SBB-28

<< kembali | lanjut >>

ORANG itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan selalu menghubungimu. Jika bukan aku, maka seseorang akan segera memperkenalkan dirinya.”

Saruju mengangguk-angguk.

Namun sepeninggalan orang itu, maka Saruju pun bergegas meninggalkan pasar itu. Ia langsung pergi ke rumah Damar. Untunglah Damar masih ada di rumahnya.

Dengan singkat Saruju menceriterakan pertemuannya dengan kepercayaan Ki Rangga itu dan minta agar Damar mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Damar mengangguk-angguk. Namun ia tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri, bahwa ia memang mulai terpengaruh oleh tata kehidupan Tanah Perdikan itu. Rasa-rasanya ia benar-benar mendapat ketentraman dan kedamaian. Berbeda dengan tata cara kehidupan di barak yang keras dan kasar itu. Meskipun para pemimpinnya selalu mengatakan bahwa suasana itu dipengaruhi oleh gejolak darah perjuangan mereka.

“Baiklah,” berkata Damar. “Aku akan berusaha untuk tidak salah ucap.”

“Di sekitar kita tentu banyak terdapat orang-orang yang selalu mengawasi kita,” berkata Saruju.

Damar mengangguk-angguk. Katanya, “Kita tidak dapat melepaskan diri dari keadaan ini. Kita adalah binatang buruan yang setiap saat akan dapat ditangkap, di jerat dan bahkan dibunuh sama sekali.”

Demikianlah, maka Saruju pun telah meninggalkan rumah Damar dengan hati yang berdebar-debar. Namun ia telah merasa lega bahwa ia sempat memberitahu Damar atas kehadiran kepercayaan Ki Rangga Gupita dan Warsi itu.

Ternyata yang dikatakan Saruju itu benar. Di pagi harinya, ketika Damar membuka air untuk mengairi sawahnya seorang telah berhenti di tanggul paritnya.

Damar menjadi berdebar-debar. Orang itulah yang dikatakan oleh Saruju Kepercayaan Ki Rangga Gupita.

“Bagaimana keadaanmu selama ini Damar?” bertanya orang itu

Damar tersenyum sambil melangkah mendekat. Jawabnya, “Baik Ki Sanak. Bagaimana dengan kau dan kerabat di rumah?”

“Semuanya baik,” jawab orang itu. “Apakah kau sudah kerasan disini?”

Damar tersenyum pula. Katanya, “Tanah ini adalah tanah kelahiranku. Aku memang kerasan tinggal disini seandainya Tanah ini dalam keadaan wajar.”

“Maksudmu? Apakah sekarang keadaannya tidak wajar?” bertanya orang itu.

“Aku memang ingin tinggal di kampung halaman ini untuk seterusnya,” berkata Damar. “Tetapi tidak dengan orang-orang pendatang yang tiba-tiba saja menduduki jabatan kepempimpinan di Tanah ini. Rasa-rasanya ada sesuatu yang menggelitik perasaan. Bukan karena aku mendapat tugas dari Ki Rangga Gupita. Tetapi sebagai anak Tanah Perdikan ini aku memang merasa tersinggung.”

Kepercayaan Ki Rangga Gupita itu mengangguk-angguk. Ia pun menganggap bahwa Damar masih juga termasuk orang yang dapat dipercaya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Syukurlah jika kau masih berpijak pada sikap seorang pejuang. Yang aku lihat selama ini seakan-akan kau telah tenggelam di dalam arus sikap dan pendapat anak-anak muda Tanah Perdikan ini yang telah kehilangan kiblat.”

“Aku memerlukan kepercayaan mereka,” berkata Damar. “Tanpa kepercayaan mereka, aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Ya. Kalian memang cerdik. Mudah-mudahan kalian berhasil. Kami, para pejuang akan selalu menghubungi kalian. Seorang yang lain akan datang kepada kalian. Ia akan menyebut nama anak Ki Wiradana yang lahir dari Nyi Wiradana, pemimpin kita.”

Damar mengangguk kecil. Sementara itu kepercayaan Ki Rangga itu pun telah minta diri.

Sambil memandang orang itu berjalan menyusuri bulak panjang menjauh, Damar menarik nafas dalam-dalam. Ia telah benar-benar terperosok ke dalam satu ikatan yang sulit untuk dipatahkannya. Ia harus berjalan terus betapapun ancaman ditelinganya, bahwa jika ia bergeser dari sikapnya, maka bukan saja ia sendiri, tetapi keluarganya akan menjadi korban.

Damar menarik nafas dalam-dalam.

Ketika orang yang menemuinya itu sudah hilang dikelokan jalan, maka Damar pun telah kembali ke pekerjaannya, mengairi sawahnya.

Siang itu Damar telah bertemu dengan Saruju di antara anak-anak Tanah Perdikan yang sedang mengerjakan bendungan. Tanpa didengar oleh orang lain, maka Damar telah menceriterakan kedatangan kepercayaan Ki Rangga sebagaimana pernah datang pula kepada Saruju.

“Apa katanya?” bertanya Saruju.

Damar pun telah menceriterakannya apa yang telah dikatakannya.

“Mudah-mudahan orang itu tidak menjadi curiga,” berkata Saruju.

Dengan demikian maka Saruju dan Damar menjadi semakin berhati-hati. Tetapi mereka merasa lebih tenang bekerja di antara anak-anak muda Tanah Perdikan justru setelah mereka mengatakan, bahwa hal itu mereka lakukan sekadar untuk mengelabuhi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.

“Apalagi kita tidak tergesa-gesa,” berkata Saruju kemudian, “Ki Rangga dan Nyi Wiradana tidak memberiku batasan waktu, sehingga kita sendirilah yang menentukan kapan kita akan melaksanakannya.”

Tetapi rasa-rasanya mereka memang enggan untuk melakukan secepatnya. Mereka masih ingin mengalami hidup tenang dan tentram. Merka masih ingin berada dilingkungan keluarga. Bermain dengan anak-anak sebaya dan mereka masih ingin melupakan dendam dan kebencian, kekasaran dan kekerasan. Di antara anak-anak muda yang sebaya, mereka sempat berkelakar. Kadang-kadang berbicara tentang sesuatu yang tidak ada ujung pangkalnya, melupakan kesibukan, bukan saja kewadagan, tetapi juga kejiwaan.

Baik Saruju maupun Damar kadang-kadang memang bertanya kepada diri sendiri, apakah benar bahwa mereka merasa tersinggung dengan kehadiran Iswari dan kakek serta neneknya. Serta kehadiran orang-orang lain dari luar Tanah Perdikan ini?

Lalu bagaimana dengan Warsi sendiri? Apakah ia seorang yang memang berasal dari Tanah Perdikan ini?

Namun kulit mereka merasa meremang ketika mereka menyadari bahwa nyawa mereka terancam. Bahkan keluarga mereka.

Meskipun demikian, keduanya memang agak terlalu lama menunggu kesempatan. Namun bukan saja terlalu lama, tetapi mereka memang menunggu kesempatan itu datang. Mereka sama sekali tidak mengusahakan kesempatan itu untuk diperolehnya.

Hampir di luar sadar mereka, maka hari demi hari berlalu. Minggu ke minggu berikutnya dan bahkan bulan telah lewat. Tetapi kesempatan itu tidak datang kepada Saruju dan Damar.

Apalagi untuk beberapa lama tidak seorang pun yang datang menghubungi mereka. Menanyakan atau menegur tentang tugas-tugas mereka.

Namun dalam pada itu, ketika Saruju sedang berada di tempat seorang pandai besi untuk membeli sebuah kapak pembelah kayu, seorang telah berjongkok disampingnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku tunggu kau disimpang tiga itu.”

Saruju menjadi berdebar-debar. Namun ia pun segera sadar, bahwa orang itu tentu merupakan alat dari Ki Rangga Gupita dan Warsi.

Karena itu, setelah ia membayar harga kapak itu, maka ia pun telah meninggalkan pandai besi itu dan menuju ke simpang tiga sebagaimana dikatakan oleh orang yang belum dikenalnya itu.

“Marilah Ki Sanak,” berkata orang itu ketika Saruju mendekatinya.

Tetapi Saruju tidak mau duduk disampingnya. Simpang tiga itu adalah simpang tiga yang banyak dilalui orang. Jika ia terlalu lama berbincang dengan orang yang tidak dikenal di Tanah Perdikan itu, maka mungkin sekali akan dapat menarik perhatian.

“Siapa kau?” bertanya Saruju.

“Aku hari ini hanya ingin sekadar memperkenalkan diri,” berkata orang itu. “Aku datang atas nama Ki Rangga Gupita dan Nyai Wiradana demi kesetiaanku kepada Puguh anak yang berhak untuk mewarisi kedudukan ayahnya di Tanah Perdikan ini.”

“Kenapa baru sekarang kau datang?” bertanya Saruju.

Pertanyaan itu mengejutkan orang itu. Namun kemudian jawabnya, “Aku berbuat tidak atas kehendakku sendiri. Tetapi aku melakukan perintah.”

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Lalu apa perintah yang harus aku lakukan?”

“Aku menyampaikan sebuah pertanyaan dari Ki Rangga,” jawab orang itu.

“Pertanyaan apa?” desis Saruju.

“Kenapa tugasmu belum kau lakukan?” sahut orang itu.

Namun dalam pada itu, orang itu pun berkata, “Sudahlah. Kita akan bertemu lagi. Aku tahu, bahwa kau tidak ingin diamati oleh seseorang. Kita akan memilih tempat yang lebih tenang untuk dapat berbicara panjang. Seperti aku katakan, aku sekadar memperkenalkan diri hari ini.”

Saruju menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kegelisahannya. Karena itu, maka katanya, “Pergi sajalah ke pasar. Di pasar semua orang dapat berbicara dengan siapa saja tanpa mendapat perhatian dari orang lain. Aku akan mengajak Damar. Aku tahu, persoalannya tentu akan menyangkut tugas yang belum dapat dilaksanakan itu.”

“Baiklah. Aku akan pergi ke pasar besok pagi-pagi,” berkata orang itu.

Saruju tidak bertanya sesuatu lagi. Ia pun segera melangkah meninggalkan orang itu sendiri. Ketika ia berpaling ke sekitarnya, ia menarik nafas panjang. Agaknya memang tidak ada orang yang memperhatikannya.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun telah meninggalkan tempat itu pula.

Saruju yang gelisah agaknya langsung menuju ke rumah Damar. Tetapi ternyata ia tidak menemukan Damar di rumahnya.

“Kemana?” bertanya Saruju kepada keluarga Damar yang ada di rumah.

“Aku tidak tahu, tetapi ia pergi dengan kawannya,” jawab yang ada di rumah.

Saruju mengangguk-angguk. Jika demikian ia tidak perlu mencari Damar karena jika ia berada di antara orang lain, maka ia tidak akan dapat mengatakan sesuatu.

Karena itu, maka Saruju pun justru berpesan, “Tolong sampaikan kepada Damar, bahwa aku menunggu dirumah sore ini.”

“Apakah kau ingin memberikan pesan yang lain?” bertanya keluarga Damar itu.

“Tidak. Aku berharap Damar dapat datang ke rumahku,” jawab Saruju. “Ia memesan ayam jantan.”

Saruju meninggalkan rumah Damar dengan hati yang gelisah. Ia harus sempat berbicara dengan Damar sebelum menemuinya orang itu besok di pasar.

Namun sebenarnyalah di sore hari Damar datang ke rumahnya. Namun agaknya Damar pun telah mengetahui untuk apa Saruju memanggilnya. Tentu bukan karena seekor ayam jantan.

“Marilah,” berkata Saruju mempersilakan Damar, “Masuk sajalah.Kita berbicara di dalam.”

Damar pun telah masuk ke ruang dalam.

Dengan hati-hati Saruju pun menceriterakan bahwa ia telah bertemu dengan petugas yang dikirim oleh Ki Rangga Gupita. Demikian hati-hati karena ia tidak ingin seorang pun antara keluarganya yang mendengarnya.

“Jadi orang itu telah datang?” desis Damar.

“Ya. Pertanyaannya adalah, kenapa kita masih belum melakukan tugas kita,” berkata Saruju.

Damar menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Bukankah tidak ada batas waktu yang diberikan kepada kita?”

“Ya. Memang tidak ada batas waktu. Tetapi kesabaran merekalah yang terbatas. Kita tidak akan dapat melampaui batas kesabaran mereka itu,” jawab Saruju.

Wajah Damar menjadi buram. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Apakah kita harus kembali ke dalam kehidupan itu?”

“Kita sudah terjebak ke dalamnya,” berkata Saruju. “Kita terlambat melihat kenyataan. Dan agaknya kita sudah terjerat ke dalam satu lingkungan yang kita tidak akan dapat ke luar lagi.”

Damar mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan mengalami kehidupan yang baik seperti ini lagi, jika usaha Warsi berhasil. Jika Warsi dan Ki Rangga berhasil menduduki Tanah Perdikan ini dan membina kehidupan di dalamnya, maka kita akan dapat hidup seperti ini lagi meskipun yang memimpin Tanah Perdikan ini berbeda. Bahkan mungkin kita akan mendapat kedudukan dan kuasa yang membuat kehidupan kita lebih baik dari sekarang.”

“Apakah kau berbicara dari dasar nuranimu?” bertanya Saruju.

Damar menundukkan kepalanya. Dengan nada yang bergetar, ia berkata,, “Aku tidak tahu. Tetapi aku beharap demikian.”

“Mudah-mudahan” gumam Satuju, “tetapi kita dapat memperhitungkan. Jika Ki Rangga dan Warsi menang, maka jangkauan mereka adalah Pajang. Bukankah dengan demikian benturan kekerasan masih akan berlangsung lama?. Ki Rangga akan menghubungi bekas prajurit Jipang yang berserakan. Kemudian menghubungi para Adipati di pasisir dan Bang Wetan seperti yang-pernah disebut-sebut. Tanah ini akan kembali dihisap sampai kering dan perjuangan menentang Pajang itu pun akan sia-sia meskipun tanah ini kelak dapat dijadikan landasan. Karena Pajang akan menjadi semakin mapan dan semakin kuat.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apa yang akan kita perbuat?”

“Kita akan menemui, orang itu” berkata Saruju. Kita akan mendengarkan apa perintah Ki Rangga lebih lanjut.”

Damar mengangguk sambil berdesis, “Baiklah. Besuk: aku akan pergi ke pasar pagi-pagi.”

“Bawalah sebilah keris. Syukur jika kau mempunyai selonsongnya yang masih baik” berkata Saruju.

Wajah Damar menjadi tegang. Namun dengan serta merta Saruju berkata, “Kita tidak akan membunuhnya. Tetapi, kita akan bersiap seakan-akan kita sedang membawa.sebilah keris, agar :pembicaraan kita tidak terganggu oleh perhatian orang lain. Apalagi kecurigaan.”

Damar menarik nafas dala.m-dalam. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Besok aku akan membawa sebilah keris. Kita dapat berbicara disudut pasar, didekat Pande Besi itu.”

”Ya. Pande Besi itu memang sering memperjual belikan wesi aji. Termasuk keris dan senjata-senjata bertuah lainnya. Dengan demikian: kita tidak akan dicurigai, sementara itu suara Pande Besi menempa barang-barang yang dibuatnya akan menenggelamkan pembicaraan kita dengan orang yang ditugaskan oleh Ki Rangga itu,”

Demikianlah, maka Damar pun telah minta diri setelah mereka berjanji untuk bertemu di pasar besok pagi-pagi.

Namun dalam pada itu, kedua anak muda itu semalam suntuk hampir tidak dapat tidur karenanya. Mereka dibayangi oleh bermacam-macam kejadian yang dapat menjerat mereka apabila mereka tidak dapat melakukan tugas mereka dengan baik.

Sernentara itu didalam hatinya Daanar berkata, “Aku akan selalu merindukan kehidupan saperti ini jika kelak aku kembali ke lingkungan yang keras di sarang penyamun dan Perampok itu.”

Demikianlah, seperti yang sudah dijanjikan, maka pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke pasar. Orang tua Damar memang menjadi heran, bahwa Damar akan pergi ke pasar pagi-pagi sambil membawa sebidah keris yang dibungkus dengan selongsong kain putih.

“Untuk apa keris itu,?” bertanya ayah Damar.

Damar tersenyum. Katanya, “Aku mempunyai seorang kawan yang tahu tentang besi bertuah. Aku ingin, menunjukkan keris ini kepadanya. Menurut ayah keris ini memiliki tuah yang tinggi.”

“Ya. Keris itu adalah keris peninggalan kakekku. Jika keris itu sudah kau tunjukkan kawanmu itu, bawa keris itu kembali” berkata ayah Damar.

“Aku akan membawanya kembali ayah. Aku tidak akan menjualnya” berkata Damar sambil tertawa, “aku hanya ingin tahu, apakah keris ini memang memiliki tuah seperti yang kita duga selama ini.”

“Aku tidak meragukannya Damar” ‘berkata ayahnya, “tetapi terserahlah kepadamu jika kau ingin meyakinkannya. Namun jiika kawanmu itu berpendagat lain, maka ia bukan seorang yang tahu benar tentang keris, karena aku yang memilikinya sudah meyakininya berpuluh tahun.”

Damar masih tertawa. Namun betapa kecut hatinya mengingat tugas yang dipikulnya.

Ketika matahari terbit. Damar dan Saruju sudah ada di sudut pasar. Sambil menunggu petugas yang dikirim oleh Ki Rangga, Damar telah menunjukkan kerisnya kepada Pande Besi di sudut pasar, yang memang sering memperjual belikan keris dan jenis wesi aji yang lain disamping alat-alat pertanian dan barang-barang yang dibuatnya sendiri.

Pande Besi itu mengangguk-angguk sambil mengamati keris yang dibawa oleh Damar. Katanya, “Kerismu luar biasa. He, apakah kau akan menjualnya?” Damar tersenyum.

Katanya, “Seorang kawanku ingin melihatnya. Tetapi sebenarnya ayah tidak ingin menjualnya.”

“Jika keris itu memang akan dijual, jangan dijual kepada orang lain. Berikan kepadaku,” berkata Pande Besi itu.

“Aku hanya ingin menjajagi,” berkata Damar.

Ternyata bahwa tidak lama kemudian, orang yang mereka tunggu itu pun telah datang. Mereka kemudian duduk di sebelah gubug yang dipergunakan oleh Pande Besi itu. Tidak terlalu jauh. Namun karena pande besi itu kemudian mulai bekerja, maka pembicaraan ketiga orang itu tidak dapat didengar oleh orang lain, meskipun mereka tidak berbisik-bisik.

“Nah,” berkata petugas itu. “Beri kesempatan aku menyampaikan pesan dan penilaian Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana atas kerja kalian.”

Damar dan Saruju mengangguk. Sementara itu Damar masih memegang keris yang tidak lagi berada di wrangkanya.

“Jangan cemas,” berkata Damar. “Kita pergunakan keris ini sebagai alat untuk duduk berbicara dan tidak dicurigai orang, seakan-akan kita sedang tawar menawar keris ini.”

Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi setiap kali ia masih memperhatikan keris itu dengan cemas.

“Nah, katakan,” minta Saruju kemudian.

Orang itu menarik nafas. Lalu katanya, “Ki Rangga dan Nyi Wiradana menilai pekerjaan kalian terlalu lamban.”

“Aku akui,” berkata Saruju. “Tetapi ini adalah akibat dari cara yang sangat kasar yang telah dipergunakan oleh seorang petugas yang lain.

“Jawaban itu sudah diduga,” berkata orang itu. “Tetapi Ki Rangga tidak mau alasan itu kau pergunakan tanpa batas. Karena itu baik Ki Rangga maupun Nyi Wiradana menuntut tugasmu segera dapat dilaksanakan. Perjuangan kita meningkat terus, sementara kita belum sempat mempersiapkan landasan perjuangan di Tanah Perdikan ini.”

“Kami sudah berusaha,” berkata Saruju dengan wajah berkerut. “Tetapi kami masih menemui kesulitan. Meskipun demikian, laporkan, bahwa aku sudah mendapat kepercayaan dari anak-anak muda di Tanah Perdikan ini.”

Tetapi orang itu tersenyum. Namun senyumnya membuat bulu tengkuk Saruju dan Damar justru meremang. Dengan nada rendah orang itu bertanya, “Hanya itu yang harus aku laporkan?”

Betapa hatinya bergetar Damar masih juga menjawab sambil menyembunyikan perasaan itu, “Bukankah itu satu langkah yang harus aku capai dalam tugas ini? Tanpa melalui langkah itu, maka semuanya akan sia-sia.”

“Aku tahu,” jawab orang itu. “Tetapi perbandingan antara waktu dan hasil yang kau capai sama sekali tidak seimbang. Jika langkahmu selamban ini, maka baru setelah anak itu mampu mengangkat pedang kau akan bertindak. Bahkan mungkin justru jantungmulah yang akan dilubangi oleh pedangnya.”

“Jangan berlebih-lebihan menanggapi kesulitan kami,” berkata Damar. “Kau kira tugas kami sama mudahnya dengan merampok meskipun di Kotaraja sekalipun. Bahkan memasuki Istana Hadiwijaya itu sendiri.”

“Kalian memandang diri kalian terlalu besar hanya karena tugas ini,” berkata orang itu. “Itulah sebabnya kalian menganggap bahwa dengan tugas ini kalian merupakan orang yang paling dihargai di lingkungan kami.”

Jantung Saruju dan Damar menjadi semakin berdebar-debar. Sementara itu Saruju pun kemudian bertanya, “Tegasnya, apa yang dikehendaki oleh Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berpaling ke keramaian pasar yang semakin sibuk, justru matahari mulai naik. Suara Pande Besi disebelahnya pun menjadi semakin nyaring pula.

Dengan nada rendah orang itu berkata, “Ki Rangga dan Nyi Wiradana menghendaki kalian cepat menyelesaikan tugas kalian.”

“Setelah anak itu terbunuh, apa yang akan dilakukan oleh Ki Rangga dan Nyi Wiradana? Apakah kita dengan serta merta akan dapat memasuki Tanah Perdikan ini? Tidak Ki Sanak. Semuanya memerlukan waktu yang panjang. Jika Risang itu terbunuh, maka diperlukan pengesahan atas nama Puguh sebagai anak Wiradana. Itu tidak dapat berlangsung dalam satu dua hari. Jika para pemimpin dari Tanah Perdikan ini bertahan, maka akan terjadi persoalan yang masih memerlukan pemecahan. Sementara itu Pajang masih dapat menentukan sikapnya atas peristiwa ini.”

“Kau kira Ki Wiradana dan Nyi Wiradana itu tidak mempunyai penalaran dalam persoalan ini?” bertanya orang itu. “Semua orang tahu, bahwa jika Risang itu mati, masih diperlukan perjuangan tahap berikutnya. Namun langkah itu harus ditempuh lebih dahulu. Semakin cepat kepastian itu terjadi, maka semakin yakin kita akan berhasil perjuangan kita kelak. Tanpa Risang, maka arah pewarisan kuasa di Tanah Perdikan menjadi pasti, karena tidak mungkin Iswari itu mempunyai anak lagi, karena Wiradana sudah mati.”

“Aku tahu,” jawab Saruju. “Tetapi apakah sudah diperhitungkan sikap Pajang?”

“Kau gila,” geram orang itu. “Apakah artinya Pajang? Bukankah Tanah ini akan menjadi landasan perjuangan melawan Pajang? Jika Risang mati, maka kehadiran Puguh akan mempengaruhi sikap orang-orang Tanah Perdikan ini. Mereka akan berpaling dari Iswari ke Nyi Wiradana yang ternyata masih mempunyai seorang anak laki-laki dari Ki Wiradana. Dengan sedikit menjelaskan permasalahannya, maka orang-orang Tanah Perdikan akan berganti sikap, karena pada dasarnya mereka setia kepada Kepala Tanah Perdikan mereka dan sudah barang tentu dengan keturunannya yang sah.”

Saruju dan Damar masih akan membantah. Mereka melihat seribu macam persoalan yang terbentang dihadapannya. Namun orang itu telah memotongnya, “Aku tahu, bahwa kau telah memperhitungkan segalanya dengan terlalu cermat, sehingga kau menjadi ragu-ragu untuk menentukan langkah. Tetapi agaknya berbeda dengan Ki Rangga dan Nyi Wiradana. Tahap yang harus dilalui itu harus dilakukan secepatnya, apapun yang akan terjadi kemudian. Tugasmu adalah menyelesaikan anak itu. Kau tidak usah berpikir setelah itu lalu apa dan bagaimana. Orang lain akan memikirkannya dan orang lain pula yang akan memecahkannya. Kau bukan pemimpin tertinggi yang berhak menentukan langkah-langkah kita sampai pada tahap yang terakhir. Landasan kita sekarang adalah Risang harus tidak ada. Yang ada kemudian tinggal Puguh saja. Itu saja.”

Saruju dan Damar menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang berjalan didekatnya hilir mudik. Untunglah tidak ada anak muda yang melihat mereka dan mendekatinya meskipun mereka menyangka bahwa yang dibicarakannya adalah keris yang dibawanya itu.

“Nah,” berkata orang itu. “Semuanya telah jelas bagi kalian berdua. Jangan mempersoalkan seribu macam masalah yang belum tentu akan terjadi atau yang telah diperhitungkan oleh orang lain. Sekali lagi, tugasmu membunuh Risang. Tidak lebih.”

Saruju dan Damar mengangguk-angguk. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan dapat berbantah. Karena itu, maka Saruju pun berkata, “Baiklah. Kami mengerti. Kami akan segera melakukannya. Kami sekarang sudah mendapat kesempatan berada di lingkungan para petugas di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Kami akan segera mencari kesempatan itu meskipun dengan demikian akan merenggut nyawa kami.”

“Bagus,” berkata orang itu. “Singkirkan perhitungan dan kecemasanmu tentang langkah-langkah berikutnya. Kau hanya mendapat satu tugas. Dan tugas itu harus kau lakukan dalam waktu dekat. Selambat-lambatnya dalam batas waktu sampai akhir bulan berikut nanti.”

Wajah kedua anak muda itu menegang. Dengan cemas Damar bertanya, “Hanya sampai akliir bwiian berikut nand? Jadi tidak ada dua bulan.?”

Ornang yang menghubunginya itu mengangguk. Katanya, “Ya. Hampir dua bulan. Tetapi bukankah, waktu itu cukup panjang. Kau hanya memerlukan satu loncatan dan menikamnya. Kemudian melarikan diri. Nah, bukankah waktu yang sesungguhnya kau perlukan hanya sekejap saja?”

”Ya” jawab Saruju yang tersinggung, “apalagi jika diucapkan dengan mulut. Tidak dilakukan dengan sikap dan langkah.”

“Tetapi batas waktu itu perlu bagi kalian” berkata orang itu, “jika tidak, maka kalian akan dapat berbuat seernaknya, tanpa batas.. Kalian hanya menikmati bekal yang kalian sembunykan diluar Tanah Perdikan ini Kau habiskan bekal itu untuk keperluan keluarga kalian, sementara itu tugas yang harus kalian emban tidak pernah kalian lakukan”

“Gila” geram Damar, “lihat sendiri ketempa.t kami menyimpan bekal itu. Bekal itu masih hampir utuh. Kami tidak dapat memper’gunakannya, karena kami tidak mau di. curigai. Kami baru akan mempergunakannya satelah tugas kami selesai.”

“Bagus” berkata orang itu, “karena itu, selesaikan tugas itu. Lalu kau dapat memberikannya kepada keluarga kalian.”

“Baik” berkata Saruju, ”namun kami berhak untuk mencari jalan agar dalam tugas tersebut kami ssempat menyelamatkan diri. Kami tidak barus mati bersama anak itu.”

“Tentu” berkata orang itu, “kalian dapat membunuhnya dari jarak jauh. Dengan sumpit yang agaknya pernah kalian pelajari atau dengan apa saja.”

“Kami akan kembali ke saramg kita sebeluan waktu itu habis” berkata, Saruju.

“Nah, begitulah. Kalian masih tetap prajurit pilihan yang tidak terguncang oleh keadaan betapapun baiknya.” berkata orang itu. Tetapi kemudian katanya dengan nada berat, “Tetapi masih ada yang harus aku sampaikan.”

“Apa?” bertanya Saruju.”

“Sebenarnya sulit bagiku untuk mengatakannya. Tetapi justru aku merasa bahwa kalian harus mengetahuinya” berkata orang itu pula dengan ragu.

“Katakan” desak Damar, “jangan seperti orang berteka-teki pula.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kcmudian ia pun berinsut mendekat sambil memandang orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Beberapa langkah di dekat mcreka seorang penjual reramuan jamu telah dikerumuni oleh para pebelinya sehingga penjualnya tidak nampak lagi.

“Katakan” desak Damar tidak sabar lagi.

Orang itu memang nampak ragu-ragu. Dengan nada rendah ia berkaita, ”Bukan maksudku. Aku hanya menyampaian perintah saja. Jika aku mengucapkannya, bukan berarti bahwa aku sapendpat dengan bunyi perintah itu.”

Saruju dari Damar menjadi semakin berdebar-debar, sementara itu orang itu pun kemudian berkata, “Anak-anak muda. Ki Rangga Gupita dan Nyi Witadana telah menjatuhkan perintah yang terasa sangat pahit. Kalian memang harus melakukan tugas kalian selambat-lambatnya akhir bulan berikut nanti. Itu adalah perintah wajar. Namun ada ancaman yang membayangi perintah itu.” orang itu berhenti sejenak. Disekanya keringatnya di keningnya. Bagaimanapun juga ia mengatur perasaannya, namun terasa berat juga mengucapkan.

“Anak-anak muda. Ki Rangga dan Nyi Wiradana telah mengancam kalian, jika kalian terlambat melakukan perintahnya, maka setiap sebulan kelambatan. seorang diantara keluarga kalian akan diambilnya.”

“Diambilnya?” wajah Saruju dan Damar menjadi merah, “apa maksudmu.”

Bukan maksudku. Aku hanya menyampaikannya” jawab orang itu, “jika kalian terlambat maka setiap bulan seorang diantara keluarga kalian akan menjadi tanggungan. Orang itu akan disingkirkan. Ki Rangga dan Nyi Wiradana akan mulai dari adik-adik kalan. Baru yang terakhir orang tua kalian dan kakek kalian. Jika seorang sebulan maka sepuluh bulan kelambatan, habislah keluarga kalian berdua.”

“Gia” Damar hampir berteriak. Namun orang itu sempat menahan, “Jangan kau biarkan gejolak perasaanmu. Kita berada di pasar.”

Wajah Damar telah membara. Keris ditangannya menjadi gemetar. Namun orang itu berkata, “Yang berada di Tanah Pddikan ini bukan hanya aku sendiri.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang itu berkata, “Sudah aku katakan. Sama sekali bukan niatku. Juga sudah aku katakan, jika aku mengucapkannya bukan berarti bahwa aku sependapat dengan cara ini. Tetapi perintah ini justru harus kau dengar agar kau dapat mengatur diri. Mengatur perasaan dan lebih baik jika semuanya itu tidak terjadi.”

Saruju tidak berkata sesuatu. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Terasa bahwa kaki dan tangannya memang telah terbelenggu dan tidak mungkin akan terlepas lagi.

Ternyata bahwa Saruju lebih berhasil menguasai perasaannya dari pada Damar yang hampir meledak. Bahkan dengan nada dalam Saruju kemudian berkata, “Kau tidak bersalah. Aku justru mengucapkan terima kasih bahwa kau telah memberitahukan ancaman itu kepada kami. Agaknya memang lebih baik bagi kami untuk lebih cepat mengetahui. Tetapi yakinkan Ki Rangga dan Nyi Wiradana, bahwa kami akan menyelesaikan tugas kami sebelum batas waktu itu datang. Langkah-langkah kami sudah mendekati langkah akhir yang menentukan. Kepercayaan yang sangat kami perlukan dalam tugas ini telah kami dapatkan.”

“Baiklah anak-anak muda,” berkata orang itu. “Lakukanlah tugas kalian sebaik-baiknya. Aku masih akan selalu menghubungi kalian. Jika kalian memerlukan bantuan, katakanlah dengan terus terang agar aku dapat mempersiapkan sebaik-baiknya. Sebenarnya menurut pengamatanku, suasana di Tanah Perdikan ini akan membantu kalian. Tanah Perdikan ini terasa menjadi tenang dan dengan demikian mereka sudah mulai menjadi lengah dan tidak mengira hal yang akan kalian lakukan itu terjadi.”

Saruju dan Damar mengangguk-angguk. Sebenarnyalah mereka memang tidak akan mempunyai pilihan lain. Mereka harus melakukannya.

Memang ada sepercik penyesalan bahwa mereka tidak memisahkan diri saja dari Ki Rangga dan Nyi Wiradana sebagaimana dilakukan oleh sebagian dari kawan-kawannya yang telah menyerah lebih dahulu. Mereka justru dapat menikmati ketenangan Tanah Perdikan itu tanpa dibayangi oleh kuasa Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana. Bahkan ancaman untuk membunuh seluruh keluarga.

“Apakah kalian masih ragu-ragu?” tiba-tiba saja orang yang datang itu bertanya ketika dilihatnya kedua anak muda itu merenung.

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Jawabannya, “Bukan menyesal. Tetapi aku mulai memperhitungkan waktu sebaik-baiknya.”

“Nah,” berkata orang itu, “Aku minta diri. Aku harus melaporkan pertemuan ini kepada Ki Rangga dan Nyi Wiradana.”

Saruju dan Damar mengangguk kecil. Dengan nada rendah Damar, berkata, “Beri kami petunjuk-petunjuk berikutnya.”

“Tentu, meskipun mungkin bukan aku sendiri yang akan datang kemari,” berkata orang itu.

Saruju dan Damar kemudian beringsut pula ketika orang itu kemudian meninggalkan mereka.

“Kita berpisah disini,” berkata Saruju. “Kita akan bertemu dan berbicara pada kesempatan lain. Kita akan menjadi serigala di antara domba-domba yang hidup tenang dan damai di padang rumput yang menjadi semakin subur.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian menyarungkan kerisnya dan membiarkan Saruju memasuki keramaian pasar yang riuh. Sementara Damar sendiri berjalan termangu-mangu dengan langkah yang goyah. Kepalanya rasa-rasanya menjadi pening dan jantungnya berdebaran semakin cepat.

Hampir diluar sadarnya, maka Damar telah memasuki sebuah warung di pinggir pasar itu dan memesan minuman panas.

“Kau nampak pucat,” sapa pemilik warung yang sudah dikenalnya itu, seorang perempuan yang gemuk. “Apakah kau sakit?”

“Aku merasa agak pening,” jawab Damar. ”Karena itu aku singgah. Jika aku minum minuman hangat aku kira tubuhku akan menjadi segar lagi.”

Perempuan gemuk itu dengan cekatan telah menyiapkan minuman panas bagi Damar. Kemudian mempersilakannya, “Minumlah. Mumpung masih panas. Wedang jahe itu akan membuat tubuhmu menjadi hangat.”

Damar menghirup wedang jahe sehingga semangkuk penuh telah dihisapnya. Setelah makan beberapa potong makanan, maka ia pun kemudian meninggalkan warung itu setelah membayar harganya.

Namun kepalanya masih juga tetap pening. Jantungnya masih terasa berdebar-debar.

Ketika ia memasuki halaman rumahnya, dilihatnya kedua adiknya justru siap untuk pergi. Mereka telah, melintasi pendapa dan menuju ke pintu regol halaman.

“Kau akan kemana?” bertanya Damar yang berpapasan dengan kedua adik perempuannya di regol.

“Ke pasar kang” jawab salah seorang dari kedua adiknya, “biyung tidak dapat pergi berbelanja sekarang karena kepalanya terasa pening. Kamilah yang akan membeli keperluan kita hari ihi.”

Damar memandang kedua adiknya dengan tatapan mata yang aneh. Namun kemudian ditepuknya bahu kedua adiknya itu sambil berpesan, “Berhati-hatilah.”

Kedua adiknya itu menganggk. Mereka menjadi heran melihat tingkah laku kakaknya. Namun sebelum salah seorang di antara mereka bertanya, Damar berkata, “Aku juga pening seperti biyung. Mungkin kami. Terkena  penyakit yang sama.”

“O” adiknya yang besar mendekatinya, “kakang juga sakit?”

“Hanya sedikit. Tetapi tadak apa-apa.” berkata Damar kemudian.

Sementara, adiknya yang kecil bertanya, “Apakah kakang perlu minuman panas dahulu? Biarlah kami berangkat nanti. Pasar itu tentu masih ramai.”

”Tidak” jawab Damar, “aku sudah membeli di warung bibi gemuk itu. Pergilah. Jangan lupa, beli ikan lele. He, bukankah kau sudah diajari biyung membuat pecal lele?”

Adiknya yang besar tersenyum. Katanya, “Tepat seperti pesan ayah. Aku akan membeli serenteng ikan lele.”

Damar pun tersenyum pula. Dipandanginya adiknya yang kemudian keluar regol. Bahkan beberapa langkah ia mengikut di belakang sampai Damar itu berdiri lagi di regol halaman rumahnya.

Namun tiba-tiba saja wajahnya terasa menjadi tegang. Jantungnya bagaikan akan meledak ketika ia melihat orang yang menemuinya di pasar itu melangkah mendekatinya.

“Kau disini?” geram Damar.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang sekali. Kedua adikmu ternyata gadis-gadis yang akan tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Jika kau gagal, siapakah yang sampai hati untuk menyelesaikannya.”

Dada Damar terasa menggelegak. Hampir saja ia meloncat mencekik orang itu. Untunglah bahwa ia masih sempat menahan dirinya. Bahkan ia pun kemudian menyadari, bahwa orang itu pun merasa betapa berat hatinya menyampaikan perintah itu kepadanya.

Betapa kasar dian liarnya orang itu, ternyata padanya masih juga terdapat perasaan iba dan kasihan.

Damar menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin mengendapkan perasaannya yang sedang bergejolak. Hampir diluar sadarnya ia memandang kedua adiknya yang berjalan menjauh,. Terbayang di rongga matanya, adik-adiknya itu diseret oleh orang-orang yang lebih buas dari orang yang datang kepadanya itu. Kedua adiknya yang tidak bersalah itu kemudian dibunuh dengan cara yang keji tanpa belas kasihan.

Jantung Damar bagaikan pecah karenanya. Namun ia pun kemudian terkejut ketika orang yang termangu-mangu itu berkata, “Damar, aku ikut berharap agar kau dapat melakukan tugasmu dengan baik agar kedua adikmu dan sanak kadangmu selamat. Lebih baik anak Iswari itu yang mati daripada salah seorang keluargamu.”

Damar mengangguk. Namun ia tidak menjawab sepatah katapun.

”Baiklah, aku minta dri” berkata orang itu kemudian sambil melangkah pergi.

Sesaat Damar memandangi langkah orang itu. Semakin lama menjadi semakin jauh. Sementara itu kedua adiknya sudah tidak nampak lagi karena hilang ditelan kelak jalan.

Tiba-tiba saja Damar telah didorong oleh kecemasannya tentang kedua adiknya. Iapun tiba-tiba telah melangkah lagi menuju ke pasar. Tetapi ia tidak menempuh jalan yang dilalui orang yang datang kepadanya itu.

Dengan melalui jalan-jalan setapak ia telah memintas agar adiknya tengah dibayangi oleh bahaya yang tidak akan dapat dielakkannya. Karena itu, maka ia pun telah didera oleh kecemasann, yaitu untuk menyusul adiknya.

Dengan melalui jalan-jalan setapak iya telah memintas agar ia dapat mendahului orang yang datang kepadanya itu dan mendahului pula kedua adiknya.

Sebenarnyalah Damar memang lebih dahulu mencapai regol pasar. Untuk beberapa saat ia menunggu. Baru kemudian ia melihat kedua adiknya itu datang mendekati regol.

Damar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sampai hati untuk membiarkan kedua adiknya itu berbelnja untuk keperluan mereka sehari-hari tanpa pengawasannya meskipun ia tahu ancaman itu baru akan berlaku secepatnya hampir dua bulan mendatang.

Kedua adik Damar itu terkejut ketika mereka melihat Damar justru sudah berada di regol pasar. Dengan serta merta adiknya yang kecil bertanya, “Kakang sudah ada disini?”

Damar mencoba tersenyum. Sementara adiknya yang lain bertanya pula, “Apakah ada pesanan kakang yang terlupa?”

“Aku hanya ingin melihat apakah kalian tidak lupa membeli pesananku dan kebetulan juga pesanan ayah.” jawab Damar.

“Tentu tidak” jawab adiknya yang besar.

”Marilah. Kita berbelanja bersama” berkata Damar.

“Ah tidak pantas seorang laki-laki pergi berbelanja” berkata adiknya yang kecil.

“Aku tidak pergi berbelanja. Aku hanya mengikuti saja kalian berdua berbelanja” berkata Damar.

Kedua adiknya tidak menolak ketika kemudian Damar mengikuti mereka berputar-putar didalam pasar.

Namun kedua adiknya itu sama sekali tidak mengetahu: perasaan yang bergejolak di hati Damar. Bahkan keduanya tidak tahu, bagaimana Damar sekali-sekali menggeretakkan giginya menahan gejolak didalam dadanya itu.

Namun Damar itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Saruju justru masih berada dipasar pula. Ia duduk di depan perapen seorang Pande Besi di sudut pasar itu. Pande Besi yang lain dari Pande Besi yang sudah disinggahinya sebelumnya.

”Kenapa kau disitu?” bertanya Damar.

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berdesis, “Aku gelisah sekali. Dan apa yang kau lakukan?”

“Mengawani kedua adikku berbelanja, karena biyungku sedang sedikit pening.” jawab Damar, “aku tidak, dapat membiarkan mereka, pergi berdua saja.”

Saruju mengerutkan keningnya. Ia melihat dua orang adik perempuan Damar yang sedang berbelanja diawasi oleh kakaknya.

Ketika Damar kemudian minta diri untuk mengikut adiknya yang masih belum selesai dengan tugas mereka, Saruju berkata kepada diri sendiri, “Damar tentu juga dibayangi kegelisahan seperti ini, sehingga ia tidak mau membiarkan kedua adik parempuannya itu pergi tanpa diawasinya meskipun ancaman itu tidak akan dilakukan sekarang.”

Demikianlah, maka baru setelah kedua adiknya membeli semua keperluan keluarganya sehari-hari, keduanya diikuti oleh Damar meninggalkan regol pasar, Ternyata pasar itu masih cukup ramai. Bahkan masih juga ada beberapa orang yang baru datang untuk berbelanja. Agaknya mereka yang karena sesuatu hal tidak sempat untuk pergi ke pasar lebih pagi lagi.

Namun dalam pada itu, maka sehari itu Damar diliputi oleh berbagai macam angan-angan sebagaimana juga Saruju. Kegelisahan mencengkam jantung meeka. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan dapat mengelakkan diri dari ancaman itu. Satu demi satu keluarganya akan dibunuh jika mereka terlalu lambat malakukan tugas yang dibebankan kepada mereka.

Ternyata betapapun tebal penyesalan menyesak di dada mereka, namun sudah tidak ada artinya sama sekali. Ancaman itu tetap akan dilaksanakan oleh Ki Rangga dan Nyi Wiradana. Satu-satu keluarganya akan terkapar dengan luka di dada, tembus oleh pedang para pengikut Ki Rangga dan Nyi Wiradana sebagaimana kelak dirinya sendiri.

Hari yang satu telah meloncat ke hari ya;ng lain. Rasanya begitu cepat. Sementara itu Saruju dan Damar masih belum menemukan cara terbaik untuk melakukan tugas mereka. Sekali-sekali mereka berusaha untuk mendapat kesempatan berada di rumah Iswari, Namun untuk datang terlalui sering ke padukuhan induk tanpa kepentingan yang memadai tentu akan sangat menarik perhatian.

Dari hari ke hari keduanya mencari jalan. Bagaimana mereka harus membunuh Risang.

“Ternyata lebih baik jika kita orang asing sama sekali,” berkata Damar. “Cara yang kasar pernah dipergunakan oleh orang terdahulu telah menutup kemungkinan bagi kita untuk melakukannya sekarang. Dalam kesempatan yang jarang kita dapatkan, kita melihat Risang selalu diawasi oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Jika bukan Gandar, maka Bibi itulah yang ada didekatnya disamping pemomongnya.”

Saruju mengangguk-angguk. Namun akhirnya ia berkata, “Kita akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan cara lain kecuali membunuhnya sambil membunuh diri. Namun dengan demikian keluarga kita akan selamat.”

Saruju menundukkan kepalanya. Minggu pertama telah lewat. Sementara itu mereka belum melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Namun sementara itu Saruju dan Damar menjadi semakin rajin bekerja di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Apapun yang dilakukan oleh anak-anak muda, maka Saruju dan Damar tentu ada di antara mereka.

Tidak ada seorang pun di antara kawan-kawan mereka yang tahu, apakah sebenarnya yang sedang bergejolak di dalam dada mereka. Kegelisahan yang semakin lama semakin menyesak.

Tetapi kesempatan masih belum terbuka bagi mereka. Meskipun Saruju dan Damar merupakan sebagian dari mereka yang dianggap mempunyai pengabdian yang baik, namun bagi keduanya masih belum diberi kesempatan untuk bertugas di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan. Hanya para pengawal yang dipercaya sepenuhnya sajalah yang mendapat giliran bertugas di rumah Risang.

“Jika kita mendapat kesempatan seperti itu,” desis Damar ketika keduanya bertemu dan membicarakan rencana-rencana mereka.

“Kita dan anak-anak muda seperti kita, tidak seorang pun yang mendapat kesempatan bertugas di rumah Kepala Tanah Perdikan,” sahut Saruju.

“Jadi bagaimana?” bertanya Damar. “Waktu kita semakin menyempit, sedangkan aku tidak ingin keluargaku mati.”

“Siapa yang mau membiarkan keluarganya dibunuh seorang demi seorang,” berkata Saruju. “Bagi kita memang lebih baik membunuh daripada dibunuh. Keadaan Tanah Perdikan ini ternyata telah membius kita, sehingga kita telah kehilangan semangat berjuang sebagaimana telah membakar hati kita pada saat kita berangkat ke Tanah Perdikan ini.”

Damar mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas ia berkata namun tanpa gairah, “Ya. Kita telah kehilangan tekad yang membara. Suasana kehidupan di Tanah Perdikan ini jauh berbeda dengan suasana kehidupan di dalam sarang kita.”

“Karena itu, kita memang harus bangkit. Kita harus bertindak dengan cepat tanpa ragu-ragu. Kita harus mampu menyingkirkan pengaruh yang telah mencengkam kita selama ini. Sementara kita sebenarnya tahu pasti, bahwa kehidupan yang tenang, tenteran ini adalah kehidupan yang semu semata-mata,” berkata Saruju. “Kita harus kembali kepada jiwa kita sebagai pejuang untuk membebaskan tanah ini dari tangan-tangan orang-orang yang tidak berhak, karena Iswari itu memang bukan orang yang dilahirkan di Tanah Perdikan ini.”

Damar mengangguk-angguk. Ia pun mencoba untuk menghayati kembali sikap sebagaimana saat mereka berangkat menuju ke Tanah Perdikan ini.

“Kenapa kita tidak bergerak di malam hari?” bertanya Saruju.

Damar mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “kita memasuki rumah itu sebagai laku seorang pencuri?”

“Ya. Kita masuk rumah itu. Jika kita ketemukan bilik Risang, maka semuanya akan menjadi beres,” berkata Saruju.

“Aku setuju. Tetapi apakah akan semudah itu?” desis Damar.

“Kita akan mencobanya,” sahut Saruju.

Dengan demikian, maka mereka berdua mulai membuat rencana untuk bergerak di malam hari. Sebagai anak muda yang hampir setiap saat ikut serta dalam kegiatan anak-anak muda di Tanah Perdikan, maka mereka tahu pasti, tempat-tempat yang dapat mereka lalui, dan tempat-tempat yang harus dihindarinya. Bukan hanya di padukuhan mereka sendiri tetapi juga di padukuhan induk yang sekali-kali pernah mereka amati.

Setelah rencana mereka menjadi masak, maka kedua anak muda itu pun mulai melakukannya. Mereka merasa lebih baik mencoba daripada tidak berbuat sama sekali, sementara haripun merayap terus mendekati batas waktu yang telah ditentukan.

Di malam hari keduanya bertemu ditempat yang telah mereka tentukan. Kemudian dengan hati-hati keduanya pergi menuju ke padukuhan induk. Dengan mudah mereka dapat menelusuri jalan yang paling aman sehingga mereka tidak bertemu dengan seorang pun yang akan mencurigainya. Demikian pula setelah mereka sampai ke padukuhan induk. Maka mereka pun mengetahui bagaimana mereka memasukinya tanpa melalui pintu-pintu regol yang manapun juga, karena regol-regol itu selalu diawasi oleh para pengawal yang bertugas meronda.

Dengan mengendap-endap mereka berhasil mendekati dinding rumah Kepala Tanah Perdikan.

Namun yang terjadi adalah sebagaimana pernah terjadi dengan orang-orang terdahulu mencoba menghabisi Risang. Mereka tidak dengan mudah menemukan bilik Risang. Hampir semalam suntuk Risang tidak terbangun jika tidur. Apalagi merengek dan menangis.

Karena itu, maka usaha mereka untuk menemukan bilik Risang pun sia-sia.

Sementara itu, kedua orang anak muda itu sama sekali tidak berani memasuki rumah Kepala Tanah Perdikan itu sebagaimana laku perampok. Mereka dapat merampok justru di Kota Raja Pajang yang terkenal karena pasukannya yang kuat. Namun untuk memasuki rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan dengan menggedor pintu maka keduanya berarti membunuh diri.

Karena itu, maka usaha mereka untuk melakukan tugas mereka di malam hari telah mereka hentikan. Sementara itu, hari-hari pun telah menjadi sempit. Bulan pertama dari waktu yang diberikan sebagaimana batasan telah lewat. Jika dalam bulan berikutnya mereka tetap tidak mampu melakukan tugas mereka, maka seorang demi seorang keluarga mereka akan dihabisi.

Sebenarnyalah ketika bulan pertama habis, ternyata Saruju dan Damar telah ditemui pula oleh petugas yang dikirim Ki Rangga dan Warsi.

Berbeda dengan petugas yang terdahulu, maka kedua orang itu ternyata adalah dua orang yang kasar. Mereka tidak menemui Saruju dalam kesempatan yang baik. Tetapi mereka telah menunggu Saruju langsung di depan rumahnya.

“Saruju,” berkata orang itu dengan serta merta tanpa basa-basi. “Aku mendapat tugas untuk memberimu peringatan. Sebulan telah lampau sejak perintah kepadamu diberikan, bahwa waktumu hanya sampai akhir bulan ini.”

“Aku sudah tahu,” jawab Saruju. “Bulan pertama yang sudah genap sebulan telah lampau. Aku sudah sampai pada bulan berikutnya. Dan aku tidak akan pernah lupa, bahwa keselamatanku dan keluarga terancam jika aku gagal melakukan tugasku sampai akhir bulan ini.”

“Bagus,” berkata orang itu. “Karena itu kau harus menyesuaikan diri.”

“Jangan ajari aku seperti kanak-kanak,” berkata Saruju. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

Kedua orang yang datang kepadanya itu menjadi tegang. Seorang yang telah dikenalnya itu pun kemudian berkata, “Kami hanya melakukan tugas. Peringatan itu justru satu kebaikan hati, bahwa Ki Rangga dan Nyi Wiradana tidak dengan serta merta melepaskan kalian dan tahu-tahu waktu itu sudah habis, sehingga kalian barus menanggung akibat buruknya, karena seorang demi seorang keluargamu akan terbuauh.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku akan menyelesaikan tugasku pada waktu yang sudah ditentukan. Semua langkah sudah diatur dan direncanakan dengan saksama. Kami, tidak mau gagal sebagaimana cara yang pernah diambil dengan kasar oleh orang-orang dungu itu sehingga tugasku justru men jadi semakin sulit,” berkata Saruju. Lalu katanya pula, “Jika petugas kita terlalu sering, “dikirim untuk sekedar memberikan peringatan kepadaku dan Damar, maka hal itu pun akan dapat menghambat tugas kami. Jika kehadiran kalian dilihat oleh para pengawal dan mulai mencurigai aku, maka persoalannya. akan berkembang semakin buruk bukan sebaliknya.

”Kami adalah orang-orang yang, menjalankan tugas”sahut orang yang belum dikenal oleh Saruju ku, “jangan salahkan kami.”

“Baik. Pesanku saja sampaikan kepada Ki Ranga, bahwa sebaiknya Ki Rangga tidak mengirimkan orang lagi kepadaku sampai saatnya aku berhasil.” berkata Saruju, “dengan demikian maka Ki Rangga dan Nyi Wiradana sudah membantu tugas-tugas yang akan aku laksanakan.”

“Kau terlalu berani mengucapkan pendapatmu. Tetapi kami mengerti. Kami akan menyampaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya sehingga Ki Rangga dan Nyi Wiradana tidak menjadi marah dan mengambil langkah-langkah lain yang justru dapat .menyudutkanmu. Jauh lebih sulit dari yang kau lakukan sekarang.” berkata orang yang pernah merampok bersamanya di Pajang itu.

“Tidak. Ki Rangga dan Nyi Wiradana tentu akan mengerti maksud kami. Jika terjadi salah paham, maka cara kalian mengatakannya tentu tidak tepat sebagaimana aku maksudkan, atau bahkan kalian dapat membumbuinya sehingga kesannya menjadi buruk, atau bahkan memfitnah. Tetapi untuk melakukan tugas ini kami memang memerlukan bantuan dan pengertian. Bukan sekedar ancaman-ancaman melulu.” berkata Saruju.

Wajah kedua orang itu, nampak menegang. Namun orang yang pernah dikenalnya itu berkata, “Baiklah. Aku minta diri. Jika aku lebih lama lagi disini pembicaraan kita menjadi semakin keras. Dan akan datanglah hambatan yang sebenarnya bagimu.”

Saruju tidak menjawab. Dipandanginya saja kedua orang yang kemudian keluar dari halaman rumahnya itu.

Namun demikian kedua orang itu keluar, dengan langkah yang lemah Saruju pergi ke kandang di sebelah rumahnya. Dengan jantung, yang berdebaran ia duduk di teritisan kandangnya sambil merenungi dirinya sendiri.

Bagi Saruju, maka hari depan adalah hari yang gelap. Ia tidak dapat membayangkan apakah yang akan terjadi. Apakah ia kelak akan dapat hidup sebagai layaknya kehidupan seseorang dengan sewajarnya. Apakah kelak ia, dapat tinggal di sebuah rumah bersama sebuah keluarga yang manis.

Yang terbayang diwajan Saruju adalah sarang perampok yang ganas sebagaimana pernah dialaminya. Orang-orang yang berwajah dan berhati keras seperti, batu. Tanpa kelembutan dan gambaran masa depan yang bersih.

Kawan-kawannya yang tinggal di sarang bersamanya yang lebih tua dari padanya pun hidup liar seperti dirinya dan anak-anak muda yang lain. Mereka tidak beristri dan beranak. Satu dua ada memang menyebut tentang istri dan anaknya. Tetapi mereka tidak pernah dapat berhubungan lagi karena keadaan. Bahkan ada diantara mereka yang memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan orang-orang diluar sarang Jantungnya terasa berdegup semakin cepat. Karena itu, maka Damar ingin orang itu segera meninggalkan rumahnya. (SBB 28 hal 39)

(Gak nyambung ya, dari aslinya memang begitu.)

(SBB 28 hal 40) mereka. Jika mereka keluar, maka orang lain bagi mereka adalah sasaran perampokan dan kekerasan.

Bagaimanapun juga, kehidupan yang demikian sangat mendebarkan jantung. Ketika Saruju ada didalamnya, maka ia tidak terlalu banyak dapat melihat tentang kehidupan itu sendiri. Tetapi setelah ia berada diluarnya maka nampak olehnya, betapa kelamnya kehidupan yang demikian.

Namun ia merasa terlalu sulit untuk melepaskan diri dari lingkungan itu. Keluarganya seorang demi seorang akan menjadi korban. Dan tentu yang terakhir adalah dirinya sendiri.

Sementara itu, kedua orang yang pernah datang kepadanya itu telah pergi ke rumah Damar.

Agak berbeda dengan Saruju, maka Damar yang biasanya sekeras Saruju itu menanggapinya dengan sikap yang lain. Damar tidak banyak memberikan tanggapan atas perintah yang dibawa oleh kedua orang itu.

Sebagaimana Saruju maka seorang di antara keduanya itu telah dikenalnya. Ia pun terkejut ketika tiba-tiba saja kedua orang itu mengetuk pintu rumahnya keras-keras dan bertanya kepada salah seorang adiknya, apakah ia ada di rumah.

Adiknya memang agak takut melihat kedua orang itu. Karena itu maka ia pun dengan tergesa-gesa memanggil Damar dan mengatakannya bahwa dua orang yang berwajah seram mencarinya.

Damar memang sudah menduga. Karena itu, ketika ia melihat kedua orang itu berdiri di muka pintu, ia tidak terkejut lagi.

Berbeda dengan Saruju maka Damar mempersilakan kedua orang itu untuk masuk ke rumahnya dan duduk di ruang dalam. Sehingga menurut perhitungan Damar, tidak ada orang lain yang melihatnya. Sementara itu ayahnya berada di sawah dan ibunya berada di dapur, sehingga pembicaraan mereka tidak akan didengar oleh orang lain. Bahkan adik-adiknya pun tidak akan berusaha mendengarkan percakapan mereka karena mereka merasa tidak berkepentingan.

Kedua orang itu memang orang-orang yang kasar. Demikian mereka duduk disebuah amben yang besar, maka kaki mereka pun langsung ditekuknya pada lututnya yang tegak tanpa menghiraukan apapun.

“Damar,” berkata orang yang pernah dikenalnya itu sebagaimana ia berkata kepada Saruju. “Aku datang untuk memberimu peringatan bahwa waktumu telah kau lalui hampir separohnya.”

Damar mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Aku menyadari.”

“Jika kau tidak dapat menyelesaikan pada waktu yang sudah ditentukan, maka kau tentu sudah dapat membayangkan akibatnya.”

“Ya,” Damar mengangguk-angguk.

“Karena itu, maka kau harus bersungguh-sungguh dengan tugasmu,” berkata orang itu pula.

Damar masih mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan.”

“Jangan hanya sejauh dapat kau lakukan. Kau harus yakin bahwa tugas itu akan dapat kau selesaikan. Jika tidak maka satu-satu keluargamu akan dibunuh,” berkata orang itu lagi.

“Jangan terlalu keras berbicara di ruang ini,” berkata Damar. “Aku dapat mendengar meskipun kau berbicara perlahan-lahan.”

Orang itu menarik nafas. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata orang itu. “Aku minta diri. Aku hanya memberimu peringatan. Mudah-mudahan kau berhasil.”

Damar memang tidak banyak memberikan tanggapan. Rasa-rasanya segan baginya untuk berbicara tentang tugasnya.

Sebenarnyalah kedua orang itu pun segera meninggalkan rumah Damar. Demikian mereka melintasi halaman, maka adik Damar yang kecil yang sedang berada di halaman segera mendekati kakaknya, sambil bertanya, “Siapakah mereka kakang?”

Damar mencoba tersenyum. Katanya, “Itu adalah orang-orang yang terbiasa menebangi kayu dihutan-hutan. He, kau nampaknya takut kepada mereka?”

“Ya. Aku takut,” berkata adiknya.

Damar berusaha untuk tertawa. Katanya, “Tidak apa-apa. Mereka tidak apa-apa.”

“Tetapi kenapa mereka kemari? Apakah kakang mempunyai hubungan dengan penebang kayu dihutan-hutan?” bertanya adiknya.

“Tidak. Aku hanya mengenalnya. Dan mereka juga bertandang kemari,” jawab Damar berbohong.

Tetapi nampaklah adiknya yang kecil itu kurang yakin akan jawaban kakaknya itu. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Bahkan adik Damar yang kecil itu pun telah meninggalkannya.

Damar berdiri termangu-mangu memandang adiknya itu. Namun ia pun kemudian telah kembali masuk ke dalam rumahnya. Bahkan Damar itu telah masuk ke dalam biliknya.

Dengan wajah muram Damar duduk merenungi dirinya sebagaimana dilakukan oleh Saruju. Angan-angannya bergejolak sebagaimana terjadi pada Saruju.

Ternyata bahwa kedua orang itu mempunyai kesan dan sikap yang sama terhadap keadaan diri mereka dan masa depan mereka.

“Gila,” geram Damar. Namun seakan-akan ia tidak berkemampuan melawan nasib yang sangat buruk yang selalu membayanginya itu.

Malam itu, Saruju dan Damar telah bertemu. Tetapi mereka sudah tidak lagi berusaha untuk mengintip rumah Kepala Tanah Perdikannya. Mereka merasa tidak mampu untuk menembus dinding rumah itu, karena di dalam rumah itu terdapat orang-orang berilmu tinggi memagari Risang. Bahkan untuk mengetahui dimana Risang tidur pun mereka tidak berhasil.

“Apa yang dapat kita lakukan,” berkata Saruju. “Di siang hari pun dalam kesempatan yang sedikit bagi kita memasuki halaman rumah Risang itu, kita selalu melihat bahwa anak itu selalu diawasi oleh orang-orang berilmu tinggi. Jika bukan Gandar, maka Bibilah yang ada didekatnya. Bahkan kadang-kadang ibunya sendiri atau kakek buyutnya.”

“Memang tidak ada pilihan lain Saruju. Seperti yang pernah kita bicarakan. Kita harus melakukannya sambil membunuh diri,” berkata Damar. “Namun dengan demikian keluarga kita akan selamat.”

“Jika kita berhasil membunuh anak itu, meskipun kita sendiri menjadi korban, agaknya tidak apa-apa. Kita menjadi bebanten dari keselamatan keluarga kita sendiri,” berkata Saruju. “Tetapi yang paling pahit adalah jika kita gagal dan kita justru tertangkap atau terbunuh. Maka keluarga yang kita tinggalkan pun akan mengalami nasib yang paling buruk. Mereka akan menjadi sasaran kemarahan Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana, sementara itu orang-orang Tanah Perdikan ini pun akan menyoroti mereka sebagai keluarga pengkhianat. Mereka akan tersisih dari pergaulan dan terutama adik-adik kita, akan kehilangan masa depannya. Sementara itu, dalam kepahitan hidup dan keterasingan, maka puncak daripada penderitaan mereka adalah ujung-ujung senjata orang-orang Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana.”

Damar merenungi kata-kata itu. Tetapi dadanya bagaikan pecah jika teringat olehnya kedua adik perempuannya. Apakah mereka juga merasa menjadi korban.

Dalam pada itu Saruju pun berkata, “Sudahlah. Besok kita bicarakan lebih lanjut. Marilah kita pergi ke gardu.”

Damar mengangguk. Tetapi seperti biasanya keduanya tidak selalu bersama-sama. Saruju pergi dahulu, baru kemudian Damar menyusulnya. Agar tidak menimbulkan kesan, bahwa mereka masih terikat secara khusus.

Di gardu anak-anak muda yang berkumpul berkelakar seperti biasanya. Bukan hanya mereka yang sedang bertugas, tetapi banyak anak-anak muda yang lain ikut duduk dan bergurau untuk mengisi kekosongan waktu mereka di malam hari. Namun jika mereka sudah mulai mengantuk, kecuali yang bertugas, langsung saja menjatuhkan diri dan tidur di gardu itu pula, sehingga kadang-kadang di gardu itu justru berjejalan anak-anak muda yang tertidur, sementara mereka yang sedang bertugas justru berada di luar gardu.

Namun malam itu Saruju dan Damar tidak nampak gembira seperti biasanya. Hanya sekali-kali saja mereka ikut tertawa. Namun keduanya lebih banyak dipengaruhi oleh kegelisahan mereka tentang diri mereka sendiri, terutama keluarga mereka.

Apalagi jika mereka berada di tengah-tengah kawan-kawannya. Anak-anak muda Tanah Perdikan itu bukan saja anak-anak muda yang pandai menyabit rumput dan bersenandung di padang penggembalaan. Atau mencangkul di sawah dan menebang kayu di hutan. Namun anak-anak muda itu pada umumnya juga memiliki ilmu kanuragan meskipun baru dasarnya saja. Bahkan ada di antara mereka yang telah mendapat tempaan secara khusus dan menjadi pemimpin kelompok pengawal di padukuhannya.

Dalam pada itu, ketika kawan-kawannya yang lain sudah tertidur di gardu, sementara mereka yang bertugas meronda sedang berkeliling dan justru menitipkan gardu itu kepada Damar dan Saruju yang tidak tertidur, maka Saruju sempat berdesis, “Apakah aku dapat mempunyai keberanian untuk meninggalkan kehidupan seperti ini dan kembali ke dalam kehidupan yang kelam?”.

Damar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berdesis perlahan-lahan, “Sebenarnya aku pun berpendapat demikian. Tetapi bagaimana dengan keluarga kita. Mungkin kita sendiri tidak akan berpikir lagi tentang mati. Kita sebenarnya sudah lama mati dan kini mendapat kesempatan untuk hidup kembali meskipun seolah-olah hanya sekedar pinjaman. Tetapi bagaimana dengan ayah, ibu dan adik-adik.”

“Itulah soalnya” berkata. Saruju, “namun aku tiba-tiba saja mempunyai pendapat. Tetapi jangan tergesa-gesa sebab aku mengkhianati perjuangan Jipang.”

Damar memandang Saruju dengan tajamnya. Namun kemudian ia bertanya, “Kita berusaha mempertahankan kehidupan kita sekarang, sekaligus mempertahankan hidup keluarga kita? Bahkan jika terpaksa dengan kekerasan sekalipun?”

Saruju menarik nafas dadam-dalam. Namun katanya, ”Hanya satu impian yang ngaya wara. Kita benar-benar sudah dicengkam oleh kuku-kuku yang tajam. Apapun yang akan kita lakukan atau tidak melakukannya sama sekali berarti kematian.”

Damar mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tahu yang kau pikirkan. Jika kita tidak berhasil membunuh Risang, maka tugas kita akan beralih. Mempertahankan hidup kita dan keluarga kita.”

Saruju memandang Damar dengan ragu-ragu. Namun Damar kemudian telah berkata, “Jangan ragu-ragu. Aku tidak akan mengkhianatimu. Jika kau berpendirian demikian, maka aku pun akan bersikap yang sama pula.”

Saruju termangu-mangu, sejenak. Namun kemudian ia menggeretakkan giginya, ”Kita harus berhasil membunuh anak itu. Aku tidak mau seorang pun dari keluargaku akan terbunuh.”

Damar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Keduanya pun kemudian terdiam. Yang terdengar adalah dengkur yang bersahutan di gardu. Anak-anak muda yang tidur nyenyak, sama sekali tidak menghiraukan apa yang bergejolak di hati Saruju dan Damar.

Sejenak kemudian Saruju yang gelisah itu pun telah berbaring pula berdesakkan dengan kawankawannya yang tertidur sehingga udara malam tidak terasa mendingin. Damar laah yang kemudian duduk diatas amben yang tinggi, yang dibuat anak-anak, muda itu, di sebelah gardu itu, Diselimutinya dirinya dengan kain panjang sambil memeluk lutut. Gambaran-gambaran yang beraneka datang dan pergi dari rongga. matanya. Namun akhirnya ia hanya menggeretakkan giginya.

Demikianlah hari-hari berikutnya kedua orang anak muda itu memang berusaha untuk dapat semakin dekat dengan rumah Kepala Tanah Perdikan apapun alasannya. Namun dalam kesempatan yang jarang itu, mereka sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Risang yang semakin tangkas itu selalu berada dibawah lindungan orang-orang yang beirilmu tinggi. Bahkan untuk melakukan tugasnya sambil membunuh diripun agaknya tidak mungkin dilakukannya,

Sementara itu hari-hari pun merambat semakin dekat deagan batas akhir dari waktu yang diberikan oleh Ki Rangga Gupita.

Ketika separuh dari bulan yang kedua itu telah lewat, maka pada satu malam Damar berkata, “Aku akan dapat menjadi gila karena tugas ini”

Saruju: mengangguk-augguk. Katanya, ”Kita sudah dipengaruhi oleh satu kehidupan yang hanya berlandaskan kepentingan duniawi. Kita harus berusaha menyingkirkannya dari diri kita. Kita harus kembali kepada jiwa perjuangan kita. Dengan demikian kita tidak akan menjadi ragu-ragu.”

“Ragu-ragu atau tidak ragu-ragu. Tetapi kesempatan itu memang tidak ada” berkata Damar.

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih mencoba menggeretakkan giginya sambil berkata, “Kita akan menyerbu memasuki halaman rumah itu di siang hari esok, apapun yang terjadi.”

“Nah, bukankah kita memang sudah menjadi gila. Jika hal itu kita lakukan, maka kita benar-benar telah gila seperti yang aku katakan. Kita akan mati ditangan para pengawal sebelum kita menyentuh anak itu. Sementara keluarga kita akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang Tanah Perdikan ini. Sekaligus kemarahan Ki Rangga dan Nyi Wiradana.” desis Damar.

Saruju menggeram. Dengan nada rendah ia kemudian berkata, “Ya. Kita memang akan menjadi gila.”

Namun bagaimanapun juga, keduanya masih belum menemukan kesempatan apapun juga untuk melakukannya.

Adalah diluar dugaan mereka, ketika pada suatu hari, mereka mendengar dari anak-anak muda, yang berada digardu, bahwa esok pagi Iswari akan melihat ujung hutan yang menjorok memasuki Tanah Perdikan disisi selatan. Hutan itu akan dapat diusahakan sebagian untuk dijadikan Tanah persawahan. Agaknya orang-orang Tanah Perdikan Semboyan memang memerlukan tanah baru, yang dapat diusahakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat. Tetapi Iswari tidak dengan serta merta memerimtahkan agar mereka menebangi hutan sekehendak hati. Baik disisi Selatan, Utara, atau, yang berada disebelah Timur yang masih merupakan hutan yang lebat yang sebagian besar memang berada didaerah Tanah Perdikan Sembojan -itu sendir.

“Apa yang dapat kita lakukan?” berkata Damar.

“Kita tidak tahu, apakah anak itu akan dibawanya atau tidak” berkata Saruju.

“Jika dibawa?” bertanya Damar pula.

“Kita tetap tidak dapat berbuat apa-apa.” jawab Saruju. Lalu, “Tetapi, jika anak itu ditinggalkannya di rumah; maka kita dapat mencobanya.”

“Kita akan pergi ke rumah Kepala, Tanah Perdikian sementara Iswari pergi?” bertanya Damar.

“Ya. Adalah kebetulan bahwa jambu air dirumahku sedang berbuah, lebat, ”Aku akan memetiknya dan meamilih yang paling baik untuk kita bawa ke rumah Iswari” berkata Saruju.

“Lalu, apakah yang dapat aku pergunakan sebagai alasan untuk pergi ke rumah Kepala Tanah Perdikan itu?-bertanya Damar.

“Kata pergi bersama-sama. Mungkin ada orang yang mencurigai kita justru pada saat Iswari pergi. Tetapi bukankah kita akan melakukan tugas kita meskipun seandainya sambil membunuh diri.” sahut Saruju.

“Ya. Kita akan mati. Dan sanak kadang di rumah kita akan tetap hidup. Tetapi hidup mereka pun tidak ubahnya dengan mati, karena semua orang di Tanah Perdikan ini akan memusuhi mereka.” desis Damar.

”Jangan menjadi cengeng seperti itu. Bukankah kita prajurit Jipang yang perkasa, yang tidak akan berkhianat meskipun kita terperosok kedalam lautan madu sekalipun?” geram Saruju.

Damar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengetahui bahwa yang diucapkan Saruju itu tidak sesuai dengan gejolak perasaannya yang kacau sebagaimana perasaannya sendiri. Sehingga, karena itu maka sambil mengangguk-angguk Damar menyahut, “Ya. Kita adalah orang-orang perkasa. Betapapun kita diburu oleh kegelisahan bahkan ketakutan.”

Saruju tersenyum betapapun kecutnya.

Namun, hari itu Saruju memang memetik buah jambu airnya. Cukup banyak. Kemudian memilih yang paling baik dirantara jambu air yang setenggok itu disiapkan untuk diantar ke rumah Iswari esok.

Dalam pada itu, semalam suntuk Saruju hampir tidak dapat tidur barang sekejap pun. Kegelisahan memang mencengkam jantungnya. Bahkan seperti yang dikatakan Damsr, bahwa mereka akan dapat menjadi gila dengan tugas itu.

Ketika ayam jantan berkokok menjelang dini, Saruju sudah siap dengan jambunya. Tetapi ia tidak dapat segera berangkat ke rumah Iswari, karena menurut kabar yang didengarnya, baru ketika matahari sepenggalah, Iswari akan pergi ke hutan itu untuk melihat dan menancapkan patok-patok atas bagian yang akan dijadikan persawahan.

Terasa hari bergerak dengan malasnya. Lambat sekali. Bahkan rasa-rasanya tidak bergerak, karena matahari tidak segera terbit.

Saruju terkejut ketika ibunya bertanya dengan suara lembut keibuan, “Kau nampak gelisah sekali Saruju. Bukankah tidak pantas kau pergi sepagi ini hanya untuk memberikan jambu itu ke rumah Kepala Tanah Perdikan.”

Saruju mengangguk kecil katanya,, “Aku memang gelisah biyung. Tetapi tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, apakah mungkin aku juga mendapat kesempatan mengerjakan sawah yang akan dibuat di bekas hutan yang akan ditebang itu.”

“O,” ibunya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya,, “Jangan gelisah. Seharusnya kau tidak perlu memikirkannya. Bukankah sawah kita cukup luas?”

“Tetapi bukankah aku tidak sendiri? Sawah itu akan dibagikan kepadaku dan adik-adikku kelak. Jika aku mendapat tanah itu, maka biarlah tanah kita sekarang diberikan kepada adik-adik saja.”

Ibunya tersenyum. Katanya,, “Kau tidak usah berpikir sajauh itu. Mungkin kehidupan kita akan berubah. Jika keadaan Tanah Perdikan ini semakin baik, maka kita akan mendapatkan kesempatan-kesempatan baru kemudian,” berkata ibunya.

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mengatakan gejolak perasaannya yang sebenarnya.

Betapa lambannya, namun akhirnya matahari puin terbit juga. Bahkan kemudian memanjat langit dan sampailah saatnya matahari itu sepenggalah.

Dengan jantung yang berdegupan keras, Saruju telah membawa sebakul jambu air yang paling baik dari hasil kebunnya menuju ke padukuhan. Di sudut padukuhan ditemuinya Damar telah menunggunya. Nampaknya Damar pun telah dicengkam oleh kegelisahan pula.

Berdua mereka telah pergi ke Padukuhan Induk. Mereka telah mulai kehilangan pertimbangan-pertimbangan nalar mereka yang bening. Jika untuk waktu-waktu sebelumnya keduanya masih mampu menghindari kemungkinan pergi bersama-sama justru karena mereka berdua telah menyerah bersama-sama pula, maka saat itu mereka telah melupakannya.

Ketika mereka mendekati padukuhan induk, maka mereka mengetahui bahwa Iswari memang sudah berangkat bersama beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan yang lain dan beberapa orang bekel dari padukuhan-padukuhan yang dianggap miskin, karena tanahnya yang kurang baik. Mereka akan melihat dan menilai hutan disisi Selatan, apakah hutan itu akan dapat memberikan kemungkinan-kemungkinan baru bagi Tanah Perdikan Sembojan.

“Mereka telah berangkat,” berkata Saruju., “Anak itu tentu tidak dibawa serta.”

“Mudah-mudahan,” berkata Damar.

Saruju tidak menjawab lagi. Namun jantungnyalah yang berdegupan semakin keras.

Demikian mereka memasuki regol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan itu, maka keringat telah membasahi tubuh kedua anak muda itu. Ketika seorang penjaga bertanya kepada mereka, maka mereka pun telah menjadi gagap.

“Apakah kau mempunyai kepentingan dengan Nyi Wiradana?” bertanya pengawal itu yang sudah dikenalnya pula dengan baik.

Saruju menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun telah mencoba tersenyum sambil berkata, “Ya. Aku ingin menghadap.”

“Nyi Wiradana sudah berangkat,” jawab pengawal itu.

“O,” Saruju mengangguk-angguk.

Tetapi Saruju pun kemudian berkata, “Tetapi apa salahnya jika kau mengetahuinya. Aku akan memberikan jambu hasil kebunku sendiri kepada anak Nyi Wiradana yang nakal itu.”

“Hanya itu?” bertanya pengawal itu.

Saruju tertawa, katanya, “Tidak. Aku juga akan memohon kepada Nyi Wiradana untuk dapat berbuat sesuatu atas hutan itu. Sebagaimana kau ketahui, tanah kami berdua terlalu sempit untuk dibagi-bagikan dengan adik-adik kami kelak.”

“O,” pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya,, “Tetapi menurut pendengaranku, tanah itu terutama akan diberikan kepada orang-orang yang tinggal di padukuhan-padukuhan yang paling miskin di Tanah Perdikan ini karena tanah garapannya tidak lagi memberikan harapan. Itulah agaknya yang mendorong Nyi Wiradana untuk membuka hutan baru dan berusaha menghutankan kembali tanah-tanah yang tidak lagi dapat digarap sebagai tanah persawahan.”

Saruju mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata,, “Baiklah. Jika demikian biarlah aku menghadap Nyi Wiradana nanti sore. Sekarang, biarlah aku memberikan jambu ini kepada Risang. Aku tidak tahu apakah anak itu menyukainya atau tidak.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya,, “Aku tidak melihat anak itu sejak pagi. Namun entahlah. Cobalah bertanya kepada orang dalam.”

“Tetapi lewat pintu yang mana?” bertanya Saruju.

“Masuk sajalah lewat seketheng itu. Dilongkangan akan kau temui seseorang. Atau jika tidak maka kau dapat mengetuk pintu butulan,” berkata pengawal itu.

Saruju mengangguk kecil. Ia pun kemudian berjalan bersama Damar memasuki seketheng.

Jantung kedua orang anak muda itu menjadi semakin berdebar-debar karenanya.

Karena di longkangan belakang seketheng itu tidak terdapat seorang pun, maka Saruju memang telah mengetuk pintu butulan. Sementara itu ia berdesis, “Damar, tataplah langit untuk yang terakhir. Kita akan membunuh diri sekarang ini.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apapun yang akan terjadi.”

Saruju mengangguk. Katanya, “Kita adalah pahlawan-pahlawan yang pantas mendapat penghargaan tertinggi jika Jipang kelak benar-benar berdiri.”

Namun tiba-tiba saja Damar tersenyum. Tetapi senyumnya terasa pahit sekali.

Saruju yang termangu-mangu itu pun sekali lagi mengetuk pintu butulan. Semakin keras.

Sejenak kemudian terdengar langkah mendekati pintu. Ketika pintu terbuka, seorang perempuan telah berdiri di depan pintu.

“O,” Saruju menjadi gagap. “Sebenarnya aku ingin menghadap Nyi Wiradana untuk sedikit berbicara tentang tanah. Tetapi ternyata Nyi Wiradana telah berangkat.”

“Ya,” sahut perempuan itu. “Bersama para bekel dan beberapa orang bebahu.”

“Jika demikian, maka biarlah aku memberikan jambu yang aku petik langsung dari kebun sendiri kepada Risang. Mudah-mudahan ia menyukainya,” berkata Saruju.

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Sayang, Risang sedang tidur.”

“Sepagi ini?” bertanya Saruju. “Bukankah matahari baru naik?”

“Badannya agak kurang sehat. Semalam anak itu panas dan pagi ini baru dapat tidur agak nyenyak. Karena itu, maka ibunya berpesan agar anak itu tidak dibangunkan sampai saatnya ia bangun sendiri,” berkata perempuan itu.

Saruju dan Damar menjadi berdebar-debar. Satu kesempatan yang paling baik bagi mereka. Mungkin kesempatan yang demikian baru akan datang beberapa bulan lagi, melampaui jatah waktu yang diberikan kepada mereka.

Karena itu, maka tiba-tiba Damar pun berkata, “Bibi, apakah kami berdua diperbolehkan untuk menengoknya barang sejenak. Jika anak itu sudah terbangun, kami akan memberikan jambu air ini. Anak itu tentu senang menerimanya.”

“Tetapi ibunya berpesan, agar tidak seorang pun mengganggunya,” berkata perempuan itu.

“Kami tidak akan mengganggunya. Kami tidak akan membangunkannya. Kami hanya akan menengoknya. Ia sangat lucu, lincah bahkan tangkas menurut umurnya, melampaui ketangkasan anak-anak sebayanya,” berkata Damar.

Perempuan itu ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Masuklah.”

Damar memandang Saruju sejenak. Dadanya menjadi berdebar-debar. Jika mereka berhasil menengok anak itu, maka mereka akan mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya meskipun mereka berdua kemudian akan mati.

“Mudah-Mudahan para pemimpin dan keluarga Nyi Wiradana pergi bersamanya, sehingga hanya pemomong sajalah yang menungguinya,” berkata kedua anak muda itu di dalam hatinya.

Kedua anak muda itu mengikuti perempuan yang membawanya masuk ke ruang dalam. Ternyata bilik Risang ada disenthong kiri di antara tiga senthong yang berjajar menghadap ke ruang tengah.

Namun kedua orang anak muda itu tertegun. Mereka untuk sesaat berdiri mematung. Di atas tikar pandan yang dibentangkan di depan bilik sebelah kiri, yang disebut oleh perempuan itu sebagai bilik yang dipergunakan oleh Risang dan pemomongnya, duduk seorang laki-laki yang rambutnya sudah mulai memutih. Kiai Badra.

Tulang belulang kedua anak muda itu bagaikan terlepas dari sendi-sendinya. Harapan mereka untuk melakukan tugas mereka tiba-tiba bagaikan terbang ditiup angin.

Mereka tahu pasti, siapakah Kiai Badra itu dan sampai dimana kemampuan laki-laki tua itu. Sementara itu, ia adalah kakek buyut Risang yang disebutnya sedang sakit itu.

Dada mereka bergetar ketika mereka mendengar suara orang tua itu, “Marilah ngger. Duduklah.”

Kedua anak muda itu bagaikan tidak berdaya untuk berbuat lain kecuali sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra itu. Sambil menjinjing sekeranjang jambu air, Saruju bergeser mendekati diikuti oleh Damar. Kedua anak muda itu pun kemudian duduk di depan pintu Senthong kiri.

“Marilah ngger. Apakah angger berdua mempunyai keperluan?” berkata Kiai Badra.

Sesaat keduanya bagaikan membeku. Namun kemudian Saruju pun menjawab, “Ya Kiai. Sebenarnyalah kami berdua ingin menghadap Nyi Wiradana.”

“Apakah ada masalah yang timbul di antara kalian?” bertanya Kiai Badra.

“Bukan di antara kami Kiai. Tetapi kami berdua ingin mengajukan permohonan kepada Nyi Wiradana,” jawab Saruju.

“Permohonan apa?” bertanya orang tua itu.

“Bukankah Nyi Wiradana berniat untuk membuka hutan bagi tanah persawahan?” jawab Saruju pula. “Sebenarnyalah bahwa kami ingin memohon agar kami diperkenankan untuk ikut menggarap tanah itu.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “memang kalian harus menemui Nyi Wiradana. Hanya Nyi Wiradana yang dapat memberikan keputusan. Tetapi apakah orang tua kalian memang tidak mempunyai sebidang tanah garapan yang baik?”

“Ayah memang mempunyai sebidang tanah garapan. Tetapi jika aku diperkenankan mendapatkan tanah, maka aku tidak akan mengganggu orang tuaku lagi. Aku ingin berdiri sendiri sementara tanah orangtuaku dapat diberikan kepada adik-adiku,” berkata Saruju.

“Aku juga ingin berbuat demikian Kiai,” sahut Damar. “Kami ingin membuktikan pula, bahwa kami masih mempunyai kemauan bekerja dan ikut membangun Tanah Perdikan ini.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Aku dapat menghargai sikap kalian, anak-anak muda. Tetapi segalanya tergantung sekali kepada Nyi Wiradana.”

“Ya Kiai. Aku mengerti,” Saruju pun mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi Kiai. Selain menghadap Nyi Wiradana, kami ingin memberikan jambu air ini kepada Risang. Aku dengar anak itu sedang sakit.”

“O,” Kiai Badra mengangguk-angguk. “Anak itu memang sedang agak kurang sehat. Ia tidur sepanjang pagi. Malam tadi ia hampir tidak tidur sama sekali.”

“Jika demikian apakah kami diperkenankan sekadar menengoknya?” bertanya Saruju.

Kiai Badra berpikir sejenak. Namun kemudian jawabannya, “Sebaiknya nanti saja ngger, jika ia sudah terbangun.”

“Kami hanya akan sekadar melihat,” desak Damar. “Sudah lama kami tidak melihatnya. Terakhir kami lihat anak itu berlari-lari di halaman. Tiba-tiba saja ia sekarang sakit.”

“Terima kasih atas perhatian kalian ngger,” berkata Kiai Badra. “Tetapi sayang, anak itu harus beristirahat sebanyak-banyaknya.”

“Kami tidak akan membangunkannya,” berkata Damar yang mulai tidak sabar. “Kami hanya akan menengoknya saja.”

“Sabarlah ngger. Nanti atau besok, jika anak itu sudah bangun, kalian akan dapat menemuinya” berkata Kiai Badra.

Damar dan Saruju mulai gelisah. Mereka menjadi cemas bahwa mereka benar-benar akan gagal memanfaatkan kesempatan yang sudah ada dihadapan hidung mereka. Yang terbayang di rongga mata mereka adalah keluarga mereka yang sedang diancam ujung pedang oleh Ki Rangga dan Nyi Wiradana yang muda.

Dalam kegelisahan tiba-tiba saja Saruju mendesak, “Kiai, apakah jeleknya jika kami berdua sekedar menengok Risang yang sedang sakit. Bukankah kami, rakyat Tanah Perdikan ini mempunyai kewajiban untuk menghormati bakal Kepala Tanah Perdikannya? Apalagi jika ia sedang sakit, maka adalah kewajiban kami untuk ikut berprihatin.”

Kiai Badra memandang kedua anak muda itu berganti-ganti. Dengan nada sareh ia berkata, “Angger berdua. Sekali lagi kami, keluarga Risang mengucapkan terima kasih. Tetapi Risang sedang tidur nyenyak. Biarlah ia tidur. Setiap derit pintu dapat membangunkannya. Karena itu, maka sekali lagi aku mohon, datanglah kemudian. Kapanpun.”

Wajah Saruju dan Damar menjadi tegang. Keduanya benar-benar bagaikan menjadi gila oleh kesempatan yang terlepas itu. Karana itu maka Saruju semakin mendesaknya, “Kiai, beri kami kesempatan.”

Sebelum Kiai Badra menjawab, Damar pun telah menda saknya pula, “Biarkan kami memasuki biliknya.”

Kiai Badra tidak segera menjawab. Namun dipandanginya kedua anak muda itu berganti-ganti. Meskipun sorot mata orangg itu terlampau lunak, namun rasa-rasanya sorot mata itu telah menghunjam kedalam jantung mereka.

Apalagi ketika dengan nada berat Kiai Badra berkata, “Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki anak-anak-muda.?”

Pertanyaan itu telah mengguncang jantung Damar dan Saruju. Untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya berdiam diri bagaikan membaku.

“Angger berdua” Kiai Badralah yang mendesak, “apakah sebenarnya kepentingan angger berdua dengan Risang?”

Keduanya masl tetap berdiam diri. Namun keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh Damar dan Saruju.

Jantung mereka serasa akan pecah ketika tiba, tiba saja Ki,ai Badra itu berkata, “Angger berdua. Sesuatu telah mengungkit pertanyaan dihatiku. Justru karena kalian mendesak untuk dapat menemui Risang yang sedang tertidur anyenyak. Apakah sebenarnya yang telah terjadi atau yang mungkin dapat terjadi pada anak itu?”

Kedua orang anak muda itu tiba-tiba telah terbungkam. Sementara itu Kiai Badra telah mendesak, “Katakan. Mungkin aku dapat membantu kalian jika ada persoalan didalam diri kalian.”

Kedua orang anak muda itu tidak menjawab. Namun di wajah mereka terbayang persoalan yang sangat rumit yang bergejolak didalam dada mereka.

Sementara itu maka Kiai Badra pun telah menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Angger berdua. Aku hampir tidak percaya bahwa orang yang hari ini datang mencari Risang adalah kalian berdua. Bahkan dengan agak mepdesak kalian ingin hertemu dengan anak itu”

Isi dada keduanya serasa terguncang semakin keras. Bahkan darah mereka terasa berhenti mengalir ketika mereka kemudian mendengar Kiai Badra berkata, “Risang tidak sedang sakit.”

Kedua anak muda itu memandang Kiai Badra dengan tajamnya, seakan-akan mereka ingin melihat isi dada orang tua itu.

Dengan suara gemetar Saruju bertanya, “Apa sebenarnya yang terjadi dengan Risang.”

“Risang tidak apa-apa. Ia bermain di gandok bersama pemomongnya ditunggui oleh Gandar dan Bibi,” berkata Kiai Badra.

“Kenapa anak yang sehat itu disebut sedang sakit?” bertanya Damar.

“Anak-anak muda,” berkata Kiai Badra. “Seperti sudah aku katakan, aku menjadi sangat heran, bahwa yang datang mencari Risang adalah kalian berdua. Anak muda yang selama ini kami kenal baik dan memberikan arti yang besar bagi Tanah Perdikan ini.”

Kedua anak muda itu pun kemudian menundukkan kepalanya. Namun demikian Damar masih juga bertanya, “Bagaimana dengan mereka yang mencari Risang?”

“Anak-anak muda,” berkata Kiai Badra. “Pengalaman telah mengatakan, bahwa ada pihak yang tidak senang dengan kehadiran Risang. Ada pihak yang berusaha untuk membunuhnya. Ada-ada saja cara yang ditempuhnya.”

Saruju dan Damar menarik nafas. Tetapi mereka tidak mengatakan sesuatu.

“Karena itu, ketika Iswari mempunyai rencana untuk meninggalkan rumahnya karena tugasnya, maka ia telah berpesan, agar pengawasan terhadap Risang diperketat. Rasa-rasanya Iswari sudah menjadi jera atas peristiwa yang telah terjadi. Usaha untuk membunuh Risang. Karena itulah, maka Risang telah disembunyikannya. Sementara itu, kami telah mempunyai dugaan buruk kepada orang yang telah mencari Risang,” berkata Kiai Badra.

Dada kedua anak muda itu bagaikan didera oleh hentakan-hentakan yang sangat menyakitkan.

“Anak-anak muda,” berkata Kiai Badra. “Aku minta maaf jika dugaan kami salah. Tetapi dengan terpaksa kami tidak dapat mempertemukan kalian dengan Risang. Nanti jika ibunya sudah kembali, maka silakan menemuinya. Tetapi terus terang aku katakan, bahwa Risang tidak sakit.”

Saruju dan Damar menjadi bingung. Mereka tidak segera dapat menjawab atau menanggapi kata-kata Kiai Badra itu. Apalagi ketika Kiai Badra kemudian berkata, “Anak-anak muda. Jika kalian mencari Iswari, bukankah kalian tahu bahwa Iswari memang sedang pergi? Sehingga kecurigaan kami, jika kami menduga bahwa kalian berdua dengan sengaja datang setelah Iswari berangkat untuk dapat bertemu langsung dengan Risang. Mungkin untuk benar-benar memberikan jambu air itu. Tetapi mungkin untuk kepentingan yang lain.”

Wajah kedua anak muda itu bukan saja menjadi tegang. Tetapi juga menjadi pucat.

“Anak-anak muda. Katakan terus terang,” berkata Kiai Badra. “Barangkali itu lebih baik bagi kalian dan lebih baik bagi kami, keluarga yang tinggal di rumah ini. Apalagi kalian berdua termasuk orang yang paling lambat menyerahkan diri.”

“O, Kiai,” tiba-tiba saja Saruju tidak lagi dapat menahan hatinya yang meledak. Saruju yang garang yang pernah memasuki beberapa buah rumah untuk merampok. Yang pernah mencegat orang ditengah-tengah bulak untuk menyamun itu, tiba-tiba saja menangis. Kepalanya menunduk sampai dahinya menyentuh lantai. Sementara itu Damar pun seakan-akan telah membeku karenanya. Namun jantungnya pun rasa-rasanya bagaikan berhenti berdetak melihat sikap Saruju dan hentakan-hentakan yang ada di dalam dirinya sendiri. ia sadar bahwa Kiai Badra sebenarnyalah telah mencurigai mereka dan menuduh mereka untuk berbuat sesuatu atas Risang. Kiai Badra bahkan telah menghubungkan kehadirannya itu dengan saat-saat penyerahannya, sehingga dengan demikian Kiai Badra menganggap bahwa ia memang menyerah hanya sekadar sebagai satu cara untuk melakukan satu pengkhianatan.

“Kami tidak akan dapat berbohong terhadap Kiai,” berkata Saruju yang terisak.

Damar menepuk bahu kawannya sambil berkata lemah. “Baiklah kita berterus terang. Tidak ada gunanya bagi kita untuk menyembunyikan diri lagi. Jika dengan demikian kita harus dihukum mati, biarlah hukuman itu segera dilakukan. Sementara itu kehidupan keluarga kita pun telah terancam.”

Kiai Badra pun telah menepuk pundak Saruju sambil berkata, “Katakan terus terang anak-anak muda. Jika ada jalan keluar, marilah kita tempuh untuk mengatasi persoalan ini.”

Saruju masih terisak. Karena itu, maka katanya kemudian kepada Damar, “Katakan Damar. Apa saja yang kita ketahui tentang diri kita. Aku tidak akan bersembunyi lagi.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dikuatkannya hatinya untuk mengucapkan kata-kata pengakuan dihadapan Kiai Badra, bahwa mereka memang mempunyai tugas untuk membunuh Risang.

Berbeda dengan dugaan mereka bahwa Kiai Badra akan segera bertindak dengan kasar menangkap mereka dan menyerahkan mereka kepada para pengawal, maka Kiai Badra justru untuk beberapa saat lamanya hanya mengangguk-angguk saja.

Bahkan kemudian katanya dengan nada lembut, “Anak-anak muda. Menilik cerita yang kalian ucapkan, maka sebenarnyalah bahwa kalian telah kehilangan gairah untuk kembali ke lingkungan yang keras dan kelam itu. Sehingga dengan demikian kalian tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan tugas kalian. Namun kalian telah diancam, satu demi satu kelaurga kalian akan dibunuh.”

“Ya Kiai,” sahut Damar. “Itulah yang membuat kami berdua hampir menjadi gila. Pertentangan yang luar biasa terjadi di dalam diri kami masing-masing. Sehingga akhirnya kami datang ke rumah ini semata-mata demi keselamatan keluarga kami, karena sebenarnyalah kami sudah kehilangan gairah tentang apa yang disebutnya sebagai satu perjuangan untuk menegakkan Jipang kembali.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja suaranya terdengar lemah, “Sebenarnyalah bahwa aku menaruh kasihan kepada kalian berdua.”

“Kiai,” wajah Damar menjadi semakin tegang.

“Anak-anak muda,” berkata Kiai Badra. “Persoalan kalian memang pantas untuk dibicarakan, karena persoalan kalian akan menyangkut ketenangan Tanah Perdikan ini.”

“Kiai,” berkata Saruju yang gagap. “Kami menyerahkan segalanya kepada kebijakan Kiai dan kemudian Nyi Wiradana. Jika kami harus menjalani hukuman mati, kami tidak akan ingkar. Namun kami mohon keluarga kami mendapat perlindungan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi baginya persoalan yang dihadapi oleh kedua anak muda itu memang persoalan yang cukup rumit. Yang memerlukan penanganan secara khusus dan hati-hati.

Sebelum Kiai Badra memberikan tanggapan, maka tiba-tiba saja terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki halaman. Wajah Damar dan Saruju pun menjadi semakin pucat karenanya. Sementara itu Kiai Badra pun berdesis, “Itulah mereka datang.”

“Kiai, gantung aku Kiai. Tetapi bagaimana dengan keluargaku,” suara Saruju masih gemetar.

“Aku akan membicarakannya nanti dengan Iswari,” berkata Kiai Badra. Lalu, “Duduk sajalah disini bersama aku.”

Kedua anak muda itu telah benar-benar pasrah. Mereka tidak tahu lagi apa yang sebaiknya dilakukan menghadapi persoalan mereka. Untuk lari dari hadapan Kiai Badra pun tidak mungkin karena mereka menyadari kemampuan orang tua itu. Karena itu, maka yang paling baik bagi mereka adalah menyerahkan segalanya kepada Kiai Badra dan kemudian kepada Nyi Wiradana.

Beberapa saat kemudian mereka mendengar suara beberapa orang yang naik dan duduk di pendapa.

Damar dan Saruju bagaikan membeku ketika mereka kemudian melihat pintu yang terbuka dan Nyi Wiradana memasuki regol dalam itu.

Nyai Wiradana terkejut. Katanya, “O, ternyata ada tamu.”

Sebelum Damar dan Saruju menjawab, Kiai Badralah yang berkata, “Angger Saruju dan Damar membawa sekeranjang jambu air untuk kita.”

“O, terima kasih,” sahut Nyai Wiradana. “Aku memang senang sekali jambu air.”

“Selanjutnya, keduanya memang mempunyai kepentingan dengan kau, Iswari,” berkata Kiai Badra. “Mereka memerlukan perlindungan. Tetapi nanti sajalah kita bicarakan. Barangkali kau masih harus menemui orang-orang yang pergi bersamamu memasang patok di hutan itu.”

Iswari tersenyum. Dengan nada dalam ia berkata, “Baiklah. Aku selesaikan dahulu persoalan tanah di hutan itu.”

Iswari pun kemudian kembali ke pendapa dan berbicara tentang banyak hal dengan tamu-tamunya. Terutama para bekel yang merasa padukuhannya tandus dan tidak lagi mempunyai harapan untuk dikembangkan lagi.

Pembicaraan itu rasa-rasanya menjadi sangat lama bagi Damar dan Saruju yang menunggu di dalam. Meskipun Kiai Badra banyak memberikan petunjuk terutama mengenai ketahanan jiwani menghadapi persoalan mereka, namun kegelisahan yang sangat masih tetap mencengkam perasaan mereka. Keduanya belum dapat meraba, apa yang akan dilakukan oleh Nyi Wiradana setelah ia mendengar tentang tugas keduanya di Tanah Perdikan itu.

Namun akhirnya pembicaraan Nyi Wiradana dengan para bekel dan beberapa orang bebahu itu pun selesai juga. Para bebahu itu setelah mendapat hidangan minum dan makanan, telah mohon diri meninggalkan pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan itu. Namun pembicaraan itu agaknya masih belum tuntas, karena dalam dua hari lagi mereka masih harus datang untuk melanjutkan pembicaraan itu.

Sepeninggalan para bekel dan para bebahu, maka Iswari pun telah masuk kembali ke ruang dalam. Namun ketajaman penggraitanya memang telah menangkap, bahwa tentu ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi pada kedua orang anak muda itu. Ketika Iswari kemudian duduk di antara mereka, maka Kiai Badra lah yang menyampaikan persoalan kedua anak muda itu. Namun ternyata yang dikatakan oleh Kiai Badra membuat jantung kedua anak muda itu rasa-rasanya semakin lambat berdenyut.

Ternyata orang tua itu dengan hati-hati telah memberikan keterangan yang sangat meringankan beban keduanya. Orang tua itu tidak dengan serta merta melontarkan tuduhan yang dapat mengancam mereka untuk bergantung ditiang gantungan.

“Iswari,” berkata Kiai Badra. “Kedua anak muda ini datang untuk mengadukan persoalannya. Mereka memerlukan perlindungan dari ancaman Ki Rangga Gupita dan Warsi. Mereka mengaku terus terang bahwa kehadiran mereka di Tanah Perdikan ini memang mendapat tugas khusus. Menyerah, mendapatkan kepercayaan dan kemudian membunuh Risang. Tetapi setelah mereka berada di Tanah Perdikan ini, mereka mengalami pergolakan jiwani. Kesadaran telah tumbuh di hati mereka, sehingga mereka tidak berniat lagi untuk melakukan tugas mereka. Tetapi persoalan baru timbul, karena Ki Rangga dan Warsi telah mengancam akan membunuh keluarganya satu demi satu sampai mereka berdua berhasil membunuh Risang.”

Nyi Wiradana mengerutkan keningnya. Sejenak diamati kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Namun kemudian Nyi Wiradana itu mengangguk-angguk.

Dengan nada dalam ia bertanya, “Jadi kalian benar-benar telah menyadari, bahwa kalian sebenarnya adalah bagian dari Tanah Perdikan ini?”

“Kami menyadari,” jawab keduanya hampir bersamaan.

“Kami tidak berkeberatan memberikan perlindungan kepada kalian asal kalian benar-benar mengerti persoalan yang sebenarnya kalian hadapi,” berkata Iswari.

“Kami mencoba untuk mengerti,” berkata Saruju.

Iswari mengerutkan keningnya. Ia melihat mata Saruju dan isaknya yang masih tertinggal satu-satu. Dengan demikian Iswari mengerti bahwa Saruju itu telah menangis. Adalah jarang sekali terjadi, bahwa seorang laki-laki menangis jika tidak ada ledakan jiwa yang tidak terbendung lagi.

Karena itu, maka Iswari pun berkata, “Coba, katakan dengan terus terang. Ancaman dan perlindungan yang kau inginkan.”

Damarlah yang kemudian menceriterakan ancaman yang pernah diterimanya dari Ki Rangga dan Nyi Wiradana yang muda jika mereka gagal membunuh Risang.

Jantung Iswari berdesir juga mendengar pengakuan keduanya untuk melakukan tugas yang terkutuk itu. Sasarannya adalah anaknya. Bahkan Iswari itu ternyata tidak lagi mampu menguasai gejolak perasaan seorang ibu yang anaknya terancam. Karena itu di luar kehendaknya ia bertanya, “Apakah kedatangan kalian hari ini sebenarnya untuk melakukan tugas itu tetapi gagal?”

“Sudah aku katakan,” Kiai Badra lah yang menjawab. “Mereka datang untuk mohon perlindungan. Akulah yang menerima mereka berdua sejak mereka datang.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun untuk sesaat ia masih berdiam diri.

Jantung kedua anak muda itu menjadi semakin bergejolak. Mereka melihat kerut di wajah Iswari. Agaknya tanggapan Iswari agak berbeda dengan tanggapan Kiai Badra.

Namun tiba-tiba saja Iswari itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah. Agaknya aku harus mendengarkan keluhan setiap orang yang tinggal di Tanah Perdikan jika memang mereka memerlukan aku.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Keduanya memang sangat memerlukan perlindungan. Keduanya mengaku hampir menjadi gila karenanya. Mereka merasa tidak akan mampu melakukan tugas mereka, sementara keluarga mereka telah diancam untuk dibunuh seorang demi seorang sampai orang yang terakhir.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian ia masih juga bertanya, “Jika mereka merasa tidak mampu melakukan tugas ini, apakah sebenarnya mereka berniat untuk melakukannya.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Iswari, apapun yang bergetar di dalam dada kedua anak muda itu kita tidak dapat mengetahuinya. Tetapi yang kita lihat, mereka telah datang, menyerahkan diri dan bahkan mohon perlindunganmu. Karena kau kini adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka ia memang harus datang kepadamu.”

Iswari memandang kakeknya dengan sorot mata yang bergetar antara percaya dan tidak percaya. Namun kemudian pandangannya menjadi lunak. Katanya dengan nada rendah keibuan, “Baiklah. Apapun niat di hati, namun sekarang kalian telah pasrah. Aku akan mencoba menghindarkan diri dari getar perasaanku sebagai seorang ibu yang cemas karena anaknya selalu terancam.”

Saruju dan Damar menundukkan kepalanya dalam-dalam. Keduanya memang tidak dapat lagi mengendalikan keharuannya, sehingga Saruju telah menjadi terisak kembali. Sementara itu, Damar berusaha untuk menahan titik-titik air hangat di pelupuk matanya. Namun Damar berhasil bertahan untuk tidak menangis seperti Saruju.

Sementara itu, Iswari pun kemudian bertanya tentang keluarga kedua orang anak muda itu. Siapa sajakah keluarga mereka yang terancam oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi jika keduanya gagal membunuh Risang.

“Semua ada sepuluh orang,” desis Saruju.

“Jika setiap bulan mereka membunuh seorang, maka mereka akan habis dalam waktu sepuluh bulan,” desis Nyi Wiradana.

“Itulah yang sangat merisaukan,” desis Damar.

“Jadi kau masih mempunyai waktu berapa hari lagi?” bertanya Nyi Wiradana.

“Tidak ada setengah bulan lagi,” jawab Saruju dengan suara bergetar.

“Baiklah. Aku akan memikirkan satu cara untuk melindungi kalian dengan keluarga kalian. Tetapi sudah tentu bahwa kami memerlukan bantuan kalian sekeluarga.”

“Tentu Nyi Wiradana,” sahut Damar dengan serta merta. “Kami akan melakukan segala perintah.”

“Apakah sampai hari ini keluarga kalian sudah mengetahui adanya ancaman ini?” bertanya Iswari.

“Belum,” jawab Damar. “Kami tidak sampai hati untuk mengatakannya. Keluarga kami, terutama orang tua kami yang memang sudah tua, akan menjadi sangat gelisah. Sementara itu dua adikku yang perempuan tentu akan kehilangan kegembiraannya, justru pada saat remajanya.”

“Nah, agaknya kalian dapat merasakan, betapa gelisahnya seorang yang diancam bahaya. Bahkan keluargamu pula. Jika kalian merasa cemas akan nasib orang tua kalian dan adik-adik kalian, maka kalian tentu akan dapat membayangkan, bagaimana cemasnya seorang ibu yang nyawanya terancam setiap saat tanpa batas waktu,” berkata Iswari.

Damar dan Saruju tergetar hatinya mendengar kata-kata Iswari. Sebelumnya mereka tidak pernah membayangkannya, apalagi mencoba untuk merasakannya. Namun kemudian mereka menyadari, perasaan itu tentu tumbuh di hati perempuan itu sebagaimana kecemasan dan kegelisahan yang tumbuh di hati mereka. Bahkan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya tentu melampaui segala-galanya.

KARENA kedua anak muda itu tidak menjawab, maka Iswarilah yang kemudian berkata, “Jadi gejolak kegelisahan dihati kita mempunyai persamaan. Kita masing-masing dibayangi ketakutan bahwa kita akan kehilangan orang-orang yang kita cintai.” Iswari berhenti sejenak, lalu, “Namun memang ada bedanya. Anakku masih kecil, sehingga mudah disembunyikan. Anak itu tidak akan pergi terlalu jauh dari ibunya dan tidak akan keluar dari halaman rumah ini tanpa kawan. Sementara itu, orang tua, adik-adik dan sanak kadangmu tidak dapat terlalu dibatasi. Mereka mempunyai kewajiban di luar rumah. Mungkin di sawah, di pasar atau dimana saja. Itulah yang memerlukan perhitungan tersendiri.”

“Kita dapat membatasi gerak mereka demi keselamatan mereka sendiri,” berkata Kiai Badra.

“Mungkin memang demikian,” sahut Iswari kemudian. “Dan itulah yang perlu kita atur bersama.”

“Kami serahkan segala-galanya kepada Nyi Wiradana,” berkata Saruju kemudian.

“Baiklah. Kita masih mempunyai sedikit waktu untuk mengatur langkah-langkah kita,” jawab Nyi Wiradana.

Namun sementara itu Damar pun berkata, “Tetapi Nyi. Sebenarnya bahwa kaki tangan Ki Rangga Gupita dan Warsi itu selalu berkeliaran di Tanah Perdikan ini. Bahkan kadang-kadang aku tidak mengenalinya sama sekali atau ingat-ingat lupa terhadap seseorang yang memasuki Tanah Perdikan ini.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Semakin dekat dengan waktu yang diberikan, maka orang-orang mereka akan semakin banyak berkeliaran disini. Itu kita sadari. Karena itu dalam waktu singkat, kita harus sudah menemukan satu cara untuk melindungi kalian. Tentu cara yang paling mudah adalah membawa keluarga kalian kesatu tempat yang dijaga oleh sekelompok pengawal. Namun agaknya kita perlu juga memperhitungkan kemungkinan untuk menjebak orang-orang yang datang. Bukan sekadar mengejar mereka dan membunuh mereka beramai-ramai.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, jika demikian, untuk sementara pembicaraan kita sampai disini. Pulanglah. Usahakan untuk dapat menyampaikan ancaman ini kepada keluarga kalian. Jika mereka tidak mengetahui, maka keadaan tentu akan sangat berbahaya bagi mereka. Mereka sama sekali tidak berhati-hati dan berbuat sebagaimana biasa mereka lakukan. Sebab lambat atau cepat, pada akhirnya mereka memang harus mengetahui. Harus.”

Damar dan Saruju mengangguk meskipun nampak keragu-raguan. Tetapi mereka memang harus pulang dan mengatur perasaan mereka untuk menyampaikan persoalan mereka kepada keluarga mereka di rumah.

Dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Jangan cemas bahwa rahasia kalian akan diketahui orang lain. Kita akan menyimpan rahasia ini.”

Tetapi suara Saruju rendah, “Akhirnya mereka akan mengetahuinya juga, Kiai. Jika Ki Rangga benar-benar melaksanakan ancamannya, maka Tanah Perdikan ini memang akan terganggu. Semua mata akan memandang kepadaku, menuduhku dan keluargaku akan terasing di Tanah Perdikan ini.”

Namun Kiai Badra tersenyum sambil berkata, “Bukankah kita dapat mengatakan kepada orang-orang Tanah Perdikan, bahwa Ki Rangga mendendam karena kalian menyerah dan meninggalkan mereka, sementara itu mereka sangat membutuhkan tenaga kalian? Dalam dunia yang kelam dari orang-orang yang berhati hitam, maka mereka yang dianggap berkhianat atau meninggalkan ikatan mereka, maka orang itu tentu akan dibunuh.”

Damar dan Saruju tidak menjawab. Sementara itu Iswari pun berkata, “Baiklah. Kalian dapat pulang sekarang. Kita akan berbicara lagi pada kesempatan lain.”

Kedua orang anak muda itu mengangguk dalam-dalam. Bahkan Saruju pun tiba-tiba telah mencium kaki Kiai Badra yang dengan serta merta menariknya sambil berkata, “Jangan kehilangan sifat-sifatmu sebagai laki-laki. Tentu saja laki-laki yang baik setelah kau bertekad meninggalkan duniamu yang hitam itu.”

“Ya Kiai,” desis Saruju yang kemudian minta diri untuk kembali pulang. Damar pun telah minta diri pula sehingga keduanya kemudian meninggalkan halaman rumah itu dengan kepala tunduk.

Namun di regol keduanya terpaksa berhenti ketika pengawal yang menyapa mereka ketika mereka masuk itu bertanya, “He, apakah kalian sudah bertemu dengan anak itu.”

“Sudah,” Saruju mencoba tersenyum. Namun pengawal itu melihat sesuatu yang lain di mata Saruju. Namun pengawal itu tidak tahu pasti apakah yang terjadi.

“Apakah ia menangisi Risang yang katanya agak sakit?” bertanya pengawal itu kepada diri sendiri. Namun kemudian ia pun berdesis, “Alangkah cengengnya.”

Saruju dan Damar pun tanpa berpaling berjalan tergesa-gesa meninggalkan regol rumah Kepala Tanah Perdikan itu.

Untunglah bahwa tidak banyak kawan-kawannya yang bertemu di sepanjang jalan di padukuhan induk itu. Demikian mereka ke luar dari padukuhan induk, maka mereka pun telah memilih jalan simpang untuk menghindarkan diri kemungkinan bertemu dengan kawan-kawan mereka lebih banyak lagi disepanjang perjalanan pulang.

Bahkan kemudian keduanya pun telah sepakat untuk mengambil jalan yang berbeda menuju ke rumah masing-masing.

Di sepanjang jalan keduanya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan. Mereka merasa sangat berterima kasih kepada Kiai Badra, yang telah melindunginya sehingga mereka berdua mendapat kesempatan untuk mengatasi persoalan yang menerpa keluarganya.

Namun hari itu mereka masih belum dapat menyampaikan persoalan itu kepada keluarganya. Mereka masih harus mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan persoalan yang sebenarnya.

Menjelang malam kedua anak muda itu telah bertemu di gardu. Seperti biasanya keduanya secara terpisah telah pergi ke gardu berkumpul dengan kawan-kawannya, meskipun mereka sedang gelisah, agar tidak menarik perhatian apabila mereka tidak datang.

Keduanya berusaha untuk berlaku sebagaimana yang mereka lakukan sehari-hari. Sehingga dengan demikian tidak seorang pun di antara kawan-kawan mereka yang tahu, apakah yang telah terjadi pada mereka.

Pada kesempatan itu, maka Damar dan Saruju sepatah dua patah kata berbicara juga tentang pertemuan merreka dengan Nyi Wiradana. Ketika mereka berdua duduk di amben yang berada di sebelah gardu itu, Saruju sempat berdesis, “Aku belum dapat menyampaikannya kepada keluargaku.”

“Aku juga,” sahut Damar.

Keduanya terdiam, ketika kawannya yang lain ikut pula duduk bersama mereka. Pembicaraan mereka pun kemudian berkisar pada peristiwa yang baru-baru saja menggemparkan penduduk. Seekor harimau agaknya telah tersesat keluar dari hutan dan beberapa orang sempat melihatnya dan mengusirnya kembali ke dalam hutan.

Namun sementara itu, di rumah Iswari telah terjadi satu pembicaraan yang khusus. Ternyata Iswari telah mendesak Kiai Badra untuk mengatakan tentang kedua anak muda itu.

“Kakek, bukankah mereka datang siang itu dengan rencana untuk membunuh Risang?” bertanya Iswari.

“Aku tidak tahu pasti,” jawab Kiai Badra. “Mereka hanya datang untuk memberikan jambu air itu. Memang mereka minta untuk dapat menyerahkan jambu air itu langsung kepada Risang.”

“Tetapi kenapa kakek nampaknya melindungi mereka?” bertanya Iswari. “Bukankah kakek juga menyadari, bahwa aku tidak akan dengan serta merta menjatuhkan hukuman kepada mereka?”

“Aku tahu Iswari. Tetapi dihadapanku, kedua orang anak muda itu menyatakan penyesalannya. Aku percaya bahwa sebenarnya mereka tidak ingin melakukan perintah yang mereka terima, membunuh Risang. Tetapi Ki Rangga Gupita dan Warsi telah memaksa mereka dengan ancaman. Karena itu, aku pun percaya bahwa mereka benar-benar hampir menjadi gila,” jawab Kiai Badra. Namun kemudian katanya, “Tetapi bagiku Iswari, yang penting adalah bagaimana sikap mereka selanjutnya. Kita memang tidak akan dapat mempercayai sepenuhnya tanpa pertimbangan-pertimbangan lain. Namun untuk sementara aku yakini bahwa keduanya menyesal, kemudian bahkan kehilangan pegangan dan pasrah kepada kita untuk memohon perlindungan. Kau jangan terpancang pada satu dugaan, bahwa orang-orang itu sudah berniat untuk membunuh anakmu. Karena itu maka mereka adalah musuh-musuhmu.”

“Aku berusaha untuk melupakan rencana itu kakek. Tetapi alangkah sulitnya untuk membedakan seorang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang baik dengan pribadiku sebagai seorang ibu,” berkata Iswari.

Kiai Badra pun memaklumi perasaan Iswari sebagai seorang ibu. Niat yang tumbuh di hati seseorang untuk membunuh anaknya telah cukup kuat mendorongnya untuk bertindak jauh, meskipun belum terjadi.

Namun untunglah bahwa Iswari masih mampu mengendalikan dirinya terhadap kedua orang anak muda itu.

Dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Yang justru perlu diperhitungkan kemudian adalah bagaimana kita melindungi dua keluarga yang terancam bahaya itu.”

“Kita memang harus merencanakan dengan cermat,” berkata Iswari. “Bahkan apabila mungkin menjebak orang-orang Ki Rangga Gupita yang sebagian besar tentu bekas prajurit Jipang, sedangkan para pengikut Warsi agaknya telah dihimpun kembali para pengikut Kalamerta.”

“Kita memang memerlukan waktu untuk berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini. Khususnya Kiai dan Nyai Soka,” berkata Kiai Badra.

“Besok kita akan berbicara. Waktunya memang sudah terlalu sempit,” sahut Nyai Wiradana.

“Ya, waktunya memang tinggal beberapa hari lagi. Menurut pendapatku, Ki Rangga Gupita tentu tidak hanya sekadar mengancam. Tetapi ia akan benar-benar melakukannya. Setidak-tidaknya ia akan mendapatkan kepuasan tersendiri jika ia dapat membunuh dengan alasan yang dianggapnya cukup kuat,” berkata Kiai Badra.

“Baiklah,” berkata Iswari. “Sekarang agaknya kakek dan nenek itu sedang beristirahat. Biarlah aku tidak mengganggunya.”

Iswari pun kemudian meninggalkan Kiai Badra yang duduk seorang diri. Sejenak Iswari telah singgah ke bilik Risang yang tidur bersama pemomongnya dan Bibi.

Ketika pintu berderit, ternyata Bibi telah terbangun. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Iswarilah yang berdiri dimuka pintu.

“Pintunya masih belum diselarak Bibi?” bertanya Iswari.

“Belum Nyai,” jawab Bibi. “Aku tahu Nyi Wiradana masih berbincang dengan Kiai Badra. Aku memang membiarkan pintu tidak diselarak, karena Nyai Wiradana tentu masih akan menengok Risang yang tidur nyenyak.”

“Tetapi bukankah ia tidak apa-apa?” bertanya Nyi Wiradana.

“Tidak. Kenapa?” bertanya Bibi.

“Siang tadi, anak itu telah dinyatakan seolah-olah sedang kurang sehat,” berkata Nyi Wiradana.

“Ah. Tidak apa-apa. Bukankah hal itu dilakukan untuk kebaikannya,” jawab Bibi.

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. kemudian ia pun telah keluar dari bilik itu dan pergi ke biliknya disebelah. Sementara itu Bibi pun telah menyelarak pintu pula.

Dalam pada itu Nyi Wiradana memang menjadi gelisah. Usaha untuk membunuh anaknya masih saja dilakukan oleh orang-orang yang berniat buruk. Ia pun kemudian menduga, bahwa akhirnya niat membunuh itu tidak lagi dilambari dengan suatu kepentingan tertentu. Mereka yang merasa putus asa dan gagal untuk memperoleh pengesahan atas hak sebagai Kepala Tanah Perdikan di Sembojan, maka tidak ada yang lebih memuaskan bagi mereka kecuali membunuh anaknya.

Kegelisahan itu benar-benar telah mencengkam perasaannya, sehingga rasa-rasanya ia ingin mengambil Risang dan dibawanya tidur bersamanya.

Namun Nyi Wiradana itu pun kemudian berkata kepada diri sendiri, “Di belakang bilik itu terdapat bilik yang besar yang sejak Risang dalam bahaya dipergunakan oleh Gandar bahkan jika kebetulan ada di Sembojan, Sambi Wulung dan Jati Wulung pun ada di dalam bilik itu pula sebagaimana halnya malam ini. Sementara itu, Kiai Badra ternyata lebih senang tidur di amben panjang disisi pintu butulan di ruang dalam. Meskipun Kiai Badra mempunyai bilik sendiri di gandok sebagaimana Kiai dan Nyai Soka, namun ia lebih senang tidur di ruang dalam. Agaknya kakek itu juga mencemaskan keadaan Risang.”

Dengan demikian hati Iswari itu menjadi agak tenang. Di sekitar bilik Risang terdapat orang-orang yang akan dapat melindunginya jika bahaya itu datang di malam hari. Bahkan di dalam bilik itu sendiri terdapat Bibi yang memiliki kemampuan yang tinggi pula setelah ia mendapat tuntunan dari Nyai Soka secara khusus.

Di hari berikutnya kehidupan di Tanah Perdikan itu berjalan sebagaimana hari-hari yang lain. Tetapi berbeda dengan kehidupan pada keluarga Damar dan Saruju. Keduanya bersepakat bahwa pada hari itu, mereka akan memberitahukan keadaan mereka yang sebenarnya kepada keluarga mereka sebagaimana dipesankan oleh Kiai Badra dan Iswari. Sehingga dengan demikian maka baik Saruju maupun Damar berpendapat, bahwa akan ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan keluarga mereka.

Sebenarnyalah, sejak pulang dari gardu menjelang pagi, Damar memang tidak langsung masuk ke ruang dalam. Ia tidak mengetuk pintu sebagaimana biasanya jika ia pulang dari gardu kapan pun juga. Tetapi Damar telah berbaring di amben panjang yang terletak diserambi samping rumahnya. Tanpa dapat memejamkan mata oleh kegelisahan Damar menunggu hari menjadi pagi sambil menganyam kata-kata yang akan diucapkan kepada keluarganya tentang dirinya serta ancaman Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana yang muda atas keluarganya.

Saruju pun menjadi gelisah. Tetapi Saruju tidak tidur diserambi. Ia telah mengetuk pintu dan masuk ke dalam biliknya yang kemudian ditutupnya dan diselaraknya dari dalam.

Kegelisahan di hati Saruju tidak kurang dari kegelisahan yang ditanggungkan oleh Damar. Bahkan Saruju membayangkan, apakah keluarganya justru tidak akan selalu berada dalam ketakutan.

“Tetapi Nyi Wiradana dan Kiai Badra telah sanggup memberikan perlindungan,” berkata Saruju di dalam hatinya. Tetapi ia pun kemudian masih mempertanyakan, sejauh mana perlindungan itu akan dapat diberikan.

Ketika ayam jantan berkokok didini hari, seperti biasanya, orang tua Damar telah bangun untuk menyapu halaman, sementara Damar biasanya mengambil air untuk mengisi jambangan dan genthong di dapur serta padasan di dekat pintu butulan.

Tetapi pagi itu, mereka terkejut ketika mereka menemukan Damar tertidur di serambi. Dengan nada rendah ayahnya bertanya, “Apakah semalam kita tidak mendengar Damar mengetuk pintu sehingga ia tidur diserambi?”

“Entahlah,” sahut ibunya. “Biasanya kita mendengarnya ia mengetuk pintu.”

Tetapi keduanya tidak membangunkan Damar yang nampak tidur dengan nyenyaknya, karena sebenarnyalah Damar baru saja sempat memejamkan matanya dalam kegelisahan.

Namun Damar tidak lama tidur di serambi itu. Beberapa saat kemudian ia pun segera terbangun. Bahkan ia tergagap ketika ternyata ia bangun terlalu siang.

Ayahnya yang melihat Damar tergesa-gesa bangkit ia pun tersenyum. Bahkan ia bertanya, “Apakah kau semalam mengetuk pintu dan kami tidak mendengarnya?”

Damar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ayah. Aku memang tidak mengetuk pintu. Aku kembali dari gardu sudah hampir pagi. Maksudku aku tinggal menunggu sebentar, ayah tentu sudah akan segera terbangun dan membuka pintu. Namun agaknya aku tertidur diserambi.”

“Jika kau masih merasa mengantuk, pindah sajalah ke dalam. Kebilikmu sendiri,” berkata ayahnya.

“Tidak ayah,” berkata Damar. “Agaknya aku sudah tertidur cukup lama, sehingga rasa-rasanya memang sudah tidak mengantuk lagi.”

Ayahnya tersenyum. Ia melihat Damar sambil mengusap matanya pergi ke pakiwan, mencuci muka dan kemudian seperti biasanya ia pun telah pergi ke sumur. Sejenak kemudian terdengar derit senggot ketika Damar mulai mengambil air untuk mengisi jambangan di pakiwan dan kemudian di dapur dan padasan.

Demikianlah maka setiap saat di hari itu membuat Damar dan Saruju rasa-rasanya semakin gelisah. Mereka menyusun keberanian untuk mengatakan kepada keluarganya dan mereka pun sedang mereka-reka dari arah mana mereka akan mulai.

Namun akhirnya mereka pun berketetapan hati, mau tidak mau mereka harus berbicara untuk kebaikan keluarga mereka sendiri.

Sementara itu, hari itu juga Iswari telah berbicara dengan orang-orang tua di rumahnya. Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka dan bahkan Bibi, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang ada di rumah itu, telah terkumpul untuk membicarakan persoalan yang dihadapi oleh Damar dan Saruju.

“Aku sependapat bahwa orang-orang itu harus dijebak,” berkata Gandar.

“Aku sependapat,” sahut Iswari. “Tetapi cara yang mana yang akan kita tempuh?”

Gandar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Salah seorang di antara kita tinggal bersama keluarga itu.”

Iswari termangu-mangu sejenak. Sementara itu Gandar meneruskan, “Sudah tentu bukan orang-orang tua. Kita yang lebih muda ini akan dapat melakukannya.”

“Bagus,” tiba-tiba Sambi Wulung menyahut. ”Biarlah aku dan Jati Wulung melakukannya. Kami masing-masing akan tinggal seorang disetiap keluarga. Dengan demikian di dalam keluarga itu setidak-tidaknya ada dua orang yang akan mampu bertahan jika benar ada usaha untuk melakukan pembunuhan. Salah seorang dari kami berdua dan Damar serta Saruju sendiri.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi dengan demikian maka seluruh keluarga itu tidak akan pernah keluar dari rumah mereka. Mereka tidak ada yang dapat pergi ke pasar atau kemanapun juga. Karena jika salah seorang dari kalian mengantar ke pasar, maka yang di rumah akan terancam bahaya. Dan sebaliknya.”

“Tetapi kita dapat menggerakkan bukan hanya kedua orang itu saja,” berkata Kiai Badra. “Kita dapat menggerakkan para pengawal. Namun kita harus menjaga agar Damar dan Saruju tidak tercemar di mata mereka.”

“Untuk kita tidak akan terlalu sulit,” jawab Iswari. “Seperti yang pernah kakek katakan, kita dapat mengatakan kepada para pengawal, bahwa Damar dan Saruju telah diancam oleh Ki Rangga dan Warsi, karena keduanya telah dianggap berkhianat tanpa menyebut tugas yang dibebankan kepada mereka.”

“Jika demikian, maka tidak ada salahnya jika kita mempergunakan juga para pengawal,” berkata Kiai Soka. “Selain mengawasi rumah kedua orang anak muda itu, juga mengawasi seluruh Tanah Perdikan. Kita juga dapat mempergunakan para pengawal bergantian untuk melindungi keluarga kedua anak muda itu jika mereka ke luar dari halaman rumah mereka.”

“Aku sependapat Kiai,” berkata Iswari. “Tetapi pelaksanaannya tidak begitu mudah, agar yang dilakukan itu tidak diketahui oleh orang-orang yang ingin kita jebak.”

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 29.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s