SBB-32

<< kembali | lanjut >>

PERWIRA yang menyaksikan pertempuran antara Warsi dan Gandar itu menjadi termangu-mangu. Ternyata orang Tanah Perdikan Sembojan itu benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Sebagaimana ia tidak mengira bahwa Warsi memiliki kemampuan yang luar biasa, maka ia pun tidak menduga bahwa Gandar pun ternyata seorang yang pilih tanding.

Loncatan-loncatan yang cepat dan panjang, desing ayunan senjata mereka, benturan yang memercikkan bunga api dan kelebihan-kelebihan yang lain, membuat perwira itu menjadi keheranan.

Tetapi ternyata perwira itu tidak mempunyai kesempatan lebih lama lagi untuk mengagumi kemampuan Gandar. Ketika seorang pengikut Warsi itu menyerangnya, maka perwira itu harus mempertahankan dirinya.

Karena itu, maka sejenak kemudian perwira itulah yang telah meninggalkan Warsi dan membiarkannya bertempur melawan Gandar, seorang melawan seorang.

Namun demikian perwira yang harus melayani serangan salah seorang bekas pengikut Kalamerta itu sempat berkata kepada diri sendiri, “Agaknya Senapati pun belum mengenalnya, sehingga ia agak segan memberikan kesempatan Gandar bertempur bersama kami untuk menghadapi Warsi. Namun akhirnya, yang lain justru tidak mendapat kesempatan untuk bertempur melawan Warsi, selain Gandar itu.”

Ketika perwira itu semakin dalam terlibat pertempuran dengan bekas pengikut Kalamerta yang menjadi pengikut Warsi yang setia itu, maka ia tidak mempunyai kesempatan untuk dengan leluasa menyaksikan pertempuran itu, meskipun serba sedikit ia masih juga dapat melihat sepintas, apa yang terjadi dengan keduanya.

Dalam keseluruhannya, pertempuran yang terjadi di dataran di atas bukit itu benar-benar mendebarkan. Perlahan-lahan keseimbangan pertempuran itu memang mulai bergeser. Kedatangan pasukan Pajang bersama anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu benar-benar telah mengubah keadaan. Jika pasukan itu terlambat beberapa saat saja, maka keadaannya tentu sudah jauh berbeda.

Perlahan-lahan, maka pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan mulai menguasai bagian-bagian yang penting di dataran itu. Para prajurit Pajang benar-benar telah mapan di plataran dan di mulut goa, sehingga orang-orang Jipang itu tidak akan mampu menembusnya lagi. Sementara itu, di halaman barak, disela-sela barak-barak itu sendiri, pasukan Pajang telah berhasil mendesak lawan-lawan mereka bergeser dari setiap sela-sela barak-barak sebelum mereka sempat merusak bangunan-bangunan itu.

Karena itu maka pertempuran selanjutnya hanyalah terjadi disekitar plataran goa, di sebelah halaman barak-barak yang dihuni itu, serta di hutan kecil disini barak.

Dihutan yang tidak begitu lebat itu telah terjadi pertempuran yang sangat rumit. Mereka mempergunakan setiap pepohonan menjadi perisai bagi yang terdesak. Meskipun hutan itu termasuk. hutan yang tidak lebat dan terletak di tempat yang tidak begitu subur, namun di hutan itu juga terdapat pepohonan yang besar dan rimbun.

Sambil berputar-putar diantara pepohonan maka baik para prajurit Pajang, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, maupun para pengikut Ki Rangga dan Warsi berusaha untuk dapat menghunjamkan senjata mereka ke tubuh lawan. Mereka tidak lagi terikat oleh lawan yang saling berhadapan. Tetapi siapapun juga yang lengah akan dilubangi tubuhnya dengan senjata.

Betapa kisruhnya pertempuran yang terjadi kemudian. Apalagi sebagian prajurit Pajang tidak sempat mengenakan tanda-tanda keprajuritan mereka, sehingga memang kadang-kadang sering terjadi salah paham.

Tetapi bagaimanapun juga para pengikut Ki Rangga dan Warsi mengerahkan kemampuan mereka, namun sebenarnyalah setiap kemampuan itu ada batasnya. Juga kemampuan sekelompok orang yang merasa dirinya berilmu tinggipun ada batasnya pula.

Itulah sebabnya, maka betapa besar kemauan, betapa tingginya keberanian dan betapa luasnya pengalaman, namun para pengikut Warsi dan Ki Rangga itu tidak mampu lagi mengatasi desakan para prajurit Pajang.

Pertempuran yang berlangsung tanpa gelar itu semakin lama semakin bergeser menjauhi mulut goa dan barak yang diperebutkan itu. Satu demi satu, para pengikut Ki, Rangga itu pun telah jatuh di medan. Bekas prajurit Jipang yang gagah berani tanpa mengenal menyerah itu pun tidak lagi melihat kemungkinan bahwa mereka akan dapat merebut kembali sarang yang bagi mereka sangat berharga itu.

Namun demikian, Ki Rangga dan Warsi masih bertempur dengan garangnya.

Tetapi kenyataan yang mereka hadapi tidak dapat mereka ingkari. Jika mereka masih tetap bertahan dalam pertempuran yang semakin berat sebelah itu, maka keadaan mereka akan menjadi semakin parah.

Itulah sebabnya, maka tidak ada cara lain yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan diri selain meninggalkan neraka itu.

Namun demikian, Ki Rangga dan Warsi menyadari, bahwa untuk meninggalkan tempat itu diperlukan cara yang keras dan kasar. Mungkin para pemimpin akan dapat melakukannya. Tetapi bagi para pengikut mereka, maka akan sulit diketemukan jalan untuk melarikan diri. Hanya ada satu jalan keluar dan masuk ke sarang itu.

Seandainya usaha melarikan diri itu dilakukan, maka tentu akan jatuh korban yang tidak terhitung banyaknya. Sementara mereka yang sempat melepaskan diri itu pun tidak akan terlalu banyak. Tetapi itu lebih baik dari semua pasukan mati terbunuh atau tertangkap tanpa bersisa seorang pun.

Itulah sebabnya, maka Ki Rangga Gupita telah memberikan isyarat khusus yang hanya diketahui oleh Warsi. Karena mereka bertempur di tempat yang tidak terlalu jauh, maka ketika Ki Rangga meneriakkan isyarat sandi yang disangka semacam umpatan atau hentakan kemarahan, maka Warsi pun telah menjawabnya dengan cara yang sama.

Bagi lawan-lawan mereka, isyarat itu tidak segera menarik perhatian. Mereka menyangka bahwa Ki Rangga sekedar mengungkapkan kemarahannya dengan umpatan-umpatan kasar. Demikian pula dengan Warsi yang mengucapkan kata-kata yang kurang pantas.

Namun sebenarnyalah bahwa keduanya telah sepakat untuk melarikan diri dari medan.

Karena itulah, maka sejenak kemudian hampir berbareng Ki Rangga dan Warsi telah meneriakkan aba-aba yang serupa.

Para prajurit Pajang serta Gandar yang bertempur melawan Warsi memang menjadi curiga. Mereka memang menganggap bahwa tentu sesuatu akan terjadi.

Tetapi mereka tidak mendapat banyak kesempatan. Tiba-tiba saja sekelompok pengikut Ki Rangga dan Warsi telah menyerbu mereka yang sedang bertempur melawan Ki Rangga dan Warsi. Mereka telah meninggalkan lawan-lawan mereka dengan serta merta.

Sikap itu telah mengejutkan baik lawan Ki Rangga maupun lawan Warsi. Namun yang sekejap itu telah cukup bagi Ki Rangga dan Warsi untuk meloncat meninggalkan medan.

Lawan-lawannya memang berniat untuk mengejarnya. Tetapi mereka telah dikerumuni oleh lawan-lawan yang bukan sebenarnya. Mereka adalah orang-orang yang setia mengabdi kepada Ki Rangga dan Warsi demi satu cita-cita. Namun pengabdian yang membuta tuli itu benar-benar membuat Gandar dan Senapati Pajang justru menjadi iba. Mereka tidak lebih dari umpan-umpan yang tidak berharga sama sekali, yang oleh Ki Rangga dan Warsi agaknya disebut-sebut sebagai pahlawan yang gugur dalam mempertahankan cita-cita. Setiap orang yang terbunuh selalu digelari sebagai pahlawan, sedangkan yang bukan pahlawan selalu dikatakannya sebagai pengkhianat.

Demikianlah, maka seperti serangga yang menyerbu nyala obor yang berkobar-kobar, maka para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu telah menyerbu mereka yang berada di mulut lorong.

Gerakan itu justru demikian dahsyatnya, sehingga para prajurit Pajang telah benar-benar terdesak kesamping. Orang-orang Jipang dan bekas para pengikut Kalamerta itu seperti orang yang kehilangan nalar, melampaui orang yang sedang mabuk, melakukan gerakan yang seakan-akan tidak mereka sadari.

Dalam kemelut yang aneh di muka mulut lorong sempit itu, Ki Rangga dan Warsi telah sempat melarikan diri.

Mereka berlari menuruni jalan setapak diikuti oleh beberapa orang pemimpin kelompok dan bekas perwira Jipang. Sementara itu, para prajurit Pajang benar-benar mengalami kesulitan untuk mengusir orang-orang yang berputus asa itu untuk mendapatkan jalan memasuki lorong sempit itu untuk mengejar Ki Rangga, Warsi dan pengikutnya yang lain.

Sementara itu di lorong sempit itu pengikut Ki Rangga dan Warsi mengalir seperti aliran parit kecil di musim basah. Satu-satu meluncur dengan cepatnya. Susul menyusul tidak henti-hentinya.

Namun yang bernasib buruk adalah mereka yang benar-benar menjadi umpan. Tetapi mereka yang menjalaninya merasa dirinya telah berjuang dengan mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Termasuk jiwa mereka.

Ada semacam kebanggaan dihati para pengikut Ki Rangga, jika mereka sempat berkorban untuk cita-cita mereka yang tergantung di langit. Mereka menghendaki agar Jipang bangkit kembali.

Bahkan kawan-kawan mereka pun menaruh hormat dan bangga atas mereka yang gugur sebagai pahlawan itu. Demikianlah yang terjadi di salah satu sarang Ki Rangga dan Warsi itu. Sejumlah pengikut mereka telah mengumpankan diri untuk memberi kesempatan orang-orang terpenting diantara mereka melarikan diri dari tangan para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Kemarahan memang memuncak di dada setiap prajurit Pajang dengan langkah terakhir yang diambil oleh para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu.

Namun dalam keadaan yang penuh oleh gejolak perasaan itu, para pemimpin prajurit Pajang masih sempat berpikir, sehingga mereka berusaha mencegah kemarahan yang meluap-luap dari para prajurit itu. Hampir saja para prajurit Pajang tidak dapat mengekang diri dan membantai orang-orang yang dengan sengaja mengorbankan diri itu.

Tetapi para perwiranya berhasil mencegahnya. Namun dalam usaha menyibak sumbatan di mulut lorong itu, korban di antara para pengikut Ki Rangga itu seakan-akan sudah tidak terhitung jumlahnya.

Betapapun kemarahan menyesak di dada para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, namun mereka memang harus merelakan sebagian dari lawan mereka, termasuk Ki Rangga dan Warsi, melarikan diri sehingga luput dari tangkapan tangan mereka.

Meskipun demikian, dipandang dari satu sisi, maka mereka telah berhasil menghancurkan pasukan Ki Rangga. Korban yang jatuh memang terlalu banyak. Selebihnya mereka yang tertawan. Kekuatan Ki Rangga dan Wasi sudah susut separo lebih.

Tetapi satu hal yang harus mereka perhitungkan pula. Dengan demikian maka sisa kekuatan Ki Rangga itu tentu akan mengosongkan sarang-sarang mereka, terutama sarang yang dianggap cukup besar. Mereka akan memindahkan harta benda rampasan yang mereka miliki ke tempat yang tidak diketahui.

Namun para pemimpin prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu belum siap membicarakannya. Mereka masih dicengkam oleh suasana yang memang mengerikan. Kematian yang hampir saja tidak dapat dikekang.

Dengan cermat maka kemudian dilakukan penghitungan jumah pasukan prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sebagian dari mereka telah mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh dari mereka.

Para pemimpin prajurit Pajang masih belum memerintahkan para prajurit untuk mengumpulkan mayat para pengikut Ki Rangga, apalagi yang terluka. Para pemimpin itu menilai bahwa perasaan pasukan itu masih terasa pedih. Bukan saja karena mereka tidak sempat mengejar dan menangkap para pemimpin dan apalagi Ki Rangga dan Warsi itu sendiri, tetapi mereka harus menyaksikan kawan-kawan mereka menjadi korban.

Ternyata bahwa korban di pihak Pajang yang benar-benar terbunuh, terhitung tidak terlalu banyak. Namun yang luka-luka yang justru lebih banyak.

Baru setelah kawan-kawan para prajurit dan pengawal Tanah Perdikan itu selesai terkumpul, baik yang gugur maupun yang terluka, maka Senapati Pajang itu pun memerintahkan para prajurit mempergunakan tenaga para tawanan untuk mengumpulkan orang-orang Jipang dan bekas pengikut Kalamerta yang terluka dan terbunuh.

“Setan,” geram seorang prajurit. “Kenapa kita tidak membunuh saja semuanya.”

Kawannya menyahut, “Kita cekik saja mereka.”

Namun seorang perwira yang mendengar pembicaraan itu berdesis, “Lalu apakah bedanya, prajurit yang telah kehilangan akal dan prajurit yang masih lengkap penalarannya? Bukankah justru dalam kesempatan seperti ini kita menunjukkan bahwa kita berjalan di jalan yang dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Agung?”

Para prajurit itu terdiam. Namun ternyata bahwa mereka mulai merenungi kata-kata perwira itu. Betapapun kemarahan, kekecewaan dan berbagai perasaan bercampur baur di dalam jantungnya, namun mereka masih mampu mempergunakan penalaran mereka. Bahwa mereka masih tetap terikat pada paugeran perang dan tanggung jawab mereka sebagai seorang yang percaya kepada masa langgeng serta pengadilan yang Maha Tinggi.

Karena itu, maka akhirnya mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, namun perwira itu mengerti, bahwa prajuritnya tidak lagi sekadar dibakar oleh perasaannya.

Ternyata bahwa di kelompok-kelompok yang lain, para perwira memang harus memberikan banyak bimbingan kepada para prajurit Pajang dan juga para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, agar mereka tidak tenggelam dalam arus perasaan mereka yang bergejolak.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para prajurit Pajang telah memerintahkan tawanan mereka yang tidak terluka, untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka dibawah pengawasan yang mantap oleh para prajurit Pajang itu. Bagaimana pun juga tawanan mereka adalah orang-orang yang berbahaya. Meskipun nampaknya mereka telah tunduk dibawah perintah, namun kemungkinan yang tidak terduga masih dapat terjadi.

Sebenarnyalah bahwa dalam kesibukan mengumpul­kan orang-orang yang terluka itu, masih juga ada bekas prajurit Jipang yang berubah pendirian. Mereka tidak in­gin membiarkan dirinya menjadi tawanan orang-orang Pa­jang dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan dengan seorang yang semula merupakan seorang gegedug yang ikut dalam gerombolan Kalamerta bekas prajurit Jipang itu sempat berdesis sambil mengangkat seorang kawan mereka yang terluka, “Tugas kita sudah selesai. Kita sudah melindungi usaha para pemimpin kita untuk melarikan diri, sehingga kita sendiri tertawan. Dengan demikian apakah salahnya jika kita sekarang berusaha un­tuk melarikan diri?”

Bekas pengikut Kalamerta itu berpikir sejenak. Lalu katanya, “Itu akan lebih baik. Mereka tidak akan memperlakukan kita sebagai manusia lagi. Kita tentu akan mengalami perlakuan yang sangat pahit jika kita tetap berada di tangan iblis-iblis dari Pajang itu. Bahkan mungkin kita diperlakukan sebagai mahluk yang lebih ren­dah dari binatang.”

“Hati-hatilah” desis kawan mereka yang terluka itu.

“Kau jangan berkhianat” geram bekas prajurit itu, “jika kau tidak terluka parah, maka aku akan mengajakmu serta.”

“Aku tidak akan berkhianat.” suaranya sendat, “tetapi hati-hatilah. Orang-orang Pajang dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan menjadi garang seperti iblis.”

“Aku mengerti” jawab bekas prajurit Jipang itu.

Bekas pengikut Kalamerta itu pun mengangguk-angguk pula. Sementara itu, seorang prajurit Pajang mengawasinya dengan tombak merunduk. Namun prajurit Pajang itu tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Setelah meletakkan kawannya yang terluka itu di lantai salah sebuah barak yang memang dipergunakan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka, maka keduanya telah turun lagi ke bekas arena pertempuran. Tetapi keduanya telah berjalan menuju ke tempat yang paling dekat dengan mulut lorong.

Di tempat itupun banyak kawan-kawan mereka yang terluka. Ketika orang-orang Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan berusaha membuka mulut lorong itu yang disumbat oleh kawan-kawan mereka telah terjadi pertempuran yang sengit. Demikian pula pada saat para pemimpin dari bekas para prajurit Jipang dan gerombolan Kalamerta berusaha untuk meninggalkan tempat itu, maka orang-orang yang putus asa telah berusaha untuk menjadi seorang pahlawan dengan menguak pasukan Pajang yang berada di mulut lorong itu.

Karena itu, maka kedua orang itu telah mendekati seorang bekas prajurit Jipang yang terbaring di sebelah mulut lorong itu dengan luka yang menganga di pundak dan di atas lambungnya. Meskipun luka itu tidak membunuhnya, namun ia sudah tidak mampu lagi berbuat sesuatu selain berbaring sambil mengerang.

“Bagaimana keadaanmu?” bertanya bekas prajurit Jipang yang ingin melarikan diri itu.

Orang itu berdesis diantara erang kesakitan, “Rasa-rasanya hari akan kiamat.”

“Marilah” desis bekas prajurit yang akan melarikan diri itu.

Ia pun kemudian menempatkan tubuh kawannya yang terluka itu pada sikap yang siap untuk diangkat. Namun ia tidak segera melakukannya. Dipandanginya prajurit Pajang yang berdiri lima langkah daripadanya. Ternyata prajurit Pajang itu tidak sedang mengawasinya.

“Kau lihat yang berdiri di mulut lorong itu” desis bekas pengikut Kalamerta.

Bekas prajurit Jipang itu termangu-mangu. Selain prajurit yang berada di dekat mereka, maka dimulut lorong itupun telah berjaga-jaga seorang prajurit yang lain dengan pedang didalam pelukan.

Keduanya pun kemudian telah menebarkan pandangan mereka. Setiap lima langkah memang terdapat prajurit Pajang atau pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi keduanya benar-benar telah berniat untuk lari atau mati. Mereka tidak ingin merasakan hidup dalam tekanan lahir dan batin. Sehingga karena itu, maka keduanyapun telah bersiap-siap pula.

“Tunggulah disini” desis bekas prajurit Jipang itu kepada kawannya, “aku akan mencari jalan yang paling baik bagiku.”

Prajurit yang terluka itu mengerutkan keningnya. Namun keluhannya justru terdiam.

Bahkan dengan suara lirih ia bertanya, “Apa yang akan kau lakukan?”

Bekas prajurit Jipang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku akan melarikan diri.”

“Sangat berbahaya,” desis yang terluka itu dengan suara tersendat-sendat. “Seperti kau lihat, dimana-mana berdiri prajurit Pajang yang garang. Mereka akan dapat bertindak keras dan kasar.”

“Aku tidak peduli. Tetapi lari adalah cara yang baik untuk menghindarkan diri dari kesengsaraan yang tidak berkeputusan. Jika kau gagal dan mati, itu pun lebih baik dari menjadi tawanan orang-orang Pajang,” jawab bekas prajurit Jipang itu.

“Kenapa kau menyerah?” bertanya yang terluka.

“Aku terseret oleh sikap kawan-kawanku sebelum aku sempat berpikir. Sekarang aku telah dapat merenungkan serba sedikit, apa yang baik aku lakukan,” jawab bekas prajurit Jipang itu.

Kawannya yang terluka itu tidak menahannya. Tetapi ia berdesis, “Berhati-hatilah. Kau lihat ujung-ujung senjata itu. Mungkin mati memang lebih baik. Tetapi terluka seperti aku ini, rasanya sungguh tidak menyenangkan. Apalagi luka dan berada ditangan musuh. Tetapi aku tidak akan dapat membunuh diri, karena membunuh diri adalah salah satu jalan yang sesat.”

“Aku tidak membunuh diri,” berkata bekas prajurit itu. “Tetapi aku akan melarikan diri. Mati adalah satu akibat yang mungkin terjadi. Dan aku tidak akan menyesal jika mati itulah yang terjadi atas diriku.”

Kawannya yang terluka itu mengangguk kecil. Namun sejenak kemudian ia pun menyeringai menahan pedih karena lukanya yang menyengat. Bahkan kemudian terdengar ia mengeluh tertahan.

Pada keadaan yang demikian, bekas prajurit Jipang itu telah memberikan isyarat kepada kawannya untuk bergerak. Perlahan ia berdesis, “Kita mencari jalan kita masing-masing. Tetapi berdua akan bersama-sama mencapai mulut lorong itu.”

Kawannya, bekas pengikut Kalamerta itu pun mengangguk kecil. Kemudian ia pun menghitung perlahan-lahan. “Satu, dua, tiga.”

Pada hitungan ketiga, kedua orang itu bangkit. Dengan serta merta mereka berlari ke mulut lorong yang tidak begitu jauh.

Seorang prajurit yang melihat mereka itu pun dengan serta merta telah berteriak. “Awas. Orang itu melarikan diri.”

Beberapa orang prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan telah bergerak. Namun seorang di antara orang yang berlari itu telah mencapai mulut lorong.

Semuanya itu terjadi demikian cepatnya, sehingga prajurit yang berada di mulut lorong itu belum sempat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena itu, maka ketika ia masih terkejut melihat peristiwa itu, maka ia melihat dua orang bersama-sama berlari ke arahnya dari arah yang berbeda.

Prajurit itu ternyata sedikit terlambat. Ketika ia bersiap menerima kedatangan orang yang agaknya sudah lebih dekat daripadanya, maka ternyata bahwa serangan yang pertama justru datang dari orang yang lain. Sebuah tendangan kaki yang sangat keras telah melemparkannya, sehingga jatuh terguling di tanah. Hampir saja ia tergelincir masuk ke dalam jurang yang dalam. Namun ia sempat berpegangan pada sebatang pohon perdu.

Dengan tangkas ia meloncat bangkit, dengan senjata masih ditangan. Tetapi ternyata seorang di antara kedua orang yang melarikan diri itu sempat memungut sebuah pedang.

Malang bagi prajurit Pajang itu. Demikian ia bangkit maka sebuah pedang telah mematuknya. Ia memang sempat memiringkan tubuhnya. Namun ujung pedang itu telah mengoyak pundaknya, demikian dalamnya sehingga terasa seakan-akan lengannya menjadi lumpuh sebelah.

Orang yang menyerang itu tidak bertahan terlalu lama. Ia pun kemudian telah meloncat ke mulut lorong.

Tetapi ternyata kawannya telah bertempur dengan seorang prajurit yang dengan cepat mencapai mulut lorong itu pula. Dengan tangkasnya ia berusaha menahan kedua orang yang akan melarikan diri itu.

Namun seorang yang akan melarikan diri itu pun telah mampu memungut sebuah tombak pendek yang tercecer di medan yang kisruh sebelumnya. Dengan tombak pendek itu ia mencoba untuk menembusnya dan berlari menemui lorong.

Tetapi prajurit Pajang itu adalah prajurit yang sedang marah sekali. Ia melihat seorang kawannya yang terluka di pundaknya. Karena itu, maka prajurit Pajang itu seakan-akan telah kehilangan pengekangan diri.

Namun sejenak kemudian kedua orang yang melarikan diri itu telah bersama-sama berada dimulut lorong untuk bertempur berpasangan. Seorang membawa pedang yang lain membawa tombak pendek.

Pada saat yang demikian beberapa orang prajurit telah meloncati orang-orang yang terluka untuk mencapai mulut lorong pula. Mereka harus membantu kawannya yang akan menghadapi kedua orang yang siap untuk melarikan diri itu.

Namun ternyata sikap kedua orang itu telah memancing kekisruhan yang lebih besar lagi. Karena beberapa orang bekas prajurit Jipang yang sedang mengusung kawan-kawannya yang terluka, tiba-tiba saja telah digelitik oleh sikap kedua orang yang akan melarikan diri itu.

Beberapa orang, yang tidak sempat berpikir panjang, telah bangkit pula dan dengan serta merta melakukan usaha yang sama. Menuju ke mulut lorong.

Tetapi pada saat yang bersamaan beberapa orang prajurit Pajang pun telah sampai kemulut lorong pula, sehingga sejenak kemudian telah terjadi pula pertempuran. Orang-orang yang berusaha melarikan diri itu telah mempergunakan senjata apa saja yang dapat mereka temukan di bekas medan pertempuran itu. Senjata yang terjatuh dari tangan orang-orang yang terluka yang belum sempat dikumpulkan.

Kekacauan pun segera terjadi. Pertempuran yang kisruh telah terjadi lagi dimulut lorong. Beberapa orang bekas prajurit Jipang dan pengikut Kalamerta telah mempergunakan kesempatan untuk berusaha melarikan diri. Dengan tanpa ragu-ragu mereka telah menikam prajurit yang berusaha menahan mereka, sehingga ternyata ada beberapa orang prajurit yang terluka pula, bahkan gugur.

Tetapi dengan demikian kemarahan prajurit Pajang seakan-akan telah terungkit kembali. Yang melihat kawannya berlumuran darah menjadi seakan-akan kehilangan nalar. Mereka tidak lagi mau berpikir panjang. Senjatalah yang menjadi lantaran menyatakan perasaan mereka yang terguncang.

Tetapi keadaan yang tiba-tiba itu memang kurang menguntungkan bagi prajurit Pajang. Semakin lama bekas prajurit Jipang dan pengikut Kalamerta semakin banyak yang berniat untuk melarikan diri.

Seorang pemimpin kelompok yang sedang bertugas diantara para prajuritnya yang terkejut melihat keadaan itu, telah melontarkan isyarat. Sebuah suitan nyaring terdengar menggetarkan udara.

Suitan itu telah bersambung dari satu mulut kemulut lain, sehingga sejenak kemudian, maka para prajurit Pajang yang beristirahat, serta anak-anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan telah dihentakkannya. Mereka yang sedang beristirahat itu pun dengan serta merta telah berloncatan bangkit dengan senjata didalam genggaman. Dalam sekejap memang sudah terlintas didalam jantung mereka kemungkinan orang-orang yang mereka tawan itu berusaha untuk mencari saat-saat kelemahan.

Ternyata dugaan itu benar. Demikian para prajurit dan para pengawal Tanah Perdikan itu berada di bekas medan yang garang itu, mereka telah melihat pertempuran telah menyala lagi.

Sebagian dari mereka dengan cepat menguasai para tawanan yang masih terheran-heran melihat keadaan, sementara yang lain telah turun ke medan.

Para pemimpin prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan memang terkejut, meskipun kecurigaan terjadinya usaha seperti itu memang ada. Namun ada kecemasan yang lain yang mencengkam jantung mereka. Dengan peristiwa itu, maka mereka akan menjadi semakin sulit untuk mengendalikan kemarahan para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Sebenarnyalah orang-orang Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan itu menjadi sangat marah. Beberapa kawan mereka telah terluka dan terbunuh, justru ketika pertempuran telah dianggap selesai.

Dengan demikian, maka seorang prajurit Pajang tiba-tiba saja telah berteriak, ”Pengkhianat. Kalian semua harus dihukum mati.”

Sebenarnyalah para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi sempat berpikir lain kecuali membunuh orang-orang yang telah mengkhianati kepercayaan mereka. Apalagi karena beberapa orang kawan mereka telah terluka dan gugur.

Kekerasan pun kemudian telah terjadi di sekitar mulut lorong itu. Orang-orang yang berusaha melarikan diri itu pun telah menentukan dua pilihan, lari atau mati. Tidak ada-lagi niat di kepalanya untuk menyerah kepada prajurit-prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan yang menjadi buas itu.

Karena itu maka pertempuran kecil itu justru menjadi semakin garang. Terdengar teriakan-teriakan kemarahan dari kedua belah pihak. Tidak ada orang di arena itu yang berusaha untuk menundukkan lawan mereka agar menyerah. Yang terdengar didalam dada mereka adalah kidung kematian yang semakin lama manjadi semakin keras.

Sebenarnyalah para prajurit Pajang yang berdatangan itu telah bertempur dengan tanpa kendali. Demikian pula para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan. Pedang mereka menikam, menusuk dan menebas tanpa kekangan.

Ketika seorang bekas prajurit Jipang sempat menerobos pertempuran dan melarikan diri turun lewat lorong itu, disusul seorang yang lain, maka seorang prajurit Pajang telah melontarkan tombaknya. Tetapi tombak itu sama sekali tidak mengenai orang yang melarikan diri.

”Gila” prajurit itu mengumpat. Namun ia tidak dapat turun mengejarnya, karena ia sudah tidak bersenjata lagi. Apalagi jalan berbatu yang terjal itu tidak terbiasa dilaluinya, sehingga ia harus berpikir ulang untuk turun berlari mengejar kedua orang itu.

Namun ternyata bahwa tiga orang prajurit dan dua orang pengawal Tanah Perdikan telah berlari lewat di sebelahnya menuruni lorong itu dan berusaha untuk menyusul.

Tetapi kedua orang yang melarikan diri itu mengenal medan lebih baik dari pengejarnya, sehingga mereka sempat mencapai jarak yang semakin lama semakin jauh.

Tetapi sepeninggal kedua orang itu, maka kawan-kawannya mengalami perlakuan yang lebih parah. Prajurit yang kehilangan tombaknya itu memang tidak menyusul kawan-kawannya yang mengejar kedua orang yang sempat lari itu. Tetapi ia telah memungut senjata yang lain dan dengan penuh kemarahan telah mengayunkan senjata itu seperti orang yang sedang mabuk.

Dalam pada itu, maka para perwira Pajang dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah berada di arena pertempuran yang baru itu. Dengan susah payah mereka mengekang para prajurit dan para pengawal Tanah Perdikan untuk tidak membatasi semua orang yang berusaha untuk melarikan diri itu.

Dengan susah payah pula Gandar, Sambi wulung dan Jati Wulung menahan kemarahan para pengawal Tanah Perdikan yang telah berada didaerah pertempuran itu. Apalagi ketika ternyata seorangpengawal telah terluka pula ditusuk justru dari belakang.

Bersama-sama para Senapati Pajang, maka mereka berusaha untuk menahan agar para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan berlaku wajar.

Tetapi pada saat-saat usaha mereka hampir berhasil, maka orang-orang yang akan melarikan diri itu masih saja mengadakan perlawanan membabi buta. Mereka tidak mau mengerti bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sementara itu, diluar daerah pertempuran yang kacau itu, para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah mengepung rapat.

”Mereka tidak lagi berpikir wajar” desis Gandar.

”Mereka memang berusaha untuk membunuh diri” desis seorang Senapati Pajang.

Karena itulah maka orang-orang yang melarikan diri itu tidak mau mendengar seruan untuk menyerah buat kedua kalinya.

Karena itulah maka orang-orang yang melarikan diri itu tidak mau mendengar seruan untuk menyerah buat kedua kalinya.

“Jika kita menyerah lagi, maka tubuh kita akan hancur juga oleh orang-orang Pajang dan orang-orang Sembojan,” teriak seorang bekas parjurit Jipang.

“Aku menjamin,” sahut seorang Senapati Pajang.

Tetapi orang yang akan melarikan diri itu sama sekali tidak menghiraukan. Bahkan tiba-tiba saja ia telah meloncat menyergap Senapati yang telah meneriakkan perintah untuk menyerah itu.

Senapati itu dengan tangkasnya mengelak. Tetapi bekas prajurit Jipang itu benar-benar seperti orang yang kurang waras. Ia pun telah mengamuk sejadi-jadinya.

Dengan demikian maka Senapati yang meneriakkan perintah untuk menyerah dan akan menjamin keselamatan mereka yang menyerah, justru telah disudutkan dalam satu keadaan yang sama sekali tidak diinginkannya. Ia justru telah bertempur sendiri melawan seorang bekas prajurit Jipang.

Meskipun Senapati itu memang tidak kehilangan akal, tetapi menghadapi orang yang sedang mengamuk itu memang tidak terlalu banyak pilihan baginya. Untuk beberapa saat ia masih berusaha menahan senjatanya sekadar untuk menangkis serangan-serangan yang membabi-buta itu. Senapati itu mengharap bahwa bekas prajurit Jipang itu akan kelelahan dan kehabisan tenaga.

Tetapi ternyata tidak demikian. Prajurit itu benar-benar seperti kerasukan iblis. Ia menyerang sambil berteriak-teriak mengerikan.

“Lepaskan senjatamu,” teriak perwira itu.

“Kita akan mati bersama-sama,” teriak bekas prajurit Jipang itu tidak kalah kerasnya.

Senapati itu ternyata tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir lebih jauh.

Ternyata orang yang bagaikan mengamuk itu tidak segera kelelahan dan apalagi menyerah. Justru semakin lama ia menjadi semakin berbahaya.

Karena itulah, maka akhirnya Senapati itu menjadi marah. Ketika beberapa kali ia meneriakkan peringatan tidak juga didengar, bahkan orang itu telah berteriak-teriak pula, maka kesabaran Senapati itu pun akhirnya sampai ke batas pula. Ujung senjatanya pun kemudian benar-benar di arahkan kepada orang yang telah kehilangan akal itu.

Bekas prajurit Jipang itu tertegun sejenak, ketika terasa senjata pedang itu mengenai lengannya. Sementara itu Senapati berkata, “Menyerahlah.”

“Gila. Kubunuh kau. Aku tidak mau mati sendiri,” teriak bekas prajurit Jipang yang meloncat sambil mengayunkan senjatanya lebih cepat lagi. Meskipun darah telah mengalir dari lukanya tetapi tenaganya sama sekali masih belum susut.

Namun Senapati Pajang itu telah menahannya dengan sekali lagi benar-benar mengarahkan ujung senjatanya ke tubuhnya. Ketika orang Itu meloncat menyerang, Senapati itu sempat menghindarinya. Namun justru senjatanya teracu lurus ke arah dada lawannya.

Tetapi Senapati itu memang tidak berniat membunuhnya. Karena itu maka ujung senjatanya telah digesernya sedikit menyamping. Sebuah luka pun kemudian telah menganga di pundak bekas prajurit Jipang itu. Darah pun telah mengalir deras. Tetapi ia benar-benar bagaikan gila. Ia masih saja meloncat sambil mengayunkan senjatanya mendatar. Ketika senjatanya tidak menyentuh lawannya, maka sekali lagi ia meloncat menyerang langsung ke arah dada. Tetapi sekali lagi ia gagal. Namun ia tidak berhenti. Dengan teriakan nyaring bekas prajurit Jipang itu masih memburu dengan garangnya.

Akhirnya Senapati Pajang itu tidak mempunyai pilihan lain. Ketika serangan dari lawannya yang bagaikan gila itu mengalir tanpa henti-hentinya meskipun telah dilukainya di lengan dan pundaknya, maka ia tidak dapat berbuat lain.

Dalam pertempuran berikutnya, maka Senapati itu benar-benar telah mengarahkan pedangnya ke dada lawannya.

Justru pada saat bekas prajurit Jipang itu meloncat sambil mengayunkan senjatanya mendatar menebas ke arah leher Senapati itu, maka Senapati itu telah berjongkok rendah. Pada saat senjata lawannya terayun di atas kepalanya, maka tangannya pun telah terjulur lurus. Ujung senjatanya telah menggapai dada bekas prajurit Jipang itu langsung menembus sampai ke jantung.

Prajurit Jipang itu berteriak keras sekali dengan umpatan yang paling kasar. Namun ketika Senapati itu menarik pedangnya, maka tubuh itu pun telah terhuyung-huyung dan jatuh terjerembab di tanah.

Senapati Pajang itu tertegun. Ia telah berusaha untuk mencegah pembunuhan-pembunuhan yang terjadi. Tetapi ia sendiri justru telah membunuh seorang lawan.

Sebenarnyalah, orang-orang yang akan melarikan diri itu sama sekali tidak menghiraukan segala peringatan. Ketika Gandar berhasil menahan gejolak perasaan para pengawal yang ada di arena, maka para pengawal itu sendirilah yang hampir saja menjadi korban, sehingga akhirnya para pengawal itu tidak mempunyai pilihan lain, kecuali membinasakan lawan mereka yang putus asa dan bahkan membunuh diri itu.

Seorang pengawal yang telah terluka dengan marah telah menusukkan pedangnya sambil berteriak, “Itulah yang memang diinginkannya.”

Lawannya itu menggeram. Namun kemudian tubuhnya telah jatuh di tanah.

Demikianlah pertempuran itu menjadi pertempuran yang lebih mengerikan dari pertempuran yang terdahulu. Meskipun yang terlibat tidak terlalu banyak, namun seakan-akan pertempuran itu tidak mempunyai penyelesaian lain kecuali membunuh.

Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung akhirnya melibatkan diri. Sebagaimana beberapa orang perwira Pajang. Namun mereka berusaha untuk menguasai lawan-lawannya tanpa membunuhnya.

Gerakan yang tiba-tiba dan serta merta itu memang menimbulkan kemarahan yang luar biasa. Beberapa orang tawanan yang sedang ditugaskan untuk menolong kawan-kawan mereka yang terluka, telah berusaha melarikan diri. Hal itu benar-benar telah menyinggung perasaan para prajurit Pajang. Apalagi karena ada di antara kawan-kawan mereka yang telah terluka bahkan terbunuh pula justru pada saat mereka berusaha menolong lawan mereka yang terluka.

Namun beberapa saat kemudian Gandar, Jati Wulung dan Sambi Wulung serta para Senapati Pajang berhasil menguasai anak buah masing-masing. Tetapi yang terjadi benar-benar sudah parah. Di antara mereka yang melakukan perlawanan untuk melarikan diri, tidak ada separo yang masih tetap hidup.

“Mereka perlu mendapat penjagaan khusus,” perintah Senapati yang memimpin pasukan Pajang.

Demikianlah, maka orang-orang itu telah digiring ke dalam satu barak khusus. Mereka dimasukkan ke dalam satu bilik yang paling kuat. Sementara di bilik sebelah menyebelah dilakukan penjagaan yang kuat pula. Demikian pula di depan dan dibelakang. Bahkan para penjaga itu tidak mengabaikan kemungkinan mereka melarikan diri lewat atap yang terdiri dari anyaman ilalang dan ijuk.

Peristiwa itu mempersulit para pemimpin prajurit Pajang dan para Pengawal Tanah Perdikan Sembojan untuk menahan agar para prajurit dan para pengawal tidak menjadi terlalu garang terhadap para tawanan. Namun sikap para tawanan sendiri memang kadang-kadang sampai menjengkelkan. Mereka seakan-akan justru telah memancing persoalan.

Demikianlah, betapapun sulitnya, namun para Senapati Pajang dan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah berhasil menguasai keadaan. Namun yang terjadi itu merupakan pengalaman bagi mereka. Karena itu, maka mereka yang dipekerjakan untuk menolong kawan-kawan mereka telah jauh dikurangi sementara pengawasan pun menjadi semakin tinggi.

Meskipun demikian ada juga prajurit yang bergumam, “Salah kita. Biar saja mereka mati karena kehabisan darah.”

Kawannya yang justru telah tergores pedang berkata, “Kenapa mereka tidak dihukum mati saja setelah terbukti berusaha berkhianat. Hukuman bagi seorang pengkhianat adalah hukuman mati.”

/Kebencian ternyata telah tersebar di jantung para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Seorang pengawal yang melihat seorang bekas pengikut Kalamerta hanya duduk saja sementara kawan-kawannya yang dipekerjakan sibuk mengusung mereka yang terluka.

“He, kenapa kau duduk saja?” bentak pengawal Tanah Perdikan itu.

“Kenapa tidak kau lakukan sendiri?” jawab orang itu kasar.

Pengawal itu tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba kakinya telah menyambar mulut orang itu. Demikian kerasnya sehingga dua giginya telah patah.

Orang itu telah terdorong dan jatuh terlentang. Namun dengan cepat ia bangkit. Dari mulutnya mengalir darah karena giginya yang patah itu.

“Cari senjata” tantang pengawal itu, “aku bukan pengecut yang membunuh lawannya tanpa senjata.”

Bekas pengikut Kalamerta itu termangu-mangu. Pandangan mata pengawal itu bagaikan bara yang memancarkan panas api kemarahan.

Untunglah Jati Wulung cepat melihat peristiwa itu. Dengan tergesa-gesa ia mendekat sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Satu penghinaan. Masalahnya bukan antara tawanan dan pengawal. Tetapi antara laki-laki dan laki-laki. Biar ia mencari senjata. Atau pinjamkan senjatamu.” sahut pengawal yang kehilangan kendali itu.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata kepada tawanan itu, “Ikut aku.”

Tetapi sikap tawanan itu masih juga menjengkelkan sekali. Ia sempat berpaling kepada pengawal itu sambil berkata, “Nyawamu telah diselamatkan.”

Pengawal itu benar-benar tidak dapat mengekang diri. Sekali lagi kakinya menyambar lambung. Demikian kerasnya sehingga bekas pengikut Kalamerta itu terlempar selangkah dan terbanting di tanah.

Terdengar orang itu mengerang kesakitan. Namun di wajahnya memancar kemarahan yang tidak tertahankan. Betapa sakitnya lambungnya. Bahkan perutnya pun menjadi mual.

Ketika ia terhuyung-huyung bangkit, ia masih juga menggeram, “Sayang, aku tidak mendapat kesempatan.

“Tutup mulutmu” bentak Jati Wulung, “jika kau masih saja mengigau, akulah yang akan mematahkan lehermu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan geram ia berkata, “Siapapun juga, jika aku mendapat kesempatan, aku akan membuktikan bahwa secara pribadi, aku tidak kalah oleh setiap orang yang dengan dada tengadah memasuki tempat ini. Kalian memenangkan perang ini karena jumlah kalian jauh lebih banyak.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya kepada pengawal itu, “Biarlah aku yang menyelesaikannya.”

Tetapi Jati Wulung tidak memberikan senjata kepada orang itu. Justru ia telah memberikan pedang yang dibawanya kepada pengawal yang juga marah itu.

“Biarlah aku yang menyelesaikannya, justru karena aku tidak ingin melihat kematian-kematian lagi.” katanya.

“Tetapi aku sudah dihinanya” geram pengawal itu, “biarlah aku menyelesaikannya sebagai seorang laki-laki.”

Tetapi Jati Wulung menggeleng. Katanya, “Serahkan kepadaku.”

Pengawal yang mengenal siapakah Jati Wulung itu tidak memaksanya. Ia tahu, bahwa Jati Wulung memiliki kelebihan jauh daripadanya. Itulah sebabnya maka ia pun terdiam.

Beberapa orang dikejauhan melihat apa yang agaknya akan terjadi. Para prajurit yang siap dengan senjata ditangan, serta para pengawal yang termangu-mangu. Namun merekapun mengenal Jati Wulung. Sementara itu para Senapati Pajang melihat Jati Wulung menyerahkan senjatanya kepada orang lain, sehingga mereka pun mengerti, bahwa Jati wulung tidak ingin membunuh.

“Kecuali jika ia tersudut” desis Gandar yang melihat pula jarak yang agak panjang.

Untuk beberapa saat, kesempatan yang diberikan oleh Jati Wulung itu memang menarik perhatian. Tetapi para prajurit dan pengawal yang telah mendapat satu pengalaman, berusaha untuk tetap menguasai para lawanan yang mendapat tugas mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka, agar mereka tidak terpengaruh oleh peristiwa yang terjadi itu.

Beberapa. saat kemudian, bekas pengikut Kalamerta itu telah bersiap. Ia masih sempat mengusap darah di mulutnya karena giginya yang patah. Lambungnya sudah tidak begitu terasa sakit lagi.

“Kubunuh kau” geramnya.

Jati Wulung pun telah bersiap pula menunggu serangan orang yang hampir menjadi gila itu.

Demikianlah maka orang itu pun telah benar-benar siap untuk menerkam. Ketika ia melihat kesempatan terbuka, maka dengan serta merta ia meloncat sambil mengayunkan tangannya kearah wajah Jati Wulung.

Jati Wulung memang terkejut melihat orang itu tidak mengepalkan tangannya. Tetapi jari tangan orang itu terbuka, sehingga seakan-akan ia sedang menerkam dengan kuku-kukunya. .

“Cara yang kasar” geram Jati Wulung.

Namun ternyata Jati Wulung tidak mau berkepanjangan. Apalagi ketika ia sadar, bahwa beberapa orang sedang memperhatikannya, termasuk Senapati Pajang yang ada di tempat itu.

Karena itu, demikian tangan orang itu hampir menyentuh wajahnya, maka tiba-tiba saja ia telah menangkap pergelangannya. Hampir tidak disadari, apa yang dilakukannya, maka tangan orang itu telah terpiliil di belakang punggungnya. Demikian keras tekanan tangan Jati Wulung, sehingga terdengar orang itu berteriak kesakitan.

“Nah, apa lagi yang akan kau katakan” geram Jati wulung, “kau sangka bahwa kau benar-benar seorang yang memiliki kemampuan untuk berkelahi melawan orang Sembojan?”

Orang itu menyeringai kesakitan. Tetapi ia masih berkata, “Beri kesempatan kita bertempur dengan senjata.”

“Baik” jawab Jati Wulung, “tetapi jangan salahkan aku jika aku melubangi kedua belah matamu dan membiarkan kau tetap hidup? Justru aku akan melepaskannya di tempat ini jika saatnya kami kembali ke Sembojan.”

Orang itu ternyata mulai berpikir. Sementara itu Jati Wulung semakin menekan tangan orang itu dan berkata, “Sebelum matamu aku lubangi, maka tanganmulah yang harus aku patahkan.”

“Jangan” teriak orang itu.

“Jika demikian, katakan bahwa kau tidak akan berbuat gila lagi.” perintah Jati Wulung.

Orang itu agaknya masih juga berpegang pada harga dirinya. Karena ita ia tidak mengatakan sebagaimana diperintahkan oleh Jati Wulung.

“Katakan” bentak Jati Wulung sambil menekan tangan itu semakin keras.

Orang itu memang mengaduh. Tetapi ia tidak mengatakannya.

Jati Wulung yang hampir kehabisan kesabaran tiba-tiba tidak saja menekan tangan orang itu, tetapi dengan keras orang itu telah dibantingnya sehingga jatuh tertelungkup. Tangannya masih terpilin di belakang, sementara kaki Jati Wulung telah menginjak punggungnya.

“Katakan, atau kau akan mati dengan cara ini” Jati Wulung hampir berteriak sambil menekan lebih keras lagi.

Rasa-rasanya tangan dan bahkan punggung orang itu akan patah. Perasaan sakit yang luar biasa telah menggigit sampai ketulang. Karena itu orang itu tidak dapat berkata lain daripada, “Baik. Baik. Aku akan mengatakannya.”

“Katakan sekarang” bentak Jati Wulung.

“Ya” desis orang itu, “aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Katakan bahwa kau tidak akan berbuat gila lagi” tekan Jati Wulung.

“Ya. Aku tidak akan berbuat gila lagi” ulang orang itu.

“Setan” geram Jati Wulung, “sekarang apa katamu tentang orang-orang Sembojan?”

“Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan berbuat gila lagi” berkata orang itu sambil menyeringai.

“Apa katamu tentang orang-orang Sembojan, he?”

Jati Wulung justru menekan tangan dan punggung orang itu semakin keras.

“Luar biasa” orang itu hampir tidak dapat berkata lagi karena harus menahan sakit, “luar biasa.”

Perlahan-lahan Jati Wulung melepaskan tangan orang itu. Kemudian ditendangnya lambungnya sambil berkata, “Bangkit, dan ikuti aku.”

Orang itupun kemudian terhuyung-huyung bangkit pula. Rasa-rasanya ia melihat Jati Wulung seperti sesosok hantu dimatanya. Sorot matanya yang membara terasa menusuk sampai kejantung.

“Ikut aku” bentak Jati Wulung sekali lagi.

Orang itu pun telah berjalan mengikuti Jati Wulung. Ia sempat berpaling hanya sekejap, memandang pengawal yang kemudian menyerahkan kembali pedang Jati Wulung itu. Tetapi ia pun segera menundukkan kepalanya, karena pengawal itu masih juga memandangnya dengan penuh kemarahan.

Tindakan Jati Wulung yang keras itu memang mempunyai pengaruh. Bekas prajurit Jipang dan bekas pengikut Kalamerta harus berpikir ulang jika mereka akan membuat persoalan lagi dengan para prajurit Pajang atau para pengawal Tanah erdikan. Ternyata bahwa dalam keadaan tertentu mereka memang akan melakukan kekerasan.

Demikianlah, atas dasar beberapa pengalaman maka para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan menjadi lebih berhati-hati. Bagi mereka, maka bekas para prajurit Jipang dan bekas pengikut Kalamerta adalah orang-orang yang menjadi putus asa dan kehilangan pegangan. Karena itu, maka sebagian dari mereka melihat kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari ketidakpastian itu.

Namun mereka tidak mendapat kesempatan lagi. Apalagi setelah mereka selesai mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan menyelenggarakan kawan-kawan mereka yang terbunuh.

Sementara itu para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan telah mengadakan pembenahan diri di hari-hari berikutnya. Namun satu-satu masih juga ada di antara mereka yang terluka parah yang tidak dapat ditolong lagi. Baik di antara para prajurit Pajang, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, maupun di antara bekas prajurit Jipang dan bekas para pengikut Kalamerta.

Bagaimana para petugas yang memiliki kemampuan dalam ilmu pengobatan berusaha keras, namun kemampuan mereka pun terbatas, sehingga karena itu, maka pengobatan mereka atas orang-orang yang terluka, terutama yang parah, ada juga yang mengalami kegagalan.

Dalam pada itu, maka para pemimpin prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah mengadakan pembicaraan tentang sikap yang akan mereka ambil selanjutnya.

Namun pada umumnya mereka berpendapat, bahwa mereka tidak akan dapat melanjutkan usaha mereka untuk menumpas sampai tuntas kekuatan Ki Rangga Gupita dan Warsi.

“Saat ini mereka tentu sudah mengalihkan sarang-sarang mereka,” berkata seorang Senapati Pajang.

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Ki Rangga dan Warsi adalah orang-orang yang cerdik. Sekaligus licik. Meskipun kekuatan mereka telah dipatahkan disini, namun bukan berarti bahwa mereka akan menghentikan kegiatan mereka. Apalagi mereka tentu masih mempunyai persediaan harta benda yang cukup. Sebagaimana kita ketahui, disini, salah satu dari sarangnya, terdapat sekian banyak harta benda yang sangat berharga. Kita dapat membayangkan, dibeberapa sarang yang lain, bahkan dipusat kepemimpinan mereka, tentu terdapat harta benda yang lebih banyak lagi.”

“Namun semuanya itu menjadi semakin sulit kita dapatkan,” desis seorang perwira Pajang.

Panglima pasukan Pajang itu pun mengangguk-angguk. Memang tidak banyak gunanya jika mereka mengerahkan kekuatan yang masih ada untuk pergi ke sarang-sarang Ki Rangga dan Warsi berikutnya. Pengenalan para tawanan tentu tidak akan banyak menolong untuk menunjukkan kemana semua harta benda yang sudah dikumpulkan itu disembunyikan.

Menurut pendapat panglima prajurit Pajang itu, bahwa yang tertawan di antara mereka yang datang bersama Ki Rangga dan Warsi tentu berasal dari beberapa sarang yang tersebar. Tetapi seperti pendapat para Senapatinya dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan, bahwa sarang-sarang itu tentu sudah dikosongkan.

“Jadi apa yang akan kita lakukan?” bertanya Panglima itu meskipun sebenarnya ia sendiri sudah mempunyai rencana. Pertanyaan itu sekadar ingin menyesuaikan apakah pendapatnya sama dengan pendapat para Senapati yang lain dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan.

Dalam pada itu seorang di antara para Senapatinya pun berkata, “Kita akan membawa semuanya kembali. Para tawanan dan harta benda yang telah didapat oleh para pengikut Ki Rangga Gupita. Memang sulit untuk menemukan kembali siapakah yang telah kehilangan harta benda sebanyak itu yang agaknya telah dikumpulkan dalam waktu yang cukup lama. Namun Pajang agaknya akan dapat mempunyai cara yang paling baik untuk mempergunakan harta benda itu sehingga manfaatnya dapat dirasakan kembali oleh orang banyak, dan barangkali termasuk mereka yang telah kehilangan.”

Panglima pasukan Pajang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku sependapat. Kita akan kembali dengan membawa semua harta benda dan tawanan. Semua kebijaksanaan akan kita serahkan kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Benda-benda yang berharga tinggi mungkin masih akan dapat ditelusuri siapakah pemiliknya.”

Para pemimpin dari Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan sependapat dengan rencana itu. Tetapi mereka tidak dapat dengan tergesa-gesa meninggalkan sarang itu. Beberapa orang masih belum dapat bangkit dari pembaringan. Baik para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, maupun para tawanan yang terluka parah.

Sedangkan mereka pun tidak akan dapat meninggalkan orang-orang yang terluka disarang itu.

Sementara itu para pemimpin dari Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan masih memperkirakan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi jika Ki Rangga dan Warsi berhasil menghimpun kekuatan yang lebih besar lagi.

“Kemungkinan yang kecil sekali,” berkata Panglima prajurit Pajang. “Kita telah menghancurkan mereka. Mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk bertempur. Tetapi mereka tentu masih memiliki tenaga yang memadai untuk memindahkan sarang-sarang mereka dengan segala isinya.”

Dengan demikian maka pasukan Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan untuk beberapa lama masih harus tinggal ditempat itu. Untunglah bahwa selain bekal yang mereka bawa, di tempat itu terdapat timbunan bahan-bahan makanan yang mereka perlukan, sehingga para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan itu tidak perlu cemas, bahwa mereka akan kekurangan makanan.

Sementara itu, Ki Rangga Gupita dan Warsi yang berhasil melepaskan diri dari tangan-tangan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan masih berada di antara orang-orangnya yang sempat mengikutinya. Seperti yang diduga dan diperhitungkan oleh para pemimpin prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, yang pertama-tama dilakukan oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi adalah menyelamatkan harta benda yang telah mereka kumpulkan, yang mereka sebut sebagai bekal untuk membiayai rencana mereka menegakkan kembali kuasa Jipang dan menghancurkan Pajang.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga dan Warsi pun telah mengumpat tidak ada habis-habisnya. Kekuatan mereka benar-benar telah dipatahkan. Sebagian besar pengikutnya telah dihancurkan dan ditawan. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang sempat melarikan diri bersamanya. Sehingga dengan demikian, maka kekuatannya yang tinggal seakan-akan sudah tidak berarti lagi.

“Kita harus mulai dari permulaan,” berkata Ki Rangga geram.

“Apaboleh buat,” sahut Warsi. “Tetapi aku masih tetap pada pendirianku. Aku akan memasuki Sembojan dan mempergunakan Sembojan sebagai landasan untuk perjuangan selanjutnya.

“Tetapi kita tidak boleh lepas dari kenyataan,” berkata Ki Rangga yang agaknya lebih banyak mempergunakan penalaran daripada perasaannya. “Untuk memasuki Sembojan sekarang ini bukan satu pekerjaan yang mudah. Kita tidak lagi dapat menekan Sembojan dengan kekuatan. Anak terkutuk itu tidak juga memberikan kemungkinan apapun juga. Apalagi bahwa anak iblis yang ada di Sembojan itu masih hidup.”

Warsi termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba kebenciannya kepada anaknya sendiri, yang dikandung dan dilahirkannya, menjadi semakin memuncak. Di wajah anak itu terbayang semua kegagalan yang pernah dialaminya. Kekecewaan terhadap Ki Wiradana telah ditumpahkannya semuanya kepada anaknya meskipun anak itu dilahirkannya sendiri. Tetapi anak itu lahir karena benih yang ditanam oleh Ki Wiradana yang mengecewakan itu.

Di hari-hari pertama, maka Ki Rangga Gupita dan Warsi telah berhasil memindahkan semua kekayaan yang dimiliknya. Dari satu persembunyian kepersembunyian yang lain.

Namun demikian Ki Rangga Gupita dan Warsi sama sekali tidak menyentuh padepokannya. Padepokan yang memberikan kesan yang berlawanan dengan tata kehidupan Ki Rangga dan Warsi yang sebenarnya, karena padepokan itu dianggap sebagai sebuah padepokan yang bersih, penuh perasaan kasih dan memancarkan kehidupan yang bening sebagaimana mata air yang memberikan daya kehidupan bagi yang sempat mendapatkan alirannya.

Ki Rangga dan Warsi masih tetap berhasil membuat sekat pemisah antara dua wajah kehidupan yang ditempuhnya. Ia pun berhasil membatasi pengenalan para pengikutnya atas padepokannya yang tenang dan bernafaskan kedamaian itu.

Tetapi disisi lain, Ki Rangga dan Warsi telah tenggelam semakin dalam di kehidupan yang kelam.

Justru karena pengikutnya menjadi semakin sedikit setelah dihancurkan oleh pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan, maka Ki Rangga Gupita dan Warsi sendiri tidak segan-segan untuk ikut serta mengumpulkan harta benda dengan cara yang kasar itu.

Sementara itu, setelah beberapa hari pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan berada disarang Ki Rangga yang berhasil direbut itu, maka mereka telah mulai berkemas untuk kembali ke Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan. Sebagian dari mereka yang terluka telah mulai nampak baik. Mereka sudah sanggup menempuh perjalanan meskipun mungkin sangat lambat. Sedangkan mereka yang memang tidak sanggup untuk berjalan karena luka-lukanya yang berat, maka Panglima pasukan Pajang telah memerintahkan membuat semacam tandu yang sederhana.

Para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan akan membawa kawan-kawan mereka yang memang benar-benar tidak dapat berjalan dengan tandu itu. Sementara para pengikut Ki Rangga akan membawa kawan-kawan mereka yang terluka pula.

Demikianlah, maka persiapan itu pun telah dilakukan selama tiga hari. Beberapa buah tandu yang sederhana telah dibuat dengan bambu dan tali-tali ijuk.

Demikian pula para prajurit Pajang telah membuat tempat yang akan dapat dipergunakan untuk membawa harta benda yang mereka ketemukan didalam goa, yang agaknya telah dipertahankan dengan sekuat tenaga oleh para pengikut Ki Rangga Gupita. Sehingga karena itu, maka ternyata korban menjadi terlalu banyak yang jatuh.

Tetapi harta benda yang terdapat didalam goa itu memang cukup banyak. Harta benda yang oleh Ki Rangga selalu dikatakan kepada para pengikutnya sebagai bekal untuk menegakkan kembali kuasa Jipang dan sekaligus menghancurkan Pajang.

Demikianlah setelah semua siap, maka dibawah pengawasan para Senapati Pajang dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan, maka harta benda dari dalam goa itupun telah dikeluarkan.

Semua mata terbelalak melihat harta benda yang sekian banyaknya itu. Beberapa kotak perhiasan perempuan yang terbuat dari emas. Bahkan terdapat pula permata intan dan berlian. Sebagian lagi kotak-kotak yang berisi pendok keris dari emas, timang emas dengan tretes berlian, serta benda-benda berharga lainnya.

Panglima pasukan Pajang yang melihat perhiasan itu menggeleng gelengkan kepalanya. Katanya, “Dimana saja benda-benda itu telah diambil?”

Gandar termangu-mangu menyaksikan benda-benda itu. Ia melihat tongkat gading yang tidak terlalu besar. Di ujung dan pangkalnya telah diselut dengan emas dan permata.

“Bukan main” desis Gandar, “yang sebuah itu saja harganya tentu mahal sekali.”

“Itu adalah hasil yang didapat oleh para pengikutnya selama mereka mengembara setelah Jipang jatuh” berkata seorang Senapati. Dengan pengikut yang besar, maka dengan cepat Ki Rangga berhasil mengumpulkan benda-benda berharga itu. Agaknya daerah yang pertama-tama menjadi sasaran adalah justru daerah medan pertempuran itu. Pada saat-saat mereka mulai terdesak, maka setiap padukuhan yang disinggahi telah dikuras habis. Apalagi padukuhan-padukuhan yang ditinggalkan mengungsi oleh penghuninya yang dengan tergesa-tergesa meninggalkan tempat tinggalnya.”

“Tentu masih ada beberapa tempat penyimpanan yang lain” desis Sambi Wulung.

“Ya. Tentu masih” sahut Panglima pasukan Pajang, “tetapi kami gagal untuk mencapainya, justru karena pasukan Ki Rangga Gupita telah datang dan menyerang tempat ini. Bahkan mungkin masih lebih banyak dari yang tersimpan ditempat ini.”

Para Senapati dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan mengangguk-angguk. Tetapi mereka harus mengakui kenyataan itu, bahwa mereka telah gagal untuk mencapai beberapa sarang Ki Rangga dan Warsi. Namun demikian agaknya mereka telah berhasil mematahkan pasukan Ki Rangga dan Warsi, karena sebagian besar orang-orangnya telah terbunuh dan menyerah.

Demikianlah, setelah semua persiapan selesai, pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Di paling depan pasukan Pajang yang membawa tanda-tanda kebesaran diiringi oleh beberapa kelompok pasukan yang kuat. Bagaimanapun juga mereka harus memperhitungkan saat-saat mereka menuruni lorong itu. Jika para tawanan menjadi gila, maka pasukan yang berada di depan itulah yang pertama-tama harus menahan mereka.

Di belakang mereka, kelompok-kelompok pasukan Pajang mengawasi para tawanan yang mereka kelompokkan pula. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka kelompok-kelompok tawanan itu pun disekat oleh kelompok-kelompok prajurit Pajang.

Sementara itu, para tawanan harus membawa kawan-kawan mereka yang memang tidak mampu untuk berjalan.

Dibelakang para tawanan adalah para prajurit Pajang yang membawa benda-benda berharga, juga di atas tandu. Baru kemudian di paling belakang adalah mereka yang membawa kawan-kawan mereka yang yang masih belum mampu untuk berjalan sendiri bersama-sama dengan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang pada saatnya akan memisahkan diri.

Hampir di ujung belakang, Jati Wulung yang berdiri bersama dengan Damar dan Saruju, sempat berbicara banyak tentang pengikut Ki Rangga dan cara mereka mencari harta benda itu.

“Kami berdua pernah melakukannya,” berkata Damar yang kadang-kadang masih merasakan lukanya agak pedih.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah kalian membunuh pula dalam perampokan-perampokan itu?”

“Kami berusaha untuk tidak melakukannya,” Saruju lah yang menjawab. “Tetapi satu dua kali, kelompok kami terpaksa juga melakukannya. Bahkan mungkin para bekas prajurit Jipang dan para pengikut Kalamerta itu lebih banyak melakukannya.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Saruju berkata pula, “Kadang-kadang kami memang disudutkan untuk melakukan pembunuhan.”

“Perbuatan yang memang harus dicegah,” desis Jati Wulung.

“Pengalaman itulah yang sampai sekarang masih tetap menyiksa perasaan kami,” berkata Saruju. “Rasa-rasanya kami selalu dikejar-kejar oleh dosa-dosa kami. Namun kesempatan untuk ikut serta menumpas kejahatan seperti ini rasa-rasanya telah memperingan beban kami. Seakan-akan kami mendapat kesempatan untuk menebus utang-utang kami.”

Jati Wulung sempat memandang wajah kedua anak muda itu. Dari sorot matanya, mereka benar-benar menunjukkan penyesalan yang mendalam.

Karena itu, maka Jati Wulung pun berkata, “Kalian masih mempunyai banyak kesempatan untuk menunjukkan, bahwa yang kalian lakukan itu bukannya tumbuh dari nurani kalian. Kalian terpaksa melakukannya karena kalian memang tidak mempunyai pilihan lain. Ternyata ketika kesempatan itu terbuka, maka kalian telah memilih jalan lain meskipun dengan demikian kalian terancam maut.”

“Agaknya mati akan merupakan jalan yang lebih baik daripada kami harus kembali mengulangi perbuatan yang terkutuk itu,” sahut Damar.

Jati Wulung merasa bahwa yang diucapkan itu benar-benar memancar dari dasar hati. Kedua anak muda yang telah mengalami hidup dalam dunia yang kelam itu dapat memperbandingkannya dengan dunianya yang kini dipilihnya.

Sementara itu, setelah para Senapati dan Gandar yang ikut serta menentukan langkah-langkah pasukan itu menganggap semuanya telah siap, maka mereka telah menyerahkannya kepada Panglima untuk memberikan aba-aba, sementara para Senapati dan Gandar telah kembali ke dalam pasukan masing-masing.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Panglima pasukan Pajang itu pun telah menjatuhkan perintah kepada pasukannya untuk bersiap sepenuhnya. Ketika kemudian bende berbunyi yang pertama kali, maka setiap orang telah tegak ditempat masing-masing. Tandu pun telah mulai diangkat, sementara para Senapati dan pemimpin kelompok telah berada di antara kelompok mereka.

Para bekas prajurit Jipang, ketika mendengar bende dan aba-aba itu, terasa kulit mereka pun meremang. Mereka teringat pada saat mereka masih berada di dalam pasukan yang teratur seperti pasukan Pajang itu. Mereka pun pernah berdiri di dalam barisan yang ditandai dengan tunggul, rontek dan kelebet. Mereka pun pernah mendapat aba-aba langsung dengan suara bende. Ketika bende berbunyi untuk pertama kali, maka mereka pun mulai bergerak.

Kini mereka mendengar suara bende. Tetapi mereka pun sadar, bahwa aba-aba itu tidak ditujukan kepada mereka.

Tetapi kepada para prajurit Pajang yang justru telah menawan mereka. Para bekas prajurit Jipang itu menyadari, bahwa mereka saat itu adalah tawanan yang tidak dapat mengangkat dadanya setelah mendengar aba-aba. Jika kemudian mereka harus berjalan, maka mereka akan berjalan dengan kepada tunduk. Dibelakang mereka prajurit Pajang siap menerkam mereka dengan ujung tombak jika mereka melakukan sedikit saja kesalahan.

Sesaat kemudian telah terdengar suara bende untuk yang kedua kalinya. Para pemimpin kelompok pun kemudian telah memerintahkan pasukannya untuk berangkat kembali ke Pajang, meninggalkan sarang para pengikut Ki Rangga Gupita yang beberapa hari yang lalu bagaikan menjadi neraka.

Untuk memberikan alas kebanggaan bagi pasukannya, maka tunggul, rontek dan kelebet pun telah diangkat di ujung pasukan. Tanda-tanda kebesaran itu memang memberikan dorongan kekuatan bagi para prajurit Pajang. Mereka akan selalu menyadari, bahwa kehadiran mereka ditempat itu adalah karena mereka menjunjung tinggi perintah Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang. Bahkan mereka yang terluka, yang masih merasakan pedih dan sakit, telah melupakannya. Mereka berjalan dengan dada tengadah memandang lambaian kelebet yang tersangkut pada tunggulnya.

Demikianlah, maka ujung pasukan itu pun telah mencapai inulut lorong yang sempit itu. Dengan hati-hati ujung pasukan itu mulai memasuki jalan yang menurun. Mereka memang tidak berjalan terlalu cepat. Bukan karena mereka tidak dapat melakukannya. Tetapi Senapati yang berada diujung pasukan itu harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Jika mereka berjalan terlalu cepat, tanpa menghiraukan tubuh dan ekor dari pasukan itu, maka hal itu akan merupakan satu. kelengahan. Karena justru didalam tubuh pasukan itu terdapat para tawanan yang jumlahnya cukup banyak.

Karena itu, maka perlahan-lahan pasukan itu merayap turun. Mereka yang masih belum sembuh benarpun tidak akan dapat berjalan terlalu cepat.

Seperti seekor ular naga raksasa, pasukan itu menyusuri lorong yang berkelok-kelok. Namun yang di sebelah menyebelahnya menganga jurang yang cukup dalam.

Tetapi perjalanan mereka tidak terlalu mendebarkan sebagaimana saat mereka memanjat lorongitu.;Perjalanan mereka saat itu tidak lagi ditunggu aleh ujung-ujung senjata yang akan dapat melubangi tubuh mereka.

Meskipun demikian mereka tidak dapat meninggalkan kewaspadaan karena didalam tubuh mereka terdapat orang-orang yang telah berusaha menghancurkan pasukan itu.

Para tawanan yang ada didalam iring-iringan itu memang tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu. Mereka mengerti bahwa pasukan yang ada dipaling depan dari pasukan yang merayap turun itu adalah kekuatan yang sulit untuk ditembus, meskipun para tawanan pun telah disekat-sekat oleh kelompok-kelompok prajurit Pajang yang akan dapat menghancurkan mereka jika ada diantara para tawanan yang akan melarikan diri.

Ternyata mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk menempuh perjalanan menuruni lorong itu. Ketika ujung pasukan itu sudah sampai ke tanah yang agak datar, maka perjalanan mulai menjadi lebih rancak, meskipun mereka masih harus selalu mengingat bahwa ekor pasukannya masih berada di lorong yang menurun itu.

Namun dalam pada itu, pasukan itu tidak menyadari, bahwa dari kejauhan mereka selalu diawasi oleh beberapa orang yang berdiri berpencar dan berlindung di belakang gerumbul-gerumbul perdu.

Dari gumuk-gumuk yang terdapat disana-sini, orang-orang itu mengawasi pasukan Pajang yang meninggalkan bukit yang pernah menjadi sarang para pengikut Ki Rangga dan Warsi. Bahkan di antara mereka terdapat Ki Rangga dan Warsi itu sendiri.

Telah beberapa hari mereka menempatkan pengawas disekitar bukit itu. Bahkan di malam yang gelap, satu dua orang yang paling berani di antara para pengikut Ki Rangga yang tersisa, telah berani memanjat tebing yang dalam yang langsung mencapai bagian belakang dari barak. Karena para prajurit Pajang dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak menduga sama sekali akan hal itu, maka orang-orang itu ternyata telah luput dari pengamatan para petugas yang berjaga-jaga di barak itu.

Merekalah yang kemudian melaporkan kepada Ki Rangga dan Warsi bahwa nampaknya para prajurit yang berada di sarang itu sudah bersiap-siap untuk pergi.

Itulah sebabnya, maka Ki Rangga dan Warsi telah memerlukan untuk menunggui mereka di atas gumuk kecil di dekat mulut lorong itu.

Beberapa saat lamanya mereka menunggu pasukan itu merambat dengan malasnya. Bahkan Ki Rangga yang tidak telaten itu telah mengumpat.

“Pemalas-pemalas itu nampaknya sudah kelaparan,” geram Ki Rangga. “Jika aku mempunyai kekuatan yang memadai, maka sekaranglah saatnya menghancurkan mereka.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun hampir semua orang menganggap pasukan itu merayap terlalu lamban.

Tetapi bagaimanapun lambannya, namun akhirnya orang yang terakhir telah lepas dari lorong yang menurun itu. Agaknya Jati Wulunglah orang yang terakhir dari iring-iringan yang cukup panjang itu. Damar dan Saruju yang berjalan agak di depan mereka karena keduanya berada di dalam barisan.

Sekali Jati Wulung masih berpaling. Namun ia pun kemudian telah melangkah menyusul pasukan yang berjalan agak lebih cepat itu.

Sementara itu, karena iring-iringan itu kemudian berjalan ditanah datar dan tidak sempit oleh jurang, maka pengawasan terhadap para tawanan menjadi lebih ketat. Para tawanan akan dapat mengambil setiap kesempatan untuk melarikan diri. Jika mereka memang sudah berputus asa, maka mereka tidak akan dapat meloncat ke halaman disebelah menyebelah lorong yang mereka lewati jika iring-iringan itu melalui padukuhan. Namun mereka akan dapat juga meloncat ke sawah dan berusaha menyelinap di antara tanaman-tanaman yang berbatang panjang.

Karena itulah, maka kemudian para prajurit Pajang pun telah melakukan tindakan-tindakan pencegahan.

Dalam pada itu, ketika ekor pasukan itu menjadi semakin jauh dari ujung lorong yang menurun dari puncak bukit itu, maka Ki Rangga Gupita bersama Warsi dengan beberapa orang pengiringnya telah memanjat lorong itu. Mereka telah didorong oleh satu keinginan untuk melihat bekas sarang mereka yang telah dihancurkan oleh prajurit Pajang dan Pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Ketegangan telah mencengkam jantung mereka ketika mereka memasuki pelataran goa yang masih nampak menganga itu. Namun yang sudah tidak berarti apa-apa lagi bagi mereka. Isi goa itu telah habis dibawa oleh para prajurit Pajang, sehingga tidak ada lagi yang tersisa.

Namun demikian, Ki Rangga dan Warsi itu pun telah memasuki goa itu pula. Ketegangan memang semakin mencengkam jantung. Mereka melihat sudut-sudut goa yang tidak lagi menjadi tempat menyimpanan harta benda yang sangat berharga, yang mereka dapatkan dengan susah payah, bahkan sekali-kali telah mengorbankan nyawa. Mungkin pemiliknya, tetapi mungkin seorang di antara orang-orangnya yang telah melakukan perampokan itu.

“Orang-Orang Pajang memang gila” geram Ki Rangga. “Mereka melibatkan diri langsung persoalan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Terkutuklah orang-orang Pajang,” geram Warsi pula.

Namun Ki Rangga tidak dapat ingkar, bahwa sebenarnyalah ia menyadari bahwa persoalannya bukan sekadar persoalan Tanah Perdikan Sembojan, tetapi persoalan antara Pajang dan sisa-sisa kekuatan Jipang.

Apalagi kekuatan Jipang yang tersisa itu telah melakukan gangguan bagi ketenangan hidup di wilayah Pajang. Dengan pertimbangan itulah maka dua kepentingan telah bertemu antara kekuatan Pajang dan kekuatan Tanah Perdikan Sembojan untuk memusuhi Ki Rangga dan Warsi. Sembojan berkepentingan mematahkan kekuatan Ki Rangga dan Warsi yang tersisa, agar mereka tidak lagi mampu mengganggu ketenangan Sembojan, apalagi mendudukinya. Sementara Pajang ingin mempertahankan kedamaian di Pajang setelah Pajang berhasil mengalahkan Jipang.

Apalagi sebagai satu negara, maka Pajang memang wajib melindungi rakyatnya yang jika perlu memang dengan kekerasan.

Namun dalam pada itu dendam Warsi pun juga tidak kunjung padam kepada orang-orang terutama para pemimpin Sembojan. Ketika ia kemudian melihat-lihat barak yang telah dipergunakan oleh para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, maka darahnya bagaikan mendidih. Kemarahannya tidak dapat dikekang lagi, sehingga ia pun kemudian menggeram, ”Aku sendiri akan membunuh anak Iswari.”

“Apa yang kau katakan?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Aku sendiri akan datang ke Tanah Perdikan Sembojan dan membunuh Risang. Anak iblis itu harus mati. Aku tidak peduli lagi, apakah Puguh akan mendapatkan hak untuk menggantikannya jika ia mati. Tetapi kematiannya itu sendiri akan dapat memberikan kepuasan atas dendamku itu,” jawab Warsi yang tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya.

Ki Rangga Gupita tidak mencegahnya justru pada saat jantung Warsi bergejolak. Jika ia berusaha mencegahnya saat itu, maka Warsi justru akan pergi ke Sembojan saat itu juga.

Karena itu, maka Ki Rangga pun justru telah melangkah meninggalkan Warsi yang termangu-mangu. Ki Rangga itu berjalan hilir mudik sambil memperhatikan barak-barak yang kosong. Namun yang isinya tidak lagi teratur. Agaknya pada saat pasukan Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan akan meninggalkan tempat itu, mereka telah memindah-mindahkan isi barak-barak itu.

Dalam pada itu, maka Ki Rangga dan Warsi pun telah pergi pula ke lumbung persediaan pangan mereka. Ternyata lumbung itu memang tidak kosong sama sekali. Masih ada bekal yang tersisa. Tetapi sebagian besar dari beras yang tersimpan telah dipergunakan oleh para prajurit Pajang dan para Pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

“Kau lihat,” geram Warsi. “Bahwa prajurit Pajang pun tidak kalah rakusnya dengan tikus-tikus beras? Mereka telah menghabiskan persediaan beras kita. Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi jika kita tidak mempunyai persediaan beras yang demikian banyaknya.”

Ki Rangga tidak menjawab. Tetapi ia sempat berkata kepada diri sendiri, “Tentu para pengikutku juga yang makan beras itu selain para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan, karena para pengikutku itu telah tertawan. Jika prajurit Pajang tidak membawa bekal sendiri, demikian pula para pengawal Tanah Perdikan, maka beras itu tentu sudah habis.”

Beberapa saat kemudian, mereka pun telah mengelilingi seluruh sarang mereka yang telah direbut oleh orang-orang Pajang dan gagal direbut kembali itu. Rasa-rasanya dendam yang menyala di dalam hati Warsi bagaikan disiram dengan minyak. Karena itu maka ia benar-benar bertekat untuk membunuh Risang sebagai pelepasan dendam dan sakit hatinya.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga Gupita, Warsi dan para pengikutnya tidak segera meninggalkan tempat itu. Mereka masih ingin mengenang kembali saat-saat tempat tu masih mereka pergunakan sebagai sarang dan tempat penyimpanan harta benda meskipun tidak seluruhnya. Mereka menduga, bahwa tempat itu sulit untuk dicapai karena hanya sebuah lorong saja yang menghubungkan tempat itu. Namun ternyata sepasukan Pajang dan Tanah Perdikan yang kuat telah berhasil menghancurkan pertahanan di tempat itu meskipun mereka telah bertempur dengan tidak mengenal takut. Tetapi dengan demikian maka korban pun jatuh tanpa perhitungan.

Karena di dalam goa itu masih terbentang beberapa helai tikar pandan, maka mereka pun telah duduk-duduk di dalam goa itu. Meskipun tidak lagi terdapat harta benda yang tidak terhitung banyaknya.

Sementara itu pasukan Pajang dan pasukan pengawal Tanah Perdikan menjadi semakin jauh. Para prajurit Pajang telah berusaha sejauh-jauhnya agar tidak terjadi hal-hal yang dapat mengguncangkan iring-iringan itu. Para tawanan telah mendapat pengamatan yang seksama, sehingga sulit sekali seorang atau sekelompok dari mereka menemukan lubang untuk melarikan diri.

Dengan para tawanan, bahkan dengan orang-orang yang terluka, maka perjalanan pasukan itu menjadi semakin lamban. Meskipun yang terluka parah sudah diusung pakai tandu, tetapi masih juga ada di antara mereka yang merasa sudah baik dan berjalan sendiri, mamun akhirnya mengalami kesulitan karena lukanya yang bagaikan kambuh lagi.

Meskipun demikian betapapun lambatnya, pasukan itu tetap bergerak maju sebagaimana dikehendaki Panglima Pajang. Bahkan jika perlu, maka orang-orang yang benar-benar tidak lagi mampu berjalan akan didukung oleh kawan-kawannya. Atau bergantian naik tandu yang dipanggul oleh kawan-kawan mereka sendiri.

Dalam perjalanan yang lambat itu, iring-iringan yang cukup panjang itu tidak dapat mencapai Kedung Waringin. Karena itu, mereka telah bermalam disebuah padukuhan yang lain. Dengan menunjukkan tanda-tanda kebesaran pasukan Pajang, maka mereka tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat bermalam.

Panglima Pajang telah mengambil satu kebijaksanaan, bahwa yang justru akan berada di banjar adalah semua tawanan. Pintu banjar akan ditutup dan diselarak dari luar. Demikian pula semua pintu samping dan pintu butulan. Dengan demikian maka para prajurit akan menjadi lebih mudah mengawasi mereka.

Sementara itu prajurit justru berada di pendapa dan diserambi. Serambi depan, serambi samping dan bahkan diserambi belakang. Mereka telah membentangkan tikar yang mereka pinjam dari banjar itu pula. Tanpa menunggu perintah, maka mereka telah berbaring bertebaran, selain yang mendapat perintah untuk bertugas.

Sementara itu para Senapati dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan dengan waspada pula ikut mengamati para tawanan yang semuanya telah berada di banjar.

Ternyata di banjar padukuhan itu, para prajurit dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah mendapat sambutan yang sangat baik. Ki Bekel padukuhan itu telah memerintahkan sekelompok perempuan untuk menyiapkan makan dan minum bagi para prajurit, para pengawal namun juga para tawanan.

Di banjar itu, dengan tiba-tiba telah terjadi kesibukan seolah-olah banjar itu baru saja dipergunakan untuk sebuah peralatan. Dimana-mana terdapat seorang yang berbaring kelelahan. Apalagi mereka yang memang masih dalam perawatan karena luka-luka mereka.

Lewat tengah malam, makan dan minuman itu baru siap. Namun ternyata bahwa justru karena itu, maka makanan dan minuman itu terasa nikmat sekali, meskipun makanan itu tidak lebih dari nasi bungkus.

Iring-iringan itu hanya bermalam semalam di padukuhan itu. Pagi-pagi benar mereka meneruskan perjalanan. Meskipun mereka akan sampai ke Kademangan Kedung Waringin sebelum matahari mendekati punggung bukit, tetapi agaknya Senapati Pajang itu pun telah memutuskan bahwa mereka juga akan bermalam di Kademangan Kedung Waringin.

Di Kedung Waringin nanti, pasukan itu akan terbagi.

Iring-iringan itu kemudian menelusuri jalan-jalan yang menghubungkan antara padukuhan-padukuhan dengan menarik banyak perhatian. Tetapi hampir setiap orang mengenali, bahwa iring-iringan itu adalah prajurit Pajang yang membawa tawanan.

Demikianlah, ketika pasukan itu memasuki Kademangan Waringin, maka mereka telah diterima oleh Demang Kedung Waringin di banjar Kademangan. Seperti malam sebelumnya, maka para tawananlah yang kemudian dimasukkan ke dalam banjar. Sementara itu, para prajurit berada di pendapa banjar dan diserambi sekitar banjar. Yang tidak mendapat tempat, maka oleh Ki Demang telah ditempatkan di rumah-rumah yang memadai di sekitar banjar itu.

Ki Demang pun seakan-akan telah dengan tiba-tiba mengadakan perhelatan. Juga sekelompok orang telah ditugaskan untuk menyiapkan makan dan minuman bagi para prajurit, para pengawal dan para tawanan. Menjelang senja, para pemimpin Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan sempat berbincang-bincang dengan Ki Demang. Mereka sempat menceritakan peristiwa yang mendebarkan yang telah terjadi di salah satu sarang para pengikut Ki Rangga Gupita.

Namun mereka pun telah membicarakan pula kelanjutan dari perjalanan mereka. Di Kademangan itu pasukan akan berpisah. Pasukan Pajang akan melanjutkan perjalanannya kembali ke Pajang dengan membawa tawanan dan harta benda, sementara itu para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan akan memisahkan diri dan kembali ke Tanah Perdikan.

Ternyata tidak ada persoalan yang timbul di antara mereka. Gandar telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Pajang, karena memang Pajanglah yang berhak untuk mengambil keputusan tentang persoalan itu.

Mereka pun kemudian sepakat, bahwa disaat matahari terbit keesokan harinya, maka pasukan Pajang akan berangkat lebih dahulu. Baru kemudian setelah pasukan Pajang meninggalkan padukuhan induk itu, pasukan Tanah Perdikan Sembojan akan meninggalkan Kademangan itu.

Demikianlah, malam itu, para prajurit, para pengawal dan juga para tawanan sempat beristirahat cukup panjang. Mereka makan secukupnya. Dan bahkan Ki Demang juga telah menyediakan makan bagi mereka di pagi hari. Pada saat matahari mulai membayang, makan dan minuman pun telah siap, sehingga sebelum melanjutkan perjalanan, maka para prajurit dan para tawanan pun telah mendapat makan pagi mereka.

Seperti yang telah direncanakan, maka para prajurit Pajanglah yang telah bersiap lebih dahulu. Mereka berbaris dengan tertib dan menempatkan pada tawanan ditempat-tempat yang tidak memungkinkan mereka meloncat keluar dari barisan.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan Pajang itulah yang mulai bergerak meninggalkan padukuhan induk Kedung Waringin. Mereka menyusuri jalan padukuhan merayap ke pintu gerbang.

Orang-orang padukuhan itu seakan-akan telah dihisap seluruhnya ke luar dari rumah-rumah mereka untuk menyaksikan sepasukan prajurit dengan pertanda kebesarannya yang membawa tawanan yang dapat mereka tangkap dalam pertempuran.

Baru ketika pasukan Pajang itu sudah ke luar dari padukuhan induk, maka pasukan Sembojanlah yang telah bersiap. Mereka tidak membawa tawanan dan tidak membawa harta yang dapat mereka rampas. Namun di antara mereka terdapat kawan-kawan mereka yang masih belum dapat berjalan sendiri sehingga mereka harus diusung dengan tandu.

Ternyata perhatian orang-orang padukuhan itu terhadap para pengawal Sembojan pun tidak kalah besarnya. Ada semacam kebanggaan, bahwa bukan prajurit pun mampu menyusun kekuatan sebagaimana sepasukan prajurit.

Demikianlah maka kedua pasukan itu telah maju ke arah mereka masing-masing.

Pasukan Pajang langsung kembali ke Pajang untuk memberikan laporan tentang hasil tugas mereka, demikian pula pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang kembali ke kampung halaman.

Meskipun ada juga sedikit kebanggaan yang dapat mereka sampaikan kepada para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan tentang hasil perjalanan mereka, namun mereka tidak akan dapat ingkar bahwa mereka telah gagal untuk menguasai sarang-sarang Ki Rangga Gupita yang lain, kecuali hanya satu. Namun justru ditempat itu pula mereka barhasil menghancurkan pasukan Ki Rangga Gupita dan Warsi.

Bahkan yang tentu akan membuat mereka trenyuh adalah ledakan tangis yang bakal terjadi, karena tidak semua pengawal yang berangkat meninggalkan Sembojan itu kembali lagi.

Tetapi sejak berangkat hal itu sudah dimengerti akan terjadi. Mereka tidak akan dapat menghindarkan diri dari kehilangan beberapa orang di antara mereka. Bahkan ketika Gandar kembali untuk memanggil beberapa orang kawannya menyusul pasukan yang terdahulu telah mengatakan kepada mereka yang akan berangkat, bahwa kemungkinan untuk tetap hidup dan untuk mati sama beratnya. Sehingga karena itu maka Gandar telah memberikan kebebasan kepada para pengawal untuk bersedia ikut atau tidak.

Agaknya perasaan yang demikian, bahwa pasukan itu telah kehilangan anak-anak muda terbaiknya, telah merayapi setiap hati, justru saat-saat iring-iringan itu menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka rasa-rasanya iring-iringan itu tidak memancarkan kecerahan pasukan yang menang perang tetapi lebih banyak kemuraman karena perasaan kehilangan, karena tidak semua yang pergi itu kembali.

Demikianlah maka iring-iringan itu telah menyusuri jalan-jalan yang panjang. Namun karena Gandar telah mengambil jalan kembali sebagaimana ia berangkat, maka etiap orang segera mengetahui bahwa pasukan Tanah Perdikan Sembojan dengan tunggul kebesaran pertanda limpahan kuasa Pajang, kembali pulang setelah menunaikan tugas mereka.

Banyak juga orang yang memberikan penghormatan disepanjang perjalanan. Ketika orang-orang itu melihat anak-anak muda yang diusung di atas tandu-tandu sederhana, maka tahulah mereka, bahwa pasukan itu tentu sudah mengalami perjuangan yang sangat berat.

Apalagi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu memang nampak letih setelah perjalanan panjang, perlahan-lahan dan dibebani oleh perasaan yang buram karena kehilangan beberapa kawan.

Namun bagaimanapun juga, setelah dipanggang oleh panasnya matahari, maka iring-iringan itu telah menjadi semakin dekat dengan Tanah Perdikan Sembojan. Tanah Perdikan yang terhitung cukup besar dan mempunyai isi yang lebih padat dari daerah sekitarnya.

Namun karena pasukan itu berjalan sangat lamban, justru karena kawan-kawan mereka yang terluka, ternyata mereka tidak dapat mencapai Tanah Perdikan Sembojan saat matahari telah turun sampai ke punggung bukit. Karena itu meskipun sudah dekat, Gandar memang memutuskan untuk beristirahat semalam di tengah-tengah pategalan. Ia tidak dapat memaksa orang-orang yang terluka, apalagi yang mengalami cidera pada kakinya, untuk berjalan terus. Sementara yang lain pun agaknya juga merasa kelelahan. Apalagi mereka yang bergantian membawa tandu yang memuat orang-orang mereka yang masih parah.

Tetapi sementara pasukan itu beristirahat di pategalan, maka Gandar telah memerintahkan tiga orang yang oleh pengakuannya sendiri belum merasa sangat letih, untuk mendahului, memberitahukan bakal kedatangan pasukan itu esok siang.

Namun justru mereka hanya bertiga, maka perjalanan mereka menjadi berlipat kecepatannya. Mereka tidak perlu mengingat kawan-kawan mereka yang kakinya belum pulih, serta kawan-kawannya yang mengangkat tandu.

Meskipun demikian, namun ketiga orang itu memasuki Tanah Perdikan setelah saat sepi orang. Setelah padukuhan-padukuhan itu menjadi lengang.

Tetapi padukuhan-padukuhan itu tidak tertidur nyenyak. Seperti yang dipesankan Gandar kepada anak-anak muda, bahwa mereka sebaiknya berada di gardu-gardu perondan. Jika mereka tidak sempat pergi ke gardu karena sesuatu hal, maka dirumah pun anak-anak muda jangan kehilangan kesiagaan.

Karena itu, ketiga orang itu melalui sebuah gardu perondan, maka mereka telah mendapat sambutan yang serta merta.

Selain pertanyaan tentang keselamatan maka mereka pun telah bertanya tentang seribu macam persoalan yang mungkin dialami oleh pasukan Sembojan, dimana ketiga anak muda itu ikut serta.

“Besok kalian akan tahu semuanya,” berkata salah seorang dari ketiga orang itu. “Besok pasukan kita akan memasuki Tanah Perdikan. Sekarang aku mendapat tugas untuk melaporkan kepada para pemimpin Tanah Perdikan ini, bahwa pasukan kami itu masih harus beristirahat satu malam di pategalan, karena betapapun juga kami memaksa namun kami tidak akan dapat berjalan lebih cepat.

Ketiga orang itu dengan hati-hati telah menolak untuk berhenti lebih lama lagi di gardu untuk bercerita, karena mereka pun ingin segera dapat menghadap Nyai Wiradana untuk memberikan laporan tentang pasukan yang terhenti itu.

Demikian pula di gardu-gardu berikutnya. Dengan alasan-alasan yang masuk akal ketiga orang anak muda itu selalu menghindar jika kawan-kawan mereka mempersilakan mereka untuk singgah.

Ketika ketiga orang anak muda itu kemudian sampai di rumah Nyi Wiradana, maka rumah itu pun memang sudah sepi. Tetapi para pengawal yang berada di regol masih tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Demikian pula para pengawal yang berada di gardu depan dan sudah tentu juga yang lain, yang berada disekitar rumah itu.

“Sebenarnya kami ingin menghadap,” berkata salah seorang di antara ketiga anak-anak muda itu.

Yang bertugas memang termangu-mangu. Tetapi mereka mengerti, bahwa ketiga orang itu adalah bagian dari pasukan mereka yang dibawa Gandar untuk langsung menusuk kubu lawan mereka yang sangat menggelisahkan karena usaha-usaha mereka untuk membunuh Risang, serta niat mereka untuk kembali ke Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka salah seorang pengawal itu pun kemudian berkata, “Kami akan mencoba untuk membangunkannya.”

Dengan sangat hati-hati pula, pemimpin pengawal yang bertanggung jawab malam itu atas pengamanan lingkungan rumah Nyai Wiradana, perlahan-lahan telah mengetuk pintu pringgitan.

Ia tidak tahu dengan tepat, dimana Nyai Wira-dana tidur, karena kadang-kadang ia tidur sendiri, namun kadang-kadang ia tidur dibilik Risang yang tidak diketahui oleh banyak orang, karena kecemasan ibunya, bahwa pada suatu ketika dapat saja seseorang memasuki rumahnya dimalam hari lewat jendela yang tidak sewajarnya.

Setelah beberapa kali mengetuk, maka yang terdengar adalah batuk-batuk seorang laki-laki.

“Nah,” berkata pemimpin peronda itu, “Sudah ada yang terbangun. Jika bukan Kiai Badra, tentu Kiai Soka.”

Ketiga orang pengawal yang baru datang itu mengangguk-angguk. Mereka merasa aman bahwa kedua orang tua itu masih tetap berada di Tanah Perdikan. Karena dalam keadaan yang kemelut ini, keduanya memang sangat dibutuhkan. Agaknya mereka pun sadar, sehingga mereka tidak segera kembali ke padepokan mereka masing-masing.

Ketika sekali lagi pengawal itu mengetuk perlahan-lahan, maka terdengar langkah kaki mendekati daun pintu. Dengan suara berat orang di dalam pintu itu bertanya, “Siapa diluar?”

“Kami, para peronda,” jawab pemimpin pengawal itu.

“Para peronda?” terasa perasaan heran terloncat pada nada suaranya.

“Ada sesuatu yang penting yang ingin kami sampaikan” jawab pemimpin kelompok pengawal yang sedang bertugas meronda itu.

Sejenak kemudian maka pintu pringgitan itu pun terbuka. Yang nampak berdiri dibelakang pintu itu ternyata adalah Kiai Badra.

“O,” pemimpin peronda itu bergeser selangkah mundur. “Kami mohon maaf Kiai, bahwa kami mengganggu Kiai. Namun kami terpaksa melakukan karena ketiga orang kawan kami yang ikut serta dalam pasukan Gandar telah datang dan ingin menghadap Nyi Wiradana.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi tiga orang di antara mereka telah datang?”

“Ya Kiai,” jawab pemimpin peronda itu. “Mereka ingin segera melaporkan diri kepada Nyi Wiradana mungkin juga laporan-laporan yang lain pun akan disampaikan juga.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra. “Marilah. Duduklah di ruang dalam saja.”

Pemimpin peronda itu telah membawa tiga orang itu masuk. Mereka kemudian dipersilakan duduk oleh Kiai Badra, sementara itu maka orang tua itu pun berkata.

“Aku akan membangunkan Iswari.” Demikianlah, maka sejenak kemudian, bukan saja Iswari telah duduk bersama mereka, tetapi juga Kiai Badra, Nyai Soka yang dibangunkan pula.

“Kenapa kalian hanya bertiga?” bertanya Iswari.

“Maaf Nyai,” jawab salah seorang di antara mereka. “Pasukan kami terhenti ketika matahari mulai terbenam. Sementara itu kami bertiga mendapat tugas untuk mendahului dan melaporkan bahwa besok lewat tengah hari pasukan kami akan memasuki Tanah Perdikan.”

Iswari mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika pada saat begini kalian sudah memasuki padukuhan induk ini, bukankah itu berarti jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi. Kenapa mereka tidak terus saja kembali ke Tanah Perdikan ini.”

Ketiga orang itu memahami pertanyaan Iswari. Karena itu seorang di antara mereka berkata, “Nyai, jaraknya sebenarnya memang sudah tidak terlalu jauh lagi. Tetapi keadaan pasukan kami tidak memungkinkan lagi untuk berjalan terus.”

Wajah Iswari menjadi tegang. Namun anak muda yang memberikan laporan itu menyadari bahwa Iswari menjadi gelisah karenanya. Karena itu, maka ia pun segera memberikan penjelasan tentang keadaan pasukan pengawal Tanah Perdikan.

Iswari dan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu pun mendengarkan laporan itu dengan seksama. Dengan jelas mereka mendapat gambaran apa yang telah terjadi dan bagaimana kedudukan pasukan mereka kemudian.

Iswari mengangguk-angguk. Ketegangannya pun telah berkurang, meskipun ia tidak menjadi terlalu gembira karenanya. Iswari telah mendengar laporan bahwa keadaan pasukannya memang letih. Apalagi bahwa Tanah Perdikan Sembojan terpaksa melepaskan sebagian dari anak-anaknya yang terbaik.

Ketika laporan anak muda itu selesai, maka Iswari pun kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Baiklah,” berkata Iswari. “Kami akan menerima pasukan itu besok di halaman banjar yang lebih luas dari halaman rumah ini. Mudah-mudahan keadaan pasukan itu tidak mengejutkan seisi Tanah Perdikan ini.”

“Mungkin juga mengejutkan, Iswari,” berkata Kiai Badra. “Tetapi tentu tidak akan terlalu banyak berpengaruh atas tata kehidupan di Tanah Perdikan ini. Apalagi setiap orang, setiap ibu yang melepaskan anaknya dan setiap istri yang melepaskan suaminya, telah dibekali dengan persiapan batin, bahwa hal seperti ini akan mungkin terjadi. Meskipun kita pun dapat mengerti, bahwa seseorang akan tetap bersedih, bahwa yang terjadi itu telah menimpa dirinya.”

Iswari mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Soka berkata, “Tetapi kita tidak mempunyai pilihan lagi. Anak-anak muda pun tidak mempunyai pilihan lain. Namun kita wajib untuk selalu mengenang pengorbanan yang telah mereka berikan bagi kampung halaman ini. Jika kemudian Tanah Perdikan ini menjadi sejahtera maka pengorbanan anak-anak tercinta itu merupakan salah satu alas dari keberhasilan Tanah Perdikan ini.”

“Sebenarnyalah demikian kakek,” desis Iswari. Lalu, “Baiklah. Sekarang terserah kalian. Apakah kalian akan menunggu besok di mulut lorong, dibawah pintu gerbang atau kalian akan kembali menyongsong mereka dan memberi tahukan bahwa mereka akan diterima di dalam banjar, tidak dihalaman rumah ini.”

Ketiga orang itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka menjawab, “Besok pagi-pagi benar kami akan menyongsong mereka.”

“Jika demikian, sebaiknya kalian beristirahat. Apakah kalian akan kembali di rumah kalian masing-masing atau kalian akan tidur saja disini? Sebaiknya kalian belum perlu pulang lebih dahulu. Jika kalian pulang, maka kalian akan dikerumuni oleh tetangga-tetangga kalian yang bertanya tentang anak laki-lakinya atau tentang suaminya atau tentang keluarganya yang lain yang ikut serta dalam pasukan itu,” berkata Iswari kemudian.

Ketiganya termangu-mangu. Sementara itu Kiai Badra berkata, “Sebaiknya kalian tetap disini. Agaknya kalian tidak akan terlalu banyak terganggu.”

Sambil mengangguk-angguk seorang di antara mereka bertiga menjawab, “Baiklah, kami akan berada disini Nyai. Besok pagi-pagi benar menjelang fajar, kami akan pergi. Agaknya disini kami tidak akan terlalu banyak terganggu.”

Namun belum lagi mulutnya terkatub, mereka telah dikejutkan oleh suara orang banyak diluar. Seorang peronda kemudian memberitahukan bahwa beberapa orang telah memasuki halaman. Mereka segera ingin tahu, bagaimana keadaan pasukan yang telah agak lama meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Ternyata dugaan kita keliru. Disini pun kalian telah didatangi banyak orang yang ingin segera tahu berita tentang sanak kadang mereka. Tetapi sebaiknya kalian tidak menemui mereka dan tidak mengatakan sesuatu tentang pasukan itu.”

Seorang diantara ketiga orang itupun menyahut, ”Ya Nyai. Ketika kami memasuki padepokan yang pertama dari Tanah Perdikan ini kami sudah melewati gardu peronda, sehingga kami telah dihentikan mereka yang sedang meronda untuk menjawab beberapa pertanyaan. Tetapi kami memang mengatakan kepada mereka, bahwa pasukan itu akan segera datang. Sebaiknya mereka menunggu saja sampai pasukan itu datang.”

”Jadi orang-orang itu tentu mendengar dari para peronda. Agaknya kau tidak hanya dipadukuhan pertama saja melewati gardu, tetapi tentu di hampir setiap padukuhan”.berkata Iswari.

”Agaknya memang demikian Nyai” Jawab salah seorang diantara ketiga anak muda itu.

Nyai Wiradana mengangguk-angguk. Lalu katanya

”Baiklah. Pergilah ke bilik disamping. Kau dapat beristirahat disana. aku akan menemui orang-orang yang datang itu.”

Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun Kiai Badra lah yang kemudian berkata, ”Marilah. Kita akan pergi ke bilik itu.”

Kiai Badra pun kemudian telah bangkit dan melangkah keluar ruang dalam diikuti oleh ketiga orang anak muda itu. Mereka melintasi serambi dan menyeberangi longkangan. Ternyata mereka telah ditempatkan di gandok.

”Beristirahatlah” berkata Kiai Badra, ”bukankah besok pagi-pagi sekali kalian akan menyongsong pasukan itu?”

Ketiga orang itupun kemudian merlasuki bilik itu. Tetapi rasa-rasanya tidak enak juga bahwa mereka tidak menemui kawan-kawan mereka atau mungkin orang tua dari kawan-kawan mereka yang berada di halaman. Tetapi karena Nyai Wiradana menghendaki begitu, maka mereka tidak dapat membantahnya.

Demikianlah, maka Nyi Wiradana sebagaimana dikatakannya telah keluar kependapa. Ternyata dihalaman menjadi semakin banyak orang yang datang untuk mendapat berita dari keluarga, sanak-kadang dan sahabat-sahabat mereka yang telah pergi ke medan.

Namun Iswari lah yang kemudian berkata dihadapan mereka, ”Sayang Ki Sanak. Ketiga anak itu terlalu letih. Ia sekarang sedang tidur di gandok. Besok menjelang pagi mereka harus sudah menyongsong pasukan yang bakal datang. Sementara itu ternyata ketiga orang anak itu tidak terlalu banyak mengingat apa yang telah terjadi. Siapa yang mengalami kesulitan atau keterangan-keterangan lain. Karena itu bersabarlah. Besok siang pasukan akan datang.”

Orang-orang itu memang menjadi kecewa. Tetapi mereka tidak dapat memaksa, karena yang menghadapi mereka adalah Nyai Wiradana sendiri.

Namun untuk beberapa lama orang-orang itu masih berkerumun-kerumun di halaman dan diluar regol. Namun nampaknya Nyai Wiradana tidak akan merubah pendiriannya. Katanya, ”Saudara-saudara. Jika kalian memaksa, ketiga orang anak muda itu memang dapat memberikan keterangan. Tetapi jika keterangan mereka salah, maka akibatnya akan lebih mengecewakan saja. Karena itu, aku mohon dengan sangat agar kalian dapat mengerti.”

Orang-orang itupun kemudian terpaksa meninggalkan halaman rumah Nyai Wiradana betapapun mereka merasa kecewa. Tetapi mereka tidak akan memaksa ketiga orang yang berada didalam rumah Ki Wiradana itu untuk berbicara.

Sepeninggal orang-orang itu, maka pintu pringgitan pun telah ditutup kembali. Rumah itu kembali terlena dalam keheningan. Semua orang didalam rumah itu telah membaringkan dirinya kembali di pembaringannya masing-masing.

Diluar rumah, para petugas telah kembali ke tempat mereka pula. Namun sebenarnyalah para peronda itupun ingin segera tahu berita yang lebih terperinci dari pasukan yang akan kembali itu. Tetapi mereka tidak berani melanggar kehendak Nyai Wiradana untuk menunda semua keterangan sampai esok.

Pagi-Pagi benar, para penghuni rumah itu memang sudah terbangun. Bahkan di ruang dalam, Risang telah bermain-main di atas sehelai tikar pandan. Setelah mandi dan berbenah diri, ketiga orang anak muda yang akan menyongsong pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah bersiap sepenuhnya. Mereka ingin meninggalkan Tanah Perdikan itu sebelum fajar, agar mereka tidak diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya di sepanjang jalan.

Beberapa saat ketiganya masih sempat bermain-main dengan Risang yang tidak mereka ketahui dari mana ia datang. Namun demikian, Risang tidak lepas dari pengawasan Bibi yang agaknya telah mencurigai semua orang yang berada di dekat Risang.

Setelah ketiga orang anak muda itu minum-minuman panas dan makan pagi, maka mereka pun telah meninggalkan rumah Nyai Wiradana untuk menyongsong pasukan yang agaknya sudah siap pula berangkat menuju ke Tanah Perdikan Sembojan pada saat-saat yang demikian.

Seperti yang telah direncanakan, maka ketiga orang itu tidak ke luar dari padukuhan induk lewat pintu gerbang. Tetapi mereka telah keluar lewat lorong sempit pada butulan dinding padukuhan untuk menghindari gardu-gardu tertentu yang masih banyak ditunggui oleh anak-anak muda.

Sebenarnyalah, di gardu di mulut jalan padukuhan induk, masih banyak anak-anak muda yang duduk-duduk sambil berbicara tentang kedatangan pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Namun sebenarnyalah bahwa mereka telah menunggu ketiga kawannya yang akan menyongsong pasukan itu. Mungkin mereka dapat menghentikan ketiga anak muda itu sebentar dan bertanya tentang keadaannya.

“Aku hanya ingin tahu, apakah kakakku tidak mengalami kesulitan di perjalanannya yang menurut pendengaranku sangat berat,” desis salah seorang anak muda. “Aku tidak akan bertanya tentang macam-macam.”

“Aku juga hanya ingin bertanya tentang satu nama,” sahut yang lain.

Namun dalam pada itu, sampai fajar nampak mewarnai langit, ketiga anak muda itu tidak lewat di mulut lorong.

“Apakah mereka terlambat bangun?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Apakah ia mengambil jalan lain?” bertanya yang lain.

“Semalam ia datang lewat jalan ini,” gumam seorang bertubuh kurus. “Seharusnya ia keluar lewat jalan ini pula.”

Tetapi sampai pagi menjadi semakin terang, ketiga anak muda itu tidak juga ke luar padukuhan induk lewat gerbang di mulut jalan itu.

Baru ketiga matahari terbit dan ketiga orang anak itu tidak juga lewat, mereka yakin bahwa ketiganya tentu telah mengambil jalan lain. Sehingga karena itu dengan hati kecewa mereka telah meninggalkan pintu gerbang dan pulang ke rumah masing-masing. Mau tidak mau, maka mereka harus menunggu pasukan itu datang dan langsung diterima oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan di halaman banjar.

Ketika matahari terbit dan kemudian perlahan-lahan memanjat langit, ketiga orang anak muda itu sudah berjalan jauh. Mereka sudah mendekati batas Tanah Perdikan. Sebentar lagi mereka sudah akan berada di luar Tanah Perdikan dan menyusuri jalan-jalan Kademangan tetangga.

Pada saat yang sama, pasukan Tanah Perdikan Sembojan juga sudah mulai bergerak meninggalkan tempat mereka bermalam. Gandar, lewat para pemimpin kelompok telah berpesan, agar mereka tidak merusakkan pategalan tempat mereka bermalam dan tidak mengambil buah apapun yang terdapat di pategalan itu.

Pada dasarnya para pengawal Tanah Perdikan memang tidak berani melakukannya. Apalagi dengan sengaja merusak. Karena dengan demikian maka pemilik pategalan itu tidak dirugikannya.

Ketika matahari naik, pasukan itu sudah berada di bulak panjang. Satu iring-iringan yang cukup menarik perhatian. Beberapa orang yang berada di sawah untuk mengairi tanamannya, telah memerlukan untuk melihat iring-iringan itu.

“Jadi para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan sudah kembali,” desis seseorang yang juga melihat pada saat pasukan Tanah Perdikan Sembojan berangkat. Bahkan sampai dua tahap.

Seorang kawannya mengangguk-angguk. Namun kawannya itu kemudian berdesis, “Tentu pasukan itu mengalami perjuangan yang berat. Kau lihat, beberapa orang di antara mereka terpaksa diusung di atas tandu?”

“Ya,” orang yang pertama mengangguk-angguk, “Tentu ada pula yang tidak kembali.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk.

Perhatian atas iring-iringan itu cukup besar. Apalagi jika iring-iringan itu melewati padukuhan. Maka orang-orang padukuhan itu pun sebagian besar telah berlari ke jalan induk padukuhan itu untuk menyaksikan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Namun sebagian di antara mereka, terutama perempuan, telah mengusap dadanya ketika mereka menyadari, bahwa di antara mereka tentu telah jatuh korban. Gugur, bukan hanya terluka.

Para pengawal pasukan itu menanggapi sambutan itu dengan gembira. Mereka melambaikan tangan mereka pula jika orang-orang yang berdiri di pinggir jalan itu melambaikan tangan mereka.

Namun dengan demikian, kerinduan mereka kepada kampung halaman dan kepada sanak kadang mereka pun menjadi semakin berkembang di dalam diri mereka masing-masing. Mereka seakan-akan baru menyadari bahwa mereka berjalan terlalu lambat. Sekelompok pengawal memang tidak dapat berjalan lebih cepat karena keadaan mereka. Sehingga dengan demikian, betapapun mereka ingin cepat bertemu dengan orang-orang yang merupakan bagian dari hidup mereka, namun mereka tidak dapat berlari mendahului iring-iringan itu.

Ketika matahari kemudian menjadi semakin tinggi, maka perjalanan mereka pun menjadi semakin lambat. Orang-orang yang masih belum sembuh benar memerlukan bantuan agar mereka dapat berjalan terus. Sementara para pengawal yang memikul tandu harus bergantian pula dengan kawan-kawan mereka yang lain.

Meskipun mengalami berbagai macam hambatan dari isi pasukan itu sendiri, namun pasukan itu telah berjalan terus sesuai dengan rencana. Mereka tidak akan berhenti lagi di perjalanan yang tersisa itu.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan itu telah bertemu dengan ketiga orang yang telah mendahului kembali ke Tanah Perdikan untuk memberitahukan bahwa pasukannya baru akan datang hari itu.

Kepada Gandar ketiga orang itu segera melaporkan hasil perjalanan mereka. Nyai Wiradana memerintahkan pasukan itu untuk langsung memasuki halaman Banjar. Nyai Wiradana dan para pemimpin Tanah Perdikan akan menerima pasukan itu di halaman Banjar yang lebih luas dari halaman rumah Nyai Wiradana.

Gandar mengangguk-angguk. Sementara itu ketiga orang itu pun telah melaporkan pula, bahwa mereka masih belum menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang Sembojan tentang keadaan pasukannya. Ternyata bahwa Nyai Wiradana pun telah menganjurkan pula kepada mereka untuk berbuat demikian agar tidak menimbulkan persoalan bagi orang-orang Tanah Perdikan terlalu awal.

“Kesedihan tentu tidak akan dapat dihindarkan,” berkata seorang dari ketiga orang itu. “Tetapi Nyai Wiradana menghendaki keterangan itu pasti dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan sekadar ingatan yang mungkin keliru.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia dapat membayangkan suasana yang akan dihadapi di Tanah Perdikan. Demikianlah maka pasukan itu telah berjalan lagi perlahan-lahan. Mereka baru akan sampai di Tanah Perdikan menjelang sore hari. Namun isi pasukan itu telah menyatakan kesediaan mereka, bahwa mereka tidak akan berhenti lagi sampai saatnya mereka sampai di Tanah Perdikan.

Seperti yang mereka rencanakan, maka mereka pun berjalan terus meskipun keringat telah membasahi tubuh mereka. Meskipun yang masih belum sembuh benar-benar merasakan betapa pedih lukanya. Dan meskipun orang-orang yang mengusung tandu di pundaknya mulai merasa sakit.

Ketika beberapa orang yang luka mulai mengeluh, maka kawan-kawan mereka telah membantu mereka berjalan sambil berkata, “Bukankah perjalanan kita tinggal beberapa puluh langkah saja.”

“Ya,” desis seorang yang luka di lambungnya masih terasa pedih. “Tinggal beberapa puluh. Tetapi beberapa itu dapat berarti tanpa hitungan.”

“Marilah, aku bantu kau,” desis kawannya.

Orang yang masih merasakan lukanya pedih itu tidak menjawab. Tetapi ia sendiri memang ingin cepat sampai di banjar. Barangkali ia akan segera menjatuhkan dirinya dan berbaring di lantai meskipun tanpa alas sekalipun.

Demikianlah maka ketika matahari mulai turun, pasukan itu benar-benar telah melihat dari seberang bulak yang panjang, ujung dari Tanah Perdikannya. Tanpa disadari, demikian mereka muncul di bulak panjang itu, beberapa orang telah bersorak. Kegembiraan itu bukan saja meledak dengan serta merta. Namun mereka pun ingin melupakan keletihan yang telah mencengkam pasukan itu.

Padukuhan yang pertama mereka lihat merupakan dorongan bagi para pengawal untuk berjalan lebih cepat. Mereka seakan-akan telah menemukan kekuatan baru, sehingga mereka mampu berjalan lebih cepat dari sebelumnya.

Semakin dalam mereka melintasi bulak itu, maka semakin dekatlah batas Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga akhirnya mereka pun mulai melihat sebuah tugu kecil yang dibuat dari batu sebagai batas dan pertanda bahwa disebelah tugu itu adalah termasuk daerah Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika ujung pasukan itu melintas di jalan memasuki batas yang ditandai oleh tugu batu di pinggir jalan itu, maka sekali lagi para pengawal telah bersorak gemuruh. Mereka merasa telah memasuki pintu gerbang halaman rumah mereka sendiri.

Beberapa orang yang berada di sawah terkejut karenanya. Namun mereka kemudian justru telah melambai-lambaikan tangan mereka pula ke arah pasukan yang melintasi perbatasan itu.

Demikian seluruh pasukan telah berada di dalam lingkungan batas Tanah Perdikan, maka rasa-rasanya udara pun menjadi semakin sejuk meskipun di langit matahari memancar dengan teriknya. Terasa seakan-akan angin menjadi lebih segar bertiup disela-sela dedaunan yang rimbun dari pepohonan yang tumbuh disebelah menyebelah jalan. Air yang mengalir di parit, di pinggir jalan itu pun rasa-rasanya jauh lebih jernih dari air di parit yang manapun disepanjang perjalanan mereka.

Namun kerinduan di hati mereka pun terasa semakin menekan untuk dapat segera bertemu dengan sanak kadang.

 

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 31.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

 

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 33.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s