SST-18

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

KETIKA Risang memasuki pintu gerbang halaman rumahnya, maka ia pun telah disambut dengan penuh kegembiraan. Bibi, yang kebetulan ada di halaman, telah berlari menyongsongnya dan memeluknya. Bahkan Bibi yang garang itu telah menitikkan air mata sambil berdesis, “Kau baik-baik saja Risang?”

“Ya Bi,” jawab Risang, “sebagaimana Bibi lihat. Aku sehat walafiat.”

“Kau sudah tumbuh menjadi anak muda yang gagah dan tampan,” berkata Bibi, “kau tentu memiliki kemampuan melampui anak-anak muda kebanyakan.”

“Ah. Tidak Bi,” jawab Risang, “tidak ada lebihnya. Dimana ibu?”

“Marilah. Kita menemui ibumu,” berkata Bibi kemudian, Risang yang menjelang dewasa itu masih juga dibimbing seperti kanak-kanak, naik kependapa, melintasi pringgitan masuk keruang dalam. Bibi yang menyambut Risang dengan gejolak perasaannya itu seakan-akan tidak melihat orang-orang yang datang bersama Risang itu.

Ketiga orang yang datang bersama Risang memang tidak merasa perlu dipersilahkan. Rumah itu sudah seperti rumah mereka sendiri sehingga mereka pun telah masuk ke ruang belakang lewat pintu butulan.

Iswari terkejut ketika ia mendengar suara anaknya. Sementara ia baru beristirahat didalam biliknya, karena kesehatannya yang memang belum pulih kembali.

Karena itu, maka ia pun segera bangkit justru ketika Risang mengetuk pintu biliknya.

Dengan tergesa-gesa Iswari membuka pintu bilik itu. Demikian ia melihat Risang datang, maka ia pun langsung memeluknya.

Ternyata bahwa Iswari pun tidak dapat menahan air matanya. Meskipun ia termasuk seorang perempuan yang perkasa, namun bagaimanapun juga, sentuhan pada perasaannya rasa-rasanya memang harus menitikkan air mata.

“Bagaimana dengan keadaanmu?” bertanya ibunya.

“Aku baik-baik saja ibu,” jawab Risang, “bagaimana dengan ibu? Dan bagaimana dengan Tanah Perdikan ini?”

“Ibu dalam keadaan baik ngger. Demikian juga Tanah Perdikan ini.” jawab ibunya.

“Jadi tidak terjadi apa-apa dengan Tanah Perdikan ini?” bertanya Risang.

“Tidak. Kenapa? Apakah pamanmu atau orang lain mengatakan sesuatu tentang Tanah Perdikan ini?” bertanya ibunya.

“Tidak ibu,” jawab Risang, “tetapi ketika kami memasuki Tanah Perdikan ini, kami telah dicegat oleh sekelompok orang yang ingin merampas kuda-kuda kami.”

“O,” wajah Iswari menegang. Bahkan juga Bibi yang mendengar pula keterangan itu menjadi berdebar-debar.

Diluar sadarnya ia bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

“Berkelahi,” jawab Risang.

Ibunya pun kemudian membimbing Risang sambil berkata, “Duduklah. Seharusnya kau beristirahat. Minum dan barangkali kau juga lapar. Tetapi keteranganmu menarik perhatian.”

Risang pun kemudian dibawa duduk di sebuah amben besar bersama Bibi. Dengan nada rendah ibunya berkata, “Nah, sekarang kau ceriterakan apa yang telah terjadi di perjalananmu.”

Risang memang mulai berceritera. Tetapi kata-katanya mengalir seperti air dibendungan yang pecah. Mengalir tidak putus-putusnya. Namun justru karena itu, maka ceriteranya menjadi kurang jelas. Apalagi jika Risang mulai bangkit dan menirukan apa yang telah dilakukannya.

Ibunya mengangguk-angguk. Serba sedikit ia tahu, bahwa telah terjadi sesuatu yang gawat diperjalanan anaknya kembali ke Tanah Perdikan.

Karena itu, maka Iswari pun telah menyuruh Bibi memanggil Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Ceritera Risang seperti gerontol wutah. Aku justru sulit menangkap maksudnya dan sulit untuk menggambarkan peristiwanya,” berkata Iswari.

“Ibu yang tidak memperhatikan aku,” Risang bersungut.

Iswari tersenyum. Katanya, “Mungkin ibu memang agak lambat menangkap keterangan seseorang. Coba, biarlah orang lain mengulangi ceriteramu.”

Sambi Wulung lah yang kemudian berceritera tentang perjalanan yang telah mereka tempuh. Sejak mereka meninggalkan padepokan kecil itu, sehingga mereka memasuki regol halaman rumah itu. Bukan saja orang-orang yang mencegat di lereng bukit, tetapi juga orang-orang yang mengganggu ketenangan orang lain di sebuah pasar.

Meskipun tidak dikatakan dengan jelas, tetapi Iswari dapat menangkap maksud Sambi Wulung yang ingin menjajagi kemampuan ilmu Risang dibandingkan dengan orang diluar padepokan. Dengan demikian maka ilmu yang telah dipelajarinya, telah dihadapkan kepada unsur-unsur gerak dari ilmu kanuragan yang susunannya lain sama sekali.

Tetapi orang-orang yang mencegat keempat orang yang memasuki Tanah Perdikan itu bukan sekedar penjajagan. Tetapi mereka benar-benar telah dicegat oleh sekelompok perusuh yang berbahaya.

Karena itu, Iswari telah minta penjelasan beberapa hal yang dianggapnya penting tentang orang-orang yang telah mencegat mereka itu.

“Agaknya mereka adalah orang-orang dibalik bukit yang tercecer setelah pertempuran itu selesai.” Sambi Wulung menjelaskan.

Namun yang justru bertanya adalah Risang, “Pertempuran yang mana?”

Iswari mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Pertempuran kecil antara orang-orang yang ingin merampok. Seperti yang dilakukan atas kalian di perjalanan.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ia pun mengangguk-angguk.

Iswari tidak bertanya lebih jauh. Tetapi ia ingin mencari waktu yang khusus untuk berbicara dengan mereka yang menemani Risang di perjalanan, karena tidak semua hal dapat dibicarakan bersama dengan Risang.

Yang kemudian mereka bicarakan adalah tentang padepokan kecil yang ditinggalkan oleh Risang, Padepokan yang semakin lama menjadi semakin nampak subur dan meningkat. Sawah dan pategalan yang menjadi garapan para cantrik pun telah dikerjakan dengan baik sehingga hasilnya dapat memenuhi kebutuhan. Bahkan yang tersisa dapat ditukarkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang lain.

“Apakah diantara kalian tidak ada yang pandai menenun?” bertanya Iswari.

“Belum ibu,” jawab Risang, “apakah di Tanah Perdikan ini ada orang yang pandai menenun?”

“Tentu,” jawab ibunya.

“Jika demikian, aku akan mengirimkan beberapa orang cantrik untuk belajar menenun disini,” berkata Risang kemudian.

Tetapi ibunya menggeleng sambil berdesis, “Apakah di padepokanmu kau dikenal sebagai anak dari Sembojan?”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa diriku harus dirahasiakan ibu?”

“Serba sedikit kau sudah mengetahui Risang,” jawab ibunya, “namun pada suatu saat kau akan mengerti seluruhnya.”

“Ibu, jika seperti yang ibu katakan, ada orang yang menginginkan kematianku, kenapa aku harus bersembunyi? Kenapa tidak kita biarkan saja orang itu datang untuk mencoba membunuhku sehingga dengan demikian mereka akan dapat kita tangkap?” bertanya Risang.

Iswari mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa Risang tumbuh semakin besar. Nalarnya menjadi semakin panjang, sehingga ia mulai mengurai dan menghitung langkah-langkah yang pernah dilakukannya.

“Risang,” berkata Iswari, “ternyata kau menjadi semakin dewasa. Baiklah. Pada satu kesempatan, kita akan berbicara tentang dirimu. Seperti yang baru saja aku katakan, kau akan mengerti seluruhnya. Tetapi sesuai dengan takaran perkembangan umurmu.”

Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud ibunya. Ia pun menyadari, betapa ia memaksa, namun yang oleh ibunya dianggap belum waktunya dikatakan kepadanya, maka ibunya tentu tidak akan mengatakannya.

Sementara itu untuk mengalihkan pembicaraan, maka ibunya pun berkata, “Risang. Aku minta kau datang kali ini, sebenarnyalah aku memang ingin berbicara denganmu tentang beberapa hal yang penting yang harus kau ketahui. Namun selain itu, maka aku pun ingin tahu, kemajuanmu dibidang olah kanuragan. Aku ingin mengetahui tataran kemampuanmu selama ini. Dengan demikian aku dapat mengatur sampai sejauh mana aku dapat berbangga dengan anakku.”

“Ah ibu,” desah Risang, “ilmuku tentu masih sangat jauh dari harapan ibu. Namun aku sudah bekerja bersungguh-sungguh. Aku telah mempergunakan waktuku sesuai dengan takaran yang memang diberikan bagiku. Karena menurut kakek, jika aku memaksa diri melampaui takaran, maka aku justru akan mengalami kesulitan.”

“Kau benar Risang,” jawab ibunya, “kau harus dapat mengukur kekuatan dasar tubuhmu, umurmu dan tataran-tataran ilmu yang kau panjat. Dengan demikian kau akan meningkat dengan wajar dan lancar. Tanpa merusak tubuhmu sendiri, tetapi juga tidak terlalu lambat.”

“Aku sudah mencoba mengikuti semua petunjuk. Tetapi agaknya aku memang kurang cepat menangkap pengetahuan yang diberikan kepadaku. Bukan saja olah kanuragan. Tetapi juga pengetahuan yang lain.” jawab Risang.

“Aku senang mendengar jawabmu. Itu lebih baik dari pada kau berkata sebaliknya. Aku akan menjadi sangat berprihatin jika kau berkata kepadaku, bahwa kau sudah menguasai ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak. Tetapi pengakuanmu itu merupakan cambuk yang baik bagimu, sehingga kau akan bekerja lebih baik lagi dimasa-masa mendatang,” berkata ibunya.

“Terima kasih ibu. Tetapi ibu tidak usah memujiku. Aku akan menjadi bingung,” sahut Risang.

Ibunya tertawa. Katanya, “Besok, jika kau sudah beristirahat, kau akan berada di sanggar bersama ibu.”

Risang mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa ibunya bersungguh-sungguh bagaimanapun sikapnya. Karena itu, maka ia harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia harus menunjukkan apa adanya, agar ibunya tidak salah menilai tentang dirinya. Ibunya harus tahu tepat, di tataran manakah ia berada pada saat itu.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh ibunya, Risang tidak perlu tergesa-gesa untuk memasuki sanggar.

Demikianlah, beberapa saat kemudian maka Iswari pun berkata, “Nah Risang. Sekarang kau boleh beristirahat atau melihat-lihat isi rumah dan halaman ini yang telah lama kau tinggalkan. Tetapi aku minta kau tidak meninggalkan halaman rumah ini.”

“Apakah aku tidak boleh keluar dari halaman?” bertanya Risang.

“Hanya sekarang ini,” berkata ibunya lalu, “kau perlu beristirahat, Risang.”

Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah maka Bibi pun telah mengajak Risang keluar dari ruang dalam untuk menghadap ketiga orang kakek dan neneknya. Sementara itu Iswari mendapat keterangan yang lebih terperinci dari Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar.

“Orang-orang itu sangat berbahaya bagi Risang,” berkata Sambi Wulung.

“Apakah mereka mengetahui bahwa kalian orang-orang Tanah Perdikan ini?” bertanya Iswari.

“Tidak,” jawab Sambi Wulung, “kami mengaku orang-orang Pajang yang berdagang berkeliling. Gandar telah berusaha untuk meyakinkan mereka. Tetapi nampaknya mereka kurang percaya.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun akhirnya mereka memang menarik satu kesimpulan bahwa orang-orang yang mencegat mereka tentu mengira bahwa mereka adalah Sembojan. Jika demikian maka tidak mustahil, bahwa ada diantara mereka yang sudah menduga, anak muda yang bersama mereka adalah Risang.

“Tetapi Risang bukan anak-anak lagi,” berkata Gandar ia sudah mempunyai nalar yang semakin berkembang. Sementara itu ia pun telah memiliki bekal meskipun belum cukup tinggi, ilmu kanuragan yang dapat melindungi dirinya.”

Iswari mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Meskipun demikian aku tidak akan pernah membiarkan Risang keluar seorang diri dari halaman rumah ini.”

Gandar mengangguk kecil. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun mengangguk-angguk pula.

Demikianlah, maka disisa hari itu, Risang memang tidak pergi kemanapun. Ia bersama Bibi berada di serambi samping. Tetapi di malam hari, Risang tidak lagi mau tidur ditunggui siapapun lagi. Ia sudah merasa cukup dewasa dan tidak lagi takut tidur sendiri.

Di hari berikutnya, sebenarnyalah Iswari ingin melihat tataran kemampuan anak laki-lakinya. Karena itu, setelah makan pagi, ibunya berkata kepadanya, “Risang. Nampaknya kau memang memerlukan kesibukan agar kau tidak merasa jemu disini. Apakah kau bersedia pergi ke sanggar hari ini? Kita dapat bermain-main barang sejenak.”

“Tentu ibu,” jawab Risang, “bukankah dengan demikian aku tidak akan pergi ke mana-mana?”

“Ah. Bukan itu Risang,” berkata ibunya, “meskipun aku memang masih ingin memperingatkan agar kau berhati-hati disini setidak-tidaknya untuk saat-saat pendek ini, tetapi aku memang ingin melihat tingkat kemampuanmu.”

Risang tertawa pendek. Katanya, “Aku mengerti ibu. Aku tidak bersungguh-sungguh. Orang-orang yang mencegat kami diperjalanan menjelang pintu gerbang Tanah Perdikan itu tentu mengganggu ketenangan ibu. Apalagi dihubungkan dengan persoalan-persoalan yang timbul akhir-akhir ini meskipun aku belum tahu dengan jelas.”

“Kau akan mengetahuinya Risang,” berkata ibunya, “tetapi kita hari ini akan bermain di sanggar.”

Sebenarnyalah bahwa Risang memang menjadi gembira meskipun sedikit berdebar-debar. Ia menjadi cemas, bahwa ibunya akan kecewa melihat kemajuannya yang dapat dianggap lamban.

“Tetapi aku sudah berupaya sebaik-baiknya,” berkata Risang didalam hatinya.

Demikianlah, setelah bersiap-siap beberapa saat di dalam sanggar, maka Iswari telah minta kepada ketiga orang gurunya untuk hadir pula didalam sanggar.

“Guru,” berkata Iswari, “kami akan bermain sejenak untuk mengetahui tingkat kemampuan cicit guru ini.”

Ketiga orang tua-tua itu mengangguk-angguk. Kiai Badra yang mengusap kepala anak itu berkata, “Lakukanlah sebaik-baiknya.”

“Kakek terlalu lama meninggalkan aku,” desis risang.

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Ada masalah yang harus aku selesaikan. Besok, jika kau kembali ke padepokan, aku akan menyertaimu.”

“Betul kek,” Risang menegaskan.

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Tentu. Aku akan beristirahat di padepokanmu yang sejuk dan tenang itu.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Risang sudah bersiap. Sebelum ia harus berlatih bersama ibunya, maka Risang diminta untuk berlatih seorang diri. Dengan demikian maka akan nampak tataran ilmunya sehingga ibunya nanti akan dapat menyesuaikan diri.

Beberapa saat Risang memusatkan nalar budinya ditengah-tengah sanggar. Kemudian perlahan-lahan tangan dan kakinya mulai bergerak. Gerakan-gerakan yang ringan untuk memanasi darahnya.

Ia sekedar berloncat-loncat. Tangannya bergerak dengan ringan dan kadang-kadang tergantung lepas. Unsur-unsur gerak yang masih mendasar sekali. Namun yang semakin lama semakin cepat. Bahkan setelah darahnya menjadi agak panas, Risang mulai dengan unsur-unsur gerak yang semakin keras dan rumit.

Risang memang ingin menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Ia tidak akan memaksa diri untuk melakukan lebih dari yang memang sudah dikuasainya. Ia tidak mau memberikan gambaran yang tidak sewajarnya kepada ibunya.

Untuk beberapa saat Iswari memperhatikan setiap unsur gerak yang ditunjukkan oleh Risang dengan sungguh-sungguh. Namun ternyata bahwa unsur gerak itu telah mengalami beberapa pengaruh yang agaknya sulit untuk dihindari. Risang berada cukup lama bersama Sambi Wulung, Jati Wulung dan terakhir Gandar. Karena itu dalam latihan-latihan yang dilakukan, Risang tidak saja mengenali unsur-unsur gerak yang pernah diajarkan oleh kakeknya, Kiai Badra, tetapi juga dipengaruhi oleh orang-orang yang sangat dekat dengan dirinya itu. Terutama Gandar.

Tetapi Iswari adalah orang yang berhati longgar. Ia tidak merasa dirugikan dengan pengaruh itu. Ia justru melihat unsur-unsur gerak Risang menjadi lebih padat dan hidup, karena bagaimanapun juga, dasar dari ilmu Risang adalah ilmu yang diturunkan oleh Kiai Badra, sebagaimana ilmu yang dikuasai oleh Iswari.”

Dengan demikian, maka Risang memang telah dipersiapkan pada suatu saat untuk menerima ilmu Janget Kinatelon sebagaimana yang telah dikuasai oleh Iswari. Ilmu yang mempunyai tingkat yang sangat tinggi. Inti ilmu dari tiga jalur perguruan yang luluh menyatu.

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka pun memperhatikan tata gerak Risang dengan saksama. Merekapun, melihat beberapa unsur yang agaknya merupakan pengaruh dari unsur gerak jalur perguruan yang lain. Tetapi terasa wajar dan tidak mengganggu.

Bahkan mereka melihat bahwa didalam mengungkapkan ilmu yang pernah dipelajarinya, nampak sedikit pengalaman membayang dan memberikan warna yang masih samar-samar. Perkembangan telah mulai nampak disamping pengaruhnya.

Ketiga orang tua itu melihat kemungkinan yang baik dimasa depan bagi Risang. Meskipun mereka pernah mendapat laporan tentang perkembangan ilmu dan kedewasaan jiwa Puguh, namun mereka tetap berpengharapan agar Risang tidak berada pada tataran dibawah tataran kemampuan Puguh.

Meskipun ketiganya tidak menanamkan benih permusuhan, tetapi mreka berharap bahwa pada suatu saat Risang tidak mengalami kesulitan. Sebagaimana Iswari mampu mengimbangi Warsi. Bagi ketiga orang tua itu, musuh memang tidak dicari. Tetapi diluar kehendak mereka, maka musuh itu datang tanpa dapat dihindari.

Demikianlah Risang telah menunjukkan kepada ibunya, tingkat kemampuannya yang sebenarnya. Dengan tangkasnya anak muda itu berloncatan, menggerakkan tangan dan kakinya sebagaimana ia menyerang, tetapi juga bagaimana ia harus menangkis serangan.

Meloncat dan berputar diudara, menggeliat dan dengan cepat melontarkan dirinya kembali demikian kakinya menjejak tanah.

Iswari mengangguk-angguk. Nampaknya pengetahuan dasar telah dikuasai benar-benar oleh Risang. Tenaganya cukup kuat dan penalarannya berjalan dengan baik dan cermat.

Semakin lama Risang bergerak semakin cepat. Ia tidak saja menunjukkan kemampuannya berlatih diatas lantai sanggar, tetapi ia mulai mempergunakan alat-alat yang ada didalam sanggar itu. Dengan ringannya ia meloncat keatas patok-patok batang pohon kelapa yang berdiri tegak dengan tinggi yang tidak sama. Ia berloncatan dari satu patok ke patok lainnya. Sekali-sekali sambil memperagakan bagaikan ia menyerang diatas patok-patok itu dan bagaimana ia menghindari dan menangkis serangan.

Bahkan meloncat, menggeliat dan beberapa kali berlari-larian diatas patok-patok itu. Namun kemudian Risang telah meloncat kepatok-patok yang lebih kecil yang terbuat- dari bambu petung, bahkan kemudian diatas patok-patok bambu wulung dan bambu ampel.

Ketiga orang kakek dan neneknya mengangguk-angguk. Namun mereka masih harus membuat pertimbangan-pertimbangan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang telah melihat kemampuan Puguh.

Tetapi ketiganya memang menganggap bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mempunyai gambaran tentang perbandingan ilmu antara Risang dan Puguh. Bukan saja disaat mereka melakukan latihan. Tetapi benar-benar dalam pertempuran yang sesungguhnya.

Dengan demikian maka mereka akan mempunyai bahan yang cukup untuk berbicara tentang tingkat ilmu Risang.

Namun ketiga orang-orang tua itu pun sadar, bahwa mereka tidak boleh terikat sekali kepada Puguh, seolah-olah kesulitan yang akan dihadapi Risang di sepanjang hidupnya hanya datang dari Puguh, anak Warsi.

“Anak itu harus mempunyai wawasan yang luas,” berkata Kiai Badra didalam hatinya.

Demikianlah, mereka telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dapat dilakukan oleh Risang. Bahkan kemudian Risang tidak saja bermain diatas patok-patok yang berdiri tegak, tetapi ia pun kemudian telah meloncat ke atas palang balok yang cukup panjang. Dengan tangkasnya Risang berloncatan diatas palang balok itu. Ternyata bahwa keseimbangan tubuh Risang memang cukup baik. Sehingga baik diatas palang balok maupun tonggak-tonggak kayu dan bambu, Risang tetap dapat mempertahankan keseimbangannya.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian Risang mulai mengendorkan tata geraknya. Semakin lama menjadi semakin lamban. Kemudian ia pun telah turun dan bergerak diatas lantai. Akhirnya gerakannya benar-benar hampir berhenti. Risang berdiri diatas kakinya yang renggang. Kemudian mengangkat kedua tangannya bersama-sama berulang kali sambil menarik nafas dalam-dalam. Terakhir Risang telah mengatupkan kedua telapak tangannya diatas kepala dan turun perlahan-lahan sampai ke dadanya.

“Bagus Risang,” hampir diluar sadarnya Nyai Soka berdesis.

“Terima kasih nek,” jawab Risang, “hanya itulah yang dapat aku lakukan.”

Iswari pun kemudian melangkah ketengah-tengah sanggarnya. Sambil tersenyum kemudian ia berkata, “Risang. Marilah kita berlatih. Aku ingin tahu pasti, apa yang dapat kau lakukan dalam olah kanuragan. Bukan sekedar menunjukkan unsur-unsur gerak yang manis. Tetapi juga penggunaannya.”

Risang mengangguk kecil. Namun ia pun menjadi berdebar-debar. Ia tahu bahwa ibunya memiliki ilmu yang tinggi. Namun ia belum pernah berlatih dengan sungguh-sungguh bersama ibunya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah bersiap. Risang yang sedang tumbuh itu, ternyata memiliki ketahanan tubuh yang sangat besar. Meskipun ia baru saja berlatih seorang diri dengan mengerahkan tenaga, namun nampaknya tenaganya masih saja utuh.

Sementara ibunya yang telah berkembang seakan-akan sedang mencapai puncak kemampuannya. Namun dengan hati-hati ibunya mengendalikan diri agar ia tidak membahayakan anaknya.

Sejenak kemudian maka Iswari pun berkata, “Bersiaplah Risang. Kita akan bermain sejenak.”

Risang tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar bersiap. Sementara itu Kiai Badra berkata, “Jangan ragu-ragu Risang. Ibumu tidak akan mengalami kesulitan meskipun kau tumpahkan semua kemampuanmu. Dengan demikian kami dapat mengetahui dengan tepat, tingkat kemampuanmu yang sebenarnya.”

Risang mengangguk kecil. Bagaimanapun juga, yang berdiri dihadapannya itu adalah ibunya yang tersenyum.

Karena Risang masih berdiam diri, maka ibunyalah yang mulai bergerak. Perlahan-lahan tangannya mulai menggapai dada anaknya.

Tetapi dengan gerak naluriah Risang telah mengelak. Dengan meloncat kecil kesamping, ia sudah dapat membebaskan diri dari sentuhan tangan ibunya.

Namun Iswari tidak membiarkan Risang terlepas dari jangkauannya. Dengan cepat pula Iswari meloncat memburunya. Sekali lagi tangannya menyerang dengan ayunan mendatar ke arah kening.

Tetapi sekali lagi Risang berhasil menghindarinya. Bahkan ia pun kemudian telah meloncat menyerang dengan kakinya.

Namun Risang masih nampak ragu-ragu. Karena itu, maka serangannya tidak menyentuh tubuh ibunya, meskipun dengan sengaja Iswari sama sekali tidak menghindarinya.

Katanya, “Risang. Jika kau masih saja ragu-ragu, maka latihan ini tidak akan berlangsung sebagaimana diharapkan untuk mengetahui tingkat ilmumu yang sebenarnya.”

Risang mengerutkan keningnya. Sementara itu ibunya berkata selanjutnya, “Bersiaplah. Aku akan benar-benar mengenaimu.”

Risang bergeser surut. Namun tiba-tiba saja ibunya telah meloncat demikian cepatnya. Dua jarinya telah menyentuh pundak Risang. Perasaan sakit memang telah menyengatnya, sehingga Risang sekali lagi bergeser surut.

Namun ketika sekali lagi Iswari menyerang, Risang telah berusaha untuk menangkis serangan itu. Bahkan sekaligus telah menyerang lambung ibunya dengan kakinya.

Iswari lah yang kemudian meloncat kesamping sehingga serangan Risang tidak mengenainya. Namun dengan cepat dan tangkas Iswari justru meloncat maju. Tiba-tiba saja telapak tangan Iswari telah menebah dada Risang.

Risang berdesah menahan sakit. Bahkan rasa-rasanya dadanya telah menjadi sesak. Karena itu, maka Risang terpaksa meloncat untuk mengambil jarak, agar ia dapat memperbaiki keadaannya.

Tetapi, Ibunya tidak memberinya kesempatan. Demikian Risang melenting mengambil jarak, ibunya pun telah meloncat memburunya.

Risang memang mengeluh didalam hati. Tetapi ia tahu, bahwa ibunya telah mendesaknya agar ia bersungguh-sungguh. Karena itu, maka untuk selanjutnya, Risang berusaha agar ia tidak saja menjadi sasaran serangan ibunya. Tetapi ia pun perlu menyerang untuk mengurangi tekanan.

Karena itu, ketika kemudian ibunya sekali lagi siap untuk meloncat memburunya, tiba-tiba saja dengan tidak diduga-duga, Risang lah yang telah meloncat kembali demikian kakinya menyentuh tanah disaat ia menghindar, menyerang dengan cepat, meskipun masih saja dibayangi oleh keragu-raguan, sehingga serangannya hampir tidak bertenaga.

Ibunya memang terkejut. Tetapi kematangannya bersikap telah mempersiapkannya untuk dengan cepat pula menghindari serangan itu. Bahkan ketajaman panggraitanya telah menangkap betapa lemahnya serangan Risang meskipun cukup cepat dan pada saat yang mapan.

Karena itu, maka untuk memaksa agar Risang berusaha meningkatkan latihannya, demikian Iswari menghindari serangan anaknya, maka tiba-tiba saja ia telah menyerang kembali. Demikian cepat dan didorong oleh kekuatan yang cukup besar, sehingga Risang terdorong beberapa langkah surut.

Risang memang tidak siap menghadapi kecepatan gerak ibunya. Karena itu, ia pun terkejut. Ia menyangka bahwa ibunya hanya akan menghindari serangannya saja. Namun tiba-tiba ibunya telah menyerangnya pula.

Dengan sudah payah Risang berusaha mempertahankan keseimbangannya. Hampir saja ia terjatuh karena hentakkan serangan ibunya itu. Namun ia berhasil bertahan dan tetap berdiri. Bahkan kemudian Risang pun telah berdiri tegak kembali.

Namun pada saat yang demikian serangan ibunya telah datang lagi. Cepat dan kuat. Ayunan tangan ibunya yang hampir saja menyambar telinganya, justru telah berdesing keras. Sambaran anginnya terasa menerpa kulitnya.

Risang sempat menarik kepalanya kesamping. Tangan ibunya hanya berjarak setebal daun dari telinganya. Jika telinganya tersentuh serangan itu, maka agaknya telinganya akan dapat terlepas.

Serangan-serangan yang semakin keras dan yang telah menyakiti tubuhnya meskipun tidak berbahaya, telah mendesak Risang untuk semakin bersungguh-sungguh. Dengan tangkasnya Risang telah berloncatan sebagaimana telah ditunjukkan pada saat ia berlatih seorang diri. Namun serangan-serangan Risang nampaknya masih belum dialasi dengan segenap tenaganya oleh keragu-raguan.

Tetapi ketika ibunya semakin mendesaknya dan semakin sering mengenai tubuhnya dan menyakitinya, maka Risang benar-benar merasa semakin didesak untuk lebih bersungguh-sungguh.

Beberapa saat kemudian, maka latihan itu berlangsung semakin cepat. Risang memang harus menyesuaikan dirinya. Ia harus bergerak semakin tangkas dan semakin kuat. Benturan-benturan yang semakin sering terjadi membuat Risang harus mengerahkan kekuatannya. Jika serangan-serangan yang kemudian sering dilakukan oleh ibunya benar-benar menyakitinya, maka mau tidak mau Risang memang harus menghentikan serangan-serangan itu, atau setidak-tidaknya menguranginya.

Dengan demikian maka latihan itu berlangsung semakin lama semakin cepat dan kuat. Serangan-serangan Risang pun menjadi semakin keras pula. Apalagi ketika beberapa kali ia selalu gagal menyentuh kulit ibunya, maka Risang pun menjadi semakin meningkatkan kemampuannya.

Iswari mulai melihat kesungguhan pada anaknya. Karena itu, maka ia pun mulai menuntun ketingkat-tingkat yang lebih tinggi dari kemampuan olah kanuragan.

Karena ibunya semakin meningkatkan ilmunya, maka untuk mengimbanginya, maka Risang pun telah melakukannya pula. Ia berloncatan semakin cepat dan tangkas. Bahkan kadang-kadang ia harus berputar diudara, berguling dan menyapu kaki ibunya. Tetapi Risang ternyata tidak mampu menyentuh ibunya. Justru semakin cepat ia bergerak, maka rasa-rasanya jarak serangannya dengan sasaran menjadi semakin jauh.

Namun dengan demikian, Risang menjadi semakin cepat bergerak. Tangannya berputaran, sementara kakinya berloncatan. Serangan-serangannya datang beruntun seperti ombak dilautan.

Tetapi tidak satu pun serangannya mampu menyentuh ibunya.

Iswari tertawa melihat Risang mulai bermandi keringat. Dengan nada tinggi ia berkata, “Marilah Risang. Lakukan apa yang dapat kau lakukan.”

Risang menjadi semakin cepat lagi bergerak. Serangannya datang menyambar-nyambar.

Namun Iswari tidak sekedar mentertawakan anaknya. Tetapi ia juga memberikan kesempatan agar anaknya percaya kepada diri sendiri. Karena itu, kadang-kadang ibunya telah mengendurkan geraknya. Bahkan kemudian sekali-sekali ibunya memberikan kesempatan serangan anaknya itu mengenainya.

Tetapi Iswari tetap meningkatkan ilmunya tataran demi tataran. Selapis demi selapis. Dengan demikian maka Iswari telah memaksa Risang mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada dirinya. Sejauh mana ia telah menyadap ilmu kanuragan.

Ketiga orang kakek dan nenek Iswari yang sekaligus menjadi gurunya telah menyaksikan latihan itu dengan sungguh-sungguh. Ternyata Risang bukan saja mampu mempertunjukkan unsur-unsur gerak yang mapan, tetapi ia pun mampu mengetrapkan dalam penggunaannya. Bahkan kadang-kadang Risang itu mampu menunjukkan kemampuannya mengatasi keadaan yang sulit dengan gerak yang tidak terduga. Ketika ia terdesak, maka tiba-tiba saja ia menemukan pemecahan yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Demikianlah maka latihan itu berlangsung semakin cepat, sehingga pada suatu saat, Risang memang telah sampai pada puncak kemampuannya. Ketika Iswari meningkatkan lagi ilmunya, maka Risang mulai mengalami kesulitan dan terdesak. Apalagi kadang-kadang Iswari telah menyentuhnya dan bahkan menyakitinya.

Karena itu, maka Iswari pun telah bertahan pada tataran yang tetap. Tetapi yang ingin diketahuinya kemudian adalah ketahanan tubuh Risang menghadapi pertempuran.

Dalam tataran yang seimbang, maka keduanya saling menyerang dan bertahan. Saling mendesak dan menghindar. Iswari menempatkan dirinya pada tataran yang sama dengan anak laki-lakinya berusaha untuk memancing Risang menuangkan ketajaman penalarannya. Kadang-kadang Iswari menyerang dengan cara dan kesempatan yang sama sekali tidak diduga oleh Risang. Namun dengan tangkas pula ia memecahkan kesulitannya sehingga Risang mampu meloncat, mengambil jarak untuk memperbaiki kedudukannya.

Ibunya hanya tersenyum didalam hati. Namun anak laki-laki itu memang menimbulkan harapan dihatinya, bahwa pada suatu saat ia benar-benar akan mampu menerima warisan ilmu Janget Kinatelon, sehingga ia akan dapat mengatasi kesulitan jika anak Warsi pada suatu saat menantangnya sebagaimana Warsi pernah dan bahkan mungkin masih akan menantangnya berperang tanding.

Namun Iswari masih saja bertempur terus, dengan kecepatan yang tidak berubah. Sementara Risang pun berusaha untuk tetap berada pada tatarannya.

Namun bagaimanapun juga, karena Risang harus mengerahkan segenap kemampuannya, maka rasa-rasanya kekuatannya pun tidak akan dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang terlalu panjang.

Tetapi pada saat tertentu, Iswari merasakan betapa daya tahan anaknya cukup tinggi. Ternyata pada batas yang diharapkan, Risang masih tetap menunjukkan kemampuan dan kecepatannya bergerak. Tenaganya masih belum menyusut dan gerakannya tidak mengendor.

Baru beberapa saat kemudian, setelah melewati saat yang diharapkan oleh ibunya, Risang benar-benar tidak dapat mempertahankan tingkat kekuatan dan kecepatan geraknya. Perlahan-lahan tenaganya nampak susut, sementara keringatnya mengalir seperti diperas dari tubuhnya.

Tetapi Risang tidak dapat berhenti sebelum ibunya menghentikan serang-serangannya. Meskipun tenaganya mulai susut, namun Risang masih berusaha untuk melindungi dirinya, karena sentuhan-sentuhan ibunya memang membuatnya merasa sakit.

Untuk beberapa saat ibunya masih menyerangnya. Namun ketika Risang menjadi semakin terdesak, maka Iswari pun mulai mengendorkan serangan-serangannya, sehingga akhirnya Iswari lah yang meloncat mengambil jarak.

Risang yang mulai kelelahan tidak memburunya. Tetapi ia bersiap untuk bertahan sambil berusaha mempergunakan kesempatan itu untuk sekedar beristirahat.

Tetapi ternyata bahwa ibunya tidak menyerang lagi. Namun kemudian sambil tersenyum bertanya, “Apakah kau sudah mulai lelah?”

Risang tidak menjawab. Ia mengerti bahwa ibunya mengetahui bahwa tenaganya sudah mulai susut meskipun ia masih mampu mempertahankan dirinya.

“Baiklah,” berkata Iswari kemudian, “kita beristirahat. Kita masih mempunyai waktu untuk berlatih lagi. Sementara itu kakek dan nenekmu telah melihat, sejauh manakah tingkat kemampuanmu.”

Risang berpaling kepada ketiga orang kakek dan neneknya. Namun ketiganya tidak mengatakan sesuatu selain tersenyum.

Tetapi sebenarnyalah bahwa ketiganya telah memperhatikan perkembangan ilmu Risang dengan saksama. Bahkan Kiai Badra pun melihat perkembangan ilmu anak itu, meskipun tidak terlepas dari pengaruh orang-orang terdekatnya.

Dengan demikian, maka latihan itu pun telah berakhir. Risang yang kemudian beristirahat duduk disebelah Kiai Badra yang bertanya kepadanya, “Kau masih meningkatkan kemampuan bidikmu?”

“Masih kek,” jawab Risang.

“Beristirahatlah sejenak. Kita akan berlatih lagi. Aku ingin mengetahui kemampuan bidikmu,” berkata Kiai Badra.

Risang tidak menjawab. Tetapi ia masih berusaha mengatur pernafasannya yang mulai terasa berdesakkan.

Beberapa saat dibiarkannya Risang beristirahat. Namun sementara itu Kiai Badra telah mengatur sasaran yang akan dikenai oleh Risang. Dua sasaran telah disiapkan. Sasaran bidik bagi lemparan tombak dan sasaran anak panah yang kecil.

Setelah siap, maka Kiai Badra pun mengambil busur dan anak panahnya serta sebuah tombak pendek.

“Berdirilah,” berkata Kiai Badra kemudian setelah Risang cukup beristirahat.

Risang pun kemudian telah bersiap. Di tangannya tergenggam sebuah tombak pendek. Ia terbiasa berlatih melontarkan tombak itu pada sasaran yang telah disiapkan. Bahkan dari punggung kuda.

Hampir melekat dinding yang dilapisi dengan onggokan jerami telah dipersiapkan sebuah tonggak yang dibalut dengan serabut kelapa. Tonggak yang akan menjadi sasaran lontaran tombak Risang.

Karena ruang yang tidak seluas sebuah padang rumput, maka Risang tidak dapat mempergunakan ancang-ancang yang cukup. Ia hanya sempat melangkah dua tiga langkah sebelum tangannya terayun melontarkan tombak di tangannya.

Namun Risang memang memiliki kemampuan bidik yang tinggi. Tombak yang meluncur dari tangannya telah mengenai sasarannya. Tonggak yang dibalut dengan serabut kelapa.

“Bagus Risang,” berkata Kiai Badra, “untuk meyakinkan bahwa itu bukan satu kebetulan sebaiknya kau mengulangi lagi.”

Risang pun kemudian mengulanginya. Ia telah melontarkan tombak itu sampai tiga kali. Dan ia telah dapat mengenainya dengan baik, sehingga orang-orang yang menyaksikannya tidak akan dapat menganggapnya sebagai satu kebetulan.

Demikian pula kemampuan bidiknya dengan mempergunakan busur dan anak panah. Sebuah sasaran yang kecil bergantung pada sebuah tali yang menyilang. Juga terbuat dari sabut kelapa sebesar jeruk peras.

Ternyata bahwa kemampuan Risang memang mengagumkan. Ia mampu mengenai sasarannya dengan baik.

Namun Kiai Badra masih juga berkata, “Kita akan melihat kemampuan bidikmu di sebuah padang yang agak luas. Disini jaraknya terlalu pendek, sehingga kemampuanmu itu masih belum meyakinkan.”

Risang tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk dalam-dalam.

Demikianlah, maka nampaknya orang-orang tua beserta ibunya telah puas dengan latihan-latihan itu. Mereka telah mendapat gambaran seberapa jauh tataran kemampuan Risang, yang menurut mereka nampaknya telah cukup. Kemampuan Risang telah berada pada lapisan yang lebih tinggi dari kemungkinan yang dapat dicapai oleh anak muda seumurnya. Bahkan ketahanan tubuh Risang agaknya lebih baik dari yang diharapkan oleh ibunya. Ia mampu bertempur pada jarak waktu yang cukup panjang sebelum kekuatan dan kemampuannya mulai menyusut.

Sejenak kemudian, maka Risang dan ibunya serta ketiga orang-orang tua itu pun telah keluar dari sanggar. Ternyata matahari telah jauh turun diarah Barat. Ternyata mereka sudah cukup lama berada disanggar tanpa terasa. Lebih dari setengah hari. Bahkan sampai lewat sore hari.

Setelah membenahi diri dan mandi di pakiwan, maka mereka pun telah berada diruang dalam untuk makan bersama-sama. Sementara yang lain agaknya telah makan lebih dahulu.

Sambil makan mereka sempat mengurai latihan-latihan yang dilakukan oleh Risang didalam sanggar. Namun mereka tidak hanya melakukannya sekali saja. Tetapi mereka masih akan melakukannya beberapa kali. Orang-orang tua itu bersama Iswari masih ingin mendapatkan keterangan dari Sambi Wulung dan Jati Wulung.

***

Sementara itu di tempat yang jauh, Puguh telah dipanggil oleh gurunya. Menjelang senja, Puguh yang telah mandi dan berbenah diri setelah melakukan latihan-latihan bersama gurunya didalam sanggar, telah pergi menghadap.

Puguh terkejut ketika ia melihat Ki Randu Keling duduk bersama gurunya di padepokan kedua.

 “Kemarilah Puguh,” berkata gurunya.

Puguh bergeser semakin mendekat. Sementara itu gurunya berkata, “Dengarlah, kakekmu akan mengatakan sesuatu. Tetapi kau sudah cukup besar untuk menerima persoalan-persoalan dengan sewajarnya dan mempertimbangkannya dengan nalar, bukan sekedar perasaan.”

Puguh mengangguk. Katanya, “Aku akan berusaha, Guru.”

 “Dengarlah Puguh,” berkata kakeknya, “aku diminta oleh orang tuamu untuk memanggilmu. Mereka ingin berbicara denganmu.”

 “Kenapa ayah dan ibu sudah agak lama tidak datang ke padepokan ini, kek?” bertanya Puguh.

 “Kau akan mengetahuinya nanti. Sebaiknya kau bersiap-siap untuk pergi bersamaku,” berkata Ki Randu Keling.

 “Kapan?” bertanya Puguh.

 “Sekarang.” jawab kakeknya.

Puguh pun kemudian berpaling kepada gurunya. Meskipun ia tidak mengucapkan pertanyaan apapun, namun gurunya seakan-akan dapat membaca isi hatinya. Karena itu maka gurunya pun berkata, “Aku juga akan pergi Puguh.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasa segan untuk pergi sendiri menghadap ayah dan ibunya. Jika ia pergi bersama gurunya, maka rasa-rasanya ia selalu dibayangi oleh perlindungannya. Rasa-rasanya ia merasa aman untuk bernaung padanya.

 “Berbenahlah. Apa yang akan kau bawa siapkanlah,” berkata gurunya.

 “Aku tidak akan membawa apa-apa,” jawab Puguh.

 “Mungkin selembar dua lembar pakaian,” berkata Ki Randu Keling.

 “Aku akan segera kembali,” jawab Puguh.

 “Jika orang tua berpendirian lain?” bertanya gurunya.

 “Tempatku disini bersama guru. Bahkan sebaiknya ayah menghapus saja padepokan kedua yang dibayangi oleh topeng-topeng maut ini. Apa sebenarnya gunanya?” berkata Puguh yang hatinya selalu gelisah.

 “Kau tidak usah mengatakannya dihadapan ayah dan ibumu. Sebaiknya kau mencoba mengerti perasaan mereka,” berkata Ki Randu Keling.

 “Sedangkan ayah dan ibu tidak pernah mau mengerti perasaanku,” jawab Puguh.

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Sementara gurunya berkata, “Sudahlah Puguh. Kau harus menjalani laku ini. Dengan demikian maka kau akan memiliki satu landasan hidup yang kokoh. Yang tidak akan mudah diguncang oleh siapapun. Bukan saja secara wadag. Tetapi juga secara jiwani.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah di dalam hatinya tumbuh perlawanan yang keras terhadap tata kehidupan disekitarnya yang dirasakannya tidak wajar. Keras dan kedua orang tuanya serta alat-alatnya selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain tanpa menghiraukan perasaan orang itu. Bahkan kepada dirinya, anak laki-lakinya sendiri.

Sementara itu Ki Randu Keling berkata, “Ibumu dalam keadaan yang kurang baik Puguh. Ia terluka parah. Meskipun luka-lukanya sudah menjadi semakin sembuh, tetapi agaknya ada sesuatu yang tidak menguntungkan baginya. Ilmu lawannya ternyata terlalu kuat sehingga nampaknya luka-luka ibumu telah menghunjam kebagian dalam tubuhnya, sehingga ia memerlukan waktu yang lama untuk memulihkan kembali kekuatan dan kemampuan ketataran puncak yang pernah dicapainya. Karena itu kau harus melihatnya. Mudah-mudahan kehadiranmu akan dapat sedikit menyejukkan hatinya. Bagaimanapun juga, kau adalah anak laki-lakinya.”

 “Kedua orang tuaku sudah mempunyai anak yang lain kecuali aku,” berkata Puguh, “mungkin harapan kedua orang tuaku akan dapat dipenuhi oleh adikku. Tidak oleh aku.”

 “Jangan berkata begitu,” sahut gurunya, “kau harus dapat memberikan harapan kepada orang tuamu.”

 “Aku tahu Guru. Jika ayah dan ibu karena sesuatu hal tidak kuasa lagi memaksakan kehendaknya kepada orang lain, maka aku akan dipaksanya tanpa menghiraukan perasaanku sendiri untuk melakukannya. Memaksa orang lain. Bahkan jika perlu dibunuh,” berkata Puguh.

 “Puguh,” potong Ki Randu Keling, “sebaiknya kau jaga mulutmu. Kau dapat membuat ayah dan ibumu marah sekali sehingga mereka dapat berbuat sesuatu yang tidak kau duga sebelumnya.”

 “Aku sudah menduga kakek. Orang yang tidak mau menuruti keinginan mereka akan disingkirkan. Termasuk aku. Bukankah kakek akan berkata begitu?” bertanya Puguh.

 “Cukup Puguh,” gurunya membentak, “jika kau masih mengakui aku sebagai gurumu, kau tidak akan berlaku seperti itu dihadapan kedua orang tuamu. Bagaimanapun juga mereka adalah orang tuamu. Ayah dan ibumu.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah dilakukannya. Apa pula yang pernah dikatakan dan diajarkan oleh gurunya tentang laku baik dan buruk. Namun ayahnya telah mendorongnya untuk pergi ke Song Lawa atau pergi ke tempat-tempat gelap yang lain. Sekali-sekali mengganggu ketenangan padukuhan dan menakut-nakuti orang yang sadar atau tidak sadar memasuki lingkungan terlarang, menurut batasan yang diberikan oleh kedua orang tuanya itu sendiri.

Tetapi perlakuan kasar kedua orang tuanya terhadap Puguh sendiri membuat anak itu menentang meskipun hanya didalam hati.

Namun dalam pada itu, kakeknya pun berkata, “Puguh. Aku akan bermalam di padepokanmu ini semalam. Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat bersama-sama menjumpai kedua orang tuamu.”

 “Dimana ayah dan ibu sekarang kek. Ada dirumah kakek?” bertanya Puguh.

 “Mereka berada disatu tempat,” jawab Ki Randu Keling, “besok kau akan mengetahuinya.”

 “Kenapa ayah dan ibu hidup dalam suasana yang kacau seperti itu? Bersembunyi dan rasa-rasanya sama sekali tidak wajar,” berkata Puguh. Lalu, “Kenapa orang lain dapat hidup wajar. Tinggal disatu tempat tanpa takut menyatakan dirinya. Tidak selalu dikejar-kejar oleh pertentangan dan permusuhan. Disore hari dapat duduk bersama keluarganya diserambi rumahnya sambil mendengarkan suara burung berkutut atau burung dari jenis yang lain. Atau berkelakar dengan gembira tanpa kerut merut didahi. Kenapa keluargaku tidak dapat berbuat seperti itu?”

 “Sudahlah Puguh,” potong gurunya, “aku ulangi lagi kata-kataku. Jangan kau memancing persoalan dihadapan orang tuamu. Jika demikian, maka itu berarti kau tidak mengakui aku lagi sebagai gurumu. Jika ayahmu kecewa terhadapmu, maka ia tentu akan kecewa kepadaku. Mungkin kau akan diserahkan kepada guru yang lain. Meskipun mungkin gurumu yang baru itu lebih sesuai bagi kedua orang tuamu dan bagimu, karena orang baru itu akan mengajarimu cara membunuh yang paling baik tanpa menggetarkan jantung. Bagaimana mencelakai orang lain tanpa merasa bersalah. Dan bagaimana menghancurkan tata kehidupan tanpa ragu-ragu.”

Puguh menundukkan kepalanya. Hal itu memang mungkin terjadi. Karena itu, maka ia memang berusaha untuk tidak melakukannya dihadapan ayah dan ibunya nanti.

 “Mudah-mudahan aku mampu menahan diri untuk tidak berkata sesuatu tentang gejolak perasaanku ini,” berkata Puguh didalam dirinya sendiri.

 “Sudahlah,” berkata gurunya, “sekarang tidurlah. Besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali.”

 “Aku akan tidur di padepokan pertama guru,” berkata Puguh.

 “Baik. Tetapi pesanlah kepada peronda malam ini agar kau dibangunkan di dini hari,” berkata gurunya.

 “Ya Guru,” jawab Puguh.

 “Sekarang pergilah ke padepokan pertama,” berkata gurunya.

Puguh pun telah minta diri pula kepada gurunya. Kemudian meninggalkan tempat itu dan berjalan menyusuri jalan sempit yang menghubungkan kedua bagian dari padepokan itu.

Ketika Puguh berbaring di biliknya, maka terbayang kembali keterangan gurunya tentang ibunya yang luka parah dalam satu perang tanding. Pada saat purnama penuh ibunya telah bertempur melawan seorang perempuan yang ternyata ilmunya melampaui ilmu ibunya.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati, “Seperti kata guru. Betapapun tinggi ilmu seseorang, namun pada suatu saat tentu ada orang lain yang mampu mengatasinya. Bahkan seorang yang ilmunya seakan-akan tidak terkalahkan, akan dapat ditundukkan oleh orang yang dianggap tidak berilmu sama sekali.”

Ternyata Puguh tidak segera dapat tidur. Ia mulai membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya tentang dirinya.

Tetapi seperti biasa Puguh telah siap mendengar makian yang kasar. Umpatan yang tidak pantas diucapkan dan bahkan kadang-kadang ujung telunjuk ibu atau ayahnya menyentuh hidung atau matanya dengan gemetar dalam kemarahan yang tidak diketahui sebabnya.

Namun ketika malam menjadi semakin malam, Puguh itu akhirnya tertidur juga meskipun dengan mimpi yang buruk, setelah ia berpesan kepada orang yang bertugas meronda untuk membangunkannya menjelang dini hari.

Sebenarnyalah di dini hari tiga orang telah meninggalkan padepokan kedua untuk menuju ke satu tempat yang tidak diketahui oleh Puguh untuk menemui kedua orang tuanya. Tempat yang memang dirahasiakan, karena Ki Randu Keling sudah memperhitungkan bahwa orang-orang yang telah bekerja bersama dengan Ki Rangga itu akan dapat menuntut keduanya.

Ki Randu Keling dengan ketajaman panggraitanya dapat membayangkan apa yang terjadi di medan itu setelah ia mendengarkan ceritera dari Ki Rangga dan Warsi sendiri serta apa yang disaksikannya dari jarak yang tidak terlalu dekat.

Ki Rangga dan Warsi saat itu telah meninggalkan pasukannya dan melakukan perang tanding tanpa menghiraukan orang-orang lain yang bekerja bersamanya atau orang-orang yang justru telah dibawanya.

Mungkin para pengikut Kalamerta tidak akan berani menuntut apapun juga. Tetapi tentu lain dengan para bekas prajurit Jipang. Mereka tentu mempunyai sikap yang lain sebagaimana sikap Ki Sumbaga.

Karena itu, selagi Warsi belum siap menghadapi mereka, maka ia perlu bersembunyi di satu tempat yang rahasia sehingga tidak seorang pun dapat menemuinya untuk kepentingan apapun juga. Termasuk orang-orangnya.

Pada saat matahari terbit, mereka bertiga sudah berada cukup jauh dari padepokan mereka. Mereka menyusuri jalan-jalan sempit dan bahkan kadang-kadang menyusuri pematang yang panjang.

Puguh sudah sering menempuh perjalanan panjang. Karena itu maka perjalanan yang dilakukannya tidak banyak menarik perhatiannya. Sawah, pategalan dan padukuhan-padukuhan sudah sering di laluinya dalam perjalanan-perjalanan yang pernah dilakukan. Namun demikian, Puguh masih merasa bahwa ia belum tahu apa yang sebenarnya ada didalam padukuhan-padukuhan itu, karena ia merasa bahwa hidupnya bukannya kehidupan yang wajar.

Semakin ia merasa terasing dari pergaulan hidup wajar, maka ia merasa semakin asing pula dari kedua orang tuanya, karena ia merasa bahwa orang tuanyalah yang telah mengasingkannya dari kehidupan wajar.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi dan panasnya mulai menggigit kulit, maka Puguh itu pun bertanya, “Kemana kita sekarang pergi kek?”

 “Memang ketempat yang sangat dirahasiakan,” berkata Ki Randu Keling, “jika orang-orang yang kecewa oleh kegagalan di Tanah Perdikan itu menemukan kedua orang tuamu, maka akan dapat timbul persoalan tersendiri. Apalagi ibumu belum pulih sama sekali.”

 “Jadi dimana kedua orang tuaku itu disembunyikan?” bertanya Puguh, “apakah sampai sekarang aku masih juga belum boleh mengetahuinya?”

Ki Randu Keling termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Bersembunyi yang paling baik bagi kedua orang tuamu adalah justru didalam Kota Pajang.”

 “Di Pajang? Jadi kita akan masuk ke Kotaraja?” bertanya Puguh.

 “Ya,” jawab Ki Randu Keling.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ada kegembiraan dihatinya, karena ia akan mendapat kesempatan untuk tinggal di Kotaraja beberapa lama, meskipun ada juga kecemasan bahwa ia akan segera bertemu dengan kedua orang tuanya yang sangat keras dan garang terhadapnya.”

Ketika matahari berada di puncak langit, maka mereka telah beristirahat di sebuah kedai yang tidak begitu besar di sebuah padukuhan. Di ujung pedukuhan itu terdapat sebuah pasar yang sudah menjadi semakin sepi. Bukan saja karena hari menjadi semakin siang, tetapi hari itu memang bukan hari pasaran sehingga pasar itu memang tidak begitu ramai sejak pagi.

Namun tiba-tiba yang tidak dikehendaki telah terjadi. Empat orang yang berwajah garang, yang sudah ada didalam kedai itu, tiba-tiba memperhatikan ketiga orang itu dengan saksama.

Puguh mula-mula tidak memperhatikan mereka, sebagaimana kakek dan gurunya. Namun ketika sekali ia memandang wajah seorang diantara mereka, tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang.

Apalagi ketika orang itu telah meloncat bangkit dan berdesis, “Puguh. Bukankah kau anak Rangga Gupita dan Warsi yang tidak bertanggung jawab itu.”

Kakek dan gurunya pun terkejut. Sementara dengan tangkas Puguh pun telah berdiri pula.

 “Jangan ingkar,” berkata orang itu, “kau tentu Puguh. Aku sudah pernah melihat kau sekali disarang ayah dan ibumu.”

Jantung Puguh semakin bergetar. Tetapi tidak ada niatnya untuk ingkar. Kemudaannya telah mendorongnya untuk menjawab, “Ya. Aku Puguh.”

Kakek dan gurunya sudah menduga, bahwa Puguh tidak akan mengingkarinya. Namun dengan demikian maka mereka akan menghadapi persoalan.

Karena itu, maka gurunya pun kemudian berkata, “Puguh. Kita tinggalkan tempat ini.”

Puguh termangu-mangu. Tetapi orang yang mengenalinya itulah yang berteriak, “Apa? Kau akan meninggalkan tempat ini begitu saja? Tidak. Aku memerlukan anak itu.”

 “Kita dapat berbicara di tempat lain Ki Sanak. Kita sebaiknya tidak mengganggu kedai ini. Jika kita berbicara disini, maka mungkin sekali orang-orang akan menjadi ketakutan untuk singgah di kedai ini. Bukankah hal itu akan sangat merugikan pemilik kedai ini.”

 “Persetan. Aku tidak peduli,” geram orang itu.

Tetapi ketiga orang itu tidak menghiraukannya. Ki Ajar Paguhan telah menarik Puguh untuk keluar dari kedai itu diikuti oleh Ki Randu Keling.

 “Kenapa kita harus menghindar?” bertanya Puguh.

 “Aku tidak mau pemilik kedai itu mengetahui persoalan ini. Ia akan dapat menjadi sumber keterangan tentang kau dan sudah tentu ayah dan ibumu,” berkata gurunya.

 “Tetapi aku tidak akan mengatakannya meskipun aku harus mati,” geram Puguh.

 “Kita menempuh jalan yang terbaik.” jawab gurunya.

Namun dalam pada itu, empat orang yang berada didalam kedai itu telah menyusulnya. Bahkan sambil berkata lantang, “Jangan lari.”

Beberapa orang yang mendengar keributan itu disekitar kedai telah bergegas turun ke jalan. Mereka melihat empat orang sedang berjalan tergesa-gesa menyusul tiga orang yang lebih dahulu meninggalkan kedai itu.

Namun guru Puguh telah mengajaknya berlari.

Puguh memang segan melakukannya. Tetapi gurunya telah membentaknya, “Lakukan perintahku.”

Karena itu, maka mereka pun menjadi saling bekejaran. Demikian ketiga orang yang dikejar itu keluar dari padukuhan, mereka segera meniti pematang yang panjang menuju ke pategalan.

Keempat orang itu pun tidak mau kehilangan buruannya. Mereka telah mempercepat langkah mereka. Namun ternyata bahwa ketiga orang yang mereka kejar itu pun mampu berlari cepat.

Tetapi mereka tidak harus bekejaran terlalu lama. Ketika mereka sampai disebuah pategalan yang sepi, maka ketiga orang itu pun telah berhenti.

 “Apa yang harus kita lakukan Ki Randu Keling?” bertanya guru Puguh sebelum keempat orang yang mengejarnya sampai ke pategalan.

Tetapi sebelum Ki Randu Keling sempat menjawab, orang-orang itu telah berloncatan mengepung mereka dari empat arah.

 “Kami tidak akan melarikan diri,” berkata Ki Randu Keling.

 “Kenapa kau lari sampai ketempat ini?” bertanya orang yang telah mengenal Puguh.

 “Kami mencari tempat yang tidak akan mengganggu orang lain. Tempat ini sepi. Nah, apa yang akan kau lakukan sekarang?” bertanya Ki Randu Keling.

 “Kami ingin tahu dimana Ki Rangga Gupita dan isterinya bersembunyi. Puguh adalah anaknya. Aku akan mengambilnya. Anak itu tidak akan aku lepaskan jika bukan ayahnya sendiri yang mengambilnya,” berkata orang itu.

 “Kau sangka aku apa?” bertanya Puguh dengan marah, “kau kira akan membiarkan diriku kau bawa? Kau kira aku tidak akan dapat melawan dan bahkan membuat kalian menyesal.”

 “Anak iblis,” geram prang itu, “aku harus tahu dimana ayah dan ibumu bersembunyi setelah kegagalan itu. Keduanya harus bertanggung jawab. Bukan malah bersembunyi.”

 “Tetapi kalian juga tidak bertanggung jawab,” potong Ki Randu Keling, “jika kalian tahu, isteri Ki Rangga terlibat dalam perang tanding, kenapa kalian dengan tergesa-gesa menarik diri?”

 “Ah kau tahu apa orang tua,” geram orang itu.

 “Aku ada dimedan saat semua orang terbirit-birit meninggalkan medan membiarkan Ki Rangga dan isterinya menghadapi lawan-lawan mereka,” berkata Ki Randu Keling.

 “Salah mereka berdua,” geram orang itu, “seharusnya mereka menyatukan diri pada seluruh kekuatan yang ada di medan.”

 “Satu perhitungan yang bodoh,” sahut Ki Randu Keling, “apakah mereka harus membiarkan saja jika Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu mengamuk diantara orang-orangnya? Ketika ia menempatkan diri melawannya, maka seakan-akan telah terjadi perang tanding. Dalam keadaan yang demikian Ki Rangga memang harus melindunginya, karena para pengawal Tanah Perdikan akan dapat membunuh Warsi itu dengan diam-diam dari belakang disaat perhatiannya tertuju kepada lawannya.

 “Persetan,” geram orang itu, “tetapi pasukannya menjadi kacau balau dan tidak mendapat pimpinan sewajarnya.”

 “Kenapa kalian tidak menyalahkan para pemimpin yang diserahi pimpinan atas kelompok-kelompok besar pasukan kalian?”

 “Persetan,” geram orang itu, “Kami adalah empat orang Putut dari padepokan Ki Ajar Tulak. Salah seorang pimpinan sayap pada pasukan Ki Rangga. Kami adalah Putut tertua yang mendapat tugas untuk menemukan Ki Rangga dan isterinya. Adalah kebetulan kami bertemu dengan anaknya.”

 “Tetapi kami pun sedang mencarinya,” berkata Ki Randu Keling.

Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Sementara Ki Randu Keling berkata selanjutnya, “Apakah kau tidak mendengar, bahwa sesaat setelah Warsi dikalahkan oleh Iswari, maka datang beberapa orang mengambilnya?”

 “Hanya dua orang,” jawab orang itu.

 “Sayang, aku mendengarnya bahwa beberapa orang,” jawab Ki Randu Keling.

 “Hanya dua. Ternyata kau adalah orang yang sangat dungu tetapi merasa dirimu lebih tahu dari setiap orang,” geram orang itu.

 “Aku tidak peduli berapa orang yang datang mengambilnya. Nah, sekarang kami berusaha untuk mencarinya,” berkata Ki Randu Keling pula.

 “Aku tidak yakin bahwa anaknya tidak tahu dimana ayah dan ibunya berada,” orang itu masih membantah.

 “Bahkan aku merasa cemas, bahwa yang mengambil itu juga termasuk orang yang merasa dengki kepada mereka dan telah membunuh mereka pula,” berkata Ki Randu Keling.

 “Aku tidak peduli. Serahkan anak itu kepadaku. Pada suatu saat ayahnyalah yang harus mengambilnya. Sementara ia belum diambil oleh ayahnya, ia akan menjadi budak kami dan bekerja keras bagi kepentingan kami, termasuk membelah kayu, mencungkil kelapa kering yang kami buat menjadi minyak serta mengambil air di sumur yang memang cukup dalam. Dimusim sawah harus ikut membajak dan menanam dipadepokan,” berkata orang itu.

 “Persetan kalian,” teriak Puguh, “aku akan membunuh kalian semuanya.”

Orang itu tiba-tiba saja telah memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Agaknya tidak akan ada pembicaraan lagi. Sementara Ki Ajar Paguhan masih bimbang, apakah yang sebaiknya dilakukan menghadapi orang-orang itu. Orang-orang itu telah melihat Puguh sehingga orang-orang itu tentu akan berusaha untuk memanfaatkan Puguh sebagai alat menelusuri jejak ayah dan ibunya.

Ketika keempat orang itu bergeser semakin dekat, maka Puguh pun telah bersiap. Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.

 “Jadi kalian akan melawan?” bertanya orang itu.

 “Kami adalah laki-laki seperti kalian,” jawab Puguh.

 “Bagus,” berkata orang itu, “aku akan membunuh kedua orang tua yang tidak tahu diri itu. Kemudian membawamu ke padepokanku. Kedua orang tuamu yang tidak dapat diketemukan di sarang mereka yang mana pun itu harus mengambilmu. Jika tidak seumur hidupmu kau akan mengalami nasib sebagai budak yang malang.”

Puguh tidak menjawab lagi. Namun ia pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun sekali lagi guru Puguh itu berdesis, “Apa yang sebaiknya kita lakukan?”

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Satu keadaan yang sama sekali tidak kita duga sebelumnya. Aku tidak tahu, siapakah yang bernasib buruk sekarang ini. Kita atau orang-orang itu.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak merasa cemas melawan keempat orang itu meskipun ada kemungkinan yang sangat buruk dapat terjadi atas dirinya. Namun justru menjadi cemas karena ia harus mengambil penyelesaian yang barangkali tidak dikehendakinya.

Namun Ki Ajar tidak sempat merenung lebih lama lagi. Tiba-tiba saja keempat orang itu mulai bergerak sehingga karena itu, maka mereka yang ada di dalam kepungan itu pun harus mempersiapkan diri.

Seorang diantara mereka telah siap melawan Puguh. Seorang yang lain menghadapi Ki Ajar, sementara orang yang telah mengenal Puguh itu bersama seorang kawannya telah siap bertempur melawan Ki Randu Keling. Mereka mengira bahwa Ki Randu Keling adalah orang yang menentukan segala-galanya, sehingga karena itu, jika mereka segera dapat membunuhnya, maka yang lain akan dengan mudah dapat mereka kuasai.

Demikianlah maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran diantara mereka. Ki Randu Keling tidak ingkar melawan dua orang Putut sekaligus. Putut dari padepokan yang dipimpin oleh Ki Ajar Tulak, salah seorang kepercayaan Ki Rangga.

Keempat Putut dari padepokan Ki Ajar Tulak yang dengan kebetulan bertemu dengan Puguh itu pun telah bertempur dengan garangnya. Mereka adalah murid-murid tertua yang telah mendapat wewenang untuk ikut memberikan latihan-latihan kepada murid-muridnya yang lain. Para Putut itu telah memiliki sebagian besar dari ilmu Ki Ajar Tulak sendiri, sehingga dengan demikian, maka mereka pun memiliki ilmu yang tinggi.

Karena itu, dalam pertempuran yang terjadi kemudian, Puguh segera mengalami kesulitan. Putut yang melawannya adalah seorang Putut yang bertubuh tinggi ke kurus-kurusan. Namun Putut itu ternyata mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Namun Puguh sama sekali tidak gentar. Ia sadar, bahwa Putut itu tentu tidak akan membunuhnya. Putut itu tentu berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup. Dengan demikian maka Puguh itu justru menjadi semakin berani menghadapinya meskipun setiap kali tubuhnya telah dikenai oleh lawannya. Terdorong surut dan bahkan beberapa kali terbanting jatuh.

Tetapi ketahanan tubuh Puguh memang sangat tinggi. Berapa kali ia terbanting jatuh. Namun ia pun segera meloncat bangkit dan melawan kembali dengan kerasnya.

Lawannya memang menjadi heran melihat ketahanan tubuh anak muda itu. Namun dengan demikian, justru telah menimbulkan kegembiraan pada Putut itu. Rasa-rasanya ia telah mendapat kawan berlatih yang cukup, tangguh dari aliran perguruan yang lain.

Namun dalam pada itu, berbeda dengan Puguh yang terdesak terus, Ki Ajar Paguhan justru telah menguasai lawannya. Putut yang telah memiliki sebagian besar ilmu gurunya itu, tidak mampu untuk menempatkan dirinya sebagai lawan yang seimbang dari Ki Ajar Paguhan. Karena itulah, maka dalam waktu yang tidak lebih dari waktu yang diperlukan oleh lawan Puguh untuk menguasai medan, maka Ki Ajar Paguhan pun telah mendesak lawannya pula.

Namun sekali-sekali Ki Ajar Paguhan sempat melihat keadaan muridnya yang terdesak. Tetapi Ki Ajar Paguhan itu pun menyadari, bahwa Puguh tidak akan terbunuh dalam pertempuran itu.

Ki Randu Keling pun ternyata tidak terlalu mengalami kesulitan menghadapi kedua orang Putut itu meskipun ia harus mengerahkan tenaga tuanya. Namun ilmu Ki Randu Keling ternyata terlalu tinggi bagi kedua Putut itu meskipun keduanya telah memiliki hampir semua ilmu dari perguruannya.

Beberapa kali kedua lawannya menjadi bingung menghadapi unsur-unsur gerak Ki Randu Keling. Meskipun geraknya tidak sangat cepat, tetapi sering kali sama sekali tidak terduga-duga sehingga kedua orang lawannya itu pun seakan-akan telah kehilangan kesempatan.

Meskipun demikian, namun pertempuran itu pun menjadi semakin lama semakin sengit. Ketika kedua orang lawannya telah sampai kepuncak kemampuannya, maka Ki Randu Keling pun harus mengerahkan kemampuannya pula.

Dalam pada itu, Ki Ajar Paguhan ternyata tidak dapat membiarkan muridnya semakin mengalami kesulitan. Karena itu, maka ia telah berusaha untuk bergeser mendekatinya. Dengan kemampuan yang sangat tinggi, Ki Ajar telah berusaha untuk mendesak lawannya mendekati arena pertempuran antara Puguh dan seorang diantara keempat Putut itu.

Mula-mula lawan Ki Ajar itu tidak menyadari.

Namun kemudian baru ia mengerti maksud Ki Ajar itu, setelah Ki Ajar itu sempat meloncat mendekati Puguh dan berkata, “Kita bertempur bersama-sama.”

Puguh mengerti maksud gurunya. Karena itu, maka ia pun segera menempatkan dirinya dibelakang gurunya dan menghadap ke arah yang berlawanan.

Ternyata bahwa Puguh mampu menyesuaikan diri dengan tata gerak gurunya, sehingga dengan demikian maka keduanya dapat saling mengisi.

Kedua Putut yang bertempur melawan mereka pun segera mengatur diri pula. Mereka telah mengambil sikap yang lain. Karena Ki Ajar Paguhan dan Puguh saling beradu punggung, maka kedua Putut itu menghadapi mereka dari arah yang berlawanan. Keduanya berdiri pada jarak dua tiga langkah dari kedua orang yang berdiri diantara mereka.

Dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin seru.

Namun dalam pada itu, Ki Ajar Paguhan sempat pula mengamati tingkat kemampuan muridnya. Meskipun masih belum dapat mengimbangi Putut-putut murid Ki Ajar Tulak itu, namun Ki Ajar Paguhan mempunyai harapan yang besar terhadap muridnya itu. Dalam usianya yang masih sangat muda, nampak betapa ia mampu mencerna dan kemudian menuangkannya dalam benturan ilmu dengan orang yang sudah jauh lebih matang dalam olah kanuragan. Bukan saja karena umurnya, tetapi juga karena pengalamannya.

Sementara itu, Ki Randu Keling benar-benar telah berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Ketika kedua lawannya menarik senjata mereka, maka Ki Randu Keling benar-benar menjadi sangat marah.

Apalagi ketika ia mulai dibayangi oleh kemungkinan buruk yang dilakukan oleh orang-orang itu. Mereka tentu akan memberikan laporan kepada Ki Ajar Tulak tentang Puguh, anak Warsi yang dianggapnya juga anak Rangga Gupita.

Dengan demikian, maka usaha mereka untuk menemukan Ki Rangga akan mereka mulai dengan usaha untuk menemukan Puguh.

Memang tidak banyak yang mengetahui siapa Puguh sebenarnya. Hanya beberapa orang tahu bahwa Ki Rangga memanfaatkan Puguh untuk menuntut hak atas Tanah Perdikan Sembojan. Namun satu-satunya jalan adalah dengan membunuh anak Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Karena itu, persoalannya kemudian bukan saja hidup dan mati dalam pertempuran itu, tetapi juga bagi Puguh untuk saat-saat mendatang. Orang-orang itu akan dapat menjadi sumber bencana bagi Puguh. Puguh untuk selanjutnya tidak akan mendapatkan ketenangan, karena ia akan diburu oleh orang-orang yang sebenarnya mencari Ki Rangga Gupita dan Warsi yang telah disembunyikannya.

Dengan demikian, maka Ki Randu Keling telah sampai pada satu kesimpulan yang garang. Orang-orang itu tidak boleh meninggalkan arena pertempuran itu.

Ternyata senjata kedua orang lawan Ki Randu Keling itu telah mempercepat batas perlawanan mereka sendiri. Dengan tangkasnya Ki Randu Keling menghindari setiap serangan kedua lawannya. Sehingga pada suatu saat, adalah diluar perhitungan keduanya, bahwa Ki Randu Keling telah menyerang mereka seperti badai. Mereka tidak segera menyadari apa yang terjadi. Tetapi rasa-rasanya segulung angin prahara telah membentur mereka sehingga keduanya telah terputar dan dengan kepala yang sangat pening mereka telah membentur pepohonan di pategalan. Bukan hanya benturan itu saja yang telah membuat mereka tidak berdaya, tetapi ternyata Ki Randu Keling yang menyerang keduanya dengan putaran yang cepat sekali itu telah menghantam dada mereka, sehingga rasa-rasanya isi dada mereka telah rontok dari tangkainya.

Kedua orang itu memang tidak sempat mengadakan perlawanan. Namun mereka pun tidak menyadari, bahwa mereka telah sampai pada batas terakhir perlawanan mereka, karena benturan yang sangat keras pada batang-batang pepohonan serta hantaman pada dada mereka telah merenggut nyawa mereka.

Ki Randu Keling berdiri termangu-mangu. Sementara itu Ki Ajar Paguhan ternyata mempunyai kesimpulan yang sama. Bahkan sejak semula Ki Ajar Paguhan telah memikirkan kemungkinan seperti yang terjadi itu, demi ketenangan hidup Puguh. Anak itu sudah selalu digelisahkan oleh sikap kedua orang tuanya terhadap dirinya. Jika hidupnya kemudian akan mengalami kesulitan akibat kedua orang tuanya pula, maka anak itu akan semakin kehilangan kepercayaan kepada kedua orang tuanya. Bahkan anak itu akan dapat memusuhi mereka dan mengambil langkah-langkah yang tidak diharapkan.

Karena itu, maka Ki Ajar telah mendesak keragu-raguannya. Ia mencoba mengatasi perasaannya dengan penalarannya. Karena itu, maka yang terjadi kemudian adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Randu Keling. Kedua orang yang bertempur melawannya bersama Puguh telah terkapar pula di pategalan itu.

Puguh sendiri terkejut melihat sikap guru dan kakeknya. Bahkan dengan nada tinggi ia berkata, “Apakah mereka memang pantas untuk dibunuh?”

 “Ya,” jawab Ki Randu Keling, “betapa beratnya perasaan kami untuk melakukannya, tetapi cara ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan igauan mereka tentang Puguh, anak Ki Rangga Gupita dengan Warsi. Dengan demikian, maka untuk sementara kau tidak akan mengalami kesulitan. Tetapi jika mereka masih tetap hidup, maka mereka tentu akan selalu memburumu. Bukan hanya mereka berempat, tetapi seluruh padepokan dari keempat Putut itu. Bahkan mungkin kelompok-kelompok lain yang terlibat dalam pertempuran di bawah bukit di Tanah Perdikan Sembojan itu.”

Namun Puguh masih juga bertanya, “Bagaimana dengan pemilik kedai itu? Agaknya ia juga mendengar orang ini menyebut namaku dan nama ayah serta ibu. Bukankah ia dapat juga berceritera bahwa aku pernah nampak di daerah ini?”

 “Tidak terlalu sulit untuk diatasi,” berkata Ki Randu Keling.

 “Kakek juga akan membunuhnya?” bertanya Puguh.

 “Tidak. Tetapi pemilik kedai itu bukan seorang yang memiliki keberanian seperti para Putut itu.” jawab Ki Randu Keling.

Puguh masih belum mengerti, apa yang akan dilakukan oleh kakek dan gurunya terhadap pemilik kedai itu. Namun ia tidak bertanya lagi.

Sementara itu Ki Ajar Paguhan berkata, “Tugas kita sekarang adalah mengubur orang-orang ini. Kita tidak dapat membiarkan sosok-sosok mayat ini bertebaran begitu saja.”

 “Ya,” Ki Randu Keling mengangguk.

 “Dengan apa kita menggali kubur mereka?” bertanya Puguh.

 “Dengan apa saja,” jawab Ki Randu Keling.

Puguh mengangguk. Diluar sadarnya terbayang bagaimana ia telah membunuh pula orang-orang yang menemukannya bersama dua orang yang menyebut namanya Wanengbaya dan Wanengpati didekat topeng-topeng kecil yang dipasang oleh orang-orang yang menjadi pengikut kedua orang tuanya, juga untuk menghilangkan jejak.

Namun selagi ketiga orang itu bersiap-siap untuk melakukannya, tiba-tiba saja mereka mendengar suara ribut diluar pategalan. Ternyata beberapa orang padukuhan yang telah melihat tiga orang yang dikejar oleh empat orang berlari-lari masuk ke pategalan.

Orang-orang padukuhan itu memang ingin tahu apa yang telah terjadi di pategalan itu. Apalagi pategalan itu adalah pategalan mereka.

 “Ki Ajar,” desis Ki Randu Keling, “kita harus menghindar.”

 “Tetapi bagaimana dengan sosok mayat ini?” bertanya Ki Ajar Paguhan.

 “Nanti saja, setelah orang-orang padukuhan ini pergi,” jawab Ki Randu Keling. “Jika orang-orang padukuhan tidak menguburkan mereka.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk. Ia pun sependapat dengan Ki Randu Keling, bahwa sebaiknya orang-orang padukuhan itu tidak melihat mereka.

Karena itulah, maka Ki Ajar Paguhan telah mengajak Puguh untuk menyingkir bersama Ki Randu Keling. Mereka telah menyusup diantara pepohonan dan kemudian menghilang ditengah-tengah pategalan yang ditanami batang orok-orok yang sering dipergunakan untuk pupuk hijau.

Ketika orang-orang padukuhan itu memasuki pategalan, yang mula-mula mereka melihat adalah pepohonan yang rusak. Dahan-dahan yang berpatahan dan tanaman padi gaga yang hancur. Bahkan pohon-pohon perlindungan telah rusak sama sekali.

Orang-orang padukuhan itu mengumpat didalam hati. Apalagi orang yang memiliki pategalan tepat di ajang pertempuran itu. Dengan marah ia berkata lantang, “Iblis-iblis itu telah merusakkan tanamanku.”

Tetapi mulutnya segera terbungkam ketika ia melihat sosok mayat yang terbujur hampir terinjak kakinya.

 “Lihat,” orang itu berteriak, “sesosok mayat.”

 “Mana?” bertanya seorang diantara tetangga-tetangganya yang ada di pategalan itu.

 “Ini, disini,” jawab pemilik pategalan itu.

Beberapa orang telah bergeser mendekat. Tetapi seorang yang lain telah memekik karena terkejut. Kakinya telah terantuk mayat pula. Bahkan yang lain pun masih juga meneriakkan sosok-sosok mayat yang terkapar.

Ternyata semuanya ada empat sosok mayat.

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Menilik ujud dan pakaiannya, keempat orang itu tentu merupakan sekelompok orang yang sebelumnya telah mengejar tiga orang.

 “Ternyata orang-orang yang mengejar itulah yang terbunuh,” berkata salah seorang diantara mereka yang sempat melihat orang-orang itu bekejaran.

 “Ya,” sahut yang lain, “nampaknya mereka bukan orang kebanyakan. Jika demikian maka ketiga orang itu tentu orang-orang berilmu.”

Orang-orang yang berada di pategalan itu pun menjadi sibuk pula. Ternyata mereka pun tidak dapat membiarkan empat sosok mayat itu terkapar begitu saja. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu mulai membicarakan bagaimana mereka mengubur keempat orang itu.

 “Kita mengambil usungan di padukuhan. Kita akan membawa empat sosok mayat itu ke kuburan. Kita akan menguburkan mereka siapapun mereka,” berkata seorang diantara mereka.

Yang lain pun sependapat. Karena itu maka beberapa orang telah pergi ke padukuhan untuk mengambil usungan dan memberitahukan hal itu kepada Ki Bekel.

Bersama orang-orang yang membawa usungan maka Ki Bekel pun telah menuju ketempat kejadian. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat bekas pertempuran yang tentu sangat sengit itu. Apalagi melihat keempat sosok mayat yang terkapar di pategalan itu.

 “Di tempat ini tidak pernah terjadi kekerasan seperti ini,” berkata Ki Bekel, “ternyata sekarang kita harus mengalaminya.”

 “Tetapi mereka orang-orang asing, Ki Bekel,” sahut salah seorang diantara mereka yang melihat tiga orang dikejar oleh empat orang dan berakhir seperti yang mereka saksikan di pategalan itu.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Bagaimanapun juga kita harus bersiap-siap. Jika menjadi kebiasaan orang-orang yang tidak kita kenal berkelahi dan mati disini, maka kita akan banyak meng alami kesulitan. Bukan saja kita setiap kali harus mengubur sosok-sosok mayat yang tidak dikenal seperti keempat sosok mayat ini. Tetapi padukuhan ini tentu akan menjadi padukuhan yang sangar. Yang tidak lagi disentuh orang lain, sehingga arus perdagangan keluar masuk padukuhan ini pun akan menjadi tersendat-sendat, meskipun padukuhan ini telah mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Tetapi kelebihan dari hasil panen dan kerajinan bambu tidak akan dapat di pasarkan keluar. Pasar kita akan mati dan kehidupan penghuni padukuhan ini akan berubah sama sekali.”

Orang-orang padukuhan itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Bekel itu berkata, “Karena itu, kita harus berusaha merahasiakan peristiwa ini sejauh dapat kita lakukan. Namun akan menyadari bahwa hal itu tentu sulit sekali dilakukan.”

Sejenak kemudian, maka orang-orang padukuhan itu telah menjadi sibuk dengan keempat sosok mayat itu. Beberapa orang telah mendahului pergi kekuburan untuk menggali lubang bagi keempat sosok mayat itu. Ki Bekel berpesan agar keempatnya agak dipisahkan dari yang lain, agar lebih mudah untuk mengenalinya jika pada suatu saat ada keluarganya yang mencarinya.

 “Tidak seorang pun yang mengenali mereka,” berkata Ki Bekel.

 “Ya,” sahut salah seorang bebahu, “kita pun menyadari bahwa kematian keempat orang itu merupakah satu persoalan. Kita harus siap menghadapi persoalan itu. Setidak-tidaknya mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin akan disampaikan kepada kita.”

“Bukan saja siap menjawab pertanyaan. Perselisihan ini akan dapat menimbulkan salah paham. Jika keluarganya membebankan kesalahan itu kepada kita, maka kita harus bersiap untuk menghadapinya. Meskipun dalam persoalan diantara orang-orang yang tidak kita kenal ini kita tidak berpihak, tetapi jika kita disudutkan, maka kita harus mempertahankan harga diri kita dan kehormatan padukuhan ini. Hari ini juga kita harus menyampaikannya kepada Ki Demang, agar dengan demikian kita dapat membagi tanggung jawab,” berkata Ki Bekel.

Dalam pada itu, selagi orang-orang padukuhan itu sibuk dengan keempat sosok mayat itu, sementara Ki Bekel berketetapan hati untuk menemui Ki Demang sendiri bersama beberapa orang bebahu, maka Ki Randu Keling telah kembali ke kedai yang telah disinggahinya sebelum pembunuhan itu terjadi.

 “Tiba-tiba saja tangan Ki Randu Keling telah memijit pundak pemilik kedai itu kemudian menekan dengan ujung dua jari tangannya beberapa simpul syaraf dipunggungnya.

Pemilik kedai itu pun telah terduduk bersandar dinding dengan lemahnya. Rasa-rasanya seolah-olah ia sudah tidak mampu lagi.

 “Apa yang terjadi atas diriku?” bertanya pemilik kedai itu.

 “Kau telah kehilangan hubungan jalur kehendak atas pusat syaraf yang mampu menguasai perintah. Karena itu, kau tidak akan bergerak sama sekali,” berkata Ki Randu Keling.

 “Apa maksudmu dengan memperlakukan aku seperti ini?” bertanya pemilik kedai itu dengan nada suara yang sangat dalam, bahkan seakan-akan suaranya melingkar-lingkar saja didalam perutnya.

 “Kau mengenal aku?” bertanya Ki Randu Keling, “aku ingin jawabanmu dengan jujur.”

 “Ya,” jawab orang itu, “kau dan dua orang telah datang ke kedai ini. Kemudian melarikan diri karena kalian diburu oleh empat orang. Kalian memang belum terlanjur makan dan minum, tetapi keempat orang itu sama sekali tidak membayar makanan dan minuman yang dipesannya.”

 “Mereka tidak akan membayar untuk selamanya,” berkata Ki Randu Keling.

 “Kenapa?” bertanya pemilik kedai itu.

 “Mereka telah mati. Kami memang telah bertempur. Kami bertiga dan mereka berempat,” berkata Ki Randu Keling.

 “Apakah kedua orang kawanmu juga mati?” bertanya pemilik kedai itu.

 “Tidak. Mereka tidak mati.” jawab Ki Randu Keling.

 “Dan sekarang, apa yang kau kehendaki?” bertanya orang itu.

 “Kau mendengar salah seorang dari keempat orang itu menyebut anak muda yang datang kekedaimu ini bersamaku?” bertanya Ki Randu Keling.

Pemilik kedai itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Aku tidak mendengarnya.”

Ki Randu Keling mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja tangannya meraih sebilah pisau yang tajam yang terletak diatas geledeg bambu. Pisau yang dipergunakan oleh pemilik kedai itu untuk memotong-motong daging yang telah digoreng menjadi daging goreng dalam potongan-potongan yang besar yang kemudian dipotong-potong kecil diatas telenan kayu.

Sambil menggerakkan pisau yang tajam dan runcing itu, Ki Randu Keling bertanya sekali lagi, “Kau dengar atau tidak?”

Karena orang itu tidak segera menjawab, maka wajah orang itu telah menjadi pucat ketika ia merasa dinginnya daun pisau itu menyentuh lehernya.

 “Kau dengar atau tidak?” geram Ki Randu Keling.

Pemilik kedai itu memang menjadi bingung. Ia tidak tahu pilihan manakah yang paling baik diucapkannya menjawab pertanyaan orang yang menjadi garang itu.

 “Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kau tidak menjawab, maka kau tidak akan pernah menjawab untuk selamanya,” berkata Ki Randu Keling.

 “Baik, baik,” desis orang yang menjadi semakin pucat itu, “aku memang mendengar orang itu menyebut nama anak muda yang bersamamu.”

 “Sebut nama itu, cepat, sebelum pisau ini memotong nadi di lehermu,” berkata Ki Randu Keling pula.

Orang itu mengingat-ingat. Kemudian katanya, “Pulung. Namanya Pulung.”

Ki Randu Keling mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Telingamu sangat tajam, dan ingatanmu baik. Tetapi jangan sebut nama siapapun. Yang kau dengar atau yang mirip dengan itu. Jangan kau katakan tentang kehadiran kami di kedai ini. Karena kau tahu, bahwa aku akan dapat membunuhmu seperti aku membunuh keempat orang yang akan membunuh kami itu.”

Orang itu memang menjadi gemetar. Sementara Ki Randu Keling berkata seterusnya, “Berjanjilah. Aku percaya kepada janjimu, karena taruhannya adalah nyawamu. Tetapi jika akibat dari pada itu sangat parah jika kau melanggar janjimu, maka taruhannya bukan sekedar nyawamu. Tetapi nyawa keluargamu.”

Pemilik kedai itu benar-benar menjadi ketakutan. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Baik, baik Ki Sanak. Aku berjanji.”

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Jangan membunuh diri dan jangan membunuh seluruh keluargamu.”

 “Baik Ki Sanak.” jawabnya dengan suara yang masih saja gemetar.

 “Sekarang aku mohon diri,” berkata Ki Randu Keling.

 “Tetapi bagaimana dengan keadaanku sendiri?” orang itu berdesah dengan suara memelas.

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Ia pun segera menyentuh pundak orang itu, menolongnya duduk tanpa bersandar dan dengan kedua ujung jarinya menyentuh simpul-simpul syaraf dipunggung orang itu.

Perlahan-lahan rasa-rasanya darahnya mulai mengaliri seluruh urat-urat nadinya kembali, sementara syarafnya mulai melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Kehendaknya dapat berlaku sejalan dengan perintah dipusat syarafnya menuju keseluruh anggauta tubuhnya.

Sejenak kemudian pemilik kedai itu telah dapat bangkit berdiri kembali. Kemudian mulai menggeliat dan menggerakkan anggauta badannya untuk menguji, apakah semuanya telah berjalan dengan wajar.

 “Sudahlah,” berkata Ki Randu Keling, “bertanyalah kepada tetangga-tetanggamu, apa yang terjadi dengan keempat orang itu. Mereka akan menemukan keempat orang itu mati di pategalan, karena mereka ingin memaksakan kehendaknya atas kami.”

Pemilik kedai itu tidak menjawab, sementara Ki Randu Keling itu pun bertanya, “Berapa keempat orang yang mati itu seharusnya membayar? Karena aku telah membunuh mereka, maka biarlah aku yang membayarnya.”

 “Tidak. Tidak usah Ki Sanak. Biarlah makanan dan minuman itu aku ikhlaskan,” jawab pemilik kedai itu.

Ki Randu Keling termangu-mangu sejenak. Namun ia- pun kemudian berkata, “Terima kasih. Tetapi ingat, jangan membunuh diri dan apalagi membunuh seluruh keluargamu.”

Pemilik kedai itu tidak menjawab. Tetapi dengan perasaan yang kacau dipandanginya orang tua yang kemudian meninggalkan kedainya itu. Namun ia tidak bertiga sebagaimana ia datang sebelumnya.

 “Orang aneh,” berkata pemilik kedai itu, “sesudah ia membunuh, maka ia masih juga sempat berpikir untuk membayar makanan dan minuman dari orang yang telah dibunuhnya itu.”

Tetapi sebenarnyalah, beberapa saat kemudian pemilik kedai itu memang mendengar, bahwa empat orang telah terbunuh di pategalan.

 “Ternyata orang tua itu berkata sebenarnya,” desis pemilik kedai itu kepada diri sendiri, “Yang terbunuh adalah empat orang. Kedua orang kawan orang tua itu tentu selamat. Mungkin mereka hanya terluka dan bersembunyi di tempat yang sulit untuk diketemukan.”

Namun sementara itu, ketiga orang itu pun telah melanjutkan perjalanan. Mereka ingin segera pergi sejauh-jauhnya dari padukuhan yang telah menjerat mereka kedalam pertempuran, bahkan yang telah memaksa mereka untuk membunuh. Namun bagi Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh, persoalan yang baru saja mereka hadapi masih belum selesai dengan tuntas meskipun keempat orang itu sudah terbunuh, karena dibelakang keempat orang Putut itu adalah sebuah perguruan yang dipimpin oleh Ki Ajar Tulak. Perguruan yang tentu sebuah perguruan yang cukup besar. Ternyata bahwa perguruan itu telah melibatkan diri dalam pertempuran di Tanah Perdikan Sembojan.

Ketiga orang itu pun kemudian tidak berniat lagi untuk singgah di sebuah kedai. Mereka membeli saja makanan dan minuman di pinggir jalan. Ketika mereka berpapasan dengan penjual dawet yang dijajakan dari padukuhan ke padukuhan dengan pemanis legen kelapa, maka mereka pun telah menghentikannya dan membelinya sepuas-puasnya untuk menghapus perasaan haus mereka.

Ternyata mereka masih belum mencapai pintu gerbang kota Pajang ketika malam turun. Untuk menghindarkan diri dari dugaan yang kurang menguntungkan, maka mereka telah berhenti berjalan. Tetapi mereka ternyata tidak ingin singgah dan bermalam di banjar-banjar padukuhan agar mereka tidak lagi terlibat kedalam satu keadaan yang tidak mereka kehendaki. Karena itulah maka mereka telah memilih untuk bermalam di hutan perdu yang tidak terlalu luas.

Bergantian mereka berjaga-jaga. Mereka memang harus berhati-hati. Bukan saja menghadapi orang-orang yang mungkin mengikuti jejak mereka, tetapi mungkin juga masih ada binatang buas yang berkeliaran di hutan perdu itu.

Ketika matahari mulai membayang di Timur, ketiganya telah bersiap-siap. Mereka menemukan sebuah parit untuk membersihkan diri sebelum mereka melanjutkan perjalanan.

Sebelum tengah hari, ternyata mereka telah memasuki kota Pajang. Kota yang ramai. Namun yang pada saat-saat terakhir sedang dibayangi oleh kemelutnya gejolak seorang saudara seperguruan, sahabat dan bahkan penasehat yang paling dekat dengan Sultan Hadiwijaya sendiri: Ki Gede Pemanahan, yang telah merasa dikecewakan.

Tetapi persoalan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjalanan Ki Randu Keling, Ki Ajar Paguhan dan Puguh yang menuju ke satu tempat yang memang dengan sengaja dirahasiakan dari siapapun juga.

Puguh tiba-tiba saja merasa senang berjalan-jalan di kota Pajang yang ramai. Ia memang pernah datang ke kota itu. Tetapi sudah lama sekali. Dan kedatangannya saat itu membuatnya sempat melupakan kegelisahannya.

Ketika mereka melewati jalan disebelah pasar, maka rasa-rasanya Puguh tidak mau beranjak. Meskipun hari sudah siang, tetapi ia sempat melihat betapa ramainya pasar itu. Semuanya ada di pasar itu. Sayur-sayuran, buah-buhan, alat-alat dapur dari bambu, dari kayu dan gerabah, sampai pande besi yang membuat alat-alat pertanian yang ramai berdentangan.

Tetapi Ki Randu Keling tidak ingin berhenti di kedai yang berjajar di pinggir pasar itu. Ia tidak mau mengalami kesulitan lagi. Karena itu, maka Ki Randu Keling membeli saja tiga bungkus nasi yang mereka bawa ke tempat yang agak sepi.

Puguh memang tidak menghiraukan apapun juga ketika ia makan. Tetapi Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan masih juga harus melihat keadaan. Namun karena mereka berada di pinggir sebuah batas pekarangan yang berdinding tinggi di sebuah sudut padukuhan yang menghadap ketempat terbuka, maka tidak ada orang yang sempat memperhatikannya.

Baru beberapa saat kemudian, mereka meneruskan perjalanan mereka justru kepusat kota.

Puguh menjadi termangu-mangu ketika mereka memasuki sebuah jalan yang tidak terlalu lebar, bahkan kemudian mereka masih memasuki jalan yang lebih kecil, menuju ke tengah-tengah sebuah padukuhan didalam kota Pajang.

Dengan ragu-ragu Puguh berdiri didepan sebuah regol halaman rumah yang tidak terlalu luas. Sambil berpaling ke arah kakeknya Puguh itu pun bertanya, “Rumah inikah yang akan kita datangi?”

 “Ya,” kakeknya mengangguk, “kita akan memasuki rumah ini. Rumah yang kita rahasiakan selama ini bahkan untuk waktu yang barangkali masih panjang.”

 “Dirumah inikah ibu dan ayah disembunyikan?” bertanya Puguh.

 “Hati-hatilah,” desis Ki Ajar Paguhan.

Namun ketika Puguh memandangi sekitarnya, maka tidak terdapat seorang pun. Jalan sempit itu ternyata jalan yang sepi, sementara beberapa rumah yang tidak begitu baik berjajar di sepanjang jalan sempit itu.

 “Bersiaplah untuk menjumpai kedua orang tuamu,” berkata Ki Ajar Paguhan.

Puguh mengangguk-angguk. Namun nampaknya wajahnya mulai menjadi tegang.

Sementara itu gurunya berkata selanjutnya, “Ingat pesanku. Kau harus menjaga diri, agar tidak timbul persoalan baru atasmu. Agar aku tidak diusir oleh orang tuamu atau penghinaan-penghinaan lain yang dapat membuatku marah. Karena dalam keadaan demikian mungkin aku dapat lupa diri. Jika bukan aku yang membunuh ayahmu, maka dalam pengendalian diri yang demikian, aku tentu akan diusirnya.”

Puguh menundukkan kepalanya.

 “Kau dengar Puguh,” desis kakeknya.

 “Ya kakek,” jawab Puguh, “aku mengerti.”

Ki Randu Keling mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian, maka tangan Ki Randu Keling perlahan-lahan telah mendorong pintu regol itu yang ternyata tidak diselarak. Yang nampak kemudian adalah halaman yang tidak begitu bersih. Demikian pula rumah yang terdapat di seberang halaman itu. Beberapa batang pohon nampak menaungi pendapa yang kecil yang agak kurang terpelihara.

Demikian mereka melangkah masuk, maka seorang perempuan separo baya datang menyongsong mereka.

 “Marilah Ki Randu Keling,” perempuan itu mempersilahkan.

Ki Randu Keling mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku datang bersama anak Warsi dan guru anak itu.”

 “O,” perempuan itu mengangguk-angguk pula. Tetapi wajahnya bagaikan membeku.

Puguh termangu-mangu melihat sikap perempuan itu. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan, maka Puguh melihat perempuan itu pada sikapnya tentu bukan perempuan kebanyakan.

Adalah hampir diluar sadarnya ketika ia bertanya, “Siapakah perempuan ini kek?”

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Sementara Ki Randu Keling menjawab, “Perempuan inilah yang selama ini merawat ibumu. Ia adalah bibimu sendiri. Saudara sepupu dengan ibumu.”

 “O, maafkan aku bibi,” Puguh pun kemudian mengangguk.

Namun sikap perempuan itu masih saja beku. Ia memang mengangguk kecil. Tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah.

Ki Ajar Paguhan hanya berdiri mematung saja. Tetapi nampaknya ia pun kurang senang melihat sikap perempuan itu.

 “Marilah Ki Randu Keling,” berkata perempuan itu mempersilahkan.

Ki Randu Keling kemudian mengajak Ki Ajar Paguhan dan Puguh untuk naik ke pendapa dan duduk diatas sebuah tikar pandan yang sudah tidak nampak putih lagi. Sementara perempuan itu berkata, “Akan aku sampaikan kepada Ki Rangga bahwa kalian sudah datang.”

Sejenak kemudian perempuan itu telah hilang dibalik pintu pringgitan.

 “Apakah ayah dan ibu sudah lama tinggal disini?” bertanya Puguh.

 “Belum,” jawab Ki Randu Keling, “sejak ibumu terluka parah, sudah tiga kali berpindah tempat.”

 “Bibi itu pula yang selalu merawatnya?” bertanya Puguh.

 “Ya. Aku panggil bibimu untuk merawatnya,” berkata Ki Randu Keling dalam nada rendah.

Keingintahuan Puguh ternyata tidak tertahankan lagi, sehingga ia pun telah bertanya, “Apakah bibi juga seperti ibu yang juga memiliki kemampuan olah kanuragan? Menilik sikap dan geraknya, nampaknya bibi juga memiliki kemampuan seperti ibu.”

Ki Randu Keling mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi ibumu melaju lebih cepat dari saudara sepupunya itu. Meskipun demikian, ia termasuk seorang yang memiliki kemampuan tinggi.”

Puguh mengangguk-angguk, sementara Ki Ajar Paguhan sempat memperhatikan keadaan tempat itu. Rumah itu adalah rumah yang sederhana, meskipun susunannya agak lengkap. Rumah itu memiliki pendapa, pringgitan namun tanpa longkangan depan, tanpa gandok dan tanpa seketheng, tetapi memiliki serambi dikanan dan kiri.

Beberapa saat kemudian, pintu pringgitan yang terbuat dari anyaman bambu yang bergerak kesamping itu telah terbuka. Yang berdiri dibelakang pintu bambu anyaman itu adalah Ki Rangga, Warsi dan perempuan yang telah menerima ketiga orang memasuki halaman rumah itu.

Demikian ketiga orang itu keluar dari pintu pringgitan, terdengar Warsi berkata dengan nada keras kepada Puguh, “Kenapa kau baru datang sekarang anak dungu? Jika ibumu mati saat itu, maka kau tidak akan dapat melihat aku lagi. Atau kau memang mengharapkan agar aku mati segera? Sehingga kau sengaja tidak menampakkan diri sampai saat kematian itu datang?”

Puguh hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara Warsi melangkah mendekat, duduk di tikar pandan itu pula bersama Ki Rangga Gupita dan saudara sepupunya sambil berkata selanjutnya, “Tetapi aku masih belum ingin mati. Perempuan laknat di Tanah Perdikan Sembojan itulah yang harus mati lebih dahulu.”

Puguh sama sekali tidak menjawab. Ki Randu Keling lah yang bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Seharusnya kau bertanya kepada kami, keselamatan kami, perjalanan kami dan padepokan yang ditinggalkan oleh Puguh dan Ki Ajar Paguhan.”

 “Apakah kita masih memerlukan basa-basi itu?” bertanya Warsi.

 “Kau ingin mendengar jawabku atau kau sudah mempunyai jawaban sendiri? “ suara Ki Randu Keling agak tajam.

Ternyata Warsi harus bergeser surut melihat sikap Ki Randu Keling. Karena itu, maka jawabnya kemudian, “Maaf. Aku agak terdorong oleh perasaanku melihat anak dungu itu.”

 “Anak yang mana? Anakmu itu?” bertanya Ki Randu Keling pula.

 “Ya. Tetapi bukan aku yang menurunkan kedunguan itu,” sahut Warsi.

Ki Randu Keling tidak bertanya lagi. Namun diluar sadarnya Puguh berpaling dan memandang Ki Rangga Gupita yang diduga adalah ayahnya sendiri.

Tetapi tiba-tiba saja Ki Rangga pun membentak, “Kenapa kau memandang aku seperti itu?”

 “Bukan pula Ki Rangga,” Warsi hampir berteriak.

Sementara itu Ki Randu Keling berkata, “Apa sebenarnya yang ingin kalian lakukan atas anak itu? Bukankah kalian yang minta agar aku memanggilnya untuk menemui kalian bersama gurunya.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Aku yang minta agar anak itu dibawa kemari. Ia terlalu bodoh dan hatinya pun keras seperti batu. Ia sama sekali tidak tersentuh perasaannya mendengar ibunya terluka parah. Bahkan menengok pun tidak.”

 “Akulah yang melarangnya datang menengokmu sebelum keadaanmu bertambah baik,” berkata Ki Randu Keling.

 “Tetapi sampai sekian lamanya? Bukankah aku sudah baik sejak beberapa waktu yang lalu,” berkata Warsi pula.

 “Apakah kau sudah merasa baik? Jika demikian, tidak ada gunanya lagi aku mengobatimu,” berkata Ki Randu Keling, “apalagi jika kau sendiri merasa bahwa kehadiranku, kebijaksanaanku dan rencana-rencanaku tidak berarti apa-apa lagi bagimu.”

 “Maaf Ki Randu Keling,” Ki Rangga lah yang memotong, “yang kami katakan adalah sekedar luapan kejengkelan kami kepada anak kami yang sama sekali tidak tanggap atas peristiwa-peristiwa yang terjadi.”

 “Sudahlah,” berkata Ki Randu Keling, “anak itu sekarang sudah ada disini. Ia tentu ingin tahu, apakah keadaan ibunya sudah benar-benar baik atau belum. Mungkin dalam penglihatan mata kita, kau sudah baik, sudah sembuh dan tidak nampak cacat sama sekali. Tetapi kau harus berterus terang kepada anakmu, bahwa kemampuanmu dan ilmumu, masih belum dapat dipulihkan kembali.”

 “Apakah itu perlu,” potong Warsi dengan serta merta.

 “Perlu sekali. Dengan demikian anakmu akan dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaanmu,” berkata Ki Randu Keling.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku ingin mengatakan kepada anakku, agar ia benar-benar mempersiapkan dirinya untuk satu tugas yang berat. Ia memang sudah saatnya mengetahui, bahwa kami, orang tuanya, gagal merebut kembali hak kami atas Tanah Perdikan. Karena itu, maka ia harus bersiap untuk mengambil alih tugas itu.”

Wajah Puguh menjadi tegang. Hampir saja ia mempertanyakan tentang hak yang disebut-sebut oleh ibunya itu. Namun Ki Ajar Paguhan lah yang segera menyahut, “Aku sudah mencoba untuk menempanya. Pada dasarnya Puguh adalah seorang anak yang memiliki tubuh yang kuat. Penalaran yang tajam dan perhitungan yang cermat. Jika ada kegagalan kemudian, bukan salah anak itu. Tetapi salah gurunya.”

 “Aku sudah melihat kesalahan itu sekarang,” berkata Ki Rangga Gupita, “anak itu terlalu dimanjakan. Baik oleh gurunya maupun oleh kakeknya. Apakah jadinya seorang laki-laki yang menjadi hari kemudiannya? Apakah yang dapat dilakukan di umur dewasanya selain merengek dan merajuk?”

 “Ya,” Sambung Warsi, “anak itu harus ditempa seperti baja. Ia harus mengalami laku yang berat dan barangkali untuk waktu yang lama agar ia dapat menimba ilmu yang benar-benar berarti. Bukan sekedar seperti bajing loncat didahan-dahan kayu. Justru sekedar melarikan diri.”

Wajah Ki Ajar berkerut. Katanya, “Aku yang bertanggung jawab. Aku akan membuat anak ini bukan sekedar merengek dan merajuk. Aku akan membuat anak ini menjadi seorang laki-laki yang baik. Yang pantas disebut seorang laki-laki sejati.”

 “Apa yang kau maksudkan dengan laki-laki sejati?” bertanya Ki Rangga Gupita.

 “Kau, seorang perwira dalam tugas sandi di Jipang tentu mengetahui apakah artinya seorang laki-laki sejati. Ia tidak sekedar tergantung pada kekuatan dan kemampuan ilmu, tetapi juga pada sikap dan tanggapan jiwani atas keadaan dilingkungannya. Nah, jika kau tidak sependapat, ambil anakmu kembali,” berkata Ki Ajar Paguhan.

Tetapi Ki Randu Keling menyahut dengan cepat, “Akulah yang menyerahkan anak itu kepadamu. Aku akan dapat menentukan apakah anak itu akan diambil kembali atau tidak.”

 “Tetapi anak itu adalah anakku,” geram Warsi.

 “Apalagi tentang anakmu. Kau seakan-akan sudah tidak mempunyai hak lagi atas nyawamu. Dua kali aku menyelamatkanmu dari maut yang sudah melilitkan tangannya kelehermu. Kau berhasil aku selamatkan. Apa katamu?” bertanya Ki Randu Keling.

 “Itu bukaan kemauanku,” jawab Warsi.

 “Kau adalah seorang yang dialiri darah yang bersumber sama dengan darahku. Itulah sebabnya aku terdorong untuk menyelamatkan nyawamu,” berkata Ki Randu Keling.

Tetapi Warsi masih membantah, “Aku tidak pernah merasa berhutang, karena yang terjadi bukan atas permintaanku.”

 “Aku juga tidak pernah berpikir untuk menagih hutang. Jika aku melakukannya, maka itu bukannya satu tagihan atas hutang yang belum terbayar. Tetapi atas dasar satu keinginan untuk melakukannya. Ingat, aku dapat menolongmu dan menyelamatkan jiwamu. Tetapi aku juga dapat berbuat sebaliknya,” berkata Ki Randu Keling.

Namun Ki Rangga berkata, “Bukankah pada mulanya Ki Randu Keling lah yang telah mendorong kami melakukan semua ini?”

 “Sampai seberapa jauh aku mendorong kalian melakukannya pada jaman pergolakan antara Jipang dan Pajang?” bertanya Ki Randu Keling, “kemudian sejak kapan pula aku menarik diri dari kegiatan-kegiatan kalian yang tidak aku setujui.”

Ki Rangga menggeretakkan giginya, sementara wajah Warsi menjadi merah. Tetapi mereka memang tidak akan berani berbuat sesuatu terhadap Ki Randu Keling dan Ki Ajar Paguhan, karena mereka tahu pasti, tataran kemampuan ilmu kedua orang itu.

Karena itu, maka Warsi pun mengalihkan pembicaraannya kepada anaknya, “Puguh. Aku ingin tahu, apakah kau benar-benar seorang laki-laki. Aku belum ingin mengetahui kau laki-laki sejati atau bukan.”

Ki Ajar Paguhan hanya dapat mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

 “Apa yang harus dilakukannya?” bertanya Ki Randu Keling.

 “Kenapa anak itu tidak bertanya sehingga kakek yang harus menanyakannya? Apakah kau sekarang sudah bisu?” geram ibunya.

Puguh memang menjadi bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Namun dalam pada itu, ibunya berkata, “Sudah sekian lama kau berguru. Tetapi aku belum pernah tahu dengan pasti tataran kemampuanmu. Karena itu, sudah datang saatnya aku menilik kemampuanmu itu, karena kau sudah mendekati saatnya dewasa penuh. Bahwa kau mampu melepaskan diri dari para prajurit Pajang di Song Lawa bukan ukuran tingkat kemampuanmu yang tinggi, karena mungkin satu kebetulan telah terjadi pada saat itu, sehingga kau dapat menerobos kepungan para prajurit Pajang.”

Puguh menjadi tegang. Sementara itu ibunya berkata, “Kau hari ini dapat beristirahat. Tetapi besok, dalam waktu satu hari satu malam kau akan menjalani pendadaran itu.”

 “Baik ibu,” jawab Puguh, “aku akan melakukan segala perintah ibu.”

 “Bagus,” jawab Warsi. Lalu katanya, “Kau boleh beristirahat. Tetapi kau harus bersiap-siap untuk menghadapi saat pendadaranmu. Besok kau harus pergi ke hutan yang tidak terlalu jauh dari sini. Sehari semalam kau akan berada dihutan itu. Pada pagi hari berikutnya kau harus kembali dengan membawa seekor harimau jenis apapun juga. Harimau belang, ireng atau harimau kumbang. Tetapi bukan jenis harimau kerdil seperti blacan.”

Puguh mengangkat wajahnya. Dipandanginya ibunya sekilas, kemudian kakek dan gurunya.

 “Jangan merengek untuk minta tolong,” berkata ibunya, “aku akan mengujimu dengan cara itu. Jika kau pada saatnya tidak mendapatkan seekor harimau, maka kau tidak usah kembali lagi kepadaku. Kau bukan lagi anakku yang akan menerima hak atas Tanah Perdikan Sembojan yang kini sedang aku perjuangkan itu.”

 “Anak itu tidak merengek,” berkata Ki Ajar Paguhan, “ia akan melakukannya sebagaimana kau kehendaki. Aku tahu, bahwa kau menghendaki aku dan Ki Randu Keling tinggal disini dan tidak perlu mengawasi anak itu. Kami berdua memang tidak akan melakukannya. Kau yang penuh dengan kecurigaan dan ketidak percayaan kepada siapapun juga tentu mengira, bahwa kami akan membantu anakmu.” Ki Ajar berhenti sejenak, lalu, “tetapi aku tidak peduli. Jika anak itu mati diterkam harimau, ia bukan anakku. Jika anak itu ternyata gagal mempertahankan diri dari serangan seekor ular yang besar dan bahkan ditelannya, ia bukan anakku. Jika tubuhnya hancur dikoyak-koyak buaya di rawa-rawa dihutan itu, ia bukan pula anakku.”

Warsi termangu-mangu sejenak. Tetapi kekerasan hatinya kemudian telah mendorongnya berkata, “Aku pun tidak peduli. Hanya laki-laki yang dapat mempertahankan hidupnya adalah anakku. Yang tidak dapat mempertahankan hidupnya sendiri, ia bukan anakku.”

 “Dan kau pun ternyata telah gagal mempertahankan hidupmu sendiri,” berkata Ki Ajar Paguhan.

 “Aku tidak menghindar dari kematian,” jawab Warsi.

 “Baiklah,” Ki Randu Keling lah yang berkata, “Kami akan beristirahat. Jika hanya itu yang ingin kau lakukan atas anakmu yang telah memenuhi panggilanmu, apaboleh buat. Nah, dimana kami dapat beristirahat?”

Ternyata ketiga orang itu telah di tempatkan diserambi samping. Rumah yang tidak mempunyai gandok itu, hanya mempunyai serambi yang bagaikan sayap-sayap disebelah kiri dan kanan.

Di serambi itu telah dibuat sebuah bilik yang sempit tetapi memanjang. Dibilik itulah ketiga orang itu di tempatkan.

Ki Randu Keling tidak menolak. Meskipun ialah yang membawa kedua orang itu disertai sepupu Warsi kerumah itu, dan bahkan menyembunyikan disitu, tetapi sikap orang-orang itu kadang-kadang membuat Ki Randu Keling marah.

Sejak ketiga orang itu memasuki serambi, Ki Rangga Gupita dan Warsi tidak menemui mereka lagi. Hanya saudara sepupunya sajalah yang datang untuk menghidangkan makanan dan minuman.

Ki Randu Keling juga tidak begitu menghiraukan sikap orang-orang yang disembunyikannya dirumah itu. Bahkan Ki Randu Keling yang sebelum sampai kerumah itu ingin memperingatkan Ki Rangga untuk berhati-hati karena orang-orang Ki Ajar Tulak selalu mencarinya menjadi segan berbicara.

 “Aku akan mengatakannya jika Puguh berhasil menyelesaikan pendadarannya. Jika Puguh gagal, aku tidak akan mempedulikan kedua orang itu lagi,” geram Ki Randu Keling ditelinga Ki Ajar Paguhan pada saat Puguh pergi ke pakiwan.

 “Warsi memang gila,” berkata Ki Ajar Paguhan, “kebenciannya kepada Ki Wiradana telah menurun kepada anak kandungnya sendiri yang dilahirkannya dengan Ki Wiradana itu. Puguh sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ia tidak bersalah.”

 “Kadang-kadang aku memang menyesal menyelamatkan-nya. Tetapi aku tidak dapat melupakan garis keturuannya. Ia keluargaku sendiri, sehingga bagaimanapun juga aku wajib menolongnya,” desis Ki Randu Keling.

Ki Ajar Paguhan hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak berbicara lagi.

Ketika Puguh masuk kedalam bilik itu lagi dari pakiwan, maka ia pun bertanya, “Dimana letak hutan itu kek? Apakah didalam kota ini ada juga hutan?”

 “Tentu tidak Puguh. Hutan itu ada diluar kota. Disebelah selatan kota ini memang terdapat jalan menuju ke sebuah hutan. Hutan yang masih cukup lebat. Didalam hutan itu tentu masih banyak terdapat harimau. Yang terbanyak tentu harimau loreng, karena jenis harimau itulah yang hidup di hutan-hutan didaerah ini. Meskipun ada juga jenis macan kumbang.” jawab kakeknya.

 “Besok aku harus pergi ke hutan itu kek. Tetapi apakah besok lusa aku harus membawa hasil buruanku itu kemari melalui jalan-jalan kota?” bertanya Puguh.

 “Tentu tidak,” jawab kakeknya, “itu satu sikap yang bodoh. Bukankah dengan demikian kau akan menarik perhatian? Orang yang tidak memperhatikan meskipun ia sudah mengenalimu seperti salah seorang Putut itu, akan tertarik perhatiannya karena kau membawa seekor harimau hasil buruan. Meskipun kadang-kadang ada juga pemburu yang berbuat seperti itu, bahkan dilakukan dengan penuh kebanggaan, tetapi pemburu itu bukan kau yang masih mempunyai persoalan.”

 “Itulah kek,” desis Puguh, “aku tidak pernah dapat melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh orang lain tanpa ragu, tanpa sembunyi-sembunyi. Kenapa harus begitu?”

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Untuk sementara kau masih harus menerima keadaan itu. Anggaplah hal itu sebagai laku. Jika kau memang berniat, maka pada suatu saat kau tentu akan terlepas dari laku ini.”

Puguh mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Aku belum pernah masuk kedalam hutan itu kek. Bagaimana jika aku gagal mendapatkan seekor harimau?”

 “Jika kau gagal, maka sebaiknya kau tidak kembali ke tempat ini sebagaimana dikatakan oleh ibumu. Setidak-tidaknya untuk sementara kau memang harus berpisah. Jika kemarahan dan kekecewaan mereka sudah mereda, maka kau tentu akan dapat menemuinya kembali,” berkata kakeknya.

 “Jadi, jika aku gagal, aku harus kemana?” bertanya Puguh, “membunuh diri?”

 “Hatimu tidak hanya sepanjang tangkai sapu lidi,” berkata kakeknya.

 “Jika kau gagal, aku akan datang ke hutan itu,” berkata gurunya, “kemudian kita akan pergi kemanapun.”

Ki Randu Keling mengangguk-angguk. Bahkan ia pun berkata, “Jadi pendadaran yang dilakukan oleh orang tuamu itu jangan kau anggap terlalu bersungguh-sungguh sehingga hatimu menjadi tegang.”

Puguh mengangguk-angguk. Hatinya merasa sejuk. Ternyata didunia ini masih ada orang yang dengan ikhlas melindunginya.

Ki Randu Keling bukan saja memberikan beberapa pesan, tetapi juga obat penawar bisa. Karena dihutan itu, selain binatang buas, maka ular pun akan dapat menjadi musuh yang sangat berbahaya. Bahkan beberapa jenis serangga yang berbisa. Meskipun tidak langsung membunuh, tetapi beberapa jenis serangga akan dapat membuat seseorang kadang-kadang seperti lumpuh dan membengkak.

 “Bawalah pisau belati rangkap. Jika disini ada busur dan anak panah, maka aku akan minta kau diberi bekal busur dan anak panah itu,” berkata Ki Randu Keling, “jika tidak, maka pisau belati rangkap itu akan merupakan senjata yang paling baik untuk menghadapi seekor harimau.”

Puguh pun mengangguk-angguk. Gurunya masih juga sempat memberitahukan kelemahan-kelemahan pada seekor harimau pada umumnya, sehingga titik-titik kelemahan itulah yang harus menjadi sasarannya yang pertama.

Menjelang malam Ki Randu Keling sempat berbicara dengan Ki Rangga Gupita. Ternyata Ki Rangga berkeberatan memberikan busur dan anak panahnya.

 “Aku memerlukan setiap saat jika ada orang yang berniat jahat mendekati rumah ini,” berkata Ki Rangga.

 “Kau seperti berbicara dengan anak-anak,” sahut Ki Randu Keling, “apakah selama kalian aku sembunyikan disini pernah ada orang datang mencarimu? Bukankah aku telah menempatkan kalian di tempat yang tidak diketahui orang lain yang sengaja mencarimu? Seandainya ada orang datang kemari untuk menangkapmu, apakah kau dapat mempergunakan busur dan anak panah itu dengan baik?”

Tetapi Ki Rangga berkata, “Anak itu sedang menempuh pendadaran. Jika ia membawa busur dan anak panah, apakah artinya? Ia tidak lebih dari seseorang yang sedang berburu.”

 “Jawabanmu yang terakhir ini agak masuk akal,” berkata Ki Randu Keling, “tetapi pendadaran macam apa yang kalian lakukan atas anak itu? Menangkap atau membunuh seekor harimau tidak sejalan dengan kemampuan dalam olah kanuragan. Membunuh seekor harimau memerlukan ketrampilan tersendiri. Berbeda dengan ketangkasan dalam olah kanuragan yang bukan saja memerlukan ketrampilan, tetapi juga pengetahuan tentang unsur-unsur gerak, kelemahan-kelemahan pada tubuh seseorang dan watak dari setiap langkah yang dilakukan. Kau adalah seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan. Apakah kau melihat kesamaan antara olah kanuragan dan ketrampilan menangkap seekor harimau?”

 “Kemampuan olah kanuragan akan dapat menjadi bekal yang baik. Seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan mempunyai kelebihan dari mereka yang tidak memilikinya. Menurut pendapatkut ada kesamaan, bahkan banyak kesamaannya. Olah tubuh, kelenturan anggauta badan dan bahkan seluruh badan, kecepatan gerak dan kekuatan.” jawab Ki Rangga.

 “Tetapi sebaliknya, seorang yang mampu membunuh seekor harimau dengan tangannya, belum tentu akan mampu menghadapi kemampuan olah kanuragan yang lebih rendah dari kemampuan yang dimiliki Puguh,” berkata Ki Randu Keling, “Karena membunuh seekor binatang memerlukan pengenalan khusus. Para pemburu dapat mengenali dengan baik watak-watak seekor binatang. Mereka tahu pasti kelemahan binatang buruannya, sebagaimana Puguh mengenali kelemahan seseorang. Ki Ajar Paguhan, memang tidak secara khusus mengajari Puguh untuk berkelahi dengan binatang buas, karena ia tidak menduga, bahwa pada suatu saat Puguh harus menghadapi pendadaran dengan cara ini. Tetapi Ki Ajar yakin, bahwa Puguh akan berhasil.”

 “Kita akan melihat besok lusa,” berkata Ki Rangga.

Ki Randu Keling pun kemudian minta agar Puguh tidak membawa harimau yang diburunya itu kedalam kota agar tidak menarik perhatian.

 “Apa salahnya,” berkata Ki Rangga.

 “Ki Rangga adalah bekas seorang perwira dalam tugas sandi. Apakah Ki Rangga yang bersembunyi disini tidak melihat kelemahannya, jika Puguh membawa seekor harimau hasil buruannya kemari?” Ki Randu Keling justru bertanya.

Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Namun sebenarnyalah ia sependapat dengan Ki Randu Keling. Tetapi agaknya Ki Rangga tidak mau memutuskan sendiri. Karena itu, maka Ki Rangga itu pun telah berbincang dengan Warsi.

 “Mungkin ada orang yang perhatiannya mulai tertarik kepada rumah ini,” berkata Ki Rangga.

Warsi mengangguk-angguk. Ia pun dapat mengerti. Dirumah itu mereka berdua masih bersembunyi, karena keadaan Warsi. Lukanya belum sembuh sepenuhnya sementara kekuatan dan kemampuannya pun belum pulih kembali.

 “Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Warsi.

 “Biarlah anak itu meletakkan harimau itu disatu tempat,” jawab Ki Rangga, “aku akan pergi ketempat itu bersama Ki Randu Keling atau bersama Ki Paguhan. Salah seorang diantara keduanya akan berada dirumah ini.”

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Pergilah bersama gurunya. Aku tidak begitu senang kepada orang itu. Nampaknya ia bukan orang yang kita maksudkan, yang dapat membentuk Puguh menjadi seorang laki-laki.”

 “Ia cukup keras,” jawab Ki Rangga, “tetapi agak sombong dan harga dirinya terlalu besar sebagaimana juga Ki Randu Keling. Tetapi apa salahnya Puguh tidak menjadi seorang laki-laki yang baik menurut kita. Biar saja ia menjadi cengeng dan perajuk yang tidak berarti apa-apa, meskipun pada satu saat kita dapat mempergunakannya. Tetapi tidak perlu kekuatan dan kemampuannya. Kita hanya memerlukan namanya, ujudnya dan justru kerapuhan sikapnya. Ia akan menjadi semacam golek kayu yang duduk diatas kedudukan seorang kepala Tanah Perdikan tanpa mampu memerintah. Ia hanya akan menjalankan perintah kita.”

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Jika perang terjadi dan Pajang kehilangan kesempatan untuk mengamati daerah kuasanya, maka kesempatan itu akan menjadi sangat baik.”

Namun dengan nada rendah Ki Rangga berkata, “Kita memerlukan pengikut yang baik, setia dan cukup banyak. Sementara itu, aku tidak tahu, apakah Ki Sumbaga, Ki Ajar Tulak dan sisa-sisa kekuatan Kalamerta masih tetap dapat kita pergunakan kelak.”

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Berkatalah kepada Ki Randu Keling. Biarlah Puguh membawa hasil tangkapannya itu ketempat yang ditentukan. Atau Puguh sendirilah yang akan mati. Aku tidak peduli.”

 “Kita masih memerlukan anak itu,” berkata Ki Rangga.

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Kadang-kadang aku telah kehilangan niat untuk menempuh jalan lewat Tanah Perdikan Sembojan.”

 “Maksudmu?” bertanya Ki Rangga.

 “Kenapa kita terikat pada Tanah Perdikan itu?” bertanya Warsi.

 “Aku masih mempunyai harapan. Betapapun kecilnya. Lewat Tanah Perdikan itulah jalan yang paling dekat yang dapat kita tempuh. Kecuali jika kita sudah melepaskan segala macam mimpi yang manapun,” berkata Ki Rangga.

 “Baiklah. Kita masih akan mempergunakan Tanah Perdikan. itu sebagai batu pijakan atau kita hanya akan sampai ke Tanah Perdikan itu sendiri,” berkata Warsi.

 “Itu lebih baik daripada berkeliaran tanpa tempat untuk hinggap,” berkata Ki Rangga, “tetapi sebagai seorang yang bercita-cita, kita harus tetap memegang teguh pada ujung dari cita-cita itu. Kita sudah terlanjur basah. Karena itu kita harus menyeberang.”

Warsi mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Rangga pun telah menemui Ki Randu Keling dan menyatakan persetujuannya untuk bertemu disatu tempat.

 “Sebaiknya Ki Randu Keling memberikan ancar-ancar tempat kepada Puguh. Besok, aku dan guru anak itu akan melihat, apakah Puguh berhasil atau tidak.” jawab Ki Rangga.

 “Besok kau dan aku saja yang pergi,” berkata Ki Randu Keling.

Tetapi Ki Rangga menggeleng. Katanya, “Aku tidak akan membiarkan orang lain berdua saja dirumah ini dengan Warsi.”

 “Kau gila. Kau kira Warsi masih muda belia? Lihat, wajahnya yang mulai berkeriput melampaui aku. Sementara Ki Ajar pun sudah menjadi semakin tua pula,” geram Ki Randu Keling.

 “Biarlah Warsi bersama Ki Randu Keling dirumah ini. Aku besok akan pergi bersama Ki Ajar Paguhan,” berkata Ki Rangga.

 “Terserah saja kepadamu,” berkata Ki Randu Keling, “tetapi jangan menyesal jika kau mati di hutan itu. Jika terjadi sedikit saja persoalan, maka kau tidak akan diampuni.”

 “Apakah Ki Randu Keling mengira bahwa aku sama sekali tidak bertenaga? Aku adalah seorang perwira dalam tugas sandi Jipang. Aku memiliki kemampuan sebagaimana para perwira Jipang yang lain,” geram Ki Rangga.

Tetapi Ki Randu Keling tertawa. Katanya, “Kemampuanmu tidak lebih dari debu yang berhamburan bagi Ki Ajar Paguhan. Tetapi jika kau ingin pergi bersamanya, pergilah. Aku akan menunggui Warsi disini.”

Ki Rangga tidak menjawab. Sementara Ki Randu Keling telah meninggalkannya dan kembali ke serambi. Dengan singkat telah dikatakannya kepada Ki Ajar, bahwa Puguh memang tidak akan membawa hasil buruannya kerumah itu. Karena itu, mereka pun harus menentukan ancar-ancar tempat dimana Puguh akan menunggu.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 19

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s