SST-12

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

 

PUGUH termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia menggeleng dan berkata, “Aku akan mencarinya.”

“Marilah. Aku temani kau pulang. Baru kemudian aku akan mencari pohon wregu putih.” ajak Wida.

“Aku akan berjalan terus,” berkata Puguh.

Wida hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Puguh itu murid Ki Ajar Paguhan, tetapi serba sedikit ia dapat mengenali wataknya. Karena itu, maka agaknya sulit baginya untuk dapat membawa Puguh kembali.

Namun dalam pada itu, mereka melihat seorang yang berjalan sambil menjinjing cangkulnya, sementara beberapa puluh langkah kemudian seorang yang lain memanggul cangkulnya dipundaknya. Mereka adalah orang-orang yang pulang dari sawah setelah sehari-harian bekerja.

Ternyata sebelum Wida berbuat sesuatu, Puguh telah mendekati orang itu dan bertanya, “Apakah Ki Sanak melihat dua orang asing yang berjalan lewat bulak ini sekitar dua hari yang lalu?”

Petani itu mencoba mengingat. Namun kemudian katanya, “Aku memang bertemu dengan beberapa orang asing dua hari yang lalu. Tetapi tidak hanya dua orang.”

“Berapa orang?” bertanya Puguh.

“Tujuh atau delapan orang,” jawab orang itu.

Petani itu mengangguk. Katanya pula, “Adalah satu kebetulan, bahwa aku dan seorang kawanku berada di sebuah gubug. Aku singgah di gubugnya itu untuk sekedar minum. Dari gubug itu kami melihat beberapa orang lewat.” orang itu berhenti sejenak, lalu, “kenapa dengan orang-orang itu?”

“Mereka menuju ke mana?” bertanya Puguh.

“Aku tidak tahu mereka pergi kemana. Tetapi mereka menempuh jalan ini. Aku melihat mereka justru telah berada di jalan menuju ke kuburan tua,” jawab orang itu.

“Jadi kita harus berbelok ke kanan?” bertanya Puguh.

“Tidak. Kau tempuh jalan ke kiri ini,” jawab orang itu.

“Tetapi Ki Sanak tadi datang dari arah kanan,” sahut Puguh.

“Ya. Aku memang datang dari sawah sebagaimana tetanggaku itu,” berkata orang itu ketika seorang yang memanggul Cangkul itu lewat dan bahkan berhenti pula. Lalu katanya pula, “saat aku singgah di gubug itu aku baru pulang dari bepergian, bukan dari sawah.”

“Ada apa?” bertanya orang yang memanggul cangkul.

“Tentang orang asing yang lewat beberapa hari yang lalu,” jawab petani yang terdahulu.

“O, memang menjadi pembicaraan. Ada beberapa orang yang sempat melihat mereka selagi orang bekerja di sawah. Mereka pergi ke kuburan tua,” jawab laki-laki yang seorang lagi, “tetapi aku tidak melihat sendiri. Aku hanya mendengar beberapa orang membicarakan.”

“Lalu, dari kuburan tua mereka pergi kemana?” bertanya Puguh ingin tahu.

“Tidak ada yang pernah melihat, kemana mereka pergi,” jawab petani yang kedua itu.

“Terima kasih Ki Sanak,” tiba-tiba saja Wida menyahut, “keterangan Ki Sanak sangat berharga bagi kami.”

Puguh berpaling ke arah Wida. Sebenarnya ia masih ingin bertanya lagi. Tetapi dengan demikian maka kedua orang petani itu telah minta diri.

“Ki Sanak berdua nampaknya terlalu keras bekerja,” berkata Wida kemudian, “pada saat begini Ki Sanak berdua baru pulang dari sawah.”

“Kerja yang tanggung,” jawab salah seorang diantara mereka, “tinggal satu sudut kecil yang harus kami siangi. Daripada besok, maka aku selesaikan saja sama sekali.”

Yang lain hanya tersenyum saja. Namun demikian keduanya bersama-sama meninggalkan Puguh dan Wida.

Namun Puguh masih juga bertanya, “Apakah kuburan tua itu masih jauh.”

Wida menggamitnya. Tetapi nampaknya kedua petani itu memang tertarik kepada pertanyaan Puguh, sehingga seorang diantaranya bertanya, “Kalian akan pergi ke kuburan tua disaat seperti ini?”

Tetapi Widalah yang menjawab sambil tertawa, “Tentu tidak Ki Sanak.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang diantara mereka bertanya, “Lalu kalian akan pergi kemana sekarang? Dan dimana kalian akan bermalam?”

Yang menjawab adalah Puguh, “jangan hiraukan kami.”

Kedua petani itu memang tidak bertanya lagi. Keduanya justru dengan cepat meninggalkan tempat itu dan dengan tergesa-gesa menuju ke padukuhan mereka. Tetapi disepanjang jalan mereka justru berbincang tentang kedua orang dibulak itu.

“Keduanya cukup mencurigakan,” berkata seorang diantara mereka.

“Ya. Sebagaimana beberapa orang beberapa hari yang lalu. Secara kebetulan aku melihat mereka,” jawab kawannya.

Ketika kedua orang itu sampai di padukuhan, hari memang sudah menjadi gelap. Namun mereka sempat singgah dirumah tetangga mereka diujung jalan dan menceriterakan kedua orang yang bertanya-tanya tentang beberapa orang yang asing bagi padukuhan itu yang lewat beberapa hari yang lalu.

Dari mulut ke mulut, berita itu tersebar, sehingga anak-anak mudanya pun mendengar pula. Karena itulah, maka malam itu di gardu parondan terdapat banyak anak-anak muda dan bahkan bebahu padukuhanpun ada yang berada di gardu didepan banjar.

“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” desis seorang bebahu kepada seorang anak muda yang duduk disebelahnya.

“Jika terjadi sesuatu, kami sudah siap,” jawab anak muda itu.

Bebahu itu mengangguk-angguk. Tetapi bebahu itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa meskipun agak jauh dari padukuhan mereka, terdapat lingkungan yang sangat gawat. Lingkungan yang tidak dapat dijamah oleh siapapun. Orang-orang padukuhan itu memang tidak banyak yang mengetahuinya, namun sebagai bebahu padukuhan ia sering bertemu dengan bebahu padukuhan lain, sehingga iapun pernah mendengar tentang pertanda topeng kecil yang seram itu.

“Jalma mara jalma mati, sato mara sato mati,” desis seorang bebahu dari padukuhan lain yang pernah ditemuinya, ketika ia menceriterakan tempat yang gawat itu. Setiap orang yang menjamah tempat itu akan mati.

Sementara padukuhan itu menjadi bersiaga, maka Puguh dan Wida telah berada di kuburan tua itu. Tetapi didalam gelapnya malam mereka tidak dapat berbuat apa-apa, sehingga mereka harus bermalam dikuburan itu sampai esok pagi.

Puguh memang sedikit meremang jika ia melihat keadaan disekelilingnya. Tetapi ia tidak mengeluh. Iapun berusaha untuk tidak terpengaruh oleh keadaan di kuburan tua itu. Namun nyamuk memang terlalu banyak.

Namun yang tidak diketahui oleh Puguh dan Wida adalah, bahwa beberapa orang di padukuhan terdekat dari kuburan itu telah membicarakan mereka. Bahkan Ki Bekel telah memanggil beberapa bebahu dan orang yang langsung telah bertemu dengan Puguh dan Wida.

Ternyata bahwa kehadiran kedua orang itu dianggap menggelisahkan seisi padukuhan. Apalagi keduanya telah bertanya tentang kuburan tua yang dianggap wingit dan keramat itu.

“Kita harus mengawasi mereka,” berkata Ki Jagabaya.

“Tetapi mereka berada dimana sekarang?” bertanya seorang bebahu yang lain.

“Aku kira mereka memang berada dikuburan. Karena itu, kita harus mengawasi jalan yang menuju ke kuburan itu serta pematang-pematang yang mungkin mereka lalui. Sementara itu, kita melaporkannya kepada Ki Demang,” jawab Ki Jagabaya.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah kita perlu bersusah payah mengamati kedua orang itu? Apakah tidak cukup bagi kita untuk bersiaga di padukuhan kita?”

Ki Jagabaya memang masih muda, sementara Ki Bekel menjadi semakin tua, sehingga karena itu, beberapa orang menilai bahwa Ki Bekel nampaknya sudah tidak terlalu bergairah untuk berbuat banyak. Namun harapan penghuni padukuhan itu ada pada anak Ki Bekel. Seorang anak muda yang memiliki tubuh yang tinggi kekar.

Karena itu, beberapa orang bebahu, termasuk Ki Jagabaya telah berpaling ke arahnya.

Anak Ki Bekel itu mengerti, bahwa para bebahu berharap agar ia membantu mereka, mendesak kepada Ki Bekel untuk mendapat ijin bertindak. Karena itu, maka anak Ki Bekel itupun berkata, “Ayah. Agaknya memang cukup bagi kita untuk sekedar berjaga-jaga di padukuhan. Tetapi dengan demikian, kita tidak dapat melihat apa yang terjadi disekitar kita, yang mungkin akan dapat membahayakan kita. Dan apakah menurut ayah, berjaga-jaga bagi padukuhan kita itu terbatas pada dinding-dinding padukuhan? Bukankah sawah dan ladang serta lingkungannya juga termasuk padukuhan kita? Ayah, kuburan tua itu ada ditengah-tengah bulak kita. Bukit kecil itu adalah bukit kita. Karena itu ada baiknya bagi kita untuk mengawasinya.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Ia tahu, bahwa Ki Jagabaya dan bebahu yang lain memang lebih senang bekerja dengan anaknya daripada dengan dirinya yang semakin tua.

Tetapi Ki Bekel tidak berkeberatan bahwa para bebahu lebih banyak bekerja bersama dengan anaknya daripada dengan dirinya, karena bagi Ki Bekel anaknya itulah masa depannya dan masa depan padukuhan itu. Ia berharap bahwa anaknya akan dapat menggantikan kedudukannya dan melakukan tugasnya dengan lebih baik daripada dirinya sendiri.

Karena itu, maka Ki Bekel itu pun kemudian menjawab, “Baiklah. Terserah kepadamu, apa yang baik menurut pikiranmu. Tetapi aku berpendapat, bahwa kita sebaiknya mengatasi persoalan kita sendiri. Baru setelah kita mengalami kesulitan dan yakin tidak akan dapat memecahkannya, maka kita baru akan melaporkan kepada Ki Demang.”

Anaknya mengangguk-angguk. Katanya, “Ayah benar. Kita akan melakukannya lebih dahulu. Kita memang bukan anak-anak yang cengeng.”

Demikianlah, maka anak Ki Bekel itu telah mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk bekerja bersama Ki Jagabaya mengamati kedua orang yang mereka duga telah berada di kuburan tua.

“Jika mereka belum memasuki kuburan itu malam ini, maka besok mereka tentu akan datang. Nampaknya perhatian mereka begitu besar kepada kuburan tua itu setelah mereka mendengar bahwa beberapa orang asing beberapa saat lalu juga telah pergi ke kuburan itu,” berkata Ki Jagabaya.

“Nah, agaknya kita sudah mengambil langkah yang benar. Jika beberapa orang yang asing bagi kita itu beberapa hari yang lalu juga masuk ke kuburan itu, maka kita memang perlu memperhatikannya,” berkata anak Ki Demang.

Dengan demikian, maka para bebahu serta anak Ki Demang itupun telah mempersiapkan orang-orang mereka. Anak-anak muda yang memang sudah siap, telah dibagi dan mendapat tugasnya masing-masing disekitar kuburan tua di bukit kecil itu. Mereka mendapat tugas mengawasi saja dari sekitar bukit. Dimalam hari, mereka tidak diperintahkan untuk memasuki kuburan itu.

Karena itulah maka semalam suntuk mereka tidak menemukan apapun juga, karena ketika mereka mulai memancar disekitar kuburan tua itu, Puguh dan Wida sudah ada didalamnya.

Anak-anak muda di padukuhan yang bertugas disekitar kuburan itu memang merasa agak segan. Mereka sebenarnya lebih baik bertugas menangkap satu dua orang penjahat dimanapun asal tidak dikuburan tua itu. Tetapi mereka tidak dapat memilih tempat.

Namun yang bertugas bukannya hanya satu dua orang. Tetapi sekelompok anak-anak muda dan bahkan beberapa orang laki-laki yang sudah lebih tuapun ikut pula bersama mereka, sehingga dengan banyak kawan beban mereka terasa menjadi lebih ringan.

Di atas bukit kecil, dikuburan tua itu, Puguh hampir tidak dapat tidur sekejap pun. Bukan saja karena nyamuk yang banyak sekali. Tetapi ia pun merasa sangat gelisah.

Kepergian Gagaklahan menimbulkan dugaan yang buruk baginya atas kedua orang yang pernah menolongnya dan yang tiba-tiba terasa sangat akrab dengannya. Puguh tidak ingin kedua orang itu dibunuh oleh Gagaklahan dan orang-orangnya.

Ketika bayangan fajar mulai nampak dilangit, maka Puguh pun telah membenahi pakaiannya. Iapun mulai melangkahi nisan-nisan tua yang melihat-lihat apakah ada tanda-tanda yang dapat menunjukkan sesuatu tentang beberapa orang yang pernah memasuki kuburan itu sebelumnya.

Wida yang juga hampir tidak dapat tidur itu memperhatikannya dengan saksama. Sambil terbatuk-batuk iapun kemudian bertanya, “Apa yang kau cari Puguh?”

Puguh tidak menjawab. Sementara langitpun menjadi semakin terang, sehingga Puguh melihat semakin jelas apa yang ada ditanah pekuburan tua yang lembab itu.

Tiba-tiba saja jantung Puguh bagaikan berdegup semakin cepat. Dengan serta merta ia pun telah memanggil, “Kemarilah.”

Widapun dengan tergesa-gesa telah mendekat. Ia tidak dapat bergerak secepat Puguh. Dengan hati-hati Wida melangkah diantara batu-batu nisan. Sekali-sekali ia harus bergeser dengan hati-hati.

Namun demikian Wida mendekati Puguh, maka jantungnya juga menjadi berdebar-debar. Meskipun demikian ia masih juga bertanya kepada Puguh, “Ada apa?”

“Kau lihat ini?” bertanya Puguh.

Wida menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “beberapa jenis senjata.”

“Ya,” Puguh mengangguk-angguk. Namun ia menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat di tempat lain terdapat pula cangkul.

“Kau tahu artinya ini Wida?” bertanya Puguh.

“Aku memang tidak begitu cerdik. Yang aku ketahui hanyalah beberapa jenis tanaman di kebun. Namun melihat senjata-senjata ini, aku mengira bahwa memang pernah datang beberapa orang kemari. Tetapi mereka tidak sempat membawa senjata mereka pergi. Agaknya bukannya dengan sengaja mereka meninggalkan senjatanya, karena senjata itu sangat penting bagi mereka. Namun demikian kita masih dapat berharap bahwa senjata-senjata itu bukan milik Gagaklahan dan kawan-kawannya,” desis Wida.

“Jadi kau lebih senang bahwa senjata-senjata itu milik Wanengbaya dan Wanengpati?” bertanya Puguh.

“Jika mereka hanya berdua, senjatanya tentu tidak akan sekian banyak,” jawab Wida.

Puguh tidak menjawab. Ia pun kemudian telah melangkah lagi diantara batu-batu nisan, sehingga akhirnya ia pun telah sampai ke pinggir kuburan itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Ia melihat seonggok tanah yang basah. Menurut pendapatnya tentu sebuah kuburan baru. Tetapi terlalu besar menurut ukuran kuburan sewajarnya.

Tiba-tiba saja Puguh menggeram, “Aku menjadi penasaran. Aku ingin meyakini apa yang telah terjadi disini.”

Wida tidak mencegahnya. Ia pun sebenarnya juga ingin mendapatkan satu kepastian, apakah yang terjadi.

Karena itu, ketika Puguh kemudian mengambil cangkul dan menggali tanah yang basah yang dianggapnya sebagai satu kuburan baru itu, Wida pun membantunya meskipun ia berkata, “Kau hanya membuang-buang waktu saja Puguh. Sementara itu, Ki Ajar menunggu aku pulang membawa wregu putih.”

“Pergilah jika kau mau pergi. Aku tidak memaksamu untuk membantuku,” bentak Puguh.

Wida tidak menjawab. Tetapi ia tidak meninggalkan Puguh.

Beberapa saat kemudian, terasa cangkul puguh menyentuh sesuatu. Karena itu, maka iapun menjadi berhati-hati. Apalagi ketika kemudian ia yakin, bahwa ia telah menemukan bukan saja seorang didalam kubur itu, tetapi beberapa orang.

Namun Puguh tidak perlu melihat semua orang. Darahnya yang mengalir semakin cepat, rasa-rasanya menjadi dingin kembali ketika ia yakin, seorang diantara mereka yang terbunuh itu adalah Gagaklahan. Sementara yang lain tidak perlu mereka kenali satu-satu. Tetapi Puguh tidak melihat pakaian sebagaimana dipakai oleh Wanengbaya dan Wanengpati.

“Jadi menurut dugaanmu Gagaklahan lah yang telah terbunuh?” bertanya Wida.

“Bukan dugaanku. Tetapi kita melihat dengan mata kita masing-masing,” jawab Puguh.

“Mungkin mereka mati bersama-sama,” desis Wida.

“Tidak. Didalam kuburan ini tidak terdapat kedua orang itu. Aku mengenali pakaian mereka yang hampir tidak pernah berganti, karena mereka tidak membawa bekal pakaian yang cukup saat mereka lari dari Song Lawa,” desis Puguh.

“Jadi kedua setan itu telah membunuh Gagaklahan?” geram Wida.

“Salahnya sendiri,“ Puguh membentak, “tidak seorang pun memerintahkan mereka untuk mengejar dan apalagi membunuh kedua orang itu. Kedua orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Bahkan aku pun curiga, bahwa yang pernah aku lihat baru sebagian kecil dari ilmu mereka.”

Wida mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia-pun bertanya, “jadi kita tidak menyesal, bahwa bagian dari tubuh kita telah dibunuh oleh kedua orang itu?”

Pertanyaan itu memang membingungkan Puguh. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Kuburan ini harus kita timbun kembali.”

Keduanya pun segera telah menimbun kuburan itu. Bahkan Puguh pun telah mengambil beberapa senjata yang berserakan dan dimasukkan pula kedalam kubur yang besar itu.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan?” bertanya Wida setelah mereka selesai menimbun kembali kuburan itu.

Puguh termangu-mangu sejenak, Ketika ia menengadahkan wajahnya, matahari sudah memancar di langit meskipun masih belum tinggi.

“Bukankah kau akan mencari akar wregu putih?,” Puguhlah yang kemudian bertanya.

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan ragu-ragu, “Apakah sebaiknya aku mengantar kau pulang?”

“Kenapa aku harus diantar pulang? Kau kira kau berarti bagi perjalananku kembali ke padepokan?” bentak Puguh.

Wida termangu-mangu. Tetapi ia menyadari akan keadaannya. Ia memang tidak lebih dari seorang juru tanaman serta melayani Ki Ajar Paguhan. Karena itu, maka katanya kemudian, “Terserah kepadamu Puguh. Jika kau memang tidak memerlukan aku, maka aku memang akan mencari akar wregu putih.”

“Pergilah,” geram Puguh.

“Tetapi apakah kau tidak akan membersihkan dirimu. Tanganmu, kakimu bahkan pakaianmu,” berkata Wida.

“Di sawah itu tentu ada parit. Bukan persoalan yang perlu dibicarakan,” berkata Puguh kemudian.

Wida tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian berkata, “Baiklah. Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apakah kedua orang yang sangat baik kepadamu, aku akan tetap bersikap baik setelah mereka mengalami perlakuan Gagaklahan, yang diketahuinya berasal dari padepokanmu. Orang yang dianggap akrab denganmu. Mungkiri kedua orang itu menganggap bahwa justru kaulah yang telah memerintahkan membunuh mereka dengan alasan yang dapat saja mereka buat-buat sendiri.”

Puguh mengerutkan keningnya. Pikiran Wida itu memang masuk akal. Tetapi Puguh pun menjawab, “Aku mengenal keduanya dengan baik. Mereka tidak akan berbuat seperti itu.”

Wida tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian bergeser diantara batu-batu nisan menuju ke pintu gerbang yang juga sudah mulai rusak.

“Sudahlah Puguh,” berkata Wida, “aku akan mencari akar wregu putih, agar Ki Ajar tidak memarahiku.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun mulai bergerak meninggalkan seonggok tanah yang baru saja ditimbunkannya pada kuburan terbaru di kuburan tua itu. Tetapi Puguh telah membiarkan Wida keluar lebih dahulu dari kuburan itu.

Ketika Puguh kemudian juga akan meninggalkan kuburan tua itu, ia pun telah dikejutkan oleh kedatangan Wida kembali. Bahkan dengan tergesa-gesa dan nafas yang terengah-engah.

“Puguh,” katanya dengan gagap, “kuburan ini telah dikepung orang.”

Wajah Puguh pun menjadi tegang. Dengan pendek ia bertanya, “Siapa?”

Wida menggelengkan kepalanya. Jawabnya dengan suara bergetar, “Aku tidak tahu, Puguh. Ketika aku akan turun ke parit, maka aku lihat beberapa orang berada di ujung jalan. Kemudian aku bergeser ke balik gerumbul. Ternyata ketika aku lihat ke arah lain, aku pun melihat beberapa orang yang berkerumun. Dari sisi gerbang kita akan dapat melihat mereka, karena kita berada diatas bukit betapapun kecilnya. Tetapi kita harus berhati-hati agar mereka tidak melihat kita.”

“Setan,” geram Puguh, “apakah mereka orang-orang dari padepokan kita?”

“Tentu bukan. Aku tentu dapat mengenali mereka,” berkata Wida, “aku mengenal orang-orang di padepokan pertama dan apalagi orang-orang di padepokan kedua.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun hampir di luar sadarnya ia bertanya kepada Wida, “Apa yang sebaiknya aku lakukan?”

“Kita menunggu disini Puguh,” jawab Wida, “mudah-mudahan mereka tidak naik. Agaknya mereka menjadi curiga, karena dalam beberapa hari berturut-turut, beberapa orang telah naik ke bukit kecil ini, sehingga mereka menganggap perlu untuk mengetahui, apa yang terjadi disini.”

“Bagaimana jika mereka naik?” bertanya Puguh.

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan mereka tidak mempunyai cukup keberanian untuk naik. Mereka mungkin menganggap ada sekelompok orang disini. Yang datang beberapa hari yang lalu, mereka anggap masih belum meninggalkan tempat ini, sementara kami telah naik pula.”

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan menunggu. Tetapi jika mereka naik, kita akan menerobos keluar.”

Wida termangu-mangu. Sementara itu Puguh berkata, “Tentu orang orang yang kemarin memberikan petunjuk kepada kita.”

“Tetapi mereka tidak sengaja menjebak kita,” berkata Wida, “mungkin mereka melaporkan kehadiran kita karena mereka ketakutan. Atau bahkan sama sekali tidak sengaja, karena mereka hanya menceriterakan saja bahwa mereka telah bertemu dengan kita. Tetapi ceritera itu telah berkembang dan sampai ketelinga para bebahu.”

“Jika mereka melakukan kekerasan dan apalagi sampai menyentuh kulitku, mereka akan menyesal. Padukuhan itu akan dapat aku hancurkan meskipun tanpa paman Gagaklahan,” berkata Puguh dengan geram.

“Jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka,” berkata Wida, “merekapun mempunyai hak untuk melindungi diri mereka. Jika saat ini mereka mengepung bukit ini adalah karena naluri mereka untuk mempertahankan diri. Kita harus menyadari, bahwa ada perbedaan dasar pemikiran antara mereka dengan kita.”

Puguh termangu-magu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Sampai kapan kita akan berada disini?”

Wida mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Aku tidak tahu sampai kapan kita harus berada disini. Tetapi aku kira itu adalah jalan yang paling baik yang dapat kita tempuh sekarang.”

Puguh menggeretakkan giginya. Tetapi ia telah melangkah kembali ke tengah-tengah kuburan tua itu.

Untuk beberapa lama Wida dan Puguh menunggu. Sementara itu matahari dilangit menjadi semakin tinggi. Sekali-sekali Wida dengan hati-hati mengintip dari balik gerumbul-gerumbul liar disekitar kuburan itu. Namun ternyata orang-orang yang mengepung kuburan itu masih belum pergi.

“Aku tidak telaten,” geram Puguh, “aku akan menerobos kepungan itu. Mereka tidak akan dapat menahanku.”

“Kita tidak perlu membuka persoalan baru dengan orang-orang padukuhan itu,” berkata Wida, “meskipun barangkali mereka tidak akan mampu menahanmu, tetapi dalam pertempuran yang kisruh itu kemungkinan-kemungkinan buruk dapat saja terjadi. Mungkin senjatamu telah menggores satu dua orang padukuhan, sehingga mereka mendendammu.”

“Mereka tidak mengenal aku,” berkata Puguh, “dan seandainya mereka dapat mengenali aku, apa yang dapat mereka lakukan atas padepokan kami?”

“Mereka memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi mereka tentu merasa mempunyai pelindung. Mereka akan dapat melaporkan persoalan-persoalan yang menyangkut pengamanan lingkungan mereka kepada Pajang. Dan apa yang terjadi di Song Lawa itu dapat terjadi pula disini,” jawab Wida.

“Mereka tidak mengetahui letak padepokan kita,” berkata Puguh.

“Kau kira Pajang tidak mempunyai petugas-petugas sandi yang cakap? Aku sudah memperingatkan orang padukuhan kedua, bahwa topeng-topeng yang mereka pasang itu justru merupakan tuntunan terbaik dari para petugas sandi Pajang untuk menemukan padepokan kita. Tetapi tidak seorang pun yang mau mendengarkan aku, karena aku adalah seorang juru tanaman. Mereka lebih senang menakut-nakuti orang untuk menjaga kerahasiaan padepokan kita itu,” berkata Wida pula.

“Cukup,” bentak Puguh, “kau tidak akan dapat menentang kebijaksanaan orang tuaku. Mereka bukan orang dungu yang tidak mempertimbangkan seribu kemungkinan yang dapat terjadi.”

Wida mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kau benar. Aku memang tidak banyak mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Tetapi aku tahu benar jenis-jenis pohon pisang yang paling baik.”

“Apakah kau pernah mendengar hal seperti itu dari Guru?” bertanya Puguh.

“Tentang pohon pisang?” bertanya Wida.

“Jangan bodoh. Tentang cara yang tidak tepat untuk melindungi padepokan itu,” geram Puguh.

Wida menggeleng. Katanya, “Tidak. Ki Ajar tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hal itu. Yang dilakukan oleh Ki Ajar adalah tidak lebih dan tidak kurang memenuhi permintaan Ki Randu Keling, menuntunmu dalam oleh kanuragan.”

“Jadi, Guru itu sekedar melakukan permintaan kakek?” bertanya Puguh.

“Bukan. Maksudku bukan begitu. Ki Ajar sendiri memang berniat mengangkat seorang murid. Dan muridnya itu adalah kau,” berkata Wida.

Puguh memandang Wida dengan tatapan mata yang tajam. Ia seakan-akan melihat dibalik ujudnya yang sederhana, bodoh dan cacat itu sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berharga dari ujud lahiriahnya itu.

Tetapi Puguh tidak mengatakan sesuatu. Bahkan tatapan matanya seakan-akan telah menusuk kedalam jantung Wida serta mengumpatinya.

Wida menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak mau memandang wajah Puguh yang tegang itu.

Untuk beberapa saat keduanya justru saling berdiam diri. Tiba-tiba saja Wida bangkit dan melangkah ke pintu gerbang yang rusak. Dengan hati-hati menyelinap di balik gerumbul ia memperhatikan orang-orang yang berada dibawah bukit itu.

Ternyata orang-orang itu tidak hanya sekedar menunggu.

Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Wida menyuruk masuk kembali kedalam kuburan itu. Dengan wajah yang gelisah ia berkata, “Puguh. Mereka agaknya sudah jemu menunggu, Beberapa orang diantara mereka mulai bergerak naik. Mereka akan memasuki kuburan tua ini.”

Puguh menggeram. Dengan nada berat ia berkata, “Untuk apa sebenarnya mereka mencampuri urusanku.”

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mereka tentu tidak sengaja mencampuri urusanmu. Tetapi mereka dituntun oleh kegelisahan mereka tentang orang-orang yang memasuki kuburan tua ini, justru kuburan diatas bukit kecil ini terletak di lingkungan mereka.”

“Apapun alasannya, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang, Wida?” bertanya Puguh yang menjadi gelisah.

Wida termangu-mangu. Jika ia sendiri, maka kehadiran orang-orang itu tidak menjadi soal baginya. Ia akan dapat membuat alasan mencari dedaunan yang dapat dijadikan obat-obatan. Atau jika orang-orang itu memaksa tidak mempercayainya, maka ia akan dengan mudah dapat menghindarkan diri. Tetapi ia tidak akan dapat melakukannya dihadapan Puguh yang menganggapnya tidak lebih dari seorang juru tanaman.

Namun Wida itu menjadi berdebar-debar ketika Puguh itu pun kemudian tegak berdiri sambil menggenggam hulu pedangnya, “Aku akan menyingkirkan mereka yang menghalangi jalanku.”

“Jangan,” minta Wida, “kau tidak boleh berselisih dengan mereka.”

“Jadi kau ingin aku menyerah kepada mereka dan menurut apapun yang mereka perintahkan kepadaku?” bertanya Puguh.

“Bukan begitu,” jawab Wida, “kita mencari jalan lain. Jika terjadi perselisihan, apalagi jatuh korban, maka orang-orang dipadukuhan itu tentu akan memperhatikan padepokan yang ada di sekitar tempat ini, atau katakan, padepokan yang paling dekat dengan tempat ini. Padepokan itu adalah padepokan disebelah Gantar itu.”

“Kenapa mereka langsung memandang ke padepokan kita? Apakah mereka tidak mempunyai dugaan lain?” bertanya Puguh.

“Mungkin mereka memang menduga-duga. Tetapi salah satu diantara perhitungan mereka adalah padepokan kita. Karena itu, lebih baik kita tidak menyakiti hati mereka,” berkata Wida.

“Jika demikian, apakah yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Puguh pula.

“Sebaiknya kau menghindar saja. Meloncatlah lewat dinding dibalik rimbunnya pohon-pohon liar itu. Aku akan memancing perhatian mereka dari regol,” berkata Wida, “carilah kesempatan untuk melarikan diri. Ingat, lebih baik kita melarikan diri daripada kita membentur kekuatan mereka. Seperti yang sudah aku katakan, meskipun kita akan dapat menyingkirkan dan menyibakkan jalan bagi kita, tetapi setitik darah dari mereka akan dapat membawa persoalan ini sampai ke Pajang.”

Tetapi Puguh pun kemudian bertanya, “Bagaimana jika kau ditangkap?”

“Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku memang mencari akar wregu putih atau jenis dedaunan yang lain untuk obat-obatan,” jawab Wida.

“Bagaimana jika mereka bertanya tentang orang-orang lain yang pernah naik ke bukit ini?” desis Puguh, “bukankah kau kemarin datang bersamaku dan bertanya tentang orang-orang yang asing itu?”

“Jika kau berhasil menyingkir, maka aku akan mengatakan bahwa kaulah yang mencari mereka. Bukan aku,” jawab Wida.

Puguh masih akan bertanya lagi, tetapi Wida memotongnya, “Sudahlah. Jangan terlambat.”

Namun Puguh masih saja nampak ragu-ragu. Bagaimanapun juga, ia merasa berat hati untuk meninggalkan Wida sendiri. Mungkin ia akan ditangkap dan dibawa ke padukuhan. Bahkan mungkin ia akan dapat justru dibawa ke Pajang.

Tetapi Wida mendesaknya, “Cepat. Tinggalkan kuburan ini. Cari kesempatan untuk lolos. Berhati-hatilah. Aku akan pergi ke regol dan memancing perhatian mereka. Jangan bertanya lagi.”

Puguh memang tidak sempat bertanya lagi. Wida telah pergi keregol kuburan tua itu. Tetapi ia tidak lagi menyuruk dibawah gerumbul-gerumbul. Dengan sengaja ia berjalan terbongkok-bongkok keluar dari gerbang yang sudah rusak itu.

Namun sejenak kemudian ia tertegun. Ia melihat beberapa orang yang memanjat naik. Tidak hanya lewat jalan setapak yang menuju kepintu gerbang itu, tetapi dari arah lain beberapa orang pun telah naik pula meskipun mereka harus merangkak-rangkak diantara batang ilalang, pohon-pohon perdu dan batu-batu padas.

Sementara itu, Puguh telah menyelinap pula dibalik gerumbul-gerumbul perdu yang nampak liar. Dengan hati-hati ia telah meloncati dinding didalam rimbunnya pepohonan. Dinding kuburan tua yang untung saja tidak roboh karenanya.

Ketika ia berada diluar dinding kuburan, maka dari balik dedaunan ia memang melihat beberapa orang yang berada dibawah bukit. Nampaknya hanya beberapa orang sajalah yang naik dari arah depan dan samping. Sementara yang lain tetap menunggu dibawah bukit kecil itu.

Puguh memang harus menunggu sejenak. Jika Wida berhasil memancing perhatian orang-orang itu, maka ia akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Di lereng bukit itu terdapat banyak gerumbul-gerumbul perdu yang liar dan rimbun.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, Puguh telah mendengar suara ribut didepan kuburan. Agaknya Wida telah menarik perhatian orang-orang itu. Ternyata beberapa orang justru telah berlari-lari ke arah depan kuburan tua itu.

Puguh menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia tidak dapat membiarkan Wida mengorbankan dirinya. Tetapi ia pun tidak ingin ditangkap oleh orang-orang padukuhan itu.

Untuk beberapa saat Puguh masih saja bersembunyi di balik gerumbul liar yang rimbun. Ia tidak menghiraukan betapa kulitnya menjadi gatal oleh ulat berbulu dan semut-semut yang mengerumuni dan menggigit kakinya.

Ternyata Wida kemudian berhasil. Dari tempatnya bersembunyi Puguh melihat beberapa orang saling berkejaran. Bahkan orang-orang yang mengepung bukit itu pun telah ikut pula bergeser ke arah depan bukit itu.

Kesempatan mulai terbuka bagi Puguh. Dengan sangat berhati-hati ia menyelinap dari gerumbul yang satu kegerumbul yang lain. Sehingga akhirnya ia sampai pada satu lapisan gerumbul yang menghadap ke lereng bukit yang agak terbuka.

Dengan perhitungan yang cermat, maka Puguh telah menentukan arah, kemana ia harus berlari.

Menurut perhitungannya, bagaimanapun juga, tentu akan ada orang yang melihatnya. Tetapi jika ia dapat mencapai ujung pematang diantara tanaman padi yang tumbuh dengan suburnya, maka ia tentu akan dapat meloloskan diri. Ia masih yakin akan kemampuan tenaga cadangannya yang dapat mendorongnya berlari lebih cepat. Dengan demikian ia berharap bahwa orang-orang yang mengepung bukit itu tidak akan dapat mengejarnya.

Untuk beberapa saat Puguh menunggu. Pada saat yang dianggapnya tepat, maka Puguh itu pun segera berlari sekencang-kencangnya diatas batang ilalang yang terbuka. Jarak antara gerumbul yang satu dengan gerumbul yang lain menjadi agak jauh.

Sebagaimana diperhitungkan, beberapa orang memang telah melihatnya. Karena itu, seorang diantara merekapun telah berteriak, “Itu, seorang lagi.”

“Ya. Seorang lagi,” sahut yang lain.

Beberapa orang segera berlari-lari ke arah Puguh melarikan diri. Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Puguh, bahwa ia memang memiliki kemampuan berlari lebih cepat dari orang-orang yang mengepung bukit itu. Karena itu, ketika perhatian mereka tertuju ke bagian depan kuburan tua itu, maka mereka benar-benar telah kehilangan Puguh. Dengan cepat Puguh seperti menggelinding di lereng bukit itu, menerobos batang-batang ilalang dan dengan cepat mencapai salah satu ujung pematang.

Sebelum orang-orang padukuhan yang mengepung bukit itu menyadari keadaan sepenuhnya, maka Puguh telah berlari menyusur sebuah pematang, memasuki bulak yang luas.

Beberapa orang memang mencoba mengejarnya.

Tetapi anak muda itu seakan-akan telah menghambur keluasnya medan yang tidak terjangkau lagi oleh orang-orang yang berlari-lari menyusulnya. Jaraknya justru semakin lama menjadi semakin panjang, sehingga akhirnya Puguh itu menjadi nampak semakin kecil.

Orang-orang yang mengejarnya akhirnya merasa bahwa mereka tidak akan berhasil. Puguh itu bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya menyusup dihijaunya bulak yang luas.

Ketika daun padi yang basah oleh embun mulai berkilat-kilat oleh cahaya matahari, maka Puguh itu telah hilang dari penglihatan orang-orang yang mengejarnya.

Puguh yang merasa bahwa tidak seorang pun yang mengejarnya lagi, telah memperlambat langkahnya. Bahkan iapun kemudian berjalan saja dengan langkah wajar menjauhi bukit kecil itu.

Namun Puguh tidak mau mengambil jalan yang biasanya dilalui menuju ke Gantar. Mungkin ada diantara orang-orang yang mengejarnya menyusuri jalan itu. Namun demikian Puguh pada dasarnya akan kembali kepadepokannya lewat Gantar juga, meskipun ia harus mengambil jalan-jalan yang lebih sempit dan lebih kecil.

Di perjalanan menuju ke Gantar, Puguh sempat memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Wida. Orang yang tubuhnya cacat itu akan mengalami kesulitan untuk menghindarkan diri dari sekian banyak orang yang mengepung bukit kecil itu.

Bahkan Puguh mulai membayangkan, jika Wida kemudian tertangkap, lalu apakah yang akan terjadi atas dirinya? Apakah pada suatu saat, Wida akan berterus terang tentang padepokannya. Meskipun Wida akan dapat menyebut padepokannya yang pertama. Namun dengan demikian padepokannya itu akan mulai menjadi sorotan banyak orang. Apalagi jika benar seperti yang dikatakan Wida, bahwa persoalannya akan dibawa sampai ke Pajang.

Bagaimanapun juga Puguh merasa iba memikirkan orang tua yang cacat itu. Jika orang-orang padukuhan itu memaksanya berbicara karena mereka tidak percaya kepada keterangan Wida, bahwa ia mencari dedaunan untuk obat-obatan, maka ia akan mengalami kesulitan lahir dan batin.

“Sulit untuk mempercayainya, bahwa ia sedang sekedar mencari obat-obatan, justru karena ada orang yang melihat aku melarikan diri. Bahkan orang yang mengetahui kedatangan kami mencari orang-orang yang tidak dikenal di lingkungan ini,” berkata Puguh kepada diri sendiri.

Namun Puguh itu berjanji pula kepada diri sendiri, jika Wida tertangkap dan ditahan di padukuhan itu, maka ia akan berusaha untuk melepaskannya. Bahkan jika perlu dengan kekerasan.

Tetapi bagaimanapun juga Puguh memang harus melaporkannya kepada gurunya.

Dalam pada itu, semakin lama langkah Puguh pun menjadi semakin dekat dengan Gantar. Tetapi tidak melalui jalan yang dilaluinya disaat ia berangkat. Ditempuhnya jalan yang lebih kecil. Namun mendekati Gantar, jalan kecil itupun nampaknya telah menjadi ramai juga. Banyak orang yang berangkat dan pulang dari pasar untuk menjual dan membeli kebutuhan mereka sehari-hari.

Demikian Puguh masuk ke Gantar, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Mungkin beberapa orang yang mengepung kuburan tua itu mendapat tugas untuk mengamati daerah Gantar dan sekaligus menangkapnya apabila orang-orang itu mampu mengenalinya, karena mereka hanya melihatnya melompat dari balik gerumbul dan berlari turun diantara batang ilalang. Kemudian memasuki bulak yang luas. Tetapi tidak mustahil bahwa orang akan dapat mengenali pakaiannya, sikap dan gerakan-gerakannya.

Namun ternyata bahwa tidak seorang pun yang patut dicurigainya. Orang-orang Gantar dan orang-orang lain yang ada di Gantar sama sekali tidak menghiraukannya. Demikian pula ketika ia memasuki jalan keluar dari Gantar menuju ke padepokannya. Sehingga dengan demikian maka Puguh merasa dirinya benar-benar telah lolos dari tangan orang-orang yang mengepung kuburan tua itu.

Tetapi yang kemudian dipikirkannya adalah Wida. Ia telah mengorbankan dirinya untuk membebaskannya.

Puguh memang tidak mengira sebelumnya, bahwa pada suatu saat ia harus berhutang budi kepada orang cacat, yang menjadi juru tanaman di padepokan gurunya itu. Meskipun orang itu cacat , tetapi Wida termasuk orang penting bagi gurunya, karena selain keduanya mempunyai perhatian yang sama-sama bersungguh-sungguh terhadap berjenis-jenis tanaman, Wida juga sering mendapat tugas dari gurunya untuk mencari jenis dedaunan, akar-akaran atau tanaman yang dapat dibuat beberapa jenis obat-obatan.

“Apa yang akan terjadi dengan orang tua yang cacat itu?” bertanya Puguh kepada diri sendiri. Namun Puguh memang sudah bertekad bahwa orang tua itu harus dibebaskannya.

Dalam pada itu, Puguh yang telah berada di!uar padukuhan induk Gantar, telah berjalan lebih cepat lagi. Ia ingin segera sampai ke padepokannya dan melaporkan peristiwa yang telah terjadi kepada gurunya. Tentang hilangnya Gagaklahan yang ternyata telah berada didalam kubur bersama beberapa orang pengikutnya. Sementara itu, Wida agaknya telah ditangkap oleh orang-orang padukuhan karena ia berusaha untuk memancing perhatian orang-orang itu bagi keselamatan Puguh.

Ketika Puguh berjalan dengan kepala tunduk melintasi sebuah tikungan, maka tiba-tiba saja ia terkejut. Seorang tua yang agak bongkok duduk dipinggir jalan dengan tenangnya.

“Wida,” justru Puguhlah yang menjadi gagap.

Wida itupun kemudian bangkit berdiri. Sambil melangkah menyongsong Puguh ia tersenyum. Katanya, “Kau berhasil lolos Puguh. Aku memang sudah yakin bahwa kau akan dapat lolos dari tangan mereka.”

“Tetapi bagaimana kau sendiri lolos?” bertanya Puguh.

“Aku memang lebih dahulu lari dari kau. Jika kau yang kemudian berhasil lolos, maka kemungkinanku tentu lebih besar,” jawab Wida.

“Tetapi orang-orang itu mengejarmu,” berkata Puguh.

Wida tertawa. Katanya, “Ketika kau lari menuruni bukit kecil itu, maka orang-orang padukuhan itu telah berramai-ramai mengejarmu sehingga aku telah mereka lupakan.”

Puguh mengerutkan keningnya. Memang mungkin hal itu terjadi, tetapi agaknya ada sesuatu yang agak berlebihan. Seandainya orang-orang itu mengejarnya tentu ada satu dua orang yang tidak melupakan sama sekali orang tua yang terbongkok-bongkok itu.

Tetapi Puguh tidak menanyakannya lagi. Katanya kemudian, “Marilah. Kita menghadap guru untuk memberikan laporan apa yang telah terjadi.”

“Kita harus bertemu dengan Ki Ajar sebelum kedua orang tuamu datang,” desis Wida.

Puguh mengerutkan dahinya. Iapun sadar apa yang terjadi jika kedua orang tuanya mengetahui peristiwa yang terjadi di padepokan. Bahwa Gagaklahan terbunuh meskipun salahnya sendiri. Karena itu, ia memang sependapat, bahwa mereka harus membicarakan dengan gurunya lebih dahulu sebelum orang tuanya mengetahuinya.

Karena sebenarnyalah bahwa Puguh merasa lebih dekat dengan gurunya daripada kedua orang tuanya yang jarang berada di padepokan yang pertama maupun yang kedua. Apalagi sejak adiknya kemudian lahir. Perhatian kedua orang tuanya lebih banyak tertuju kepada adiknya. Sehingga karena itu, maka kedua orang tuanya serta sekelompok pengikutnya yang lain, yang agaknya memang sengaja diberi batas dengan para pengikutnya yang ada di padepokan pertama dan kedua.

Dengan demikian, maka Puguh dan Wida itu pun telah mempercepat langkah mereka. Orang yang dianggap ayah dan ibu Puguh telah beberapa lama meninggalkan padepokan itu. Jika tiba-tiba saja mereka kembali, maka Puguh akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi itu.

***

Dalam pada itu, yang telah jauh meninggalkan kuburan tua itu adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka telah menempuh perjalanan kembali. Mereka tidak menuju ke tempat Risang tinggal untuk menempa diri. Tetapi mereka langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Kedatangan mereka di Tanah Perdikan Sembojan disambut oleh Nyai Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Soka. Sambil tersenyum-senyum Kiai Soka bertanya, “Bagaimana kabar perjalanan kalian berdua?”

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tersenyum. Ia yakin bahwa sebagian dari perjalanan mereka telah diketahui oleh Kiai Soka dan sudah barang tentu Nyai Soka dan bahkan tentu Nyi Wiradana.

“Atas perlindungan Yang Maha Agung, perjalanan kami selalu dalam keadaan baik Kiai,” jawab Sambi Wulung.

Nyai Soka dan Nyi Wiradana pun telah bertanya tentang keselamatan Sambi Wulung dan Jati Wulung di perjalanan. Perjalanan yang panjang dan cukup lama.

“Kiai Soka tentu sudah berceritera,” berkata Jati Wulung setelah mengabarkan keselamatannya dalam perjalanan bersama Sambi Wulung.

Kiai Soka tertawa. Katanya, “Aku hanya melihat sebagian saja dari ceritera yang tentu panjang dan menarik.”

Jati Wulung tertawa, sementara Sambi Wulung bertanya, “Apakah Kiai Badra juga ada disini?”

Kiai Soka menggeleng. Katanya, “Kiai Badra telah berada bersama Risang.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sambil memandang Nyi Wiradana ia bertanya, “Apa saja yang pernah diceriterakan oleh Kiai Badra dan Kiai Soka?”

“Tentang apa?“ Nyi Wiradana justru bertanya, “tentang isi tempat perjudian yang disebut Song Lawa atau tentang prajurit Pajang yang sempat mengganggu kesenangan kalian?”

Sambi Wulung berdesah. Sementara Nyi Wiradana berkata selanjutnya, “Bukankah kalian kerasan berada di tempat seperti Song Lawa itu?”

Yang menjawab adalah Jati Wulung, “Sekali-sekali Nyi.”

Nyi Wiradana tertawa. Kiai dan Nyai Soka pun tertawa pula. Dengan nada rendah Nyai Soka bertanya, “Ada apa saja didalam lingkungan yang disebut Song Lawa itu.”

Sambi Wulung yang juga tertawa itu menjawab, “Sayang, kami terlambat mencoba memasuki tempat itu. Isinya benar-benar mendebarkan. Judi, kekerasan, kecurigaan dan raksasa-raksasa yang bertugas.”

“Tidak ada yang lain?” desak Nyi Wiradana.

“Ah, itu urusan anak-anak muda,” jawab Jati Wulung sambil mengangkat mangkuk minuman yang telah dihidangkan.

Nyi Wiradana tertawa semakin panjang.

Namun akhirnya pembicaraan mereka pun sampai juga kepada anak muda yang bernama Puguh. Anak muda yang memang harus menjadi pusat perhatian Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Nada Sambi Wulung pun menjadi lebih bersungguh-sungguh. Katanya, “Akhirnya kami temukan juga anak muda yang bernama Puguh itu.”

“Kau kenali beberapa hal tentang pribadinya?” bertanya Kiai Soka. “Juga tataran kemampuannya serta kemungkinan di waktu mendatang baginya?”

“Ya,” jawab Sambi Wulung.

“Katakan,” desis Nyi Wiradana.

“Aku akan mengatakan apa yang aku ketahui sesuai dengan pengenalanku dan barangkali Jati Wulung akan dapat melengkapinya. Aku tidak ingin nenambah atau mengurangi agar penilaian kita atas anak itu lebih mendekati kebenaran sehingga kita akan dapat menentukan sikap lebih jauh.”

Nyi Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Soka pun menjadi bersungguh-sungguh pula. Dengan nada dalam Kiai Soka pun berkata, “Justru kau harus mengatakan yang sesungguhnya.” Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan mencobanya.”

Dengan singkat Sambi Wulung pun kemudian menceriterakan pengenalannya atas Puguh. Ia pun menyatakan bahwa gambarannya tentang Puguh ternyata salah setelah ia bertemu, berbicara dan bahkan untuk beberapa saat bersama-sama menempuh perjalanan menuju ke padepokannya.

Nyi Wiradana mengerutkan keningnya. Yang dikatakan oleh Sambi Wulung bukannya yang diharapkannya. Sebagai seorang ibu dari seorang anak laki-laki yang terancam jiwanya hampir disetiap saat, maka naluri keibuannya menganggapnya bahwa anak laki-lakinya itulah anak yang terbaik. Puguh yang dianggapnya sebagai saingan anaknya itu, terutama kedudukan yang bakal diwarisinya, dibayangkannya sebagai seorang anak laki-laki yang keras, kasar dan jahat. Meskipun dalam beberapa hal sifat Puguh memang tidak terpuji, namun menurut Sambi Wulung Puguh pada dasarnya bukan seorang anak muda yang jahat.

Tetapi Nyi Wiradana yang telah beberapa lamanya memerintah Tanah Perdikan Sembojan atas nama anaknya yang bakal mewarisi kedudukan ayahnya, ia terbiasa untuk mempergunakan nalarnya, bukan saja perasaannya. Karena itu, maka ia pun mencoba memahami ceritera Sambi Wulung. Karena sebagaimana dirinya, Sambi Wulung semula juga membayangkan bahwa Puguh bukannya anak yang baik.

Dari Jati Wulung, Nyi Wiradana itu mendengar bahwa agaknya gurunyalah yang telah mengendapkan sifat-sifat ibu dan orang yang dianggapnya ayahnya.

“Kedua orang yang dianggap orang tuanya itu telah mendorongnya untuk mendapatkan pengalaman yang dapat memacunya untuk menjadi orang yang dikehendaki oleh mereka. Tetapi ternyata hasilnya justru berbeda,” jati Wulung berhenti sejenak, lalu, “bukan saja pengalaman diluar lingkungan mereka, padepokan mereka pun dibayangi oleh pertanda-pertanda yang dapat mendirikan bulu tengkuk. Bahkan bukan sekedar pertanda, tetapi benar-benar batas neraka yang mengerikan bagi mereka yang terperangkap di tempat itu. Sengaja atau tidak sengaja.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Ia harus menerima kenyataan itu jika ia akan dapat menyusun satu sikap yang paling baik bagi Risang.

“Jadi menurut pendapatmu, Puguh belum memenuhi keinginan kedua orang tuanya?” bertanya Kiai Soka.

“Ya Kiai,” jawab Sambi Wulung, “menurut tanggapan kami berdua, kedua orang tua Puguh menghendaki agar Puguh menjadi orang sebagaimana suasana yang diciptakan disekitarnya. Bahkan agaknya Puguh harus menjadi garang melampaui kegarangan ibunya.”

“Tetapi menurut pendapatmu, gurunya tidak bersikap sebagaimana kedua orang tuanya?” bertanya Kiai Soka pula.

Sambi Wulung, maka Jati Wulung itupun berkata, “Kami tidak tahu pasti Kiai. Tetapi setidak-tidaknya ada sesuatu yang agak menghambatnya. Ilmu yang diungkapkan dalam setiap benturan, kurang meyakinkan kami, bahwa kedua orang tuanya telah berhasil membentuk Puguh menjadi iblis kecil yang berbahaya.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu Sambil Wulung pun telah memberikan gambaran tentang kemampuan dan pengalaman Puguh, sehingga menurut pendapat Sambi Wulung maupun Jati Wulung, Puguh nampak lebih dewasa dari Risang. Baik dalam tingkah laku maupun cara mereka berpikir.

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kita memang harus menerima kenyataan ini. Namun sesudah itu, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Aku tidak sekedar dibakar oleh dendam didalam hati. Aku sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu untuk mencelakakan orang lain. Jika aku gelisah tentang Risang itu semata-mata karena aku menginginkannya dapat duduk tenang dalam warisan jabatan kakeknya. Aku tidak akan mengajari Risang untuk memburu seseorang berdasarkan dendam. Tetapi aku pun tidak mau Risang lah yang diburu tanpa dapat melindungi dirinya sendiri.”

Nyai Soka yang mengangguk-angguk pun berkata, “pertentangan didalam lingkungan hidup Puguh agaknya memang telah memacunya untuk menjadi cepat dewasa. Agaknya kedua orang tuanya bersikap keras terhadapnya, sementara anak itu telah didera untuk tenggelam dalam jenis-jenis kehidupan yang buram. Aku sependapat, tentu ada imbangan pandangan hidup yang membuatnya tidak menjadi iblis kecil sebagaimana diharapkan oleh kedua orang tuanya menilik cara hidup dan lingkungan yang telah diciptakannya. Mungkin gurunya, mungkin orang lain yang dekat dengannya.”

“Orang yang terdekat dengan Puguh dan dipanggilnya Paman adalah justru iblis yang sebenarnya,” berkata Jati Wulung. Ia pun kemudian berceritera tentang orang yang bernama Gagaklahan yang menyusul mereka.

“Kami terpaksa membunuh mereka,” berkata Sambi Wulung pula.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya, “berapa orang sudah kau bunuh dalam perjalanan itu?”

“Kami tidak dapat berbuat lain,” sahut Sambi Wulung, “sejak kami mendekati Song Lawa, maka kami sudah terpaksa mulai membunuh. Kami tahu bahwa bukan tujuan kami untuk berbangga diri karena kami memiliki ilmu untuk membunuh. Tetapi jika dengan membunuh kami telah menyelamatkan diri kami serta mengurangi kemungkinan orang-orang itu membunuh orang lain yang lebih lemah dari kami, maka terpaksa hal itu kami lakukan.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sambi Wulung pun telah menceriterakan pula bagaimana mereka terpaksa membunuh orang-orang yang akan membunuhnya dilingkungan yang diberi tanda dengan sebuah topeng kecil yang menakutkan.

Nyi Wiradana pun mengangguk-angguk pula. Dengan ceritera yang panjang itu, ia dapat mengetahui, betapa sulitnya perjalanan kedua orang itu. Perjalanan yang dilakukan untuk kepentingan anaknya, Risang. Langsung atau tidak langsung.

Karena itu, maka Nyi Wiradana itu pun kemudian berkata, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua. Sokurlah bahwa kalian telah mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi disepanjang perjalanan. Jika karena sesuatu hal kalian tidak dapat mengatasi kesulitan di perjalanan, betapa besar hutang yang harus aku tanggungkan.”

“Jangan berpikir begitu Nyi Wiradana,” sahut Sambi Wulung, “bagi kami, kesediaan untuk melakukan sesuatu tentu disertai tanggung jawab. Dalam satu kesulitan atau bahkan kemungkinan yang paling buruk sekalipun, maka itu sudah termasuk dalam kesediaan kami.”

“Terima kasih,” desis Nyi Wiradana. Lalu,” berapa kalipun aku ucapkan, rasa-rasanya masih belum memadai.”

“Sudahlah,” berkata Sambi Wulung kemudian, “sekarang bagaimana harus kita lakukan terhadap Risang.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Kemudian kepada Kiai Soka dan Nyai Soka ia pun bertanya, “Apakah Kiai dan Nyai mempunyai petunjuk bagi perkembangan Risang? Bagaimanapun juga, kelebihan Puguh atas Risang akan dapat membahayakan. Mungkin ia bukan seorang yang jahat. Tetapi jika pada suatu saat, ibunya serta orang yang dianggap ayahnya itu memerintahkan, maka ia tentu akan bertindak atas Risang. Jika saatnya datang, akan dapat terjadi sebagaimana terjadi atas ayah Ki Wiradana, mertuaku laki-laki, yang harus bertempur dalam perang tanding melawan Kalamerta apapun alasannya. Sebagai seorang laki-laki, maka Ki Gede Sembojan tidak menolak. Selebihnya, karena dengan demikian, maka persoalan akan dibatasi antara kedua orang yang bertanggung jawab. Jika pada saat itu Ki Gede tidak membekali dirinya dengan ilmu yang cukup, maka Ki Gede tentu akan gugur. Agaknya bekal ilmu itulah yang kurang mendapat perhatian kakang Wiradana. Ia agaknya terlalu manja sementara ayahnya tidak bertindak lebih keras kepadanya, sehingga apa yang terjadi sekarang ini telah terjadi.”

Kiai Soka dan Nyai Soka mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa yang dipikirkan oleh Nyi Wiradana. Kemungkinan itu memang dapat saja terjadi, sebagaimana Nyi Wiradana yang muda telah menantang Nyi Wiradana untuk berperang tanding. Tantangan itu memang dapat dielakkan. Apalagi oleh seorang Kepala Tanah Perdikan yang akan dapat mengerahkan para pengawalnya. Tetapi dengan demikian namanya akan dapat menjadi suram. Orang-orang yang mendambakan kejantanan tentu akan menjadi kecewa.

Karena itu, maka Kiai Soka pun berkata, “Baiklah. Kita harus segera pergi menemui Kiai Badra. Kita akan membuat penilaian sekali lagi atas kemampuan Risang. Selanjutnya perbandingan yang ada antara Risang dan Puguh. Terutama dilakukan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dapat langsung mengetahui tingkat kemampuan Puguh. Tetapi selain itu, maka aku ingin menganjurkan kepada Nyi Wiradana untuk tidak lupa menyempurnakan ilmu yang pernah kita berikan. Janget Kinatelon. Satu jenis ilmu yang kami susun bertiga, sehingga merupakan ilmu yang berada diatas tingkat ilmu kami masing-masing. Jika Nyi Wiradana mampu mengembangkannya, maka ilmu itu aku kira cukup memadai. Kita tidak dapat lengah menghadapi orang yang memiliki sifat dan watak seperti Warsi dan Ki Rangga Gupita. Kita sebenarnya tidak terlalu mencemaskan Ki Randu Keling yang memiliki pengamatan lebih luas tentang kehidupan daripada Warsi dan Ki Rangga. Dengan demikian, tidak mustahil jika pada suatu saat ibu dan anak laki-laki itu akan datang bersama-sama untuk menantang perang tanding.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sangat berterima kasih atas kesempatan memiliki ilmu yang disebut Janget Kinatelon itu. Karena itulah maka menjadi kewajibanku untuk memelihara dengan baik. Bahkan mengembangkannya. Meskipun karena kemampuanku yang terbatas, maka perkembangan ilmu itu agaknya memang terlalu lambat.”

“Anggaplah bahwa kau sedang berpacu,” berkata Nyai Soka, “kemenangannya tidak semata-mata tergantung kepada kudanya. Tetapi juga pada ketrampilan penunggangnya.”

“Aku mengerti Nyai,” jawab Nyi Wiradana. Demikian maka diputuskan, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung akan segera pergi ke tempat tinggal Risang, yang ingin dijadikannya sebuah padepokan, sementara itu Kiai Soka dan Nyai Soka akan tetap berada di dekat Nyi Wiradana. Jika perlu keduanya akan selalu mengikuti dan menuntun perkembangan ilmu Nyi Wiradana sendiri.

Tetapi Nyi Wiradana tidak dengan serta merta melepaskan Sambi Wulung dan Jati Wulung meninggalkan Tanah Perdikan. Keduanya diminta untuk beristirahat barang satu dua hari. Baru kemudian mereka akan pergi kepada Risang untuk selanjutnya bersama-sama dengan Kiai Badra dan Gantar meningkatkan kemampuan Risang dengan cara tertentu yang akan mereka tentukan kemudian. Disamping latihan-latihan yang keras, maka Risang juga memerlukan sejumlah pengalaman yang akan dapat mematangkan kedewasaannya kelak, meskipun tidak harus memasuki lingkungan seperti Song Lawa itu.

Namun sebelum berangkat, Sambi Wulung dan Jati Wulung juga memerlukan bekal dari Kiai Soka dan Nyai Soka yang kelak akan disampaikannya kepada Kiai Badra.

“Kami akan memikirkannya dalam satu dua hari ini, sementara kalian berdua dapat beristirahat disini. Menurut ceriteramu, Puguh tentu tidak akan datang dalam waktu satu dua hari itu,” berkata Kiai Soka.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “Puguh tentu baru sibuk mencari pamannya yang hilang.”

“Pamannya?” bertanya Nyi Wiradana.

“Orang yang dipanggilnya paman. Namanya Gagaklahan. Orang itulah yang berusaha membunuh kami berdua ketika kami berdua meninggalkan padepokan Puguh. Agaknya orang itu mencium sesuatu yang kurang wajar pada kami, sehingga bersama dengan beberapa orang kawannya telah menyusul kami dan memaksa kami memasuki sebuah kuburan tua,” jawab Sambi Wulung.

“Kami terpaksa membunuh mereka,” desis Jati Wulung pula.

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Kematian itu akan dapat mengungkit persoalan yang untuk sementara dibekukan itu.”

Tetapi Jati Wulung menggeleng. Katanya, “Tidak seorang pun yang akan mengarahkan pandangan matanya kepada kita di Sembojan ini. Puguh sendiri tentu tidak akan sampai kepada satu dugaan, apalagi kesimpulan, bahwa kami datang atas nama Tanah Perdikan Sembojan.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah. Kita tidak usah disibukkan lagi dengan persoalan-persoalan yang untuk sementara kita sisihkan. Dengan demikian kita telah mendapat kesempatan untuk membangun Tanah Perdikan Sembojan ini.”

“Agaknya memang demikian Nyi,” sahut Sambi Wulung, “kita untuk sementara dapat melupakan Puguh dengan persoalannya sendiri.”

***

Sebenarnyalah pada saat-saat yang demikian Puguh tengah menghadap gurunya di padepokannya yang kedua. Wida, juru tanaman yang telah menyelamatkan Puguh dari tangan orang-orang padukuhan itu ikut pula menghadap Ki Ajar Paguhan.

“Jadi kalian ketemukan kuburan Gagaklahan dan orang-orangnya?” bertanya Ki Ajar Paguhan.

“Ya guru,” jawab Puguh.

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Gagaklahan telah mendorong dirinya sendiri masuk kedalam kubur itu. Agaknya ia terlalu curiga kepada kedua orang yang telah datang bersamamu itu. Bahkan Gagaklahan juga menuduh bahwa yang telah membunuh empat orang pengawal padepokan ini dibatas lingkungan yang tidak boleh diambah orang lain itu juga kedua orang kawanmu, bahkan bersamamu.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Semuanya telah diatur oleh kedua orang tuanya, bagaimana orang-orang padepokan itu harus membunuh setiap orang yang berada di dekat tempat-tempat yang diberi pertanda sebuah topeng yang buruk. Bahkan Puguh itu tidak mengerti, pengikut-pengikut yang manakah yang mendapat tugas untuk melakukannya. Puguh memang tidak berminat untuk mengenal setiap orang di padepokan, terutama padepokan kedua. Pada dasarnya Puguh adalah penghuni padepokan pertama. Gurunya memang berada di padepokan kedua. Tetapi jika ia memberikan latihan-latihan kepada Puguh ia lebih banyak berada di padepokan pertama. Karena itu, maka tidak mustahil bahwa ada pengikut kedua orang tua Puguh yang tidak mengenal Puguh. Apalagi orang-orang yang khusus atau orang-orang yang belum lama dibawa oleh kedua orang tua Puguh ke tempat itu dari padepokan yang lain yang tidak diketahuinya.

Kepada gurunya Puguh tidak dapat mengelak. Ia pun akhirnya berkata terus terang, bahwa ia bersama dengan kedua orang yang mengantarkannya itu tiba-tiba telah diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal dan bagi Puguh memang tidak banyak kesempatan untuk berpikir. Ketika beberapa orang diantara mereka terbunuh, maka Puguh mengambil keputusan untuk membunuh orang terakhir agar persoalannya tidak menjadi panjang lebar. Apalagi sampai ketelinga kedua orang tuanya.

Gurunya mengangguk-angguk. Namun ia pun bergumam, “Agaknya demikian pula persoalan yang menyangkut Gagaklahan. Kita lebih baik mengatakan, bahwa kita tidak tahu kemana perginya.”

Puguh mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Ajar Paguhanpun berkata kepada Wida, “Kaupun harus dapat merahasiakan hal ini Wida.”

“Ya Ki Ajar. Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun juga,” jawab Wida.

“Jika seorang saja di padepokan ini mendengar, tentu akan sampai ketelinga kedua orang tua Puguh. Aku tidak dapat membayangkan keputusan apakah yang akan diambil atas Puguh jika kedua orang tuanya mendengar kematian beberapa pengikutnya yang mengawasi padepokan ini lebih-lebih kematian Gagaklahan, karena Gagaklahan adalah orang yang sangat dipercayanya,” berkata Ki Ajar Paguhan. Lalu, “Sementara itu kedua orang tua Puguh bersikap sangat keras kepada Puguh. Aku tahu bahwa maksudnya tentu baik. Namun kadang-kadang Puguh terlalu lamban menanggapi keinginan orang tuanya.”

Puguh hanya menundukkan kepalanya saja. Ia seakan-akan melihat kembali, betapa kerasnya sikap kedua orang tuanya sejak ia masih kanak-kanak. Sejak ia dapat mengingat kembali tentang dirinya sendiri. Ia sudah dapat mengingatnya saat-saat ia harus mulai dengan latihan-latihan olah kanuragan meskipun masih pada tataran permulaan. Bagaimana ia harus ikut berlari-lari bersama kedua orang tuanya. Bagaimana ibunya menyeretnya jika ia sudah merasa sangat letih.

Puguhpun ingat, bahwa ia seakan-akan tidak berhak sama sekali untuk menangis. Jika ia menangis karena apa saja, maka ia justru akan menjadi semakin kesakitan.

Puguh merasa dirinya menjadi seorang yang lebih baik, justru ketika gurunya itu datang beberapa tahun yang lalu. Meskipun ia tetap berlatih keras, namun gurunya bukan seorang yang tidak mau mempergunakan telinganya untuk mendengar pernyataannya dalam hal apapun juga sebagaimana kedua orang tuanya.

Atas persetujuan kedua orang tuanya, maka gurunya telah melepaskan Puguh untuk melihat-lihat keluar dari padepokannya. Namun tempat yang di tuju atas petunjuk ayahnya adalah justru Song Lawa.

“Kau akan dapat melihat kerasnya kehidupan di sana,” berkata ayahnya, “kau dapat membentuk dirimu menjadi seorang laki-laki yang berpribadi. Bukan laki-laki cengeng. Disana segala macam kesenangan dapat kau beli dengan uang kita yang berlimpah.”

Puguh setiap kali hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu gurunya tidak dapat menolak pendapat orang yang dianggap ayah dari Puguh itu. Namun demikian dalam kesempatan tertentu, Ki Ajar Paguhan, sahabat Ki Randu Keling itu telah memberikan keseimbangan didalam jiwa Puguh. Karena itulah maka Puguh mempunyai kepribadian yang tidak utuh sebagaimana yang dikehendaki oleh kedua orang tuanya, meskipun dihadapan kedua orang tuanya Puguh sengaja berbuat lebih kasar dan keras, sebagaimana dinasehatkan oleh gurunya.

Bagi Puguh, maka pandangan dan sikap hidup gurunyalah yang lebih banyak mempengaruhinya. Kedua orang tua Puguh sama sekali tidak diharapkannya. Bahkan jika kedua orang tuanya datang kepadepokan kedua dan sekali-sekali menengok kepadepokan pertama, dimana Puguh lebih banyak tinggal, Puguh merasa dirinya bagaikan terpanggang didalam api. Sehingga dengan demikian agak berbeda dengan kebanyakan anak muda yang merindukan kedua orang tuanya.

Dalam pada itu, gurunya telah berkata pula kepada Wida, “Sudahlah. Kau dapat meninggalkan kami.”

Wida mengangguk hormat. Katanya, “Baiklah Ki Ajar. Aku mohon diri. Aku berjanji untuk tidak mengatakan persoalan yang telah terjadi atas Gagaklahan sebagaimana Ki Ajar menghendaki.”

“Kepada anakmu pun jangan kau katakan. Karena persoalan ini akan dapat menyangkut persoalan-persoalan lain yang panjang. Bahkan akan dapat menyangkut masa depan Puguh.”

Wida mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya Ki Ajar.”

Sejenak kemudian maka Wida pun telah meninggalkan Ki Ajar dan muridnya. Dengan nada rendah Ki Ajar berkata, “Ia orang baik. Ia memiliki banyak pengenalan tentang jenis tumbuh-tumbuhan. Bahkan yang memiliki nilai pengobatan. Karena itu, rasa-rasanya aku sangat memerlukannya.”

“Ia dapat banyak memberikan bantuan kepada guru,” desis Puguh.

“Ya. Khususnya dibidang pengobatan,” jawab Ki Ajar.

Namun Puguh pun telah mengatakan tentang kemampuan yang lain yang nampaknya tersembunyi dibalik tubuh yang agak terbongkok-bongkok itu.

“Ia mampu meloloskan diri dari sekian banyak orang yang mengepung bukit kuburan tua itu,” berkata Puguh.

Tetapi Ki Ajar hanya tersenyum saja. Katanya, “Ia memang mampu berlari cepat. Atau barangkali orang-orang padukuhan itu terlalu menganggapnya lamban karena ujudnya. Tetapi mereka tentu terkejut ketika tiba-tiba saja Wida itu berlari kencang, sehingga dengan demikian mereka telah kehilangan kesempatan untuk menangkapnya.”

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia merasa ada sesuatu didalam diri Wida. Orang yang sudah lama dikenalnya, tetapi belum pernah berhubungan dalam pekerjaan apapun juga. Ia hanya melihat orang bongkok itu bekerja memelihara tanaman dan membersihkan ruangan. Terutama ruang-ruangan khusus Ki Ajar Paguan.

Dalam pada itu, Ki Ajar itu pun kemudian telah memberikan beberapa petunjuk kepada Puguh, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia lebih baik merasa dirinya tidak tahu apa-apa.

“Bagaimana dengan kedua orang yang mengantar aku pulang?” bertanya Puguh.

“Kau tidak dapat ingkar. Semua orang dipadepokanmu melihat mereka. Karena itu, kau dapat berterus-terang dengan kedua orang tuamu tentang mereka. Itu saja. Tanpa menyebut sikap Gagaklahan,” jawab gurunya.

Puguh mengangguk-angguk. Jika ia mendapat kesulitan dari kedua orang tuanya maka ia akan memohon gurunya untuk membantunya.

“Aku akan selalu membantumu. Meskipun aku tahu bahwa kedua orang tuamu itu lebih berhak menentukan garis hidupmu, tetapi karena kau telah dipercayakan kepadaku sebagai gurumu, maka aku memang mempunyai hak untuk ikut menentukan,” berkata Ki Ajar Paguhan.

“Terima kasih guru,” berkata Puguh kemudian.

“Baiklah. Kembalilah ke padepokan pertama. Setelah kau cukup beristirahat, maka kita akan memasuki sanggar kembali,” berkata Ki Ajar Paguhan.

“Mudah-mudahan ayah dan ibu tidak segera datang,” desis Puguh hampir diluar sadarnya.

Ki Ajar Paguhan mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Kenapa?”

Puguh menunduk. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Aku ingin persoalan Gagaklahan mulai dilupakan.”

“Mungkin bagi orang-orang padepokan ini. Tetapi bagi ayah dan ibumu, kapanpun mereka datang, maka persoalan Gagaklahan akan tetap merupakan persoalan yang hangat bagi mereka,” berkata Ki Ajar Paguhan.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti keterangan gurunya itu. Apalagi Gagaklahan memang orang kepercayaan kedua orang tuanya.

“Sudahlah,” berkata Ki Ajar, “pergilah ke padepokan pertama. Hari ini aku belum akan datang. Mungkin besok aku akan datang dan mulai dengan latihan-latihan meskipun ringan. Kau harus kembali menyesuaikan diri dengan suasana latihan.”

Puguh itu pun kemudian telah minta diri untuk kembali ke padepokan pertama. Ia memang harus menyiapkan diri untuk memasuki suasana latihan, setelah beberapa lama ia berada dalam suasana yang berbeda sejak ia memasuki lingkungan Song Lawa yang terakhir kalinya.

***

Dalam pada itu, Di Tanah Perdikan Sembojan, Kiai Soka dan Nyai Soka telah mengadakan pembicaraan-pembicaraan khusus dengan Nyi Wiradana, Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan Risang. Peringatan Sambi Wulung dan Jati Wulung harus mereka tanggapi dengan sungguh-sungguh.

Nyai Soka dan Kiai Soka telah berusaha untuk menilai kembali cara yang ditempuh untuk membentuk Risang di tempat yang terpisah yang telah dipersiapkan untuk menjadi sebuah tempat yang mandiri. Justru Risang yang terlalu banyak mendapat perlindungan itu agaknya kurang memberikan kesempatan baginya untuk berkembang. Risang jarang sekali menemui kesulitan, apalagi yang besar. Sedangkan kesulitan-kesulitan kecilpun ia selalu mendapat bantuan. Risang pun kurang mengenal dunia diluar dinding lingkungannya, sehingga tidak cukup banyak persoalan-persoalan yang pernah ditemuinya.

“Harus dicari satu cara, bagaimana melepaskan Risang keluar lingkungannya namun dibawah pengawasan yang baik sehingga tidak berbahaya baginya,” berkata Nyi Wiradana.

Kiai Soka dan Nyai Soka memang tidak dapat menyalahkan perasaan seorang ibu yang mencemaskan keadaan anak satu-satunya. Apalagi anak yang memang selalu dibawah ancaman karena kedudukannya.

“Yang sulit adalah menemukan keseimbangan antara kesempatanan dan keselamatannya,” berkata Kiai Soka. Lalu, “jika kita biarkan anak itu mencari kesempatan untuk mengembangkan diri, maka mungkin ia akan benar-benar bertemu dengan ancaman atas keselamatannya. Tetapi jika anak itu terlalu dilindungi, maka sulit baginya untuk mendapatkan kesempatan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Sokapun berkata, “Baiklah. Pada saatnya kita akan datang ketempat itu. Namun satu hal, bekal Risang harus cukup. Karena itu, maka jika kalian berdua menemui Kiai Badra untuk melaporkan semuanya yang kalian lihat dan yang kita bicarakan disini, maka sampaikan pula kepadanya, bahwa latihan-latihan yang diberikan kepada Risang harus lebih keras dan mengarah kepada alas untuk menerima dasar-dasar ilmu Janget Kinatelon. Sementara itu, pada saatnya, kami bertiga, maksudku. Aku, Nyai Soka dan Kiai Badra harus menekuni kembali ilmu Janget Kinatelon sehingga tubuh dari ilmu itu menjadi semakin mapan.”

“Itu memang salah satu pemecahan dengan mempercepat kemungkinan Risang memasuki pintu gerbang ilmu Janget Kinatelon. Tetapi ia harus mempunyai pengalaman baik kewadagan maupun kejiwaan, sehingga ia akan tumbuh menjadi dewasa. Pengenalannya atas kehidupan dan dalam disekitarnya harus menjadi semakin luas,” berkata Nyai Soka. Lalu, “Dengan demikian maka anak itu mempunyai wawasan yang luas dan ilmunyapun akan berkembang berdasarkan pengenalan anak itu atas kehidupan itu sendiri.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, “Baiklah. Jika kalian sudah cukup beristirahat, maka kalian akan menemui Kiai Badra. Tetapi bukan berarti bahwa demikian kalian datang, maka demikian pula kami mengusir. Seperti dikatakan oleh Nyi Wiradana, kalian dapat beristirahat disini barang satu dua hari sebelum kalian akan pergi kepada Risang.”

“Baiklah,” berkata Sambi Wulung, “kita akan beristirahat disini. Namun sudah barang tentu dengan harapan bahwa Kiai dan Nyai Soka akan mendapatkan sesuatu dalam waktu satu dua hari ini yang akan dapat kami bawa kepada Kiai Badra.”

“Kalian berdua memang perlu beristirahat,” berkata Nyi Wiradana. “Mungkin dalam waktu satu dua hari Kiai dan Nyai Soka menemukan pesan-pesan yang penting bagi Risang. Tetapi agaknya kalian berdua tentu merasa sangat letih dalam perjalanan yang panjang dan menegangkan itu.”

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung-pun telah mendapat kesempatan untuk berada di Tanah Perdikan Sembojan. Dihari berikutnya yang senggang, keduanya sempat untuk melihat-lihat Tanah Perdikan yang berkembang semakin baik itu. Meskipun sudah cukup lama mereka pergi, namun mereka masih juga mengenali Tanah Perdikan sebagaimana saat mereka tinggalkan.

Namun dalam sehari keduanya berada di Tanah Perdikan, maka rasa-rasanya keduanya telah dikejutkan oleh satu benda yang pernah mereka lihat sebelumnya. Sebuah topeng kecil dengan ujud yang seram dan menakutkan.

Jati Wulung menggamit Sambi Wulung ketika mereka melihat anak kecil yang bermain-main dengan topeng itu. Beberapa orang anak yang sambil bergurau dan berlari-lari mempermainkan sebuah topeng kecil. Yang seorang menakut-nakuti yang lain, sedangkan yang lain berlari-larian menghambur dijalan sambil berteriak-teriak. Tetapi mereka tidak sedang ketakutan, karena mereka memang sedang bermain-main.

Sambi Wulung pun kemudian telah melangkah mendekati anak yang sedang bermain-main itu. Untuk menarik perhatian anak-anak itu, maka Sambi Wulungpun tiba-tiba berkata lantang, “He, ini uang siapa?”

Beberapa orang anak memang berhenti berlari-lari. Dengan ragu-ragu mereka melangkah mendekati. Tetapi Sambi Wulung memang memegang sekeping uang.

“Ini, uang siapa he?” bertanya Sambi Wulung sekali lagi.

Anak yang membawa topeng itupun mendekat. Sementara Jati Wulung berdesis, “Kita beli saja topeng itu.”

“Jangan,” sahut Sambi Wulung.

Jati Wulung termangu-mangu. Namun Sambi Wulung sudah berbicara dengan anak-anak itu lagi, “Nah, siapa yang telah kehilangan ini? Tidak ada?”

Anak-anak itu termangu-mangu. Memang tidak ada diantara mereka yang merasa kehilangan.

“Jika tidak ada, maka sebaiknya uang ini dibelikan kacang rebus saja. Kalian akan dapat makan bersama-sama. Setuju?” bertanya Sambi Wulung.

Hampir berbareng anak-anak itu berkata, “Setuju.”

“Baik. Aku akan memberikan uang ini kepada kalian. Nah, siapa yang paling tua diantara kalian?” bertanya Sambi Wulung.

“Aku,” tiga orang menjawab berbareng sambil mengacukan tangan mereka. Seorang diantara mereka justru mengacukan topeng yang sedang dipegangnya. Topeng kecil itu.

“Perhatikan topeng itu,“ desis Sambi Wulung kepada Jati Wulung.

Jati Wulung mengangguk. Karena itu, maka perhatiannya kemudian tertuju kepada topeng kecil itu.

Sementara Sambi Wulung berkata, “jangan turunkan tangan kalian. Aku akan menilai, siapakah yang benar-benar tertua diantara kalian.”

Ketika Sambi Wulung berpura-pura mengamati anak-anak itu, Jati Wulung sempat memperhatikan topeng di tangan anak itu.

Topeng itu memang seperti yang pernah dilihatnya disebelah Kademangan Gantar. Didaerah yang dianggap daerah yang tidak boleh diambah kaki orang lain selain orang-orang padepokan yang tidak diketahui itu.

Ketika Jati Wulung mengangguk kecil, maka Sambi Wulung pun telah mengambil kesimpulan dari pengamatannya. Katanya, “Nah, aku yakin bahwa yang tertua diantara kalian adalah anak yang membawa topeng itu.”

“Tidak. Umurnya sama dengan umur adikku,” berkata yang seorang.

Tetapi anak yang membawa topeng itu berteriak, “Aku memang yang paling tua.”

“Baiklah,” berkata Sambi Wulung, “sebenarnya soalnya tidak begitu penting. Aku hanya akan menyerahkan sekeping uang ini kepada yang tertua untuk dibelikan kacang rebus. Tetapi kacang itu akan menjadi milik kalian bersama-sama. Kalian akan dapat duduk sebentar dipinggir jalan itu untuk makan kacang. Bukankah kalian telah lama berlari-larian? Keringat kalian telah membasahi seluruh tubuh kalian. Karena itu, maka kalian harus beristirahat.”

Anak-anak itu tidak menentang lagi ketika kemudian anak yang membawa topeng itu mendekati Sambi Wulung untuk menerima sekeping uang. Jika uang itu dibelikan kacang rebus, mereka memang akan mendapat cukup banyak.

Namun dalam pada itu Jati Wulung pun telah memperhatikan keadaan disekililing mereka. Mungkin ada satu dua orang yang dengan sengaja telah mengawasi topeng itu. Tetapi ternyata bahwa ia tidak melihat orang yang mencurigakan itu.

Ketika anak itu menerima sekeping uang, Sambi Wulung sempat bertanya, “He, kau mempunyai topeng yang bagus?”

“Terlalu kecil untuk dipakai,” jawab anak itu.

“Darimana kau dapatkan topeng itu?” bertanya Sambi Wulung pula.

“Kami menemukan topeng ini dipintu gerbang,” jawab anak itu.

“Kami siapa?” bertanya Sambi Wulung.

“Kami. Aku dan kawan-kawan ini,” jawab anak itu.

“Kapan kalian menemukan topeng itu?” bertanya Sambi Wulung pula.

“Sudah lama. Kira-kira sepekan yang lalu,” jawab anak itu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Simpan mainan itu baik-baik. Jika hilang, kalian tidak akan mendapatkannya lagi.”

Anak itu mengangguk. Sementara Sambi Wulung masih bertanya, “Kau anak siapa?”

“Ayah,” jawab anak itu, “dan ibu.”

“Nama ayahmu?” bertanya Sambi Wulung pula.

Justru anak yang lain yang menjawab, “Kriya. Aku memanggilnya paman Kriya.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Kepada anak yang membawa topeng itu ia bertanya, “benar, nama ayahmu Kriya?”

Anak itu mengangguk.

“Rumahmu?” bertanya Sambi Wulung pula.

“Disitu,” jawab anak itu, “disebelah simpang tiga itu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk pula. Tetapi ia masih bertanya, “Dihalaman rumahmu ada pohon apa?”

Anak itu mengingat-ingat. Namun justru anak yang lain yang menjawab, “Pohon duwet. Dimusim duwet kami beramai-ramai memanjat.”

“Terima kasih,” Sambi Wulung tersenyum. Lalu katanya, “Nah, sekarang kalian dapat membeli kacang rebus di sudut jalan itu. Diwarung kecil itu dijual kacang rebus. Tetapi kalian tidak perlu beramai-ramai pergi kesana. Hanya satu orang saja yang pergi. Setuju?”

Anak-anak itu termangu-mangu. Nampaknya semua ingin ikut pergi ke kedai. Tetapi Sambi Wulung berkata, “Jika semua pergi kekedai itu, maka penjual dikedai itu akan menjadi bingung.”

Akhirnya anak-anak itu setuju. Anak yang membawa topeng itulah yang kemudian pergi sendiri membeli kacang rebus, sementara ia menitipkan topengnya kepada seorang kawannya.

Ketika kemudian anak-anak itu duduk dipinggir jalan menikmati kacang rebus, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meninggalkan mereka.

“Kenapa topeng itu tidak kita beli saja?” bertanya Jati Wulung.

“Jangan. Jika kita lakukan hal itu, tentu akan dapat menjadi perhatian orang yang meletakkannya. Meskipun topeng itu sama dengan topeng yang kita lihat ditempat yang menyeramkan itu, agaknya kegunaannya berbeda. Tentu mereka tidak akan membunuh orang-orang yang berada didekat pintu gerbang itu,” berkata Sambi Wulung. Lalu, “Kita tidak tahu, apakah memang ada kesengajaan agar topeng itu jatuh ketangan seseorang atau anak-anak itulah yang nakal sehingga pertanda itu mereka hapuskan tanpa sengaja. Tetapi jika hal itu disengaja agar topeng itu jatuh ke tangan seseorang dan kita membelinya, maka tentu akan ada akibat lain, karena topeng itu tentu akan selalu diamati.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun katanya, “Apakah topeng itu ada hubungannya dengan kita. Maksudku, kehadiran kita disekitar padepokan rahasia mereka sudah diketahui?”

“Aku kira tidak, karena anak-anak itu menemukan sepekan yang lalu,” sahut Sambi Wulung.

“Aku tetap menganggap bahwa padepokan yang rahasia itu merupakan bayangan dari padepokan yang dihuni oleh Puguh,” berkata Jati Wulung.

“Agaknya memang demikian,” jawab Sambi Wulung.

“Jadi apa artinya topeng itu? Jika mereka tahu bahwa kita telah membunuh orang-orang mereka berasal dari Tanah Perdikan ini, maka persoalannya akan menjadi lebih rumit.” gumam Jati Wulung.

“Memang demikian,” sahut Sambi Wulung, “tetapi ada kemungkinan lain yang tidak kalah mendebarkan jantung.”

“Apa?” bertanya Jati Wulung.

“Rangga Gupita dan Warsi merasa bahwa mereka sudah cukup lama menunggu untuk membalas dendam. Mungkin Warsi telah mencapai satu tataran ilmu yang meyakinkan sehingga saatnya untuk membalas dendam telah tiba. Mungkin dengan kekuatan yang besar untuk mengacaukan Tanah Perdikan ini. Tetapi mungkin Warsi akan datang lagi untuk menantang Iswari berperang tanding,” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kemungkinan yang kedua ini cukup mencemaskan. Kita tidak tahu, apakah selama ini Iswari yang sibuk dengan pemerintahan Tanah Perdikan ini sempat menekuni dan mengembangkan ilmunya.”

“Sebaiknya hal ini segera diketahui,” desis Sambi Wulung.

“Marilah. Kita temui Nyi Wiradana,” ajak Jati Wulung.

“Jangan langsung. Lebih baik kita berbicara dengan Kiai dan Nyai Soka,” sahut Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Kita tidak boleh membuang waktu barang sekejap. Topeng itu sudah terpasang sejak sepekan yang lalu. Bahkan mungkin lebih lama karena sepekan yang lalu anak-anak itu telah menemukannya.”

Keduanya kemudian telah berusaha untuk dapat bertemu Kiai Soka dan Nyai Soka. Adalah kebetulan bahwa Nyi Wiradana sedang sibuk dengan para bebahu Tanah Perdikan Sembojan.

Kepada Kiai Soka dan Nyai Soka keduanya telah menceriterakan apa yang mereka lihat dan segala kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan Sembojan justru setelah diketemukan topeng kecil yang dipasang dipintu gerbang itu.

“Apakah kalian akan menemui anak itu lagi di rumahnya?” bertanya Kiai Soka.

“Untuk sementara tidak,” jawab Sambi Wulung, “jika kita ingin menemuinya, tentu tidak datang kerumahnya, karena mungkin sekali rumah itu diamati oleh orang-orang yang tidak kita ketahui.”

“Baiklah. Kita akan menugaskan seorang petugas sandi untuk mencari keterangan selengkapnya tentang Kriya tanpa menarik perhatian. Tentu tidak sulit, karena Kriya adalah orang Tanah Perdikan ini sementara petugas sandi itu tentu akan kita pilih seorang yang rumahnya disekitar rumah Kriya itu pula,” berkata Kiai Soka. Lalu, “Sementara ini kita akan berbicara dengan Iswari. Semoga ia mengerti.”

Sebenarnyalah ketika senja turun, maka Nyai Soka telah menemui Iswari yang duduk diserambi rumahnya sebagaimana kebiasaannya. Dengan hati-hati Nyai Soka telah mulai dengan maksudnya menemui Iswari secara khusus itu.

Iswari mendengarkan setiap keterangan Nyai Soka dengan penuh perhatian. Karena itu, maka ia pun segera memahami apa yang sedang membayangi di Tanah Perdikan itu.

“Jika demikian, maka kita harus bersiap-siap, nek” desis Iswari.

“Maksudmu Tanah Perdikan ini?” bertanya Nyai Soka.

“Tentu. Pasukan yang selama ini memang nampak dikurangi kegiatannya harus ditingkatkan lagi,” berkata Iswari.

“Tetapi sementara itu, kau sendiri harus meningkatkan ilmumu pula,” berkata Nyai Soka.

Iswari menundukkan wajahnya. Dengan nada rendah ia bergumam, “Aku sudah terlalu tua untuk bekerja keras didalam sanggar. Agaknya waktuku lebih penting aku peruntukkan bagi Tanah Perdikan ini daripada bagiku sendiri,” berkata Iswari hampir kepada dirinya sendiri.

“Jangan berkata begitu Iswari. Lihat padaku, pada nenekmu ini. Kau dan aku. Siapa yang lebih tua? Kau tahu, bahwa waktuku untuk dapat tinggal bersamamu, bersama Tanah Perdikan ini dan bersama cicitku tentu tinggal sedikit. Tetapi aku tidak pernah merasa sudah waktunya untuk berhenti,” desis Nyai Soka.

“Aku memang tidak merasa bahwa aku harus berhenti, nek. Tetapi waktuku lebih berharga bagi Tanah Perdikan ini. Aku akan berjalan terus. Tetapi tidak untuk kepentinganku sendiri,” jawab Iswari.

“Iswari,” berkata Nyai Soka, “jika kau berbuat sesuatu untuk melindungi dirimu sendiri, bukankah itu juga berarti bahwa kau sudah berbuat bagi Tanah Perdikan ini? Betapapun tinggi dan besarnya keinginanmu untuk membina Tanah Perdikan ini, tetapi jika usaha itu harus berhenti ditengah jalan, apakah itu lebih berarti?”

Iswari tidak segera menjawab. Namun pandangannya telah menembus keremangan senja hinggap dikejauhan. Sementara lampu diregol sudah mulai dipasang.

“Iswari,” berkata Nyai Soka, “jika kita berbicara tentang dirimu, sudah tentu dengan segala macam tugas yang kau sandang. Justru karena kau masih harus bekerja keras bagi Tanah Perdikan ini, tetapi juga bagi anakmu Risang.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara Nyai Soka seakan-akan berbisik ditelinganya, “Apakah kau sampai hati untuk membiarkan Tanah Perdikan ini menjadi bagaikan sapu lidi kehilangan pengikatnya? Dan apakah kau sampai hati membiarkan Risang menjadi anak yang bukan saja tidak berbapa, tetapi juga tidak beribu?”

Iswari menundukkan kepalanya. Sebagai seorang perempuan maka terasa matanya menjadi panas. Tetapi ia bukan saja seorang perempuan tetapi ia juga seorang pemimpin. Karena itu, maka Iswari pun bertahan untuk tidak menitikkan air mata.

“Pikirkan Iswari. Tetapi waktumu tidak terlalu banyak. Ingat, jika benar Warsi itu datang menantangmu berperang tanding dalam waktu dekat, maka kau harus sudah bersiap sepenuhnya. Jika tidak, maka akibatnya akan dapat menjadi gawat.

“Baiklah nenek. Aku akan memikirkannya,” jawab Iswari.

“Sebaiknya berbicaralah dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang tahu lebih banyak tentang persoalan topeng itu,” berkata Nyai Soka kemudian.

“Aku akan memanggilnya,” sahut Iswari.

Nyai Soka pun kemudian meninggalkan Iswari yang masih berada di serambi, sementara malam pun mulai turun perlahan-lahan. Di serambi. Di sudut-sudut rumah yang besar dari Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta di beberapa tempat yang terlindung telah dinyalakan lampu minyak. Demikian pula di pendapa dan di setiap ruang.

Namun dalam pada itu, Iswari telah memerintahkan pula untuk memanggil Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ia ingin mendengar lebih jelas tentang topeng yang nampaknya mempunyai arti tersendiri itu.

Ketika Sambi Wulung Jati Wulung kemudian datang menemuinya, maka Iswari pun telah langsung bertanya tentang topeng kecil itu.

“Apakah Nyai Soka belum menjelaskan?” bertanya Sambi Wulung.

“Baru saja aku berbicara tentang topeng itu dengan guru. Tetapi, guru justru menganjurkan agar aku berbicara dengan kalian berdua,” jawab Iswari.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menceriterakan tentang topeng kecil itu serta hubungannya dengan kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan. Yang dikatakan oleh Sambi Wulung tidak ada yang berselisih dengan apa yang dikatakan oleh Nyai Soka, karena yang dikatakan oleh Nyai Soka itu bahannya juga dari Sambi Wulung dan bahkan kemudian juga Jati Wulung lebih meyakinkan Iswari, bahwa sebaiknya Iswari harus mempersiapkan diri. Bukan saja para pengawal di Tanah Perdikan, tetapi secara pribadi Iswari pun harus siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang paling gawat sekalipun.

Namun Sambi Wulung pun kemudian berpesan, “Tetapi Nyi Wiradana. Aku minta agar segala persiapan dan kesiagaan, jangan sampai menarik perhatian. Aku yakin, tentu ada orang-orang yang berhubungan dengan topeng itu berkeliaran disini. Jika mereka melihat kesiagaan, maka mungkin mereka akan lebih berhati-hati lagi. Karena itu, semuanya harus dilakukan tanpa gejolak.”

“Baiklah. Aku akan berbicara lebih khusus lagi dengan Nyai dan Kiai Soka,” berkata Iswari kemudian.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian telah meninggalkan serambi itu. Sementara Iswaripun telah masuk pula keruang dalam.

Namun malam pun terasa menjadi sepi. Nyai Soka tidak lagi datang menemaninya. Tetapi Iswari tidak minta neneknya yang juga gurunya itu datang.

Dalam sepinya Nyi Wiradana sempat merenungi Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan angan-angannya telah menelusuri masa-masa lampau. Namun kemudian meloncat kemasa-masa mendatang, melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Sementara itu, ternyata Nyai Soka telah berbicara dengan Kiai Soka menanggapi perkembangan terakhir di Tanah Perdikan itu.

Ternyata mereka berdua sepakat, tidak ada jalan yang lebih baik daripada memanggil Kiai Badra. Mereka bertiga merasa perlu untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon untuk membantu Iswari meningkatkan ilmunya, karena mereka yakin bahwa ilmu Warsipun tentu sudah meningkat semakin tinggi.

“Besok pagi-pagi aku akan berbicara dengan Iswari,” berkata Kiai Soka. Lalu, “Sementara itu, aku akan minta Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke padepokan Risang dan minta Kiai Badra untuk datang.”

Nyai Soka sependapat. Segalanya harus berlangsung dengan cepat. Jika tantangan kepada Iswari itu benar-benar datang dalam waktu dekat, maka ia harus sudah bersiap menghadapi peningkatan ilmu Warsi.

Namun Kiai Soka itu pun berkata, “Seandainya hal itu memang akan dilakukan, aku kira Warsi akan menunggu sampai bulan purnama bulan mendatang. Agaknya Warsi percaya bahwa bulan purnama itu mampu memberikan kekuatan pada ilmunya.”

“Tetapi waktu yang kurang dari sebulan itu tentu pendek sekali. Seandainya kita berhasil menyempurnakan dan menutup kekurangan-kekurangan pada ilmu Janget Kinatelon itu dalam waktu sepekan, maka waktu bagi Iswari hanya ada sekitar setengah bulan lagi. Waktu yang sebenarnya terlalu sempit,” sahut Nyai Soka.

“Tetapi bukankah belum pasti, bahwa Warsi akan datang dan menantang Iswari?” bertanya Kiai Soka. “Seandainya demikian, apakah harus begitu tiba-tiba. Biasanya sebelum hujan, akan datang mendung lebih dahulu.”

Tetapi Nyai Soka menjawab, “Tetapi kita harus memperhitungkan kemungkinan yang paling pahit.”

“Kau benar Nyai,” berkata Kiai Soka kemudian. Lalu katanya pula,” besok pagi-pagi kita akan membicarakannya lagi, langsung dengan Iswari.”

Demikianlah kedua orang tua itu pun segera ke pembaringan mereka. Namun keduanya tidak segera dapat tidur nyenyak. Rasa-rasanya kesulitan memang sudah berada diambang pintu. Terutama bagi Iswari. Tetapi akhirnya merekapun tertidur pula menjelang dini hari.

Seperti yang mereka rencanakan, maka pagi-pagi mereka sudah menemui Iswari. Mereka telah memanggil pula Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

“Kiai Badra harus segera diundang,” berkata Kiai Soka, “bukan untuk memperkuat kedudukan kita disini, tetapi untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Waktunya memang tinggal sedikit.”

Iswari tidak menolak. Ia memang harus meningkatkan ilmunya.

Setelah merenungi pendapat-pendapat kakek dan neneknya, serta pendapat-pendapat Sambi Wulung dan Jati Wulung, Iswari akhirnya memang mengerti betapa pentingnya ia meningkatkan ilmunya. Meskipun dalam waktu-waktu khusus Iswari juga selalu berada di Sanggar, tetapi usahanya meningkatkan ilmunya tidak sekeras yang diharapkan oleh Kiai dan Nyai Soka.

Dengan demikian maka Iswari sependapat pula, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung lah yang diminta untuk menghubungi Kiai Badra di padepokannya yang terletak di Kademangan Bibis. Dalam waktu dekat Kiai Badra diminta sudah berada di Tanah Perdikan Sembojan.

“Baiklah,” berkata Sambi Wulung, “jika demikian, kami akan segera berangkat.”

“Tetapi apakah kalian berdua sudah tidak terlalu letih?” bertanya Nyi Wiradana.

“Kami sudah cukup lama beristirahat Sambi Wulung,” jawab Sambi Wulung.

“Baiklah. Aku sependapat mana yang kalian anggap baik,” berkata Iswari kemudian.

Sebenarnyalah setelah makan dan minum, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menempuh perjalanan baru. Mereka harus menempuh jarak yang cukup panjang, menuju ke tempat Risang dipisahkan di sebuah padepokan kecil di Kademangan Bibis.

Dalam pada itu, petugas sandi yang diperintahkan untuk mencari keterangan tentang Kriya sudah melaporkan diri pula kepada Kiai Soka. Orang yang bernama Kriya adalah orang yang sangat lugu. Kesimpulan petugas itu, Kriya tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan paugeran di Tanah Perdikan.

Berdasarkan laporan-laporan lain, maka Kiai Soka dapat mengambil kesimpulan bahwa anak Kriya itu benar-benar telah menemukan topeng itu di pintu gerbang Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, Kiai Soka sama sekali tidak merasa perlu untuk menggerakkan pengawal. Ketika hal itu dinyatakan kepada Nyi Wiradana, ternyata Nyi Wiradanapun sependapat.

“Kita akan meningkatkan pengamatan lingkungan Tanah Perdikan dengan para petugas sandi saja,” berkata Iswari, “sehingga dengan demikian kesiagaan kita tidak nampak oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Sementara itu para pengawal hanya diperintahkan untuk bersiaga di padukuhannya masing-masing, tanpa menyebut bayangan kemungkinan yang gawat dapat terjadi. Tetapi para pengawal dari pasukan khusus yang ada dibarak-barak, telah disiagakan untuk mengambil langkah-langkah darurat jika diperlukan. Namun kesiagaan mereka pun hanya nampak oleh para penghuni barak itu sendiri.”

“Rencanamu sudah bagus Iswari. Mudah-mudahan pelaksanaannya pun tidak akan mengalami persoalan,” berkata Kiai Soka kemudian.

Pada hari itu juga Iswari telah memanggil pemimpin dari para petugas-sandi di Tanah Perdikan. Kepada orang itu, Nyi Wiradana telah memberikan perintah-perintah tertentu untuk mengamati seluruh daerah Tanah Perdikan Sembojan. Di salah satu pintu gerbang ternyata telah diketemukan topeng yang mempunyai ciri yang khusus yang ternyata dapat dikenali oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Setiap keadaan baru yang menimbulkan persoalan harus diselidiki,” perintah Iswari, “juga orang-orang yang sebelumnya tidak berada di Tanah Perdikan. Tetapi gerakan kalian jangan menimbulkan perhatian khusus dari rakyat Tanah Perdikan ini. Mereka yang mulai mendapatkan ketenangan jangan diguncang lagi. Kerja keras yang dilakukan oleh orang-orang Tanah Perdikan ini tidak boleh terganggu.”

Pemimpin petugas sandi itu pun mengerti sepenuhnya apa yang harus dilakukan. Karena itu, ketika ia meninggalkan rumah Kepala Tanah Perdikannya, maka berturut-turut ia telah memanggil beberapa orang petugas sandi. Sekelompok demi sekelompok.

Dengan demikian, maka sejak hari itu, di seluruh Tanah Perdikan Sembojan pengawasan telah diperketat. Sementara itu, Nyi Wiradana juga telah memanggil pemimpin pengawal dari pasukan khusus untuk meningkatkan kesiagaan sehingga jika digerakkan setiap saat tidak akan mengecewakan.

Dalam waktu yang singkat, dengan diam-diam Tanah Perdikan Sembojan telah meningkatkan kesiagaannya.

Dihari pertama memang tidak terjadi sesuatu. Para petugas sandi yang kemudian banyak bergerak di padukuhan induk dan bahkan dihampir setiap padukuhan, tidak menemukan sesuatu yang pantas untuk mendapat perhatian khusus.

Tetapi dua hari kemudian, seorang petugas sandi telah melihat sebuah topeng kecil dengan ujud yang menyeramkan tergantung di pintu gerbang padukuhan induk sebelah Utara. Tidak di tempat anak-anak menemukan sebelumnya.

Namun petugas sandi yang melihat topeng itu tidak segera mengambilnya. Dibiarkannya topeng itu di tempatnya sehingga mungkin akan diketemukan oleh seseorang atau kanak-kanak yang bermain-main dipintu gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu.

Ketika hal itu dilaporkan kepada pemimpin petugas sandi, maka diperintahkan pula agar topeng itu dibiarkan saja ditempatnya.

“Langkahmu sudah benar,” berkata pemimpin petugas sandi itu. “Awasi sejauh mungkin dengan hati-hati. Apakah ada orang-orang yang memperhatikan topeng itu.”

Tiga orang telah mendapat tugas khusus di pintu gerbang itu. Seorang diantara petugas sandi itu adalah seorang anak muda yang tempat tinggalnya justru berdekatan dengan pintu gerbang itu. Dengan demikian, maka anak muda itu telah mendapat tugas untuk mengawasinya dari rumahnya dan sekitarnya.

Orang tuanya memang merasa heran, bahwa anaknya sehari penuh tidak meninggalkan rumahnya. Hanya sekali-sekali keluar regol halaman dan justru bermain-main dengan remaja yang pergi mencari rumput di luar regol padukuhan induk itu.

“Apakah kau tidak pergi ke barak?” bertanya ayahnya.

“Hari ini aku mendapat istirahat,” jawab anak muda itu.

“Kenapa? Bukankah kau setiap hari harus pergi ke barak dan belum pernah mendapat istirahat seperti ini?” bertanya ayahnya pula.

“Justru itu aku sekarang mendapatkan istirahat itu tiga hari,” jawab anaknya.

Ayahnya hanya mengangguk-angguk saja.

Dalam pada itu, laporan tentang topeng itu telah sampai pula kepada Nyi Wiradana, Kiai Soka dan Nyai Soka. Karena itu, maka mereka telah menganggap bahwa hal itu harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Ternyata bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Warsi dan Ki Rangga Gupita masih berlanjut.

“Untuk sementara, kita tidak akan melepaskan Iswari untuk berperang tanding seandainya ia mendapatkan tantangan untuk itu,” berkata Kiai Soka kepada isterinya.

“Ya,” jawab Nyai Soka, “tetapi apakah Iswari akan bersedia melakukannya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menolak berperang tanding.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, rasa-rasanya yang pergi menjemput Kiai Badra telah berangkat setahun yang lalu.

Tetapi ternyata bahwa hari itu pula Kiai Badra telah datang. Ia telah mendapat beberapa keterangan dari Sambi Wulung dan Jati Wulung tentang kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan itu dengan diketemukannya sebuah topeng yang mempunyai arti yang khusus. Jika ditempat lain topeng itu pertanda kematian, maka di Tanah Perdikan itu tentu dimaksudkan akan mempunyai arti yang sama meskipun pelaksanaannya agak berbeda.

Kiai Badra menganggap bahwa persoalannya menjadi semakin gawat ketika ia diberi tahu, satu lagi topeng telah diketemukan di pintu gerbang Utara.

“Karena itu, kita harus bekerja keras,” berkata Kiai Soka.

“Aku sudah siap,” sahut Kiai Badra.

“Baiklah,” berkata Nyai Soka kemudian, “malam nanti kita akan mulai memasuki sanggar meskipun baru mengadakan persiapan-persiapan khusus.”

“Baiklah,” sahut Kiai Badra, “kita memang sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi.”

Sementara itu kepada Iswari orang-orang tua itupun berpesan agar iapun menyiapkan diri untuk menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon yang telah dimilikinya.

“Kau pun harus mulai berada di dalam sanggar,” berkata Kiai Badra, “kau harus mulai dengan persiapan-persiapan baik kewadagan maupun kejiwaan.”

“Ya guru,” jawab Iswari dengan nada rendah.

“Waktu kita sangat singkat,” berkata Kiai Badra pula.

Demikianlah, maka seakan-akan semuanya harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Sementara ketiga orang tua itu telah berada di sebuah bilik khusus yang tertutup rapat diawasi langsung oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Iswari telah berada didalam sanggarnya pula.

Semula Iswari memang lebih banyak merenungi peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Rasa-rasanya memang sudah jemu untuk mengadakan permusuhan terus-menerus tanpa berhenti. Bahkan rasa-rasanya dendam telah membakar seluruh Tanah Perdikan Sembojan tanpa ujung pangkal.

Namun akhirnya Iswari menyadari, apa yang dapat terjadi atas dirinya jika ia tidak meningkatkan ilmunya.

Karena itu, maka ia pun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya.

Namun sebenarnyalah bahwa selama bertahun-tahun itu, bukan berarti bahwa Iswari tidak meningkatkan ilmunya. Iswari masih selalu berada di dalam sanggar dalam waktu-waktu tertentu. Dibawah tuntunan Kiai dan Nyai Soka ilmunya memang telah jauh meningkat dibandingkan dengan sepuluh tahun sebelumnya. Tetapi rasa-rasanya Iswari belum memasuki satu masa penempaan diri yang bersungguh-sungguh. Meskipun ilmu Janget Kinatelon yang dimilikinya juga sudah meningkat dan berkembang, tetapi karena sumbernya memang masih belum sempurna, maka ilmu itu masih mungkin ditingkatkan lagi.

Tetapi Iswari pun menyadari, bahwa Kiai Soka, Nyai Soka dan Kiai Badra telah menjadi semakin tua. Mereka tentu tidak akan mampu lagi memberikan latihan-latihan sebagaimana mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Bagaimanapun juga pengaruh kewadagan orang-orang tua itu tidak akan dapat diabaikan. Sebagaimana disaat-saat terakhir, Kiai Soka dan Nyai Soka lebih banyak memberikan beberapa petunjuk untuk gerakan-gerakan yang keras daripada memberikan contoh dan apalagi bersama-sama melakukan latihan. Tetapi petunjuk-petunjuk itu sudah cukup berarti bagi Iswari dalam usahanya meningkatkan dan mengembangkan ilmunya.

Pada masa-masa mempersiapkan diri, Iswari telah melakukan latihan-latihan seorang diri. Ia telah mengentalkan kembali pokok-pokok ilmu Janget Kinatelon, sehingga nampak tubuh dari ilmu itu seutuhnya. Kemudian iapun mulai meneliti kembali perkembangan-perkembangan yang telah dilakukannya dalam perjalanan waktu dan berdasarkan temuan-temuan sepanjang pengalamannya. Dengan demikian, maka mulai nampak jelas didalam pengamatan batinnya, batang dari ilmunya dan kemudian dahan-dahan serta ranting-rantingnya yang tumbuh kemudian dari sebatang pohon ilmu yang utuh.

“Jika kakek dan nenek didalam pemusatan nalar dan budi serta samadinya menemukan penyempurnaan dari ilmu itu, maka akar dari batang ilmu itu akan menjadi semakin kokoh sehingga tidak akan mudah dapat ditumbangkan oleh siapapun juga,” berkata Iswari kepada dirinya sendiri.

Pada hari ketiga, maka Iswari tidak lagi dapat mempergunakan sanggarnya, karena ketiga orang gurunya telah memasuki sanggar itu. Dengan demikian, maka Iswari justru telah mempergunakan sebuah bilik yang khusus dan cukup luas untuk mengadakan persiapan-persiapan yang lebih mantap.

Di hari yang ketiga, ketiga orang gurunya telah memasuki tahap berikutnya dari usaha mereka menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Setelah di hari pertama dan kedua mereka mengamati ilmu itu dengan penglihatan batinnya bersama-sama, maka pada hari ketiga mereka mulai menilai bentuk kewadagan dari ilmunya itu.

Sebagaimana dilakukan oleh Iswari, maka mereka telah melihat batang dari ilmunya. Mereka kemudian menukik mengamati akarnya untuk mencapai keseimbangan yang mendekati sempurna dengan perkembangan dan pertumbuhan batang serta dahan dan ranting -rantingnya.

Dalam pada itu, pengawasan atas daerah Tanah Perdikan itu pun masih berlangsung terus. Para petugas sandi dengan cermat selalu mengamati keadaan. Bahkan seorang petugas sandi sempat melihat dua orang yang pantas dicurigai.

“Apa yang kau lakukan atas kedua orang itu?” bertanya pemimpin petugas sandi kepada petugasnya yang memberikan laporan kepadanya.

“Kami belum mengambil langkah-langkah apapun Ki Lurah,” jawab petugas sandi itu.

“Baiklah. Kalian harus berhati-hati untuk mengambil langkah-langkah. Jika mereka tidak melakukan sesuatu yang dapat dianggap kejahatan, untuk sementara jangan diambil tindakan. Kalian hanya mengawasinya saja. Kecuali jika mereka memang melanggar peugeran yang berlaku. Siapapun harus diambil tindakan sebagaimana seharusnya,” berkata pemimpin petugas sandi itu.

Dengan demikian, maka pengawasan pun menjadi semakin bersungguh-sungguh. Seakan-akan setiap sudut Tanah Perdikan itu tidak lepas dari pengamatan para petugas sandi.

Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri justru tidak berusaha untuk ikut serta melakukan pengawasan. Jika orang-orang yang datang di Tanah Perdjkan itu orang yang pernah melihatnya, maka persoalannya akan menjadi berkembang. Apalagi jika kemudian sampai ketelinga Puguh.

Dihari berikutnya, justru telah terjadi sedikit keributan di pintu gerbang dimana anak-anak telah menemukan sebuah topeng kecil.

Seperti biasanya, maka pada hari itu, sekelompok anak-anak sedang bermain kejar-kejaran. Seorang diantara anak-anak itu memang membawa topeng kecil. Tetapi anak-anak itu sama sekali tidak menyadari, bahwa sepasang mata sedang memperhatikan mereka dengan saksama.

Beberapa saat kemudian, ketika anak-anak itu berhenti diluar pintu gerbang, orang yang memperhatikan mereka itu pun telah mendekat.

“He, darimana kau dapat topeng itu?” bertanya orang itu.

Anak yang memegang topeng itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menjawab, “Dipintu gerbang itu. Kami mendapatkan topeng itu tergantung di pintu gerbang.”

“Kenapa topeng itu kau ambil he?” bertanya orang itu.

“Aku senang memilikinya. Topeng ini nampak lucu. Seperti topeng raksasa meskipun kecil,” jawab anak itu.

“Berikan topeng itu kepadaku,” minta orang itu.

“Jangan. Aku senang pada topeng ini,” jawab anak yang memegang topeng.

“Berikan cepat. Biarlah aku pasang topeng itu kembali,” orang yang mengawasi anak-anak itu bermain nampaknya ingin memaksa.

Tetapi anak yang memegang topeng itu tidak mau menyerahkannya.

Ketika orang itu mendekatinya, maka anak itu pun telah bergeser surut.

Beberapa orang kawannya ikut menjadi ketakutan. Bahkan ketika orang itu melangkah semakin dekat, anak-anak itu telah menghambur berlari memasuki regol padukuhan induk.

Orang itu semula telah berlari pula mengejarnya. Tetapi ketika anak-anak itu berteriak-teriak minta tolong, maka orang itu pun telah mengurungkan niatnya. Bahkan orang itu telah dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan regol padukuhan induk itu.

Demikian orang itu menjauh, maka seorang anak muda yang semula menyabit rumput telah bangkit berdiri. Sejenak ia mengawasi orang yang menjadi semakin jauh itu. Namun kemudian anak muda itupun berjongkok kembali memenuhi keranjangnya dengan rumput segar.

Tiga orang laki-laki kemudian telah melangkah keluar regol diikuti oleh anak-anak yang ketakutan. Seorang diantara laki-laki itu bertanya, “Dimana orang itu?”

“Mungkin sudah lari,” jawab salah seorang diantara anak-anak yang ketakutan itu.

Ketiga orang laki-laki itu masih melihat dikejauhan seseorang yang berjalan semakin lama semakin jauh.

Ketika mereka bertiga akan berbalik memasuki gerbang, anak muda yang sedang memotong rumput itu telah bangkit pula dan melangkah menemui mereka.

“He, kau,” sapa salah seorang diantara ketiga laki-laki itu.

“Ya paman,” jawab anak muda itu.

“Apa kerjamu disini?” bertanya laki-laki itu pula.

“Menyabit rumput,” jawab anak muda itu.

“Kau lihat seorang laki-laki yang mengganggu anak-anak ini?” bertanya laki-laki yang lain.

“Ya. Aku melihat. Tetapi ketika laki-laki itu melangkah pergi aku tidak jadi mencampurinya. Sebenarnya aku memang ingin mencegahnya mengganggu anak-anak,” jawab anak muda itu.

“Baiklah,” berkata laki-laki itu, “tolong awasi anak-anak yang sedang bermain. Mungkin memang ada orang yang senang mengganggu anak-anak. Laki-laki itu ingin merampas topeng mainan anak kakang Kriya itu, yang katanya ditemukannya dipintu gerbang ini.”

“Baik paman,” jawab anak muda itu, “jika kira-kira aku tidak dapat mengatasinya, biarlah aku memanggil paman.”

“Ya. Panggil aku. Aku ingin tahu, apakah laki-laki itu berilmu kanuragan,” jawab laki-laki yang marah itu.

Demikianlah, sejenak kemudian ketiga laki-laki itu-pun telah masuk kembali kedalam regol sambil mengajak anak-anak itu. Bahkan kemudian salah seorang diantara mereka berpesan, “jangan bermain diluar. Untung kalian tidak mengalami sesuatu karena kami segera datang.”

Dalam pada itu, maka anak muda yang menyabit rumput itu pun nampaknya telah merasa cukup. Karena itu, maka ia pun telah mengangkat keranjangnya yang berisi rumput diatas kepala. Kemudian ketika ia memasuki regol padukuhan induk dan bertemu dengan anak-anak yang bermain-main itu, iapun telah berpesan pula, “bermain-mainlah dihalaman rumah salah seorang diantara kalian. Jangan berada diregol. He, kau tahu apa yang disebut culik? Agaknya orang itu culik yang mencari anak-anak. Kau pernah mendengar ceritera tentang dawet yang terbuat dari mata kanak-kanak? Sejenis minuman yang dipakai untuk tumbal.”

“Ah, apakah benar-benar ada kakang?” bertanya salah seorang diantara kanak-kanak itu.

“Entahlah. Tetapi jangan bermain diluar regol untuk sementara. Apalagi membawa topeng kecil itu,” jawab anak muda yang membawa keranjang itu.

Anak-anak itu mengangguk-angguk. Ternyata mereka memang menjadi agak ketakutan dengan ceritera tentang culik.

Anak muda itu kemudian berjalan menyusuri jalan induk. Rumahnya berada tidak jauh dari rumah Kriya. Ketika ia memasuki jalan simpang yang lebih kecil, maka ia memang lewat dimuka rumah Kriya yang dihalamannya terdapat sebatang pohon duwet.

Setelah meletakkan rumputnya di kandang, maka anak muda itu pun segera membenahi pakaiannya.

“Kau masih menyabit rumput?” bertanya ayahnya.

“Rumput dikandang tinggal sedikit ayah,” jawab anak muda itu.

“Bukankah adikmu biasanya yang menyabit rumput? Ia sekarang juga sedang menyabit rumput sambil menggembala kambing. Apa kau tidak pergi ke barak?” bertanya ayahnya pula.

“Sekarang aku akan pergi,” jawab anak itu.

“Tidak kesiangan?” desak ayahnya pula.

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Tidak. Dalam tiga hari ini aku sedang istirahat. Aku dapat datang kapan saja di barak.”

Ayahnya tidak bertanya lagi. Sementara anak muda itu pun kemudian minta diri setelah selesai berbenah diri.

Ternyata anak muda itu adalah salah seorang petugas sandi di Tanah Perdikan itu. Ia pun langsung menemui pemimpinnya untuk melaporkan hasil pengamatannya di salah satu pintu gerbang padukuhan.

“Aku berhasil mengenali wajahnya Ki Lurah,” berkata anak muda itu, “jika bertemu dengan orang itu sekali lagi, aku agaknya akan dapat mengenalnya.”

“Bagus,” berkata pemimpinnya, “orang itu tentu masih akan memasuki padukuhan induk ini lagi. Karena itu, kau harus rajin berjalan-jalan. Sekali-sekali pergilah ke pasar. Mungkin laki-laki itu ada disana. Ia tentu ingin berada lebih dalam lagi di padukuhan induk ini.”

“Jika aku melihatnya lagi, apa yang harus aku lakukan?” bertanya anak muda itu.

“Jangan bertindak lebih dahulu. Awasi saja apa yang dilakukan. Tetapi ada baiknya ia melihat topeng itu di tangan anak-anak. Kita harus memberikan kesan bahwa kita tidak mengetahui gerakan mereka di Tanah Perdikan Sembojan ini.” pesan pemimpinnya sebagaimana dipesankan kepada para petugas sandi yang lain.

Sementara itu, di sanggar Kepala Tanah Perdikan, tiga orang tua sedang bekerja keras untuk memecahkan hambatan-hambatan terakhir dari usaha mereka menyempurnakan ilmu Janget Kinatelon. Dengan tanpa mengenal waktu mereka bertiga mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu mereka yang pada dasarnya berbeda-beda namun dengan ketekunan dan kerja keras, mereka berhasil mengangkat kesamaannya dan meluluhkan unsur-unsur yang berbeda-beda justru menjadi saling mengisi, sehingga mereka telah menemukan satu kekuatan ilmu yang luar biasa dahsyatnya.

Ternyata yang dilakukan oleh ketiga orang itu bukannya hanya sehari. Tetapi ketiga orang itu telah berada di dalam sanggar selama tiga hari. Para pelayanlah yang memberikan makan dan minum mereka kedalam sanggar disaat-saat yang sudah ditentukan sehingga mereka tidak mengganggu pemusatan nalar budi. Meskipun disaat yang sudah ditentukan, tetapi pintu sanggarnya masih diselarak dari dalam, maka tidak seorangpun yang boleh masuk. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengawasi langsung sanggar itu.

Ternyata ketiga orang itu tidak dapat menyelesaikan tugas besar mereka dalam waktu sepekan. Mereka baru dapat menyelesaikan tugas mereka itu dalam waktu tujuh hari tujuh malam.

Baru ketika mereka merasa bahwa ilmu Janget Kinatelon telah berada pada kemungkinan tertinggi, mereka menghentikan pekerjaan mereka. Namun mereka sadar, bahwa tidak seorang pun yang dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sempurna. Karena yang sempurna itu bukanlah milik seseorang.

Dihari yang ketujuh, maka sanggar itu ternyata telah diselarak sehari-semalam penuh. Tidak seorang pun yang diperbolehkan memasuki sanggar itu. Ketiga orang tua-tua didalam sanggar itu nampaknya sedang berada dalam puncak samadi mereka.

Pada hari yang kedelapan, di dini hari, pintu sangga itu terbuka. Ketiga orang tua itu telah keluar dari sanggar dengan tubuh yang sangat letih.

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Nyi Wiradana sendiri telah membantu ketiganya meninggalkan sanggar menuju keruang dalam rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Ketiga orang yang kemudian duduk diruang dalam itu selain nampak sangat letih, wajah merekapun nampak pucat. Namun dibibir mereka nampak senyum yang cerah.

Berganti-ganti ketiga orang itu pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Baru kemudian, mereka duduk bersama Iswari, Sambi Wulung dan Jati Wulung sambil minum minuman panas dan makan beberapa potong makanan.

“Kau memerlukan waktu lebih lama untuk dapat menyadap ilmu yang telah kami sempurnakan itu Iswari,” berkata Kiai Badra kepada muridnya.

“Aku akan melakukan apa saja yang guru perintahkan,” jawab Iswari.

“Bagus. Kau telah menemukan kembali gelora di dalam jantungmu. Kau harus memiliki kemampuan tertinggi dari ilmu Janget Kinatelon. Bukan saja untuk kepentinganmu sendiri, tetapi juga untuk kepentingan Tanah Perdikan ini,” berkata Kiai Badra pula.

“Apakah kau sudah mempersiapkan diri?” bertanya Nyai Soka.

“Sejauh kemampuanku guru,” jawab Iswari.

“Baik,” jawab Nyai Soka, “kami akan melihat ujud terakhir dari ilmumu itu.”

“Aku sudah siap kapan guru menghendaki,” jawab Iswari. Namun kemudian katanya pula, “Tetapi bukankah guru masih letih.”

“Kami akan beristirahat hari ini,” sahut Kiai Soka, “tetapi malam nanti, kami ingin berada didalam sanggar bersamamu.”

“Baik guru,” jawab Iswari.

Namun dalam pada itu, ketiga orang tua itu juga sempat mempertanyakan perkembangan yang terjadi diluar sanggar. Bagaimana dengan topeng-topeng kecil itu dan apakah ada langkah-langkah tertentu yang perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.

Iswari pun telah melaporkan kejadian-kejadian terakhir yang sempat diamati oleh para petugas sandi. Telah dilaporkan pula hadirnya orang-orang yang berkepentingan dengan topeng-topeng kecil itu.

“Ternyata mendung itu sudah datang,” berkata Kiai Soka, “jika benar-benar hari akan hujan, maka kita sudah bersedia payung sebelumnya.”

Demikianlah hari itu, ketiga orang tua itu benar-benar telah beristirahat. Mereka telah berada didalam bilik masing-masing. Meskipun bukan kebiasaan mereka berbaring dipagi hari, namun ketiganya telah melakukannya karena mereka memang benar-benar letih. Namun mereka tidak tertidur.

Hari itu tidak ada sesuatu yang penting yang terjadi di Tanah Perdikan. Namun Iswari benar-benar telah mempersiapkan diri. Ia sudah memasuki sanggar sejak pagi hari setelah berbincang dengan ketiga orang gurunya. Namun menjelang tengah hari, Iswari telah berada di ruang dalam kembali bersama-sama dengan ketiga gurunya, yang nampaknya sudah jemu untuk berbaring terus.

“Nampaknya kau sudah mulai menyesuaikan dirimu,” berkata Nyai Soka.

“Ya guru. Agar pada saatnya semuanya dapat berjalan lancar,” jawab Iswari,

“Baiklah. Namun sebaiknya kau persiapkan tugas-tugas di Tanah Perdikan ini agar selama kau berada didalam sanggar, semuanya dapat berjalan dengan baik sebagaimana biasa.” pesan Kiai Badra.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 13

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s