SST-02

<< kembali | lanjut >>

Mohon maaf,

1. belum sempat edit

2. ilustrasi belum sempat dimasukkan dalam teks

RISANG mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, “Kita akan menentukan nama untuk perguruan ini.”

Tetapi Gandar termangu-mangu. Bahkan ia pun bertanya, “Bukan maksud kita mendirikan satu perguruan disini.”

“Apa salahnya?“ berkata Risang, “kita sudah berada disini. Kita sudah bekerja keras untuk membangunkan padepokan ini. Maka wajarlah jika kita akan membangunkan sebuah perguruan. Kiai Badra akan menjadi cikal bakal dari sebuah perguruan yang akan kita dirikan.”

“Tetapi kita disini bersumber dari beberapa perguruan, Sambi Wulung dan Jati Wulung mempunyai ciri perguruannya, yang berbeda dari perguruanku sendiri,“ berkata Gandar.

“Bukankah ciri itu dapat diganti dengan ciri yang akan kita buat?“ bertanya Risang.

“Maksudku bukan sekedar ciri sebuah lingkaran yang terbelah sama,“ jawab Gandar, “itu adalah lambang. Tetapi ciri dari unsur-unsur ilmu perguruan itu sendiri. Bukankah kau mulai mengenali ciri-ciri itu? Kaupun mempelajari ilmu dengan ciri-ciri yang khusus yang kau warisi dari kakekmu itu,“ jawab Gandar.

Risang mengangguk-angguk, ia mengerti keterangan yang diberikan oleh Gandar. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan mengusulkan kepada kakek untuk membuat satu perguruan di padepokan ini. Aku akan mengumpulkan orang-orang yang memiliki bekal ilmu dengan ciri yang berbeda-beda itu untuk menentukan ciri khusus dari perguruan kita kelak. Bukan satu hal yang mustahil. Tentu ada persamaan diantara kita yang ada disini. Kita kembangkan persamaan itu dan kemudian akan menjadi ciri dari perguruan kita. Kemudian kita akan membuat nama dan lambang dari perguruan ini.”

Gandar tersenyum. Katanya, “Buat apa sebenarnya kau ingin mendirikan satu perguruan? Risang. Mendirikan satu perguruan mempunyai akibat yang harus diperhitungkan. Apalagi jika perguruan itu sudah turun dan bersentuhan dengan perguruan lain. Maka perguruan itu harus mempertanggung jawabkan semua akibat dari sentuhan-sentuhan yang terjadi. Dalam arti yang baik maupun kadang-kadang dalam arti yang kurang baik. Sebuah perguruan bukan sekedar satu keinginan yang melonjak pada satu saat Tetapi setiap orang yang mendirikan satu perguruan menginginkan bahwa perguruannya akan berkembang dan langgeng. Ada angkatan-angkatan yang diharapkan dapat meneruskannya sampai waktu yang tanpa batas.”

“Apakah kita tidak akan dapat berbuat demikian?“ bertanya Risang.

“Kau telah ditunggu oleh tugas yang berat nanti,“ berkata Gandar, “kau tidak akan dapat berada di padepokan ini untuk seterusnya.”

“Tetapi nampaknya lebih menyenangkan untuk tinggal di padepokan ini daripada di Tanah Perdikan.“ berkata Risang.

Tetapi Gandar menggeleng. Katanya, “Risang. Kau tidak boleh mulai perjalananmu yang panjang dengan memikirkan kesenanganmu sendiri. Mungkin kau memang lebih senang berada disini. Tetapi bagaimana jika tugasmu memanggilmu.”

Risang mengangguk-angguk. Namun ia masih berkata, “Tetapi aku akan tetap memikirkan untuk mendirikan satu perguruan. Mungkin kakek mempunyai satu cara yang baik untuk aku tempuh sehingga tugas dan tanggung jawabku tidak terbengkelai, sementara keinginankupun dapat diwujudkan.”

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kau dapat berbicara dengan Kiai Badra.”

Ternyata bahwa keinginan Risang itu bergejolak didalam hatinya. Ia ingin padepokan yang sudah berdiri dan nampak semakin mapan itu menjadi satu perguruan tersendiri. Memang Risang harus merenungkan kata-kata Gandar, bahwa mendirikan satu perguruan itu bukannya sekedar untuk satu dua hari saat keinginan itu masih menyala didalam hati. Tetapi harus dipikirkan perkembangannya dan masa depannya.

Beberapa hari Risang mencoba mengendapkan keinginannya itu. Namun setiap kali ia berjalan-jalan di sekeliling padepokannya yang semakin nampak subur dan hidup itu, keinginan itu pun telah bergejolak lagi didalam dadanya.

Rasa-rasanya Risang selalu digelitik oleh keinginan itu, sehingga akhirnya, Risang pun telah menemui kakeknya dan menyampaikan keinginan itu.

Tetapi jawab Kiai Badra memang hampir sama seperti yang dikatakan oleh Gandar. Banyak hal yang harus diperhitungkan untuk mendirikan satu perguruan yang berbobot.

“Perguruan yang mempunyai ciri tersendiri harus mampu mengarungi kehidupan dunia oleh kanuragan yang kadang-kadang diluar perhitungan,“ berkata Kiai Sudra. Lalu, “Orang-orang dan perguruan-perguruan yang sudah ada mempunyai sifat yang berbeda beda. Ada yang merasa senang dan menyambut baik apabila mereka mendengar hadirnya satu perguruan baru. Tetapi ada yang merasa dengki dan didorong oleh ketamakan yang kesombongan mereka ingin menggagalkan hadirnya perguruan yang baru itu, karena dianggap sebagai menambah persaingan diantara mereka yang hidup dalam dunia kanuragan.”

Risang mengangguk-angguk. Namun ia menjadi heran kepada dirinya sendiri. Ia justru semakin ingin untuk mengalami satu kehidupan yang bergolak seperti itu.

Namun kakeknya itu berkata, “Pikirkan baik baik Risang. Semua langkah yang dipikirkan masak-masak tidak akan menimbulkan sesal di kemudian hari.”

Risang mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Memang sebaiknya aku memikirkannya. Tetapi pada suatu saat aku akan bertanya kepada kakek, apakah kakek setuju atau tidak.”

“Setuju tentang padepokan dan satu perguruan itu?“ bertanya kakeknya.

Risang tersenyum sambil mengangguk. Tetapi katanya, “Sudahlah kakek. Sudah saatnya aku memasuki sanggar bersama paman Gandar.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi hati-hatilah.”

Sejenak kemudian maka Risang pun telah berada di sanggar. Ia memang mendapat kesempatan dan kakeknya yang juga gurunya untuk berlatih bersama Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kiai Badra percaya kepada orang-orang itu, bahwa mereka tidak akan mengacaukan landasan ilmu Risang yang diterimanya dari Kiai Badra. Bahkan mereka akan lebih mematangkan landasan ilmu itu karena mereka termasuk orang-orang yang cukup berpengalaman.

Sebenarnyalah bahwa dalam latihan-latihan yang dilakukan oleh Risang bersama dengan ketiga orang itu sama sekali tidak mengganggu landasan ilmunya. Justru Risang yang remaja itu telah mampu menilai tata gerak dan unsur-unsur yang dilakukannya berhadapan dengan unsur-unsur gerak yang lain. Bahkan dengan tidak menyatakannya lebih dahulu kepada Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang lelah melihat ciri-ciri sebagaimana pernah disebut-sebut oleh Gandar dari perguruan-perguruan yang berbeda. Ia melihat ciri-ciri perguruan Sambi Wulung dan Jati Wulung memang berbeda dengan ciri-ciri yang terdapat pada unsur-unsur gerak yang dikuasai oleh Gandar.

Ketika ia kemudian beristirahat di sanggar itu, maka Risang pun berkata kepada Gandar, “Bagaimana pendapat paman sendiri?”

“Tentang apa?“ bertanya Gandar.

“Tentang perguruan itu? Aku memang melihat ciri-ciri yang berbeda pada unsur-unsur gerak dari perguruan-perguruan yang berbeda. Tetapi apakah kita tidak dapat menyusun kembali ilmu yang sudah kita miliki masing-masing untuk menemukan beberapa persamaan yang kemudian dapat kita sebut sebagai ciri perguruan ini? Kakek dan nenek telah berhasil menemukan satu kekuatan yang mereka sebut Janget Kinatelon. Padahal Kiai Badra tidak memiliki ciri-ciri yang sama dengan Kiai Soka dan Nyai Soka didalam pengungkapan ilmunya. Namun mereka dapat mewariskan kepada ibu satu jenis ilmu.“ berkata Risang.

Gandar tersenyum. Anak itu memang seorang anak yang cerdas. Dalam usia remajanya ia telah memikirkan kemungkinan yang rumit itu, namun memang tidak mustahil.

Bahkan Gandar pun kemudian bertanya kepada Risang, “Bagaimana pendapat Kiai Badra sendiri.”

“Aku belum pernah menanyakannya kepada kakek. Tetapi aku sudah memberikan isyarat, bahwa aku. memang akan bertanya pendapat kakek sendiri.”

Gandar tersenyum. Katanya, “Memang mungkin dapat dicoba. Jika Kiai Badra tidak berkeberatan, maka ilmu yang disebut Janget Kinatelon itu akan dapat menjadi puncak ilmu dari perguruanmu itu.”

“Nah,“ tiba-tiba wajah Risang menjadi sangat cerah, “aku akan mohon pendapat kakek.”

Ternyata bahwa Risang benar-benar pada satu malam berbicara dengan kakeknya tentang kemungkinan seperti yang pernah dibicarakannya dalam sanggar dengan Gandar.

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian berkata sambil tersenyum, “Kita sedang menjajagi satu kemungkinan, Risang. Kita belum menentukan satu kepastian tentang rencana ini.”

“Ya kakek,“ jawab Risang, “Mudah-mudahan kita mengarah pada satu kepastian.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “janget Kinatelon telah kami susun bertiga. Karena itu, maka untuk melakukan sesuatu atas ilmu itu, maka aku harus mendapat persetujuan dari Kiai dan Nyai Soka. Apalagi ilmu yang aku miliki hanya merupakan satu sisi dari keseluruhan wajah Janget Kinatelon itu.”

“Satu sisi yang telah menyatu sebagai ujud yang bulat,“ berkata Risang, “Kakek. Meskipun sumber yang mengalir pada kakek tidak sama dengan Kiai Soka dan Nyai Soka, tetapi apa yang sudah menjadi kebulatan itu sudah kakek kuasai pula?”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “baiklah. Aku akan membicarakannya. Ibumu adalah orang yang pertama-tama memiliki ilmu itu dengan bulat dan utuh. Namun untuk sementara belum saatnya kita berhubungan dengan Tanah Perdikan Sembojan dengan terbuka. Kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita harapkan masih dapat terjadi.”

Risang mengangguk-angguk. Agaknya memang tidak terlalu sederhana untuk mendirikan satu perguruan tersendiri. Meskipun demikian, rasa-rasanya ia lebih tertarik kepada satu perguruan daripada Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi ia tentu tidak akan dapat ingkar, jika saatnya ia harus kembali ke Sembojan setelah ia memiliki perisai yang kokoh bagi dirinya sendiri.

Sambil menunggu perkembangan tentang keinginannya itu, Risang tetap melakukan kegiatannya sehari-hari. Kerja dipadepokan, disawah, membantu orang-orang Kademangan dan menempa diri untuk mendapat landasan ilmu yang akan sangat berarti bagi dirinya.

Namun dalam pada itu. Kiai Badra bukannya tidak memikirkan keinginan cicitnya itu. Dalam waktu-waktu luang iapun selalu memikirkannya. Ketika ia tinggal disebuah padepokan kecil bersama Gandar dan cucunya sebelum menjadi isteri Ki Wiradana, ia tidak memikirkan untuk mendirikan satu perguruan tersendiri. Namun kini tiba-tiba cicitnyalah yang ingin melakukannya.

Dalam umurnya yang semakin tua, maka Kiai Badra memang merasa bahwa sebaiknya ia memang meninggalkan sesuatu setelah masa hidupnya lewat. Bukan sekedar meninggalkan cucu dan cicitnya itu saja.

Karena iiu, maka pada satu hari tiba-tiba saja Kiai Badra memanggil Risang dan berkata kepadanya, “Baik-baiklah kau berada di padepokan. Kakek akan pergi barang dua tiga hari.”

“Kakek akan kemana? Jika kakek pergi ke Tanah Perdikan, apakah aku diperkenankan ikut? Aku sudah rindu kepada ibu,“ berkata Risang.

“Lain kali kau boleh ikut,“ berkata Kiai Badra, “tetapi kali ini jangan. Kau berada di padepokan bersama Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung.”

“Kakek akan pergi seorang diri?“ bertanya Risang.

“Agaknya lebih baik begitu,“ jawab Kiai Badra.

“Jika aku sendiri, maka agaknya tidak banyak persoalan yang timbul diperjalanan.”

Risang memandang kakeknya dengan tatapan mata yang redup. Kiai Badra yang dapat menangkap perasaan cicitnya itu berkata, “jangan cemas Risang. Meskipun kakek sudah semakin tua, tetapi kakek masih dapat mengenal dengan baik jalan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Kakek akan berjalan dimalam hari untuk menghindarkan diri dari pengenalan orang yang tidak kita inginkan.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun bertanya, “Apakah dimalam hari justru kakek tidak dicurigai?”

“Memang mungkin. Tetapi sebaiknya aku menempuh perjalanan lewat jalan-jalan bulak yang sepi dan kemungkinan untuk bertemu dengan seseorang akan sangat kecil sekali. Aku harus menghindari padukuhan-padukuhan. apalagi yang dimulut-mulut lorongnya terdapat gardu yang berisi anak-anak muda yang meronda.“ berkata Kiai Badra.

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “perjalanan yang cukup panjang.”

“Ya. Tetapi aku sudah terbiasa menempuh perjalanan sepanjang itu. Bahkan jauh lebih panjang,“ berkata Kiai Badra.

Risang mengangguk-angguk. Namun anak yang cerdas itu mengetahui, bahwa kakeknya tentu akan berbicara dengan Kiai dan Nyai Soka tentang rencana untuk mendirikan satu perguruan. Bahkan mungkin juga ibunya, orang yang pertama-tama secara lengkap menerima ilmu Janget Kinatelon.

“Kapan kakek akan berangkat?“ bertanya Risang.

“Aku akan berbicara dengan paman-pamanmu Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung,“ berkata Kiai Badra.

Risangpun kemudian telah memanggil ketiganya, Kiai Badra dengan singkat telah menyatakan keinginannya untuk pergi ke Tanah Perdikan dalam waktu dua atau tiga hari.

“Aku serahkan padepokan ini kepada kalian berempat,“ berkata Kiai Badra, “berhati-hatilah terhadap orang-orang yang kurang senang atas kehadiran padepokan kecil ini di Kademangan Bibis. Orang-orang yang pernah dengan terus terang menyatakan penolakannya itu masih harus selalu mendapat perhatian. Mungkin mereka benar-benar sudah menganggap tidak ada persoalan lagi sebagaimana salah seorang diantara mereka yang justru telah menitipkannya anaknya di padepokan ini. Tetapi apakah yang lain juga mempunyai sikap yang sama.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berkata, “Sampai saat ini nampaknya memang tidak ada persoalan. Tetapi seperti yang Kiai katakan, kita memang harus berhati hati.”

“Sebenarnyalah menurut pendapatku. kita semuanya belum waktunya untuk menampakkan diri kita dengan terbuka,“ berkata Kiai Badra, “kita masih memerlukan waktu untuk membuat Risang dewasa sepenuhnya. Bukan saja umurnya, tetapi juga ilmunya.”

“Tetapi kakek,“ berkata Risang, “apakah mungkin aku mendapatkan cukup pengalaman jika aku selalu berada di padepokan yang terpisah ini? Yang ada didekat kita hanyalah orang-orang Kademangan Bibis yang tidak akan dapat memberikan persoalan apapun bagi kita yang perlu untuk direnungkan, dipikirkan dan dipecahkan dengan sungguh-sungguh. Bukankah dengan demikian, penalaranku tidak akan diasah agar menjadi tajam?”

Kiai Badra tersenyum. Ia memang sudah menduga, bahwa jika datang saatnya, remaja ini tentu akan berusaha untuk melihat bentangan dunia yang lebih luas dari yang dapat dilihatnya sehari-hari.

Namun Kiai Badra berkata, “Kau akan mendapat kesempatan untuk memandang cakrawala yang lebih luas Risang. Tetapi kau harus mendapatkan bekal yang cukup. Apalagi kau sengaja disisihkan dari Tanah Perdikan agar kau luput dari tindakan yang licik sekaligus agar kau dapat memusatkan seluruh perhatianmu pada satu usaha untuk membuat kau masak menghadapi hari-hari depanmu yang berat. Disini kau mempelajari ilmu kanuragan. tetapi juga pengetahuan-pengetahuan lain yang berhubungan dengan tugas-tugasmu kelak, bahkan juga masalah-masalah kajiwan.”

Risang mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badrapun berpesan, “jangan memberi kesan bahwa aku tidak ada dipadepokan. Jika seseorang bahkan Ki Demang, tidak bertanya tentang aku, maka kalian tidak perlu mengatakan bahwa aku pergi. Karena dalam dua tiga hari aku sudah kembali.”

Namun Risang kemudian bertanya, “Tetapi bagaimana jika Ki Demang mempertanyakan kakek karena dalam dua hari kakek tidak nampak keluar padepokan?”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apaboleh buat. Tetapi kau tentu tidak menjawab bahwa kakek pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Katakan bahwa kakek sedang menengok saudara kakek ke mana saja.”

“Kemana? Harus ada jawaban yang sama,“ sahut Risang.

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Baiklah. Katakan bahwa kakek pergi ke Pajang. Tetapi tidak mengunjungi Sultan Hadiwijaya.”

Risangpun tersenyum pula. Katanya, “Baiklah. Kita akan memberikan jawab yang sama jika Ki Demang bertanya tentang kakek. Tetapi kakek jangan lupa, bahwa kakek pergi ke Pajang. Jangan-jangan kakek yang lupa dan sewaktu-waktu kakek pulang dan bertemu orang dijalan, kakek menjawab lain.”

“Kakek belum pikun Risang,“ desis Gandar.

Yang lainpun tertawa pula. Namun sambil menepuk bahu Risang, Kiai Badra berkata, “Hati-hatilah selama kakek tidak ada. Jangan terlalu sering berada diluar padepokan, atau diluar pengawasan salah seorang dari ketiga pamanmu.”

“Baik kakek,“ jawab Risang. Tetapi ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku masih harus selalu diawasi seperti kanak-kanak yang baru dapat berjalan, agar tidak terperosok kedalam bendungan?”

Demikianlah, maka Kiai Badra itupun telah memutuskan, bahwa dihari berikutnya, memasuki gelap ia akan berangkat menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, masih ada waktu sehari bagi Kiai Badra sebelum berangkat untuk menunjukkan dirinya pada orang-orang Kademangan Bibis, agar tidak terasa terlalu lama orang tua itu tidak nampak keluar padepokan sehingga memancing pertanyaan.

Pada saat yang telah direncanakan, maka Kiai Badra benar-benar telah meninggalkan padepokan kecilnya. Justru saat orang-orang masuk dan menutup pintu rumahnya.

Namun meskipun Kiai Badra telah menjadi semakin tua, bahkan menurut ujud lahiriahnya orang tua itu hampir memasuki saat-saat pikun dan menjadi lemah, tetapi ternyata bahwa Kiai Badra masih tetap seorang yang tangkas dan cekatan. Ilmu yang melamban dirinya memang sempat mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya. Meskipun demikian dengan penuh kesadaran Kiai Badra merasa, bahwa akhirnya ia akan memasuki masa keterbatasannya. Tidak seorangpun akan mampu menghindarinya. Meskipun Kiai Badra pernah mengenal ilmu yang mampu mempertahankan ujud kewadagan untuk tetap nampak tidak menjadi tua, namun bagaimanapun juga akhirnya saat itu akan datang jika sudah saatnya datang. Karena itu memang tidak ada niatnya untuk melawan arus kekuasaan Sumber Hidupnya, karena justru ia harus pasrah seutuhnya.

Dengan langkah-langkah yang cepat. Kiai Badra menyusuri kegelapan. Jarak yang ditempuh memang panjang. Untuk kebanyakan orang mungkin akan memerlukan waktu jauh lebih lama dari Kiai Badra yang tua itu.

Seperti yang direncanakan, maka Kiai Badra telah memilih jalan yang menghindari padukuhan-padukuhan. Ia tidak mau setiap kali dihentikan dan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang memang sulit untuk dijawab. Apalagi jika Kiai Badra memang ingin menyembunyikan kenyataan tentang dirinya sendiri

Namun ketika Kiai Badra berada ditengah-tengah bulak yang tidak terlalu panjang, yang disebelah-menyebelah ditanami batang-batang jagung, maka ketajaman telinganya telah menangkap keributan meskipun agak jauh, justru dijalan yang akan dilaluinya. Semakin lama suara itu menjadi semakin dekat, sehingga Kiai Badra yakin, bahwa sekelompok orang sedang berlari-lari menuju kearahnya.

Dengan cepat, Kiai Badra telah meloncat dan menghilang didalam rimbunnya batang-batang jagung yang subur.

Sambil menahan nafasnya Kiai Badra kemudian melihat sekelompok orang yang berjalan dengan cepat melintas. Tetapi ada diantara mereka yang berusaha memperhatikan sebelah menyebelah bulak itu.

“Kita kehilangan mereka,“ desis salah seorang diantara orang-orang yang melintas itu.

Kata-kata itu agaknya telah menghambat langkah-langkah sekelompok orang itu. Bahkan beberapa puluh langkah dari tempat Kiai Badra bersembunyi, orang-orang berhenti. Mereka nampaknya ragu-ragu sejenak. Beberapa orang justru telah melangkah kembali beberapa langkah sambil berkata, “Mereka tentu masuk kedalam lebatnya batang-batang jagung.”

“Ya,“ berkata yang lain, “memang sulit untuk menemukan mereka.”

“Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang melintas pematang?“ bertanya yang lain lagi.

Tiba-tiba seorang diantara mereka berteriak memecahkan heningnya malam, “He, yang disana. Apakah kalian menemukan?”

Dari kejauhan terdengar jawab lamat-lamat tetapi cukup terang, “Tidak. Kami kehilangan jejak, mereka menghilang.”

“Setan,“ geram seseorang, “mereka telah melukai dua orang diantara kita.”

“Mereka berilmu tinggi. Kita harus berhati-hati,“ terdengar seorang yang lain berkata. Menilik suaranya orang itu sudah lebih tua dari yang lain.

“Meskipun berilmu tinggi, tetapi jumlah kita berlipat ganda. Mereka hanya bertiga atau paling banyak berempat menurut penglihatan kita. Sedangkan kita sekian banyak orang,“ sahut seorang yang agaknya masih muda.

Sejenak orang orang itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja terdengar teriakan dan arah lain memecah ketegangan, “He, kita temukan mereka disini. Cepat.”

Sekelompok orang itu tiba-tiba menjadi ribut. Seorang bertanya, “Mereka tertangkap?”

“Belum tentu. Tetapi mereka dapat diketahui berada di sana,“ sahut yang lain.

“Dimana? “ tiba-tiba seseorang bertanya.

“Kau dengar suara itu,“ bentak yang lain lagi, “mari kita kesana. Mereka tentu ada dibawah bendungan.”

Sekelompok orang itupun segera berlari-lari. Namun mereka sempat berteriak kepada orang-orang yang berada disisi yang lain, “Mereka berada disungai, dibawah bendungan. Cepat. Kita harus menangkap mereka.”

Kiai Badra yang bersembunyi diantara batang-batang jagung menjadi termangu-mangu. Ketika orang-orang yang berkelompok itu telah menjauh, maka iapun dengan hati-hati keluar dari persembunyiannya.

Sejenak Kiai Badra menjadi ragu-ragu. Tetapi ia didesak oleh satu keinginan untuk mengetahui, apa yang telah terjadi dibawah bendungan.

Kiai Badra belum pernah melihat bendungan itu. Tetapi ia tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari sungai yang membujur ditengah-tengah sawah itu. Apalagi Kiai Badra dapat menduga dari mana arah suara orang yang berteriak itu.

Untuk beberapa saat Kiai Badra masih termangu-mangu ditempatnya. Ia benar-benar bimbang. Apakah ia akan melihat yang dapat memungkinkannya terlibat, atau tidak sama sekali. Tetapi menilik keterangan orang-orang yang sedang mencarinya, orang-orang itu adalah orang-orang berilmu tinggi. Jika terjadi bencana atas orang-orang padukuhan itu, dan ia pada suatu saat mendengarnya tentang peristiwa itu, maka ia tentu akan sangat menyesal.

Namun akhirnya Kiai Badra itu memutuskan untuk melihat apa yang terjadi meskipun ia merasa wajib untuk sangat membatasi diri.

“Jika tidak perlu sekali, aku tidak boleh terlibat,“ berkata Kiai Badra itu kepada diri sendiri.

Namun iapun mulai memikirkan, seandainya orang-orang yang diburu itu benar-benar penjahat yang berbahaya, maka apa yang sepantasnya dilakukan terhadap mereka. Seandainya ia melibatkan diri dan berhasil mengalahkan para penjahat itu, apakah para penjahat itu akan diserahkan kepada orang-orang padukuhan?

Jika demikian, maka para penjahat itu tentu akan dibunuh oleh orang-orang padukuhan yang marah itu.

“Tetapi apakah aku akan membiarkan justru orang-orang padukuhan itu yang akan dibunuh? Tentu tidak hanya seorang. Sebagaimana dikatakan tadi, dua orang telah terluka. Apalagi jika mereka benar-benar telah terlibat kedalam pertempuran yang sebenarnya. Mungkin tiga mungkin empat. Bukan hanya terluka, tetapi dapat terjadi, mereka benar-benar terbunuh dalam benturan kekerasan itu. Jika mereka berempat dan setiap orang membunuh seorang yang berniat menangkapnya, maka akan terbunuh empat orang. Jika seorang membunuh dua orang?“ Kiai Badra tiba-tiba menjadi sangat gelisah.

Karena itu, maka iapun telah bergerak untuk pergi ke bendungan.

Tetapi Kiai Badra tertegun ketika dalam kegelapan ia melihat batang jagung disebelah jalan bergerak-gerak. Semakin lama semakin mendekat. Sehingga akhirnya Kiai Badra mengetahui bahwa beberapa orang sedang berlari menyusup disela-sela batang jagung.

Dengan demikian maka Kiai Badra justru tidak beranjak dari tempatnya, ia bahkan menunggu, siapa yang akan meloncat keluar dari rimbunnya batang-batang jagung itu. Kiai Badra memperhitungkan, bahwa mereka tentu bukan orang-orang padukuhan yang berlari-lari ke bendungan. Tidak melalui sawah. Bahkan tidak melalui pematang, apalagi merusakkan batang-batang jagung seperti itu.

Sebenarnyalah sejenak kemudian telah berloncatan empat orang melangkahi parit yang tidak terlalu luas. Sejenak kemudian merekapun telah berdiri di jalan itu pula. Ternyata keempat orang itupun terkejut melihat seseorang berdiri di hadapan mereka.

Tetapi justru Kiai Badra tidak terkejut sama sekali, karena ia memang sudah melihat sebelumnya.

“Siapa kau?“ tiba-tiba seorang diantara mereka menggeram.

“Akulah yang harus bertanya kepada kalian Ki Sanak,“ sahut Kiai Badra, “siapakah kalian sebenarnya. Dua orang tetangga kami telah kalian lukai. Nah, kalian harus membayar kesalahan itu dengan harga yang wajar.”

“Apa maksudmu? Kau seorang diri akan menangkap kami?“ bertanya seorang yang lain.

“Kalian memang harus ditangkap,“ jawab Kiai Badra.

“Sebaiknya kau tidak ikut campur,“ bentak orang yang lain, “persoalannya adalah sangat pribadi.”

“Kalian menganggap bahwa perampokan itu soal pribadi?“ bertanya Kiai Badra.

“Siapa yang merampok? “ orang yang paling tua diantara mereka justru bertanya, “jika yang kau maksud kami, kami sama sekali tidak merampok. Kami datang untuk mengambil hak kami. Kamilah yang mempunyai piutang. Kedua orang itu segan untuk membayar hutang mereka, sehingga terjadi selisih paham. Kami terpaksa bertindak tegas. Tetapi kami masih sadar, sehingga kami belum membunuhnya.”

Kiai Badra termangu-mangu. Agaknya persoalannya tidak sebagaimana diduga. Namun demikian Kiai Badra itupun berkata, “Tetapi orang-orang padukuhan kami menganggap bahwa kalian telah merampok.”

“Omong kosong,“ geram yang tertua diantara mereka, “kami menuntut hak kami yang telah digelapkan oleh kedua orang yang terluka itu. Itupun karena keduanya telah berusaha melawan dengan kekerasan senjata.”

“Baiklah,“ berkata Kiai Badra, “jika demikian, marilah. Kita pergi kerumah Ki Bekel. Kita akan membica rakan masalah ini dengan wajar.”

“Tidak ada campur tangan orang lain,“ sahut orang tertua itu, “persoalannya sangat pribadi. Tetapi persoalannya memang bukan rahasia. Kedua orang itu telah membawa uang dari rumah perjudian. Nah, kami harus mengambil kembali uang itu, karena sebagian besar dari uang yang dibawa itu adalah uang kami.”

“Bagaimana mungkin,“ desis Kiai Badra.

“Keduanya adalah juga penjudi seperti kami. Tetapi keduanya sangat licik. Untuk menghindari kemungkinan buruk, maka orang itu telah menyediakan semacam kartu yang bernilai uang. Kartu itulah yang dipergunakan sebagai pembayaran selama perjudian berlangsung. Tidak akan ada yang berbuat curang, karena mereka terikat untuk menukarkan kartu-kartu itu kembali. Kami mengetahui dengan pasti, siapakah yang menang dan siapakah yang kalah. Seseorang akan berjudi selama saat yang ditentukan. Tidak ada seorang yang belum waktunya meninggalkan arena setelah menang banyak sekali. Kami baru selesai jika kami telah sampai pada jangka waktu yang telah kami setujui menang atau kalah. Selanjutnya kami dapat membuat perjanjian baru. Yang tidak ingin meneruskan, dapat menukarkan uangnya kembali dan mengembalikan kartu-kartu yang bernilai uang itu.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia sudah mengerti kelanjutan ceritera itu, sehingga iapun berkata, “Kedua orang itu telah melarikan uang yang disimpannya dan ditukar untuk sementara dengan kartu-kartu itu.”

“Ya. Bukankah itu satu pengkhianatan atau bahkan satu perampokan yang licik,“ sahut orang tertua diantara mereka, “karena itu aku datang kepada mereka.”

“Ki Sanak,“ berkata Kiai Badra, “aku ulangi, biarlah persoalan ini kita bicarakan dengan Ki Bekel dan para bebahu agar dapat selesai dengan tuntas.”

“Aku tidak mau berurusan dengan orang lain meskipun Ki Bekel atau para bebahu atau Ki Demang atau Sultan Pajang sekalipun,“ sahut orang tertua. Lalu, “Karena itu jangan mencampuri persoalan kami.”

“Caramu menyakiti hati orang-orang padukuhan,“ berkata Kiai Badra, “seharusnya kalian tidak berbuat seperti itu.”

“Apa yang harus kami lakukan?“ bertanya orang itu.

“Kau bicarakan masalahnya dengan pemimpin padukuhan itu. Ki Bekel tentu akan mengerti dan justru akan membantumu,“ berkata Kiai Badra.

“Sudahlah Ki Sanak,“ berkata orang itu, “jangan ganggu kami. Kami akan membuat perhitungan dengan kedua orang itu.”

“Tetapi kau sudah melukai mereka,“ berkata Kiai Badra.

“Tetapi persoalannya belum selesai,“ jawab orang itu, “uang itu belum dikembalikan.”

“Jika tidak dikembalikan?“ bertanya Kiai Badra.

“Tidak ada jalan lain. Kami terpaksa menyelesaikan menurut paugeran yang ada pada kami,“ jawab orang itu.

“Membunuh?“ bertanya Kiai Badra.

“Ya. Sekarang kami akan memasuki lagi padukuhan selagi orang-orang padukuhan berada di bendungan. Jika kami kehilangan waktu dan bertemu dengan orang-orang padukuhan, maka persoalannya akan jadi lain. Kami tentu akan mempertahankan diri dan mungkin ujung-ujung senjata kami akan menumpahkan darah lagi. Sampai sekarang kami masih mencoba menghindar dengan memancing orang-orang padukuhan itu ke bendugan.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian iapun berkata, “Ki Sanak. Aku tetap menganjurkan agar kalian bertemu dengan Ki Bekel. Dengan demikian maka kalian akan berhasil mendapatkan uang kalian atau cara pengembalian yang dapat dibicarakan tanpa kekerasan. Tetapi jika kalian masih akan melakukan kekerasan atas kedua orang yang telah terluka itu, maka aku kira kalian akan gagal sehingga kalian terpaksa harus membunuh mereka.”

“Sudahlah,“ geram orang itu, “pergilah. Jangan ganggu aku.”

“Aku tidak akan pergi. Jika kau tidak mau bertemu dengan Ki Bekel, jangan anggap aku mempercayai ceriteramu seluruhnya. Mungkin sebagian dari ceriteramu benar. Tetapi tentu ada persoalan lain yang tidak benar.”

Wajah orang tertua diantara keempat orang itu menjadi tegang. Dengan keras orang itu berkata, “Jika demikian kau adalah orang yang pertama harus aku singkirkan. Bahkan jika perlu aku akan membunuhmu.”

“Jangan berkata begitu Ki Sanak. Aku hanya sekedar memperingatkan bahwa ada cara yang lebih baik,“ berkata Kiai Badra.

“Kalau begitu, terima kasih,“ berkata orang itu, “tetapi peringatanmu tidak mengikat.“ Lalu katanya kepada kawan-kawannya, “marilah, kita tinggalkan orang ini.”

Namun ketika mereka mulai bergerak. Kiai Badra berkata, “jangan tinggalkan aku sendiri dalam keadaan seperti ini.”

Orang tertua diantara keempat orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kau akan mempermainkan kami Ki Sanak.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia memang tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa ia akan terlibat. Karena itu, maka iapun berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Jika kau memang tidak ingin terjadi sesuatu di padukuhan itu, pergilah. Jangan kembali ke padukuhan. Kau tidak akan terlibat dalam benturan dengan siapapun juga.”

Tetapi keempat orang yang menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan seseorang yang setidak-tidaknya mempunyai keyakinan kepada diri sendiri untuk berani menghadapi keempat orang itu sekaligus, segera bersiap. Orang yang tertua diantara mereka berkata, “Ki Sanak. Kau sudah nampak tua. Tetapi agaknya kau mempunyai kepercayaan yang sangat tinggi terhadap dirimu sendiri. Kau dengan tenang telah berani mencegah kami berempat untuk datang kembali ke padukuhan itu. Tanpa kemampuan yang dapat kau banggakan, maka kau tidak akan berani berbuat demikian.”

“Aku hanya ingin mencegah benturan kekerasan, apalagi kematian yang mungkin terjadi dalam benturan itu,“ berkata Kiai Badra.

“Tetapi kau belum mengenal kami. Itu kesalahanmu kali ini. Mungkin kau menganggap bahwa kami tidak lebih dari orang-orang padukuhan itu. Karena itu, jangan menyesal jika ternyata kau akan mengalami nasib buruk disini,“ berkata orang itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk sambil menjawab, “Kau benar Ki Sanak. Aku telah bersikap terlalu berani mencegah tingkah laku kalian. Empat orang yang tentu juga mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri untuk dapat mengalahkan orang sepadukuhan. Tetapi sekali lagi aku beritahukan, bahwa sebenarnyalah aku terdorong oleh satu keinginan untuk mencegah benturan dengan orang-orang padukuhan yang tentu tidak akan dapat mengelakkan diri dari korban-korban yang bakal kau ambil dari mereka.”

“Marilah,“ berkata orang itu kepada kawan-kawannya, “kita tidak mempunyai banyak kesempatan. Jika orang ini berani mencegah kita berempat, maka kita pun akan melayaninya berempat. Kita akan dengan cepat menyelesaikan pekerjaan kita di padukuhan ini. Berhati-hatilah. Orang ini tentu orang yang merasa dirinya berilmu tinggi.”

Keempat orang itupun segera bergerak. Mereka telah mengepung Kiai Badra dari empat arah. Agaknya keempat orang itu memang ingin segera menyelesaikannya.

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Menilik sikapnya, orang-orang itu memang orang-orang yang berilmu. Namun Kiai Badra memang belum mengetahui tingkat ilmu mereka berempat. Mungkin ilmu mereka sejajar, tetapi mungkin pula tidak.

Karena itu, maka Kiai Badra harus berhati-hati menghadapi mereka yang ingin segera menghentikan perlawanannya.

Sejenak kemudian, orang-orang itupun mulai bergerak. Seorang diantara mereka telah mengayunkan tangannya. Namun tidak terlalu keras sehingga Kiai Badra tidak perlu meloncat menghindar. Ia bergeser mundur selangkah. Tetapi tiba-tiba justru orang yang berada diarah lainlah yang meloncat menyambarnya. Tangannya terayun deras sekali mengarah ke tengkuknya.

Namun Kiai Badra masih sempat mengelak. Sambil merendahkan lututnya ia membungkukkan kepalanya.

Gerak itu ternyata sudah diperhitungkan oleh lawan-lawannya. Tiba-tiba kaki seorang diantara mereka telah bergerak pula dengan cepat menyambar kening Kiai Badra yang sedang dirundukkan itu.

Kiai Badra menggeliat. Ia sadar, bahwa orang-orang itu benar-benar ingin dengan cepat menyelesaikannya.

Dengan demikian maka Kiai Badrapun telah mengimbanginya pula. Iapun segera bergeser sambil menggeliat. Namun telah diperhitungkan pula serangan-serangan lain yang datang beruntun.

“Liat juga orang tua ini,“ berkata orang tertua dian-tara keempat orang itu, “he, siapa namamu?”

Kiai Badra meloncat kesamping namun ia segera harus berputar menghindari serangan beruntun. Ketika dua orang yang lain menyerangnya pula, maka orang tua itu terpaksa meloncat panjang.

“Bertanyalah kepada Ki Bekel,“ jawab Kiai Badra.

“Kau kira aku percaya bahwa kau orang padukuhan ini?“ berkata orang tertua diantara mereka.

“Terserah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Itu hak kalian. Tetapi jika kalian dapat aku tangkap, kalian akan aku hadapkan kepada Ki Bekel. Orang-orang padukuhan inilah yang akan mengadili kalian,“ sahut Kiai Badra.

Kiai Badra tidak sempat berbicara lebih panjang lagi. Serangan keempat orang itu datang semakin lama semakin cepat, susul menyusul. Namun kadang-kadang beruntun dan bersamaan pula serta datang dari arah yang berlawanan.

Kiai Badra benar-benar harus meningkatkan kemampuannya. Keempat orang itu memang orang-orang berilmu. Namun Kiai Badra telah berhasil menjajagi kemampuan mereka, sehingga agaknya ia masih akan sanggup menundukkan mereka.

“Tetapi jika sedikit saja aku membuat kesalahan, maka rasa-rasanya akulah yang akan terkapar di bulak ini,“ berkata Kiai Badra kepada diri sendiri, karena sebenarnyalah ada diantara keempat orang itu yang berilmu lebih tinggi dari yang lain. Orang yang tertua diantara mereka adalah orang yang berbekal cukup untuk bertualang didunia olah kanuragan yang keras dan kasar.

Karena itu, bagaimanapun juga Kiai Badra tidak boleh meremehkan lawan-lawannya. Sesuatunya masih mungkin terjadi. Justru mungkin masih diluar dugaannya.

Sementara itu keempat lawan Kiai Badra itu berusaha untuk dapat dengan cepat melumpuhkan orang tua yang dianggapnya telah mengganggunya. Merekapun telah meningkatkan tekanan mereka, sehingga keempat orang itu telah bergerak berputaran. Mereka menyerang susul menyusul dengan cepat dari arah yang berbeda-beda.

Dengan nada tinggi orang tertua diantara, mereka itupun berkata, “Kita percepat gerakan ini. Orang itu sudah tua. Betapapun tinggi ilmunya, ia akan segera diburu oleh nafasnya yang terengah-engah.”

Ternyata bahwa ketiga orang kawan-kawannyapun segera tanggap. Mereka segera meningkatkan ilmu mereka sehingga pertempuran itupun menjadi semakin cepat.

Tetapi dugaan mereka atas Kiai Badra itu ternyata keliru. Kiai Badra yang sudah berpuluh tahun melatih jalur pernafasannya memungkinnya untuk mengatasi desah yang diperhitungkan akan segera memburu dilubang hidungnya karena ketuaannya.

Meskipun Kiai Badra tidak dapat mengelak atas pengaruh umurnya yang semakin tua, tetapi ternyata bahwa berbekal ilmu, pengalaman dan latihan-latihan ia masih tetap seorang tua yang berbahaya bagi keempat lawannya itu.

Ketika keempat orang itu menjadi semakin garang dan keras, maka Kiai Badrapun menjadi semakin meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan Kiai Badra yang merasa bahwa perjalanannya masih cukup jauh tidak mau berlama-lama bermain-main dengan mereka.

Sejenak kemudian, ketika keempat orang itu mulai bertempur dengan menghentak-hentak untuk memancing agar orang tua itu mengerahkan tenaganya, ternyata Kiai Badra telah berbuat lain. Tiba-tiba saja melenting dengan cepatnya, menyerang dua orang lawan yang berada disisi yang berdekatan. Demikian cepatnya, sehingga sulit bagi keempat orang itu untuk mengetahui apa yang telah terjadi atas diri mereka.

Ternyata dua orang diantara mereka telah mengalami kesulitan. Serangan orang tua itu datang menyambar seperti burung sikatan. Cepat dan sulit untuk dihindari. Ketika tangan Kiai Badra terayun, lawannya memang berusaha untuk bergeser. Tetapi tiba-tiba saja kakinyalah yang berputar. Demikian cepatnya, sehingga lawannya tidak mampu berbuat sesuatu ketika tumit Kiai Badra itu mengenai lambungnya. Demikian kerasnya, sehingga rasa-rasanya perutnya menjadi sangat mual sementara lambungnya menjadi sangat nyeri.

Lawannya yang lain yang berusaha menolongnya dengan menyerang orang tua itu. sama sekali tidak dapat mengenai sasarannya. Bahkan demikian kakinya terayun, maka dengan tangkas Kiai Badra menggeliat justru sambil meloncat maju. Sikunyalah yang mengenai dada sebelah kiri dari lawannya yang menyerang itu.

Dua orang bersama-sama telah disakitinya. Demikian nyerinya sehingga keduanya untuk sesaat seolah-olah tidak mampu lagi berbuat sesuatu. Bahkan orang yang telah dikenai lambungnya itupun telah berjongkok sambil memijit lambungnya yang kesakitan. Sementara yang lain dadanya bagaikan menjadi sesak. Karena itu maka orang itupun telah bergeser menjauh untuk mengatur pernafasannya.

Dua orang yang lain terkejut melihat peristiwa beruntun dan begitu cepat terjadi itu. Namun mereka tidak dapat tinggal diam. Dengan serta merta keduanya telah berusaha menyerang bersama-sama.

Kiai Badralah yang kemudian meloncat beberapa langkah keluar dari kepungan keempat orang itu, yang dua diantaranya tidak mampu lagi menahannya untuk tetap berada didalam lingkaran. Ketika dua orang lainnya memburunya, Kiai Badrapun telah siap menghadapi mereka.

Tetapi kedua orang itupun kemudian menjadi ragu-ragu. Berempat mereka tidak dapat dengan segera mengalahkan orang tua itu. Apalagi ketika dua orang kawannya telah mengalami kesulitan didalam dirinya.

Namun karena itu, maka tiba-tiba saja seorang dian tara kedua orang itu menarik pedangnya sambil berkata lantang, “Orang tua tidak tahu diri. Apakah kau memang benar-benar ingin mati?”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Apakah kau bersungguh-sungguh?”

“Ya,“ geram orang itu.

“Apakah aku juga harus bersungguh-sungguh?“ bertanya Kiai Badra pula.

Pertanyaan Kiai Badra itu memang mengejutkan. Namun pada nada suaranya terasa getaran yang menekan jantung orang-orang itu. Keyakinan yang sangat besar akan kemampuan diri sendiri serta kenyataan yang telah mereka alami, membuat orang tertua diantara keempat orang itu berpikir ulang.

Melihat sikap orang tua itu, maka orang tertua diantara merekapun menjadi ragu-ragu. Bahkan kemudian katanya kepada kawannya, “Dua orang kawan kita sudah disakitinya. Karena itu, maka sebaiknya kita menilai orang ini dengan wajar. Orang tua ini tentu seorang yang berilmu tinggi.”

“Kau tidak usah memuji seperti itu,“ berkata Kiai Badra, “kita akan menyelesaikan persoalan kita.”

“Dengan pedang ini aku akan mengakhiri kesombongannya,“ berkata kawannya itu.

Tetapi orang tertua itu menggeleng. Katanya, “Kita tidak mempunyai waktu. Orang-orang yang dibendungan itu akan segera menyebar lagi untuk mencari kita. Sebagian dari mereka tentu akan kemari lagi.”

Kiai Badra termangu-mangu melihat sikap orang itu. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Aku tidak akan melepaskan kalian. Sebaiknya kalian bertemu dengan Ki Bekel. Persoalan kalian akan dapat diselesaikan dengan tuntas.”

“Tetapi bukankah kau minta agar kami meninggalkan tempat ini?“ bertanya orang tertua itu.

“Dan bukankah kau menolaknya dan bahkan telah terjadi perkelahian? “ Kiai Badra ganti bertanya.

Orang tertua diantara keempat orang itupun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi penglihatannya yang lebih tajam dari ketiga orang kawannya meyakinkannya, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu meskipun mereka berempat bersenjata. Orang tertua diantara keempat orang itu yakin, bahwa orang tua itu tentu memiliki ilmu yang tidak akan dapat mereka atasi.

Karena itu, maka orang tertua itupun kemudian bertanya, “apakah maksud Ki Sanak sebenarnya?”

“Kita bertemu Ki Bekel. Kita bicarakan semuanya dengan baik sehingga kalian tidak perlu melakukan kekerasan seperti itu. Sebab betapapun tinggi kemampuan kalian, tetapi satu ketika kalian akan dapat dikalahkan oleh orang lain dan seterusnya. Tidak ada yang dapat dengan mutlak menangatasi siapapun juga,“ berkata Kiai Badra.

Orang tertua itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya kepada kawan-kawannya, “Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita memang lebih baik berbicara terus terang.”

“Aku tidak akan menyerah,“ berkata orang yang telah menggenggam pedang, “sejak kapan kakang tiba-tiba menjadi orang yang begitu lemah?”

“Aku melihat kesempatan untuk berbicara,“ berkata orang tertua itu, “aku tidak mau mati ditangan orang-orang padukuhan dengan cara yang paling menyakitkan hati.”

“Kita hanya berhadapan dengan orang tua itu,“ jawab orang yang berpedang.

“Sekarang. Tetapi sebentar lagi, orang-orang itu akan berdatangan. Apalagi jika orang tua itu memberikan isyarat. Kau kira orang-orang di bendungan yang kehilangan kita itu akan tetap berada dibendungan dan mencari kita diantara batu-batu kerikil ditepian?“ sahut orang yang tertua.

Orang berpedang itu mula-mula tidak dapat mengerti sikapnya. Tetapi akhirnya iapun harus mengakui. Orang tua itu memang memiliki ilmu yang tinggi, yang akan dapat melumpuhkan mereka berempat. Jika orang tua itu marah, maka mereka berempat akan diserahkan kepada orang-orang padukuhan dalam keadaan yang berbeda, sehingga keadaan merekapun akan sangat mencemaskan.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis, “Bagaimana dengan anak itu?”

Kawan-kawannya tertegun sejenak. Namun seorang diantara mereka berkata pula, “Apakah anak itu sudah disingkirkan?”

“Tentu sudah,“ jawab orang tertua diantara mereka, “kita tidak usah memikirkannya.”

“Anak siapa?“ bertanya Kiai Badra, “apakah kalian telah menculik seorang anak?”

“Bukan kanak-kanak,“ jawab orang tertua, “ia telah meningkat remaja. Remaja dari lingkungan kami sendiri.”

“Siapa?“ bertanya Kiai Badra.

“Seandainya aku sebut sebuah nama, kaupun tidak akan mengetahuinya,“ jawab orang tertua diantara mereka, “ia adalah anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Ia harus mulai diperkenalkan dengan kehidupan yang keras untuk menempa dirinya.”

Dada Kiai Badra menjadi berdebar-debar. Diluar sadarnya ia masih juga berkata, “Sebut namanya.”

“Tidak ada gunanya,“ jawab orang tertua itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Jadi anak Kepala Tanah Perdikan itu kau ajari merampok.”

“Kami tidak merampok,“ jawab orang tertua itu tegas, “persoalannya adalah persoalan yang terjadi dalam perjudian.”

“Jadi kau ajari anak itu berjudi?“ berkata Kiai Badra.

“Tidak. Kami tidak mengajarinya berjudi. Tetapi ia harus melihat dunia yang keras bagi bekal hidupnya,“ berkata orang tertua itu.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berusaha untuk mengerti lebih banyak lagi. Katanya, ”Apakah ayah anak itu tidak menjadi marah karenanya?”

“Kepala Tanah Perdikan itu sudah tidak ada lagi. ibunya tidak mempunyai keberatan dan pengalaman itu memang akan membuatnya masak pada usia dewasanya,“ berkata orang tertua itu, “anak itu akan mempunyai pengalaman yang lengkap. Yang baik dan yang buruk. Kini ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang licik. Tetapi anak itu tidak perlu terlibat langsung.”

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia ngat kepada Risang. Anak seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang terbunuh sebelum sempat diwisuda. Namun tiba-tiba pula Kiai Badra juga teringat kepada Puguh. Hampir saja ia menyebut nama itu. Tetapi niat itupun diurungkannya. Jika ia sempat menyebut nama itu, orang-orang itupun akan menjadi curiga pula kepadanya. Bahkan mungkin orang-orang itu akan sempat menghubungkannya dengan kedudukannya yang sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja ada keseganan padanya untuk terkait dengan persoalan keempat orang itu. Jika keempat orang itu sempat memperhatikannya, maka mungkin sekali ceriteranya kepada kawan-kawannya akan didengar oleh orang yang pernah mengenalinya, apabila yang dimaksud dengan anak Kepala Tanah Perdikan itu benar Puguh.

Karena itu, maka Kiai Badra menganggap bahwa lebih baik baginya untuk menghindarkan diri dari pengenalan yang lebih teliti dari keempat orang itu. Ada semacam kecemasannya, bahwa pertemuan itu merupakan pangkal tolak penelusuran yang dilakukan oleh Kiai Randukeling, karena Kiai Badrapun mengetahui bahwa Kiai Randukeling adalah orang yang juga berilmu tinggi.

Dengan demikian maka Kiai Badrapun bertanya, “Nah Ki Sanak. Apakah yang akan ki Sanak lakukan sekarang?”

“Bukankah kami harus bertemu dengan Ki Bekel seperti yang Ki Sanak katakan?“ jawab orang tertua diantara mereka.

“Nah itu lebih baik,“ berkata Kiai Badra, “segala sesuatunya dapat dibicarakan dengan baik. Kau tidak usah mempergunakan kekerasan. Jika ternyata kedua orang itu memang bersalah, maka biarlah Ki Bekel mengadili orang-orangnya sendiri. Tetapi hutang pihutang dalam persoalan yang menyangkut perjudian memang tidak akan dapat dipecahkan. Hutang pihutang dalam arena perjudian atau bahkan penggelapan sekalipun sebagaimana kau katakan telah dilakukan oleh kedua orang itu, akan sulit untuk diusut dan bahkan cenderung untuk dianggap tidak pernah terjadi.”

“Itulah sebabnya kami mengambil jalan pintas,“ berkata salah seorang diantara keempat orang itu.

“Tetapi bukankah persoalannya kemudian menyangkut seluruh kehidupan di padukuhan itu?“ bertanya Kiai Badra.

“Baiklah Ki Sanak,“ berkata orang tertua diantara mereka, “kami akan berbicara dengan Ki Bekel.”

Kiai Badra masih akan berbicara lagi. Namun tiba-tiba dikejauhan terdengar seseorang berteriak, “Kami kehilangan jejak mereka, kami tidak dapat menemukannya.”

“Mereka tentu belum terlalu jauh,“ teriak yang lain dari arah yang berbeda, “kita menebar lagi.”

Suara itupun kemudian lenyap disepinya malam. Tetapi Kiai Badra dan keempat orang itu tahu, bahwa orang-orang padukuhan itu telah menyebar.

“Marilah,“ berkata Kiai Badra, “kita pergi ke padukuhan.”

Namun orang tertua diantara mereka itupun berkata, “Ki Sanak. Aku tahu kau bukan orang padukuhan ini.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Kalanya, “Siapapun aku. aku ingin melihat kalian bertemu dengan Ki Bekel.”

“Jika saja kau mau menyebut nama dan kedudukanmu,“ desis orang tertua diantara mereka.

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Sedangkan anak-anak saja kau sembunyikan pertanda dirinya.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun Kiai Badra kemudian berkata, “Baiklah. Aku memang bukan orang yang merasa perlu merahasiakan diriku. Aku memang seorang pengembara yang hanya sekedar singgah ditempai ini karena peristiwa yang baru saja terjadi. Jika Ki Sanak sudi memanggil, aku bernama Santawiguna. Aku berasal dari Demak.”

Orang tertua diantara keempat orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tidak seorangpun akan dapat membantah nama apapun yang kau sebut. Tetapi tidak sepantasnya pula kami mencurigai nama dan asal usul Ki Sanak.”

“Itulah sebabnya maka akupun agak segan menyebut nama dan asal usulku. Kau yang sudah merahasiakan sesuatu, tentu menganggap bahwa orang lainpun telah melakukan hal yang sama. Karena itu, terserah kepadamu, kau percaya atau tidak,“ berkata Kiai Badra.

Namun dalam pada itu, Kiai Badra berkata pula, “Kita pergi ke padukuhan. Kita akan berbicara dengan Ki Bekel.”

Keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya mereka berlimapun telah melangkah menuju ke padukuhan, setelah orang yang menarik pedang itu menyarungkan kembali senjatanya.

Dalam pada itu, ketika mereka mendekati padukuhan, tiba-tiba saja mereka melihat beberapa orang berlari-lari. Namun tiba-tiba mereka tertegun dan salah seorang diantara mereka beikata, “Itulah mereka.”

“Tunggu,“ berkata Kiai Badra.

“He,“ orang itu berteriak, “mereka berada disini.”

“Ya. Kami memang menunggu kedatangan kalian,“ beikata Kiai Badra.

Namun beberapa orang telah berteriak lagi memanggil kawan-kawannya.

Beberapa orang memang berlari-lari datang. Bahkan sekelompok yang lain berlarian lewat pematang, sehingga mereka justru berada dibelakang Kiai Badra dan keempat orang yang akan dibawanya menemui Ki Bekel.

“Kepung mereka,“ berteriak seseorang, “jangan sempat lolos.”

Kiai Badra memang menunggu hiruk pikuk itu mereda. Kemudian baru ia mencoba berteriak mengatasi suara orang-orang yang marah itu, “Nah, Ki Sanak. Dengarlah. Aku akan memberikan penjelasan.”

“Penjelasan apa? “ teriak seorang diantara mereka yang marah itu, “menyerah sajalah. Kita akan membawa kalian ke padukuhan. Kalian telah melukai dua orang tetangga kami.”

“Kami memang ingin berbicara dengan Ki Bekel,“ berkata Kiai Badra.

“Ki Bekel memerintahkan kepada kami untuk menangkap dan mengikat kalian. Bahkan perintah Ki Bekel, jika kalian melawan maka kami diberi wewenang untuk menangkap kalian hidup atau mati.”

“Apapun yang kalian sebutkan, tetapi beri kesempatan kami berbicara dengan Ki Bekel. Persoalannya akan segera selesai tanpa pertumpahan darah,“ berkata Kiai Badra, “sebenarnya akulah yang telah membujuk mereka berempat untuk berhubungan secara baik dengan kalian. Tidak dengan kekerasan.”

“Jangan mengigau. Kami akan menangkap kalian. Bukan untuk berbicara dengan Ki Bekel, tetapi untuk diadili,“ berkata seorang yang agaknya mempunyai pengaruh diantara orang-orang padukuhan itu.

“Ki Sanak,“ berkata Kiai Badra, “kita belum tahu dengan jelas, persoalan apa yang terjadi. Aku bukan diantara mereka. Tetapi aku serba sedikit tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya. Jika orang-orang ini sudah bertemu dengan Ki Bekel, maka aku akan segera meninggalkan tempat ini, karena sebenarnya aku tidak mempunyai sangkut paut langsung dengan mereka maupun dengan kalian.”

“Cukup,“ bentak orang yang memimpin sekelompok orang padukuhan itu, “menyerahlah kalian berlima.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun sementara itu seorang berkata, “Ternyata mereka berlima. Bukan hanya berempat.”

“Lebih dari lima. He, dimana anak-anak yang ada diantara mereka?“ bertanya seorang tiba-tiba.

“Ya. Tentu sudah disembunyikan. Jika demikian, maka mereka terdiri dari banyak orang,“ berkata yang lain.

Kiai Badra termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku ingin memperingatkan untuk yang terakhir kalinya Ki Sanak. Berilah kesempatan orang-orang ini bertemu dengan Ki Bekel. Biarlah orang-orang ini mengatakan yang sebenarnyalah. Bawa dua orang yang terluka itu menghadap. Biarlah keduanya ikut menentukan, apa yang akan kalian lakukan kemudian.“ Kiai Badra berhenti sejenak, lalu katanya kepada keempat orang itu, “tetapi bukankah kalian tidak berbohong.”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Sebagian besar dari kata-kataku benar,“ jawab orang tertua diantara keempat orang itu.

“Sebagian besar,“ ulang Kiai Badra sambil mengangguk-angguk, “tetapi yang sebagian besar itupun sudah memadahi.”

Dalam pada itu orang yang memimpin orang-orang padukuhan itupun berkata lantang, “Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Berikan tangan kalian. Kami akan mengikatnya.”

“Jangan memaksa begitu,“ jawab Kiai Badra, “dengar kata-kataku, atau aku justru tidak ikut campur lagi tentang persoalan ini.”

Orang padukuahn itu menjadi tegang. Dengan nada marah ia berkata, “jangan permainkan kami.”

Orang tertua diantara keempat orang itupun kemudian berkata kepada Kiai Badra, “Nah, apakah dengan cara ini kita akan dapat bertemu dengan Ki Bekel sebagaimana kau katakan?”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada orang-orang padukuhan, “Baiklah. Jika kalian tidak mau memberi kesempatan kepada orang-orang ini bertemu dengan Ki Bekel, maka biarlah mereka mempergunakan cara sebagaimana ingin mereka tempuh. Nah, kalian harus mempergunakan senjata. Mungkin kalian memang akan dapat menangkap mereka berempat, tetapi lebih dari separo diantara kalian akan mati. Nah, bersiaplah, siapa yang akan mati lebih dahulu. Sebaiknya kalian saling memberikan pesan, mungkin kepada isteri kalian atau kepada anak-anak kalian. Besok padukuhan ini akan berkabung karena sebuah iring-iringan mayat akan dibawa ke kuburan.”

Kiai Badra berhenti sejenak. Ia ingin melihat sentuhan dari kata-katanya.

Ternyata orang-orang padukuhan itupun menjadi ragu-ragu. Beberapa orang saling berpandangan sejenak Namun orang yang paling berpengaruh diantara mereka itupun berkata, “Omong kosong. Kau kira kami tidak dapat mempergunakan senjata? Kami membawa senjata yang akan dapat membunuh kalian.”

“Semakin tajam kalian membawa senjata, akan semakin berbahaya bagi kalian sendiri,“ jawab Kiai Badra. Lalu katanya, “Nah, jika demikian silahkan. Aku akan menonton satu pembantaian yang akan sangat mengerikan. Panggil kawan-kawanmu lebih dahulu, agar pekerjaan keempat orang ini cepat sekali. Mungkin mereka pun akan mati. tetapi kematiannya akan diikuti oleh lebih dari separo diantara kalian seperti sudah aku katakan tadi.”

Sekali lagi kata-kata Kiai Badra menyentuh jantung orang-orang padukuhan itu.

Tetapi agaknya pemimpin dari orang-orang padukuhan yang berjumlah terlalu banyak bagi hanya lima orang itu merasa memiliki kemampuan yang cukup untuk mengatasi betapapun tinggi ilmu mereka. Karena itu, maka katanya, “jangan banyak bicara. Bersiaplah untuk mati.”

“Baik,“ orang tertua diantara keempat orang itu berkata lantang, “aku sudah kehilangan kesabaranku. Sejak semula memang aku ingin membunuh sebanyak-banyaknya. Tetapi orang tua ini menghalangiku. Jika sekarang kalian sendiri justru menghendaki demikian, mari. Siapa yang akan mati lebih dahulu dari lebih separo diantara isi padukuhan. Bahkan aku sudah siap membakar semua rumah dan banjar padukuhan.”

Orang tertua diantara keempat orang itu tiba-tiba saja telah menarik pedangnya sambil berkata, “Sekali lagi aku katakan, jika aku hendak berbicara dengan Ki Bekel itu adalah karena orang tua ini memaksaku.”

Orang-orang padukuhan itu memang menjadi gentar. Karena itu mereka menjadi ragu-ragu. Namun pemimpin diantara mereka itu agaknya memang keras kepala. Iapun telah mengacu acukan parangnya yang besar sambil berkata, “Cepat, kita tangkap mereka hidup atau mati.”

Namun tiba-tiba saja diluar perhitungannya, orang tertua diantara keempat orang itu telah meloncat. Demikian cepatnya, sehingga pemimpin dari orang-orang pedukuhan itu tidak tahu bagaimana terjadinya, sehingga parangnya itu telah terloncat dari tangannya.

Ketika ia sedang termangu-mangu dengan penuh ketegangan, orang tertua diantara keempat orang yang sedang diburu itu berkata, “Nah, jika tidak ada orang tua ini, kau dan barangkali memang separo diantara kalian benar-benar mati. Tetapi jika demikian maka agaknya orang tua ini tidak akan senang menyaksikannya.”

Keadaan memang menjadi sangat tegang. Sementara itu Kiai Badra telah berkata pula, “Sekali lagi. Biarlah orang-orang ini berbicara dengan Ki Bekel.”

Suasana menjadi semakin mencengkam. Orang yang agaknya memiliki pengaruh yang besar diantara orang-orang padukuhan dan sudah tidak bersenjata lagi itu termangu-mangu. Namun rasa-rasanya jantungnya memang mulai bergetar.

Namun dalam ketegangan itu terdengar suara lain, “Biarlah orang-orang itu menemui aku.”

Orang-orang yang berkerumun itupun telah berpaling. Meskipun malam gelap, tetapi orang-orang itu segera mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ki Bekel sendiri.

Orang-orang padukuhan itupun segera menyibak. Ki Bekellah yang kemudian berdiri berhadapan dengan orang tertua diantara keempat orang itu.

“Akulah Bekel dari padukuhan ini,“ berkata Ki Bekel.

“Nah,“ desis Kiai Badra, “dengan demikian kalian dapat berbicara lebih tenang dan semua persoalan akan dapat dipecahkan dengan baik.”

Orang tertua dari keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah jalan itu tidak dipilihnya, karena tentu akan menjadi berbelit-belit. Tetapi ia tidak dapat menentang keinginan orang tua yang berilmu tinggi itu.

“Apa yang akan kalian bicarakan? Tentang permohonan maaf atau tentang apa?“ bertanya Ki Bekel.

“Tidak,“ jawab orang tertua itu, “kami tidak akan minta maaf. Kami ingin persoalan kami dengan dua orang yang telah kami lukai itu dapat diselesaikan dengan baik, dan memuaskan.”

“Jadi kalian memang mempunyai persoalan dengan kedua orang padukuhan yang kalian lukai itu?“ bertanya Ki Bekel.

“Sebenarnya persoalannya sangat pribadi. Itulah sebabnya kami menempuh jalan yang kemudian menggemparkan orang-orang padukuhan ini,“ jawab orang tertua itu.

Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita akan pergi ke banjar.”

Orang-orang padukuhan yang menjadi semakin banyak itupun menyibak. Ki Bekel telah mengajak keempat orang itu untuk pergi ke banjar. Mereka akan berbicara dengan baik. Sementara itu orang tertua diantara keempat orang itu minta, “Ki Bekel. Aku minta dua orang yang telah kami lukai itu dapat hadir dalam pertemuan ini.”

“Aku akan memanggil mereka,“ berkata Ki Demang.

Demikianlah iring-iringan itupun segera meninggalkan bulak itu menuju ke banjar padukuhan.

Namun ketika mereka mendekati banjar itu, salah seorang dari keempat orang itu berkata, “Dimana Ki Santawiguna?”

Kawan kawannyapun segera berpaling. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang menemukannya. Ki Bekelpun kemudian ikut pula mencarinya. Bahkan ia telah berkata, “Cari orang tua itu.”

Tetapi tidak seorangpun yang melihatnya. Ternyata Kiai Badra justru pada saat-saat mereka beranjak menuju ke banjar, telah menyelinap meninggalkan keempat orang itu. Dalam gelapnya malam, maka Kiai Badra berhasil bergeser tanpa menarik perhatian orang banyak.

Padu saat orang-orang itu sampai di banjar, maka Kiai Badra telah melangkah dengan cepat menjauhi padukuhan itu.

Adalah kebetulan bahwa di perjalanan itu ia telah bertemu dengan seseorang yang mempunyai hubungan dengan seorang laki-laki remaja, anak seorang Kepala Tanah Perdikan yang telah meninggal. Menilik cara petualangan yang ditempuh, maka tiba-tiba saja Kiai Badra menduga, bahwa remaja yang dimaksud adalah Puguh. anak Ki Wiradana yang lahir dari isterinya yang kedua, Warsi.

“Aku sudah mendapat jalan yang barangkali dapat ditempuh untuk menelusurinya,“ berkata Kiai Badra kepada diri sendiri. Lalu, “Dua orang yang terluka di padukuhan itu tentu mempunyai hubungan dengan anak itu. Atau setidak-tidaknya ia tahu bahwa diantara mereka yang berada dilingkungan perjudiannya, ada seorang remaja. Mudah-mudahan hal ini dapat aku pergunakan kelak untuk menemukan jalur pengamatan atas Puguh.”

Penemuan yang tidak diduganya itu telah memberikan sedikit harapan bagi Kiai Badra, bahwa bukan Risang saja yang akan mungkin diamati oleh Ki Randukeling atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Tetapi merekapun harus mendapat kesempatan pula untuk mengamati perkembangan Puguh, sehingga bagi keduanya akan didapatkan keseimbangan seandainya terjadi sesuatu.

“Bagaimanapun juga. persoalan diantara kedua orang anak itu akan tetap berkembang,“ berkata Kiai Badra didalam hatinya, “jika tidak saat mereka menjadi anak-anak muda, maka dihari tuapun ledakan itu akan dapat terjadi.”

Namun dalam pada itu. Kiai Badra memang merasa sedikit terlambat. Baik atau buruk, Puguh sudah mendapatkan pengalaman yang lebih luas dalam hubungannya dengan dunia kanuragan. Dalam usianya Puguh sudah terlibat dalam persoalan-persoalan yang dapat menempa ilmunya bukan saja dalam latihan-latihan. Tetapi agaknya dikesempatan-kesempatan lain. Anak itu telah banyak melihat dan mengalami benturan ilmu. Sementara itu Risang masih dalam tataran latihan-latihan betapapun kerasnya.

“Masih ada waktu,“ berkata Kiai Badra didalam hatinya sambil mempercepat langkahnya. Ia tidak banyak memikirkan lagi keempat orang yang ditinggalkannya. Agaknya dengan berbicara baik-baik dengan Ki Bekel, persoalan mereka akan dapat dipecahkan. Sementara itu keempat orang itu belum sempat mengamati wajahnya dengan saksama.

“Pada kesempatan lain, aku harus bertemu dengan dua orang yang telah dilukai oleh orang-orang itu,“ berkata Kiai Badra di dalam hatinya. “Tidak sulit untuk mencari keduanya. Kepada semua orang dapat ditanyakan, dua orang yang pernah dilukai oleh sekelompok penjudi yang pernah merasa dirugikan.”

Demikianlah Kiai Badra mempercepat langkahnya. Ia sudah kehilangan waktu untuk melayani keempat orang di padukuhan itu. Namun kesan yang didapat Kiai Badra, orang-orang padukuhan itupun bukan orang-orang yang ramah.”

Dengan mempercepat perjalanannya serta menempuh jalan-jalan pintas, maka Kiai Badra menjadi semakin dekat dengan Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi karena persoalan yang dihadapinya di tengah jalan maka Kiai Badra tidak dapat memasuki Tanah Perdikan sebelum fajar. Bahkan ketika matahari mulai menyingsing. Kiai Badra baru memasuki batas Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi di Tanah Perdikan Sembojan sendiri Kiai Badra tidak akan banyak menarik perhatian. Meskipun ia lama tidak berada di Tanah Perdikan, tetapi setiap pertanyaan selalu dijawabnya, bahwa ia berada di padukuhannya sendiri. Sedangkan setiap orang Tanah Perdikan memang mengetahui bahwa Kiai Badra memang bukan berasal dari Tanah Perdikan itu sendiri.

Namun demikian Kiai Badrapun masih tetap berusaha untuk memasuki padukuhan induk dengan melalui jalan yang dianggapnya tidak akan terlalu banyak orang yang menyapanya.

Ketika ia memasuki regol rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka beberapa orang memang terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka memberitahukan kepada Iswari, bahwa Kiai Badra telah datang mengunjunginya.

Iswaripun bergegas menyongsongnya dan mempersilahkan kakeknya naik. Tetapi Iswari tidak menerima kakeknya dipendapa. Dipersilahkannya Kiai Badra langsung keruang dalam.

Iswari memang sudah sangat rindu kepada kakeknya yang sudah agak lama tidak mengunjunginya. Selebihnya, iapun ingin segera mendengar segala sesuatunya tentang anak laki-lakmya yang hanya satu-satunya itu.

Setelah mempertanyakan keselamatan Kiai Badra sendiri, maka Iswari pun segera mempertanyakan anak laki-lakinya dan seluruh keluarga di tempat yang terasing dan yang belum pernah dikunjunginya itu.

“Semuanya baik saja Iswari,“ berkata kakeknya, “tidak ada persoalan yang perlu dicemaskan. Semuanya berjalan menurut rencana. Sementara itu tempat itupun masih tetap terpencil dan tidak banyak diketahui orang.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Sokurlah. Mudah-mudahan sampai saatnya sesuai dengan keinginan kita, tidak terjadi sesuatu.”

Kiai Badra pun mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, “Nanti sajalah aku berceritera tentang padepokan terpencil itu. Dimana Kiai dan Nyai Soka?”

“Keduanya sedang berjalan-jalan,“ jawab Iswari, “sejak menjelang fajar keduanya sudah keluar dan berjalan-jalan mengelilingi Tanah Perdikan ini. Selain untuk tetap mempertahankan atau setidak-tidaknya menghambat kemunduran wadag kakek dan nenek yang menjadi semakin tua. Merekapun berusaha untuk setiap hari melihat perkembangan Tanah Perdikan itu, sekaligus meronda jika Tanah Perdikan ini disentuh oleh niat buruk.”

“Pintu Tanah Perdikan ini begitu luasnya,“ berkata Kiai Badra, “mereka tidak melihat aku memasuki Tanah Perdikan. Seandainya aku berniat jahat?”

Iswari hanya tersenyum saja. Namun kemudian ketika dihidangkan minuman panas, Iswaripun segera mempersilahkan.

“Aku memang haus,“ berkata Kiai Badra.

Sejenak kemudian maka Kiai Badrapun telah meneguk minuman hangat dan beberapa potong makanan. Sementara itu, sejenak kemudian maka Kiai dan Nyai Sokapun telah datang pula.

Orang-orang tua itupun nampak gembira sekali dapat bertemu setelah untuk waktu yang agak lama terpisah. Menjelang hari-hari senja di umur mereka, maka rasa-rasanya pertemuan seperti itu memberikan kegembiraan tersendiri.

Tetapi Kiai Badra memang belum menceriterakan niat kedatangannya. Ia masih mempergunakan waktunya untuk menceriterakan padepokan kecilnya. Hubungan yang sangat baik dengan padukuhan dan bahkan Kademangan terdekat. Padepokannya telah dianggap sebagai keluarga dari Kademangan itu. Apalagi setelah banyak anak-anak Kademangan yang memang berniat tinggal di padepokan.

“Meskipun ada juga keberatannya,“ berkata Kiai Badra, “semakin banyak orang yang mengenali padepokan itu, semakin terbuka pula keadaannya. Untunglah bahwa sebagian besar adalah anak-anak Kademangan itu sendiri, sehingga hubungannya akan tetap terbatas.”

Kiai dan Nyai Soka mengangguk-angguk. Ceritera Kiai Badra tentang padepokannya sangat menarik bagi keduanya, sehingga sebagaimana sifat orang-orang tua, termasuk orang-orang yang berilmu tinggi sekalipun, selalu banyak yang ingin diketahui dan dilihatnya.

Bahkan Nyai Sokapun telah berkata, “Sebenarnya aku ingin menengoknya.”

“Aku juga,“ berkata Kiai Soka, “tetapi apakah hal itu tidak merugikan kedudukan padepokan itu sementara ini?”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pada saatnya aku akan mengundang kalian untuk mengunjungi kami.”

“Mudah-mudahan tidak terlalu lama,“ berkata Nyai Soka, “he, bukankah umur kita menjadi semakin mendekati batas?”

“Aku lebih tua dari kau,“ berkata Kiai Badra, “bagaimanapun juga kau memperdalam ilmu. tetapi umurmu tidak akan dapat melampaui umurku, karena kau adikku.”

Nyai Soka tertawa. Demikian pula Kiai Soka dan Iswari.

Demikianlah pembicaraan itupun menjadi semakin menebar kesana kemari. Namun akhirnya Iswari telah mempersilahkan Kiai Badra untuk beristirahat.

“Aku akan mandi dahulu,“ berkata Kiai Badra, “nanti aku akan berbicara banyak lagi tentang padepokanku.”

Demikianlah maka Kiai Badra telah pergi ke pakiwan. Kemudian setelah membenahi diri, Iswari mempersilahkannya untuk makan bersamanya dan bersama Kiai dan Nyai Soka. Pada saat-saat yang demikian, biasanya mereka membicarakan masalah-masalah yang cukup penting.

Sebenarnyalah, ketika mereka sudah selesai makan. Kiai Badra tidak menunda lebih lama lagi persoalan yang dibawanya dari padepokannya. Meskipun ia semalam suntuk berjalan dan tidak tidur sekejappun, namun ia masih belum ingin beristirahat, karena rasa-rasanya ia masih belum meletakkan beban yang dibawanya.

Kiai Badrapun kemudian telah menyampaikan keinginan Risang untuk membuat satu perguruan tersendiri. Ia tidak tahu, dorongan apakah yang telah membuatnya begitu ingin menyebut dirinya salah seorang murid dari sebuah padepokan. Agaknya semula Risang hanya ingin mempunyai satu ciri atau lambang yang dapat ditunjukkan kepada orang lain tentang dirinya atau padepokannya. Namun akhirnya perkembangan menjadi satu keinginan untuk menyusun satu perguruan tersendiri dengan nama dan lambangnya sekaligus.

Iswari mengerutkan keningnya. Namun Nyai Soka telah memberikan tanggapan yang serta merta, “Menarik sekali.”

“Kau setuju Nyai?“ bertanya Kiai Badra.

“Kenapa tidak?“ sahut Nyai Soka, “namun segala sesuatunya terserah kepada Iswari.”

“Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Soka pun berkata, “Memang ada baik dan buruknya, yang harus diperhitungkan, manakah yang lebih besar antara baik dan buruknya itu. Jika dipadepokan itu akan didirikan satu perguruan, maka sikap itu harus dipertanggung jawabkan. Baik terhadap mereka yang ada di padepokan itu. maupun kepada dunia olah kanuragan. Mungkin akan timbul geseran-geseran baru, karena jika kehadiran itu didengar oleh perguruan-perguruan lain, tentu ada yang menerima baik dan ada yang menolak.”

“Aku sudah mengatakannya kepada Risang, “sahut Kiai Badra, “mungkin kehadiran satu perguruan akan dapat menimbulkan benturan-benturan yang tidak kita inginkan.”

“Kakek,“ berkata Iswari kemudian, “bukankah kakek tidak tergesa-gesa meninggalkan Tanah Perdikan? Maksudku, bukankah kakek akan bermalam disini barang satu dua malam?”

“Ya. Aku akan bermalam disini,“ berkata Kiai Badra.

“Jika demikian, maka kami akan dapat membicarakannya dengan tidak tergesa-gesa. Mungkin nanti malam atau bahkan mungkin besok,“ berkata Iswari.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Kita mempunyai kesempatan berpikir.”

“Baiklah,“ desis Nyai Soka, “biarlah nanti malam aku merenungkannya semalam suntuk.”

Kiai Badra tersenyum. Tetapi iapun kemudian berkata, “Jika demikian maka biarlah aku berceritera tentang perjalananku.”

“Ceritera apa lagi?“ bertanya Nyai Soka.

“Tentu ceritera yang menarik,“ jawab Kiai Badra, “aku telah menemukan sesuatu di perjalanan.”

Orang-orang yang mendengarkan kata-kata Kiai Badra itu memang menjadi tertarik. Apalagi ketika Kiai Badra berkata, “Satu penemuan yang sangat berarti.”

“Apakah kau menemukan tambang emas?“ bertanya Nyai Soka.

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berkata, “Lebih dari sekedar tambang emas.”

Dengan singkat Kiai Badrapun telah berceritera tentang seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang sudah kehilangan ayahnya.

“Menilik cara petulangan yang ditempuhnya, aku menduga bahwa yang dimaksud adalah Puguh,“ berkata Kiai Badra kemudian.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada berat, “anak penari jalanan itu?”

“Ya,“ jawab Kiai Badra, “tetapi hal itu masih harus diyakinkan.”

Orang-orang yang mendengarkan ceritera Kiai Badra itu mengangguk-angguk. Mereka harus menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika benar, bahwa anak itu adalah Puguh anak Warsi yang kemudian hidup bersama Ki Rangga.

Meskipun mereka sudah cukup lama tidak mendengar beritanya, tetapi mereka masih tetap menganggap, dendam Warsi yang sampai keubun-ubun itu tidak dapat begitu saja dilupakan.

Waktu yang dipergunakan Warsi untuk menempa diri sudah cukup lama. Bahkan sudah terlalu lama. Namun apakah yang terlalu lama itu dapat diartikan, bahwa ia telah melupakannya.

Setiap kali Iswari selalu memperingatkan dirinya sendiri, bahwa ia tidak boleh lengah. Bahkan setiap kali Iswari berada disanggar, maka ia masih berusaha untuk selalu mematangkan dan meningkatkan ilmunya yang berpuncak pada ilmu Janget Kinatelon. yang berlandaskan kepada tiga sumber kekuatan ilmu yang sangat tinggi.

Namun Iswaripun sadar, bahwa Kiai Randukelingpun ternyata tidak bekerja sendiri. Dengan demikian maka perkembangan Warsipun akan dapat menjadi semakin pesat.

“Apakah dalam waktu yang sekian tahun itu, ia berhasil melampaui kemampuanku?“ pertanyaan itu tidak dapat disingkirkan dari lubuk hati Iswari. Namun justru pertanyaan itu telah mendorong Iswari untuk bekerja lebih keras lagi di setiap saat dibawah bimbingan Kiai dan Nyai Soka, dua orang diantara tiga orang yang telah menyusun ilmu Janget Kinatelon.

Dalam keadaan yang demikian, maka Kiai Badra telah menemukan satu kemungkinan untuk dapat melacak anak Warsi itu, yang diperhitungkan pada satu saat akan bertemu dan berbenturan ilmu dengan Risang

Sementara itu Kiai Badrapun kemudian berata, “Aku sudah mempunyai satu cara untuk menelusuri, apakah anak itu benar Puguh atau bukan.”

Yang mendengarkan keterangan Kiai Badra itu pun mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat dengan rencana Kiai Badra untuk menghubungi kedua orang yang pernah terluka itu. Bagaimanapun juga keduanya tentu pernah berhubungan dengan Puguh sendiri atau setidak-tidaknya orang-orang yang mengawalnya.

“Ternyata pengawalnya terdiri dari empat atau lima orang. Bahkan mungkin lebih,“ berkata Kiai Badra.

“Memang perlu,“ sahut Kiai Soka, “dunia yang dimasukinya adalah dunia yang sangat garang. Keras, kasar dan berbahaya. Karena itu, ia memang memerlukan banyak kawan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara itu Iswari berkata, “Apakah kakek benar-benar akan menelusurinya?”

“Tentu. Dengan demikian, kita akan dapat membayangi, paling tidak mengamati perkembangan anak itu. Apalagi jika kita berhasil menemukan padepokannya.”

Iswari mengangguk-angguk. Meskipun demikian iapun bertanya, “Kakek, mengamati padepokan Ki Randukeling adalah tugas yang sangat berat. Sementara itu tugas kakek sendiri di padepokan itupun memerlukan perhatian sepenuhnya, apalagi jika Risang memang benar-benar menginginkan sebuah padepokan yang khusus bagi sebuah perguruan dengan nama dan ciri tersendiri.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun katanya, “Mungkin aku dapat minta tolong kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, yang agaknya telah memutuskan tidak akan kembali lagi ke perguruannya. Keduanya telah lekat dengan Risang, sebagaimana Risang sangat akrab dengan kedua pamannya yang mempunyai kegemaran berceritera, meskipun dari sumber yang berbeda.”

Iswari mengangguk-angguk pula. Katanya, “Jika kakek menganggap hal itu baik, maka akupun tidak berkeberatan untuk membantu jika diperlukan.”

“Baiklah,“ berkata Kiai Badra, “aku akan membicarakan dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mudah-mudahan mereka tanggap dan dapat melaksanakan rencana ini dengan baik. Tetapi kemungkinan lain. merekalah yang akan selalu tetap berada di padepokan bersama Gandar, jika akulah yang harus berbuat sesuatu untuk menemukan sebuah padepokan yang dipimpin oleh Ki Randukeling dengan penghuni-penghuninya Ki Rangga Gupita, Warsi dan Puguh.”

“Mungkin kita akan menemukan jalan yang lebih baik kelak,“ berkata Kiai dan Nyai Soka.

Untuk beberapa lamanya mereka masih berbicara tentang beberapa hal. Baik yang menyangkut padepokan terpencil itu, maupun tentang Risang sendiri.

Sebenarnyalah Iswari telah merenungkan keinginan anaknya. Ia sadar, jika perguruan itu benar-benar disusun, maka Risang akan dihadapkan pada dua pilihan. Tetap berada di padepokannya atau kembali ke Sembojan untuk menjabat sebagai kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ternyata bagi Iswari hal itu cukup pelik. Kiai Badra pun telah memikirkannya pula. Sementara itu agaknya Nyai Soka belum berpikir sampai sejauh itu. Ia melihat satu kemungkinan yang akan dapat mengangkat derajad Risang.

Hari itu Iswari memang sering merenung. Baginya tidak ada orang lain yang paling pantas untuk memegang jabatan Kepala Tanah Perdikan selain Risang. Untuk bertahun-tahun jabatan itu kosong atas persetujuan Pajang, karena Iswari telah melaporkan segala sesuatunya mengenai Tanah Perdikan Sembojan.

Para pemimpin Pajang memberi kesempatan untuk membiarkan Iswari memegang jabatan itu untuk sementara, sehingga kelak saatnya akan menyerahkannya kepada anak Ki Wiradana.

Nyai Soka melihat kesibukan perasan Iswari. Karena itu, maka ketika Iswari sedang merenung justru di dapur. Nyai Soka mendekatinya. Katanya, “Kau memikirkan anakmu?”

“Ya nek,“ jawab Iswari.

Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku menanggapi centera Kiai Badra dengan serta merta, sebelum aku berpikir. Baru kemudian aku sadari, bahwa Risang adalah calon Kepala Tanah Perdikan di Sembojan. Karena itu. aku setuju dengan kau. bahwa sebaiknya dipikirkan masak-masak, apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak itu. Sementara itu Kiai Badra yang sudah memiliki padepokan tersendiri, sejak semula memang tidak ingin menyusun perguruan sebagaimana Kiai Soka. Sampai saat ini padepokan kami, maksudku aku dan Kiai Soka, masih ada. Masih juga dipelihara dengan baik. Tetapi Kiai Soka juga tidak bersedia untuk mendirikan satu perguruan yang secara khusus diberi nama dan ciri-ciri. Selain nama dari padepokan itu saja sebagai nama sebuah padukuhan. Justru Sambi Wulung dan Jati W ulung adalah orang-orang yang datang dari sebuah perguruan dengan cirinya yang khusus. Namun ciri itu lebih banyak menunjukkan ikatan antara keduanya daripada sebuah perguruan yang mapan.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Jika perguruan itu berdiri, apakah Tanah Perdikan ini akan ditangani hanya dengan sebagian waktu, sementara sebagian lagi waktunya akan diserahkan kepada padepokan dan perguruannya? Selama ini kita sudah berbuat apa saja bagi kepentingan Tanah Perdikan ini.”

“Iswari,“ berkata Nyai Soka. lalu,“ perguruan itu dapat saja berdiri. Tetapi dengan janji, bahwa keterlibatan Risang sangat dibatasi.”

“Risanglah yang menginginkan perguruan itu berdiri,“ berkata Iswari.

“Ia memerlukan penjelasan,“ sahut Nyai Soka.

“Nek,“ berkata Iswari, “aku merasa sangat rindu kepada anak itu. Sebenarnya jika semua pihak menyetujui aku akan ikut dengan kakek ke padepokan kecil itu untuk bertemu dengan Risang. Kecuali kerinduan seorang ibu kepada anaknya, tetapi rasa-rasanya aku juga ingin berbicara langsung dengan Risang tentang rencananya itu.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Kau sudah cukup lama terpisah dari anakmu. Mudah-mudahan kita menemukan jalan untuk membawamu ke padepokan itu tanpa merasakan kekosongan di Tanah Perdikan ini.”

“Para bebahu Tanah Perdikan ini sudah cukup trampil.“ berkata Nyai Wiradana, “jika aku pergi hanya untuk dua tiga hari. aku kira tidak ada pengaruhnya disini. Para pengawalpun sudah dapat dipercaya, sementara keadaan berangsur bertambah baik.”

Nyai Soka mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin hal itu dapat kau lakukan. Biarlah aku dan kakekmu Kiai Soka berada di Tanah Perdikan. Jika para bebahu memerlukan bantuan, kami berdua akan dapat membantunya.”

Iswari memandang neneknya dengan sorot mata penuh harap, seperti kanak-kanak yang menunggu uluran tangan ibunya disaat-saat ia memerlukan bantuan.

Hal itulah yang kemudian dibicarakan oleh Iswari dengan Kiai Badra dihari berikutnya, yang juga ditunggui oleh Kiai dan Nyai Soka.

“Jadi kau ingin pergi bersamaku besok?“ bertanya Kiai Badra.

Iswari menundukkan kepalanya. Tetapi iapun kemudian mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya kakek. Aku sudah sangat rindu kepada Risang. Tetapi akupun ingin berbicara dengan Risang tentang keinginannya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, maka besok kita akan pergi bersama-sama. Tetapi seperti saat aku datang, maka kitapun akan berjalan dimalam hari.”

“Baik kakek,“ jawab Iswari, “dimalam haripun aku tidak berkeberatan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, bersiaplah. Mungkin kau perlu berbicara dengan bebahu Tanah Perdikan ini. Tetapi kau tidak perlu mengatakan bahwa kau akan pergi menemui Risang. Katakan, bahwa kau ingin mengunjungi tempat kelahiranmu. Tempat yang sudah diketahui oleh beberapa bebahu di Tanah Perdikan ini.”

Iswari mengangguk-angguk pula. Dengan nada dalam ia menjawab, “Baiklah kakek. Aku akan segera memanggil para bebahu.”

Demikianlah, maka Iswaripun berkemas diri. Ia telah menyerahkan pimpinan Tanah Perdikan untuk dua atau tiga hari kepada para bebahu di Tanah Perdikan. Kepada para Bekel Iswari menitipkan padukuhan-padukuhan yang mereka pimpin, dengan pesan agar kerja yang masih belum selesai dapat mereka selesaikan.

Iswaripun telah memanggil pula pemimpin pengawal Tanah Perdikan. Para pengawal harus selalu siap setiap saat diperlukan, sehingga jika terjadi sesuatu, mereka tidak mengecewakan.

“Kami akan berbuat sebaik-baiknya. Nyai,“ jawab pemimpin pengawal itu.

“Kau dan para pengawal seakan-akan anak sulung di Tanah Perdikan ini,“ berkata Nyai Wiradana itu, “kau jaga adik-adikmu. Kautuntun agar mereka berjalan di jalan yang baik sebagaimana mereka lakukan sampai saat ini. Karena itu, jaga agar tidak seorangpun diantara anak-anak muda kita tersesat ke jalan hidup yang buruk.”

“Baik Nyai. Mudah-mudahan kami akan dapat melakukannya. Kami dan para pengawal akan berusaha sejauh dapat kami lakukan,“ jawab pemimpin pengawal itu.

Nyai Wiradana tersenyum. Katanya, “berhati-hatilah. Tetapi aku tidak akan lama pergi. Hanya dua atau tiga hari. Tetapi jika hari-hari yang aku perlukan menjadi lebih panjang, maka kau harus bersiap-siap membantu para bebahu. Mereka tentu memerlukan kau dan para pengawal. Segala sesuatunya tentu akan dibicarakan dengan para pengawal. Apalagi jika terjadi kesulitan, maka para pengawallah yang harus memecahkannya.”

“Ya. Nyai,“ jawab pemimpin pengawal itu, “kami akan selalu berhubungan dengan para bebahu.”

Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan. Kiai Badra dan Iswaripun telah bersiap untuk berangkat ketika matahari telah turun sampai ke punggung bukit. Sekali lagi mereka minta diri kepada Kiai dan Nyai Soka serta para bebahu. Bibipun telah mendapat pesan-pesan khusus dari Iswari.

Sebenarnya Bibi ingin sekali untuk mendapat kesempatan ikut dan bertemu dengan Risang. Bibipun telah menjadi sangat rindu. Tetapi Iswari berkata, “Lain kali kau akan mendapat kesempatan.”

Bibi mengangguk. Tetapi dimatanya membayang air mata yang kemudian mengalir dipipinya.

Iswari tersenyum. Katanya, “bertanyalah kepada para bebahu. Orang yang seperti kau ini tidak pantas untuk menitikkan air mata. Seperti anak kecil yang ingin ikut ibunya pergi ke pasar.”

Bibi pun berusaha untuk tersenyum pula. Sambil mengusap matanya ia berkata, “Aku juga merasa memperanakkannya.”

Iswari menepuk bahu Bibi yang kekar menurut ukuran seorang perempuan. Katanya, “Kau juga ibunya.”

Bibi mengangguk. Tetapi air dimatanya itu belum juga mau kering.

“Sudahlah,“ berkata Iswari, “kau masih akan mendapat kesempatan. Kali ini aku sedang merintis jalan.”

Demikianlah keduanya berangkat menjelang senja, dengan perhitungan bahwa mereka akan keluar dari Tanah Perdikan Sembojan di saat hari sudah menjadi gelap.

Sebenarnyalah ketika matahari tenggelam, keduanya sudah berada diambang perbatasan. Iswari telah membenahi pakaiannya, sehingga di malam hari ia nampak benar-benar seperti seorang laki-laki. Dalam ujud lahiriah, tidak akan ada seorangpun yang menduganya, bahwa ia adalah seorang perempuan. Ia juga mengenakan ikat kepala sebagaimana laki-laki mengenakannya.

Demikianlah, maka merekapun telah menyusuri gelapnya malam menempuh jalan yang sebaliknya dari yang pernah ditempuh oleh Kiai Badra.

Namun ketika perjalanan mereka menjadi semakin jauh. Kiai Badra berkata, “Kami akan singgah sejenak di padukuhan yang pernah aku ceriterakan.”

“Apakah tidak akan mengganggu perjalanan ini, kek?“ bertanya Iswari.

“Mudah-mudahan tidak. Tetapi jika terjadi sesuatu, maka modal kita adalah, bahwa kita tentu akan dapat melarikan diri dari tangan orang-orang padukuhan itu,“ berkata Kiai Badra

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah saja kepada kakek. Tetapi kepada siapa kita akan bertanya tentang orang-orang yang menurut kakek sudah terluka itu?”

“Kita akan langsung menemui Ki Bekel,“ berkata Kiai Badra, “tetapi ingat, aku mempunyai nama lain.”

“Siapa nama kakek?“ bertanya Iswari.

Kiai Badra mengingat-ingat sejenak. Saat itu ia asal saja mengucapkan sebuah nama. Namun akhirnya ia menjawab, “Namaku Santawiguna.“

Iswari tersenyum. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Kiai Badrapun telah mendahuluinya, “Lebih baik kau tidak usah berbicara. Meskipun ujudmu seperti laki-laki, tetapi kau tidak akan dapat merubah suaramu menjadi suara seorang laki-laki.”

“Baik kek,“ jawab Iswari, “aku akan menjadi pendengar yang baik. Atau barangkali aku adalah cucu kakek yang bisu?”

Kiai Badra tertawa. Namun ia masih membantah, “Orang bisupun dapat dibedakan suaranya antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Karena itu yang baik. kau diam saja.”

“Baik kek,“ jawab Iswari sambil tertawa.

Seperti yang mereka rencanakan, maka kedua orang itu telah menuju ke padukuhan yang pernah dilalui oleh Kiai Badra. Padukuhan yang pernah menghentikan langkahnya beberapa saat.

Ketika mereka mendekati padukuhan itu, maka padukuhan itu benar-benar telah tertidur nyenyak. Bahkan orang-orang yang berada digardupun telah banyak yang tidur pula. Seorang diantara mereka yang duduk bersandar dindingpun agaknya telah tertidur pula.

“Nampaknya orang-orang padukuhan ini telah berjaga-jnga setelah terjadi peristiwa yang menggemparkan itu,“ berkata Kiai Badra hampir berbisik.

“Tetapi kakek tidak tahu akhir dari peristiwa itu,“ berkata Iswari, “sebenarnya akan lebih baik jika kakek ikut bersama mereka.”

“Yang aku cemaskan jika keempat orang itu berusaha untuk mengenali wajahku. Ditempat yang lebih terang, mungkin mereka akan dapat menyebut bagaimana bentuk hidungku atau barangkali mata atau telingaku. Sehingga ciri itu akan mendekatkan ingatan orang-orang yang pernah mengenalku kepadaku.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Kakek benar. Mereka akan berkeliaran di tempat ini dan sekitarnya, sehingga memungkinkan salah seorang dari mereka benar-benar melihat kakek dan mengikuti kakek memasuki padepokan itu.”

“Nah, bukankah lebih baik aku pergi pada malam itu?“ bertanya Kiai Badra.

Iswari mengangguk kecil.

Sementara itu, keduanya masih termangu-mangu. Mereka ragu-ragu untuk berjalan didepan gardu. Jika ternyata ada diantara mereka yang melihatnya, maka sebelum mereka bertemu dengan Ki Bekel, maka seisi padukuhan itu sudah menjadi ribut.

Karena itu. maka akhirnya Kiai Badra telah mengambil keputusan untuk mengambil jalan lain. Mereka memilih jalan kecil yang tidak terdapat gardu dimulutnya.

Bagi Kiai Badra dan Iswari tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah Ki Bekel dari padukuhan itu. Mereka berjalan sampai ke jalan induk. Kemudian mengikuti jalan itu sehingga akhirnya mereka menemukan rumah dengan halaman yang luas.

“Kita akan membangunkan Ki Bekel,“ berkata Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian berdesis, “Ternyata ada yang meronda pula di regol rumah Ki Bekel.”

“Satu kebetulan. Biarlah mereka membangunkan Ki Bekel,“ jawab Kiai Badra.

Iswari memang ragu-ragu. Apakah orang-orang itu akan mau melakukannya.

Tetapi merekapun kemudian mencobanya. Kiai Badra dan Iswari telah pergi ke regol rumah yang mereka duga adalah rumah Ki Bekel.

Di regol ternyata terdapat empat orang yang meronda. Dari sela-sela pintu regol yang memang sengaja dibuka sedikit, mereka melihat dua orang yang duduk digardu yang agaknya masih baru. Sedangkan dua orang yang lain nampak berbaring dan bahkan mungkin sudah tidur digardu itu.

Dengan hati-hati Kiai Badra mendekati regol itu. Ia tidak ingin mengejutkan kedua orang yang sedang bertugas itu. Karena itu. maka perlahan-lahan ia mengetuk pintu regol yang memang sudah terbuka.

Ternyata kedua orang itu masih juga terkejut. Dengan sigapnya mereka meloncat turun sambil mengacukan tombak pendek mereka.

“Siapa?“ bertanya salah seorang diantara keduanya dengan suara garang.

“Aku Ki Sanak,“ jawab Kiai Badra sambil bergerak maju. Perlahan-lahan Kiai Badra mendorong daun pintu sehingga terbuka lebih lebar.

“Siapa kau? “ orang itu menjadi semakin garang.

“Aku Santawiguna,“ jawab Kiai Badra, “aku ingin bertemu dengan Ki Bekel.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun seorang diantaranya tiba-tiba berkata, “He. Ki Sanak, Apakah kau tidak tahu adat, bahwa malam-malam begini kau akan bertemu dengan Ki Bekel?”

“Bukan begitu,“ jawab Kiai Badra, “aku tahu bahwa ini bukan waktunya untuk berkunjung kepada Ki Bekel. Tetapi jika pada waktu seperti ini seseorang ingin bertemu dengan Ki Bekel, maka tentu ada persoalan yang sangat penting.”

Kedua orang itu sekali lagi saling berpandangan. Namun salah seorang diantara mereka kemudian berkata, “besok sajalah Ki Sanak. Biarlah Ki Bekel beristirahat.”

“Tetapi aku perlu sekali bertemu dengan Ki Bekel. Malam ini,“ desak Ki Badra.

“Tidak. Sebaiknya besok kau kembali,“ bentak peronda itu

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Ia memang tidak ingin membuat persoalan dengan orang-orang padukuhan itu. Tetapi ia ingin sekali bertemu dengan kedua orang yang pernah berhubungan dengan laki-laki remaja yang diduganya adalah Puguh itu.

Karena itu. maka Kiai Badrapun berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu sampai besok. Tetapi jika malam nanti terjadi sesuatu yang menelan korban jiwa di padukuhan ini, kalian berdualah yang bertanggung jawab.”

Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Dengan gagap seorang diantara mereka bertanya, “Apa yang akan terjadi?”

“Karena itu beri kesempatan kami liertemu dengan Ki Bekel,“ desis Kiai Badra

Kedua orang itu menjadi kebingungan. Sementara itu Kiai Badra berkata, “Sudahlah Sampaikan salamku kepada Ki Bekel. Mudah-mudahan kalian berdua besok masih sempat bertemu dengan Ki Bekel. Karena mungkin kalian berdualah yang akan menjadi korban. Tetapi mungkin juga orang lain. Bahkan mungkin Ki Bekel sendiri.”

Kedua orang itu menjadi semakin bingung. Namun ketika Kiai Badra akan beranjak pergi, kedua orang itu hampir berbareng memanggil, “Ki Sanak.”

“Bagaimana?“ bertanya Ki Badra.

“Apakah Ki Sanak sajalah yang membangunkan sendiri Ki Bekel?“ desis seorang diantara keduanya.

“Bagaimana mungkin aku membangunkannya?“ bertanya Kiai Badra.

Sejenak kedua orang itu menjadi tegang. Mereka tidak segera dapat mengambil keputusan. Namun akhirnya seorang diantara mereka berkata, “Aku yang akan membangunkannya. Tetapi Ki Sanak yang harus bertanggung jawab.”

“Baiklah,“ jawab Kiai Badra, “akulah yang bertanggung jawab.”

Kedua orang peronda itu masih juga ragu-ragu sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata, “Marilah. Ikut aku.”

Kiai Badra dan Iswaripun kemudian telah mengikuti peronda itu, sementara yang seorang lagi tetap berada digardu. Bahkan orang itu telah membangunkan kedua orang kawannya yang memang tertidur nyenyak.

Orang yang membawa Kiai Badra dan Iswari kependapa memang ragu-ragu untuk membangunkan Ki Bekel.

Tetapi mengingat kata-kata orang tua itu, bahwa sesuatu akan terjadi malam nanti, iapun memberanikan diri mengetuk dinding rumah Ki Bekel.

Beberapa kali terdengar suara ketukan yang semakin lama semakin keras, sementara Kiai Badra dan Iswari menunggu dengan berdebar-debar pula.

Namun sejenak kemudian terdengar suara batuk-batuk didalam Orang yang mengetuk pintu itu bergeser selangkah sambil berdesis, “Jika Ki Bekel marah, kaulah yang bertanggung jawab.”

“Ya. Aku yang bertanggung jawab,“ sahut Kiai Badra.

Dalam pada itu, terdengar orang yang ada didalam itu menyapa, “Siapa diluar?”

Kiai Badra memberikan isyarat agar peronda itu menjawab.

“Aku Ki Bekel Peronda di gardu,“ jawab orang itu.

“Kenapa malam-malam?“ bertanya Ki Bekel.

“Ada tamu Ki Bekel,“ jawab orang itu.

“Tamu? Malam begini ada tamu?“ bertanya Ki Bekel dengan suara parau.

“Ya. Ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan kepada Ki Bekel,“ berkata peronda itu pula.

Agaknya Ki Bekel menaruh perhatian pula. Jika tidak ada sesuatu yang penting maka tidak akan ada orang yang malam-malam berani membangunkannya.

Karena itu, betapapun beratnya mata Ki Bekel yang mengantuk itu, namun iapun telah melangkah kepintu pringgitan. Perlahan-lahan ia mengangkat selarak.

Pada saat yang demikian, ketika Kiai Badra dan Iswari bergeser mendekati pintu, peronda itu telah merundukkan tombaknya sambil berdesis, “Kau disitu saja.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau melibatkan diri dalam persoalan. Karena itu, maka iapun mengurungkan langkahnya.

Sejenak kemudian maka pintu pringgitan itupun terbuka. Ki Bekel dengan segan melangkah keluar pintu sambil bertanya kepada peronda itu, “Ada apa?”

Peronda itu menunjuk kepada Kiai Badra dan Iswari sambil berkata, “Kedua orang itulah yang berkepentingan dengan Ki Bekel malam ini. Menurut keduanya, keadaan menjadi gawat.”

“Gawat? Apa yang terjadi?“ bertanya Ki Bekel sambil mengerutkan keningnya.

“Silahkan Ki Bekel berbicara dengan kedua orang itu,“ berkata peronda itu.

Ketika Ki Bekel berpaling kearah Kiai Badra. maka iapun termangu-mangu sejenak untuk mengingat, siapakah orang tua itu.

Namun Kiai Badralah yang lebih dahulu menyebut tentang dirinya, “Ki Bekel. Aku adalah Santawiguna, yang malam itu bersama-sama dengan empat orang yang sebelumnya telah dikejar-kejar oleh orang-orang pndukuhan ini.”

Ki Bekel mengangguk-angguk Katanya, “Aku ingat sekarang, meskipun saat itu aku tidak jelas menatap wajah Ki Sanak. Tetapi malam itu kita memang kehilangan seorang tua yang mula-mula bersama dengan empat orang yang dikejar-kejar itu.“ Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, “Tetapi kenapa malam itu Ki Sanak telah menghilang?”

“Aku mempunyai keperluan yang sangat penting yang tidak dapat aku tunda-tunda lagi. Karena itu, maka aku telah meninggalkan keempat orang itu.”

“Marilah,“ berkata Ki Bekel mempersilahkan.

Ki Bekel telah mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di pringgitan. Selembar tikar pandan kemudian telah dibentangkan oleh peronda yang membangunkannya.

Sejenak kemudian ketiga orang itupun telah duduk. Sejenak mereka sempat mengingat apa yang pernah terjadi dipadukuhan itu, kecuali Iswari yang hanya mendengar ceritera Kiai Badra.

“Apa yang ingin Ki Sanak beritahukan dengan keadaan yang disebut gawat itu?“ bertanya Ki Bekel.

“Ki Bekel,“ desis Kiai Badra, “yang pertama, sebelum aku berbicara tentang langkah-langkah berikutnya, aku ingin bertanya tentang peristiwa malam itu. Apakah malam itu dapat diselenggarakan satu pembicaraan sehingga menemukan satu pengelesaian yang baik?”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tidak terlalu baik. Tetapi tidak terjadi kekerasan. Keempat orang itu memaksa untuk mengambil kembali uangnya yang telah digelapkan oleh kedua orang yang telah dilukainya itu.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Sayangnya penggelapan itu terjadi di tempat perjudian, sehingga kedua orang itu memang dapat ingkar.”

“Keduanya memang tidak dapat dituntut. Tetapi yang pahit bagi keduanya adalah, bahwa orang-orang yang marah itu telah mengancam akan membunuhnya. Mereka akan bertindak sendiri jika tidak ada saluran yang dapat membantu mereka mengambil kembali uangnya. Padahal menurut pengamatanku, keempat orang itu memang akan dapat benar-benar bertindak kasar jika kedua orangku itu tidak memenuhinya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah Ki Bekel tidak tahu menahu sebelumnya tentang kedua orang itu?”

Ki Bekel menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu sebelumnya, bahwa kedua orang-orangku itu adalah penjudi-penjudi yang besar. Dan bahkan telah mau menggelapkan uang dalam lingkungan perjudian. Karena itu. maka tidak terlalu banyak yang dapat kami lakukan untuk melindungi mereka. Kami. orang-orang padukuhan ini hanya menganjurkan kepada keduanya yang malam itu sudah dilukai, untuk menyediakan uang sebagaimana yang digelapkannya dan mengembalikannya.”

“Bagaimana sikap orang-orang padukuhan ini?“ bertanya Kiai Badra.

“Setelah mereka mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka mereka tidak lagi menjadi garang terhadap keempat orang itu. Bahkan orang-orang padukuhan ini menjadi kacewa, bahwa dua orang diantara kami telah berada dilingkungan yang hitam itu,“ jawab Ki Bekel. Lalu, “Ketika malam itu kami mendengar kedua orang itu berteriak-teriak minta tolong sambil berlari ke gardu, maka orang-orang padukuhan ini dengan serta merta telah berusaha menolong mereka. Mereka menganggap bahwa keduanya, tetangga kami, telah dirampok orang.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Bekel. Kami minta maaf, bahwa malam-malam begini kami berusaha untuk bertemu dengan Ki Bekel. Sebenarnyalah kami berdua ingin berbicara dengan kedua orang yang terluka itu. Mungkin kami dapat memberikan jalan kepada mereka.”

“Jadi Ki Sanak akan berusaha untuk memberi kesempatan keduanya tetap menggelapkan uang itu? Atau barangkali Ki Sanak ingin menolong agar kedua orang itu tetap dapat berada di dalam lingkungan para pejudi itu?”

“Bukan Ki Bekel,“ jawab Kiai Badra, “yang penting bagiku bukan lingkungan perjudiannya. Tetapi keselamatannya.”

“Bukankah dengan demikian kau tetap memberinya jalan untuk tidak berusaha mengembalikan uang yang digelapkannya? Aku tidak mau kedua orang itu menjadi noda-noda yang hitam bagi padukuhan ini. Sebagaimana Ki Sanak tahu. orang-orang padukuhan ini memang bukan orang-orang yang ramah, baik hati dan mampu dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar padukuhan ini. Tetapi kami tidak mau bahwa didalam lingkungan kami terdapat penjudi besar seperti keduanya itu.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Ki Bekel, aku minta ijin untuk menemui mereka.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Jika kau dapat mengusahakan jalan keluar, bagaimanapun juga. kami akan berterima kasih. Batas waktu yang diberikan oleh keempat orang itu adalah sampai saat hari pertama bulan mendatang.”

“Terima kasih Ki Bekel,“ desis Kiai Badra, “jika demikian kami mohon diri. Kami mohon maaf, bahwa kami telah mengganggu Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel memerlukan waktu untuk beristirahat.”

“Apakah Ki Sanak sudah pernah melihat rumah mereka?“ bertanya Ki Bekel.

“Belum Ki Bekel,“ jawab Kiai Badra, “agaknya kami memang memerlukan ancar-ancar.”

“Biarlah peronda itu mengantarkan Ki Sanak sampai kerumah mereka. Keduanya adalah kakak beradik yang tinggal di satu rumah, meskipun keduanya sudah mempunyai keluarga sendiri-sendiri,“ berkata Ki Bekel.

Sekali lagi Kiai Badra mengucapkan terima kasih, sementara Ki Bekel memerintahkan dua orang diantara peronda-peronda itu untuk mengantar kedua tamunya.

Ketika mereka kemudian minta diri. maka seperti pesan Kiai Badra, Iswari sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ketika mereka minta diri. Iswari hanya mengangguk-angguk saja dalam-dalam sambil tersenyum tanpa mengucapkan kata-kata.

Ki Bekel memang merasa heran atas sikap itu. Tetapi iapun kemudian menduga, bahwa orang itu tentu mempunyai cacat.

“Sayang. Orang yang tampan itu ternyata bisu,“ berkata Ki Bekel kepada diri sendiri.

Demikianlah maka Kiai Badra dan Iswari telah diantar kerumah kedua orang yang pernah dilukai oleh empat orang kasar yang menggemparkan padukuhan itu.

Ketika peronda itu mengetuk pintu, maka seisi rumah itu memang menjadi ketakutan. Namun peronda itupun telah menyahut namanya dan berkata dengan nada rendah, “Aku mengantarkan dua orang tamu yang telah menemui Ki Bekel.”

Kedua orang yang dicari, oleh Kiai Badra itu masih saja ragu-ragu untuk membuka pintu rumahnya. Namun peronda itu meyakinkan mereka, katanya, “Ki Bekellah yang memerintahkan aku mengantarkan kemari.”

Akhirnya keduanyapun telah membuka pintu betapapun mereka ragu-ragu.

Namun ketika mereka melihat dua orang yang ujudnya tidak sekasar keempat orang yang pernah melukainya, maka keduanyapun mempersilahkan kedua orang tamunya itu masuk keruang dalam.

“Kita akan berbicara didalam,“ berkata salah seorang dari keduanya.

Peronda yang mengantar Kiai Badra dan Iswari itupun kemudian telah minta diri untuk kembali ke rumah Ki Bekel.

Setelah duduk sejenak, maka yang nampaknya lebih tua diantara kedua orang itupun mulai bertanya, “Siapakah Ki Sanak berdua?”

“Aku adalah Santawiguna,“ jawab Kiai Badra yang dengan singkat menceriterakan apa yang telah dilakukannya beberapa hari yang lalu.

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang tertua itupun kemudian berkata, “jadi Ki Sanaklah yang disebut bernama Santa itu?”

“Ya. Santawiguna,“ jawab Kiai Badra. Lalu katanya, “Ki Sanak, sebenarnyalah aku mempunyai kepentingan dengan Ki Sanak.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Dengan curiga yang muda diantara mereka berkata, “Tetapi apakah kalian bukan orang yang sengaja dikirim oleh Puguh?”

“Puguh?“ ulang Kiai Badra dengan jantung yang berdebar-debar. Juga Iswari tiba-tiba saja darahnya bagaikan mengalir lebih cepat.

Keduanya tidak menduga, bahwa demikian cepat mereka mendengar nama itu disebut.

Tetapi Kiai Badra berusaha untuk menguasai perasaannya. Bahkan kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia bertanya, “Siapakah dengan Puguh itu? Apakah salah seorang dari keempat orang itu bernama Puguh?”

“Tidak,“ jawab yang muda, “tidak seorangpun diantara mereka bernama Puguh. Tetapi seorang laki-laki remaja yang menjelang usia dewasanyalah yang bernama Puguh. Orang-orang itu adalah pengawal remaja yang bernama Puguh itu.”

“Jadi uang yang kau gelapkan itu uang Puguh itu?“ bertanya Kiai Badra.

Kedua orang itu menundukkan kepalanya. Namun tanpa menjawab Kiai Badra sudah dapat menangkap kenyataan tentang keduanya dalam hubungannya dengan Puguh.

“Ki Sanak,“ berkata Kiai Badra, “sebenarnyalah aku juga mempunyai minat seperti kalian. Tetapi bukan untuk menggelapkan uang. Aku telah membawa kemenakanku untuk dapat ikut memasuki dunia perjudian itu.”

Kedua orang itu terkejut. Mereka tidak mengira bahwa orang tua itu menaruh minat juga untuk ikut berjudi.

“Ki Sanak,“ berkata Kiai Badra, “aku sudah berpengalaman. Tetapi pengalamanku lain dengan pengalaman Ki Sanak. Menurut yang pernah terjadi atas diriku, jika aku berjudi dengan jujur, maka ternyata aku akan menang.”

“Ah,“ sahut yang muda dengan serta merta, “aku kurang yakin Ki Santa. Setiap penjudi tentu berbuat curang. Jika Ki Santa mencoba berjudi dengan jujur, maka Ki Santa akan menjadi santapan lawan-lawan berjudi.”

“Ki Sanak,“ berkata Kiai Badra, “umurku sudah hampir mendekati ujung abad. Aku sudah berjudi lebih dari limapuluh tahun. Nah, umur kalian berapa? Pengalaman kalian tentang judi tidak akan dapat menyamai aku.“ Kiai Badra berhenti sejenak, lalu, “Marilah, bawa aku ketempat itu.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun yang tertua diantara mereka berkata, “Kami belum gila Ki Santa.”

“Kenapa?“ bertanya Kiai Badra.

“Dalam keadaan seperti ini. apakah aku harus masuk kedalam wuwu. Kau tahu bahwa aku sedang terlibat persoalan dengan Puguh yang mempunyai sejumlah pengawal sebagaimana kau lihat. Jika mereka melihat aku memasuki tempat itu, maka aku akan mengalami kesulitan. Meskipun aku tidak berbuat apa-apa lagi. tetapi sebelum aku mengembalikan apa yang mereka minta, maka aku akan dapat dibantainya.”

“Tetapi apakah kau tidak mempunyai sandaran saat-saat kau melakukan penukaran uang dengan kartu-kartu yang bernilai uang itu, sehingga akan dapat melindungimu dari tangan Puguh dan orang-orangnya?”

“Tidak ada yang dapat mencegah tingkah laku para pengikut Puguh itu,“ jawab yang muda.

“Bukankah itu sebagian besar karena salah kalian sendiri?“ bertanya Kiai Badara, “jika kalian tahu bahwa sekelompok orang memiliki kekuatan yang tidak terlawan, kenapa kalian berani mempermainkan uang mereka?”

“Ki Sanak,“ berkata yang tua, “kita sama-sama mengetahui pengaruh uang terhadap diri kita. Kadang-kadang kita menjadi lupa segala-galanya sehingga saat itu aku tidak ingat lagi. apa yang mungkin terjadi. Uang yang ada ditangan kami membuat kami buta.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata, “Baiklah. Dalam keadaan seperti ini kami memang tidak akan dapat memaksa. Tetapi apakah kalian dapat memberikan ancar-ancar, dimana letak tempat perjudian itu?”

“Ki Sanak. Aku tidak tahu apakah kau orang yang cukup kaya untuk memasuki tempat perjudian itu. Tetapi perjudian itu apakah hanya dikunjungi oleh orang-orang yang kaya,“ berkata yang muda.

“Tetapi bagaimana mungkin kalian mendapat kepercayaan ditempat itu?“ bertanya Kiai Badra.

“Kami sudah lama berjudi ditempat itu. Semakin lama semakin akrab dengan setiap orang. Akhirnya kami telah berusaha membuat satu permainan tersendiri diantara perjudian itu,“ jawab yang muda pula.

“Apa keuntunganmu dengan usahamu itu?“ bertanya Kiai Badra pula.

“Yang menang akan memberikan bagian kepada kami,“ jawab yang muda itu pula.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun sekali lagi ia mendesak, “beritahukan kepadaku. Dimana tempatnya. Aku mempunyai barang-barang berharga yang dapat aku jual. Akupun tahu bagaimana mendapatkan uang untuk berjudi sebagaimana sudah aku lakukan selama limapuluh tahun.”

Kedua orang bersaudara itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian seorang diantara mereka bertanya, “Apa yang kalian katakan kepada Ki Bekel? Ki Bekel membenci kami berdua karena kami berdua berjudi. Jika kau berterus terang, tentu Ki Bekel tidak akan terlalu baik hati memerintahkan peronda itu mengantarkanmu kemari.”

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Cerdas juga kau Ki Sanak. Aku memang tidak mengatakan hal seperti itu. Tetapi aku mengatakan bahwa kalian terancam malam ini, sehingga aku perlu menghubungi kalian.”

Keduanya menarik nafas dalam-dalam, sementara Kiai Badra berkata, “Tetapi rahasiaku adalah rahasiamu. Ingat, bahwa akulah sebenarnya yang telah menyelamatkan nyawamu. Jika tidak, maka empat orang itu telah siap untuk membunuh kalian, justru saat orang-orang padukuhan sibuk mencari mereka di bendungan.”

Kedua orang itu memang menjadi tegang. Sementara itu Kiai Badara berkata, “Sudahlah. Aku memang tidak mau melibatkan kalian dalam persoalan kalian dengan remaja yang kalian sebut bernama Puguh itu Beri aku ancar-ancar. Aku akan datang sendiri tanpa kalian.”

Kedua orang itu memang masih ragu-ragu. Sehingga Kiai Badra perlu meyakinkan, “Apakah kerugian kalian jika kalian memberi tahukan tempat itu kepadaku. Segala sesuatunya akan kami lakukan diluar hubungan kami dengan kalian. Di sebelah Barat Pajang, kami telah merasa jemu. Lawan kami tidak berubah hampir disetiap hari. Merekapun semakin lama menjadi semakin melarat karena mereka tidak tahu, bagaimana mendapatkan uang untuk berjudi. Mereka sama sekali tidak tahu. bahwa dengan memeras darah seseorang, kita akan dapat mengumpulkan modal untuk berjudi.”

“Kalian perampok?“ bertanya kedua orang itu.

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Jika kau benar-benar penjudi yang baik. kau tidak akan bertanya. Kaupun tidak akan membawa lari uang siapapun dalam rumah perjudian itu. Tanpa berbuat curang. Nah. itulah ramuan kami, sehingga kami dapat memenangkan perjudian itu.”

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 3

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

 

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s