SST-16

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

ANGGER,” berkata Kiai Badra, “sebaiknya kau berhenti berperang. Perintahkan orang-orangmu untuk ditarik dari medan sebelum kematian menjadi semakin banyak. Sekali-sekali sempatkan menyaksikan apa yang telah terjadi. Kematian dan kematian. Sementara itu, kau dan orang-orangmu tidak akan mampu memenangkan perang ini.”

“Kau memang sudah pikun,” teriak Ki Rangga, “kaulah yang harus melihat kenyataan. Orang-orang sudah banyak yang terbunuh. Jika kau tidak mau menganjurkan agar Iswari menyerah, maka orang-orang Tanah Perdikan akan tumpas. Jika pasukanmu disini hancur, maka semua padukuhan akan tunduk kepadaku. Yang menentang pasti akan aku hancurkan sampai lumat.”

“Angan-anganmu telah dibayangi oleh mimpi yang buruk itu,” berkata Kiai Badra, “kau harus bangun dan mulai melihat kenyataan.”

“Persetan,” geram Ki Rangga yang mengerahkan kemampuannya. Tetapi Kiai Badra sama sekali tidak terguncang kedudukannya.

Di bagian lain dan medan itu, Iswari tengah bertempur dengan dahsyatnya melawan Warsi. Ilmu mereka yang dahsyat telah mulai merambah dalam pertempuran itu. Meskipun mereka masih menggenggam senjata masing-masing, namun senjata mereka bukan lagi senjata sewajarnya. Rantai di tangan Warsi telah menjadi jenis senjata yang lain. Rantai itu memang masih dapat diputar dan melentur dengan cepat. Namun rantai itu kadang-kadang justru telah menjadi tongkat baja yang menggetarkan. Ayunannya yang deras menimbulkan arus angin yang deras pula.

Namun Iswari pun menguasai senjatanya dengan baik. Kedua pedangnya telah berputaran bagaikan gumpalan-gumpalan asap disebelah menyebelah tubuhnya.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin meningkat, maka orang-orang dari kedua belah pihak telah menyibak. Ayunan ujung rantai Warsi benar-benar menggetarkan. Seseorang yang tersentuh ujung rantai itu, tanpa merang-kapi kulitnya dengan ilmu kebal, akan segera koyak sampai ketulang. Sedangkan ujung pedang Jswari merupakan bahaya yang sangat gawat. Jika seseorang digulung oleh gumpalan putih yang terjadi karena putaran pedang Iswari, maka tubuh orang itu tentu akan menjadi arang kranjang.

Dengan demikian, maka arena pertempuran antara Iswari dan Warsi itu pun menjadi semakin lama semakin luas, Keduanya seakan-akan tidak lagi bertempur dimedan perang. Tetapi mereka seakan-akan telah terlibat kedalam perang tanding.

Tetapi sementara itu, keseimbangan pertempuran dalam keseluruhannya menjadi semakin jelas. Meskipun bulan bulat memancar terang dilangit, namun sinarnya tidak mampu mempengaruhi kekuatan kedua belah pihak yang sedang bertempur itu.

Bahkan beberapa orang pengikut Warsi yang mengetahui bahwa Warsi yakin akan kekuatan cahaya bulan itu akan memberikan arti bagi ilmunya, masih harus berharap-harap cemas, karena sedemikian jauh, Warsi masih belum berhasil mendesak lawannya yang bertempur dengan pedang rangkap itu.

Tetapi Warsi sendiri sama sekali tidak merasakan kecemasan itu. Ia memang masih belum sampai pada tingkat ilmunya yang tertinggi, sehingga pengaruh cahaya bulan itu akan terasa dan bahkan ikut menentukan. Warsi masih bertempur dengan mengandalkan tenaga cadangannya dan kemampuannya bermain senjata serta ketrampilan tangan dan kakinya, ia sudah melatihnya bertahun-tahun sehingga ia ingin tahu, apakah Iswari mampu mengimbanginya pula.

Namun ternyata Iswari pun telah menempa diri pula. Itulah sebabnya, bahwa sekedar kecepatan gerak, kemampuan bermain senjata dan kekuatan yang didorong oleh tenaga cadangannya, belum cukup bagi Warsi untuk mendesak Iswari.

Meskipun demikian, Warsi masih belum tergesa-gesa. Ia masih berusaha menghisap kekuatan cahaya bulan sebanyak-banyaknya malam itu, setelah malam sebelumnya ia tidur di alam terbuka, dibawah cahaya bulan pula.

Agak berbeda dengan Warsi yang lebih asyik dengan dirinya sendiri, serta warna dendam yang mencengkam jantungnya, maka Ki Rangga harus memperhatikan keadaan seluruh medan, Sekali-sekali ia telah mengambil jarak dari lawannya untuk sekedar melihat suasana dalam keseluruhan. Namun agaknya sulit baginya untuk dapat menjangkau gambaran yang luas tentang pertempuran itu.

Tetapi dalam pada itu, lawannya agaknya dengan sengaja telah memberikan waktu kepadanya. Lawannya yang telah tua itu. “Usiamu yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, meskipun keadaan wadagnya tidak lagi mampu mendukung ilmunya sebagaimana beberapa tahun sebelumnya.”

Bahkan Kiai Badra itu pun kemudian berkata, “Sulit ngger untuk dapat melihat keseluruhan medan meskipun cahaya bulan sangat terang, hampir seperti siang hari. Sebaiknya angger mempergunakan penghubung untuk mendapatkan laporan yang lebih jelas.

“Persetan,” geram Ki Rangga yang kemudian menyerang Kiai Badra seperti badai. Namun Kiai Badra memang sulit untuk dikuasainya. Bahkan setiap kali Ki Rangga merasa betapa orang tua itu mampu menekannya dengan kekuatan yang sangat besar, apalagi dibanding dengan umurnya yang tua itu.

Namun akhirnya, Ki Rangga langsung atau tidak langsung telah menyetujui pendapat Kiai Badra. Dalam satu kesempatan yang terbuka, yang seolah-olah dengan sengaja memang diberikan oleh lawannya, Ki Rangga telah memerintahkan kepada seorang prajuritnya untuk mencari hubungan dengan Ki Sumbaga.

Sebenarnyalah bahwa Kiai Badra memang membiarkan Ki Rangga itu melakukannya. Dengan demikian Kiai Badra berharap bahwa Ki Rangga akan mengetahui keadaan medan yang sebenarnya. Kiai Badra berharap bahwa Ki Rangga akan dapat menerima laporan, bahwa pasukannya perlahan-lahan mulai terdesak.

Sebenarnyalah, setelah menerima laporan yang mendekati lengkap dari para penghubung, maka para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan telah menentukan langkah terakhir. Iswari sendiri tidak dapat berhubungan dengan Pemimpin Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Sembojan, karena semakin lama pertempuran antara Iswari dan Warsi itu menjadi semakin sengit, sehingga Iswari itu tidak mendapat kesempatan sama sekali berhubungan dengan seorang penghubung.

Namun karena pasukan itu telah dipersiapkan dengan masak, maka gerak pasukan itu memang tidak tergantung kepada Iswari atau guru-gurunya.

Karena itulah, maka pemimpin pasukan pengawal itliputi pada saatnya telah memberikan isyarat. Seorang penghubung telah melepaskan anak panah sendaren ke udara. Panah sendaren itu telah diarahkan ke kedua sayap pasukan Tanah Perdikan itu.

Ki Sumbaga, Ki Ajar Tulak dan Ki Kala Sembung yang juga mendengar suara panah sendaren itu pun menjadi berdebar-debar. Sambil bertempur mereka mencoba untuk mengerti, apakah yang akan terjadi. Satu langkah yang bagaimana yang akan diambil oleh para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang memimpin pasukan Tanah Perdikan pada sayap-sayapnya telah menangkap isyarat itu. Karena itu, maka sebagaimana telah disepakati, ujung-ujung sayap dari gelar Wulan Tumanggal itu harus berkerut. Pada saat kekuatan pasukan lawan menjadi susut adalah kesempatan untuk mempersempit medan. Perlahan-lahan sejalan dengan tingkat turunnya kemampuan lawan, sehingga di kedua belah pihak, terutama pada pasukan Tanah Perdikan Sembojan sendiri, tidak terlalu banyak jatuh korban.

Karena itulah, maka perlahan-lahan rasa-rasanya medan itu memang telah berkerut. Pasukan Tanah Perdikan mulai mendesak dari kedua ujung gelarnya. Kedua orang yang memimpin kedua sayap gelar pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu pun segera mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasi lawan-lawan mereka.

Namun Ki Kala Sembung dan Ki Ajar Tulak memang orang berilmu tinggi. Mereka pun telah mengerahkan kemampuan mereka untuk menahan gerak pasukan Tanah Perdikan. Jika gelar itu berhasil berkerut, maka gelar itu seakan-akan meramas pasukan dari balik bukit itu.

Dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin keras, Orang-orang Tanah Perdikan telah mengerahkan segenap kekuatan untuk memenuhi isyarat yang telah diberikan oleh para pemimpinnya sesuai dengan ketentuan.

Justru pada saat-saat daya tahan orang-orang dari balik bukit itu mulai susut, maka orang-orang Tanah Perdikan telah mengerahkan kekuatan mereka yang tersisa.

Tetapi tanpa dukungan para pemimpin di sayap, maka orang-orang dari balik bukit yang menjadi bagaikan putus asa itu justru membuat orang-orang Tanah Perdikan menjadi ngeri. Tingkah laku mereka bahkan tidak terkendali lagi. Mereka tidak saja bertempur dengan keras dan kasar, tetapi mereka benar-benar telah menjadi seperti orang gila.

Untuk meyakinkan bahwa sayap-sayap itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka Jati Wulung dan Sambi Wulung lah yang akan dapat ikut menentukan.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah berusaha untuk mendesak Ki Ajar. Namun ia masih berusaha memperingatkan, “Saatnya hampir tiba Ki Ajar, Sadarilah akan keadaan. Kau tidak akan dapat lari dari kenyataan.”

“Persetan kau,” geram Ki Ajar.

Sambi Wulung masih akan menjawab. Tetapi keris Ki Ajar yang besar itu hampir saja menyambar wajahnya.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung pun menyadari, bahwa Ki Ajar itu tidak lagi sekedar mempergunakan ilmu pedangnya yang nampak mengerikan dalam ungkapan sebilah keris yang besar. Tetapi Ki Ajar itu telah merambah pada ilmunya yang sangat tinggi. Dengan demikian, maka dibawah cahaya bulan, Sambi Wulung kadang-kadang melihat keris itu tidak hanya sebuah. Pada gerakannya yang cepat, kadang-kadang nampak bayangan keris itu menjadi beberapa buah.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ilmu lawannya memang dapat membingungkannya. Kadang-kadang ia salah memperhitungkan gerak senjata lawannya.

Sementara itu, orang-orang dari balik bukit itu masih berpengharapan, Apalagi ketika mereka melihat di cahaya bulan, keris Ki Ajar itu bagaikan berubah menjadi semakin banyak. Jika lawan Ki Ajar itu sudah dibinasakan, maka sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu akan segera dapat dihancurkan. Ki Ajar itu akan dapat membunuh lawan-lawannya seperti menebas batang ilalang.

Namun pemimpin sayap pasukan Tanah Perdikan itu ternyata tidak mudah untuk dihancurkan.

Apalagi ketika Sambi Wulung menyadari, bahwa lawannya telah merambah pada ilmunya yang tinggi, maka Sambi Wulung pun tidak dapat berbuat lain. Ia pun telah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan dengan ilmu yang hampir tidak pernah dipergunakannya jika keadaan tidak sangat memaksa.

Namun untuk melawan permainan keris lawannya yang besar yang dilandasi dengan ilmu yang tinggi, sehingga kadang-kadang Sambi Wulung menjadi bingung itu, maka Sambi Wulung pun telah mulai melepaskan ilmunya pula. Tetapi Sambi Wulung tidak ingin membunuh membabi buta. Jika ia melontarkan ilmunya dalam pertempuran yang hampir berdesakan itu, maka korbannya tentu bukan saja lawan-lawannya. Tetapi tentu akan dapat menyentuh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri.

Karena itu, maka Sambi Wulung telah melawan ilmu lawannya dengan ilmu yang khusus pula, namun masih berkisar pada kekuatan panasnya api.

Pedang Sambi Wulung bukannya pedang yang terpilih. Pedangnya adalah pedang seorang prajurit atau pengawal. Namun ditangannya pedang itu memang memiliki kekuatan yang khusus.

Jika keris lawannya yang besar itu dibawah cahaya bulan dapat berubah seolah-olah menjadi lebih banyak sehingga dapat membingungkannya, seakan-akan Ki Ajar itu memanfaatkan cahaya bulan yang kekuning-kuningan itu, maka Sambi Wulung justru mengatasi cahaya bulan itu. Daun pedangnya yang terbuat dari baja yang biasa saja itu, tiba-tiba telah berubah warnanya. Daun pedang itu menjadi kemerah-merahan seperti membara. Namun ketika pedang itu berputar semakin keras, maka warna yang kemerah-merahan mengatasi cahaya bulan itu pun telah berubah lagi menjadi kebiru-biruan.

Ki Ajar terkejut melihat perubahan ujud senjata lawannya. Apalagi ketika senjata itu kemudian berputar dengan cepat. Yang nampak tidak lebih dari segulung kabut yang berwarna kebiru-biruan.

Ki Ajar memang tidak mengira, bahwa ia akan bertemu dengan kekuatan yang ternyata bukan saja mampu mengimbanginya. Bahkan kemudian terasa oleh Ki Ajar, bahwa ia benar-benar harus berjuang mati-matian untuk melawan pemimpin sayap pasukan Tanah Perdikan itu.

Pertempuran antara kedua orang pemimpin di sayap itu pun menjadi semakin sengit. Sementara itu, para pengawal Tanah Perdikan yang telah mendapat latihan dengan saksama dalam perang gelar pun telah mengetahui tugas-tugas mereka.

Tanpa perintah dari pemimpin sayapnya, yang diketahui sedang bertempur dengan sengitnya, bahkan antara hidup dan mati, maka mereka telah mengambil sikap sebagaimana harus mereka lakukan.

Dengan kekuatan yang ada pada mereka, maka para pengawal dan anak-anak muda yang berada pada sayap itu telah berusaha untuk menekan lawannya sehingga arena pertempuran itu berkerut.

Sejenak kemudian, maka keadaan pun menjadi semakin jelas. Meskipun Sambi Wulung tidak mempergunakan ilmunya yang tertinggi, untuk menjaga agar ilmunya itu tidak justru menyentuh para pengawal Tanah Perdikan sendiri, namun ilmu yang dipergunakannya ternyata telah mampu mengatasi ilmu puncak lawannya.

Jika semula Sambi Wulung kadang-kadang dibingungkan oleh ujud senjata lawannya yang seakan-akan menjadi lebih dari satu, maka kemudian lawannyalah yang dibingungkan oleh gulungan kabut yang berwarna kebiru-biruan. Meskipun Ki Ajar tahu, bahwa yang seakan-akan gulungan kabut itu adalah bayangan putaran pedang lawannya, tetapi setiap kali ia mencoba untuk menyerang, maka senjatanya telah membentur pedang lawannya. Sehingga karena itu, maka sulit bagi Ki Ajar untuk dapat menyusupkan senjatanya apalagi mengenai tubuh lawannya itu.

Bahkan dalam serangan-serangan yang cepat silih berganti, ternyata bahwa ujung pedang Sambi Wulung telah menyentuh lengan Ki Ajar sehingga segores luka telah menganga.

Ki Ajar mengumpat kasar. Terasa betapa lukanya bukan saja menjadi pedih. Tetapi luka itu menjadi panas seperti dikoyak api.

Ki Ajar yang terluka itu harus segera mengambil jarak. Sementara itu Sambi Wulung ternyata juga dengan sengaja memberinya kesempatan. Karena dengan demikian Ki Ajar itu dapat merasa betapa pasukannya telah mendapat tekanan yang berat sekali yang memaksa seluruh gelar itu berkerut.

Sementara itu, di sayap yang lain Kala Sembung bertempur seperti orang kehilangan akal. Seperti sayap yang dipimpin oleh Sambi Wulung, maka sayap yang dipimpin oleh Jati Wulung itu pun telah memaksa orang orang dari balik bukit untuk mempersempit arena pertempuran

Pada saat yang demikian, maka keseimbangan kekuatan antara kedua kekuatan itu menjadi semakin jelas. Apalagi ketika orang-orang dan balik bukit itu tidak lagi dapat mengharapkan pemimpin-pemimpin mereka untuk mengatasi kesulitan. Ternyata mereka tidak mampu melawan para pemimpin dari Tanah Perdikan dan kemudian bertempur seperti menebas ilalang. Bahkan para pemimpin dari para pengikut Ki Rangga itu telah terluka. Kala Sembung pun ternyata tidak lagi mampu menghindari semua serangan Jati Wulung yang semakin lama semakin garang, apalagi ketika Jati Wulung mulai merambah kemampuan ilmunya yang tinggi.

Ternyata Kala Sembung tidak mampu mengimbangi kegarangan Jati Wulung, meskipun Kala Sembung jauh lebih kasar dari lawannya. Betapapun ia mengumpat-umpat dan berteriak-teriak dengan liarnya, namun justru senjata Jati Wulung lah yang telah mengenai tubuhnya. Bukan sebaliknya.

Dengan demikian maka perlahan-lahan medan itu memang berkerut. Sayap-sayap gelar Wulan Tumanggal yang berkerut itu telah memaksakan arena pertempuran menjadi semakin sempit. Sementara itu kekuatan dan kemampuan orang-orang dari balik bukit itu pun menyusut.

Ki Sumbaga, bekas seorang perwira pasukan Jipang, mengetahui dengan pasti apa yang terjadi. Selain naluri keprajuritannya maka laporan-laporan yang sampai kepadanya pun telah mengatakan apa yang telah terjadi di arena pertempuran itu.

Tetapi Ki Sumbaga tidak mempunyai cara yang dapat dipergunakan untuk merubah keadaan. Dalam gelar yang utuh, maka pasukan tentu menyediakan kelompok cadangan yang akan dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan. Tetapi pasukannya sama sekali tidak mempunyai kekuatan cadangan yang dapat dipanggilnya untuk mengatasi kesulitan.

Karena itu, maka jalan satu-satunya yang dapat dilihat oleh Ki Sumbaga untuk menyelamatkan pasukannya adalah menarik diri sebelum kedua ujung sayap lawan terkatup dibelakang garis pertempuran. Jika demikian, maka berarti pasukan dari balik bukit itu telah terkepung rapat.

Namun tidak mudah untuk melakukannya. Ada banyak perimbangan yang harus dilakukan. Terutama bahwa Ki Sumbaga harus berhubungan lebih dahulu dengan Ki Rangga dan Warsi.

Ketika seorang penghubung dikirim oleh Ki Rangga, Ki Sumbaga sama sekali belum sampai pada satu kesimpulan untuk menarik pasukannya. Bahkan terlintas pun sama sekali belum.

Namun setelah laporan-laporan terakhir sampai kepadanya, juga tentang kesulitan kedua pemimpin diujurig sayap, maka Ki Sumbaga tidak melihat kemungkinan lain sebelum pasukannya benar-benar hancur. Selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka sambil bergeser ke kaki bukit untuk seterusnya menghindar, mereka dapat mengurangi korban sebanyak-banyaknya.

Karena itu, maka beberapa saat kemudian justru Ki Sumbagalah yang telah mengirimkan pesan kepada Ki Rangga, apa yang paling baik dilakukan.

Namun ternyata Ki Rangga berpendirian lain. Ia berharap bahwa Warsi dapat menyelesaikan lawannya lebih dahulu, baru mereka akan mengambil sikap bagi seluruh pasukan. Mungkin mereka memang harus menarik diri. Namun mungkin mereka justru akan dapat menghancur-lumatkan para pengawal Tanah Perdikan sepeninggal Iswari.

Ketika sikap itu kemudian diberitahukan kepada Ki Sumbaga, maka agaknya telah terjadi perbedaan sikap diantara kedua pemimpin itu.

Untuk beberapa saat Ki Sumbaga masih berusaha bertahan. Namun akhirnya ia tidak melihat keuntungan apapun lagi untuk tetap bertahan. Apalagi ketika ia mendapat laporan bahwa pertempuran antara Warsi dan Iswari ternyata tidak segera dapat diketahui siapakah yang akan menang.

Karena itu, maka menurut perhitungan Ki Sumbaga sebagai seorang yang memahami tentang keseimbangan pertempuran serta perhitungan kekuatan, pasukannya tidak akan mungkin dapat bertahan lagi. Sehingga karena itu, maka ia telah mengirimkan lagi seorang penghubung untuk memberitahukan kepada Ki Rangga, bahwa seharusnya pasukannya menarik diri.

“Katakan kepada Ki Rangga. Kita tidak boleh menjadi gila dan kehilangan pertimbangan. Perjuangan kita dipersiapkan untuk waktu yang panjang. Bukan hanya sekedar hari ini. “ pesan Ki Sumbaga. Lalu, “Karena itu maka kita harus menarik diri dan menyelamatkan yang masih mungkin kita selamatkan. Warsi pun harus menyadari keadaan ini. Ia tidak boleh tenggelam pada dendam pribadinya sehingga mengorbankan seluruh pasukan ini. Katakan kepada Ki Rangga, jika Ki Rangga berkeberatan, maka kita akan menarik diri tanpa menghiraukan ia lagi. Mungkin orang-orang sisa gerombolan Kalamerta akan tinggal. Tetapi orang-orangku akan aku selamatkan.”

Demikianlah ketika pesan itu sampai kepada Ki Rangga, ia benar-benar menjadi bingung. Sementara itu, lawannya nampaknya dengan sengaja membiarkannya mendengar pesan-pesan itu tanpa diganggunya meskipun Kiai Badra sendiri tidak dapat ikut mendengarkannya. Namun ketajaman penggraita Kiai Badra dapat menduga, apakah yang disampaikan oleh penghubung itu kepadanya.

Tetapi Ki Rangga tidak akan dapat menyampaikannya kepada Warsi. Ia sadar, dalam keadaan demikian, maka sulit bagi Warsi untuk mendengarkan pendapat orang lain. Ia telah tenggelam kedalam arus perasaannya yang sulit untuk dikekang lagi.

Untuk mengatasi kesulitannya, maka Ki Rangga telah berkata kepada penghubung itu, “Beri tanda yang pertama. Tunggu sampai aku sependapat untuk memberikan isyarat berikutnya.”

Penghubung itu agaknya tanggap akan kesulitan Ki Rangga. Demikian pula Ki Sumbaga, Karena itu, untuk mengatasinya maka Ki Sumbaga yang ada di induk pasukannya itu telah memberikan isyarat pertama kepada seluruh pasukannya.

Tiga buah anak panah berapi telah naik keudara.

Demikianlah anak panah itu memancar dilangit, maka terdengar aba-aba sandi yang memang sudah dipersiapkan oleh para pemimpin pasukan dari balik bukit itu.

Ternyata semua orang didalam pasukan dari balik bukit itu telah mendengar aba-aba itu. Mereka menyadari bahwa mereka harus bersiap-siap untuk menarik diri dari medan.

Warsi pun telah mendengar pula aba-aba itu. Tetapi tanggapannya sebagai diduga oleh Ki Rangga Gupita. Yang terdengar adalah suitan nyaring dari mulut Warsi yang sedang bertempur mati-matian itu. Satu isyarat, bahwa pasukannya harus tetap bertahan.

Ki Sumbaga yang telah bergeser semakin dekat dengan Ki Rangga akhirnya tidak dapat menerima kebijaksanaan itu. Ia tidak mau mengorbankan orang-orangnya, bekas para prajurit Jipang, hanya karena dendam pribadi Warsi yang bergejolak.

Karena itu, maka ia sama sekali tidak menghiraukan isyarat yang diberikan oleh Warsi.

Dengan demikian maka sesaat kemudian, Ki Sumbaga telah melepaskan isyarat kedua. Sehingga seluruh pasukannya, terutama bekas para prajurit Jipang serta sanak keluarga mereka yang telah dibina dan dipersiapkan untuk pertempuran itu, menjadi semakin bersiaga untuk mengundurkan diri sebaik-baiknya tanpa meninggalkan korban terlalu banyak disaat penarikan itu terjadi. Ki Sumbaga tidak mau tetap berada di medan dalam keadaan seperti itu, sehingga mereka seakan-akan telah dengan sengaja membunuh diri bersama-sama.

Tetapi Warsi yang mendengar isyarat itu menjadi sangat marah. Ia merasa dikhianati oleh orang-orang yang telah sepakat berjuang bersamanya. Karena itu, maka ia pun telah bersuit pula dengan nyaringnya untuk mencoba mencegah agar pasukannya itu tidak menarik diri.

Namun Ki Sumbaga sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Keadaan menjadi semakin mendesak. Sehingga dengan demikian, maka sekali lagi anak panah berapi telah melambung keudara disusul oleh teriakan-teriakan para pemimpin kelompok yang memberikan isyarat kepada pasukannya untuk menarik diri.

Isyarat itu memang dapat ditangkap sampai keujung sayap. Karena itu, maka Ki Ajar pun telah berusaha menyesuaikan dirinya. Tetapi agaknya Sambi Wulung sama sekali tidak memberinya kesempatan. Sehingga dengan demikian, maka Sambi Wulung itu sama sekali tidak membiarkan lawannya itu mengambil jarak sejengkalpun. Orang yang berilmu tinggi seperti Ki Ajar itu pun ternyata mengalami juga kesulitan. Tetapi ia telah memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri sebagaimana isyarat yang diterimanya.

Namun bahwa para pengikut Ki Ajar ternyata adalah orang-orang yang setia. Beberapa orang yang melihat kesulitan Ki Ajar melepaskan diri dari lawannya, maka mereka telah menyergap Sambi Wulung tanpa menghiraukan keselamatannya mereka sendiri meskipun mereka melihat seakan-akan gumpalan asap yang berwarna kebiru-biruan disekitar tubuh Sambi Wulung.

Sambi Wulung terkejut. Namun ia justru bergeser surut. Ia tidak bersiap menghadapi keadaan seperti itu.

Memang terbersit niat didalam dirinya untuk dengan serta merta menyergap mereka dan membantainya tanpa ampun. Namun ada sesuatu yang menahan didalam dadanya. Orang-orang itu memang bukan lawannya. Jika ia berniat, maka lima bahkan sepuluh orang sekalipun akan dapat ditembusnya dengan menghunjamkan pedangnya ketubuh mereka. Atau bahwa jika ia berniat melepaskan ilmu pamungkasnya, maka orang-orang itu akan dengan segera dapat dibinasakannya.

Tetapi justru melihat kesetiaan mereka, Sambi Wulung menjadi terpesona sesaat.

Kesempatan itu agaknya telah dipergunakan oleh Ki Ajar yang telah tergores ujung senjata Sambi Wulung. Dengan cepat ia menyelinap diantara para pengikutnya dan hilang diantara mereka.

Sambi Wulung memang menjadi marah. Pedangnya tiba-tiba berputar semakin cepat. Tetapi ketika dua sosok terlempar dan jatuh diantara kaki-kaki kawan-kawan mereka sendiri, sekali lagi terasa sesuatu telah menghambatnya. Pedangnya tidak lagi berputar sehingga seakan-akan telah menimbulkan kabut disekitar tubuhnya. Bahkan kebiru-biruan pada daun pedangnya itu pun seakan-akan telah memudar, sehingga Sambi Wulung harus mengkaji kenyataan, bahwa ia telah kehilangan lawannya.

Sementara itu, pasukan dari balik bukit itu telah mulai bergerak surut. Perlahan-lahan. Beberapa orang bekas prajurit telah memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya mereka menarik diri.

Tetapi agak berbeda dengan Ki Ajar, maka disayap lain telah terjadi sikap yang berbeda dari Ki Kala Sembung.

Semula ia memang melihat isyarat panah api yang melambung diudara. Tetapi disaat-saat ia mempersiapkan diri, maka Ki Kala Sembung pun telah mendengar isyarat yang diberikan oleh Warsi. Isyarat yang dikenalnya sebaik-baiknya, sehingga karena itu, maka sayap yang dipimpinnya ternyata telah mengambil sikap sendiri.

Dengan garang Ki Kala Sembung memerintahkan kepada orang-orangnya untuk tidak menarik diri.

“Pemimpin kita sedang menyabung nyawa. Isyarat itu adalah perintah. Kita tidak akan menarik diri sebagaimana dilakukan oleh para pengecut yang justru berada di induk pasukan.” teriak Ki Kala Sembung sambil mengayun-ayunkan senjatanya yang berat.

Para pengikutnya, yang sebagian besar adalah bekas para pengikut Kalamerta ternyata sependapat dengan Kala Sembung. Mereka telah ditempa oleh keadaan, bahwa mereka adalah landasan tempat para pemimpin mereka berdiri. Karena itu, ketika mereka mendengar isyarat dari Warsi, mereka telah bertekad untuk tetap berada di medan.

Dengan demikian, maka para pengikut Kalamerta yang keras dan kasar itu, justru menjadi semakin buas. Mereka bertempur dengan cara apapun juga untuk membinasakan lawan-lawan mereka.

Namun dalam pada itu, sebagian dari pasukan dari balik bukit itu telah mulai bergerak menarik diri dari medan. Sebelum ujung sayap gelar Wulan Tumanggal yang berkerut itu sempat mengurung pasukan lawan, maka pasukan lawan itu sudah bergeser.

Namun tidak keseimbangan pada gerak lawan, memang telah menimbulkan persoalan bagi gelar Wulan Tumanggal yang utuh itu. Sehingga dengan demikian, maka para pemimpin dalam gelar itu harus mengambil kebijaksanaan dengan segera.

Di sayap yang dipimpin Sambi Wulung, maka telah diperintahkan usaha untuk bergerak melingkar. Tetapi gerak itu ternyata terlalu lamban karena para pengikut Ki Ajar pun telah bergeser surut.

Sementara diinduk pasukan, sebagian besar pasukan dari balik bukit itu telah bergerak mundur.

Tetapi ternyata bahwa Warsi sama sekali tidak menghiraukan keadaan medan. Ia merasa bahwa kesempatan itu adalah kesempatan yang paling baik baginya. Meskipun ia masih belum dapat menentukan siapakah yang akan menang, namun pertempuran antara dirinya dan Iswari saat itu akan dapat menjadi arena takaran, siapakah diantara mereka yang terbaik.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Warsi dan Iswari itu sama sekali tidak terpengaruh oleh arus pasukan yang mengalir. Bahkan Ki Rangga pun telah terjebak pula didalamnya sehingga ia tidak akam mendapat kesempatan untuk melarikan diri, karena ia telah berada diantara para pengawal Tanah Perdikan bersama Warsi yang sedang bertempur itu.

Namun justru karena itu, Kiai Badra tidak lagi mengikat Ki Rangga itu dalam pertempuran. Dibiarkannya saja Ki Rangga itu berdiri termangu-mangu mengamati pertempuran antara Warsi dan Iswari.

Untuk beberapa saat lamanya memang terjadi gejolak di medan pertempuran itu. Pasukan pengawal Tanah Perdikan memang berusaha untuk memburu lawan mereka yang menarik diri. Namun pasukan lawan yang sebagian terdiri dari bekas para prajurit serta keluarga mereka yang telah mendapat latihan-latihan dan petunjuk-petunjuk khusus itu tidak mudah untuk melakukannya.

Untuk beberapa saat memang terjadi kekisruhan. Apalagi karena orang-orang yang dipimpin oleh Kala Sembung mengamuk dengan garangnya. Bahkan dalam kekisruhan itu, mereka telah berhasil menyusup mendekati arena pertempuran antara Warsi dan Iswari.

Hampir saja terjadi kelengahan di dalam induk pasukan Tanah Perdikan ketika sebagian besar dari mereka sibuk mengejar lawan yang menarik diri. Untunglah diantara sejumlah kecil pengawal terdapat orang-orang tua dari Tanah Perdikan, sehingga mereka dapat ikut membantu menahan arus orang-orang yang sedang mengamuk itu.

Namun ketika seorang diantara mereka sempat mendekati Warsi dan berusaha untuk membantunya, maka Warsi itu berteriak nyaring, “Pergi. Jangan ganggu kami. Kami sedang berperang tanding.”

Pernyataan itu begitu saja terlontar dari mulut Warsi. Namun Iswari pun mempunyai harga diri. Karena itu, maka ia pun telah menyahut, “Bagus. Kita memang sedang berperang tanding.”

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Rangga pun merasa beruntung, bahwa keduanya telah bersepakat untuk memasuki perang tanding, sehingga tidak ada orang lain yang akan dapat membantunya.

Medan pertempuran itu untuk sementara memang menjadi tidak menentu. Sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan memang berusaha memburu lawan-lawan mereka yang melarikan diri. Tetapi ternyata hal itu tidak mudah mereka lakukan. Dengan pengalaman yang luas bekas prajurit-prajurit Jipang itu ternyata mampu menarik pasukannya menuju ketebing, sehingga akhirnya mereka berpencar sambil memanjat naik. Mereka menyelinap diantara gerumbul-gerumbul perdu yang tumbuh liar di lereng diantara batu-batu padas dan lekuk-lekuk tanah berkapur.

Ternyata bahwa tidak terlalu mudah untuk mengejar mereka. Meskipun satu dua orang memang dapat ditangkap, namun sebagian besar dari mereka berhasil lolos dan hilang ditebing yang liar itu.

Berbeda dengan mereka, maka orang-orang yang dipimpin oleh Kala Sembung telah bertempur tanpa perhitungan. Mereka menyerang membabi buta, sementara sebagian besar para pengawal meninggalkan gelar.

Sementara itu Ki Rangga lah yang masih sempat membuat perhitungan tersendiri. Ketika Warsi dan Iswari sudah jelas memasuki perang tanding, maka Ki Rangga itu  pun telah memberi isyarat kepada para pengikut Kala Sembung itu. Selagi orang-orang yang mengejar pasukan yang mundur itu belum kembali, maka Ki Rangga ingin juga menyelamatkan sisa-sisa orang yang masih ada.

Karena itu, maka terdengar isyarat yang diberikan oleh Ki Rangga. Suitan nyaring telah menggetarkan udara.

Warsi sendiri, yang memang sudah menyatakan dirinya berperang tanding, tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di medan pertempuran itu. Ia hanya berniat untuk membunuh Iswari. Semua yang pernah diangan-angankan telah dilupakannya. Tentang Tanah Perdikan Sembojan, tentang anak-anaknya yang harus merebut kekuatan di Tanah Perdikan itu, landasan bagi langkah berikutnya untuk mencapai Pajang dan angan-angan yang lain telah tenggelam dalam arus dendamnya yang membara.

Kala Sembung memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika isyarat itu diulangi lagi, maka Kala Sembung tidak dapat berbuat lain. Ia pun telah mengulangi isyarat itu pula sehingga para pengikutnya menjadi yakin, bahwa para pemimpin mereka menghendaki mereka meninggalkan medan.

Kala Sembung tidak sempat berusaha mengetahui apa yang terjadi dengan Warsi dan Ki Rangga. Tetapi ia yakin bahwa isyarat itu telah diberikan oleh Ki Rangga Gupita sendiri.

Karena itu, maka sebelum orang-orang yang mengejar pasukan yang menarik diri terdahulu kembali, maka Kala Sembung berusaha membawa orang-orangnya untuk menyelamatkan diri.

Namun ternyata nasibnyalah yang malang. Jati Wulung benar-benar tidak mau melepaskannya. Ternyata Jati Wulung yang menjadi sangat marah karena sikap Kala Sembung dan orang-orangnya yang menjadi gila dan hampir saja sempat menerobos arena pertempuran antara Warsi dan Iswari justru diinduk pasukan disaat para pengawal mengejar lawan-lawannya, benar-benar tidak mau membiarkannya lari.

Kala Sembung sendiri memang berusaha untuk membawa orang-orangnya meninggalkan medan. Tetapi karena Jati Wulung sama sekali tidak memberinya kesempatan lagi, maka sambil menarik diri Kala Sembung harus bertempur terus. Sekali-sekali ia sempat melepaskan pertempuran itu dan berloncatan menjauh dengan loncatan-loncatan panjang didorong oleh kemampuan ilmunya. Namun Jati Wulung pun mampu pula menyusulnya dan langsung melibatnya kembali dalam pertempuran yang sengit.

Beberapa orang pengikut Kala Sembung memang berusaha untuk membantunya. Tetapi para pengawal yang semula berada disayap yang dipimpin oleh Jati Wulung itu pun telah menyusul mereka pula, sehingga mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membantu pemimpinnya.

Bagaimanapun juga liarnya, ternyata Kala Sembung termasuk orang yang bertanggung jawab. Meskipun ia sendiri berada dalam kesulitan, namun ia masih juga sempat memberikan isyarat agar orang-orangnya berusaha menyelamatkan diri dari medan yang garang itu.

Tetapi Kala Sembung sendiri harus bertempur menghadapi Jati Wulung yang marah itu.

Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Kala Sembung memutar bindinya. Bindi bergerigi yang mendebarkan. Meskipun bindi itu cukup berat, tetapi ditangan Kala Sembung nampaknya tidak lebih berat dari sebatang lidi.

Tetapi Jati Wulung memiliki banyak kelebihan dari Kala Sembung. Karena itu ketika kemarahannya tidak terbendung lagi, maka Jati Wulung pun tidak lagi mempunyai pertimbangan lain. Dengan mengerahkan kecepatan Meraknya didasari dengan kemampuan ilmu dan tenaga cadangannya, maka ujung pedang Jati Wulung pun telah mampu menyusup diantara bindi Kala Sembung.

Kala Sembung terkejut, ia merasa kulitnya tergores oleh ujung pedang Jati Wulung. Karena itu, maka ia pun memutar bindinya yang bergerigi itu lebih cepat. Diayunkannya bindi itu mengarah langsung ke kepala lawannya, ketika sekali lagi Jati Wulung berusaha menembus pertahanannya.

Namun Jati Wulung cukup tangkas. Dengan bergeser kesamping ia berhasil membebaskan kepalanya dari ayunan bindi itu, meskipun terasa angin ayunannya menampar wajahnya.

Namun tepat pada saat itu, Jati Wulung telah berputar bertumpu pada satu kakinya, sementara tangannya terjulur lurus sambil menggenggam pedangnya.

Terdengar Kala Sembung mengumpat kasar. Ujung pedang Jati Wulung sekali lagi tergores di dadanya, sehingga Kala Sembung itu terdorong beberapa langkah surut.

Ternyata Jati Wulung tidak membiarkan lawannya itu memperbaiki keadaannya. Dengan loncatan yang cepat serta pedang terjulur lurus kedepan, Jati Wulung telah memburunya.

Tidak ada kesempatan sama sekali bagi Kala Sembung untuk berbuat sesuatu. Ia memang mencoba untuk menangkis dengan bindinya yang berat. Tetapi ternyata Kala Sembung itu terlambat, sehingga pedang Jati Wulung telah menghunjam jantungnya.

Kala Sembung mengerang kesakitan. Dengan penuh kebencian itu memandang Jati Wulung yang marah itu.

Namun Kala Sembung tidak sempat berbuat apapun juga. Ketika Jati Wulung kemudian menarik pedangnya, maka Kala Sembung itu pun kemudian telah jatuh terjerembab di tanah.

Jati Wulung berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang disekelilingnya, maka dilihatnya para pengawal masih berusaha mengejar orang-orang yang melarikan diri. Namun agaknya orang-orang yang melarikan diri itu telah memanfaatkan setiap pepohonan, batang-batang perdu dan tanaman disawah untuk menyelamatkan diri.

Sejenak Jati Wulung bagaikan membeku. Namun kemudian ia pun telah berpaling kearena pertempuran antara Warsi dan Iswari yang dikelilingi oleh beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sementara para pengikut Kala Sembung yang berhasil menyusup ke induk gelar telah dilumpuhkan.

Selangkah demi selangkah Jati Wulung mendekati arena itu. Dibawah cahaya bulan ia melihat orang-orang tua Tanah Perdikan berada di dalam arena. Demikian pula Ki Rangga. Menilik sikap kedua orang yang bertempur itu, maka Jati Wulung mengambil kesimpulan, bahwa mereka agaknya telah bersepakat untuk berperang tanding.

Sejenak Jati Wulung mengamati orang-orang lain di keliling arena itu. Beberapa kali ia harus bergeser untuk dapat melihat dengan jelas siapa saja yang berada diantara mereka. Namun Jati Wulung tidak menemukan Sambi Wulung.

Jati Wulung menjadi berdebar-debar. Menurut pendapatnya, Sambi Wulung tentu sedang ikut bersama para pengawal mengejar orang-orang dari balik bukit yang melarikan diri. Namun bagaimanapun juga ia merasa cemas, bahwa lawan Sambi Wulung adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

Untuk beberapa saat lamanya, Jati Wulung tidak menghiraukan pertempuran di arena itu. Menurut pendapatnya di tempat itu sudah terdapat orang-orang tua yang berilmu sangat tinggi, sehingga segala sesuatunya akan dapat mereka selesaikan. Tetapi yang kemudian menjadi perhatiannya adalah Sambi Wulung.

Karena itu, maka Jati Wulung pun telah melangkah justru menjauhi arena itu menuju ke bukit. Ia bergeser melintasi arah pasukan induk ke arah sayap yang lain. Kemudian mengikuti jejak dari pasukan lawan yang menarik diri disusul oleh pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Sambil melangkah, Jati Wulung mengamati tubuh-tubuh yang terkapar. Meskipun ia yakin akan kemampuan saudara seperguruannya, namun dalam pertempuran segala sesuatu dapat saja terjadi.

Dalam siraman cahaya bulan Jati Wulung melangkah selangkah demi selangkah dengan pedang masih tetap di tangannya.

Jati Wulung terkejut ketika ia melihat dua sosok tubuh yang bergerak diantara batang padi. Nampaknya kedua sosok tubuh itu berusaha untuk bangkit. Kebencian dan dendam masih menyala didalam hati keduanya. Meskipun keduanya sudah terluka parah, namun keduanya masih berusaha menyerang Jati Wulung.

Betapapun kemarahan masih saja terasa panas di dadanya, tetapi menghadapi kedua orang yang sudah tidak berdaya itu Jati Wulung memang tidak melawan. Ia hanya bergeser saja selangkah-selangkah menghindari serangan keduanya yang sudah hampir tidak bertenaga sama sekali itu.

Namun dari mereka Jati Wulung dapat menangkap betapa dendam itu mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga mampu menunjukkan kelebihan dari kewajaran.

Tetapi itu pun tidak lama. Kedua orang itu pun kemudian telah terjatuh lagi disawah berlumpur.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja Jati Wulung teringat akan pertempuran antara dua orang yang saling mendendam diarena. Antara Warsi dan Iswari. Apapun alasan mereka bertempur, namun keduanya benar-benar telah dicengkam oleh dendam yang tiada taranya.

Karena itu, maka Jati Wulung pun menjadi ragu-ragu sesaat. Namun akhirnya ia memutuskan untuk kembali kelingkaran pertempuran yang nampaknya masih berlangsung dengan dahsyatnya.

Jati Wulung tidak menyibak dan berdiri dipaling depan. Ia masih memperhitungkan kemungkinan, bahwa ada diantara orang-orang yang dibawa oleh Warsi atau Ki Rangga Gupita dari padepokan yang dihuni oleh Puguh, sehingga orang itu dapat mengenalinya. Karena itu, maka ia justru telah berusaha untuk bersembunyi dibayangan orang-orang yang berkerumun disekililing arena itu.

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang yang mengelilingi arena pertempuran itu menjadi bingung melihat apa yang telah terjadi. Ternyata Warsi dan Iswari masih ingin memperlihatkan kemampuan mereka mempergunakan senjata. Warsi masih bertempur dengan rantainya, sementara Iswari menggenggam sepasang pedang di sepasang tangannya.

Ternyata keduanya memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dilandasi dengan kemampuan mereka bermain senjata yang didukung oleh tingkat tenaga cadangan mereka yang tinggi pula, maka pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan para pengawal Tanah Perdikan.

Mereka menganggap rantai di tangan Warsi sebagai senjata yang ajaib. Bahkan mereka yang telah pernah mendengar bahwa Warsi telah menghubungkan kemampuannya dengan cahaya bulan, sekali-sekali telah menengadahkan wajahnya kelangit, menatap bulan yang bulat kekuning-kuningan dengan cahayanya yang cantik. Beberapa orang justru menjadi cemas. Mereka menganggap bahwa pengaruh cahaya bulanlah yang telah membuat senjata Warsi menjadi aneh. Rantai yapg lentur itu kadang-kadang justru menjadi tongkat yang panjang dan kuat yang terayun-ayun mengerikan. Namun tiba-tiba saja rantai itu telah menjadi lentur kembali dan bahkan bergerak melingkar-lingkar seperti juntai sebuah cambuk.

Tetapi Iswari sendiri sama sekali tidak menjadi bingung menghadapinya. Ia mengenali watak senjata sebagaimana dipergunakan oleh Warsi. Senjata itu sendiri bukannya benda yang aneh. Namun kemampuan ilmu Warsi yang dapat disalurkan pada senjatanya itulah yang mempunyai kekuatan dan sifat yang tidak sewajarnya.

Namun Iswari yang juga berilmu tinggi itu memiliki kemampuan ilmu pedang yang sulit dicari bandingnya.

Sementara itu, orang-orang yang mengejar lawan sampai kebukit merasa bahwa mereka tidak akan banyak berhasil jika mereka naik ke lereng. Banyak tempat yang dapat dipergunakan untuk menyelinap dan menghilang. Sehingga karena itu, maka mengejar lawan diantara gerumbul-gerumbul perdu, pepohonan dan batu-batu padas serta lekuk-lekuk batu berkapur adalah berbahaya sekali.

Sambi Wulung serta pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan pun kemudian memberikan isyarat agar pengejaran dihentikan. Kemudian diperintahkannya para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan untuk kembali ke medan.

Sedangkan para pengawal yang mengejar sisa-sisa pengikut Kala Sembung pun memutuskan untuk tidak melanjutkan pengejaran. Para pemimpin kelompok telah memerintahkan mereka kembali ketika mereka kemudian menyadari bahwa induk pasukan mereka pun telah turun pula dari lereng. Sementara sisa-sisa pengikut Kala Sembung itu telah berlari cerai berai.

Ketika mereka kembali ke bekas medan, maka mereka masih melihat sebuah arena pertempuran. Baru kemudian mereka mendengar, bahwa Warsi memang telah menempatkan diri dalam perang tanding dengan Iswari, sementara Iswari juga tidak menolak.

Sambi Wulung yang ternyata kemudian bergeser mendekati Jati Wulung sempat bertanya, “Bagaimana dengan lawan-lawanmu?”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sempat membunuh pemimpin sayap yang bagaikan orang kehilangan akal. Bersenjata bindi yang besar dan bergerigi. Namun ternyata ia bertanggung jawab atas orang-orangnya.”

“Aku kehilangan orang yang menyebut dirinya Ki Ajar. Seorang Ajar yang agak lain. Ia berhasil menyelinap diantara orang-orangnya yang bergeser dalam kekisruhan. Ia mampu memanfaatkan gerak mundur untuk bersembunyi. Dengan demikian, orang itu termasuk orang yang harus diperhatikan bagi masa yang akan datang, karena ia juga berilmu tinggi.” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Satu hal yang dikatakannya begitu tiba-tiba, “Orang itu tentu juga berbahaya bagi Risang.”

“Ya.” jawab Sambi Wulung. “Mudah-mudahan aku dapat mengingat wajahnya.”

“Tetapi ia juga dapat mengingat wajahmu,” berkata Jati Wulung.

“Mudah-mudahan tidak dengan sedikit goresan-goresan seperti wajah kita sekarang ini,” jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memang telah membuat sedikit penyamaran di wajah mereka. Apalagi dalam pertempuran yang sibuk dan cahaya bulan yang tidak selalu sempat menerangi wajah-wajah itu. Mereka berharap bahwa tidak seorang pun diantara para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu akan dapat mengenali mereka pada kesempatan lain. Apalagi jika ada diantara lawan-lawan mereka itu orang-orang padepokan tempat Puguh tinggal. Dengan demikian maka hubungan hjereka dengan Puguh tidak akan terputus. Karena menurut pendapat mereka, Puguh disamping Warsi adalah ancaman yang paling gawat bagi Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi ternyata bahwa Puguh memiliki kelebihan dari Risang. Meskipun umur Risang beberapa saat lebih tua dari Puguh, namun pengalaman Puguh ternyata lebih luas dari Risang. Sehingga pengalamannya itu juga mempengaruhi kemantapan berpikip dan menanggapi sesuatu.

Demikianlah keduanya pun kemudian telah menyaksikan perang tanding yang seru itu. Perang tanding antara kedua orang perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun beberapa orang yang menyaksikan pertempuran itu ternyata dipengaruhi juga oleh tanggapan mereka atas kepercayaan Warsi, bahwa cahaya bulan itu akan dapat mempengaruhi ilmunya. Cahaya bulan itu bagaikan tenaga baru yang akan selalu mengisi tubuh Warsi sehingga meskipun ia bertempur dengan mengerahkan tenaga namun tenaganya itu tidak akan pernah susut selama ia masih berada dibawah cahaya bulan.

Bahkan ada diantara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang percaya bahwa hal itu memang dapat terjadi. Ada diantara mereka yang mengaku pernah bertemu dengan orang yang ilmunya dipengaruhi oleh cahaya bulan.

“Meskipun tidak setinggi ilmu perempuan itu, tetapi bahwa pengaruh cahaya bulan itu benar-benar berarti telah pernah dibuktikan oleh seseorang yang pernah aku kenal,” berkata orang itu.

Tetapi kawannya bertanya, “Apakah kau tidak sekedar bermimpi?”

“Jangan begitu,” jawab orang yang pertama, “kau boleh tidak percaya.”

“Aku berdoa agar Nyi Wiradana dapat mengalahkan penari jalanan itu,” berkata kawannya. Bahkan kemudian dengan nada berat ia berkata, “Mudah-mudahan tidak ada pengaruh sinar bulan itu.”

Orang yang pertama itu pun mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab lagi.

Sementara itu pertempuran di arena itu pun menjadi semakin sengit. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka berdiri termangu-mangu di tempatnya. Sementa Ki Rangga Gupita menjadi sangat tegang. Perang tanding itu merupakan perang tanding ulangan, sebagaimana pernah mereka lakukan hampir sepuluh tahun yang lalu. Selama hampir sepuluh tahun kedua perempuan itu telah menempa diri dalam jalur ilmu mereka masing-masing. Sehingga dengan demikian, maka ilmu mereka pun telah meningkat semakin jauh. Tetapi tidak seorang pun yang akan mampu menahan perubahan-perubahan jasmaniah yang terjadi dalam sepuluh tahun kemudian. Bahkan keadaan kewadagan mereka tentu sudah pula mengalami perubahan.

Meskipun demikian didukung oleh tingkat perkembangan ilmu yang tinggi, maka kedua orang perempuan itu merupakan dua raksasa ilmu yang menggetarkan jantung.

***

Dalam pada itu, jauh dari arena pertempuran, Puguh merenung di padepokannya. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja gurunya pergi tanpa memberi tahu tujuannya. Puguh pun sama sekali tidak diperkenankan ikut. Bahkan Puguh pun tidak tahu kapan gurunya itu berangkat.

Yang diketahuinya adalah, bahwa gurunya itu berpesan dengan sungguh-sungguh agar ia tidak meninggalkan padepokan sebelum gurunya itu kembali.

“Jika kau melanggar perintahku kali ini Puguh, maka aku tidak akan memaafkanmu,” pesan gurunya.

Puguh tidak tahu apa yang dilakukan gurunya itu. Dan kenapa gurunya berkeras agar ia tidak meninggalkan padepokan sebelum gurunya datang.

Meskipun malam menjadi semakin dalam, namun rasa-rasanya Puguh sama sekali tidak mengantuk. Bahkan udara yang terasa panas didalam biliknya telah mendorongnya untuk berjalan-jalan di halaman padepokan.

“Kau belum tidur?” bertanya salah seorang dari dua orang cantrik yang berjaga-jaga.

“Udara terasa panas didalam,” jawab Puguh.

Kedua orang cantrik itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka justru berdesis, “Udara terasa dingin sekali. Bulan bulat dilangit. Udara bersih dan angin malam terasa basah.”

Puguh mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia pun telah menengadahkan wajahnya. Dilihatnya langit memang bersih. Selembar awan nampak dilangit. Tetapi awan itu tidak melintas didepan wajah bulan yang bulat.

“Diluar memang terasa dingin,” desis Puguh, “tetapi rasa-rasanya menjadi lebih nyaman untuk tinggal diluar.”

Kedua cantrik itu tidak menyahut lagi. Tetapi keduanya pun kemudian mengangguk dan melangkah memutari halaman depan padepokan itu.

Puguhlah yang kemudian duduk sendiri di sudut pendapa padepokan. Rasa-rasanya ia ingin pergi ke padepokan kedua. Tetapi niat itu diurungkannya. Disana tentu akan terasa semakin sepi karena gurunya tidak ada. Puguh tidak pernah merasa kesepian meskipun ayah dan ibunya jarang sekali menengoknya Tetapi ia merasa sepi jika gurunya pergi untuk waktu yang agak lama.

Namun tiba-tiba saja terasa jantung Puguh berdesir. Ia tidak tahu kenapa. Bahkan tanpa disadarinya tiba-tiba saja Puguh itu pun bangkit dan berdiri dihalaman.

Puguh pun tidak tahu kenapa ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat segumpal awan lewat dilangit. Bahkan kemudian awan yang agak tebal itu telah menutup bulan sehingga sinarnya menjadi suram. Namun hanya beberapa saat, karena awan itu pun kemudian telah hanyut dalam arus angin.

Namun Puguh mulai melihat gumpalan-gumpalan awan yang lain meskipun tidak terlalu banyak. Gumpalan-gumpalan awan yang mengalir perlahan-lahan. Tetapi tidak semua gumpalan awan itu akan melintasi dan memotong cahaya bulan.

Puguh tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia tertarik oleh bulatnya bulan yang kekuning-kuningan.

Namun Puguh itu rasa-rasanya tidak ingin masuk ke dalam biliknya lagi. Bahkan ia pun telah berbaring di amben panjang diserambi. Rasa-rasanya ia ingin tetap mengamati cahaya bulan itu semalam suntuk.

Di tempat yang lain, Risang yang telah berbaring dipembaringanya merasa sangat gelisah. Bahkan demikian ia tertidur, maka Gandar pun telah membangunkannya.

“Risang, apakah kau bermimpi buruk?” bertanya Gandar.

Risang terkejut. Ia pun segera bangkit. Namun kemudian ia mencoba mengingat apakah ia bermimpi.

Dengan ragu-ragu ia pun kemudian berkata, “Tetapi rasa-rasanya aku tidak bermimpi.”

“Kau seperti orang terkejut dan bahkan mendesah agak keras. Aku kira kau bermimpi,” berkata Gandar.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku merasa bahwa aku belum tidur ketika aku melihat seakan-akan banjir mengalir dari daerah perbukitan disebelah Tanah Perdikan Sembojan.”

Gandarlah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu kau telah bermimpi.”

Risang mengangguk. Katanya, “Ya, menurut penalaranku, aku memang telah bermimpi, karena aku tidak akan dapat melihat hal itu selain didalam mimpi. Tetapi rasa-rasanya aku melihat dengan jelas, bahwa dari punggung bukit itu mengalir banjir yang besar. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, termasuk ibu, tengah sibuk membendung banjir itu agar tidak merusakkan seluruh Tanah Perdikan.”

“Tidurlah,” berkata Gandar, “jangan kau pikirkan mimpimu itu. Hari sudah terlalu malam untuk merenung.”

Tetapi Risang justru bangkit dan berkata, “Aku akan keluar.”

“Untuk apa?” bertanya Gandar.

“Supaya nanti aku dapat tidur nyenyak.” jawab Risang asal saja.

Gandar tidak mencegahnya. Tetapi diikutinya saja Risang yang melangkah keluar. Dihalaman ia pun telah menggeliat dengan mengangkat kedua tangannya. Namun terpandang olehnya bulan yang bulat dilangit.

“Sinar bulan itu begitu silau dimataku,” desis Risang.

“Kau baru saja bangun dari tidurmu,” sahut Gandar.

Risang mengangguk-angguk. Katanya sambil menggosok matanya, “Ya. Mungkin karena itu.” Namun kemudian ia pun melangkah kepakiwan sambil berkata, “Aku akan mencuci muka.”

Risang memang mencuci mukanya. Tetapi kegelisahan hatinya ternyata tidak dapat hanyut bersama kantuk di matanya. Meskipun wajahnya yang basah terasa segar, namun jantungnya terasa berdebar semakin keras.

Ternyata di tempat yang jauh terpisah, kedua orang anak laki-laki dari dua orang ibu yang sedang bertempur itu seakan-akan tergelitik perasaannya. Keduanya tidak, melihat apa yang terjadi, tetapi keduanya tergetar oleh hentakan-hentakan kemarahan ibu mereka. Sedangkan keduanya adalah anak-anak muda yang lahir dari satu bapa.

***

Sebenarnyalah bahwa pertempuran di depan lereng pebukitan di Tanah Perdikan Sembojan itu masih berlangsung terus. Warsi yang disiram oleh cahaya bulan penuh itu merasa, bahwa ia akan berhasil mengalahkan lawannya.

Karena itu, ia sama sekali tidak merasa perlu untuk menghemat tenaganya. Ia bertempur dengan mengerahkan kekuatan dan kemampuannya. Ia memang masih belum mengetrapkan ilmunya karena ia ingin mendapat kepuasan yang terbesar dengan membunuh Iswari tanpa ilmu pamungkasannya apabila ia dapat melakukannya. Hanya dalam keadaan terdesak sajalah maka Warsi akan mempergunakan ilmunya yang mampu menggetarkan pebukitan itu.

Sementara itu pasukan Tanah Perdikan Sembojan memang sudah berkumpul kembali. Pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu pun segera mengumpulkan mereka dalam kelompok-kelompok mereka.

“Biarlah orang-orang tua Tanah Perdikan ini menjadi saksi. Kita harus segera mengetahui kawan-kawan kita yang menjadi korban pertempuran ini. Dengan demikian, kita akan segera dapat mencari mereka dan berusaha menolong mereka yang masih memungkinkan,” berkata pemimpin pasukan pengawal itu kepada para pemimpin kelompok.

Para pemimpin kelompok memang bergerak cepat. Setiap pemimpin kelompok segera mengetahui jumlah kawan-kawan mereka yang tidak ada lagi didalam kelompoknya.

Dengan demikian maka pemimpin pasukan pengawal itu segera memerintahkan setiap kelompok untuk mencari kawan-kawan mereka masing-masing yang ternyata tidak kembali lagi kedalam kelompok mereka.

“Kalian tahu pasti, dimana kalian bertempur,” berkata pemimpin pasukan itu.

Sejenak kemudian, maka para pengawal itu pun telah membawa kelompoknya memasuki bekas medan yang garang itu.

Beberapa orang memang ingin menyaksikan pertempuran antara kedua orang perempuan itu. Namun para pemimpin kelompok telah memerintahkan mereka untuk bekerja terus.

Hanya sekelompok pengawal khusus yang biasanya mengawal rumah pemimpin Tanah Perdikan itu sajalah yang kemudian mengelilingi arena. Para penghubung dan petugas sandi pun ada pula diantara mereka. Di deret yang terlindung di belakang, Sambi Wulung dan Jati Wulung mengikuti pertempuran itu dengan saksama.

Betapa Warsi yakin akan dukungan cahaya bulan nampak sekali ketika selembar awan lewat didepan wajah bulan itu. Dengan serta merta Warsi telah meloncat surut mengambil jarak. Ia sempat mempergunakan saat yang sekejap untuk menengadahkan wajahnya. Namun ia pun telah bersenyum pula ketika ia melihat awan itu lewat, sehingga sejenak kemudian, maka cahaya bulan pun telah penuh kembali menyiram tubuhnya yang berkeringat.

Namun beberapa saat kemudian, bukan sekedar awan yang-tipis yang lewat dibawah bulan bulat itu. Namun segumpal awan yang agak tebal.

Sekali lagi Warsi meloncat beberapa langkah surut untuk mendapatkan kesempatan. Ternyata Iswari cepat mengatasi perasaannya. Dibiarkan saja Warsi memandang langit. Ternyata tidak hanya segumpal awan. Namun seakan-akan dari kaki langit telah tumbuh gumpalan-gumpalan awan yang kemudian mengarungi langit.

Tetapi menurut pengamatan Warsi awan itu tidak terlalu banyak. Tentu hanya beberapa lembar saja yang akan lewat didepan bulan. Itu pun hanya sesaat-sesaat. Bulan akan segera tersembul kembali dan menyiramkan cahayanya ketubuhnya. Sehingga dengan demikian kekuatannya yang susut akan segera pulih kembali.

Namun bagaimanapun juga, gumpalan-gumpalan awan itu memang terasa sangat mengganggunya.

Ternyata Iswari dapat menangkap gejolak perasaan Warsi itu. Karena itu, maka setiap kali Warsi memandang awan dilangit, Iswari membiarkannya saja. Dengan demikian, maka pengaruh kegelisahan perempuan itu akan mulai nampak pada tata geraknya.

Ternyata bukan Warsi saja yang mulai gelisah melihat beberapa gumpal awan dilangit. Ki Rangga pun ternyata beberapa kali harus menengadahkan wajahnya. Jika segumpal awan lewat tidak tepat dibawah bulan, maka Ki Rangga itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jika gumpalan awan berikutnya, betapapun kecilnya menutup bulan meskipun hanya sesaat, hatinya menjadi semakin gelisah.

Ki Rangga terkejut ketika tiba-tiba saja Kiai Badra yang bertempur melawannya dalam pertempuran yang baru saja berlangsung telah berdiri disampingnya. Dengan nada berat Kiai Badra itu pun bertanya, “Kenapa Ki Rangga beberapa kali menengadahnya wajah kelangit?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab Ki Rangga.

Kiai Badra tertawa pendek. Katanya, “Apakah kau juga yakin bahwa sinar bulan itu mempunyai pengaruh terhadap ilmu seseorang.”

Wajah Ki Rangga menjadi tegang. Tetapi ia tidak menjawab.

Kiai Badra lah yang kemudian berkata, “Aku sebenarnya tidak mempunyai persoalan dengan kepercayaan itu.” orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi bagaimana dengan Ki Rangga sekarang? Bagaimana jika kami beramai-ramai menangkap Ki Rangga?”

“Disini sedang berlangsung perang tanding,” jawab Ki Rangga.

“Ya. Tetapi yang berperang tanding adalah Warsi dengan Iswari,” berkata Kiai Badra kemudian.

“Aku saksi disini. Aku berhak,” jawab Ki Rangga.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Rangga benar. Ki Rangga telah mengangkat diri sendiri menjadi saksi. Tetapi itu memang boleh, sehingga Ki Rangga tidak akan ditangkap sekarang.”

Ki Rangga memandang orang tua sekilas. Namun diluar sadarnya ia pun telah menengadah lagi ketika bayangan yang kabur meluncur di arena.

Ternyata segumpal awan telah dibawah bulan yang bulat itu. Namun kemudian sinar bulan itu tidak terhalang lagi meskipun masih ada beberapa gumpal awan dilangit.

Kiai Badra tertawa pula meskipun hampir tidak bersuara. Tetapi Ki Rangga mengerti, bahwa orang tua itu tengah mengejeknya.

Ki Rangga tidak berkata apa-apa lagi. Tetapi didalam hatinya ia berteriak, “Tunggu saatnya Iswari itu terkapar di arena.”

Dalam pada itu pertempuran antara Iswari dan Warsi menjadi semakin sengit. Warsi masih saja tidak mengekang diri sama sekali. Ia masih tetap yakin bahwa cahaya bulan itu akan dapat memulihkan kekuatannya yang dikeraskan dalam pertempuran itu.

Berbeda dengan Warsi, maka Iswari masih tetap memperhitungkan segala kemungkinan. Ia tidak melepaskan tenaganya semena-mena seperti Warsi. Iswari berusaha untuk mengekang diri dan tidak melakukan gerakan-gerakan yang sama sekali tidakerarti. Ia sadar, bahwa pertempuran akan berlangsung lama, sehingga ia perlu menghemat tenaganya. Demikian pula tenaga cadangan didalam dirinya.

Untuk beberapa saat, Warsi memang nampak lebih garang dari Iswari. Perempuan dengan senjata rantai ditangan itu berloncatan kesana kemari seperti seekor burung sikatan di padang rumput. Dengan sigapnya terbang berputaran dan sekali-sekali meluncur cepat menyambar seekor bilalang.

Namun sekali-sekali jika awan mengalir menutup cahaya bulan, nampaknya memang mempengaruhinya. Apalagi ketika dari cakrawala bagaikan muncul awan bergumpal-gumpal seperti raksasa yang berbaris dari kutub menuju ke kutub.

Namun karena itulah maka agaknya Warsi ingin mempercepat penyelesaian perang tanding itu. Warsi ingin cepat membunuh lawannya sebelum awan yang bergumpal-gumpal itu nanti menutup bulan bulat yang semakin bergeser ke Barat.

Karena itu, maka sejenak kemudian Warsi itu pun telah mengerahkan kekuatan dan kemampuannya sampai kepuncak. Bahkan terdengar Warsi itu berkata sambil berloncatan memutar rantainya, “Aku sudah jemu dengan permainan ini. Sayang, bahwa saat-saat kematianmu akhirnya akan segera tiba.”

Tetapi Iswari telah menjadi semakin matang. Ia tidak mudah dipengaruhi oleh sikap dan kata-kata lawannya. Karena itu, ia justru sempat menjawab, “Kita memang sudah terlalu lama bermain-main disini. Marilah, kita selesaikan pertempuran ini sebagaimana kita menyelesaikan perang tanding.”

“Bagus,” geram Warsi, “nampaknya kau menantang maut agar datang lebih cepat.”

Iswari tersenyum. Katanya, “Tidak seorang pun yang membiarkan dirinya diterkam maut, selama ia masih mempunyai akal yang sehat. Agaknya aku pun masih cukup sadar untuk menghindari maut itu.”

Warsi tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun telah memutar rantainya semakin cepat. Sehingga mulai dari perlahan-lahan telah terdengar desing putaran rantainya itu bagaikan suitan yang nyaring. Semakin lama semakin keras.

Iswari terdorong beberapa langkah surut. Dengan kerut didahi ia memperhatikan lawannya. Nampaknya Warsi benar-benar telah merambah ke ilmunya yang nggegirisi. Bahkan menjadi semakin matang dan semakin berbahaya. Jika sepuluh tahun yang lalu, Warsi harus melontarkan ilmunya dengan suara tertawanya yang menggetarkan udara menghantam jantung, maka ia tidak lagi memerlukannya. Ia tidak pula harus secara khusus membangkitkan kekuatannya yang lain sehingga angin yang keras berhembus dan menampar tubuh lawannya. Dalam kesempatan terakhir yang dianggapnya menjadi semakin sempit itu, Warsi yang telah menempa diri hampir sepuluh tahun, telah mampu menyatu dan meluluhkan ilmu-ilmunya itu menjadi satu kesatuan yang utuh, namun menjadi sangat berbahaya.

Karena itu, rpaka desing putaran rantainya itu semakin lama menjadi semakin keras. Bukan saja menggetarkan udara, namun suara itu sekaligus telah melontarkan ilmunya yang sebelumnya dipergunakannya suara tertawanya. Ilmu sejepis dengan ilmu Gelap Ngampar itu dalam tingkat ilmunya yang lebih matang, telah dapat dilontarkan pula bersama putaran senjatanya yang garang. Menyatu dengan serangan-serangannya yang mendebarkan. Sehingga dengan demikian, maka Iswari harus menghadapi bukan saja putaran rantai itu, tetapi sekaligus hentakkan getaran udara yang keras didadanya. Desing putaran rantai yang semakin lama semakin keras itu, benar-benar telah mampu mencengkam jantungnya sebagaimana suara tertawanya hampir sepuluh tahun yang lalu.

Iswari memang menjadi berdebar-debar. Ternyata kemampuan Warsi benar-benar telah meningkat sangat jauh.

Dengan kepercayaannya kepada limpahan cahaya bulan, maka Warsi telah melihat lawannya dengan serangan ilmunya sekaligus yang telah mampu menyatu.

Namun Iswari pun telah menempa dirinya pula. Bersandar kepada keyakinan perlindungan dari Yang Maha Agung atas tugasnya mengemban kebenaran, maka Iswari pun telah mengerahkan kemampuannya pula.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin rumit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka sampai kepuncak. Warsi tidak mau kehilangan kesempatan, selagi awan yang muncul dari cakrawala belum menutup wajah bulan.

Namun Iswari pun tidak membiarkan dirinya dibantai oleh ilmu Warsi yang semakin tinggi. Putaran pedangnya menjadi semakin cepat sehingga sekali-sekali menyusup menembus putaran rantai lawannya.

Namun getaran desing putaran rantai itu selalu saja menghentak-hentak jantungnya. Mencengkam dadanya dan bahkan seakan-akan hendak mencabut tangkai-tangkai isi dadanya itu.

Bahkan orang-orang yang mengelilingi arena itu pun merasakan betapa getaran udara oleh kemampuan ilmu Warsi itu telah menghantam dada mereka. Karena itu, maka hampir diluar sadar, orang-orang yang mengelilingi arena itu pun telah bergeser menjauh, sehingga lingkaran itu menjadi semakin luas. Pada jarak yang agak jauh, dada mereka tidak merasa terlalu sakit, meskipun mereka harus mengerahkan daya tahan didalam diri mereka.

Hanya orang-orang tua dan Ki Rangga sajalah yang tetap berdiri di tempatnya. Namun Ki Rangga itu pun harus berjuang memusatkan daya tahannya untuk mencegah isi dadanya rontok karenanya.

Iswari memang mengalami kesulitan. Ia tidak dapat memusatkan diri melawan hentakkan ilmu yang menggetarkan udara itu, karena sekaligus serangan-serangan rantai Warsi itu masih saja mengejarnya.

Namun latihan-latihan yang keras, kewadagan dan kejiwaan, membuat Iswari masih mampu bertahan. Peningkatan ilmunya telah membuat tubuhnya seakan-akan tidak berbobot lagi. Ia melenting dari satu tempat ketempat yang lain.

Tetapi dimana pun ia berada disekitar Warsi itu, namun desing rantainya itu bagaikan selalu memburunya, mencengkamnya kemudian bagaikan meremas isi dada.

Tetapi Iswari tidak mau terlambat. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengatasinya. Karena itu, maka ia pun telah bergerak lebih cepat. Sekali-sekali ia berhasil mengganggu putaran rantai lawannya, sehingga desingnyapuri sesaat lenyap dari udara. Rasa-rasanya isi dadanya yang tertekan pun menjadi longgar meskipun hanya sesaat, karena Warsi pun segera memperbaiki keadaan yang memutar senjatanya kembali.

Bahkan Warsi yang kemudian merasa tidak segera mampu mengalahkan lawannya, sementara awan di cakrawala bagaikan tumbuh menjadi seorang raksasa yang semakin besar, telah menggenapi dengan ilmunya yang ketiga. Dengan demikian maka Warsi benar-benar telah berada dalampuncak kemampuannya dibawah cahaya bulan yang bulat dilangit.

Selain getaran udara yang menghentak-hentak dada, ujung rantai yang siap menyambar dan mematuk dari segala jurusan, maka sambaran angin yang memancar dari ayunan rantainya itu pun rasa-rasanya semakin keras menampar tubuh Iswari.

Dengan demikian maka Iswari pun menjadi semakin berhati-hati. Ia selalu ingat apa yang terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu. Ilmu itu pulalah yang ditemukannya malam itu. Namun dalam ujud yang jauh lebih berbahaya karena semuanya mampu luluh menjadi satu. Warsi tidak perlu menghentikan serangan rantainya untuk sekedar tertawa karena ia ingin melontarkan ilmunya yang mempunyai kekuatan sebagaimana ilmu Gelap Ngampar. Tetapi sambil bertempur dan menyerang dengan rantainya, maka ilmu itu telah sekaligus terungkap pula.

Ketiga orang guru Iswari pun menjadi berdebar-debar. Mereka ternyata mampu menilai tingkat ilmu Warsi yang semakin tinggi itu. Tiga jenis ilmunya dapat disalurkannya dalam kesatuan gerak yang utuh. Sehingga dengan demikian maka Warsi yang menyatu dengan rantainya itu merupakan satu kekuatan dan kemampuan ilmu yang jarang ada duanya.

Dengan demikian maka ketiga orang tua itu hanya berharap, bahwa Iswari akan dapat menyesuaikan ilmu yang telah dipelajarinya itu dengan medan.

Selebihnya, maka didalam hati ketiga orang guru Iswari itu berdoa, semoga Iswari mendapat perlindungan dalam tugasnya itu.

Beberapa saat kemudian, maka serangan-serangan Warsi pun menjadi semakin sengit. Ketiga jenis ilmunya itu pun telah melanda Iswari bagaikan amuk badai yang ganas.

Dengan demikian maka kedua orang itu pun telah sampai pada puncak kemampuan masing-masing. Dibawah tekanan yang berat dari lawannya, maka Iswari telah memasuki kemampuan ilmunya Janget Kinatelon.

Tubuhnya yang telah menjadi seringan kapas itu pun menjadi semakin ringan.

Namun demikian, hentakkan-hentakkan didadanya masih saja terasa menyakitkan. Sambaran angin yang menerpa tubuhnya terasa pedih, sementara itu, sambaran ujung rantai yang tajam mulai menyentuh tubuhnya.

Iswari tidak dapat menghindari pengaruh hentakkan-hentakkan didadanya. Jika ia memusatkan daya tahannya untuk melindungi dadanya, maka gerakannya akan dapat menjadi lambat, sehingga senjata Warsi itu mampu menggapainya.

Warsi tertawa ketika ujung rantainya mulai menyentuh tubuh Iswari. Bukan saja mengoyakkan pakaiannya, tetapi kulit dipundak perempuan itu memang sudah dikoyakkannya pula.

“Sepuluh tahun yang lalu, kau mampu mengalahkan aku,” geram Warsi, “tetapi sekarang, pembalasan dendam itu telah tiba.”

Iswari tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat membiarkan dirinya terkapar di medan. Karena itu, maka ia memasuki ilmunya semakin dalam.

Jika Iswari mula-mula mampu membuat tangannya bagaikan membara dalam alas ilmunya, maka setelah ia menyempurnakan ilmunya, maka bukan saja telapak tangannya itu yang mampu membakar sasaran yang disentuhnya. Tetapi kedua pedang di tangan Iswari itulah yang kemudian seakan-akan menjadi bercahaya. Sepasang pedang di tangan Iswari itulah yang kemudian telah mengejutkan Warsi.

Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung, yang menyaksikan pertempuran itu dibelakang para pengawal khusus, telah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Iswari telah mampu melakukannya pula. Bahkan perempuan itu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kemampuannya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti. Bahkan kadang-kadang tubuh perempuan itu seolah-olah melayang tanpa bobot sama sekali mengitari lawannya.

Dengan pedang yang bercahaya di tangannya, Iswari menjadi semakin garang. Ternyata meskipun sikap mereka sehari-hari jauh berbeda, namun di medan pertempuran Iswari mampu mengimbangi kekerasan lawannya.

Ketika sekali lagi ujung rantai Warsi menyentuh lengannya, maka Iswari benar-benar harus memikirkan cara menghentikan hentakkan-hentakkan yang mengganggu jantungnya, sehingga membuat geraknya kadang-kadang menjadi lamban.

Satu-satunya jalan adalah menghentikan putaran rantai di tangan Warsi itu , karena putaran rantai itu adalah lantaran ungkapan dari ketiga ilmunya itu.

Karena itu, maka Iswari pun kemudian telah memusatkan perhatiannya kepada putaran rantai Warsi. Jika ia dapat menghentikan putaran itu, meskipun hanya untuk sementara, maka hentakkan-hentakkan didadanya akan terlepas serta angin yang menerpa tubuhnya dan membuat kulitnya menjadi pedih itu pun akan terhenti.

Dengan kemampuan membuat tubuhnya seakan-akan lebih ringan dari kapas, maka Iswari telah bergerak dengan cepat diseputar lawannya. Sekali-sekali ia masih berusaha menyusup diantara putaran rantai Warsi. Namun kemudian dengan persiapan yang cermat, Iswari telah dengan sengaja membentur kekuatan putaran rantai Warsi.

Demikian kerasnya benturan itu, sehingga terpercik bunga api yang kemerah-merahan diudara, diantara nyala kebiruan pada daun pedang Iswari.

Akibatnya memang mengejutkan. Pedang Iswari memang hampir terlepas dari tangannya. Namun ilmunya yang tinggi, membuat pedang itu seakan-akan melekat ditelapak tangannya.

Namun untuk memperbaiki keadaannya, Iswari telah meloncat beberapa langkah surut, sehingga dengan demikian ia sempat memperhatikan keadaan lawannya.

Untuk sesaat Iswari termangu-mangu. Ia melihat Warsi itu juga melangkah surut. Benturan itu membuat tangan Warsi bagaikan terkelupas, Kekuatan Iswari benar-benar kekuatan raksasa yang sulit untuk diatasinya. Meskipun ujung rantainya itu telah berhasil melukai lawannya, namun ternyata bahwa perempuan Tanah Perdikan Sembojan itu mampu menghentikan putaran rantainya, dan sekaligus menghentikan serangan kedua ilmunya yang lain.

“Anak iblis,” geram Warsi.

Iswari yang telah menggenggam kembali pedangnya dengan baik, justru telah melangkah mendekat. Disaat rantai itu tidak berputar, maka tidak terasa hentakkan-hentakkan didadanya, tidak pula terasa sambaran angin tajam di kulitnya sehingga menjadi pedih. Apalagi ancaman ujung rantai yang tajam yang akan dapat memecahkan dadanya, sama sekali tidak terasa.

“Alangkah longgarnya pernafasan ini jika kau hentikan putaran rantaimu itu,” berkata Iswari.

“Kau sudah terluka,” sahut Warsi.

“Sebentar lagi, kau pun akan terluka. Dadamu akan koyak dan nafasmu akan terputus karenanya,” jawab Iswari sambil tersenyum.

Warsi menggeram. Sikap Iswari memang sudah jauh berbeda dari sikapnya hampir sepuluh tahun yang lalu.

“Kau tidak lagi kekanak-kanakan sekarang. Kau tidak akan menggigil jika aku memujimu sebagai perempuan yang paling cantik,” berkata Warsi.

“Aku sudah tua. Kulitku mulai berkeriput. Namun menghadapi dendammu yang menyala itu, aku adalah seorang yang masih memiliki kekuatan dan ilmu yang utuh.” jawab Iswari.

Warsi menggeram. Namun ia tidak berbicara lagi. Ia menganggap bahwa Iswari sudah terlalu lama beristirahat karena hentakan-hentakan didadanya telah terhenti sesaat putaran rantainya berhenti.

Karena itu, maka tangan Warsi pun mulai bergerak. Ia mulai memutar rantainya kembali. Desing yang mengaung pun terdengar semakin lama semakin keras.

Tetapi Iswari tidak lagi terlalu cemas. Kekuatan ilmunya Janget Kinatelon dengan unsur-unsurnya akan mampu mengatasinya.

Demikianlah, maka ketika rantai itu berputar semakin cepat, maka Iswari pun bergerak semakin cepat pula. Sebelum desing putaran rantai itu mencapai tataran bunyi yang mampu menggetarkan dada dan bagaikan meremas jantung, ternyata Iswari dengan kecepatan yang luar biasa dalam unsur gerak dengan alas ilmunya Janget Kinatelon telah menyusup menyerang lawannya.

Warsi memang terkejut oleh kecepatan gerak Iswari. Namun ia masih sempat meloncat surut. Dengan tangkasnya pula, ia memutar rantainya. Tidak lagi bagi kepentingan bunyi yang mampu meremas jantung, tetapi ujung rantai itu tiba-tiba saja mematuk seperti ular.

Iswari lah yang harus melenting kesamping. Namun dengan satu putaran yang cepat, ujung sepasang pedangnya telah menyambar berurutan.

Warsi lah yang harus meloncat lagi menghindari pedang yang bercahaya kebiruan itu. Namun ia sudah siap dengan rantainya yang berputar. Meskipun desingnya belum menekan dada, tetapi putarannya sudah mampu melindungi dirinya. Bahkan sambil memutar rantainya Warsi meloncat beberapa langkah maju, sehingga Iswari harus bergeser surut.

Sejenak kemudian, maka desing yang semakin keras mulai terdengar lagi. Hentakkan dijantung Iswari pun mulai terasa lagi. Bahkan Warsi sudah siap menghadapi usaha Iswari yang akan menyusup di sela-sela bayangan putaran rantainya.

Tetapi Iswari tidak berusaha menyerang langsung. Ia ingin mengulangi usahanya membentur putaran ujung rantai itu. Karena itu setelah dipersiapkan dengan baik dialasi dengan segenap kekuatan yang ada didalam dirinya, Iswari telah mengayunkan sepalang pedangnya menghantam putaran rantai Warsi.

Namun Warsi tidak membuat kesalahan yang sama. Demikian sepasang pedang Iswari terayun, tiba-tiba saja Warsi telah menarik rantainya dengan satu hentakkan. Desing rantai itu memang terhenti. Namun tiba-tiba saja rantai itu terjulur lurus bagaikan sebatang tombak langsung mengarah kedadanya.

Iswari terkejut. Dengan serta merta ia meloncat surut. Tetapi ternyata meskipun salah satu kekuatan ilmu Warsi tidak mencengkamnya, namun sambaran angin yang keras telah mendorongnya tepat pada saat Iswari sedang meloncat. Karena itu, maka dorongan itu seakan-akan menjadi berlipat kekuatannya, sehingga Iswari telah jatuh terlentang.

Warsi tidak melepaskan kesempatan itu. Sambil meloncat ia menghentakkan rantainya. Justru disaat Iswari melenting berputar diudara untuk tegak kembali.

Meskipun Iswari sempat menangkis hentakkan rantai itu, namun ternyata bahwa punggung Iswari telah tergores oleh ujung rantai itu sehingga kulitnya pun telah menganga. Meskipun tidak terlalu panjang, namun luka itu telah mengalirkan darah, seperti luka di pundak dan lengannya.

Warsi sempat tertawa pendek. Kemudian serangannya menjadi semakin garang.

Ternyata bahwa ketiga orang guru Iswari menjadi sangat tegang. Sementara Ki Rangga mulai mengangguk-angguk.

Kemarahan Iswari benar-benar telah sampai ke ubun-ubun. Ia sadar bahwa lawannya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari hampir sepuluh tahun yang lampau. Namun ia tidak boleh menyerah.

Dengan menghentakkan ilmunya Janget Kinatelon sampai tuntas, maka sepasang pedangnya itu bukan saja sekedar memancarkan cahaya kebiruan. Tetapi pada benturan-benturan berikutnya, panas itu seakan-akan dapat menjalar pada senjata lawannya.

Warsi memang harus mengumpat ketika terasa panas itu sampai ketangannya. Tetapi justru karena itu, maka ia pun telah mengerahkan ilmunya pula. Rantainya berputaran semakin cepat, melontarkan desing yang kuat serta menghembuskan angin yang menerpa tubuh lawannya.

Akhirnya Iswari tidak sabar lagi. Ia tidak membiarkan dirinya dikejar oleh putaran rantai itu, hentakkan yang mencengkam dadanya dan angin yang menerpa tubuhnya. Dengan ilmunya sampai ke puncak kemampuan, tiba-tiba saja Iswari itu telah melenting tinggi. Tubuhnya yang seolah-olah tanpa bobot itu terbang diatas putaran rantai lawannya. Sambil berputar sekali diudara, maka ujung sepasang pedang Iswari itu telah menikam kedua pundak lawannya.

Warsi yang terkejut itu berusaha untuk menghindar. Tetapi satu dari sepasang pedang Iswari berhasil menghunjam di pundaknya dekat pangkal lehernya.

Warsi berteriak nyaring. Ia masih sempat menghentakkan rantainya seakan-akan mengejar tubuh Iswari yang melayang turun. Dengan hentakkan sendai pancing rantai itu telah menyambar lambung Iswari demikian kakinya menyentuh tanah.

Iswari terdorong beberapa langkah surut. Lambungnya memang tergores ujung rantai lawannya, sehingga luka pun telah menganga. Darah pun telah mengalir, sementara keseimbangannya pun telah terguncang. Dengan susah payah Iswari mempertahankan diri untuk dapat berdiri tegak. Namun luka-lukanya nampaknya menjadi parah, terutama luka dilambungnya.

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka menjadi tegang. Namun mereka harus menahan diri untuk tidak mencampuri perang tanding itu. Bagaimanapun juga, mereka harus tabah melihat kenyataan, apa yang terjadi atas muridnya itu.

Sementara itu Warsi berdiri tegak sambil tertawa berkepanjangan. Rantainya masih berjuntai di tangan kanannya yang tergantung lemah disisi tubuhnya.

Namun dalam pada itu, dalam cahaya bulan yang terang, darah nampak meleleh di pundaknya. Iswari telah menikamnya cukup dalam. Meskipun luka itu adalah satu-satunya luka ditubuh Warsi, namun nampaknya luka itu sangat parah.

Ternyata bahwa Warsi yang berdiri tegak itu perlahan-lahan menjadi goncang. Ketika ia masih juga ingin melangkah menyerang Iswari, maka demikian ia melangkah sambil mengangkat rantainya itu, tubuh itu telah terhuyung-huyung dan kemudian jatuh terjerembab.

Ki Rangga terkejut sekali melihat peristiwa yang tidak diduganya itu. Dengan serta merta ia pun telah berlari mendekati tubuh yang terbaring itu. Perlahan-lahan Ki Rangga telah memutar tubuh itu sehingga menelentang.

Sementara itu Iswari pun tidak lagi mampu berdiri tegak. Kiai Badra lah yang kemudian mendekatinya dan memapahnya.

“Bagaimana dengan kau Iswari?” bertanya Kiai Badra.

“Aku terluka kek,” sahut perempuan itu.

Kiai Badra pun kemudian telah mengambil pedang dari tangan Iswari dan menyarungkannya.

Namun dalam pada itu, peristiwa yang terjadi hampir sepuluh tahun itu telah terjadi lagi. Dua orang tua tiba-tiba saja telah berdiri di arena.

Kiai Soka dan Nyai Soka mendekatinya dengan hati-hati.

“Kau Ki Randu Keling?” desis Kiai Soka.

“Ya. Aku tahu bahwa Warsi ada disini. “desis Ki Randu Keling.

“Kenapa kau tidak ikut dalam pasukannya?” bertanva Kiai Soka.

“Aku tidak sejalan dengan pikirannya. Tetapi bagaimanapun juga, aku wajib berusaha menyelamatkannya,” berkata Ki Randu Keling.

“Jadi maksudmu?” bertanya Kiai Soka.

“Seperti dahulu, ijinkanlah aku membawanya. Nampaknya ia, belum mati. Mudah-mudahan masih ada cara untuk mengobatinya.” minta Ki Randu Keling.

“Ki Randu Keling,” jawab Kiai Soka, “Warsi telah mendapat kesempatan untuk bertemu dua kali dengan Iswari. Aku kira kesempatan itu sudah cukup. Orang yang memiliki tingkah laku, tabiat dan watak seperti Warsi memang sulit untuk diluruskan kembali. Ia adalah keluarga Kalamerta. Agaknya karena itulah maka Ki Gede Sembojan itu telah membunuhnya.”

“Aku masih minta kesempatan sekali lagi,” berkata Ki Randu Keling, “meskipun aku tidak menjamin bahwa ia akan dapat berubah pada suatu saat.”

“Kau perlukan perempuan itu untuk menempa anak laki-lakinya agar pada suatu saat menggantikan usahanya merebut Tanah ini?” bertanya Kiai Soka.

“Perempuan itu tidak mempedulikan anaknya,” jawab Ki Randu Keling, “Puguh, anaknya itu berada di bawah asuhan Ki Ajar Paguhan.”

Kiai Soka memandang orang yang datang bersama Ki Randu Keling itu. Katanya, “Bukankah sepuluh tahun yang lalu, kau juga datang dengan Ki Ajar ini?”

“Ya,” jawab Ki Randu Keling, “orang inilah yang mengasuh Puguh.”

“Warna apakah yang Ki Ajar lukiskan pada dinding hati anak itu?” bertanya Kiai Soka.

“Bukan wewenangku membentuk wataknya. Aku hanya diserahi wadagnya. Aku hanya diserahi untuk melatih anak itu agar menjadi seorang laki-laki.” Ki Ajar berhenti sejenak, lalu, “aku berharap bahwa anak itu memang tidak terlalu dekat dengan ayah dan ibunya.”

Kiai Soka mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “Apa maksudmu?”

Ki Ajar tidak sempat menjawab, sementara Ki Randu Keling berkata, “Cucumu juga parah, ia memerlukan perawatan segera. Jika kita masih berbantah disini, kedua perempuan itu akan sulit diselamatkan lagi.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya kepada Nyai Soka, “Hak untuk menentukan nasib Warsi ada pada Iswari. Bertanyalah kepadanya.”

Nyai Soka pun kemudian bergegas menemui Iswari yang mulai dibaringkan oleh Kiai Badra. Meskipun punggungnya juga terluka, tetapi luka yang terbesar adalah pada lambungnya, sehingga Kiai Badra tidak akan membawanya kembali sebelum ia sempat memberikan pertolongan lebih dahulu.

Ketika Kiai Badra mulai mengobati lambung Iswari, maka Nyai Soka mendekatinya dan berbisik ditelinganya tentang permintaan Ki Randu Keling.

Iswari yang menyeringai menahan sakit itu berdesis, “Bagaimana dengan guru?”

Nyai Soka memandang Kiai Badra sekilas. Desisnya, “Bagaimana pendapatmu Kiai?”

Kiai Badra ternyata juga menjadi bimbang. Namun ternyata Iswarilah yang mengambil keputusan, “Kita serahkan perempuan itu kepada Ki Randu Keling. Jika ternyata ia mengulangi kesalahannya, biarlah Ki Randu Keling ikut bertanggung jawab.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menggamit Kiai Badra yang mengangguk kecil.

Kepada Ki Randu Keling Nyai Soka menyampaikan apa yang telah dikatakan oleh Iswari, sehingga kemudian katanya, “Jika Ki Randu Keling tidak bersedia, maka biarlah perempuan itu terkapar disitu.”

Ki Randu Keling termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia menengadahkan wajahnya ke langit. Dilihatnya bulan bulat masih berada di langit yang terbuka. Awan yang bagaikan tumbuh di cakrawala ternyata telah pecah berserakan dan hanyut selembar-selembar.

Akhirnya Ki Randu Keling berkata, “Aku akan mencoba. Tetapi biarlah sisa hidupku aku pertaruhkan.”

“Tetapi seandainya Warsi berubah, jangan pikulkan dendam ini di pundak anaknya,” berkata Nyai Soka.

Ki Randu Keling tidak menjawab. Namun kemudian bersama Ki Ajar ia berjongkok disisi tubuh Warsi. Seperti yang diduganya, maka ketahanan tubuh Warsi memang luar biasa.

Ki Ajar itu pun kemudian telah menaburkan obat yang ada untuk mengurangi arus darah. Namun kemudian Ki Randu Keling yang semakin tua itu telah mengangkat tubuh Warsi seperti hampir sepuluh tahun yang lalu, juga dibawah siraman cahaya bulan yang bulat.

Berlari-lari kecil Ki Rangga mengikuti dibelakangnya. Namun Ki Randu Keling dan Ki Ajar itu tidak menghiraukannya sejak keduanya minta diri kepada Kiai Soka dan Nyai Soka.

Sepeninggal Ki Randu Keling yang menyibak orang-orang Tanah Perdikan Sembojan bersama Ki Ajar dan diikuti oleh Ki Rangga Gupita, ketiga orang tua itu menjadi sibuk. Mereka tidak ingin terlambat, sehingga karena itu, maka ketiganya telah berusaha mengobatinya meskipun sekedar menutup luka itu dan memberikan obat untuk memperkuat daya tahan tubuhnya.

Orang-orang Tanah Perdikan itu mula-mula memang menjadi bingung karena kehadiran Ki Randu Keling dan Ki Ajar. Namun kemudian mereka tidak berbuat apa-apa ketika Nyai Soka dan Kiai Soka memang melepaskan mereka membawa tubuh Warsi meninggalkan arena perang tanding itu.

Untuk beberapa saat, Kiai Badra, Kiai soka dan Nyai Soka itu masih sibuk dengan Iswari. Sedangkan Iswari sendiri berusaha untuk tidak mengeluh meskipun luka-lukanya terasa sangat pedih.

Baru beberapa saat kemudian Kiai Badra memerintahkan pemimpin pengawal yang kemudian juga menunggui orang-orang tua yang sibuk mengobati Iswari itu untuk membuat tandu.

“Tandu? “ pemimpin pengawal itu mengulang.

“Apa saja yang dapat dipergunakan,” berkata Kiai Badra.

Pemimpin pengawal itu mengangguk. Ia pun kemudian bergeser dan menemui beberapa orang pengawal untuk membuat usungan yang akan dapat dipergunakan untuk membawa Iswari.

Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah mendekat pula dan berjongkok disebelah Kiai Soka.

“Kemana saja kalian selama ini?” bertanya Kiai Soka.

“Aku menghindari kemungkinan pengenalan orang-orang dari padepokan Puguh.” jawab Sambi Wulung, “mereka tidak boleh mengenali aku. Apalagi gurunya. Pada suatu saat, aku harus datang lagi ke padepokannya.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Sementara Jati Wulung bertanya, “Bagaimana keadaannya?”

“Mudah-mudahan kita akan dapat mengatasinya. Disamping obat yang kita berikan, kita serahkan sepenuhnya kepada kemurahan Yang Maha Agung,” jawab Kiai Badra.

Jati Wulung pun mengangguk-angguk. Sementara Iswari berbaring diam. Hanya kadang-kadang saja terdengar ia berdesis tertahan.

Namun kemudian terdengar ia berkata perlahan-lahan, “Jangan beritahu Risang.”

Kiai Badra mengangguk kecil. Namun ia tidak menjawab.

Seperti ketiga guru Iswari itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata berpendapat sama didalam hati, bahwa dalam keadaan yang gawat, Risang justru harus diberi tahu. Tetapi jika keadaan Iswari membaik, mereka memang sependapat untuk tidak memberitahukan keadaan ibunya itu kepada Risang.

***

Dalam pada itu, disaat-saat yang menentukan itu, justru Puguh lah yang telah tertidur diserambi. Tiba-tiba saja ia terkejut, seakan-akan ia mendengar jerit ibunya. Hampir diluar sadarnya Puguh itu meloncat turun kehalaman dan memandang bulan dilangit.

Ternyata segumpal awan telah menutup bulatnya bulan meskipun hanya beberapa saat. Namun Puguh memang menjadi berdebar-debar.

Tetapi sambil duduk kembali di serambi Puguh sempat bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa aku begitu tertarik kepada cahaya bulan malam ini?”

Tidak ada jawaban yang dapat memuaskannya. Pertanyaan itu bagaikan mengejarnya.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya benar-benar dicengkam oleh kegelisahan yang tidak dimengertinya, apa sebabnya.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia meloncat turun lagi kehalaman. Tanpa disadarinya, maka ia pun telah melangkah mengelilingi padepokan. Ketika cantrik yang berjaga-jaga melihatnya, maka ia pun bertanya, “Kau masih belum tidur?”

Puguh tidak menjawab. Ia justru melangkah keregol belakang padepokannya. Cantrik yang berada diregol itu pun bertanya pula. Tetapi Puguh sama sekali tidak menjawab.

“Tetapi, kau harus memberikan pesan kemana kau pergi?”

Puguh tidak menjawab. Ia berjalan saja sambil menundukkan kepalanya.

Bahkan ketika seorang cantrik mendesaknya, Puguh justru membentak, “Tutup mulutmu.”

Cantrik itu terdiam. Ia menyadari, bahwa Puguh kadang-kadang dapat bertindak diluar dugaan.

Puguh pun sebenarnya memang tidak akan pergi ke manapun. Ia menyusuri jalan sempit yang sudah dikenalinya dengan baik. Jalan menuju ke padepokan kedua yang terasing.

Berbeda dengan padepokannya yang pertama, maka padepokan kedua itu nampak lebih tertutup. Padepokan yang dibayangi oleh rahasia yang semakin lama justru semakin dibencinya.

Puguh tertegun ketika tiba-tiba saja dua orang pengawal meloncat dari kegelapan dengan senjata di tangan langsung diacukan ke arah dada.

Namun ketika kedua orang itu menyadari bahwa mereka berhadapan dengan Puguh, maka mereka pun bergeser mundur.

Tetapi Puguhlah yang tiba-tiba saja meloncat maju. Kedua orang itu ditamparnya dengan keras sehingga pipi mereka terasa seperti tersentuh bara.

Keduanya terkejut bukan kepalang. Seorang diantaranya sempat bertanya dengan serta merta, “Kenapa?”

“Kau letakkan dimana penglihatanmu itu he?“ bentak Puguh.

“Kami hanya melihat sosok tubuhmu,” jawab seorang diantara mereka.

“Bukankah cahaya bulan terang? “ desak Puguh.

“Tetapi kami melihatmu dari samping,” jawab orang itu pula.

“Diam,” Puguh membentak, “aku bunuh kau. Disini hanya ada satu hukuman yang pantas diberikan kepada mereka yang berani menentang aku. Hukuman mati. Jika kalian ingin melawan, lawan aku. Kalian atau aku yang akan mati.”

Wajah kedua orang itu menjadi pucat. Puguh memang garang. Tetapi tidak segarang malam itu. Karena itu, maka keduanya tidak menjawab lagi.

“Pergi,“ bentak Puguh, “atau aku merubah pendirianku.”

Keduanya dengan serta merta telah meloncat meninggalkan Puguh yang berdiri termangu-mangu.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Para pengawal Padepokan kedua itu memang seperti orang gila. Sementara itu di tempat-tempat yang agak jauh ditancapkan tonggak-tonggak dengan topeng-topeng kecil yang seram. Para pengawal itu tidak segan-segan membunuh orang yang melintasi tanda-tanda itu meskipun orang-orang itu tidak tahu sama sekali arti dari tanda-tanda itu. Bahkan orang yang sedang mencari kayu sekalipun.

Sambil melangkah Puguh itu bertanya didalam hati, “Apakah guru sebenarnya juga sependapat dengan cara-cara yang gila seperti itu?”

Tetapi Puguh juga tidak mendapatkan jawaban dari dalam dirinya, sehingga anak muda itu hanya dapat menghentak-hentakkan tangannya.

Ketika ia memasuki padepokan kedua, beberapa orang pengawal yang garang yang kebetulan bertugas dipinta gerbang memandanginya dengan sorot mata yang menyimpan berbagai macam pertanyaan.

Namun karena Puguh berpaling pun tidak, tidak seorang pun diantara mereka yang bertanya.

Puguh langsung memasuki ruang dalam bangunan induk padepokan kedua itu. Ruang itu memang terasa sangat sepi. Gurunya memang sedang pergi tanpa diketahui kemana. Hampir diluar sadarnya Puguh pun telah memasuki sanggarnya pula. Sanggar yang cukup luas. Di dinding tergantung bermacam-macam senjata. Sedangkan ditengah-tengah sanggar itu terdapat berbagai macam alat untuk berlatih olah kanuragan.

Tetapi tanpa gurunya, semuanya itu terasa mati.

Untuk beberapa lama Puguh berada didalam sanggar, Namun tiba-tiba saja ia berlari keluar. Ketika ia menengadahkan wajahnya, ternyata awan mulai menebar dilangit. Cahaya bulan memang masih utuh. Namun setiap kali selembar awan melintas. Semakin lama semakin sering.

“Persetan dengan bulan,” Puguh itu pun menggeram, ia pun kemudian berlari lagi masuk kedalam sanggar. Dalam perasaan sepi ia berbaring di amben bambu disudut sanggar itu. Adalah diluar kehendaknya jika kemudian ia tertidur.

Sementara itu ibunya yang terluka, memang tidak dibawa ke padepokan itu. Ki Randu Keling membawa tubuh Warsi itu ke tempat tinggalnya. Memang terlalu jauh. Tetapi Ki Randu Keling sudah bertekad demikian. Bahkan Ki Randu Keling sempat membeli sebuah pedati meskipun agak memaksa. Tetapi uang yang diberikan kepada pemilik pedati itu memang cukup untuk membeli pedati dan lembu yang baru.

Dengan pedati itulah Ki Randu Keling dan Ki Ajar membawa Warsi. Ki Rangga yang selalu mengikutinya, akhirnya diperbolehkan juga oleh Ki Randu Keling untuk ikut naik.

“Kau memegang kendali,” desis Ki Randu Keling.

Ki Rangga tidak membantah. Baginya memegang kendali pedati itu tentu lebih baik daripada berjalan saja mengikuti pedati itu sampai ke jarak yang sangat jauh.

Namun Ki Randu Keling itu sempat bertanya, “Apakah kau tidak melihat sisa-sisa pasukanmu?”

Ki Rangga menggeleng. Katanya, “Mereka telah mempunyai pemimpin mereka masing-masing.

“Kala Sembung telah terbunuh,” berkata Ki Randu Keling, “seharusnya kau mengetahuinya.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bertanya, “Bagaimana dengan Ki Ajar Tulak dan Ki Sumbaga? Menurut keyakinanku Ki Sumbaga tentu selamat di saat ia mengundurkan diri.”

“Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu,” berkata Ki Randu Keling.

Ki Rangga menjadi semakin berdebar-debar. Ia adalah seorang bekas perwira prajurit Jipang yang kemudian bertugas sebagai prajurit sandi. Namun tiba-tiba saja ia merasa menjadi sangat dungu menghadapi pertempuran melawan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan ia pun kemudian menjadi gelisah, bahwa kawan-kawannya itu akan membebankan tanggung jawab kegagalan itu kepadanya.

“Tetapi mereka harus tahu apa yang terjadi,” berkata Ki Rangga itu didalam hatinya.

Ketika kemudian matahari terbit, maka pedati itu telah berjalan semakin jauh. Warsi yang luka parah itu selalu berada dalam pengamatan kedua orang tua itu. Ternyata Ki Randu Keling memang memiliki pengetahuan pengobatan yang luas. Agaknya demikian pula dengan Ki Ajar.

Pada saat yang demikian, orang-orang Tanah Perdikan Sembojan masih sibuk mengumpulkan orang-orang yang menjadi korban pertempuran. Yang terbunuh dan yang terluka. Bukan saja orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga orang-orang dari balik bukit.

Orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan diseluruh Tanah Perdikan telah dikerahkan. Mereka harus menolong orang-orang yang terluka.

Kiai Badra dan Kiai Soka juga ikut sibuk membantu mereka. Hanya Nyai Soka sajalah yang secara khusus menunggui Iswari yang telah dibawa kerumahnya.

Memang belum ada orang yang berangkat untuk menyampaikan berita itu kepada Risang karena Iswari memang melarangnya. Namun ternyata Risang yang disisa malam sebelumnya tidak dapat tidur sama sekali itu merasa sangat gelisah.

Tetapi jika Gandar bertanya kepadanya, Risang tidak pernah dapat menjelaskan perasaannya.

“Sudahlah,” berkata Gandar, “sebaiknya kau beristirahat. Agaknya kau terlalu letih, sehingga kau nampaknya sangat gelisah tanpa sebab.”

Risang mengangguk kecil. Setelah membenahi dirinya, justru Gandar membawa Risang ke serambi belakang bangunan induk. Cahaya matahari yang cerah, angin yang berdesir lembut serta tubuh yang letih agaknya memungkinkan Risang untuk beristirahat dan tidur barang sejenak.

Tetapi Risang itu bertanya, “Sejak kapan aku membiasakan diri tidur disaat seperti ini?”

“Memang jangan menjadi kebiasaan,” sahut Gandar, “hanya dalam keadaan yang khusus seperti ini. Jika kau tidak mau beristirahat dan membiarkan dirimu dicengkam oleh kegelisahan tanpa sebab, maka kau dapat menjadi sakit karenanya. Badanmu menjadi panas dan kepalamu terasa sangat pening.”

Risang terdiam. Tetapi ia sama sekali tidak mau membaringkan dirinya. Bahkan ketika ia melihat seseorang sedang menyiangi batang-batang terung, ia pun segera meloncat berlari.

“Berikan cangkul itu,” berkata Risang.

Orang yang sedang menyiangi batang terung itu termangu-mangu. Namun Risang lah yang kemudian mengambil cangkul itu dari tangannya.

Gandar tidak mencegahnya. Bagi Gandar, apa saja baik dilakukan oleh Risang, asal itu dapat melupakan kegelisahannya.

Tetapi sebagai seorang yang mempunyai panggraita yang tajam, maka Gandar pun menghubungkan perasaan Risang itu dengan kemungkinan yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan yang disaat-saat terakhir terasa menjadi gawat. Meskipun dengan demikian sebenarnya Gandar sendiri menjadi gelisah, tetapi ia tidak menunjukkan kegelisahannya itu kepada Risang. Ia justru berusaha untuk memberikan perhatian lain kepada Risang, sehingga ia dapat melupakan kegelisahannya itu.

“Jika terjadi sesuatu, tentu ada orang yang datang kemari untuk memberitahukannya,” berkata Gandar.

Tetapi kegelisahannya memuncak ketika ia teringat, bahwa semalam bulan bulat sepenuhnya. Gandar pun pernah mendengar bahwa Warsi mempunyai kepercayaan yang berhubungan dengan bulatnya bulan dilangit.

Rasa-rasanya Gandar ingin meloncat ke Sembojan antuk mengetahui apa yang terjadi. Tetapi sudah barang tentu ia tidak akan dapat meninggalkan Risang sendiri di padepokan itu.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Gandar adalah sekedar menunggu. Alangkah menjemukan. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain.

Sehari itu perhatian Gandar kepada Risang rasa-rasanya menjadi semakin tinggi. Bahkan Risang sendiri kemudian merasakan kelainan sikap Gandar sehingga ia harus bertanya, “Ada apa sebenarnya dengan aku?”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun menjawab, “Seharusnya akulah yang bertanya demikian. Kenapa dengan kau. Tetapi baiklah. Kita harus melupakannya saja.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

***

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Nyai Soka masih saja menunggui Iswari yang terbaring diam. Dilantai, diujung kaki Iswari, Bibi duduk sambil memijit-mijit kaki itu. Beberapa kali Bibi harus mengusap matanya yang basah. Namun justru Iswari sudah dapat tersenyum sambil berkata, “Kita harus berterima kasih Bibi. Yang Maha Agung masih melindungi aku.”

“Ya,” suara Bibi masih terasa sendat, “tetapi kau memang orang luar biasa. Meskipun aku tidak melihat sendiri, tetapi menurut Nyai soka, jika bukan kau maka lambungmu tentu telah benar-benar pecah dan isi perutmu akan berhamburan keluar. Demikian pula punggung dan pundakmu.”

Iswari masih saja tersenyum. Katanya, “Itulah ujud perlindungan itu.”

“Tetapi tentu ada lantarannya. Kau dalam ilmu Janget Kinatelon, sehingga udara disekitar tubuhmu seakan-akan mampu menolak serangan yang betapapun kuatnya. Namun karena Warsi juga orang yang luar biasa, maka senjatanya ternyata mampu menembus batas itu, dan melukaimu,” berkata Bibi.

“Guru tidak mengatakan begitu kepadaku,” jawab Iswari.

“Bertanyalah kepada Nyai Soka. Ia ada disini sekarang,” jawab Bibi.

Nyai Soka lah yang kemudian tersenyum. Katanya, “Aku semula memang menjadi cemas. Aku tidak tahu bagian yang manakah yang akan kau pergunakan untuk menundukkan lawanmu. Aku kira kau akan mempergunakan panas yang mampu kau serap dengan ilmumu dan kau pancarkan kembali agar lawanmu tidak mampu mendekatimu. Tetapi agaknya kau lebih senang menyalurkannya lewat senjatamu.”

“Dengan ujud itu, aku ingin mempengaruhi jiwanya guru,” jawab Iswari, “aku juga telah menyalurkan panas itu lewat senjatanya sendiri untuk menyengat tangannya. Tetapi Warsi memang seorang yang berilmu sangat tinggi. Sehingga akhirnya aku telah mempergunakan bagian yang agaknya memang tidak diduganya,” berkata Iswari.

“Dan kau berhasil,” desis Nyai Soka.

“Ya,” Bibi pun menyambung, “keberhasilanmu itulah yang mengagumkan. Kemampuanmu mengesampingkan bobot tubuhmu merupakan satu kemampuan yang jarang ada duanya. Agaknya Warsi terlalu memusatkan perhatiannya kepada panas yang merambat lewat senjatanya, cahaya di daun pedangmu serta barangkali udara panas disekitar tubuhmu serta kemampuanmu melindungi dirimu dengan kekuatan ilmumu. Namun setelah kau berhasil menarik perhatiannya itu, bahkan sepenuhnya, maka kau telah menyerangnya dengan cara yang tidak diperhitungkan sama sekali.”

“Tetapi sebagian adalah keberhasilanmu Bibi, “berkata Nyai Soka.

“Kenapa aku?” bertanya Bibi.

“Kau telah memijit dan membuka simpul-simpul nadi Iswari yang masih tertutup, sehingga dengan demikian, maka segala-galanya menjadi semakin rancak didalam dirinya. Ia menguasai tubuhnya sepenuhnya sebagaimana dikehendakinya,” berkata Nyai Soka.

“Aku memang ingin mengucapkan terima kasih kepadamu Bibi, “desis Iswari.

“Ah, aku bukan apa-apa,” sahut Bibi, Suaranya terasa menyumbat di kerongkongan. Namun matanyalah yang terasa basah.

“Sejak kapan seekor serigala menjadi cengeng? He, bukankah semalam bulan bulat? Malam yang paling menarik bagi kehidupan seekor serigala,” berkata Iswari pula.

“Ah, kau.” Bibi itu menjadi semakin tersentuh hatinya.

Nyai Sokalah yang kemudian bergeser mendekatinya dan menyentuh pundaknya, “Kembangkan kemampuanmu. Kau memiliki bekal yang sangat besar. Kau mampu mengenal jalur-jalur syaraf yang nadi serta simpul-simpulnya. Sengaja atau tidak sengaja. Kewajibanmu selanjutnya adalah memperhatikan kemampuan itu dan memahaminya dengan sadar.”

Bibi itu mengangguk kecil sambil menjawab, “Aku akan mencoba Nyai.”

Nyai Soka tertawa pendek. Katanya, “Kau tentu akan berhasil. Dengan demikian maka kau akan menjadi bagian yang menentukan dalam latihan-latihan yang akan dilakukan Iswari kemudian, agar yang terbuka itu tidak kehilangan lagi arti dan kegunaannya karena menutup kembali.”

Bibi mengangguk-angguk. Sementara Iswari berdesis, “Pada suatu saat, aku akan sangat memerlukan kau, Bibi.”

“Aku tidak dapat berbuat lebih baik lagi,” berkata Bibi.

“Itulah sebabnya, guru minta agar kau mengembangkan kemampuanmu dengan sadar. Namun selain aku, anakku tentu sangat memerlukan kau.” berkata Iswari perlahan.

Bibi mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terdengar ia berdesis, “Risang maksudmu?”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Lukanya memang masih terasa sakit sekali. Namun ia berdesis, “Ya.”

Bibi mengangguk-angguk pula. Dengan mantap ia berkata, “Aku akan melakukan apa saja bagi Risang.”

“Tentu,” sahut Nyai Soka, “tetapi kau tidak dapat memacu kemajuan anak itu melampui kemampuan jasmani dan rohaninya. Jika kita memaksa, maka justru akan merugikan anak itu sendiri.”

Bibi mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja katanya, “Aku ingin segera mendapat kesempatan untuk menemuinya. Bagaimanapun juga jika kita memberikan dorongan kepadanya, ia akan berbuat lebih banyak.”

“Tunggu Bibi,” berkata Iswari, “biarlah keadaanku menjadi lebih baik. Aku kira Risang tidak perlu mengetahui apa yang terjadi seluruhnya, meskipun sebagian dari peristiwa ini perlu diketahuinya. Namun kita memerlukan kesempatan yang paling baik untuk melakukannya.”

Bibi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan melakukan yang terbaik bagi kepentingan anak itu.”

“Terima kasih Bibi. Hari depan Tanah Perdikan ini tergantung kepada anak itu.” desis Iswari, “karena itu, maka anak itu harus meniti jalan yang benar dari segala sisi kehidupannya.”

Bibi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya dengan nada rendah, “Tetapi mendengar laporan Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang memerlukan langkah yang lebih panjang.”

“Ya,” Iswari menyahut, “tetapi bukankah kita masih berpengharapan?”

“Tentu. Tentu,” sahut Bibi tergesa-gesa, “jika aku mengatakannya, semata-mata terdorong oleh keinginanku untuk segera dapat menemuinya. Aku sudah menjadi sangat rindu kepada anak itu.”

“Sudah aku duga,” Nyai Soka tersenyum. Lalu katanya, “Saat itu akan segera datang. Tetapi sementara ini, kita harus membenahi diri.”

Bibi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tahu, bahwa semua orang di Tanah Perdikan ini menjadi terlalu sibuk.

Namun para pemimpin Tanah Perdikan itu telah mengucap syukur didalam hati mereka, bahwa Yang Maha Agung telah memberikan petunjuk bagi mereka, sehingga Tanah Perdikan mereka tidak menjadi rusak. Memang beberapa kotak sawah menjadi bagaikan dibajak dengan tanaman yang ada didalamnya karena pertempuran itu. Tetapi itu jauh lebih baik daripada satu dua padukuhan, apalagi padukuhan induk jika dibakar dan menjadi karang abang. Tentu bukan hanya rumah yang rusak dan menjadi hangus, tetapi orang-orang tidak bersalah akan dapat menjadi korban.

Tetapi meskipun pertempuran itu terjadi di bulak yang luas didepan lereng pebukitan, namun orang-orang Tanah Perdikan telah menjadi sibuk dengan korban yang jatuh. Para pengawal Tanah Perdikan harus menyelenggarakan penghormatan terakhir bagi kawan-kawan mereka yang gugur. Namun mereka pun harus mengubur pula tubuh-tubuh lawan yang terbunuh. Sedangkan yang paling melelahkan adalah merawat para pengawal dan anak-anak muda yang terluka. Bahkan juga para pengikut Ki Rangga dan Warsi yang terluka dan begitu saja ditinggal oleh kawan-kawan mereka.

Beberapa hari berikutnya, masih merupakan hari-hari berkabung bagi Tanah Perdikan Sembojan. Iswari yang terluka cukup parah memang mulai dapat berjalan-jalan sampai ke pendapa. Sekali-sekali Iswari telah dapat menemui para bebahu dan para pemimpin Tanah Perdikan yang lain.

Hampir dalam setiap kesempatan Iswari telah menyatakan penyesalannya, bahwa benturan kekerasan itu harus terjadi.

“Mungkin akulah yang bersalah. Justru karena aku memimpin Tanah Perdikan ini,” berkata Iswari.

“Tidak,” sahut seorang bebahu yang rambutnya telah menjadi berbaur putih, “jika bukan Nyi Wiradana, apakah kita akan menyerahkan pimpinan Tanah Perdikan ini kepada penari jalanan itu? Jika perempuan itu menyerang Tanah Perdikan ini, sudah tentu bukan salah Nyi Wiradana. Kecuali jika Nyi Wiradana dengan sengaja memancing persoalan dengan perempuan itu sehingga bersama pengikutnya ia menyerang Tanah ini. Tidak untuk merebutnya, tetapi untuk mempertahankan hak dan harga dirinya.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun ia pun masih berpesan, “Tetapi bukan berarti bahwa kita sudah bebas sama sekali dari kemungkinan buruk. Dalam pertempuran itu Warsi terluka, seperti juga aku terluka. Jika aku dirawat oleh guru-guruku, maka Warsi pun telah dirawat oleh orang-orang yang memiliki keahlian dibidang pengobatan. Karena itu, maka menurut perhitunganku, keadaannya pun tentu sudah berangsur baik.”

“Tetapi ia tidak akan tergesa-gesa mengambil langkah-langkah kekerasan berikutnya,” berkata orang itu, “pada pertempuran itu pasukannya benar-benar telah dihancurkan. Korban yang jatuh lebih dari dua kali lipat dibanding dengan korban yang harus diserahkan oleh Tanah Perdikan ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun berpesan, “Pembalasan secara luas tentu tidak. Tetapi kelompok-kelompok kecil akan mungkin dapat membuat keributan di Tanah Perdikan ini.”

Para bebahu dan para pemimpin Tanah Perdikan itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari kemungkinan itu.

Namun dalam pada itu, kelompok-kelompok dari pasukan Ki Rangga yang terpecah itu memang sedang menyusun diri. Mereka memang tidak pergi terlalu jauh. Mereka tetap berada dibalik bukit. Meskipun mereka menyadari bahwa kekuatan mereka jauh susut, namun mereka mempunyai perhitungan, bahwa orang-orang Tanah Perdikan tidak akan memburu mereka sampai ke goa-goa dibalik bukit itu. Sementara itu, mereka pun tidak berniat untuk menyerang kembali Tanah Perdikan dalam keadaan seperti itu.

Tetapi mereka mempergunakan kesempatan itu untuk berbicara tentang langkah-langkah yang patut mereka ambil.

Namun ternyata sebagian dari mereka telah menyalahkan Ki Rangga Gupita yang kurang bertanggung jawab.

“Korban kita terlalu banyak,” berkata Ki Sumbaga.

“Ki Rangga terlalu menuruti perasaannya. Ia lebih memberatkan menunggui Warsi berperang tanding daripada seluruh pasukan yang sudah mulai terdesak. Ki Rangga tidak mengambil kebijaksanaan yang mantap dan apalagi menguntungkan. Tetapi ia menjadi tidak peduli,” berkata Ki Ajar Tulak.

“Kita minta pertanggungjawabannya,” berkata seorang pemimpin kelompok, bekas seorang perwira prajurit Jipang.

Ki Sumbaga ternyata masih berpikir cukup jernih. Katanya, “Untuk sementara tidak perlu. Kita sudah mendengar kabar, bahwa Warsi terluka parah. Ternyata perempuan itu kalah dalam perang tanding, meskipun lawannya juga terluka cukup parah pula. Bahkan Ki Rangga pun telah mengorbankan pula orang-orangnya sendiri. Para bekas pengikut gerombolan Kalamerta itu mengalami kehancuran yang paling parah. Pemimpinnya terbunuh dan orang-orangnya berlari cerai berai.

“Sebagian besar diantara mereka yang tersisa ada di sini,” berkata Ki Ajar.

“Biarlah. Kita harus memberikan tempat kepada mereka. Mereka tentu merasa kehilangan ikatan, sehingga mereka memerlukan perlindungan,” berkata Ki Sumbaga.

Tetapi Ki Ajar berkata, “Bagaimanapun juga, tetapi kita harus berusaha bertemu dengan Ki Rangga. Kita harus berbicara dengan orang itu. Sebenarnya ia tidak boleh begitu saja meninggalkan pasukan ini. Bukankah perempuan itu sudah ada yang merawat?”

“Aku setuju menemuinya,” berkata Ki Sumbaga, “kita akan berbicara. Tetapi untuk sementara kita tidak perlu membuka persoalan.”

“Kau sangat terpengaruh olehnya,” berkata Ki Ajar, “meskipun kalian dahulu bersama-sama mengabdi kepada Jipang, tetapi bukankah kau sekarang tidak berada dibawah perintahnya? Ki Rangga tidak dapat berbuat sesuka hatinya tanpa bertanggung jawab sama sekali.”

“Sekali lagi aku minta, kita akan berbicara dalam batas-batas kewajaran. Aku tidak berniat untuk menuntut atau apapun juga. Ingat, Warsi adalah orang yang dapat kita pergunakan sebagai saluran untuk mengambil kekuasaan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan, karena sebenarnya anak laki-lakinyalah yang berhak jika anak laki-laki Nyi Wiradana yang tua itu mati,” berkata Ki Sumbaga.

“Apakah kau masih harus menunggu sampai jalur itu terbuka? Belum tentu sepanjang umurmu, kau sempat mendapatkan kesempatan itu,” berkata Ki Ajar. Lalu, “Kenapa kita tidak berbuat dengan cara yang lain. Kita rebut saja Tanah Perdikan itu dengan kekerasan. Selagi Pajang sedang diliputi oleh awan yang gelap. Sudah barang tentu dengan kemungkinan untuk membentur kekuatan Ki Rangga dan Warsi. Jika kita berani menentang anak Nyi Wiradana yang tua, maka kita akan berani menghadapi kekuatan anak Nyi Wiradana yang muda, betapapun tinggi ilmu yang dimiliki oleh Warsi itu.”

“Tetapi dengan landasan hak, kita akan dapat menjinakkan orang-orang Tanah Perdikan. Perlahan-lahan kita akan dapat menyingkirkan orang-orang yang tidak kita kehendaki. Tetapi selama Ki Rangga itu masih dapat kita pergunakan untuk menghadapi Pajang, maka kita akan mempergunakan.” jawab Ki Sumbaga, “demikian juga ilmu Warsi yang tinggi.”

Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi kita harus menyadari Ki Sumbaga, bahwa didalam hati kita masing-masing terdapat niat untuk saling memanfaatkan, saling memperalat dan kemudian saling menyingkirkan disaat terakhir. Kita hanya dapat bekerja bersama selama kita masih saling membutuhkan.”

Ki Sumbaga tersenyum. Katanya, “Satu langkah yang wajar dari orang-orang yang terbuang seperti kita. Mimpi dan berangan-angan. Tetapi kita harus menyadari, bahwa kekuatan yang telah kita kerahkan sekarang ini tidak mampu mengatasi kekuatan Tanah Perdikan. Baik pasukan dalam keseluruhan, maupun orang-orang terpenting diantara kita. Nah, apa katamu Ki Ajar? Kau tidak dapat mengalahkan pemimpin sayap yang kau hadapi, yang mampu membuat pedangnya bercahaya melampaui kuningnya cahaya bulan. Itu tentu bukan satu-satunya ilmu yang dimilikinya. Ki Rangga sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, sementara Kala Sembung terbunuh. Warsi ternyata tidak dapat mengalahkan Nyi Wiradana yang tua itu, sehingga hampir saja ia harus menyerahkan nyawanya.”

“Kau benar Ki Sumbaga,” berkata Ki Ajar, “tetapi apa yang kau lakukan selama pertempuran itu?”

“Aku mengendalikah gelar yang harus disusun dengan tiba-tiba. Tanpa kendali, maka hancurlah kita semuanya menghadapi gelar yang utuh dari orang-orang Tanah Perdikan. Barangkali induk pasukan kita telah tumpas tanpa seorang pun yang dapat hidup dalam himpitan gelar Wulan Tumanggal,” berkata Ki Sumbaga.

Ki Ajar tidak menjawab. Ia memang menyadari bahwa menghadapi gelar yang utuh, pasukan yang datang dari balik bukit itu menjadi sulit.

Karena itu, maka para pemimpin yang tersisa itu memang sepakat untuk menemui Ki Rangga tetapi yang masih harus dicari dimana orang itu tinggal. Di padepokannya, atau di padepokan Ki Randu Keling atau bahkan di tempat yang lain untuk menghindari pertanggungan jawab yang mungkin dituntut oleh kawan-kawannya.

***

Dalam pada itu, di padepokannya, Puguh masih menunggu gurunya. Rasa-rasanya gurunya itu sudah terlalu lama pergi, sehingga padepokannya itu semakin lama terasa semakin sepi. Puguh sendiri sudah sering meninggalkan padepokannya mengembara ketempat-tempat yang kadang-kadang bukan tempat yang baik bagi anak-anak muda. Di tempat-tempat perjudian. Di tempat-tempat sabung ayam dan di tempat-tempat lain yang kadang-kadang kotor dan keras. Ia tidak pernah merasa begitu sepi tanpa gurunya diperjalanan dan pengembaraan seperti itu. Kadang-kadang hanya dikawani oleh satu dua orang pengawalnya.

Tetapi untuk tinggal di padepokan tanpa gurunya, rasa-rasanya ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Seperti kanak-kanak, melihat ibunya pulang dari pasar, Puguh menjadi sangat gembira, ketika tiba-tiba saja seorang pengawal di padepokan kedua telah datang ke padepokan pertama untuk memberitahukan, bahwa gurunya telah datang.

Berlari-lari Puguh pergi ke padepokan kedua. Ketika ia masuk keruang dalam bangunan induknya, ternyata gurunya sudah duduk di amben besar diruang dalam itu.

“Guru,” sapa Puguh dengan nada tinggi, “dari mana guru selama ini?”

Gurunya tersenyum. Katanya kemudian, “Marilah, duduklah. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”

“Tentang apa guru?” bertanya Puguh.

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Ternyata seperti Iswari, Ki Randu Keling telah berpesan kepada Ki Ajar, bahwa Puguh memang perlu tahu, tetapi tidak seluruhnya.

“Sudah lama kau tidak bertemu dan ayah dan ibumu, Puguh,” berkata Ki Ajar.

Puguh mengangguk kecil. Katanya, “Ayah dan ibu nampaknya telah melupakan aku. Sudah lama keduanya tidak pernah datang ke padepokan ini. Yang bergaung disini hanyalah sekedar aturan-aturannya yang keras dan mencengkam.”

Ki Ajar mengangguk kecil. Katanya, “Ayah dan ibumu memang terlalu sibuk. Keduanya jarang mendapat kesempatan untuk meluangkan waktu barang sejenak.”

“Aku mengerti. Ayah dan ibu sibuk berusaha memaksakan kehendaknya kepada siapapun juga, sehingga keduanya kehilangan kesempatan untuk memandang hidup ini secara wajar,” berkata Puguh sambil menunduk.

“He, darimana kau dapatkan pengertian seperti itu?” bertanya gurunya.

Puguh tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya hidupnya memang telah terpisah dari ibu bapanya.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———

Bersambung ke Jilid 17

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s