SST-06

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

PUGUH mengangguk-angguk. Dipandanginya beberapa orang kawan Kepala Besi itu sedang sibuk berusaha menyadarkannya. Seorang yang berjambang dan berkumis lebat, dengan bulu dada yang memenuhi sebidang dadanya, telah mengambil air di kedai. Kemudian perlahan-lahan dititikkannya air itu dibibir Kepala Besi yang pingsan.

Jati Wulung tidak menunggu terlalu lama. Ia pun kemudian bergeser kembali ke kedai.

“Marilah,” jati Wulung mempersilahkan Puguh, “duduklah. Kita dapat beristirahat.”

“Beristirahatlah,” jawab Puguh, “bukankah aku tidak berbuat apa-apa sehingga tidak perlu beristirahat.”

“Kita minum sejenak,” ajak Jati Wulung yang memang ingin mendapat kesempatan berbicara dengan Puguh.

“Baiklah. Akulah yang membayar,” berkata Puguh kemudian.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau mengecewakan anak muda itu. Apalagi ketika ia kemudian berkata, “Aku belum pernah mengagumi seseorang selain guruku. Sekarang aku mengagumimu.”

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Tentu jauh berbeda. Jika aku mendapat lawan yang berilmu selapis saja, maka aku tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa. Untung bahwa orang yang mengaku berkepala besi itu tidak lebih dari sebongkah batu padas yang belum diasah sama sekali.”

Perkelahian yang terjadi itu memang agak lain dari perkelahian-perkelahian sebelumnya. Biasanya tidak banyak orang yang menaruh perhatian. Bahkan mereka condong untuk tidak berpaling. Tetapi perkelahian itu ternyata telah menarik banyak perhatian. Bahkan orang-orang masih juga membicarakan setelah Jati Wulung duduk kembali di tempat duduknya di kedai itu.

Seorang petugas yang juga bertubuh raksasa sempat mendekatinya sambil berdesis, “Kau telah melakukan sesuatu yang menggemparkan. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin ini bukan yang terakhir. Aku hanya ingin berpesan, jika kelak kau harus berkelahi lagi, hati-hatilah. Jangan merusakkan kedaiku ini supaya kau tidak usah menggantinya.”

“Bukankah aku sekarang juga tidak merusakkannya selain barangkali mangkuk yang kotor atau minumanmu yang tumpah?” sahut Jati Wulung.

“Ya. Sekarang memang tidak,” jawab petugas itu.

“Nah, aku sekarang haus,” berkata Jati Wulung.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah minum lagi. Jati Wulung, Sambi Wulung, Kiai Windu dan kawan-kawannya bersama dengan Puguh dan beberapa orang pengawalnya.

“Siapa namamu?” bertanya Puguh tiba-tiba.

“Wanengpati,” jawab Jati Wulung.

“Kau berasal dari mana?” bertanya Puguh pula.

Jati Wulung tersenyum. Katanya, “jangan bertanya tentang asal usul. Aku adalah orang yang tidak mempunyai asal-usul. Kleyang kabur kanginan. Seperti daun kering yang ditiup angin. Kemanapun arahnya.”

Puguh tertawa. Katanya, “Apakah kau seorang Dalang? He, kau pandai menirukannya. Kleyang kabur kanginan, kandang langit, kemul mega. Bukankah begitu?”

Jati Wulung lah yang tertawa. Lalu katanya, “Aku hanya menirukan orang-orang berbicara demikian. Aku sama sekali bukan seorang Dalang atau pelaku wayang topeng.”

Puguh tertawa semakin keras. Sambil memandang berkeliling ia bertanya, “Inikah kawan-kawanmu?”

“Ya,” jawab Jati Wulung.

“Semua memiliki kemampuan seperti kau?” bertanya Puguh pula.

“Bertanyalah kepada mereka,” sahut Jati Wulung.

Ketika Puguh berpaling kearah Sambi Wulung, maka dengan serta merta Sambi Wulung berkata, “Tidak. Kami tidak memiliki kemampuan seperti Wanengpati yang gila itu. Kami memang mengikutinya memasuki Song Lawa dengan bertumpu kepadanya.”

“Kami siapa?” bertanya Puguh.

“Kami. Aku dan kawan-kawanku ini,” jawab Sambi Wulung.

“Bukankah kau dan Wanengpati orang-orang baru seperti juga Kepala Besi itu? Tetapi bukankah yang lain sudah sering datang kemari,” bertanya Puguh.

Sambi Wulung menjadi tegang sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum, “Ya. Kiai Windu dan ketiga kawanku yang lain pernah memasuki Song Lawa.”

Puguh mengangguk-angguk sambil tersenyum pula. Lalu katanya, “Pengawal-pengawalku tidak ada yang memiliki kemampuan yang memadai. Kalau saja Wanengpati mau bergabung dengan kami.”

Satu kesempatan yang memang diharapkan. Tetapi Jati Wulung tidak akan dapat menjawab dengan serta merta, agar justru tidak menimbulkan kecurigaan. Bahkan dengan nada rendah ia bertanya, “Apakah kau sudah beberapa kali datang ketempat seperti ini?”

Tetapi jawabnya sama sekali tidak diharapkannya. Dengan wajah muram Puguh berkata, “pertanyaan yang paling aku benci.”

“O, aku minta maaf,” desis Jati Wulung, “bukan maksudku menyinggung perasaanmu.”

“Kau. Kau tidak menyinggung perasaanku. Mungkin perasaankulah yang terlalu lemah untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu,” jawab Puguh.

“Baiklah,” berkata Jati Wulung, “kita tidak berbicara tentang hal-hal yang dapat menyentuh perasaan. Kita bicara tentang makanan di kedai ini saja.”

Tetapi wajah Puguh sudah berubah. Ia nampak menjadi muram. Meskipun sekali-sekali ia mencoba tersenyum, namun diluar sadarnya kadang-kadang ia telah termenung sambil memandang kekejauhan. Agaknya pada anak muda itu terdapat beban perasaan yang memberatinya.

Sementara itu dua orang yang sejak sebelumnya telah berbicara tentang Kepala Besi itupun sempat keluar dari kedai itu lewat disebelah amben tempat Jati Wulung duduk. Keduanya berhenti sejenak, sementara seorang dari mereka berkata, “Luar biasa. Kau masih tetap hidup setelah kau berkelahi dengan Kepala Besi. Bahkan jika kau mau nampaknya kau akan dapat membunuhnya. Tetapi berhati-hatilah. Kepala Besi adalah orang yang ditakuti dan mempunyai banyak pengikut di salah satu tempat di pesisir Utara.”

“Terima kasih atas peringatan ini,” jawab Jati Wulung.

“Nah, sejak besok, kau dapat menggulung semua pengikut di lapangan panahan,” berkata yang seorang.

“Aku tidak ingin lagi untuk ikut panahan,” berkata Jati Wulung dengan nada rendah.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian merekapun telah meninggalkan kedai itu.

Ternyata Jati Wulung dan kawan-kawannya pun tidak terlalu lama lagi berada di kedai itu. Ketika mereka memandang keluar, maka yang disebut Orang Hutan berkepala Besi itu sudah tidak ada lagi ditempatnya. Kawan-kawannya telah membawanya ke dalam biliknya untuk mendapat perawatan.

Namun dalam pada itu, Puguh tidak lupa pada janjinya. Sambil tersenyum ia berkata, “Aku yang akan membayar semuanya.”

“Terima kasih,” berkata Jati Wulung. Tetapi ia masih juga berkata, “Tetapi bukankah aku yang telah menang di arena panahan.”

“Biar saja,” jawab Puguh, “aku ingin membayar kali ini, meskipun barangkali di kesempatan lain aku akan meminjam uangmu.”

Yang lain hanya tertawa saja. Sementara itu, Puguh telah menghitung berapa harga makanan dan minuman yang telah dimakan dan diminum oleh sekelompok orang itu.

“Ayah dan ibumu tentu seorang yang kaya raya,” tiba-tiba saja Jati Wulung berdesis.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya kita tidak usaha berbicara tentang ayah dan ibuku, sebagaimana kita tidak usah berbicara kenapa aku berada di tempat ini.”

“O,” jati Wulung mengangguk-angguk. Ia tidak boleh mendesak terus. Juga tentang tempat tinggalnya, atau padepokannya atau dalam hubungan yang lain. Ia harus dapat mengendalikan diri untuk mencapai sasaran sebagaimana diharapkan.

Sejenak kemudian, merekapun telah meninggalkan tempat itu. Namun agaknya Puguh masih akan memasuki tempat permainan dadu. Karena itu, maka Jati Wulung-pun berkata kepadanya, “Kami akan beristirahat.”

“Kau tidak ikut bermain dadu?” bertanya Puguh.

Jati Wulung tersenyum. Katanya, “Dalam keadaan seperti ini lebih baik tidur barang sebentar.”

Puguh pun tersenyum. Agaknya anak muda itu mengerti, bahwa setelah orang yang dikenalnya bernama Wanengpati itu berkelahi, maka agaknya ia memerlukan mengendapkan perasaannya yang bergejolak.”

Demikianlah, maka Jati Wulung dan Sambi Wulung-pun telah melangkah menuju ke biliknya. Namun Kiai Windu kemudian berdesis, “Aku juga akan melihat permainan dadu sebentar. Nanti aku segera menyusul.”

“Silahkan,” sahut Sambi Wulung, “bahkan mungkin kamilah yang akan menyusul kalian ke tempat permainan itu.”

Namun Jati Wulung menyahut, “Aku benar-benar akan tidur.”

Sambi Wulung hanya tersenyum saja. Sementara itu Kiai Windu dan kawan-kawannya ternyata telah melangkah menuju ke barak permainan dadu. Namun agaknya ia tidak mengambil jalan yang sama dengan Puguh dan para pengawalnya.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berjalan menyusuri lorong setapak menuju ke biliknya. Sambil melangkah Sambi Wulung sempat bergumam, “Kau agak terdorong langkah.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat berbuat lain.”

“Di arena panahan, kau telah dipanaskan oleh sikap Kapala Besi itu sehingga kau harus menunjukkan kemampuanmu. Aku juga ikut panahan dan memenangkannya meskipun tidak menyolok,” berkata Sambi Wulung pula.

“Tetapi bukankah dengan demikian, kita menjadi lebih mengenal Puguh?” bertanya Jati Wulung.

“Tetapi kita menjadi bahan pembicaraan dan setiap orang akan memperhatikan kita. Juga dendam Kepala Besi itu harus menjadi perhitungan kita,” berkata Sambi Wulung.

Bagi Jati Wulung, Sambi Wulung adalah saudara tuanya. Karena itu maka ia tidak menjawab lagi. Ia memang mengakui, bahwa ia telah agak terdorong dalam permainan panahan, sehingga akibatnya ia harus berkelahi dengan orang yang disebut Kepala Besi itu.

Tetapi semuanya telah terjadi. Jati Wulung tidak akan dapat mengulangi lagi langkah-langkahnya. Yang dapat dimanfaatkan dari semua peristiwa itu adalah hubungan mereka yang lebih dekat dengan orang yang memang mereka cari di tempat perjudian itu. Puguh. Anak Warsi.

Demikianlah, maka akhirnya Jati Wulung itu pun berkata, “Aku akan tidur barang sejenak. Mudah-mudahan aku dapat menenangkan perasaanku yang masih saja terasa berdebaran.”

“Tidurlah,” jawab Sambi Wulung, “biarlah aku duduk disini.”

Jati Wulung tidak berkata sesuatu lagi. Iapun merebahkan dirinya dipembaringan. Ia benar-benar melepaskan segala macam beban di perasaannya, sehingga dengan demikian ia cepat dapat tidur dengan nyenyak. Apalagi ia memang benar-benar ingin beistirahat.

Sambi Wulung yang tidak merasa mengantuk sama sekali duduk disudut amben yang agak besar itu bersandar dinding. Ketika ia kemudian mengedarkan pandangan matanya keseluruh isi ruangan, maka dilihatnya beberapa ikat bekal yang dibawa oleh Kiai Windu dengan kawan-kawannya. Seperti dirinya sendiri, maka mereka pun hampir tidak membawa bekal apapun. Hanya beberapa lembar kain yang diikat dalam satu bungkusan kecil.

Adalah diluar sadarnya, jika Sambi Wulung kemudian setelah menutup dan menyelarak pintu bilik, melihat-lihat beberapa ikat bekal yang dibawa oleh Kiai Windu dan kawan-kawannya.

Yang menarik perhatian Sambi Wulung adalah bahwa didalam ikatan itu terdapat pakaian dari bahan yang sama. Sambi Wulung tidak dapat melihat dengan cermat. Ia tidak mau membuka ikatan bekal yang sedikit itu, karena agaknya Kiai Windu adalah orang yang sangat teliti, sehingga jika ia membukanya dan mengikatnya kembali, Kiai Windu akan mengetahuinya.

“Nampaknya mereka membawa selembar baju yang seragam,” berkata Sambi Wulung didalam hatinya. Namun karena baju itu ada didalam lipatan yang terikat, maka ia tidak dapat menduga, pakaian jenis apakah yang dibawa oleh Kiai Windu itu.

Sambi Wulung tidak mau membuat jarak antara dirinya dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya yang nampaknya dapat diajak berkawan didalam lingkungan yang garang sebagaimana Song Lawa itu. Bagaimanapun juga, persoalan-persoalan yang tidak diperhitungkan akan dapat timbul didalam lingkungan yang aneh dan penuh dengan berjenis-jenis watak dan sifat. Sedangkan untuk sementara, nampaknya Kiai Windu dan kawan-kawannya tidak akan menambah kesulitan jika kesulitan itu datang, bahkan mereka agaknya akan dapat membantu mereka apabila diperlukan sekali.

Karena itu maka Sambi Wulung akan tetap menjaga hubungan yang baik yang sudah terjalin antara dirinya dan Jati Wulung dengan Kiai Windu dan kawan-kawannya, meskipun cara mereka berkenalan melalui jalan yang agak aneh.

Dalam pada itu, ternyata Kyai Windu dan kawan-kawannya sudah berada di barak permainan dadu. Mereka menelusuri permainan dari lingkaran yang satu ke lingkaran yang lain. Mereka mengamati betapa uang mengalir dari satu tangan ke tangan yang lain, berputar dan kembali lagi. Namun sebagian dari uang itu telah berhenti ditangan orang-orang yang saat itu sedang beruntung.

Kiai Windu dan kawan-kawannya ternyata tidak hanya sekedar melihat-lihat saja. Mereka mulai menebar dan turun ke arena yang berbeda-beda.

Tetapi agaknya mereka cukup berhati-hati. Mereka tidak hanyut dalam gejolak perasaan mereka di arena perjudian. Tetapi mereka sempat berpikir dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang harus mereka pilih diantara beberapa kemungkinan yang lain.

Karena itu, maka selama Kiai Windu beberapa kali mengunjungi Song Lawa, mereka tidak pernah mengalami kesulitan yang tidak teratasi. Mereka selalu memperhitungkan setiap uang yang mereka lepaskan dalam permainan itu. Satu kali mereka memang harus mengalami kekalahan. Tetapi dikesempatan lain mereka dapat memenangkan permainan itu.

Ternyata Kiai Windu agak lama juga berada di barak permainan dadu bersama kawan-kawannya. Namun agaknya seorang diantara kawannya telah mengalami kekalahan. Beberapa kali uang yang dipasang telah mengalir lepas dari tangannya.

Tetapi orang itu sempat mengendalikan diri. Ketika uang yang disediakan buat hari itu sudah sampai pada hitungan terbanyak, maka ia pun telah berhenti.

Ketika ia mendekati seorang kawannya yang bermain di lingkaran yang berbeda, ternyata kawannya itu telah memenangkan permainan. Karena itu, maka kawannya itupun bertanya kepadanya, “Apakah kau akan mencoba lagi?”

Tetapi orang yang telah kalah itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku justru ingin menonton saja.” Namun dalam satu kesempatan ia berbisik, “Aku sedang mengamati seseorang.”

Yang sedang memenangkan permainan dadu itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berdesis, “Lakukanlah. Jika perlu panggil aku.”

Kawannya menepuk bahunya. Kemudian iapun tergeser meninggalkan orang yang sedang memenangkan permainan itu.

Sementara itu, ternyata Kiai Windu sendiri juga telah menang meskipun tidak terlalu banyak dan perlahan-lahan sekali. Tetapi orang itu memang memiliki kesabaran yang tinggi didalam arena perjudian. Perhitungannya cukup cermat. Ia dengan sabar menunggu orang-orang lain memasang uangnya. Baru kemudian ia menjatuhkan pilihan.

Dalam pada itu, seorang diantara kawannya telah bergeser menjauh. Ia memang sedang memperhatikan seseorang yang agaknya sangat menarik perhatiannya.

Ternyata orang yang diperhatikan, dan kemudian diikuti oleh kawan Kiai Windu itu adalah seorang laki-laki separuho baya. Tubuhnya tidak terlalu besar, bahkan punggungnya sedikit bongkok. Wajahnya yang kasar membuatnya nampak garang.

Orang bertubuh bongkok itu telah menemui beberapa orang petugas berturut-turut. Beberapa orang bertubuh raksasa yang ada didalam barak permainan dadu itu. Setiap kali ia berbicara dengan sungguh-sungguh namun hanya beberapa kalimat saja. Jika ia kemudian meninggalkan patugas itu, maka nampaknya petugas itu menjadi lebih bersiaga.

Ketika orang bertubuh bongkok itu sampai petugas yang terakhir didalam barak itu, maka ia berbicara agak panjang. Nampaknya beberapa pesan telah diberikan secara khusus. Tetapi kawan Kiai Windu itu tidak dapat menangkap sedikitpun isi dari pembicaraan itu.

Beberapa saat kemudian orang bertubuh bongkok itu-pun telah meninggalkan barak itu. Namun hal yang sama dilakukan pula terhadap para petugas dimanapun ditemuinya. Para petugas yang baru berjalan dari satu tempat ketempat lainpun telah dihentikannnya dan diajaknya berbicara sebagaimana para petugas didalam barak tempat bermain dadu.

Kawan Kiai Windu itu tidak mengikutinya lebih jauh. Agaknya terlalu berbahaya baginya. Sementara itu, ia pun masih belum dapat menemukan pertanda yang dapat dikenalinya dari ujud maupun sikap orang itu.

Sejenak kemudian, kawan Kiai Windu itupun telah kembali ke barak permainan dadu. Seorang lagi diantara kawan-kawannya telah selesai pula bermain dan berdiri dibelakang Kiai Windu yang nampaknya tidak kalah itu.

Ketika ia sudah berdiri dibelakang kawannya yang menunggui Kiai Windu itu, iapun telah menggamitnya sambil bertanya, “Bagaimana dengan kau?”

Orang itu berpaling. Katanya sambil tersenyum, “Aku benar-benar menang kali ini. Kiai Windu pun menang pula. Hanya kau sajalah yang kalah, sementara kawan kita yang seorang lagi nampaknya juga tidak kalah.”

“Aku sial hari ini,” berkata kawan Kiai Windu yang kalah itu, “tetapi aku mempunyai ceritera tersendiri.”

Kawannya yang menang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu ceritera yang menarik.”

Beberapa saat mereka masih berada di barak itu. Namun akhirnya mereka berempat pun telah meninggalkan barak itu. Kiai Windu dan dua orang kawannya memang memenangkan permainan dadu itu meskipun tidak terlalu banyak, sedangkan seorang lagi telah kalah sampai batas terakhir keping uangnya yang disediakan untuk hari itu. Bahkan ketika kemudian mereka sempat menghitung-hitung secara kasar, ternyata kekalahan yang seorang itu lebih banyak dari kemenangan Kiai Windu dan kedua orang kawannya yang lain.

Tetapi Kiai Windu masih juga tertawa. Katanya, “Biarlah hari ini kita mengalami kekalahan kecil. Besok kita tebus di lapangan panahan asal kita tidak berada dalam satu arena dengan Wanengpati dan Wanengbaya.”

“Tidak pula dengan Kepala Besi dan dua orang lain yang ada diarena bersama mereka,” berkata kawan Kiai Windu yang kalah itu.

Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Ternyata banyak orang yang memiliki kemampuan membidik melampaui kita.”

Yang lainpun tertawa pula.

Namun dalam pada itu, kawan Kiai Windu yang kalah itu telah menceriterakan apa yang dilihatnya. Seorang yang agak bongkok yang telah menghubungi hampir semua petugas. Tidak hanya yang berada di dalam barak permainan dadu, tetapi juga diluarnya yang beberapa orang dapat dilihatnya.

Kiai Windu termangu-mangu sejanak. Tiga-tiba saja ia berkata, “Apakah orang itu petugas Song Lawa yang dikirim keluar tempat perjudian ini untuk mengamati suasana dan dapat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya diluar?”

“Aku tidak pasti,” jawab kawannya itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi nampaknya berita atau mungkin perintah yang disampaikan itu penting dan harus segera merata.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi bukankah hari-hari kita tidak mulai sekarang?”

“Tidak,” jawab seorang kawannya, “setidak-tidaknya mulai dua hari lagi.”

Kiai Windu tiba-tiba berhenti sejenak. Katanya, “Ya hari ini memang mungkin sekali dijumpainya sesuatu yang menarik perhatian mereka, maksudku para petugas dari Song Lawa ini. Kita memang mulai dari sekarang. Maksudku hari ini.”

“Apa yang sudah kita mulai?” bertanya seorang kawannya.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Satu susulan dari keseluruhan kewajiban yang dibebankan kepada kita. Mungkin orang bongkok itu melihat atau bertemu dengan mereka yang bertugas untuk mengenali jalan-jalan disekitar medan.”

Kawan-kawan Kiai Windu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Ya. Agaknya mereka. Atau apapun yang mereka curigai berhubungan dengan tempat ini.”

“Satu peringatan bagi kita,” jawab Kiai Windu. Bahkan mereka berempatan kemudian telah berdiri ditempat yang terbuka, justru tidak berada didekat seorangpun yang lalu lalang beberapa langkah dari mereka.”

“Bagaimana penilaian kita terhadap dua orang yang berada dibilik kita itu? “ tiba-tiba Kiai Windu bertanya.

Ketiga orang kawannya termangu-mangu. Seorang diantara mereka sempat juga melihat orang yang lewat beberapa langkah dari mereka sehingga kepalanya berpaling.

“He,” kawannya menggamit, “kau lihat perempuan yang lewat dengan golok dilambung itu.”

“O, tidak.” orang itu tergagap.

“Nah, bagaimana tanggapanmu terhadap dua orang yang menyebut dirinya Wanengbaya dan Wanengpati itu?” bertanya kawannya.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya. “Mereka nampaknya baik-baik saja.”

“Dimana perempuan dengan golok dilambung itu sekarang? “ tiba-tiba Kiai Windu bertanya.

“Nampaknya ia pergi ke barak permainan dadu,” jawab orang itu hampir diluar sadarnya.

“Nah, jika pertanyaannya menyangkut perempuan, ia tanpa berpikir dapat menjawab dengan baik,” berkata seorang kawannya yang lain.

“Ah,” orang itu baru sadar. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Maksudku, tidak ada kesulitan dengan keduanya.”

“Jawabanmu semakin kabur,” desis Kiai Windu, “coba, sekarang kita berbicara dengan sungguh-sungguh tentang kedua orang itu. Apakah mereka akan dapat menjadi hambatan bagi kita atau tidak. Atau bahkan sebaliknya.”

Ketiga orang kawannyapun menjadi bersungguh-sungguh pula. Seorang diantara mereka bertanya, “Mereka bagi kita adalah orang-orang aneh. Perhatiannya justru lebih banyak kepada anak-anak muda yang berada di Song Lawa ini. Nampaknya ia sangat menyesali kehadiran mereka disini.”

“Menurut penglihatanku,” berkata yang lain, “keduanya bukan orang kasar sebagimana yang kita lihat. Mereka memang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Song Lawa ini. Mereka lebih membuat diri mereka kasar dan kadang-kadang liar. Tetapi mereka agaknya mempunyai kepentingan lain.”

“Ya,” berkata yang seorang, “merekapun tentu bukan penjudi yang sebenarnya meskipun mereka menyebut daerah perjudian seperti Gresik, Bergota, di sebelah Barat Pajang dan beberapa tempat yang lain.”

“Baiklah,” berkata Kiai Windu, “pada umumnya kita berpendapat bahwa keduanya bukan orang-orang yang perlu mendapat perhatian terlalu besar. Namun demikian, banyak kemungkinan dapat terjadi. Keduanya memang orang-orang berilmu tinggi. Jika keduanya menjadi salah paham, maka sikap mereka tidak akan dapat kita perhitungkan.”

“Kita memang harus menjaga hubungan baik itu,” berkata salah seorang diantara mereka, “dalam satu dua hari ini kita akan melihat, apa saja yang mereka lakukan disini.”

“Tetapi kita harus lebih berhati-hati terhadap Wanengpati. Agaknya ia mempunyai watak yang lebih keras dari Wanengbaya. Wanengpati kadang-kadang tidak terlalu banyak dapat membuat pertimbangan sebelum bertindak, sehingga kadang-kadang ia terjerumus kedalam gejolak perasaannya tanpa penalaran,” berkata Kiai Windu, “ternyata ia telah mengguncangkan lapangan panahan dan ia pun telah menghancurkan kesombongan orang yang disebut Kepala Besi itu.”

“Ya,” seorang kawannya mengangguk-angguk, “nampaknya Wanengbaya tidak setuju dengan sikapnya itu.”

Kiai Windu dan kawan-kawannya yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian Kiai Windu berkata, “Marilah. Kita kembali ke bilik kita.”

Ketika keempat orang itu sampai ke bilik mereka, ternyata mereka mendapatkan pintu bilik mereka diselarak dari dalam. Karena itu, maka merekapun telah mengetuk perlahan-lahan.

Sambi Wulung lah yang kemudian membuka pintu itu. Sambil tersenyum iapun bertanya, “Apakah kalian sudah selesai?”

Salah seorang kawan Kiai Windu menjawab, “Uangku yang aku sediakan untuk hari ini telah habis.”

“Untuk hari ini?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya, Aku selalu menyediakan uang untuk setiap hari. Aku tidak mau berjudi berlarut-larut. Jika persediaanku untuk sehari telah habis, maka aku harus berhenti bermain, menunggu sampai hari berikutnya,” jawab kawan Kiai Windu itu.

“Luar biasa,” desis Sambi Wulung, “jarang sekali orang dapat mengekang diri seperti itu. Apalagi ditempat perjudian seperti ini. Itulah agaknya para petugas mengatakan, bahwa dihari-hari pertama, kadang-kadang sudah ada orang yang membunuh diri. Orang itu tentu tidak mempunyai kendali atas dirinya sendiri sebagaimana kau.”

Kawan Kiai Windu itu tersenyum. Namun iapun berkata, “Aku tiba-tiba saja menjadi lapar.”

 “Ah kau,” kawannya telah mendorongnya masuk, “aku mengantuk. Aku ingin berbaring barang sejenak sebelum pergi ke warung itu.”

Kiai Windu sendiri tidak mengatakan sesuatu. Tetapi sekilas diperhatikannya barang-barangnya serta milik kawan-kawannya. Nampaknya letaknya tidak berubah. Menurut dugaannya, kedua orang yang telah lebih dahulu berada didalam bilik itu tidak menyentuh barang-barangnya yang hanya sedikit itu.

Ketika kemudian Sambi Wulung duduk lagi disudut amben, maka kawan-kawan Kiai Windu pun telah berbaring diamben itu. Namun Kiai Windu yang duduk di sebelah Wanengbaya itupun berkata, “Aku justru menang hari ini.”

“Kau?” bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Meskipun tidak terlalu banyak,” jawab Kiai Windu.

“Kita akan menikmatinya di kedai nanti,” berkata Sambi Wulung.

“Ya. Kita akan menikmatinya. Bukankah kau juga menang hari ini. Apalagi Wanengpati,” jawab Kiai Windu sambil tersenyum, “Jika ia mau, maka semua uang yang ada di lapangan panahan dapat diambilnya.”

“Ah,” Wanengbaya tersenyum, “ia memang orang bengal. Seharusnya ia tidak berbuat seperti itu, sehingga ia harus berkelahi dengan orang yang disebut Kepala Besi yang mempunyai pengaruh besar di pesisir Utara. Kepala Besi itu tentu tidak akan menerima perlakuan sebagaimana dialaminya. Jika ia tidak sempat membalas dendam disini, maka pada kesempatan lain, ia akan membawa orang-orang yang berada dibawah pengaruhnya di pesisir Utara.”

“Untuk apa?” bertanya Kiai Windu.

“Untuk membalas dendam,” jawab Wanengbaya.

“Membalas dendam siapa?” Kiai Windu justru bertanya. Kemudian katanya, “Jika ia ingin membalas dendam terhadap Wanengpati kemana ia harus mencarinya? Karena kau dan Wanengpati nampaknya pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Bahkan iapun kemudian bertanya, “Apakah kau ingin tahu, dimana kami tinggal?”

Kiai Windu pun tertawa. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan tempat tinggalmu, karena aku sudah yakin bahwa kau dan Wanengpati memang tidak mempunyai tempat tinggal yang mapan.”

Sambi Wulung justru tertawa pula. Katanya, “Jika yang kau katakan itu tidak benar, aku akan dengan serta merta menyebut tempat tinggalku. Tetapi karena yang kau katakan itu benar, maka aku tidak dapat mengatakan apa-apa.”

“Jahanam kau,” geram Kiai Windu sambil bangkit berdiri. Tetapi tertawanya masih juga terdengar. Katanya, “Siapapun kau dan Wanengpati, tetapi Wanengpati telah menang banyak sekali hari ini.”

“Ia tidak melanjutkan permainan,” berkata Sambi Wulung.

Kiai Windu melangkah mondar-mandir disebelah pembaringan. Namun kemudian ia berkata, “Apa rencanamu malam nanti?”

“Terserah kepada Wanengpati,” jawab Sambi Wulung, “namun di tempat lain kita tidak akan dapat mengatur berdasarkan kemampuan kita, apakah kita akan menang atau kalah. Semuanya tergantung pada dadu atau ayam yang kita sabung.”

“Agaknya kalian tidak banyak tertarik kepada permainan yang lain kecuali panahan,” berkata Kiai Windu.

“Aku belum tahu,” jawab Sambi Wulung.

Kiai Windu pun tidak bertanya lagi. Tetapi ia telah duduk pula di amben bambu yang cukup besar itu.

Keduanya pun untuk sejenak saling berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah dengkur mereka yang sedang tertidur. Ternyata kawan Kiai Windu yang merasa lapar itupun telah tertidur pula sebagaimana kawannya yang mengantuk.

Demikianlah, ketika malam menjadi semakin gelap, keenam orang itu telah berada di kedai yang masih sibuk. Beberapa orang telah keluar dan masuk berganti-ganti. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sempat memperhatikan orang-orang yang hilir mudik itu sempat menilai beberapa jenis sifat dan watak orang.

Selagi mereka sibuk dengan pesanan mereka masing-masing, maka tiba-tiba saja Puguh dan beberapa orang pengawalnya teiah memasuki kedai itu pula. Demikian ia melihat Jati Wulung, maka sambil tertawa ia telah mendekatinya.

“Sudah lama kau disini?” bertanya Puguh.

“Sudah anak muda,” jati Wulungpun tertawa pula.

“Nah, marilah. Aku yang akan membayar makanan dan minumanmu,” berkata Puguh.

“Ah,” jati Wulung menggeleng, “terima kasih. Bukannya aku menolak. Tetapi aku datang berenam.”

“Tidak apa-apa. Aku telah menang dalam permainan dadu,” berkata Puguh.

“Tiga kawanku juga telah menang. Sementara seorang yang lain telah menang pula diarena panahan,” jawab Jati Wulung.

“Dan sudah barang tentu kau sendiri,” sahut Puguh pula.

Tetapi sambil tersenyum Jati Wulung menggeleng. Katanya, “Aku kalah dimana-mana. Tetapi terima kasih atas kebaikan hatimu. Besok mungkin aku memerlukanmu. Apalagi jika semua uangku telah habis sehingga aku memerlukan pinjaman.”

Puguh tertawa berkepanjangan. Katanya, “Baiklah. Jika kau memerlukan, katakan saja kepadaku. Atau bahkan mungkin akulah yang datang kepadamu untuk meminjam lebih dahulu.”

Jati Wulung tertawa pula. Sambi Wulung dan Kiai Windu serta kawan-kawannyapun tertawa pula.

“Ternyata anak ini sempat pula berkelakar,” berkata Sambi Wulung didalam hatinya. Menurut penglihatannya, wajah Puguh biasanya nampak murung dan bersungguh-sungguh. Senyumnya terlalu mahal dan sorot matanya kadang-kadang memancarkan kecurigaan. Tetapi dengan Jati Wulung ia dapat menjadi akrab.

Puguh pun kemudian telah duduk pula didalam kedai itu. Karena Jati Wulung tidak mau menerima tawarannya, maka Puguh telah mengambil tempat tersendiri bersama para pengawalnya.

Namun dalam pada itu, Kiai Windu lah yang nampak menjadi agak gelisah. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja ia berkata kepada kawan-kawannya, “Kita menengok kuda-kuda kita sejenak.”

Ketiga kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian merekapun mengangguk kecil. Seorang diantara mereka berkata, “Marilah. Mudah-mudahan kuda-kuda itu tidak kekurangan makan.”

Ketiga kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian merekapun mengangguk kecil. Seorang diantara mereka berkata, “Marilah. Mudah-mudahan kuda-kuda itu tidak kekurangan makan.”

Tetapi Kiai Windu tidak lupa membayar makanan dan minuman bukan saja bagi dirinya dan ketiga orang kawannya. Tetapi juga bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Tunggulah sebentar,” berkata Kiai Windu, “kami akan menengok kuda-kuda kami.”

“Silahkan,” berkata Sambi Wulung. Lalu, “Jika tidak disini, kami dapat kalian jumpai didalam bilik kami.”

“Kau tidak melihat permainan dadu?” bertanya Kiai Windu.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Mungkin kami akan kesana. Tetapi mungkin aku akan menunggu sampai rambahan-rambahan panahan itu berlangsung lagi.”

Kiai Windupun tersenyum pula. Sambil menepuk bahu Sambi Wulung ia berkata, “jaga saudaramu itu baik-baik.”

Jati Wulung memandanginya dengan tajamnya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau takut bahwa aku akan menjadi liar disini?”

“Bukankah kalian menjadi liar sejak belum memasuki tempat ini?” bertanya Kiai Windu.

“He,” jati Wulung menjadi tegang. Namun iapun kemudian tertawa. Katanya, “Kau benar. Bahkan aku menjadi liar sejak lahir.”

Kiai Windu dan kawan-kawannya pun tertawa. Sambil melangkah pergi Kiai Windu berkata, “Kau sempat merajuk, he?”

Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tertarik kepada Puguh. Karena itu, maka ia memberi isyarat kepada Sambi Wulung untuk mendekati anak muda yang sedang makan itu.

“He, marilah. Mungkin kalian ingin makan bersama aku? Dimana kawan-kawanmu itu?” bertanya Puguh.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian duduk bersama Puguh dan para pengawalnya. Para pengawal Puguh itu tahu pasti, bahwa Jati Wulung yang dikenal bernama Wanengpati. itu memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari ilmu mereka. Apalagi jika kawannya yang bernama Wanengbaya itu juga. Maka berdua mereka merupakan kekuatan yang jauh lebih besar dari pada pengawal itu.

“Jika Puguh mampu mengikat keduanya, mungkin kami tidak diperlukan lagi,” berkata para pengawal itu didalam hatinya.

“Kalian mau makan apa?” bertanya Puguh dengan ramah.

Jati Wulung menggeleng. Katanya sambil tersenyum, “Aku sudah kenyang. Aku hanya ingin duduk disini. Kawan-kawanku itu sedang pergi menengok kuda mereka yang ditambatkan diluar.”

“Bukankah kuda-kuda itu sudah dititipkan? Biasanya orang-orang yang menjaga kuda itu mengurusnya dengan baik. Dari penyediaan makanan sampai kebersihannya.”

Jati Wulung memang tidak begitu mengetahui tentang penitipan kuda di Song Lawa. Namun ia menjawab, “Kawanku itu sangat sayang kepada kudanya. Seperti menyayangi anak-anaknya.”

Puguh tersenyum. Iapun kemudian beringsut untuk memberi tempat yang lebih baik kepada Jati Wulung dan Sambi Wulung yang sudah duduk diantara mereka.

Diluar dugaan Jati Wulung, Puguh masih saja memujinya. Dengan suara berat ia akhirnya berkata, “Sampai saat ini orang yang disebut Kepala Besi itu masih belum keluar dari biliknya. Ia telah mendapat perawatan dari tabib Song Lawa ini.”

“Disini ada tabib?” bertanya Jati Wulung.

“Ada. Disini ada semuanya. Ada tabib tetapi juga ada bilik disudut halaman itu,” jawab Puguh, “mereka yang ingin sembuh dari penderitaannya apapun sebabnya dapat memanggil tabib dengan upah tersendiri. Tetapi siapa yang ingin mengakhiri penderitaaan dengan cara lain, mungkin penderitaan batin karena kalah tanpa dapat dihitung lagi, dipersilahkan untuk pergi ke bilik itu.”

Jati Wulung tersenyum. Katanya, “Memang menarik sekali.”

“Kau baru kali ini berkunjung ke Song Lawa,” desis Puguh itu lebih lanjut.

“Ya,” jawab Jati Wulung, “meskipun aku telah mengunjungi tempat-tempat perjudian dimana-mana. Namun ternyata bahwa tempat ini sangat menarik.”

Puguh tertawa, iapun kemudian masih banyak berceritera tentang lingkungan Song Lawa yang sebagian sudah dikenal oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung. Namun ternyata Puguh tidak berceritera sama sekali tentang dirinya sendiri. Betapapun Jati Wulung dan Sambi Wulung selalu menghindar.

Jati Wulung dan Sambi Wulung tidak ingin dicurigai karena keinginannya untuk mengetahui keadaan Puguh secara pribadi. Karena itu, maka mereka tidak dapat memaksa agar Puguh mengatakan lebih banyak dari apa yang dilihatnya tentang anak muda di tempat perjudian yang disebut Song Lawa itu.

Beberapa saat lamanya Jati Wulung dan Sambi Wulung sempat berbicara dengan Puguh diantara para pengawalnya. Namun kemudian keduanya telah minta diri untuk melihat-lihat permainan dadu. Mungkin mereka tertarik untuk ikut bermain.

“Nanti aku menyusul,” berkata Puguh.

Jati Wulung dan Sambi Wulungpun kemudian telah meninggalkan kedai itu. Demikian mereka memasuki kegelapan, maka Sambi Wulung pun berdesis, “Kepribadiannya sama sekali tidak sebagaimana kita duga sebelumnya. Keterangannya yang kita peroleh tentang anak itu sebelum kita menjumpainya, agaknya terlalu berlebihan.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Kita hanya menduga sebelumnya. Menilik sifat ibunya dan laki-laki yang mungkin dianggap ayahnya, Ki Rangga Gupita. Kita juga membayangkan lingkungannya yang kasar cara hidup yang sedikit liar.”

“Namun ternyata anak itu agak lain,” desis Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kita melihat permainan dadu sebentar.”

Dalam pada itu, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah berada diluar pintu gerbang. Kepada petugas dipintu mereka mengatakan bahwa mereka ingin melihat kuda-kuda mereka.

“Malam-malam begini?” bertanya petugas yang bertubuh raksasa itu.

Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Aku tenggelam dipermainan dadu sehingga aku lupa melihat kuda-kuda kami.”

“Percayakan kepada kami. Kami sudah berpengalaman mengurusi kuda jenis apapun,” berkata penjaga pintu gerbang itu.

Tetapi sambil tertawa Kiai Windu berkata, “Aku sudah rindu kepada kudaku. Demikian juga kawan-kawan ini. Kami hanya sebentar, asal saja sempat melihatnya. Kami masih akan kembali ke permainan dadu itu.”

Penjaga itu tidak menghiraukan lagi. Dibiarkannya saja keempat orang itu melihat kudanya yang sudah ditempatkan dikandang khusus bagi kuda-kuda yang dititipkan, yang masih terletak dilingkungan dinding berlapis di Song Lawa itu.

Namun ketika mereka berada di kandang kuda itu, mereka telah mendengar suara cengkerik dibalik dinding. Perlahan-lahan Kiai Windu mendekatinya. Kemudian diucapkannya kata sandi pelahan-lahan, “He, kau itu Pager Bubrah. Lihat awan didepan deretan bintang.”

“Bagus,” terdengar desis dibalik dinding, “tempatku cukup terlindung dibalik semak-semak.”

“Kau tergesa-gesa?” bertanya Kiai Windu.

“Tidak. Ada pesanmu?” bertanya yang diluar dinding.

“Seorang yang agak bongkok telah memberikan laporan yang mencurigakan,” desis Kiai Windu.

Sejenak tidak terdengar jawaban. Sementara seorang kawan Kiai Windu mendekatinya sambil bertanya, “Suara anjing mengonggong itu? Ternyata aku hampir tidak mendengarnya mula-mula.”

“Ya. Telinganya harus lebih peka dalam tugas ini,” sahut Kiai Windu.

“Ternyata kita memang sudah mulai,” berkata kawannya, “apakah orang diluar itu pernah bertemu dan berhubungan dengan orang bongkok?” bertanya Kiai Windu hampir berbisik.

“Aku agaknya memang pernah bertemu,” jawab orang diluar dinding.

Sementara itu, seorang diantara kawan Kiai Windu itu telah menarik kudanya keluar dari kandang. Karena dengan sengaja ia membuat kudanya terkejut, maka kuda itu telah melonjak dan meringkik keras.

Panjaga yang ada dipintu gerbang mendengar pula ringkik kuda itu. Tetapi ia tidak begitu menghiraukannya. Karena menurut perhitungannya, keempat orang itu tentu tidak akan mencuri kuda. Seandainya mereka ingin melakukannya, mereka tidak akan dapat melontarkan kuda-kuda yang dicurinya lewat diatas dinding yang agak tinggi itu.

Sementara itu Kiai Windu bertanya pula, “Dimana kau bertemu dengan orang itu?”

“Agak jauh dari tempat ini. Namun agaknya orang itu memang memperhatikan kami. Apakah orang bongkok itu orang Song Lawa?” bertanya yang diluar.

“Ya. Orang bongkok itu telah memberikan laporan yang tidak aku mengerti. Mungkin melaporkan kehadiranmu,” desis Kiai Windu.

“Orang bongkok atau dua orang tua atau salah seorang diantara mereka,” bertanya yang diluar.

“Orang bongkok,” jawab Kiai Windu.

Sejenak mereka terdiam. Seorang lagi kawan Kiai Windu telah mengeluarkan kudanya pula dari kandang. Beberapa saat kuda-kuda yang ada didalam kandang itu memang agak ribut.

Ternyata seorang telah mendekati mereka. Seorang petugas dari Song Lawa sehingga Kiai Windu harus memberi isyarat kepada orang diluar dinding untuk diam.

“Kenapa dengan kuda-kuda itu?” bertanya petugas itu.

“Siapa kau?” bertanya Kiai Windu.

“Aku petugas yang mengurusi kuda-kuda titipan. Kenapa kau malam-malam begini membuat ribut di kandang kuda?” bertanya petugas itu.

“Aku ingin melihat kudaku. Siang tadi kami tidak sempat melakukannya. Kami sibuk bermain dadu,” jawab kawan Kiai Windu itu.

“Tetapi jangan menakut-nakuti kuda yang lain. Jika ada diantara kuda-kuda itu yang terlepas karena ketakutan, kalian harus menangkapnya,” berkata petugas itu.

“Bukankah kuda-kuda itu tidak akan dapat keluar?” bertanya Kiai Windu.

“Tetapi jika kuda itu berlari-lari di longkangan ini, akan cukup melelahkan untuk menangkapnya,” berkata petugas itu.

“Baiklah. Aku akan bertanggung jawab,” sahut Kiai Windu.

Sejenak kemudian, orang itupun meninggalkan kandang kuda itu sementara Kiai Windu dan kawan-kawannya terpaksa menunggunya sehingga menjadi semakin jauh. Baru kemudian Kiai Windu melanjutkan membicarakannya dengan orang yang diluar.

“Bagaimana dengan orang tua itu?” bertanya Kiai Windu.

“Kau mau mendengar?” bertanya orang diluar.

“Katakan, aku tidak tergesa-gesa juga,” berkata Kiai Windu.

Suara di luar dinding itu terhenti sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku menjumpai dua orang tua di lereng gunung yang agak tinggi. Tetapi mereka nampaknya dengan sengaja telah menyembunyian dirinya.”

“Apakah mereka tahu siapa kau?” bertanya Kiai Windu.

“Tidak. Agaknya mereka tidak tahu. Tetapi keduanya justru mencurigakan,” jawab suara diluar dinding.

“Kenapa keduanya tidak kau tangkap dan kau bawa ke landasan pertama dari tugas ini dan kau serahkan kepada mereka yang berada dilandasan pertama itu?” bertanya Kiai Windu.

“Niatku juga demikian,” jawab orang diluar dinding, “tetapi gagal.”

“Kenapa gagal?” bertanya Kiai Windu selanjutnya.

Orang diluar dinding itupun kemudian menceriterakan usahanya untuk menangkap kedua orang tua itu. Mula-mula keduanya nampak jinak dan tidak berbahaya. Tetapi ketika keduanya akan ditangkap, ternyata kelima orang diluar dinding itu tidak mampu melakukannya.

“Kami telah bertempur,” berkata orang itu. Sekilas teringat angan-angannya apa yang telah terjadi.

Berlima itu telah menemukan dua orang tua yang duduk dibatu-batu padas diatas sebuah tebing. Dari tempat itu, keduanya dapat jelas melihat lingkungan Song Lawa, meskipun tanpa dapat melihat bagian-bagian yang kecil. Tanpa dapat mengenali orang-orang yang nampak sekecil bilalang.

Kelima orang itu mencurigai dua orang tua yang nampaknya memang sedang mengamati Song Lawa dengan tujuan yang tidak jelas. Karena itu, maka kedua orang tua itu akan dibawa ke landasan tugas mereka berlima. Tetapi orang-orang tua itu menolak sehingga kelima orang itu mencoba untuk memaksa.

Tetapi setelah bertempur beberapa saat, maka ternyata kedua, orang itu memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa kesulitan apapun mereka setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan. Bahkan sekali-sekali menyentuh tubuh mereka berlima berganti-ganti. Sentuhan itu tidak terlalu keras, tetapi rasa sakitnya bagaikan menembus sampai kesungsum.

“Ternyata keduanya adalah orang yang berilmu sangat tinggi,” berkata orang diluar dinding itu.

“Dimana mereka berdua sekarang?” bertanya Kiai Windu.

“Kami tidak tahu. Keduanya tiba-tiba saja terlepas dari tangan kami dan menghilang diantara semak-semak di lereng gunung ini,” jawab orang diluar dinding.

Kiai Windu menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bertanya, “Apakah sudah kau laporkan?”

“Sudah kami laporkan,” jawab orang dibalik dinding, “kedua orang itu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.”

“Baiklah,” berkata Kia Windu pula. Kemudian iapun bertanya, “Bagaimana dengan orang bongkok itu?”

“Agaknya kami pernah melihatnya. Kami berlima sedang mengadakan pengamatan lingkungan Song Lawa ini,” jawab orang diluar dinding, “tetapi orang itu pun tidak dapat kami tangkap, dan tiba-tiba telah menghilang pula.”

“Apakah menurut dugaanmu orang bongkok itu ada hubungannya dengan kedua orang tua itu?” bertanya Kiai Windu pula.

“Agaknya tidak. Keduanya kami jumpai ditempat yang jauh berbeda. Tetapi kemungkinan itu memang ada juga,” jawab suara itu.

“Baik. Beri aku laporan berikutnya jika ada yang penting. Usahakan untuk menemukan dua orang tua itu. Orang bongkok itu telah berada disini. Di Song Lawa,” berkata Kiai Windu.

Pembicaraan itu terputus. Kiai Windu pun kemudian memerintahkan kawan-kawannya untuk mengembalikan kuda yang telah mereka ambil dari kandang sekedar untuk mengelabui para petugas jika mereka melihat apa yang mereka lakukan.

Sejenak kemudian keempat orang itu pun telah siap untuk kembali ke lingkungan Song Lawa dengan memasuki pintu gerbang dilapis terakhir yang dijaga ketat itu.

Sementara itu seorang kawannya berdesis, “Agaknya memang perlu perhatian khusus.”

“Ya,” jawab Kiai Windu.

Sedangkan kawannya yang lain berkata, “Bukankah tugas ini tidak termasuk dalam rencana induk dalam gerakan ini?”

“Memang tidak,” jawab Kiai Windu, “menurut rencana induk, baru dua hari lagi orang-orang kita bergerak. Tetapi seperti yang aku katakan, kita atau katakan para petugas itu harus dibekali dengan pengenalan medan. Karena itu, maka ada beberapa orang yang ditugaskan khusus untuk mengenali medan ini.”

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mereka sudah berada di dekat pintu gerbang. Tanpa kesulitan mereka-pun kemudian masuk kembali kedalam lingkungan Song Lawa melewati pintu gerbang di lapis terakhir dari dinding yang belapis itu.

Namun mereka berempat masih mencari tempat yang tidak banyak diperhatikan orang didalam lingkungan yang khusus itu. Sementara itu di barak permainan dadu masih terdengar betapa ramainya orang-orang yang ikut dalam permainan itu.

“Kita harus bekerja lebih cepat,” berkata Kiai Windu, “kita harus segera mengumpulkan laporan itu.”

“Kita sudah mempunyai bahan yang lengkap tentang tempat ini setelah kita beberapa kali melibatkan diri dalam perjudian disini,” berkata seorang kawannya, “namun demikian, mungkin masih ada juga yang terlampau dari pengamatan kami.”

“Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian,” berkata Kiai Windu, “hadirnya dua orang berilmu tinggi yang menyebut dirinya Wanengbaya dan Wanengpati serta kedatangan orang yang mempunyai nama terkenal di pesisir Utara, Orang Hutan berkepala Besi itu.”

Ketiga orang kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Kita tidak tahu dengan pasti, untuk apa mereka berada disini. Tetapi Wanengbaya dan Wanengpati nampaknya bukan orang yang mempunyai niat buruk. Mungkin keduanya mempunyai kepentingan tertentu, justru terhadap anak-anak muda yang ada di sini. Setiap kali yang mereka bicarakan adalah tentang anak-anak muda. Keduanya nampaknya sangat menyesal melihat bahwa ditempat ini ada juga anak-anak muda dan bahkan remaja.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah. Kita kembali ke barak permainan dadu. Usahakan untuk dapat melihat lagi orang bongkok itu. Tetapi kita harus berhati-hati. Ternyata disini hadir orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.”

Demikianlah keempat orang itupun kemudian telah memasuki barak permainan dadu. Namun ternyata bahwa mereka melihat para petugas nampaknya menjadi semakin bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Orang-orang bertubuh raksasa itu berdiri disetiap sudut dan berjalan hilir mudik disepanjang barak.

“Tentu akibat kedatangan orang bongkok itu,” berkata Kiai Windu didalam hatinya.

Sementara itu, ternyata Kiai Windu dan kawan-kawannya tidak menjumpai Wanengpati didalam barak permainan dadu itu. Karena itu, maka keduanyapun tidak ikut bermain pula.

“Kita kembali kebilik,” berkata Kiai Windu.

Mereka berempat pun kemudian meninggalkan tempat permainan dadu itu.

Namun dipintu, seorang kawan Kiai Windu telah berhenti. Bahkan diluar sadarnya mulutnya telah bersiul lirih.

Kawannya yang lain telah mendorongnya dengan sikunya sambil berdesis, “Apalagi yang kau lihat?”

“O, tidak apa-apa,” jawab orang itu.

Namun kawannya yang lain berdesis, “Kenapa tidak kau sapa saja perempuan itu dan kau ajak makan dan minum di kedai itu?”

“Aku tidak melihatnya,” jawab kawannya yang bersiul kecil itu.

Yang lain tertawa. Kiai Windupun tertawa. Sementara perempuan yang lewat itu sama sekali tidak berpaling.

Dalam pada itu, maka orang yang telah memberikan isyarat dengan gonggong anjing sehingga Kiai Windu telah berada di kandang kuda itu pun telah meninggalkan semak-semak tempat ia bersembunyi. Beberapa puluh langkah, ia telah bergabung dengan tiga orang kawannya yang lain. Dengan sangat berhati-hati mereka pun telah bergerak menjauhi dinding dari Song Lawa yang merupakan lingkungan yang gawat itu.

Semakin jauh mereka dari Song Lawa, mereka merasa bahwa mereka menjadi semakin aman. Mereka agaknya memang sudah terlepas dari kemungkinan diketahui oleh para petugas di tempat perjudian itu, meskipun merekapun tetap menyadari, bahwa petugas dari Song Lawa itu tentu ada juga yang berkeliaran sampai jarak yang agak jauh dari tempat perjudian itu sendiri. Bahkan mungkin di padukuhan-padukuhan di kaki gunung itu.

Namun sebenarnyalah bahwa keempat orang itu tidak mengetahui, bahwa semua tingkah lakunya telah diikuti oleh dua orang tua yang pernah berkelahi melawan mereka. Dua orang tua yang luput dari tangan mereka. Bahkan ternyata bahwa kedua orang tua itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Sementara itu, ketika keempat orang itu telah menjadi semakin jauh, kedua orang tua itu justru telah berhenti. Mereka duduk diatas batu-batu padas dilereng gunung itu dalam kegelapan malam.

“Bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya seorang diantara mereka.

“Yang lain,” Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengerti. Untuk siapakah mereka bekerja. Jika mereka bekerja untuk sekelompok penjahat yang berkeberatan besar, atau gabungan dari beberapa kelompok penjahat, maka keadaan akan menjadi gawat. Penjahat-penjahat itu tentu mengetahui bahwa disini terdapat banyak sekali uang dan tentu juga perhiasan. Banyak barang-barang berharga yang kadang-kadang menjadi taruhan.”

Tetapi Kiai Badra pun berkata, “Jika sekelompok penjahat akan memasuki lingkungan itu, tentu diperlukan kekuatan yang sangat banyak. Di Song Lawa itu kecuali para pengawalnya yang tentu sudah terlatih, juga terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan bertempur. Jika para penjahat itu menyerang Song Lawa, maka mereka akan menghadapi para petugas dan orang-orang yang ada di Song Lawa itu. Para penjudi itu tentu tidak akan merelakan uang dan barang-barangnya yang berharga diambil oleh para penjahat.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Apakah ada kemungkinan lain?”

“Tentu ada. Tetapi aku tidak dapat menebak,” berkata Kiai Soka.

Keduanya mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu Kiai Soka pun berdesis, “Ada landasan pertama bagi tugas mereka itu.”

Kiai Badra memandang kekejauhan, seakan-akan ingin menembus kekegelapan. Dengan nada rendah ia pun berkata, “Bagaimana caranya agar kita dapat memberitahukan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung.”

“Memang satu masalah,” sahut Kiai Soka, “jika mereka tidak mengetahuinya, ada kemungkinan keduanya terjebak dalam persoalan yang dapat menyulitkan kedudukan mereka.”

Kiai Badra akan menjawab. Namun tiba-tiba saja ia menggamit Kiai Soka.

Ternyata Kiai Soka pun tanggap. Karena itu, maka keduanya tidak lagi berbicara. Keduanya duduk saja sambil memandang kedepan. Namun telinga mereka telah mereka buka lebar-lebar. Ternyata mereka mendengar desir lembut mendekat.

Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka keduanya pun mengetahui bahwa yang datang mendekati mereka bukannya hanya seorang.

Kiai Badra dan Kiai Soka sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Tetapi mereka bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian beberapa orang telah muncul dari balik gerumbul. Mereka langsung mengepung mereka berdua. Seorang yang berdiri didepan mereka, memberi isyarat kepada seorang yang lain untuk mendekat.

“Apakah benar mereka berdua?” bertanya orang itu, yang agaknya pemimpin dari kelompok orang yang mengepungnya.

Orang yang datang mendekat itu pun mengamati Kiai Badra dan Kiai Soka sejenak. Kemudian ia pun mengangguk. Katanya, “Ya. Dua orang inilah yang telah lepas dari tangan kami.”

Pemimpin kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada tinggi ia berkata, “Nah, jika demikian kita akan menangkapnya dan membawa keduanya.”

Kiai Badra dan Kiai Soka masih berdiam diri. Mereka dengan demikian mengetahui bahwa diantara orang-orang yang mengepungnya itu adalah orang-orang yang pernah berusaha menangkapnya.

“Ki Sanak,” berkata pemimpin kelompok itu, “sekarang kalian tidak perlu melarikan diri. Tidak ada gunanya. Menyerah sajalah. Kau akan kami bawa ke tempat kami.”

Kiai Badra lah yang kemudian bertanya, “Tetapi apakah salah kami terhadap kalian. Kita baru saja bertemu. Dan tiba-tiba kalian ingin menangkap kami.”

“Jika kalian memang tidak bersalah, kami tentu akan segera melepaskan kalian,” berkata pemimpin kelompok itu.

“Tetapi apakah kalian berhak menangkap seseorang? Siapakah kalian?” bertanya Kiai Soka.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Siapapun kami, itu tidak penting bagi kalian. Kamilah yang ingin tahu, siapakah kalian berdua.”

Tetapi jawab Kiai Badra, “Siapapun kami, juga tidak penting bagi kalian. Tetapi jika kalian merasa berhak menangkap kami tanpa landasan kekuasaan apapun, maka kami pun berhak menangkap kalian.”

“Persetan,” geram pemimpin kelompok itu, “kalian jangan membuat persoalan menjadi semakin rumit. Ikut kami. Kami hanya ingin tahu serba sedikit tentang kalian berdua. Kenapa kalian mengawasi tempat perjudian itu.”

“Kami tidak mengawasi tempat perjudian itu,” jawab Kiai Soka, “kami tidak peduli sama sekali.”

“Nanti hal itu kita bicarakan. Marilah, ikutlah kami,” berkata pemimpin kelompok yang telah mengepung dua orang tua itu.

Kiai Soka dan Kiai Badra sempat memperhatikan orang-orang yang ada disekitarnya. Namun sebelum mereka mengatakan sesuatu, pemimpin kelompok itu telah mendahuluinya, “Kami semua berjumlah tujuh orang. Dua orang lebih banyak dari saat kau sempat melarikan diri. Tetapi selain jumlah kami yang lebih banyak, diantara kami terdapat orang -orang yang berilmu, sehingga kalian tidak akan lagi dengan mudah dapat menghindari kami.”

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra, “sebenarnya tidak ada persoalan bagi kita. Seandainya kalian sedang mengamati Song Lawa untuk kepentingan kalian, dan kami juga melakukan untuk kepentingan kami, apakah salahnya? Kita tidak usah bertengkar. Kita dapat berbuat sesuai dengan kepentingan kita masing-masing tanpa saling mengganggu.”

“Sayang,” berkata pemimpin kelompok itu, “kami tidak dapat berbuat demikian. Kami ingin menangkap kalian berdua.”

“Baiklah jika demikian,” berkata Kiai Badra, “kami juga ingin menangkap kalian bertujuh.”

Pemimpin kelompok itu menjadi tegang. Namun ia-pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Agaknya kita berhadapan dengan orang-orang tua yang kurang waras. Berhati-hatilah. Meskipun mereka agak kurang waras, tetapi mereka berilmu tinggi.”

Ketujuh orang itu pun segera mempersiapkan pula. Sambil tertawa Kiai Badra berkata, “jadi kau menganggap bahwa kami kurang waras karena sikap kami? Jika demikian, maka kalian pun tidak waras pula karena kalian juga akan menangkap kami.”

Pemimpin kelompok itu tidak menyahut. Tetapi ia pun segera memberikan perintah, “Tangkap mereka. Jika mereka melawan, kalian mendapat wewenang untuk melakukan kekerasan. Tetapi usahakan agar kita dapat menangkap mereka hidup-hidup.”

Namun ketika orang-orang itu mulai bergerak, Kiai Badra pun berkata, “Kita akan menangkap mereka sebanyak-banyaknya. Terutama pemimpinnya. Jangan biarkan ia melarikan diri.”

“Persetan,” geram pemimpin dari kelompok itu.

Kiai Badra dan Kiai Soka tidak sempat menjawab lagi. Orang-orang itupun segera mulai bergerak. Nampaknya mereka lebih berhati-hati daripada yang pernah mereka lakukan. Sementara itu menilik sikapnya, maka memang ada diantar a mereka orang-orang yang memiliki ilmu lebih tinggi dari yang lain.

Kiai Badra dan Kiai Soka tidak segera dapat mengetahui tingkat ilmu orang-orang itu. Karena itu, maka mereka merasa wajib untuk tetap berhati-hati.

Ketika orang-orang itu mulai menyerang, maka Kiai Badra dan Kiai Soka justru telah berpencar.

Ternyata orang-orang yang mengepung kedua orang tua itu sulit untuk tetap mengurung keduanya dalam kepungan. Ketika mereka sudah mulai bertempur, maka kedua orang itu benar-benar tidak dapat dibatasi geraknya. Keduanya berloncatan diatas batu-batu padas dalam gelapnya malam.

Tetapi orang-orang yang berusaha menangkap kedua orang tua itu memang menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dua orang diantara mereka adalah orang yang mempunyai ilmu melampui kawan-kawan mereka yang lain. Semakin seru pertempuran itu, maka Kiai Badra dan Kiai Soka semakin dapat menilai kemampuan lawan-lawan mereka sehingga keduanyapun dapat mengetahui, siapakah diantara mereka yang memiliki ilmu tertinggi.

Dengan demikian maka perhatian Kiai Badra dan Kiai Soka adalah tertuju kepada kedua orang itu. Dua orang yang memiliki kelebihan.

Ketika pertempuran itu meningkat semakin cepat, maka Kiai Badra dan Kiai Soka pun telah mengambil jarak semakin jauh. Dua lingkaran pertempuran terjadi di lereng gunung yang kadang-kadang miring berbatu-batu.

Kiai Soka ternyata telah berhadapan dengan tiga orang diantara lawan-lawannya, sedangkan Kiai Badra harus berhadapan dengan empat orang lawan.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang ingin menangkap kedua orang tua itu telah mengalami kesulitan. Diatas tanah yang sulit, yang kadang-kadang terdapat bagian-bagian yang licin, namun kadang-kadang juga bagaikan bergerigi tajam, mereka tidak dapat bergerak sebagaimana mereka bertempur ditempat yang datar.

Sementara itu, Kiai Badra dan Kiai Soka memang memiliki kemampuan yang sulit untuk diimbangi oleh lawan-lawannya. Kedua orang tua itu bukan saja berilmu tinggi, tetapi mereka seakan-akan telah begitu akrab dengan medan.

Karena itu, semakin lama mereka bertempur, maka ketujuh orang yang ingin menangkapnya itu justru semakin mengalami kesulitan. Kedua orang tua itu bergerak semakin cepat, justru diatas tanah yang semakin sulit diinjak.

Bahkan kemudian ternyata bahwa justru serangan-serangan orang tua itulah yang mulai mengenai lawan-lawannya. Semakin lama bahkan menjadi semakin sering.

Orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari yang lain itu pun berusaha untuk memancing perhatian orang tua itu. Mereka berusaha mempercepat tata gerak mereka. Serangan-serangan merekapun datang membadai. Namun kedua orang tua itu seakan-akan tidak terpengaruh karenanya. Mereka masih saja mampu bergerak melampaui kecepatan semua lawan-lawannya.

Bahkan seorang diantara kedua orang tua itu berkata, “Kami memang ingin menangkap kalian. Jangan menyesal, jika kami membawa kalian ketempat yang tidak kalian mengerti sama sekali.”

“Persetan,” geram pemimpin kelompok itu, “aku tidak akan dapat kau takut-takuti.”

Belum lagi mulutnya terkatup rapat, maka ujung tiga buah jari lawannya yang merapat telah mengenai dadanya.

Orang itu telah terdorong surut. Keluhan yang pendek terdengar. Pemimpin kelompok itu hampir saja jatuh terjerembab. Apa lagi tidak jauh dari arena perkelahian itu terdapat lereng yang agak terjal. Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi seseorang yang terjatuh kedalamnya, akan sulit untuk dapat segera bangkit. Tubuhnya tentu akan dikoyak oleh batu-batu padas yang runcing tajam.

Demikianlah, semakin lama maka keseimbangan dari pertempuran itupun menjadi semakin berat sebelah. Justru kedua orang tua itulah yang telah berhasil menguasai medan. Keduanya mampu bergerak kemana mereka kehendaki, meskipun lawan mereka berlipat banyaknya.

Namun akhirnya, Kiai Badra dan Kiai Soka memandang bahwa perkelahian itu sama sekali tidak ada gunanya. Keduanya juga tidak ingin benar-benar menangkap ketujuh orang itu, karena mereka tidak mempunyai kelengkapan untuk menahan mereka. Sedangkan untuk membunuh mereka, keduanya sama sekali tidak berniat. Keduanya belum tahu pasti siapakah mereka, sehingga kematian harus dinilai dengan cermat.

Karena itu, maka akhirnya Kiai Badra telah memberi isyarat kepada Kiai Soka untuk meninggalkan arena saja. Seperti yang telah terjadi, maka dengan diam-diam mereka telah hilang dari arena pertempuran.

Demikianlah pula saat itu. Kedua orang itu telah mempercepat gerak mereka. Namun tiba-tiba saja keduanya dengan loncatan-loncatan panjang telah mengambil jarak.

Pemimpin kelompok yang ingin menangkap kedua orang itu memang sudah dapat memperhitungkan bahwa kedua orang itu akan meninggalkan arena. Namun pemimpin kelompok itu sama sekali tidak berusaha mencegahnya, atau memberikan aba-aba untuk menahan agar keduanya tidak sempat menghindar. Pemimpin kelompok itu justru memberikan kesempatan kepada keduanya untuk menghindar bukan karena keduanya merasa kalah. Tetapi keduanya merasa tidak perlu lagi melanjutkan perkelahian itu.

Menurut perhitungan pemimpin kelompok itu, kepergian kedua orang itu memberikan arti yang baik baginya. Ia tidak akan kehilangan kewibawaan dimata anak buahnya, karena lawan-lawanlah yang telah meninggalkan gelanggang. Bahkan seandainya kepergian lawannya itu sempat ditahan, maka pertempuran berikutnya pun akan mempunyai akibat yang pahit. Kekalahan.

Ternyata kepergian kedua orang itu, membuat pemimpin kelompok itu sedikit menengadahkan wajahnya. Dengan geram ia berkata, “Mereka melarikan diri.”

“Apakah kita tidak mencarinya?” bertanya salah seorang kepercayaannya yang kurang puas menghadapi cara berkelahi kedua orang tua yang dianggapnya telah menghina mereka bertujuh.

Pemimpin kelompok itu menggeleng. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita tidak akan dapat mencarinya. Tidak ada gunanya, selain sekedar membuang waktu dan tenaga, juga kemungkinan yang lain akan dapat terjadi.”

Orang-orangnya mengangguk-angguk. Sebenarnyalah mereka juga mengalami kelelahan yang sangat.

“Marilah. Kita kembali ke landasan gerak kita,” berkata pemimpin kelompok itu.

Ternyata merekapun telah bergerak. Ketujuh orang itu telah menuju kembali ke landasan gerak mereka.

Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka, demikian melepaskan lawan-lawan mereka, telah bergeser ketempat yang lebih tinggi. Mereka telah duduk pula dibatu-batu padas membicarakan ketujuh orang yang ingin menangkap mereka.

“Kenapa mereka menganggap mempunyai wewenang untuk menangkap seseorang?” bertanya Kiai Soka.

Kiai Badra menggeleng sambil berkata, “Entahlah. Mungkin mereka memang merasa mempunyai kewenangan itu. Mungkin mereka merasa terlalu kuat untuk dapat melakukannya atas orang lain yang dianggapnya lemah. Atau katakanlah, mereka terbiasa berbuat apa saja tanpa ada yang sempat menghalangi.”

“Bagaimana kalau kita mencari keterangan lebih jauh tentang mereka?” bertanya Kiai Soka.

“Apa yang akan Kiai lakukan?” bertanya Kiai Badra.

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam, sementara Kiai Soka berkata, “Untuk sementara, biarlah kita tidak terlalu banyak memperhatikan mereka, selama kita masih dapat berlari-lari menghindar jika kita bertemu seperti yang terjadi saat ini. Namun bahwa mereka tentu merupakan satu gerakan yang besar, yang berhubungan dengan Song Lawa itu agaknya hampir dapat dipastikan. Tetapi siapakah mereka, dan apa kepentingan mereka itulah yang tidak kita ketahui.”

Tetapi menilik sikap dan cara mereka bertempur, agaknya mereka bukan para penjahat yang keras dan kasar. Namun kemampuan mereka tidak berada dibawah kemampuan orang-orang kasar dan bahkan liar sekalipun,” desis Kiai Badra.

Kedua orang tua itu pun mengangguk-angguk. Namun untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri merenungi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan yang mereka alami.

Dalam pada itu. di Song Lawa Kiai Windu dan kawan-kawannya telah berada didalam bilik mereka pula. Beberapa orang diantaranya mereka telah terbaring dipembaringan. Yang kemudian duduk disudut adalah Jati Wulung dan seorang kawan Kiai Windu. Untuk beberapa saat merekapun saling berdiam diri. Namun tiba-tiba kawan Kiai Windu itu bertanya, “He, kau lihat seorang perempuan dengan pedang di lambung?”

Jati Wulung berpaling. Namun sambil mengerutkan keningnya ia menyahut, “Tidak. Aku tidak melihatnya.”

“Bohong. Kau tentu melihatnya. Atau seorang perempuan yang berpakaian seperti laki-laki. Nampaknya ia tidak membawa senjata. Tetapi ia tentu mempunyai senjata rahasia, atau pengawalnya yang selalu mengamatinya dari kejauhan sehingga seolah-olah perempuan itu hanya seorang diri,” desis orang itu.

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia-pun menawab, “Aku tidak banyak memperhatikan perempuan.”

“Ah, jangan begitu,” sahut kawan Kiai Windu, “kau juga selalu memperhatikan perempuan-perempuan di tempat ini.”

Jati Wulung justru tertawa. Katanya, “Aku lebih senang memperhatikan ayam aduan daripada perempuan.”

“He, siang tadi aku melihat seorang perempuan berbaju kuning seperti kulitnya di tempat sabung ayam,” berkata kawan Kiai Windu.

“Sudahlah,” desis Jati Wulung, “kita berbicara yang lain. Mungkin tentang permainan dadu, adu ayam atau panahan?”

Orang itu mengerutkan dahinya. Disandarkannya kepalanya pada dinding ruangan. Namun ia berdesah, “Paling menyenangkan adalah berbicara tentang diri sendiri. He, bagaimana mungkin kau dapat menang melawan orang yang ditakuti di pesisir Utara itu? Dengan demikian, jika kau mau pergi ke pesisir Utara, maka kau akan menjadi hantu disana.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia hanya tersenyum saja. Bahkan sambil menguap.

Sejenak kemudian, maka bilik itu pun menjadi hening. Orang-orang yang berbaring sudah tertidur nyenyak. Sementara Jati Wulung dan kawan Kiai Windu itu pun telah tenggelam dalam angan-angannya masing-masing.

Sekali-kali masih terdengar suara tertawa diluar. Atau bahkan orang yang mengumpat-umpat karena kalah dibilik permainan dadu. Atau orang-orang yang bertengkar, bahkan ada juga terdengar orang-orang yang berkelakar. Tetapi suasana malam memang menjadi semakin hening.

Meskipun demikian, di barak permainan dadu, orang-orang masih ramai mempertaruhkan uang mereka. Tetapi semakin lama memang menjadi semakin sedikit.

Jati Wulung dan kawan Kiai Windu yang berjaga-jaga itu masih mendengar suara perempuan di bilik sebelah. Bukan suara kasar dan mengumpat-umpat seperti biasanya. Tetapi tertawanya terdengar segar. Dengan gembira perempuan itu mengungkapkan perasaannya. Ternyata ia telah menang di barak permainan dadu meskipun tidak terlalu banyak.

Tetapi suara itu tidak terlalu lama terdengar. Agaknya orang-orang dibilik sebelah itupun telah mengantuk. Mereka dengan segera telah berbaring dan bahkan tertidur dengan mimpi segar karena kemenangannya di perjudian.

Jati Wulung yang telah beberapa kali menguap masih mencoba bertahan. Ia sendiri heran, kenapa tiba-tiba saja ia didera oleh perasaan kantuk. Padahal biasanya ia mampu bertahan bukan saja untuk semalam suntuk, tetapi lebih lama dari itu. Pada saat-saat ia menjalani laku ketika sedang memperdalam ilmu kanuragan, ia harus melakukan pati geni selama tiga hari tiga malam dan tidak boleh tidur sama sekali. Semuanya itu pernah dilakukannya. Bahkan dalam perjalanan yang berat melintas dari pesisir Kidul ke pesisir Utara, iapun sama sekali tidak berhenti apalagi tidur.

Namun justru karena itu, maka ia justru menjadi curiga. Ia merasakan sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

Hampir diluar sadarnya Jati Wulung beringsut mendekati Sambi Wulung yang tertidur nyenyak. Demikian juga Kiai Windu dan apalagi kawan-kawannya. Sementara itu kawannya yang berjaga-jaga itupun menjadi gelisah. Bahkan sekali-sekali matanya telah terpejam.

Jati Wulung memang sampai pada satu kesimpulan, bahwa ada yang tidak wajar. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka Jati Wulung segera menyadari, bahwa tempat itu telah terkena sirep yang sangat tajam. Kekuatan sirep yang sangat besar pula, karena agaknya dapat menyelimuti seluruh lingkungan Song Lawa.

Dalam pada itu, Sambi Wulung yang sedang tertidur nyenyak itupun menjadi semakin nyenyak. Agaknya ia tidak bersiap sama sekali menghadapi pengaruh sirep itu. Karena itu, maka ia sama sekali tidak melakukan perlawanan untuk mengatasinya.

Jati Wulung menyadari akan hal itu. Karena itu, maka iapun kemudian telah membangunkan Sambi Wulung. Dengan kuat ia mengguncang tubuhnya sambil membisikkan namanya ditelinganya.

“Bangunlah. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi,” berkata Jati Wulung. Sementara itu kawan Kiai Windu yang duduk bersandar dinding itu justru telah tertidur pula.

Sambi Wulung memang membuka matanya. Tetapi mata itu segera terkatub lagi.

“Bangunlah. Cepat,” desis Jati Wulung sambil mengguncang tubuh itu pula.

Ketika sekali lagi Sambi Wulung membuka matanya, maka Jati Wulungpun berkata, “Kau telah terkena ilmu sirep.”

Suara itu didengar oleh Sambi Wulung. Dengan demikian, maka iapun telah berusaha untuk bangkit dan duduk meskipun mata masih separo terpejam.

“Bangunlah. Atasi perasaan kantukmu. Kita terkena sirep yang sangat tajam,” berkata Jati Wulung kemudian.

Sambi Wulung mendengar kata-kata itu semakin jelas. Karena itu, maka iapun mulai berusaha untuk benar-benar bangun.

Ketika Jati Wulung mengulanginya, maka Sambi Wulung benar-benar telah menyadari apa yang terjadi. Iapun kemudian mulai meningkatkan daya tahannya untuk mengatasi perasaan kantuknya. Baru kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Ya. Tentu ilmu sirep.”

“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya Jati Wulung.

“Luar biasa. Nampaknya kekuatan ini telah mencengkam seluruh lingkungan perjudian ini,” desis Sambi Wulung.

“Agaknya memang demikian. Sementara itu kita tidak tahu, berapa orang yang dapat mengatasi kekuatan sirep ini,” gumam Jati Wulung kemudian.

“Kita bangunkan Kiai Windu,” berkata Sambi Wulung.

“Tidurnya terlalu nyenyak,” sahut Jati Wulung.

Namun Sambi Wulung telah mencobanya. Diguncang-guncangnya tubuh Kiai Windu. Namun ternyata bahwa orang tua itu sekali-sekali bergumam. Namun iapun telah tertidur lagi.

“Jika ia terbangun, apakah ia akan mampu mengatasi kekuatan sirep ini?” bertanya Jati Wulung.

Sambi Wulung menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Kita akan mencobanya.”

Namun ternyata terlalu sulit untuk membangunkannya. Karena itu maka Sambi Wulungpun berkata, “Aku akan membangunkan dengan cara lain.”

Jati Wulung mengerti maksudnya. Karena itu, maka iapun telah bergeser surut.

Sambi Wulung pun kemudian telah duduk disebelah Kiai Windu yang masih tertidur. Diletakannya tangannya pada lengan Kiai Windu. Dipusatkannya nalar budinya. Dengan sangat berhati-hati, maka disalurkannya getaran yang dapat meningkatkan ketahanan Kiai Windu mengatasi kekuatan ilmu sirep yang tajam itu. Tetapi tanpa mengejutkan dan bahkan mungkin akan dapat merusakkan bagian dalam tubuhnya.

Usaha Sambi Wulung itu hanya dilakukan untuk saat yang sangat pendek. Ketika kemudian Sambi Wulung membangunkannya, maka Kiai Windu itupun telah terbangun pula.

“Ada apa?” bertanya Kiai Windu.

“Kawanmu telah tertidur,” berkata Sambi Wulung.

“O,” Kiai Windu mengerutkan dahinya. Memang timbul prasangka yang kurang baik didalam hatinya melihat sikap Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun tidak lama, karena Sambi Wulung pun berkata, “bertahanlah. Aku sudah mencoba untuk menyalurkan getaran dalam dirimu sekedar untuk mengatasi kekuatan sirep sebelum kau dapat bangun dan membangunkan pertahananmu sendiri.”

“Sirep?” desis Kiai Windu.

“Ya. Kau dapat menangkap suasananya sekarang setelah kau benar-benar bangun,” berkata Sambi Wulung pula.

Sebenarnyalah Kiai Windu pun merasakan kelainan suasana. Namun ternyata bahwa ia pun segera dapat mengenali apa yang telah terjadi di Song Lawa itu. Karena itu maka katanya, “Ya. Sirep yang sangat tajam.”

“Usahakanlah agar kau dapat bertahan,” berkata Sambi Wulung.

“Terima kasih atas usahamu,” berkata Kiai Windu yang kemudian memandangi kawan-kawannya yang sudah tertidur nyenyak pula. Lalu katanya lebih lanjut, “Mereka tidak akan mampu menerobos batas untuk dapat bangun sepenuhnya. Jika mereka menyadari keadaan ini sebelum mereka tertidur, mungkin mereka akan dapat bertahan. Tetapi dalam keadaan tidur seperti itu, akan sangat sulitlah bagi kita untuk membangunkannya.”

“Jika demikian, biarkanlah mereka tidur,” berkata Sambi Wulung. Lalu katanya pula, “Tetapi apa yang dapat kita lakukan kemudian?”

Kiai Windupun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan melihat suasana diluar.”

Kiai Windu bersama Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian dengan sangat berhati-hati telah membuka pintu bilik mereka. Dengan hati-hati mereka menyusuri lorong didalam bilik. Baru kemudian mereka keluar dari pintu barak.

Suasana telah menjadi sangat sepi. Hampir tidak ada lagi orang yang terbangun.

Namun dalam pada itu, seorang yang bertubuh raksasa lewat sambil mengumpat kasar. Tetapi ketika raksasa itu melihat ketiga orang yang berdiri di luar pintu barak itupun telah mendekatinya. Dengan gelisah orang itu berkata, “Kau rasakan suasana ini he?”

“Ya,” berkata Kiai Windu.

“Setan itu datang lagi,” geram raksasa itu.

“Siapa?” bertanya Sambi Wulung.

“Para perampok. Mereka menganggap bahwa tempat ini akan dapat dirampoknya. Beberapa tahun yang lalu, hal serupa pernah juga terjadi,” berkata raksasa itu.

“Apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu?” bertanya Kiai Windu yang memang pernah beberapa kali datang ketempat itu. “Selama aku sering berkunjung ke Song Lawa, belum pernah terjadi perampokan disini.”

“Beberapa tahun yang lalu. Mungkin kau belum datang kemari atau kau memang sedang tidak datang,” jawab orang bertubuh raksasa itu.

“Lalu sekarang bagaimana?” bertanya Jati Wulung.

“Kita akan menghimpun kekuatan diantara mereka yang masih terbangun. Yang mampu mengatasi kekuatan sirep ini tentu orang-orang berilmu. Kita harus bekerja bersama untuk mencegah agar mereka tidak merampok seluruh isi lingkungan ini seperti beberapa tahun yang lalu itu,” berkata orang bertubuh raksasa itu.

“Sekarang dimana kawan-kawanmu?” bertanya Sambi Wulung.

“Hanya beberapa orang yang lolos. Mereka juga sedang mengumpulkan orang-orang di barak yang lain yang luput dari kekuatan sirep ini.”

“Bagaimana di barak permainan dadu itu?” bertanya Sambi Wulung.

“Hanya tiga orang yang dapat membebaskan diri dari pengaruh buruk ini,” jawab orang bertubuh raksasa itu.

“Lalu sekarang bagaimana?” bertanya Sambi Wulung.

“Kita berkumpul didepan barak permainan dadu. Ditempat itu banyak sekali tersimpan uang dan barangkali juga perhiasan yang masih dikenakan oleh mereka yang tertidur,” jawab orang bertubuh raksasa itu.

Mereka pun kemudian tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan tergesa-gesa mereka telah pergi ke barak permainan dadu. Tetapi mereka tidak masuk kedalam barak itu.

Dimuka barak itu telah berkumpul pula beberapa orang. Mereka yang bertubuh raksasa dari para petugas, ternyata hanya kurang dari separuh yang tidak tertidur. Sementara itu, yang lain telah tertidur nyenyak. Sedangkan mereka yang memasuki Song Lawa itu sambil membawa uang dan mungkin perhiasan untuk berjudi, yang masih tetap sadar sepenuhnya untuk melawan para perampok, telah bersiaga pula sepenuhnya.

Ternyata jumlah mereka terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang ada di Song Lawa. Namun mereka benar-benar orang pilihan karena mampu mengatasi sirep yang tajam.

Dalam pada itu, Kiai Windu memang menjadi sangat gelisah. Jika benar, beberapa orang perampok akan memasuki tempat perjudian itu, maka banyak kemungkinan dapat terjadi.

“Apakah jumlah ini memadai untuk melawan perampok yang dipersiapkan memasuki tempat perjudian ini? “ tiba-tiba ia berdesis ditelinga Sambi Wulung.

“Kita belum tahu berapa banyak dan seberapa tinggi ilmu mereka,” jawab Sambi Wulung.

“Sekelompok perampok yang berani memasuki lingkungan ini tentu sudah dipersiapkan benar-benar,” berkata Kiai Windu pula.

“Tetapi mungkin juga tidak begitu banyak. Jika mereka terlalu percaya kepada kekuatan ilmu sirep mereka, maka dengan jumlah yang kecil mereka akan berani melakukannya, karena menurut perhitungan mereka, orang-orang di Song Lawa itu telah tertidur seluruhnya,” jawab Sambi Wulung.

“Aku kira mereka sebelumnya telah memasukkan orang-orangnya kedalam lingkungan ini. Mereka tentu petugas-petugas sandi yang akan menilai isi dari padepokan ini untuk memperhitungkan kekuatan yang diperlukan,” berkata Kiai Windu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian. Tetapi kita akan melihat, apa yang akan terjadi.”

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Hampir diluar sadarnya ia telah menggamit Jati Wulung sambil memandang kesatu arah.

Jati Wulung pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang yang dipanggil Kepala Besi itupun telah datang pula ketempat mereka berkumpul bersama seorang kawannya.

Demikian ia tiba diantara para pengawal yang bertubuh raksasa itu, maka iapun berkata, “Setan manakah yang akan berani memasuki tempat ini? Mereka tentu orang-orang yang ingin membunuh diri. Atau mungkin mereka tidak mengetahui bahwa aku. Kepala Besi, berada disini hari ini.”

Namun kata-katanya bagaikan patah ketika ia melihat Jati Wuiung berdiri tegak memandanginya.

Kepala Besi itu telah memalingkan wajahnya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Jati Wulung pun sama sekali tidak berbuat apa-apa. Bahkan ia pun tidak lagi memandangi orang yang dikenal dengan sebutan Kepala Besi itu.

Dalam pada itu, suasana memang dicengkam oleh ketegangan. Seorang petugas yang bertubuh raksasa telah datang dari pintu gerbang sambil berkata, “Dua orang kawan kita menunggui pintu gerbang yang ditutup rapat.”

Tetapi seseorang diantara mereka menyahut, “Aku tidak yakin bahwa mereka akan memasuki lingkungan ini lewat pintu gerbang.”

Para petugas itu mengerutkan keningnya. Namun seorang diantara mereka menyahut, “Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Tetapi beberapa tahun yang lalu, ketika mereka datang ke tempat ini, mereka masuk lewat pintu gerbang yang dirusaknya.”

“Tetapi darimana kalian mengetahui, bahwa akan datang sejumlah perampok memasuki lingkungan ini?” tiba-tiba saja Kiai Windu bertanya.

“Suasana ini,” jawab orang bertubuh raksasa itu, “seperti beberapa tahun yang lalu, mereka juga menaburkan sirep yang tajam. Sementara itu, petugas kami yang mengamati keadaan dilingkungan padepokan ini kemarin telah melihat orang-orang yang mencurigakan berkeliaran.”

Kiai Windu menjadi semakin berdebar-debar. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut.

Sebenarnyalah, sekelompok perampok yang garang telah bersiap diluar lingkungan perjudian itu. Seorang diantara mereka, yang agaknya pemimpinnya, telah memberikan beberapa perintah kepada orang-orangnya.

Sementara itu, tiga orang diantara mereka yang memiliki kemampuan ilmu sirep telah menebarkan ilmunya meliputi seluruh lingkungan Song Lawa.

Tetapi agaknya mereka masih menunggu sesaat. Mereka menunggu agar sirep yang dilebarkan itu telah merata dan setiap orang telah terpengaruh karenanya.

Ternyata bahwa para perampok itu telah memilih saat yang tepat. Mereka tidak melepaskan sirepnya pada ujung malam, tetapi pada saat orang-orang didalam lingkungan Song Lawa itu telah menjadi letih. Dengan demikian maka pengaruh sirep yang kuat akan membuat mereka semakin lelap dalam tidur. Bahkan mereka yang belum berniat untuk tidurpun akan cepat tertidur pula.

Sebenarnyalah didalam barak permainan dadu itu, beberapa orang yang semula masih duduk bermain, telah terbaring dan tidur nyenyak. Mereka tidak sempat mengumpulkan uang yang masih tetap berserakan. Namun dua orang petugas diantara mereka yang masih mampu bertahan dari pengaruh sirep itu telah berjaga-jaga didalam bilik itu, agar uang yang berserakan itu tetap berada ditempatnya tanpa diusik sama sekali.

Baru beberapa saat kemudian, pemimpin perampok yang berdiri didepan pintu gerbang itu berkala kepada orang-orangnya, “Baiklah. Kita akan mulai sekarang. Agaknya sirep itu telah merasuk keseluruh lingkungan Song Lawa. Tetapi tentu diantara mereka masih terdapat beberapa orang yang lepas dari pengaruh sirep. Justru mereka adalah orang-orang yang pilihan. Para penjaga yang bertubuh raksasa itu tentu ada pula yang mampu mengatasi kekuatan sirep ini. Tetapi jumlah mereka tentu tidak terlalu banyak lagi. Sebanyak-banyaknya separo dari mereka yang mampu melawan kekuatan sirep ini. Jika perhitunganku benar, maka jumlah kita tentu lebih banyak dari mereka.”

Para perampok itupun segera mempersiapkan diri. Mereka sudah siap untuk melakukan apa saja, termasuk kekerasan. Bagi mereka lingkungan Song Lawa itu akan memberikan hasil yang memadai dengan kerja keras mereka dan jumlah mereka yang banyak.

Ternyata perampok itu telah memilih jalan sebagaimana seharusnya mereka memasuki lingkungan itu. Mereka tidak mau memanjat dinding. Tetapi mereka telah menuju kepintu gerbang.

“Beberapa tahun yang lalu, kita berhasil memasuki lingkungan ini dan mendapat uang dan perhiasan yang memadai. Sekarang kita akan mengulangi keberhasilan kita. Jika diantara kita jatuh korban, maka itu adalah hal yang wajar,” berkata pemimpin perampok itu. Lalu katanya, “Orang-orang kita yang berhasil menyusup masuk kedalam lingkungan ini telah memberikan keterangan yang memungkinkan kita melakukannya sebagaimana kita lakukan beberapa waktu yang lalu. Namun kita harus berhati-hati, karena saat ini ada seorang yang perlu diperhitungkan. Orang yang ditakuti di pesisir Utara. Orang Hutan berkepala Besi. Karena itu, orang yang berkepala botak itu harus mendapat lawan yang memadai.

“Serahkan kepadaku,” berkata orang berjambang lebat, “aku pernah mendengar namanya. Tetapi aku pun mempunyai kekuatan yang akan dapat mengimbangi Kepala Besi itu. Aku ditakuti orang disekitar Goa Pabelan. Aku adalah murid terpercaya dari perguruan Wanasanga di Goa Pabelan.”

“Kau jangan mengigau,” geram pemimpinnya, “biarlah aku sendiri menghapi orang itu. Ia berilmu tinggi dan mempunyai beberapa kelebihan dari orang lain. Aku percaya bahwa kakang Wanasanga adalah seorang berilmu tinggi. Jika yang ada disini sekarang adalah kakang Wanasanga, maka aku percaya bahwa ia akan dapat mengimbangi Kepala Besi itu. Tetapi kau, muridnya, yang belum tuntas menyadap ilmunya karena kau begitu tergesa-gesa lari dari perguruanmu, tentu tidak akan dapat menandinginya.”

Orang berjambang lebat itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak membantah.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para perampok itu telah mendekati pintu gerbang. Mereka tahu bahwa pintu gerbang itu tentu diselarak dengan kuat. Tetapi mereka tidak mau memasuki lingkungan itu dengan jalan lain.

Karena itu, maka pemimpin perampok itu telah memerintahkan beberapa orang untuk meloncat masuk. Mereka mendapat tugas untuk membuka pintu gerbang itu dari dalam.

Demikianlah, mereka telah melakukan pada pintu gerbang yang berlapis itu. Namun pada pintu gerbang dilapis terakhir, ketika mereka meloncat masuk, maka dua orang pengawal lingkungan itu telah siap menghadapinya.

Tetapi yang meloncati dinding halaman itu bukan hanya dua orang, tetapi lima orang.

Meskipun demikian, kedua orang pengawal yang bertubuh raksasa itu berusaha untuk mempertahankan pintu gerbangnya. Dengan marah mereka telah menyerang orang-orang yang meloncat masuk.

Dua orang diantara mereka yang memasuki lingkungan itu telah mengikat kedua pengawal itu dalam pertempuran. Meskipun kedua orang bertubuh raksasa itu memiliki tubuh dan kekuatan melampaui orang-orang yang memasuki lingkungan Song Lawa, namun para perampok itu adalah orang-orang liar yang mempunyai banyak sekali pengalaman. Karena itu, maka mereka dengan tangkas mampu mengimbangi kekuatan orang bertubuh raksasa itu. Orang-orang yang memasuki lingkungan perjudian itu dengan cepat menghindari setiap serangan, namun kemudian dengan cepat pula telah membalas menyerang sehingga kadang-kadang orang-orang bertubuh raksasa itu menjadi kebingungan.

Sementara kedua orang kawannya bertempur, maka tiga orang yang lain telah membuka selarak.

Kedua orang pengawal di Song Lawa itu memang menjadi agak kebingungan. Tetapi keduanya tidak dapat melepaskan diri dari lawan-lawan mereka.

Karena itu, maka tiba-tiba saja salah seorang dari pengawal itu telah berteriak keras-keras, “Mereka telah datang. Aku bertempur disini.”

Suaranya memang mengumandang sampai ketelinga orang-orang yang berada di depan barak permainan dadu. Karena itu, maka beberapa orang diantara para pengawal yang bertubuh raksasa itu telah berlari-larian kepintu gerbang. Sementara yang lain serta orang-orang yang berkumpul ditempat itu, telah bersiap-siap pula menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi para pengawal itu ternyata telah terlambat. Ketika mereka mendekati pintu gerbang, maka pintu gerbang itu ternyata telah terbuka.

Dengan demikian maka gerombolan perampok itu-pun telah menghambur memasuki lingkungan perjudian yang disebut Song Lawa itu.

Demikian mereka berada didalam, maka pemimpin merekapun telah berteriak, “He orang-orang Song Lawa. Aku perintahkan kalian semuanya, apakah kalian para pengawal atau orang-orang yang kebetulan mengunjungi tempat ini untuk meletakkan senjata. Jika kalian tidak melawan, maka kami tidak akan menghukum kalian. Namun jika kalian berniat menentang kami, maka kalian akan mengalami nasib yang sangat buruk. Bahkan mungkin kalian tidak akan sempat melihat matahari terbit esok pagi.”

Suara itu telah menggetarkan setiap telinga orang-orang yang berada di lingkungan Song Lawa itu. Para pengawal yang bertubuh raksasa itu justru menjadi semakin marah. Pemimpin merekapun telah berteriak pula, ”Persetan. Aku memberi kesempatan kalian untuk menyingkir. Jika kesempatan ini tidak kalian pergunakan, maka kalian akan terbantai disini.”

Tetapi pemimpin perampok itu tertawa. Katanya, “Jangan menyembunyikan kecemasanmu. Aku tahu bahwa kekuatan yang masih ada dan terlepas dari kekuatan sirep kami, tidak akan separo dari kekuatan yang ada di Song Lawa ini. Dan kami tahu seberapa besar kekuatan sebenarnya. Jika perhitungan kami benar, maka kalian akan hancur jika kalian mencoba melawan. Kami datang dengan orang-orang kami yang berilmu tinggi.”

“Orang-orang yang kebetulan sedang berada di Song Lawa dalam musim perjudian ini, akan ikut bertempur melindungi harta benda mereka,” berkata pemimpin pengawal yang bertubuh raksasa itu.

Tetapi orang itu, yang memimpin gerombolan perampok yang datang ke Song Lawa menjawab dengan suara yang tinggi disela-sela derai tertawanya, “Apakah artinya bagi kami. Ada berapa orang diantara mereka yang masih tetap terbangun? Mereka adalah justru orang yang perlu dikasihani, karena mereka akan mati ditangan kami jika mereka benar-benar akan melawan.

“Diantara mereka ada orang-orang berilmu,” desis pemimpin pengawal.

“Aku sudah tahu bahwa Kepala Besi ada disini. Tetapi ia tidak akan dapat mengalahkan aku. Atau katakan ia memiliki ilmu yang lebih tinggi dari aku, maka tiga orang akan bersamaku membunuhnya dengan memecahkan kepalanya yang sekeras besi itu,” jawab pemimpin gerombolan perampok itu. Karena itu, maka katanya, “Nah. Sekarang menyerahlah. Kalian tidak mempunyai pilihan lain.”

Pemimpin pengawal itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia sadar, bahwa jumlah perampok itu memang lebih banyak dari orang-orang yang masih tetap terjaga di lingkungan perjudian Song Lawa itu. Namun para pena-wal tidak mau begitu saja mengalah sebagaimana terjadi beberapa tahun yang lalu. Jika mereka tidak dapat melindungi harta benda orang-orang yang berjudi di Song Lawa, maka perjudian itu lambat laun tentu akan mereka tinggalkan sehingga akhirnya akan menjadi sepi.

Karena itu, maka ia pun telah bersuit nyaring sebagai pertanda bahwa para pengawalnya harus menyerang dengan segera, termasuk yang masih berada di depan barak permainan dadu.

Mendengar isyarat itu, maka para pengawal yang masih berada di depan barak itupun dengan tergesa-gesa pergi kearah suara isyarat itu. Namun empat orang telah ditinggalkan didepan barak itu. Kecuali jika ada perintah lain, disamping dua orang yang berada didalam.

Orang-orang lain yang masih dapat bertahan dari pengaruh sirep itupun menjadi ragu-ragu. Seorang diantara mereka bertanya kepada para pengawal, “Apa yang harus kami lakukan.”

“Ikut kami. Kita akan bertempur,” jawab pengawal itu.

Merekapun segera menghambur pula kepintu gerbang dengan senjata yang telah telanjang ditangan.

Jati Wulung, Sambi Wulung dan Kiai Windu pun ikut bersama orang-orang itu. Jati Wulung terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling, iapun menjadi makin terkejut. Ternyata yang menggamit itu adalah Kepala Besi.

Dengan segera Jati Wulung telah mengambil jarak. Jika orang itu tiba-tiba saja menyerangnya, maka ia akan dapat melawannya dengan baik.

“Jangan salah paham,” berkata Kepala Besi itu, “kemarin kita memang berkelahi. Bahkan aku hampir mati karenanya. Tetapi aku harus jujur, bahwa aku memang kalah. Sekarang kita akan bertempur bersama-sama menyelamatkan harta benda yang ada di lingkungan perjudian ini. Termasuk harta benda kita sendiri.”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk. Jawabnya, “Kita akan bertempur bersama-sama.”

“Bagus,” berkata Kepala Besi itu kemudian, “sebenarnya tubuhku masih terasa sakit-sakitan, kau memang luar biasa. Tetapi agaknya aku sudah siap untuk bertempur.”

“Kau juga luar biasa,” sahut Jati Wulung, “dalam waktu yang singkat, kau sudah dapat mengatasi kesulitan didalam dirimu.”

“Aku telah dibantu oleh obat-obatan yang sangat kuat pengaruhnya. Jika tidak, tentu aku masih terbaring,” jawab Kepala Besi sambil tertawa.

Jati Wulung pun tersenyum juga. Demikian pula Sambi Wulung dan Kiai Windu.

Demikianlah, akhirnya mereka sampai ke pintu gerbang. Beberapa orang pengawal telah bertempur. Kepala Besi itu masih juga tertawa sambil berkata, “Kali ini aku memakai ikat kepala.”

“Apakah ikat kepalamu tidak akan terbakar?” bertanya Jati Wulung.

“Ya. Tetapi jika perlu,” jawab Kepala Besi itu.

Mereka tidak sempat berbicara lagi. Para perampok ternyata memang merupakan gerombolan yang besar, yang memang dipersiapkan untuk merampok tempat perjudian yang termasuk besar sebagaimana Song Lawa itu.

Melihat orang-orang yang datang itu, pemimpin perampok itu pun berkata, “Kalian adalah orang-orang sombong yang malang. Kenapa kalian tidak menyerah saja? Buat siapa sebenarnya kalian bertempur? Kenapa tidak kalian serahkan saja kepada pengawal yang bertubuh seperti raksasa, tetapi otaknya sedungu keledai dan kekuatan serta kemampuannya sama sekali tidak seimbang dengan tubuhnya yang bagaikan raksasa itu?”

Namun ada juga yang menjawab, “Kami melindungi harta benda kami sendiri yang ada di Song Lawa ini.”

Pemimpin perampok itu tertawa. Katanya, “Jadi, kalian lebih cinta kepada harta benda kalian daripada nyawa kalian.”

Masih juga terdengar jawaban, “Kami tidak akan mati. Tetapi kalianlah yang akan mati disini.”

Pemimpin perampok itu menggeram. Dengan marah ia berteriak, “Siapa yang tidak ingin mati supaya meninggalkan pertempuran ini. Aku tidak mempunyai kesempatan untuk melayani kalian dengan permainan yang menjemukan itu.” Ia berhenti sejenak. Lalu, “He, yang manakah Kepala Besi yang terkenal dan ditakuti di pesisir Utara itu. Aku akan menantangnya, karena aku yakin bahwa aku akan dapat mengalahkannya. Jika orang yang memiliki ilmu tertinggi disini sudah dikalahkan, maka yang lain tentu akan segera tunduk kepada kami.”

Namun terdengar jawaban, “Kepala Besi memang ada disini. Tetapi ia bukan orang yang memiliki ilmu tertinggi. Baru kemarin ia telah dikalahkan oleh seorang yang ternyata memiliki kemampuan ilmu jauh lebih tinggi dari Kepala Besi itu.”

Beberapa orang berpaling kearah suara itu. Ternyata yang berteriak itu adalah Kepala Besi sendiri. Tetapi karena ia tidak membuka saja kepala botaknya seperti biasa, maka ada beberapa orang yang tidak mengenalnya.

Namun pemimpin perampok itu menjawab, “Persetan. Dimana Kepala Besi itu.”

Tidak ada jawaban. Kepala Besi itu pun tidak menjawab pula. Agaknya ia memang segan menampakkan dirinya, karena sebenarnya ia memang masih sedikit merasa sakit dipunggungnya. Namun agaknya rasa sakit itu dapat diabaikannya.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang telah memberikan isyarat itupun berteriak, “Kita sudah bertempur. Kita tidak mempunyai banyak waktu.”

Pemimpin perampok itu pun berteriak pula, “Jika tidak ada orang yang disebut Kepala Besi itu, maka aku akan membunuh siapa saja yang ada dihadapanku.”

Namun ternyata yang ada dihadapannya kemudian adalah Jati Wulung, karena Sambi Wulung berdesis, “Kau sama sekali yang sudah terlanjur dikenal kemampuanmu disini. Tetapi pemimpin perampok yang agaknya juga berilmu tinggi itu. Hati-hati. Jika terdesak, aku terpaksa ikut campur. Jangan tersinggung, sebab kita tidak sedang berperang tanding. Apalagi tugas kita yang sebenarnya masih belum selesai.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun kemudian telah menyusup diantara pertempuran yang segera menyala semakin besar, mendekati pemimpin perampok itu.

“Kau suruh saudaramu mengemban tugas yang berat itu? “ tiba-tiba Kiai Windu bertanya.

“Ya. Tidak ada orang lain karena agaknya Kepala Besi tidak bersedia memenuhi tantangannya,” jawab Sambi Wulung.

“Sebenarnya kita tidak perlu bekerja terlalu berat. Bukankah kita sekedar mempertahankan uang yang kita bawa kemari? Seandainya uang itu harus jatuh ketangan mereka, tentu masih akan lebih baik daripada jiwa kita yang jatuh ketangan mereka.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Apalagi pertempuran segera telah membakar lingkungan Song Lawa itu.

Dalam pada itu, selagi di depan pintu gerbang terjadi pertempuran yang sangit, maka lima orang berdiri termangu-mangu tidak jauh dari lingkungan tempat perjudian

Song Lawa itu. Orang yang agaknya pemimpin mereka itupun berguman, “Setan-setan itu telah mendahului kita.”

Kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka menjawab, “Kita akan menunggu, apa yang akan terjadi.”

“Jika Song Lawa itu kemudian benar-benar hancur dan menjadi karang abang, maka kehadiran kita tidak mempunyai arti apa-apa,” berkata pemimpin itu.

“Kita akan melihat dan mengurai keadaan selanjutnya,” desis yang lain.

“Sudah tentu,” pemimpinnya membentak, “aku sudah tahu itu. Tetapi bahwa mereka datang lebih dahulu, adalah sangat menyakitkan hati. Sementara kita sekarang belum siap untuk bertindak. Jika saja hal ini terjadi dua hari lagi, maka kita akan dapat mengambil langkah lebih baik.”

“Ya.” guman seorang diantara mereka, “ternyata dua orang tua itu tentu petugas yang mereka kirim untuk mengamati keadaan disekitar Song Lawa ini. Atau merekalah yang telah menebarkan sirep yang tajam itu.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Agaknya mereka sependapat dengan pemimpinnya.

Namun dalam pada itu, di tempat lain, Kiai Badra dan Kiai Soka pun melihat kehadiran para perampok. Dengan nada rendah Kiai Badra berkata, “Suatu langkah yang sangat berani. Namun mereka telah mendahului serangan mereka dengan sirep yang kuat.”

Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Memang ilmu sirep yang kuat. Pengaruhnya terasa sampai jauh diluar lingkungan tempat perjudian itu.”

“Agaknya beberapa orang yang kita lihat itu memang sebagian dari segerombolan perampok,” desis Kiai Badra.

Kiai Soka menyahut, “Mungkin. Tetapi apakah kita yakin?”

Kiai Badra memang ragu-ragu. Namun kemudian itu adalah kemungkinan yang terbesar.

Tetapi sementara itu Kiai Badra itu pun berguman, “Bagaimana dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung? Apakah mereka juga terlibat langsung dalam benturan kekuatan antara para perampok dengan para pengawal dan orang-orang yang lolos dari ketajaman ilmu sirep ini.

“Agaknya memang demikian. Mereka, terutama Jati Wulung tentu tidak akan tinggal diam,” berkata Kiai Soka.

“Orang itu memang jauh lebih keras dari kakak seperguruannya,” jawab Kiai Badra.

“Kita akan menunggu, apakah yang terjadi,” desis Kiai Soka, “tetapi mungkin kita akan dapat lebih dekat lagi dengan lingkungan itu.”

“Apakah kita akan terlibat?” bertanya Kiai Badra.

“Kita akan memperhatikan keadaan. Terutama Sambi Wulung Jati Wulung,” jawab Kiai Soka.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan lebih mendekat.”

Demikianlah kedua orang tua itupun telah bergeser lebih mendekati lingkungan yang sedang dilanda api pertempuran itu.

Sebenarnyalah pertempuran di Song Lawa itu telah berlangsung semakin sengit. Kedua belah pihak telah mengarahkan kemampuan mereka untuk dengan cepat mengakiri pertempuran. Apalagi malam tidak lagi tersisa terlalu panjang. Sedangkan para perampok itu sudah tentu tidak mau kesiangan.

Karena itu, maka mereka pun segera mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Namun orang-orang di Song Lawa itu pun merupakan petugas-petugas yang tangguh. Mereka yang tersisa dari cengkaman sirep itu agaknya memang orang-orang yang memiliki lambaran ilmu yang mapan. Demikian pula orang-orang yang lain, yang melibatkan diri dalam pertempuran itu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung masih juga sempat mengamati orang-orang yang ikut terlibat kedalam pertempuran itu. Agaknya tidak seorangpun diantara anak-anak muda yang mampu mengatasi kekuatan sirep yang tajam yang menyelubungi Song Lawa itu.

Dalam pada itu, Jati Wulung yang menghadapi pemimpin perampok itupun segera mengetahui pula, bahwa pemimpin perampok itu adalah orang yang berilmu tinggi.

Dengan demikian maka Jati Wulung harus menjadi sangat berhati-hati. Ia menyadari, bahwa pada saatnya pemimpin perampok itu tentu akan mempergunakan puncak dari kemampuannya.

Untuk beberapa saat Jati Wulung masih memerlukan waktu untuk lebih mengenal watak dari ilmu lawannya itu. Justru karena pemimpin perampok itu sama sekali tidak bersenjata, maka Jati Wulung memperhitungkan kemampuan yang lain yang melampaui tajamnya ujung senjata.

Para perampok yang lainpun telah bertempur pula dengan senjata masing-masing. Ternyata setelah bertempur beberapa saat, memang terdapat beberapa persamaan antara para perampok dan para pengawal lingkungan Song Lawa yang bertubuh raksasa itu.

Merekapun segera terlibat dalam pertempuran yang kasar dan keras.

Melihat ragam senjata mereka pun terdapat beberapa kesamaan pula. Para perampok telah membawa senjata yang tidak terlalu biasa dipergunakan, sehingga kesannya memang mengerikan. Ada diantara mereka yang membawa kapak, membawa bindi, tombak berkait dan jenis-jenis senjata yang lain. Demikian pula para pengawal yang bertubuh raksasa itu. Ragam senjata merekapun serupa, kapak, pedang yang bermata dua, tombak yang tajamnya memakai gerigi duri pandan, tongkat besi dan sejenisnya.

Tingkah laku mereka pun hampir bersamaan pula. Bertempur sambil berteriak dan mengumpat-umpat.

Namun orang-orang yang sedang berada di Song Lawa itupun ada pula yang menunjukkan sikap dan tata gerak yang sama. Seorang yang bertubuh tinggi, berkumis lebat, bahkan telah mengumpat-umpat dengan kasarnya. Senjatanya adalah sebilah golok yang besar sedikit melengkung. Ketika golok itu mulai terayun, maka anginpun rasa-rasanya telah menyambar-nyambar disekitarnya.

Tetapi beberapa orang lain bersikap lain pula. Mereka tidak menunjukkan sikap yang liar meskipun pada umumnya orang-orang yang ada ditempat seperti itu adalah memang orang-orang yang kasar. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berusaha untuk menyesuaikan sikapnya sebagaimana orang-orang lain yang ada di Song Lawa itu.

Sekilas Sambi Wulung sempat melihat bagaimana Kiai Windu bertempur. Ia memang tidak melihat unsur yang liar pada orang itu. Meskipun orang itu bersikap kasar dan kadang-kadang diluar dugaan, tetapi Sambi Wulungpun menduga, bahwa ada sesuatu dibalik sikapnya itu.

Sambi Wulung sendiri telah bertempur dengan pedangnya. Orang-orang yang bertempur di sekitarnya memang tidak sempat melihat, apa yang dilakukannya. Yang kadang-kadang justru menjadi perhatian mereka adalah Jati Wulung yang bertempur melawan pemimpin perampok itu.

Namun agaknya Sambi Wulung telah berbuat diluar perhitungan mereka. Sambi Wulung yang tidak mendapat parhatian itu, ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Karena itu, maka setiap kali ia telah mengejutkan lawan-lawannya. Namun untuk tidak menarik perhatian, Sambi Wulung jarang membuat penyelesaian, ia tidak membunuh lawannya atau melukainya dengan tikaman pedangnya. Tetapi setiap kali ia hanya memperlemah kedudukan lawannya yang kemudian ditinggalkannya untuk mencari lawan yang lain. Jika lawannya telah digores dengan ujung pedangnya, maka Sambi Wulung kemudian telah menghindarinya. Hanya dalam keadaan terpaksa dan diluar perhitungannya, maka pedangnya memang telah menikam sampai ke jantung.

Meskipun demikian, ternyata Sambi Wulung telah menimbulkan banyak kesulitan pada lawan-lawannya. Jika ia menggoreskan pedangnya pada tubuh lawannya, berarti bahwa ia telah memperlemah perlawanannya. Meskipun kemudian Sambi Wulung meninggalkannya, maka orang itu tidak lagi dapat bertempur dengan sepenuh kemampuannya siapapun lawan yang datang kemudian. Dan lawan yang datang kemudian itulah yang biasanya membuat penyelesaian.

Dibagian lain, orang yang disebut Kepala Besi itu pun telah bertempur dengan garangnya. Agaknya ia masih berusaha untuk tidak dikenal sebagaimana sebutannya. Karena itu ia telah mempergunakan senjata pula. Sebuah pedang yang berat ditangannya berputar-putar mengerikan.

Sementara itu, Kiai Windu pun mampu menggerakkan lawan-lawannya. Dengan kemampuan yang tinggi serta pengalaman yang luas manghadapi lawan-lawan yang keras dan kasar, Kiai Windu mampu mendesak setiap lawan yang dihadapinya.

Karena itulah, maka para perampok yang memasuki Song lawa itupun menjadi semaki marah. Semakin keras perlawanan yang mereka hadapi, maka mereka pun menjadi semakin buas dan liar.

Tetapi ternyata bahwa beberapa lama kemudian, beberapa orang perampok telah jatuh. Sebagian besar dari mereka, adalah orang-orang yang pernah berhadapan dengan Sambi Wulung. Yang lain adalah lawan-lawan kepala Besi dan beberapa orang yang memang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang bertubuh raksasa itu pun ada pula yang telah terlempar jatuh. Senjata para perampok yang garang itu sempat pula mengoyahkan kulit daging diantara mereka.

Kemarahan para perampok dan orang-orang yang bertubuh tinggi itu mempunyai warna yang hampir sama pula. Mereka berteriak-teriak dan mengumpat-umpat sejadi-jadinya.

Jati Wulung ternyata telah mendapat lawan yang tangguh. Pemimpin perampok itu memiliki ilmu yang tinggi pula. Karena itu, maka Jati Wulung harus berhati-hati menghadapinya.

Namun pemimpin perampok itu pun menjadi heran pula. Yang diperhitungkannya hanyalah Kepala Besi yang ditakuti di pesisir Utara. Namun ternyata ada juga orang lain yang mampu mengimbangi ilmunya.

Meskipun demikian, sekali-sekali masih terdengar pula orang itu berteriak, “Dimana Kepala Besi itu? Ternyata ia seorang pengecut yang tidak berani menghadapi aku.”

Kepala Besi itu tidak menghiraukannya, ia masih saja bertempur dengan sebuah pedang yang berat. Namun dengan ayunan pedangnya itu ia telah mendesak lawan-lawannya.

Pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit.

Adalah diluar dugaan, bahwa para perampok telah susut dengan cepat.

Sebenarnya bagi Kiai Windu, bertempur pada saat itu bukannya keharusan yang mutlak. Tetapi ia pun tidak ingin melihat Song Lawa benar-benar dihancurkan oleh para perampok itu yang kemudian membawa semua uang dan perhiasan yang ada didalamnya. Karena itu, maka meskipun Kiai Windu menghindari keadaan yang benar-benar berbahaya baginya, ia pun telah bertempur pula menghadapi para perampok itu. Ternyata Kiai Windu mampu memilih lawan yang tidak membahayakan dirinya sendiri.

Tetapi beberapa orang yang lain telah bertempur dengan garangnya. Seorang yang bertubuh kekar telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Kemarahannya telah ditumpahkan lewat ujung senjatanya, karena baginya para perampok itu ternyata telah mengganggu kesenangannya selama ia berada di Song Lawa.

Dalam waktu yang pendek, pertempuran itu telah menjadi semakin menebar. Sebenarnyalah bahwa arah serangan para perampok mula-mula ditujukan kepada para petugas. Tetapi karena orang-orang lain yang kebetulan berada di Song Lawa itu justru menjadi lebih berbahaya dari para petugas, maka merekapun kemudian berusaha untuk menghancurkan orang-orang lain yang kebetulan berada di Song Lawa itu justru menjadi lebih berbahaya dari para petugas, maka mereka pun kemudian berusaha untuk menghancurkan orang-orang itu lebih dahulu.

Pada umumnya orang-orang yang berhasil mengatasi kekuatan sirep itu memang orang-orang berilmu. Itulah sebabnya, maka para perampok sulit untuk dapat menghancurkan mereka. Bahkan dalam setiap pertempuran seorang melawan seorang, maka para perampok itu tentu segera dapat dikalahkan.

Tetapi jumlah perampok itu memang lebih banyak dari mereka yang sempat terhindar dari kekuatan sirep itu. Karena itu, maka orang-orang itupun harus bertempur dengan segenap kemampuan dan ilmunya, karena kadang-kadang mereka harus menghadapi lawan yang tidak hanya seorang.

Para perampok yang kasar itu ternyata cerdik juga mengatasi kemampuan lawan-lawan mereka. Setiap kali seorang perampok terdesak, maka muncullah kawannya untuk membantunya. Sehingga dengan demikian, maka ada diantara para perampok itu yang bertempur sambil berloncatan dari satu lawan ke lawan yang lain.

Orang yang disebut Kepala Besi itu mengumpat-umpat ketika ia harus berhadapan dengan dua orang perampok yang termasuk tangguh. Ketika seorang yang termasuk tangguh. Ketika seorang yang termasuk tataran tertinggi dari para perampok itu terdesak, maka muncullah seorang yang lain dalam tataran yang sama. Karena itu, maka Kepala Besi itu harus berhadapan dengan orang-orang terbaik dilingkungan perampok itu.

Tetapi Kepala Besi itu memang benar-benar orang yang ditakuti di pesisir Utara. Karena itu, meskipun punggungnya masih agak sakit setelah ia dikalahkan oleh Jati Wulung, namun ia masih mampu bertempur dengan garangnya. Hanya sekali-sekali ia masih berdesis jika sakti di punggungnya itu terasa menggigit.

Karena itu, maka Kepala Besi itu tidak segera dapat dikuasai oleh lawan-lawannya. Bahkan beberapa kali ia mampu mengejutkan lawan-lawannya dengan geraknya yang tiba-tiba.

“Setan. Sakit di punggungku,” Kepala Besi itu mengumpat, “jika tidak, aku akan membunuh semua orang yang mengganggu kesenanganku ini.”

Ketika sekilas ia melihat Jati Wulung bertempur melawan pemimpin perampok itu, Kepala Besi merasa bersyukur bahwa bukan dirinyalah yang dihadapinya. Jika ia dalam keadaannya itu harus mengadapi pemimpin perampok itu, mungkin ia akan mengalami kesulitan. Perasaan sakit di punggungnya itu akan benar-benar terasa mengganggu jika ia berhadapan dengan orang yang mamang benar-benar berilmu tinggi. Semakin banyak ia bergerak, maka perasaan sakit itu akan semakin terasa.

Karena itu, maka ia lebih senang bertempur menghadapi lawan-lawan yang tidak terlalu kuat meskipun ia harus berhadapan dengan lebih dari satu orang.

Pemimpin perampok yang bertempur dengan Jati Wulung itu pun menjadi semakin marah. Ternyata ia mendapatkan lawan yang sulit diatasinya. Lawan yang benar-benar berilmu tinggi.

Dengan kasar pemimpin perampok itu tiba-tiba saja bertanya, “He, kaukah Kepala Besi itu.”

“Bukan,” jawab Jati Wulung sambil bertempur.

“Jadi siapa kau?” bertanya lawannya pula.

“Wanengpati. Namaku Wanengpati,” jawab Jati Wulung.

“Nama yang sering dipakai oleh para prajurit. Apakah kau seorang prajurit?” bertanya pemimpin perampok itu.

“Jika aku seorang prajurit, kau akan menjadi ketakutan?” jati Wulung justru bertanya.

“Persetan,” geram pemimpin perampok itu, “didunia ini tidak ada orang yang aku takuti. Sultan Pajang pun tidak.”

Tetapi Jati Wulung sempat menjawab, “Kau akan mengalaminya sekarang. Kau akan menjadi ketakutan setelah kita bertempur lebih lama lagi.”

“Iblis kau,” geram pemimpin perampok itu.

Dengan serta merta maka pemimpin perampok itu telah meningkatkan serangannya. Ia berusaha mendesak lawannya dengan geraknya yang cepat dan keras.

Tetapi lawannya adalah benar-benar seorang yang tangguh. Karena itu, betapapun ia meningkatkan ilmunya, lawannya selalu dapat mengimbanginya. Bahkan ketika tubuh Jati Wulung mulai dialiri keringat, maka geraknya pun seakan-akan menjadi semakin cepat dan ringan. Kakinya seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah jika ia sedang berloncatan diseputar lawannya.

Tetapi lawannya pun mampu bergerak cepat pula. Tangannya yang mengembang bagaikan sayap-sayap burung yang buas di langit yang luas.

Dengan demikian maka pertempuran diantara kedua mang itu menjadi semakin garang. Mereka telah bergeser ke halaman Song Lawa yang luas, seakan-akan terpisah dari arena pertempuran itu. Dengan kemarahan yang mendesak didadanya. maka pemimpin perampok itu berusaha secepatnya untuk menyelesaikan pertempuran itu.

Para petugas di Song Lawa yang pada umumnya bertubuh raksasa itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka merasa mempunyai kewajiban untuk melindungi orang-orang yang datang di Song Lawa itu. Namun ternyata bahwa mereka memerlukan orang-orang yang harus mereka lindungi itu untuk membantu mereka. Tanpa orang-orang itu, maka para petugas yang bertubuh taksasa itu tidak akan sempat bertahan cukup lama.

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 7

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s