SBB-27

<< kembali | lanjut >>

JIKA DEMIKIAN, apa perlunya kita berhubungan dengan kakek tua yang lamban itu?” bertanya Warsi. “Nampaknya kakek tua itu kecewa kematian cucunya yang disayangi.”

“Siapa?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Wiradana,” jawab Warsi.

“Bah,” Ki Rangga Gupita memalingkan wajahnya.

“Bukankah kau juga menjadi muak?” bertanya Warsi pula.

Ki Rangga tidak segera menjawab. Namun kemudian katanya, “Kita akan memikirkannya kemudian. Namun kegagalan ini tentu akan sempat membuat Tanah Perdikan itu berjaga-jaga. Kita harus menunggu kesempatan yang lain yang tidak akan datang setiap pekan, bahkan beberapa bulan mendatang.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ia pun telah menyahut, “Kita akan menunggu kesempatan itu sampai kapanpun. Kita tidak boleh menjadi jemu dan berputus asa.”

 “Ya. Kita tidak akan menjadi jemu dan berputus asa,” lalu Ki Rangga Gupita itu pun berkata kepada orang-orang yang gagal, “Jadikan pengalamanmu itu petunjuk bagi tugas-tugasmu masa datang. Tugas-tugas kita menjadi semakin berat. Tetapi ia adalah akibat beban yang kita pikulkan ke atas pundak kita sendiri. Di atas Bumi Demak ini harus ada perubahan. Jika Karebet itu yang menjadi raja, kenapa bukan salah seorang di antara kita, yang sama-sama dilahirkan di antara banyak orang. Sementara itu masih banyak orang yang lebih pantas untuk memegang kendali pemerintahan. Memang perjuangan ini adalah perjuangan yang sangat berat. Kita harus mengerahkan semua kekuatan yang ada dan sejalan dengan keyakinan kita, darimanapun kita berasal.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Namun tidak seorang pun yang menjawab.

“Nah,” berkata Ki Rangga. “Sekarang beristirahatlah kalian. Tugas kalian masih banyak. Jangan terpancang kepada kegagalan ini agar tugas-tugas kalian berikutnya tidak dibayangi oleh kesuraman itu.”

Orang-Orang itu pun segera meninggalkan ruangan itu. Demikian mereka memasuki sebuah barak yang panjang, maka mereka pun langsung merebahkan diri di atas sebuah amben yang besar.

Kengerian masih terbayang di wajah-wajah itu. Mereka masih membayangkan bagaimana orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu mampu melawan mereka dengan senjata-senjata apa saja. Bahkan tangan perempuan yang menggendong anaknya itu telah mampu membuat dua orang di antara mereka kehilangan kesempatan untuk melawan, meskipun yang seorang telah mereka bunuh sendiri.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan telah di dapat kata sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Yang terjadi itu adalah langkah permulaan. Tentu akan disusul dengan langkah-langkah berikutnya yang tentu akan menjadi lebih keras dan barangkali lebih kasar.

Namun para Bekel pun sepakat, bahwa mereka tidak perlu membuat Tanah Perdikan itu menjadi gelisah. Yang perlu mendapat cambuk untuk lebih banyak berbuat adalah para pengawal saja. Para pengawal yang semakin lama menjadi semakin mapan. Namun para pengawal itu tidak terpisah dari anak-anak mudanya, karena mereka memang berasal dari lingkungan anak-anak muda itu pula.

Karena itu dimalam hari, bukan hanya para pengawal saja yang bertugas. Tetapi gardu-gardu pun dipanuhi oleh anak-anak muda yang memang mempunyai kebiasaan bermain di gardu-gardu. Berkelakar dan bergurau dengan kawan kawan. Bermain macanan atau bas-basan. Bahkan binten dan geresan.

Namun dalam pada itu, Iswari menjadi semakin berhati-hati dengan Risang. Ia sadar, bahwa Risang adalah sasaran utama dari setiap usaha untuk memutuskan aliran hak atas Tanah Perdikan ini. Tanpa Risang maka darah Ki Wiradana akan mengalir di dalam tubuh anaknya yang lahir dari ibu yang lain, yang tentu akan menuntut hak yang sama pula sebagaimana Risang. Meskipun para perwira Pajang setiap kali mengatakan, bahwa Pajang berhak untuk mencegahnya, namun kebimbangan masih tetap ada di hati Iswari. Bahkan seandainya Pajang berhak mencegah anak Warsi mewarisi kedudukan ayahnya, namun sudah barang tentu bahwa Iswari tidak akan merelakan anaknya menjadi korban.

Karena itu, maka Risang dibawah asuhan pemomongnya, tidak pernah terpisah dari Gandar atau Bibi selain Iswari sendiri. Dimanapun anak itu berada, maka ia selalu dibawah pengawasan Gandar, atau jika Gandar sedang sibuk, maka Bibi lah yang bermain bersamanya.

Dalam pada itu, Tanah Perdikan yang menjadi semakin tenang telah berkembang semakin baik. Anak-anak muda yang pernah mengambil langkah yang salah pun telah menemukan kembali jalan mereka sebagai anak Tanah Perikan Sembojan. Apa yang pernah terjadi, bagi mereka tinggallah satu kenangan bahkan bagaikan satu mimpi yang buruk di dalam tidur yang gelisah.

Tatanan-tatanan yang wajar mulai berlaku lagi di Tanah Perdikan. Pembagian pekerjaan di antara para bebahu dan para pengawal menjadi semakin jelas.

Dalam keadaan yang semakin baik, maka perlahan-tahan pasukan Pajang pun telah ditarik kembali. Para perwira dan sekelompok kecil prajurit yang ditinggalkan, bertugas bukan saja membantu mempertahankan ketenangan dan keadaan yang semakin mantap, namun mereka juga membantu memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda Tanah Perdikan Seanbojan dan sekitarnya.

Sementaram itu, keadaan pemerintahan yang telah berpindah di, Pajang pun menjadi semakin tenang pula. Gejolak-gejolak kecil memang masih terjadi d beberapa tempat. Tetapi Hadiwijaya yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya telah mampu menata kembali susunan pemerintahan di bekas Kerajaan Demak. Ia telah menempatkan para Adipati di tempat yang tepat dan sesuai dengan paugeran yang berlaku.

Dengan demikian maka Pajang pun telah berangsur menjadi tumbuh dan berkembang, menyusul kebesaran Demak yang telah runtuh karena benturan diantara keluarga sendiri.

Namun Pajang masih belum dapat membersihkan sisa-sisa para prajurit Jipang yang tersebar dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka masih merupakan duri didalam tubuh Pajang. Bahkan sekali-sekali kelompok-kelompok kecil itu berhasil membuat hubungan antara mereka untuk menyusup langkah-langkah yang meskipun tidak akan mampu mengguncang Pajang, tetapi setidak-tidaknya mereka dapatt menggelitik Sultan Hadiwijaya dan melepaskan dendam mereka meskipun pada sasaran yang tidak seharusnya. Tetapi kelompok-kelompok kecil itu mendapat kepuasan meskipun hanya untuk sesaat.

Namun disaat berikutnya, pasukan Pajang yang kuat telah datang memburu mereka, mendesak mereka sampai ke tengah hutan dan bahkan memperlakukan mereka tidak lebih dari gerombolan-gerombolan perampok dan penyamun.

Tetapi di sudut lain yang terpencil dari keramaian, sebuah padepokan ternyata dapat berkembang dengan baik. Beberapa orang cantrik yang rajin dan ramah, telah tinggal di padepokan itu pula. Setiap kali, para cantrik telah berhubungan dengan orang-orang padukuhan. Mereka memberikan hasil kebun mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Para cantrik itu membiarkan, bahkan mempersilahkan orang-orang padukuhan memetik hasil pategalan yang mereka garap. Di pategalan itu ditanam batang-batang pepohonan yang berarti bagi kehidupan sehari-hari. Para cantrikk telah menanam pohon melinjo, batang-batang kelapa yang memang sudah ada sejak tempat itu menjadi salah satu sarang gerombolan Kalamerta. Pohon buah-buahan, dan pohon pisang yang bertebaran dalam rumpun-rumpun yang subur.

Bahkan para cantrik itu telah menanam pohon yang meaghasilkan sayur-sayuran. Pohon waluh, kates, tiga batang pohon keluwih yang tumbuh menjadi besar, batang kacang panjang yang merambat pada lanjarannya dan di kolam batang kangkung hidup dengan subumya, sementara itu beberapa jenis ikan telah dipelihara pula dikolam itu, sehingga orang-orang padukuhan dapat ikut memancingnya jika mereka memerlukan.

Dengan demikian maka Ki dan Nyi Prcmati merupakan orang yang paling baik yang dikenal oleh orang-orang padukuhan yang berada di sekitar padepokan itu, justru pada jarak yang tidak tirlalu dekat. Namun kebaikan hati Ki dan Nyi Premati rasa-rasanya tidak akan pernah dapat mereka lupakan.

Sebenarnyalah, dibalik tingkah laku Ki dan Nyi Premati yang sangat dipuji oleh orang-orang padukuhan itu, tersembunyi niat yang sangat keji. Mereka telah merencanakan untuk menjebak orang-on•ang padukuhan itu. Bagaimanapun juga, anak-anak muda dari beberapa padukuhan itu akan dapat memperkuat kedudukannya. Tanpa memberikan kesan buruk, mereka akan dapat menghisap anak-anak muda dari beberapa padukuhan untuk masuk kedalam padepokan itu. Mereka akan ditempa untuk menjadi prajurit pang memiliki kemampuan yang tinggi. Kemudian mereka akan dilemparkan ke sarang-sarang Kalamerta yang mempunyai, nafas yang berbeda serta memaksa mereka menyesuaikan diri deagan kehidupan yang sebenarnya.

Namun Kiai dan Nyi Premati memang sudah memperhitungkan langkah-langkah dalam waktu yang panjang. Karena Warsi sudah bertekad, sampai kapan pun ia akan tetap berusaha untuk menempatkan anaknya pada kedudukan ayahnya, Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu anak laki-laki yang dilahirkan oleh Warsi itu pun tumbuh juga sebagaimana anak Iswari. Semakin lama semakin besar. Namun dalam suasana yang berbeda.

Meskipun anak laki-laki Warsi yang dipanggil Puguh itu tinggal pula di dalam sebuah padepokan yang bersuasana tenang dan damai, namun ia sendiri mengalami perlakuan yang berbeda. Hanya di hadapan orang lain sajalah Warsi menunjukkan sikap manis kepada anaknya. Tetapi di padepokan, dan dalam kehidupan sehari-hari, Warsi adalah seorang ibu yang keras. Kekecewaan, penyesalan dan dendam yang tertimbun di dalam dirinya, kadang-kadang tertumpah kepada anaknya yang tidak bersalah sama sekali.

Namun di samping perlakuan yang kasar dan keras, Warsi juga memaksa anaknya untuk memasuki masa-masa persiapan untuk menyadap kemampuan dalam olah kanuragan. Anaknya harus menjadi seorang yang keras hati namun juga memiliki bekal kemampuan yang tinggi.

Karena itu, sejak masih kanak-kanak Puguh sudah dipersiapkannya.

Diajarinya Puguh berlari-lari disetiap pagi sejak ia mampu berjalan. Bahkan kadang-kadang diseretnya dengan kasar dan umpatan-umpatan kotor apabila anak itu cepat menjadi letih. Warsi tidak peduli mendengar tangisnya yang kadang-kadang meninggi.

“Anak malas,” geram Warsi setiap kali. “Kedunguan ayahnya agaknya menurun pada anak ini.”

Ki Rangga Gupita sama sekali tidak menghiraukan anak itu. Bahkan ia menjadi muak dan ingin rasanya untuk melempar anak itu ke dalam hutan.

“Biar saja anak itu diterkam binatang buas atau anjing-anjing liar,” geramnya.

Tetapi nampaknya Warsi masih tetap ingin memeliharanya dengan caranya.

Dengan demikian maka Puguh tumbuh dalam suasana yang menekan. Pemomongnya pun sama sekali tidak mempunyai kasih sayang kepadanya, justru karena sikap Warsi sendiri. Seisi padepokan pun membayangkan wajah anak itu sebagaimana wajah Ki Wiradana yang mereka anggap sebagai seorang pemimpin yang gagal, yang tidak memberikan arti apa-apa di dalam hidupnya selain memberikan anak itu.

Karena itu, maka tidak seorang pun di antara penghuni padepokan yang nampaknya sebagai orang-orang yang ramah dan baik hati untuk memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan Puguh dengan baik, dalam arti yang baik pula.

Namun ibunya sama sekali tidak menghiraukannya. Meskipun Warsi tahu tidak seorang pun yang tertarik kepada anak laki-lakinya, bahkan hampir semua orang menjadi muak melihatnya, ia sama sekali tidak berkeberatan.

Yang dilakukan oleh Warsi atas anaknya itu adalah mempersiapkannya dengan keras dan kasar. Dipanggilnya orang yang pernah diakunya sebagai bapaknya ketika ia menjadi seorang penari yang berkeliling di Tanah Perdikan Sembojan. Orang yang menjadi pengendangnya itu. Diserahinya orang itu untuk membentuk kemampuan dasar pada anak laki-lakinya yang terlampau kecil itu.

“Anak itu masih sangat kecil,” berkata pengendangnya itu.

“Jadi menurut kau, anak itu dibiarkan dahulu sampai tua. Baru ia harus menekuni olah kanuragan,” bentak Warsi.

“Bukan begitu. Tetapi biarlah ia tumbuh dahulu dengan wajar sampai saatnya ia dapat disebut anak-anak. Bukan lagi bayi,” jawab laki-laki yang pernah disebut ayahnya itu.

“Ia sudah pandai berlari-lari,” suara Warsi meninggi. “Sejak seumurnyalah ia harus mulai dibentuk untuk menjadi seorang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Kau sadari kelemahanmu di antara orang-orang berilmu? Nah, itu karena keterlambatanmu mulai menyadap ilmu kanuragan itu. Apalagi dalam perkembangannya kau adalah seorang pemalas. Karena itu apa yang kau capai sama sekali tidak berarti.”

Orang itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Warsi berkata selanjutnya, ”Anak ini tidak boleh mewarisi kedunguan ayahnya. Tidak pula mewarisi kelemahan dan kemalasannya. Karena itu, sejak kanak-kanak kau harus memimpinnya dengan baik. Kau harus memberikan pengetahuan dasar olah kanuragan. Biarlah nanti akulah yang melanjutkannya jika datang saatnya.”

Orang yang pernah diaku sebagai ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Ia memang tidak akan dapat membantah. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Aku akan mencobanya. Namun dalam beberapa hari ini biarlah aku memperkenalkan diri kepada anak itu.”

“Kenalilah anak itu sebaik-baikmya.” berkata Warsi, “ingat, kau tidak boleh gagal. Kaulah yang akan meletakkan pengetahuan dasar pada anak itu, yang akan menjadi alas perkembangannya kemudian. Segalanya akan tergantung kepada alas itu. Jika alas itu goyah, maka betapapun juga aku menjejalinya dengan segala macam ilmu, maka ilmu itu pun akan tetap goyah pula. Karena itu maka tanggung jawabmu atas anak itu cukup berat.”

“Tetapi kau tahu, bahwa aku tidak mempunyai kemampuan dan ilmu yang cukup untuk itu” berkata laki-laki yang pernah diakunya sebagai ayahnya itu.

“Yang kau miliki sudah cukup untuk memberikan dasar pada anak itu. Yang penting adalah bagaimana dasar itu benar-benar matang dan mapan didalam dirinya.” berkata Warsi kemudian.

Laki-laki itu mengangguk-aagguk. Namun ia sadar, bahwa ia telah menerima tugas yang berat.

Dihari-hari pertama ia memperkenalkan dirinya kepada anak laki-laki yang dipanggil Puguh itu. Dengan ramah ia ikut bermain-main bersama pemomongnya.

Namun di hari pertama itu juga ia melihat sikap pemomong Puguh yang kasar terhadap anak momongannya.

Tetapi laki-laki itu tidak memberikan tanggapannya. Ia masih dalam tataran melihat-lihat anak yang harus diasuhnya dibidang kanuragan itu. Bukan saja anak itu sendiri tetapi juga lingkungannya.

Ketika sepekan telah lewat, maka laki-laki itu tahu benar, sia,pakah yang sedang dihadapinya. Seorang anak laki-laki kecil yang terlempar kedalam satu kehidupan yang tidak terasa manis. Kelahirannya yang semula memang diharapkan oleh ibunya itu, temyata tidak menyusuri jalan kehidupan yang lembut.

Laki-laki itu sendiri memang bukan laki-laki yang mengarungi kehidupan ini dengan wajar. Tetapi laki-laki itu adalah satu diantara laki-laki yang kasar dan hidup dalam dunia kelam. Karena itu, maka dasar kehidupannya dengan cepat mewarnai sikapnya terhadap anak itu. Apalagi ketika ia melihat sikap Warsi sendiri kepada anaknya.

“Dengan demikian maka aku harus membentuknya dengan cara sebagaimana, dilakukan oledi ibunya” berkata laki-laki itu.

Demikianlah, maka anak yang masih sangat muda itti harus mulai bersentuhan dengan dasar-dasar pembentukan diri untuk menerima latihan-latihan olah kanuragan.

Ia harus mulai berlatih dengan memaksa, diri melakukan gerak dan sikap yang tidak dimengerti. Pagi pagi sekali, anak itu telah diajaknya berlari-lari. Kemudian setelah mandi dengan air yang dingin menjelang matahari terbit, oleh pemomongnya anak yang di sebut Puguh itu harus makan pagi.

Jika kemudian anak itu bermain-main, maka permainannya mengarah kepada usaha laki-laki yang pernah diaku menjadi ayah Warsi itu untuk meletakkan dasar-dasar olah kanuragan.

Laki-laki itu dan bahkan Warsi sendiri tidak tahu arah perkembangan jiwa anak itu. Anak laki-laki yang mulai berbicara tentang beberapa hal disekitarnya itu tidak mendapat tuntunan dan ajaran yang pantas bagi perkembangan jiwanya. Yang dilihat dan dialaminya adalah sikap yang keras dan kasar. Orang-orang di sekitarnya selalu memaksakan kehendakaya atas dirinya. Anak yang disebut Puguh itu harus melakukan apa yang diperintahkan orang lain kepadanya.

Dengan demikian, maka anak itu pun telah terdorong kedalam satu sikap yang tertutup. Ia tidak terbiasa menyatakan pendapatnya. Puguh hanya siap menerima apa yang diperintahkan orang lain kepadanya. Melakukannya, meskipun dengan hati yang dibebani oleh ketidak-tahuan dan bahkan penolakan dari dalam. Tetapi penolakan itu tidak pernah sempat dinyatakannya kepada siapapun juga.

Apalagi pada tataran umurnya, maka penolakan itu merupakan gejolak yang terjadi didalam dadanya tanpaa mengetahui arti yang mungkin terjadi didalam jiwanya.

Puguh yang kemudian tumbuh dalam suasana yang mengikatnya itu, telah menjadi seorang anak yang pendiam. Tidak banyak berbicara dan ujud tubuhnya pun tidak nampak seger dan besar. Tetapi tubuh yang kecil itu ternyata telah terbiasa mengalami perlakuan yang keras sehingga Puguh sendiri tanpa menyadarinya memiliki tubuh yang tertempa. Tulang-tulangnya merupakan tulang-tulang yang tumbuh dengan kuat. Urat-uratnya liat dan jantungnya berkembang dengan mapan. Matanya yang agak cekung memancar dengan tajamnya. Dipandanginya segala sesuatunya dengan penuh kecurigaan. Namun kecurigaan itu hanya sekedar menyumbat didalam hatinya tan­pa dinyatakan dengan cara apapun juga.

Sementara itu Warsi sendiri hampir tidak pernah lagi bersentuhan dengan Puguh. Ia sibuk dengan pekerjaannya. Jika ia berada di padepokan, maka ia adalah seorang perempuan yang lembut, ramah dan penuh dengan perasaan belas kasihan. Sebagai Nyi Premati ia adalah perempuan yang dikagumi oleh para penghuni pandukuhan disekitar padepokannya.

Namun jika Warsi itu keluar dari padepokannya, tanpa diketahui oleh orang-orang padukuhan bersama Ki Rangga Gupita dan berada disarang-sarangnya yang lain, maka ia adalah seorang perempuan yang kasar dan bengis. Namun kemampuan dan ilmunya memang mendukungnya untuk berlaku demikian. Sehingga para pengikutnya menjadi patuh dan takut kepadanya dan kepada Ki Rangga Gupita.

Apalagi beberapa orang diantara para pengikutnya, merasa bahwa mereka harus melakukannya dengan landasan kesetiaan. Masih terbayang dipelupuk mata mereka, harapan yang manis bagi masa depan. Tanah Perdikan Sembojan dan bahkan Kadipaten Jipang yang besar dan kuat.

Beberapa orang yang pernah berhubungan dengan kelompok-kelompok bekas prajurit Jipang memang dapat memberikan banyak harapan bagi mereka. Bekas prajurit Jipang yang tersebar dibeberapa tempat itu pun masih juga berpengalaman sebagaimana para pengikut Ki Rangga Gupita. Bahkan para pengikut Ki Rangga masih mempunyai pengharapan lain. Landasan perjuangan yang lebih mapan. Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu di Tanah Perdikan Sembojan, suasana telah menjadi mapan. Tidak banyak lagi masalah yang timbul. Sementara itu kegiatan anak-anak muda masih tetap tinggi. Bahkan demikian pula kademangan-kademangan di sekitarnya.

Dalam suasana itulah Risang berkembang. Ia tumbuh semakin besar. Kasih sayang ibunya telah membekali jiwanya justru pada saat wadag dan jiwanya mulai tumbuh. Orang-orang yang ada disekitarnya pun berbuat sebagaimana Iswari memperlakukannya.

Sementara itu, Gandar lah yang atas kemauannya sendiri ingin menjadikan Risang seorang anak yang pilihan. Karena itu, maka Gandar telah menyampaikan niatnya itu kepada Iswari, agar ia di ijinkan untuk berbuat sesuatu atas Risang pada usianya yang masih sangat muda.

“Belum waktunya bagi anak itu untuk mendapat tuntunan dalam olah kanuragan,” berkata Iswari.

“Aku belum akan menuntunnya dan apalagi menempa Risang dalam olah kanuragan. Aku baru akan mempersiapkannya pada suatu saat ia mengalami latihan-latihan di permulaan,” jawab Gandar.

Iswari tersenyum. Namun katanya, “Tetapi kau harus menyesuaikan diri dengan keadaannya. Bukan Risang yang menyesuaikan diri dengan keinginanmu. Tetapi kaulah yang harus pandai-pandai membawanya dalam persiapan itu sesuai dengan perkembangan tubuh dan jiwanya.”

“Aku mengerti,” jawab Gandar. “Jika diijinkan, maka aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.”

Iswari mengangguk. Namun ia tidak memutuskannya sendiri. Hal itu disampaikannya pula kepada Nyai Soka.

“Gandar terlalu tergesa-gesa,” berkata Nyai Soka. “Ia ingin segera melihat anak itu memiliki sesuatu.”

“Tetapi aku sudah memberikan beberapa pesan,” berkata Iswari.

“Baiklah. Aku akan melihat apa yang dilakukan Gandar atas anak itu. Jika ia salah langkah, akibatnya justru akan merugikan pertumbuhan anak itu,” sahut Nyai Soka.

Namun ternyata Gandar mampu menahan diri untuk dengan cepat membentuk Risang dalam olah kanuragan. Yang dilakukannya kemudian adalah membawa Risang bermain.

Namun permainan yang memang disusun sesuai dengan keinginan Gandar. Risang telah dibawa bermain-main dengan permainan yang banyak menggerakkan tubuhnya. Berkejar-kejaran, sembunyi-sembunyian dan permainan-permainan yang lain. Dalam usianya yang masih sangat muda, Risang telah dibuatkan jagrag dengan kayu yang bersilang tegak dan mendatar. Dibiarkannya Risang memanjat, menyusup di antara kayu yang mendatar, kemudian berpegangan kayu yang tegak, menyelusuri batang-batang kayu yang menyilang.

Dengan memperhatikan pertumbuhannya, maka Gandar telah membawa Risang mempersiapkan tubuhnya dengan baik justru dalam permainan yang membuat Risang gembira. Bahkan beberapa orang kawan sebayanya telah ikut pula bermain bersamanya. Namun dalam usianya yang masih sangat muda, Risang telah menunjukkan kelebihannya dengan anak-anak yang lain dalam usia sebaya.

Namun dalam pada itu, Gandar tidak pernah melupakan bahwa keselamatan anak itu harus dijaga sebaik-baiknya. Usaha yang pernah dilakukan untuk membunuh anak itu merupakan peringatan yang keras, agar anak itu mendapat perlindungan yang baik.

Namun usaha itu dilakukan tanpa ada jemunya. Kegagalan yang pernah terjadi, justru membuat Warsi semakin bernafsu untuk melakukannya.

Tetapi Ki Rangga Gupita telah melarangnya untuk melakukannya sendiri. Ketika Warsi berniat untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan, Ki Rangga berusaha mencegahnya, “Kau tidak boleh melupakan kenyataan, bahwa di Tanah Perdikan itu terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan.”

“Aku tidak akan menantang mereka,” berkata Warsi. “Tetapi aku akan membunuh anak itu dengan caraku. Aku mempunyai cara yang baik sebagaimana aku pergunakan untuk membunuh Ki Gede Sembojan. Aku mempunyai kemampuan mempergunakan sumpit. Sehingga aku dapat membidiknya dari jarak jauh. Jika mata sumpitku berhasil menyentuhnya, maka tidak akan ada obat yang dapat menolongnya.”

“Tetapi kau tidak dapat melakukannya tanpa mendekati dinding rumah itu,” berkata Ki Rangga. “Anak itu tentu berada dilingkungan dinding halamannya.”

“Dimanapun anak itu berada,” berkata Warsi. “Harus ada jalan untuk membunuhnya.”

“Tetapi belum saatnya kau melaksanakannya sendiri,” berkata Ki Rangga. “Kita masih mempunyai beberapa orang yang pantas dipercaya untuk melakukannya.”

“Tetapi jika mereka gagal dan tertangkap, maka mereka akan mengungkapkan padepokan yang kita bangun dengan susah payah, serta rahasia ujud kehidupan kita yang lain itu pun akan terbuka,” berkata Warsi.

“Kenapa kau cemas hal itu?” bertanya Ki Rangga. “Kita akan memerintahkan orang-orang kita dari luar padepokan. Kita akan memerintahkan beberapa orang dari salah satu di antara sarang kita yang jauh. Orang-orang yang tidak banyak mengenal padepokan ini dan tidak akan dapat berbicara apapun tentang rahasia kehidupan kita disini. Namun tentu saja kita berharap bahwa usaha itu berhasil. Setidak-tidaknya tidak seorang pun di antara mereka yang tertangkap.”

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Namun kita memerlukan waktu yang baik dan tepat. Aku justru berharap bahwa satu dua anak-anak Tanah Perdikan Sembojan sendiri yang masih setia kepada kita akan dapat membantu kita.”

“Apa yang dapat mereka lakukan?” bertanya Ki Rangga.

Warsi termangu-mangu. Bagaikan melihat satu kejadian di dalam mimpi ia berkata, “Jika ada satu dua orang di antara mereka yang benar-benar dapat dipercaya. Kita minta anak-anak itu berpura-pura kembali ke kampung halamannya. Menyerahkan diri dan berbuat sebagaimana anak-anak muda yang pernah menyerah sebelumnya. Namun mereka pada suatu saat harus dapat membunuh anak Wiradana itu.”

“Satu rencana yang sulit,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Memang,” jawab Warsi. “Tetapi bukannya tidak mungkin.

“Aku condong mempergunakan orang-orang yang tidak akan dapat membuka rahasia padepokan ini, sementara itu ia adalah orang yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi,” berkata Ki Rangga.

“Kita akan menempuh dua jalur,” berkata Warsi. “Satu jalur sebagaimana kau katakan. Jalur yang lain sebagaimana aku katakan. Sudah tentu kita akan memilih anak-anak Sembojan yang tidak mengenal padepokan ini pula sebagaimana orang yang kau maksudkan. Di beberapa sarang terpisah masih ada anak-anak Sembojan yang setia kepada Puguh sebagai anak Ki Wiradana.”

Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Semua cara yang kita anggap baik akan kita tempuh. Namun kita harus menyadari bahwa keadaan Tanah Perdikan itu tentu sudah berubah. Seandainya anak Iswari itu terbunuh, kita agaknya masih akan menempuh jalan panjang.”

“Kita menyadarinya,” berkata Warsi. “Namun kita pun tahu, bahwa sebagian besar pasukan Pajang telah ditarik. Dengan demikian maka kekuatan Tanah Perdikan itu tergantung kepada para pengawal Tanah Perdikan itu sendiri.”

Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk pula. Hampir berguman ia berkata, “Kita akan menempuh banyak cara.”

“Kita akan segera mencari orang sebagaimana kita maksudkan,” berkata Warsi.

“Yang sesuai dengan rencanaku tidak akan terlalu sulit,” berkata Ki Rangga Gupita. “Yang harus benar-benar diperhitungkan adalah rencana sebagaimana kau maksudkan.”

Namun keduanya memang sudah bertekad untuk menempuh segala cara. Karena itu, maka keduanya pun telah berusaha untuk menemukan orang-orang sebagaimana mereka maksudkan.

Memang seperti dikatakan oleh Ki Rangga Gupita, bahwa mencari orang yang dianggap memiliki kemampuan yang cukup untuk memasuki Tanah Perdikan Sembojan lebih cepat mereka dapatkan. Dua orang bekas prajurit pilihan dari Jipang dan seorang dari gerombolan Kalamerta yang telah terhimpun kembali.

Mereka bertiga adalah orang-orang yang telah meluluhkan cara hidup mereka dengan jalan yang ditempuh oleh Ki Wiradana dan Warsi dalam ujudnya yang keras dan kasar. Mereka tinggal di salah satu sarang terpisah dari gerombolan yang dipimpin oleh Ki Rangga dan Warsi.

“Kalian harus menyesuaikan diri dengan keadaan Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Rangga. “Kegagalan yang pernah terjadi, justru pada saat yang tepat, menjadi pengalaman yang harus kita perhitungkan.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk.

“Kalian tidak akan dibatasi waktu,” berkata Warsi. “Karena itu kalian tidak perlu tergesa-gesa. Kalian dapat mengamati keadaan sebaik-baiknya. Hanya apabila kalian yakin akan berhasil kalian dapat mulai bertindak.

Karena di dalam hidup sehari-hari, betapapun ketatnya penjagaan disekitar anak itu, agaknya akan diketemukan pula saat-saat para pengawalnya lengah. Nah, pada saat itu, dimanapun anak itu berada, kalian dapat bertindak.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga berkata, “Untuk mencukupi hidup kalian selama kalian berada di Tanah Perdikan, kalian tidak usah cemas. Kita mempunyai banyak persediaan. Meskipun demikian jika kalian merasa kekurangan, kalian dapat mengambil sendiri. Tetapi ingat, jangan di Tanah Perdikan Sembojan atau di Kademangan-kademangan disekitarnya.”

“Baiklah,” berkata salah seorang dari ketiga orang itu. “Kami akan berusaha untuk melakukan tugas kami dengan sebaik-baiknya. Kami akan mempelajari sebab-sebab kegagalan dari usaha yang terdahulu. Dan kami akan menemukan cara yang paling baik. Apalagi kami tidak tergesa-gesa sehingga kami mempunyai banyak waktu untuk menentukan sikap.”

“Usahakan agar semua terjadi tanpa menjeratmu. Usahakan agar kalian tidak membuka rahasia tentang sarang kita disini. Ukuran kejantanan seseorang adalah dapat kami lihat pada sikap dan keberhasilan kalian,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Besok kami akan bersiap-siap,” berkata salah seorang dari mereka.

“Yang akan kalian lakukan adalah perpaduan antara dendam dan cita-cita,” berkata Warsi. “Kita menginginkan sesuatu yang baik bagi masa depan. Bukan saja bagi Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi landasan bagi perjuangan Jipang. Saat ini masih tersebar kesatria-kesatria Jipang yang masih tetap setia pada perjuangannya. Meskipun untuk sementara kita berjuang dengan cara yang terpisah-pisah, tetapi jika kita memiliki landasan yang mapan, maka perjuangan kita akan menjadi lebih mapan.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Tertanam di jantung mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah perpaduan antara dendam dan cita-cita. Dengan tekad yang membara, maka mereka akan melakukannya sebaik-baiknya.

“Kalian telah mengenal Tanah Perdikan dengan baik. Tetapi dengan demikian kalian pun harus ingat, bahwa ada di antara anak-anak muda Tanah Perdikan itu yang mengenal kalian,” berkata Warsi kemudian.

“Tetapi pada saat aku menjadi prajurit,” berkata salah seorang dari kedua bekas prajurit Jipang itu. “Sekarang aku sudah berubah. Aku sekarang memelihara jambang dan kumis. Luka di kening ini telah mengubah ujud wajahku. Sementara kawanku ini pun telah berubah pula. Ia dahulu tidak mengalami cacat mata. Sementara kawan yang ketiga itu agaknya memang belum pernah tinggal di Tanah Perdikan.”

“Kalian harus mendapat tebusan dari cacat yang kalian derita itu,” berkata Ki Rangga.

“Ya,” berkata bekas prajurit itu. “Kami akan menuntut sepuluh kali lipat dari cacat kami. Ditambah dengan kematian anak Iswari itu.”

“Bagus,” berkata Warsi. “Itu adalah sikap jantan. Namun perlu kalian ketahui, bahwa usaha untuk menyingkirkan anak itu kita tempuh lewat segala macam cara. Karena itu, kalian bertiga bukan satu-satunya kelompok yang aku tugaskan untuk melakukan tugas itu. Selain kalian bertiga, ada kelompok lain yang aku tugaskan untuk melakukannya. Bukan berarti bahwa kami tidak percaya kepada kalian. Tetapi yang mana saja yang dapat kesempatan menurut cara masing-masing.”

“Siapakah yang mendapat tugas itu selain kami?” bertanya bekas prajurit itu.

“Aku belum menentukan sekarang,” jawab Warsi. “Namun pada saatnya apabila mengetahui orang-orang itu, maka kalian harus saling membantu. Orang yang datang kemudian itu pun jika mungkin tentu akan mencari hubungan dengan kalian.”

Ketiga orang itu pun mengangguk-angguk. Bagi mereka lebih banyak kawan dalam tugas itu, tentu akan lebih baik.

Namun Ki Rangga masih juga berpesan, “Tetapi kalian tidak usah menunggu. Ada atau tidak ada, usahakanlah melakukan tugas kalian sebaik-baiknya.”

“Baik Ki Rangga,” jawab bekas prajurit Jipang itu. “Kami akan mengusahakan.”

Demikianlah, maka ketika Warsi dan Ki Rangga meninggalkan sarang yang satu itu, maka ketiga orang itu telah membicarakan apa yang sebaiknya mereka lakukan. Di hari berikutnya mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya yang mereka anggap perlu untuk dibawa ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Kita lebih dahulu akan mengenali kembali Tanah Perdikan itu,” berkata salah seorang bekas prajurit yang cacat dikeningnya dan yang telah membiarkan jambang dan kumisnya tumbuh. “Baru kemudian kita menentukan langkah-langkah yang paling baik untuk melaksanakannya.”

“Kitalah yang harus lebih dahulu berhasil,” berkata bekas prajurit yang matanya menjadi cacat. “Sebelum orang lain datang ke Tanah Perdikan, anak itu harus sudah mati. Bukankah mudah sekali membunuh anak-anak? Meskipun kita sadar, bahwa di sekeliling anak itu tentu terdapat pengawal-pengawal.”

“Kita tidak boleh mengesampingkan kenyataan bahwa di Tanah Perdikan Sembojan terdapat orang-orang kuat,” berkata seorang yang terhimpun dari bekas gerombolan Kalamerta, “Bukan karena kita harus menjadi gentar, tetapi kita wajib berhati-hati.”

“Ya,” jawab bekas prajurit yang cacat di kening, “Kita harus sangat berhati-hati.”

Demikianlah, setelah semua persiapan dilakukan, maka ketiga orang itu pun segera berangkat menuju ke Tanah Perdikan Sembojan untuk mengemban tugas yang berat, justru karena di Tanah Perdikan itu terdapat orang-orang berilmu.

Ketiga orang itu sama sekali tidak langsung memasuki Tanah Perdikan, tetapi mereka menuju ke sebuah hutan kecil yang terletak justru di luar Tanah Perdikan.

Dari tempat itu, mereka bertiga berusaha untuk mengenali kembali Tanah Perdikan yang pernah dihuni oleh dua orang di antara mereka bertiga ketika mereka membantu para perwira Jipang menempa anak-anak muda Tanah Perdikan itu menjelang anak-anak itu dibawa ke Pajang, karena kedua prajurit itu pernah menjadi pemimpin kelompok pasukan Jipang.

Sementara orang-orang yang telah berada di depan pintu Tanah Perdikan itu berusaha untuk mencari jalan menyelesaikan tugas mereka, maka Warsi dan Ki Rangga sedang melihat-lihat setiap sarang mereka, untuk menemukan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang masih dianggap setia kepada Ki Wiradana, yang kesetiaannya itu melimpah kepada Puguh, anak Ki Wiradana.

Ternyata usaha mereka tidak sia-sia. Mereka menemukan beberapa orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang telah menjadi luluh dengan orang-orang disekitarnya. Mereka melakukan apa yang dilakukan oleh bekas prajurit-prajurit Jipang dan para pengikut Kalamerta. Bahkan menurut beberapa keterangan, anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu telah memiliki segala macam sifat, tingkah laku dan cita-cita sebagaimana bekas para prajurit Jipang.

Namun sebelum Warsi memberikan tugas kepada mereka, maka ia berusaha untuk mengetahui dengan pasti, sikap batin anak-anak muda Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka Warsi dan Ki Rangga telah menugaskan seorang kepercayaannya untuk berada disarang yang sama dengan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang masih ada di antara bekas para prajurit Jipang itu.

Dengan hati-hati kepercayaan Warsi dan Ki Rangga itu mulai mendekati anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu. Ia berusaha untuk dapat berbicara cukup banyak, mengungkit sikap batin mereka. Sementara itu, orang itu pun telah mengamati sikap lahir anak-anak itu yang tidak lagi ada bedanya dengan bekas para prajurit Jipang dan bekas pengikut Kalamerta.

Sehingga dengan demikian, maka kepercayaan Warsi dan Ki Rangga itu akhirnya memberikan laporan, bahwa hampir semua dari anak-anak muda itu dapat dipercaya.

“Kau dapat menunjuk dua orang di antara mereka yang paling baik untuk ditugaskan justru di Tanah Perdikan Sembojan sendiri?” bertanya Warsi.

“Aku akan menyebut beberapa nama,” berkata kepercayaan Warsi itu. “Nanti aku persilakan untuk memilihnya.”

Warsi dan Ki Rangga ternyata telah menyatakan keinginan mereka untuk dapat langsung berhubungan dengan anak-anak muda itu. Sehingga karena itu, maka Warsi dan Ki Rangga telah berada di salah satu sarangnya dan tinggal bersama beberapa orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang masih ada bersama dengan mereka.

Dari pengamatan langsung itu, baik Warsi maupun Ki Rangga mempunyai pendapat yang sama dengan kepercayaannya, bahwa anak-anak muda yang tinggal di tempat itu masih tetap menunjukkan kesetiaan yang tinggi kepada satu cita-cita untuk membawa kekuasaan Ki Wiradana kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Anak Ki Wiradana yang bernama puguh itu.

Karena itu, secara langsung, bersama kepercayaannya Warsi dan Ki Rangga telah memilih dua orang di antara mereka.

Namun baik Warsi maupun Ki Rangga tidak langsung memberikan tugas itu kepada mereka. Kedua orang itu harus mengalami pendadaran lebih dahulu di luar sadar mereka.

Keduanya telah benar-benar diuji kesetiaan mereka dengan tugas-tugas berat bersama dengan kepercayaan Warsi dan Ki Rangga itu.

Ternyata bahwa keduanya memang telah menunjukkan kesetiaan mereka. Bahkan ketika oleh kepercayaan Ki Rangga dan Warsi, kedua anak itu dibawa memasuki kota Pajang untuk melakukan perampokan, mereka sama sekali tidak menunjukkan perasaan gentar.

“Kita merampok rumah seorang pedagang, langsung di Kota Raja,” berkata kepercayaan Warsi itu. “Pedagang itu adalah seorang pedagang kaya dan banyak memberikan sumbangan kepada para prajurit Pajang selama perang dengan Jipang.

Biarlah sekarang ia merasa kecewa, bahwa setelah perang selesai, Pajang tidak lagi menghiraukannya. Pajang tidak lagi mengingat jasa-jasa pedagang itu, sehingga perlindungan pun tidak dapatkannya lagi.”

Kedua anak muda Tanah Perdikan itu justru merasa bangga bahwa mereka mendapat kepercayaan untuk melakukannya bersama kepercayaan Ki Rangga itu.

Namun untuk melakukan tugas yang berat itu, mereka tidak hanya bertiga. Bersama mereka adalah seorang bekas perwira Jipang dan seorang bekas pengikut Kalamerta yang dianggap memiliki kemampuan yang cukup. Sehingga dengan demikian untuk memasuki Kota Raja dan merampok rumah seorang pedagang kaya itu, mereka lakukan berlima.

Tugas itu memang tugas yang berbahaya. Namun ternyata bahwa kelima orang itu mampu melakukannya. Memang ada perlawanan kecil dari pedagang yang kaya itu dan dua orang pengawalnya. Namun dalam waktu dekat, keduanya dapat dilumpuhkan.

Meskipun mereka tidak dibunuh, tetapi mereka mengalami luka-luka yang cukup parah.

Untuk memberikan kesan dalam tugasnya, maka kepercayaan Ki Rangga dan Warsi itu sebelum meninggalkan rumahnya sempat berkata kepada pedagang yang kaya itu, “Nah, apa yang kau peroleh sekarang setelah Pajang menang? Perlindungan tidak kau peroleh sehingga kami sempat memasuki rumahmu dan mengambil kekayaanmu. Pajang yang sudah menang tidak menghiraukan kau lagi. Bantuan yang pernah kau berikan bagi perang yang tidak adil itu tidak ada gunanya lagi bagimu. Kau sekarang benar-benar telah dilupakan oleh orang-orang yang pernah kau bantu pada waktu itu.”

“Persetan,” geram pedagang yang terluka itu.

Kepercayaan Ki Rangga tertawa. Katanya, “Kau masih tidak mau melihat kenyataan?”

Pedagang itu tidak menjawab. Sementara itu kelima orang yang merampok rumahnya sempat menertawakannya sambil meninggalkan rumahnya. Beberapa macam barang berharga telah dibawa oleh para perampok yang memperkenalkan diri sebagai prajurit Jipang.

Di pintu keluar, kepercayaan Warsi itu berkata, “Laporkan kepada para pemimpin Pajang, bahwa kami masih akan datang lagi ke Kota Raja dalam waktu-waktu mendatang, karena orang-orang yang bernasib seperti kau ini banyak sekali.”

Pedang itu mengumpat. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Sepeninggal para perampok itu, maka istri pedagang yang ketakutan itu berusaha merawat luka suaminya dan para pengawalnya. Namun apa yang dapat dilakukan kurang memadai dengan luka yang diderita.

Atas perintah pedagang itu, maka istrinya telah memukul kentongan yang terdapat dilongkangan. Suara kentongan itu telah menguak sepinya malam, sehingga para pengawal dengan cepat telah berdatangan. Sementara itu, prajurit peronda berkuda yang mendengar suara kentongan itu pun membagi tugas. Dua orang langsung menuju ke sumber isyarat, dua orang yang lain telah berusaha untuk melingkari padukuhan yang menjadi sumber isyarat itu.

Sementara itu kelima orang perampok itu telah sempat meninggalkan padukuhan itu. Bahkan sebelum para penjaga dinding Kota Raja bersiaga sepenuhnya dan mengawasi setiap jangkal dari dinding kota apalagi pintu-pintu gerbangnya, maka kelima orang itu telah berhasil keluar dengan meloncat dinding yang tinggi itu dengan kemampuan seorang prajurit pilihan.

Bagi para prajurit Pajang, peristiwa itu merupakan percikan noda pada tugas mereka. Ternyata Kota Raja yang dianggap tenang dan tentram itu telah diguncang oleh tindak kekerasan yang dilakukan oleh para bekas prajurit Jipang.

Namun bagi Ki Rangga dan Warsi, langkah itu merupakan pendadaran bagi kedua anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan itu. Namun ternyata bahwa hasil yang diperoleh kelima orang itu pun agaknya sangat memuaskan, bahkan menimbulkan niat untuk melakukannya lagi pada kesempatan lain yang cukup baik dan memungkinkan. Karena dengan peristiwa itu, para prajurit Pajang tentu akan menjadi lebih berhati-hati.

Tetapi rencana untuk mengulangi perampokan itu merupakan rencana sampingan. Yang penting bagi Ki Rangga dan Warsi adalah keyakinan yang mantap tentang kedua orang anak muda dari Tanah Perdikan itu.

Karena itu, ketika pertimbangan-pertimbangan sudah diperhitungkan dengan seksama, maka kedua orang anak muda itu telah dipanggil oleh Ki Rangga dan Warsi untuk menghadap bersama kepercayaan kedua orang pemimpin mereka itu.

Kedua orang anak muda Tanah Perdikan itu memang menjadi gelisah. Mereka mencoba untuk menilai diri mereka sendiri, apakah mereka telah melakukan kesalahan.

Namun kepercayaan Warsi itu pun kemudian meyakinkan mereka, bahwa mereka dipanggil untuk mendapatkan tugas yang khusus.

“Tugas apa?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Nanti kalian akan mendengarnya langsung. Tidak ada seorang pun yang tahu, tugas apa yang akan dibebankan kepadamu,” jawab kepercayaan Warsi itu.

Demikianlah, maka dengan hati yang berdebar-debar kedua orang itu telah menghadap Ki Rangga dan Warsi. Dua orang yang dianggap pemimpin tertinggi dari satu gerombolan yang besar, yang terdiri dari para bekas prajurit Jipang, bekas pengikut Kalamerta, para pengikut ayah Warsi dan anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang tidak mau kembali ke kampung halaman mereka.

“Duduklah,” terdengar suara Ki Rangga yang berat menekan.

Kedua orang anak muda itu telah duduk sambil menundukkan kepala disebelah kepercayaan pemimpin mereka itu.

“Siapa nama kalian?” tiba-tiba saja Ki Rangga bertanya.

Kepercayaan itu telah mengangkat wajahnya untuk menjawab. Tetapi Ki Rangga mendahului, “Aku ingin mereka mengucapkan nama mereka masing-masing. Bukan orang lain, karena aku sudah pernah mendengar namanya dari orang-orang lain.”

Kepercayaan Ki Rangga itu menarik nafas. Lalu katanya kepada kedua orang anak muda itu, “Sebut nama kalian masing-masing.”

Seorang yang lebih tua dari yang lain pun kemudian menjawab, “Namaku Saruju.”

“Sarju atau Saruju?” Ki Rangga menegaskan.

“Orang tuaku menyebut namaku Saruju. Bukan Sarju,” jawab anak itu.

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Nama yang bagus. Dan kau?”

“Damar,” jawab yang seorang.

“Juga nama yang bagus. Damar berarti lampu,” sahut Ki Rangga. “Mudah-mudahan kau dapat menerangi hati orang-orang Tanah Perdikanmu yang kini sedang gelap karena pokal Iswari. Kau tahu siapa Iswari?”

Anak muda itu ragu-ragu. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil menjawab. “Ya.”

“Nah, sebut. Siapa Iswari itu,” berkata Ki Rangga pula.

“Iswari adalah istri pertama Ki Wiradana,” jawab anak muda itu.

“Hanya itu yang kau ketahui tentang Iswari?” bertanya Ki Rangga kemudian.

Anak muda itu menjadi bingung. Ia tidak tahu bagaimana ia harus menjawab.

Sementara itu, Ki Ranggalah yang menjawab sendiri. “Iswari itu bukan orang Tanah Perdikan Sembojan. Iswari itu seorang pendatang. Kau ingat, kapan Iswari itu datang? Kau ingat saat Iswari kawin dengan Wiradana? Bagaimana liciknya kakek Iswari itu. Dengan curang dilukainya Ki Gede pada waktu itu. Kemudian ia berpura-pura menolongnya. Sementara itu, ia memperkenalkan cucunya, seorang gadis kepada Ki Gede yang kemudian memaksa anaknya Ki Wiradana kawin dengan gadis itu karena Ki Gede merasa berhutang budi.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Ia mencoba mengingat peristiwa itu. Memang agak mirip. Namun alasannya agak berbeda dari yang diketahuinya.

”Nah. Kau tentu mendengar ceritera yang lain. Bahkan kakek Iswari itu telah menolong dan menyelamatkan nyawa Ki Gede” berkata Ki Rangga.

Damar mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya iapun telah berpaling kepada Saruju. Kemudian ia pun menjawab, “Ya Ki Rangga. Kami mendengar cerita bahwa kakek Iswari itu telah menyelamatkan Ki Gede.”

“Nah, betapa liciknya mereka. Akhirnya Ki Gede itu pun disingkirkannya,” berkata Ki Rangga. “Nah, siapa mengira bahwa Iswari telah menyingkirkan Ki Gede itu ketika kedudukannya terancam,” berkata Ki Rangga. “Tentu saja bukan tangan Iswari sendiri.”

Damar mengangguk-angguk. Ceritera itu memang masuk di akalnya. Sementara Ki Rangga berkata, “Nah. Adalah kewajiban anak-anak muda Tanah Perdikan sendiri untuk menyingkirkan perempuan seperti Iswari itu. Meskipun ia mempunyai anak dengan Ki Wiradana, namun anak itu akan meneruskan kecurangan yang pernah dilakukan oleh ibunya. Apalagi seandainya Ki Wiradana masih tetap hidup, maka kau dapat menebak, anaknya yang manakah yang akan ditetapkan untuk menggantikannya.”

Damar dan Saruju mengangguk-angguk. Menurut pengamatannya, Ki Wiradana memang lebih dekat dengan Warsi daripada Iswari. Namun jika kenyataan lain muncul di dalam ingatannya, terutama tentang hubungan Warsi dengan Ki Rangga Gupita, maka dengan serta merta diusirnya dari kepalanya.

Banyak hal yang kemudian dikatakan oleh Ki Rangga dan Warsi tentang Tanah Perdikan Sembojan dan tentang Iswari. Sehingga kedua anak muda itu pun semakin yakin, bahwa Iswari sama sekali tidak berhak untuk menguasai kepemimpinan Tanah Perdikan Sembojan. Demikian pula anak laki-lakinya.

“Sementara itu, anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan telah kehilangan gairah perjuangannya,” berkata Warsi. “Mereka telah menyerah karena tidak tahan mengalami kesulitan selama perjuangan berlangsung. Sebenarnya saatnya tepat sekali untuk menghalau Iswari dari Tanah Perdikan, karena kita mempunyai kawan-kawan seperjuangan sekarang ini. Mereka yang ingin menegakkan Jipang kembali akan dapat membantu kita. Namun ternyata sebagian dari anak-anak muda kita telah kehilangan kejantanannya.”

Damar dan Saruju mengangguk-angguk. Sedangkan Warsi masih berkata selanjutnya, “Nah, mulailah dengan satu tugas yang mulia. Kita harus mempergunakan cara. Berhasil menangkap ikannya, tanpa mengeruhkan airnya. Sebagaimana kau ketahui, banyak anak-anak Tanah Perdikan yang menyerah dan kembali ke kampung halamannya yang menurut pengamatan lahiriah memang menjadi lebih baik. Tetapi sudah tentu dengan mengorbankan cita-cita. Namun kalian tidak akan berbuat demikian. Kalian kami perintahkan untuk dengan penuh kesadaran menyerahkan diri. Tetapi kita kehilangan cita-cita perjuangan kalian. Jika kalian telah berada kembali di kampung halaman dan tinggal bersama keluarga kalian, apalagi kalian telah sempat menyesuaikan diri dengan kehidupan Tanah Perdikan Sembojan yang menurut ujud lahiriahnya menjadi bertambah baik itu, maka mulailah tugas kalian yang sebenarnya.”

Damar dan Saruju termangu-mangu. Mereka masih belum begitu jelas tentang tugas yang harus diembannya. Namun kemudian Warsi telah menjelaskan.

Kedua anak muda itu harus membunuh anak Wiradana yang lahir dari Iswari. Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Sudah agak lama mereka tidak melihat Tanah Perdikan Sembojan tanah kelahirannya. Mereka pun tidak dapat membayangkan, cara hidup anak Wiradana yang lahir dari Iswari itu. Namun nampaknya tugas yang harus mereka lakukan adalah tugas yang rumit.

“Kami memberikan kepercayaan ini kepada kalian berdua setelah kalian membuktikan, bahwa kalian mampu melakukan tugas-tugas yang lain dengan baik. Bahkan kalian berdua bersama tiga orang kawan kalian telah memasuki Kota Raja Pajang yang terkenal mendapat pengawasan yang sangat keras,” berkata Ki Rangga. Lalu, “Tetapi tugas ini bukan tugas kekerasan melulu. Tugas ini justru memerlukan permainan sikap batin dari kalian berdua. Karena itu, maka diperlukan landasan kesiapan perjuangan yang dalam dan tidak tergoyahkan.”

Kedua anak muda itu tidak menyahut. Ada berbagai perasaan yang bergelut di hati mereka.

“Nah” berkata Warsi kemudian, “kau mempunyai waktu untuk berpikir, apakah kalian bersedia melakukan tugas ini atau tidak. Tetapi menurut penilaian kami, kalian berdualah yang paling dapat kami percaya. Kami tidak melihat orang lain meskipun disini masih ada juga beberapa orang anak muda dari. Tanah Perdikan Sembajan. Sementara itu kau tentu menyadari, bahwa tugas ini adalah tugas rahasia. Tidak boleh seorang pun yang mendengarnya. Bahkan kawan-kawanmu sendiri yang berasal dari Tanah Perdikan Sembojan. Hanya kalian berdua sajalah yang tahu disamping kami.”

Anak-anak muda ‘itu termangu-mangu. Memang ada perasaan bangga yang terbersit dihati mereka, karena justru mereka berdualah yang mendapat kepercayaan untuk melakukan tugas, itu.

“Kami tidak pernah memberikan kesempatan berpikir dalam tugas-tugas yang kami serahkan kepada kawan-kawan kalian. Semua perintah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tetapi tugas yang satu ini agak lain. Tugas ini menyangkut kampung halamanmu, keluargamu, kawan-kawanmu dan yang terpenting adalah ketahanan tekatmu untuk berjuang, meskipun dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.” berkata Ki Rangga, “sementara itu kau akan memasuki daerah yang akan dapat memberi kesegaran bernafas. Akan dapat memberikan kehangatan karena kalian akan berada diantara keluarga kalian. Namun justru semua itu adalah pendadaran bagi kesetiaanmu bagi perjuangan.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Sedangkan Ki Rangga masih berkata terus, ”Besok kalian dapat memberikan jawaban.”

Kedua anak muda itu menarik nafas dalam-dalam.

Sejenak kemudian, maka Ki Rangga dan Warsi pun telah meninggalkan mereka dan kepercayaannya. Untuk beberapa saat ketiganya masih duduk di ruang itu untuk memperbincangkan tugas yang baru saja dikatakan oleh Ki Rangga dan Warsi.

Dalam pada itu kepercayaan Ki Rangga itupun berkata, “Tugas kalian nampaknya memang tidak terlalu berat. Tetapi justru merupakan bahan jiwani yang luar biasa. Kalian harus benar-benar tabah menghadapi godaan-godaan ujud lahiriah selama kalian berada di Tanah Perdikan. Kalian tidak boleh terseret arus dan bahkan tenggelam sama sekali.

Kedua anak muda Itu mengangguk-angguk. Sementara itu kepercayaan Ki Rangga dan Warsi itupun kemudian berkata, “Berpikirlah sampai besok. Kau harus menggambil keputusan sebaik-baiknya.”

“Baiklah” berkata Saruju, “kami akan membuat pertimbangan-pertimbangan sebaik-baiknya. Namun pada dasarnya kami adalah anak-anak muda yang setia pada perjuangan kami.”

“Bagus”.berkata kepercayaan Warsi dan Ki Rangga itu, “kalian memang mendapat kepercayaan untuk tugas yang barangkali tidak akan dapat dilakukan oleh orang lain.

“Kami sudah terbiasa dengan tugas-tugas berbahaya” berkata Damar.

Kepercayaan Ki Rangga itu menepuk bahunya. Kemudian sambil bergeser ia berkata, “Marilah,. Kita sudah selesai. Besok kalian,berdua tentu dipanggil lagi oleh Ki Rangga.”

Keduanya mengangguk. Besak mereka berdua harus memberikan jawab.

“Hari itu beberapa kali mereka berdua berbincang. Namun nampaknya keduanya tidak mempunyai masalah. Keduanya dengan senang hati, siap melaksanakan tugas yang pelik Itu.

Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Aku memang sudah rindu-kepada keluargaku.”

“Tetapi keluarga kita tidak boleh menjerat tugas-tugas kita selanjutnya” desis yang lain.

“Tentu tidak. Tetapi bukankah didalam tugas ini kita justru akan dapat memanfaatkannya. Kita kembali kepada keluarga, namun seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga bahwa kita tidak kehilangan gairah perjuangan kita.” sahut kawannya.

Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi mereka memang tidak dapatt membayangkan Tanah Perdikan di hari-hari terakhir.

Dihari berikutnya keduanya memang dipanggil oleh Ki Rangga. Seperti yang sudah diduga, maka Ki Rangga dan Warsi hanya ingin mendengar jawaban mereka.

“Kami telah mempertimbangkannya masak-masak” berkata Saruju, “kami bersedia melakukannya.”

“Bagaimana dengan kau Damar?” bertanya Ki Rangga.

“Aku terima tugas ini dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

“Bagus,” berkata Ki Rangga. “Aku sudah mengira bahwa kalian akan melakukannya dengan senang hati. Dan bukankah kalian masih mempunyai keluarga di Tanah Perdikan Sembojan? Dengan demikian kalian mempunyai tempat tinggal selama kalian berada di arena tugas kalian.”

“Aku masih mempunyai ayah dan ibu,” berkata Saruju. “Mudah-mudahan ayah dan ibuku masih ada, selain tiga adikku.”

“Bagaimana dengan kau Damar?” bertanya Ki Rangga pula.

“Aku masih mempunyai ayah dan ibu. Bahkan pada waktu aku terakhir berada di Tanah Perdikan, kakekku pun masih ada.”

“Apakah kau mempunyai adik?” bertanya Ki Rangga.

“Aku mempunyai dua adik perempuan,” jawab Damar.

Ki Rangga dan Warsi mengangguk-angguk. Mereka saling memandang sejenak. Namun kemudian Ki Rangga itu mengangkat wajahnya. Lalu katanya, “Baiklah. Kalian akan mendapat tugas penting ini. Kalian akan pulang ke Tanah Perdikan Sembojan. Kalian akan menyerah dan kemudian seperti kawan-kawan kalian yang lain, maka kalian tentu akan dimasukkan ke dalam barak khusus untuk beberapa lama. Kemudian kalian akan dilepaskan dan bebas sepenuhnya. Kalian akan berada kembali di antara sanak kadang dan kehidupan yang menurut ujud lahiriah lebih baik dari kehidupan kita disini. Sementara itu kalian pun telah mendapat keterangan, ceritera dan kabar yang tentu saja telah disusun berdasarkan atas kebohongan besar. Selama di dalam barak tertutup kalian akan digelitik oleh kepalsuan yang akan dapat membuat kalian kehilangan pengamatan atas perasaan kalian, sehingga dapat mengakibatkan kalian kehilangan pegangan.”

Kedua anak muda itu mendengarkan keterangan itu dengan seksama. Namun dengan demikian mereka mempunyai bekal pengertian tentang kesulitan yang bakal mereka hadapi. Terutama kesulitan jiwani. Mereka tidak boleh terpengaruh oleh kebohongan besar yang diucapkan oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, keduanya menjadi berdebar-debar ketika Ki Rangga berkata, “Tetapi anak-anak. Bukan berarti kami tidak mempercayaimu. Jika kami tidak mempercayai kalian berdua, maka kami tidak akan memberikan tugas kepada kalian. Tetapi sebagaimana kebiasaan kami, bahwa semua tugas harus dilakukan dengan baik, dengan pasti dan tanpa keragu-raguan sedikitpun juga. Untuk itu maka kami bekali kalian dengan pengertian, bahwa jika kalian gagal karena keadaan yang rumit dan tidak teratasi, kalian tidak akan mendapat hukuman apa-apa. Kegagalan adalah wajar dari setiap usaha. Usaha itu dapat berhasil dan dapat pula tidak berhasil, namun dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi jika kalian tergelincir kedalam satu langkah pengkhianatan, maka kalian akan menyesal. Kalian berdua akan kami singkirkan. Bukan saja kalian berdua, tetapi seluruh keluarga kalian. Ayah, ibu, adik-adik kalian bahkan kakek atau nenek kalian jika masih ada.”

Terasa dada kedua anak muda itu bergejolak. Ternyata Ki Rangga bukan saja membekali mereka dengan ketebalan tekad dan gairah perjuangan yang tinggi, tetapi Ki Rangga juga telah mengancam keluarga mereka.

Namun kedua anak muda itu tidak dapat berbuat lain daripada menerimanya. Agaknya ancaman yang demikian memang menjadi rangkaian dari perintah yang harus dijalankannya.

“Nah,” berkata Ki Rangga. “Apakah kalian sudah jelas?”

Kedua orang anak muda itu mengangguk meskipun jantungnya terasa berdegup semakin cepat.

“Nah, jika demikian kalian mempunyai waktu cukup untuk bersiap-siap,” berkata Warsi. “Kalian bukan saja harus mempersiapkan bekal kewadagan kalian. Tetapi kalian harus mempersiapkan bekal kejiwaan kalian yang justru lebih berat. Sementara itu, kalian akan mendapat petunjuk, bagaimana kalian dapat berhubungan dengan kami disini. Serta petunjuk bagaimana kalian sebaiknya melakukan tugas kalian apabila hal itu diperlukan. Besok kalian akan menerima bekal kewadagan. Uang dan barangkali apa lagi yang perlu kalian bawa. Sedangkan bekal kejiwaan harus kalian persiapkan sendiri.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk betapapun terasa dadanya bergejolak.

Kedua anak muda itu pun kemudian telah diserahkan kepada kepercayaan Ki Rangga untuk melakukan persiapan-persiapan sepenuhnya. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Rangga, ternyata bahwa keduanya memang mendapat bekal uang yang cukup. Uang yang seakan-akan hanya sekadar untuk ambil saja dari rumah orang-orang kaya.

Namun kepercayaan Ki Rangga dan Warsi itu masih berpesan, “Namun berhati-hatilah dengan uang itu. Kalian tidak akan dapat membawanya dengan serta merta. Jika kalian membawa uang sedemikian banyaknya, maka kalian tentu akan dicurigai. Demikian pula jika uang itu kalian bawa pulang dan kalian sembunyikan di rumah masing-masing.”

“Jadi harus kami apakan uang itu?” bertanya Saruju.

“Kalian harus menyembunyikannya di tempat yang tidak sering didatangi orang,” berkata kepercayaan Ki Rangga itu. “Kalian hanya akan mengambil uang itu seperlunya saja. Ingat, bahwa kalian tidak dapat menyelesaikan tugas kalian dalam waktu dua atau tiga bulan. Mungkin setengah tahun, tetapi jika kesempatan tiba-tiba terbuka, maka kalian akan dapat lebih cepat bertindak atas anak Iswari itu.”

“Baiklah,” jawab keduanya hampir berbareng. Namun seorang di antara mereka kemudian berkata, “Bukankah kami akan selalu mendapat petunjuk dalam tugas-tugas kami? Sebagaimana Nyai Wiradana pernah mengatakannya kepada kami.”

“Ya. Kami akan selalu mengamati kalian dan melindungi kalian dalam keadaan tertentu. Kami akan selalu memberikan petunjuk-petunjuk. Dan kami pun akan ikut berbuat sesuatu jika diperlukan bantuan,” jawab kepercayaan Ki Rangga itu.

Bahkan kemudian kepercayaan Ki Rangga itu pun berkata, “Tetapi yang harus kau ketahui bahwa usaha kami menyingkirkan anak Iswari itu tidak hanya melalui satu jalur. Bukan hanya kau yang akan melakukan tugas tersebut. Ki Rangga dan Nyi Wiradana sepakat untuk melakukannya dengan segala cara, sehingga jika kalian menemukan orang lain melakukannya, kalian jangan menghalanginya. Bahkan jika perlu kalian harus membantunya.”

“Siapa?” bertanya kedua orang anak muda itu.

“Untuk sementara kalian berdua. Tetapi mungkin besok atau lusa orang lain akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang berbeda-beda itu, tentu ada satu di antaranya yang berhasil,” berkata kepercayaan Ki Rangga itu.

Kedua anak muda Sembojan itu mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu mereka pun merasa, bahwa tentu ada orang yang akan selalu mengawasi tugas mereka dan bahkan tingkah laku mereka. Sehingga dengan demikian, maka mereka memang harus berhati-hati. Mereka tidak boleh menyimpang dari tugas mereka, apalagi berkhianat, karena yang menjadi tanggungan adalah seluruh keluarga mereka.

Demikianlah, maka ketika mereka berdua telah mempersiapkan segala sesuatunya yang dianggap penting, maka mereka pun telah berangkat menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Jarak antara sarang mereka dengan Tanah Perdikan Sembojan memang tidak terlalu dekat. Namun bagi mereka jarak itu sama sekali bukan lagi merupakan masalah.

Seperti yang sudah direncanakan, maka mereka telah mendapat bekal uang yang cukup. Uang yang seakan-akan tinggal mengambil seberapa mereka suka di rumah orang-orang kaya.

Namun seperti yang dipesankan, maka uang itu tidak mereka bawa memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Ketika mereka berjalan semakin mendekati tujuan, maka mereka telah memperhitungkan waktu. Mereka menunggu matahari terbenam untuk menyembunyikan uang mereka disebuah gumuk kecil yang memang tidak pernah dijamah oleh manusia. Sebuah bukit padas yang gersang disebuah padang perdu di pinggir hutan.

“Tidak seorang pun yang akan pernah datang kemari,” berkata Saruju.

Damar mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi apakah tempat ini tidak terlalu jauh?”

“Aku kira tidak,” jawab Saruju. “Mudah-mudahan orang yang bertugas mengawasi kita tidak melihat kita disini sekarang.”

“Seandainya melihat, apa salahnya? Bukankah kita tidak menyalahi tugas yang dibebankan kepada kita,” sahut Damar.

“Bukan demikian,” berkata Saruju. “Tetapi kita wajib mencurigai setiap orang. Jika orang itu melihat kita menyimpan uang disini, mungkin orang itu akan mengambilnya.”

Damar menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Mudah-mudahan tidak seorang pun yang melihatnya.”

Saruju memang menyembunyikan uang pada sebuah lubang batu padas. Uang yang disimpannya di dalam sebuah kotak kayu kecil itu kemudian dibalut dengan sejenis ijuk yang mereka dapatkan pada sejenis pohon aren liar dihutan untuk menahan agar peti kayu itu tidak cepat menjadi rapuh. Kemudian menutup lubang itu dengan bongkah-bongkah batu padas pula. Baru kemudian Saruju memberikan tanda pada tempat itu.

“Marilah,” berkata Saruju. “Kita meneruskan perjalanan memasuki Tanah Perdikan.

“Aku kira lebih baik jika kita memasuki Tanah Perdikan ekok pagi. Di siang hari kita tentu akan dicurigai. Jika kita memasuki Tanah Perdikan itu di malam hari, maka tanggapan para pengawal tentu akan lebih tajam daripada jika kita masuk disiang hari.”

Saruju termenung sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita memasuki Tanah Perdikan disiang hari. Kita akan menyerahkan diri di padukuhan yang paling ujung.”

“Bagus. Kita memang harus datang ke padukuhan yang paling ujung. Juga untuk menghindari kecurigaan yang berlebihan. Jika kita melewati padukuhan di ujung Tanah Perdikan maka tentu ada yang merasa terlampaui.”

Keduanya ternyata sependapat, sehingga tidak ada persoalan lagi di antara mereka. Yang mereka lakukan kemudian adalah mencari tempat untuk bermalam.

Namun dalam kehidupan mereka yang keras, keduanya tidak mengalami kesulitan apapun. Mereka telah mendapat tempat yang baik untuk tidur. Mereka telah berbaring di atas rerumputan kering dibalik sebuah gerumbul perdu. Keduanya sama sekali tidak merasa takut terhadap binatang buas. Bahkan seandainya seekor harimau datang mendekat, keduanya tidak akan lari. Tetapi keduanya tentu akan melawan meskipun mereka berdua hanya bersenjata pisau belati panjang. Itu pun akan ditinggalkan di luar Tanah Perdikan Sembojan jika saatnya tiba bagi mereka untuk memasuki padukuhan.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan telah lebih dahulu hadir tiga orang yang mendapat tugas yang sama, namun dengan cara lain. Mereka tidak perlu berada atau tinggal di Tanah Perdikan. Mereka dapat berada dimana saja. Namun mereka harus mencari kesempatan untuk dapat membunuh anak Iswari.

Karena itu, ketiga orang itu telah mempergunakan cara yang lebih kasar. Tetapi mereka berada di luar Tanah Perdikan. Mereka tinggal disebuah tempat persembunyian yang mereka buat ditengah-tengah hutan kecil. Hutan yang sudah tidak terlalu banyak dihuni binatang. Apalagi binatang buas. Disekitar hutan kecil itu telah digarap tanah pategalan yang dipersiapkan untuk kemudian dijadikan tempat pemukiman. Jika jumlah penduduk di Kademangan disebelah Tanah Perdikan itu menjadi semakin banyak, maka memang harus dibuka padukuhan-padukuhan baru. Hutan yang masih terlalu luas masih dapat disusut untuk dijadikan tempat tinggal yang akan tumbuh menjadi padukuhan-padukuhan yang ramai.

Dari tempat mereka bersembunyi mereka akan berusaha untuk dapat mengamati padukuhan induk dan mereka harus berusaha untuk dapat selalu mendekati rumah Iswari.

Namun mereka pun sadar, bahwa rumah itu dihuni oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mereka pun yakin bahwa pada suatu saat orang-orang itu akan lengah.

“Jika kita anggap tidak berbahaya sekali, maka kita akan mendekat disiang hari,” berkata bekas pengikut Kalamerta.

“Mungkin kita dapat melakukannya,” jawab orang yang cacat wajahnya. “Bukankah kita mempunyai waktu yang longgar sehingga kita tidak perlu tergesa-gesa.”

“Memang tidak tergesa-gesa. Tetapi Ki Rangga akan mengirimkan orang lain. Kita tidak boleh terlambat. Mereka pun orang lain itu mungkin akan membantu kita, tetapi tindak kepahlawanan kita akan dinilai berkurang,” berkata orang yang cacat matanya sebelah.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Kemudian bekas prajurit Jipang yang lain itu pun berkata, “Baiklah. Kita adalah orang yang paling baik di antara para pejuang yang masih setia untuk menegakkan kembali Jipang yang besar. Kita adalah orang-orang yang akan berhasil merebut landasan perjuangan kita, Tanah Perdikan Sembojan. Jika kita berhasil membunuh anak Iswari, maka kita adalah orang yang paling berjasa dalam perjuangan ini. Dengan kematian anak Iswari, maka Puguh adalah satu-satunya anak Wiradana.”

“Tetapi kita harus menyadari, bahwa tugas ini sangat berbahaya. Dengan demikian kita tidak akan pernah lengah,” berkata bekas pengikut Kalamerta.

Namun orang yang matanya cacat sebelah itu menyahut, “Ya. Kita tidak boleh lengah barang sekejap pun. Justru kita menunggu para pengawal anak Iswari itu lengah.”

Dengan demikian, maka ketiga orang itu telah membuat rencana yang paling baik bagi mereka. Seorang di antara mereka bergantian di siang hari akan berjalan lewat jalan di depan rumah Iswari. Tidak ada orang yang mencurigainya, karena jalan itu merupakan jalan yang memang banyak dilalui orang dari Kademangan yang satu ke Kademangan yang lain, yang letaknya berseberangan disebelah menyebelah Tanah Perdikan Sembojan. Mereka akan lewat berganti-ganti sambil mengamati halaman rumah Iswari. Akan lebih baik jika mereka sempat melihat keadaan halaman rumah itu dan melihat anak Iswari itu bermain-main.

Namun di malam hari mereka akan pergi bersama-sama. Tiga orang. Mereka akan langsung melihat-lihat keadaan rumah itu meskipun harus dengan sangat berhati-hati.

Ketika mereka untuk pertama kali di malam hari memasuki padukuhan induk, maka mereka memang menjadi sangat berdebar-debar. Rasa-rasanya beberapa pasang mata selalu mengikuti mereka kemanapun mereka pergi.

Namun akhirnya mereka dapat meyakinkan diri sendiri, bahwa tidak seorang pun yang melihat mereka. Tanah Perdikan Sembojan yang sudah menjadi semakin tenang itu pun agaknya tidak lagi mendapat penjagaan yang berlebihan, meskipun masih nampak betapa para pengawal menjadi sangat berhati-hati

Ketika mereka berhasil pada usaha mereka yang pertama untuk mendekati rumah Iswari di malam hari, maka mereka telah melakukan pekerjaan yang sama untuk malam-malam berikutnya. Mereka melakukannya hampir setiap dua atau tiga malam sekali.

Namun ternyata mereka tidak segera menemukan dimana anak Iswari itu tidur di malam hari. Meskipun mereka kadang-kadang menunggu untuk waktu yang cukup lama, namun seakan-akan anak Iswari itu tidak pernah terbangun di malam hari dan apalagi menangis. Jika mereka mendengar tangis anak-anak mereka akan segera tahu, dimanakah bilik anak itu.

Tetapi mereka tidak dapat terlalu lama menunggu disekitar rumah Iswari. Agaknya terlalu berbahaya bagi mereka. Setiap kali peronda pergi berkeliling rumah dan halaman. Merasa seakan-akan telah mengamati setiap jengkal tanah, bahkan di luar halaman.

Namun ketiga orang itu tidak berputus asa. Mereka selalu datang kembali dan menunggu beberapa lamanya. Sementara itu disiang hari mereka seorang-seorang berusaha melintasi di depan rumah Iswari sambil mengamati keadaan. Mereka melihat saat yang paling aman, selagi jalan itu ramai dilalui orang. Pagi-pagi setelah matahari naik, jalan itu banyak dilalui orang yang akan pergi ke pasar. Atau menjelang tengah hari, saat orang-orang pulang dari pasar.

Ketika bekas prajurit Jipang yang cacat wajahnya itu lewat di pagi hari, sekali ia melihat seorang laki-laki bermain dihalaman. Perhatiannya segera tertarik. Namun ia tidak dapat berbuat sesuatu pada waktu itu. Bekas prajurit itu melihat anak laki-laki itu bermain dengan seorang laki-laki yang tentu salah seorang pelindungnya. Bekas prajurit itu tidak akan gentar menghadapi seandainya di halaman itu tidak terdapat beberapa orang lain. Dan di antara mereka tentu terdapat satu atau dua orang pengawal Tanah Perdikan yang bertugas di rumah itu. Mungkin mereka bertugas di malam hari, namun karena sesuatu hal mereka masih belum sempat pulang. Atau bahkan mereka baru datang menggantikan kawannya yang bertugas dimalam hari. Dalam penglihatannya yang singkat bekas prajurit Jipang itu melihat seorang yang membawa pedang dilambung, berdiri dekat dibibir pintu regol yang terbuka lebar.

Dengan demikian, maka bekas prajurit Jipang itu semakin menyadari bahwa tugas yang diembannya adalah tugas yang berat dan sulit, meskipun hanya sekadar membunuh anak-anak.

Pada kesempatan lain, kawannya yang cacat pada matanya telah berhenti beberapa langkah dari pintu gerbang halaman rumah Iswari. Ia berpura-pura kelelahan memikul dua ikat kayu bakar besar yang akan dibawanya ke pasar.

Sambil duduk di antara kedua ikat kayu bakar itu, ia sempat mengamati halaman rumah Iswari. Ia pun melihat seorang anak yang sedang disuapi sambil berlari-lari. Pemomongnya seorang perempuan dengan sabar mengikutinya sambil sekali-kali menyuapi mulut anak itu.

“Tentu anak itu yang dimaksud,” berkata bekas prajurit Jipang itu di dalam hatinya.

Tetapi ia pun tidak dapat bertindak karena ia melihat seorang perempuan yang berdiri ditangga pendapa. Iswari itu sendiri.

Perempuan itu sekali-kali melambaikan tangannya kepada anak yang sedang bermain di halaman. Sementara pemomongnya masih saja sibuk menyuapinya sambil berlari kesana-kemari.

Bekas prajurit Jipang yang berpura-pura menjadi penjual kayu bakar itu hanya dapat menggeretakkan giginya. Namun ia pun kemudian berkata kepada diri sendiri, “Aku akan mendapatkan kesempatan itu pada satu saat.”

Ia masih duduk beberapa saat di dekat regol sambil menunggu kemungkinan yang tidak dapat diperhitungkan. Namun kesempatan itu tidak didapatkannya pagi itu.

Ia pun kemudian meneruskan perjalanannya, memanggul kayu bakar itu di pasar. Namun karena kayu bakar itu benar-benar telah sampai di pasar, maka kayu itu dijualnya pula kepada seorang penjual nasi di sebuah warung yang cukup ramai di pinggir pasar. Dari hasil penjualan kayu itu maka ia pun langsung duduk di dekat seorang penjual nasi kuluban didekat pintu masuk pasar itu. Ia sama sekali tidak membeli nasi di kedai yang lebih baik, tetapi nasi kuluban itu sangat menarik perhatiannya. Bahkan setelah ia selesai makan, ia telah membeli pula dua bungkus nasi kuluban yang dibawanya kembali kepersembunyiannya untuk kedua kawannya yang tinggal.

Ketika ia menceriterakan kepada kedua kawannya, maka kedua kawannya itu tertawa. Mereka mengerti bahwa bekas prajurit yang cacat pada matanya itu berpura-pura menjual kayu. Namun bahwa ia benar-benar telah menjual kayu itu kepada penjual nasi di pasar, agaknya telah menimbulkan kegelian di antara mereka.

“Lihat hasilnya,” berkata bekas prajurit itu sambil memberikan dua bungkus besar nasi kuluban.”

“Sepikul kayu bakar yang berat itu mendapat ganti tiga bungkus nasi kuluban,” desis kawannya.

“Dua,” jawabnya. “Yang satu telah aku makan seberapa perutku mampu menampungnya.”

Kedua kawannya tertawa pula. Seorang di antara mereka berkata, “Kita membawa bekal uang yang cukup. Kau tidak usah menjadi penjual kayu seperti itu.”

“Jangan bodoh,” berkata bekas prajurit yang menjual kayu bakar itu. “Dengan menjual kayu bakar, aku akan mendapat banyak kesempatan mengamati regol rumah Iswari. Selain itu kepalang tanggung kayu yang sudah sampai di pasar itu.”

Namun ternyata bekas prajurit itu mempunyai pengharapan lain. Jika ia sudah dikenal sebagai penjual kayu bakar, maka ia akan lebih banyak mempunyai kemungkinan untuk hilir mudik tanpa dicurigai orang.

Karena itulah, maka ia tidak menjadi jera membawa sepikul kayu bakar. Ia selalu lewat dimuka gerbang rumah Iswari. Sekali-kali ia sempat melihat anak itu dihalaman. Namun kadang-kadang tidak sama sekali.

Sementara itu kedua kawannya membiarkannya berlalu demikian. Bahkan pada satu saat bekas pengikut Kalamerta itu pun telah mengikutinya pada jarak tertentu. Ketika penjual kayu itu berhenti diregol, diseberang jalan yang membelah padukuhan induk itu, orang itu pun mendekatinya dan duduk pula bersamanya dibelakang sepikul kayu bakar itu.

Mereka berdua memang sempat melihat Risang berlari-lari di halaman. Tetapi mereka juga melihat pengawal yang berada dibelakang regol. Bukan saja menjaga pintu yang terbuka lebar itu. Tetapi kadang-kadang ia ikut bermain dengan anak itu.

“Kita akan melihatnya disiang hari,” berkata bekas pengikut Kalamerta itu.

“Kita harus mencari alasan, kenapa kita berhenti di sini,” berkata prajurit Jipang itu.

“Nah, bahwa kau berpura-pura menjadi penjual kayu bakar agaknya memang sangat tepat. Kau dapat mengamatinya di pagi hari. Di siang hari aku akan menjual dawet berkeliling padukuhan induk ini,” berkata bekas pengikut Kalamerta itu.

“Penjual dawet?” bertanya bekas prajurit Jipang itu. “Kau memerlukan kemampuan tersendiri. Kau memerlukan alat dan barangkali sulit didapat.”

“Kita tidak usah memikirkan modal. Kita sudah mempunyainya. Sedangkan alat-alatnya akan aku bicarakan dengan penjual dawet di pasar. Jika ia mau menjual alat-alatnya aku akan membelinya dengan agak mahal. Bukankah orang itu akan dapat membuat atau membeli lagi yang lain?”

Sebenarnyalah, bahwa bekas pengikut Kalamerta itu telah berhasil membeli seperangkat alat untuk menjual dawet. Sebuah pikulan yang bentuknya khusus. Sebuah jambangan kecil dua kendil khusus untuk diisi dengan budek dan cendol batang aren. Kemudian beberapa buah tempurung yang sudah dihaluskan untuk minum dewet bagi para pembelinya.

Demikianlah mereka bertiga telah berusaha untuk dapat berkeliaran di padukuhan induk, sehingga mereka mendapat kesempatan untuk mengamati rumah Iswari serta anak laki-laki yang bernama Risang.

Sebagai penjual dawet, maka bekas pengikut Kalamerta itu banyak berhubungan dengan para pembelinya. Bukan saja anak-anak. Tetapi kadang-kadang juga orang-orang tua yang bekerja di kebun dan kehausan. Juga yang bekerja di sawah. Dengan mereka penjual dawet itu sempat berbicara tentang bermacam-macam hal. Antara lain tentang anak laki-laki Iswari yang bernama Risang itu.

Bahkan satu kesempatan telah datang bagi penjual dawet itu ketika pada suatu hari, pemomong Risang memanggilnya untuk masuk ke halaman rumah Iswari. Dengan jantung yang berdebar-debar penjual dawet itu memasuki regol, dan membawa pikulannya ketempat yang rimbun dibawah sebatang pohon jambu air.

Seorang anak yang sudah pandai berlari-lari telah mendekatinya dibimbing oleh pemomongnya, seorang perempuan. Namun ketika ia berpaling ke regol, dilihatnya dua orang pengawal duduk disebelah regol itu bersandar dinding sambil memperhatikannya.

“Satu kesempatan,” berkata orang itu di dalam hatinya. Pada saat Risang berdiri di depan pikulannya sebenarnya ia dapat mengambil pisau dibawah jambangan kecilnya. Kemudian dengan serta merta menikam anak itu meskipun ia sendiri akan mati.

Namun orang itu merasa agak ragu. Sementara itu, seorang laki-laki yang bertubuh kekar telah mendekatinya pula sambil bertanya kepada Risang, “He, kau ingin juga minum dawet?”

“Aku haus,” jawab anak itu singkat.

Namun pemomongnyalah yang kemudian berkata kepada laki-laki itu, “Apakah kakang Gandar juga akan minum dawet?”

Gandar tersenyum. Katanya, “Jangan aku. Mungkin para pengawal itu memerlukannya.”

Tetapi para pengawal itu pun menggeleng. Seorang diantara mereka berkata, “Kami tidak haus.”

Namun dalam pada itu, seorang yang berada di sudut halamanlah yang menyahut, “Akulah yang haus.”

Pemomong Risang itu memanggilnya, “Kemarilah.”

Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Kesempatan untuk menikam Risang sudah lewat. Apalagi seorang di antara laki-laki yang berdiri disebelah Risang itu adalah Gandar. Salah seorang yang disebut namanya sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Ketika semua telah selesai, dan perempuan pemomong Risang itu sudah membayar harganya, maka penjual dawet itu dengan hati yang berdebar-debar meninggalkan halaman rumah itu.

“Setan,” geramnya. “Kesempatan itu sebenarnya telah terbuka. Aku yang terlambat sehingga laki-laki yang bernama Gandar itu datang mendekat. Seandainya aku cepat bertindak, maka anak itu tentu sudah mati, meskipun aku juga mati. Namun aku telah mengorbankan jiwaku bagi kepemimpinan Jipang yang besar.”

Tetapi penjual dawet itu tidak berputus asa. Ia yakin bahwa kesempatan itu akan datang lagi. Apalagi bahwa ia sudah dikenal sebagai seorang penjual dawet. Ia akan dapat dengan leluasa lewat jalan di depan gerbang halaman rumah Iswari itu. Sekali-kali ia tentu akan dipanggil lagi masuk halaman.

Ketika ia menceriterakan pengalamannya itu kepada kedua orang kawannya, maka kedua orang kawannya itu pun ikut menyesal bahwa kesempatan itu telah lewat.

“Tetapi jika saat itu aku mempergunakan kesempatan yang ada, maka tidak akan sempat kembali ketempat ini”.

Kedua kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu bekas pengikut Kalamerta itu berkata, “Meskipun demikian, seandainya laki-laki yang bernama Gandar itu tidak mendekat, aku kira aku benar-benar telah membunuhnya meskipun aku juga akan mati.”

“Kita akan mencari kesempatan lain,” berkata kawannya. “Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita memperhatikan keselamatan kita sendiri sejauh memungkinkan.”

Bekas pengikut Kalamerta itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata dengan menjual dawet ini, aku akan berhasil melakukan tugas ini dengan baik.”

“Nampaknya usahamu itu dapat mendekati keberhasilan. Kita akan membantumu,” berkata bekas prajurit Jipang itu.

Namun dalam pada itu, dihari berikutnya, penjual dawet itu telah mendengar bahwa baru saja dua orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang hilang untuk waktu yang agak lama, telah datang untuk menyerahkan diri.

“Gila,” geram bekas prajurit Jipang yang cacat di wajahnya itu ketika penjual dewet itu mengatakan kepada kedua orang kawannya, “Aku ingin membunuhnya.”

“Jangan mencari perkara,” kawannya berusaha mencegahnya, “Aku pun ingin melakukannya. Tetapi kita harus menyelesaikan tugas kita lebih dahulu. Kita jangan mengeruhkan airnya sebelum kita dapat menangkap ikannya.

Kawannya yang cacat di wajahnya itu masih menggeram, “Aku benci kepada pengkhianat seperti itu.”

“Aku sependapat. Kita akan dapat melakukan sesuatu jika tugas pokok selesai. Bukankah kedua orang itu tentu akan dimasukkan kedalam barak khusus lebih dahulu? Apa yang dapat kita lakukan atas mereka jika mereka ada di dalam barak itu? Karena itu, kita bunuh dahulu anak Iswari. Kita kemudian melaporkannya. Bagaimanapun juga kita memerlukan perhatian dari Ki Rangga dan Nyai Wiradana. Mungkin kita akan mendapatkan sesuatu.”

“Tetapi mungkin sekali aku mati,” berkata pengikut Kalamerta.

“Jangan begitu. Kita akan berusaha menemukan jalan yang tidak menjurus ke kematian,” berkata seorang kawannya.

“Ya. Tetapi itu akan terlalu sulit. Dalam keragu-raguan kita akan banyak kehilangan kesempatan,” berkata bekas pengikut Kalamerta itu. “Namun seandainya aku harus mati, kalian akan dapat menceriterakan apa yang terjadi.”

“Hanya jika tidak ada jalan lain. Bukan hanya kau yang mungkin akan mati. Mungkin kita semuanya,” berkata salah seorang bekas prajurit itu.

“Jangan semuanya,” jawab bekas pengikut Kalamerta. “Salah seorang di antara kita harus hidup dan menceriterakan perjuangan kita yang jantan di Tanah Perdikan Sembojan ini.”

Kedua bekas prajurit Jipang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang di antara mereka berkata, “Itu tidak perlu. Seandainya kita mati bersama-sama, akhirnya Ki Rangga dan Ki Wiradana pun akan tahu apa yang telah terjadi.”

Bekas pengikut Kalamerta itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian berkata, “Terima kasih atas kesediaan kalian. Tetapi kita harus berusaha untuk dapat langsung melaporkan apa yang terjadi. Tidak oleh orang lain.”

“Aku kira siapapun yang mengatakannya tidak ada bedanya,” sebut kawannya yang lain. “Karena itu, kami berdua atau seorang-seorang akan selalu dekat denganmu. Jika kau dipanggil untuk masuk ke halaman itu, maka kami akan siap melakukan apa saja yang dapat membantumu. Mungkin sekadar perhatian agar kau sempat membunuh anak itu atau hal-hal yang mungkin kami lakukan.”

“Baiklah,” berkata orang itu. “Terserah kepada kalian. Tetapi yang panting bagi kita, anak itu harus mati.”

Ketiga orang itu pun kemudian mengangguk-angguk. Rasa-rasanya mereka sudah bertekad untuk mati bersama dan hidup bersama.

Namun ketika bekas pengikut Kalamerta itu pergi kesebuah belik dibawah sebatang pohon raksasa di hutan itu, maka bekas prajurit Jipang yang cacat matanya itu berkata, “Persetan dengan orang itu. Biar saja ia mati. Kita berdua akan menikmati hasil kemenangan ini.”

Kawannya tertawa. Katanya, “Ia yakin bahwa kita berdua benar-benar akan membantunya. Apalagi kita dianggapnya siap untuk mati bersama. Ia akan menjadi semakin bergairah bahkan bertekad untuk mengorbankan nyawanya. Semakin cepat ia melakukan, semakin baik. Kematiannya akan dapat menjadi alas keberhasilan kita untuk meniti kesempatan yang lebih baik dilingkungan para pejuang.”

Keduanya tertawa. Namun mereka pun segera menyesuaikan diri ketika orang yang pergi ke bilik itu kembali.

Sementara itu, dua orang anak muda yang telah menyerahkan diri itu diterima dengan senang hati oleh para pengawal Tanah Perdiman Sembojan. Sebagaimana pesan Iswari, maka setiap orang yang menyerah akan dapat diarahkan untuk menjadi seorang abak muda yang berarti bagi Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Saruju dan Damar itu pun telah diterima dan ditempatkan disebuah barak yang khusus, yang tinggal dihuni oleh beberapa orang saja. Tidak lebih dari enam orang. Mereka pun termasuk anak-anak muda yang belum lama menyerah. Namun pada mereka telah mulai tampak kesadaran yang mendalam tentang kesesatan yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Namun di samping enam orang itu, ternyata ada anak-anak muda yang telah disimpan ditempat yang terpisah. Mereka adalah anak-anak muda yang menurut penilaian para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi mempunyai kemungkinan untuk dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka nampaknya benar-benar telah mengeraskan hati sehingga tidak lagi mau mendengarkan pendapat orang lain. Tidak mau lagi mempertimbangkan kenyataan yang dihadapinya.

Namun dalam pada itu, Saruju dan Damar ternyata termasuk anak-anak muda yang cepat menyesuaikan diri. Semua petunjuk dan nasihat yang diterimanya selama ini berada dalam barak khusus itu, nampaknya telah diresapinya sebaik-baiknya. Keduanya tidak pernah menunjukkan keragu-raguan untuk kembali ke lingkungannya di Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan selama ia berada di barak khusus, keduanya menunjukkan penyesalan yang mendalam. Lebih dari keenam orang kawannya yang tinggal di barak khusus itu.

Karena itu, maka meskipun Saruju dan Damar itu lebih lambat masuk ke dalam barak itu, tetapi ternyata para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah memberikan kesempatan mengakhiri masa penjernihan nalar dan budi itu bersama dengan keenam orang kawannya yang lain.

Demikianlah ketika Saruju dan Damar mendapat kesempatan keluar dari barak khusus itu, hatinya terasa telah mengembang. Ditatapnya Tanah Perdikannya dengan jantung yang mekar. Di antar oleh seorang pengawal, maka Saruju dan Damar telah dikembalikan kepada kampung halamannya. Mereka tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Tetapi seperti yang telah terjadi, keduanya telah diserahkan kepada Ki Bekel. Sementara itu orang tua mereka pun telah hadir pula di banjar, untuk menerima keluarganya yang telah dianggapnya hilang itu kembali ke lingkungannya.

Memang tidak lagi dengan upacara yang meriah. Namun di banjar hadir Ki Bekel dan para bebahu padukuhan bersama beberapa orang yang mewakili anak-anak muda padukuhan itu.

Dengan beberapa sesorah, Ki Bekel telah menerima anak yang hilang itu dan menyerahkan kembali kepada keluarganya.

“Terimalah. Bimbinglah anak-anak itu untuk tidak tersesat lagi. Apa yang telah terjadi pada mereka, bukanlah salah mereka. Pada mulanya mereka telah direnggut oleh satu lingkungan di luar kehendak mereka sendiri. Untuk beberapa lama mereka terombang-ambing antara kesadarannya dan kegelapan hati. Kini mereka telah menemukan yang paling baik dan benar dari perjalanan hidup mereka yang masih panjang,” berkata Ki Bekel kepada orang-orang yang hadir di banjar.

Untuk selanjutnya, maka anak-anak itu pun telah diserahkannya kepada keluarganya untuk dibawa pulang.

Saruju dan Damar pun telah dibawa pulang oleh orang tua mereka. Betapa bahagianya perasaan seluruh keluarganya setelah mereka menerima kembali anak yang sudah dianggapnya mati itu. Karena itu, maka delapan keluarga di Tanah Perdikan Sembojan telah menyelenggarakan sedikit keramaian untuk menyambut kedatangan anak-anak mereka.

Dua orang bekas prajurit Jipang dan seorang bekas pengikut Kalamerta itu mengumpat dengan kasar. Tetapi mereka memang harus menahan diri, bahwa mereka sebaiknya tidak membuat persoalan selagi mereka masih harus menyelesaikan tugas mereka yang cukup rumit.

Dalam pada itu Saruju dan Damar memang telah menunjukkan sikap yang baik. Mereka berusaha untuk segera dapat luluh dalam pergaulan anak-anak muda Tanah Perdikan. Meskipun keduanya merasa bahwa nama mereka sudah cacat, tetapi mereka berusaha untuk menebus cacat nama mereka dengan tingkah laku yang meyakinkan.

Bahkan keduanya lebih banyak berbuat daripada anak-anak muda yang telah lebih dahulu kembali dari lingkungan para prajurit Jipang. Keduanya tidak pernah mengelakkan kewajiban anak-anak muda di padukuhan mereka.

Dengan demikian maka kawan-kawan mereka menganggap bahwa baik Saruju maupun Damar telah benar-benar menjadi dua orang anak muda yang baik.

Namun demikian mereka tidak pernah melupakan tugas mereka. Tugas pokok mereka adalah membunuh anak Iswari yang disebut Risang itu.

Tetapi keduanya tidak merasa tergesa-gesa. Bahwa bekal yang diberikan oleh Ki Rangga dan Nyi Wiradana cukup banyak, itu berarti bahwa waktu yang diberikan kepada mereka pun cukup luas. Lebih baik tidak tergesa-gesa daripada harus mengalami kegagalan.

Karena itu, maka mereka pun telah menyusun rangkaian langkah-langkah yang harus mereka ambil. Mereka harus mendapat kesempatan berhubungan langsung dengan keluarga Iswari. Jika mereka sudah mendapat kesempatan untuk berada di rumah itu dengan tugas apapun juga, maka mereka akan dengan mudah dapat melakukan tugas mereka. Membunuh anak Iswari itu. Akan lebih baik jika pembunuhan itu tidak diketahui oleh siapapun juga. Tetapi keduanya pun bertekad, jika perlu maka mereka harus mengorbankan nyawa mereka. Membunuh dimanapun juga, meskipun banyak saksi yang akan melihatnya dan mungkin mereka akan beramai-ramai menangkap dan membunuh mereka.

Namun sebelum mereka mendapatkan kesempatan itu, maka mereka lebih baik tidak berbuat apa-apa. Lebih baik mereka menunjukkan sikap dan tingkah laku yang dapat meyakinkan banyak orang, bahwa mereka adalah anak Tanah Perdikan yang baik.

Namun semakin lama mereka hidup di Tanah Perdikan itu, maka mereka semakin banyak melihat kenyataan tentang Tanah Perdikan itu. Mereka melihat betapa anak-anak mudanya telah bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua telah ikut pula menangani beberapa macam pekerjaan besar yang sangat berguna bagi perkembangan Tanah Perdikan Semt;ojan. Mereka telah sempat membuat bendungan yang dapat mengairi sawah di satu sisi Tanah Perdikan dan mencakup daerah persawahan dari beberapa padukuhan. Yang lain adalah membuat sebuah jalan yang, menghubungkan tiga padukuhan yang terpencil, sehingga jalan itu dapat menjadi penghubung sehingga padukuhan itu tidak lagi terasa terpisah. Jalan yang dibuat itu merupakan jalan yang cukup kuat untuk dilalui swbuah pedati.

Pada saat-saat Saruju dan Damar sedang mencari kesempatan berhubungan langsung dengan isi rumah Iswari, maka bekas pengikut Kalamerta itu rasa-rasanya tidak sabar lagi. Ia ingin dengan cepat menyelesaikan tugasnya meskipun seandainya ia harus mengorbankan diri.

Namun ternyata, kesempatan itu masih belum kunjung datang. Meskipun ia beberapa kali menjajakan dawetnya dimuka regol, namun isi rumah Iswari itu masih belum memanggilnya lagi.

Karenaa itu, maka mereka bertiga, telah mengulangi cara yang ingin mereka lakukan sebelumnya. Dimalam hari mereka berusaha untuk menunggu suara tangis Risang. Jika mereka mendengar suara itu, maka mereka mengetahui dimana anak itu tidur.

Tetapi ternyata bahwa kesempatan itu pun harus ditunggu.

Namun dalam pada iku, dengan tidak diduga sama sekali, maka di siang hari, pemomong Risang telah memanggil penjual dawet yang sering menjajakan dawetnya di depan regol rumahnya. Adalah kebetulan sekali bahwa diteriknya panas matahari, Risang melihat penjual dawet itu.

“Baiklajh, baiklah” berkata pemomongnya, ”biarlah penjual dawet itu dipanggil.”

“Biarlah aku memanggilnya” berkata Bibi

Bekas pengikut Kalamerta -itu menjadi berdebar-debar. Ternyata kesempatan itu datang sekali lagi. Seharusnya ia mampu memanfaatkan kesempatan iyu. Apapun yang terjadi. Ia harus menjadi pahlawan yang akan selalu dikenang oleh Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana, jika kelak mereka mendapatkan kemenangan, maka akan dibuat sebuah patung bagi dirinya di alun-alun Jipang

Sambil memikul dawetnya memasuki regol halaman, bekas pengikut Kalamerta itu memandang berkeliling. Adalah kebetulan sekali ia tidak mdlihat Gandar. Ia tidak melihat seorang laki-laki pun di halaman, bahkan. tidak ada orang diregol halaman. Biasanya satu atau dua orang pengawal berada di tempat itu.

“Kemana mereka?”bertanya penjual dawet itu didalam hatinya. Namun kemudian katanya didalaan hati, “aku tidak peduli. Yang penting aku mendapat kesempatan untuk menikam anak itu. Aku tidak peduli apa yang terjadi berikutnya. Jika sempat aku akan berlari justru kesamping dan meloncat dinding. Jika tidak dan jebakan yang memang dibuat aku tidak berkeberatan mati.”

Sementara itu ketika penjual dawet itu melihat keluar regol, ia melihat dua orang sedang duduk di pinggir jalan dibawah rimbunnya pepohonan. Namun kedua orang itu pun kemudian telah bergeser sehingga bakas pengikut Kalamtrta itu tidak dapat melihatnya lagi.

Meskipun demikian ia berpikir didalam hati, “Kedua orang itu tentu mencari tempat yang lebih baik. Mereka tentu akan membantu aku dalam keadaan yang sulit.”

Karena itu hatinya menjadi sedikit tenang. Jika ia harus mati, maka ada kawannya yang akan mati bersamanya sebagaimana mereka katakan sendiri. Mereka merasa tidak perlu melaporkan kepada Ki Rangga Gupita. Jika anak Iswari itu memang mati, maka peristiwa itu sendiri akan menjadi laporan yang akan disampaikan oleh seribu mulut, kepadanya.

Seperti yang terdahulu, maka penjual dawet itu  telah meletakkan pikulannya dibawah rimbunnya pohon jambu air. Tanpa setahu orang lain maka ia telah menyiapkan golok panjangnya yang disimpannya di pikulannya. Dalam sekejap ia akan dapat menarik goloknya dan menikam anak Iswari itu sampai mati. Baru kemudian ia akan memikirkan dirinya sendiri.

“Tunggulah sebentar,” berkata perempuan yang disebut Bibi itu kepada penjual dawet., “Anak itu sedang mengambil mangkuk ke belakang.”

“Baik Ki Sanak,” jawab penjual dawet itu. “Aku tidak tergesa-gesa.”

“Dalam keadaan seperti itu, tentu daganganmu akan lekas habis,” berkata Bibi kepada penjual dawet itu.

“Biasanya memang begitu. Agak lebih cepat dibandingkan musim basah,” berkata penjual dawet itu. Bahkan katanya kemudian, “Di musim basah, aku mempersiapkan dagangan lebih sedikit daripada di musim panas begini.”

Bibi itu melangkah mendekat. Ia hanya melihat santan di jambangan saja tanpa membeli bagi dirinya sendiri.

Sementara itu Risang berlari-lari sambil membawa mangkuk kecil ke luar dari seketeng. Pemomongnya kemudian berlari-lari pula mengikutinya.

Dalam pada itu penjual dawet itu menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat satu kesempatan lagi telah terbuka. Karena itu maka ia harus dapat mempergunakannya sebaik-baiknya.

Dengan jantung berdebar-debar ia melihat Risang semakin lama semakin dekat dengan mangkuk ditangan. Sementara pemomongnya pun berlari-lari pula menyusulnya.

Dalam pada itu Bibi yang melihat Risang berlari-lari pun telah menunggunya pula di sebelah penjual dawet itu. Bahkan kemudian Bibilah yang menerima mangkuknya itu sambil berkata,”Mari. Berikan mangkuk itu. Biarlah mangkuk ini diisi sampai penuh.”

Risang menyerahkan mangkuk itu kepada Bibi dan kemudian Bibilah yang menyerahkannya kepada penjual dawet itu.

Sementara itu, penjual dawet itu benar-benar telah dicekam oleh kegelisahan. Risang berdiri selangkah saja didepan pikulannya. Jika ia menarik pisau belati penjangnya, maka dengan selangkah saja ia sudah dapat menggapainya sambil menghunjamkan pisau itu ke dalam tubuh anak itu yang tentu masih sangat lunak.

Namun bekas pengikut Kalamerta itu telah menerima mangkuk itu pula. Ia ingin memberikan mangkuk itu nanti langsung kepada Risang. Kemudian menangkap tangannya dan menghentakkannya. Sementara itu tangannya yang lain telah mencabut pisau belatinya, dan kemudian mudah sekali meskipun ia tidak melihat jalan terbuka bagi dirinya sendiri. Tetapi karena tidak ada pengawal di pintu, maka ia akan lari melalui regol, turun ke jalan besar. Dua orang kawannya telah menunggunya. Mereka tentu akan membantunya dan bersama-sama berusaha melarikan diri atau bersama-sama akan ditelan maut.

Meskipun jantungnya menjadi berdebar-debar, namun ia masih juga mengisi mangkuk itu dengan legen, cendol dan santan. Kemudian mengaduknya dengan irus kecil. Sementara itu ia mencoba mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya.

Demikian, maka penjual dawet itu telah menyerahkan mangkuk itu langsung kepada Risang.

Tetapi pemomongnyalah yang mengulurkan tangan untuk menerima sambil berkata, “Maril, mari biarlah aku membawakannya agar tidak tumpah.”

Penjual dawet itu mengumpat di dalam hati. Namun kesempatan itu masih ada padanya. Selagi Risang memperhatikan mangkuk di tangan pemomongnya dan bahkan menggapai-gapainya, maka penjual dawet itu pun telah mengambil keputusan.

Dengan cepat ia menarik pisau belati dari sela-sela bingkai jambangan di pikulannya. Dengan cepat sekali ia bangkit dan meloncat menerkam Risang.

Yang dilakukannya demikian cepatnya, sehingga orang itu yakin bahwa ia akan dapat membunuh anak itu.

Namun yang berdiri dekat Risang selain pemomongnya adalah Bibi yang pernah disebut Serigala Betina. Karena itu, maka ketika orang itu menarik sesuatu dari pikulannya, maka naluri Bibi itu pun telah menjalari tubuhnya. Demikian ia melihat benda berkilat ditangan penjual dawet yang meloncati pikulannya itu, maka ia pun telah bertindak pada waktu yang tepat.

Dalam pada itu, saat pisau itu terjulur mengarah ketubuh Risang, kaki Bibi telah menyambarnya dengan kakinya. Tidak kalah cepatnya dengan gerak tangan penjual dawet itu, sehingga sentuhan kaki Bibi yang keras itu ternyata telah mampu melemparkan pisau ditangan penjual dawet itu sebelum pisau itu menyentuh dan apalagi tergores ditubuh Risang.

Risang sendiri terkejut. Demikian pemomongnya. Karena itu maka tiba-tiba saja Risang telah menjerit menangis.

Penjual dawet itu mengumpat kasar. Ia pun telah meloncat menggapai pisaunya yang terjatuh. Namun sementara itu Bibi telah berteriak kepada pemomong Risang, “Bawa masuk cepat.” Pemomongnya itu telah mengangkat Risang dengan tergesa-gesa dan mendukungnya dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain masih memegang mangkuk berisi dawet cendol. “Lepaskan mangkuk itu. Dukung Risang dengan baik,” pesan Bibi melihat sikap pemomong Risang itu.

Hampir di luar sadarnya pemomongnya itu pun telah melepaskan mangkuknya dan berlari-lari membawa Risang ke pendapa.

Sementara itu penjual dawet itu telah berusaha mengejarnya ketika pisau belatinya telah berhasil diambilnya.

Tetapi langkahnya ternyata telah dipotong oleh perempuan lain yang bertubuh agak kegemuk-gemukan dan bertubuh tinggi menurut ukuran seorang perempuan.

Penjual dawet itu tidak mau kehilangan waktu. Karena itu, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Pisaunya telah terjulur pula ke dada Bibi untuk menyingkirkan karena penjual dawet itu akan berusaha mengejar Risang.

Namun ternyata Bibi itu cukup tangkas. Selangkah ia bergeser kesamping. Ketika pisau itu terjulur sejengkal dari tubuhnya, maka tangannya pun telah terayun. Dengan sisi telapak tangannya ia telah memukul pergelangan tangan penjual dawet itu. Demikian kerasnya sehingga pisaunya sekali lagi terlepas dari tangannya.

Bekas pengikut Kalamerta itu meloncat surut. Dengan wajah yang tegang baru ia mencoba mengamati perempuan yang telah menghentikannya itu, bahkan telah menjatuhkan pisaunya.

“Perempuan iblis,” geramnya. “Kau telah menggagalkan rencanaku yang sudah aku susun mapan.”

Bibi termangu-mangu. Namun sementara itu Risang telah dibawa naik ke pendapa dan melintas menuju pringgitan. Ketika pemomong Risang itu telah membuka pintu pringgitan maka Bibi itu telah menarik nafas dalam-dalam.

“Anak itu sudah diselamatkan,” berkata Bibi.

“Persetan,” geram bekas pengikut Kalamerta. Tanpa bertanya lebih banyak lagi, maka ia pun telah menyerang perempuan yang agak kegemuk-gemukan itu.

Tetapi perempuan itu cukup tangkas. Ia sempat menghindari serangan itu sehingga tidak menyentuhnya. Bahkan sambil bergeser ke samping Bibi telah mempersiapkan satu serangan.

Demikian kakinya menyentuh tanah, maka tubuh Bibi yang besar dan telah terlontar pula. Kaki kirinya melangkah maju sementara tangannya terjulur lurus ke depan menggapai sasaran, dada lawannya.

Namun yang diserangnya adalah bekas pengikut Kalamerta yang dipercaya. Itulah sebabnya, maka serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Penjual dawet itu sempat mengelakkannya dengan loncatan kesamping. Namun Bibi tidak membiarkannya. Ia pun telah meloncat pula sambil mengayunkan tangan mendatar menebas ke arah kening.

Pengikut Kalamerta itu merendahkan diri. Namun sekaligus kakinya telah bergerak melingkar menyapu kaki Bibi yang tangannya masih terjulur.

Namun Bibi itu pun tangkas pula. Ia sempat meloncat ketika kaki penjual dawet itu melingkar menyerang, sehingga dengan demikian kaki itu tidak mengenai sasaran.

“Ternyata kau mempunyai kemampuan pula he?” gumam Bibi seperti kepada diri sendiri.

Namun penjual dawet yang marah itu pun telah memutuskan untuk membunuh perempuan itu dan ia harus mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Dengan demikian maka bekas pengikut Kalamerta itu segera menghentakkan segenap kemampuannya.

Sebenarnyalah bahwa kemampuan bekas pengikut Kalamerta itu tidak mampu mengimbangi kemampuan Bibi yang pernah disebut Serigala Betina, apalagi setelah ia mendapat tuntunan dari Nyai Soka. Karena itu, ketika Bibi itu benar-benar telah mempergunakan kemampuannya yang sesungguhnya, maka penjual dawet itu pun segera terdesak.

Namun penjual dawet itu tidak menyerah. Yang ingin dilakukannya jika ia tidak dapat membunuh lawannya adalah melarikan diri.

Karena itu, ketika ia sempat menghentakkan ilmu dan mendesak Bibi selangkah surut, maka ia pun telah berusaha untuk meloncat menuju ke pintu gerbang halaman.

Tetapi ternyata ia memang tidak mampu melepaskan diri dari tangan Bibi. Demikian ia meloncat berlari, maka Bibi pun telah meloncat pula dibelakangnya. Bahkan dorongan tenaga cadangan Bibi yang lebih besar, membuat langkahnya lebih cepat.

Karena itu, sebelum orang itu sampai ke regol halaman, Bibi telah mendahuluinya dan menutup kemungkinan orang itu keluar dari regol halaman, karena Bibi itu sendiri telah berdiri ditengah-tengah pintu.

“Gila,” geram penjual dawet itu. Dengan tangkasnya ia menyerang. Kakinya telah terangkat menyamping setelah ia memutar tubuhnya setengah lingkaran.

Bibi tidak menghindari serangan itu. Ia bahkan membentur serangan itu dengan sedikit merendah sambil memiringkan tubuhnya untuk melindungi lambungnya dengan lengan dan sikunya.

Kaki penjual dawet itu pun kemudian telah membentur siku Bibi. Demikian besar kekuatannya yang telah dihentakkannya, sehingga Bibi terguncang keseimbangannya. Tetapi Bibi masih tetap tegak berdiri di regol halaman rumah Iswari itu.

Ternyata yang terjadi pada penjual dawet itu lebih parah. Ketika kakinya membentur siku Bibi, maka kekuatannya yang besar seakan-akan telah memental dan menghantam bagian dalam tubuhnya sendiri. Karena itu maka ia pun telah terdorong beberapa langkah surut, dan bahkan ia pun telah jatuh terguling.

Namun dengan sisa tenaganya orang itu berusaha untuk bangkit. Tetapi demikian ia berdiri tegak, dengan perut yang masih mual dan kepala yang pening, tiba-tiba saja telah datang serangan Bibi yang dahsyat, karena Bibi itu pun menjadi marah karena keseimbangannya yang terguncang.

Kaki Bibilah yang kemudian terjulur menyamping dilambari dengan kekuatan yang sangat besar. Serangan yang kuat itu telah menghantam langsung ke leher penjual dawet itu. Sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan, karena menurut penglihatan penjual dawet itu, perempuan yang agak gemuk itu memakai kain panjang.

Namun penjual dawet itu tidak sempat memperhatikannya lebih lanjut. Kaki Bibi itu benar-benar telah mengenai lehernya. Demikian kerasnya sehingga tulang leher orang itu telah dipatahkannya.

Orang itu terlempar sekali lagi. Jauh lebih keras dan jauh. Penjual dawet itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Tetapi ia tidak lagi berusaha untuk bangkit. Demikian ia terjatuh, maka ia pun telah terbujur diam.

Sementara itu, Bibi pun telah berdiri tegak dengan kaki rapat. Ternyata kain panjangnya telah koyak karena serangannya yang dilontarkannya dengan sepenuh tenaga, sementara ia tidak mempersiapkan pakaiannya untuk melakukannya.

Sementara itu, halaman itu telah banyak dikerumuni orang. Iswari sendiri telah keluar di pendapa sambil mendukung Risang. Seakan-akan ia tidak mempercayakannya kepada orang lain. Nyai Soka pun telah berada di pandapa pula, sementara Gandar berdiri disisi pendapa bersama seorang pengawal. Beberapa orang lain yang mendengar keributan itu telah pula ke luar dan turun ke halaman.

Dalam pada itu, maka Nyai Sokalah yang kemudian turun dari pendapa dan mendekati Bibi sambil berkata, “Pergilah kebilikmu dahulu.”

Bibi pun kemudian berkisar dari tempatnya, sementara Nyai Soka telah mendekati tubuh yang terbaring itu. Bahkan sejenak kemudian Kiai Badra pun telah berjongkok pula untuk mengamati keadaan penjual dawet itu.

Namun Kiai Badra itu pun telah menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Serangan itu terlalu keras.”

Nyai Soka pun menarik nafas dalam-dalam. Orang itu tidak terluka sama sekali. Namun tulang lehernyalah yang agaknya telah dipatahkan oleh Bibi yang marah.

Beberapa saat kemudian, Bibi pun telah kembali pula ke halaman. Sementara itu Iswari yang mendukung Risang telah turun bersama pemomongnya yang ketakutan.

Seorang pengawal yang berdiri di pintu gerbang menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa ia telah melalaikan tugas karena ia berada beberapa langkah dari gerbang itu dan sempat berbicara dan bahkan berkelakar dengan kawannya di luar regol. Karena menurut penglihatannya hanyalah seorang penjual dawet saja yang memasuki halaman, maka ia tidak banyak menaruh perhatian.

Dalam waktu yang singkat, maka padukuhan induk itu menjadi gempar. Orang-orang yang mendengar peristiwa itu telah datang beramai-ramai ke rumah Kepala Tanah Perdikan mereka. Mereka ingin melihat apa yang terjadi dan apakah tidak terdapat korban di antara orang-orang Tanah Perdikan itu, apalagi Risang.

Ternyata seisi rumah itu tidak ada yang mengalami cidera. Risang masih tetap di dalam dukungan ibunya. Sementara itu, penjual dawet yang telah terbunuh itu telah diangkat kependapa pula.

Kabar itu bukan saja hanya tersebar di padukuhan induk. Tetapi kemudian telah tersebar ke seluruh Tanah Perdikan. Hampir setiap orang telah memperkatakan percobaan pembunuhan atas Risang, anak Iswari oleh seorang penjual dawet. Namun percobaan itu telah gagal dan bahkan penjual dawet itu telah terbunuh oleh Bibi.

Sementara itu, Kiai Badra, Kiai Soka dan para pemimpin Tanah Perdikan yang lain, merasa sayang, bahwa orang itu telah terbunuh, sehingga dengan demikian daripadanya sama sekali tidak dapat disadap keterangan apapun juga tentang usaha itu.

“Kita tahu, siapakah yang memerintahkannya. Tetapi jika kita sempat bertanya, maka mungkin kita dapat mengetahui, dimanakah mereka sekarang bersembunyi,” berkata Kiai Soka.

Bibi itu menundukkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak sengaja membunuhnya. Hatiku ternyata telah dibakar oleh kemarahan yang tidak terkendali, sehingga aku kurang dapat menahan diri.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Soka, “Segalanya telah telanjur. Namun kita harus memperkirakan bahwa orang ini tidak sendiri.”

Sebenarnyalah dua orang kawannya telah mendengar pula kegagalan yang dialami bekas pengikut Kalamerta itu. Keduanya mengumpat tidak habis-habisnya. Seorang di antara mereka menggeram, “Orang itu ternyata dungu sekali. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin ia dapat gagal.”

“Tetapi satu kenyataan adalah, bahwa ia gagal membunuh,” geram yang lain. “Dengan demikian kita tidak segera dapat kembali dan memberikan laporan tentang kegagalan itu.”

Yang lain termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Apakah kita tidak akan mengalami kesulitan? Mungkin Ki Rangga dan Nyi Wiradana akan membebankan kegagalan ini kepada kita.”

“Kita dapat menyusun cerita,” jawab kawannya. “Apapun dapat kita katakan, karena orang dungu itu menurut pendengaranku sudah mati.”

“Untung juga orang itu mati, sehingga ia tidak dapat menyebut kehadiran kita disini,” jawab yang lain.

Beberapa saat lamanya mereka termangu-mangu. Namun kemudian kawannya berkata, “Kita akan menunggu beberapa hari lagi. Mungkin kita akan mendapat bahan yang baru sehingga kita akan dapat mengambil keputusan, apakah kita akan kembali atau kitalah yang akan menjadi pahlawan.”

“Tetapi jangan mati,” sahut yang lain. “Aku ingin mendapat penghargaan karena kepahlawanan kita. Betapapun kita disanjung, tetapi kalau kita mati maka kita tidak akan dapat merasakan lagi kebanggaan itu.”

Kawannya mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bergumam, “Ya, aku mengerti.”

Demikianlah keduanya memutuskan untuk tetap berada di Tanah Perdikan itu barang satu dua hari untuk mengetahui perkembangan selanjutnya. Seorang di antara mereka masih tetap pada pekerjaannya, penjual kayu bakar.

Dua orang lain yang membicarakan peristiwa itu dengan sungguh-sungguh adalah Saruju dan Damar. Menurut penilaian mereka, kehadiran mereka di Tanah Perdikan itu memang tidak sendiri. “Agaknya petugas itu telah gagal,” berkata Saruju.

“Ya,” sahut Damar. “Tetapi orang itu tentu bukan satu-satunya. Agaknya di Tanah Perdikan ini berkeliaran para pengikut Ki Rangga dan Nyi Wiradana.”

“Kali ini mereka mendapat tugas langsung membunuh anak Iswari yang ternyata gagal. Mungkin lain kali, jika kita dianggap sudah keluar garis kesetiaan kita, maka kitalah yang akan menjadi sasaran. Bahkan mungkin keluarga kita,” berkata Saruju.

Damar menarik nafas dalam-dalam. Kedua anak muda itu mulai merasakan satu masalah di dalam hidup mereka dalam hubungannya dengan kesetiaan mereka terhadap Jipang.

Menurut penglihatan mereka sehari-hari di Tanah Perdikan Sembojan, segala sesuatunya telah menjadi semakin tertib, tenang dan wajar. Sementara itu, menurut penjelasan beberapa orang perwira Pajang yang masih ada di Tanah Perdikan Sembojan, Tanah Perdikan itu sejak semula memang mempunyai garis hubungan dengan Pajang.

“Bukankah hal itu sudah kita ketahui sejak kita belum menggabungkan diri dengan Jipang?” desis Damar.

Saruju mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ia kemudian justru berkata, “Kegagalan itu telah mempersulit tugas kita. Orang-orang Tanah Perdikan ini akan menjadi semakin berhati-hati.”

“Kita tidak dibatasi waktu. Kita akan dapat menunggu sampai mereka menjadi lengah lagi,” berkata Damar.

“Memang itu adalah satu-satunya jalan. Tetapi sampai kapan mereka akan menjadi lengah lagi,” sahut Saruju.

“Itulah yang kita tidak tahu,” jawab Damar.

“Tetapi bagaimanapun juga, kita memang berada dalam keadaan yang rumit. Peristiwa itu menjadi peringatan bagi kita, bahwa kita memang benar-benar diawasi tanpa kita sadari,” berkata Saruju.

“Kita tidak perlu cemas selama kita tidak menyimpang dari garis tugas kita,” jawab Damar.

Dengan demikian maka kedua orang anak muda itu menjadi semakin berhati-hati. Mereka tidak boleh salah langkah. Meskipun demikian maka salah paham mungkin saja dapat terjadi.

Untuk mengelabuhi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, mereka harus berbuat sebaik-baiknya. Tetapi hal itu akan dapat menimbulkan salah penilaian bagi orang-orang yang mendapat tugas dari Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana.

Tetapi jika mereka tidak berbuat demikian, maka mereka tidak akan mendapat kepercayaan, apalagi mendapat kesempatan untuk menjadi akrab dengan keluarga Iswari.

Meskipun demikian, keduanya bertekad untuk menempuh jalan sebagaimana dilakukan. Mereka harus mendapat kepercayaan dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, setelah mayat penjual dawet itu dikuburkan, maka Tanah Perdikan memang nampak menjadi semakin berhati-hati. Para pengawal menjadi lebih sering mengadakan ronda keliling Tanah Perdikan. Beberapa orang pengawal berkuda telah melintasi bulak-bulak sawah, menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Bukan hanya di siang hari, tetapi justru di malam hari gelombang pengamatan semakin diperketat.

Dua orang bekas prajurit Jipang yang berada di Tanah Perdikan itu merasa bahwa mereka tidak lagi mempunyai cara untuk melakukan tugas mereka sejak kegagalan seorang kawannya. Karena dengan demikian maka rasa-rasanya setiap jengkal tanah di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu selalu diawasi dengan ketat. Bukan saja oleh para pengawal, tetapi juga oleh para pemimpin, pemomong dan pengawal anak Iswari yang disebut Risang itu.

“Kita sudah kehilangan semua kesempatan,” berkata bekas prajurit yang cacat wajahnya.

Kawannya, yang cacat pada matanya menyahut, “Untuk sementara kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Karena itu lebih baik kita kembali dan melaporkan kegagalan ini kepada Ki Rangga.”

“Dan kita berdua akan digantung,” jawab yang lain.

Tetapi prajurit yang cacat pada matanya itu berkata, “Kita akan menceritakan kedunguan seorang dari kawan kita itu. Kita timpakan semua kesalahan kepadanya. Ia tidak akan dapat membantah, atau mengatakan lain kepada Ki Rangga dan Nyi Wiradana.”

Kawannya, yang cacat pada wajahnya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil menjawab, “Marilah. Kita akan kembali dan melaporkan kepada Ki Rangga Gupita. Apapun yang dapat kita katakan kepada mereka, maka untuk saat ini lebih baik bagi kita meninggalkan Tanah Perdikan ini.”

Kedua orang itu benar-benar telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka berniat melaporkan peristiwa yang telah terjadi dan memberi tekanan bahwa kawannyalah yang bersalah sehingga rencana itu gagal.

Ketika kedua orang itu sampai di sarang mereka, ternyata bahwa Ki Rangga dan Nyi Wiradana tidak sedang berada di sarang itu. Karena itu, maka keduanya harus menunggu beberapa hari sampai saatnya Ki Rangga dan Nyi Wiradana datang.

Demikian mereka mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Ki Rangga, maka mereka pun telah menghadap dengan segala macam cerita yang telah disepakati bersama untuk disampaikan kepada Ki Rangga dan Warsi. Mereka telah menimpakan segala kesalahan kepada kawannya yang terbunuh itu.

Ketika keduanya telah menghadap, maka Ki Rangga pun bertanya, “Bagaimana dengan tugasmu?”

Bekas prajurit Jipang yang cacat pada wajahnya menyahut, “Ampun Ki Rangga. Sebenarnya tugas kami sudah mendekati keberhasilan.”

“Ya,” jawab Ki Rangga. “Sebenarnya anak itu sudah berada dalam jangkauan. Hanya berjarak sepikul saja. Tetapi ternyata bahwa perempuan yang disebut Serigala Betina itulah yang menghalangi. Sementara pada saat yang mendebarkan itu kalian berdua tidak berbuat apa-apa. Jika seandainya kalian berdua membantu, misalnya dengan menarik perhatian Serigala Betina itu, maka Risang tentu sudah mati. Orang yang berpura-pura menjual dawet itu sudah membuat perhitungan cukup cermat dan mapan.”

Kedua orang bekas prajurit Jipang itu termangu-mangu. Ternyata Ki Rangga telah mengetahui segala-galanya. Dengan demikian maka kedua orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Yang dikatakan oleh Ki Rangga sebenarnyalah apa yang telah terjadi.

“Nah, jika demikian, maka kesalahan itu sebenarnya terletak pada kalian. Kenapa kalian tidak berusaha untuk menarik perhatian Serigala Betina itu pada saat pisau belati kawanmu yang menjual dawet siap menusuk, seharusnya perempuan itu berpaling ke arah kalian apapun yang kalian lakukan. Tetapi kalian justru telah bergeser pergi dari regol halaman rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.”

Kedua orang itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak sepatah kata pun dapat diucapkan. Bahkan keduanya telah sampai pada kesimpulan bahwa mereka akan dapat dihukum mati.

Namun ternyata Ki Rangga tidak melakukannya. Bahkan ia berkata, “Baiklah. Kalian dapat beristirahat. Tetapi jika pada suatu saat kalian mendapat tugas yang rumit, maka kalian tidak boleh berbuat bodoh seperti itu. Dengan kegagalan yang sudah kedua kalinya itu, maka usaha kita akan menjadi semakin rumit. Setidak-tidaknya untuk beberapa waktu mendatang karena halaman dan anak Iswari itu tentu dijaga dengan lebih ketat lagi.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Mereka seolah-olah tidak percaya akan pendengaran telinganya. Namun Ki Rangga itu berkata pula, ”Pergilah”

Kedua orang itu telah beringsut dan meninggalkan tempat itu. Ketika mereka sudah berada di luar, mereka masih saja merasa berdebar-debar. Bahkan prajurit yang cacat wajahnya itu berdesis, “Apakah benar kita telah dibebaskan dari segala hukuman?”

Kawannya termangu-mangu. Namun dengan nada berat ia berkata, “Apakah ini bukan sekadar permainan untuk menyakiti perasaan kita sebelum kita akan digantung?”

Keduanya masih saja dibayangi oleh kegelisahan. Mereka tidak yakin akan diri mereka sendiri.

Meskipun demikian prajurit yang cacat di wajahnya itu kemudian berkata untuk menentramkan hatinya sendiri, “Jika Ki Rangga dan Nyi Wiradana itu mengetahui dengan pasti apa yang sudah terjadi, maka mereka pun tentu mengetahui pula kesulitan tugas yang mereka emban.”

“Tetapi Ki Rangga sudah mengatakan, bahwa kitalah yang bersalah, karena kita tidak berusaha menarik perhatian perempuan yang disebutnya Serigala Betina itu, sehingga tidak memberi peluang kawan kita menikam anak Iswari yang sudah berada di jangkauan pisau belatinya,” sahut yang lain.

Leher mereka terasa meremang. Namun yang cacat diwajahnya itu berkata, “Biar sajalah. Apapun yang akan terjadi akan kita tanggungkan.”

Dengan demikian untuk dua tiga hari kedua orang itu masih gelisah. Bahkan ketika kemudian Ki Rangga dan Warsi meninggalkan sarangnya yang satu itu. Kedua bekas prajurit itu masih juga dibayangi oleh kesalahannya.”

“Mungkin Ki Rangga akan menghukum kita dari kejauhan,” berkata prajurit yang cacat matanya itu.

Namun hukuman itu tidak juga kunjung datang.

Ternyata bahwa Ki Rangga memang tidak menjatuhkan hukuman kepada kedua orang itu. Ia memerlukan kekuatan yang sebesar-besarnya bagi perjuangannya, sehingga karena itu, maka ia telah mengurangi jumlah orang yang dijerat dengan hukuman.

Namun Ki Rangga akan menjatuhkan hukuman yang semakin berat bagi mereka yang berkhianat. Kegagalan satu tugas bukan merupakan kejahatan yang tidak dapat diampuni. Hanya pengkhianatan sajalah yang merupakan kejahatan tertinggi, dan harus menjalani hukuman mati.

Ketika kedua orang itu mulai yakin bahwa mereka memang tidak akan dihukum, karena yang mereka lakukan bukan pengkhianatan, maka Saruju dan Damar yang berada di Tanah Perdikan Sembojan masih belum mempunyai cara yang tepat untuk melakukan tugas mereka. Orang-orang disekitar Risang masih tetap berjaga-jaga dan mengawasinya dengan rapat sekali. Sehingga karena itu, maka Saruju dan Damar masih menunggu kesempatan itu datang kepada mereka.

Namun sebenarnyalah bahwa keduanya sudah mulai dihubungi oleh seseorang yang harus mengawasi mereka. Yang mula-mula mereka jumpai adalah kepercayaan Ki Rangga dan Warsi. Pada saat Saruju berada di pasar, maka seseorang telah berdiri disampingnya sambil berdesis, “Selamat pagi Saruju.”

Ketika Saruju berpaling ia menjadi berdebar-debar. Orang itu dikenalnya dengan baik.

“Sudah cukup lama kau berada di Tanah Perdikan. Bagaimana kesanmu,” bertanya orang itu.

Hampir saja Saruju salah menjawab. Hampir saja ia mengatakan bahwa Tanah Perdikan ini telah menjadi baik, tenteram dan kesejahteraannya telah meningkat.

Untunglah bahwa ia segera menyadari dengan siapa ia berbicara. Karena itu, maka jawabnya, “Secara lahiriah Tanah ini memang nampak bertambah baik. Tetapi isinya masih saja seperti dahulu. Orang-orang asing itulah yang memerintah Tanah Perdikan ini.”

Kepercayaan Ki Rangga itu mengangguk-angguk. Menurut penilaiannya Saruju masih tetap merupakan orang yang dapat dipercaya. Ia masih mampu menilai keadaan Tanah Perdikan itu sesuai dengan pesan yang pernah diberikan.

Sementara itu orang itu pun telah bertanya pula, “Kemudian bagaimana dengan tugasmu?”

“Aku sedang berusaha merebut kepercayaan orang-orang Tanah Perdikan ini,” jawab Saruju. “Kegagalan orang yang ditugaskan membunuh anak Iswari dengan kasar itu mempersuli tugas kami. Mungkin kami memerlukan waktu yang lebih panjang dari seharusnya. Tetapi kami yakin, bahwa kami akan dapat melakukannya.”

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 28.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s