SBB-26

<< kembali | lanjut >>

DEMIKIANLAH, maka laki-laki itu pun telah mohon diri. Tetapi seperti yang dikatakannya, ia tidak segera pulang ke rumahnya. Betapapun kegelisahan mencengkam jantungnya, namun ia tidak ingin melihat anaknya ditangkap atau bahkan anaknya telah menuduhnya berkhianat.

Sepeninggal orang tua itu, maka Iswari telah mencari kakek dan neneknya. Ia telah minta Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka untuk membicarakan permintaan orang-orang tua itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah kita turuti saja permintaan orang tua itu. Ada dua orang pengawal yang berada di rumah itu. Namun demikian, halaman rumah itu memang harus dikepung agar mereka tidak sempat meninggalkan halaman jika mereka mempunyai peluang untuk melarikan diri dengan cara apapun juga.”

“Tetapi jangan menimbulkan kegelisahan,” berkata Iswari.

“Baiklah,” berkata Kiai Soka. “Kita serahkan saja kepada Gandar. Biarlah ia membawa empat atau lima orang yang akan mengawasi lingkungan rumah itu jika anak itu melarikan diri. Tentu saja tidak perlu mempergunakan pakaian pengawal Tanah Perdikan.”

Iswari sependapat dengan Kiai Soka. Karena itu maka ia pun telah memerintahkan memanggil Gandar dan memerintahkan kepadanya agar membawa lima orang pilihan.

Sejenak mereka telah membicarakan langkah-langkah yang akan diambil. Mereka berusaha untuk memenuhi permintaan laki-laki tua yang telah dengan suka rela melaporkan kehadiran anak laki-lakinya yang dianggap memusuhi Tanah Perdikannya.

Setelah semua rencana disepakati dan dipahami, maka Gandar pun telah memanggil lima orang pengawal terpilih. Seorang di antaranya adalah pimpinan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan terperinci Gandar memberikan penjelasan apa yang harus mereka lakukan, agar ketenangan Tanah Perdikan yang sudah mulai pulih kembali itu. Apalagi semalam Tanah Perdikan baru saja diguncang kehadiran tiga orang anak muda yang telah merampok di sebuah padukuhan, namun ketiganya sama sekali tidak dapat ditangkap.

Tetapi menilik ceritera orang tuanya, maka anak muda yang dilaporkan itu bukannya anak muda atau salah seorang di antara anak-anak muda yang telah merampok itu, karena anak muda yang dilaporkan itu bersama kawannya, berada di rumah sejak matahari tenggelam tanpa beranjak keluar.

“Berhati-hatilah,” pesan Gandar. “Jika mereka melarikan diri dan kalian harus menangkapnya, berbuatlah sebaik-baiknya. Ingat, bahwa kita memerlukan kemampuan tertinggi dari Tanah Perdikan ini, sehingga kita memerlukan setiap anak muda untuk tegak dan menjadi tulang punggung Tanah Perdikan ini.”

Kelima pengawal itu mengangguk-angguk. Sementara itu Gandar pun telah menyerahkan pelaksanaannya kepada pemimpin pengawal itu.

“Aku akan mengantarkan Iswari yang akan langsung menangani kedua anak muda itu bersama Nyai Soka,” berkata Gandar kemudian.

Sebenarnyalah, bahwa Iswari telah pergi ke rumah orang tua yang melaporkan kehadiran anaknya dengan seorang kawannya itu bersama dengan Nyai Soka di antar oleh Gandar. Meskipun Iswari dan Nyai Soka memiliki kemampuan yang sangat tinggi, tetapi karena ujud mereka sebagaimana seorang perempuan, nampaknya tidak terlalu garang sehingga mungkin tidak perlu kekerasan sama sekali untuk membawa kedua anak muda itu keluar dari rumah itu dan dibawa ke barak tertutup.

Namun dalam pada itu, untuk melindungi istri laki-laki tua yang melaporkan anaknya itu, maka perlu diambil langkah-langkah pendahuluan.

Karena itulah, maka ketika mereka sudah semakin dekat dengan rumah itu, Nyai Sokalah yang mendahului memasuki halaman. Sementara Gandar sempat melihat pemimpin pengawal yang bertugas mengamati keadaan, duduk dibawah sebatang pohon yang rindang beberapa puluh langkah dari regol halaman rumah itu.

Nyai Soka ternyata telah langsung menuju ke sisi rumah itu dan menuju ke pintu butulan.

Kedatangan perempuan tua itu memang tidak banyak menarik perhatian. Kedua anak muda yang berada di dalam rumah itu, sebenarnya telah terbangun pula setelah mereka sempat tidur sejenak di saat matahari terbit.

Keduanya tidak begitu tertarik pula ketika mereka mendengar suara seorang perempuan bercakap-cakap di pintu dapur.

Namun sebenarnyalah yang berbicara itu adalah Nyai Soka. Ia telah memberitahukan bahwa suami perempuan itu telah menghadap Iswari dan menyerahkan persoalan anaknya kepada perempuan itu.

“Kami datang untuk memenuhi permintaannya,” berkata Nyai Soka. “Karena itu, ijinkan kami mengambil anakmu dan kawannya.”

Perempuan itu mengusap matanya. Tetapi karena yang datang seorang perempuan tua, maka hatinya memang agak menjadi tenang, meskipun ia pun pernah mendengar tentang Nyai Soka.

“Apakah Nyai datang sendiri?” bertanya perempuan itu.

“Tidak,” jawab Nyai Soka. “Aku datang bersama Iswari.”

“Dimana Nyai Wiradana itu sekarang?” bertanya perempuan itu.

“Ia masih berada di luar regol,” jawab Nyai Soka. “Karena itu pergilah ke regol. Beritahukan kepada Iswari, bahwa ia sudah dapat masuk. Sementara itu sebaiknya kau memang menyingkir keluar.”

Perempuan itu tidak membantah. Ia pun turun ke halaman dan menuju ke regol. Sementara itu anaknya dan kawannya masih berada di ruang dalam. Suara perempuan di dengarnya meskipun hanya lamat-lamat dan tidak jelas itu sama sekali tidak menarik perhatian mereka.

Sejenak kemudian, maka perempuan ibu dari anak muda yang berada di dalam rumah bersama kawannya itu pun melintasi halaman. Sekali-sekali ia berpailng ke pintu rumahnya yang masih tertutup.

Demikian ia keluar dari regol, dilihatnya Iswari berdiri bersandar disisi regol halaman rumahnya. Sejenak perempuan itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Nyai Soka mempersilakan Nyai masuk.”

Iswari mendekati perempuan itu. Katanya, “Suamimu telah mengatakan dengan niat yang jujur tentang anaknya dan seorang kawannya yang ada di dalam rumahnya. Ia minta aku datang menjemputnya.”

Perempuan itu mengangguk. Wajahnya memang nampak suram. Namun agaknya ia memang sudah pasrah. Katanya, “Aku serahkan anak itu kepada kebijaksanaan Nyai. Namun aku mohon anak itu jangan dibunuh.”

“Kami memerlukan semua tenaga yang ada di Tanah Perdikan ini,” jawab Iswari. “Aku memerlukannya. Memang mungkin untuk mengembalikannya pada tempatnya yang sewajarnya dari seorang anak muda dari Tanah Perdikan ini diperlukan waktu. Namun kita bersama-sama berdoa agar waktu itu datang dengan cepat.”

Perempuan itu tidak menjawab lagi. Namun dengan suara payah ia berusaha menahan tangisnya meskipun air matanya meleleh juga dari kedua belah matanya.

Iswarilah yang kemudian bergerak masuk. Sementara itu, Gandar masih berdiri di regol bersama ibu anak muda yang akan diambil oleh Iswari itu.

Jika yang ada di rumah itu hanya dua orang, maka Iswari dan Nyai Soka tentu akan dapat menyelesaikannya andaikan keduanya mencoba untuk melawan. Yang perlu dilakukan adalah menjaga agar keduanya atau salah seorang daripadanya tidak melarikan diri.

Di luar sadarnya Gandar menjenguk halaman rumah itu. Dilihatnya dinding yang tidak terlalu tinggi mengelilingi halaman. Ia pun kemudian membayangkan, berapa orang telah mengawasi dengan cermat, sehingga tidak seorang pun di antara keduanya akan mungkin lolos. Namun Gandar pun mengetahui dan sudah memberikan pesan, agar mereka berusaha menangkap anak-anak muda itu hidup meskipun mereka akan melawan.

Dalam pada itu, maka Iswari pun telah mendekati pintu rumah yang masih tertutup itu. Nyai Soka yang melihatnya datang telah menyongsongnya pula bersama-sama menuju ke pintu.

Sejenak kemudian, maka Iswarilah yang telah mengetuk pintu itu perlahan-lahan sambil mendehem, sehingga yang berada di dalam telah mendengar bahwa di luar seorang perempuan telah mengetuk pintu rumah itu.

Meskipun demikian kedua anak muda itu memang berhati-hati. Karena itu, mereka tidak segera membuka pintu. Dengan langkah yang hati-hati anak muda dari pemilik rumah itu telah beringsut ke dapur untuk mencari ibunya. Tetapi ibunya tidak diketemukannya.

“Kemana ibu ini” desisnya. Ia baru saja mendengar suara ibunya berbicara dengan seorang perempuan meskipun ia tidak jelas apa yang dibicarakannya.

Pintu depan itu terdengar telah diketuk lagi. Memang yang terdengar adalah suara seorang perempuan, “Siapa ada di rumah?”

Anak muda itu menjadi bimhang. Apakah ia harus membuka pintu atau tidak. Ketika ia kembaii ke ruang dalam, maka kawannya pun nampaknya menjadi gelisah pula.

Namun yang terdengar kemudian adalah suara perempuan itu pula “Nyai, bukankah Nyai memesan ikan sungai segar kemarin? suamiku baru saja pulang dari sungai untuk menebarkan jalanya. Hasilnya aku bawa kemari. Hasil kerjanya semalam suntuk.”

Anak muda yang berada didalam masih ragu-ragu. Namun akhirnya ia menjawab, “Ibu tidak ada. Baru saja ibu keluar. Ibu tidak meninggalkan uang.”

“O” jawab suara perempuan diluar, “uangnya sudah diberikan kemarin. Bahkan masih tersisa karena hasil suamiku tidak terlalu banyak. Aku hanya akan menitipkan ikan basah ini saja, karena aku masih harus, kepasar.”

Sejenak keduanya saling berpandangan. Ibunya tidak pernah dengan khusus memesan ikan air seperti itu. Ia sendiri memang sering mencari ikan dahulu.

“Mungkin ibu memesan kepada perempuan itu karena aku dan seorang kawanku ada disini” berkata anak muda itu didalam hatinya.

Setelah merenung sejenak, maka ia pun telah melangkah ke pintu. Apa salahnya jika ia hanya menerima, titipan pesanan ibunya saja, meskipun ada juga keraguan, jika perempuan itu dapat mengenalinya.

Karena itu, maka anak muda itu pun telah membuka pintu. Hanya secukup tangannya yang terjulur, agar perempuan itu tidak dapat melihatnya seutuhnya.

Namun ketika pintu terbuka, terdengar suara iswari, “Maaf anak muda. Aku memang mengetuk pintu depan rumahmu. Aku tidak ingin masuk lewat butulan.”

Anak muda itu terkejut, Diluar sadarnya ia telah menjenguk pemempuan yang berdiri dimuka pintu itu.

Terasa jantungnya bagaikan berhenti berdentang. Yang berdiri dimuka pintu itu Adalah seorang perempuan yang telah dikenalnya. Iswari, isteri pertama Ki Wiradana.

Dengan serta merta anak muda itu berusaha untuk menutup pintu itu kembali. Namun Iswari telah menahannya. Betapa pun anak muda itu mengerahkan tenaganya, namun ia tidak mampu mengatasi kekuatan tenaga cadangan perempuan diluar pi;mtu itu.

Anak muda itu menggeretakkan giginya sambil menghentakkan tenaganya. Namun pintu itu justru telah terbuka.

Kawannya yang melihat anak muda itu berusaha menutup pintu menjadi heran malihat tingkah lakunva. Dengan nada tinggi ia bertanya “Kau kenapa?”

Kawannya yang terdorong oleh kekuatan Iswari berkata lantang “Perempuan celaka. Apa kerjamu disini?”

Iswari sudah berdari, dimuka pintu yang telah terbuka. Anak muda itu bergeser surut dengan wajah yang tegang.

Kawannya pun melihat pula kehadiran Iswari, ia pun menjadi berdebar-debar karenanya. Bahkan dengan suara tertahan ia menggeram, “Siapa yang telah berkhianat ?”

Iswari tersenyum. Sementara kedua anak muda itu menjadi tegang.

“Anak-anak muda” berkata Iswari kemudian. ”Aku datang menjemputmu. Bagiku kalian adalah anak-anakku yang hilang. Tetapi kini kalian telah kembali kepada ibumu.”

“Cukup” teriak kawan anak muda pemilik rumah itu, “siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa kami ada disini ? Pengkhianat itu harus dubunuh?

“Jangan terlalu, garang anak-anak muda” berkata, Iswari, “kita memerlukan semua kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini untuk mempertahankan diri. Pada suatu saat Tanah Perdikan ini tentu akan dilanda oleh kegarangan-kegarangan Kalamerta. Meskipun, orang yang disebut Kalamerta, itu sudah terbunuh oleh Ki Gede Sembojan, tetapi para pengikutnya, keluarganya dan bahkan tentu akan termasuk pula palari,an para bekas prajurit Jipang, akan datang lagi ke Tanah Perdikan ini. Mereka tentu akan berusaha untuk menguasai Tanah Perdikan ini dengan segala isinya.”

“Omong kosong” bentak anak muda itu, “jangan memfitnah. Yang berhak atas Tanah Perdikan ini adalah anak laki-laki Ki Wiradana. Ia akan menempatkan diri dengan dukungan siapapun, sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Kau benar anak muda” jawab Iswari “yang berhak memerintah atas Tanah Perdikan ini adalah anak Ki Wiradana. Yang aku lakukan ini pun atas nama anak Ki Wiradana. Seandainya diakui ada beberapa orang anak Ki Wiradana, maka yang berhak untuk menggantikannya adalah anak yang tertua apalagi jika anak itu laki-laki.”

Anak muda itu terrnangu-mangu. Namun hatinya yang telah dicengkam oleh kesetiaannya yang membuta kepada Ki Wiradana menggeram, “Persetan, anak laki-laki Ki Wiradana itu ada pada Nyi Wiradana yang telah dikhiamati oleh orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri, justru pada saat kami berjuang untuk menegakkan keadilan di Demak, karena Hadiwijaya dari Pajang telah berusaha merebut tahta Demak meskipun ia tidak berhak.”

Iswari mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun bertanya “Anak muda, apakah kau tahu apa yang terjadi dengan Ki Wiradana itu”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Keduanya saling berpandangan sejenak. Namun anak muda pemilik rumah itu berdesis “Kalian telah membunuhnya. Kami sudah mendengarnya.”

Iswari menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan suara tersendat ia berkata, “Anak-anak muda. Ketahuilah, Ki Wiradana memang telah terbunuh. Tetapi yang membunuh adalah orang-orang yang berada didalam lingkungannya sendiri.”

“Maksudmu para pengawalnya?” bertanya anak muda itu.

“Isterinya yang kau sebut. mempunyai seorang anak yang berhak untuk menggantikan kedudukannya itu. Dibantu oleh laki-laki yang terlalu dekat dengan perempuan itu” jawab Iswari.

“Ki Rangga Gupita ?” tiba-tiba saja anak muda itu menyebut sebuah nama.

Iswari mengerutkan keningnya. Anak muda itu tentu sudah mempunyai kecurigaan tentang hubungan antara Warsi dengan Ki Rangga Gupita, sehingga karena itu, maka dengan serta merta ia telah menyebutnya.

Karena itu Iswari mengangguk. Jawabnya “Kau benar anak muda. Itulah yang terjadi.”

Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah seorang diantara mereka berkata, “omoug kosong. Kalian telah memutar balik kenyataan.”

“Siapa yang memutar balik kenyataan? Apa yang kau lihat sebenarnya hubungan antara Warsi, Ki Wiradana dan laki-laki dari Jipang yang bernama Ki Rangga Gupita itu? bertanya Iswari, “Anak-anak muda. Persoalannya bukan sekadar persoalan antara Pajang dan Jipang atau antara Tanah Perdikan Sembojan yang diperebutkan oleh dua pihak yang masing-masing mengaku sebagai pengemban tugas anak-anak Ki Wiradana, tetapi ada persoalan lain atara Ki Wiradana dan Ki Rangga Gupita sebagai laki-laki dalam hubungannya dengan Warsi sebagai perempuan.”

Kedua anak muda itu menjadi tegang. Namun tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata dengan suara bergetar, “Apa sebenarnya yang kau katakan itu? Seharusnya kau melihat kepada dirimu. Yang mengalami persoalan seperti itu bukan Ki Wiradana, tetapi kau sendiri. Kau telah tersisih ketika Nyi Wiradana yang muda itu datang. Kau telah melepaskan dendam dan kebencianmu dengan caramu. Kau korbankan Tanah Perdikan ini tanpa mengenal pertimbangan bagi masa depan, sekadar untuk memenuhi gejolak darahmu yang dibakar oleh perasaan cemburu seorang perempuan.”

Wajah Iswari menegang. Namun ia masih menahan dirinya, “Anak muda. Aku datang dengan maksud baik. Tetapi jika kau tidak mau melihat kenyataan, maka aku akan dapat bertindak atas kalian. Selama ini, aku masih berpengharapan atas kalian.”

Wajah anak-anak muda itu menjadi tegang. Mereka memang pernah mendengar bahwa Iswari adalah seorang yang sulit dilawan di peperangan sebagaimana Warsi. Namun bagaimanapun juga dalam keadaan yang demikian, anak-anak muda itu melihat ujud seorang perempuan yang nampaknya lemah lembut dan keibuan. Karena itu, maka mereka sulit untuk membayangkan, bagaimana Iswari mampu bertindak dengan kekerasan.

Apalagi mereka memang sudah tersudut pada satu keharusan untuk berusaha melepaskan diri. Siapapun yang dihadapinya maka keduanya harus melawan dan berusaha untuk keluar dari Tanah Perdikan Sembojan yang agaknya mengetahui kehadirannya itu.

Karena itu, maka kedua anak muda itu pun telah bersiap. Sementara Iswari masih berkata, “Anak-anak muda. Jangan berusaha untuk memberikan perlawanan. Rumah dan halaman ini sudah terkepung. Kalian tidak akan dapat keluar dengan cara apapun juga.”

“Persetan,” geram anak muda pemilik rumah itu, “Aku akan melakukannya.”

“Sia-sia,” desis Iswari.

Namun tiba-tiba saja anak muda itu telah menarik senjatanya yang tidak pernah terpisah dari tubuhnya. Dengan serta merta ia mengacukan senjatanya kepada Iswari sambil membentak, “Jangan mencoba untuk berbuat sesuatu. Ujung pedang ini akan menusuk dadamu tanpa belas kasihan. Kecuali jika kau mau mencarikan jalan bagi kami keluar Tanah Perdikan ini.”

Iswari mengerutkan keningnya. Ujung pedang itu memang telah melekat didadanya. Sementara itu anak muda yang seorang lagi telah pula menggenggam senjatanya sambil menggeram, “Jika kau tidak mau mencarikan jalan keluar, kau adalah korban yang sia-sia setelah kau merasa memenangkan pertarungan melawan Warsi untuk merebut Tanah ini, maksudku itu.”

Iswari tidak segera menjawab. Diamatinya kedua anak muda itu. Namun Iswari masih berusaha untuk membujuk mereka meskipun pada sorot mata kedua anak itu nampak api bagaikan menyala, “Anak-anak muda. Aku sudah berjanji untuk tidak berlaku kasar kepada anak-anak muda yang ingin pulang kepada induknya. Aku pun tidak ingin berbuat kasar kepada kalian berdua, karena kalian adalah anak-anakku dalam kedudukan sebagai pelaksana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Aku ingin kalian pulang dengan keyakinan atas masa depan Tanah Perdikan Sembojan ini.”

“Persetan,” geram anak muda kawan pemilik rumah itu. “Cepat. Bawa kami keluar. Jika seorang saja di antara para pengawalmu yang bertindak diluar kehendak kami, maka kaulah yang akan menjadi korban.”

“Jadi kalian benar-benar tidak mau mendengarkan seruanku untuk kembali pulang sebagai seorang anak yang pernah hilang dari pangkuan ibunya?” bertanya Iswari.

“Cukup,” anak muda itu hampir berteriak. Namun ia masih berusaha untuk menekan suaranya. Ia sadar, bahwa halaman itu tentu sudah dikepung. Jika suaranya memancing perhatian para pengawal, maka keadaan akan menjadi lebih sulit lagi baginya.

“Baiklah,” berkata Iswari. “Jika kalian memilih jalan kekerasan, apaboleh buat.”

“Aku dapat menusuk dadamu sekarang,” berkata anak muda pemilik rumah itu. “Cepat berputar dan berjalan. Kaulah yang membuka jalan bagi kami sampai perbatasan Tanah Perdikan. Tidak seorang pun boleh mengikuti kami. Atau kau terkapar mati disini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa ujung pedang anak muda itu memang menekan dadanya.

“Dadamu terlalu lunak bagi ujung pedangku,” geram anak muda itu.

“Baiklah,” jawab Iswari. “Kalian agaknya benar-benar tidak mau mendengar permintaanku.”

“Cepat berputar dan berjalan,” berkata anak muda itu.

Iswari memang berputar. Tetapi saat ia berputar itulah terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki oleh kedua anak muda itu. Demikian cepatnya Iswari bergerak. Meskipun ia tidak mengenakan pakaian khususnya, karena ia mengenakan pakaian seorang ibu Tanah Perdikan. Namun dengan sedikit menyingsingkan kain panjangnya, Iswari telah berhasil melenting mengambil jarak. Tiba-tiba saja Iswari telah berdiri dihalaman beberapa langkah dari anak-anak muda itu.

Nyai Soka yang berada di halaman telah memperhitungkan, bahwa demikianlah yang akan terjadi, karena ia mengikuti segala pembicaraan Iswari dengan anak-anak muda itu.

Kedua anak muda itu terkejut bukan buatan. Namun ia tidak ingin kehilangan Iswari. Karena itu, maka keduanya pun segara meloncat memburunya.

Ditempat yang lebih luas, maka gerak Iswari tidak lagi terkekang. Itulah sebabnya kedua anak muda itu benar-benar menjadi berdebar-debar. Keduanya merasa bahwa mereka tidak akan sempat mendekati Iswari dan apalagi menyerangnya dengan senjata mereka meskipun mereka benar-benar ingin melakukannya.

Namun kedua anak muda itu tidak menyerah. Mereka benar-benar berniat menguasai Iswari agar dengan demikian perempuan itu dapat menjadi syarat untuk keluar dari Tanah Perdikan.

Iswari memang menjadi kecewa terhadap anak-anak muda itu. Tetapi ia sudah berjanji untuk memperlakukan anak muda itu dengan baik kepada ayahnya yang telah dengan jujur memberitahukan kehadiran anaknya dirumahnya.

Gandar yang berada di regol mendengar keributan yang terjadi di halaman. Karena itu, maka ia pun telah menjenguknya dan ia pun melihat kedua anak muda itu telah menyerang Iswari. Bukan sekadar untuk mengusirnya pergi, tetapi keduanya benar-benar telah menyerang untuk melukai tubuh Iswari itu.

Secara naluriah Gandar bergeser memasuki halaman. Namun ketika ia melihat Nyai Soka masih tetap berdiri tanpa berbuat apa-apa, maka ia pun telah mengendalikan dirinya.

Beberapa saat lamanya Gandar menyaksikan kedua orang anak muda itu berusaha menguasai Iswari tanpa menghindari kemungkinan untuk melukainya. Keduanya ingin mempergunakan Iswari untuk perisai dalam keadaan apapun. Bahkan dalam keadaan yang semakin bingung, keduanya tidak lagi tahu apa yang mereka lakukan. Mereka semakin menjadi kasar dan senjata mereka semakin cepat bergerak. Namun Iswari yang memiliki ilmu yang tinggi itu sama sekali tidak mengalami kesuitan untuk menghindari setiap serangan.

“Jangan kehilangan akal,” berkata Iswari.” Sebaiknya kalian mempergunakan nalar kalian sebaik-baiknya.”

“Persetan,” geram anak muda, kawan pemilik rumah itu. “Jika ujung pedangku menembus dadamu dan membunuhmu, bukan salahku.”

Iswari meloncat kesamping ketika pedang anak muda itu terjulur lurus ke dadanya. Namun ia pun telah dengan cepat merendahkan diri ketika pedang anak muda yang seorang lagi menembus lehernya.

Ternyata Gandar tidak telaten melihat perlakuan Iswari terhadap kedua anak muda itu. Karena itu, maka perlahan-lahan iapun telah melangkah mendekati Nyai Soka sambil berdesis, ”Aku akan menangkap keduanya.”

“Iswari sudah berjanji kepada ayah salah seorang dari mereka untuk memperlakukan mereka dengan baik. Bukankah kau melihat ibunya diluar regol? Kepada ibunya Iswari juga telah mengatakan bahwa anak itu akan diperlakukan dengan bak Tanpa menciderainya dan apalagi lebih dari itu” berkata Nyai Soka, “karena itu biarlah Iswari berusaha untuk membuat mereka menjadi letih dan kehabisan tenaga.”

“Tetapi dengan demikian diperlukan waktu yang lama. Jika sekelompok pengawal lewat di depan regol dan melihat apa yang terjadi, akibatnya akan lebih parah bagi keduanya.”  jawab Gandar.

Nyai Soka melihat regol yang tidak terbuka sepenuhnya Namun kemungkinan bahwa yang terjadi itu dilihat orang yang lewat, meskipun jalan di depan regol itu tidak banvak dihalui orang, tentu akan menarik pehatian dan mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki.

Untuk beberapa saat Nyai Soka masih merenung. Namun akhirnya ia pun berkata, “Baiklah. Bantulah Iswari untuk menangkap anak-anak muda itu. Tetapi jangan ciderai mereka.”

Gandar mengangguk kecil. Ia pun kemudian melangkah mendekati kedua anak muda yang masih berusaha untuk menyerang Iswari dengan senjata mereka. Bahkan keduanya ternyata telah sampai pada tataran kemampuan mereka yang tertinggi, sehingga mereka tidak lagi dapat mengekang diri untuk benar-benar membunuh Iswari agar mereka sempat melarikan diri, karena mereka seakan-akan telah menjadi putus asa untuk dapat menguasai dan mempergunakan Iswari sebagai perisai.

Namun semakin cepat keduanya bergerak, bagi Iswari justru semakin baik. Keduanya akan cepat menjadi letih sehingga menjadi semakin cepat pula untuk dapat menguasai mereka tanpa menyakiti.

Tetapi ternyata Gandar telah mendekatinya. Iswari yang metihat Gandar memasuki arena mengerutkan keningnya. Namun ketika ia melihat sikap Gandar, maka Iswari pun menyadari, bahwa Gandar mengerti apa yang sedang dilakukannya.

Karena itu, Iswari tidak mencegahnya. Dibiarkannya Gandar mendekat dan kemudian berkata, “Anak-anak muda. Apakah kalian tidak berusaha untuk mengerti?”

Kedua anak muda itu mengumpat hampir berbareng. Namun kehadiran Gandar memang membuat keduanya mwjadi semakin berdebar-debar.

“Anak-anak muda” berkata Gandar, “hentikanlah. Kita akan berbicara. dengan baik.”

Tetapi, kedua anak muda yang justru menjadi berputus-asa itu tidak mendengarnya. Mereka justru: menjadi semakin kebingungan ,karena, kehadiran Gandar.

Karena itu, maka seorang diantara kedua orang itu telah menyerang Gandar dengan serta merta.

Gandar memang menghendaki demikian. Ia akan mendapat kesempatan untuk mempercepat penyelesa.ian sesuai dengan kehendak Iswari. Ia akan dapat memancing anak muda itu untuk bekerja lebih keras.

Karena itu, tidak seperti Iswari yang hanya meloncat dan melenting menghindari serangan-serangan kedua, anak muda itu, namun- Gandar justru sekali-sekali juga menyerangnya, meskipun ia tidak mempergunakan senjata.

Ternyata bahwa memang Gandar lah yang lebih dahulu menyelesaikan tugasnya. Lawannya itu menjadi semakin letih karena ia tidak saja harus menyerang, tetapi juga menghindari serangan-serangan Gandar yang kadang-kadang tidak diperhitungkannya lebih dahulu. Gejolak di dada anak muda itu menjadi semakin menggelora, ketika tangan Gandar yang tidak bersenjata itu, sempat menyentuh tubuh lawannya. Meskipun akibat dari, sentuhan itu tidak gawat, tetapi perasaan sakit telah menyengatnya. Semakin lama justru menjadi semakin sering, sementara tenaganya telah menjadi semakin susut.

Akhirnya anak muda itu memang tidak dapat berbuat lain. Ketika ia benar-benar sudah memeras tenaganya serta perasaan sakit telah menjalar ke seluruh tubuhnya, maka ia pun telah kehilangan kekuatannya untuk melawan. Pada saat-saat ia menyerang dan tidak menyentuh sasaran, ia pun justru telah terhuyung-huyung terseret oleh ayunan senjatanya sendiri. Bahkan beberapa kali anak muda itu harus mempertahankan keseimbangannya, agar tidak jatuh terjerembab.

Namun pada saatnya, kekuatan anak muda itu benar-benar telah terperas habis. Karena itu, maka ketika ia berusaha menusuk lambung Gandar, namun tidak menyentuhnya, anak muda itu tidak lagi mampu bertahan. Ia pun telah terjerumus dan kakinya seakan-akan tidak mampu lagi mengikuti gerak tubuhnya, sehingga akhirnya anak muda itu pun telah terjatuh.

Gandar membiarkan saja anak muda itu tertelungkup. Pedangnya justru terlepas selangkah terpisah dari tangannya.

Dengan susah payah anak muda itu menggapai pedangnya tanpa dicegah oleh Gandar. Dengan susah payah pula ia berusaha untuk berdiri. Namun ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Meskipun ia berhasil berdiri di atas kedua kakinya, tetapi ia tidak mampu lagi untuk menyerang meskipun Gandar berdiri sejangkau ujung pedangnya.

“Bagaimana anak muda?” bertanya Gandar.

Anak muda itu menggeram. Sementara itu anak muda yang seorang lagi agaknya masih lebih segar, karena Iswari tidak menyakitinya.

Tetapi karena Gandar telah menyelesaikan anak muda yang seorang lagi, maka Iswari pun ingin mempercepat penyelesaiannya pula.

Karena itu, maka ia pun telah mengambil jalan pintas. Ia tidak ingin memaksa lawannya berhenti berkelahi dengan menyakitinya. Tetapi ketika pedang lawannya terayun lepas di atas kepalanya karena ia merunduk, maka ia pun tiba-tiba telah meloncat mendekat. Kedua tangannya dengan cepat menggapai kedua pundak anak muda itu.

Tidak terdengar anak muda itu mengeluh. Tetapi dengan demikian maka seakan-akan kekuatan anak muda itu terhisap habis oleh jari-jari yang menekan bagian belakang kedua pundaknya.

“Duduklah anak muda,” desis Iswari.

Sebenarnyalah anak muda itu tidak lagi mampu berdiri. Ketika Iswari menekan pundaknya itu, maka ia pun telah jatuh terduduk di tanah.

Anak-anak muda yang sudah kehilangan kekuatannya itu masih menunjukkan sikap bermusuhan, sehingga Iswari pun berkata, “Aku kecewa terhadap kalian. Aku sudah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Tetapi kalian sama sekali tidak menanggapinya.”

Kedua anak muda itu tidak menjawab. Gandar pun telah memaksa lawannya untuk duduk pula disisi kawannya yang telah dilumpuhkan oleh Iswari.

“Nah,” berkata Iswari. “Jika kalian memang tidak mau mendengar kata-kataku, kalian akan aku tinggalkan disini. Aku tidak tahu, siapa lagi yang bakal datang. Tetapi pasti bukan aku, Gandar atau Nyai Soka. Mungkin para pengawal. Atau mungkin anak-anak nakal disekitar rumahmu ini. Melihat kalian, mereka akan merasa mendapat barang mainan.”

“Gila,” geram anak muda yang telah kehilangan tenaganya karena bertempur melawan Gandar, bahkan yang tubuhnya telah disakiti itu.

Gandar termangu-mangu sejenak. Agaknya kedua orang anak muda itu benar-benar sudah dikuasai oleh pengertian yang pernah dijejalkan oleh para perwira Jipang yang pernah menempa mereka.

Namun demikian, Gandar harus menahan diri meskipun rasa-rasanya tangannya memang menjadi gatal untuk memukul mulut anak muda yang menjadi keras kepala itu.

Tetapi Iswari masih berpengharapan. Karena itu, Iswari pun kemudian berkata, “Nah, pikirkan. Apakah kau ikut bersama kami, atau kami akan membiarkan kalian disini. Kami tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu kalian. Kami masih harus melakukan kerja yang lain.”

Yang terdengar hanyalah gemeretak gigi kedua orang anak muda itu.

Karena itu, maka Iswari pun berkata, “Nah, marilah anak-anak ini kita tinggalkan disini. Marilah Gandar.”

Iswari pun segera beranjak dari tempat itu. Gandar dan Nyai Soka pun mengikutinya pula. Beberapa langkah anak-anak muda itu masih mencoba bertahan. Namun ketika Iswari hampir sampai di regol halaman, terdengar salah seorang dari kedua anak muda itu memanggilnya, “Nyai tunggu.”

Iswari berhenti. Demikian pula Nyai Soka dan Gandar.

“Ada apa?” bertanya Iswari.

“Jangan tinggalkan kami disini”, berkata anak muda itu.

“Kenapa? Bukankah kalian tidak mau ikut bersama kami?” bertanya Iswari.

“Kalian akan pergi kemana?” bertanya anak muda itu.

“Pulang,” jawab Iswari.

Kedua anak muda itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika mereka benar-benar ditinggalkan, maka mereka akan mengalami perlakuan yang sangat buruk dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan apabila mereka berdatangan. Bahkan Iswari mungkin akan memanggil anak-anak muda itu. Atau bahkan sebenarnyalah bahwa rumah itu memang sudah dikepung, sehingga tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk meloloskan diri dan meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Karena itu, mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Dengan nada berat, maka seorang di antara mereka berkata, “Kami akan mengikuti kalian.”

Iswari menarik dalam-dalam. Ternyata bahwa ia tidak perlu mempergunakan kekerasan lagi lewat para pengawal untuk membawa kedua orang anak muda itu.

“Baiklah,” berkata Iswari kemudian. “Marilah.”

Iswari pun justru telah berbalik mendekati kedua anak muda itu. Dengan lembut ia berkata, “Lepaskan senjata kalian. Bersikaplah wajar disepanjang jalan. Jangan merasa dirimu tawanan, sehingga perjalanan kita tidak menarik perhatian orang lain.

Kedua anak muda itu memang tidak dapat berbuat lain. Mereka melakukan apa saja yang dikatakan oleh Iswari. Mereka telah melepas wrangka senjata mereka yang tergantung dilambung. Kemudian membenahi pakaian mereka dan berusaha bersikap wajar, meskipun jantung mereka bergejolak menghentak-hentak di dalam dada.

Demikianlah sejenak kemudian, maka mereka pun telah keluar dari regol rumah itu. Iswari berjalan di paling depan bersama Nyai Soka. Kemudian kedua orang anak muda itu berjalan dibelakangnya. Dan dipaling belakang adalah Gandar. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kedua orang anak muda itu tawanan yang harus dibawa ke barak khusus.

Ibu salah seorang dari anak muda yang berada diluar regol melihat anaknya meninggalkan rumahnya tanpa berpaling. Hampir saja ia berteriak. Namun suaranya ditahankannya dikerongkongan. Sejak semula ia memang tidak berani melihat apa yang terjadi di halaman. Ketika terjadi sedikit keributan, hatinya bagaikan rontok di dalam dadanya. Seolah-olah ia melihat kedua orang anaknya itu tengah bertempur dengan orang-orang yang akan menangkapnya. Namun ia sama sekali tidak berani menjengukkan kepalanya di regol. Bahkan ia telah menutup telinganya dengan tangannya agar ia tidak mendengar apa yang terjadi.

Namun perempuan itu sebagaimana suaminya telah pasrah, apapun yang akan terjadi dengan anaknya. Bahwa Iswari telah mau datang sendiri untuk mengambil anaknya itu pun merupakan satu kesempatan yang sangat menguntungkan, sehingga kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas anaknya dapat dikurangi.

Demikian anaknya itu melangkah menjauh, maka perempuan itu pun segera berlari masuk regol halaman rumahnya. Ia tertegun ketika melihat dua helai pedang terletak di tanah. Dipungutnya senjata itu beserta sarungnya dan membawanya masuk ke dalam. Perempuan itu mengerti, bahwa anaknya dan kawannya itu tentu mencoba memberikan perlawanan. Namun mereka tidak mampu bertahan.

“Untunglah bahwa Iswari lah yang datang sendiri,” berkata perempuan itu. “Jika yang datang para pengawal yang masih muda, semuda anakku, maka akibatnya tentu lain.”

Jantung perempuan itu telah bergetar semakin cepat. Tiba-tiba saja ia telah berlari masuk ke ruang dalam. Dibantingnya tubuhnya di amben yang besar sambil menelungkup. Perempuan itu tidak dapat menahan tangisnya yang menghentak dari dalam dadanya yang serasa telah penuh dengan kegelisahan.

Perempuan itu tidak menyadari, berapa lama ia menangis. Namun tiba-tiba terasa pundaknya disentuh oleh tangan yang meskipun kasar tetapi terasa lunak.

“Kang,” desisnya ketika perempuan itu mengangkat wajahnya yang basah.

Suaminya yang pulang dari sawah memandangnya dengan jantung yang berdebar-debar. Dengan suara sendat ia bertanya, “Bagaimana dengan anak kita Nyai?”

Perempuan itu bangkit dan duduk disamping suaminya. Disela-sela isak tangisnya ia menjawab, “Anak kita sudah diambil, kakang.”

“Siapa yang mengambilnya?” bertanya suaminya.

“Nyai Wiradana sendiri,” jawab istrinya.

“Syukurlah. Iswari telah memenuhi janjinya,” desis suaminya.

“Tetapi anak kita memang keras kepala, kakang. Anak kita dan kawannya agaknya telah melawan,” berkata istrinya.

“O,” suaminya mengerutkan keningnya.

“Tetapi tidak terjadi sesuatu. Keduanya telah dibawa. Aku tidak berani menyapanya ketika anak kita lewat pintu regol, meskipun aku ada disebelah regol itu. Apalagi anak kita memang tidak berpaling.”

Suaminya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Tetapi begitu akan lebih baik.Jika pada suatu saat anak kita itu bertemu dengan para pengawal Tanah Perdikan ini, maka akibatnya akan berbeda. Jika anak-anak muda bertemu dengan anak-anak muda dalam landasan yang berbeda apalagi bertentangan, maka akibatnya akan gawat.”

Istrinya mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab lagi. Bahkan perlahan-lahan istrinya itu berdiri dan berdesis, “Aku akan ke dapur.”

Ketika istrinya itu pergi ke dapur, ternyata suaminya pun masih merenungi keadaan untuk beberapa saat. Bagaimanapun juga anak yang diambil oleh Iswari itu adalah anaknya. Namun baginya keadaan itu akan lebih baik daripada anaknya berkeliaran dengan para bekas prajurit Jipang dengan tanpa tujuan atau bahkan jatuh ketangan gerombolan Kalamerta. Karena ditangan Nyai Wiradana, ayahnya berharap bahwa anak itu akan dapat menjadi baik kembali dan hidupnya dapat memberikan arti.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang duduk di depan rumah orang itu pada saat Iswari mengambil anak muda dari rumah itu, telah melangkah pergi pula. Ketika seorang yang mengenalnya bertanya, anak muda itu menjawab, “Sekali-kali ingin juga berjalan-jalan melihat keindahan Tanah Perdikan ini tanpa ketegangan pakaian pengawal.”

Kawannya tersenyum. Karena ia tidak mengerti persoalannya maka ia pun berkata, “Kau aneh. Bukankah hal seperti ini sering kau lakukan? Apakah selama ini kau merasa terbelenggu oleh pakaianmu karena pakaian itu menunjukkan siapakah kau dan apakah kedudukanmu di Tanah Perdikan ini.”

“Bukan. Bukan begitu maksudku. Tetapi baiklah, begitu tiba-tiba aku ingin berjalan-jalan dalam keadaan seperti ini. Singgah di bibiku untuk mencari jambu air dan duwet,” jawab pemimpin pengawal itu.

“Ah,” kawannya tertawa. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Namun katanya, “Kau mau mencari ikan disungai? Aku akan membuka rumpon sebentar lagi. Tentu ikannya akan banyak sekali, karena rumpon itu sudah aku buat lama sekali.”

“Terima kasih. Lain kali saja,” jawab pemimpin pengawal itu.

Kawannya tertawa. Sementara itu pemimpin pengawal yang sadar bahwa kawannya itu memang sedang mengganggunya itu pun tertawa pula katanya, “Sudahlah sebelum aku tinju kau.”

Keduanya tertawa semakin keras. Namun kawannya itu berkata, “Jangan membantah, bukankah kau sedang mengawasi Nyai Wiradana yang sedang mengambil kedua orang kawan kita yang keras kepala itu? He, aku bertemu dengan mereka.”

Pemimpin pengawal itu masih saja tertawa. Katanya, “Sudahlah. Pulanglah. Biyungmu sudah menyenduk nasi hangat.”

Anak muda itu tertawa semakin keras. Namun ia pun kemudian meninggalkan pemimpin pengawal itu. Namun ternyata anak muda itu telah bertemu lagi pengawal dalam pakaian sehari-hari. Bahkan seorang lagi yang berjarak agak jauh dibelakang.

Dalam pada itu, Iswari yang berjalan bersama Nyai Soka memang tidak menarik perhatian. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang sedikit tertarik kepada dua orang anak muda yang berjalan di belakangnya. Sedangkan beberapa langkah lagi, Gandar telah mengikutinya pula.

Meskipun tidak banyak orang yang memperhatikan selama mereka berjalan, namun kedua anak muda itu merasa sebagai tontonan di perjalanan. Meskipun tangannya tidak terikat, dan tidak ada ujung senjata yang merunduk dipunggungnya, namun perasaan mereka setiap kali bergetar, jika seorang telah menyapa Nyai Wiradana, seolah-olah orang itu ingin mendapat penjelasan, kenapa dengan kedua orang anak muda itu.

Namun akhirnya kedua anak muda itu telah sampai ke rumah Nyai Wiradana. Dengan ramah Iswari itu pun mempersilakan kedua anak muda itu duduk di pendapa, ditemani oleh Gandar, meskipun kedua anak muda itu menyadari, bahwa Gandar bukan sekedar menemani mereka, tetapi mengawasi mereka.

Tanpa disadari kedua anak muda itu memandang berkeliling. Rumah itu tidak berubah. Di regol masih ada petugas yang berjaga-jaga sebagaimana saat Ki Wiradana masih ada. Namun agaknya karena suasana yang masih hangat penjagaan itu agaknya telah diperkuat.

Beberapa saat kedua anak muda itu duduk bersama Gandar. Bagaimanapun juga Gandar bersikap ramah, tetapi ternyata kedua anak muda itu tetap merasa terkungkung oleh perasaan mereka sendiri, bahwa mereka berdiri diseberang batas dengan Gandar dan anak-anak muda yang berada di regol dan di gardu.

Karena itu, maka mereka tidak dapat berbicara dengan lancar. Sekali-sekali Gandar bertanya. Tetapi jawabnya sepatah-patah dan kadang-kadang tidak jelas artinya.

Baru beberapa saat kemudian Iswari keluar dan duduk pula bersama mereka. Tetapi tidak dengan Nyai Soka. Yang kemudian duduk bersama mereka adalah Kiai Badra dan Kiai Soka.

Dengan beberapa kalimat panjang kedua orang tua itu memberikan petunjuk dan sedikit peringatan kepada kedua orang anak muda itu. Mereka mencoba membuka hati keduanya, meskipun kedua orang tua itu sadar, bahwa hal yang demikian itu tentu tidak akan dapat terjadi dengan serta merta.

“Kalian masih muda,” berkata Kiai Badra. “Jika kalian terjebak pada sikap yang keliru, maka hari depan kalian tidak akan dapat diharapkan. Padahal hari depan Tanah Perdikan ini tentu terletak pada anak-anak muda sebaya dengan kalian, dan kemudian akan menyusul anak-anak muda yang lebih muda lagi. Terus-menerus tanpa berhenti. Jika aliran ini pada suatu saat terputus, maka Tanah Perdikan ini akan mengalami guncangan. Bahkan mungkin Tanah Perdikan ini akan merangkak menuju ke jalan yang keliru dan terjerumus ke dalam jurang kehancuran, sebagaimana yang kita lihat, bahwa hal itu hampir saja terjadi. Jika Tanah Perdikan ini merupakan keluarga dari Kadipaten Pajang, tiba-tiba sekelompok orang telah memaksa menempatkan Tanah Perdikan ini dibawah perintah Jipang.”

Kedua anak muda itu memang tidak menjawab. Tetapi yang dikatakan oleh Kiai Badra itu bagi mereka merupakan keterangan yang sudah sewajarnya diucapkan oleh orang yang berpendirian tain.

“Persetan”geram anak-anak muda itu didalam hati­nya.

Menilik gerak wajah kedua anak muda itu, Kiai Badra, Kiai Soka maupun Iswari, bahkan Gandar mengetahui bahwa mereka tidak banyak menghiraukan keterangan Kiai Badra, tetapi Kiai Badra sendiri yakin bahwa pada suatu saat anakanak muda itu akan sempat merenungkannya.

“Anak-anak muda memang sulit untuk langsung menerima pikiran orang lain yang dianggapnya berbeda dengan keyakinannya” berkata KIai Badra didalam hatinya.

Namun dengan kesadaran yang demikian, maka orang-orang tua itu, termasuk Iswari dan Gandar tidak cepat menjadi marah melihat tingkah laku kedua orang anak muda itu, yang kadang-kadang dengan sengaja menunjukkan sikap tidak senang mereka. Namun demikian merekapun tidak berbicara terlalu panjang, agar tidak terlalu banyak beban yang harus dipikul oleh perasaan kedua orang itu, sehingga justru akan dapat membuat keduanya kehilangan penalaran.

Karena itu; mnaka Kiai Sokapun kemudian berkata, “Anak-anak muda, Baiklah kalian berada diantara kawan-kawan kalian. Mungkin, terasa bahwa kalian belum. dapat menyesuaikan diri: Tetapi, kalian harus berusaha. Apapun yrang tergerak didalam hati kalian, apapun sikap dan pandangan kalian terhadap Tanah Perdikan ini, tetapi dalam pergaulan hidup diantara sesama, dalam suasana yang mungkin tidak kalian kehendaki, maka kalian harus berusaha untuk menyesuaikan diri.”

Kedua anak muda itu memandang Kiai Soka dengan tajamnya. Anak-anak muda yang tidak terlalu banyak berbicara itu tahu pasti bahwa mereka akan dimasukkan kedalam satu barak yang khusus, tidak lebih baik dari seorang tawanan.

Karena itu, tiba-tiba saja seorang diantara mereka berkata, “Lakukan apa yang ingin kalian lakukan atas kami”

Kiai Soka mengerutkan dahimya. Namun ia pun tersenyum, “Jangan gusar anak-anak muda. Kadang-kadang kita memang harus menempuh jalan berliku; untuk mencapai satu tujuan.”

”Jangan berceritera kepada kami sebagaimana kepada anak-anak menjelang tidurnya” geram anak muda itu, “jika kami harus dihukum, hukumlah.”

Gandar mengatupkan guginya rapat-rapat Tetapi masih menahan hatinya.

“Itu adalah sikap yang wajar” berkata Kiai Badra, ”sayang bahwa kalian telah menggenggam keyakinan yang salah. Seorang laki-laki memang harus berani menempuh kesulitan apapun untuk tetap tegak pada keyakinannya. Namun harus diakui, bahwa ada keyakinan yang perlu dipertimbangkan. Sebagaimana sifat seseorang yang terkena salah, demikian juga kita menetapkan satu keyakinan. Karena itu disamping satu keyakinan, maka seseorang pun harus berani setiap kali memperhitungkan kembali keyakinan yang telah dipegangnya. Dalam perubahan yang terjadi disekitarnya, maka mungkin sekali seseorang berkesempatan melihat bahwa keyakinan yang sebelumnya digenggamnya erat-erat itu ternyata keliru. Ternyata bukanlah yang seharusnya dimiliki. Dan agaknya sudah tiba waktunya bagi kalian untuk melihat kembali keyakinan yang mantap didalam diri kalian itu bersumber dari apa dan dari siapa? Untuk kepentingan apa dan bagi siapa?”

Kedua anak muda itu menggeretakkan gigii. Tetapi mereka harus mengendalikan diri karena mereka mengerti kedudukan mereka dihadapan orang-orang yang tidak mungkin dapat mereka atasi dalam segala keadaan dan waktu.

Demikianlah maka sejenak kemudian, Kiai Badra berkata kepada Gandar, “Gandar, tolong antarkan kedua anak-anak muda ini ketempatnya. Mudah-mudahan ia manemuk.an suasana yang dapat membantunya menilai keadaan.”

Kedua anak muda itu. tidak banyak lagi bertingkah. Mereka menyadari kedudukan mereka. Karena itu, maka mereka pun kemudian mengikuti saja kemana. Gandar membawa mereka.

Sebenarnyalah kedua anak muda itu telah dibawa ke sebuah barak khusus. Barak yang memang diperuntukkan bagi mereka yang baru dalam tataran kebimbangan, bahkan mereka yang dengan keras tetap pada keyakinannya yang telah diletakkan oleh para perwira Jipang, yang menganggap bahwa Ki Wiradana dan Warsi adalah pasangan yang berhak memimpin Tanah Perdikan itu. Jika kemudian Ki Wiradana terbunuh maka anak Warsi lah yang berhak untuk memimpin Tanah Perdikan itu dibawah perwalian ibunya, Warsi.

Tetapi Gandar sendiri adalah orang yang pilihan lahir dan batinnya. Dan tanpa cemas sama sekali, ia membawa kedua orang anak muda itu memasuki barak khusus itu.

Beberapa pasang mata memandanginya dengan penuh kebencian. Ketika Gandar memasuki gerbang, para penjaga berkata, “Marilah. Kami ikut mengantar.”

Tetapi Gandar tersenyum. Katanya, “Jangan menarik perhatian mereka. Biar aku sendiri mengantar. Jika perlu aku akan memanggil kalian.”

Demikianlah, maka Gandar telah memasuki barak khusus itu seorang diri. Dibawanya kedua orang anak muda itu ke bilik yang masih tersedia tempat bagi keduanya, meskipun bilik itu sudah dihuni sebelumnya.

Ternyata kedua orang anak muda itu disambut baik oleh kawan-kawannya. Apalagi yang pernah berada di dalam satu kelompok dengan keduanya pada pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang ikut dalam pasukan Jipang membayangi Pajang dari sisi Timur.

“He, marilah,” berkata seorang anak muda yang bertubuh tinggi kekar. “Ternyata kita bertemu lagi. Dimana kau ditangkap oleh kerbau dungu itu?”

Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun orang yang menyapanya itu sama sekali tidak merasa takut untuk menyebut Gandar dengan kata-kata yang sengaja dibuat sangat menyakitkan hati.

“Kerbau itu tidak akan berani marah kepada kita. Kita akan dapat membantainya disini,” berkata anak muda yang bertubuh tinggi kekar itu.

Seorang yang lain menyambung, “Marilah. Selamat datang di istana kami ini. Jangan hiraukan keledai itu. Ia tidak akan berani berbuat apa-apa.”

Gandar memang tidak menanggapinya. Ia justru tertawa betapapun hatinya bergejolak dahsyat sekali.

“Silakan mengucapkan kata-kata apa saja,” berkata Gandar. “Kalian memang tidak mungkin berbuat apa-apa kecuali mengumpat-umpat. Jika mengumpat-umpat itu mampu memberikan kepuasan kepada kalian, maka silakan. Aku tidak akan mengganggu kesempatan kalian terakhir untuk mendapat kepuasan.

“Gila,” geram orang bertubuh tinggi kekar itu. “Kau kira kau benar-benar seorang yang memiliki kelebihan? Seandainya aku mendapat kesempatan, aku ingin menantangmu berperang tanding.”

Gandar mengerutkan keningnya. Selangkah demi selangkah ia mendekati anak muda itu. Tetapi bibirnya masih saja tersenyum, “Apakah kau berkata sebenarnya? Jika kau berkata sebenarnya aku akan mengusahakan kesempatan itu. Kita akan berperang tanding. Kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang mampu bertahan hidup. He, kau kenal Ki Rangga Gupita? Katakan, apakah kau saudara seperguruannya, atau kau barangkali merasa memiliki kemampuan setingkat dengan perwira Jipang dalam tugas sandi itu dan yang ternyata telah membunuh Ki Wiradana untuk merebut istrinya yang memang tidak setia itu? Nah, jika kau merasa memiliki kemampuan setingkat Ki Rangga Gupita, maka kita akan berperang tanding sebagaimana pernah aku lakukan dengan Rangga Gupita?”

Wajah anak muda itu menjadi merah. Namun ia masih mencoba menjawab karena beberapa pasang mata memandanginya, “Bohong. Kau bukan tandingan Ki Rangga Gupita.”

“Baiklah, barangkali kau mengenal Warsi di peperangan? Atau siapa lagi?” bertanya Gandar. “Namun aku tidak bermaksud menakut-nakuti. Siapa yang ingin berperang tanding dengan aku, aku sama sekali tidak berkeberatan.”

Anak muda yang bertubuh tinggi kekar itu ternyata mulai berpikir. Bagaimanapun juga ia memang pernah mendengar tentang Gandar yang memiliki ilmu yang tinggi itu.

Namun ternyata Gandar tidak segera meninggalkan tempat itu. Meskipun ia masih tetap tersenyum, namun ia berkata, “Nah, siapa yang ingin melakukannya seperti anak ini.”

Adalah diluar dugaan, bahwa Gandar benar-benar mendekati anak muda bertubuh tinggi kekar itu. Dengan serta merta ia menarik ikat kepalanya dan menggenggam rambutnya. “Inilah contoh seorang anak muda yang berani. Yang dalam keadaan terjepit di barak khusus ini, masih juga berani menyatakan sikapnya.”

Anak muda yang bertubuh tinggi itu terkejut. Tetapi betapa besar pengaruh sikap Gandar itu. Ternyata anak muda yang mulutnya berani mengumpat itu, tidak segera mampu berbuat sesuatu, ketika justru kepalanyalah yang telah diraba oleh Gandar.

“Mari anak manis,” berkata Gandar. “Kita menghadap para pemimpin Tanah Perdikan ini untuk mohon kesempatan berperang tanding.”

Anak muda bertubuh tinggi kekar itu menjadi pucat. Ia mengharap kawan-kawannya berbuat sesuatu. Tetapi ternyata kawan-kawannya, bahkan yang telah ikut mengumpati Gandar itu pun tidak ada yang berani berbuat sesuatu. Demikian pula kedua orang anak muda yang baru saja dibawa masuk itu.

Karena anak muda itu tidak segera berbuat sesuatu, maka Gandarlah yang berkata selanjutnya, “Nah marilah. Bukankah kau menantang aku?”

Anak muda itu masih membeku. Bahkan wajahnya menjadi bertambah pucat. Ia tidak menyangka bahwa Gandar akan langsung berbuat demikian tanpa ragu-ragu.

Tetapi Gandar pun merasa wajib membuat demikian. Ia harus tetap berwibawa dihadapan anak-anak muda yang ditempatkan dibarak-barak khusus untuk mendapat tuntunan ke jalan kembali.

Ketegangan telah mencengkam suasana. Namun karena anak muda itu tidak berbuat apa-apa, maka Gandar pun kemudian berkata, “Baiklah. Nampaknya kau ingin menunda tantanganmu. Aku tidak berkeberatan, kapanpun kau menghendaki. Aku akan minta agar hal itu diijinkan.”

Sepatah kata pun anak muda itu tidak menjawab. Sementara itu Gandar pun kemudian berkata, “Aku minta diri. Biarlah dua orang kawan kalian ini diterima di antara kalian. Tetapi terserah kepada kalian. Namun seperti yang sudah sering aku katakan, atau dikatakan oleh para pemimpin Tanah Perdikan ini, Sembojan memang menunggu tenaga kalian. Tanah ini memerlukan uluran tangan untuk membenahinya setelah untuk beberapa lama kita koyak-koyak sendiri, namun karena dorongan dan pengaruh dari luar.”

Tidak seorang pun menjawab. Namun Gandar pun sadar, bahwa kata-katanya itu tentu diterima dengan tanggapan yang berbeda-benda di antara anak-anak muda itu. Tentu ada yang dicerna dan ditanggapi dengan baik, tentu tentu ada yang masih ragu-ragu dan bahkan ada di antara mereka yang mencemohnya di dalam hati.

Tetapi bagi Gandar hal itu bukannya persoalan yang harus ditanggapinya secara khusus, karena yang menangani anak-anak muda itu adalah seluruh pimpinan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan satu dua orang perwira dari Pajang pun setiap kali ikut pula turun ke barak-barak khusus itu untuk memberikan penjelasan-penjelasan, terutama kedudukan Tanah Perdikan Sembojan dalam hubungannya dengan Pajang, Jipang dan sebelum itu Demak.

Sejenak kemudian maka Gandar pun kemudian berkata sambil melangkah pergi, “Cobalah berpikir. Pergunakanlah nalar kalian sebaik-baiknya.”

Tidak ada yang menjawab. Dan Gandar pun memang tidak menunggu jawaban. Sejenak kemudian ia pun telah melangkah menjauh dan keluar dari lingkungan barak khusus itu.

“Layanilah mereka baik-baik,” berkata Gandar kepada para pengawal. “Rawatlah sebagaimana merawat orang sakit meskipun yang sakit bukan wadagnya.”

Para pengawal itu tersenyum meskipun mereka tahu bahwa Gandar bersungguh-sungguh. Pemimpin pengawal itu pun berkata, “Kami mengerti Gandar. Tetapi kami tidak mempunyai pengalaman untuk merawat orang-orang yang sakit jiwanya. Kadang-kadang kami kehilangan kesabaran dan justru jantung kami sendirilah yang hampir rontok karenanya.”

Gandar mengangguk-angguk. Ia pun sadar akan hal itu. Bahkan ia pun kemudian menceriterakan apa yang baru saja dialami. Namun kemudian ia berkata, “Kita memang sedang memikul beban yang sangat berat untuk mengembalikan mereka ke pangkuan kampung halaman dengan kesadaran sepenuhnya.”

“Tetapi Gandar,” tiba-tiba pemipin pengawal yang bertugas itu berbisik, “Mereka justru mendapat perlakuan yang sangat baik. Keadaan mereka menurut pengamatan kami, justru lebih baik dari para pengawal.”

“Ah, jangan beranggapan begitu,” sahut Gandar.

“Mereka mendapat makan, minum, pakaian dan alat-alat yang cukup,” pemimpin pengawal itu menjelaskan.

“Seperti sudah aku katakan. Mereka adalah orang-orang yang sedang sakit,” jawab Gandar.

“Dan karena itu maka mereka perlu dimanjakan?” bertanya pemimpin kelompok itu pula.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berkata, “Namun bagaimanapun juga mereka tetap berada di dalam lingkungan tertutup. Mereka tidak dapat berjalan-jalan di bulak-bulak panjang memandangi ijaunya hasil kerja kita di sawah. Mereka tidak dapat mengunjungi sanak-kadang dan kawan-kawan mereka dalam keadaan bebas seperti kita.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Ya. Aku mengerti.”

“Dengan demikian kita akan dapat mengambil makna dari peristiwa itu. Ternyata kebebasan lebih berharga dari kemanjaan yang diberikan kepada saudara-saudara kita itu. Pada satu saat saudara-saudara kita itu pun akan menyadarinya pula sejalan dengan gerak nurani mereka untuk melihat kebenaran di Tanah Perdikan ini,” berkata Gandar pula. Lalu, “Dengan demikian, maka mereka akan dapat lebur kembali ke dalam lingkungan kita.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Tetapi bagaimana dengan kebiasaan mereka. Mungkin kesadaran itu akan timbul. Namun jika mereka menuntut lebih banyak.”

“Maksudmu?” bertanya Gandar.

“Kebebasan itu dan kemanjaan sekaligus,” jawab pemimpin pengawal yang bertugas saat itu.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan terdapat keseimbangan sikap jiwani di dalam diri mereka. Kebebasan itu akan mereka peroleh tidak bersama dengan kemanjaan, tetapi dengan rasa tanggung jawab.”

Pemimpin pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Mudah-mudahan.”

Gandar lah yang kemudian tersenyum. Ia mengerti sepenuhnya perasaan pemimpin pengawal yang sedang bertugas itu. Perasaan yang demikian tentu tidak hanya tersirat di dalam hatinya. Tetapi tentu juga di dalam hati para pengawal yang lain. Mereka yang merasa bekerja keras dan mengorbankan apa saja, bahkan seandainya nyawa mereka harus direnggut pula di medan perang sebagaimana terjadi atas kawan-kawan dan saudara-saudara mereka, harus selalu menahan diri menghadapi sikap kawan-kawan mereka yang pernah berkhianat kepada Tanah Perdikan Sembojan itu. Yang meskipun berada di dalam barak khusus dan tertutup, namun mereka mendapat pelayanan yang cukup baik.

Meskipun demikian pemimpin pengawal itu berusaha untuk dapat mengerti keterangan Gandar, bagaimanapun juga mereka tidak mendapatkan kebebasan.

Demikianlah, maka anak-anak muda yang menyerah itu pun semakin hari semakin bertambah. Baik oleh karena mereka tidak lagi mempunyai harapan untuk berbuat sesuatu, atau menjadi putus asa atau karena pengaruh orang-orang yang pernah mereka temui selama mereka bersembunyi-sembunyi.

Keadaan Tanah Perdikan Sembojan yang nampaknya menjadi semakin baik dan tenang pun menjadi dorongan bagi mereka untuk kembali ke kampung halaman. Apalagi dengan sengaja Iswari telah menyebarkan keterangan lewat orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa ia akan memberikan pengampunan kepada anak-anak Sembojan yang ingin kembali ke kampung halamannya.

Untuk itu mereka telah ditampung di dalam barak-barak yang khusus. Mereka mendapat penjelasan, keterangan dan kesempatan untuk berbicara secara terbuka, apakah yang sebenarnya terjadi dengan Tanah Perdikan itu. Anak-anak muda yang kembali itu mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya, membantah, mempersoalkan, menanyakan dan sikap apapun juga pada kesempatan-kesempatan yang memang banyak diberikan oleh Iswari. Dengan demikian maka mereka perlahan-lahan menemukan satu keyakinan baru tentang Tanah Perdikan mereka. Bukan sekadar keterangan yang harus mereka dengarkan dan mereka telan tanpa mengunyahnya sama sekali.

Sedikit demi sedikit, harapan Iswari mulai nampak. Sebagian anak-anak muda yang berada di dalam barak-barak khusus itu mulai terbuka hatinya. Dalam perdebatan yang kadang-kadang sengit, kadang-kadang dibayangi oleh gelapnya perasaan, namun penjelasan-penjelasan yang mereka dengar dari para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan dan para perwira dari Pajang agaknya mampu meyakinkan mereka tanpa memaksakannya. Dan mulailah mereka melihat ke dalam diri mereka sendiri. Mereka seakan-akan telah melihat satu pertunjukan tentang diri mereka sendiri. Mereka seakan-akan telah melihat dengan jelas, bagaimana mereka mulai melangkahkan kakinya ke arah yang sesat. Dan mereka pun mulai menilai apa yang pernah dilakukan Ki Wiradana sejak kedatangan seorang penari jalanan yang bernama Warsi.

Perlahan-lahan penyesalan mulai mencengkam jantung. Seandainya semua itu tidak terjadi, maka ketenangan Tanah Perdikan ini tidak akan pernah diganggu. Mereka tidak akan pernah berdiri dengan batasan jarak yang keras dengan kawan-kawan dan saudara-saudara mereka yang kemudian ternyata berpendirian lain.

Sejalan dengan itu, maka kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan pun mulai menjadi pulih kembali. Berita tentang pemindahan pusat pimpinan pemerintahan dari Demak ke Pajang disambut dengan gembira di Tanah Perdikan Sembojan. Dengan demikian maka kedudukan Sembojan menjadi semakin kuat. Apalagi Adipati Hadiwijaya kemudian telah bergelar menjadi Sultan Hadiwijaya yang berkedudukan di Pajang.

Namun demikian, para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan tidak pernah melupakan, bahwa di antara kemajuan yang dicapai dalam tatanan kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan masih ada lawan yang selalu mengintai dengan penuh dendam.

Warsi yang melahirkan anak laki-laki dari Ki Wiradana masih tetap merasa, bahwa anaknya akan berhak untuk menggantikan kedudukan suaminya.

Satu-satunya penghalang yang terbesar adalah hadirnya seorang anak pula dari Iswari. Kecuali Iswari memang istri yang lebih dahulu dari Ki Wiradana, anaknya pun lahir lebih dahulu pula meskipun hanya berjarak bulan.

Karena itu, bagi Warsi dan orang-orang yang kemudian tetap menjadi pendukungnya, cara yang paling cepat untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan adalah membunuh anak Ki Wiradana yang lahir dari Iswari.

“Aku berhasil membunuh Ki Gede Sembojan,” geram Warsi. “Kenapa aku tidak dapat membunuh anak itu?”

Namun demikian Warsi pun mengerti, bahwa Iswari tentu akan tetap berhati-hati dengan anaknya. Mungkin Iswari tidak akan pernah membiarkan anaknya keluar dari halaman rumahnya, sementara itu beberapa orang pengawal akan selalu mengawasinya dari segala penjuru.

“Tetapi aku harus dapat melakukannya,” berkata Warsi di dalam hatinya. Apalagi Ki Rangga Gupita yang kehilangan kesatuan dan lingkungannya di Jipang bersama beberapa orang bekas prajurit Jipang yang berhasil dihimpunnya tetap mendukungnya untuk mendapatkan satu landasan tempat berpijak. Sementara itu Warsi pun berusaha untuk menghimpun pula kekuatan Kalamerta yang pecah sepeninggal Kalamerta itu sendiri.

Sebenarnyalah, bahwa meskipun persoalan tahta Demak sudah diselesaikan, namun pertentangan-pertentangan masih berkecamuk di beberapa tempat.

Di sebelah Barat Pajang, di beberapa tempat masih juga berkeliaran bekas-bekas prajurit Jipang. Mereka telah menempatkan diri di sekitar sebuah Kademangan yang sangat subur. Mereka memilih hutan-hutan yang membujur ke Utara di sebelah Barat Kademangan Sangkal Putung dan kemudian melintang ke Barat dekat dengan sebuah tempat yang disebut Macanan. Pasukan yang dipimpin oleh seorang Senapati yang memiliki ilmu yang tinggi yang disadapnya dari gurunya Ki Patih Mantahun, ternyata tidak tunduk kepada perintah untuk meletakkan senjata yang kemudian diserukan oleh para Panglima Jipang sendiri. Pasukan itu telah berusaha untuk tetap mengadakan perlawanan terhadap Pajang, meskipun tidak langsung menghadapi prajurit-prajurit Pajang sendiri.

Namun dengan menempatkan pasukan di hutan-hutan di sekitar Sangkal Putung itu, maka Pajang pun telah menempatkan pasukannya yang kuat di antara Jati Anom dan Sangkal Putung, sementara di beberapa Kademangan telah dibentuk pasukan pengawal yang dibawah tuntunan dan bimbingan para perwira prajurit Pajang. Dengan demikian maka Kademangan-kademangan itu sendiri telah membangun kekuatan yang mempertahankan diri sendiri.

Rangga Gupita dengan pasukan Jipang yang kecil memang telah membuat hubungan dengan pimpinan pasukan Jipang yang tinggal di hutan-hutan di sebelah Barat Pajang. Tetapi Senapati yang memimpin pasukan itu tidak dengan serta merta bersedia membantunya.

“Kau telah berusaha memperalat kami untuk kepentingan pribadimu,” berkata Senapati di sebelah Barat Pajang itu ketika Ki Rangga Gupita membuat hubungan dengannya.

“Tetapi kita akan mendapat satu landasan yang kuat. Sebuah Tanah Perdikan yang cukup luas dan subur. Apalagi perempuan itu mempunyai hak untuk memerintah Tanah Perdikan itu atas nama anaknya sehingga Warsi akan dapat banyak membantu kita, menentukan jalannya pemerintahan di Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Rangga Gupita.

“Jangan mimpi,” jawab Senapati pasukan Jipang yang bersembunyi di hutan-hutan di sebelah Barat Pajang. “Aku pun akan dapat membuat satu landasan disini. Karena itu, jika kau memang ingin bergabung dengan kami, bawa orang-orangmu yang tinggal beberapa orang itu kemari. Jangan perintah aku untuk membantumu menuruti perempuan yang telah menjebakmu sebagaimana ia menjebak Ki Wiradana sebelumnya.”

“Darimana kau tahu persoalan perempuan itu dengan Ki Wiradana?” bertanya Ki Rangga Gupita.

“Pengawalmu juga punya mulut. Ia bercerita kepada kawan-kawannya disini. Aku tidak tahu darimana pengawal itu mendengar cerita tentang Warsi dan Wiradana. Tentang seorang penari jalanan dan seorang anak dan bahkan kemudian Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Ki Rangga Gupita tidak dapat membantah lagi. Para pengawalnya itu tentu mendengar dari anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang ada di dalam lingkungan pasukan Jipang.

Sementara itu Senapati itu pun kemudian berkata, “Jika kau masih tetap ingin berjuang bersama kami, bawa pasukanmu itu kemari. Atau jika pada suatu saat aku mempunyai perhitungan lain, aku akan mencari hubungan denganmu.”

“Kau akan datang kepada kami setelah kami kuasai Tanah Perdikan itu,” desis Ki Rangga Gupita.

“Aku bukan pengemis seperti itu,” geram Senapati Jipang. Namun kemudian ia berkata, “Jika aku datang, tidak untuk minta belas kasihanmu. Tetapi aku datang dengan pasukan dan menduduki Tanah Perdikan itu dengan kekuatan.”

“Kau kasar sekali,” jawab Ki Rangga Gupita.

“Kita memang orang-orang kasar,” jawab Senapati itu. “Apalagi setelah kita kehilangan tempat berpijak. Maka kita menjadi semakin kasar, pemberang, pendendam dan agaknya kita tidak lagi mempunyai kepercayaan di antara kita. Dan aku telah menuduhmu bahwa kau akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dengan peristiwa ini. Tanah Perdikan, perempuan dan kedudukan.”

“Cukup,” potong Ki Rangga Gupita dengan wajah yang merah. “Jika kau tidak mau melakukan permintaanku, katakan bahwa kau tidak bersedia. Jangan mengada-ada. Aku sendiri masih mempunyai pasukan yang cukup untuk memasuki Tanah Perdikan itu dan membangun kekuatan di atasnya. Jangan menyesal, bahwa pada suatu saat, akulah yang memasuki Jipang dengan tanda-tanda kebesaran.”

Senapati itu justru tertawa. Katanya “Kau memang seorang pemimpin yang baik. Bermipilah disisi perempuan itu. Itu akan lebih baik bagimu daripada berbicara tentang perang dan petualangan.”

Ki Rangga Gupita memang marah sekali. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak, karena ia berada. diantara sepasakan prajurit Jipang yang berada dihutan-hutan itu.

Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa pula minta diri meninggalkan harapannya untuk mendapat bantuan dari kawan-kawannya di sebelah Berat Pajapg.

Dengan demikian, maka yang harus dilakukannya adalah mengumpulkan bekas pasukan Jipang di sebelah Timur Pajang sebanyak-banyaknya bersama dengan para pengikut Kalamerta yang akan dihimpun oleh Warsi dan ayahnya.

Dengan kekuatan itu mereka akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Rangga Gupita menyadari, bahwa untuk melakukan hal itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia tidak akan dapat melakukannya barang satu dua hari saja. Tetapi ia memerlukan waktu berbulan bahkan bertahun-tahun. Sehingga datang saatnya untuk memasuki Tanah Perdikan Sembojan dengan baik yang masih tersisa pada anak Warsi. Dengan hak itu, maka Tanah Perdikan akan dapat dipersiapkan untuk menemukan langkah-langkah berikutnya.

Dengan kenyataan yang ada, maka Ki Rangga Gupita dan Warsi telah menyusun sebuah tempat tinggal yang tersendiri. Mereka telah membangun kembali sebuah padepokan yang sebenarnya adalah salah satu dari sarang gerombolan Kalamerta. Namun Ki Rangga Gupita dan Warsi memang membuatya sebagai sebuah padepokan yang baik, bersih dan asri tanpa memberikan kesan kekasaran dan kekerasan. Warsi tidak lagi mau tinggal bersama ayahnya dan menempuh cara tersendiri dalam laku yang dibebani perasaan dendam kepada Iswari dan Tanah Perdikan Seambojan. Beberapa orang pengikutnya berada pula di padepokan itu. Di padepokan itu mereka menempuh cara hidup yang baik dan layak. Namun diluar padepokan itu, cara hidup sebagaimana dilakukan oleh gerombolan Kalamerta masih tetap mereka lakukan.

Di beberapa tempat, Warsi memang membuat beberapa sarang dalam keadaan yang jauh bersedia, bahkan bertentangn dengan padepokan yang dibangunkannya. Di beberapa tempat terdapat sarang-sarang yang kasar dan bersuasana keras. Dari sarang-sarang itulah para pengikutnya melakukan kekerasan.

Namun siapapun yang memasuki padepokannya, maka ia harus berusaha untuk menjad:ikan dirinya orang lain.

Demikianlah Warsi dan Ki Rangga Gupita hidup dalam dua dunia yang mempunyai watak yang bertentangan. Di padepokan, keduanya hidup sebagai dua orang suami isteni yang baik dan wajar. Sementara itu keduanya pun telah menyebut diri mereka dengan nama rangkap.

Di padepokan keduanya menyebut diri mereka Kiai dan Nyai Premati. Sementara itu, para pengikutnya, telah mendapat perintah untuk memegang rahasia mereka sekeras-kerasnya. Siapa yang diketahui membocorkaa rahasia itu, maka. tidak ada hukuman lain kecuali hukuman mati.

Para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi yang ikut tinggal di padepokan terpencil itu tidak terlalu banyak. Sebagian besar dari para pengikutnya justru tersebar di sarang-sarang mereka yang garang, yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh orang lain. Para pengikutnya terutama adalah para bekas prajurit Jipang, sisa-sisa gerombolan Kalamerta dan ada juga anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang telah tersesat semakin jauh dari jalan menuju kembali ke kampung halaman. Mereka dengan dibekali dengan harapan-harapan dan dendam, telah menjadi pengikut yang setia. Yang tidak lagi mengerti dari tujuan hidup mereka sendiri.

Dengan kasar mereka melakukan pekerjaan yang diberikan kepada mereka untuk merampas, merampok dan menyamun. Mereka merasa bahwa mereka wajib melakukannya, karena hasil kerja mereka itu akan menjadi modal untuk mendaki satu cita-cita yang amat tinggi.

“Jika kita tidak dapat menikmati hasilnya, maka anak cucu kitalah yang akan memetiknya,” berkata Ki Rangga Gupita.

Dalam pada itu, pada saat-saat tertentu Ki Rangga Gupita dan Warsi memang berada di padepokannya sebagai Kiai dan Nyai Premati. Meskipun letak padepokan itu memang agak terpencil, agak jauh dari padukuhan, bahkan dari sebuah hutan yang termasuk lebat hanya berjarak sebentang ara-ara perdu, namun padepokan itu dikenali juga oleh beberapa orang di padukuhan-padukuhan yang tersebar agak jauh itu.

Kiai dan Nyai Premati dikenal sebagai dua orang pertapa yang baik dan rendah hati. Banyak orang yang mengenalnya sebagai dua orang suami istri yang hidup dalam suasana yang tenang, tentram dan penuh kedamaian hati.

Namun sebenarnyalah di dalam dada kedua orang itu menyala api dendam yang bagaikan menggapai langit. Dendam itu berkobar di tempat-tempat lain di luar padukuhan itu dan sekitarnya.

Bahkan dendam itu hampir saja membakar anak Warsi sendiri. Betapa bencinya Warsi kepada Ki Wiradana yang ternyata tidak dapat menjadi alas untuk mencapai satu kedudukan yang baik baginya dan bagi keinginannya untuk hidup melebihi orang kebanyakan. Jika semula laki-laki yang bernama Wiradana itu memang berhasil meluluhkan hatinya saat-saat dendam atas kematian pamannya membakar jantungnya, sehingga ia tidak sampai hati membunuh laki-laki itu, maka kemudian anggapannya telah berubah sama sekali. Laki-laki yang bernama Wiradana itu adalah orang yang baginya telah merampas seluruh masa depannya.

Seandainya tidak ada terpercik harapan pada anak laki-lakinya untuk mempergunakan haknya sebagai pewaris Tanah Perdikan Sembojan, maka anak itu tidak akan banyak berarti lagi baginya. Bahkan mungkin anak itu telah diberikannya kepada perempuan yang pernah dipaksa menjadi pemomongnya.

“Tetapi jika kau tidak dapat memperoleh hak itu atas Tanah Perdikan Sembojan maka kau tidak lebih baik dari ayahmu,” berkata Warsi kepada anak laki-lakinya dengan kasar.

Bayi itu memandang wajah ibunya tanpa mengerti persoalannya. Dengan tatapan yang bening ia justru tersenyum sambil melenjit di pangkuan perempuan yang selalu dibakar oleh kebencian itu.

Tetapi ibunya justru membentak, “Diam anak setan. Jika kau melenjit-lenjit aku lepaskan kau biar kepalamu terantuk batu dibawah kakiku itu.”

Anak itu tidak tahu apa yang diucapkan ibunya. Ia justru berteriak kegirangan.

Namun sementara itu, Ki Rangga Gupita lah yang berkata, “kenapa tidak kau lakukan? Anak itu merupakan beban bagi kita. Bukan hanya beban perawatannya tetapi juga beban perasaan. Bukankah kau juga merasakan?”

“Aku masih ingin menunggu bahwa pada suatu saat aku dapat membunuh anak Iswari itu. Dengan demikian anak ini akan dapat menuntut haknya,” jawab Warsi.

“Untuk berapa lama kita akan menunggu,” geram Ki Rangga Gupita. “Seandainya anak Iswari itu terbunuh, masih banyak orang yang akan berbicara tentang anakmu itu. Mungkin Pajang juga akan ikut campur.”

“Apakah kita perlu berbicara dengan Pajang?” bertanya Warsi. “Jika aku berhasil membunuh anak Iswari, dan kita berhasil memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka aku akan dapat mempergunakannya, memaksakan kehendakku atas orang-orang Tanah Perdikan itu. Disetujui atau tidak disetujui oleh Pajang. Sebelum Pajang akhirnya mengambil langkah kekerasan, kita harus sudah dapat menyusun kekuatan itu. Kita dapat berbicara lagi dengan Senapati Jipang di hutan-hutan di sekitar Sangkal Putung itu. Jika mereka melihat kita berhasil, aku kira mereka tidak akan berkeberatan untuk bekerjasama dengan kita. Akan lebih baik kalau kita dapat menghimpun kekuatan yang lebih luas dengan cara apapun juga. Kita akan dapat membakar perasaan tidak puas atas pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Kita dapat mempergunakan banyak alasan untuk menyalakan kebencian itu. Apalagi Hadiwijaya adalah anak dari daerah Tingkir yang kedudukannya tidak lebih tinggi dari kita sendiri. Kita tidak perlu takut kena kutuk dan tuahnya karena derajatnya adalah sebagaimana derajat kita.”

Ki Rangga Gupita yang juga menyebut dirinya Kiai Premati tidak menjawab. Ia masih mencoba untuk menyetujui pendapat Warsi tentang anak yang berada di tangan Warsi itu.

Namun sebenarnyalah anak itu tumbuh tanpa kasih sayang. Bahkan anak itu kemudian lebih banyak berada ditangan pemomongnya dari pada ditangan Warsi. Pemomong yang akhirnya didapat juga dari keluarga para pengikut ayah Warsi di padukuhannya.

Tetapi karena sikap Warsi sendiri, maka pemomongnya pun tidak terlalu banyak menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anak. Ia kadang-kadang berlaku kasar juga kepada anak yang masih belum mengerti arti hidupnya sendiri.

Namun dalam permainan Warsi yang sempurna, maka dihadapan orang lain di luar padepokannya, nampaknya Warsi yang disebut Nyai Premati bersama laki-laki yang dianggap suaminya, Kiai Premati, dapat berlaku sangat manis kepada anak laki-lakinya itu. Dan tentu demikian pula dengan pemomongnya.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan Iswari pun tengah memelihara anak laki-lakinya yang beberapa bulan lebih tua dari anak Warsi. Namun agaknya keadaan anak Iswari itu jauh berbeda dengan anak Warsi. Anak Iswari itu ternyata mendapat perawatan dan pelayanan yang sewajarnya. Ia mendapat kasih sayang dari ibunya dan orang-orang di sekitarnya. Meskipun anak itu tidak mengenal ayahnya, tetapi ia mendapat tuntunan dan bimbingan yang memadai sebagai seorang anak laki-laki yang dipersiapkan kelak untuk menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan.

Meskipun anak itu masih bayi, namun setiap orang disekitarnya mengharapkan, bahwa ia akan menjadi orang yang besar kelak, yang tidak akan tergelincir seperti ayahnya.

Dengan demikian maka anak Iswari itu tumbuh dengan suburnya. Bukan hanya wadagnya, tetapi juga jiwanya menjadi tegar. Ia mendapat kegembiraan dengan permainan-permainan yang banyak diberikan kepadanya. Pemomongnya adalah seorang perempuan yang riang. Yang gemar berdendang, bukan saja saat-saat menjelang tidur. Tetapi hampir setiap saat.

Di antara kawan-kawannya yang sebaya, anak Iswari nampak mempunyai perbawa yang lebih besar. Ada sesuatu yang lain. Agaknya karena asuhan yang bersungguh-sungguh serta cermat dilandasi oleh kasih sayang yang tinggi.

Namun anak Iswari sekali-kali tidak menjadi manja. Setiap kali orang-orang tua telah memperingatkan Iswari, agar anaknya tidak menjadi manja. Salah satu kelemahan Ki Wiradana adalah justru karena kemanjaannya. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Gede Sembojan. Namun agaknya K Gede kurang tepat membimbingnya, sehingga anak itu tidak mewarisi kelebihan-kelebihan Ki Gede, tetapi justru kekurangan-kekurangannya.

“Jadi pengalaman pahitmu itu menjadi pelajaran,” berkata Nyai Soka. “Kemanjaan tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi seorang anak. Seorang yang mengasihi anaknya berlebihan dengan memanjakannya itu berarti menjerumuskan anak itu sendiri ke dalam kesulitan.”

Iswari pun telah berpegangan kepada pesan-pesan orang-orang tua itu. Ia pun mengalami kepahitan yang tidak akan dilupakannya meskipun ia tidak mendemdamnya, justru karena suaminya seorang yang manja dan kemudian dalam kemanjaannya itu ia telah memanjakan dirinya sendiri.

Dalam hubungan sehari-hari dengan orang-orang disekitarnya, anak Iswari itu lebih dikenal dengan nama panggilannya. Ia lebih senang dipanggil Risang daripada namanya yang panjang. Sementara itu orang-orang lain pun lebih senang pula memanggil Risang, karena jika dipanggil dengan sebutan lain anak itu sama sekali tidak berpaling.

Dari hari ke hari Risang tumbuh semakin besar. Ia sudah mempunyai pengalaman baru. Beberapa kali ia terjatuh waktu belajar berjalan. Namun Risang tidak pernah menyerah. Sehingga akhirnya Risang pada umurnya setahun lebih beberapa hari sudah benar-benar dapat berjalan.

Pada saat-saat berikutnya Risang dengan cepat dapat berlari-lari kecil. Memanggil-manggil ibunya dan nama pemomongnya. Bahkan kemudian sepatah-patah Risang sudah dapat berbicara.

Iswari menjadi gembira sekali melihat perkembangan Risang. Meskipun sekali-kali anak itu mengingatkannya kepada tingkah laku ayahnya. Bahkan hampir saja membunuhnya, namun justru Iswari merasa senasib dengan anak itu. Matinya adalah matinya anak itu dan hidupnya adalah hidup anak itu.

Karena itu, kasihnya kepada anak itu justru semakin bertambah-tambah, meskipun ia selalu ingat kepada pesan, bahwa ia tidak boleh memanjakannya.

Bahkan Iswari beberapa kali terpaksa memperingatkan perempuan yang disebut Serigala Betina. Ialah yang justru sering memanjakan Risang. Perempuan itu pun tiba-tiba ikut merasa bahwa Risang adalah anaknya. Ia merasa bahwa hadirnya Risang karena ia tidak melakukan perintah Ki Wiradana, meskipun ia tidak mengucapkannya kepada Iswari. Sehingga dengan demikian, meskipun ia tidak melahirkan Risang, tetapi ia merasa punya hak pula untuk ikut mengakunya sebagai anaknya.

Namun akhirnya perempuan itu menyadari, bahwa bagaimanapun juga Risang adalah anak Iswari. Dan ia harus mengikuti keinginannya untuk tidak memanjakan anak itu.

Di samping perawatan dan asuhan yang sungguh-sungguh Iswari tetap berhati-hati atas keselamatan anaknya itu. Ia mempercayakan pengamatan keselamatan anaknya kepada perempuan yang disebut Serigala Betina, yang ternyata lebih senang dipanggil Bibi oleh Risang. Bahkan kemudian bukan saja oleh Risang. Semua orang kemudian telah memanggilnya Bibi, sehingga Bibi itu seakan-akan telah berubah bukan sebagai sebutan, tetapi sebagai namanya.

Di samping Bibi, Iswari juga membebankan pengawasan anaknya kepada Gandar. Meskipun untuk sementara rumah Iswari masih tetap dijaga oleh sekelompok kecil pengawal yang bergiliran, namun Iswari sadar, bahwa lawannya adalah orang berilmu tinggi, sehingga hanya orang-orang berilmu tinggi sajalah yang pantas untuk melindungi anaknya dari intaian mereka.

Jika Risang bermain di halaman di pagi hari dikawani oleh pemomongnya, maka Gandar duduk di tangga pendapa. Jika Gandar sekali-kali pergi ke sawah, maka Bibilah yang kemudian ikut bermain-main dengan Risang. Bahkan Bibi banyak dapat membuat mainan yang membuat Risang menjadi gembira.

Namun regol rumah itu tidak tertutup bagi anak-anak sebaya Risang yang kadang-kadang diasuh oleh kakak perempuannya atau bahkan oleh ibunya bermain-main di halaman itu. Justru dengan demikian Risang akan mendapat kawan dan membiasakannya bermain dalam satu lingkungan. Bukan sendiri. Kebiasaan bergaul itu akan memberikan arti yang baik baginya dimasa perkembangannya nanti.

Di antara kawan-kawannya pun Risang tidak dibiasakan menang sendiri. Ia harus bersikap wajar kepada teman-temannya meskipun ia adalah calon Kepala Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, di samping mengamati perkembangan Risang, maka Iswari juga harus mengamati perkembangan nalar budi anak-anak muda Tanah Perdikan yang berada di dalam barak-barak khusus. Ternyata mereka telah cukup lama berada dalam lingkungan yang terbatas. Sebagian besar dari mereka telah menunjukkan perubahan keyakinan dan sikap terhadap Tanah Kelahirannya.

Karena itu, maka Iswari memandang perlu untuk mengambil langkah-langkah bagi mereka. Ia sadar, jika mereka terlalu lama berada di dalam lingkungan yang tertutup, maka justru akan dapat terjadi perkembangan jiwa yang tidak diharapkannya.

Dalam satu kesempatan, maka Iswari telah mengundang orang-orang tua di Tanah Perdikan itu untuk berbicara tentang anak-anak muda itu. Apakah yang sebaiknya dilakukan atas mereka.

“Mereka telah terlalu lama merasa disekap dalam satu lingkungan tertutup, kakek,” berkata Iswari kepada Kiai Badra dan Kiai Soka.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah masih ada di antara mereka yang belum mengerti apakah sebenarnya maksud kita terhadap mereka.”

“Ya. Tetapi sebagian kecil saja,” jawab Iswari.

“Jika demikian,” berkata Kiai Soka. “Sebaiknya diadakan pemisahan untuk sementara. Kita akan memilih siapakah di antara mereka yang sudah pantas untuk diturunkan kembali ke dalam lingkungan kehidupan yang sewajarnya. Namun siapa pula yang masih belum waktunya untuk dikembalikan ke dalam lingkungan yang lebih luas di Tanah Perdikan ini.”

Iswari mengangguk-angguk. Langkah itu mungkin adalah langkah yang paling baik yang dapat segera dilakukan, sebelum ia mengambil keputusan yang lebih tajam mengenai anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang pernah terbius oleh tempaan lahir dan batin dari para perwira Jipang.

Karena itu, maka Iswari pun perlu mendapat bahan-bahan dari mereka yang mendapat tugas untuk setiap kali memberikan penjelasan kepada anak-anak muda itu, termasuk ke beberapa orang perwira Pajang. Siapa saja di antara mereka yang masih perlu mendapat pembatasan untuk tidak dilepaskan dalam kehidupan wajar di Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan cara itulah, maka Iswari telah memilih, siapakah di antara anak-anak muda itu yang masih harus tinggal dan siapakah yang sudah pantas untuk meninggalkan barak-barak khusus dan tertutup itu.

Namun Iswari tidak dengan serta merta melepaskan mereka. Anak-anak muda yang sudah dianggap menjadi baik itu telah dipindahkan ke barak yang lain. Barak yang tidak lagi diawasi terlalu ketat. Bahkan mereka yang tinggal di barak itu sudah diperkenankan untuk menengok keluarga mereka dan tinggal di rumah selama sehari. Di sore hari mereka diwajibkan untuk kembali ke barak.

Hal seperti itu berlaku untuk waktu dua pekan. Setelah ternyata tidak terjadi sesuatu, maka datanglah saatnya anak-anak muda itu dilepas.

Namun Iswari justru telah merencanakan untuk mengadakan upacara yang meriah. Pelepasan itu justru diberikan pengertian penerimaan kembali anak-anak mereka yang telah dianggap hilang.

Seluruh Tanah Perdikan akan merayakannya. Semua padukuhan akan menerima anak-anak mereka yang hilang di banjar dengan mengundang orang tua atau keluarga yang masih ada. Para Bekel sebagai wakil para penghuni padukuhan akan memberikan sesorah sebagai pernyataan suka cita atas kembalinya anak-anak mereka di antara keluarganya.

Demikianlah, pada saat yang ditentukan, semua banjar padukuhan memang nampak ramai. Lebih ramai dari hari-hari biasa. Lampu minyak sudah dipersiapkan di pendapa. Sejak matahari turun, helai-helai tikar pandan yang putih sudah dibentangkan di pendapa.

Namun demikian, nampak penjagaan menjadi lebih ketat dari hari-hari yang lain. Para pengawal berkelompok di banjar dan di gardu-gardu. Justru lengkap dengan senjata.

Menjelang matahari terbenam, maka dengan dikawal oleh masing-masing dua orang, anak-anak muda yang telah disisihkan dalam barak khusus itu dilepas dan di antar kembali ke padukuhan masing-masing. Mereka langsung di antar ke banjar padukuhan, yang memang telah mempersiapkan penerimaan. Ki Bekel yang sudah berada di Banjar bersama orang itu mereka menerima kedatangan anak-anak muda itu dengan ramah dan akrab. Seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu jarak di antara mereka. Ki Bekel yang pada masa kekuasaan Ki Wiradana dengan lambaran kekuatan para pengawal yang saat itu dikembalikan kepada orang tua atau keluarganya itu, pernah mengalami bentakan-bentakan dan bahkan surutnya kekuasaan mereka, harus menyingkirkan perasaan kesal dan apalagi dendam.

Demikianlah, maka kehadiran anak-anak muda itu telah diterima dengan kemeriahan. Bahkan ada di antara para Bekel yang telah mempersiapkan makan dan minum sebaik-baiknya untuk menghormati anak-anak mereka yang pulang kembali kepada sanak kadangnya.

Namun dibalik kemeriahan itu, pemimpin pengawal Tanah Perdikan telah menghadap Iswari di rumahnya bersama dengan dua orang pimpinan pengawal yang lain, yang diterimanya di ruang dalam.

“Apakah Nyai tidak mengunjungi salah satu banjar yang tengah mengadakan keramaian untuk menerima anak-anak mereka kembali?” bertanya pimpinan pengawal itu.

Iswari tersenyum. Katanya, “Ada juga niatku. Tetapi seandainya tidak, aku yakin para Bekel akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.”

“Kami tidak akan lama,” berkata pimpinan pengawal itu.

“Kalian tidak perlu tergesa-gesa,” berkata Iswari. “Katakan apa yang ingin kalian katakan. Jika ada persoalan marilah kita pecahkan. Sudah aku katakan, jika aku tidak pergi pun tidak akan mengurangi kemeriahan penerimaan saudara-saudara kita kembali ke dalam keluarga kita.”

“Tetapi agaknya Nyai lebih baik jika ikut dalam kegembiraan ini, karena bukankah Nyai yang telah memerintahkannya?” bertanya pemimpin pengawal itu.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Menilik sikap dan gelagat para pemimpin pengawal itu, Iswari dapat menebak apa yang tersirat di dalam hati mereka.

Meskipun demikian Iswari tidak mau mendahului menyebut perasaan yang tersimpan itu. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Jika demikian marilah. Kita bersama-sama pergi untuk ikut bersuka ria dengan saudara-saudara kita yang telah kembali.”

Pemimpin pengawal itu menggeleng. Katanya, “Keramaian itu tidak untuk kita Nyai. Keramaian itu adalah untuk saudara-saudara kita. Tugas kita adalah bekerja keras, menjaga keamanan Tanah Perdikan ini. Bertempur dan jika perlu mengorbankan nyawa kita. Biarlah yang mendapat penyambutan dengan keramaian bergembira karena keramaian itu. Tetapi bukankah sudah menjadi janji kita, bahwa kita akan hidup prihatin sampai Tanah Perdikan ini mekar kembali?”

Iswari termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Bukankah sudah sewajarnya jika kita merasa gembira, bahwa saudara-saudara kita yang sudah kita anggap mati itu dapat hidup kembali dan bersatu kembali dengan keluarganya.”

“Tetapi mereka tidak mati Nyai,” jawab pimpinan pengawal yang lain. “Mereka tetap hidup. Mereka justru membunuh saudara-saudara kita yang lain. Dalam ucapan lain, mereka telah berkhianat.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah yang aku maksudkan. Mereka bukan berarti mati dalam ujud kewadagan. Tetapi mereka mati dalam pengertian kejiwaan. Mereka telah kehilangan kepribadian mereka bahkan berkhianat. Dan kini kepribadian itu telah diketemukan kembali. Karena itu, bukankah wajib mereka kita terima kembali? Mereka memang telah tersesat. Tetapi mereka telah melakukan langkah-langkah perbaikan. Mereka telah menyesali kesalahan-kesalahan itu dan berjanji tidak akan melakukannya kembali.”

“Tetapi mereka telah melakukan pengkhianatan. Mereka telah melakukan kesalahan-kesalahan yang sangat besar bagi Tanah ini.. Bahkan mereka telah menentang Pajang. Sementara itu kita belum melihat apakah benar mereka akan bertingkah laku baik.” berkata pemimpin pengawal itu, ”Namun kita sudah menyelenggarakan satu keramaian untuk menerima mereka. Bersuka ria sehingga melanggar janji kita untuk tetap hidup dalam keprihatinan selama Tanah ini belum pulih sama sekali. Alangkah senangnya anak-anak inuda itu, Seharusnya mereka menerima hukumannya. Tetapi mereka justru diterima sebagai seorang pahlawan. Karena sebenarnyalah Tanah Perdikan ini belum sempat menerima pahlawan pahlawannya dengan kegembiraan seperti ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada dalam ia berkata, “Anak-anakku. Siapakah yang paling bergembira sekarang ini menurut pendapatmu?”

“Tentu mereka yang mendapatkan kebebasan dalam kemanjaan seperti ine. Aku mendengar istilah ini dari seorang pemimpin kelompok yang pernah bertugas di barak khusus itu. Anak-anak itu memang terlalu manja. Juga disaat pembebasaannya” jawab pemimpin pengawal itu.

Iswari memandangi wajah anak muda itu dengan tajamnya, sehingga anak-anak muda itupun dengan gelisah telah menunduk perlahan-lahan.

“Anak-anakku” berkata Iswari kemudian perlahan-lahan tetapi jelas, “sebenarnyalah bahwa yang paling bergembira karena saudara-saudara kita itu telah kembali. Kitalah yang selama ini berusaha mencari dan menemukan mereka. Pada satu saat kita mendapat satu keyakinan bahwa saudara-saudara kita itu benar-benar telah berada diantara kita. Bukankah kita yang paling bergembira karenanya? Mereka juga bergembira karena mereka berhasil dibangunkan dari mimpi-mimpi. buruk. Mereka telah dilemparkan dari jalan sesat ke jalan yang benar. Dan mereka pun telah menyesali kesalahan itu. Namun diantara kita semuanya, maka kita yang menemukan-mereka itulah yang merasa paling bergembira, sehingga kegembiraan ini adalah untuk kita scmuanya.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Namun kata-kata Iswari itu menyentuh perasaannya, sehingga perlahan-lahan ia mampu mengendapkannya. Demikian juga kedua orang kawannya,

”Karena para pimpinan pengawal itu tidak menjawab, maka Iswari pun kemudian berkata, “Apakah kalian dapat mengerti dan mencerna kata-kataku? Dengan demikian jangan sampai terjadi, bahwa seorang yang telah berkhianat dan berbuat kesalahan justru ikut dalam bujana yang meriah dalam penyesalannya dan pertaubatannya, namun terjadi bahwa saudaranya yang patuh dan setia selama ini bahkan tidak ikut dalam kegembiraan itu dan justru berada dalam kemasgulan.” Iswari berhenti sejenak, lalu katanya “Karena itu, marilah kita bergembira bersama-sama dalam saat yang baik ini. Marilah kita bersukur bahwa saudara-saudara kita yang sesat itu telah kembali, Bawalah semua pengawal dan anak. anak muda dalam kegembiraan. Besok kita telah menjadi semakin tegar dalam kerja karena saudara-saudara kita telah ikut didalamnya. Namun bagaimanapun juga, kita memang harus berhati-hati. Mereka yang telah menyatakan bertaubat dan kembali itu masih harus membuktikan ucapannya. Mereka masih belum berhak memegang kendali pada segala tingkatan. Dan kita yang selama ini setia dan patuh, harus tetap mengawasi dengan sikap yang bertanggung jawab.”

Pemimpin kelompok itu termernung sejenak, namun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Nyai. Aku mengerti. Kawan-kawanku inipun agaknya mengerti pula.”

“Ya, kami mengerti” jawab keduanya hampir berbareng.

“Syukurlah” desis Iswari, “jika demikian, silahkan ikut bergembira. Semua pengawal yang bertugas dan tidak bertugas. Bahkan semua orang di Tanah Perdikan ini. Kerja kita masih panjang.”

Ketiga pengawal itu pun kemudian minta diri. Ketika mereka turun ke halaman, mereka melihat Risang berlari-lari dikejar oleh Gandar. Namun tiba-tiba saja Risang telah terjatuh. Ketika .pemimpin pengawal itu dengan bergegas mendekatinya Risang telah bangkit. Wajahnya berkerut. Namun Gandar yang sama sekali tidak berusaha menolong itu berkata, “He, kataknya telah meloncat.”

Risang memandang Gandar sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berlari lagi.

Namun dalam pada itu ibunyalah yang berkata, “Sudahlah. Hari mulai gelap.”

“Tetapi ia masih senang bermain,” jawab Gandar.

Iswari tersenyum. Namun kemudian, “Ia harus dibersihkan lagi. Kaki dan tangannya tentu kotor sekali.”

“Itu pertanda anak laki-laki,” jawab Gandar pula.

Iswari justru tertawa. Katanya, “Jadi anak laki-laki harus kotor kaki dan tangannya?”

Gandar pun tertawa pula. Para pengawal yang baru saja keluar dari ruang dalam itu pun tertawa pula.

Tetapi Risang agaknya masih berkeberatan. Karena itu, ketika pemomongnya berusaha mendekatinya, ia justru berlari lagi. Namun Gandarlah yang kemudian meloncat menangkapnya. Risang meronta, tetapi ia tidak menangis ketika ibunya berkata, “Mari. Ikut aku. Tetapi kaki dan tanganmu harus dibersihkan dahulu. Kita melihat-lihat sekeliling Tanah Perdikan.”

Demikianlah, maka para pengawal pun telah minta diri. Mereka berjanji untuk mengajak kawan-kawannya bergembira pula malam ini. Memang bukan sewajarnya mereka merasa iri, karena merekalah yang sebenarnya merasa gembira menerima saudara-saudaranya kembali.

Sepeninggal para pemimpin pengawal itu, Iswari pun telah bersiap-siap. Ia ingin melihat-lihat Tanah Perdikan dalam keseluruhan. Karena itu, maka ia telah mengajak Gandar dan Bibi untuk bersamanya, berkuda bersama Risang.

“Hati-hatilah,” pesan Kiai Badra, “Anak itu nakal sekali. Ia tidak boleh melonjak-lonjak di atas punggung kuda yang sedang berjalan.”

“Ya kakek,” jawab Iswari. “Aku akan menjaganya.

“Jangan terlalu malam. Anak itu tidak boleh terlalu banyak terkena embun malam yang dingin,” pesan Nyai Soka pula.

Namun Gandar lah yang menjawab, “Ia harus menjadi anak yang kuat. Yang tahan panas dan dingin.”

Nyai Soka tersenyum, jawabannya, “Untuk itu diperlukan keadaan yang khusus.”

Iswari pun tersenyum pula. Namun kemudian ia pun telah minta diri untuk pergi melihat-lihat keramaian dibeberapa padukuhan. Namun hampir semua padukuhan akan menerima beberapa orang anak mudanya, meskipun ada pula yang hanya seorang dan bahkan tidak sama sekali.

Di samping tiga ekor kuda yang ditumpangi Iswari bersama Risang, Bibi dan Gandar masih ada dua lagi pengawal yang pergi bersama mereka, melintasi bulak-bulak panjang dan pendek, mengunjungi padukuhan-padukuhan yang sedang mengadakan keramaian.

Ternyata penerimaan anak-anak muda dengan upacara yang khusus itu memang memberikan kesan yang mendalam kepada sebagian besar di antara anak-anak muda itu. Mereka merasa diterima kembali ke dalam satu lingkungan sanak kadangnya yang berjiwa besar. Yang melupakan segala permusuhan yang pernah terjadi. Sehingga dengan demikian, peristiwa itu telah memberikan tekanan batin kepada mereka untuk benar-benar menenuhi janji pertaubatannya terhadap kampung halamannya.

Bahkan di dalam hati mereka berkata, “Aku harus menebus kesalahan yang pernah aku lakukan.”

Namun satu dua di antara mereka, memang ada yang berhati batu. Yang mampu berpura-pura berlaku sebagaimana saudara-saudaranya. Namun kebencian dan dendam masih tetap menyala di hati mereka.

Sebagaimana dipesan oleh Iswari, maka para pengawal yang setia dan patuh kepada cita-cita kebesaran Tanah Perdikan itu, harus mengawasi mereka dengan panuh tanggung jawab.

Namun dalam pada itu ternyata sepasang mata telah sempat melihat Iswari keluar dari regol padukuhan induk, justru bersama anak laki-lakinya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia menyusup di antara tanaman di sawah, menyusuri pematang menuju ke sebuah tempat yang sepi di tengah-tengah bulak.

“Apa yang kau lihat?” bertanya kawannya.

“Iswari memang pergi keluar dari padukuhan induk,” jawab orang itu. “Aku telah melihatnya.”

“Jika demikian, kita cari anaknya di rumahnya. Kita akan membunuhnya,” berkata kawannya itu pula.

“Anak itu dibawanya,” jawab orang yang telah melihat Iswari itu.

“Dibawa? Maksudmu anak itu menyertainya?” bertanya kawannya.

“Ya. Anak itu menyertainya,” jawab orang yang bertemu dengan Iswari itu.

“Gila,” geram kawannya. “Kemana orang itu pergi? Berapa orang pengawal yang bersama?”

“Menurut penglihatanku ada empat orang yang mengawalnya. Iswari duduk berkuda dipaling depan memangku anaknya itu,” jawab orang yang melihatnya itu.

“Kita akan mencegatnya,” berkata kawannya. “Kita berjumlah lebih dari lima orang.”

“Tetapi kau tahu, Iswari bukan orang kebanyakan,” berkata yang lain.

“Ada sepuluh orang yang kita bawa sekarang,” berkata orang yang dianggap tertua di antara mereka. “Kita memang harus memperhitungkan segala kemungkinan. Tetapi keadaan sekarang di Tanah Perdikan ini merupakan keadaan yang menguntungkan. Semua orang sibuk dengan keramaian yang ada di hampir semua padukuhan. Kita memperhitungkan kelengahan mereka, apalagi setelah mereka merasa keadaan Tanah Perdikan ini menjadi wajar kembali sehingga mereka berani melepaskan anak-anak muda yang mereka tahan dalam barak-barak khusus.”

“Ya. Keadaan malam ini agaknya menguntungkan sekali. Meskipun perhitungan kita keliru, bahwa anak Iswari itu tidak ditinggal di rumahnya oleh ibunya dan orang-orang yang mungkin mengawasinya sehari-hari. Tetapi kita justru akan dapat sekaligus memanfaatkannya. Kita bunuh anak itu bersama ibunya sekaligus,” berkata yang lain di antara kesepuluh orang itu.

Sementara itu orang yang tertua itu menyahut, “Baiklah. Iswari tentu tidak akan dapat mempergunakan kemampuannya sepenuhnya. Ia merasa wajib melindungi anaknya yang tidak akan dapat diserahkannya atau dipercayakannya kepada orang lain yang kemampuannya berada dibawah kemampuan Iswari itu sendiri.”

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan orang tertua di antara mereka itu. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Tetapi dimana Iswari itu sekarang?”

“Ia keluar dari padukuhan induk. Ia tentu akan mengunjungi salah satu padukuhan atau mungkin dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang berikutnya,” jawab orang yang telah melihat Iswari itu.

“Jika demikian marilah kita mencoba mencegatnya di bulak antara padukuhan yang pertama dikunjungi sesuai dengan arah perjalanannya ke padukuhan disebelahnya.”

“Mereka berkuda,” berkata orang yang menjumpai Iswari.

“Tetapi mereka tidak akan berjalan terus. Mereka tentu akan berhenti di padukuhan itu untuk beberapa lama. Mudah-mudahan kita dapat menyusulnya dan mencegatnya di bulak berikutnya,” jawab yang tertua.

Demikianlah mereka telah bersepakat untuk pergi ke bulan sebelah. Mereka telah membagi diri dalam dua atau tiga orang, menyusuri pematang menuju ke bulan di seberang padukuhan yang pertama. Mereka akan bertemu lagi di sekitar pertengahan bulak panjang. Kemudian setelah melihat medan, mereka akan menentukan dimana mereka akan mencegat Iswari dan anaknya.

Dengan tergesa-gesa kesepuluh orang itu menempuh jalan mereka masing-masing menuju ke bulak di seberang padukuhan itu.

Ternyata suasana di luar padukuhan memang sepi. Pada ujung malam jalan-jalan sudah tidak lagi dilalui seorang pun. Sawah-sawah pun tidak dijenguk lagi meskipun air di parit mengalir deras. Bahkan ada kotak-kotak sawah yang airnya telah melimpah, sementara disebelah lain, sawahnya masih belum diairi sama sekali.

Agaknya orang-orang disetiap padukuhan lebih senang bergembira bersama keluarga yang sedang menerima anak-anaknya kembali. Mereka yang tidak berkepentingan ingin sekadar melihat apa yang akan terjadi di banjar, sementara yang lain ingin ikut makan-makan beramai-ramai. Sedangkan ada pula yang terpaksa menunggui rumah karena hampir semua keluarganya pergi ke banjar.

Memang ada bermacam-macam tanggapan atas peristiwa yang terjadi di hampir semua banjar itu. Namun pada umumya para Bekel berhasil memberikan penjelasan kenapa mereka harus menerima dengan gembira kehadiran kembali anak-anak mereka yang telah mereka anggap hilang, bahkan mati.

Sementara itu sepuluh orang yang berusaha untuk menghadang Iswari pun telah berada ditempat yang mereka tentukan. Menilik keadaan medan, maka mereka telah menentukan bahwa mereka akan menunggu Iswari di simpang empat di tengah-tengah bulak itu.

Namun sudah beberapa lama mereka menunggu, ternyata Iswari masih belum lewat. Dengan sisa kesabaran yang tinggal selembar seorang di antara mereka berkata, “Perempuan itu tidak akan melalui jalan ini.”

“Kita tunggu sebentar lagi,” sahut yang tertua.

“Bukankah perempuan itu mengajak anaknya? Tentu ia akan segera kembali,” berkata yang lain.

“Belum tentu,” sahut yang lain lagi. “Kita tunggu sebentar. Jika perempuan itu ternyata memang tidak lewat, salah seorang di antara kita akan melihat ke banjar. Apakah Iswari masih disana atau tidak.”

“Kenapa harus menunggu,” berkata yang lain pula. “Salah seorang dari kita akan pergi kesana sekarang. Ada atau tidak, kita akan segera mengetahuinya.”

“Baiklah,” berkata yang tertua. “Siapakah di antara kalian yang akan pergi?”

“Biarkan aku pergi,” berkata seorang yang bertubuh kecil, “Aku akan masuk ke halaman banjar. Tentu banyak orang disana, sehingga kehadiranku tidak akan menarik perhatian.”

“Kau salah,” berkata yang tertua. “Disemua banjar ada keramaian sehingga yang ada di setiap banjar, tentu hanya orang-orang dari padukuhan itu sendiri. Jika ada orang dari luar padukuhan memang pantas dicurigai.”

“Jadi bagaimana?” bertanya orang bertubuh kecil itu.

“Lihat banjar saja. Tetapi jangan sampai ada orang yang mengetahuinya,” berkata yang tertua.

“Baiklah,” desis yang bertubuh kecil itu. “Aku akan pergi.”

Namun ternyata orang itu tidak perlu pergi. Sejenak kemudian mereka telah mendengar derap kaki kuda yang datang.

“Itukah mereka?” bertanya seorang di antara sepuluh orang itu.

“Berpencarlah. Mungkin merekalah yang lewat. Kita harus serta merta bertindak. Jangan ragu-ragu. yang penting anak itu harus mati. Yang lain jika mungkin. Jika kita merasa tidak dapat melakukannya, maka kita akan melarikan diri. Kita sadar, bahwa segera akan terdengar tanda bahaya dengan isyarat kentongan. Karena itu, kita harus menempuh cara seperti yang sudah kita sepakati bersama,” pesan orang yang tertua di antara mereka.

Orang-orang itu pun segera berpencar. Mereka berada disebelah menyebelah jalan bulak, berlindung pada pohon perdu dan bahkan batang padi di sawah.

Dalam pada itu derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dalam keremangan malam, orang-orang itu melihat beberapa penunggang kuda yang menjadi semakin jelas. Seorang di antara mereka memang berkuda berdua dengan seorang anak-anak dipangkuannya.

Kesepuluh orang itu pun segera menjadi pasti. Perempuan yang berkuda bersama anaknya itu tentu Iswari.

Karena itu, maka ketika kuda itu menjadi semakin dekat. Beberapa orang telah berloncatan ke tengah jalan. Dengan demikian maka kuda-kuda itu pun terkejut, sehingga mereka pun berhenti dengan tiba-tiba. Kendalipun telah ditarik, sehingga kuda-kuda itu bagaikan dihentakkan. Beberapa di antara kuda-kuda itu justru meringkik sambil mengangkat kaki depannya.

Iswari memang tangkas pula berkuda. Ia berhasil menguasai kuda dengan memutarnya ke arah yang berlawanan. Namun ia sadar sepenuhnya bahwa bahaya memang telah datang.

Namun yang berkuda bersamanya adalah diantaranya Gandar dan Bibi. Itulah sebabnya, maka dalam keadaan yang gawat itu keduanya cepat mengambil sikap Kedua ekor kuda itu pun cepat dikuasai. Namun di jalan yang sempit dan malam hari, sulit bagi keduanya untuk bertempur di atas punggung kuda melawan orang dalam jumlah yang lebih banyak. Karena itu, maka mereka pun telah dengan cepat-cepat meloncat turun.

Orang-orang yang menghentikan iring-iringan itu pun telah bertindak cepat pula. Tujuan mereka yang utama adalah anak dipangkuan Iswari, sehingga karena itu, maka beberapa orang di antara mereka telah siap untuk meloncat menyerang.

Namun gerak Gandar dan Bibi ternyata lebih cepat dari mereka. Tiba-tiba saja kedua orang itu telah menyerang dengan dahsyatnya, sehingga orang-orang yang sudah siap menerkam Risang itu pun harus berloncat surut.

Namun pada saat yang demikian beberapa orang lagi telah siap untuk meloncat menyerang dari kedua sisi jalan, sementara Gandar dan Bibi mendesak kawan-kawannya mundur.

Untunglah bahwa para pengawal itu pun dapat bertindak cepat pula. Mereka pun telah berloncatan dari kuda mereka pula. Dengan pedang ditangan, mereka pun telah mencegah orang-orang yang siap menyerang Risang.

Dalam keadaan yang demikian, maka Iswari pun sempat meloncat turun pula. Kemudian memeluk Risang pada bahu kirinya, sementara tangan kanannya telah siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan untuk melindungi Risang, Iswari sama sekali tidak berusaha untuk menahan diri lagi.

Sebenarnyalah bahwa kemampuan Iswari bukan saja terbatas dalam olah kanuragan. Ia sudah merambat kepadai ilmu yang rumit, yang berhasil disadapnya dari neneknya, Nyai Soka. Sehingga dengan demikian, maka Iswari benar-benar merupakan seorang perempuan yang pilih tanding.

Dengan Risang didukungan, Iswari memang menjadi sangat garang. Sebagai seekor induk ayam yang sama sekai tidak gentar menghadapi elang yang paling ganas sekalipun.

Untuk sesaat, perkelahian terjadi dengan sengitnya. Namun seorang di antara mereka berhasil menyusup pertahanan salah seorang pengawal dari sisi kiri. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya ke arah lambung Risang di dalam pelukan tangan kiri ibunya.

Namun ternyata bahwa Iswari sempat bergeser kesamping sesaat sebelum ujung pedang itu menyentuh Risang. Dengan demikian maka orang yang menyerangnya itu justru hampir saja melanggarnya. Dengan susah payah orang itu berusaha menahan tubuhnya dan bergeser menjauh. Namun tiba-tiba terasa telapak tangan Iswari mengenai pundaknya.

Hampir di luar sadarnya orang itu berteriak mengaduh kesakitan. Tubuhnya terlempar selangkah, namun kemudian ia pun telah berguling-guling masuk ke dalam parit. Namun air parit itu tidak menolongnya. Pundaknya itu masih saja bagaikan terbakar. Bekas sentuhan tangan Iswari membuat kulitnya terkelupas seperti terkena bara api.

Karena itu, maka ia pun justru melenting keluar dari parit. Meskipun badannya dan pakaiannya menjadi basah kuyup, tetapi pundaknya rasa-rasanya masih tetap bagaikan disentuh bara.

Untuk beberapa saat orang itu kebingungan sendiri. Sampai berteriak-teriak kesakitan. ia tidak tahu lagi dimana pedangnya terjatuh.

Sementara itu, Gandar, Bibi dan dua orang pengawal yang lain pun telah bertempur dengan garangnya. Lawannya yang telah berkurang seorang itu pun berusaha untuk dapat menembus pertahanan para pengawal dan menyerang Risang yang berada di dalam pelukan ibunya.

Namun Gandar dan bibi memang terlalu garang bagi lawan-lawannya. Gandar tidak bertempur sebagaimana ia bertempur melawan anak muda yang akan diambil dari rumahnya, karena ayahnya telah melaporkannya. Tetapi ia benar-benar bertempur untuk menghancurkan lawannya justru karena di antara mereka terdapat Risang.

Bibi pun telah bertempur dengan keras pula. Ketika lawan-lawannya telah menarik senjata mereka masing-masing, maka Bibi pun telah mempergunakan senjatanya. Ia mampu mempergunakan apa saja yang dapat dipegangnya. Karena itu, ia pun mampu bertempur melawan senjata-senjata yang kuat dan tajam dengan mempergunakan selendangnya. Namun yang pada ujung selendangnya disebelah menyebelah terdapat juntai untaian biji baja. Dengan selendang itu, Bibi telah bertempur dengan keras pula.

Dalam pada itu, kedua pengawal yang harus bertempur masing-masing melawan dua orang yang keras dan kasar itu pun menjadi agak terdesak, sehingga pertahanannya pun seakan-akan telah membuka ke samping. Kesempatan itu telah dipergunakan oleh seorang di antara mereka untuk dengan serta merta menyerang Risang sebagaimana pernah dilakukan oleh seorang yang terdahulu.

Namun ternyata nasibnya tidak berbeda pula. Orang itu tidak menyerang dengan menjulurkan pedangnya menusuk kearah Risang. Tetapi pedang itu menebas mendatar setinggi punggung Risang.

Iswari dengan tangkas meloncat surut. Namun tiba-tiba saja kakinya telah menghantam pergelangan tangan lawannya, sehingga rasa-rasanya tulang dipergelangannya itu telah patah dan sendinya telah terlepas. Demikian pula pedangnya pun telah meloncat pula dari tangannya. Bahkan sebelum ia memperbaiki keadaannya, maka Iswari yang mendukung Risang itupun sempat meloncat mendekatinya. Ketika telapak tangan Iswari itu menghantam dada orang itu, maka rasa-rasanya dadanya telah dihantam oleh pecahan batu yang terlontar dari mulut gunung berapi yang sedang meletus. Demikian kerasnya menghentak dadanya dan sentuhan itu pun rasanya telah membakar tubuhnya pula.

Orang itu telah terlempar beberapa langkah. Ia jatuh terlentang. Namun ia tidak mampu bangkit lagi karena isi dadanya bagaikan telah menjadi hangus. Bahkan beberapa saat kemudian ia pun tidak lagi menyadari sesuatu lagi, karena ia pun menjadi pingsan.

Disebelah lain, Gandar tidak menahan diri lagi menghadapi orang-orang yang dengan licik menyerang. Apalagi Gandar menjadi pasti, bahwa orang-orang itu telah mendapat perintah dari Warsi, sehingga dengan demikian, maka ia pun telah berusaha secepat mungkin menyelesaikan pertempuran.

Gandar yang tidak mempergunakan senjata apapun itu, telah sempat menarik tonggak di pinggir jalan. Tonggak itu memang tidak lebih dari tonggak bambu. Namun tonggak bambu itu ternyata ujungnya, yang tertanam ditanah telah diruncingkan.

Ternyata tonggak bambu itu menjadi senjata yang sangat dahsyat di tangan Gandar. Ketika seorang lawannya menyerangnya, Gandar berhasil mengelak diri kesamping. Sementara itu lawannya yang lain dengan cepat memburunya. Pedangnya terjulur lurus mengarah ke dada Gandar. Gandar yang baru saja menginjakkan kakinya tidak sempat meloncat lagi. Justru karena itu, maka ia pun telah merendahkan tubuhnya sambil menjulurkan tongkat bambunya yang runcing di ujungnya itu.

Akibatnya memang mengerikan sekali. Ujung pedang lawannya memang tidak menyentuh tubuhnya, tetapi justru ujung bambunya yang runcing itulah yang menembus dada lawannya.

Yang berteriak justru Iswari sambil mendukung Risang, “Gandar. Apa yang kau lakukan?”

Gandar memang juga terkejut, sehingga senjata itu telah dilepaskannya.

Orang yang dikenai senjata Gandar itu memang tidak sempat mengeluh. Ia pun kemudian terkapar jatuh ditanah. Mati.

Ternyata bukan hanya Gandar yang telah membunuh lawannya. Bibi pun telah membunuh seorang lawan pula dengan selendangnya. Ketika juntai selendangnya mengenai dada lawannya, rasa-rasanya dada itu telah terhimpit dua buah gunung anakan, sehingga tidak seutas nafas pun yang sempat lagi melalui kerongkongannya.

Pertempuran itu benar-benar telah menggetarkan jantung orang-orang yang berniat untuk membunuh Risang itu. Beberapa di antara mereka telah terbaring mati. Karena itu, mereka merasa tidak mungkin dapat melaksanakan rencana mereka untuk membunuh Risang, apalagi bersama ibunya dan para pengawalnya.

Dengan demikian maka tidak ada kemungkinan lain bagi mereka selain melarikan diri.

Demikianlah, maka orang tertua di antara mereka pun telah memberikan isyarat, sehingga orang-orang yang telah menyerang iring-iringan itu pun bersiap untuk meninggalkan medan. Sementara itu orang yang terluka pundaknya yang bagaikan menjadi gila telah berteriak, “Tunggu, jangan tinggalkan aku.”

Seorang kawannya yang justru menjadi jengkel tidak memberinya kesempatan lagi. Tiba-tiba saja justru pedang kawannya itu telah menusuk lambungnya, sehingga orang itu pun telah terdiam.

Gandar yang melihat hal itu menjadi sangat marah. Karena itu maka ketika orang yang telah membunuh kawannya itu dengan pedang sempat berlari meninggalkan arena, Gandar telah meloncat menerkamnya dan sebuah ayunan tangan yang keras sekali telah memukul tengkuk orang itu.

Ternyata Gandar tidak perlu mengulangi pukulan itu. Tulang leher orang itu sudah dipatahkannya, sehingga karena itu, maka ia pun segera jatuh tertelungkup. Mati.

Gandar dan Bibi tidak mengejar orang-orang yang melarikan diri, karena mereka tidak yakin bahwa sudah tidak ada bahaya yang lain yang lebih besar mengancam Risang. Mungkin orang-orang itu sekadar memancingnya dan kemudian datang orang yang lebih berbahaya lagi dari lingkungan mereka. Bahkan mungkin Warsi sendiri atau Ki Rangga Gupita atau justru Ki Randukeling.

Kedua pengawal itu pun tidak melakukannya pula. Mereka pun bersiap menghadapi kemungkinan yang masih mungkin terjadi.

Demikian pula Iswari. Ia tidak segera beranjak dari tempatnya. Dipeluknya Risang erat-erat di dadanya. Apapun yang terjadi Risang tidak akan dapat berpisah dari padanya.

Sementara itu, Risang sendiri menjadi gemetar. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun anak itu ternyata tidak menangis. Namun setelah kemudian ibunya memutarnya dan menciumnya dengan haru, anak itu justru menangis.

“O, jangan menangis anak manis,” Bibinyalah yang berlari-lari mendekat. Sementara itu dari tempatnya Gandar berkata, “Laki-laki tidak boleh menangis.”

Namun Iswari berkata, “Biarlah ia menangis. Anak-anak memang harus menangis. Ia tidak boleh menahan menangis sebagaimana jika ia nanti menjadi besar. Baru kemudian kita mengajarkannya kepadanya, sebaiknya ia tidak menangis hanya karena cengeng. Tetapi dalam keadaan yang khusus, menangis kadang-kadang ada gunanya.”

Gandar mengerutkan keningnya. Baginya hanya ada satu anggapan, bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Tetapi Risang adalah anak laki-laki yang masih kanak-kanak, sehingga karena itu ia tidak berkeberatan Risang menangis. Bahkan tangisnya terdengar keras sekali. Lepas tanpa ditahan-tahan.

Baru sejenak kemudian ibunya mulai menenangkan dengan kata-kata lembut dan manis.

Sedikit demi sedikit Risang menjadi tenang. Sementara para pengawal telah mengumpulkan kuda-kuda mereka.

“Marilah,” berkata Gandar kemudian, “Kita melanjutkan perjalanan.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Seorang di antara orang-orang yang mencegatnya itu telah dibunuhnya langsung. Karena yang pingsan itu pun kemudian telah meninggal pula. Namun kemudian katanya,”Lalu bagaimana dengan mayat-mayat itu?”

“Kita akan menyerahkannya kepada orang-orang di padukuhan sebelah,” berkata Gandar.

Iswari menjadi ragu-ragu. Namun suasana hatinya sudah tidak tenang lagi jika ia harus mengunjungi banjar padukuhan berikutnya. Terutama karena Risang nampaknya masih selalu berdebar-debar.

Namun dalam pada itu Gandar yang melihat keragu-raguan Iswari pun berkata, “Satu pengalaman pertama bagi Risang menyaksikan kekerasan dunia kanuragan.”

“Dadanya sangat berdebar-debar,” berkata Iswari. “Sebaiknya kita kembali saja. Mudah-mudahan upacara penerimaan di banjar-banjar padukuhan itu berjalan lancar.”

Gandar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau menghendaki, kita akan kembali.”

“Tetapi tidak melalui padukuhan sebelah yang tadi kita kunjungi agar tidak menarik perhatian orang-orang padukuhan itu, bahwa kita cepat kembali,” berkata Iswari.

“Tetapi untuk mengubur orang-orang ini?” bertanya Gandar.

“Kau sajalah nanti pergi ke Ki Bekel, setelah upacara kira-kira selesai. Aku kira tidak akan ada binatang buas yang sampai ketempat ini,” berkata Iswari.

Gandar tidak membantah. Namun bersama para pengawal mereka menyingkirkan mayat-mayat yang berserakan itu dan meletakkannya di atas tanggul diseberang parit.

Sejenak kemudian maka iring-iringan orang berkuda itu pun telah berputar kembali ke padukuhan induk. Namun mereka tidak menempuh jalan semula. Mereka tidak melintasi padukuhan yang telah mereka kunjungi agar tidak menimbulkan kegelisahan di padukuhan itu selama upacara penerimaan itu masih berlangsung.

Ketika kemudian mereka sampai di rumah Nyai Wiradana dan naik ke pendapa, maka nampaklah bahwa ada beberapa percik noda darah pada tubuh Gandar.

“Bersihkan dirimu,” berkata Iswari.

Gandar mengangguk. Ia pun segera berganti pakaian dan sekaligus mencucinya agar noda darah itu tidak telanjur mengering dan tidak larut lagi ke dalam air lerak.

Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka yang mendapat pemberitahuan itu pun menjadi berdebar-debar. Setelah sekian lama tidak terjadi sesuatu, maka api yang memang tersimpan di dalam sekam itu nampaknya mulai membakar.

“Besok kita mengadakan pertemuan,” berkata Iswari. “Jika yang menjadi sasaran adalah anakku, itu sekadar lambang dari Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan. Kita tidak boleh terlambat menanggapi persoalan ini.”

“Aku sependapat,” berkata Kiai Badra. “Semua orang yang memegang kendali pimpinan di segala tingkatan harus mendapat penjelasan.”

Demikianlah malam itu Gandar mempunyai tugas menemui Ki Bekel. Ia bersama kedua orang pengwal yang bersamanya menghadapi kesepuluh orang yang telah menyerangnya itu telah pergi ke padukuhan sebelah. Agaknya upacara memang sudah selesai ketika Gandar memasuki banjar. Tetapi karena Ki Bekel juga sudah pulang maka Gandar harus menyusul ke rumahnya.

Para pengawal yang tidak bertugas di malam itu telah ikut dibangunkan pula untuk membantu kawan-kawannya menyelenggarakan dan merawat mayat-mayat yang ada di bulak. Bagaimanapun juga peristiwa itu telah menggemparkan anak-anak muda bukan saja dari padukuhan itu, tetapi berita tentang peristiwa yang teradi di tengah bulak itu pun segera tersebar diseluruh Tanah Perdikan.

Di hari berikutnya, Iswari memang telah mengundang para pemimpin pengawal bukan saja dari Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga anak-anak muda di Kademangan di sekitarnya. Iswari juga mengundang Sambi Wulung dan Jati Wulung yang ternyata lebih banyak tinggal di padukuhan-padukuhan di lingkungan kademangan tetangga. Atas persetujuan Iswari ia memimpin anak-anak muda itu untuk berlatih dalam olah kanuragan, sehingga para pengawal Kademangan disekitar Tanah Perdikan Sembojan pun telah jauh meningkat. Bagi Tanah Perdikan Sembojan hal itu menguntungkan sekali, karena hubunganna dengan kademangan-kademangan itu telah dibina semakin baik.

Dalam pada itu, jauh dari Tanah Perdikan Sembojan sekelompok kecil orang yang dalam keadaan letih memasuki sebuah hutan kecil. Di dalam hutan itu terdapat salah satu sarang dari para pengikut Warsi dan Ki Rangga Gupita.

Kedatangan mereka telah disambut dengan perasaan gelisah oleh para penghuninya. Dan ternyata Warsi dan Ki Rangga Gupita pada saat-saat itu berada pula di sarang yang tersembunyi di hutan kecil itu.

Menilik sikap, pandangan mata dan ungkapan wajah mereka, maka Warsi sudah menduga, apa yang telah terjadi. Apalagi jumlah mereka sudah jauh susut daripada saat mereka berangkat.

Ketika orang-orang yang tersisa itu kemudian menghadap Warsi dan Ki Rangga Gupita, maka mereka pun telah menceritakan apa yang terjadi.

Warsi menghentakkan kakinya sementara Ki Rangga Gupita menggeram. Kegagalan itu telah membuat jantung mereka berdegup semakin cepat.

”Kami mempercayakan pekerjaan ini kepada kalian yang kami anggap memiliki pengalaman dan kemampuan terbaik di antara kawan-kawan kalian,” suara Ki Rangga gemetar menahan gejolak perasaannya.

Orang-orang yang tersisa itu hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Untuk beberapa saat mereka berdiam diri. Membantah atau memberikan penjelasan tanpa diminta justru akan berakibat gawat.

“Kenapa kebodohan itu dapat terjadi he?” Ki Rangga tiba-tiba membentak.

Orang tertua di antara mereka itu pun masih merasa ragu. Namun kemudian ia terpaksa juga berbicara, “Perhitungan kami ternyata salah. Kami memperhitungkan bahwa Nyai Wiradana dan orang-orang yang dianggap pemimpin di Tanah Perdikan itu meninggalkan rumah mereka mengunjungi keramaian di padukuhan-padukuhan. Namun ternyata anak itu justru dibawa oleh ibunya.”

Ki Rangga Gupita memandang orang itu dengan mata yang bagaikan menyala. Namun kemudian ia pun menyadari, bahwa tiga orang yang berada di perjalanan diikuti oleh dua orang pengawal itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Bahkan Ki Rangga Gupita bersama dua orang lainnya yang memiliki ilmu setingkat pun akan dapat pula mengalahkan sepuluh orangnya itu.

Dalam pada itu, Warsi yang sangat kecewa berkata lantang, “Lain kali aku sendiri yang akan pergi.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya kepada Warsi, “Kita perlu bertemu dengan Ki Randukeling. Besok atau besok lusa. Kita memerlukan pertimbangannya.”

“Ki Randukeling tiba-tiba saja menjadi acuh tidak acuh. Pada hal kakeklah yang dahulu menekankan kepada kami untuk berhubungan dengan Jipang,” sahut Warsi.

“Bukan acuh tak acuh. Tetapi Ki Randukeling tentu mempunyai perhitungan yang sedang dipersiapkan sebaik-baiknya. Ia memang bukan sebagaimana kita ambil keputusan meskipun bagi kita rasa-rasanya orang-orang tua itu menjadi sangat lamban,” jawab Ki Rangga Gupita.

 

———-oOo———-

Bersambung ke Jilid 27.

Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih

http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm

Terima kasih kepada Nyi DewiKZ

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s