SST-11

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

PUGUH berpaling kepada Gagaklahan. Sambil menganggukkan kepalanya Gagaklahan berkata, “Sikapku memang demikian Puguh.”

“Tetapi bukankah kita memang tidak merahasiakan padepokan pertama kita itu? Karena itu aku tidak membawanya ke padepokan kedua ini. Bukankah kita sudah mengatakan kepada mereka, bahwa ayah dan ibu juga guru tidak ada di padepokan?” berkata Puguh.

“Ayah dan ibumu memang pergi,” berkata gurunya, “tetapi aku ada disini.”

“Apakah guru ingin menemuinya?” bertanya Puguh.

Yang dengan serta merta menyahut adalah Gagaklahan, “Tentu tidak. Aku kira tidak ada gunanya sama sekali.”

Gurunya tersenyum. Katanya, “Biarlah aku menjawab sendiri, Gagaklahan.”

Gagaklahan menarik nafas dalam-dalam, sementara guru Puguh itu berkata, “Mungkin sikap kita dapat berbeda. Untunglah kali ini sikapku sama seperti sikapmu.”

“Jadi guru merasa tidak perlu untuk, menemuinya?” bertanya Puguh.

Gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Biarlah ia mempunyai anggapan yang terbatas tentang padepokan pertama kita itu.”

“Aku merasa curiga dengan keduanya,” berkata Gagaklahan, “apalagi ketika Puguh memberitahukan, bahwa seorang diantara mereka dapat mengalahkan Kepala Besi dari pesisir Utara.”

“Apa artinya Kepala Besi dari Pesisir Utara? “ gurunya tertawa pula. Lalu katanya, “Biarlah keduanya besok pergi. Perhatian kita justru lebih tertuju kepada peristiwa yang lain.”

“Peristiwa apa?” bertanya Gagaklahan.

“Kau juga wajib mendengar Puguh, empat orang kita terbunuh semalam. Tidak ada petunjuk tentang para pembunuhnya. Tetapi menilik jejaknya, tidak lebih dari jumlah keempat orang yang terbunuh itu.”

Gagaklahan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia bertanya kepada Puguh, “Kau tidak mengatakan hal itu kepadaku.”

“Apa yang dapat aku katakan,” sahut Puguh, “aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Jadi apa yang harus aku beritahukan?”

Gagaklahan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu guru Puguh itupun tersenyum pula sambil berkata, “Kau kira Puguh terlibat didalamnya?”

Gagaklahan termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Aku dengan serta merta saja telah menduga, bahwa Puguh dan kedua orang itulah yang telah membunuh keempat orang itu.”

“Paman,” wajah Puguh menjadi merah, “apakah paman berhak berkata seperti itu?”

“Aku ikut bertanggung jawab,” berkata Gagaklahan, “ayah dan ibumu percaya kepadaku.”

“Dan karena itu maka paman tidak lagi percaya kepadaku?” bertanya Puguh.

Gagak lahan tidak segera menjawab. Tetapi dari sorot matanya terpancar gejolak didadanya.

“Puguh,” berkata gurunya, “sebaiknya kau memang berhati-hati terhadap kedua orang itu. Aku tidak bertemu langsung dengan mereka, sehingga aku tidak mendapatkan kesan yang bulat tentang mereka. Tetapi kau memang harus berhati-hati menghadapi orang yang baru saja kau kenal. Termasuk kedua orang yang baru kau kenal di Song Lawa itu. Sementara itu para pengawalmu tidak sempat menyelamatkan diri dari tangan para prajurit Pajang. Mungkin para prajurit Pajang tidak mempunyai kepentingan apapun dengan kau dan padepokan ini. Apalagi para pengawalmu itu tidak mempunyai pengenalan yang mendalam tentang padepokan ini selain padepokan pertama. Atau bahkan mungkin Pajang sama sekali tidak mempersoalkanmu. Tetapi ada kemungkinan lain, bahwa kedua orang itu juga mempunyai tugas sandi.”

“Tetapi bukankah padepokan pertama dikenal oleh orang-orang padukuhan dan bahkan sampai ke Gantar sebagai padepokan yang wajar saja dan tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain? Meskipun letaknya yang terpisah, tetapi padepokan pertama mempunyai hubungan dengan orang-orang padukuhan. Orang-orang padukuhan pun tahu bahwa di sekitar padepokan itu terbentang sawah dan petegalan,” berkata Puguh.

“Bagi orang-orang padukuhan memang tidak ada persoalan apa-apa. Tetapi agaknya lain bagi orang-orang berilmu tinggi,” jawab Gagaklahan.

“Tetapi keduanya bersikap baik, dan bahkan telah menolongku. Mereka dapat dikatakan telah menyelamatkan jiwaku,” berkata Puguh kemudian.

Gurunya mengangguk-angguk. Meskipun nampak kerut dikening namun gurunya itu mencoba untuk tersenyum. Katanya dengan nada datar, “Sudahlah. Jangan dirisaukan lagi. Biarlah keduanya besok pergi. Apapun yang kita lakukan, mereka sudah ada dipadepokan kita. Jika kita berbuat kasar, maka kesan yang buruk itu akan dapat membuat mereka justru menjadi curiga. Tetapi jika mereka kita biarkan pergi, maka kesan mereka terhadap padepokan kita akan wajar saja. Bukan apa-apa.”

“Tetapi ada cara lain agar mereka tidak mendapat kesan apapun tentang padepokan kita,” berkata Gagaklahan.

“Cara yang bagaimana?” bertanya Puguh.

“Kita hapuskan mereka,” jawab Gagaklahan.

“Itu tidak pantas,” Puguh hampir berteriak, “mereka telah menolong aku. Kenapa mereka harus dibunuh?”

“Satu pertanda buruk pada sikapmu,” berkata Gagaklahan, “kau tidak pernah mempedulikan kematian siapapun. Sekarang kau merasa berkeberatan jika kita membunuh kedua orang itu. Padahal kau tidak pernah mengenal sebelumnya.”

“Aku tidak pernah mempedulikan kematian orang yang tidak bersangkut paut dengan aku. Tetapi kedua orang ini pernah menolong aku, kau dengar paman.” Puguh berteriak lebih keras.

“Sudahlah,” berkata gurunya, “kau tidak pernah berteriak begitu. Katakan saja bahwa kau tidak setuju.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya gurunya dengan sorot mata yang aneh. Justru terpancar kecurigaan bahwa gurunya tidak akan melarang pembunuhan itu. Namun Puguh tidak dapat mengatakannya kepada gurunya itu.

“Sudahlah,” berkata gurunya, “kembalilah. Jika tamu-tamumu mencarimu, maka mereka akan menjadi curiga jika kau tidak ada.”

Puguh mengangguk-angguk. Sebenarnya masih ada yang ingin dikatakannya. Namun pandangan mata gurunya yang bagaikan menusuk langsung ke jantungnya telah membuatnya menundukkan kepala.

Demikianlah maka Puguh bersama Gagaklahan pun telah menempuh jalan kembali ke padepokan pertama. Sementara malampun diliputi oleh kegelapan yang sepi. Yang terdengar hanyalah suara-suara cengkerik dan bilalang di rerumputan.

Bagaimanapun juga Puguh merasa cemas akan nasib kedua orang tamunya. Meskipun jantungnya sudah dilatih untuk menjadi beku menghadapi kematian, namun ternyata dari endapan yang paling dalam, masih juga terangkat ucapan terima kasih kepada dua orang yang dianggapnya telah menolongnya tanpa mengetahui maksud mereka yang sesungguhnya.

Karena itu, maka dijalan kembali ke padepokan semula, Puguh hampir tidak mengatakan apa-apa. Ia masih saja merenungi sikap dan kata-kata gurunya dan mencoba mencari artinya. Bahkan ia pun menjadi ragu-ragu, apakah yang dimaksud oleh Gagaklahan sama dengan maksud gurunya.

Ketika keduanya kemudian memasuki padepokannya, maka Puguhpun langsung menuju kebiliknya. Tetapi ia masih menyempatkan diri untuk berjalan melewati bilik yang dipergunakan untuk kedua orang tamunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Namun agaknya kedua orang tamunya itu masih tertidur nyenyak.

Ketika kemudian Puguh berada di biliknya ia pun tidak segera dapat tidur. Berbagai macam persoalan telah bergejolak didalam hatinya.

Memang kadang-kadang iapun menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya dan berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak peduli. Terserah kepada kedua orang itu, apakah mereka dapat melindungi diri mereka sendiri jika Gagaklahan benar-benar akan membunuh mereka. Itu bukan salahku. Aku bukannya seorang yang perasaannya lelah mati sebagaimana dikehendaki oleh Gagaklahan. Jika kematian itu harus menjemput keduanya, maka itu adalah salah Gagaklahan.”

Tetapi sesaat kemudian, kegelisahan, itu telah menghentak-hentak pula, sehingga ia harus berputar dan tidur menelentang sambil memandang atap.

Puguh hanya sempat tertidur beberapa saat saja menjelang dini hari. Ketika kemudian terdengar ayam jantan berkokok, maka iapun telah terbangun dan keluar dari biliknya.

Puguh sendiri tidak tahu, kenapa ketika ia melihat Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dikenalnya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu, ia telah menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan sebuah beban yang berat telah diletakannya.

Ketika Puguh kemudian mendekatinya, ternyata bahwa keduanya justru telah mandi dan membenahi diri.

“Kau bangun pagi-pagi benar,” desis Puguh.

“Ya. Kami masih harus menunaikan kewajiban kami,” sahut Sambi Wulung.

“Kewajiban apa?” bertanya Puguh.

Sambi Wulung tersenyum.

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian masuk kembali kedalam bilik mereka, maka iapun telah duduk di serambi. Beberapa orang pengawal yang mengawasi kedua orang tamu Puguh itu dari kejauhan telah berkisar agak menjauh, karena kehadiran Puguh itu telah memberi kesempatan kepada mereka untuk beristirahat.

Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah keluar pula dari dalam bilik mereka. Untuk beberapa saat ketiganya sempat berbincang tentang keadaan padepokan itu. Dengan nada rendah Jati Wulung berkata, “Padepokan ini ternyata memiliki sejumlah cantrik yang telah ditempa sebagaimana para prajurit di Pajang. Mereka memiliki kesetiaan kepada tugas mereka dan melakukannya dengan sungguh-sungguh.”

“Ya,” jawab Puguh, “kami menghendaki para cantrik yang taat kepada segala paugeran yang ada disini. Kami pun ingin bahwa para cantrik kelak akan menjadi orang yang benar-benar memiliki keteguhan kepada sikap dan keyakinannya.”

“Bagus,” berkata Jati Wulung, “jika ketaatan yang hidup itu ditanamkan sejak dini, maka mereka akan mempunyai keteguhan sikap itu.”

“Apalagi lingkungan kami sebenarnya memang tidak menguntungkan,” berkata Puguh.

“Maksudmu?” bertanya Jati Wulung.

“Seperti yang telah kita alami. Tidak terlalu jauh dari padepokan kami terdapat tempat-tempat yang keras dan kasar. Dikehendaki atau tidak dikehendaki, maka harus berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Seperti sebuah kolam yang pada suatu saat akan penuh, maka airnya tentu akan melimpah. Karena itu, maka kita harus bersiap-siap jika mereka ternyata pada suatu saat akan memaksakan kehendak mereka kepada kami,” berkata Puguh.

“Kenapa kalian mendirikan padepokan disini? Apakah tidak ada tempat lain yang lebih jauh dari tempat-tempat yang garang itu?” bertanya Sambi Wulung.

“Kami berada disini lebih dahulu dari mereka,” jawab Puguh, “kami sudah berada disini untuk waktu yang lama. Sementara mereka datang disaat aku sudah mengenal olah kanuragan. Namun kekasaran dan ketamakan mereka telah membuat mereka melakukan perluasan dari apa yang mereka sebut lingkungan mereka dengan memberikan pertanda-pertanda yang memang dapat menggetarkan jantung.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk, sementara Puguh berkata selanjutnya, “Tetapi kami tidak akan dapat mereka takut-takuti. Kami akan berada disini untuk seterusnya. Jika mereka berusaha mengusir kami, maka kamilah yang akan memaksa mereka pergi.”

“Mudah-mudahan tidak ada persoalan,” desis Sambi Wulung.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dengan nada berat ia berkata, “Karena itu, aku justru ingin berpesan kepada kalian. Berhati-hatilah jika kalian nanti meninggalkan padepokan ini. Perjalanan kalian akan dapat terantuk pada ketamakan mereka, karena di beberapa tempat memang telah diletakkan tanda-tanda seperti itu.”

“Aku akan meninggalkan padepokan ini di siang hari,” berkata Sambi Wulung.

“Siang atau malam tidak ada bedanya,” jawab Puguh.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Jati Wulung pun berkata, “Apakah tidak ada jalan yang aman keluar dari padukuhan ini? Bagaimana jika kami kembali ke Gantar sebagaimana kami datang?”

“Tentu. Kalian memang harus melalui Gantar. Namun yang aku cemaskan adalah, jika kalian tiba-tiba saja bertemu dengan orang-orang yang telah memasang tanda-tanda itu. Meskipun jalan dari padepokan ini ke Gantar tidak ada tanda-tanda itu, tetapi bahaya akan dapat kalian temui setiap saat,” berkata Puguh.

“Apakah hal itu juga berlaku bagi penghuni padepokan ini?” bertanya Jati Wulung.

“Jika mereka mengenali orang dari padepokan ini, mereka memang tidak akan mengganggu karena mereka juga harus memperhitungkan kemungkinan akan datangnya pembalasan. Tetapi bukankah kalian bukan orang padepokan ini?” bertanya Puguh.

“Tetapi kami adalah tamumu,” berkata Jati Wulung, “bukankah akan dapat terjadi kemungkinan yang sama karena kau tentu akan merasa tersinggung.”

“Soalnya adalah bahwa mereka tidak mengenal kalian sebagai tamuku. Apapun yang akan aku lakukan kemudian, jika kau sudah ditelan oleh bencana, maka kalian tidak akan dapat dipulihkan kembali,” berkata Puguh.

“Jika demikian, apakah sebaiknya kami tetap di sini?” bertanya Jati Wulung.

“Tidak,” jawab Puguh, “sebaiknya kalian meninggalkan padepokan ini segera. Ada diantara orang-orang padepokan ini yang mencurigai kalian.”

“Kenapa kami dicurigai?” bertanya Sambi Wulung.

“Kalian memang pantas dicurigai. Akupun kadang-kadang masih bertanya-tanya, kenapa kalian begitu memaksa untuk mengikuti aku datang ke padepokan ini. Aku pun menjadi heran begitu mudahnya kau membunuh orang-orang yang menyerang kita di dekat tanda yang menakutkan itu,” jawab Puguh.

“Jadi ada diantara kalian, dan bahkan kau, yang mencurigai kami, bahwa justru kami adalah orang-orang yang dikirim oleh kelompok yang membayangi padepokanmu ini? Mungkin kami dengan sengaja berusaha memasuki padepokan ini untuk melihat-lihat keadaan di dalamnya, bahkan kekuatan yang tersimpan disini?” bertanya Jati Wulung.

“Orang yang menaruh kecurigaan kepada orang lain kadang-kadang tidak memikirkan alasan yang tepat. Atau bahkan telah membuat alasan-alasan yang tidak perlu masuk akal,” jawab Puguh.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “baiklah. Kami akan meninggalkan padepokan itu siang ini.”

Wajah Puguh tiba-tiba menjadi suram. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat memberikan kesempatan kepada kalian untuk beristirahat disini. Tetapi aku tetap merasa berterima kasih kepada kalian atas segala pertolongan kalian. Tanpa kalian, mungkin aku tidak akan dapat pulang ke padepokan ini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tersenyum. Yang menjawab adalah Sambi Wulung, “Aku dapat mengerti. Orang-orang padepokan ini tidak melihat dan tidak mengalami apa yang terjadi sebagaimana kau alami sepanjang perjalanan kembali dari Song Lama. Karena itu maka mereka tidak dapat membayangkannya dengan baik dan bahkan yang timbul adalah kecurigaan. Apalagi jika kau sendiri juga menjadi curiga.”

Puguh menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia berkata, “Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak dapat berbuat lebih baik meskipun kalian telah menyelamatkan aku. Sekali lagi aku berpesan berhati-hatilah kalian di perjalanan. Bukan saja di jarak antara padepokan ini sampai ke Gantar. Tetapi juga setelah kalian meninggalkan Gantar menuju ke manapun.”

“Terima kasih atas peringatan itu,” jawab Sambi Wulung.

Namun ketika keduanya akan meninggalkan padepokan itu segera, Puguh masih minta agar mereka makan lebih dahulu.

“Aku tahu kalian mempunyai bekal uang cukup banyak. Kalian dapat singgah di kedai dan makan apapun yang kalian inginkan. Tetapi aku minta kalian makan disini sekali lagi sebelum kalian pergi,” berkata Puguh.

Keduanya tidak menolak. Mereka pun kemudian makan bersama-sama dengan Puguh dan Gagaklahan.

Baru setelah makan, keduanya telah minta diri.

Ternyata Gagaklahan cukup ramah menghadapi keduanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kapan saja jika kalian ingin singgah di padepokan ini akan kami terima dengan senang hati. Sebenarnya kehadiran orang-orang yang memiliki nama seperti kalian sangat menyenangkan. Sayang, bahwa kalian hanya bersedia bermalam satu malam saja.”

Sambi Wulung lah yang menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Pada kesempatan lain, kami akan singgah.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua orang itu pun telah meninggalkan padepokan itu. Mereka tidak perlu mencari-cari jalan keluar menuju Gantar. Pengenalan mereka sebagai pengembara sangat tajam, sehingga sekali mereka lewat, mereka akan dapat mengingatnya dengan baik.

Dalam pada itu, sepeninggal Sambi Wulung dan Jati Wulung, Gagaklahan pun berkata, “benar-benar mencurigakan. Kau tidak usah menghiraukan apa yang akan terjadi atas mereka.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun segera pergi meninggalkan orang yang dianggapnya pamannya itu.

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berada di perjalanan menuju ke Gantar. Dengan nada rendah Jati Wulung bergumam seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Puguh tentu menjadi bingung. Kecurigaan orang-orang padepokan itu membuatnya kehilangan sikap terhadap kami. Sekali-sekali ia memperingatkan agar kami berhati-hati menghadapi gerombolan yang memasang tanda-tanda topeng kecil itu. Tetapi pada saat yang lain, ia justru mencurigai bahwa kami adalah bagian dari orang-orang yang membayangi padepokannya dengan pertanda-pertanda itu dan bahkan sikap yang keras dan kasar.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kecurigaan itu tentu tidak bersumber pada Puguh. Tentu saja orang-orang padepokan itu tidak akan menuduh kita berasal dari gerombolan yang membayangi padepokan itu, karena aku justru menganggap bahwa disamping padepokan yang kita lihat itu, tentu ada padepokan bayangan. Nah, padepokan bayangan itulah yang telah membentuk diri menjadi padepokan yang keras, kasar dan mencerminkan watak yang sebenarnya dari orang tua Puguh. Jadi gerombolan yang lain bukannya membayangi padepokan yang baru saja kita kunjungi, tetapi justru bayangannya yang jauh lebih gelap dan kelam.”

“Memang masuk akal,” jawab Jati Wulung, “dua padepokan dengan dua wajah yang berbeda, tetapi dibawah satu perintah. Tetapi mengenai Puguh sendiri, agaknya ia mulai berpikir tentang dirinya sendiri.”

“Ya,” sahut Sambi Wulung, “jika kita sempat berhubungan dengan anak muda itu lebih lama, maka kita akan dapat membuka pikirannya. Aku masih mempunyai kepercayaan kepadanya.”

“Kita tidak tahu, siapakah gurunya dan bagaimana sikapnya,” berkata Jati Wulung kemudian, “sikap dan pandangan seorang guru akan lebih berpengaruh terhadap seorang murid daripada sikap ayah dan ibunya sendiri jika anak itu bulat-bulat diserahkan kepada seorang guru di sebuah padepokan.”

“Tetapi pertanda topeng kecil itu adalah satu gambaran sikap padepokan bayangan dari padepokan Puguh itu,” berkata Sambi Wulung kemudian.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah merekapun belum dapat menemukan satu keyakinan yang bulat. Semuanya masih merupakan dugaan-dugaan meskipun mereka mempunyai alasan-alasan yang kuat.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung pun berkata, “Bagaimanapun juga peringatan Puguh agar kami berhati-hati itu merupakan peringatan yang benar-benar harus kita perhatikan. Tentu ia telah mendengar satu rencana yang akan diterapkan terhadap kita berdua.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Memang banyak hal yang dapat terjadi. Namun sambil melangkah terus ia berkata, “Apa salahnya untuk selalu berhati-hati.”

Sebagaimana saat mereka datang, maka mereka pun telah menempuh jalan kembali melalui Gantar. Jalan yang melewati tepi hutan yang lebat. Hutan yang masih dihuni segala macam binatang buas dan ular-ular raksasa yang berkeliaran.

Tetapi kedua orang yang mempunyai pengalaman yang luas itu sama sekali tidak gentar, sebagaimana orang-orang padepokan Puguh yang justru sering berburu binatang di hutan itu.

Tetapi keduanya pun sama sekali tidak mendapat gangguan dari binatang-binatang buas di hutan itu, sehingga akhirnya mereka pun telah menempuh jalan yang menjauhi hutan itu, memasuki padang perdu yang gersang.

Panas matahari yang mulai mencubit kulit mereka telah memanasi pula rerumputan di padang perdu itu. Daun-daun yang menua telah menjadi kuning dan kemudian berguguran di tanah.

Namun kedua orang itu berjalan terus. Meskipun keringat mulai membasahi tubuh mereka, tetapi mereka tidak merasa segan untuk melangkah terus.

Akhirnya, mereka pun mulai memasuki tanah persawahan yang digarap oleh orang-orang padukuhan kecil yang tersebar. Dari padukuhan yang satu sampai kepa-dukuhan berikutnya, mereka tidak lagi merasa terpanggang oleh panasnya matahari yang meskipun menjadi semakin tinggi. Beberapa batang pohon turi tumbuh berjajar di pinggir jalan. Meskipun daunnya tidak terlalu lebat, tetapi cukup rimbun untuk melindungi para pejalan kaki di tengah-tengah bulak itu.

Ketika mereka mendekati padukuhan induk Kademangan Gantar, Jati Wulung pun berkata, “Sampai disini kita tidak menemukan hambatan apapun juga.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita baru sampai ke Gantar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kita melewati Gantar ini.”

“Apakah mereka tahu, dari Gantar kita akan pergi kemana?” bertanya Jati Wulung.

“Mereka mempunyai seribu mata yang tersebar disekitar padepokan mereka dan mempunyai seribu telinga yang dipasang di pepohonan di pinggir-pinggir jalan,” jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Apapun yang akan mereka lakukan, asal saja kita berhati-hati. Bahkan mungkin mereka akan dapat berbuat sesuatu atas kita dengan cara yang sangat licik dan tidak kita duga sebelumnya.”

“Ya. Memang mungkin saja terjadi. Sedangkan kita tidak akan membiarkan diri kita diterkam oleh bencana apapun juga,” sahut Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab lagi. Perhatiannya mulai tertuju kepada Kademangan induk di hadapan mereka.

Demikian mereka memasuki padukuhan induk Kademangan Gantar, maka mereka bersepakat untuk singgah disebuah kedai. Bukan sekedar untuk melepas haus dan lapar. Tetapi mereka ingin mendengar pembicaraan orang dikedai itu tentang keadaan Kademangan mereka.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang berada di kedai itu tidak seorangpun yang mengeluh tentang peristiwa-peristiwa buruk yang pernah terjadi karena kelakuan orang-orang jahat. Bahkan rasa-rasanya padukuhan induk itu memang tenang dan tenteram.

Tetapi keduanya memang tidak dapat menganggap bahwa diri mereka telah terlepas dari kemungkinan buruk sebagaimana diperingatkan oleh Puguh.

“Seperti yang pernah kita bicarakan,” berkata Jati Wulung, “biasanya sekelompok penjahat tidak melakukan kejahatan atas tetangga sendiri.”

Di kedai itu mereka tidak mendapatkan keterangan apa-apa tentang hubungan antara Gantar dengan orang-orang di padukuhan yang dihuni oleh Puguh, maupun padepokan atau gerombolan lain yang telah memasang pertanda tertentu di tempat-tempat yang dianggap lingkungan mereka agar tidak disentuh oleh orang lain.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung itu-pun telah melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan padukuhan induk Gantar. Bahkan kemudian merekapun telah melintasi beberapa padukuhan lain di Kademangan Gantar.

Sambi Wulung dan Jati Wulung justru mulai membuat perhitungan tersendiri ketika mereka telah keluar dari Kademangan Gantar. Mereka mula memasuki bulak-bulak panjang diantara padukuhan-padukuhan yang tersebar. Sawah yang terbentang seakan-akan sampai ke cakrawala, menggapai kaki pegunungan.

“Rasa-rasanya tenaga para penghuni padukuhan itu tidak akan mampu mengerjakan sawah seluas ini,” berkata Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kerja keras dari para petani. Tetapi lihat, dibagian itu agaknya sawah dikerjakan tidak sebagaimana disisi yang lain.”

Jati Wulung menangguk-angguk. Ketika mereka melintasi daerah itu, maka mereka memang melihat, bahwa agaknya di kotak-kotak sawah itu, air agak lebih sulit didapat dari bagian yang lain, sehingga yang ditanam di bagian itu adalah padi dari jenis yang tidak terlalu banyak memerlukan air. Padi gaga.

“Sebentar lagi, daerah ini akan menjadi daerah pategalan. Lihat, beberapa macam pohon telah ditanam di pematang,” berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Diluar sadarnya iapun berhenti dan mengamati beberapa jenis pohon buah-buahan yang mulai tumbuh dengan subur.

Namun tiba-tiba saja kening Jati Wulung berkerut. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Karena itu, maka dengan nada rendah ia berdesis perlahan-lahan, “Apakah kau melihat sesuatu?”

“Ya. Bukankah benar seperti yang aku katakan. Mereka tahu ke arah mana kita akan pergi?“ justru Sambi Wulung lah yang kemudian bertanya, “berapa orang yang telah kau lihat?”

“Aku baru melihat seorang,” desis Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Kita berjalan terus. Mudah-mudahan sekedar prasangka kita saja. Jika orang itu adalah seorang petani yang sedang bekerja di sawah, maka kita telah bersalah. Agaknya jantung kitalah yang dipenuhi dengan kecurigaan.”

Jati Wulung pun mengangguk-angguk pula. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Mudah-mudahan. Tetapi seorang petani tidak akan langsung berusaha menghilang di balik tanaman di sawah melihat kehadiran kita.”

“Agaknya kita memang harus berhati-hati,” berkata Sambi Wulung.

Demikianlah maka kedua orang itu telah melanjutkan perjalanan mereka, melintasi bulak panjang yang sepi. Rasa-rasanya orang-orang yang mengerjakan sawah pun tidak kelihatan pula. Sementara itu tanaman padi yang tumbuh semakin besar agaknya sudah perlu disiangi.

Namun kedua orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat sebatang anak panah yang meluncur ke udara dari balik sebongkah batu padas.

Sambi Wulung dan Jati Wulung berpandangan sejenak. Sementara itu matahari telah mulai turun di belahan langit sebelah Barat. Dengan dahi yang berkerut Sambi Wulung berkata, “Nah, kita sudah harus melakukannya. Apaboleh buat. Kita tidak dapat sekedar bermain-main. Mungkin kita benar-benar harus membunuh dalam keadaan seperti ini.”

“Mereka tentu sudah memperhitungkan kemampuan kita,” berkata Jati Wulung.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Marilah, Kita berjalan terus.”

Keduanya pun berjalan terus. Seakan-akan mereka tidak menghiraukan anak panah yang terbang melintasi jalan yang mereka lalui.

Namun sejenak kemudian, maka beberapa orang pun telah berloncatan dari balik batang-batang padi pada jarak yang agak jauh dari jalan yang melintasi bulak panjang itu.

“Merekapun sangat berhati-hati,” berkata Sambi Wulung, “mereka mengikuti kita dari jarak yang sangat jauh.”

“Satu pertanda bahwa mereka memperhitungkan banyak kemungkinan. Agaknya Puguh telah menceriterakan apa yang terjadi di Song Lawa,” desis Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Justru karena mereka mengetahui tataran kemampuan mereka berdua, maka mereka agaknya telah bertindak sangat berhati-hati.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung berjalan terus tanpa menghadapi segala kemungkinan.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung sempat berbisik, “Tentu bukan rencana Puguh. Justru anak muda itu telah memberikan isyarat kepada kita untuk berhati-hati.”

Jati Wulung mengangguk sambil menjawab, “Ya. Bukan salah anak muda itu.”

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari, bahwa beberapa orang telah meniti pematang, mendahului perjalanan mereka. Beberapa orang diantara mereka telah meloncati parit dan kemudian berada di jalan yang dilalui oleh kedua orang itu.

“Nampaknya mereka tidak begitu cerdas berpikir,” berkata Jati Wulung.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Nampaknya orang itu berilmu tinggi. Tetapi otaknya memang agak tumpul. Yang lain tentu lebih dungu lagi meskipun mereka sudah terbiasa melakukan tindak kekerasan.”

Keduanya tidak berbicara lagi. Tetapi perhatian mereka tertuju kepada seorang diantara mereka yang mempergunakan topeng. Kedua orang itu langsung dapat mengenalinya meskipun wajahnya tidak kelihatan. Selain bentuk tubuhnya, juga karena orang itu justru memakai topeng, sementara yang lain tidak. Dengan demikian orang itu tentu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah dikenal oleh kedua orang yang dicegatnya.

Karena itu, demikian orang itu berdiri ditengah jalan dengan tangan bertolak pinggang, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berdesis hampir bersamaan, “Gagaklahan.”

Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun sempat menghitung orang-orang yang kemudian telah berloncatan pula dan berdiri disebelah menyebelah orang bertopeng itu.

“Enam orang,” berkata Jati Wulung.

“Jumlah yang berat,” berkata Sambi Wulung.

“Apaboleh buat,” jawab Jati Wulung.

Namun dalam pada itu, keduanya masih saja berjalan terus.

Keduanya baru berhenti ketika orang-orang itu mengangkat tangannya dan memberikan isyarat kepada keduanya untuk berhenti.

“Kenapa kau menghentikan perjalanan kami Ki Sanak?” bertanya Sambi Wulung.

“Kau telah berada didalam daerah kekuasaanku tanpa ijinku,” jawab orang bertopeng itu. Suaranya serak dan bergetar dibalik topengnya. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung mengerti, bahwa orang itu berusaha untuk tidak dikenali.

Orang itu menjadi heran, bahwa kedua orang yang dihentikan itu perhatiannya justru pada topengnya. Jati Wulung sambil tersenyum bertanya, “Kenapa kau memakai topeng, sementara kawan-kawanmu tidak?”

Orang itu memang agak menjadi bingung untuk menjawab. Namun kemudian katanya, “Tidak semua orang boleh mengenal wajahku yang sebenarnya. Hanya orang-orang penting sajalah yang pantas untuk melihat wajahku.”

“Apakah wajahmu cacat?” bertanya Jati Wulung pula, “bibirmu sumbing misalnya. Atau matamu buta sebelah atau hidungmu gerumpung.”

“Cukup,” orang itu berteriak, “kami datang untuk membunuhmu.”

Sambi Wulung justru tertawa. Katanya, “Jika kau marah, maka kau telah lupa merubah suaramu. Apalagi saat suaramu melengking, meskipun dibalik topengmu.”

Telinga orang itu bagaikan disentuh api. Sementara Jati Wulung justru bertanya, “Siapakah kau sebenarnya Ki Sanak? Apakah kau yang bernama Gagaklahan?”

“Anak iblis,” orang itu mengumpat, “tidak ada hubungannya dengan Gagaklahan.”

“Bukalah topengmu. Tidak ada gunanya dihadapan kami,” berkata Sambi Wulung, “pengenalan kami atas seseorang cukup tajam, sehingga tidak sekedar terbatas pada wajah seseorang. Kami mengenali bentuk tubuhmu. Caramu melangkah, suaramu yang meskipun kau samarkan dan banyak hal lagi yang dapat kami kenali. Karena itu topeng itu tidak ada artinya sama sekali. Barangkali hanya akan mengganggu pandanganmu saja, karena dengan topeng itu, kau tidak dapat melihat bebas sebagaimana jika kau tidak memakainya.”

Terdengar orang itu mengumpat. Namun ia benar-benar telah membuka topengnya. Sebenarnyalah bahwa orang itu adalah Gagaklahan.

“Ki Sanak,” berkata Sambi Wulung kemudian, “kau membuat kami menjadi heran. Apa pula salah kami, sehingga kau membawa beberapa orang kawanmu menghentikan perjalanan kami? Jika kau menganggap kami mengganggumu di padepokanmu, maka kami sudah dengan tergesa-gesa pergi.”

“Ki Sanak,” berkata Gagaklahan, “sayang skali bahwa kami harus mengambil langkah pengamanan. Kehadiran kalian berdua di padepokan kami sangat mencurigakan. Kalian bukan orang-orang kebanyakan yang tidak mempunyai penilaian tertentu terhadap padepokan kami. Tetapi justru karena kalian memiliki ketajaman pengamatan, maka kau bukan orang yang pantas untuk mengunjungi padepokan kami.”

“Bukankah kami datang ke padepokanmu untuk mengantarkan Puguh yang mengalami kesulitan di Song Lawa dan juga di perjalanan kembali?” jawab Sambi Wulung. Lalu, “Bukankah sepantasnya kalian justru berterima kasih kepada kami?”

“Kau sangka kami tidak tahu, bahwa yang kalian lakukan tidak lebih dari sikap pura-pura? Kau antar Puguh sampai ke padepokannya. Tetapi yang penting bagi kalian bukan keselamatan Puguh, tetapi dengan demikian kalian akan dapat melihat-lihat isi padepokanku,” berkata Gagaklahan.

“Buat apa aku mengintai isi padepokanmu? Aku tidak mempunyai kepentingan sama sekali. Kau kira kami ini siapa? Kami adalah dua orang pengembara yang menjelajahi tempat-tempat diatas tanah ini. Kami memasuki lingkungan perjudian yang satu dan lingkungan perjudian yang lain. Gersik, Bergota, Pajang, Song Lawa dan tempat-tempat lain. Bahkan kami telah sampai ke tempat perjudian yang tersembunyi di sebelah Selatan Ceribon dan Kedung Pring di Wanasaba,” berkata Sambi Wulung pula.

“Apapun yang kau katakan tidak akan dapat menyelamatkan umurmu. Marilah, ikuti kami. Kita akan memilih tempat yang baik bagi saat-saat terakhir kalian,” berkata Gagaklahan.

“Maksudmu?” bertanya Sambi Wulung.

“Kami dapat membunuh kalian dengan seribu macam cara,” berkata Gagaklahan, “jika kau menurut cara yang kami tawarkan, maka kematian kalian akan berjalan rancak dan baik. Tetapi jika kalian menolak, kami akan memilih cara yang jauh lebih buruk. Mungkin kalian akan bertahan sampai empat lima hari sebelum kalian benar-benar mati.”

“Itu mengerikan sekali,” sahut Jati Wulung, “ternyata bahwa kau adalah iblis yang paling garang. Kami menyangka bahwa kau benar-benar seorang yang ramah sebagaimana kau menerima kedatangan kami di padepokanmu.”

“Sudahlah,” berkata Gagaklahan, “nasib seseorang kadang-kadang memang tidak dapat dilihat sebelumnya. Sekarang bersiaplah untuk mati.”

“Kau akan menusuk jantung kami?” bertanya Jati Wulung.

“Tetapi tidak disini. Marilah, lebih baik kita pergi ke kuburan. Kau akan memperingan pekerjaan kami. Tetapi kau pun akan mengurangi kengerian disaat-saat matimu,” berkata Gagaklahan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Yang menjawab kemudian adalah Sambi Wulung. “Baiklah. Barangkali kami harus bijaksana disaat terakhir ini. Jumlah kalian terlalu banyak bagi kami.”

“Bagus,” berkata Gagaklahan,” berjalanlah.”

“Kemana?” bertanya Sambi Wulung.

“Ikuti jalan ini. Kami akan memberikan aba-aba.” jawab Gagaklahan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak membantah. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala. Sementara beberapa orang mengikutinya dibelakang.

Ketika mereka sampai disimpang empat, maka Gagaklahan telah memberikan aba-aba untuk berbelok kekiri. Kemudian beberapa ratus patok mereka berbelok lagi ke kanan dan masih sekali lagi ke kiri.

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung memandang lurus kedepan, maka mereka menyadari, bahwa jalan itu adalah jalan yang menuju ke sebuah bukit kecil di tengah-tengah bulak yang luas. Diatas bukit kecil itu terdapat sebuah kuburan tua yang sudah tidak dipergunakan lagi kecuali membiarkan kuburan itu sebagaimana adanya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka telah memperhatikan beberapa pohon semboja yang sudah menjadi tua pula dan berdaun rimbun dengan cabang-cabangnya yang besar-besar serta bunganya yang semerbak dengan baunya yang khusus. Sementara ditengah-tengah kuburan lebih besar lagi adalah sebatang pohon cangkring yang beberapa dahan dan rantingnya telah menjadi lapuk.

“Pandanglah kedepan,” berkata Gagaklahan, “kalian akan mendapat tempat beristirahat yang tenang dan tidak akan terganggu lagi.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menjawab. Namun ketika mereka sampai di regol kuburan yang telah rusak itu, maka langkah merekapun terhenti.

“Kita akan masuk kedalam,” berkata Gagaklahan, “didalam kuburan itu sudah terdapat beberapa macam alat untuk menggali kubur. Nah, tugas kalian adalah menggali kubur kalian masing-masing. Kemudian berbaring didalamnya. Kami akan menusuk kalian tepat di jantung.”

“Apakah kalian mempunyai cara yang lain?” bertanya Sambi Wulung.

“Sudah aku katakan, bahwa kami mempunyai seribu cara. Kami dapat mengikat kalian pada batang pohon cangkring raksasa itu. Kalian harus tahu, bahwa pada batangnya yang besar itu terdapat sarang semut merah. Semut itu adalah semut yang sangat rakus. Namun semut-semut itu tentu akan dapat membunuh kalian sekaligus. Semut itu akan makan bagian-bagian tubuh kalian yang lunak,” berkata Gagaklahan.

“Mengerikan sekali,” desis Jati Wulung, “cara itu hanya dilakukan oleh iblis-iblis yang bengis.”

“Kami memang termasuk iblis yang kau maksud,” berkata Gagaklahan sambil tertawa.

Jati Wulung menggeretakkan giginya, sementara Gagaklahanpun berkata, “Karena itu, maka aku telah menyediakan cara yang paling baik buat kalian karena kalian tidak melawan. Berbaring di lubang kubur dan satu tusukan yang akan menembus jantung. Kalian akan mati sambil tersenyum disaat terakhir serta mengucapkan terima kasih untuk yang penghabisan.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian memandangi keadaan disekitarnya. Memang menyeramkan. Meskipun disiang hari, namun tempat itu telah dilindungi oleh bayangan dedaunan yang pepat oleh pohon-pohon yang besar serta pohon-pohon semboja yang tua, sehingga rasa-rasanya sinar matahari tidak dapat menggapai tanah pekuburan yang lembab berlumut.

“Nah, kalian sempat memilih tempat,” berkata Gagaklahan, “sebaiknya kalian menggali lubang kubur sebelah menyebelah. Mungkin didalam kubur kalian sempat berbincang.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih memandang berkeliling. Namun kemudian Sambi Wulungpun berkata, “Maaf Ki Sanak. Tidak ada tempat yang menarik bagiku disini. Apakah tidak ada tempat lain yang lebih baik? Yang tidak terlindung bayangan rimbunnya dedaunan sehingga nampak gelap dan menyeramkan.”

“Tidak ada tempat lain,” jawab Gagaklahan. Lalu, “Cepatlah. Jangan menunggu kami berubah pikiran. Jika kami merubah keputusan kami dan menentukan cara kematian kalian yang lain, maka kalian akan menyesal.”

“Tetapi dengan apa kami harus menggali kubur kami?” bertanya Jati Wulung.

Gagaklahan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada salah seorang pengikutnya, “Ambil cangkul itu.”

Dua orang diantara keenam orang yang menyertainya itu telah menyusup kebawah pohon benda yang berdaun lebat. Mereka telah mengambil dua buah cangkul dari dalam semak-semak dan membawanya kepada Gagaklahan.

“Berikan kepada mereka,” berkata Gagaklahan.

Kedua orang itupun telah menyerahkan cangkulnya kepada Sambi Wulung dan kepada Jati Wulung.

“Nah, sekarang lakukan. Jangan berbuat yang aneh-aneh, sehingga dapat merubah keputusanku yang terlalu baik bagi kalian,” geram Gagaklahan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun berpandangan sejenak. Namun kemudian Sambi Wulungpun berkata, “Bagaimana jika kalian saja yang menggali kubur ini? Mungkin lebih baik kalian sajalah yang mati lebih dahulu daripada aku.”

Enam orang pengikut Gagaklahan itu terkejut. Namun Gagaklahan hanya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada orang-orangnya, “Kepung mereka. Jangan beri kesempatan lolos. Agaknya mereka memang lebih suka menjadi makanan semut merah. Pada batang pohon cangkring itu terdapat semut merah yang tidak terhitung jumlahnya, yang akan dapat menghabiskan kedua orang itu meskipun sedikit demi sedikit.”

Keenam orang itu pun segera berloncatan diantara gundukan-gundukan tanah kuburan dan batu-batu nisan tua yang sudah tidak terawat.

Mereka menjadi semakin heran melihat Jati Wulung itu tertawa. Katanya, “Kau telah berbaik hati Ki Sanak. Jika kami berdua membunuh kalian di tengah-tengah bulak, maka kami akan mengalami kesulitan untuk menguburmu. Tetapi disini kami tidak usah menggotong tujuh sosok mayat dari tengah bulak itu.”

“Persetan,” geram Gagak lahan, ”jadi kalian akan melawan?”

“Kau kira aku akan menyerahkan leherku atau barangkali jantungku?” bertanya Jati Wulung.

Gagaklahan memang nampak menegang. Tetapi ia-pun berkata, “Aku memang sudah mengira, bahwa kalian tidak akan begitu mudah menyerah. Karena itu, kamipun tidak dengan serta merta merasa diri kami menang. Menang dengan cara seperti ini sama sekali tidak memberikan kepuasan kepadaku. Kami lebih senang membunuh kalian dengan mengerahkan kemampuan. Hasil yang dapat kami capai akan terasa lebih nikmat. Sebagaimana kami membunuh kalian dengan semut merah akan memberikan kepuasan lebih besar daripada membunuh kalian dengan menusuk dijantung.”

“Nah,” berkata Sambi Wulung, “aku kira, kita sudah terlalu lama bermain-main. Sekarang, marilah. Siapa yang akan mati.” Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnya kami tidak ingin membunuh siapapun. kami telah menolong Puguh. Sekarang, kau yang disebut pamannya, justru ingin membunuh kami. Dengan demikian, maka kami akan dengan sangat terpaksa membela diri. Salah satu cara untuk menyelamatkan diri sendiri adalah dengan membunuh lawan, meskipun tidak dengan cara memberikan kepada semut merah.”

“Cukup,” bentak Gagaklahan yang kemudian memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, “tangkap keduanya. Jika mungkin hidup-hidup. Kita akan menyaksikan, bagaimana mereka akan mati dikoyak-koyak oleh semut-semut merah yang gigitannya sepanas api.”

Keenam orang itu pun mulai bergerak. Sambi Wulung ternyata sempat berdesis, “Kita harus benar-benar berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta mempergunakan senjata-senjata mereka. Agaknya mereka memang orang-orang berilmu.”

“Baiklah. Agaknya kita memang tidak mempunyai pilihan lain,” sahut Jati Wulung.

Demikianlah maka kedua belah pihak pun telah bersiap. Menurut perhitungan jumlah orang, maka Sambi Wulung atau Jati Wulung harus melawan empat orang, sedangkan lainnya melawan tiga orang.

Tetapi agaknya Gagaklahan tidak segera turun ke arena. Ia masih saja berdiri ditempatnya ketika keenam orang pengikutnya mulai bergerak. Agaknya ia terlalu yakin bahwa para pengikutnya akan dapat menyelesaikan tugasnya.

“Kalian tidak perlu berbelas kasihan,” berkata Gagaklahan keduanya harus mati, agar kesan yang didapat atas padepokan kami terhapus bersama kematian mereka. Karena mereka telah melawan, maka kalian berhak menentukan cara yang kalian anggap baik untuk membunuhnya. Karena itu, usahakan untuk menangkap mereka hidup-hidup. Kita akan kecewa jika mereka cepat mati.”

“Kau benar-benar iblis,” geram Jati Wulung,” jangan kau kira dengan demikian kau dapat menakut-nakuti kami. Tetapi justru telah membakar kegarangan hati kami. Jangan kau sangka bahwa kami berdua adalah orang baik-baik yang tidak dapat berbuat kasar. Jika plataran permainan kami adalah tempat-tempat perjudian, maka kalian dapat membayangkan cara hidup kami serta sumber bekal kami.”

Gagaklahan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia telah berteriak keras-keras, “Bunuh mereka. Cepat.”

Keenam orang itu pun mulai berloncatan. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung yang menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu telah-bersiap sepenuhnya. Karena itu, maka mereka pun dengan cepat bergeser pula menghindarinya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit antara Sambi Wulung dan Jati Wulung, masing-masing melawan tiga orang. Sementara Gagaklahan sendiri menyaksikan pertempuran itu dengan tegang.

Seperti dugaan Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa keenam orang itu bukannya orang yang tidak berilmu. Apalagi mereka agaknya mempunyai pengalaman yang luas dalam dunia olah kanuragan, sehingga dengan demikian, maka baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung benar-benar harus berhati-hati melawan mereka.

Seperti badai mereka menyerang Sambi Wulung dan Jati Wulung. Berurutan, susul menyusul tidak henti-hentinya. Bahkan kadang-kadang dua tiga orang itu telah bersama-sama datang menyerang.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memiliki kecepatan gerak yang tinggi. Dengan tangkasnya mereka menghindari setiap serangan. Berloncatan diantara gundukan tanah dan batu-batu nisan. Bahkan menyusup dibawah dahan dan ranting-ranting pohon semboja yang menjadi besar dan nampak tua. Kayunya berwarna keputih-putihan dengan noda-noda yang berwarna coklat tua.

Benturan-benturan kekuatan mulai terjadi. Namun dengan demikian maka keenam orang pengikut Gagaklahan itupun mengetahui, betapa besarnya kekuatan kedua orang yang menamakan diri Wanengbaya dan Wanengpati itu.

Beberapa saat kemudian, ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung justru telah mengambil jarak. Sambi Wulung telah bergeser kebawah pohon benda yang berdaun rimbun. Sedangkan Jati Wulung telah bertempur dekat dengan pokok batang cangkring raksasa. Duri-duri pada batang dan dahan-dahannya yang besarpun nampak garang meskipun menjadi tidak terlalu runcing.

Gagaklahan pun telah bergeser pula. Ia tidak mau berdiri terlalu jauh dari arena pertempuran yang menjadi semakin sengit itu.

Ternyata bahwa pekerjaan Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi semakin berat. Ketiga orang yang harus mereka hadapi masing-masing itu semakin meningkatkan kemampuan mereka. Mereka berloncatan dengan tangkasnya, sementara tangan dan kaki mereka menyambar-nyambar.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memanfaatkan tempat yang ada. Ternyata bahwa ketiga orang yang harus mereka lawan masing-masing itu tata geraknya memang terhambat oleh batu-batu nisan tua yang sudah tidak terawat. Bahkan sekali-sekali dalam keadaan yang tergesa-gesa, kaki mereka justru telah terantuk batu-batu nisan itu.

Gagaklahan memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh. Namun sekali-sekali iapun telah mengumpat. Ternyata bahwa tiga orangnya tidak segera dapat mengatasi hanya seorang saja diantara lawan-lawan mereka.

Tetapi Gagaklahan cukup yakin akan kemampuan keenam orang itu. Orang yang telah dipercaya untuk melakukan tugas-tugas yang berat dan berbahaya.

Tetapi berhadapan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung keenam orang itu memang mengalami kesulitan. Kedua orang itu seakan-akan mampu, bergerak mengatasi penglihatan matanya, sehingga keduanya kadang-kadang merasa seakan-akan telah kehilangan lawannya itu. Namun yang tiba-tiba saja telah muncul dibelakang mereka.

Keenam orang itu memang harus mengakui betapa tinggi ilmu lawan mereka. Tetapi seperti Gagaklahan, mereka yakin bahwa bertiga, mereka tentu akan dapat membunuh lawannya. Bahkan menangkap mereka hidup-hidup dan menghukumnya seperti yang dikehendaki Gagaklahan.

Namun benturan-benturan yang kemudian terjadi, ternyata memberikan isyarat lain kepada keenam orang itu. Ketika salah seorang lawan Sambi Wulung sempat meloncat dan menjulurkan kakinya dengan sepenuh tenaga, maka Sambi Wulung yang tidak sempat mengelak telah menangkis serangan itu. Sambil memiringkan tubuhnya dan sedikit merendah, ia melindungi tubuhnya dengan sikunya.

Dalam benturan itu, ternyata lawan Sambi Wulung telah menyeringai menahan sakit. “Bukan saja kakinya yang membentur siku Sambi Wulung, tetapi juga karena ia pun kemudian telah terdorong surut. Namun malang baginya, karena kakinya terantuk batu nisan, sehingga ia pun telah terjatuh menimpa batu nisan itu.

Batu nisan itu memang sudah tua. Karena itu, maka batu nisan itu pun telah terguling pula.

Orang itu pun kemudian telah mengumpat-umpat di sela-sela desah kesakitan. Kakinya yang kesakitan karena membentur siku Sambi Wulung justru telah terluka pula karena terantuk batu nisan yang kemudian terguling itu. Bahkan darah mulai mengembun dari luka yang dangkal tetapi terasa pedih itu. Apalagi ketika luka itu menjadi basah karena keringatnya sendiri.

Namun sambil menggeram orang itu pun segera bangkit. Dengan menggeretakkan giginya ia dapat mengatasi perasaan sakit itu. Sehingga sejenak kemudian, maka ia pun telah meloncat memasuki arena pertempuran kembali.

Tetapi demikian ia mulai menyerang, maka seorang kawannya justru telah terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perutnya. Sambi Wulung yang berputar satu lingkaran dan bertumpu dengan sebelah kakinya, telah menyambar perut orang itu dengan tumit kakinya yang lain.

Orang itu pun telah bergeser surut. Perutnya menjadi mual. Rasa-rasanya isinya akan tumpah keluar.

Tetapi Sambi Wulung tidak dapat memburunya, karena orang yang terjatuh menimpa batu nisan itu telah memasuki arena pula dengan garangnya. Bahkan teriakannya bagaikan meruntuhkan dahan-dahan pohon benda yang rimbun itu.

Sementara itu dibawah pohon cangkring, Jati Wulung pun bertempur dengan sengitnya. Tidak banyak batu nisan yang bertebaran dibawah batang cangkring itu. Karena itu, maka baik Jati Wulung, tetapi juga lawan-lawannya menjadi lebih leluasa bergerak. Mereka berloncatan untuk saling menyerang dan menghindar.

Namun ternyata Jati Wulung nampak lebih keras daripada Sambi Wulung menghadapi orang-orang yang kasar itu. Semakin kasar ketiga orang yang bertempur melawannya, maka Jati Wulung pun menjadi semakin keras pula.

Dengan garangnya Jati Wulung berloncatan menyerang ketiga orang lawannya berganti-ganti. Semakin lama menjadi semakin cepat. Ketika dua orang lawannya menyerangnya bersama-sama dari dua arah yang berbeda, maka Jati Wulung sempat meloncat menghindar namun justru telah menyerang orang yang ketiga. Demikian tiba-tiba sehingga orang itu justru terkejut karenanya.

Namun orang ketiga itu masih juga berusaha menangkis serangan Jati Wulung. Tetapi sambil menggeliat, Jati Wulung telah mengurungkan serangan kakinya. Tetapi tangannyalah yang kemudian terayun mendatar. Sehingga dengan punggung tangannya yang mengepal, maka ia telah menghantam tengkuk orang itu.

Orang itu terdorong beberapa langkah. Betapapun ia berusaha tetapi ia telah kehilangan keseimbangannya, sehingga ia pun kemudian telah jatuh terjerembab. Untunglah bahwa dahinya tidak membentur batu nisan yang sejengkal terbujur dihadapannya. Namun demikian, wajahnya bagaikan dilumuri dengan debu tanah pekuburan tua.

Orang itu pun kemudian bangkit sambil membersihkan wajahnya dengan lengan bajunya. Dengan kasar ia pun telah mengumpat-umpat.

“Aku bunuh kau orang gila,” teriaknya.

Dengan garang orang itu pun kemudian telah meloncat memasuki arena kembali. Namun bagaimanapun juga, orang-orang yang melawan Sambi Wulung dan Jati Wulung itu semakin lama harus mengakui bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi. Bahkan semakin lama tangan Sambi Wulung dan Jati Wulung itu rasa-rasanya menjadi semakin bergerak, berputaran dan terayun kesegala arah.

Satu-satu Sambi Wulung dan Jati Wulung menyentuh tubuh lawannya semakin sering. Setiap serangan yang mengenai tubuh lawannya terasa bagaikan meremukkan tulang. Karena itu, semakin sering serangan kedua orang itu mengenai lawannya, maka tubuh lawan-lawan mereka-pun serasa menjadi semakin sakit.

Bahkan seorang diantara lawan Sambi Wulung rasa-rasanya tidak lagi dapat mendekati lawannya karena lambungnya yang sakit. Bahkan sebelah matanya bagaikan tertutup oleh noda yang kebiruan karena pukulan Sambi Wulung di wajahnya. Sehingga orang itu merasa tidak lagi dapat bergerak dengan cepat mengimbangi pertempuran yang semakin seru itu.

Dalam pada itu Gagaklahan menjadi cemas. Semula ia memang yakin bahwa dalam waktu singkat, keenam orangnya itu akan dapat menyelesaikan dua orang betapapun orang itu berilmu tinggi. Tetapi semakin lama pertempuran itu berlangsung, maka ia pun menjadi semakin ragu.

Orang yang matanya mulai membengkak itu, tidak mau membiarkan keadaan menjadi semakin parah. Karena itu, betapapun ia harus mempertimbangkan harga diri, namun akhirnya iapun telah menarik senjatanya. Sebilah pedang yang tajam berkilat-kilat.

Sambi Wulung meloncat dua langkah surut, sehingga iapuh berdiri hampir bersandar pada batang pohon benda yang besar itu.

Orang yang matanya membengkak dan lambungnya terasa sakit sekali itu maju perlahan-lahan. Sambil mengacukan pedangnya ia berkata, “Sebenarnya aku ingin menangkap kau hidup-hidup. Tetapi kami tidak dapat menolak kenyataan, bahwa kau mampu bergerak demikian cepatnya. Namun itu bukan pertanda bahwa kau akan dapat keluar dari kuburan ini.”

Sambi Wulung tidak segera menjawab. Ia memalingkan wajahnya memandang kepada kedua orang lawannya yang lain. Namun karena salah seorang diantara mereka telah menarik senjatanya, maka yang dua orang itu pun telah menggenggam senjatanya pula di tangan.

Ketiga orang lawan Sambi Wulung masing-masing telah memegang pedang. Meskipun bentuknya berbeda, namun agaknya ketiganya memiliki ilmu pedang yang baik. Bahkan seorang diantara mereka telah memegang pedang di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya tergenggam sebuah pisau belati yang agak panjang.

Ketika ketiga orang itu mulai menggerakkan senjata mereka, maka nampaknya ilmu pedang mereka memang meyakinkan.

Karena itu, maka Sambi Wulung tidak mau membiarkan dirinya dikoyak-koyak oleh ujung-ujung pedang yang runcing tajam itu.

Demikian lawan-lawannya menjadi semakin dekat, maka Sambi Wulung pun telah menarik pedangnya pula.

Pedangnya memang bukan pedang pilihan dan mempunyai kekuatan khusus. Tetapi ilmu pedang Sambi Wulung lah yang memiliki kelebihan dari orang lain.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang lawan Sambi Wulung itu telah menjulurkan pedang mereka masing-masing. Namun dalam pada itu Gagaklahan masih berteriak, ”jangan biarkan orang itu cepat mati. Kau ingin tahu, seberapa tinggi daya tahannya menghadapi tekanan pada tubuhnya. Biarlah ia mati perlahan-lahan, sehingga untuk beberapa hari kita akan mempunyai tugas menengoknya kemari.”

“Kalian benar-benar iblis yang tidak pantas diberi kesempatan untuk tetap hidup,” geram Sambi Wulung yang benar-benar merasa muak dengan sikap orang-orang itu.

Sejenak kemudian, maka seorang diantara lawan-lawannya telah mulai menjulurkan pedangnya untuk menyerang. Sambi Wulung tidak kenangkis serangan itu. Tetapi ia bergeser melangkah surut.

Namun kemudian serangan yang himpun telah menyusul. Semakin lama semakin deras mengalir tanpa henti-hentinya.

Sambi Wulung pun mulai memperlihatkan pula ilmu pedangnya. Dengan cepat pedangnya berputar, terayun mendatar, menyambar dengan derasnya untuk kemudian mematuk ke arah jantung.

Gagaklahan yang menyaksikan pertempuran itu memang agak terkejut. Ternyata Sambi Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi.

Sementara itu, orang-orang yang bertempur melawan Jati Wulung pun telah melakukan hal yang sama. Mereka pun telah bersenjata pula. Seperti kawan-kawannya yang bertempur melawan Sambi Wulung, maka mereka pun bersenjata pedang meskipun bentuknya juga berbeda-beda. Bahkan seorang diantaranya mempergunakan pedang yang pendek, tetapi tangkainyalah yang agak lebih panjang dengan tangkai pedang kebanyakan.

Dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin berbahaya, karena mereka telah bersenjata di tangan. Bahkan Jati Wulung sempat memperingatkan, “Dengan senjata di tangan, maka nyawa kalian akan semakin cepat terpisah dari tubuh kalian.”

“Omong kosong,” geram salah seorang lawannya, “apakah kau sudah mulai ketakutan melihat gemerlapnya daun pedang?”

“Aku juga mempunyai pedang,” sahut Jati Wulung.

Lawannya tidak sempat menyahut. Jati Wulung telah meloncat menyerang. Pedangnya berputaran dengan cepatnya. Kemudian menyambar-nyambar seperti burung sikatan. Ujungnya seakan-akan mengiang diujung telinga. Seperti seekor lalat yang berterbangan untuk hinggap.

Dengan demikian maka pertempuran menjadi semakin lama semakin sengit. Dentang senjata menjadi semakin sering terdengar disertai kilatan bunga api yang meloncat dari benturan.

Gagaklahan pun menjadi semakin tegang pula melihat pertempuran yang nampaknya tidak berkesudahan itu. Bahkan dengan pedang di tangan Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi semakin garang.

Jantung Gagaklahan bagaikan disengat api ketika ia melihat salah seorang diantara para pengikutnya yang terlempar beberapa langkah surut. Ternyata bahwa Sambi Wulung telah berhasil melukai orang itu. Segores luka telah mengoyak dadanya memanjang dari bahu sampai ke bahu meskipun tidak begitu dalam. Namun dari luka itu ternyata telah mengalir darah.

Untuk beberapa saat lamanya Gagaklahan masih berdiri bagaikan membeku betapapun jantungnya gelisah. Ia masih memaksa diri untuk mempercayai bahwa orang-orangnya akan dapat menyelesaikan kedua orang itu.

Tetapi ternyata bahwa yang terjadi bukannya seperti yang diharapkan. Ternyata bahwa orang-orangnya justru semakin terdesak. Ujung pedang Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berhasil menyentuh kulit lawan-lawannya. Segores demi segores, keduanya telah melukai lawannya sehingga darah telah mengalir dibeberapa tempat yang menganga.

Karena itu, maka pertempuran pun menjadi semakin longgar bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung. Karena kemampuan ilmu pedangnya maka lawan-lawannya tidak berani menjadi terlalu dekat tanpa perhitungan yang meyakinkan.

Karena itulah, maka akhirnya Gagaklahan tidak dapat mempercayakan kedua orang itu hanya kepada para pengikutnya. Ketika ia melihat seorang lagi diantara mereka terluka dilengannya, meskipun hanya segores kecil tetapi cukup dalam, maka ia pun menggeram sambil berkata, “Akhirnya aku sendiri yang terpaksa membunuh mereka.”

Ketika Gagaklahan mulai bergerak, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menyadari, bahwa orang itu tentu akan ikut pula dalam pertempuran dengan membenturkan ilmu pedangnya. Sementara itu keduanya pun menyadari, bahwa Gagaklahan tentu memiliki kelebihan dari keenam orang pengikutnya.

Karena itu, ketika Gagaklahan kemudian bergerak mendekati Sambi Wulung, maka Sambi Wulung pun telah bertindak cepat. Ia harus mengurangi lawannya yang lain untuk dapat memusatkan perhatiannya kepada Gagaklahan. Ia masih berniat untuk bertempur tanpa puncak-puncak kemampuannya jika ia tidak dipaksa oleh keadaan yang memang sangat gawat.

Dalam waktu yang sempit itu, Sambi Wulung harus bergerak cepat, sementara itu, ketiga lawannya yang melihat Gagaklahan akan hadir, justru menjadi semakin garang.

Pada hentakkan-hentakkan terakhir, justru senjata salah seorang lawannya telah menyentuh bahu Sambi Wulung. Selangkah Sambi Wulung meloncat surut ketika perasaan sakit itu menyengatnya. Namun dengan demikian, maka Sambi Wulungpun menjadi sangat marah karenanya.

Karena itu, maka ia pun telah menghentakkan kemampuan ilmu pedangnya. Satu kekuatan yang sangat besar seakan-akan telah mengalir ke tangannya yang menggenggam pedang, sehingga karena itu, maka pedangnya tidak saja menjadi semakin cepat bergerak, tetapi dengan dorongan kekuatan yang berlipat.

Dengan loncatan dan hentakkan yang mengejut, maka pedangnya telah menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Gagaklahan dapat membaca perhitungan Sambi Wulung yang akan mengurangi jumlah lawannya sebelum Gagaklahan turun ke arena. Karena itu, maka Gagaklahan pun telah meloncat dengan langkah-langkah panjang, diantara batu-batu nisan tua.

Tetapi justru karena itu, maka Sambi Wulung pun telah menghentak pula pada saat-saat terakhir. Demikian Gagaklahan mencapai arena pertempuran dibawah pohon benda itu, maka dua orang pengikutnya telah terlempar dengan derasnya. Seorang diantaranya terbanting jatuh. Kepalanya membentur sebuah batu nisan, sehingga untuk seterusnya tidak bangkit lagi. Sedangkan seorang lagi terdorong beberapa langkah. Ia tidak dengan serta merta terbanting jatuh. Beberapa saat ia berusaha untuk tetap bertahan. Tetapi iapun kemudian terhuyung-huyung dan kehilangan keseimbangannya. Luka diperutnya telah menganga. Darah mengalir seperti diperas dari tubuhnya. Sehingga akhirnya, maka ia pun telah jatuh diatas lututnya dan kemudian terbaring ditanah. Nafasnya satu-satu masih sempat mengalir ketika Gagaklahan berteriak, “bertahanlah. Aku akan membalas kematianmu. Jangan mati sebelum kau sempat melihat mayatnya terbujur disisimu.”

Tetapi ternyata itu merupakan satu kesalahan lagi bagi Gagaklahan. Justru pada saat ia berteriak kepada orangnya yang sudah hampir kehilangan nyawanya itu, ia mendengar seorang lagi diantara pengikutnya itu mengaduh tertahan. Seorang yang tersisa dari lawan Sambi Wulung itu telah meloncat menjauh. Luka yang dalam telah menganga di pundaknya.

“Setan kau,” geram Gagaklahan. “Kau bunuh orang-orangku seperti membunuh itik.”

“Orang-orangmu memang tidak lebih dari itik-itik rawa yang tidak berarti. Kau sendiri barangkali tidak lebih dari induk itik itu pula,” jawab Sambi Wulung.

Gagaklahan mengumpat kasar. Iapun kemudian maju selangkah sambil mengacukan pedangnya yang panjang dan ramping. Namun agaknya terbuat dari besi baja pilihan.

Ternyata bahwa kawannya yang seorang, yang terluka dipundaknya masih berusaha untuk ikut pula dalam pertempuran itu. Dilepaskannya ikat kepalanya untuk menahan arus darah yang keluar dari lukanya.

“Marilah,” berkata Sambi Wulung kemudian, “luka di tubuhku memang harus kalian bayar dengan sangat mahal. Selebihnya, menurut pendapatku, orang-orang seperti kalian ini tidak sepantasnya tinggal hidup diantara orang lain. Kalian ternyata dapat berbuat jauh lebih kejam dari orang-orang yang disebut orang jahat yang pernah kau kenal. Bahkan orang jahat seperti aku dan saudaraku itu.”

Gagaklahan tidak segera menjawab. Ia bergeser selangkah kesamping, sementara kawannya yang sudah terluka itu mengambil arah yang berbeda.

“Kaulah yang akan mati disini,” berkata Sambi Wulung pula, “untuk selanjutnya kau telah memaksa aku untuk kembali ke padepokanmu. Aku harus membunuh orang-orang yang tersisa, termasuk keuntungan aku dapatkan, bahwa aku ternyata menjumpai sebuah padepokan yang isinya harus ditumpas habis.”

“Kau boleh mengigau apa saja,” berkata Gagaklahan, “karena kau belum mengenal Gagaklahan. Jika kau mulai menyentuh pedangku dengan ujung senjatamu, maka kau akan berkata lain.”

“Kau kira aku akan berkata apa lagi? Dua orangmu telah mati. Yang seorang itu sebentar lagi juga akan mati,” jawab Sambi Wulung.

“Pedangmu adalah pedang yang dibuat oleh pande besi di pinggir pasar. Sedangkan senjataku adalah hasil buatan seorang Empu yang namanya telah kawentar. Selain jenis senjata yang ada pada kami masing-masing, maka kemampuanmu bermain pedang pun belum memadai menandingi aku,” geram Gagaklahan.

“Satu cara yang sudah tidak pantas lagi dipergunakan sekarang ini. Menakut-nakuti dengan kata-kata yang mengerikan serta melemahkan lawan secara jiwani. Mungkin pencuri-pencuri ayam akan ketakutan mendengar ancaman seperti itu. Tetapi aku adalah perampok dan pembunuh ditempat-tempat perjudian yang besar di seluruh tanah ini. Karena itu, kami berdua akan sanggup menumpas seisi padepokan itu termasuk Puguh dan kedua orang tuanya. Bahkan orang yang disebut gurunya itu.”

Wajah Gagaklahan menjadi merah. Memang ada sepercik penyesalan didalam dirinya, bahwa ia telah mengusik kedua orang yang belum tentu akan berbuat buruk terhadap padepokannya. Jika kemudian ternyata ia tidak berhasil membunuh keduanya, maka keduanya benar-benar akan menjadi bahaya bagi padepokannya.

Tetapi justru karena hal itu sudah terlanjur dilakukan, maka bagi Gagaklahan memang tidak ada pilihan lain, kecuali benar-benar membunuh kedua orang itu.

Karena itu, Gagaklahan tidak berbicara lagi. Ia pun kemudian melangkah semakin dekat. Pedangnya mulai terjulur dan bergetar, kemudian berputar cepat mengitari pedang lawannya. Namun kemudian menusuk deras kearah jantung.

Sambi Wulung bergeser mundur. Pedangnya pun bergerak cepat pula. Demikian tusukan lawan tidak menyentuh tubuhnya, maka Sambi Wulung telah menepis ujung pedang Gagaklahan kesamping, berputar dan pedangnya terayun deras mengarah leher.

Gagaklahan menggeliat. Kepalanya menunduk rendah, sehingga pedang Sambi Wulung terbang diatas ubun-ubunnya. Namun dalam pada itu sambil merendah, ujung pedangnya dengan cepat menusuk lambung.

Tetapi Gagaklahan belum berhasil. Sambi Wulung sempat bergeser selangkah sambil memiringkan tubuhnya. Namun ia pun harus cepat meloncat, karena lawannya yang seorang lagi telah menyambarnya dengan sisa kekuatan yang ada padanya.

“Jika kau paksakan dirimu untuk bertempur terus, maka kau akan mati karena kehabisan darah,” geram Sambi Wulung. Lalu katanya pula, “Setiap hentakan gerak tubuhmu, sama dengan memeras darah dari nadimu yang terputus oleh ujung pedangku.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi tubuhnya memang merasa menjadi semakin lemah. Tetapi ia masih saja memaksa dirinya untuk ikut bertempur bersama Gagaklahan.

Namun ketika Gagaklahan semakin meningkatkan ilmunya menghadapi Sambi Wulung yang garang, maka ia telah dikejutkan oleh umpatan yang kasar, namun diselingi oleh desah kesakitan. Gagaklahan itu sempat melihat seorang pengikutnya yang bertempur melawan Jati Wulung telah terdorong surut beberapa langkah. Namun sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, tiba-tiba saja Jati Wulung telah melenting, lepas dari perlawanan dua orang lawannya yang lain, sambil menjulurkan pedangnya langsung menusuk dada tembus kejantung.

Ketika kedua lawannya menyusulnya, maka Jati Wulung telah menarik pedangnya itu dan berdiri tegak menghadap ke arah kedua lawannya yang lain. Satu kakinya ditariknya setengah langkah kebelakang, sementara lututnya agak ditekuknya. Pedangnya berdiri tegak didepan tubuhnya, sementara telapak tangan kirinya terbuka melekat pada punggung pedangnya itu.

Kedua orang lawannya yang tersisa termangu-mangu sejenak. Merekapun telah terluka oleh goresan-goresan ujung pedang Jati Wulung. Namun luka-luka itu tidak banyak berpengaruh atas kemampuan perlawanan mereka, meskipun darah mengalir pula dari luka itu.

Tetapi ketika seorang kawannya telah terbunuh dengan tusukan tepat dijantung, maka mereka menjadi semakin tegang menghadapi lawannya yang garang itu. Sementara itu, mereka pun tahu, bahwa dua orang kawan mereka yang bertempur melawan Wanengbaya pun telah terbunuh pula. Bahkan Gagaklahan tidak lagi dapat mereka harapkan untuk membantu, karena Gagaklahan telah bertempur melawan Wanengbaya itu.

Namun kedua orang lawan Jati Wulung itu tidak dapat merenungi keadaannya terlalu lama. Sejenal kemudian, maka terdengar Jati Wulung itu berteriak nyaring. Pedangnya terangkat tinggi-tinggi. Kemudian dengari garangnya ia telah meloncat dengan ayunan pedang yang menggetarkan jantung.

Pertempuran pun telah berlangsung pula dengan kerasnya. Kedua orang yang tersisa itu pun justru menjadi putus asa menghadapi kegarangan Jati Wulung. Pedangnya yang terayun-ayun itu menjadi semakin mengerikan. Bahkan putaran yang cepat serta berbagai unsur gerak yang lain, membuat pedang Jati Wulung itu seakan-akan menjadi puluhan pedang yang menari-nari disekitar tubuh kedua orang lawannya.

Dalam keadaan yang gawat, maka kedua orang itu ternyata telah mengambil sikap yang menentukan. Sebagai pasangan yang telah bekerja sama dalam waktu yang lama, maka tanpa isyarat pun keduanya dapat saling membaca maksud masing-masing.

Karena itulah, maka dengan ancang-ancang yang cukup, keduanya telah menyerang bersamaan dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Keduanya telah menyerang dengan senjata masing-masing yang terayun deras dari dua arah.

Jati Wulung yang telah dibasahi oleh keringatnya itu pun merasa bahwa tenaganya akan segera mulai susut. Karena itu, maka iapun telah memutuskan untuk berusaha mengakhiri pertempuran itu.

Karena itu, ketika serangan kedua orang itu datang bersama-sama, maka Jati Wulung pun telah meloncat selangkah kesamping. Kemudian menggeliat untuk menghindari tusukan pedang lawannya yang lain. Namun sementara itu, ia pun telah merendah sedikit sambil menjulurkan pedangnya langsung mengoyak lambung. Sementara itu, iapun telah meloncat dan menghantam lawannya yang lain dengan kakinya tepat mengenai dadanya justru disaat terbuka, sehingga lawannya itu terlempar beberapa langkah surut. Adalah nasibnya yang buruk, jika tubuhnya itu telah menghantam pohon cangkring raksasa yang berduri.

Ternyata keduanya tidak tertolong lagi. Keduanya-pun kemudian telah terkapar ditanah pekuburan tua itu.

Bersamaan dengan itu, maka Sambi Wulung pun telah sempat menyelesaikan lawannya yang seorang. Betapa lemahya orang itu sehingga ia tidak sempat menghindar ketika Sambi Wulung mengayunkan dengan deras sekali pedangnya mendatar.

Yang kemudian berhadapan adalah Sambi Wulung dengan Gagaklahan. Bagaimanapun juga Gagaklahan harus berpikir tentang kemampuan lawannya itu. Meskipun lawannya sudah mengerahkan tenaganya, sehingga mulai menjadi letih, namun kemampuan ilmu pedangnya benar-benar mendebarkan jantung Gagaklahan.

Tetapi Gagaklahan adalah orang yang sangat berpengalaman. Ia adalah seorang yang seakan-akan tidak berperasaan. Kematian sama sekali tidak dapat menggetarkan lagi jantungnya. Karena itu kadang-kadang ia mencari kepuasan dengan membunuh lawan-lawannya dengan cara yang khusus.

Agaknya hal itulah yang membuat Sambi Wulung tidak lagi dapat mengampuninya. Bagi Sambi Wulung, orang-orang seperti Gagaklahan itu tidak berhak untuk hidup lebih lama lagi. Tidak akan ada cara untuk membuatnya menyesali kebengisannya. Apalagi membuatnya jera untuk tidak melakukan lagi. Hukuman apapun yang ditimpakan kepadanya, jika masalah sudah dilaluinya, maka ia tentu akan kembali hidup dalam dunia yang kelam itu.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah memutuskan, bahwa orang yang bernama Gagaklahan itu harus dimusnahkan.

Demikianlah, maka pertempuran berikutnya adalah pertempuran diantara orang-orang yang berilmu tinggi. Keduanya memiliki ilmu pedang yang mumpuni, sehingga karena itu, maka pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Kedua senjata di tangan dua orang yang bertempur itu telah berbenturan berkali-kali dengan melontarkan percikan api di udara. Namun Sambi Wulung memang harus mengakui, bahwa pedang lawannya adalah pedang yang jauh lebih baik dari pedangnya.

Dalam benturan-benturan yang keras, maka tajam pedang Sambi Wulung justru telah terluka, sehingga timbul lekuk-lekuk yang semakin banyak dan semakin dalam.

Ketika Gagaklahan sempat melihat pedang Sambi Wulung, maka iapun telah melompat mengambil jarak. Sambil tertawa ia berkata, “Lihat pedangmu.”

Sambi Wulung termangu-mangu. Sementara itu Jati Wulung yang telah kehilangan ketiga lawannya, telah berdiri pula beberapa langkah di dekat pohon benda, melihat betapa Sambi Wulung bertempur melawan Gagaklahan.

Tetapi Jati Wulung yang tahu pasti tataran kemampuan Sambi Wulung sama sekali tidak berniat untuk melibatkan diri dalam perkelahian itu.

Namun dalam pada itu, Gagaklahan masih saja tertawa. Katanya kemudian, “Nah, marilah. Agaknya kalian akan bertempur berpasangan. Jika demikian, maka pekerjaanku akan menjadi semakin cepat selesai.”

Jati Wulung bergeser selangkah maju. Dengan nada rendah ia menjawab, “Enam orangmu telah mati. Sebaiknya kau menyerah saja, agar kau tidak perlu kami ikat pada batang cangkring yang penuh dengan semut merah itu. Karena semut merah itu akan makan bagian-bagian yang lunak dari tubuhmu. Kau akan mati dengan perlahan-lahan.”

“Persetan,” geram Gagaklahan, “marilah. Agaknya kau yang ingin mati lebih dahulu.”

Tetapi Sambi Wulung lah yang kemudian berkata, “Aku belum kau kalahkan Gagaklahan.”

Gagaklahan berpaling ke arah Sambi Wulung. Pedangnya pun telah bergetar pula. Tiba-tiba saja ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya dengan garangnya.

Sekali lagi telah terjadi benturan senjata. Pedang Sambi Wulung yang tidak sebaik pedang Gagaklahan ternyata telah gempil lagi pada tajamnya, sehingga menambah lekuk-lekuk yang memang sudah banyak terdapat.

Sambil menyerang terus Gagaklahan berkata, “Sebentar lagi, maka tajam pedangmu akan habis. Pedangmu sama sekali tidak akan berguna lagi.”

Sambi Wulung tidak menjawab. Namun ia telah mempercepat geraknya dan meningkatkan kekuatannya, sehingga pertempuran itu menjadi semakin cepat.

Namun setiap kali Gagaklahan masih saja menyebut-nyebut tentang pedang Sambi Wulung yang memang menjadi cacat. Tajamnya telah menjadi semakin habis. Yang ada kemudian adalah lekuk-lekuk seperti gerigi keping besi yang sudah menjadi aus.

Tetapi Sambi Wulung sama sekali tidak menjadi cemas. Bagaimanapun juga, ternyata bahwa pedangnya masih belum patah. Menyadari akan mutu senjatanya, maka Sambi Wulung pun harus memperhitungkan setiap benturan, meskipun ia tidak dapat menghindari luka-luka pada tajam pedangnya itu, namun ia berhasil mempertahankan pedangnya sehingga tidak patah.

Gagaklahan yang merasa mempunyai kelebihan dari Sambi Wulung menjadi semakin banyak menyerang. Ia berusaha untuk selalu membenturkan senjata. Bahkan Gagaklahan berusaha agar terjadi benturan yang cukup keras untuk mematahkan pedang Sambi Wulung. Tetapi usahanya itu tidak mudah untuk dilakukannya.

Dengan demikian, maka Gagaklahan lah yang kemudian berusaha untuk selalu menyerang dengan ayunan-ayunan pedang yang deras dan kuat. Setiap kesempatan Gagaklahan telah mempergunakan segenap tenaganya. Ia berharap akan dapat membentur dan sekaligus mematahkan pedang lawannya, sehingga dengan demikian, maka ketahanan jiwanya pun tentu akan patah sebagaimana pedangnya. Dalam keadaan yang demikian, maka tidak sulit bagi Gagaklahan untuk dengan cepat mengakhiri pertempuran.

Tetapi ternyata Sambi Wulung memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dengan tangkasnya Sambi Wulung mampu menempatkan dirinya, sehingga serangan-serangan Gagaklahan sama sekali tidak menyudutkannya.

Namun Gagaklahan tidak henti-hentinya menyerangnya seperti banjir bandang. Beruntun dengan kekuatan yang sangat besar membentur pertahanan Sambi Wulung.

Akhirnya Sambi Wulung menjadi jemu juga untuk melayani serangan-serangan Gagaklahan. Karena itu, maka ia pun kemudian telah mengambil keputusan justru untuk memanfaatkan keadaan pedangnya.

Dengan mengerahkan kemampuannya, maka Sambi Wulung berhasil mengatasi kecepatan gerak Gagaklahan yang menyerang dengan menjulurkan pedangnya. Dengan tangkasnya Sambi Wulung bergeser kesamping sambil menggeliat, sehingga pedang Gagaklahan tidak menyentuhnya. Namun pedang itupun segera berputar. Disusul dengan ayunan mendatar yang cepat.

Tetapi dengan cepat pula Sambi Wulung bergeser surut. Namun Gagaklahan tidak mau melepaskannya. Ia pun segera memburu sambil menebas ke arah dada.

Dengan serta merta Sambi Wulung telah menjatuhkan dirinya. Demikian pedang Gagaklahan terayun diatasnya, maka ia pun telah melenting berdiri. Sambi Wulung tidak menebaskan pedangnya, tidak pula mengayunkannya atau mematuk seperti burung menancapkan paruhnya. Tetapi Sambi Wulung justru berusaha menyentuh kulit lambung lawannya dengan tajam pedangnya yang sudah berubah bagaikan gerigi itu, kemudian menariknya sendal pancing.

Akibatnya memang menggetarkan jantung. Pedang Sambi Wulung tepat menyentuh tubuh Gagaklahan dibawah ikat pinggang kulitnya. Ternyata bahwa tajam pedang Sambi Wulung yang dilukai oleh kerasnya baja pilihan pedang Gagaklahan, sehingga menyerupai gerigi itu, tidak saja mengoyak pakaian Gagaklahan, tetapi kulit dan daging dilambungnya pun telah terkoyak pula. Bukan koyak oleh tajamnya pedang yang dapat memotong benang yang diayunkan angin. Tetapi dikoyak oleh pedang yang bagaikan bergerigi justru tumpul.

Terdengar Gagaklahan itu berteriak nyaring. Kemudian mengumpat keras-keras dengan kata-kata kasar dari kotor.

Beberapa langkah ia meloncat surut. Tangannya yang sebelah kiri berusaha memegangi lukanya itu. Sementara tangan kanannya masih menggenggam pedangnya.

Darah mengalir dengan derasnya dari lukanya.

“Kau memang iblis, Wanengbaya,” geram Gagaklahan.

“Sejak semula aku sudah memperingatkanmu, bahwa sebaiknya kau tidak mengganggu kami,” berkata Sambi Wulung.

“Kau belum menang,” berkata Gagaklahan pula, “aku akan membunuhmu.”

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi Gagaklahan memang masih meloncat menyerangnya. Pedangnya masih berputar mengerikan, sementara kakinya masih tangkas membawa tubuhnya berloncat-loncatan disela-sela bahkan diatas nisan-nisan tua.

Namun Sambi Wulung yang melihat keadaan Gagaklahan itu benar-benar berniat mengakhirinya. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Bergerak dengan kecepatan yang sulit diimbangi dan dengan kekuatan yang luar biasa besarnya.

Ketika Gagaklahan yang terluka itu mengayunkan pedangnya, Sambi Wulung sempat mengelak. Namun sambil bergeser kesamping sekali lagi ia menggoreskan pedangnya di dada Gagaklahan.

Gagaklahan memang terdorong beberapa langkah surut. Namun seperti orang yang bernyawa rangkap ia sama sekali tidak menghiraukan keadaannya. Ia telah meloncat lagi menyerang dengan dahsyatnya, seperti angin prahara yang mengguncang popohonan.

Namun Sambi Wulung pun telah bersiaga pula, Sebuah tusukan lurus mengarah kejantung Sambi Wulung dapat dielakkannya. Bahkan ketika pedang Gagaklahan itu menyambar kesamping Sambi Wulung sempat meloncat mundur. Namun demikian ujung pedang itu lewat, maka Sambi Wulung pun telah meloncat maju. Pedangnyalah yang terjulur lurus kedepan. Dengan hentakan kekuatan yang sangat besar, maka pedang itu telah terhunjam didada Gagaklahan.

Terdengar Gagaklahan menjerit. Sementara Sambi Wulung terpaksa melepaskan pedangnya. Ia tidak sampai hati menarik pedangnya itu, karena ia menyadari akibatnya. Pedangnya yang seolah-olah bergerigi tumpul itu akan dapat mencabik-cabik daging dan kulit di dada Gagaklahan.

Untuk beberapa lama Gagaklahan masih berdiri. Namun kemudian tubuh itu pun terhuyung-huyung dan kemudian jatuh terjerembab.

Sambi Wulung dan Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Di kuburan tua itu terdapat tujuh sosok mayat dari orang-oang yang tinggal bersama-sama Puguh dalam satu padepokan. Satu perstiwa yang tidak diduganya sama sekali bahwa hal seperti itu akan terjadi.

“Apaboleh buat,” berkata Sambi Wulung sambil menundukkan kepalanya.

“Kami dipaksa melakukannya,” sahut Jati Wulung.

“Ya. Kami memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika seorang saja diantara mereka hidup, maka orang itu bersama-sama dengan yang lain tentu akan menelusuri keadaan kita berdua,” berkata Sambi Wulung. Lalu, “Sementara itu, orang-orang seperti mereka memang tidak lagi pantas untuk tetap hidup.”

“Tetapi di padepokan itu bukan hanya mereka saja yang tinggal,” sahut Jati Wulung.

“Puguh merupakan satu pertanyaan yang besar. Ia hidup dalam lingkungan seperti itu, namun agaknya sifatnya agak berbeda dengan orang yang disebutnya paman, yang agaknya menjadi orang yang terdekat dengan dirinya itu,” berkata Sambi Wulung.

“Dengan demikian, jelas bagi kita, bahwa yang memasang topeng itu tentu orang-orang padepokan itu pula,” sahut Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ia masih ingat bagaimana Puguh membunuh seorang diantara mereka yang masih mempunyai kemungkinan untuk hidup.

“Ada rahasia yang tidak kita ketahui menyelimuti padepokan itu,” berkata Sambi Wulung. Lalu, “Meskipun kita berhasil mengetahui dimana Puguh tinggal, tetapi mungkin sekali kita masih akan dapat kehilangan jejak.”

“Memang banyak kemungkinan terjadi,” desis Jati Wulung, “mungkin dengan hilangnya paman Gagaklahan, Puguh untuk seterusnya telah dipindahkan ke padepokan yang lain atau kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Namun kali ini kita telah berhasil dengan tugas kita.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melaporkan kepada Nyi Wiradana di Tanah Perdikan Sembojan.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun keduanya kemudian sepakat untuk mengubur lebih dahulu tujuh sosok mayat yang terbujur lintang di kuburan tua itu.

***

Sementara itu di padepokannya, Puguh merasa sangat gelisah. Ketika kemudian malam datang, bahkan malam itu telah lewat diganti dengan hari baru berikutnya, pamannya tidak juga kelihatan. Dari beberapa orang penghuni padepokan itu Puguh mendapat keterangan bahwa pamannya, Gagaklahan telah meninggalkan padepokan itu.

“Kemana?” bertanya Puguh.

Orang-orang itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Bahkan ketika Puguh bertanya kepada seorang yang dianggapnya pembantu terdekat Gagaklahan, orang itu juga menggelengkan kepalanya.

Puguh akhirnya menjadi marah. Orang yang dianggapnya pembantu terdekat Gagaklahan itu tiba-tiba ditariknya masuk kedalam sanggar di padepokannya. Pintu pun kemudian diselarak dari dalam.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya orang itu dengan cemas.

“Dimana paman Gagaklahan?” bertanya Puguh.

“Aku tidak tahu. Kakang Gagaklahan pergi tanpa memberitahukan tujuannya,” jawab orang itu.

“Baik,” geram Puguh, “nampaknya aku harus memaksamu berbicara tentang paman Gagaklahan. Aku tidak peduli, apakah aku dapat melakukannya atau tidak. Aku juga tidak peduli apakah kau akan melawan atau tidak. Tetapi jika kau tidak mau mengatakan kemana paman Gagaklahan pergi, maka kau akan aku pukuli. Mungkin kau dapat menang atasku jika kau melawan. Tetapi aku akan mengatakannya kepada guru.”

“Tunggu,” wajah orang itu menjadi tegang, “kenapa kau sebenarnya. Tiba-tiba saja kau menjadi sangat garang seperti itu.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Karena itu, kau tidak berhak sama sekali untuk bertanya tentang apapun juga,” jawab Puguh.

Keringat dingin telah mengalir ditubuh orang itu. Namun ia masih juga berkata, “Tunggu.” orang itu menjadi terengah-engah, “aku memang melihat kakang Gagaklahan pergi. Tetapi ia tidak mengatakan pergi kemana dan untuk apa. Ia memang nampak bersungguh-sungguh pada waktu ia pergi.”

“Berapa orang yang dibawanya?” bertanya Puguh.

Orang itu ragu-ragu. Namun tiba-tiba saja Puguh telah meremas bajunya sambil membentak, “Katakan.”

“Aku tidak tahu pasti,” jawab orang itu agak gagap, “aku kira sekitar lima atau enam orang.”

“Bohong jika kau tidak tahu pasti,” geram Puguh, “kau dapat menghitung orang-orangmu yang tidak ada di padepokan.”

“Memang mungkin,” jawab orang itu, “tetapi apakah mereka semua pergi bersama kakang Gagaklahan itulah yang kurang aku ketahui.”

Puguh mendorong orang itu sehingga hampir saja ia jatuh terlentang. Tetapi Puguh tidak bertanya lagi. Iapun dengan tanpa mengatakan sesuatu telah melangkah keluar dari sanggar.

Orang itupun dengan tergesa-gesa telah keluar pula menyusul Puguh. Namun Puguh sama sekali tidak menghiraukannya.

Seorang diri Puguh meninggalkan padepokan itu menuju kepadepokannya yang lain, tempat tinggal gurunya. Padepokan yang lebih dirahasiakan dari padepokan yang dihuninya.

Diperjalanan ia memang bertemu dengan dua orang yang mengawal dan menjaga kerahasiaan padepokan kedua itu. Namun mereka sama sekali tidak mengusik Puguh. Apalagi nampaknya Puguh agak tergesa-gesa.

Gurunya memandang Puguh dengan kerut di dahinya. Dengan sareh ia berkata, “Duduklah. Kita akan berbicara tanpa kegelisahan seperti itu.”

Puguh pun kemudian duduk dihadapan gurunya, namun nafasnya masih saja terengah-engah.

“Paman Gagaklahan tidak ada di padepokan, Guru,” berkata Puguh.

Gurunya tersenyum. Katanya, “Bukankah ia memang sering meninggalkan padepokan untuk tugas-tugas yang penting? Pamanmu Gagaklahan adalah orang yang dipercaya oleh orang tuamu. Karena itu, maka banyak tugas yang dikerjakannya serta besar pula tanggung jawabnya.”

“Agaknya paman Gagaklahan pergi, demikian kedua orang yang mengantarku, kembali itu meninggalkan padepokan,” berkata Puguh.

“Kenapa kau menjadi gelisah?” bertanya gurunya.

“Apakah Guru tidak memerintahkan agar paman Gagaklahan melakukan sesuatu? Agaknya paman Gagaklahan terlalu curiga kepada kedua orang itu. Bagiku Wanengbaya dan Wanengpati adalah orang-orang yang telah memberikan pertolongan kepadaku,” berkata Puguh.

Gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak bertemu dengan Gagaklahan lagi setelah ia datang bersamamu kemarin malam. Juga tidak ada seorang pun yang memberikan laporan kepadaku apa yang akan dilakukannya.”

“Tetapi Guru tidak memerintahkan kepadanya untuk menyusul kedua orang itu?” desak Puguh.

Gurunya tertawa. Katanya, “Sudah aku katakan. Sejak kemarin malam aku tidak bertemu orang itu lagi. Bukankah ketika itu, kau juga mendengar apa yang kami bicarakan? Pamanmu Gagaklahan memang sangat mencurigai kedua orang itu. Pamanmu menganggap bahwa kau telah terjebak kedalam sikap manisnya. Tetapi aku tidak sependapat jika pamanmu Gagaklahan mengambil langkah-langkah tertentu atas kedua orang itu.”

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Sampai saat ini, sebelum aku pergi menghadap Guru, paman Gagaklahan belum juga kembali.”

“Itu justru menggelisahkan,” berkata gurunya, “ada beberapa kemungkinan telah terjadi atasnya. Apakah ada orang yang dapat melaporkan, dengan berapa orang pamanmu itu pergi?”

“Lima atau enam orang,” jawab Puguh.

“Perintahkan untuk menghitung orang-orangmu di sana,” berkata gurunya, “cari siapa saja yang tidak ada dipadepokan.”

“Aku sudah memerintahkan Guru. Tetapi menurut seseorang, belum tentu semuanya pergi bersama paman Gagaklahan,” jawab Puguh.

“Lihat lagi,” berkata gurunya, “kau akan jelas. Yang belum kembali adalah mereka yang pergi bersama Gagaklahan. Hubungi aku untuk mengambil kesimpulan.”

Tetapi ketika Puguh akan kembali ke padepokan pertamanya, gurunya berkata, “jangan pergi sendiri.”

“Kenapa? Bukankah jalan yang menghubungkan kedua padepokan ini merupakan jalan khusus yang tidak pernah dilalui orang lain kecuali kita?” bertanya Puguh.

“Kau harus lebih berhati-hati. Kedua orang itu mempunyai kemungkinan untuk berbuat lebih banyak dari yang kau pikirkan,” jawab gurunya.

“Jadi Guru juga mencurigainya?” bertanya Puguh.

“Jika Gagaklahan mengambil langkah yang tidak menguntungkan, justru timbul kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk karena sikap kedua orang itu. Jika aku memperingatkanmu, sekedar sikap hati-hati saja,” jawab gurunya.

Puguh tidak menjawab. Tetapi ketika ia kembali ke padepokan pertama, ia memang dikawani oleh kedua orang dari padepokan keduanya.

Ternyata bahwa Puguh berusaha untuk mendapatkan keterangan lebih banyak tentang kepergian Gagaklahan yang ternyata masih belum juga kembali.

“Apakah paman Gagaklahan mengikuti kedua orang itu sampai ketempat yang jauh? Atau paman Gagaklahan ganti ingin melihat kediaman kedua orang itu?” pertanyaan itu timbul didalam hatinya.

Namun akhirnya semua keterangan itu telah diberitahukan kepada gurunya.

Memang ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil oleh gurunya. Seperti yang diduganya, mungkin Gagaklahan ingin melihat dimana kedua orang itu tinggal. Tetapi kemungkinan lain, Gagaklahan menunggu kesempatan untuk tindakan khusus terhadap kedua orang itu.

“Apakah ada kemungkinan lain lagi guru?” bertanya Puguh.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya dengan nada rendah, “Kemungkinan itu sangat mendebarkan. Mungkin karena kedua orang itu merasa terganggu oleh sikap Gagaklahan, maka mereka telah mengambil sikap yang paling keras.”

“Maksud Guru, membunuh paman Gagaklahan?” bertanya Puguh.

Gurunya mengangguk lemah. Katanya, “Bukankah kemungkinan itu ada?”

“Tetapi bukankah kemungkinan yang lebih besar adalah paman Gagaklahan membunuh kedua orang itu?” desak Puguh.

“Itu kalau pamanmu mampu. Jika tidak, bukankah dapat terjadi sebaliknya?” desis gurunya.

Puguh tidak segera menjawab. Memang terbayang berbagai kemungkinan dapat terjadi atas pamannya Gagaklahan. Namun agaknya pamannya itu tidak akan pergi terlalu lama jika ia sempat untuk pulang kembali ke padepokan, karena pamannya itu harus menunggui padepokan itu sebagai pengganti orang tuanya.

Karena Puguh tidak segera menjawab, maka guru-nyapun berkata, “Sudahlah. Tetapi kau untuk selanjutnya memang harus berhati-hati. Kau tunggu saja hari ini dan besok. Jika pamanmu Gagaklahan tidak juga kembali, maka kita dapat menyesali kepergiannya. Karena ternyata ia dan beberapa orangnya tidak akan pernah kembali lagi.”

“Bagaimana jika paman Gagaklahan mengikuti kedua orang itu, Guru?” bertanya Puguh.

“Memang mungkin. Tetapi dengan demikian ia telah meninggalkan tanggung jawabnya atas padepokan ini. Barangkali ia berpikir justru karena kau sudah ada di padepokan sehingga Gagaklahan mempunyai kesempatan untuk pergi beberapa lama. Tetapi seharusnya ia tidak berbuat demikian. Kita harus tahu kemana orang-orang kita pergi. Bahkan keperluan mereka. Dengan demikian kita akan dapat memperkirakan berapa lama mereka meninggalkan padepokan,” berkata gurunya.

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia justru telah terdiam.

Gurunyalah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Bukan berarti kita tidak menghiraukan mereka yang pergi itu. Tetapi sambil menunggu kita dapat berbuat yang lain.”

“Ya Guru,” jawab Puguh.

“Kau sudah cukup lama pergi untuk memperluas penglihatanmu. Bahkan kau telah diijinkan oleh orang tuamu untuk pergi ketempat yang termasuk keras seperti Song Lawa. Karena menurut orang tuamu ditempat-tempat seperti itu, kau akan ditempa oleh keadaan, sehingga kaupun akan dapat menjadi seorang yang keras,” berkata gurunya.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi ternyata Song Lawa telah dihancurkan oleh para prajurit Pajang.”

“Pajang memang merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Sementara tempat-tempat seperti Song Lawa itu merupakan tempat yang akan dapat menghancurkan kesejahteraan itu. Lahir dan Batin. Karena itu, maka tempat-tempat seperti Song Lawa itu bertentangan sekali dengan kebijaksanaan Pajang,” berkata gurunya.

“Tetapi bagaimana dengan tempat-tempat lain?” bertanya Puguh.

“Dalam kesempatan yang lain, Pajang tentu juga akan bertindak. Disebelah Barat Pajang juga ada tempat seperti itu. Namun, demikian Pajang mengetahui, tempat itu langsung dihancurkannya. Apalagi tempat itu terlalu dekat dengan pusat pemerintahan,” berkata gurunya.

Puguh hanya mengangguk-angguk saja. Dua orang yang telah menolongnya itu pun pernah menyebut-nyebut tempat perjudian didekat pusat pemerintahan. Penyelenggaraannya tentu orang-orang yang lebih berani lagi daripada orang-orang yang menyelenggarakan perjudian di Song Lawa.

Namun dalam pada itu gurunyapun berkata, “Puguh. Yang penting bagimu, bahwa kau telah mendapat pengalaman. Pengalaman yang akan sangat berarti bagi masa depanmu.”

“Masa depanku yang mana, Guru?“ tiba-tiba saja Puguh bertanya.

Gurunya mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum. Katanya pula, “Satu pertanda yang baik, Puguh. Kau sudah bertanya tentang masa depanmu yang mana. Dengan demikian maka hatimu telah terbuka. Justru karena pengalamanmu. Mungkin pengalamanmu bergaul dengan orang-orang yang kau temui di Song Lawa, atau dengan orang-orang lain sepanjang perjalananmu. Atau apapun yang telah terjadi didalam dirimu.”

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Guru. Kenapa aku telah dibenamkan kedalam tempat-tempat seperti Song Lawa itu? Kenapa aku harus menimba pengalaman dari tempat yang suram itu? Tempat yang penuh dengan peristiwa-peristiwa yang tidak wajar sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan.”

Gurunya mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bertanya, “Apa saja yang pernah diceriterakan oleh kedua orang itu kepadamu?”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun iapun menundukkan kepalanya.

Gurunyalah yang kemudian berkatai “ Pengawal-pengawalmu yang kau bawa dari padepokan agaknya telah berada di Pajang sekarang, atau terbunuh. Tetapi kita tidak mencemaskan mereka, karena Pajang tidak akan menaruh perhatian secara khusus terhadap padepokan kita.”

Puguh masih tetap menundukkan kepalanya.

Sementara itu gurunya berkata pula, “Lupakan persoalan-persoalan yang bergejolak didalam hatimu. Siapkan dirimu untuk memasuki latihan-latihan kembali. Kita akan mengadakan penilaian atas pengalamanmu selama perjalananmu terakhir. Tetapi terbatas pada pengalaman olah kanuragan. Sedangkan pengalaman jiwani yang menumbuhkan permasalahan didalam dirimu sebaiknya kau simpan untuk sementara.”

“Aku akan mempersoalkannya dengan ayah dan ibu,” berkata Puguh.

Gurunya memandang Puguh dengan tatapan mata yang redup. Namun gurunyapun kemudian menggelengkan kepalanya sambil berkata, “belum waktunya, Puguh. Orang tuamu telah menetapkan garis hidup yang harus kau tempuh. Dalam waktu dekat, keduanya tidak akan mau mendengar persoalan-persoalan yang timbul diluar garis yang telah ditentukannya.”

“Termasuk dengan sengaja memasukkan aku ke dalam tempat-tempat yang keras seperti Song Lawa?” bertanya Puguh.

Gurunya mengerutkan dahinya. Dipandanginya Puguh dengan tajamnya, sehingga Puguh pun kemudian telah menunduk pula. Semakin dalam.

“Beristirahatlah,” berkata gurunya kemudian, “mulai besok, kita sudah akan memasuki sanggar kembali.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian mohon diri meninggalkan gurunya duduk seorang diri untuk merenungi keadaan muridnya itu.

“Sebagian adalah salahku,” berkata orang itu kepada diri sendiri, “aku tidak dapat memenuhi keinginan orang tua Puguh untuk membuat anak itu menjadi orang yang tidak berperasaan sama sekali. Sementara itu Ki Randukeling sendiri tidak pernah menegur aku meskipun ia tahu, bahwa Puguh tumbuh menjadi seorang anak muda dengan pola yang agak berbeda dengan ketentuan kedua orang tuanya. Agaknya aku masih memberinya peluang untuk memikirkan dirinya sendiri, memikirkan orang lain, serta hubungan antara dirinya dengan orang lain. Nampaknya peluang-peluang itu telah ditusuk pula dengan pengertian-pengertian yang berhasil menyentuhnya dari kedua orang yang mengantarkannya kembali ke padepokan. Sehingga dengan demikian maka terjadi pergolakan didalam diri anak muda itu.”

Tetapi sebenarnyalah orang yang diserahi membentuk Puguh itu tidak sampai hati untuk membunuh mati perasaan anak itu. Meskipun hal itu setiap kali telah diutarakannya kepada Ki Randukeling, tetapi Ki Randukeling tidak pernah menaruh keberatan. Bahkan kadang-kadang Ki Randukeling telah dengan langsung berhubungan dengan Puguh dan bahkan pernah juga ia menyebut tentang pola watak anak itu. Tetapi Ki Randukeling tidak pernah menegurnya.

Namun ia tidak tahu, apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tua Puguh jika mereka sempat melihat Puguh sampai kekedalaman hatinya. Karena kesempatan yang nampaknya tidak pernah tersedia, maka kedua orang tua Puguh hanya melihat Puguh pada kulitnya saja. Memberikan petunjuk-petunjuk sambil membentak-bentaknya.

Mengancamnya dan jika mereka ingin tahu tingkat kemampuan Puguh dalam olah kanuragan, maka mereka membawa Puguh latihan dalam sanggar. Namun jika demikian, maka tiga hari Puguh harus beristirahat, karena tulang-tulangnya bagaikan berpatahan.

“Anak cengeng,” setiap kali ibunya menudingnya, “kau adalah seorang laki-laki. Kau harus menjadi orang yang lebih garang dari aku, ibumu, yang tidak lebih dari seorang perempuan.”

Guru Puguh itu menarik nafas dalam-dalam. Namun mau tidak mau iapun harus memikirkan Gagaklahan yang pergi tanpa diketahui tujuannya. Namun guru Puguh itu sudah memastikan bahwa Gagaklahan telah menyusul kedua orang yang telah membawa Puguh kembali ke padepokan.

“Sikap Gagaklahan yang bodoh itu akan dapat berakibat buruk bagi padukuhan ini,” berkata guru Puguh itu didalam hatinya. Namun kemudian iapun berdesis kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan dugaanku salah.”

Namun dalam pada itu, guru Puguh itu telah memanggil seorang yang bertubuh kurus dan sedikit bongkok. Seorang yang sehari-hari mendapat tugas untuk membersihkan halaman bangunan induk padepokan itu.

 “Wida,” desis guru Puguh itu.

Orang itu mengangguk hormat. Ketika ia kemudian duduk didepan orang yang memanggilnya itu, maka iapun bertanya, “Ki Ajar telah memanggil aku?”

Guru Puguh itu mengangguk. Katanya, “Ada beberapa soal yang tumbuh di padepokan ini. Ketika aku diminta tinggal disini oleh Ki Randukeling untuk mengasuh Puguh, aku sudah berpikir tujuh kali. Namun akhirnya, karena Ki Randukeling adalah sahabatku, maka permintaan itu telah aku terima. Aku masuk kedalam satu lingkungan yang asing dan mencoba hidup dengan cara yang ditentukan oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi. Terutama untuk membentuk anaknya itu.”

Orang yang dipanggil Wida itu mengangguk kecil.

“Tetapi bagaimanapun juga, aku memang merasa perlu untuk membawamu dengan anakmu. Tidak ada orang tahu, siapakah kau sebenarnya didalam dunia kanuragan selain aku,” berkata Ki Ajar, “sehingga dalam keadaan tertentu, aku tidak sendiri.”

“Apakah ada sesuatu yang terasa mengganggu Ki Ajar Paguhan sekarang ini?” bertanya Wida.

“Sejak kemarin Gagaklahan telah hilang,” berkata guru Puguh yang disebut Ki Ajar Paguhan itu, “carilah beberapa keterangan tentang orang itu.”

Wida mengerutkan keningnya. Tetapi iapun bertanya, “Bagaimana jika Gagaklahan tahu aku membayanginya?”

“Kau dapat menempatkan dirimu. Bukankah kau pernah mendapat sebutan Hantu Bayangan?” bertanya Ki Ajar Paguhan.

“Tetapi itu dahulu, Ki Ajar,” jawab Wida, “sekarang sebenarnya aku sudah menemukan ketenangan bekerja sebagai juru taman di padepokan ini, meskipun setelah bertahun-tahun disini, aku tetap tidak dapat mengenali bentuk dari padepokan ini selain mengabdi kepada Ki Ajar Paguhan.”

“Kita memang mendapatkan ketenangan disini Wida. Didalam padepokan. Tetapi disekitar padukuhan ini, maut telah berkeliaran. Bahkan orang-orang yang sedang mencari kayu bakar dan tersesat kedalamnya pun akan menjadi mangsa dari maut tanpa mengerti persoalannya,” berkata Ki Ajar Paguhan.

Wida mengangguk. Iapun sebenarnya tahu pasti apa yang telah terjadi dan bagaimana bentuk dari padukuhan itu. Tetapi ia adalah rahasia yang tersimpan didalam tempat yang rahasia. Ia datang bersama Ki Ajar Paguhan dan anaknya laki-laki yang dinamainya Sukra, yang juga seorang yang cacat seperti dirinya. Tetapi bukan pada punggungnya. Sukra sejak lahir sebelah tangannya terlalu pendek dibanding dengan tangannya yang lain. Tetapi tangannya yang pendek itu, yang kebetulan adalah tangan kirinya , mampu bergerak setrampil tangan kanannya. Sementara itu, diwajahnya terdapat noda hitam yang sedikit lebih besar dari matanya, tepat dibawah mata kirinya.

Agaknya karena cacatnya yang dibawa sejak lahirnya itulah, maka Sukra menjadi seorang pendiam, perenung dan sampai ia meningkat dewasa, ia sama sekali tidak mau berdekatan dengan seorang perempuan. Namun sebagai isi dari kesepiannya itu, ia adalah seorang yang bergulat dengan ilmu disetiap hari.

Tetapi seperti ayahnya, maka ia pun merupakan rahasia ditempat yang diliputi rahasia itu.

“Nah,” berkata Ki Ajar Paguhan, “pergilah. Bawalah pertanda bahwa kau adalah penghuni padepokan ini, sehingga kau tidak akan menemui kesulitan disaat kau keluar dan masuk kembali.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Ajar. Tetapi untuk seterusnya aku akan tetap menjadi juru taman. Aku tidak akan melibatkan lagi hidupku dengan kekerasan yang kotor itu.”

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku justru sedang menyempurnakan warna yang kau anggap kotor itu disini. Di padepokan ini.”

Wida menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang satu perjalanan hidup yang aneh, bahwa Ki Ajar telah terdampar disini. Apakah Ki Ajar tidak dapat membicarakannya lagi dengan Ki Randukeling bahwa sebaiknya Ki Randukeling mencari orang lain untuk membentuk Puguh menjadi orang berhati batu?”

“Justru aku tidak sampai hati melihat anak muda itu berhati batu. Kau lihat, bahwa Puguh adalah seorang anak muda yang terhitung tampan, bermata bersih dan pikiran terang. Jika hatinya menjadi batu, maka ia adalah orang yang sangat berbahaya. Dan itu akan terjadi jika aku pergi dari padepokan ini,” berkata Ki Ajar Paguhan.

Wida mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar berkata, “Nah, selagi belum jauh terlambat. Pergilah dan usahakan untuk mendapat keterangan tentang Gagaklahan.”

“Apakah kawan-kawan Gagaklahan dipadepokan pertama tidak berusaha mencarinya?” bertanya Wida.

“Wida. Kau dengar. Aku minta kau mencari keterangan tentang Gagaklahan,” desis Ki Ajar Paguhan.

Wida mengangguk kecil. Jawabnya, “Baik Ki Ajar. Aku akan berusaha. Tetapi sebagaimana setiap usaha, maka akan dapat terjadi beberapa kemungkinan.”

“Aku sudah tahu Wida,” sahut Ki Ajar.

Wida mengerutkan keningnya, sementara Ki Ajar Paguhan berkata selanjutnya, “Satu usaha akan dapat berhasil, tetapi juga dapat tidak berhasil. Bukankah kau akan berkata begitu?”

Wida menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “benar Ki Ajar. Dan aku sekarang sudah bukan aku yang dahulu. Bukan lagi dapat disebut Hantu Bayangan atau sebutan-sebutan lain yang dapat menakuti anak-anak. Tetapi aku adalah seorang yang kurus dan bongkok. Lemah dan setiap hari bersenjatakan sapu lidi dihalaman bangunan induk padepokan yang terasing ini.”

Ki Ajar Paguhan tersenyum. Katanya, “jangan merajuk begitu. Bukankah menurut katamu, kau temukan ketenangan disini?”

Widapun kemudian meninggalkan Ki Ajar Paguhan seorang diri. Beberapa saat ia masih sempat merenungi muridnya yang tersentuh oleh wajah kehidupan yang lain dari pola kehidupannya yang dingin oleh orang tuanya.

Sementara itu, Wida pun telah menemui anaknya. Juga seorang yang tugasnya membersihkan halaman seperti ayahnya. Kepada Sukra ayahnya mengatakan apa yang harus dilakukan diluar padepokan yang dirahasiakan itu.

“Aku akan minta pertanda agar aku tidak mengalami kesulitan di jalan keluar dan masuk nanti,” berkata Wida.

“Kepada siapa?” bertanya Sukra.

“Landep,” jawab Wida, “Landep adalah salah seorang yang dipercaya oleh Ki Lurah Lembu Ireng.”

“Orang itu tentu akan bertanya macam-macam. Kemana ayah akan pergi. Untuk apa, sampai kapan dan segala macam pertanyaan yang bahkan kadang-kadang tidak masuk akal,” berkata Sukra.

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Wida.

“Pergi sajalah. Ayah tentu akan dapat masuk dan keluar tempat yang sudah kita kenal dengan baik ini,” berkata anaknya.

“Tetapi justru lingkungan diluar padepokan ini,” berkata Wida sambil melangkah terbongkok-bongkok.

“Bukankah ayah pernah keluar masuk padepokan mengantar Ki Ajar jika ia bepergian?” desak anaknya.

“Tetapi Ki Ajar berpesan, agar aku membawa pertanda itu,” jawab Wida. Namun kemudian katanya, “Nah, sampaikan kepada Ki Ajar, bahwa aku akan keluar atas perintah Ki Ajar untuk mencari daun, batang dan akar wregu putih. Ki Ajar sedang membuat reramuan obat-obatan. Jika Landep meyakinkan kebenaran kata-kataku dan bertanya kepada Ki Ajar, jawabnya akan serupa.”

Sukra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah ayah. Aku akan menyampaikan kepada Ki Ajar.”

“Sekarang, sebelum Landep mendahuluimu,” desak ayahnya.

Sukra mengangguk-angguk sambil menjawab, “Tentu ayah. Aku tahu akibatnya jika kau terlambat. Mudah-mudahan Ki Ajar masih ada ditempatnya.” namun kemudian pesannya, “tetapi hendaknya ayah berhati-hati.”

Wida tersenyum pula. Iapun kemudian menyahut, “Kenapa tidak kau lanjutkan kata-katamu? Ayah sekarang sudah tua, sudah semakin lemah dan tidak lagi bergairah untuk hidup.”

Tetapi Sukra menggeleng. Katanya, “Bukan maksudku ayah.”

“Nah, sudahlah. Pergilah,” potong ayahnya.

Sukra pun kemudian pergi menghadap Ki Ajar yang masih saja duduk merenung ditempatnya, memberi tahukan tentang kepergian ayahnya serta alasan yang di kemukakannya untuk mendapati pertanda.

Landep memang tidak mempersulit permintaan Wida. Ia tahu benar bahwa Wida adalah seorang juru taman pelayan dekat Ki Ajar Paguhan. Karena itu, ketika ia mengatakan bahwa ia mendapat perintah dari Ki Ajar, maka Landep memang tidak bertanya lebih banyak lagi.

Hari itu juga Wida meninggalkan padepokan yang penuh dengan rahasia itu. Beberapa kali ia memang bertemu dengan beberapa orang yang meronda dan mengawasi serta menjaga keterasingan dan kerahasiaan padepokan itu. Tetapi kebanyakan dari mereka telah mengenal Wida. Apalagi ia memang membawa pertanda umtuk keluar dan pada saatnya memasuki padepokan itu lagi.

Demikian Wida berada di luar padepokan, meskipun ia masih berada di padang yang sempit. Dipandanginya langit yang cerah, matahari yang menyala serta pepohonan yagn hijau. Apalagi ketika kemudian ia sampai ke tanah persawahan. Ketika dilihatnya dua orang petani bekerja disawah, maka rindunya pada kehidupan wajar semakin menyala dihatinya.

“Seandainya aku mempunyai sebidang tanah, meskipun hanya beberapa kotak kecil,” katanya kepada diri sendiri, “aku akan menggarapnya dengan kesungguhan hati, mencintai tanah itu seperti mencintai anakku Sukra.”

Tetapi Wida sudah terlanjur terbenam dalam kehidupan yang tidak sewajarnya, sehingga sulit baginya untuk dapat keluar dari keadaannya.

Dengan bahan-bahan yang sedikit tentang kedua orang yang mengantar Puguh kembali ke padepokannya, maka Wida mulai menelusuri jalan untuk mencarinya.

Yang mula-mula dituju adalah Gantar, karena ia tahu, untuk mencapai padepokan pertama, maka mereka tentu melalui Gantar. Dengan demikian pada saat mereka meninggalkan padepokan itu, maka merekapun tentu akan melalui Gantar pula.

Ternyata bahwa Wida masih mempunyai ketelitiannya yang pernah dimiliki. Dengan tanpa menimbulkan kecurigaan, ia bertanya tentang dua orang yang pernah melewati Gantar itu.

“Dua orang adikku yang baru berkunjung kerumahku. Ada barangnya yang ketinggalan,” berkata Wida.

“Jika keduanya adikmu, kenapa kau tidak tahu kemana mereka pergi?” bertanya seorang penjual dawet yang ditanya oleh Wida.

“Adikku adalah orang-orang aneh. Mereka mengembara dari satu tempat ketempat lain. Atau katakan saja, mereka adalah pemalas yang tidak mau bekerja dengan wajar,” jawab Wida.

Penjual dawet itu memang tidak dapat menunjukkan. Tetapi berkat ketelitiannya, maka akhirnya Widapun tahu kemana arahnya kedua orang itu pergi.

Menjelang matahari turun ke punggung pebukitan, maka Wida telah berada di bulak panjang yang pernah dilalui pula oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Justru di bulak itu pula keduanya telah dicegat oleh Gagaklahan bersama kawan-kawannya.

Namun tiba-tiba saja Wida merasakan sesuatu yang tidak sewajarnya. Karena itu, maka dengan tiba-tiba saja Wida itu bagaikan lenyap dari jalan yang dilewatinya. Tidak seorang pun yang sempat melihat, bagaimana ia terguling dan hilang menyusup diantara pohon perdu di pinggir jalan itu.

Seorang yang berjalan beberapa puluh langkah dibelakangnya justru tidak terkejut. Tidak pula merasa kehilangan, karena orang itu memang tidak sedang mengikuti Wida. Ia berjalan saja menurut arah yang dikehendakinya. Ada atau tidak ada seorang Wida berjalan di jalan itu.

Ia memang melihat seseorang berjalan agak jauh didepannya. Tetapi ketika ia sempat mengingatnya, orang itu sudah tidak kelihatan lagi. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya.

Namun orang yang berjalan itu terkejut bukan buatan, justru ketika seseorang muncul dari balik gerumbul berjalan terbongkok-bongkok mendekatinya.

“Kau?” bertanya orang itu.

“Kau akan pergi kemana Puguh?” bertanya Wida, “kau meninggalkan padepokan seorang diri dalam keadaan yang agak kalut seperti ini.”

“Kau akan pergi ke mana?” bertanya Puguh sebelum menjawab pertanyaan Wida.

“Aku mendapat perintah Ki Ajar Paguhan untuk mencari daun, batang dan akar wregu putih untuk reramuan obat-obatan,” jawab Wida.

 “Obat apa?” bertanya Puguh pula.

 “Aku tidak tahu,” jawab Wida.

 “Dan kau juga tidak tahu ujud daun, batang dan akar wregu putih itu?” bertanya Puguh pula.

 “Tentu aku tahu,” jawab Wida, “aku sudah terbiasa mencarinya. Tetapi wregu putih memang sulit didapatkan. Yang pernah aku ketemukan itu sudah tidak ada lagi sekarang di tempatnya. Padahal waktu itu, aku hanya mengambil akarnya sedikit untuk menjaga agar pohon wregu putih itu tidak mati.”

“Dan kau sekarang akan mencari kemana?” bertanya Puguh.

Wida menggeleng. Jawabnya, “Aku belum tahu. Aku berjalan saja menyusuri jalan ini. Mudah-mudahan aku akan memasuki sebuah padukuhan yang memiliki sebatang pohon wregu putih.” Wida berhenti sejenak, lalu, “Kau akan pergi kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Puguh termangu-mangu. Namun Wida lah yang menebaknya, “Kau akan mencari Gagaklahan yang belum kembali? Bagimu, siapakah yang lebih penting? Gagaklahan atau orang-orang yang telah mengantarmu itu?”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba iapun bertanya, “Kau tentu juga mencari Gagaklahan.”

Tetapi Wida tersenyum sambil menggeleng, “Memang mungkin ada orang lain yang mencarinya. Tetapi tentu bukan aku. Aku adalah pelayan yang tentu tidak akan menerima tugas-tugas seperti itu. Namun tentang jenis-jenis dedaunan, karena aku sudah melayani Ki Ajar bertahun-tahun, maka aku memang agak dapat mengenalinya.” Wida berhenti sejenak, lalu, “Apakah dari padepokan pertama tidak ada orang yang berusaha menemukan Gagaklahan?”

“Orang-orang malas itu hanya bergairah jika mendapat perintah untuk membunuh. Tetapi mencari pembunuh-pembunuh seperti Gagaklahan agaknya mereka tidak berminat sama sekali,” jawab Puguh.

“He, bagaimana mungkin terjadi seperti itu. Kau dapat memerintahkan kepada mereka. Siapa yang malas, segan atau tidak berminat dapat kau penggal kepalanya dihadapan kawan-kawannya, agar tidak seorang pun yang berlaku demikian,” berkata Wida.

Puguh tidak menjawab. Tetapi kepalanya justru tertunduk lesu.

“Kau tidak sependapat?” bertanya Wida.

 “Cukup,” tiba-tiba saja Puguh membentak.

Wida menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Baiklah. Aku tidak akan menyebutnya lagi.” Namun ia pun kemudian bertanya, “Dan sekarang kau akan pergi ke mana?”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Aku memang ingin mencari berita tentang Gagaklahan.”

“Darimana kau berangkat?” bertanya Wida.

“Aku mendapat keterangan dari beberapa orang Gantar dan menurut perhitunganku berdasarkan darimana kami datang ke Gantar, maka kedua orang itu agaknya telah menempuh jalan ini. Tetapi lalu kemana?” desis Puguh.

Wida mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “Siapakah sebenarnya yang kau cari? Gagaklahan atau kedua orang yang mengantarkanmu pulang ke padepokan?

“Kau tahu yang aku maksud,” jawab Puguh, “tanpa penegasan, kau sudah cukup mengerti. Karena itu, tidak ada perlunya hal itu kau tanyakan. Apalagi berkali-kali.”

Wida menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berkata, “Baiklah. Katakan, bahwa aku sudah menduganya. Agaknya kaupun berpendapat bahwa Gagaklahan telah memburu kedua orang yang mengantarkanmu untuk membunuhnya.”

“Atau untuk mengantarkan nyawanya,” sahut Puguh.

Wida mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kedua orang itu berilmu sangat tinggi, sehingga Gagaklahan dan kawan-kawannya mungkin terbunuh oleh mereka? Padahal yang mengikuti Gagaklahan tentu tidak hanya seorang.”

Puguh mengangguk. Katanya, “Yang pergi dan belum kembali bersama Gagaklahan ternyata adalah enam orang.”

“Nah. Jika demikian maka Gagaklahan tentu akan membunuh mereka. Mungkin Gagaklahan sekarang sedang mencari mereka atau mengikuti mereka sampa ketempat tertentu,” desis Wida.

Puguh tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah. Kita mencari mereka.”

“Kemana,” bertanya Wida, “sementara langit menjadi semakin buram.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 12

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

.

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s