidak menusuk sampai ke lembabnya tanah didalam hutan, namun berkas-berkas sinarnya sempat menyusup disela-sela dedaunan dari pohon-pohon raksasa menyentuh daun-daun perdu didalamnya.

Karena itulah, maka orang-orang yang ada didalam hutan itu mengetahui, bahwa matahari memang sudah merayap turun perlahan-lahan.

Beberapa saat kemudian, ketika Warsi menjadi semakin gelisah, maka tiba-tiba saja mereka mendengar gemerasak pohon-pohon perdu.

Suara itu memang mengejutkan. Tetapi Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan sama sekali tidak terkejut meskipun mereka diam-diam juga mempersiapkan diri. Mereka telah mendengar langkah kaki seseorang dari jarak yang lebih jauh.

Yang kemudian meloncat muncul dari balik gerumbul-gerumbul dibawah pohon-pohon raksasa itu adalah Ki Rangga Gupita. Ia telah melemparkan seekor rusa yang telah berhasil diburunya. Rusa yang agaknya masih muda.

Sejenak semua mata memandang ke arahnya, sementara Ki Rangga berdiri dengan wajah yang tegang.

 “Bukan kewajibanku memberi makan semua orang yang ada disini. Tetapi jika kalian memerlukannya, ambil apa yang kalian butuhkan,” berkata Ki Rangga.

Warsi yang masih lemah itu pun telah berusaha untuk bangkit dan berkata, “Kau membuat aku cemas.”

 “Aku bukan orang yang sekedar ingin mendapat pujian dengan singgungan-singgungan pada perasaanku. Tetapi terserah apa yang akan kalian lakukan atas hasil buruan itu,” berkata Ki Rangga sambil memandang ke arah Ki Randu Keling tanpa menghiraukan Warsi.

Tetapi Warsi berkata pula, “Beristirahatlah. Kau tentu letih memburu Rusa itu.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun memang agak terasa lain ditelinganya. Warsi biasanya berbicara tidak sebagai seorang perempuan. Tetapi sebagai seorang yang garang dari sebuah gerombolan yang garang pula, karena Warsi telah meneruskan kegiatan gerombolan Kalamerta meskipun nama itu belum dipakai.

Tetapi Ki Rangga itu pun kemudian telah duduk pula disamping Warsi yang duduk pula kembali.

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Ia lah yang kemudian bangkit dan melangkah mendekati Ki Rangga, “Mereka yang terluka parah itulah yang memerlukannya. Menjelang senja kita membuat perapian agar asapnya tidak segera dilihat dari jauh, karena malam akan segera tiba. Kemudian kalian akan meneruskan perjalanan menuju tempat persembunyian kalian yang baru.”

Ki Rangga tidak menjawab. Tetapi ia pun menyadari, bahwa orang-orang yang lemah karena terluka itu memerlukan kekuatan baru. Apalagi mereka akan menempuh perjalanan panjang. Namun Ki Rangga pun menyadari, jika sebelum senja mereka membuat perapian untuk membakar binatang buruan mereka, maka asapnya akan cepat menarik perhatian disiang hari. Apalagi jika peristiwa yang terjadi di tempat persembunyiannya itu telah membuat kegemparan. Mereka mengharap bahwa di malam hari, api yang akan melontarkan asap itu tidak cepat dilihat orang.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Randu Keling, maka orang-orang itu telah menunggu senja. Namun Ki Rangga dibantu oleh Ki Randu Keling telah menguliti binatang itu lebih dahulu. Kemudian membersihkannya dengan membuang semua bagian dalam binatang itu.

Sementara itu, nampaknya Ki Randu Keling memang sudah terbiasa berada di hutan. Dengan memotong pangkal batang rotan yang berlilitan, merambat pepohonan raksasa, maka mereka telah mendapatkan air tanpa harus pergi ke mata air. Dari pangkal batang rotan yang dipotong itu, air menitik cukup deras dan cukup banyak. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan mereka, maka mereka hanya perlu memotong beberapa batang rotan saja.

Beberapa saat kemudian, maka semuanya sudah selesai. Didalam hutan itu gelapnya bukan kepalang. Namun dengan pengamatan mata pengembara maka orang-orang itu pun telah mengikuti jalan setapak keluar dari hutan itu, setelah api dipadamkan tanpa tersisa. Karena sepeletik api akan dapat membakar hutan yang lebat itu.

Mereka memang memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat keluar dari hutan itu. Untunglah bahwa jalan setapak yang nampaknya menjadi jalur perburuan para kesatria Pajang itu dapat menunjukkan dengan mudah, arah yang harus ditempuh oleh orang-orang itu.

Demikian mereka kemudian keluar dari hutan, maka rasa-rasanya nafas mereka pun menjadi lapang setelah dihimpit oleh kegelapan dan kecemasan karena didalam hutan itu terdapat berbagai macam bahaya yang akan dapat menghambat perjalanan mereka. Betapapun keras hati mereka yang tidak pernah mengenal takut, namun perjalanan di hutan itu benar-benar membuat mereka berdebar-debar.

Dipadang rumput diluar hutan itu, maka mereka telah menentukan arah perjalanan mereka masing-masing.

 “Beritahu aku, kalian akan kemana?” bertanya Ki Randu Keling, “aku tidak akan mencari kalian untuk membunuh seperti orang-orang itu.”

Ki Rangga nampak ragu-ragu. Sementara sepupu Warsi itulah yang menjawab tanpa kebimbangan, “Kami akan pergi ke Bayat. Bukankah di Bayat masih ada rumah peninggalan atas nama suamiku? Bukankah Ki Randu Keling pernah mengenal paman dari suamiku yang tinggal di Bayat?”

 “Aku belum mengenalnya,” jawab Ki Randu Keling, “kalau dengan suamimu aku mengenalnya dengan baik. Aku pun pernah datang kerumahmu di Bayat itu ketika suamimu masih ada.”

 “Aku merencanakan untuk pergi ke Bayat bersama Warsi dan Ki Rangga. Mereka memerlukan tempat perawatan yang masih panjang,” berkata sepupu Warsi itu.

 “Baiklah,” berkata Ki Randu Keling, “aku akan membawa Puguh ke padepokannya. Ia akan cepat sembuh.”

 “Kita akan menempuh perjalanan kita masing-masing,” berkata Ki Rangga. Lalu pesannya, “Tempat kami adalah tempat yang masih harus dirahasiakan.”

 “Jangan menganggap kami anak-anak,” berkata Ki Randu Keling. Yang kemudian berkata pula, “Rasa-rasanya aku memang wajib mengingatkan, bahwa bukan saja Ki Sumbaga, tetapi juga Ki Ajar Tulak telah mencarimu. Aku tidak tahu apakah masih ada orang lain yang akan mencarimu.”

 “Persetan dengan mereka,” berkata Ki Rangga, “orang-orang yang tidak tahu diri.”

 “Terserah menurut penilaianmu. Tetapi aku hanya ingin mengingatkan, agar kau berhati-hati,” berkata Ki Randu Keling.

Ki Rangga masih akan menjawab. Tetapi Warsi lebih cepat mendahului dengan sikap yang berbeda menurut penilaian Ki Rangga, “Terima kasih. Kami akan berhati-hati.”

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Ajar Paguhan mengerutkan keningnya. Ia pun merasakan sesuatu yang agak lain pada Warsi.

Apalagi ketika kemudian Ki Rangga memutuskan untuk berangkat Warsi itu sempat mendekati anaknya, mengusap kepalanya sambil berkata, “Berhati-hatilah ngger.”

Tiba-tiba saja terasa mata Puguh menjadi hangat. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh ibunya. Karena itu, maka perasaannya telah bergejolak.

Dengan nada sendat ia berkata, “Aku mohon doa ibu.”

 “Aku akan selalu berdoa untukmu. Mintalah restu ayahmu,” berkata Warsi.

Puguh pun kemudian mendekati Ki Rangga sambil berkata, “Aku mohon doa restu ayah.”

Terasa jantung Ki Rangga berdegup semakin keras. Anak itu baginya sama sekali tidak berubah. Buruk dan tidak berharga selain untuk memancing Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi ia tidak dapat mengelakkan diri dari sikap Warsi yang berubah, sehingga ia pun harus menjawabnya pula meskipun menurut caranya sendiri, “Kau adalah laki-laki. Kau tidak boleh menjadi cengeng, mengeluh dan bersandar pada doa restu orang lain. Kau harus bangkit dan tegak menurut citra seorang laki-laki.”

Puguh hanya menundukkan kepalanya saja tanpa dapat menjawab sama sekali.

Dalam pada itu, maka Ki Randu Keling pun berkata, “Kita sudah cukup banyak berbicara. Aku telah memenuhi keinginan ayah dan ibu Puguh untuk membawa anak itu menemui kalian. Anak itu pun telah melakukan pendadaran dengan baik dan telah menunjukkan bahwa ia adalah seorang laki-laki. Jika pendadaran ini pertanda, bahwa anak itu telah dianggap dewasa, maka Puguh pun telah menginjak dewasa.”

 “Baiklah,” jawab Ki Rangga, “kami akan menempuh jalan kami. Ki Randu Keling akan menempuh jalan yang lain dari jalan yang akan kami lalui. Kami akan pergi ke Barat, sementara Ki Randu Keling akan berjalan ke Timur.”

 “Ya. Kita akan berpisah,” berkata Ki Randu Keling.

 “Tetapi Puguh tidak boleh salah urus atas padepokan itu. Kau harus dapat mengaturnya sesuai dengan garis yang telah aku letakkan. Jika kelak ternyata kau tidak mampu melakukan atau berusaha merubah tatanan yang telah aku letakkan, maka kau akan sangat menyesal,” berkata Ki Rangga. Lalu katanya pula, “Padepokan itu harus tetap bersusun. Harus tetap tidak dijamah oleh orang lain, terutama padepokan kedua. Orang-orang yang ada di padepokan itu harus tetap dalam sikap mereka lahir dan sikap batin.”

Puguh menarik nafas.

Namun karena Puguh tidak menjawab, Ki Rangga membentak, “Kau dengar itu Puguh?”

 “Aku dengar ayah,” jawab Puguh.

 “Bagus. Pada saat yang lain kami akan melihat, apakah kau berhasil atau tidak. Kami tidak dapat mengatakan, kapan kami akan datang,” berkata Ki Rangga, “kau pun harus menjaga kesadaran dirimu bahwa kau adalah sanak kadang keturunan Kalamerta. Camkan itu.”

Puguh masih belum menjawab. Sementara itu Warsi menjadi termangu-mangu. Ia menyadari, bahwa ada dorongan didalam dirinya untuk ikut membentak-bentak seperti biasanya terhadap anak itu. Tetapi tiba-tiba saja dorongan itu telah mendapat perlawanan dari kekuatan yang tidak diketahuinya. Karena itu, maka ia pun justru hanya berdiam diri.

Beberapa saat kemudian, maka mereka memang telah berpisah. Ki Rangga Gupita, Warsi dan sepupunya berjalan ke Barat, sementara Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan akan membawa Puguh berjalan ke arah Timur.

Namun bagaimanapun juga, Ki Randu Keling tidak dapat membiarkan Warsi mengalami terlalu banyak kesulitan. Karena itu, maka sebelum berpisah, ia masih sempat berpesan, “Hati-hati diperjalanan. Jangan meninggalkan jejak apapun juga, agar perjalanan kalian tidak dapat dilacak. Kita yakin, bahwa akhirnya apa yang terjadi di persembunyian kalian itu akan diketahui orang. Ada kemungkinan mereka berusaha memburu kalian.”

Tetapi jawab Ki Rangga, “Aku adalah bekas seorang perwira dalam tugas sandi, Ki Randu Keling.”

Terasa jantung Ki Randu Keling berdenyut semakin cepat. Tetapi Ki Randu Keling hanya menarik nafas dalam-dalam saja. Disaat mereka berpisah, Ki Randu Keling tidak akan menyinggung perasaan Ki Rangga, agar sikapnya kepada Warsi dan sepupunya yang sedang terluka itu tidak menjadi kasar. Justru saat Warsi memerlukan perlindungannya. Karena disaat Warsi tidak sedang terluka, justru Warsi lah yang pantas melindungi Ki Rangga itu.

 “Mudah-mudahan obatku yang baru dapat bermanfaat lebih cepat bagi Warsi,” berkata Ki Randu Keling di dalam hatinya. Namun Ki Randu Keling memperhitungkan, bahwa sulit bagi Warsi untuk dapat sembuh dan menemukan kembali kemampuannya sebagaimana sebelumnya.

 “Pada waktu dekat aku harus menengoknya,” berkata Ki Randu Keling didalam hatinya pula.

Dalam pada itu, Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan telah bersepakat justru untuk meninggalkan jejak dan arah perjalanan mereka. Dengan demikian, maka jejak mereka tentu akan menarik perhatian, sehingga tidak akan cenderung mengikuti jejak yang lain yang telah diusahakan untuk tidak terdapat.

Ki Ajar Paguhan dapat mengerti perasaaan Ki Randu Keling. Dalam keadaan yang paling gawat dan akibat yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan yang tak teratasi, Ki Randu Keling telah berusaha menyelamatkan Warsi. Karena itulah, maka dalam keadaan yang gawat itu pun Ki Randu Keling tentu berusaha untuk menyelamatkannya juga betapapun kecewa ia kepada Ki Rangga. Orang yang dahulu pernah dianggapnya akan dapat menyelesaikan persoalan dengan sikap seorang kesatria dari Jipang.

Karena itu, maka Ki Ajar Paguhan tidak menolak ketika Ki Randu Keling berniat untuk meninggalkan jejak diperjalanannya. Tetapi sudah tentu hanya untuk jarak tertentu. Meskipun demikian, kemungkinan yang berat pun akan dapat terjadi atas mereka.

Yang menjadi pokok perhatian Ki Ajar Paguhan adalah justru Puguh. Namun ternyata obat Ki Randu Keling memang sangat baik, sehingga nampaknya diluar batas penalarannya, bahwa dalam waktu yang demikian singkat, Ki Randu Keling sudah dapat menyusut luka-luka di tubuh Puguh sedemikian jauh. Ki Ajar Paguhan sendiri adalah orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang obat-obatan. Tetapi ia mengakui bahwa Ki Randu Keling memang memiliki kelebihan, meskipun ia lebih banyak mempergunakan waktunya daripada Ki Randu Keling.

Dengan demikian, maka dengan sengaja Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan telah meninggalkan jejak. Meskipun jejak itu tidak terlalu jelas, tetapi mereka yakin bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan mencari jejak, akan dapat mengikutinya.

Sementara itu, Ki Rangga telah berjalan dengan sangat berhati-hati. Hal itu sama sekali bukan kebiasaan mereka. Apalagi Warsi yang tidak pernah mengenal takut terhadap siapapun juga. Tetapi karena keadaan badannya yang lemah, maka ia pun harus melakukannya sebagaimana dilakukan oleh Ki Rangga.

Sebenarnyalah, bahwa sekelompok orang memang berusaha untuk menemukan jejaknya. Orang-orang itu telah menemukan kawan-kawannya dalam keadaan yang sangat parah. Ketika dihari berikutnya beberapa orang yang mendapat tugas untuk menangkap Warsi dan Ki Rangga tidak kembali, maka mereka telah menyusul.

Ternyata mereka terkejut melihat kenyataan di halaman rumah itu. Mayat terbujur lintang. Sementara itu, orang yang mereka kehendaki nampaknya sempat melarikan diri.

Beberapa orang yang masih hidup namun dalam keadaan yang sangat lemah, sempat memberikan beberapa petunjuk yang kurang jelas.

 “Rawat orang-orang itu,” perintah seorang diantara para pemimpinnya, “kita memerlukan keterangan mereka.”

Dalam pada itu, dalam keremangan malam Ki Ajar Paguhan dan Ki Randu Keling berjalan disebelah menyebelah Puguh yang kelihatan semakin baik. Luka-lukanya sudah jauh berkurang sehingga agaknya ia telah dapat bergerak lebih cepat. Bahkan rasa-rasanya kekuatan dan kemampuannya pun sudah menjadi hampir pulih kembali.

Obat yang bukan saja di usapkan pada luka-lukanya, tetapi juga diminumnya itu benar-benar telah membuatnya tegar kembali.

Lewat tengah malam, maka ketiga orang itu telah berada di sebuah bulak yang panjang. Bulak yang menjadi sangat sepi di malam hari. Nampaknya air di bulak itu mengalir dengan baik sehingga para petani tidak perlu turun kesawah di malam hari.

Untuk beberapa saat ketiga orang itu beristirahat dibawah jajaran pohon turi yang sedang berbunga. Bergayutan di cabang-cabangnya bunga turi yang putih siap dipetik dan dimasak.

Puguh yang masih menghindari singgungan pada punggungnya, duduk bersandar pada pundaknya. Perjalanan yang sudah cukup panjang, angin malam yang silir dan udara yang sejuk membuatnya menjadi mengantuk diluar sadarnya. Namun agaknya kakek dan gurunya membiarkannya untuk sekedar beristirahat. Apalagi perjalanan mereka telah cukup jauh dari hutan yang akan selalu diingat oleh Puguh sebagai tempat pendadaran yang paling menggetarkan jantung.

Namun kedua orang itu tetap menyadari, bahwa dengan jejak yang sengaja mereka tinggalkan serta arah yang berlawanan dengan arah perjalanan Warsi, memungkinkan seseorang menyusul perjalanan mereka.

Karena itu, maka kedua orang tua itu tidak meninggalkan kewaspadaan. Keduanya duduk berhadapan, sehingga mereka dapat menguasai pandangan kesegenap arah.

Dalam pada itu, selagi Puguh justru mulai tertidur sambil bersandar pada pundaknya, kedua orang tua itu telah saling berpandangan. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Namun keduanya mengerti, bahwa mereka telah menangkap satu isyarat. Tetapi keduanya masih belum merasa perlu untuk membangunkan Puguh yang tertidur.

Namun kedua orang tua itu telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh isyarat yang telah mereka tangkap itu. Agaknya isyarat bahwa akan datang bahaya yang gawat bagi mereka.

Baru beberapa saat kemudian Ki Ajar Paguhan telah menggamit Puguh yang nampaknya tertidur nyenyak. Demikian Puguh itu terbangun maka gurunya itu pun berdesis, “Diamlah. Ada sesuatu yang harus kita perhatikan.”

Puguh yang baru saja terbangun itu pun segera menyadari keadaannya. Karena itu, ia pun tidak segera bergerak. Ia masih saja bersandar sebatang pohon turi.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian, maka beberapa orang telah berloncatan dari balik gerumbul-gerumbul. Orang-orang yang semula merangkak dibalik batang-batang perdu dan dipematang. Ketika mereka yakin bahwa mereka telah menemukan yang mereka cari, maka mereka pun segera mengepungnya.

Ki Ajar Paguhan, Ki Randu Keling dan Puguh sama sekali belum berbuat sesuatu. Bahkan mereka masih saja duduk di tempatnya.

 “Aku yakin, bahwa kita tidak salah mengikuti jejak,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Tetapi tidak semua orang berada disini,” berkata yang lain.

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Seorang yang agaknya memimpin sekelompok orang yang menyusulnya itu mendekati sambil bertanya, “Siapakah diantara kalian yang bertanggung jawab atas kelompok kalian?”

Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh pun kemudian telah bangkit berdiri. Dengan nada rendah Ki Randu Keling berkata, “Kami bertiga dalam perjalanan. Apakah yang kau maksud dengan orang yang bertanggung jawab atas kelompok kecil kami?”

 “Kalian tidak usah ingkar. Beri keterangan, dimana Ki Rangga Gupita sekarang?” bertanya orang itu.

 “Sebentar Ki Sanak. Siapakah kalian dan siapakah yang kalian cari,” bertanya Ki Randu Keling.

 “Jangan berpura-pura. Jawab pertanyaanku, dimana Ki Rangga Gupita dan Warsi,” geram orang itu.

 “Kami tidak mengerti maksudmu itu,” berkata Ki Randu Keling.

 “Kau jangan membuat kami marah. Kami sudah mengetahui semuanya. Kami tahu bahwa orang-orang yang pernah kami kirimkan untuk menangkap Ki Rangga dan Warsi di persembunyiannya itu gagal. Karena itu, maka sekarang kami mengirimkan orang yang jauh lebih baik dari orang-orang yang dapat dihancurkan dipersembunyian Ki Rangga itu. Kami pun tahu, bahwa Ki Rangga telah mendapat bantuan dari orang tua. Tentu kalian berdualah yang dimaksud. Tetapi dimana Ki Rangga sekarang?”

Ki Randu Keling menggeleng. Katanya, “Kami tidak tahu apa yang kalian ceriterakan itu.”

 “Ki Sanak,” berkata orang itu kemudian, “jika kau bersedia menunjukkan kepadaku dimana Ki Rangga dan Warsi itu bersembunyi, maka kalian akan kami bebaskan. Sebenarnyalah kami memang tidak mempunyai persoalan dengan kalian. Karena itu, kami harap kalian pun dapat menempatkan diri dihadapan kami, karena jika terpaksa, kami dapat berbuat kasar.”

Tetapi Ki Randu Keling tertawa pendek. Katanya, “Kenapa tiba-tiba saja kalian telah mengancam kami? Kami tidak tahu menahu tentang orang-orang yang kau sebutkan itu. Apalagi ketika tiba-tiba saja kau menuduh kami berdua terlibat dalam persoalan yang tidak kami ketahui ujung dan pangkalnya itu.”

 “Jangan memperbodoh kami. Sikap kalian menambah keyakinan kami. Jika kalian bukan orang-orang yang kami cari, maka kalian tentu akan menjadi ketakutan, gemetar dan bahkan pingsan ketika kalian melihat kami datang dengan tiba-tiba. Tetapi kalian tetap tenang dan seakan-akan tidak memberikan kesan apapun juga. Bukankah itu pertanda bahwa kalian bukan orang kebanyakan?” bertanya orang itu.

 “Tangkapan perasaan kalian memang tajam. Kami memang bukan orang kebanyakan. Tetapi kami tidak tahu menahu apa yang kau katakan tentang jejak serta nama-nama yang kau sebutkan. Jika kami bukan orang kebanyakan itu memang benar. Kami adalah orang-orang yang sangat ditakuti di bulak-bulak panjang, karena kami tidak sedang bermain-main. Hampir semua orang mengenal kami. Jika kau mendengar nama kami, barangkali kau pun akan tahu, kenapa kami tidak terkejut melihat kalian datang, karena kami adalah penguasa bulak-bulak panjang didaerah sebelah Timur Pajang ini.”

 “Tutup mulutmu,” bentak pemimpin dari orang-orang yang datang itu.

Tetapi Ki Randu Keling tanpa menghiraukan kemarahan orang itu berkata selanjutnya, “Akulah yang disebut Wira Dongso. Yang dahulu dikenal dengan sebutan Blantik ternak dari Randu Kerep.”

 “Cukup,” pemimpin sekelompok orang yang mengikuti jejak itu berteriak, “kau jangan mengigau seperti itu. Kau telah menggelitik aku untuk membunuhmu.”

Tetapi Ki Randu Keling tertawa. Katanya, “Kenapa kau berteriak-teriak? Kau mulai menjadi ketakutan?”

Tetapi pemimpin kelompok yang marah itu membentak, “Aku tidak pernah mengenal namamu. Siapakah kalian, kami tidak akan gentar karena kelompok ini telah kami persiapkan untuk menangkap Ki Rangga dan Warsi serta dua orang tua yang membantunya.”

 “Orang yang kau cari itu tentu tidak lebih dari tikus-tikus tanah yang tidak berarti sama sekali. Tetapi kami adalah penguasa segala bulak panjang,” jawab Ki Randu Keling, “karena itu, pergilah. Jangan jamah daerah kuasaku. Aku sedang menunggu sekelompok pedagang lembu yang akan lewat dengan tujuh orang pengawal. Besok orang-orang yang lewat tempat ini hanya akan menemukan tujuh sosok mayat, sementara kami telah menggiring sekitar sepuluh ekor lembu.”

 “Kenapa kau masih saja mengigau seperti itu? “ orang itu berteriak, “sekarang adalah kesempatan terakhir bagimu. Jika kau mau menunjukkan persembunyian Ki Rangga dan Warsi, maka nyawa kalian akan aku selamatkan.”

 “Persetan,” geram Ki Randu Keling, “enyah dari sini sebelum pedagang lembu itu lewat. Atau kami harus memaksa kalian dengan kekerasan.”

Kemarahan orang itu sudah sampai ke ubun-ubun. Karena itu maka ia pun telah berteriak, “Kepung orang-orang ini. Kita tidak mau dihina seperti ini. Kita bunuh mereka bertiga tanpa ampun.”

Beberapa orang memang telah menebar. Mereka sudah bersiap untuk menyergap ketiga orang yang masih saja berdiri dengan tenang itu.

 “Kau sudah terlalu tua untuk turun ke medan seperti ini,” berkata orang itu, “tetapi kau sendiri telah membunuh diri untuk melindungi kedua orang yang sedang kita cari itu.”

Ki Randu Keling termangu-mangu sejenak. Namun hampir diluar kehendaknya sendiri ia bertanya, “Untuk apa sebenarnya kau cari kedua orang itu?”

 “Persetan, apa pedulimu?” bentak orang itu.

Ki Randu Keling tidak bertanya lebih lanjut tentang orang-orang yang mereka cari. Tetapi ia justru bertanya, “Siapakah kalian sebenarnya?”

 “Siapapun kami apa kepentinganmu?” geram orang itu.

 “Barangkali kita dapat bekerja bersama,” jawab Ki Randu Keling.

 “Maksudmu?” bertanya orang itu pula.

 “Berapa kalian mau membayar kami jika kami dapat menemukan mereka,” desis Ki Randu Keling.

 “Persetan,” geram orang itu, “kalian harus mati. Jika benar kalian tidak tahu menahu tentang orang itu, maka kalian tentu akan menjadi sumber keterangan tentang kami jika kau bertemu dengan orang itu. Tetapi aku sudah mendapat keyakinan bahwa kau merupakan bagian dari mereka. Kau berdua itulah yang disebut dua orang tua yang membantu mereka.”

 “Baiklah,” berkata Ki Randu Keling, “nampaknya aku masih harus membunuh sebelum aku membunuh tujuh orang pengawal lembu itu.”

Pemimpin dari sekelompok orang itu memang marah sekali. Dengan geram ia berteriak, “Bunuh mereka. Kau tahu, bahwa kawan-kawan kalian yang dikirim lebih dahulu gagal menangkap Ki Rangga dan Warsi. Karena itu, kita harus menunjukkan bahwa kita memang lebih kuat dari sekelompok orang yang akhirnya terbunuh hampir seluruhnya itu. Itu adalah salah mereka sendiri. Dan kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti itu.”

Ki Randu Keling tidak melihat kemungkinan lain daripada bertempur. Karena itu, maka ia pun telah memberi isyarat kepada Ki Ajar Paguhan dan kepada Puguh.

 “Berhati-hatilah,” Ki Ajar sempat memberikan pesan kepada muridnya, “nampaknya mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Mereka ingin menebus kegagalan mereka. Karena keadaanmu yang masih belum pulih kembali, maka usahakan untuk bertahan saja jika mereka menyerang. Jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga.”

Puguh mengangguk. Ia memang merasa bahwa tenaganya belum pulih seluruhnya. Ia pun yakin bahwa gurunya tahu tepat tentang keadaannya serta kemungkinan yang dapat dilakukan oleh lawan-lawan mereka.

Ternyata Puguh tidak menunggu tangannya berkeringat, justru karena keadaan tubuhnya. Demikian lawan-lawannya menyerangnya, maka ia pun telah menggenggam senjata di tangannya.

Namun yang bersama Puguh saat itu adalah Ki Randu Keling bersama dengan Ki Ajar Paguhan. Dua orang tua yang memiliki pengalaman tidak terhitung banyaknya, sementara keduanya memiliki landasan ilmu yang sangat tinggi.

Ketika pertempuran itu kemudian menjadi semakin seru, maka Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan merasa bersukur karena orang-orang itu telah terpancing oleh jejak yang memang mereka tinggalkan. Ternyata bahwa sepuluh orang yang mengepung mereka adalah orang-orang yang pada dasarnya memiliki ilmu yang cukup tinggi. Dalam keadaan luka, maka Warsi tentu akan mengalami kesulitan bertempur melawan seorang diantara mereka. Sementara sepupunya masih belum berada pada tingkat yang dapat di sejajarkan dengan Warsi dan Ki Rangga, meskipun ia juga memiliki ketangkasan olah kanuragan.”

Sementara pertempuran itu berlangsung, maka ketiga orang yang berjalan ke arah Barat itu pun maju selangkah demi selangkah. Mereka tidak dapat berjalan cepat, karena Warsi yang terluka. Demikian pula sepupunya meskipun tidak separah Warsi.

Namun mereka pun telah menempuh perjalanan yang jauh. Mereka telah mengambil jalan pintas langsung menuju ke Bayat meskipun harus melewati pegunungan kapur yang memanjang. Mereka harus menembus hutan yang meskipun tidak selebat hutan yang memang dipelihara sebagai satu daerah perburuan yang menegangkan. Tetapi hutan digunung berkapur adalah hutan dengan pohon-pohon kerdil, meskipun nampak tumbuh rapat. Tetapi hutan di bukit berkapur itu adalah hutan yang sudah cukup sering ditembus sebagai jalur perjalanan jauh, sehingga dengan demikian telah terdapat jalur jalan yang dapat mereka lalui.

Ternyata bahwa Ki Rangga yang pernah mendapat tugas dalam pasukan sandi, cukup berhati-hati. Mereka sama sekali tidak meninggalkan jejak yang akan dapat ditelusuri dari Pajang sampai ke Bayat. Mereka pun harus menyeberangi beberapa sungai besar dan kecil. Namun dengan hati yang tetap mereka ternyata mampu mengatasi kesulitan perjalanan. Warsi yang keras hati itu pun dapat dengan tabah melintasi jarak yang panjang dan sulit itu.

Mereka juga harus beristirahat beberapa kali. Namun hanya untuk waktu-waktu yang singkat. Itu pun dengan sangat teliti agar mereka tidak meninggalkan jejak apapun di tempat peristirahatan mereka.

Meskipun perjalanan mereka terhitung perjalanan yang lambat, namun lambat laun, mereka pun menjadi semakin dekat dengan tujuan. Namun jalan yang semakin dekat itu rasa-rasanya menjadi semakin sulit. Bukan saja batu-batu padas yang tajam berkapur. Namun mereka pun harus melintasi jalan berawa-rawa.

 “Jalan ini hanya pantas dilewati iblis,” geram Ki Rangga.

Namun sepupu Warsi itu menjawab, “Ada jalan yang baik dan lunak. Tetapi bukankah kita memang memilih jalan seperti ini? Selain lebih dekat, juga lebih aman. Jejak kita tidak akan mudah ditelusuri, sementara itu, ternyata kita juga tidak bertemu dengan seorang pun perjalanan yang hampir makan waktu semalam suntuk itu.

 “Kita sedang merangkak,” berkata Ki Rangga.

 “Kau tahu keadaan kami,” desis Warsi.

Ki Rangga pun terdiam. Sementara itu mereka memang benar-benar menjadi semakin dekat dengan Bayat. Meskipun malam gelap, namun sepupu Warsi itu dapat memilih jalan yang tepat ke arah tempat tinggal mereka yang baru, meskipun masih juga sebagai tempat persembunyian.

Pada saat-saat Ki Rangga, Warsi dan saudara sepupunya menjadi semakin dekat dengan tujuan, maka pertempuran antara Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh melawan sepuluh orang yang sedang memburu Ki Rangga itu pun menjadi semakin sengit.

Ternyata mereka bukan orang-orang yang sekedar mampu bermain loncat-loncatan. Bukan pula orang-orang yang hanya dihitung dalam jumlah, untuk menakut-nakuti lawan. Tetapi mereka benar-benar orang terpilih setelah kawan-kawan mereka yang terdahulu mengalami kegagalan mutlak.

Karena itu, maka Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan harus bekerja keras untuk menghalau lawan-lawan mereka itu. Sementara Puguh pun harus bertempur dengan mengerahkan semua sisa kemampuan yang ada padanya untuk sekedar mempertahankan diri.

Dalam pertempuran yang sengit itu, ternyata kedua belah pihak telah menyadari akan kemampuan lawan-lawan mereka. Sepuluh orang yang ingin menangkap Ki Rangga itu menjadi semakin yakin, bahwa kedua orang itu tentulah orang tua yang telah membantu menyelamatkan Ki Rangga dari tangan kawan-kawannya.

 “Sebenarnya kawan-kawan kami itu tidak salah hitung. Adalah satu kebetulan yang pahit, bahwa kedua orang tua itu sedang berada dirumah itu pula,” berkata pemimpin kelompok orang-orang itu kepada diri sendiri, “tanpa kedua orang tua itu, maka Ki Rangga dan Warsi tentu sudah tertangkap.”

Namun demikian pertempuran itu menjadi semakin sengit. Ki Randu Keling yang mempunyai ilmu yang tinggi itu, harus mengerahkan kemampuannya untuk melawan lima orang diantara mereka. Demikian pula Ki Ajar Paguhan. Ia harus menarik perhatian lima orang yang lain.

Tetapi dalam keadaan yang memungkinkan, maka ada diantara mereka yang sempat menyerang Puguh. Namun Puguh pun telah bersiap mempertahankan dirinya dengan ilmu yang telah dimilikinya. Tetapi jika dua orang bersama-sama mengurungnya, maka Puguh memang berada dalam kesulitan.

Namun Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan tidak membiarkan Puguh dalam kesulitan seperti itu. Karena itu, jika Puguh harus menghadapi dua orang sekaligus, maka Ki Ajar Paguhan atau Ki Randu Keling akan segera menyambarnya dan mendesak salah seorang diantara mereka.

Dalam pertempuran yang semakin keras dan semakin cepat itu, orang-orang yang berilmu tinggi diantara sepuluh orang itu mulai mencapai tataran ilmu puncak mereka.

Mereka merasa sudah terlalu lama bertempur melawan dua orang tua itu serta seorang anak muda yang menurut penilaian mereka masih lemah dibandingkan dengan kedua orang tua itu.

Namun dalam pertempuran yang semakin meningkat, Ki Randu Keling masih juga sempat bertanya, “Dalam kesempatan terakhir, coba katakan, siapakah kalian bersepuluh.”

 “Kau tentu sudah mendengar dari orang-orang yang masih hidup yang kau tinggalkan di rumah itu.” jawab pemimpin dari sepuluh orang itu sambil bertempur.

 “Aku tidak tahu yang kau katakan,” jawab Randu Keling, “tetapi aku hanya ingin tahu, siapakah yang memerintahkan kalian sehingga kalian telah memperlakukan kami seperti ini.”

 “Tidak seorang pun dapat melawan kehendaknya,” berkata orang itu.

 “Siapa yang kau maksud?” bertanya Ki Randu Keling.

 “Kau gila. Kau pancing rahasia itu dengan cara yang sangat licik,” geram orang itu.

 “Kenapa licik? Bukankah aku bertanya sewajarnya?” desak Ki Randu Keling.

 “Persetan,” geram orang itu, “seharusnya Ki Rangga mengetahuinya.”

 “Jangan sebut lagi nama-nama yang menyakitkan telinga itu. Aku tidak berurusan sama sekali,” berkata Ki Randu Keling.

Orang itu tidak sempat menjawab. Ki Randu Keling dengan cepat telah menyerangnya dengan keras dan tepat.

Namun orang itu masih sempat menghindar sambil mengumpat.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Sementara itu Ki Randu Keling telah mempunyai gambaran bahwa yang menggerakkan itu tentu bukan sekedar Ki Sumbaga atau Ki Ajar Tulak. Tentu satu kuasa yang lebih besar dari kedua orang itu, yang mampu menggerakkan orang-orang berilmu tinggi.

Karena Ki Randu Keling dan Ki Ajar Tulak serta Puguh tidak segera dapat ditundukkan, maka orang-orang itu pun menjadi semakin marah. Mereka ternyata tidak sekedar berhadapan dengan Ki Rangga dan Warsi yang sedang terluka dan disangka tidak mampu berbuat apa-apa. Namun mereka telah berhadapan dengan ilmu yang sangat tinggi.

Tetapi mereka tidak mau bertindak tanggung-tanggung. Kedua orang tua dan anak muda itu harus dibinasakan. Karena itu, maka pemimpin dari sepuluh orang itu pun segera memberikan isyarat agar mereka secepatnya menyelesaikan tugas mereka.

 “Jangan sampai disaput cahaya pagi. Mereka harus sudah kita selesaikan sebelum dini,” berkata pemimpinnya.

Namun perintah itu telah diulang oleh Ki Randu Keling, “Kita harus berbuat lebih tegas. Kita selesaikan sepuluh orang itu selambat-lambatnya menjelang fajar.”

Pemimpin dari sepuluh orang itu menggeram. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Demikianlah, maka sepuluh orang itu telah meningkatkan kemampuan ilmu mereka. Namun dalam pada itu, maka Ki Randu Keling yang melihat bahaya akan menjadi semakin tinggi bagi Puguh, maka ia pun kemudian memerintahkan Puguh untuk mendekat serta dimintanya agar Ki Ajar Paguhan bersama mereka saling beradu punggung.

Ternyata pertempuran itu pun telah memanjat sampai kepuncaknya. Kesepuluh orang itu telah mempergunakan ilmu mereka dengan sebaik-baiknya. Agaknya mereka adalah orang-orang dari satu perguruan yang memiliki landasan lmu yang sama serta dasar-dasar perhitungan yang sama pula. Karena itu, maka dengan cepat mereka pun telah membentuk lingkaran mengelilingi ketiga orang itu.

 “Kalian telah menempatkan diri kalian sendiri,” berkata pemimpin dari kesepuluh orang itu, “satu pertanda bahwa kalian memang harus mati.”

Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan mengerti maksud pemimpin dari kesepuluh orang itu. Tetapi langkah yang, mereka ambil itu adalah langkah yang paling aman bagi Puguh yang lukanya dan tenaganya belum pulih sepenuhnya.

Dari dalam lingkaran itulah Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan melawan ilmu sepuluh orang yang ingin menangkap Ki Rangga dan Warsi itu.

Dengan ketangkasan yang sulit dimengerti, maka kedua orang tua itu bergerak disela-sela serangan yang datang beruntun dari sepuluh orang yang mengepung mereka. Bahkan sepuluh orang itu pun kemudian mulai bergeser setapak-setapak kesamping.

Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh menjadi berdebar-debar ketika mereka mendengar derap yang bersamaan dari kaki kanan kesepuluh orang itu yang dengan sengaja dihentakkan diatas tanah dalam irama yang ajeg.

 “Mereka mulai dengan kekuatan ilmu mereka,” desis Ki Randu Keling.

 “Ya,” jawab Ki Ajar Paguhan, “kita tidak dapat tinggal diam.”

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Puguh. Namun Ki Ajar Paguhan pun berkata, “Aku membawa obat yang dapat memperlemah indera pendengarannya. Mudah-mudahan dapat melindunginya dari berbagai macam ilmu yang menyerang lewat pendengaran. Bukankah kau mempunyai ilmu Gelap Ngampar?”

Ki Randu Keling termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berdesis, “Apakah perlu sekali?”

 “Kau lihat, mereka mulai meningkatkan ilmunya. Kita belum tahu sampai batas yang manakah kemampuan ilmu mereka itu,” berkata Ki Ajar.

Ketika Ki Randu Keling mengangguk, maka Ki Ajar- pun telah mengambil semacam butiran obat dari kantong sebelah kiri dari ikat pinggangnya justru sebelum lawan-lawannya mulai dengan serangan ilmunya. Mereka masih saja berderap berputar dalam irama yang teratur terus menerus.

Ki Ajar memberikan obat itu kepada Puguh sambil berkata, “Obat ini untuk beberapa saat dapat menutup indera pendengaranmu. Jangan terkejut. Kau harus dilindungi dari kemungkinan buruk serangan yang dapat menyusup lewat indera pendengaran. Sementara itu, aku percaya kepadamu, meskipun belum terlalu mapan, tetapi kau tentu mampu mempergunakan pernafasanmu untuk melindungi getaran yang dapat menggetarkan isi dadamu.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Akan ada benturan ilmu yang tinggi.”

 “Nampaknya akan terjadi demikian karena sepuluh orang itu sudah memulainya. Kau dengan derap yang semakin keras itu.” bertanya gurunya.

 “Ya.” jawab Puguh.

 “Kau harus melindungi indera pendengaranmu. Namun juga getaran yang ditimbulkan oleh hentakkan kaki itu harus kau atasi. Obat itu pada dasarnya untuk menutup indera pendengaranmu, tetapi juga akan meningkatkan daya tahanmu. Tetapi hanya untuk sementara, karena peningkatan daya tahan yang terbaik adalah dengan latihan-latihan yang meskipun lambat, tetapi akan mapan.”

Puguh mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa pertempuran yang bakal datang adalah benturan ilmu yang tinggi, sehingga ia benar-benar harus berhati-hati.

Sebenarnyalah hentakan-hentakan kaki dari sepuluh orang itu semakin lama terdengar semakin keras. Rasa-rasanya hentakan-hentakan itu telah menggetarkan udara dan menusuk selaput telinganya. Dengan demikian, maka getaran itu telah mengguncang perasaannya dan bahkan keseimbangannya berpikir sehingga rasa-rasanya sulit baginya untuk mengambil sikap menghadapi keadaan itu.

 “Cepat, telan obat itu,” desis Ki Ajar ketika hentakkan-hentakkan kaki itu menjadi semakin cepat. Lalu katanya, “Kau tidak perlu mendengar apa yang akan menggetarkan udara sebentar lagi. Semua perintah akan aku berikan dengan isyarat atau cara yang lain. Tetapi pergunakan matamu baik-baik untuk melihat serangan-serangan yang tiba-tiba saja dari lawan. Serangan wadag diantara serangan-serangan ilmunya.”

Puguh pun mulai mengangkat obat yang dipeganginya. Sementara itu suara hentakkan-hentakkan kaki itu telah dibarengi dengan dentang senjata mereka. Sepuluh helai pedang bersama-sama berdentang karena helai-helai pedang itu telah dibenturkan pada sarungnya yang juga mempergunakan karah-karah baja.

Dengan demikian maka bunyi yang timbul semakin gaduh, sehingga Puguh benar-benar menjadi bingung dan bahkan rasa-rasanya ia tidak mampu lagi menguasai dirinya.

Ki Ajar terpaksa mendorong tangan Puguh kemulutnya. Baru kemudian obat itu meluncur kelidahnya dan sesaat kemudian obat itu pun telah tertelan.

Sejenak sesuatu memang terasa bergejolak didada Puguh. Namun kemudian indera telinganya memang mulai terpengaruh. Pendengarannya mulai susut, sehingga pengaruh bunyi hentakkan kaki dan dentang pedang itu- pun mulai berkurang. Namun demikian getaran bumi yang timbul dari hentakkan-hentakkan kaki itu masih terasa olehnya.

Tetapi Puguh tinggal melawan getaran yang menghentak-hentak itu. Ia sudah tidak mendengar lagi hentakkan kaki yang keras serta dentang helai-helai pedang. Karena itu, maka ia tidak terlalu mengalami kesulitan. Meskipun ia melihat gerak patah-patah dari sepuluh orang yang mengepungnya itu, namun nampaknya gerakan itu tidak menyerang melalui indera penglihatan.

Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan telah benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka menyadari bahwa serangan ilmu sepuluh orang itu tentu tidak hanya sekedar pada hentakkan-hentakkan kaki dengan dentang senjata mereka. Tetapi tentu akan datang serangan yang lebih berbahaya lagi dari sekedar hentakkan-hentakkan kaki dan dentang pedang.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian, hentakkan-hentakkan itu semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Helai-helai pedang pun berdentangan semakin cepat. Namun dalam pada itu, ternyata yang diduga oleh Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan bahkan Puguh itu pun telah terjadi. Tiga orang diantara sepuluh orang itu pun telah membuat persiapan yang berbeda. Meskipun mereka masih tetap dalam putaran ilmu kawan-kawannya, namun mereka mulai mengangkat pedang mereka, memutar diatas kepala, kemudian mengacukan lurus ke pusat putaran mereka. Agaknya mereka sedang mempersiapkan diri untuk menyerang ketiga orang yang ada didalam lingkaran mereka.

Melihat persiapan ilmu yang akan melandasi serangan itu, maka Ki Randu Keling pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak yakin bahwa Puguh yang terluka itu akan dapat mengimbangi kemampuan bukan saja ketrampilan dalam olah kanuragan, tetapi juga landasan ilmu yang tinggi.

Karena itu, maka adalah diluar dugaan sama sekali, selagi tiga orang diantara mereka sedang mempersiapkan diri, Ki Ajar Paguhan yang ternyata juga mempunyai perhitungan seperti Ki Randu Keling, justru telah meloncat mendahului, menyerang salah seorang diantara mereka.

Semua orang telah terkejut karenanya. Tidak ada orang yang tahu, bagaimana terjadinya ketika tiba-tiba saja salah seorang diantara yang telah mempersiapkan senjata mereka itu terlempar dari arena. Mereka hanya melihat sekilas bayangan Ki Ajar itu bergerak. Kemudian sabetan pedang mendatar, namun tidak mengenai sasarannya karena Ki Ajar telah merendahkan dirinya, namun sekaligus dengan satu putaran, kakinya telah menendang rahang orang yang sedang mempersiapkan serangan itu.

Demikian orang itu terlempar, maka dua orang disebelah menyebelah telah menutup lubang yang terjadi. Sementara ujung-ujung pedang mereka telah terjulur lurus kedepan. Namun sementara itu, Ki Ajar telah berada di tempatnya.

Orang yang terpelanting itu dengan cepat melenting bangkit. Namun terasa kepalanya menjadi peningnya dan rahangnya bagaikan retak.

Orang itu mengumpat kasar. Namun dalam pada itu, maka ia pun dengan segera telah memasuki kembali lingkaran yang masih berputar itu.

Sejenak kemudian, maka hentakkan-hentakkan itu justru menjadi semakin cepat. Dentang pedang dengan sarungnya itu pun menjadi semakin keras. Namun tiba-tiba dentang pedang itu berhenti dengan tiba-tiba. Semua pedang telah berputar diatas kepala sehingga dengan demikian, maka tidak dapat diperhitungkan orang yang manakah yang akan bergerak menyerang atau semuanyalah yang akan menyerang.

Ki Randu Keling lah yang kemudian bertindak. Ternyata ia memiliki ilmu yang sangat dahsyat. Sejenis ilmu yang sudah disebut oleh Ki Ajar Paguhan. Namun tidak sebagaimana dilakukan oleh banyak orang.

Ki Randu Keling memang mulai mempelajari ilmunya itu bertolak pada ilmu Gelap Ngampar. Tetapi Ki Ajar tidak menganut ujud ilmu itu dengan kasar. Ia tidak perlu berteriak-teriak melepaskan kekuatan ilmunya atau tertawa berkepanjangan. Tetapi orang tua itu telah mampu mengembangkan ilmunya menjadi lebih halus meskipun ilmu, kekuatan serangannya tidak menjadi susut.

Ketika sejenak kemudian, derap kaki itu menjadi semakin cepat, sementara orang-orang yang melingkari mereka itu mulai menggerakkan pedangnya dengan unsur-unsur gerak tertentu dengan dorongan kekuatan yang nampaknya mulai terkumpul di pangkal pedangnya dan merambat keseluruh daun pedang, Ki Randu Keling mulai bersiul. Seperti siulan seekor burung disaat fajar menyingsing. Namun getaran siulan yang keras itu, ternyata telah terlontar pula Aji Gelap Ngampar.

Orang-orang yang mengepung ketiga orang itu terkejut. Mereka menyadari, bahwa lewat indera telinga mereka, maka mereka telah mendapat serangan yang dahsyat sekali.

Karena itu, maka mereka pun telah berusaha untuk menghentakkan daya tahan mereka pula untuk mengatasi serangan Gelap Ngampar dalam ujud yang lebih halus dan terpelihara rapi itu, karena biasanya ilmu itu dilontarkan lewat suara tertawa yang berkepanjangan.

Disaat-saat Ki Randu Keling bersiul semakin keras, maka sepuluh orang itu telah mencoba menghentakkan sisa kemampuan mereka. Berbareng mereka menyerang dengan sasaran utama Ki Randu Keling.

Tetapi ternyata mereka telah membentur kecepatan gerak Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan. Beberapa orang telah terlempar keluar dari lingkaran yang mereka buat sendiri. Sementara itu, Puguh yang tidak terpengaruh oleh serangan pada indera pendengarannya itu, ternyata mampu juga melindungi dirinya dari serangan orang-orang yang menjadi kebingungan itu.

Namun demikian, orang-orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Ketika dua orang bersama-sama menyerang Puguh, maka ia memang mengalami kesulitan meskipun kedua orang itu masih juga harus melawan Aji Gelap Ngampar yang menggetarkan jantung mereka.

Ketika Puguh sibuk menangkis serangan salah seorang diantara keduanya, maka ujung, pedang yang lain telah terjulur menggapai punggungnya.

Puguh terdorong beberapa langkah. Untunglah ia cepat menentukan sikap ketika yang lain telah siap menyerang ke arah dadanya. Demikian orang itu mulai bergerak, Puguh justru telah menjatuhkan diri.

Namun dalam pada itu, siulan Ki Randu Keling pun menjadi semakin menghentak, sehingga kedua orang itu harus melindungi dadanya dengan menutup telinganya meskipun hanya sesaat untuk sekedar menarik nafas.

Tetapi sementara itu, Puguh telah berhasil menguasai dirinya dan meloncat berdiri.

Hanya sejenak, kedua orang itu segera bangkit lagi setelah getar jantungnya terasa agak mereda. Ketika Puguh siap untuk menyerang mereka, tangan kanannya justru terasa bagaikan kehilangan kekuatannya. Punggungnya yang terluka ternyata telah menyentuh urat disisi kanan yang menggerakkan tangannya itu. Untunglah urat itu tidak putus, meskipun terluka. Namun dengan demikian, tangannya terasa menjadi lemah.

Kedua orang itu sudah siap untuk bersama-sama membantai Puguh yang selain memang terluka, lukanya yang lama pun mulai mengembun lagi. Titik-titik darah telah menyusup diantara luka-lukanya yang sudah mengering.

Namun siulan Ki Randu Keling yang semakin keras memang membuat jantung mereka bagaikan dicengkam oleh kekuatan yang sangat tinggi. Sementara itu, keadaan semakin menjadi kalut, karena beberapa orang saudara seperguruan mereka yang terlempar dari arena.

Karena itu, maka mereka pun tidak mempunyai kesempatan terlalu banyak. Hampir berbareng mereka meloncat sambil menebas ke arah tubuh Puguh yang mulai terganggu keseimbangannya.

Namun tiba-tiba saja Puguh telah terdorong jatuh. Kedua serangan itu sama sekali tidak mengenainya. Bahkan kemudian terdengar oleh kedelapan saudara seperguruannya, dua orang diantara mereka memekik tinggi.

Puguh sendiri juga tidak mendengar. Namun yang diketahuinya adalah, kedua orang itu telah terlempar jatuh. Ternyata bahwa telapak tangan Ki Ajar Paguhan sempat menyentuh dada mereka.

Keduanya ternyata tidak mampu menolak kekuatan ilmu Ki Ajar Paguhan. Telapak tangannya itu seakan-akan telah berubah menjadi bara yang panasnya sepuluh kali lipat bara tempurung kelapa. Bahkan bukan saja kulit mereka yang terbakar, tetapi kekuatan hentakkannya seakan-akan telah meruntuhkan jantung kedua orang itu.

Sejenak kemudian, kedua orang itu telah tidak berdaya lagi. Keduanya telah terbaring diam. Bahkan nafas mereka pun telah terhenti sama sekali.

Puguh baru menyadari, bahwa gurunya telah menyelamatkannya. Gurunya telah mendorongnya sehingga terjatuh. Namun dalam saat yang pendek gurunya telah mempergunakan kekuatan ilmunya menghantam dada kedua orang yang menyerangnya itu dengan telapak tangan kiri dan telapak tangan kanannya.

Namun dalam pada itu, kedelapan saudaranya benar-benar telah menjadi sangat marah. Dua orang diantara mereka telah terbunuh. Karena itu, maka mereka benar-benar telah kehilangan kendali.

Dengan serta merta kedelapan orang itu telah kembali berdiri pada sebuah lingkaran. Mereka telah mengacukan pedang mereka lurus-lurus setinggi pundak mereka. Hentakkan hentakkan kaki mulai terdengar lagi.

Ki Randu Keling dan Ki Ajar sempat melihat ibu jari dari kedelapan orang itu mulai bergerak. Tiba-tiba saja dari ujung pedang-pedang mereka telah mengeluarkan asap.

Agaknya orang-orang itu telah menekan sesuatu pada tangkai pedang mereka.

 “Asap itu beracun,” geram Ki Randu Keling.

 “Ya. Asap yang kekuning-kuningan itu akan dapat membunuh,” sahut Ki Ajar Paguhan.

Hampir berbareng keduanya telah mengambil sesuatu dari kantung ikat pinggang mereka. Sementara itu, Ki Ajar Paguhan dengan tergesa-gesa telah memasukkan sesuatu ke mulut Puguh pada saat Ki Randu Keling juga akan melakukannya.

 “Sudah cukup,” berkata Ki Ajar Paguhan.

Demikian ketiga orang itu telah menelan obat yang dapat menjadi penangkal racun. Mereka menganggap perlu melindungi diri mereka dengan obat karena mereka menyadari betapa tajamnya racun yang terdapat pada asap yang berwarna ke kuning-kuningan itu.

Kedelapan orang itu mengumpat. Tetapi selain racun, maka asap itu masih mempunyai kekuatan yang lain. Asap itu jika mengenai mata akan terasa sangat pedih.

Sebenarnyalah mereka memang tidak dapat menghindar sepenuhnya dari sentuhan asap itu. Karena mereka telah menelan obat penangkal racun, maka akibat yang telah terasa adalah perasaan pedih pada mata mereka.

Namun dalam pada itu, suara siulan Ki Randu Keling menjadi semakin keras. Ia benar-benar menjadi marah dengan serangan yang licik itu. Untunglah mereka membawa obat penangkal racun. Jika tidak, maka mereka tentu sudah terkapar mati.

Kedelapan orang itu menyadari, bahwa obat yang ditelan oleh ketiga orang itu tentu obat penangkal racun. Namun jika mata mereka tidak lagi sempat melihat karena pedih, maka mereka akan dapat membunuh dengan mudah.

Tetapi dalam pada itu, serangan Aji Gelap Ngampar yang ditingkatkan itu terasa semakin sakit didada mereka. Bukan saja bagaikan menghentak-hentak, tetapi getaran yang menyusup lewat indera pendengaran mereka itu bagaikan ujung duri yang menusuk-nusuk.

Namun daya tahan mereka ternyata cukup tinggi. Karena itu betapapun perasaan sakit menghimpit jantung mereka, namun mereka sudah siap untuk menikamkan pedang mereka yang telah menyemburkan asap itu ke jantung lawan.

Kemarahan Ki Ajar Paguhan pun sudah sampai ke puncak. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah melepaskan kekuatannya yang dilandasi dengan ilmunya. Seakan-akan dari dalam dirinya telah memancar angin yang berputar, semakin lama semakin besar, sehingga akhirnya memutar semuanya yang ada disekitarnya.

 “Aji Cleret Tahun,” desis salah seorang diantara kedelapan orang yang mengepung ketiga orang itu.

Sebenarnyalah kekuatan Aji Cleret Tahun itu seakan-akan telah menghalau asap yang kekuning-kuningan, yang ikut terputar dan kemudian terlempar jauh ke udara dan dihanyutkan oleh angin demikian Aji Cleret Tahun itu menghilang.

Ternyata kekuatan angin itu telah memaksa kedelapan orang yang siap untuk menyerang itu bertahan agar tidak hanyut dan terseret oleh putaran kekuatan Aji Cleret Tahun itu. Karena itu, bahkan sebagian diantara mereka justru telah berdiri dan merendah pada lututnya, menancapkan pedangnya di tanah untuk bertumpu.

Namun bukan saja kekuatan Aji Cleret Tahun itu yang menyerang mereka, tetapi juga Aji Gelap Ngampar masih saja menghentak-hentak didalam dada.

Untuk beberapa saat, mata Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh masih bagaikan orang menangis. Namun karena kemarahan yang mencengkam jantungnya, serta daya tahan mereka yang tinggi telah mampu mengatasi perasaan pedih itu, meskipun mereka tidak dapat menahan air mata yang meleleh dari sudut mata mereka. Bahkan kemudian kedua orang tua itu seakan-akan tidak lagi mampu menahan diri. Sejenak kemudian, kedua orang itu telah berloncatan menyerang bersama-sama.

Kedelapan orang itu ternyata sama sekali tidak lagi mampu mempertahankan dirinya. Dua orang tua yang marah itu telah berloncatan menghantam mereka seorang demi seorang. Meskipun kedelapan orang itu masih berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan pedangnya, namun luka didalam dada karena Aji Gelap Ngampar serta hempasan angin pusaran yang telah menguras tenaga mereka untuk bertahan, telah membuat mereka menjadi semakin lemah. Karena itu, maka ketika kedua orang tua yang marah itu menyerang mereka secara wadag, maka mereka tidak banyak dapat berbuat.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka kedelapan orang itu pun telah kehilangan kesempatan untuk dapat bertahan. Sejenak kemudian, maka kedelapan orang itu telah terbaring silang melintang.

Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan pun kemudian berdiri termangu-mangu. Namun Ki Randu Keling pun kemudian berdesis, “Sejak semula aku memang bukan orang yang baik.”

 “Kita telah disudutkan pada satu keadaan tanpa pilihan,” berkata Ki Ajar.

Dalam pada itu Puguh pun berdiri termangu-mangu melihat sepuluh sosok mayat yang berserakan di jalan, tanggul parit dan di pinggir kotak sawah. Beberapa lembar bunga turi yang putih telah berjatuhan diatas tanah berdarah.

 “Apa yang akan kita lakukan atas mayat-mayat itu?” bertanya Ki Ajar.

 “Satu peragaan yang kurang baik bagi Puguh,” berkata Ki Randu Keling.

 “Ya,” jawab Ki Ajar Paguhan, “kita harus menerangkan nanti satu alasan kenapa hal seperti ini terjadi.”

Ki Randu Keling termangu-mangu. Sementara itu indera pendengar Puguh memang belum pulih kembali karena obat yang telah ditelannya.

 “Kita berharap bahwa besok pagi ada orang yang sempat menguburkan mereka,” berkata Ki Ajar.

 “Marilah kita tempatkan mereka berjajar dibawah batang turi itu. Jalan ini memang bukan jalan yang cukup ramai. Tetapi sosok mereka tentu akan dilihat orang besuk,” berkata Ki Randu Keling.

Demikianlah mereka bertiga telah mengangkat mayat-mayat itu dan menempatkannya di tempat yang mudah dilihat orang lewat atau pergi ke sawah dengan harapan, bahwa sosok sosok mayat itu akan cepat dikubur.

Namun setelah itu, Ki Randu Keling telah mengobati lagi luka Puguh. Kecuali mengobati luka yang lama, maka Ki Randu Keling harus mengobati luka yang baru, yang kebetulan juga berada di punggung.

Tetapi mereka tidak sempat beristirahat. Mereka tidak mau mengalami keributan lagi dengan orang-orang yang mungkin melihat mayat-mayat itu. Karena itu, maka mereka pun telah melanjutkan perjalanan. Ketika mereka melewati simpang tiga, maka mereka telah mengambil jalan yang lebih kecil, agar mereka tidak banyak bertemu dengan siapapun juga.

Beberapa saat kemudian, maka langit pun telah membayang cahaya fajar yang kemerahan. Karena itu, maka ketiga orang itu telah mempercepat perjalanan mereka, agar jarak dari tempat peristiwa itu menjadi lebih jauh. Sementara itu pendengaran Puguh  pun telah menjadi berangsur pulih kembali.

Ketika hari menjadi semakin terang, maka Ki Ajar telah memperhatikan baju Puguh yang koyak dan diwarnai darah. Dari lubang bajunya yang koyak itu nampaknya jelas luka di kulitnya.

Karena itu, maka Ki Ajar pun telah minta mereka bertukar baju.

 “Guru tidak pantas pakai baju yang koyak dan diwarnai darah seperti ini,” berkata Puguh.

 “Tetapi kulitku utuh. Orang tidak akan banyak tertarik pada warna darah yang kering. Mungkin mereka akan melihat aku memakai baju koyak dan kotor. Tetapi tidak melihat luka di kulitku,” berkata gurunya.

Ternyata Ki Randu Keling sependapat dengan Ki Ajar Paguhan. Katanya, “Sekedar agar tidak menarik perhatian.”

Akhirnya Puguh telah menutupi lukanya dengan baju gurunya, sementara gurunya telah membawa baju Puguh.

Tetapi baju itu tidak segera dipakainya, sekedar di sangkutkan di pundaknya saja. Sehingga dengan demikian Ki Ajar Paguhan itu berjalan tanpa baju.

 “Tidak apa-apa,” berkata Ki Ajar, “ada kalanya orang berjalan tanpa baju. Nanti jika matahari terbit dan kita berpapasan dengan banyak orang, maka kita akan melihat diantara mereka benar-benar tidak berbaju.”

Puguh mengangguk-angguk. Ia tidak membantah. Ia memang sering melihat orang tidak berbaju di sepanjang jalan.

Demikianlah, maka ketika matahari benar-benar telah terbit, mereka masih berjalan di jalan kecil yang tidak terlalu banyak dilalui orang. Mereka berpapasan orang-orang yang pergi ke pasar untuk menjual hasil sawah mereka atau hasil kerajinan.

Memang tidak ada orang yang memperhatikan mereka bertiga secara khusus, karena orang-orang itu telah disibukkan oleh kepentingan mereka masing-masing.

Namun dalam pada itu, dibekas pertempuran yang terjadi menjelang dini hari itu, beberapa orang yang pergi ke pasar telah menjadi gemetar. Tiba-tiba saja terdengar salah seorang perempuan diantara beberapa orang yang berjalan sambil membawa obor belarak telah berteriak karena kakinya menyentuh tubuh yang membeku dipinggir jalan itu. Ketika dengan obornya ia menerangi tempat itu, maka ternyata sepuluh sosok mayat berderet di pinggir jalan, dibawah batang-batang pohon turi.

Kegemparan itu segera sampai ketelinga orang-orang padukuhan, sehingga pada saat matahari mulai melemparkan sinarnya menyentuh daun-daun padi, maka mulai terdengar isyarat kentongan dengan nada titir. Rajapati. Pertanda bahwa telah terjadi pembunuhan. Bahkan tidak hanya satu dua orang yang terbunuh, tetapi sepuluh orang.

Ketika bebahu padukuhan yang terdekat datang melihat keadaan itu, maka mereka segera mengambil kesimpulan, bahwa yang terjadi bukan pembunuhan biasa. Bukan perampokan atau penyamun yang membunuh korbannya. Melihat sepuluh orang yang terbunuh itu mereka menduga, bahwa kesepuluh orang itu justru sekelompok yang tentu bertempur dengan kelompok yang lain. Melihat bekas-bekasnya serta tanaman yang rusak di kotak-kotak sawah maka mereka telah membayangkan bahwa telah terjadi pertempuran yang sangat dahsyat.

Akhirnya para bebahu padukuhan itu memutuskan untuk melaporkannya kepada Ki Demang agar persoalannya yang dianggap cukup besar itu dapat dipertanggung jawabkan bersama.

Ki Demang dan beberapa bebahu Kademangan akhirnya memutuskan untuk mengubur sepuluh orang itu bersama senjata mereka.

 “Satu isyarat yang kurang baik,” berkata Ki Demang, “kawan-kawan mereka tentu akan mencari mereka. Beruntunglah jika masih ada satu dua orang yang hidup dan sempat memberitahukan kepada kawan-kawannya apa yang telah terjadi. Tetapi jika semuanya telah terbunuh, maka kawan-kawannya tentu akan mencari keterangan kepada kita, penghuni Kademangan ini.”

 “Tetapi kita tidak tahu apa-apa,” sahut Ki Bekel, “peristiwa ini hanya kebetulan saja terjadi disini. Tanpa melibatkan orang-orang Kademangan ini sama sekali. Yang melihat pertama kali pun justru orang dari Kademangan lain yang akan pergi ke pasar.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun ia telah berkata kepada Ki Jagabaya, “Namun kita pun harus berhati-hati menanggapi peristiwa ini. Para pengawal harus dipersiapkan sebaik-baiknya di setiap padukuhan. Siapa tahu, kita akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang tertentu. Sementara itu, kita harus segera memberikan laporan kepada kesatuan prajurit Pajang yang terdekat, agar jika setiap saat kita memerlukan, mendapat perlindungan mereka. Kita tidak tahu, apakah hal ini ada hubungannya dengan suasana panas antara Pajang dan Mataram yang baru tumbuh itu.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk sambil menjawab, “Akan segera kami lakukan Ki Demang. Dua orang penghubung berkuda akan segera pergi ke kesatuan pasukan Pajang yang terdekat. Mungkin ke Cangakan atau ke Kayu Rampak.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Bahkan mungkin mereka akan melihat apa yang telah terjadi disini.”

 “Apakah mayat-mayat itu tidak usah kita kubur dahulu?” bertanya Ki Jagabaya.

 “Kita tidak tahu apakah akan ada peninjauan atau tidak. Karena itu, biarlah mayat-mayat kita kuburkan lebih dahulu,” berkata Ki Demang yang tetap pada keputusannya.

Sementara di Kademangan itu terjadi keributan, maka Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh tengah beristirahat di pinggir sebuah sungai. Mereka telah membersihkan diri serta Ki Randu Keling pun telah memperbaharui obat dipunggung Puguh.

 “Kita tidak tergesa-gesa lagi,” berkata Ki Randu Keling, “tidak seorang pun yang akan dapat mengikuti jejak kita lagi. Mudah-mudahan Warsi telah pula selamat sampai ke Bayat.”

 “Nampaknya orang-orang itu menganggap bahwa Warsi dan Ki Rangga pun telah berjalan bersama kita, karena mereka hanya menemukan jejak perjalanan ke arah Timur. Agaknya mereka tidak mengalami kesulitan dari orang-orang yang memburunya. Tetapi entahlah jika ada persoalan baru yang berkembang disepanjang perjalanan mereka.”

***

Namun pada saat itu, Ki Rangga dan Warsi telah berada dirumah saudara sepupunya. Seorang tua yang menunggui rumah itu segera mendapat pesan dari sepupu Warsi, bahwa ia harus merahasiakan kedatangan mereka.

 “Jika paman tidak dapat merahasiakan kedatangan kami, maka kami akan mati dibunuh orang. Bahkan mungkin paman pun akan ikut terbunuh pula,” berkata sepupu Warsi.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun sudah barang tentu bahwa ia tidak ingin mati, sehingga karena itu, maka orang tua itu pun telah bertekad untuk merahasiakan kehadiran orang-orang itu.

 “Aku tidak mau mati,” berkata orang itu kepada sepupu Warsi.

 “Terima kasih paman. Kami akan selalu mengenang kebaikan paman.”

Dengan demikian, maka sejak saat itu, Ki Rangga, Warsi dan sepupunya telah bersembunyi dirumah peninggalan itu. Mereka tidak pernah menampakkan diri sama sekali, sambil menunggu keadaan Warsi menjadi baik. Jika Warsi telah sembuh benar, maka mereka akan kembali bertualang sebagaimana pernah mereka lakukan.

***

Sementara itu, Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh telah meneruskan perjalanan. Tetapi mereka tidak langsung menuju ke padepokan mereka. Tetapi mereka dengan sengaja telah menempuh jalan melingkar, karena dengan demikian mereka berusaha untuk sama sekali menghilangkan jejak. Karena itu, maka mereka tidak sampai ke padepokan pada waktu yang sewajarnya. Sepekan mereka bermalam di perjalanan yang melingkar-lingkar itu.

Namun nampaknya Ki Ajar lah yang merasa terlalu lama meninggalkan padepokannya. Meskipun baginya padepokan itu bukannya tempat yang paling baik baginya. Apalagi suasananya. Tetapi karena ia sudah terbiasa tinggal di padepokan itu, maka rasa-rasanya ia ingin segera sampai ke tempatnya.

Akhirnya mereka pun telah mengambil keputusan untuk memasuki padepokan mereka kembali. Padepokan yang suasananya sama sekali tidak dikehendaki oleh Puguh. Namun Puguh telah mendapat pesan bahwa ia sama sekali tidak boleh berubah pola kehidupan di padepokan itu.

Dengan demikian maka Puguh pun justru telah menjadi acuh tak acuh akan susunan dan suasana kehidupan padepokannya itu. Ia lebih banyak melihat kedalam dirinya sendiri dalam hubungannya dengan gurunya.

Meskipun demikian, seperti gurunya, Puguh pun merasa rindu untuk melihat tempat yang suasananya tidak disukainya itu.

Namun ketiga orang itu cukup berhati-hati. Ada seribu mata yang mungkin mengikuti perjalanan mereka, meskipun mereka sudah melingkar-lingkar. Justru setelah terjadi peristiwa di Pajang dan di Perjalanan. Dengan demikian Ki Randu Keling dan Ki Ajar dapat meraba bahwa yang dihadapi oleh Ki Rangga jauh lebih berbahaya dari sekedar Ki Sumbaga dan Ki Ajar Tulak.

Dengan demikian, maka ketika mereka sampai di sebelah padepokan di saat matahari turun, maka mereka telah berhenti disebuah gumuk kecil yang sepi. Mereka menunggu sampai matahari turun. Baru dilewat senja mereka berjalan lagi memasuki lingkungan padepokan mereka.

Demikian mereka memasuki jalan yang menembus padang perdu ke arah padepokan pertama, mereka merasakan sesuatu yang lain. Mereka melihat sesuatu yang mendebarkan jantung. Mereka melihat dengan mata hati, sesuatu telah terjadi di padepokan.

Karena itu, maka tanpa bersepakat lebih dahulu, maka mereka pun telah mempercepat langkah mereka memasuki lingkungan padepokan pertama.

Namun beberapa puluh langkah mereka mendekati regol, jantung mereka menjadi bagaikan terlepas. Dalam kegelapan mereka tidak melihat lagi ujud regol padepokan pertama mereka.

Apalagi ketika mereka sampai keregol itu. Yang nampak adalah abu yang berserakan.

Puguh bagaikan mematung ketika ia melihat bangunan-bangunan di padepokannya itu. Tidak satu pun masih tinggal berdiri. Namun kemudian ia berlari-lari menuju ke bekas bangunan induk padepokannya. Seperti regol halamannya, maka yang tinggal adalah abu. Abunya saja. Semua bangunan di padepokan itu sudah terbakar habis.

Ki Ajar dan Ki Randu Keling pun kemudian berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa semuanya itu telah terjadi.

 “Agaknya semalam atau sebelumnya mereka telah membakar padepokan ini,” desis Ki Ajar Paguhan.

 “Ya,” sahut Ki Randu Keling, “api telah padam sama sekali. Bahkan asap pun sama sekali sudah tidak nampak.”

Puguh yang kemudian berlari-lari mendapatkan gurunya telah bertanya dengan nada tinggi, “Guru, siapa yang telah melakukannya? Siapa?”

Ki Ajar tidak segera menjawab. Ia memang sulit untuk mencari jawab pertanyaan itu, sehingga Puguh pun telah berlari kepada kakeknya sambil juga bertanya, “Kakek, siapakah yang telah melakukannya?”

Ki Randu Keling menggeleng. Katanya, “kita belum tahu apa-apa tentang padepokan ini. Mari kita lihat padepokan kedua.”

Puguh tidak menunggu kedua orang itu. Tiba-tiba saja ia telah meloncat berlari, ia tidak mendengarkan ketika kedua orang tua itu memanggilnya, karena dalam keadaan yang demikian, bahaya masih mungkin mengintip.

Karena itu justru Ki Randu Keling dan Ki Ajarlah yang telah menyusul Puguh ke padepokan ke dua.

Tetapi yang mereka temui di padepokan kedua pun tidak bedanya dari yang mereka temui di padepokan pertama. Abu.

Hampir saja Puguh kehilangan pengendalian diri. Ketika kedua orang tua itu datang kepadepokan kedua, Puguh telah berteriak sekeras-kerasnya, “Siapa yang telah melakukan ini? Pengecut. Jika kalian memang jantan, marilah, kita beradu dada. Jangan melakukan seperti seorang pencuri yang licik.

Ki Ajar Paguhan telah mendekati Puguh. Memegang kedua bahunya sambil berkata, “Tenanglah Puguh. Persoalannya tidak akan dapat diselesaikan dengan berteriak-teriak begitu?”

 “Tetapi ini satu penghinaan Guru. Mereka tidak berani berhadapan dengan kita. Tetapi mereka telah membakar seluruh padepokan kita. Dua-duanya.” Puguh masih berteriak.

 “Aku mengerti. Tetapi bukankah kita dapat berpikir lebih bening?” bertanya gurunya, sementara Ki Randu Keling pun mendekatinya, “Mereka sudah tidak berada disini. Tidak ada gunanya kau berteriak-teriak. Mereka tidak akan pernah mendengar suaramu.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun dadanya terasa bagaikan terhimpit gunung. Jauh lebih sakit dari luka-luka dipunggungnya. Meskipun ia sendiri tidak senang dengan tata kehidupan didalam padepokan itu, tetapi bahwa padepokan itu telah dibakar, telah membuat darahnya mendidih.

Namun guru dan kakeknya telah menenangkannya, sehingga akhirnya Puguh itu terduduk diatas tlundak batu sisa dari bangunan yang tertinggal dan tidak menjadi abu.

 “Kenapa hal ini terjadi kakek?” bertanya Puguh itu pula.

 “Mereka tentu orang-orang yang mencari ayah dan ibumu. Mereka mengira bahwa arah perjalanan kami berdasarkan jejak kami, langsung menuju ke padepokan ini. Tetapi karena mereka tidak menemukan ayah dan ibumu, maka padepokannyalah yang dibakar.” jawab Ki Randu Keling.

 “Lalu dimanakah orang-orang padepokan ini? Meskipun mereka bukan orang baik-baik sebagaimana gerombolan Kalamerta, namun mereka sudah cukup lama tinggal bersama kita,” desis Puguh.

 “Beristirahatlah. Kau harus beristirahat malam ini. Biarlah aku dan gurumu berganti-ganti berjaga-jaga. Besok, Jika hari terang, kita akan menyelidiki tempat ini. Mungkin kita akan menemukan jejak,” berkata kakeknya.

Puguh terdiam. Namun jantungnya masih saja bergejolak dengan kerasnya.

Tetapi kemudian Puguh itu menurut sebagaimana dikatakan oleh kakek dan gurunya. Ia harus beristirahat. Apapun yang telah terjadi di padepokan itu.

Demikianlah, dengan dada yang bergejolak, Puguh sempat menemukan tempat untuk berbaring. Namun matanya sama sekali tidak terpejam. Kenyataan pahit yang dihadapinya itu memang telah menghanguskan perasaannya pula.

Namun, setelah lewat tengah malam, di dinginnya angin malam, serta kelelahan lahir dan batin, maka mata Puguh mulai terpejam. Sementara itu kakek dan gurunya memang telah berjaga-jaga. Tetapi keduanya tidak bergantian. Kedua-duanya memang tidak tertidur semalam suntuk.

Dini hari Puguh baru terbangun. Namun hari memang masih gelap, sehingga ia pun belum dapat berbuat sesuatu. Di jarak beberapa langkah ia melihat guru dan kakeknya masih duduk bercakap-cakap.

 “Kakek dan Guru tidak beristirahat sama sekali?” bertanya Puguh.

Keduanya tertawa. Dengan nada rendah kakeknya menjawab, “Kami sudah terlalu banyak beristirahat di perjalanan. Tidurlah. Hari masih malam.”

Tetapi kebiasaan Puguh telah memberitahukan kepadanya, bahwa sebentar lagi fajar akan menyingsing. Sehingga karena itu, maka ia pun justru telah melangkah dan duduk bersama dengan kedua orang tua itu.

Ketika cahaya langit menjadi cerah, dan hari menjadi pagi, Puguh seakan-akan tidak sabar lagi menunggu. Ia pun segera bangkit dan melihat bekas padepokannya yang telah menjadi abu.

Diantara sisa-sisa api yang berserakkan, Puguh memang menemukan beberapa bagian dari tubuh yang terbakar. Sisa-sisanya hanya dapat menunjukkan bahwa mereka tentu orang-orang dari padepokan itu. Ada satu dua diantara mereka, masih dapat diketemukan senjatanya berada disisinya.

Tetapi Puguh tidak berhasil menghitung sisa-sisa tubuh yang terbakar itu. Dengan demikian maka ia pun tidak dapat menduga, apakah diantara para pengikut ayah dan ibunya itu masih ada yang hidup.

 “Satu bencana,” desis Ki Randu Keling.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Dalam pada itu, maka Puguh pun berkata, “Apa yang harus aku katakan kepada ayah yang seakan-akan selalu mencurigai aku? Bahkan ia pun telah berpesan, bahwa aku tidak boleh mengganti pola hidup yang ada disini.”

 “Bukankah kita dapat mengatakan apa yang telah terjadi disini,” berkata Ki Randu Keling.

 “Apakah ayah dan ibu mau percaya?” bertanya Puguh.

 “Bagaimanapun juga kita harus membangun padepokan ini kembali. Pola kehidupan yang akan datang, tentu berbeda dengan pola penghidupan dari padepokan yang telah terbakar ini. Namun kita mempunyai mulut dan kita akan mencoba meyakinkan apa yang akan terjadi.” jawab Ki Randu Keling.

 “Kita memang mempunyai mulut. Tetapi bagaimana jika merekalah yang tidak mempunyai telinga. Atau katakanlah mereka bertelinga, tetapi tidak berjantung, sehingga apa yang kita katakan itu tidak akan pernah dapat mereka mengerti.”

 “Jika demikian apaboleh buat,” desis Ki Ajar Paguhan.

 “Maksud Guru?” bertanya Puguh.

 “Kita mempunyai hak untuk memilih. Kita mempunyai hak untuk menentukan jalam hidup kita sendiri. Apa lagi kau sudah dianggap dewasa setelah menempuh pendadaran itu. Dengan demikian kau bukan lagi bayi yang masih menyusu.” jawab gurunya.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.

Dalam pada itu, maka ketiga orang itu telah bekerja keras untuk menguburkan sisa-sisa tulang yang berserakan. Namun Ki Randu Keling maupun Ki Ajar berpendapat, bahwa sebagian besar dari korban yang terbakar itu justru karena mereka dilemparkan kedalam api setelah mati atau setengah mati. Adalah mustahil bahwa sekian banyak orang didalam padepokan itu tidak dapat menerobos keluar, seandainya barak-barak itu dibakar dengan tiba-tiba. Banyak diantara mereka yang tidak lagi diketemukan dekat dengan senjatanya, meskipun ada yang demikian.

 “Yang datang tentu orang-orang berilmu tinggi,” berkata Ki Ajar Paguhan.

 “Ya,” jawab Ki Randu Keling, “mungkin mereka adalah susulan kedua setelah kegagalan kedua. Yang pertama mereka gagal membunuh selagi Ki Rangga dan Warsi masih berada di Pajang. Kegagalan kedua adalah saat sepuluh orang menemui kita di bulak panjang itu.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk. Namun dengan demikian keduanya semakin memperkuat pendapatnya bahwa yang memerintahkan mereka bukan sekedar Ki Sumbaga dan Ki Ajar Tulak.

Beberapa saat kemudian, pekerjaan mereka sudah selesai di padepokan kedua. Mereka harus melakukannya pula di padepokan pertama.

Seperti di padepokan kedua, maka sisa-sisa tubuh pun menunjukkan bahwa orang-orang itu memang dilempar kedalam api. Bukan karena mereka tidak sempat keluar.

Dibeberapa tempat telah diketemukan sisa-sisa dari berjenis senjata. Menilik bekas-bekasnya, maka pertempuran telah berlangsung dengan sengitnya. Namun akhirnya para penghuni padepokan itu harus mengakui kenyataan yang sangat pahit itu.

Puguh memang menggeram. Tetapi ia sadar, bahwa ia tidak dapat bertindak sendiri.

Namun beberapa langkah agak jauh, terdengar Ki Randu Keling berdesis perlahan, “Mereka memang harus memetik buah dari tanaman sendiri.”

Demikianlah, satu pukulan yang sangat berat telah menimpa perasaan Puguh. Beberapa saat ia merenungi bekas padepokannya itu dengan pikiran yang kacau. Gurunya dan Ki Randu Keling pun berusaha untuk dapat menemukan petunjuk tentang peristiwa yang menimpa padepokan itu. Tetapi agaknya semuanya masih serba gelap. Orang-orang yang datang membakar padepokan itu tidak meninggalkan jejak sama sekali.

 “Tetapi tentu masih ada yang hidup,” berkata Ki Randu Keling kepada Ki Ajar Paguhan.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pun berharap demikian. Jika mereka tahu kita datang, maka mereka yang masih hidup itu tentu akan menemui kita.”

Ki Randu Keling termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah ia berkata, “Orang-orang yang kehilangan sepuluh kawan-kawannya yang dianggapnya terbaik itu telah melepaskan dendamnya atas padepokan ini. Namun yang mereka lakukan benar-benar satu tindakan yang sangat keji.”

 “Apakah orang tidak menilai kematian sepuluh orang itu sebagai perbuatan yang kejam?” desis Ki Ajar Paguhan.

Ki Randu Keling pun mengangguk-angguk. Sementara Ki Ajar Paguhan berkata, “Orang tidak akan menilai kenapa hal itu terjadi.”

 “Ya,” jawab Ki Randu Keling, “keadaan yang demikian itulah yang membuat pertentangan-pertentangan ber-kepanjangan. Dendam yang tidak berkeputusan. Kematian sepuluh orang itu nampaknya telah mempengaruhi perasaan Puguh. Kita berniat untuk menjelaskan kepadanya agar hal itu tidak menambah beban bagi jiwanya. Namun disini kita menjumpai peristiwa seperti ini.”

 “Satu tugas yang berat bagiku,” berkata Ki Ajar, “selama ini aku sudah berjuang untuk mengisi jiwa anak itu dengan caraku, yang barangkali agak berbeda dengan maksud kedua orang tuanya. Aku mulai merasa bahwa usaha itu tidak sia-sia sehingga Puguh bukanlah bayangan dari gerombolan Kalamerta atau kepanjangan nafsu yang tamak dari kedua orang tuanya. Namun kini ia harus menghadapi kenyatan seperti ini.”

 “Ia nampak mendendam sekali, justru pada saat hubungannya dengan ibunya berangsur baik,” berkata Ki Randu Keling.

 “Kita harus memperhatikannya jauh lebih banyak dari saat-saat sebelumnya. Aku merasa beruntung bahwa aku telah meletakkan dasar jiwani yang lain dari yang dikehendaki oleh kedua orang tuanya. Mudah-mudahan alas itu tidak ikut goyah dengan pukulan-pukulan perasaan seperti ini,” berkata Ki Ajar Paguhan.

Ki Randu Keling mengangguk-angguk pula. Namun kemudian ia pun berkata, “Jangan biarkan anak itu terlalu lama merenung sendiri.”

Ki Ajar pun kemudian telah memanggil Puguh untuk duduk bersama kedua orang tua itu. Dengan nada rendah Ki Ajar pun bertanya, “Bagaimana menurut pendapatmu Puguh. Apakah kita akan mencari tempat tinggal untuk sementara, atau kita akan membuat gubug di bekas padepokan ini.”

 “Sebaiknya kita tidak meninggalkan padepokan ini lagi guru. Kita akan membangun sebuah gubug. Aku berharap bahwa masih ada orang yang dapat memberikan keterangan kepada kita tentang peristiwa ini.” jawab Puguh.

Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat dengan kau. Kita akan membangun sebuah gubug disini. Bahkan seperti yang sudah aku katakan kita akan dapat membangun sebuah padepokan baru disini justru sesuai dengan keinginan kita sendiri.”

 “Tetapi ayah justru berpesan, bahwa pola kehidupan di padepokan ini tidak boleh berubah,” desis Puguh.

 “Bukan salah kita. Padepokan ini, dengan pola kehidupan yang lama telah hapus. Adalah satu kesempatan bagi kita untuk menunjukkan pribadi kita sendiri sekarang. Kau yang dianggap cukup dewasa sekarang, akan dapat menentukan sendiri apa yang kau kehendaki. Justru ketika kita mendapatkan alasan yang tepat. Bahwa padepokan ini telah dihancurkan orang,” berkata Ki Ajar Paguhan.

 “Kita harus menemukan orang yang telah menghancurkan padepokan ini,” geram Puguh.

 “Aku mengerti,” berkata gurunya, “aku pun merasa kehilangan. Bagaimanapun juga kita tidak merasa sesuai dengan pola kehidupan di padepokan ini, namun satu kenyataan bahwa kita sudah tinggal disini untuk beberapa lama. Tetapi disamping dendam yang bergejolak dihati kita, kita pun wajib menelusuri sebab daripada peristiwa ini.”

 “Apapun sebabnya, tetapi kita mempunyai harga diri,” berkata Puguh.

 “Aku sependapat. Tetapi jika kita menemukan sebab yang pasti dari peristiwa ini, maka kita akan dapat mencari jalan keluarnya,” berkata Ki Randu Keling.

Puguh termangu-mangu. Sementara itu Ki Randu Keling dan Ki Ajar pun terdiam sesaat. Memang terkilas kekuatan Tanah Perdikan Sembojan yang sangat besar. Tetapi jika yang datang itu kekuatan Tanah Perdikan Sembojan, seandainya mereka menemukannya, maka akibatnya tentu tidak akan separah itu. Mereka tidak akan membunuh dengan melemparkan orang-orang yang sudah tidak berdaya itu kedalam api.

Betapapun dendam diantara Warsi dan Iswari menyala bagaikan tidak terkendali, tetapi watak kekuatan Tanah Perdikan Sembojan akan masih dapat terkendali oleh para pemimpinnya. Apalagi jika Iswari sendiri yang datang memimpin pasukannya.

Bahkan padepokan itu pun tentu akan masih tetap utuh. Mereka tidak akan membakar setiap bangunan menjadi abu.

Ketika Ki Randu Keling berbisik tentang kemungkinan itu, maka Ki Ajar Paguhan mengiakannya. Perlahan-lahan ia berkata, “Hanya orang-orang biadab yang telah melakukan hal seperti. Biadab sebagaimana penghuni padepokan ini sendiri.”

Ki Randu Keling mengerutkan keningnya. Sementara Ki Ajar Paguhan berkata, “Topeng-topeng kecil itu adalah lambang kebiadaban kita disini.”

Ki Randu Keling mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia berkata, “Apakah topeng-topeng itu masih ada di tempatnya?”

 “Kita akan melihatnya,” desis Ki Ajar Paguhan. Keduanya pun kemudian telah mengajak Puguh untuk melihat-lihat keadaan di sekeliling padepokan mereka yang penuh dengan rahasia kebiadaban mereka itu. Topeng-topeng kecil yang menjadi pertanda kematian bagi orang-orang yang melihatnya, meskipun mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang topeng itu. Bahkan orang tersesat sekalipun.

Perintah yang pernah diberikan kepada para pengikut Ki Rangga adalah, “Mati bagi semua orang yang ada di sekitar topeng-topeng itu. Mereka telah memasuki dan memata-matai padepokan kita.”

Ketika saat itu Ki Ajar Paguhan bertanya tentang orang-orang yang tersesat dan tidak tahu menahu seperti seorang pencari kayu misalnya, maka Ki Rangga menjawab, “Kita tidak dapat membedakan antara orang yang benar-benar tersesat, atau seseorang yang sedang memata-matai padepokan dengan berpura-pura tersesat. Karena itu, maka semua orang yang mendekati lingkungan padepokan kedua harus mati. Batas kematian itu adalah topeng-topeng kecil yang kita tancapkan disekitar padepokan kita.”

Namun ternyata bahwa dimata-matai atau tidak dimata-matai, padepokan itu sudah dihancurkan orang.

Demikianlah, maka ketiga orang itu telah berjalan mengelilingi lingkungan yang disebut daerah terlarang itu. Mereka ternyata masih menemukan topeng-topeng kecil yang ditancapkan di beberapa tempat disekitar padepokan mereka yang hangus menjadi abu itu.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 21

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s