SST-01

<< kembali | lanjut >>

Mohon maaf, ilustrasi belum sempat dimasukkan dalam teks

SEORANG laki-laki remaja berwajah secerah pagi yang mulai dibayangi oleh cahaya matahari duduk diatas punggung kuda yang berderap disebuah padang rumput yang tidak terlalu luas. Ditangannya, anak muda remaja itu menggenggam sebatang tombak yang sudah terayun siap dilontarkan.

Ketika kudanya berlari mendekati sebuah tiang bambu maka dengan sepenuh tenaga remaja itu melemparkan tombaknya.

Tombak itu meluncur dengan deras. Dengan tepat tombak itu menyambar sepotong batang pisang yang tertancam diujung tiang bambu setinggi tubuhnya dibalut dengan sabut kelapa dan melekat erat pada tiang bambu itu.

Ketika kemudian kuda itu berlari menjauh, terdengar tepuk tangan seseorang sambil berseru, “Bagus Risang. Kau benar-benar telah berhasil. Kau memiliki kemampuan bidik yang sangat tinggi. Sambil mengendalikan kuda, kau berhasil mengenai sasaranmu dengan tombakmu.”

Kuda itu berlari melingkar sekali. Kemudian berhenti dihadapan seorang yang kelihatan sudah tua meskipun tubuhnya masih tetap tegap dan kuat.

Laki-laki remaja itu meloncat turun sambi! tersenyum. Katanya, “Aku mengenainya lagi kakek.”

“Ya” jawab orang tua itu, “Kau sudah mengenainya beberapa kali. Bukan sekedar kebetulan. Aku yakin sekarang, bahwa kau memang dibekali dengan kelebihan itu. Kau mempunyai kemampuan bidik yang sangat tajam. Bukan saja dengan tombak, tetapi dengan senjata yang lain. Kau sudah menunjukkan kemampuan bidikmu dengan mempergunakan anak panah, bahkan bandil dan melempar dengan batu sekalipun.”

“Kakek yang mengajari aku” jawab remaja itu.

Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Kemampuan ini kau dapatkan bukan sekedar karena latihan-latihan. Tetapi kau sudah membawa bekal kemampuan itu sejak kau dilahirkan. Karena itu bersukurlah atas kurnia itu. Latihan-latihan yang keras yang kau lakukan sekedar meningkatkannya. Seorang yang lain, yang berlatih sebagaimana kau lakukan, belum tentu memiliki ketajaman bidikan seperti kau.”

“Kakek selalu memuji” berkata remaja itu

“Kakek memang memuji. Tetapi bukannya tidak ada dasarnya” berkata orang tua itu sambil menepuk bahunya.

Remaja itu tertawa. Namun kemudian iapun berkata, “Aku akan mengulanginya lagi.

“Sudah waktunya kau beristirahat. Marilah, kita kembali ke pondok.” berkata orang tua itu.

Laki-laki remaja itu menengadahkan wajahnya ke langit. Dilihatnya matahari sudah mulai memanjat naik.  Sinarnya terasa hangat ditubuhnya yang berkeringat.

“Marilah” berkata orang tua itu, “setelah beristirahat kau dapat melakukan tugasmu yang lain.”

Remaja itu mengangguk. Ketika kemudian ia berpaling, maka dilihatnya tombaknya masih menancap pada sasarannya. Karena itu katanya, “Aku akan mengambil tombakku.”

“Marilah, kita langsung kembali” berkata orang tua yang melangkah kearah kudanya yang terikat pada sebatang pohon perdu.

Keduanya pun kemudian berkuda meninggalkan tempat itu. Remaja itu sempat menyambar tombaknya dan kemudian membawanya meninggalkan sasaran yang sudah beberapa kali dikenainya.

Ketika keduanya sudah keluar dari padang rumput, maka kuda mereka pun mulai berlari. Tetapi tidak begitu cepat. Kaki-kaki kuda itu berderap diatas tanah berbatu padas. Namun yang agaknya tidak terlalu sering dilalui orang. Tetapi dengan demikian justru kebetulan bagi Risang dan Kiai Badra yang menemukan tempat itu untuk berlatih.

Sambil membenahi pakaian mereka, maka kedua ekor kuda itu telah memasuki jalan yang lebih besar.

Di jalur jalan itu mereka mulai bertemu dengan beberapa orang yang berjalan sambil membawa beberapa macam barang. Agaknya mereka akan pergi ke pasar untuk menjualnya. Seorang perempuan membawa barang barang anyaman dari bambu. Sementara itu, seorang ibu dan  gadis  remajanya membawa  hasil  sawahnya.

Dihadapan kedua orang penunggang kuda itu memang terdapat sebuah padukuhan yang agak besar. Di padukuhan itu terdapat sebuah pasar yang cukup ramai, karena pasar itu bukan saja menampung penjual dan pembeli dari padukuhan itu. Tetapi dari seluruh Kademangan menganggap pasar itu sebagai pusat hubungan jual beli, karena di padukuhan padukuhan lain tidak terdapat pasar seramai itu. Yang ada tidak lebih dari warung warung kecil yang hanya dipergunakan sepekan sekali bergantian. Pada hari pertama dipadukuhan yang ujung, kemudian dihari kedua di padukuhan sebelah dalam. Di hari berikutnya di padukuhan lain dan juga di hari keempat dan kelima.

Ketika kedua penunggang kuda itu mendekati padukuhan yang agak besar itu, perhatian Risang banyak tertuju pada bulak yang sedang dilewatinya.

Sebelum mereka meninggalkan bulak yang agak panjang itu, Risang sempat berkata, ”Sebetulnya penggunaan tanah ini dapat ditingkatkan kakek.”

“Ya” jawab Kiai Badra, “orang-orang Kademangan ini masih belum menyadari, betapa pentingnya untuk bekerja lebih keras. Sebenarnya kemungkinan yang jauh lebih baik dapat dilakukan disini. Tetapi diperlukan orang yang dapat membuka hati orang orang di Kademangan ini.”

Risang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian menarik kendali kudanya, Ia tidak akan memasuki padukuhan didepan dengan membawa tombak di tangan, karena akan menarik perhatian orang banyak. Apalagi jika mereka masuk kedalam pasar. Agak berbeda dengan senjata yang lebih pendek. Tidak seorang pun akan menyapa mereka yang membawa parang atau pedang pendek yang diselipkan di ikat pinggang, karena hal itu telah menjadi kebiasaan.

Kiai Badra pun telah ikut berbelok pula. Jalan itulah memang yang sering mereka lalui.

Kuda-kuda itu pun kemudian berlari semakin cepat ketika sinar matahari menjadi semakin gatal. Mereka melalui beberapa bulak lagi dan akhirnya menuju ke sebuah padepokan kecil.

Sebenarnyalah bahwa Risang oleh Kiai Badra telah dibawa ke sebuah padepokan yang sepi dan agak terpencil. Padepokan itu bukan padepokan Kiai Badra sebelumnya dan bukan pula padepokan Kiai Soka. Namun ternyata bahwa Risang sudah ditempatkan di sebuah padepokan baru yang belum dikenal.

Hal itu dilakukan bukan sekedar karena kecurigaan orang-orang Sembojan terhadap Nyai Wiradana yang muda, yang ternyata tidak terbunuh dalam perang tanding, serta Ki Rangga Gupita, bahwa mereka akan berusaha untuk melenyapkan Risang. Tetapi juga terdorong oleh keinginan orang-orang tua, termasuk ibunya sendiri untuk memberikan bekal yang cukup bagi anak itu. Karena itu, maka setelah Risang menjelang remaja, maka Risang telah dibawa oleh Kiai Badra untuk menyepi. Justru pada saat-saat Tanah Perdikan Sembojan berkembang terus menuju ke tingkat yang lebih tinggi dan mapan. Terutama mengenai kesejahteraan rakyatnya.

Kiai Badra dan Kiai Soka ternyata sependapat, bahwa Risang perlu ditempa untuk menjadi seorang anak muda yang baik lahir dan batinnya. Yang kuat dan teguh wadagnya namun juga hatinya. Ia harus mencerminkan seorang anak muda yang sadar akan dirinya dan semua kewajibannya. Terutama kewajibannya terhadap Penciptanya. Dengan landasankesadarannya akan kewajibannya terhadap Yang Maha Agung, maka segala tingkah lakunya akan terkendali.

Karena itulah, maka harus diciptakan satu suasana yang sungguh-sungguh bagi Risang, agar ia dapat sepenuhnya memusatkan nalar budinya untuk menerima tuntunan yang akan sangat berarti bagi bekal hidupnya kelak.

Untuk memberikan ketenangan kepadanya agar ia dapat bekerja keras namun dengan tenang, maka Risang telah dibawa oleh Kiai Badra ke tempat yang terpencil dan tidak banyak dikenal oleh orang lain. Semula Risang memang keberatan untuk berada di tempat yang sepi itu. Namun kakeknya berkata bahwa hal itu diperlukan baginya.

“Kau harus membentuk dirimu” berkata Kiai Badra.

“Bukankah hal itu dapat dilakukan dimana-mana?” bertanya Risang.

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Benar anak manis. Tetapi bukankah tempat yang kita pergunakan itu juga mempengaruhi keadaan kita? Jika kita berada di tempat yang ramai, maka kita akan mudah terganggu. Mungkin kesibukan dan keramaian di sekitar kita akan merampas sebagian waktu yang sebenarnya dapat kita pergunakan untuk mendalami sesuatu yang jauh lebih berarti.”

Risang memang merasa enggan meninggalkan ibunya di Tanah Perdikan. Risang sadar bahwa ayahnya sudah tidak ada. Ia adalah satu-satunya anak. Jika ia pergi,  maka hati ibunya akan menjadi sangat sepi.

Namun ibunya sendiri berkata kepadanya, “Pergilah anakku. Ibu memang akan kesepian. Tetapi ibu mempunyai kesibukan tersendiri disini. Aku akan bekerja keras untuk menjadikan Tanah Perdikan ini tanah yang pantas buat kau kelak. Bukan berarti bahwa ibu akan menutup segala kemungkinan bagimu untuk berbuat lebih baik atas tanah ini. Apa yang dapat ibu lakukan hanyalah sekedar permulaan. Tetapi kelak dengan modal yang ada, kau harus membuat tanah ini jauh lebih baik. Tanah ini harus memiliki kembali kebesaran kakekmu, Ki Gede Sembojan. Karena kebesaran tanah ini menjadi surut pada saat ayahmu memerintah atas nama kakekmu yang terbunuh. Kau tidak usah merasa berkecil hati terhadap ayahmu. Setiap orang memang mempunyai kekurangan. Ayahmu kurang tekun mempelajari ilmu, baik kanuragan maupun pengetahuan tentang pemerintahan. Jadikan itu perbandingan dengan masa-masa yang akan kau jalani. Sembojan harus menjadi semakin besar. Bukan semakin surut.”

Risang yang remaja itu mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya. Karena itu, maka ia pun kemudian tidak menolak mengikuti cicitnya ketempat yang dianggapnya terpencil dan sepi.

Namun di tempat itu Risang telah menempa diri untuk menjadi seorang yang siap mengarungi gejolak kehidupan. Apalagi jika ia harus menerima kedudukan kakeknya, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang masih dipangku oleh ibunya itu.

Dalam pada itu, Risang dan Kiai Badra telah memasuki jalan sempit melintasi padang perdu. Namun kemudian memasuki daerah subur yang seakan-akan terpisah dari lingkungan yang lain.

Ditengah-tengah bulak dibalik padang perdu itu terdapat sebuah padepokan kecil yang dihuni oleh hanya beberapa orang. Termasuk Kiai Badra dan Risang. Namun di tempat itu tinggal pula Gandar serta dua orang saudara seperguruan yang ternyata tidak lagi ingin meninggalkan Risang. Sambi Wulung dan Jati Wulung. Keduanya telah sepakat untuk tetap berada bersama anak Sembojan itu, dan tidak kembali ke lingkungan sebelumnya.

Meskipun letak lingkungan itu terpisah oleh padang perdu dari Kademangan terdekat, namun isi dari lingkungan itu mempunyai hubungan yang sangat baik dengan orang-orang Kademangan itu. Bahkan isi dari lingkungan kecil itu telah dianggap sebagai keluarga dari Kademangan terdekat.

Namun bagi orang luar, mereka memiliki pengenalan yang berbeda dari yang sebenarnya. Tidak seorang pun dari isi Kademangan itu yang tahu bahwa penghuni lingkungan kecil yang terpisah itu adalah orang-orang Sembojan.

Orang-orang Kademangan Bibis yang bersebelahan dengan Kademangan Ngadiraja di tepi sungai Lorog itu, mengenal para penghuni lingkungan yang agak terpisah itu sebagai orang-orang dari sebuah perguruan yang memisahkan diri dari induknya, untuk kemudian membangun sebuah padepokan sendiri.

Sebenarnyalah bahwa isi dari lingkungan kecil itu memang memberikan kesan yang demikian kepada orang-orang bahkan juga kepada Ki Demang Bibis. Kepada para penghuni Kademangan yang masih belum berkembang itu, Kiai Badra menyebut dirinya dan para penghuni dari lingkungan kecil yang terpisah itu sebagai orang-orang yang tidak puas dengan arahan yang diberikan oleh pimpinan padepokannya.

Ketika untuk pertama kalinya Ki Demang datang mengunjungi lingkungan kecilnya itu Kiai Badra berkata, “Sebenarnyalah bahwa kami yang harus datang menghadap Ki Demang untuk mohon ijin membuka sebuah padepokan kecil di tepi Kali Lorog ini.”

“Ki Sanak” berkata Ki Demang Bibis, “kami tidak berkeberatan Ki Sanak membuka hutan kecil ini dan membuat sebuah padepokan. Tetapi Ki Sanak tidak dapat sama sekali melepaskan diri dari kehidupan Kademangan Bibis, karena hutan ini terletak dekat  sekali dengan kehidupan yang sudah lebih tua. Yaitu Kademangan Bibis itu. Bahkan sebagian orang-orang Bibis menganggap bahwa hutan ini termasuk daerah wewengkon Bibis.”

“Kami mohon maaf Ki Demang” berkata Kiai Badra yang menyebut dirinya dengan nama lain, “kami tidak mengetahuinya, sehingga kami telah membuka hutan ini dan membuat satu lingkungan kehidupan yang baru.”

“Sebenarnya yang Ki Sanak lakukan itu menguntungkan bagi Kademangan Bibis. Kami memang sudah merencanakan untuk memperluas Kademangan ini. Sementara itu, hutan kecil ini memang merupakan tanah cadangan yang sangat baik dan subur.” berkata Ki Demang.

“Ki Demang” berkata Kiai Badra, “kami akan melakukan semua pesan Ki Demang. Kami akan senang sekali jika kami kemudian dapat menjadi keluarga Kademangan Bibis.”

“Tetapi Ki Sanak ini berasal dari mana?” bertanya Ki Demang.

Kiai Badra pun mulai membuat sebuah ceritera tentang asal usul dari isi padepokan itu. Dikatakannya bahwa mereka telah memisahkan diri dari perguruan induknya, ketika mereka menyadari bahwa perguruan induknya mulai bergeser dari kemurniannya.

“Aku sudah tua Ki Demang.” berkata Kiai Badra, “Jika aku berbuat tidak baik menurut penilaian sesama, apalagi menurut penilaian Yang Maha Agung, maka aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya. Seharusnya orang-orang tua seumurku merasa semakin dekat dengan sumber hidupnya itu. bukan malahan menjauhi jalan yang digariskannya. Karena itu Ki Demang, aku telah memisahkan diri, membuat sebuah lingkungan kehidupan kecil ini untuk mendapatkan ketenteraman. Disamping itu aku masih tetap mengembangkan ilmu yang aku dapat dari perguruanku yang lama, meskipun dengan tujuan yang kemudian agak berbeda.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra memang merasa bahwa ia telah berbohong kepada Ki Demang yang baik itu. Tetapi Kiai Badra berkata didalam hatinya, “Maksudku baik. Aku dan orang-orang di lingkungan ini tidak akan berbuat buruk, apalagi berbuat jahat. Jika kelak kami dapat membuktikannya, maka Ki Demang akan berterima kasih kepada kami.”

Sebenarnyalah bahwa hubungan antara Ki Demang Bibis dan kehidupan di lingkungan kecil itu berlangsung baik. Bahkan Ki Demang merasa heran melihat orang-orang yang bekerja keras untuk membangun lingkungannya yang baru. Mereka membuka hutan kecil namun lebat itu dengan tanpa mengenal lelah. Sementara itu, mereka telah mengusahakan pula ujung dari padang perdu itu untuk dijadikan tanah garapan. Tetapi agaknya tanah di bekas hutan kecil itu lebih subur dari tanah bekas hutan perdu disebelahnya.

Meskipun tidak terlalu luas, tetapi akhirnya Kiai Badra dan beberapa orang yang bersamanya berhasil mendapatkan tanah garapan yang untuk sementara dapat dipergunakannya, namun yang masih selalu dikembangkannya. Bahkan kemudian atas ijin Ki Demang, beberapa orang anak muda telah melibatkan diri  pula. Mereka yang semula terdesak oleh kehidupan karena tanah garapannya kurang baik dan tidak mendapat air, telah menyatakan diri, untuk ikut serta membuka hutan itu.

“Tetapi kita akan menentukan satu lingkungan keluarga yang khusus” berkata Kiai Badra kepada anak-anak muda itu kami akan merupakan satu keluarga dengan gaya hidup sebuah padepokan.

“Kami akan ikut didalamnya” jawab seorang anak muda, “aku sendiri tidak akan mempunyai harapan lagi dimasa depan, karena tanah ayahku tidak terlalu luas, sementara itu, saudaraku semua berjumlah sepuluh orang.

Kiai Badra memang tidak menolak. Anak-anak muda itu diterimanya kedalam keluarga padepokan yang dibangunnya. Sehingga dengan demikian, maka Kiai Badra telah mendapat kawan yang kemudian telah menyatakan diri menjadi cantrik pada padepokan kecil itu.

Sejak semula Kiai Badra telah mengajari para cantrik itu untuk bekerja keras. Anak-anak muda itu tidak lagi sempat malas-malasan sebagaimana sering mereka lakukan dirumah mereka. Bukan karena mereka memang pada dasarnya malas, tetapi karena tidak ada yang dapat mereka kerjakan, sementara pikiran mereka kurang hidup untuk menciptakan kerja yang berarti.

Tetapi di padepokan itu, kerja bagaikan tidak ada habisnya. Sejak mereka bangun pagi-pagi benar, sampai saatnya matahari akan terbenam. Namun karena mereka mengerjakan dengan kesadaran akan arti kerja mereka itu sendiri, maka mereka melakukannya dengan senang hati.

Akhirnya anak-anak muda itu melihat juga hasil kerja mereka. Sawah yang subur, air yang mengalir dengan teratur dan padepokan yang hijau dan sejuk. Sebuah kolam yang menyimpan ikan ikan yang besar dari berbagai jenis. Ternak yang berkeliaran dan beberapa ekor lembu dan kuda dikandang.

Dengan bangga anak-anak muda itu berceritera kepada keluarga mereka di Kademangan Bibis pada saat-saat mereka berkunjung. Anak muda yang mempunyai sepuluh orang saudara berkata kepada ayah dan ibunya Agar warisan ayah dan ibu tidak terbagi menjadi bagian-bagian yang sempit dan tidak berarti, maka siapakah diantara saudara-saudaraku yang ingin bersamaku hidup di padepokan itu? Di padepokan itu kita dapat bekerja dan menuntut ilmu. Pada saatnya kelak kita akan mendapat bekal yang pantas untuk menempuh satu kehidupan yang lebih baik dari berjejal-jejal di lingkungan yang sempit ini. Pemimpin padepokan kami mempunyai rencana yang sangat baik, yang telah disetujui oleh Ki Demang Bibis. Kami akan memperluas tanah persawahan dengan mengurangi luas hutan. Kelak, jika kami berkeluarga, maka kami akan mendapatkan bagian kami. Tanah garapan bagi keluarga kami.”

Hal itu memang sangat menarik. Adiknya dengan serta merta telah menyatakan diri untuk ikut bersama kakaknya itu. Mereka mempunyai harapan yang lebih baik bagi masa depan mereka. Karena tanah garapan ayah mereka tidak akan banyak memberikan bekal hidup bagi mereka.

Tetapi hanya mereka yang mau bekerja keras sajalah yang kerasan tinggal di padepokan itu. Mereka yang memang pada dasarnya malas bekerja, akan merasa tersiksa dan tidak akan tahan tinggal di padepokan kecil itu.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, Risang dan Kiai Badra telah sampai ke pintu gerbang padepokan kecilnya. Sementara itu para cantrik telah bekerja dengan penuh kesungguhan di padepokan. Sedangkan yang lain telah pergi ke sawah dan pategalan.

Risang dan Kiai Badra itu pun langsung pergi ke kandang. Setelah memasukkan kuda mereka, maka keduanya pun bergantian pergi ke pakiwan dan berbenah diri.

“Apa yang telah kau capai dengan latihan-latihanmu?” bertanya Gandar kepada Risang.

Risang tersenyum. Katanya, “bertanyalah kepada kakek.”

Gandar pun tersenyum. Sambil berpaling kepada Kiai Badra ia bertanya, “Apakah sudah ada kemajuan?”

“Sudah Sindura” jawab Kiai Badna.

Gandar tersenyum. Setiap kali ia mendengar nama barunya disebut, ia masih merasa asing. Tetapi seperti yang lain, maka ia telah mengenakan nama itu, untuk tidak segera dikenali bahwa ia adalah Gandar orang dari Sembojan.

Kiai Badra dan Risang pun merasa asing juga seperti Gandar jika mereka disebut nama baru mereka. Demikian pula Sambil Wulung dan Jati Wulung. Dengan nama-nama baru mereka, maka mereka merasa lebih tenang bekerja di padepokan itu.

“Nama itu terlalu baik” desis Gandar. “Apakah ada nama yang lebih sederhana?”

“Kenapa baru sekarang?” sahut Kiai Badra orang-orang Bibis sudah terlanjur menyebutmu sebagai Sindura. Menurut pendapatku nama itu sesuai dengan ukuran tubuhmu yang besar, karena menurut gambaranku, nama Sindura adalah nama seorang yang bertubuh kekar seperti kau.”

“Mungkin tubuhku yang seperti kerbau ini pantas dinamakan Sindura, tetapi bagaimana dengan wajahku yang jelek ini?” bertanya Gandar.

“Kau selalu merasa jelek. Siapa bilang kau jelek?” bertanya Risang.

“Jangan berkata begitu” desis Gandar.

“Sudahlah” berkata Kiai Badra, “sesuai atau tidak sesuai, pergunakan nama itu. Yang penting karena nama itu sudah terlanjur kau pergunakan. Itu saja, sebagaimana orang-orang Bibis memanggil Risang dengan nama Barata. Bukankah nama-nama itu hanya kalian pergunakan untuk sementara?”

“Dan sebagaimana kakek dipanggil Kiai Tapis” sahut Risang. Namun tiba-tiba ia bertanya kepada Gandar, “He, kau tahu artinya tapis? Tapis itu berarti habis sama sekali.”

Gandar mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil memandang Kiai Badra yang juga tersenyum.

“Kek” tiba-tiba Risang bertanya, “Apa sebenarnya yang habis itu?”

“Tapis dapat berarti habis, tetapi dapat juga berarti seluruhnya. Tidak ada yang tersisa. Nah, yang seluruhnya dan tidak ada yang tersisa adalah ilmuku. Ilmuku akan kuberikan kepadamu sampai tapis.” jawab Kiai Badra.

Tetapi Risang tertawa. Katanya, “Tentu baru sekarang Kakek memikirkannya. Ketika kakek memilih nama itu, tentu tidak terpikir akan artinya.”

Kiai Badra yang disebut Kiai Tapis itu tertawa. Gandar pun tertawa juga. Demikian juga Risang.

“Sudahlah” berkata Kiai Badra kemudian

“Sekarang beristirahatlah. Kemudian kau akan melakukan tugasmu yang lain.”

“Baik kek” jawab Risang.

Sejenak kemudian Risang pun pergi ke dapur. Seorang yang bertugas di dapur ternyata sedang menyenduk nasi hangat kedalam ceting bambu.

“Ha, nasi hangat” berkata Risang yang disebut Barata oleh para cantrik dan orang-orang Bibis.

“Apakah kau sudah lapar Barata?” bertanya cantrik yang sedang menyenduk nasi itu.

“Sudah. Aku baru pulang dari padang rumput” jawab Barata.

“Kau berlatih naik kuda?” bertanya cantrik itu.

“Bukan hanya naik kuda, tetapi naik kuda sambil melontarkan tombak” jawab Barata, “memang menyenangkan sekali. Tetapi juga melelahkan.”

“Dan membuatmu cepat lapar” sahut cantrik itu.

Barata tertawa. Katanya, “Ya. Agaknya kau tanggap sekali. Dan tepat pada waktunya nasi pun masak.”

Cantrik itu tertawa. Lalu katanya, “Nah, jika demikian makanlah. Didalam kuali itu terdapat sayur dan lembayung. Tidak terlalu pedas sebagaimana kau sukai.”

“Terima kasih.” jawab Barata, “tentu enak sekali, justru perutku sedang lapar sekali.”

Barata pun kemudian telah mengambil nasi dan sayur lembayung. Di dalam tenong yang terletak di paga terdapat telur kamal. Barata pun telah mengambil sebuah dan mengupasnya.

“Apakah yang lain belum makan?” bertanya Barata.

“Belum. Hari ini kau adalah orang yang pertama” jawab cantrik itu.

“O, tetapi bukankah tidak setiap hari?” bertanya Barata,

Cantrik itu tersenyum. Kemudian ia pun telah  meletakkan nasi di paga itu pula.

Barata tidak terlalu lama berada di dapur. Ia pun kemudian melangkah ke pintu sambil berkata kepada cantrik yang bertugas di dapur itu, “Terima kasih. Aku akan pergi ke sawah.”

“Kau makan terlalu sedikit” berkata cantrik itu.

“Ah, jangan begitu. Itu pun sebenarnya aku belum cukup kenyang. Bukankah biasanya aku makan tiga mangkuk penuh?” jawab Barata.

Cantrik itu tertawa berkepanjangan. Sementara Barata telah keluar dari dapur.

Adalah menjadi kebiasaan Risang yang disebut Barata itu untuk pergi ke sawah bersama Gandar. Bersama beberapa orang cantrik yang terdiri dari anak-anak muda Bibis yang bergabung dengan padepokan itu, Barata mengerjakan sawahnya dengan tekun. Barata dan Gandar yang kemudian bernama Sindura itu tidak sekedar mengerjakan sawah sebagaimana harus dikerjakan. Tetapi mereka berpikir bagaimana mereka mengembangkan sawahnya. Peningkatan hasil sawah tidak semata-mata karena perluasan tanah persawahan itu saja. Tetapi juga karena usaha untuk memperbaiki mutu tanamannya. Dengan mengaliri air secukupnya maka tanaman pun menjadi subur. Rabuk merupakan cara yang baik untuk meningkatkan hasil panen.

Karena itu, maka atas ijin Ki Demang Bibis dan Ki Demang dari Ngadiraja, maka Barata telah membuat bendungan di Kali Lorog. Dengan bendungan itu, air dapat naik dan mengalir di parit-parit yang menusuk tanah persawahan sampai ke ujung-ujungnya. Dengan demikian maka hampir seluruh tanah persawahan yang digarap oleh penghuni padepokan kecil di Kademangan Bibis itu telah dapat dicapai oleh air Kali Lorog.

Dengan demikian, maka padepokan kecil itu benar-benar telah dikelilingi sawah yang hijau subur di sepanjang tahun. Sedangkan di bagian lain terdapat pategalan yang memberikan berbagai jenis buah-buahan.

Orang-orang Bibis yang menyaksikan tanaman orang-orang padepokan di sawah garapan mereka rasa-rasanya menjadi ingin juga memiliki. Karena itu, beberapa orang tua yang anak-anaknya telah berada di padepokan itu selalu bertanya kepada anak-anaknya itu jika mereka menengok keluarganya di rumah. Bagaimanakah caranya membuat sawah menjadi demikian suburnya. Padahal tanah yang digarap adalah sama-sama tanah di Kademangan Bibis.

Bahkan Ki Demang Bibis pun setiap kali melihat-lihat padepokan itu selalu disentuh oleh satu keinginan, bahwa sawah di Kademangan Bibis yang lain pun sebaiknya dapat digarap seperti sawah orang-orang padepokan itu.

“Kami akan membantu Ki Demang” berkata Sindura kepada Ki Demang, “anak-anak Bibis sendiri yang ada disini sudah memiliki pengetahuan yang cukup untuk dapat dikembangkan diluar lingkungan padepokan.”

“Baiklah” berkata Ki Demang, “jika pada satu saat kalian sudah merasa cukup dan tidak lagi terlalu banyak pekerjaan yang harus kalian lakukan, kami, orang-orang Kademangan Bibis akan minta tolong kepada kalian, untuk membantu mengembangkan tanah persawahan dan pategalan di Bibis.”

“Tentu Ki Demang” jawab Sindura, “jika Ki Demang memerlukan, sejak hari ini pun kami dapat membantu Ki Demang, meskipun sangat terbatas. Tetapi kita dapat memulainya.”

“Kami tentu akan sangat bersenang hati” jawab Ki Demang.

Sindura telah melaporkan hal itu kepada Kiai Tapis. Ternyata Kiai Tapis pun sependapat. Agar hubungan padepokan itu dengan Bibis semakin erat, serta untuk melatih Barata berbuat sesuatu bagi satu lingkungan, maka ia pun memanggilnya dan berkata, “Barata. Ki Demang Bibis memerlukan bantuan kita. Bukankah kita melihat, bahwa daerah persawahan orang-orang Bibis sebenarnya masih mampu ditingkatkan? Nah, usahakan untuk meningkatkan tanah persawahan dan pategalan mereka.”

Barata yang remaja itu termangu-mangu. Namun Kiai Tapis berkata selanjutnya, “Tentu bukan kau sendiri. Tetapi Sindura akan menemanimu. Pamanmu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun sekali-sekali akan dapat membantumu. Tetapi keduanya aku perlukan untuk mengawasi kerja para cantrik yang masih belum siap benar untuk dilepaskan.”

“Dan aku akan terpisah dari kerja di padepokan ini?” bertanya Barata.

“Tentu tidak” jawab Kiai Tapis, “kau tidak memerlukan banyak waktu bagi Bibis. Ki Demang tidak terlalu tergesa-gesa. Setapak demi setapak sudah memadai asal perubahan-perubahan itu dapat kau mulai di Kademangan Bibis. Ki Demang tidak menuntut perubahan dengan serta merta. Karena itu, kau dan Sindura tidak perlu mempergunakan waktumu seluruhnya bagi Bibis.”

Barata mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Tapis berkata selanjutnya, “Yang penting Barata, kau harus banyak bergaul. Kau tidak boleh terpisah dari pergaulan luas. Jika kau hanya berada di padepokan terpencil ini saja, maka kau akan mempunyai sikap dan pandangan hidup yang sempit. Namun ingat, sebagaimana aku harus berpesan kepada Gandar, jangan memberikan kesan sesuatu tentang Sembojan. Untuk sementara kau harus tetap terpisah dari Tanah Perdikan itu. Kita berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan, meskipun rasa-rasanya kita memang sudah terpisah dari Tanah Perdikan itu.”

“Baik kek.” jawab Barata, “aku akan melakukannya. Mudah-mudahan aku berhasil dan memberikan kesan yang baik kepada Ki Demang.”

“Sindura akan selalu memberimu petunjuk-petunjuk yang kau perlukan.” berkata Kiai Tapis.

Demikianlah, maka hubungan antara Bibis dan padepokan itu pun menjadi semakin dekat. Barata dan Sindura menjadi sering datang ke Bibis untuk memberi beberapa petunjuk untuk meningkatkan kesejahteraan orang-orang Bibis.

Beberapa orang bebahu di Kademangan bibis dengan sungguh-sungguh berusaha untuk melakukan petunjuk-petunjuk Sindura dan Barata, yang mereka nilai telah berhasil. Mereka pun menggerakkan orang-orang Bibis untuk lebih banyak memperhatikan saluran-saluran air. Parit-parit yang kering harus dibersihkan, sehingga air yang naik dari Kali Lorog akan dapat mencapai lingkungan yang semakin luas.

“Jangan malas mempergunakan rabuk” berkata seorang bebahu, “kita mempunyai ternak di kandang. Jangan disia-siakan kotorannya.”

Ternyata bahwa atas kerja keras Ki Demang dan para bebahu, maka orang-orang Bibis pun seakan-akan mulai bangun. Mereka mulai melakukan kerja yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Meskipun kerja itu terasa berat, tetapi mereka telah melihat keberhasilan orang-orang padepokan yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

Anak-anak muda yang berasal dari Bibis pun mendapat kesempatan pula untuk membantu melakukan kerja yang kadang-kadang harus ditangani oleh orang banyak. Semula tidak terpikir oleh orang-orang Bibis untuk memperbaiki bendungan yang sudah banyak yang rusak, sehingga tidak cukup banyak air yang dapat naik. Baru ketika mereka melihat bendungan yang dibuat oleh orang-orang padepokan kecil itu, mereka menyadari betapa pentingnya air. Tetapi mereka pun tidak segera melakukan sesuatu. Sehingga akhirnya Sindura berhasil menggelitik Ki Demang untuk mengerahkan orang-orang Bibis, memperbaiki bendungan.

“Jika dilakukan oleh orang banyak, maka kerja itu tidak akan terasa berat” berkata Sindura, “ketika kami membuat bendungan, maka kami memang merasa betapa kerja itu merupakan kerja yang berat. Untuk waktu yang cukup lama sebelumnya, kami menyiapkan brunjung-brunjung bambu. Kemudian kami isi dengan batu dan kami letakkan menyilang aliran Kali Lorog. Diantara batu-batu itu harus kami isi dengan bebatuan yang lebih kecil, sangkrah dan tanah.”

“Kami juga melakukannya seperti itu” jawab salah seorang bebahu.

“Dahulu” desis Sindura, “tetapi berapa tahun berselang. Kini bendungan itu sudah tidak banyak dapat menahan air dan apa lagi menaikkannya ke parit-parit. Karena itu, bendungan itu harus segera diperbaiki.”

Namun ternyata bahwa usaha memperbaiki bendungan itu mendapat tanggapan yang baik sekali dari orang-orang Bibis, sehingga dengan demikian maka kerja itu benar-benar menjadi terasa ringan. Beberapa orang dengan suka rela telah membuat brunjung-brunjung di rumah masing-masing, yang kemudian telah mereka bawa ke tepian.

Beramai-ramai orang-orang Bibis mengisi brunjung itu dengan batu.

Bersamaan dengan kerja memperbaiki bendungan, maka orang-orang Bibis yang lain telah memperbaiki parit-parit yang sudah banyak yang rusak pula. Parit-parit yang sudah lama tidak dialiri air dan seakan-akan tidak berguna lagi. Jika kelak bendungan itu selesai, maka parit-parit itu tentu akan mengalir lagi.

Dengan demikian maka orang-orang Bibis pun telah bekerja keras sebagaimana diharapkan oleh Barata dan Sindura. Meskipun kerja mereka tidak seberat kerja orang-orang padepokan, namun rasa-rasanya Kademangan Bibis itu menjadi hidup.

Ketika bendungan kemudian telah selesai diperbaiki dan airpun sudah naik, serta parit-parit pun telah bersih dan siap untuk mengalirkan air dari bendungan, maka Bibis telah mengadakan upacara kecil di bendungan. Parit yang sudah baik itu telah di tutup untuk sementara. Pada upacara yang diadakan itu, maka tanggul yang menyumbat parit yang menampung air yang naik di Kali Lorog itu akan dibuka, sehingga air seakan-akan mulai masuk mengalir kedalam parit itu.

Demikian gembiranya orang-orang Bibis, maka pada upacara kecil itu telah dipasang janur kuning di bendungan dan terutama diatas parit. Ki Demang akan mengayunkan cangkul pertama kali untuk membuka tanggul yang menyumbat parit itu.

Yang hadir dari padepokan bukan saja beberapa anak muda Bibis sendiri. Tetapi juga Barata dan Sindura. Bahkan Kiai Tapis pun telah diminta untuk menyaksikan kegembiraan orang-orang Bibis.

“Jika upacara nanti selesai, kita akan makan bersama” berkata Ki Demang kepada tamu-tamunya. Ki Demang telah menyediakan tiga jodang makanan serta nasi wuduk dan ingkung ayam. Sementara itu beberapa orang yang lain, ternyata telah membawa ancak berisi nasi dan lauk-pauknya pula untuk dimakan bersama-sama di bendungan yang baru itu.

Namun persoalan yang pertama mulai timbul bagi orang-orang padepokan. Justru pada saat mereka berusaha untuk membantu meningkatkan kesejahteraan hidup orang-orang Bibis.

Ternyata bahwa tidak semua orang Bibis merasa senang dengan hadirnya bendungan baru itu. Yang penting sebenarnya bagi mereka bukan bendungan itu sendiri. Tetapi bahwa orang-orang Bibis seakan-akan telah memalingkan wajah mereka kepada orang-orang yang berasa di padepokan kecil itu.

Ketika beberapa orang anak muda memasuki padepokan itu, sebenarnya beberapa orang sudah merasa tidak senang. Apalagi ketika orang-orang padepokan itu mulai menanamkan pengaruhnya di Kademangan Bibis.

Lowar seorang anak muda yang termasuk diantara mereka yang tidak senang dengan hadirnya pengaruh baru itu telah menemui seorang laki-laki yang dianggap gegedug di sebuah padukuhan di lingkungan Kademangan Bibis. Laki-laki yang bertubuh tinggi besar berjambang dan berkumis lebat itu pun termasuk orang yang menentang kehadiran orang-orang padepokan di Kademangan itu.

“Ki Demang telah memanggil penyakit di Kademangan ini” berkata Lowar. Lalu, “Paman, sebaiknya kita berbuat sesuatu agar orang-orang padepokan itu tidak merasa diri mereka orang-orang yang dapat berbuat apa saja di Kademangan orang.”

Laki-laki yang garang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kita akan membuat bukan saja mereka menjadi jera. Tetapi juga Ki Demang. Kita harus menunjukkan satu sikap yang meyakinkan, bahwa orang-orang itu tidak kita perlukan disini.”

“Apa yang akan paman lakukan?” bertanya Lowar.

“Kita pergi ke bendungan. Kita tunjukkan bahwa  kita tidak senang atas hadirnya orang-orang padepokan itu.” jawab laki-laki berjambang itu.

“Apa yang akan kita lakukan? Berdua saja?” bertanya Lowar.

“Jangan bodoh. Panggil pamanmu Gina dan Sebleng. Katakan kepada mereka, bahwa mereka dipanggil paman Truna. Ajak anak laki-laki mereka masing-masing.” berkata laki-laki yang bernama Truna itu.

Lowar mengangguk-angguk. Dengan tergesa-gesa ia pun kemudian menghubungi Gina dan Sebleng. Dua laki-laki yang dianggap gegedug pula seperti Truna. Ternyata niat Truna itu sejalan dengan pikiran Gina dan Sebleng. Dengan serta merta mereka menerima tawaran itu. Mereka kemudian telah pergi ke rumah Truna membawa anak laki-laki masing-masing.

Mereka ternyata tidak mempunyai banyak waktu. Ketika mereka berkumpul di rumah Truna, maka Truna pun telah, memberikan beberapa pesan kepada mereka.

“Kita akan menunjukkan sikap bahwa kita tidak senang terhadap orang-orang padepokan itu. Apakah mereka mengira, tanpa mereka kita tidak dapat membuat bendungan seperti itu?” geram Truna.

“Aku sependapat” jawab Gina. Tetapi ia pun bertanya, “Tetapi kakang Truna, bukankah nyatanya selama ini kita tidak memperbaiki bendungan itu.”

“Diam anak setan” bentak Truna, “jadi kau sudah bersikap lain?”

“Tidak. Aku tidak akan berubah sikap. Tetapi sekedar pertanyaan untuk menguji diri.” jawab Gina.

“Persetan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu” geram Sebleng pula, “marilah kita pergi. Aku ingin melihat wajah orang-orang padepokan. Aku memang sudah pernah bertemu dengan mereka di jalan-jalan. Tetapi aku masih belum mengenal mereka dengan baik, karena aku tidak pernah memperhatikan mereka.”

Gina tertawa. Katanya, “Kita selalu ketakutan untuk melihat hal yang sebenarnya. Tetapi aku tidak. Aku sudah dengan sengaja menentang kebenaran sekalipun jika itu aku kehendaki. Aku tidak peduli, apakah yang kita lakukan itu salah atau tidak. Karena itu meskipun aku melihat kebenaran, aku sama sekali tidak goyah. Tekad yang ada didalam dadaku adalah menentang sesuatu, meskipun itu kebenaran.”

“Kau memang anak demit. Kau kira aku takut” geram Truna tetapi kau tidak usah banyak mulut. Kita pergi ke sungai. Kita ikut makan. Tetapi kesan kita jelas. Jika orang-orang mencegah kita, maka kita akan mempergunakan kekerasan.”

“Nah, begitu” berkata Gina, “bendungan itu memang satu kenyataan. Orang-orang padepokan telah dibantu orang-orang Bibis untuk memperbaiki bendungan yang selama ini terlantar. Kerja itu memang berguna. Tetapi kita akan merusakkan suasana itu. Karena kita tidak senang melihat pengaruh orang-orang padepokan itu mulai mencengkam Kademangan Bibis. Nah, marilah hal itu kita lakukan dengan sadar, karena kita tidak mau disebut orang-orang yang tidak dapat melihat sesuatu yang berarti. Tetapi yang berarti itu tidak kita kehendaki.”

“Cukup” bentak Sebleng. “Kau ikut atau tidak.” Gina tertawa. Katanya, “Marilah. Kita pergi ke bendungan.”

Ketiga orang gegedug itu pun kemudian telah pergi ke bendungan diikuti oleh Lowar dan dua orang anak muda, anak Gina dan anak Sebleng. Anak-anak gegedug itu pun telah nampak bersikap sebagaimana ayah mereka. Diantara anak-anak muda, maka anak Gina dan Sebleng itu pun ditakuti oleh kawan-kawan mereka, karena keduanya memiliki kelebihan dari anak-anak muda yang lain.

Sementara itu, di bendungan Ki Demang sedang memberikan sesorah kepada orang-orang Bibis yang memerlukan pergi. untuk menyaksikan kegembiraan mereka yang telah berhasil memperbaiki bendungan itu. Meskipun air yang naik belum dapat mencapai tanah persawahan diseluruh Kademangan, tetapi beberapa pedukuhan telah dapat memanfaatkan air itu.

Beberapa orang yang berdiri di bagian belakang kerumunan orang-orang Bibis di bendungan itu mulai menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat tiga orang gegedug dari Kademangan Bibis itu datang kebendungan. Mereka mulai mencemaskan keramaian itu. Karena orang-orang Bibis sudah mengenal dengan baik, siapakah  mereka bertiga. Orang-orang yang berbuat sesuka hati mereka sendiri. Namun karena mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, maka seakan-akan apa saja yang mereka lakukan tidak terhalangi.

Ki Demang yang sedang sesorah itu pun melihat kehadiran mereka pula. Karena itu, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar pula. Jika orang-orang itu membuat keributan, maka keramaian itu akan bubar dengan kesan yang buruk.

Karena itu, demikian Ki Demang selesai dengan sesorahnya, yang mengharap rakyat Bibis dapat memanfaatkan bendungan itu sebaik-baiknya dan memelihara sebagaimana milik mereka sendiri, maka ia pun telah menggamit Ki Jagabaya.

“Orang-orang itu ada pula disini” desis Ki Demang.

“Siapa?” bertanya Ki Jagabaya.

“Gegedug itu” sahut Ki Demang.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kehadiran orang-orang itu memang memberikan pertanda kurang baik. Karena itu, maka Ki Jagabaya pun telah memanggil dua orang anak muda pembantunya. Katanya kepada anak-anak muda itu, “Awasi mereka.”

“Tetapi kami tidak berani berbuat apa-apa atas mereka” jawab anak-anak muda itu.

“Awasi saja” berkata Ki Jagabaya, “jika mereka berbuat sesuatu, laporkan kepada kami.”

“Lalu kita akan berbuat apa?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Awasi saja mereka. Mudah-mudahan mereka hanya ingin nonton.”

Kedua anak muda itu tidak menjawab. Keduanya pun kemudian bergeser meninggalkan Ki Jagabaya yang duduk diatas tanggul disebelah bendungan bersama beberapa orang bebahu dan orang-orang dari padepokan. Sebentar lagi mereka yang berada dibendungan itu akan menyaksikan, bagaimana tanggul penyumbat parit induk akan dibuka. Ki Demang akan mengayunkan cangkul untuk pertama kalinya.

Kedua orang anak muda itu sama sekali tidak berani mendekati ketiga orang gegedug itu. Namun agaknya ketiga gegedug itu tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya berdiri saja diantara orang-orang Bibis yang lain. Namun orang-orang yang menyadari, bahwa mereka berdiri di dekat ketiga gegedug itu pun berusaha untuk bergeser sedikit demi sedikit menjauhinya.

Agaknya Truna memang masih belum ingin berbuat sesuatu. Mereka memang menunggu untuk dapat ikut makan bersama, karena agaknya Ki Demang telah membawa jodang. Pada saat itulah mereka akan berbuat sesuatu untuk menunjukkan rasa tidak senang mereka atas pengaruh orang-orang padepokan yang semakin dalam di Kademangan Bibis.

Karena itu, maka acara-acara berlangsung tanpa terganggu. Juga ketika Ki Demang mengayunkan cangkul pertama untuk membuka tanggul yang menyumbat parit induk.

Tepuk tangan yang gemuruh menyambut ayunan cangkul Ki Demang itu. Kemudian disusul oleh beberapa orang anak muda yang membuka tanggul, sehingga akhirnya air telah mengalir dan memasuki parit induk itu.

Bukan saja sorak sorai yang gemuruh, tetapi hati rakyat Bibis itu benar-benar tersentuh oleh peristiwa itu. Bendungan itu memang telah dibuat pula oleh orang-orang Bibis. Tetapi sudah lama sekali bendungan itu tidak mendapat perhatian mereka. Bertahun-tahun, sehingga air yang mengalir ke parit induk itupun menjadi semakin lama semakin sedikit.

Jika kemudian mereka melihat air yang mengalir di parit induk itu kembali sebagaimana saat bendungan itu dibuat, rasa-rasanya jantung orang-orang Bibis itu pun telah terkembang.

Dalam pada itu, setelah air mengalir di parit induk, maka yang akan mereka lakukan kemudian adalah tinggal makan dan minum bersama-sama untuk menyatakan kegembiraan hati. Ki Demang telah membuka tiga buah jodang yang dibawanya. Sementara itu, orang-orang yang lain telah membawa ancak pula yang isinya untuk dimakan bersama-sama dengan tetangga-tetangganya.

Ketiga orang gegedug yang berada di bendungan itu pun segera menyusup diantara orang-orang yang duduk sambil menghadapi ancak berisi makanan, nasi dan lauk-pauknya itu. Ketiganya telah melangkah mendekati Ki Demang yang duduk bersama para bebahu dan para tamu dari padepokan.

“Kami ingin mengucapkan selamat Ki Demang” berkata Truna.

Jantung Ki Demang memang berdesir. Namun iapun berkata, “Terima kasih Truna. Marilah. Kita sukuri keberhasilan kita dengan makan bersama.”

Truna itu pun kemudian duduk pula bersama Ki Demang dan para bebahu. Demikian pula Gina dan Sebleng. Dengan lahapnya mereka ikut makan bersama Ki Demang, para bebahu dan para tamu. Ketiganya hampir tidak berkata sepatah katapun kecuali menyuapi mulut mereka dengan suapan-suapan yang besar.

Barata memperhatikan ketiga orang itu dengan dada yang berdebaran. Mereka kelihatannya tidak memperhatikan lagi unggah-ungguh yang dianut oleh orang-orang Bibis yang lain. Apalagi dihadapan pemimpinnya dan beberapa orang tamu.

Tetapi karena Ki Demang sendiri dan para bebahu Bibis agaknya tidak berkeberatan atas sikap mereka, maka Barata pun mencoba untuk tidak menghiraukan mereka pula, betapapun hatinya terasa tergelitik karenanya.

Ketika ia sekilas memandang Kiai Tapis, agaknya orang tua itu pun tidak menghiraukan apa yang terjadi. Demikian pula Sindura.

Namun sikap orang-orang itu semakin lama memang semakin menjengkelkan. Ketika mereka sudah kenyang, maka mereka pun mulai menunjukkan sikap yang menentang.

Truna yang memandang Ki Demang yang sedang mencuci tangannya dengan tajamnya, kemudian berdesis. “Ki Demang, apa untungnya Ki Demang membuat keramaian seperti ini?”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Ternyata orang-orang itu sudah mulai membuat persoalan. Seperti beberapa kali sudah mereka lakukan jika mereka mempunyai pendapat yang berbeda dengan Ki Demang, maka mereka langsung menyampaikannya dan menuntut perubahan.

Dalam beberapa hal, Ki Demang memang tidak dapat berbuat banyak. Ketiga orang itu, apalagi dengan anak-anak mereka, yang juga nampak berkeliaran dibendungan itu, memang sulit untuk diatasi. Ki Jagabaya yang duduk pula bersama Ki Demang menjadi sangat tegang.

“Apa maksudmu Truna?” bertanya Ki Demang.

“Ki Demang. Bukankah bendungan ini sudah ada sejak lama. Dahulu kitalah yang membuat bendungan ini. Waktu itu aku masih muda. Aku ikut kerja keras membuat brunjung, mengisi batu dan menyilangkannya di Kali Lorog. Kenapa tiba-tiba sekarang Ki Demang menghormati orang lain yang seakan-akan begitu saja mengambil alih kepemimpinan Kademangan Bibis?” geram Truna.

“Benar Ki Demang” berkata Sebleng, “seharusnya kita menghormati diri kita sendiri. Kita berbangga bahwa kita mempunyai sebuah bendungan yang kuat dan mampu menaikkan air dan mengalir ke sawah-sawah. Bukan orang lain.”

“Ya, memang bukan orang lain” sahut Ki Demang

“Kita merayakan kemenangan kita sendiri, bahwa kita telah melakukan kerja yang besar. Kita telah dapat memperbaiki dan memulihkan bendungan itu. Kita, memang kita. Kita yang terbangun dari tidur bertahun-tahun.”

“Jangan berpura-pura Ki Demang” berkata Truna

“Kita sekarang ini seakan-akan sedang menghormati orang-orang yang bukan keluarga kita sendiri. Orang-orang Bibis sendiri tiba-tiba saja menjadi kagum kepada orang lain yang dianggap berjasa dalam kerja ini. Kenapa orang-orang Bibis tidak menjadi kagum kepada diri sendiri.”

“Ya. Kita mengagumi diri kita sendiri. Karena itu, kita sekarang bersenang-senang untuk itu. Seperti sudah aku katakan, bahwa kita telah memenangkan perjuangan ini. Kita, dan bukan orang lain.” jawab Ki Demang.

Tiba-tiba saja Gina pun tertawa. Katanya, “Marilah kita tidak berpura-pura. Kita tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini kita memang tidur lelap. Bendungan itu sudah berpuluh tahun kita buat. Ketika bendungan itu semakin lama menjadi semakin rusak, kita tidak berbuat apa-apa. Baru kemudian ketika kita melihat daerah subur di sekitar padepokan itu, serta kehadiran orang-orang padepokan di Kademangan kita, maka kita seakan-akan telah terbangun. Atas petunjuk orang-orang padepokan itu, kita melakukan kerja besar dan berhasil. Hal itulah yang agaknya dimaksud oleh Ki Demang sebagai satu kemenangan. Tetapi kita tidak dapat mengingkari bahwa kemenangan ini disebabkan karena orang lain telah turut campur dalam persoalan kita, sehingga kita kehilangan kesempatan untuk bangun sendiri dan atas kehendak sendiri berbuat bagi Kademangan kita. Itulah yang aku tidak senang.”

“Gina, apa yang kau katakan itu?’“ bentak Truna.

“Ya. Aku memang ingin berkata jujur.” jawab Gina, “tetapi aku tidak senang terhadap keadaan ini. Begitu saja.”

“Tetapi apa salahnya kita menerima uluran tangan dari orang-orang padepokan yang telah bersedia mengaku menjadi anggauta keluarga besar Kademangan Bibis.” jawab Ki Jagabaya.

“Itu hanya satu cara untuk merampas milik kita. Lihat, mereka telah membuka hutan kita. Berapa luas tanah yang sudah mereka ambil begitu saja.” berkata Gina.

“Aku telah memberikan ijin itu” sahut Ki Demang, “apalagi yang mereka lakukan itu untuk kepentingan kita juga. Anak-anak kita yang tidak lagi memiliki masa depan dengan berpijak pada tanah yang sudah ada. Sementara itu, orang-orang lain itu sendiri hanya ada lima atau enam orang. Selebihnya adalah kita sendiri. Orang-orang Bibis.”

“Nah, yang beberapa orang itulah yang menentukan segala-galanya. Agaknya mereka pun akan menentukan pula keadaan di seluruh Kademangan Bibis” berkata Truna kemudian.

Barata mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdegup semakin keras. Bahkan rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam ketiga orang itu untuk membuat mereka diam. Namun karena Kiai Tapis sendiri hanya tersenyum-senyum saja, maka rasa-rasanya justru dadanya akan meledak.

Sindura pun menjadi berdebar-debar pula. Tetapi ia masih berusaha untuk mendengarkan perkembangan pembicaraan itu. Namun menilik sikap ketiga orang itu, maka agaknya sulit untuk ditemukan satu pengertian yang utuh, Bahkan agaknya orang-orang itu bukan untuk pertama kalinya menolak kebijaksanaan Ki Demang dan memaksanya untuk membuat perubahan-perubahan.

Dalam pada itu, Ki Jagabaya pun berkata, “Sudahlah. Kita sedang merayakan keberhasilan kita. Jangan merusak suasana ini.”

Tetapi Truna tersenyum sambil berkata, “Ki Jagabaya. Sebaiknya biarlah aku berbicara dengan Ki Demang.”

“Tetapi aku adalah Jagabaya disini” bentak Ki Jagabaya.

Tetapi jawab Truna sangat menyakitkan hati, “Kau ingin menunjukkan kepada tamu-tamu kita yang terhormat, bahwa kau mampu melakukan tugasmu dengan baik? Bahwa kau adalah seorang Jagabaya yang disegani.”

Wajah Ki Jagabaya menjadi merah. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia memang tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Namun ia benar-benar berada dalam kesulitan karena sikap ketiga gegedug itu.

“Nah Ki Jagabaya” berkata Sebleng, “bersikap wajar sajalah kepada kami. Kami tidak akan berbuat apa-apa terhadapmu. Kami hanya ingin memperingatkan Ki Demang, bahwa orang-orang padepokan itu tidak kita perlukan. Kita harus mengambil kembali anak-anak muda kita yang ada di padepokan itu, dan memaksa orang-orang padepokan itu mengembalikan tanah kita yang telah mereka rampas.”

Mulut Ki Demang dan Ki Jagabaya memang bagaikan tersumbat. Mereka tidak segera dapat menjawab. Ketiga orang itu bagi Bibis adalah orang-orang yang paling ditakuti. Namun mereka jugalah orang yang paling banyak membuat persoalan. Bahkan kadang-kadang kekisruhan.

Karena Ki Demang dan Ki Jagabaya tidak segera menyahut, sementara itu dada Barata sudah menjadi penuh sesak dan bahkan rasa-rasanya dadanya itu akan meledak, maka Barata yang remaja itupun menyahut, “Ki Sanak. Kenapa kalian bersikap memusuhi kami?”

Truna berpaling kearah Barata. Dengan senyum yang asam ia menjawab, “Seharusnya kau tahu sendiri, kenapa kami bersikap tidak baik terhadap kalian. Karena itu, selagi kami belum melangkah dengan sikap yang lebih keras, pergi sajalah dari Bibis ini. Cari hutan liar yang tidak menjadi hak dan cadangan garapan sebuah Kademangan atau Tanah Perdikan. Kalian dapat membuka hutan itu seluas kalian sukai.”

“Jika kami membuka hutan itu Ki Sanak, kami sudah mendapat ijin dari Ki Demang. Kami tidak begitu saja menebangi hutan yang nampaknya memang merupakan tanah cadangan bagi Kademangan Bibis. Dan bahkan kami sudah menyatakan diri bersedia menjadi warga dari keluarga Bibis yang besar itu. Jika kami berbuat sesuatu di Bibis, karena kami mendasari langkah-langkah kami itu dengan landasan pikiran bahwa kami telah berbuat di kampung halaman sendiri.” jawab Barata.

Sindura yang memang sudah menjadi marah pula, sama sekali tidak mencegahnya. Bahkan Kiai Tapis pun tidak mencegah pula.

“Itulah salah kalian yang terbesar” berkata Truna, “bahwa kau mengaku menjadi keluarga Bibis. Tetapi jangan kau kira bahwa kami tidak tahu rencana kalian yang jahat itu.”

“Aku tidak mempunyai rencana apa-apa” suara Barata pun mulai menjadi keras, “kau jangan mengada-ada. Seluruh rakyat Bibis mensyukuri peristiwa ini. Tetapi kenapa kau justru sebaliknya? Apakah kau ingin rakyat Bibis tetap dalam kemiskinan karena sawahnya yang kering, sehingga kau akan dapat leluasa berbuat sekehendak hatimu diantara orang-orang yang merasa rendah diri dan tertekan ini?”

“Persetan” bentak Gina, “meskipun kau benar, tetapi bahwa kau telah mengucapkan kata-kata itu maka kau telah menyakiti hati kami.”

“Katamu berbelit-belit Gina” potong Sebleng, “anak yang demikian itu sudah sepantasnya di beri sedikit pelajaran atas kesombongannya.”

Barata tidak menjawab. Tetapi ia tidak merasa keberatan bahwa ia harus melayani orang-orang yang keras kepala itu. Dengan demikian, ia dapat menunjukkan bahwa isi padepokan itu tidak akan menyerah karena gertakan-gertakan yang tidak berujung pangkal seperti yang dilakukan oleh ketiga orang gegedug itu. Meskipun nampaknya Ki Demang dan Ki Jagabaya serta para bebahu Kademangan itu tidak dapat bertindak atas mereka.

Namun Gina seakan-akan tidak menghiraukan kata-kata Sebleng. Katanya, “Nah anak muda. Berjongkoklah dihadapanku, membungkuk dan menyembah kepada kami bertiga. Kau akan diampuni.”

“Gila” geram Truna, “kau selalu menganggap semua persoalan sebagai permainan saja.”

“Aku tidak main-main” jawab Gina.

“Tidak. Bukan sekedar minta maaf. Tetapi kalian harus pergi dari Bibis.” bentak Truna.

Tetapi Barata menggeleng. Katanya, “Yang berhak membuat keputusan adalah Ki Demang. Tetapi sekarang, keputusan Ki Demang pun tidak akan mengikat kami lagi, karena kami tahu, jika Ki Demang mengambil sikap yang lain dari sikapnya semula, itu adalah karena pengaruh kalian bertiga. Bukan kehendak Ki Demang secara murni.

“Bagaimana kau berani berkata seperti itu” Truna benar-benar menjadi marah. Sementara Ki Demang dan Ki Jagabaya justru menjadi bingung. Mereka tidak tahu apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Karena ketiga orang gegedug itu jika sudah berkumpul memang merupakan persoalan yang sulit untuk dipecahkan. Apalagi jika terjadi kekerasan. Bagi Bibis, ketiga orang itu tidak akan dapat dicegah oleh seisi Kademangan sekalipun, apalagi jika mereka melibatkan anak-anak mereka.

Sebelum Ki Demang dapat berbuat sesuatu, maka Truna itu pun tiba-tiba berteriak, “He anak-anak, seret anak ini dan lemparkan keluar keramaian ini. Ia tidak pantas ada diantara kita, orang-orang Bibis yang bergembira karena kerja kita ini.”

Orang-orang yang hadir di bendungan itu pun menjadi bingung menghadapi keadaan itu, sementara itu Lowar serta anak-anak kedua gegedug itu pun telah mulai bergerak mendekati Barata.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Kiai Tapis. Ketika ia melihat Kiai Tapis mengangguk, maka Bratapun telah tersenyum pula.

Sindura pun ternyata tidak mencegah peristiwa yang akan terjadi itu. Ia justru mengharap hal itu terjadi untuk menunjukkan bahwa mereka tidak akan dapat berbuat banyak terhadap orang-orang padepokan, sebagaimana memang dikehendaki pula oleh Barata.

Dalam pada itu, Lowar dan kedua anak muda yang kasar itu pun telah mendekati Barata yang masih tetap duduk, sementara orang-orang Bibis menjadi semakin berdebar-debar.

Lowar ternyata benar-benar seorang yang kasar. Ia tidak mengatakan sepatah katapun ketika tiba-tiba saja ia telah menangkap dan menarik tangan Barata.

Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu pun serentak telah berdiri. Tetapi Truna berkata, “Ki Demang sebaiknya tidak usah ikut campur. Demikian pula para bebahu yang lain.”

“Tetapi anak itu adalah tamuku” sahut Ki Demang.

“Mereka tidak mempunyai kedudukan yang lebih baik dari kami disini” jawab Truna.

Ki Demang memang tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi para bebahu yang lain. Sementara itu Kiai Tapis dan Sindura pun telah berdiri pula. Tetapi mereka sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan di wajah mereka. Namun orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak menghiraukan keduanya, karena perhatian mereka tertuju kepada ketiga orang anak muda yang menyeret Barata yang remaja itu ke bendungan.

“Bagus” seru Truna, “lemparkan ke bendungan. Jika anak itu tidak dapat berenang, adalah nasibnya yang sangat buruk. Mungkin saudara-saudaranya itu sempat menolongnya. Sesudah itu usir mereka dari Bibis. Padepokan itu harus dibakar menjadi abu. Tanah garapan mereka harus dikembalikan kepada Kademangan Bibis.”

Ketiga anak muda yang menyeret Barata itu memang akan melemparkannya ke bendungan. Air yang tergenang cukup dalam dan berwarna keruh itu, akan dapat menenggelamkannya jika Barata tidak dapat berenang.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang yang telah menyeret Barata itu pun telah berada diatas bendungan. Dengan geramnya mereka bertiga itu berusaha untuk mengayun Barata dan melemparkannya kedalam air. Tetapi yang terjadi telah membuat orang-orang Bibis menjadi semakin tegang. Ternyata telah terjadi keributan kecil. Barata yang akan dilemparkan itu meronta. Namun kemudian yang terjadi benar-benar diluar dugaan. Yang terlempar ke dalam air bukannya Barata, tetapi justru Lowar dan kedua anak muda yang lain.

Bahkan anak Sebleng pun telah berteriak-teriak sebelum ia tercebur kedalam air. Ternyata bahwa anak Sebleng itu tidak pandai berenang.

Sejenak kemudian terjadi tontonan yang sangat menggelikan. Meskipun demikian tidak seorang pun yang berani bergerak dari tempatnya. Apalagi mentertawakan ketiga orang yang terjebur kedalam air.

Hanya Barata sajalah yang tertawa sambil bertolak pinggang. Dengan lantang ia berkata, “Marilah, minggirlah. Siapa yang paling cepat naik ke bendungan, maka ia adalah orang yang paling cepat terlempar kembali kedalam air.”

Lowar mengumpat dengan kata-kata kotor. Tetapi bersama anak Gina ia berusaha untuk menolong anak Sebleng yang tidak dapat berenang.

Melihat ketiga orang itu, Barata seakan-akan telah mendapat kegembiraan tersendiri. Namun ternyata ia membiarkan Lowar mendorong anak Sebleng ketepi.

Justru Barata lah yang telah menerima tangan anak yang hampir tenggelam itu dan menariknya keatas bendungan. Kemudian membiarkan anak itu duduk dengan nafas terengah-engah.

Sementara itu Lowar dan anak Gina pun telah naik kebendungan pula. Wajah mereka menjadi merah oleh kemarahan yang menghentak-hentak dada.

“Anak iblis. Aku bunuh kau” geram Lowar.

Tetapi Barata tetap tertawa. Katanya, “Kita mempunyai banyak kesempatan untuk bergurau sekarang. Biarlah orang-orang Bibis yang ada di sekitar bendungan ini mendapat hiburan yang agak lain dari yang selalu dilihatnya sehari-hari.

“Persetan” anak Gina itu pun berteriak.

Sementara itu Sebleng pun telah melangkah mendekati anaknya. Truna dan Gina pun mengikutinya pula mendekati anak-anak muda yang berada diatas bendungan itu. Namun demikian, di belakang mereka Gandar yang dipanggil Sindura itu pun melangkah menyusuri bendungan pula.

Truna yang marah itupun kemudian berteriak, “Kalian tidak berhati-hati. Nah, kalian telah melihat, betapa liciknya anak padepokan itu. Sekarang jangan beri kesempatan lagi kepadanya. Bersungguh-sungguhlah. Lemparkan anak itu kedalam air dan jangan beri kesempatan lagi untuk menepi.”

Lowar dan anak Gina itu pun telah bersiap-siap. Mereka pun marah pula seperti Truna dan orang-orang tua mereka. Namun sementara itu anak Sebleng masih belum dapat ikut serta. Perutnya terasa mual karena banyak air yang masuk kedalam mulutnya. Air yang keruh dan kotor.

Barata memang sudah siap menghadapi kedua anak muda itu. Ketika ia melihat ketiga orang gegedug itu meniti bendungan, hatinya memang menjadi berdebar-debar. Tetapi karena Sindura pun mengikuti mereka, maka Barata menjadi tenang karenanya.

Lowar dan anak Gina yang marah telah bersiap menyerang Barata dan melemparkannya kedalam air. Mereka menjadi lebih berhati-hati, agar bukan mereka lagi yang terjerumus kedalam bendungan. Tetapi Barata pun telah bersiap pula. Sehingga karena itu, ketika kedua orang anak muda yang ingin mendorongnya itu melangkah mendekat, maka ia telah benar-benar siap.

Yang mula-mula menyerang adalah Lowar. Ia telah menyerang Barata dengan kakinya. Jika ia berhasil mengenai dada Barata, maka anak itu akan terdorong dan jatuh menelentang kedalam air.

Namun serangan itu tidak berarti apa-apa. Barata berhasil bergeser selangkah kesamping, sehingga kaki itu sama sekali tidak menyentuhnya. Namun Barata justru telah memukul kaki itu dengan sisi telapak tangannya.

“Setan” geram Lowar yang melihat ayunan tangan itu. Dengan serta merta ia telah menarik kakinya kembali. Tetapi ketika kakinya itu menyentuh tanah, maka kakinya yang lainlah yang siap terayun. Tetapi ternyata bahwa anak Gina telah mendahului. Kakinya meloncat dengan loncatan panjang, sementara tangannya menjulur lurus mengarah kening.

Sekali lagi Barata harus mengelakkan serangan itu. Ia bergerak mundur setapak sambil memiringkan kepalanya. Ternyata bahwa tangan anak Gina itu tidak menggapainya.

Namun kaki Barata agaknya lebih panjang dari tangan anak muda itu. Sebelum lawannya menarik kakinya, Barata telah memiringkan tubuhnya. Kakinya bergerak cepat langsung mengenai ketiak anak gina yang terbuka.

Anak muda itu terdorong selangkah surut. Namun, hampir saja ia kehilangan keseimbangannya dan terjerumus sekali lagi kedalam air.

Lowar yang sudah siap untuk menyerang, terpaksa mengurungkan serangannya, karena garis serangannya tiba-tiba saja telah terhalang oleh anak Gina yang terdorong surut itu.

Lowar memang tertahan. Ia menjadi kecewa dan mengumpat kasar. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada Barata, “He anak padepokan yang sombong. Jika kau benar-benar berani, marilah kita berkelahi ditempat yang luas, yang akan dapat menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya.”

“Agar kalian dapat leluasa berkelahi berpasangan” sahut Barata.

“Tutup mulutmu” bentak Lowar, “jangan menyesal jika aku akan meremukkan bibirmu dan merontokkan gigimu.”

“Aku sudah siap” jawab Barata.

Lowar tidak menjawab lagi. Tetapi ia berkata kepada anak Gina, “Kita meloncat turun.”

Lowar tidak menunggu jawaban. Ia pun segera meloncat turun kebawah bedungan. Dengan sikap yang garang ia berdiri ditepian yang berpasir basah. Disana sini terdapat bebatuan yang kecil sampai dengan batu sebesar kerbau.

Anak Gina pun termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menyusul Lowar pula, meloncat turun sambil berteriak, “Jika kau bukan pengecut, turunlah.”

Barata termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia berpaling kearah Sindura, maka Sindura itupun mengangguk pula.

Karena itu, maka Barata pun telah meloncat turun pula. Demikian ia berada diatas pasir tepian, maka ia pun telah bersiap menghadapi kedua lawannya.

Lowar ingin bertindak cepat. Dengan serta merta ia pun telah menyerang Barata. Bertumpu pada tumitnya, ia memutar tubuhnya. Kakinya terentang dan terayun mengarah lambung lawannya.

Tetapi Barata tidak terkejut mendapat serangan itu. Dengan langkah kecil ia bergeser dan mengelakkan serangan itu. Namun pada saat yang sama anak Gina telah menyerang  pula. Anak Gina ini meloncat mendekat dan mengayunkan tangannya. Anak Gina memang ingin menghantam mulut Barata sebagaimana dikatakan oleh Lowar.

Tetapi Barata telah menangkis serangan itu. Ia berhasil memukul tangan anak Gina itu ke samping. Ketika anak Gina itu terputar sedikit, maka Barata mempergunakan saat itu sebaik-baiknya. Sekali lagi ia menyerang anak muda itu. Dengan melangkah selangkah maju maka Barata mengayunkan tangannya. Yang kemudian dikenainya adalah lambung anak Gina itu.

Terdengar anak itu terpekik perlahan. Dengan serta merta ia meloncat menjauh sambil menyeringai menahan sakit. Barata ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, selagi anak Gina itu masih belum siap menghadapi serangan berikutnya.

Tetapi Lowar lah yang kemudian telah meloncat menyerang. Kakinya sekali lagi terjulur panjang mengarah ke perutnya.

Serangan itu datangnya memang cepat sekali, sehingga Barata tidak sempat mengelak. Tetapi ia sempat merendahkan dirinya sambil berputar sedikit. Sikunyalah yang kemudian melindungi perutnya.

Kaki Lowar yang kuat mengenai siku Barata. Demikian kerasnya sehingga Barata itu tergetar dan bergeser setapak surut. Namun Lowar pun seakan-akan telah terpental pula selangkah. Hampir saja ia jatuh terlentang. Namun ia masih berhasil menguasai keseimbangannya.

Yang berada diatas tanggul, Sebleng telah mengguncang-guncang anaknya. Dengan kasar ia berkata, “Anak tidak tahu malu. Cepat bangkit dan turun kedalam arena itu.”

Anaknya sebenarnya masih mual dan pening. Namun ia memang takut kepada ayahnya dan malu kepada kedua orang kawannya itu. Maka dipaksanya dirinya untuk bangkit. Dengan sisa tenaganya, maka ia menghentakkan kedua tangannya sebelah menyebelah, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa tenaganya telah pulih kembali.

“Cepat” teriak Sebleng, “ingat, kau adalah anak muda terbaik di Kademangan ini.”

Tetapi tiba-tiba saja Gina menyahut, “Anakkulah yang terbaik.”

“Kita akan melihatnya nanti” geram Sebleng.

Anak Sebleng itu pun dengan tergesa-gesa telah meloncat turun. Tetapi agaknya karena itu justru kakinya menjadi kurang mapan. Ketika kaki anak muda itu menyentuh pasir, maka tiba-tiba saja tubuhnya menjadi goyah, karena telapak kakinya miring, sehingga ia pun terjatuh meskipun tidak terlalu keras.

Anak Sebleng itu memang tidak menjadi kesakitan. Tetapi ia benar-benar malu ketika ayahnya berteriak pula, “Anak dungu. Hati-hatilah. Jangan biarkan anak padepokan yang sombong itu mentertawakanmu.”

Anak Sebleng itu menggeram. Lalu katanya dengan suara lantang, “Aku akan memutar lehernya sampai patah.”

Yang tertawa adalah Gandar yang berdiri diatas tanggul. Dengan lantang pula ia berkata, “Mana kau dapat mematahkan lehernya. Baru meloncat turun dari bendungan saja kau sudah terjatuh. Sementara itu didalam perutmu tersimpan berapa mangkuk air yang keruh itu. Jika kau minum dua tiga hari mendatang, mungkin airnya sudah menjadi agak jernih.”

“Tutup mulutmu” teriak Sebleng, “apakah kau mau ikut campur?”

“Tidak” jawab Gandar yang dikenal bernama Sindura itu, “biarlah anak-anak bermain dengan sesamanya yang sebaya. Atau barangkali agak lebih tua sedikit, karena kemenakanku itu memang masih remaja.”

“Persetan” teriak Truna, “jika kau tidak mau diam, aku yang akan menyumbat mulutmu dengan brunjung.”

Sindura memang diam. Tetapi perhatiannya kemudian tertuju kepada Barata yang harus berkelahi melawan tiga orang.

Ternyata Sindura memang harus memperhatikan dengan saksama. Barata memang sudah berlatih dengan keras. Ia telah mengikuti segala petunjuk Kiai Badra untuk menempa dirinya. Sehingga dengan demikian maka Barata telah menjadi seorang remaja yang kuat dan tangkas. Ia sudah mendasari dirinya dengan ilmu kanuragan, sehingga Sindura yakin, bahwa bekal Barata akan jauh lebih banyak dari ketiga orang lawannya.

Tetapi ketiga orang lawannya itu tentu telah mendapat tempaan pula. Selain dari orang tua mereka, hidup mereka pun penuh dengan tempaan pengalaman. Mereka tentu sudah terlalu sering berkelahi melawan siapapun juga. Bahkan mungkin melawan dua atau tiga orang sekaligus, sementara hal itu tidak terjadi atas Barata. Remaja itu belum pernah bersungguh-sungguh berkelahi melawan kekerasan yang apalagi kasar seperti ketiga orang lawannya itu. Namun tiba-tiba Barata itu langsung dihadapkan kepada tiga orang sekaligus. Meskipun ia mempunyai bekal yang cukup, namun mungkin sekali anak itu akan menjadi bingung.

Namun ternyata bahwa Barata mampu menempatkan dirinya. Meskipun ketika lawannya menjadi semakin keras dan kasar, tetapi tidak sebagaimana diduga oleh Sindura bahwa ia menjadi bingung.

Dengan tangkasnya Barata meloncat, melenting dan menghindar. Namun tiba-tiba saja ia meluncur dengan cepatnya, menyerang lawannya. Tangannya yang kadang-kadang bersilang di dada, kuncup melekat tubuhnya, namun kadang-kadang mengembang seperti sayap elang yang menukik menyambar mangsanya.

Ternyata bahwa Barata sama sekali tidak mengecewakan. Dalam usianya yang masih remaja itu, ia sudah menunjukkan kemantapan gerak dan kecepatan mengambil sikap. Ia tidak menjadi bingung karena serangan yang datang bersamaan. Namun ia mampu memilih gerak yang paling menguntungkan menghadapi keadaan yang gawat.

Sindura mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kearah Truna, maka dilihatnya laki-laki bertubuh kekar, berjambang dan berkumis lebat itu menjadi tegang. Bahkan kemudian terdengar ia mengumpat, “He anak-anak tikus. Kenapa kalian tidak mampu segera memilin leher anak padepokan yang sombong itu.”

“Jangan membuat persoalan” geram Gina, “itu anakku. Dan aku bukan tikus. Kau kira jambangmu itu membuat aku takut?”

“Persetan” geram Truna, “kita harus berbuat sesuatu.”

Ketika Gina kembali memperhatikan perkelahian itu, maka ia melihat Lowar lah yang terlempar jatuh. Untunglah ia jatuh diatas pasir dan tidak membentur batu.

Namun ketika Lowar sempat bangkit, maka anak Gina dan anak Sebleng itu pun yang terbanting diatas pasir. Demikian kerasnya, sehingga anak Sebleng yang didalam perutnya itu tersimpan air keruh rasa-rasanya tidak sanggup lagi untuk bangkit.

Sejenak suasana menjadi tegang. Barata berdiri diatas pasir yang basah dengan kaki renggang. Ketiga orang lawannya berdiri mengelilinginya. Anak Sebleng yang betapapun sakit tubuhnya namun ia pun telah memaksa diri untuk berdiri pula sebagaimana kedua orang kawannya.

Namun demikian, anak-anak muda itu sudah merasa bahwa mereka tidak akan mampu melawan Barata yang masih remaja itu. Semakin lama rasa-rasanya Barata itu menjadi semakin cepat bergerak dan semakin kuat pula.

“Apakah anak ini mempunyai ilmu iblis?” bertanya anak-anak muda itu didalam hatinya.

Namun apapun yang mereka hadapi, adalah satu kenyataan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk mengatasinya.

Untuk beberapa saat anak-anak muda itu masih berdiri tegak diatas pasir. Mereka nampaknya memang saling menunggu. Namun dalam keadaan yang jauh berbeda.

Barata masih nampak segar dan cerah, sedangkan ketiga orang lawannya sudah mulai menjadi kepayahan dan di beberapa bagian tubuhnya terasa sangat sakit. Lowar merasa punggungnya bagaikan retak, sedangkan anak Gina yang beberapa kali terbanting, tulang-tulangnya bagaikan saling terlepas dari sendinya. Yang lebih parah lagi adalah anak Sebleng. Agaknya baginya sudah tidak ada kesempatan lagi. Hanya karena perasaan malu kepada kedua awannya sajalah maka ia masih sanggup berdiri diatas pasir tepian.

“”Marilah” berkata Barata, “permainan kita belum selesai. Jika kalian masih ingin melanjutkan permainan gaya Kademangan Bibis ini, aku masih bersedia, meskipun permainan seperti ini bukan ciri permainan padepokanku.”

“Persetan” teriak Truna, “hancurkan anak sombong itu. Kenapa kalian hanya berdiri bingung seperti kerbau dungu?”

“Jangan umpati anakku” geram Gina.

Tetapi Truna tidak menghiraukannya. Katanya, “Meloncatlah. Menerkamlah seperti seekor harimau, atau kalau tidak seperti seekor serigala atau kucing hutan. Atau barangkali seperti kadal buntung?”

Ketiga anak muda itu masih tetap termangu-mangu. Tetapi mereka tidak segera menyerang. Mereka masih berusaha untuk mengatur pernafasan dan berusaha mengurangi rasa sakit.

Truna nampaknya tidak sabar lagi. Sekali lagi ia berteriak, “Apakah kalian memang membiarkan anak padepokan itu menjadi semakin sombong dan besar kepala?”

Gina lah yang tiba-tiba saja tertawa sambil berkata, “Kalian menjadi ketakutan he? Baiklah. Kita akan jujur menghadapi kenyataan ini. Kalian bertiga sudah kalah. Tetapi anakku masih lebih baik keadaannya daripada anak Sebleng yang katanya anak muda terbaik di Kademangan ini.”

“Tutup mulutmu Gina” teriak Truna.

Tetapi Gina berkata terus, “Kenapa kita harus menyembunyikan kenyataan? Anak-anak kita sudah kalah. Tetapi aku tidak senang dengan kekalahan itu. Karena itu, aku akan memukuli anak yang sombong itu. Aku tidak peduli, apakah pantas atau tidak pantas. Pokoknya akan ingin memukulinya sekarang.”

Gina sudah bersiap-siap untuk meloncat turun. Tetapi tiba-tiba langkahnya tertahan ketika ia mendengar Sindura bertanya, “Ki Sanak, apakah kau mau ikut campur?”

“Apa yang kau tanyakan? Ikut campur? Terserahlah apa namanya. Seperti sudah aku katakan, pokoknya aku tidak senang dengan kelahan yang dialami oleh anak-anak kita. Karena itu aku akan memukuli kemanakanmu itu” jawab Gina.

“Baiklah” berkata Sindura, “aku pakai caramu. Aku juga akan memukulimu. Aku tidak senang kau mencampuri persoalan anak-anak. Karena itu maka aku akan memukulimu. Menceburkan kau ke bendungan dan apa saja sesuka hatiku.”

“Persetan” geram Gina, “kau tahu siapa aku he?”

“Tidak.  Aku  baru melihatmu sekarang ini. Meskipun aku telah menyatakan diri menjadi keluarga Bibis, tetapi memang masih banyak yang belum sempat aku lihat.” jawab Sindura.

“Pantas” berkata Gina selanjutnya, “jika kau sudah mengenal aku maka kau tentu tidak akan berkata begitu.”

“Kenapa?” bertanya Sindura.

“Kau tentu mengenal, bahwa aku adalah seorang gegedug di Kademangan ini.” jawab Gina, “siapa yang berani menghina aku, maka tebusannya mahal sekali. Ada dua macam tebusan yang dapat aku tuntut daripadanya. Membayar uang yang besar jumlahnya, atau aku pukuli setengah mati.”

“Apakah kau berhak berbuat demikian?” bertanya Sindura.

“Kenapa tidak?” justru Gina berganti bertanya.

“Menuntut uang tebusan itu?” Sindura masih bertanya lagi

“Aku tidak peduli, berhak atau tidak berhak. Tidak seorang pun dapat menentang kehendakku.” geramnya.

“Jika demikian aku pun akan menirukanmu. Aku tuntut kau memberi ganti rugi kepadaku karena kau akan memukuli anakku. Seratus keping atau aku pukuli kau seratus kali.” berkata Sindura.

“O, orang ini agaknya memang orang gila” berkata Gina sambil melangkah mendekati Sindura.

Namun Sindura itupun berkata, “Lihat, bahwa ketiga anak muda yang paling diandalkan disini sudah dikalahkan oleh kemenakanku. Apa katamu? Ketiganya sudah tidak berani menyerang lagi.”

“Persetan” geram Gina.

Namun tiba-tiba Sindura berkata, “Barata. Yakinkan kepada dirimu sendiri, bahwa lawan-lawanmu telah kau kalahkan.”

“Baik paman” jawab Barata.

Iapun kemudian mempersiapkan dirinya kembali. Sementara itu ketiga lawannya pun terkejut pula mendengar teriakan Sindura. Apalagi ketika mereka melihat Barata telah siap untuk menyerang.

Langkah Gina memang  terhenti. Perhatiannya kemudian tertuju kepada ketiga orang anak muda dibawah bendungan. Seorang diantara anak-anak muda itu adalah anaknya.

“Bersiaplah” berkata Barata kemudian, “kita akan sampai pada puncak permainan kita. Kita akan menentukan siapakah yang unggul dalam permainan ini. aku atau kalian bertiga. Siapa yang menang berhak untuk melemparkan lawannya ke bendungan. Jika ada diantara kalian yang tidak mampu berenang, itu adalah salah kalian sendiri.”

Ketiga anak muda yang sudah dalam keadaan yang payah itu terpaksa mempersiapkan diri mereka. Bagaimanapun juga, selama mereka masih dapat melawan, maka mereka tidak akan membiarkan diri mereka menjadi sasaran yang tidak berusaha untuk melindungi dirinya sama sekali.

Sejenak kemudian ternyata bahwa Barata memang sudah bersiap untuk menyerang. Dengan demikian maka ketiga lawannya pun telah bersiap pula untuk melindungi diri.

Barata memang benar-benar telah menyerang. Yang mula-mula diserangnya adalah Lowar. Dengan susah payah Lowar berusaha untuk menghindari serangan itu. Sementara itu anak Gina dan anak Sebleng telah bergerak serentak untuk menarik perhatian Barata, agar ia tidak memburu Lowar dan menyerangnya sampai mati.

Tetapi gerak mereka terasa terlalu lamban. Ketika keduanya menyerang, maka Barata dengan mudah mengelakkan dirinya. Namun kemudian iapun meloncat sambil mengayunkan kakinya. Dua kali kakinya terayun. Anak Gina dan anak Sebleng itu telah terlempar jatuh. Anak Gina masih mencoba untuk bangkit. Tetapi anak Sebleng masih saja terbaring diatas pasir. Anak yang kesakitan itu mengeluh sambil menggeliat. Ia memang berusaha untuk bangkit. Tetapi sisa  tenaganya tidak lagi mampu mengangkatnya.

Adalah diluar dugaan bahwa Gina tiba-tiba saja berteriak, “Nah, bukankah anakku lebih baik dari anakmu, Sebleng?”

“Persetan” geram Sebleng, “tetapi jika kau ingin merombak wajahmu, mari kita mencoba disini.”

“Aku tidak berkeberatan. Tetapi aku ingin menyelesaikan orang yang sangat sombong ini lebih dahulu” berkata Gina sambil memandang kearah Sindura, “jadi benar kita akan berkelahi?”

“Aku tidak akan berkelahi. Aku hanya mempunyai sebuah keinginan, yaitu memukulimu. Kau tidak usah bertanya sebabnya apa. Aku hanya ingin, karena kau tidak membayar uang yang aku minta karena kau telah menghina aku.”

Gina memang tidak sabar lagi. Namun ia masih juga berpaling. Ia melihat anaknya berdiri gemetar. Namun perlahan-lahan tetapi pasti, lawan Barata satu demi satu telah jatuh terbaring di tepian berpasir Kali Lorog.

“Baik” berkata Gina, “anakku memang kalah. Aku akan memukuli kemanakanmu itu. Tetapi karena kau mencoba menghalangi, maka kau akan aku selesaikan lebih dahulu. Mungkin kau akan mengalami goncangan jiwa yang jauh lebih parah dari kemanakanmu itu.”

Sindura tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mempersiapkan dirinya menghadapi gegedug itu. Sebagaimana kebiasaannya, Sindura tidak pernah merendahkan orang lain. Apalagi terhadap orang yang sudah disebut gegedug. Truna yang marah melihat kekalahan anak-anak muda itu, ternyata sempat memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Gina. Sementara Sebleng telah meloncat turun dan melangkah mendekati anaknya yang hampir pingsan.

“Anak setan” geram Sebleng, “kau sakiti anakku he?”

Barata memandang Sebleng itu dengan tajamnya. Agaknya para gegedug itu memang terbiasa berbuat sekehendak hati mereka tanpa dihalangi.

Sekilas ia melihat Sindura yang harus menghadapi Gina. Karena itu, Barata merasa bahwa ia harus menghadapi Sebleng jika orang itu menuntut kekalahan anaknya.

Sementara itu Truna masih berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia memperhatikan Gina, namun kadang-kadang ia memperhatikan Sebleng yang berjongkok di dekat tubuh anaknya yang terbaring.

“Ki Sanak” berkata Barata, “aku sama sekali tidak sengaja menyakiti anakmu. Bukankah aku hanya membela diri? Anakmulah yang telah mendahului menyerang aku, justru bertiga. Apakah dalam keadaan yang demikian itu aku harus berdiam diri? Apakah aku akan membiarkan kepalaku dipukuli tanpa membalas?”

“Persetan” geram Sebleng, “aku wajib menuntut balas. Aku adalah seorang ayah. Salah atau benar, anak muda itu adalah anakku.”

Tetapi yang kemudian terdengar adalah teriakan Gina, “Sebleng. Sudah aku katakan, aku akan memukuli anak itu, karena ia telah mengalahkan anakku. Jangan kau ganggu. Biarlah ia menyaksikan lebih dahulu pamannya yang sombong ini aku lemparkan kedalam air. Baru aku akan memukulinya sampai pingsan.”

Sebleng memang berpaling. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukan kata-kata Gina.

Yang kemudian bergerak adalah Truna. Katanya, “Biarlah Sebleng mengurusi anak itu. Marilah pamannya ini kita beri sedikit pelajaran.”

“Tetapi anak itu” desis Gina.

“Biarkan” jawab Truna.

Gina termangu-mangu. Namun Truna justru telah berdiri disebelahnya sambil berkata, “Jadi kau mencampuri persoalan ini Ki Sanak.”

“Pertanyaan yang aneh. Bukankah kau yang membuat persoalan yang kau tujukan kepada orang-orang padepokan? Nah, orang-orang padepokan itu termasuk aku.”

“Baiklah” berkata Gina, “aku akan berterus terang. Pokoknya semua orang padepokan harus dipukuli dan diusir dari padepokan itu dengan kekerasan.”

Sindura pun menjawab, “Sekarang kesempatan bagi kita untuk menentukan. Kau berdua memukuli aku atau aku  akan  memukuli  kau  berdua.   Sementara itu, kemanakanku yang remaja itu akan memukuli Sebleng sampai pingsan pula.”

Sindura yang sempat menengok kepada Barata, melihat bahwa anak itu siap melawan Sebleng. Karena itu, maka Sindura itu pun justru berkata, “Barata, cobalah melayaninya. Aku akan meyakinkan dua orang gegedug ini, bahwa mereka tidak akan dapat memaksakan kehendaknya kepada orang-orang padepokan.

Barata mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mencobanya paman.”

“Bagus” sahut Sindura, “jika kau mengalami kesulitan, maka aku akan melibatkan diri pula.”

“Kau ternyata lebih sombong dari anak itu” geram Truna, “kau kira kau tidak akan terlempar kedalam bendungan itu?”

Sindura tidak menjawab. Agaknya ia benar-benar harus menunjukkan orang-orang yang disebut gegedug itu, bahwa mereka bukannya orang-orang yang dapat berbuat apa saja yang mereka inginkan.

Sejenak kemudian Gina yang mendendam Sindura karena kekalahan anaknya itu pun telah bergerak. Ia bergeser justru mendekat. Hampir tergapai oleh jari-jari  tangan yang terjulur.

Sindura melihat sikap Gina itu dengan hati-hati. Orang itu terlampau yakin akan kemampuannya. Agaknya ia belum pernah membentur kekuatan yang seimbang. Meskipun demikian, Sindura itu benar-benar telah mempersiapkan diri. Ia belum dapat menduga, seberapa jauh tingkat kemampuan lawan-lawannya itu.

Memang Gina lah yang pertama-tama menyerang Sindura. Ia melangkah maju sambil  mengayunkan tangannya, tidak terlalu keras untuk memancing gerak Sindura. Namun ketika Sindura bergeser menghindar, tiba-tiba dengan kecepatan yang tidak terduga, Gina telah menyerang dengan kakinya. Demikian kerasnya sehingga sambaran anginnya terasa ditubuh Sindura yang dengan terkejut meloncat surut.

“Hampir saja dadanya pecah” geram Gina.

“Luar biasa” desis Sindura, “kecepatan gerak yang dipadu dengan kekuatan yang sangat besar.”

Gina tidak menjawab. Ia melangkah lagi mendekat seperti sikapnya semula. Namun ia mulai menyerang dengan kakinya. Perlahan dan tidak berbahaya sama sekali.

Sindura memperhitungkan gerak lawannya. Ia menduga bahwa lawannya tidak akan mempergunakan cara yang sama untuk mencuri kesempatan. Meskipun demikian Sindura tetap waspada menghadapi kecepatan gerak lawannya itu.

Namun ternyata perhitungan Sindura keliru. Ketika Sindura menghindari serangan kaki yang lemah itu, tiba-tiba saja Gina meloncat mendekat. Tangannya yang mengepal terjulur lurus kearah dada.

“Mati kau” teriak Gina.

Sindura sekali lagi terkejut. Bukan karena pukulan kita, tetapi justru karena Gina mengulangi caranya untuk mengejutkan lawan.

Tetapi ketika Gina mengulanginya sekali lagi, maka Sindura berkata didalam hati, “Orang ini memiliki kekuatan yang besar, tetapi agaknya orang ini memang dungu. Jika cara itu diulang-ulanginya, maka lawannya akan dapat membaca apa yang akan dilakukannya. Tetapi dapat terjadi, bahwa ia sengaja melakukannya, agar jika ia merubah cara itu, lawannya akan benar-benar terkejut.”

Karena itu, maka Sindura tetap selalu berhati-hati. Ia tidak mau terkecoh oleh cara-cara yang kurang sesuai dengan pengenalannya dan perhitungannya.

Namun ternyata bahwa Gina tidak sekedar memancingnya. Ia memang terlalu dungu bagi Sindura yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka bagi Sindura, Gina akan dengan mudah dapat diselesaikan.

Tetapi Sindura tidak melakukannya. Ia memang mengulur waktu. Apalagi ketika kemudian Truna juga melibatkan dirinya. Dengan sengaja Sindura memberikan kesempatan kepada kedua lawannya untuk menyerangnya, bahkan menyentuh tubuhnya.

Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu menjadi tegang menyaksikan peristiwa yang terjadi itu. Ki Demang yang kemudian justru berkeringat sebagaimana mereka yang bertempur, memang berharap-harap cemas. Ia tahu bahwa orang-orang yang berada di padepokan itu adalah orang-orang dari sebuah perguruan yang memisahkan diri. Karena itu, ia berharap bahwa oang-orang padepokan itu akan dapat sedikit memberi peringatan kewadagan kepada ketiga orang gegedug itu.

Meskipun demikian Ki Demang pun menjadi cemas, bahwa justru yang terjadi adalah sebaliknya. Jika orang-orang padepokan itu tidak dapat mengatasi kemampuan ketiga gegedug itu, maka nasib orang-orang padepokan itu akan menjadi sangat buruk. Mereka akan diusir dari padepokan. Hasil jerih payah mereka yang sudah berujud tanah garapan akan dirampas oleh ketiga orang gegedug itu meskipun mereka mempergunakan istilah dikembalikan kepada Kademangan Bibis.

Kegelisahan itu menjadi semakin tajam ketika ia melihat beberapa kali Sindura dapat disentuh oleh kedua orang lawannya. Sementara itu Sindura sama sekali tidak berhasil membalasnya.

Sebenarnyalah Sindura memang memberi kesempatan kepada kedua orang itu untuk berkelahi melawannya. Ia memang  ingin  melihat  Barata  bertempur  melawan Sebleng. Dengan demikian, maka ia akan dapat mengamati tingkat kemampuan Barata yang sebenarnya. Bukan sekedar  dalam  latihan-latihan.   Dengan  bertempur melawan lawan yang sebenarnya maka Barata harus benar-benar mempergunakan ilmunya.

Dalam pada itu, dibawah bendungan, di tepian berpasir Barata memang berhadapan dengan Sebleng yang marah karena anaknya mengalami cidera. Bukan saja diperutnya tersimpan air keruh dari bendungan, tetapi tulang punggungnya bagaikan patah dan sendi-sendinya terlepas.

Barata yang remaja itu harus berusaha untuk mampu mengimbangi kemarahan Sebleng yang memiliki pengalaman yang luas didunia kekerasan. Namun Barata telah dibekali dengan ilmu yang dipelajarinya dengan tekun. Latihan-latihan yang berat serta kemauan yang keras.

Karena itu, meskipun Sebleng telah dianggap sebagai gegedug di Kademangan Bibis, namun menghadapi seorang anak laki-laki remaja, ia mengalami kesulitan. Ternyata bahwa Barata mampu bergerak dengan cepat. Justru karena ia harus berhadapan dengan seorang yang dianggapnya gegedug, maka ia harus berhati-hati. Sejak semula Barata telah melengkapi tata geraknya dengan segenap ilmu yang telah dimilikinya.

Sebleng yang merasa dirinya tidak terkalahkan di Bibis merasa terkejut menghadapi anak laki-laki remaja itu. Ternyata anak itu sulit sekali untuk disentuh. Anak itu mampu meloncat-loncat secepat kijang bermain di rerumputan. Bahkan justru anak itulah yang telah lebih dahulu mengenai tubuh Sebleng.

Sebleng mengumpat kasar ketika lambungnya merasa sakit. Meskipun kaki yang mengenainya adalah kaki anak laki-laki yang masih remaja, namun dilambari dengan ilmu yang mulai kapan, maka sentuhan kaki itu benar-benar terasa sakit.

Karena itu kemarahan Sebleng pun semakin lama menjadi semakin meningkat. Rasa-rasanya ia ingin segera menerkam anak itu dan meremasnya menjadi debu.

Tetapi ternyata segala usahanya sia-sia. Jika ia meloncat dengan tangan terkembang, maka Barata melenting lebih cepat kesamping. Bahkan tiba-tiba kakinya telah terjulur menghantam tangan Sebleng.

Sebleng hanya dapat mengumpat, karena Baratapun segera meloncat menjauh.

Demikianlah terjadi beberapa kali. Sebleng ternyata tidak mampu mengatasi kecepatan gerak anak laki-laki remaja itu. Bahkan semakin lama anak itulah yang semakin sering menyakitinya. Sekali kaki anak itu mengenai lengannya. Namun kemudian lambungnya dan dadanya. Sedangkan, Sebleng sendiri sama sekali tidak mampu menyentuh Barata, bahkan bajunya sekalipun.

Sementara itu, Sindura masih juga bertempur melawan kedua lawannya. Jika mereka itu dengan cepat dikalahkan, maka tentu akan mempengaruhi perlawanan Sebleng, sehingga ia tidak akan dapat melihat lebih jelas lagi ujud dari kemampuan Barata. Karena itu maka ia dengan sengaja membiarkan kedua lawannya masih tetap bertempur melawannya,

Sementara itu Kiai Tapis memperhatikan Barata yang bertempur melawan Sebleng dengan saksama. Ia melihat, bagaimana anak itu mengetrapkan ilmu yang diterimanya dalam benturan kekerasan yang sebenarnya.

Meskipun masih banyak yang perlu dibenahi, namun ternyata bahwa Barata telah dapat menguasai unsur-unsur ilmu yang diterimanya dengan baik. Tetapi karena ia sangat kekurangan pengalaman maka kadang-kadang ia kehilangan kesempatan yang seharusnya dapat dimanfaatkannya dengan baik.

Namun Kiai Tapis dapat berbangga hati karena Barata nampaknya cukup trampil dan mapan mengetrapkan sebagian dari bahan yang harus dipelajarinya kelak. Namun yang telah diterimanya dapat dipergunakan sebagaimana seharusnya.

Tetapi lebih dari itu, Barata agaknya selalu mendengarkan petunjuknya, bahwa ia tidak boleh mengetrapkan ilmunya semena-mena. Terhadap mereka yang tidak memiliki kemampuan setinggi dirinya, maka Barata harus mengekang diri. Ia harus mampu menilai persoalan apakah yang sebenarnya sedang dihadapi. Jika persoalannya bukan persoalan yang sangat gawat, maka ia harus masih selalu membatasi diri.

Ternyata demikian pula sikap Barata terhadap Sebleng. Barata tidak dengan serta merta menghancurkan Sebleng. Tetapi Barata cukup mempergunakan sebatas ilmunya yang diperlukan untuk menghentikan perlawanan Sebleng.

Dengan kasar Sebleng yang terdesak itu mengumpat-umpat. Namun betapapun ia berusaha, namun ia tidak dapat mengatasi kemampuan laki-laki remaja itu. Bahkan setiap kali ia harqs menyeringai menahan sakit, karena pukulan-pukulan Barata yang mengenainya. Lambungnya yang beberapa kali dikenai serangan kaki dan tangan, pundaknya yang bagaikan patah, lengannya yang rasa-rasanya menjadi bengkak dan isi dadanya yang rasa-rasanya menjadi lumat.

Dengan demikian maka seluruh tubuh Sebleng bagaikan menjadi remuk. Setiap kali ia bergerak, maka ia harus mengatasi rasa sakit yang tidak terkira menusuk dihampir seluruh tubuhnya.

Ki Demang Bibis, Ki Jagabaya, para bebahu dan orang-orang yang berkerumun dibawah bendungan akhirnya harus menyaksikan satu peristiwa yang bagi mereka hampir tidak masuk akal. Sebleng, gegedug yang tidak terkalahkan di Kademangan itu ternyata harus menyerah kepada seorang anak laki-laki remaja.

Betapapun Sebleng menghentakkan kekuatan dan kemampuannya, namun ia pun akhirnya jatuh terduduk diatas pasir. Tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Namun keringat Barata pun mengalir diseluruh lubang kulitnya. Nafasnya memang menjadi terengah-engah. Bagaimanapun juga ia harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalahkan Sebleng yang berpengalaman itu.

Sindura yang bertempur melawan Gina dan Truna, yang melihat Sebleng dikalahkan telah berkata lantang, “Bagus Barata. Kau akhirnya berhasil menundukkan gegedug itu.”

“Tutup mulutmu” teriak Truna.

“Biar saja mulutnya berteriak” sahut Gina, “aku akan merobeknya sampai ketelinga.”

Tetapi Sindura yang telah melihat seluruh perkembangan pertempuran dibawah bendungan itu pun merasa bahwa ia pun harus segera mengakhiri pertempuran.

Bagi Sindura sama sekali tidak ada kesulitan untuk menghentikan perlawanan kedua gegedug itu. Karena itu, maka iapun berkata “Ki Sanak, kemanakanku telah selesai. Seorang diantara kawanmu sesama gegedug telah dikalahkan oleh kanak-kanak. Nah, jika demikian maka kalian pun akan dapat dengan mudah aku kalahkan. Karena itu, sebelum hal itu terjadi, maka lebih baik kalian meninggalkan aku sebelum aku mengambil keputusan  untuk benar-benar mengalahkan kalian.”

“Persetan” geram Truna.

Tetapi Sindura memang tidak membuang banyak waktu. Ketika keduanya jelas tidak mau menyingkir dari arena, maka Sindura pun mulai bergerak dilambari dengan tenaga cadangannya.

Tidak ada sepenginang, maka kedua orang gegedug itu telah terlempar kedalam air. Untunglah keduanya memiliki kemampuan berenang. Betapapun tubuh mereka menjadi sangat lemah dan kesakitan, namun mereka pun telah berusaha untuk berenang menepi. Tetapi ketika mereka mencapai bendungan dan menggapai dengan tangannya, tenaganya terasa sangat lemah untuk dapat mengangkat tubuhnya dari dalam air. Akhirnya Sindura jugalah yang telah menolong mereka berdua. Ditariknya kedua orang itu naik kebendungan. Betapa lemahnya kedua orang itu, sehingga ketika mereka sudah ada di bendungan, mereka masih belum mampu berdiri tegak.

“Kau curang” Gina masih dapat berteriak, “kau tentu mempergunakan ilmu sihir.”

Sindura tertawa. Katanya, “Aku belum pernah mempelajari ilmu sihir. Aku tidak mampu melakukannya. Yang terjadi adalah ilmu kanuragan yang sewajarnya.”

“Persetan” geram Truna.

“Nah” berkata Sindura, “seperti yang aku katakan, maka aku akan memukuli kalian karena kalian akan memukuli anak kemanakanku itu.”

“Gina yang akan melakukannya, bukan aku” sahut Truna.

“Ya, orang ini yang akan melakukannya” jawab Sindura.

“Tetapi bukankah belum terjadi?” bertanya Gina.

“Meskipun demikian sudah terbersit dihatimu keinginan itu. Jika kau mampu mengalahkan aku, maka hal itu tentu sudah kau lakukan.”

“Tetapi belum terjadi” Gina jadi memelas.

Sindura tersenyum. Sambil menarik nafas dalam-dalam iapun berkata, “Nah, jika demikian kalian bertiga dan anak-anak muda yang kau bawa itu harus pergi dari tempat ini. Biarlah kami menghabiskan saat-saat kegembiraan kami karena bendungan ini sudah dapat menaikkan air bagi beberapa pedukuhan di Kademangan Bibis. Berilah kesempatan kepada orang-orang Bibis untuk mengucap syukur atas kesempatan itu.”

Truna dan Gina tidak menjawab. Namun dengan sisa tenaganya keduanya pun bangkit berdiri.

“Cepat, sebelum aku berubah pendirian. Atau barangkali kalian ingin kami bawa ke padepokan?” bertanya Sindura.

“Tidak” jawab Gina.

Keduanya pun kemudian dengan hati-hati melangkah ke tanggul sungai. Mereka tidak dapat meloncat turun dari bendungan karena mereka memang sudah lemah. Karena itu, keduanya telah menuruni tangga di ujung bendungan dengan hati-hati.

Beberapa saat kemudian, dengan diiringi pandangan mata orang-orang Bibis yang ada di bendungan itu, ketiga orang gegedug dan tiga orang anak muda yang memiliki kelebihan di Bibis itu, meninggalkan bendungan dengan kepala tunduk. Ternyata mereka tidak berhasil memaksakan kehendak mereka seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang padepokan itu tidak dapat ditudukkannya dengan kekerasan.

Sepeninggal ketiga orang itu, maka rasa-rasanya dibendungan itu menjadi tenang. Orang-orang Bibis tidak lagi merasa ketakutan bahwa ketiga orang itu akan berbuat aneh-aneh lagi. Bahkan sebagian dari mereka beranggapan bahwa bukan saja saat itu. Tetapi di hari-hari mendatang, para gegedug masih harus menghitung-hitung jika mereka ingin berbuat sesuatu. Apalagi orang-orang padepokan itu telah menyatakan diri menjadi bagian dari keluarga Kademangan Bibis.

Dalam pada itu, upacara yang pokok dari pernyataan syukur dan kegembiraan orang-orang Bibis itu memang telah selesai. Karena itu, maka Ki Demang pun berniat untuk segera menutup pertemuan itu.

Berulang kali Ki Demang menyatakan terima kasihnya kepada para penghuni padepokan yang dipimpin oleh Kiai Tapis itu. Bahkan juga kepada penghuni padepokan yang berasal dari Bibis sendiri, karena anak-anak muda itu pun masih tetap ikut bekerja keras bagi Kademangannya.

Sejenak kemudian, maka pertemuan itupun telah selesai. Kiai Tapis, Sindura dan Barata pun kembali ke padepokannya. Anak-anak muda Bibis yang menjadi penghuni padepokan itu masih tinggal, karena mereka masih ingin bermain-main dengan kawan-kawannya.

Ketika Kiai Tapis, Sindura dan Barata sampai kepadepokan, maka mereka masih sempat membicarakan apa yang telah terjadi. Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah ikut pula mendengarkannya.

Namun yang kemudian menjadi pokok pembicaraan adalah ilmu yang telah dipergunakan oleh Barata untuk melawan Sebleng.

Baik Kiai Tapis maupun Sindura telah memberikan banyak bahan-bahan pertimbangan kepada Barata. Mereka dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan Barata.

Tetapi merekapun dapat menunjukkan kekuatan-kekuatan Barata.

“Marilah, kita ke sanggar” berkata Sindura.

“Kau sempat memperhatikan perkelahian itu?” bertanya Barata, “bukankah kau sendiri sedang berkelahi melawan kedua orang gegedug itu?”

“Keduanya tidak memerlukan pemusatan nalar budi. Aku sempat memperhatikan unsur-unsur gerak yang kau pergunakan.” jawab Sindura.

Demikianlah maka Sindura, Barata dan bahkan Kiai Tapis, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah ikut pula masuk kedalam sanggar. Dengan jelas Gandar menunjukkan beberapa kesalahan yang telah dilakukan Barata.

“Untunglah bahwa lawanmu bukan orang yang mampu melihat keseluruhan suasana dalam perkelahian itu, sehingga ia tidak melihat kesempatan-kesempatan yang sebenarnya kau berikan kepadanya karena kesalahanmu” berkata Gandar.

Risang mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Gandar itu. Karena itu, maka bersama Gandar keduanya mulai mencoba kemungkinan-kemungkinan lain yang sebaiknya dipergunakan oleh Risang dalam kesempatan seperti yang baru saja terjadi itu.

Risang memperhatikan semua petunjuk itu dengan tekun. Ia pun kemudian dengan bersungguh-sungguh telah melatih diri melakukan sebagaimana diberitahukan oleh Gandar, dan bahkan juga oleh Kiai Badra yang sempat menyaksikan perkelahiannya itu lebih banyak dari Gandar.

Ternyata bahwa keringat yang mengalir dari tubuh Risang di sanggar itu jauh lebih banyak dari pada saat-saat ia berkelahi di bendungan. Namun dengan demikian Gandar ingin menunjukkan kesalahan-kesalahan Risang itu segera sebelum anak itu melupakannya.

Dalam pada itu, ternyata telah terjadi satu perkembangan tata kehidupan yang baru di Kademangan Bibis. Beberapa pedukuhan yang mendapat air lagi dari Kali Lorog itu merasa dibebani oleh kewajiban untuk mempergunakan air itu sebaik-baiknya. Mereka merasa tidak seharusnya menyia-nyiakan kerja yang telah mereka lakukan di bendungan.

Namun disisi lain telah terjadi pula perubahan. Tiga orang gegedug yang selalu berbuat menurut kepentingan mereka sendiri dan mengagungkan kelebihan mereka, harus merubah cara hidup mereka. Dengan kekalahan mereka, terutama Sebleng yang dikalahkan oleh seorang anak laki-laki remaja, membuatnya sangat berprihatin, bahkan mendendam.

Namun Seblengpun sadar, bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap orang-orang padepokan itu. Truna pun merasa dihinakan pula oleh Sindura. Tetapi seperti Sebleng, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa. Baginya orang-orang padepokan itu ternyata terlalu kuat. Yang agak berbeda sikapnya dari keduanya adalah Gina. Ia mengakui kekalahannya sepenuhnya. Bahkan kepada anak laki-lakinya ia berkata, “Kau tidak boleh menjadi sakit hati. Kau harus mengaku dengan jujur bahwa kau kalah. Akupun kalah.”

Anak laki-lakinya mengangguk-angguk. Sementara  itu Gina justru berkata, “Aku akan pergi ke padepokan.”

“Untuk apa?” bertanya anaknya.

“Aku ingin bersahabat dengan orang-orang padepokan itu. Kita harus minta maaf.” berkata Gina, “bahkan aku berpendapat, sebaiknya kau ikut bersama beberapa orang anak muda tinggal di padepokan itu. Tetapi kau harus jujur. Kau tidak boleh mempunyai niat buruk.”

Anak laki-lakinya mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepada ayah sajalah.”

“Kau mau atau tidak?” bertanya ayahnya. Anak laki-lakinya mengangguk-angguk. Demikianlah, maka Gina dan anaknya telah pergi ke padepokan. Dengan sepenuh hati Gina menyatakan keinginannya untuk menyerahkan anaknya kepada Kiai Tapis agar diperkenankan tinggal di padepokan ini,

“Aku sudah berpesan kepadanya, agar ia bertindak jujur. Anak itu tidak boleh mempunyai niat buruk” berkata Gina.

Kiai Tapis yang menerima kehadiran Gina itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Sanak, aku percaya kepadamu dan kepada anakmu. Tinggalkan anakmu disini.”

“Aku akan membawanya pulang. Ia perlu mempersiapkan diri. Tetapi biarlah pekan mendatang ia datang lagi.” berkata Gina.

“Baiklah Ki Sanak, eh, barangkali aku dapat menyebut namamu?” desis Kiai Tapis.

“Namaku sudah Kiai ketahui. Gina. Lengkapnya Ginapada.” jawab Gina, “dan anakku ini namanya Supada. Mirip dengan namaku.”

Kiai Tapis mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepada Ki Sanak. Mana yang baik bagi Supada. Aku akan menerimanya dengan senang hati.”

“Tetapi aku mohon Kiai dapat memberikan penjelasan kepada anak-anak muda yang telah lebih dahulu berada di padepokan ini, agar tidak terjadi salah paham.” berkata Ginapada.

“Serahkan hal itu kepada kami” berkata Kiai Tapis sambil tersenyum.

Ginapada itupun mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya hatinya menjadi terbuka. Ia melihat jalan yang lebih baik yang dapat dilalui oleh anaknya daripada sekedar membanggakan kelebihannya diantara anak-anak muda Bibis. Dengan demikian maka anaknya itu pun menjadi jauh dengan anak-anak muda sebayanya sebagaimana Lowar dan anak Sebleng.

Ketika Ginapada kemudian pulang ke padukuhan, maka di sepanjang jalan ia telah memberikan banyak petunjuk kepada anaknya, bahwa sebaiknya ia menilai kembali apa yang pernah dilakukannya dan melihat masa depan yang lebih baik.

Anaknya mengangguk-angguk. Meskipun sebagian dari pesan ayahnya itu masih belum sesuai dihatinya, tetapi anak itu memang mencoba untuk mengerti.

Sementara itu, peristiwa yang terjadi di bendungan memberikan peringatan kepada Kiai Tapis dan seisi padepokan kecil itu,bahwa persoalan-persoalan memang dapat saja timbul di kemudian hari. Truna dan Sebleng yang sakit hati akan dapat saja mengembangkan persoalan kecil itu. Mereka mempunyai kawan-kawan yang tinggal di Kademangan lain. Bahkan juga di Kademangan Ngadiraja. Juga diseberang Kali Lorog dan ditempat-tempat  yang jauh.

“Kenapa persoalan-persoalan seperti itu datang juga mengganggu ketenangan kami” berkata Kiai Tapis, “kami mencari tempat yang sepi dan terpencil ini dengan niat untuk dapat dengan tenang menempa diri dan mempelajari berbagai macam ilmu. Namun datang juga persoalan yang tidak terduga. Jika persoalan ini berkembang dan merambat sampai ketelinga orang-orang yang kita singkiri, akibatnya akan menjadi gawat.”

“Mudah-mudahan tidak sejauh itu Kiai” jawab Sindura, “meskipun demikian kita memang harus berhati-hati.”

“Kita harus menyiapkan Risang sebaik-baiknya sebelum ia kembali ke Tanah Perdikan Sembojan” berkata Kiai Tapis, “agar ia tidak menjadi seorang pemimpin yang kosong seperti Ki Wiradana. Keberhasilan Ki Gede Sembojan membangun Tanah Perdikannya tidak dibarengi keberhasilannya membina anaknya. Baik dihidang kewadagan maupun dihidang kajiwan.”

“Ya. Ki Gede sudah gagal membina anaknya” desis Gandar.

Tetapi dengan nada rendah Kiai Tapis berkata, “Nampaknya Ki Gede pernah juga mempunyai bayangan hitam didalam liku-liku hidupnya. Namun semuanya itu sudah terhapus oleh keberhasilannya membina Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata bahwa ia mempunyai persoalan yang khusus dengan Kalamerta.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun katanya, “Mudah-mudahan Risang berhasil mengatasi saingannya.”

Kiai Tapis pun mengangguk-angguk kecil. Namun beban yang berat terasa selalu menekan pundaknya. Namun dalam pada itu, padepokan kecil itu masih saja selalu berkembang, sejalan dengan perkembangan Kademangan Bibis. Supada yang berada di padepokan itu ternyata memenuhi harapan ayahnya. Ia tidak lagi menjadi anak yang bengal. Ia justru menjadi sahabat yang baik bagi anak-anak muda Bibis yang berada di padepokan.

Untuk memenuhi harapan anak-anak muda Bibis, maka Sindura pun telah memberikan beberapa latihan olah kanuragan. Hal itu bukan saja untuk kepentingan anak-anak muda itu sendiri, tetapi jika pada satu saat bahaya yang sebenarnya mengancam padepokan itu, maka padepokan kecil itu sudah bersiap.

Bagaimanapun juga Gandar masih mencemaskan kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh dendam yang membakar hati Warsi dan Ki Rangga Gupita. Meskipun waktu yang sepuluh tahun telah mengantarai peristiwa-peristiwa yang mendebarkan itu, namun dendam yang sudah berakar dihati tidak akan dapat terhapus. Demikian pula agaknya dengan Ki Rangga Gupita dan Warsi.

Bahwa kemudian Ki Randukeling telah ikut campur merupakan persoalan yang lebih tajam. Apalagi dengan kehadiran Ajar Paguhan. Meskipun belum ada kepastian tentang keterlibatan mereka langsung pada jalan hidup Warsi dan Ki Rangga Gupita, namun kemungkinan-kemungkinan buruk akan dapat terjadi.

Memang waktu yang sepuluh tahun itu merupakan jarak yang panjang, bahkan sudah cukup lama untuk melupakan satu kejadian. Namun bukan dendam yang mengendap sampai ke dasar jantung. Bahkan Gandar menduga, dalam waktu sepuluh tahun itu, Warsi telah menempa diri, sehingga pada satu saat ia akan menantang lagi Iswari untuk berperang tanding. Meskipun mereka bukan lagi perempuan-perempuan muda, namun dalam dunia olah kanuragan, hal itu akan dapat terjadi.

Namun Gandar tidak mencemaskan Iswari. Dalam waktu sepuluh tahun ia justru telah ditempa oleh Kiai dan Nyai Soka untuk memperdalam ilmu Janget Kinatelon. Jika Warsi memang menghendaki perang tanding, maka Iswari tidak akan mengecewakan. Meskipun Nyai Soka menjadi semakin tua serta garis-garis umur didahinya nampak semakin dalam, tetapi ia masih mempunyai kemampuan yang jarang ada duanya.

Yang harus diperhatikannya pula adalah Risang itu sendiri. Anak Wiradana yang lain, yang lahir dari isteri keduanya adalah juga seorang laki-laki. Tidak seorang pun diantara para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan yang mengetahui dimana Puguh itu berada. Tetapi jika ia juga berada ditangan Ki Randukeling dan Ajar Paguhan, maka masa datang bagi Puguh tentu akan berkiblat juga pada Tanah Perdikan Sembojan. Seandainya Puguh tidak lagi merasa mungkin untuk mengambil kedudukan ayahnya,  karena mungkin juga pengaruh Pajang, dan sikap orang Sembojan sendiri, namun Puguh akan dapat selalu mengganggu ketenangan hidup Risang dan bahkan mungkin ia akan menuntut bagian warisan dari Risang, karena Puguh adalah anak Wiradana yang sah seperti juga Risang. Bahkan mungkin pula terjadi, seperti sikap ibunya, Puguh akan menantang Risang untuk berperang tanding.

Karena itu, maka kesimpulan yang diambil oleh Gandar adalah, “Risang harus menjadi seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.”

Pikiran itu sejalan dengan pikiran Kiai Badra. Namun ternyata bahwa Kiai Badra tidak semata-mata berkisar pada diri Risang sendiri. Jika Risang memiliki kemampuan yang tinggi, maka ia akan dapat menjadi pelindung yang baik. Dengan kemampuannya ia akan dapat menjadi sahabat yang siap untuk menolong sesama. Sehingga dengan demikian maka Risang benar-benar akan dapat mengabdikan hidupnya kepada Sumber hidupnya dan kepada sesamanya.

Dengan landasan pikiran itulah maka Kiai Badra benar-benar berusaha untuk menempa Risang agar ia menjadi seorang yang benar-benar berilmu tinggi sebagaimana kakek dan ibunya. Sementara itu Risang sendiri dengan sepenuh minat telah bekerja keras untuk memenuhi keinginan Kiai Badra itu, dilambari dengan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai cucu Kepala Tanah Perdikan yang kelak akan menggantikan kedudukan itu.

Karena itulah maka Risang tidak pernah mengeluh jika ia harus melakukan latihan-latihan yang berat. Tidak hanya disanggar, tetapi kadang-kadang Kiai Badra dan Gandar membawanya dialam terbuka. Di sungai, di padang perdu, di padang rumput dan kadang-kadang didalam hutan. Atas bimbingan Kiai Badra, Gandar dan kadang-kadang juga Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Risang mengalami penempaan diri yang berat.

Namun dalam usia remaja itu, Risang telah menunjukkan kelebihannya. Kecerdasan nalar budinya dan ketajaman panggraitanya. Sehingga dengan demikian maka orang-orang yang membimbingnya memang mempunyai harapan yang besar, bahwa Risang akan dapat menjadi anak muda yang jarang ada duanya.

Disamping latihan-latihan yang berat, Risang mempunyai kebiasaan yang menarik. Dalam saat-saat senggang maka ia mempunyai kesenangan memperhatikan cara hidup berbagai jenis binatang. Dari binatang yang kecil sampai binatang yang besar.

Beberapa kali Risang bersama Gandar berada dihutan untuk melihat-lihat berbagai jenis binatang yang hidup dalam satu susunan kehidupan yang keras seakan-akan tanpa perlindungan bagi yang lemah. Pernah Risang duduk diatas dahan pohon untuk waktu yang lama sambil memperhatikan keadaan disekitarnya. Risang sempat menyaksikan seekor harimau yang menerkam seekor kijang yang terlambat melarikan dirinya. Namun hatinya tergetar juga ketika pada suatu saat Risang melihat seekor ular yang besar tergantung pada cabang sebatang pohon raksasa. Ular itu membelit dengan ekornya, sementara kepalanya yang tergantung itupun bagaikan terayun-ayun dekat diatas tanah.

Untuk beberapa lama Risang menunggu ular itu dari kejauhan diatas dahan sebatang pohon yang besar pula. Dari celah-celah pepohonan hutan ia dapat melihat, apa yang dilakukan oleh ular itu. Namun ternyata bahwa hampir semua binatang hutan telah menyingkir. Sehingga untuk waktu yang lama, ular itu tidak dapat menangkap seekor binatangpun.

Risang tidak dapat menunggui binatang itu terlalu lama. Ia pun kemudian turun dan beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seekor ular sebesar pergelangan tangannya terhenti sedang mengintai seekor tikus yang lengah. Tikus tanah yang besarnya hampir sama dengan seekor kelinci, sedang bersiap-siap untuk menggali lubang. Ketika tikus tanah itu mulai bergerak menggali maka tiba-tiba kepala ular itu terjulur. Begitu cepatnya menyambar tikus tanah itu.

Tetapi ternyata bahwa tikus tanah itu bergerak lebih cepat. Demikian nalurinya menyentuhnya, maka tiba-tiba kaki belakangnya telah melemparkan seonggok tanah tepat mengenai mata ular itu, sehingga ular itu mengurungkan patukannya dan justru bergeser mundur.

Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh tikus tanah itu untuk melarikan diri. Namun ular yang marah itupun masih berusaha untuk mengejarnya meskipun agaknya ia akan ketinggalan. Tetapi Risang tidak tahu apa yang terjadi kemudian atas tikus itu.

Ternyata bahwa pengamatannya atas berbagai macam binatang itu memberikan manfaat juga kepadanya. Dalam pengembangan ilmunya, maka gerak burung-burung yang cepat dan lincah sangat mempengaruhinya. Burung sikatan yang menyambar belalang. Burung , air yang menyambar ikan yang sedang berenang dibawah permukaan air. Alap-alap yang kecil namun yang mampu mengejar dan menaklukkan burung merpati yang lebih besar.

“Paman” berkata Risang pada suatu saat kepada Gandar, “aku dengar bahwa ada perguruan-perguruan yang memberikan pertanda dari perguruannya sebagai lambang yang tentu saja mempunyai arti yang baik menurut para pengikutnya itu.”

“Ya” jawab Gandar, “memang ada perguruan yang memberikan pertanda bagi perguruan itu. Bertanyalah kepada Sambil Wulung dan Jati Wulung. Merekapun mempunyai pertanda tersendiri. Namun mereka memang berniat untuk meninggalkan perguruannya itu.”

“Jika demikian kenapa kita tidak memberikan pertanda bagi perguruan kita?” bertanya Risang.

“Biasanya perguruan itu menentukan nama lebih dahulu, barulah lambangnya. Kita memang tidak menentukan nama dan perlambang itu.”

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 2

diedit dari naskah yang disusun Nyi Dewi KZ di http://kangzusi.com/

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s