SST-05

<< kembali | lanjut >>

—–oOo—–

AKU tidak tahu. Marilah kita mendekat,“ berkata Kiai Windu.

“Apakah kau masih memikirkan timang emas yang dipalsukan itu?“ bertanya Sambi Wulung.

Kiai Windu justru tersenyum. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan mempersoalkannya.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak beranjak dari tempatnya ketika Kiai Windu dan ketiga kawannya bergeser lebih dekat dibelakang orang-orang yang duduk berderet mengarah kesasaran. Ternyata bahwa setiap sasaran telah diperuntukkan bagi beberapa orang dalam kelompok mereka masing-masing, sehingga beberapa sasaran yang berjajar itu pun telah dipergunakan untuk beberapa kelompok pemanah.

Untuk beberapa saat Wikrama masih belum turun. Ketika seorang yang bertubuh raksasa mendekatinya dan agaknya menawarkan kesempatan untuk ikut, anak muda itu menggeleng sambil berkata, “Nanti saja.”

Orang yang menawarkan kesempatan itu tidak memaksanya. Ia pun kemudian meninggalkan anak muda itu yang masih saja berdiri bertolak pinggang.

Nampaknya ia berusaha untuk menilai kemampuan para peserta panahan itu, agar ia dapat meyakinkan dirinya bahwa ia akan menang.

Kiai Windu yang beringsut mendekat, sengaja menampakkan dirinya pada anak muda itu. Sebagaimana diharapkan maka anak muda itu memang terkejut. Namun Kiai Windu masih saja berpura-pura tidak menghiraukannya.

Anak muda itu memberi isyarat kepada tiga orang pengawalnya untuk mendekatinya. Mereka pun kemudian saling berbisik. Namun tidak jelas apa yang mereka katakan.

Tetapi anak muda itu tidak segera beranjak. Ia nampaknya masih menunggu karena beberapa kali ia berpaling. Demikian pula ketiga orang pengawalnya.

Ternyata beberapa saat kemudian, seorang yang bertubuh tinggi agak kurus telah memasuki lapangan itu pula. Orang itu langsung mendekati Wikrama sambil menunjuk beberapa kelompok orang yang sedang mengikuti panahan.

Tetapi Wikrama menggeleng. Agaknya orang itu juga menganjurkan agar Wikrama ke lapangan panahan.

Namun dalam pada itu, ternyata Wikrama telah memberitahukan kepada orang itu, bahwa di tempat itu ada seseorang yang pernah berhubungan dengan mereka sebelumnya. Tanpa berpaling Wikrama memberitahukan arah Ki Windu berdiri.

Orang yang bertubuh tinggi itulah yang kemudian memandang kearah Kiai Windu berdiri seakan-akan belum melihat Wikrama dan kawan-kawannya.

Orang yang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Namun ketika kemudian Wikrama mengangguk, orang bertubuh tinggi itu telah melangkah mendekati Kiai Windu.

“Kiai,“ orang itu kemudian telah menggamit Kiai Windu.

Kiai Windu pura-pura terkejut melihat kedatangannya. Sambil tertawa ia bertanya, “He, Ki Sanak. Kau datang juga sekarang?”

“Ya Kiai. Mengantar angger Wikrama,“ jawab orang itu.

“O, angger Wikrama ada disini pula?“ bertanya Kiai Windu kemudian.

Orang yang bertubuh tinggi itu menunjuk kearah Wikrama berdiri bersama beberapa orang pengawalnya.

Kiai Windu mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata kepada orang bertubuh tinggi itu, “Aku akan menunggu Angger Wikrama turun kelapangan.”

“Kiai akan turun pula?“ bertanya orang bertubuh tinggi itu.

Kiai Windu menggeleng. Katanya, “Tidak hari ini.”

Orang bertubuh tinggi itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba iapun bertanya, “Apakah Kiai masih merasa mempunyai persoalan dengan angger Wikrama?”

“O, tidak,“ jawab Kiai Windu, “bukankah pinjamannya telah dibayar?”

“Timang emas itu?“ bertanya yang bertubuh tinggi.

“Ya. Timang emas itu,“ jawab Kiai Windu.

Orang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah timang itu Kiai jual atau masih Kiai simpan untuk dipergunakan sendiri?”

“Aku masih menyimpannya. Aku senang dengan timang itu, sehingga setiap kali aku memakainya. Terutama dalam pertemuan-pertemuan dengan orang-orang besar. Besar menurut ukuranku,“ Kiai Windu itu tertawa.

Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berdesis, “Syukurlah jika Kiai menyukainya. Timang itu memang timang yang baik dan mahal. Memang pantas jika Kiai memakainya dalam pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang Kiai sebut orang-orang besar itu.”

“Apakah angger Wikrama juga menyukainya?“ bertanya Kiai Windu.

“Ya,“ jawab orang itu, “angger Wikrama menyukainya. Barang itu merupakan barang yang sangat berharga baginya. Seandainya persoalan itu tidak timbul dengan Kiai, maka ia tidak akan menyerahkan timangnya. Seandainya ia terlibat persoalan hutang dengan orang lain, ia tentu berusaha untuk membayarnya dengan barang-barang lain.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Ki Sanak. Jika demikian, apakah angger Wikrama berhasrat untuk menebusnya kembali? Bukankah ia datang kali ini dengan uang yang banyak? Bahkan belum dipergunakannya sama sekali. Jika angger Wikrama ingin menebusnya seharga hutangnya pada waktu itu, aku akan menyerahkannya. Sayang, jika barang itu merupakan barang kesayangannya.”

“O,“ orang itu menjadi gagap. Namun ia menjawab juga, “tentu tidak Kiai. Sebagai seorang yang berpegang pada harga diri, maka apa yang telah dilakukannya tidak akan dicabut kembali atau disesali.”

“Bukan dicabut kembali,“ jawab Kiai Windu, “justru akulah yang menawarkannya. Biarlah angger sempat memakainya lagi.”

“Tidak Kiai,“ jawab orang bertubuh tinggi itu, “biarlah benda itu ada pada Kiai. Satu kenangan yang barangkali akan berarti bagi Kiai.”

Tetapi Kiai Windu tertawa. Katanya, “Ki Sanak. Ketahuilah. Bekalku kali ini tidak terlalu banyak. Jika pada satu saat aku kehabisan uang disini, maka mungkin aku akan minta tolong kepada angger Wikrama. Kita akan sama-sama mendapat keuntungan. Aku mendapat uang, dan angger Wikrama mendapat benda yang disenanginya itu kembali.”

Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Angger Wikrama juga tidak membawa bekal lebih banyak dari musim judi yang lalu. Tetapi jika masih ada uang tersisa, maka aku kira hal itu dapat dibicarakan kemudian.”

Kiai Windu tertawa. Katanya, “Baiklah. Nah, silahkanlah. Bukankah angger Wikrama merupakan orang terbaik di lapangan panahan ini, terutama pada batas umurnya?”

Orang bertubuh tinggi itu tertawa. Katanya, “Ya. Tetapi agaknya ia masih belum ingin turun sekarang.”

“Memang seumurnya masih saja dipengaruhi oleh keinginan anak-anak muda. Ia masih ingin melihat kesana kemari, sebagaimana kebiasaannya. Baru kemudian ia akan memasuki arena pilihannya,“ berkata Kiai Windu.

Orang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Silahkan Kiai. Aku akan kembali kepada anak muda itu.”

Kiai Windu mengangguk sambil tersenyum, “Silahkan. Tetapi jangan lupa. Katakan kepadanya, bahwa jika aku memerlukan uang, maka aku akan menyerahkan kembali timang itu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan mengatakannya.”

Kiai Windu kemudian melihat orang bertubuh tinggi itu kembali kepada Wikrama. Sementara Wikrama yang berdiri ditempat yang agak jauh mengangguk kepada Kiai Windu yang membalasnya sambil tersenyum.

Dari kejauhan Kiai Windu melihat, orang bertubuh tinggi itu agaknya telah memberitahukan pesannya, sehingga anak muda itu nampak mengerutkan dahinya.

Tetapi agaknya ia berusaha untuk menahan diri, agar tidak menimbulkan kesan apapun tentang pesan Kiai Windu itu.

Untuk beberapa lama Kiai Windu masih berdiri ditempatnya. Namun kemudian ia pun telah bergeser dan berlindung dibawah bayang-bayang dedaunan karena matahari menjadi semakin tinggi.

Ketiga orang kawan-kawannya memandanginya sambil tersenyum pula, sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung yang sudah lebih dahulu berteduh bergeser pula mendekatinya. Dengan nada berat Sambi Wulung bertanya, “Apakah kau benar-benar akan mengembalikan timang itu?”

“Aku belum tahu,“ jawab Kiai Windu, “kita melihat keadaan. Sebenarnya aku merasa jengkel atas kecurangan itu. Tetapi aku belum mengambil keputusan untuk membuat persoalan dengan anak muda itu.”

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Sudahlah. Bukankah kau akan menang lagi kali ini?”

“Namanya berjudi,“ jawab Kiai Windu, “tidak seorang pun tahu apakah kita akan menang atau kalah. Kecuali jika kita melakukannya dengan tidak jujur.”

“Sulit untuk bermain panahan dengan tidak jujur, atau bahkan bermain dadu pun tidak dapat dilakukan dengan tidak jujur, karena saat melontarkan dadu itu disaksikan banyak orang. Sedangkan dalam kalangan sabung ayam sebagian besar ditentukan oleh ayam yang sedang bersabung. Jika orang-orang yang bertaruh cukup berpengalaman, maka pada sabung ayam pun sulit dilakukan kecurangan dengan cara apapun juga, karena orang-orang yang berpengalaman itu akan segera dapat melihatnya,“ berkata Jati Wulung sambil berbaring diatas rerumputan.

“He, ternyata kau benar-benar seorang pemalas,“ desis Kiai Windu, “dimanapun kau selalu berbaring.”

Jati Wulung tersenyum. Katanya, “Bukankah disini kita mendapat kesempatan untuk bermalas-malasan.”

Kiai Windu masih akan menjawab. Namun tiba-tiba terdengar beberapa orang bersorak di arena panahan. Ternyata seseorang telah berhasil mengenai kepala sasaran. Satu hasil yang gemilang, karena dengan demikian ia mendapat penilaian tertinggi untuk satu rambahan itu.

Ketika orang-orang yang berteduh itu berdiri untuk melihat siapakah yang mendapat nilai tertinggi itu, Jati Wulung masih saja tetap berbaring ditempatnya sambil berkata, “Siapapun yang mengenainya, kita tetap tidak mengenalnya.”

Tetapi Sambi Wulung tiba-tiba berkata, “Bukan main. Seorang perempuan.”

“He, seorang perempuan,“ bertanya Jati Wulung sambil bangkit dengan tergesa-gesa, “yang mana?”

Kiai Windu tertawa. Katanya, “Bukankah kau tahu bahwa tidak seorang perempuan pun yang telah turun ke arena hari ini?”

“Anak setan,“ jati Wulung mengumpat sambil menguak maju. Ia kemudian justru berdiri dipaling depan sambil mengawasi seluruh arena.

Beberapa orang masih saja tertawa. Kawan-kawan Kiai Windu pun tertawa pula.

Beberapa saat mereka masih berdiri ditempatnya. Namun Sambi Wulung pun kemudian berkata kepada Jati Wulung, “Marilah. Kita akan melihat-lihat ke tempat yang lain.”

Jati Wulung mengangguk sambil bergeser. Katanya, “Marilah. Disini rasa-rasanya mataku menjadi silau melihat panahan ditempat yang panasnya semakin menyengat. Mungkin sore nanti kita akan dapat melihat panahan dengan mapan. Kita dapat memilih tempat disini sebelah Barat yang agak tinggi itu.”

Tetapi ketika keduanya mulai bergerak, Kiai Windu-pun berkata, “Marilah. Kamipun akan ikut kalian. Kita lihat arena sambung ayam yang ramai itu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak menolak untuk pergi bersama-sama Kiai Windu. Apalagi Kiai Windu adalah orang yang lebih banyak mengenal lingkungan itu dari mereka berdua.

Ternyata bahwa dihari pertama itu, perjudian masih belum terlalu ramai. Seperti juga ditempat panahan. Yang bertaruh masih dapat membuat perhitungan-perhitungan dengan nalar yang jernih.

Karena itu, maka suasana di tempat perjudian itu masih nampak tertip dan tidak terlalu kasar. Jika terjadi perselisihan-perselisihan, masih mungkin mereka selesaikan dengan cara yang lebih lunak daripada menghunus pedang.

Di tempat sabung ayam pun nampaknya masih belum terlalu sesak. Tetapi teriakan-teriakan diantara mereka yang bertaruh untuk ayam aduan yang dipilihnya, terdengar bagaikan menggetarkan dinding-dinding disekitarnya.

Ketika keenam orang itu memasuki arena yang terdiri dari beberapa kalangan sabung ayam mereka memang tidak segera tertarik untuk menyaksikan, apalagi bertaruh. Yang dicari Sambi Wulung dan Jati Wulung adalah kesempatan untuk berkenalan dengan Puguh. Namun agaknya Puguh masih juga belum nampak di arena sabung ayam itu.

“Dimana anak itu,“ desis Jati Wulung di telinga Sambi Wulung.

“Apakah anak itu sudah berada dipermainan dadu?“ sahut Sambi Wulung.

Tetapi keduanya tidak dengan serta merta meninggalkan tempat itu. Apalagi ketika ternyata kemudian dua orang kawan Kiai Windu telah mendekati salah satu kalangan untuk melihat ayam yang sedang bertempur dengan serunya.

Tiba-tiba saja Jati Wulung berdesis, “Aku haus sekali.”

“Aku juga,“ ternyata Kiai Windupun menyahut.

“Apakah kita harus ke kedai itu?“ bertanya Sambi Wulung.

“Tidak,“ jawab Kiai Windu, “jika sabung ayam sudah mulai, disebelah ini ada kedai minuman meskipun hanya sekedarnya. Tidak sebesar dari penjual di kedai induk itu.”

“Kita minum,“ berkata Sambi Wulung.

Merekapun kemudian pergi ke kedai kecil disebelah tempat sabung ayam itu. Serang kawang Kiai Windu tidak segera ikut mereka, tetapi ia justru menyusul kawannya dilingkaran sabung ayam.

“Nanti, kami akan menyusul,“ berkata orang itu.

“Kau akan mulai bertaruh?“ bertanya Sambi Wulung.

“Tidak,“ jawab kawan Kiai Windu itu, “aku hanya ingin melihat-lihat lebih dahulu.

Demikianlah, Kiai Windu, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah pergi ke kedai disebelah tanpa ketiga orang yang lain. Namun mereka tertegun bahwa ternyata di kedai itu sudah duduk lebih dahulu seorang anak muda pula. Hanya satu dua tahun lebih tua dari Puguh. Namun nampak sikapnya jauh lebih kasar dari Puguh sendiri.

Ketika Kiai Windu sedang sibuk menikmati wedang sere panas dan mengunyah sepotong makanan, maka Jati Wulung sempat berkata, “Aku merasa agak heran. Ternyata Puguh tidak sekasar yang aku duga. Bahkan nampaknya anak-anak muda sebayanya bersikap jauh lebih buruk dari sikap Puguh itu sendiri. Wikrama yang sombong, dan anak ini yang sikapnya seperti serigala kelaparan.”

“Jangan mencari perkara,“ berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung terdiam. Tetapi ia tidak senang sama sekali melihat sikap anak muda itu. Anak muda yang agak gemuk yang nampaknya dikawani oleh orang-orang yang berilmu pula.

Namun terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Sejenak kemudian, tanpa disangka-sangka, Puguh telah datang pula kekedai itu. Tetapi belum lagi ia duduk, anak muda yang agak gemuk itu telah berkata kasar, “Nah, monyet itu datang pula kemari.”

Puguh juga agak terkejut, ia surut selangkah ketika anak muda yang agak gemuk itu meloncat dari tempat duduknya.

“Kenapa?“ bertanya Puguh agak kebingungan.

“Jangan pura-pura tidak tahu he?“ geram orang itu. Lalu katanya, “Kau larikan perempuan itu.”

“Siapa? “ nampaknya Puguh benar-benar tidak mengerti.

“Kau bawa perempuan itu tanpa kau lepaskan semalam suntuk,“ geram anak muda yang agak gemuk.

“Aku tidak tahu maksudmu,“ berkata Puguh pula.

“Jangan berpura-pura. Kau panggil penari itu dan kemudian ia hilang dari arena sampai pagi,“ anak muda yang kasar itu hampir berteriak.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memang memanggilnya. Tetapi tidak lebih dari sekedar berbicara sambil makan makanan yang dibeli kawanku dari kedai itu. Aku memang memberi uang cukup kepadanya.”

“Untuk apa uang itu?“ bertanya anak muda itu dengan kasar.

“Aku senang kepada perempuan itu,“ jawab Puguh, “karena itu aku minta ia tidak perlu menari lagi. Aku suruh ia pergi dari arena. Karena aku tidak ingin merugikannya, maka aku beri ia uang.”

“Kau beri uang untuk sekedar pergi dari arena?“ bertanya anak muda yang kasar itu.

“Ya, kenapa?“ bertanya Puguh.

Anak muda yang kasar itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Apakah kau sudah gila. Kau sudah sering berada ditempat ini membayar seorang tledek hanya untuk pergi dari bawah oncor dan dari sisi gamelan?”

Puguh menjadi tidak senang melihat sikapnya. Katanya, “Cari perempuan itu, dan bertanyalah kepadanya, apa yang aku lakukan. Aku baginya masih terlalu kanak-kanak.”

Anak muda yang kasar itu tertawa semakin keras. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan membalas sakit hatiku. Aku harus memukulimu sepuluh kali sekarang.”

“Gila. Kau kira kau ini siapa he? “ wajah Puguh menjadi merah, “sejak musim judi yang lalu, kau memang mencari persoalan saja untuk satu perkelahian. Jika kau memaksa terus seperti itu, aku terpaksa melayanimu.”

“Nah, kita akan berkelahi jika kau berani,“ berkata anak muda itu, “tanpa orang lain. Pengawal-pengawalku tidak akan ikut campur. Tetapi jika kau takut berkelahi sendiri, biarlah pengawalmu membantumu.”

“Jangan menghina aku seperti itu,“ berkata Puguh, “jika kau memang menantangku, aku terima tantangan itu.”

Anak muda yang agak gemuk dan kasar itu tertawa. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Kita akan berkelahi sekarang. Kita tidak usah mencari tempat. Disini kita berkelahi. Tentu akan lebih menarik dari sabung ayam itu. Tetapi jika tanganku terlanjur mematahkan tangan atau kakimu, itu bukan salahku.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian memberi isyarat kepada beberapa orang pengawalnya untuk mundur. Dengan nada rendah ia berkata, “jangan ganggu aku.”

Para pengawalnya memang melangkah surut. Sementara itu, anak muda yang agak gemuk dan kasar itu melangkah satu-satu mendekati Puguh.

Ternyata seperti kebiasaan orang-orang yang sudah berada di Song Lawa, orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi sepanjang tidak menyangkut diri mereka sendiri.

Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu, bahkan dua orang yang ada didalam kedai kecil itu seakan-akan tidak berpaling sama sekali. Hanya Sambi Wulung, Jati Wulung sajalah yang perhatiannya benar-benar tertuju kepada mereka. Sementara Kiai Windu justru memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Katanya, “Nampaknya kau berdua yang menjadi lebih tegang daripada mereka yang akan berkelahi.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “persoalan anak-anak muda memang menarik. Apapun yang terjadi atas mereka.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dihadapinya minuman hangatnya, sementara matahari menjadi semakin tinggi. Ketika ia meneguk mangkuk minumannya, maka keringatnya menjadi semakin banyak mengalir.

Sambi Wulung dan Jati Wulung pun tetap duduk di tempatnya. Sementara itu kedua anak muda itupun telah mulai bergerak sambil mempersiapkan diri.

Sejenak kemudian, maka anak muda yang bertubuh agak gemuk itu dengan kasar telah menyerang. Tangannya yang terkembang telah terayun deras mengarah kedada Puguh. Namun, Puguh memang sudah siap menghadapinya. Dengan sigapnya ia mengelak. Tetapi ia bukan saja merendah sambil bergeser mundur, tetapi tiba-tiba saja ia telah melenting sambil memutar tubuhnya. Kakinyalah yang terayun mendatar mengarah ke lambung.

Anak muda yang gemuk itu terkejut. Ternyata Puguh mampu bergerak sangat cepat, sehingga karena itu, maka anak muda yang gemuk itu terpaksa meloncat mundur.

Puguh lah yang kemudian tidak mau membiarkan lawannya. Dengan cepat pula ia memburunya. Tubuhnya yang bagaikan tidak berbobot itu seakan-akan terbang lurus mendatar.

Anak muda yang agak gemuk itu melihat serangan yang datang demikian cepatnya. Tidak ada kesempatan untuk melenting menghindar. Karena itu, maka ketika tumit Puguh menyambarnya, ia pun dengan serta merta telah menjatuhkan dirinya sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.

Demikian tubuh Puguh terbang melintas diatasnya, ia pun segera meloncat bangkit. Dengan cepat anak yang agak gemuk itulah yang kemudian memburunya. Dengan keras pula ia telah menyerang, demikian kaki Puguh menjejak tanah.

Tetapi Puguh masih sempat melihat serangan yang datang itu. Namun waktunya tidak memungkinkannya untuk menghindar. Karena itu, maka ia pun telah menyilangkan tangannya di dadanya.

Yang terjadi adalah satu benturan kekuatan yang keras. Tangan anak muda yang gemuk yang terjulur lurus kearah dada itu telah membentur pertahanan Puguh. Ternyata benturan itu terjadi demikian kerasnya, sehingga kedua kaki Puguh yang baru saja sempat tegak itu berguncang. Selangkah ia terdorong surut. Namun ia berhasil memperbaiki keadaannya sehingga ia tetap berdiri tegak dengan tangan bersilang didada.

Sementara itu lawannya yang agak gemuk dan kasar itu telah terdorong jauh lebih panjang surut. Bahkan hampir saja ia tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan susah payah ia berhasil berdiri tegak sambil mengumpat kotor.

Puguh tidak menjawab sama sekali. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Kedua kelompok pegawai berdiri ditempat masing-masing. Orang-orang yang mengawal anak muda yang gemuk itu nampaknya juga lebih kasar dari para pengawal Puguh, meskipun dilihat pada sorot matanya, pengawal Puguh itu pun merupakan orang-orang yang keras dan kasar. Namun dari ujud lahiriahnya, mereka masih lebih baik dari pengawal-pengawal anak muda yang agak gemuk itu.

Ternyata kedua anak muda itu masih juga berkelahi dengan sengitnya. Keduanya memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan yang baik dan lengkap. Namun agaknya kekuatan dasar kewadagan Puguh yang tubuhnya lebih kecil dari lawannya itu justru lebih besar. Itulah sebabnya, maka kadang-kadang anak muda yang agak gemuk itu tergetar dalam benturan-benturan yang terjadi.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Keduanya sempat menilai kemampuan Puguh yang cukup mendebarkan itu. Bahkan keduanya sempat bertanya kepada diri mereka sendiri, “Bagaimanakah imbangan kekuatan dan kemampuan anak itu dibanding dengan Risang?”

Baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung menjadi ragu-ragu. Apakah ilmu Risang lebih baik dari Puguh.

Ketika keduanya mengerutkan kening dengan sedikit tegang, Kiai Windu menggamitnya. Katanya, “Minummu menjadi dingin.”

“O,“ Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Sambi Wulung menjawab, “Aku memang menunggu sampai agak dingin. Udara sudah terlalu panas.”

Kiai Windu tersenyum. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung telah meneguk minumannya yang tidak lagi terlalu panas. Namun mereka tidak dapat memalingkan perhatian mereka dari kedua orang anak muda yang berkelahi itu. Bahkan seorang yang sedang minum di tempat itu pun telah memperhatikan pula meskipun yang lain lebih senang menikmati minuman dan makanan.

“Memang menarik,“ desis Kiai Windu, “mereka masih kanak-kanak. Tetapi mereka sudah mampu menunjukkan tata perkelahian yang mapan. Bukan asal saja berkelahi. Wikrama tidak dapat melakukan seperti itu. Anak muda yang berbaju hitam di sabung ayam itu pun tidak.

“Siapakah anak muda yang agak gemuk itu sebenarnya?“ bertanya Sambi Wulung.

“Sebenarnya?“ bertanya Kiai Windu, “aku tidak tahu. Aku hanya melihat anak itu disini? Kenapa kau nampaknya menaruh perhatian lebih besar pada anak itu? Atau barangkali kau menduganya sesuatu atas anak itu?”

Sambi Wulung menggeleng. Namun yang menjawab adalah Jati Wulung. “Anak itu menjengkelkan sekali. Aku tiba-tiba saja jadi benci kepadanya tanpa sebab.”

Kiai Windu tertawa. Katanya, “Karena itu disini jangan memperhatikan orang lain.”

Jati Wulung tidak menjawab. Namun tiba-tiba katanya, “Kita salah duga terhadap anak yang bernama Puguh itu. Ia memang memanggil penari itu. Ia mengakui menyenangi penari itu. Tetapi ia hanya menyuruhnya pergi dari arena.”

“Kau percaya kepada kata-katanya?“ bertanya Kiai Windu.

Jati Wulung ragu-ragu. Namun Kiai Windu lah yang berkata lebih lanjut, “Aku percaya.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Demikian pula Sambi Wulung.

Dalam pada itu, perkelahian pun menjadi semakin keras. Anak muda yang agak gemuk itu memang menjadi kasar. Bahkan tiba-tiba saja tangannya menggenggam debu dan dilontarkan kewajah Puguh. Untunglah bahwa Puguh melihatnya sehingga ia sempat meloncat mundur beberapa langkah sambil memalingkan wajahnya. Namun ketika anak muda yang kasar itu memburunya, Puguh telah siap untuk melawannya.

Semakin lama maka menjadi semakin jelas, bahwa Puguh akan dapat memenangkan perkelahian itu. Setiap kali serangannya berhasil mengenai tubuh lawannya, sehingga setiap kali anak muda yang kasar itu berdesis menahan sakit. Bahkan ketika Puguh dengan keras menyerangnya dengan kaki terjulur dan mengenai dada anak yang agak gemuk itu, maka anak muda itu pun telah terpelanting jatuh.

Namun anak itu sempat bangkit sambil mengumpat dengan kasar.

“Gila. Anak setan. Aku bunuh kau,“ geramnya.

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia pun sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, maka perkelahian itupun telah berlangsung lagi. Kiai Windu yang memungut sepotong makanan berkata kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, “He, kalian mau makan apa?”

Sambi Wulung sempat tersenyum. Tetapi Jati Wulung sama sekali tidak berpaling. Ia benar-benar memperhatikan bagaimana Puguh kemudian benar-benar menguasai lawannya.

“Risang harus tahu, bahwa Puguhpun memiliki kemampuan yang sangat besar,“ berkata Jati Wulung maupun Sambi Wulung didalam hatinya.

Sebenarnyalah baik Jati Wulung maupun Sambi Wulung sebenarnya merasa cemas melihat kemampuan Puguh yang sangat besar. Kekuatannya dan agaknya juga kekerasan hatinya. Meskipun Puguh tidak nampak sekasar lawannya, tetapi ternyata bahwa ia juga mampu berkelahi dengan keras.

Dalam pada itu, anak yang kasar itu kemudian ternyata semakin tidak mampu mengimbangi kekuatan Puguh yang besar serta ketrampilannya olah kanuragan. Karena itu, beberapa kali anak muda itu telah dikenai serangan Puguh. Bahkan beberapa kali anak muda itu terhuyung-huyung jatuh. Meskipun ia mampu bangkit lagi, namun beberapa saat kemudian serangan Puguh telah menjatuhkannya lagi.

Ketika beberapa orang pengawalnya bergeser, maka para pengawal Puguh pun telah bergerak pula.

Tetapi Puguh telah berkata lantang, “Kita sepakat untuk berkelahi tanpa orang lain.”

Anak muda yang agak gemuk itu nafasnya menjadi terengah-engah. Ketika ia jatuh lagi, maka iapun telah bangkit dengan susah payah. Namun ternyata ia pun masih menyadari keadaannya. Anak muda itu merasa bahwa Puguh memang memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Karena itu, ia justru tidak menarik senjatanya. Jika Puguh kemudian juga bersenjata, maka kemungkinan yang lebih buruk akan dapat terjadi atas dirinya.

Karena itu, maka ketika Puguh melangkah maju, anak muda itu justru melangkah surut. Dengan nada berat terputus-putus karena menahan sakit di tubuhnya anak muda itu berkata, “Aku akui kelebihanmu kali ini Puguh. Tetapi dimusim perjudian yang akan datang, aku akan membunuhmu.”

“Besok atau lusa, sebelum musim perjudian ini selesai, aku sudah membunuhmu lebih dahulu,“ geram Puguh.

“Persetan,“ wajah anak muda itu menjadi tegang.

Namun Puguh tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak muda yang kasar itu pergi. Beberapa orang pengawalnya menggeretakkan giginya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

“Kau biarkan anak gila itu pergi,“ desis seorang pengawal Puguh.

“Lalu, apa yang baik aku lakukan? Memilin lehernya dan membunuhnya?“ bertanya Puguh.

Pengawalnya tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja memandang anak muda yang agak gemuk serta beberapa orang pengawalnya pergi.

Sejenak kemudian barulah Puguh mengibaskan debu pada pakaiannya. Ketika lawannya menaburkan debu, maka pakaiannya memang menjadi kotor. Untunglah bahwa debu itu tidak mengenai matanya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang semula memperhatikan perkelahian itu pun segera telah berkisar. Mereka menghadapi minuman mereka dan mengambil sepotong makanan pula. Namun mereka berharap bahwa Puguh akan duduk pula di kedai itu. Meskipun mereka tidak akan sempat bertanya apapun, karena anak muda itu tentu masih terpengaruh oleh keadaan yang baru saja terjadi, namun jika anak muda itu berbicara bersama dengan para pengawalnya, mungkin dari pembicaraan itu mereka akan dapat menangkap sesuatu.

Sebenarnyalah Puguh yang baru saja berkelahi itu agaknya memang menjadi haus. Bersama para pengawalnya, iapun kemudian telah duduk pula di sebuah amben panjang di kedai kecil itu. Sedangkan dua orang lainnya yang sudah lebih lama berada di kedai itu telah bangkit dan meninggalkan tempatnya.

Setelah Puguh memesan minuman, maka sebenarnyalah ia masih dipengaruhi oleh gejolak perasaannya. Dengan nada geram ia berkata, “Anak itu masih saja selalu mengganggu. Apakah sebenarnya yang dimaui?”

Seorang pengawalnya menyahut, “Aku sudah berusaha untuk mendapat keterangan tentang anak muda itu. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mengatakannya selain apa yang dapat pula kita lihat disini.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun pengawalnya yang lain berkata pula, “persoalannya tidak hanya terbatas kepada kita. Ia telah berkelahi pula dengan beberapa orang yang lain. Untunglah belum ada seorang yang membantainya disini.”

“Pengawalnya cukup kuat,“ sahut Puguh, “tetapi jika ia masih saja membuat persoalan akulah yang mungkin akan membunuhnya. Mudah-mudahan ia menjadi jera.”

Para pengawal Puguh itu mengangguk-angguk. Ketika mereka memandang ke arah orang-orang yang baru saja meninggalkan mereka itu, ternyata orang-orang itu berhenti dan berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi jarak mereka sudah terlalu jauh untuk mendengar pembicaraan mereka.

Baru sejenak kemudian anak muda yang agak gemuk itu hilang dibalik dinding disudut tikungan disebelah dinding arena sabung ayam.

Puguh kemudian mulai memperhatikan minumannya. Namun ia masih juga bergeremang, “Pakaianku menjadi kotor. Ia berkelahi dengan licik.”

Namun dalam pada itu pengawalnya berkata, “Tetapi kau telah menunjukkan kemampuan yang tinggi. Latihan-latihan yang kau lakukan ternyata tidak sia-sia. Dalam keadaan yang gawat, kau sendiri sudah dapat mengatasi persoalan.”

“Bukan hanya aku yang mampu berkelahi. Anak yang gemuk itu juga mampu berkelahi,“ jawab Puguh.

“Tetapi sebagaimana kau lihat. Ia telah kau kalahkan. Sementara itu beberapa anak muda yang lain terlalu tergantung kepada para pengawalnya. Kau tidak. Kau sendiri mampu menjaga dirimu tanpa seorang pengawal-pun. Namun karena nampaknya kau memang masih terlalu muda, maka sebaiknya kami menyertaimu.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mulai meneguk minumannya.

“Jika kita kembali ke padepokan, kau harus berlatih lebih baik lagi. Siapa tahu, anak yang gemuk itu benar-benar mendendammu. Pada satu hari yang mungkin memang akan terjadi dimusim perjudian yang akan datang, orang itu benar-benar berusaha membunuhmu,“ berkata salah seorang pengawal.

“Apakah dimusim perjudian yang akan datang, kita akan berada disini pula?“ bertanya Puguh.

“Itu terserah kepadamu,“ jawab salah seorang pengawalnya. “Tetapi sekedar untuk mendapatkan pengalaman, maka disini kita dapat melihat seribu wajah dengan seribu watak serta tingkah laku.”

“Memang menarik,“ berkata Puguh, “tetapi rasa-rasanya menjadi jemu juga akhirnya.”

Para pengawalnya termangu-mangu. Namun kemudian Puguh pun kemudian berkata, “Baru besok aku akan memasuki tempat permainan dadu.”

“Apakah kita tidak melihat panahan sekarang?“ bertanya seorang pengawalnya.

“Apakah Wikrama yang sombong itu akan turun?“ bertanya Puguh.

Tetapi pengawalnya menggeleng. Katanya, “Aku belum tahu.”

“Ia seorang pemanah yang baik,“ berkata pengawalnya yang lain, “tetapi ia tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Segalanya tergantung kepada para pengawalnya.”

Setelah meneguk beberapa teguk, Puguhpun berkata, “Baiklah. Kita melihat panahan.”

“Kau akan turun?“ bertanya seorang pengawalnya.

Puguh mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku belum tahu. Tetapi hari ini aku belum berminat untuk ikut dalam permainan yang manapun.”

Para pengawalnya tidak menjawab lagi. Sementara Puguh kemudian membayar minuman dan makanan yang telah mereka minum dan mereka makan.

Sejenak kemudian, maka Puguh dan para pengawalnya itu pun segera meninggalkan kedai kecil itu. Namun mereka melangkah dengan malas, karena hari itu mereka memang masih belum berniat untuk ikut perjudian jenis yang manapun.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tiba-tiba saja menarik nafas dalam-dalam, sehingga Kiai Windu mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Kenapa kalian seakan-akan merasa terlepas dari ketegangan?”

Keduanya memang terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian Sambi Wulung menjawab, “Aku memang terpengaruh oleh perkelahian yang baru saja terjadi antara anak-anak muda ditempat seperti ini.”

Kiai Windu tertawa. Katanya, “Minumlah minuman kalian.”

Keduanya mengangguk-angguk. Sejenak kemudian maka merekapun telah menghabiskan minuman mereka dan beberapa potong makanan.

Sambi Wulung lah yang kemudian membayarnya sambil berdesis, “Akulah sekarang yang membayar.”

Kiai Windu tersenyum. Namun ia tidak menjawab.

Demikianlah merekapun kemudian meninggalkan kedai itu. Sebelum mereka melihat ketempat yang lain, maka mereka telah singgah ke tempat sabung ayam. Ternyata tempat itu sudah menjadi semakin ramai. Mereka yang bertaruh pun sudah menjadi semakin banyak. Bahkan taruhannya pun sudah meningkat semakin tinggi.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang menjadi berdebar-debar melihat uang dalam jumlah yang besar telah berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Meskipun untuk memasuki tempat itu mereka juga sudah dibekali dengan uang cukup, namun mereka merasa terlalu kecil sebagai penjudi, dibanding dengan orang-orang yang telah lebih dahulu pernah datang di tempat itu di musim-musim perjudian sebelumnya.

Kiai Windu pun kemudian memanggil ketiga orang kawannya yang telah menjadi sangat asyik melihat sabung ayam itu. Bahkan diluar sadar, mereka pun kadang-kadang telah ikut berteriak-teriak.

“He,“ desis Kiai Windu, “apakah kau masih akan berada disini?”

Ketiganya termangu-mangu. Namun kemudian, “Kita akan kemana?”

Kiai Windu memandang Sambi Wulung dan Jati Wulung bergantian. Lalu iapun bertanya, “Kau belum akan mulai?”

Keduanya menggeleng. Namun tiba-tiba saja Jati Wulung berkata, “Aku sudah letih berkeliling.”

“Lalu kau mau apa?“ bertanya Kiai Windu.

“Aku akan beristirahat saja sambil melihat panahan,“ jawab Jati Wulung.

Kiai Windu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita pergi ke tempat panahan.”

Tetapi salah seorang dari kawannya berkata, “Aku disini saja.”

“Kau sudah akan mulai?“ bertanya Kiai Windu.

“Belum. Tetapi aku ingin melihat suasananya sampai nanti sore,“ jawab orang itu.

Ternyata kedua orang kawannya yang lain juga lebih senang berada di tempat sabung ayam itu. Sehingga karena itu mereka tidak ikut dengan Kiai Windu.

Dalam pada itu Jati Wulung pun sempat berbisik di-telinga Sambi Wulung, “Kita harus mengumpulkan modal lebih besar lagi menilik taruhan orang-orang yang ikut dalam taruhan sabung ayam itu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Waktu mereka kemudian telah mereka habiskan sebagian besar untuk melihat panahan dan paseran. Namun kedua orang itu sudah mengambil keputusan, bahwa mereka akan menambah modal mereka dalam panahan itu.

“Aku kira kita akan dapat mengimbangi kemampuan mereka,” berkata Sambi Wulung

“Tetapi anak-anak muda yang dianggap sebagai pemanah-pemanah yang baik itu belum turun hari ini,“ berkata Jati Wulung.

Keduanya kemudian mengangguk-angguk.

Demikianlah, hari itu keduanya baru sekedar melihat-lihat arena perjudian itu bersama Kiai Windu. Mereka juga singgah sejenak di barak tempat orang-orang bermain dadu. Sebuah perselisihan kecil telah terjadi antara dua orang yang ikut bertaruh dengan para petugas, sehingga hampir saja kedua orang itu dilemparkan keluar. Namun persoalan mereka ternyata dapat diatasi, sehingga kedua orang itu masih tetap diperkenankan untuk ikut dalam permainan dadu itu.

Di hari berikutnya Sambi Wulung dan Jati Wulung memang sudah berniat untuk turun ke lapangan panahan. Tetapi mereka tidak akan melakukannya dengan serta-merta. Mereka akan melihat lihat lebih dahulu. Baru kemudian mereka akan turun sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung, bahwa mereka berniat untuk menambah modal mereka, meskipun kemungkinan yang sebaliknya memang dapat terjadi.

Ketika malam turun, maka arena sabung ayam dan tempat panahan pun menjadi sepi. Tetapi tempat permainan dadu justru menjadi semakin ramai.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak begitu berminat untuk mulai dengan permainan itu. Karena itu, maka mereka hanya menengok sejenak. Kemudian mereka habiskan waktu mereka untuk berada didalam bilik. Berganti-ganti mereka menyempatkan diri untuk tidur dalam waktu yang agak panjang.

Berbeda dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya berada cukup lama di arena permainan dadu. Tetapi ternyata mereka berempat pun masih belum mulai bertaruh.

Ketika lewat tengah malam mereka kembali kedalam bilik, mereka melihat Jati Wulung lah yang sedang tidur dengan nyenyaknya sementara Sambi Wulung duduk bersila sambil menyilangkan tangannya didada.

Ketika Kiai Windu tersenyum, Sambi Wulung berkata, “Apakah kau masih akan bertanya, kenapa aku belum tidur?”

“Tidak,“ berkata Kiai Windu sambil tertawa.

Sambi Wulungpun tersenyum pula. Tetapi ialah yang justru bertanya, “Nampaknya kau menang di permainan dadu itu.”

“Sekeping pun aku belum ikut bertaruh,“ jawab Kiai Windu.

“Apakah kebiasaanmu memang begitu?“ bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Aku baru mulai pada hari ketiga atau justru keempat, ketika orang-orang lain mulai kehilangan akal. Tetapi untuk tidak menarik perhatian, di hari kedua kadang-kadang aku juga ikut meskipun hanya sekedarnya,“ jawab Kiai Windu.

“Dalam tempat seperti ini, ternyata kau masih mampu juga mengendalikan diri,“ berkata Sambi Wulung.

“Kalian pun harus dapat berbuat seperti itu,“ desis Kiai Windu, “jika kita dicengkam oleh perasaan saja, maka akhirnya kita akan menjadi orang yang pertama sekali mempergunakan bilik disudut itu.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu ternyata Jati Wulung telah terbangun pula. Masih sambil memejamkan matanya ia berkata, “Tidur. Ayo tidur sajalah.”

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Tidurlah. Bukankah giliranmu sekarang tidur?”

Jati Wulung tidak menjawab lagi.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang lainpun telah berbaring pula. Ternyata seorang diantara mereka duduk disebelah Sambi Wulung sambil berdesis, “Kita memang harus berhati-hati ditempat seperti ini. Apalagi di hari-hari ketiga, keempat dan seterusnya. Beberapa orang telah mulai kehilangan akal. Namun banyak juga yang sempat mengendalikan dirinya.

“Bagaimana dengan anak-anak muda itu?“ bertanya Sambi Wulung.

“Mereka hampir selalu kalah. Tetapi nampaknya kekalahan itu bukan soal bagi mereka, sehingga mereka seakan-akan tidak pernah nampak gelisah. Ketika datang musim perjudian berikutnya, mereka datang lagi dengan membawa uang cukup banyak pula,“ jawab kawan Kiai Windu itu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Ketika seorang kawan Kiai Windu yang lain, yang telah berbaring mendekam, maka Sambi Wulung pun tahu, bahwa orang itu agaknya ingin dapat tidur nyenyak tanpa terganggu oleh pembicaraannya.

Karena itu, maka sejenak kemudian kamar itupun menjadi hening.

Ketika matahari terbit, maka segala sesuatunya mulai sibuk lagi di Song Lawa itu. Memang masih ada beberapa orang yang karena mereka bermain dadu hampir semalam suntuk masih tidur pulas.

Tetapi persiapan-persiapan di lapangan panahan telah dilakukan. Sasaran untuk kelompok-kelompok pemanah telah dipasang berderet. Demikian pula lingkaran-lingkaran untuk paseran. Sementara di arena sabung ayam pun semua persiapan telah dilakukan.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun sudah bersiap. Kiai Windu yang ingin menyaksikan keduanya turun di arena berkata sambil tersenyum, “Aku ingin melihat, apakah kalian akan dapat menambah modal kalian untuk turun ke permainan dadu atau justru malah sebaliknya. Jika kalian kalah dalam panahan, aku minta kalian tidak dengan cepat berputus-asa.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung tertawa. Dengan nada tinggi Jati Wulung berkata, “Kiai, bukan baru kali ini aku. turun ke arena perjudian. Sudah aku katakan, bahwa aku telah mendatangi beberapa tempat perjudian yang lebih besar dari tempat ini. Tetapi tidak segila Song Lawa ini.”

Kiai Windu mengangguk-angguk. Sementara itu seorang kawannya berkata, “Marilah. Kita makan dahulu.”

Setelah mereka makan di kedai, maka merekapun telah pergi ke lapangan panahan. Ternyata bahwa panahan telah mulai beberapa rambahan. Beberapa orang telah berkeringat, sementara pertarungan disetiap kalangan nampaknya ramai dan seimbang. Sebenarnyalah mereka yang turun ke lapangan panahan tentu orang-orang yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tinggi.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak segera turun ke arena. Untuk beberapa saat mereka masih melihat-lihat, arena yang manakah yang paling baik untuk dimasuki.

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak, ketika mereka melihat beberapa anak muda ada dilapangan panahan. Tetapi ternyata mereka tidak berada pada kelompok yang sama. Wikrama berada dikelompok dua, sementara Puguh berada dikelompok lima. Sedangkan anak muda yang agak gemuk dan kasar itu agaknya masih melihat-lihat seperti beberapa orang lain di sekitar lapangan panahan itu.

“Nah, kapan kau akan mulai?“ bertanya Kiai Windu.

Sambi Wulung dan Jati Wulung berpaling. Tetapi mereka tidak menjawab. Keduanya hanya tersenyum saja, sementara Kiai Windu menjadi termangu-mangu.

Beberapa saat Sambi Wulung sempat menilai sekelompok pemanah pada kelompok tiga. Agaknya Sambi Wulung yakin, jika ia memasuki kelompok itu, maka ia tidak akan kalah.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah mendekati kelompok ketiga sementara Jati Wulung berdiri termangu-mangu sambil menilai orang-orang dikelompok keenam.

Kepada seorang petugas Sambi Wulung menyatakan diri untuk memasuki kelompok tiga.

“Kau tidak membawa busur dan anak panah sendiri?“ bertanya petugas itu.

“Tidak. Bukankah disini ada persediaan?“ bertanya Sambi Wulung.

“Memang ada. Tetapi jarang bagi para pemanah yang baik memakai busur dan anak panah dari persediaan disini. Mereka biasanya memakai busur dan anak panah mereka masing-masing, karena mereka telah mengenal benar sifat dan watak busur dan anak panah mereka,“ berkata petugas itu.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Aku tidak mempunyai busur dan anak panah.”

“He,“ petugas yang juga bertubuh raksasa itu heran, “jika kau tidak mempunyai busur dan anak panah, bagaimana kau dapat berlatih memanah?”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun menjawab, “Maksudku, busur dan anak panah yang pantas untuk dibawa keluar dan turun diarena seperti ini.”

Petugas itu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian mempersilakan Sambi Wulung yang menyebut dirinya Wanengbaya itu untuk memilih beberapa busur yang memang disediakan.

Beberapa saat Sambi Wulung itu memilih. Ketika ia kemudian mendapatkan busur dan anak panah yang dianggapnya sesuai berat dan panjangnya, maka iapun telah mempergunakannya.

Ketika ia sudah duduk di deretan para pemanah di kelompok ketiga, maka ternyata Jati Wulung masih berdiri tegak. Ternyata di kelompok keenam itu terdapat seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Seorang yang berkumis lebat, bertubuh tinggi tegap. Hampir disetiap rambahan anak panahnya ada yang hinggap disasaran.

Ketika rambahan-rambahan berikutnya berlangsung, orang itu menjadi semakin menarik perhatian. Ketika tiba-tiba saja anak panahnya hinggap di kepala sasaran, maka beberapa orang penontonpun telah bertepuk tangan sambil bersorak. Bahkan beberapa orang pengikut dikelompok itu ikut bertepuk tangan pula.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan kenyataan itu maka iapun berkata kepada diri sendiri, “Agaknya orang inilah yang membuat kelompok ini tidak diikuti oleh terlalu banyak orang.”

Sementara itu, hampir tanpa sadar, orang yang berdiri disebelahnya berkata, “Orang itu memang gila. Hampir disetiap musim ia berada di Song Lawa. Disini ia biasanya menang, meskipun dipermainan dadu ia selalu kalah.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya, “Apakah tidak ada orang lain yang pernah mengimbangi kemampuannya?”

“Jarang sekali. Setinggi-tingginya. seseorang akan dapat menyamainya. Tetapi tidak melampauinya,“ berkata orang itu.

Jati Wulung tidak menyahut. Tetapi ia memperhatikan beberapa orang pemanah yang lain yang memang nampaknya menjadi gelisah, meskipun sekali-sekali mereka ikut bertepuk pula.

Namun dalam pada itu, sebelum Jati Wulung memasuki arena, seorang yang masih terhitung muda, berwajah tampan dan berpakaian rapi telah memasuki arena. Seorang pengawalnya membawa busur dan anak panah yang bagus sekali. Agak lebih bagus dengan busur dan anak panah para peserta yang lain.

Dengan demikian maka Jati Wulung telah menahan diri barang sejenak. Ia ingin melihat orang baru itu. Apakah ia akan dapat mengimbangi atau bahkan melampaui pemanah yang berkumis tebal itu.

Pemanah yang berpakaian rapi itupun kemudian telah mulai pula melontarkan anak panahnya. Pada rambahan-rambahan pertama ia masih belum menunjukkan kelebihannya. Tetapi pada rambahan-rambahan berikutnya, ternyata orang berpakaian rapi itu mampu menyaingi orang berkumis lebat itu.

Dengan demikian maka di kelompok enam itu, panahan menjadi sangat menarik. Beberapa kali terdengar sorak dan tepuk tangan diantara para penonton bagi kedua orang itu.

“Mereka memang memiliki kemampuan iblis,“ desis orang disebelah Jati Wulung itu.

“Memang luar biasa,“ sahut Jati Wulung.

Namun Jati Wulung pun berpaling ketika seseorang menggamitnya. Ternyata seorang diantara kawan-kawan Kiai Windu.

“Wanengbaya sudah mulai. Apakah kau jadi akan turun atau tidak?“ bertanya orang itu.

“Kenapa tergesa-gesa?“ bertanya Jati Wulung yang dikenal dengan nama Wanengpati itu.

Kawan Kiai Windu itu pun ikut pula melihat arena. Ternyata ia pun berdesis, “jangan turun dikelompok ini. Kedua orang itu telah menaruh mata diujung anak panah mereka masing-masing.“

Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah keduanya belum pernah dikalahkan?”

“Hanya orang yang coba-coba saja yang berani memasuki arena ini atau orang baru seperti kau,“ jawab kawan Kiai Windu itu.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan saksama ia memperhatikan kedua orang itu. Ternyata sambutan atas keduanya dari para penonton menjadi demikian meriah. Bahkan beberapa orang telah berteriak-teriak sambil bertepuk tangan.

Namun tiba-tiba suasana menjadi hening. Seorang yang berkepala botak dan menyangkutkan kepalanya dilehernya telah memasuki arena sambil tertawa. Suaranya meninggi disela-sela kata-katanya, “Luar biasa. Kalian memang pembidik-pembidik yang pantas disegani. Kalian akan dapat menghisap semua uang yang dipertaruhkan di kelompok ini.“ orang itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi itu tidak pantas. Harus ada orang lain yang dapat mengimbangi kemampuan kalian. Mungkin kalian belum mengenal aku. Aku memang orang baru di Song Lawa ini.”

Semua orang memandanginya. Orang berkepala botak itu telah duduk diantara para pemanah. Sesaat ditelitinya busur dan anak panahnya yang memang sangat baik dan tentu harganyapun sangat mahal.

“Silahkan mulai,“ berkata orang itu, “kenapa kalian menjadi seperti orang bingung.”

“Tidak Ki Sanak,“ sahut pemanah yang pertama, “kami tidak menjadi bingung. Kami hanya ingin mengenal kau sebagai orang baru disini. Sudah sepantasnya kami menghormati tamu kami yang datang kemudian.”

“Terima kasih atas perhatian Ki Sanak,“ jawab orang berkepala botak itu. Sementara pemanah yang berpakaian rapi itupun berkata, “Silahkan mulai Ki Sanak.”

Orang-orang didalam kelompok itu pun segera mempersiapkan diri. Anak-anak yang menjadi pemungut anak panahpuh telah bersiap pula. Orang berkepala botak itu tidak membiarkan anak Song Lawa itu memungut anak panahnya. Ternyata ia telah membawa sendiri.

“Anak panahku memerlukan perawatan khusus “ katanya.

Demikianlah sejenak kemudian orang-orang yang ada di dalam kelompok itu mulai meluncurkan anak panah masing-masing. Susul-menyusul. Masing-masing dengan gaya dan cara mereka sendiri-sendiri.

Ternyata bahwa para penonton pun telah bersorak-sorak kembali. Orang berkepala botak itu memang mampu menempatkan dirinya sejajar dengan kedua orang pemanah terbaik sebelumnya.

Para pemanah di kelompok-kelompok yang lain pun nampaknya tertarik pada sorak-sorai itu. Tetapi mereka berusaha untuk memusatkan perhatian mereka pada sasaran dihadapan setiap kelompok masing-masing.

Wikrama yang merasa dirinya juga memiliki kemampuan yang tinggi berkata kepada diri sendiri, “besok aku akan berada dikelompok yang gila itu.”

Sementara itu, orang yang berkepala botak dan merupakan orang baru itu semakin lama menjadi semakin menarik perhatian. Ia mulai menunjukkan, bahwa ia memiliki kemampuan lebih baik dari setiap orang. Bahkan sekali-sekali ia berkata dengan nada sombong, “Ternyata di Song Lawa aku tidak mendapat lawan yang memadai.”

Kedua orang pemanah terbaik dikelompok itu sebelumnya memang menjadi panas. Tetapi mereka memang tidak dapat mengingkari kenyataan. Setiap rambahan berlangsung, maka hampir selalu uang taruhan mengalir ke orang yang berkepala botak dan tidak memakai ikat kepalanya itu.

Orang-orang yang mula-mula bertepuk tangan untuk menyambutnya, tiba-tiba menjadi kurang senang karena sikapnya yang sombong. Setiap kali ia selalu berteriak dengan nada tinggi, memuji kemampuannya sendiri.

Namun ia dapat membuktikan bahwa ia mulai menang dalam taruhan itu. Bahkan bukan sedikit.

Ternyata Jati Wulung yang masih berdiri di pinggir arena, tidak dapat menahan diri lagi melihat sikap orang itu. Tanpa Sambi Wulung, maka tidak ada orang yang mengekangnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah mendatangi petugas dan menyatakan diri untuk masuk ke arena.

“Kau tidak membawa busur dan anak panah?“ bertanya petugas itu.

“Pinjami aku,“ jawab Jati Wulung.

Petugas itu menjadi heran. Dengan nada rendah ia bertanya, “Kau sudah melihat, siapa bakal lawan-lawanmu?”

“Sudah,“ jawab Jati Wulung.

Petugas itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memberikan busur dan anak panah dari persediaan yang ada. Sudah tentu bukan busur dan anak panah yang baik.

Ketika Jati Wulung memasuki arena, ternyata tidak kalah menariknya dari saat orang berkepala botak itu turun. Bukan karena sikapnya, kesombongannya atau kata-katanya yang gemuruh disela-sela derai tertawanya. Tetapi justru karena kesederhanaannya. Apalagi busur dan anak panahnya, yang mereka ketahui, dipinjam dari persediaan yang ada di tempat itu.

Demikian Jati Wulung duduk, seorang anak telah siap untuk menjadi pemungut anak panahnya.

Namun ternyata orang berkepala botak itu telah menyapanya, “He Ki Sanak. Apakah kau memang agak kurang waras?”

Jati Wulung termangu-mangu. Sementara itu orang-orang yang telah beberapa kali berada di Song Lawa, melihat orang itu juga orang baru sebagaimana orang berkepala botak itu.

“He, apakah kau selain gila juga tuli?“ orang berkepala botak itu hampir berteriak.

Jati Wulung berpaling kepada orang yang botak itu. Namun kemudian ia menunjuk kearah sasaran sambil berkata, “Sasaran itu ada disana. Marilah, siapakah diantara kita yang dapat mengenai di bagian kepalanya.”

Orang berkepala botak itu menggeram sambil berkata, “Kau benar-benar telah menjadi gila. Kau ikut dalam panahan dikelompok ini dengan busur dan anak panah buangan seperti itu.”

Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi dipandanginya sasaran itu dengan saksama.

Disaat Jati Wulung memasuki arena dengan busur dan anak panah pinjaman, tidak terlalu banyak orang yang memperhatikan, karena kelompok yang dimasukinya tidak menjadi panas seperti kelompok enam yang kemudian diikuti oleh Jati Wulung.

Kawan Kiai Windu yang berada di dekat arena keenam itu menjadi tegang. Ia tahu pasti bahwa Jati Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ia belum yakin bahwa ia adalah seorang pembidik yang akan mampu melampaui ketiga orang yang telah memanaskan arena keenam itu.

Sejenak kemudian pada rambahan berikutnya, Jati Wulung telah ikut pula melepaskan anak panahnya. Ketika ia melepaskan anak panahnya yang pertama, maka ia masih menjajagi sifat dan watak busur yang dipergunakannya. Sementara itu, menurut penilikannya, anak-panah yang akan dipergunakan meskipun ujudnya kurang baik, tetapi adalah anak panah biasa dan baik lari serta arahnya tidak terlalu buruk.

Ketika anak panahnya yang pertama tidak mengenai sasaran, maka orang berkepala botak itu berteriak, “He orang yang kurang waras. Berikan saja taruhanmu itu kepadaku tanpa bersusah payah melepaskan anak panah. Kau tidak akan dapat menyentuh sasaran yang paling buruk sekalipun. Bahkan anak panahmu akan dapat mengenai gandul yang justru kau akan didenda separuh dari uang taruhanmu disamping uang taruhanmu itu seluruhnya.“

Jati Wulung tidak menjawab. Ia sudah mulai memasang anak panah yang kedua.

Sementara itu, ketiga orang yang terbaik di kelompok itu ternyata telah mulai melepaskan anak panah mereka. Ternyata merekapun tidak dengan serta merta mengenainya. Bahkan dari enam anak panah, tidak lebih dari dua diantaranya yang akan dapat mengenai sasaran, seperti di rambahan-rambahan sebelumnya. Itu pun sudah merupakan hasil terbaik dari pemanah terbaik saat itu. Bahkan sekali-sekali diantara ketiga pemanah itu, dalam satu rambahan tidak lebih dari satu anak panah yang mengenainya. Sedangkan orang-orang lain, pada beberapa rambahan, barulah anak panah mereka dapat hinggap disasaran. Tetapi pernah juga terjadi seseorang yang dapat menancapkan empat anak panah. Tetapi tentu saja itu hanya satu kebetulan dan terjadi dalam seratus rambahan sekali.

Sementara itu, hati Jati Wulung yang panas, benar-benar berniat untuk menunjukkan bahwa ia pun mampu melakukan sebagaimana dilakukan oleh ketiga orang itu. Meskipun ketika anak panahnya yang pertama agak jauh dari sasaran, tetapi ia yakin akan dapat melakukan jauh lebih baik. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa ketiga orang terbaik itu telah mentertawakannya.

Sebenarnyalah bahwa Jati Wulung adalah seorang pemanah yang terlalu baik untuk sekedar bertaruh sebagaimana Sambi Wulung. Keduanya adalah orang-orang yang ditempa diperguruan yang bukan saja belajar membidik sasaran yang diam. Tetapi keduanya telah berlatih dengan tekun membidik sasaran yang bergerak. Dengan tepat keduanya dapat mengenai jantung seseorang yang berlari kencang. Latihan-latihan yang pernah dilakukan adalah membidik dan memanah kantung-kantung kecil berisi pasir yang dilemparkan. Bahkan kemudian sasaran-sasaran yang lebih kecil. Batang pisang yang dipotong hanya sebesar genggaman tangan dan dilemparkan keudara, dapat dikenai sekaligus oleh tiga anak panah berurutan.

Saat itu, Jati Wulung menghadapi sasaran yang diam tergantung dihadapannya meskipun agak jauh.

Karena itu, maka ia pun yakin akan dapat mengenainya kapan saja ia menghendakinya.

Ketika orang-orang lain di kelompok itu telah melepaskan anak panah mereka pula, namun belum satu pun diantara anak panah itu yang mengenai sasaran yang tatarannya paling rendah sekalipun, Jati Wulung benar-benar telah membidikkan anak panahnya. Ia ingin mengenai sasaran itu pada tataran terendah, namun yang masih menghasilkan nilai. Karena jika ia mengenai gandul dari sasaran itu, maka justru ia akan didenda.

Beberapa saat Jati Wulung melihat beberapa anak panah yang meluncur ke arah sasaran. Namun anak panah itu ternyata masih belum ada yang menyentuhnya.

Bahkan tiba-tiba saja orang-orang yang menyaksikan panahan di kelompok enam itu bersorak disertai ejekan-ejekan yang menyakitkan, ketika satu diantara anak panah itu justru mengenai gandul.

Pada saat yang demikian, Jati Wulung telah melepaskan anak panahnya. Anak panah itu meluncur cepat menuju sasaran sebagaimana dikehendaki. Ternyata bahwa anak panahnya benar-benar telah mengenai badan dari tubuh sasaran itu sebagaimana ia inginkan.

Sorak itu telah terdengar lagi. Namun dalam nada yang berbeda. Orang-orang yang menonton dikelompok yang menjadi panas itupun telah bertepuk-pula bagi anak panah Jati Wulung. Apalagi kawan Kiai Windu.

Tetapi sejenak kemudian sorak itu telah disusul oleh sorak berikutnya. Satu anak panah dari orang berkepala botak itu telah mengenai badan sasaran itu pula.

Namun orang berkepala botak itu masih juga mengumpat, “Setan belang. Kau mendahului aku he?”

Jati Wulung diam saja. Sementara itu kedua orang pemanah yang lainpun telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka membidik dengan sebaik-baiknya.

Sorak yang meledak telah terdengar pula. Ternyata pemanah terbaik yang pertama-tama ada di arena itu justru telah mengenai leher dari tubuh sasaran. Dengan demikian ia telah mendapat nilai lebih tinggi dari pemanah berkepala botak itu. Dan sorak itu pun disusul lagi ketika pemanah yang kemudian juga memasuki arena sebelum orang berkepala botak itu juga sempat menancapkan anak panahnya, meskipun tidak lebih pada badan sasaran.

Namun arena keenam itu telah benar-benar bagaikan membara.

Sorak dan teriakan-teriakan penontonpun membuat telinga menjadi semakin merah.

Jati Wulung memang memiliki watak yang agak berbeda dari Sambi Wulung. Didalam lingkaran arena ketiga Sambi Wulung masih sempat mengekang dirinya. Meskipun ia memenangkan taruhan untuk beberapa rambahan, namun sekali-sekali ia dengan sengaja membuat dirinya kalah. Dengan demikian maka perhatian orang-orang yang ada di kelompok itu serta beberapa penonton yang tinggal, karena yang lain terhisap di kelompok enam, tidak terlalu menaruh perhatian atas kelebihannya. Kemenangan yang didapat oleh Sambi Wulung memang tidak terlalu banyak, namun telah dapat menambah bekal jika mereka memasuki permainan judi yang lain.

Di kelompok enam Jati Wulung pun telah terbakar oleh sikap penonton dan sikap ketiga orang pemanah terbaik yang lain. Karena itu, maka ia pun telah membidikkan anak panahnya pula. Dengan hati-hati dan sungguh-sungguh ia memang membidik leher sasaran.

Sebenarnyalah penonton menjadi gegap gempita ketika anak panah Jati Wulung benar-benar hinggap dileher sasaran. Sementara itu ketiga orang pemanah terbaik di kelompok itu pun mengumpatinya dengan kasar. Beberapa anak panah yang meluncur kemudian justru tidak dapat mengenai sasaran, karena mereka menjadi gelisah dan bahkan marah, sehingga tangan mereka menjadi gemetar sebagaimana jantung mereka semakin keras berdetak.

Tetapi Jati Wulung tidak berhenti sampai sekian. Ia masih memiliki dua anak panah dirambahan itu. Dengan sepenuh kemampuan yang ada pada dirinya, maka Jati Wulung telah membidik kepala sasaran. Ia memang menunggu sampai anak panah terakhir, telah dilepaskan oleh para pemanah yang lain. Baru kemudian ia melepaskan anak panahnya.

Lapangan itu rasa-rasanya hampir meledak. Anak panah itu tepat mengenai kepala tubuh sasaran. Bagian yang mendapat penilaian tertinggi dari sasaran itu.

Tetapi Jati Wulung belum selesai. Ia masih mempunyai satu anak panah dari enam anak panah yang disediakan bagi setiap rambahan.

Jati Wulung memang tidak mau disebut kebetulan dengan anak-anak panahnya yang sempat hinggap di tubuh sasaran. Karena itu, maka sekali lagi ia membidik dengan sungguh-sungguh. Ia tidak melihat apapun juga di hadapannya kecuali kepala sasaran itu.

Demikianlah, ketika anak panahnya yang terakhir lari dari busurnya, maka lapangan panahan itu benar-benar telah terguncang. Anak panah yang terakhir itupun telah mengenai kepala sasaran itu pula tepat dikepalanya, sehingga bedor anak panahnya seakan-akan berimpit dengan anak panahnya yang terdahulu.

“Anak setan, demit, thethekan,“ orang berkepala botak itu mengumpat kasar. Tiba-tiba saja ia bangkit. Dengan kasar ia berteriak, “Kau pakai ilmu setan orang gila. Kemenanganmu kali ini tidak diakui.”

Jati Wulung termangu-mangu melihat sikap orang itu. Namun ternyata dua orang pemanah terbaik yang lain hampir berbareng berkata, “Aku akui kemenangannya.”

Orang berkepala botak itu berpaling kepada kedua orang itu. Namun kedua orang itu memandanginya dengan tatapan mata yang tajam, sehingga bagaimanapun juga orang berkepala botak itu harus menilai kembali sikapnya.

Perlahan-lahan ia duduk kembali. Tetapi ia masih bergeremang, “Jika demikian, semua uang yang ada disini akan diambilnya.”

“Mungkin sekali,“ berkata salah seorang dari kedua pemanah terbaik itu, “jika salah seorang dari para peserta ini memang ingin menghindar, maka tidak ada yang akan melarangnya.”

“Persetan,“ geram orang berkepala botak itu.

Tetapi ia merasa malu untuk meninggalkan lapangan di kelompok itu. Karena itu, maka ia pun telah kembali memegangi busurnya sambil berkata, “Mungkin satu kebetulan. Kita lihat dirambahan berikutnya.”

Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia memang ingin membuktikan, bahwa ia benar-benar mampu mengenai sasaran sebagaimana dikehendakinya. Bukan sekedar kebetulan, sebagaimana dikatakan oleh orang yang berkepala botak itu.

Sementara itu, kawan Kiai Windu ternyata telah dengan tergesa-gesa menemui Kiai Windu dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.

“Benar-benar satu pameran kemampuan,“ katanya.

Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Aku yakin bahwa Wanengbaya inipun mampu juga melakukannya. Tetapi ia lebih mengendap dari Wanengpati, sehingga ia tidak melakukannya. Ia pun agaknya menang pula. Tetapi sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan. Sekali-sekali ia dengan sengaja mengalah.”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata, “Jika sikapnya itu tidak berubah, mungkin akan dapat memancing persoalan. Seorang diantara para pengikut di kelompok enam sudah menunjukkan sikapnya yang tidak senang melihat kemampuan Wanengpati.”

Kiai Windu tersenyum. Katanya, “Ia akan dapat mengatasi kesulitan jika timbul. Ingat, ia memiliki ilmu yang luar biasa. Demikian pula Wanengbaya.”

Kawan Kiai Windu itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian kembali pergi ke kelompok enam. Ada semacam kebanggaan didalam dirinya, bahwa seorang yang telah dikenalnya mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam arena panahan itu. Bahkan kedua orang kawannya yang lain pun telah ikut pula bersamanya melihat panahan di kelompok enam, sementara Kiai Windu berkata, “Aku berada disini.”

Sambi Wulung sendiri masih belum merubah cara yang dipakainya. Ia masih juga menempatkan diri pada tataran yang tidak terlalu menyolok diantara pemanah-pemanah yang lain. Meskipun ia memang menang, namun tidak seorang pun yang tersinggung oleh kemenangannya itu.

Berbeda dengan cara yang dilakukan oleh Jati Wulung. Jantungnya benar-benar telah terbakar oleh suasana yang panas dikelompok enam. Ia tidak saja ingin menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemanah terbaik di Song Lawa. Namun ia dapat berbuat apa saja yang dikehendaki.

Pada rambahan berikutnya, maka dengan sengaja Jati Wulung telah mengenai sasaran itu dari atas kebawah. Anak panahnya yang pertama telah hinggap di kepala. Sebelum orang lain melepaskan anak panahnya barang satupun, Jati Wulung telah melepaskan anak panahnya yang kedua yang dengan sengaja telah ditancapkan pada leher sasaran. Yang ketiga mengenai badan sasaran dibagian atas dan yang keempat mengenai badan sasaran dibagian bawah, ia tidak memberi kesempatan orang lain untuk melepaskan anak panah, karena sebagian besar dari mereka menjadi bagaikan membeku. Panah yang kelima dengan sengaja pula telah dibidikkan kearah gandul. Meskipun ia sadar, bahwa dengan demikian akan dikenakan nilai denda, tetapi nilai seluruh anak panahnya masih juga lebih banyak dari denda itu. Sementara sebelum orang lain membidik, satu anak panah lagi telah meluncur dan tepat mengenai kepala pula.

Arena panahan di kelompok itu justru menjadi hening. Tidak seorang pun yang telah bersorak. Jantung mereka benar-benar dicengkam oleh keajaiban yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Bahkan pemanah-pemanah terbaik pun bagaikan membeku melihat cara Jati Wulung menggetarkan jantung lawan-lawan panahannya.

Sementara itu, setiap orang yang ada diarena itu mengerti sepenuhnya apa yang telah dilakukan oleh Jati Wulung. Jika ada satu diantara anak panahnya yang mengenai sasaran yang mengasilkan nilai denda, itu bukan karena ia salah bidik. Tetapi hal itu tentu dilakukan dengan sengaja.

Baru kemudian ketika orang yang mereka kenal dengan nama Wanengpati itu meletakkan busurnya, langit bagaikan menjadi runtuh. Orang-orang yang menyaksikan kemampuan Jati Wulung itu telah bersorak-sorak seperti orang kehilangan kesadaran. Kawan-kawan Kiai Windu pun ikut pula bersorak seakan-akan merekalah yang telah memenangkan panahan itu. Bahkan para pemanah yang lain pun telah ikut bertepuk tangan pula melihat kemampuan Jati Wulung yang berada diluar jangkauan kemampuan mereka.

Ketika sorak yang gemuruh itu mereda, maka barulah orang-orang lain membidikkan anak panahnya. Merekapun berusaha untuk mengenai sasaran. Karena nilai-nilai yang mereka dapat akan berarti mengurangi nilai kekalahan mereka.

Orang berkepala botak itu benar-benar telah kehilangan kemampuan bidiknya oleh kegelisahan dan ketidak senangannya terhadap Jati Wulung. Setiap kali ia mengumpat kasar dan diperlakukannya busur dan anak panahnya yang baik dan mahal itu dengan kasar pula.

Berbeda dengan orang itu, maka pemanah-pemanah yang lain, termasuk kedua orang pemanah terbaik sebelumnya, menerima kenyataan itu. Karena itu mereka justru menjadi tenang. Mereka mampu mempergunakan kesempatan mereka untuk mengurangi kekalahan mereka, sehingga mereka tidak harus membayar terlalu banyak. Apalagi dengan sengaja Wanengpati telah mengurangi kemenangannya dengan membiarkan anak panahnya mengenai sasaran yang justru dikenakan nilai denda.

Pada kedua rambahan itu, Jati Wulung sudah mendapatkan kemenangan lebih besar dari Sambi Wulung. Namun dengan demikian lawan-lawannya yang lainpun menjadi ragu-ragu. Jika mereka meneruskan permainan maka mereka tidak akan mempunyai harapan sama sekali. Berbeda dengan ketiga orang pemanah sebelumnya, yang betapapun tinggi kemampuannya, namun mereka masih belum mampu menentukan sasaran sebagaimana dikehendakinya setiap saat.

Agaknya Jati Wulung melihat hal itu. Iapun memang sudah merasa puas setelah memaksa orang botak yang sombong itu mengakui kekalahannya dihadapan sedemikian banyak saksi. Karena itu, maka Jati Wulungpun kemudian berdiri sambil berkata, “Aku tidak melanjutkan permainan ini agar ada orang lain yang sempat mendapatkan kemenangan.”

“Persetan,“ geram orang yang botak itu.

Jati Wulung berpaling kearahnya. Tetapi ia melihat bahwa kesombongan orang berkepala botak itu sudah runtuh. Apapun yang dilakukan, maka orang-orang yang ada di kelompok enam itu tahu, bahwa ia bukan orang yang tidak terkalahkan.

Karena itu, maka Jati Wulung pun tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian telah mengembalikan busur dan anak panah kepada petugasnya. Memberikan sedikit uang kepadanya dan bagi anak yang telah memungut anak panahnya. Kemudian Jati Wulung pun melangkah meninggalkan arena keenam itu.

Ketiga orang kawan Kiai Windu pun segera mendapatkannya. Dengan nada tinggi seorang diantara mereka berkata, “Kau memang luar biasa. Aku menjadi tidak merasa sakit hati pernah kau kalahkan, karena kau memang pantas melakukannya atas kami.”

“Jangan memuji seperti itu,“ berkata Jati Wulung, “jika kau ingin makan, marilah. Aku akan membayarnya.”

“Ah kau,“ desis kawan kiai Windu yang lain, “hanya makan?”

“Habis. Kau mau apa? “ bertanva Jati Wulung.

“Tidak apa-apa,“ jawab kawan Kiai Windu.

Namun kedua kawannya yang lain tersenyum sambil memandanginya. Seorang diantaranya berkata, “Kenapa kau tidak berterus terang.”

“Terus terang tentang apa? Aku memang tidak menghendaki apa-apa,“ jawab orang itu.

“Penari itu?“ desis kawannya yang lain.

“Ah kau. Omong kosong,“ geram orang itu sambil melangkah pergi.

Kedua kawannya tertawa. Sementara Jati Wulung pun tertawa pula.

Ketika mereka meninggalkan arena keenam itu, maka beberapa orang masih saja memperhatikannya. Namun orang-orang itu tidak mengikutinya atau meninggalkan arena itu. Bahkan kemudian mereka pun mulai memperhatikan panahan yang berlangsung lebih mapan setelah diguncang oleh Jati Wulung dengan kemampuannya yang luar biasa. Bahkan kemudian orang-orang yang tidak ikut memegang busur dan anak panah pun dapat ikut bertaruh pula dengan cara mereka masing-masing.

Ketika Jati Wulung kemudian sampai ke arena pada kelompok yang diikuti oleh Sambi Wulung, maka ia pun telah melihat cara yang ditempuh oleh saudara seperguruannya itu. Tiba-tiba saja jantungnya merasa berdebar-debar mengingat apa yang telah dilakukannya. Karena dengan demikian, maka seolah-olah telah tertutup kemungkinan baginya untuk ikut serta dalam permainan panahan, karena setiap orang telah mengetahui kemampuannya yang tidak terkalahkan.

Sementara itu Sambi Wulung yang mampu mengendalikan dirinya, telah mempergunakan cara yang lebih halus.

Akhirnya Jati Wulung justru telah terduduk di bawah sebatang pohon di pinggir lapangan. Keringatnya yang membasahi keningnya sekali-sekali disekanya dengan lengan bajunya.

Kiai Windu lah yang kemudian mendekatinya. Dengan nada rendah iapun bertanya, “Kau letih?”

“Ya,“ jawab Jati Wulung.

“Kau terlalu tegang,“ berkata Kiai Windu yang kemudian duduk disebelahnya. “Wanengbaya tidak melakukan cara seperti yang kau lakukan. Sampai sekarang ia masih bertahan ditempatnya.”

“Ya. Aku menjadi panas karena penonton yang seakan-akan menjadi gila, serta pemanah yang memang membuat jantungku seakan-akan semakin cepat bergetar,“ berkata Jati Wulung.

“Karena itulah kau harus berhati-hati. Terutama terhadap orang yang dianggapnya sebagai pemanah-pemanah terbaik itu. Mungkin ada yang menerima kenyataan itu. Asal kau tidak turun ke arena maka tidak ada lagi masalah baginya. Tetapi ada yang mungkin berpendirian, bahwa kau tidak boleh untuk seterusnya turun ke arena panahan di tempat yang disebut Song Lawa ini,“ berkata Kiai Windu kemudian.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Kiai Windu. Dengan nada berat ia berkata, “Aku akan berhati-hati Kiai. Terima kasih atas peringatan itu. Sebenarnya aku tidak berniat untuk berbuat demikian. Tetapi perasaan inilah yang rasa-rasanya telah membakar jantung.”

Kiai Windu tersenyum. Ia memang serba sedikit dalam pergaulannya yang singkat, dapat mengenali watak Jati Wulung yang agak lebih panas dari Sambi Wulung.

“Beristirahatlah,“ berkata Kiai Windu, “aku akan melihat panahan itu lagi.”

Sepeninggal Kiai Windu, Jati Wulung semakin merenungi dirinya sendiri. Ia pun kemudian bersandar sebatang pohon sambil memandangi daunnya yang bergerak disentuh angin. Rasa-rasanya sejuknya bayangan dedaunan serta angin yang mengusap tubuh membuatnya mengantuk. Namun Jati Wulung tidak tertidur karena setiap kali terdengar sorak yang meledak dari para penonton yang telah ikut bertaruh di lapangan panahan.

Bagi Jati Wulung, Kiai Windu memang merupakan orang yang agak lain dengan orang-orang yang dikenalinya di Song Lawa itu. Meskipun ilmu Kiai Windu tidak mampu menyamainya, tetapi sikapnya yang mengendap dan berpandangan luas itu, membuatnya menjadi hormat kepadanya.

Ternyata Jati Wulung harus menunggu sampai menjelang matahari turun. Sambi Wulung agaknya cukup telaten ikut dalam panahan itu. Namun ketika matahari bagaikan membakar tengkuknya, serta kemenangannya untuk hari itu sudah dianggap cukup, iapun telah meninggalkan arena.

Ketika Sambi Wulung itu melihat Jati Wulung duduk bersandar sebatang pohon sambil merenung, maka iapun telah mendekatinya.

“Kenapa kau?“ bertanya Sambi Wulung.

Kawan Kiai Windu yang mendekati merekalah yang menjawab, “Ia telah mabuk karena kemenangannya.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Sementara Jati Wulung sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.

“Tunggulah,“ berkata Sambi Wulung, “aku akan mengembalikan busur dan anak panah ini.”

Jati Wulung masih belum menjawab. Sementara Sambi Wulung pun kemudian telah mengembalikan busur dan anak panah, memberi sedikit uang kepada petugasnya dan juga kepada anak-anak yang menjadi pemungut anak panahnya.

“Kau menang hari ini,“ berkata petugas yang bertubuh raksasa itu sambil tersenyum.

Sambi Wulung pun tersenyum juga. Baginya nampak agak aneh, seorang yang bertubuh raksasa, berwajah kasar dan berkumis tebal itu tersenyum. Namun kemudian Sambi Wulung telah memberikan uang lagi kepadanya sambil berkata, “Mungkin besok aku akan meminjamnya lagi.”

“Baiklah,“ jawab orang itu. Lalu katanya, “terima kasih. Aku doakan kau besok menang lagi.”

Sambi Wulung tertawa. Namun ia tidak menjawab lagi.

Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung, Jati Wulung, Kiai Windu dan ketiga orang kawannya telah berjalan menuju ke kedai di sebelah lapangan itu. Ketika mereka melewati kelompok-kelompok yang lain, mereka tidak lagi melihat Wikrama diarena. Tetapi mereka masih melihat Puguh berada di tempatnya.

Ternyata mereka berhenti beberapa saat. Namun dalam waktu yang pendek itu mereka sudah dapat menduga, bahwa setidak-tidaknya Puguh tidak kalah dalam taruhan ditempat panahan itu.

Dalam pada itu, karena panasnya matahari, ternyata beberapa orang pemanah memang sudah meninggalkan arena. Tetapi ada saja orang lain yang menggantikannya, sehingga seakan-akan jumlah pesertanya tidak terlalu banyak berkurang. Apalagi menurut Kiai Windu, jika panas matahari mulai susut. Orang-orang baru akan turun pula menggantikan mereka yang telah menjadi kelelahan. Namun dalam pada itu, ketika mereka melanjutkan langkah mereka menuju ke kedai, Kiai Windu telah menceriterakan apa yang didengarnya dari kawan-kawannya tentang Jati Wulung yang ternyata telah mengguncang arena panahan di lapangan itu.

“Benar kau berbuat begitu?“ bertanya Sambi Wulung.

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa jika Kiai Windu menyampaikan hal itu kepada Sambi Wulung, ia sama sekali tidak berniat buruk. Bahkan sebaliknya, agar Sambi Wulung yang dikenalnya bernama Wanengbaya itu juga menjadi berhati-hati.

Dengan nada rendah Jati Wulung menjawab, “Hatiku dibakar oleh suasana yang panas serta sikap salah seorang pemanah yang sombong atas kelebihannya.”

“Dan kau terpancing untuk menjadi sombong juga?” bertanya Sambi Wulung.

Jati Wulung tidak menjawab. Namun Kiai Windu lah yang berkata, “Sebaiknya kau tidak memasuki arena panahan untuk satu dua hari, karena kehadiranmu akan sangat berpengaruh terhadap kelompok itu.”

Jati Wulung mengangguk kecil. Katanya, “Aku mengerti.”

Sambi Wulung hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun mengerti, bahwa ketelanjuran itu mungkin akan mempunyai akibat tersendiri. Meskipun demikian Sambi Wulung berkata, “Mudah-mudahan orang-orang itu segera melupakannya.”

Beberapa saat kemudian, mereka berenam telah berada di kedai bersama beberapa orang yang lain. Kedai yang luas itu memang cukup menampung orang cukup banyak.

Keenam orang itu ternyata telah memilih tempat yang justru berada agak diluar, agar tidak merasa terlalu panas dan terlalu sibuk.

Ternyata bahwa perut yang lapar, kelelahan dan haus membuat mereka mapan sekali duduk disebuah amben yang besar berenam sambil menghadapi mangkuk masing-masing.

Untuk beberapa saat, mereka masih dapat menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja sebuah batu yang cukup besar, tidak kurang dari satu genggaman tangan telah jatuh dimangkuk Jati Wulung sehingga mangkuk itu menjadi pecah.

Serentak ia berpaling. Sementara itu suara tertawa telah terdengar memenuhi kedai itu.

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia teringat kepada seseorang yang telah memasukkan sekeping uang di mangkuk salah seorang dari kawan Kiai Windu. Namun yang dimasukkan kedalam mangkuknya bukan uang, tetapi justru batu sebesar genggaman tangan sehingga memecahkan mangkuknya dan isinya pun telah berhamburan.

Orang yang melemparkan batu itu ternyata adalah orang yang berkepala botak yang telah dikalahkannya di arena panahan.

“Kau memang benar Kiai Windu,“ berkata Jati Wulung, “aku tidak perlu menunggu besok atau malam nanti. Sekarang orang itu sudah menuntut kekalahannya.”

“Berhati-hatilah,“ berkata Kiai Windu, “nampaknya orang itu bukan orang kebanyakan. Aku belum pernah melihat sebelumnya ia berada disini.”

Namun dalam pada itu Jati Wulung masih belum berbuat sesuatu. Ia memang menunggu orang itu mendekatinya.

Sambil tertawa berkepanjangan, orang itu memang melangkah mendekat. Ia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang di kedai itu. Sedangkan orang-orang di kedai itupun tidak banyak pula yang memperhatikannya. Sesaat mereka memang berpaling kearahnya. Namun kemudian mereka lebih baik memperhatikan makan dan minuman mereka daripada memperhatikan orang lain.

“Kau adalah pemanah terbaik yang pernah aku temui,“ berkata orang berkepala botak itu, “aku mengakui, bahwa kau telah melampui kemampuanku memanah. Sebelumnya, akulah yang terbaik. Namun kehadiranmu membuat wibawaku menurun di lapangan panahan.”

“Bukan maksudku,“ berkata Jati Wulung, “aku hanya sekedar mengambil kemenangan untuk makan siang ini.”

“Kau semakin menghinaku,“ berkata orang berkepala botak itu, “kau justru dengan sengaja mengenai sasaran dengan nilai denda. He, apakah kau memang ingin menantang aku.”

Wajah Jati Wulung menjadi merah. Tetapi ketika ia melihat orang-orang disekitarnya masih tenang-tenang saja, maka iapun menjadi tenang pula.

“Ki Sanak,“ berkata orang berkepala botak itu, “karena kau merebut wibawaku di arena panahan, maka aku ingin mendapatkannya kembali disini. Jika kau mau berjongkok dan minta maaf kepadaku, maka aku tidak akan menganggumu lagi meskipun kau akan turun pula ke arena panahan. Aku dapat menyingkir ke kelompok lain atau melakukan kegiatan yang lain.”

Jati Wulung hampir kehilangan kesabarannya. Namun ia masih berusaha menguasai diri.

“He. Kenapa kau diam saja? Jika kau sesali kesombonganmu di arena panahan itu, berjongkoklah cepat sebelum aku mengambil keputusan lain,“ berkata orang berkepala botak itu.

Jati Wulung memang sudah menjadi panas. Iapun kemudian turun dari amben.

“Nah, ternyata kau berani mengakui kesalahanmu. Marilah. Aku akan mengampunimu,“ desis orang itu.

Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Jati Wulung telah menyambar mangkuk dihadapan Sambi Wulung yang masih berisi minuman hangat. Dengan serta merta minuman itu telah dilontarkan ke wajah orang yang berkepala botak itu.

Orang berkepala botak itu ternyata sama sekali tidak menduga, sehingga karena itu, maka wedang sere hangat itu benar-benar telah menyiram wajahnya.

Orang itu bergeser selangkah surut. Wajahnya menjadi merah bagaikan membara. Bukan saja karena minuman yang masih hangat itu, tetapi juga karena kemarahan yang semakin memuncak.

Orang-orang yang ada didalam kedai itu memang tertarik melihat sikap Jati Wulung. Semula mereka menduga bahwa Jati Wulung yang menyebut dirinya bernama Wanengpati itu memang benar-benar akan berlutut. Tetapi ternyata yang dilakukan justru sebaliknya.

Sementara diantara mereka yang melihat apa yang terjadi diarena panahan, segera mengetahui, bahwa orang berkepala botak itu telah mendendam Wanengpati karena kekalahannya yang mutlak di arena.

“Kau benar-benar orang gila,“ geram orang berkepala botak itu, “tadi aku masih berbaik hati dan bersedia memberikan maaf jika kau minta. Sekarang kau mendapat kesempatan lagi.”

“Persetan,“ geram Jati Wulung.

Sambi Wulung hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan mampu mencegah benturan kekerasan yang akan terjadi. Namun ia masih ingin memperingatkan kepada Jati Wulung, bahwa tujuan mereka ke Song Lawa adalah untuk mengenal dan mengetahui tempat tinggal Puguh. Bukan untuk hal-hal yang lain.

Karena itu, maka Sambi Wulung pun telah berdiri pula mendekati Jati Wulung. Diambilnya mangkuk yang masih berada ditangan Jati Wulung itu. Ia seolah-olah tidak peduli apa yang akan terjadi. Namun ia sempat berbisik, “perkelahian ini tidak termasuk dalam tugas kita.”

“Kita sudah melakukannya beberapa kali,“ desis Jati Wulung.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian berkata kepada seorang pelayan, “Tolong, isi mangkukku ini. Wedang sere panas.”

Kiai Windu dan kawan-kawannya hanya termangu-mangu saja. Meskipun mereka tahu, bahwa Sambi Wulung berkata sesuatu kepada Jati Wulung, tetapi mereka tidak mendengar apa yang dikatakannya.

Dalam pada itu, ketika Jati Wulung dan orang berkepala botak itu sudah bersiap, maka dua orang yang bertubuh raksasa datang mendekat sambil berkata kepada dua orang yang akan berkelahi itu, “Minggir. Jangan berkelahi di kedai ini. Kalian dapat merusakkan barang-barang kami sehingga kalian harus mengganti dengan harga yang sangat tinggi. Apalagi jika salah seorang dari kalian mati. Maka yang hidup akan menanggung beban yang berat, atau ikut mati pula.”

Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia telah bergeser menjauh dari kedai itu dan justru berada ditempat yang lapang. Sementara itu orang berkepala botak itupun menyusulnya pula.

Orang-orang yang makan di kedai itu masih juga makan. Sementara itu, Jati Wulung masih sempat melihat Puguh diikuti oleh beberapa orang pengawalnya menuju ke kedai itu. Mereka berpaling sejenak. Namun kemudian mereka tidak menghiraukannya lagi.

Dalam pada itu, orang berkepala botak yang marah sekali itu agaknya tidak sabar lagi. Wajahnya dan pakaiannya memang sudah basah oleh wedang sere yang hangat.

“Bersiaplah,“ ia menggeram.

Jati Wulung tidak menjawab. Namun iapun telah bersiap pula.

Dalam pada itu, dua orang yang baru datang ke kedai itu masih berdiri didekat tempat duduk Sambi Wulung. Seorang diantara mereka berkata, “Kedua-duanya belum pernah aku lihat sebelumnya.”

“Ya. Keduanya orang baru. Tetapi kasihan orang itu. Ia memiliki kemampuan memanah tiada taranya. Tetapi ditangan orang berkepala botak itu ia akan menjadi permainan yang mengasikkan. Agaknya jika ia tahu siapa si botak itu, maka ia tidak akan berani menyombongkan dirinya diarena,“ desis yang lain.

“Kau kenal si botak itu?“ bertanya kawannya.

“Orang itulah yang dikenal dengan sebutan Orang Hutan berkepala Besi,“ jawab yang lain.

“O,“ kawannya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “sayang. Orang itu sudah terbentur pada Kepala Besi diliari kedua. Masih banyak waktu yang tersisa. Kenapa ia sudah mengorbankan dirinya sekarang.”

“Ia terlalu sombong dengan kemampuan bidiknya,“ jawab yang lain, “tetapi Kepala Besi itu namanya sudah terlalu banyak dikenal.”

“Dipesisir Utara. Tetapi belum disini,“ jawab kawannya.

Keduanya pun kemudian bergeser dan duduk disebuah amben. Ketika keduanya mulai memesan makanan, maka orang yang disebut Orang Hutan berkepala Besi itu sudah mulai bergerak.

Sambi Wulung memang menjadi berdebar-debar mendengar pembicaraan itu. Apalagi ketika Kiai Windu berdesis, “jadi orang itulah yang disebut Orang Hutan berkepala Besi itu.”

“Kau pernah mendengar?“ bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Namanya memang ditakuti di pesisir Utara. Tetapi tiba-tiba sekarang ia berada disini?“ jawab Kiai Windu. Namun diluar sadarnya Kiai Windu berkata, “Kemelut di daerah Alas Mentaok agaknya telah memanggilnya.”

Sambi Wulung terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta merta ia bertanya, “Kemelut yang manakah yang kau maksud?”

Kiai Windu lah yang terkejut kemudian. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa iapun berkata, “Tidak. Tidak ada apa-apa dengan Mentaok.”

Ketika agaknya Sambi Wulung masih akan bertanya lagi, Kiai Windu mendahuluinya, “perkelahian itu sudah mulai.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Perkelahian antara orang berkepala botak yang disebut Orang Hutan berkepala Besi itu dengan Jati Wulung yang dikenal bersama Wanengpati memang sudah mulai.

Namun dalam pada itu orang berkepala botak itu masih sempat bertanya sambil meloncat menyerang, “Sebelum mati, sebut namamu.”

“Wanengpati,“ jawab Jati Wulung.

“Nama orang gila itupun gila pula,“ geram orang berkepala botak itu.

“Sebelum kepalamu yang botak itu pecah, siapa namamu he?“ bertanya Jati Wulung.

“Biwara,“ jawab orang itu. Lalu, “Tetapi aku lebih dikenal dengan sebut Orang Hutan berkepala Besi. Aku tidak sakit hati disebut Orang Hutan, juga tidak marah dipanggil Kepala Besi. Nah, sekarang kau akan segera mati setelah mengetahui siapa aku. Seandainya kau menyesal, namun kau sudah tidak akan mendapat kesempatan pengampunan lagi.”

Jati Wulung masih akan berbicara lagi. Tetapi serangan lawannya tiba-tiba datang dengan derasnya, seperti tiupan angin prahara.

Karena itu, maka Jati Wulung terpaksa memusatkan perhatiannya pada serangan lawannya. Dengan tangkasnya ia melenting menghindar sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuh sasaran.

“Anak iblis,“ geram orang berkepala botak yang menyebut dirinya Birawa, “bagaimana mungkin kau menghindari seranganku.”

Jati Wulung telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih juga berkata, “Namamu sama sekali tidak dikenal. Seperti nama kebanyakan petani yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Bahkan seorang juragan didaerah Pajang akan lebih banyak dikenal daripada namamu.”

“Aku koyak mulutmu,“ geram orang itu.

“Kenapa tidak kau lakukan saja daripada kau berteriak-teriak? Nah, ketahuilah, bahwa berteriak-teriak seperti itu adalah ciri orang yang kurang yakin akan dirinya sendiri,“ berkata Jati Wulung.

Orang itu memang menjadi semakin marah. Dengan kecepatan yang sulit diikuti, maka iapun telah menyambar Jati Wulung dengan telapak tangannya kearah kening. Namun sekali lagi serangannya sia-sia karena Jati Wulung telah bergeser. Bahkan dengan tiba-tiba saja Jati Wulung telah berputar dan bertumpu pada satu tumitnya. Kakinya yang sebelah yang menyilang kakinya yang lain, telah terpancang dengan kuatnya ketika kakinya yang semula menjadi tumpuannya berputar telah bergerak menyamping.

Gerak itu demikian cepatnya, sehingga orang berkepala botak itu menjadi sangat terkejut karenanya.

Dengan demikian, maka dengan langkah yang panjang, orang berkepala botak itu telah meloncat beberapa langkah surut.

“Bukan main,“ terdengar salah seorang dari kedua orang yang semula membicarakan tentang orang berkepala botak itu.

Sambi Wulung sempat berpaling kearah mereka. Ternyata keduanya dengan sungguh-sungguh telah memperhatikan kedua orang yang berkelahi itu.

“Jarang ada orang yang berhasil lolos dari serangan Kepala Besi itu,“ desis orang yang agaknya memang pernah mengenal orang berkepala botak itu.

Sementara itu kedua orang yang bertempur itu semakin lama memang menjadi semakin cepat. Keduanya memiliki ketrampilan yang tinggi dan tenaga yang besar. Bahkan beberapa saat kemudian mereka telah merambah ke tenaga cadangan mereka.

Orang yang disebut Orang Hutan dan bernama Birawa itu memang merasa heran bahwa seseorang yang berada di Song Lawa itu mampu mengimbanginya beberapa lama. Bahkan orang yang bernama Wanengpati itu nampaknya sampai tataran tertentu akan dapat meningkatkan ilmunya lagi.

Dengan demikian kemarahan Birawa itupun menjadi semakin memuncak. Ia meningkatkan tenaga cadangannya tataran demi tataran. Namun lawannya pun telah meningkat pula. Seakan-akan Wanengpati itupun menjadi semakin lama semakin kuat dan tangkas.

Sambi Wulung memperhatikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ia tahu bahwa Jati Wulung memiliki ilmu yang tinggi meskipun belum setinggi Kiai Soka dan Kiai Badra. Tetapi tidak pada tataran yang jauh lebih rendah. Bahkan dalam beberapa hal, Jati Wulung masih mempunyai kemungkinan pula untuk berkembang.

Kiai Windu pun menjadi tegang karenanya. Ia pernah mendengar serba sedikit tentang orang yang disebut Orang Hutan berkepala Besi. Dipesisir Utara nama itu disebut-sebut sebagai nama yang menggetarkan jantung.

Namun Kiai Windu pun tahu bahwa Wanengpati itu juga memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan ia pernah menjajagi langsung kemampuan dua orang yang bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Kiai Windu berempat tidak mampu mengimbangi kedua orang itu. Bukan sekedar berpura-pura. Tetapi benar benar mereka berempat telah dikalahkan.

Beberapa saat kemudian, maka sikap dan gerak Orang Hutan berkepala Besi itu menjadi semaki keras dan bahkan kasar. Menurut pengalaman Kiai Windu, Wanengbaya dan Wanengpati semula juga dikiranya termasuk golongan orang-orang kasar. Tetapi ternyata kekasaran itu bukanlah sifat dan watak keduanya yang sebenarnya.

Rencana mereka memasuki Song Lawa telah membuat kedua orang itu dengan sengaja menjadi kasar.

Jati Wulung memang tidak menunjukkan tata gerak yang kasar pada mulanya. Tetapi ketika orang berkepala botak itu menjadi keras dan kasar, maka Jati Wulungpun mulai teringat, bahwa ia berada di Song Lawa.

Karena itu, maka tiba-tiba saja tata geraknya telah berubah. Ia tidak lagi bergerak dengan hati-hati. Tidak lagi menjaga agar tidak menimbulkan kesan yang keras dan bahkan liar. Ketika orang berkepala botak itu mengumpat kotor sambil menyerang dengan kasar, ternyata Jati Wulung telah melakukannya pula.

Namun karena Kiai Windu berada di luar arena, ia dapat melihat perubahan itu. Apalagi karena Kiai Windu sendiri mempunyai penilaian yang lain atas kekerasan Wanengpati itu. Tetapi bagi orang lain, maka perubahan itu sama sekali tidak dapat mereka ketahui. Yang nampak kemudian oleh orang-orang yang sekali-sekali berpaling kearah perkelahian itu adalah bahwa keduanya berkelahi menurut kebiasaan yang terjadi di Song Lawa. Keras, kasar dan bahkan liar.

Orang-orang yang berada didalam kedai, kebanyakan semula sama sekali tidak menghiraukan perkelahian itu kecuali beberapa orang tertentu. Namun ketika perkelahian itu menjadi semakin meningkat, maka merekapun mulai tertarik. Ketika kedua orang yang bertempur itu bergerak semakin cepat, dengan benturan-benturan yang semakin keras dan serangan-serangan yang semakin kasar pula, maka satu demi satu mereka mulai memperhatikannya.

Dua orang yang telah membicarakan sebelumnya tentang Orang Hutan berkepala Besi itu menjadi heran, bahwa lawan Orang Hutan itu masih juga mampu bertahan.

“Ternyata ada juga orang yang berilmu tinggi memasuki tempat perjudian ini,“ desis orang yang pernah mengenali Kepala Besi itu.

Ketegangan ternyata telah menjalar keseluruh isi kedai itu. Mereka tidak lagi bersikap acuh saja. Yang mereka lihat kemudian adalah sesuatu yang luar biasa.

Kiai Windu yang juga menjadi tegang berbisik ditelinga Sambi Wulung, “Bagaimana menurut pendapatmu. Aku ingin tahu agar jantungku tidak meledak.”

“Ingin tahu tentang apa?“ bertanya Sambi Wulung.

“Kau adalah saudaranya. Kau tentu tahu, apakah Wanengpati telah sampai ke puncaknya atau belum. Jika orang berkepala botak itu meningkatkan lagi ilmunya, bahkan sampai kepada ilmu puncaknya apakah saudaramu itu masih mempunyai kemampuan yang dicadangkannya pula?“ bertanya Kiai Windu.

“Kau aneh,“ desis Sambi Wulung, “orang seperti aku seharusnya tidak menjadi gelisah melihat perkelahian seperti itu, meskipun kita belum tahu bagaimana akan akhirnya.”

“Kau jangan menambah aku menjadi semakin berdebar-debar,“ berkata Kiai Windu.

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun dengan demikian ia sadar bahwa orang yang bernama Kiai Windu itu memang sangat memperhatikannya dan memperhatikan Jati Wulung. Kecemasan Kiai Windu terhadap Jati Wulung menunjukkan, bahwa pergaulan, mereka yang belum terlalu lama itu telah menumbuhkan perasaan kesetiakawanan meskipun perkenalan mereka terjadi dengan cara yang aneh.

“Kau belum menjawab,“ desak Kiai Windu yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin seru.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak ingin berteka-teki. Tetapi sudah tentu bahwa kita tidak akan dapat meramalkan apa yang akan terjadi, karena aku belum lalui, sampai dimana tataran kemampuan orang berkepala botak itu.”

Kiai Windu termangu-mangu sejenak. Iapun tidak tahu pasti tataran kemampuan Kepala Besi itu. Apakah ia masih mampu meningkatkan ilmunya lebih jauh lagi, atau hanya beberapa lapis saja. Namun ia masih bertanya, ”Kalian dapat mengalahkan aku berempat. Aku yakin bahwa saat itu kau berdua belum sampai pada puncak kemampuanmu. Nah, katakan, apakah yang dilakukan oleh Jati Wulung itu masih jauh dari batas kemampuannya atau sudah menjadi semakin dekat.”

“Jangan seperti anak-anak,“ berkata Sambi Wulung, “kita sudah kenyang makan garamnya kehidupan yang keras seperti ini.”

Kiai Windu tidak bertanya lagi. Namun ia menjadi semakin gelisah melihat perkelahian yang keras dan kasar itu. Bahkan apalagi ketika ia melihat, Kepala Besi itu beberapa kali dengan sengaja berusaha untuk membenturkan kepalanya pada kepala lawannya.

Sambi Wulung pun menjadi tegang. Satu pengalaman baru baginya dan juga bagi Jati Wulung, bahwa seseorang berusaha untuk membenturkan kepalanya ketika mereka sedang bertempur. Namun Jati Wulung cukup tangkas untuk selalu menghindarinya.

Namun dalam pertempuran yang kasar, tiba-tiba saja keduanya sempat berdiri pada jarak yang dekat. Adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja Kepala Besi itu telah meraih telinga Jati Wulung. Jati Wulung sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya akan melakukan hal tersebut. Karena itu, maka ketika semuanya itu terjadi dengan cepat Jati Wulung tidak sempat menghindar.

Ternyata sambil memegangi telinga Jati Wulung Orang Hutan berkepala Besi itu telah membenturkan kepalanya ke kepala Jati Wulung.

Benturan itu demikian kerasnya, sehingga terdengar Jati Wulung mengeluh tertahan.

Tetapi Kepala Besi itu tidak melepaskan pegangnya. Belum lagi Jati Wulung sempat berbuat sesuatu, maka sekali lagi telah terjadi benturan kepala antara keduanya.

Sekali lagi Jati Wulung mengaduh. Kepalanya rasa-rasanya menjadi retak oleh benturan itu. Kepala lawannya itu benar-benar terasa bagaikan terbuat dari besi. Dan itulah agaknya maka lawannya mendapat gelar berkepala besi.

Sambi Wulung yang berada diluar arena menjadi tegang melihat cara orang berkepala botak itu berkelahi. Hampir saja ia meloncat berdiri. Namun ia masih sempat mencegah dirinya sendiri.

Bukan hanya Sambi Wulung, tetapi Kiai Windu dan kawan-kawannyapun menjadi tegang pula. Bahkan terdengar Kiai Windu mengumpat, “Gila.”

Sementara itu dua orang yang telah membicarakan Kepala Besi itu sebelumnya terdengar berdesah pula. Seorang diantara mereka berkata, “Nah, sampailah batas umur orang yang malang itu. Kemampuannya memanah yang luar biasa itu ternyata telah menjerumuskannya ke kematian.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Ia sama sekali tidak menduga pada saat ia belajar memanah. Tetapi ia memang terlalu sombong. Seandainya ia dapat sedikit mengekang dirinya, ia tidak akan menjadi sasaran kemarahan yang meledak itu.”

Yang lain tidak menjawab. Mereka melihat untuk ketiga kalinya orang yang disebut berkepala besi itu membenturkan kepalanya.

Jati Wulung telah benar-benar menjadi pening. Ia tidak mau menunggu kepalanya benar-benar menjadi retak. Karena itu, maka ia harus berbuat sesuatu.

Dengan kekuatan tenaga cadangannya, maka Jati Wulung mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi cengkeraman itu memang begitu kuat, sehingga jika ia memaksa, maka telinganya mungkin akan terlepas dari kepalanya. Karena itu, maka ia harus mengambil jalan lain.

Karena itu, maka Jati Wulung itu justru melekat semakin rapat. Tiba-tiba saja dengan sepenuh kekuatannya, ia telah mengangkat lututnya menghantam bagian bawah perut lawannya.

Serangan itu demikian kerasnya karena didorong oleh segenap kekuatan tenaga cadangannya, sehingga orang berkepala besi itu terdengar mengaduh namun kemudian mengumpat kasar. Apalagi ketika sekali lagi Jati Wulung mengulangi serangannya.

Pegangan tangan orang berkepala besi itu telah menjadi kendor. Dengan serta merta Jati Wulung telah mempergunakan kesempatan itu. Ia telah mengibaskan kedua tangan lawannya dengan menyusupkan kedua lengannya diantara kedua lengan lawan. Ketika Jati Wulung mengambangkan tangannya, maka pegangan lawannya atas telinganyapun telah terlepas.

Dalam pada itu. selagi orang berkepala besi itu masih menyeringai menahan sakit, maka Jati Wulung telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Betapapun kepalanya terasa pening, namun ia masih sempat melihat ujud lawannya. Karena itu, maka dengan kekuatan yang ada padanya, sambil memiringkan tubuhnya, kakinya telah terjulur kedada orang itu.

Satu benturan yang keras telah terjadi. Kekuatan kaki Jati Wulung telah menghantam dada orang yang disebut Orang Hutan hei kepala Besi itu.

Demikian besar kekuatan Jati Wulung, maka lawannya yang berkepala botak itu telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan ia pun telah kehilangan keseimbangannya dan kemudian jatuh di tanah.

Jati Wulung pun ternyata telah menjadi sangat marah mendapat perlakuan lawannya seperti itu. Namun ketika ia siap meloncat menerkam lawannya, rasa-rasanya tanah didepan kakinya itu telah bergerak.

Agaknya kepala Jati Wulung masih terasa pening. Karena itu, maka ia pun telah mengurungkan niatnya. Bahkan ia telah berdiri tegak untuk mempergunakan waktu yang ada, memusatkan nalar budinya untuk mengerahkan daya tahan tubuhnya.

Untunglah bahwa lawannya pun tidak segera bangun. Dadanya rasa-rasanya telah tersumbat bukit padas, sementara itu isi perutnya terasa seakan-akan telah diremas.

Untuk beberapa saat orang itu pun harus mengatasi perasaan sakit itu. Sambil mengumpat kasar, maka iapun kemudian tertatih-tatih untuk bangkit berdiri.

Orang yang disebut Orang Hutan berkepala Besi itu terkejut ketika dilihatnya lawannya berdiri tegak dan siap untuk menerkamnya.

Sebenarnyalah bahwa Jati Wulung telah berhasil mencapai daya tahan tertinggi didalam dirinya, sehingga perasaan peningnya telah jauh berkurang. Bahkan perutnya yang juga menjadi mual oleh benturan dikepalanya itu telah dapat diatasinya. Dengan demikian maka Jati Wulung itu telah siap untuk mengulangi pertempuran itu seandainya dari permulaan sekalipun. Apalagi ia telah mendapatkan satu pengalaman baru, bahwa kepala yang botak itu merupakan salah satu senjata dari lawannya.

Untuk beberapa saat keduanya berdiri berhadapan dan saling memandang dengan sorot mata kemarahan. Orang yang berkepala sekeras besi itu kemudian menggeram, “Anak setan kau. Kepalamu ternyata tidak pecah oleh benturan-benturan itu.”

“Cobalah sekali lagi,“ sahut Jati Wulung, “kau akan menyesal, bahwa aku akan memecahkan kepalamu dengan sisi telapak tanganku.”

“Persetan,“ Kepala Besi itu hampir berteriak.

Jati Wulung tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapinya.

Sambi Wulung yang melihat saudara seperguruannya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tangan lawannya itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun mulai mempunyai keyakinan, bahwa untuk seterusnya Jati Wulung tidak akan terjebak lagi oleh kekuatan Kepala Besi itu.

Sementara itu Kiai Windu pun berdesis, “Bukan main.”

“Apa yang bukan main,“ bertanya Sambi Wulung.

 “Saudaramu itu,“ jawab Kiai Windu.

Sebenarnyalah, bahwa Jati Wulung mampu melepaskan diri itu merupakan satu hal yang sangat menarik perhatian. Dua orang yang memperhatikan pertempuran itupun telah menjadi sangat heran. Bahkan seorang yang telah mengenal Kepala Besi itu berkata, “Orang ini memang liat. Ternyata ia belum mati.”

 “Luar biasa,“ berkata yang lain, “sesuatu yang tidak dapat dijangkau dengan nalar.”

Sementara itu Jati Wulung telah melanjutkan pertempuran itu. Dengan segenap tenaga dan kemampuannya orang yang disebut Orang Hutan berkepala Besi itu ingin segera menyelesaikan pertempuran itu.

Jika kebiasaan di Song Lawa itu seseorang tidak ingin mencampuri persoalan orang lain, maka yang terjadi saat itu memang agak berbeda. Biasanya orang-orang itu tidak mengacuhkannya jika dua orang, bahkan sekelompok orang berkelahi. Tetapi ternyata bahwa perkelahian antara Kepala Besi dan Jati Wulung itu benar-benar menarik perhatian. Orang orang yang sedang makan didalam kedai itu, seakan-akan perhatiannya telah terpusat kepada perkelahian yang sedang terjadi itu. Bahkan diluar sadarnya, beberapa orang telah bangkit dan melangkah keluar kedai. Demikian pula Kiai Windu dan kawan-kawannya. Meskipun tempat duduk mereka telah berada dibatas luar dari kedai itu, namun mereka telah bangkit dan melangkah mendekat. Sambi Wulung tidak mencegah mereka. Ia pun justru telah ikut pula mendekat.

Beberapa orang lain yang tidak dapat melihat karena tertutup oleh orang-orang yang telah berdiri itu, ikut berdiri pula. Sehingga akhirnya hampir semua orang yang berada didalam kedai itu telah keluar.

Para petugas di kedai itu tidak sempat memberi peringatan kepada orang-orang itu untuk membayar lebih dahulu. Bahkan mereka sendiri telah dengan tergesa-gesa bergeser untuk menyaksikan perkelahian yang jarang terjadi sebagaimana yang mereka saksikan itu. Dua orang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

Sebenarnyalah, kedua orang itu telah terlibat kedalam pertempuran yang sengit pula. Keduanya bergerak dengan cepat sambil melontarkan kekuatan yang sangat besar. Dalam benturan-benturan yang terjadi, maka keduanya benar-benar telah menunjukkan betapa besar tenaga dan kemampuan mereka. Namun sedikit demi sedikit daya tahan mereka berduapun telah terguncang pula.

Dalam pada itu, maka orang berkepala botak itu agaknya sudah tidak telaten lagi. Menurut perhitungannya, seharusnya lawannya sudah tidak akan mampu bertahan lebih lama ketika ia telah membenturkan kepalanya. Namun ternyata orang itu masih tetap memberikan perlawanan yang justru kadang-kadang membingungkan.

Karena itu, maka orang berkepala botak itu telah meningkatkan kemampuannya sampai kepuncak. Ia harus menghancurkan lawannya. Ia sudah dikalahkan di arena panahan, sehingga wibawanya telah turun. Karena itu, maka ia harus menebusnya diarena perkelahian itu.

Tetapi ternyata memang tidak terlalu mudah.

Demikianlah, dalam puncak kemarahannya, maka orang berkepala botak itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia memang lebih percaya kepada kepalanya, sehingga ia selalu mencari kesempatan untuk dapat membenturkan kepalanya itu.

Namun lawannya yang telah mengetahui letak kekuatannya, selalu berusaha menghindari sentuhan kepalanya yang botak itu. Bahkan serangan-serangan Jati Wulung pun sama sekali tidak mengarah ke kepala atau bagian-bagiannya. Jati Wulung yang telah mengenali tubuh seseorang dengan baik, dimana letak kekuatan dan kelemahannya, lebih mengarahkan serangan-serangannya keleher, ulu hati dan lambung. Hanya dengan kekuatan sepenuhnya Jati Wulung menyerang kearah dada orang itu.

Tetapi orang berkepala botak itu telah mempergunakan kepala sebagai perisai. Ia selalu menunduk dan menangkis serangan-serangan itu dengan kepalanya. Bahkan setiap kali ia berusaha untuk menyerang lawannya dengan kepalanya pula.

Dalam puncak ilmunya, maka Jati Wulung menjadi berdebar-debar. Dari botak kepalanya itu, ia melihat seakan-akan asap yang tipis mengepul. Kepala itu seakan-akan telah menjadi panas dan membara.

Sebenarnyalah, bahwa orang berkepala botak yang menyebut dirinya bernama Birawa itu memang telah memusatkan segenap ilmunya pada kemampuannya yang tertinggi. Betapa tangkasnya orang itu kemudian. Tubuhnya seakan-akan menjadi ringan dan geraknyapun semakin cepat. Namun kepalanya rasa-rasanya menjadi bertambah berbahaya.

Ketika Jati Wulung menyerangnya dengan kakinya mengarah ke ulu hati, maka orang itu dengan sengaja telah merunduk rendah demikian cepatnya sehingga kaki Jati Wulung itu telah membentur kepala lawannya.

Benturan itu memang menggetarkan jantung. Jati Wulung memang terdorong beberapa langkah surut.

Bahkan ia telah menjatuhkan dirinya untuk menguasai keseimbangannya kembali. Dengan cepat ia melenting berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Namun orang yang berkepala botak itupun telah surut beberapa langkah. Betapapun keras kepalanya, tetapi dorongan kekuatan Jati Wulung benar-benar telah mendorongnya dengan kekuatan yang terasa betapa besarnya.

Seperti Jati Wulung orang itu tidak dapat bertahan untuk tetap tegak. Iapun terjatuh pula. Tetapi juga seperti Jati Wulung orang itu telah dengan tangkasnya meloncat berdiri.

Untuk beberapa saat keduanya masih tetap berdiri di-tempatnya. Ternyata keduanya telah mengalami hambatan pada gerak berikutnya. Keduanya tidak dapat dengan serta merta menyerang lawannya.

Jati Wulung memang merasakan, bahwa Kepala Besi itu menjadi panas. Ketika kakinya mengenai kepala itu, rasa-rasanya seakan-akan memang telah menyentuh bara. Karena itu, maka iapun arus berusaha mengatasi perasaan sakit itu.

Demikian pula Kepala Besi itu. Kekuatan ilmu Jati Wulung ternyata memang luar biasa. Demikian kuatnya hentakkan pada kepalanya itu, meskipun tidak menimbulkan luka pada kulitnya, namun kepala itu memang terasa pening. Meskipun seandainya kepala itu terbuat dari besi sekalipun, tetapi goncangan di bagian dalamnya, benar-benar mempunyai akibat yang gawat.

Untuk beberapa saat keduanya menegakkan kembali kesiagaan mereka. Namun pertempuran itupun sejenak kemudian telah dimulai lagi.

Sambi Wulung yang masih juga memandangi perkelahian itu dengan tegang, telah melihat Puguh yang menyibak beberapa orang yang lain dan berdiri dipaling depan. Beberapa orang pengawalnya pun kemudian ikut pula bersamanya. Agaknya remaja yang hampir menginjak usia dewasanya itu benar-benar tertarik melihat perkelahian yang keras dan sengit itu.

Sementara itu Kiai Windu benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Ketika pertempuran itu menjadi semakin cepat, maka nafasnyapun kadang-kadang telah terhenti oleh ketegangan yang terasa mencekiknya.

Kepala Besi yang telah sampai kepuncak ilmunya itu memang mulai merasa gelisah bahwa ia masih juga belum dapat mengalahkan apalagi membunuh lawannya. Orang yang menyebut dirinya bernama Wanengpati itu memang benar-benar liat. Ia mampu bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti, namun iapun memiliki kekuatan yang jarang ada tandingnya.

Ketika Kepala Besi itu merasa tenaganya mulai susut, justru karena ia telah mengerahkan tenaga, ilmu dan kemampuannya tanpa mengekang diri oleh kemarahan yang memuncak, maka kegelisahanpun mulai terasa menggelitiknya.

Ternyata keduanya telah berkelahi cukup lama. Langitpun mulai menjadi suram karena matahari sudah hampir terbenam.

Namun orang orang yang mengelilingi arena itu belum beringsut. Mereka tidak lagi ingat arena sabung ayam dan permainan dadu. Bahkan beberapa orang yang semula berada di lapangan panahan, telah datang pula melihat perkelahian yang sengit itu.

Dalam pada itu, Jati Wulung yang menyadari kekuatan dan senjata lawannya yang aneh itu, telah membuat perhitungan-perhitungan yang lebih masak. Ia telah memusatkan kekuatan ilmunya pada kaki dan sisi telapak tangannya, sehingga ia memiliki ketangkasan yang penuh untuk mengarahkan serangan-serangannya.

Dengan kecepatan gerak yang sangat tinggi, maka akhirnya Jati Wulung berhasil menembus pertahanan orang berkepala botak itu. Meskipun sekali-sekali serangan tangan Jati Wulung masih juga mengenai kepala yang bagaikan telah menjadi bara itu, namun iapun telah berhasil menyentuh bagian-bagian lain yang lemah pada tubuh lawannya.

Beberapa kali Kepala Besi itu telah terdorong surut. Bahkan ketika dengan cepat Kepala Besi itu menyerang Jati Wulung dengan kepalanya, seperti seekor kerbau yang gila menanduk lawannya maka Jati Wulung telah menunggu sesaat. Tepat pada saatnya, ia telah meloncat menyamping selangkah. Demikian lawannya itu berada didepannya dan berusaha untuk menghentikan serangannya yang gagal, maka dengan penuh tenaganya, Jati Wulung telah menyerang orang itu dengan kakinya kearah punggung dibagian bawah. Demikian kerasnya serangan itu, sehingga Kepala Besi tidak sempat berhenti. Ia justru terdorong dengan keras kedepan tanpa dapat mengekang diri.

Ternyata bahwa Kepala Besi itu telah membentur sebatang pohon dengan kepalanya yang botak itu.

Akibatnya memang luar biasa. Sebatang pohon yang memang tidak terlalu besar itu ternyata telah retak dan roboh. Sementara itu bekasnya bukan saja sekedar bekas batang yang patah. Tetapi pada batas batang yang retak dan patah itu memang terdapat lingkaran luka bakar pada kulit batang pohon itu.

Jantung orang-orang yang menyaksikannya seakan-akan telah berhenti berdetak. Namun ternyata bahwa peristiwa itu telah disusul oleh peristiwa yang menggemparkan pula. Ketika orang berkepala botak itu dengan tangkas memutar tubuhnya, maka yang dilihatnya adalah lawannya itu bagaikan terbang telah datang menyerangnya. Ketika Jati Wulung itu masih berada diudara, ia sempat mengeliat memiringkan tubuhnya dan kakinyalah yang kemudian terjulur lurus menghantam dadanya.

Tidak ada kesempatan untuk mengelak atau menangkis serangan itu. Orang berkepala botak itu telah terlempar mundur. Justru punggungnyalah yang lelah membentur batang pohon yang baru saja patah karena kepalanya.

Ternyata Jati Wulung memang telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya. Karena itu, maka kekuatan yang sangat besar dan mendorong serangan itu, telah membuat dada orang berkepala botak itu bagaikan pecah. Seakan-akan sebongkah batu hitam telah dihentakkan menindih dadanya itu.

Apalagi kemudian oleh dorongan kekuatan itu, punggungnya menghantam sebatang pohon. Punggung orang itu memang tidak sekuat kepalanya yang terlatih dan yang mampu melepaskan ilmunya yang jarang dimiliki orang lain, sehingga kepala yang botak itu bagaikan telah menjadi bara. Namun punggungnyalah yang terasa bagaikan patah. Hentakan yang keras dan kuat pada batang kayu yang telah patah itu, membuatnya benar-benar kehilangan keseimbangan.

Orang berkepala botak itu masih berusaha bangun. Namun ternyata ia sama sekali tidak mampu. Bahkan iapun kemudian telah terjatuh dan terbaring di tanah. Pingsan.

Jati Wulung masih berdiri tegak, ia memang merasakan kakinya yang bagaikan menghantam segunduk balu padas. Namun dengan cepat Jati Wulung dapat mengatasi perasaan sakit pada pergelangan kakinya itu, sehingga dengan demikian maka iapun telah mampu berdiri tegak dengan kesiapan penuh.

Ketika Jati Wulung bergerak selangkah maju, tiba-tiba saja beberapa orang telah bergeser. Menilik sikap dan pakian mereka, agaknya mereka menjadi marah karena peristiwa yang terjadi atas orang berkepala botak itu.

Namun dalam pada itu ternyata Kiai Windu pun telah bergeser pula diikuti oleh ketiga orang kawannya. Hanya bergeser selangkah. Tetapi gerak itu telah menarik perhatian orang-orang yang agaknya kawan Kepala Besi yang pingsan itu.

Sejenak suasana memang menjadi sangat tegang. Sambi Wulung sendiri justru masih berdiri diam ditempatnya.

Namun orang-orang yang agaknya kawan Kepala Besi itu memang harus dikalahkan. Apalagi mereka.

Karena itu, maka kawan orang berkepala botak itu kemudian telah memindahkan perhatian mereka kepada Kepala Besi yang pingsan itu. Empat orang telah bergeser mendekat dan berjongkok disebelahnya.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja orang remaja telah menyusup dan menyibak diantara orang-orang yang berkerumun. Remaja itu adalah Puguh. Dengan serta merta ia pun telah menepuk bahu Jati Wulung sambil berkata, “Luar biasa. Kau ternyata seorang yang luar biasa.”

Jati Wulung memandang anak muda itu sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Aku merasa perlu untuk mengajarinya sedikit sopan kepada orang lain.”

-o@oDEWIKZo@o-

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 6

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s