SST-09

<< kembali | lanjut >>

 

—–oOo—–

JATI WULUNG yang berbaring disebelah Puguh pun telah bangkit pula. Ditengadahkannya tangannya yang terjulur keluar gubug terbuka itu. Katanya, “Hujan memang sudah berhenti. Nah, apakah kita akan melanjutkan perjalanan?”

“Kita jauhi tempat ini sebelum ada orang yang melihat sosok-sosok mayat itu,” jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk. Karena itu, maka disentuhnya Puguh yang masih tertidur nyenyak.

Puguh pun segera terbangun. Sambil mengusap matanya, ia pun bangkit.

“Apakah hujan sudah berhenti?” bertanya anak muda itu.

“Ya. Hujan memang sudah berhenti,” jawab Jati Wulung.

“Lalu, apakah kita akan melanjutkan perjalanan?” bertanya Puguh itu pula.

“Marilah,” desis Sambi Wulung, “kita jauhi tempat ini.”

Demikianlah, maka mereka bertiga pun segera melanjutkan perjalanan. Kesempatan tidur yang tidak terlalu lama itu agaknya telah memberikan kekuatan pada tubuh Puguh yang lemah, sehingga rasa-rasanya ia akan sanggup berjalan lagi sampai pagi.

Ketika Puguh menengadahkan wajahnya ke langit, maka dilihatnya bintang bagaikan menguak awan yang kelabu gelap. Satu-satu muncul dan mulai bercahaya. Sementara itu di cakrawala mendung masih nampak bergantung rendah. Dan sekali-sekali kilat memancar dengan terangnya.

Ketiga orang itu berjalan sambil berdiam diri. Namun seperti sudah berjanji, mereka berusaha untuk menghindari jalan-jalan yang menembus padukuhan, Jika di mulut-mulut jalan yang memasuki padukuhan itu terdapat regol dan gardu, maka mereka tentu akan mendapat seribu macam pertanyaan oleh para peronda.

Karena itu, maka kadang-kadang mereka pun telah menyusuri jalan-jalan sempit dan bahkan tanggul-tanggul parit, pematang dan sidatan-sidatan setapak.

Sedemikian jauh, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih juga belum bertanya, kemana mereka sebenarnya akan pergi. Tetapi mereka lebih banyak mengikuti saja langkah-langkah Puguh yang nampaknya dengan tidak sengaja telah memilih arah tertentu.

Apalagi ketika pundaknya terluka cukup dalam. Meskipun setelah tertidur nyenyak beberapa saat, tubuhnya terasa lebih segar, tetapi luka itu masih juga mempengaruhi keadaan tubuhnya. Bahkan rasa-rasanya darahnya menjadi panas dan urat-uratnya melemah.

Beberapa kali Sambi Wulung memang membubuhkan obat di luka Puguh yang memang cukup dalam. Darahnya memang sudah pempat, tetapi pengaruh pada tubuhnya masih terasa sekali. Tubuhnya dengan cepat merasa letih dalam perjalanan yang lambat. Bahkan rasa-rasanya perasaannya kadang-kadang seperti melayang tanpa dapat dikendalikan. Seperti mimpi meskipun disadarinya.

“Apa yang terjadi dengan diriku,” berkata Puguh.

“Kau kenapa?” Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi cemas.

“Rasa-rasanya kesadaranku tidak utuh. Kadang-kadang aku merasa seperti mabuk tuak. Juga pening dan mual. Rasa-rasanya sulit untuk mengendalikan diri,” berkata Puguh.

“Tetapi kau masih sadar sepenuhnya,” berkata Sambi Wulung, “usahakan agar kau tetap sadar dan tidak kehilangan penalaran. Kita akan menempuh perjalanan panjang.”

Puguh mengangguk. Karena itu, dengan sisa kesadarannya ia telah berjuang untuk tetap dalam kesadaran. Ia tidak mau pingsan atau seperti seorang yang mabuk. Lupa diri dan tidak tahu apa yang telah dilakukannya sendiri.”

“Baiklah,” berkata Sambi Wulung selanjutnya, “jika demikian maka kau harus segera sampai ketujuanmu. Tetapi kau belum mengatakan, kita akan pergi ke mana. Bagi kami berdua, kemanapun kami pergi tidak akan ada permasalahan. Tetapi bagi kau tentu lain.”

Puguh benar-benar merasa dirinya sulit untuk dikuasainya. Namun ia masih tetap sadar untuk tidak mengatakan sesuatu tentang tempat tinggalnya. Namun ia mengerti, bahwa ia memang harus segera sampai ketujuan.

Karena itu, maka Puguh hanya sekedar memilih arah. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita menuju ke Gantar.”

“Gantar,” Sambi Wulung mengulang.

“Ya. Setelah sampai di Gantar, maka aku harap aku sudah dapat melanjutkan perjalananku sendiri,” berkata Puguh.

“Kenapa kau harus berjalan sendiri?” bertanya Jati Wulung.

“Kalian bukan keluarga kami. Karena itu, maka kalian tidak perlu mengetahui tempat tinggal kami. Para pengawalku itu pun tidak tahu banyak tentang tempat tinggalku yang sebenarnya,” jawab Puguh.

“Aku tidak berkepentingan dengan tempat tinggalmu. Aku hanya akan mengantarkanmu sampai ke orang tuamu atau siapa pun yang pantas menerimamu dalam keadaan seperti ini,” berkata Jati Wulung.

Namun Puguh berkata, “Bukankah kau ingin menemui orang tuaku dan membicarakan tentang aku? Tentang anak-anak muda yang berada ditempat maksiat seperti itu?”

Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam.

Dengan ragu-ragu Sambi Wulung pun berkata, “Apakah kau berkeberatan jika aku berbicara dengan orang tuamu?”

Dengan wajah yang tegang Puguh menjawab, “Aku berkeberatan.”

“Apakah orang tuamu tidak mengetahui, bahwa kau sering berada di Song Lawa di musim-musim perjudian?” bertanya Jati Wulung.

Puguh tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terasa semakin pening. Sekali-sekali dipijitnya keningnya sambil berdesis.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memandanginya dengan cemas. Bahkan Sambi Wulung kemudian berkata, “Kita berhenti sejenak. Nampaknya langit menjadi terang. Agaknya hujan tidak akan turun lagi.”

Mereka bertiga pun kemudian berhenti dan duduk diatas sebuah batu yang besar di pinggir sungai. Ternyata bahwa Puguh memang perlu beristirahat lagi.

“Aku haus sekali,” berkata Puguh.

“Aku tidak tahu, apakah disini ada semacam belik yang dapat diambil airnya,” jawab Jati Wulung.

“Aku akan minum di sungai itu,” berkata Puguh dengan suara bergetar.

“Tunggulah disini. Aku akan melihatnya. Jika ada belik di sepanjang tepiannya, maka kau dapat minum. Jika tidak, agaknya kau perlu bertahan sejenak. Kita akan menelusuri sungai itu sampai menemukan sebuah belik kecil agar kau tidak minum air yang sudah menjadi kotor,” berkata Jati Wulung.

Puguh tidak menjawab. Tetapi Jati Wulung lah yang kemudian bangkit dan turun ke sungai. Beberapa langkah ia menelusuri tepian sungai itu untuk menemukan sebuah belik kecil yang airnya tentu lebih bersih dari air yang mengalir di batang sungai itu.

Ternyata Jati Wulung menemukannya. Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa kembali ke tempat Puguh menunggu.

“Aku mendapatkan belik kecil itu diatas tebing berbatu padas,” berkata Jati Wulung.

Maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun kemudian telah membimbing Puguh turun ketepian dan menelusuri sungai kecil tetapi berbatu-batu besar itu, sehingga akhirnya mereka sampai kesebuah belik kecil.

“Jangan terlalu banyak minum,” berkata Sambi Wulung memperingatkan.

Puguh memang tidak minum terlalu banyak. Tetapi lehernya yang serasa kering itu menjadi segar.

“Kita berjalan terus,” berkata Puguh tiba-tiba.

Sambi Wulung dan Jati Wulung menangguk. Tetapi Sambi Wulung sempat bertanya, “Apakah kau mengenal jalan ke Gantar? Setidak-tidaknya arah perjalanan ke Gantar?”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menengadahkan wajahnya ke langit.

Beberapa kelompok bintang memang nampak. Tetapi Puguh tidak menemukan bintang Gubug Penceng yang ternyata masih tertutup mendung.

“Aku kehilangan arah,” jawab Puguh.

“Tetapi kau lihat bayangan Gunung itu?” desis Jati Wulung.

“Ya. Tetapi kita berada disebelah mana dari Gunung itu. Apakah kita ada di sebelah Barat, Utara atau Selatan? Kita memang bergerak ke Barat mula-mula. Tetapi aku tidak yakin bahwa arah kita tidak bergeser,” jawab Puguh.

“Kau cari bintang Gubug Penceng?” Sambi Wulung menebak.

“Ya,” jawab Puguh. “Tetapi bintang itu agaknya masih tertutup mendung. Jika kita menemukan bintang itu, maka kita akan tahu arah selatan. Sedangkan bintang Wuluku pun tidak nampak pula.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa bintang yang dapat menunjuk arah itu tidak kelihatan di langit yang sebagian masih tertutup mendung.

Karena itu maka ketiga orang itu melangkah terus tanpa tahu ke arah mana mereka berjalan.

Tetapi mereka memang hanya melangkah perlahan-lahan. Selain karena tubuh Puguh yang lemah, juga karena mereka masih harus memperhitungkan, agar mereka tidak berjalan ke arah yang semakin jauh dari tujuan.

Beberapa saat kemudian, angin yang semilir seakan-akan telah mendorong mendung dari langit. Perlahan-lahan maka awan yang hitam kelabu itu pun terhembus dan hanyut menjauh.

 “He,” tiba-tiba Puguh berseru, “kau lihat bintang itu?”

Sambi Wulung dan Jati Wulung menengadahkan kepalanya. Mereka memang mulai melihat bintang Gubug Penceng.

 “Ternyata aku tidak bingung,” berkata Puguh, “aku mengenal arah dengan tepat. Jika aku menunggu bintang itu aku hanya sekedar ingin meyakinkan, bahwa arah yang aku ambil benar.”

Sambi Wulung berdesis, “Kita berada disebelah Barat Gunung.”

“Benar. Kita memang akan menuju kesebelah Barat. Gantar berada di arah Barat,” desis Puguh.

“Jika demikian kita akan melanjutkan perjalanan diarah ini,” guman Jati Wulung.

“Ya. Tetapi kita sebaiknya tidak mengikuti arah sungai ini yang agar bergeser dari arah yang kita kehendaki,” berkata Puguh.

Ketiga orang itupun kemudian telah mengambil arah yang tidak sejalan dengan arah sungai kecil itu meskipun tidak terlalu tajam. Namun mereka telah mengambil arah Barat sepenuhnya.

Perlahan-lahan ketiga orang itu berjalan terus. Berpegang pada arah yang ditunjukkan oleh bintang Gubug Penceng.

Tetapi keadaan Puguh ternyata memaksa mereka untuk setiap kali beristirahat. Tubuhnya yang lemah membuatnya cepat merasa letih dan bahkan setiap kali terasa lehernya bagaikan kering. Sehingga dengan demikian Sambi Wulung dan Jati Wulung setiap kali bergantian harus mencari air untuk minum.

“Disiang hari keadaanku akan menjadi semakin buruk,” berkata Puguh ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit yang mulai kemerah-merahan.

“Tidak,” berkata Sambi Wulung, “semakin lama kau tentu akan menjadi semakin baik.”

Puguh mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan hati-hati Sambi Wulung dan Jati Wulung membawanya berjalan menuruni kaki Gunung. Tetapi jalan pun semakin lama menjadi semakin datar dan lebih baik.

Ketika satu-satu mereka mulai bertemu dengan orang-orang yang akan pergi ke sawah, maka Sambi Wulung pun mengisyaratkan agar mereka bertiga membenahi pakaian mereka. Bahkan ketika mereka melintasi parit yang berair bening, maka merekapun telah mencuci muka, tangan dan kaki mereka. Membenahi rambut dan ikat kepala.

Sebenarnyalah sebentar kemudian, mereka memang bertemu dengan iring-iringan orang yang pergi ke pasar membawa beberapa macam barang dagangan. Ada yang membawa hasil sawah, kebun dan ada pula yang akan menjual beberapa ekor ternak untuk dibelanjakan keperluan sehari-hari yang lain.

Tetapi tidak ada yang menaruh curiga kepada tiga orang yang berjalan dipagi-pagi buta itu.

“Mereka tentu akan ke pasar,” bekata Sambi Wulung.

“Ya,” jawab Jati Wulung, “agaknya pasar tidak lagi terlalu jauh.

“Kita ikuti mereka,” berkata Sambi Wulung kemudian.

“Untuk apa?” bertanya Puguh.

“Kita mencari makan. Mungkin makan dan minum akan dapat memberimu sedikit kesegaran sehingga kau tidak akan merasa terlalu letih berjalan,” sahut Sambi Wulung.

“Masih sepagi ini?” bertanya Puguh pula.

“Tetapi tentu sudah ada orang berjualan makan dan minum di pasar itu.”

Puguh tidak menjawab. Ia sependapat dengan Jati Wulung. Mungkin dengan makan dan minuman hangat akan dapat memberinya sedikit kekuatan, sehingga mereka akan dapat berjalan lebih cepat.

Dengan demikian maka mereka pun telah mengikuti orang-orang yang berjalan ke pasar. Mereka memang sedikit menyimpang dari arah yang mereka tuju. Tetapi mereka yakin bahwa mereka tidak akan menyimpang terlalu jauh.

Pasar itu memang tidak terlalu jauh. Setelah melewati sebuah padukuhan kecil, maka mereka pun telah menuju ke sebuah padukuhan yang ramai. Sementara itu, gardu-gardu perondan pun telah menjadi kosong, karena anak-anak muda yang meronda telah pulang ke rumah masing-masing.

Meskipun matahari belum terbit, tetapi pasar itu telah menjadi ramai. Ternyata hari itu adalah justru hari pasaran sehingga pasar itu menjadi penuh dan bahkan beberapa orang terpaksa berjualan di pinggir-pinggir jalan di sekitar pasar itu.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa ternyata di pasar itu sudah terdapat bukan hanya sebuah, tetapi beberapa orang berjualan makan dan minuman hangat.

“Kita memilih kedai yang paling baik,” berkata Jati Wulung.

“Kenapa?” bertanya Sambi Wulung.

“Bukankah kita mempunyai uang banyak,” sahut Jati Wulung.

Sambi Wulung hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menjawab.

Seperti dikatakan oleh Jati Wulung, maka mereka memang menuju kesebuah kedai nasi yang cukup besar dan ramai, justru tidak berada didalam pasar. Tetapi kedai itu dibuka di sebuah rumah di depan pasar.

“Beruntunglah orang-orang yang tinggal di dekat pasar,” berkata Jati Wulung, “mereka dapat memanfaatkan halamannya untuk mendirikan sebuah kedai. Ternyata kedai itu cukup banyak dikunjungi orang.”

Sambi Wulung mengangguk. Sambil melangkah ke arah pintu kedai itu, ia berkata, “berhati-hatilah. Kita belum mengenal kebiasaan di tempat ini.”

“Aku kira kebiasaan disini tidak akan berpaut banyak dengan kebiasaan dimana-mana. Bagi seorang pengembara, hal itu tidak akan banyak berpengaruh,” jawab Jati Wulung.

Tetapi sebenarnyalah bahwa ia telah menangkap isyarat Sambi Wulung. Karena itu, maka Jati Wulung pun harus bersiap-siap. Mereka berdua telah sepakat untuk menimbulkan kesan kepada Puguh, bahwa disepanjang jalan, mereka masih akan dapat selalu bertemu dengan hambatan-hambatan. Dengan demikian, maka Puguh merasa bahwa ia memang memerlukan kawan untuk pulang sampai ke rumahnya atau mendekati rumahnya.

Di kedai yang paling ramai kemungkinan yang dikehendaki itu akan lebih besar daripada di kedai-kedai yang lebih kecil.

Demikianlah, maka mereka pun telah memasuki kedai itu. Ruangannya memang cukup luas. Beberapa lincak bambu teratur rapi dihadapkan pada paga-paga bambu rendah untuk meletakkan beberapa jenis makanan.

Jati Wulung yang berada di paling depan tertegun ketika dilihatnya sebuah ruangan yang khusus dibatasi oleh sebuah rana yang tidak terlalu tinggi.

Pengenalannya atas tempat-tempat seperti itu mengatakan kepadanya, bahwa tempat-tempat khusus itu hanya disediakan untuk tamu-tamu yang sangat khusus pula.

Namun justru karena itu, maka Jati Wulung telah melangkah langsung menuju ke tempat itu.

“Tunggu,” salah seorang pelayan di kedai itu tiba-tiba telah menegurnya. Lalu katanya, “Ki Sanak, silahkan duduk di ruang ini.”

“Kenapa?” bertanya Jati Wulung.

“Ruang ini hanya kami sediakan untuk tamu-tamu kami tertentu saja,” jawab pelayan itu.

“Apakah aku harus membayar makanan dan minuman dengan harga yang lebih mahal? Jika demikian, aku akan membayarnya,” jawab Jati Wulung.

“Bukan begitu. Tetapi tempat itu tidak kami sediakan untuk orang lain kecuali orang-orang yang memang pantas untuk berada dibilik itu,” jawab pelayan itu.

Tetapi Jati Wulung melangkah terus sambil berkata, “Anakku sedang sakit. Aku memerlukan tempat yang tenang.”

“Tetapi jangan disitu,” cegah pelayan itu.

Jati Wulung tidak menghiraukannya. Ia pun langsung menuju ke tempat yang disekat itu diikuti oleh Puguh yang merasa tubuhnya masih lemah dan kemudian Sambi Wulung. Meskipun Sambi Wulung tahu akibat yang mungkin timbul, namun seperti Jati Wulung, hal itu memang dikehendakinya.

Pelayan yang mencoba mencegahnya itu pun menjadi ragu-ragu ketika mereka melihat pedang yang tergantung dilambung orang-orang itu. Meskipun hampir setiap orang membawa parang atau golok di lambungnya, namun pedang itu mempunyai bentuk yang agak lain dari parang atau golok yang kebanyakan dibawa oleh hampir setiap laki-laki.

Ternyata bahwa selama pelayan itu ragu-ragu, Jati Wulung, Puguh dan Sambi Wulung telah berada di dalam ruangan yang disekat itu.

“Nah,” berkata Jati Wulung kepada Puguh, “jika kau merasa letih berbaringlah. Tempat ini tersekat, sehingga tidak akan mengganggu orang lain.”

Puguh yang duduk di sebuah amben panjang merasa ragu-ragu. Tubuhnya memang merasa lemah. Tetapi dengan duduk bersandar, maka rasa-rasanya ia sudah beristirahat dengan sebaik-baiknya.

“Makanlah,” Sambi Wulung lah yang mempersilahkan. Dihadapan mereka terdapat sebuah paga yang rendah dengan berbagai makanan di atasnya.

Namun sebelum Puguh sempat mengambil sepotong makanan pun, pemilik kedai itu sendiri telah datang kepada mereka.

“Ki Sanak,” berkata pemilik kedai itu, “bukankah pelayan kami telah memberitahukan bahwa tempat ini adalah hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu?”

“Ya. Dan kamilah diantara orang-orang tertentu itu,” sahut Jati Wulung.

“Maaf Ki Sanak. Bahwa orang-orang tertentu itu adalah orang-orang yang sangat disegani disini. Jika aku mohon Ki Sanak tidak mempergunakan tempat ini, semata-mata karena kami ingin berbuat sebaik-baiknya pada tamu-tamu kami. Daripada terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan, maka sebaiknya kalian berada di ruang yang luas itu bersama-sama dengan para pembeli yang lain. Kami akan tetap melayani kalian dengan sebaik-baiknya.” berkata pemilik kedai itu.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia berkata, “Anakku sakit. Biarlah aku disini.”

“Tetapi…..,” kata-kata pemilik kedai itu terputus ketika Sambi Wulung melemparkan beberapa keping uang ke paga yang rendah hampir penuh dengan makanan itu.

“Ambillah,” berkata Sambi Wulung, “itu belum terhitung harga makanan dan minuman yang akan kami pesan. Kau dapat menaikkan harga makanan dan minumanmu sampai dua kali lipat bagi kami. Tetapi jangan ganggu kami. Kemanakanku itu memang sedang sakit.”

Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Tetapi keping-keping uang itu memang sangat menarik. Apalagi orang-orang itu akan bersedia membayar harga makanan dan minuman sampai dua kali lipat.

Akhirnya pemilik kedai itu berkata, “Ki Sanak. Aku sudah memperingatkan kalian. Jika terjadi sesuatu, maka hal itu bukan tanggung jawab kami. Mudah-mudahan orang-orang yang khusus itu tidak datang pagi ini, sehingga kalian dapat mempergunakan tempat itu sebaik-baiknya.”

“Kami akan mempertanggung jawabkannya,” berkata Sambi Wulung.

Pemilik kedai itupun kemudian telah memungut beberapa keping uang yang diletakkan diatas paga yang randah itu. Kemudian ia pun telah kembali ke tempatnya. Kepada pelayan yang memberitahukan kepadanya, pemilik kedai itu berkata, “Agaknya mereka telah memaksa. Biarlah mereka bertanggung jawab atas tingkah laku mereka sendiri jika orang-orang yang biasanya berada di tempat itu nanti datang. Ki Wirit sulit diajak berbicara. Juga Ki Demang yang sering datang bersama Ki Wirit. Mudah-mudahan mereka tidak datang pagi ini. Atau mungkin agak siang.”

“Tetapi anak muda itu sedang sakit,” berkata pelayan itu. “agaknya mereka akan sedikit lama berada di kedai ini.”

“Sudahlah,” berkata pemilik kedai itu, “jangan hiraukan. Kita sudah berusaha sebaik-baiknya. Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengar. Jika mereka harus menebus kesombongan mereka dengan mahal, itu bukan salah kita.”

Pelayannya mengangguk-angguk. Sementara itu pemilik kedai itu berkata, “bertanyalah kepada mereka. Apa saja yang mereka pesan.”

Pelayan itu mengangguk. Namun ketika ia melangkah menuju ke tempat yang disekat itu, ia melihat seorang yang bertubuh kekar, berwajah keras berdiri di mulut penyekat itu.

Pelayan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kenal benar kepada orang itu. Ki Prajak. Seorang yang sangat ditakuti di tempat itu.

“Salah mereka sendiri,” berkata pelayan itu kepada diri sendiri.

Sebenarnyalah orang yang bernama Ki Prajak itu merasa tersinggung melihat sikap Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh. Karena itu, maka iapun kemudian menggeram, “He, orang-orang sombong. Kenapa kalian tidak mau mendengarkan peringatan pemilik kedai itu. Ruang yang disekat dengan rana ini adalah ruang yang khusus. Aku, yang ditakuti oleh orang-orang sepasar, tidak berani duduk dan makan di ruang ini. Kenapa kalian tidak mau mendengarkannya?”

“Sudah aku katakan alasannya,” jawab Sambi Wulung.

“Sekarang aku yang memperingatkanmu. Keluarlah dari ruang ini dan duduklah di ruang yang luas itu. Jika kau mau duduk sambil menjulurkan kaki, tempatnya masih cukup. Ada banyak amben dan lincak yang kosong. Bahkan jika kalian ingin tidur pun dapat kalian lakukan,” berkata Ki Prajak.

“Kami ingin tenang disini. Anakku sakit,” berkata Jati Wulung.

“Aku tidak peduli,” berkata Ki Prajak, “pergilah. Orang-orang yang pantas duduk disitu adalah orang-orang yang luar biasa. Aku pun tidak berani melanggar ketentuan yang mereka buat.”

“Tetapi aku berani,” jawab Jati Wulung.

“Persetan. Aku ingin merobek mulutmu,” geram Ki Prajak, “sekarang pergilah. Atau aku memaksamu.”

Jati Wulung lah yang kemudian berdiri. Ia melangkah mendekati orang yang ditakuti oleh semua orang yang mengenalnya itu sambil berkata, “Kau jangan ikut campur.”

“Setan. Kau belum mengenal aku. Aku Ki Prajak yang kata-katanya menjadi paugeran disini. Sekali lagi aku perintahkan kalian untuk pergi,” bentaknya.

Tetapi Jati Wulung menjawab, “Aku tidak peduli, apakah kau ditakuti orang atau tidak. Aku tidak takut kepadamu. Jika kau ingin meyakinkan kata-kataku, turunlah ke jalan. Kita akan berkelahi. Jika kau menang, aku akan pindah dari ruang yang disekat ini. Tetapi jika kau kalah, maka kau tidak berhak mencampuri persoalanku. Jika orang-orang yang biasanya berada di bilik itu datang, biarlah aku yang berurusan dengan mereka.”

Wajah Ki Prajak menjadi merah. Sambil menggeram ia berdiri bertolak pinggang.

Tetapi tanpa menghiraukannya Jati Wulung melangkah maju. Justru mendorongnya kesamping sambil berkata, “jangan disini. Nanti kita merusakkan perabot-perabot yang ada di kedai ini. Kita berkelahi diluar.”

Kiai Prajak yang terdorong ke samping mengumpat. Tetapi ia melihat dengan tenang Jati Wulung melangkah keluar dari kedai itu. Sementara Jati Wulung itu sempat berpesan kepada Sambi Wulung, “Mintalah minuman dan makan. Jika aku sudah menyelesaikan perkelahian ini, aku pun ingin minum dan makan tanpa terganggu.”

Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi ketika ia memandang sekilas wajah Puguh, ternyata wajah itu nampak tegang. Agaknya sikap Jati Wulung itu membuatnya berdebar-debar juga.

Ki Prajak yang tersinggung itu segera mengikuti Jati Wulung yang turun ke jalan. Sementara itu, matahari pun sudah mulai memancarkan sinarnya ke langit, sehingga pagi pun menjadi semakin terang.

Demikian Jati Wulung turun ke jalan yang cukup ramai, maka iapun segera bersiap sambil berkata, “Mari. Jangan membuang waktu. Aku sudah ingin minum dan makan nasi hangat.”

Ki Prajak benar-benar tersinggung. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Sementara orang-orang sepasar memang takut kepadanya. Mereka menganggap Ki Prajak sebagai seorang yang tidak dapat dikalahkan oleh sepuluh orang sekalipun. Karena itu, apa yang dikatakannya, harus dilakukan oleh orang-orang di pasar itu. Bahkan para pedagang di pasar itu menganggapnya berhak memungut pajak.

Karena orang-orang di pasar itu tidak mau membuat keributan dengan Ki Prajak, maka tidak pernah ada orang yang berani membantahnya.

Apalagi orang-orang sepasar itu tahu, bahwa Ki Prajak adalah tangan kanan Ki Demang dan Ki Wirit yang lebih ditakuti lagi. Keduanya adalah orang yang bukan saja memiliki kemampuan yang tidak dapat diukur oleh orang-orang dipasar itu, namun Ki Demang adalah orang yang paling berkuasa.

Karena itu, ketika orang-orang diluar kedai itu melihat sikap Jati Wulung menghadapi Ki Prajak, mereka menjadi heran. Bahwa ada juga orang yang berani menentangnya. Apalagi menilik ujudnya, Jati Wulung bukannya orang yang pantas untuk berkelahi melawan Ki Prajak itu.

Karena itu, maka peristiwa itu segera menarik perhatian. Beberapa orang segera berkerumun. Namun ada juga yang justru menjadi ketakutan dan merasa lebih aman untuk menyingkir. Bahkan orang-orang yang ada di kedai-pun telah beringsut keluar. Mereka agaknya juga ingin menyaksikan apa yang terjadi. Bagi orang-orang yang ada di kedai itu, sikap ketiga orang yang berada di ruang yang tersekat itu memang merupakan kesombongan yang pantas dihukum.

Dalam pada itu, Jati Wulung pun telah benar-benar bersiap. Namun Ki Prajak masih juga sempat berbicara kepada orang-orang yang semakin banyak berkerumun, “perhatikan orang ini baik-baik. Orang ini adalah orang yang belum pernah pergi ke pasar ini. Ia tidak tahu siapa aku. Dan karena itu, maka ia berani menantangku. Apalagi ia sudah berani memaksa untuk duduk diruang yang disekat didalam kedai itu, ruang yang khusus dipergunakan oleh Ki Wirit, Ki Demang dan orang-orang yang dikehendakinya atau keluarga mereka. Karena itu, maka orang ini harus sedikit mendapat pelajaran.”

“Cukup,” jati Wulung membentak, “buat apa kau sesorah? Sebentar lagi kau akan pingsan disini.”

“Anak iblis,” orang itu mengumpat pula. Namun ia pun mulai bersiap-siap. Selangkah demi selangkah ia mendekati Jati Wulung yang memang sudah bersiap lebih dahulu.

Dengan garangnya Ki Prajak pun kemudian telah menyerang. Tangannya terayun keras sekali ke arah pelipis Jati Wulung.

Tetapi Jati Wulung benar-benar sudah bersiap. Dengan tangkas ia merendahkan diri, sehingga ayunan tangan Ki Prajak itu tidak mengenainya. Bahkan sambil merendahkan diri, Jati Wulung seakan-akan telah menyusup maju sambil memukul lambung Ki Prajak yang terbuka dengan tangan kirinya.

Jati Wulung tidak mengerahkan kekuatan dan kemampuannya. Namun demikian pukulan itu benar-benar telah menyakiti lawannya. Beberapa langkah Ki Prajak terdorong surut. Bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Namun ia berhasil tetap tegak sambil memegangi lambungnya yang terasa menjadi sangat sakit.

Jati Wulung tidak memburunya. Dibiarkannya Ki Prajak memperbaiki keadaannya dan mempersiapkan dirinya kembali.

Kiai Prajak yang marah menjadi semakin marah. Tetapi ia pun segera mempersiapkan dirinya pula. Ia menjadi lebih berhati-hati karena ternyata lawannya bukan orang kebanyakan sebagaimana diduganya.

Sejenak kemudian, Ki Prajak pun telah menyerang pula. Ia tidak membiarkan dirinya justru menjadi sasaran lawannya yang bergerak cepat. Karena itu, maka Ki Prajak pun telah mempersiapkan diri dan mengerahkan kemampuannya sebaik-baiknya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi perkelahian yang sengit didepan kedai itu. Sambi Wulung dan Puguh ternyata ingin juga melihat apa yang akan dilakukan oleh Jati Wulung terhadap orang yang ditakuti oleh orang-orang sepasar itu. Karena itu setelah memesan makanan dan minuman, maka mereka pun telah keluar pula.

Puguh yang letih itu seakan-akan telah melupakan keletihannya. Ia berdiri bersandar dinding kedai, menyaksikan perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit itu.

Namun, hampir semua orang melihat, bahkan mereka yang tidak pernah melihat perkelahian sekalipun, bahwa ternyata Jati Wulung telah mempermainkan lawannya. Ia seakan-akan tidak dengan sungguh-sungguh berkelahi. Kadang-kadang ia hanya bergeser kesamping, sementara kedua tangannya tergantung saja disisi tubuhnya. Sekali-sekali meloncat-loncat menghindar. Namun tiba-tiba saja ia telah melenting sambil memutar kakinya. Jika putaran kakinya itu mengenai tubuh lawannya, maka lawannya itu pun telah terdorong surut. Bahkan sekali-sekali Ki Prajak itu justru terbanting jatuh.

Ki Prajak itu mengumpat kasar. Dikerahkannya segenap kekuatan dan kemampuannya. Namun ia tidak mampu mengimbangi kemampuan Jati Wulung yang dengan sengaja ingin memperlihatkan kelebihannya dari lawannya.

Puguh yang berdiri bersandar dinding di sebelah Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa dua orang yang mengawaninya itu benar-benar orang berilmu tinggi.

Tetapi bagaimanapun juga Puguh tetap merasa cemas, bahwa kedua orang itu akan membawanya kepada orang tuanya, dan berpendapat bahwa tidak sepantasnya anak-anak muda berada di tempat perjudian di Song Lawa.

“Orang tuaku tidak pedulikan aku,” katanya didalam hati.

Namun Puguh terkejut ketika ia melihat Ki Prajak itu terlempar dengan kerasnya ke arah beberapa orang yang mengerumuni perkelahian itu. Beberapa orang turut terjatuh pula bersamanya. Tetapi ketika beberapa orang yang lain berusaha menolongnya berdiri, ia menghentakkan tangannya sambil berkata kasar, “Aku dapat bangkit berdiri sendiri.”

Ki Prajak itu berusaha untuk berdiri. Tetapi kepalanya rasa-rasanya memang menjadi pening. Tangan Jati Wulung yang mengenai pelipisnya benar-benar terasa sakit dan membuat matanya berkunang-kunang.

“Bersiaplah. Aku sudah sampai kebabak akhir,” berkata Jati Wulung, Lalu katanya, “Ingat, jika kau kalah, kau tidak boleh mengusik aku lagi.”

Ki Prajak itu mengumpat kasar. Tetapi ia masih harus berusaha untuk memperbaiki keseimbangannya lebih dahulu. Sambil menunggu kepalanya tidak lagi terasa berputar, ia melangkah perlahan-lahan mendekati Jati Wulung.

Untuk menutupi kesulitannya, maka iapun mengancam, “Jika kau tetap tidak mau mendengarkan aku, maka lebih baik aku membunuhmu.”

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Itik pun tahu, bahwa kau tidak berdaya. Bagaimana mungkin kau akan membunuhku?”

“Setan,” geram Ki Prajak, “aku belum bersungguh-sungguh. Sebenarnya aku masih memberimu kesempatan. Tetapi ternyata kau memang dungu. Kau telah memaksa aku untuk bersungguh-sungguh. Dan itu berarti kematianmu.”

Jati Wulung masih tertawa. Katanya, “Kau masih saja membual. Cepat, lakukan apa yang dapat kau lakukan, atau aku memukulimu di hadapan banyak orang yang merasa takut kepadamu.”

Ki Prajak benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka dikerahkannya sisa tenaga yang ada padanya. Dengan serta merta maka iapun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi Jati Wulung tidak menjadi terdesak karenanya. Dengan sikap yang masih saja seenaknya, ia telah mengelak, sehingga serangan Ki Prajak itu tidak mengenainya. Bahkan ketika Ki Prajak itu terdorong selangkah dihadapannya, Jati Wulung sempat mengayunkan tangan kirinya ketengkuk lawannya.

Ayunan tangan itu tidak terlalu keras. Tetapi karena searah dengan tarikan kekuatan Ki Prajak sendiri yang tidak mengenai sasaran, maka Ki Prajak itu telah terdorong beberapa langkah kedepan. Sekali lagi ia telah membentur lingkaran penonton yang mengelilingi arena. Beberapa orang telah roboh pula bersamanya.

Ki Prajak masih juga berusaha untuk bangkit. Mulutnya masih saja mengumpat-umpat. Namun ia mulai mencemaskan dirinya sendiri.

“Nah, apakah kau belum mengaku kalah?” bertanya Jati Wulung.

Ki Prajak benar-benar tidak dapat mengekang diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah menarik goloknya.

“Pergunakan senjata dilambungmu,” geram Ki Prajak, “jika kau berani menarik pedangmu, maka kau tentu akan semakin cepat mati. Atau jika kau tidak mau mati, tinggalkan tempat ini.”

“Kau akan mempergunakan senjatamu?” bertanya Jati Wulung dengan dahi yang berkerut.

“Kalau takut, pergilah,” bentak Ki Prajak, “sebelum aku kehilangan kesabaran.”

“Kau mempercepat penyelesaian. Bahkan ujung-ujung pedang akan dapat membunuh seseorang,” berkata Jati Wulung.

Tetapi Ki Prajak yang merasa dirinya ditakuti oleh seisi pasar harus mempertahankan anggapan bahwa ia memang tidak terkalahkan, atau setidak-tidaknya anggapan orang bahwa ia akan dapat mengalahkan sepuluh orang sekaligus.

Karena itu, maka ia masih saja bersikap garang, meskipun ia menjadi berdebar-debar, ketika Jati Wulung-pun benar-benar telah mencabut pedangnya.

Dalam pada itu, Jati Wulung berkata, “Kau telah semakin menyiksa dirimu sendiri dengan golokmu. Jika kau tidak mau mendapat malu karena kau sudah terlanjur ditakuti, maka sebaiknya kau tidak mempergunakan senjata.”

“Persetan,” geram Ki Prajak yang merasa dirinya memiliki ilmu pedang yang baik.

Sejenak kemudian, maka golok Ki Prajak yang besar telah terayun-ayun mengerikan. Sambaran anginnya berdering bagaikan siulan dari daerah maut.

Tetapi Jati Wulung masih saja nampak tenang. Bahkan sekali-sekali nampak senyumnya sekilas tersungging dibibirnya.

Ketika Ki Prajak kemudian menyerang, maka Jati Wulung benar-benar ingin menunjukkan kelebihannya. Ia tidak memerlukan waktu yang lama. Sekali golok itu terayun, maka Jati Wulung telah menangkisnya. Memutarnya, kemudian mengungkitnya dengan cepat.

Golok di tangan Ki Prajak itu bagaikan dilontarkan dengan kekuatan yang tidak terlawan. Jari-jari Ki Prajak terasa hampir berpatahan, sehingga dengan demikian maka ia sama sekali tidak dapat mempertahankan goloknya.

Ternyata bahwa Golk Ki Prajak itu melenting tinggi sekali. Ketika golok itu kemudian meluncur jatuh ke arah orang-orang yang berkerumun disekitar arena, maka merekapun telah berlari-larian menjauh. Bahkan beberapa orang telah terdorong jatuh dan terinjak kaki kawan-kawannya.

Ki Prajak bagaikan orang kebingungan melihat goloknya itu pun kemudian jatuh ditanah. Daun goloknya yang lebar dan panjang itu justru menancap di tanah. Untunglah bahwa orang-orang yang berkerumun telah berlari berpencaran, sehingga golok itu tidak menimpa salah seorang diantara mereka.

Yang terjadi itu benar-benar telah menggetarkan jantung Ki Prajak. Ia menganggap bahwa lawannya memang orang yang luar biasa. Bukan saja kemampuannya dalam olah kanuragan, kecepatan geraknya dan unsur-unsur gerak yang sulit diketahuinya, namun ia adalah orang yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Meskipun ujud Ki Prajak itu jauh lebih tegar dari lawannya, tetapi ternyata bahwa ia tidak berdaya apa-apa.

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar pula. Dengan demikian akan ada orang baru yang berkiasa melampaui Ki Prajak. Tetapi mereka tidak tahu apakah orang itu akan menjadi lebih baik atau justru lebih buruk dari Ki Prajak. yang menjadi alat Ki Wirit dan Ki Demang untuk memungut pajak.

Namun Ki Prajak itu terbukti tidak dapat melawan orang yang baru dikenal pagi itu oleh seisi pasar.

Tetapi dalam pada itu, orang-orang di pasar itu masih harus memperhitungkan Ki Wirit dan Ki Demang. Mereka pun adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi pula.

Untuk beberapa saat Jati Wulung berdiri tegak memandang Ki Prajak yang kebingungan. Dengan senyum di bibir Jati Wulung kemudian berkata, “Nah, apakah kau merasa menang atau kalah?”

Wajah Ki Prajak menjadi tegang. Sementara Jati Wulung berkata selanjutnya, “Jika kau merasa belum kalah, ambil golokmu. Tetapi ingat, aku hanya memberimu kesempatan satu kali. Jika kau ambil golokmu, maka kita akan benar-benar bertempur.”

Ki Prajak sama sekali tidak menjawab. Ia menyadari, bahwa jika mereka benar-benar bertempur, maka ia tidak akan mampu melawannya. Bahkan mungkin orang yang tidak dikenal itu benar-benar akan membunuhnya.

Karena Ki Prajak tidak menjawab, maka Jati Wulung pun kemudian berkata, “Jika kau tidak mengambil golokmu, maka berarti kau mengaku kalah. Kau tidak akan menggangguku lagi.”

Ki Prajak memang tidak beranjak dari tempatnya.

Sehingga dengan demikian maka Jati Wulung pun kemudian meninggalkannya kembali masuk kedalam kedai.

Sambi Wulung dan Puguhpun telah kembali duduk pula bertiga di tempat yang disekat dengan rana itu. Bahkan hampir berteriak Jati Wulung itu pun berkata, “He, mana pesanan kami?”

Pemilik kedai yang menyaksikan perkelahian itu pula memang menjadi ketakutan. Ketiga orang itu ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi menurut penglihatan mereka. Namun demikian pemilik kedai itu pun masih tetap merasa cemas, bahwa Ki Wirit atau Ki Demang atau bahkan kedua-duanya akan datang. Jika timbul perselisihan, maka pertempuran yang akan datang tentu pertempuran yang sangat seru.

Tetapi pemilik kedai itu tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang pelayan pun kemudian menghidangkan minuman hangat. Kemudian nasi yang masih hangat pula beserta lauk pauknya.

Ternyata ketiga orang itu makan dan minum dengan tenangnya. Mereka sama sekali tidak merasa cemas akan apapun juga, meskipun mereka tahu bahwa kemungkinan yang lain dapat terjadi jika orang-orang yang merasa berhak atas tempat itu datang.

Seperti yang dikatakan oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung, bahwa minuman dan makanan yang hangat telah membuat tubuh Puguh merasa lebih baik. Meskipun anak muda itu belum merasa sembuh benar, tetapi ia tidak lagi terlalu lemah.

Selain minum dan makan nasi hangat, maka mereka-pun masih minta dibungkuskan beberapa jenis makanan untuk bekal perjalanan mereka dijalan.

Agaknya sampai ketiga orang itu selesai makan dan minum, orang-orang yang merasa memiliki tempat khusus itu masih belum datang. Karena itu, maka pemilik kedai itu merasa lega ketika Sambi Wulung bertanya kepadanya, berapa ia harus membayar.

Seperti yang dijanjikan, maka Sambi Wulung telah membayar lebih banyak dari harga yang seharusnya sehingga pemilik kedai itu menjadi terheran-heran.

“Jadi Ki Sanak benar-benar membayar lebih?” bertanya pemilik kedai itu.

“Aku sudah menjanjikannya,” jawab Sambi Wulung. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Atau kau menganggap justru kurang?”

“Tidak. Sama sekali tidak,” jawab pemilik kedai itu, “tetapi tadi Ki Sanak sudah memberikan uang kepadaku.”

Sambi Wulung menggeleng sambil berkata, “Bukan apa-apa. Aku mempunyai uang banyak. Mungkin orang lain dapat memerasmu atau katakan dengan kedok pemungut pajak, tetapi bukan yang sebenarnya.”

Pemilik kedai itu mengangguk hormat. Katanya dengan nada rendah, “Terima kasih Ki Sanak.”

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh pun kemudian telah melangkah keluar dari kedai itu sambil minta diri. Beberapa orang yang semula menyaksikan perkelahian di jalan yang terletak antara kedai itu dengan pasar, telah kembali duduk di tempat mereka semula untuk mengulangi makan dan minum mereka yang tersisa. Demikian pula orang-orang yang berjualan dipasar. Mereka telah kembali duduk dibelakang dagangan mereka.

Ketika ketiga orang itu turun ke jalan, maka mereka sudah tidak melihat lagi orang yang bertubuh kekar itu. Agaknya orang itu telah pergi. Mungkin karena malu, tetapi ketiga orang itu pun menyadari, bahwa mungkin Ki Prajak telah berusaha untuk menyusun rencana pembalasan.

Tetapi Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh tidak peduli. Mereka kemudian berjalan ke arah mereka datang, karena mereka menyimpang dari arah perjalanan mereka sekedar untuk mencari makan.

Beberapa pasang mata mengikuti langkah ketiga orang itu. Tetapi tidak seorang pun yang menyapanya. Kecuali orang itu adalah orang yang memang tidak mereka kenal, mereka merasa khawatir, bahwa orang-orang itu merupakan bayangan yang lebih buruk dari Ki Prajak yang telah dikalahkan itu. Dengan demikian, maka tegur sapa itu akan dapat mengundang kesulitan bagi mereka.

Ketiga orang itu pun sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang memperhatikan mereka. Mereka berjalan saja seenaknya. Sementara Jati Wulung menjinjing sebuah kantong yang dibelinya juga dari pemilik warung itu untuk membawa makanan yang telah dibelinya untuk bekal diperjalanan.

Ketika ketiga orang itu telah meninggalkan kedai itu, maka pemilik kedai dan beberapa orang pelayannya bagaikan telah terlepas dari cengkaman ketegangan. Ternyata tidak terjadi pertengkaran didalam kedainya karena orang-orang yang menganggap dirinya berhak atas tempat yang tersekat itu tidak datang ke kedainya pada saat orang lain berada didalamnya.

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh pun kemudian telah meninggalkan padukuhan yang besar dan terdapat sebuah pasar yang ramai didalamnya. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “Ternyata bahwa diperjalanan kita menemukan persoalan-persoalan yang kadang-kadang memaksa kita mempergunakan kekerasan.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tidak akan merasa terlalu cemas, jika keadaan Puguh telah menjadi lebih baik. Tetapi dalam keadaan seperti ini, rasa-rasanya aku tidak sampai hati untuk melepaskannya.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian menyahut, “Setelah sampai di Gantar keadaanku akan menjadi baik. Aku akan dapat menempuh perjalanan sendiri.”

“Kau terlalu lemah untuk berjalan sendiri meskipun kau sudah sampai di Gantar,” jawab Jati Wulung.

“Aku sudah mengenal lingkungan itu,” jawab Puguh.

“Apa salahnya jika kami antar kau sampai ketempat yang paling aman? Kami tidak mempunyai tugas apapun yang harus kami lakukan selain mengembara. Pergi ketempat-tempat judi, bukan saja di Song Lawa, tetapi juga di Bergota, di Gresik jauh di sebelah Timur atau disebelah Barat Pajang,” berkata Jati Wulung.

“Apakah tempat-tempat perjudian itu masih ada?” bertanya Puguh. Lalu, “Maksudku, tempat-tempat itu tidak mengalami nasib seperti Song Lawa?”

“Aku tidak tahu,” jawab Jati Wulung, “tetapi jika hal itu terjadi, tentu bersamaan dengan Song Lawa, karena sebelum aku berada di Song Lawa aku memasuki lingkungan perjudian di Bergota. Bahkan aku sempat singgah sebentar di sebelah Barat Pajang. Tetapi tempat perjudian di sebelah Pajang tidak sebesar Bergota. Tidak pula sebesar Gresik. Untuk menghapus tempat perjudian disebelah Barat Pajang tidak terlalu sulit, sebagaimana dilakukan oleh para prajurit Pajang atas Song Lawa, apalagi jaraknya dari Pajang memang tidak sejauh Gunung Kukusan. Tetapi untuk menghapus tempat perjudian di Bergota dan Gresik memerlukan perhitungan yang matang. Mungkin para Adipati dapat diperintahkan untuk melakukannya tanpa penanganan langsung dari Pajang sebagaimana dilakukan atas Song Lawa. Atau para Adipati itu sendirilah yang memang berniat untuk melakukannya.”

Tetapi Sambi Wulung menyahut, “Namun mungkin justru tempat itu mendapat perlindungan. Resmi atau tidak resmi, karena tempat-tempat seperti itu dapat memasukkan banyak uang.”

“Siapapun yang melindunginya, maka tempat-tempat itu pada saatnya tentu akan habis digulung oleh para prajurit yang setia akan tugas mereka,” berkata Jati Wulung diluar sadarnya.

Puguh mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Jati Wulung itu. Dengan nada rendah iapun bertanya, “Jika tempat-tempat seperti itu sudah tidak ada lagi, dimana kalian akan berjudi?”

Pertanyaan itu memang mengejutkan. Jati Wulung. Barulah ia sadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang salah. Namun dengan cepat Jati Wulung berkata, “Sebenarnyalah sudah lama aku ingin membukanya. Tetapi dengan cara yang lain, yang tidak mudah untuk dihancurkan oleh para pejabat dan para prajurit.”

“Bagaimana caranya?” bertanya Puguh.

“Jika para prajurit dapat memasukkan petugas sandinya di tempat-tempat perjudian, maka sebaiknya kita berhubungan dengan para petugas sandi. Jika kita dapat berhubungan dengan seorang saja diantara mereka, maka kita akan tahu dengan pasti, kapan akan diadakan sergapan pada tempat perjudian itu. Dengan demikian kita akan sempat bersiap-siap. Tidak perlu melawan. Tetapi cukup memindahkan tempat itu,” jawab Jati Wulung.

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi niat Jati Wulung itu nampaknya masih agak kabur bagi Puguh. Karena itu, maka Jati Wulung menjelaskan, “Jika dengan cara demikian, maka prajurit tidak akan pernah dapat menghancurkan tempat perjudian itu. Tetapi kita harus mempunyai hubungan yang luas. Tempat-tempat yang dalam waktu singkat dapat dirubah menjadi tempat perjudian seperti Song Lawa. Yang paling tepat adalah padepokan-padepokan yang terpencil.”

Puguh masih saja mengangguk-angguk. Katanya, “Satu kerja yang sulit untuk dilakukan. Tetapi kau dapat mencobanya.”

“Memerlukan waktu yang panjang untuk mempersiapkannya tempat seperti itu,” berkata Jati Wulung.

“Ya. Waktu yang panjang dan modal yang besar,” desis Sambi Wulung.

Pembicaraan merekapun tiba-tiba terputus, ketika mereka melihat beberapa orang muncul disimpang empat dihadapan mereka. Dari kejauhan mereka melihat orang-orang itu kemudian hilir mudik di simpang empat itu sambil memperhatikan mereka.

Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka menjadi semakin dekat. Selah seorang diantara mereka adalah Ki Prajak. Orang yang baru saja berkelahi dengan Jati Wulung didepan kedai makanan itu.

“Ternyata persoalanmu belum selesai Wanengpati,” desis Sambi Wulung.

Jati Wulung menggeram. Katanya, “Orang-orang yang tidak tahu diri. Ternyata persoalannya masih dianggap belum selesai. Mereka masih akan mengajak bermain-main.”

Sambi Wulung mengangguk kecil. Namun ia pun bertanya kepada Puguh, “Bagaimana keadaanmu?”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Keadaannya memang bertambah baik. Tetapi ia merasa masih belum pulih kembali. Luka-lukanya masih terasa sakit. Tetapi untuk sekedar melindungi dirinya, maka ia masih akan dapat berusaha.

Karena itu maka katanya, “Aku akan berusaha sebaik-baiknya. Makan dan minum yang hangat itu memang memberikan sedikit kesegaran pada tubuhku yang lemah. Mudah-mudahan aku tidak justru menyulitkan kalian berdua.”

“Bagus,” sahut Sambi Wulung, “kami akan berdiri sebelah menyebelah. Kau akan berada di tengah. Berusahalah melindungi dirimu sendiri.

Puguh mengangguk. Namun tubuhnya memang terasa menjadi lebih baik. Apalagi setelah kehangatan makan dan wedang jahe itu bagaikan merayap di seluruh urat darahnya.

Dengan demikian maka ketiga orang itu berjalan tenis. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan orang-orang yang berada di simpang empat. Atau seakan-akan mereka memang tidak bersalah sama sekali terhadap orang-orang yang berada di simpang empat itu.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, maka orang-orang di simpang empat itu mulai berpencar memenuhi jalur jalan. Seorang diantara mereka adalah orang yang sudah lebih tua dari kawan-kawannya. Agaknya orang sebaya dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Lima orang,” berkata Jati Wulung, “nampaknya mereka adalah orang-orang yang berkedudukan.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Ketika mereka tinggal beberapa langkah lagi dari simpang empat itu, maka orang yang bernama Kiai Prajak itu pun telah bergeser maju dihadapan keempat orang yang lain. Sambil bertolak pinggang ia berdiri di tengah-tengah jalan.

“Kau Ki Sanak,” desis Jati Wulung.

“Ya. Aku. Aku sengaja menghindari perkelahian yang akan dapat mengacaukan pasar itu. Karena itu, aku telah mengalah waktu itu. Tetapi disini keadaannya berbeda. Disini tidak banyak orang yang akan berkerumun menganggu perkelahian kita.”

“Kau masih ingin bertempur?” bertanya Jati Wulung.

“Aku akan membuat kalian menjadi jera. Kalian telah menghina kami,” geram orang itu. Lalu, “Kau sudah melanggar paugeran yang dibuat oleh Ki Demang dan Ki Wirit atas kedai itu. Pelayan dan pemilik kedai itu sudah memberimu peringatan. Tetapi kau tidak menghiraukannya, sehingga kau telah membuat orang-orang yang ada di kedai itu gelisah. Nah, sekarang kau berhadapan dengan Ki Demang dan Ki Wirit itu sendiri.”

“O,” jati Wulung mengangguk-angguk, “jadi bukan karena kau mencari tempat lain untuk bertempur kan?”

“Persetan. Kau dapat berbicara dengan Ki Demang dan Ki Wirit langsung,” bentak Ki Prajak.

Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bertanya, “Yang manakah Ki Demang dan yang manakah Ki Wirit?”

Seorang diantara keempat orang itupun bergeser maju dan berdiri disamping Ki Prajak. Katanya dengan nada datar, “Akulah Demang di Kademangan ini.”

“O,” jati Wulung mengangguk. Lalu katanya, “Apakah Ki Demang akan mengadili kami. Kami akan berterima kasih jika Ki Demang menangkap orang ini yang mengganggu selagi aku makan di kedai yang ada di depan pasar itu.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa, “Kau memang pandai untuk memancing persoalan. Kau tahu bahwa hal itu pasti tidak akan aku lakukan. Tetapi kau telah menyebutnya juga.”

Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tertawa. Katanya, “Baiklah. Kita tidak usah berbelit-belit. Apa yang ingin kalian lakukan? Berkelahi? Marilah, kami sudah siap.”

“Tunggu,” berkata Ki Demang, “kami ingin tahu beberapa hal tentang kalian.”

“Apa yang ingin kau ketahui Ki Sanak?” bertanya Jati Wulung.

Sebelum Ki Demang menyahut, maka seorang yang lain lagi telah melangkah maju pula. Orang yang umurnya sudah sebaya dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kaukah yang disebut Ki Wirit,“ bertanya Jati Wulung dengan serta merta.

“Ya. Akulah Ki Wirit itu,” jawab orang itu.

“Ujud dan sikapmu berbeda dari gambaranku,” berkata Jati Wulung.

“Kenapa?” bertanya Ki Wirit itu.

“Aku kira kau adalah seorang yang berpakaian germerlap, berkeris dengan pendok emas serta mengenakan timang emas pada kamusmu. Berjalan agak mengangkat wajahnya sedikit. Sambil meredupkan mata dan mencibirkan bibir kau sapa orang-orang yang tunduk hormat kepadamu sambil menepi dipinggir jalan,” berkata Jati Wulung, “ternyata ujud dan sikapmu cukup sederhana dan tidak berlebih-lebihan.”

Orang yang disebut Ki Wirit itu tersenyum. Katanya, “Aku bukan orang yang pantas dihormati secara berlebih-lebihan. Sebagaimana juga Ki Demang, maka kami semua, para bebahu dan pemimpin Kademangan adalah orang-orang yang sederhana.”

“Baiklah,” berkata Jati Wulung, “sekarang, apakah keperluan kalian menghentikan perjalanan kami?”

“Sebenarnya kau tidak usah bertanya Ki Sanak,” jawab Ki Wirit, “kau tentu sudah tahu, bahwa kau telah menyinggung perasaan kami.”

“O,” jati Wulung mengangguk-angguk. Lalu, “Barangkali karena aku telah berkelahi dengan salah seorang diantara orang-orangmu itu?”

“Salah satu diantara kesalahanmu, bahwa kau telah berani melawan orang-orangku,” jawab Ki Wirit.

“Kenapa salah satu? Apakah ada kesalahanku yang lain?” bertanya Jati Wulung.

“Jangan berpura-pura dungu. Kau telah menghina hak serta kuasa Ki Demang dan aku. Kau telah memaksa untuk duduk ditempat yang khusus disediakan bagi kami di kedai itu,” geram Ki Wirit kemudian.

“Jadi hanya karena kami duduk ditempat yang kosong?” jati Wulung ganti bertanya, “Ki Sanak. Ternyata sampai aku meninggalkan kedai itu, kalian tidak datang ke kedai itu. Karena itu apa salahnya jika aku berada di tempat yang sedang tidak dipergunakan. Kedai adalah satu tempat yang diperuntukkan bagi orang banyak. Termasuk aku dan saudara-saudaraku. Bahkan siapa saja.”

“Tetapi itu adalah paugeran di Kademangan ini. Tidak seorang pun yang boleh mempergunakan tempat yang disediakan bagi Ki Demang. Dan ternyata kau telah melanggarnya. Hal itu tidak akan menjadi persoalan jika kalian memang tidak mengetahuinya,” berkata Ki Wirit.

“Kami memang tidak mengetahuinya,” berkata Jati Wulung.

Tetapi Ki Wirit itu justru tertawa. Katanya, “Kau memang aneh Ki Sanak. Bagaimana mungkin kau tidak mengetahuinya. Pelayan dan pemilik kedai itu sudah memberimu peringatan. Mereka berusaha untuk berbuat baik kepadamu, agar kau tidak melakukan kesalahan dengan melanggar paugeran Kademangan ini. Tetapi kau tidak pernah menghiraukannya. Kemudian Ki Prajak pun telah minta kepadamu untuk pergi. Bahkan ia telah berusaha memaksa kalian karena ia merasa bertanggung jawab atas pelaksanaan segala macam paugeran di Kademangan ini. Tetapi kau berhasil mengalahkannya.”

“Aku tidak kalah,” geram Kiai Prajak, “aku tidak mau orang-orang sepasar menjadi kebingungan dan kehilangan akal sehingga pasar itu menjadi kacau. Kekacauan itu tentu akan dimanfaatkan oleh para penjahat untuk merampas dan merampok barang-barang bukan saja yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Tetapi juga mereka akan berani merampok para pedagang yang kebingungan itu.”

Ki Wirit tersenyum. Katanya, “Baiklah. Apapun alasanmu, tetapi orang-orang ini tetap tidak mau tahu bahwa mereka harus menyingkir dari tempat yang khusus di kedai itu.”

Ki Prajak mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Begitulah. Karena itu, maka segala sesuatunya terserah kepada Ki Demang dan Ki Wirit.”

Ki Wirit pun kemudian berpaling kepada Ki Demang. Sementara Ki Demang berdesis. “Kita harus menghukum mereka.”

“Ya,” jawab Ki Wirit, “kita harus menghukum mereka. Jika kita membiarkan orang-orang itu pergi tanpa mendapat hukuman atas pelanggarannya terhadap paugeran yang berlaku disini, maka selanjutnya akan menjadi kebiasaan orang dari luar Kademangan ini berlaku sekehendak hatinya disini, tanpa menghiraukan paugeran yang berlaku, serta sama sekali tidak menghargai para bebahu di Kademangan ini.”

“Nah,” berkata Ki Demang, “aku harap kalian tidak berbuat sesuatu yang akan dapat memperberat hukuman kalian. Kalian harus menjulurkan pergelangan tangan kalian untuk diikat. Kemudian menyeret kalian bertiga ke Kademangan. Hukuman berikutnya akan ditentukan dalam sidang yang akan dihadiri oleh para bebahu dan orang-orang tua pemangku adat disini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Namun keduanya tiba-tiba saja tersenyum. Jati Wulung lah yang melangkah maju sambil berkata, “Ki Demang. Menurut pengamatanku yang sekilas, kami menaruh kasihan kepada Ki Demang.”

Wajah Ki Demang menjadi merah. Dengan nada marah ia bertanya, “Kenapa kau dapat berkata seperti itu?”

“Ternyata yang sebenarnya memerintah Kademangan ini bukannya Ki Demang,” berkata Jati Wulung.

“Bukan aku? Apakah kau gila?” geram Ki Demang.

“Ki Demang adalah orang yang berhak untuk menduduki jabatan itu karena hak yang turun temurun. Tetapi menurut pengamatanku yang sekilas, maka yang sebenarnya berkuasa disini adalah Ki Wirit,” berkata Jati Wulung.

“Tutup mulutmu,” bentak Ki Demang, “jangan mengigau. Kau harus menyadari, bahwa igauanmu itu akan dapat menjerat lehermu.”

Tetapi Jati Wulung menjawab dengan senyumnya yang masih nampak dibibirnya. Katanya, “jangan menjadi terlalu garang Ki Demang. Aku bukan sekedar mengigau. Meskipun aku bukan seorang yang pandai, tetapi aku mempunyai berpuluh ribu pengenalan atas tabiat dan tingkah laku manusia. Juga atas Ki Demang disini, yang tidak menunjukkan kewibawaan yang memadai dibanding dengan Ki Wirit.”

“Ki Wirit adalah salah seorang tua yang memang dihormati disini,” berkata Ki Demang, “bukankah itu berlaku dimana saja, jika seorang pemimpin pemerintahan menghormati orang-orang tua yang bijaksana di lingkungannya?”

“Kau benar Ki Demang. Nampaknya Ki Wirit adalah orang tua yang bijaksana di padukuhan dan bahkan Kademangan ini,” jawab Jati Wulung.

Ki Demang mengerutkan dahinya. Ia merasakan sindiran yang tajam dari kata-kata Jati Wulung, sehingga iapun berkata, “Kata-katamu tajam melampaui ujung duri pandan. Apapun yang kau katakan, maka kau akan mendapat hukuman yang pantas. Kata-katamu dan sikapmu ternyata telah memperberat kesalahanmu.”

“Sudahlah,” berkata Jati Wulung kemudian, “sejak awal sudah aku katakan. Marilah kita berkelahi. Jangan banyak berbicara lagi.”

“Persetan,” geram Ki Wirit, “kata-katamu semakin lama semakin menyakitkan hati. Kau kira jika kita benar-benar berkelahi kau akan dapat luput dari tanganku?”

“Aku sudah bertekad untuk menantangmu. Jangan banyak bicara lagi. Kita berkelahi, atau biarkan kami pergi,” jati Wulung pun membentak.

Ki Wirit benar-benar menjadi marah. Ia pun segera memberikan isyarat kepada kedua orang kawannya yang lain, sehingga mereka pun dengan serta merta telah bergeser dari tempatnya dan mengepung ketiga orang itu.

“Jangan berharap apa-apa lagi,” berkata Ki Wirit, “sebenarnya aku tidak ingin berkelahi dengan cara yang licik, sebagaimana kalian tidak berkelahi bertiga ketika kalian melawan Ki Prajak.”

“Aku tidak perlu melawannya bertiga,” berkata Jati Wulung.

“Nah, sekarang baiklah. Kami tidak akan bertempur berlima, sementara kalian hanya bertiga. Aku ingin tahu, apakah kalian benar-benar laki-laki pilihan, sehingga kalian berani melakukan tindakan yang deksura di kedai itu,” berkata Ki Wirit.

“Maksudmu?” bertanya Jati Wulung.

“Hanya seorang diantara kami yang akan bertempur. Sedangkan kalian dapat memilih salah seorang diantara kalian. Kita akan berperang tanding,” jawab Ki Wirit.

Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Ki Wirit mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan sehingga baik Jati Wulung maupun Sambi Wulung mempunyai penilaian tersendiri atas orang ini.

Namun sebelum Jati Wulung menjawab, maka Sambi Wulung telah mendahului, “Menarik sekali. Agaknya sekarang giliranku untuk berkelahi. Adikku, Wanengpati telah mengalahkan Ki Prajak, diakui atau tidak diakui. Sekarang aku akan berperang tanding melawanmu, Ki Wirit.”

“Kenapa kau?” bertanya Jati Wulung.

“Bergantian. Sudah beberapa hari aku tidak berkelahi. Sekarang aku akan mendapat kesempatan itu,” berkata Sambi Wulung.

“Tetapi akulah yang telah memulainya. Maka biarlah aku yang menyelesaikannya,” berkata Jati Wulung.

“Itu namanya tidak bergantian. Kau akan mengambil semuanya dan tidak memberi aku kesempatan sama sekali. Itu tidak adil.”

“Setan,” geram Ki Wirit, “jadi kalian berebut untuk mati.”

“Siapa bilang berebut untuk mati? Kami berebut kesempatan untuk membunuh. Apa salahnya dalam keadaan seperti ini kami membunuh? Jika kau sudah menyebut-nyebut untuk membunuh kami, maka kamipun telah bertekad untuk membunuh kalian.”

Ki Wirit yang marah itu menjadi semakin marah. Dengan keras ia membentak, “Cepat. Semakin lama akan menjadi semakin banyak orang yang akan melihat perkelahian ini. Meskipun dengan demikian akan menjadi semakin banyak pula saksi kematianmu, tetapi aku tidak memerlukannya.”

Sambi Wulung pun kemudian bergeser maju sambil berkata kepada Jati Wulung, “jaga anakmu yang sakit itu.”

Jati Wulung tidak dapat memaksakan kehendaknya atas Sambi Wulung. Ia sadar, bahwa Sambi Wulung tentu menganggap bahwa Ki Wirit memang memiliki kelebihan. Karena itu, agar tidak terjadi sesuatu atas mereka bertiga, maka Sambi Wulung yang memiliki ilmu terbaik diantara mereka bertiga akan menghadapinya. Jika Ki Wirit mampu mengalahkan Sambi Wulung, maka nasib mereka bertiga memang akan menjadi terlalu buruk.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung lah yang kemudian telah berdiri dipaling depan menghadapi Ki Wirit. Sementara itu Jati Wulung dan Puguh pun harus berhati-hati, karena masih ada empat orang lainnya, termasuk Ki Demang yang akan dapat berbuat sesuatu atas mereka.

“Bagus,” berkata Ki Wirit. “Jadi kaulah yang akan menghadapi aku dalam perang tanding ini?”

“Ya,” jawab Sambi Wulung mantap.

Ki Wirit mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia-pun berkata, “Baiklah. Marilah kita yang tua-tua ini sekali-sekali mencari kesempatan untuk bermain-main pula.” Lalu katanya kepada Ki Demang, “Ki Demang, jangan ganggu kami. Suruh orang-orang itu berjaga-jaga agar tidak seorang pun diantara mereka akan sempat melarikan diri.”

Ki Demang mengangguk. Jawabnya, “percayakan mereka kepada kami. Siapa yang akan melarikan diri, akan mati lebih dahulu karenanya.”

Namun Ki Demang dan bahkan orang-orang yang mengepung itu terkejut ketika mereka mendengar Jati Wulung tertawa. Katanya, “Suara kalian seperti guntur di mangsa ke sanga. Menggelegar memenuhi langit yang kelabu. Tetapi marilah kita buktikan, apakah benar-benar hujan akan dapat turun.”

“Persetan kau,” bentak Ki Demang.

Namun dengan serta merta Jati Wulung menjawab, “Apakah kita juga akan perang tanding?”

“Tidak,” Ki Wiritlah yang menyahut, “aku dan orang ini akan menentukan segala-galanya.”

Jati Wulung tertawa berkepanjangan. Suara tertawanya berhenti ketika Ki Demang membentak, “He, kenapa kau tertawa?”

“Aku memang yakin bahwa Ki Demang tidak lebih dari sebuah wayang golek yang hanya bergerak jika digerakkan oleh Ki Wirit. Ki Wirit pun menjadi cemas akan nasib wayang goleknya jika pada suatu saat ia tidak sempat mengendalikannya dengan baik.”

“Setan,” geram Ki Wirit, “jika aku selesai dengan perang tanding ini, maka kaupun akan aku bunuh dengan caraku.”

“Jangan sesumbar. Lakukanlah jika kau mampu,” jawab Jati Wulung.

Ki Wirit menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi retak oleh kemarahan yang menyesak. Ia belum pernah menjumpai orang seperti ketiga orang itu. Ketika sekilas ia memandang wajah Puguh, maka ia pun berkata didalam hati, “Jika anak itu tidak sakit, maka ia tentu gila juga seperti ayahnya.”

Demikianlah, Ki Wirit telah berhadapan dengan Sambi Wulung. Keduanya telah bersiap untuk bertempur disimpang empat. Seperti yang dikatakan olah Ki Wirit, maka sebenarnyalah, beberapa orang yang tertahan dan tidak dapat lewat dijalan itu, telah berkerumun meskipun pada jarak yang jauh. Mereka mengerti bahwa jika Ki Wirit telah ikut campur, biasanya keadaan orang-orang yang menjadi sasarannya tidak akan tertolong lagi. Karena itu, maka Ki Wirit memang lebih ditakuti daripada Ki Demang, yang sebagaimana diduga oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, bahwa Ki Demang memang berada dibawah pengaruh Ki Wirit.

“Bersiaplah untuk mati dengan cara yang kurang baik,” berkata Ki Wirit dengan nada berat.

Tetapi Sambi Wulung menjawab, “Ki Wirit. Apakah kau mempunyai anak isteri? Barangkali ada pesan yang ingin kau sampaikan kepada Ki Bekel sebelum kau mati disini?”

Kata-kata Sambi Wulung itu bagaikan api yang telah menyalakan minyak yang sudah tersiram dihatinya. Dengan serta merta maka apipun telah berkobar membakar seluruh isi dadanya.

Dengan loncatan yang cepat, maka Ki Wirit pun telah menyerang. Tangannya terayun mendatar ke arah kening lawannya. Namun Sambi Wulung pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka serangan itu telah dielakkannya. Tangan Ki Wirit itu terayun beberapa jari dari kepalanya yang menunduk.

Tetapi dalam pada itu, Sambi Wulung tidak menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka baginya. Sambil menghindari ia telah berputar dengan ayunan kaki mengarah lambung.

Ki Wirit memang terkejut melihat ketangkasan lawannya. Karena serangan itu, maka ia pun harus meloncat selangkah surut. Tetapi ketika kakinya menjejak tanah, maka kaki itu telah melemparkannya kembali. Bahkan tubuhnya menjadi miring dan satu kakinya lurus menyamping.

Sambi Wulung mampu bergerak secepat serangan lawannya. Ia memiringkan tubuhnya sambil menarik dadanya. Kaki Ki Wirit itu memang hampir saja mengenai wajahnya.

Dengan kedua tangannya Sambi Wulung memukul kaki Ki Wirit. Tetapi Ki Wirit telah menggeliat dan menjatuhkan dirinya. Justru kakinya yang lainlah yang kemudian mematuk lambung lawannya ketika Ki Wirit itu berguling ditanah sambil mengambil jarak.

Sambi Wulung bergeser surut selangkah. Tetapi demikian ia melihat Ki Wirit melenting berdiri, maka ia-pun telah meloncat menerkam dengan ayunan tangannya.

Ki Wiritlah yang kemudian terpaksa membungkukkan badannya. Untuk mengurangi kemungkinan buruk dari serangan lawannya, justru Ki Wirit lah yang telah menyerang dada lawannya dengan kedua tangannya.

Tetapi serangan itupun tidak menyentuh tubuh Sambi Wulung yang bergeser mundur.

Keduanya pun kemudian berdiri tegak. Mereka saling memandang dengan tajamnya. Namun dengan demikian untuk beberapa saat keduanya berdiri tegak ditempatnya.

Ki Wirit yang tidak menyangka bahwa lawannya mampu melawannya untuk beberapa lama, bahkan justru mampu mengimbangi kekuatannya serta kecepatan geraknya, memang membuatnya menjadi heran. Sambil mengangguk-angguk Ki Wirit itupun berkata, “Ternyata kau bukan sekedar mampu membual. Kau dapat menghindari sentuhan tanganku untuk beberapa lama. Bahkan kau sempat membalas menyerang meskipun serangan-serangan itu tidak berarti.

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian menjawab, “Ki Wirit. Aku pun memang harus mengakui bahwa kau adalah seorang yang berilmu tinggi. Tetapi bukan berarti bahwa karena itu kau berhak untuk berbuat apa saja sesuka hatimu. Mungkin di Kademangan ini tidak ada orang yang mampu mencegah tingkah lakumu, sehingga semua keinginanmu akan dapat kau lakukan disini. Tetapi kau harus ingat, bahwa kau tidak berdiri sendiri di dunia oleh kanuragan. Meskipun Ki Demang di Kademangan ini tidak pernah berani menentang kehendakmu, sehingga justru terpaksa menjadi alatmu dengan kuasa yang dimilikinya dengan sah, namun diatas kuasa Ki Demang masih ada kekuasaan lain yang akan dapat mencegahmu. Ada tiga kuasa yang aku maksud. Pertama, kuasa Pajang dan kedua, jika kuasa Pajang tidak melihat kecuranganmu dengan mempergunakan kuasa kekuatanmu dan kelebihanmu dalam olah kanuragan, maka tentu ada kekuatan lain yang pada satu saat akan menghancurkanmu. Dan sekarang aku telah membawa kuasa itu atasmu.”

“Setan kau,” geram Ki Wirit, “kau berani menghina aku.”

“Aku tidak menghinamu. Aku memang bertekad untuk menghancurkanmu. Bahkan jika aku gagal, masih ada kuasa yang jauh lebih tinggi dari kuasa ilmumu. Dengan alat apapun kuasa itu akan dapat menghancurkanmu,” berkata Sambi Wulung.

“Omong kosong,” geram Ki Wirit.

“Kuasa dari segala sumber kuasa didunia ini,” geram Sambi Wulung.

“Ucapan orang yang telah berputus-asa. Nah, jika kau memang sudah berputus asa, jangan mencoba menentang aku lagi. Menyerahlah. Kami akan mengikatmu dan membawamu ke Kademangan.” Ki Wirit hampir berteriak.

Tetapi Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “Jangan mimpi mengikat tanganku.”

Sambi Wulung tidak dapat melanjutkan kata-katanya Tiba-tiba saja Ki Wirit yang marah itu telah meloncat menyerangnya.

Pertempuran pun telah terulang kembali. Keduanya telah menunjukkan kelebihannya. Mereka mampu bergerak dengan cepat dan ayunan-ayunan tangan dan kaki yang deras. Udara pun telah terayun pula bersama serangan-serangan mereka yang garang.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ki Demang dan orang-orangnya termangu-mangu melihat pertempuran yang nampaknya menjadi semakin sengit. Menurut pengenalan Ki Demang atas Ki Wirit selama ini, tidak seorang pun yang akan mampu melawannya. Seisi Kademangan, termasuk Ki Demang sendiri, telah tunduk dibawah pengaruhnya. Meskipun di Kademangan itu, Ki Demang memiliki kuasa yang sah, tetapi ia memang tidak berdaya untuk memerintah sebagaimana diinginkan. Ia harus melakukan apa yang dikehendaki oleh Ki Wirit.

Namun saat itu, ternyata Ki Wirit telah membentur kekuatan yang ternyata seimbang menurut penilaian Ki Demang. Ternyata bahwa Ki Wirit tidak dapat segera mengalahkan lawannya. Bahkan pertempuran itu dinilainya menjadi semakin sengit sehingga bagi Ki Demang, apalagi orang-orangnya termasuk Ki Prajak, tidak dapat memperhitungkan siapakah yang akan menang. Biasanya jika seseorang berani melawan Ki Wirit dan sempat bertempur beberapa lama, maka akhirnya orang itu akan mengalami nasib yang sangat buruk. Dengan kejam Ki Wirit yang nampaknya bersikap lunak itu akan mengakhiri hidup lawannya dengan caranya yang khusus. Dengan tangan sendiri yang tidak gemetar sama sekali, Ki Wirit membunuh korban-korbannya.

Tetapi ternyata menghadapi orang yang satu itu, Ki Wirit tidak dapat segera menyelesaikannya, betapapun kemarahan telah menghentak-hentak dadanya.

Bahkan pertempuran yang terjadi sama sekali tidak segera menunjukkan kelebihan Ki Wirit atas lawannya.

Untuk beberapa saat keduanya masih saja berputaran. Desak mendesak. Serang menyerang. Sekali-sekali Ki Wirit memang mampu mendesak Sambi Wulung. Tetapi beberapa saat kemudian, Ki Wirit lah yang harus berloncatan mengambil jarak.

Ternyata disekitar arena pertempuran itu, meskipun pada jarak yang agak, jauh, beberapa orang sedang menyaksikannya. Semakin lama memang menjadi semakin banyak betapapun dengan jantung yang berdebaran. Bukan saja orang-orang yang kembali dari pasar, tetapi orang-orang yang sedang berangkat ke sawah pun telah berhenti.

Debu yang kelabu telah mengepul diudara. Semakin lama semakin banyak. Menghambur dan membuat arena itu menjadi kabur.

Namun keduanya masih bertempur terus. Bahkan bukan saja debu yang berhamburan, tetapi kerikil-kerikil kecilpun bagaikan dihambur-hamburkan pula. Langkah-langkah kaki kedua orang yang bertempur itu telah menyentuh bebatuan dan kerikil-kerikil kecil sehingga terlontar berserakkan.

Ki Demang dan orang-orangnya menjadi semakin berdebar-debar. Mereka telah melihat pertempuran yang sangat cepat. Bahkan melampaui kemampuan pengamatan mereka.

Tetapi diantara mereka, Jati Wulung berdiri saja termangu-mangu. Ia mengenal dengan pasti tingkat kemampuan Sambi Wulung yang lebih tinggi dari kemampuannya sendiri. Sementara itu, betapapun serunya pertempuran, tetapi yang-nampak di mata Jati wulung tidak lebih dari sekedar mengungkapkan kekuatan kewadagan dan dorongan tenaga cadangan. Sambi Wulung belum menukik ke dalam ilmunya yang rumit, yang bersandar pada kemampuannya menyadap kekuatan alam yang ada disekitarnya.

Karena itu, maka Jati Wulung sama sekali tidak menjadi gelisah betapapun ia melihat debu, batu-batu kerikil dan batu-batu padas berhambur karena sentuhan dan hentakan kaki mereka yang menghentak-hentak dalam pertempuran itu. Bahkan Jati Wulung justru telah berdesis, “Buat apa kakang Sambi Wulung mengungkit bebatuan dengan kakinya? Mataku jadi pedas karena debu yang dihambur-hamburkannya.”

Namun dengan demikian, maka pertempuran itu nampaknya memang menjadi lebih seram. Seakan-akan kedua orang itu telah bertempur didalam kabut.

Puguh yang masih belum pulih kekuatannya itu termangu-mangu. Ia menjadi ragu-ragu melihat pertempuran itu, apakah Wanengbaya itu akan dapat mengatasi lawannya yang kelihatannya lebih garang, meskipun umurnya nampaknya tidak lebih muda.

“Apa kau melihat satu kemungkinan?” bertanya Puguh pada Jati Wulung.

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak ingin memperlihatkan kemampuan Sambi Wulung dengan berlebih-lebihan sebagaimana dilakukan oleh Sambi Wulung sendiri. Karena itu, maka katanya, “Aku masih berpengharapan.”

“Apakah kau lihat keseimbangan diantara keduanya?” bertanya Puguh pula.

“Ya. Keduanya memiliki kemungkinan yang sama,” jawab Jati Wulung.

Puguh mengangguk-angguk. Iapun mempunyai pendapat yang sama. Bahkan menurut pengamatan Puguh, Sambi Wulung justru memiliki kesempatan yang lebih baik. Namun jika Sambi Wulung itu sedikit saja melakukan kesalahan, maka ia akan dapat mengalami kesulitan karena Ki Wiritpun memiliki kecepatan gerak dan kekuatan yang besar. Tetapi sebaliknya, jika Ki Wirit yang melakukan kesalahan, maka ialah yang akan mendapat bencana.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung untuk waktu yang lama. Mataharipun semakin lama menjadi semakin tinggi, sehingga panasnya mulai terasa menyengat kulit.

Jati Wulung yang mengikuti pertempuran itu pun akhirnya mengetahui, apakah yang akan dilakukan oleh Sambi Wulung. Ia ingin menunjukkan kepada lawannya, bahwa betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi kekuatan wadagnya tetap terbatas.

Dalam pada itu, Ki Wirit pun semakin lama menjadi semakin marah. Ia berusaha untuk dengan segera menghancurkan lawannya tanpa mengekang diri. Tidak ada pikiran lain di kepalanya, kecuali benar-benar ingin membunuh lawannya. Semakin lama ia bertempur, maka keinginannya membunuh lawannya dengan cara yang paling mengerikannya semakin membakar jantungnya.

Tetapi ia telah membentur satu kenyataan, bahwa tidak mudah baginya untuk mengalahkan lawannya itu. Ternyata setelah mereka bertempur untuk waktu yang lama, kesempatannya mengalahkan lawannya sama sekali belum terbukti.

Sebenarnya Ki Wirit tidak ingin mempergunakan senjata. Ia tidak ingin membunuh lawannya dengan tusukan luwuknya langsung mengenai jantung. Bagi Ki Wirit, kematian yang demikian bagi orang yang telah berani melawannya adalah kematian yang terlalu baik. Ia ingin menangkap lawannya hidup-hidup dan membunuhnya dengan cara sendiri.

Tetapi menghadapi lawan yang seorang ini, agaknya sulit baginya untuk dapat menangkapnya sebagaimana yang diinginkannya. Bahkan ketika tenaganya sendiri mulai menjadi susut, maka ia pun tidak lagi berpikir panjang. Dengan serta merta, maka ditariknya luwuk yang terselip dipinggangnya. Luwuk yang mirip dengan sebilah keris yang besar tetapi berbentuk seperti pedang.

Sambi Wulung meloncat surut ketika ia melihat senjata lawannya yang berwarna kehitam-hitaman dengan pamor yang berkilat menelusuri daun senjata itu dari pangkal sampai ke ujung. Hulunya memang mirip dengan hulu pedang dihiasi dengan seikat rambut yang berjuntai meskipun tidak begitu panjang.

“Kau menjadi ketakutan melihat pusakaku,” geram Ki Wirit, “tidak ada orang yang mampu melepaskan diri dari maut jika luwuk ini menjadi haus. Karena itu relakan darahmu menjadi minuman pusakaku yang haus ini.”

Tetapi jawab Sambi Wulung, “Aku masih belum ingin mati Ki Sanak. Tugasku masih banyak. Selama masih ada orang-orang seperti kau di muka bumi ini, maka tugasku masih belum selesai. Karena itu aku akan berjuang untuk mempertahankan hidupku. Jika dalam usaha mempertahankan hidupku ini aku terpaksa membunuh, itu bukan yang aku kehendaki.”

Ki Wirit menggeram. Ia mulai menggerakkan luwuknya sambil berkata, “Setiap orang yang telah aku bunuh dengan luwukku ini, aku cabut beberapa lembar rambutnya dan aku letakkan pada tangkai luwukku ini. Nah, jika kau melihat rambut yang berjuntai ini, maka bayangkan, seratus orang telah aku penggal kepalanya.”

“Dan yang keseratus satu adalah kepalamu sendiri,” geram Sambi Wulung yang mulai terungkit kemarahannya. Lalu katanya pula, “Jika benar kau telah membunuh seratus orang, maka tidak akan ada jalan keselamatan lagi bagimu. Bukan saja dibatas hidup dan mati dari ujud kewadaganmu, tetapi kau benar-benar akan mati dan jiwamu akan terjun kedalam kegelapan untuk selama-lamanya.”

“Persetan kau,” Ki Wirit hampir berteriak. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil mengayunkan luwuknya.

Sambi Wulung mengelak. Namun sambil bergeser ia-pun telah menarik pedangnya. Pedang Sambi Wulung memang pedang kebanyakan. Tidak ada kelebihan apapun juga. Yang mempunyai kelebihan adalah tangan yang mengenggamnya.

Karena itu, maka pertempuran pun menjadi semakin menggetarkan jantung. Mereka tidak saja berloncatan dengan ayunan tangan dan kaki. Tetapi mereka telah bertempur dengan mempergunakan senjata di tangan masing-masing.

Ki Wirit yang tidak segera berhasil mengenai sasarannya itu menjadi semakin marah. Jantungnya bagaikan menggembung sebesar kepalanya sehingga hampir pecah karenanya. Sementara itu, setiap ayunan pedangnya tentu membentur senjata lawannya atau lewat saja membelah udara.

Dalam kemarahan yang membakar dadanya, Ki Wirit memang tidak dapat berbuat lebih banyak mengingat kemampuan lawannya. Karena itu, maka ia telah terlepas dari kedudukannya di hadapan Sambi Wulung dalam perang tanding. Ia ingin mempengaruhi pemusatan perhatian Sambi Wulung terhadap perkelahian itu.

Karena itulah, maka sejenak kemudian iapun telah berteriak, “Ki Demang. Bawa orang-orangmu untuk menangkap atau membunuh kedua orang itu.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi bingung, apa yang harus dilakukannya.

Namun Ki Wirit itu telah berteriak lagi, “Cepat. Lakukan sebelum terlambat. Jika mereka melihat kawannya yang seorang ini aku bunuh, maka mereka tentu akan. melarikan diri.”

“Baik Ki Wirit,” jawab Ki Demang.

“Waktu kita tidak terlalu banyak,” teriak Ki Wirit lagi. Namun ketika mulutnya hampir berteriak lagi, tiba-tiba saja terdengar ia berdesah tertahan.

Dengan serta merta, maka Ki Wirit itu telah meloncat mundur mengambil jarak beberapa langkah. Sambil mengumpat-umpat kasar ia meraba lengannya. Ternyata darah telah meleleh dari lukanya dilengan itu.

Sambi Wulung berdiri tegak. Pedangnya bersilang didadanya.

“Anak setan,” geram Ki Wirit, “ilmu iblis dari manakah yang telah kau sadap itu?”

Sambi Wulung memandang orang itu dengan tajamnya. Kemudian dengan suara yang tajam pula ia berkata, “Ki Wirit. Kesabaran seseorang itu terbatas. Demikian pula kesabaranku bukannya tanpa takaran. Karena itu, maka aku minta kau menyerah sekarang.”

Ki Wirit menggeretakkan giginya. Ujung luwuknya menjadi bergetar oleh getar kemarahannya didalam dadanya. Sekilas ia berpaling kepada Ki Demang sambil sekali lagi berkata, “Bunuh kedua orang itu. Aku akan membunuh yang seorang ini.”

“Tidak ada gunanya kau menyembunyikan kenyataan ini Ki Wirit,” berkata Sambi Wulung, “kau tidak akan dapat mempertahankan dirimu. Kau sudah nampak semakin letih. Gerakmu tidak setangkas disaat kita mulai dengan permainan ini. Sebentar lagi kau akan kehabisan tenaga dan jika kau menunggu aku benar-benar kehilangan kesabaran, maka tubuhmu akan terkapar mati disini.”

“Persetan,” Ki Wiritpun telah mengumpat pula. Dengan serta merta ia telah meloncat menyerang Sambi Wulung. Luwuknya terjulur lurus mengarah ke dada lawannya.

Tetapi Sambi Wulung cukup tangkas. Ia memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu, sehingga senjata Ki Wirit itu tidak menyentuhnya. Tetapi Ki Wirit tidak membiarkan Sambi Wulung lolos dari serangannya. Luwuk Ki Wirit itu berputar sekali kemudian terayun deras menebas leher Sambi Wulung.

Dengan tangkas Sambi Wulung menangkis serangan itu. Demikian kerasnya benturan yang terjadi, sehingga bunga apipun telah meloncat diudara.

Kemarahan Ki Wirit benar-benar telah tidak tertahankan lagi sehingga dadanya merasa bagaikan sesak. Luka di tangannya adalah api yang menyalakan minyak yang telah meluap membasahi jantungnya.

Namun kemarahan Sambi Wulung pun menjadi semakin mencengkam pula. Sikap dan kekasaran Ki Wirit telah menunjukkan ciri pribadinya yang sebenarnya, dalam keadaan terdesak, maka Ki Wirit diluar sadarnya telah mempergunakan ilmunya yang tertinggi. Ilmu yang ternyata mempunyai ciri-ciri yang kasar dan tercela.

Hanya Sambi Wulung dan Jati Wulung sajalah yang mampu menilai langsung ilmu yang dipergunakan oleh Ki Wirit. Puguh yang muda itu ternyata masih memerlukan pengalaman lebih jauh untuk mengenali watak ilmu sebagaimana yang dipergunakan oleh Ki Wirit. Namun dengan demikian, maka Sambi Wulung pun benar-benar telah mengambil keputusan.

Tetapi dalam pada itu, Ki Demang yang telah mendapat perintah untuk bertindak atas kedua orang kawan Sambi Wulung itu pun telah memberi isyarat kepada ketiga orang kawannya.

“Berusahalah melindungi dirimu jika diserang,” berkata Jati Wulung kepada Puguh yang ilmunya masih belum pulih kembali karena dukungan tenaganya yang belum pulih pula. Tetapi sekedar untuk melindungi dirinya sendiri, maka Puguh sama sekali tidak menjadi cemas akan sisa kemampuan yang ada didalam dirinya.

Sesaat kemudian, empat orang telah mengepung Jati Wulung dan Puguh. Namun dengan lantang Jati Wulung berkata, “Jika ilmu kalian tidak melampaui ilmu Ki Wirit, maka kalian tidak akan dapat mengurung kami dengan cara apapun juga.”

Ki Demang memang menjadi ragu-ragu. Tetapi sekali lagi tedengar Ki Wirit berteriak, “Cepat. Lakukan.”

Kata-kata itu bagaikan telah mendorong Ki Demang untuk meloncat maju. Namun Ki Demang yang ragu-ragu itu harus menyakinkan dirinya untuk dapat melakukan perlawanan, sehingga karena itu, maka iapun telah menarik senjatanya. Sebilah pedang yang panjang. Demikian pula kawan-kawannya. Dengan senjata masing-masing mereka telah siap untuk menyerang Jati Wulung dan Puguh yang berasa di tengah-tengah lingkaran.

Ki Prajak yang telah pernah bertempur melawan Jati Wulung masih saja termangu-mangu. ia memang tidak yakin apakah mereka berempat akan dapat mengalahkan kedua orang itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Demang pun telah memberikan isyarat, agar kedua orang yang berada disisi yang lain mulai bergerak. Sementara itu, ia sendiri pun telah menggerakkan senjatanya pula.

Keempat orang itupun bersama-sama telah mulai bergeser. Tetapi Ki Prajak masih dibayangi oleh kecemasan akan kecepatan gerak Jati Wulung. Dengan demikian maka ia pun menjadi sangat berhati-hati.

Namun ia memang tidak yakin apa yang dapat dilakukan oleh kedua kawannya yang lain, yang tidak mempunyai kelebihan dari padanya. Ki Demang memang dianggap seorang yang berilmu tinggi, tetapi ilmunya masih berada beberapa lapis dibawah Ki Wirit. Sementara itu Ki Wirit ternyata tidak mampu segera mengalahkan lawannya.

Dalam pada itu, Puguh pun telah mengacukan pedangnya pula. Sementara Jati Wulung masih berbisik, “Aku akan memasuki lingkaran perkelahian. Sementara itu, kau lindungi dirimu sendiri.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia siap melakukan sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung yang dikenalnya sebagai Wanengpati.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka Jati Wulung justru telah meloncat menyerang Ki Demang. Pedangnya terjulur lurus ke arah dada lawannya. Ki Demang dengan tangkas menangkis serangan itu sambil bergeser kesam-ping. Namun benturan senjata yang terjadi, telah menggetarkan bukan saja tangan Ki Demang, tetapi juga jantungnya. Meskipun Ki Demang memukul pedang Jati Wulung dengan segenap kekuatannya, tetapi arah pedang Jati Wulung itu sama sekali tidak bergeser. Jika Ki Demang tidak bergerak ke samping, maka ujung pedang itu akan tetap menusuk dadanya tembus ke jantung.

Benturan pertama itu membuat dada Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar. Ia semakin menyadari bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memang memiliki kemampuan jauh diatas jangkauan kemampuan mereka.

Tetapi Ki Demang tidak mempunyai keberanian untuk membantah perintah Ki Wirit. Karena itu, maka ia pun telah berusaha untuk dapat bertempur sebaik-baiknya meskipun ia harus menjadi sangat berhati-hati.

Sikap itulah yang menguntungkan Jati Wulung dan Puguh. Keempat orang itu tidak berani dengan serta merta menyerang Jati Wulung dan Puguh. Sementara itu Puguh-pun berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahannya.

Sebenarnyalah bahwa lawannya tidak akan sempat membuat perhitungan. Seandainya mereka mengerti akan kelemahan Puguh sekalipun, mereka tidak akan sempat membuat pilihan. Jati Wulung lah yang kemudian ternyata telah membentuk suasana dalam pertempuran itu. Dengan tangkas ia berloncatan menyerang lawannya, sementara itu kaki Puguh bagaikan melekat pada bumi. Hanya sekali-sekali saja ia berputar menghadapi lawan yang akan menyerangya.

Namun dalam pada itu, ketika Ki Demang mulai bergerak, Ki Wirit masih juga sempat berteriak, “Anak iblis. Sebentar lagi kawan-kawanmu itu akan terbunuh dengan keadaan yang mengerikan. Ki Demang dan kawan-kawannya adalah orang yang berilmu tinggi. Bersama-sama mereka tidak akan terlawan oleh kekuatan yang manapun juga. Bahkan oleh pasukan prajurit segelar sepapan sekalipun.”

“Kenapa kau masih juga berkicau seperti itu Ki Wirit. Salah seorang diantara kami telah pernah bermain-main dengan orangmu yang bernama Ki Prajak itu. Ternyata kemampuannya tidak lebih dari hitamnya kuku dibanding dengan kemampuan kami,” sahut Sambi Wulung.

“Pembual yang sombong,” geram Ki Wirit, “sebentar lagi mulutmulah yang akan aku koyakkan sampai ketelinga.”

Sambi Wulung tertawa. Meskipun ia harus berloncatan menghindar dan menangkis serangan Ki Wirit. Tetapi suara tertawa Sambi Wulung ternyata adalah lontaran kejemuan, kemuakan dan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya. Diantara suara tertawanya terdengar ia berkata, “Ki Wirit. Ternyata kau adalah orang yang paling bengis yang aku kenal. Kau berpura-pura menjadi seorang yang rendah hati, ramah tamah dan sederhana. Bahkan kau nampak lembut dan kebapaan. Tetapi ternyata di sisa umurmu yang sudah tidak lebih banyak dari sisa umurku menurut ujud lahiriahnya itu masih kau pergunakan untuk memanjakan nafsu ketamakan dan kedengkianmu terhadap sesama. Karena itu Ki Wirit, tidak ada yang lebih pantas kau pikul hukuman bagimu selain hukuman mati.”

“O,” Ki Wirit menyahut, “siapa yang berhak menjatuhkan hukuman bagi seseorang?”

“Aku tidak peduli siapakah yang berhak. Tetapi aku merasa berhak menghentikan segala tingkah polahmu. Kau tidak usah ingkar lagi. Aku mengenali watak ilmumu yang kasar dan licik itu. Ilmu dari aliran hitam yang memang tidak berhak untuk hidup diantara orang banyak,” jawab Sambi Wulung.

Namun sambil menyerang Ki Wirit berteriak, “Lihat. Orang-orangmu sudah mati satu persatu.”

Sambi Wulung memang terkejut. Tetapi ia sadar, bahwa jika ia berpaling, maka serangan Ki Wirit itu akan menjadi sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka ia-pun telah bergeser sambil menangkis ujung luwuk yang terjulur kedadanya.

Baru kemudian ia sempat memandang ke arah Jati Wulung dan Puguh. Namun ternyata bahwa mereka tidak mengalami kesulitan apapun juga.

Kelicikan itu telah mendorong Sambi Wulung untuk segera mengakhiri pertempuran. Jika Ki Wirit itu mendapat kesempatan lebih banyak, maka mungkin sekali ia akan dapat berbuat lebih licik lagi dan barangkali akan dapat membayakannya.

Demikianlah maka Sambi Wulung pun kemudian berkata, “Ki Wirit. Kau sudah kehilangan sebagian dari tenaga dan kemampuanmu. Kekuatanmu telah menurun pula. Sekarang aku ingin memperlihatkan kepadamu, apa yang sebenarnya dapat kau lakukan. Semula aku masih ingin berusaha membuatmu menyadari apa yang kau lakukan selama ini. Namun akhirnya aku mengambil keputusan bahwa kau memang harus dibunuh. Bukan sekedar luka-luka ditubuhmu atau barangkali kata-kata keras ditelingamu.”

“Persetan,” geram Ki Wirit yang meloncat dan menyerangnya dengan kasar.

Tetapi Sambi Wulung telah benar-benar menjadi muak. Dengan demikian, maka iapun berniat untuk segera mengakhiri perlawanan Ki Wirit.

Sejenak kemudian, maka tata gerak Sambi Wulungpun mulai berubah. Ia tidak lagi sekedar bertempur dengan dorongan ilmu kewadagannya. Ia mulai membuat lawannya benar-benar tidak berdaya ketika ia mulai bergerak bagaikan angin pusaran.

Ki Wirit tidak dapat mengikuti tata gerak Sambi Wulung berikutnya. Iapun tidak tahu pasti, apa yang terjadi kemudian. Namun dalam satu benturan yang tidak diduganya, maka luwuk pusakanya itu bagaikan telah direnggut dari tangannya dan terlempar keudara.

Ki Wirit termangu-mangu sejenak setelah ia tidak bersenjata. Namun ternyata bahwa kemudian lawannya-pun telah menyarungkan pedangnya pula sambil berkata, “Aku sudah muak melihat orang-orang seperti kau ini, justru pada saat-saat yang gawat seperti ini. Kaulah jenis orang-orang yang mempergunakan pengaruh kuasa dan kekuatanmu untuk menekan dan mempergunakan kekuasaan yang sah yang ada pada Ki Demang untuk kepentingan pribadimu. Kau dapat bergerak dibalik kedudukan Ki Demang namun sama sekali tidak untuk kebaikan Kademangan ini.”

Ki Wirit memandang Sambi Wulung dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Namun ia menyadari, bahwa yang dihadapinya itu ternyata benar-benar orang yang berilmu sangat tinggi. Yang sebenarnya memang tidak memerlukan senjata apapun untuk melawannya selain ilmunya.

Ki Wirit memang menjadi agak menyesal karena ia tidak segera mengenali lawannya. Namun semuanya sudah terlambat.

Selangkah demi selangkah Sambi Wulung mendekati Ki Wirit yang termangu-mangu. Dengan nada berat, Sambi Wulung berkata, “Saatmu telah tiba.”

Ki Wirit melangkah surut. Tiba-tiba saja ia telah meloncat berlari meninggalkan Sambi Wulung.

Tetapi ia tidak mampu melepaskan dirinya. Tiba-tiba saja terasa sentuhan dipunggungnya, sehingga iapun justru terdorong dengan derasnya. Langkah kakinya tidak dapat mengimbangi dorongan dipunggungnya sehingga Ki Wirit itu pun telah jatuh terjerembab.

Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka dilihatnya Sambi Wulung telah berdiri tegak di sisinya dengan kaki renggang.

Ki Wirit termangu-mangu. Namun tubuhnya memang terasa sakit. Didahinya terdapat luka karena wajahnya yang terantuk tanah disaat ia jatuh terjerembab. Bahkan darah dari luka dilengannya seakan-akan menjadi semakin banyak mengalir.

“Bangkitlah,” geram Sambi Wulung, “jangan mati sambil menelungkup seperti seekor cacing yang tidak berdaya. Kau adalah Ki Wirit yang aku tidak tahu sejak kapan kau telah menguasai Kademangan ini.”

Ki Wirit menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia merasakan kaki Sambi Wulung mengungkit tubuhnya, maka ia pun mulai bergerak.

“Bangkit, atau aku injak punggungmu?” bentak Sambi Wulung.

Ki Wirit masih termangu-mangu. Namun ketika Sambi Wulung beringsut Ki Wiritpun telah bergeser pula.

“Cepat. Akan aku injak bukan saja punggungmu, tetapi tengkukmu. Kau memang tidak pantas lagi untuk dihormati,” bentak Sambi Wulung pula.

Ki Wirit tidak dapat berbuat lain kecuali berdiri tertatih-tatih. Tetapi jantungnya benar-benar menjadi berdebar-debar.

“Nah, kita akan menyaksikan pertempuran itu, yang kau katakan bahwa Ki Demang akan membunuh saudara dan kemanakanmu,” geram Sambi Wulung.

Ki Wirit memang tidak dapat membantah. Ia pun kemudian melangkah mendekati arena pertempuran antara Ki Demang dan tiga orang kawannya, melawan Jati Wulung dan Puguh.

Sekilas Ki Wirit yang memiliki ilmu yang tinggi itu melihat bahwa ternyata anak muda diantara ketiga orang yang tidak dikenalnya itu nampak paling lemah. Tetapi Ki Wirit menganggap bahwa anak muda itu sedang sakit sebagaimana dikatakan oleh Ki Prajak.

“Lihat,” berkata Sambi Wulung, “apakah kira-kira Demangmu itu benar-benar akan dapat membunuh?”

Belum lagi mulut Sambi Wulung terkatub, ujung pedang Jati Wulung telah tergores pada salah seorang pengikut Ki Demang itu.

“Setan,” geram Ki Wirit.

“Mengumpatlah sekali lagi jika kau ingin aku menyakitimu,” desis Sambi Wulung.

Jantung Ki Wirit bagaikan bergejolak. Tetapi kemarahan Sambi Wulung pun telah sampai keubun-ubun. Karena itu, ketika diluar sadarnya Ki Wirit itu mengumpat sekali lagi, maka telapak tangan Sambi Wulung telah menggenggam lengan Ki Wirit.

Terdengar Ki Wirit mengaduh kesakitan. Ketika Sambi Wulung melepaskan tangannya, maka di lengan Ki Wirit itu membekas bagaikan luka bakar. Baju Ki Wirit-pun seakan-akan telah terbakar pula di arah sentuhan telapak tangan Sambi Wulung.

Ki Wirit terkejut mengalamai keadaan itu. Namun dengan demikian sebenarnyalah lawannya itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ia bukan saja akan mampu mengalahkannya. Tetapi jika dikehendaki, maka ia akan dapat menghancurkannya menjadi debu.

Ki Wirit benar-benar menyesali kebodohannya. Kenapa ia tidak melihat kemungkinan yang terjadi itu. Ia tidak segera mampu menilai tingkat ilmu lawannya yang sebenarnya.

Karena itu, maka ia pun menjadi berdebar-debar melihat Ki Demang dan kawan-kawannya. Meskipun lawan Ki Demang itu masih belum menunjukkan kemampuan ilmunya, namun Ki Wirit pun meyakini bahwa orang yang bertempur melawan Ki Demang dan kawan-kawannya itu pun akan mampu berbuat sebagaimana lawannya.

Tetapi Ki Wirit tidak sempat memperhatikan terlalu lama pertempuran itu. Ketika ia melihat, bahwa keadaan Ki Demang dan kawan-kawannya menjadi semakin sulit, maka Sambi Wulung telah menggamitnya.

“Kemarilah,” berkata Sambi Wulung.

Ki Wirit tidak dapat membantah. Ia menyadari dengan siapa ia berhadapan.

“Ki Wirit,” berkata Sambi Wulung ketika mereka sudah mengambil jarak dari arena pertempuran. Lalu katanya selanjutnya, “Kau tahu, bahwa kawan-kawanmu itu sebentar lagi akan mati. Jadi yang akan mati bukan saudaraku dan kemanakanku.”

Ki Wirit termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab. Meskipun jantungnya bagaikan akan meledak oleh umpatan, tetapi ia harus menahan diri jika ia tidak ingin kulitnya terbakar lagi. Jika telapak tangan itu melekat diwajahnya, maka ia akan sangat mengalami kesakitan. Bahkan cacat.

Dalam pada itu, Sambi Wulung pun telah berkata pula, “Ki Wirit, sebelum saudara dan kemanakanku selesai, maka aku harus sudah menjatuhkan hukumanmu.”

Wajah Ki Wirit tiba-tiba menjadi pucat.

“Jika aku menunggu mereka, maka kau akan dapat mengalami kesulitan yang tidak akan dapat kau derita menjelang matimu. Karena itu, aku ingin menolongmu,” berkata Sambi Wulung.

“Kau akan membunuhku?” bertanya Ki Wirit. Seorang yang untuk beberapa lama mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di Kademangan itu.

“Sudah aku katakan, bahwa orang seperti kau ini tidak akan dapat sembuh lagi. Penyakitmu telah menjadi terlalu parah,” jawab Sambi Wulung.

Adalah diluar dugaan, bahwa Ki Wirit, yang berilmu tinggi itu tiba-tiba berkata dengan suara memelas, “Aku minta ampun Ki Sanak. Aku berjanji untuk tidak melakukannya lagi.”

“Sudah aku katakan, bahwa janjimu sama artinya dengan seekor serigala yang berselimut bulu domba. Jika ku melihat mangsa yang mampu menitikkan air liurmu, maka kau tentu akan menerkamnya sebagaimana laku seekor serigala. Dengan demikian maka kau akan menjadi lebih berbahaya lagi.”

“Tidak Ki Sanak. Aku bersumpah demi Yang Maha Agung,” berkata Ki Wirit.

“Apakah kau masih percaya kepada Yang Maha Agung?” bertanya Sambi Wulung.

“Tentu. Aku adalah anak manusia yang dititahkan oleh Yang Maha Agung itu,” jawab Ki Wirit.

“Ki Wirit. Kita sudah sama-sama tua. Karena itu, kau tidak dapat membohongi aku. Jika kau memang percaya kepada Yang Maha Agung, kau tidak akan berbuat sebagaimana kau lakukan. Kau telah mengatakan sendiri, bahwa hulu luwukmu itu telah kau lekati rambut orang-orang yang pernah kau bunuh. Bahkan seratus orang. Nah, apakah orang yang percaya kepada Yang Maha Agung itu akan dengan mudah membunuh orang?” bertanya Sambi Wulung.

“Dan bagaimana dengan kau?” Ki Wirit itu justru bertanya.

“Kedudukanku lain. Aku membunuh justru bagi ketenangan dan ketenteraman hidup manusia. Membebaskan sesama dari cengkraman ketakutan karena polah tingkahmu. Jika sampai hari ini kau telah membunuh seratus, maka jika kau masih tetap hidup, maka kematian itu akan bertambah seratus lagi. Nah, bukankah aku telah menyelamatkan sembilanpuluh sembilan nyawa dibanding dengan nyawamu yang hanya satu?” geram Sambi Wulung.

Wajah Ki Wirit memang menjadi semakin pucat. Ia sama sekali tidak mengira bahwa saat kematiannya akan datang begitu cepat. Ketika ia mendapat laporan dari Ki Prajak tentang tiga orang yang dengan sombong telah berani mempergunakan tempat yang disediakan baginya dan yang memang sering dipergunakan untuk memancing pertentangan itu, ia mengira, bahwa ia akan dapat membunuh lagi. Dengan demikian ia akan dapat semakin meningkatkan wibawanya di Kademangan itu. Bahkan jika yang dibunuh termasuk orang yang mempunyai bekal yang cukup banyak, maka bekal itu akan berarti pula baginya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Sementara itu, Jati Wulung yang memang tidak ingin menunjukkan kemampuannya yang berlebihan dihadapan Puguh, tidak mempergunakan ilmunya yang lain kecuali ilmu kanuragan serta tenaga cadangannya.

Namun dengan demikian, Ki Demang dan ketiga orang kawannya sudah terlalu banyak mengalami kesulitan. Sementara itu, Puguh memang telah memaksa diri untuk menyembunyikan kelemahannya. Tetapi dalam banyak hal Jati Wulung telah banyak memberi kesempatan kepada Puguh untuk menghemat tenaganya.

Bahkan kemudian, satu demi satu lawan-lawan Jati Wulung itu pun telah terluka. Bukan hanya segores kecil. Tetapi dua bahkan tiga atau empat luka yang menganga.

Dengan demikian maka Ki Demang dan tiga orang kawannya itu semakin lama menjadi semakin lemah. Puguh yang lemah itu ternyata masih memiliki kemampuan untuk sekedar melindungi dirinya sendiri. Tanpa banyak membuang tenaga, ia menghindari serangan-serangan yang datang dengan tergesa-gesa, karena Jati Wulung telah bergerak seperti seekor elang yang terbang menyambar-nyambar, sehingga lawan-lawannya tidak mempunyai banyak kesempatan.

Sementara itu Sambi Wulung pun berkata kepada Ki Wirit yang pucat, “Saatnya telah tiba. Kau harus mati lebih dahulu dari Ki Demang dan kawan-kawannya.”

Ki Wirit menjadi semakin berdebar-debar. Namun ia masih juga memohon, “Apakah kau tidak dapat mengampuni aku. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan melakukannya lagi.”

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Kau memang harus mati. Kau tidak boleh melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi. Jika aku mengampunimu, maka yang masih tetap hidup kemudian harus orang lain. Bukan Ki Wirit.”

“Aku tidak tahu maksudmu,” desis Ki Wirit. Sambi Wulung pun kemudian mendekati Ki Wirit sambil berkata, “Kau dalam keadaanmu yang lain masih akan tetap hidup. Tetapi Ki Wirit harus mati.”

Ki Wirit memang menjadi bingung. Namun Sambi Wulung tidak mempunyai banyak kesempatan. Selagi Puguh masih berusaha melindungi dirinya sendiri, maka ia harus melakukannya, agar Puguh tidak melihat kemampuannya. Jika Puguh sempat mengetahui ilmunya yang sangat tinggi, maka ia tentu akan menjadi semakin curiga kepadanya atau bahkan seandainya ia sempat mendapat kepercayaannya, maka orang-orang disekitar Puguh lah yang akan menaruh kecurigaan itu.

Karena itu, selagi Puguh masih bertempur, Sambi Wulung bertanya kepada Ki Wirit, “Aku ingin keputusanmu. Apakah kau benar-benar ingin tetap hidup dalam keadaan yang baru atau kau ingin mati bersama sifat dan watak jahatmu.”

“Aku tidak mengerti,” sahut Ki Wirit.

“Kau boleh tetap hidup, tetapi tanpa ilmu sebagaimana kau miliki sekarang,” berkata Sambi Wulung, “tetapi jika kau menolak, maka kau benar-benar akan mati.”

Wajah pucat Ki Wirit menjadi semakin pucat. Dengan bibir yang bergetar ia berdesis, “Jangan.”

“Aku tidak mempunyai pilihan lain. Hanya ada dua kemungkinan itu. Hidup tanpa ilmu yang selama ini kau salah gunakan, atau mati dalam arti sebenarnya,” geram Sambi Wulung.

Ki Wirit benar-benar tidak berdaya. Kemungkinan yang dihadapkan kepadanya sama-sama pahit baginya. Namun ternyata nalurinya untuk bertahan hidup lebih kuat daripada harga dirinya. Karena itu, maka katanya, “Jangan bunuh aku.”

“Baik,” berkata Sambi Wulung, “duduklah.”

“Apa maksudmu?” bertanya Ki Wirit.

“Duduklah. Jangan bertanya lagi. Waktuku sudah menjadi terlalu sempit. Sebentar lagi, pertempuran itu akan selesai,” geram Sambi Wulung.

Ki Wirit tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian duduk diatas tanah. Namun sebagai seorang yang berilmu, maka dengan putus asa ia menunggu apa yang akan terjadi atasnya.

Sudah diduga oleh Ki Wirit, bahwa Sambi Wulung-pun kemudian telah duduk dibelakangnya. Kedua tangannya telah melekat di punggungnya.

Beberapa orang yang menyaksikan hal itu menjadi heran. Mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Sambi Wulung atas Ki Wirit yang selama ini ditakuti oleh orang-orang se Kademangan, bahkan orang-orang di Kademangan tetangga.

Jati Wulung sempat menyaksikan apa yang dilakukan oleh Sambi Wulung. Tetapi ia justru telah berusaha agar Puguh tidak memperhatikannya. Ia telah melonggarkan tekanannya kepada lawan-lawannya, sehingga dengan demikian perhatian Puguh memang harus terpusat kepada lawannya yang terasa lebih berat menekannya. Dengan demikian maka Puguh memang tidak begitu sempat memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sambi Wulung. meskipun sekilas ia telah sempat melihat pula.

Sementara itu, Ki Wirit yang telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Sambi Wulung hanya sempat mengeluh didalam hati. Iapun sadar, bahwa petualangannya telah berakhir sampai saat itu, saat ia bertemu dengan orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Sejenak kemudian terasa getaran dari telapak tangan Sambi Wulung bagaikan merambat kedalam tubuhnya. Getaran yang semakin lama menjadi semakin kuat. Bahkan kemudian getaran itu seakan-akan telah mengaduk isi dadanya.

Ki Wirit merasakan, nafasnya menjadi sesak. Rasa-rasanya dadanya menjadi panas. Bahkan kemudian darah dijantungnya menjadi bagaikan mendidih. Perasaan sakit yang sangat telah mencengkam, sehingga pada satu saat, dadanya bagaikan telah meledak.

Ki Wirit pun kemudian menjadi sangat lemah. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, sementara Sambi Wulung telah melepaskan tangannya yang melekat dipunggung lawannya itu.

Ki Wirit tidak mampu bertahan ketika darah meleleh dari sela-sela bibirnya. Namun yang kemudian telah diusapnya dengan kain panjangnya.

“Ki Wirit,” desis Sambi Wulung, “kau sadar apa yang terjadi atas dirimu.”

Ki Wirit yang masih duduk itu mengangguk.

“Hanya dengan demikian kau membuktikan kesungguhan sumpahmu, bahwa kau tidak akan membunuh lagi,” berkata Sambi Wulung.

Sekali lagi Ki Wirit mengangguk.

“Sekarang berdirilah. Kau akan tetap hidup dalam keadaan yang lain dari hidupmu yang lewat. Kau harus menyesuaikan dirimu dan bertingkah laku sebagaimana keadaanmu sekarang,” berkata Sambi Wulung.

Betapa lemahnya tubuh Ki Wirit, namun iapun kemudian berusaha untuk bangkit berdiri. Tulang-tulangnya bagaikan menjadi lemah dan tidak berdaya.

“Aku telah kehilangan ilmuku,” berkata Ki Wirit.

“Ya. Kau tidak akan mungkin membangunkannya kembali sebagaimana pernah kau miliki. Seandainya kau akan mencobanya lagi, maka dukungan kewadaganmu tidak akan memungkinkan lagi,” berkata Sambi Wulung.

Ki Wirit menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku harus meninggalkan tempat ini. Aku akan benar-benar menjadi pengembara dan peminta-minta.”

“Kau tidak mempunyai landasan hidup? Maksudku tempat tinggal atau semacam itu?” bertanya Sambi Wulung.

“Aku akan kembali kepada keluargaku yang aku tinggalkan untuk menuruti kesenangan hatiku selama ini. Aku mempunyai seorang isteri dan beberapa orang anak yang aku lupakan untuk waktu yang lama. Mudah-mudahan mereka mau menerima aku kembali dalam keadaan seperti ini,” desis Ki Wirit.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ada perasaan iba didalam hatinya. Tetapi jika orang itu masih memiliki kemampuan, ia tentu masih akan kambuh lagi dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Dalam pada itu, Jati Wulung pun telah memutuskan untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ki Demang benar-benar sudah tidak berdaya, sementara ketiga orang kawannya telah terluka.

Dengan nada keras Jati Wulung pun kemudian berkata lantang, “He, apakah kalian masih akan bertempur terus? Lihat, orang yang kau banggakan telah menyerah.

Ki Demang memang sempat menyaksikan Ki Wirit itu berdiri tegak dihadapan Sambi Wulung yang justru mendorong Ki Wirit mendekati arena pertempuran.

“Katakan kepada mereka, agar mereka menyerah saja,” desis Sambi Wulung.

Ki Wirit bergerak beberapa langkah maju dengan lemah. Kemudian katanya dengan nada rendah, “Ki Demang. Sudahlah. Aku memang sudah menyerah.”

Ki Demang mendengar suara Ki Wirit itu. Iapun tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun ternyata telah tergores pedang Jati Wulung pula sebagaimana kawan-kawannya yang lain, termasuk Ki Prajak.

Karena itu, maka Ki Demang pum telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk menghentikan pertempuran.

“Lepaskan senjata kalian,” geram Jati Wulung.

Ki Demang dan ketiga orang kawannya itupun telah melepaskan senjata mereka.

Namun dalam pada itu, Puguh yang lemah itu nampaknya menjadi sangat letih. Karena itu, maka Jati Wulung yang telah menyarungkan pedangnya itu pun telah mendekatinya, membantu Puguh menyarungkan pedangnya pula. Dengan nada tinggi Jati Wulung itupun kemudian berkata, “Anakku sedang sakit. Kalian telah memaksanya untuk mengerahkan tenaga. Karena itu. maka jika terjadi sesuatu atas anakku, kalian semuanya harus mati.”

Wajah Ki Demang dan kawan-kawannya menjadi pucat. Sementara itu Sambi Wulung berkata, “Nah, Ki Demang. Apakah permainan buruk seperti ini masih akan kalian lakukan untuk seterusnya?”

Ki Demang menundukkan kepalanya. Ketika sekilas ia memandang wajah Ki Wirit, maka Ki Wirit pun telah menunduk pula.

“Jawablah Ki Demang. Kaulah Demang disini. Bukan Ki Wirit. Sejak hari ini, Ki Wirit telah menyatakan untuk tidak akan mencampuri persoalan dan tugas-tugasmu lagi. Karena itu segala sesuatunya tergantung kepadamu,” berkata Sambi Wulung.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku akan berbicara dengan Ki Wirit.”

“Lakukanlah,” berkata Sambi Wulung, “terserah apa yang akan kalian putuskan. Aku akan meninggalkan tempat ini, karena aku memang sedang dalam perjalanan jauh bersama adik dan kemanakanku yang sakit itu. Tetapi ingat, pada saat yang lain, jika kemanakanku itu sudah sembuh, maka aku akan kembali ke tempat ini. Aku akan berbicara dengan orang-orang Kademangan ini. Jika aku masih menjumpai pemerintahan yang timpang, maka aku tidak akan mengambil tindakan sendiri. Tetapi aku akan melaporkannya kepada para pemimpin di Pajang. Jika kalian tahu bahwa sepasukan prajurit telah menghancurkan Song Lawa, maka sepasukan prajurit akan dapat merombak cara pemerintahan disini.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Sambi Wulung berkata selanjutnya, “Bicarakan segera. Kami akan melanjutkan perjalanan kami yang terhenti.”

Ki Demang termangu-mangu. Apakah benar hanya begitu saja mereka akan meninggalkan Kademangan itu setelah terjadi pertempuran? Apakah mereka tidak akan memanfaatkan kemenangan mereka untuk kepentingan apapun?

Disaat Ki Demang termangu-mangu, maka Ki Wirit-lah yang bertanya, “Apakah kalian tidak akan singgah di Kademangan ini?”

Sambi Wulung lah yang menjawab, “Tidak. Aku tidak akan singgah. Aku sudah kehilangan banyak waktu.”

“Tetapi kemanakanmu sakit,” berkata Ki Wirit pula.

“Ia tidak apa-apa. Jika ia mengalami kesulitan, maka kalianlah yang harus bertanggung jawab,” jawab Sambi Wulung.

Ki Wirit tidak mempersilahkannya lagi. Namun sebenarnyalah bahwa ia juga merasa heran, bahwa ketiga orang itu begitu saja meninggalkan mereka. Ki Demang yang semula mengira akan menerima pembalasan yang pahit, ternyata tidak sama sekali. Orang-orang itu pergi begitu saja setelah perkelahian itu selesai dan mereka menangkan.

“Mereka akan dapat berbuat apa saja yang mereka kehendaki atas kami. Bahkan membunuh sekalipun,” desis Ki Demang didalam hatinya.

Tetapi sebenarnyalah ketiga orang itupun telah minta diri untuk meneruskan perjalanan.

Ki Demang dan kawan-kawannya termangu-mangu. Namun kemudian mereka pun mulai memperhatikan luka-luka mereka yang pedih. Beberapa goresan luka telah mengoyak kulit mereka. Namun luka-luka itu nampaknya tidak berbahaya bagi keselamatan jiwa mereka.

Selagi mereka termangu-mangu, maka Ki Wirit pun telah melangkah untuk mengambil luwuknya yang tergolek di tanah. Kemudian dengan suara yang parau Ki Wirit itu berkata, “Ki Demang. Aku pun ingin minta diri. Tidak pantas aku tetap berada disini dan membayangi kuasa Ki Demang. Aku memang tidak berhak berbuat seperti itu. Karena itu, maka biarlah aku meninggalkan Kademangan ini. Kemudian aku mohon, Ki Demang dapat memerintah Kademangan ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana saat-saat aku belum datang di Kademangan ini. Selama ini aku sudah mengacaukan pemerintahan Ki Demang. Karena itu aku minta maaf. Sebagai kenang-kenangan kehadiranku yang sangat merugikan di Kademangan ini, aku akan menyerahkan senjata pusakaku ini. Biarlah Ki Demang menyimpannya, agar setiap kali Ki Demang akan dapat mengingat bencana yang pernah menimpa Kademangan ini.”

Ki Demang memang menjadi bingung. Ia tidak mengerti kenapa hal itu dilakukan oleh Ki Wirit. Ki Demang tidak tahu, bahwa Ki Wirit bukan lagi Ki Wirit yang tadi datang bersamanya ke simpang empat itu untuk mencegat orang-orang yang dianggapnya terlalu sombong.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?” bertanya Ki Demang.

“Tidak apa-apa,” jawab Ki Wirit, “sikap ketiga orang itu telah membuka hatiku. Aku tidak pantas untuk melakukan pemerasan untuk seterusnya.”

“Tetapi Ki Wirit masih mempunyai barang-barang berharga di Kademangan.”

Tetapi Ki Wirit menggeleng. Katanya, “Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Jika kau kenal pemiliknya, kembalikan kepadanya.”

Ki Demang menjadi semakin heran. Apalagi ketika pusaka Ki Wirit itupun telah diberikannya kepadanya pula.

Tetapi Ki Demang yang kebingungan itu tidak sempal mendapat banyak penjelasan. Ki Wirit pun kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Aku minta diri.”

“Sekarang?” bertanya Ki Demang keheranan.

“Ya. Sekarang,” jawab Ki Wirit, “semakin cepat semakin baik bagi Ki Demang dan bagi Kademangan ini.”

Ki Demang memang tidak mendapat kesempatan untuk mencegah ketika Ki Wirit kemudian berjalan dengan langkah yang berat. Tubuhnya nampak begitu letih dan bahkan keseimbangannya seakan-akan tidak utuh lagi. Namun Ki Wirit itu berjalan terus tanpa berpaling lagi.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Ki Wirit,” desis Ki Demang, “peristiwa ini benar-benar membuat aku menjadi pening. Sulit untuk dipercaya bahwa apa yang kita alami ini memang sebenarnyalah seperti yang kita lihat sekarang ini. Bukan sekedar sebuah mimpi atau sebuah angan-angan yang hampa.”

“Mereka memang telah pergi Ki Demang,” desis K i Prajak sambil berdesis menahan pedih.

“Kenapa Ki Wirit pun ikut pula meninggalkan tempat ini. Apalagi ia telah meninggalkan barang-barangnya yang berharga, seakan-akan begitu saja dilupakan setelah ia bekerja keras untuk memilikinya dengan segala macam cara,” berkata Ki Demang.

“Agaknya ia telah membawa bekal uang yang cukup,” desis Ki Prajak.

“Ia memang membawa uang,” sahut Ki Demang, “tetapi seberapa uang yang dapat dibawa di kantongnya itu.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 10

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s