SBB-31

<< kembali | lanjut >>

SEMENTARA ITU, Damar dan Saruju ternyata telah ikut pula bertempur bersama para pengawal, sementara tawanan yang mereka bawa dari Tanah Perdikan Sembojan serta tawanan yang ditangkap Sambi Wulung dijalan setapak menuju ke sarang itu, telah diserahkan kepada beberapa orang prajurit Pajang yang tugasnya sehari-hari menyiapkan makan dan minum pasukannya. Namun bagaimanapun juga, mereka adalah prajurit-prajurit, sehingga dalam keadaan yang gawat, mereka pun mampu mempermainkan pedang.

Ternyata Damar dan Saruju memiliki kemampuan bertempur yang seimbang dengan orang-orang yang tinggal di sarang bekas prajurit Jipang itu. Bahkan diluar dugaan, tiba-tiba saja Damar telah bertemu dengan seseorang yang dikenalnya, seorang bekas prajurit Jipang yang pernah menjadi pelatihnya.

“Kau,” geram bekas prajurit Jipang itu.

Damar memang menjadi berdebar-debar. Orang itu adalah bekas pelatihnya. Bagaimanapun juga terasa sesuatu bergetar dihati Damar.

Namun Damar tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun kemudian telah menyerang bekas pelatihnya itu.

“Aku sudah mampu mengembangkan ilmuku,” berkata Damar di dalam hatinya. “Kemampuanku bukan sekadar pengetahuan dasar olah kanuragan sebagaimana diajarkannya kepadaku.”

Dengan demikian maka Damar menjadi semakin mantap. Namun kadang-kadang getaran dijantungnya masih juga membuatnya merasa lebih kecil dari lawannya.

Namun suasana pertempuran itu memang menguntungkan Damar. Jumlah para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan dan para prajurit Pajang berlipat dari jumlah lawannya. Meskipun tidak semua prajurit Pajang ikut bertempur, karena ada di antara mereka yang harus menjaga para tawanan dan sebagian lagi harus berjaga-jaga di luar barak itu serta sekelompok yang lain merupakan kekuatan adangan, namun jumlahnya memang sudah lebih banyak dari bekas prajurit Jipang yang ada di dalam sarangnya itu.

Beberapa orang di antara mereka memang berusaha untuk melarikan diri. Namun di bagian belakang dari barak itu, telah menebar pasukan pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan, sehingga mereka tidak akan dapat dengan serta merta meluncur turun di tebing yang tinggi dibelakang barak mereka, meskipun hal itu memang sudah sering mereka lakukan.

Namun betapapun prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang jumlahnya lebih banyak, tetapi perlawanan bekas prajurit Jipang itu telah menggetarkan jantung setiap orang.

Damar yang bertempur melawan pelatihnya, ternyata memang masih belum menemukan keseimbangan. Damar semakin lama menjadi semakin terdesak.

Tetapi ternyata Saruju yang berada tidak jauh dari padanya sempat melihat keadaannya. Karena itu, maka ia pun telah meloncat mendekatinya.

Mula-mula Saruju pun terkejut. Bekas prajurit Jipang itu memang pernah pula menjadi pelatihnya sebagaimana Damar.

“Marilah,” geram bekas prajurit Jipang itu. “Kau yang telah berkhianat. Datanglah kepadaku, agar aku akan dapat melaksanakan hukuman mati itu atasmu.”

“Siapa yang berkhianat?” bertanya Saruju.

“Kalian berdua,” jawab bekas pelatihnya itu. “Aku mendengar dari para perwira. Mereka menyesal telah mengirimkan kalian berdua ke Tanah Perdikan Sembojan untuk membunuh anak Wiradana itu.”

“Agaknya kau termasuk orang yang beruntung dapat mengetahui persoalan yang dituduhkan kepadaku,” berkata Damar. “Jika demikian, maka kau termasuk orang yang kami perlukan. Kau juga mengetahui beberapa hal tentang perkembangan pasukan Ki Rangga dan Warsi itu sekarang. Tidak seperti aku dan Damar,” berkata Saruju. “Aku dan Damar hanya tahu apa yang terjadi disarang kami tanpa mengetahui apa yang terjadi ditempat lain.”

“Kalian tidak pantas untuk mengetahui banyak hal. Apalagi terbukti kalian telah berkhianat,” geram bekas pelatihnya itu.

Damar dan Saruju tidak menjawab lagi. Mereka berdua telah bertempur berpasangan melawan bekas pelatihnya yang ternyata masih tetap memiliki kelebihan dari mereka.

Namun ketika Damar dan Saruju bertempur berdua, maka kedudukan mereka menjadi lebih baik. Meskipun bekas pelatihnya itu masih tetap menunjukkan kecepatan gerak yang kadang-kadang mengejutkan, namun dengan bertempur berpasangan, kedudukan Damar dan Saruju menjadi semakin mapan.

Dalam hiruk pikuk pertempuran itu, Damar dan Saruju telah menunjukkan bahwa ilmu yang mereka terima dari para prajurit Jipang, tidak sekadar mereka pergunakan sebagaimana mereka pelajari. Tetapi ilmu itu telah berkembang di dalam diri kedua orang anak muda itu, karena mereka pun telah ditempa pengalaman pula. Mereka telah ikut bertempur melawan prajurit Pajang di medan sebelah Timur Pajang. Mereka pun telah ikut dalam pertempuran-pertempuran yang lain serta pengalaman mereka menjelajah padukuhan untuk merampas harta benda orang-orang padukuhan tanpa belas kasihan.

Dengan pengalaman mereka yang panjang, maka kemampuan kedua anak muda itu pun menjadi semakin berkembang, meskipun dengan ciri-ciri yang sama seperti prajurit Jipang itu sendiri.

Karena itulah maka pertempuran di antara Damar dan Saruju di satu pihak, serta bekas prajurit Jipang yang pernah menjadi pelatihnya dipihak lain itu pun menjadi keras dan kasar.

Sementara itu, Gandar yang memiliki kemampuan tidak sekadar kemampuan seorang prajurit, ternyata telah berhasil mengoyak tata tempur bekas prajurit Jipang yang ada di sekitarnya. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Apalagi jumlah para pengawal beserta para prajurit Pajang lebih banyak dari lawan-lawan mereka.

Dengan demikian, maka bekas prajurit Jipang itu pun semakin lama menjadi semakin terdesak ketengah-tengah halaman barak mereka. Mereka sama sekali tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri.Ketika seorang di antara mereka, memaksa diri untuk menghindar dari medan dan dengan tidak berperhitungan berlari ke arah belakang halaman barak mereka, meloncati pagar dan langsung meluncur turun, maka ternyata ia tidak mampu menguasai dirinya sendiri. Ia bukannya meluncur menuruni tebing itu dengan kaki menjulur kebawah dengan keseimbangan yang mapan. Tetapi orang itu telah erlempar dan jatuh ke dalam jurang tanpa mampu mengatur diri. Karena itulah yang terdengar kemudian adalah teriakan panjang. Namun kemudian suara itu bagaikan hilang ditelan deru dan dentang senjata beradu.

Seorang pengawal yang lepas dari lawannya sempat menjenguk ke dalam lereng yang dalam itu. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Meskipun demikian ia memang dapat melihat kemungkinan untuk dapat menuruni tebing itu jika tidak tergesa-gesa dan berhati-hati.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin ganas dan garang. Hampir setiap orang terpancing untuk bertempur dengan kasar. Teriakan-teriakan mengatasi dentang senjata sementara umpatan kasar terdengar di antara keluh kesakitan.

Senapati Pajang yang menyaksikan pertempuran itu memang menjadi berdebar-debar. Meskipun bekas para prajurit Jipang itu jumlahnya jauh lebih sedikit, tetapi mereka bertempur dengan jantung yang membara di dalam dada mereka.

Namun ternyata bahwa jumlah dan kemampuan setiap orang di dalam medan pertempuran merupakan penentu dalam perang keseluruhan. Meskipun kemampuan seorang-seorang dari para prajurit Jipang ditambah dengan api yang menyala di dalam dada mereka, namun jumlah prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan jauh lebih banyak. Sementara itu kemampuan prajurit Jipang dengan lawan mereka seakan-akan tidak terpaut. Hanya pengalaman mereka yang berbeda itu sajalah yang membuat warna tata tempur mereka berbeda pula. Meskipun keduabelah pihak bertempur dengan keras, bahkan kasar, namun pada bekas prajurit Jipang itu terdapat meskipun semburat, warna kebengisan dan kekejaman.

Tetapi hal itu terjadi justru karena mereka merasa terhimpit oleh keadaan. Mereka selalu merasa diburu kemanapun mereka berada. Tetapi juga karena mereka terbiasa memaksakan kehendaknya kepada orang lain dengan garang pada saat-saat mereka merampas dan mengambil milik orang lain itu.

Bagaimanapun juga bekas prajurit Jipang itu bertempur, namun ternyata bahwa mereka tidak mampu untuk tetap bertahan. Perlawanan mereka pun telah terkoyak dimana-mana.

Meskipun demikian, pertempuran dipelataran goa itu masih berlangsung dengan dahsyatnya. Para bekas prajurit Jipang ternyata tidak mau beringsut setapak pun juga. Mereka tidak melepaskan kesempatan sama sekali bagi lawan-lawan mereka untuk bergeser maju ke mulut goa itu.

Namun para prajurit Pajang pun tidak mau bergeser mundur dari tempat mereka berpijak. Pertempuran yang keras itu agaknya telah mengaburkan segala macam pertimbangan nalar. Kedua belah pihak telah dicengkam oleh kemarahan yang mencengkam. Kekerasan dan kematian di antara kawan-kawan mereka, telah membuat mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali membunuh.

Sebenarnyalah maka pembunuhan-pembunuhan itu telah terjadi. Prajurit Pajang yang jumlahnya lebih banyak ternyata mendapat kesempatan untuk membunuh lebih banyak pula.

Tetapi bekas prajurit Jipang itu sama sekali tidak beringsut dari tempatnya. Meskipun jumlah mereka semakin susut, tetapi mereka masih tetap berada di tempat mereka berpijak. Mulut goa itu masih saja seakan-akan tersumbat.

Namun satu-satu orang-orang Jipang itu telah jatuh tersungkur ditanah, sehingga akhirnya jumlah mereka pun menjadi semakin susut. Namun para perwira Pajang itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mereka melihat bekas prajurit Jipang yang tinggal seorang itu pun masih juga berusaha untuk menahan orang-orang Pajang yang akan memasuki mulut goa itu.

Para perwira Pajang menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bekas prajurit Jipang yang berada di goa itu telah gugur sampai orang yang terakhir.

“Luar biasa,” desis para perwira Pajang yang menyaksikan pertempuran itu. “Jika keprajuritan masih melekat dihati mereka. Sayang mereka telah diderai memasuki jalan yang sesat.”

Sebenarnyalah orang yang terakhir dari bekas para prajurit Jipang itu sudah jatuh. Dengan demikian maka para prajurit Pajang pun mulai memasuki goa itu. Namun mereka tidak ingin menjadi korban yang sia-sia. Karena itu mereka menjadi sangat berhati-hati.

Setiap langkah harus mereka perhitungkan sebaik-baiknya. Apalagi di dalam goa itu semakin dalam menjadi semakin gelap.

Namun para prajurit Pajang itu mengurungkan niatnya untuk memasuki goa itu tidak terlalu dalam. Tetapi para perwira Pajang telah memerintahkan mereka untuk menarik diri.

“Kita harus berhati-hati,” perintah seorang perwira. “Kalian berjaga-jaga saja diplataran goa ini. Kami harus berhubungan dengan para prajurit yang bertempur di antara barak-barak di sebelah.”

Para prajurit Pajang itu tidak mempersoalkan perintah itu. Apalagi dalam arena yang keras dan garang. Maka ikatan paugeran bagi prajurit terasa menjadi semakin ketat. Setiap perintah dari pimpinan mereka harus mereka jalankan sebaik-baiknya.

Dengan demikian maka para prajurit Pajang itu pun telah berjaga-jaga di plataran goa. Beberapa orang berdiri dimulut goa menghadap ke dalam. Mereka harus berhati-hati untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Sementara itu, maka beberapa orang telah mempergunakan kesempatan itu untuk menolong dan merawat kawan-kawan mereka. Terutama yang terluka. Sementara itu mereka masih belum sempat berbuat sesuatu terhadap tubuh-tubuh yang berserakan, yang gugur di peperangan yang keras itu.

Dalam pada itu, pertempuran di barak itu pun sudah mendekati saat-saat terakhir. Para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan benar-benar telah menguasai keadaan. Di beberapa bagian masih terjadi pertempuran. Namun beberapa saat kemudian, maka para bekas prajurit Jipang yang tersisa itu pun telah menyerah.

Namun dalam pada itu, Damar dan Saruju harus menempuh jalan yang tidak mereka inginkan. Pelatihnya ternyata bertempur dengan keras dan pantang menyerah. Dalam keadaan yang terdesak, ternyata bekas prajurit Jipang itu telah sempat melukai Damar dan Saruju meskipun tidak terlalu parah. Namun dari luka itu telah mengalir darah.

Kemarahan Damar dan Saruju telah melonjak ke ubun-ubun. Itulah sebabnya maka mereka pun telah memperketat serangan-serangan mereka, sehingga akhirnya keduanya berhasil menyentuh bekas pelatihnya itu dengan ujung senjata mereka. Bukan hanya segores, tetapi beberapa gores luka telah menganga di tubuhnya.

Namun luka-luka itu telah membuatnya bagaikan gila. Prajurit Jipang itu justru telah mengamuk sejadi-jadinya. Ia sama sekali tidak lagi membuat perhitungan-perhitungan mapan. Bahkan dalam keadaan yang semakin sulit, maka ia pun menjadi semakin kehilangan keseimbangan nalar.

Dengan demikian, maka kedua belah pihak benar-benar telah dibakar oleh kemarahan karena luka-luka ditubuh masing-masing. Itulah sebabnya, maka Damar dan Saruju pun tidak pernah lagi berharap bahwa pelatih mereka itu akan menyerah. Dalam pertarungan yang keras dan kasar, maka senjata Damar telah berhasil menambah luka ditubuh pelatihnya itu. Namun pelatihnya itu sempat pula mengayunkan senjatanya ke kening Damar. Justru pada saat Damar merendah sambil melindungi keningnya dengan senjatanya, lawannya itu mengurungkan serangannya. Tiba-tiba saja kakinyalah yang melingkar menebas kelambung Damar.

Ketika tumit lawannya mengenai lambungnya, terdengar Damar mengeluh tertahan. Pada saat yang demikian, pelatihnya yang berpengalaman itu seakan-akan mendapat kesempatan. Ia pun telah siap meloncat untuk menyelesaikan Damar yang sedang kesakitan.

Tetapi ketika ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya, Damar justru menjatuhkan dirinya. Kakinya dengan cepat berputar menyapu kaki lawannya.

Pelatihnya itu sempat meloncat menghindar. Namun dengan demikian perhatiannya terhadap Saruju terlepas sejenak. Pada saat yang demikian Saruju telah meloncat mendekat dari samping. Senjatanya teracu lurus ke depan.

Lawannya berusaha untuk menggeliat. Namun tiba-tiba saja ujung senjata Damar telah menyambarnya. Sekali lagi segores tipis luka mengenai pahanya dan mengoyak kain panjangnya.

Namun ketika Saruju menebaskan senjatanya, lawannya itulah yang sempat terguling. Ujung senjatanya mematuk dengan cepat ke arah perut Saruju. Namun karena Saruju bergeser, maka senjata itu tidak mengenai sasaran. Tetapi sempat pula tergores dilambung. Meskipun tidak dalam, namun dari luka itu telah mengalir darah pula.

Kemarahan Damar dan Saruju semakin menjadi-jadi. Serangan mereka semakin cepat bergantian datang susul menyusul. Luka-luka yang terasa semakin pedih membuat keduanya semakin keras dan kasar.

Demikain kerasnya, maka pada akhirnya lawannya itu tidak mampu lagi untuk bertahan. Darah yang mengalir dari luka-lukanya menjadi semakin banyak, sehingga tubuhnya pun menjadi semakin lemah.

Meskipun tenaga Damar dan Saruju menjadi semakin susut, tetapi ternyata keduanya masih memiliki kelebihan dari lawannya. Bekas pelatih Damar dan Saruju itu akhirnya terpaksa menyerahkan nyawanya kepada kedua orang anak muda Tanah Perdikan yang sedang marah itu.

Namun ternyata bahwa Damar dan Saruju pun kemudian seolah-olah menjadi tidak bertenaga lagi. Dengan lemahnya keduanya terduduk ditanah bertelekan senjata mereka masing-masing.

Gandar yang ternyata telah menyelesaikan tugasnya, telah sempat mendekatinya sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung mengatur anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan setelah mereka menyelesaikan pertempuran.

“Bagaimana dengan kalian?” bertanya Gandar.

Nafas kedua anak muda itu menjadi terengah- engah. Sementara luka-luka mereka sangat pedih karena keringat yang mengalir dari dalam kulit mereka.

“Kalian sudah membawa obat untuk mengatasi luka-luka itu sementara menunggu perawatan yang lebih baik?” bertanya Gandar.

Damar dan Saruju mengangguk-angguk. Anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan memang membawa serbuk yang dapat untuk sementara mengatasi kesulitan jika mereka terluka.

“Obati,” berkata Gandar kemudian. “Pertempuran sudah selesai.”

Damar dan Saruju menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah mengambil serbuk yang mereka bawa didalam sebuah tabung kecil yang mereka letakkan di dalam kantung ikat pinggang mereka. Dengan serbuk itu mereka berusaha untuk memampatkan darah yang mengalir dari luka-luka ditubuh mereka.

Sementara itu, para prajurit Pajang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan telah memulai membenahi diri. Mereka telah mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang gugur. Sementara itu, bekas prajurit Jipang yang bertahan di barak dan goa itu tidak banyak lagi yang tetap hidup dan menyerah. Mereka telah bertempur sampai kesempatan yang terakhir. Sebagian besar dari mereka telah terbunuh di peperangan. Apalagi mereka yang telah bertempur mempertahankan mulut goa.

Dalam pada itu, maka Senapati yang memimpin pasukan Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu telah memanggil para pemimpin kelompok termasuk Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka ingin membicarakan langkah-langkah seterusnya yang sebaiknya mereka ambil.

“Apakah kita akan menelusuri sarang-sarang selanjutnya atau kita akan kembali dahulu ke Pajang atau ke Tanah Perdikan Sembojan yang lebih dekat untuk membenahi diri dan menitipkan para tawanan?” bertanya Senapati yang memimpin para prajurit dari Pajang itu.

“Kita perhitungkan untung ruginya,” desis salah seorang pemimpin kelompok. “Apakah kesulitan kita jika kita berjalan terus, dan apa pula keuntungannya jika kita kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.”

Senapati yang memimpin pasukan itu pun kemudian berkata, “Kita sudah melihat akhir dari peperangan ini. Kawan-kawan kita telah berkurang. Sementara itu kita membawa beban para tawanan. Apakah dengan keadaan yang demikian kita akan dapat menghancurkan sarang berikutnya yang akan kita datangi?”

Seorang pemimpin kelompok yang lain berkata, “Apakah setiap sarang orang Jipang itu tentu sekuat ini?”

“Itulah yang belum kita ketahui,” jawab Senapati itu.

Namun dalam pada itu Gandar pun berkata, “Kita tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap. Disini kita dapat menangkap beberapa orang. Kita akan dapat berbicara dengan mereka. Kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa orang di antara mereka secara terpisah. Dari jawaban-jawaban mereka kita akan dapat mengambil kesimpulan. Apakah kita dapat meneruskan perjalanan atau kita harus menyerahkan kembali pasukan kita.”

Senapati pasukan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara dengan lima orang di antara para tawanan dalam keadaan terpisah. Kita akan dapat mengambil kesimpulan tentang jawaban-jawaban mereka. Mana yang mereka ucapkan dengan benar dan mana yang tidak atau bahkan sengaja menyesatkan. Sementara itu, kawan-kawan kita dapat merawat mereka yang terluka dan menguburkan mereka yang gugur. Kita tidak akan dapat membawa mereka kembali. Dengan demikian, maka untuk sementara kita akan menguburkannya di sini. Apabila kelak ada kesempatan untuk memindahkannya, maka kelak akan dilakukannya.”

Demikianlah maka para prajurit Pajang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan telah menguburkan kawan-kawan mereka. Tetapi juga secara terpisah mereka telah menguburkan orang-orang Jipang yang terbunuh, dibantu oleh orang-orang Jipang yang sudah menyerah.

Pada saat yang sama, beberapa orang pemimpin Pajang telah memeriksa beberapa orang di antara para tawanan untuk mendapat gambaran tentang kekuatan mereka. Gandar pun telah mendapat tugas yang demikian pula. Bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung, Gandar telah dihadap oleh dua orang bekas prajurit Jipang yang menyerah. Bahkan Gandar telah memanggil pula Damar dan Saruju yang meskipun terluka, namun mereka sempat pula duduk bersama Gandar.

Berbagai pertanyaan telah diajukan kepada kedua orang itu. Namun agaknya kedua orang itu benar-benar telah dalam keletihan sehingga nampaknya keduanya tidak berbelit-belit lagi. Mereka menjawab apa adanya sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Apalagi seorang di antara kedua orang itu telah mengenal Damar dan Saruju dengan baik, sehingga mereka merasa tidak akan dapat berbohong. Meskipun sebenarnya Damar dan Saruju tidak mengerti sebagian besar dari persoalan yang mereka kemukakan, karena apa yang diketahui oleh keduanya itu sangat terbatas. Namun kedua orang Jipang itu ragu-ragu pula bahwa mungkin Damar dan Saruju telah mengetahuinya.

Ternyata bukan hanya kedua orang bekas prajurit Jipang itu sajalah yang berkata terus terang. Beberapa orang yang lain pun berbuat seperti itu pula. Mereka telah menjadi putus asa dan kehilangan keberanian mereka untuk menantang maut dengan cara apapun juga. Ketika mereka melihat wajah-wajah garang dari prajurit Pajang yang marah dalam pertempuran itu, maka orang-orang Jipang itu tidak lagi berniat untuk bertahan.

Memang ada juga satu dua orang yang berkeras untuk tidak mengatakan sesuatu. Bahkan mereka telah menengadahkan dada mereka dan menantang untuk ditikam tembus sampai ke punggung.

Terhadap orang-orang yang demikian, maka orang-orang Pajang dan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan harus mengambil sikap berhati-hati. Para perwira Pajang telah menyisihkan orang-orang yang mengeraskan hatinya itu untuk mendapat penjagaan yang lebih kuat dari kawan-kawannya yang lain.

Dari hasil pembicaraan para pemimpin Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan maka diketahui bahwa beberapa sarang yang lain memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Tetapi pada umumnya sarang itu tidak sekuat sarang yang telah dipecahkan itu.

”Hanya ada dua tempat” berkata salah seorang prajurit Jipang, ” disini dan di Goa Malang. Yang lain adalah sarang=sarang yang lebih kecil”

“Kau berkata sebenarnya?” bertanya seorang perwira Pajang. “Menurut kebiasaan di antara kalian, maka seorang di antara kalian tidak dapat mengetahui terlalu banyak seperti yang kau katakan itu.”

“Adalah kebetulan bahwa aku pernah mendapat tugas di Goa Malang,” jawab bekas prajurit Jipang itu

Namun para perwira Pajang tidak dengan begitu saja percaya. Mereka telah berusaha menyaring keterangan yang mereka dapat dari para bekas prajurit Jipang itu. Jawaban-jawaban yang berbeda satu sama lain sesuai dengan pengenalan mereka, namun yang ternyata saling mengisi dan dapat dipercaya.

Akhirnya para pemimpin Pajang itu mengambil kesimpulan, bahwa memang hanya ada dua sarang yang paling kuat. Sarang yang telah mereka pecahkan itu dan satu lagi di Goa Malang. Agaknya hanya ada satu dua orang di antara para tawanan yang pernah pergi ke Goa Malang itu.

“Tetapi Goa Malang itu cukup jauh,” berkata salah seorang perwira Pajang, pemimpin kelompok yang terhitung sudah lebih tua dari yang lain.

Tetapi seorang perwira yang masih muda berkata, “Apa salahnya. Kita tidak terikat waktu. Kita sebaiknya langsung pergi ke Goa Malang. Kita akan menyelesaikan tugas kita dengan tuntas. Bahkan jika perlu, sarang-sarang yang kecil itu kita hancurkan pula. Kita berharap bahwa kita akan bertemu dengan Ki Rangga disalah satu di antara sarang-sarangnya.”

Senapati yang memimpin seluruh pasukan itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berkata, “Tetapi kita tidak dapat mempergunakan seluruh kekuatan yang ada pada kita sekarang. Kita harus meninggalkan sebagian dari pasukan kita disini sekaligus untuk menjaga, para tawanan, merawat kawan-kawan kita yang terluka dan menjaga barang-barang rampasan yang ditimbun di dalam goa itu.”

Perwira yang masih muda itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun mengangguk kecil, “Ya. Itu yang lupa aku pertimbangkan.”

“Dengan kekuatan yang sudah berkurang dan apalagi sebagian dari mereka masih harus ditinggal di barak ini, maka kita pantas meragukan, apakah kita akan mampu memasuki Goa Malang yang menurut keterangan orang-orang yang tertawan, dan agaknya dapat dipercaya, berkekuatan sebesar barak ini. Bahkan mungkin sekali Ki Rangga dan Warsi secara kebetulan ada di Goa Malang, karena goa itu lebih sering dikunjunginya daripada sarang-sarangnya yang lain,” berkata Senapati dari pasukan Pajang itu.

Para perwira mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa tugas mereka justru semakin ketat.

Dalam kebimbangan itu Gandar berkata, “Memang menurut pendapatku kita tidak dapat terus ke Goa Malang dalam keadaan seperti ini. Kita harus memperkuat pasukan kita. Setidak-tidaknya pasukan baru yang harus menunggu tempat ini serta menjaga para tawanan. Untuk itu jika disetujui, aku akan dapat kembali ke Tanah Perdikan Sembojan untuk mengambil sekelompok pengawal lagi.”

Senapati dari pasukan Pajang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Anak-anak muda Sembojan diperlukan bagi Tanah Perdikan itu sendiri. Meskipun mungkin masih dapat diminta untuk mengirimkan sekelompok lagi untuk kepentingan ini, tetapi jangan terlalu banyak.”

“Aku akan membawa separo dari pasukan pengawal yang pernah aku bawa sebelumnya,” berkata Gandar.

“Baiklah,” berkata Senapati itu. “Terpaksa aku memerintahkan para penghubung untuk kembali ke Pajang. Meskipun memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu, kita harus berjaga-jaga ditempat ini.”

“Kita memang harus memilih yang paling baik di antara beberapa kemungkinan. Jika orang-orang Ki Rangga mengetahui, bahwa kita telah menduduki tempat ini, ada dua kemungkinan dapat terjadi. Mereka mengosongkan sarang-sarang yang lain termasuk Goa Malang, atau mereka berusaha merebut kembali sarang mereka,” berkata Gandar.

“Ya,” berkata Senapati itu. “Karena itu kita harus berusaha mengatasinya. Sementara kita memperkuat kedudukan kita disini, maka usaha untuk mendatangkan kekuatan baru itu harus secepatnya kita lakukan”

Namun dalam pada itu seorang perwira bertanya, ”Apakah untuk mengisi waktu kita dapat mendatangi sarang yang dianggap lebih lemah dari Goa Malang?”

“Memang mungkin. Tetapi jika hal itu menyebabkan kehadiran kita diketahui, maka kita akan kehilangan Goa Malang itu sendiri, karena mereka telah mengosongkannya,” jawab Senapati itu. Namun katanya kemudian, “Meskipun kemungkinan itu dapat terjadi setelah mereka mengetahui bahwa sarang mereka disini sudah kita kuasai. Tetapi kita berharap bahwa hubungan antara sarang yang satu dengan yang lain tidak terlalu rapat, sehingga berita tentang kehadiran kita disini tidak segera mereka ketahui.”

“Tetapi bukankah orang yang kita tangkap ketika mereka sedang berjalan turun itu merencanakan satu pertemuan dengan kawan-kawannya dari sarangnya yang lain?” bertanya perwira itu.

“Ya,” jawab Senapati itu. “Karena itu kita harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. Mereka mengosongkan sarang mereka yang akan berarti tugas kita bertambah panjang, atau mereka akan merebut sarang mereka itu.

Para perwira yang ikut dalam pembicaraan itu mengangguk-angguk. Sementara itu, maka Senapati itu pun telah memerintahkan dua orang penghubung untuk pergi ke Pajang bersama Gandar yang akan pergi ke Tanah Perdikan. Mereka akan membawa pasukan masing-masing.

“Aturlah agar kalian bersama-sama datang ke tempat ini sebagaimana kita berangkat,” berkata Senapati itu.

Tanpa menunggu waktu yang lain, maka para penghubung itu pun segera bersiap sebagaimana Gandar. Namun Gandar telah menunjuk dua orang yang akan menjadi kawannya berbincang diperjalanan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan setelah ia harus berpisah dengan kedua penghubung yang pergi ke Pajang itu. Sedangkan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan telah diserahkan kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan.

“Jika benar pasukan Ki Rangga itu datang untuk merebut Goa disebelah, maka mungkin kalian harus berhadapan dengan Ki Rangga dan seorang lagi dengan Warsi itu sendiri,” pesan Gandar kepada kedua orang itu.

“Mudah-mudahan mereka tidak segera datang kemari,” desis Sambi Wulung.

“Meskipun sebenarnya kemungkinan itu sangat menguntungkan kita. Kita akan dapat menangkap Ki Rangga dan Warsi tanpa harus menyusuri lereng-lereng pegunungan,” sahut Gandar.

Demikianlah, sejenak kemudian Gandar serta kedua orang pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan dan para penghubung itu pun segera berangkat. Mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Sementara itu Sambi Wulung dan Jati Wulung sekali lagi mendapat pesan dari Gandar tanpa didengar orang lain, “Kemampuan kalian sangat diperlukan disini. Senapati itu memiliki kekuatan dan ketrampilan olah kanuragan. Tetapi untuk menghadapi ilmu yang rumit, ia memerlukan bantuan.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk, sambil berdesis Sambi Wulung menjawab, “Aku akan berbuat sejauh dapat aku lakukan.”

Gandar mengangguk pula. Namun ia kemudian meninggalkan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang melepas mereka. Disebelah lain berdiri para Senapati dan perwira Pajang yang lain.

Demikianlah Gandar telah menempuh perjalanan menuruni lereng pegunungan. Jalan setapak yang melingkar-lingkar. Namun mereka tidak saja harus berhati-hati dilicinnya jalan sempit itu, tetapi juga kemungkinan bahwa mereka bertemu dengan orang-orang yang akan mengadakan hubungan dengan sarang yang telah direbut oleh para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan itu.

Namun ternyata mereka tidak bertemu dengan seorang pun. Mereka tidak mengalami hambatan apapun di perjalanan menuju ke dataran, sampai saatnya mereka berpisah.

Tanah Perdikan Sembojan agak lebih dekat dari Pajang. Karena itu, maka Gandar mempunyai waktu lebih banyak dari para penghubung. Namun kesiagaan para prajurit Pajang tentu lebih tinggi dari para pengawal di Tanah Perdikan Sembojan, meskipun para pengawal itu sudah memiliki keterampilan seorang prajurit. Namun para pengawal Tanah Perdikan Sembojan masih mempunyai tugas rangkap. Selain mereka harus mengawal Tanah Perdikan mereka, mereka pun masih harus juga bekerja sehari-hari sebagaimana anak-anak muda yang lain, kecuali pada saat-saat mereka bertugas yang dilakukan bergilir dari kelompok yang satu kepada kelompok yang lain.

Ketika Gandar datang dengan dua orang pengawal, Iswari menjadi terkejut karenanya. Namun kemudian hatinya menjadi tenang ketika ia melihat Gandar yang tidak terlalu gelap kecuali karena perjalanannya yang panjang.

“Tidak ada apa-apa Nyai,” berkata Gandar yang melihat secercah kecemasan dihati Iswari.

“Jadi,” bertanya Iswari.

Gandar pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi. Memang ada beberapa orang di antara para pengawal Tanah Perdikan yang gugur dan terluka. Namun jumlahnya hanya kecil dibanding dengan jumlah para pengawal seluruhnya.

Iswari mengangguk-angguk. Namun terbayang di angan-angannya bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan masih akan menempuh tugas yang lebih berat. Mereka masih harus menyusuri lereng dan lambung pegunungan untuk mencapai tempat yang disebut Goa Malang. Salah satu sarang yang kuat dari para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi. Goa dan mungkin beberapa barak yang dihuni oleh bekas prajurit Jipang yang memiliki kemampuan prajurit ditambah dengan pengalaman yang pahit, sehingga mereka akan merupakan orang-orang yang keras dan bahkan mungkin tidak lagi mempunyai pertimbangan nalar yang wajar lagi menghadapi sesamanya. Apalagi di antara mereka terdapat orang-orang yang dihimpun kembali dari bekas para pengikut Kalamerta yang mendendam Tanah Perdikan Sembojan.

”Kita harus menyediakan sekitar limapuluh orang Nyai, sementara itu Pajang akan mengambil kekuatan berlipat” berkata Gandar.

“Apakah sedemikian besar susutnya pasukan kita?” bertanya Iswari.

”Tidak” sahut Gandar, dan ia pun telah menjelaskan bahwa sebagian dari mereka akan berada di goa yang telah direbut lebih dahulu sekaligus menunggui para tawanan. Sementara yang lain akan pergi ke Goa Malang.

“Dengan demikian maka pasukan yang akan tersusun itu masih harus dibagi” berkata Gandar, ”mungkin kekuatan yang ditinggalkan untuk menunggui goa yang telah dikuasai Pajang serta menjaga para tawanan itu akan sama besarnya dengan yang akan pergi ke Goa Malang, karena ada kemungkinan bahwa justru Ki Rangga lah yang menyergap kedudukan pasukan Pajang yang ditinggalkan itu.”

Iswari mendapat gambaran yang jelas tentang kedudukan pasukan Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu maka katanya, “Baiklah Gandar. Kau sendirilah yang menyiapkan kelima puluh orang pengawal itu. Kau harus berterus terang tentang medan yang akan kalian hadapi, sehingga dengan demikian maka kau dapat juga minta agar anak-anak itu berterus terang. Jika mereka tidak cukup mempunyai keberanian serta kesediaan untuk berkorban, bahkan berkorban jiwa, biarlah mereka tidak ikut dalam pasukanmu.”

“Aku mengerti Nyai” jawab Gandar, “namun pengorbanan itu juga dipersembahkan bagi Tanah Perdikan ini. Jika kekuatan mereka telah dihancurkan, maka mereka tidak akan lagi membayangi kekuasaan di Tanah Perdikan ini.”

“Pengertian itu memang perlu Gandar” jawab Iswari, “nah, segalanya terserah kepadamu. Sementara itu, kekuatan yang tinggal harus mengerti pula, bahwa mereka akan mendapat tugas ganda di Tanah Perdikan ini.”

Demikianlah, maka Gandar pun segera mengumpulkan para pemimpin kelompok serta para Bekel yang tersebar di padukuhan-padukuhan. Dengan jelas Gandar menceriterakan kepada mereka, apa yang telah terjadi pada pasukan Tanah Perdikan Sembojan di perjalanan dan di sarang para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi.

“Ternyata bahwa aku masih harus kembali untuk membawa lagi sekelompok kecil pasukan para pengawal Tanah Perdikan ini.” berkata Gandar kemudian. Lalu, “Tetapi dengan pengertian bahwa pasukan yang akan berangkat harus pasukan yang menyadari akan perjalanan yang bakal ditempuh.”

Gandar pun telah menguraikan kemungkinan yang dapat terjadi, serta perjalanan yang berat yang harus mereka lakukan, Apalagi jika saatnya mereka bertemu dengan para pengikut Ki Rangga Gupita.

“Mereka seolah-olah telah kehilangan kesadaran mereka. Mereka seakan-akan tidak lagi mempergunakan nalar dan perasaan mereka masing-masing. Sehingga karena itu, maka seolah-olah kita akan menghadapi sekelompok orang yang tidak menyadari tentang dirinya sendiri dan apa yang dilakukannya. Untuk itu diperlukan bukan hanya ketrampilan dan kemampuan bermain senjata, tetapi juga ketabahan menghadapi orang-orang yang demikian.” berkata Gandar.

Para Bekel dan para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Dari ceritera Gandar mereka mendapat gambaran apa yang akan mereka hadapi jika mereka harus pergi menyusul pasukan Tanah Perdikan yang terdahulu.

Dalam pada itu maka Gandarpun berkata, “Aku mendapat tugas untuk membawa lima puluh orang pengawal lagi menyusul pasukan yang terdahulu. Tetapi dengan pengertian, bahwa kelima puluh orang itu harus mengerti benar tugas dan kemungkinan yang bakal terjadi. Karena itu, maka kelima puluh orang itu sifatnya adalah suka rela.

Meskipun demikian kita akan memilih yang terbaik diantara mereka. Jika jumlahnya ternyata kurang dari lima puluh itupun tidak menjadi soal. Yang penting yang akan berangkat bersamaku harus menyadari benar apa yang mungkin terjadi.”

Pertemuan itu ditutup dengan beberapa persoalan yang dikemukakan oleh para Bekel dan pemimpin kelom­pok yang akan mengumpulkan para pengawal yang akan pergi bersama Gandar. Merekapun kemudian telah me­nentukan batas terakhir dari pernyataan kesediaan seseo­rang untuk dengan suka rela ikut serta dalam pasukan ke­cil itu.

“BESOK, menjelang senja adalah saat terakhir. Di malam itu kita akan menentukan siapa saja yang benar-benar akan dapat ikut berangkat, karena disamping kesediaan juga kita akan menilai kemampuan seseorang. Lima puluh orang adalah sekadar ancer-ancer. Jika tidak dipenuhi karena pertimbangan-pertimbangan tertentu tidak akan ada kaitan,” berkata Gandar kemudian.

Demikianlah, maka setelah pertemuan itu selesai, para Bekel dan para pemimpin kelompok pun tidak menyia-nyiakan waktu. Demikian mereka sampai ke padukuhan mereka masing-masing, maka mereka pun segera melakukan perintah Gandar. Ki Bekel dan pemimpin pengawal di padukuhan segera memanggil para pengawal dari segala tataran.

Mereka pun telah mendapat penjelasan sebagaimana Gandar menjelaskan kepada para Bekel dan pemimpin kelompok di padukuhan. Mereka pun telah menjelaskan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas mereka yang berangkat. Karena itu, maka pembentukan pasukan sekarang ini adalah berdasarkan atas suka rela.

Para pengawal Tanah Perdikan itu mengangguk-angguk. Ketika mereka mendengarkan penjelasan tentang lingkungan yang akan mereka datangi, maka mereka pun mendapat gambaran selengkapnya, apa yang mungkin terjadi atas mereka.

Namun ternyata semua itu tidak menggetarkan sehelai bulu pun bagi para pengawal itu. Mereka justru telah berebut menyatakan kesediaan mereka untuk pergi menyusul pasukan mereka yang terdahulu.

“Kemungkinan untuk kembali dan tidak kembali sama besarnya,” berkata pemimpin kelompok itu. “Karena itu pertimbangkan baik-baik.”

“Telah kami pertimbangkan baik-baik,” jawab salah seorang pengawal. “Kematian bukannya persoalan manusia. Sebagaimana kelahiran, maka kematian itu tergantung kepada Yang Maha Agung. Pergi ke medan atau tidak pergi, jika kematian itu datang, maka ia akan menyergap kapan saja dikehendaki.”

Pemimpin kelompoknya mengangguk-angguk. Lalu, katanya, “Baiklah. Kita akan menyampaikan nama-nama kalian yang bersedia itu kepada Gandar. Selambat-lambatnya esok sore. Di malam harinya para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan akan menentukan siapakah di antara kita yang akan berangkat. Mungkin untuk satu padukuhan akan diambil hanya lima atau enam orang anak muda,” pemimpin kelompok itu terdiam sesaat. Namun kemudian katanya, “Tetapi harus juga disadari, bahwa para pengawal yang tinggal pun akan mendapat beban berat. Mungkin justru mereka yang harus bertempur mati-matian. Jika Ki Rangga menghindari pertempuran di barak-barak dan goa-goa sarang mereka, dan justru malahan datang ke Tanah Perdikan yang mereka anggap kosong itu, maka kita yang tinggal itulah yang akan bertempur mati-matian.”

“Karena itu, segalanya kami serahkan saja kepada Yang Maha Agung. Namun kita sudah berusaha sejauh dapat kita lakukan. Karena itu, maka bagiku tidak ada persoalan jika aku diperkenankan menyusul pasukan yang terdahulu,” berkata seorang pengawal.

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ternyata semua orang di antara para pengawal telah menyatakan kesediaannya. Adalah kewajiban para pemimpin Tanah Perdikan ini untuk memilih.”

Demikianlah, maka ternyata disemua padukuhan terjadi hal yang serupa. Tidak seorang pun yang menyatakan dirinya berkeberatan untuk berangkat menyusul para pengawal yang terdahulu.

Ketika hal itu kemudian disampaikan kepada Gandar yang kemudian melaporkannya kepada Iswari, maka Iswaripun merasa betapa besar dukungan anak-anak muda itu atas kepemimpinannya. Karena itu maka katanya kepada Gandar, “Kita wajib berterima kasih kepada para pengawal,khususnya dan anak-anak muda pada urlumnya atas sikap mereka yang sangat mernbesarkan hati itu.”

“Ya Nyai” jawab Gandar, “ternyata mereka benar-benar telah menyerahkan segala-galanya bagi kepentingan Tanah Perdikan ini.”

“Kau jangan membuat mereka kecewa. Yang tidak terpilih harus tetap merasa bahwa mereka sangat diperlukan oleh Tanah Perdikan ini.” berkata Iswari.

Gandar mengangguk-angguk. Memang para pengawal itu tidak boleh merasa diri mereka dibeda-bedakan. Baik tingkat kemampuan mereka maupun tanggung jawab mereka.

Karena itu, maka setelah batas waktu yang ditentukan oleh Gandar selesai, maka sekali lagi ia berbicara dengan para pemimpin kelompok dan para bekel. Gandar ternyata memerlukan pertimbangan mereka untuk menentukan siapakah diantara para pengawal dari padukuhan-padukuhan yang akan ditunjuk untuk berangkat ke sarang para pengikut Ki Rangga dan Warsi.

Dengan berbagai macarn pertimbangan. maka akhirnya Gandar akan membawa tidak hanya lima puluh orang, tetapi justru lebih banyak. Semua yang akan pergi bersama Gandar adalah tujuh puluh orang.

Namun dalam pada itu Gandar telah berpesan kepada para pemimpin padukuhan. Baik pemimpin pengawal maupun Ki Bekel, agar yang tidak terpilih tidak merasa dirinya dianggap kecil.

Demikianlah dihari berikutnya, para pemimpin ke lompok di setiap padukuhan telah memberitahukan kepada para pengawal, siapakah yang akan berangkat dan siapakah yang harus menunggui padukuhan masing-masing, karena kemungkinan buruk itu justru akan terjadi di Tanah Perdikan itu sendiri.

Sebagaimana dipesan oleh Gandar, maka para pemimpin penigawal di padukuhan-padukuhan itu berusaha untuk tidak membuat para pengawal yang tidak terpilih itu menjadi kecewa. Tetapi karena yang terpilih itu hanya sebagian kecil, dan yang tinggal justru lebih banyak, maka mereka yang tinggal memang tidak merasa dianggap tidak berarti meskipun mereka kecewa juga karena tidak dapat ikut berangkat. Keinginan itu juga didorong oleh keinginan untuk menempuh satu kesempatan petualangan yang menarik bagi anak-anak muda.

Ternyata Gandar tidak banyak membuang waktu. Dengan para penghubung dari Pajang ia sudah mengatur waktu. Pasukan yang dibawanya itu akan bertemu dengan pasukan Pajang sebagaimana pernah dilakukan yang kemudian bersama-sama menuju ke sasaran.

Karena itu, maka setelah segala persiapan dilakukan dengan saksama, termasuk persediaan makanan dan persediaan-persediaan lain yang mungkin mereka per lukan, maka pasukan itupun telah siap untuk berangkat. Pasukan kecil itu telah mohon diri kepada Nyai Wiradana dengan berkumpul di halaman. Dengan penuh kesediaan untuk berkorban maka pasukan itu telah siap berangkat.

Iswari sempat memberikan beberapa pesan. Namun kemudian katanya, “Segalanya, hitam putihnya, baik buruknya, jaya hancurnya Tanah Perdikan ini memang terletak ditangan anak-anak mudanya. Dan kalian telah menunjukkan, bahwa kalian dengan penuh tanggungjawab telah menyatakan kesediaan kalian untuk menyusun dan menentukan masa depan dari Tanah Perdikan ini.”

Pesan Iswari itu telah memberikan dorongan yang lebih besar lagi bagi para pengawal itu untuk berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikan mereka.

Ketika semuanya sudah siap, maka Gandarpun telah minta diri kepada Nyai Wiradana, kepada orang-orang tua yang ikut mengendalikan kepemimpinan Tanah Perdikan itu disekitar Nyai Wiradana, dan kepada seluruh r,akyat Tanah Perdikan yang diwakili oleh para Bekel dari padukuhan-padukuhan diseluruh Tanah Perdikan.

Sesaat kemudian, maka iring-iringan itupun telah berangkat. Seperti yang terdahulu, maka mereka memang sepasukan kecil yang akan berangkat ke medan perang yang berat.

Karena itu, bagaimanapun juga, maka beberapa orang ibu yang melepaskan anak mereka pergi, telah menitikkan air mata. Bukan karena ia tidak rela anaknya ikut serta menegakkan Tanah Perdikan Sembojan, tetapi kewajaran seorang ibu yang melihat anaknya pergi dengan kemungkinan untuk tidak kembali lagi.

Beberapa saat kemudian, pasukan itu telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Namun Gandar yang telah banyak dikenal oleh Kademangan disekitarnya, tanpa kesulitan apapun lewat melintas jalan-jalan dan bahkan padukuhan-padukuhan di Kademangan itu.

Sekali-kali pasukan Gandar memang harus berhenti. Tetapi bukan karena hambatan. Tetapi Gandar lah yang merasa perlu untuk memberikan penjelasan jika pasukan itu melewati padukuhan induk sebuah Kademangan atau justru melihat sekelompok orang yang nampaknya bertanya-tanya tentang pasukannya.

Namun karena Gandar mengambil jalan yang pernah dilaluinya bersama pasukannya yang terdahulu, maka orang-orang yang melihat pasukan itu pun segera menjadi jelas oleh keterangan Gandar yang singkat.

Ternyata pasukan itu sama sekali tidak mendapat hambatan diperjalanan. Sesuai dengan persetujuannya dengan Prajurit Pajang, maka kedua pasukan itu telah bertemu di Kademangan Kedung Waringin.

Dari Kedung Waringin pasukan dari Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan itu langsung menuju ke tempat pasukan induk mereka menunggu.

Namun dalam pada itu, peristiwa yang terjadi di sarang para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu telah diketahui oleh mereka. Ketidakhadiran orang-orang dari sarang itu dalam pertemuan yang telah ditentukan telah menimbulkan kecurigaan. Ketika hal itu dilaporkan kepada Ki Rangga dan Warsi, maka Ki Rangga pun segera memerintahkan beberapa orang pilihan di antara bekas prajurit Jipang untuk mengamati tempat itu.

“Berhati-hatilah,” pesan Ki Rangga. “Jika kalian tertangkap, maka kalian akan diperas untuk menunjukkan sarang-sarang kita yang lain. Namun kalian harus berusaha untuk tidak mengatakannya. Apapun yang terjadi atas kalian, maka kalian adalah pahlawan-pahlawan Jipang yang berjuang untuk menegakkan Jipang kembali.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata selanjutnya, “Jika terpaksa kalian harus menunjukkan salah satu sarang, maka katakanlah bahwa yang kau ketahui adalah sarang yang telah kita kosongkan itu karena Rampak tertangkap di Tanah Perdikan Sembojan itu.”

Demikianlah maka beberapa orang pilihan dari bekas prajurit Jipang itu telah berangkat menuju kesarang mereka yang telah direbut oleh pasukan Pajang dan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan sangat hati-hati mereka mendekati tempat itu dimalam hari. Orang-orang yang bertugas itu, selain orang-orang pilihan juga orang-orang yang telah mengenal medan itu sebaik-baiknya.

Dengan demikian, mereka dapat mendekati goa dan barak-barak itu tanpa melalui satu-satu jalan yang menuju ke sarang itu. Justru karena mereka sempat melakukannya dengan hati-hati dan perlahan-lahan.

Di dalam gelapnya malam orang itu mendekati tebing. Selangkah demi selangkah. Mereka merayap berpegangan batu-batu padas yang kuat.

Demikianlah, maka mereka pun telah muncul beberapa puluh langkah dari mulut goa diseberang pelataran goa itu. Sedangkan yang lain merayap dari arah belakang dan muncul dibelakang barak-barak yang terdapat disisi goa.

Dari tempat mereka itu, maka mereka segera melihat bahwa yang berjaga-jaga di mulut goa itu bukan lagi kawan-kawan mereka, tetapi para prajurit Pajang. Sementara itu yang muncul dari belakang barak, sempat memasuki halaman barak itu dan dengan sangat berhati-hati mengamati keadaan.

Ternyata mereka pun menjadi yakin, bahwa sepasukan yang kuat telah berada dibekas sarang mereka itu.

Orang-orang yang berada di belakang barak itu pun sempat melihat prajurit yang bertugas berjaga-jaga. Tetapi karena prajurit itu sama sekali tidak menduga, bahwa seseorang akan dapat mencapai barak itu dari arah belakang, maka agaknya mereka memang menjadi agak kurang berhati-hati.

Tetapi orang-orang yang memasuki barak itu dari arah belakang memang tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya sekadar mengamati keadaan. Karena itu setelah mereka menganggap cukup, maka mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Namun mereka tidak turun lewat tebing yang curam itu di malam hari. Tetapi karena mereka melihat kemungkinan untuk keluar lewat samping, maka merekapun telah mengambil jalan itu. Meskipun mereka mengerti, bahwa mereka akan sampai ke jalan setapak, satu-satunya jalan yang menghubungkan barak itu dengan dunia luar.

Tetapi dimalam hari, dalam jarak yang agak jauh, maka mereka yakin bahwa prajurit Pajang tidak akan berkeliaran sampai kesana.

Lewat jalan setapak itu, mereka menuju ketempat yang telah ditentukan, untuk dapat bertemu dengan kawan-kawan mereka yang mendekati barak dan goa itu dari arah yang berbeda.

Mereka ternyata sempat saling bertemu sebagaimana direncanakan. Bersama-sama mereka menuruni tebing untuk melaporkan hasil pengamatan mereka kepada Ki Rangga dan Warsi.

“Setan alas” Ki Rangga mengumpat dengan kasar. “Orang-orang Pajang memang gila. Darimana mereka tahu bahwa di tempat itu terdapat sarang kita yang cukup besar.”

“Mungkin dari orang-orang kita yang tertangkap” jawab bekas prajurit Jipang yang baru saja melaporkan pengamatannya atas pasukan Pajang itu.

”Hal itu memang mungkin saja terjadi. Agaknya orang-orang Pajang telah mempergunakan cara apapun untuk memeras keterangan kawan-kawan kita yang berhasil mereka tangkap. Agaknya daya tahan seseorang memang berbeda. Tentu ada diantara orang-orang kita yang tidak mampu bertahan terhadap tekanan itu dan mengatakan apa yang mereka ketahui. Tetapi jelas bukan dari Damar dan Saruju. Mereka belum pernah datang ketempat itu.” berkata Ki Rangga.

“Memang sulit untuk mengetahui dengan pasti, apa saja yang sudah diketahui oleh setiap orang didalam lingkungan kita” berkata Warsi, “yang kita anggap belum mengetahui, ternyata sekali ia pernah mendapat tugas untuk menghubungi seseorang ditempat itu.”

“Mungkin sekali.terjadi” sahut Ki Rangga, “tetapi sekarang apa yang harus kita lakukan. Orang-orang Pajang itu tentu berhasil menangkap hidup sebagian dari orang-orang kita. Demikian rapatnya mereka mengepung, sehingga tidak seorangpun yang dapat lolos.”

“Jalannya hanya satu” jawab bekas prajurit Jipang yang telah melihat goa dan barak itu, “jika jalan itu sudah ditutup, maka memang sulit bagi orang-orang kita untuk keluar.”

“Tetapi bukankah mereka dapat turun lewat tebing?” bertanya Warsi.

“Terlalu sulit untuk langkah yang tergesa-gesa. Seandainya ada juga yang mencoba, maka dengan anak panah, orang itu akan menjadi sasaran yang mapan” jawab bekas prajurit Jipang itu.

Raden Rangga dan Warsi itupun mengangguk-angguk. Namun jantung mereka rasa-rasanya hampir pecah karena menahan gejolak kemarahan. Bukan saja karena sepasukan mereka yang cukup kuat telah dihancurkan, tetapi juga karena sebagian harta benda yang telah mereka kumpulkan jatuh ketangan orang-orang Pajang.

Dalam pada itu, maka Ki Rangga itupun kemudian bertanya, “Menurut perhitunganmu, apakah mungkin kita mengumpulkan pasukan sejumlah orang-orang yang ada di barak itu?”

“Aku kira mungkin Ki Rangga” jawab bekas prajurit Jipang itu, “jika kita mempunyai waktu tiga hari saja, maka kita akan sempat menarik semua orang disegala tempat dan mendatangi barak itu. Menurut penglihatan kami, mereka berada dibarak sebagaimana orang-orang kita berada dibarak. Memang mungkin jumlah mereka sedikit lebih banyak dengan beberapa kelompok kecil yang sedang bertugas. Sementara itu sekelompok lain sedang mengawasi kawan-kawan kita yang tertawan.”

“Jika demikian, maka kita akan menyerang mereka. Kita akan memasuki barak itu dimalam hari dengan cara sebagaimana kalian tempuh. Kami akan dengan cepat menyergap mereka dan menghancurkan mereka tanpa ampun. Kita tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbagan-pertimbangan apapun lagi. Kita harus menguasai tempat itu, berapapun kita harus membunuh.” berkata Ki Rangga.

“Hal itu memang mungkin. Sebagian dari kita akan merayap naik lewat tebing. Baik dari depan maupun dari belakang. Jika kita sudah memasuki barak itu dan mengacaukan mereka, maka kawan-kawan kita yang lain, yang telah bersiap di jalan setapak itu, akan menyerbu masuk. Mudah-mudahan kita akan berhasil. Kita akan, memusnahkan mereka. Yang kurang mengenal medan, tentu akan berlari-larian. Sebagian dari mereka akan terjerumus ke jurang-jurang yang dalam itu. Yang menelusur di sisi belakang disudut barak itu, mungkin tidak akan segera mati. Tetapi tangannya dan kakinya tentu akan patah. Meskipun larnbat, orang itu akhirnya tentu akan mati juga.” jawab bekas prajurit Jipang itu.

Ki Rangga dan Warsi pun kemudian menyusun rencana dengan seksama. Mereka minta bekas prajurit yang memasuki barak itu bersama beberapa orang kawannya menjelaskan keadaannya, agar Ki Rangga dan Warsi mempunyai bahan yang lengkap bagi rencananya itu.

“Kita tidak boleh gagal,” berkata Ki Rangga., “Jika kita gagal maka kita akan menjadi semakin lemah.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga, jika mereka gagal dan tidak lagi mempunyai kekuatan yang cukup, maka Warsi dan Ki Rangga akan surut selangkah. Mereka harus melepaskan keinginan untuk sementara menegakkan kedudukan di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka harus mundur dan untuk sementara bersembunyi di padepokan mereka yang nampaknya tenteram dan damai.

Ki Rangga pun berpikir demikian pula. Namun Ki Rangga masih juga berkata di dalam hatinya,, “Anak itu tidak mempunyai arti apa-apa lagi.”

Tetapi bagi rakyat Sembojan sendiri, mereka tentu tidak akan menolak Puguh seandainya Risang benar-benar sudah mati.

Dengan demikian maka akhirnya Ki Rangga dan Warsi itu sampai pada kesimpulan, bahwa mereka harus mengirimkan penghubung kesemua sarang yang masih ada. Semua orang harus dikumpulkan ditempat yang ditentukan. Kemudian mereka bersama-sama menyerang para prajurit Pajang, dengan cara seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga, dengan cara seperti yang dilakukan oleh beberapa orang yang telah memasuki barak dan melihat-lihat mulut goa yang dijaga oleh para prajurit Pajang.

“Ingat,” berkata Ki Rangga. “Di dalam goa itu terdapat banyak sekali harta benda yang dapat kita pergunakan untuk menegakkan kembali Jipang atau untuk membeli kesetiaan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

Sebenarnya Warsi pun menganggap demikian. Tetapi setiap kali masih terbersit harapan, bahwa anak itu akan dapat membawanya kembali memasuki Tanah Perdikan Sembojan, meskipun Warsi sadar, bahwa Pajang tentu akan ikut menghalangi.

“Kita harus menyelamatkannya,” desis salah seorang bekas prajurit Jipang yang melihat di mulut goa itu beberapa prajurit Pajang bersiaga.

Namun jika mereka menyerang dengan laku seperti yang akan mereka tempuh, maka dengan isyarat, sekelompok orang akan berloncatan naik dari sisi tebing langsung menyerang para penjaga yang tidak menduga sama sekali itu. Pada saat mereka menikam setiap orang, maka mereka melepaskan isyarat, agar kawan-kawan mereka yang menuju ke barak itu lewat jalan lain, segera memasuki arena. Sementara itu yang memasuki barak dari belakang telah membakar barak-barak dengan prajurit Pajang yang masih tidur nyenyak di dalamnya.

Tetapi untuk itu mereka memang memerlukan waktu tiga hari.

Meskipun demikian, rencana itu memang benar-benar akan dilaksanakan. Ki Rangga benar-benar telah mengirimkan utusan kesemua sarang yang ada. Disamping perintah itu, maka pada sarang yang mereka pergunakan untuk menyimpan harta benda, diperintahkan supaya segera dipindahkan. Mereka harus dapat menemukan tempat yang dapat dipersiapkan dengan cepat dan tersembunyi. Kalau perlu ditimbun dengan batu-batu padas agar jejaknya tidak mudah diketahui.

“Tetapi orang-orang yang menyimpan harta benda itu tidak perlu ikut bersama kami menyerang pasukan Pajang yang telah menduduki satu di antara barak-barak kami,” berkata Ki Rangga. “Setidak-tidaknya ada orang yang mengetahuinya dan tetap hidup.”

Demikianlah, persiapan itu benar-benar berlangsung tiga hari. Setelah semuanya benar-benar telah siap, maka sekali lagi, bekas prajurit Jipang yang pernah datang ke barak itu ditugaskan untuk sekali lagi mengamati keadaan.

Ternyata ketika bekas prajurit itu dengan beberapa orang kawannya memasuki barak itu lagi, suasana sama sekali masih belum berubah. Namun mereka menjadi lebih cermat menghitung kekuatan para prajurit Pajang itu.

Dengan gembira mereka memastikan bahwa jumlah prajurit Pajang itu tidak terlalu jauh dibandingkan dengan jumlah kawan-kawan mereka yang ada di barak itu sebelumnya.

Dengan menarik semua kawan mereka dari semua tempat, kecuali dari padepokan yang tersendiri itu yang dibuatnya bersuasana damai, maka Ki Rangga dan Warsi telah mempersiapkan satu sergapan balasan.

Meskipun demikian jumlah orang-orang mereka lebih sedikit. Tetapi sergapan itu akan memberikan kesempatan kepada Ki Rangga dan orang-orangnya untuk mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya tanpa belas kasihan, sehingga pada saat mereka menyadari jumlah mereka telah jauh berkurang.

Dengan cermat maka Ki Rangga pun telah membagi orang-orangnya. Sebagian akan naik tebing dan langsung sampai ke mulut goa. Sebagian yang lebih besar akan naik lewat lereng dibelakang barak itu. Kelompok ini agak lebih besar dari kelompok yang akan muncul di depan goa. Sedangkan kelompok yang terakhir akan menyergap melalui jalan yang menghubungkan sarang itu dengan dunia luar. Kelompok ini adalah kelompok yang terbesar.

Pada saat-saat terakhir, maka Ki Rangga telah mengumpulkan semua pemimpin kelompok. Dengan tegas Ki Rangga memberikan beberapa petunjuk dan perintah terakhir. Bahkan disertai dengan ancaman dan larangan-larangan.

“Nah,” berkata Ki Rangga. “Kalian adalah prajurit. Lakukan semua perintahku sebagaimana seorang prajurit melakukan perintah panglimanya. Kalian pun harus menyampaikan semuanya kepada setiap prajurit. Ingat, semua pengingkaran dan pengkhianatan atas perintahku, hukumannya adalah hukuman mati.”

Para pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk. Mereka pun segera kembali kepada kelompok mereka masing-masing. Mereka pun telah menyampaikan semua perintah Ki Rangga dengan segala macam ancaman hukuman. Seperti Ki Rangga, maka para pemimpin kelompok itu pun berkata, “Setiap pelanggaran dan pengkhianatan, hukumannya adalah hukuman mati.”

Perintah itu benar-benar merupakan perintah yang harus ditaati. Mereka menganggap Ki Rangga Gupita benar-benar sebagai pemimpin tertinggi mereka yang akan dapat membangun Jipang kembali.

Karena itu, maka tidak seorang pun di antara mereka yang akan berani melanggar perintahnya. Sebagaimana para bekas prajurit yang bertempur sampai mati diplataran goa yang disergap oleh para prajurit Pajang, maka bekal itu pulalah yang dibawa para bekas prajurit Jipang itu.

Tetapi yang ikut dalam sergapan itu bukan saja bekas-bekas prajurit Jipang. Di antara mereka terdapat juga bekas para pengikut Kalamerta. Namun agaknya mereka pun menganggap bahwa perintah Ki Rangga dan sudah barang tentu atas persetujuan Warsi itu memang tidak dapat dilanggar. Memang kepatuhan mereka terhadap setiap paugeran agak berbeda dengan para bekas prajurit Jipang. Namun setelah bergaul dan berbuat bersama dalam banyak hal, maka para pengikut Kalamerta yang jumlahnya lebih sedikit itu merasa tidak berani menentang sikap yang berlaku di antara para bekas prajurit Jipang yang keras dan patuh itu.Jika para pengikut Kalamerta itu semula termasuk orang-orang kasar dan tidak diikat oleh paugeran maka setiap orang bekas prajurit Jipang itu adalah orang-orang yang kasar dan tidak diikat oleh paugeran yang keras pula. Yang akhirnya paugeran ini pun telah menjerat para pengikut Kalamerta. Apalagi karena Warsi sendiri selalu mengatakan kepada mereka, bahwa mereka harus menyesuaikan dirinya dengan para bekas prajurit Jipang, sehingga di dalam lingkungan mereka hanya akan terdapat satu warna kehidupan.

Semula hal itu sama sekali tidak menarik bagi para pengikut Kalamerta. Karena itu, ada beberapa di antara mereka yang memilih hidup menurut cara dan jalan mereka masing-masing. Namun sebagian besar dari mereka ternyata telah mematuhi perintah Warsi dan ayahnya yang merupakan garis penerus dari Kalamerta itu.

Bahkan kawan-kawan mereka yang memisahkan diri itu, akhirnya harus terbunuh oleh kekuatan para pengikut Kalamerta yang lain bersama para bekas prajurit Jipang dibawah pimpinan Ki Rangga itu, karena mereka dianggap hanya akan mengganggu saja dilingkungan jelajah para pengikut prajurit Jipang itu.

Demikianlah, maka akhirnya hanya terdapat satu puncak kekuasaan yang dipegang oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi. Dua orang yang berilmu tinggi melampaui kebanyakan orang dalam lingkungan olah kanuragan.

Dalam pada itu, setelah semuanya jelas bagi setiap orang dalam pasukan Ki Rangga Gupita itu, maka pasukan itu pun telah berangkat. Mereka memperhitungkan perjalanan mereka sampai di tujuan menjelang gelap Mereka mendapat kesempatan untuk mengatur diri sebaik-baiknya. Kemudian mereka sempat beristirahat sampai menjelang dini hari. Di dini hari mereka mulai merayap naik. Sebelum fajar menyingsing mereka harus sudah menyergap lawan di mulut goa dan di barak itu.

Dengan demikian, ketika matahari terbit, maka seluruh pasukan Jipang akan menghadapi lawan yang sudah menjadi sangat lemah oleh sergapan yang tiba-tiba itu.

Demikian cermat perhitungan Ki Rangga dan Warsi, maka setiap orang dari pasukannya telah membawa bekal makanan yang akan dapat mereka makan sebelum pertempuran terjadi. Mereka tidak akan sempat membuat api dan memasak di tempat, karena dengan demikian akan mengundang perhatian para prajurit Pajang.

Pada saat terakhir maka semua pimpinan kelompok telah memperingatkan. Dihadapan kalian adalah prajurit-prajurit Pajang yang memiliki kemampuan bertempur sangat tinggi. Karena itu kalian harus mampu menunjukkan, bahwa prajurit Jipang tidak kalah tinggi kemampuannya dari mereka.”

Seperti yang diperhitungkan, maka mereka mendekati sasaran menjelang senja. Mereka berhenti pada jarak tertentu. Hanya mereka yang akan mendekati sasaran lewat jalan yang lain sajalah yang kemudian mulai bergerak. Sebagian menuju ke lereng di hadapan mulut goa dan yang lain menuju ke arah belakang barak. Jalan yang mereka tempuh memang bukan jalan yang mudah. Tetapi cukup sulit dan rumit. Kadang-kadang mereka harus berjalan melekat pada tebing bukit. Apalagi dalam gelapnya malam. Tidak semua orang di antara mereka mengenali medan dengan baik. Justru hanya beberapa orang sajalah yang tahu pasti, medan disekitar barak itu.

Namun dengan sangat hati-hati dan dengan isyarat tertentu mereka berhasil melalui jalan melingkar menuju ke tempat yang telah ditentukan.

“Kita akan naik,” desis para pemimpin kelompok. Baik yang akan muncul di depan mulut goa, maupun yang akan sampai ke bagian belakang barak.

Ternyata menjelang tengah malam mereka baru sampai ditempat masing-masing yang jaraknya cukup jauh. Sementara itu induk pasukan mereka pun telah bergerak pula mendekati sasaran. Jika mereka menerima isyarat, maka mereka akan segera menyergap masuk ke dalam lingkungan barak dan goa itu melalui jalan setapak.

Tengah malam seluruh pasukan itu sempat beristirahat. Baik yang berada di induk pasukan, maupun yang berada di tempat yang terpisah. Yang mendapat tugas mendaki sampai ke mulut goa dan yang bertugas memanjat sampai ke bagian belakang barak.

Namun tempat yang mereka pergunakan memang tidak terlalu luas. yang berada di bawah tebing di depan mulut goa dan dibelakang barak itu harus mencari tempat yang menebar. Mereka beristirahat dimanapun ada tempat yang agak luang.

Sementara itu, yang berada di jalan setapak itu membutuhkan jarak yang panjang. Di jalan itu pula mereka berbaring silang melintang tanpa menghiraukan pakaian mereka yang menjadi kotor oleh keringat dan debu. Namun pada umumnya pakaian mereka bukanlah pakaian yang bersih.

Meskipun ujung dari pasukan Ki Rangga itu hanya berjarak beberapa puluh langkah dari barak, namun ekornya terletak di tempat yang agak jauh.

Beberapa orang di antara mereka memang dapat dengan serta merta tidur nyenyak. Tetapi yang lain masih harus bercakap-cakap dengan kawannya. Bagaimanapun, perasaan mereka juga disentuh oleh kegelisahan karena mereka didini hari akan bertempur dengan prajurit Pajang. Menurut pengalaman, bahwa prajurit Pajang dimanapun adalah prajurit pilihan yang sulit untuk diatasi kemampuannya. Apalagi dalam pertempuran dalam satu kesatuan.

Bahkan beberapa orang untuk mengatasi kegelisahannya justru telah berjalan hilir mudik, sementara yang lain duduk di atas batu sambil berdendang perlahan-lahan. Seolah-olah ia telah menyalurkan gejolak di dalam hatinya lewat suara tembangnya.

Namun tanpa mereka ketahui dua orang yang telah berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan setapak itu terkejut. Mereka tiba-tiba terhenti beberapa belas langkah dari orang yang berdiri di paling ujung. Keduanya mendengar suara orang bercakap-cakap dan bahkan berdendang perlahan-lahan.

Keduanya menjadi termangu-mangu. Untuk sesaat keduanya berusaha mendengarkan percakapan mereka. Semula mereka mengira bahwa para prajurit Pajang telah meronda sampai ke tempat itu.

Namun sejenak kemudian mereka mendengar suara tertawa ditempat yang agak lebih jauh. Namun suara tertawa itu tiba-tiba telah berhenti.

“Sangat mencurigakan,” bisik salah seorang dari keduanya.

“Ya,” desis yang lain. “Cepat. Kau pergi ke induk pasukan. Laporkan kepada Senapati, agar pasukan itu menghentikan perjalanan. Jangan mendekat lagi. Aku akan berada disini untuk melihat lebih jauh, siapakah mereka.”

Orang yang pertama termangu-mangu. Namun kawannya mendesaknya, “Cepat, sebelum terlambat.”

Orang itu pun kemudian bergeser surut. Dengan sangat berhati-hati maka ia pun telah menghilang dalam kegelapan, kembali menyusuri jalan yang baru saja dilaluinya. Sementara kawannya telah tinggal dan mengamati keadaan.

Dari pembicaraan yang didengar lamat-lamat, kadang-kadang terdengar kadang-kadang tidak, maka orang itu mengambil kesimpulan bahwa mereka bukannya para prajurit Pajang yang sedang meronda. Bahkan ia pun mengambil kesimpulan bahwa jumlah orang-orang yang berada ditempat itu, disepanjang jalan setapak itu, cukup banyak.

Setelah meyakinkan diri, maka orang itu pun dengan hati-hati telah menarik diri pula meninggalkan tempat itu kembali ke induk pasukannya.

Kedua orang itu adalah pengamat yang harus berjalan mendahului pasukan induk. Karena itu, maka mereka pun kemudian telah berada kembali di antara pasukan induknya.

Orang yang lebih dahulu kembali ke pasukan induk itu masih belum dapat memberikan banyak keterangan selain menghentikan pasukan itu. Baru ketika kawannya menyusulnya, maka ia dapat memberikan laporan yang lebih terperinci tentang orang-orang yang mereka temui di jalan setapak itu.

Senapati itu pun kemudian berbicara dengan Gandar dan beberapa orang perwira yang lain. Kesimpulan mereka adalah, bahwa orang-orang Ki Rangga dan Warsi telah mengepung barak itu dan berusaha untuk mengambil kembali apa yang pernah dirampas oleh para prajurit Pajang.

“Apa yang harus kita lakukan?” bertanya Senapati itu.

Gandar termangu-mangu sejenak, sementara Senapati itu berkata selanjutnya, “Apakah kira-kira para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan mengetahui bahwa mereka telah dikepung?”

“Aku kira belum,” sahut orang yang mengamati orang-orang yang ada di tengah jalan sambil berbaring-baring itu. “Nampaknya orang-orang yang sedang mengepung itu pun sedang beristirahat. Mungkin mereka menunggu fajar. Baru mereka akan menyerang.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita harus menemukan cara untuk memberikan peringatan kepada orang-orang yang berada di barak itu. Beruntunglah mereka jika mereka sudah mengetahui. Jika belum maka mereka akan ditikam selagi mereka masih tidur.”

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Padahal sulit untuk mencapai tempat itu tanpa melalui jalan setapak. Padahal di jalan setapak itu, orang-orang Ki Rangga betebaran.”

Senapati itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Bagaimana dengan tebing bukit ini?”

“Maksud Senapati?” bertanya Gandar.

“Apakah ditebing sebelah menyebelah jalan setapak itu terdapat ilalang, atau rerumputan kering atau gerumbul-gerumbul yang dapat dibakar?” bertanya Senapati itu.

Gandar mengangguk-angguk. Nampak Senapati itu cepat mendapat akal. Rerumputan dan ilalang kering dilereng bukit itu akan dibakarnya.

“Aku sependapat,” jawab Gandar. “Sebaiknya kita berusaha membakar tebing di lereng sebelah jalan setapak itu.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Mereka akan memandang ke arah yang berbeda. Namun kita harus bersiap sepenuhnya. Mungkin mereka justru mengarahkan serangannya kepada kita.”

Seorang perwira yang termangu-mangu tiba-tiba saja berkata, “Menurut perhitungan wajar, mereka baru akan menyerang menjelang atau pada saat dini hari. Karena itu, bagaimana jika kita menunggu sampai saat-saat menjelang dini hari itu. Atau kita mengirimkan orang yang harus mengawasi sampai saatnya mereka bersiap.”

“Satu pikiran yang tepat,” sahut Senapati itu. “Jika demikian maka aku menugaskan dua orang yang sejak semula telah melihat orang-orang itu. Mereka akan dapat menyesuaikan dirinya dan berusaha mencari tempat yang paling baik. Tetapi jangan hanya berdua. Sebaiknya kalian berempat. Tetapi tidak bersama-sama.”

Demikianlah, maka empat orang telah merangkak mendekati tempat orang-orang yang sedang beristirahat di jalan setapak itu. Ternyata di antara mereka masih terdapat beberapa orang yang belum dapat tidur. Namun agaknya dua orang yang berdiri tegak dengan senjata telanjang di ujung kelompok itu adalah dua orang yang bertugas.

Keempat orang itulah yang kemudian menempatkan dirinya di balik gerumbul-gerumbul perdu. Dari tempat mereka, mereka dapat melihat meskipun tidak jelas, orang-orang yang sedang beristirahat itu. Namun sudah tidak terdengar lagi di antara mereka yang masih bercakap-cakap.

Ternyata empat orang itu harus menunggu cukup lama. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi terkantuk-kantuk, sehingga kawannya memberi isyarat agar ia tidur saja.

“Tetapi jangan mendekur,” bisiknya.

Kawannya menggeleng. Ia justru kehilangan kantuknya dan duduk menghadap ke arah kegelapan.

Keempat orang itu memang merasakan tugas mereka sangat berat. Lebih baik berbuat sesuatu meskipun berbahaya dari pada duduk menunggu seperti itu.

Namun akhirnya waktu pun telah mendekati dini hari. Karena itu, maka orang-orang yang sedang beristirahat itu pun telah dibangunkan meskipun tanpa menimbulkan suara gaduh, agar tidak didengar oleh orang-orang Pajang yang berada di Barak.

Ketika keempat orang itu melihat orang-orang yang beristirahat di jalan setapak itu sudah dibangunkan, maka dua orang di antara mereka telah bergeser surut dan kembali ke induk pasukan.

Seorang di antara mereka mengumpat, “Anak iblis. Kami yang harus merangkak dan bersembunyi dibalik gerumbul menjadi makanan nyamuk, sementara yang lain tertidur nyenyak.”

Tetapi Senapati pasukan itu tidak tertidur. Ia tetap terjaga meskipun tubuhnya juga merasa letih. Pasukan itu berjalan dari Kedung Waringin sampai ke tempat itu tanpa beristirahat. Mereka memang pernah berhenti diperjalanan. Tetapi hanya sekadar duduk-duduk sejenak. Karena belum lagi mereka merasa beristirahat yang sebenarnya, barisan itu harus sudah berangkat lagi.

Ketika mereka diselubungi oleh gelapnya malam, seorang perwira di antara mereka bertanya, “Apakah kita akan bermalam?”

“Mana yang lebih baik. Bermalam disini, atau sekaligus kita capai padepokan itu kira-kira ditengah malam. Kita akan dapat beristirahat dengan sepuas-puasnya ditempat yang memadai,” bertanya Senapati pasukan itu.

“Kita berjalan terus,” sahut perwira yang lain.

Bahkan kemudian para perwira memang menghendaki agar pasukan itu berjalan terus.

Namun ternyata bahwa akhirnya pasukan itu pun berhenti di jalan.

Dalam kelelahan beberapa orang memang sudah sempat tertidur meskipun hanya sambil bersandar. Namun hal itu telah cukup memberikan kesempatan bagi mereka untuk beristirahat.

Kedua orang itu pun segera melaporkan, bahwa orang-orang yang tidur disepanjang jalan setapak menuju ke barak itu telah dibangunkan dengan hati-hati agar tidak menumbuhkan kegaduhan.

“Baik,” desis Senapatinya. “Kita juga akan bersiap.”

Dengan hati-hati pula orang-orang yang sedang tidur itu pun, dibangunkannya. Para prajurit yang bertugas harus membangunkan kawan-kawannya, agar mereka siap menghadapi segala kemungkinan.

Sebenarnyalah, Senapati itu pun telah memerintahkan beberapa orang menyalakan api dengan membakar rerumputan kering di lereng.

“Mudah-mudahan api itu dapat membuat orang-orang yang ada di barak itu bersiap sedia, sehingga dengan demikian mereka tidak akan dapat ditikam dalam mimpinya.”

Beberapa orang, termasuk Gandar pun segera merayap melintasi jalan setapak dan turun perlahan-lahan di sisi sebelah timur jalan. Tebing memang belum begitu curam seperti jika mereka berada di mulut goa atau di belakang barak.

Ketika mereka menyalakan titikan, maka kawan-kawannya yang lain berusaha untuk menutupnya dengan kain panjangnya, agar loncatan apinya tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Namun ketika tiba-tiba saja ilalang di lereng itu terbakar oleh beberapa obor yang dilemparkan, barulah api itu menarik perhatian. Minyak yang terdapat di dalam obor, atau biji-biji jarak yang dirangkai, ternyata telah mempercepat berkobarnya api.

Para pemimpin kelompok dari para pengikut Ki Rangga memang menjadi heran. Mereka tidak melihat bunga api memercik. Mereka tidak melihat tanda-tanda apapun juga, sehingga akhirnya api itu sudah menjalar.

Para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu menjadi gempar. Api itu benar-benar membuat mereka menjadi bingung. Bahkan Ki Rangga dan Warsi pun dengan tangkasnya telah meloncat diikuti oleh beberapa orang pengawalnya menuju ketempat api itu mulai menjalar.

Tetapi mereka tidak menemukan seorang pun. Orang-orang yang telah membakar ilalang itu sudah pergi.

“Kita percepat keadaan,” teriak Ki Rangga.

Karena itulah, maka Ki Rangga telah memerintahkan orang-orangnya untuk dengan cepat menyerang.

“Kita tidak usah menunggu isyarat,” teriaknya.

Para pemimpin kelompok pun tanggap. Ki Rangga tentu tidak ingin kehilangan waktu. Selagi orang-orang Pajang belum bersiap sepenuhnya, pasukan Ki Rangga itu telah memasuki barak dan mulut goa.

Sementara itu, para bekas prajurit Jipang yang memanjat tebing telah mencapai lebih dari separo. Menjelang dini mereka memang sudah mulai memanjat. Mereka harus berlaku hati-hati karena banyak hambatan.

Ternyata api itu memang mampu menarik perhatian. Mereka yang bertugas di plataran goa segera melihat api di bagian bawah lereng bukit itu. Namun mereka pun segera menganggap bahwa peristiwa itu bukan peristiwa wajar. Karena itu, maka mereka pun dengan segera telah melaporkan kepada Senapatinya, tentang apa yang dilihatnya.

Senapati pasukan Pajang itu pun segera memerintahkan kawannya seorang demi seorang di barak itu bangun. Mereka membangunkan kawannya seorang demi seorang. Dari mulut ke mulut mereka diberi tahukan bahwa dibawah lereng bukit itu terdapat api yang menyala tidak sewajarnya.

Sejenak kemudian, maka seisi barak itu telah terbangun. Demikian pula mereka yang berada di mulut goa. Sebagai prajurit dan pengawal maka mereka pun dengan cepat mempersiapkan diri mereka. Senjata merekalah yang pertama-tama diraihnya dan bersiap untuk dipergunakan.

Pada saat yang demikian, Ki Rangga dan Warsi telah memerintahkan pasukannya untuk menyerang tanpa menunggu isyarat dari mereka yang memanjat tebing. Justru Ki Rangga lah yang kemudian meneriakkan perintah, semua orang agar langsung menyerang dimanapun mereka berada.

Memang beberapa bagian dari kelompok-kelompok yang memanjat tebing di depan mulut goa dan dibelakang barak sudah mencapai tanggul. Sebagaimana pasukan yang dipimpin langsung oleh Ki Rangga dan Warsi, maka mereka yang sudah melintasi tanggul itu pun telah menyerang pula dengan serta merta.

Kehadiran mereka dari segala arah memang mengejutkan. Ketika para prajurit Pajang dan anak-anak muda Tanah Perdikan Smebojan bersikap menyongsong kehadiran induk pasukan lawan yang dipimpin oleh Ki Rangga dan Warsi dengan tergesa-gesa karena mereka baru saja dibangunkan kawan-kawan mereka, maka tiba-tiba saja diplataran mulut goa dan di bagian belakang dari barak mereka telah menyusup para bekas prajurit Jipang pula.

Karena itu, maka mereka pun segera terlibat ke dalam pertempuran. Sementara pasukan penyerang datang membanjir, maka para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan masih ada yang termangu-mangu di dalam barak.

Tetapi teriakan-teriakan dan sorak yang mengguruh telah mengisyaratkan kepada mereka, bahwa pertempuran telah berlangsung.

“Jadi merekalah yang kini menyerang kita,” desis seorang prajurit Pajang yang memang sudah mendapat penjelasan bahwa kemungkinan itu mungkin saja terjadi.

Demikianlah, maka para prajurit dan pengawal dari Sembojan itu pun segera telah turun di medan pertempuran. Menjelang fajar, maka langit masih nampak suram.

Karena itulah, maka mereka yang bertempur itu pun menjadi sangat hati-hati agar mereka tidak salah menusuk punggung kawan sendiri.

Sebenarnyalah, bahwa para bekas prajurit Jipang itu pun merasa kecewa. Mereka ingin menemukan para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan itu masih tidur. Mereka ingin membunuh sebanyak-banyaknya sebelum mereka harus bertempur.

Tetapi yang ditemuinya ternyata berbeda. Meskipun masih belum siap benar, tetapi orang-orang Pajang itu telah terbangun dan telah siap untuk melawan ketika mereka turun ke halaman barak atau mereka yang berada di mulut goa.

Namun para pengikut Ki Rangga dan Warsi, bekas prajurit-prajurit Jipang itu memang luar biasa. Mereka dengan garangnya menyergap lawan-lawan mereka tanpa ampun.

Namun prajurit Pajang pun sejenak kemudian telah menjadi garang pula. Mereka pun kemudian telah memutar senjata mereka. Apalagi yang bersenjata tombak pendek. Seolah-olah tombak itu telah menjadi baling-baling ditangan prajurit Pajang yang mumpuni.

Sejenak kemudian pertempuran telah berkobar dimana-mana. Semakin lama orang-orang yang menyerang lewat lereng di depan mulut goa dan dibelakang banjar itu pun menjadi semakin banyak.

Sementara itu para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan harus dibagi. Mereka yang menghadapi para bekas prajurit Jipang yang memanjat tebing dan mereka yang harus menghadapi lawan yang menyerang lewat jalan setapak.

Para prajurit Pajang tidak sempat membuat perhitungan, berapa bagian di antara mereka yang harus berada di plataran, di halaman belakang barak dan di depan barak untuk menahan arus pasukan yang kuat dan akan memasuki barak itu dari jalan setapak.

Dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung pun telah dengan tergesa-gesa mengatur pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak memecah pasukannya. Mereka membawa pasukannya untuk menghadapi pasukan induk para pengikut Ki Rangga yang dipimpin oleh Ki Rangga dan Warsi sendiri.

Namun dalam pada itu, ketika orang-orang yang memanjat tebing itu sudah semuanya naik ke tanggul, maka ternyata bahwa bekas para prajurit Jipang yang menyerang itu jumlahnya memang agak lebih banyak. Dengan demikian prajurit Pajang harus bekerja keras untuk menahan serangan itu.

Sebenarnya serangan itu memang sudah diperhitungkan kemungkinannya sejak mereka menduduki tempat itu. Namun mereka tidak menyangka bahwa serangan itu datang demikian tiba-tiba dan datang dari segala arah seperti yang terjadi. Tidak seorang pun diantara prajurit Pajang dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang mengira bahwa serangan itu akan datang pula dari arah tebing yang sangat curam itu.

Ketika langit kemudian menjadi semakin terang, maka nampak bahwa pertempuran telah berkobar dimana-mana. Senjata pun berdentang semakin cepat dan bunga api memercik keudara. Teriakan-teriakan memekakkan telinga terdengar disegala arah. Para pengikut Ki Rangga dan Warsi ternyata telah berteriak-teriak dengan kasar. Namun teriakan-teriakan itu memang berpengaruh atas pertempuran itu. Para prajurit Pajang dan para pengawal

Tanah Perdikan Sembojan merasa. seakan-akan lawan itu berada dimana-mana.

Ki Rangga dan Warsi yang kemudian menyaksikan pertempuran itu pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Ki Rangga berkata, “Sayang, ada pengkhianat yang agaknya memberikan isyarat dengan sengaja: Tanpa api itu, maka kita tentu akan dengan cepat dan mudah menumpas orang-orang Pajang.”

“Tetapi keadaannya tidak jauh berbeda” berkata Warsi, “nampaknya pasukan kita pun akan segera menguasai segala medan. Mereka telah terkejut melihat kehadiran pasukan.kita dari arah tebing. Arah yang sama sekali tidak mereka perhitungan.”’

Sebenarnyalah bahwa orang-orang Pajang yang tergesa-gesa itu kurang dapat menempatkan diri. Meskipun lambat laun pertahanan mereka menjadi mapan, namun keterkejutan mereka atas kehadiran lawan dari arah tebing itu masih saja membuat mereka kurang yakin akan pertahanan yang mereka susun dengan tergesa-gesa itu.

Namun Senapati Pajang itu merasa berterima kasih atas timbulnya api di lereng. Api yang telah mengguncang perasaan para penjaga yang melihatnya sebagai satu hal yang tidak wajar. Sehingga dengan demikian mereka sempat membangunkan para prajurit dan pengawal yang ada dibarak. Meskipun persiapan mereka kurang mapan tetapi keadaan mereka menjadi jauh lebih baik daripada seandainya mereka tidak mendapat isyarat itu. Sengaja atau tidak sengaja. Seandainya tidak ada api yang menyala di tebing dan membakar ilalang, maka orang-orang Jipang itu akan memasuki barak-barak dan membunuh sekehendak hati mereka. Dengan demikian maka perlawanan selan­jutnya akan menjadi sangat lemah.

Ki Rangga Gupita dan Warsi masih belum turun langsung ke medan. Mereka masih mengamati keadaan pasu kan mereka. Terutama yang datang melalui jalan setapak dan langsung menyergap ke pintu-regol barak yang sebenarnya tidak berarti apa-apa lagi, karena dindingnya sudah lebih dahulu terbuka dan belum diperbaiki.

Menurut pengamatan Ki Rangga dan Warsi, maka mereka pasti akan mampu menghancurkan para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang mempertahankan tempat itu.

”Kita akan dapat membalas sakit hati kita dan sekaligus mendapatkan kembali harta benda kita yang ada didalam goa itu. Aku kira orang-orang Pajang itu belum sempat membawanya pergi. Menurut perhitunganku, mereka justru masih akan mendatangi sarang-sarang kita yang lain. Dengan tamak mereka tentu ingin mendapat harta benda lebih banyak lagi.” berkata Ki Rangga.

“Mereka tidak akan menyerahkan barang-barang rampasan itu kepada Pajang. Mereka tentu akan membagi barang-barang berharga itu diantara mereka sendiri.” sahut Warsi.

”Tetapi ternyata mereka tidak mendapatkan kesempatan itu.” Ki Rangga tertawa.

Dalam pada itu, pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Pasukan Pajang perlahan-lahan mampu mengatur diri diantara kelompok-kelompok mereka. Semakin .langit menjadi terang, maka semakin jelaslan bagi mereka yang bertempur itu, siapakah lawan dan siapakah kawan. Namun prajurit Pajang ternyata masih belum sempat mengenakan pakaian keprajuritan mereka selengkapnya. Bahkan ada diantara mereka yang bertempur dalam pakaian yang mereka pergunakan untuk tidur sambil mengikatkan kain panjang mereka di lambung.

Namun bahwa mereka telah terbangun itu, bagi mereka adalah satu pertolongan yang besar atas nyawa mereka, karena mereka sempat memberikan perlawanan, sehingga bekas para prajurit Jipang itu tidak sempat memasuki barak-barak selagi mereka masih tidur.

MESKIPUN demikian, maka para prajurit Pajang itu memang melihat bahwa lawan mereka ternyata tidak lebih sedikit dari jumlah mereka, bahkan agak lebih banyak.

Senapati yang memimpin pasukan Pajang itu bergumam, “Darimana Rangga Gupita sempat mengumpulkan orang sebanyak itu. Bekas prajurit Jipang dan sebagian kecil anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang sempat mereka racuni itu, ternyata masih dapat dihimpunnya kembali.”

Namun satu kali Senapati itu melihat sekelompok di antara para pengikut Ki Rangga itu yang mempunyai ciri yang lain dari prajurit Jipang. Karena bagaimanapun juga, ciri dari prajurit Jipang itu masih dapat dikenalinya meskipun mereka telah bergeser dari sikap dan perjuangan mereka sebagai prajurit.

“Inilah yang mungkin disebut bekas pengikut Kalamerta itu,” berkata Senapati itu.

Sebenarnyalah bahwa jumlah yang besar dari para pengikut Ki Rangga itu memang terdiri dari bekas prajurit Jipang yang dapat dihimpunnya. Bukan saja yang semula berada di pasukan Jipang yang berada di sebelah Timur Pajang. Tetapi bekas prajurit Jipang yang melarikan diri dari arena dan medan yang manapun juga, ditambah dengan bekas para pengikut Kalamerta. Satu gerombolan yang besar dan yang seakan-akan kehilangan ikatannya sepeninggal Kalamerta sendiri.

Namun ternyata bahwa keberanian dan tekad prajurit Pajang pun tidak kalah besarnya dengan orang-orang Jipang. Jika pada saat para prajurit Pajang menyerang tempat itu, maka bekas para prajurit Jipang bertahan tanpa mengenal gentar, demikian pulalah yang dilakukan oleh para prajurit Pajang. Meskipun mereka menyadari bahwa kekuatan mereka lebih kecil dari para pengikut Ki Rangga dan Warsi, namun tidak terbersit dihati untuk melepaskan kewajiban mereka itu.

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung berada ditengah-tengah anak-anak muda Tanah Perdikan. Keduanya telah memberikan dorongan jiwani kepada para pengawal, karena Sambi Wulung dan Jati Wulung mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat mereka perhitungkan dengan nalar mereka.

Karena itulah, maka meskipun para pengawal Tanah Perdikan Sembojan tidak memiliki kemampuan besar yang lebih baik dari para prajurit, namun mereka pun sama sekali tidak bergeser dari tempat mereka melakukan perlawanan.

Sementara itu, dari jarak yang agak jauh namun masih dapat menyaksikan dengan jelas, dua orang pengamat yang mengikuti pertempuran itu. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Pasukan yang menyerang itu terlalu kuat.”

“Kita laporkan kepada Senapati, agar ia dapat cepat mengambil langkah pengamanan bagi para prajurit Pajang dan para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan,” desis salah seorang di antara mereka, “Agaknya para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan mengalami tekanan yang sangat kuat.”

Kedua orang itu pun dengan cepat telah menarik diri dan segera melaporkan apa yang telah mereka lihat.

Senapati pasukan Pajang itu pun segera berbicara dengan Gandar. Sesuai dengan laporan itu, maka keduanya sependapat bahwa mereka harus segera terjun ke medan.

“Kita akan menyerang dari belakang garis pertempuran dari pasukan Ki Rangga dan Warsi. Memang mungkin terjadi, bahwa kemarahan Ki Rangga dan Warsi itu akan tertuju kepada kita, apabila keduanya ada di dalam pasukannya. Karena itu, maka kita harus membentuk kekuatan untuk melawan mereka.

Gandar menjadi termangu-mangu. Sebenarnya ia dapat menyatakan kesediaan untuk melawan seorang di antara mereka. Tetapi ia merasa segan, bahwa ia akan dapat menyinggung perasaan Senapati itu.

Namun ia pun kemudian berniat menyatakan dirinya untuk bergabung dengan kekuatan yang mungkin merupakan sekelompok orang-orang terpilih.

Sebenarnyalah bahwa Senapati itu telah menyatakan dirinya melawan salah seorang di antara mereka berdua, sedangkan ia telah menunjuk tiga orang perwira lainnya untuk melawan yang seorang lagi.

“Tetapi kita belum pasti, bahwa keduanya ada di dalam pasukannya. Tetapi sebagaimana pernah kita dengar, keduanya memiliki kemampuan yang tinggi. Keduanya adalah murid dari perguruan yang baik sebelum mereka, terutama Ki Rangga Gupita, memasuki kesatuan sandi pasukan Jipang,” berkata Senapati itu.

Dalam kesempatan itu, maka Gandar telah menyatakan diri untuk bergabung dengan ketiga orang perwira yang disiapkan untuk melawan Ki Rangga Gupita itu.

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan jika kau memang bermaksud demikian. Tetapi sebaiknya kau mengetahui bahwa Ki Rangga maupun Warsi adalah orang-orang yang berilmu tinggi.”

Demikianlah maka setelah semuanya disiapkan sebaik-baiknya, maka Senapati itu pun telah memerintahkan pasukan itu untuk berangkat naik melalui jalan setapak dan menyerang pasukan Ki Rangga dari arah belakang.

“Tetapi kita harus berhati-hati,” berkata Gandar kepada Senapati itu. “Mudah-mudahan ujung dari pasukan ini dapat mencapai dataran di atas itu. Jika Ki Rangga cepat berpikir dan menyumbat mulut lorong itu, maka kita akan mengalami kesulitan, karena pasukan kita yang lain akan terhenti dibelakang medan yang sangat sempit.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Senapati itu.

“Orang-orang terpilih harus berada di ujung pasukan. Mereka mendapat tugas untuk membuka sumbatan itu jika hal itu memang dilakukan oleh Ki Rangga,” berkata Gandar.

“Baiklah,” berkata Senapati itu. Lalu katanya, “Aku dan beberapa orang perwira yang terpilih akan berada di ujung pasukan.”

“Jika diperkenankan,” minta Gandar. “Apakah aku juga diperbolehkan bersama enapati?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Bagaimana dengan pasukanmu?”

Gandar menyadari, bahwa Senapati itu tidak begitu senang mendengar permintaannya setelah ia juga minta untuk ikut melawan salah seorang di antara pemimpin dari pasukan penyerang itu.

Namun Gandar tidak memperdulikannya. Maka itu jawabannya, “Aku sudah menyerahkan persoalan pasukan kecil dari Tanah Perdikan itu kepada pemimpin-pemimpin kelompok. Namun jika aku diperkenankan ikut di ujung pasukan, setidak-tidaknya aku dapat menjadi penunjuk jalan.”

Senapati itu kemudian menyahut, “Terserah kepadamu.”

Gandar tidak menjawab. Namun ia pun kemudian telah bergabung dengan para perwira yang bertugas menjadi paruh dari pasukan yang akan melibatkan diri ke dalam pertempuran itu.

Sejenak kemudian maka pasukan itu pun mulai bergerak. Mereka menyusuri jalan yang sempit naik ke lereng bukit. Mereka menuju ke sebuah dataran yang agak luas di atas bukit itu.

Gandar lah yang paling berdebar-debar. Bukan karena ia menjadi cemas tentang dirinya yang berada di ujung pasukan itu. Tetapi ia justru cemas bahwa pasukan lawan akan menyumbat mereka di jalan sempit, sehingga pasukan mereka tidak akan banyak berarti. Mereka yang berada di belakang tidak akan segera dapat ikut bertempur karena mereka akan tetap berada di belakang garis benturan yang sempit. Sedang sebelah menyebelah jalan itu terdapat lereng yang terjal.

Untuk beberapa saat, lawan yang sedang bertempur di sekitar barak itu tidak menyadari, bahwa pasukan yang lain sedang merayap naik. Beberapa puluh langkah lagi mereka akan sampai ke sasaran. Karena itu, maka Gandar pun telah menyampaikan usul, “Berilah kesempatan kepadaku dan para perwira ini untuk mendahului. Dalam kelompok kecil kami dapat maju sambil merunduk dan lebih cepat sampai ke ujung lorong sebelum perhatian mereka tertuju kepada kami. Sementara itu yang lain pun setelah kami beri isyarat harus dengan cepat menyusul di belakang. Kami akan dapat memanfaatkan gerumbul-gerumbul yang ada disebelah menyebelah jalan itu.”

“Tidak banyak gunanya,” desis Senapati itu.

“Biarlah pasukan ini tinggal di sebelah kelokan sampai saatnya kami memberikan isyarat,” berkata Gandar.

Senapati itu termangu-mangu. Namun nampaknya Gandar sangat yakin akan sikapnya.

“Isyarat apa yang akan kau berikan?” bertanya Senapati itu.

“Lihatlah ke arah kami. Kami akan melambaikan tangan kami,” jawab Gandar.

Senapati itu pun kemudian tidak berkeberatan. Beberapa orang perwira termasuk Gandar telah mendahului pasukan. Mereka mengendap-endap dari balik gerumbul di pinggir jalan setapak itu ke gerumbul berikutnya. Tetapi mereka harus sangat berhati-hati, agar mereka tidak terjerumus masuk ke dalam jurang.

Ternyata pasukan Ki Rangga tidak segera melihat mereka, karena pasukan itu sedang terlibat dalam pertempuran yang sengit. Setiap orang hanya memperhatikan orang-orang yang ada disekitarnya, karena setiap kelengahan akan berarti kematian.

Meskipun kemudian sudah mulai nampak bahwa pasukan para pengikut Ki Rangga mulai mendesak. Tetapi perlawanan Pajang dan para pengawal dari Tanah Perdikan tidak mulai susut.

Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata mampu mengguncangkan hati lawan-lawannya. Kemampuannya yang melampaui kemampuan para prajurit itu, benar-benar menggetarkan. Setiap kali, maka seorang telah tersisih dari medan. Berturut-turut.

Dengan demikian maka para pengawal pun menjadi berbesar hati. Betapapun besar tekanan atas mereka, namun mereka rasa-rasanya tidak akan dapat dikalahkan oleh para bekas prajurit Jipang itu.

Pada saat-saat yang sangat gawat itulah, seorang demi seorang, para perwira Pajang dan Gandar bergeser maju. Dari gerumbul yang satu bergeser ke gerumbul berikutnya.

Namun akhirnya mereka berhenti beberapa langkah dari mulut lorong sempit itu, yang dapat dicapainya dengan beberapa loncatan saja.

Sejenak kemudian, maka Gandar pun telah memberikan isyarat kepada pasukan Pajang yang berhenti di kelokan yang menurun, sehingga tidak mudah nampak dari arena pertempuran, kecuali jika mereka yang di atas dengan sengaja menjenguk ke bawah ke jalan yang berliku-liku turun. Mungkin mereka akan dapat melihat sebuah pasukan yang merayap seperti ular.

Seorang yang mengawasinya di kelokan, melihat isyarat itu. Dengan serta merta, maka ia pun telah memberikan isyarat kepada Senapati yang berdiri di ujung pasukan.

Tanpa menunggu lagi, maka pasukan itu pun segera berjalan dengan cepat. Naik beberapa langkah dan kemudian timbul dari kelokan, seperti ular yang muncul dari lubang sarangnya.

Sampai beberapa saat lamanya pasukan itu berlari-lari kecil tanpa dilihat seorang pun. Namun kemudian bekas prajurit Jipang yang justru bertempur di halaman baraklah yang lebih dahulu melihat iring-iringan itu. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berteriak, “Hati-hati. Pasukan itu datang.”

Teriakan itu tidak segera mendapat tanggapan. Sorak-sorai masih saja terdengar gemuruh di antara erang kesakitan.

Karena itu, maka ia berteriak sekali lagi, “Awas. Kita diserang oleh sebuah pasukan baru.”

Ketika orang yang lain sempat berpaling, mereka pun melihat pula kedatangan pasukan itu. Karena itu, maka ia pun berteriak pula keras-keras, “Hati-hati. Pasukan itu datang.”

Ternyata orang ketiga, keempat dan seterusnya melihat juga kehadiran pasukan itu, sehingga mereka pun telah berteriak-teriak pula sekuat-kuatnya. Bahkan seorang di antara mereka sempat menyibak dan berlari menuju ke belakang garis benturan antara para prajurit Pajang dan para pengikut Ki Rangga.

“Lihat,” orang itu berteriak dengan gugup. “Pasukan itu.”

Semula kawan-kawannya tidak tanggap. Namun ketika beberapa orang berpaling, maka mereka pun terkejut. Seorang di antara para pemimpin kelompok segera berlari menemui Ki Rangga dan Warsi yang sedang mengamati pertempuran itu dengan seksama. Ki Rangga dan Warsi sedang digayuti oleh bayangan kemenangan. Mereka bertekad untuk dapat membalas sakit hati dan mengambil kembali harta benda mereka yang telah dirampas oleh orang-orang Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika orang yang datang kepadanya itu dengan gugup memberitahukan bahwa telah datang sebuah pasukan baru, maka Ki Rangga dan Warsi terkejut bukan kepalang.

Namun mereka memang dapat mengambil keputusan dengan cepat. Karena itu, maka Ki Rangga pun berteriak, “Tutup jalan sempit itu dengan pasukan.”

Perintah itu pun segera tumimbal. Seorang pemimpin kelompok yang mendengarnya dengan cepat memerintahkan kepada kelompoknya untuk menutup mulut lorong yang memasuki dataran yang luas di atas bukit itu, agar pasukan itu tidak dapat masuk dan membantu kawan-kawannya yang sedang bertempur. Jika bagian ujung pasukan yang datang itu tertahan oleh sekelompok pasukan, maka yang berada di belakang akan menjadi sia-sia. Setidak-tidaknya untuk sementara. Sehingga Ki Rangga dan Warsi sempat menyelesaikan tugasnya menghancurkan orang-orang Pajang dan orang-orang Tanah Perdikan yang sudah lebih dahulu ada ditempat itu.

“Jika demikian, kita harus ikut serta,” berkata Ki Rangga. “Ya,” jawab Warsi.

“Aku sudah terdesak oleh keinginan untuk membantai orang-orang sombong itu.”

Demikianlah maka Ki Rangga dan Warsi pun telah bersiap-siap untuk memasuki arena. Sementara itu sekelompok pasukannya telah berlari-lari ke mulut lorong.

Pada saat yang hampir bersamaan, maka Ki Rangga telah menerima laporan, bahwa dua orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

“Darimana kau tahu, bahwa orang itu pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Bukankah prajurit-prajurit Pajang juga tidak sempat mengenakan tanda-tanda keprajuritan mereka?” bertanya Ki Rangga.

“Tetapi orang itu mengatakan sendiri. Sambil menikam orang itu berteriak, “Lawan aku, pengawal Tanah Perdikan Sembojan,” jawab orang yang melaporkan itu.

“Apa yang kalian lakukan untuk mengatasinya?” bertanya Ki Rangga.

“Orang itu telah dihadapi oleh tiga atau empat orang bersama-sama,” jawab orang itu.

“Bagus,” jawab Ki Rangga. Namun agaknya Warsi berpendirian lain. “Biarlah aku melihatnya, siapakah orang itu.”

Ki Rangga tidak mencegahnya. Ketika kemudian Warsi bergerak, maka ia pun justru mengikutinya.

Namun keduanya telah tertegun. Mereka melihat sekelompok pasukannya yang menyumbat mulut lorong itu menjadi kacau. Bahkan beberapa orang telah terdesak mundur. Seorang diantaranya telah terlempar jatuh. Kemudian disusul orang kedua dan orang ketiga.

“Gila,” geram Ki Rangga. “Apa yang terjadi?”

Ketika Ki Rangga meloncat ke mulut lorong itu, ia sudah terlambat. Pasukan itu telah ke mulut lorong yang tidak tersumbat karena Gandar dan beberapa orang perwira sempat menghentakkan kekuatan yang berusaha untuk menutup lorong itu. Dengan dorongan kekuatan yang mengejutkan, Gandar dan para perwira itu sempat mengoyak pasukan sekelompok yang terkejut ketika tiba-tiba saja muncul orang-orang dari balik gerumbul sementara perhatian mereka tertuju kepada pasukan yang berlari-lari mendekat itu.

Betapapun pasukan Ki Rangga itu berusaha, namun pasukan Pajang yang datang itu telah berhasil menerobos masuk sehingga mereka dapat membuka jalan untuk memberi kesempatan kawan-kawan mereka menghambur ke dataran yang cukup luas di atas bukit itu.

Ki Rangga menjadi sangat marah. Ternyata pasukan yang baru telah datang tepat pada waktu Ki Rangga dan Warsi hampir berhasil menghancurkan pasukan Pajang.

Dengan demikian maka pertempuran pun kemudian telah meluas. Sebagian dari pasukan Ki Rangga yang telah mendesak prajurit Pajang yang terdahulu itu telah berbalik dan melawan pasukan Pajang yang baru datang itu. Pasukan yang nampak lebih lengkap dengan pertanda dan ciri-ciri prajurit Pajang.

Demikianlah maka Ki Rangga dan Warsi telah mengamuk tanpa dapat dikekang lagi. Keduanya telah berusaha menghancurkan pasukan yang baru datang itu.

Namun seperti yang sudah direncanakan, maka Senapati pasukan Pajang itu telah menempatkan diri menghadapi Ki Rangga, sementara Gandar bertemu dengan Warsi. Namun tiga orang perwira telah lebih dahulu berhadapan dengan Warsi yang marah itu.

Untuk beberapa saat Gandar hanya memperhatikan pertempuran itu dari jarak tertentu. Gandar sendiri berada di antara para prajurit Pajang yang telah berada di dataran dipuncak bukit itu. Sebagian dari mereka telah mengalir ke hutan rindang di samping barak. Bahkan beberapa orang telah berusaha untuk membuat hubungan dengan kawan-kawan mereka yang lebih dahulu berada di tempat itu. Namun mereka masih mengalami kesulitan karena pertempuran yang seru terjadi melingkari barak dan mulut goa. Apalagi di antara mereka yang datang menyerang dari tebing yang langsung berada di pelataran goa dan dibelakang barak.

Kehadiran pasukan itu telah membesarkan hati kawan-kawan mereka yang telah merasa tertekan oleh kekuatan pasukan Ki Rangga. Para prajurit Pajang yang telah dikepung itu tiba-tiba merasa seakan-akan kepepatan di dadanya menjadi longgar kembali.

Karena itu, maka seakan-akan telah meledak kegembiraan di hati mereka, sehingga di luar sadar mereka, maka mereka telah menyambut kedatangan kawan-kawan mereka itu dengan sorak yang gemuruh.

Sementara itu betapa sendatnya, namun perlahan-lahan semua orang dalam pasukan yang baru datang itu telah berhasil memasuki arena. Mereka semuanya telah terlepas dari lorong yang sempit yang diapit oleh jurang yang cukup dalam.

Senapati Pajang yang bertempur melawan Ki Rangga Gupita itu ternyata telah engalami kesulitan. Ki Rangga, seorang perwira dari pasukan sandi Jipang itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bukan saja keterampilan dan kekuatannya bermain senjata, tetapi rasa-rasanya ia memiliki kelebihan yang tidak dapat dijajagi dengan nalar.

Karena itu, maka Senapati Pajang itu pun segera terdesak. Namun dengan demikian beberapa orang perwira yang melihat keadaannya segera tampil membantunya. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang baru hadir itu telah mampu menempatkan diri mereka dengan baik.

Senapati Pajang itu merasakan sesuatu yang tidak wajar pada lawannya. Rasa-rasanya udara disekitarnya menjadi panas sehingga lawan-lawannya tidak mampu mendekatinya.

Apalagi ketika Ki Rangga itu dengan sengaja berusaha untuk berada di dalam riuhnya pertempuran. Para prajurit Pajang disekitarnya termasuk senapatinya dan beberapa orang perwira Pajang yang melawannya, merasa betapa tenaganya tidak dapat dipergunakannya dengan wajar karena udara terasa menjadi sangat panas. Dalam keadaan yang demikian maka kemampuan perlawanan mereka pun menjadi jauh susut. Mereka seakan-akan telah kehilangan kesempatan untuk menggerakkan senjata.

Jika beberapa orang telah mengalami keadaan yang demikian, maka Ki Rangga dengan cepat bergeser menjauh. Sebelum orang-orang itu mampu memperbaiki keadaannya, maka para pengikutnya yang telah mengenali cara yang dilakukannya harus dengan cepat memburu ketempat itu dan menyelesaikan lawan-lawan yang kehilangan kekuatan itu.

Tetapi mereka tidak mudah untuk berbuat demikian atas prajurit Pajang, karena prajurit Pajang yang lain dengan cepat pula melindungi kawan-kawannya, sementara udara panas itu telah menyusut bersama Ki Rangga yang bergeser.

Meskipun demikian ternyata jatuh juga korban karena kelambatan prajurit Pajang elindungi kawan-kawannya itu.

Tetapi ternyata menghadapi prajurit Pajang yang berpengalaman Ki Rangga tidak banyak mempunyai kesempatan. Karena para prajurit Pajang itu dengan cepat pula berusaha mengatasi kelebihan Ki Rangga.

Karena mereka sulit untuk mendekat, maka para perwira Pajang itu telah menyerangnya dari jarak yang mungkin dapat mereka jangkau.

Beberapa orang perwira telah mempergunakan pisau-pisau belati kecil yang dilontarkan. Bahkan ada pula yang mempergunakan lembing dan tombak.

Ki Rangga Gupita menggeram. Dengan lantang ia berkata, “He, inikah prajurit-prajurit Pajang yang besar itu? Bertempur dengan licik dan tidak bertanggung jawab? Ayo, siapakah pemimpin tertinggi dari pasukan Pajang ini. Kita akan bertempur sebagai laki-laki. Seorang lawan seorang.”

Tetapi seorang perwira Pajang menyahut, “Kita berada di peperangan. Kita tidak berperang tanding. Karena itu kita tidak terikat pada ketentuan perang seorang lawan seorang.”

“Persetan,” geram Ki Rangga. Namun memang sulit baginya mengatasi lawan yang memiliki pengalaman yang luas meskipun secara pribadi mereka sama sekali tidak mampu mengimbangi kemampuannya.

Di bagian lain, Warsi telah bertempur pula dengan garangnya. Untuk melawan senjata yang teracu dari banyak arah, maka Warsi lebih senang mempergunakan senjata keras. Jika ia mempergunakan rantainya dan membelit senjata lawannya, ia tidak akan dengan cepat mampu mengatasi serangan berikutnya dari arah yang berbeda.

Karena itu, maka Warsi telah memilih mempergunakan pedang, meskipun rantainya dapat disiapkannya kapan saja ia inginkan.

Dengan pedang Warsi memang menjadi sangat garang. Senjata itu menyambar-nyambar dengan cepat dan sangat keras. Beberapa senjata di tangan lawannya telah bergetar dan bahkan ada yang terlepas. Namun seperti juga terjadi pada Ki Rangga, maka beberapa orang perwira yang berpengalaman telah mengepungnya dan membatasi geraknya.

Namun demikian para perwira itu kadang-kadang harus menebar. Pada saat-saat tertentu Warsi berhasil mengguncang kepungan itu. Bahkan beberapa kali ia berhasil lolos dan menyerang lawan-lawanna dengan sangat garang.

Namun setiap kali Warsi memang telah terjebak dalam kepungan untuk membatasi geraknya. Meskipun demikian, Warsi merupakan seorang yang disegani oleh lawan-lawannya.

Tetapi pada suatu saat, para perwira yang mengepungnya menjadi agak bingung. Tiba-tiba saja Warsi telah memberikan isyarat kepada beberapa orang pengikutnya. Sehingga dengan demikian maka beberapa orang telah datang membantunya.

Dengan demikian, maka mereka yang bertempur dalam satu kelompok kecil untuk melawan Warsi itu menjadi kesulitan. Para pengikut Warsi itu telah berusaha untuk mengurai kepungan mereka dan mengikat setiap orang dalam pertempuran melawan salah seorang di antara mereka.

Sekian banyak prajurit Pajang datang membantu, maka sekian banyak pengikut Warsi datang pula. Sehingga pertempuran pun menjadi semakin seru.

Tiga orang perwira yang mendapat tugas pokok melawan Warsi pun mengalami kesulitan. Sekali-kali mereka mendapat serangan dari para pengikut Warsi sehingga kadang-kadang memang hanya seorang saja di antara mereka yang sempat bertempur dengan perempuan yang garang itu.

Dalam pada itu, pertempuran di seluruh arena itu pun benar-benar berpengaruh oleh kehadiran pasukan Pajang. Mereka telah berhasil menyerap sebagian dari para bekas prajurit Jipang dan para bekas pengikut Kalamerta untuk melawan mereka, sehingga dengan demikian maka lawan dari para prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan yang terdahulu pun menjadi susut.

Dalam keadaan yang demikian maka baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung mendapat kesempatan lebih banyak untuk mengoyak pertahanan lawan mereka. Dengan kemampuan mereka yang tinggi, maka orang-orang Jipang dan bekas pengikut Kalamerta menjadi sibuk menghadapinya. Seperti sikap prajurit Pajang pula, maka bekas prajurit Jipang itu telah menghadapi Sambi Wulung dan Jati Wulung dalam kelompok-kelompok kecil.

Tetapi karena Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak terlalu banyak berpengalaman dalam perang kelompok, maka mereka tidak dapat berbuat seperti yang dilakukan Warsi.

Namun demikian, meskipun Sambi Wulung dan Jati Wulung bertempur seorang diri melawan sekelompok kecil lawan, namun keduanya merupakan hantu yang menakutkan bagi orang-orang Jipang dan bekas pengikut Kalamerta itu.

Sementara itu Gandar masih bertempur di antara para prajurit Pajang tidak jauh dari Warsi yang mampu membingungkan para perwira yang bertugas melawannya. Apalagi karena para pengikut Kalamerta mampu memisahkan orang-orang yang mengepung Warsi itu dengan para perwira. Bahkan beberapa orang kemudian sempat memaksa seorang perwira saja bertempur menghadapi Warsi karena para pengikutnya itu telah memancing pertempuran dengan perwira-perwira lain yang berada di sekitar Warsi.

Di mulut goa, pertempuran pun telah berkobar semakin dahsyat. Meskipun para prajurit Pajang yang datang kemudian belum berhasil membuat hubungan dengan mereka, namun para prajurit Pajang yang mempertahankan goa itu tidak lagi merasa mendapat tekanan yang berat, meskipun tekad mereka tidak kalah besarnya dengan tekad para bekas prajurit Jipang yang mempertahankan goa itu sebelumnya.

Dengan demikian maka para prajurit Pajang itu mulai dirayapi oleh harapan bahwa mereka akan dapat mengatasi sergapan lawan yang sangat mengejutkan itu.

Demikianlah suasana pertempuran itu dibeberapa bagian. Prajurit Pajang memang merasa bahwa himpitan lawan atas mereka menjadi semakin longgar. Mereka tidak tahu, berapa banyak kawan mereka yang datang. Tetapi menilik pembicaraan sebelumnya, maka yang datang itu tentu bukan pasukan yang sangat besar. Meskipun demikian mereka yang datang tepat pada waktunya mereka sangat diperlukan itu benar-benar dapat menyelamatkan pasukan Pajang yang hampir saja koyak. Jika pasukan itu telah koyak, maka untuk selanjutnya maka lawan-lawan mereka tidak lagi mempunyai hambatan untuk membantai mereka. Bahkan para pengikat Ki Rangga itu pun tidak akan dapat dikutuk karena melanggar paugeran perang.

“Tidak ada paugeran yang mengikat kami,” geram salah seorang pengikut Warsi itu.

Dalam pada itu, Warsi berhasil menghalau lawannya atas bantuan para pengikutnya, sehingga yang dihadapinya menjadi tidak lebih dari satu orang.

Tetapi para perwira Pajang yang merasa dirinya prajurit yang berpengalaman itu berusaha degan sekuat tenaganya untuk mengimbangi kemampuan Warsi.

Namun usahanya sia-sia saja. Bagaimana pun juga sulit baginya untuk mampu mengimbangi kecepatan garaknya, kekuatan ayunan pedangnya dan kekuatan-kekuatan lain yang memancar dari dalam dirinya.

Karena itu, maka sejenak kemudian perwira itu pun telah terdesak semakin keras, ia mulai merasa terhimpit oleh kekuatan ilmu perempuan yang garang itu.

Gandar yang bertempur di antara para prajurit Pajang itu sempat melihat, betapa seorang perwira mengalami kesulitan menghadapi Warsi. Karena itu sesuai dengan ijin yang telah diberikan oleh Senapatinya, maka ia pun perlahan-lahan mendekati lingkaran pertempuran itu.

Baru dalam keadaan yang paling sulit bagi perwira itu, justru pada saat Warsi sudah siap mengayunkan pedangnya pada saat perwira itu jatuh terbaring ditanah, Gandar meloncat mendekati sambil berdesis, “Bukan main. Kau benar-benar seorang perempuan yang luar biasa.”

Wajah Warsi tegang. Ayunan pedangnya itu telah membentur kekuatan yang mampu mengimbangi kekuatannya, sehingga pedangnya tergeser dan sama sekali tidak menyentuh perwira yang sudah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri itu.

“Gila,” geram Warsi. “Kau ganggu aku yang hampir saja berhasil mengajari prajurit Pajang untuk mengenal kenyataan, bahwa prajurit Pajang masih harus banyak berlatih dan menempa diri jika mereka ingin berhadapan dengan kami, penguasa Tanah Perdikan Sembojan yang sebenarnya.”

“Ah, sudahlah,” desis Gandar. “Aku mengakui kelebihanmu dari perwira itu. Tetapi kau tidak perlu mengigau tentang Tanah Perdikan Sembojan. Kalian tidak akan pernah dapat kembali lagi dengan cara apapun juga. Kasar atau lembut.”

“Persetan dengan kau,” bentak Warsi.

“Jika kau sudah berhasil meyakinkan orang Pajang bahwa kau memang tidak terkalahkan, maka biarlah sekarang aku membuktikan, bahwa orang-orang dari Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dapat kau kalahkan.”

“Iblis kau,” geram Warsi. “Alangkah sombongnya. Marilah kita buktikan, apakah yang meloncat dari mulutmu itu bukan sekadar bualan. Namun jika kau mati dan tubuhmu terkapar disini dan terinjak-injak, maka itu bukan salahku.”

Gandar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja sambil mengacukan ujung pedangnya.

Warsi pun mulai bergeser. Sementara itu perwira yang hampir saja dibunuhnya itu telah bangkit. Dengan jantung yang berdebar-debar ia melihat orang dari Tanah Perdikan Sembojan itu sedang bertempur melawan Warsi, yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

Perwira itulah yang kemudian mendekat sambil berkata, “Kita akan membunuhnya bersama-sama.”

Gandar tidak menjawab. Tetapi ia sempat memperhatikan wajah perwira itu sejenak. Namun kemudian perhatiannya telah tertuju kepada Warsi sepenuhnya.

Warsi melingkar hampir satu lingkaran penuh sehingga keduanya bergeser dari tempatnya. Dengan nada berat Warsi berkata, “Marilah orang se Tanah Perdikan, keroyok aku.”

Gandar yang sudah berhada dihadapannya menyahut, “Aku akan menghadapimu seorang melawan seorang, seperti seorang penari yang sedang melakukan tayub. Bukankah orang yang ngibing itu tentu juga hanya seorang, sebagaimana pernah kau lakukan?”

“Setan kau,” bentak Warsi.

Namun Gandar itu justru tertawa. Bagi perwira Pajang itu sikap Gandar memang kurang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga perwira Pajang itu berkata di dalam hatinya, “Apakah orang itu belum tahu bahwa Warsi memang berilmu sangat tinggi?”

Tetapi sejenak kemudian, telah terjadi pertempuran yang mendebarkan bagi perwira itu. Baik Warsi maupun Gandar telah bersenjatakan pedang, sehingga kedudukan keduanya memang seimbang. Yang penting kemudian, bagaimana kedua orang itu menguasai pedangnya.

Sejenak kemudian, Warsi pun mulai mengayunkan pedangnya. Sementara itu, Gandar pun telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapinya.

Sejenak kemudian kedua orang itu sudah terlibat dalam pertempuran yang semakin lama semakin sengit. Ternyata meskipun Warsi seorang perempuan, tetapi ia mampu meloncat-loncat dengan cepatnya. Namun Gandar pun memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka ia sama sekali tidak gentar menghadapi Warsi.

Ketika pedang mereka mulai beradu, dan getaran-getaran ilmu mereka berbenturan lewat senjata mereka, maka Gandar pun mulai menilai lawannya.

“Apakah perempuan itu mempunyai kelebihan dari Iswari?” bertanya Gandar kepada dirinya sendiri.

Demikianlah maka pertempuran antara Gandar dan Warsi itu pun semakin lama menjadi semakin cepat. Apalagi ketika mereka sudah mulai menambah dan meningkatkan ilmu mereka mulai gerak, sikap dan ayunan senjata mereka.

 

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 32.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s