SST-07

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

UNTUK beberapa saat, masih belum dapat diduga, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu. Namun beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi melampaui kebanyakan orang yang terdapat diantara orang-orang yang sedang berada di tempat perjudian itu lelah membuat para perampok menjadi cemas. Bahkan pemimpin perampok itu pun telah menjadi cemas pula tentang dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan segera dapat menyelesaikan pertempuran itu, sementara malam pun telah hampir sampai kebatas.

Namun demikian, meskipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun lawannya masih juga mampu mengimbanginya.

Yang mengalami kesulitan adalah justru orang-orang yang bertubuh raksasa yang bertugas di Song Lawa. Jika seorang diantara mereka harus menghadapi dua orang sekaligus, maka petugas itu akan segera mengalami kesulitan. Namun mereka pun telah berusaha untuk bertempur dalam arena yang saling berbaur sehingga dengan demikian maka mereka akan dapat saling menolong dalam keadaan yang mendesak.

Namun dalam pada itu, justru karena didalam pertempuran itu orang-orang yang berilmu tinggi seperti Sambi Wulung, Kepala Besi itu kemampuan orang-orang lain yang pada umumnya melampaui kemampuan para petugas yang bertubuh raksasa itu, maka jumlah para perampok itu agaknya telah menjadi susut. Meskipun orang-orang yang mempertahankan Song Lawa itu juga susut, namun agaknya penyusutan bagi para perampok itu berlangsung lebih cepat. Sehingga karena itu, maka pada saatnya, jumlah mereka akan menjadi seimbang.

Agaknya hal itu diketahui juga oleh pemimpin perampok yang sedang bertempur melawan Jati Wulung. Karena itu, maka kemarahannya pun menjadi semakin memuncak. Tidak ada pilihan lain daripada berusaha dengan cepat menghancurkan lawannya untuk terjun kedalam pertempuran diantara orang-orangnya.

Yang menjadi berdebar-debar adalah orang-orang yang bertubuh raksasa itu. Mereka yang seharusnya melindungi orang-orang yang berada di tempat perjudian itu termasuk harta bendanya, namun ternyata mereka tidak cukup mampu untuk melakukannya. Apalagi sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak oleh kekuatan sirep yang mencengkam.

Jika para perampok itu kemudian ternyata berhasil menghancurkan Song Lawa dan merampas segala harta benda yang ada didalamnya, maka untuk selanjutnya Song Lawa tidak akan pernah mendapat kepercayaan lagi. Bahkan mungkin orang-orang yang ada didalamnya telah menuntut kepada para petugas dan pemimpin Song Lawa itu agar mereka bertanggung jawab atas perampokan itu.

Beruntunglah para petugas di Song Lawa itu, bahwa orang-orang yang berilmu tinggi, yang terbebas dari pengaruh sirep, telah bersedia untuk turun ke medan, membantu mereka melawan para perampok itu.

“Bagi mereka, tentu akan ada penghargaan khusus,” berkata pemimpin dari para petugas itu.

Demikianlah, pertempuran masih berlangsung dengan garangnya. Orang-orang yang bertubuh raksasa telah bertempur sejauh dapat mereka lakukan tanpa mengenal takut sama sekali. Mereka harus menunjukkan kepada orang-orang yang ikut membantu mereka bertempur, bahwa mereka telah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Mereka harus benar-benar dianggap bertanggung jawab tanpa mengenal takut menghadapi maut sekalipun.

Namun para perampok pun telah menjadi semakin buas dan liar. Mereka menjadi sangat marah bahwa mereka tidak dapat melakukan perampokan itu dengan lancar. Bahkan orang-orang yang berada di Song Lawa dan sama sekali bukan petugas telah ikut melibatkan diri pula.

Namun justru satu-satu para perampok itu terlempar dari arena. Luka-luka yang parah dan bahkan tusukan langsung ke jantung telah mengurangi jumlah mereka. Tanpa mereka sadari, Sambi Wulung benar-benar merupakan orang yang menentukan keseimbangan pertempuran itu disamping Jati Wulung yang telah berhasil mengikat pemimpin perampok dalam pertempuran yang sengit, serta Kepala Besi yang bertempur dengan garang.

Pemimpin perampok yang bertempur melawan Jati Wulung itu pun telah berusaha mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk segera mengalahkan lawannya. Beberapa jenis ilmu yang dimilikinya telah diungkapkannya dalam pertempuran itu. Dengan tangkas ia telah mampu berloncatan hampir tidak menyentuh tanah. Bahkan kemudian tangannyapun telah berputaran disekitar tubuhnya. Sekali-kali mengembang, kemudian terangkat tinggi, tetapi sesaat yang lain tangan itu telah mematuk dada dengan jari-jari yang merapat.

Tetapi Jati Wulung mampu mengimbangi kecepatan gerak pemimpin perampok yang tidak bersenjata itu. Ia-pun dengan cepat bergerak sebagaimana dilakukan oleh lawannya. Bahkan sekali-sekali Jati Wulung justru telah berusaha menembus pertahanan lawannya dengan serangan-serangan yang cepat dan tiba-tiba.

Dengan mengerahkan kemampuannya pemimpin perampok itu masih sempat mengelakkan serangan-serangan Jati Wulung. Bahkan membalas menyerang dengan kemampuan yang sangat tinggi.

Ketika orang itu meloncat dengan ayunan tangan mendatar setinggi dada, Jati Wulung sempat memiringkan tubuhnya sehingga tangan lawannya itu bergetar kurang dari setapak dari tubuhnya. Namun dengan cepat pula Jati Wulung telah memukul tangan itu dengan sisi telapak tangannya. Tetapi lawannya sempat dengan tergesa-gesa menarik tangannya sehingga pukulan sisi telapak tangan Jati Wulung tidak mengenainya. Bahkan orang itu sempat memiringkan tubuhnya dan mengayunkan kakinya kearah lambung. Jati Wulung yang melihat serangan itu meloncat surut. Sekali lagi serangan lawannya tidak mengenainya. Bahkan Jati Wulung yang melihat keadaan lawannya, tiba-tiba telah berputar sambil menyapu kaki lawannya yang sebelah, yang dipergunakan untuk bertumpu sebelum kakinya yang lain sempat menyentuh tanah.

Namun Jati Wulung harus mengakui kemampuan lawannya yang tiba-tiba saja dengan satu kakinya telah melenting tinggi. Sambil menggeliat tangannya justru terayun. Hampir saja tangan itu mengenai tengkuk Jati Wulung. Namun Jati Wulung adalah seorang yang berilmu mapan. Karena itu, hampir diluar daya pengamatan lawannya Jati Wulung telah memiringkan tubuhnya, sehingga sambaran tangan lawannya tidak mengenainya.

Betapa terkejut lawannya ketika tiba-tiba saja kaki Jati Wulung telah berputar satu lingkaran. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak sempat menghindarinya.

Kerena itu dengan lengannya, pemimpin perampok itu berusaha menangkis serangan Jati Wulung.

Satu benturan yang keras sekali telah terjadi. Kekuatan pemimpin perampok itu memang luar biasa besarnya. Namun justru karena Jati Wulung menyadarinya, maka ia pun telah mengerahkan kekuatannya pula. Karena itu benturan yang terjadi adalah benturan ilmu yang mengalir dibagian tubuh masing-masing yang saling beradu.

Ternyata pemimpin perampok itu terkejut. Kekuatan Jati Wulung demikian besarnya, sehingga pemimpin perampok itu telah terdorong surut.

Kemarahan yang menggelegak telah menghentak-hentak didalam dada pemimpin perampok itu. Karena itu maka ia pun telah berteriak nyaring sambil mengerahkan segenap kemampuan yang ada didalam dirinya. Keadaan benar-benar menjadi semakin gawat bagi para perampok itu. Kekuatan sirep pun semakin lama akan menjadi semakin menipis. Jika kemudian kekuatan sirep itu hilang, maka orang-orang di Song Lawa itu akan terbangun dan keadaan pun akan menjadi semakin sulit bagi para perampok itu.

Tetapi betapapun ia mengerahkan kemampuan ilmunya, namun lawannya itu benar-benar tidak mampu didesaknya. Semakin besar ia mengerahkan kekuatannya, maka semakin besar pula kekuatan lawannya.

Ketika pemimpin perampok itu benar-benar sampai kepuncak ilmunya, maka Jati Wulung memang menjadi berdebar-debar. Dalam sentuhan-sentuhan yang kemudian terjadi, rasa-rasanya tubuh lawannya menjadi panas. Itulah sebabnya, maka lawannya berusaha untuk lebih sering membenturkan kekuatan mereka.

Jati Wulung menggeram ketika tangannya mengenai lambung lawannya. Lawannya memang menyeringai menahan sakit. Tetapi Jati Wulung pun menjadi kesakitan pula, karena tangannya bagaikan menyentuh bara.

“Setan alas,” geram Jati Wulung.

“Kau akan mati terpanggang api ilmuku,” desis lawannya.

Jati Wulung menggerakkan giginya. Namun ia adalah orang yang berilmu tinggi.

Dalam pertempuran berikutnya, Jati Wulung menyadari, bahwa lawannya berusaha menerkamnya dan memeluknya erat-erat. Dengan demikian maka ia akan benar-benar dapat mati terpanggang api ilmunya sebagaimana dikatakan. Karena itu, maka ia pun telah bertempur dengan sangat berhati-hati.

Dikerahkannya daya tahannya untuk mengatasi rasa sakit jika serangannya membentur lawannya. Namun Jati Wulung pun yakin, bahwa lawannya masih juga merasa sakit jika serangannya mampu mengenainya.

Karena itu, maka Jati Wulung pun benar-benar telah mengerahkan segenap tenaga cadangannya, sehingga serangan-serangannya menjadi semakin garang. Namun Jati Wulung pun harus bergerak cepat untuk selalu menghindari terkaman lawannya yang bagaikan menjadi bara itu.

Ternyata bahwa pemimpin perampok itu pun menjadi semakin sibuk melayani Jati Wulung yang sudah sampai pula pada tingkat kemampuannya yang tertinggi. Ternyata ia mampu bergerak diluar penglihatan mata wadag, sementara itu kekuatannya pun bagaikan menjadi berlipat ganda. Setiap sentuhan, telah melemparkan lawannya beberapa langkah surut, meskipun Jati Wulung sendiri harus berusaha mengatasi rasa sakit, tetapi hentakkan serangannya yang semakin kuat telah melemparkan lawannya, dan bahkan membantingnya jatuh.

Sebenarnyalah kegelisahan benar-benar telah mencengkam pemimpin perampok yang berilmu tinggi itu. Apalagi ketika ia sempat melihat keadaan orang-orangnya. Meskipun semula jumlah mereka lebih banyak, namun semakin lama jumlah itu menjadi semakin berimbang.

“Kau mempunyai ilmu dari iblis mana he?” geram pemimpin perampok itu.

Jati Wulung menghindari serangan lawannya sambil menjawab, “Ilmuku itulah ilmu iblis.”

Lawannya semakin mengerahkan kemampuannya. Namun serangan Jati Wulung rasa-rasanya menjadi semakin sering mengenainya dan setiap sentuhan rasa-rasanya telah mematahkan tulang-tulangnya. Bahkan telah timbul pertanyaan didalam hatinya, “Apakah ia tidak merasakan panasnya ilmuku?”

Namun pemimpin perampok itu benar-benar tidak mendapat kesempatan. Serangan Jati Wulung justru menjadi semakin sering menembus pertahanannya. Jika semula pemimpin perampok itu berusaha sejauh mungkin terjadi benturan-benturan sehingga ia mendapat kesempatan membakar kulit lawannya, namun iapun kemudian terpaksa harus menghindarinya. Serangan Jati Wulung dilambari kekuatan yang luar biasa besarnya.

Sebenarnyalah Jati Wulung sendiri harus menahan pedih pada kulit-kulitnya yang bagaikan terkelupas oleh panasnya api pada tubuh lawannya yang dilambari dengan ilmunya. Tetapi Jati Wulung harus mengatasi perasaan sakit dan pedih itu. Jika ia tidak mampu mengatasinya, maka lambat laun ia akan ditelan oleh ilmu lawannya.

Namun ternyata lawannya pun sulit untuk mengatasi kekuatan ilmu Jati Wulung yang tinggi. Kekuatannya semakin lama bukannya semakin susut. Tetapi justru menjadi semakin besar.

Ketika lawannya berusaha untuk menangkap serangan Jati Wulung agar kekuatan panas apinya sempat menghanguskan kulitnya, namun ternyata bahwa pemimpin perampok itu sendirilah yang telah terlempar beberapa langkah mundur dan bahkan jatuh terbanting di tanah.

Dengan cepat pemimpin perampok itu melenting berdiri. Namun dengan kecepatan yang lebih tinggi, Jati Wulung telah meluncur dengan tubuh hampir mendatang.

Satu benturan yang keras sekali telah terjadi ketika telapak kaki Jati Wulung itu mengenai dada pemimpin perampok yang belum benar-benar berdiri tegak itu.

Benturan serangan Jati Wulung itu benar-benar merupakan benturan yang menentukan. Lambaran kekuatan ilmu yang ada didalam diri Jati Wulung benar-benar lelah menghantam tulang-tulang iga pemimpin perampok itu.

Ternyata beberapa tulang iga telah benar-benar dipatahkannya. Isi dada pemimpin perampok itupun rasa-rasanya telah menjadi rontok karenanya.

Terdengar keluhan pendek. Pemimpin perampok itu ternyata telah terlempar beberapa langkah. Sekali lagi ia jtuh berguling. Lebih keras dari sebelumnya. Adalah diluar perhitungan pemimpin perampok itu, bahwa kepalanya telah membentur batu yang tergolek dibawah sebatang pohon waru.

Pemimpin perampok itu menggeliat. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak. Ia hanya dapat menatap Jati Wulung dengan-sorot mata penuh kebencian. Namun mata itu pun sejenak kemudian telah tertutup.

Kematian pemimpin perampok itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi para pengikutnya. Mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi tanpa pemimpin mereka yang berilmu tinggi itu.

Karena itu, maka mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Beberapa orang diantara mereka sempat memperhitungkan kemungkinan susutnya pengaruh sirep sehingga akan semakin banyak orang-orang Song Lawa yang terbangun. Sementara itu rasa-rasanya cahaya merah telah mulai membayang dilangit.

Sejenak kemudian, para perampok itu telah mengambil satu keputusan tanpa sempat mereka bicarakan. Ketika seorang diantara mereka dengan licik meloncat melarikan diri, maka beberapa orang pun telah menyusulnya tanpa aba-aba. Mereka berlari-larian kepintu gerbang yang terbuka dan berusaha hilang digelapnya malam.

Orang-orang yang ikut bertempur bersama para pengawal tidak berusaha mengejar mereka. Tetapi para pengawal yang bertubuh raksasa itu ada yang sempat berlari keluar regol. Dua orang ternyata gagal melarikan diri dan tusukan di punggung mereka telah menghentikan mereka untuk selama-lamanya. Namun yang lain sempat menghilang didalam kelam.

Sejenak kemudian, maka para pengawal Song Lawa itu pun telah berkumpul. Beberapa orang yang kebetulan sedang berada di Song Lawa dan ikut terlibat dalam pertempuran itu, berdiri termangu-mangu. Mereka memandangi beberapa tubuh yang terbujur lintang dengan darah yang mulai membeku.

Diantara mereka adalah para pengawal yang bertubuh raksasa serta orang-orang yang sedang berada di Song Lawa untuk berjudi. Namun untunglah bahwa orang-orang itu hanyalah terluka saja. Tidak seorang pun diantara para penjudi itu yang terbunuh.

Pemimpin Pengawal yang juga bertubuh raksasa itu memandangi orang-orang yang berdiri termangu-mangu. Namun kemudian iapun berkata dengan nada rendah, “Terima kasih. Tanpa bantuan kalian, Song Lawa telah menjadi abu. Jika mereka telah merampas semua harta benda yang ada disini, maka mereka tentu akan membakar tempat ini dengan orang-orang yang tertidur lelap karena pengaruh sirep. Kita tentu tidak akan sempat mengeluarkan mereka seorang demi seorang.”

Orang-orang yang termenung diantara mereka yang terluka dan terbunuh itu termangu-mangu. Namun kemudian Jati Wulung lah yang berkata, “Rawat yang terluka dan kumpulkan kawan-kawanmu yang terbunuh. Hari ini kita mulai dengan penguburan mayat para perampok serta merawat orang-orang yang terluka termasuk aku. Kau lihat, kulitku mengalami luka-luka bakar. Pedih sekali sekarang. Disaat-saat aku berkelahi, perasaan sakit itu dapat aku atasi karena aku lebih takut mati daripada sekedar kesaksian. Tetapi sekarang, perasaan sakit itu terasa semakin menggigit.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kawanku menjadi semakin sedikit. Mereka yang telah bekerja bersamaku beberapa tahun disini, sebagian telah mati dan sebagian lagi terluka. Justru mereka adalah orang-orang yang terbaik.”

“Tentu orang-orang yang terbaik,” sahut Kepala Besi, “pengawal-pengawal Song Lawa yang lain tidak lebih dari kerbau-kerbau dungu yang hanya ujudnya saja yang menyeramkan. Tetapi ternyata mereka tidak mampu mengatasi kekuatan sirep.”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat menyangkal kenyataan itu.

Sementara itu Kiai Windu pun berkata, “Pengaruh itu sekarang sudah tidak lagi cukup kuat untuk memaksa orang-orang tidur nyenyak. Bangunkan mereka dengan isyarat. Itu lebih cepat daripada kau bangunkan mereka seorang demi seorang.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan membunyikan isyarat tanda bahanya.”

“Kami akan kembali kedalam bilik kami,” berkata Kiai Windu.

“Uangku ada di barak permainan dadu,” berkata seorang yang bertubuh tinggi.

Dengan demikian maka orang-orang itu telah berpencar kembali ketempat mereka disaat kerusuhan itu mulai terjadi. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu telah kembali pula kedalam bilik mereka, sementara Jati Wulung berjalan dengan kaki timpang. Telapak kakinya dan lengannya memang terluka. Pakaiannya pun di beberapa tempat bagaikan telah tersengat bara api.

Namun Kiai Windu sempat berkata, “Ternyata kau memang luar biasa.”

“Apanya yang luar biasa?” bertanya Jati Wulung.

Kiai Windu tersenyum. Namun iapun telah mengurut lengannya sendiri yang tergores senjata sambil menjawab, “Kau mampu mengalahkan pemimpin perampok yang mempunyai ilmu yang tinggi itu.”

“Satu kebetulan,” jawab Jati Wulung, “tetapi aku terluka di banyak tempat.”

“Lenganku juga terluka,” berkata Kiai Windu.

Wanengbaya lah yang sama sekali tidak tersentuh senjata.

“Aku mencari lawan yang paling lemah diantara mereka,” jawab Sambi Wulung.

“Bagaimana mungkin kau dapat memilih lawan dalam perkelahian seperti itu,” desis Kiai Windu.

Sambi Wulung tidak menjawab. Namun Kiai Windu berkata selanjutnya, “Jika tidak ada kalian berdua, maka Song Lawa tentu sudah dijarah rayah. Isinya tentu sudah dirampok oleh orang-orang liar itu dan bahkan banyak orang yang terbunuh.”

“Ah,” sahut Sambi Wulung, “kau jangan mengada-ada. Kaulah yang telah berhasil mengusir mereka.”

Kiai Windu berkata sambil tertawa, “Kau katakan bukan yang sebenarnya kau maksudkan. Kau tahu tingkat kemampuanku. Dan aku pun tahu tingkat kemampuan kalian.”

“Sudahlah,” desis Jati Wulung, “luka-lukaku terasa pedih. Aku harus segera mengobatinya agar tidak menjadi luka-luka yang semakin parah.”

Semuanyapun terdiam. Mereka menjadi semakin dekat dengan bilik mereka. Sementara itu, telah terdengar isyarat yang dibunyikan oleh pemimpin pengawal yang bertubuh raksasa itu. Beberapa orang kawannya yang hanya mengalami luka-luka ringanpun telah ikut pula membunyikannya sambil membawa kentongan-kentongan kecil berputar diantara barak-barak di Song Lawa.

Isyarat itu memang mengejutkan. Bukan saja para pengawal yang dengan serta merta meloncat keluar dari barak-barak tempat mereka tertidur nyenyak oleh pangaruh sirep, bahkan juga yang tertidur di kedai dan di gardu-gardu penjagaan, tetapi juga mereka yang berada di Song Lawa itu untuk berjudi. Mereka dengan senjata ditangan telah menghambur keluar dari barak-barak. Sementara itu mereka yang tertidur di barak permainan dadu pun telah bangkit pula. Dengan serta merta mereka telah menarik senjata-senjata mereka pula.

Namun dua orang petugas yang berada di barak permainan dadu itu segera menjelaskan apa yang telah terjadi. Dengan nada tinggi seorang diantara petugas itu berkata, “Yang ada di tempat ini sama sekali tidak berubah sebagaimana saat sirep itu mulai menyentuh.”

“Gila. Siapa yang telah melakukannya?” bertanya seorang yang berpakaian rapi. Dengan keris ditangan ia berdiri tegak diantara orang-orang lain yang juga menjadi tegang.

Ketika seorang pengawal yang lain memasuki tempat itu, maka seorang yang menggenggam pedang ditangan bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Semuanya sudah lewat,” berkata pengawal itu, yang ternyata telah terluka dipunggungnya. Lalu katanya pula, “perampok itu telah terusir selain yang terbunuh disini. Pemimpin perampok itu telah mati pula disini.”

“Kenapa kami baru diberitahukan sekarang?” bertanya seorang yang bertubuh besar, “jika aku tahu, maka aku akan menghancurkan mereka.”

“Jangan membual disini,” bentak pengawal yang punggungnya terluka itu, “kenapa kau justru tidur saja disini, di tempat yang seharusnya tidak untuk tidur? Bukankah sudah disediakan bilik bagimu?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Bukan hanya orang yang bertubuh tinggi besar itu saja yang merasa heran atas dirinya sendiri. Kenapa mereka telah tertidur di tempat permainan dadu itu.

“Sekarang kemasi uang kalian. Permainan dihentikan untuk siang ini. Baru malam nanti akan dimulai lagi. Siang ini kita mempunyai tugas lain. Mengubur orang-orang yang terbunuh dan merawat kawan-kawan kami yang terluka. Untunglah bahwa aku hanya tergores kecil dipunggung. Tetapi ada kawanku yang benar-benar mati,” geram pengawal itu.

Orang-orang yang ada di barak permainan dadu itu-pun segera mengemasi dan menyimpan uang mereka masing-masing atau barang-barang berharga yang sudah disiapkan untuk bertaruh. Kemudian mereka pun telah meninggalkan tempat itu.

Namun, demikian mereka berada di halaman, maka merekapun segera mengetahui bahwa beberapa orang memang telah terbunuh.

Hari itu semua kegiatan judi di Song Lawa dihentikan. Tidak ada permainan dadu. Tidak ada sabung ayam dan tidak ada panahan. Namun kedai di Song Lawa itu terpaksa dibuka agar orang-orang yang ada didalam lingkungan itu tidak menjadi kelaparan.

Sambi Wulung pun kemudian telah sibuk mengobati luka-luka Jati Wulung. Dengan obat-obatan yang mereka bawa, maka rasa sakit pada luka-luka Jati Wulung menjadi jauh berkurang.

Namun keduanya menjadi sangat kecewa ketika mereka kemudian mengetahui, bahwa para perampok yang terluka parah dan tidak dapat meninggalkan Song Lawa itu telah dibunuh pula oleh para pengawal.

“Ternyata mereka adalah orang-orang biadab,” geram Jati Wulung.

“Satu kesalahan yang tidak dapat dimaafkan,” desis Sambi Wulung, “bukankah seharusnya mereka itu. bahwa mereka tidak boleh membunuh orang-orang yang terluka?”

Tetapi Kiai Windu tiba-tiba saja bertanya, “Siapa yang kau maksud?”

“Para pengawal Song Lawa,” jawab Sambi Wulung.

Tetapi Kiai Windu justru tersenyum. Katanya, “Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu. Seharusnya sejak semula kau sudah dapat menilai, bahwa mereka bukanlah orang baik-baik. Yang berada di tempat perjudian ini pun bukan pula orang baik-baik sebagaimana para pengawal. Seandainya bukan para pengawal yang telah membunuh para perampok yang terluka, maka para pendatang di Song Lawa inilah yang akan melakukannya dan bahkan mungkin mereka telah melakukannya pula.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Jati Wulung berkata, “jadi, apakah sebaiknya kita biarkan saja seandainya sekelompok perampok datang lagi ke tempat ini? Atau bahkan kita sendiri sajalah yang merampoknya?”

“Jangan mengigau,” berkata Kiai Windu, “kita tidak dapat dengan serta merta merubah wajah hitam tempat perjudian ini. Tetapi sudah tentu kita tidak akan dapat membiarkan terjadi pembantaian disini oleh para perampok meskipun bagi orang lain, nilai kejiwan para perampok dan para petugas dan juga para pengunjung Song Lawa ini tidak jauh berbeda. Salah satu perbedaan yang ada ialah bahwa orang-orang yang datang di Song Lawa ini membawa dan bahkan cukup banyak uang dan barang-barang berharga, sementara para perampok itu akan mengambil dengan kekerasan uang dan barang-barang berharga yang ada disini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk-angguk saja.

Sementara itu para petugas dan beberapa orang yang ada di Song Lawa sedang sibuk, Sambi Wulung dan Jati Wulung justru berbaring di bilik mereka. Kiai Windu pun tidak keluar dari dalam bilik itu, namun ketiga kawannyalah yang melihat-lihat kesibukan yang terjadi di lingkungan perjudian disebut Song Lawa itu atas perintah Kiai Windu.

Ternyata bahwa Jati Wulung benar-benar merasa letih sementara perasaan sakit yang menggigit kulitnya telah jauh berkurang. Namun hampir diluar sadarnya, bahwa Jati Wulungpun telah tertidur.

“Biarlah ia beristirahat,” berkata Sambi Wulung yang masih juga berbaring. Bahkan Kiai Windu pun telah berbaring juga meskipun keduanya tidak ingin tidur sementara matahari mulai memancarkan sinarnya ke lingkungan perjudian itu.

“Ia memang letih sekali,” desis Kiai Windu.

“Ya. Tetapi letih atau tidak letih Wanengpati memang termasuk seorang yang suka tidur,” sahut Sambi Wulung.

Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Tetapi kali ini ia benar-benar telah bertempur dengan mengerahkan segenap tenaganya. Pemimpin perampok itu tidak kurang tingkat ilmunya dari Kepala Besi yang masih merasa sakit di punggungnya itu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Jati Wulung memang benar-benar telah terluka. Namun pengobatan yang sudah diberikan, baik yang di taburkan langsung pada luka-lukanya atau reramuan yang diminumnya telah banyak menolongnya.

Dalam pada itu, kesibukan lain telah terjadi di Song Lawa. Para pengawal telah menguburkan kawan-kawan mereka di belakang lingkungan perjudian itu. Diluar dinding lapisan yang paling dalam, tetapi didalam dinding lapisan berikutnya. Namun mereka telah menguburkan para perampok di luar lingkungan perjudian itu sama sekali. Di padang perdu tanpa pertanda apapun.

Ketiga orang kawan Kiai Windu memperhatikan apa yang dilakukan oleh para petugas itu dengan hati yang berdebar-debar. Dengan nada rendah seorang diantara mereka berkata, “Ternyata kami termasuk orang-orang yang tidak mampu melawan kekuatan sirep. Untunglah bahwa Kiai Windu masih mampu mengatasinya, sehingga ada diantara kita yang diperhitungkan diantara orang-orang yang berada di Song Lawa ini.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu seorang dari mereka berkata, “Bukan hanya kita yang tidak mampu mengatasi sirep yang tajam itu. Tetapi sebagian besar dari orang-orang yang berada di Song Lawa memang tidak dapat mengatasi sirep. Bahkan ada yang lebih buruk dari keadaan kita. Seandainya kita waktu itu belum tidur, mungkin kita mampu untuk bertahan. Namun agaknya dalam tidur kita tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangkan orang lain yang sedang berjudi di permainan dadu, ada yang tiba-tiba saja telah tertidur di tempat itu sambil memeluk uangnya.”

“Belum tentu,” jawab yang lain, “sebaiknya kita tidak menyembunyikan kelemahan kita agar kita tidak salah menilai diri kita sendiri.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Sebaiknya memang demikian. Seperti yang selalu kita dengar petunjuk Kiai Windu. Kita harus merasa bahwa banyak orang lain yang lebih baik dari kita. Karena itu, maka kita harus berhati-hati dalam setiap langkah.”

“Tetapi bagaimana dengan saat-saat yang kita tunggu itu?” berkata seorang diantara mereka tiba-tiba saja.

“Tentu tidak akan ada perubahan. Tetapi jika tempat ini dihancurkan oleh para perampok, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian,” sahut yang lain.

“Kita tunggu perintah Kiai Windu,” desis kawannya sambil bergeser dari tempatnya, “kita kembali ke bilik. Semua pekerjaan sudah diselesaikan oleh para petugas. Tetapi hari ini kita hanya dapat tidur saja tanpa ada kegiatan apapun juga.”

Ketika ketiga orang itu kembali ke dalam bilik mereka, maka mereka telah berpapasan dengan orang-orang yang hilir mudik di halaman lingkungan perjudian itu. Mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa selain berjalan kesana kemari melihat-lihat keadaan. Namun mereka tidak putus-putusnya membicarakan kehadiran para perampok semalam.

Orang-orang yang sempat ikut bertempur dengan bangga telah menceriterakan apa yang telah mereka lakukan. Bagaimana mereka menghancurkan para perampok. Namun yang lebih banyak mereka ceriterakan adalah kelebihan mereka masing-masing.

Tetapi diantara mereka terdapat juga orang yang harus berbaring dipembaringannya karena luka-lukanya. Namun diantara para petugas di Song Lawa itu terdapat juga orang-orang yang mengerti tentang pengobatan, sehingga mereka dapat membantu meringankan penderitaan mereka yang terluka.

Ketika ketiga orang kawan Kiai Windu itu kembali kedalam bilik mereka, maka Sambi Wulung telah duduk di bibir pembaringan. Kiai Windu masih berbaring meskipun matanya tetap terbuka, sementara Jati Wulung pun masih juga tidur dengan nyenyak.

“Duduklah,” berkata Kiai Windu yang kemudian telah bangkit dan duduk pula, “apa yang telah kalian lihat?”

Ketiga orang itu pun kemudian telah duduk pula. Seorang diantara mereka pun telah menceriterakan apa yang telah mereka lihat diluar bilik mereka. Kesibukan para petugas dan orang-orang yang hilir mudik di halaman.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bertanya, “Tetapi bukankan kedai itu tetap terbuka seperti biasanya?”

“Ya,” jawab salah seorang diantara mereka bertiga.

“Jika kedai itu juga tutup, maka orang-orang di Song Lawa ini akan kelaparan. Jika demikian akibatnya akan sangat jauh, karena sebagian dari mereka akan keluar untuk mencari makan,” berkata Kiai Windu.

“Makan bagi para pengujung di Song Lawa ini, adalah satu-satunya kegiatan hari ini,” berkata salah seorang kawan Kiai Windu.

Sambi Wulung lah yang tersenyum. Katanya, “Kita tentu akan melakukannya juga.”

“Ya. Sebenarnyalah aku sudah lapar,” berkata orang itu.

Sambi Wulung masih saja tersenyum. Tetapi ia menjawab, “Aku terpaksa menunggu orang ini terbangun. Apakah kau akan mendahului?”

Yang menjawab adalah Kiai Windu, “Tidak. Kita pergi bersama-sama.”

Tidak ada yang menyahut. Yang dikatakan oleh Kiai Windu itu seakan-akan merupakan keputusan yang tidak dapat mereka langgar.

Tetapi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Ternyata sejenak kemudian Jati Wulung telah terbangun. Bahkan ia pun dengan serta merta telah bangkit dan duduk sambil tersenyum. Katanya, “He, kenapa aku telah dikerumuni orang? Bukankah aku tidak apa-apa?”

“Siapa yang mengerumunimu? “ seorang kawan Kiai Windu ganti bertanya, “kami tidak mengerumunimu. Tetapi kami hampir tidak sabar menunggu kau tidur terlalu nyenyak meskipun sirep itu telah lewat. Kami sudah terlalu lapar untuk menunda sesaat lagi untuk pergi ke kedai.”

Jati Wulung justru menguap. Katanya kemudian, “Seharusnya kalian pergi lebih dahulu. Agaknya sisa-sisa pengaruh sirep membuatku tidur sangat nyenyak. Melampaui nyenyak tidur kalian justru disaat sirep itu bekerja.”

“Kenapa kau tidak membangunkan aku?” bertanya kawan Kiai Windu yang lain, “jika kau bangunkan aku, kau tentu tidak akan terluka seperti itu.”

Sambi Wulung tertawa. Jati Wulung pun kemudian tertawa pula, sementara Kiai Windu berkata, “Tentu ia tidak akan terluka karena ia tidak akan sempat bertempur. Waktunya akan habis dipergunakannya untuk membangunkan saja.”

Yang lain pun kemudian tertawa pula. Namun seorang yang lain sempat berkata, “Nah, Wanengpati Apa yang akan kau lakukan sekarang? Mandi atau apa. Kita akan segera pergi ke kedai.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam, Iapun kemudian bangkit berdiri, Luka-lukanya tidak lagi terasa sakit.

“Aku akan pergi ke pakiwan. Sebentar lagi kita akan bersama-sama pergi kekedai,” desis Jati Wulung

Namun ketika Jati Wulung sudah keluar dari bilik itu, Sambi Wulung bertanya, “Siapakah yang telah mandi diantara kalian?”

Semuanya tertawa. Ternyata Kiai Windu berkata, “Apa bedanya mandi dan tidak mandi.”

Sambi Wulung masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu, Jati Wulung yang pergi ke pakiwan harus menunggu karena beberapa buah pakiwan yang disediakan sudah terisi. Dengan hampir tidak sabar ia berdiri didekat salah satu pintu dari pakiwan itu. Namun ketika pakiwan itu terbuka, Jati Wulung terkejut. Yang keluar dari dalam pakiwan itu adalah seorang perempuan itu menudingnya sambil berkata lantang, “Kau mencoba mengintip aku lagi he?”

Jati Wulung menggeram. Katanya, “Cepat, pergi perempuan gila.”

“Sudah aku peringatkan. Jika sekali lagi kau lakukan, aku pilin lehermu sampai patah,” geram perempuan itu sambil melangkah pergi.

Jati Wulung menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.

Namun ia masih melihat seorang laki-laki berlari-lari menyusul perempuan yang baru selesai mandi itu. Apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, Jati Wulung tidak mengetahuinya. Tetapi tiba-tiba saja perempuan itu berbalik bersama laki-laki itu kembali ke tempat Jati Wulung termangu-mangu.

“Gila,” geram Jati Wulung, “apa lagi yang akan dilakukannya dengan laki-laki itu. Apakah aku terpaksa memukulnya sampai pingsan.”

Tetapi ternyata perempuan dan laki-laki itu tidak menyerangnya. Demikian mereka berhenti di hadapannya, perempuan itu berkata dengan nada merendah, “Maafkan aku Ki Sanak, aku tidak tahu bahwa kaulah yang telah mengalahkan Kepala Besi dan kemudian membunuh pemimpin perampok semalam.”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian masuk kedalam pakiwan itu sambil berkata, “Kalau kau ingin mengintip aku mandi, lakukanlah.”

Perempuan itu menundukkan kepalanya. Namun laki-laki yang mengantarnya itu pun menariknya pergi sambil berkata, “Kau harus hati-hati menilai seseorang. Untung orang itu termasuk bukan seorang pemarah. Jika ia marah dan memukulmu, habislah sejarah hidupmu yang penuh kesombongan itu.”

“Aku sudah minta maaf,” desis perempuan itu. Namun dalam pada itu Jati Wulung yang berada di-dalam pakiwan telah mengguyur tubuhnya. Bahkan terdengar ia berkata, “Kalian menunggu aku selesai mandi?”

Kedua orang itu pun segera meninggalkan tempat itu. Namun perempuan itu masih saja bergeremang, “Ternyata orang itu yang dibicarakan orang selama ini. Kenapa aku tidak melihat saat ia mengalahkan Kepala Besi dan tidak pula sempat melihat ia bertempur dengan para perampok.”

“Kau tidur mendengkur,” jawab laki-laki itu.

“Coba, jika saat sirep itu menjamah tempat ini di-saat aku terbangun, maka aku tentu akan dapat mengatasinya,” berkata perempuan itu.

“Apapun alasannya, tetapi kau tidak mempunyai kemampuan untuk hadir di pertempuran itu. Kau tentu akan mengatakan bahwa aku pun tidak. Aku memang tidak. Itu aku akui,” berkata laki-laki itu.

Keduanya pun kemudian tidak berbicara lagi. Dengan tergesa-gesa keduanya pergi ke barak mereka, melintas halaman yang ditumbuhi rerumputan.

Sejenak kemudian, Jati Wulung telah berada didalam biliknya. Bersama dengan Sambi Wulung dan Kiai Windu serta kawan-kawannya mereka keluar dari barak mereka menuju ke kedai.

Adalah tidak diduga-duga sama sekali, bahwa ketika Jati Wulung mendekati kedai itu, maka hampir semua orang telah bangkit dan menyambutnya sebagai seorang pahlawan. Hampir setiap orang menyatakan penghargaan kepadanya, karena Jati Wulung telah mampu membunuh pemimpin perampok yang hampir saja menghancurkan padepokan itu.

Ketika Jati Wulung yang dikenal sebagai Wanengpati itu dengan kaki yang masih agak timpang berjalan semakin dekat, maka beberapa orang telah menyongsongnya.

Jati Wulung justru telah merasa canggung akan sambutan itu. Kepala Besi yang sedang makan pun telah bangkit pula. Bahkan ia telah berteriak, “Tanpa orang itu, Song Lawa hari ini tinggal abu yang akan hanyut ditiup angin. Berterima kasihlah kalian kepadanya. Aku pun kini merasa tidak lagi sakit hati karena aku telah dikalahkannya. Ia pantas mendapat julukan orang terbaik di lingkungan ini. Siapa yang tidak mau menganggapnya demikian, maka sebelum ia menilai langsung dalam benturan ilmu dengan Wanengpati, ia harus lebih dahulu dapat mengalahkan aku.”

Sambi Wulung menepuk pundak Jati Wulung sambil berdesis, “Nah, kau harus menjadi jera karenanya.”

Jati Wulung berpaling. Namun iapun berguman, “Aku menjadi tersiksa disini.”

Sambi Wulung tertawa. Kiai Windu pun berkata pula, “Kau akan dinobatkan menjadi raja disini.”

“Persetan,” geram Jati Wulung.

Namun suara tertawa Kiai Windu dan Sambi Wulung justru semakin keras.

Tetapi suara itu terhenti, ketika dengan tergesa-gesa seorang anak muda menyongsongnya. Anak muda itu langsung membimbing Jati Wulung dan membawanya duduk di sebuah amben yang besar, yang justru berada di serambi kedai itu.

“Marilah. Kita akan makan bersama-sama,” berkata anak muda itu. Anak muda yang justru menjadi pusat perhatian Jati Wulung dan Sambi Wulung. Puguh.

Jati Wulung tidak menolak. Ia mengikut saja untuk duduk di amben itu, sementara orang-orang lain memandanginya saja termangu-mangu. Namun Kepala Besi itu masih saja berbicara, “He, anak muda. Apakah kau sedang membujuknya agar orang itu mau bekerja bersamamu?”

Puguh memandang Kepala Besi itu dengan dahi yang berkerut. Namun ia tidak menjawab, sementara Kepala Besi itu masih berkata pula, “Nah, marilah kita makan bersama untuk merayakan kemenangan kita atas para perampok itu.”

Tidak seorang pun yang menjawabnya. Sedangkan Kepala Besipun telah duduk kembali untuk meneruskan makannya. Seteguk ia minum. Namun kemudian ia pun telah menyuapi mulutnya pula.

Dalam pada itu, maka Puguh pun telah memesan berbagai makanan dan minuman untuk mereka bersama-sama. Untuk Puguh sendiri, Jati Wulung, Sambi Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya serta para pengawal Puguh.

Namun dalam pada itu, ternyata pemilik kedai itu pun berkata, “Khusus, bagi Wanengpati dan kelima orang kawannya, kami akan menyuguhkan apa saja yang dimintanya hari ini tanpa membayar.”

Namun Puguh berkata, “Terserah apa yang akan kalian suguhkan. Tetapi jangan kali ini. Aku sudah berniat untuk membayar semua hidangan buat kami semua.”

Pemilik kedai itu tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kali ini kaulah yang membayar baginya. Tetapi nanti atau kapan saja mereka datang kembali, kamilah yang akan menyuguhkan hidangan yang diminta oleh mereka.”

Sambi Wulung menggamit Jati Wulung sambil berkata, “Ada juga untungnya kau menjadi pahlawan di Song Lawa ini. Sekarang makan kita akan dibayar oleh Puguh. Nanti jika kita kembali, hidangan akan diberikan oleh pemilik kedai ini, kemudian siapa lagi dan siapa lagi?”

“Besok aku yang akan membayarnya,” berkata Kiai Windu.

“Kau tidak dihitung, karena kau sudah terlalu sering melakukannya. Bukan saja setelah Wanengpati menjadi pahlawan, tetapi sejak sebelumnya,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu tertawa. Kawan-kawannya pun tertawa Juga. Meskipun sebenarnya didalam kepala Kiai Windu telah timbul persoalan tersendiri. Persoalan yang menyangkut kepentingannya dan kelompoknya terhadap lingkungan perjudian Song Lawa itu.

Namun Kiai Windu sama sekali tidak menunjukkan persoalan didalam dirinya itu.

Demikiankah, maka sambil berbicara panjang lebar, berkelakar dan sekali-sekali mengumpat, beberapa orang duduk dalam satu lingkaran yang besar diatas amben yang berada di serambi kedai itu. Beberapa orang lain yang sedang makan pula sekali-sekali berpaling dan memperhatikan orang-orang yang dengari gembira berbincang tentang kekalahan para perampok semalam.

Namun selagi mereka berbincang panjang lebar, Sambi Wulung sempat memperhatikan wajah Kiai Windu yang tiba-tiba berkerut. Dengan tanpa menarik perhatian, Sambi Wulung telah memandang kearah pandangan mata Kiai Windu. Yang dilihatnya adalah seorang yang agak bongkok tengah berbincang dengan dua orang pengawal yang bertubuh raksasa.

Sambi Wulung tidak berbuat apa-apa. Kesan diwajah Kiai Windu pun segera lenyap pula, karena ia telah menghanyutkan diri kedalam kelakar yang riuh.

Namun yang sekilas itu telah memberikan kesan tersendiri kepada Sambi Wulung.

Namun dalam pada itu, di tempat lain didalam lingkungan Song Lawa itu, kelompok-kelompok yang lain telah mengisi waktu mereka dengan berbincang juga. Berbicara apa saja untuk mengusir kejemuan, karena itu tidak ada jenis perjudian apapun yang berlangsung.

Baru menjelang malam, para petugas telah membenahi tempat-tempat perjudian yang segera akan dibuka. Terutama tempat permainan dadu. Karena malam itu, hanya tempat permainan dadu sajalah yang akan dibuka.

Tetapi justru karena itu, maka tempat permainan dadu itulah yang telah menjadi penuh. Orang-orang yang datang di Song Lawa untuk berjudi merasakan bahwa hari itu sudah terlalu lama mereka berhenti. Rasa-rasanya telah berhari-hari mereka duduk tanpa berbuat sesuatu.

Ketika Kiai Windu dan kawan-kawannya mengajak Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke barak tempat permainan dadu, maka Jati Wulung dengan segan berkata, “Malam ini aku belum berminat untuk turun ke arena. Aku masih ingin beristirahat.”

Kiai Windu berpaling kearah Sambi Wulung. Sambil tersenyum Sambi Wulung berkata, “Aku akan mengawaninya.”

“Baiklah,” berkata Kiai Windu, “jika demikian, biarlah kami sajalah yang pergi ke barak.”

“Hati-hatilah,” berkata Sambi Wulung, “jika perampok itu kembali dengan membawa kawan yang lebih banyak dan kekuatan sirep yang lebih besar.”

Kiai Windu tertawa, Katanya, “Tentu tidak sekarang. Jika mereka kembali, mereka akan menunggu sampai Wanengpati telah benar-benar sembuh.”

Demikianlah maka Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah meninggalkan bilik mereka. Jati Wulung yang tinggal didalam bilik justru telah berbaring. Ia masih merasa letih, sementara luka-lukanya masih belum sembuh seluruhnya. Namun Sambi Wulung lah yang kemudian duduk bersandar dinding.

Di halaman, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya melangkah menuju ke barak tempat permainan dadu. Namun ketika mereka mendekati barak itu, Kiai Windu berkata, “Kita harus membuat hubungan keluar.”

“Mereka harus mengetahui apa yang telah terjadi,” sahut kawannya

“Masuklah kedalam,” berkata Kiai Windu, “aku akan berjalan-jalan di halaman Mungkin kita mendapat isyarat dari luar atau kesempatan lain untuk berbicara dengan mereka.”

“Masuklah berdua,” berkata seorang diantara kawan-kawan Kiai Windu, “aku akan bersama dengan Kiai Windu.”

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian mereka memang telah membagi diri. Kiai Windu dan seorang kawannya akan tetap berada di luar, sementara dua orang yang lain akan memasuki barak permainan dadu.

Beberapa saat lamanya, Kiai Windu dan seorang kawannya telah berjalan-jalan disekitar barak. Ternyata bukan hanya mereka sajalah yang masih belum mengambil keputusan untuk masuk kedalam arena permainan dadu. Dua tiga orang justru masih duduk-duduk di tempat yang agak terlindung dari jangkauan cahaya obor. Sekali-sekali terdengar kelakar yang kasar dan suara tertawa yang tidak terkendali. Bahkan kawan Kiai Windu itu berpaling ketika ia mendengar suara perempuan yang bagaikan meringkik di kegelapan itu.

“Sudahlah,” desis Kiai Windu.

“Ah,” desah orang itu, “aku tidak sengaja.”

Kiai Windu hanya tersenyum saja. Namun kemudian ia berkata, “kita menunggu sampai malam semakin larut. Kau haus?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian, “Maksud Kiai, kita pergi ke kedai itu?”

“Bukan ke kedai induk. Kita singgah di kedai kecilnya saja disebelah barak,” jawab Kiai Windu.

Kawannya mengangguk-angguk. Agaknya memang lebih baik duduk di kedai sambil meneguk minuman hangat dan mengunyah beberapa potong makanan daripada berkeliaran di tempat-tempat gelap.

Demikianlah keduanya pun kemudian telah duduk di amben bambu di kedai kecil yang tidak menyediakan makanan sebanyak ragam makanan di kedai induknya. Namun minuman hangat yang masih berasap telah membuat tubuh mereka menjadi segar di malam yang menjadi semakin dingin.

Empat orang yang lain telah duduk pula di kedai itu. Bahkan kemudian dua orang laki-laki dan perempuan. Keduanya membawa golok yang tidak terlalu panjang terselip pada ikat pinggang mereka.

Kiai Windu memang tidak begitu menghiraukan mereka. Tetapi ia justru lebih banyak memperhatikan kawannya yang sekali-sekali memandangi wajah perempuan yang nampak cerah dibawah cahaya lampu minyak itu. Namun diantara kecerahan wajahnya, terselip bayangan kekerasan hati yang membaja. Bahkan cenderung untuk disebut kasar.

“Habiskan minumanmu,” desis Kiai Windu.

Kawannya terkejut. Katanya, “Masih panas Kiai.”

“Atau biarlah aku yang meminumnya meskipun masih panas,” berkata Kiai Windu kemudian.

“Ah jangan,” desis kawannya yang kemudian meraih mangkuknya dan meneguknya sampai habis.

“Masih panas?” bertanya Kiai Windu.

Kawannya itu hanya terseyum saja.

Demikianlah, mereka berduapun kemudian telah bangkit, sementara Kiai Windu membayar minuman dan makanan bagi mereka berdua. Namun kawannya itupun kemudian telah menggamitnya. Meskipun ia tidak memberikan isyarat apapun, namun Kiai Windu telah mengikuti arah pandangan matanya.

Ternyata kawannya itu telah melihat orang yang agak bongkok itu melintas dan berhenti agak jauh dari tempat mereka. Namun keduanya melihat orang bongkok itu berbicara dengan sungguh-sungguh dengan seorang pengawal.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.

Namun Kiai Windu terkejut ketika tiba-tiba saja perempuan yang datang bersama seorang laki-laki serta membawa golok di pinggangnya itu membentak, “Kenapa kalian tidak segera pergi? Apalagi yang kau tunggu, jika kalian sudah membayar makanan dan minuman yang telah kau minum dan kau makan?”

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak ingin menjawab.

Tetapi pada saat ia melangkah pergi, justru kawannyalah yang menjawab, “jangan terlalu kasar Ki Sanak. Pergi atau tidak pergi itu adalah urusan kami.”

“Persetan,” geram perempuan itu, “kau tidak mengenal lingkungan Song Lawa ini dengan baik.”

“Ah. Kau keliru. Kami termasuk cikal bakal disini. Kami memang pernah melihat Ki Sanak berada disini sebelumnya. Tetapi biasanya Ki Sanak tidak segarang sekarang ini. Apakah sudah terjadi satu perubahan?” bertanya kawan Kiai Windu

“Cukup,” bentak laki-laki yang mengawani perempuan itu, “akupun sudah sering melihat kau disini. Aku-pun sudah sering melihat kau dipukuli orang karena tingkah lakumu.”

Kawan Kiai Windu itu tertawa. Tetapi Kiai Windu lah yang kemudian berkata, “Sudah cukup. Kita tidak mempunyai persoalan dengan mereka.”

“Kalianlah yang membuat persoalan,” bentak perempuan itu.

“Kenapa kami? “ kawan Kiai Windu masih bertanya.

Namun Kiai Windu telah berkata, “Aku berkata, sudah. Kita biarkan orang-orang yang tidak mengenal terima kasih. Jika kita biarkan semalam perampok itu membakar tempat ini, mereka akan ikut mati terbakar. He, kenapa semalam kau tidak hadir ketika para perampok datang. Dan sekarang kau berlagak garang seperti itu? “ tiba-tiba Kiai Windu bertanya. Tetapi sebelum dijawab Kiai Windu telah berkata pula, “Agaknya kalian termasuk orang-orang yang tidak mampu mengatasi sirep itu. Karena itu jangan berlagak dihadapanku.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Orang-orang lain yang berada di kedai itu hanya memutar tubuh mereka tanpa menghiraukan apa yang bakal terjadi. Namun justru seorang petugas yang bertubuh raksasa, yang biasanya hanya mengawasi saja, telah mendekati perempuan itu sambil berkata, “Sudahlah.”

Tetapi perempuan itu justru berdiri sambil bertolak pinggang. Dengan lantang ia berkata, “Sejak kapan kau ikut campur dalam persoalan kami? Biarlah kami menyelesaikan urusan kami sendiri.”

“Satu perubahan sikap telah terjadi pada para petugas,” berkata orang bertubuh raksasa itu, “meskipun hanya untuk sementara. Setidak-tidaknya untuk musim perjudian kali ini.”

“Kenapa?” bertanya perempuan itu, “sebaiknya kalian tetap pada sikap kalian.”

“Tanpa orang itu, kau sudah menjadi debu,” berkata penjaga yang bertubuh raksasa itu, “beberapa orang kawanku terbunuh dan beberapa orang pengunjung yang memiliki kemampuan mengatasi ilmu sirep telah terluka. Diantara mereka yang berjuang untuk mengusir perampok itu adalah Kiai Windu. Coba katakan, apa kerjamu semalam? Nah, kau sekarang tahu kenapa aku dan para petugas yang lain mulai berpihak. Tetapi yang aku lakukan juga bagi kebaikanmu, karena jika Kiai Windu marah, kau akan menjadi sasaran yang lunak. Kau tidak melihat bagaimana ia menghancurkan lawan-lawannya semalam.”

Perempuan itu termangu-mangu. Wajah menjadi merah. Sementara itu beberapa orang penjaga yang lain, yang ada pada umumnya bertubuh raksasa telah mendekati mereka.

Namun kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, perempuan itu berlari meninggalkan kedai itu. Sementara kawannya laki-laki telah bergeser pula sambil berkata, “Kau belum tahu siapakah perempuan itu sebenarnya. Ia adalah Rukmi yang disebut pula Burung Sikatan Putih.”

“Disini ada seonggok burung,” kawan Kiai Windu yang menjawab, “ada juga sebangsa Sikatan. Bahkan tidak putih.”

“Kau menghina kami,” geram laki-laki itu.

“Tidak. Justru aku mendengar nama Sikatan Putih, maka aku tahu bahwa orang itu adalah sahabat dari orang-orang dalam gerombolan Macan Ireng,” jawab kawan Kiai Windu, “nama-nama yang sama sekali tidak menggetarkan selembar bulu kulitku.”

Laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun melangkah pergi sambil mengumpat. Ternyata nama Sikatan Putih tidak dapat menakut-nakuti kawan Kiai Windu itu. Bahkan kawan Kiai Windu itupun kemudian berkata, “jadi itulah orang yang disebut Sikatan Putih. Aku pernah melihat prempuan itu disini, dan aku pun pernah mendengar nama Sikatan Putih. Tetapi baru sekarang aku tahu bahwa perempuan itulah yang disebut Sikatan Putih namun yang nampaknya hatinya tidak putih. Bahkan ia lebih baik dipanggil dengan namanya saja. Rukmi.”

“Jadi Sikatan Putih itu termasuk dalam golongan kelompok Macan Ireng?” bertanya seorang penjaga.

Kawan Kiai Windu itu tertawa sambil berkata, “Entahlah. Aku tidak tahu.”

“Tetapi tadi kau mengatakan, bahwa Sikatan Putih itu termasuk dalam gerombolan Macan Ireng,” desak pengawal itu.

“Aku asal saja berkata. Disini ada gerombolan Macan Ireng. Karena itu, aku berkata apa saja untuk menyebut gerombolan itu,” jawab kawan Kiai Windu sambil tertawa.

“Kau memang menghinanya. Laki-laki itu tentu akan bertanya kepada Sikatan Putih, apakah benar ia termasuk dalam gerombolan Macan Ireng,” desis petugas yang bertubuh raksasa itu.

Kawan Kiai Windu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Mereka akan bertengkar. Aku tidak peduli.”

“Gila,” petugas bertubuh raksasa itu pun kemudian sambil tersenyum meninggalkan kawan Kiai Windu yang masih tertawa. Sementara itu Kiai Windu berkata, “Kau memang mencari perkara.”

Kawannya tidak menjawab. Namun orang-orang yang semula tidak menghiraukannya itupun tersenyum-senyum pula.

Demikianlah, maka Kiai Windu dan kawannya telah meninggalkan kedai kecil itu menuju ke kegelapan. Namun masih juga terdengar suara tertawa kawan Kiai Windu tertahan-tahan.

“Sudahlah,” berkata Kiai Windu, “sekarang kita pergi ke kandang kuda. Kita akan melihat kuda-kuda kita serta kemungkinan untuk biasa berhubungan dengan kawan-kawan kita diluar.”

“Apakah mereka ada disini?” bertanya kawan Kiai Windu.

“Aku tidak tahu. Tetapi jika mereka mengetahui bahwa semalam terjadi perampokan disini, mungkin mereka berusaha untuk berhubungan dengan kita,” berkata Kiai Windu.

Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Apa rencana kita kemudian?”

“Menurut pendapat ku, rencana kita tidak akan berubah,” sahut Kiai Windu. Kawannya tidak bertanya lagi. Keduanyapun kemudian menuju kepintu gerbang. Dua orang penjaga yang bertubuh raksasa telah menghentikannya.

Namun dengan cara sebagaimana pernah mereka lakukan, apalagi pengaruh sikap Kiai Windu pada saat tempat itu diserang oleh para penjahat, maka Kiai Windu dan kawannya tidak mengalami kesulitan untuk keluar dari lapisan dinding terakhir, menuju ke kandang kuda.

Kiai Windu memang menarik kudanya keluar dari kandang. Terdengar suara meringkik. Namun kudanya segera menjadi tenang ketika Kiai Windu mengusap lehernya dengan lembut. Namun suara ringkik kuda itu telah memberikan keyakinan kepada para petugas bahwa Kiai Windu benar-benar telah melihat kudanya itu.

Namun dalam pada itu, telah terdengar isyarat dari mulut Kiai Windu. Ia berharap bahwa diluar, kawan-kawannya benar-benar menunggunya.

Ternyata bahwa perhitungan Kiai Windu memang tepat. Diluar, empat orang memang sedang menunggu. Demikian mereka mendengar isyarat dari dalam, maka keempat orang itupun segera mendekati dinding pada lapisan luar.

Dengan mengucapkan beberapa kata sandi, maka kedua belah pihak yakin bahwa mereka telah berhubungan dengan orang yang benar.

Karena itu, maka Kiai Windu pun kemudian telah melekat dinding sambil bertanya, “Apakah kalian mehabawa berita buat kami?”

Yang terdengar-suara di luar, “Kami justru ingin mendapat keterangan, apa yang terjadi didalam. Kami melihat sesuatu itu terjadi. Tetapi kami memerlukan penjelasan.”

Dengan singkat Kiai Windu pun menjelaskan apa yang terjadi didalam. Namun ia tidak lupa mengatakan pula, “Ada dua orang yang berilmu sangat tinggi di lingkungan ini yang menyebut dirinya bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Tetapi keduanya mempunyai sifat dan watak yang khusus. Tidak sebagaimana umumnya orang-orang yang berada di lingkungan ini. Perhatiannya lebih banyak tertuju kepada anak-anak muda yang ada didalam lingkungan perjudian ini.”

“Bagaimana menurut pertimbanganmu atas rencana kita dalam keseluruhan?” bertanya orang yang diluar.

“Menurut pendapatku, rencana itu akan berjalan terus,” jawab Kiai Windu. Lalu, “waktunya dapat disegerakan tanpa menunggu lebih lama lagi. Orang bongkok itu telah memberikan beberapa keterangan lagi.”

“Bagaimana pendapatmu tentang dua orang tua yang berada di luar tempat ini namun yang agaknya memang menaruh perhatian pula pada tempat ini,” bertanya yang diluar.

“Perhatikan mereka. Selama mereka tidak mengganggu gerakan kalian, maka kalian tidak perlu terlalu banyak menanggapi tingkah mereka,” jawab Kiai Windu.

“Merekapun berilmu tinggi,” jawab orang yang diluar.

“Biarlah mereka yang diluar mengatur segala-galanya. Penglihatan kami sangat terbatas disini,” jawab Kiai Windu.

Sesaat keduanya terdiam. Namun kemudian terdengar jawaban dari luar. Baiklah. Besok kami akan datang lagi. Kami akan memberikan keterangan terakhir sehingga kalian dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya.”

Kiai Windu termenung sejenak. Lalu katanya, “Aku harus membuat pertimbangan. Jika aku terlalu sering datang ke kandang kuda ini, mungkin aku akan dicurigai. Tetapi besok datanglah. Aku berusaha untuk berada ditempat ini pada waktu seperti ini.” Kiai Windu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ingat. Ada dua orang yang berilmu sangat tinggi. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatasinya. Selain orang itu, disini ada gerombolan Macan Ireng, Sikatan Putih, dan yang harus mendapat perhatian lebih adalah Orang Hutan berkepala Besi atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan Kepala Besi dari pesisir Utara. Kehadirannya agaknya ada hubungan dengan mendung yang sedang menyelimuti Pajang sekarang ini.”

“Baiklah. Semuanya akan kami laporkan,” berkata orang yang diluar, “gambaran ini akan menentukan sikap kita selanjutnya.”

“Aku kira pembicaraan ini sudah sukup sekarang,” berkata Kiai Windu.

“Kami minta diri,” desis yang diluar.

Sejenak kemudian keadaan menjadi sepi. Kiai Windu masih saja menepuk leher kudanya dengan lembut, sementara kawannya mengawasi keadaan.

“Ada orang datang kemari,” desis kawannya.

“Biar sajalah. Untunglah pembicaraan sudah selesai,” sahut Kiai Windu.

Ternyata yang datang adalah dua orang petugas yang meronda berkeliling lingkungan perjudian itu diantara dua lapis dindingnya. Mereka mengitari lingkungan itu meskipun terasa juga jantungnya berdegup lebih keras jika mereka sampai ke tempat kawan-kawannya dikuburkan.

Kedua orang itu memang memperhatikan Kiai Windu dan kawannya yang sibuk dengan kuda mereka. Dengan nada rendah seorang diantaranya berkata, “Kenapa dengan kuda itu?”

“Sudah sejak kemarin aku tidak melihatnya,” berkata Kiai Windu, “mudah-mudahan kuda ini tidak melupakan aku.”

“Kudamu dipelihara dengan baik,” berkata petugas itu.

“Aku tahu, tetapi justru karena itu, maka kuda ini akan lebih dekat dengan orang yang memeliharanya daripada aku,” sahut Kiai Windu.

Orang itu tertawa. Katanya, “Seharusnya kau berterima kasih.”

Tetapi keduanya tidak menunggu jawaban Kia Windu. Keduanyapun kemudian telah melanjutkan langkah mereka meronda diseputar lingkungan Song Lawa.

Demikianlah, maka Kiai Windu pun telah mengembalikan kudanya kekandang. Beberapa ekor kuda telah meringkik. Namun kemudian mereka telah menjadi tenang kembali.

Sejenak kemudian, Kiai Windu dan kawannyapun telah kembali ke regol. Mereka dengan tanpa dicurigai telah memasuki kembali halaman dalam lingkungan Song Lawa itu dan langsung menuju ke barak permainan dadu.

Ternyata di barak itu permainan masih berlangsung dengan ramainya. Ketika Kiai Windu menemukan kedua orang kawannya, maka seorang diantaranya dengan gembira berdesis, “Aku masih menang sampai saat ini meskipun tidak banyak.”

“Bagus,” sahut Kiai Windu, “sesuatu yang jarang terjadi. Bagaimana dengan kawan kita yang lain?”

“Aku kurang tahu. Tetapi nampaknya wajahnya menjadi gelap,” jawab kawan Kiai Windu itu.

Kiai Windu berpaling kepada kawannya yang seorang, yang berada tidak jauh dari kawannya yang sedang menang itu. Ia pun kemudian bergeser mendekatinya sambil bertanya, “Bagaimana dengan kau?”

“Kalah. Tetapi masih ada uangku untuk bermain terus. Jika sekali-sekali aku menang, maka aku akan dapat mencapai sedikit lewat tengah malam sebelum uangku untuk hari ini habis seluruhnya,” jawab kawannya itu.

Kiai Windu tertawa. Katanya, “bermainlah sampai kau habiskan uangmu yang kau sediakan untuk hari ini. Aku akan pergi ke bilik untuk melihat Wanengpati.”

“Silahkan,” sahut kawannya tanpa berpaling.

Kiai Windu pun segera meninggalkan tempat itu bersama seorang kawannya yang menyertainya pergi ke kandang kuda. Keduanya langsung pergi ke bilik mereka untuk melihat Wanengbaya dan Wanengpati yang ketika mereka tinggalkan masih berada di bilik itu.

Ternyata ketika Kiai Windu sampai ke biliknya, Wanengbaya dan Wanengpati masih tetap berada didalam bilik itu, Wanengbaya masih duduk bersandar dinding sementara Wanengpati telah duduk pula dibibir pembaringan.

Ketika keduanya melihat Kiai Windu dan seorang kawannya masuk, maka mereka pun telah bergeser menepi.

“Marilah,” Sambi Wulung mempersilahkan. Namun ia pun kemudian bertanya, “Dimana kawan-kawan yang lain?”

“Mereka masih bermain dadu,” jawab Kiai Windu, “sebelum uang yang mereka sediakan buat hari ini habis, agaknya mereka masih belum meninggalkan barak itu.”

Sambi Wulung tersenyum. Namun Jati Wulung lah yang bertanya, “Kenapa Kiai sudah tidak lagi bermain dadu?”

“Uangku habis untuk hari ini. Aku masih ingin tinggal disini besok dan lusa. Karena itu, aku tidak menghabiskan uangku. Bahkan besok aku ingin menang di arena panahan agar waktuku disini dapat diperpanjang,” berkata Kiai Windu. Namun kemudian, “tetapi sudah barang tentu tidak dalam satu lingkaran arena dengan kalian berdua atau salah satu diantara kalian.”

“Ada-ada saja kau Kiai,” berkata Sambi Wulung, “tetapi besok kita akan bersama-sama mencoba mencari keberuntungan di lapangan panahan kecuali Wanengpati yang tentu tidak akan mendapat lawan lagi.”

“Besok aku akan melihat saja,” berkata Jati Wulung, “namaku sudah cacat di arena panahan.”

Kiai Windu tertawa. Katanya, “Kau masih juga sempat merajuk. Tetapi sebenarnyalah jika kau turun juga ke arena, maka kau tentu tidak akan mendapat lawan.”

Jati Wulung tidak menjawab. Sambi Wulung lah yang kemudian tersenyum sambil berdesis, “Sudahlah. Aku akan tidur.”

Jati Wulung lah yang kemudian turun dari pembaringan. Ia berjalan beberapa langkah hilir mudik untuk melemaskan kaki-kakinya. Sementara itu Kiai Windu pun berkata, “Aku juga akan tidur.”

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Kiai Windu lah yang telah tertidur nyenyak, sementara Jati Wulung telah pula duduk di pinggir pembaringan bersandar dinding.

Namun dalam pada itu, kedua kawan Kiai Windu yang lainpun telah datang pula. Wajah mereka nampak gembira karena ternyata keduanya tidak menghabiskan uang yang mereka sediakan untuk sehari itu. Bahkan seorang diantara mereka berkata perlahan kepada kawannya yang masih terbangun, “Aku menang malam ini.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Kepada kawannya yang lain ia bertanya, “Bagaimana dengan kau?”

“Aku belum menghitung dengan cermat. Tetapi nampaknya aku juga tidak kalah. Seandainya kalah, tidak terlalu banyak,” jawab kawannya itu.

Sementara itu, ia pun telah membuka kampilnya dan mulai menghitung uangnya. Namun kawannya yang lain tanpa mencuci kaki langsung saja berbaring sambil berkata, “Aku sudah mengantuk sekali.”

Namun Jati Wulung lah yang bertanya, “Apakah di barak permainan judi itu masih banyak orang sekarang ini? “

“Pada saat aku meninggalkan tempat itu, suasananya masih ramai sekali,” jawab kawan Kiai Windu. Lalu ia pun bertanya, “Apakah kau akan kesana?”

“Tidak. Baru besok aku akan turun,” jawab Jati Wulung.

Kawan Kiai Windu itu tidak bertanya lagi. Ketika yang menghitung uangnya itu selesai, maka ia pun telah berbaring pula sambil berkaita, “Aku kalah sedikit. Tetapi tidak seberapa,” lalu katanya kepada kawannya yang menyertai Kiai Windu ke kandang kuda, “Kau sajalah yang berjaga-jaga mengawani Wanengpati. Aku akan tidur.”

Kawannya tidak menyahut. Sementara itu, kedua orang yang baru datang dari permainan dadu itu pun segera tertidur pula.

Yang masih berjaga-jaga adalah Jati Wulung dan seorang kawan Kiai Windu. Namun keduanya pun kemudian saling berdiam diri agar mereka tidak mengganggu orang-orang yang tertidur nyenyak.

Tetapi ternyata sejenak kemudian justru dibilik sebelahlah yang terdengar suara orang berbicara. Bahkan agak riuh sehingga dapat mengganggu orang-orang yang sedang tidur. Suara seorang perempuan pun telah melengking ditelinga, sehingga orang-orang yang tertidur itu pun telah terbangun. Agaknya mereka baru saja datang dari barak permainan judi.

Kawan Kiai Windu yang merasa terganggu tiba-tiba saja mengetuk dinding sambil berkata, “jangan ribut. Kami sedang tidur. Kami sudah mengantuk.”

“Apa peduliku,” tiba-tiba terdengar suara perempuan menjawab, “Jika kau merasa terganggu di Song Lawa, kenapa kalian tidak pergi.”

“Tutup mulutmu,” bentak kawan Kiai Windu. Namun ia pun telah berkata, “Aku masih letih. Semalam aku telah membunuh pemimpin perampok itu sehingga tubuhku sendiri terluka. Jika kalian tidak mau diam, maka aku akan membuat perhitungan dengan caraku. Aku sudah terlanjur menjadi liar disini karena pembunuhan semalam.”

Tiba-tiba saja suara ribut di bilik sebelah berhenti. Mereka baru sadar, bahwa disebelah adalah bilik yang dipergunakan oleh Wanengpati. Tetapi mereka tidak sadar, bahwa yang berbicara itu justru bukan Wanengpati sendiri.

Wanengpati sendiri dengan isyarat telah mencoba menghentikan kawan Kiai Windu itu. Tetapi kawan Kiai Windu yang mengetahui akibat dari kata-katanya telah menahan tertawanya sambil menutup mulutnya dengan tangannya.

Malam pun kemudian menjadi hening. Memang masih terdengar suara di bilik sebelah. Tetapi hanya sekedar berbisik perlahan-lahan.

Dengan demikian, maka malam pun kemudian dilalui dengan tenang sedangkan mereka yang berjaga-jaga di bilik Kiai Windu itu telah bergilir menjelang pagi.

Di hari berikutnya, Kiai Windu telah mencari waktu khusus untuk berbicara diantara ketiga orang kawannya. Adalah kebetulan pada saat Sambi Wulung dan Jati Wulung pergi ke pakiwan.

“Waktu kita sudah terlalu sempit,” berkata Kiai Windu, “Kita harus membuat persiapan-persiapan sebaik-baiknya. Malam nanti aku akan berbicara sekali dengan mereka yang berada di luar lingkungan perjudian ini.

“Kedatangan para perampok kemarin malam justru dapat dijadikan ukuran, seberapa besar kekuatan yang ada di lingkungan ini,” berkata seorang kawan Kiai Windu.

Tetapi Kiai Windu menggeleng. Katanya, “Sebagian besar dari isi padepokan ini telah terkena sirep yang tajam. Karena itu, maka kita tidak dapat melihat kekuatan yang ada dilingkungan ini sepenuhnya.”

“Tetapi setidak-tidaknya kita tahu orang-orang terbaik yang ada disini,” berkata kawan Kiai Windu yang lain, “sedangkan orang yang dengan bangga menyebut dirinya Sikatan Putih itu pun tidak dapat mengatasi tajamnya sirep.”

“Jika pada saat sirep itu datang, orang itu belum tidur, mungkin ia akan dapat melawannya. Tetapi dalam keadaan tidur, kita memang sulit untuk melawannya,” desis Kiai Windu.

Tiba-tiba saja salah seorang dari kawan Kiai Windu itu berkata, “Kenapa kita tidak mempergunakan cara seperti yang telah ditempuh oleh para perampok itu? Dengan sirep?”

Kiai Windu menggeleng. Katanya, “Tidak perlu. Tetapi jika diperlukan, hal itu mungkin dapat dilakukan.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Kiai Windu pun berkata, “Sampai sekarang kita belum tahu, apakah niat Wanengbaya dan Wanengpati yang sesungguhnya sehingga mereka berada ditempat ini. Kita sama sekali tidak dapat memperkirakan apa yang mereka lakukan pada saat-saat yang menentukan itu. Lebih jelas bagi kita, apa yang akan diperbuat oleh Kepala Besi dan orang-orang yang lain. Tetapi perhatian Wanengbaya dan Wanengpati yang sangat besar terhadap anak-anak muda merupakan teka-teki bagi kita.”

Ketiga kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun kesempatan mereka berbicara menjadi semakin sempit. Karena itu, maka Kiai Windu pun berkata, “Untuk sementara, kita anggap keduanya tidak berdiri di pihak kita.”

Ketiga kawannya mengangguk-angguk. Namun hal itu sudah diketahui oleh kawan-kawan mereka diluar lingkungan perjudian itu.

Tetapi Kiai Windu pun berkata, “Sebaliknya orang-orang diluar telah memberitahukan pula kehadiran dua orang tua yang berilmu tinggi. Kita sama sekali tidak tahu, bahkan kawan-kawan kita yang diluar pun tidak tahu, siapakah mereka dan untuk apa mereka berada di sekitar tempat ini.”

Ketiga kawannya masih saja mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak sempat berbicara lebih panjang lagi, karena Wanengbaya dan Wanengpati telah masuk pula ke-dalam bilik mereka.

Yang dilakukan oleh Kiai Windu dan ketiga orang kawannya adalah mandi berganti-ganti. Kemudian bersiap-siap untuk turun ke halaman memilih salah satu arena yang paling baik untuk hari itu.

Namun sebelumnya mereka memasuki arena, maka mereka telah singgah lebih dahulu di kedai sebagaimana biasanya.

Hari itu Sambi Wulung telah turun ke arena panahan bersama Kiai Windu, meskipun mereka tidak berada pada satu lingkaran. Ketiga kawan Kiai Windu ternyata berada di arena sabung ayam, sementara Jati Wulung lebih senang duduk bersandar sebatang pohon di luar arena panahan.

Agaknya Jati Wulung tidak lagi tertarik untuk berada di arena, karena setiap orang tentu akan menyingkir. Ia menyesal, bahwa ia telah dengan berlebih-lebihan menunjukkan kemampuannya hanya karena perasaannya menjadi panas melihat sikap Kepala Besi yang sombong itu. Namun yang bahkan telah membuatnya lebih sombong daripadanya.

Suasana di lingkungan perjudian Song Lawa itu telah pulih kembali. Meskipun masih ada satu dua orang yang belum sembuh benar dari luka-lukanya, namun hampir semua orang telah melupakan bahwa pernah datang sekelompok perampok yang hampir saja memusnakan lingkungan perjudian itu, merampas semua harta benda dan barangkali juga membantai orang-orang yang ada di dalam lingkungan itu tanpa perikemanusiaan.

Jati Wulung yang duduk bersandar pohon itu akhirnya menjadi jemu juga. Sementara itu beberapa orang yang mengitari arena telah bersorak-sorak.

Karena itu, hampir diluar sadarnya Jati Wulung berdiri dan melangkah mendekati arena. Dalam pengamatan sekilas ia melihat, bahwa Sambi Wulung akan mendapat kemenangan dari panahan itu meskipun sebagaimana selalu dilakukannya, tidak menarik perhatian orang lain.

Kiai Windu pun agaknya serba sedikit mendapat kemenangan juga sehingga ia akan dapat memperpanjang kehadirannya di Song Lawa itu.

Namun sebagaimana Kiai Windu bimbang menilai Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Jati Wulung pun bimbang pula menilai Kiai Windu. Meskipun kadanga-kadang sikap Kiai Windu kasar sebagaimana orang-orang lain yang berada di Song Lawa, namun agaknya itu bukannya sikapnya sehari-hari.

Ketika Jati Wulung bergeser, maka dilihatnya beberapa orang yang memang memiliki kemampuan memanah. Tetapi ia tidak melihat Kepala Besi ada di arena panahan. Sebagaimana Jati Wulung, maka Kepala Besi tentu sulit juga untuk mendapat lawan karena kemampuan bidiknya yang tinggi meskipun tidak setinggi Jati Wulung.

Jati Wulung yang kemudian bergeser ke arena sabung ayam dan ke barak permainan dadu, ternyata belum tertarik untuk ikut serta, ia hanya berjalan saja menyusuri lingkaran-lingkaran perjudian sambil melihat-lihat. Di arena sabung ayam ia melihat ketiga kawan Kiai Windu tenggelam dalam kericuhan mereka yang menaruh uangnya dalam pertaruhan yang sengit.

Hari itu berjalan sebagaimana hari-hari yang lain tanpa peristiwa yang menarik bagi Jati Wulung dan Sambi Wulung. Ketika Sambi Wulung meninggalkan arena panahan, Jati Wulung telah berada di pinggir lapangan. Berdua mereka sempat berbicara dengan Puguh tentang perkembangan permainan mereka. Agaknya Puguh telah kalah dibeberapa lingkaran permainan sehingga lebih dari separo uang yang dibawanya telah dihabiskannya.

“Hati-hatilah,” pesan Sambi Wulung, “jangan terlalu bernafsu.”

Tetapi Puguh tertawa. Katanya, “Aku membawa pendok keris dari emas dan timang emas tretes berlian. Bukankah dengan barang-barang itu aku dapat memperpanjang kehadiranku disini?”

“Tetapi bagaimana sikap ayah dan ibumu jika kau pulang tanpa barang-barang berharga itu?” bertanya Jati Wulung.

“Persetan dengan ayah dan ibu,” jawab Puguh, “tetapi mereka pun menyadari, bahwa barang-barang yang aku bawa itu agaknya tidak akan kembali lagi.”

“Jika kau lakukan setiap musim perjudian seperti itu, apakah harta benda orang tuamu tidak akan habis?” bertanya Sambi Wulung.

“Tidak. Barang-barang mereka tidak akan habis,” jawab Puguh hampir diluar sadarnya. Namun tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah. Katanya dengan serta merta, “Maksudku, ayah dan ibu adalah orang yang sangat kaya. Aku adalah anak satu-satunya. Buat apa mereka menyimpan harta benda itu jika tidak mereka berikan kepadaku untuk kesenanganku.”

“Tetapi bukankah ada kesenangan yang lain yang lebih berarti daripada lingkungan perjudian di Song Lawa ini?” bertanya Jati Wulung.

“Apa bedanya? Dan bukankah disini banyak juga terdapat anak-anak muda? Wikrama, anak yang gemuk dan tidak tahu diri itu. Kemudian anak-anak muda yang lain yang barangkali orang tuanya tidak sekaya ayah dan ibuku,” jawab Puguh.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara Sambi Wulung pun tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Puguh memang tidak begitu senang jika pembicaraan mereka sampai kepada keluarganya.

Namun sejauh itu, dalam pembicaraan-pembicaraan yang kadang-kadang panjang diselingi kelakar yang mengundang senyum dan bahkan tertawa, Jati Wulung dan Sambi wulung belum berhasil mengetahui dimanakah tempat tinggal Puguh atau kedua orang yang dianggap orang tuanya, atau siapa saja yang dapat memberikan petunjuk lebih jauh tentang anak muda itu. Justru untuk itulah keduanya telah berada di lingkungan perjudian Song Lawa.

Tetapi menurut perhitungan Jati Wulung dan Sambi Wulung, mereka masih mempunyai waktu yang cukup untuk melakukannya. Agaknya Puguh pun masih akan berada di tempat itu untuk waktu yang agak lama. Apalagi nampaknya Puguh yang mengagumi Jati Wulung itu akan lebih mudah diajak memasuki pembicaraan. Asal saja mereka sempat memancing tanpa menimbulkan kecurigaan, akhirnya mereka akan dapat mengetahui serba sedikit tentang keadaan dan latar belakang kehidupan keluarganya. Yang terpenting bagi Jati Wulung dan Sambi Wulung adalah mengetahui tempat tinggal atau padepokan atau apapun juga bagi Puguh sehingga untuk waktu-waktu yang akan datang, mereka akan dapat selalu mengawasinya.

Bagaimanapun juga, Puguh masih mungkin digerakkan oleh ibunya untuk mencapai satu tujuan yang tidak wajar atas Tanah Perdikan Sembojan.

Namun ketika Jati Wulung dan Sambi Wulung telah bergaul beberapa lama dengan anak itu, ternyata mereka harus mengakui bahwa anak muda yang bernama Puguh itu memang memiliki ilmu yang mulai mapan, sehingga perlu diperhitungkan tingkat kemampuan ilmu Risang yang pada suatu saat mungkin akan dapat bertemu sebagai lawan dalam perebutan Tanah Perdikan Sembojan.

Namun satu lagi yang menarik perhatian Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah, bahwa Puguh ternyata bukan seorang anak muda yang biadab dan bahkan liar sebagaimana mereka bayangkan sebelumnya.

Ketika kemudian malam turun, maka yang menjadi sangat ramai adalah barak permainan dadu. Hampir semua orang berkumpul ditempat itu karena arena permainan yang lain terhenti di waktu malam. Tidak ada panahan dan tidak ada sabung ayam.

Jati Wulung dan Sambi Wulung bersama Kiai Windu dan ketika kawannya telah berada pula di barak itu. Karena Jati Wulung tidak dapat ikut dalam permainan panahan, maka malam itu ia telah turun dalam permainan dadu. Sambi Wulung lah yang kemudian menonton saja disebelahnya.

Dalam pada itu, sementara tempat permainan itu menjadi sangat ramai, Kiai Windu dan seorang kawannya telah keluar dari barak itu. Ia telah berjanji dengan sekelompok kawannya diluar lingkungan untuk menemuinya didekat kandang kuda.

Ketika mereka melintasi halaman, mereka sempat melihat dua orang yang agaknya telah berkelahi. Tetapi seperti kebiasaan di song Lawa, keduanya hanya berpaling saja, memperhatikan sejenak, namun kemudian mereka-pun elah melangkah terus.

Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka melihat seorang perempuan dengan tergesa-gesa mendekati kedua orang yang bertempur itu. Dengan lantang perempuan itu menggeser salah seorang laki-laki yang bertempur sambil berkata, “Soalnya adalah antara orang itu dan aku. bukan kau.”

“Tetapi aku tidak tahan mendengar orang itu menghina namamu,” jawab laki-laki itu, “kau dikatakannya pernah menipunya setelah kau merayu laki-laki itu.”

“Karena itu, biarlah aku menghadapinya,” jawab perempuan itu.

Ketika Kiai Windu melangkah meninggalkan tempat itu, kawannya menggamitnya sambil berdesis, “Lihat, bukankah perempuan itu yang disebut Burung Sikatan Putih.”

Kiai Windu mengerutkan keningnya. Katanya, “O, Ya. Sikatan Putih.”

“Kita melihat, apa yang dapat dilakukan,” berkata kawan Kiai Windu, “agaknya perempuan itu terlalu garang.”

Ternyata bahwa Kiai Windu pun tidak melangkah terus. Ia masih sempat memperhatikan Sikatan Putih itu dengan garang menyergap lawannya yang berkata, “Kawanmu itu telah memfitnahku. Tetapi jika kau langsung mempercayainya, maka apaboleh buat.”

“Jangan banyak bicara,” bentak Sikatan Putih yang sebenarnya bernama Rukmi itu. Dengan tangkasnya ia menyerang semakin cepat. Kakinya yang terhitung kecil itu mampu bergerak cepat sekali. Meloncat, melenting dan kemudian menyambar lawannya dengan tangan yang mengembang.

Kawan Kiai Windu tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “perempuan itu memang pantas disebut Sikatan Putih.”

“Mungkin ia pantas disebut Sikatan, tetapi tidak putih,” sahut Kiai Windu.

Kawannya tidak menjawab, ia melihat perkelahian itu menjadi semakin cepat. Sekali-sekali perempuan itu berloncatan mengitari lawannya. Namun tiba-tiba bagaikan menukik menyambar. Memang kadang-kadang sangat mengejutkan.

“Benar-benar seperti Sikatan menyambar bilalang,” berkata Kawan Kiai Windu.

“Bilalang yang dungu,” berkata Kiai Windu. Lalu, “Marilah. Kita mempunyai tugas sendiri.”

“Sebentar. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya atas laki-laki itu,” jawab kawannya yang masih belum mau beranjak dari tempatnya. Meskipun jarang sekali terjadi bahwa seseorang menaruh perhatian begitu besar terhadap perkelahian, namun karena yang berkelahi adalah Sikatan Putih, maka ternyata ada juga beberapa orang yang melihatnya meskipun dari jarak yang agak panjang.

Ternyata bahwa Sikatan Putih itu benar-benar seorang perempuan yang luar biasa. Ia memiliki beberapa kelebihan dari lawannya meskipun lawannya seorang laki-laki. Sikatan Putih mampu bergerak jauh lebih cepat dari lawannya. Agaknya ia memang mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Agaknya ia memang bertumpu pada kecepatan geraknya itulah, sehingga ia mampu memiliki nama yang besar sebagai Sikatan Putih.

“Marilah “ ajak Kiai Windu.

“Sebentar Kiai. Aku ingin melihat Sikatan Putih itu mengakhiri pertempuran. Apa yang akan dilakukan atas lawannya jika ia sudah memenangkannya,” berkata kawan Kiai Windu.

“Aku tidak tahu kenapa ia disebut Sikatan Putih. Coba apakah kau tahu, yang putih itu apanya? Sikapnya? Hatinya? Pakaiannya atau barangkali rambutnya yang mulai ubanan?” desis Kiai Windu.

Kawannya tidak menyahut. Namun ia melihat beberapa kali Sikatan Putih itu mampu mengenai tubuh lawannya dengan serangan-serangannya yang cepat dan keras, sehingga sekali-sekali lawannya itu terdorong surut.

Namun Kiai Windu pun kemudian menjadi berdebar-debar ketika tiba-tiba saja lawan Sikatan Putih itu telah mencabut senjatanya, sehelai pedang yang tidak terlalu panjang.

Kawan Kiai Windu pun menjadi tegang. Bahkan hampir diluar sadarnya ia berkata, “Pedang itu dapat membahayakan dirinya sendiri. Jika Sikatan Putih itu manarik goloknya, maka kemungkinan yang lebih buruk dapat terjadi atas dirinya. Tanpa senjata ia akan dapat dikalahkan, bahkan mungkin wajahnya akan menjadi merah biru. Tetapi dengan senjata, bahkan nyawanya akan dapat melayang jika golok perempuan itu menembus jantungnya.”

“Marilah,” ajak Kiai Windu, “kau tahu, aku berjanji untuk menemui mereka sekarang.”

“Waktunya belum sampai Kiai. Bukankah Kiai kemarin mengatakan, waktunya sama dengan kemarin? Dan sekarang bukankah masih terlalu sore?” jawab kawannya.

Kiai Windu hanya menarik nafas. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia ingin juga melihat akhir dari perkelahian itu.

Yang diduga oleh Kiai Windu dan kawannya memang terjadi. Ketika laki-laki itu mempergunakan pedangnya, maka Sikatan Putih itu pun nampaknya menjadi semakin marah. Karena itu, maka ia pun telah menarik goloknya pula.

Pertempuran itu pun kemudian memang menjadi semakin seru. Dengan senjata di tangan, masih juga jelas bahwa Sikatan Putih memiliki kelebihan pula dari lawannya. Goloknya berputar semakin lama semakin cepat sehingga lawannya menjadi bingung karenanya Bahkan dalam pertempuran yang semakin cepat, ujung golok Sikatan Putih itu mulai menyentuh tubuh lawannya.

Terdengar laki-laki itu mengumpat. Namun ia memang tidak dapat berbuat terlalu banyak.

Jika kemudian banyak pula orang yang menyaksikan pertempuran itu, bukannya karena mereka ingin mencampuri persoalan yang terjadi antara mereka yang sedang berkelahi. Tetapi mereka mulai tertarik melihat kedua orang yang memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi itu. Bahkan beberapa orang petugas yang pada umumnya bertubuh raksasa itu telah ikut melihat pertempuran itu pula karena mereka tertarik pada permainan ilmu pedang mereka. Namun sebegitu jauh, masih belum ada seorang-pun yang ikut campur. Bahkan laki-laki yang semula bertempur dan digantikan oleh Sikatan Putih itupun sama sakali tidak berbuat sesuatu.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka beberapa luka telah tergores di tubuh laki-laki itu. Bahkan ketika kekuatannya mulai melemah, ia menjadi semakin terdesak. Beberapa kali laki-laki itu bagaikan kehilangan keseimbangan. Yang dapat dilakukannya kemudian adalah meloncat untuk mendapatkan jarak dari lawannya. Dengan tergesa-gesa ia berusaha untuk memantapkan keseimbangannya kembali.

Namun Sikatan Putih ternyata mampu mengatasinya. Disaat-saat yang gawat, Sikatan Putih telah memburunya. Dalam benturan senjata yang keras, laki-laki yang semakin lemah itu tidak mampu lagi mempertahankan senjatanya, sehingga senjatanya telah terlempar.

Ada usaha untuk memungut senjata itu. Tetapi ketika tangannya hampir meraih tangkai pedangnya ditanah, tiba-tiba telapak tangannya telah terinjak oleh kaki yang berjari-jari kecil dan runcing. Kaki Burung Sikatan Putih.

Laki-laki yang malang itu terkejut. Ketika ia berpaling, maka ujung golok perempuan yang disebut Sikatan Putih itu telah melekat dipangkal lehernya.

Ketika ujung golok itu menekan lehernya lebih keras, maka laki-laki itu telah menjatuhkan diri dan berbaring di tanah.

“Aku dapat membunuhmu sekarang,” berkata Sikatan Putih, “tidak ada seorang pun yang dapat mencegah. Di tempat ini tidak ada paugeran yang harus ditaati dalam hubungan antara manusia.”

“Bunuh aku,” geram laki-laki itu.

“Kau telah menghina aku. Kau kira aku dapat kau perlakukan seperti itu?” geram Rukmi yang disebut Sikatan Putih.

“Aku tidak pernah menghinamu. Laki-laki itu telah mengfitnahku. Tetapi aku sekali-sekali tidak menginginkan belas kasihanmu. Aku siap untuk mati. Apalagi aku merasa tidak bersalah. Kematian bukan apa-apa bagiku. Agaknya itu lebih baik daripada aku harus membunuh diri dibilik kecil itu, karena aku sudah kehabisan uang di hari-hari permulaan seperti ini,” sahut laki-laki itu.

“Kau tinggal menekan golokmu,” berkata laki-laki yang semula bertempur dengan orang yang telah dikalahkan oleh Sikatan Putih itu. Lalu, “Ia akan mati. Lehernya tentu akan terputus oleh gerakan yang kecil saja.”

“Diam kau,” perempuan itu membentak.

Suaranya menjadi tegang. Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itupun menjadi tegang pula. Orang-orang yang biasanya tidak menghiraukan orang lain, nampaknya semakin tertarik melihat sikap perempuan yang garang itu.

Kiai Windu ternyata juga menunggu. Apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu. Beberapa orang petugas yang bertubuh raksasapun telah bergeser mendekat. Perempuan itu jika membunuh dan membiarkan korbannya terkapar, harus membayar ongkos penguburannya, yang kemudian akan dilakukan oleh para petugas.

Mereka yang membunuh harus membiayai penguburannya, kecuali mereka yang membunuh diri. Hal itu sudah diketahui oleh orang-orang yang berada di Song Lawa itu.

Beberapa saat perempuan yang meletakkan ujung coloknya di leher laki-laki itu termangu-mangu. Namun, liba-tiba ia mengangkat goloknya sambil berkata, “Aku tidak sampai hati membunuhmu, betapapun aku marah kepadamu. Kita pernah berhubungan dengan akrab. Dan kita pernah saling jatuh cinta. Tetapi jika sekali lagi kau menghinaku, maka aku benar-benar akan membunuhmu.”

“Bunuh aku sekarang,” geram laki-laki itu, “sudah aku katakan, bahwa aku tidak pernah menghinamu. Aku hanya mengatakan satu kebenaran, sama sekali tidak untuk dibelas kasihani.”

Sikatan itu merenung sejenak. Ia pun kemudian berpaling kepada laki-laki yang semula bertempur sebelumnya. Namun ia pun telah berlari meninggalkan tempat itu sambil memasukkan goloknya kedalam sarungnya.

Laki-laki itu memburunya sambil memanggil namanya. Tetapi Rukmi itu tidak berhenti. Sedangkan laki-laki yang telah dilukainya itupun telah bangkit. Dipungutnya pedangnya dan disarungkannya.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Kawannya tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Sikatan itu mempunyai kegemaran berlari jika ia pergi. Kemarin ketika ia mengumpati aku, ia pun pergi sambi berlari.”

“Kau sudah melihat kemampuannya,” berkata Kiai Windu.

“Ya. Tetapi agaknya ia termasuk seseorang perempuan yang mudah jatuh cinta,” berkata kawan Kiai Windu itu.

“Mungkin. Tetapi agaknya laki-laki yang mengikutinya itulah yang telah mengadu Sikatan Putih dengan laki-laki yang dikalahkannya itu karena cemburu.” berkata Kiai Windu.

“Lingkungan ini benar-benar merupakan sarang iblis. Laki-laki atau perempuan sama saja,” geram kawannya.

“Termasuk kita,” berkata Kiai Windu pula.

Kawannya tidak menjawab. Namun ketika Kiai Windu melangkah meninggalkan tempat itu, kawannya mengikutinya.

Dalam pada itu, Kiai Windu itu masih berkata pula, “Dengan melihat perkelahian ini, maka kau harus memperhitungkan segala kemungkinan jika kau dekat dengannya.”

“Bagaimana menurut perhitungan Kiai? Kiai mengetahui dengan pasti kemampuanku. Kiai pun telah melihat kemampuan perempuan itu,” desis kawan Kiai Windu.

Kiai Windu tidak menjawab. Tetapi iapun tertawa. Bahkan kemudian katanya, “Sudahlah. Sekarang, apa yang akan kita katakan kepada penjaga regol? Seperti kemarin?”

“Ya. Kita tidak mempunyai cara lain,” jawab kawannya.

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan mereka tidak mencurigai kami,” berkata Kiai Windu pula.

Ketika Kiai Windu mendekati penjaga yang berada di regol pada lapisan yang dalam itu, ternyata yang bertugas bukan orang yang kemarin. Karena itu, maka iapun telah menarik nafas dalam-dalam. Kepada kawannya ia berbisik, “Syukurlah, bahwa petugasnya sudah berganti. Mereka tentu tidak akan mencurigai kami.”

Ternyata petugas itupun telah mengenal Kiai Windu pula. Karena itu, maka ia tidak mengalami kesulitan untuk pergi ke kandang kuda.

Seperti yang dijanjikan, maka kawan-kawan Kiai Windu telah menunggu diluar. Ketika Kiai Windu memberikan isyarat dan mengucapkan kata-kata sandi, kawannya yang berada diluar dinding dilapis yang luar itu-pun berkata, “Aku sudah menunggu terlalu lama.”

“Maaf, ada peristiwa yang menarik untuk ditonton,” desis Kiai Windu. Lalu, “Nah, apa pesan terakhir?”

“Kami sudah siap. Kami tinggal menunggu perkiraan kekuatan yang ada didalam lingkungan ini. Para penjaga dan orang-orang yang menurut penilaian Kiai akan terlibat,” berkata orang yang diluar.

Kiai Windu pun kemudian telah memberikan keterangan terperinci menurut hasil pengamatannya selama ia berada di Song Lawa. Ia pun telah memberikan gambaran orang-orang terkuat atas dasar pertimbangan, mereka yang mampu mengatasi sirep. Tetapi Kiai Windu pun memberikan pertimbangan-pertimbangan lain, agar kawan-kawannya yang berada diluar tidak mempunyai penilaian yang salah yang akan dapat menjerumuskan mereka dalam kesulitan.”

Namun dalam pada itu, Kiai Windu pun bertanya, “Bagaimana dengan kedua orang tua itu?”

“Ada orang-orang khusus yang ditunjuk untuk menjinakkan mereka,” jawab orang yang diluar.

“Cara apa yang dipergunakan?” bertanya Kiai Windu.

“Cara terakhir, kekerasan. Tetapi akan ditempuh kemungkinan cara yang lain,” jawab orang yang diluar.

“Baiklah. Bukankah kami yang didalam masih mempunyai waktu dua malam dan sehari besok?” bertanya Kiai Windu.

“Ya. Kalian harus membuat persiapan-persiapan yang matang. Diluar, medan telah kami kuasai dengan baik. Tidak ada yang perlu dicemaskan,” jawab kawannya yang diluar.

“Baiklah. Kuasai dua orang tua itu. Aku akan membayangi dua orang yang berilmu sangat tinggi yang ada didalam dan Kepala Besi dari pesisir Utara, meskipun jelas kami tidak akan mampu menguasai mereka.”

“Mereka sudah termasuk perhitungan kami,” jawab yang diluar.

Demikianlah, maka Kiai Windu pun telah meninggalkan kandang setelah pesan-pesan terakhir diberikan, baik dari dalam maupun dari luar. Mereka tidak akan berhubungan lagi, kecuali jika ada persoalan yang sangat gawat.

Sementara itu, untuk tidak memberikan kesan apapun yang akan terjadi kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang belum dikenal dengan pasti oleh Kiai Windu, maka ia pun menepati janjinya. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang dihormati di lingkungan perjudian Song Lawa itu telah mendapatkan pula pertanda sebagai anggota dari sekelompok orang yang memanfaatkan Song Lawa bagi kesenangan mereka yang kadang-kadang dapat merenggut nyawa itu.

Kepada para petugas Kiai Windu mengingatkan bahwa Wanengbaya dan Wanengpati telah menunjukkan sumbangannya yang besar bagi lingkungan Song Lawa.

Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata kemudian merasa senang pula dengan pertanda itu. Keduanya yang sedang berada di barak permainan dadu telah dipanggil oleh seorang yang bertugas ke barak khusus bagi mereka yang mengatur segala sesuatu di Song Lawa.

Mula-mula Sambi Wulung dan Jati Wulung memang merasa heran. Tetapi mereka pun telah pergi juga ke tempat itu. Ketika mereka melihat Kiai Windu telah berada di tempat itu, maka keduanya memang menjadi berdebar-debar. Namun ketika mereka mengetahui bahwa Kiai Windu berada ditempat itu untuk kepentingan mereka, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah mengucapkan terima kasih pula kepada mereka.

“Pada musim judi yang lain, kau berdua dapat datang tanpa tanggungan siapapun,” berkata Kiai Windu, “kini kalian masih menjadi tanggung jawabku. Namun seperti yang dijanjikan, apa lagi setelah kalian menunjukkan bukti kesetiakawanan disini, maka pertanda itu diberikan kepada kalian.”

“Terima kasih,” berkata Sambi Wulung sambil menimang pertanda itu. Demikian pula Jati Wulung.

“Sekarang silahkan kembali ke barak permainan dadu itu,” seorang petugas yang telah memberikan pertanda itu mempersilahkan. Bahkan katanya, “Kami tidak melakukan upacara pada penyerahan pertanda seperti itu. Biasanya juga tidak.”

“Itu tidak perlu,” berkata Jati Wulung, “yang penting bagi kami adalah, bahwa kami akan menjadi keluarga dari lingkungan ini. Kami tidak lagi selalu diamat-amati dan setiap kami ingin masuk atau keluar dari tempat ini, kami dapat dengan bebas melakukannya.”

Demikianlah keduanya pun telah kembali ke barak permainan dadu. Dengan pertanda itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung merasa telah diyakinkan, bahwa akhirnya mereka akan dapat mengetahui lebih banyak tentang Puguh. Jika tidak di musim perjudian saat itu, maka dimusim yang akan datang. Dengan pertanda itu, maka tidak ada lagi kesulitan bagi keduanya untuk memasuki tempat itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Windu telah berpikir lain. Bahkan kepada seorang kawannya yang menyertainya ia berdesis, “Sayang. Mereka tidak akan mempergunakannya.”

Kawan Kiai Windu hanya mengangguk-angguk saja.

Dalam pada itu, maka Kiai Windu pun telah meninggalkan barak khusus itu pula. Namun mereka memang tertegun ketika mereka berpapasan dengari orang yang agak bongkok yang sudah dikenalinya sebagai seorang yang menyandang tugas sandi diluar Song Lawa, datang menghadap para pemimpin lingkungan Song Lawa itu justru dengan tergesa-gesa.

Kiai Windu yang menggamit kawannya berdesis, “Apalagi yang dilakukan oleh si Bongkok itu?”

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Windu berkata, “Kita kembali ke barak itu.”

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya kawannya.

“Untung-untungan,” jawab Kiai Windu.

“Semua rencana sudah tersusun. Kita tidak dapat bekerja untung-untungan,” jawab kawannya.

“Hanya dalam masalah ini. Apakah kita akan dapat mendengar sesuatu atau tidak,” jawab Kiai Windu.

Kawannya tidak membantah, ia pun kemudian mengikuti Kiai Windu kembali ke barak itu.

Tanpa merasa bersalah keduanya begitu saja memasuki ruangan para pemimpin lingkungan Song Lawa itu. Seakan-akan mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi didalamnya. Dengan sikap yang wajar mereka tiba-tiba saja telah berdiri di pintu ruangan itu.

Orang-orang yang agaknya memang sedang berbincang dengan sungguh-sungguh itu terkejut. Seorang diantara mereka dengan menahan diri melangkah mendekati Kiai Windu yang nampak termangu-mangu.

“Maaf, apakah sedang ada pembicaraan penting disini?” bertanya Kiai Windu.

“Tidak Ki Sanak,” jawab orang yang melangkah mendekat itu, “tetapi kenapa Ki Sanak kembali? Bukankah yang kau inginkan sudah diberikan kepada kedua orang itu?”

“Benar,” jawab Kiai Windu, “aku hanya ingin bertanya, apakah pada kesempatan lain aku di ijinkan membawa beberapa orang kawanku lagi memasuki ling kungan ini?”

“O, kenapa tidak,” jawab orang yang mendekatinya itu. Ia telah memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Silahkan. Tetapi dengan tanggung jawab yang berat. Jika orang dibawah tanggungan itu melakukan kesalahan disini yang dapat merugikan seluruh lingkungan, maka Ki Sanak lah yang harus mempertanggung jawabkannya.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berkata, “Maaf jika kami mengganggu. Kami tidak tahu, bahwa agaknya ada persoalan yang penting.”

“Tidak apa-apa Ki Sanak,” jawab orang itu.

Kiai Windu pun kemudian meninggalkan tempat itu. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku sempat mendengar orang bongkok itu menyebut sekelompok orang. Tentu kawan-kawan kamilah yang dimaksud.”

“Mungkin,” berkata kawan Kiai Windu, “memang tidak mustahil bahwa satu dua orang petugas yang mengawasi bagian luar dari Song Lawa ini melihat sekelompok orang yang memang berada disekitar tempat ini.”

“Kau tahu, bahwa kita tidak menghendaki itu,” desis Kiai Windu.

“Ya,” jawab kawannya, “tetapi sulit untuk menyembunyikan sekelompok orang disekitar lingkungan ini. Jika yang terjadi sebagaimana dilakukan para perampok itu, maka memang tidak akan banyak persoalan yang timbul.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, “Rasa-rasanya waktu yang tersisa itu menjadi sangat panjang. Dalam waktu sehari semalam serta ujung malam ini ada seribu kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Kemungkinan yang sangat gawat sekalipun,” desis kawannya.

“Tetapi agaknya tugas kita untuk mengatasinya disini,” berkata Kiai Windu kemudian.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah, “Sulit untuk mengatasi dua orang yang berilmu tinggi itu.”

“Wanengbaya dan Wanengpati maksudmu?” berunya Kiai Windu.

“Ya,” jawab kawannya.

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, “Bahkan mungkin mereka masih menyimpan ilmu jauh lebih tinggi lari yang diperlihatkan. Apalagi Wanengbaya yang nampaknya lebih dapat mengendalikan diri. Aku tidak percaya bahwa kemampuan memanah Wanengbaya tidak setajam kemampuan Wanengpati. Demikian pula dalam perkelahian dengan para perampok. Nampaknya Wanengbaya sengaja menyembunyikan kemampuannya. Bahkan menurut perhitunganku, Wanengpati pun masih belum sampai kepuncak kemampuannya. Baik ketika ia berkelahi melawan Kepala Besi, maupun dengan pemimpin perampok itu. Bahkan ia membiarkan dirinya terluka, karena ia tahu luka itu tidak berbahaya sama sekali bagi dirinya.”

Kawannya mengangguk-angguk pula. Katanya, “Satu kerja yang berat.”

“Itu kita sudah tahu sebelumnya,” jawab Kiai Windu.

Keduanya pun kemudian terdiam ketika mereka mendekati barak permainan dadu. Ketika mereka masuk kedalamnya, dilihatnya kedua orang kawannya masih juga sibuk bermain. Demikian pula Jati Wulung yang sudah kembali ke permainan dadunya. Nampaknya mereka masih mempunyai persediaan uang cukup untuk hari itu.

Ketika Kiai Windu mendekati seorang diantara kedua kawannya itu, maka kawannya itupun bertanya, “Kemana Kiai selama ini?”

Kiai Windu berdesis ditelinganya, “pertanyaan yang bodoh.”

“O, maaf,” gumam kawannya.

Namun yang bertanya kemudian adalah Kiai Windu, “Bagaimana dengan kau?”

“Separuh uangku aku sediakan untuk hari ini telah habis. Tetapi masih ada kemungkinan untuk menang,” jawabnya.

Kiai Windu pun bergeser ke kawannya yang seorang lagi. Namun agaknya kawannya yang satu ini lebih beruntung. Katanya, “Aku belum kalah malam ini meskipun agaknya juga tidak menang.”

Kiai Windu tertawa. Sambil menepuk bahu kawannya ia pun kemudian bergeser pula mendekati Jati Wulung yang duduk hampir diujung. Sedangkan Sambi Wulung berdiri di belakangnya.

Ketika Kiai Windu mendekatinya Sambi Wulung telah bersungut sebelum mendapat pertanyaan, “Semula Wanengpati menang. Tetapi setelah kami dipanggil ke barak khusus itu dan kemudian kembali lagi, ia justru menjadi kalah.”

Kiai Windu tertawa. Katanya, “Bukan salahku. Bukankah disana kau mendapat sesuatu yang-berarti bagimu.”

“Ya,” jawab Sambi Wulung. Tetapi kemudian katanya, “Wanengpati telah hampir kehabisan uang.”

“Apakah ia memerlukan bantuan?” bertanya Kiai Windu.

“Tidak. Siapa tahu disaat-saat terakhir ia menang.” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu masih saja tertawa. Katanya, “Kalian dapat mencobanya. Tetapi Wanengpati sudah tidak lagi dapat memungut uang dari arena panahan. Meskipun demikian kau dapat melakukannya. Sedikit demi sedikit, ternyata kau menang cukup banyak di arena panahan.”

Sambi Wulung tidak menyahut. Tetapi ia mulai memperhatikan lagi permainan Jati Wulung. Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam ketika uang Jati Wulung yang dipasang telah di ambil pula oleh petugas karena ternyata Jati Wulung telah kalah lagi.

Kiai Windu pun menjadi tegang pula menyaksikan permainan itu.

Namun di putaran berikutnya, ternyata Jati Wulung telah menang dan mendapat sebagian dari uangnya kembali.

Kiai Windu sendiri malam itu tidak ikut bertaruh dalam permainan dadu itu. Tetapi ia menunggui sampai saatnya Jati Wulung bangkit sambil menekan lambungnya. Sambil menggeliat ia berdesis, “Uangku habis.”

“Apakah kau masih berminat?” bertanya Kiai Windu. “Barangkali aku juga membawa uang meskipun tidak seberapa.”

“Tidak,” jati Wulung menggeleng, “akupun telah menyediakan takaran untuk sehari seperti beberapa orang lain. Jika takaran itu habis, maka aku akan berhenti untuk hari ini.”

Dengan demikian, maka Sambi Wulung, Jati Wulung dan Kiai Windu serta kawan-kawannyapun telah mengakhiri permainan. Malam memang telah larut. Meskipun masih banyak orang yang tetap berada di permainan dadu yang akan berlangsung sampai menjelang pagi.

Seorang kawan Kiai Windu memang kalah. Tetapi seorang yang lain ternyata malam itu memenangkan permainan.

Namun ketika kemudian mereka sudah berada dibilik dan sebagian dari mereka telah tertidur, Kiai Windu yang duduk bersandar dinding merasa bahwa sisa malam itu agaknya masih terlalu panjang. Apalagi ia masih harus menunggu sehari dan semalam lagi. Sementara itu orang yang bongkok itu telah mondar-mandir menghubungi para pemimpin dari Song Lawa itu.

Menjelang matahari terbit, Kiai Windu sempat pula tidur sejenak ketika kawan-kawannya justru telah bangun. Satu demi satu kawan-kawan Kiai Windu telah pergi ke pakiwan. Namun agaknya yang ingin mempergunakan pakiwan itu terlalu banyak, meskipun di beberapa tempat yang lain telah disediakan pula. Agaknya karena banyak orang yang berkeliaran disekitar pakiwan itu, maka perempuan-perempuan yang ada didalamnya cenderung menduga, bahwa ada laki-laki yang sedang mengintipnya. Karena itu, maka ada diantara mereka yang tiba-tiba saja marah tanpa sebab.

Kawan Kiai Windu yang pernah mengalami sebagaimana pernah dialami oleh Jati Wulung berusaha untuk tidak mendekat jika yang ada didalamnya adalah seorang perempuan, agar mereka tidak diumpatinya lagi.

Ketika matahari mulai naik, maka Kiai Windu yang bangun terakhir pun telah siap pula. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Seperti biasanya maka mereka telah pergi ke kedai lebih dahulu sebelum mereka turun ke arena yang mereka pilih.

Ternyata hari itu Kiai Windu telah menyebar kawan-kawannya. Ketiga orang itu harus berada ditempat yang berbeda untuk membuat pengamatan terakhir. Bahkan seorang diantara mereka ditugaskan untuk mengamati tingkah laku Sambi Wulung dan Jati Wulung. Apakah ada perubahan atau mereka berbuat sebagaimana mereka lakukan sehari-hari.

“Keduanya banyak berhubungan dengan anak-anak muda,” jawab salah seorang kawan Kiai Windu.

“Jika itu yang dilakukan, maka ia berbuat wajar sebagaimana dilakukan sejak ia memasuki lingkungan ini,” berkata Kiai Windu.

“Tetapi perhatian mereka yang terbesar setuju kepada anak muda yang bernama Puguh itu,” berkata kawannya pula.

“Itu pun wajar,” desis Kiai Windu, “Puguh juga menaruh perhatian sangat mengaguminya. Tetapi anak anak muda yang lain tidak berbuat sebagaimana dilakukan oleh Puguh.”

Kawan-kawan Kiai Windu mengangguk-angguk.

Demikianlah, ketika mereka meninggalkan kedai, maka mereka pun mulai memilih sasarannya masing-masing.

“Kalian terpisah-pisah hari ini?” bertanya Jati Wulung.

“Kami mempunyai keinginan yang berbeda-beda,” jawab salah seorang kawan Kiai Windu.

Sementara itu Sambi Wulung bertanya kepada Kiai Windu, “Kiai akan berada di mana?”

“Mencari tambahan uang untuk menyambung hari disini,” jawab Kiai Windu.

“Panahan?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya,” jawab Kiai Windu.

Sambi Wulung tersenyum. Ia pun telah berniat untuk turun ke lapangan panahan. Sementara itu, Jati Wulung telah berniat untuk berada bersama Puguh pada hari itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka pun telah terpencar. Sambi Wulung seperti yang dikatakan telah berada di arena panahan sebagaimana Kiai Windu.

Dua orang kawan Kiai Windu berada di arena sabung ayam dan permainan dadu. Sedangkan yang seorang lagi, ternyata telah mengikuti Jati Wulung.

“Aku ikut,” berkata kawan Kiai Windu.

“Aku tidak ikut diperjudian manapun,” jawab Jati Wulung.

“Kemana saja,” jawab kawan Kiai Windu itu.

“Kenapa?” bertanya Jati Wulung.

“Sedikit meningkatkan wibawa, bahwa aku adalah kawanmu,” jawab kawan Kiai Windu.

“Ah kau,” geram Jati Wulung. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Kau tentu sedang mengamati aku.”

“Mengamati?” kawan Kiai Windu bertanya. Tetapi sebenarnya ia menjadi berdebar-debar.

“Kau selalu curiga bahwa aku pergi menemui Burung Sikatan Putih. He, aku sudah mendengar bahwa perhatianmu tertuju kepada Burung yang buas itu,” jawab Jati Wulung.

Kawan Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati, “Jika itu soalnya, aku tidak berkeberatan.”

Tetapi ia berkata, “jangan mendekati Sikatan Putih itu. Ia terlalu liar.”

“Aku belum pernah melihatnya. Mungkin sudah, tetapi aku tidak tahu bahwa orang itu yang dimaksud dengan Sikatan Putih,” jawab Jati Wulung.

“Tentu Kiai Windu yang berceritera tentang Burung liar itu,” gumam kawan Kiai Windu.

Jati Wulung tidak menjawab. Namun ketika ia melihat Puguh di pinggir arena sabung ayam, ia mendekatinya.

“Kau,” jawab Puguh menjadi gembira, “kita di-sini saja.”

Jati Wulung memandang kawan Kiai Windu sambil bertanya, “Bagaimana jika kita disini? Kau keberatan?”

“Tidak. Aku sama sekali tidak berkeberatan,” jawab kawan Kiai Windu itu.

Karena itulah, maka keduanyapun telah berada di arena sabung ayam bersama Puguh dan beberapa orang pengawalnya yang mulai membuat penilaian terhadap Jali Wulung. Namun tidak seorangpun yang berani membandingkannya dengan diri mereka. Karena itu, maka tidak seorang yang menaruh keberatan atas kehadiran Jati Wulung sebagai kawan yang semakin dekat dengan Puguh.

Demikianlah, maka hari pun merambat terus. Namun bagi Kiai Windu, rasa-rasanya matahari menjadi semakin malas berkisar. Sudah terlalu lama ia duduk di arena panahan, seakan-akan punggungnya hampir patah. Namun matahari juga baru menggeliat melewati puncak langit.

Namun, betapapun lambatnya, maka haripun akhirnya menjadi semakin sore. Sementara itu, Kiai Windu dan Sambi Wulung telah meninggalkan arena setelah mendapat kemenangan meskipun tidak banyak. Beberapa saat kemudian, maka ketika kawan Kiai Windu dan Jati Wulung telah datang pula ke kedai bersama dengan Puguh.

Namun semua itu berlalu tanpa memberikan kesan apapun bagi Kiai Windu. Angan-angannya telah dipenuhi oleh berbagai macam peristiwa yang diperkirakannya hampir terjadi.

Bahkan diluar sadarnya ia telah mengamati wajah Sambi Wulung dan Jati Wulung berganti-ganti. Semakin tajam Kiai Windu mengamati keduanya, semakin yakinlah ia bahwa keduanya bukan orang-orang yang memang terbiasa berkeliaran di tempat-tempat perjudian sebagaimana mereka katakan sendiri.

Demikian mereka selesai, maka merekapun ternyata berniat untuk beristirahat di dalam bilik. Sementara itu Kiai Windu pun berkata, “Aku ingin tidur. Nanti malam mungkin aku akan berjudi semalam suntuk.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun ternyata telah pergi ke bilik mereka pula. Namun ketika mereka berjalan agak terpisah dengan yang lain, Sambi Wulung sempat bertanya, “Bagaimana dengan Puguh?”

“Ia tidak mau mengatakan tempat tinggalnya,” jawab Jati Wulung, “masih ada yang gelap bagi kita.”

“Kita masih mempunyai banyak waktu. Seandainya kali ini ia tetap tidak mau mengatakan dimana ia tinggal, atau di padepokan mana ia berguru, maka pada musim judi yang akan datang, kita akan menemuinya disini. Namun satu hal yang sudah kita ketahui, bahwa ternyata ilmunya tidak kalah dari Risang. Bahkan nampaknya Puguh yang sedikit lebih muda itu, mempunyai bekal pengalaman yang lebih banyak dari Risang. Nampaknya Puguh telah lebih dewasa dan sikapnya lebih masak,” berkata Sambi Wulung.

“Ya. Itu yang harus segera diketahui oleh ibunya, kakek dan neneknya serta para pengasuhnya. Mungkin Puguh tidak dikelilingi orang-orang berilmu sedemikian banyaknya. Namun ia benar-benar menghayati berbagai jenis pengalaman. Yang pahit dan tentu juga yang manis,” berkata Jati Wulung.

“Tetapi masih belum terlambat. Jika ada selisihnya, selisih itu hanya seujung rambut. Jika Risang kemudian ditempa semakin keras, maka ia tentu akan segera dapat menyusul. Pada dasarnya Risang tidak lebih buruk dari Puguh,” berkata Sambi Wulung.

Namun mereka tidak dapat membicarakannya lebih panjang lagi. Sejenak kemudian mereka telah masuk kedalam barak dan menuju ke dalam bilik masing-masing.

Seperti biasanya, maka tidak seisi bilik itu tertidur nyenyak. Tentu ada dua orang diantara mereka yang berjaga-jaga.

Demikianlah, maka ketika malam tiba, mereka seluruhnya telah berada di barak permainan dadu. Namun Kiai Windu terkejut ketika ia melihat dari kejauhan beberapa orang memasuki regol. Bahkan kemudian baru disadarinya, bahwa kesiagaan orang-orang Song Lawa itu menjadi semakin tinggi. Di beberapa tempat dilihatnya para petugas dalam kesiagaan penuh. Mereka telah benar-benar siap menghadapi segala macam kemungkinan.

Kiai Windu menggamit kawan-kawannya. Dengan isyarat ia memberitahukan kepada mereka kesiagaan para petugas itu. Juga kehadiran orang-orang baru yang belum dikenalnya sebelumnya.

Tetapi Kiai Windu tidak menunjukkan kegelisahannya. Ia kemudian memasuki barak permainan dadu sebagaimana yang lain-lain.

Namun dalam pada itu, Kiai Windu terkejut ketika seorang petugas menggamitnya. Dengan isyarat ia mengajak Kiai Windu bergeser ketempat yang sedikit luang. Ternyata bukan hanya Kiai Windu saja yang dipanggilnya. Tetapi juga Sambi Wulung, Jati Wulung, Kepala Besi dan dua orang yang lain.

“Ada apa?” bertanya Kiai Windu.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya. “Kami tidak ingin membuat orang-orang yang ada di Song Lawa ini menjadi gelisah. Karena itu, kami minta persoalan ini jangan sampai didengar oleh banyak orang.”

“Persoalan apa?” bertanya Kepala Besi.

“Kami mendapat petunjuk, bahwa para perampok itu masih berkeliaran disekitar tempat ini. Petugas kami tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah mereka sebagian dari antara para perampok yang telah kami hancurkan dengan membawa orang-orang baru, atau gerombolan apa lagi. Namun itu adalah satu isyarat bahwa bahaya telah mengancam tempat ini. Bahkan mungkin lebih berat daripada yang pernah terjadi,” berkata pemimpin dari para petugas itu, “karena itu, maka kami ingin minta kepada kalian, bantuan sebagaimana telah kalian berikan kepada kami pada saat para gerombolan itu datang.”

“Jadi hanya orang-orang yang terbebas dari pengaruh sirep itu?” bertanya Kapala Besi.

“Tidak. Kami memberi tahukan kepada kalangan yang jauh lebih luas. Tetapi kami mempergunakan cara ini. Kami hubungi satu dua orang, sehingga mereka pun tidak menjadi ribut. Tetapi kami telah minta kepada mereka sang kami hubungi untuk lebih berhati-hati menghadapi sirep. Jika mereka sudah terlanjur tidur, maka mereka tidak akan mungkin dapat mengatasi sirep itu,” berkata pemimpin petugas itu.

“Bagus,” berkata Kepala Besi, “siapapun yang datang, maka mereka pasti akan kami hancurkan.”

“Terima kasih,” berkata pemimpin petugas itu. Namun dalam pada itu, Kiai Windu pun bertanya, “Siapakah orang-orang yang memasuki regol itu?”

“Mereka adalah sahabat-sahabat kami. Mereka juga termasuk pendiri tempat ini, sehingga mereka ikut bertanggung jawab atas kelangsungan hidup padepokan ini,” jawab pemimpin padepokan itu. Lalu, “Kami telah mengirimkan penghubung untuk memberitahukan mereka sehingga tepat pada waktunya mereka telah datang. Justru ketika para petugas kami diluar tempat ini melihat gerak yang semakin mencurigakan dari sekelompok orang.”

Jantung Kiai Windu memang berdebaran. Orang-orang itu tidak termasuk dalam perhitungan kekuatan yang dilaporkannya kepada penghubung dengan kawan-kawannya diluar. Namun Kiai Windu sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Malam itu semuanya telah siap dan ledakan pun akan segera terjadi.

Ternyata pemimpin petugas itu telah memberikan beberapa pesan bagi mereka ang berada di Song Lawa, terutama mereka yang dianggap mempunyai kemampuan tinggi.

Demikian pesan itu dianggap selesai, maka Kiai Windu pun segera kembali kepada kawan-kawannya. Dengan tanpa menarik perhatian, maka ia telah memberitahukan kepada kawan-kawannya, bahwa Song Lawa benar-benar sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Yang kemudian juga sibuk berbicara diantara mereka meskipun juga dengan hati-hati adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung. Jika terjadi benturan kekuatan, apakah yang sebaiknya mereka lakukan.

“Kita akan melihat suasana,” berkata Sambi Wulung, “baru kita mengambil keputusan.”

Demikianlah, betapapun permainan di barak itu nampaknya berjalan wajar, namun agaknya orang-orang yang ada didalamnya mulai gelisah. Bahkan menjelang tengah malam, para petugaslah yang justru memperingatkan mereka agar kembali saja ke bilik masing-masing.

Permainan dadu itupun segera berakhir. Kiai Windu dan kawan-kawannya juga kembali ke bilik mereka, namun tidak bersama-sama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berjalan agak jauh di belakang mereka. Agaknya kedua belah pihak memang berusaha untuk memisahkan diri disaat mereka sedang berbicara tentang tanggapan mereka atas peristiwa yang bakal terjadi.

Sementara itu, sebuah kekuatan yang besar memang telah dipersiapkan diluar lingkungan perjudian. Kekuatan yang memang dipersiapkan untuk menghadapi kekuatan yang berada di Song Lawa.

Karena itu, menjelang dini hari, maka sepasukan segelar-sepapan telah mulai bergerak mendekati Song Lawa.

Sebenarnyalah, bahwa orang-orang di Song Lawa justru telah menunggu. Mereka mengira bahkan akan ditebarkan lagi kekuatan sirep sebagaimana yang telah terjadi. Orang-orang yang berada di Song Lawa telah berjaga-jaga untuk bertahan atas serangan sirep itu, sehingga sampai dini hari hampir tidak ada orang yang tidur, karena mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk tetap bangun apapun yang akan terjadi.

Namun pada umumnya orang-orang yang berada di dalam lingkungan Song Lawa itu telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, pasukan yang besar menjelang dini hari telah berada di sekitar Song Lawa. Tidak ada usaha untuk menebarkan sirep. Namun pasukan itu tidak pula dengan tergesa-gesa berusaha membuka pintu dengan kasar.

Disaat dini hari itu pasukan yang besar itu pun telah mengepung Song Lawa. Tidak akan ada yang lolos dari kepungan. Setiap jengkal tanah telah dijaga dengan ketat.

Sebagaimana direncanakan, maka menjelang matahari terbit, pasukan itu harus mulai bergerak. Terutama yang tepat berada didepan pintu gerbang.

Namun agaknya para pengawas di Song Lawa telah melihat gerakan itu. Mereka melihat pasukan yang mengepung lingkungan perjudian itu, sehingga dengan tergesa-gesa para pengawas itu telah melaporkannya.

Song Lawa pun segera mempersiapkan diri pula. Para petugas yang pada umumnya bertubuh raksasa. Kemudian orang-orang yang semalam datang di tempat itu yang belum diketahui kekuatannya oleh Kiai Windu dan orang-orang yang kebetulan berada di Song Lawa untuk berjudi.

“Jangan lepaskan harta benda kalian,” berkata seorang yang sebelumnya belum dikenal di Song Lawa. Orang yang baru datang semalam bersama sekelompok orang lain, “perampok-perampok menganggap bahwa mereka akan mendapat harta benda dengan mudah disini. Song Lawa dianggapnya dapat mereka ambil kapan saja mereka kehendaki. Tetapi kita harus mempertahankannya. Semua itu adalah milik kita sendiri. Yang ada di sini bukan semacam harta karun yang pantas diperebutkan.”

Orang-orang yang berada di Song Lawa yang kemudian telah berkumpul di lapangan yang biasa dipergunakan sebagai arena panahan mengangguk-angguk. Sementara itu, orang yang sebelumnya belum dikenal itu pun berkata, “Untunglah bahwa disini sekarang hadir Wanengpati, Wanengbaya, Kepala Besi dari pesisir Utara yang ditakuti dan orang-orang yang berilmu tinggi lainnya. Yang sudah ternyata kemampuannya disaat para perampok itu datang beberapa hari yang lalu. Kini bukan hanya mereka yang terlepas dari sirep sajalah yang mendapat kesempatan mempertahankan diri. Tetapi kita semuanya.”

Orang-orang di Song Lawa itupun kemudian telah membagi diri. Mereka tidak berkumpul di lapangan yang luas sambil menunggu lawan mereka datang. Tetapi mereka telah menebar di seluruh lingkungan.

Para petugas yang bertubuh raksasa itupun telah berada disegala tempat pula. Namun mereka harus memperhatikan isyarat. Jika kekuatan lawan dipusatkan untuk memecahkan regol, maka sebagian besar dari mereka akan ditarik pula keregol.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 8

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s