SBB-34

<< kembali | lanjut >>

TUTUP mulutmu,” sekali lagi Warsi berteriak.

Sementara itu Ki Rangga yang menjadi cemas melihat kemarahan Warsi itu pun berkata, “Nah, yang penting kalian harus berperang tanding, bukan sekadar berbicara. Aku berharap bahwa para saksi dari Tanah Perdikan pun jujur. Terus terang aku mengakui, bahwa meskipun saksi dari Tanah Perdikan hanya tiga orang, tetapi ketiganya adalah orang-orang tua yang berilmu tinggi. Namun dengan demikian aku justru menaruh harapan, bahwa mereka tidak akan mengorbankan harga diri mereka untuk berbuat curang dalam kesaksian mereka apapun yang terjadi. Meskipun mereka akan mampu membunuh kami semuanya, tetapi seharusnya mereka mengakui kenyataan yang terjadi dalam perang tanding ini.”

“Kami datang untuk menjadi saksi,” jawab Kiai Badra. “Karena itu, kami hanya menyaksikan apa yang telah terjadi disini. Sebenarnya aku berharap bahwa Ki Randukeling akan datang juga menyaksikan perang tanding ini.”

“Kami tidak merasa perlu untuk mengundangnya,” jawab Ki Rangga. “Pada saatnya kami hanya akan datang untuk memberitahukan kepadanya bahwa Nyai Wiradana yang tua sudah terbunuh dalam perang tanding. Perang tanding yang jujur dan terhormat.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra. “Kami pun sudah siap untuk menyaksikan perang tanding ini. Siapapun yang menang atau kalah, maka penyelesaian itu adalah penyelesaian yang terhormat bagi kedua belah pihak.”

“Nah,” berkata Ki Rangga. “Kita harus membuat arena. Kita akan berdiri mengelilingi arena itu.”

“Kita harus berdiri agak jauh dari arena,” berkata Kiai Badra. “Dengan demikian maka kita tidak akan mengganggu perang tanding ini. Mungkin di antara mereka memerlukan arena yang luas untuk mengembangkan ilmunya dalam perang tanding itu.”

“Aku setuju,” berkata Warsi. “Kami memang memerlukan jarak pada suatu saat.”

“Baiklah,” berkata Ki Rangga. “Kita akan melingkari satu arena yang luas. Kita tidak akan mencampuri perang tanding itu sampai yang menang mengambil keputusan atas lawannya.”

Demikianlah, maka para saksi itu pun kemudian telah berdiri melingkari satu arena yang luas. Ternyata Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka tidak berdiri berkelompok. Mereka justru telah berpencar dan mengamati perang tanding itu dari tiga arah. Dengan demikian maka mereka bertiga akan dapat melihat perkembangan perang tanding itu dengan seksama.

Ki Rangga Gupita memang menjadi tegang. Tetapi ia mengenali kemampuan Warsi. Ia hampir pasti, bahwa Warsi akan dapat menyelesaikan perang tanding itu seperti dikehendaki. Apalagi ketika ia melihat sepasang pedang pendek dilambung Iswari. Sejenis senjata kebanyakan yang dipakai oleh para prajurit dan pengawal. Tidak ada kekhususan apa-apa. Betapapun terampilnya seseorang memainkan pedang pendek yang sepasang itu, ia tidak akan mampu mengimbangi kemampuan Warsi bermain dengan rantainya.

Demikianlah kedua orang perempuan yang perkasa itu sudah siap. Tidak pernah terpikir oleh seorang di antara mereka untuk melarikan diri. Bagi Iswari dan Warsi, akhir dari perang tanding ittu adalah kematian.

Sekilas Iswari terbayang wajah anak laki-lakinya, Risang. Namun kemudian wajah itu justru memberikan dorongan kekuatan jiwani di dalam dirinya.

“Apa yang aku lakukan, adalah untuk kepentingannya,” berkata Iswari di dalam hatinya.

Agak berbeda dengan Warsi yang sama sekali tidak teringat lagi kepada anaknya. Ia tidak peduli apa yang sedang terjadi atas Puguh saat itu. Yang penting baginya adalah membunuh Iswari untuk mendapatkan kepuasan pribadinya.

Sekilas Warsi menengadahkan kepalanya. Dipandanginya bulan bulat dilangit. Sejenak Warsi memandang bulan itu, seakan-akan memohon sesuatu kepada benda langit yang bulat bercahaya itu.

Iswari sama sekali tidak menghiraukannya. Baginya tiada kuasa yang lebih tinggi dari Kuasa Yang Maha Agung. Namun betapapun besar kuasa-Nya, namun Yang Maha Agung itu pun adalah Yang Maha Adil.

Sesaat kemudian maka terdengar gemeretak gigi Warsi. Dengan datar ia menggeram,

“Aku akan mulai anak manis.”

Iswari pun mulai bergeser. Ia sadar, bahwa pertempuran itu tentu akan berlangsung lama. Karena itu ia harus mampu tetap sadar untuk mengatur kekuatan dan kemampuan diri.

Ketika Warsi mulai melangkah, maka Iswari pun melangkah pula. Keduanya bergeser melingkar, seakan-akan masih ingin melihat bagaimana kaki masing-masing bergerak.

Namun dengan demikian keduanya menjadi semakin yakin bahwa lawan masing-masing adalah orang yang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, Warsi mulai mencoba menjajagi lawannya. Ia telah bergeser selangkah maju sambil menjulurkan tangannya ke arah dada Iswari. Namun Iswari hanya sekadar beringsut surut. Warsi yang sudah memperhitungkan sikap lawannya, tiba-tiba saja telah meloncat sambil menjulurkan kakinya.

Sekali lagi Iswari bergeser surut. Namun kemudian ia pun meloncat ke samping dengan tiba-tiba. Kakinya pun berputar menyapu satu kaki lawannya yang bertumpu diatas tanah sementara kakinya yang lain terentang.

Yang terjadi barulah sekedar memanaskan urat-urat darah mereka. Dengan tangkas mereka saling menyerang dan menghindar. Masih dengan kemampuan wajar mereka. Meskipun semakin lama menjadi semakin cepat, namun yang terjadi adalah tidak lebih dari semacam pameran ketrampilan wadag mereka.

Namun demikian mereka yang menyaksikan pertempuran itu menjadi semakin berdebar-debar. Keduanya bergerak semakin cepat. Tanpa mengenal mereka sebelumnya, tidak seorangpun menduga, bahwa yang berada ditengah arena itu adalah dua orang perempuan.

Ketiga orang kakek dan nenek Iswari mengikuti perkembangan pertempuran itu dengan ketegangan yang memang meningkat. Meskipun mereka belum melihat kelebihan perempuan yang mewarisi ilmu Kalamerta itu, namun mereka sudah melihat, bahwa kesiagaan wadag Warsi memang cukup tinggi.

Sekali-sekali dengan sengaja Warsi menunjukkan kemampuan wadagnya yang dibanggakannya. Dari satu sisi ia melenting langsung kesisi arena yang lain. Jarak yang panjang itu diloncatinya seperti seekor tupai meloncat dari satu dahan pohon kedahan yang lain. Demikian dilakukannya beberapa kali. Namun tiba-tiba saja geraknya berubah seperti seekor burung sikatan menyambar bilalang. Menukik dengan paruhnya yang tajam, mematukdengan garangnya.

Namun ternyata lawannya bukan seekor bilalang. Tetapi seekor elang.

Itulah sebabnya, maka kadang-kadang Warsi justru harus menarik serangannya, karena lawannya telah siap menunggunya, dengan serangan balik yang sangat berbahaya.

Jika kemudian datang saatnya Iswari lah yang menyerangnya, maka gerakannya tidak kalah cepatnya. Berputaran seperti angin pusaran, namun kemudian menyempit dan menerpa dengan dahsyatnya.

Tetapi Warsi dengan cepat melenting menghindari pusat putaran serangan lawannya, sehingga sesaat kemudian, ia telah berdiri lepas dari sentuhan serangan lawannya.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit betapapun mereka masih dalam keadaan wajar. Merekapun sama sekali belum mempergunakan senjata. Agaknya mereka benar-benar ingin memanfaatkan perang tanding itu untuk selain menyelesaikan persoalan diantara mereka yang tidak akan mungkin dilakukan dengan cara lain, juga. untuk mendapatkan kemenangan dengan kepuasan yang sebesar-besarnya.

Ki Rangga Gupita serta para saksi yang lain memperhatikan setiap perkembangan dengan sakSama. Meskipun merekapun mengerti, bahwa pertempuran itu masih belum merambah ke kekuatan ilmu yang tinggi, namun mereka sudah melihat, betapa sengitnya pertempuran yang masih dalam batas kemampun wajar kedua perempuan itu. Sementara itu keduanyapun masih belum merasa , perlu untuk mempergunakan senjata. Mereka masih mempercayakan kemampuan wajar mereka serta kecepatan gerak yang memang melampaui kecepatan gerak orang kebanyakan.

Namun lambat laun, merekapun telah mulai melepaskan tenaga cadangan yang tersimpan didalam diri mereka, sehingga kekuatan wadag merekapun nampaknya menjadi jauh lebih besar dari kekuatan wajar mereka.

Dengan demikian maka keduanya pun sudah mulai dengan bersungguh-sungguh. Jika sekali mereka melepaskan tenaga cadangan, maka tenaga cadangan itu tentu akan mengalir seperti air sungai yang semakin lama menjadi semakin deras, sehingga akhirnya menjadi banjir bandang.

Bendungan yang tidak mampu menahan tekanan arusnya, tentu akan pecah berserakan terdorong menepi atau hanyut dalam gejolak air yang bergelora.

Demikianlah pertempuran antara hidup dan mati itu telah menjadi semakin kuat dan semakin cepat. Benturan-benturan mulai terjadi. Serangan yang cepat, yang tidak dapat dihindari harus ditangkisnya, sehingga dengan demikian keduanya harus beradu kekuatan.

Namun agaknya mereka telah meningkatkan kemampuan mereka dengan seimbang. Jika benturan-benturan itu terjadi, mereka bersama-sama terdorong surut, atau keduanya tetap bagaikan terpasak ditempatnya.

Ternyata bahwa kemampuan keduanya masih tetap seimbang. Warsi agaknya telah memiliki pengalaman yang lebih panjang dari Iswari dalam mendalami ilmunya. Ia mulai sejak ia menginjak remaja. Kemudian kehidupannya ditempa dalam kekerasan dan iapun telah bertualang dalam dunia kanuragan.

Sedangkan Iswari mulai setelah ia melahirkan anaknya. Belum terlalu lama bagi satu usaha mempelajari ilmu kanuragan. Tetapi ia ditangani oleh tiga orang kakek dan neneknya. Orang-orang yang memiliki bukan saja kemampuan secara pribadi. Teapi mereka tahu benar apa yang harus mereka perbuat untuk meningkatkan kemampuan wadag dan ilmu bagi cucunya. Iswari sendiri telah menjalani segala macam laku yang wajib ditempuh dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Karena itu, maka ilmunya pun dengan kecepatan yang berlipat, meningkat menyusul kemampuan ilmu orang-orang yang jauh-jauh sebelumnya sudah memulainya.

Pengalaman Iswari memang belum seluas pengalaman Warsi. Baik dalam dunia kewadagan maupun kejiwaan. Namun bimbingan, latihan latihan dan petunjuk-petunjuk dari ketiga kakek dan neneknya telah mengisi kekurangannya. Apa yang belum pernah dilihatnya dan apa yang belum pernah dialaminya, telah dituangkan dari kekayaan pengalaman ketiga kakek dan neneknya kepadanya.

Karena itulah, maka dengan segala kekurangan yang ada padanya Iswari merupakan seorang perempuan yang sangat berbahaya bagi lawannya.

Demikianlah perang tanding itu berlangsung semakin sengit. Warsi yang yakin akan kemampuannya menyerang dengan kecepatan yang semakin tinggi. Tangannya dan kakinya berganti-ganti menyambar tubuh lawannya. Namun Iswari pun bertempur dengan hati-hati. Ia masih berusaha untuk menghindari setiap serangan. Hanya jika terpaksa saja ia membenturkan kekuatannya.

Ketika keringat mulai membasahi tubuh kedua orang itu, maka detak jantung merekapun menjadi semakin cepat. Darah mereka menjadi, semakin panas pula, sehingga dengan demikian maka tata gerak merekapun menjadi semakin keras.

Warsi yang telah meningkatkan tenaga cadangannya semakin tinggi masih juga belum berhasil mendapatkan kelemahan-kelemahan lawannya yang akan dapat dijadikan sasaran untuk menyelesaiKan pertempuran itu. Bahkan menurut perhitungan Warsi, ia tidak perlu meningkatkan kemampuannya apalagi ilmunya sampai ke puncak, maka ia sudah akan dapat mengalahkan lawannya.

Tetapi kekalahan lawannya harus meyakinkan. Lawannya harus sempat mengakui keunggulannya, menyesali sikapnya untuk bersedia berperang tanding dan kemudian mohon ampun kepadanya. Baru dalam keadaan penuh penyesalan, ketakutan dan kengerian ia akan membunuh perempuan yang paling dibencinya itu.

Namun ternyata bahwa masih belum ada tanda-tanda bahwa Iswari mengalami kesulitan dalam perang tanding itu. Meksipun Warsi sudah meningkatkan kekuatan tenaga cadangannya hampir sampai pada batas kemampuannya.

Namun pertempuran itu memang benar-benar menjadi semakin keras. Serangan Warsi datang bagaikan prahara yang mengguncang hutan dan lereng pegunungan. Mematahkan dahan-dahan kayu raksasa dan menghamburkan bebatuan.

Tetapi Iswari mengimbangi amuk lawannya dengan kecepatan dan kekuatan pula. Ketika serangan Warsi datang membadai, maka Iswari dengan cepat melenting kesamping, sehingga serangan Warsi meluncur disisinya. Begitu cepatnya, Warsi menggeliat dan merubah serangannya. Kakinya memutar mendatar mengarah ke dada. Namun sekali lagi Iswari sempat bergeser surut. Warsi yang menggeram pun dengan cepat melenting dan menyerang dengan kaki menyamping. Meluncur seperti anak panah yang meloncat dari busurnya.

Iswari yang sempat melihat serangan itu, memang terpaksa harus meloncat kesamping. Tetapi ‘ia tidak mau menjadi sasaran serangan yang tidak berkesudahan. Karena itu, maka demikian ia melenting maka ialah yang kemudian datang menyerang.

Dengan cepatnya kaki Iswari telah menyapu sebelah kaki Warsi yang kemudian menjejak tanah. Namun Warsi pun melihat pula serangan itu. Dalam keadaan yang sulit, maka ia justru telah menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali. Kemudian dengan tangkasnya ia telah melenting berdiri.

Tetapi tepat pada saat ia tegak, Iswari telah menyerangnya dengan kedua tangannya yang terjulur lurus kedepan didorong oleh sebuah loncatan yang panjang dengan kaki kanan selangkah didepan. Tubuhnya yang condong menunjukkan bahwa semua kekuatan yang dilepaskannya telah .tertumpu,seluruhnya pada kedua belah tangannya.

Warsi terkejut. Serangan itu datang demikian cepatnya. Karena itu tidak ada kesempatan untuk bergeser kesamping. Sehingga dengan demikian maka sekali lagi Warsi harus menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali. Namun ketika ia melenting berdiri, dimiringkannya tubuhnya dan bersiap membentur kekuatan lawan jika serangan serupa itu datang lagi.

Tetapi Iswari tidak menyerang dengan cara yang sama. Tetapi ia telah menyerang dengan kakitya pula.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin keras. Keduanya benar-benar orang yang memiliki kemampuan raksasa, bahkan sebelum mereka merambah ke ilmu mereka yang nggegirisi.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ketika kakek dan nenek Iswari memang sudah memperhitungkan. bahwa pertempuran itu akan, sampai pada tingkat yang sangat cepat dan keras. Mereka akan melihat bayangan yang berputaran di tengah padang rumput berdebu, dibawah cahaya bulan yang penuh. Namun seterusnya, apa yang bakal terjadi, ketiga orang kakek dan nenek Iswari itupun masih harus menunggu.

Agak berbeda dengan mereka adalah Ki Rangga Gupita dan saksi-saksi yang dibawa oleh Warsi. Ki Rangga yang juga berilmu tinggi memang menjadi heran, bahwa Iswari memiliki kemampuan yang mampu mengimbangi kemampuan Warsi yang telah melepaskan hampir segenap kekuatan tenaga cadangannya.

“Agaknya Warsi memang harus menghancurkan lawannya dengan ilmunya, meskipun bukan berarti bahwa Iswari tidak memiliki ilmu. Tetapi waktunya untuk mempersiapkan diri menghadapi peristiwa seperti ini agaknya terlalu pendek.”

Namun Ki Rangga tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya, sehingga setiap kali ia telah bergeser selangkah kekiri dan kemudian kekanan. Seakan-akan tempatnya berdiri itu menjadi sepanas bara.

Orang-orang lain yang menjadi saksi dari perang tanding itupun menjadi tegang. Para pengikut Warsi dan Ki Rangga menjadi lebih gelisah dari Ki Rangga, ketika mereka melihat Rangga mulai gelisah.

Namun Ki Rangga masih berusaha selalu menguasai dirinya. Jika ia menyadari dirinya, maka iapun segera berdiri tegak, kakinya bagaikan menghunjam keperut bumi sehingga seakan-akan tidak ada kekuatan yang dapat menggoyahkannya.

Dilangit bulan yang bulat telah bergeser dari tempatnya. Cahayanya semakin lama seakan-akan justru menjadi semakin tajam menyiram mereka yang sedang berperang tanding.

Ketika di kejauhan terdengar gonggong serigala, maka suasana pun menjadi semakin mendebarkan.

Gonggong serigala itu semakin lama seakan-akan menjadi semakin keras. Awan dilangit yang hanya selembar telah hanyut keatas hutan, sehingga langit pun menjadi bersih.

Namun getar gonggong serigala itu rasa-rasanya tidak juga menurun.

Iswari pun mendengar juga suara serigala itu. Semula ia sama sekali tidak menghiraukannya. Serigala itu tentu berada di hutan. Jarang sekali segerombolan serigala ke luar dan berkeliaran di padang rumput.

Namun agaknya keringat yang telah membasahi kedua orang yang sedang berperang tanding itu telah tercium pula oleh segerombolan serigala itu, ketika angin yang semilir menghanyutkannya ke hidung mereka.

Tetapi suara serigala itu menjadi menarik ketika sejalan dengan suaranya yang menjadi semakin keras, maka gerak Warsi pun menjadi semakin keras pula.

Semula Iswari tidak mau menghubungkan antara gonggongan serigala dan sikap serta tata gerak lawannya berperang tanding. Bagi Iswari keduanya tidak ada hubungannya sama sekali.

Namun ketika diluar sadarnya ia sempat memandang bulan sekilas, maka ia menjadi berdebar-debar. Menurut dongeng yang pernah didengarnya di masa kanak-kanak, serigala memang menjadi semakin liar disaat-saat bulan bulat dilangit. Sementara itu, Warsi telah menuntutnya berperang tanding justru pada saat bulan sedang purnama.

Untuk beberapa saat lamanya, pertempuran berlangsung semakin cepat. Warsi menjadi semakin garang dan serangan-serangannya terasa semakin keras.

Iswari memang mulai menghubungkan satu kemungkinan tentang kemampuan Warsi dengan sinar bulan purnama. Suara serigala dan ilmu yang dipengaruhi oleh sinar bulan itu.

Sebenarnyalah, bahwa tata gerak Warsi memang menjadi semakin keras, semakin kuat dan semakin cepat. Suara serigala dikejauhan seakan-akan memberikan getaran pada jantung Warsi, sehingga kekuatan yang terpancar dari dalam dirinya pun menjadi semakin meningkat.

Serangan-serangan yang membadai telah mendesak Iswari beberapa langkah surut.

Arena yang luas itu seakan-akan telah dipenuhi dengan tata geraknya. Warsi meloncat dari satu sisi ke sisi yang lain. Dari satu sudut ke sudut yang lain.

Serangan-serangannya memang bagaikan serangan berpuluh serigala liar yang ke luar dari dalam hutan. Di bawah cahaya bulan purnama, maka serigala-serigala itu telah menjadi semakin lama semakin liar.

Iswari untuk sesaat memang menjadi bingung. Sambaran serangan Warsi beberapa kali telah menampar tubuhnya. Bukan serangan itu sendiri. Tetapi angin yang menderanya oleh ayunan ilmu Warsi yang nampaknya sudah semakin dalam diterapkan.

Meskipun serangan wadag Warsi itu sendiri belum menengenainya, namun Warsi telah mulai menyakiti tubuh Iswari. Sambaran angin itu telah membuat kulit Iswari menjadi pedih. Bahkan karena debu yang menyambar dibawah cahaya bulan maka ambaran angin yang menghanyutkan debu itu menjadikan kulit Iswari semakin pedih. Apalagi ketika keringat Iswari telah mulai membasahi seluruh tubuhnya.

Iswari menyadarinya, bahwa lawannya benar-benar telah mengeterapkan ilmunya.

Karena itu, maka Iswari tidak akan membiarkan dirinya selalu terdesak disisi dan disudut arena. Tidak membiarkan dirinya seakan-akan sekadar diburu dan menjadi sasaran serangan lawannya yang menjadi semakin garang.

Rangga Gupita melihat satu tingkat pertempuran yang mendebarkan itu. Tiba-tiba saja ia tersenyum. Ia melihat Warsi benar-benar luar biasa. Ia berada diseluruh arena. Menyambar, melonjak, menerkam dan berusaha mencengkam dengan kuku-kukunya.

“Perempuan yang luar biasa,” berkata Ki Rangga. “Ia akan dapat menjadi seorang perempuan yang tidak terlawan dikemudian hari oleh sesamanya perempuan.”

Menurut pengamatan Ki Rangga Gupita, maka Iswari benar-benar berada dalam kesulitan.

Tetapi ketiga kakek dan neneknya masih belum terlalu mencemaskannya. Mereka tahu, sampai pada tataran yang manakah kemampuan Iswari yang telah dicurahkan untuk melawan Warsi.

Meskipun demikian, Nyai Soka kadang-kadang juga harus menahan nafasnya. Ia telah melihat Iswari mengalami terlalu banyak kesulitan. Namun ia masih belum mengeterapkan tataran kemampuan ilmunya yang lebih tinggi.

“Apakah ia menjadi bingung dan kehilangan nalar budinya?” bertanya Nyai Soka di dalam hatinya. “Sehingga ia tidak sempat memasuki kemampuan ilmunya yang berikutnya? Tetapi menilik latihan-latihan yang berat yang pernah dilakukannya, maka hal itu agaknya tidak akan terjadi.”

Namun akhirnya Nyai Soka itu pun menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Agung.

Sebenarnyalah bahwa Iswari kadang-kadang memang agak terlambat. Bukan karena ia kehilangan kesempatan untuk mengeterapkan ilmunya, tetapi ia memang ingin mengetahui tataran demi tataran pada tingkat ilmunya dengan lebih seksama.

Namun akhirnya, ketika sambaran angin serangan Warsi beberapa kali menerpa tubuhnya dan membuatnya merasa pedih, ia pun menyadarinya, bahwa ia tidak boleh berbuat demikian justru pada saat perang tanding antara hidup dan mati itu berlangsung.

Jika sedikit kesalahan dilakukannya, maka satu kemungkinan bahwa ia tidak akan dapat melanjutkan perang tanding itu dapat terjadi dan sebelum ia sempat mempergunakan ilmunya, ia sudah terkapar di arena.

Karena itu, maka Iswari pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Ia tidak ingin terus menerus terdesak. Sambaran-sambaran angin yang menghembuskan debu itu benar-benar membuat kulit tubuhnya menjadi pedih. Semakin lama semakin pedih.

Maka sesaat kemudian perubahan pun telah terjadi pula. Serangan Warsi memang menjadi semakin garang. Gonggong serigala terdengar semakin keras, seakan-akan yang kelaparan itu menjadi semakin dekat pula dengan arena.

Namun Iswari pun telah mengeterapkan ilmunya pula. Belum sampai pada ilmu puncaknya. Tetapi ia telah mulai dengan ilmu yang diwarisinya dari neneknya Nyai Soka.

Iswari pun kemudian telah memusatkan ilmunya pada telapak tangan kanan dan kirinya. Dengan demikian telapak tangan Iswari itu bagaikan mengepulkan asap tipis. Namun karena debu yang sengaja dihamburkan oleh Warsi untuk memberikan tekanan pada sambaran anginnya pada kulit Iswari, maka asap tipis itu tidak segera dapat dilihat oleh orang-orang yang berada diseputar arena itu. Bahkan Warsi pun tidak segera melihatnya. Demikian pula Ki Rangga Gupita.

Sebenarnya hal itu justru telah merugikan Warsi sendiri. Ia tidak segera mengetahui isyarat dari bahaya yang akan dihadapinya. Karena dengan demikian, maka Iswari akan benar-benar menjadi seorang perempuan yang sangat berbahaya.

Ketiga orang kakek dan nenek Iswari, meskipun juga tidak segera melihat asap tipis di tangan cucunya karena debu dan ayunan angin serangan Warsi, namun mereka dapat membacanya dari sikap Iswari. Ketika Iswari mengatupkan kedua telapak tangannya, maka ketiga orang kakek dan neneknya segera mengetahui, bahwa Iswari telah meningkat pada salah satu kemampuan ilmunya yang akan dapat melawan ilmu Warsi yang garang.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Warsi telah mulai dengan serangannya kembali. Tangannya kadang-kadang mengembang seperti sayap seekor elang yang menyambar anak ayam. Namun kemudian terayun mendatar, menerkam dan seakan-akan siap mengoyak dada lawannya dengan kuku-kukunya yang tajam.

Tetapi Iswari sudah siap menghadapinya. Sekali-kali Iswari memang harus bertahan dari sambaran angin yang pedih pada kulitnya. Namun ia hanya memerlukan satu sentuhan yang meskipun betapa lemahnya pada tubuh lawannya. Ia tidak perlu mengerahkan kekuatannya untuk merontokkan isi dada lawannya atau menghantam dengan segenap tenaga cadangannya pada kening perempuan itu.

Karena itu, ketika tangan Warsi terayun dengan kerasnya mematuk dadanya, maka Iswari telah bergeser sedikit menyamping. Ia sadar, bahwa sambaran angin akan memukul kulitnya dan membuat kulitnya itu menjadi pedih. Apalagi debu yang kotor yang berhamburan karena kaki Warsi telah menambah tamparan angin pada ayunan tangannya. Tetapi ia tidak boleh menghindar terlalu jauh.

Demikian serangan lawannya itu lewat, dan demikian angin berdebu itu membuat kulitnya bagaikan terkelupas, maka Iswari telah meloncat dengan cepat menyerang lawannya. Ia tidak mengerahkan segenap kekuatannya. Tetapi hanya ingin menyentuh kulit lawannya itu. Kulit seorang perempuan yang pernah dikagumi suaminya sebagai penari jalanan.

Warsi tidak terlalu banyak memperhatikan serangan itu. Ia memang melihat tangan Iswari bergerak cepat menyusul arah serangannya yang tidak mengenai sasaran. Tetapi menurut perhitungan Warsi serangan itu sama sekali tidak bertenaga, seperti seorang yang sedang menggamit kawan bermainnya saja.

Serangan Iswari memang tidak bertenaga. Ia memang sekadar menggamit lengan Warsi. Tetapi ternyata bahwa sentuhan tangan Iswari itu sangat mengejutkan.

Tangan Iswari itu telah dilambari dengan kekuatan ilmunya itu memang telah berubah menjadi bagaikan bara. Sentuhannya pada lengan Warsi telah membuat Warsi melenting terkejut. Dengan cepat ia mengambil jarak untuk mendapat kesempatan memperhatikan apa yang telah terjadi pada dirinya.

Sebenarnyalah bahwa lengannya yang tersentuh tangan Iswari itu telah terluka sebagaimana lengan itu tersentuh bara api yang menyala.

“Gila,” geram Warsi yang sudah berhasil mengambil jarak dari Iswari.

Iswari sengaja memberikan kesempatan kepada lawannya untuk menilai ilmunya. Karena itu Iswari tidak segera memburunya dengan serangan-serangan berikutnya.

“Kenapa?” bertanya Iswari.

“Ternyata kau memiliki ilmu iblis itu he? Aku memang pernah mendengar bahwa sambil melindungi anakmu kau telah melukai dada seseorang dengan bekas telapak tanganmu,” geram Warsi.

“Mungkin kau benar,” desis Iswari.

“Kau ingin memamerkan bahwa kau telah matang dengan ilmumu itu sehingga anakmu tidak hangus meskipun ia berada dalam pelukan tanganmu,” geram Warsi.

“Itu sudah lalu. Sekarang bagaimana dengan lenganmu?” bertanya Iswari. Lalu, “Ilmuku sekarang tentu sudah menjadi semakin baik.”

“Cukup,” teriak Warsi. “Kau memang seorang pembual.”

Iswari tersenyum. Ia memang berharap lawannya itu menjadi sangat marah dan kehilangan pengamatan diri. Dengan demikian maka Warsi akan mudah menjadi lengah.

Tetapi ternyata bahwa Warsi itu telah mempersiapkan diri untuk pertempuran selanjutnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau jangan membanggakan sentuhan apimu. Aku sama sekali tidak gentar dengan ilmumu itu.”

Iswari pun telah bersiap sebaik-baiknya. Pertempuran tentu akan menjadi semakin tinggi.

Dalam pada itu, Ki Rangga mulai digelitik oleh kenyataan tentang kemampuan Iswari itu. Ternyata bahwa Iswari memiliki ilmu yang tangguh dan kemampuan mengeterapkannya yang tinggi.

Tetapi menurut pengenalan Ki Rangga, Warsi tidak hanya berlambaran pada satu jenis ilmu saja. Ia pun memiliki berbagai macam ilmu yang akan dapat membingungkan lawannya. Bahkan dalam keadaan terdesak Warsi akan dapat mempergunakan ilmu dan senjatanya sekaligus.

Demikianlah, maka kedua perempuan itu telah terlibat kembali dalam pertempuran yang sengit. Bagaimanapun juga, Warsi memang harus berhati-hati menghadapi lawannya yang ternyata telah meningkat memasuki kemampuan ilmunya pula.

Warsi telah menyerang semakin garang. Angin yang dilepaskan pada setiap ayunan tangan dan kakinya, terasa menampar tubuh Iswari semakin sakit. Tetapi sekali dua kali Iswari telah berhasil menyentuh lawannya meskipun hanya dengan ujung-ujung jarinya.

Namun sentuhan itu telah menimbulkan luka-luka bakar pada tubuh lawannya.

Tetapi ternyata luka-luka bakar itu telah membuat Warsi menjadi semakin garang.

Ia merasa seakan-akan disakiti dengan cara yang tidak wajar.

Dengan demikian pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Sambaran angin yang terlontar dari ayunan serangan tangan dan kaki Warsi telah membuat Iswari merasa kesakitan. Namun sebaliknya sentuhan tangan dan benturan kekuatan, telah membuat kulit Warsi mengalami luka-luka.

Sementara itu, dikejauhan suara serigala terdengar semakin keras. Beberapa saat terdengar seakan-akan serigala yang menggonggong itu berpencar. Namun kemudian suara itu mengental kembali. Bersahut-sahutan.

Warsi yang tersadar itu pun tiba-tiba telah meloncat mundur beberapa langkah. Luka-luka dikulitnya membuatnya semakin marah. Dengan kesempatan yang sedikit itu, tiba-tiba Warsi menengadahkan kedua tangannya ke bulan yang bulat dilangit.

Iswari terkejut. Ternyata memang ada hubungan antara gonggongan serigala itu dengan ilmu yang dimiliki Warsi. Sementara itu bulan dilangit seakan-akan memancar semakin tenang. Selembar-selembar awan telah tersapu bersih. Sedang bintang-bintang pun nampaknya menjadi pudar.

Dalam keadaan yang demikian Iswari tidak segera meloncat menyerang. Ia justru bagaikan membeku melihat sikap lawannya. Apalagi ketika ia seakan-akan melihat seutas benang merah yang terjelujur panjang sekali dari arah bulan yang bulat itu menyentuh ubun-ubun Warsi.

”Tidak” geram Iswari didalam hatinya, ”hanya mataku sajalah yang agaknya justru sudah menjadi kabur. Tidak ada apa-apa dengan benda langit itu.”

Namun tiba-tiba Iswari menjadi semakin terkejut. Demikian benang itu hilang dari penglihatannya, tiba-tiba wajah Warsi seakan-akan telah berubah. Wajah itu seakan-akan menjadi semakin ganas mengerikan. Tatapan matanya menjadi merah seolah-olah berdarah. Sementara tangannya tidak lagi bersikap sebagaimana seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan. Yang jari-jarinya kadang-kadang terbuka lurus merapat, namun kadangkadang mengepal kuat-kuat.

Tetapi dalam pada itu sikap Warsi menjadi benar-benar mendebarkan. Tangannya memang mengembang. Namun seperti kaki seekor binatang yang buas siap menerkam dan mengorek dengan kuku-kukunya yang tajam.

Namun yang lebih mengejutkan lagi, tiba-tiba saja Warsi itu tertawa. Suara tertawanya mula-mula masih dapat dikenali sebigaimana suara Warsi. Namun semakin lama menjadi semakin keras dan tinggi. Nadanya melengking melonjak-lonjak diudara menusuk setiap telinga yang mendengarnya, mengorek sampai kedalam dada.

Iswari yang menjadi sasaran langsung serangan yang aneh itu memang mengalami kesulitan, Suara tertawa itu rasa-rasanya, telah mengguncang-guncang dadanya. Semakin lama semakin keras.

Untuk beberapa saat Iswari merasa betapa dadanya menjadi sakit. Suara tertawa yang semakin meninggi itu telah benar-benar menyakitinya.

Dalam pada itu tiba-tiba saja terdengar suara Warsi, ”Ayo anak manis. Apa yang dapat kau lakukan sekarang? Menangisi suamimu yang telah mati? Atau barangkali meratapi nasib dan menyesali kesombonganmu?”

 Iswari termangu-mangu melihat sikap Warsi yang menjadi sangat bengis menurut penglihatannya. Wajahnya semakin mengerikan dan dari matanya seakan-akan membayang warna darah yang semaki merah.

Ketika Warsi kemudian tertawa lagi, jantung Iswari benar-benar bagaikan rontok karenanya. Suaranya bergaung di padang rumput yang. luas itu. Bahkan rasa-rasanya seakan-akan telah bergelora dari pusat cahaya bulan dilangit.

Kiai Soka, Nyai Soka dan Kiai Badra memang-menjadi cemas. Ia tidak menyangka bahwa Warsi telah memiliki kekuatan yang jarang ada duanya itu. Bahkan mereka bertiga itu pun harus memusatkan segenap daya tahan mereka untuk menjaga agar jantung mereka tidak menjadi rontok pula karenanya.

Yang kemudian justru mengalami kesulitan paling besar adalah para saksi yang dibawa oleh Warsi sendiri. Hanya Ki Rangga sajalah yang masih tetap berdiri, betapa dadanya rasa-rasanya akan pecah. Sementara yang lain telah jatuh terduduk sambil memegangi dada mereka masing-masing.

Tetapi Warsi tidak menghiraukannya. Seandainya para saksi yang dibawanya itu mati, ia tidak berkeberatan, karena ia yakin bahwa meskipun dalam kesulitan Ki Rangga masih akan dapat bertahan.

“Iswari,” berkata Warsi kemudian disela-sela tertawanya yang mereda. “Kau sekarang bulat-bulat berada dalam kekuasaanku. Aku akan dapat melangkah beberapa langkah maju dan mencekik lehermu atau mengelupas kulit wajahmu yang halus itu.”

Iswari masih berdiri tegak. Ia telah mengerahkan segenap kemampuan daya tahannya untuk melindungi dadanya yang terguncang-guncang.

“Nah. Mungkin kau masih mempunyai pesan yang dapat kau sampaikan kepada ketiga orang saksimu itu? Barangkali untuk Risang anakmu yang manis, sebelum kau akan terkapar mati dipadang rumput ini?”

Iswari masih tetap tegak ditempatnya. Dengan tajamnya dipandanginya Warsi yang memiliki ilmu Kalamerta itu bagaikan ujud sesosok iblis betina yang mengerikan.

Namun ketika telinganya tersentuh nama Risang anak laki-lakinya, maka darahnya benar-benar bergejolak. Ia memang tidak mau menyerah apapun yang terjadi. Ia sudah bersiap untuk berperang tanding. Hidup atau mati sudah bukan persoalan lagi baginya.

Karena itu, ketika Warsi berjalan semakin dekat dan masih saja berbicara berkepanjangan, maka Iswari telah mempersiapkan dirinya. Meskipun dadanya masih terasa terguncang-guncang, namun apapun akibatnya, ia sudah bersiap sepenuhnya lahir dan batin.

Maka disebutnya nama Tuhannya. Kepada-Nya ia bersandar. Ia tidak lagi menghiraukan benda langit yang menyala kekuning-kuningan itu. Bulan hanya indah untuk saat-saat tertentu. Tetapi bulan tidak dapat memberikan apa-apa selain keindahannya itu.

Ketika Warsi menjadi semakin dekat, maka sorot matanya pun menjadi semakin merah. Wajahnya yang terkena sinar bulan itu justru tampak kehitam-hitaman mengerikan. Giginya seakan-akan berubah menjadi lebih besar dan runcing, sementara jari-jari tangannya yang mengembang telah siap untuk menerkam leher Iswari.

Namun pada saat yang demikian, Iswari telah mengerahkan sisa tenaga dan kemampuan yang ada padanya. Ia sadar, bahwa sumber goncangan didadanya adalah getaran yang terlempar dari kekuatan salah satu jenis ilmu Kalamerta lewat suara tertawa itu. Getaran yang mampu menerpa isi dadanya dan seakan-akan dapat merontokkan jantungnya itu.

“Jika aku dapat menyumbat sumber getaran itu, maka aku akan dapat menolong diriku sendiri,” berkata Iswari dalam hatinya.

Demikian Warsi menjadi semakin dekat dengan tangannya yang mengembang, maka Iswari telah bersiap-siap. Sementara itu Warsi mengira bahwa Iswari benar-benar telah kehilangan kemampuan untuk melawannya.

Semua yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ki Rangga yang juga kesakitan itu sempat tersenyum. Ia melihat bahwa pertempuran itu akan segera berakhir. Jika Warsi sempat menanamkan kukunya yang tajam ke leher Iswari, maka berakhirlah perang tanding itu. Mungkin Iswari masih sempat merintih, minta ampun atau barangkali menyesali nasibnya. Mungkin Iswari masih akan menyebut nama suaminya yang sudah mati itu, atau menyebut nama anaknya.

Sementara itu ketiga orang kakek dan neneknya masih juga berdoa agar Iswari mendapat petunjuk pada saat-saat terakhir, karena ketiga kakek dan neneknya itu masih mempunyai harapan. Hanya jika secara jiwani Iswari mengalami keruntuhan, maka ia tidak akan dapat sempat bangkit lagi untuk seterusnya, sementara ketiga kakek dan neneknya itu tidak akan dapat membantunya, karena kedua perempuan itu sudah bertekad untuk berperang tanding sampai tuntas.

Ternyata bahwa terang memang memancar dihati Iswari. Dalam mengemban kebenaran maka tidak ada yang dapat mencegahnya lagi. Ketika Warsi menjadi semakin dekat, maka Iswari justru telah meloncat mendahului lawannya. Iswarilah yang menerkam Warsi, bukan sebaliknya. Sementara itu ia masih mengeterapkan ilmunya dikedua telapak tangannya.

Warsi terkejut bukan kepalang. Menurut penglihatannya, Iswari telah berdiri dengan kaki gemetar, kepala menunduk dan tangan yang terkulai lemah. Namun tiba-tiba perempuan itu masih meloncat dengan garangnya, menerkam wajahnya.

Warsi justru meloncat surut. Namun Iswari telah memburunya. Tangannya masih saja terjulur lurus ke depan.

Warsi yang tidak bersiap menghadapi serangan yang sangat tiba-tiba itu telah meloncat kesamping. Namun Iswari tidak melepaskannya. Kakinya telah berputar dan bertumpu pada tumit kakinya yang lain. Demikian kerasnya, kakinya telah mengenai tubuh Warsi yang hanya sempat bergerak miring, sehingga tubuh itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.

Suara tertawa Warsi telah lenyap dari udara di padang rumput itu. Karena itu, maka perlahan-lahan perasaan sakit yang mencengkam jantung Iswari pun menjadi berkurang. Justru pada saat-saat ia sangat memerlukan waktu untuk meningkatkan perlawanannya.

Warsi memang berusaha untuk dengan cepat melenting. Ia harus menyerang lawannya dengan suara tertawanya yang menggetarkan setiap dada itu.

Namun demikian Warsi itu berdiri tegak, maka Iswari telah meloncat menyerangnya seperti amuk badai yang garang.

Warsi tidak sempat membangunkan serangan dengan suara tertawanya. Ia harus menghindari serangan Iswari. Apalagi serangan kakinya yang hanya menyakitkannya, namun serangan tangan Iswari akan melukai kulitnya.

Untuk sementara Warsi terpaksa mempergunakan kemampuan ilmunya yang lain. Ia telah melawan Iswari dengan serangan-serangan pula. Yang terasa oleh Iswari kemudian adalah sentuhan-sentuhan ayunan angin yang menyertai serangan itu. Namun cukup membuat kulitnya menjadi pedih. Tetapi Iswari masih mampu mempergunakan daya tahannya untuk mengatasi rasa sakit itu.

Pertempuran menjadi kian sengit pula. Warsi yang merasa kehilangan kesempatan yang menentukan menjadi semakin marah. Terdengar mulutnya mengumpat kasar. Umpatan yang sama sekali tidak pantas diucapkan oleh seorang perempuan.

“Kata-kata kotormu membuat telingaku sakit,” desis Iswari.

“Persetan,” geram Warsi.

“Bukan kata-kata yang pantas diucapkan oleh mulut seorang perempuan yang baik. Apalagi istri muda seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang besar seperti Sembojan,” berkata Iswari pula. Jika Warsi terpancing untuk berbicara saja, maka ia tidak akan dapat melontarkan serangannya lewat mulutnya.

“Aku tidak peduli lagi dengan Wiradana, pengecut, licik dan tidak tahu diri. Kaulah istrinya yang setia yang bersedia pula mati untuknya,” teriak Warsi.

Iswari yang sudah menemukan keseimbangannya kembali tersenyum. Katanya, “Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu sebagaimana kau mengumpat-umpat? Laku yang demikian tidak ubahnya laku perempuan jalanan yang kasar.”

“Tutup mulutmu,” Warsi berteriak semakin keras.

Iswari masih saja tersenyum Namun serangannya menjadi semakin cepat. Sekali-kali ia memang berhasil mengenai lawannya. Satu kali dengan kakinya, namun kemudian ia berhasil menyentuh dengan tangannya pula, sehingga membuat kuit Warsi terluka pula.

Terdengar setiap kali Warsi mengumpat. Namun serangan Warsi pun menjadi semakin garang. Sambaran angin serangannya benar-benar membuat kulit Iswari bagaikan terkelupas. Debu yang sengaja dihamburkan oleh kaki Warsi, membuat sambaran angin itu semakin pedih.

Ketiga kakek dan nenek Iswari yang melihat perkembangan pertempuran itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengucap syukur kepada Yang Maha Agung, yang memberikan petunjuk pada saat yang paling sulit bagi Iswari, sehingga akhirnya ia telah mampu melepaskan dirinya. Ternyata bahwa jiwa Iswari masih tetap tegar menghadapi perempuan iblis yang bernama Warsi itu.

Namun yang menjadi kecewa adalah Ki Rangga Gupita. Ki Rangga yang sudah memperhitungkan bahwa pertempuran sudah hampir selesai, harus melihat satu kenyataan yang lain. Ternyata bahwa Iswari mampu memperbaiki keadaan, sehingga Warsilah yang justru kembali menjadi terdesak.

“Kenapa ia tidak menyerang dengan ilmunya yang sudah jelas sulit untuk dilawan oleh perempuan Sembojan itu?” bertanya Ki Rangga di dalam dirinya.

Namun sebenarnyalah, Iswari sambil bertempur telah memancing Warsi berteriak-teriak tidak menentu. Tetapi bukan berarti bahwa serangan-serangan Iswari menjadi kendor karenanya. Serangan-serangannya tetap berbahaya dan menentukan.

Dengan demikian, maka semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa Warsi lah yang kemudian menjadi terdesak. Iswari sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk membangun serangan dengan suara tertawanya yang mampu melontarkan getaran yang seakan-akan bersumber dari bulan bulat dilangit.

Jika sekali-kali Warsi berusaha mengambil jarak, maka Iswari segera menyusulnya dengan serangan-serangan yang mengalir seperti banjir.

“Perempuan gila,” geram Warsi.

“Aku sudah tahu, dimana kau menggantungkan kekuatanmu,” sahut Iswari. “Aku tidak akan memberimu kesempatan meneriakkan suara iblis itu lagi. Aku tidak mau melihat matamu menjadi merah seperti darah dan wajahmu menjadi hitam memancarkan cahaya kekelaman. Aku juga tidak mau melihat gigimu berubah menjadi besar dan runcing, seperti gigi serigala.”

Tetapi Iswari tidak sempat berbicara lebih panjang. Warsi memang menerkamnya seperti laku seekor serigala yang lapar. Tetapi Iswari yang cekatan, sempat meloncat ke samping, sehingga serangannya tidak mengenainya. Namun sambaran angin dari ayunan tubuh Warsi itu benar-benar telah mengguncangkan tubuh Iswari. Meksipun Iswari sempat memalingkan wajahnya, namun bagian tubuhnya yang lain, merasa betapa pedihnya.

Meskipun demikian Iswari tidak tergoyahkan kedudukannya. Ia masih tetap menyerang dengan garangnya. Jika tangannya sempat menyentuh lawannya, maka Warsilah yang mengumpat kasar.

Dalam keadaan yang semakin terdesak, serta luka-luka yang semakin banyak dikulitnya, maka Warsi pun kemudian sampai pada satu tataran tertinggi dari perjuangannya untuk menyelesaikan perang tanding itu. Ia harus mendapat kesempatan membangkitkan gelora yang menggetarkan udara dipadang rumput itu. Ia harus mampu meremas jantung lawannya sehingga lawannya tidak berdaya.

Karena itu, maka Warsi pun kemudian merasa perlu masuk membangun jarak antara dirinya dengan Iswari yang ternyata juga memiliki kegarangan seorang jantan.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian Warsi telah mengurai senjata yang jarang ada bandingnya. Seutas rantai yang terbuat dari besi baja pilihan.

Pada saat Iswari memburu lawannya, tiba-tiba saja ia tertegun ketika terdengar suara berdesing berputaran. Dalam cahaya bulan Iswari melihat ditangan Warsi yang garang itu seutas rantai berputar mengembang seperti payung. Demikian keras dan kuatnya putaran itu, sehingga menimbulkan suara yang menggetarkan udara, meskipun tidak seganas suara tertawa Warsi itu sendiri.

Iswari terpaksa bergeser surut ketika Warsi melangkah maju dengan putaran rantainya. Namun tiba-tiba Warsilah yang meloncat menyerang sambil menyambar tubuh lawannya dengan ujung rantainya.

Dengan loncatan panjang Iswari mengelak. Namun ujung rantai itu seakan-akan telah menggeliat, dengan ayunan yang cepat sekali rantai itu menyambar tubuh Iswari.

Iswari memang harus meloncat lagi menghindarinya. Rantai itu akan sangat berbahaya baginya. Bukan saja karena rantai itu sendiri, tetapi rantai itu sudah diayunkan dengan kekuatan ilmu yang sangat garang. Karena itu maka kekuatan dan ayunan rantai itu berlipat ganda dari kewajaran serangan wadag.

Namun dengan demikian bagi Iswari menjadi jelas. Apakah yang dihadapinya. Agaknya ia sudah berhadapan dengan puncak kekuatan Warsi.

Sebenarnyalah Warsi memang sudah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya. Dengan lambaran kemampuan ilmunya yang paling tinggi, ia sudah mempergunakan senjata yang paling diandalkannya.

Sementara itu, suara serigala dikejauhan masih saja terdengar semakin jelas. Bahkan kemudian suara itu menjadi riuh, seakan-akan serigala itu sedang berebut seekor bangkai binatang yang dapat disergapnya. Sedangkan dilangit bulan seakan-akan menjadi semakin terang memancarkan cahayanya yang kuning.

Di tempat yang terlindung, sebelum memasuki lingkungan padang rumput itu, sekelompok kecil pasukan pilihan dari Tanah Perdikan Sembojan sedang menunggu di pategalan. Mereka telah mendapat perintah tidak memasuki padang rumput Serpihan malam itu jika mereka tidak mendapat isyarat untuk melakukannya. Karena itu, betapapun ketegangan mencengkam jantung mereka, namun sekelompok pengawal itu masih tetap berada di pategalan.

Dari pategalan itu, ternyata para pengawal juga mendengar suara serigala yang menggonggong bagaikan berebut bangkai buruan mereka.

Suara serigala itu membuat para pengawal itu semakin gelisah. Dalam kelompok yang besar serigala merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari seekor harimau yang paling garang sekalipun. Apalagi pada saat bulan purnama.

Kulit tenguk para pengawal itu memang meremang. Tetapi mereka sendiri tidak akan mengalami kesuitan seandainya sekelompok serigala liar itu menyerang memasuki pategalan, karena mereka akan dapat melawan dalam sekelompok itu pula. Mereka bersenjata dan seandainya diperlukan, maka mereka akan dapat menghindarinya dengan meloncat memanjat pepohonan yang ada di pategalan itu.

Tetapi bagaimana dengan mereka yang berada di padang rumput Serpihan itu. Jika sekelompok serigala yang liar dan apalagi lapar menyergap mereka, maka mereka akan mengalami kesulitan.

Meskipun orang-orang yang berada di padang rumput itu berilmu tinggi, yang akan mampu menghadapi lawan yang betapapun tangguhnya, namun apakah mereka tidak akan mengalami kesulitan menghadapi segerombolan serigala liar yang lapar itu.

Dalam kegelisahan itu, seorang di antara para pengawal itu berkata, “Apakah kita akan melihatnya?”

“Kami tidak mendengar isyarat apapun juga,” berkata pemimpin sekelompok pengawal itu. “Jika kami memasuki padang rumput, maka kami akan melakukan kesalahan.”

“Tetapi bagaimana jika tiba-tiba saja serigala itu menyergapnya,” bertanya yang lain.

Pimpinan pengawal itu termangu-mangu. Tetapi ia pun berdesis, “Aku berpegang kepada perintah Nyai Wiradana sendiri.”

Kawan-kawannya tidak dapat memaksa agar pemimpinnya itu segera memerintahkan mereka memasuki padang rumput Serpihan meskipun mereka merasa sangat gelisah.

Namun dalam kegelisahan itu tiba-tiba seorang di antara mereka berkata, “Apakah kalian memang sering mendengar sesuatu tentang serigala atau anjing hutan?”

Para pengawal itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu seorang di antara mereka berdesis, “Aku jarang sekali mendengar suara serigala. Suara itu agaknya bukan suara anjing hutan. Tetapi tentu suara serigala.”

“Cerita tentang serigala pun jarang sekali kita dengar,” berkata yang lain. “Aku memang pernah mendengar tentang segerombolan serigala. Tetapi dihutan yang agak jauh. Namun tiba-tiba saja kini serigala itu berada di hutan Masaran.”

“Memang mungkin saja. Serigala itu berkeliaran di dalam hutan ke segala arah tanpa mereka sadari, asal saja mereka mendapat makan yang cukup. Itulah sebabnya maka serigala-serigala itu sampai ke hutan Masaran. Mungkin mereka memburu sekelompok kijang atau sekelompok binatang.”

“Bagaimana jika gerombolan serigala itu mencium bau keringat mereka yang berperang tanding di padang rumput Serpihan,” bertanya seorang yang lain.

“Bagaimana pun juga aku tidak berani melanggar perintah,” jawab pemimpin pengawal itu. “Jika karena dugaan kita, maka terjadi sesuatu di padang rumput itu karenanya, maka kita akan menjadi tumpuan kesalahan.”

Para pengawal itu terdiam. Namun dalam pada itu, suara serigala itu menjadi semakin riuh.

Dari pategalan para pengawal hanya dapat memandang ke padang rumput Serpihan yang ditumbuhi perdu disana-sini. Namun mereka tidak berhasil melihat orang-orang yang ada di padang rumput itu, meskipun seorang di antara mereka mencoba melihatnya sambil memanjat sebatang pohon nangka yang cukup tinggi di pagar pategalan itu.

Dalam pada itu, di tengah padang rumput, Warsi dan Iswari masih tetap bertempur dengan sengitnya. Namun bagaimana pun juga ternyata bahwa senjata Warsi telah mengubah keseimbangan pertempuran itu. Apalagi karena Iswari mengetahui, setiap kali Warsi berusaha untuk mendapatkan kesempatan untuk membangunkan ilmunya yang dahsyat lewat suara tertawanya.

Dalam pada itu, maka tidak ada pilihan lain bagi Iswari. Karena ia pun bersenjata, maka untuk melawan rantai yang berputaran seperti baling-baling ditempuh angin itu, maka sejenak kemudian Iswari pun telah menggenggam senjatanya pula. Ia telah mencabut sepasang pedang pendek yang tergantung dilambungnya.

Dengan pedang itu ia berusaha untuk memperkecil kemungkinan Warsi mendapat kesempatan untuk mempergunakan ilmu yang dapat dilontarkannya lewat suara tertawanya.

Demikianlah, dengan sepasang pedang Iswari telah melawan ujung rantai yang berputaran dengan melontarkan desing angin yang kencang. Namun rantai itu dengan cepat berubah arah, menyambar menyilang, bahkan tegak. Kemudian dengan cepatnya mematuk seperti seekor ular gading yang meluncur dari seputar dahan pepohonan.

Namun dengan pedangnya di kedua tangannya, Iswari pun telah mampu melindungi dirinya. Sepasang pedangnya itu pun mampu berputaran melindungi seluruh tubuhnya dari patukan ujung rantai Iswari. Demikian cepatnya sepasang pedang itu berputar, sehingga yang nampak seolah-olah semacam gumpalan awan putih yang menyelubungi tubuhnya.

Tetapi Warsi tidak semata-mata berusaha untuk mengenai tubuh lawannya dengan ujung rantainya, meskipun ia yakin, bahwa jika ia berhasil, maka kulit Iswari tentu akan terkoyak. Tetapi yang penting baginya, bagaimana ia mendapat kesempatan untuk dapat mempergunakan ilmunya yang dapat dilontarkannya lewat suara tertawanya.

Dalam satu kesempatan, Warsi telah menyerang Iswari dengan segenap kemampuannya bermain dengan senjatanya dilambari dengan kekuatan tenaga cadangannya dan hentakan-hentakan ilmunya, sehingga rantainya kadang-kadang seakan-akan dapat berubah menjadi sebatang tongkat yang panjang, yang menyambar lawannya dengan dahsyatnya. Atau sebagai tombak yang dapat dengan lurus mematuk ke arah dada. Meskipun tombak itu tidak seruncing tombak yang sebenarnya, tetapi jika tusukan itu mengenainya, maka rantai itu akan dapat menghujam menusuk jantung.

Namun dengan tangkasnya Iswari menangkis serangan-serangan itu. Ia sadar, bahwa ia tidak sekadar berhadapan dengan seutas rantai. Tetapi rantai yang sudah dialiri dengan kekuatan yang sangat dahsyatnya.

Karena itu, maka sepasang pedangnya pun telah mengimbanginya. Dalam benturan-benturan yang terjadi, ternyata bahwa kekuatan Iswari tidak berada dibawah kekuatan Warsi. Bahkan kadang-kadang Warsi harus menghindarinya.

Justru karena itu, maka Warsi tidak berani berusaha membelit senjata Iswari dan merenggutnya. Ketika ia mencobanya juga, maka justru hampir saja ia kehilangan rantainya. Karena demikian rantainya membelit, maka Iswari menggenggam senjata demikian eratnya. Bahkan kemudian Iswari sempat meloncat mendekat sambil menjulurkan senjatanya yang lain.

Untunglah Warsi berhasil mengurai rantainya dan dengan cepat melenting menghindar.

Karena itu, maka usaha Warsi terutama adalah untuk mendapat kesempatan mempergunakan ilmunya yang sudah jelas dapat mempengaruhi keadaan lawannya.

Ketika dikejauhan suara serigala itu meninggi, maka Warsi telah berusaha mengerahkan puncak dari segala macam kemampuan dan keterampilannya bermain dengan rantainya. Ia memang berhasil mendesak Iswari. Namun yang terpenting, bukannya keberhasilannya mendesak itu. Namun tiba-tiba Warsi justru melenting menjauhi lawannya.

Tiba-tiba saja satu kesempatan telah terbuka. Dengan cepat Warsi memanfaatkan kesempatan itu. Tiba-tiba saja suara tertawanya telah bergema.

Iswari terkejut menghadapi serangan itu. Tetapi karena serangan itu baru mulai, maka ia masih mampu mengatasi rasa sakit yang mulai meremas dadanya. Dengan tangkasnya ia menyerang dengan sepasang pedangnya. Demikian cepatnya pedangnya berputar seperti kabut yang perlahan-lahan mendekati Warsi yang sedang melontarkan ilmunya.

Warsi tidak dapat bertahan dalam kedudukannya. Kabut itu adalah tajamnya ujung-ujung pedang. Karena itu, maka ia pun telah memutar rantainya untuk melindungi dirinya.

Tetapi benturan-benturan yang telah terjadi memang telah menggoyahkan kedudukannya. Sehingga ia harus melepaskan kesempatan itu.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah hampir saja ia kehilangan kesempatan. Untunglah, bahwa ia cepat bertindak.

Tetapi yang terjadi tidak hanya sekali. Tetapi dua tiga kali. Dengan demikian maka isi dada Iswari mulai terasa sakit meskipun setiap kali ia membungkam serangan ilmu Warsi itu.

Dalam keadaan yang demikian, maka pemusatan perhatian Iswari banyak tertuju kepada usahanya untuk mengatasi serangan lawannya lewat suara tertawanya. Sehingga karena itu, maka pada satu saat, ternyata Iswari kehilangan pengamatan atas ujung rantai itu meskipun hanya sekejap.

Ternyata bahwa dalam waktu yang sekejap itu ujung rantai Warsi telah berhasil menyentuh lengan Iswari.

Iswari sendiri terkejut. Meskipun tidak terlalu dalam, tetapi ujung rantai itu telah melukainya. Darah telah mulai mengalir dari luka itu.

Wajah Iswari menjadi merah. Sementara itu Warsi sempat berkata dengan suaranya yang bergetar, “Nah anak manis. Kau telah mulai terluka. Bau darahmu yang wangi itu telah membangkitkan seleraku lebih besar untuk membunuhmu.”

Iswari memang terkejut ketika ia memandang wajah Warsi. Warsi yang wajahnya menjadi kehitam-hitaman itu telah benar-benar mencium bau darah seperti laku seekor serigala.

Tiba-tiba saja Warsi itu tertawa. Suara tertawanya memang mulai mengguncang dada Iswari yang dengan cepat menyadari, bahwa ia tidak boleh merenungi keadaan itu.

Iswari berhasil menghentikan suara tertawa Warsi, namun yang terjadi kemudian telah terulang dan terulang kembali. Bahkan semakin sering terjadi.

Ketika ujung rantai itu sekali lagi mengenai tubuh Iswari dan membuat garis pada pundaknya, maka darah pun mulai meleleh dari pundak itu. Bajunya yang ikut menganga telah menjadi merah oleh darah.

Kemarahan Iswari memang sudah sampai di puncak. Namun jiwanya masih tetap kokoh. Bahkan tidak ada pilihan lain baginya, justru pada saat-saat ia mengalami kesulitan, untuk mempergunakan ilmunya yang terakhir diwarisinya dari ketiga kakek dan neneknya.

Sementara itu ketiga kakek dan neneknya pun memang sudah menjadi gelisah. Kenapa Iswari masih membiarkan dirinya diombang-ambing oleh kemampuan lawannya.

Ki Rangga yang melihat peristiwa terakhir, menjadi semakin yakin akan kemampuan Warsi. Meskipun sekali-kali ia mengalami kesulitan, namun ia telah berhasil mengatasinya dan bahkan telah benar-benar dapat melukai lawannya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh Ki Rangga melihat, bahwa baju dan kulit Iswari memang sudah dikoyakkannya.

Ketika Warsi merasa bahwa kemenangan memang sudah berada diambang dengan cara yang ditempuhnya terakhir, maka ia yakin, bahwa ia akan dapat melukainya sekali lagi dan sekali lagi, sehingga akhirnya seluruh tubuh Iswari akan tergores dan bajunya pun akan hancur sampai sesobek kain yang terakhir, yang akan dihanyutkan oleh angin. Darah akan mengalir dari luka-luka itu dan membasahi sisa pakaian yang masih melekat ditubuhnya.

Tetapi Iswari tidak membiarkan dirinya mengalami keadaan seperti itu. Ia pun menyadari, jika ia terpancing pada kemampuannya pada tataran itu, ia memang akan dapat dihancurkan oleh lawannya.

Karena itu, maka Iswari pun mulai mengeterapkan ilmunya yang disebut oleh ketiga kakek dan neneknya dengan ilmu Janget Kinatelon.

Ilmu yang bertumpu pada kekuatan yang ada di dalam dirinya dan disekitar dirinya, yang diserapnya dengan laku tertentu, dan yang kemudian dilontarkan kembali dalam ujud yang telah mengental dalam kebulatan ilmu yang utuh.

Demikianlah, dengan menggenggam sepasang pedang ditangannya, Iswari telah mempersiapkan dirinya dalam landasan ilmunya.

Namun kesempatan yang pendek itu, disaat-saat Iswari memasuki puncak kekuatan ilmunya, maka Warsi pun telah memanfaatkannya untuk menggetarkan ilmunya yang luar biasa. Seperti gonggong serigala maka suara Warsi tidak lagi mirip orang tertawa. Tetapi ia benar-benar telah menyerang Iswari dengan ilmu yang ada di dalam dirinya, yang terlontar lewat getaran suaranya yang semakin garang.

Orang-orang yang mendengar suara itu mengenalinya bahwa ilmu itu bersumber pada ilmu Gelap Ngampar meskipun tidak lagi utuh sebagaimana sumber ilmu itu.

Terasa dada Iswari bagaikan ditusuk dengan beribu ujung pisau. Sakit dan pedih. Bahkan jantungnya seakan-akan mulai berguncang dan akan rontok karenanya.

Namun Iswari berada pada landasan ilmu Janget Kinatelon. Maka lewat tangan dan pedangnya, Iswari pun segera mempergunakannya sebelum ia jatuh terkapar karena serangan ilmu Gelap Ngampar yang dahsyat itu.

Sejenak kemudian, maka dengan kekuatan terakhir, Iswari melenting menyerang lawannya. Kedua pedangnya menggeletar dan kemudian berputaran.

Dari ayunan pedangnya itu, ternyata telah mengalir dan berputaran pula udara disekitar tubuhnya. Semakin lama semakin cepat dan semakin keras. Dalam keadaan kesakitan, Iswari memang belum dapat mencapai puncak kemampuannya. Tetapi ternyata bahwa ilmu Janget Kinatelonnya yang diterapkan, benar-benar telah berpengaruh terhadap lawannya.

Iswari tidak saja mampu membuat telapak tangannya bagaikan membara. Tetapi dengan kekuatan api, maka rasa-rasanya udara disekitar dirinya pun mulai memanas. Bahkan sekaligus kabut yang seakan-akan mulai menghembus dari dalam tubuhnya, yang kemudian dihanyutkan oleh arus angin yang menderu, adalah uap air yang panas, bagaikan uap air yang sedang mendidih.

Dengan sisa tenaganya, maka Iswari telah memburu lawannya dengan selubang ilmunya. Kabut yang putih, panasnya api dan udara yang bagaikan berputaran, sementara tubuhnya bagaikan terlindung oleh putaran sepasang pedangnya. Meskipun karena kesakitan di dadanya, ia tidak lagi mampu memutar senjatanya lebih cepat lagi.

Ternyata bahwa serangan Iswari yang memang menggoyahkan kedudukan Warsi. Ia tidak dapat tetap berdiri tegak sambil melontarkan ilmu lewat getaran suaranya, karena ia harus melindungi dirinya.

Namun betapa terkejutnya Warsi ketika kabut putih itu mulai menyentuhnya. Ternyata kabut itu memang uap air yang panas yang didorong oleh angin yang berputaran sejalan dengan tata gerak serangan Iswari itu sendiri.

“Anak iblis,” geram Warsi. Namun ia masih sempat menyusupkan ujung rantainya, menusuk menembus kabut yang tipis dan angin yang berputaran, justru mengenai lambung Iswari.

Iswari memang terdorong surut selangkah. Justru karena Warsi tidak lagi menyerangnya lewat getaran suaranya, cengkraman di dadanya memang berkurang. Tetapi ternyata bahwa lambungnya telah dikenai ujung rantai lawannya yang mematuk seperti ujung tombak.

Agaknya lambung Iswari memang terlindung oleh segulung ikat pinggang yang memang selalu dipakainya meskipun ia berpakaian khusus sebagaimana dipakainya saat itu. Namun demikian kerasnya tusukan ujung rantai lawannya, ternyata bahwa gulungan ikat pinggang Iswari itu telah dikoyaknya pula. Bahkan kulitnya pun sudah terluka meskipun tidak menganga dalam. Namun, luka itu terasa betapa sakitnya. Perutnya telah menjadi mual.

Warsi yang melihat keberhasilannya telah berusaha mengulangi serangannya. Tetapi Warsi tidak mendapat kesempatan lagi. Iswarilah yang kemudian menyerangnya. Bukan saja dengan putaran pedangnya, tetapi dengan kekuatan ilmunya yang diwarisinya dari ketiga kakek dan neneknya.

Sekali lagi Warsi mengumpat kasar. Panasnya udara yang mendorong uap air yang putih bagaikan kabut itu membuatnya kebingungan.

Iswari mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Tubuhnya yang telah basah oleh darah dan menjadi semakin lama menjadi semakin lemah itu melenting maju. Demikian cepatnya, sehingga Warsi harus berusaha mengambil jarak sambil memutar rantainya. Namun sambil menggeliat, Iswari mengubah serangannya. Ia berusaha mendorong ujung rantai lawannya dengan sebelah pedangnya. Namun tiba-tiba ia meloncat maju dengan pedang yang lain terjulur.

Warsi berusaha menghindar. Tetapi pedang itu kemudian bergerak mendatar.

Warsi berteriak ketika ujung pedang itu menyambar pundaknya pula. Justru agak dalam.

Dengan demikian maka kedua orang perempuan yang berperang tanding itu telah terluka. Jika kemudian Warsi berhasil sekali lagi mengenai paha Iswari, maka Iswari telah berusaha untuk mengakhiri perang tanding itu.

Meskipun ia pun menjadi semakin lemah karena darah yang telah banyak mengalir dari tubuhnya, serta kesakitan yang telah mencengkam seluruh tubuhnya, bukan saja perasaan pedih pada kulitnya karena sambaran-sambaran angin serangan lawannya, serta luka-lukanya yang mengalirkan darah, tetapi juga isi dadanya yang terguncang-guncang, namun jiwanya masih tetap setegar kuda pacuan di arena.

Dengan pakaian yang telah terkoyak-koyak Iswari menyerang Warsi yang dalam keadaan yang serupa. Darah pun telah membasahi pakaiannya, serta keringatnya justru membuat luka-luka bakarnya menjadi sangat pedih.

Namun panasnya kabut yang berwarna keputihan yang didera angin rasa-rasanya selalu mengejarnya. Bahkan disusul oleh ujung-ujung pedang Iswari yang berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan.

Tetapi cahaya bulan bulat itu ternyata tidak mampu berbuat apa-apa selain menerangi arena perang tanding itu.

Dalam keadaan yang semakin terdesak Warsi berusaha bertahan. Ia pun melihat bahwa keadaan Iswari sudah menjadi semakin payah pula. Namun dirinya bagaikan terpanggang dalam kabut yang panas itu, benar-benar tidak mampu lagi mengangkat senjatanya.

Ketika Iswari mengayunkan pedangnya, Warsi masih sempat menghindar. Namun ketika sekali lagi ia berusaha melenting, maka tiba-tiba saja ia pun terhuyung-huyung dan jatuh ditanah. Tangannya masih memegang rantainya yang merupakan senjata yang paling diandalkannya. Wajahnya menengadah ke langit, disinari cahaya bulan yang lembut.

Wajah itu tidak lagi kehitam-hitaman. Matanya tidak bercahaya semerah darah, sementara giginya tidak nampak dalam pandangan mata Iswari menjadi besar dan runcing.

Namun Warsi memang seorang perempuan yang cantik yang telah berhasil memikat Wiradana dan mempergunakan kecantikannya untuk memanjakan ketamakannya.

Iswari berdiri termangu-mangu. Namun keadaannya pun telah menjadi semakin lemah. Ketika ia melihat Warsi terbaring diam, maka ia tidak segera mengambil sikap. Meskipun demikian ujung-ujung pedangnya teracu dengan gemetar.

Kabut yang putih yang panas serta angin yang melanda berputaran, telah lenyap dari padang rumput itu. Iswari yang berdiri mulai goyah. Tetapi ia belum mengambil keputusan sikap bagi lawannya, meskipun ia masih akan sempat melangkah maju dan menghujamkan ujung pedangnya ke dada lawannya.

Suasana benar-benar menjadi tegang. Ki Rangga benar-benar telah kehilangan akal melihat kenyataan itu.

Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga masih tetap menghormati paugeran perang tanding itu. Ia tidak langsung meloncat memasuki arena untuk menolong Warsi. Namun ia masih tetap menunggu sikap para saksi yang lain.

Para saksi itu memang masih menunggu sikap tertentu atau tidak. Karena perang tanding itu merupakan perang tanding yang menentukan.

Tetapi untuk beberapa saat Iswari masih berdiam diri memandang tubuh yang terbaring itu. Betapapun kebencian mencengkam jantungnya, tetapi ketika ia melihat Warsi yang terbaring dengan tubuh dan pakaian yang hampir dipenuhi dengan luka dan koyak-koyak itu, ternyata sesuatu telah mengekangnya untuk menggerakkan ujung pedangnya.

Pada saat ketegangan mencengkam suasana di padang rumput itu, mereka telah dikejutkan oleh dua sosok bayangan yang bagaikan terbang menuju ke arena. Bayangan yang muncul dari balik gerumbul-gerumbul perdu di padang rumput itu. Agaknya dua sosok bayangan itu telah beberapa lama berada ditempat itu dan ikut mengamati perang tanding yang sedang terjadi itu.

Ketika bayangan itu menjadi semakin dekat, maka orang-orang yang ada disekitar itu terkejut. Para saksi dari kedua belah pihak tidak mengira bahwa tiba-tiba saja orang itu hadir di arena perang tanding.

“Ki Randukeling,” desis Kiai Badra yang bergeser setapak maju.

Ki Randukeling berhenti beberapa langkah dari arena. Sesosok lagi telah berdiri pula disampingnya.

Kiai Badra yang menjadi curiga telah melangkah mendekatinya. Sementara Kiai Soka dan Nyai Badra telah bergeser pula.

“Aku tidak akan berbuat apa-apa Kiai,” berkata Ki Randukeling. “Aku tahu bahwa perang tanding ini telah berlangsung dengan jujur. Kedua belah pihak telah bertempur dengan alas kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing.”

“Lalu apa maksudmu datang kemari?” bertanya Kiai Badra. “Sebenarnya aku sudah mempertanyakannya, kenapa kau tidak menjadi saksi dalam perang tanding ini.”

“Aku sudah lama meninggalkan Warsi,” jawab Ki Randukeling. “Namun ketika aku mendengar perang tanding ini akan terjadi, maka aku tidak sampai hati untuk tidak memperhatikannya. Karena itu aku telah memerlukan untuk berada di padang rumput ini pada saat perang tanding itu terjadi. Aku merasa perlu untuk segera mendekat ketika suara serigala itu tiba-tiba telah terdiam.”

“Dan kau jumpai Warsi dalam keadaannya,” berkata Kiai Badra.

“Itulah yang akan aku katakan Kiai,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi segala sesuatunya jika tidak bertentangan dengan perjanjian yang telah dibuat bagi perang tanding itu.”

“Apa yang akan kau lakukan? Apa artinya pula bahwa kau telah membawa seorang kawan?” bertanya Kiai Badra.

“Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan berbuat apa-apa. Kawanku pun hanya menyertai aku. Bagaimana pun juga ada kecemasan dihatiku, bahwa kalian akan berusaha menangkapku,” berkata Ki Randukeling.

“Dan kalian berdua akan melawan kami seandainya kami ingin melakukannya?” bertanya Kiai Badra.

“Tidak,” jawab Ki Randukeling. “Aku hanya minta kawanku menjadi saksi kematianku. Ia tidak akan berbuat apa-apa.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “Siapakah kawanmu itu?”

Ki Randukeling berpaling kepada kawannya yang umurnya sudah sebaya dengan dirinya. Baru kemudian ia menjawab, “Aku tidak tahu, apakah kalian pernah mendengarnya atau tidak. Namanya Ajar Paguhan.”

“O,” Kiai Badra mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya ia pun telah berpaling ke arah Kiai Soka dan Nyai Soka. Dengan nada rendah ia berkata, “Jadi inilah orang yang bernama Ajar Paguhan,” ia berhenti sejenak, lalu katanya, “Namanya telah dikenal bukan saja diseluruh Jipang, tetapi diseluruh Demak. Ajar Paguhan. Dan kini kami mendapat kehormatan untuk menerima kedatangannya.”

“Kiai,” berkata Ajar Paguhan. “Jangan berlebih-lebihan menyebut seseorang. Aku tahu, justru karena itu aku menjadi merasa diriku semakin kecil.”

“Sudahlah,” berkata Ki Randukeling. “Meskipun tidak pasti, tetapi kita sudah mempunyai takaran di antara kita. Sekarang, aku ingin menyampaikan maksud kedatanganku.”

“Katakan,” desis Kiai Badra.

“Sekali lagi, jika tidak bertentangan dengan perjanjian yang telah kalian buat, atau Warsi belum telanjur mati,” berkata Ki Randukeling.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Kiai Badra.

“Jika kalian tidak berkeberatan aku akan mengambil Warsi,” jawab Ki Randukeling.

Suasana menjadi semakin menegang. Kiai Badra tidak segera menjawab. Tetapi ia pun kemudian berpaling kepada Iswari dan berkata, “Kaulah yang berhak menjawab,” lalu katanya kepada Ki Randukeling. “Bertanyalah kepadanya.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau sudah mendengar niatku untuk mengambil Warsi. Ada dua hal yang perlu kau pertimbangkan. Apakah kau dapat sedikit mengekang kebencian dan dendammu untuk tidak membunuhnya sekarang atau apakah kau tidak takut bahwa satu ketika justru kaulah yang akan dibunuhnya.”

Iswari mengerutkan keningnya. Ia masih harus bertahan untuk tetap tegak dihadapan Ki Randukeling. Bahkan Iswari sedikit pun tidak mau menunjukkan kelemahannya.

“Pertimbangkan Iswari,” berkata Ki Randukeling selanjutnya. “Aku tidak akan menolak keputusan yang akan kau ambil, bahkan seandainya kau akan membunuh Warsi, karena itu adalah hakmu. Jika aku datang dan minta kepadamu untuk mengambil Warsi, maka aku sudah minta belas kasihanmu. Namun seperti apa yang sudah aku katakan, bahwa mungkin dalam waktu dua tiga tahun lagi, Warsi sudah lain dari Warsi yang sekarang. Ia akan mampu menyempurnakan ilmu yang dapat dilontarkannya lewat getaran suaranya, sebagaimana sudah dilakukannya meskipun belum sempurna. Karena itu mungkin yang terjadi beberapa tahun mendatang tidak kita duga sebelumnya. Mungkin Warsi sama sekali tidak merasa bahwa kau telah mengasihaninya dan membiarkan tetap hidup. Tetapi Warsi justru akan menantangmu untuk berperang tanding lagi.”

Dada Iswari bagaikan bergejolak. Ia sadar bahwa Ki Randukeling sengaja telah menyinggung harga dirinya. Karena itu, maka sambil menahan diri ia menjawab,“Ki Randukeling. Kau sebenarnya tidak perlu mengungkit perasaanku dengan cara seperti itu. Kau berharap bahwa dengan demikian aku akan dengan serta merta tersinggung dan berkata, Ambil tubuh itu. Aku akan menunggu ia datang kepadaku. Tidak, Ki Randukeling. Sejak semula aku memang tidak ingin membunuhnya. Jika aku termangu-mangu, maka soalnya bukan apakah aku akan membunuh atau tidak. Tetapi siapakah yang akan memelihara dan merawatnya agar ia tidak mati. Jika tubuh itu aku serahkan kepada Ki Rangga, maka mungkin Warsi akan mati diperjalanan. Dan sekarang tiba-tiba Ki Randukeling datang. Karena itu, agaknya memang lebih baik bagi Warsi untuk aku serahkan kepada Ki Randukeling. Mudah-mudahan ia tidak mati di perjalanan. Kemudian apakah ia akan datang lagi untuk membunuhku kelak, aku sama sekali tidak memikirkannya, karena bagiku, jika Warsi mampu meningkatkan ilmunya, maka aku pun akan dapat melakukannya pula. Jika Warsi kemudian mendapat bimbingan dari Ki Randukeling atau Ki Ajar Paguhan atau siapapun juga, maka aku pun masih akan tetap berada dalam bimbingan. Karena itu jangan persoalkan sekarang.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ajar Paguhan berdesis, “Luar biasa. Sejak aku melihat caranya bertempur, ketenangannya, ketidak tergesa-gesaannya melepaskan ilmu puncaknya dan saat-saat lawannya sudah terbaring roboh membuat aku mengagumi. Aku sudah tua. Karena itu yang aku katakan adalah percikan nuraniku.”

“Cara apa lagi yang akan kau lakukan itu,” berkata Iswari. “Sudah aku katakan, bawalah.”

Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berkata, “Baiklah Iswari, jika itu yang kau kehendaki. Aku akan membawanya. Mudah-mudahan aku berhasil menyelamatkannya. Aku tidak akan menyebut lagi, apa yang akan dilakukannya kelak. Semuanya terserah kepadanya.”

Iswari tidak menjawab. Ia pun tidak beringsut ketika Ki Randukeling kemudian melangkah mendekati tubuh Warsi yang terbaring diam.

Namun demikian, Kiai Badra lah yang bergeser mendekati Iswari. Bagaimanapun juga ia tetap harus berhati-hati. Ki Randukeling yang datang membawa seorang kawan itu akan dapat berbuat apa saja yang tidak diduga. Sementara itu, kawannya yang bernama Ajar Paguhan adalah seorang yang namanya sudah banyak dikenal meskipun belum pernah bertemu sekalipun, apalagi mengenal tataran ilmunya.

Kiai Soka dan Nyai Sokapun telah bergeser pula. Ternyata mereka mempunyai perasaan yang sama seperti Kiai Badra.

Tetapi Ki Randukeling memang tidak berbuat apaapa. Ia hanya berjongkok disisi Warsi terbaring. Kemudian memegang tangannya dan menggerakkannya. Namun kemudian Ki Randukeling itu telah menempelkan telinganya pada dada Warsi.

Sambil menarik nafas dalam-dal* iapun berkata, “Masih ada.harapan.”

Semua orang yang ada di tengah-tengah padang rumput itu bagaikan diam membeku ketika mereka melihat Ki Randukeling mengangkat tubuh itu. Dengan wajah yang muram ia pun berkata kepada Iswari, “Terima kasih Iswari. Kau memang seorang yang pantas mendapat pujian. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi jiwamu memang bersih.”

Iswari tidak menjawab. Ia melihat Ki Randukeling beringsut surut. Lalu katanya kepada Kiai Badra, “Selamat tinggal Kiai. Terima kasih atas kesempatan ini. Kita orang-orang tua akan dapat memperhitungkan apa yang mungkin terjadi kemudian. Tetapi Iswari benar-benar seorang perempuan yang luar biasa.”

Kiai Badrapun mengangguk kecil. Katanya, ”Terima kasih atas segala pujian.”

Ki Randukeling bergeser semakin jauh. Lalu katanya kepada Ki Rangga, “Kau tidak usah mencarinya. Kau bukan keluarganya, bukan sanak kadangnya.”

“Ki Randukeling” jawab Ki Rangga, “beri aku kesempatan.” Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya, “Aku akan mempertimbangkannya.”

Ki Randukeling tidak berbicara lagi. Ia pun memberi isyarat kepada Ajar Paguhan untuk meninggalkan tempat itu. Meninggalkan neraka bagi Warsi.

Dua sosok bayangan bagaikan terbang meninggalkan arena pertempuran. Seorang diantaranya telah membawa tubuh Warsi di kedua tangannya. Ternyata tubuh Warsi bagi Ki Randukeling tidak lebih dari golek kayu yang ringan.

Semua mata telah mengikuti kedua orang yang semakin lama menjadi semakin jauh dibawah cahaya bulan , yang terang. Namun akhirnya keduanya pun hilang ditelan gerumbul-gerumbul perdu yang berserakan di padang rumput itu.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Rangga Gupitapun berkata, “Tugasku sudah selesai. Perang tanding telah berakhir.”

Kiai Badra memandanginya dengan tajamnya. Dengan nada datar ia berkata, “Kalau saja kami mempergunakan kesempatan ini untuk menangkapmu.”

“Tetapi, tetapi itu tidak mungkin” suara Ki Rangga menjadi gagap, “aku adalah saksi dari perang tanding sebagaimana kalian.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Perang tanding telah terjadi dengan jujur. Persoalan diantara kita adalah persoalan diluar perang tanding itu. Kau sudah terlalu banyak membuat kesulitan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi aku masih tetap dilindungi dalam kedudukanku sebagai saksi” berkata Ki Rangga yang menjadi semakin cemas.

“Siapa yang melindungi?” bertanya Kiai Badra.

Wajah Ki Rangga Gupita menjadi pucat. Namun dalam pada itu Kiai Badra pun berkata, “Baiklah. Pergilah. Tetapi pada satu kesempatan kau tentu akan dapat kami tangkap.”

Ki Rangga memandang Kiai Badra dengan ragu-ragu. Namun ia pun kemudian memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk meninggalkan tempat itu.

Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian meninggalkan tempat itu dengan kesan yang dahsyat didalam jantung mereka. Mereka menyaksikan bagaimana perempuan yang mereka anggap tidak terkalahkan itu mulai terdesak. Tetapi juga bagaimana perempuan itu dalam beberapa saat menguasai lawannya. Namun akhirnya Warsi harus terkapar jatuh dipadang rumput yang luas itu.

“Satu perang tanding yang mengerikan”  geram Ki Rangga.

Namun dalam pada itu, ketika Ki Rangga dan orang-orangnya sudah hilang dari pandangan mata mereka, ternyata bahwa keseimbangan Iswaripun goyah. Dengan suara yang dalam ia berdesis, “Nek? Kenapa tiba-tiba mataku menjadi gelap?”

Ketika orang itu meloncat bersama-sama mendekati Iswari yang kehilangan keseimbangannya. Untunglah Kiai Badra dan Kiai Soka sempat menangkapnya, sehingga Iswari tidak jatuh terbanting di tanah.

“Kita harus berbuat sesuatu,” desis Kiai Badra.

“Kita terlalu mengagumi kemenangannya, sehingga kita melupakan bahwa Iswari terluka parah,” berkata Kiai Soka.

Iswari pun kemudian dibaringkannya di atas rerumputan. Dengan ketajaman penglihatan seorang yang mengerti tentang obat-obatan, maka Kiai Badra pun berusaha untuk memberikan pertolongan sementara kepada cucunya itu.

“Darahnya harus dipampatkannya lebih dahulu,” berkata Kiai Badra.

Dengan obat-obatan yang dibawanya, maka Kiai Badra telah menolong Iswari sejauh dapat dilakukan.

Ternyata bahwa karena luka-lukanya serta karena darah yang banyak mengalir dari luka-lukanya, Iswari telah menjadi pingsan.

Untuk beberapa saat ketiga orang tua itu menjadi sibuk. Namun akhirnya Kiai Badra berkata, “Marilah. Kita akan membawanya ke pategalan ditepi padang rumput ini.”

Kiai Badralah yang kemudian mendukung Iswari dikedua tangannya sebagaimana dilakukan oleh Ki Randukeling kepada Warsi.

Kedatangan ketiga orang yang membawa Iswari dalam keadaan yang parah itu sangat mengejutkan para pengawal. Dengan serta merta seorang di antaranya berkata, “Apakah Nyai Wiradana bertempur melawan serigala-serigala itu?”

Kiai Badra menggeleng. Tetapi ia kemudian bertanya, “Apakah kalian dapat mencarikan air? Di pategalan ini agaknya tentu ada sumur.”

“Baik Kiai,” jawab salah seorang di antara mereka. “Aku akan mencarinya.”

Dengan menabur obat-obatan yang dibawanya, Kiai Badra sudah banyak mengurangi arus darah yang ke luar dari luka-luka ditubuh Iswari. Namun demikian Kiai Badra memang memerlukan air.

Sejenak kemudian memang terdengar derit senggot timba. Agaknya memang tidak terlalu jauh. Karena itu, maka sejenak kemudian pengawal yang mencari air itu telah kembali membawa mangkuk yang besar yang terbuat dari upih.

“Kau bawa timbanya kemari?” bertanya Kiai Badra.

“Nanti aku kembalikan,” jawab pengawal itu.

Dengan hati-hati Kiai Badra menitikkan air di bibir Iswari. Dengan perawatan tertentu maka akhirnya Iswari pun menjadi sadar. Namun betapa luka-lukanya terasa sangat pedih.

Ketika Iswari akan bangkit, ternyata kepalanya terasa pening dan tubuhnya menjadi gemetar tidak berdaya.

“Berbaringlah dahulu,” berkata Kiai Badra.

“Bagaimana dengan aku?” suara Iswari terlalu lemah.

“Kau tidak apa-apa,” jawab Kiai Badra. “Tetapi kau telah terlalu banyak mengeluarkan darah dari luka-lukamu, sementara itu jantungmu juga terguncang oleh serangan Warsi dengan ilmunya yang bersumber pada ilmu Gelap Ngampar itu tentu masih terasa sakit pula.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun ia sempat membayangkan apa yang telah terjadi, sehingga ia pun telah mengucap syukur kepada Yang Maha Agung bahwa ia telah luput dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Warsi. Namun bahwa Yang Maha Agung juga telah mengendalikannya, sehingga ia pun tidak melakukan pembunuhan di padang rumput itu.

Sekilas terbayang wajah anaknya Risang. Ia masih diperkenankan untuk memelihara anaknya itu, sehingga anaknya tidak menjadi yatim piatu.

Untuk beberapa saat Iswari beristirahat. Namun dalam pada itu ternyata bulan telah jauh bergeser ke Barat. Karena itu, maka Kiai Badra pun berkata, “Kita akan meninggalkan tempat ini dan kembali ke Tanah Perdikan. Kita akan mengusung tubuh Iswari yang masih sangat lemah.

Tetapi Iswari menyahut, “Aku akan berjalan sendiri kakek. Tetapi sangat perlahan-lahan.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya kau tidak berjalan sendiri Iswari. Keadaanmu tidak memungkinkan.”

“Perlahan-lahan sekali kakek,” jawab Iswari. “Aku tidak pantas untuk diusung, karena aku masih mempunyai kekuatan betapapun lemahnya.”

Kiai Badra dan Kiai Sokalah yang kemudian membantu Iswari berjalan, karena ia berkeras untuk tidak mau diusung oleh para pengawal.

Ketika mereka kemudian meninggalkan pategalan itu, setelah mangkuk upihnya dikembalikan pada senggot timba, maka iring-iringan itu berjalan sangat lambat.

Sementara itu, seorag pengawal sempat bertanya kepada Nyai Soka, ”Apakah yang sebenarnya telah terjadi, Nyai”

”Biarlah nanti Iswari sendiri memberikan penjelasan”, jawab Nyai Soka. Namun kemudian katanya, ”Tetapi kita tidak perlu cemas dengan keadaannya. Ia telah mengatasi satu tugas yang paling sulit dengan hasil yang sangat baik meskipun ia menjadi. sangat lemah.”

Pengawal itu tidak mendesaknya. Namun keadaan pakaian dan tubuh Iswari menunjukkan bahwa ia tentu baru saja melakukan kekerasan. Mungkin bertempur melawan serigala, atau mungkin sesuatu yang lain.

Ketika bulan menjadi semakin rendah, maka iring-iringan itu masih juga belum memasuki Tanah Perdikan. Memang ada semacam kecemasan jika mereka diketahui memasuki daerah Kademangan tetangga meskipun hubungannya sangat baik.

Tetapi perbatasan sudah dekat sekali.

Karena itu, demikian bulan bertengger dipunggung bukit, maka iring-iringan itu benar-benar telah berada di belakang perbatasan Tanah Perdikan Sembojan.

”Sokurlah” desis pemimpin pengawal, ”kita telah berada di rumah sendiri.”

”Ya” Nyai Soka mengangguk-angguk, ”bagaimanapun juga, persoalan batas akan dapat menjadi sangat rawan.”

Demikianlah, sejenak kemudian iring-iringan itu telah memasuki padukuhan pertama. Atas persetujuan Iswari sendiri, mereka langsung menuju ke banjar padukuhan. Setelah dibenahi sedikit, maka Iswari pun telah dibaringkan di ruang dalam banjar padukuhan itu.

”Usahakan seekor kuda” berkata Nyai Soka, ”pergi kerumah dan katakan kepada Bibi, Nyai Wiradana memerlukan ganti pakaian. Jangan katakan apapun juga, kecuali Nyai Wiradana selamat.”

Lewat anak-anak muda yang bertugas di banjar maka seorang pengawal telah mendapatkan seekor kuda. Sejenak kemudian, maka iapun telah berpacu meninggalkan padukuhan itu, menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara di padukuhan itu, suasana memang menjadi sedikit ribut. Meskipun Kiai Badra dan Kiai Soka, dibantu oleh para pengawal minta anak-anak muda yang bertugas di banjar menjadi tenang, namun berita tentang kehadiran Nyai Wiradana dalam keadaannya telah membuat isi padukuhan itu bertanya-tanya.

”Batasi agar padukuhan ini tidak terbangun karenanya” berkata Nyai Soka.

Sebenarnyalah para pengawal dan anak-anak muda yang bertugas di banjar itu sudah berusaha untuk membatasi diri. Namun satu-satu telah terlepas juga pembicaraan tentang kehadiran Nyai Wiradana yang dalam keadaan gawat itu.

”Tentu ada hubungannya dengan perintah Gandar” berkata salah seorang pengawal padukuhan itu.

”Isyarat dengan panah sendaren itu?” bertanya kawannya.

”Ya” jawab yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Desisnya, ”Aku sependapat.”

Tetapi mereka tidak mengatakan sesuatu lagi. Mereka hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu, suasana di banjar nampaknya memang menjadi sangat gelisah.

Namun keadaan Iswari sendiri sudah menjadi berangsur baik. Apalagi setelah para pengawal sempat membuat minuman hangat dan menghidangkannya dengan gula kelapa.

Sementara itu, kedatangan seekor kuda yang berpacu di padukuhan induk memang membuat orang-orang yang. berada di rumah Nyai Wiradana menjadi terkejut.

Bibi yang sudah bermain-main dengan Risang yang sudah terbangun diruang dalam terkejut ketika mendengar keributan diluar. Ketika bibi menjenguk dipintu pring­gitan, maka pengawal yang berada di halaman sempat melihatnya dan dengan serta merta rnemanggilnya, ”Bibi.”

Bibi termangu-mangu. Ketika ia berpaling dilihatnya Risang duduk sambil bermain gerobag yang roda-rodanya telah dilepasinya. Risang berusaha memasang kembali roda-roda itu. Tetapi ternyata hal itu tidak mudah dilakukannya.

Dengan cepat Bibi menyambarnya dan mendukungnya.Ia tidak mau meninggalkan anak itu sendiri jutru ketika ‘sesuatu terjadi di luar.

Sambil mendukung Risang, maka Bibipun keluar dan berdiri di pendapa. Namun ketika ia melihat para pengawal ada dihalaman, maka ia menjadi tenang.

”Ada apa?” Risang justru bertanya, ”gerobagku.”

”Tunggu Risang. Agaknya ada sesuatu yang penting.” desis Bibi.

Ketika Bibi kemudian turun ke tangga pendapa, maka pengawal dari padukuhan di perbatasan yang mendapat tugas untuk mengambil pakaian Nyai Wiradana itupun berkata, “Aku mendapat perintah Kiai Badra.”

“Kiai Badra?” jantung Bibi menjadi berdebaran. Namun pengawal itu cepat menyahut, “Nyai Wiradana selamat. Tetapi ia memerlukan ganti pakaian.”

“Selamat?” ulang Bibi. “Jadi semuanya sudah selesai dengan baik?”

Pengawal itu justru kebingungan. Karena itu maka ia pun bertanya, “Apa yang selesai?”

Ternyata Bibi pun tanggap. Pengawal itu belum mengetahui seluruhnya apa yang terjadi. Karena itu, maka Bibi pun berkata, “Baiklah. Aku akan menyiapkannya.”

Demikianlah bibi sambil mendukung Risang telah mempersiapkan pakaian Nyai Wiradana. Sementara itu Risang yang mengenal pakaian ibunya sempat juga bertanya, “Ibu dimana Bibi?”

“Ibu sedang melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan kita Risang,” jawab Bibi.

“Sebentar lagi ibu akan kembali.”

“Untuk apa pakaian ini?” bertanya Risang pula.

Bibi tersenyum sambil mencium pipinya. Katanya, “Pakaian ibu basah oleh keringat. Semalaman ibu berjalan berkeliling sehingga berkeringat. Karena itu ibu akan berganti pakaian.”

“Kenapa ibu tidak pulang saja dan berganti pakaian di rumah?” bertanya Risang pula.

Pertanyaan itu memang sulit untuk dijawab. Tetapi Bibi mencoba menjawab, “Sebentar lagi hari akan terang. Tidak pantas ibu berjalan di jalan yang menghubungkan padukuhan-padukuhan dengan baju yang basah dan kotor.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Ketika Bibi kemudian ke luar sambil membawa pakaian Nyai Wiradana dan mendukung Risang, maka dilihatnya Gandar sudah ada di halaman itu pula. Agaknya ia sudah tanggap pula akan keadaan Iswari.

Seperti Bibi sebenarnya mereka ingin sekali ikut bersama pengawal itu menjemput Nyai Wiradana. Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan tugas mereka untuk mengamati Risang dan seluruh Tanah Perdikan. Karena itu, maka baik Bibi maupun Gandar tidak mengikuti pengawal yang membawa pakaian Nyai Wiradana itu.

Namun ketika pengawal itu siap untuk kembali ke padukuhan di perbatasan, Gandar sempat mendapat beberapa keterangan tentang keadaan Nyai Wiradana.

“Nampaknya Nyai Wiradana letih sekali. Yang nampak ada beberapa luka ditubuhnya. Tetapi Nyai Wiradana menolak untuk diusung. Ia berjalan sendiri dari padang rumput meskipun harus dibantu oleh Kiai Badra dan Kiai Soka,” jawab pengawal itu. Gandar menarik nafas dalam-dalam. Baginya Iswari memang perempuan yang sangat mengagumkan. Namun seperti dahulu, maka ia hanya dapat mengaguminya.

Sejenak kemudian maka pengawal itu pun telah berpacu meninggalkan gerbang halaman rumah Nyai Wiradana kembali ke padukuhan di perbatasan sambil membawa pakaian Nyai Wiradana.

Ketika kemudian matahari terbit, tidak banyak orang yang mengetahui apa yang telah terjadi. Di padukuhan di perbatasan itu pun orang masih selalu bertanya-tanya. Kebanyakan di antara mereka tidak melihat keadaan yang parah dari Nyai Wiradana. Tetapi ketika matahari yang cerah di pagi hari mulai menyiram Tanah Perdikan Sembojan, maka Nyai Wiradana telah mengenakan pakaiannya yang utuh. Bahkan rambutnya pun telah disisirnya halus sebagaimana kebiasaannya.

Meskipun geraknya masih lamban karena tubuhnya yang sangat lemah, tetapi ketika Nyai Wiradana hadir dipendapa banjar padukuhan, ia sudah kelihatan segar. Senyumnya sudah tersungging dibibirnya dan sorot matanya menjadi secerah matahari pagi.

Nyai Soka yang mendampinginya pun nampak gembira pula. Sorot matanya yang lembut memancar di bawah kerut umur didahinya. Sementara itu Kiai Badra dan Kiai Soka pun wajahnya nampak bersih pula.

Ki Bekel padukuhan itu, telah pula berada di banjar. Seperti kebanyakan orang, maka ia pun tidak tahu, apa yang telah terjadi di malam purnama yang baru lalu.

“Nanti pada saatnya, semuanya akan menjadi jelas Ki Bekel,” berkata Kiai Badra. “Tetapi sekadar untuk diketahui, bahwa satu tugas yang besar dan berat telah diselesaikan oleh Nyai Wiradana malam purnama yang lalu.”

Ki Bekel tidak memaksa Kiai Badra untuk bercerita, betapapun ia ingin mendengar keterangan lebih jauh. Namun sedikit persoalannya telah dikatakan oleh Kiai adra.

Ternyata bahwa Iswari dan ketiga orang kakek dan neneknya tidak terlalu lama berada di banjar padukuhan itu. Dengan meminjam empat ekor kuda, maka Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah membawa Nyai Wiradana kembali ke padukuhan induk.

Di padukuhan induk, Bibi telah menunggu di depan pintu bersama Risang. Rasa-rasanya waktu berjalan terlalu lamban, sehingga Bibi hampir tidak sabar lagi.

Namun akhirnya Nyai Wiradana itu pun datang pula.

Yang pertama-tama dilakukan oleh Iswari adalah mencium pipi anak laki-lakinya yang berada di dalam dukungan Bibi. Tetapi ternyata anak itu sempat bertanya, “Ibu menangis?”

“Tidak Risang,” jawab Nyai Wiradana. “Kenapa ibu menangis?”

“Tetapi pipi ibu menjadi basah,” jawab Risang.

“Barangkali Risang sendirilah yang menangis,” berkata Nyai Wiradana kemudian.

Risang menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian anak itu bertanya, “Kenapa Risang menangis? Risang bermain-main gerobag sejak pagi.”

Nyai Wiradana mencoba untuk tersenyum. Tetapi air matanya memang sulit untuk dibendung dipelupuk matanya. Karena itu, meskipun tidak bertanya lagi, Risang selalu memandangi wajah ibunya yang basah.

Tetapi Nyai Wiradana kemudian nampak gembira. Ketika ia melihat Gandar berdiri dibawah tangga pendapa, maka ia pun mendekatinya sambil berdesis, “Semuanya sudah selesai.”

“Tuntas?” bertanya Gandar.

Nyai Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun berkata, “Undang semua bebahu Tanah Perdikan dan para Bekel dari setiap padukuhan. Aku akan berbicara dengan mereka sekarang. Semua berita yang simpang siur tentang peristiwa semalam harus dijernihkan.”

Gandar mengangguk-angguk meskipun masih ada pertanyaan yang menggelitik hatinya. Iswari belum menjawab, apakah perang tanding itu benar-benar telah tuntas. Jika demikian maka satu-satunya kemungkinan, Warsi telah terbunuh. Namun menilik sikap dan jawaban Iswari maka agaknya ada penyelesaian yang lain.

Demikianlah, maka Gandar telah mengatur para pengawal yang ada. Mereka harus menghubungi para bebahu dan para Bekel dari padukuhan-padukuhan saat itu juga.

Sementara itu sambil menunggu mereka, Iswari yang lemah masih sempat berbaring dan minum obat yang dipersiapkan oleh Kiai Badra untuk memulihkan kekuatan tubuhnya yang masih sangat lemah.

Beberapa ekor kuda yang membawa para penghubung telah berpencaran kesemua padukuhan serta ke rumah para bebahu yang juga tersebar di seluruh Tanah Perdikan. Mereka menyampaikan perintah Nyai Wiradana agar para bebahu dan para Bekel di setiap padukuhan berkumpul untuk mendapatkan penjelasan tentang peristiwa yang terjadi semalam.

Namun ada juga para bebahu dan para Bekel yang tidak tahu sama sekali tentang peristiwa yang dimaksud. Tetapi ada yang telah mendengar serba sedikit, yang memang memerlukan penjelasan.

Seperti yang dimaksud oleh Nyai Wiradana, maka para bebahu dan para Bekel itupun telah dengan serta merta memenuhi perintah Nyi Wiradana. Mereka segera berpacu menuju ke padukuhan induk. Para bekel yang sudah tua, yang sudah tidak mampu lagi berpacu dengan kencang diatas punggung kuda, berusaha juga agar kudanya berlari-lari kecil melewati jalan jalan bulak.

Sebelum tengah hari, maka semua yang dipanggil Nyai Wiradana sudah berkumpul. Diantara mereka terdapat juga beberapa orang pemimpin pengawal Tanah Perdikan Senabojan, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung serta ketiga orang kakek dan.nenek Iswari yang telah menjadi saksi dalam perang tanding yang terjadi.

Beberapa orang yang telah berkumpul itu telah saling menanyakan apa yang telah terjadi. Tetapi semuanya nampaknya masih belum jelas, sehingga akhirnya mereka menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Nyai Wiradana.

Demikianlah, maka betapapun masih lemah, namun Nyai Wiradana telah hadir di pendapa. Bibi yang harus mengawasi Risang bersama pemomongnya, mengajak anak itu bermain di ruang dalam, sehingga sedikit-sedikit bibi dapat mendengar apa yang dibicarakan di luar pintu. Namun karena jaraknya agak jauh, maka Bibi pun akhirnya terpaksa untuk tidak dapat mengikutinya.

Sementara itu di pendapa, Iswari telah memberikan penjelasan terperinci tentang apa yang telah terjadi semalam. Ia mulai dari awal keseluruhan peristiwa itu, sejak kedatangan utusan Warsi yang memberikan tantangan kepadanya untuk menyelesaikan persoalan mereka dengan berperang tanding. Sehingga akhirnya, semua kesulitan dapat diatasi oleh Iswari Karena itulah maka bukan saja Iswari, tetapi seluruh isi Tanah Perdikan ini sudah sepantasnya mengucap syukur kepada Yang Maha Agung.

“Jika akhir dari perang tanding itu lain; maka masa depan Tanah Perdikan ini pun akan menjadi lain pula” berkata Nyai Wiradana itu kemudian.

Orang-orang yang mendengarkan keterangan itu mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan apa yang telah terjadi. Meskipun Iswari tidak mengatakannya, tetapi menilik keadaannya, Iswari tentu telah menempuh satu perjuangan yang sangat berat dalam perang tanding yang telah dilakukannya.

Namun akhirnya orang-orang itu memang menjadi kecewa, ketika Iswari mengatakan bahwa Warsi tidak terbunuh dalam perang tanding itu.

“Ki Randukeling datang ke arena. Ia minta agar diijinkan membawa Warsi yang sudah dalam keadaan yang tidak berdaya itu” berkata Iswari.

“Kenapa perempuan itu tidak kau bunuh saja?” bertanya Gandar dengan serta merta, ”ia akan tetap menjadi duri didalam daging. Pada saatnya ia akan bangkit dan mulai lagi dengan segala macam tingkahnya yang sangat megnganggu Tanah Perdikan ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti kenapa Gandar menjadi sangat kecewa. Bersama pasukan Pajang, Gandar juga pernah merasa kehilangan ketika Warsi dan Ki Rangga berhasil melarikan diri dari sergapan pasukan Tanah Perdikan Sembojan dan para prajurit Pajang disalah satu sarangnya.

“Aku mengerti” berkata Iswari, “tetapi aku tidak dapat berbuat sesuatu terhadap orang yang sudah tidak berdaya. Aku memang dapat mendekatinya dan menikamnya menembus jantung. Tetapi apa katamu jika aku melakukannya, sementara lawanku sudah terbaring diam tanpa dapat berbuat sesuatu apalagi melawan?”.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Namun seorang pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan berkata, “Kenapa tidak, sejak semula langsung dibunuhnya tanpa membiarkannya pingsan?”

Iswari tersenyum. Jawabnya, “Ketika aku-menyadari keadaan, ia sudah pingsan.”

Yang lain hanya mengangguk-angguk saja meskipun mereka pun merasa kecewa. Sebagaimana Gandar mereka sama sekali bukan didorong oleh sekedar satu keinginan membunuh. Tetapi mereka dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi kemudian. Sementara Warsi dan Ki Rangga akan dapat bertemu kembali dalam usaha mereka untuk mengacaukan Tanah Perdikan itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Badra pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Marilah segala sesuatunya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Iswari sudah melakukan sejauh dapat dilakukannya. Namun ia masih belum dapat sampai pada puncak kepuasan, karena masih ada sesuatu yang tertinggal. Tetapi hal itu adalah diluar kuasanya. Yang dapat kita lakukan kemudian adalah berdoa, semoga Yang Maha Kuasa menerangi hati mereka, sehingga mereka tidak akan terperosok kembali kedalam dunianya yang hitam.”

Orang-Orang yang hadir di pertemuan itu masih mengangguk-angguk. Sementara Nyai Wiradana berkata, “Marilah kita bergembira. Setidak-tidaknya dalam beberapa tahun kita mendapat kesempatan untuk membangun Tanah Perdikan ini tanpa gangguan. Kekuatan yang akan mengganggu Tanah Perdikan ini secara wadag telah dihancurkan. Para pengikut Ki Rangga Gupita dan Kalamerta hampir semuanya telah digulung oleh pasukan pengawal Tanah Perdikan ini bersama-sama dengan prajurit Pajang. Kemudian pemimpin yang memegang kekuasaan telah menjadi timpang. Warsi untuk beberapa tahun tidak akan mampu berbuat sesuatu.”

Masih nampak orang-orang di pendapa itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih saja berkata kepada diri sendiri, “Andaikata Warsi terbunuh dan Ki Rangga itu ditangkap?”

Tetapi bagaimanapun juga, maka rasa-rasanya dada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi merasa sesak. Setidak-tidaknya untuk beberapa tahun. Sementara itu Tanah Perdikan Sembojan sudah akan menjadi semakin kuat.

Dalam pada itu Iswari pun berkata selanjutnya, “Segala sesuatunya untuk selanjutnya terserah kepada kita. Apakah kita akan mempergunakan kesempatan yang terbuka dihadapan kita dengan sebaik-baiknya, atau justru kita akan tenggelam ke dalam kepuasan yang tidak bertepi. Namun kita harus ingat, bahwa kita adalah jembatan dari masa lampau ke masa yang akan datang. Jika kita bergeser dari sumbernya dan berkisar arah, maka kita akan dikutuk oleh para pendahulu kita, namun kita juga akan disumpah oleh anak-anak kita dimasa mendatang.”

Para bebahu, para Bekel dan para pemimpin pengawal serta orang-orang yang mendengarkan sesorah Nyai Wiradana itu mengangguk-angguk. Mereka yang sejak semula mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada Nyai Wiradana, semakin menumpukkan kepercayaan mereka. Ternyata bahwa Nyai Wiradana tidak hanya pandai memerintah, memberi petunjuk, berbicara dan marah-marah. Ia pun telah turun ke arena dengan mempertaruhkan jiwanya bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, maka kedudukan Nyai Wiradana di mata para bebahu, para bekel dan pemimpin pengawal dan orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu menjadi semakin kokoh.

Ketika pertemuan itu kemudian dibubarkan dan para bebahu, para Bekel dan para pemimpin yang lain telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Berita tentang peristiwa semalam itu pun kemudian telah tersebar menurut keterangan yang langsung mereka dengar dari Nyai Wiradana. Keterangan itu telah menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di kalangan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang sudah mendengar beritanya, tetapi tidak jelas sampai keperincian peristiwanya.

Di hari-hari berikutnya, Tanah Perdikan Sembojan memang merupakan seolah-olah udaranya menjadi semakin segar. Keluarga mereka yang pernah diancam sebagaimana terjadi pada Damar dan Saruju, merasa hidup mereka menjadi tentram.

Namun ketentraman hati orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu telah diimbangi pula dengan kerja keras. Dalam kesempatan itu, Tanah Perdikan Sembojan telah berusaha untuk membangun Tanah Perdikan mereka sebaik-baiknya.

Ternyata bahwa Pajang pun tidak begitu saja membiarkan Tanah Perdikan Sembojan bekerja sendiri. Seperti saat-saat Sembojan berusaha untuk menghancurkan kekuatan yang selalu membayangi Tanah Perdikannya, dengan mengirimkan pasukan yang kuat, maka saat-saat Sembojan membangun, Pajang pun telah memberikan banyak sekali bantuan.

Dari hari ke hari, maka wajah Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi semakin cantik. Jalan-jalan menjadi semakin rata. Parit-parit menjadi semakin pajang menusuk ke bulak-bulak yang luas, sehingga sawah pun menjadi semakin hijau disepanjang tahun. Lereng-lereng pegunungan menjadi pepat oleh hutan-hutan yang lebat. Dan pasar-pasar pun semakin berkumandang gaungnya di saat-saat temawon.

Dalam pada itu, Nyai Wiradana sendiri telah ikut serta dalam kerja keras rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Ia hadir disetiap kerja yang besar di Tanah Perdikannya. Beberapa kali Nyai Wiradana nampak memimpin pembuatan bendungan. Menaikkan air untuk menyalurkannya ke sawah-sawah.

Sementara rakyat Tanah Perdikan bekerja keras, maka Risang pun tumbuh semakin besar. Ia merupakan seorang anak yang cerdas, yang pandai dan rajin. Dalam usianya yang masih kanak-kanak Risang telah berusaha untuk membuat mainan sendiri dibawah tuntunan Gandar. Dengan bambu Risang dapat membuat gerobag-gerobag kecil. Dengan bambu pula Risang membuat pedang-pedangan yang panjang.

Dengan pedang-pedangan itu maka Risang menantang orang-orang yang sering berada didekatnya. Risang tidak begitu puas, mereka bermain dengan anak-anak sebayanya. Beberapa kali ia bermain pedang-pedangan dengan kawan-kawannya. Namun kebanyakan mereka menangis karena Risang bermain terlalu keras bagi mereka.

Tetapi Risang mendapat kepuasan bermain pedang melawan Gandar dan Bibi atau ibunya sendiri. Bahkan kadang-kadang dengan para pengawal yang bertugas di halaman rumahnya.

Nyai Wiradana mengikuti perkembangan anaknya dengan hati yang kadang-kadang masih juga disentuh oleh kecemasan. Memang kadang-kadang ada juga penyesalan, bahwa perang tanding itu tidak selesai dengan tuntas. Ki Rangga Gupita dan Warsi masih tetap hidup.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling, bahwa pada suatu saat mungkin Warsilah yang akan datang kepadanya untuk membunuhnya.

Seperti saat ia mendengar ancaman itu, maka Iswari sama sekali tidak menjadi ketakutan. Ia siap menghadapi Warsi kapan pun juga. Tetapi yang dicemaskannya adalah Risang. Semakin Risang menjadi besar, maka ia akan mempunyai jarak bermain yang lebih jauh. Ia tidak akan dapat dikekangnya di halaman rumah terus-terusan. Pada satu saat Risang tentu ingin bermain dengan kawan-kawannya ke luar dari padukuhan induk. Mungkin ke sungai, mungkin ke gunung atau ke padukuhan-padukuhan lainnya. Anak itu tentu tidak akan dapat selalu dibayangi oleh satu atau dua orang pengawal. Karena dengan demikian maka ia akan merasa tidak mempunyai kebebasan sebagaimana kebanyakan kawan-kawannya.

Hal seperti ini sudah pernah dikemukakannya pula kepada ketiga orang kakek dan neneknya. Bagaimanakah sebaiknya mereka membesarkan Risang.

“Untuk sementara, biarlah ia selalu mendapat pengawasan. Jika Risang mulai gelisah untuk bermain sendiri, mungkin dengan kawan-kawan sebaya atau memenuhi keinginannya melihat jarak yang lebih luas, biarlah orang yang mengawasinya tidak mendekatinya, agar ia tidak selalu merasa terganggu,” berkata Kiai Badra.

“Ya kakek,” sahut Iswari. “Namun semakin besar ia akan menjadi semakin berusaha melepaskan diri dari pengawasan seperti itu, yang baginya terasa akan sangat mengekang. Atau mungkin kawan-kawannya langsung atau tidak langsung mengejeknya seolah-olah Risang tidak berani bermain sendiri.”

“Kegelisahan yang dapat dimengerti,” berkata Nyai Soka. “Tetapi Iswari, biarlah kami mendapat waktu untuk memikirkannya. Persoalan Risang memang bukan hanya persoalanmu. Tetapi persoalan kita seluruhnya. Ki Rangga dan Warsi pada suatu saat tentu masih akan mempersoalkan anak itu, justru karena Warsi juga mempunyai anak laki-laki yang dinamainya Puguh. Menurut beberapa orang pengikutnya yang pernah menyaksikannya, Warsi mendidik Puguh dengan keras sekali. Ia menanamkan perasaan dendam pada anak itu. Bahkan sejak kanak-kanak Puguh telah mendapat pengertian tentang kebencian. Seakan-akan justru menjadi landasan hidupnya. Kita tidak dapat mengatakan, apa yang kemudian dilakukan oleh Warsi, setelah Warsi berada di padepokan Ki Randukeling. Apakah Puguh juga diambil oleh Ki Randukeling atau ditempatkan di tempat lain sementara Warsi menempa diri untuk membalas dendam pada satu saat yang akan datang.”

“Bukankah Warsi masih mempunyai seorang ayah?” bertanya Kiai Soka.

“Ya. Ayah Warsi masih ada,” desis Iswari.

“Satu kemungkinan, bahwa Puguh ada di rumah kakeknya itu,” berkata Kiai Soka. “Tetapi kemungkinan lain dapat saja terjadi.”

“Warsi ternyata memang mempunyai kesempatan yang lebih baik. Ia tahu pasti dimana Risang tinggal,” gumam Iswari.

Ketiga kakek dan neneknya itu mengangguk-angguk. Namun kemudian Kiai Badra pun berkata, “Iswari. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Kita memang tidak boleh menjadi lengah. Tetapi kita masih mempunyai kesempatan berpikir. Pada satu saat mungkin kita akan menjajagi satu kemungkinan, bahwa sebaiknya Risang tinggal di salah satu padepokan. Mungkin padepokanku, mungkin padepokan Kiai dan Nyai Soka.”

“Satu kemungkinan yang dapat dipertimbangkan kakang,” desis Nyai Soka. “Aku pun pernah berpikir demikian. Tanpa mengurangi hubungan antara anak itu dengan ibunya. Seandainya Risang berada di salah satu padepokan, pada saat-saat tertentu ia akan berada disini. Sementara itu, masih ada kewajiban kami. Kau tidak boleh berhenti dengan usaha mengembangkan ilmumu. Aku yakin bahwa Warsi telah menempa diri. Kehadiran Ajar Paguhan tentu bukannya tidak punya maksud.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita agaknya belum mengenali kemampuan ilmu Ajar Paguhan selain sekadar pernah mendengar namanya. Kita juga tidak tahu latar belakang kerja sama antara Ajar Paguhan dan Ki Randukeling. Tetapi bahwa Warsi ada ditangan kedua orang itu, kita memang harus memperhatikannya dengan sungguh-sungguh.”

“Nah, bukankah persoalan ini masih akan dapat berkembang kelak?” bertanya Iswari kemudian, “betapapun tinggi landasan ilmuku, namun aku mencemaskan anakku. Ia adalah jalur yang menghubungkan aku dengan masa depan. Ia pun harus meneruskan kepemimpinan kakeknya, Ki Gede Sembojan di Tanah Perdikan ini. Sementara itu, hidupnya selalu terancam oleh ketamakan dan keganasan sepasang manusia yang bengis itu.”

“Keselamatan Risang memang berada dalam tanggung jawab kita, Iswari. Sebagai kanak-kanak ia memang tergantung sekali kepada orang yang merawatnya. Karena itu, seperti yang dikatakan oleh kakekmu, Kiai Badra, kita akan melihat perkembangan keadaan. Perkembangan Tanah Perdikan ini dan perkembangan Risang itu sendiri.

Iswari mengangguk-angguk. Memang masih ada waktu. Sementara Risang masih berada dalam dunia kanak-kanaknya, beberapa orang terpercaya masih saja dapat mengawasinya. Bibi masih dapat selalu dekat dengan anak itu. Bahkan tidur pun Bibi selalu ada di dekatnya.

Namun pada satu hari Risang mulai berkata, “Risang sudah berani tidur sendiri.”

Tetapi pernyataan itu masih dapat diabaikan. Ternyata Risang masih tetap, tidak berkeberatan Bibi tidur bersamanya.

Sementara itu disiang hari, jika Bibi sedang melakukan pekerjaan lain, ia tidak menolak bermain dengan Gandar. Kadang-kadang Risang betah juga duduk dibawah sebatang pohon jambu air untuk mendengarkan Sambi Wulung berceritera. Sambi Wulung memang senang berceritera. Ia dapat menceriterakan tentang kejayaan masa lampau di Tanah yang sedang berkembang itu. Jauh sebelum Pajang lahir, maka di Tanah ini berdiri sebuah kerajaan yang besar.

-Namanya Majapahit” berkata Sambi Wulung.

Ternyata Risang senang sekali mendengarkan nama-nama pahlawan yang telah ikut serta membangun kebesaran masa lampau.

“Jika kelak kau sudah besar” berkata Sambi Wulung, “kau juga mempunyai kesempatan untuk berbuat sebagaimana dilakukan oleh Jayabaya atau oleh Prabu Brawijaya atau oleh Jaka Tingkir yang menjadi Sultan Pajang yang sekarang.

Risang mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Dengan bangga Risang kadang-kadang mengucapkan nama-nama yang- pernah didengarnya itu. Bahkan kemudian sambil berlari-lari dengan pedang/bambu ditangan ia berteriak, “Itulah Sultan Jaka Tingkir.”

Sainbi Wulung tersenyum. Tingkah laku Risang sangat menarik bukan saja bagi Sambi Wulung. Tetapi bagi setiap orang yang sempat memperhatikannya.

Sementara itu Jati , Wulung mempunyai kebiasaan lain. Ia sering membuat wayang dari tangkai daun ketela pohon. Dengan wayang yang dibuatnya Jati Wulung banyak berceritera tentang Wira Carita Mahabarata dan Ramayana.

Dalam suasana yang demikian itulah Risang tumbuh dan berkembang. Namun seperti yang dilakukan sebelumnya, Iswari selalu memberinya kesempatan bermain seperti kebanyakan anak-anak diantara kawan-kawannya yang sebaya. Meskipun kadang-kadang nampak bahwa Risang mempunyai beberapa kelebihan dari mereka. Kadang­kadang Risang memang tidak puas bermain dengan kawan-kawannya yang sebaya itu, karena mereka tidak dapat mengikuti kemauan, keinginan dan kecepatan berpikir Risang yang masih kanak-kanak itu.

Dalam-pada itu, jauh dari Tanah Perdikan Sembojan, tumbuh pula seorang anak yang bernama Puguh. Ternyata bahwa Ki Randukeling tidak sekedar membawa Warsi ke padepokannya, tetapi ia pun telah mengambil Puguh Pula. Ki Randukeling tahu, apa yang telah dilakukan oleh Warsi terhadap Puguh. Karena itu, maka dengan nada marah Ki Randukeling berkata, “Hentikan kelakuanmu yang tidak wajar itu. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan ayahmu jika ia tahu bahwa kau disini. Tetapi sebagai ‘orang tua, akupun merasa mempunyai kewajiban untuk berbuat sesuatu atasmu. Atas Puguh dan masa depan kalian. Puguh adalah anakmu. Kau sendirilah yang melahirkannya.”

Warsi yang telah sembuh pula dari luka-lukanya mulai memikirkan kata-kata Ki Randukeling itu. Tetapi ia tetap menganggap bahwa Puguh sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya.

Namun bagaimanapun juga, kedua anak-anak itu tumbuh dalam dunianya masing-masing.

Tetapi keduanya adalah keturunan darah Tanah Perdikan Sembojan yang mempunyai pertanda, kedudukan bagi Kepala Tanah-Perdikannya, sebuah bandul yang bertatahkan kepala seekor burung elang yang garang.

Sebagai anak burung elang, maka keduanya pun akhirnya mulai ditumbuhi dengan bulu-bulu pada sayapnya. Paruhnya yang semakin runcing dan pandangan matanya yang semakin tajam. Yang pada saatnya, sayap dari anak-anak elang ini akan mulai berkembang.

———-oOo———-

TAMAT

Pada jilid ini, rangkaian ceritera tentang Tanah Perdikan Sembojan babak I yang berjudul “Suramnya Bayang-bayang” telah selesai. Segera akan dilanjutkan dengan rangkaian ceritera tentang Tanah Perdikan Sembojan babak II yang berjudul “Sayap-sayap Yang Terkembang”.

Dalam babak ini akan diceriterakan perkembangan anak-anak Elang Tanah Perdikan Sembojan, yang sayap-sayapnya mulai terkembang. Hanya sepasang anak elang. Tetapi yang hidup dan tumbuh didunia yang berbeda, dengan bekal pandangan hidup yang berbeda, serta cila-cita yang berbeda pula. Latar belakang permusuhan induk-induknya yang tidak kunjung padam mewarnai jejak sepak sayap-sayap mereka yang menggores diputihnya awan.

Tunggu wedaran berikutnya :

 

“SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG”

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

One Response

  1. mantaps…jadi penasaran baca kisah selanjutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s