SST-08

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

DEMIKIANLAH, semakin langit menjadi terang, maka ketegangan pun menjadi semakin mencengkam.

Dalam pada itu, maka pasukan yang berada di biarpun telah bersiap pula. Beberapa saat sebelum matahari terbit, tiba-tiba saja telah terdengar suara bende yang dipukul dengan irama datar. Tepat didepan regol lingkungan perjudian Song Lawa.

Regol itu memang tertutup rapat. Tetapi beberapa orang pemimpin Song Lawa dan orang-orang yang semalam datang ke tempat itu telah berkumpul pula didepan regol.

Ketika suara bende kemudian menurun dan hilang, maka terdengar suara seseorang yang berkata lantang, “He, orang-orang yang berada di Song Lawa. Dengarkan apa yang ingin aku katakan.”

Orang-orang yang ada dibelakang regol itu pun menjadi berdebar-debar pula.

Sementara itu suara diluar itupun berkata pula, “bersiaplah untuk menyerah. Buka regol Song Lawa dan tidak seorang pun dibenarkan membawa senjata. Kami adalah prajurit yang mengemban perintah Kangjeng Sultan di Pajang. Pajang telah mengamati perkembangan tempat ini sejak beberapa musim. Pajang telah mendengarkan laporan orang-orang padukuhan di bawah lereng tentang kegelisahan mereka karena adanya tempat perjudian ini. Tempat yang seakan-akan tidak terjangkau oleh segala macam paugeran. Nah, sekali lagi, aku perintahkan kalian menyerah. Membuka regol dan berdiri berderet setelah kalian meletakkan senjata kalian di tanah.”

Para pemimpin Song Lawa itu saling berpandangan sejenak. Mereka baru menyadari bahwa yang datang mengepung lingkungan perjudian itu adalah prajurit Pajang. Itulah agaknya maka cara mereka mendekati lingkungan judi itu berbeda dengan cara yang ditempuh oleh para perampok. Yang datang itu tidak pula menebarkan sirep dan berusaha membantai setiap orang yang ada di dalam lingkungan itu. Tetapi kehadiran pasukan itu telah didahului dengan peringatan.

Namun para pemimpin dari Song Lawa itu ternyata berpendirian lain. Mereka tidak akan membiarkan tempat itu dimasuki oleh kekuatan dari manapun juga.

Karena itu, dengan mempergunakan beberapa buah tangga, maka para pemimpin lingkungan itu telah memanjat dinding disebelah regol dilapisan luar, sementara beberapa orang yang lain telah siap di regol dilapisan dalam. Jika orang-orang yang mengaku prajurit Pajang itu memaksa memecahkan regol pertama, maka mereka akan dengan segera menutup regol kedua dan bersiap bertempur didepan regol demikian para prajurit itu mendesak masuk. Sementara yang lain akan menunggu Jika para prajurit dari arah yang lain akan masuk meloncat dinding.

Namun para petugas yang berada di belakang dinding itu tidak akan menunggu para prajurit ita begitu saja berloncatan masuk. Beberapa orang diantara mereka telah bersiap diatas gigi tangga atau landasan dan alas apapun sambil membawa busur dan anak panah. Mereka akan menyambut para prajurit yang meloncati dinding pertama dengan anak panah dari dalam dinding lapisan dalam.

Karena beberapa lama tidak terjadi gerakan yang meyakinkan para prajurit, maka terdengar kembali suara diluar. “Aku perintahkan untuk yang kedua kalinya. Menyerahkan dengan tertib agar tidak terjadi benturan kekerasan yang tidak akan berarti, karena benturan yang demikian banyak akan merugikan kedua belah pihak. Korban pun akan berjatuhan. Padahal kita dapat menghindarinya jika kita sempat berpikir.”

Dalam pada itu, pemimpin di tempat perjudian itu telah berteriak pula, “Kami tidak mengenal kalian, karena itu, kami tidak yakin bahwa kalian adalah prajurit Pajang.”

Senapati prajurit Pajang yang memimpin pasukannya itu pun termangu-mangu sejenak. Namun dalam keremangan pagi ia pun telah melihat beberapa kepala yang tersembul disebelah regol lingkungan yang tertutup itu.

Sambil mengangkat sebuah tunggul dengan kalebet pertanda kuasa Pajang, maka Senapati itu berkata, “Lihatlah. Aku membawa tunggul ini. Tunggul yang menjadi lambang kekuasaan Pajang. Karena itu, maka menyerahlah.”

“Setiap orang dapat membuat tunggul yang bagaimanapun ujud dan bentuknya,” jawab pemimpin Song Lawa itu.

Tetapi prajurit itupun berkata, “Ada dua pertanda kebesaran Pajang yang kami bawa. Yang pertama adalah tunggul dan kelebet itu. Yang kedua, jika tunggul itu tidak diakui, maka pertanda kebesaran Pajang adalah kekuatan pasukan kami. Kami telah membawa pasukan segelar sepapan. Kami sudah siap menerima kalian yang menyerah dan membawa kalian dengan baik-baik ke Pajang untuk diadili, tetapi juga siap menghancurkan kalian jika kalian menolak uluran tangan kami.”

“Persetan,” geram pemimpin Song Lawa itu, “Kembalilah ke Pajang. Laporkan kepada Sultan Hadiwijaya, bahwa Pajang tidak berhak bertindak atas kami di lereng Gunung ini.”

“Kami memberikan perintah untuk ketiga kalinya. Kali ini terakhir. Menyerahlah. Kami akan memperlakukan kalian dengan baik.”

“Tidak,” teriak pemimpin Song Lawa itu, “kami cukup kuat untuk melawan kalian.”

Jawaban atas perintah terakhir dari Senapati pasukan Pajang itu pun cukup jelas. Karena itu, maka Senapati itu-pun berkata, “Baiklah. Kalian telah menolak niat baik kami untuk membawa kalian tanpa kekerasan. Kami tidak akan memberikan peringatan lagi. Tetapi sebentar lagi kami akan bertindak sesuai dengan tugas keprajuritan kami. Tempat perjudian dengan segala akibat buruknya ini memang sudah waktunya untuk dimusnakan.”

Pemimpin tempat perjudian Song Lawa itu pun telah memberikan isyarat pula kepada orang-orangnya. Mereka harus bersiaga untuk bertempur. Bagaimanapun juga, tidak sepantasnya mereka menjadi tawanan dan digiring ke Pajang dan bahkan mungkin dengan tangan terikat.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang sedang berjudi di Song Lawa itu pun telah bersiap pula. Kemenangan mereka atas segerombolan perampok membuat mereka yakin, bahwa mereka akan dapat mengatasi keadaan pula. Apalagi saat itu tidak seorangpun yang tidak ikut serta karena tidak ada ilmu sirep yang mempengaruhi mereka sehingga sebagian dari mereka tertidur nyenyak.

Sementara itu, orang-orang itu pun merasa bahwa mereka tidak pantas untuk dihinakan oleh pasukan yang mengaku para prajurit Pajang itu. Jika mereka tertangkap, maka mereka tentu akan dibawa pula ke Pajang sebagai penjudi-penjudi yang telah merusak sendi-sendi kehidupan.

Dalam pada itu prajurit Pajang pun telah kehilangan kesabaran. Sementara kemelut yang terjadi di Pajang sendiri karena sikap Ki Gede Pemanahan, maka laporan-laporan mengenai tempat perjudian itu benar-benar membuat para pemimpin Pajang marah.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari para prajurit Pajang itu daripada menghancurkan tempat perjudian itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terdengar lagi suara bende. Tetapi dengan irama yang lain. Irama yang lebih cepat dan masih tetap datar.

Didalam lingkungan tempat perjudian itu, orang-orang pun telah bersiaga pula. Sebagaimana para petugas yang bertubuh raksasa, maka orang-orang yang kebetulan berada di tempat perjudian itu, yang jumlahnya cukup banyak, telah bersiap pula. Mereka memang memilih bertempur daripada menyerah dan dibawa dalam iring-iringan disepanjang jalan menuju ke Pajang. Mereka tentu akan menjadi tontonan orang-orang padukuhan yang mereka lewati, sementara itu, mereka adalah orang-orang yang disegani. Bahkan sebagian dari mereka adalah orang-orang yang telah mendapat gelar yang cukup menggetarkan jantung, sebagaimana Orang Hutan berkepala Besi. Yang lain pernah disebut Sikatan Putih, Ular Bermata Berlian dan ada pula orang-orang yang datang dari gerombolan Macan Ireng.

Dalam pada itu, para prajurit Pajang benar-benar telah bertindak dengan sikap sepasukan prajurit yang mantap. Senapati yang memimpin pasukan itu tidak dengan tergesa-gesa memberikan aba-aba. Tetapi dengan penuh wibawa, Senapati itu telah memberikan isyarat kepada pasukannya.

Para pemimpin kelompok mengenal dengan pasti isyarat yang diberikan oleh Senapatinya. Sehingga karena itu, maka mereka pun telah bergerak dengan rampak, namun cepat.

Prajurit Pajang itu telah menebar. Meskipun mereka tidak mengelilingi tempat perjudian itu dengan kekuatan yang merata, namun pasukan Pajang telah benar-benar mengepung tempat itu. Sesuai dengan perintah Senapatinya, maka semua orang harus tertangkap. Tidak seorang-pun yang boleh lolos. Mereka akan dibawa dan dihadapkan kepada para petugas yang berwenang untuk mengadili mereka. Baik mereka yang datang untuk melakukan perjudian, maupun mereka yang telah menyelenggarakan tempat perjudian itu.

Didepan regol Senapati Pajang itu pun kemudian berdiri tegak memandang pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Pintu gerbang di lapis pertama. Beberapa orang terpilih berdiri disebelah-menyebelah. Agaknya Senapati Pajang yang telah mendapat beberapa keterangan tentang-orang-orang berilmu tinggi yang ada di tempat itu, telah membawa pula beberapa orang perwira terpilih, sehingga mereka akan dapat mengatasinya jika mereka benar-benar harus berhadapan dengan orang-orang berilmu tinggi itu. Meskipun mereka tidak akan dapat menghadapi seorang dengan seorang, namun sekelompok orang terpilih itu, tentu akan dapat mengatasi orang-orang berilmu tinggi yang ada didalam lingkungan perjudian yang disebut Song Lawa itu.

Menurut pengamatan Senapati yang memimpin pasukan Pajang itu, serta laporan-laporan sebelumnya, maka pintu gerbang dilapis pertama itu, bukannya pintu gerbang yang cukup kuat sebagaimana pintu gerbang sebuah benteng pasukan yang memang dipersiapkan untuk kepentingan prajurit.

Karena itu, maka Senapati itu pun telah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk memecahkan pintu gerbang itu, sementara sekelompok prajurit yang lain siap melindunginya dengan busur dan anak panah yang siap pula diluncurkan.

Beberapa orang telah mendekati pintu itu dengan membawa kapak. Mereka tidak berusaha memecah pintu dengan sebuah balok yang besar yang diangkat oleh sekelompok orang dan dengan ancang-ancang yang panjang menerjang pintu gerbang itu sehingga pecah.

Tetapi menurut perhitungan Senapati itu serta para perwiranya, maka dengan kapak mereka akan dapat merusak pintu itu dan kemudian dalam kesatuan pasukan yang utuh memasuki lingkungan itu setelah dengan cara yang sama merusak pintu gerbang kedua.

Sebenarnyalah, pintu gerbang itu bukan pintu yang terlalu kuat. Dengan kapak maka para prajurit telah memotong tali-tali pengikat balok-balok kayu yang dipergunakan sebagai pintu itu. Dengan demikian maka ikatan balok-balok kayu itu menjadi longgar dan dengan ayunan-ayunan kapak yang kuat, maka satu-satu balok-balok kayu itu pecah sehingga akhirnya beberapa balok pun telah terserak.

Namun orang-orang yang berada didalam pintu gerbang itu tidak membiarkan semua itu terjadi tanpa hambatan. Ketika satu dua balok kayu telah terlepas, maka lewat lubang-lubang yang terjadi pada pintu itu, maka orang-orang yang berada didalam pun telah meluncurkan anak-anak panah.

Mula-mula memang mengejutkan. Tetapi para prajurit itu dengan cepat dapat menempatkan dirinya sehingga anak-anak panah itu tidak mengenai mereka, sementara mereka masih saja terus merusak pintu gerbang.

Para petugas di Song Lawa itu memang tidak akan mempertahankan pintu gerbang dilapis pertama itu. Namun mereka pun segera bergerak meninggalkan pintu gerbang itu dan berlindung dibalik pintu gerbang di lapis kedua.

Sementara itu, disebelah-menyebelah pintu gerbang, beberapa orang yang memanjat tangga yang sudah dipersiapkan telah siap menyerang setiap prajurit yang memasuki pintu gerbang itu dengan anak panah dan lembing.

Tetapi prajurit Pajang cukup berpengalaman. Karena itu, maka ketika pintu gerbang pertama itu pecah, maka yang mula-mula berada di pintu itu adalah pasukan yang melindungi diri mereka dengan perisai.

Sambil mengangkat perisai maka pasukan itu berderap maju dalam kesatuan yang utuh. Namun yang kemudian telah menebar kesebelah menyebelah. Sementara itu, maka sekelompok prajurit yang lain justru telah menyerang orang-orang yang berada di tangga di sebelah menyebelah regol itu dengan anak panah pula.

Akhirnya orang-orang di Song Lawa itu tidak berusaha mempertahankan pintu gerbang mereka, karena mereka menyadari, bahwa hal itu tidak mungkin dilakukannya. Namun mereka akan lebih yakin untuk bertempur dengan para prajurit itu langsung dengan senjata pendek. Para petugas itu sadar, bahwa selain mereka, orang-orang yang berada di Song Lawa yang jumlahnya cukup banyak itu tentu memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan para prajurit itu.

Karena itu, ketika para prajurit Pajang merusak regol di lapisan kedua, maka para petugas di Song Lawa serta sekelompok orang yang berada di Song Lawa itu telah bersiap untuk menyambut mereka. Ternyata jumlah merekapun cukup banyak, sementara sebagian diantara mereka yang tersebar telah ditarik pula kepintu gerbang, karena menurut perhitungan mereka, para prajurit yang mengepung lingkunan perjudian Song Lawa itu tidak akan masuk dengan memanjat dinding. Mereka hanya sekedar mengepung tempat itu, sementara pasukan induknya akan memasuki lingkungan itu lewat pintu gerbang.

Dengan cara yang sama, maka para prajurit Pajang itu pun telah merusak pintu gerbang dilapis yang dalam. Memang pintu gerbang itu lebih kuat dari pintu gerbang yang pertama. Tetapi dengan memutuskan tali-tali pengikat yang kuat, serta memotong palang-palang penguatnya, maka pintu gerbang itupun telah dirusakkannya.

Sementara itu pasukan induk pun telah bersiap. Demikian pintu gerbang itu pecah, maka pasukan Pajang yang kuat itu pun telah menghambur memasuki pintu gerbang. Yang dipaling depan adalah prajurit dari pasukan khusus yang terpilih. Mereka bersenjata pedang dan perisai. Dengan menyusun perisai mereka rapat dihadapkan pasukan terpilih itu, maka pasukan Pajang itupun telah menembus masuk kedalam lingkungan Song Lawa.

Ketika pasukan berperisai itu kemudian mekar, maka pasukan yang lain ternyata telah berada di dalam pintu gerbang pula. Dalam tatanan yang mapan, kelompok demi kelompok pasukan itu menebar.

Para petugas di Song Lawa memang terpesona sekilas melihat pasukan yang datang itu. Namun tiba-tiba pemimpin mereka berteriak, “Hancurkan mereka. Yang datang adalah pasukan yang hanya pantas melakukan pameran ketangkasan berbaris di alun-alun Pajang. Tetapi mereka tidak akan memiliki kemampuan tempur secara pribadi sebagaimana kita. Uraikan barisan itu dan bunuh mereka seorang demi seorang. Lepas dari barisan, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Para prajurit Pajang sama sekali tidak menyahut. Yang terdengar kemudian adalah sorak para petugas di Song Lawa itu disusul teriakan-teriakan yang menggetarkan jantung. Ternyata beberapa orang yang sedang ikut dalam perjudian di Song Lawa itupun telah menyerang dengan kasar sambil berteriak-teriak pula.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka telah terjadi pertempuran yang seru antara para prajurit Pajang dengan orang-orang yang berada di Song Lawa. Orang-orang dengan kemampuan yang berbeda-beda atas alas ilmu yang berbeda-beda pula. Namun mereka bersama-sama berusaha mempertahankan diri agar mereka tidak dibawa sebagai tawanan yang terikat oleh pasukan itu. Yang akan dapat menjadi tontonan disepanjang jalan yang panjang.

Namun ternyata orang-orang yang ada di lingkungan perjudian Song Lawa itu terkejut ketika benturan benar-benar telah terjadi. Tidak yang seperti mereka duga, bahwa para prajurit Pajang itu tidak memiliki landasan ilmu yang kuat secara pribadi. Ternyata ketika para prajurit itu menebar, maka mereka pun mampu bertempur dengan garangnya.

Namun sebagaimana perintah yang mereka terima sebelum mereka memasuki Song Lawa, maka setiap prajurit mendapat perintah untuk tetap berada dalam pasangan-pasangan yang terdiri dari dua atau tiga orang.

“Jumlah kita cukup banyak,” berkata Senapati prajurit Pajang, “harus diakui, bahwa dasar kemampuan kita berbeda dengan dasar kemampuan orang-orang yang berada di lingkungan Song Lawa. Namun kita. bukannya tidak terlatih untuk mengatasi orang-orang tersebut. Pengalaman di medan perang yang berat serta latihan-latihan yang lengkap telah membekali kita. Kita tidak akan menjadi bingung karenanya.”

Pesan itulah yang mendasari setiap gerak para prajurit Pajang. Sehingga dengan demikian, maka pasukan itu dalam keseluruhannya memang nampak besar dan sangat kuat.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja diantara teriakan-teriakan orang-orang yang ada di Song Lawa terdengar seseorang berteriak, “He, Wanengbaya dan Wanengpati. Satu kesempatan untuk bermain-main. Dimana orang-orang dari Macan Ireng itu atau perempuan-perempuan garang yang selama ini hilir mudik di arena perjudian ini?”

Beberapa orang berpaling ke arah suara itu. Ternyata yang berteriak itu adalah orang yang berkepala botak. Kepala Besi.

Ternyata bahwa Kepala Besi memang seorang yang sangat garang. Bersama beberapa orang kawannya, iapun telah mengamuk di antara prajurit Pajang yang terkejut melihat kehadirannya.

Namun seorang perwira yang melihatnya, segera menyadari, bahwa itu adalah tugasnya.

Tetapi seperti pesan yang diterimanya pula, bahwa ia tidak akan bertempur seorang diri.

Demikianlah maka sejenak kemudian, suara senjata-pun telah berdentangan. Pedang, tombak, bindi dan segala macam jenis senjata yang dibawa oleh para penjudi di Song Lawa itu. Bahkan ada yang membawa segulung rantai dengan bandul besi yang besarnya lebih dari sekepal tangan.

Namun para prajurit Pajang adalah prajurit yang terlatih dan memiliki pengalaman yang luas. Karena itu, maka merekapun segera menyesuaikan diri dengan kekerasan dan kekasaran lawan-lawan mereka.

Perlahan-lahan prajurit Pajang itu bergerak menebar keseluruh lingkungan. Ternyata jumlah mereka memang cukup banyak, sehingga rasa-rasanya pasukan itu mengalir tidak habis-habisnya.

Dua orang perwira yang bertempur melawan Kepala Besi ternyata masih juga mengalami kesulitan. Kepala Besi itu agaknya memiliki kemampuan yang tidak terduga.

Dengan tangkasnya Kepala Besi berloncatan. Tangannya yang kuat ternyata telah menggenggam senjata. Ia tidak dapat sekedar mempercayakan kekuatannya pada kepalanya, karena ia harus bertempur melawan sepasukan prajurit yang bersenjata, sementara itu, kulitnya bukannya kebal terhadap segala macam senjata.

Namun ayunan senjatanya benar-benar telah mendebarkan jantung lawan-lawannya. Meskipun para prajurit Pajang itu cukup berpengalaman, namun mereka telah membentur kekuatan yang benar-benar tinggi.

Disamping Kepala Besi itu, masih ada beberapa orang yang membuat para prajurit Pajang berdebar-debar. Bahkan seorang perempuan telah bertempur dengan tangkasnya. Dengan pedang di tangan, maka ia pun telah berloncatan seperti seekor burung sikatan menyambar bilalang. Sementara seorang perempuan yang lain, yang bertubuh agak gemuk, justru membawa senjata yang aneh. Senjata yang tidak biasa dipergunakan oleh seorang perempuan. Justru dua potong besi yang dipegangnya di kedua belah tangannya.

Di bawah sebatang pohon di pinggir lapangan panahan, seorang anak muda bertempur dengan garangnya diantara orang-orang yang bertubuh raksasa. Sementara orang-orang lain yang sedang berjudi di lingkungan Song Lawa pun bertempur pula dengan sengitnya.

Dengan demikian maka pertempuran yang terjadi di lingkungan perjudian Song Lawa itu pun menjadi semakin sengit.

Ternyata bahwa kehadiran beberapa orang dimalam terakhir menjelang sergapan pasukan Pajang di Pagi hari itu, tidak diketahui lebih dahulu oleh para prajurit Pajang. Kedatangan mereka yang tiba-tiba justru disaat terakhir memang telah meningkatkan kemampuan kekuatan Song Lawa. Sementara hal itu tidak sempat disampaikan oleh para petugas sandi Pajang yang berada di lingkungan Song Lawa itu.

Senapati Pajang yang memimpin pasukan yang menyerbu Song Lawa itu sempat memperhatikan keadaan. Pasukannya memang lebih besar dari para penghuni yang berada di Song Lawa. Namun ketika ia sempat memperhatikan orang-orang yang sedang bertempur itu, maka iapun sempat menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa orang-orang yang sedang berada di Song Lawa beserta para petugasnya, telah bertempur dengan kekuatan yang cukup mendebarkan jantung.

Beberapa saat kemudian pertempuran itu pun telah merata hampir di seluruh lingkungan Song Lawa. Bahkan beberapa orang prajurit telah menyusup memasuki barak permainan dadu. Sementara yang lain bertempur di arena sabung ayam. Sedangkan kedai yang ada di Song Lawa itu pun telah berserakan. Lincak bambu dan amben-amben telah berpatahan. Paga dan gledeg pun telah pecah berkeping-keping.

Beberapa orang penjudi yang berhati kecil menganggap bahwa di Song Lawa itu seolah-olah memang sudah terjadi kiamat. Namun sebagian terbesar diantara mereka yang telah dengan sengaja memasuki lingkungan perjudian itu, adalah memang orang-orang yang berhati baja. Bahkan anak-anak muda yang ada didalam lingkungan Song Lawa itu pun pada umumnya telah merasa memiliki bekal yang kuat, sementara mereka masih juga membawa beberapa orang pengawal.

Karena itulah maka prajurit Pajang memang menghadapi tugas yang berat.

Dalam pertempuran yang riuh itu, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya berdiri termangu-mangu. Mereka memang melihat Wanengbaya dan Wanengpati sekilas. Namun kemudian rasa-rasanya kedua orang itu telah menghilang.

“Dimana mereka?” bertanya Kiai Windu.

Kawan-kawannya menggelengkan kepalanya. Seorang diantara mereka menjawab, “Mereka bergeser ke arah lapangan panahan.”

“Keduanya adalah orang-orang berilmu tinggi. Melampaui Kepala Besi itu. Jika Kepala Besi dan beberapa orang yang lain telah merepotkan para prajurit Pajang, tentu keduanya merupakan lawan yang lebih berat lagi,” berkata Kiai Windu. Namun kemudian katanya, “Aku harus menjumpai mereka.”

Kiai Windu dan kawan-kawannya kemudian menyusup diantara pertempuran yang semakin sengit. Namun ternyata mereka tidak mengalami gangguan sama sekali. Seakan-akan kedua belah pihak yang bertempur itu tidak menganggap mereka sebagai lawan dari pihak yang manapun juga.

Sebenarnyalah mereka sempat melihat Wanengbaya yang sedang bertempur. Kiai Windu lah yang kemudian mendekatinya sambil berdesis, “Wanengbaya, tinggalkan lawanmu. Aku ingin berbicara sebentar.”

Wanengbaya tidak meninggalkan lawannya. Ia masih saja bertempur melawan seorang prajurit.

Mula-mula Kiai Windu memang berusaha memanggilnya. Tetapi kemudian iapun melihat sesuatu yang menarik. Nampaknya Wanengbaya tidak bersungguh-sungguh. Ia bertempur dalam keseimbangan dengan seorang prajurit yang seharusnya dapat dihancurkannya dengan cepat.

“Orang ini memang membingungkan,” berkata Kiai Windu kepada kawan-kawannya.

Namun dalam pada itu, Kiai Windu terkejut. Justru Wanengpati lah yang menggamitnya sambil berkata, “Apakah tali berwarna putih dilehermu itu satu pertanda?”

Wajah Kiai Windu menjadi tegang. Sebenarnyalah ia mengenakan tali putih yang melingkari lehernya sebagaimana ketiga orang kawannya.

“Kau yang sudah lama menjadi penghuni di lingkungan ini serta tali putih dilehermu, membuat kau tidak harus membela diri terhadap siapapun sekarang ini. Kehadiran para perampok beberapa saat yang lalu telah meyakinkan orang-orang yang berada ditempat ini, bahwa kau adalah kawan yang baik bagi para penghuni Song Lawa. Sehingga dengan demikian, maka mereka tidak akan mencurigaimu sama sekali. Sementara itu, dengan kalung putihmu, maka kau telah mengenakan pertanda tentang kenyataan dirimu sebagai petugas sandi dari Pajang.”

Wajah Kiai Windu menjadi tegang. Wanengbaya dan Wanengpati bukan saja orang-orang berilmu tinggi, tetapi mereka pun mempunyai ketajaman penglihatan tentang dirinya dan kawan-kawannya. Wanengpati ternyata dapat menduga, apakah yang telah dilakukannya di Song Lawa sehingga karena itu, maka dengan pasti Wanengpati telah menyebut tentang tali putih di lehernya. Sedangkan Kiai Windu tahu pasti kelebihan Wanengbaya dan Wanengpati, sehingga jika keduanya tetap berpihak kepada orang-orang Song Lawa dan berniat untuk melawannya bersama kawan-kawannya, maka ia tidak akan mampu mengatasinya.

Tetapi dalam keragu-raguan itu Wanengpati tiba-tiba saja berkata, “Kiai Windu, atau siapa saja sebenarnya namamu. Baiklah kita berjanji, bahwa kita tidak akan saling mengganggu, apapun yang kita lakukan masing-masing. Aku tidak akan mengganggumu dengan petugas sandi dan tugas-tugasmu yang lain, sementara aku minta kau tidak mengganggu apa yang akan kami lakukan berdua. Aku dan Wanengbaya.”

Kiai Windu masih termangu-mangu. Namun Wanengpati itu mendesak, “Ambil keputusan, atau kita akan bertempur.”

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Sanak. Hubungan kita selama ini sangat baik. Karena itu, maka sebaiknya kita akan memakai alasan lain, kenapa kita tidak akan bertempur. Jangan mengancam seperti itu. Aku memang seorang prajurit. Jika ancamanmu itu kau anggap sebagai satu-satunya alasan kenapa aku setuju atau terpaksa setuju, aku tidak mau menerimanya. Seorang prajurit tidak akan surut karena bayangan kematian sekalipun, Tetapi jika kau mempergunakan alasan yang lain, agaknya aku tidak berkeberatan.”

Terasa sentuhan lembut dihati Jati Wulung. Kiai Windu memang seorang prajurit. Bagaimanapun juga ia tentu akan mempertahankan martabatnya sebagai seorang prajurit yang baik. Karena itu maka Wanengpati itupun berkata, “Maaf Kiai. Dalam keadaan kalut ini pikiranku pun ikut kalut. Baiklah. Keadaan ini jangan merusak hubungan baik kita selama ini. Aku mohon Kiai mengerti apa yang kami lakukan sebagaimana kamu juga mengerti apa yang Kiai lakukan sekarang ini.”

Kiai Windu mengangguk-angguk kecil. Lalu katanya, “Aku mengerti.”

“Jika demikian, sebaiknya kita mengambil jalan kita masing-masing,” berkata Wanengpati kemudian.

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Kita akan berpisah. Aku tidak tahu, apakah kita masih akan bertemu lagi. Kita masing-masing sadar, bahwa perkenalan kita selama ini telah dibayangi oleh kecurigaan dan ragu, sehingga kita masing-masing tidak mempergunakan nama kita yang sebenarnya. Karena itu, maka setelah kita keluar dari tempat ini, maka kita tidak akan dengan mudah untuk berhubungan lagi, kecuali jika secara kebetulan kita bertemu.”

Wanengpati mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

Kiai Windu tidak menjawab. Namun iapun kemudian telah meninggalkan Wanengpati yang termangu-mangu. Dengan sengaja Kiai Windu telah menyusup didekat Wanengbaya yang sedang bertempur. Katanya, “Wanengpati telah mengatakan segala-segalanya.”

Wanengbaya yang bertempur dengan sebagian saja dari kemampuannya masih sempat mengangguk sambil menjawab, “Kita akan mengambil sikap kita sendiri-sendiri.”

“Aku mengerti,” berkata Kiai Windu.

Wanengbaya yang bertempur melawan seorang prajurit Pajang mengangguk. Namun Kiai Windu pun kemudian telah meninggalkannya. Bahkan Kiai Windu pun kemudian telah menyusup dan hilang diantara para prajurit Pajang. Tali putih dilehernyalah yang telah memberikan pertanda, bahwa ia adalah petugas sandi prajurit Pajang yang memang bertugas di Song Lawa untuk beberapa musim perjudian, untuk mematangkan rencana Pajang, menghancurkan Song Lawa yang merupakan tempat yang untuk waktu cukup lama tidak terjangkau oleh paugeran.

Dalam pada itu, pertempuran pun telah menjadi semakin seru. Bagaimanapun juga prajurit Pajang telah menunjukkan kebesarannya sebagai pasukan yang telah masak. Meskipun di Song Lawa itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi, namun dengan kemampuan sepasukan prajurit yang mendapat kepercayaan untuk menghancurkan tempat yang penuh dengan kemaksiatan itu, maka perlahan-lahan merekapun mulai mendesak.

Dalam pertempuran itu, ternyata Wanengbaya dan Wanengpati tidak dapat berbuat sebagaimana diharapkan oleh orang-orang di Song Lawa. Namun keduanya agaknya telah bertempur di arena yang sangat luas. Keduanya bagaikan burung layang-layang yang terbang dari satu arena ke arena yang lain menyusuri medan yang panjang. Berbeda dengan Kepala Besi yang bertempur dengan mapan dan benar-benar membuat para perwira dari Pajang menjadi semakin berhati-hati menghadapinya.

Beberapa orang petugas di Song Lawa memang heran melihat cara yang dipergunakan oleh Wanengbaya dan Wanengpati. Meskipun sekali-sekali keduanya juga bertempur dengan mendesak lawan-lawan mereka. Namun keduanya nampaknya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu.

Namun akhirnya Wanengbaya dan Wanengpati itu-pun terhenti juga. Ketika keduanya melihat Puguh yang sedang bertempur melawan prajurit Pajang yang mendesaknya. Dua orang prajurit Pajang telah berusaha untuk melumpuhkannya, sementara para pengawalnya tidak mampu melindunginya karena mereka pun harus bertempur pula melawan prajurit-prajurit Pajang itu.

“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya Jati Wulung.

“Kita selamatkan anak itu, “berkata Sambi Wulung.

“Bukankah kita tidak perlu mengambil langkah-langkah penyelamatan. Jika anak itu hancur di peperangan, itu berarti bahwa Risang telah menyelesaikan salah satu tugasnya tanpa harus berbuat sesuatu,” sahut Jati wulung.

“Jika kita tidak menyelamatkannya, kita tidak tahu apa yang terjadi atasnya. Jika ia tidak terbunuh, tetapi tertangkap oleh para prajurit Pajang, kemudian menjalani hukuman, maka pada suatu saat ia akan dibebaskan, sementara itu kita akan kehilangan semua jejaknya. Bahkan ketika ia menjalani hukumannya, dendam di hatinya juga dihati ibunya akan bertambah menyala, sehingga Risang akan dapat menjadi sasaran tumpahan dendamnya,” jawab Sambi Wulung, “tetapi jika kita menyelamatkannya, mungkin kita dapat mengetahui dimanakah tempat tinggalnya atau barangkali padepokannya atau tempat macam apa saja karena Puguh akan dapat tinggal disembarang tempat. Bahkan di goa-goa sekalipun tempat orang tuanya menyembunyikan harta benda rampasan mereka.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan berusaha untuk mengambil hatinya dan mendapat sedikit kepercayaan daripadanya.”

Sementara itu Wanengbaya dan Wanengpati tidak dapat berbincang lebih lama lagi. Ketika keduanya melihat Puguh menjadi semakin sulit melawan dua orang prajurit Pajang yang berpengalaman luas, maka keduanya segera mendekati remaja itu.

Mula-mula keduanya memasuki arena disebelah menyebelah Puguh yang terdesak. Namun dengan kemampuan yang ada pada keduanya, maka mereka berhasil mendesak dan menjadi semakin dekat dengan Puguh.

Akhirnya Puguh yang mengalami kesulitan itu melihat juga Wanengbaya dan Wanengpati. Bahkan keduanya tidak banyak mengalami kesulitan untuk mengusir lawan-lawan mereka.

“Bertahanlah,” berkata Wanengbaya lantang, “aku segera datang.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi ternyata Sambi Wulung datang tepat pada waktunya. Sambi Wulung sempat menangkis pedang yang terjulur ke arah punggung anak muda itu selagi Puguh menangkis serangan lawannya yang seorang lagi.

Demikian kerasnya ayunan senjata Sambi Wulung, maka pedang prajurit Pajang yang hampir saja menyentuh punggung Puguh itu pun terlempar jatuh.

“Terima kasih,” desis Puguh.

Sambi Wulung tidak menjawab. Namun kemudian bersama Jati Wulung keduanya telah bertempur disebelah menyebelah anak muda itu.

Ketika kemudian pertempuran menjadi semakin sengit dan pasukan Pajang semakin mendesak disegala medan di lingkungan perjudian Song Lawa itu maka Sambi Wulungpun berdesis, “Kita meninggalkan neraka ini. Bagaimanapun juga kita mempertahankannya, namun kita tidak akan mampu melakukannya. Prajurit Pajang terlampau kuat. Bukan secara pribadi, tetapi dalam keseluruhan. Mereka memiliki pengetahuan medan dan pengalaman yang sangat luas.”

Puguh tidak sempat berpikir. Katanya, “Baik. Tetapi apakah itu mungkin dilakukannya?”

“Kenapa tidak? “ justru Sambi Wulung lah yang bertanya.

“Lingkungan ini sudah dikepung,” desis Puguh.

“Kita akan mencoba,” jawab Sambi Wulung.

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melindungi Puguh itu pun telah bergeser dari tempat mereka bertempur. Mereka telah mendekati dinding lingkungan itu untuk kemudian berusaha meloncatinya, “Kita akan keluar.”

“Apakah kita akan mampu menembus kepungan prajurit Pajang diluar?” Puguh masih selalu ragu-ragu.

“Kita akan mencoba. Tanpa berusaha kita tidak akan dapat berbuat apa-apa,” sahut Sambi Wulung. Lalu katanya, “Jika dengan demikian kita akan mati, itu tentu satu akibat yang mungkin saja dapat terjadi.”

Puguh memang bukan seorang pengecut. Ia pun kemudian telah bergeser semakin dekat dengan dinding lingkungan perjudian itu.

“Wanengpati,” berkata Sambi Wulung, “lindungi kami. Kami akan meloncat. Kemudian kau cepat menyusulnya.”

Jati Wulung tidak menyahut. Namun ia telah mengetrapkan segenap kemampuan ilmunya untuk mencegah para prajurit Pajang menyerang Puguh yang berusaha untuk meloncati dinding bersama dengan Sambi Wulung.

Dengan kemampuan seorang berilmu tinggi, yang tidak mendasarkan kekuatan dan kemampuannya sekedar pada ketrampilan wadagnya, Jati Wulung berhasil menahan para prajurit Pajang yang ingin menghalangi niat Puguh dan Jati Wulung. Bahkan demikian keduanya hilang dibalik dinding, Jati Wulung pun bagaikan terbang telah hinggap pula diatas dinding.

Sebuah tombak memang menyambarnya. Namun Jati Wulung masih sempat mengelak. Dan sekejap kemudian, maka ia pun telah hilang dibalik dinding dilapis kedua.

Ketiga orang itu pun kemudian telah berlari menuju ke dinding di lapis pertama. Namun dari celah-celah dinding kayu mereka dapat mengintip, bahwa diluar dinding di lapis pertama, nampak beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga. Prajurit yang mendapat tugas untuk mencegah siapa pun yang akan melarikan diri dari lingkungan Song Lawa.

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Demikian pula Puguh. Bahkan Puguh pun berdesis, “Jika saja aku sempat membawa kawan-kawanku.”

“Sulit untuk melepaskan mereka semuanya dari medan. Tetapi apakah kawan-kawanmu akan dapat mengungkapkan sesuatu yang bersifat rahasia dari padamu. Apakah mungkin para pengawalmu akan memberitahukan bahwa kau melarikan diri dan menunjukkan tempat tinggalmu sehingga memungkinkan kau ditangkap oleh Prajurit Pajang yang dikirim khusus kepadamu?” bertanya Sambi Wulung.

“Aku tidak yakin,” jawab Puguh, “tetapi agaknya jika mereka tertangkap hidup, mereka tidak akan banyak dapat berceritera tentang aku. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada lingkungan hidup mereka dibawah pimpinan orang tuaku. Tetapi aku tidak begitu sesuai dengan mereka.”

“Bagaimana jika mereka dipaksa untuk menunjukkan tempat tinggal orang tuamu dan dengan sendirinya kau akan tertangkap pula karenanya,” berkata Jati Wulung.

“Mereka adalah lapisan terbawah dari lingkunganku. Mereka terpisah beberapa lapis, sehingga apa yang mereka ketahui tentang aku terlampau sedikit. Juga tentang orang tuaku betapapun mereka setia menjadi pengikutnya,” berkata Puguh.

“Baiklah,” berkata Sambi Wulung, “jika demikian, maka kita tidak akan cemas bahwa mereka akan dapat membuka rahasiamu dan orang tuamu. Terutama tempat tinggalmu yang sebenarnya. Karena itu maka marilah, kita akan melarikan diri.”

Puguh memang masih ragu-ragu. Bahkan ia ragu-ragu tentang para pengikutnya. Apakah mereka akan dapat membuka rahasianya jika mereka tertangkap.

Tetapi seperti yang sudah dikatakan, pengikut-pengikut orang tuanya telah disusun berlapis-lapis. Yang dibawanya ke Song Lawa justru bukan orang-orang terdekat meskipun mereka adalah orang-orang terpilih dari salah satu lingkungan kecil dibawah pimpinan seorang kepercayaan orang tuanya, yang menjadi penyekat antara lapisan-lapisan itu.

“Kita tidak sempat berpikir terlalu lama,” berkata Sambi Wulung.

“Ya. Marilah,” sahut Puguh kemudian.

Demikianlah, maka ketiga orang itupun telah mengambil ancang-ancang. Mereka harus meloncati dinding dan menembus penjagaan diluar dinding yang agaknya memang tidak terlalu kokoh, karena sebagian terbesar pasukan Pajang telah ditarik memasuki lingkungan Song Lawa yang ternyata cukup kuat untuk bertahan.

Tetapi tanpa Sambi Wulung dan Jati Wulung yang diperhitungkan akan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi keseimbangan pertempuran, ternyata isi dari lingkungan Song Lawa telah benar-benar kehilangan kekuatan yang menentukan.

Sesaat kemudian, maka ketiga orang itu telah meloncat dan hinggap sejenak diatas dinding. Kemudian melayang turun dan dengan cepat menuju ke bagian dari lingkaran yang nampak terlalu tipis di luar dinding dilapis pertama itu.

Prajurit Pajang memang agak lengah. Mereka tidak menduga, bahwa tiga orang dengan demikian cepatnya telah berusaha menembus kepungan. Karena itu, memang ada beberapa langkah tempat yang terbuka.

Namun yang menganga itu pun dengan cepat telah terkatub pula. Tiga orang prajurit dengan sangat tergesa-desa telah siap mencegat ketiga orang yang berusaha melarikan diri itu, sementara beberapa orang kawannya yang lain berlari-lari menuju ke titik yang lemah itu.

Dengan tangkasnya Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh telah berusaha menguak kembali lingkaran yang semula terbuka itu. Dengan segenap kemampuan ketiganya ternyata dengan cepat dapat mengatasi ketiga orang prajurit Pajang itu.

“Maaf Ki Sanak,” desis Sambi Wulung, “kami terpaksa melukaimu.”

Prajurit Pajang itu tidak mendengar. Tetapi ia memang terdorong surut. Terasa pundaknya telah disengat oleh ujung senjata.

Dua orang prajurit Pajang telah terluka. Seorang yang lain menjadi ragu-ragu untuk mengejar ketiganya. Namun beberapa prajurit yang lain telah bergabung dan bersama-sama mengejarnya.

Lima prajurit Pajang telah mengejar ketiga orang yang melarikan diri itu.

Tetapi lima orang itu memang tidak cukup. Pada jarak beberapa langkah lagi, dua orang memang telah menyusul. Baru dibelakang kedua orang itu, kelompok terakhir yang terdiri dari tiga orang telah berlari pula dengan cepat.

Menurut perhitungan mereka, sepuluh orang itu telah cukup. Sementara yang lain harus berjaga-jaga jika ada orang lain lagi yang berusaha untuk melarikan diri.

Sambi Wulung dan Jati Wulung sebenarnya akan dapat berlari lebih cepat dan meninggalkan pengejar-pengejarnya. Tetapi Puguh tidak dapat berbuat demikian. Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung harus menyesuaikan dirinya dan tidak akan mungkin dapat meninggalkan Puguh dalam terkaman prajurit-prajurit Pajang. Namun jumlah prajurit Pajang itu memang terlalu banyak.

Ternyata bahwa kelompok pertama dari prajurit Pajang yang mengejar mereka telah berhasil menyusul. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh harus bertempur melawan lima orang prajurit. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah memancing masing-masing dua orang lawan, sementara Puguh harus melawan seorang prajurit.

Namun jarak waktunya tidak terlalu lama bahwa telah datang pula dua orang lainnya, sementara tiga orang yang lain telah menjadi semakin dekat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar menjadi bimbang. Dengan ilmu mereka yang tinggi, mereka akan dapat membinasakan lawan-lawannya itu. Namun ada semacam kekangan didalam dirinya untuk membunuh sepuluh orang prajurit Pajang, atau setidak-tidaknya separo diantara mereka. Sementara itu sangat sulit bagi mereka untuk melawan sepuluh orang tanpa membunuh dan melukai lawan-lawan mereka.

Untuk sementara yang dapat mereka lakukan adalah bertempur sambil bergeser mundur untuk mendapat kesempatan melarikan diri. Namun sepuluh orang itu telah mengepung mereka dengan ketat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar menjadi bingung. Sementara Puguh sendiri berusaha benar-benar untuk membunuh lawannya. Tetapi lawan-lawannya adalah prajurit yang memiliki kemampuan bertempur yang cukup masak sehingga Puguhpun tidak segera berhasil melakukannya.

Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja mereka bertiga terkejut ketika mereka melihat kehadiran dua orang yang tidak dikenal, yang menyelubungi wajah-wajah mereka dengan kain. Dua orang yang tiba-tiba saja telah melibatkan diri melawan sepuluh orang prajurit Pajang yang mengejar Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran pun segera berubah. Ternyata kedua orang itu benar-benar dua orang yang berilmu sangat tinggi. Dengan gerak yang cepat dan kekuatan yang sangat besar, maka keduanya bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengbaya dan Wanengpati itu segera dapat mengatasi keadaan. Sepuluh orang prajurit Pajang itu menjadi seakan-akan tidak berdaya. Satu-satu mereka jatuh dan terlempar beberapa langkah. Tulang-tulang mereka serasa retak, sehingga mereka tidak segera dapat bangkit kembali.

Orang terakhir dari sepuluh orang itupun akhirnya tidak berdaya juga ketika ia kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling. Meskipun ia masih mampu untuk bangkit, namun ia tidak lagi berniat untuk mengejar lima orang yang kemudian melarikan diri itu.

Sepuluh orang prajurit itu kemudian semuanya masih mampu bangkit dan berdiri betapapun tubuh mereka merasa sakit. Dengan sangat kecewa mereka terpaksa melepaskan buruan mereka yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu.

Sementara itu, lima orang yang melarikan diri itu lelah berada jauh dari para prajurit Pajang yang mengejar mereka. Karena itu, maka mereka pun telah berhenti untuk mengatur pernafasan mereka yang terengah-engah. Terutama Puguh.

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung dengan cepat mengenali kedua orang yang telah menolong mereka itu. Keduanya tentu Kiai Soka dan Kiai Badra. Namun dengan cara keduanya hadir diantara mereka, maka keduanya tentu berusaha untuk tidak dikenali. Bukan saja namanya, tetapi juga wajah-wajah mereka.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Terima kasih atas pertolongan Ki Sanak. Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak berdua? Kami adalah Wanengpati dan Wanengbaya, anak muda ini adalah Puguh.”

Kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian keduanya-pun mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata dengan suara bergetar, “Kami adalah musuh-musuh Pajang. Kami selalu diburu siang dan malam. Adalah satu kesempatan bagi kami untuk dapat melawan sekelompok kecil prajurit Pajang. Namun karena kami melihat keadaan kalian bertiga yang gawat, maka kami memutuskan untuk melarikan diri bersama kalian. Nah, kami telah mengenal nama-nama kalian. Tetapi siapakah kalian sebenarnya?”

“Tidak ada yang dapat menjelaskan. Kami adalah penjudi-penjudi yang hidup kami lebih panjang berada dilingkungan perjudian seperti Song Lawa daripada berada ditempat lain,” jawab Wanengbaya.

Kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu mengangguk-angguk. Tetapi keduanya tidak mendesaknya. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Nah, pergilah. Kami akan kembali mendapatkan prajurit-prajurit Pajang itu untuk melepaskan dendam kami.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak bertanya lagi. Tetapi merekapun kemudian telah mengajak Puguh untuk meninggalkan tempat itu.

“Jika para prajurit itu sempat mengejar kita lagi. maka kita akan mengalami kesulitan,” berkata Sambi Wulung.

Demikianlah, maka mereka bertiga pun telah meninggalkan tempat itu. Namun agaknya mereka masih belum menentukan tujuan. Mereka masih saja berjalan asal saja menjauhi lingkungan perjudian Song Lawa yang agaknya telah direbut oleh pasukan Pajang yang kuat.

Sebenarnyalah bahwa para prajurit Pajang memang sudah berada disegala sudut dan bahkan memasuki barak-barak di Song Lawa. Orang-orang yang berilmu tinggi, tidak mampu melawan para perwira yang memang dipersiapkan untuk melawan mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Betapa besar kemampuan Kepala Besi, namun ketika ia dihadapkan kepada empat orang perwira terpilih, ternyata lambat laun, ia menjadi kehabisan tenaga juga. Meskipun kepalanya sempat melukai beberapa orang, tetapi tubuhnya sendiri menjadi terluka parah.

Akhirnya, Song Lawa yang telah bertahun-tahun bertahan sebagai tempat perjudian yang tidak terjangkau oleh pangeran, telah benar-benar dikuasai oleh para prajurit Pajang. Sudah terlalu lama orang. orang disekitar Song Lawa mengeluh karena tingkah laku orang-orang yang memasuki dan keluar dari lingkungan itu. Bahkan kadang-kadang di padukuhan-padukuhan di sekitar Song Lawa itupun telah terjadi benturan kekerasan dan membunuh beberapa orang korban. Tindakan yang semena-mena dari orang-orang yang memiliki ilmu terhadap orang-orang padukuhan yang lemah. Bahkan mereka yang kalah tidak segan-segan untuk sekali-sekali merampas barang-barang yang bahkan tidak berharga sekalipun, namun yang penting sekali artinya bagi orang-orang miskin itu.

Para prajurit Pajang kemudian telah mengumpulkan orang-orang yang tersisa, termasuk mereka yang terluka. Mereka harus bertanggung jawab atas segala tingkah laku mereka. Terlebih-lebih lagi para pengawal dan petugas di Song Lawa itu sendiri yang pada umumnya terdiri dari orang-orang yang bertubuh raksasa.

Sementara itu Kiai Badra dan Kiai Soka, setelah membantu Sambi Wulung dan Jati Wulung membebaskan diri dari para prajurit Pajang yang telah mengejarnya, kemudian menyingkir ketempat yang tersembunyi. Keduanya pun segera mengerti maksud Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka agaknya telah menyelamatkan Puguh dan selanjutnya membawanya kembali ke tempatnya. Mungkin di sebuah padepokan, persembunyian atau tempat apapun juga.

“Agaknya keduanya telah berhasil,” berkata Kiai Badra.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan keduanya benar-benar dapat melacak sampai ke tempat tinggal anak itu. Mungkin anak itu cerdik dan justru mencurigai keduanya sehingga anak itu akan dapat menjebak mereka.”

“Memang satu kemungkinan,” sahut Kiai Badra. Tetapi katanya kemudian, “Juga mudah-mudahan keduanya tidak tergoda untuk membinasakan anak muda itu. Meskipun mungkin orang tuanya atau kakeknya tidak tahu, apa yang terjadi dengan Puguh, namun dendam mereka akan dengan mudah tertuju kepada Risang. Sementara itu Risang belum siap untuk berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri.”

“Tetapi hancurnya Song Lawa tentu akan segera didengar oleh orang tua Puguh. Seandainya Sambi Wulung dan Jati Wulung terdorong mengambil langkah-langkah yang keras terhadap anak itu, maka orang tuanya tentu mengira bahwa anaknya telah binasa di Song Lawa.”

“Jika satu saja pengawalnya lolos atau masih hidup dan kelak dibebaskan, maka persoalannya akan lain apabila pengawalnya itu dapat mengatakan bahwa Puguh telah melarikan diri bersama dengan dua orang yang lain, serta anak muda itu tidak tertawan di Pajang.”

Kedua orang tua itu agaknya mendapat persesuaian pendapat, bahwa tidak menguntungan bagi Risang, jika Puguh diselesaikan oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk menghindari persaingan antara kedua orang anak Wiradana itu.

Namun ternyata bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung pun berpendapat sebagaimana kedua orang tua itu. Mereka pun telah membicarakannya dengan hati-hati sesaat setelah mereka terlepas dari tangan para prajurit Pajang. Namun mereka pun berkesimpulan untuk membawa Puguh kembali ke kediamannya.

Ketika kemudian mereka menjadi semakin jauh dengan lingkungan perjudian Song Lawa, maka Sambi Wulung mulai bertanya tentang arah perjalanan mereka kepada Puguh.

“Kita tidak akan dapat berjalan tanpa tujuan,” berkata Sambi Wulung.

“Lebih baik aku pulang. Terima kasih atas pertolongan kalian,” sahut Puguh tiba-tiba.

“Marilah,” berkata Jati Wulung, “aku antar kau sampai ke rumahmu. Kami sudah terlanjur berusaha melarikan diri bersama-sama. Aku tidak tahu, apakah ada orang lain yang juga berhasil melarikan diri atau tidak. Karena itu, apapun yang akan kita alami diperjalanan, akan kita alami bertiga, sampai saatnya kau benar-benar bebas dari segala kemungkinan buruk. Kau masih terlalu muda. Seandainya kita bersama-sama anak-anak muda yang lain.”

Puguh termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Aku akan dapat menempuh perjalanan kembali seorang diri. Aku sudah dapat menjaga diriku sendiri.”

“Jangan mengira sedemikian mudah kita menempuh perjalanan saat ini,” berkata Jati Wulung, “aku tidak tahu kenapa di Song Lawa kali ini hadir orang-orang seperti Kepala Besi, Sikatan Putih. Kelompok Macan Ireng dan barangkali masih ada yang lain yang tidak kita ketahui. Agaknya tentu ada hubungannya dengan perkembangan keadaan diluar Song Lawa, terutama yang menyangkut kemelut di Pajang itu sendiri.”

“Mereka sudah terbiasa berada di Song Lawa. Malah justru kalian berdua merupakan orang baru di lingkungan itu,” jawab Puguh.

“Kepala Besi dan Sikatan Putih?” bertanya Sambi Wulung.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Aku memang melihat beberapa orang baru termasuk kalian berdua. Tetapi kenapa kalian bersusah payah menyelamatkan aku?”

“Kau terlalu baik kepada kami,” jawab Jati Wulung, “tetapi sebenarnya memang ada dorongan lain yang telah memaksa kami berusaha menolong anak-anak muda. Karena bagi kami anak-anak muda akan sama artinya dengan masa depan.”

“Apa kepentingan kalian dengan masa depan, sementara kalian berdua juga berada di Song Lawa?” bertanya Puguh.

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Ternyata bahwa Puguh pun seorang anak muda yang mempergunakan nalarnya dengan baik. Ia tidak sekedar berbuat. Tetapi ternyata bahwa iapun berpikir.

“Puguh,” berkata Sambi Wulung kemudian, “kami berdua adalah orang-orang tua. Kami memang sudah terlanjur rusak, bahkan seakan-akan lahir dan batin. Tetapi terhadap anak-anak kami, kemanakan kami dan orang-orang muda yang berhubungan dengan kami, kami tidak pernah mengatakan bahwa kami berada di tempat-tempat seperti Song Lawa. Kami selalu mengatakan bahwa kami telah mengembara untuk menambah pengetahuan kami. Kami tidak ingin, anak-anak kami, kemanakan-kemanakan kami dan anak-anak muda yang lain terjerat dalam perjudian. Karena itu, ketika kami melihat beberapa orang anak muda termasuk kau di Song Lawa, kami memang agak menyesal.”

“Terima kasih atas perhatianmu,” jawab Puguh, “tetapi aku tidak usah membuat kalian terlalu sibuk mengurusi aku.”

“Tidak,” jawab Sambi Wulung, “tetapi kita belum terlepas dari bahaya yang mungkin menerkam kita setiap saat.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita akan berjalan bersama-sama.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka pun kemudian telah berjalan bersama-sama. Mereka tidak menempuh jalan yang biasa dipergunakan oleh mereka yang akan memasuki Song Lawa. Tetapi mereka menempuh jalan-jalan sempit diantara pedukuhan-pedukuhan kecil di lereng Gunung.

Namun sambil melingkar, maka mereka pun mulai menuruni lereng.

Ternyata perjalanan mereka bukannya perjalanan vang mudah. Bahkan mereka merasa, tatapan mata kecurigaan dari orang-orang padukuhan. Betapapun rapinya pakaian Puguh sebelumnya, tetapi setelah menempuh perjalanan yang panjang, maka pakaian itu pun telah menjadi kotor oleh keringat dan debu tanpa dapat berganti yang lain.

Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka sama sekali tidak memerlukan orang-orang padukuhan itu. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata masih membawa uang cukup. Bukan saja uang yang mereka bahwa memasuki Song Lawa, tetapi mereka justru telah memenangkan beberapa permainan di tempat itu.

Dalam pada itu, Puguh pun sempat bertanya, “Bagaimana kau sempat membawa semua uangmu?”

“Apakah kau tidak?” bertanya Sambi Wulung.

Puguh menggeleng. Katanya, “Aku tidak sempat mengambilnya. Tetapi ada juga dugaanku, bahwa kita akan dapat mempertahankan lingkungan perjudian itu sebagaimana pernah kita lakukan beberapa malam sebelumnya. Namun agaknya pasukan Pajang jauh lebih kuat dari segerombolan perampok yang datang malam itu.”

“Sudahlah,” berkata Sambi Wulung berdua cukup untuk keperluan selama perjalanan.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih. Kalian terlalu baik kepadaku.”

Dengan hati-hati Sambi Wulung berkata, “Sebenarnya sejak aku memasuki lingkungan perjudian itu aku memang sangat menaruh perhatian kepada anak-anak muda. Aku mencoba menghubungi mereka seorang demi seorang. Namun nampaknya mereka telah terlalu dalam tenggelam dalam dunia perjudian sehingga sulit untuk dapat diangkat kembali. Bahkan mereka berusaha untuk menjauhi aku. Hanya kau sajalah yang tidak berbuat demikian, bahkan kau telah banyak memberi kepada kami berdua selama kami berada di Song Lawa.”

Puguh mengangguk-angguk. Suaranya menjadi dalam, “Tetapi aku tidak ingin digiring oleh orang-orang Pajang seperti sekelompok itik di jalan-jalan menuju ke Pajang.”

“Namun sangat memalukan,” desis Jati Wulung, “itulah sebabnya kita melarikan diri. Meskipun sebenarnya lari bukanlah sifat laki-laki. Tetapi dalam keadaan seperti ini, pilihan yang paling baik adalah memang lari.”

Puguh tidak segera menyahut. Namun ia memandang jalan di hadapannya dengan tatapan mata yang tajam. Jalan yang membujur sangat panjang tanpa ujung.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak tergesa-gesa bertanya, Puguh akan menuju ke mana? Menurut pengenalan mereka, setelah mereka menjauhi Song Lawa, maka mereka justru menuju ke arah Barat, menuruni kaki Pegunungan.

Namun demikian mereka bertiga harus tetap berhati-hati dalam perjalanan. Mereka akan dapat bertemu dengan bahaya yang mungkin tidak diperhitungkan lebih dahulu. Sementara itu Puguh pun tidak segera berusaha benar-benar memisahkan diri dari kedua orang yang bersamanya keluar dari Song Lawa, justru karena kebiasaannya berjalan bersama-sama dengan beberapa orang pengawal. Apalagi ketiga orang itu sama sekali tidak dibatasi oleh waktu, sehingga mereka berjalan menurut keinginan dimana saja mereka ingin beristirahat. Di pinggir-pinggir hutan, di pategalan, di tanggul sungai atau di bawah pepohonan.

Tetapi bagaimanapun juga mereka tidak ingin terlalu banyak bertemu dengan siapapun juga, karena mereka tidak dapat mengingkari pengenalan mereka atas diri sendiri, bahwa mereka adalah buronan prajurit Pajang. Setiap mereka bertemu dengan siapapun juga yang meskipun tidak mereka kenal sama sekali, terutama bagi Puguh yang muda itu, rasa-rasanya mata mereka selalu tertuju kepadanya. Mengawasinya dengan penuh curiga dan mengikutinya apa saja yang mereka lakukan.

Karena itulah, maka perjalanan mereka menjadi sangat lambat. Jati Wulung harus menahan diri untuk berjalan selamban itu. Namun Sambi Wulung nampaknya sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan seakan-akan perjalanan yang dilakukan itu adalah perjalanan yang paling sesuai dengan kebiasaannya.

Jati Wulung yang mencoba menghilangkan kejemuannya, sempat tertidur dibawah sebatang pohon yang besar ketika mereka berhenti disudut sebuah hutan kecil. Namun ketika ia terbangun, maka yang pertama kali diucapkannya adalah, “Aku lapar sekali.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun bertanya kepada Puguh, “Apakah kau lapar?”

Puguh mengangguk. Tetapi jawabnya, “Tetapi tidak terlalu mendesak.”

Namun ternyata Jati Wulung tidak ingin ditunda lagi. Karena itu maka mereka pun telah melanjutkan perjalanan. Mereka dengan hati-hati justru menuju ke sebuah padukuhan, karena Jati Wulung berharap bahwa di padukuhan itu akan didapatinya sebuah kedai makanan.

“Kita akan makan,” berkata Jati Wulung, “di Song Lawa aku beberapa kali telah membayar makanan dan minuman kami. Nah, sekarang sampailah pada giliran kami. Justru kami sempat membawa uang kami keluar dari Song Lawa.”

“Nampaknya perutmu sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi,” desis Sambi Wulung.

“Tubuhkulah yang merasa gemetar,” jawab Jati Wulung, “jika di padukuhan itu tidak ada sebuah kedai-pun, maka rasa-rasanya aku tidak akan dapat berjalan lagi.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Sementara itu Puguh tersenyum sambil berkata, “Itulah agaknya kau terlalu sering aku jumpai sedang berada di kedai ketika kau berada di Song Lawa.”

Jati Wulung hanya mengangguk kecil. Tetapi wajahnya memang nampak menjadi pucat.

Untunglah bahwa mereka sempat menemukan sebuah kedai yang cukup besar di padukuhan itu. Meskipun matahari sudah menjadi semakin rendah, namun ternyata kedai itu masih juga terbuka dan nasi yang ada didalamnya masih berasap.

“Jalan ini tentu jalan yang ramai dari satu tempat ketempat lain yang cukup penting,” berkata Sambi Wulung.

“Ya,” jawab Puguh, “didalam kedai itupun terdapat banyak orang. Apakah kita tidak dapat mencari kedai yang lebih kecil?”

“Kenapa harus menghiraukan orang lain,” sahut Jati Wulung, “aku sudah tidak dapat berjalan lagi. Jika kita tidak makan disini dan tidak menemukan kedai yang lain, maka aku akan pingsan. Nah, kepalaku mulai pening, pandanganku mulai berkunang-kunang.”

“Apa peduliku,” berkata Sambi Wulung, “jika kau pingsan, diparit itu mengalir air meskipun agak keruh.”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun tanpa berbicara lagi, iapun telah melangkah mendekati kedai itu. Bahkan kemudian masuk kedalamnya.

Sambi Wulung dan Puguh tidak mempunyai pilihan lain. Mereka pun kemudian telah mengikuti Jati Wulung memasuki kedai itu.

Ternyata mereka benar-benar terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di kedai itu. Beberapa orang dengan wajah dan sorot mata yang menggetarkan.

Tetapi Jati Wulung akhirnya tidak mempedulikan mereka. Perutnya memang sudah merasa sangat lapar. Bahkan ketika dilihatnya nasi yang berasap, rasa-rasanya ia sudah tidak sabar lagi.

Bersama Sambi Wulung dan Puguh ia pun kemudian duduk disudut kedai itu. Mereka pun telah memesan wedang jae dan nasi hangat, sementara pelayan di kedai itu telah menghidangkan beberapa macam makanan, sementara mereka menunggu minuman dan nasi yang mereka pesan.

Jati Wulung memang tidak sabar lagi. Ia telah memungut beberapa potong makanan dan di suapinya mulutnya dengan lahapnya.

Namun, demikian ia memasukkan makanan itu di mulutnya, maka ia pun telah sempat melihat beberapa wajah di kedai itu yang mengawasinya. Mata-mata yang tajam itu memandanginya dengan penuh perhatian. Namun Jati Wulung sempat menghibur dirinya sendiri untuk tidak menjadi gelisah, “Agaknya mereka heran melihat caraku makan.”

Setelah menunggu beberapa saat, maka yang mereka pesanpun telah dihidangkan. Minuman dan nasi hangat.

Sementara itu Jati Wulung benar-benar tidak menghiraukan orang-orang lain yang ada di kedai itu. Ia makan saja sebagaimana diinginkannya karena perutnya memang lapar. Bahkan ia pun kemudian telah minta tambah semangkuk lagi.

Ketika ketiganya kemudian sudah selesai, ternyata orang-orang yang ada di kedai itu, yang telah berada ditempat mereka lebih dahulu, masih juga belum beranjak dari tempat mereka. Tetapi ketiga orang itu tidak menghiraukannya lagi, lebih-lebih Jati Wulung.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang ada di kedai itu menaruh perhatian terhadap ketiga orang itu. Mereka melihat pakaian yang baik tetapi kotor oleh keringat dan debu yang dikenakan oleh Puguh.

Sedangkan dua orang kawannya adalah orang-orang yang sudah jauh lebih tua dengan mengenakan pakaian yang lebih sederhana, namun juga sudah kotor dan lusuh.

Tetapi orang-orang yang ada di kedai itu terkejut ketika mereka melihat Sambi Wulung mengeluarkan kampil dari kantong bajunya. Membuka talinya dan mengeluarkan beberapa keping uang untuk membayar harga makanan dan minuman mereka bertiga.

Menurut pendapat orang-orang yang ada di kedai itu adalah bahwa uang yang dibawa oleh Sambi Wulung ternyata terlalu banyak. Sekampil uang itu tentu bernilai sangat besar. Bahkan orang-orang itu juga berpendapat, bahwa yang membawa uang dan mungkin juga barang-barang berharga tentu tidak hanya seorang saja diantara ketiga orang itu.

Karena itu, maka ketika Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh keluar dari kedai itu, maka orang-orang itu pun telah membayar pula harga makanan yang mereka makan dan minuman yang mereka minum. Tetapi karena ternyata orang-orang itu sudah terlalu biasa makan dan minum di kedai itu, maka ketika ada diantara mereka yang belum mempunyai uang cukup untuk membayar telah berkata sambil tersenyum, “Sabarlah. Aku akan segera kembali dan membayar dengan uang yang berkelebihan.”

“Jangan bohong. Seberapa pun kau mendapat uang, tetapi dihari itu juga uang itu habis,” berkata pemilik kedai itu.

Orang itu tertawa. Katanya, “Kali ini jangan cemas.”

Orang-orang itupun kemudian telah meninggalkan kedai itu pula. Mereka masih melihat arah Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh berjalan.

“Mereka memang menarik perhatian,” berkata orang tertua dari beberapa orang yang keluar dari kedai itu, “apalagi ketika mereka kemudian mengeluarkan uang sekampil hanya untuk membayar beberapa keping makanan dan minuman bagi mereka bertiga.”

“Apakah mereka sengaja memancing perhatian kami?” bertanya salah seorang diantara mereka.

“Entahlah. Tetapi ketika mereka masuk, mereka nampak terkejut melihat kami,” jawab yang tertua.

“Hati-hatilah terhadap mereka,” berkata seorang yang bertubuh tinggi. Meskipun nampaknya masih muda, tetapi agaknya ia sudah cukup berpengalaman. Lalu katanya pula, “Meskipun tidak menjadi jalan utama, tetapi ada juga orang-orang yang pergi dan kembali dari Song Lawa lewat jalan ini.”

“Agaknya pasukan yang lewat beberapa hari yang lalu benar-benar telah menghancurkan Song Lawa meskipun sebelumnya sekelompok perampok telah gagal merampas harta benda yang tidak terhitung jumlahnya di dalam lingkugan perjudian itu, “berkata orang yang tertua diantara mereka.

“Dan ketiga orang itu adalah mereka, yang sempat melarikan diri,” sahut yang lain.

Orang yang tertua diantara mereka mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya mereka tidak tahu sama sekali, bahwa jalan inilah yang telah dilalui oleh pasukan Pajang itu. Memang tidak terduga bahwa untuk mencapai Song Lawa dari Pajang telah dilalui jalan ini. Tetapi agaknya justru hal itulah yang dikehendaki oleh pasukan itu.

Sementara itu seorang yang lain dari antara mereka bertanya, “Lalu apa yang akan kita lakukan terhadap mereka? Ternyata mereka membawa uang cukup banyak. Dari atau tidak dari Song Lawa uang itu tetap bernilai bagi kita.”

Orang tertua diantara mereka itupun berkata, “Aku sependapat, bahwa kita harus berhati-hati terhadap mereka.”

“Kita semuanya tujuh orang,” berkata seorang yang masih cukup muda, berbadan tegap tinggi dan tegar.

Tetapi kawannya yang bertubuh tinggi, sekali lagi memperingatkan, “Kita harus berhati-hati. Agaknya mereka bukan orang kebanyakan. Aku condong menduga mereka adalah pelarian dari Song Lawa jika pasukan yang kita lihat lewat jalan ini benar-benar telah menyerang. Atau bahkan mereka telah meninggalkan Song Lawa sebelum tempat itu disergap oleh para prajurit.”

“Menilik pakaian mereka serta keadaan mereka tanpa seikat bawaan pun di tangan mereka, maka agaknya pasukan Pajang memang telah menyergap dan mereka adalah pelarian dari Song Lawa yang sempat membawa uang mereka,” berkata orang yang tertua diantara mereka.

“Jadi, apakah yang akan kita lakukan? Jangan menunggu mereka semakin jauh dan hilang dari pengamatan kita,” desak anak muda yang bertubuh tegap kekar.

Orang tertua diantara mereka itupun berkata, “Kita akan mengikuti mereka dari jarak yang cukup. Jalan ini tidak banyak bercabang, sehingga kita tidak akan kehilangan mereka. Kitapun tidak akan berjalan dalam kelompok yang banyak ini. Dua orang akan berada di depan.”

“Baiklah,” berkata orang yang bertubuh tegap kekar, “aku akan berada dipaling depan.”

“Pergilah,” sahut orang yang tertua diantara mereka, “bawa seorang kawan. Ingat, sebentar lagi senja akan turun. Kita harus mengambil keputusan, apakah kita akan bertindak setelah matahari tenggelam atau sebelumnya begitu kita keluar dari padukuhan ini.”

Orang yang bertubuh tegap kekar itu mengangguk. Iapun kemudian bersama seorang kawannya mendahului kawan-kawannya yang lain mengikuti perjalanan Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.

Namun ternyata bahwa orang yang bertubuh kekar itu agaknya tidak terlalu memperhatikan pesan kawan-kawannya, sehingga ia agak kurang berhati-hati. Sehingga karena itu, maka ketika mereka berjalan semakin jauh, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh pun mengetahui, bahwa mereka telah diikuti oleh dua orang yang belum mereka kenal.

“Agaknya mereka adalah orang-orang yang ada di kedai itu, “berkata Jati Wulung.

“Mungkin. Tetapi jika demikian itu adalah urusanmu,” sahut Sambi Wulung.

“Kenapa urusanku?” bertanya Jati Wulung.

“Kaulah yang berkeras untuk memasuki kedai itu,” jawab Sambi Wulung.

“Ah kau,” desis Jati Wulung. Namun kemudian katanya, “Tetapi jika kedua orang iu diserahkan kepadaku, aku tidak berkeberatan.”

Puguhlah yang menyahut, “Wanengpati akan dapat menyelesaikan mereka.”

“Tetapi aku kira mereka tidak hanya berdua,” berkata Sambi Wulung, “mungkin ada beberapa orang lainnya dibelakang. Agaknya mereka melihat kampilku yang berisi uang, sehingga mereka berniat untuk mengambil uang itu.”

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Kau memang terlalu ceroboh. Kenapa kau tidak menyediakan uang di kantongmu beberapa keping saja, sehingga kau tidak perlu mengeluarkan kampilmu itu dari kantong bajumu?”

“Aku mempunyai dua kampil. Wanengpati juga membawa dua kampil,” jawab Sambi Wulung.

“Maksudku, berapapun kalian membawa, tetapi kalian tidak perlu memamerkannya kepada orang lain, agar tidak timbul masalah seperti sekarang ini,” berkata Puguh.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun pada satu kesempatan, selagi Putuh berjalan agak menepi sambil memperhatikan lereng yang agak curam Sambi Wulung berdesis, “Mudah-mudahan mereka benar-benar menginginkan uang kita.”

“Kenapa?” bertanya Jati Wulung hampir berbisik.

“Sekedar membuktikan kepada Puguh, bahwa perjalanan ini masih berbahaya. Dengan demikian maka ia akan tetap memerlukan kita,” sahut Sambi Wulung perlahan-lahan sekali.

Namun Jati Wulung pun kemudian mendekati Puguh sambil berkata, “Hati-hati. Jangan terjun kedalam jurang itu. Kau tahu, bahwa jurang itu dalam dan curam.”

Puguh mengangguk-angguk Namun tiba-tiba ia justru memungut sebuah batu yang cukup besar dan melontarkannya kedalam jurang itu.

Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Namun ketika beberapa lama kemudian mereka mendengar suara batu itu terjatuh, maka ia pun berdesis, “Jurang itu cukup dalam.”

“Tempat yang baik untuk melemparkan orang-orang itu. Dengan demikian kita tidak perlu menguburkannya,” berkata Puguh.

“Atau kitalah yang akan mereka lemparkan setelah kampil-kampil uang kita diambilnya,” sahut Jati Wulung.

Puguh tertawa. Katanya, “Memang mungkin. Tetapi hanya mereka yang membawa uang saja yang akan dilemparkannya. Bukan aku.”

Jati Wulung pun tertawa juga. Justru sambil berpaling ke arah kedua orang yang berjarak beberapa puluh langkah. Namun agaknya kedua orang itu telah menepi dan berlindung dibalik pohon perdu.

“Mereka adalah orang-orang dungu,” berkata Jati Wulung, “mereka mengikuti kita pada jarak yang terlalu dekat. Agaknya mereka takut kehilangan kita. Mungkin diantara mereka tidak terdapat yang ahli menelusuri jejak.”

“Kau mampu melakukannya,” bertanya Puguh.

“Tentu,” jawab Jati Wulung.

Pembicaraan itu pun kemudian terhenti ketika keduanya telah melangkah melanjutkan perjalanan. Satu sisi jalan adalah bulak yang luas, sedangkan disisi lain terdapat jurang yang dalam. Sementara itu padukuhan berikutnya terletak ditempat yang agak jauh.

Dalam pada itu, agaknya orang bertubuh kekar itu benar-benar tidak sabar lagi. Apalagi ia pun menyadari, bahwa ketiga orang itu sudah melihatnya berdua. Karena itu, maka ia pun telah menunggu orang tertua diantara mereka.

“Kenapa kau berhenti?” bertanya orang tertua itu.

“Kita sudah keluar dari padukuhan,” jawab orang betubuh kekar, “kita harus cepat mengambil keputusan.”

“Jalan ini jalan yang banyak dilalui orang yang bepergian dengan jarak panjang. Lewat jalan ini pula pasukan Pajang bergerak menuju ke Song Lawa meskipun agak melingkar,” berkata orang tertua itu.

“Mereka justru memilih jalan lain untuk menghindari pengamatan petugas sandi yang dipasang oleh para pemimpin Song Lawa itu,” jawab orang bertubuh kekar itu, “namun agaknya kita tidak akan memerlukan waktu terlalu lama. Kita dengan cepat menyelesaikan mereka, sementara jurang disebelah itu akan tetap ternganga.”

Ketika orang tertua diantara mereka sedang berpikir. Maka seorang lain berkata, “jangan lepaskan mereka. Mungkin kita tidak akan dapat menemukan orang-orang yang membawa uang cukup banyak seperti mereka.”

“Kita memang tidak akan melepaskan mereka,” berkata kawannya, “tetapi mungkin kita akan menjumpainya pula jika ada orang lain yang sempat lari dari Song Lawa dengan membawa sisa uang mereka.”

“Jangan bermimpi. Sekarang yang ada adalah mereka,” berkata orang yang bertubuh kekar, “apa yang harus kita lakukan segera.”

“Baiklah,” berkata orang tertua diantara mereka, “senja mulai turun. Hentikan mereka ditengah-tengah bulak. Kita harus bekerja cepat dan melemparkan tubuh mereka kedalam jurang.”

Kedua orang yang mengikuti Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh itu pun tidak menunggu lebih lama lagi. Merekapun segera melangkah menyusul ketiga orang yang sudah berada ditengah-tengah bulak panjang.

Dalam pada itu, ketiga orang itu pun menjadi heran ketika mereka tidak melihat lagi kedua orang yang mengikuti mereka. Namun ketajaman penalaran mereka pun segera dapat menduga apa yang akan terjadi.

“Agaknya keduanya telah menemukan tempat yang paling tepat,” berkata Sambi Wulung.

“Ya. Mereka sedang mengambil ancang-ancang. Sebentar lagi mereka akan datang, mungkin tidak hanya berdua. Mereka menganggap bahwa tempat ini adalah tempat yang paling tepat. Apalagi disaat-saat matahari mulai bersembunyi di balik pabukitan. Orang-orang yang ada di sawah telah pulang, sementara yang akan menunggui air dimalam hari masih belum, datang,” sahut Jati Wulung.

Puguh pun mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian. Jadi, apakah kita justru akan menunggu mereka?”

“Kita tidak usah menunggu. Dengan demikian akan dapat menimbulkan kecurigaan. Kita berjalan terus, tetapi tidak tergesa-gesa,” jawab Sambi Wulung. Ia memang mengharap orang-orang di kedai itu memburu mereka untuk merampas uangnya. Dengan demikian maka Puguh akan menganggap bahwa perjalanannya bersama dua orang yang dikenalnya sebagai Wanengbaya dan Wanengpati itu ada artinya. Jika demikian maka tidak mustahil bahwa Puguh tidak akan berkeberatan untuk menunjukkan tempat tinggalnya serta tempat tinggal orang tuanya.

Demikianlah ketiga orang itu telah berjalan dalam keremangan senja. Sementara itu dua orang yang berjalan beberapa puluh langkah dibelakang mereka telah mempercepat langkah mereka.

Bahkan ketika keduanya menjadi semakin dekat, terdengar orang yang bertubuh kekar itu justru memanggil, “Ki Sanak. Aku minta kau berhenti sejenak.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun Jati Wulung berdesisi “ Ternyata mereka adalah orang yang sangat kasar. Mereka tidak sekedar menyusul kita. Tetapi mereka menghentikan kita.”

Sambi Wulung mengangguk. Katanya, “Kita akan menunggu.”

Ketiga orang itu pun kemudian telah berhenti untuk menunggu kedua orang yang dengan tergesa-gesa menyusul mereka. Namun dalam pada itu ketiga orang itu pun telah melihat pula lima orang lainnya yang berjalan menuju ke arah mereka pula.

“Nah,” berkata Sambi Wulung, “itulah kawan-kawannya.”

“Ya,” desis Puguh, “ternyata bahwa setelah kita keluar dari Song Lawapun masih juga ada persoalan yang harus diatasi.”

“Bersiaplah,” berkata Sambi Wulung pula, “agaknya mereka tidak bermain-main. Menilik wajah dan tatapan mata mereka sebagaimana kita lihat di kedai itu, maka mereka adalah orang-orang yang garang.”

“Ternyata Pajang harus lebih banyak membenahi diri,” berkata Jati Wulung, “namun agaknya perhatian Pajang mulai tertuju kepada sikap orang-orang dalam yang kecewa.”

“Bagaimanapun juga, rakyat yang jauh dari Kotaraja memerlukan perlindungan. Bukan saja tempat-tempat seperti Song Lawa yang harus dihancurkan. Tetapi harus diusahakan untuk membatasi tingkah laku orang-orang yang lepas dari jangkuan paugeran seperti orang-orang ini.” guman Sambi Wulung seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri.

Namun dalam pada itu diluar dugaan Sambi Wulung dan Jati Wulung, wajah Puguh pun telah berubah pula. Ada semacam persoalan yang tiba-tiba mencengkam jantungnya.

Tetapi agaknya anak muda itu berusaha menyembunyikannya meskipun ia tidak dapat melepaskan pengamatan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sekilas telah menangkap perasaannya yang nampak pada wajahnya itu.

Dalam pada itu, kedua orang yang dengan tergesa-gesa mendekatinya itu telah berhenti beberapa langkah dari ketiga orang yang menunggu mereka. Dengan nada berat Sambi Wulungpun kemudian bertanya, “Ada apa Ki Sanak? Ki Sanak telah menghentikan perjalanan kami.”

“Siapakah kalian bertiga?” bertanya orang yang bertubuh tinggi kekar.

“Kami adalah pengembara yang berjalan tanpa tujuan,” jawab Sambi Wulung.

Orang bertubuh kekar itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Pengembara sekalipun tentu mempunyai keterangan tentang dirinya. Namanya, asal usulnya dan barangkali tujuannya.”

“Siapakah kami dan asal usul kami tidak penting bagi Ki Sanak. Sementara tujuan kami adalah sekedar mengembara mengikuti gerak dan langkah kaki saja,” jawab Sambi Wulung pula.

“Penting atau tidak penting, tetapi sebutkan,” bentak orang bertubuh tinggi kekar itu.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah akan ada artinya bagimu Ki Sanak? Bukankah aku akan dapat penyebut nama apapun juga dan asal-usul, asal saja berucap. Karena itu daripada aku harus berbohong, maka lebih baik aku tidak menyebut apapun juga.”

“Persetan,” geram orang itu, “kau akan menyesal dengan kesombonganmu. Kami adalah para pengawal padukuhan ini. Jika kalian tidak mau mengatakan nama dan asal usul kalian dengan sebenarnya, maka kalian harus kami tangkap dap kami hadapkan kepada para bebahu.”

Tetapi Sambi Wulung tertawa. Katanya dengan nada tinggi, “Kau kira aku percaya bahwa kalian adalah pengawal padukuhan? Para pengawal padukuhan tentu terdiri dari anak-anak muda, berwajah keras tetapi bersih dan bersinar oleh ketegaran niatnya yang bersih. Tanpa pamrih bagi dirinya sendiri. Sudah ratusan pedukuhan kami jelajahi. Dan sudah ratusan kali pula kami temui kelompok-kelompok pengawal padukuhan, sehingga dengan demikian kami mempunyai gambaran yang terang atas para pengawal itu. Tidak ada sekelompok pun pengawal padukuhan yang ujudnya seperti kalian itu.”

Orang bertubuh tinggi kekar itu menggeram. Jika saja ia tidak mengingat orang tertua di kelompoknya yang selalu mengekangnya, maka ia tentu sudah meloncat menerkam dan mencekik leher Sambi Wulung.

Namuh orang bertubuh tinggi kekar itu pun kemudian berkata, “Kau harus menebus kesombonganmu dengan harga yang sangat mahal. Tetapi biarlah pemimpin kami yang kemudian berbicara.”

“Siapakah pemimpinmu itu? Ki Bekel atau Ki Demang?” bertanya Jati Wulung tiba-tiba.

“Persetan,” geram orang yang hampir kehabisan kesabaran itu.

Namun dalam pada itu, kelima orang yang lainpun telah mendekat pula. Orang tertua diantara merekapun melangkah maju. Dengan suara yang lebih lunak ia berkata, “Selamat malam Ki Sanak.”

“Malam belum turun,” sahut Jati Wulung seenaknya.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa orang itu justru tertawa. Katanya, “Tetapi sore sudah lewat.”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba iapun tertawa juga. Katanya, “Kita memang berada dibatas antara sore dan malam hari.”

“Kau benar,” sahut orang tertua dari sekelompok orang yang menghentikan perjalanan Sambi Wulung bertiga itu. Lalu, “kita berada dibatas. Tetapi baiklah, kita tidak usah mempersoalkannya. Yang penting Ki Sanak, kami mempunyai kepentingan dengan Ki Sanak. Jika tadi sambil berjalan mendekat, agaknya aku mendengar kalian mengelakkan menyebut keterangan tentang diri Ki Sanak bertiga, maka sebaiknya aku langsung saja pada kepentinganku. Serahkan uang kalian. Aku tidak peduli siapakah kalian yang barangkali termasuk pelarian dari Song Lawa.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya, “Kenapa kau menyangka bahwa kami adalah pelarian dari Song Lawa?”

“Kami melihat sepasukan prajurit Pajang melewati jalan ini yang agaknya menuju ke Song Lawa beberapa hari yang lalu. Nah, agaknya mereka telah memasuki tempat perjudian yang terkutuk itu. Dan kalian adalah diantara mereka jang melarikan diri,” berkata orang tertua diantara perampok itu.

“Kenapa kau dapat menyebut, bahwa tempat itu adalah tempat yang terkutuk?” bertanya Sambi Wulung.

“Jangan berpura-pura. Bukan saja tempat itu, tetapi padukuhan-padukuhan disekitarnya dan yang terletak di jalan yang menuju ke Song Lawa telah mengalami pengaruh buruk,” jawab orang itu.

“Jika demikian, apa katamu tentang pekerjaan yang kau lakukan ini? Apakah itu lebih baik dari mereka yang berjudi di Song Lawa? Yang berjudi dengan uang mereka sendiri tanpa mengganggu orang lain?” bertanya Sambi Wulung.

Tetapi orang tertua itu tertawa. Katanya, “Siapa bilang mereka berjudi dengan uang mereka sendiri? Dari mana mereka mendapatkan uang itu? Ada seorang Tumenggung yang mempunyai kesenangan berjudi. Akhirnya ternyata bahwa perbendaharaan yang dipercayakan kepadanya telah dihabiskannya. Akibatnya ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tetapi ia sempat melarikan diri dan akhirnya, ia justru menjadi perampok yang paling ditakuti di lingkungannya.”

“Apakah kau berbicara tentang dirimu sendiri?” bertanya Sambi Wulung.

Orang tertua itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Sekarang berikan uangmu. Semuanya, jangan ada yang kau sembuyikan sehingga aku harus mengambilnya sendiri. Jangan pula berusaha mempertahankannya, karena itu adalah sia-sia. Bukankah uangmu itu sebenarnya akan kau habiskan juga di barak-barak permainan judi?”

Jati Wulung lah yang kemudian tertawa. Katanya, “Kau aneh. Kau tebak asal saja menebak. Sebagian dari tebakanmu memang benar. Kami adalah pelarian dari Song Lawa. Tetapi jika kami berada di Song Lawa, kami tidak akan menghabiskan uang kami, justru di Song Lawa kami mendapatkan uang banyak sekali. Kami menyesal bahwa Song Lawa telah dihancurkan. Padahal tempat itu merupakan sumber penghasilan kami.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Mana mungkin seseorang dapat mencari penghasilan di Song Lawa. Bukankah di Song Lawa justru disediakan satu bilik khusus untuk membunuh diri bagi mereka yang menjadi putus asa karena semua kekayaannya terkuras habis.”

“Justru ada diantara mereka yang membunuh diri, maka tentu ada pula yang menang. Dan kami adalah orang-orang yang selalu menang,” jawab Jati Wulung.

“Yang menang adalah orang-orang Song Lawa sendiri,” geram orang tua itu.

“Jangan membantah,” bentak Jati Wulung tiba-tiba, “kamilah yang mengalami. Kamilah yang tahu pasti. Seperti sekarang ini. Kami sudah memenangkan perjudian itu, meskipun seharusnya kami masih akan dapat menang lebih banyak lagi seandainya prajurit-prajurit Pajang itu tidak datang.”

“Persetan,” geram orang tertua itu, “berikan uang itu kepada kami.”

Adalah juga diluar dugaan jika Jati Wulung justru tertawa. Katanya, “Kau nampaknya memang mempunyai kebiasaan menunggu orang-orang Song Lawa keluar dari lingkungan perjudian itu setiap habis musim judi. Kau cegat orang-orang yang kau anggap menang, dan kemudian kau ancam agar mereka memberikan uang kemenangannya itu kepadamu. Sayang, nampaknya kau belum pernah membentur orang-orang seperti Kepala Besi, Sikatan Putih atau gerombolan Macan Ireng. Atau, kami bertiga.”

Wajah orang tua itu memang berubah. Dalam keremangan senja nampak orang itu merenungi kata-kata Jati Wulung. Bahkan diluar kehendaknya ia berdesis, “Kepala Besi, siapakah yang kau maksud?”

“Orang Hutan berkepala Besi dari pesisir Utara,” jawab Jati Wulung.

“Apakah orang itu ada disini sekarang?” bertanya orang tua itu.

“Ia ada di Song Lawa. Aku tidak tahu, apa yang terjadi dengan orang itu dihadapan sepasukan Pajang yang kuat dan berjumlah besar,” jawab Jati Wulung. Lalu katanya, “Nah, sekarang pikirkan sekali lagi. Apakah kau akan merampok kami?”

Orang tua itu memang termangu-mangu. Tetapi kemudian ia menggeram, ”berikan uang itu. Cepat. Atau kalian aku lemparkan kedalam jurang disebelah jalan ini?”

Sambi Wulung lah yang menjawab, “Aku akan mempertahankan uang kami. Uang yang dengan susah payah kami dapatkan di Song Lawa, bahwa dengan susah payah pula kami bawa melarikan diri sekarang ini.”

“Kalian agaknya sudah jemu hidup,” bentak orang tua itu.

“Orang yang sudah berani mengunjungi Song Lawa adalah orang-orang yang khusus. Nah kita bertemu sekarang,” geram Sambi Wulung.

Kata-kata itu memang merupakan satu tantangan bagi ketujuh orang itu. Ternyata ketiga orang yang mengaku pelarian dari Song Lawa itu sama sekali tidak menjadi gentar melihat mereka bertujuh.

Orang tertua diantara ketujuh orang itu memang tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk mengepung ketiga orang itu ditiga sisi. Sementara disisi yang lain terdapat jurang yang cukup dalam dan terjal.

“Kalian benar-benar tidak mau menyerahkan uang kalian?” bertanya orang tertua itu.

Tetapi Jati Wulung lah yang menyahut, “jadi kalian benar-benar akan merampok kami?”

Orang tertua diantara ketujuh orang itu menggeram. Katanya kepada para pengikutnya, “Bunuh mereka. Kita memerlukan uangnya. Lalu lemparkan mereka ke dalam jurang. Kita tidak usah mendengar keributan esok jika orang-orang pergi ke pasar lewat jalan ini. Atau jika prajurit Pajang kembali dari Song Lawa lewat jalan ini pula.”

Ketujuh orang itu mulai bergerak. Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung berdiri disebelah menyebelah Puguh. Mereka pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Orang-orang yang akan merampas uang yang dibawa oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu telah mulai bergerak. Nampaknya tiga orang yang akan mereka rampok itu akan bertempur berpasangan, sehingga mereka akan menyusun satu pertahanan bersama.

“Berhati-hatilah,” desis Sambi Wulung, “nampaknya orang tua itu cukup berbahaya.”

Dengan pedang di tangan Puguh telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung memang memujinya didalam hati, bahwa menghadapi ketujuh orang itu, Puguh tetap tenang. Sama sekali tidak nampak kegelisahan, apalagi ketakutan di wajahnya. Bahkan ketika ia mulai menggerakkan pedangnya, maka ilmu pedangnya pun masih nampak utuh. Tidak gugup.

Dengan demikian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat menilai bahwa Puguh yang telah mengembangkan kemampuan ilmu pedang dan oleh kanuragan yang lain itu, ternyata memiliki pula ketahanan jiwa yang tinggi.

Sejenak kemudian, maka ketujuh orang itu pun mulai menyerang. Mereka ternyata mempergunakan berbagai jenis senjata yang menggetarkan. Orang yang bertubuh tinggi dan berdada bidang serta kekar itu ternyata membawa sepotong besi yang berujung runcing. Sedangkan seorang kawannya yang lain telah membawa bindi yang berat. Seorang lagi membawa golok yang besar dan panjang. Sementara itu, orang tertua diantara mereka itu memegang sebilah pedang yang tajam di kedua sisinya.

Sambi Wulung sempat memperhatikan pedang itu. Pedang yang lurus dan bermata dua berujung runcing tajam. Dalam keremangan senja sekali-sekali nampak daun pedang itu berkilat lemah.

“Pedang pilihan,” desis Sambi Wulung.

Namun ia tidak sempat terlalu lama memperhatikan jenis-jenis senjata lawan-lawannya. Ia pun segera terlibat dalam pertempuran yang cepat. Beberapa ujung senjata telah terjulur ke arahnya.

Jati Wulungpun kemudian telah bertempur pula. Mereka masih juga membawa pedang yang mereka pergunakan di Song Lawa, sehingga dengan demikian, maka mereka pun telah bertempur dengan senjata sewajarnya.

Di tengah-tengah Puguh telah bertempur dengan gigihnya. Pedangnya berputaran dengan cepat. Benturan-benturan tajam senjata yang kemudian terjadi, telah memercikkan bunga api.

Sekali lagi Sambi Wulung dan Jati Wulung memuji ketabahan hati Puguh menghadapi lawan-lawannya. Bahkan keduanya sempat berangan-angan sekilas, bahwa Puguh telah mendapat kesempatan mematangkan dirinya jauh lebih baik dari Risang. Risang selama ini hanya ditempa didalam sebuah lingkungan tertutup. Siang dan malam ia melatih diri untuk meningkatkan ilmunya. Namun ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengalami benturan kekuatan yang sebenarnya melawan kekuatan yang besar sebagaimana terjadi pada Puguh. Risang hanya berkesempatan untuk berkelahi dengan anak-anak padukuhan yang nakal dan membuat mereka jera.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung sendiri tidak hanya harus menilai kemampuan Puguh. Tetapi mereka-pun harus bertempur melawan kekuatan yang cukup besar.

Tujuh, orang yang ingin merampas uang mereka itu-pun telah bertempur dengan sengitnya. Senjata mereka telah terayun susul menyusul menyambar tubuh ketiga orang yang bertahan di bibir jurang itu.

Ketika orang yang bertubuh agak pendek mendesak maju dan menusuk dengan goloknya ke arah dada Puguh, maka Puguh sempat menangkisnya. Tetapi bersamaan waktunya, datang pula serangan dari arah lain menyambar lengah Puguh. Untunglah bahwa Jati Wulung yang memiliki ilmu yang tinggi itu sempat melihatnya. Dengan dorongan tenaga cadangannya, maka Jati Wulung telah bergerak cepat sekali memukul serangan itu.

Kedua serangan itu ternyata tidak menyentuh tubuh Puguh, sementara Jati Wulung dan Sambi Wulung telah meningkatkan kecepatan gerak mereka. Mereka mulai membangunkan tenaga cadangan mereka yang semakin lama menjadi semakin besar, sehingga mereka pun mampu bergerak semakin cepat diantara ayunan dan putaran senjata lawan mereka yang menggetarkan.

Demikianlah, maka semakin lama pertempuran itu menjadi semakin sengit. Namun ternyata bahwa ketujuh orang itu mengalami kesulitan menembus kepekatan putaran senjata ketiga orang pelarian dari Song Lawa itu.

Tetapi ketujuh orang itu pun ternyata adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas. Orang yang bertubuh tinggi tegap itu pun telah memutar potongan besinya yang runcing sehingga menimbulkan desing angin yang menggetarkan. Bahkan dengan nada tinggi ia berkata, “Ternyata kalian telah mempersulit jalan kematianmu sendiri. Ujung besiku, ini telah membunuh lebih dari lima orang. Sekarang, agaknya harus aku tambah lagi dengan setidak-tidaknya seorang diantara kalian.”

“Jadi kau pernah benar-benar membunuh orang?” bertanya Jati Wulung.

“Kau mulai ketakutan?” bertanya orang bertubuh tegap itu. Lalu katanya, “semua orang diantara kami pernah membunuh mereka yang tidak mengikuti perintah kami. Paling sedikit diantara kami telah membunuh tiga orang korban. Sementara pemimpin kami telah membunuh lebih dari sepuluh orang.”

“Gila,” geram Jati Wulung, “jika demikian, maka tidak ada hukuman lain yang pantas dijatuhkan atas kalian kecuali hukuman mati.”

Pemimpin kelompok itu tertawa. Orang tua itupun berkata, “Kalian tidak berhak menjatuhkan hukuman apapun atas kami. Apalagi sebentar lagi kalian sudah akan kami lemparkan ke dalam jurang.”

“Apakah benar kau pernah membunuh lebih dari sepuluh orang Ki Tumenggung? Bahkan mungkin diantara mereka terdapat perempuan dan anak-anak,” berkata Sambi Wulung.

“Kau boleh memanggil aku Ki Tumenggung. Memang menyenangkan sekali dipanggil dengan sebutan itu. Tetapi itu tidak akan menolongmu. Kau akan menjadi orang yang terbunuh berikutnya oleh senjataku ini. Aku memang sudah membunuh lebih dari sepuluh orang. Bahkan lebih dari limabelas orang. Jika diantara mereka terdapat perempuan dan anak-anak, itu adalah karena salah mereka sendiri,” jawab orang tertua diantara mereka.

“Apaboleh buat,” berkata Sambi Wulung, “sesuai dengan pengakuan kalian sendiri, maka kalian memang harus mati. Jika kalian masih juga diampuni dan mendapat kesempatan untuk hidup, maka kalian tentu akan membunuh lagi.”

Hampir berbareng beberapa orang diantara mereka tertawa. Tetapi mereka sama sekali tidak mengendorkan serangan-serangan mereka yang datang beruntun, susul menyusul semakin lama terasa menjadi semakin cepat. Bahkan orang tertua diantara mereka itupun telah bergeser pula setiap kali.

Sekali menghadapi Sambi Wulung, kemudian bergeser untuk menyerang Puguh dan kadang-kadang ia berhadapan dengan Jati Wulung. Ternyata orang tua itu terlalu yakin akan kemampuannya sendiri, sehingga dengan demikian ia menganggap bahwa lawan-lawannya itu akan menjadi kebingungan.

Tetapi dugaan itu ternyata salah. Ketiga orang itu sama sekali tidak menjadi bingung. Apalagi Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bahkan Puguh pun tidak menjadi bingung meskipun ia memang mengalami kesulitan. Tetapi setiap kali Sambi Wulung atau Jati Wulung telah menolongnya, menyelamatkannya dari ujung-ujung senjata lawan.

Ternyata ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, Sambi Wulung dan Jati Wulung meyakini bahwa lawan-lawan mereka itu memang benar-benar berusaha untuk membunuh mereka. Yang mereka katakan bukan sekedar membual dan menakut-nakuti, tetapi benar-benar akan mereka lakukan.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tidak lagi sekedar bermain-main. Cara mereka menghadapi orang-orang itu memang berbeda dengan cara yang mereka pergunakan untuk menghadapi prajurit-prajurit Pajang yang memburu mereka disaat mereka melarikan diri dari Song Lawa.

Ketika tangan mereka telah mulai berkeringat, maka gerak mereka berdua pun menjadi semakin lama semakin cepat. Tenaga cadangan yang mereka pergunakan menjadi semakin mereka tingkatkan pula, sehingga ketujuh orang lawan mereka itu pun merasa menjadi semakin sulit.

Tetapi orang tua diantara ketujuh orang itu pun tiba tiba saja telah berteriak, “Sudah waktunya kalian melakukannya. Jangan menunggu lagi.”

Keenam orang yang menerima perintah itu pun telah dengan serentak mengerahkan kemampuan puncak mereka. Senjata mereka terayun-ayun semakin mengerikan. Sepotong besi yang runcing itu pun berputar bagaikan baling-baling. Sementara golok yang besar dan berat terayun-ayun mendatar dan kadang-kadang menyilang, sementara sebuah bindi yang berat, bergerigi, menyambar-menyambar seperti cakar-cakar garuda yang besar, sedangkan ujung-ujung pedang mematuk seperti mulut ular bandotan.

Puguh memang terkejut melihat gerak senjata yang bergelora bagaikan angin prahara itu. Selangkah ia bergeser surut untuk melihat lebih jelas lagi dalam keremangan ujung malam yang mulai turun. Kilatan-kilatan pedang orang tertua dari gerombolan itu kadang-kadang memang membuat getar dihati anak yang masih sangat muda itu. Betapapun tabah hatinya, namun gerak serentak yang bagaikan banjir bandang melandanya itu, adalah wajar jika telah membuatnya berdebar-debar.

Tetapi Sambi. Wulung dan Jati Wulung yang mengetahui bahwa hal serupa itu akan terjadi, justru tidak beranjak dari tempat mereka. Senjata mereka pun telah mengimbangi kecepatan gerak senjata lawan mereka. Meskipun hanya dua buah pedang. Tetapi yang dua itu ternyata mampu bergerak diluar perhitungan lawan-lawannya. Pedang itu berputar, berayun mendatar, menyilang dan menyambar. Juga mematuk dengan cepatnya. Bahkan jika serangan lawannya bergerak bersamaan, pedang itu berputar melingkari lingkungan pertahanan mereka, seperti sebuah perisai kabut yang putih. Namun sulit untuk ditembus meskipun hanya seujung duri sekalipun. Dua buah pedang itu ternyata telah membingungkan ketujuh lawan mereka. Seolah-olah mereka telah melihat sepuluh buah pedang yang berterbangan disekitar arena yang semakin gelap itu.

Orang tertua diantara mereka itu pun mengumpat kasar. Namun ia masih berharap untuk dapat mengatasi lawannya. Mereka bertujuh berharap akan dapat bertahan lebih lama dari ketiga orang lawannya. Jika lawan mereka mengerahkan tenaga sepenuhnya, maka ketiga orang itu akan segera menjadi letih sehingga kemampuan mereka akan segera mengendor.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata semakin lama menjadi semakin cepat bergerak. Bahkan ketika orang yang bertubuh tegap kekar itu berusaha untuk menyambar tengkuk Jati Wulung dengan tongkat besinya, Jati Wulung sempat merendah. Demikian tongkat besi itu terayun diatas kepala, maka Jati Wulung telah menjulurkan pedangnya.

Orang itu berusaha untuk mengelak. Namun meskipun dengan cepat ia melenting mundur, ternyata bahwa ujung pedang Jati Wulung sempat menyentuh dadanya.

Luka itu tidak begitu dalam. Tetapi goresan itu telah mengoyak kulit orang yang bertubuh tegap itu, sehingga darah pun mulai mengalir.

Orang bertubuh tinggi tegap itu segera meloncat mundur dan berada dibelakang garis pertempuran. Dirabanya lukanya yang tidak begitu dalam itu. Namun oleh keringatnya yang mengalir, luka itu memang terasa terlalu pedih.

Dengan kemarahan yang bergelora sampai ke ubun-ubunnya ia menggeretakkan igiginya. Dengan langkahi yang dibebani dendam dan kebencian ia bergerak memasuki arena pertempuran itu kembali.

Namun, demikian ia mulai menggerakkan tongkat besinya, ternyata seorang kawannya yang bertubuh agak gemuk dan bersenjata kapak dengan kait dipunggunya mata kapaknya, telah terdorong surut dan bahkan kemudian telah mendorong dua orang kawannya yang lain pula. Untunglah mereka dapat bertahan untuk tidak jatuh terlentang. Tetapi ternyata orang yang bersenjata kapak berkait itu, merintih kesakitan.

“Kenapa?” bertanya seorang kawannya yang bersenjata bindi.

Orang yang bersenjata kapak itu mengumpat. Katanya, “Orang itu telah melukai aku.”

Orang bersenjata bindi itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian melihat, bahwa lengan kawannya itu telah menganga.

Dalam pada itu, orang tertua diantara mereka telah berteriak nyaring, “Apa yang kalian lakukan he? Cepat, selesaikan ketiga tikus-tikus busuk itu.”

Orang bersenjata bindi itupun segera meninggalkan kawannya yang terluka dilengannya. Bindinyapun segera telah terayun kembali.

Sambi Wulung dan Jati Wulung benar-benar merupakan dua orang yang sulit diimbangi. Meskipun keduanya belum merambah ke ilmunya yang lebih tinggi, tetapi ketujuh orang itu sudah merasakan kesulitan untuk mengalahkan mereka.

Bahkan Puguh pun sempat menjadi heran. Bagaimana mungkin Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat melawan ketujuh orang itu dengan tanpa mengalami kesulitan. Ia sendiri hampir tidak banyak berbuat. Puguh sendiri hanya harus bertahan jika ada satu dua orang sempat menyusup disela-sela pedang Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Selebihnya, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dikenalnya bernama Wanengbaya dan Wanengpati itulah yang mengatasi perlawanan ketujuh orang itu.

Ketika pengikutnya telah terluka, maka rasa-rasanya Jantung orang tertua diantara mereka itu pun akan meledak oleh kemarahan. Tetapi bagaimanapun juga ia berusaha bersama orang-orangnya, namun sulit baginya untuk dapat melumpuhkan perlawanan itu.

Akhirnya, orang tertua itu sampai pada keputusan terakhir untuk mempergunakan senjata andalannya. Senjata yang jarang sekali dipergunakan jika ia tidak tersudut kedalam kesulitan.

Apalagi ketika kemudian ternyata seorang lagi pengikutnya telah terluka. Seorang anak muda yang bertubuh tinggi yang dianggapnya seorang yang berpengetahuan luas.

Dalam gejolak kemarahannya, orang tertua itu sempat berteriak, “He, orang-orang yang tidak tahu diri. Kalian sangka bahwa setelah kalian berhasil melukai orang-orangku kalian akan memenangkan pertempuran ini, he? Sudah saatnya aku tidak lagi menahan diri untuk bersabar. Kalian memang harus mati ditanganku.”

Dalam pada itu, orang tertua itu tiba-tiba saja telah memindahkan senjatanya ditangan kiri. Dengan tangkasnya tangan kanannya telah bergerak. Ternyata sebuah lingkaran kecil yang bergerigi tajam telah meluncur dari tangannya.

Sambi Wulung yang menjadi sasaran serangan itu sempat memangkisnya. Bahkan ia sempat berkata lantang. “Hati-hatilah. Lawan kita ternyata seorang yang licik.”

Puguh yang mendengar seruan Sambi Wulung itu pun menjadi semakin berhati-hati. Baginya agaknya masih terlalu sulit untuk menangkis serangan lingkaran besi baja yang bergerigi tajam itu. Namun masih mungkin bagi Puguh untuk mencoba menghindari.

Tetapi disamping serangan lingkaran bergerigi itu, ia masih menghadapi serangan-serangan dari lawan-lawannya yang bersenjata bindi, kapak, pedang, golok dan yang lain, meskipun beberapa orang diantara mereka sudah terluka.

Karena itu, maka Sambi Wulung lah yang berusaha menghadapi langsung orang tertua dari kelompok orang orang kasar itu. Sementara itu ia mengharap Jati Wulung akan tanggap pada keadaan.

Sebenarnyalah Jati Wulung memang menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka ia pun telah meningkatkan ilmunya pula. Bahkan ia pun telah bersiap-siap mempergunakan ilmu puncaknya apabila diperlukan.

Tetapi agaknya Jati Wulung telah mampu mengatasi keadaan dengan mengerahkan tenaga cadangannya. Dengan gerak yang semakin cepat, maka lawan-lawannya benar-benar telah menjadi kebingungan. Pedang Jati Wulung berputaran bagaikan segumpal awan putih yang bergerak di sepanjang medan.

Sambi Wulung lebih memusatkan perhatiannya kepada pemimpin dari sekelompok lawan-lawannya itu. Ia berusaha untuk menangkis setiap serangan lingkaran bergerigi yang terbang menyambarnya, bahkan menyambar kawan-kawannya. Dengan kemampuannya yang sangat tinggi, maka Sambi Wulung telah mendesak dan berusaha bertempur pada jarak yang dekat.

Dalam pada itu, Puguh memang terhindar dari serangan-serangan yang sangat berbahaya itu. Sambi Wulung yang telah berhasil mendekat, tidak memberi kesempatan kepada orang tertua itu untuk menyerang Puguh dan Jati Wulung. Serangan-serangannya hanya tertuju kepada Sambi Wulung yang menjadi sangat berbahaya baginya.

Sementara itu Jati Wulung seakan-akan telah mengambil alih semua orang yang tersisa. Puguh memang mampu berusaha untuk melindungi dirinya. Namun Jati Wulung lah yang harus berloncatan kian kemari.

Namun dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin mendekati akhirnya. Jati Wulung benar-benar tidak mengekang diri lagi. Pedangnya terayun-ayun mengerikan. Bahkan sejenak kemudian, maka ujung pedangnya telah menjadi merah oleh darah lawannya ketika ia berhasil menusuk lambung orang yang berwajah kasar dan berkepala botak, yang mengenakan ikat kepala sekenanya saja.

Luka itu cukup dalam, sehingga lambungnya bagaikan telah menganga. Karena itu, maka orang itu pun telah terjatuh tertelungkup. Darah yang mengalir dari lukanya itu bagaikan arus sebatang parit kecil yang menumpahkan airnya ke sawah.

Tetapi orang yang bertubuh tinggi ternyata memang cerdik.

Ia melihat bahwa kelemahan dari ketiga orang itu terletak pada anak muda yang agaknya selalu mendapat perlindungan dari kedua orang yang lain.

Karena itu, maka pada satu kesempatan ia berbisik kepada orang yang bertubuh tinggi tegap dan yang juga sudah terluka pula, “Kita bantai anak itu.”

Orang yang bertubuh tinggi tegap itupun mengerti rencana itu. Dengan kemarahan yang memuncak, maka ia memang ingin membalas dendam karena luka-lukanya.

Ketika Jati Wulung sedang sibuk melayani lawan-lawannya yang lain, maka kedua orang yang sudah terluka itu dengan sisa tenaganya telah menyerang Puguh.

Puguh terkejut. Tetapi ia tidak dapat meloncat mundur, karena ia sudah terlanjur terlalu dekat dengan bibir jurang. Karena itu, maka ia harus berusaha untuk menangkis serangan-serangan itu.

Jati Wulung melihat bahaya yang mengancam anak muda itu. Adalah dorongan nalurinya untuk menolong seseorang yang menghadapi bahaya maut tanpa mengingat lagi siapakah orang itu. Karena itu, maka dengan sigapnya ia menguak kepungan lawan dan bahkan dengan satu ayunan yang kuat, Jati Wulung telah berhasil melemparkan kapak ditangan lawannya yang memang sudah terluka itu.

Dengan cepat ia meloncat justru menyerang orang yang bertubuh tinggi tegap dan bersenjata tongkat besi yang runcing itu.

Namun Jati Wulung terlambat selangkah. Meskipun ujung tongkat besi itu tidak mengenai lawannya, tetapi senjata orang yang bertubuh tinggi itulah yang telah menyambar pundak Puguh.

Terdengar Puguh berdesah tertahan. Namun pada saat yang bersamaan terdengar orang bertubuh tinggi itu berteriak nyaring. Ternyata pedang Jati Wulung telah menyambarnya. Demikian kerasnya sehingga orang itu seakan-akan telah terdorong tanpa dapat menahan diri lagi. Didalam gelapnya malam, maka orang itu justru telah terperosok masuk kedalam jurang.

Kawannya yang bertubuh tinggi tegap itu tidak mampu menolongnya. Bahkan Jati Wulung yang bagaikan mengamuk itu telah berdiri menghadap ke arahnya.

Puguh berdiri termangu-mangu. Terasa darah yang hangat telah mengalir dari luka di pundaknya. Justru pundak kanannya. Dengan demikian maka terasa tangannya menjadi lemah.

Tetapi ketabahan anak muda itu memang terpuji. Ia tidak mau menyerah pada keadaannya. Meskipun pundaknya terluka, tetapi ia masih juga mengangkat ujung pedangnya teracu ke arah lawannya.

Sementara itu, Sambi Wulung masih bertempur melawan pemimpin gerombolan perampok yang kasar itu. Bahkan ia harus bertempur melawan dua orang sekaligus, sementara orang tertua itu masih saja disetiap kesempatan mempergunakan senjatanya yang sangat berbahaya itu.

Meskipun ia masih sempat sekali-sekali menyerang dengan lingkaran baja yang bergerigi itu, namun ia masih juga mengumpat-umpat. Ternyata Sambi Wulung benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Dengan demikian, maka keadaan para perampok itu menjadi semakin sulit. Tetapi ternyata mereka justru menjadi semakin liar. Orang-orang yang sudah terluka tidak menyerah karena lukanya. Namun mereka telali bertempur dengan liarnya.

Disaat-saat terakhir, baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung benar-benar tidak mau mengekang diri lagi. Menurut pendapat mereka orang-orang yang merampok itu, benar-benar pembunuh yang sangat berbahaya. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menyelesaikan mereka yang tersisa.

Tetapi sebelumnya Sambi Wulung masih juga berpikir untuk mengambil jalan lain. Katanya, “Menyerahlah. Jika kalian menyerah, maka kalian tidak akan mati. Tetapi kalian akan kami serahkan Ki Bekel di padukuhan berikut itu.”

“Persetan,” geram orang tertua diantara mereka, “kami tidak mempunyai pilihan lain kecuali membunuh kalian bertiga.”

“Jadi bagi kita sudah tidak ada kesempatan mengambil jalan lain kecuali saling membunuh?” bertanya Sambi Wulung.

Ternyata orang tertua itu tidak menjawab. Tetapi dua lingkaran geriginya meluncur sekaligus. Demikian cepatnya terbang didalam kegelapan sementara Sambi Wulung yang tidak menyangka bahwa orang itu akan dengan tiba-tiba menyerang dengan dua buah lingkaran sekaligus, agak terhambat menghindar. Karena itulah, maka sebuah diantara kedua lingkaran baja itu telah menyentuh lengannya.

Sambi Wulung terkejut. Lengannya terasa bagaikan tersentuh bara api. Dan ternyata kemudian luka telah menganga dan darah mengalir dari lukanya itu.

Sambi Wulung menjadi semakin marah. Hampir saja ia telah melepaskan ilmu puncaknya yang akan dapat membakar lawannya menjadi hangus. Namun ia masih harus menyembunyikannya dari penglihatan Puguh agar tidak menumbuhkan kecurigaan jika anak muda itu berceritera tentang dirinya kelak.

Karena itulah, maka Sambi Wulung pun telah mengerahkan tenaga cadangannya. Dengan demikian, maka ia-pun telah bergerak semakin cepat. Berloncatan menghindar dan menangkis serangan-serangan yang kemudian datang susul menyusul. Agaknya lawannya pun berusaha untuk mempergunakan kesempatan yang ada menghujani Sambi Wulung dengan senjatanya itu.

Tetapi usaha itu sia-sia. Sambi Wulung yang marah, ternyata tidak mengampuninya lagi. Sambil menangkis dan menghindar, akhirnya Sambi Wulung dapat juga mencapai lawannya. Sebuah ayunan yang keras menebas ke arah dada.

Orang tertua itu masih sempat menghindar. Ketika Sambi Wulung siap meloncat menerkam dengan ujung pedangnya, maka seorang yang lain telah menyerangnya.

Sambi Wulung menghindar dengan berjongkok rendah. Demikian senjata lawannya terayun diatas kepalanya, maka pedangnya telah terjulur, tepat menembus lambung mengoyak isi perutnya.

Orang itu tidak sempat mengeluh. Namun ketika Sambi Wulung menarik pedangnya, sebuah lingkaran bergerigi telah menyambarnya.

Dengan demikian maka Sambi Wulung harus dengan cepat menghindar. Tetapi akibatnya justru pedangnya bagaikan dihentakkannya, sehingga luka di lambung lawannya yang seorang itu menjadi semakin menganga.

Maka pada saat-saat terakhir, Sambi Wulung telah bertempur melawan orang tertua diantara ketujuh orang itu. Memang tidak ada pilihan, apalagi Sambi Wulung telah dilukai oleh lawannya itu.

Sesaat kemudian, maka keadaan pun menjadi hening. Angin malam yang basah bertiup disela-sela pepohonan. Seakan-akan tiba-tiba saja langit menjadi gelap oleh mendung.

Puguh duduk diatas sebuah batu di bibir jurang. Ternyata lukanya telah terasa pedih dan nyeri.

“Kita akan mengobati luka kita,” berkata Sambi Wulung kemudian.

Puguh tidak menjawab. Tetapi dipandanginya didalam gelapnya malam yang menjadi semakin pekat oleh mendung, lima sosok tubuh terbaring. Ternyata mereka telah terbunuh dalam pertempuran yang garang itu. Dua orang diantara mereka telah terlempar jatuh kedalam jurang.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Puguh telah diobati luka-lukanya oleh Jati Wulung yang sempat berkata, “Hanya aku yang tidak terluka.”

Sambi Wulung berdesis, “Kau cari lawan yang paling lemah.”

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kita bertempur bercampur baur.”

Sambi Wulung tidak menjawab lagi. Tetapi ketika serbuk obat yang dibawanya ditaburkan dilukanya, maka terasa luka itu sangat pedih. Demikian pula luka dipundak Puguh yang ternyata lebih parah dari luka Sambi Wulung. Apalagi daya tahan tubuh merekapun berbeda.

“Bagaimana dengan tubuh orang-orang yang terbunuh itu?” bertanya Jati Wulung kemudian.

“Apakah kita akan menguburkan mereka?” sahut Puguh dengan nada rendah.

Sambi Wulung termangu-mangu. Namun katanya, “Terpaksa sekali kita tidak dapat melakukannya. Tetapi kita berharap bahwa besok ada orang yang bersedia menguburkan mayat-mayat itu. Kita tidak mempunyai alat untuk melakukannya, sementara jika hujan turun, maka obat di luka kita akan hanyut dan tidak berarti lagi.”

“Kita cari tempat untuk berteduh,” berkata Jati Wulung.

Mereka bertiga pun kemudian dengan berat hati terpaksa meninggalkan kelima sosok mayat yang sudah mereka angkat menepi. Mereka baringkan berjajar direrumputan dibibir jurang. Ternyata mereka tidak sampai hati untuk melemparkan mayat-mayat itu begitu saja kedalam jurang.

“Bukan pekerjaan kami membunuh,” desis Sambi Wulung kepada Puguh, “tetapi kita tidak mempunyai pilihan laih. Sementara itu, jika mereka lepas dari tangan kita, maka akan lebih banyak lagi korban yang akan jatuh. Mereka tentu akan membunuh dan membunuh.”

Puguh hanya termenung saja. Ternyata perjalanannya ke Song Lawa yang terakhir itu telah mempertemukannya dengan pengalaman yang sangat berkesan dihatinya.

Namun ketika titik-titik air mulai jatuh, mereka pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Ternyata bahwa Puguh telah terpengaruh oleh luka-lukanya yang agaknya banyak mengeluarkan darah.

Karena itu, maka Jati Wulung telah membantunya, memapahnya berjalan menelusuri jalan yang terasa menjadi sangat gelap, sementara di sebelah jalan itu terdapat jurang yang terjal.

Hanya karena ketajaman mata mereka yang melam paui kebanyakan orang sajalah, maka mereka tidak menjadi cemas akan terperosok kedalam jurang itu.

Ketika mereka melihat sebuah gubug di tengah-tengah sawah, tetapi tidak terlalu jauh dari jalan, maka mereka-pun telah meniti pematang menuju ke gubug itu.

Tepat disaat orang terakhir memanjat naik ke gubug itu, maka hujan pun turun bagaikan dicurahkan dari langit. Sekali-sekali kilat menyambar, melontarkan cahaya yang seribu kali lebih terang dari cahaya lampu.

Dalam pada itu Puguh sempat berbaring di gubug yang meskipun tidak begitu besar, tetapi cukup longgar itu. Meskipun titik-titik air ada juga yang didorong angin menyusup kedalam gubug itu, tetapi mereka dapat menyembunyikan luka-luka mereka dengan baik sehingga obat yang ditaburkannya tidak dihanyutkan oleh air hujan itu.

“Nampaknya orang-orang yang terbunuh itu tidak terlalu asing disini,” berkata Jati Wulung.

“Kenapa?” bertanya Sambi Wulung.

“Sikapnya di kedai itu, juga sikap pemilik kedai itu menunjukkan bahwa ketujuh orang itu sudah terbiasa berada di kedai itu,” jawab Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian dengan nada rendah, “Apakah kita menganggap perlu untuk mengetahui siapakah mereka sebenarnya?”

Jati Wulung menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Siapa pun mereka, namun mereka telah barusaha untuk merampok kita. Hal yang sama tentu dilakukan pula terhadap orang lain yang dianggapnya membawa uang atau barang-barang berharga.”

Namun tiba-tiba saja Puguh bertanya, “Apakah kalian memang memancing persoalan? Dengan menunjukkan bahwa kalian membawa banyak uang, maka kalian mendapat kesempatan untuk membunuh mereka.”

“Tentu tidak,” jawab Sambi Wulung meskipun hatinya agak berdebar-debar juga, “aku tidak sadar, ketika aku mengambil kampil uang itu dari kantong bajuku.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya masih saja terasa lemah. Sementara itu hujan pun masih saja turun dengan lebatnya. Bahkan terasa angin menjadi semakin kencang bertiup.

Ketika gubug kecil itu bagaikan terguncang oleh angin yang kencang, maka Puguh pun menjadi berdebar-debar, “Bagaimana jika gubug ini roboh?”

“Tidak,” jawab Jati Wulung, “karena gubug ini tidak berdinding agaknya angin tidak terlalu garang mendorongnya. Mungkin atapnya dapat diterbangkan. Tetapi rasa-rasanya angin tidak akan bertiup semakin keras.”

Puguh tidak menjawab. Sekali-sekali di langit masih memancar lidah api yang panjang. Guntur terdengar menggelegar.

“Tidak terlalu dekat,” berkata Sambi Wulung. Ketiga orang itu pun kemudian terdiam. Seakan-akan mereka tengah tenggelam memperhatikan air hujan yang tumpah dari langit tidak henti-hentinya. Berapa banyak air yang tersimpan didalam mendung yang kelabu itu.

Ternyata bahwa hujan itu pun tidak segera teduh. Sementara itu ternyata Puguh pun tertidur diluar kehendaknya. Tubuhnya yang lemah Serta perasaan letih telah membuatnya terlena. Tetapi dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung tetap berhati-hati. Mereka tidak berbicara tentang sesuatu yang dapat membuka rahasia mereka, karena bagaimanapun juga mereka sadari, bahwa Puguh selain anak muda yang tabah, berani, juga seorang yang cerdik.

Karena itu, maka Jati Wulung justru ikut berbaring disisi Puguh yang tertidur. Sementara Sambi Wulung masih saja duduk sambil sekali-sekali meraba kulit disekitar lukanya yang meskipun tidak parah, tetapi cucuran darahnya jika tidak pempat, akan dapat mengganggunya pula.

Tetapi agaknya obat yang dibawanya adalah obat yang baik, sehingga baik luka-lukanya, maupun luka Puguh yang lebih parah, telah tidak berdarah lagi.

Ternyata bahwa mereka bertiga harus menunggu untuk beberapa saat lamanya. Baru menjelang tengah malam, maka hujan pun mulai reda. Tetapi suara guntur dan petir masih saja menggelegar meskipun ditempat yang jauh.

“Kita sudah cukup lama beristirahat,” berkata Sambi Wulung.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 9

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s