SST-13

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

PAMAN SAMBI WULUNG dan paman Jati Wulung akan menangani segala sesuatunya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan-persoalan yang gawat,” sahut Iswari. Namun demikian nampak keragu-raguan di wajahnya.

Sementara itu Kiai Soka pun berkata, “Iswari. Sebaiknya dalam waktu-waktu penyempurnaan ilmu Janget Kinatelon, kau tidak terganggu oleh persoalan-persoalan lain, sehingga pemusatan nalar budimu tidak terganggu.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan, maka nampak keragu-raguan di wajahnya. Bahkan Iswari itu seakan-akan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku akan dapat melakukannya? Apakah aku benar-benar dapat memisahkan diri dari kewajibanku di Tanah Perdikan ini meskipun hanya sepuluh hari?”

Tetapi Iswari membiarkan pertanyaan itu melingkar-lingkar didalam dirinya. Namun kemudian ia menyadari, bahwa pertanyaan itu harus disingkirkannya jika ia memasuki pemusatan nalar budi untuk menerima tuntunan menyempurnakan ilmunya Janget Kinatelon.

Karena itu maka Nyi Wiradana memang sudah memanggil beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan. Hanya beberapa orang yang benar-benar dipercaya termasuk pemimpin petugas sandi dan pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan. Kepada mereka Iswari memberi tahukan, bahwa sebelum menghubungi dirinya, dalam waktu yang terbatas, sebaiknya mereka berhubungan lebih dahulu dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kenapa?” bertanya pemimpin pengawal.

“Aku akan menjalani pengobatan yang berat,” berkata Iswari, “aku mempunyai penyakit dalam yang berbahaya. Tetapi aku tidak menutup kemungkinan untuk menerima persoalan yang benar-benar gawat.”

“Meskipun hal itu akan berakibat buruk bagi penyakitmu sebelum sembuh benar,” berkata Kiai Badra.

Iswari hanya menarik nafas dalam-dalam, sementara pemimpin pengawal itu berkata, “Baiklah. Kami akan berusaha bersama-sama Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mungkin timbul. Terutama dengan adanya topeng-topeng kecil itu. Sementara ini pemimpin petugas sandi akan bekerja keras untuk mengamati keadaan. Kami sudah sewajarnya membantu agar pengobatan Nyi Wiradana cepat selesai.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian dengan nada rendah, “Terima kasih. Kami mengharap semua pihak akan membantu. Mudah-mudahan pengobatan itu akan segera selesai. Dengan demikian maka aku akan segera dapat menunaikan tugasku kembali.” Iswari berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku ulangi pesanku. Hal ini merupakan rahasia yang harus sama-sama kita pegang. Akhir-akhir ini kita melihat suasana yang kurang cerah di Tanah Perdikan ini, sehingga keadaanku itu tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memang ingin mengacaukan ketenangan Tanah Perdikan ini.”

“Baik Nyi. Kami akan melakukannya,” jawab pemimpin pengawal itu.

“Bahkan merupakan rahasia bagi para pengawal itu sendiri,” Iswari melanjutkan.

“Kami mengerti,” pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk.

Demikianlah, maka Nyi Wiradana itu pun telah membagi tugasnya. Namun semuanya akan bertumpu pada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Meskipun demikian untuk sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung diminta agar tidak terlalu sering keluar dari rumah.

Sambi Wulung jdan Jati Wulung menyadari, bahwa jika orang-orang yang sedang mengamati Tanah Perdikan itu mengenalnya, maka persoalannya akan berkembang semakin luas.

Sejak hari itu, maka Iswari telah berusaha untuk memisahkan diri dari tugas-tugasnya sebagai Pemangku Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Malam nanti ia sudah harus memasuki barak untuk memperdalam dan meningkatkan ilmunya Janget Kinatelon.

Ketika matahari mulai bergeser kesebelah titik puncaknya, maka Iswari pun telah membersihkan diri. Mandi keramas dengan air abu merang. Kemudian untuk beberapa saat ia berada di biliknya. Sambil mengeringkan rambutnya yang panjang, Iswari telah mempersiapkan diri sepenuhnya.

Ketika kemudian senja turun, maka bersama-sama dengan ketiga orang gurunya, Iswari telah memasuki sanggarnya.

Iswari bukan lagi seorang perempuan muda. Umurnya sudah bertambah-tambah. Namun, demikian ia memasuki sanggar, maka darahnya mulai bergetar sebagai mana sepuluh tahun yang lalu.

Beberapa saat lamanya, mereka berempat itu duduk di tengah-tengah sanggar. Mereka mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan didalam sanggar itu.

Sesaat kemudian, dengan isyarat Kiai Badra minta kepada mereka semua untuk memusatkan nalar budi, memanjatkan permohonan kepada Sumber Hidup mereka, agar usaha mereka dapat berhasil dengan baik serta mohon tuntunan agar ilmu yang akan mereka dalami itu akan memberikan arti yang baik bagi sesama dalam pengabdian.

Dalam keheningan sejenak, maka semua hati seakan-akan telah larut dalam pendekatan tertinggi.

Untuk beberapa saat lamanya mereka terbenam dalam suasana hening, sehingga seakan-akan sanggar itu menjadi lebih sepi dari saat-saat kosong sama sekali. Bahkan tarikan nafas dari mereka yang sedang menundukkan kepala itu tidak terdengar sama sekali.

Demikianlah, telah terjadi sentuhan-sentuhan dihati mereka betapa lembutnya, sehingga mereka pun menjadi semakin menyadari, betapa mereka tidak lebih dari debu yang dihamburkan diluasnya padang ilalang di rawa-rawa.

Namun betapapun tidak berartinya mereka, tetapi mereka bermohon agar mereka dapat berbuat sesuatu bagi kebaikan sesama dengan cara yang ingin mereka lakukan. Justru karena cara yang mereka tempuh adalah cara yang dalam pengertian dasarnya bertentangan dengan kasih kepada sesama itu sendiri, maka mereka telah memohon agar hati mereka dibimbing untuk dapat mengetrapkan dalam pengertian yang baik.

Demikianlah maka setelah beberapa saat mereka berada dalam keadaan yang hening, maka mereka pun telah mengangkat kembali wajah mereka yang tunduk. Tarikan nafas panjang telah menandai berakhirnya satu saat yang betapapun pendeknya namun merupakan usaha pemusatan nalar budi dalam pendekatan tertinggi.

Untuk beberapa saat mereka masih tetap duduk sambil berdiam diri. Namun kemudian Kiai Badra lah yang mulai membuka pembicaraan, “Nah, setelah kita benar-benar berada dalam kesiagaan sepenuhnya, maka marilah, kita akan mulai dengan tugas kita yang berat.”

“Kau sudah benar-benar siap Iswari?” bertanya Nyai Soka.

“Ya guru,” jawab Iswari singkat.

“Jika demikian, maka mulailah dengan mengungkapkan kembali tingkat kemampuanmu agar kami dapat mengerti dengan pasti, dari mana kita akan berangkat,” berkata Kiai Badra.

Iswari pun kemudian berdiri tegak. Mengangguk dalam-dalam sebagaimana sikap seorang murid kepada gurunya. Bukan lagi sikap seorang cucu kepada kakeknya. Beberapa langkah ia surut, sementara ketiga orang kakek dan neneknya itupun telah bergeser pula menepi.

Sejenak kemudian, maka Iswari pun telah mempersiapkan dirinya, mengatupkan kedua telapak tangan didadanya. Memusatkan segenap tanggapan indriyanya dalam ungkapan ilmu yang tersimpan didalam dirinya.

Perlahan-lahan Iswari mulai menggerakkan tangannya. Telapak tangannya yang mengatup mulai terurai. Perlahan-lahan jari-jari tangannya mulai bergerak membentuk lambang-lambang tertentu pada permulaan ungkapan ilmunya sebagaimana diajarkan oleh gurunya. Kemudian jari-jari kedua tangannya mengembang dalam jajaran yang rapat, sementara tangannya terjulur kedepan dengan telapak tangan tengadah. Satu gerakan berputar disusul dengan pengendapan yang berat. Kedua tangannya telah terangkat keatas. Kemudian kedua telapak tangannya telah mengatup kembali dan turun perlahan-lahan sehingga akhirnya berhenti didadanya.

Sejenak Iswari berdiri dalam sikap seperti itu. Namun kemudian ia pun mulai bergerak dengan unsur-unsur gerak yang telah dipelajarinya dari ketiga gurunya itu. Geraknya mula-mula perlahan-lahan. Namun semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya Iswari mulai memasuki unsur-unsur gerak yang paling sulit dari ilmu yang pernah diterimanya.

Untuk beberapa saat lamanya ketiga gurunya mengamati dengan saksama tata gerak yang dilakukan oleh Iswari dalam pengungkapan ilmunya itu. Semakin lama terasa betapa gerak Iswari menjadi semakin mantap.

Pada saat-saat unsur-unsur geraknya telah tertuang, maka mulailah Iswari mengetrapkan ilmu yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang jarang ada bandingnya. Dengan kemampuan ilmunya Iswari mampu menyerap kekuatan yang ada dilingkungannya, kemudian bergejolak didalam dirinya dan memadu dengan kekuatan yang ada didalam dirinya pula.

Dengan demikian maka perlahan-lahan mulai nampak oleh mata orang-orang berilmu semacam kabut tipis dari tubuh Iswari itu. Kabut yang sangat tipis dan bagaikan menggelombang diudara.

Ketika kakek dan neneknya memperhatikan kabut tipis itu dengan saksama. Mereka menyadari bahwa ilmu Iswari memang sudah meningkat. Kabut itu tidak lagi berujud, tetapi nampak oleh ketiga orang tua itu, sebagaimana mereka melihat deg amun-amun di padang rumput dalam panas yang sangat terik, sehingga udara bagaikan bergetar karenanya tanpa menghalangi pandangan mereka.

Ketiga orang tua itu mengerti, bahwa Iswari mampu membangunkan kekuatan panas semakin tinggi sejalan dengan tingkat perkembangan ilmunya. Dengan demikian maka kekuatan ilmunya itu pun telah bertambah berbahaya pula bagi lawan-lawannya.

Namun Iswari tidak mendorong kekuatan ilmunya itu bergerak karena ia tidak mempunyai sasaran yang memadai didalam sanggarnya itu, sehingga dengan demikian maka kekuatan ilmunya bagaikan hanya menyelubungi dirinya. Meskipun demikian, dalam benturan kekuatan, dengan pengetrapan ilmunya seperti yang dilakukannya itu, Iswari sudah akan dapat melindungi dirinya dari serangan lawan-lawannya dalam sentuhan wadag, karena seseorang yang mendekatinya akan merasakan kekuatan ilmu itu.

Beberapa saat lamanya Iswari telah menunjukkan kekuatan ilmunya yang telah berkembang kepada kakek dan neneknya yang kebetulan adalah guru-gurunya, diwarnai oleh unsur-unsur gerak yang mendukung kekuatan dan kemampuan ilmunya yang telah berkembang pula.

Sehingga akhirnya, Iswari telah sampai kepada puncaknya. Demikian dahsyatnya ilmu didalam dirinya, sehingga seluruh ruang di sanggar itu bagaikan menjadi sepanas uap yang keluar dari tabung air yang mendidih.

Tetapi yang ada didalam sanggar itu selain Iswari adalah tiga orang berilmu tinggi, sehingga karena itu, maka merekapun mampu melindungi kulit mereka sehingga tidak mengalami luka-luka karena panasnya uap air yang mendidih. Apalagi ilmu itu bersumber dari mereka bertiga pula.

Demikianlah, maka setelah Iswari benar-benar tuntas dipuncak kemampuannya, meskipun ada bagian-bagian yang tidak dilakukannya karena kemungkinan keadaan disekelilingnya dan ruang, maka ia pun mulai menyusut ungkapan ilmunya itu perlahan-lahan. Semakin lama semakin ditekannya dan diendapkannya, sehingga akhirnya kabut tipis yang hanya dapat dilihat oleh mata orang-orang berilmu itupun telah lenyap pula. Ungkapan-ungkapan gerak kewadagannya pun telah menurun pula perlahan-lahan, sehingga akhirnya perlahan-lahan tangannya pun telah terangkat dengan jari-jari terbuka. Kemudian perlahan-lahan pula megatup dan turun kedadanya. Masih ada beberapa gerakan kecil. Tetapi terakhir telapak tangan Iswari itu telah merapat dan mengatup kembali di dadanya.

Sesaat mata Iswari terpejam. Namun kemudian ketika mata itu terbuka Iswari telah membungkuk hormat kepada ketiga orang gurunya.

Ketiga orang kakek dan neneknya yang juga guru-gurunya itu mengangguk-angguk. Mereka telah menyaksikan kemampuan Iswari dalam ungkapan ilmu Janget Kinatelon. Yang mula-mula adalah tiga sumber ilmu yang karena kemampuan yang tinggi, telah dijalin menjadi satu sehingga menjadi sejenis ilmu yang dapat disebut diperbaharui dalam tataran yang lebih tinggi dari sumber dasarnya masing-masing.

Dalam pada itu maka terdengar Kiai Badra berkata kepada Iswari, “Cukup Iswari. Beristirahatlah sebentar. Kami akan menentukan langkah-langkah kami untuk membimbingmu dalam waktu yang pendek ini.”

Iswari sekali lagi mengangguk dalam-dalam. Kemudian katanya, “Terima kasih guru.”

Ketika Iswari kemudian menepi dengan kedua belah tangannya yang tergantung lemah disisi tubuhnya untuk duduk dan beristirahat, maka ketiga orang gurunya telah melakukan penilaian atas peragaan yang dilakukan oleh Iswari itu.

Beberapa saat mereka melihat kekuatan yang nampak pada perkembangan ilmunya yang bahkan diluar dugaan, namun mereka juga melihat beberapa kekurangan dan kelemahan yang ada pada ilmunya itu, sehingga beberapa diantara unsur geraknya masih nampak rapuh. Bahkan pancaran kekuatan ilmunya pun masih juga belum padat, sehingga masih ada lubang-lubang udara yang kosong.

“Jika terjadi benturan ilmu yang sama kuatnya, maka ilmu lawan akan mampu menyusup diantara kekosongan itu dan sangat membahayakannya,” berkata Nyai Soka.

“Ya,” desis Kiai Soka, “segi itulah yang akan kita urai terlebih dahulu, sebelum kita meningkat pada pengembangannya.”

Kiai Badra pun mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita akan mengisi kekosongan-kekosongan yang masih terdapat pada ungkapan ilmu anak itu, meskipun ilmunya sudah meningkat. Kemudian mempertebal lapisan-lapisan ilmu itu dan terakhir kita harus melihat bagaimana Iswari mendorong kekuatan ilmunya memancar dari dirinya ke arah sasaran, dengan kekuatan ilmu yang telah menjadi semakin padat dan berat.”

Demikianlah, maka ketiga orang itu telah membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil untuk melaksanakannya.

Dalam pada itu, Iswari yang sempat beristirahat di pinggir sanggar, duduk pada sebuah amben kecil. Dengan sungguh-sungguh ia memperhatikan pembicaraan guru-gurunya meskipun ia tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Namun Iswari merasa bahwa ia masih harus bekerja keras untuk mencapai satu tataran baru pada ilmunya itu.

Demikianlah, maka sejak saat itu, Iswari memang lebih banyak berada didalam sanggar. Ia benar-benar telah memisahkan diri dari tugasnya sehari-hari. Bahkan tidak seorang pun yang dibenarkan menghubunginya selain ketiga orang gurunya.

Siang dan malam hampir tidak ada putusnya, Iswari berada didalam sanggar bersama ketiga orang gurunya. Sehari semalam, Iswari hanya mendapat kesempatan yang tidak terlalu panjang untuk berada diluar sanggar dan berada dipambaringannya. Selebihnya, ia harus bekerja keras menjelang saatnya bulan purnama.

Bagi Iswari sendiri, bulan purnama tidak memberikan pengaruh apapun pada ilmunya. Dan bahkan Iswari menganggap bahwa cahaya bulan tidak lebih dari salah satu ujud kecantikan alam, diantara kecantikan alam yang lain.

Namun ketiga gurunya mempunyai pertimbangan yang lain. Mereka masih memperhitungkan seseorang yang menganggap dirinya dipengaruhi oleh kekuatan cahaya bulan.

Dalam pada itu, selagi Iswari berada didalam sanggarnya dan tenggelam pada peningkatan kemampuan ilmunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung berusaha untuk dapat melakukan tugas-tugasnya meskipun tidak sepenuhnya. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung pun masih selalu membatasi dirinya karena keduanya masih juga memperhitungkan satu kemungkinan, bahwa orang-orang dari padepokan yang dihuni oleh Puguh akan berkeliaran sampai ke Tanah Perdikan itu. Atau orang-orang dari satu lingkungan yang tersembunyi, yang daerahnya dipagari oleh topeng-topeng kecil yang mempunyai pengertian maut itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berusaha untuk menyembunyikan wajah mereka terhadap orang-orang yang mungkin menyusup ke Tanah Perdikan Sembojan itu, agar tidak memberikan kemungkinan bagi Puguh untuk mengambil langkah-langkah pengamanan sehingga mereka akan kehilangan jejaknya lagi.

Karena itulah, maka keduanya lebih banyak mengatur Tanah Perdikan itu dari rumah Kepala Tanah Perdikannya. Tetapi sebaliknya justru di malam hari Sambi Wulung dan Jati Wulung banyak mengunjungi padukuhan-padukuhan di seluruh Tanah Perdikan, sehingga karena itu, maka setiap padukuhan tidak pernah merasa terpisah dari induknya meskipun beberapa hari mereka tidak berhubungan dengan Iswari.

Untuk beberapa hari tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan itu. Tetapi tiba-tiba saja seorang petugas sandi yang mengawasi keadaan di dalam lingkungan Tanah Perdikan telah melihat orang yang pernah mengganggu anak-anak karena topeng kecil itu berada dipasar.

Petugas itu sempat menghubungi kawannya dan menyuruhnya untuk mengawasinya.

“Yang seorang dari kedua orang itu pernah aku kenali memburu dan menakut-nakuti anak-anak karena anak-anak itu telah melepas topeng yang dipasangnya diregol. Yang seorang lagi aku belum pernah melihatnya. Tolong awasi mereka selama mereka berada di pasar. Jika mereka pergi, tolong, ketahui ke arah mana mereka meninggalkan Tanah Perdikan ini. Aku akan melaporkannya kepada pimpinan kita.”

Kawannya mengangguk. Tetapi ia masih bertanya, “jadi aku tidak mengambil langkah apa-apa selain mengawasi mereka?”

“Ya. Aku selalu mendapat pesan untuk sangat berhati-hati dengan mereka,” sahut petugas yang pertama.

Demikianlah maka dengan tergesa-gesa petugas itu telah menemui pemimpinnya. Namun agaknya pemimpinnya masih harus berbicara lebih dahulu dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Jangan tergesa-gesa mengambil langkah apapun,” berkata pemimpinnya, “awasi saja mereka. Mungkin tidak hanya dua orang saja. Aku akan bertemu dengan Ki Sambi Wulung atau Ki Jati Wulung. Berikan laporan kepadaku setiap ada perkembangan baru. Aku berada dirumah Kepala Tanah Perdikan.”

Petugas sandi itupun kemudian telah kembali ke pasar. Ketika ditemuinya kawannya membeli semangkuk dawet, maka kawannya itu telah memberikan isyarat, bahwa orang yang sedang di awasinya ada ditempat pande besi.

Petugas itu pun telah ikut pula duduk dimuka penjual dawet dan memesan sekaligus dua mangkuk.

“Perutmu melembung nanti,” berkata petugas yang menunggunya, “mungkin kau ganti harus masih minum lagi. Semelak, atau wedang sere atau apalagi.”

“Aku senang sekali minum dawet cendol dengan pemanis badhek aren seperti ini,” jawab petugas itu.

“Terserah saja kau,” desis kawannya.

Tetapi petugas sandi itu tidak menghabiskan dua mangkuk dawetnya sekaligus. Ia minum seteguk demi seteguk sambil duduk bukan lagi dimuka penjual dawet itu, tetapi disebelahnya. Dari tempatnya duduk, ia melihat dua orang yang harus mereka awasi berada di pande besi yang sedang sibuk menempa kejen bajak.

Ternyata pande besi yang tidak tahu dengan siapa ia berhadapan itu, telah mendapat beberapa pertanyaan dari kedua orang itu dan menjawabnya sebagaimana diketahuinya. Kedua orang itu telah bertanya tentang pembuatan senjata di Tanah Perdikan itu.

“Ada beberapa orang pande besi yang secara khusus telah membuat senjata,” berkata pande besi itu, “meskipun dalam keadaan darurat semua pande besi yang ada diperintahkan membuat senjata. Tentu saja dengan mutu yang berbeda. Aku tidak terbiasa membuat senjata. Tetapi jika terpaksa, aku dapat juga membuat pedang. Tetapi pedang buatanku tidak akan lebih baik dari sebuah parang para petani.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata, “betapa buruknya sebuah pedang, tetapi jika mematuk perut yang terdiri dari kulit dan daging ini, tentu akan koyak juga.”

Pande besi itu tertawa. Katanya, “Jangankan pedang. Parang pembelah kayu itu pun akan dapat mengayakkan kulit perut.”

Kedua orang itupun tertawa pula. Beberapa saat keduanya masih berada di bengkel pande besi itu. Namun kemudian keduanya pun telah minta diri dan meninggalkan tempat itu. Keduanya memang berhenti di depan pande besi yang lain disebelahnya. Tetapi hanya sebentar.

Demikian kedua orang itu pergi, maka kedua orang petugas sandi itupun telah bersiap-siap. Petugas sandi yang telah menemui pemimpinnya itu berkata, “Nanti saja kita bertanya kepada pande besi itu. Kita awasi dahulu, kemana mereka pergi.”

Kedua orang itu pun telah mengikuti dengan hati-hati dua orang yang dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai hubungan dengan topeng-topeng kecil itu.

Ternyata kedua orang itu telah keluar dari pasar dan berjalan menuju ke pintu gerbang.

Kedua orang petugas sandi itu pun telah memisahkan diri. Seorang akan langsung menuju ke pintu gerbang, seorang yang lain masih saja mengawasi keduanya dari ke jauhan.

Seperti yang mereka perhitungkan, keduanya memang keluar lewat pintu gerbang padukuhan induk. Ternyata di luar gerbang induk itu telah terdapat bukan hanya sebuah topeng kecil. Tetapi sepasang topeng yang letaknya agak tinggi diluar pada sebatang pohon, sehingga anak-anak tidak akan dapat menggapainya.

Kedua orang itu berhenti sejenak ketika mereka melewati gerbang dan memandangi sepasang topeng yang menempel diluar batas pedukuhan induk itu.

Tetapi keduanya tidak mengatakan sesuatu. Seorang petugas sandi yang justru telah berada diluar pinti gerbang itu, sempat bersembunyi dibalik sebuah gerumbul. Namun ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dilakukan oleh keduanya kecuali bahwa keduanya memperhatikan sepasang topeng itu, lalu pergi.

“Marilah, kita melihat di gerbang yang lain,” berkata petugas yang pertama.

“Melihat apa? Bukankah kita sudah tahu, disana ada juga topeng kecil seperti ini,” sahut kawannya.

“Apakah sekarang juga menjadi sepasang,” berkata petugas itu.

“Kita biarkan saja keduanya pergi?” bertanya kawannya.

“Sulit mengikuti mereka tanpa mereka ketahui di tengah-tengah bulak,” berkata petugas itu, “nanti kita akan menghubungi kawan-kawan kita dipadukuhan sebelah. Namun agaknya yang menjadi sasaran perhatian mereka adalah padukuhan induk ini,” sahut yang pertama.

Kawannya tidak menjawab. Namun keduanya telah pergi ke pintu gerbang yang lain dari padukuhan induk itu.

Ternyata diluar pintu gerbang itu, juga pada sebatang pohon telah terdapat pula sepasang topeng kecil. Sebuah topeng yang terdahulu justru telah tidak ada ditempatnya.

“Apakah para peronda tidak mengetahui apa yang terjadi semalam?” desis petugas sandi itu.

“Belum tentu hal itu terjadi semalam,” jawab kawannya, “mungkin baru hari ini atau dua hari yang lalu, tetapi para peronda tidak begitu memperhatikannya.

Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Katanya hampir kepada diri sendiri, “Tentu satu pertanda bahwa keadaan menjadi semakin mendesak. Hanya saja kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.”

Nampaknya kawannya itu pun sependapat. Bahkan ia pun berkata, “Apakah harus dimulai lagi pengawasan di pintu gerbang ini siang dan malam?”

“Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung tentu tidak setuju,” sahut petugas sandi itu, “sementara ini orang-orang itu masih belum merasa bahwa mereka telah kita awasi.”

“Lalu, apa yang kita lakukan sekarang?” bertanya kawannya.

“Kita menghadap pemimpin kita. Kita perlu membicarakan beberapa hal.”

Demikianlah maka kedua orang itu telah menemui pimpinan petugas sandi yang sudah berpesan berada di rumah Kepala Tanah Perdikan. Bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung mereka membicarakan kemungkinan-kemungkinan tentang dua topeng kecil disetiap pintu gerbang.

“Kita harus memberikan tugas dengan diam-diam kepada para petugas sandi untuk memperhatikan padukuhan-padukuhan lain atau tempat-tempat yang perlu mendapat perhatian, apakah di tempat-tempat itu juga terdapat topeng-topeng kecil seperti itu,” berkata pemimpin dari para petugas sandi itu.

Namun perintah yang kemudian keluar bukan hanya itu. Tetapi juga meningkatkan kesiagaan dan pengawasan yang lebih bersungguh-sungguh terhadap orang-orang dari luar Tanah Perdikan, meskipun hal yang demikian sulit dilakukan di pasar-pasar.

Ketika ada satu kesempatan kecil, Sambi Wulung dan Jati Wulung berbicara dengan Kiai Badra yang kebetulan keluar dari sanggar disaat Iswari beristirahat, maka Kiai Badra itu pun berpesan, “perhatikan bulan nanti malam. Jangan dari padukuhan induk ini. Tetapi dari padukuhan yang berada diujung Tanah Perdikan ini.”

“Untuk apa?” bertanya Jati Wulung.

“Bukankah cahaya bulan itu berarti sekali bagi Warsi? Ilmunya selain Gelap Ngampar agaknya dipercaya akan dapat terpengaruh oleh cahaya bulan,” berkata Kiai Badra. Lalu, “Karena itu lihatlah. Mungkin kalian melihat sesuatu yang menarik perhatian kalian. Mungkin ada hubungannya dengan topeng yang berpasangan itu. Tetapi mungkin pula tidak.”

“Baiklah,” jawab Jati Wulung, “kami akan melakukannya malam ini.”

Ketika kemudian Kiai Badra kembali ke sanggar, maka Sambi Wulung dan jati Wulung pun telah bersiap-siap untuk pergi ke padukuhan yang paling ujung dari Tanah Perdikan itu. Justru diujung sebelah Timur.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak membawa orang lain bersama mereka agar tidak menarik perhatian. Tetapi keduanya minta agar pimpinan petugas sandi dan pimpinan pengawal Tanah Perdikan berada di rumah Kepala Tanah Perdikan.

“Sementara pengobatan bagi Nyi Wiradana masih berlangsung, maka kita memang harus menjaga rumah ini baik-baik,” berkata Sambi Wulung kepada pemimpin pengawal dan para petugas yang ada di rumah itu.

Meskipun tanpa perintah, tetapi rasa-rasanya para pengawal itu masing-masing menyadari, bahwa mereka harus meningkatkan kesiagaan tertinggi. Karena itu, maka mereka tidak membagi tugas menjadi dua kelompok seperti biasanya yang bergantian tidur dan berjaga-jaga. Tetapi mereka yang tidur hanya seperempat dari jumlah para petugas bergantian. Para petugas itu telah dibagi menjadi empat kelompok. Hanya satu kelompok sajalah yang beristirahat dengan waktu yang lebih pendek dari biasanya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang terbiasa untuk datang ke padukuhan-padukuhan dimalam hari. Karena itu, keduanya memang tidak banyak menarik perhatian ketika mereka melewati gardu-gardu di padukuhan-padukuhan. Bahkan keduanya masih juga sempat berbicara beberapa lama digardu-gardu sekedar untuk memelihara jarak yang sudah menjadi semakin dekat dengan anak-anak muda Tanah Perdikan itu.

Tetapi mereka tidak mengabaikan tugas mereka. Ketika bulan yang masih belum bulat semakin tinggi memanjat langit, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung memang telah berada diujung Tanah Perdikan itu. Tetapi keduanya sengaja tidak berada di gardu di mulut pintu gerbang di paling ujung itu. Tetapi seperti orang-orang yang pergi kesa-wah, maka keduanya menyusuri pematang memasuki daerah persawahan yang masih menjadi lingkungan Tanah Perdikan.

Adalah kebetulan, bahwa mereka telah bertemu dengan dua orang yang berada didalam gubugnya menunggui air yang gemericik mengalir dibawah gardu itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah ikut pula duduk digardu itu yang ternyata terletak tidak begitu jauh dari lereng perbukitan.

“Sepi sekali malam ini,” berkata salah seorang dari kedua orang petani itu.

“Apakah dimalam-malam lain tidak sesepi ini?” bertanya Sambi Wulung.

Orang itu tertawa. Katanya, “Malam-malam lain juga sepi. Tetapi rasa-rasanya malam ini terlalu sepi. Suara angin terdengar lebih ngelangut.”

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Yang sepi adalah hatimu sendiri. E, apakah sudah agak lama kau tidak mendapat kesempatan untuk bermain dadu?”

“Ah,” jawab petani itu, “bukankah sekarang di Tanah Perdikan ini sudah tidak ada lagi permainan dadu? Aku tahu sekarang. Kau sedang menyelidiki aku.”

Jati Wulung tertawa semakin keras. Katanya, “Sama sekali tidak. Aku memang sudah yakin, tidak ada lagi permainan apapun disini.”

Namun dalam pada itu, petani yang lain pun berkata, “Suasananya memang lain. Dua atau tiga malam ini rasa-rasanya memang lebih sepi. Malam kemarin kami tidak keluar dimalam hari, karena kami mendapat giliran air di siang hari. Malam ini sebenarnya kami mendapat giliran di pagi hari. Tetapi rasa-rasanya di padukuhan pun terlalu sepi. Anak-anak yang meronda bagaikan terkantuk-kantuk saja di gardu, Karena itu, kami pun telah keluar pula jauh sebelum saat giliran kami sampai. Rasa-rasanya ada yang menarik untuk diketahui ditengah-tengah bulak ini.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung pun berkata, “Yang membuat kita merasa lebih sepi adalah udara yang semakin dingin dalam dua tiga malam ini. Langit yang bersih memang membuat udara sangat dingin. Angin yang bertiup ini rasa-rasanya semakin membuat tubuh gemetar.”

Kedua orang petani itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Kau benar. Dua tiga malam ini udara terasa bagaikan menggigit tulang.”

Untuk sesaat merekapun telah terdiam. Malam dinginnya bukan kepalang. Namun seorang diantara petani itu berkata, “Aku membawa wedang jahe. Meskipun sudah dingin tetapi hangatnya jahe akan membuat kita menjadi hangat pula.”

“Terima kasih,” jati Wulung menyahut, “aku memang haus.”

Jati Wulung memang meneguk wedang jahe dari gendi tembaga yang dibawa oleh petani itu. Namun belum lagi tiga teguk Jati Wulung telah menurunkan gendi itu dari mulutnya,

“Kalian dengar suara itu?” jati Wulung berdesis.

“Ya. Memang agak tidak biasa,” berkata petani itu, “suara itulah yang memang mendorong kami untuk memperhatikan sawah kami. Apalagi pategalan sebelah.

“Bukanlah suara itu suara anjing hutan?” bertanya Jati Wulung.

“Ya.” jawab petani itu.

“Bukankah anjing hutan tidak merusakkan sawah dan pategalan?” bertanya Jati Wulung.

“Pada dasarnya memang tidak. Tetapi jika jumlah terlalu banyak, maka jalan yang mereka lewati akan menguak tanaman di sawah dan petegalan. Dalam keadaan lapar maka anjing-anjing hutan akan memasuki padukuhan-padukuhan untuk mencuri ternak.”

“Apakah kalian tidak takut?” bertanya Jati Wulung.

“Anjing hutan tidak dapat memanjat. Mereka tidak akan dapat memanjat tiang-tiang gubug kami. Sedangkan gubug kami cukup kuat sehingga tidak akan dapat dirobohkannya,” jawab petani itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi Sambi Wulung masih bertanya, “Apakah anjing-anjing hutan itu tidak dapat memanjat tangga?”

Petani itu tertawa. Katanya, “Tangga itu dapat kami tarik keatas. Sementara itu, kami dapat memukuli kepala anjing hutan yang mencoba melonjak naik dengan tongkat-tongkat besi ini atau menusuknya dengan parang.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Darimana kira-kira anjing-anjing itu datang? Bukankah biasanya tidak ada seekor pun anjing hutan yang mendekati Tanah Perdikan ini?”

“Memang pernah,” jawab petani yang seorang, “tetapi tidak pasti sepuluh tahun sekali. Menurut pendengaran kami, dibalik bukit itu ada sebuah goa yang angker. Yang disebut jalma mara jalma mati, sato mara sato mati. Setiap kehidupan yang datang ke goa itu tentu akan mati.”

“Goa itu sarang anjing hutan?” bertanya Sambi Wulung.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Bukan sarang anjing hutan. Tetapi terdapat seorang pertapa yang dengan ilmunya dapat diciptakannya sejumlah anjing hutan. Anjing hutan itu dapat diperintah sesuai dengan kehendaknya dan memiliki penalaran sebagaimana orang yang memilikinya itu.”

“Ya.” Sahut petani yang lain, “ilmu itu memang ilmu siluman. Tetapi jarang sekali ilmu itu dipergunakannya jika tidak ada persoalan yang sangat gawat.”

“Apakah kau pernah menyaksikan atau mendengar salah satu peristiwa yang berhubungan dengan anjing hutan itu?” bertanya Sambi Wulung.

“Seharusnya kau tidak boleh lupa. Kau ingat, saat Nyi Wiradana bertempur dan menjadi luka parah? Saat bulan purnama penuh itu ditandai dengan gonggongan anjing-anjing liar. Nah, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.”

Tiba-tiba saja kulit Sambi Wulung dan Jati Wulung meremang. Hampir diluar sadar mereka memandang ke bulan yang belum bulat. Tetapi beberapa hari lagi bulan itu akan purnama. Anjing-anjing hutan itu akan menjadi semakin liar dan apakah mungkin akan terulang lagi peristiwa hampir sepuluh tahun yang lalu, disaat Iswari dan Warsi masih cukup muda.

Tetapi suara anjing liar itu rasa-rasanya semakin lama semakin keras. Dan bahkan semakin banyak. Seolah-olah anjing-anjing liar itu bergerak dalam kelompok yang besar semakin lama semakin dekat. Tetapi setiap kali sumber suara itu rasa-rasanya memang kembali lagi ke balik bukit.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung pun bertanya, “Menurut ceritera-ceritera orang-orang tua, apakah ada orang yang pernah sampai ke goa itu?”

Kedua orang petani itu mengangkat bahunya. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi menurut kata orang jalma mara jalma mati, sato mara sato mati. Jika ada orang yang mencoba melihat kedalam goa itu, maka ia tidak akan pernah kembali lagi.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak melihat hubungan antar ilmu yang dimiliki oleh Warsi dan tempat dibalik bukit itu, karena ia tahu, bahwa Warsi memiliki padepokan jauh dari Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan Warsi sendiri mungkin telah mempergunakan bekas padepokan atau sarang gerombolan Kalamerta atau tempat lain, tetapi tidak dibalik bukit itu.

Beberapa saat lamanya Sambi Wulung dan Jati Wulung masih tetap berada di gubug itu. Mereka masih juga mendengar anjing hutan yang menggonggong. Kadang-kadang memang diam untuk beberapa lama. Kemudian terdengar seekor diantaranya mengaum seakan-akan meneriakkan isyarat kepada kawan-kawannya. Kemudian terdengar sekelompok anjing menggongong bersama-sama.

Namun bagaimanapun juga suara anjing itu dan bulan yang terang dilangit, merupakan pertanda yang buruk bagi Tanah Perdikan dalam hubungannya dengan topeng kecil yang menjadi rangkap. Seakan-akan satu peringatan bahwa segala sesuatunya telah menjadi semakin dekat.

“Sejak kapan kalian mendengar suara anjing itu?” bertanya Jati Wulung.

“Aku tidak ingat lagi. Tetapi sejak bulan mulai nampak cerah dilangit,” jawab petani itu.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mendekat. Tetapi tentu hanya sampai batas Tanah Perdikan Sembojan di kaki bukit itu. Di seberang jalan sempit di tengah-tengah bulak itu, maka tanah persawahan itu. Tetapi milik sebuah kademangan tetangga.

“Marilah,” ajak Jati Wulung, “kita berjalan-jalan lagi.”

Sambi Wulung setuju. Katanya, “Marilah. Kita habiskan malam ini dengan berkeliling Tanah Perdikan. Besok sejak dini hari kita akan tidur dengan nyenyak.”

Kedua orang itu pun kemudian telah turun dari gardu dan minta diri untuk melanjutkan perjalanan.

Salah seorang dari kedua petani itu pun kemudian berpesan, “jangan mencoba-coba memasukkan tanganmu kedalam api.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun keduanya pun tertawa. Sambi Wulung pun menjawab, “Kami tidak akan pergi ke bukit itu. Terima kasih atas peringatan kalian.”

Demikianlah Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menelusuri pematang, mengikuti aliran air parit yang tidak begitu besar, tetapi bening. Ketika Jati Wulung menyentuh air itu dengan ujung jari kakinya, maka terasa air itu sangat dingin.

Tetapi para petani yang mendapat giliran mengairi sawahnya di malam hari, tidak akan mengeluh meskipun seandainya air itu bagaikan membeku.

Ketika mereka sampai ke batas Tanah Perdikan Sembojan, maka mereka pun terhenti. Dihadapan mereka masih terbentang beberapa kotak sawah sampai kekaki bukit. Tetapi sawah itu bukan milik Tanah Perdikan itu. Meskipun Tanah Perdikan selalu berhubungan dengan para tetangga, tetapi adalah kurang bijaksana untuk memasuki lingkungan mereka dimalam hari. Para petani dari Kademangan tetangga akan dapat menuduhnya mencuri air yang seharusnya mengalir di tanah persawahan mereka atau bahkan berbuat sesuatu yang kurang wajar.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya berdiri saja di sebuah jalan yang tidak cukup luas itu, yang disebelah-menyebelahnya terdapat parit.

Suara gonggong anjing itu memang terdengar semakin dekat. Tetapi rasa-rasanya memang dari balik bukit kecil itu. Namun demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung masih belum yakin, bahwa dibalik bukit itu ada sebuah goa yang dihuni oleh seseorang yang memiliki atau memelihara anjing-anjing hutan itu. Apalagi seseorang yang dengan ilmunya dapat menciptakan anjing-anjing hutan yang garang.

“Tetapi suara itu memang suara anjing hutan,” berkata Sambi Wulung.

“Siapa tahu apa semacam ilmu yang dipengaruhi oleh sinar bulan, namun dibarengi oleh suara-suara seperti gonggong anjing hutan. Sinar bulan dan suara seperti gonggong anjing hutan itu merupakan dukungan atas kekuatan ilmu yang dimiliki itu. Misalnya, kenapa Warsi beberapa tahun yang lalu menantang Iswari justru disaat bulan purnama. Juga disaat itu terdengar gonggong anjing hutan,” desis Jati Wulung.

“Kita memang dapat menghubungkannya dengan topeng yang tiba-tiba telah menjadi rangkap,” berkata Sambi Wulung pula. Lalu katanya, “Kesimpulan daripada itu, maka kita memang harus semakin berhati-hati.”

Keduanya ternyata sependapat, bahwa dalam waktu dekat memang akan dapat terjadi sesuatu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tekejut ketika keduanya melihat sesuatu meloncat dari balik gerumbul di pematang sawah diseberang jalan. Semula mereka mengira seekor serigala. Namun ternyata bukan. Yang meloncat itu pun kemudian berdiri tegak sebagaimana seseorang. Bahkan bukan hanya seorang, tetapi tiga orang.

“Hati-hatilah,” desis Sambi Wulung, “tetapi ingat, kita belum siap. Iswari belum selesai dengan peningkatan diri. Karena itu seandainya mereka bukan petani dari Kademangan sebelah, dan mereka menyerang kita, kita tidak boleh melawan. Apalagi mengalahkan mereka.

“Lalu?” bertanya Jati Wulung.

“Kita akan lari. Bukankah kita yakin, bahwa kita masih memiliki kemampuan untuk mendorong agar kita dapat berlari lebih cepat,” berkata Sambi Wulung.

Kedua orang itu justru telah duduk di tanggul parit di pinggir jalan seperti laku dua orang petani yang menunggui air diparit itu.

Ketiga orang itu memang telah mendekatinya. Seorang yang berjalan di paling depan telah berhenti beberapa langkah dari Sambi Wulung dan Jati Wulung. Dengan nada kasar ia bertanya, “He, apa kerja kalian disini?”

“Menelusuri air Ki Sanak,” jawab Sambi Wulung.

“Tetapi kalian nampaknya tidak membawa cangkul atau alat-alat yang lain,” berkata orang itu.

“Cangkul kami berada dimulut kotak sawah kami. Kami hanya menunggui air yang kadang-kadang telah dicuri orang tetangga-tetangga yang tidak mau menuruti perjanjian tentang pembagian air,” sahut Sambi Wulung. Namun Sambi Wulung pun sempat juga bertanya, “Kalian siapa?”

“Aku petani dari Kademangan sebelah,” jawab salah seorang diantara mereka.

Tetapi Sambi Wulung masih menjawab, “Aku terbiasa bertemu dengan mereka disini. Tetapi rasa-rasanya aku belum pernah melihat kalian.”

Orang yang berdiri dipaling depan menggeram. Katanya, “Apaboleh buat. Waktunya memang sudah tiba untuk mulai dengan permainan kami yang mengasikkan. Kami akan mulai dengan rencana kami atas orang-orang Tanah Perdikan.”

“Rencana apa?” bertanya Jati Wulung.

“Nasib kalian ternyata sangat buruk. Kalian berdua adalah orang yang pertama-tama kami temui pada saat rencana kami mulai kami laksanakan,” geram orang itu. Lalu katanya, “berlututlah.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung nampak termangu-mangu. Sementara orang itu telah membentak pula, “Cepat, berlututlah. Jika kau mempersulit pekerjaan kami, maka kau akan mengalami nasib yang jauh lebih buruk dari mati.”

 “Untuk apa kami harus berlutut?” bertanya Sambi Wulung.

 “Kami akan memenggal kepala kalian,” jawab orang itu.

 “Jangan,” jawab Sambi Wulung, “aku tidak mau.”

Orang itu memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan sorot mata yang membara. Katanya, “Tidak ada orang yang pernah lepas dari tanganku. Kalian pun tidak.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung bergeser beberapa langkah surut. Mereka mencoba menyembunyikan wajah mereka dari cahaya bulan.

“Jangan berusaha untuk lari. Tidak ada gunanya,” geram orang itu. Lalu, “Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak mau berlutut maka kami akan mengikat kalian dan menyeret kalian di sepanjang jalan ini sampai kalian mati. Mungkin besok pagi. Mungkin kami masih harus menjemur kalian diteriknya matahari sehari lagi sambil menyeret kalian naik keatas bukit. Jika sampai diatas bukit kalian belum mati, maka kalian akan menjadi makanan semut merah. Nah, karena itu, pikirkan. Cara mati yang mana yang kau kehendaki.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih bergeser surut. Sementara orang itu mulai menghitung, “Satu, dua, tiga.”

Karena Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak berlutut maka orang yang agaknya memimpin kawan-kawannya itu berteriak, “Tangkap mereka dan ikat mereka.”

Namun Sambi Wulung telah memberikan isyarat kepada Jati Wulung. Karena itu, maka mereka berdua pun telah berlari meninggalkan orang-orang itu.

“Tangkap mereka. Jangan sampai lepas,” teriak pemimpin mereka.

Kedua orang diantara mereka telah berusaha mengejar Sambi Wulung dan Jati Wulung, namun ternyata kedua buruan itu berlari lebih kencang dari mereka. Sambi Wulung dan Jati Wulung berlari menyusuri jalan panjang itu menuju ke padukuhan.

Orang-orang yang mengejarnya telah mengerahkan tenaga mereka pula. Namun ternyata bahwa jarak diantara mereka semakin lama justru menjadi semakin panjang, sehingga akhirnya kedua orang yang mengejarnya itu melepaskan harapannya untuk dapat menangkap mereka.

Karena itu, maka kedua orang yang mengejarnya itu akhirnya telah berhenti. Sambil mengumpat-umpat mereka akhirnya kembali kepada pemimpin mereka.

Ternyata pemimpin mereka telah marah bukan buatan. Hampir saja ia telah memukul orang-orangnya. Untunglah ia masih dapat menahan diri.

“Kedua orang itu akan menyebarkan berita ini,” geram pemimpinnya, “seharusnya orang-orang Tanah Perdikan itu menemukan orang-orangnya mati tanpa diketahui siapakah yang membunuh mereka. Kita telah belajar bagaimana membunuh seseorang dengan meninggalkan kesan bahwa orang itu telah dikoyak-koyak serigala.”

“Jika keduanya mau berlutut, maka kita akan dapat dengan mudah mengoyak lehernya dan menghunjamkan kuku-kuku besi kita sebagaimana gigi serigala. Tetapi orang itu tidak mau melakukannya, sehingga kita harus membunuhnya dengan cara apapun juga,” jawab salah seorang diantara keduanya.

“Kau bodoh,” geram pemimpinnya, “kita akan dapat memberikan kesan kematian dengan cara yang kita kehendaki itu. Seandainya tidak, dengan cara apapun orang itu ternyata-tidak dapat kalian tangkap. Apalagi kalian bunuh.”

Kedua orang pengikutnya itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun pemimpinnya akan berkata, “Sudahlah. Kita akan berusaha disisi lain dari Tanah Perdikan ini. Mungkin kita memang tidak perlu meninggalkan kesan serigala itu. Dengan cara apapun kita harus mulai menakut-nakuti orang-orang Tanah Perdikan yang sombong ini. Tetapi harus kita sadari, apa yang terjadi ini besok tentu sudah tersebar di seluruh Tanah Perdikan, karena Tanah Perdikan Sembojan mempunyai jaring-jaring hubungan yang tertib antara padukuhan-padukuhan. Aku pun berani bertaruh, besok semua pengawal Tanah Perdikan itu tentu sudah dikerahkan. Dengan demikian tugas kita akan bertambah berat dan kita harus lebih bersabar.”

Kedua orang pengikutnya masih tetap berdiam diri. Sementara itu pemimpinnya berkata, “Pada suatu saat, kita harus merayap memasuki padukuhan.”

Akhirnya ketiga orang itu pun telah meninggalkan tempatnya berjalan kembali ke arah bukit. Mereka tidak mengharapkan lagi akan bertemu dengan seseorang atau lebih yang akan dapat dijadikan korban. Mereka pun pada kesempatan pertama telah gagal untuk memberikan kesan sekelompok serigala yang telah menyerang para petani Tanah Perdikan Sembojan, karena kedua orang yang disangkanya petani itu sempat melarikan diri.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun ternyata tidak segera memasuki padukuhan. Demikian kedua orang yang mengejar mereka itu berhenti, maka mereka pun telah berusaha untuk menyelinap dan menyusuri pematang kembali menemui kedua orang petani yang ada didalam gubugnya.

“Kami persilahkan kalian pulang,” minta Sambi Wulung.

“Kami belum sempat mengairi sawah kami. Sebentar lagi kami akan mendapat giliran itu,” jawab salah seorang dari mereka.

Tetapi Sambi Wulung berkata, “Aku minta dengan sangat kalian pulang bersama kami. Biarlah kita agak mendahului saat kau membuka pematang. Bukankah waktunya hanya kurang sedikit?”

“Tetapi kami belum mendengar ayam berkokok untuk yang kedua kalinya,” jawab salah seorang diantara para petani itu.

“Sebentar lagi,” jawab Sambi Wulung, “mari, buka pematangmu dan kita tinggalkan kembali ke padukuhan. Sesuatu telah terjadi. Kau pada saatnya akan mengetahuinya.”

Kedua orang itu tidak membantah. Mereka pun menjadi berdebar-debar. Karena itu, maka keduanya pun telah turun dari gubug mereka dan mulai membuka pematang untuk mengalirkan air kedalam sawah. Karena kedua orang itu memiliki sawah yang terletak bersebelahan dari parit itu, maka mereka dapat bersama-sama menghentikan air parit yang mengalir kesawah dibagian bawah dan mengambilnya dengan mengalirkannya kedalam sawah mereka sebelah menyebelah. Tetapi karena waktunya masih kurang sedikit, maka keduanya tidak menghentikan sepenuhnya aliran air diparit itu. Sebagian kecil dari air parit itu masih mengalir terus, sehingga seandainya kotak sawah yang terdahulu masih belum penuh, air itu akan dapat menambahnya serba sedikit.

Demikianlah, maka kedua orang petani itu pun telah bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung kembali ke padukuhan.

Malam itu juga Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berbicara dengan para pemimpin Tanah Perdikan, terutama yang bersangkutan. Ia telah berbicara dengan pemimpin pengawal dan pemimpin petugas sandi.

Dengan singkat Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menceriterakan apa yang telah dialaminya.

“Kami telah lari dari mereka,” berkata Sambi Wulung.

“Apakah mereka berilmu sangat tinggi?” bertanya pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu.

“Tidak. Tetapi bukankah kita belum siap untuk berhadapan langsung dengan mereka?” sahut Sambi Wulung.

“Kita sudah siap. Kapan saja kita harus bergerak, maka kita tidak akan mengecewakan,” jawab pemimpin pasukan pengawal itu.

“Tetapi Nyi Wiradana masih mengalami pengobatan,” jawab Sambi Wulung.

“Kita akan bergerak bersama Ki Sambi Wulung dan Ki Jati Wulung. Aku kira kekuatan kita cukup besar menghadapi gerombolan yang betapapun besarnya,” jawab pemimpin pengawal itu.

“Tetapi dapat terjadi kemungkinan lain. Jika gerombolan itu gerombolan Warsi, ia akan dapat menantang lagi perang tanding. Itulah yang harus kita tunggu sampai Nyi Wiradana siap melayaninya.”

“Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya pemimpin pasukan pengawal itu.

“Hubungi setiap pemimpin pengawal di setiap padukuhan. Sebarkan perintah, untuk sementara tidak seorang pun dibenarkan keluar dari padukuhan di malam hari. Bahkan disiang haripun jangan hanya dua atau tiga orang. Letakkan kentongan-kentongan kecil di gubug-gubug. Perondaan harus lebih sering dilakukan. Sementara di malam hari, setiap padukuhan menjadi padukuhan tertutup,” berkata Sambi Wulung.

“Apakah kita hanya akan bertahan seperti itu di dalam padukuhan tanpa bergerak keluar di malam hari?” bertanya pemimpin pasukan pengawal itu.

“Hanya untuk dua tiga hari ini. Mudah-mudahan pengobatan itu selesai dan kita dapat bergerak dengan sepenuh kekuatan. Bahkan seandainya ada tantangan perang tanding pun tidak akan mengorbankan harga diri bukan saja pemimpin Tanah Perdikan ini, tetapi seluruh rakyat Sembojan,” jawab Sambi Wulung.

“Tetapi bukankah tantangan perang tanding itu dapat diminta untuk ditunda untuk beberapa waktu?” bertanya pemimpin pasukan khusus.

“Penundaan itu sudah mempengaruhi harga diri seseorang,” jawab Sambi Wulung.

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Agaknya Sambi Wulung dan Jati Wulung masih belum ingin melakukan benturan terbuka dengan orang-orang yang nampaknya memang mulai menyentuh ketenangan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dengan demikian, maka pemimpin pengawal itu telah mendapat perintah untuk meningkatkan kekuatan para pengawal meskipun terbatas didalam lingkungan padukuhan masing-masing.

“Kita akan melindungi setiap orang di Tanah Perdikan ini,” berkata Sambi Wulung, “meskipun kita masih bersiap-siap didalam lingkungan sendiri, tetapi jika mereka memasuki padukuhan, apaboleh buat.”

Pemimpin pengawal itu mengerti maksud Sambi Wulung. Langkah-langkah yang diambilnya adalah bertahan tanpa memancing gerakan yang lebih besar dari orang-orang yang memang berniat untuk mengacaukan Tanah Perdikan itu. Bukan saja topeng-topeng kecil yang menjadi rangkap, tetapi juga mereka telah mulai menyerang. Untunglah bahwa yang diserang pertama kali adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung, sehingga korban tidak jatuh karenanya.

Demikianlah, maka malam itu juga segala persiapan telah dilakukan oleh pemimpin pengawal itu. Karena itu, menjelang fajar, disaat langit mulai terang, maka para pengawal telah tersebar keseluruh padukuhan di Tanah Perdikan Sembojan yang besar itu. Semua pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan telah dipanggil.

Demikian pula setiap petugas sandi yang tersebar di padukuhan-padukuhan harus datang pula ke rumah Ki Gede. Tetapi kedua pemimpin itu telah membagi waktu sehingga tidak bersamaan.

Pemimpin pengawal itupun telah memerintahkan untuk menyebarkan perintah sebagaimana dimaksudkan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Bagaimanapun juga hubungannya dengan mengairi sawah, maka perinah itu harus diikuti,” perintah pemimpin pengawal itu, “karena hubungannya dengan keselamatan jiwa seseorang.”

Selanjutnya pemimpin pengawal itu pun memerintahkan agar para pengawal berada dalam kesiagaan tertinggi, tetapi tertutup. Untuk sementara mereka hanya bergerak didalam dinding padukuhan masing-masing. Meskipun demikian jika perlu, maka sebuah padukuhan dibenarkan untuk membunyikan isyarat, memanggil bantuan jika keadaan memaksa.

Seperti yang dikatakan Sambi Wulung pemimpin pengawal itu berkata, “Kita harus melindungi setiap jiwa.

Demikianlah, maka perintah itu pun dalam waktu yang cepat telah tersebar ke setiap padukuhan. Para pemimpin pengawal telah mendatangi setiap rumah, memasuki setiap halaman dan menemui setiap keluarga untuk menyampaikan perintah itu.

Beberapa orang memang merasa berkeberatan mula-mula. Jika mereka tidak keluar malam, maka mereka tidak akan dapat mengairi sawah mereka. Namun pemimpin pengawal di padukuhan itu berkata, “Kita harus menata kembali pembagian air untuk waktu pendek ini, sehingga disetiap saat memasuki senja, kita tidak lagi berada di sawah. Bagi mereka yang belum mengairi sawahnya, maka menjelang senja dapat membuka pintu air dipematang tanpa menutup air itu sehingga yang lain yang seharusnya membuka air ditengah malam atau sesudahnya akan dapat membasahi sawahnya pula.”

“Tetapi tanaman kami tidak akan dapat menjadi subur,” jawab seorang petani yang keras kepala.

“Soalnya adalah keselamatan jiwa,” jawab pemimpin pengawal di padukuhan itu, “sementara itu, keadaan ini hanya berlaku untuk waktu yang sangat pendek.”

Petani yang keras kepala itu tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, menjelang siang hari, yang berkumpul di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah para petugas sandi. Mereka membicarakan pengawasan yang lebih bersungguh-sungguh lagi terhadap orang-orang yang tidak dikenal. Jika kita melindungi setiap orang Tanah Perdikan ini dimalam hari, maka jangan terjadi sesuatu disiang hari atas orang-orang kita. Apalagi justru di tempat-tempat yang ramai seperti di pasar dan lain-lain. Bukan hanya pasar di padukuhan induk, tetapi juga dipasar-pasar sepekan di padukuhan-padukuhan. Juga ditempat-tempat lain yang banyak dikunjungi orang.

Seperti yang diduga oleh orang-orang yang gagal membunuh Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Tanah Perdikan Sembojan memang sudah siap. Tetapi yang tidak mereka duga adalah bahwa kesiagaan itu adalah kesiagaan tertutup, sehingga tidak dengan mudah dapat dilihat oleh orang luar.

Pada hari itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mendapat kesempatan yang pendek untuk berbicara dengan Kiai Badra. Dengan singkat, ia telah melaporkan apa yang dialaminya dan langkah-langkah yang telah diambilnya.

“Kau sudah mengambil langkah-langkah yang benar,” berkata Kiai Badra, “sementara itu, Iswari pun telah sampai kepuncak. Hari ini ià menyerap ilmu tertinggi yang mampu kami susun, sementara besok ia akan mengalami pati-geni. Besok malam baginya adalah puncak dari segala-galanya dalam penyadapan ilmu sejauh dapat kami siapkan baginya. Menurut perhitungan kami, besok kita masih belum memasuki bulan purnama. Masih ada waktu empat hari lagi.”

“Ya Kiai,” jawab Sambi Wulung, “orang-orang itu agaknya telah mengambil ancang-ancang sekitar sepuluh hari menjelang purnama.”

“Tetapi bukankah sampai hari ini masih tidak ada tantangan perang tanding itu?” bertanya Kiai Badra.

“Sampai hari ini belum, Kiai,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Iapun kemudian berpesan kepada Sambi Wulung, “berhati-hatilah. Kau harus dapat mencari jalan terbaik sampai saatnya Iswari menyelesaikan ilmunya besok malam.”

Dengan pesan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung memang harus semakin berhati-hati. Ia harus mempertahankan suasana dalam waktu dua hari menjelang Iswari keluar dari sanggar. Namun setelah itu, Iswari tentu masih memerlukan waktu untuk memulihkan kekuatan wadagnya barang satu dua hari.

Ketika kemudian malam tiba, maka rasa-rasanya seisi Tanah Perdikan menjadi gelisah. Namun para pengawal yang bersiap sepenuhnya telah berada didalam gardu-gardu sebagaimana anak-anak muda yang meronda. Memang tidak kelihatan kesiagaan pasukan, tetapi dalam keadaan tertentu, semuanya dapat bergerak dengan cepat.

Apalagi padukuhan-padukuhan yang terletak di bagian Timur Tanah Perdikan. Mereka memang merasa terganggu oleh suara anjing hutan yang menggonggong sepanjang malam tanpa henti-hentinya.

Dalam pada itu, ketika dua orang pengawal yang berjalan dijalan padukuhan melihat petani yang keras kepala itu berdiri di regol halaman rumahnya menjelang saat sepi uwong, seorang diantara mereka memperingatkan, “jangan kau langgar perintah itu demi keselamatan sendiri.”

“Tetapi apakah air yang mengalir untuk beberapa kotak sawah sekaligus itu akan dapat memenuhi kebutuhan tanaman di sawahku,” bertanya petani itu.

“Bukankah tidak jauh berbeda. Memang air yang mengalir masuk ke kotak sawahmu hanya sedikit. Tetapi semalam suntuk. Sedangkan biasanya air yang mengalir kesawahmu deras, tetapi hanya sebentar karena harus bergantian,” jawab pengawal itu.

“Memang tidak banyak bedanya. Tetapi rasa-rasanya tidak puas dengan aliran air yang sedikit itu. Sebagaimana kita minum, setitik-setitik itu tidak akan dapat menghilangkan perasaan haus kita,” berkata petani itu.

“Sudahlah. Bukankah hal ini hanya berlaku untuk waktu yang pendek. Mungkin dua tiga hari, mungkin sepekan dan agaknya tidak akan lebih dari itu,” berkata pengawal itu.

“Omong kosong,” jawab petani itu, “jika bahaya yang mengancam Tanah Perdikan ini masih saja ada, maka bukankah peraturan untuk tidak keluar malam dari padukuhan itu masih berlaku?”

Kedua pengawal itu saling berpandangan. Seorang yang lain tiba-tiba saja membentak, “Kau jangan keras kepala seperti itu. Kami bermaksud baik. Jika kau melanggarnya, maka akibatnya akan tertimpa kepada dirimu. Bukan kepada aku, atau orang lain.”

Kedua orang pengawal itu pun kemudian telah meninggalkannya. Petani yang keras kepala itu termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasanya ia tidak puas dengan keadaan sawahnya. Ia memang telah membuka pematang. Tetapi karena beberapa kotak sawah akan diairi bersama-sama, maka tentu air yang mengalir ke kotak sawahnya hanya kecil saja.

Meskipun demikian, betapapun ada dorongan di dalam dirinya untuk melihat sawahnya, ia masih juga ragu-ragu.

“Tetapi mereka hanya menakut-nakuti saja,” gumamnya.

Untuk beberapa lama ia masih saja berada di regol halamannya. Diluar sadarnya, ia telah berpaling memandangi pintu rumahnya yang tertutup. Tidak ada orang lain dirumah itu. Isterinya telah pulang ke rumah orang tuanya sejak dipukulinya beberapa pekan yang lalu. Ayahnya yang tua sama sekali tidak betah tinggal dirumah itu, sehingga ia lebih senang tinggal bersama anak perempuannya. Sementara itu dalam perkawinannya yang telah berlangsung tujuh tahun, petani itu belum dikurniai seorang anak pun. Bahkan disaat-saat terakhir, telah timbul niatnya untuk kawin lagi. Bukan hanya karena ia tidak mempunyai anak dengan isterinya yang pertama, tetapi perempuan yang diinginkannya itu adalah seorang janda yang kaya.

Seorang janda kaya akan dapat memberinya uang cukup untuk berada di kalangan adu jago. Atau bermain dadu atau bentuk-bentuk judi yang lain.

Namun akhirnya sejenak kemudian orang itu memutuskan, “Aku akan pergi ke sawah. Tidak akan ada apa-apa. Mereka hanya omong kosong saja. Mereka menganggap bahwa orang-orang Tanah Perdikan yang bukan pengawal adalah penakut.”

Ternyata orang itu pun kemudian telah menutup pintu regol halaman rumahnya. Diam-diam iapun telah meninggalkan halaman itu dan berniat pergi ke sawah.

Tetapi petani yang keras kepala itu tidak mau melewati jalan induk. Ia telah melalui jalan butulan yang tidak diawasi langsung.

Petani itu memang harus menunggu beberapa saat ketika ia melihat tiga orang pengawal yang meronda lewat. Namun demikian pengawal itu lewat, maka dengan serta mereka iapun telah lari ke pintu butulan. Dibukanya selarak pintu itu. Kemudian meloncat keluar. Meskipun kemudian daun pintu regol butulan itu telah didorong dan ditutup lagi, tetapi pintu kayu lereg itu tidak diselarak dari dalam.

“Nanti, aku akan kembali melalui pintu ini pula. Aku akan menyelaraknya kembali. Aku hanya ingin mengalirkan air seluruhnya kesawahku,” berkata orang itu kepada diri sendiri.

Demikian, maka diam-diam orang itu telah menyusuri pematang menuju ke sawahnya di bulak yang menuju ke bukit. Sawah orang itu terletak tidak terlalu jauh dengan sawah kedua orang yang dijumpai Sambi Wulung dan Jati Wulung di gubugnya di malam sebelumnya. Namun kedua orang itu tidak ada di gubugnya.

Bukan hanya karena keduanya tidak mendapat giliran air malam itu. Tetapi keduanya memang mematuhi perintah untuk tidak keluar dari padukuhan di malam hari.

Petani yang keras kepala itu berjalan dengan tergesa-gesa di pematang. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya bulan yang kuning cerah meskipun bulan masih belum bulat.

“Semua omong kosong,” geram petani itu, “tidak ada apa-apa disini.”

Namun tengkuknya memang meremang ketika ia mendengar suara anjing hutan dikejauhan.

“Anjing hutan itu ada dibalik bukit,” gumamnya. Namun hatinya menjadi tenang ketika ia melihat gubug di tengah sawah. Katanya kepada diri sendiri, “Jika aku meloncat naik ke gubug itu, betapapun banyaknya anjing hutan tidak akan dapat menyerang aku.”

Petani itu pun kemudian telah sampai ke parit yang mengalir tidak begitu deras. Beberapa pematang yang seharusnya bergilir telah dibuka semuanya. Sehinga air pun telah terbagi menjadi beberapa bagian.

Meskipun menurut perhitungan, jika air yang terbagi itu mengalir semalam suntuk, kotak sawahnya akan cukup basah pula, namun ia lebih senang air itu mengalir dengan deras ke kotak sawahnya. Baru ke kotak sawah orang lain.

Karena itu, maka ia telah menutup beberapa pematang yang terbuka, sehingga air sepenuhnya telah mengalir ke kotak sawahnya. Ia telah menutup pula parit itu sehingga tidak mengalir terus kebawah. Dengan demikian maka air di parit itu seluruhnya mengalir ke kotak sawahnya.

“Tidak lama kotak sawah itu tentu akan segera penuh,” berkata petani itu didalam hatinya.

Ketika ia melihat gubug di sebelah itu kosong, maka petani itu pun telah naik ke gubug itu sambil bergumam, “Pemiliknya tidak berani turun ke sawah malam ini akibat perintah itu. Tetapi pemilik gubug ini juga tidak mendapat giliran malam ini mengairi sawahnya.”

. Gonggong anjing hutanpun rasa-rasanya menjadi semakin dekat. Tetapi petani yang justru berbaring di gubug itu merasa dirinya cukup aman, karena anjing hutan tidak akan dapat mencapainya.

Malam itu di padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan memang terasa sepi. Kegelisahan ternyata sudah mulai menyelimuti Tanah Perdikan itu. Perintah untuk tidak keluar dari padukuhan memang membuat setiap-orang bertanya-tanya, apa yang dapat terjadi atas mereka, jika mereka melanggar perintah itu.

Jika ayam jantan berkokok dipagi hari menjelang fajar, maka rasa-rasanya setiap orang dapat mulai menarik nafas lega. Sebentar lagi mereka tidak terkungkung lagi oleh ketentuan untuk tidak keluar dari padukuhan. Mereka, terutama yang dimalam hari mengairi sawahnya ingin segera pergi ke sawah untuk melihat, apakah cara yan mereka tempuh cukup membasahi kotak-kotak sawah mereka.

Karena itulah maka pagi-pagi mereka sudah bersiap-siap. Demikian regol padukuhan dibuka disaat langit mulai terang, maka beberapa orang telah keluar dari padukuhan mereka sambil membawa cangkul dan parang menuju ke sawah mereka masing-masing.

Mereka adalah orang-orang yang kebetulan mempunyai kotak-kotak sawah yang berdekatan.

Namun beberapa saat kemudian bukan saja padukuhan itu, tetapi seluruh Tanah Perdikan menjadi gempar. Para penghubung berkuda dengan cepat telah membawa berita. Seorang petani telah terbunuh di pematang, dikoyak-koyak oleh anjing liar.

Berita itu cepat pula sampai ketelinga Sambi Wulung dan Jati Wulung. Keduanya tidak menunggu lagi. Bersama pemimpin pengawal dan pemimpin pasukan sandi keduanya telah berpacu diatas punggung kuda menuju ke tempat peristiwa yang mengerikan itu terjadi.

Orang-orang yang berkerumun dibawah perlindungan pasukan pengawal yang dengan cepat sampai ke tempat itu, telah mengambil kesimpulan bahwa orang itu telah dibunuh oleh sekelompok anjing hutan yang lapar.

Tetapi ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung sampai ketempat itu, ia tidak langsung percaya. Pemimpin pengawal dan pemimpin pasukan sandi itu pun dengan cepat mengambil kesimpulan serupa. Apalagi menilik kerusakan tanaman disekitar tempat kejadian.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang telah mempunyai pengalaman tersendiri itu pun berusaha untuk menemukan sesuatu yang lain daripada pendapat kebanyakan orang.

Karena itu, maka keduanya tidak sekedar mengamati lingkungan dekat dengan letak tubuh yang terbunuh itu. Tetapi keduanya telah melihat-lihat keadaan agak jauh pula dari tempat itu.

“Bukan anjing hutan,” desis Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk. Tetapi keduanya sependapat, bahwa untuk sementara keduanya masih harus berdiam diri.

Demikianlah, maka tubuh yang terkoyak itupun telah dibawa kembali ke padukuhan. Betapapun jauhnya jarak antara orang itu dengan isteri dan ayahnya, namun keduanya telah menangisinya pula.

Dua orang pengawal yang menemuinya semalam di regol rumahnya telah melaporkan pula kepada pemimpin pengawal yang sehari itu berada dipadukuhan itu bahwa keduanya sudah berusaha mencegahnya.

“Ternyata regol butulan terbuka. Meskipun daun pintunya tertutup, tetapi tidak diselarak lagi. Agaknya orang itu telah keluar dari padukuhan lewat regol butulan itu.” lapor pengawal itu.

“Memang mengerikan sekali,” geram Sambi Wulung. Lalu katanya, “perintah harus diperketat. Mudah-mudahan peristiwa ini dapat menjadi peringatan kepada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa bahaya anjing hutan itu juga tidak dapat dianggap isapan jempol semata-mata. Bahkan para pengawal harus tahu benar. Jika anjing liar itu kelaparan, maka mereka tentu akan berani memasuki padukuhan untuk mencuri ternak atau bahkan membunuh orang.”

Pemimpin pengawal itu pun dengan cepat telah memanggil semua pemimpin pengawal padukuhan di Tanah Perdikan. Mereka telah mendapat penjelasan dan bahkan contoh apa yang dapat terjadi jika perintah itu diabaikan.

“Kita semuanya harus menyadari, bahwa ada beberapa jenis bahaya yang mengancam kita. Mungkin sekelompok penjahat, tetapi ternyata juga sekelompok anjing hutan,” berkata pemimpin pengawal itu. Lalu katanya, “Tetapi untuk sementara kita akan bertahan di dalam padukuhan kita masing-masing.”

“Korban telah jatuh,” berkata seorang pemimpin pengawal padukuhan, “apakah kita masih harus berdiam diri?”

“Apa yang dapat kita lakukan selain bertahan?” bertanya pemimpin pengawal itu, “apakah kita akan menyerang keseberang bukit, tempat anjing liar itu bersarang? Atau kita akan memasuki setiap Kademangan di sekitar Tanah Perdikan ini untuk mencari orang-orang jahat yang mulai membayangi Tanah Perdikan kita?”

Para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan itu mengangguk-angguk. Mereka memang belum mempunyai bahan yang cukup untuk mengambil langkah-langkah. Karena itu, maka yang dapat mereka lakukan dalam waktu dekat itu memang hanya bertahan di padukuhan-masing-masing.

“Tetapi pasukan di padukuhan induk telah menyiapkan kelompok pengawal berkuda yang akan dapat memberikan bantuan dengan segera ke padukuhan-padukuhan yang memerlukan. Meskipun kita tidak memiliki kuda yang baik, namun dengan kuda-kuda kita, agaknya akan dapat dilakukan gerakan yang lebih cepat dari sekedar berjalan kaki,” berkata pemimpin pengawal itu.

Dengan demikian maka Tanah Perdikan memang tidak dapat menghadapi persoalan yang timbul itu dengan tenang-tenang saja. Namun orang-orang Tanah Perdikan itu memang percaya, bahwa salah seorang diantara mereka telah terbunuh oleh sekelompok anjing liar, sehingga jika mereka tidak keluar dari padukuhan, maka mereka tentu tidak akan mengalaminya.

Hari itu juga telah diselenggarakan penguburan orang yang telah menjadi korban. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkan padukuhan itu setelah memberikan beberapa pesan setelah penguburan selesai bersama dengan pemimpin pasukan pengawal dan pemimpin petugas sandi di Tanah Perdikan itu.

Di padukuhan induk, pengawalan memang diperkuat. Terutama dirumah Kepala Tanah Perdikan. Hari itu Iswari akan melakukan pati geni, sehari penuh. Dan dimalam harinya dalam keadaan pati geni ia akan melakukan pemusatan nalar budi. Dalam samadi itulah segala sesuatu yang telah diserapnya akan menyatu dengan dirinya.

Dengan demikian, Iswari akan mengakhiri penempaan dirinya besok saat fajar menyingsing. Tetapi ia masih harus memulihkan keadaan wadagnya barang satu dua hari. Pada saat yang demikian ketiga gurunya pun tentu dalam keadaan yang sangat letih pula.

Orang-orang yang tidak mengikuti perkembangan peningkatan ilmu Nyi Wiradana memang tidak merasa terlalu tegang. Mereka merasa cukup aman jika mereka tidak keluar dari padukuhan. Anjing-anjing liar itu tentu tidak akan memasuki padukuhan. Seandainya demikian, maka semua orang di padukuhan itu tentu akan menghalau mereka dan membunuh anjing-anjing liar itu sebanyak-banyaknya.

Tetapi dalam pada itu, terdengar pula bisik-bisik beberapa orang, bahwa anjing-anjing liar itu bukan anjing sewajarnya.

“Anjing jadi-jadian,” berkata seseorang. Tetapi yang diajak berbicara itu menjawab, “jangan mengigau seperti itu. Tidak ada anjing jadi-jadian.”

“Terserah jika kau tidak percaya,” berkata orang yang pertama, “seorang tua mengatakan bahwa dibalik bukit itu terdapat sebuah goa tempat tinggal seorang pertapa. Nah, pertapa itulah yang dapat menciptakan anjing hutan jadi-jadian itu.”

Kawannya termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merasa tegang. Ia merasa mempunyai tanggung jawab yang sangat berat. Jika pada malam terakhir, disaat Iswari bersamadi itu, padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan diserang oleh sekelompok pengikut Warsi, maka keadaan akan menjadi sulit. Apalagi jika diantara mereka terdapat Warsi sendiri, Ki Rangga Gupita dan Ki Randu Keling. Apalagi jika orang yang disebut guru Puguh itu ikut pula. Maka agaknya para pengawal termasuk Sambi Wulung dan Jati Wulung akan mengalami kesulitan. Sementara mereka yang berada di dalam sanggar keadaan wadagnya masih terlalu lemah oleh keletihan karena kerja keras mereka.

Karena itulah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memerintahkan para pemimpin terpilih di Tanah Perdikan berada di rumah Kepala Tanah Perdikan. Sedangkan Bibi yang menyatakan keinginannya untuk mengunjungi Risang pun telah ditahan pula oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kau boleh pergi setelah semuanya selesai,” berkata Sambi Wulung.

“Aku sudah rindu kepada anak itu. Ia tentu kesepian sendiri,” berkata Bibi.

“Gandar ada disana. Ia akan dapat membuat kesibukan-kesibukan yang berarti bagi Risang,” jawab Sambi Wulung.

Bibi tidak memaksa. Ia tahu keadaan Tanah Perdikan yang gawat, sehingga karena itu, maka ia pun merasa wajib untuk tinggal.

Sehari-semalam Sambi Wulung, Jati Wulung berada dalam ketegangan. Setiap saat ia berusaha untuk mendapat laporan dari para petugas sandi.

Namun tidak ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian secara khusus. Kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa. Namun di tempat-tempat tertentu para pengawal bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun sebagian besar dari pengawal tidak berkeliaran, di jalan-jalan. Anak-anak mudapun telah mendapat pesan untuk bersiaga. Dalam keadaan yang memaksa, mereka akan dipanggil dan akan melibatkan diri dalam kekerasan yang dapat terjadi setiap saat.

Ketika malam turun, maka semua orang Tanah Perdikan benar-benar tidak ada yang berani keluar dari gerbang padukuhan. Tetapi mereka agaknya tidak ingin segera tidur. Karena itu, kecuali anak-anak muda yang berada di gardu-gardu, maka hampir semua orang laki-laki berada diluar rumah. Mereka duduk-duduk dimuka regol tetangga, atau di simpang-simpang empat didalam padukuhan. Namun mereka berpesan kepada isteri dan anak-anak yang ada di rumah untuk menyelarak pintu.

“Aku takut kakang,” seorang perempuan mencoba mencegah suaminya yang keluar.

“Jangan takut. Di jalan-jalan, di gardu-gardu, di simpang-simpang jalan dan dimana-mana berkeliaran orang-orang padukuhan ini. Semuanya bersenjata, sehingga tidak seekor serigala pun akan akan dapat lolos dari maut jika sekelompok diantara mereka memasuki padukuhan ini,” berkata suaminya. Namun katanya pula, “Meskipun demikian, tutup pintu rapat-rapat. Jika terjadi sesuatu, pukul kentongan kecil itu. Aku ada di regol bersama beberapa tetangga yang nampaknya juga tidak dapat segera tidur.”

Isterinya mengangguk. Demikian suaminya keluar, maka pintu pun segera ditutup rapat-rapat dan diselarak. dari dalam. Bahkan perempuan itu sempat melihat semua pintu rumahnya, apakah semuanya sudah diselarak kuat-kuat.

Di padukuhan induk, Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak beranjak dari tugas mereka mengikuti perkembangan keadaan. Di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan terdapat beberapa ekor kuda yang siap dipergunakan. Demikian pula para pengawal berkuda selalu berada dalam kesiagaan tertinggi. Senjata mereka tidak terpisah dari tubuh mereka. Setiap saat jika terdengar isyarat, maka merekapun siap meloncat kepunggung kuda masing-masing.

Di dalam sanggar suasananya justru sangat hening. Iswari duduk bersila. Kedua telapak tangannya mengatup dadanya. Di belakangnya, ketiga orang gurunya duduk pula bersamadi dengan sikap yang sama.

Iswari malam itu telah berada didalam puncak laku dalam usahanya mematangkan ilmu yang diterimanya dari ketiga gurunya, Janget Kinatelon.

Justru karena itulah maka Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merasa bertanggung jawab. Bukan saja atas Tanah Perdikan Sembojan yang diserahkan pengamatannya kepadanya, tetapi juga bertanggung jawab atas keselamatan Iswari dan ketiga orang gurunya yang berada didalam sanggar.

Bukan saja Sambi Wulung dan Jati Wulung, ternyata Bibipun tidak beranjak dari dapur. Dua orang pembantu perempuan telah tertidur nyenyak di amben yang cukup besar didapur itu. Namun Bibi masih saja duduk bersandar dinding. Sekali-sekali matanya memang terpejam dan rasa-rasanya kesadarannya hilang untuk sesaat. Tetapi setiap kali iapun telah tergagap dan mencoba untuk mengusir kantuknya.

Ia memang sudah agak lama tidak mengunjungi Risang. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus berada di Tanah Perdikan pada saat seperti itu.

Yang memberi sedikit ketenangan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah bahwa bulan masih belum bulat dilangit. Tetapi meskipun demikian segala kemungkinan dapat terjadi.

“Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh Iswari tidak tercium oleh mereka,” berkata Sambi Wulung didalam hatinya.

Lewat tengah malam, orang-orang Tanah Perdikan berharap bahwa di sisa malam itu tidak akan terjadi sesuatu. Orang-orang yang semula berada disimpang-simpang empat, di regol-regol halaman rumah, telah pulang kerumah masing-masing. Namun mereka pun telah menutup setiap pintu rapat-rapat.

Tetapi mereka percaya bahwa anak-anak muda di gardu-gardu tidak akan lengah. Bahkan mereka bergantian akan meronda mengelilingi padukuhan meskipun semua pintu di regol padukuhan telah ditutup rapat-rapat. Regol-regol butulan pun telah diselarak, sehingga padukuhan mereka benar-benar telah menjadi padukuhan tertutup.

Dalam keheningan sisa malam lewat tengah malam, suara gonggong anjing hutan yang terdengar dari beberapa padukuhan di ujung Timur Tanah Perdikan itupun rasa-rasanya terdengar semakin dekat. Anjing-anjing hutan itu seolah-olah telah berada diluar dinding padukuhan. Bahkan beberapa kali rasa-rasanya anjing-anjing hutan itu telah berusaha untuk menerobos masuk lewat regol butulan. Ketika dua orang peronda lewat sebuah pintu butulan, maka terdengar pintu itu bagaikan diguncang dari luar. Ketika keduanya mendekat maka gonggong anjing pun telah terdengar dengan garangnya.

Kedua orang peronda itu termangu-mangu. Namun mereka tidak mau terpancing untuk membuka pintu butulan itu dan mencoba menghalu anjing-anjing liar itu. Namun keduanya justru bertindak dengan sangat berhati-hati. Keduanya menunggu beberapa saat dengar sabar.

Namun pedang mereka telah terhunus di tangan.

Ternyata beberapa saat kemudian telah lewat pula dua orang peronda yang lain. Ketika keduanya melihat dua orang kawannya melangkah mendekati mereka, maka mereka pun segera memberi isyarat.

Kedua orang yang meronda kemudian itupun mendekat. Mereka pun segera mendengar gonggong anjing hutan yang garang.

“Tentu tidak terlalu banyak,” berkata peronda yang datang kemudian.

“Nampaknya memang demikian, tetapi kita harus berhati-hati. Anjing hutan mempunyai naluri yang sangat tajam. Jika mereka menemukan mangsanya, maka seolah-olah mereka dapat memanggil kawan-kawannya dengan gonggongannya yang khusus,” jawab kawannya yang datang lebih dahulu.

“Aku akan melihatnya,” berkata salah seorang dari yang datang kemudian.

“Tidak perlu. Berbahaya,” jawab yang dahulu.

“Kita tidak akan membuka pintu regol butulan ini. Aku akan memanjat dan melihat dari atas. Anjing hutan itu tidak akan dapat memanjat. Sehingga sama sekali tidak akan berbahaya bagiku,” berkata pengawal yang datang kemudian.

“Jangan,” yang terdahulu masih mencoba mencegah.

Tetapi kawannya itu tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian telah bersiap-siap untuk meloncat keatas dinding padukuhan itu, sementara kawannya masih juga memperingatkan, “Lebih baik tidak kau lakukan. Anjing hutan itu mempunyai beberapa macam tabiat yang tidak mudah dipahami.”

Sambil tersenyum kawannya berkata, “Aku ingin melihat ujud anjing-anjing hutan itu.”

Kawan-kawannya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu pengawal itu pun telah meloncat keatas dinding.

Namun demikian ia berada diatas dinding, maka tiba-tiba menurut penglihatannya, seekor anjing hutan yang sangat besar telah meloncat pula. Giginya yang kuat telah menggigit satu kakinya yang telah berada diluar dinding, dan menariknya dengan sangat kuat.

Untunglah bahwa ia masih sempat berpegangan dengan tangannya kuat-kuat sambil meletakkan tubuhnya pada dinding. Semenara itu ia sempat pula berteriak minta tolong.

Ketiga orang kawannya terkejut. Merekapun dengan serta merta pula telah melompat keatas dinding dengan pedang terhunus. Demikian mereka berada diatas dinding, maka mereka sempat melihat dua ekor serigala yang berlari menghilang dibalik gerumbul, sementara yang lain menggonggong agak jauh dari dinding padukuhan itu.

“Hanya tiga ekor,” desis yang seorang.

Tetapi kawannya tidak sempat memperhatikannya, karena mereka sibuk menolong pengawal yang kakinya telah terkoyak oleh gigi-gigi anjing hutan liar yang garang itu.

“Untung kau belum terseret turun. Jika kau terjatuh, maka tubuhmu akan hancur dikoyak-koyak oleh anjing-anjing liar itu seperti yang telah terjadi pada petani yang telah melanggar perintah itu,” berkata seorang kawannya.

Dengan susah payah, maka tubuh yang menjadi lemah karena darah yang mengalir itu telah diturunkan. Dengan cepat pula, pengawal yang kakinya koyak itu telah dibawa ke banjar.

“Apa yang terjadi?” beberapa orang kemudian telah mengerumuninya.

Tiga orang pengawal yang lainlah yang kemudian berceritera, sementara orang yang terluka itu dengan cepat telah mendapat pengobatan. Namun ternyata bahwa lukanya cukup parah. Gigi serigala yang tajam itu benar-benar telah mengoyakkan betisnya sehingga hampir sampai ketulang.

Peristiwa itu pun dengan cepat telah sampai ke pada Sambi Wulung dan Jati Wulung. Disaat fajar menyingsing, maka empat orang pengawal dan dua orang petugas sandi telah menuju ke padukuhan induk berkuda. Dua orang diantara mereka telah membawa panah sendaren. Jika terjadi sesuatu di perjalanan, maka mereka akan segera melepaskan panah sendaren itu, sehingga bantuan akan segera berdatangan. Terutama dari padukuhan terdekat.

Demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung mendengar berita itu, maka mereka memang menjadi agak kebingungan. Mereka sebenarnya ingin menyaksikan pengawal yang hampir saja menjadi korban kedua itu. Tetapi jika mereka meninggalkan padukuhan induk maka kemungkinan yang lebih parah akan dapat terjadi. Karena itu, maka yang kemudian pergi ke padukuhan itu hanyalah pemimpin pengawal disertai oleh pemimpin petugas sandi Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, kesiagaan di padukuhan induk sama sekali tidak berkurang.

Pemimpin pasukan pengawal dan pemimpin petugas sandi itu memang sependapat, bahwa kaki pengawal itu memang dikoyak oleh gigi anjing hutan. Namun di padukuhan induk, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meragukannya. Bahkan mereka berpendapat, bahwa tiga ekor anjing hutan raksasa itu tentu ada hubungannya dengan tiga orang yang telah dijumpainya di bulak di dekat kaki bukit itu.

***

Dalam pada itu, dibalik bukit, diantara lereng yang curam memang terdapat sebuah goa yang hampir tidak diketahui orang. Namun sekelompok orang ternyata justru telah mempergunakan goa itu untuk sarang mereka.

Dari goa itu, para penghuninya memang mendengar bahwa Iswari, yang disebut Nyi Wiradana, isteri anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kemudian justru memangku jabatan itu, sedang sakit.

“Perhatian mereka tentu tercurah kepada yang sakit itu,” berkata seorang diantara mereka, “karena itu, apakah saat ini bukan kesempatan untuk menyerang?”

Namun yang lain menjawab, “Nyi Warsi masih ingin menunggu sampai purnama penuh.”

“Apakah ia akan menantang perang tanding lagi?” bertanya orang pertama.

“Nyi Warsi ingin menjajagi keadaan. Kita tidak tahu keputusan terakhirnya. Namun kita semuanya diperintahkan untuk melakukan sebagaimana direncanakan,” jawab kawannya.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang tidak akan dapat mendahului perintah Warsi.

Tetapi tiba-tiba saja seseorang berkata, “Mungkin karena Nyi Warsi tidak tahu bahwa Iswari sedang sakit sekarang. Jika ia datang dan mengetahuinya mungkin ia akan menyesal.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah sebaiknya kita memberikan laporan kepadanya?”

“Agaknya itu lebih baik. Besok salah seorang dari kita akan menemui Nyi Warsi,” desis yang lain, “agaknya ia sudah siap. Namun puncak kemampuannya memang terjadi pada saat bulan purnama.”

“Terserah kepadanya, apa yang akan dilakukan. Namun mungkin Iswari justru dapat mempergunakan alasan untuk menunda perang tanding jika tantangan benar diberikan, dengan alasan bahwa ia sedang sakit,” berkata yang lain pula.

“Memang mungkin. Alasan itu harus diterima,” berkata orang yang pertama, “karena itu, mungkin Nyi Warsi akan memilih cara lain. Bukan dengan perang tanding.”

Yang lain-lain mengangguk-angguk. Tetapi mereka sepakat untuk menyampaikan laporan bahwa Iswari sedang sakit. Ketiga orang tua-tua telah menungguinya untuk memberikan pengobatan.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka telah berloncatan dan bersiaga menghadapi segala kemungkinan ketika seorang pengawas telah memberikan isyarat dari depan goa. Namun ternyata yang masuk adalah tiga orang kawannya.

“Kau tidak berhasil?” bertanya orang yang nampaknya pemimpin disarang sekelompok orang yang ternyata pengikut Warsi itu.

Hampir berbareng ketiga orang itu menggeleng. Seorang diantara mereka berkata, “Tetapi hampir saja kami menyeret seorang anak muda yang berusaha menjenguk keluar dari atas dinding. Demikian kakinya yang sebelah keluar, maka dengan serta merta kaki itu telah kami koyakkan. Tetapi kami gagal menyeretnya keluar karena ketiga orang kawannya telah datang membantunya sehingga kami pun telah berloncatan memasuki gerumbul-gerumbul liar.

Orang yang bertugas memimpin kawan-kawannya ditempat itupun kemudian berkata, “Baiklah. Tetapi luka-luka itu sudah cukup memberikan kesan kegarangan sekelompok anjing hutan.”

Ketiga orang yang gagal menyeret pengawal dari atas dinding itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “besok kami akan memasuki padukuhan itu.”

“Tetapi kalian harus sangat berhati-hati. Kalian harus mengoyak korban-korban kalian. Bukan sebaliknya. Menurut pendapatku dibelakang dinding setiap padukuhan itu, para pengawal tentu berkeliaran.”

Ketiga orang itu masih juga mengangguk-angguk. Seorang yang lain berkata, “Kami sudah mendapatkan beberapa pengalaman.”

Sementara itu pemimpin dari sekelompok orang itu-pun berkata, “Tiga atau empat hari lagi purnama akan penuh. Saat-saat Nyi Warsi sampai kepuncak kemampuannya yang sudah semakin meningkat. Aku kira ia tidak akan menantang perang tanding, karena Iswari yang sakit itu akan mempunyai kesempatan untuk mengelak. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan harus dikacaukan dan Iswari akan terpaksa berhadapan dengan Nyi Warsi.”

Namun orang-orang itu menyadari, bahwa untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan, terutama Padukuhan induknya, maka diperlukan kekuatan yang sangat besar. Tetapi orang-orang itu yakin bahwa mereka akan dapat melakukannya. Memancing para pengawal sehingga mereka seakan-akan menyibak, sementara Warsi dan Ki Rangga akan berhadapan Iswari dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Orang-orang itu pun telah mengetahui bahwa Warsi dan Ki Rangga yang menyadari akan adanya beberapa orang berilmu di Tanah Sembojan tidak akan datang berdua saja bersama orang-orangnya. Tetapi mereka sempat menghimpun beberapa orang yang kecewa, yang sakit hatinya tidak akan pernah sembuh. Meskipun orang-orang itu pada mulanya juga menentang sikap Arya Penangsang dari Jipang, namun karena kemudian yang memegang pemerintahan ternyata adalah Adiwijaya di Pajang, maka orang-orang itu menjadi sangat kecewa, sehingga dalam perjalanan hidup mereka yang buram, akhirnya mereka justru bergabung dengan Ki Rangga Gupita.

Tetapi ternyata Warsi datang lebih cepat dari yang mereka duga. Sebelum matahari terbit telah datang dua orang utusan, yang memberitahukan, bahwa Warsi akan datang hari itu juga bersama orang-orang terpenting yang akan membantunya. Pasukannya akan datang berangsur-angsur agar tidak menarik perhatian orang disepanjang perjalanan mereka.

“Bagus,” berkata pemimpin dari orang-orang yang tinggal di goa itu, “semakin cepat semakin baik.”

***

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, disaat matahari terbit, Iswari yang pucat telah keluar dari dalam sanggar diikuti oleh ketiga orang gurunya yang juga nampak sangat letih. Dengan wajah yang pucat, Iswari pun kemudian telah mempersiapkan dirinya untuk mandi keramas dengan landha merang.

Seorang pembantu dirumahnya telah mempersiapkan abu merang yang direndam didalam air. Kemudian demikian Iswari keluar dari sanggar, maka air abu merang itu-pun disaringnya dan diletakkannya di pakiwan.

Iswari memang tidak langsung masuk kedalam rumahnya. Tetapi ia langsung menuju ke pakiwan untuk mandi dan keramas.

Semalam suntuk Iswari telah mengendapkan semua kegiatan yang telah dilakukan didalam sanggarnya dalam samadi. Sehingga dengan demikian maka seakan-akan ilmu yang diserapnya dari ketiga orang gurunya, peningkatan ilmu Janget Kinatelon itu menjadi semakin merasuk, menyatu dan luluh didalam dirinya.

Menjelang fajar menyingsing, maka ketiga gurunya menganggap bahwa semua kegiatan Iswari telah selesai, ketika ketiga orang gurunya yang menunggui Iswari bersamadi seakan-akan melihat tubuh Iswari yang duduk itu terangkat dan tidak lagi menyentuh lantai sanggar. Perlahan-lahan tubuh itu terangkat semakin tinggi, sehingga akhirnya tubuh itu bagaikan melayang sejengkal diatas lantai sanggar.

Iswari ternyata bertahan untuk beberapa saat dalam keadaannya. Namun kemudian perlahan-lahan pula tubuh itu turun dan kembali berjejak pada lantai sanggar itu. Masih dalam keadaan duduk bersilang kaki.

Tetapi ternyata bahwa tubuh Iswari menjadi sangat letih dan lemah. Seakan-akan tenaganya telah terhisap habis dalam pemusatan nalar budinya.

Beberapa saat Iswari berada di pakiwan untuk mandi keramas. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka mengawasinya dari kejauhan. Merekapun harus membersihkan diri pula sebagaimana dilakukan oleh Iswari.

Namun sementara itu, Nyi Soka telah memerintahkan seorang perempuan pembantu dirumah itu untuk berada didekat pakiwan. Mungkin Iswari yang letih dan lemah itu memerlukan bantuan.

Tetapi Iswari tidak memerlukannya. Ia dapat menyelesaikannya sendiri. Tetapi ketika ia keluar dari pakiwan, maka ia telah dibimbing oleh perempuan itu.

Ketika Iswari masuk kedalam biliknya, ternyata Bibi masih sibuk mempersiapkan dan membersihkan bilik itu. Demikian ia melihat Iswari maka katanya, “Sehari nanti kau harus tidur nyenyak ditambah semalam suntuk agar tenagamu segera pulih kembali.”

Iswari yang lemah itu tersenyum. Katanya, “Bibi, aku minta air hangat.”

“Maksudmu minuman hangat?” bertanya Bibi.

 “Ya. Tetapi air putih saja. Jangan terlalu dingin tetapi jangan terlalu panas,” berkata Iswari.

Bibi mengangguk. Ia mengerti, Iswari baru saja melakukan pati geni. Karena itu, maka air hangat itu tidak boleh mengganggu perutnya yang kosong.

Sambil mengambil air yang sedikit hangat, maka Bibi telah minta seorang pembantunya membuat bubur cair. Iswari harus makan makanan yang lunak lebih dahulu. Baru siang nanti ia dapat makan nasi seperti biasanya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah mengetahui bahwa mereka yang berada didalam sanggar telah selesai. Namun mereka tidak tergesa-gesa memberikan laporan tentang keadaan Tanah Perdikan Sembojan, agar Iswari sempat mengatur diri setelah bekerja keras beberapa hari lamanya.

Ketika matahari sepenggalah, maka ketiga orang guru Iswari itupun telah selesai berbenah diri dan duduk di ruang dalam. Mereka menyempatkan diri bersama Sambi wulung dan Jati Wulung untuk minum dan makan bersama. Namun Iswari tidak duduk bersama mereka. Ia benar-benar beristirahat didalam biliknya dilayani oleh Bibi. Iswari telah meneguk beberapa teguk minuman hangat dan makan bubur cair untuk mengisi perutnya yang kosong sama sekali setelah sehari-semalam melakukan pati geni.

Berbeda dengan keletihan yang dialami oleh Iswari, maka ketiga orang gurunya akan dapat dengan cepat mengatasinya. Mereka memang bekerja keras menuntun Iswari meningkatkan ilmunya dalam pencapaian tataran tertinggi sesuai dengan hasil yang telah dicapai oleh ketiga gurunya dalam peningkatan ilmu Janget Kinatelon. Namun dihari terakhir mereka tidak melakukan pati geni dan tidak pula melakukan samadi penuh sebagaimana dilakukan Iswari untuk mengendapkan, menyatu dan meluluhkan ilmunya didalam dirinya.

Karena itu, maka ketiga orang gurunya memang sependapat untuk membiarkan Iswari berada didalam biliknya, ia benar-benar harus beristirahat penuh.

“Menjelang malam, kami masih akan kembali ke sanggar,” berkata Kiai Badra.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengerutkan keningnya. Dengan ragu Jati Wulung bertanya, “Apakah masih belum selesai?”

“Sudah,” jawab Kiai Badra, “tetapi setelah membersihkan diri. kami akan menyempatkan diri mengucap sukur kepada Yang Maha Agung.”

“O,” jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi sudah tidak memerlukan lagi mengerahkan tenaga untuk melakukannya.”

“Memang bukan pengerahan tenaga. Tetapi seluruh hati kita,” berkata Kiai Badra.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka menghargai sikap Iswari beserta ketiga orang gurunya yang tidak pernah melupakan dan mensyukuri segala kurnia yang diberikan kepada mereka. Dan sudah barang tentu dengan permohonan agar hati mereka selalu diberi terang, sehingga apa yang pernah di terimanya sebagai kurnia itu memberikan arti bagi hidupnya.

Dalam kesempatan itu pula Sambi Wulung dan Jati Wulung telah melaporkan apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Telah dilaporkan pula sekelompok orang yang dengan sengaja memberikan kesan sebagai sekelompok serigala.

Kiai Badra yang mengangguk-angguk itu pun berkata, “Kita tidak akan salah menilai mereka. Tentu Warsi dengan kelompoknya. Jika setelah sekian tahun tiba-tiba saja ia datang lagi, tentu bukannya tidak dengan perhitungan yang mapan. Anaknya tentu menjadikan tumpuan harapannya. Apalagi menurut keterangan kalian berdua Puguh memiliki kelebihan dari anak-anak muda sebayanya. Pengalamannya luas dan ia cepat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.”

“Kita tinggal mempunyai waktu sedikit. Tiga hari lagi bulan akan menjadi purnama penuh. Memang ada dua kemungkinan. Warsi mengajukan tantangan perang tanding, atau mereka menyerang padukuhan induk ini dengan mengerahkan kekuatan yang barangkali telah berhasil mereka kumpulkan selama ini. Bukankah menurut laporanmu disamping padukuhan yang kau lihat, tentu ada padukuhan lain yang tersembunyi dan dilingkari oleh lingkungan yang tidak boleh diambah kaki manusia dengan pertanda topeng-topeng kecil itu?” Sambung Kiai Soka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi merekapun menyadari, semakin dekat dengan saat purnama naik, maka Tanah Perdikan Sembojan itu-pun tentu akan menjadi semakin tegang.

Namun disiang hari, seakan-akan kehidupan di Tanah Perdikan tidak terpengaruh sama sekali. Pasar di padukuhan induk tetap ramai dikunjungi orang. Pasar-pasar sepekan di padukuhanpun pada saat hari pasaran, juga nampak ramai dan hidup. Rasa-rasanya tidak ada bahaya apapun yang telah mengancam Tanah Perdikan mereka.

Dalam pada itu, Kiai Badrapun berpesan, “Lihatlah setiap ada kesempatan. Atau tugaskan para petugas sandi untuk melihat topeng kecil itu setiap saat. Pada saatnya tiba, maka topeng itu agaknya bukan saja rangkap, tetapi akan menjadi tiga, sebagaimana kebiasaan kita memberikan aba-aba dengan menghitung sampai tiga.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Kiai Badra. Nampaknya topeng itu memang akan menjadi tiga. Ketika topeng itu baru satu, maka masih belum nampak kegiatan apapun dari orang-orang yang dengan sengaja memang ingin mengganggu Tanah Perdikan Sembojan. Ketika topeng itu menjadi dua, maka kegiatan-kegiatan itu memang mulai nampak. Sehingga agaknya topeng itu akan segera menjadi tiga menjelang purnama naik. Induk kekuatan lawan mulai akan menjamah Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, Sembojan masih belum menunjukkan sikap terbuka bagi lawan. Sembojan sendiri masih membiarkan kesan anjing hutan itu. Dengan demikian, maka jika seseorang tidak keluar dari padukuhan, maka mereka tidak akan merasa gelisah.

Karena itu, demikian senjata turun, lampu-lampu mulai terpasang, maka semua regol pun telah ditutup. Regol-regol jalan induk maupun regol-regol butulan. Diselarak dengan kuat dan setiap saat akan diamati oleh para peronda.

Sementara itu, Iswari bersama ketiga gurunya telah berada kembali didalam sanggar untuk satu keperluan khusus. Namun mereka tidak terlalu lama. Mereka telah menyatakan dengan tulus pernyataan sukur atas segala kurnia yang telah mereka terima, sementara itu mereka-pun selalu mohon petunjuk apa yang sebaiknya mereka lakukan justru sebagai pertanggungan jawab atas kurnia yang telah mereka terima itu.

Sebelum wayah sepi uwong, ternyata mereka telah keluar dari sanggar. Mereka kemudian berkumpul dengan beberapa orang pemimpin yang berada di rumah Kepala Tanah Perdikan itu. Mereka telah menyempatkan diri untuk makan bersama-sama termasuk Iswari dan Bibi.

Namun malam itu Iswari masih harus beristirahat. Ia masih harus memulihkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Iswari tidak ikut berbincang-bincang diruang dalam. Setelah makan bersama-sama selesai dan berbicara serba sedikit tentang kesiagaan Tanah Perdikan, maka Iswari telah kembali kedalam biliknya bersama Bibi.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, setiap padukuhan menjadi sepi dan lengang dilihat dari luar. Tetapi didalamnya justru menjadi hidup dan tegang. Di gardu-gardu, disimpang-simpang empat, diregol-regol dan dibanjar, penuh dengan kelompok-kelompok kecil yang berbincang-bincang dengan jantung yang tegang. Tiga atau empat orang berkelompok sambil menimang senjata di tangan.

Seperti malam-malam berikutnya pula, yang terdengar adalah gonggong anjing hutan yang seakan-akan menjadi semakin banyak. Anjing-anjing hutan itu seolah-olah berkeliaran di luar dinding padukuhan sambil menyalak keras-keras dan menggeram mendebarkan.

Tetapi sampai menjelang pagi, tidak terdengar peristiwa apapun yang menggelisahkan. Tidak seorang pun yang telah diserang oleh kelompok-kelompok anjing hutan karena tidak seorangpun yang keluar dari padukuhan, meskipun hanya seujung jari. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi jera setelah seorang pengawal yang berada diatas dindingpun dapat digapai oleh anjing-anjing hutan yang sangat besar yang tidak begitu jelas kelihatan di gelapnya malam.

Ketika para pengawal sudah siap membuka regol padukuhan, ternyata telah terjadi kegemparan yang lain. Bukan seseorang yang telah mati dibunuh oleh anjing hutan diluar dinding padukuhan, tetapi ternyata anjing-anjing hutan itu telah memasuki padukuhan yang paling ujung di Tanah Perdikan Sembojan. Bukan yang paling ujung yang menghadap ke bukit, tetapi justru yang paling ujung disebelah lain yang menghadap ke Barat.

Ternyata seekor lembu telah mati dikandang dengan tubuh yang terkoyak-koyak. Semua orang yang kemudian mengerumuninya menyatakan, bahwa lembu itu telah dibunuh oleh sekawanan anjing hutan.

Berita itu pun segera sampai ke padukuhan induk. Sambi Wulung dan Jati Wulung serta para pemimpin yang lain dengan tergesa-gesa telah pergi ke padukuhan itu.

Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan memang sependapat, bahwa lembu itu memang telah dibunuh oleh sekelompok serigala yang buas.

Hanya Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang mempunyai kesimpulan lain.

Namun justru karena ketiga orang guru Iswari telah lepas dari tugas berat mereka, serta mereka telah sempat beristirahat secukupnya, maka Sambi Wulung pun mulai menyatakan pendapatnya, “Menurut pendapatku yang membunuh lembu ini bukan sekelompok anjing hutan.”

“Lalu siapa menurut pendapatmu?” bertanya Ki Bekel di padukuhan itu.

“Beberapa orang. Aku tidak yakin bahwa sekelompok anjing hutan dapat masuk kedalam padukuhan yang tertutup ini. Akupun tidak yakin bahwa sekelompok anjing hutan tidak menimbulkan suara yang gaduh disaat mereka membunuh korbannya,” berkata Sambi Wulung.

“Jika yang membunuh itu beberapa orang, kenapa mereka meninggalkan bekas seperti itu?” bertanya Ki Bekel.

“Mereka memang ingin memberikan kesan, bahwa yang telah mengganggu ketenangan Tanah Perdikan ini adalaih sekelompok anjing hutan, tetapi bukan kebanyakan anjing hutan. Mereka dengan sengaja telah menimbulkan ketakutan dan kegelisahan pada rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Perlahan-lahan, tetapi akhirnya tentu akan merata, pendapat bahwa dibelakang bukit itu terdapat seorang pertapa yang dapat menciptakan sekelompok anjing hutan yang dapat melakukan perintahnya dengan baik termasuk menakut-nakuti rakyat Tanah Perdikan ini.”

Orang-orang itu mulai merenungi kata-kata Sambi Wulung. Sementara itu pemimpin pasukan pengawal itu-pun berdesis perlahan-lahan ditelinga Sambi Wulung, “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak semula?”

“Aku sedang meyakinkan diriku sendiri. Pengalamanku sendiri tentang ketiga orang yang mengejarku itu memberikan perbandingan dengan apa yang terjadi,” berkata Sambi Wulung.

“Tetapi pengawal itu melihat sendiri anjing-anjing liar yang menyerangnya,” berkata pemimpin pengawal itu.

“Apakah ia yakin bahwa yang dilihatnya adalah serigala? Menurut ceriteranya yang dilihatnya adalah anjing hutan raksasa yang meloncat kedalam gerumbul-gerumbul liar dipinggir bulak. Menurut penglihatan kami kemarin, tidak ada tanaman yang rusak disawah itu. Sebab menurut naluri, seseorang tidak akan menginjak-injak tanaman padi jika tidak terpaksa sekali,” jawab Sambi Wulung.

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya memang demikian. Tetapi kita masih meyakinkannya.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk, sementara itu Jati Wulung berkata, “Nampaknya pengobatan atas Nyi Wiradana telah selesai. Kita akan dapat mengatur pertahanan jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita tidak akan merasa cemas lagi, bahwa padukuhan induk akan disergap oleh sekelompok orang yang memang ingin mengacaukan Tanah Perdikan Sembojan. Kita semua sudah siap. Hanya Nyi Wiradana barangkali masih memerlukan sehari semalam untuk memulihkan kesehatan dan kekuatannya sebagaimana sebelumnya. Bahkan seandainya datang tantangan perang tandingpun ia tidak akan mengelak lagi.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan mempersiapkan semuanya.”

Dengan demikian, maka sejak saat itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan para pemimpin Tanah Perdikan itu memperingatkan rakyat Tanah Perdikan, bahwa mereka tidak sekedar menghadapi sekelompok serigala. Tetapi sekelompok orang yang dengan sengaja ingin mengacaukan Tanah Perdikan itu.

Pernyataan itu justru telah menimbulkan kesan yang lain. Jika semua rakyat Tanah Perdikan merasa ngeri karena mereka harus berhadapan dengan kelompok anjing hutan yang buas yang dapat menyergap mereka dengan tiba-tiba dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan jika mereka melawan dan menang, mereka tidak akan mempunyai kebanggaan apapun juga, maka perlawanan terhadap kelompok orang-orang yang akan menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan akan mempunyai nilai yang berbeda. Jika terpaksa mereka menjadi korban, maka mati diujung tombak lawan nilainya berbeda dengan jika mereka mati karena taring anjing-anjing hutan.

Karena itu, maka rakyat Tanah Perdikan Sembojan itu justru menjadi semakin geram menghadapi suasana. Mereka semakin merasa berkewajiban untuk ikut melibatkan diri dalam pertahanan Tanah Perdikan mereka.

Dihari itu, maka mulai tersiar kabar bahwa sebenarnya mereka tidak berhadapan dengan serigala. Mereka berhadapan dengan sekelompok orang yang pura-pura menjadi anjing hutan. Juga bukan anjing hutan jadi-jadian sebagaimana dikabarkan oleh beberapa orang.

Di pasar-pasar, di kedai-kedai dan ditempat orang banyak berkumpul, berita itu semakin tersebar luas. Setiap telinga yang mendengar telah meneruskannya ketelinga orang lain, sambung bersambung.

Namun dalam pada itu, pemimpin pengawal Tanah Perdikanpun telah mulai pula dengan penggunaan pasukan secara terbuka. Para prajurit tidak lagi sekedar bersiap-siap didalam barak dan hanya akan bertindak jika terdapat isyarat. Sementara inti kekuatannya diletakkan di padukuhan induk, terlebih-lebih lagi disekitar rumah Kepala Tanah Perdikan.

Sejak hari itu, maka pasukan pengawal Tanah Perdikan dalam kelompok-kelompok telah berada tersebar di padukuhan induk, sementara para pengawal di padukuhan-padukuhanpun telah bersiaga dalam kelompok-kelompok mereka masing-masing dan telah mempersiapkan diri di banjar. Hanya kelompok-kelompok cadangan sajalah yang masih tetap tinggal di barak-barak mereka. Sementara itu anak-anak muda pun telah bersiap-siap pula menghadapi segala kemungkinan. Bahkan bukan saja anak-anak muda. Tetapi setiap laki-laki yang masih mampu menggenggam senjata telah bersiap-siap. Bukan sekedar menghadapi kelompok-kelompok anjing hutan, tetapi sekelompok orang-orang yang akan berbuat jahat terhadap kampung halaman mereka.

Perubahan sikap para pengawal itu memang sudah diperhitungkan oleh orang-orang diseberang bukit. Apalagi ketika kemudian Warsi, Ki Rangga dan beberapa orang baru bersama pengikut mereka telah datang ke balik bukit.

Ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mengeluh meskipun tempat yang disediakan bagi mereka bukan tempat yang pantas dan memadai. Namun tempat itu telah mencukupi kebutuhan disaat-saat mereka menunggu. Tempat itu sudah cukup dapat melindungi mereka dari hujan dan panas.

Namun satu hal yang sulit untuk mereka atasi adalah menyembunyikan asap yang mengepul disaat-saat mereka menyiapkan makan bagi orang-orang yang semakin banyak. Sebelumnya mereka dapat memanasi makanan dan minuman di malam hari, sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan asap yang memang hanya sedikit dan pada waktu yang tidak ajeg. Tetapi karena orang yang ada dibalik bukit itu semakin banyak, maka mereka memerlukan makan dan minum semakin banyak pula. Meskipun mereka dapat juga membuat perapian di malam hari, tetapi asap yang mengepul diterangnya cahaya bulan untuk waktu yang cukup lama, memang akan dapat menarik perhatian.

Namun, ketika mereka yang ada dibalik bukit itu mendapat laporan bahwa orang-orang Tanah Perdikan sudah makin curiga terhadap anjing-anjing hutan itu, maka Ki Rangga Gupitapun berkata, “Biar saja menarik perhatian. Kita Sudah siap menyerang kapanpun juga.”

Dengan demikian, maka orang-orang dibalik bukit itu tidak lagi merasa bersembunyi. Mereka merasa memiliki kekuatan yang cukup besar menghadapi Tanah Perdikan.

Untuk waktu yang bertahun-tahun mereka menghimpun kekuatan. Mereka tidak akan pernah melupakan, bagaimana pasukan mereka telah dihancurkan oleh prajurit Pajang dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga dengan demikian maka dendampun tetap menyala dihati mereka. Dendam terhadap Tana Perdikan Sembojan karena berbagai macam alasan.

Disaat-saat terakhir, Warsi masih mempertimbangkan langkah yang terbaik yang akan diambilnya. Apakah ia akan menantang perang tanding atau mereka dengan kekuatan penuh menyerang Tanah Perdikan, khususnya padukuhan induk.

Warsi dan Ki Rangga yakin, bahwa menghadapi keadaan sebagaimana pernah ditimbulkan oleh kehadiran gerombolan Kalamerta di Tanah Perdikan itu, maka Tanah Perdikan itu tidak akan dapat menepuk dada. Jika pada saat pasukan Kalamerta datang Ki Gede Sembojan kemudian berusaha mencegah kematian yang dapat mencengkam sejumlah rakyatnya dan justru menantang perang tanding, maka apakah Iswari yang kini memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu akan berani berbuat demikian.

Beberapa orang yang pernah mengalami kekecewaan sejak masa akhir pemerintahan di Demak dan kemudian disaat Adiwijaya memerintah di Pajang yang kemudian bergabung dengan Ki Rangga, telah mendapat penjelasan prsoalan Tanah Perdikan itu, meskipun agak berbeda dengan kenyataannya. Mereka menganggap bahwa permusuhan itu memang sudah ada sejak masa Kalamerta masih muda. Persoalan pribadi antara Kalamerta dengan Ki Gede Sembojan telah menyeret keduanya kedalam perang tanding. Namun Warsi telah berhasil membalas dendam kematian Kalamerta itu. Ia telah membunuh Ki Gede Sembojan. Namun yang timbul kemudian adalah persoalan antara dirinya dan Iswari, meskipun agak berbeda sebabnya, namun mirip pula sebagaimana persoalan antara Kalamerta dan Ki Gede Sembojan. Persoalan pribadi. Kalau permusuhan antara Kalamerta dan Ki Gede Sembojan itu disebabkan dan dimulai karena persoalan seorang perempuan, maka dalam kehidupan Warsi dan Iswaripun pernah tersangkut pula persoalan seorang laki-laki yang pernah menjadi suami mereka. Bahkan kedua-duanya mempunyai anak laki-laki yang merasa berhak menggantikan kedudukannya sebagai Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Warsi memang sudah mendapat laporan, bahwa untuk beberapa saat lamanya Iswari sedang sakit. Jika ia menantang perang tanding, maka keadaan itu akan dapat menjadi alasan yang sah untuk menundanya. Sementara itu, Warsi memang memerlukan satu keadaan yang khusus. Disaat purnama penuh, ia merasa berada di puncak kemampuannya.

Ketika ia berbicara dengan beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi maka merekapun sependapat, bahwa Warsi tidak perlu menantang perang tanding. Jika Iswari memanfaatkan keadaannya maka ia dapat minta perang tanding itu ditunda beberapa hari setelah ia sembuh. Saat itu tentu bukan saat yang terbaik. Meskipun barangkah bulan masih ada dilangit, tetapi tentu bukan bulan yang bulat sepenuhnya.

“Kita akan mengadakan pemanasan,” berkata salah seorang yang telah bergabung dengan Warsi, “kita akan menyerang salah satu dari padukuhan itu sekedar untuk menjajagi kekuatan para pengawalnya.”

“Malam anti kita akan dapat melakukannya,” berkata Warsi, “kita sudah tidak lagi bermain serigala. Kita akan datang kesebuah padukuhan yang agak besar sehingga kekuatan pengawalnya agak besar pula. Dengan demikian kita akan mempunyai gambaran yang pantas untuk membuat perbandingan. Besok malam kita beristirahat dan malam berikutnya adalah malam purnama penuh.”

Orang-orang yang bergabung bersamanya mengangguk-angguk. Seorang yang berwajah pucat berkata, “Jika demikian kita jangan terpancing untuk bertempur habis-habisan malam nanti.”

“Kita harus dapat mengekang diri,” berkata Ki Rangga, “kita hanya sekedar menjajagi. Jika orang-orang berilmu tinggi yang ada di Tanah Perdikan itu berdatangan, maka kita akan menghindar.”

Semuanya sependapat, sehingga karena itu, maka tidak ada persoalan yang timbul diantara mereka. Bahkan merekapun sependapat untuk membawa sebagian saja dari kekuatan yang ada dibalik bukit itu.

Hari itu orang-orang yang berada dibalik bukit telah mempersiapkan diri mereka untuk mengadakan penjajagan ke salah satu padukuhan di Tanah Perdikan Sembojan. Sebagai orang yang pernah tinggal di Tanah Perdikan, maka Ki Rangga dan Warsi telah dapat membuat rencana yang paling baik yang akan mereka lakukan.

Namun dalam pada itu, setelah para petugas sandi yakin bahwa yang telah mengganggu Tanah Perdikan itu ternyata bukan anjing hutan, maka mereka memang merasa malu.

Namun sejalan dengan itu, maka para petugas sandi telah bertekad untuk mengamati keadaan sebaik-baiknya. Mereka mengerti bahwa sekelompok orang telah berada dibalik bukit kecil itu. Dari sana mereka mengatur permainan mereka untuk membuat orang-orang Tanah Perdikan gelisah. Apalagi ketika para petugas sandi itu melihat, bahwa dari balik bukit itu telah mengepul asap.

“Apakah kau pernah melihat serigala menyalakan perapian?” bertanya seorang petugas sandi kepada kawannya.

“Bukan serigalanya. Tetapi seorang pertapa yang dapat membuat anjing hutan jadi-jadian,” jawab kawannya sambil tersenyum.

Petugas sandi itu tertawa. Katanya, “Anjing hutan jadi-jadian yang telah berhasil mengurung orang-orang Tanah Perdikan beberapa malam didalam padukuhannya.”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun kemudian petugas sandi itupun bertanya, “Apakah kita akan mencari keterangan tentang keadaan dibalik bukit?”

“Sangat berbahaya,” desis kawannya, “tetapi hutan rindang dan bebatuan itu memberi kemungkinan kepada kita. Tetapi jangan disiang hari.”

“Aku dimasa kecil pernah bermain keatas bukit itu.” berkata petugas sandi itu.

“Aku pernah masuk kedalam goa dan lengkeh-lengkeh bukit dibalik bukit itu. Aku tahu beberapa tempat yang memang memungkinkan untuk menjadi tempat persembunyian,” sahut kawannya.

“Baiklah. Malam nanti kita akan melihat keadaan dibalik bukit itu. Tetapi kita harus memberikan laporan lebih dahulu serta membawa alat-alat yang cukup,” berkata petugas sandi itu.

Demikianlah, maka kedua orang petugas sandi itu telah memberikan laporan kepada pemimpinnya, bahwa keduanya berniat untuk melihat-lihat kebali ke bukit.

“Kalian sadari, bahwa tugas itu sangat berbahaya?” bertanya pemimpinya.

Keduanya mengangguk. Seorang diantara mereka berkata, “Kami telah pernah melihat medannya sampai ke goa-goa dibaljk bukit. Hutan yang meskipun tidak lebat, gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu karang akan dapat menjadi pelindung yang baik.”

“Baiklah. Lakukanlah dengan hati-hati,” berkata pemimpinnya.

Namun dalam pada itu, ketika keduanya akan beranjak dari tempatnya, seorang kawannya telah datang untuk memberikan laporan.

“Orang itu kami lihat lagi berada dipasar. Apakah dalam keadaan sekarang, kami diperkenankan menangkapnya?” bertanya seorang petugas sandi yang lain.

Tetapi dengan serta merta petugas sandi yang ingin pergi ke balik bukit itu berkata, “jangan. Biarlah mereka tidak merasa dirinya diketahui. Bahkan ada usaha untuk melihat sampai kesarang mereka. Bukankah mereka hari ini tidak akan mendapatkan keterangan apa-apa selain keterangan tentang para pengawal yang telah bersiap-siap disegala tempat? Tanpa datang dan melihatpun mereka sudah dapat memperhitungkan. Apalagi diantara mereka terdapat orang-orang yang memang pernah tinggal di Tanah Perdikan ini.”

Pemimpin pengawal itu sependapat. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Kita akan membiarkannya. Tetapi awasi, apa yang dilakukannya di pasar atau pada saatnya pergi, ikutilah sejauh dapat kau lakukan tanpa diketahuinya.”

Petugas sandi yang datang dari pasar itupun kemudian telah minta diri untuk kembali ke pasar, sementara dua orang yang lain telah pergi pula untuk mempersiapkan diri.

Dalam pada itu, ketika seorang petugas melihat topeng yang terpasang diluar regol padukuhan induk itu agaknya masih tetap sepasang. Karena itu, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu menduga bahwa masih belum akan terjadi gerakan yang menentukan dari orang-orang yang berada dibalik bukit.

Namun para pemimpin Tanah Perdikan itu tidak menjadi lengah. Topeng itu bukan pegangan yang dapat dianggap menentukan, karena para pemimpin Tanah Perdikan itu masih belum tahu arti yang sebenarnya dari topeng itu.

Dalam ketegangan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata telah membuat rencana sebagaimana dilakukan oleh para petugas sandi. Merekapun merasa perlu untuk melihat kebalik bukit. Yang penting bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah perkiraan kekuatan orang-orang yang telah bersiap-siap untuk mengacaukan Tanah Perdikan itu.

Apalagi ketika laporan tentang asap yang mengepul dari balik bukit dan beberapa macam uraian tentang keadaan terakhir yang dialami oleh Tanah Perdikan Sembojan.

Para pemimpin Tanah Perdikanpun tidak berkeberatan. Namun sementara itu, pemimpin petugas sandipun telah memberitahukan rencana kedua petugasnya.

“Mereka sudah mengenal medannya,” berkata pemimpin petugas sandi itu.

“Jika demikian, biarlah mereka pergi bersama kami,” berkata Sambi Wulung.

Sebenarnyalah empat orang dari Tanah Perdikan itu-pun telah mempersiapkan diri untuk mendekati goa-goa dibalik bukit.

Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah pemanah-pemanah yang baik. Di Song Lawa mereka mampu mengejutkan semua orang dengan kemampuan mereka memanah. Karena itu, untuk menjaga segala kemungkinan, maka keempat orang itupun telah membawa busur dan anak panah yang cukup selain senjata yang biasa mereka pergunakan. Pedang.

Demikian ketika senja turun, maka Sambi Wulung, Jati Wulung dan kedua petugas sandi telah siap untuk pergi ke bukit. Merekapun kemudian telah minta diri kepada para pemimpin termasuk Iswari dan ketiga orang gurunya.

Demikian langit kembali gelap, maka merekapun telah berangkat. Mereka sengaja menghindari orang-orang di sepanjang jalan. Bahkan para pengawal diregolpun ketika bertanya Sambi Wulung hanya menjawab, “Kami ingin mengamati suasana.”

Tetapi tidak seorang pun yang mempertanyakan busur dan anak panah yang mereka bawa. Setiap pengawal menyadari, bahwa keadaan lagi gawat. Dengan anak panah, maka keempat orang itu akan dapat menyerang lawannya pada jarak yang masih jauh. Jika mereka bertemu dengan lawan yang terlalu banyak bagi mereka, maka jauh sebelum benturan terjadi, mereka akan dapat mengurangi jumlah lawan mereka.

Demikian keempat orang itu keluar dari padukuhan, maka mereka pun telah melangkah dengan cepat menuju ke bukit. Mereka menghindari jalan padukuhan agar mereka tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengawal dan anak-anak muda yang ada dimulut-mulut lorong dan di gardu-gardu.

Pada saat yang hampir bersamaan, maka orang-orang di balik bukit pun telah mengatur persiapan untuk pergi ke sebuah padukuhan yang telah mereka pilih untuk menjadi sasaran. Tetapi mereka tidak perlu tergesa-gesa. Menurut rencana mereka akan datang kepadukuhan yang telah mereka tentukan pada tengah malam.

Beberapa saat kemudian Sambi Wulung dan ketiga orang lainnya telah mendekati bukit. Mereka menjadi semakin berhati-hati. Mereka pun menyadari, bahwa orang-orang yang berada di balik bukit itu pun tentu telah menyebarkan beberapa orang untuk mengamati keadaan.

Tetapi kedua orang petugas sandi itu, telah mengenal tempat itu dengan baik, karena dimasa remajanya, mereka sering bermain-main ketempat itu. Bahkan yang seorang diantara mereka telah sampai kebalik bukit itu pula.

Pada saat-saat Iswari menegakkan pemerintahan di Tanah Perdikan itu, rasa-rasanya keadaan Tanah Perdikan itu cukup tenang. Namun tiba-tiba saja Tanah Perdikan itu kini telah diguncang oleh kegelisahan.

Dengan demikian, maka, mereka tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Mereka telah melintasi hutan rindang, kemudian padang perdu yang terasa liar dan gersang. Bebatuan dan lekuk-lekuk bukit yang dibuat oleh arus air yang tidak terkendali.

Keempat orang itu merayap dengan hati-hati. Bukan saja karena mereka menghindari penglihatan para pengamat yang mungkin dipasang, merekapun harus menghindari lereng-lereng terjal berbatu padas. Untunglah bahwa cahaya bulan dilangit cukup cerah.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 14

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s